Anda di halaman 1dari 18

tugas humaniora

oleh REZA AKBAR RAFSANJANI


NPM: 10100110069
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti
sama. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama ((make
to
common). Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara
penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi
bergantung
pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication
depends on our ability to un. Jadi, Keberhasilan Komunikasi bukan merupakan syarat
terjadinya komunikasi, karena ternyata "keberhasilan komunikasi" mempunyai
dimensi/nuansa yang berbeda antara ahli yang satu dengan yang lain.
Oleh sebab itu maka, timbul istilah Komunikasi Efektif yaitu komunikasi yang
hasilnya
sesuai dengan yang diharapkan oleh penyampai pesan. derstand one another).
Dalam bentuk nya komunikasi ada beberapa macam yaitu komunikasi
intrapesona,komunikasi antarpesona,komunikasi kelompok,komunikasi publik,komunik
asi
organisasi,dan komunilkasi massa.Pada makalah ini akan lebih dijelaskan komunika
si
antar
pesona contohnya antara dokter dengamn pasien.
Pada sebuah proses komunikasi yang terjadi terkadang kita juga akan mengalami
banyak hambatan dalam berkomunikasi. Beberapa Hambatan Komunikasi adalah :

1. Hambatan Sematik
2. Hambatan Mekanik
3. HambatanAntropologis
4. Hambatan Psikologis
Oleh sebab itu perlu ada pembahasan lebih lanjut tentang suatu komunikasi yang
efektif
yang dapat meminimalkan kesalahan persepsi antara pelaku komunikasi.Seperti hal
nya
komunikasi antara dokter dengan pasien,akhir-akhir ini banyak kesalahan komunika
si
antara dokter dengan pasien nya seperti contoh kasus dibawah ini :
Contoh kasus ini saya dapatkan dari blog dr. Yusuf Alam Romadhon, seorang dokter
umum di Solo, Jawa Tengah.

Gas Medik Yang Tertukar

Seorang pasien menjalani suatu pembedahan di sebuah kamar operasi. Sebagaimana


layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anestesi terlebih dahulu. Pembiusan dilak
ukan
oleh dokter anestesi, sedangkan operasinya dipimpin oleh dokter ahli bedah tulan
g
(ortopedi).

Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami kesulitan bernaf
as.
Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap mengalami gangguan pernap
asan
hingga tidak sadarkan diri. Akibatnya, ia harus dirawat terus menerus di perawat
an
intnsif dengan bantuan mesin pernapasan (ventilator). Tentu kejadian ini sangat
mengherankan. Pasalnya, sebelum dilakukan operasi, pasien dalam keadaan baik,
kecuali masalah tulangnya.

Usut punya usut, ternyata kedapatan bahwa ada kekeliruan pada pemasangan gas
anestesi (N2O) yang dipasang pada mesin anestesi. Harusnya gas N2O, ternyata yan
g
diberikan gas CO2. Padahal gas CO2 dipakai untuk operasi katarak. Pemberian CO2
pada
pasien tentu mengakibatkan tertekannya pusat-pusat pernapasan (respiratory distr
ess)
sehingga proses oksigenasi menjadi sangat terganggu, pasien menjadi tidak sadar
dan
akhirnya meninggal. Ini sebuah fakta penyimpangan sederhana , namun berakibat
fatal.

Dengan kata lain, ada sebuah kegagalan dalam proses penempatan gas anestesi. Dan
ternyata, di rumah sakit tersebut tidak ada standar-standar (SOP) pengamanan

Page 1
tugas humaniora
pemakaian gas yang dipasang di mesin anestesi. Padahal harusnya ada standar, sia
pa
yang harus memasang, bagaimana caranya, bagaimana monitoringnya, dan lain
sebagainya. Idealnya dan sudah menjadi keharusan bahwa perlu ada sebuah standar
yang
tertulis (misalnya warna tabung gas yang berbeda), jelas, dengan formulir yang
memuat berbagai prosedur tiap kali harus ditandai (cross) dan ditandatangani.
Seandainya, prosedur ini ada, tentu tidak akan ada, atau kecil kemungkinan
terjadinya kekeliruan. Dan kalaupun terjadi, akan cepat diketahui siapa yang
bertanggung jawab.

Karena itulah, aturan-aturan dan SOP ini sangat penting, yang termasuk dalam PDR
S
(peraturan dasar rumah sakit) atau PD Medik (peraturan dasar medik / Hospital by
Laws & Medical by Laws) dan dapat dipakai untuk pertimbangan-pertimbangan dalam
memutuskan perkara karena Hospital by Laws dapat merupakan perpanjangan tangan
hukum .

