Anda di halaman 1dari 2371

615.

1
Ind
f

FARMAKOPE
INDONESIA
EDISI VI

2020

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

615.1
Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal
f Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Farmakope Indonesia Edisi VI.— Jakarta : Kementerian
Kesehatan RI. 2020

ISBN 978-623-301-017-7

1. Judul I. PHARMACOPOEIAS
II. FORMULARIES
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya,
Farmakope Indonesia Edisi VI ini dapat diselesaikan dan diterbitkan.
Sehubungan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi, khususnya
terkait dengan standardisasi, metode, dan prosedur analisis obat dan bahan obat, dan sesuai dengan
tuntutan masyarakat yang semakin tinggi untuk mendapat obat yang berkualitas, maka keberadaan
Farmakope Indonesia Edisi VI sangat diperlukan sebagai standar dan persyaratan bahan obat dan obat
yang beredar di Indonesia.
Farmakope Indonesia Edisi VI berisi ketentuan umum, monografi sediaan umum, monografi bahan
obat dan obat. Disamping itu, terdapat lampiran yang merupakan informasi dan penjelasan dari
metode analisis dan prosedur pengujian yang terdapat dalam monografi, mencakup pengujian dan
penetapan secara umum, mikrobiologi, biologi, kimia, dan fisika.
Penyusunan Farmakope Indonesia Edisi VI ini dilakukan oleh Panitia Penyusun Farmakope Indonesia
Edisi VI yang dibentuk oleh Menteri Kesehatan RI, dan anggotanya adalah perwakilan dari Kementerian
Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta para pakar dari berbagai perguruan tinggi farmasi
negeri dan swasta.
Dengan diterbitkannya Farmakope Indonesia Edisi VI, diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak terkait
untuk menjamin mutu bahan obat dan obat di Indonesia, sehingga dapat memberikan perlindungan bagi
masyarakat.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang
telah berpartisipasi dalam penyusunan sampai diterbitkannya Farmakope Indonesia Edisi VI.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi upaya kita semua dalam pembangunan kesehatan.

Jakarta, 8 Oktober 2020


Direktur Jenderal
Kefarmasian dan Alat Kesehatan,

ttd.

Dra. Engko Sosialine Magdalene, Apt., M.Biomed.


NIP. 196101191988032001

-iii-
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar ............................................................................................................................. .............. iii
Daftar Isi .................................................................................................................................................... v
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/29/2020 Tahun
2020 tentang Pembentukan Panitia Penyusun Farmakope Indonesia Edisi VI …..................................... vii
Surat Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor
HK.04.01.23.01.17.0037 Tahun 2017 Tentang Pembentukan Tim Pelaksana Penyusunan Farmakope
Indonesia Edisi VI ...................................................................................................................................... xv
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/626/2020 Tahun
2020 Tentang Farmakope Indonesia Edisi VI............................................................................................ 1
Sejarah Farmakope Indonesia .................................................................................................................... 4
Daftar Sediaan Umum ................................................................................................................................ 11
Daftar Monografi ....................................................................................................................................... 11
Daftar Lampiran .................................................................................................................. ....................... 25
Daftar Monografi Baru .............................................................................................................................. 27
Daftar Lampiran Baru ................................................................................................................................ 29
Daftar Monografi FI V yang Dihapus ........................................................................................................ 29
Ketentuan Umum ....................................................................................................................................... 31
Sediaan Umum ........................................................................................................................ ................... 44
Monografi .................................................................................................................................................. 67
Lampiran .................................................................................................................................................... 1808
Pereaksi, Indikator dan Larutan ................................................................................................................. 2180
Daftar Tabel ............................................................................................................................................... 2273
Tabel Alkoholometrik ............................................................................................................................. 2275
Tabel Bobot Molekul .............................................................................................................................. 2278
Tabel Kesetaraan Termometrik ............................................................................................................... 2291
Tabel Larutan Isotonik .............................................................................................................. .............. 2294
Indeks ......................................................................................................................................................... I.1

-v-
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR HK.01.07/MENKES/39/2020
TENTANG
PANITIA PENYUSUN FARMAKOPE INDONESIA EDISI VI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Pasal 105 ayat (1) Undang-


Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,
perlu menetapkan Farmakope Indonesia;
b. bahwa Farmakope Indonesia Edisi V Tahun 2014, yang
telah dilengkapi dengan Suplemen I, Suplemen II, dan
Suplemen III, perlu disesuaikan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang kefarmasian;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang
Panitia Penyusun Farmakope Indonesia Edisi VI;

