Anda di halaman 1dari 4

Selesaikan dengan transformasi Laplace persamaan diferensial parsial berikut:

∂u ∂u
+ x =0
∂x ∂t

dimana u ( x , 0 ) =0 dan u ( 0 , t ) =t .

Penyelesaian: Untuk menyelesaikan persamaan diferensial parsial ini dengan metode


transformasi Laplace, langkah pertama yang diterapkan adalah kedua ruas pada
persamaan diferensial parsial dikenakan transformasi Laplace terhadap t ,

L {∂∂ ux + x ∂∂ ut }=L {0 }
∂u ∂u
L { }+ x L { }=0 .
∂x ∂t

∂u
Memanfaatkan Teorema 3.3, diperoleh L { }=sU ( x , s ) −su ( x , 0 ) , sedangkan
∂t
transformasi Laplace L {∂∂ ux } dicari kembali menggunakan Definisi 3.1 berikut:


∂u ∂u ( x , t )
L { }
∂x
¿ ∫ e−st
0 ∂x
dt



¿ ∫ e−st u ( x ,t ) dt
∂x 0


¿ L {u ( x , t ) }
∂x

¿ U ( x , s ).
∂x
Sehingga


U ( x , s )+ x [ sU ( x , s )−su ( x , 0 ) ] =0
∂x
∂U
+ xsU =0 .
∂x
1 2
Diperoleh persamaan diferensial sederhana dengan faktor integral I =e∫ xs dx =e 2 s x ,
sehingga
1
∂ ( )
2
sx
U e 2 =0
∂x
1 2
sx
2
Ue =C ( s )
−1 2
sx
U ( x , s )=C ( s ) e 2 .

1 1
Karena u ( 0 , t ) =t , maka U ( 0 , s )= 2 . Mengingat U ( 0 , s )=C ( s ), maka
C ( s ) = 2 . Akibatnya,
s s
−1 2
1 2
sx
U ( x , s )= e . Sehingga
s2
−1 2
u ( x , t )=L−1 { 1
s2
e 2
x s

} .

1 1
Dengan memanfaatkan invers dari Teoreman 3.4, nilai a= x
2
2 −1
dan L {}
s2
=t ,
−1 2
1 2
diperoleh L−1
{ 1
s2
e 2
x s

}( 1
2
1
2 ) ( 2 )
= t− x2 U t− x2 dimana U t− x adalah fungsi langkah ( )
1
1 2
satuan yang didefinisikan pada Definsi 3.3. Karena U t− x =
2 ( ) {
0 , jika t< x 2
2
1 2
1 , jika t ≥ x
2
, maka

( 1 1
) (
u ( x , t )= t− x2 U t− x2 =
2 2 1
jika t< x 2
2
)
1
t− x2 , jika t ≥ x2
2 2
{ 0,

∂u ∂u
sebagai solusi dari persamaan diferensial parsial + x =0 yang memenuhi
∂x ∂t
u ( x , 0 ) =0 dan u ( 0 , t ) =t .

Teorema 3.3. Jika f ( t ) kontinu pada t ≥ 0, maka

L {f ' ( t ) }=s L { f ( t ) }−f ( 0 ).

Karena turunan kedua dari fungsi f ( t ) merupakan turunan pertaman dari f ' ( t ), maka
menerapkan Teorema 3.3 diperoleh

L {f '' (t ) } ¿ s L { f ' ( t ) } −f ' ( 0 )

¿ s [ s L { f (t ) } −f ( 0 ) ] −f ' ( 0 )

¿ s2 L { f ( t ) } −sf ( 0 )−f ' ( 0 )


Dengan cara yang sama diperoleh

L {f '' ' ( t ) } ¿ s L { f ' ' ( t ) }−f ' ' ( 0 )

¿ s [ s 2 L { f ( t ) }−sf ( 0 ) −f ' ( 0 ) ]−f ' ' ( 0 )

¿ s3 L { f ( t ) } −s 2 f ( 0 )−s f ' ( 0 ) −f ' ' ( 0 )

Definisi 3.3. Fungsi langkah satuan didefinisikan sebagai

U ( t )= {01,, t<0
t≥0

Gambar 3.1. Grafik fungsi U ( t ), U ( a−t ) , dan U ( t−a )

Memanfaatkan sifat translasi pada fungsi U ( t ) diperoleh U ( t−a ) dengan


menggeser fungsi U ( t ) sejauh a satuan ke kanan, yaitu

U ( t−a ) = 0 , t < a
{
1, t ≥ a

Misalkan diberikan fungsi tak kontinu f ( t ) yang diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar 3.2. Grafik fungsi tak kontinu di x=a


Memanfaatkan fungsi langkah satuan, fungsi tak kontinu f ( t ) dapat dinyatakan ulang
sebagai berikut.

f ( t )=sisi kiri +U ( t−a ) [ sisi kanan −sisi kiri ]

Teorema 3.4 (Teorema Translasi Kedua). Jika F ( s ) =L { f ( t ) } ada untuk s>c ≥ 0 dan
jika a> 0 sebarang konstan, maka

L { f ( t−a ) U ( t−a ) }=e−as F ( s ).

Dari Teorema Translasi Kedua L { f ( t−a ) U ( t−a ) }=e−as F ( s ) diperoleh


f ( t−a ) U ( t−a )=L−1 {e−as F ( s ) }. Karena f ( t )=L { F ( s ) } , maka
−1

L−1 {e−as F ( s ) }=U ( t−a ) L−1 { F ( s ) }|t →( t−a ).