Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH METODE PENGUKURAN DAN TEKNIK

SAMPLING
Sampling Kualitas Biologi dan Tanah

Devi Asriani

S062102002

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. Drs. Pranoto, M.Sc

PROGRAM PASCASARJANA KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2021

i
Kata Pengantar
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala nikmatnya sehingga penulis dapat menyusun
makalah tentang "Sampling Kualitas Biologi dan Tanah" dengan sebaik-baiknya.Adapun tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sampling kualitas lingkungan berdasarkan
indikator kualitas biologi dan indikator kualitas tanah.
Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, memfasilitasi,
memberi masukan, dan mendukung penulisan makalah ini sehingga selesai tepat pada waktunya.
Semoga dibalas oleh Allah SWT dengan ganjaran yang berlimpah.
Meski penulis telah menyusun makalah ini dengan maksimal, tidak menutup
kemungkinan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu sangat diharapkan kritik dan saran yang
konstruktif dari pembaca sekalian.
Akhir kata, saya berharap makalah ini dapat menambah referensi keilmuan masyarakat.

Palangka Raya, 20 Mei 2021


Penulis

Devi Asriani

i
Daftar Isi

Kata pengantar…………………………………………………………………………... i
Daftar Isi………………………………………………………………………………….. ii
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………… 1
1.2 Batasan Masalah……………………………………………………………………..... 2
1.3 Batasan Masalah……………………………………………………………………..... 2
1.4 Rumusan Masalah……………………………………………………………………... 2
1.5 Manfaat ……………………………………………………………………………….. 2
BAB II
Pembahasan
2.1 Kualitas Biologi……………………………………………………………………….. 3
2.1.1 Pengertian Kualitas Biologi…………………………………………………………. 3
2.1.2 Metode sampling untuk kualitas biologi…………………………………………….. 3
2.1.3 Indikator kualitas biologi perairan…………………………………………………... 3
2.1.3.1 Plankton…………………………………………………………………………… 3
2.1.3.2 Bentos……………………………………………………………………………... 8
2.1.3.3 Nekton……………………………………………………………………………... 10
2.1.3.4 Perifiton…………………………………………………………………………… 11
2.1.3.5 E. Coli……………………………………………………………………………... 16
2.2 Kualitas Tanah………………………………………………………………………… 19
2.2.1 Pengertian kualitas tanah……………………………………………………………. 19
2.2.2 Metode sampling untuk kualitas tanah……………………………………………… 20
2.2.3 Sampling Tanah……………………………………………………………………... 21
2.2.4 Indikator kualitas tanah……………………………………………………………… 22
2.2.4.1 pH tanah…………………………………………………………………………… 23
2.2.4.2 C-organik tanah……………………………………………………………………. 24
2.2.4.3 N-total……………………………………………………………………………... 26
2.2.4.4 P-tersedia………………………………………………………………………….. 28
2.2.4.5 K-tersedia………………………………………………………………………….. 30
2.2.4.6 KTK……………………………………………………………………………….. 31
BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………. 34
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………... 35
Pertanyaan…………………………………………………………………………………. 38

ii
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Secara sederhana kualitas lingkungan hidup diartikan sebagai keadaan lingkungan yang
dapat memberikan daya dukung optimal bagi kelangsungan hidup manusia pada suatu wilayah.
Kualitas lingkungan dicirikan antara lain dari suasana yang membuat orang merasa betah atau
kerasan tinggal di tempatnya sendiri. Lingkungan hidup yang baik dapat memungkinkan manusia
berkembang secara optimal, secara selaras, serasi, dan seimbang.
Pembangunan di Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan nasional, akan tetapi
keadaan ini mulai menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Jika pencemaran
dan kerusakan terus berlangsung, terbuka kemungkinan rusaknya lingkungan hidup. Kondisi
sekarang menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan yang cukup
signifkan (Palupi, 2014).
Ada beberapa indikator untuk mengetahui apakah kualitas lingkungan tersebut baik atau
buruk yaitu indikator kualitas biologi dan tanah. Indikator kualitas biologi umumnya merupakan
kelompok atau komunitas organisme yang kehadirannya atau perilakunya di alam berkorelasi
dengan kondisi lingkungan. Sedangkan indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik atau
proses fisika, kimia dan biologi tanah yang dapat menggambarkan kondisi tanah (SQI, 2001).
Karlen et al. (1997) mengusulkan bahwa pemilihan indikator kualitas tanah harus mencerminkan
kapasitas tanah untuk menjalankan fungsinya. Berdasarkan fungsi tanah yang hendak dinilai
kemudian dipilih beberapa indikator yang sesuai. Menurut Mausbach dan Seybold (1998),
pemilihan indikator berdasarkan pada konsep minimum data set (MDS), yaitu sesedikit mungkin
tetapi dapat memenuhi kebutuhan.
Dalam menyelidiki kualitas biologi maupun tanah kita tidak mungkin menggunakan
seluruh populasi dari perairan dan tanah tersebut sehingga penggunaan metode sampling sangat
dibutuhkan. Sampel adalah bagian dari populasi, dipilih agar dapat mewakili populasi yang lebih
besar. Dengan mengambil sampel yang representatif, kita dapat mengurangi biaya yang
dikeluarkan, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian dan juga tenaga yang
dibutuhkan untuk melakukan penelitian. Keterwakilan sampel bergantung pada tiga faktor: 1)
Metodologi pengambilan sampel 2) Ukuran sampel dan 3) Tingkat respons. Metode pengambilan
sampel harus sistematis dan ditentukan untuk menarik kesimpulan yang valid dari sampel.

1
1.2 Batasan Masalah
1.2.1 Indikator kualitas biologi yang digunakan yaitu plankton, bentos, nekton, perifiton, dan
E.coli
1.2.2 Indikator kualitas tanah yang digunakan yaitu pH, C-organik, N-total, P-tersedia, K-
tersedia, dan KTK
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.3.1 Bagaimana sampling kualitas lingkungan berdasarkan indikator kualitas biologi?
1.3.2 Bagaimana sampling kualitas lingkungan berdasarkan indikator kualitas tanah?
1.4 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui sampling kualitas lingkungan berdasartkan
indikator kualitas biologi dan indikator kualitas tanah.
1.5 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi bahwa kualitas biologi dan kualitas
tanah merupakan salah satu indikator yang dapat diketahui untuk menentukan kualitas
lingkungan tersebut baik atau tidak.

2
BAB II
Pembahasan
2.1 Kualitas Biologi
2.1.1 Pengertian Kualitas Biologi
Lingkungan biologi adalah segala makhluk hidup mulai dari organisme yang tidak
kasat mata sampai pada hewan dan vegetasi raksasa yang terdapat di permukaan bumi.
Lingkungan biologi adalah semua lingkungan yang terdiri dari komponen-komponen
makhluk hidup di permukaan bumi. Komponen lingkungan biologi misalnya manusia,
hewan dan tumbuhan. Kualitas lingkungan biologis merupakan semua keadaan, kondisi,
nilai dan mutu yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme hidup.
Kualitas air dikatakan baik apabila air tersebut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi.
Dalam hal ini menyangkut mengenai plankton, terutama fitoplankton karena fitoplankton
adalah merupakan produktifitas primer dalam rantai makanan.
2.1.2 Metode Sampling Untuk Indikator Kualitas Biologi Perairan
Metode sampling yang digunakan untuk pengambilan sampel plankton, bentos,
nekton, perifiton, dan E. coli yaitu dengan menggunakan metode purpossive sampling
yaitu berdasarkan pertimbangan terwakilinya gambaran keseluruhan ekosistem. Sesuai
dengan namanya, purpossive sampling yaitu sampel diambil dengan maksud atau tujuan
tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap
bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi
penelitiannya. Langkah purpossive sampling yaitu menentukan titik areal terpilih
berdasarkan kriteria yang menjadi target pengambilan sampel.
2.1.3 Indikator Kualitas Biologi Perairan
Plankton, bentos, nekton, perifiton, dan E. coli merupakan organisme perairan
yang keberadaannya dapat dijadikan indikator perubahan kualitas biologi perairan.
2.1.3.1 Plankton
Plankton merupakan hewan atau tumbuhan yang bebas melayang dalam perairan
serta mampu melakukan fotosintesis karena mengandung klorofil untuk fitoplankton.
Sedangkan zooplankton merupakan hewan yang hidupnya melayang-layang diperairan
dan bersifat pasif tidak dapat melakukan fotosintesis karena tidak mengandung klorofil.

3
Plankton memiliki peranan yang sangat penting pada suatu ekosistem, salah satunya
sebagai bioindikator (Sudarsono, 2014)
Plankton dalam ekosistem perairan mempunyai peranan yang sangat penting
terutama dalam rantai makanan, karena plankton merupakan produsen utama yang
memberikan sumbangan terbesar pada produksi primer total suatu perairan (Endang,
2010). Plankton biasa dibedakan antara fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton
berperan sebagai produsen primer, sedangkan zooplankton berperan penting dalam
memindahkan energi dari produsen primer yaitu fitoplankton ke tingkat konsumen yang
lebih tinggi serangga akuatik, larva ikan, dan ikan-ikan kecil. Pergerakan dari plankton
relatif pasif, sehingga selalu terbawa oleh arus air (P. Sri, 2001).
1. Fitoplankton
Fitoplankton mempunyai peranan yang sangat penting di dalam suatu perairan,
selain sebagai dasar dari rantai makanan juga merupakan salah satu parameter tingkat
kesuburan suatu perairan. Terdapat hubungan positif antara kelimpahan fitoplankton
dengan produktivitas perairan. Jika kelimpahan fitoplankton disuatu perairan tinggi
maka perairan tersebut cenderung memiliki produktivitas yang tinggi pula.