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa saja hambatan komunikasi.?
b. Termasuk jenis Hambatan Komunikasi Antarpersona yang mana?
c. Bagaimana seharusnya komunikasi Antarpersona yang Efektif yang diterapkan pad
a
kasus?
d. Faktor-faktor apa saja yang menimbulkan kesalahan pada kasus?
e. Faktor yang dapat menyelesaikan maslah pada kasus?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui hambatan komunikasi
b. Mengetahui jenis hambatan komunikasi antarpesona pada kasus.
c. Mengetahui komunikasi antarpesona yang efektif untuk kasus diatas seperti apa
seharusnya.
d. Mengetahui faktor-faktor yang menimbulkan kesalahan pada kasus diatas.
e.Mengetahui faktor yang dapat menyelesaikan kasus tersebut.
1.4 Tinjauan pustaka
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari
satu
pihak kepada pihak lain agar terjadi saling memengaruhi di antara keduanya.Pada
umumnya,
komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua b
elah
pihak.
pabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi m
asih
dapat
dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misa
lnya
tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu.Cara seperti ini disebut komuni
kasi
dengan bahasa nonverbal. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau
sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.Akan tetapi, komunikasi hanya ak
an
efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesa
n
tersebut.
Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk ¡§barang antik¡¨, topik
ini
menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan
sebagai ¡§penemuan yang revolusioner¡¨, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi
komunikasi yang pesat seperti radio.Televisi, telepon, satelit dan jaringan komu
ter
seiring
dengan industiralisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia.Komunik
asi
dalam
tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi
dibagi-bagi
menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun
subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komuni
kasi
itu sendiri.
Adapun Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa

Page 2
tugas humaniora
berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah
h Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada
pihak lain.
h Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak
kepada pihak lain.
h Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam
komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirka
n
getaran nada/suara.
h Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak
lain
h Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan ya
ng
disampaikannya. Ada 2 macam yaitu Feedforward adalah informasi yang disediakan
sebelum mengirimkan pesan primer (Richards, 1951 dalam DeVito, 2001:13).
dan Feedforward menyampaikan kilasan ihwal sesuatu yang akan disampaikan dalam
komunikasi. Feedforward berfungsi membuka saluran komunikasi, memberi preview
pesan, menegaskan posisi pembicara, menyampaikan pengharapan komunikator akan
tanggapan komunikan, sekaligus informasi mengenai positioning sang komunikan.
h Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu
akan dijalankan ("Protokol")
Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti beriku
t.

1. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain


mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu
bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa
dimengerti kedua pihak.]
2. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran
baik
secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui
telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
Ada pula media (channel) alat yang menjadi penyampai pesan dari komunikator ke
komunikan.
1. Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi
pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu
sendiri.Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan
atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan
yang dimaksud oleh si pengirim.
Selain itu pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau
meningkatkan aktifitas hubungan antara manusia atau kelompok
Jenis komunikasi terdiri dari:
1. Komunikasi verbal dengan kata-kata
2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh
1. Komunikasi Verbal mencakup aspek-aspek berupa ;
a. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pes
an
disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi
penting dalam berkomunikasi.
b. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan
bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
c. Intonasi suara: akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan
akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda.
Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d. Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan
catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri.
Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor
adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
e. Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat da
n
jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
f. Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena
berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya
dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang
disampaikan.
2. Komunikasi Non Verbal
Page 3
tugas humaniora

Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi
non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal.
Yang termasuk komunikasi non verbal :

a. Ekspresi wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah
cerminan suasana emosi seseorang.
b. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan
mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang
tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk
memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga
memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya
c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat
spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang
sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat
dilakukan melalui sentuhan.
d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan
bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan
merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
e. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu
ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi.
Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya
sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
f. Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan
isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukan kaki atau
mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan
stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hambatan Komunikasi


