Anda di halaman 1dari 4

Menilik Kembali Makna Fitrah dan Fitri

Oleh Abdul Syukur

Kebiasaan umat Islam jelang dan dalam suasana lebaran Idul Fitri pada 1 Syawal adalah selalu
mengucapkan dan memahami makna Idul Fitri sebagai kembali kepada kesucian. Id berarti kembali, dan
fitri berarti suci. Bahkan, sering disamakan makna fitri dengan makna fitrah. Untuk itu, melalui tulisan
ini mari kita pahami makna fitrah dan fitri sesuai dengan maksud dan esensi maknanya, sekaligus
meluruskan makna yang salah kaprah tersebut.

Kata Fitrah ( ‫ )فط رة‬berbeda makna dengan kata Fitri (‫)فطر‬. Namun karena tulisan, bacaan, dan
terdengarnya hampir sama, pada umumnya masyarakat menyamakan makna dua kata itu meski beda
makna. Dalam tinjauan Al-Qur’an, kata Fitrah terdapat dalam Al-Qur'an surat Ar-R ūm ayat 30 yang
artinya: "Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah".

Ibnul Jauzi dalam Kitab Zadul Masir, jilid 3 halaman 422 menjelaskan makna fitrah di sini sebagai kondisi
awal penciptaan, di mana manusia diciptakan oleh Allah pada kondisi tersebut. Setiap manusia
dilahirkan dalam keadaan fitrah yang merupakan potensi atau sifat dasar bagi manusia. Berarti fitrah
manusia (‫ )فطرة الناس‬adalah sifat dasar atau potensi yang ada atau dimiliki oleh manusia. Fitrah manusia
diciptakan oleh Allah untuk dikembangkan oleh manusia.

Pada hakekat awalnya, fitrah merupakan potensi relijius, faktor dasar ketauhidan manusia untuk
mengenal Allah sebagai Rabb dan Khaliq yaitu Tuhan dan Pencipta bagi makhluk (manusia). Dengan
fitrah, manusia telah mengenal Allah sebagai sesembahan yang Esa. Bahkan di alam arwah, manusia
ditanya oleh Rabb-nya:

‫الست بربكم؟ قالوا بلى شهدنا‬

"Bukankah Aku sebagai Tuhan kalian? Mereka menjawab: Ya kami bersaksi (Engkau Tuhan bagi kami)."

Namun demikian, lengah dan lupa kepada Tuhan dan keesaanNya. Sebagai mana penghujung ayat Al-
Qur'an itu berbunyi:

‫انا كنا عن هذا غافلين‬

"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."

Akibat tak menjaga janji dengan Tuhan, mereka lengah, kemudian mereka (manusia) mengalami
gesekan dengan lingkungannya, atau perubahan fitrah manusia akibat pengaruh lingkungan keluarga
dan lingkungan sosial. Sehingga ada manusia yang fitrahnya baik dan menganut ajaran Islam atau
menjadi muslim dan mukmin, namun ada juga manusia yang menganut ajaran Nasrani atau agama lain.
Singkatnya, makna fithrah adalah potensi atau faktor dasar bagi manusia yang dalam bahasa Yunani
menurut Aristoteles disebut Idea innatea yaitu keadaan baik, suci tanpa dosa, dan bisa potensi jahat
atau kotor atau salah.

Hal ini disinyalir dalam QS. Asy-Syams ayat 7-10

‫ وقدخاب من دسىها‬.‫ قد افلح من زكىها‬.‫ فالهمها فجورها وتقوىها‬.‫ونفس وما سوىها‬

“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Dia (Allah) mengilhamkan kepadanya (jalan)
kejahatan dan kebaikan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa). Dan sungguh merugi
orang yang mengotori jiwa itu”.

Kata fithrah juga bermakna jiwa ( ‫ )النفس‬yang menjadi bagian inti dan esensi dari jiwa. Fitrah yang
membuat jiwa tetap suci adalah orang yang selalu dzikrullah dan shalat sebagaimana termaktub dalam
QS. Al-A'la: 15

‫وذكر اسم ربه فصلى‬

"Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat." Sebaliknya, yang membuat jiwa kotor adalah dusta
dan ekstrem, ghuluw /thaghau atau kebohongan dan tindakan melampaui batas (zhalim). Ini
diterangkan dalam QS.Asy-Syams: 11

‫كذبت ثمود بطغوىها‬

"(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas (zalim).