Pediastrum Sp Scenedesmus Sp Crucigenia Sp


Gambar contoh fitoplankton (http://www.ut.ac.id/2002/kelimpahan-plankton.html)
2. Zooplankton
Zooplankton merupakan organisme penting dalam proses pemanfaatan dan
pemindahan energi karena merupakan penghubung antara produsen dengan hewan-
hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Dengan demikian populasi yang tinggi
dari zooplankton hanya mungkin dicapai bila jumlah fitoplankton tinggi. Namun,
dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai kandungan
zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat tinggi
(Syahbudin, 2011). Contoh zooplankton:

4
Achantocystys sp Volvox sp Cyclops sp
Pengambilan Sampel Plankton di Perairan
Pengambilan sampel plankton pada suatu perairan didasari atas pertimbangan
tujuan studi. Frekuensi pengambilan sampel, lokasi, waktu pengambilan (pagi-siang-
sore), tipe sampel yang diambil, dan bagaimana sampel diambil (plankton net statis atau
dinamis) harus disesuaikan dengan tujuan studi. berikut dua metode pengambilan
sampel plankton:
a. Metode statis
Pengambilan sampel menggunakan metode statis yaitu plankton net yang digunakan
dalam keadaan diam.
b. Metode dinamis
Plankton net yang digunakan dapat bergerak artinya plankton net dapat ditarik secara
horizontal dengan menggunakan kapal maupun vertikal.
Hal yang perlu menjadi perhatian saat melakukan pengambilan sampel plankton
(terutama jika tujuannya menghitung kelimpahan) adalah volume air yang disaring ke
dalam plankton net harus diketahui.
Volume air yang disaring akan diketahui dengan perkalian luas bukaan plankton
net dan jarak penarikan plankton net. Jarak penarikan juga dapat diketahui dengan
mengalikan kecepatan rata-rata kapal dengan waktu tempuh kapal. Khusus untuk
pengambilan sampel fitoplankton, maka harus diperhatikan kecerahan perairan.
Sehingga perlu dilakukan pengukuran kecerahan terlebih dahulu sebelum pengambilan
sampel. Pengambilan sampel fitoplankton dapat dilakukan pada rentang kedalaman
sesuai dengan kecerahan perairan yang terukur. Untuk zooplankton, karena kecerahan
bukan menjadi faktor penentu keberadaannya di dalam perairan, maka samplingnya bisa
dilakukan pada kedalaman yang lebih bervariasi.
Setelah dilakukan pengambilan sampel, maka yang perlu diperhatikan adalah
penanganan sampel. Sampel sebaiknya diawetkan agar kondisi sampel tidak mengalami
5
perubahan. Misalnya penambahan fitoplankton akibat fotosintesis, ataupun pengurangan
fitoplankton akibat pemangsaan oleh zooplankton. Setelah sampai di laboratorium,
sampel dianalisis menggunkan mikroskop untuk mengetahui jenis plankton yang
ditemukan serta menghitung kelimpahan plankton di perairan tempat dilakukan studi.
Kelimpahan Plankton (pencacahan)
Pencacahan plankton merupakan suatu proses tahapan yang dilakukan untuk
menghitung kelimpahan dari setiap jenis plankton yang ada dalam suatu perairan.
Pencacahan jenis dilakukan pada sampel air yang sebelumnya sudah diambil dari
perairan, baik melalui penyaringan maupun tanpa penyaringan dengan plankton net.
kompenen yang harus diketahui untuk menentukan kelimpahan plankton dalam suatu
perairan yaitu: volume air yang disaring, volume air yang tersaring, volume air di
bawah cover glass, serta luasan cover glass dan bidang yang diamati. Luasan bidang
yang diamati sangat ditentukan oleh alat serta metode yang digunakan dalam
pencacahan plankton. Peralatan dalam pencacahan plankton terdiri atas:
1. Glass object dan cover glass
Merupakan peralatan standar yang umumnya digunakan dalam pengamatan
mikroorganisme, termasuk plankton.
2. Sedgewick Rafter Counting Chamber (SRC)
Merupakan alat yang dilengkapi dengan semacam wadah kecil, bervolume 1 mL,
yang dilengkapi dengan kotak-kotak berukuran 1x1 mm (total 1000 kotak). SCR
merupakan alat yang paling umum digunakan dalam pencacahan plankton yang
berasal dari alam.
3. Haemocytometer
Alat ini umumnya digunakan untuk melakukan pencacahan plankton yang homogen
(plankton yang berasal dari hasil kultur).
Pencacahan plankton dapat dilakukan melalui tiga metode yaitu:
a. Metode sensus
Dikenal dengan metode sapuan. Melalui metode ini, semua wilayah yang berada di
bawah gelas penutup harus diamati. Sehingga luas pengamatan akan sama dengan
luas gelas penutup. Metode ini membutuhkan waktu yang lama, akan tetapi nilai
keterwakilannya paling tinggi dibandingkan metode lain.

6
b. Metode lapang pandang
Dilakukan dengan mengamati plankton pada titik tertentu yang sudah dipilih.
Umumnya titik yang dipilih dianggap dapat mewakili air yang berada di bawah
gelas penutup. Luasan lapang pandang setara dengan luas 1 lapang pandang dikali
dengan jumlah lapang pandang.
c. Metode strip dilakukan dengan mengamati 1 baris lapang pandang (baik secara
vertikal ataupun horisontal). Jumlah strip yang diamati tergantung pada keinginan
pengamat.
Setelah menentukan metode yang digunakan dalam pencacahan plankton, maka
kegiatan selanjutnya adalah melakukan identifikasi dan pengamatan plankton
menggunakan mikroskop. Jika sampel terlalu padat, sampel bisa diencerkan
menggunakan akuades. Jumlah pengenceran dicatat dan akan dijadikan pengali untuk
faktor pengencer pada saat penghitungan kelimpahan. Pada setiap lapang pandang,
dicatat jenis plankton yang dijumpai serta jumlahnya. Buku identifikasi diperlukan
dalam upaya mengenali jenis plankton tertentu. Setelah seluruh lapang pandang diamati,
maka dapat kelimpahan plankton dapat dihitung.
Sampling Plankton Menurut SNI 03-7016-2004
Alat yang digunakan dalam mengoleksi plankton menggunakan planktonnet
dengan ukuran mata jaring 25 µm yang dilengkapi dengan tali berskala sehingga
memudahkan dalam menghitung kedalaman perairan. Sampel air diambil menggunakan
botol sampel 1.000 mL yang terbuat dari polyeteline, kemudian dimasukkan dalam cool
box dengan suhu ± 4oC.
Di setiap stasiun, sampel plankton dikoleksi dengan menggunakan plankton net
no. 25 berdiameter 25 cm yang ditarik mulai dari dasar sampai ke permukaan perairan.
Sampel dipekatkan sampai dengan 10 mL kemudian diawetkan dengan menggunakan
larutan lugol. Pengamatan jumlah dan jenis plankton dengan menggunakan mikroskop
yang dihubungkan dengan layar monitor. Identifikasi plankton berpedoman pada Newel
dan Newel (1977) dan Yamaji (1976) serta kelimpahan dengan menggunakan rumus
counting cell (APHA, 1998).
Kelimpahan jenis plankton dihitung berdasarkan persamaan menurut APHA
(1998) sebagai berikut:

7
Oi Vr 1 n
N= x x x
Op Vo Vs p
Dimana :
N = Jumlah individu per liter
Oi = Luas gelas penutup preparat (mm2)
Op = Luas satu lapangan pandang (mm2)
Vr = Volume air tersaring (mL)
Vo = Volume air yang diamati (mL)
Vs = Volume air yang disaring (L)
n = Jumlah plankton pada seluruh lapangan pandang
p = Jumlah lapangan pandang yang teramati
2.1.3.2 Bentos
Bentos adalah organisme-organisme yang hidup pada dasar perairan (Ramli,
1989). Menurut Odum (1993) bentos adalah organisme yang melekat atau beristirahat
pada dasar atau hidup di dasar endapan. Beberapa contoh bentos antara lain kerang,
bulu babi, bintang laut, cambuk laut, terumbu karang dan lain-lain. Beberapa jenis
benthos di atas tidak hanya ditemukan di lingkungan pesisir dimana ada cahaya, namun
beberapa diantaranya juga telah ditemukan di laut dalam dimana tidak terdapat cahaya
sedikitpun. Berdasarkan ukurannya, hewan bentos yang tersaring dengan saringan
bentos berukuran 0,5 mm disebut makrobentos (Setyobudiandi, 1997).
Bentos merupakan salah satu kelompok organisme yang berperan penting dalam
ekosistem laut. Berbagai jenis hewan (zoobentos) dan tumbuhan (fitobentos) yang hidup
di dasar perairan tergolong dalam kelompok organisme ini. Berdasarkan ukurannya,
bentos dibagi menjadi 3 (Mare, 1942; Coull dan Wales 1983 dalam Knox, 2001), yaitu :
mikrobentos (< 500 µm), meiobentos (500-1000 µm) dan makrobentos (>1000 µm).
Dengan demikian, tumbuhan yang berukuran besar dan hidup di dasar perairan disebut
makrofitobentos dan hewan berukuran besar yang hidup di dasar perairan disebut
makrozoobentos (Knox, 2001).

