Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM SEL VOLTA

PEMANFAATAN JERUK NIPIS SEBAGAI ALTERNATIF


BATERAI

Disusun Oleh :
Dyanata Irdina Anthea (12)

KELAS XII MIPA 5


TAHUN PELAJARAN 2020/2021
MAN 1 KOTA MALANG
KATA PENGANTAR

Segala puji kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga laporan
praktikum ini dapat selesai tepat pada waktunya. Tanpa pertolongan-Nya tentu laporan ini tidak dapat
terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada
baginda kita tercinta yaitu Nabi besar Muhammad SAW yang selalu kita nantikan syafa’aatnya di
akhirat kelak. Penulis mengucap syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya baik
berupa sehat fisik maupun akal pikiran. Tak lupa ucapan terimakasih penulis haturkan kepada Bu
Nurul Fitriah, S.Si, M.Si selaku guru mata pelajaran kimia yang senantiasa memberikan bimbingan
sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan laporan ini sebagai tugas mata pelajaran
kimia dengan judul “Pemanfaatan Jeruk Nipis Sebagai Alternatif Baterai”.

Laporan praktikum ini bertujuan untuk membuktikan bahwa jeruk nipis dapat dijadikan
sebagai alternatif baterai karena dapat menghantarkan listrik dengan menerapkan prinsip sel volta.
Penulis tentu menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat
kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari
pembaca untuk laporan ini, supaya laporan ini nantinya dapat menjadi lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada laporan ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Demikian semoga laporan praktikum ini dapat bermanfaat. Terimakasih.

Probolinggo, 24 Desember 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………...ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………1
C. Tujuan Penelitian………………………………………………………………………….1
D. Metode Penelitian………………………………………………………………………….1
E. Hipotesis………………………………………………………………………………….. 2
F. Manfaat……………………………………………………………………………………2

BAB II TEORI
A. Sel Elektrokimia
1. Sel Volta……………………………………………………………………………….3
a. Diagram Sel Volta…………………………………………………………………4
b. Deret Volta……………………………………………………………………….. 4
c. Potensial Elektroda……………………………………………………………….. 4
d. Potensial Sel Standar………………………………………………………………5
e. Sel Volta Dalam Kehidupan……………………………………………………….5

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu………………………………………………………………................8
B. Alat dan Bahan……………………………………………………………………………..8
C. Prosedur Kerja ……………………………………………………………………………..9

BAB IV PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan………………………………………………………………………….11
B. Pembahasan …………………………………………………………………………….…11

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………………….…….....12
B. Saran……………………………………………………………………………………....12

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………….....12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana yang kita tahu, dibalik bentuknya yang kecil ternyata jeruk nipis
mempunyai manfaat yang sangat besar. Jeruk nipis merupakan salah satu jenis buah yang
banyak diproduksi di Indonesia. Tanaman jeruk nipis akan tumbuh dengan baik di lokasi yang
mendapat cukup sinar matahari. Jeruk nipis mengandung sari asam yang tinggi. Buah jeruk
nipis banyak mengandung vitamin C, asam sitrat, asam amino (triptofan dan lisin), minyak
atsiri (sitral, limonene, fe landen, lemon kamfer, kadinen, dan niidehida), glikolisa, asam
sitrun, belerang dan vitamin B1 (tiamin). Buah jeruk nipis terkenal sebagai buah yang
berkhasiat menyembuhkan batuk, mengurangi dahak, menyembuhkan panas dalam, merawat
kecantikan wajah serta menghilangkan jerawat. Tapi tak pernah kita duga, ternyata jeruk nipis
pun dapat digunakan untuk membuat baterai. Kandungan senyawa asam yang ada dalam jeruk
nipis dapat diubah menjadi energi listrik dalam suatu rangkaian sel volta.
Senyawa asam merupakan salah satu larutan elektrolit. Larutan elektrolit merupakan
larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Kemampuan untuk menghantarkan arus listrik
tersebut dikarenakan adanya ion-ion dalam larutan yang dapat bergerak bebas. Semakin
banyak ion-ion yang terdapat dalam suatu larutan, sifat elektrolitnya semakin kuat.  Semakin
kuat sifat elektrolit suatu larutan akan memberikan nyala lampu yang semakin terang dan
semakin banyak terbentuk gelembung gas saat dilakukan uji larutan elektrolit.
Senyawa asam yang terkandung dalam jeruk nipis dapat diubah menjadi energi listrik
dengan prinsip sel volta, dimana kita membutuhkan anoda dan katoda yang berfungsi sebagai
kutub negatif dan kutub positif. Anoda dan katoda yang berupa logam dicelupkan ke dalam
larutan elektrolit yang mengandung masing-masing ion logamnya. Contoh logam yang dapat
menghasilkan listrik adalah reaksi antara seng (Zn) dan tembaga (Cu). Contoh penerapan sel
volta dalam kehidupan sehari-hari yaitu terdapat pada penggunaan baterai. Pada praktikum
kali ini, penulis akan membuat baterai buah yang berasal dari jeruk nipis sebagai alternatif
baterai.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara membuat baterai buah dari jeruk nipis?
2. Bagaimana penerapan prinsip sel volta dalam baterai buah?
3. Bagaimana perbandingan kuat tegangan yang dihasilkan oleh baterai buah dengan baterai
pada umumnya?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui cara membuat baterai buah dari jeruk nipis.
2. Untuk mengetahui penerapan prinsip sel volta dalam baterai buah.
3. Untuk mengetahui perbandingan kuat tegangan yang dihasilkan oleh baterai buah dengan
baterai pada umumnya.

