Anda di halaman 1dari 133

Cover

TESTIMONI

"Cukup menyenangkan. Apalagi dari karya kakak-kakak yang lainnya memotivasi diri
saya. Saya harap silaturahim antara kita tak terputus. Terimakasih telah menjadi
partner saya dalam menyelesaikan naskah saya." Nuriye

"Senang bisa mengungkapkan sesuatu. Kesan selama penyusunan senang karena bisa
belajar. Harapan agar bisa berlanjut misalnya kita dipertemukan dengan para penulis
terkenal." Senik Windyati

"Alhamdulillaah, bersyukur dapat bergabung dalam Jejak Tinta, berkarya bersama


anak-anak muda yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia" Siti Sarah Zakiyah

"Luar biasa menyenangkan dan lega bisa menyelesaikan naskah antologi ini. Kesan
tersendiri dalam mengatur waktu antara menulis, mengerjakan tugas sekolah, dan
tugas-tugas kuliah. Terlebih saat penulisan, sedang sering-seringnya pemadaman listrik
yang mengakibatkan tidak bisa lanjut menulis sarkat." Chika Ozora

"Menulis tentang seni mengolah diri bagaikan berbincang dengan luka dan hati sendiri.
Writing healing, begitulah paket plus saat proses menuliskan naskahnya. Kemudian,
menjadi salah satu yang menuntaskan buku antologi, setiap rasa dan pesan untuk
berdaya dan berdamai dengan diri sendiri dari setiap penulis sangat kental terasa." S.
Qurrotu Aini

"Masyaa Allah luar biasa, bisa menulis walau serasa dipaksa, tapi memang harus
seperti itu, harus dipaksakan kalo ngga, menulisnya tidak berkembang. Bekerja sama
dengan para penulis muda, yang banyak ilmu dan banyak ide jadi kembali memiliki
semangat muda." Shinta Sari

"Kesan yang di rasa sangat senang bisa ikut andil dalam penulisan naskah antologi
bersama jejak tinta. semoga kedepannya bisa nulis bareng lagi ya." Sari Nurhayati

"Banyak hal yang saya dapatkan termasuk teman baru, cara penulisan yang benar,
kata-kata yang baku, dll." Sania M.

"Banyak mendapatkan pengalaman serta ilmu baru tentang dunia kepenulisan, dan
sekarang terjerumus ke dalam dunia ini, di bimbing sama mentor-mentor yang sudah
profesional juga." Sayyid Abdullah

"Kesan yang baik bisa bertemu penulis-penulis hebat, saling berbagi ilmu." Sigit
Gunadi

2
"Mencoba untuk meyakinkan diri bahwa apa yang saya tulis sejatinya adalah nasehat
dan harapan untuk saya pribadi adalah kesan dalam penyusunan naskah ini." Satrya
Yudha

"Menulis itu menyenangkan kalau udah nemu mood dan alurnya. Susaaaah banget
literally buat nyari ide menulis kalau pas buntu. Kelihatannya tema sangat mudah. Tapi
mau nulis mulai dari mana itu sulitnya Subhanallah. Ditambah dengan harus bisa nulis
lewat aplikasi di hp aja. Non laptop karena sedang rusak. Perjuangan banget dengan
mata minus tiap saat lihat hp dan self editing. Ya Allah monangis. Tapi alhamdulillah
semua selesai tepat waktu. Dan juga pj antologi terus kasih semangat selama
penulisan naskah ini. Harapannya jika buku antologi nanti terbit bisa jadi penyemangat
buat tetap istiqomah menulis. Syukur2 tetap bisa kolaborasi nulis lagi dengan tema lain
bersama teman-teman di kelompok Jejak tinta. Last but not least, bersyukur ikut kelas
menulis di KMO. Can’t thank enough pokoknya." Septi Suwardani Aisyah

"Saat menulis naskah antologi ini, saya terbawa suasana di dalamnya, sebab cerita ini
terinspirasi dari orang di sekitar. Ketika proses penyusunan dan kerja sama dengan
Jejak Tinta, penanggung jawab, ketua, serta teman-teman lainnya banyak memberikan
pelajaran dari naskah-naskah yang telah dibuat dan arahan-arahan dalam dunia
kepenulisan. Saya berharap, semoga tim dan seluruh pihak yang terlibat selalu sukse di
manapun berada, serta tetap menginspirasi semua orang melalui hal-hal baik dan
karya-karyanya." Shintalr

“Banyak pelajaran yang saya dapatkan yang tentunya tidak ada di kelas-kelas lain yang
biasa saya ikuti. Pelajaran yang saya dapatkan bukan hanya ilmu tentang kepenulisan
saja melainkan lebih dari itu seperti tanggungjawab, disiplin, jujur, teliti, dan masih
banyak lagi.” Silvia Fardatus

“Dari penulisan antologi ini saya bisa mengetahui bahwasannya kehidupan tak
ubahnya seperti lukisan dan setiap lika-liku dalam hidup merupakan lekukan sebuah
seni pada tiap sisi dimensi. Dalam berpikir membutuhkan sebuah seni dan tarian indah,
dalam kehidupan jua membutuhkan seni agar orang lain bisa menikmati
keindahannya.” Satria

“Alhamdulillah bersyukur banget bisa ikut gabung di kmo batch 28 ini, selain karena
emang merasa haus ilmu saya jadi pengen belajar hal-hal baru dan bisa mengisi hari-
hari dengan kegiatan yang lebih positif lagi. Selama kegiatan memang saya membagi
waktu dengan anak saya yang masih kecil jadi mungkin gak terlalu fokus juga tapi saya
berusaha untuk mengejar ketertinggalannya dan menyelesaikan tugas tepat waktu.
Benar-benar luar biasa bangeeet dehh KMO ini.” Yuni Nurrahmah

3
KATA PENGANTAR

4
DAFTAR ISI

TESTIMONI ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
Ambisius atau Berhenti di Tempat? 1
Hidup Penuh Masalah 8
Insecure 16
Kekuatan vs. Kelemahan 20
Siapa Aku? 24
Berjuang atau Lepaskan? 31
Kamu adalah Apa yang Kamu Pikirkan 36
Kalahkan Rasa Takutmu 42
Tahta dalam Diri Wanita 45
Menjadi Manusia yang Bersyukur 51
Perjalanan Hijrahku 57
Hijrah Sepanjang Hayat 65
Light Up 72
Pasrah Tak Berarti Menyerah 77
Terluka untuk Bangkit 84
Wake up! Jangan Lama-Lama Bersedih 87
Jatuh untuk Bangkit 92
Aku: Satu Obat Semua Luka 95
Bersedih untuk Mengukir Senyuman 102
Seni Berpikir 105

5
Ambisius atau Berhenti di Tempat?
Shintalr

PROLOG

Perihal kemampuan dalam menerima diri sendiri, ternyata belum cukup banyak dimiliki
oleh sebagian orang. Beberapa dari mereka masih saja sering menyakiti bahkan tidak
membiarkan dirinya sendiri untuk melangkah lebih cemerlang. Akibat kesalahan di
masa lampau: kegagalan akan pencapaian, ego yang tak terkendalikan, dan banyak
faktor lain yang membuat mereka sulit untuk mengontrol dirinya sendiri. Mereka tidak
lagi mampu mempercayai dirinya sendiri. Terkadang, dalam benak mereka,
menghakimi dan mengutuk diri sendiri adalah suatu solusi yang dirasa tepat. Padahal
bukan, bukan seperti itu solusinya. Sayang sekali, orang-orang di sekeliling mereka
memiliki kemungkinan untuk memperparah kondisi ini. Berbagai cacian dan hinaan
dilontarkan seakan mereka tak pernah melakukan kesalahan.

Pada kisah kali ini, bercerita tentang seseorang yang mengalami berbagai peristiwa
dalam hidupnya. Tak terlupakan setiap detik yang ia lalui, kemudian bangkit menata
kehidupannya kembali. Mungkin tak banyak orang mengerti, tak banyak orang
memahami. Bahwa ialah satu-satunya diri yang harus mengubah kondisi terburuk yang
dialami. Apapun yang terjadi dalam hidupnya, barangkali berat dirasa ataupun diterima.
Begitu pula oleh dirinya sendiri, pada awal mulanya. Namun, ia percaya bahwa semua
telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Terlebih, ia perlu untuk berbesar hati.
Menerima dengan lapang tentang hal-hal yang tidak dikehendaki.

1
BAB I

Pagi itu, Alya terbangun dari tidurnya. Lelah menangis semalaman. Ia bangun dari
tempat tidur, mematut diri di depan cermin besar di hadapannya. Teringat akan kejadian
yang membuatnya meratap semalaman. Terbesit sekilas dalam pikirannya untuk
mengakhiri semua, mengakhiri hidupnya juga. Namun, pagi ini ia sadar. Hidup harus
dilanjutkan, semua harus diteruskan meskipun harapan tak sejalan dengan kenyataan.

Alya segera mandi, membersihkan dan merapikan diri. Bersiap menghadapi hari yang
lebih baik lagi. Ia beranjak pergi dari apartemen kecil yang sudah ia tinggali selama
hampir setahun sendiri. Melangkah dengan pasti, Alya memperlihatkan versi terbaik
dari dirinya. Ia berusaha sekuat tenaga memaafkan semua hal yang teerjadi, termasuk
memaafkan dirinya sendiri. Ia tidak melupakan apa yang menimpanya kemarin, hanya
berusaha menerima dan menjadikan semua sebagai pelajaran. Pengalaman, katanya
guru terbaik dalam sebuah kehidupan. Ya, Alya percaya akan hal itu. Sebab, ia telah
mengalami dan membuktikannya sendiri.

"Pagi, San!"

"Pagi, semuanya!"

Sania, sahabat Alya yang juga bekerja di divisi kantor yang sama-sama menaungi
mereka melihatnya terheran-heran. Pasalnya, pagi ini Alya kelewat ramah dan sangat
manis, tidak seperti biasanya. Entah apa yang telah sahabatnya alami itu, tetapi yang
pasti Sania sangat bahagia sebab Alya terlihat berbeda, lebih baik dari sebelumnya.
Aura yang ia pancarkan membuat Sania juga ikut merasakan hal yang sama. Sania tau,
apa yang telah Alya alami selama hidupnya. Ia adalah pendengar setia Alya yang selalu
ada di sampingnya.

Setiap detik kehidupan yang Alya alami, Sania juga ikut andil di dalamnya. Mereka
sudah seperti saudara walau terlahir dari rahim yang berbeda. Alya merasa beruntung
memiliki Sania. Ia menganggap Sania sudah seperti kakaknya sendiri. Mereka telah
bersahabat sejak duduk di bangku sekolah SMA. Kuliah di kota yang berbeda,
dipertemukan kembali dalam atap kerja yang sama. Begitu bahagianya Alya memiliki
sahabat seperi Sania, dan juga sebaliknya.

2
BAB II

1 tahun yang lalu...

Bak palu godam yang menghantam kepala Alya, pening, pengar, dan sesak ia rasa.
Seketika pandangannya mulai menghitam. Hampir, hampir saja Alya tak sadarkan diri.
Namun ia sadar, ia sedang bersama buah hatinya. Tak boleh ia perlihatkan sisi lemah
dalam dirinya. Ia harus kuat, minimal di depan Raka, putra tunggalnya. Mendapati vonis
dokter yang mengatakan bahwa Raka mengidap penyakit yang sama sekali tak pernah
Alya bayangkan akan diderita anak sekecil dan selucu Raka.

Alya dan suaminya berusaha mencari bantuan agar Raka bisa segera dioperasi.
Beruntung, beberapa teman kantor Alya ikut serta dalam usaha membiayai operasi
anaknya. Alya tak sanggup membayangkan Raka harus dioperasi, tapi itulah keputusan
terbaik yang harus ia ambil. Suaminya berusaha menenangkan Alya. Menguatkannya
bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, ia hanyalah manusia biasa. Sejatinya seorang
ibu, akan ikut merasakan sakit ketika anaknya menderita.

"Ma, Pa, Raka ingin pulang. Kenapa Raka harus tidur di sini?"

Raka mulai merasa tak nyaman ketika bangun dari tidurnya. Lagi-lagi ia harus
mendapati bahwa dirinya harus ditempatkan di tempat yang asing, tak sehangat
kamarnya. Tak ada mainan, tak ada hal-hal yang ia senangi. Ia bosan, merengek pada
orang tuanya ingin pulang.

"Tidak apa-apa sayang, Mama dan Papa akan selalu di sini menemani Raka, ya?! Nanti,
biar Papa pulang bawain mainan kesukaan kamu," bujuk Alya pada Raka.

"Nggak mau, Ma. Kepala Raka pusing kalau terus di sini."

Alya berusaha menghibur buah hatinya. Ia merasa sakit, ingin sekali menangis seketika
itu juga. Tapi tidak, di hadapannya sedang ada Raka. Terduduk dengan ekspresi
memelas ingin pulang. Ia menahan diri. Menghapus air mata yang hampir lolos
membasahi pipinya.

3
Keesokan harinya....

Hari ini adalah hari di mana Raka harus dioperasi. Alya sudah menyiapkan diri. Sekuat
tenaga ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sungguh, membayangkan bagaimana
wajah teduh Raka harus merasakan sakit yang dideritanya membuat Alya semakin tak
sanggup. Ia takut. Ia takut sesuatu terjadi pada bocah kecil itu. Suaminya, Sania, dan
beberapa temannya mencoba meyakinkan Alya. Memberi semangat dan meminta Alya
agar berpikir positif. Semua akan baik-baik saja: Raka sembuh, Raka kembali tertawa
bermain bersamanya.

Setelah berjam-jam menunggu dengan cemas, operasi Raka telah selesai. Semua
berjalan dengan lancar dan operasi berhasil. Alya dan semuanya bersyukur, Tuhan
Maha Baik. Meskipun Raka masih lemah terbaring dengan kondisi kritis, Alya
bersyukur, merapal doa dalam hati untuk kesadaran dan kesembuhan buah hatinya. Tak
henti ia berdoa, karena hanya itu yang mampu menenangkan gelisahnya. Berpasrah
pada Tuhan, berharap Raka segera membuka matanya. Alya rindu, ingin sekali melihat
Raka segera bangun dan tersenyum ceria.

Sudah dua hari, belum ada tanda-tanda yang diberikan Raka. Semuanya stabil, tidak
menurun, namun juga tak menunjukkan peningkatan. Alya semakin kalut, ia takut jika
Raka tidak segera sadar. Alya menangis di pelukan suaminya. Ia benar-benar takut jika
terjadi sesuatu pada Raka. Putra semata wayangnya itu harta Alya yang paling berharga.
Kembali, ia berdoa mengucap segala risau hatinya. Menenangkan diri dalam gelisah
yang semakin menggulungnya. Ia yakin, ia pasrahkan pada Tuhan akan kesembuhan
Raka.

Menjelang sore hari, Raka memberikan respon. Tuhan selalu menunjukkan kuasanya.
Tak pernah Alya sangka, ia harus mengalaminya. Raka tersenyum dengan wajah tenang.
Tak ada lagi rasa sakit menjalar di kepala yang harus ia derita. Raka anak hebat. Ia
selalu kuat dan menjadi kebanggaan orang tuanya. Benar-benar anak yang beruntung. Ia
tak perlu melewati bagaimana panjangnya kekejaman dunia. Di usianya yang masih
kecil, ia pergi, meninggalkan semua orang yang menyayanginya.

4
BAB III

Seminggu berlalu setelah kepergian Raka. Menyisakan luka yang panjang bagi orang
tuanya, terutama Alya. Ia terpuruk. Kepergian Raka benar-benar menghancurkannya. Ia
menyalahkan dirinya sendiri atas penderitaan yang Raka alami. Mengutuk diri bahwa ia
adalah penyebab Raka pergi. Sekilas ia teringat, dosa apa saja yang telah ia perbuat
sehingga berujung pada penderitaan Raka. Semua terjadi begitu saja. Terlintas dalam
benaknya ingin pergi bersama buah hatinya. Alya tidak sanggup. Bagaimana ia harus
menjalani hari dengan bayang-bayang Raka? Sementara bocah lucu itu tak lagi ada
melengkapi kebahagiaan dalam rumahnya.

"Al, kalau kamu terus seperti ini, apa Raka akan senang?" Sania, sahabat Alya yang
berusaha membantu keluar dari rasa terpuruknya.

"Bukankah Raka tidak pernah melihat kamu sedih, bahkan hancur seperti ini?! Kalau
Raka tau, dia pasti sedih. Raka tak akan tenang melihat kamu seperti sekarang," imbuh
Sania menyadarkan Alya.

Alya diam. Ia kembali mengingat bahwa Raka tak boleh, bahkan tak pernah melihatnya
seperti ini.

"Ya. Kamu benar, San. Raka akan sedih. Raka pasti sedih kalau dia tahu aku seperti ini.
Lalu aku harus apa, San? Bagaimana aku harus tanpa Raka?!"

"Bangun! Mulai kembali! Kamu harus memulai kembali, hidup normal seperti biasa.
Dengan atau tanpa Raka, kamu tetaplah Alya. Alya yang selalu kuat dan ceria."

"Apa aku bisa?" ragu, berat rasanya harus menjadi Alya yang kehilangan buah hatinya.

"Kamu bisa dan kamu harus melakukannya!" Sania terus meyakinkan Alya.

Setelah bujukan dan dorongan Sania, Alya memulai kembali menata diri.
Mengikhlaskan kepergian Raka membuatnya lebih tenang. Ia yakin, ia pasti bisa. Raka
pasti bahagia melihatnya sekarang. Kembali dipenuhi keceriaan, tak ada penyesalan
serta penyalahan pada dirinya sendiri. Alya bangkit, ia telah kembali.

5
BAB IV

Belum lama pulih dan bangkit dari keterpurukannya. Alya kembali dihantam rasa sakit
yang ke sekian kalinya. Mendapati sang suami yang tega bermain hati dengan
perempuan lain. Ia mendengar dari orang di sekitar. Namun, ia berusaha menutup
telinga. Alya tak akan pernah percaya, sebab ia yakin suaminya tak akan melakukan hal
setega itu.

Hari ini Alya pulang dari kantor lebih awal dari biasanya. Ia ingat hari ini adalah hari
ulang tahun pernikahannya. Sengaja ia selesaikan segera tugas di kantor agar bisa
menyisihkan waktu luang untuk memasak dan membuat kue kesukaaan sang suami.
Alya mampir di supermarket dekat komplek perumahannya. Membeli bahan-bahan
yang akan ia masak menjadi hidangan spesial nantinya. Bergegas, ia segera pulang. Tak
sabar ingin memasak sendiri di hari bahagianya.

Dengan semangat empat lima, ia membuka pintu rumah lebar-lebar. Suaminya sudah
ada di rumah. Alya heran, tak biasanya jam seperti sekarang suaminya sudah pulang.
Bahkan, Alya mengawali jam kepulangan kantornya. Sayup-sayup ia dengar suara gelak
tawa yang berasal dari lantai dua rumahnya. Semakin heran, Alya melangkah dengan
perlahan menghampiri suara tawa itu.

Alya mulai merasa sesak, ia mendapati sang suami berselingkuh di rumah mereka
sendiri. Air mata tak lagi ragu lolos dari pelupuknya. Alya kalut, ia membabi buta
karena ulah suaminya. Ia marah, ia memaki. Di hari bahagia ulang tahun pernikahannya,
sang suami menghadiahkan luka. Menambah daftar panjang penderitaan Alya. Ia
memutuskan untuk pergi. Menjauh dari rumahnya. Ia pergi menemui Sania. Hanya
sahabatnya yang saat ini mampu mengerti Alya.

Alya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan sang suami. Ia memulai


hidupnya kembali. Menata sisa puing-puing hati. Ia memulai hidup sendiri. Melatih diri,
agar semakin mencintai diri sendiri. Sebab hanya kakinya sendiri yang mampu
menopangnya berdiri.

6
Bionarasi

Shintalr, nama penanya. Ia dilahirkan pada bulan Mei


tepat 20 tahun silam di Kediri. Perempuan yang baru
memulai belajar di dunia kepenulisan ini karena seorang
teman yang menginspirasinya. Awalnya hanya ingin
mencoba, tapi ternyata menulis adalah sesuatu yang
menarik baginya. Sebab, pada awal diajarkan tentang
kepenulisan, ada kutipan dari seorang coach yang
benar-benar membantu meyakinkan dirinya untuk terus
belajar, bahwa menulis bukanlah suatu bakat, melainkan
keterampilan. Shintalr adalah seorang mahasiswa yang
masih menempuh kuliah pada semester 5 di salah satu
institut Islam di kotanya. Banyak hal-hal menarik di sekitarnya yang ingin ia tuangkan
dalam bentuk tulisan. Melalui buku antologi ini, ia sangat berharap bisa melanjutkan
tulisan-tulisannya hingga menghasilkan karya solo di kemudian hari.

7
Hidup Penuh Masalah
gunaopini

Rumitnya dinamika kehidupan terkadang membuat kita menjadi acuh pada diri kita
sendiri. Omongan orang tentang kita saja malah bisa membuat over thinking hingga
jadi insomnia menghantui malam kita. Apa pentingnya omongan orang? Masih banyak
orang hanya memberikan kritikan tanpa memberikan solusi.

Tidak ada manusia yang terlahir sempurna, maka mereka boleh untuk mengkritik kita.
Namun, kita harus tetap mencintai diri kita sendiri. Jangan karena omong mereka kita
memaksakan diri untuk mengubah jati diri kita. Kita yang berhak mengatur diri kita.
Selflove penting sekali untuk diterapkan dalam kehidupan kita karena selflove dapat
berguna menjaga kesehatan mental. Selflove tidak hanya diartikan sebagai sesuatu
yang dapat memanjakan diri kita seperti membeli barang yang disuka, makan enak,
melainkan lebih dari itu, dimana kita bisa menerima diri kita dari segi kelebihan
maupun kekurangan.

Kita tidak bisa mengatur apa yang orang pikirkan tentang kita, tapi kita bisa mengatur
hal apa yang mau kita lihat dan dengar. Fokuslah pada hal yang bisa kita atur. Kita
boleh menimbang kritik orang apabila itu benar bisa membuat kita meningkatkan diri
kita. Namun, jangan terlalu memikirkan orang yang membabi buta dengan hinaan. Itu
hanya akan membuang kesempatan kita untuk berproses menjadi pribadi yang lebih
baik.

Hal sepele bisa menjadikan hidup berantakan, apalagi jika hal besar. Tinggal Tuhan saja
yang akan memberi kepada kita besar atau yang kecil. Bukan besar kecilnya, namun
bagaimana usaha kita untuk keluar dari hal itu. Sebenarnya apa yang menyebabkan
kita terjebak dalam hidup yang berantakan. Banyak hal yang bisa melatarbelakanginya,
sebagian berikut mungkin terjadi pada kita:

1. Hidup dalam pengaruh pikiran orang lain


Menakutkan bukan, jika benar kita hidup dalam kendali pikiran orang lain?
Seperti saat kita diajak membicarakan orang yang sedang dikucilkan, tanpa

8
disadari malah membuat kita terpengaruh untuk ikut membenci. Kita terlalu
mengikuti arus mayoritas orang karena di dalam pikiran kita orang lain banyak
melakukannya pasti hal ini sudah benar. Sayangnya, tidak semua sesuai dengan
prinsip kita. Sifat ini pun bukan termasuk open minded seperti yang sedang
banyak orang bicarakan, nyatanya kita salah tafsir. Open minded adalah ketika
kita bisa membuka pikiran kita untuk menerima opini dari orang lain, walaupun
hal itu tidak sesuai kenyataan, kita bisa mendengarkan opini itu tanpa harus
mengikutinya bila itu tidak sesuai dengan prinsip kita. Please, jangan paksa
dirimu untuk mengikuti mayoritas orang.
2. Tidak memiliki perencanaan yang baik
Apa yang bisa kita lakukan ketika bangun pagi? Apa kita melakukan
perencanaan untuk satu hari? Perencanaan ini penting dilakukan karena kita
akan lebih produktif. Membuat perencanaan haruslah rasional, jangan bekerja
pada banyak waktu karena nyatanya hanya membuat letih tanpa hasil.
Perencanaan bisa juga untuk mengingatkan janji atau tugas tertentu. Membuat
catatan di buku atau menggunakan di aplikasi handphone bisa lebih praktis
daripada mengingat semua di kepala. Kita juga jadi lebih fokus pada hal yang
kita prioritaskan.
3. Kecewa akan ekspektasi diri
Sering kita membuat rencana besar, tetapi setelah melakukan semaksimal
mungkin untuk menggapai rencana itu nasib berkata lain. Maka ekspektasi kita
sebelumnya malah membuat sakit hati. Terpikir terus akan kegagalan ini bisa
membuat ke depannya berantakan. Oleh karena itu, kita harus tau kapan kita
untuk berjuang pada rencana yang sama atau mengubah rencana tersebut.
Mengubah bukan berarti menyerah pada keadaaan, tetapi berpikir cerdas
untuk efektifitas waktu. Tak jarang orang yang mengubah rencananya berhasil
juga. Jangan ragu dalam menentukan pilihan kita.
4. Selalu membandingkan dengan orang lain
Posting-an teman di Instagram tak jarang nembuat kita iri akan apa yang
mereka kenakan, kemewahan di sekitar, atau liburan tiap kali. Menginginkan

9
sesuatu boleh saja, tapi jangan menjadi iri pada orang lain. Bisa saja yang
mereka posting hanya bagian bahagia saja dan menutup kesusahan yang ada.
Sedihnya, tak jarang pula orang tua kita ikut membandingkan kita dengan anak
temannya, tetangga, sepupu, dan masih banyak lagi. Hal ini bisa membuat
perspektif yang keliru, bahwa orang tua tidak menginginkan anak seperti kita.
Mungkin mereka ingin kita tumbuh, hidup sebaik dan sesuai dengan harapan
mereka. Namun, membandingkan orang tak akan membuat mereka bahagia.
Ini sama saja seperti menilai ikan dari cara mereka memanjat pohon. Anak akan
menjadi minder pada orang disekitarnya. Menganggap mereka tidak memiliki
skill tersendiri yang bisa mereka banggakan.
5. Kurang atau terlalu banyak tidur
Hal sesimpel ini pun bisa memengaruhi hidup kita. Tidur bermanfaat untuk
mengembalikan energi yang sudah terkuras, mengistirahatkan otot dan saraf
yang tegang. Namun, terlalu banyak tidur juga tidak baik. Waktu untuk
produktif; waktu untuk mengasah skill jadi berkurang. Sehingga kita harus
memiliki waktu tidur yang tepat. Rata-rata orang dewasa dianjurkan tidur 7
hingga 9 jam tiap hari. Dengan jam tidur pukul 20.00 sampai 00.00, hal ini
untuk menyesuaikan bangun pagi tepat saat matahari terbit. Tapi sebagian
orang sukar tidur tepat waktu hingga mengharuskan meminum obat tidur.
Tidak masalah jika sesuai dengan anjuran dan resep dokter. Namun, bahaya
bila tidak dalam pantauan dokter atau ahli, akan menimbulkan kecanduan dan
overdosis.

Sebagai manusia, Tuhan memberikan kita akal untuk berfikir. Oleh sebab itu, kita perlu
mengunakan dalam mencari cara dari hal yang bisa merusak hidup kita. Beberapa cara
berikut bisa diterapkan:

1. Atur jadwal harian


Mengatur kegiatan kita sehari-hari dapat digunakan agar tiap ada aktivitas yang
tidak berguna, acara yang terlupakan, terlambat mengumpulkan tugas sekolah,
dan lainnya bisa tetap terkendali. Penting sekali melakukan pengaturan diri
seperti ini karena dapat melatih kita mengelola waktu kita dengan tepat. Bisa

10
pula kita membuat to do list hal yang harus dilakukan dengan memperhatikan
skala prioritas.

2. Mengevaluasi
Setelah menyusun dan melaksanakan jadwal harian, mengevaluasi aktivitas
yang produktif untuk ditingkatkan dan mengurangi aktivitas yang kurang
bahkan tidak produktif. Jangan biarkan waktu kita habis untuk kegiatan yang
tidak berguna.
3. Memberikan hadiah pada diri sendiri
Hadiah perlu diberikan pada diri sendiri, mengapresiasi diri sendiri yang sudah
bertahan dalam kondisi yang tidak bersahabat. Kalau kita sendiri tidak bisa
memberikan apresiasi pada diri, bagaimana dengan orang lain. Hadiah ini dapat
berupa kegiatan jalan-jalan (rekreasi), membeli makanan yang disukai,
menambah barang koleksi, dan masih banyak yang bisa diberikan.
4. Hobi dan bakat
Apa kita sudah tahu bakat kita? Apa yang kita suka? Cukup penting
mengetahuinya karena ketika kita sedang dalam masa down, melakukan hobi
kita bisa memberikan ketenangan kepada kita. Begitu juga dengan bakat, kita
perlu mengasahnya karena bakat yang tidak dilatih sama saja bukan apa-apa.
Kita bisa menggunakan bakat kita dalam hidup jika sedang terjadi masalah.
5. Curhat kepada teman
Saat menghadapi masalah sering buntu untuk berfikir jernih dan bijak. Oleh
karena itu, bantuan dari teman bisa untuk meringankan beban. Namun, pilihlah
teman yang tepat untuk bercerita jika salah memilih bisa membuat semakin
down.
6. Olahraga
Sebuah cara sederhana untuk menjadi fisik kita tetap sehat. Fisik dan psikis itu
saling berhubungan. Jika fisik kita sakit, maka psikis kita akan terganggu begitu
juga sebaliknya. Semua olahraga sangat baik untuk dilakukan, namun yoga akan
lebih tepat dilakukan jika ingin memfokuskan pada fisik dan psikis. Ketenangan

11
saat melakukan yoga memberikan kedamaian pada diri. Olahraga ini juga cukup
mudah dilakukan tidak memerlukan banyak biaya dan peralatan khusus.
7. Makanan sehat
Seperti sebelumnya, bahwa fisik dan psikis berkaitan. Untuk menjadi tubuh
tetap segar kita perlu menjaga diri agar tetap mengonsumsi makanan yang
sehat. Tidak perlu mahal, tetapi cukup akan pemenuhan gizi seperti
karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. “Didalam tubuh yang sehat terdapat
jiwa yang kuat,” slogan ini sangatlah tepat, maka jagalah pola makan.
8. Menjauhi lingkungan toxic
Belakangan sering tersebar istilah toxic relationships. Toxic relationships adalah
hubungan yang membuat salah satu pihak merasa tidak didukung,
direndahkan. Toxic relationships dapat memengaruhi kesehatan mental
seseorang. Beberapa tanda sedang menjalin toxic relationships antara lain:
a. Tidak ada dukungan
Usaha yang sedang perjuangkan tidak pernah mendapatkan dukungan,
malah ketidakpercayaan yang didapat. Keraguan mereka atas potensi
yang ada pada diri kita. Menganggap potensi dirinya lebih baik dari diri
kita.
b. Selalu diutamakan
Seseorang pasti ingin diakui dalam kelompoknya, menjadi nomor satu di
kelompok tersebut. Berbagai cara akan dilakukan agar bisa menjadi
yang terbaik, walaupun itu mengorbankan temannya. Sangat miris,
mereka tidak akan membiarkan kamu sukses jika dia gagal.
c. Menyalahkan
Jika mereka melakukan kesalahan dan itu ketahui oleh orang lain,
mereka akan mencari kambing hitam. Tidak ingin dipandang buruk oleh
orang lain.
d. Dipersalahkan

12
Apapun yang terjadi mereka akan selalu mempersalahkan kita atas
sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi sebelumnya. Mereka
melampiaskan kekecewaan dengan memaki-maki kita.

e. Mengatur diri kita


Mereka untuk mewujudkan yang diinginkan tak jarang mengatur kita
untuk berbuat sesuai apa yang mereka mau. Tuntutan mereka agar kita
berubah sesuai ekspektasi mereka sudah pasti membuat kita tidak
nyaman.
f. Tidak ada apresiasi
Seringkali ketika kita mendapatkan suatu keberhasilan baik dalam
bisnis, pendidikan, karir, dan lain-lain akan banyak orang memberikan
kita selamat, namun jika kamu dalam lingkungan toxic relationships
mereka akan selalu acuh pada diri kamu. Sebagian malah memberikan
celotehan: “Berhasil lewat jalan instan, pakai orang dalam pasti?”
Mereka tak memberikan pujian sedikit pun, rasa iri malah membuat
mereka melontarkan kata-kata yang tidak pantas.

Apakah dalam menyelesaikan suatu masalah kita mendapatkan pengaruh dari orang
tua kita? Tentu saja hal ini pasti terjadi, apalagi yang dirawat semenjak kecik oleh
orang tua kita. Kita akan mengamati bagaimana orang tua kita keluar dari masalah dan
akan mempraktekkannya. Lebih dari itu, orang tua juga memberikan gennya pada kita.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eric Nesler, dari Mount Sinai School of
Medicine di New York mengungkap bahwa orang tua (khususnya ayah) yang terkena
stres bisa memengaruhi keturunannya (baik perempuan maupun laki-laki). "Temuan
pada tikus ini meningkatkan kemungkinan bahwa risiko seseorang mengalami depresi
klinis atau gangguan stres dapat ditentukan dari tingkat stres ayahnya," ujarnya.

Jika ayah bisa memberikan pengaruh pada keturunannya, bagaimana dengan ibu yang
telah mengandung dan merawat kita? Kesehatan ibu saat mengandung memengaruhi
janim yang dikandungnya. Sehat fisik dan psikis penting untuk dijaga oleh seorang ibu

13
hamil. Ibu hamil harus pandai mengatur emosi, sabar, dan makan makanan bergizi.
Dalam memberikan pola asuh harus sesuai dengan karakter anak. Anak akan
mencontoh tingkah laku orang disekitarnya, maka ibu harus memantau orang-orang
didekat anak.