Pengambilan Sampel Benthos di Perairan

8
Pengumpulan sampel bentos menggunakan beberapa cara. Cara pertama yaitu
menggunakan alat Grab Sampler (Eickman Grab, Petersen Grab, dan Smith MacIntyre
Grab). Alat tersebut digunakan pada kedalaman bentos yang sulit terjangkau. Alat
tersebut seperti alat pengeruk lumpur.
Cara kedua yaitu menggunakan alat Surber Square Foot Sampler yang seperti jala.
Alat tersebut digunakan di perairan lotik yang dangkal. Alat tersebut dimasukkan ke
dalam air sampai menyentuh dasar perairan. Mulut alat tersebut menghadap ke arah
hulu. Substrat perairan yang berada di mulut alat tersebut, diaduk selama beberapa saat.
Alat tersebut diangkat jika substrat sudah masuk ke dalam. Substrat sampel diambil dan
dimasukkan ke dalam plastik sampel.
Cara ketiga dilakukan di perairan lentik. Cara tersebut menggunakan bingkai
kuadrat. Bingkai tersebut dimasukkan ke dalam air sampai ke dasar perairan. Substrat
yang berada di dalam bingkai tersebut, diambil dengan tangan dan dimasukkan ke
dalam plastik sampel.
Sampel substrat yang sudah diperoleh kemudian disaring dengan saringan Sieve
Net. Saringan tersebut berfungsi untuk memisahkan biota bentik dengan partikel
substrat. Hasil saringan kemudian dicacah dengan pinset. Identifikasi biota dapat
menggunakan lup dan mikroskop.
Sampling Bentos Menurut SNI 03-3401-1994
Pengambilan sampel bentos dilakukan dengan menggunakan Sauber dan Ekman
Grab Pengambilan bentos menggunakan alat ekman grab yang berukuran 0,15 x 0,15
m². Pengeruk Ekman secara khusus cocok untuk pengambilan sampel dasar yang lunak
dan berlumpur. Sampel bentos yang sudah diambil selanjutnya disaring dengan saringan
bertingkat dan diawetkan dengan formalin 4%. Sampel bentos yang sudah diambil
selanjutnya diidentifikasi di laboratorium dengan bantuan mikroskop stereo.
Metode Pengujian Jenis Dan Jumlah Hewan Bentos Peralatan, antara lain:
1. Mikroskop diseksi yang mempunyai perbesaran 510 kali.
2. Cawan petri yang berukuran 10 cm.
3. Saringan US Standar yang berlubang dengan diameter 0,595 mm
Benda uji, antara lain :

9
1. Sediakan contoh uji yang telah diambil sesuai dengan metode pangambilan contoh
uji kualitas air.
2. Benda uji harus bebas dari sampah dan kotoran lain.
3. Benda uji harus dibubuhi pengawet alkohol atau formalin.
4. Benda uji siap diuji.
Tahapan uji, antara lain:
1. Saring hewan bentos dengan saringan yang berdiameter 0,595 mm lalu dicuci
dengan air hingga bebas dari kotoran dan bahan pengawet, alkohol atau formalin.
2. Letakkan bentos pada cawan petri dengan pembubuhan beberapa tetes air bersih
hingga basah.
3. Amati hewan bentos dengan mikroskop binokuler.
2.1.3.3 Nekton

Sumber gambar: Final Flashcards | Chegg.com


Nekton adalah organisme yang dapat berenang dan bergerak aktif dengan
kemauan sendiri, misalkan ikan, amfibi, serangga air besar dan termasuk golongan ini.
Banyaknya speises nekton di suatu perairan dapat memberikan gambaran tentang
komunitas nekton yang kompleks di perairan tersebut. Keragaman spesies nekton di
perairan, termasuk sungai dapat mendeskripsikan tingkat kompleksitas suatu komunitas
nekton di perairan tersebut.
Nekton adalah organisme perairan yang dapat bergerak atau berenang sendiri
dalam air sehingga tidak bergantung pada arus laut yang kuat atau gerakan air yang

10
disebabkan oleh angin. Contoh nekton adalah aneka ikan-ikan, reptil, mamalia, udang
dan lainlain. Nekton merupakan organisme laut yang bermanfaat bagi manusia terutama
untuk perbaikan gizi dan peningkatan ekonomi (Junaidi, 2014).
Pengambilan Sampel Nekton Diperairan
Jenis Nekton Cara Pengambilan Sampel
Ikan cakalang (Katsuwonus Mengikuti operasi penangkapan kapal cakalang yang
pelamis) menggunakan pancing huhate (pole and line) dan
ditambah data dari tempat pelelangan ikan
Cumi-cumi Alat tangkap cumi-cumi disebut lambayang (jigs)
dioperasikan oleh 2 nelayan dari 2 buah sampan, pada
malam hari dengan cahaya lampu
Fauna ikan padang lamun Jaring tarik atau jaring pantai (beach seine)
dan ikan pantai lain
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mendatangi alat tangkap bagan,
yakni alat tangkap ikan yang menggunakan lampu untuk menarik ikan yang letak alatnya
tetap (bagan tancap) atau dapat dipindah (bagan apung)
Pengumpulan data dan pengawetan sampel : ikan-ikan yang ditangkap diukur
panjang dan berat tubuhnya. Setelah itu gonad dan isi lambungnya diambil dan
ditimbang, kemudian diawetkan dengan formalin 10% untuk keperluan perhitungan
fekunditas dan analisis makanan yang dilakukan di laboratorium.
2.1.3.4 Perifiton
Meiofauna epifit merupakan salah satu fauna epifit yang mampu beradaptasi
dengan baik dan menjadikan daun lamun sebagai salah satu mikrohabitatnya (Kiswara,
1992). Meiofauna epifit merupakan meiofauna yang ditemukan hidup menempel pada
permukaan atas maupun bawah daun (Azkab, 2000; Raes & Vanreusel, 2005). Salah
satu meiofauna yang ditemukan di daun lamun adalah perifiton.
Perifiton merupakan organisme nabati yang menempel pada substrat (Odum,
1993), Komposisi perifiton di perairan mengalir terdiri dari satu atau campuran
beberapa koloni diatom (Bacillariophyceae), Cyanopycea, Chloropyceae, bakteri
berfilamen atau fungi, Rotifera dan beberapa Insecta (Welch, 1980). Proses koloni
merupakan pembentukan koloni perifiton pada substrat yang berlangsung segera
seketika pengkoloni menempel pada substrat (Osborn, 1983).

11
Kemampuan perifiton menempel pada suatu substrat menentukan eksistensinya
terhadap pencucian oleh arus atau gelombang yang dapat memusnahkannya. Perifiton
memiliki peran penting di dalam ekosistem lamun sebagai produsen primer (selain
lamun dan fitoplankton) di dalam rantai makanan yang menyuplai bahan organik dan
oksigen (Yoshitake dan Fukushima dalam Mahanal, 1998).
Pengambilan Sampel Perifiton di Perairan
Alat dan Bahan :
No Alat dan Bahan Kegunaan
1 Rol meter ukuran 100 Mengukur Luasan Stasiun dan sub stasiun
2 Transek ukuran 1x1 Batas Luasan perifiton
3 skin divin Mengamati perifiton
4 Formalin 4 % Mengawetkan perifiton
5 Gunting Memotong daun lamun
6 Penggaris Mengukur daun lamu
7 Label Media informasi sampel perifiton
8 Botol volume 50 mL Menyimpan perifiton yang sudah dikerik
9 Patok Menandai substasiun
10 Pengerik/sikat Mengambil perifiton dari daun lamun
11 GPS Menentukan titik koordinat stasiun
12 Mikroskop binokuler Mengamati perifiton
13 Sidgewick Rafter Current Media untuk sapel perifiton yang akan diamati
(SRC)
Teknik Pengambilan Sampel Perifiton
Pengambilan sampel perifiton di padang lamun menggunakan metoda transek
linear kuadrat (English et al.,1994). Transek dilakukan oleh 3 - 4 orang teknisi/ peneliti,
untuk identifikasi lokasi transek, memasang garis transek, dan pelaksanaan transek.
Teknik Pengambilan sampel lamun adalah sebagai berikut :
a. Menentukan 3 titik stasiun yang akan kita ambil lamunnya berdasarkan persentasi
tutupan lamunnya dengan jarak tiap – tiap stasiun 50 meter mengikuti garis pantai.
b. Menarik garis transek tegak lurus dengan pantai dari tiap-tiap stasiun mulai dari garis
pantai sepanjang 75 meter kearah laut.

12
c. Menentukan dan menandai menggunakan patok di 3 titik substasiun pada garis
transek dari tiap – tiap stasiun dengan jarak tiap substasiun 25 meter.

d. Di 3 titik substasiun dipasang transek dengan luasan 1x1 meter yang terbagi menjadi
4 kotakan didalamnya.

e. Mengamati dan mengidentifikasi jenis lamun dari masing – masing transek yang
akan diambil perifitonnya dengan berjalan kaki dan snorkeling untuk melihat
keadaan umum vegetasi tutupan, dan jenis lamun. Identisikasi lamun dilakukan
dengan menggunakan buku pedoman Azkab (1999).

f. Mengukur bagian lamun yang akan dipotong menggunakan penggaris dengan luasan
10 cm2 yang berada di dalam substasiun transek 1x1m

13
g. Mengambil sebanyak 3 lembar untuk jenis lamun yang berdaun besar dan lebar dan 5
tegakan untuk jenis yang lain jika di dalam luasan transek terdapat beberapa jenis
lamun Mengambil dengan cara memotong bagian tengah lamun yang sudah diukur
10 cm2 menggunakan gunting.

h. Memasukan sampel lamun yang sudah dipotong kedalam kantong plastic yang sudah
di beri kode kemudian diberikan pengawet formalin 4 %.

i. Mengambil bagian perifiton yang menempel pada lamun yang sudah dipotong
dengan cara mengerik secara halus satu arah dari atas ke bawah agar daun lamunnya
tidak hancur dan memasukannya kedalam botol sampel yang sudah diberi air
sebanyak 50 ml.

