Anda di halaman 1dari 9

No Nama Tokoh Hasil Karya

.
1. Franz Uri Boas Mendapat julukan Father of American Anthropology karena
(Minden-Westphalia, 9 Juli komitmennya pada relativitasme budaya dan sebagai
1858) penentang setia ideologi rasis, sangat meminati bidang
Antropolog Jerman- Geografi. Pada tahun 1883, ia menuju Pulau Baffin dan
Amerika. melakukan penelitian geogtrafis tentang dampak
Ahli dalam bidang lingkungan fisik pada migrasi suku Inuit asli. Pendekatang
antroplogi dan menjadi yang ia lakukan bukan hanya pendekatan antropologis saja.
pencetus pemikiran Ia juga menggunakan pendekatan geografis.
antropologi modern. Pada beberapa dasawarsa pertama abad ke-20, Franz Boas
merintis prinsip Relativitas Budaya, adalah prinsip bahwa
kepercayaan dan aktivitas setipa orang harus dipahami
menurut budaya orang itu sendiri, sebagai aksioma dalam
penelitian antropologinya. Boas pertama kali memaparkan
gagasannya pada tahhun 1887; “… peradaban bukan
sesuatu yang absolut, melainkan relatif, gagasan dan
bayangan kita selalu benar sepanjang peradaban manusia
terus ada.”
Boas percaya bahwa cakupan budaya yang sangat luas dan
menjalar sampai-sampai tidak mungkin ada hubungan
antara budaya dan ras. Semua budaya pada dasarnya sama
tetapi harus dipahami dalam istilah mereka sendiri.
Membandingkan dua budaya sama saja dengan
membandingkan apel dan jeruk; merek apada dasranya
berbeda dan harus didekati seperti itu. Relativisme budaya
meliputi klaim epistemology dan metodologi. Boas menjadi
profesor antropologi pertama di Universitas Columbia pada
tahun 1899. Boas juga merupakan tokoh kunci dalam
pendirian dan pengembangan American Anthropological
Association yang tetap menjadi organisasi bagi antropolog
di Amerika Serikat.
2. Bronislaw Kasper Pada tahun 1914 pergi ke PAPUA New Guinea. Melakukan
Molinowski penelitian di Kula dan menghasilkan teori Participant
(Austria-Hungaria, 16 Mei Observation yang menjadi salah satu kunci metodologi
1942) antropologi saat ini.
Antropolog Polandia, 1922 diterbitkan bukunya yang berjudul Argonauts Of The
terpenting pada abad ke-20 Western Pasific secara luas diakui sebagai sebuah
karena jasa dan mahakarya dan Malinowski dinobatkan menjadi salah satu
kontribusinya yang besar antropolog terbaik yang pernah ada. Dalam buku ini
dalam bidang etnografi, Malinowski menganalisa dan menjelaskan secara rinci
reciprocity, dan penelitian budaya Kula, adat tukar menukar hadiah yang dilakukan
tentang Melanesia. suku Trobriand dan suku bangsa yang lain yang tinggal di
Mempelajari suku pribumi pulau berdekatan dengan mereka. Kula mengedarkan
Trobrainders dan tinggal pertukaran dua jenis benda yang dilansir dalam dua arah
bersama komunitas mereka yang berlawanan, kalung panjang terbuat dari kulit kerang
hingga akhirnya ia dapat merah yang disebut Soulava, dan gelang-gelang dari kulit
menguasai bahasa mereka, kerang putih yang disebut Mwali.
[Pip Jones, Pengantar Teori-Teori Sosial, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2009), Halaman 60]
menjalin persahabatan
dengan penduduk. Di setiap pulau peredaran Kula dilakukan oleh jaringan
1922 mendapat gelar kaum laki-laki yang terbatas, disana mereka menjadi mitra
doktor antropologi dan dagang dan memperoleh prestige sebagai golongan
mulai mengajar di London terhormat. Kula memungkinkan seseorang, bahkan keluarga
School of Economics. memperoleh kehormatan bukan dari memiliki barang
berharga, namun dengan memberikannya kembali.
Seseorang tidak bias menyimpan Mwali dan Soulava selain
1-2 tahun saja dan kemudian dua barang ini harus diedarkan
(diberikan kembali) pada orang lain yang dipercaya oleh
pemilik terakhir.
Seseorang suatu saat bias tiba-tiba mendapatkan Soulava,
memberikannya pada orang lain, dan selang waktu tak
tertentu tiba-tiba dia diberikan Mwali oleh kerabatnya yang
lain. Budaya memberi dan menerima dalam Kula
memungkinkan masayarakat membangun integrasi ekonomi
dan politik masyarakat Trobriand dan suku-suku lain di
sekitarnya. [Pip Jones, _______,2009), Halaman 63]
Menurut analisis Malinowski, Kula adalah sistem ‘pameran
kemurahan hati’. Fungsi laten Kula yang tak disadari
masyarakatnya; memungkinkan terciptanya hubungan
perdagangan bagi keuntungan ekonomis bersama.
Sementara itu dari sisi politik, fakta Kula juga
memungkinkan terbangunnya interkasi sosial jarak jauh
antara suku Trobriand dan suku-suku kerabat di sekitar
mereka. Kula menjalin bersama sejumlah suku bangsa, dan
mencakupi satu kompleks besar kegiatan, saling berkaitan
dan saling bekerjasama satu sama lain, yang membentuk
suatu keseluruhan organik. (Malinowski 1922, hlm. 83)
Kula akan memperluas jaringan antara mitra ‘yang
memiliki’ dan ‘yang memberi’ dari waktu ke waktu, yang
mana secara fungsional menjadi inti integrasi sosial
ekonomi dan politik masyarakat Trobriand juga suku-suku
lain di sekitar Kepulauan Papua Nugini.