Orang tidak diciptakan sempurna, maka kita perlu support system dari orang disekitar
dan menjadi support system yang baik bagi orang lain. Beberapa cara berikut dapat
diterapkan:

a. Jangan egois
Support system adalah hubungan dua arah yang saling menguntungkan,
merupakan simbiosis mutualisme dalam sebuah hubungan. Oleh karena
itu, ini tidak akan dapat berjalan bila salah satu orang mementingkan
dirinya sendiri. Harus menurunkan ego masing-masing demi terwujud
hubungan yang saling mendukung.
b. Menerima dan belajar
Kita harus menerima pihak lain; baik dan buruknya. Tidak melakukan
penghakiman (judge), sehingga akan membuat hubungan semakin baik.
Kita juga harus belajar dari pihak lain untuk mengembangkan diri kita
menjadi lebih baik.
c. Jujur pada jati diri
Jangan mengubah jati diri kita demi membuat pihak lain nyaman tetapi
kita tidak nyaman dengan diri baru kita. Kita juga harus menerima jati
diri pihak lain sesuai dengan karakternya.
d. Menjadi pendengar
Menjadi pendengar yang baik perlu dilakukan dalam sebuah support
system karena pihak lain memerlukan wadah untuk bercerita
pengalamannya baik ataupun buruk. Begitu juga kita memerlukan
tempat untuk menampung cerita kita.
e. Kritik yang membangun

14
Dalam sebuah support system perlu untuk memberikan masukan yang
berguna bukan hanya sekadar memberikan kritikan. Mengkritiklah
sesuai porsi jangan berlebihan hingga menyinggung pihak lain.
f. Jangan putus hubungan
Ketika kita ada di saat pihak lain bahagia, maka kita harus ada di saat
mereka dalam kesusahan. Walaupun kita terpisah jarak jangan
membuat itu sebagai alasan menghindari pihak lain ketika dalam
masalah. Perlu kita untuk menghibur mereka, walaupun sekadar
membuat mereka tersenyum.

Bagaimana jika kehadiran dari kita merusak kehidupan orang lain? Pasti itu akan
menyakitkan orang itu dan diri kita sendiri. Mengapa bisa kita bisa merusak hidup
orang lain? Ini bisa terjadi karena sikap dominan dalam suatu kelompok. Kita yang
mengatur hidup orang seperti layaknya bos besar. Kita perlu mengapresiasi diri kita
yang telah sadar bahwa ada hal buruk di diri kita yang mengganggu orang lain.

Mental kepiting juga menjadi sebab bahwa diri kita menjadi parasit orang lain. Tak
ingin orang lain berhasil, jika kita sedang merasakan kegagalan. Maka mari jauhkan
sikap mental kepiting: Selalu ingin tampil dominan diberbagai keadaan dan tidak ingin
kalah dari yang lain. Tidak apa bila kita tidak lebih baik dari orang lain di suatu bidang
karena setiap orang bisa unggul di bidang tertentu. Seperti yang kita lihat mereka
berjuang untuk menuju kesuksesan mereka seperti kita. Mengapa tidak kita berjuang
bersama? Walaupun tujuan kita sama dan hanya akan ada satu yang berhasil. Tidak
mengapa untuk hal itu, jika kita tidak mendapatkannya, kita bisa mendapatkan yang
lain lewat jalan lain.

Dear myself,
terima kasih telah bertahan disegala kondisi, terima kasih untuk tegar dan tangguh
menghadapinya. Terima kasih telah bertahan sejauh ini, bisakah kita bertahan lebih
jauh lagi? Di depan masih ada kerikil tajam yang menghadang. Aku mohon tetaplah
bertahan, mari berjuang bersama. Walaupun tidak mudah tetaplah percaya, Tuhan
memberi kekuatan pada kita untuk melaluinya. Sekali lagi, terima kasih diriku yang

15
hebat untuk bertahan dan tampil tegar. Semoga kedamaian dan berkat selalu
menyertai. Aku mencintai diriku.
With love.

Bionarasi

Sigit Gunadi P, menentukan sebuah nama pena Gunaopini


untuk mengawali karier kepenulisannya. Berlatar belakang
lulusan SMA, menjadi modal dalam berkarya merangkai kata.
Sempat mengikuti beberapa lomba baca puisi, menjadi berkat
baginya dalam dunia sastra. Membuat akun blog gunaopini
sebagai wadah untuk giat berliterasi. Memiliki akun sosial
media Twitter dengan username @sigitgunadi5 dan Instagram
dengan akun @gunadisputra. Pembaca juga dapat membaca
karyanya di aplikasi KMO App dengan nama pengguna
gunaopini. Pembaca juga bisa memberikan kritik dan saran
melalui email gunadisputra@gmail.com.

16
Insecure
Chika Ozora

Siapa sih yang tak menginginkan tubuh ideal dengan badan semampai dan
disukai banyak orang? Semua orang tentu menginginkannya, termasuk aku. Namun,
sering kali aku tidak merasa percaya diri dengan bentuk tubuh dan usiaku yang lebih tua
dari teman-teman seangkatanku. Memang aku bukan yang paling tua di satu angkatan,
tapi banyak teman dan kakak kelasku yang memiliki tubuh ideal dengan usia mereka
yang lebih muda dariku. Banyak tawaran yang datang untuk mengikuti lomba, tapi ada
rasa yang tak bisa kujelaskan saat aku harus mengisi form pendaftaran. Ya, di form
tersebut pasti selalu ada “Tempat, tanggal lahir” yang harus diisi. Aku insecure dengan
teman-temanku yang lain karena mereka usianya relatif lebih muda dariku. Tak jarang
sebagian teman-temanku mengataiku dengan sebutan “Tiklot (letik-letik kolot)”. Tiklot
merupakan bahasa daerah kami yang artinya “Badan kecil tapi usianya sudah tua atau
badan tidak sesuai usia”. Makian itu selalu melekat di benakku dan aku berpikir, “Aku
harus melakukan sesuatu”.
Upaya terus aku lakukan agar setidaknya aku bisa tinggi mencapai 150 cm.
Mengikuti ekstrakurikuler voli tiap minggu, rutin bermain lompat tali, dan sering
loncat-loncat sehabis mandi. Tapi, apa dayaku sebagai manusia biasa. Jika Allah tidak
berkehendak maka sebagai makhluk kita tak bisa melakukan apa pun. Usahaku tak
putus sampai di situ, aku pun sengaja menabung untuk membeli susu peninggi badan.
Dan hasilnya pun tetap sama. Akhirnya aku coba bercerita kepada salah satu guruku dan
beliau berkata, “Gak apa-apa atuh, bagus malah terlihat lebih awet muda. Baby face,
gitu. Harusnya bersyukur punya badan kecil dan mungil itu, susah tuanya,” begitu
candanya terhadapku. Waktu itu aku kelas X semester genap.
Di kelas, memang aku termasuk sepuluh murid yang cepat menangkap materi
pelajaran. Terlebih, ketika pelajaran matematika atau fisika. Teman-temanku sering
meminta bantuanku untuk menjelaskan ulang materi yang sudah disampaikan oleh
guruku. Aku juga sering mengikuti perlombaan antar sekolah dan aktif di bidang olah
raga voli. Selain itu, bahasa inggris dan arabku tak terlalu buruk. Seringkali aku
dijadikan contoh teladan di kelas karena nilaiku yang bagus.
Saat masuk kelas VII aku juga pernah membantu kakak kelasku yang duduk di
kelas IX mengerjakan tugasnya. Terlepas dari kelebihan yang aku miliki, aku selalu

17
merasa aku kuranng beruntung karena memiliki postur tubuh yang kecil dan kurang
tinggi (145 cm). Aku selalu menginginkan kehidupan orang lain dan selalu berandai-
andai menjadi mereka.
Bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun, akhirnya aku lulus ujian
mandiri di salah satu universitas negeri di Bandung. Lagi-lagi aku kurang bersyukur
karena keinginanku adalah kuliah di universitas yang ada di Jakarta. Tahukah kalian
kenapa aku ingin sekali kuliah di Jakarta? Karena aku ingin memiliki kulit yang putih,
norak sih alasanku waktu itu. Aku mikirnya karena di Jakarta panas, otomatis
keringetan dan sering mandi yang menyebabkan kotoran-kotoran di badan hilang.
Sungguh alay dan tak masuk akal alasanku dulu.
Di tempat kuliah pun aku masih merasa insecure terhadap kondisi fisikku.
Teman-temanku yang lain mengajakku untuk ikut organisasi di jurusanku, tapi aku
malu harus menyodorkan CV pada panitia. Aku tidak mau kakak tingkatku mengetahui
kalau usiaku mungkin seusia mereka. Padahal, berorganisasi adalah duniaku. Aku
senang sekali bisa melakukan banyak hal, ngobrol dengan orang banyak, dan pastinya
menambah kawan juga. Tapi, insecure lebih tinggi dibanding dengan hobiku.
Tahun kedua aku paksa diriku untuk memberikan CV ke panitia. Aku
beranikan diriku untuk wawancara, dan alhamdulillah aku diterima sebagai anggota
Himpunan di jurusanku. Tahun ketiga, barulah aku menyesal, kenapa kesempatan
pertama yang dulu datang aku lewatkan begitu saja, kenapa aku tidak mencoba
memaksa diriku untuk melangkah.
Aku terus berandai-andai mengingat tahun-tahun ke belakang, “Seandainya
dulu aku...” Begitulah hidup, penyesalan selalu datang di akhir. Aku sadar banyak hal
yang aku lewatkan gara-gara insecure sama tinggi badanku. Padahal kalau dikaji ulang,
semua yang kita miliki sekarang adalah titipan Allah. Ya, aku menyadari kalau aku
tidak bersyukur. Aku tak mampu berdamai dengan diriku sendiri, aku selalu
menginginkan diri orang lain ada padaku. Seiring berjalannya waktu, aku menikmati
panggilan baru teman-teman kuliahku, “Baby face”. Bahkan di keluarga pun mereka
sering bilang seperti itu. “Gak keliatan udah kuliah ya, kaya masih anak kelas SD” sahut
kakekku ketika aku pulang libur semester.
Satu sisi aku bersyukur karena dikaruniai bentuk tubuh yang minimalis, di sisi
lain aku juga masih merasa insecure terhadap usiaku yang lebih tua dari teman-teman

18
kuliahku. Tak bisa dipungkiri kalau rasa insecure itu selalu membayangiku dan
membuatku terhambat melakukan banyak hal. Butuh waktu dua belas tahun untukku
agar ke luar dari bayang-bayang orang lain. Selama itu juga aku banyak menghilangkan
kesempatan untukku menuju perubahan yang lebih baik lagi. Tepatnya setelah dua
tahun aku lulus kuliah baru aku menyadari kalau apa yang aku punya sekarang adalah
titipan dan pemberian Allah yang harus aku jaga.
Wajar memang insecure itu muncul dalam diri kita, tapi seharusnya tak
berlarut-larut.
Bagaimana caraku bisa terbebas dari rasa insecure yang aku miliki? Baiklah,
aku akan menjelaskannya satu persatu.
Aku menyadari kalau perubahanku dimulai sejak aku berada di lingkungan
yang baru. Ya, setelah lulus kuliah aku diberi kesempatan oleh Allah langsung bekerja
di salah satu sekolah di tempat asalku. Sekolah tersebut adalah sebuah pondok pesantren
modern satu-satunya yang ada di daerahku, Jampangkulon. Laki-laki dan perempuan
dibatasi dalam berinteraksi dan kelasnya diberlakukan pemisahan gender.
Mesjid biru yang selalu aku lewati ketika akan masuk kelas yang membuat
hatiku damai, para pengajar yang tak haus akan materi dunia dan anak-anak santri yang
berperilaku sopan. Itulah lingkungan baru yang kutempati. Secara perlahan, tanpa
disadari aku sudah tak mementingkan lagi usia atau bentuk tubuhku yang minimalis.
Lingkungan tersebut membuatku menyadari betapa Allah luar biasa menciptakan
manusia dengan segala kesempurnaannya.
Selain lingkungan, aku juga sering menonton berbagai video motivasi di
Youtube dan mulai merealisasikannya dalam kehidupanku. Lingkungan baruku
mengajarkanku bahwa yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah berusaha, hasil itu
Allah yang menentukan. Kalau hari ini kita gagal membentuk kebiasaan baru yang lebih
baik, maka ketika hari esok kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah pergunakan
waktu itu untuk mencoba lagi. Terus mencoba sampai kegagalan bosan menghampiri
kita.
Langkah ketiga yang kulakukan adalah dengan mengikuti pengajian mingguan yang
diselenggarakan oleh tempat kerjaku. Selain mendapat ilmu baru sebagai santapan
rohani, di sana juga dibuka ruang diskusi untuk menanyakan hal apa pun. Sedikit demi
sedikit persepsiku tentang hidup mulai berubah dan perlahan lebih bersyukur dengan

19
apa yang kumiliki sekarang. Intinya adalah pilih lingkungan yang sesuai dengan
harapanmu, lakukan perubahan kecil yang konsisten, terus belajar dan jangan mudah
berputus asa, terakhir adalah jangan putus berdoa kepada Allah.

Bionarasi
Memiliki nama asli Siska Handayani Inandang, lahir di
Sukabumi tanggal 27 November 1994. Seorang gadis asli
Jampangkulon bersuku Sunda yang bertekad untuk selalu
menebar kebermanfaatan. Setelah lulus SMA ia
menghabiskan waktu 4 tahun di studi Pendidikan Fisika
UIN Sunan Gnung Djati. Tepat di penghujung semseter 7
ia kehilangan hp dan laptop bersamaan di tempat kosnya.
Semua file kuliah termasuk proposal penelitiannya hilang
tak ada jejak. Beberapa bulan kemudian yaitu 2 Februari
2018 adiknya meninggal dunia tepat di malam sebelum ia
ujian proposal. Setelah lulus ia yang awalnya berniat
berkarier di Bandung, akhirnya ia putuskan untuk pulang ke kampung halamannya
menemani kedua orang tuanya yang masih berkabung bahkan sampai sekarang.
Qadarullah, ia diterima bekerja sebagai pengajar Fisika di boarding school Darul
‘Amal Jampangkulon. Di tahun 2020, ia putuskan untuk melanjutkan studi kembali dan
diterima di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan IPA. Di tahun yang
sama ia juga mulai mendalami dunia kepenulisan. Ia bertekad untuk menebar
kebermanfaatan lewat tulisannya.

20
Kekuatan versus Kelemahan
Siska Fitria Ningsih

Dua kata yang harus diperhatikan dalam diri seseorang yaitu kelemahan dan
kekuatan, dimana kedua-duanya saling berkaitan satu sama lain. Lemah itu wajar ada
di dalam diri seseorang, akan tetapi terdapat kekuatan yang tidak kalah penting yang
memberi efek bangkit dalam diri seseorang.
Kelemahan dan kekuatan manakah yang sering teman-teman alami? Apakah
sering mengalami kegalauan atau selalu menjadi pribadi yang bersemangat di setiap
harinya? Cukup jawab jujur di dalam hati masing-masing ya. Seseorang yang di setiap
harinya hanya ada rasa cemas dan kegundahan berlebih akan dapat menimbulkan efek
negatif. Sedangkan seseorang yang selalu berpikir positif, bersemangat, dan selalu
menyalurkan enegri positif kepada orang lain, sangat menguntungkan bagi dirinya
sendiri maupun orang lain.
Bagi orang yang selalu bersyukur di setiap keadaan, dirinya mampu
menciptakan kekuatan dan akan timbul aura positif sehingga menghilangkan segala
aura negatif dalam dirinya. Orang-orang seperti inilah yang harus kita tiru agar
membawa dampak yang baik di dalam kehidupan kita. Lalu, bagaimana dengan
mereka yang selalu lemah? Cara yang tepat dalam menanganinya adalah dengan
mengubah pola pikir orang tersebut. Ia harus yakin bahwa semua kebaikan pasti
dimiliki oleh setiap orang, sehingga untuk apa bersedih hati?
Semakin terbukanya pemikiran seseorang, maka ia akan mampu memilih apa
yang terbaik dalam dirinya. Bukan hanya mengenai dirinya sendiri yang harus
dibahagiakan, melainkan banyak orang yang selalu mendukung dirinya agar tetap
menjadi yang terbaik di setiap harinya. Hal ini menjadikan mereka juga pantas
mendapatkan kebahagiaan. Setiap orang pasti merasakan yang namanya masa-masa
sulit dan masa-masa senang. Namun, semua itu pasti dapat dilalui dengan adanya rasa
semangat dalam diri seseorang dengan memanfaatkan semua peluang yang ada untuk
mencapai keberhasilan.
Proses menata diri yang bisa dilakukan seseorang dari hal sederhana ialah
dengan menanamkan rasa semangat sebagai kekuatan pada dirinya. Apabila di dalam

21
dirinya tidak ada rasa semangat atau tidak ada aura positif yang bisa bermanfaat, maka
bagaimana ia akan mengubah keadaan dirinya menjadi lebih baik? Oleh karena itu, kita
sambut sebaik mungkin dengan semangat terhadap hal yang membawa kita kepada
perubahan yang baik agar bisa mengubah pribadi ke depan menjadi lebih baik pula.
Namun, banyak anggapan di masyarakat bahwa kebanyakan kaum muda
memiliki mental yang masih labil sehingga mereka lebih banyak merasakan
kegelisahan dibandingkan dengan rasa semangat. Banyak faktor yang menyebabkan
mereka berada dalam kondisi tersebut, padahal seharusnya bisa memberikan
perubahan kepada lingkungan sekitar. Selain itu, dampak yang ditimbulkan pun sangat
berpengaruh terhadap masa depan mereka.
Berbeda dengan anak muda yang memiliki rasa semangat yang tinggi sebagai
kekuatan untuk menghadapi perihnya suatu perjuangan, mereka akan memperoleh
kemenangan dimasa yang akan datang. Akan tetapi, hanya sebagian kecil saja dari
anak muda yang seperti ini. Oleh karena itu, perlu faktor dari luar agar kedaan atau
kondisi tersebut bisa diubah menjadi lebih baik.
Hal paling sederhana yang bisa dilakukan untuk mengubah diri menjadi lebih
baik adalah selalu beranggapan bahwa dalam dirinya terdapat kekuatan yang bisa
merubah keadaan. Kekuatan dan kelemahan pasti ada di setiap diri seseorag dan tidak
dapat dipungkiri lagi keberadaannya. Dua hal tersebut bisa diolah berdasarkan
pertimbangan hal yang harus ditambah kualitas dan hal yang harus dihilangkan.
Saat mengoptimalkan kekuatannya, hal-hal yang bermanfaat, pemikiran-
pemikiran baru muncul dan perubahan diri pun terlihat dengan baik, sedangkan
kelemahan yang terdapat dalam diri seseorang dapat dievaluasi untuk kedepannya
bahwa dalam diri seseorang perlunya perubahan agar tidak berdiam diri di tempat
tersebut. Dengan adanya perubahan pencapaian-pencapaian yang akan diraih pun
akan mudah didapat apabila seseorang menyadarinya sejak dini dan mau atau ingin
mengubahnya dengan tujuan yang positif. Jadi gunakan kesempatan atau peluang
yang ada sebagai wadah untuk menjadikan pribadi yang lebih baik ke depan

22
Mengenali Diri Sendiri
Hal sederhana lainnya yang sering terlupakan oleh sebagian orang adalah
mengenal dirinya sendiri. Mengapa diperlukan mengenali diri sendiri? Karena dengan
mengetahui pribadi diri sendiri, seseorang akan mengetahui kelebihan dan kekurangan
yang ada dalam dirinya. Akibatnya, apabila ia ingin mengubah menjadi pribadi yang
lebih baik maka ia akan mudah mengoreksi kekurangan dan bisa memperbaikinya
dengan mudah. Namun, mengapa ada sebagian orang yang sulit mengenali dirinya
sendiri? Salah satu faktornya disebabkan seseorang tidak mau terbuka terhadap
lingkungan sekitar dan terhadap orang lain. Keterbukaan diri bisa menjadi alternatif
agar seseorang dapat membuka diri dan mengenali dirinya jauh lebih baik.
Proses pengenalan diri ini bisa dikatakan sederhana, namun dampaknya bisa
sangat berpengaruh terhadap pribadi seseorang. Hal ini penting dilakukan karena
menjadi salah satu faktor yang dapat digunakan untuk mengubah pribadi yang lebih
baik ke depan. Dalam proses perbaikan diri diperlukannya pemahaman mengenai
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, yang nantinya akan dijadikan evaluasi
terhadap perubahan yang akan dilakukan seseorang.
Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kelebihan dari seseorang dapat dijadikan batu loncatan agar diri bisa terus
berkembang ke depan menjadi lebih baik, seperti mengembangkan minat dan bakat
yang telah dikuasai dengan semaksimal mungkin. Adapun, kekurangan sesorang bisa
menjadi suatu masalah atau tantangan yang harus dileselaikan. Mengolah kelebihan
yang ada di dalam diri diperlukan untuk mengembangkan bakat setelah ia mengenal
siapa dirinya, bagaimana karakteristiknya, dan apa saja sifat dasar yang ada didalam
dirinya. Dalam mengambangkan potensi yang terdapat di dalam diri seseorang ini,
diperlukannya kegiatan atau aktivitas yang terjalin secara konsisten agar kegiatan
tersebut bisa menjadi suatu kebiasaan yang dapat mengubah seseorang menjadi lebih
baik.
Selain itu, terdapat suatu masalah yang harus dituntaskan oleh seseorang dari
sifat atau karakteristik yang mengarah kepada hal-hal yang kurang efektif sehingga
menggangu proses bertumbuh. Contohnya seperti sikap suka menunda hal-hal yang

23
perlu dikerjakan atau dilakukan di hari tersebut. Saat soseorang sudah mengetahui
sifat-sifat buruknya, selanjutnya diperlukan perubahan diri agar sifat tersebut tidak
melekat terus-menerus.
Cara mengatasi masalah sikap seperti contoh di atas, hal yang pertama kali
perlu dimiliki adalah memiliki kesadaran bahwa hal tersebut akan berdampak buruk
bagi dirinya. Setelah terbentuk kesadaran, sifat tanggung jawab diperlukan sebagai
motor penggerak perubahan diri karena dengan sifat ini seseorang akan berpikir
bahwa ia memiliki tugas yang harus dieksekusi atau dikerjakan dengan segera.
Proses pengenalan diri bisa dimulai dengan memberikan diri pertanyaan demi
pertanyaan, seperti: Siapa saya? Bagaimana diri saya? Apa kontribusi yang saya ingin
berikan terhadap lingkungan, masyarakat, maupun bangsa? Hal ini adalah tugas kita
masing-masing untuk mengoreksi diri dan terus mengembangkan diri.
Setelah jawaban didapat hingga diri bisa mengenali diri sendiri, semua
kemudian kembali kepada kemampuan menanggapi lingkungan, memahami setiap
perubahan kondisi, dan tentunya sikap memegang prinsip-prinsip diri agar tidak
mudah terpengaruh oleh orang luar.

Bionarasi
Siska Fitria Ningsih, berumur 18 tahun berstatus Mahasiswi di
salah satu Universitas Negeri Pontianak program studi
manajemen. Menulis merupakan salah satu hobi yang
mengantarkan ia mengikuti kelas menulis online. Suka mencoba
hal-hal yang baru dan siap menerima tanggapan, saran dan kritik
yang dapat disampaikan melalui email
siskafitrianingsih88@gmail.com maupun laman instagram
@siskafitrianingsih88.

24
Siapa Aku?
Sayyid Abdullah

Di tengah keramaian sering terbesit dalam pikiran, orang sebanyak ini, apakah
mereka sadar akan kehadiran diri ini? Akankah mereka peduli dengan hadirnya diri ini?
Ya, pastinya mereka tidak akan pernah peduli dengan kehadiran kita di tengah-tengah
keramaian tersebut. Karena bagi mereka tidak ada manfaatnya untuk mengetahui siapa
diri ini.
Mereka akan sadar jika diri ini memiliki sesuatu yang istimewa, yang berbeda
dari orang-orang biasa lainnya. Misalnya, seseorang yang memiliki prestasi dan muncul
di televisi bahkan di media cetak. Pasti semua orang akan langsung mencari tahu.
Bahkan jika ada diri ini mereka pasti kumpul untuk menyaksikan kehadiran diri ini.
Begitu pula jika kita ingin di cintai Allah Swt dan visi kita ingin ke surga, tapi
kita tidak memiliki keistimewaan di hadapan Allah Swt. Bahkan aktivitas-aktivitas yang
kita lakukan tidak mencerminkan bahwa kita visi kita adalah surga. Siapa aku? yang
cita-citanya masuk surga tapi hobinya bermaksiat, dasar aku.
Tapi tenang kita jangan berputus asa dari rahmat Allah Swt kita masih memiliki
chance untuk masuk surga, dan menjadi seseorang yang istimewa. Ya jalan satu-satunya
kita harus bertaubat. Mengakui semua kesalahan-kesalahan telah kita berbuat dimasa
lalu, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Niatkan sepenuh hati untuk benar-benar
berubah di jalan Allah Swt agar kita menjadi orang-orang yang termasuk golongan
sebelah kanan (penghuni surga).
Untuk menjadi istimewa dihadapan Allah Swt tentunya ada effort yang mesti
kita keluarkan. Untuk di pandang baik di hadapan orang lain pun kita butuh effort yang
tidak biasa. apalagi di hadapan Allah Swt. Langkah awal yang bisa kita lakukan adalah
dengan cara mengetahui atau mengenali siapa diri ini? Sebenarnya ada beberapa
pertanyaan besar yang harus kita jawab dan kita lakukan pastinya. Yang bisa
menghantarkan kita menjadi istimewa di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, dan
pertanyaan-pertanyaan itu meliputi:
1) Dari mana kita berasal?
2) Untuk apa kita diciptakan?
3) Setelah kehidupan ini, kita mau kemana?

25
Dari mana kita berasal?
Mencari tahu tentang kita diciptakan atau dilahirkan di muka bumi ini sangat
penting sekali. Karena hal itu akan membuat diri kita bisa dengan mudah mengenal
siapa diri kita ini. Akan tetapi setiap orang tidak begitu peduli dengan pertanyaan
tersebut. Sebenarnya dari mana kita berasal? Bahkan banyak juga orang-orang di luar
sana tidak mau tahu akan hal ini.
Kita hanya sosok yang diberi nyawa oleh sang pencipta. Bahkan yang awalnya
kita itu berasal dari suatu cairan yang menjijikan dan hina. Melalui proses yang begitu
kompleks serta beberapa tahapan yang bagi pemikiran manusia sangatlah rumit. Bahkan
kita akan berkomentar bahwa semua ini terjadi bukanlah karena kebetulan, semua ini
pasti ada yang menggerakkan. Mulai dari setetes cairan yang hina melewati beberapa
proses hingga menjadi sosok atau seorang manusia yang begitu sempurna. Apakah kita
pernah berpikir?
Padahal Al-Quran menjelaskan secara lengkap tentang penciptaan diri ini.
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka
(ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan
kami tetapkan dalam Rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentuka, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-
angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan
dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia
tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat
bumi ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu
dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS
Al Hajj [22]:5)
Bagaimana? Kurang jelas apalagi tentang kita berasal dari mana? coba kita
renungkan sejenak. Dari proses yang luar biasa kita diciptakan, bahkan manusia hebat
sekalipun tidak akan sanggup untuk meniru proses ini. Siapa kita? Yang selalu
memperlihatkan kesombongan di dunia ini. Kita tidak sadar, bahwa kita bisa hidup
sampai saat ini karena ada yang Maha Pemilik kehidupan ini. Kenapa kita masih
sempat-sempatnya untuk bersikap sombong? Padahal kita semua hanyalah makhluk

26
lemah yang awalnya tercipta dari cairan hina dan diberi kesempatan hidup untuk
melaksanakan apa yang diinginkan oleh yang menciptakan kita.
Logikanya kita sudah diciptakan, diberi kehidupan seperti ini, tapi kita masih
saja tidak peduli dengan segala sesuatu yang diperintahkan oleh sang Maha Pencipta.
Itu menandakan bahwa kita makhluk yang tidak tahu diri.
Jika kita telah memaknai dan memahami dari mana kita berasal, otomatis diri
kita ini akan selalu bersyukur dalam menjalani hidup ini. Kita akan tersadar bahwa diri
ini hanyalah sosok yang lemah dan masih ada yang menciptakan, bukan hadir dengan
sendirinya. Maka dari itu kita hidup di dunia ini akan selalu bersikap rendah hati dan
tidak ada waktu untuk menyombongkan diri.
Dari mengetahui dari mana kita berasal, sudah satu langkah berjalan dalam
rangka menata diri untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika
kita sudah memahami maksud dari mana kita berasal, itu akan mengantarkan kita untuk
masuk kepada langkah selanjutnya.

Untuk apa kita diciptakan?


Beberapa orang pasti akan memikirkan hal ini. Kenapa saya bilang beberapa?
Karena kebanyakan orang di era sekarang ini menjalani kehidupan hanya sebatas
menjalani saja, tanpa mencari tahu tentang tujuan kita diciptakan di dunia ini untuk apa.
Kebanyakan orang memaknai hidup ini hanya sekedar hidup, menghasilkan uang,
menikah, memberikan keturunan, membesarkan anak-anaknya hingga sukses, lalu mati.
Apakah hidup di dunia ini hanya sebatas itu?
Padahal Allah Swt tidak akan pernah menciptakan apa pun melainkan dengan
satu tujuan. Semua yang diciptakan-Nya, pasti membawa suatu hikmah. Dan tak jarang
pula ada beberapa hal terkadang justru hikmahnya tidak sampai terpikir oleh kita.
Bahkan kita sudah banyak mengetahui, ketika itu malaikat sempat heran,
mengapa Allah menciptakan makhluk bernama manusia yang diperkirakan akan
membuat kerusakan di muka bumi ini. Allah pun dengan tegas mengatakan bahwa ia
mengetahui yang tidak diketahui makhluk lainnya.
Di dalam Al-Quran menjelaskan juga tentang tujuan dan hikmah dibalik
penciptaan manusia.

27
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-
Ku.” (Adz Dzariyat [51]:56)
Jika kita melihat pada ayat tersebut, maka sudah jelas tujuan kita diciptakan di
dunia ini untuk apa? Ya, untuk beribadah kepada Allah Swt tentunya. Dibalik
penciptaan manusia pasti terdapat hikmahnya. Yaitu dengan melihat potensi yang
dimiliki oleh manusia, dengan segala potensi yang ada, manusia tentu saja dapat
memberikan kebaikan bagi bumi ini, dengan syarat potensi tersebut digunakan dengan
cara yang benar sesuai dengan tuntunan Islam.
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar
kamu bersyukur.” (An Nahl [16]:78)
Ibnu Katsir memaparkan ayat ini dengan menuturkan jika dari beberapa karunia
Allah Swt kepada hamba-Nya adalah dengan melahirkan seorang manusia yang keluar
dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa pun.
Setelah itu Allah menganugerahkan pendengaran yang berfungsi untuk
mendengar segala jenis suara. Ada juga karunia penglihatan yang berfungsi untuk
melihat segala hal-hal yang bisa dilihat mata.
Kemudian ada juga karunia berupa af-idah yaitu akal yang sumbernya berada
dihati dan diotak. Akal yang menyebabkan manusia dapat membedakan yang baik dan
buruk. Dan dengan segala karunia Indera serta potensi yang telah Allah ciptakan, dapat
membantu manusia untuk terus berkembang seiring berjalannya waktu, sampai pada
perkembangan yang sempurna.

Dengan potensi yang diberikan kepada manusia. Jika kita bisa memanfaatkan
potensi itu dengan benar sesuai dengan yang Allah perintahkan, kita akan
dicintai Allah serta memperoleh taufik dari-Nya. Hal itu akan membuat semua
perbuatan manusia menjadi terarah dan menghindarkan kita dari kesesatan.

Jika kita sebagai manusia tidak menggunakan potensinya dengan benar, maka
Allah Swt akan marah. Selain itu pula menurut Al Fayruzabdi diciptakannya mata,
telinga, dan akal adalah untuk mendengar, melihat, dan berpikir yang baik. Dengan
begitu dapat membantu seorang hamba agar bersyukur atas nikmat-Nya dan beriman
kepada-Nya.

28
Selain itu, penciptaan indera pendengaran, penglihatan, dan akal, bertujuan
untuk kita bisa mendapatkan ilmu. Karena ketiga hal itu adalah kuncinya ilmu.
Sehingga kita dari keadaan lahir yang tidak tahu apa-apa isa memperoleh ilmu dengan
menggunakan tiga karunia-Nya.

Setelah kehidupan ini, kita mau kemana?


Kita yang mengaku muslim sudah tentu meyakini adanya hari akhir (kiamat),
dan ada kehidupan setelah di dunia ini yaitu hari akhirat. Tapi hanya sedikit orang yang
benar-benar yakin dengan adanya akhirat Karena setiap manusia itu pada dasarnya
harus ada bukti terlebih dahulu barulah mempercayai sesuatu. Jika hal itu tidak ada
sudah bisa dipastikan hal tersebut hanyalah ilusi.

Seakan-akan kita hidup di dunia ini untuk selamanya. Padahal dunia ini
hanyalah tempat kita singgah, tempat kita mengumpulkan bekal untuk
kehidupan kita di akhirat nanti. Karena di dunia inilah kita akan merasakan yang
namanya kematian.

