Anda di halaman 1dari 13

Arti Lambang Kabupaten Simalungun

Arti Lambang Kabupaten Simalungun


A. Lambang Kabupaten Simalungun :
Dasar : Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun Nomor 5 Tahun 1960
B. Arti Lambang :
1. Lambang berbentuk perisai terbagi lima petak dengan dasar lambang hijau lahan
2. Bagian dari atas lambang digambarkan hiou Suri-suri dengan warna hitam yang
bersuat ( bersifat ) putih pada hiou Suri-suri bagian atas tertulis nama Daerah
Simalungun dengan tulisan warna putih.
3. Petak kiri atas dan bawah kanan dengan warna merah darah
4. Petak kiri bawah dan kanan atas dengan warna putih
5. Petak di tengah-tengah dengan warna kuning emas
6. Gambar pada petak kiri bawah setangkai padi dengan 17 butir, warna kuning
emas.
7. Gambar pada petak kiri atas daun the dengan jumlah 8 helai dengan warna hijau.
8. Gambar pada letak kanan atas Bukit Barisan berpuncak dan dua buah puncak di
tengah lebih tinggi dari yang disampingnya dengan warna biru dan sebelah
bawah gelombang danau empat baris warna biru muda
9. Gambar petak kanan bawah, bunga kapas 5 kuntum dengan warna putih dan
kelopak bunga warna hijau.
10. Gambar pada petak tengah rumah balai adat dengan susunan galang 10,7 anak
tangga, jerjak 8 sebelah, tiang 4, sudut atap lima dan pada rabung atas sedang
gambar kepala kerbau dengan warna atap hitam dan galang warna putih.
11. Garis batas-batas petak dengan warna hitam dan sebelah luar perisai tepi hiou
Suri-suri ditambah dengan garis putih.
12. Pita sebelah bawah perisai dengan warna putih tepinya warna hitam tempat
menuliskan semboyan lambang.
13. Semboyan lambang HABONARON DO BONA dalam bahasa Daerah
Simalungun yang artinya kebenaran itu adalah pokok.
Makna gambar-gambar pada lambang :
1. Lambang berbentuk perisai adalah menggambarkan kekuatan dan pertahanan
membela kepentingan daerah dan negara.
2. Bilangan-bilangan pada bagian-bagian lambang adalah simbolik yang
menggambarkan kesetiaan kepada Negara RI
3. Padi dan Kapas kebutuhan pokok untuk mencapai kemakmuran dan keadilan
4. Daun the adalah penghasilan yang utama dari Daerah Simalungun
5. Gunung dan Danau adalah menggambarkan keindahann alamnya
6. Gelombang Danau menggambarkan dinamika masyarakat
7. Rumah Balai adalah spesifik daerah yang menggambarkan adat kebudayaan dan
kesenian daerah.
Tujuan Pembangunan
Pembangunan Daerah
I. Tujuan Pembangunan Daerah
a. Meningkatkan taraf hidup masyarakat
b. Memperluas lapangan kerja.
c. Pemerataan pendapatan masyarakat
d. Peningkatan hubungan ekonomi regional, nasional maupun internasional
II Sumber – Sumber Pendapat Daerah
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
1. Pajak Daerah
2. Restribusi Daerah
3. Hasil BUMD
b. Dana Perimbangan
1. Bagi Hasil Pajak (BBNKB, BBM, BPHTB)
2. D A U (Block Grant)
3. D A K (Spesifik Grant)
c. Pinjaman Daerah
1. Dalam Negeri
2. Luar Negeri
3. Obligasi Daerah
d. Lain – lain penerimaan yang sah
1. Annual Fee
2. Hibah
3. Bantuan Darurat.
II. Sasaran Pembangunan
Sasaran Pembangunan melalui Bidang :
1. Bidang Ekonomi
2. Bidang Phisik
3. Bidang Sosial Budaya
Untuk melaksanakan sasaran tersebut diwujudkan melalui :
1. Propeda
2. Rencana Strategis
Rencana Strategis Pembangunan di Kabupaten Simalungun di Prioritaskan dalam bidang
a. Bidang Pertanian
b. Bidang Perkebunan
c. Bidang Pariwisata
Bidang – bidang ini perlu dikembangkan sesuai dengan Potensi Kabupaten Simalungun
yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat membuka lapangan
pekerjaan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam Pengumpulan Data Potensi
Daerah Kabupaten Simalungun ini akan kami prioritaskan mengumpulkan data tentang
bidang Parwisata di Kabupaten Simalungun sehubungan Program Pemerintah Republik
Indonesia tentang Tahun Kunjungan Wisata 2008 .
Visi dan Misi Kabupaten Simalungun periode 2006-2010
Visi pemerintah Kabupaten Simalungun periode 2006-2010 adalah :
“Mengantarkan Kabupaten Simalungun menjadi daerah yang mandiri, inovatif, kreatif,
dan produktif melalui pemberdayaan sumber daya manusia yang beriman dan taqwa
menuju masyarakat yang sejahtera”
Misi Untuk meningkatkan visi Kabupaten Simalungun diatas, maka ditetapkan misi
sebagai berikut :
1. Meningkatkan kemampuan aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan
publik kepada masyarakat maupun aparatur pemerintah lainnya.
2. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan dan pemerataan
pembangunan maupun pemanfaatan hasil-hasil pembangunan.
3. Mendorong terciptanya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
sehingga mempunyai daya saing yang tinggi.
4. Mendorong terciptanya good governance yang tercermin dalam bentuk
pemerintahan (eksekutif), legislatif dan masyarakat yang kuat dengan menganut
prinsip transparansi, penegakan hukum dan hak asasi manusia serta akuntabilitas.
5. Mengupayakan terciptanya pelaksanaan pembangunan yang berwawasan
lingkungan
6. Mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan untuk menjamin ketahanan
ekonomi daerah melalui pemberdayaan koperasi.
7. Mendorong terciptanya iklim yang kondusif dalam upaya memacu perturbation
ekonomi melalui sektor agribisnis dan pariwisata.