D. Metode Penelitian

1
Metode penelitian yang digunakan dalam praktikum ini menggunakan data kualitatif dan
kuantitatif.

3
E. Hipotesis
1. Jeruk nipis memiliki kandungan senyawa asam yang dapat menghantarkan listrik dengan
baik.
2. Baterai buah merupakan alternatif terbaik untuk menggantikan penggunaan batu baterai.
3. Baterai buah dari jeruk nipis menggunakan prinsip kerja sel volta dengan paku besi
sebagai anoda dan koin kuning sebagai katoda.

F. Manfaat
1. Sebagai sumber alternatif baterai baru.
2. Sebagai salah satu upaya untuk menghasilkan energi listrik.

BAB II
TEORI

A. Sel Elektrokimia
Elektrokimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari hubungan antara
perubahan zat dan arus listrik yang berlangsung dalam sel elektrokimia. Sedangkan sel
elektrokimia adalah suatu sel yang disusun untuk mengubah energi kimia menjadi energi
listrik atau sebaliknya. Sel elektrokimia terbagi menjadi dua:
1.     Sel elektrolisis, yaitu sel yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia. Arus listrik
digunakan untuk melangsungkan reaksi redoks tak spontan.
2.     Sel Volta/Galvani, yaitu sel yang mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Reaksi
redoks spontan digunakan untuk menghasilkan listrik.
Sel elektrokimia merupakan suatu sistem yang terdiri atas dua elektroda, dan
larutan/leburan elektrolit sebagai penghantar elektron. Pada sel volta maupun sel elektrolisis,
reaksi redoks berlangsung dalam suatu elektroda.

Elektroda dibedakan menjadi 2, yaitu anoda dan katoda


•)  Katoda  adalah  elektroda  tempat  berlangsungnya  reaksi  reduksi (Ka-red)
•)  Anoda  adalah  elektroda  tempat  berlangsungnya  reaksi  oksidasi (Anoks)
Adapun perbedaan sel volta dan elektrolisis dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Sel Volta Elektrolisis


Menghasilkan listrik dari reaksi redoks Menghasilkan reaksi redoks dari listrik
Mengubah energi kimia menjadi listrik Mengubah energi listrik menjadi kimia

2
Rangkaian dalamnya disebut jembatan garam Rangkaiannya dalamnya disebut membran
Anoda = kutub (-) Anoda = kutub (+)
Katoda = kutub (+) Katoda = kutub (-)
Berlangsung spontan Berlangsung tidak spontan

1.      SEL VOLTA
Energi yang dibebaskan dalam reaksi redoks spontan dapat digunakan untuk
melakukan kerja listrik. Tugas ini dicapai dengan sel volta atau galvani, suatu prinsip dimana
perpindahan elektron terjadi melalui lintasan luar. Misalnya bila dua buah elektroda yang
berbeda jenisnya (misal elektroda Zn dan elektroda Cu) dihubungkan dengan kawat yang
dilengkapi voltmeter, juga dihubungkan dengan jembatan garam, maka logam Zn akan
teroksidasi menjadi Zn2+ .