Jika ada awal sudah pasti ada yang namanya akhir, kematian tidak bisa kita
hindari sebagai makhluk hidup. Tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun
sangat disayangkan, hanya sedikit orang yang mau mempersiapkan diri untuk
menghadapinya.
Kata Umar Bin Abdul Aziz “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin
kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau
mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)
Ingatlah, kita salah satu makhluk hidup ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala pasti
akan merasakan kematian dan kita tidak bisa menolak hal tersebut.
“Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati.” (QS.Ali Imran [3]:185)
Ibnu katsir rahimullah mengatakan, “yang dimaksud dengan ayat diatas adalah
setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat
dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah
punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 3:163)
Jadilah mukmin yang cerdas, yang mempersiapkan segala sesuatu hal yang kita
butuhkan untuk kehidupan di akhirat sana, karena pilihannya hanya ada dua, surga atau

29
neraka. Kita tinggal pilih mau berusaha untuk masuk surga atau neraka. Dan tentunya
semua itu memerlukan yang namanya bekal. Jika kita menginginkan masuk surga,
sudah tentu kita akan berusaha melakukan aktivitas-aktivitas yang bisa menghantarkan
kita masuk surga. Dan disisi lain kita pun akan terotomatisasi untuk meninggalkan
aktivitas-aktivitas yang bisa menjauhkan kita atau menghalangi untuk masuk surganya
Allah Swt.
Setelah kita menemukan semua jawaban yang kita pertanyakan, mulai Dari
mana kita berasal? Untuk apa kita diciptakan? Hingga pada titik akhir yaitu Setelah
kehidupan ini kita mau kemana? Jika semua pertanyaan tersebut bisa terjawab dengan
benar, masuk akal, dan ada dalil yang memperkuatnya, maka akan ada otomatis dalam
diri kita untuk melakukan semua aktivitas-aktivitas yang ada di dunia ini hanya untuk
mengharapkan Ridha Allah Swt.
Dengan kita mengacu kepada tiga pertanyaan besar diatas. Kita akan lebih
mudah untuk mengenali siapa diri kita ini sebenarnya, dan kita tidak akan merasa
kebingungan untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Banyak orang merasa bingung
dengan kehidupan mereka. Tidak tahu harus melakukan hal apa agar bisa bertahan
hidup dimuka bumi ini tanpa tahu arah dan tujuan. Berbeda halnya dengan orang yang
telah menemukan jati diri mereka, dan sudah tahu tujuan hidupnya di dunia ini untuk
apa. Maka kita tidak akan merasakan yang namanya kebingungan dalam
menjalaninya.Semoga kita semua termasuk orang-orang yang sudah memilik tujuan
hidup di dunia ini. Iya tujuan kita sama yaitu akhirat dan masuk ke dalam surga-Nya.
Aamiin.

30
Bionarasi

Sayyid Abdullah lahir di Serang Banten, 18 Mei 1996. Anak


ke dua belas dari dua belas bersaudara. Lulus dari Program
Studi Pendidikan Jasmani STKIP Setia Budhi Rangkasbitung
tahun 2019. Sebagai pelatih Sepaktakraw di ekstrakulikuler
Sepaktakraw SMA Negeri 1 Maja pada tahun 2017 sampai
sekarang. Prestasi yang pernah diraihnya yakni menjadi
Fieldwoker Indonesia 2018 Asian Paragames menjuarai
event-event pertandingan sepaktakraw dari tingkat
Kabupaten/Kota hingga Provinsi. Untuk mengetahui lebih
jauh, bisa dilihat di akun Facebook Sayyid Abdullah dan
Instagram @abdullah_sayyid. “Do what yo can do. Dont be
afraid to spread kindness.”

31
Berjuang atau Lepaskan?
Chika Ozora

Usiaku sudah menginjak seperempat abad, namun status “single” masih


melekat dalam diriku. Teman-teman sebaya di kampungku sudah menikah semua dan
bahkan ada yang sudah memiliki dua orang anak. Teman-teman dekatku pun satu
persatu “sold out” di akhir tahun 2019. Dari enam sekawan, tinggal dua orang lagi yang
masih menunggu kepastian. Kepastian yang selalu kami nanti tanpa tahu kapan
kedatangannya. Dua orang itu adalah aku dan sahabatku, Lia. Di antara kami berenam,
usiaku yang paling tua, tapi aku yang paling minimalis dan sering kali disebut anak
SMP.
Aku dan Lia memang tak pernah meresahkan “kapan kami menikah”, kami
lebih fokus memperbaiki diri dan mencari bekal sebanyak-banyaknya tentang ilmu
pernikahan. Orang tua kami pun tak pernah mempertanyakan dan mendesak kami untuk
menikah. Jadi slow aja, itulah yang ada dalam benak kami.
Musim mulai berganti, dan bunga pun mulai bermekaran, tapi aku masih tetap
dengan kesendirianku. Pertanyaan yang sama pun terus aku dengar setiap harinya,
“Kapan nikah? Kapan nikah? Kapan nikah?” Pertanyaan tersebut sudah bagaikan alarm
tidur untukku sampai aku bingung sendiri harus dengan cara apa aku menghentikannya.
Walau demikian, aku tetap kuat karena ada support system dari keluargaku hingga
akhirnya aku merasakan hal yang sebelumnya tak pernah aku duga.
Rasa itu begitu menyesakkan hingga membuat rasa sakit menjalar dari ujung
kaki sampai ujung rambutku. “Kamu mungkin terlalu menutup diri. Banyak sebenarnya
yang menginginkan kamu, hanya saja kamu terlalu pilih-pilih,” begitu ucap Al –aku
samarkan namanya. Aku dan Al satu pekerjaan dan kami baru mengenal sekitar satu
tahun. Jujur, perkataannya membuatku sakit hati. Terlebih ketika dia mencontohkan
beberapa kasus perempuan cantik dan pintar yang ada di lingkungannya dan belum
menikah sampai sekarang karena terlalu menetapkan standar yang tinggi. Dia mengira
aku terlalu menetapkan standar yang tinggi dalam memilih pasangan hidupku. “Gak
bakal ada orang yang sempurna di dunia ini,” begitu katanya terhadapku. Ingin sekali
aku membela diriku, tapi sisiku yang lain mengatakan “Jangan”. Akhirnya aku hanya
tersenyum dan mengangguk setuju dengan semua praduganya terhadapku.

32
Sesampainya di rumah aku terus merenungi perkataannya tadi, “Benarkah aku
terlalu pemilih dan mencari sosok sempurna?” Aku terus berpikir dan evaluasi diri
sambil berdoa minta dibukakan kebenarannya kepada Allah. Aku buka lembaran CV
ta’arufku dan aku baca ulang dari awal sampai akhir. “Apakah kriteria ini terlalu
tinggi?” Tak hentinya kupandangi CV-ku. “Ya Allah, apakah ini bentuk kasih-Mu
terhadapku melaluinya? Apakah apa yang dikatakannya tentangku benar? Berikan aku
jalan supaya bisa menemukan kebenarannya, Ya Allah,” ucapku dalam hati.
Seminggu tak hentinya aku memikirkan perkataan Al yang dilontarkan
kepadaku. Akhirnya aku menemui salah satu teman baikku yang sudah menikah dan
menanyakan kepadanya tentang hal itu. “Engga. Kriteria ini gak ketinggian malah
terlalu rendah menurutku,” ucap sahabatku sambil melemparkan senyum ledeknya
terhadapku. Berjam-jam kami habiskan untuk bertukar cerita dan banyak sekali
nasihatnya terhadapku. Lega sekali rasanya setelah kulepaskan semua benang kusut
yang ada di kepalaku. Hikmah yang bisa aku petik adalah jangan terlalu menghiraukan
urusan orang lain apa lagi berpendapat tentangnya. Pendapat itu perlu disampaikan
ketika orang tersebut memang meminta kita untuk melakukannya, tapi jika tidak kita tak
punya hak terhadap dirinya.
Satu masalah terselesaikan sehingga aku mampu tersenyum lebar seperti biasa.
Namun, tetap masih ada yang mengganjal dalam hatiku. Aku merasa kemampuanku tak
meningkat bahkan mengajar di kelas pun ala kadarnya. Sering kali aku merasa bersalah
terhadap peserta didik yang aku ajar karena tak mampu memberikan jembatan yang
mereka butuhkan. Sempat terlintas dalam pikiranku, “Kenapa gak kuliah lagi aja ya?”
Tapi buru-buru kusadarkan diriku dari lamunan itu. Entah angin apa yang berbisik
kepadaku dan entah kekuatan dari mana hingga akhirnya mulutku berbicara,
“Mah, Pak, hoyong kuliah deui” (red. Mah, Pak, ingin lanjut kuliah lagi). Aku
mengucapkannya di sela-sela kami sedang makan malam setelah salat isya.
“Kin helanya diemutan hela” balas ayahku dalam bahasa sunda yang artinya
“Nanti ya dipertimbangkan dulu”. Sehari berlalu dan saat makan malam tiba, ayahku
memulai perbincangannya.
“Bade kuliah di mana?” (red. Mau kuliah di mana?)
“Rencanana di Universitas nu sae di Bandung, Pak.” (red. Rencanya di salah
satu Universitas terkemuka di Bandung Pak)

33
“Nyandak jurusan naon?” (red. Mau mengambil jurusan apa?)
“Pendidikan IPA, Pak.”
“Naha hoyong kuliah deui?” (red. Kenapa berniat meneruskan studi?)
“Soalna Neng ngarumaos teu acan pantes janten guru pak, keilmuan neng
masih teu acan aya nanaona.” (red. Soalnya aku merasa belum pastas menjadi
guru, keilmuannya masih dangkal)
“Muhun sok mangga, ku Mamah sareng Bapak diwidian.” (red. Iya boleh,
Mamah dan Bapak memberikan izin)
Begitulah kiranya percakapanku dengan Ayahku.
Dengan perasaan sangat gembira, aku langsung mencari tahu informasi
pendaftaran calon mahasiswa baru pascasarjana di beberapa Universitas yang aku
inginkan. Aku juga mulai membuat palanning yang harus kulakukan saat kuliah nanti.
Singkat cerita, aku mendaftar dan melakukan tes. Soal-soal yang kukerjakan di luar
prediksiku. Soal-soalnya begitu asing di kepalaku. Tes dilaksanakan secara online
karena wabah Covid-19 yang mengharuskan semua warga untuk tinggal sementara di
wilayah dan rumah masing-masing.
Saat tes, tiba-tiba laptop yang kugunakan me-restart sendiri dan aku harus
menunggu beberpa menit updating. Sekujur tubuhku seketika dibanjiri keringat dan
kepalaku tiba-tiba terasa panas, tangan pun berubah menjadi dingin. Aku coba
menghubungi tim TIK di sekolah tempatku bekerja berharap ia bisa menolongku.
Alhamdulillah, tak sampai 20 menit laptopku kembali normal dan aku coba login ulang.
Terlihat di layar waktu pengerjaannya 14 menit lagi dan soal yang belum aku kerjakan
masih banyak, lebih dari 14 soal. Lalu aku coba kerjakan semua soalnya secepat yang
kubisa.
Mengukur dari pengerjaan soal-soal yang telah dikerjakan, aku pesimis akan
lulus dan diterima sebagai salah satu mahasiswi pascasarjana. Aku serahkan semuanya
kepada Allah, aku coba ihklaskan apa pun nanti yang akan terjadi terhadapku. Aku
hanya meyakini satu hal, “Takdirku takkan melewatkanku”.
Selang beberapa minggu, tibalah pengumuman seleksi. Aku tak berani
memeriksa sendiri hasil ujianku, aku meminta tolong temanku untuk memeriksa hasil
tesnya dan ternyata “Lulus”. Alhamdulillah, syukurku atas kehendak-Nya aku bisa lulus
seleksi di Universitas yang aku inginkan. Tentunya ini juga berkat doa dari semua pihak

34
terutama kedua orang tuaku. Bahagia yang tak terkira sampai akhirnya aku mendengar,
“Kalau mau kuliah, ya kuliah! Kalau mau nikah, ya nikah!”
Percakapanku dengan kakakku di telpon membuat hatiku sangat sesak seolah
ada dinding besar yang sedang menghimpitku. Dua pilihan yang benar-benar tak bisa
aku abaikan salah satunya. Kenapa tiba-tiba harus ada pilihan itu? Ya, karena ada laki-
laki yang berniat serius ingin meminangku menjadi istrinya. Kakakku berpikir kuliah
bisa nanti setelah menikah, jadi sekarang nikah terlebih dahulu. Aku bertanya-tanya,
“Kenapa harus milih satu diantara dua hal itu sih? Emang gak bisa ya menjalani
keduanya bersamaan? Kenapa harus memilih?”
Aku benar-benar dilema dan tak mampu berkata apa pun lagi. Satu sisi, kalau
aku memilih menikah sayang sekali kesempatan untuk bisa melanjutkan studi lagi
terlewatkan begitu saja, terlebih lagi butuh perjuangan yang luar biasa untuk meraihnya.
Di sisi lain, kalau aku memilih lanjut studi gimana kalau si calonnya mundur. Aku juga
tak mau hubunganku dengan kakakku jadi tak baik gara-gara hal itu.
Dua hari aku off media sosial dan selama dua hari itu juga aku tak mampu
membendung air mata ketika aku sedang sendiri atau sedang salat. Tak henti-hentinya
aku memohon petunjuk kepada Rabb-ku pilihan mana yang harus kuambil. Sampai
suatu malam saat aku ditanya oleh kedua orang tuaku kapan terakhir bayaran UDT
(Uang Dana Tahunan), saat itulah tangisku sudah benar-benar tak mampu kubendung
lagi. Aku langsung memeluk ibuku dan mengangis di pangkuannya. Tanpa berkata apa
pun ibuku hanya bilang, “Jangan terlalu nurut dengan apa yang kakakmu bilang. Hidup
itu yang akan menjalaninya kamu sendiri. Sekarang semua terserah kamu jangan
terserah orang lain, sekalipun itu Mamah dan Bapak. Tetap keputusan akhir ada di
kamu. Kalau menurut mamah, ambil apa yang ada di hadapan kamu sekarang. Apa pun
keputusan kamu, Mamah dan Bapak akan selalu mendukungnya.”
Fokus pada apa yang ada di hadapanku; itulah kalimat yang selalu kuingat,
itulah kalimat yang Allah titipkan melalui ibuku. Bismillah, akhirnya aku memilih jalan
untuk melanjutkan studi. Kuasa Allah memang luar biasa, kakakku tak sedikitpun
marah kepadaku. Entah apa yang dibicarakan ibuku terhadap kakakku. Calonku pun tak
mundur dari niat baiknya saat ia tahu aku berencana melanjutkan pendidikanku.

35
Begitulah, Allah selalu punya jalan untuk hamba-Nya yang berserah dan
memohon pertolongan-Nya. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi,
serumit apa pun dilema yang menghadang, tapi ingat, kita punya Allah yang
Maha segalanya.

Bionarasi

Memiliki nama asli Siska Handayani Inandang, lahir di


Sukabumi tanggal 27 November 1994. Seorang gadis asli
Jampangkulon bersuku Sunda yang bertekad untuk selalu
menebar kebermanfaatan. Setelah lulus SMA ia
menghabiskan waktu 4 tahun di studi Pendidikan Fisika
UIN Sunan Gnung Djati. Tepat di penghujung semseter 7
ia kehilangan hp dan laptop bersamaan di tempat kosnya.
Semua file kuliah termasuk proposal penelitiannya hilang
tak ada jejak. Beberapa bulan kemudian yaitu 2 Februari
2018 adiknya meninggal dunia tepat di malam sebelum ia
ujian proposal. Setelah lulus ia yang awalnya berniat berkarier di Bandung, akhirnya ia
putuskan untuk pulang ke kampung halamannya menemani kedua orang tuanya yang
masih berkabung bahkan sampai sekarang. Qadarullah, ia diterima bekerja sebagai
pengajar Fisika di boarding school Darul ‘Amal Jampangkulon. Di tahun 2020, ia
putuskan untuk melanjutkan studi kembali dan diterima di Universitas Pendidikan
Indonesia jurusan Pendidikan IPA. Di tahun yang sama ia juga mulai mendalami dunia
kepenulisan. Ia bertekad untuk menebar kebermanfaatan lewat tulisannya.

36
Kamu adalah Apa yang Kamu Pikirkan
Satrya Yudha Wibowo

Sebuah kapal tidak akan tenggelam disebabkan air di sekitarnya, tapi kapal
akan tenggelam dikarenakan air di dalamnya. Sebagai manusia yang beriman, tentu
saja kita yakin bahwa apa yang terjadi pada kehidupan ini tidak akan terlepas dari
kehendak Sang Pencipta, Allah Swt, Tuhan Yang Masa Kuasa.
Banyak manusia menyalahkan keadaan ketika apa yang menjadi keinginannya
tidak dia dapatkan. Padahal Allah Swt telah mengingatkan hamba-Nya supaya selalu
berprasangka baik kapada-Nya. Dalam sebuah Hadits Riwayat Muslim, dari Abu
Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya Allah berkata:
“Aku sesuai prasangka hamba pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon
kapada-Ku”. (HR Muslim)
Dalam hadits diatas tersirat sebuah ajakan dari Rasulullah saw agar kita selalu
berprasangka baik kepada Allah Swt. Bahwa Allah berkehendak kepada manusia sesuai
dengan prasangkanya kepada Allah. Jika seorang hamba berprasangka bahwa Allah
akan memberikan kepadanya kebaikan maka Allah akan memberikan banyak kebaikan,
sebaliknya bila ia berprasangka bahwa Allah akan mendatangkan kepadanya keburukan
maka Allah akan memberikan keburukan dalam hidupnya.
Sebagai seorang muslim, saya percaya bahwa tidak ada manusia yang melebihi
kemampuan manusia sempurna pilihan Allah Swt, Nabi Muhammad saw. Saya
senantiasa berusaha untuk memampukan diri meniru setiap langkah beliau walau jalan
terjal dan kadang pertentangan batin yang luar biasa selalu menjadi tantangan yang
tidak mudah.
Sebuah kenyataan yang selalu menjadikan saya menangis ketika mengingat
Rasulullah saw adalah kesempurnaannya dalam akhlak, bahkan Allah Swt memuji
dalam al-Quran surat Al-Qalam ayat 4, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad),
benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.
Pengakuan yang lain adalah dari istri beliau Aisyah ra, Hisyam bin Amir pernah
bertanya kepada Aisyah ra tentang akhlak Rasulullah saw. Aisyah menjawab “Akhlak
Nabi saw adalah Al-Quran”. (HR Muslim)
Banyak diantara manusia hanya disibukkan dengan penampilan luar. Manusia
sebagai makhluk sosial ingin dianggap dan dihargai penampilannya oleh orang lain.

37
Sehingga terkadang berlebihan dan melupakan bahwa pada hakikatnya kehidupan dunia
ini hanyalah persinggahan menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Lalu apa
yang sudah kita persiapkan untuk menghadapinya? Lalu kemana tujuan akhir hidup kita
kalau bukan berharap dimasukkan ke dalam surga-Nya Allah Swt?
Dalam Hadits Riwayat Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia berkata
bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk
rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal perbuatan”.
Hadits ini menyadarkan kita bahwa ikhlas adalah amal hati dan amal hati sangat
penting.
Menata hati yang merupakan bagian dari menata diri adalah upaya manusia agar
amal ibadahnya diterima Allah Swt. Segala perbuatan kita di dunia ini haruslah
diniatkan untuk mencari ridho Allah Swt. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw
bersabda, “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang tergantung dengan
apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-
Nya, maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi siapa saja yang
melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau karena
perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas kepada sesuatu yang
menjadi tujuannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika penampilan luar kita indah sehingga menyenangkan dan membuat orang
orang di sekitar kita nyaman, maka alangkah sempurna keindahan itu apabila hati kita
jauh lebih indah. Beruntunglah orang orang yang hatinya senantiasa terjaga.
Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al Qur’an, “ (yaitu) pada hari (ketika) harta
dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati
yang bersih”. (Q.S Asy-Syu’ara’ [26] ayat 88 – 89).

Ibarat kapal, hati adalah nakhoda, kemana kapal berlayar, kemana kapal
diarahkan, akan sangat ditentukan oleh nakhoda.

Dari An Nu’man bin Basyir RA, Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam
jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Jika ia
rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati”. (HR.
Bukhari).

38
Untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain diperlukan proses
komunikasi sosial. Komunikasi yang baik akan terjadi apabila terjadi proses komunikasi
pribadi dari hati ke hati. Komunikasi yang dilakukan dengan tidak melibatkan hati akan
terasa hambar dan monoton. Hati manusia yang bersih adalah sumber komunikasi yang
paling baik karena manusia yang berkomunikasi pada sesamanya akan terhubung
dengan sang pemilik hati, Allah Swt. Allah adalah dzat yang maha membolak balik hati
manusia. Allah yang menggenggam hati manusia diantara jemari Ar-Rahman Yang
Maha Pengasih. Dengan kehendak-Nya hati manusia saling berhubungan. Sebagaimana
doa yang seringkali diucapkan oleh Rasulullah saw. “Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi
‘alaa diinik”. (Wahai Dzat yang Maha membolak balikkan hati, teguhkan hatiku atas
agama-Mu).
Kebersihan hati merupakan hal yang utama bagi manusia dalam berkomunikasi.
Rasulullah saw bersabda, Lisan orang yang berakal muncul dari hati nuraninya. Maka
ketika hendak berbicara, terlebih dahulu ia kembali kepada nuraninya. Apabila ada
manfaat baginya ia berbicara dan apabila dapat menimbulkan bahaya maka ia
menahan diri. Sementara hati orang yang bodoh berada di mulut, ia berbicara
sekehendak hatinya saja”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Imam Al Ghazali, ada banyak amalan yang dapat menjaga kebersihan
hati, lisan dan perbuatan, diantaranya adalah
1. Menyegerakan ibadah wajib
2. Memperbanyak ibadah sunnah
3. Memperbanyak Zikir
4. Tilawah Al Qur’an
5. Bergaul dalam lingkungan yang kondusif
6. Mengingat kematian dan pendek angan-angan
7. Menghindari riya
8. Menghindari jalan masuk setan

Kebersihan hati, ketulusan niat, kesungguhan menjalankan setiap aktifitas


sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt akan membawa seseorang kepada
perilaku yang terjaga dan terarah.

Dalam diri manusia Allah ciptakan hati dari bahan dan bentuk yang sama. Hati
dan lisan manusia ibarat teko. Teko hanya mengeluarkan isi teko, kata-kata

39
mencerminkan isi hati. Teko yang berisikan susu hanya akan mengeluarkan susu. Teko
yang berisi air comberan hanya akan mengeluarkan air comberan. Hati yang baik akan
mengeluarkan perkataan yang baik, begitu pula sebaliknya. Maka perhatikanlah apa
yang keluar dari lisan kita.
Seorang tukang kayu menebang sebatang pohon. Dari satu batang pohon yang
sama itu, dia membuat tiga buah tong kayu. Tong kayu yang pertama digunakan untuk
menampung sampah. Tong sampah itu selalu menimbulkan bau busuk sehingga ia
selalu dijauhi orang-orang. Tong kayu yang kedua digunakan untuk menampung air,
dan orang-orang selalu mencarinya setiap hari. Dan tong kayu yang ketiga digunakan
untuk menampung madu, orang-orang menyukai dan menikmatinya. Ketiga tong kayu
tersebut berasal dari tempat yang sama, dari bahan yang sama, memiliki kapasitas yang
sama, tetapi nasib mereka berbeda, hanya dari apa yang telah diisikan masuk ke
dalamnya. Itulah hidup, apa yang kita pelajari dan isi ke dalam hati kita, akan
menentukan bagaimana jalan hidup kita ke depan dan bagaimana orang-orang akan
menilai diri kita. Karena itu jangan mengisi hati kita dengan hal-hal yang negatif. Lebih
banyaklah mengisi hati dengan hal-hal positif, agar kehidupan kita menjadi lebih positif
bagi diri sendiri juga bagi orang lain.
Syaikh Ahmad A-Harriani menuliskan dalam bukunya Minhaajus Sunnah
(6/137), “ Sesungguhnya setiap amalan berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan
perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada
dua orang yang berada di satu shaf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka
berdua sejauh antara langit dan bumi. Sesungguhnya amalan-amalan lahiriyah
(zhahir) nilainya menjadi besar atau kecil sesuai dengan apa yang di hati, dan apa
yang ada di hati bertingkat-tingkat. Tidak ada yang tahu tingkatan-tingkatan keimanan
dalam hati-hati manusia kecuali Allah Swt”.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan
tidaklah dicatat baginya pahala shalatnya kecuali sepersepuluhmya, sepersembilannya,
seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya,
sepertiganya, setengahnya”.
Perbedaan pahala shalat tersebut sesuai dengan perbedaan orang-orang yang
shalat berdasarkan kekhusyukan dan tadabbur (bacaan shalat) dan yang semisalnya dari
perkara-perkara yang mendatangkan kesempurnaan shalat.

40
Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun ayat 1-2 berfirman, “
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang
khusyuk dalam shalatnya”.
Dalam sebuah Hadits Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah
ra, Rasulullah saw bersabda, Allah Swt berfirman, “Jika seorang hamba-Ku senang
bertemu dengan-Ku, Aku juga senang bertemu dengannya. Tapi jika dia benci bertemu
dengan-ku, Aku juga benci bertemu dengan-Nya”. (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan dengan ungkapan yang lebih
panjang, “Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, Allah juga senang bertemu
dengannya. Barangsiapa benci bertemu dengan Allah, Allah juga benci bertemu
dengannya.” Asiyah ra bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah yang dimaksud itu benci
dengan kematian?”. Rasulullah saw menjawab, “Tidak demikian, akan tetapi seorang
mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat Allah dan ridha-Nya dan syurga-
Nya, dia senang bertemu dengan Allah dan Allah senang bertemu dengannya.
Sedangkan orang kafir jika diberi kabar gembira dengan siksa Allah dan kebencian-
Nya, dia benci bertemu dengan Allah, dan Allah benci bertemu dengannya”. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, Allah Swt
berfirman, “Aku sesuai prasangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketia ia
mengingat-Ku, Jika ia mengingat-Ku saat ia sendirian, Aku akan mengingatnya dalam
diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di
kumpulan yang lebih baik daripada kumpulan itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaquun
‘alaihi) (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah akan selalu bersama hamba-Nya yang beriman dengan
sifat ma’iyah (kebersamaan) yang khusus yaitu dengan memberi perhatian, penjagaan,
taufik, dan pertolongan. Allah selalu bersama hamba-Nya ketika ia mengingat-Nya,
maksudnya Allah bersamanya dengan rahmat-Nya, memberinya taufik, hidayah dan
perhatian. Kalimat “Jika ia mengingat-Ku, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku”
maksudnya jika mengingat Allah dalam keadaan bersendirian. Amalan yang sembunyi-
sembunyi seperti inilah yang dibalas oleh Allah. Jika seseorang mengingat Allah
(berdzikir kepada Allah) di suatu kumpulan, Allah akan menyanjungnya di sisi
makhluk-Nya yang mulia (yang lebih baik dari kumpulan tersebut).

41
Mengenai makna hadits di atas, Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah  berkata,
“Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan
jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah
akan mengabulkan jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba
meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah
(raja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Shahih Muslim, 17:3).
Husnuzhan kepada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam . Ketika kita
berdoa pada Allah kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan dengan tetap
melakukan sebab terkabulnya doa dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi
terkabulnya doa. Karena ingatlah bahwasanya doa itu begitu ampuh jika seseorang
berhusnuzhan kepada Allah. Jika seseorang berdoa dalam  keadaan yakin doanya akan
terkabul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah
bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi).

42
Bionarasi

Satrya Yudha Wibowo adalah seorang lulusan magister


manajemen yang sekarang menjadi komisaris di dua PT yang
berbeda. Sekarang ia berdomisili di Deli Serdang, Sumatra
Utara dan aktif di berbagai komunitas travel dan trainer.
Selama perjalanan karirnya di dunia industri dan politik, ia
sering mengunjungi negara-negara dengan berbagai
kepentingan. Demi kepentingan profesionalitas dan
kolaborasi, ia dapat dihubungi melalui surel
satryasywibowo@gmail.com.

43
Kalahkan Rasa Takutmu
Siska Fitria Ningsih

Banyak orang menganggap bahwa dirinya tidak memikili kemampuan. Sebagian


besar lainnya, merasa sulit untuk bangkit dari keterpurukan. Hal ini sering terjadi
karena seseorang tidak mau mengalahkan rasa takut yang ada di dalam dirinya.
Semakin seseorang tidak mau keluar dari zona nyaman, maka ia akan sulit
berkembang. Padahal, setiap orang memiliki banyak potensi yang dapat disalurkan
agar bisa menghasilkan dampak baik bagi diri dan lingkungan. Mungkin bagi sebagian
orang tidak mudah untuk bangkit dari masa lalu atau hal yang kurang menyenangkan
dalam dirinya. Namun, apabila seseorang tetap menyepelekan atau tidak mau berubah
maka ia akan tetap dalam lingkup yang sama dimana hanya ada kekhawatiran dalam
diri. Hal tersebut tentu saja akan berpengaruh buruk, baik bagi diri maupun bagi orang
lain.
Membahas mengenai bangkit dari keterpurukan atau mengalahkan rasa takut
dalam diri seseorang, diperlukannya rekan yang mampu mendukung atau men-support
agar energi positif yang ada bisa mempengaruhi diri menjadi lebih baik. Hal ini penting
agar diri bisa berpikir dan bergerak untuk keluar dari zona nyaman. Banyak sekali
dampak yang sangat merugikan apabila kita hanya memanjakan diri di zona nyaman
dan tidak mau mengalahkan rasa takut dalam diri sendiri. Selain rekan yang mampu
memberi dampak positif, diperlukan juga lingkungan yang baik sehingga kita mampu
mengembangkan potensi yang ada. Banyak sekali lingkungan yang tidak baik sehingga
kita dapat terpengaruh dan dapat merugikan diri sendiri.
Seseorang pasti memiliki kemampuan tertentu dalam dirinya yang perlu
disalurkan agar orang lain juga mendapatkan energi positif yang ada dalam diri kita.
Banyak sekali media yang dapat kita gunakan untuk menyalurkan potensi yang ada:
seperti kegiatan menulis dimana seseorang mampu mengungkapkan apa yang ada
dalam dirinya dan kebanyakan para motivator mengungkapkan hal-hal yang baik
melalui tulisan sehingga yang membaca bisa terbawa dampak positif dari apa yang
dibacanya.

44
Akan tetapi semua itu akan sia-sia apabila dalam dirinya sendiri tidak mau
berubah menjadi lebih baik. Berani...? Ya pastinya teman-teman semua sudah tidak
asing lagi mendengar kata yang satu ini dan harus membiasakan hal ini untuk
mengubah pribadi menjadi yang lebih baik. Akan tetapi berani disini untuk mengubah
dalam hal positif yang bermanfaat, bukan mengarah ke hal yang negatif ya. Semakin
banyak hal yang kita ketahui, semakin mudah bagi kita untuk merubah dan
menciptakan sesuatu yang baru, serta mampu menyalurkan kebermanfaatan bagi
sesama.
Sesuatu yang asing pasti akan sulit diterima seperti halnya kita mengalahkan
rasa takut dalam diri kita, dimana ia adalah rasa yang tak biasa sehingga terasa berat.
Apalagi, jika kita menjalankannya dengan terpaksa atau tanpa niatan yang tulus. Segala
sesuatu, tergantung niat kita sehingga hasilnya juga akan kembali kepada kita.
Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah untuk dilakukan, akan tetapi
mencoba untuk berubah juga tidak salah dilakukan. Seseorang akan mengetahui
sampai dimana potensi yang ada dalam dirinya apabila ia mencoba, sehingga ke
depannya seseorang itu tahu apa yang harus dilakukan. Sedangkan, seseorang yang
tidak mau mencoba dia akan tetap terbelenggu pada zona kenyamanan dan tiada hasil
yang didapatkan selain kekecewaan.
Coba teman-teman bayangkan, betapa banyak orang di luar sana yang mampu
mengubah dirinya hanya untuk melihat kebahagiaan orang-orang yang selalu ada di
kala seseorang tersebut terpuruk. Ia tak mau mengecewakan orang-orang yang
disayangi hingga ia benar-benar berani menaklukan rasa takut yang ada dalam dirinya,
meskipun ia tahu bahwa tidak mudah untuk menjalankannya. Semakin dipikir, maka
akan semakin rumit bahwasannya seseorang itu mampu untuk mengubah dunianya
menjadi lebih baik, lebih berwarna dari yang sebelumnya. Tak perlu dengarkan kata
orang diluar sana yang menjatuhkanmu. Anggap saja mereka sebagai motivasi agar
suatu hari nanti mereka akan terpukau dengan kemampuan yang ada dalam dirimu.
Setiap orang pasti memiliki cara pandang, cara berpikir, dan cara
menyampaikan perasaan yang ada dalam dirinya itu berbeda-beda. Namun, satu
tujuan yang sama yaitu ingin menjadi lebih baik ke depan. Mulailah dari hal yang

45
sederhana yaitu dengan memberanikan diri dan kalahkan rasa takutmu untuk
mengubah duniamu. Dimulai dari hal yang sederhana, timbullah kebiasaan yang tanpa
kita sadari bisa mengubah kita menjadi lebih baik ke depannya. Dibutuhkan proses
yang panjang, namun seseorang akan memanen dari apa yang telah ia tanam. Jadi
jangan pernah takut untuk berbuat baik dan terus kalahkan rasa takutmu.