Kabupaten Simalungun
Kabupaten Simalungun

Lambang Kabupaten Simalungun


Peta lokasi Kabupaten Simalungun
Koordinat : 02°36' - 03°18' LU dan 98°32' - 99°35'BT.
Motto HABONARON DO BONA
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim '
Provinsi Sumatera Utara
Ibu kota Raya
Luas 4.386,60 km²
Penduduk
· Jumlah ~ 823.109
· Kepadatan - jiwa/km²
Pembagian
administratif
· Kecamatan 30
· Desa/kelurahan 323
Dasar hukum -
Tanggal -
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati/Wakil Drs. T. Zulkarnaen
Damanik MM/ Pardamean
Siregar,SP.
Kode area +622
telepon
APBD {{{apbd}}}
DAU -
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: http://www.simalungunkab.go.id

Kabupaten Simalungun adalah sebuah kabupaten di Sumatera Utara, Indonesia.


Bupatinya saat ini adalah Drs. T. Zulkarnaen Damanik, M.M. yang sedang bertugas
untuk masa bakti 2005–2010. Wakil Bupati Pardamean Siregar, S.P. yang juga Ketua
KNPI Simalungun. Ibu kota kabupaten telah resmi berpindah ke Pematang Raya pada
tanggal 23 Juni 2008[1] dari Kota Pematangsiantar yang telah menjadi daerah otonom,
setelah tertunda selama beberapa waktu.

Geografi
Kabupaten ini memiliki 30 kecamatan dengan luas 438.660 ha atau 6,12 % dari luas
wilayah Provinsi Sumatera Utara. Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan
Tanah Jawa dengan luas 49.175 ha, sedangkan yang paling kecil luasnya adalah
Kecamatan Dolok Pardamean dengan luas 9.045 ha. Keseluruhan kecamatan
terdiri dari 306 desa dan 17 kelurahan. Di Kabupaten ini juga terdapat sebuah
universitas, yaitu Universitas Simalungun, tepatnya di Jalan Sisingamangaraja.

Batas wilayah
Utara Kabupaten Serdang Bedagai
Selatan Kabupaten Toba Samosir
Barat Kabupaten Karo
Timur Kabupaten Asahan
Potensi Ekonomi
Potensi ekonomi kabupaten Simalungun sebagian besar terletak pada produksi
pertaniannya. Produksi lainnya termasuk tanaman pangan, perkebunan, pertanian
lainnya, industri pengolahan serta jasa. Produksi Padi di Kabupaten Simalungun
merupakan produksi terbesar kedua di Sumatera Utara pada tahun 2003 sesudah
Kabupaten Deli Serdang.[2] Produksi Kelapa sawit dari perkebunan yang ada di
kabupaten ini menjadi komoditas utama, kedua terbesar di Sumatera Utara setelah
Kabupaten Labuhanbatu (2001)[2].
Selain memproduksi Kelapa Sawit, perkebunan rakyat di Simalungun juga menghasilkan
Karet dan Cokelat, selain Teh (Kecamatan Raya dan Sidamanik) yang jumlah
produksinya semakin menurun. Penjualan hasil tani Karet dibantu oleh kehadiran PT
Good Year Sumatra Plantations (didirikan 1970) yang biarpun memiliki perkebunan
sendiri tetapi tetap menampung hasil perkebunan rakyat dan mengolahnya menjadi bahan
setengah jadi sebelum menjualnya ke luar daerah.