14
j. Sampel perifiton yang sudah dalam botol sampel volume 50 ml kemudian
ditambahkan pengawet formalin 4 %.

Pengamatan Sampel Perifiton


Pengamatan sampel perifiton sebagai berikut:
a. Sampel perifiton dikocok terlebih dahulu agar tercampur merata.
b. Mengambil sampel perifiton yang akan diamati dengan pipet volume 1 ml.
c. Sampel perifiton diteteskan melalui salah satu lubang pada ujung SRC yang
diatasnya sudah ditutup dengan cover glass.

d. Permukaan SRC ditutup dengan cover glass diusahakan tidak ada gelembung udara
di dalam.

e. Pengamatan sampel perifiton dilakukan di bawah mikroskop binokuler dengan


perbesaran 100x.
f. Fokus lensa diatur sampai bentuk perifiton yang diamati terlihat dengan jelas.

15
g. Sampel perifiton diidentifikasi dengan buku identifikasi merujuk pada Yamaji
( 1979).
2.1.3.5 Escherichia coli
Bakteri Coliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator
adanya polusi kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air dan makanan. Coliform
sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri batang, gram negatif, tidak
membentuk spora dan anaerobik fakultatif yang memfermentasi laktosa dengan
menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35oC. Bakteri koliform yang
berada di dalam makanan/minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang
bersifat enteropatogenik dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan. Bakteri
Coliform mempunyai banyak spesies diantaranya Escherichia coli.
Bakteri E coli menjadi indikator sanitasi yang keberadaannya dalam pangan
menunjukkan bahwa air atau makanan tersebut pernah tercemar oleh feses manusia.
Bakteri sanitasi bakteri yang dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan
Escherichi coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, dapat mengakibatkan keracunan
makanan yang serius pada manusia yaitu diare berdarah karena eksotoksin yang
dihasilkan bernama verotoksin. Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa
adenin dari unit 28S rRNA, sehingga menghentikan sintesis protein (Widianti, 2014).
Kandungan E.coli dikategorikan berdasarkan KEPMEN L.H. No.179 tahun 2004
menjadi:
Memenuhi syarat : Jika jumlah E. coli ≤ 200 MPN/100 mL.
Tidak memenuhi syarat : Jika jumlah E. coli > 200 MPN/100 mL.
Pengambilan Sampel E. coli dan Pengujian E. coli
Alat dan bahan yang digunakan untuk sampel uji E.coli adalah :
1. Botol pekat atau berwarna gelap.
2. Gayung kecil dan gayung besar.
3. Perekat.
4. Buku pencatat dan alat tulis.
Prosedur pengambilan sampel E.coli :

1. Sterilkan botol sampel air .

16
2. Buka tutup botol dan bakar ujungnya dengan lilin selama 1-5 menit sampai steril
kemudian masukkan air yang diambil dari gayung kecil.

3. Siapkan botol dengan tutup yang telah steril, isi botol hingga 3/4 bagian botol,
setelah itu segera tutup. Bagian dalam botol dan tutup tidak boleh disentuh kecuali
oleh sampel sendiri.
Pengujian parameter tersebut dilakukan dilaboratorium dengan cara :
Pembuatan Media.
Media Lactosa Broth (LB).

1. Timbang 13,0 gram LB kemudian larutkan dalam gelas kimia dengan 1L aquadest.
Panaskan larutan tersebut hingga LB larut sempurna dengan aquades.

2. Siapkan tabung reaksi dan tabung durham, isi 9 ml larutan LB kedalam tabung
reaksi kemudian masukkan tabung durham dengan posisi terbalik ke dalam tabung
reaksi. Tutup tabung reaksi dengan kapas.

3. Sterilkan tabung reaksi dalam autoclave pada suhu 121˚C selama15 menit.
Media EC.

1. Timbang 37,0 gram EC kemudian larutkan dalam gelas kimia dengan 1 L aquadest.
Panaskan larutan tersebut hingga LB larut sempurna dengan aquadest.

2. Siapkan tabung reaksi dan tabung durham, isi 10 ml larutan LB kedalam tabung
reaksi kemudian masukkan tabung durham dengan posisi terbalik ke dalam tabung
reaksi. Tutup tabung reaksi dengan kapas.

3. Sterilkan tabung reaksi dalam autoclave pada suhu 121˚C selama 15 menit. -
Persiapan Sampel  Siapkan 3 tabung reaksi yang berisi media Lactosa Broth untuk
3 macam pengenceran (0,1 ml, 1 ml dan 10 ml), sehingga jumlahnya 3x3 = 9
tabung. Siapkan juga 1 tabung reaksi untuk blanko dan beri label.

4. Masukkan 0,1 ml sampel dalam 3 tabung reaksi yang berisi media LB, masukkan 1
ml sampel dalam 3 tabung reaksi yang berisi media LB dan masukkan 10 ml sampel
dalam 3 tabung reaksi yang berisi media LB.
Tes Pendugaan.

17
1. Inkubasi tabung fermentasi yang telah berisi sampel juga tabung blanko pada suhu
35˚C ± 0,5˚C, selama jangka waktu 24 ±2 jam dan amati gas yang tertangkap di
dalam tabung durham. Tabung yang mengandung gas dilanjutkan ke tes penegasan.
Sedang tabung yang tidak menghasilkan gas, inkubasi dilanjutkan selama 24 jam
lagi.

2. Sesudah 24 jam, amati lagi gas yang tertangkap di dalam tabung durham. Apabila
dalam tabung tidak dihasilkan gas, sampel tersebut dibuang saja karena tidak
mengandung bakteri coli. Tabung yang menghasilkan gas dilanjutkan dengan tes
penegasan.
Tes Penegasan

1. Sampel yang menghsilkan gas baik dalam jangka waktu 24 jam maupun 48 jam
dilanjutkan dengan tes penegasan. Jumlah tabung untuk tes penegasan adalah
jumlah tabung yang mengandung gas dalam tes pendugaan.

2. Pindahkan dengan menggunakan jarum ose dari masing-masing tabung yang


menghasilkan gas pada tes pendugaan, ke dalam tabung reaksi yang telah berisi
media kaldu EC dan tabung durham. Kemudian ratakan. Siapkan juga 1 tabung
blanko yang berisi medium dan tabung yang ditambah 1 ml air pengencer dan
ratakan.

3. Inkubasi tabung reaksi pada suhu 44˚C ± 0,5˚C selama 24 ± 2 jam dan amati gas
yang tertangkap di dalam tabung durham. Tabung yang mengandung gas dicatat
sebagai sampel yang mengandung bakteri golongan coli tinja, sedang tabung yang
tidak menghasilkan gas berarti tidak mengandung bakteri E.coli.

4. Hitung jumlah tabung yang mengandung gas dan cocokkan dengan tabel MPN ,
yaitu tabel yang memberikan The Most Probable Number atau Angka Perkiraan
Terdekat, yang tergantung dari kombinasi tabung positif mengandung bakteri E.coli
dan negatif yang tidak mengandung bakteri E.coli dari kedua tahap tes. MPN bakteri
E. coli dihitung berdasarkan jumlah tabung yang positif pada uji penguat, atau
jumlah tabung positif pada uji lengkap (Winarno, 1986). Perhitungan MPN
didasarkan atas jumlah tabung yang bereaksi positif dan negatif dari 3 pengenceran

18
yang berurutan.Apabila sampel diencerkan dalam beberapa desimal, maka
perhitungan jumlah golongan bakteri coli sebagai berikut :
JPT 10
ml=Tabel JPT x
100 Volume sampel yang terbesar di tes
Pengenceran yang dilakukan lebih dari 3 seri pengenceran maka perhitungan hasil
adalah sebagai berikut :
JPT Jumlah tabung yang positif
ml=
100 ml sampel dalamtabung yang negatif x ml contoh seluruh tabung
2.2 Kualitas Tanah

Gambar lapisan tanah (http://www.gunungkidul.org/2012/05/struktur-bumi-dan-penjelasannya.html)


2.2.1 Pengertian kualitas tanah
Kualitas tanah adalah pernyataan eksistensi tanah berkaitan dengan suatu standar
dalam istilah tingkat keunggulan. Kualitas tanah adalah suatu komponen kritis pertanian
berkelanjutan. Suatu sistem pengelolaan tanah hanya berkelanjutan ketika memperbaiki
atau mempertahankan kualitas tanah (Larson and Pierce, 1994). Mutu tanah
dikembangkan sebagai: alat penilaian atau alat evaluasi terhadap praktek pengolahan
tanah dan penilaian sumberdaya alam sebagai alat uji. Keterlanjutan praktek-praktek
pertanian dan penggunaan lahan lainnya secara kuantitatif yaitu untuk mengevaluasi
tingkat degradasi dan kontaminasi tanah dari pencemaran logam berat (Karlen and
Mausbach, 1997).

