Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

GEOLOGI BATUBARA
METODE EKSPLORASI BATUBARA SECARA GEOKIMIA

Disusun oleh :

Aditya Kusuma Pradana L2L 006 002

Arief Satrio Prihanasto L2L 006 004

Armandho Atma Pramadhani L2L 006 005

Aveliansyah L2L 006 006

Desi Ambar Prawono L2L 006 008

Dini Andriani L2L 006 010

Ditta Grifthiana R L2L 006 011

Dwandari Ralanarko L2L 006 012

Dwi Prasetyo L2L 006 013

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

NOVEMBER 2008
BAB I
PENDAHULUAN

Eksplorasi adalah penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan


data/informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumberdaya alam di suatu
tempat.

Kegiatan eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum pengusahaan bahan


tambang dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian yang penyebarannya
tidak merata dan sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali. Sehingga
untuk menentukan lokasi sebaran, kualitas dan jumlah cadangan serta cara
pengambilannya diperlukan penyelidikan yang teliti agar tidak membuang tenaga
dan modal, disamping untuk mengurangi resiko kegagalan, kerugian materi,
kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan.

Suatu kegiatan eksplorasi harus direncanakan sebaik-baiknya dengan


memperhitungkan untung-ruginya, efisiensi, ekonomis serta kelestarian
lingkungan daerah eksplorasi tersebut.

Perencanaan eksplorasi meliputi beberapa hal sebagai berikut :

• Pemilihan daerah ekslorasi

• Studi pendahuluan

• Perencanaan eksplorasi dan pembiayaannya

• Hasil serta tujuan yang didapatkan dari seluruh operasi.

Kegiatan eksplorasi terdiri atas berbagai penyelidikan yang


mendukungnya. Penyelidikan tersebut adalah :
a. Penyelidikan Geologi

b. Penyelidikan Geokimia

Penyelidikan ini dilaksanakan untuk mengetahui perkiraan kadar logam,


senyawa kimia dan unsur-unsur penyerta dimana logam tersebut berada.

c. Penyelidikan Geofisika

Penyelidikan geofisika meliputi metode geolistrik, seismik, gaya berat


(gravitasi), dan magnet.

d. Pemboran Eksplorasi

Dilaksanakan untuk mengetahui kedalaman mineral, kualitas dan kalkulasi


cadangan kasar/minimum untuk dapat ditambang secara ekonomis.
BAB II

GAMBARAN UMUM BATUBARA

2.1 Pengertian Batubara

Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian


umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan
organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses
pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan
oksigen.

Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan
kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.

Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti : C137H97O9NS


untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit

2.2 Pembentukan Batubara

Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara


disebut dengan istilah pembatubaraan (coalification). Secara ringkas ada 2
tahap proses yang terjadi, yakni:

1. Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman


terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses
perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang
dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material
organik serta membentuk gambut.
2. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit
menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

2.3 Senyawa Penyusun Batubara

Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan


ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam
penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik
yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dan lain-lain. Namun
komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari
tumbuhan penyusunnya.

 Lignin
Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam
merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan
molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun
susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam
jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput
mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya
lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa
lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.

 Karbohidrat
Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang
mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula
muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang
membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida,
trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya
menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling
banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian
terurai dan membentuk batubara.

 Protein
Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang
selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari
protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh
rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.

Material Organik Lain


 Resin
Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami
luka pada batangnya.

 Tanin
Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada
bagian batangnya.

 Alkaloida
Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang
menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar
yang muncul dalam bentuk rantai.

 Porphirin
Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem
pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas
empat cincin pyrolle yang tergabung dengan jembatan methin. Kandungan
unsur porphirin dalam batubara ini telah diajukan sebagai marker yang
sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari proses
coalifikasi.

 Hidrokarbon
Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen
kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip
dengan sistem aromatik polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda
inklusi material sterane-type dalam pembentukan batubara. Ini menandakan
bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses pematangan, dan tidak
adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.