Mengingat : 1. Ordonansi Obat Keras (Staatsblad Nomor 419 Tahun


1949);
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3671);
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5062);
- viii -

4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3781);
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 1508) sebagaimana diubah dengan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2018
tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2018 Nomor 945);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PANITIA
PENYUSUN FARMAKOPE INDONESIA EDISI VI.
KESATU : Susunan Keanggotaan Panitia Penyusun Farmakope
Indonesia Edisi VI yang selanjutnya disebut Panitia,
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Keputusan Menteri ini.
KEDUA : Panitia sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU
bertugas:
1. memberikan arahan penyusunan Farmakope
Indonesia Edisi VI;
2. membahas dan menetapkan seluruh naskah yang
akan dimuat dalam Farmakope Indonesia Edisi VI; dan
3. memberikan rekomendasi kepada Direktur Jenderal
yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
kefarmasian dan alat kesehatan atas hasil
- ix -

pembahasan seluruh naskah Farmakope Indonesia


Edisi VI.
KETIGA : Panitia dalam melaksanakan tugasnya bertanggung
jawab kepada Menteri Kesehatan melalui Direktur
Jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
KEEMPAT : Biaya yang timbul dalam pelaksanaan tugas Panitia
dibebankan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
(DIPA) Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat
Kesehatan.
KELIMA : Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 10 Januari 2020

MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

TERAWAN AGUS PUTRANTO


-x-

LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR HK.01.07/MENKES/39/2020
TENTANG
PANITIA PENYUSUN FARMAKOPE
INDONESIA EDISI VI

PANITIA PENYUSUN FARMAKOPE INDONESIA EDISI VI

Pelindung : Menteri Kesehatan


Pengarah : Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Ketua I : Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Ketua II : Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika,
Prekursor, dan Zat Adiktif, Badan Pengawas Obat dan
Makanan
Sekretaris I : Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian
Sekretaris II : Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika,
Prekursor, dan Zat Adiktif, Badan Pengawas Obat dan
Makanan

I. Seksi-seksi:
a. Tata Nama, Farmasi Umum dan Perundang-undangan
Ketua : Dra. Togi J. Hutadjulu, Apt., M.P.H.
Anggota : 1. Drs. Richard Pandjaitan, Apt., S.K.M.
2. Dra. Maura Linda Sitanggang, Apt., Ph.D.
3. drg. Arianti Anaya, M.K.M.
4. Riati Anggriani, S.H., M.A.R.S., M.Hum.
5. Dra. Ratna Irawati, Apt., M.Kes.
6. Dr. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., M.A.R.S.
7. Dra. Nurma Hidayati, Apt., M.Epid.
8. Dra. Augustine Zaini, Apt., M.Si.
9. Reni, S.Si., Apt.
10. Daryani, S.Si., M.Sc.
11. Drs. Hariyadi, Apt.
12. Sugeng Riyanto, S.H.
- xi -

13. Sundoyo, S.H., M.K.M., M.Hum.

b. Biologi/Mikrobiologi
Ketua : Dr. Debbie S. Retnoningrum, Apt.
Anggota : 1. Prof. Dr. Ernawati Sinaga, Apt., M.S.
2. Dr. Isnaeni, Apt., M.S.
3. Drs. Wusmin Tambunan, Apt., M.Si.
4. Dra. Kusmiaty, Apt., M.Pharm.
5. Dra. Sumaria Sudian, Apt.
6. Juliati, S.Si., Apt., M.Biomed.
7. Dra. Elizabeth Ika Prawahyu, M.Biomed.
8. Dra. Wiwik Ambarwati, Apt., M.Epid.
9. Dra. Sri Wahyuningsih, M.Si.
10. Elza Gustanti, S.Si., Apt., M.H.
11. Desi Eka Putri, S.Si., Apt., M.Pharm.
12. Andi Asnayanti, S.Si., M.Sc.
13. Sri Hayanti, S.Si, Apt.

c. Farmasetika/Teknologi Farmasi
Ketua : Prof. Dr. Achmad Fudholi, DEA, Apt.
Anggota : 1. Prof. Dr. Sri Noegrohati, Apt.
2. Dr. Iskandarsyah, Apt., M.S.
3. Dr. Maria Immaculata Iwo, Apt.
4. Dra. Anny Sulistyowati, Apt.
5. Dr. Sherley, Apt., M.Si.
6. Dra. Herlina Boedhi, Apt., M.Si.
7. Dra. Ernawati Mangunatmaja, Apt.
8. Drs. Irmanto Z. Ganin, Apt., M.Si.
9. Roni Syah Putra, S.Farm., Apt., M.K.M.