Bionarasi

Siska Fitria Ningsih, berumur 18 tahun berstatus Mahasiswi di


salah satu Universitas Negeri Pontianak program studi manajemen.
Menulis merupakan salah satu hobi yang mengantarkan ia
mengikuti kelas menulis online. Suka mencoba hal-hal yang baru
dan siap menerima tanggapan, saran dan kritik yang dapat
disampaikan melalui email siskafitrianingsih88@gmail.com
maupun laman instagram @siskafitrianingsih88.

46
Tahta dalam Diri Wanita
Senik Windyati

Hari itu Bu Ines tampak letih sepertinya kelelahan, maklum sejak rumah sakit
tidak ada direktur yang definitif, otomatis dia yang menjalankan tugasnya. Hari-hari
dipadati dengan tugas-tugas berat yang menyita waktu dan pikirannya. Hari Sabtu yang
biasanya ada kegembiraan karena besok libur, kali ini tidak. Dia menutup komputer dan
meninggalkan ruang kerjanya untuk pulang. Tiba-tiba dia ingat pesan whatsapp dari
penjahit langganannya memberi kabar jika gamis pesanannya sudah jadi.
“Mampir ke Raihan ya, Pak!” pesan Bu Ines pada Pak Agus, sopir setianya.
“Baik, Bu” jawabnya singkat.
Sepanjang jalan bermacam-macam yang ada dalam pikirannya. Hari itu anak
pulang dari kos, ada saudara yang punya hajat yang harus ia kunjungi. Kakak lagi sakit
hingga bingung mengambil keputusan yang mana yang akan diprioritaskan. Sementara
pandemi Covid-19 ini menambah kesibukan di rumah sakit. Dia bekerja siang dan
malam karena harus memantau perkembangan kasus yang ada.
Tak terasa sudah sampai tujuan. Seperti biasa Pak Agus menghentikan mobil
dan parkir tepat di depan kios penjahit yang sekaligus toko perlengkapan dan oleh-oleh
haji dan umroh itu.
“Asalamualaikum…” sapa Bu Ines pada mbak-mbak pelayan toko.
“Wa alaikum salam. Silahkan bu, mau ambil gamis ibu ya? Jawab seorang
pelayan
yang ramah dan diiringi beberapa orang pelayan yang menyambutnya.
“Ya, mbak” jawabnya singkat. Sementara pelayan itu menuju ke lemari tempat
memajang pakaian untuk mengambil gamis peasannya.
Sambil menunggu gamis pesanan tadi, dia melihat-lihat sekeliling dagangan
yang dipajang di sekeliling ruangan. Modiste tersebut ramai pengunjung karena
disamping sebagai modiste juga sebagai toko dan pengunjung yang banyak adalah
mereka yang akan berbelanja. Banyak pasangan suami istri khususnya ibu-ibu. Selain
memilih perlengkapan untuk ibadah haji atau umroh mereka juga belanja pakaian dan
barang-barang yang lain. Bu Ines tampak asik memperhatikan sajadah tipis yang
tertulisan “Sajadah Traveling”. Maklum sebagai orang yang mobilitasnya tinggi, dia
sering bepergian untuk urusan kedinasan.

47
“Suami ibu kerja dimana?”
Tiba-tiba seorang ibu muncul dari ruang samping, tempat yang biasa untuk
lesehan memilih bahan dan mendiskusikan antara pelanggan dan penjahit untuk
dijadikan gamis. Bu Ines bengong karena pertanyaan seperti itu terasa aneh baginya. Bu
Ines merasa seperti sudah pernah bertemu dengan sosok ibu tersebut tapi lupa dimana
dan membuat dia semakin penasaran siapa ibu ini. Mengapa menanyakan hal itu dan
harus dijawab apa? Bu Ines benar-benar bingung dibuatnya.
”Suami saya kerja di Dinas Kesahatan, Bu,” jawabnya singkat.
Ada yang aneh dengan ibu tersebut karena beberapa kali dia menengok ke arah
mobil bu Ines sambil bermuka masam dan sinis. Mobil dinas Bu Ines bermerk Toyota
Rush putih buatan 2 tahun yang lalu itu terparkir tepat di depan modiste dan lurus
berada dengan pandangan ibu tadi. Bu Ines yang sejak awal mengamati sikap dan
ekspresinya makin bingung.
“Baru pulang?” tanya dia lagi dengan ekspresi makin sinis.
Kali ini Bu Ines sudah tidak mampu lagi untuk menahan dengan membiarkan
ibu ini. “Mohon maaf, ibu ini siapa ya? Sepertinya pernah ketemu bahkan tidak hanya
sekali,” tanya bu Ines dengan sopan walau hati agak kesal.
Dengan sangat percaya diri ibu berwajah cantik itu menjawab,
“Saya Bu Riyo, istri pak Riyo,” sambil menunjukkan jabatan suaminya yang ada
di jajaran pemerintah daerah salah satu kabupaten di sana.
Langsung saja Bu Ines ingat dan tanggap begitu mendengar jawaban itu,
“Oh iya Bu, saya ingat. Kita pernah ketemu di pertemuan Dharma Wanita,”
jawab Bu Ines singkat dan tampaknya mulai paham bahwa dia istri seorang pejabat
penting di pemerintahan daerah kabupaten yang bu Riyo sebutkan. Ekspresinya semakin
tidak mengenakkan dan membuat Bu Ines tidak tahan lagi.
Kini Bu Ines sadar bahwa mobil yang dia pakai adalah mobil dinas dan saat itu
adalah hari sabtu dimana kantor pemerintah daerah tutup dan seluruh pegawai libur.
Ada seorang wanita di hari libur pergi dengan mobil dinas suami, apakah itu yang ada di
benaknya?
“Kok baru pulang Bu? Darimana?”

48
Pertanyaan ini adalah kesempatan untuk menjawab sekaligus obat mujarab atas
kekesalan dan prasangka buruk bahkan tuduhan terhadap dirinya yang sempat
menyakitkan hati.
”Bu, jam kerja kami Sabtu sampai jam satu siang, ini sudah ngelantur karena
sudah hampir setengah tiga, saya kerja di rumah sakit bu. Itu mobil di luar
adalah inventaris rumah sakit yang diserahkan Pak Direktur untuk saya pakai.
Bukan mobil suami saya.”
Seketika wajah bu Riyo berubah, ditatapnya wajahnya Bu Riyo yang mulai
berubah itu.
“Oh, begitu ya?” jawabnya singkat.
Mbak Yuli penjahit sekaligus pelayan dari tadi membawa gamis yang sudah
dikemas tas kertas berwarna hijau itu sampai ragu-ragu untuk mendekat. Baru dia
mendekat dan menyerahkannya.
Segera Bu Ines mengambil gamis dari dalam tasnya.
“Lho mbak, ini jangan ditaruh disini!” pinta Bu Ines pada Mbak Yuli karena
ada yang tidak sesuai dengan pesanannya.
Aplikasi bunga tidak sesuai keinginan bu Ines dalam menempelkannya sebagai
hiasan di bagian lengan depan gamisnya.
“Diperbaiki dulu saja mbak, minggu depan saya ke sini lagi.” sambil dia
serahkan lagi gamis itu untuk diperbaiki.
” Mbak Yuli setuju dan siap untuk memperbaiki letak hiasan di gamis itu.
”Iya, diperbaiki mbak, kasihan ibu ini kalau tidak sesuai!”
Tiba-tiba Bu Riyo yang tadi terdiam ter “KO” turun komentar. Tapi kata-kata
simpati itu terasa hambar.
“Cepat mbak, gamis ibu ini mau segera dipakai!” timpalnya lagi.
Dengan raut wajah manis berubah 180 derajat dari semula, Bu Riyo yang semula
menyerang kali ini menjadi pendukung Bu Ines. Melihat adegan itu Bu Ines justru
kasihan padanya melihat ekspresi, salah tingkah dan sikapnya membuatnya, benar-benar
merasa kasihan.
Dalam perjalanan pulang Bu Ines masih termenung, ingat kejadian di tempat
tadi. Dia sadari bahwa jabatan, pangkat, harta memang menaikkan harkat dan martabat
seseorang secara sosial. Tetapi semuanya adalah titipan Tuhan. Ketika seseorang dititipi

49
sesuatu dan menyikapinya sebagai amanah, maka membuat hidup menjadi berkah. Akan
tetapi apabila jabatan, harta, dan pangkat setinggi apa pun bila dipegang sebagai
kebanggaan bahkan menjadikan kesombongan, hal ini akan menjadi petaka bahkan
tidak hanya di dunia namun di akhirat. Menyadari posisi sebagai pejabat, kejadian tadi
dia refleksikan pada dirinya sendiri.
Kemudian dia coba mencari di internet tentang artikel dengan tema sombong.
Sombong adalah penyakit hati yang banyak mendera manusia. Melihat dirinya sebagai
manusia mulia, merasa lebih dan harus dihormati. Mereka juga melihat orang lain lebih
rendah. Dia ingat buku yang pernah dibacanya bahwa pikiranlah yang menjadi
pendorong setiap perbuatan seseorang.
Merenungi kejadian yang dialaminya berarti sudah ada prasangka buruk terlebih
dulu kepadanya. Keberanian bersikap buruk padanya karena dia merasa seorang istri
seorang pejabat tinggi di pemerintahan yang bisa berbuat apa saja terhadap aparatur
pemerintah dan para pegawai di bawahnya. Berprasangka buruk apalagi sampai
menuduh seseorang berbuat buruk sangat fatal akibatnya. Bu Ines kembali ingat tausiah
yang disampaikan Ustadzah Lia waktu pengajian di masjid rumah sakit tempatnya
bekerja. Prasangka buruk atau su’udzan itu sangat dilarang bahkan dalam Al-Qur’an
juga melarangnya. Dia mencoba membuka kitab Al-Qur’an yang ditaruh di balik jok
mobil, di depan tempat duduknya dan dia temukan ada suratnya. Dia bayangkan bila
kejadian yang dialaminya itu tidak diklarifikasi dan dia jelaskan, kira-kira banyak sekali
akibatnya. Suami dia yang orangnya baik notabene tidak tahu apa-apa akan menerima
akibatnya, dinilai jelek kinerjanya, menyalahgunakan kewenangannya karena atas
laporan Bu Riyo pada suaminya.
Bu Ines sendiri juga bisa mendapatkan dampaknya karena istri yang
menyalahgunakan kepercayaan suami sebagai pegawai negeri.
“Kok ibu belum membawa jahitannya, tidak ada yang tertinggal kan bu?” Tiba-
tiba pertanyaan Pak Agus mengusik perhatian Bu Ines yang dari tadi pikirannya masih
tertuju pada kejadian dengan Bu Riyo.
“Belum Mas, masih ada yang perlu di betulkan, permak sedikit,” timpal Bu Ines
landai.

50
Tak terasa sudah lebih separuh perjalanan pulang terlewati. Pak Agus
mengurangi kecepatan laju mobil. Di depan ada lampu pengatur lalu lintas menunjuk
merah sehingga mereka pun berhenti.
”Pak, coba lihat itu!” tiba-tiba bu Ines menyeletuk sambil menunjuk seorang
laki-laki yang berpakaian lusuh membawa kantong plastik besar berisi botol bekas dan
sampah plastik kotor di taruh punggungnya. Entah gelandangan atau orang agak kurang
waras yang jelas pemandangan itu menjadi perhatiannya.
“Ada apa, Bu?” Pak Agus belum mengerti apa yang Bu Ines maksud.
”Bapak itu sekarang seperti orang hina, kita lihat dari pakaian dan
penampilannya, juga mungkin tempat tinggalnya pun tidak punya. Kita tidak pernah
tahu bagaimana nasib kita ini kelak bagaimana.” ujar Bu Ines.
“Maksudnya bagaimana, Bu?” kembali pak Agus bertanya.
“Saya barusan mendapat pelajaran yang sangat berharga, Pak. Pelajaran hidup
yang tidak pernah didapat waktu kuliah bahkan di pendidikan S2. Tidak saya dapat juga
dari ustadz hebat manapun,” kata Bu Ines sambil setengah merenung.
“Tentang apa, Ibu?” tanya Pak Agus penasaran.
“Sebetulnya ibu mau cerita tentang apa?” Tanya Pak Agus dalam hati. Kembali
Bu Ines melanjutkan ceritanya.
“Tentang prasangka buruk, Pak, sebab dan dampaknya. Intinya bahwa orang
yang memiliki kedudukan tinggi entah karena jabatan maupun harta itu jangan terus
merasa hebat. Kemudian sombong dan menyepelekan serta menuduh, memperlakukan
orang lain seenaknya sendiri. Kita hidup ini hanya sementara kok. Semua yang
diperbuat saat ini, besok kita akan mengunduhnya. Tuhan tidak menilai sedikitpun dari
kedudukan, jabatan, dan hartanya, tapi bagaimana hati dan polahnya seseorang hidup di
dunia. Sombong itu ancamannya neraka lho pak, walaupun kecil tempatnya neraka. Jadi
tidak mustahil bapak yang pakaiannya lusuh bawa karung plastik tadi ketika di akhirat
nanti justru duduk di singgasana indah surga,”
kata bu Ines mirip orang ceramah dan Pak Agus yang mengemudikan mobil
dengan seksama mendengarkan.
”Bagaimana biar orang itu ingat orang yang kaya gitu ya, Bu?” Tanya Pak Agus
menimpali.

51
”Ya kita banyak ibadah yang betul sama Allah, banyak bersabar, dan bersyukur
biar dikasih petunjuk sama Allah. Disamping itu juga banyak bergaul dengan kalangan
apapun, tidak membeda-bedakan, dan selalu berfikir positif. Jangan curigaan. Begitu
kira-kira, Pak!” jawab Bu Ines dengan tegas. Selesai bercerita, tidak terasa mereka
sudah sampai di depan rumah.
“Perjalanan yang penuh hikmah,” ujarnya sambil membawa tas dan memasuki
rumahnya.Semoga Bu Rio mendapat petunjuk, dalam doanya.

Bionarasi

Senik Windyati lahid di Sleman, 5 April 1963. Ibu dari


3 anak itu menyelesaikan pendidikannya di Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada tahun 1989.
Kemudian melanjutkan ke jenjang selanjutnya dan
menyelesaikan Magister Kesehatan di Fakultas yang
sama pada Juli 2007. Hingga sekarang ia bekekrja
sebagai Pegawai Negeri Sipil di Rumah Sakit Umum
Derah Sleman Yogyakarta. “Tak Ada Yang Tak
Mungkin Bagi Allah Swt.”

52
Menjadi Manusia yang Bersyukur
Sari Nurhayati Aripin

Dalam bukunya yang berjudul Islamic Golden Perspective, Tutik Hasanah


mengatakan bahwa; “Manusia ibarat kata, setiap kalimat yang meluncur dari dua
bibirnya harus dipertanggungjawabkan. Kata mengungkapkan apa yang ada di dalam
hati, lalu anggota gerak merealisasikan dan membuktikan apa yang dikatakan serta
diyakini dalam hati. Kata, perbuatan, dan hati tersebut ibarat sudut-sudut segita
melambangkan manusia.”
Bagaimana jika manusia tidak memiliki sesuatu yang tersimpan dalam hatinya
untuk di ungkapkan dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan? mungkin sebagian dari
kita pernah merasakan hal seperti itu. Sebuah kekosongan yang melanda dalam diri
menjadikan gundah tak berarah. Anggota tubuh nya bergerak, namun bergeraknya tidak
sesuai dengan hati. Tak ada keyakinan dalam hati maka tubuh akan bergerak dengan
kuasa dan egonya. Gambar orang terdahulu yang menggunakan kuasa dan egonya untuk
bertindak seperti raja yang bergelar firaun. Di dalam kerajaannya ia angkat insan pilihan
Alloh yang diutus untuk mengeluarkan dirinya dari Dzulumat atau kegelapan menuju
Nur-nya Allah Swt. Ia lah Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s sejak bayi tumbuh hingga dewasa di dalam kerajaan firaun. Musa
bayi yang sempat mencabut jenggot sang raja, membuatnya marah besar dan hampir
akan dibunuh. Namun Asiah sang istri raja meyakinkan bahwa Musa hanyalah bayi
yang tidak mengerti apa-apa. Dengan meyakinkan bahwa musa bayi yang tidak
mengerti apa-apa pun sampai memakan bara api yang ia sodoran untuk dipilih diantara
roti. Bara api itu membakar lidah bayi Musa. Lidah yang membuat sedikit kekakuan
dalam lidah untuk bicara. Namun dengan begitulah membuat sang raja percaya bahwa
Musa bayi tidak mengerti apa-apa. Musa tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah
dan juga kuat. Ia memliki tubuh yang atletis dengan rupa yang menawan. Tidak hanya
itu, pemikirannya pun bijaksana.
Dari kisah bayi Musa bisa kita ambil sebuah pelajaran bahwa kita terlahir di
dunia ini dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dalam QalamNya Allah Swt berfirman
dalam Qs Al-Alaq ayat 1 sampai 5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan

53
Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Bisa kita lihat dalam ayat 2 bahwa Allah yang sudah menciptakan kita dan
dalam ayat 5 nya Alloh memberi tahu bahwa dia mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya dengan QalamNya yang ditegaskan dalam ayat 4 allazii ‘allama bil-
qolam.
Dalam surah Al-Insan Alloh menjelaskan bahwa dahulunya manusia itu tidak
ada, kemudian Alloh mengadakan (menciptakan) untuk Alloh uji (dengan perintah dan
larangan) karena itu lah Allah menjadikan manusia mendengar dan melihat sebagai
modal atau potensii yang dimilikinya. Untuk lebih jelasnya saya tulis Ayatnya : “1)
Bukankah pernah dating kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut?. 2) Sungguh, kami telah menciptakan manusia
dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan
larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat. 3) Sungguh, kami telah
menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang
kufur. (Qs Al-Insan: 1-3)
Dari dua surah di atas, kita menjadi tahu bahwa ada Dzat yang maha
mengadakan. Dzat yang memberi, dzat yang mendidik, dzat yang menununtun agar kita
menjadi makhluk bersyukur. Bersyukur berarti menerima segala Sesuatu yang telah
diberi. Pengengaran, penglihatan dan juga hati merupakan sesuatu yang telah di beri
oleh Rabb sang Khaliq. Maka patutlah kita pergunakan dengan sebaik-baiknya sesuai
dengan keinginan Rabb yang khaliq, sesuai dengan fungsi dan perannya.
Jangan sampai kita termasuk orang yang lengah. Lengah terhadap suatu ujian
yang diberikan olehNya. Gambaran orang yang lengah telah Alloh kabarankan dalam
QalamNya. Yaitu dalam surah Al-A’araf ayat 179: “Dan Sungguh, akan kami isi
Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi
tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka memiliki mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh). Dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-
ayat Alloh). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lengah.”

54
Tetaplah menjadi orang yang selalu bersyukur terhadap nikmat Alloh. Karena
orang-orang yang bersyukur akan diberikan nikmat seperti halnya orang-orang
terdahulu. (“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya;
……..)(Qs 1:7).
Sebuah nikmat adalah jalan yang kita pilih. Karena kenikmatan lahir dari diri
yang telah memilih. Manusia diberikan kebebasan memilih , karena eksistensi manusia
diberikan pilihan. Dengan keistimewaan yang telah Alloh berikan berupa penglihatan,
pendengaran, hati yang telah dijelaskan tadi di atas. Dengan penglihatan dan
pendengaran manusia bisa mengetahui apakah itu hal baik atau buruk, benar atau salah?
Missal saya contohkan. Api bersifat panas, bisa membakar sesuatu, abi bisa berbahaya
namun api juga sangat bermanfaat. Berbahaya jika api terlalu besar dan tidak
terkendalikan api bisa membakar rumah, kendaraan, dan lain sebagainya. Namun api
sangat bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga contohnya memasak. Tanpa api, ibu
di dapur tidak bisa memasak.
Itulah api. Dari pengamatan yang kita lihat maka kita bisa menyimpulkan
sesuatu. Kesimpulan ini disimpan dalam hati lalu ditetapkanya bagaimana cara
menggunakan api dengan baik dan benar agar tidak terjadi kecelakaan atau sesuatu yang
berbahaya. Itulah proses akal yang diberikan istimewa oleh Alloh kepada manusia agar
bisa membedakan dan berpikir.
Lalu bentuk bersyukur apa yang Allah inginkan sebagai Rabb pencipta yang
sudah megadakan kita dan memberikan kita fasilitas yang sangat mewah di dunia ini ?
“12)Allah-lah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar
di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan
agar kamu bersyukur. 13)Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang
yang berfikir. (Qs Al-Jasiyah:12-13).
Apa yang ada di langit dan di bumi tunduk pada manusia ini merupakan
Kebesaran yang sangat besar dan mewah sekali untuk manusia. Keistimewaan ini hanya
diberikan kepada kita sebagai makhluk yang diciptakannya agar bersyukur dan berfikir.
Menurut KBBI Bersyukur berasal dari kata syukur yang artinya rasa terima
kasih kepada Alloh, bersyukur artinya berterima kasih; mengucapkan syukur.

55
mensyukuri yaitu mengucapkan terima kasih kepada Alloh;berterima kasih karena suatu
hal
Contoh bentuk bersyukur; ketika ada seorang tetangga memberikan makanan
kepada kita maka selayaknya kita mengucapkan terima kasih kepadanya. Lalu ketika
kita memakan hidangan tersebut maka itu merupakan bentuk dari mensyukuri. Tetapi
jika kita malah menolak ataua tidak menerima makanan tersebut atau bahkan
membuangnya dan tidak memakannya maka kita tidak mensyukur dan tidak bersyukur.
Dengan kata lain bahwa syukur itu menerima.
Menerima nikmat Alloh (bersyukur) artinya menerima segala ketetapan yang
sudah menjadi ketetapan Allah Swt. Allah memberi kita hidung yang kurang mancung
ya terima saja, tidak perlu menambah dengan melakukan perbaikan yang berujung di
meja operasi. Karena Alloh telah memberikan kita bentuk yang baik. Bentuk yang
berbeda dengan makhluk lainnya. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya”(Qs. At-Tin:4).
Dalam surah Al-Infitar ayat 6-8 Alloh telah menegur kita : “ 6) Wahai manusia!
Apakah yang telah memperdayakan kamu(berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang
Maha Pengasih. 7) yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan
menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, 8) dalam bentuk apa saja yang dikehendaki,
Dia menyusun tubuhmu.” Semoga kita bukan termasuk orang yang durhaka dan
melampaui batas. Karena kemarahan Sang Khaliq membuat kita berakhir di jurang
siksaan yang amat pedih.
Salah satu bentuk syukur yang Alloh inginkan adalah tertulis dalam Qalamnya
di Surah Al-Hujurat ayat 13: “ Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh,
Alloh Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
Menjadi manusia yang bertaqwa adalah salah satu bentuk syukur kita kepada
Alloh. Karena dengan ketaqwaan kita bisa meraih kemuliaan hidup. Manusia yang
dulunya satu dari Nabi Adam kemudian Alloh menciptakan pasangannya Hawa; dan
dari keduanya Alloh memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Hingga sekarang menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Dan yang kita lah

56
sekarang bahwa ada banyak jutaan umat manusia yang hidup di dunia ini. Terlahir dari
keluarga, lalu bermasyarakat, dan bernegara. Negara pun tidak hanya satu Negara. Ada
banyak Negara di Dunia ini sekitar 200-an.
Dengan Negara yang sangat banyak tentunya masyarakat di dalamnya pun
banyak sekali. Dengan berbagai karakter berbeda-beda tentunya. Di Indonesia saja
dengan kebudayaan yang dimilikinya menjadikan individu-individu itu berbeda satu
dengan yang lainnya. Berbeda suku, berbeda juga kebiasaan nya.
Namun kata Alloh dalam surah An-Nisa ayat 1 : “Wahai manusia! Bertakwalah
kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Alloh)
menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada
Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan
kekeluargaan. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasimu”. Dengan
berbeda-bedanya suku dan bangsa agar kita saling mengenal dan memlihara hubungan
silaturahim agar menjadi orang yang bertakwa.
Maka ketakwaan itu lahir dari saling mengenal dan memelihara suatu hubungan
yang dengan saling meminta atas nama Rabb Sang Khaliq. Alloh selalu menjaga dan
mengawasi, maka dari itu kita perlu waspada dari sifat lengah. Ketika kita lengah sama
hal kita sedang menutup rahmat Alloh. Ketika rahmat tu sudah tertutup maka kita tidak
akan mendapat suatu nikmat.
Untuk apa kita hidup, jika kita tidak bisa menikmati kehidupan ? memang benar
bahwa kehidupan ini hanyalah sementara dan juga permainan. Kehidupan yang kekal itu
di akhirat. Tapi jangan sampai kita dipermainkan oleh kehidupan dunia yang sementara
hingga kita lupa dan lalai terhadap kewajiban mencari bekal untuk perjalanan nanti di
kehidupan yang kekal.
Menjadi pribadi yang beryukur dan berfikir adalah modal untuk kita untuk
meraih RidhoNya. seperti yang sudah di jelaskan tadi di atas bahwa manusia diberikan
pendengaran dan penglihatan untuk berfikir, untuk memikirkan sesuatu. Sesuatu yang
Alloh telah ciptakan. Agar manusia menjadi hamba yang selalu bersyukur dan tidak
melampaui batas.
Banyak dari orang-orang terdahulu yang telah dikisahkan oleh Alloh dalam
QalamNya dari golongan yang diberi nikmat dan juga laknat. Dari zaman Nabi Adam

57
hingga Nabi Muhammad SAW. Selalu saja ada yang bersyukur dan aja juga yang kufur
terhadap nikmat Alloh. Karena jalan yang Alloh tunjukan hanya dua jalan dan tidak ada
jalan tengah untuk dijadikan jalan pintas.
Sebelum berangkat kemanapun alangkah baiknya kita menetukan tujuan. Agar
kita tahu arah mana yang akan kita ambil. Jangan sampai ketika kita berjalan kita tidak
tahu kemana kita akan melangkah. Mengapa tujuan itu penting? Pernah kita pergi dari
rumah tapi tidak tahu akan kemana ? kalau saya pribadi pernah.
Dan yang saya alami ketika di perjalanan hanyalah kebingungan, dan tidak
sampai-sampai hanya berkeliling saja akhirnya. Menguras tenaga dan juga bensin
akhirnya. Tidak sampai karena tidak ada tujuan yang akhirnya kembali pada arah
pulang. Tapi disitu saya belajar tentang satu hal. Bahwa pentingnya menetapkan tujuan
diawal.
Lantas untuk diri yang sedang belajar menata diri. Tujuan apa yang hendak
diambil? jalan apa yang akan dituju? menjadi diri yang bersyukur kah? atau sebaliknya?
Apakah jalan yang selalu memelihara hubungan kekeluargaan menjadi jalan yang dipilih
ataukah hanya sendiri tanpa saling meminta satu sama dengan yang lainnya?

58
Bionarasi

Sari Nurhayati Aripin, ia lahir di Majalengka 30 Juni1995.


Sekolah Dasar sampai SMK di sumedang. Kuliah dan sekrang
menetap di bandung bersama suaminya. Lulus kuliah 2017
mengambil jurusan management, di tahun yg bersamaan pula
ia menikah. Dan baru di karunia anak setelah 11 bulan
menikah. Anak pertamanya lahir di tahun 2019 sekrang
sedang mengandung anak keduanya yang di prediksi lahir
bulan febuari tahun 2021. Kini kesibukannya menjadi Ibu
Rumah Tangga dan sambil berjualan online. Menulis adalah
kesenangan ia sejak menginjak di bangku SD. lebih tepatnya ia
lebih menyukai puisi. Mengikuti lomba membuat cerpen dan Novel merupakan
keinginan nya sejak Smp namun karena kefakiran ilmu ia tidak pernah mengikuti lomba
hanya sekedar coretan saja di buku. hingga akhirnya ketika di bangku kuliah ia
memberanikan diri mengikuti lomba fiksi mini dan karyanya berhasil masuķ yang
terbaik dan di terbitkan menjadi buku antologi. Terus belajar dan belajar itulah motto
hidupnya.

59
Perjalanan Hijrahku
Sania Mursida

Siang ini begitu panas, terik matahari begitu menyengat langsung ke tubuh .
Aku pun langsung berhenti di sebuah halte kampus. Karena aku merasa sangat haus,
aku langsung memesan minuman kepada Ibu yang menjual aneka jus di dekat halte.
“Ibu jus sirsaknya satu ya?” pintahku.
“Baik, silahkan duduk, Nak,” respon si Ibu penjual minuman.
Aku pun langsung mencari tempat duduk yang sudah disediakan oleh Ibu, akan
tetapi kursi sudah terisi semua oleh pengunjung, dan akhirnya aku kembali ke halte.
Sambil menunggu pesanan minumanku sembari mengambil handphone yang ada di
dalam ranselku. Tidak lama kemudian si pemuda datang menghampiriku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawabku.
“Boleh saya duduk di samping mba?” tanyanya.
“Oh iya boleh silahkan,” jawabku sambil tersenyum.
Dia pun duduk disampingku seraya menanyakan namaku.
“Nama mba siapa,?” Tanya dia kembali sambil memegang handphonenya.
“Namaku Shinta,” jawabku.
“Namaku Rio,” jawabnya kembali dengan kepedeannya.
Satu jam lamanya kami duduk di halte dengan pembicaraan yang lumayan
banyak akhirnya aku pamit pulang takut dicari sama Ibu dirumah. Sesampai di rumah
aku pun langsung mengganti pakaian kemudian menyantap masakan ibu yang sangat
enak, tak terasa makanku pun telah usai maka aku segera beranjak dari ruang makan
menuju kamar mandi untuk cuci-cuci mempersiapkan diri untuk istirahat.
Ayam berkokok itu menandakan waktu sholat subuh telah tiba aku pun segera
bangun dari tempat tidurku (tempat ternyaman yang sering aku sebutkan), dan
segeralah aku melaksanakan sholat subuh bersama kedua orang tuaku tercinta, tidak
lama kemudian setelah usai melaksanakan sholat berjamaah tiba-tiba handphoneku
berbunyi dan aku pun segera mengambil handphone itu yang terletak di meja kamar
tidurku.