Elektron yang dihasilkan oleh Zn mengalir melalui voltmeter menuju ke arah elektroda Cu.
Selanjutnya elektron tersebut ditangkap oleh ion Cu 2+ dalam larutan Cu(NO3)2.

Cu yang dihasilkan mengendap pada batang logam Cu, sehingga batang logam Cu makin
tebal (massanya bertambah).

Sel volta yang menggunakan jembatan garam


Logam Zn megalami oksdasi, maka elektroda ini disebut anoda, dan menjadi kutub
negatif (karena menghasilan elektron). Ion Cu 2+  mengalami reduksi menjadi Cu dan
menempel pada katoda sebagai kutub positif 

 Perpindahan elektron dari anoda ke katoda menyebabkan larutan di anoda kelebihan


muatan positif karena bertambahnya ion Zn 2+. Larutan di katoda kelebihan muatan negatif
karena berkurangnya ion Cu2+.  Untuk menetralisis muatan listrik, dipasang jembatan
garam. Jembatan garam: terdiri dari tabung bentuk U yang mengandung larutan elektrolit
seperti NaNO3 (aq), biasanya dicampurkan dalam gel agar-agar, fungsinya tempat migrasi ion

3
ion untuk mempertahan kenetralan listrik. Adanya jembatan garam menyebabkan
terjadinya aliran elektron.

a.      Diagram Sel Volta


Diagram sel volta adalah notasi singkat yang menggambarkan terjadinya reaksi pada sel
Volta. Pada notasi sel, bagian kanan menyatakan katoda, dan bagian kiri menyatakan
anoda. Pemisahan oleh jembatan garam dinyatakan dengan || sedangkan reaksi yang terjadi
pada elektroda dinyatakan dengan |. Pada diagram sel volta, koefisien reaksi sel tidak
berpengaruh.
Contoh : untuk reaksi sel Cu2+ + Zn  → Cu + Zn2+
 
notasi selnya: Zn | Zn2+ || Cu2+ | Cu

b. Deret Volta
Deret Volta adalah deret elektrokimia/ kereaktifan logam yang menunjukkan nilai
potensial elektroda standar logam (Eo).

   Sifat deret Volta :


1.  Makin ke kiri, logam makin mudah teroksidasi (nilai Eo lebih negatif).
Semakin ke kiri kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka logam semakin
reaktif (semakin mudah melepas elektron).
2.  Sebaliknya, semakin ke kanan kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka
logam semakin kurang reaktif (semakin sulit melepas elektron). Makin ke kanan, logam
makin mudah tereduksi (nilai Eo lebih positif.
3.   Pada deret volta tsb ada lima buah unsur logam yang dikatakan sebagai unsur logam
mulia (Inert metal), yaitu Cu, Hg, Ag, Pt dan Au. Logam seperti ini sulit sekali mengalami
perkaratan sehingga dimanfaatkan sebagai perhiasan yang harganya mahal.
4.  logam-logam yang terletak di sebelah kiri H memiliki potensial elektroda standar
negatif. Sedangkan yang terletak di sebelah kana H memiliki potensial elektroda standar
positif.
5.   Jika Deret Volta kita anggap sebagai deretan orang yang sedang antri sesuatu, maka
ternyata unsur-unsur yang ada di belakang dapat “meng-usili” unsur di depannya.
Selanjutnya menggantikan posisi unsur di depannya (merebut pasangan ion dari unsur di
depannya).  Sementara unsur yang ada di depan tidak bisa mengganggu unsur di
belakangnya atau dengan kata lain tidak mampu merebut pasangan ion dari unsur di
belakangnya (tidak bereaksi).

c.    Potensial Elektroda
Besarnya energi listrik yang dihasilkan pada sel volta dapat kita lihat pada angka
yang ditunjukkan oleh jarum voltmeter. Timbulnya energi listrik disebabkan karena kedua
elektrolit mempunyai harga “Potensial Elektroda” yang berbeda. Pada sel volta dengan

4
elektroda Zn dan elektroda Cu, ion Cu2+  menangkap electron sehingga berubah menjadi
logamnya.
Cu2+  +  2e →  C u