3. Margaret Mead Pada 1925 erangkat melakukan penelitian lapangannya di


(Philadelphia- Polinesia memusatkan studinya pada masalah-masalah
Pennsylvania, 16 asuhan terhadap anak, kepribadian dan kebudayaan.
Desember 1901) Temuan-temuannya yang ditulisnya dalam bukunya yang
Antropolog budaya pertama Coming Of Age In Samoa (Menjadi Dewasa di
Amerika. Samoa) 1928 telah banyak diperdebatkan. Buku ini
Lulus dari Barnard College ditulisnya berdasarkan penelitian yang dilakukannya
pada 1923 dan sebagai mahasiswa pasca-sarjana. Karya-karyanya yang
mendapatkan helar Ph.D diterbitkan didasarkan pada waktu ia tinggal di Pulau Sepik
nya dari Universitas dan Manus, karena orang-orang yang bisa membaca dari
Columbia pada 1929 kedua kebudayaan yang digambarkannya itu telah
menantang sebagian dari pengamatannya. Namun,
posisinya sebagai antropolog perintis sebagai seseorang
yang menulis dengan jelas dan hidup untuk dibaca dan
dipelajari oleh khalayak umum tetap teguh.
Buku ini merinci kehidupan seksual remaja di masyarakat
Samoa pada awalnya abad ke-20, dan berteori bahwa
budaya memiliki pengaruh utama pada perkembangan
psikoseksual
Dalam pengantarnya buku Coming of Age in Samoa
menulis signifikansi : “ perilaku dan tutur kata yang sopan,
ketaatan pada standar etika yang pasti, bukan hal-hal yang
guniversital. Perlu diketahui bahwa standar-standar ini
berbeda dalam cara-cara yang paling tak terduga.”
Mead sendiri menggambarkan tujuan penelitiannya: “Saya
telah mencoba menjawab pertanyaan yang membuat saya
pergi ke Samoa; Apakah gangguan-gangguan yang dialami
remaja-remaja kit aitu disebabkan oleh masa remaja itu
sendiri ataukah karena peradaban? Dalam keadaan yang
[American
lain apakah kehidupan remajanya juga berbeda?”
Museum of Natural History edisi 1973, hlm. 6-7]