60
“Nomor baru, siapa ya,?” Tanayaku dalam hati.
Tanpa pikir panjang aku pun segera mengangkat telepon yang dari tadi
berbunyi.
“Assalamualaikum, Shinta.”
“Wa’alaikumsalam, maaf siapa ya?,” jawabku.
“Oh iya ini nomorku Shin! saya Rio,” Shin sudah sholat subuh belum?”.
“sudah kok,” jawabku dengan sedikit sombong.
“Oh iya Shin, pagi ini kamu ada kegiatan tidak?, Kalau tidak, aku mau
mengajakmu jalan-jalan.”
“Mau jalan-jalan kemana?”
“Kelapangan kita jalan sambil olahraga, pagi ini aku jemput kamu,” kemudian
langsung pamit dan tutup telephonenya.
Paginya Rio pun datang ke rumah dan mengajakku untuk jalan-jalan, tanpa
berfikir panjang, aku langsung mengiyakan karena memang aku suka sekali jalan-jalan
di pagi hari, menghirup udara segar dipagi hari itu bagiku dapat menghilangkan semua
beban dalam pikiran, akan tetapi kali ini semua berbanding terbalik, tidak sesuai
dengan yang aku pikirkan. Sesampai kami di sebuah lapangan yang cukup luas kami
berlari sebanyak tiga kali putaran, setelah itu kami mencari tempat duduk untuk
istirahat sambil ngobrol. Dua jam lamanya kami saling berbagi cerita, Rio pun akhirnya
mengungkapkan perasaannya terhadapku, tanpa pikir panjang setelah mendengarkan
semua cerita serta latar belakangnya aku langsung menerima ungkapan perasaan Rio.
Wajah Rio nampaknya kelihatan sangat bahagia terlihat dari raut wajahnya yang
sedikit senyum-senyum malu. Rio pun melanjutkan pembicaraan, “terima kasih Shinta,
sekarang kami resmi pacaran”, dengan senang hati secepatnya aku respon “sama-
sama Rio, hehehehe”. Pukul 10.00 kami pun beranjak pulang, Rio mengantarku pulang
ke rumah.
Empat tahun kami menjalin hubungan berstatus pacaran kami sering
menghabiskan waktu berdua, bercanda berdua jalan-jalan berdua dan yang paling
romantisnya Rio dengan senang hatinya meminta agar aku bersamanya ketika
berangkat kuliah begitupun sepulang kuliah sampai pada titik kelulusan kami. Akan

61
tetapi seiring berjalannya waktu hubungan kami kandas ditengah jalan, alasan aku
memutuskan hubungan dengan Rio karena aku tidak ingin diatur-atur lagi olehnya,
bagiku pacaran hanyalah menghabiskan waktu yang hanya untuk perbuatan dosa
dalam dunia islam. Setelah putus hubungan dengan Rio akupun merasa kesepian aku
kadang menyibukkan diri dengan membaca al-qur’an sering pula aku duduk di teras
rumah sembari memikirkan diriku yang sudah banyak di selimuti dengan dosa, aku
sangat malu terlalu banyak beban dosa yang aku pikul aku harus bagaimana. Akan
tetapi hatiku sedikit damai ketika mengingat kata-kata Ibu yang selalu mengatakan
janganlah dianggap beban ini semua cobaan kamu harus mampu melewatinya
sebagaimana dalam surah Al-Baqarah yaitu:
“Sesungguhnya Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya, ia mendapatkan pahala (dari kebajikan) yang di usahakannya dan ia
mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang di kerjakannya.” ( Al-Baqarah:286).
Tiga hari berturut-turut setelah sholat subuh aku duduk di teras rumah tiba-
tiba Ibu datang menghampiriku sembari sedikit menanyakan keadaanku saat ini.
Dengan rasa kasihannya terhadapku Ibu pun menyarankan aku untuk mencari teman
serta ikut di pengajian dan kajian-kajian online. Setelah beberapa hari aku mengikuti
pengajian di masjid dekat rumah aku pun mulai berfikir dan bertekad untuk mengubah
diri, mendekatkan diriku kepada sang pencipta, aku mulai mengubah gaya hidup serta
penampilanku, aku berniat untuk memakai hijab sesuai dengan syariatnya serta lebih
memperbanyak ilmu tentang islam.
Kabar dari Rio sudah tidak ada sama sekali setelah kami memutuskan untuk
saling menjauh, mugkin saja Rio sudah disibukkan dengan pekerjaannya saat ini, fikirku
dalam hati. Akupun mulai berusaha untuk tidak memikirkannya lagi, aku berjanji dalam
diriku akan memulai dari nol untuk bangkit dan memperbaiki diri, ditambah lagi aku
berfikir lebih dalam bahwa diri ini mau dibawa kemana,? Lamunanku.
Aku yang sudah menyelesaikan pendidikan di jenjang S1 sampai sekarang
belum memiliki pekerjaan, ada beberapa sekolah yang pernah memanggil aku untuk
menjadi guru honorer di sekolahnya akan tetapi, aku menolaknya dengan alasan aku
belum siap menjadi seorang guru karena aku masih enak menikmati waktu liburku

62
setelah menyelesaikan tugas akhir skripsiku. Lama tinggal di rumah aku mulai bosan
dan mulai mencari pekerjaan, tak lama kemudian aku beranjak dari tempat duduk
menuju kamar dan mengambil handphone yang berada di atas meja belajar sembari
mengintip-intip lowongan pekerjaan di sosial media (sosmed) tetapi tak kunjung juga
aku mendapatkan sebuah pekerjaan, betapa menyesalnya diriku saat ini, kenapa tidak
dari dulu aku mengambil kesempatan yang ditawarkan sekolah tersebut, sungguh
penyesalan terbesar yang aku alami.
“Aku harus mendapatkan pekerjaan,” niatku dalam hati sambil membuka
sebuah aplikasi kembali yang ada dalam handphone, melihat lowongan pekerjaan
sambil minum sedikit teh hangat yang sudah disiapkan oleh Ibu dari tadi pagi. hatiku
saat ini benar-benar hancur dan berada pada zona kebimbangan.
“Nak, kenapa tehnya belum dihabiskan?, kenapa muka kamu terlihat pucat,
ada apa?” tanya Ibu.
“Tidak apa-apa Ibu, Shinta hanya bingung saja mau melamar kerja di mana.”
“Sabar Nak, pasti ada tetapi mungkin saja belum waktunya,” lanjut Ibu.
“Iya Ibu,” Jawabku kembali sambil menghabiskan teh bikinan Ibu.
Kehidupan adalah anugerah yang dimiliki setiap orang (manusia) yang diberikan
oleh Tuhan agar kita bisa hidup. Walaupun setiap orang memiliki pandangan hidup
yang berbeda. “Aku tidak akan keluhkan masalahku” tekadku dalam hati, karena aku
yakin Tuhan takkan pernah membiarkan diriku terluka dan aku percaya Tuhan hanya
ingin aku belajar menghadapi segala masalah. Aku hanya ingin berdo’a Tuhan beri aku
kekuatan untuk bisa melalui hari ini, esok dan lusa dan juga prinsipku jalan satu-
satunya untuk menyelesaikan masalah yaitu dengan cara pandangku bukan
masalahku.
Satu minggu tepatnya aku ikut di pengajian di masjid yang tidak jauh dari
tempat tinggalku, ya walaupun hatiku kadang merasa tidak enak karena aku gabung
dengan pengajian ibu-ibu, akan tetapi aku tetap bertahan dan tetap mengikuti
pengajian yang diadakan setiap selesai sholat subuh. Hari Selasa kemarin aku bertemu
salah satu teman SMA, dulu dia berkunjung ke rumah tantenya yang tak jauh dari
tempat tinggalku.

63
“Shinta…”
“Iya, ada apa memanggilku?”
“Kamu masih mengenaliku?” Tanya Lina
“Kamu Lina kan,?” jawabku agak ragu.
“Iya aku Lina, kamu apa kabar,?”
“Alhamdulillah baik”.
Tak terasa kami dua jam ngobrol di teras rumah dan akhirnya Lina menawarkan
aku untuk bekerja di tempat dia bekerja sekarang, tanpa berfikir panjang aku pun
langsung mengiyakan tawaran Lina.
“Aduh Lin makasi banyak ya, hatiku saat ini benar-benar senang lho”.
Aku senang sekali bisa mendapatkan pekerjaan ditambah lagi satu tempat kerja
denganmu.
“Sama-sama Shin,” jawabnya dengan senyum manis.
“O iya Lin, kamu ada kegiatan tidak setelah sholat subuh? Kalau tidak ada, ayo
kita ke masjid sholat subuh dan setelah itu kita ngaji bareng”, di sana kami diajar oleh
ustadzah, “kebetulan aku libur panjang nih Shin, aku ikut deh sudah lama aku tidak
pernah ikutan mengaji lagi di masjid” sahut Lina. Pukul 04.10 radio masjid sudah
berbunyi aku pun segera bangun dari tempat tidurku dan langsung masuk ke kamar
mandi mengambil air wudhu, kemudian bersiap sholat Subuh.
“Lin!” teriakku di depan rumah tante Baya.
“Iya Shin, tunggu aku pake mukena dulu ya” sahut Lina.
“Iya cepat sedikit ya, sudah iqomah nih,” jawabku.
Tak lama kemudian Lina pun muncul dari dalam rumah tantenya dan segera
kami bergegas pergi ke masjid BABUSSALAM. Setelah sholat subuh berjamaah kami
melanjutkan dengan membaca al-qur’an bersama ibu-ibu yang sangat baik hati. Hanya
aku dan Lina gadis di antara puluhan ibu-ibu yang mengikuti pengajian, pengajian
diadakan pada hari Senin sampai Jum’at, hari Sabtu dan Minggu kami diliburkan.
“Etzzzzz, tapi bukan berarti kami juga libur baca alqur’an lho.”
Setelah dua pekan mengikuti pengajian Ibu ustadzah memiliki rencana yaitu
berkunjung ke panti asuhan terdekat dengan tujuan silaturahmi, aku dan Lina pun ikut

64
berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Sepulang dari masjid aku dan Lina
membicarakan tentang apa yang harus kami berdua sumbangkan ke anak panti
tersebut.
“Lin, menurut kamu kira-kira apa yang bagus kita sumbangkan ke anak panti
besok?” tanyaku .
Sembari berfikir aku dan Lina langsung masuk dapur dan melihat Ibu yang
sedang sibuk memasak bubur manado.
“Shin, wah kelihatannya enak sekali ya?” Sahut Lina.
“Ia pasti enak dong Lin, ini kan masakan Ibu yang paling cantik,” Senyumku
sembari memuji-muji Ibu yang sedang sibuk menyiapkan piring.
Jum’at pukul 06.15 setelah sholat subuh zikir bersama dan baca al-qur’an kami
siap-siap berangkat ke panti asuhan “Fahmi” yang terletak di jalan Mannuruki, lima
belas menit kemudian kami sudah sampai didepan pintu panti asuhan Fahmi tersebut
dan kami sangat senang karena kami disambut meriah oleh anak-anak panti.
“Nak tolong dibantu angkat barang ya. ada sedikit sumbangan untuk disini,”
pinta ibu Meme.
“Iya Ibu,” jawab santri-santri panti asuhan Fahmi tersebut.
Setelah semua barang diangkat masuk, Ibu ketua panti asuhan Fahmi
memberikan sedikit pemaparan mengenai kondisi dan apa-apa saja kegiatan yang
dilakukan oleh para santri yang ada di panti asuhan tersebut, dilanjutkan pembacaan
do’a oleh salah satu santri, kemudian setelah baca do’a kami pamit pulang, kemudian
kami melanjutkan perjalanan lagi sesuai agenda yang telah disepakati oleh teman-
teman pengajian.
Kami melanjutkan perjalanan menuju masjid “chan hoo” yang berada di dekat
pantai biru Tanjung Bayang Makassar, disana kami sholat Dhuha.
“Sudah sholat Dhuha, yuk kita selfie dulu, Masjidnya bagus sekali, saying kalau
tidak diabadikan” saran dari Ibu Meme.
“Boleh…boleh,” jawab kami serentak hehehehehe.
Satu per satu pun telah usai melaksanakan sholat, kami mulai berkumpul di
tangga masjid yang cantik itu, siap-siap untuk berpose dalam hatiku aku sangat

65
bersyukur dengan adanya pengajian di Babussalam aku bisa melakukan agenda yang
ma syaa Allah luar biasa sekali, hatiku saat ini benar-benar senang dan tak pernah ada
dalam bayangan hidupku akan merasakan hal yang sangat menarik ini. Aku teringat
oleh kata-kata motivasi yang selalu Ibu berikan kepadaku dikala aku sedang duduk
melamun di waktu dulu bahwa ketika kamu dekatkan diri kepada sang pencipta
niscaya Allah akan memberikan kamu hati, pikiran yang tentram dan teman-teman
yang baik.
Setelah foto rombongan selesai aku dan Lina langsung masuk di dalam mobil
untuk siap-siap melanjutkan perjalanan ke pantai, dimobil aku sempat tertidur
bersandar di bahu Lina yang sedang sibuk mengabadikan setiap perjalanan dengan
foto-foto, alasannya katanya supaya tidak ketinggalan moment heheheh……kurang
lebih satu jam perjalanan, kamipun telah sampai di sebuah pantai yang indah dan
sejuk, airnya berwarna biru cantik yang begitu enak dipandang.
“Shin…Shin, bangun Shin udah sampai nih”.
“Kita sudah sampai,” dengan wajahku yang sedikit kusam.
“Ayo cepat bersihkan mukamu, baru kita berenang”.
Dengan cepat ku usap kedua mataku lalu melihat sekeliling kanan kiriku, “wah
sungguh indah pemandangannya ya Lin”, wajahku seketika langsung ceria melihat
warna laut dan ombak yang lumayan kencang, dengan sibuknya aku mengamati pantai
aku sampai lupa membantu teman-teman yang sedang sibuk menurunkan makanan
dari mobil yang kami tumpangi.
“Shinta…Lina…sini Nak, makan dulu baru turun berenang”, panggil ibu
uztadzah.
“Iya uztadzah,” jawab kami kompak.
Karena tak sabar lagi merasakan indahnya main-main air di pantai, aku dan Lina
tidak langsung mencicipi makanan, kami hanya ambil air minum saja lalu ke kamar
mandi yang sudah disediakan untuk ganti baju kemudian berlari kencang ke pantai,
kami sangat senang sekali. Tak terasa sudah hampir satu jam berenang akhirnya
kembali ke rumah sewa berkumpul sama teman-teman yang lainnya sambil menikmati

66
makanan yang sudah disediakan dari rumah. Setelah kami semua selesai makan kami
semua bergegas pulang dan beristirahat di rumah masing-masing.

67
Bionarasi

Sania.M lahir dari orang tua Ayah (Mada) Ibu (Siti) anak kedua
dari empat bersaudara. Penulis lahir di Malino Kecamatan
Tinggimoncong Kabupaten Gowa (Sul-Sel). Penulis menempuh
pendidikan dimulai dari SDI Inpres Jaleko lulus tahun (2009) dan
melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 3 Tinggimoncong lulus
pada tahun (2009-2012) kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 1
Tinggimoncong lulus pada tahun (2012-2015) hingga akhirnya bisa
menempuh pendidikan di bangku kuliah di Fakultas teknik jurusan
Pendidikan Teknologi Pertanian di Universitas Negeri Makassar
(UNM) pada tahun 2015 dengan ketekunan dan motivasi serta
semangatnya yang tak pernah pudar dalam berjuang untuk terus belajar dan berusaha,
hingga akhirnya penulis telah berhasil menyelesaikan tugas akhirnya (Skripsi) pada
bulan Agustus 2019.
Rasa syukur penulis ucapkan yang sebesar-besarnya atas terselesaikannya antologi ini
dengan tema indahnya menata diri. Dengan harapan siapapun yang sudah membaca
cerita pendek ini dapat mengambil sebuah pelajaran.

68
Hijrah Sepanjang Hayat
Shinta Sari

Ingin menjadi lebih baik. Ingin menjadi manusia yang lebih baik, sepertinya
kalimat ini sudah sangat biasa kita dengar. Hijrah. Ini juga termasuk kata-kata yang
sudah banyak sekali dibicarakan di kalangan Muslim. Makna hijrah secara harfiah
berarti pindah atau bergerak dari dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Hijrah dalam konteks modern saat ini artinya adalah gerakan secara fisik yang
berkaitan dengan gerakan yang bersifat spiritual, akan tetapi keberhasilan hijrah ini
tidak semata-mata perpindahan fisik, tapi juga ditentukan oleh niat dari hati seseorang
untuk melakukan perpindahan untuk memperbaiki dan berupaya lebih dekat dengan
Allah Swt.
Hijrah bisa dipahami sebagai upaya untuk mengubah prilaku dan mental dengan
semangat keislaman yang baru. Singkatnya bisa dikatakan hijrah adalah bagaimana
mengubah diri kita saat ini menjadi diri kita yang lebih baik di masa mendatang.
Semangat hijrah untuk menjadi baik pada sebagian orang dirasakan tumbuh karena
keterpaksaan, ada sebagian orang lain kesadaran hijrah tumbuh karena memang
memiliki keinginan sendiri secara sadar untuk menuju sesuatu keadaan yang lebih baik.
Akan tetapi apapun alasannya dengan senang hati atau dipaksa oleh keadaan, perubahan
menuju yang lebih baik membutuhkan keberanian untuk bertindak.
Keberanian untuk bertindak inilah merupakan salah satu syarat kita semua untuk
bisa menjadi lebih baik dari keadaan sekarang atau keadaan sebelumnya. "Tidaklah
mungkin kita bisa mencapai sesuatu tanpa kita mau berani berkorban untuk perubahan
yang diinginkan."
Berani berkorban untuk mencapai yang lebih baik lagi merupakan kesediaan kita
untuk meningkatkan kualitas diri dengan belajar dan terus belajar. Kita harus mampu
berpikir, bersikap dan bertindak menuju sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita
lakukan sekarang ini. Ingat, menjadi pribadi yang lebih baik adalah sebuah pilihan.
Firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah

َ ‫َّن اذَّل ِ َين آ َمنُوا َواذَّل ِ َين هَا َج ُروا َو َجاهَدُ وا يِف َسبِيلِ اهَّلل ِ ُأ ْولَ ِئ َك يَ ْر ُج‬
.‫ون َرمْح َ َة اهَّلل ِ َواهَّلل ُ غَ ُف ٌور َر ِح ٌمي‬
‫ِإ‬

69
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad
di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” ( 2:218)
Dalam surah ini ditegaskan bahwa orang-orang beriman, berhijrah, dan berjihad
di jalan Allah, pada hakekatnya, adalah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat
dan ampunan Allah secara sempurna.
Hijrah Milenial saat ini yang dilakukan oleh para pemuda terutama di kalangan
artis lebih menekankan pada perubahan akhlak, penampilan dan gaya hidup. Memang
tidak mudah melakukannya apalagi di dalam kondisi mereka yang terbiasa hidup penuh
popularitas, glamour dan bahkan boros. Tetapi bukan hal yang tidak mungkin seseorang
itu untuk melakukan perubahan atau hijrah ke kehidupan yang lebih baik terutama untuk
mendapatkan rahmat nikmat islam serta pengampunan Allah terhadap kehidupan yang
sebelumnya kelam.
QS al-Nisâ, 4:100, Allah Swt berfirman,

 ‫ة‬ ‫ِيل اهَّلل ِ جَي ِدْ يِف اَأْل ْر ِض ُم َرامَغ ً ا َك ِث ًريا َو َس َع‬
ِ ‫َو َم ْن هُي َ ِاج ْر يِف َسب‬
Artinya: “Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di bumi ini
tempat yang luas dan rezeki yang banyak).”
Allah Swt memberikan jaminan kepada hambanya yang benar-benar ingin
merubah hidupnya dengan sepenuh hati atas dasar iman kepada Allah maka pertolongan
dan kemudahan serta kelapangan rezeki akan mereka dapati.
QS al-Hajj, 22:58 ditegaskan lagi bahwa :

‫ا َح َس نًا‬999999ً‫اتُوا لَرَي ْ ُزقَهَّن ُ ْم اهَّلل ُ ِر ْزق‬999999‫وا َأ ْو َم‬999999ُ‫ِيل اهَّلل ِ مُث َّ قُ ِتل‬


ِ ‫ب‬999999‫ا َج ُروا يِف َس‬999999َ‫ َواذَّل ِ َين ه‬.
Artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah kemudian mereka dibunuh
atau mati, maka Allah pasti akan memberikan mereka rezeki yang baik.”
Berhijrah karena Allah, rezeki dunia dan akhirat (surga) akan menjadi
tebusannya.

70
ٍ‫َع ْن مُع َ َر َأ َّن َر ُسو َل اهَّلل ِ َصىَّل اللَّهم عَلَ ْي ِه َو َسمَّل َ قَا َل ن َّ َما اَأْلمْع َ ُال اِب ل ِنّ َّي ِة َو ِللُك ِّ ا ْم ِرئٍ َما ن ََوى‬
‫ِإ‬
‫فَ َم ْن اَك ن َْت جِه َْرتُ ُه ىَل اهَّلل ِ َو َر ُسوهِل ِ فَهِ ْج َرتُ ُه ىَل اهَّلل ِ َو َر ُسوهِل ِ َو َم ْن اَك ن َْت جِه َْرتُ ُه دلُ نْ َيا يُ ِصيهُب َا َأ ِو‬
‫ِإ‬ ‫ِإ‬
‫ا ْم َرَأ ٍة يَزَت َ َّوهُج َا فَهِ ْج َرتُ ُه ىَل َما هَا َج َر ل َ ْي ِه‬
‫ِإ‬ ‫ِإ‬
Dari Umar radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.
Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena
wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR.
Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Perumpamaan hijrah menurut Rasulullah s.a.  yaitu barang siapa yang berhijrah
dari negeri syirik mengharapkan pahala Allah, ingin bertemu Nabi untuk menimba ilmu
syari’at agar bisa mengamalkannya, maka berarti ia berada di atas jalan Allah ( fa
hijratuhuu ilallah wa rasuulih) dan Allah akan memberikan balasan untuknya. Sebaliknya,

barang siapa yang berhijrah dengan niat untuk mendapatkan keuntungan duniawi,
maka dia tidak mendapatkan pahala apa-apa, bahkan jika ke arah maksiat, ia akan
mendapatkan dosa.
Niat secara istilah adalah keinginan seseorang untuk mengerjakan sesuatu,
tempatnya di hati bukan di lisan. Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat
penting, apabila niat itu benar dan ikhlas karena Allah Swt maka akan sah pula suatu
amal dan akan diterima dengan izin Allah Ta’ala.
Ketika hijrah dilakukan dengan niat dan tekad untuk mengubah diri menjadi
lebih baik karena Allah Swt, berupaya lebih mendekatkan diri kepada Allah dan
memohon ampunan dari setiap perbuatan dosa yang dilakukan. Maka sesungguhnya
kenikmatan iman begitu sangat besar dirasakan.
Seseorang dapat dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, pertama
meninggalkan hal lama yang tidak baik untuknya, kedua menuju hal baru yang lebih
baik untuknya. Alangkah baiknya, hijrah dilakukan secara istiqomah sepanjang hayat,
agar kita dapat hidup dengan damai di dunia maupun akhirat.

71
Istiqomah dalam berhijrah bukanlah perkara mudah. Saat memulainya, seorang
akan merasakan beratnya ujian. Saat menjalaninya, ujian itu justru bukan berakhir
melainkan akan terus bertambah, mengingat tak ada ujian yang lebih mudah untuk
naik tingkat, menuju tingkatan di sisi-Nya.
Tak sedikit orang yang gagal berhijrah. Mereka tak sabar menghadapi ujian dan
tergoda kembali ke kehidupan lamanya. Karena itulah perlu kiat khusus saat memulai
kehidupan baru dalam berhijrah. Berikut upaya-upaya yang bisa dilakukan agar selalu
istiqomah dalam berhijrah :
1. Niat hati yang ikhlas
Saat memutuskan untuk hijrah, kita harus benar-benar niatkan untuk merubah
diri menjadi lebih baik lagi. Salah satu cara untuk memperkuat niat adalah
menemukan alasan kuat kenapa kita harus berubah? Kenapa kita harus menjadi baik?
Contohnya ada yang hijrah ketika Allah selamatkan ia dari sebuah musibah,
ada yang ingin hijrah atau berubah ketika ditinggal meninggal oleh orang-orang yang
dicintai, ada juga yang hijrah ketika ingin berdoa kepada Allah untuk orang-orang
yang tercinta yang sedang sakit keras.
Ada pula yang hijrah karena ingin dapat jodoh terbaik, ingin membahagiakan
orang yang dicintai, ingin berjuang meraih ridho Allah dan syurga. Dan tentu sebaik-
baiknya alasan adalah untuk mendapatkan ridho Allah semata.
2. Bersahabat dengan orang sholeh
Salah satu kunci penting agar istiqomah dalam berhijrah ialah memiliki
sahabat yang mendukungnya berhijrah. Bukan berarti meninggalkan teman lama,
melainkan menambah pertemanan dengan orang-orang baru yang jelas kesalihannya
dan baik akhlaknya.
Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-
Taubah: 119).
Rasulullah juga bersabda, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang
shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk
dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa
membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi,

72
jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal
engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Al Bukhari).
Sungguh agama seseorang bergantung agama temannya. Jika agama
temannya baik, maka baik pula agamanya. Berlaku pula sebaliknya. Karena itulah
amat sangat penting berteman dan bersahabat dengan orang-orang saleh agar selalu
istiqomah dalam berhijrah. Tinggalkan kegiatan kumpul-kumpul bersama teman-
teman yang melanggar larangan Allah. Sebaliknya, hadirilah kajian Islam bersama
sahabat yang sholeh.
3. Memahami Syahadat dengan Baik
Syahadat adalah dasar dalam agama. Kalimat ini tidak sekedar diucapkan
akan tetapi kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam dan perlu dipelajari
lebih mendalam.
Allah menjelaskan dalam Al-Quran bahwa kalimat syahadat akan
meneguhkan seorang muslim untuk kehidupan dunia dan akhirat jika benar-benar
mengilmui dan mengamalkannya. Allah Swt berfirman,
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-
orang yang zalim dan Allah memperbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim:
27).
Maksud dari “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh…” sebagaimana dalam hadits berikut.
“Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, lalu ia berikrar bahwa tidak
ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang
beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”
(HR. Bukhari dan Muslim).
4. Bersihkan Hati, Jiwa dan Raga
Terkadang hati kita susah tersentuh oleh hidayah Allah, susah tersentuh oleh
nilai-nilai kebenaran adalah ketika hati dan jiwa masih kotor masih ada rasa hasad,
dendam, dengki, dongkol serta berbagai macam penyakit hati lainnya.

73
Begitu juga dengan raga kita, raga yang didalamnya dialiri oleh darah yang
berasal dari makanan yang tidak halal seperti uang hasil korupsi, riba, serta transaksi-
transaksi haram dan transaksi subhat (transaksi abu-abu).
Maka sekali lagi perhatikan apapun yang masuk ke mulut dan ke perut kita,
perhatikan setiap rupiah yang masuk kekantong kita. Perhatikan makanan yang kita
makan, jika ke mall jangan mudah terpengaruh dengan makanan-makanan yang
kelihatannya “keren” brandnya internasional, namanya aneh-aneh dan harganya selangit
tapi belum memiliki sertifikat halal, hati-hati karena bisa jadi itu makanan bercampur
dengan barang yang Allah haramkan mungkin itu babi, mungkin itu arak yang banyak
ditambah sebagai pelezat makanan.
Maafkan dan meminta maaf, mengikhlaskan sesuatu yang hilang dan meridhoi
adalah cara membersihkan hati, sementara membersihkan harta tentu dengan berzakat,
memutuskan semua jalan-jalan rezeki yang haram dan syubhat.
5. Mempelajari Al-Qur’an dan Mengamalkannya
Telah banyak ayat yang menyebutkan keutamaan Al-Qur’an sebagai peneguh
iman seseorang serta memberikan keistiqamahan kepada pembacanya.
Di antaranya Firman Allah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi
orang-orang yang beriman” (QS. Fushilat: 44).
Allah juga berfirman, “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-
Quran itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang
telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)’” (QS. An Nahl: 102).
Jika diibaratkan, berhijrah adalah sebuah perjalanan panjang dan Al-Qur’an
adalah petanya. Bayangkan jika seseorang menempuh suatu jalan tanpa adanya
petunjuk arah menuju tujuan. Jika ia tak tersesat, maka ia akan keluar dari jalur atau
memilih berhenti dan kembali.
6. Berdo’a Memohon Keistiqomahan dan Keikhlasan
Berdoalah, karena Allah selalu mengabulkan doa. Sungguh mudah bagi Allah
untuk menetapkan hati di atas agama dan membuat seseorang selalu istiqomah dalam
berhijrah. Beberapa doa yang bisa dilantunkan di antaranya yang dicontohkan
Rasulullah,

74
“Ya muqallibal quluub, tsabbit qalby ‘alaa diinika (wahai dzat yang maha
membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. At
Tirmidzi).
Dapat pula melantunkan doa yang ada dalam kitabullah,
“Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa min-
ladunka rahmatan, innaka antal-wahhaab. (Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau
jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada
kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena
sesungguhnya Engkau-lah dzat yang maha pemberi (karunia)).” (QS. Ali Imran: 8).
7. Beramal
Di awal hijrah, semangat masih menggebu hingga menjalankan beragam
amalan dari yang mudah hingga yang tersulit sekalipun. Namun, ingatlah bahwa
suatu hari mungkin semangat itu akan mengendur, semangat di awal akan mulai
luntur.
Karena itulah Rasulullah bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah
Ta’ala adalah amalan yang terus menerus walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim).
Pertahankan amalan yang telah dilakukan. Bukan memperbanyaknya,
melainkan mempertahankannya. Teruslah berusaha agar amalan selalu dikerjakan
meskipun sedikit. Suatu saat ketika keimanan dan ilmu meningkat, amalan pula akan
bertambah dan sanggup konsisten dengan amalan yang banyak.
Itulah upaya-upaya agar istiqomah dalam berhijrah bagi muslimin dan
muslimah, semoga menjadi makin sholeh dan sholeha, makin baik amalnya dari hari
kehari. Aamiin…
Jadikanlah hijrah sepanjang hayat.

75
Bionarasi

Sh inta Sari, lahir di Jakarta, 31 Desember 1980. Ibu dari


empat anak yang juga bekerja sebagai guru di salah satu
SMP Negeri di Jakarta, bidang studi yang diampu adalah
IPS. Jejak bisa ditemukan di FB Shinta Sari atau IG
@shintasari66. Dalam hidup yakinlah bahwa Allah ada
dalam setiap nafas hidup kita.

76
Light Up
Nuriye

"Ru."
"Aru."
"ARUNIKA!"
"Hah? Iya ada apa?" Aru terkejut sambil mengerjapkan matanya. Sedangkan
Zoya menghela nafasnya kasar.
"Kamu lagi mikirin apa? Aku dari tadi manggil kamu," tanya Zoya sambil
menatap Arunika tajam, sedangkan yang ditanya hanya tersenyum miris.
"Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku. Mungkin aku bisa bantu."
Aru tersenyum tipis lalu berujar, "Sebenernya aku lagi mikir, aku tuh bisa apa?
Dewasa nanti aku jadi apa? Terus kenapa hidup aku selalu membebani orang lain?”
Aru menatap langit senja, terlihat beberapa burung terbang bebas. Hari ini, sepulang
sekolah Zoya dan Aru memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat wisata yang
menyajikan pemandangan yang indah.
Kini, Zoya juga menatap langit yang sama; petang, lembayung dan senja.
Seperti nama Zoya yang memiliki arti Senja. Zoya masih menunggu kelanjutan curahan
hati Aru.
"Hm... saat ini aku sedang down dan merasa menjadi manusia yang sangat tidak
diharapkan, bahkan aku lelah dengan diriku yang overthingking ini. Apalagi akhir-akhir
ini, aku tidak ada mood untuk menulis cerita,” lanjut Aru. Mata indahnya masih
menerawang langit senja yang menentramkan. Rambut panjangnya tersapu lembut
oleh angin. Raut wajahnya yang imut, menjelaskan bahwa wajahnya memang tak
terlihat untuk seumuran siswi SMA.
Zoya terkekeh pelan. Sahabatnya ini memang senang sekali menulis cerita.
Sedari mereka kecil, Aru senang membaca buku cerita, dan akhirnya kini Aru mencoba
untuk memulai menulis cerita.
Mata indah Zoya menatap Aru. "Kamu pernah denger ga? Kalau manusia bisa
hidup 3 bulan tanpa makan, bisa hidup 3 hari tanpa minum, tapi manusia tidak bisa
hidup 3 detik tanpa harapan. Kalau kamu masih punya harapan untuk menjadi diri

77
lebih baik. Kamu bisa belajar tentang memperbaiki, berniat menjadi lebih baik, dan
menata diri. Dengan senang hati aku akan membantumu."
"Wah, beneran? Mau banget," seru Aru antusias.
Zoya menggangguk dan berkata akan memulainya besok. Kini langit akan
segera gelap, Zoya dan Aru memutuskan pulang. Tentu saja Zoya mengantarkan Aru
pulang karena itu memang tugasnya sebagai sahabat terbaik Aru dan memang hanya
Zoya yang bisa mengendarai motor.
***
“Yang pertama, kamu harus love your self atau mencintai diri kamu sendiri.”
Aru mengangguk mantap, berusaha mengingat nomer satu ini agar tidak
mudah lupa. Sedangkan, Zoya masih menatap Aru yang mengangguk sambil membuka
bungkusan eskrim. “Untuk seumuran remaja seperti kita, mencintai diri sendiri itu
masih dikatakan cukup sulit. Kenapa? Karena pada umumnya remaja sering merasa
insecure, kurang percaya diri, dan mudah depresi.”
Kini mereka berada di taman sekolah yang cukup ramai karena memang
waktunya istirahat. Matahari juga sudah lumayan terik sehingga mereka memutuskan
untuk berteduh di bawah pohon rindang.
Aru tidak berani memulai pembicaraan, akhirnya Zoya melanjutkan petuahnya.
“Yang kedua, jangan membandingkan hidup kamu sama kehidupan orang lain. Pernah
denger lagu yang judulnya 'like you'?"
Aru mengangguk semangat. "Baby you are strong. You are wise. You are worth
beyond the thousand reason why. And you can't be perfect, baby. Cause no body
perfect, darling. But no no no there's nobody in the world like you." Aru mengakhiri
nyanyi dengan senyuman manis. Lalu kembali makan eskrim yang tadi dibelikan Zoya.
"Seperti yang di jelasin lagu itu, kamu itu udah sempurna buat jadi diri kamu
sendiri. Kamu hanya perlu menunjukkan kemampuan diri kamu sendiri. Kalau kamu
emang bisa," ujar Zoya menatap teman-temannya yang sedang berlalu-lalang,
sedangkan Aru masih menikmati eskrimnya.
"Makasih Zoya, kamu emang sahabat terbaik yang pernah ada," gumam Aru
sambil beranjak pergi begitu saja. Belum sempat Zoya mengejar Aru namun bel tanda

78
istirahat telah berbunyi. Zoya menghentakkan kakinya, kesal karena memang mereka
tidak sekelas. Zoya segera kembali ke kelasnya sebelum guru mata pelajaran Bahasa
Indonesia datang.
***
Setelah genap seminggu Aru tak terlihat batang hidungnya. Bahkan di sekolah
pun Aru tidak pernah terlihat. Sepertinya sahabatnya ini memang sedang menghindari
Zoya. Sudah kesekian kalinya Zoya mengirim pesan dan menelpon Aru. Namun
hasilnya tetap nihil, Aru hilang bak di telan bumi.
Zoya berdecak kesal sambil rebahan di kasurnya, malam minggu seperti ini
biasanya Zoya pergi bersama Aru ke pantai. Berjalan-jalan santai di atas pasir dengan
sapuan ombak. Mereka sahabat yang dekat layaknya adik kakak. Aru yang ceria dan
Zoya yang memang selalu ada dan menjaga Aru.
Senyum Aru yang selalu cerah, entah mengapa terakhir mereka jumpa terlihat
makin meredup. Zoya sangat rindu pada sahabat kecilnya itu. Zoya yang berusaha
memejamkan matanya kini terbuka karena ada yang menelponnya.
"Ha-"
"Zoya! A-aku lagi di pantai!"
Tuts.
Belum sempat menjawab Aru telah mematikan telponnya. Tanpa membuang-
buang waktu, Zoya langsung mengambil kunci motornya dan segera menuju pantai.
Sesampainya di pantai Zoya mulai mencari Aru. Tidak peduli nafasnya yang
ngos-ngosan atau peluh yang sudah membasahi kaosnya karena yang penting saat ini
di pikirannya adalah Aru.
Sekian menit Zoya mencari akhirnya bertemu dengan Aru yang
menyembunyikan wajahnya di lipatan lututnya yang sedang berjongkok. Nampak
pundaknya yang naik turun menandakan bahwa gadis tersebut sedang menangis
sesegukan.
"Aru ...." Zoya mendekati Aru lalu mengelus pundaknya. Aru yang tahu itu
suara Zoya tambah menangis kencang tak peduli sekitarnya.