3
Penangkapan elektron oleh ion Cu2+ ini disertai dengan timbulnya sejumlah energi
yang disebut potensial reduksi atau potensial elektroda (diberi lambang E). Jadi potensial
elektroda adalah potensial listrik yang ditimbulkan bila suatu ion logam menangkap
elektron (mengalami reduksi).
Besarnya harga E tidak dapat diukur secara terpisah (hanya reaksi reduksi saja),
melainkan harus selalu berpasangan dengan reaksi oksidasi. Menurut perjanjian elektroda
yang digunakan sebagai standar (untuk mengukur E o) adalah elektroda hidrogen. Elektroda
standar ini sebagai elektrolitnya digunakan larutan yang mengandung konsentrasi ion
H+ 1M, yang pengukurannya dilakukan di suhu 25 oC, tekanan 1 atmosfer.
Dalam pengukuran harga E dilakukan dengan cara membandingkan dengan elektroda
standar, maka untuk selanjutnya E ini disebut sebagai E o (potensial elektroda standar).
Makin besar harga Eo suatu zat, makin mudah zat tersebut mengalami reaksi reduksi.

d.        Potensial Sel Standar


Potensial sel standar (Eo sel) adalah beda potensial listrik yang dihasilkan dari dua buah
elektroda (anoda dan katoda) pada sel Volta, diukur dalam keadaan standar. Potensial sel
standar dapat dihitung:
Eo = Eo reduksi - Eo oksidasi
Contoh:
Tentukan nilai potensial sel Zn | Zn2+ || Ag+ | Ag  jika diketahui Eo Zn = -0,76 V, dan Eo Ag
= +0,80 V
Jawab :
Zn mengalami oksidasi, sehingga nilai Eo harus diubah tandanya.

Nilai potensial sel menunjukkan :


1) Tegangan yang dihasilkan sel.
2) Jika nilai Eosel > 0, maka reaksi sel spontan (berlangsung).
3) Jika nilai Eosel ≤ 0, maka reaksi sel tidak spontan (tidak berlangsung).

e.       Sel Volta Dalam Kehidupan


Sel volta banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari antara lain baterai dan aki.
Ada baterai yang dapat diisi ulang dan ada yang tidak. Sel volta yang tidak dapat diisi ulang
disebut sel primer, sedangkan yang dapat diisi ulang disebut sel sekunder.
1)  Sel Primer
a)  Baterai kering (Sel Leclanche)
Baterai kering sering disebut sel Leclanche karena ditemukan oleh Leclanche pada
tahun 1866. Sel ini menggunakan batang karbon sebagai katoda dan pelat seng sebagai
anoda. Elektrolitnya digunakan pasta, yang merupakan campuran batu kawi (MnO 2),
amonium klorida (NH4Cl), karbon (C), dan sedikit air.

5
b) Baterai Alkali
Akhir-akhir ini baterai alkali banyak digunakan orang. Karena baterai alkali
mempunyai kekuatan arus listrik yang lebih besar bila dibanding baterai biasa (sel
Leclanche). Elektroda batu baterai alkali sama seperti pada batu baterai biasa, tetapi
elektrolit yang digunakan adalah larutan KOH.

Baterai ini juga menghasilkan potensial 1,5 volt dan dapat bertahan
secara konstan selama pemakaian. Biasanya baterai ini digunakan untuk mainan dan tape
recorder.

c) Baterai Perak Oksida


Baterai perak oksida terdiri dari anoda Zn dan katoda Ag 2O dengan elektrolit KOH. Reaksi
yang terjadi sebagai berikut.

Beda potesial dari bateri ini adalah 1,5 volt dan selama pemakaian dapat bertahan secara
konstan. Baterai ini digunakan untuk mainan, jam tangan, kalkulator, dan lain-lain

2) Sel Sekunder
a) Aki (Accumulator)
Aki adalah jenis baterai yang banyak digunakan untuk kendaraan bermotor. Aki
menjadi pilihan yang praktis karena dapat menghasilkan listrik yang cukup besar dan dapat
diisi kembali. Sel aki terdiri atas anode Pb (timbel = timah hitam) dan katode PbO2 (timbel
(IV) oksida). Keduanya merupakan zat padat, yang dicelupkan dalam larutan asam sulfat.
Kedua elektrode tersebut, juga hasil reaksinya, tidak larut dalam larutan asam sulfat

6
sehingga tidak diperlukan jembatan garam. Aki tidak memerlukan jembatan garam karena
hasil

3
reaksinya tidak larut dalam larutan elektrolit  (asam sulfat). Kedua elektroda disekat dengan
bahan fiberglass, agar tidak saling bersentuhan.