d. Farmakokinetik/Biofarmasi
Ketua : Prof. Dr. Yeyet Cahyati Sumirtapura, Apt.
Anggota : 1. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, Apt., M.S.
2. Dra. Hermini Tetrasari, Apt., M.Si.
3. Dra. Ati Setiawati, Apt., M.Si.
4. Drs. Siam Subagyo, Apt., M.Si.
- xii -

5. Dra. Mirawati Siregar, Apt.


6. Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S.
7. Dra. Neviyenti, Apt.
8. Nina Rustiana, S.Si., Apt.
9. Dra. Rosalyn, Apt.
10. Dra. Hariati Wiratningrum, Apt., M.Si
11. Anggrida Saragih, S.Si., Apt.
12. Sofiana Sari, S.Farm., Apt.

e. Kimia Analisis/Kimia Farmasi/Bahan Pembanding


Ketua : Prof. Dr. Slamet Ibrahim, DEA, Apt.
Anggota : 1. Prof. Sudibyo Martono, Apt., M.S.
2. Prof. Dr. rer. nat. M. Yuwono, Apt., M.S.
3. Prof. Harmita, Apt.
4. Dr. rer. nat. Rahmana Emran K., Apt., M.Sc.
5. Drs. Janahar Murad, Apt.
6. Dra. Nani Sukasediati, Apt., M.Sc.
7. Dra. Dini Prapti Karyati, Apt., M.Si.
8. Tanti Yulianti, M.Si., Apt.
9. Dwi Damayanti, M.Si., Apt.
10. Ilma Yulianita, M.Si., Apt.
11. Dra. Arum Prasetyaningtias, Apt., M.Si.
12. Dra. Sri Murhandini, M.Si.
13. Dra. Lince Yarni, M.Si.
14. Fajar Kurniyati, M.Si.

II. Dewan Redaksi


Ketua : Dr. Agusdini Banun Saptaningsih, Apt., M.A.R.S.
Wakil Ketua : drg. Arianti Anaya, M.K.M.
Sekretaris : Elza Gustanti, S.Si., Apt., M.H.
Anggota : 1. Drs. Richard Pandjaitan, Apt., S.K.M.
2. Dra. Augustine Zaini, Apt., M.Si.
3. Dra. Nani Sukasediati, Apt., M.Sc.
4. Drs. Janahar Murad, Apt.
5. Drs. Wusmin Tambunan, Apt., M.Si.
6. Drs. Siam Subagyo, Apt., M.Si.
- xiii -

III. Sekretariat
Ketua : Elza Gustanti, S.Si., Apt., M.H.
Wakil Ketua : Roni Syah Putra, S.Farm., Apt., M.K.M.
Anggota : 1. Wenny Indriasari, M.Si., Apt.
2. Eduward Gunawan, S.Si., Apt.
3. Mutiara Djayanis Tia, S.Farm., Apt.
4. Arie Restiati, S.ST., M.Si.
5. Mariza Isriani, S.Si., Apt.
6. Rr. Alvira Widjaya, S.Farm., Apt.
7. Hasti Ristina Sari, S.Farm., Apt.
8. Annisa Hayatunnufus, B.Pharm.

MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

TERAWAN AGUS PUTRANTO


- xvi -
- xvii -
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR HK.01.07/MENKES/626/2020
TENTANG
FARMAKOPE INDONESIA EDISI VI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Pasal 2 ayat (2) Peraturan


Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan, perlu menetapkan
Farmakope Indonesia;
b. bahwa Farmakope Indonesia Edisi V Tahun 2014, yang
telah dilengkapi dengan Suplemen I, Suplemen II, dan
Suplemen III, perlu disesuaikan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kefarmasian;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan
Keputusan Menteri Kesehatan tentang Farmakope
Indonesia Edisi VI;

Mengingat : 1. Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Ordonansi Obat Keras (Staatsblad Nomor 419 Tahun
1949);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3671);
2

4. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang


Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5062);
5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3781);
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 1508) sebagaimana diubah dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2018 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64
Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik
Indonesia tahun 2018 Nomor 945);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG FARMAKOPE
INDONESIA EDISI VI.