2.4 Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)


Selain material organik juga ditemukan adanya material inorganik yang
menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis,
yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren
adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan
organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral
eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara,
pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah
lapisan batubara.
BAB III
METODE – METODE EKSPLORASI BATUBARA

3.1. Metode Eksplorasi Batubara


Tahap eksplorasi batubara umumnya dilaksanakan melalui empat tahap,
yakni survei tinjau, prospeksi, eksplorasi pendahuluan, dan eksplorasi rinci.
Tujuan penyelidikan geologi ini adalah untuk mengidentifikasi keterdapatan,
keberadaan, ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas, serta kualitas suatu endapan batu
barasebagai dasar analisis/kajian kemungkinan dilakukannya investasi. Tahap
penyelidikan tersebut menentukan tingkat keyakinan geologi dan kelas sumber
daya batu bara yang dihasilkan. Penghitungan sumber daya batu bara dilakukan
dengan berbagai metoda diantaranya poligon, penampangan, isopach,inverse
distance, geostatisik, dan lain-lain.
Terdapat beberapa tahapan dalam melakukan Ekplorasi Batubara,
diantaranya :
3.1.1. Survei tinjau (Reconnaissance)
Survei tinjau merupakan tahap eksplorasi batu bara yang paling awal
dengan tujuan mengidentifikasi daerah-daerah yang secara geologis
mengandung endapan batu bara yang berpotensi untuk diselidiki lebih
lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi, tata guna
lahan, dan kesampaian daerah. Kegiatannya, antara lain, studi geologi
regional, penafsiran penginderaan jauh, metode tidak langsung lainnya,
serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan
skala sekurang-kurangnya 1:100.000.

3.1.2. Prospeksi (Prospecting)


Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk membatasi daerah sebaran
endapan batu bara yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. Kegiatan
yang dilakukan pada tahap ini, di antaranya, pemetaan geologi dengan skala
minimal 1:50.000, pengukuran penampang stratigrafi, pembuatan paritan,
pembuatan sumuran, pemboran uji (scout drilling), pencontohan, dan analisis.
Metode eksplorasi tidak langsung, seperti penyelidikan geofisika, dapat
dilaksanakan apabila dianggap perlu.

3.1.3. Eksplorasi Pendahuluan (Preliminary exploration)


Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran awal
bentuk tiga-dimensi endapan batubara yang meliputi ketebalan lapisan,
bentuk, korelasi, sebaran, struktur, kuantitas dan kualitas. Kegiatan yang
dilakukan antara lain, pemetaan geologi dengan skala minimal 1:10.000 atau
dengan skala 1 : 25.000, pemetaan topografi, pemboran dengan jarak yang
sesuai dengan kondisi geologinya, penampangan (logging) geofisika,
pembuatan sumuran/paritan uji, dan pencontohan yang andal. Pengkajian awal
geoteknik dan geohidrologi mulai dapat dilakukan. Pelaksanaan eksplorasi
pendahuluan ini juga dilakukan dengan memetakan daerah penyelidikan
baik dengan pemetaan topografi. Dengan kata lain melakukan survei secara
langsung ke lapangan.

3.1.4. Eksplorasi Semi Detail


Setelah dilakukan pemetaan permukaan, maka pada tahapan ini untuk
mengetahui kedudukan stratigrafi lapisan-lapisan batubara (seam),
kemudian dilakukan pemboran. Dengan tujuan untuk mendapatkan data-
data bawah permukaan sehingga dari data pemboran tersebut, kemudian
dilakukan korelasi umum berskala 1 : 5.000 yang bertujuan mengetahui
arah dan bentuk penyebaran lapisan batubara.

3.1.5. Eksplorasi Detail (Detailed exploration)


Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kuantitas dan
kualitas serta model tiga dimensi endapan batu bara secara lebih rinci.
Kegiatan yang harus dilakukan adalah pemetaan geologi dan topografi dengan
skala minimal 1:2.000, pemboran dan pencontohan yang dilakukan dengan
jarak yang sesuai denga kondisi geologinya, penampangan (logging) geofisika,
serta pengkajian geohidrologi dan geoteknik. Pada tahap ini perlu dilakukan
penyelidikan pendahuluan pada batu bara, batuan, air dan lainnya yang
dipandang perlu sebagai bahan pengkajian lingkungan yang berkaitan dengan
rencana kegiatan penambangan yang diajukan. Pada eksplorasi detail daerah
Parapatan dilakukan pemboran dangkal, kemudian dari data yang diperoleh
maka dilakukan korelasi detail. Korelasi detail ini bertujuan untuk lebih
mengetahui bentuk geometri endapan batubara, dan kualitas dari lapisan
batubara.

