Anda di halaman 1dari 6

TUGAS INDIVIDU I

IMPLIKASI TEORI PSIKOANALIS, KOGNITIF, DAN ETOLOGI DALAM


PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan dan Belajar Peserta Didik
Dosen Pengampu: Dr. Muhammad Nur Wangid, M.Si

.
Disusun Oleh

AFRILIA NOVITASARI
NIM. 19712251003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2020

1
IMPLIKASI TEORI PSIKOANALIS, KOGNITIF, DAN ETOLOGI DALAM
PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

A. IMPLIKASI TEORI PSIKOANALISIS


1. Teori Psikoanalisis Sigmund Freud
Implikasi atau pengaplikasian teori perkembangan psikoanalisis Sigmund
Freud di Sekolah Dasar dapat dilakukan dengan cara-cara berikut (Crain, 2014:
418):
a. Dalam proses pembelajaran dapat diterapkan dengan konsep disiplin,
dimana disiplin biasanya bersifat memaksa kemudian akan membuat siswa
menjadi malu. Contohnya, ketika guru memberikan tugas atau PR
kemudian diberi batas waktu pengumpulan. Anak yang tidak
mengumpulkan akan merasa malu, sehingga tidak akan mengulanginya
kembali.
b. Adanya pendidikan seks dalam proses pembelajaran agar siswa dapat
mempelajari reproduksi di dalam pembelajaran baik tentang alam maupun
hewan.
c. Pengenalan perbedaan kelamin dalam pembelajaran bertujuan agar anak
dapat menghargai perbedaan satu dengan yang lainnya.
d. Apabila siswa melakukan kesalahan, guru hendaknya tidak langsung
mengkritisi ataupun menghukum dengan ceroboh, melainkan
mendengarkan alasan siswa dengan bersikap sabar dan memotivasi siswa
sehingga dapat membantu permasalahan siswa.

2. Teori Psikososial Erik H. Erikson


Implikasi atau pengaplikasian teori perkembangan psikososial Erik H. Erikson
di Sekolah Dasar dapat dilakukan dengan cara-cara berikut (Crain, 2014: 418):
a. Guru membantu siswa untuk menciptakan dan mengembangkan sesuatu
yang baru. Misal, saat pembelajaran keterampilan di kelas. Guru meminta
siswa untuk membuat kerajinan yang berasal dari barang bekas. Kemudian

1
guru mengamati barang-barang yang di buat siswa sesuai keingan siswa
dan membantu jika ada siswa yang tidak bisa.
b. Guru memotivasi siswa untuk menceritakan hasil karyanya didepan kelas.
Hal tersebut bertujuan untuk mengembangkan perasaan bangga terhadap
keberhasilan dan keampuan yang siswa miliki.
c. Guru membangun perasaan kompeten dan percaya diri dengan apa yang
siswa miliki. Misalnya guru memotivasi siswa untuk berani bertanya
kepada guru atapun temannya tentang sesuatu yang menurutnya baru.

B. IMPLIKASI TEORI KOGNITIF


1. Teori Kognitif Jean Piaget
Implikasi atau pengaplikasian teori perkembangan kognitif Jean Piaget di
Sekolah Dasar dapat dilakukan dengan cara-cara berikut (Crain, 2014: 209):
a. Dalam proses pembelajaran, guru seharusnya tidak memaksakan
pengetahuan kepada siswa-siswa, tetapi lebih kepada bagaimana materi-
materi pelajaran tersebut dapat menarik dan menantan siswa untuk belajar
kemudian membiarkan mereka menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi dengan cara mereka sendiri.
b. Pemberian tugas kepada siswa juga harus menekankan pada instruksi yang
disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
c. Guru juga harus dapat mengetahui karakteristik masin-masing siswa untuk
mengetahui tingkat ketertaikan dan gaya belajar siswa. Contohnya, jika
seorang siswa telah memasuki tahap berpikir konkret makan siswa akan
mulai berpikir secara logis waluapun sebagian dari pemikirannya masih
terikat pada objek-objek dan aktivitas konkret. Sehingga, dalam proses
pembelajaran guru hendaknya menghadirkan pembelajaran yang
memberikan kesempatan siswa untuk belajar menghadapi permasalahan
secara aktif dengan hal-hal yang riil. Contoh lain adalah, siswa yang tinggal
di dekat pantai. Jika guru mengajarkan materi penjumlahan, maka
seharusnya contoh-contoh yang digunakan guru adalah barang-barang yang
setiap harinya dilihat oleh siswa di sekitar pantai, misalnya ikan tuna
2
ataupun udang. Sehingga proses penemuan aktif dan disesuaikan dengan
tahap perkembangan siswa.
d. Teori ini juga menekankan pada perkembangan kognitif tergantung pada
akomodasi. Oleh karena itu, siswa sekolah dasar harusnya diberikan suatu
areal yang belum diketahui, agar siswa dapat belajar. Dengan adanya area
baru siswa akan memberikan suatu udaha-usaha untuk mengakomodasi.
Sutuasi atau area itulah yang akan mempermudah perkembangan kognitif
(Djaali, 2008: 76).
e. Siswa mampu menciptakan suktur mental dengan cara
menginternalisasikan schema-schema tindakan dengan melakssiswaannya
secara berulang-ulang untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran
(Khodijah, 2014: 83).
f. Guru harus memotivasi siswa untuk berinteraksi sebagai sumber
perkembangan kognitifnya.