KESATU : Menetapkan Farmakope Indonesia Edisi VI sebagai standar


yang harus dipenuhi dalam produksi obat dan bahan baku
obat sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri
ini.
KEDUA : Pada saat Keputusan Menteri ini mulai berlaku:
1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
108/MENKES/SK/IV/2014 tentang Pemberlakuan
Farmakope Indonesia Edisi V;
3

2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


HK.02.02/MENKES/366/2015 tentang Pemberlakuan
Suplemen I Farmakope Indonesia Edisi V;
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.01.07/MENKES/664/2017 tentang Pemberlakuan
Suplemen II Farmakope Indonesia Edisi V; dan
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.01.07/MENKES/457/2018 tentang Pemberlakuan
Suplemen III Farmakope Indonesia Edisi V;
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
KETIGA : Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 September 2020

MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

TERAWAN AGUS PUTRANTO


-4-

LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/626/2020
TENTANG FARMAKOPE INDONESIA EDISI VI

SEJARAH FARMAKOPE INDONESIA

Farmakope Indonesia jilid I edisi I merupakan 7. Seksi Kedokteran Gigi Ketua: Drs. Nazir Alwi;
farmakope nasional yang diterbitkan untuk pertama Anggota: Drs. Soedarmadi dan Drs. Oei Hong Kian.
kalinya pada tahun 1962 dan diberlakukan oleh 8. Seksi Veteriner Ketua: Dr. I. Titus; Anggota:
Menteri Kesehatan RI pada tanggal 20 Mei 1962 Prof. Dr. D.A Tisnaamidjaja dan Dr. Asoengpranoto.
tepat pada hari Kebangkitan Nasional, berdasarkan Dalam penyusunan jilid I edisi I tahun 1962 ini,
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Panitia Farmakope Indonesia menggunakan naskah
No.652/Kab/4 dan merupakan pelaksanaan Undang- persiapan yang diusulkan oleh Ikatan Apotheker
Undang No.9 tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Indonesia dengan mengacu pada Pharmacopoea
Kesehatan, yaitu undang-undang yang menjadi International Editio Prima yang diterbitkan oleh
pedoman dan landasan bagi semua kegiatan dalam WHO pada tahun 1955. Dalam melaksanakan tugas
usaha pembinaan dan pemeliharaan serta peningkatan menyusun dan memelihara Farmakope ini, Panitia
kualitas di bidang kesehatan. Sejarah penyusunan Farmakope Indonesia telah mendapat bantuan yang
Farmakope Indonesia tersebut telah dimulai sebelum sangat besar dari Institut Teknologi Bandung,
berlakunya Undang-Undang Pokok Kesehatan, khususnya departemen ilmu kimia dan ilmu hayat.
diawali dengan Keputusan Kongres Ikatan Apotheker Pada tahun 1965 diterbitkan Farmakope Indonesia
Indonesia pada tahun 1958, yang mengusulkan jilid II edisi I yang merupakan pelengkap bagi jilid I
kepada Pemerintah untuk membentuk suatu panitia dan memuat sediaan-sediaan galenika dan sediaan
penyusun. Pada tahun 1959 dibentuklah Panitia farmasi lainnya yang belum dimasukkan dalam jilid
Farmakope Indonesia dengan Surat Keputusan pertama. Farmakope Indonesia jilid II, edisi pertama
Menteri Kesehatan RI No.115772/U.P. tanggal 4 Juni ini oleh Menteri Kesehatan diberlakukan pada
1959, kemudian diubah dan ditambah anggotanya, tanggal 20 Mei 1965, tepat pada Hari Kebangkitan
terakhir dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri
RI No.3/Pd/61 tanggal 3 Nopember 1961, dengan Kesehatan RI No.16001/Kab/54 tanggal 10 April
susunan sebagai berikut: Ketua: Prof. Soetarman; 1965.
Wakil Ketua: Drs. E. Looho, Wakil Ketua I: Drs. Dalam Farmakope Indonesia jilid kedua ini, telah
Sunarto Prawirosujanto; Sekretaris I: Drs. diadakan perubahan Panitia dengan Surat Keputusan
Poernomosinggih; Sekretaris II: Drs. Marisi P Menteri Kesehatan RI No.25943/Kab/139 tanggal 3
Sihombing. Mei 1962, dengan susunan sebagai berikut : Ketua :
Seksi-seksi: Drs. Sunarto Prawirosujanto;Wakil Ketua I : Drs. E.
1. Seksi Tatanama dan Istilah Ketua: Dr.Med. A. Looho; Wakil Ketua II: Drs. R.Hartono
Ramali; Anggota: Drs. Poernomosinggih dan Drs. Wignjodisastro; Sekretaris I : Drs. Poernomosinggih;
Marisi P. Sihombing. Sekretaris II: Drs.Marisi P. Sihombing.
2. Seksi Farmakologi dan Klinis Ketua: Prof. Dr. Seksi-seksi:
A.J. Darman; Anggota: Prof. Dr. M.A. Hanafiah 1. Seksi Tatanama dan Istilah Ketua: Dr.Med. A.
S.M., Dr. Med. A. Ramali, Drs. Tan Tjoen Gwan dan Ramali; Anggota: Drs. Poernomosinggih dan Drs.
Drs. Kwee Tin Boh. Marisi P. Sihombing.
3. Seksi Farmakognosi Ketua: Drs. Soetarto 2. Seksi Farmakologi dan Klinis Ketua: Prof. Dr. A.J.
Mangunkawotjo; Anggota: Dr. Tan Tik Poen dan Darman; Anggota: Dr. Med. A. Ramali, Drs.Kwee
Drs. Raslim Rasjid. Tin Boh dan Drs.Oei Hong Kian.
4. Seksi Biologi Ketua: Prof. Soetarman; Anggota: 3. Seksi Farmakognosi Ketua: Drs. Soetarto
Dra. Sri Sugati Syamsuhidajat dan Drs. Soendoro Mangunkawotio; Anggota: Dra. Sri Sugati
Kartosoehardjo. Sjamsuhidajat.
5. Seksi Kimia Umum, Analisa dan Tetapan Ketua: 4. Seksi Kimia Umum, Analisa dan Tetapan Ketua:
Prof. Dr. Poey Seng Bouw; Anggota: Drs. Kosasih Prof. Dr. Poey Seng Bouw; Anggota: Drs. Kosasih
Satyadarma dan Drs. Kho Han Yao. Satyadarma, Drs.Raslim Rasjid.
6. Seksi Farmasi Ketua: Prof. Dr. H.T. Liem; 5. Seksi Farmasi Ketua: Prof. Dr. H.T. Liem;
Anggota: Drs. Sunarto Prawirosujanto, Drs. R. Anggota: Drs. R. Hartono Wignjodisastro, Drs. E.
Hartono, Drs. E. Looho, Dr. Nanizar Zaman Joenoes, Looho dan Drs. Sirad Atmodjo.
Pharm.D. 6. Seksi Biologi Ketua: Prof. Dr. I. Titus; Anggota:
Prof. Dr. D. A.Tisnaamidjaja.
-5-