Tiap sel aki mempunyai beda potensial 2 volt. Aki 12 volt terdiri atas 6 sel yang
dihubungkan seri. Aki dapat diisi kembali karena hasil-hasil reaksi pengosongan aki tetap
melekat pada kedua elektrode. Pengisian aki dilakukan dengan membalik arah aliran
elektron pada kedua elektrode. Pada pengosongan aki, anode (Pb) mengirim elektron pada
katode. Sebaliknya pada pengisian aki, elektrode Pb dihubungkan dengan kutub negatif
sumber arus sehingga PbSO4 yang terdapat pada elektrode Pb itu direduksi. Sementara itu,
PbSO4 yang terdapat pada elektrode PbO2 mengalami oksidasi membentuk PbO2
Reaksi pengosongan aki: 

Reaksi pengisian aki:

b) Baterai Ni-Cd
Sel terdiri dari anoda Cd dan katoda NiO 2 dengan elektrolit KOH. Reaksi yang terjadi
adalah:

Beda potensial sel ini adalah 1,4 V dan selama pemakaian dapat bertahan secara
konstan. Selama reaksi tidak terjadi perubahan konsentrasi ion karena pereaksi dan zat hasil
berupa zat padat. Penggunaan baterai Ni–Cd untuk kalkulator, kamera digital, laptop, dan
lain-lain.

7
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan dengan durasi waktu kurang lebih satu setengah jam pada
hari Kamis, 24 Desember 2020 di rumah penulis, meliputi persiapan dan pelaksanaan.

B. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum ini, yaitu;
1. 5 buah jeruk nipis 6. Lampu LED

2. 6 buah kabel + 12 penjepit buaya 7. Voltmeter

3. 5 buah koin kuning (Rp500,00)

4. 5 buah paku

5. Cutter

8
C. Prosedur Kerja
1. Buatlah celah pada jeruk nipis untuk menancapkan koin menggunakan cutter.

2. Tancapkan koin ke celah jeruk nipis sampai tersisa hanya setengah koin di permukaan
jeruk nipis.

3. Tusukkan paku pada sisi yang berbeda dari jeruk nipis sampai tersisa hanya setengah
paku di permukaan jeruk nipis.

4. Capit penjepit buaya warna merah ke paku dan warna hitam ke koin pada buah yang
lain. Sisakan kabel dari paku dan kabel dari koin.

9
5. Sambungkan kabel yang tersisa ke voltmeter dengan kutub negatif disambungkan ke
anoda (paku) dan kutub positif ke katoda (koin) untuk mengukur kekuatan

3
tegangannya. Lakukan hal yang sama dengan menambah jumlah jeruk nipis untuk
mengetahui perbandingan tegangan.

3 buah jeruk nipis 4 buah jeruk nipis

5 buah jeruk nipis

6. Sambungkan kabel yang tersisa ke lampu LED dengan kutub negatif disambungkan
ke anoda (paku) dan kutub positif ke katoda (koin) untuk mengukur kuat nyala
lampu. Lakukan hal yang sama dengan menambah jumlah jeruk nipis untuk
mengetahui perbandingan kuat nyala lampu.

3 buah jeruk nipis 4 buah jeruk nipis

5 buah jeruk nipis

10
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No. Banyak Jeruk Nipis (buah)/ Tegangan Kuat Nyala Lampu


Baterai (volt)
1. 3 buah jeruk nipis 3.0 volt Terang
2. 4 buah jeruk nipis 4.0 volt Terang
3. 5 buah jeruk nipis 4.9 volt Sangat Terang
4. 1 buah baterai 1.5 volt Terang