Kabupaten Simalungun terletak antara 2,36° – 3,18° LU dan 98,32° –


99,35° BT, berada pada ketinggian 20 – 1.400 m diatas permukaan laut. Sebelah
barat berbatasan dengan Kabupaten Karo, sebelah timur dengan Kabupaten
Asahan, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai dan
sebelah selatan dengan Kabupaten Toba Samosir. Keadaan iklim Kabupaten
Simalungun bertempratur sedang , suhu tertinggi terdapat pada bulan juli dengan
rata-rata 26,4°C. Rata – rata suhu udara tertinggi pertahun adalah 29,3°C dan
terendah 20,6°C. Kelembapan udara rata-rata perbulan 84,2 % dengan
kelembapan tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu 87,42% dengan
penguapan rata-rata 3,35mm/hari.
Kabupaten Simalungun dengan luas 4.386,60 Km² atau 6,12% dari luas
wilayah Propinsi Sumatera Utara terdiri dari 31 Kecamatan, 343 desa /nagori dan
24 Kelurahan dengan jarak rata-rata ibukota kecamatan ke ibukota kabupaten
antara 13 km s/d 97 km.
B. KEADAAN PENDUDUK
Berdasarkan hasil Registrasi Penduduk oleh BPS Pemerintah Kabupaten
Simalungun dalam Simalungun Dalam Angka 2008, jumlah penduduk Kabupaten
Simalungun adalah 846.329 yang terdiri dari 423.747 orang laki-laki dan 422.582
orang perempuan dengan perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan (sex
ratio) sebesar 100,3 dan kepadatan penduduknya sebesar 192,9 jiwa/Km². Luas
wilayah terbesar berada di Kecamatan Raya dengan luas 335.60% Km² dan
wilayah terkecil di Kecamatan Haranggaol Horison 34.50 Km². Jumlah penduduk
terbesar berada di Kecamatan Bandar dengan 66.739 jiwa dan terkecil berada di
Kecamatan Haranggaol Horison dengan jumlah penduduk 5.789 jiwa.
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa penduduk Kabupaten
Simalungun pada umumnya berada pada komposisi penduduk yang produktif yaitu
pada umur 10 – 14 tahun dengan persentase 11,85%, sedangkan komposisi
penduduk terkecil berada pada golongan umur 70 – 74 tahun dengan persentase
1,40 % dari jumlah penduduk.
C. PEMBANGUNAN EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA
Salah satu indikator keberhasilan kinerja pembangunan sosial ekonomi
suatu pemerintahan adalah tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/ Human
Development Index (HDI) yang diukur dari angka harapan hidup, tingkat melek
hurup dan standar hidup layak. Pada tahun 2007 angka IPM Kabupaten
Simalungun sebesar 72,09 lebih tinggi dibanding tahun 2006 (71,82) atau naik
0,27. Berada pada urutan 15 dari 26 kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Utara.
Produk Domestik Regional Buruh (PDRB) Kabupaten Simalungun pada
tahun 2007 sebesar Rp 7,647 Triliun, naik sebesar Rp. 765 Milyard dibanding
tahun 2006 yang berjumlah Rp 6,881 Triliun, atau meningkat 11,13%. Faktor
utama pendorong laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Simalungun adalah
sektor pertanian khususnya sub sektor perkebunan yang laju pertumbuhannya
mencapai 6,51%. Kontribusi sektor pertanian adalah yang terbesar yakni 54,27%
disusul oleh sektor industri 18,20% dan sektor jasa-jasa 11,25%. PDRB perkapita
Kabupaten Simalungun tahun 2007 sebesar Rp. 9,036 Juta atau naik 11,07%
dibandingkan tahun 2006 ( Rp. 8,135 Juta).
Persentase rata-rata pengeluaran perkapita dalam sebulan di Kabupaten
Simalungun menurut susenas 2006 untuk makanan sebesar 65,89% dan non
makanan sebesar 34,11%. Dibandingkan susenas 2004 untuk makanan (70,36%)
dan non makanan (29,64%), maka rata-rata pengeluaran untuk makanan
mengalami penurunan, namun untuk non makanan mengalami peningkatan.
Angka ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat di Simalungun untuk
memenuhi pangan 1,9 kali lebih tinggi dari kebutuhan non pangan. Rata-rata
pengeluaran perkapita penduduk berkisar antara Rp 150.000- Rp 300.000, dimana
24,61% penduduk berada pada rata-rata pengeluaran Rp 150.000- Rp 199.999
dan 36,90% penduduk dengan tingkat pengeluaran antara Rp 200.000- Rp
300.000