19
Parameter – parameter dalam penentuan kualitas tanah umumnya sangatlah
kompleks karena mencakup semua sifat dari tanah, mulai dari sifat kimia, biologi dan
fisika tanah. Sehingga aplikasinya di lapangan sangat sulit dan terkesan rumit sehingga
kurang diterima oleh penggunanya. Doran and Parkin (1994) mengajukan satu set data
minimum (minimum data set, MDS) tentang parameter – parameter sifat tanah yang
seharusnya dipilih dan menjadi tolak ukur dalam penentuan kualitas tanah.
Parameter indikator penyusun kualitas tanah menurut Doran and parkin dalam
Winarso (2005) terbagi menjadi 3 indikator yakni fisik, biologi dan kimia tanah.
Indikator fisik tanah meliputi tekstur tanah, berat isi dan stabilitas agregat. Indikator
biologi meliputi nitrogen dan karbon mikroorganisme, potensial N dapat dimineralisasi
dan respirasi tanah. Sedangkan indikator kimia tanah terdiri dari bahan organik tanah atau
C organik tanah, pH tanah, dan N, P, dan K dapat diekstrak. Parameter kesuburan tanah
standart (pH tanah, kadar bahan organik, N, P, dan K tersedia) merupakan faktor yang
sangat penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman, produksi
tanaman serta fungsi dan keragaman mikroorganisme dalam tanah.
2.2.2 Metode Sampling Untuk Indikator kualitas tanah
Metode sampling yang umum digunakan untuk pengambilan sampel untuk uji
kualitas tanah yaitu dengan menggunakan metode purpossive sampling yaitu berdasarkan
pertimbangan terwakilinya gambaran keseluruhan ekosistem. Sesuai dengan namanya,
purpossive sampling yaitu sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang
atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau
sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Langkah
purpossive sampling yaitu menentukan titik area terpilih berdasarkan kriteria yang
menjadi target pengambilan sampel tanah.
2.2.3 Sampling Tanah
Waktu pengambilan contoh tanah
Contoh tanah dapat diambil setiap saat pagi, siang, atau sore hari dan tidak perlu
menunggu saat sebelum tanam, namun tidak boleh dilakukan beberapa hari setelah
pemupukan. Secara umum pada lahan diusahakan tidak intensif, contoh tanah diambil 4
tahun sekali. Pada lahan yamh digunakan secara intensif, paling sedikit satu tahun sekali.

20
Namun apabila tanah tersebut nilai uji tanahnya tinggi (missal tanahnya mengandung
unsur hara P tinggi), contoh tanah diambil 5 tahun sekali.
Pada lahan keringsebaiknya contoh tanah diambil pada kondisi kelembapan tanah
sedang yaitu keadaan tanah kira-kira cukup untuk pengolahan tanah. Sedangkan pada
lahan sawah sebaiknya diambil pada kondisi lembab.
Pengambilan contoh tanah untuk penelitian kesuburan tanah dapat dibedakan menjadi 3
(tiga) macam:
1. Pengambilan contoh tanah bulk
Contoh tanah bulk diambil untuk keperluan penelitian kesuburan tanah yang dilakukan
berdasarkan keperluan percobaan di rumah kaca dalam jumlah besar. Volume tanah
yang diambil tergantung jumlah pot, bobot tanah per pot, dan kadar air tanah. Waktu
pengambilan contoh tanah harus sama, tingkat kekeringan tanah pada saat
pengambilan harus sama dan keadaan kesuburan tanah harus seragam.
2. Pengambilan contoh tanah komposit
Contoh tanah komposit merupakan contoh tanah gabungan dari beberapa anak contoh
yang akan digunakan sebagai pewakil untuk karakteristik tanah tertentu. Contoh tanah
komposit, merupakan kumpulan dari tanah-tanah yang berasal dari beberapa titik
pengambilan contoh tanah. Contoh tanah komposit digunakan untuk menduga tingkat
kesuburan tanah, status hara tanah, dan kebutuhan pupuk. Contoh tanah komposit
diambil dalam jumlah sedikit, tetapi harus mewakili areal yang dianggap homogen
dalam suatu hamparan lahan tertentu yang terdiskripsikan. Contoh tanah komposit
biasanya digunakan untuk kebutuhan dari analisis tanah di laboratorium. Alat yang
digunakan adalah bor tanah.
3. Pengambilan contoh tanah utuh/tidak terganggu
Hasil pengambilan contoh tanah yang dilakukan harus dalam keadaan utuh, terutama
keadaan fisik tanah harus sama dengan keadaan di lapangan pada saat pengambilan.
Dalam penelitian kesuburan tanah, maksud dari pengambilan contoh tanah ini adalah
untuk mengetahui tingkat pencucian hara yang terjadi dalam tanah, penyebaran pupuk
yang terjadi dalam tanah, dan untuk mengetahui jumlah hara yang dapat dimanfaatkan
tanaman atau hara yang hilang melalui pencucian.

21
Gambar Alat yang digunakan untuk pengambilan contoh tanah
2.2.4 Indikator kualitas tanah
Indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik atau proses fisika, kimia dan
biologi tanah yang dapat menggambarkan kondisi tanah (SQI, 2001). Menurut Doran &
Parkin (1994), indikator-indikator kualitas tanah harus (1) menunjukkan proses-proses
yang terjadi dalam ekosistem, (2) memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses
biologi tanah, (3) dapat diterima oleh banyak pengguna dan dapat diterapkan di berbagai
kondisi lahan, (4) peka terhadap berbagai keragaman pengelolaan tanah dan perubahan
iklim, dan (5) apabila mungkin, sifat tersebut merupakan komponen yang biasa diamati
pada data dasar tanah.
Karlen et al. (1996) mengusulkan bahwa pemilihan indikator kualitas tanah harus
mencerminkan kapasitas tanah untuk menjalankan fungsinya yaitu:
1. Melestarikan aktivitas, diversitas dan produktivitas biologis
2. Mengatur dan mengarahkan aliran air dan zat terlarutnya
3. Menyaring, menyangga, merombak, mendetoksifikasi bahan-bahan anorganik dan
organik, meliputi limbah industri dan rumah tangga serta curahan dari atmosfer.
4. Menyimpan dan mendaurkan hara dan unsur lain dalam biosfer.
5. Mendukung struktur sosial ekonomi dan melindungi peninggalan arkeologis terkait
dengan permukiman manusia.
Indikator yang biasa digunakan untuk kualitas tanah yaitu indikator kualitas tanah
yang dipilih, yaitu: pH (H2O), C-organik, N-total, P-tersedia, K-tersedia, dan KTK.

2.2.4.1 pH Tanah

22
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang
dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hydrogen
(H+ ) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah
tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH- , yang
jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+ . Pada tanah-tanah yang masam
jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OHsedang pada tanah alkalis kandungan OHlebih
banyak daripada H + . Bila kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral
yaitu mempunyai pH = 7 (Hardjowigeno, 2007).
Penentuan pH tanah dilakukan dengan dua metode. Pertama, tanah dan air
dicampurkan, dikocok, kemudian disaring, filtrat yang diperoleh diukur pH(H 2O) nya.
Kedua, tanah dan larutan KCl dicampurkan, dikocok, kemudian disaring, filtrat yang
diperoleh diukur pH(KCl)nya. Penambahan air dan larutan KCl bertujuan untuk
mengekstrak ion H+ dalam tanah. Perbandingan antara sampel tanah dan pengekstraknya
adalah 1:5. Perbandingan tersebut digunakan agar proses pengekstraksian H+ maksimal.
Pengocokan bertujuan agar proses ekstraksi H+ berlangsung optimal. Pengukuran pH
menggunakan pH meter.
Pada reaksi tanah yang netral, yaitu pH 6,5-7,5 maka unsur hara tersedia dalam
jumlah yang cukup banyak (optimal). Pada pH tanah kurang dari 6 maka kertersediaan
unsur-unsur fosfor, kalium, belerang, kalsium, magnesium, dan molibdium menurun
dengan cepat. Sedangkan pH tanah lebih besar dari 8,0 akan menyebabkan unsur-unsur
nitrogen, besi, mangan, borium tembaga, dan seng ketersediannya relatif
jadi sedikit. Tekstur tanah berpengaruh terhadap mudah tidaknya pH dapat diubah. Tanah
liat lebih sukar dinetralkan dari pada tanah pasir karena memiliki lebih banyak luas
permukaan untuk diabsorbsi, memegang dan mensuplai ion-ion Hidrogen di dalam tanah
(Foth, 1994).
Metode pH meter
Alat: Bahan:
1. Botol kocok 100 ml 1. Air bebas ion
2. Neraca analitik ketelitian dua desimal 2. Larutan buffer pH 7,0, 10 dan 4,0
3. Gelas ukur 50 mL
3. Mesin pengocok
4. pH meter
5. labu semprot 500 mL

23
Cara Kerja:
1. Timbang 10 gram contoh tanah sebanyak dua kali, masing – masing dimasukkan
kedalam botol kocok
2. Tambahkan 50 mL air bebas ion ke botol yang satu (pH H 2O) dan 50 ml KCL 1 M ke
dalam botol lainnya (pH KCL)
3. Kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit
4. Suspensi tanah diukur dengan pH meter yang telah dikalibrasi menggunakan larutan
buffer pH 7,0 dan 4,0 5. Nilai pH dilaporkan dalam 1 desimal.
2.2.4.2 C-organik Tanah
Bahan organik tanah adalah fraksi organik dari tanah termasuk hewan dan
tumbuhan yang tinggal di dalamnya yang telah mengalami dekomposisi sampai pada
suatu keadaan dimana sulit untuk mengenali bahan aslinya, residu mikrobia, dan produk
akhir dekomposisi yang relatif stabil (humus). Faktor yang mempengaruhi kadar bahan
organik dan nitrogen tanah yaitu kedalaman tanah, iklim tekstur tanah dan drainase.
Kedalaman lapisan tanah menentukan bahan organik dan nitrogen.Kadar bahan organik
terbanyak ditemukan dilapisan atas setebal 20 cm (15-20%). Semakin kebawah kadar
bahan organik semakin berkurang. Hal itu disebabkan akumulasi bahan organik memang
terkonsentrasi dilapisan atas (Badan Litbang Pertanian, 2006).
Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah
untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun,
kemampuan tanah mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar
bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi.
Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena
intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah yang rusak yang
jumlah maupun intensitasnya meningkat. Bahan organik digunakan untuk memperbaiki
struktur tanah, meningkatkan suhu tanah, meningkatkan kemantapan agregat,
meningkatkan kemampuan menyimpan air, dan menurunkan kepekaan tanah terhadap
erosi, serta sebagai sumber energi bagi mikroorganisme tanah (Wihardjaka, 2010).
Menurut Lal (1994), tanah memiliki produktivitas yang baik apabila kadar bahan
organik berkisar antara 8 sampai 16% atau kadar karbon organik 4,56% sampai 9,12%.

