Anda di halaman 1dari 2

Sunah-sunah Ab’ad dalam Ibadah Shalat

Sabtu 10 Maret 2018 14:02 WIB

Shalat tidak hanya memiliki syarat dan rukun, tetapi juga memiliki kesunahan-kesunahan. Kesunahan
dalam shalat ada dua, sunah ab’ad dan sunah hai’ah. Beberapa ulama, salah satunya, Zainuddin Al-
Malibari bahkan menjelaskan sunah lain selain ab’ad dan hai’ah. Adapun terkait sunah ab’ad, Abu Bakar
Muhammad bin Syatha’ Dimyathi dalam kitab I‘anatut Thalibin menjelaskan bahwa sunah ab’ad adalah
sunah yang dianjurkan kuat untuk diganti dengan sujud (sahwi) jika melewatkannya. Bahkan, menurut
Syekh Muhammad bin Syatha’, sunah itu dinamai ab‘ad karena sunah tersebut menjadi bagian (ba’dhu)
dari rukun shalat.

Ibnu Ruslan sebagaimana dikutip oleh Syekh Muhammad bin Syatha’ menulis sebuah nadham yang
menjelaskan rincian sunah ab’ad berikut ini:

‫ تشهد إذ تبتديه * * ثم القعود وصالة هللا فيهش على النبي وآله في اآلخر * * ثم القنوت وقيام القادر في االعتدال الثان من صبح‬2‫أبعاضها‬
‫وفي * * وتر لشهر الصوم إن ينتصف‬

Artinya, “Adapun ab’ad shalat adalah dimulai dengan tasyahud kemudian duduk tasyahud awal dan
membaca shalawat untuk Nabi SAW kemudian qunut pada saat berdiri i’tidal di rakaat kedua shalat
subuh dan witir di pertengahan bulan Ramadhan,” (Lihat Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah
I’anatut Thalibin, [Beirut: Darul Fikr, tanpa catatan tahun], halaman 196).

Menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dalam Kitab Safinatun Naja sunah ab’ad terdiri atas tujuh:

Pertama, tasyahud. Yang dimaksud tasyahud dalam hal ini adalah tasyahud yang tidak dilanjutkan
dengan salam, yaitu tasyahud awal. Adapun dalil atas hal ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW hanya duduk sekali dan
dilanjutkan dengan dua sujud.

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasul mengganti tasyahud pertama dengan dua sujud.

‫ ولم ينجبر تركه بسجود السهو‬،‫ فلو كان ركنا ً الضطر إلى اإلتيان به‬،‫تعويضا ً عن التشهد األول الذي تركه بترك الجلوس له‬

Artinya, “(Dua sujud yang dilakukan Rasul SAW) menjadi ganti dari tasyahud awal yang ditinggalkan
Rasul karena tidak duduk tasyahud juga. Jika tasyahud termasuk rukun, maka tentu nabi akan
melakukannya, serta tidak menggantikannya dengan sujud sahwi,” (Lihat Musthafa Al-Bugha dan
Musthafa Al-Khin, Al-Fiqhul Manhaji ala Madzhabil Imamis Syafi'i, [Damaskus: Darul Qalam, 1992],
halaman 145).

Kedua, duduk untuk tasyahud awal. Hal ini dilandaskan atas dalil hadits yang telah disebutkan di atas.

Ketiga, membaca shalawat nabi pada tasyahud awal sehingga dalam duduk tasyahud awal terdapat tiga
hal yang termasuk sunah ab’ad. Jika sunah ini ditinggalkan, maka dianjurkan untuk digantikan dengan
sujud sahwi, yaitu duduk tasyahud awal, membaca tasyahud awal, dan membaca shalawat kepada nabi
pada tasyahud awal.
Keempat, membaca shalawat kepada keluarga nabi pada tasyahud akhir.

Kelima, membaca qunut.

Keenam, membaca shalawat salam kepada nabi pada qunut.

Ketujuh, membaca shalawat kepada keluarga nabi pada qunut. Ada beberapa hal yang menyebabkan
kebanyakan orang meninggalkan sunah ab’ad di atas sehingga dianjurkan untuk mengerjakan sujud
sahwi. Di antaranya, adalah lupa, ragu telah melakukannya atau tidak. Wallahu a‘lam.

(M Alvin Nur Choironi)

Sumber: https://islam.nu.or.id