2. Teori Sosial Budaya Lev Vygotsky


Implikasi atau pengaplikasian teori perkembangan social budaya Lev Vygotsky
di Sekolah Dasar dapat dilakukan dengan cara-cara berikut (Crain, 2014: 372):
a. Guru harus bertindak sebagai scaffold yang memberikan bimbingan dan
dorongan yang cukup untuk membantu siswa mencapai kemajuan.
Contohnya guru membantu siswa belajar penjumlahan sendiri, mula-mula
guru membantu menberikan instruksi dan contoh bagaimana bagaimana
cara menjumlahkan, dan ketika siswa telah mampu menjumlah sendiri,
guru membiarkan siswa tersebut melakukan sendiri tugas tersebut. Seorang
guru memverbalisasikan pemikirannya saat a memecahkan masalah
pecahan pada papn tulis.
b. Pembelajaran harus berupaya “mempercepat” level penguasaan terkini dari
siswa.
c. Untuk menginternalisasikan keterampilan pada anak-anak, pembelajaran
harus berembng dalam empat fase. Pada fase pertama, guru harus menjadi
model dan memberikan komentar verbal mengenai apa yang mereka
3
lakukan dan alasannya. Pada fase kedua, siswa harus berupaya mengimitasi
apa yang dilakukan oleh guru. Pada fase ketiga, guru harus mengurangi
intervensinya secara progresif begitu siswa telah menguasai keterampilan
tersebut. Keempat, guru dan siswa secara berulang mengambil peran secara
bergiliran.
d. Guru membentuk kelompok agar terjadi interaksi dengan siswa lain ketika
proses pembelajaran.
e. Guru dan siswa secara berulang bergantian peran dalam proses
pembelajaran. Tujuannya adalah agar terjalin pemahaman bersama.
Pemahaman bersama penting karena sebagai titik point awal bagi
perkembangan melalui pemecahan masalah bersama. Contohnya, ketika
guru memberikan tugas dalam konteks bermakna kemudian guru
melakukan dialog yang membantu siswa menganlisis masalah tersebut.
f. Anak-anak perlu berulang-ulang dihadapkan dengan konsep-konsep ilmiah
agar konsep spontan mereka menjadi lebih akurat dan umum.

C. IMPLIKASI TEORI ETOLOGI


1. Teori Etologi: Darwin, Lorenz-Tindbergen, dan Bowlby
Implikasi atau pengaplikasian teori perkembangan etologi: Darwin, Lorenz-
Tinbergen, dan Bowlby di Sekolah Dasar dapat dilakukan dengan cara-cara berikut
(Crain, 2014: 76):
a. Guru harus menajdi sesorang yang disukai siswanya baik dalam keadaan
apapun. Misalnya, saat awal mula sekolah akan banyak anak yang susah
ditinggal oleh orang tua hingga ada yang minta ditunggu. Guru harusnya
dapat membujuk siswa tersebut dengan sikap yang manis dan lebut
sehingga meninbulkan rasa percaya anak pad aorang baru.
b. Dalam pembelajaran guru hendaknya mengetahui masing-masing
karakteristik siswa, agar dapat memberikan perlakuan sesuai dengan
karakteristik anak tersebut dengan melakukan observasi dimana tempat
anak tersebut tinggal. Hal tersebut sesuai dengan teori etologi yang
menyatakan bahwa kita dapat memahami tingkah laku manusia dengan
4
mengamati lingkungan yang diadaptasinya, yaitu lingkungan dasar
tempatnya berkembang.
c. Guru hendaknya selalu mengawasi dan memantau siswa terutama pada
ank-anak kelas rendah yang masih rentan bertengkar dengan sebayanya
karena ingin merasakan hal yang dengan teman yang lainnya. Peran guru
harus memberikan instruksi mana hal-hal yang baik untuk ditiru dan
dilakukan dan mana yang kurang baik.
d. Pada fase 4 merupakan fase dimana anak mulai mengenal sekolah dengan
tingkah laku persahabatan. Pada fase ini anak lebih bersedia orang tuanya
pergi dan anak akan dapat bergantung pada teman sebaya ataupun orang
lain. Dalam proses pembelajaran hendaknya guru tidak selalu membiarkan
anak melakukan hal-hal di kelas secara sendiri tanpa pantauan. Guru
hendaknya menemani, membantu, serta mengarahkan saat anak
mengahadapi masalah ataupun krisis di dalam pembelajaran maupun diluar
pembelajaran selama masih dalam lingkup sekolah.