Biodata JR Saragih

Nama lengkap :
DR.Jopinus Ramli SARAGIH, S.H,M.H.
Tempat/ tanggal lahir: medan, 10-11-'68
Pekerjaan:
Pres. Komisaris RS.EFARINA ETAHAM GRUP..

Istri: dr.ERUNITA BR.TARIGAN GIRSANG, SPKK..


Tempat/tanggal lahir: medan, 19-06-73.
Pekerjaan: dokter sp.kulit dan kelamin.

Anak: Efarina br. Saragih


Tempat/tanggal lahirl: medan, 16-7-03
Pekerjaan: pelajar

Alamat rumah: jln.raya pondok indah no.21, jakarta selatan


Jl. Sutomo Hapoltakan Sondi Raya Simalungun

Kemiskinan, kebodohan dan korupsi masih tetap ada di Kabupaten Simalungun


ini, apakah kita hanya diam. Tidak...hanya satu kata LAWAN
Mari Bangkitkan harga diri kabupaten Simalungun
Hanya Satu kata "PERUBAHAN"

Profil DR. JR Saragih. SH, MM Cabup Simalungun Periode 2010-


2015
Contributed by ***
Monday, 16 August 2010
Profil DR. JR Saragih. SH, MM Cabup Simalungun Periode 2010-2015 :
Pelayanan Merupakan Suatu Kebanggaan Bagi Kami