Mead melakukan penelitiannya di antara sekelompok kecil


orang Samoans, disana ia berkelana, hidup bersama,
mengamati, dan mewawancarai (melaluiu penerjemah) 68
orang perempuan berusia 9-20 tahun. Ia menyimpulkan
bahwa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa (masa
remaja) di Samoa terjadi dengan mulus dan tidak ditandai
dengan oleh keresahan emosional ataupun psikologis, rasa
cemas, atau kebingungan seperti yang tampak si Amerika
Serikat. Bahwa kaum perempuan muda Samoa menunda
pernikahan selama bertahun-tahun sementara pada saat
yang sama menjalin hubungan seks, namun akhirnya
menikah, menetap dan berhasil mengasuh anak-anaknya
sendiri.
4. Edward Sapir Pergi ke California untuk bekerja dengan Alfred Kroeber
(Lauenburg-Polandia, 26 mendokumentasikan bahasa asli disana. Ia kemudian
Januari 1884) dipekerjakan oleh Survei Geologis Kanada selama 15
Antropologis-Linguistik tahun, tempat ia menjadi linguis yang paling signifikan di
dari Amerika, yang dikenal Amerika Utara, berdampingan dengan Leonard Bloomfield.
secara umum sebagai figur Ia ditawarkan untuk studi profesor di Universitas Chicago,
penting pada awal dan tinggal untuk beberapa tahun melanjutkan pekerjaannya
perkembangan linguistic. menyusun prinsip lingusitik. Dengan latar belakang
linguistiknya, Sapir menjadi salah satu mahasiswa Boas
untuk mengembangkan paling benar-benar hubungan antara
linguistik dan antropologi. Sapir mempelajari tentang cara
dimana bahasa dan pengaruh budaya masing-masing, dania
tertarik pada hubungan antara perbedaan bahasa, dan
perbedaan pandangan dunia budaya. Ini bagian dari
pemikirannya dalam Prinsip Relativitas Linguistik atau
hipotesis “Sapir-Whorf”. Dalam dunia antropologi, Sapir
dikenal sebagai pendukung awal pentingnya pengaruh
psikologi terhadap antropologi, yang meyakini bahwa sifat
hubungan antara individu yang berbeda merupakan hal-hal
yang penting untuk cara-cara dimana budaya dan
masyarakat berkembang.
Di antara kontribusi besarnya untuk linguistik adalah
klasifikasinya bahasa Adat Amerika, yang ia uraikan
selama sebagian besar kehidupan profesionalnya. Ia
memainkan peran penting dalam mengembangkan konsep
fonem modern, dan sangat memajukan pemahaman
fonologi. Sebelum Sapir, itu umumnya dianggap tidak
mungkin untuk menerapkan metode linguistic historis untuk
bahasa pribumi karena mereka diyakini lebih primitive
daripada bahasa Indo-Europa. Sapir adalah yang pertama
untuk membuktikan bahwa metode linguistic komparatif
sama-sama valid bila diterapkan pada bahasa pribumi.
Dalam edisi 1929 dari Encyclopedia Britannica ia
menerbitkan apa yang kemudian klasifikasi yang paling
otoritatif dari bahasa asli Amerika, dan yang pertama
berdasarkan bukti dari linguistik komparatif modern. Ia
adalah yang pertama untuk menghasilkan bukti untuk
klarifikasi Algic, Uto-Aztecan, dan bahasa Na-Dene. Ia
mengusulkan beberapa ‘keluarga bahasa’ yang tidak
dianggap telah dibuktikan secara memadai, tetapi yang
terus mengasilkan penyelidikan seperti Kuil Hokan dan
Penutian.
Dia mengkhususkan diri dalam studi bahasa Athabascan,
bahasa Chinookan, dan bahasa Uto-Aztecan, memproduksi
deskripsi tata bahasa penting dari Takelma, Wishram,
Southern Paiute. Kemudian dalam kariernya ia juga bekerja
dengan Yiddish, Ibrani dan Cina serta bahasa Jerman dan ia
juga diinvestasikan dalam pengembangan Auxilary Bahasa
Internasional.
5. Sir Raymond William Firth Pada tahun 1924 ia memulai penelitian doktoralnya di
(Auckland New Zaeland, London School of Economics. Awalnya bermaksud untuk
25 Maret 1901) menyelelesaikan tesis di bidang ekonomi, pertemuan
Etnolog Selandia Baru, kebetulan dengan antropolog sosial Malinowski
Profesor dari Antropologi membawanya untuk mengubah bidang studinya menjadi
di London School of ‘memadukan teori ekonomi dan antropologi dengan
Economics. etnografi Pasifik’. Pada tahun 1928, ia pertama kali
mengunjungi Tikopia, bagian paling selatan dari Kepulauan
Solomon, untuk mempelajari masyarakat Polinesia yang
belum tersentuh disana. Sebagai hasil dari karya etnografi
Firth, Perilaku masyarakat yang sebenarnya (organisasi
sosial) dipisahkan dari aturan perilaku yang diidealkan
dalam masyarakat tertentu (struktur sosial). Menghasilkan
sepuluh buku dan banyak artikel yang ditulis selama
bertahun-tahun. Yang pertama, We The Tikiopia: A
Sociological Study Of Kinship In Primitive Polynesia.
Mempelajari masyarakat Polinesia yang belum tersentuh di
sana, tahan terhadap pengaruh luar dan masih dengan
agama pagan dan ekonominya yang belum berkembang. Ini
adalah awal dari hubungan yang panjang dengan 1.200
orang dari pulau terpencil sepanjang 4 mil. Diterbitkan pada
tahun 1936 dan tujuh tahun kemudian masih digunakan
sebagai dasar untuk banyak program universitas tentang
Oceania.
1939-1940 melakukan penelitian lapangan di Kalantan dan
Terengganu di Malaya selama Perang Dunia II bekerja
untuk Intelijen Angkatan Laut Inggris terutama menulis dan
mengedit empat jilid Seri Buku Pegangan Geografis Divisi
Intelijen Angkatan Laut yang berkaitan dengan Kepulauan
Pasifik. Setelah pensiun dari pekerjaan mengajar, Firth
melanjutkan dengan minat penelitiannya, dan sampai tahun
keseratus dia memproduksi artikel.