3.1.6. Uji Mekanik pada Batubara


Selain analisis kimia, juga dilakukan sejumlah tes untuk menentukan
parameter fisik batubara, seperti uji densitas relatif , distribusi ukuran
partikel, dan lain-lain.

1. Densitas relatif:

Densitas relatif batubara tergantung pada rank dan mineral


pengotornya. Data densitas relatif diperlukan untuk membuat sampel
komposit dalam menentukan banyaknya asap (seam). Selain itu diperlukan
juga sebagai faktor penting dalam mengubah cadangan batubara dari unit
volume menjadi unit massa.

Penentuan dilakukan dengan menghitung banyaknya kehilangan


berat pada saat dicelupkan ke dalam air. Cara terbaik adalah dari data berat
batubara dengan menggunakan piknometer. Grafik di bawah ini
memberikan hubungan antara densitas relatif terhadap kandungan abu
untuk batubara dan serpih karbon di cekungan Agades.

2. Distribusi Ukuran Partikel:


Distribusi ukuran pertikal pada batubara yang rusak tergantung pada
metode penambangan, cara penanganannya, serta derajat perekahan
material tersebut. Distribusi ukuran merupakan faktor kritis yang dapat
menunjukkan bagian tumbuhan penyusunnya. Penentuan dilakukan dengan
metode ayakan. Grafik data pengeplotan menghasilkan data rata-rata
ukuran partikel dan derajat keseragaman partikel.

3. Uji Pengapungan (Float-sink testing):

Uji ini dilakukan untuk menentukan distribusi densitas partikel


sampel dengan cara mencelupkan sampel batubara ke dalam larutan yang
diketahui densitas relatif. Selain itu dilakukan juga penelitian lain seperti
penghitungan energi spesifik.

Larutan yang digunakan mempunyai densitas berkisar antara 1,3 –


2,0. Campuran larutan organik ini antara lain tetrabromoethane (R.D.2,89),
perchlorethylene (R.D.1,60), dan Toluena (R.D.1,60) yang sering
digunakan karena viscositasnya rendah dan sifat pengeringan yang baik.

Grafik yang diplot menunjukkan persentase material yang


mengapung dan yang tenggelam yang dihitung dalam basis kumulatif.
Akhirnya dapat digunakan untuk menentukan fraksi pengapungan dengan
kandungan spesifik abu.

4. Uji Kerusakan Serpih (Shale breakdown test):

Ada beberapa masalah pada saat ekstraksi batubara, misalnya akibat


pengotor (abu,dll) yang biasanya diakibat oleh hadirnya mineral lempung,
contoh montmorilonit pada komponen non-batubara. Jumlah shale
breakdown didapat dari proporsi material yang ditentukan dengan analisis
sedimentasi residu.
3.1.7. Uji Untuk Mengetahui Tingkat Karbonisasi
Karbonisasi adalah proses pemanasan batubara pada temperatur
beberapa ratus derajat untuk menghasilkan material-material:
1. Padatan yang mengalami pengayaan karbon yang disebut coke.

2. Larutan yang merupakan campuran hidrokarbon “tar” dan amoniacal


liquor.

3. Hidrokarbon lain dalam bentuk gas yang didinginkam ke temperatur


normal.

1. Free Swelling Index

Tes ini dilakukan untuk menentukan angka peleburan dengan cara


memanaskan sejumlah sampel pada temperatur peleburan normal (kira-kira
800°C). Setelah pemanasan atau sampai semua semua volatile dikelurkan,
sejumlah coke tersisa dari peleburan. Swelling number dipengaruhi oleh
distribusi ukuran partikel dan kecepatan pemanasan.