Melakukan komunikasi yang efektif tidaklah mudah. Beberapa ahli menyatakan
bahwa tidak ada proses komunikasi yang sebenar-benarnya efektif, karena selalu
terdapat
hambatan. Hambatan komunikasi pada umumnya mempunyai dua sifat berikut ini :

a. Hambatan yangbersifat objektif, yaitu hambatan terhadap proses komunikasi yan


g
tidak disengaja dibuat oleh pihak lain tetapi lebih disebabkan oleh keadaan yang
tidak menguntungkan. Misalnya karena cuaca, kebisingan kalau komunikasi di
tempat ramai, waktu yang tidak tepat, penggunaan media yang keliru, ataupun
karena tidak kesamaan atau tidak ¡§in tune¡¨ dari frame of reference dan field of
referencen antara komunikator dengan komunikan.
b. Hambatan yang bersifat subjektif, yaitu hambatan yang sengaja di buat orang l
ain
sebagai upaya penentangan, misalnya pertentangan kepentingan, prasangka, tamak,
iri hati, apatisme, dan mencemoohkan komunikasi.
Sedangkan jika diklasifikasikan hambatan komunikasi meliputi :
« Gangguan mekanik (mechanical/channel noise) yaitu gangguan disebabkan saluran
komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik.
« Gangguan semantik (semantic noise), yaitu bersangkutan dengan pesan komunikasi
yang pengertiannya menjadi rusak. Lebih banyak kekacauan penggunaan bahasa,
pengertian suatu istilah atau konsep terdapat perbedaan antara komunikator denga
n
komunikan.
« Gangguan personal (personnel noise), yaitu bersangkutan dengan kondisi fisik
komunikan atau komunikator yang sedang kelelalahan, rasa lapar, atau sedang
ngantuk. Juga kondisi psikologis, misalnya tidak ada minat, bosan, dan sebagainy
a.
« Kepentingan (Interest)
Interest akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu
pesan. Orang akan memperhatikan perangsang yang ada kaitannya dengan
kepentingannya. Kepentingan bukan hanya mempengaruhi perhatian kita tetapi juga
menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran, dan tingkah laku yang akan merupakan
sikap reaktif terhadap segala perangsang yang tidak bersesuaian atau bertentanga
n
Page 4
tugas humaniora

dengan suatu kepentingan.


« Motivasi
Motif atau daya dorong dalam diri seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kekurangannya. Pada umumnya
motif seseorang berbeda-beda jenis maupun intensitas dengan yang lainnya, termas
uk
intensitas tanggapan seseorang terhadap suatu komunikasi. Semakin komunikasi
sesuai motivasinya semakin besar kemungkinan komunikasi itu dapat diterima denga
n
baik oleh pihak komunikan.
« Prasangka (Prejudice)
Sikap seseorang terhadap sesuatu secara umum selalu terdapat dua alternatif like
and
dislike, atau pun simpati dan tidak simpati. Dalam sikap negatif (dislike juga t
idak
simpati) termasuk prasangka yang akan melahirkan curiga dan menentang
komunikasi. Dalam prasangka emosi memaksa seseorang untuk menarik kesimpulan
atas dasar stereotif (tanpa menggunakan pikiran rasional). Emosi sering membutak
an
pikiran dan pandangan terhadap fakta yang nyata, tidak akan berpikir secara obje
ktif
dan segala yang dilihat selalu akan dinilai negatif.
« Evasi Komunikasi
Evasion of communication adalah gejala mencemoohkan dan mengelakkan suatu
komunikasi untuk kemudian mendiskreditkan atau menyesatkan pesan komunikasi.
Menurut E. Cooper dan M. Johada yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendi dalam
buku ¡§Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi¡¨ menyatakan beberapa jenis evasi :
Menyesatkan pengertian (understanding derailed), contoh : Apabila seorang
mahasiswa menyerukan pada teman-temannya untuk meningkatkan prestasi belajar
dengan jalan rajin masuk kuliah, rajin membaca, dan menghormati dosen. Maka
komunikasinya oleh mahasiswa lain mungkin akan diangggap sebagai usaha mencari
muka.
« Mencacadkan pesan komunikasi (message made invalid)
« Mengubah kerangka referensi (changing frame of reference), menunjukkan seseorang
yang menggapi komunikasi dengan diukur oleh kerangka referensi sendiri, menurut
seleranya sendiri tanpa memperhatikan kerangka referensi orang yang akan diberik
an
pesan tersebut.

2.2 Jenis hambatan pada komunikasi antarpesona


Jenis hambatan antar pesona bisa dikarenakan :
h Hambatan dari pengirim pesan,
h Hambatan dalam penyandian/simbol
h Hambatan dari penerima pesan,
h Hambatan dalam memberikan balikan.
Yang dapat menimbulkan kesalahan komunikasi antarpesona contoh nya kasus ini yan
g
menyebabkan terjadinya kesalahan prosedur operasi.