24
Untuk meningkatkan kadar C-organik tanah salah satunya adalah dengan pemberian
ameliorant berdasarkan tabel berikut ini.
Teknologi C-organik tanah (%)
Tanpa ameliorant 2,40
Pemberian pupuk kandang 20 t/ha 2,62
Tanpa 1,60
Pupuk kandang 10 t/ha 1,84
Tanpa 1,73
Biochar + pupuk kandang 2,5 t/ha 1,95
Penetapan C Organik Dengan Metode kurmis
Alat: Bahan:
1. Neraca analitik 1. Asam sulfat pekat
2. Spektrofotometer 2. Kalium dikromat 1 N
3. Labu ukur 100 mL 3. Larutan standar 5000 ppm
4. Dispenser 10 mL
5. Pipet volume 5 mL
Prosedur:
1. Menimbang 0,500 g contoh tanah ukuran 0,5 mm, memasukkan kedalam botol ukur
100 ml.
2. Menambahkan 5 ml K2Cr2O7 1 N, lalu mengkocoknya.
3. Menambahkan 7,5 ml H2SO4 pekat, mengkocoknya lalu mendiamkan selama 30
menit.
4. Mengencerkan dengan air bebas ion, membiarkan dingin dan mengimpitkan.
5. Keesokan harinya mengukur absorbansi larutan jernih dengan spektofotometer pada
panjang gelombang 561 nm.
6. Sebagai pembanding dibuat standar 0 dan 250 ppm, dengan memipet 0 dan 5 ml
larutan standar 5000 ppm ke dalam labu ukur 100 ml dengan perlakuan yang sama
dengan pengerjaan contoh.
2.2.4.3 N-total.
Nitrogen tanah secara umum dapat dibagi dalam dua bentuk yaitu organik dan
anorganik. Bentuk organic merupakan bentuk terbesar, bentuk anorganik dapat
membentuk NH4+ , NO2-, NO3-, N2O dan NO. Sedangkan gas N2 hanya dapat
dimanfaatkan oleh bakteri Rhizobium (Hakim et al., 1986). Nitrogen berada dalam
bentuk NH4+ dan NO3- , ion-ion ini dalam tanah berasal dari pupuk yang ditambahkan
serta yang didekomposisi bahan organic merupakan sumber utama nitrogen dalam tanah
dan dapat juga berasal dari air atau air irigasi (Hakim et al., 1986).

25
Kebanyakan N (Nitrogen) dalam tanah dasar tambak tergandung dalam bahan
organik. Bakteri memineralisasi bahan organik ammonia yang dapat dimanfaatkan untuk
pertumbuhan makanan alami. Analisis kandungan N-total dilakukan, bukan hanya untuk
mengetahui kandungan N-total tanah tetapi juga untuk mengetahui rasio C:N yang ideal
untuk tanah tambak adalah 8:1 sampai 12:1 (Boyd, 2008)
Kandungan N-total tertinggi umumnya terdapat pada lapisan 0-20 cm, dan 20-40
cm, dimana aktifitas perakaran dan mikroorganisme cukup intensif di daerah tersebut.
Hal ini juga akibat pemupukan yang intensif pada lapisan tersebut. Namun kadar N-total
semakin menurun dengan bertambahnya kedalaman dimana pengaruh pengelolaan
semakin rendahnya.
Di laboratorium uji tanah, nitrogen merupakan salah satu unsur hara tanah yang
banyak diminta untuk dianalisis oleh pengguna jasa laboratorium. Oleh karena itu,
diperlukan teknik yang akurat, tepat dan terstandar dalam penetapannya. Teknik destilasi
cukup baik digunakan untuk pengukuran kadar nitrogen total pada contoh tanah dan
memberikan hasil analisis yang baik. Hasil pengukuran yang diperoleh dengan teknik ini
akan lebih konsisten karena tidak terdapat gangguan dalam pengukuran.
Penetapan N Total Dengan Metode N-Kjeldahl
Alat: Bahan:
1. Tabung digest 1. Asam sulfat pekat (95 – 97%)
2. Alat destruksi 2. Campuran selen (campuran 1,55 gr CuSO4
anhidrat, 96,9 gr Na2SO4 anhidrat, dan 1,55
gram selen kemudian dihaluskan)
3. Alat destilasi 3. Asam borat 1%
4. Labu didih 4. Natrium hidroksida 40%
5. Erlenmeyer 100 mL 5. Penunjuk Conway
6. Automatic titar (burette digital) 6. Asam sulfat 0.0050 N
7. Pengaduk 7. Akuades
8. Neraca analitik
Cara Kerja:

1. Destruksi
a. Timbang 0,5 gram contoh tanah ukuran
b. Tambahkan 1 gr campuran selen
c. Tambahkan 5 ml asam sulfat pekat
26
d. Destruksi hingga temperatur 3500C hingga warna berubah menjadi putih kehijauan
e. Dinginkan dan diencerkan dengan aquadest hingga 100 mL
2. Destilasi
a. Persiapkan larutan penampung dari 10 ml asam borat 1% ditambah 3 tetes
penunjuk Conway (warna larutan menjadi merah) ditempat keluarnya destilat

b. Hasil destruksi dipindah kedalam labu didih


c. Tambahkan 20 ml NaOH 40% kedalam labu didih, tutup secepatnya dan lakukan
destilasi

d. Destilasi diakhiri ketika warna penampung berubah menjadi hijau dan volume
penampung lebih dari 50 mL

3. Titrasi
a. Larutan hasil destilasi dititrasi sampai menjadi merah kembali menggunakan
H2SO4 0,05N

b. Catat volume H SO yang terpakai untuk titrasi, kerjakan pula untuk blanko
2 4

Perhitungan :
( Vc−Vb ) × N ×14 × fk
Kadar nitrogen = × 100%
mg contoh
Keterangan :
Vc = mL penitar contoh
Vb = mL penitar blanko
14 = Bobot setara nitrogen
fk = Faktor koreksi kadar air = 100/(100 - % kadar air)
2.2.4.4 P-tersedia
Pengelolaan hara P juga harus memperhatikan ketersediaan P di dalam tanah.
Ketersediaan P di dalam tanah tergantung kepada: (1) jumlah dan jenis mineral tanah, (2)
pH tanah, (3) pengaruh kation, (4) pengaruh anion, (5) tingkat kejenuhan P, (6) bahan
organik, (7) waktu dan suhu, dan (8) penggenangan (Havlin et. al., 1999). Hara P bersifat

27
immobil di dalam tanah karena sebagian besar P tanah dijerap menjadi bentuk tidak
tersedia bagi tanaman. Pada tanah masam seperti Ultisols dan Oxisols, P biasanya dijerap
oleh Al dan Fe (kation, oksida, dan hidroksida) serta liat tanah. Sementara itu, pada tanah
netral dan alkalin seperti Alfisols dan Vertisols, P dijerap selain oleh Al, Fe, dan liat
tanah juga oleh Ca (Brady, 1984; Than and Egashira, 2008).
Tanah-tanah netral dan alkalin di Indonesia umumnya termasuk ordo Aluvial
(Inceptisols), Grumusols (Vertisols), Mediteran (Alfisols), dan Rendzina (Mollisols).
Karakteristik utama tanah-tanah tersebut diantaranya adalah reaksi tanah netral hingga
alkalin (pH=6,5-8,0). Karakteristik lain tanah-tanah tersebut umumnya mengandung
mineral liat smektit (tipe 2:1) tinggi sehingga memiliki sifat-sifat vertik. Kadar P
potensial dan aktual tanah-tanah tersebut berkisar dari rendah hingga tinggi, terga”tung
bahan induk tanah dan tingkat pengelolaan lahan. Tanah-tanah yang banyak mengandung
mineral P (apatit, floroapatit, dan lain-lain) dan dikelola secara intensif biasanya
mengandung P tinggi. Sebaliknya tanah-tanah yang miskin mineral P dan tingkat
pengelolaannya masih belum intensif biasanya mengandung P relatif rendah.
Penetapan P Tersedia Dengan Metode Bray
Alat: Bahan:
1. Kolorimeter 1. Pengekstrak Bray dan Kurt I (larutan 0,025 N HCl + NH 4F