Simalungun, SPB
Siapakah yang layak dan pantas menjadi pemimpin di negara ini?. Pertanyaan itu menjadi
harapan banyak orang di seluruh tanah air, demikian di desa, kecamatan, kabupaten/Kota, di
Propinsi dan termasuk Pemimpin Nasional baik selaku Presiden, para pembantunya, demikian di
kalangan DPD, DPR, dan MPR di jajaran Eksekutif, di legislatif, demikiian di Yudikatif. Tujuannya,
agar rakyat bangsa Indonesia di manapun berada benar menjadi harapan rakyat yang dapat
meningkatkan kesejahteraan rakyat di seluruh tanah air. Pada tahun 2003 tanggal 11 April,
seorang Perwira Muda Polisi Militer yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Polisi Militer
di Purwakarta, Propinsi Jawa Barat. Siapakah dia, menjadi pertanyaan yang kini diungkapkan
oleh SPB dalam bentuk cerita indah kepada semua orang. Ia adalah DR. Jupinus Ramli Saragih,
SH, MM yang sering disebut hanya dengan nama DR. JR Saragih, saja. Jabatannya sekarang,
Presiden Komisaris RS. Efarina Etaham Group. Pertanyaan demi pertanyaan memerlukan suatu
jawaban sebagai pencerahan yang membuat rasa simpatik, yang tentu akan membuat warga
Kabupaten Simalungun dan warga Simalungun di perantauan bersimpatik. Isterinya, bernama dr.
Erunita Br. Tarigan Girsang, SPKK, yang bekerja selaku dokter Sp. Kulit dan Kelamin, ibu hasil
perkawinannya dengan DR. JR Saragih adalah Efarina br. Saragih yang kini masih selaku pelajar
di salah satu sekolah dengan alamat tetapnya adalah di Jl. Raya Pondok Indah No. 21, Jakarta
Selatan, dan juga beralamat tempat tinggal di Jl. Sutomo Hapoltakan Sondi Raya-Kabupaten
Simalungun. JR Saragih mendirikan sebuah Balai Asuhan Keperawatan yang berbadan hukum
Yayasan Etaham, Ijin Yayasan No.02/Y-E/IV/2003 pada Tanggal 14 April 2003. Balai Asuhan
Keperawatan 24 Jam ini berdiri di atas tanah seluas 770 m2. Pada tanggal 14 Oktober 2003
maka Balai Asuhan Keperawatan mendapatkan ijin perubahan menjadi Klinik Etaham dan
penambahan bangunan serta mempunyai ruang perawatan dengan kapasitas 25 tempat tidur
yang didukung dengan Dokter-dokter Spesialis, perawat, dokter umum sebagai dokter jaga dan
non medis sebagai tenaga administrasi, mempunyai Ruang Operasi, ICU, dan NICU, dengan
peralatan-peralatan yang canggih khususnya Bagian Kebidanan, dan Bagian Anak.Pada tanggal
7 Mei 2004. Pendiri berhasil menjadikan Rumah Sakit Ibu dan Anak dengan Ijin Operasional
sementara 064/RS/V/2004 tanggal 7 Mei 2004. Maka, dengan perubahan status tersebut, Pendiri
menambah nama menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak Efarina Etaham. Upaya lain, telah
dilakukan penambahan luas tanah menjadi 1800 M2 dan penambahan bangunan; maka Rumah
Sakit Ibu dan Anak ini menambah kapasitas pasien rawat inap menjadi 35 tempat tidur. Semua
itu bukan datang begitu saja, seperti hujan turun dari langit ke bumi. Tapi adalah atas dasar
ketekunan dan kepemimpinan yang begitu disiplin, sehingga Rumah Sakit tersebut menjadi
Rumah Sakit idola, hampir semua masyarakat khususnya masyarakat Purwakarta. Pada Tanggal
18 Januari 2005, terjadi perubahan Yayasan menjadi PT. Efarina Etaham yang sebagai pengurus
di dalamnya adalah Pendiri beserta Istri yaitu sebagai pendiri adalah DR. J.R. Saragih, SH, MM,
MMR dengan dr. Erunita Anggraeni Tarigan Girsang dan sekaligus membangun gedung yang
baru di atas lahan seluas 1,5 Ha dan membangun dengan bangunan 3 lantai yang berkapasitas
100 tempat tidur. Maka, dengan perubahan tersebut maka Rumah Sakit Ibu dan Anak ini menjadi
Rumah Sakit Umum tanggal 19 Januari 2005. Serta mendapatkan Ijin Operasional dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Purwakarta Nomor: 278 445.6/Dalkes/RS/XII/ 2005 tanggal 01 Desember
2005. Pada tanggal 27 Nopember 2006 mendapatkan Ijin dari Menteri Kesehatan atas nama
Pelayanan Medis Nomor: YM.02.04.3.5.5830Pada 24 Desember 2005 Jam 12 Malam maka
Pendiri dengan bersusah payah dapat memindahkan semua kegiatan operasional dari bangunan
Rumah Sakit yang lama pindah ke bangunan Rumah Sakit yang baru dan berjalan sampai
sekarang. Hari terus berjalan, pendiri tetap selalu setia dan teguh di dalam keputusan-keputusan
akan menjadikan Rumah Sakit tersebut sesuai dengan Motto “Pelayanan Merupakan
Suatu Kebanggaan Bagi Kami”. Sehingga Rumah Sakit tersebut dapat dirasakan oleh
semua masyarakat yang membutuhkan pertolongan khususnya dibidang kesehatan dan
mendapat dukungan secara resmi dari Pemerintah Daerah Purwakarta dan sekitarnya. Pendiri
selalu berpikir dan berusaha sekuat tenaga mengembangkan pembangunan dan pengembangan
rumah sakit yang dapat melayani banyak orang yang mampu dan yang kurang mampu. Baik
dengan penambahan-penambahan fasilitas alat-alat yang canggih dan menempatkan dokter-
dokter spesialis yang penuh rasa tanggung jawab terhadap pelayanan. Pendiri pada tahun 2007
telah pula menambah bangunan rawat inap sehingga mempunyai kapasitas pasien menjadi 120
orang, dan pada 2008 pendiri membangun gedung pertemuan. Saat ini, Pendiri juga tetap gigih
sabar dan ulet berjuang maju, mengembangkan Rumah Sakit Efarina Etaham sehingga dapat
mengembangkan sayapnya dalam pelayanan medis. Rumah sakit yang terus sedang dalam
pengembangan itu berupa pengembangan sayap, seperti yang pernah diucapkan oleh Menteri
DR. Ir. Bungaran Saragih, biarlah Simalungun itu seperti burung yang terbang ke angkasa luas,
nanti akan tetap membangun Simalungun. Demikian DR. JR Saragih berprinsip. Pembangunan
di atas lahan 1 Ha didirikan bangunan berlantai 4 (empat) berkapasitas 150 tempat tidur, dengan
standar rumah sakit internasional sebagai sayap yang dikembangkan dalam bentuk
pengembangan rumah sakit itu di Jalan Jamin Ginting, Berastagi, Desa Raya, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara. Dengan doa restu semua warga Simalungun di kampung halaman, demikian
dimanapun berada termasuk yang ada di luar negeri, khususnya Keluarga Besar Rumah Sakit
Efarina Etaham, maka Rumah Sakit tersebut akan dapat dioperasikan pada Desember 2008 lalu.
Pada tanggal 23 September 2009 RS Efarina kembali mengembangkan usahanya dibidang
pelayanan medis dengan telah di ambil alihnya kepemilikan RS. Satya Insani menjadi RS.
Efarina yang terletak di Desa Pangkalan Kerinci, Kecamatan Kerinci, Kabupaten Pelalawan,
Provinsi Riau. Semua ini adalah atas doa semuanya, dan hikmad yang datangnya dari Tuhan
Yang Maha Kuasa, katanya kepada SPB.