2.3 Komunikasi antar pesona yang efektif


Suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi.
Komunikasi terjadi secara tatap muka (face to face) antara dua individu atau den
gan
perantaraan non media massa.
Karakter KAP (Judy C. Pearson)

1. KAP dimulai dengan diri pribadi (self). Berbagai persepsi komunikasi yang
menyangkut pemaknaan berpusat pada diri kita, artinya dipengaruhi oleh
pengalaman dan pengamatan kita.
2. KAP bersifat transaksional. Anggapan ini mengacu pada pihak-pihak yang
berkomunikasi secara serempak dan bersifat sejajar, menyampaikan dan menerima
pesan.
3. KAP mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi. Artinya isi pes
an
dipengaruhi oleh hubungan antar pihak yang berkomunikasi.
4. komunikasi antarpribadi mensyaratkan kedekatan fisik antar pihak yang
berkomunikasi.
5. KAP melibatkan pihak-pihak yang saling bergantung satu sama lainnya dalam pro
ses
komunikasi.
6. KAP tidak dapat diubah maupun diulang. Jika kita salah mengucapkan sesuatu pa
da
pasangan maka tidak dapat diubah. Bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan atau
menghapus yang sudah dikatakan.
Page 5
tugas humaniora

Tujuan KAP

æ Sebagai sarana pembelajaran. Melalui komunikasi antarpribadi kita belajar untuk


lebih memahami dunia luar atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini.
Walaupun sebagian besar informasi tersebut kita dapatkan melalui media massa,
informasi tersebut dapat kita bicarakan melalui komunikasi antarpribadi.
æ Mengenal diri sendiri dan orang lain. Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat
mengenal diri kita sendiri. Dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada o
rang
lain, kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memaha
mi
lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Persepsi diri kita sebagian besa
r
merupakan hasil interkasi kita dengan orang lain.
æ Komunikasi antarpribadi membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to
person). Karena manusia adalah mahluk social, maka kebutuhan untuk berhubungan
dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.
æ Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat mempengaruhi individu untuk melakukan
sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan.
æ Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat mengakrabkan diri kita dengan orang
lain.
æ Bermain dan mencari hiburan. Dalam berkomunikasi tidak selamanya kita selalu
berusaha mempengaruhi orang lain. Kita berkomunikasi juga untuk memperoleh
kesenangan. Bercerita tentang film yang kita tonton, melontarkan lelucon,
membicarakan hobi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperolah hiburan.
Faktor KAP yang tidak terlihat :
Faktor 1: Meaning (makna)
Ketika simbol ada, maka makna itu ada dan bagaimana cara menanggapinya. Intonasi
suara,
mimik muka, kata-kata, gambar dsb. Merupakan simbol yang mewakili suatu makna.
Misalnya intonasi yang tinggi dimaknai dengan kemarahan, kata pohon mewakili
tumbuhan
dsb.
Faktor 2: Learning
h Interpretasi makna terhadap simbol muncul berdasarkan pola-pola komunikasi yang
diasosiasikan pengalaman, interpretasi muncul dari belajar yang diperoleh dari
pengalaman. Interpretasi muncul di segala tindakan mengikuti aturan yang diperol
eh
melalui pengalaman.
h Pengalaman merupakan rangkaian proses memahami pesan berdasarkan yang kita
pelajari. Jadi makna yang kita berikan merupakan hasil belajar.
h Pola-pola atau perilaku komunikasi kita tidak tergantung pada turunan/genetik,
tapi
makna dan informasi merupakan hasil belajar terhadap simbol-simbol yang ada di
lingkungannya.
h Membaca, menulis, menghitung adalah proses belajar dari lingkungan formal.
Jadi, kemampuan kita berkomunikasi merupakan hasil learning (belajar) dari
lingkungan.
Faktor 3: Subjectivity
h Pengalaman setiap individu tidak akan pernah benar-benar sama, sehingga individ
u
dalam meng-encode (menyusun atau merancang) dan men-decode (menerima dan
mengartikan) pesan tidak ada yang benar-benar sama.
h Interpretasi dari dua orang yang berbeda akan berbeda terhadap objek yang sama.
Faktor 4: Negotiation
h Komunikasi merupakan pertukaran symbol. Pihak-pihak yang berkomunikasi
masingmasing
mempunyai tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam upaya itu terjadi
negosiasi dalam pemilihan simbol dan makna sehingga tercapai saling pengertian.
h Pertukaran simbol sama dengan proses pertukaran makna.
h Masing-masing pihak harus menyesuaikan makna satu sama lain.
Faktor 5: Culture
h Setiap individu adalah hasil belajar dari dan dengan orang lain.
h Individu adalah partisipan dari kelompok, organisasi dan anggota masyarakat.
h Melalui partisipasi berbagi simbol dengan orang lain, kelompok, organisasi dan
masyarakat.
h Simbol dan makna adalah bagian dari lingkungan budaya yang kita terima dan kita
adaptasi.
h Melalui komunikasi budaya diciptakan, dipertahankan dan dirubah.
Page 6
tugas humaniora