Selain Panitia telah dibentuk pula Dewan Redaksi Rahardja, Drs. Santosoatmodjo, Drs. M. Soemitro,
dengan Surat Keputusan Direktur Lembaga Farmasi Drs. Zainal Arifin, Drs. P.S.M Simatupang, Drs.
Nasional Departemen Kesehatan RI No.413/LFN/64 Farouq, Drs. Dzulkarnain Benny. Farmakope
dengan susunan sebagai berikut: Ketua: Drs. Martono Indonesia Edisi II ini, oleh Menteri Kesehatan
Winotopradjoko; Anggota: Drs. Soebandono, Dr. diberlakukan pada tanggal 12 Nopember 1972,
Marisi P. Sihombing, Drs. M. Soemitro, Drs. R. berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI
Bambang Soetrisno, Drs. Zainal Arifin, Drs. Hamdi No.7/Kab/B.VII/72, tertanggal 8 Januari 1972.
Mahmud, Drs. Lie Kian Kie, Drs. Tan Liang Gie, Ekstra Farmakope Indonesia sebagai pelengkap
Drs.Tjoe Kian Kie, Dra. Aminah Abdulsalam, Dra. Farmakope Indonesia edisi II diterbitkan pada tahun
Jo Tjoan Swan Nio dan Soedarsono B.Sc. 1974 dan diberlakukan pada tanggal 1 Agustus 1974,
Untuk menyesuaikan dengan perkembangan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI
dengan ilmu pengetahuan dan agar penerapan No.5/I/Kab/B.VII/74, tertanggal 1 Juni 1974 untuk
Farmakope Indonesia dapat diperluas, maka memenuhi kebutuhan akan standar yang berisi
dilakukan revisi Farmakope Indonesia edisi I oleh persyaratan mutu obat yang mencakup zat, bahan
Panitia dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan obat dan sediaan farmasi yang tidak tercantum dalam
RI No.72/Kab/B/VII/70 tanggal 21 Februari 1970. Farmakope Indonesia edisi II. Berdasarkan Surat
Adapun susunan Panitia Farmakope Indonesia Edisi Keputusan Menteri Kesehatan RI
II adalah sebagai berikut: Ketua: Drs. Sunarto No.8/Kab/B.VII/72, tertanggal 8 Januari 1972
Prawirosujanto; Wakil Ketua I: Drs. E. Looho; Wakil dibentuk susunan Panitia Ekstra Farmakope
Ketua II: Drs. Heman; Sekretaris I: Drs. R. Bambang Indonesia dengan susunan sebagai berikut: Ketua:
Soetrisno; Sekretaris II: Drs. M. Bambang Lesmono. Drs. Sunarto Prawirosujanto; Wakil Ketua I : Drs. E.
Seksi-seksi: Looho; Wakil Ketua II: Drs. Heman; Sekretaris I:
1. Tatanama dan Istilah Ketua: Drs. Marisi P. Drs. R. Bambang Soetrisno; Sekretaris II: Drs.M.
Sihombing; Anggota: Drs. Martono Winotopradjoko; Bambang Lesmono.
Drs. Heman. Seksi-seksi:
2.Farmakologi dan Klinis Ketua: Prof. Dr. Djoewari; 1.Tatanama dan Istilah Ketua: Drs. Marisi P.
Anggota: DR. dr. Jap Tjiang Beng, Drs. Zainal Sihombing; Anggota: Drs. Martono Winotopradjoko;
Arifin, Dr. B. Setiawan. Drs. Heman.