Sementara kata Fithri ( ‫ )فطر‬berasal dari kata afthara (‫ )افطر‬yufthiru (‫ )يفطر‬yang artinya berbuka atau
tidak lagi berpuasa. Hal ini tersebut ketika kita berdo'a berbuka puasa:

‫اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك افطرت‬

"Ya Allah, kepadaMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan atas rejekiMu aku berbuka (puasa
Ramadhan)"

Adapun berbuka puasa terakhir (hari terakhir) di bulan Ramadhan, disebut 'idul fithri (‫)عيد الفطر‬. Berarti
secara etimologis, Idul Fitri bermakna hari raya berbuka puasa. Sebab, berakhirnya puasa Ramadhan
ditandai dengan berbuka terakhir, dan esok harinya, pada tanggal 1 Syawwal umat Islam haram
berpuasa, dan wajib tidak berpuasa dan harus berbuka puasa.

Tetapi, masyarakat lumrah atau salah kaprah mengartikan Idul Fitri sebagai kembali suci, kembali pada
kesucian, atau kembali ke suci. Pemahaman ini berargumentasi pada kondisi manusia yang telah
berpuasa Ramadhan kembali suci bagaikan bayi baru lahir tanpa dosa. Untuk memperkuat argumen
disandarkan pada dalil hadits Nabi:

‫كل مولود يولد على الفطرة‬

"Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitrah”.


Lagi-lagi, makna fithrah dalam hadits ini juga bukan suci, namun berarti potensi/sifat dasar dengan
sambungan redaksi hadits tersebut:

‫فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه‬

"Maka kedua orang tuanya (bayi/anak itu) akan menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Dan aksentuasi hadits ini adalah pada peran orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga.

Fithrah dan Fithri Manusia di Bulan Syawal Bulan Syawal adalah bulan peningkatan amal ibadah kita
untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. Sesuai dengan namanya, kata Syawal/Syawwal
adalah bentuk Mashdar yang berasal dari bentuk kata kerja (fi'il) yaitu syawwala, yusyawwilu (‫)شول يشول‬,
bermakna meningkatkan, dan syawwal berarti peningkatan.

Tanggal 1 Syawwal merupakan momentum dan gerbang masuk bagi orang-orang yang telah berpuasa
selama Ramadhan untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. Pancaran iman dan takwa
menjadikan mereka makin tekun ibadah baik yang mahdhah dan ghairu mahdhah. Akhlakul karimah
juga mewarnai kehidupannya sebagai puncak keimanan dan ketakwaan bagi umat Islam yang telah
memperoleh kemenangan.

Mereka yang memperoleh Kemenangan (‫ )من الفائزين‬adalah orang-orang yang bebas dari belenggu hawa
nafsu, bebas dari budak nafsu, merdeka sebagai jati diri manusia sebagai hamba Allah. Mereka hanya
menghamba (ibadah) kepadaNya dan termasuk orang-orang yang bebas. Kemudian ini juga diungkapkan
dengan kalimat (‫ )من العائدين‬yang secara bahasa berarti "termasuk dari orang-orang yang berbuka."

Makna filosofisnya adalah harapan agar Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bebas dari
budak hawa nafsu. Hal ini selaras dengan manusia yang beriman dan bertaqwa serta memiliki derajat
yang mulia harus mampu mengembalikan hawa nafsu dalam dirinya. Bukan nafsu yang mengendalikan
diri manusia sehingga manusia diperbudak oleh nafsunya.

Sehingga, orang yang telah memperoleh kemenangan mengalahkan hawa nafsu dinamakan al-muflihun,
al-faizun, al-'aidun yang pada tanggal 1 syawal atau Idul Fitri diwujudkan dalam budaya dan selalu
mengucapkan Minal 'Aidin wal Faizin (Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang
berbuka dan berbahagia).

Dalam konteks kekinian, di antara cerminan seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu setelah
Ramadhan adalah kemampuan untuk meninggalkan kemadlaratan dari pada mengambil manfaat.
Seperti pada pandemi Covid-19 yang belum berakhir saat ini, maka sebaiknya kita tunda mudik, tidak
pulang ke kampung halaman demi menjaga kesehatan dan keselamatan semua. Terkait silaturrahim bisa
dilakukan secara langsung dan tidak langsung memanfaatkan hasil perkembangan teknologi internet.
Daripada mudik tetapi akan beresiko pada kesehatan dan keselamatan diri kita serta keluarga di
kampung.

‫كل عام وانتم بخير‬

“Semoga sepanjang tahun kalian dalam keadaan baik.". Wallahu A'lam bish-shawab.
Penulis adalah Wakil Ketua PWNU Lampung dan Dosen UIN Raden Intan Lampung

Sumber: https://www.nu.or.id

Rabu 12 Mei 2021 11:45 WIB