h Budaya menciptakan cara pandang (point of view)


Faktor 6: Self
h Self reference.
Perilaku dan simbol-simbol yang digunakan individu mencerminkan pengalaman
yang dimilikinya, artinya sesuatu yang kita katakan dan lakukan dan cara kita
menginterpretasikan kata dan tindakan orang adalah refleksi makna, pengalaman,
kebutuhan dan harapan-harapan kita.
h Self reflexivity.
Kesadaran diri (self-cosciousnes) merupakan keadaan dimana seseorang memandang
dirinya sendiri (cermin diri) sebagai bagian dari lingkungan. Inti dari proses
komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian dari
lingkungannya dan itu berpengaruh pada komunikasi.
Faktor 7: Inevitability
h Kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Walaupun kita tidak melakukan apapun
tetapi diam kita akan tercermin dari nonverbal yang terlihat, dan itu mengungkap
suatu makna komunikasi.
Tehnik Komunikasi Efektif
Untuk meningkatkan efektifitas komunikasi antar pribadi (interpersonal
communication) antara dokter dan pasien , inisiatif harus diambil oleh dokter ka
rena
menurut
para ahli, dokterlah yang dituntut untuk menciptakan suasana yang medukung. Akan
tetapi
seperti juga disebutkan sebelumnya, waktu kerja dokter sangat sempit dengan
pekerjaaan yang banyak, sehingga tehnik yang dapat diterapkan harus bersifat
sederhana,
mudah digunakan dan efektif.
Terdapat banyak cara untuk dapat melakukan komunikasi secara efektif. Tetapi dar
i
sekian banyak cara, terdapat cara yang bisa dianggap mudah untuk menciptakan
komunikasi
yang efektif yaiu dari teori yang dibuat oleh DeVito. Untuk dapat menciptakan
komunikasi
antara persona, terdapat syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
Ï Positiveness (sikap positif)
Ï Empathy (merasakan perasaan orang lain)
Ï Supportiveness (sikap mendukung)
Ï Equality (keseimbangan antar pelaku komunikasi)
Ï Openess (sikap dan keinginan untuk terbuka)
Dalam tindakan praktisnya, kondisi komunikasi antara dokter gigi dengan pasienny
a
diharapkan terjadi seperti berikut:
Positiveness : Dokter diharapkan mau menunjukkan sikap positif pada pesan yang
disampaikan oleh pasien (keluhan, usulan, pendapat, pertanyaan). Tidak boleh seo
rang
dokter
selalu menyanggah apapun yang sampaikan pasiennya, sesederhana bahkan seaneh apa
pun
pesan yang disampaikan, (karena mungkin menurut pasien, pesan itu merupakan gaga
san
hebat). Dengan demikian pasien akan lebih berani menyampaikan pesannya, bukan
kemudian
menyimpannya dalam hati dan menyampaikannya, bahkan mengadukan pada orang lain.
2.4 Analisis Terhadap Kasus
Sebagaimana layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anestesi terlebih dahulu.
Pembiusan dilakukan oleh dokter anestesi, sedangkan operasinya dipimpin oleh dok
ter
ahli bedah tulang (ortopedi).

Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami kesulitan bernaf
as.
Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap mengalami gangguan pernap
asan
hingga tidak sadarkan diri.
dan akhirnya meninggal.hal ini sangat di sayangkan , karena terjadi kesalahan
pemasangan gas akhirnya berakibat fatal.