H =aholongi hasomanmu songon dirimu sadokah ho manggolu= H


A =bakhon goluh namarmalasniuhur porini pe sonaha namas= A
B =oan goluh namardamei damei ase boi totap marolob - olob= B
O =dohkon galakni pusu - pusumu ase malas uhur ni namanjal= O
N =ingon marhabasaron samah diri pakon bani samah hasoma= N
A =jari dirimu marhalayakon bani namasombuh pakon ganup jolm= A
R =amothon haporsayaon bani Tuhanmu ase boi dalanmu pinto= R
O = rod - orod totap bani habonaron sadokah manggoluh h =O
N =ingon totap rajai uhurmu toruh uhur bani hasoma= N

D =alanhon bujur horjamu tiap sogo= D


O =mbouhon dirimu gabe martuah ma h= O

B =aen sintong horjamu humbani mulani ronsi do= B


O =ndoshon uhur pakon langkahmu bani Tuhan simada h= O
N =attuari sadarion ronsi haduanni hadua= N
A =mbilanhon Tuhan marhiteri pangabak pakon hata= A

HOBON ni SIMALUNGUN diambil dari kata "HOBON yaitu tempat menyimpanan padi
(lumbung)dijaman dahulu yang sangat mempunyai makna berarti buat kehidupan
manusia,sebagai tempat penyambung hidup dimasa yang akan datang,sesuai nama kami
abadikan didalam komunitas facebooker ini adalah wadah orang simalungun maupun
yang tinggal disimlaungun yang mempunyai rasa persaudaraan terhadap 'tanoh
habonaron simalungun" bersatu digrup ini menyimpan(menyampaikan)segala masukan
masukan untuk perbaikan simalungun,sebagai wadah tempat
bertemu/silaturahmi"marsombuh sihol"
Membagi cerita dengan muatan simalungun tentunya sangat berarti buat kita
semua,karena banyak diantara saudara kita yg jauh dari simalungun tetapi ingin selalu
dekat didalam kabar dan berita tentang simalungun,
Bersama sama kita bahas/ceritakan disini

Di daerah Propinsi Sumatera Utara, keanekaragaman kebudayaan suku bangsa yang ada
telah memperkaya khasanah budaya bangsa. Kepercayaan asli (Kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa), sebagai warisan budaya nenek moyang masyarakat Sumatera
Utara, masih berpengaruh dan diamalkan dalam perikehidupan masyarakat karena nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam ajaran kepercayaan asli tersebut diyakini mampu
membahagiakan hidup manusia.

Salah satu kepercayaan asli yang masih mempunyai masyarakat pendukung di daerah
Sumatera diantaranya adalah kepercayaan Habonaron Do Dona. Pendukung ajaran
Habonaron Do Bona pada umumnya adalah masyarakat Simalungun yang juga dikenal
dengan Halak Timur. Masyarakat Simalungun merupakan salah satu dari enam subsuku
bangsa Batak yang secara geografis mendiami daerah induk Simalungun. Ajaran
Habonaron Do Bona bersatu padu dengan adat budaya Simalungun atau Adat Timur,
sebagai tata tuntunan laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dalam menyembah
Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai luhur dalam kepercayaan Habonaron Do Bona terkandung dalam ajarannya,


seperti ajaran tentang: Ketuhanan, manusia, alam serta ajaran-ajaran yang mengatur
hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesamanya dan alam semesta. Di bawah ini
secara singkat ajaran-ajaran dari kepercayaan Habonaron Do Bona.

