Anda di halaman 1dari 3

Tugas Kelompok 4

(Minggu 9 / Sesi 13)

Tulislah 2 halaman (Spasi 1,5/Times New Roman/Font 12) konsep kerja menurut ajaran agama
kalian! Bagaimana kalian menunjukkan makna ini dalam kerja/profesi kalian, tantangan apa
yang dihadapi, dan usaha konkret apa yang ditempuh untuk mengatasi tantangan ini?

Revisi…

Bagi orang beriman, kerja atau bekerja tidaklah hanya sekedar untuk mencari makan atau untuk
memenuhi kebutuhan hidup, melainkan sesuatu yang memiliki makna rohani-religius.

1. Jelaskan apa maksudnya makna rohani-religius kerja itu (beda dari makna lainnya,
seperti makna ekonomi, makna politik, makna budaya, dsb). Kaitkan penjelasan kalian
dengan beberapa pendasaran yang bisa digunakan untuk itu, seperti:
a. Pendasaran Kitab Suci (minimal satu teks Kitab Suci dari masing-masing agama
yang dianut oleh anggota kelompok, beserta pemahaman singkat tentang itu)
b. Kerja sebagai aktualisasi diri (yang diambil dari penjelasan Abraham Maslow
tentang piramida kebutuhan manusia)
c. Kerja sebagai bagian dari ibadah (yang membuat ibadah itu bukan hanya terbatas
di rumah-rumah ibadat saja, melainkan mencakup seluruh aktivitas sehari-hari,
khususnya kerja atau bekerja/berkarya).
2. Bagaimana gambarannya (ilustrasi kongkritnya) pribadi yang disebut religius itu
(khususnya dalam kaitan dengan pelaksanaan profesinya atau dalam hal melaksanakan
pekerjaanya)?

Jawaban dituliskan dalam 3 halaman (A4/Spasi 1,5/Times New Roman/Font 12).

CHAR6021 – Character Building: Agama


Manusia pada dasarnya terdiri dari lahir dan batin. Sehingga sesuai dengan keadaannya banyak
pula ragam kebutuhan manusia. Secara fisik, kehidupan manusia minimal memerlukan empat
kebutuhan pokok yang terdiri dari sandang, pangan, papan serta obat-obatan. Sehingga, agar
dapat mewujudkan semua kebutuhan tersebut maka orang kemudian bekerja dan berjuang dalam
masyarakat dengan penuh semangat untuk mendapatkan penghasilan.

Selain kebutuhan fisik tersebut di atas, manusia memerlukan pula pemenuhan kebutuhan
spiritual, yaitu agama. Agama yang merupakan kumpulan tata cara kehidupan untuk dapat
mencapai kebahagiaan duniawi maupun surgawi diperlukan agar orang memiliki landasan moral
dan kemantapan dalam setiap tindakan, ucapan maupun pikirannya yang dimana pada zaman
dahulu semua orang tidak banyak memikirkan cara-cara memperbaiki hidup, karena pada
umumnya mereka percaya bahwa hidup mereka telah diatur dan ditentukan oleh Tuhan. Bahkan
manusia tidak boleh melakukan upaya apapun termasuk bekerja untuk mengubah nasib artinya
setiap orang berkewajiban untuk mengikuti kehendak Tuhan apapun yang terjadi

Seiring berkembangnya zaman hampir semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk
memberikan sedekah kepada orang yang lebih membutuhkan, sehingga mendorong pemeluknya
untuk giat bekerja demi mendapatkan rezeki dan berkah dari Tuhan-Nya, itu artinya memberi
lebih baik daripada meminta dan untuk dapat memberi tentunya seseorang harus mempunyai
kelebihan agar dapat diberikan kepada sesamanya yang kekurangan, akan tetapi ketika ingin
memberi tidak hanya saja berkecukupan secara material akan tetapi juga kedalaman spiritual
sehingga memberi juga merupakan panggilan sosial keagamaan

Semangat yang diajarkan oleh setiap agama pada dasarnya ialah semangat bekerja agar dapat
memberi kepada sesamanya yang lebih membutuhkan. Seorang agamawan yang baik adalah
yang tidak hanya meminta kepada Tuhan-Nya tentu dengan upaya yang telah dikerjakannya
kemudian memberi terhadap sesamanya. Oleh karena itu, dengan semangat memberi mendorong
manusia untuk bekerja keras, demi mencapai kemampuan yang maksimal.

Selain dengan tujuan memberi sesame, setiap agama juga menganggap bekerja untuk mencari
nafkah adalah sebuah ibadah. Contohnya islam, Islam adalah agama yang mengajarkan kepada
umatnya untuk bekerja keras mencari nafkah. Islam sangat mencela umat yang malas yaitu
mereka yang hanya menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang lain dan memenuhi

CHAR6021 – Character Building: Agama


kebutuhan hidupnya dengan cara meminta-minta. Lebih jauh, dalam Islam, kerja merupakan
ibadah. Membanting tulang mencari nafkah yang halal untuk kebutuhan keluarga merupakan
ibadah yang bernilai sangat tinggi bahkan termasuk jihad. Allah sangat menghargai kerja keras
dan karya nyata seseorang.

Rasulullah saw bersabda

“Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja)
sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan
pembantunya adalah sedekah.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis tersebut hendaklah menjadi pemantik setiap Muslim untuk bersemangat bekerja. Karena
bekerja merupakan bagian dari kehendak dasar (fitrah) setiap orang. Maksudnya, setiap orang
yang normal dan sehat akalnya tentu akan merasa senang bekerja guna memenuhi kebutuhannya,
dan merasa ada sesuatu yang hilang bila tidak memiliki pekerjaan

Tidak dibenarkan seorang Muslim bermalas-malasan, hanya berharap belas kasih dari orang lain
pada hal sebenarnya masih mampu bekerja dengan kekuatan fisiknya. Tidak dibenarkan
menyianyiakan waktu luang hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. ”Dan jika telah selesai
satu pekerjaan maka segeralah mengerjakan pekerjaan lain”. Begitu isyarat Al-Qur’an (Qs
AlInsyirah [94]: 7).

Bekerja mencari nafkah bagian dari kewajiban seorang Muslim. Karena itulah Islam memberi
penghargaan yang besar kepada mereka yang bekerja keras mencari nafkah. Dalam Islam tidak
dibeda-bedakan jenis-jenis pekerjaan, prinsipnya semua pekerjaan diperbolehkan kecuali yang
jelas-jelas dilarang. Berdagang atau menawarkan jasa pada dasarnya boleh, yang dilarang adalah
bila caranya curang dan barang dagangannya haram

Tentu saja, yang perlu diingat adalah bekerja harus dengan cara halal. Seorang pedagang,
misalnya, tidak menipu pembeli atau curang dalam menakar. Seorang pegawai tidak mengurangi
jam kerjanya, seorang pimpinan tidak korupsi atau melakukan mark-up. Begitupun dengan para
pejabat, tidak korupsi atau menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya untuk kepentingan
diri dan golongannya

CHAR6021 – Character Building: Agama