2.5 Penyelesaian Kasus


Pada kasus diatas terjadi komunikasi yang tidak efektif sehingga

Page 7
tugas humaniora
menimbulakan malapratek terhadap pasien.Sekarang ini komunikasi anatara pasien
dengan dokter adalah hal utama bagi seorang dokter dalam menyelesaikan masalah
yang dialami pasiennya.Dokter sebelumnya harus mempelajari terlebih dahulu apa i
tu
komunikasi bukan ahanya sekedar tau pengertian nya saja tapi menerapkan
konsep,bentuk,komponen,dan teknis komunikasinya.Komunikasi efektif dibangun
dari saling kepercayaan dari seorang pasien untuk menceritakan segala hal yang
dialami oleh dirinya kepada pasien,dari situ dokter bisa melakukan pengumpulan
informasi yaitu :
-proses anamnesa
-penyampaian informasi
Komunikasi yang tidak efektif dapat menimbulakan masalah antara hubungan
pasien dengan dokter yang dapat menyebabkan malpraktek,selain itu pula pada kasu
s
ini informasi yang dikumpulkan oleh pihak administrasi harus benar-benar rinci d
an
tidak ada kesalahan disini pula diperlukan keterampilan dalam berkomunikasi deng
an
menciptakan sikap dan sifat :
Ï Positiveness (sikap positif)
Ï Empathy (merasakan perasaan orang lain)
Ï Supportiveness (sikap mendukung)
Ï Equality (keseimbangan antar pelaku komunikasi)
Ï Openess (sikap dan keinginan untuk terbuka)
Selain dari komunikasi yang tidak efektif terjadi suatu hambatan yang menyebabka
n
komunikasi tersebut tidak berjalan dengan baik ,dimana bisa berupa
h Hambatan dari pengirim pesan,
h Hambatan dalam penyandian/simbol
h Hambatan dari penerima pesan,
h Hambatan dalam memberikan balikan.
Hambatan-hambatan tersebut dapat dihindari jika seorang dokter dapat berkomunika
si
dengan baik dan menciptakan suasana yang baik pada saat pasien datang kepada dia
.
Jadi komunikasi efektif dapat menyelesaikan masalah yang dialami pasien selain i
tu
mempermudah untuk seorang dokter dalam melakukan anamesa dan diagnosi yang benar
.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari
satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling memengaruhi di antara keduanya.
Pada
umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal dan bahasa nonverbal. Mel
alui
komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami ol
eh
pihak
lain.Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan d
apat
ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.Keberhasilan berkomunikasi diperol
eh
dari
komunikasi yang efektif terutama penting bagi seorang dokter yang melakukan
interaksi
dengan pasiennya.Komunikasi yang efektif meliputi :
Ï Positiveness (sikap positif)
Ï Empathy (merasakan perasaan orang lain)
Ï Supportiveness (sikap mendukung)
Ï Equality (keseimbangan antar pelaku komunikasi)
Ï Openess (sikap dan keinginan untuk terbuka)
Pada kasus ini terjadi komunikasi yang tidak efektif sehingga menimbulkan kesala
han
dalam prosedur operasi (malpraktek).Komunikasi yang tidak efektif ini disebabkan
karena adanya suatu hambatan komunikasi seperti :
h Hambatan dari pengirim pesan,
h Hambatan dalam penyandian/simbol
h Hambatan dari penerima pesan,
h Hambatan dalam memberikan balikan.

3.2 Saran
Dari makalah yang saya tulis ini,saya berharap pembaca mengetahui dan mempelajar
i
komunikasi secara keseluruhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan seharihari.
Komunikasi yang efektif memberikan kemudahan untuk kita hkususnya sebagai dokter

Page 8
tugas humaniora
dalam melakukan anamesa dan diagnosis terhadapat pasien.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
(diakses pada tanggal 4 maret 2011,pukul 20.34)
http://dodimawardi.wordpress.com/2009/04/19/komunikasi-efektif-antar-personal/
(diakses pada tanggal 4 maret 2011 pukul 20.40)
http://www.scribd.com/doc/3998836/Komunikasi-Efektif-Dokter-dan-Pasien2
(diakses pada tanggal 4 maret 2011 pukul 21.10)
http://kampuskomunikasi.blogspot.com/2008/06/hambatan-dalam-proses-komunikasi.ht
ml
(diakses pada tanggal 5 maret 2011 pukul 10.30)
www.scribd.com/.../Komunikasi-Efektif-Dokter-dan-Pasien2
(diakses pada tanggal 6 maret 2011 pukul 11.40)
http://everythingaboutortho.wordpress.com/2008/09/13/contoh-kasus-malpraktik-di-
bida
ng-orthopaedy-bagian-ii/

Page 9