79
"It's ok, kamu gak akan sendirian, ada aku di sini." Zoya memeluk Aru sambil
sesekali mengelus rambut Aru. Berharap perasaan Aru mulai membaik.
***
"Jadi... apa kamu mau cerita?" tanya Zoya setelah berhasil menenangkan Aru.
Aru mengangguk sambil mengusap wajah sembapnya.
"Zoya tahu? Setelah Zoya memberi Aru beberapa motivasi. Aru membulatkan
tekad untuk menjadi penulis yang bermanfaat untuk orang banyak. Tapi perjuangan
Aru itu gak mudah banget. Aru sampai sibuk nyari bahan buat seminggu kebelakangan
ini. Aru sampai lupa gak ngasih tahu Zoya. Lalu dua hari kebelakangan, Aru baru meng-
upload cerita Aru di sebuah aplikasi. Aru kira semuanya itu mudah, ternyata Aru di
bully sama pembaca. Karena menurut mereka, Aru mengcopy ide penulis lain. Padahal
Aru nulis ide sesuai pemikiran Aru. Bahkan mereka menyebut cerita Aru itu sampah.
Ternyata cobaan Aru belum sampai situ, keluarga Aru tidak ada yang
mendukung. Bahkan mereka tidak setuju Aru menjadi penulis. Apakah Aru harus
berhenti saja dari kehidupan ini?"
Dalam benak Zoya, bagaimana bisa netizen dengan mudahnya menjelek-
jelekkan karya orang lain. Menurutnya, kalau Aru salah, setidaknya bisa dibicarakan
baik-baik. Aru tidak tahu kalau idenya memang sama dengan orang lain.
Akhirnya Zoya tersenyum lembut sambil menggenggam tangan Aru erat-erat.
Lalu berujar, "Aku ngerti, pasti kamu sudah berjuang keras. Kamu berhak istirahat,
jangan paksain diri Aru, ya. Aru jangan pernah menyerah karena aku akan selalu ada
buat Aru, Jika Aru butuh tempat berkeluh kesah ada aku dan aku akan selalu
menyemangati Aru!"
Aru mengangguk sambil berkata, "Janji?"
"Aku janji kalau Aru gak akan menyerah dan menikmati setiap usaha to be
better dan berjanji akan bersinar di masa depan. Bagaimana?"
"Oke," jawab Aru sambil tersenyum manis walau matanya masih sembap.
Zoya tertawa pelan sambil mencubit pipi Aru. Sedangkan Aru kesal lalu
mengejar Zoya berlarian di tepi pantai.
***

80
5 tahun kemudian
"Sekarang ada acara bedah buku karya kak Arunika!"
"Kak Arunika yang mana?"
"Itu loh penulis novel yang judulnya Light Up. Salah satu novel best seller dan
proses terjemahin ke 3 bahasa!"
"Oh itu! Kita harus dateng! Aku suka banget sama novelnya yang motivasi
banget!"
Zoya yang mendengar pembicaraan kedua gadis di hadapannya hanya
tersenyum tipis lalu meninggalkan cafe tersebut.
Segera memasuki motornya yang terparkir dan segera mengunjungi Arunika
yang ada di toko buku salah satu kota ini.
Selang beberapa menit, akhirnya Zoya sampai di toko buku. "Kamu bawa apa?"
tanya Aru yang sudah menunggu di toko buku.
"Ini Boba kesukaan Aru." Zoya memberi segelas Boba favorit Aru tersebut.
Aru tersenyum manis lalu berterima kasih kepada Zoya. "Kamu tahu aja kalau
Aru emang harus minum Boba sebelum setiap event."
Aru dan Zoya tertawa bersama. Tiba-tiba Luna--pemilik toko buku--
menghampiri Aru.
"Mba, ayo siap-siap. Acaranya sebentar lagi mulai."
Aru mengangguk, setelah berpamitan pada Zoya. Aru mengikuti Luna yang
sudah kebelakang terlebih dahulu.
Zoya menatap punggung Aru yang makin menjauh. Tatapannya menerawang
akan masa lalu. Perjuangan Aru dalam impiannya. Dan juga perjuangannya membantu
Aru. Semua tidak sia-sia, bahkan Zoya dan Aru menikmati setiap proses untuk bersinar
terang benderang seperti saat ini. Karena dalam masalah apapun, kau hanya perlu
berdo'a, berusaha, tak putus asa dan yang pasti seorang yang mensupportmu.

81
Bionarasi

Calon penulis hebat ini, memiliki nama pena


Nuriye_Assajidah. Lahir ke bumi pada tahun 2001. Hobi
menulis ini baru di mulai ketika berusia 19 tahun. Cukup aktif
di wattpad dan kbm, buku ini juga merupakan buku karya
pertamanya bersama beberapa partnernya. Ingin mengenal
tentang Nuriye? Bisa kunjungi akun Instagram @sintaanuriye.

82
Pasrah Tak Berarti Menyerah
Septi Suwardani Aisyah

Jika pernah merasa hidup sepertinya begini-begini saja, toss! kita sama. Pernah
merasa bahwa, kenapa orang lain bisa sehebat itu tapi kita biasa-biasa saja? Kalau iya,
kita harus toss dua kali. Saat lebih banyak resah dan gundah menyapa, percayalah
mungkin hanya kurang berserah. Terkadang banyak hal kecil menyita pikir. Maka kamu
harus lebih banyak berdzikir. Bukan mudah memang. Tapi harus terus dicoba. Apapun
itu bentuknya, ujian pasti akan hadir seiring dengan makin besarnya keinginan diri
mencapai sesuatu.
Nah, namun ingat ya diri kita sangat perlu dicintai bukan berlebih tak juga
kurang. Supaya tak menjadi cepat letih dan juga patah arang. Apa bukti cinta kita pada
diri sendiri? Dengan terus mengapresiasi diri bahwa kebaikan sekecil apapun yang
sudah dilakukan adalah sebuah tabungan kebaikan yang kelak bisa dipetik kemudian
hari. Ingat kembali juga hukum kekekalan energi. Sesuai dengan namanya, energi itu
kekal. Jika energi baik yang selalu ditanam, maka hasil panen kebaikanlah yang akan
selalu diterima. Begitu pula sebaliknya.
Bicara soal seni menata diri, barangkali telah banyak tulisan dan ulasan lengkap
maupun buku-buku keren yang sudah terbit. Buku yang pastinya juga membahas
tuntas mengenai hal ini. Bahkan sesama kawan penulis untuk buku antologi ini pun
sudah lebih dulu menyelesaikan naskahnya. Hebat! Tulisannya pun tak main-main.
Sistematis dan sangat rinci. Ada yang menulis naskah antologi dengan tema nonfiksi
murni, ada pula yang melukis aksara dengan manis melalui cerita nonfiksi kreatifnya.
Setelah membaca beberapa narasi mereka, sempat juga ciut hati. Tak punya nyali.
Pikiran kesana kemari. Mulai merasa rendah diri. Namun segera kutepis dengan kuat.
Berbagai pertanyaan menggelayuti diri. Seakan diri hampir menyerah. Kembali
pada resah. Akankah selesai naskah antologi pertamaku? Akankah dapat dipahami
seluruh tulisanku? Akankah mudah menyalurkan energi positifku?
Kalau diingat lagi, aku adalah peserta terakhir yang mengumpulkan naskah
antologi ini. Kembali fokus bahwa bisa dengan tepat menyelesaikan naskah antologi
dengan percaya diri. Bangkitlah, hati yang lemah menjadi pemicu gundah. Aku sadar

83
bahwa menemukan ide menulis bukan hal mudah. Aku segera kembali berserah.
Sesuai judul bab ini, kali ini aku akan pasrah. Mengikuti alur pikiran, menulis dengan
hati dan penuh semangat. Membersihkan seluruh bagian dinding-dinding hati dari
keburukan yang ada. Pertolongan-Nya sungguh nyata kawan, petaku mulai
menunjukkan titik terang menulis tentang ini. Aku mengarah maju. Mengikuti barisan
kata yang berkolosal di kepalaku. Kutemukan satu sub judul “Pasrah, tak berarti
menyerah”.
Dear kawan, pasrahmu adalah sesuatu yang wajar. Tidak, kamu tidak
menyerah. Kamu hanya sedang berserah. Mengikuti apa mau-Nya. Sungguh mau-Nya
pasti adalah yang terbaik. Mungkin tadi sedikit prolog, mengawali semua cerita. Tak
dipungkiri menulis naskah antologi adalah sesuatu yang sangat baru bagiku. Membaca
beberapa naskah sebelumnya hanya bisa membuatku berdecak kagum.
Kembali pada tema seni memperbaiki diri. “Indahnya seni menata diri”. Tema
menarik dan ciamik untuk tetap dibahas sampai kapanpun. Kenapa? Sebab seni
menata diri masing-masing individu jelas berbeda. Menata diri dan menata hati secara
menyeluruh adalah tugas yang tak henti harus dijalani tiap manusia yang masih hidup
bersosial dan bermasyarakat. Menata diri tentunya berubah menjadi lebih baik lagi
setiap hari kan? Tapi sadarkah menata diri juga perlu melibatkan semesta. Bagaimana
caranya? Ya, dengan terus melangitkan doa-doa. Karena semua tak luput dari doa yang
menggemparkan angkasa. Mengetuk Arsy-Nya yang luar biasa. Melampaui segala
bentuk ketidakpercayaan manusia. Bahwa Dia adalah satu-satunya di dunia yang
mampu mengabulkan segala pinta tanpa ada tanda cela.

Tentu saja doa memang berjodoh dengan berusaha. Berusaha dan berdoa
merupakan satu paket kombo yang harus dijalankan dan dilalui. Lakukan
dengan penuh semangat. Ingat selalu bahwa setiap berpasrah, bukan berarti
kamu menyerah. Kamu hanya sedang berserah, bukan akan kehilangan arah
dan langkah.

Pada akhirnya selain berpasrah, apapun yang kita anggap menjadi beban saat
ini mungkin akan menjadi penguat pada tiap perjalanan hidup. Bukankah setiap kita

84
membenahi niat maka Allah akan perbaiki pula keadaan kita? Istiqomah memperbaiki
diri itu berat, kalau yang ringan mungkin namanya istirahat, hehe.
Dia Maha Tahu atas segala sesuatu, bahkan tanpa kita katakan. Tidak boleh
menyerah. Ingat sudah sampai pada titik ini. Ingat yang kuceritakan sebelumnya kan?
Ketika hampir menyerah, mengakhiri saja proses menulis ini. Tapi tidak, justru titik
balik dari semua resah adalah pasrah. Titik dimana semuanya akan segera menemui
bahagia. Ingat syukur sebelum keluh hadir. Ingat berdoa sebelum memulai berjuang.
Jangan lupa panjatkan doa-doa riang. Agar saat malam-malam panjang datang kata
maafmu pada-Nya masih diberi ruang. Mohon pegangi hati-hati baik kami, agar tak
pernah lupa cara berterima kasih pada-Mu duhai Rabbku.
Untukmu, terus jadikan doa sebagai sumber kesempurnaan usaha. Biarkan doa
menjadi senjata utama pengantar segala bahagia. Selamat menemui jalan penuh
kejutan! Pada hamparan keindahan kebaikan jiwamu. Pada luasnya samudera syukur
yang kau ucapkan tak henti-henti. Sebab tak ada celah untuk merasa kufur. Selamat
berjuang wahai hati, ajak raga bekerja sama. Tak ada balasan kebaikan melainkan
kebaikan. Sebab cinta Allah pada hamba-Nya tak berbatas.

Merawat Sabar
Sabar, satu kata berjuta usaha. Sabar seringkali dikatakan ketika kita tidak
mendapatkan apa yang seharusnya kita miliki. Sabar erat kaitannya dengan syukur.
Bersabar dengan apa yang tidak kita dapatkan. Bersyukur atas apa yang telah kita
miliki.
Sabarmu, sabarku tentu berbeda. Sabar merupakan ilmu tingkat tinggi. Hanya
mampu diamalkan oleh orang-orang terpilih. Sebab sabar merupakan ilmu tingkat
tinggi, maka hadiahnya pun tak main-main. Bila sabar hanya berhadiah payung tentu
setiap orang bisa dan biasa melakukannya. Namun ini lebih dari itu.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala
mereka tanpa batas.” Maha Suci Allah dengan dengan segala firman-Nya. Ayat ini
terdapat dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 10. Menandakan bahwa bersabar
adalah bagian dari kebaikan tanpa batas yang harus dilakukan orang-orang beriman.

85
Bukan sabar namanya jika masih ada batasnya. Sabar itu tak terbatas. Sekalipun
diameter bumi diulur sedemikian rupa, sabar tak terhingga panjangnya.
Jangan mempunyai banyak kemauan tanpa mau berusaha. Bersabar salah
satunya. Dalam ilmu pengembangan diri, bersabar menjadi kunci utama menuju
bahagia. Dear, kawan kamu harus percaya. Sabar dulu, bahagia kemudian. Rasanya
senang bukan kepalang kan? Saat buah kesabaranmu terasa spesial? Sabar, kamu
akan bisa memetik hadiahmu untukmu sendiri. Ketika ujian datang menyapa, manusia
akan terlihat kualitasnya. Dari caranya menghadapi. Ataukah mungkin bersembunyi?
Sebagian ada yang tetap sabar dan segera sadar. Setiap ujian berujung hikmah. Tak
sedikit yang kufur hingga lupa cara mengucap syukur. Banyak yang menjadi semakin
dekat dengan-Nya.
Namun tak jarang ada yang sengaja menjauh, lupa bahwa ribuan kasih sayang
tengah tercurah. Bisa jadi pesan rindu menggema di seantero jagat raya. Semesta
sedang bekerja, Dia tak hanya diam saja. Membiarkan hamba-Nya berlarut dalam duka
nestapa. Itulah mengapa sabar menjadi kunci utama segala pintu bahagia. Semua
sedih dan ujian yang datang berganti-gantian itu adalah sebuah alasan. Untuk
membuatmu tetap kuat dan bersyukur. Jika bukan karena itu, pastilah untuk
membuatmu makin bersinar dengan bersabar. Percayalah, bahwa tak ada satupun
ketetapan-Nya mengandung keburukan.

Untuk semua niat baikmu, jangan kira Dia tak tahu. Semua tak lepas dari
pengawasan-Nya. Hanya saja niat baik juga perlu diuji. Untuk membuktikan
kamu punya keteguhan hati. Sungguh Dia Maha Melihat juga Maha
Mengetahui segala isi dalam hati. Baik dan buruk semua tak lepas dari
jangkauan-Nya. Segala keluh dengan sejuta peluh. Berharap untuk segera
direngkuh.

Lalu, bersabarlah. Walau lelah, kuatlah. Ketika berdoa meminta yang baik,
bukankah akan diberikan yang terbaik? Sabar.
Kawan, aku yang menuliskan hal tentang sabar pun tak bisa serta merta
mendapatkan kemudahan dalam ilmu kesabaran. Sabar bukan hanya pada perkataan.
Namun sabar perlu wujud nyata dengan perbuatan. Maka dari itu sabar perlu dirawat.

86
Merawat sabar pun harus dilandasi dengan keikhlasan. Ikhlas menaruh ego.
Menjauhkan segala jenis penyakit hati.
Pernahkah merasa bahwa yang kurang bukan kesempatan hidup. Namun kita
terlalu sebentar memanfaatkan waktu-waktu sujud. Ketika sujud saja masih terburu-
buru, namun nikmat-Nya sudah beribu-ribu. Rasanya semakin malu. Nah, yuk sabar
dalam sujudmu. Lakukan penuh khidmat, tak perlu secepat kilat.
Sabar. Bukankah janji Allah mengenai sabar dan sholat akan menjadi penolong
adalah nyata? Mungkin dariku atau ada pada dirimu sering lupa menyelipkan doa dan
keinginan saat dimana mendekat pada bumi justru didengar oleh langit. Bukankah
indah jika semesta juga mendengar dan turut menjaga segala keinginan baik yang kita
gadang-gadang? Mari terus perbaiki diri. Merawat sabar menabung rindu. Iya,
menabung rindu untuk menuju pada apa saja yang menjadi maumu. Dia akan kagum
bilamana tak ada seorangpun yang menjadi tempat bersandar kecuali hanya pada-Nya.
Tak ada tempat bercerita paling rahasia kecuali pada-Nya. Semoga kamu segera
merasakan indahnya hidup jatuh hati pada-Nya. Pada setiap nikmat-Nya, ujian, dan
segala ketetapan dalam hidup. Jangan lelah belajar, jangan berhenti mencari. Sebab
masalah yang diberikan tak pernah berhenti menjadi pengajar.
Terus katakan ini berkali-kali hingga hafal diluar kepala, sabar. Jika merasa
sedih dan sendiri, saat harap mulai hilang, sabar. Tak selamanya bahagia menjadi
kawan, kadang sedih juga tak boleh dijadikan lawan. Sebab sedih dan bahagia selalu
berdampingan bukan? Apa sebab diri diberikan kesempatan untuk bersedih? Agar tahu
caranya bersyukur. Sabar. Ingat, pertolongan-Nya akan selalu dekat bagi hamba yang
sabar. Bukankah sabar dan rasa syukur menjadi penyempurna setiap rasa? Bukankah
jalan keluar dari setiap permasalahan hanya sebatas kening dan sajadah?

Koordinat Penentu Kebaikan


Pernah dengar lirik lagu dari si penyanyi hebat, Tulus? Dengan judul Ruang
Sendiri. “Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri. Untuk tetap menghargai, oh rasanya
sepi”. Maknanya sungguh dalam. Tak jarang diri perlu berbenah saat sendiri.
Introspeksi diri, refleksi diri, memberikan koreksi pada diri sendiri. Pernah dengar juga

87
kata me-time? Memang benar secara lebih gampang me-time diartikan dengan
mengisi waktu untuk diri sendiri. Me-time bisa jadi adalah waktu yang tepat untuk
memberikan koreksi pada diri. Bukan lantas untuk menutup diri. Untukmu yang baik
hati, proses panjang memperbaiki diri adalah “a life time lessons” .
Artinya pelajaran seumur hidup yang harus terus dilakukan. Mengenai
memperbaiki diri. Semestinya kita harus lebih banyak menunjuk pada diri sendiri.
Memantaskan diri. Kembali memeriksa amalan diri, memberi batasan pada diri agar
hanya kebaikan yang menjadi tujunnya. Memperbanyak kualitas ibadah, dan
membentengi semua dengan kebaikan. Semoga ketika kembali pada-Nya kita semua
dalam keadaan terindah, keadaan iman terbaik. Bukankah kita tidak pernah tahu
bagaimana kita akan kembali? Bagaimana akhir hidup kita di dunia ini? We never knew
actually.

Berhenti merasa diri paling baik diantara yang lain. Jika sudah merasa begini,
lantas kita tak akan pernah bertumbuh. Sudah seharusnya kita tumbuh dan
bersenyawa dengan kerendahan hati bukan merasa rendah diri. Bukan tugas
manusia menerka nilai manusia lainnya.

Jadi apa yang menjadi koordinat atau titik penentu dari seluruh kebaikan diri?
Hati. Ya, hatimu menjadi penentu seluruh kebaikanmu. Bila baik keadaannya maka
tentu baik pula tutur kata dan segala tindakannya. Semakin baik keadaan sebuah hati,
semakin lemah lembutlah segala sikap. Hati merupakan sebuah sistem penggerak
seluruh anggota tubuh. Hatimu akan bergerak menuntun lisanmu, bila baik tutur
lisanmu maka baik pula sikap-sikap dirimu. Apa yang akan terlahir dari kebaikan hati?
Tentu kebaikan pula yang akan tercipta. Apapun itu.
Hati yang baik merupakan bukti kecintaan seorang hamba pada Tuhannya.
Kadang logika manusia selalu menyisakan tanda tanya. Sedangkan logika semesta
selalu tak terduga indahnya.
Untukmu para pembaca, ijinkan kusematkan gelar sempurna. Manusia dengan rasa
sabar dan syukur tak terhingga. Selamat merasai kasih-Nya dalam genggaman kuat
nikmat dan karunia-Nya. Semoga Allah menjagamu, selalu dan selama-lamanya dalam

88
cinta-Nya yang tak terbatas. Dalam hangatnya kasih yang tak berujung. Satu langkah
mendekat pada--Nya. Ribuan dekat yang akan kau dapat.

89
Bionarasi

Septi Suwardani Aisyah kelahiran Jogjakarta. Sosok yang selalu


berkata “Menulis bukan bakatku, hanya sebuah kecintaan
mendalam. Dan aku mencintai semua baris-baris abjad dan aksara
yang bersahabat dengan pikiranku.” Menyukai travelling. Bercita-
cita punya tembok literasi di rumahnya. Serta perpustakaan
pribadi sebagai wujud menyayangi buku. Memiliki akun media
sosial instagram dengan username @septiwwardani. Aktivitasnya
kini mengurus usaha rintisan Bridea Wedding Organizer di
Jogjakarta. Selain itu masih menjadi salah satu staff admin pada
beberapa penerbit buku Islami di Jogjakarta. Yuk, baca juga karya
pertamanya melalui KBM App. Dengan judul Doa-Doa Riang.

90
Terluka untuk Bangkit
Siti Sarah Zakiyah

Bergegas tubuh mulia yang sedang berduka itu bangkit dari duduknya, berlari
menghindari hujan batu dari penduduk dan anak-anak kecil yang hanya mengikuti
perintah untuk melemparinya, tanpa bertanya siapa sesungguhnya yang mereka
lempari itu. Terompah yang ia kenakan berlumur darah, namun batu-batu bisu itu tak
memberinya waktu untuk sekadar mengatur nafas dan menyeka lukanya. Hingga
sampailah manusia mulia itu di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah anak Rabiah,
dua tokoh kafir Quraisy Mekkah. Bersama sahabat yang telah ia angkat menjadi
anaknya, tubuh lelah itu bersandar di sebuah pohon, mengadu pada Dzat Yang
memerintahkannya, “Wahai Allah, aku mengadukan kelemahanku dan kehinaanku di
mata manusia, wahai Yang Maha Kasih…”
“Apakah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat selain peperangan
Uhud?”, tanya Aisyah r.a. Rasulullah saw. menjawab, “Sungguh aku mendapatkan
suatu yang amat berat dari kaummu, yaitu peristiwa Aqbah di Thaif. Tatkala aku
menawarkan misiku pada Ibnu Abdu Yalil bin Abdi Kalal.
Luka di atas luka, sedih bertubi-tubi. Entah gambaran apalagi yang dapat
mewakili kesedihan hati baginda Rasulullah saw. Wafatnya Khodijah dan paman beliau
Abu Tholib bukanlah sekadar kehilangan. Tidak ada lagi yang menopang dakwah dan
membela beliau kala cibiran, ancaman, bahkan siksaan ditimpakan kepada beliau dan
para sahabatnya.
Perjalanan ke Thoif sepanjang 80 km beliau tempuh bersama Zaid bin Haritsah
dengan berjalan kaki, berharap ada penerimaan yang layak untuk dakwah yang beliau
sampaikan. Namun, secercah harapan itu justru menjadi luka yang menambah ruang
kesedihan di hati beliau bertambah.
Allah Swt tak tega melihat hamba-Nya yang mulia menahan kesedihan. Doa
masyhur yang beliau lauhkan saat bernaung di sebuah kebun dengan penuh iba itu
berbuah simpati. Seorang budak dari seberang menemuinya dan memberinya anggur.
Dialog yang terjadi antara mereka membuat Addas, nama budak itu menerima
dakwahnya. Jibril pun datang bersama malaikat penjaga Akhsyabain. Menawarkan

91
pada beliau untuk membinasakan penduduk Thoif dengan menimpakan gunung pada
mereka. Namun, Rasul tidak menghendakinya. Bahkan beliau mengharapkan Allah
akan menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat di sana.
(HR Bukhari dan Muslim). Sungguh kemuliaan hati beliau bagai air yang menyirami api.
Betapapun sakit hati dan fisik beliau, tak ada satu katapun umpatan keluar dari lisan
beliau. Hanya doa dan pengakuan akan kelemahan diri beliau panjatkan.
Dalam perjalanan kembali ke Mekkah, Zaid bertanya-tanya, bagaimana caranya
mereka kembali masuk Mekkah sedangkan penduduknya ingin mengusir Rasulullah,
dengan penuh keyakinan beliau menjawab: "Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan
menjadikan apa yang engkau lihat sebagai kemudahan dan jalan keluar. Sungguh,
Allah akan menolong agama-Nya dan akan memenangkan Nabi-Nya.”
Sebelum Muth’im bin ‘Adiy bersedia memberi jaminan agar beliau bisa kembali
masuk ke Mekkah, sekelompok jin diutus oleh Allah Swt. untuk beriman kepadanya
saat beliau berada di lembah Nakhlah. Keimanan dari makhluk yang tak tampak mata
itu juga membuat beliau terhibur.
Sepenggal perjalanan dakwah Rasulullah Muhammad saw ini tak hanya
menumbuhkan cinta pada beliau, tapi juga memberi makna pada kehidupan yang
seringkali kita anggap selalu diliputi kesedihan dan kegagalan.
Kesedihan yang belum sepenuhnya hilang saat kedua orang yang beliau cintai
meninggal, tak sedikitpun menyurutkan beliau untuk tetap menunaikan amanah
penyampaian risalah. Beliau terus mencari peluang dan mengabaikan kesedihan
hatinya.
Dakwah di Thoif yang jauh dari harapan dan lemparan-lemparan batu
penduduk Thoif sama sekali tidak membuat Rasulullah saw putus asa dan
menyerahkan diri atau terpuruk karena keadaan yang beliau terima. Justru keadaan
yang menyakitkan itu beliau jadikan bahan untuk introspeksi diri, mengakui kelemahan
dan kehinaan dirinya, bahwa kekuatan hanya milik dan dari Allah Swt.
Usaha beliau dan proses yang beliau lalui dalam menyampaikan risalah, tidak
sedikitpun diabaikan oleh Allah Swt. Keimanan penduduk Thoif yang beliau harapkan
ternyata tidak sesuai dengan kehendak Allah Swt. Justru keimanan Addas dan

92
sekelompok jin adalah keberhasilan yang sesungguhnya di hadapan-Nya. Inilah
pelajaran bagi manusia yang memandang keberhasilan dari kaca matanya sendiri dan
mengabaikan kehendak Allah Swt.
Kisah dakwah Thoif adalah kisah untuk para pemenang yang berusaha terus
bangkit dari kesedihan dan selalu optimis bahwa di balik usaha maksimal ada hasil luar
biasa yang tidak terbayangkan oleh akal manusia. Wallahu a’alam

Bionarasi

Siti Sarah Zakiya, ibu dari 5 putra. Menulis untuk


meninggalkan warisan kebaikan. Dapat disapa di IG :
@zakiyahsarah, FB : sarah zakiya.

93
Wake up! Jangan Lama-Lama Bersedih
Silvia Fardatus

Apa arti jatuh menurutmu? Apakah jatuh dari sebuah tangga? Jatuh dari
tempat tidur, atau bahkan jatuh dari cita-cita yang tak pernah sampai. Semua orang
mempunyai kisah dan jalan masing-masing. Mempunyai masa lalu yang berbeda,
jangan pernah salahkan siapapun termasuk menyalahkan dirimu sendiri.
Jikalau kamu pernah terjatuh sekali, dua kali, bahkan berkali-kali ketika itu juga
Tuhan sedang mengujimu. Apakah kamu seorang yang kuat atau lemah. Percayalah
Tuhan tak pernah tidur, Dia selalu mengawasi seluruh hambanya ketika melaksanakan
sesuatu. Dikatakan kuat apabila kamu mampu menghadapi segala permasalahan yang
menghampirimu karena sesungguhnya masalah itu untuk dihadapi bukan dihindari.
Si Fulan pernah terpuruk berlarut-larut dalam kesedihan karena ditolak
cintanya oleh Fullanah. Bukan karena sebab, melainkan Fulan masih belum memiliki
pekerjaan yang tetap. Alasan tersebut membuat orangtua Fullanah menolaknya.
Namun, dia tak berhenti sampai disitu saja. Berbekal segala cara cita-cita Fulan untuk
menghalalkan Fullanah kekasihnya, dia berhasil menjadi seorang pengusaha sukses.
Apa yang bisa kita ambil dari sepenggal kisah di atas? Bahwa ada seorang
hamba yang mengalami sedih yang berkepanjangan akibat ditolak cintanya. Apakah
juga dukun akan bertindak? Tentu saja tidak. Berusaha dengan segala kemampuan
yang ada. Melampaui batas, demi cita-citanya. Dengan begitu membuat kita
membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita bisa mewujudkan impian yang lama
terpendam.
Jangan bersedih karena kesedihan akan membuatmu lemah dalam berfikir dan
beribadah, membuatmu putus harapan, dan menenggelamkanmu dalam
kegelapan. Jangan bersedih karena rasa sedih dan gundah-gulana merupakan
penyakit jiwa, penyebab keraguan dan kebingungan. Jangan bersedih, karena
didalam Al-Qur’an disebutkan tentang doa-doa, dan banyak berbagai amalan
yang memberikan manfaat. Jangan pernah juga menyerah kepada kesedihan
dengan tidak melakukan sesuatu atau mager (malas gerak), hilangkan

94
kesedihan dengan berwudlu, shalat, berdoa, memohon ampun kepada Yang
Maha Kuasa, bekerja, bersilaturrahmi dengan sanak saudara.

Sebagaimana berdoa merupakan perintah Allah berfirman:


“Dan, Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya aku akan
perkenankan bagimu.” (QS.al-Mu’min:60).
“Berdoalah kamu kepada Rab-mu dengan berendah diri dan suara yang
lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS.Al-A’raf:55).
Bisa disimpulkan dari ayat di atas bahwa kita tidak boleh bersedih terlalu lama.
Karenaa jika itu terjadi akan mematikan hati kita. Boleh bersedih sebentar kemudian
bangkit lagi dan melawan kesedihan itu.
Jangan pernah bersedih, memintalah kepada Allah Swt. Dia tidak akan pernah
memberikan masalah tanpa solusi. Sungguh Allah Swt. mencintaimu, bukan?
Perbanyaklah berdoa, berdzikir, memohon ampunan dan pertolongan kepada Allah
Swt. karena Dia lah sebaik-baik penolong. Berikut diantara hal yang harus dilakukan
ketika kita merasa sedih:
1. Bersyukur
Kewajiban bersyukur atas semua nikmat yang Allah SWT berikan kepada
kita. Termasuk nikmat sehat, sempat, sakit, sembuh, sibuk, senggang, harta, dan
masih banyak lagi. Begitu banyak nikmat yang wajib kita syukuri, meskipun dalam
keadaan sedih. Bukankah Allah Swt. telah berfirman:

ِ ‫َوا ْش ُكرُوْ ا لِي َواَل تَ ْكفُر‬


‫ُون‬
Artinya:”Bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu kufur. (QS. Al-
Baqarah: 152)
Jika kita bersyukur atas segala sesuatu maka niscaya Allah Swt. akan
menambah kenikmatan hamba-Nya. Tetapi dengan kenikmatan itu juga kita tidak
boleh lengah apalagi sampai kufur terhadap nikmat-Nya.
Ketika bersedih, banyak yang merasa bahwa ingin mengakhiri kesedihan
tersebut dengan cara yang tidak sesuai syariat. Ini justru sangat tidak

95
diperbolehkan, misalnya seseorang sudah terlalu lama depresi ingin mengakhiri
hidupnya dengan cara bunuh diri. Naudzubillah. Ketika itu juga, Allah Swt. sedang
menguji kita, sampai mana kemampuan kita dalam menghadapi segala cobaan.
2. Berdzikir
Bagaimana tidak, jika dengan berzikir itu tidak akan membuat hati kita
tenang? Tentu dengan berdzikir semakin kita mendekatkan diri kepada-Nya.
Berdzikir tidak harus mengeluarkan suara yang keras, tetapi bisa berdzikir di dalam
hati. Semata dengan niat untuk mengingat Allah Swt. memohon ampun atas
perbuatan buruk yang telah dilakukan.
3. Rajin shalat malam
Tidaklah mudah jika membiasakan diri untuk bangun dini hari menunaikan
sholat malam. Tetapi salah satu doa yang paling mustajab atau terkabul yaitu
ketika berdoa setelah melaksanakan shalat malam atau shalat tahajud. Dimana
pada waktu itu malaikat turun mendampingi hamba-hamba-Nya dalam
mengerjakan amalan baik.
Shalat tahajud sunnah hukumnya, tetapi apabila dikerjakan akan mendapat
pahala. “Dan pada sebagian malam hari shalat tahajud-lah kamu....“ (QS. Al-
Israa’:79) sebagaimana Fiman Allah Swt. tentang anjuran shalat di malam hari.
Maka, tunaikanlah shalat tahajud dan meminta kepada Allah karena Dia-lah
sebaik-baik Maha Pemberi segala sesuatu.
4. Bersabar
Apa sabar menurutmu? Sabar, bukankah semua orang bisa melakukannya?
Apakah sabar memiliki batas? Tentu saja sabar itu tiada batasnya. Memang sulit
menerima keadaan dengan bersabar. Kadang kita harus mengalah untuk sesuatu
yang seharusnya milik kita, tetapi tidak ada. Apakah dengan mengalah sudah pasti
sabar? Belum tentu, terkadang seseorang memilih mengalah tetapi dibalik
sikapnya tersebut malah menjadi yang tak terkendalikan. Misalnya menjadi
frustasi, depresi, egois dan lain sebagainya.