Ajaran tentang Tuhan, Manusia dan Alam


Menurut kepercayaan Habonaron Do Bona, Tuhan Yang Maha Esa adalah awal dari
segala sesuatu yang ada. Tuhan Yang Maha Esa disebut sebagai Naibata. Naibata adalah
satu (sada) dan Maha Kuasa (Namar Kuasa/Namar Huasa). Karena Naibata adalah awal
dari segala sesuatu yang ada, maka dunia beserta seluruh isinya adalah ciptaan-Nya.
Sebagai Sang Pencipta, Naibata juga menjadi pembimbing, pemelihara dan penyelamat
bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Masyarakat pendukung kepercayaan Habonaron Do
Bona menghormati leluhur yang disebut Simagot, Begu Jabu, Tua-Tua atau Bitara Guru.
Menurut Habonaron Do Bona, leluhur adalah penghubung untuk menyampaikan titah
Tuhan Yang Maha Esa kepada orang-orang tertentu yang berlangsung secara manunggal
terhadap keturunan yang disukainya.

I. Deskripsi Simalungun

Simalungun merupakan satu dari lima suku Batak (Angkola-Mandailing, Toba,


Pakpak, Karo, dan Simalungun). Nama Simalungun ini bersumber dari ikrar raja-
raja di Simalungun pada tahun 1367. Perubahan nama dari Batak Timur Raya
menjadi Simalungun, dikarenakan kerajaan Harou (Karo) sudah tidak termasuk
lagi dalam Raja Na Opat fase II yang terdiri dari Kerajaan Dolog Silou, Kerajaan
Tanoh Jawa, Kerajaan Siantar, dan Kerajaan Panei. Kini para raja dari ke empat
kerajaan diatas berikrar bahwa mereka menjadi “Si Sada Parmaluan Si Sada
Lungun” (senasib sepenanggungan) yang akhirnya kesatuan kerajaan mereka
disebut Simalungun. Dengan demikian nama itu mengandung ahap (perasaan)
orang Simalungun yaitu senasib sepenanggungan. Demikianlah akhirnya nama
Simalungun dipergunakan dengan resmi dalam pemerintahan Hindia Belanda, dan
dimuat dalam Surat Keputusan Gubernement.1

Dalam kehidupan sehari-hari orang Simalungun sering diejek sebagai pemalas,


penakut, tidak punya inisiatif, dan kurang giat bekerja. Sekalipun demikian
berdasarkan penelitiannya Walter Lempp menyebut bahwa orang Simalungun
lebih halus dan tingkah lakunya hormat sekali, tidak pernah keras atau meletus,
meskipun sakit hati. Hal itu dimungkinkan karena suku Simalungun satu-satunya
yang pernah dijajah oleh suatu kerajaan di Jawa yang berkedudukan di Tanah
Jawa. 2 Menurut J. Tideman sifat Simalungun yang kurang baik itu disebabkan
oleh tekanan perbudakan (parjabolonan) dan peperangan yang begitu lama.

Perihal kejujuran orang Simalungun berpedoman kepada falsafah hidup mereka


yaitu Habonaron do Bona, Hajungkaton do Sapata” yang artinya segala sesuatu
harus berpangkal dari yang benar. Orang yang tidak konsisten menjungjung tinggi
falsafah ini diyakini akan mendapatkan hal-hal yang tidak baik. Falsafah ini juga
berdampak pada pola pikir orang Simalungun yang sangat berhati-hati dalam
mengambil keputusan. Suatu keputusan barulah diambil setelah dipikiran masak-
masak, dan sekali ia memutuskannya maka jarang ia menarik keputusannya itu.
Sebagaimana dalam ungkapan Simalungun, “Parlobei idilat bibir ase marsahap,
bijak mosor pinggol asal ulang mosor hata”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa
orang Simalungun bukanlah tipikal manusia yang sembrono atau terburu-buru
dalam mengambil dan menentukan sebuah kebijakan dan keputusan, seluruhnya
harus dipikirkan masak-masak dan keputusan itu adalah tetap, artinya tidak akan
pernah berubah lagi. Hal ini berdampak pada sikap orang Simalungun yang begitu
lambat dalam menerima Injil.3 Disisi lain, falsafah itu berpengaruh kepada sikap
dan tabiat orang Simalungun sehari-hari yang selalu dipenuhi ketakutan untuk
berbuat kesalahan, lebih suka berserah kepada Ompung Naibata daripada
mengadakan perlawanan yang spontan.4 Seperti ketika para pendatang membanjiri
Tanah Simalungun setelah penandatanganan Perjanjian Pendek (Korte
Verklaring) antara raja-raja Simalungun dengan pemerintahan Belanda,
khususnya imigran Batak Toba, orang Simalungun memilih membuka lahan baru
di Simalungun Atas yang tanahnya relatif kurang subur ketimbang terlibat konflik
dengan para pendatang, sekalipun mereka sangat dirugikan oleh kedatangan para
imigran itu.5
Pertanyaan yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah darimanakah asal-
muasal falsafah itu? Penulis sendiri menemukan dua sumber yang berbicara
tentang asal muasal falsafah di atas.