2. Tabung reaksi 0,025 N)


Ditimbang 0,111 gram hablur NH4F dilarutkan dengan
3. Pipet 2 mL
lebih kurang 0 ml air murni, ditambah 3,25 ml HCl 25%,
4. Kertas saring
kemudian diencerkan sampai 1 liter
5. Neraca analitik 2. Standar 10 ppm P2O5
6. Botol kocok Dipipet 2 ml dari larutan standar pokok 500 P 2O5 kedalam
7. Mesin pengocok labu ukur 100 ml, lalu diencerkan dengan pengekstrak Bray
I hingga 100 ml
3. Deret standar
Dipipet masing – masing 0; 0,2; 0,4; 0,8; 1,2; 1,6 dan 2 mL
standar P2O5 10 ppm kedalam tabung reaksi. Diencerkan
dengan pengekstrak Bray dan Kurt I menjadi 2 ml sehingga
deret standar yang diperoleh adalah 0; 1; 2; 4; 6; 8; dan 10

28
ppm
4. Campuran pereaksi fosfat
Dilarutkan 0,53 gram asam askorbat dengan air murni,
ditambah 50 ml asam sulfat 5 N, 15 ml amonium molibdat
4% dan 5 ml kalium antimoniltartrat 0,275%, kemudian
diencerkan menjadi 500 ml (harus dalam keadaan segar)
Cara Kerja:
1. Timbang contoh tanah ukuran < 2 mm sebanyak 2,5 gram
2. Tambahkan pengekstrak Bray dan Kurt 1 sebanyak 25 mL
3. Kocok selama 5 menit, saring dan bila larutan keruh dikembalikan keatas saringan
semula (proses penyaringan maksimum 5 menit). Jika larutan masih keruh maka
tambahkan karbon aktif secukupnya
4. Dipipet 2 mL ekstrak kedalam tabung reaksi
5. Tambahkan 10 ml pereaksi fosfat (sampel dan deret)
6. Kocok, dan diamkan selama 30 menit
7. Ukur exctintionnya dengan kolorimeter pada panjang gelombang 693
Perhitungan:
mL ekstrak
ppm P2O5 = × ppm kurva × fp × fk
gram sampel
Keterangan:
ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret
standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko
fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 - % kadar air)
Fp = faktor pengenceran
2.2.4.5 K-Tersedia
Kalium sangat penting dalam proses metabolisme tanaman, kalium juga penting
di dalam proses fotosintesis. Bila kalium kurang pada daun, maka kecepatan asimilasi
CO2 akan menurun. Kalium berfungsi dalam pembentukan pati, pengaktifan enzim,
pembukaan stomata, proses fisiologis tanaman, proses metabolisme sel, peningkatan daya
tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit perkembangan akar. Kalium (K)
merupakan salah satu unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Unsur K
berbeda dengan nitrogen yang berperan dalam penyusunan suatu struktur senyawa

29
misalnya penyusunan struktur protein melainkan K berperan sebagai coenzim yang
berperan sebagai non protein yang dibutuhkan untuk katalis reaksi.
Unsur hara K diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+ dan berperan sebagai
pembawa atau carier yang dapat membuat ikatan dengan unsur N sehingga N dapat
tersedia bagi tanaman. Melalui perannya ini maka unsur hara K juga termasuk kedalam
unsur hara mobile karena mudah bergerak dan dapat kita jumpai diseluruh bagian
tanaman. (Hardjowigeno, 1992). Kalium (K) tidak ditemukan sebagai bagian dari
senyawa organik di dalam tubuh tanaman, sekalipun demikian unsur hara ini berfungsi
sebagai aktivator enzim, sehingga sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman.
Penetapan Kadar K Metode Titrisol
Alat: Bahan:
1. Auto analyzer 1. Ammonium asetat pH 7,0
2. Flamephotometer
3. AAS
4. Tabung perkolasi
5. Labu ukur 50 mL
6. Botol semprot
7. Pasir
Cara Kerja:
1. Ditimbang 0,25 gram contoh tanah > 2 mm, masukkan kedalam tabung perkolasi,
dicampur dengan 5 gram pasir
2. Perkolasikan dengan penambahan ammonium asetat pH 7,0 sebanyak 50 ml
3. Dikocok selama 30 menit
4. Dipipet 2 ml, lalu encerkan dengan aquadest hingga 10 ml
5. Analisis menggunakan flamephotometer untuk mengetahui total K dalam sampel
tanah
Perhitungan:
Kadar K (%) = ppm kurva x mL ekstrak 1000 mL-1 x 100 mg-1 x fp x fk
Keterangan:
ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva regresi hubungan antara kadar deret
standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko
fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 - % kadar air)

30
fp = faktor pengenceran (bila ada)
2.2.4.6 Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangeable) pada
permukaan koloid tanah yang bermuatan negatif disebut Kapasitas Tukar Kation (KTK)
(Cation exchangeable capacity), yang dinyatakan dalam milligram (mg) per 100 gram
tanah. KTK total tanah ialah jumlah muatan negatif tanah baik yang bersumber dari
permukaan koloid anorganik (liat) maupun koloid organik (humus) yang merupakan
tempat pertukaran kation – kation.
Semakin tinggi nilai KTK maka pertukaran ion yang dibutuhkan bagi tanaman
semakin baik. Akan tetapi jika nilai KTA (Kapasitas Tukar Anion) dalam tanah yang
semakin tinggi maka daya jerap tanah terhadap anion semakin tinggi pula sehingga
pemberian pupuk pelepas anion seperti TSP (H 2PO4- ), ammonium nitrat (NO3- ) makin
tidak efisien karena makin tidak tersedia bagi tanaman (Hanafiah, 2005).
Penetapan KTK Metode Kolorimetri
Alat: Bahan:
1. Neraca analitik 1. Ammonium asetat 1 N, pH 7,0
2. Centrifuge 2. Etanol 96%
3. Buret 3. HCl 4 N
4. Makoro Destilasi 4. NaOH 40%
5. Botol Semprot 5. Indikator Campuran
6. Tabung Sentrifus 100 mL 6. Asam Borat 2%
7. H2SO4 0,1 N
8. Alkohol 95%
Cara Kerja:
1. Ditimbang 5 gram tanah kering, masukkan ke dalam tabung sentrifus 100 mL.
2. Tambahkan 20 mL amonium asetat pH 7, aduk dan biarkan 24 jam.
3. Aduk kembali, kemudian disentrifus selama 15 menit dengan putaran 2500 rpm.
4. Ekstrak amonium didekantasi.
5. Pemberian larutan amonium asetat diulang sebanyak 4 kali diikuti dengan tahapan
yang sama disetiap pengulangannya.
6. Endapan tanah pada tabung sentrifuse dicuci dengan 20 ml alkohol 95%, disentrifuse
dan didekantasi. Lakukan pencucian dengan alkohol sebanyak 4 kali dengan langkah
yang sama.
7. Pindahkan tanah ke beaker glass.

31
8. Tambahkan 10 ml KCl 10%, diaduk kemudian disaring dan fitratnya ditampung.
Ulangi penambahan KCl 10% hingga diperoleh fitrat sebanyak 100 ml.
9. Dimasukkan fitrat ke dalam labu destilasi dan bilas dengan air destilasi
10. Tambahkan 20 ml NaOH 40% kemusian didestilasi.
11. Tampung destilatnya dengan penampung erlenmeyer 200 ml yang telah diberi 20 mL
asam borat 2% dan 3 tetes indikator conway.
12. Destilasi diakhiri sampai volume destilat 150 mL.
13. Destilat dititrasi dengan larutan standart 0,1 N H2SO4 hingga terjadi perubahan
warna dari hijau kebiruan menjadi merah jambu.
14. Ulangi prosedur ini dengan blanko (tanpa contoh tanah).
Perhitungan:
(S−B)× N ×100
KTK (me / 100 gram tanah) =
W
Keterangan :
S = Volume H2SO4 dalam titrasi contoh tanah
B = Volume H2SO4 dalam titrasi blanko
N = Normalitas H2SO4
W = Berat tanah kering mutlak

32
BAB III
Penutup
1.1 Kesimpulan:
Kesimpulan dari makalah ini adalah:
1. Metode sampling yang digunakan untuk pengambilan sampel plankton, bentos, nekton,
perifiton, dan E-coli yaitu dengan menggunakan metode purpossive sampling dan
pengambilan sampelnya sesuai dengan SNI yang berlaku.
2. Sama seperti kualitas biologi, metode sampling yang umum digunakan untuk
pengambilan sampel untuk uji kualitas tanah yaitu dengan menggunakan metode
purpossive sampling dan pengambilan sampelnya juga sesuai dengan SNI yang
berlaku.
3.

33
Daftar Pustaka
Badan Litbang Pertanian, 2006. Kumpulan Istilah Ilmu Tanah Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Litbang Pertanian- Departemen
Pertanian. Istilah Ilmu Tanah.
Barus, T. 2002. Pengantar Limnologi. USU Press, Medan
Boyd, C.E. 2008. Pond bottom soil analyses. Global Aquaculture Advocate September/ October:
91-92.
Brady, N.C. 1984. The Nature and Properties of Soils. 9th Edition. Macmillan Publishing
Company, New York.
Brower, J.E.,J.H.Zar dan C.N.Von Ende. 1990. Field and Laboratory Methods For General
Ecology. 3nd ed. W.M.C. Brown Publisers, USA.
Ditzler C.A. and Tugel A.J . 2002. Soil quality field tools: Experiences of USDABBNRCS Soil
Quality Institute. Agronomy Journal 94, 33B38.
Endang Purnama Sari. 2010. Keanekaragaman Plankton di Kawasan Perairan Teluk Bakau.
Riau: Unriprees.
Foth, H.D. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press.
Hakim Nurhajati, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas, Lampung.
Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo. 296 Halaman
Junaidi M. Affan. 2012. Cages Based On Environmental and Water Quality Factors In East
Coast Bangka Tengah District. Depik, 1(1):78-85. ISSN: 2089-7790.
Karlen, D.L., M.J. Mausbach, J.W. Doran, R.G. Cline, R.F. Harris, and G.E. Schuman. 1997.
Soil quality: A concept, definition, and framework for evaluation. Soil Science of
America Journal 61: 4- 10.
Knox, George A., 2001. The Ecology of Seashores. CRC Press. Boca Raton. 557 p + viii

Krebs, C. J. 1989. Experimental Analysis of Distribution and Abundanc. Third Edition. Harper &
Prow Publisher, New York.
Lal, R. 1994. Method and Guidelines for Assessing Sustainable Use for Soil and Water
Resources in the Tropics. SMSS Tech. Monograph no. 21. USDA. 78 p
Larson, W. E., & Pierce, F. J. 1994. The Dynamics of Soil Quality as a Measure of Sustainable
Management, In Defining Soil Quality for a Sustainable Environment. SSSA Special
Publication 35, Soil Science Society of America and American Society of Agronomy, 37-
51.