3.Farmakognosi Ketua: DR. Midian Sirait; Anggota: 2.Farmakologi dan Klinis Ketua: Prof.Dr.Djoewari;
Drs. R. Bambang Soetrisno, Drs. Sutarjadi, Drs. R. Anggota: DR. dr. Jap Tjiang Beng, Drs. Zainal
M. Taroeno, Drs. R. Sidik. Arifin, Dr. B. Setiawan.
4.Kimia Umum, Analisa dan Tetapan Ketua: Prof. 3. Farmakognosi Ketua: DR. Midian Sirait; Anggota:
DR. Sasongko Adisewojo; Anggota: Drs. M. Drs. R. Bambang Soetrisno, Drs. Sutarjadi, Drs. R.
Soemitro, Drs. Kosasih Satyadarma MSc., Drs. M. Taroeno, Drs. R. Sidik, Suryati BSc.
Sardjoko, Drs. Abdulkadir, Drs. M. Bambang 4. Kimia Umum, Analisa, dan Tetapan Ketua: Prof.
Lesmono, Dra. Nazly Helmi. DR. Sasongko Adisewejo; Anggota: Drs. M.
5.Farmasi Ketua: Drs. Munazir; Anggota: Drs. Sirad Soemitro, Drs. Kosasih Satyadarma MSc., Drs.
Atmodjo, Drs. Charles Siregar MSc., Dra. Aminah Sardjoko, Drs. Abdulkadir, Drs.M.Bambang
Abdulsalam, Drs. Moh. Anief, Drs.Sukartono, Dr. Lesmono, Dra.Nazly Helmi, Dra. Sugati
Nanizar Zaman Joenoes, Pharm.D, Dra. J. R. Syamsuhidayat, Dra. Sjamsimar, Dra. Tjuk Sudiarti,
Wattimena MSc. Drs. Farouq.
6. Biologi Ketua: Prof. Dr. Soetarman; Anggota: Dr. 5. Farmasi Ketua: Drs. Munazir; Anggota: Drs.Sirad
Slamet Djais, Drs. M.S. Nasution, Drs. Atmodjo, Drs. Charles Siregar MSc., Dra.Aminah
Koesdarminto, Drs. P.S.M. Simatupang, Drs. Abdulsalam, Drs. Moh.Anief, Drs.Sukartono, Dr.
Santosoatmodjo. Nanizar Zaman Joenoes, Pharm.D, Dra. J. F.
7.Posologi Ketua: Prof. Dr. Sudjono D. Wattimena MSc, Drs. Sjahrir.
Poesponegoro; Anggota: Agusnama Garnama, Drs. 6. Biologi Ketua: Prof. Dr. Soetarman; Anggota: DR.
Kirana Rahardja. Slamet Djais, Drs. M.S. Nasution, Drs.
Susunan Dewan Redaksi Farmakope Indonesia Koesdarminto, Drs. P.S.M. Simatupang, Drs.
Edisi II tahun 1972 berdasarkan keputusan Panitia Santosoadmojo, Drs. Dzulkarnaen Benny.
Farmakope Indonesia tanggal 23 September 1970 7. Posologi Ketua: Drs. Kirana Rahardja; Anggota:
No.035/PFI/SK/10/70, dan tanggal 5 November 1971 Agusnama Garmana.
No.094/PFI/10/71 adalah sebagai berikut: Ketua: Disamping itu, untuk melaksanakan pekerjaan
Drs. Marisi P. Sihombing; Wakil Ketua I: Drs. harian, Panitia Ekstra Farmakope Indonesia, telah
Heman; Wakil Ketua II: Drs. Martono dibentuk Pelaksana Harian dengan Surat Keputusan
Winotopradjoko; Sekretaris I: Drs. R. Bambang Ketua Panitia Ekstra Farmakope Indonesia tanggal 24
Soetrisno; Sekretaris II: Drs.M. Bambang Lesmono; Januari 1972, No.01/SK/E/I/7. Adapun susunan
Anggota: Dra. Aminah Abdulsalam, Drs. Kirana Pelaksana Harian adalah sebagai berikut: Ketua:
-6-