96
Sabar itu bukalah orang lain yang menciptakan, tetapi sabar tumbuh pada diri
sendiri. Jika dalam hati menanam bibit kesabaran maka hasilnya pun akan berbuah
kebahagiaan.

5. Ikhlas Mengikhlaskan
Dalam diri manusia, hal yang paling sulit dan semua orang belum tentu bisa
melakukannya yaitu ikhlas. Ikhlas disini tidak mengharapkan apapun selain ridho
Allah Swt. Tidak juga mengharap imbalan terhadap orang lain. Lalu, bagaimana
kita bisa menumbuhkan rasa ikhlas dalam diri? Yaitu sikap yang disertai dengan
sabar dan tawakal. Lalu bagaimana cara mengikhlaskan sesuatu? Ini yang menjadi
tantangan. Dengan berat hati terkadang sulit untuk mengikhlaskan sesuatu yang
sebenarnya bukan milik kita. Tetapi dengan cara mengikhlaskan tersebut
menjadikan kita pribadi yang mandiri dan lebih kuat serta tidak bergantung
dengan orang lain.
6. Move on
Move on artinya berpindah. Apa maksud berpindah itu? Move on bisa
diartikan hijrah yaitu berpindah dari hal yang buruk menjadi yang lebih baik. Hijrah
juga bisa diartikan sebagai berpindahnya tempat yang lebih baik dari sebelumnya.

Misal dari berhijrah yaitu seorang yang semasa muda dia senang berfoya-
foya, suka pergi ke club malam, senang dengan pakaian yang sexy serba terbuka,
sering minum alkohol. Namun, dia berhijrah setelah lima tahun kemudian. Ia
menjadi pribadi yang lebih anggun, sopan, sering pergi mengikuti pengjian,
berpakaian serba menutup aurat.
Maka dari itu jangan berlama-lama bersedih. Berhijrahlah ke tempat atau
suasana yang menenangkan hati. Dengan begitu bisa mengurangi kesedihan yang
ada dalam diri.
7. Mengerjakan sesuatu yang disukai
Pekerjaan apa yang paling kamu sukai? Pastinya jawaban setiap orang
berbeda-beda. Tergantung dari apa yang ia sukai. Ada yang suka membaca untuk
menghilangkan kepenatan; ada yang suka pergi jalan-jalan untuk mengurangi
stres; ada yang suka pergi shopping untuk menghindari kepadatan pekerjaan

97
rumah tangga; dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentunya selama itu positif
dan bisa mengembalikan mood yang hilang sangat diperbolehkan.
Lakukan pekerjaan yang kamu sukai untuk meredakan kesedihan. Karena
sedih berlarut juga tidak baik bagi kesehatan kita. Apabila telah lama-lama stress,
sedih, murung tak ingin melakukan apapun justru akan semakin memburuk dan
mempengaruhi imunitas tubuh. Mulai sekarang selalu terapkan untuk berfikir
positif dan let’s move on!
Banyak cara yang dilakukan untuk mengurangi atau menghindari kesedihan
selain cara-cara yang sudah disebutkan sebelumnya. Tetapi, itu semua kembali kepada
pribadi masing-masing: Bagaimana cara yang dilakukan semaksimal mungkin untuk
mengurangi kesedihan yang menyelimutinya. Semua orang pasti menginginkan
kebagiaan yang kekal, tetapi rencana Allah Swt lebih indah. Dia memberikan ujian
hamba-Nya. Dan ketika setelah ditimpa ujian, cobaan yang bertuturt-turut tidak
mungkin tidak bisa dia akan melewati semuanya.
Bukankah dalam pantun juga disebutkan: “berenang-renang ke hulu berakit-rakit
ketepian, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.” Yakinlah Allah tidak
akan menguji seorang hamba diluar batas kemampuannya. Seberapapun beratnya
ujian setelah itu pasti ada kemudahan.

Bionarasi

Silvia Fardatus Solekhah, peremuan asal Jember. Silvi


panggilan akrab perempuan ini lahir di Jember, 8 Juli.
Sejak lulus dari Sekolah Dasar, ia melanjutkan ke salah
satu pesantren di Jember selama 7 tahun. Kemudian
Silvi melanjutkan kuliah di IAIN Jember dan lulus pada
Oktober 2019. Pengalaman mengajar Silvi dimulai
sejak tahun 2015 yaitu ketika ia lulus dari pesantren
dan mengabdi sebagai guru selama 1 tahun di

98
pesantren tersebut. Hingga sekarang Silvi masih mengabdi, mengajar dan mendidik
untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkans sebelumnya.
Email : silvia87fardatus@gmail.com
Fb : www.facebook.com/silviafardatus
Ig : www.instagram.com/silvia.fds
Ho.hp/wa : 085733281871

99
Jatuh untuk Bangkit
Siti Sarah Zakiyah

Mata yang menyusuri kata demi kata dalam bait-bait mulia ayat-ayat Al-quran
terhenti kala hati menyimpan tanya tentang sebuah kisah yang dinyatakan oleh Sang
Pencipta Swt, “Kami ceritakan kepadamu sebaik-baik kisah dengan mewahyukan Al-
quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelumnya termasuk orang yang tidak
mengetahui.” Ayat ketiga surat Yusuf ini membuat pembacanya penasaran seperti
apakah halnya sebaik-baik kisah cerita yang akan disampaikan dalam surat ini. Akankah
ia cerita tentang keindahan hidup dan kesuksesan? Atau gelimang harta dan
kesenangan? Atau tentang kehidupan tanpa cela?
Mari kita intip kisah terbaik itu. Ialah kisah tentang seorang nabi yang juga
keturunan nabi. Dialah yang dikatakan oleh Rasulullah saw sebagai al karim bin al
karim bin al karim bin al karim, Yusuf bin Ya’kub bin Ishak bin Ibrahim
‘alaihimusalaam, anak dari keturunan para nabi.
Kisahnya dimulai dari sebuah mimpi yang dia utarakan pada ayahnya. Mimpi
tentang sebelas bintang, matahari dan bulan yang sujud kepadanya. Ketajaman ta’wil
Ya’kub a.s. melarangnya untuk menceritakan mimpi itu kepada siapapun.
Kecemburuan saudara-saudaranya kepadanya sangat terlihat dan mudah terbaca oleh
Nabi Ya’kub a.s. Kecemburuan itu menjadikan Yusuf selalu mendapat
perundungan/bullying dari saudara-saudaranya. Tak ayal, akhirnya Yusuf dijauhkan
dari ayahnya agar mereka tidak harus berbagi apa yang mereka dapati dari ayah
mereka.
Makar pun dirancang dan dilaksanakan. Yusuf berhasil dijauhkan dari
pandangan Ya’kub dengan menyatakan bahwa Yusuf diterkam serigala. Apakah nasib
Yusuf setelah itu membaik? Justru ketika dia berhasil dikeluarkan dari sumur oleh
sekelompok musafir yang melewati sumur tersebut, dia yang mulia itu diperjualbelikan
oleh mereka. Jatuhlah dia di tangan penghuni istana.
Menjadi anak angkat keluarga istana bukan berarti hidupnya mulus tanpa
masalah. Ibu angkatnya menaruh hati pada Yusuf yang tampan bak rembulan yang
memancarkan pantulan sinar matahari. Fitnah pun menderanya. Keengganannya

100
melayani permaisuri raja membuatnya masuk penjara. Nasib manusia yang tidak
memiliki kuasa, bahkan untuk dirinya sendiri, dia terima. Penjara dia pilih daripada
mengakui perbuatan yang tidak pernah dia lakukan.
Apakah kisah indah ini berhenti sampai di situ? Belum. Di penjara, Yusuf a.s.
dikhianati oleh teman. Teman yang telah berjanji untuk membantunya bebas dari
penjara ternyata melupakannya. Hingga mimpi raja yang membutuhkan penafsiran
mengingatkan teman tersebut akan kepandaian Yusuf menakwilkan mimpi.
Tujuh tahun akan dilewati oleh penduduk Mesir dengan masa tanam dan
panen, kemudian akan diikuti dengan masa paceklik sepanjang tujuh tahun pula. Itulah
takwil mimpi yang menjadikannya keluar dari penjara akibat fitnah wanita yang
ditujukan kepadanya.
Kecerdasan Yusuf a.s. tidak serta merta menerima pembebasannya dari
penjara. Dia ingin nama baiknya yang tercemar dikembalikan. Akhirnya, wanita yang
menjerumuskannya ke dalam penjara pun mengakui bahwa dia yang menggoda Yusuf,
bukan sebaliknya.
Sejak itulah, perjalanan hidup sesuai takwil mimpi masa kecilnya mulai
menampakkan titik terang. Yusuf a.s. diangkat menjadi bendaharawan Mesir.
“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini, untuk
tinggal di mana saja dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapapun yang
Kami kehendaki, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
Yusuf a.s. tidak hanya sekali mengalami keterpurukan dalam hidupnya. Namun,
dia tidak pernah putus asa dan tidak pernah berburuk sangka pada Allah Swt. Hatinya
yang lapang selalu menerima apapun kejadian yang menimpanya. Jatuh, tegar,
menyusun rencana untuk bangkit kembali. Mungkin itu gambaran kekuatan jiwa yang
dimiliki nabi mulia keturunan para nabi mulia, Yusuf a.s. Sehingga Allah Swt pun
menyatakan, “Kami melimpahkan rahmat kepada siapapun yang Kami kehendaki, dan
Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” Sebagai pujian untuk
Yusuf a.s. dan pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.
Melihat perjalanan hidup yang nabi Yusuf a.s. lewati, bisa saja dia melakukan
hal-hal buruk untuk mengakhiri perlakuan-perlakuan buruk yang diterimanya dari

101
orang-orang sekitarnya, namun dia tidak melakukannya. Justru maaf yang dia berikan
pada saudara-saudaranya dengan menyatakan, “Tidak ada cercaan atas kalian hari ini,
Allah akan mengampuni kalian, Dialah Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Maha benar Allah Swt. dengan segala firman-Nya. Dia telah mewahyukan
kepada Rasulullah, Muhammad saw. sebaik-baik kisah untuk dijadikan pelajaran hidup
bagi manusia. Menjadi manusia berjiwa tegar, pemaaf, selalu berbaik sangka pada
Allah Swt. dan tidak putus asa, dengan selalu mengatur strategi dan rencana untuk
bangkit kembali menciptakan karya sebagai investasi kebaikan.

Bionarasi

Siti Sarah Zakiya, ibu dari 5 putra. Menulis untuk


meninggalkan warisan kebaikan. Dapat disapa di IG :
@zakiyahsarah, FB : sarah zakiya.

102
Aku: Satu Obat Semua Luka
S. Qurrotu Aini

“Aku udah ga bisa lagi kalau cuma konsul ke psikolog, aku perlu obat penenang.”
Aku terdiam mendengar kalimat yang dikatakan penuh emosi oleh seorang teman di
depanku. Belum genap hitungan bulan kami bersama, tapi sudah banyak hal yang ia
bagikan.
Luka. Tak ada yang menyangkal jika mengalami luka itu sangat berat dan sulit.
Kadang kala, jangankan untuk bercerita pada orang lain, diri sendiri pun tak paham
akan emosi yang tengah hadir: Entah itu sedih kenapa; entah marah juga pada apa; tak
paham juga cemas dan khawatir terhadap apa. Terlebih saat denyut jantung menjadi
tiba-tiba keluar dari ritme yang seharusya. Air mata juga menjadi tak bisa berhenti,
hingga sakit kepala jadinya. Ya, semua menjadi lebih berat saat berubah menjadi
psikosomatis.
“Semua percobaan bunuh diri aku gagal. Aku berkali-kali putus asa, dokter ahli
apapun tak pernah tau sakit apa aku. Padahal, aku menderita banget,” seorang kawan
lainnya bercerita. Aku yang di awal masa dia menghilang selalu coba untuk
memaksanya kembali pun sangat merasa bersalah.
Ternyata, kita seringkali hanya mendorong seseorang yang terluka untuk menjadi
kuat dan menembus batas tanpa pernah menyelami lebih ke dalam jiwanya. Padahal, dia
sudah sangat kuat menahan trauma berkepanjangan tanpa seorang pun yang memahami.
Rutinitas dan tuntutan memang seringkali buat ruang empati kita kering kerontang.
"Aku takut. Lebih baik aku kehilangan semua kehidupanku sekarang daripada
harus kembali bersamanya.” Aku menatapnya nanar. Kini, teman yang telah lebih dulu
memutuskan menikah di usia yang lebih muda dariku tengah bercerita sambil bergetar
hebat. Ditambah masalah kesehatan dia dan anaknya yang terus menurun akibat stres.
Ingin rasanya memeluk erat dan katakan semua akan baik-baik saja, tapi aku pun ragu.
Aku tahu, berjuang sendiri pastinya bisa ia lakukan dengan baik atau bahkan lebih baik.
Tapi, ada sebuah tekad untuk menyelamatkan anak lelakinya dari rumah tanpa ayah.
Dilema.
Tidak cukup hitungan hari atau pekan, bahkan tahun. Ada derai air mata yang
selalu tertumpah tanpa bisa dikendalikan. Ada takut dan getaran hebat yang tak bisa
ditahan. Entah tersebab apa semua hadir: Tentang menghadapi hari atau menghadapi

103
manusia lainnya. Semua bercampur baur hingga tak bisa nampak tiap perbedaannya.
Bias dan semakin kabur.
Bila kamu kira jeda bisa melunakkan hati yang carut-cemarut ini, tidak juga
pernah menjadi tepat. Semakin lama, takut semakin bersarang. Lari dan memulai hari
yang baru juga tak selamanya akan menjadi garansi kebersihan hati kembali. Semua
memang serba salah.
Menghadapi Rasa Takut
Tak akan ada orang yang bisa mengerti keadaan hati seorang yang terpejara luka.
Semua nasihat, arahan, hingga sekedar penyemangat hanya akan terdengar sebagai
kalimat pesimistis: Kamu salah. Kamu lemah. Kamu mending nyerah aja.
Takut yang ia hadapi sesungguhnya tak juga ia pahami. Takut bila luka itu muncul
lagi. Takut bila tangisan itu tak terbendung lagi. Takut bila dia menjadi lemah kembali.
Takut bila takut itu datang lagi. Sehingga, jarak dan jeda selalu menjadi pilihan.

Tapi, waktu tak pernah ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Waktu
di dunia ini pun tak pernah sama dengan permainan virtual yang dijalankan anak-
anak; bisa ditambah, di-pause, atau dipercepat. Tak ada tombol hint ataupun
serangkaian kode cheating yang bisa digunakan. Maka, hanya satu yang bisa
dilakukan; menghadapinya. Lagi pula, alih-alih ketakutan yang ia rasakan saat
harus menghadapi dunia ataupun manusia lainnya, ia hanya takut menghadapi
dirinya sendiri.

Menghadapi luka apalagi memang sangat mencekam. Layaknya diri terjun bebas
dari pesawat yang terbang menuju palung paling dalam. Mengejutkan, tak tahu mana
ujungnya, dan tentunya menakutkan. Tak ada pilihan lain selain memberanikan diri
untuk terjun menggunakan semua peralatan yang dimiliki. Namun, satu hal yang bisa
membuatnya lebih kuat untuk terus melaju: kawan.
Seorang kawan sebagai teman dengar diri. Hanya teman untuk membenarkan
segala luka yang ia alami. Menyetujui semua sakit yang ia rasakan, semacam kalimat
persetujuan: Jadi kamu pasti berat ya. Aku paham betapa sulit keadaannya. Tentu jadi
pengen nyerah kan.
Setiap orang punya cara sendiri untuk menyembuhkan luka. Mereka punya cara
untuk belajar. Maka, kawan hanya bertugas untuk memastikan agar mereka mau untuk

104
terus melangkah maju dan menjadi lebih baik. Mereka hanya butuh waktu dan
pengakuan dari luar dirinya saja, bukan paksaan apalagi penghakiman.
Jika tugas pertama yang harus mereka selesaikan adalah menerima luka, maka
tugas seorang kawan adalah membantu mereka memvalidasi rasa. Hingga akhirnya
mereka akan menyadari sendiri bahwa diri masih bisa berdaya dan rasa dimasa lalu
hanya soal hal yang singgah sekejap di hati.
Validasi Rasa
Ada sebuah hal yang jauh lebih sulit dilupakan dibandingkan dengan ingatan
dalam benak. Dia adalah rasa dengan paket lengkap tiap kenangan yang menyertai. Hal
yang rumit bila ternyata warnanya adalah kelabu, bahkan hanya untuk sekedar
mengakui keberadaanya.
Seperti halnya hujan yang menahan diri untuk melanjutkan langkah. Bilapun
dilanjutkan, pilihannya ada dua; menggunakan pelindung diri seperti payung maupun
jas hujan atau menerobos di bawah derasnya air hujan. Jika tak punya alat pelindung
dan diri tak mau lama menunggu, menerobos tentu akan menjadi pilihan, bukan? Hanya
saja, setelahnya ada sakit yang mungkin akan datang. Bukan hanya sekedar diri yang
basah. Namun suatu saat, tumbuh penyakit yang kian menjadi pelik dan sulit
disembuhkan. Begitulah sedikit gambaran saat kita memaksakan untuk melanjutkan
langkah tanpa menyembuhkan luka. Bersikeras mengatakan pada dunia, bahwa diri tak
pernah merasa terluka, apalagi berdarah dan lebam.
Bukan tanpa alasan kenapa rasa lebih sulit dilupa dibanding ingatan dalam
benak. Rasa diambil alih tanggung jawabnya oleh sebuah bagian kecil di tengah otak
bernama hipokampus. Sebuah bagian limbik otak yang bertanggung jawab akan emosi.
Kabar baiknya lagi, bagian ini bertugas pada peralihan ingatan jangka pendek (shor-
termt memory) menjadi ingatan jangka panjang (long-term memory).
Ketika stres melanda, menurut Bremner (2016) dalam jurnal neuroscience-nya,
bagian otak yang pertama akan terkena imbasnya adalah si-kecil hipokampus tersebut.
Sebuah persenyawaan melalui impuls-implus magic dari hipokampus kemudian akan
mempengaruhi kerja bagian otak lain, diantaranya amiglada pada bagian limbik yang
sama dengan dominansi ekspresi rasa takut; serta bagian paling besar yang mengambil
bagian adalah prefrontal sebagai penentu dari segala sikap rasionalisasi, self-
development, hingga perencanaan.

105
Jelas mengapa stress membuat seseorang bisa kehilangan arah, bukan? Sebab
bagian penentu hidup dan rasionalisasi dari prefrontal tertutup awan ketakutan dari
amiglada. Maka, saat stress hadir bersamaan dengan ketakutan dalam hati, tak perlu
cepat-cepat menyangkal atau memaksa diri untuk bisa memahaminya. Berikan waktu
sejenak untuk memahami emosi yang hadir. Sadari penuh disertai pengakuan secara
utuh, sebab proses validasi adalah proses sinkronisasi senyawa-senyawa kimiawi pada
bagian-bagian otak. Pelan-pelan akhirnya semua takut bisa didengar oleh diri untuk
kemudian bagian rasionalisasi memvalidasi secara perlahan hingga diri bisa
melanjutkan langkah melalui sebuah perencanaan dan pengembangan yang bisa
dilakukan.
Bila saja penyadaran utuh ini tidak diupayakan, alih-alih terlupakan oleh ingatan
atau aktivitas lainnya, semua rasa dan emosi malah akan terus ada menetap dalam
bagian otak hingga tanpa sadar menyelinap menjadi lapis-lapis ingatan jangka panjang.
Ingatan yang akan terbangun suatu saat nanti, menghadirkan tekanan yang sama atau
bahkan lebih menyakitkan. Emosi yang mengendap ini akan menjadi sebuah cetakan
sikap-sikap diri ke depannya dalam meghadapi masalah. Maka, emosi sesungguhnya
merupakan dasar informasi bagi diri kita tentang situasi yang sedang dihadapi untuk
kemudian diatur dan diasosiasikan dengan tindakan yang tepat.
Namun, tentunya pengakuan rasa dan regulasinya ini bagian yang tak mudah.
Ada sebuah ego yang harus diturunkan saat semestinya harus mengakui bahwa diri
tengah lemah dan tak berdaya. Ada pula sebuah keberanian yang harus dibangun
terlebih dulu. Bagai pertarungan melawan diri sendiri yang bisa jadi lebih menegangkan
dan sulit dikalahkan dibandingkan perselisihan dengan orang paling keras kepala
sekalipun. Maka, selayaknya kita meminta seseorang berbuat sesuatu, mengenal apa
yang disuka dan tak disuka adalah tugas setiap orang: mengenal diri.
Mengenal Diri
Proses regulasi rasa harus diawali dengan pengenalan emosi yang disertai
pengidentifikasian sebab hadirnya rasa. Kemudian, diri harus mengetahui bagaimana
menghadapi semua paket emosi dan penyebab hadirnya tersebut. Apakah
menghilangkan sebab emosi hadir? Apakah berdamai dengan cara menghadapinya
sendiri? Apakah butuh seorang lain untuk melewati semua? Setiap orang memiliki cara
tersendiri dalam menanggapi rasa dan emosi yang hadir.

106
Proses mengenal diri sendiri bukan hanya semata-mata serangkaian proses
pengisian tes kepribadian. Tapi penyadaran sepenuh hati, apa yang bisa
membuat diri nyaman dan mudah dalam aktualisasi diri. Proses menyelami apa
yang diinginkan dan bagaimana cara terbaik diri untuk mendapatkannya. Lebih
dalam lagi, proses ini adalah sebuah jalan menyadari secara utuh ingin menjadi
orang yang seperti apa dan siapa diri ini.

Setumpukkan buku motivasi; sejuta album podcase inspiratif; selusin nasehat


sahabat dan murabbi, tidak akan mempan jika diri kita sendiri tidak bisa mengenali “aku
kenapa” dan “harus apa”. Maka kuncinya ada pada diri sendiri. Apakah kita siap
menyadari dan menyembuhkan luka yang sepaket dengan konsekuensinya?
Kabar baiknya, manusia yang sudah diciptakan dengan sempurna oleh Allah
diberikan sebuah kekuatan untuk terus bertahan dan mengubah luka menjadi sebuah
bongkahan hikmah. Kemampuan itu disebut resiliensi. Kemampuan ini menurut
American Psychological Association merupakan sebuah proses adaptasi diri ketika
menghadapi trauma, sebuah tragedi, atau kejadian-kejadian yang membuat stress.
Proses ini disebut juga sebagai “bouncing back” atau pantulan balik dari sebuah
keadaan yang membuat diri merasa sulit.
Kemampuan khas manusia yang didesain sebagai makhluk paling adaptif dan
sintas, bukan hanya soal kemampuan hidup di bumi tetapi juga bertahan dalam situasi
paling mencekam bagi pikiran dan jiwa. Namun tentunya, kemampuan ini harus terus
diasah dan dimunculkan agar bisa selalu digunakan. Hingga akhirnya luka malah akan
membantu kita untuk menemukan kedewasaan dan kekuatan diri sendiri.
Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian yang dipublikasikan oleh American
Psychological Association pada 2000 orang dewasa Amerika bahwa mereka yang
mengalami 1 – 4 trauma dalam hidupnya memiliki sikap yang lebih puas dan tenang
dalam hidup. Beberapa alasan yang mendasari dikarenakan trauma mengubah cara
pandang mereka akan diri sendiri, dunia, hubungan dengan orang lain yang kesemuanya
berhubungan dengan cara hidup yang lebih baik.
Apakah mungkin ini adalah kemudahan yang Allah sebut dua kali dalam surat
al-Insyrah yang mahsyur itu? Kemudahan pertama adalah kemudahan menemukan jalan
untuk merugulasi masalah. Kemudahan kedua akan didapat di hari kemudian pada

107
hidup kita yang lain saat telah mampu mengambil pembelajaran dari luka. Dialah Rabb,
Al-Murrabi.
Semakin dalam kita menyelami diri sendiri, pada suatu titik kita akan menemui
sebuah batas. Batas yang tidak bisa kita jangkau oleh pandangan diri. Batas yang tidak
bisa kita lewati hanya dengan menyelami hari demi hari. Batas seperti halnya: kenapa
semua penyebab luka ini hadir? Kenapa aku harus merasakan ini? Apakah aku mampu
menjadi lebih baik setelah adanya luka ini? Jawaban apa yang diri kita miliki?
Tak apa, hadirkan saja semua tanya itu karena setelahnya kita tidak akan
menemukan apapun dalam diri sendiri kecuali ketidaktahuan. Maka tak heran, tutur para
tasawuf bahwa dalam perjalanan menemukan “aku” kita akan menemukan “Aku”
Yang Maha Agung. Hal ini mengisyaratkan bahwa tahap paling penting dalam
menyembuhkan luka adalah kembalikan semua hanya pada Sang Pemilik Semesta.
Pemilik jawaban atas semua batas yang tidak kita ketahui.
Coba berhenti sejenak. Tarik nafas dalam dan coba katakana pada diri: “Rabb,
aku ridho dengan segala ketentuan ini. Aku memang merasa sakit dan terpuruk, tapi aku
ridho karena aku malah belajar untuk ….(hikmah yang didapat). Maka terima kasih Yaa
Rabb, Engkau hadirkan pendidikan ini untuk diriku. Sekarang aku bisa menjadi …
(perubahan diri).”
Semua kita memiliki luka dan cerita. Yakinlah semua adalah sebuah bahasa
Allah untuk mengingatkan kita akan keterbatasan diri hingga akhirnya hanya tangan dan
atas kehendak Allah saja kita bisa bangkit kembali. Semua proses bertumbuh yang
akhirnya mengajarkan kita untuk terus ridho dan berserah pada pendidikan yang Allah
berikan. Berserah dan mengikuti bagaimana harusnya perjalanan di dunia ini kita lakoni
karena akhirnya kebahagian dan kemudahanlah yang akan kita dapatkan dari hasil
pengembalian diri pada Allah.
"...Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang
mengalir sungai-sungai di bawahnya. Demikianlah sebaik-baik balasan bagi orang-
orang yang beramal soleh. Yaitu mereka yang sabar dan mereka pula berserah diri
bulat-bulat kepada Tuhannya." (QS Al-Ankabut: 58-59).

108
Bionarasi

Silmi Qurrotu Aini, lahir 24 tahun lalu pada 24 November silam.


Seorang gadis asli Bandung yang senang menyelami kata dalam
kalimat yang terangkai dalam buku-buku novel ataupun buku
pemberdayaan diri. Setelah menyelesaikan program sarjana Biologi
di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2019 lalu, sekarang
ia bekerja sebagai guru les dan freelancer conten writer di sebuah
yayasan dan lembaga di Bandung. Untuk kepentingan kolaborasi dan
komunikasi, ia dapat dihubungi melalui surel silmi.qaini@gmail.com
atau pun laman instagram miliknya @silmiqa.

109
Bersedih untuk Mengukir Senyuman
Siti Sarah Zakiyah

Kekalahan yang diterima kuffar Quraisy di Badar menyisakan dendam.


Keuntungan perdagangan mereka di Syam, mereka kumpulkan. Tak hanya dana yang
mereka galang, tapi juga kekuatan dari kabilah-kabilah di sekitar Mekkah mereka
himpun untuk menyerang pasukan Madinah, menuntut balas kematian saudara-
saudara mereka di Badar.
Tiga ribu pasukan berhasil mereka kerahkan untuk menggempur kekuatan
Madinah yang hanya berjumlah sepertiganya, belum lagi 300 di antaranya kembali
pulang saat melihat kekuatan musuh.
Namun, kelihaian dan kemahiran Rasulullah saw. dalam mengatur strategi
perang sungguh menakjubkan. Pasukan muslim mengambil posisi membelakangi
Uhud, beliau menempatkan 50 pemanah di bukit kecil yang tinggi, kemudian dikenal
dengan Jabal ar-rumat- dan berpesan kepada mereka untuk menghujani pasukan
berkuda musuh dengan anak panah, menjaga pasukan Islam agar tidak diserang dari
belakang, dan tidak meninggalkan bukit bagaimanapun kondisi di medan pertempuran.
Perang dimulai dengan duel yang berhasil dimenangkan oleh pihak muslim
dengan tanpa menyisakan satu orangpun dari Bani Abd Dar, kabilah pembawa bendera
perang pihak musuh. Perang memanas. Tabuhan rebana yang ditabuh keras oleh
wanita-wanita kuffar Quraisy terhenti. Muslimin berhasil memukul pasukan mereka.
Pasukan berkuda pimpinan Khalid bin Walid berkali-kali gagal menembus kekuatan
muslimin dari belakang, karena ketangkasan pasukan pemanah Rasulullah saw.
Pasukan kuffar kocar-kacir meninggalkan medan perang. Harta-harta yang
mereka bawa dibiarkan, kaum muslimin bersorak menyatakan kemenangan sambil
mengumpulkan harta rampasan. Pasukan pemanah pimpinan Abdullah bin Jubair
tergiur dengan pamandangan di bawah mereka, lupa dengan pesan Rasulullah saw.
Akhirnya sebagian mereka turun, turut mengumpulkan ghanimah. Keadaan yang
ditunggu-tunggu Kholid dan pasukan berkudanya itu tak disia-siakannya. Mereka
mengambil alih bukit dan menyerang kaum muslimin dari atas bukit.

110
Keadaanpun berbalik, kaum muslimin terdesak tak dapat mempertahankan diri.
Rasulullah saw. diserbu dari berbagai penjuru, geraham beliau robek, pundak beliau
tersabet pedang, Thalhah yang menjaga beliau kehilangan jari-jari tangannya. Akhirnya
beliau dan beberapa sahabat yang menjaganya mundur ke bukit Uhud. Tersiar kabar
bahwa Rasulullah saw. telah wafat.
Kesedihan pun menyerang para sahabat. Tidak ada kebahagiaan dari ghanimah
yang mereka kumpulkan, tidak ada kemenangan yang tadi mereka rasakan. Kesedihan
itu bertambah kala berita wafatnya Rasulullah saw. tersebar, menyesakkan hati-hati
mereka.
“Ingatlah ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada siapapun, sedang
Rasulullah yang berada di antara (kawan-kawan) kalian yang lain memanggil kalian.
Karena itu, Allah menimpakan kepada kalian kesedihan demi kesedihan, agar kalian
tidak bersedih hati lagi terhadap apa yang luput dari kalian dan terhadap apa yang
menimpa kalian. Dan Allah Maha teliti apa yang kalian kerjakan.” QS. Ali Imran:153
Keadaan para sahabat pada perang Uhud memberikan pelajaran, begitu cepat
berubah keadaan dan perasaan manusia. Keadaan saat berada dalam kemenangan
yang diliputi kebahagiaan dan harta, tetiba berubah menjadi kekalahan yang
menyakitkan dan kesedihan yang mendalam. Berita wafatnya orang yang dicinta bagi
mereka, ibarat istilah habis jatuh tertimpa tangga. Belum habis kesedihan yang
pertama, kesedihan lain diterima.
Begitulah Allah swt memberi pelajaran kepada para sahabat dan orang yang
mengambil pelajaran dari mereka sebuah makna kehidupan dunia. Bahwa tiada yang
kekal di dunia, dan kesedihan yang menimpa kala kesedihan pertama belum berlalu
adalah pelipur kesedihan itu sendiri. Bukankah manusia akan melupakan kesedihan
pertamanya kala kesedihan lain menimpanya? Bukankah manusia akan terbiasa
dengan kesedihan jika jiwanya berkali-kali tertimpa kesedihan? Lalu kelak kesedihan
baginya hanyalah satu rasa di antara banyak rasa yang dikecap dalam kehidupan ini.
“…agar kalian tidak bersedih hati lagi terhadap apa yang luput dari kalian
dan terhadap apa yang menimpa kalian…” adalah hikmah kehidupan yang
menjadikan orang yang memaknainya berjiwa baja tak pernah menyerah. Menjadikan

111
orang yang menyelami maknanya selalu optimis menghadapi kehidupannya, seberat
dan sesedih apapun keadaan yang ia terima. Menjadikannya orang yang selalu
mengukir senyuman di wajah sepahit apapun perasaan yang ia rasa.

112
Bionarasi

Siti Sarah Zakiya, ibu dari 5 putra. Menulis untuk


meninggalkan warisan kebaikan. Dapat disapa di IG :
@zakiyahsarah, FB : sarah zakiya.