2. Tes karbonisasi Gray-King dan tipe coke:

Tes Gray-King menentukan jumlah padatan, larutan dan gas yang


diproduksikan akibat karbonisasi. Tes dilakukan dengan memenaskan
sampel didalam tabung tertutup dari temperatur 300°C menjadi 600°C
selama 1 jam untuk karbonisasi temperatur rendah atau dari 300°C menjadi
900°C selama 2 jam untuk karbonisasi temperatur tinggi.
3. Tes Karbonisasi Fischer:

Prinsipnya sama dengan metode Gray-King, perbedaan terletak pada


peralatan dan kecepatan pemanasan. Pemanasan dilakukan di dalam tabung
alumunium selama 80 menit. Tar dan liquor dikondensasikan ke dalam air
dingin. Akhirnya didapatkan persentase coke, tar dan, air sedangkan jumlah
gas didapat dengan cara mengurangkannya. Tes Fischer umum digunakan
untuk batubara rank rendah (brown coal dan lignit) untuk karbonisasi
temperatur rendah.

4. Plastometer Gieseler:

Plastometer Gieseler adalah viskometer yang memantau viscositas


sampel batubara yang telah dileburkan. Dari tes ini direkam data-data sbb:
1. Initial softening temperature.

2. Temperatur viscositas maksimum

3. Viskositas maksimum.

4. Temperatur pemadatan resolidifiation temperatur.

5. Indeks Roga:

Indeks Roga menyatakan caking capacity. Ditentukan dengan cara


memanaskan 1 gram sampel batubara yang dicampur dengan 5 gram
antrasit pada 850°C selama 15 menit.

6. Tes lain yang dilakukan:


Biasanya dilakukan untuk menentukan:
1. Komposisi kimia (analisis proksimat, total belerang, analisis abu,dll)

2. Parameter fisik (distribusi ukuran, densitas relatif)

3. Uji kekuatan.

4. Tes Metalurgi.

3.1.8. Biosensor Dalam Eksplorasi Batubara


Biosensor adalah suatu alat yang mengenali target molekul dalam
sampel dan menerjemahkan konsentrasi senyawa tersebut sebagai sinyal
elektrik melalui kombinasi tepat dari sistem pengenalan dan transduser.
Sebagai contoh, untuk mengetahui apakah terdapat oksigen dalam suatu
tambang batu bara, satu hal mudah yang dapat dilakukan adalah
menggunakan burung kanari. Sambung sebuah mikrofon ke kandang kanari
tersebut kemudian kandang diturunkan ke dalam tambang batu bara. Jika
memang terdapat oksigen maka burung kanari akan bernyanyi. Jika
dianalogikan sebagai sebuah biosensor, maka oksigen adalah analit, burung
kanari adalah sensor dan mikrofon adalah sebuah transduser. Dengan
kombinasi ketiganya maka sebuah biosensor yang baik dapat diciptakan.
BAB IV
KESIMPULAN

• Kegiatan eksplorasi terdiri atas Penyelidikan Geologi, Penyelidikan


Geokimia, Penyelidikan Geofisika, Pemboran Eksplorasi.
• Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya
adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik.
• Metode Eksplorasi Batubara : survei tinjau, prospeksi, eksplorasi
pendahuluan, eksplorasi semi detil, eksplorasi detil.
• Uji geokimia batubara : Uji mekanik (uji parameter fisik, Densitas relatif ,
Distribusi Ukuran Partikel, Uji Pengapungan, Uji Kerusakan Serpih), Uji
tingkat Karbonisasi (Free Swelling Index, Tes Karbonisasi, Plastometer
Gieseler, Indeks Roga, Komposisi kimia), Biosensor.

Daftar Pustaka

http://www.chem-is-try.org/

http://ilmubatubara.wordpress.com/2006/10/07/fundamental-of-coal-petrology/

Sumber Daya Batubara: Tinjauan lengkap mengenai batubara


http://feeds.feedburner.com/~r/majarimagazine/~3/362149426/

http://setyobudhy.multiply.com/journal/item/1/Batubara

http://tambangaceh.blogspot.com/2008/02/batubara.html\