Drs. Heman; Sekretaris I: Drs. Respati Bambang terjadi dalam dunia farmasi, Indonesia harus dapat
Soetrisno; Sekretaris II: Drs. M. Bambang Lesmono; menangkap peluang bersaing di pasaran bebas dunia
Anggota: Drs. Zainal Arifin, Drs. M. Soemitro, Dra. dengan menghasilkan produk-produk farmasi yang
Sugati Syamsuhidayat, Dra. Sjamsimar, Dra. Tjuk bermutu tinggi. Untuk itu Indonesia perlu
Sudiarti, Drs. Farouq, Dra. Aminah Abdulsalam, Drs. mengadakan harmonisasi standarisasi dalam bidang
Sjahrir, Drs. P.S.M. Simatupang, Drs. farmasi sesuai dengan perkembangan di negara maju.
Santosoatmodjo, Surjati BSc., Drs. Dzulkarnaen Oleh karena itu pada tahun 1990 dibentuk suatu
Benny. Tim Revisi Farmakope Indonesia edisi III untuk
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan mengkaji dasar-dasar revisi Farmakope Indonesia
RI No.1858/II/SK/78, tanggal 21 September 1978 edisi III yang terdiri atas Ketua: Drs. Slamet Soesilo;
dibentuk Panitia Farmakope Indonesia untuk Wakil Ketua: Prof. DR. Charles J. P. Siregar, MSc.,
menyusun Farmakope Indonesia edisi III sebagai Dra. Andajaningsih, MSc., Sekretaris: Drs. Richard
revisi Farmakope Indonesia edisi II dan diberlakukan Panjaitan, SKM, DR. Emilia Devi; Anggota: Prof.
oleh Menteri Kesehatan RI, berdasarkan Surat DR. H. Raslim Rasyid, Prof. DR. Kosasih
Keputusan No. 395/Menkes/SK/X/79, tertanggal 9 Satyadarma, Prof. Drs. Soemadi, Prof. DR. J.
Oktober 1979. Adapun susunan Panitia Farmakope Wattimena, MSc., DR. Marchaban, DR. Sriwoelan
Indonesia edisi III adalah sebagai berikut: Ketua: Soebito, DR. Daniel Santoso, Drs. J. A. Kawira, Dra.
DR. Midian Sirait; Wakil Ketua I: Drs. E. Looho; Sri Sugati Sjamsuhidajat, Drs. Soemitro, Drs. H.
Wakil Ketua II: Drs. Djasman; Sekretaris I: Drs. M. Tjetje, Drs. Darodjatun, Dra. Maria Setioseputro.
Bambang Lesmono; Sekretaris II: Drs. A. Fadilla Sebagai tindak lanjut, dibentuk Panitia Farmakope
Rivai. Indonesia untuk pelaksanaan revisi dengan Surat
Seksi-seksi: Keputusan Menteri Kesehatan RI
1.Tatanama dan Istilah Ketua: Drs. Marisi P. No.468/Men.Kes/SK/VIII/1991 tanggal 19 Agustus
Sihombing; Anggota: Drs. Heman; Drs. Martono 1991, dengan susunan sebagai berikut: Ketua Umum:
Winotopradjoko. Drs. Slamet Soesilo; Ketua Pelaksanan: Prof. DR.
2.Farmakologi dan Klinis Ketua: Dr. B. Setiawan; Charles J. P. Siregar, MSc.; Wakil Ketua Pelaksana:
Anggota: DR. dr. Yap Tjiang Beng, Drs. Sjarifuddin Dra. Andajaningsih, MSc; Sekretaris: Drs. Richard
Djalil, Dr. Nanizar Zaman Joenoes, Pharm.D. Panjaitan, SKM.
3.Farmakognosi Ketua: Drs. Sunarto Prawirosujanto; Seksi-seksi:
Anggota: Drs. R. Bambang Soetrisno, Dra. Titi 1. Tatanama, Farmasi Umum dan Perundang-