B. Pembahasan
Cairan pada buah jeruk nipis mengandung ion-ion yang bergerak bebas, maka untuk
mengalirkannya dibutuhkan kutub positif dan negatif yang kemudian disambungkan ke
lampu LED untuk indikator bahwa listrik mengalir. Praktikum ini menggunakan prinsip
sel volta. Kita menggunakan koin kuning yang terbuat dari tembaga (Cu) sebagai kutub
positif (katoda) yang ditancapkan pada daging buah jeruk nipis. Kemudian paku yang
terbuat dari besi (Fe) kita tancapkan pada sisi berbeda di buah jeruk tersebut sebagai
kutub negatif (anoda). Kedua kutub tersebut dihubungkan dengan kabel dan lampu LED
diantara kabel tersebut, ketika ada aliran ion-ion maka arus listrik dapat dihantarkan
sehingga dapat menyalakan lampu. Semakin banyak jeruk nipis yang digunakan dalam
rangkaian, maka semakin besar pula tegangan yang dihasilkan dan semakin terang pula
lampu yang menyala. Reaksi yang terjadi di katoda dan anoda adalah sebagai berikut.
Fe + Cu2+ Fe2+ + Cu
Katoda : Fe Fe2+ + 2e-
Anoda : Cu2+ + 2e- Cu
Meskipun dapat menghasilkan listrik, namun listrik yang dihasilkan buah jeruk nipis
belum mampu digunakan sebagai energi alternatif dalam skala besar. Besar tegangan
yang dihasilkan sebuah jeruk nipis masih lebih kecil jika dibandingkan dengan tegangan
yang dihasilkan sebuah baterai. Selain itu, energi listrik yang dihasilkan oleh jeruk nipis
juga tidak bertahan lama karena larutan elektrolit dalam jeruk nipis semakin lama akan
semakin berkurang. Namun melalui buah jeruk nipis ini kita dapat memberikan
pembelajaran tentang mengapa buah jeruk dapat menghasilkan listrik, sehingga
diharapkan dapat memberi inspirasi dalam mencari energi alternatif.

11
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari praktikum sederhana tentang prinsip kerja sel volta ini kita dapat menyimpulkan
beberapa hal sebagai berikut.
1. Jeruk nipis dapat menghantarkan arus listrik dengan prinsip kerja sel volta karena
mengandung senyawa asam kuat yang dapat membebaskan ion positif (kation) dan ion
negatif (anion).
2. Semakin banyak jumlah jeruk nipis yang digunakan maka semakin besar pula tegangan
yang dihasilkan dan semakin terang pula lampu yang menyala.
3. Energi listrik yang dihasilkan jeruk nipis belum mampu digunakan sebagai energi
alternatif dalam skala besar.
4. Besar tegangan yang dihasilkan sebuah jeruk nipis masih lebih kecil jika dibandingkan
dengan tegangan yang dihasilkan sebuah baterai.
5. Energi listrik yang dihasilkan oleh jeruk nipis semakin lama akan semakin berkurang
karena ion-ion dalam larutan elektrolitnya juga semakin berkurang.

B. Saran
Pada pelaksanaan praktikum sederhana ini, penulis menyarankan agar :
1. Sebaiknya menggunakan jeruk nipis yang tidak terlalu matang, karena jika sudah terlalu
matang jeruk nipis tersebut akan mengandung glukosa sehingga akan menghambat aliran
listrik.
2. Sebelum anoda dan katoda dihubungkan dengan lampu LED, ukur dahulu menggunakan
voltmeter untuk mengetahui tegangan listrik (volt) yang dihasilkan.
3. Gunakan lampu LED yang sesuai dengan volt yang dihasilkan oleh rangkaian seri
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rahayu,Titik. 2013. Baterai dari Jeruk Nipis. http://4yh0esweetysmanda.blogspot.com


/2013/09/baterai-dari-jeruk-nipis.html (diakses tanggal 23 Desember 2020)
2. Sameya. 2019. Jurnal Praktikum Mandiri Elektrokimia. https://uriori.wordpress.com
/2019/09/04/laporan-praktikum-mandiri-elektrokimia/ (diakses tanggal 24 Desember 2020)
3. Fandy, Ignasius. 2016. Membuat Baterai dari Jeruk Nipis. http://igfandyjayanto.blogspot.com
/2016/10/ membuat-baterai-dari-jeruk-nipis.html (diakses tanggal 25 Desember 2020)
4. Prasetyowati, Ratna. 2015. Sel Elektrokimia. http://ratnandroet.blogspot.com/2015/06/
elektrokimia.html (diakses tanggal 26 Desember 2020)
5. Gravitime. 2019. Mengapa Buah Jeruk dapat Menghasilkan Listrik?. https://gravitime.net
/2019/09/mengapa- buah-jeruk-menghasilkan-listrik/ (diakses tanggal 28 Desember 2020)

12
13