113
Seni Berpikir
Satria

Kenyataan yang terjadi saat ini merupakan mahakarya dari kita yang di
dalamnya terdapat campur tangan Tuhan disetiap prosesnya. Kegagalan dan
kesuksesan selalu berdampingan sebagai tolak ukur dari pencapain kita. Namun, kita
juga perlu menyadari bahwasannya realita itu terjadi dikarenakan kita memiliki
kemampuan tak kasat mata dalam diri. Pada saat demikian, seringkali tidak kita sadari.
Mungkin Anda akan bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan kemampuan yang ada
dalam diri kita? Atau mungkin ada yang sudah menyadarinya tetapi belum atau tidak
tahu bagaimana cara menggunakannya.
Mengapa demikian bisa terjadi? Jawabannya cukup singkat, karena kita tidak
yakin pada diri kita sendiri, dan insecure pada kemampuan kita. Dan saya jawab itu
adalah kesalahan fatal dari cara berpikir kita!. Saya katakan kesalahan berpikir fatal
karena kita tidak menyadari seberapa besar fungsi otak di kepala kita dan cenderung
mengabaikannya.
Salah seorang sahabat saya mengatakan bahwa, “kehidupan di sekeliling kita
cenderung mengamuflasekan tujuan ataupun impian dari setiap manusia, sehingga
mereka seringkali termarginalkan dan membuatnya semakin jauh dari pencapaian dan
yang lebih parah lagi, kita lupa untuk membuka mata dan menangkap makna.” Bagi
saya itulah problem kehidupan manusia masa kini. Mungkin kita seringkali dibenturkan
oleh berbagai macam informasi di kepala kita dan mungkin ketika kita menjalani
kehidupan sebagai orang yang latar belakangnya tidak mampu/perekonomian
keluarganya ke bawah sempat berpikir seperti ini, menjadi orang terkenal dan hidup
berkecukupan itu sepertinya menyenangkan, banyak harta, mobil mewah, keinginan
apapun bisa didapat dan sebagainya atau sebaliknya pula dengan orang yang
berkecukupan dan latar belakang perekonomian keluarganya menengah ke atas
berpikir bahwa hidup menajadi orang biasa itu lebih menyenangkan bisa hidup santai
sambil menikmati secangkir kopi, duduk di depan layar TV dan berkumpul dengan
keluarga.

114
Dengan lantang saya katakan It’s stupid thinking! Why? Because in life it
doesn’t matter who’s rich and who’s poor! Ok. Dalam hidup itu bukan persoalan kaya
atau miskin Boss! Tapi dalam hidup itu adalah tentang siapa yang paling bermanfaat
bagi sesamanya! Orang-orang yang mempunyai harta berlimpah, punya rumah dan
mobil mewah. Tetapi belum tentu ia bisa memberikan manfaat untuk sesamanya.
Begitu juga sebaliknya dengan yang miskin. Belum tentu mereka tidak bisa
memberikan manfaat kepada sesamanya. Bisa jadi si miskin yang paling banyak
memberikan manfaat terhadap sesamanya dibandingkan dengan si kaya. Karena si
miskin selalu disibukkan dengan kebaikan-kebaikan terhadap sesamanya ia tidak lagi
memikirkan hartanya, ia tidak lagi memperdulikan sifat egoismenya. Dan lebih
mementingkan kebaikan untuk sesama. Kalo dalam bahasa tasawuf ada istilahnya al-
itsar (lebih mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, sebab
merasa ada Tuhan dalam diri sesamanya).
Dari beberapa bacotan yang sudah disampaikan tadi artinya kita perlu
berkontemplasi kembali dan mencari titik temu dari carut-marut pola pikir kita yang
selama ini mimiliki pengaruh cukup besar bagi kesuksesan kita. Jangan kira berpikir itu
hanya sekedar berpikir tok! Kalo saya pinjam kalimat teman saya “Hidup bukanlah
sekedar berpikir, tetapi juga soal seni untuk berpikir.” Artinya dalam kehidupan ini kita
tidak hanya dituntut untuk sekedar berpikir saja tetapi kita juga butuh seni dalam
berpikir untuk menghidupkan berbagai konsep dalam pikiran kita.
Bagaimana caranya agar kita bisa menerapkan seni berpikir dalam kehidupan
kita? Mungkin jika Anda mencari seni ini di tempat lain Anda akan menguras isi
dompet dan kantong Anda. Atau mungkin Anda akan memotong jatah bulanan dari
pekerjaan Anda, tapi di tulisan ini saya kasih gratis dengan cuma-cuma. Adapun sebuah
seni dalam berpikir itu sebagai berikut :

Seni Masa Bodoh


Dalam buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson
dijelaskan secara gamblang tentang bagaimana kita menyikapi pikiran kita yang kurang
lebih setiap 0,01 detik bekerja dan merespon kondisi di sekitarnya. Oleh karena itu kita

115
selaku pemangku tertinggi dari pikiran kita jangan sampai terkecoh dan harus jelih
ketika pikiran kita merespon satu hal maka kita harus cari beberapa hal lainnya. Kita
ambil sample dari sisi dampak, latar belakang, fungsi dan lainnya. Seni masa bodoh jika
meminjam makna dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tentu akan ditemui
makna acuh tak acuh, tetapi jika dalam kehidupan orang desa masa bodoh bukan
berarti acuh tak acuh, melainkan jika acuh tak acuh artinya Anda tidak perduli sama
sekali, jangankan untuk melakukan suatu hal, terbesit dalam pikiran saja tidak sama
sekali. Tetapi, masa bodoh adalah suatu hal yang terbesit di pikiran kita, tetapi kita
mengetahui tindakan seperti apa yang lebih efesien untuk menyikapinya.
Adolt Hitler pernah mengatakan “Ketahuilah, bahwa Anda sendiri adalah
keajaiban dan percayalah bahwa Anda dapat membuat keajaiban dengan berpikir,
berdoa, percaya dan membantu orang lain.” Dari ungkapan tersebut tentu kita bisa
melihat secercah pengetahuan dari pola pikir kita karena berpikir merupakan seni yang
hanya bisa dimiliki oleh seorang makhluk bernama manusia, kita ambil analogi seperti
ini diwaktu bersamaan Anda mendapat sebuah kabar bahwa ponsel teman Anda
diambil oleh seorang pencuri dan anda tidak mengetahui identitasnya, di sisi lain Anda
juga mempunyai pekerjaan di rumah Anda atau mendapatkan tugas dari guru atau
bagi yang bekerja di kantor dari atasan dengan jangka waktu yang sedikit, dan di
sinilah seni berpikir kita mulai nampak, dalam ilmu anatomi, sistem saraf pada otak
Anda akan membentuk suatu pola yang mana menjadi sebuah gambar yang dipahami
oleh memori Anda.
Jika Anda memilih membantu teman Anda mengejar pencuri yang mengambil
handphone teman Anda tentu Anda belum mengetahui akan bertemu dengan pencuri
dan mengembalikan barang tersebut. Tetapi, jika Anda lebih memilih menyelesaikan
pekerjaan Anda sambil mencari tahu dan menyusun strategi mungkin itu lebih efektif
agar tidak menghambat pekerjaan Anda. Itulah beberapa hal tentang seni masa bodoh.

Mengagumi Diri Sendiri


Inilah hal yang sering terabaikan oleh diri kita, setiap saat kita terlalu
mengagumi berbagai hal yang kita temui; pekerjaan orang lain yang sukses, penulis

116
terkenal, aktris, banyak harta, murid teladan di sekolah, orang yang mendapat
beasiswa di Sekolah/Univeraitas, dibiayai pemerintah atau sejenisnya. Dengan tegas
saya katakan “Anda Sudah Membunuh Diri Anda Sendiri!” why I speak it? Jawabannya
cukup singkat, karena Anda melupakan kemampuan dalam diri Anda dan tertipu oleh
pandangan Anda! Kalo saya pinjam bahasa tasawuf “Kita seringkali melupakan
kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita, sebab kita tertipu dan cenderung lebih
memperdulikan kemampuan yang Tuhan berikan kepada orang lain.”
Kita tidak perduli dengan carut-marutnya isi rumah kita, tetapi sibuk
membereskan kecarut-marutan rumah orang lain. Sesekalilah kita mengagumi
kemampuan pada diri kita, kita punya kelebihan tersendiri ibarat di dalam diri kita itu
ada telur-telur potensi yang harus kita pecahkan dengan sinar panas dan setiap orang
tentu punya cara tersendiri untuk memecahkan telur potensi tersebut. Mungkin ada
juga dengan cara menitipkannya kepada ayam sedang mengerami telur-telurnya
(hidup di dalam lingkungan orang-orang sesuai dengan potensi yang mau kita
pecahkan) atau menggunakan lampu bolham (menggalinya sendiri melalui hal-hal yang
kita sukai). And it’s no problem!
Kita perlu mengagumi diri kita sendiri, mencintai diri sendiri dan sejenak
memalingkan kehidupan orang lain. Kita mengagumi diri kita sampai menyadari
bahwasannya sudah saatnya kita untuk menjalani hidup dengan yang kita sukai,
sesekali kita menengok ke mana kaki kita melangkah dan bagaimana kondisi rute yang
akan kita tempuh. Apakah banyak duri dan parit (lubang jebakan) atau ada binatang
buas sedang menghadang di sana. Jika memang kita menjumpainya lalu bagaimana
kita mengatasinya? Itu perlu kita persiapkan, cuk! Oleh karena itu sangat menarik
ketika saya mendengar sebuah quotess “Today is your future” dan realitasnya memang
demikian. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa kita hidup hari ini adalah untuk
hari esok dan hari ini adalah masa depan kita.
Cobalah untuk tidak memperdulikan dan mengagumi gonggongan orang-orang
di sekitarmu dan kagumilah dirimu sendiri, jika saya pinjam teori psikologi
perkembangan tentang usia di mana kita harus berpikir untuk kepentingan individu
dan mengagumi diri sendiri. Mengagumi dengan menyayangi diri sendiri tentu tidaklah

117
sama, tapi kebanyakan orang seringkali terjebak oleh kalimat ini. Lalu,
menggunakannya sebagai perlindungan diri, Kalo menyayangi diri sendiri secara tidak
sadar kita akan terjebak pada stagnasi dan cenderung akan muncul pikiran bahwa kita
tidak perlu melakukan hal apapun selain berdiam diri dan acuh tak acuh dengan hal
apapun, tetapi berbeda halnya dengan mengagumi diri sendiri. Ketika kita mengagumi
diri sendiri artinya kita sama halnya dengan memikirkan orang lain, hanya saja kita
lebih fokus pada kemampuan diri kita sendiri, kita mengagugumi kerja keras yang
selama ini kita lakukan. Masa bodoh orang lain mau jadi apa dan mempunyai apapun.
Kita ya tetaplah kita bukan dia ataupun mereka. Dengan demikian kita lebih fokus
menjalani kehidupan kita sendiri untuk mencapai tujuan hidup kita. “Kagumilah dirimu
sendiri, karena dengan mengagumi dirimu sendiri kau akan menemukan sesuatu yang
istimewa yang Tuhan berikan kepadamu.” Begitulah pesan yang disampaikan guru saya
sebelum kabur dari sebuah pengabdian di Pesantren.
Mungkin saya akan mengukir sedikit sejarah saya dengan harapan bisa
memberikan pelajaran bagi tamu-tamu penulis. Pada kalimat akhir di atas tertulis
“Sebelum saya kabur dari sebuah pengabdian di Pesantren.” Mengapa demikian?
Jawabannya karena dulu saya pernah diperintah oleh Kiai saya untuk mengabdi setelah
lulus dari Pesantren, tapi dengan tegas dan berbagai cara saya kerahkan agar terlepas
dari pengabdian yang pada akhirnya mengambil jalan terakhir yaitu kabur pada saat
rapat pembekalan pengabdian. Why did I run away? Padahal orang-orang yang
diperintah mengabdi oleh seorang Kiai merupakan penghargaan terbesar bagi para
santri. Jawabannya satu, karena saya mengagumi diri saya sendiri sehingga saya bisa
menemukan kelebihan yang Tuhan berikan kepada saya. Saya bisa menjadi istimewa
meski tanpa mengabdi di Pesantren dan pada akhirnya keyakinan saya saat ini benar-
benar menjadi kenyataan. Saat ini paling tidak satu bulan ada tiga sampai empat
tawaran dari pihak instansi pemerintahan atau lembaga kampus yang menawarkan
berbagai pekerjaan. Tidak hanya itu saja, bahkan saya sempat mendapatkan tawaran
untuk mengajar di Pesantren.
Itulah secuil kisah kehidupan saya, pada intinya kita punya jalan sendiri dan
terkadang lupa pada kemampuan yang kita miliki. Kegagalan saat ini bukanlah akhir

118
dari kehidupanmu karena kegagalan saat ini merupakan petunjuk bahwa Anda sudah
lebih dekat dengan keberhasilan yang Anda inginkan. Palingkanlah pikiran sejenak dari
hal-hal yang membuat kita merasa down dan insecure berusahalah untuk mengagumi
diri sendiri, lakukan apa yang menurut Anda baik meskipun itu berbaring di tempat
tidur. Berbaringlah asal itu berguna, tapi nyatanya Anda belum menemukan sesuatu
yang berharga dari tempat tidur dan jika itupun ada maka bisa dipastikan bahwa itu
bukanlah Anda tapi sebatas khayalan Anda! Jadi, kagumilah diri Anda kerena secara
tidak langsung itu merupakan simbol bahwa Anda mencintai diri Anda dan Tuhan Anda
secara merdeka.

Negatif Thinking
Ada apa dengan negatif thinking? Mengapa saya merekomendasikan negatif
thinking? Jawabannya akan anda temui pada deretan tulisan ini. Dari jutaan umat
manusia dimuka bumi tentu pernah berpikir negatif. Siapa di antara mereka yang sama
sekali belum pernah berpikir negatif? Adakah, jika tidak ada maka saya anggap itu
adalah suatu keistimewaan yang luar biasa karena masih terbilang sebagai makhluk
normal. Bahkan seekor binatang seperti kerbau saja yang notabenenya tidak memiliki
akal tapi mereka punya insting atau yang kita kenal naluri alamiah binatang. Wajar saja
ketika kita mendekati anak kerbau yang baru lahir si induk kerbau dengan siap siaga
memasang tanduknya untuk menerkam kita. Dari sini kita bisa mengetahui dan
menyadari bahwasannya tidak semestinya kita selalu berpikir positif brother and sister!
Ada masanya di mana kita harus bisa berpikir negatif, hal itu bukan semata-mata kita
buruk karena memandang suatu hal dengan berpikir negative, tapi itu semata-mata
sebagai upaya agar kita selalu berwaspada terhadap hal yang dirasa asing atau baru
kita temukan.
Mungkin kita pernah mendengar dari teman atau kerabat atau keluarga kita
yang berkata seperti ini pada saat posisi kita sedang tidak beruntung semisal diputusin
pacar, ditipu oleh mafia yang membawa kabur uang kita.: “Udah negative thinking aja,
nggak usah berlebihan mungkin itu sesuatu yang baik buat kamu dan mungkin ada

119
hikmah di balik hal itu.” Saya katakan itu sesuatu yang fatal, sebab jika Anda terus
berpikir positif maka kejadian serupa sangat dipastikan akan menimpa diri Anda
kembali.
Menurut ilmu psikoterapi, di dalam diri individu itu terdapat suatu software
yang berfungsi pada saat pemiliknya sedang terdesak atau mendapatkan energi asing
dari luar, sehingga secara tidak langsung software tersebut akan menekan beberapa
sel saraf pada tubuh kita dan menyebabkan tekanan endogen dan eksogen (dorongan
dari dalam dan luar) jika energi yang di dalam bertolak belakang dengan energi yang
ada di luar atau lebih mudahnya saling berbenturan maka bisa dipastikan ada suatu hal
yang tidak beres dan insting manusia yang disebut software tersebut terus bergejolak
dalam diri kita.
Alhasil tidak bisa dibantah jika yang terbesit di dalam pikiran kita itu konsep
negatif, karena faktanya memang sudah dirasakan oleh energi endogen dan eksogen
dalam diri yang saling berbenturan. Berpikir negatif bukan berarti kita terus menerus
negative thinking cuk. Tapi ada kalanya di mana kita harus siap berpikir negatif untuk
mengantisipasi hal apa yang terjadi ke depannya. Sehingga ketika kita berpikir negatif
sistem saraf otak akan mulai merancang mekanisme untuk mengatasi kejadian yang
tidak diharapkan.
Selain itu, negatif thinking akan membuat Anda lebih dewasa dan bijaksana
dalam bertindak. Anda akan lebih jelih dalam memprediksikan kemungkinan buruk—
baiknya hal yang akan terjadi. Semisal, Anda mencintai seorang gadis rupawan dan
menawan serta menjadi dambaan para lelaki di tempatnya. Tetapi, anda hanyalah
seorang yang tak memiliki daya tarik sedikit pun, lantas ingin mengungkapkan
perasaan Anda kepadanya dan berharap gadis tersebut bisa menerima perasaan
tersebut. Jika Anda memakai pikiran positif bahwa gadis yang “Wah” itu akan
menerima Anda yang “Hah” saya bisa memastikan yang akan Anda terima adalah rasa
sakit darinya, bukan menerima perasaan Anda. Why? Sudah jelas toh Anda yang
awalnya belum sempat dekat dengan gadis tersebut dan Anda belum mencapai taraf
kufu (dalam bahasa indonesia disebut setara) dengan kredibilitas gadis itu dari sisi
manapun, tapi berekspetasi jauh dari realita.

120
Akan tetapi, jika Anda berpikir negatif tentu Anda akan mengetahui
kemungkinan yang akan terjadi dan segera menyusun rencana untuk mengungkapkan
perasaan anda. Semisal karena Anda berpikir gadis itu tidak akan menerima Anda
karena wajah Anda yang biasa-biasa saja, maka Anda bisa memakai cara lain seperti
selalu membantunya disaat ia kesusahan, selalu ada di sisi gadis tersebut ketika ia
membutuhkan bantuan, Anda selalu menjadi orang pertama yang menerima
permintaan bantuan dari gadis tersebut. Maka sangat dipastikan hati gadis itu akan
luluh pada kebaikan Anda ketimbang wajah Anda yang di bawah rata-rata atau tidak
memenuhi kriteria dari standarisasi gadis tersebut. Seperti kalimat mutiara yang
diungkapkan oleh teman saya “Kau mau tahu kalimat yang paling bullsyit diseluruh
semesta tapi dengan kalimat itu semesta pun bisa berada digenggamannya. Cukup
satu kalimat saja, kamu itu baik banget!” silahkan Anda cerna kalimat itu dan baca
berulang-ulang, maka Anda akan memahaminya. Hehehe… Yaps, seperti itulah
kehidupan saat ini, siapa yang dianggap paling baik, maka dialah pemenangnya. Lalu,
salah satu cara mengatasi virus itu adalah dengan berpikir negatif, bukan dengan
pikiran positif!

121
Bionarasi

Penulis bernama Satria dengan nama pena Kopi Santri, pria


asal kelahiran Serang Banten ini merupakan salah salah satu
mahasiswa di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Bandung. Selain aktif yang diamanati sebagai ketua umum di
organisasi CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry
of Religious Affairs) yang di bawah naungan Kemenag RI, ia
juga aktif di organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia) rayon Ushuluddin, ia juga aktif sebagai penulis di
KMO (Komunitas Menulis Online) Indonesia. Adapaun
beberapa karyanya: (Majalah BSO Orasi, Antologi Pemuda
Baper “Bawa Perubahan”, Hujan di Bulan Januari, Antologi Puisi Kata Kita, antologi
puisi Renjana Air Mata.) info lebih lanjut bisa melalui: Ig: @ranggasaputra206, Fb:
Satria Rangga Saputra, Telegram: Kopi Santri.

122
Indahnya Seni Menata Hati
Yuni Nurrahmah

Ketika hatimu terluka, ketika ragamu tak mampu lagi berdiri, jangan pernah
menunggu orang lain untuk sembuhkan lukamu. Bantu dirimu, kuatkan hati dan
ragamu. Ingat pada Allah Yang Maha Kuasa, “laa illaha illa anta subhanaka inni
kuntum minadzolimiin”. Sholatlah agar hatimu tenang, istighfarlah agar kecewamu
hilang dan berdoalah agar bahagiamu segera datang.
Sesungguhnya bukan kamu, bukan dia, dan dirinya yang membuatmu kuat untuk
bangkit melainkan atas izin-Nya, kamu bisa bangkit dan menjadi lebih baik.
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah
tiada)..” (QS. Al-Fath: 4)
Allah selalu menyiapkan yang terbaik dan tidak pernah kita ketahui. Aku
menginginkan sesuatu dan Allah pun menginginkan sesuatu yang lain. Segala puji bagi
Allah atas segala kebaikan yang tidak aku ketahui.Ya Allah, berikan kami mata yang
melihat sisi terbaik seseorang, hati yang memaafkan kesalahan, pikiran yang dapat
melupakan hal buruk dan jiwa yang tidak kehilangan iman.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikan lah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al- Baqarah
: 153)
Ketika ujian menghampirimu terkadang orang lain lebih “aku” dari pada aku
sendiri, seolah menjadi yang paling tahu tentang aku, tanpa memahami rasanya menjadi
aku.
Kalian pernah gak, menemui seseorang atau sekelompok orang yang bersikap
seolah lebih paham tentang diri kalian daripada diri kalian sendiri? Ketika bertemu
dengan orang-orang seperti itu, menepilah!
Menjauhkan diri beberapa langkah dari mereka bukanlah masalah. Hal ini
disebabkan, tidak ada yang lebih mengenal diri kalian daripada diri kalian sendiri.
Mungkin raut wajah, lengkung senyuman, tatapan mata, tingkah dan gerak serta ucapan
bisa dilihat dan didengar oleh orang lain. Sementara apa yang dirasakan dalam hati,
belum tentu orang lain mengerti .

123
Gapapa menepi, gapapa menyepi. Hatimu butuh tenang untuk mencapai
senang. Kamu gak mau sedih terus, bukan?
Ingat, dirimu adalah apa yang kamu pikirkan! Dirimu adalah apa yang kamu
rasakan dan dirimu bukanlah apa yang orang lain katakan. Kamu adalah kamu, dan
mereka bukanlah kamu. Menepilah sejenak, sampai perasaaan mu sudah lega; sampai
kamu sudah kembali mengenal dirimu sendiri; dan sampai kamu sudah bisa menerima
dirimu sendiri tanpa perlu mendapatkan validasi. Berdamai dengan keadaan, berteman
dengan masalah adalah kunci untuk menata hati.
Percaya pada dirimu bahwa kamu mampu bangkit! Katakan pada masalahmu
bahwa hatimu lebih besar daripada masalah sekecil ini! Maka, untukmu yang pernah
atau sedang terluka: kamu hebat, kamu kuat, buktinya kamu sudah berada di titik ini dan
melewati masa-masa yang mungkin lebih sulit dari ini.
Berdamai dengan keadaan itu mungkin terlihat mudah tapi ketika kamu ada di
posisi sulit, mampu menerima keadaan adalah hal yang paling sulit. Tersenyum pun
bahkan menjadi hal yang paling berat. Jangankan untuk tersenyum sekedar beranjak
dari kasur pun sangat berat sekali.
Menepi sejenak! Jangan terlalu terburu-buru untuk bangkit supaya dirimu
terlihat kuat. Jalani dan terima apa yang menimpa kamu, biarkan hati dan jiwamu
menerimanya juga. Ajari hatimu agar bisa menerima kenyataan karena ada banyak hal
yang hanya bisa diterima tapi tidak bisa dirubah. Biarkan hatimu dalam keadaan
siap, perlahan dirimu akan kuat dan mampu untuk bangkit dan keluar dari masalah
terbesar dalam hidupmu.
Jangan pernah merasa sendiri! Kamu perlu melihat ke bawah untuk belajar
menerima bahwa ada orang yang lebih sulit dan ujiannya mungkin tak sebanding
dengan yang kamu rasakan. Ketika kamu melihat orang di sekitarmu, kamu akan tahu
bahwa ada satu hal yang selalu kita lupakan yaitu bersyukur.
Bersyukur atas apa yang telah kita terima baik ataupun buruk. Tak ada yang
buruk jika kamu melihat dari sisi yang lain. Kamu akan tau bahwa yang terlihat buruk
itu justru sebenarnya baik untukmu.
Masalah yang menimpa setiap orang itu sudah terukur, semua tak akan tertukar,
setiap orang punya porsinya masing-masing. Bukankah Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya?

124
Percayalah, kamu di ciptakan untuk kuat menghadapi setiap masalah yang
datang pada hidupmu. Kamu boleh menangis malam ini tapi kamu memiliki alasan
untuk tersenyum esok hari, berbahagialah! Bahagia adalah sebuah keputusan. Ketika
kamu sudah mengambil keputusan, tempatkan kepercayaanmu pada Allah. Allah
memliki rencana untuk hidupmu, maka berberdoa dan mintalah petunjuk untuk
menjalaninya; kesabaran untuk menanti jika kamu belum tahu kapan itu datang. Allah
mengetahui setiap isi hati kita. Allah memahami doa kita bahkan ketika tidak mampu
berkata-kata untuk memunajatkannya.
Jika kamu merasa hampa, isilah kehampaan itu dengan mengingat Allah!
Tempatkan harapanmu pada Allah, bukan pada dia atau mereka; bukan pada manusia
tapi pada Sang Pencipta.
Jika kamu terluka karena sebuah kejahatan atau sebuah penghianatan, jangan
balas dengan sebuah kejahatan atau kebencian. Balaslah semuanya dengan sebuah
pengampunan dan kebaikan. Sungguh, menyimpan dendam pada hatimu hanya akan
merusak jiwa dan ragamu.
Kuteringat sebuah kisah seorang wanita yang ternyata selama ini dikhianati.
Selama ini dia mencintai pasangannya dengan sepenuh hati, menerima segala
kekurangan dan kelebihan pasangannya, ikhlas berjuang mempertahankan cintanya, dan
menjalani setiap episode hidupnya yang penuh kejutan dengan senang hati baik ataupun
buruknya. Namun, ternyata selama ini dia berjuang dalam sebuah kebohongan. Dia
dikhianati dengan ketidakjujuran yang mengerikan dari pasangannya sehinga membuat
hubungan mereka harus terpisah dengan terpaksa. Kamu tahu? Ini menjadi sebuah titik
terberat untuk sang wanita itu karena akhirnya kini mereka harus terpisah akibat sebuah
alasan yang membuat mereka tidak bisa untuk bersama lagi. Bak disambar petir di siang
bolong, wanita itu merasa dirinya hancur dan berada di fase terberat dan terburuk dalam
hidupnya. Namun, di sisi lain dia juga merasa ini masih sebuah keajaiban karena dia
mengetahui semua kebenarannya lebih awal. Pada saat itu juga, dia kehilangan cintanya.
Banyak hal yang berubah setelah itu, dia menjadi wanita yang lebih tangguh dan
berani. Dia mampu bertahan dan bangkit untuk menjalani semua seperti seharusnya,
bahkan kini lebih baik. Tapi di balik keberhasilannya itu, banyak kisah yang membuat
ia mampu untuk kembali berdiri.

125
Pernah suatu hari dia merasa frustasi, merasa tak mampu dan tak sanggup lagi
untuk menjalani semuanya. Dia ingin berteriak; dia ingin menangis; dia ingin tertawa
secara bersamaan. Kemudian, dia bertemu dengan sebuah kenyataan bahwa
kebahagiaan dan kenyamanan itu kita yang ciptakan. Bagaimana kita bisa
membahagiakan orang lain, jika kita tidak mampu membahagiakan diri kita sendiri?
Bagaimana kita akan merasa nyaman, jika kita sendiri yang membuatnya tak nyaman?
Kebahagiaan itu kita yang cari dan kita ciptakan. Kita tidak bisa mengandalkan
orang lain untuk membuat kita bahagia. Bahagia adalah sebuah pilihan dan kebahagiaan
bukan hanya tentang pasangan. Kegagalan tidak berarti membuat kita tidak bisa bahagia
selamanya. Tidak mengapa gagal, agar kita bisa belajar. Tak mengapa salah agar kita
bisa berbenah. Semua itu penting untuk jiwa dan ragamu, agar kamu mampu bertahan
dan mengerti arti perjuangan.
Kamu boleh marah; kamu boleh menangis; kamu mungkin kecewa; kamu boleh
ekspresikan apa yang hari ini kamu rasakan. Tapi, semua harus pada porsinya agar
kamu mampu mengendalikan dirimu. Kendalikan amarahmu; bawa dia pada jalan yang
baik yang mampu membuatmu menjadi orang yang lebih baik; tunjukan pada
masalahmu bahwa kamu mampu menaklukannya. Jika marah dan kecewa membuatmu
ingin melakukan hal yang buruk atau menuntunmu pada jalan yang salah, berbaliklah
pada Sang Maha Pencipta. Allah tetap mencintaimu di saat tergelapmu, Ia bahkan
mengampunimu walau dalam kegagalan terbesarmu. Ada penghargaan untuk setiap
perjuanganmu; ada anugrah tersembunyi dibalik setiap kesusahan yang kamu rasakan.
Bahkan jika ribuan kali kamu gagal, rahmat Allah selalu ada untukmu.
Jika hati mulai merasa galau, risau, atau lelah segeralah bertaubat dan berdzikir
untuk menghilangkan rasa itu. Ketika kita punya masalah, serahkan semuanya pada
Allah. Jangan terus larut dalam memikirkan masalah tersebut. Boleh jadi, kepenatan
yang dirasakan itu berasal dari dosa-dosa kita dan kedzaliman kita kepada Allah.
Bertobatlah dan berdzikirlah, hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man-
nashiir, cukuplah Allah bagi kita dan hanya kepada-Nya kita memasrahkan diri.
Jika kita penat dengan masalah hidup, berwudhulah kemudian baca Al-Quran.
Penyakit bukan hanya datang dari lemahnya fisik, melainkan bisa jadi karena pikiran
yang kurang terkelola dengan baik. Kita harus pandai-pandai mengendalikan hati,
jangan larut dalam kesedihan. Bukan berarti kita tidak boleh merasa galau, sedih,

126
kecewa, marah, atau bahkan menangis. Perasaan senang dan sedih, menangis dan
tertawa adalah sesuatu yang manusiawi. Seperti firman Allah dalam surat An-Najm ayat
43
“ Dan sesungguhnya Dialah yang menjaadikan seseorang tertawa dan
menangis.”
Kita boleh saja sedih ataupun menangis. Jika ingin menangis, menangislah!
Dengan begitu rasa sesak di dalam dada akan sedikit berkurang. Lalu mengadulah
kepada Allah dan minta petunjuk agar kita kuat dan mampu memperbaiki semuanya.
Ketahuilah, orang yang beriman akan mampu tersenyum walau dia sedang
dalam kesedihan. Senyumannya menandakan bahwa dia ridho kepada takdir yang Allah
berikan. Tabah menghadapi cobaan hidup dan sanggup menyongsong masa depannya.
Orang yang mampu tersenyum dalam kondisi seperti itu menandakan bahwa hatinya
bebas dari kedengkian dan amarah. Keceriaan yang terlukis di wajahnya adalah buah
dari kemampuannya mengendalikan emosi dan pikirannya.
Akan ada saatnya, apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan bisa terlaksana
sesuai harapan, tapi ada pula saatnya ketika apa yang kita idam-idamkan ternyata tidak
sesuai harapan. Ketika kita diuji dengan hal yang tidak sesuai dengan keinginan
disitulah kita harus belajar menerapkan keikhlasan dan keridhoan kita. Ya, kita harus
ridho pada ketentuan Allah. Kita manusia boleh berencana, tapi Allah-lah yang berhak
atas segala kejadian. Ujian seperti ini adalah ujian keimanan, di sinilah kita harus
belajar ridho. Tingkat keridhoan kita akan menuntun pada pemilihan sikap terbaik.
Orang yang akan merasakan kelezatan iman adalah orang yang yakin bahwa Allah-lah
yang mengurus dan yang akan menyelesaikan setiap masalahnya, dari urusan yang kecil
dan yang terbesar. Kita harus siap diatur oleh Allah karena setiap keinginan kita belum
tentu sesuai dengan keinginan-Nya.
Ada tiga macam ridho yaitu ridho kepada perintah Allah, ridho kepada larangan
Allah, dan ridho kepada ketetapan Allah. Apabila kita memiliki ketiga ridho tersebut,
maka kita akan mampu merasakan lezatnya iman.
Intinya setiap orang pasti akan merasakan hadirnya emosi negatif: marah, sedih,
kecewa, benci, dan sejenisnya datang silih berganti begitupun sebaliknya. Terkadang
kita bingung sendiri bagaimana menyelesaikannya dan keluar dari himpitan masalah
yang datang. Tapi sebetulnya akan lebih mudah menghadapi semuanya ketika kita

127
mampu untuk ridho atas apapun yang datang pada hidup kita. Boleh jadi apa yang kita
rasa buruk itu sebenarnya adalah yang terbaik menurut Allah. Berprasangka baik atas
apapun. Orang yang senang berbaik sangka dan ridha kepada Allah biasanya akan lebih
sehat jasmani dan rohaninya. Tancapkan pada diri kita bahwa kita mampu menghadapi
apapun dan ridho atas apapun yang telah Allah tetapkan. Ketika Allah berkehendak
sesuatu itu terjadi maka terjadilah, tidak akan pernah luput. Camkan dalam-dalam
nasihat Rasulullah saw. bahwa siapapun yang ridha akan ketentuan Allah, niscaya
Allah akan meridhoi orang itu.

Bionarasi
Yuni Nurrahmah namanya, lahir 23 Juni 1996 di Bandung.
Seorang single mother yang tetap berusaha produktif dan
berjuang untuk membesarkan seorang anak, mencari nafkah
yang halal dan tetap bahagia bersama anaknya. Cita-citanya
adalah menjadi ibu yang tak suka marah-marah, hobinya
nonton drakor, selalu menyebut dirinya Mamak Limited
edition. Si melankolis yang kadang sanguinis | Punya keinginan
jadi Mamak yang hafal Al Qur’an 30 Juz | Si cuek yang
menyukai romantis | Si langit biru yang mencintai langit malam
| Si tukang nangis yang suka marah-marah | Si nekat yang
takut sendirian | Si kantong tipis yang hobi traveling | Jejaknya bisa dilacak melalui
akun instagram @unhayuun. Kicauannya kadang terselip di akun facebook Yuni
Nurrahmah.

128