34
Ludwiq, J.A dan J.F. Reynold. 1988. Statistical Ecology A Primer On Methods And Computing
A Willey-Interscience Publication, Canada
Mausbach, M.J., and C.A. Seybold. 1998. Assessment of Soil Quality. In Soil Quality and
Agricultural Sustainability. Ann Arbor Press. Chelsea. Michigan.
Michael, P. 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. UI press,
Jakarta.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Palupi, Lutfi Kristiana. 2014. “Persepsi Masyarakat terhadap Pengelolaan Lingkungan Hidup
di Kecamatan Ngampilan Kota Yogyakarta.” Skripsi. Program Studi Pendidikan
Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta
Partoyo. 2005. Analisis indeks kualitas tanah pertanian di lahan pasir Pantai Samas Yogyakarta.
Jurnal Ilmu Pertanian 12: 140-151.
R. Lal. 1998. Soil degradative effects of slope length and tillage methods on alfisols in Western
Nigeria. I. Runoff, erosion and crop response, Land Degradation & Development,
10.1002/(SICI)1099-145X(199709)8:3<201::AID-LDR253>3.0.CO;2-U, 8, 3, (201-219).
Ramli, D. 1989. Ekologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sapto Purnomo Putro, (2014), Metode Sampling Penelitian MakroBentos dan Aplikasinya,
Yogyakarta; Graha Ilmu, h. 1.
Setyobudiandi, I. 1997. Makrozoobentos. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Seybold, C.A.M., J. Mausbach, D.L. Karleen, and H.H. Rogers. 1996. Quantification of Soil
Quality in: The Soil Quality Institute (ed). The Soil Quality Concept. USA: USDA
Natural Recources Conservation Service
Sudarsono. (2014). Identifikasi jenis-jenis Plankton di Kolam Blok O, Banguntapan,Bantul,
Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Suriadikarta.D.A., T. Prihatini., D. Setyorini., dan W. Hartatik. 2005. Teknologi pengelolaan
bahan organik tanah. Hal. 169-222 dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering.Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.
Jakarta.
Sri Purwati. (2001). Komunitas Plankton pada saat Pasang dan Surut di Perairan Muara Sungai
Demaan Kabupaten Jepara. Semarang: Universitas Diponegoro.
Syahbudin Mahmud. (2011). Kemelimpahan dan Keaneragaman Zooplankton di Perairan
Lamakera. Lamakera: Uupress.
Than, A.A. and K. Egashira. 2008. Evaluation of phosphorous status of some upland soils in
Myanmar. J. Fac. Agr., Kyushu Univ. 53(1): 193-200.

35
Wihardjaka, A. 2010. Emisi gas dinitrogen oksida dari tanah sawah tadah hujan yang diberi
jerami padi dan bahan penghambat nitrifikasi. Jurnal Biologi Indonesia Nomor 6 (2)
Wihardjaka, Anicetus. 2010. Pengaruh Pupuk KCl dan Jerami Padi Terhadap Perilaku dan
Hasil Padi Sawah. IPB.
Zar, J.H. 1999. Biostatistical Analysis. Prentice Hall, Inc. New Jersey

36
Pertanyaan
Pilihan ganda
1. Berikut ini merupakan kelompok golongan fitoplankton yang benar adalah……
a. Achantocystys sp dan Cyclops sp d. Achantocystys sp dan Crucigenia Sp
b. Volvox sp dan Achantocystys sp e. Pediastrum Sp dan Scenedesmus Sp
c. Volvox sp dan Scenedesmus Sp
2. Berikut ini merupakan kelompok golongan zooplankton yang benar adalah……
a. Achantocystys sp dan Cyclops sp d. Pediastrum Sp dan Scenedesmus Sp
b. Volvox sp dan Scenedesmus Sp e. Achantocystys sp dan Scenedesmus Sp
c. Achantocystys sp dan Crucigenia Sp
3. Berapakah diameter dari Planktonnet yang merupakan alat untuk mengambil sampel
plankton dari air
a. 10 cm d. 25 cm
b. 15 cm e. 30 cm
c. 20 cm

4. Contoh dari bentos berikut ini, kecuali


a. Kerang c. Bintang laut
b. Bulu babi d. Terumbu karang
e. Rumput laut

5. Berapa syarat kandungan E. coli berdasarkan KEPMEN L.H. No.179 tahun 2004
a. ≤ 200 MPN/100 mL d. 500 MPN/100 mL
b. 300 MPN/100 mL e. 600 MPN/100 mL
c. 400 MPN/100 mL

6. Berikut indikator yang digunakan untuk mengetahui kualitas tanah, kecuali………..


a. pH d. N-total
b. C-organik e. P-tersedia
c. Plankton
7. Berapakah pH yang optimal untuk tanah…………
a. pH 1 - 3,5 d. pH 6,5-7,5
b. pH 3,5-5,5 e. pH 11,5
c. pH 8,5-10,5
8. Berapakah % C-organik tanah jika diberi pupuk kandang 10 t/ha………..

37
a. 2,40 d. 1,60
b. 1,84 e. 1,95
c. 2,62
9. Ketersediaan P ditanah bergantung pada berikut ini, kecuali………….
a. Kesadahan tanah d. Penggenangan
b. Pengaruh kation dan anion e. Bahan organic
c. Jumlah dan jenis mineral tanah
10. Berikut fungsi bahan organik, kecuali…………
a. Meningkatkan suhu tanah d. Memperbaiki struktur tanah
b. Meningkatkan kemantapan agregat e. Meningkatkan kadar pH tanah
c. Meningkatkan kemampuan
menyimpan air

Essay
1. Apa pengertian dari kualitas lingkungan biologi?
Jawaban : Kualitas lingkungan biologis merupakan semua keadaan, kondisi, nilai dan mutu
yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme hidup.
2. Metode purpossive sampling merupakan metode yang dipakai dalam pengambilan sampel
untuk menentukan kualitas biologi dan tanah, jelaskan apa itu purposive sampling!
Jawaban : Purpossive sampling yaitu sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu.
Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa
seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya.
Langkah purpossive sampling yaitu menentukan titik areal terpilih berdasarkan kriteria yang
menjadi target.
3. Apa kegunaan dari fitoplankton yang melimpah terhadap suatu perairan?
Jawaban : Jika kelimpahan fitoplankton disuatu perairan tinggi maka perairan tersebut
cenderung memiliki produktivitas yang tinggi pula.
4. Sebutkan tahapan sampling untuk mengetahui jumlah plankton disuatu perairan?
Jawaban :
Alat yang digunakan dalam mengoleksi plankton menggunakan planktonnet dengan ukuran
mata jaring 25 µm yang dilengkapi dengan tali berskala sehingga memudahkan dalam

38
menghitung kedalaman perairan. Sampel air diambil menggunakan botol sampel 1.000 mL
yang terbuat dari polyeteline, kemudian dimasukkan dalam cool box dengan suhu ± 4 oC. Di
setiap stasiun, sampel plankton dikoleksi dengan menggunakan plankton net no. 25
berdiameter 25 cm yang ditarik mulai dari dasar sampai ke permukaan perairan. Sampel
dipekatkan sampai dengan 10 mL kemudian diawetkan dengan menggunakan larutan lugol.
Pengamatan jumlah dan jenis plankton dengan menggunakan mikroskop yang dihubungkan
dengan layar monitor. Identifikasi plankton berpedoman pada Newel dan Newel (1977) dan
Yamaji (1976) serta kelimpahan dengan menggunakan rumus counting cell (APHA, 1998).
Kelimpahan jenis plankton dihitung berdasarkan persamaan menurut APHA (1998) sebagai
berikut:
Oi Vr 1 n
N= x x x
Op Vo Vs p
Dimana :
N = Jumlah individu per liter
Oi = Luas gelas penutup preparat (mm2)
Op = Luas satu lapangan pandang (mm2)
Vr = Volume air tersaring (mL)
Vo = Volume air yang diamati (mL)
Vs = Volume air yang disaring (L)
n = Jumlah plankton pada seluruh lapangan pandang
p = Jumlah lapangan pandang yang teramati
5. Sebutkan prosedur kerja untuk mengetahui berapa pH dalam tanah tersebut?
Jawaban :
1. Timbang 10 gram contoh tanah sebanyak dua kali, masing – masing dimasukkan
kedalam botol kocok
2. Tambahkan 50 mL air bebas ion ke botol yang satu (pH H 2O) dan 50 ml KCL 1 M ke
dalam botol lainnya (pH KCL)
3. Kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit
4. Suspensi tanah diukur dengan pH meter yang telah dikalibrasi menggunakan larutan
buffer pH 7,0 dan 4,0 5. Nilai pH dilaporkan dalam 1 desimal.

39
40