Sumber pertama menyebut falsafah di atas ditegakkan oleh Tuan Sormaliat, yang
berawal dari ditemukannya Bambu Bertulis sebanyak tujuh buah per batang;
dimana bambu itu berisi tulisan dari ruas paling bawah hingga ke ruas atas yang
berisi: penanggalan waktu (bulan, hari dan jam), ilmu pengobatan, ilmu nujum,
ilmu pemanggil roh, dan lain-lain. Ia menemukannya di kerajaan Batang Toruh,
tepat di dasar jurang tempat ia jatuh. Kemudian selama tujuh hari lamanya ia
bertapa disana seraya menuliskannya kembali ke dalam “laklak ni hayu alim”
(kulit kayu ulin).6 Pengetahuan yang ia peroleh dari Bambu Bertulis itulah yang
kemudian ia pakai mengalahkan kekuatan musuh-musuh yang berusaha
menganggu ketentraman manusia. Akhirnya ia menegakkan dan bersandar pada
falsafah Habonaron do Bona serta mengajarkannya kepada masyarakat kerajaan
Rahat Di Panei.7 Sumber kedua menyatakan bahwa seloka Habonaron Do Bona
terdapat dalam Pustaka Simalungun kuno yang disebut Pustaha Parmungmung
Bandar Syah Kuda yang bertarikh kira-kira abad XV ketika Simalungun masih
bernama Harajaon Purba Deisa Na Ualuh. Dalam laklak itu dikisahkan
bagaimana burung Nangordaha akhirnya memberikan keadilan (habonaron)
kepada Sang Ma Jadi putra raja Purba Deisa Na Ualuh dengan cara membantunya
dalam pertempuran antara Sang Ma Jadi dengan Raja Samidora (Samudera Pasai
di Aceh). Ketika Nangordaha menukik hendak membunuh raja Samidora
terdengarlah di langit ucapan “Habonaron do Bona” sebanyak tiga kali. Seloka
itu kemudian ditetapkan sebagai lambang kabupaten Simalungun pada masa
pemerintahan Bupati Radjamin Purba (1960-1970).8

Sekalipun terjadi kekurangjelasan perihal asal–muasal falsafah orang Simalungun,


namun yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa Simalungun memiliki scripture
(kitab) yaitu pustaha laklak atau buluh surat yang salah satunya dikenal dengan
sebutan Pustaha Parpadanan Na Bolag yang banyak mengungkap tentang
sejarah, adat kebiasaan, dan juga tabas-tabas (mantera) dalam segala keperluan.
Keseluruhan tabas-tabas (mantera) itu mengacu kepada satu tujuan yaitu
habonaron (kebenaran dan keadilan) sebagaimana yang termaktub dalam falsafah
hidup orang Simalungun “Habonaron do Bona, Hajungkaton do Sapata”.9
Pernyataan inilah yang akan penulis gali dengan mencoba menemukan sisi
alkitabiah dari Habonaron do Bona. Tentunya, sebuah falsafah dapat dinyatakan
bernilai positif (atau memiliki nilai alkitabiah) bila diiringi oleh tingkah laku yang
positif dari manusia yang menghidupinya sebagai sebuah falsafah. Siapakah
manusia itu? Tanpa mengurangi rasa hormat, penulis hanya mencantumkan dua
pribadi dari sekian banyak warga Simalungun yang menghidupi falsafah itu.

Mereka adalah Tuan Sormaliat dan Herdin Purba (ompung/kakek penulis).


Keduanya tergolong sebagai namarpambotoh (datu) di Simalungun. Informasi
tentang Tuan Sormaliat, penulis peroleh dari buku Folklore Simalungun,
sementara tentang Herdin Purba penulis peroleh dari pengalaman semasa hidup
delapan belas tahun bersamanya