Wirahardja, Drs. R.M. Taroeno, Drs.Indiarto. undangan Ketua: Drs. Soemitro; Anggota: Drs.
4. Kimia Umum Analisa dan Tetapan Ketua: Prof. Wisnu Katim, Drs. Richard Panjaitan, SKM, Drs.
DR. Sasongko Adisewojo; Anggota: Dra. Sugati Ading Suryana, Drs. H. Nawawi, SKM, Drs. A.
Syamsuhidajat, Drs. M. Soemitro, Drs. Iswandi, Drs. Hadyana Pudjaatmaka, Ph.D., DR.Virginia.
Kosasih Padmawinata, Drs. Sardjoko, Drs. Nazly 2. Biologi/Mikrobiologi Ketua: Prof. DR. Slamet
Helmy, Drs. Farouq. Djais; Anggota: DR. Sudana, Drs. P.S.M.
5. Farmasi Ketua: Drs. Munazir Sadjad; Anggota: Simatupang, DR. Elin Yulinah, Dra. Lamria Siregar,
Drs. Sirad Atmodjo, Drs. Arifin I. Hidayat, DR. Drs. Wusmin Tambunan, DR. Iwan Soemara.
Fauzi Syuib, Drs. Charles Siregar, MSc; DR. Emilia 3. Farmasetika/Teknologi Farmasi Ketua: Prof. DR.
Devi Logawa, Dra. Sofina I. Nasution. Charles J.P. Siregar, MSc; Anggota: Prof. DR.
6. Biologi Ketua: Prof. Dr.Soetarman; Anggota: DR. Goeswin Agoes, Prof. Drs. Moh. Anif, DR. Uluan
Slamet Djais, Drs. M.S. Nasution, Drs. P.S.M. Sitorus, DR. Uu Mar’u.
Simatupang, Drs. B. Dzulkarnain, Drs. Rivai 4. Farmakokinetika/Biofarmasi Ketua: Prof. DR.
Muhibat. Fauzi Syuib; Anggota: Prof. DR. A.Aziz Hubeis, DR.
7. Posologi Ketua: Drs. Kirana Rahardja; Anggota: Yeyet Cahyati S, Drs. Lukman Hakim, M.Sc, Ph.D.,
Drs. Soepardi, Drs. Hamdi Mahmud. Dra. Arini Setiawati, Ph.D., Dra. Sri Suryawati, MS,
Selain Panitia telah dibentuk pula Dewan Redaksi Dra. Syamsiah, Drs. Ibrahim Koatma.
yang susunannya sebagai berikut: Drs. M. P. 5. Farmakologi/Posologi/Toksikologi Ketua: Prof.
Sihombing; Wakil Ketua: Drs. M. Bambang DR. J.R. Wattimena, M.Sc; Anggota: Prof. Ma’arifin
Lesmono; Sekretaris: Drs.Soepardi; Anggota: Drs. Husin, Dra. Andajaningsih, MSc, DR. Sarjono O
Martono Winotopradjoko, Drs. Iswandi, Prof. DR. Santoso, Dr. Budiono Santoso, Ph.D, Dra. Maria
Slamet Djais. Setioseputro, Dra. Sri Endreswari, Drh. Thamrin P.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan 6. Farmakognosi/Fitokimia Ketua: Prof. DR.
teknologi secara pesat dalam selang waktu yang Sutaryadi; Anggota: Prof. DR. Kosasih Padmawinata,
relatif panjang, yaitu tahun 1979 sampai tahun 1995, Prof. DR. Iwang Soediro, Drs. Sudjaswadi
kebutuhan untuk merevisi Farmakope Indonesia edisi Wiryowidagdo, Drs. Djoko Hargono, DR. Suwijiyo
III tahun 1979 merupakan hal yang sangat mendesak. Pramono.
Untuk mengantisipasi era globalisasi yang akan
-7-

7. Imunologi/Serologi Ketua: DR. Kusdarminto; DR. Iwang Soediro, Drs. Djoko Hargono, DR.
Anggota: Drs. Darodjatun, Dr. Sutaryo, Prof. DR. Suwijiyo Pramono, Drs. Sudjaswadi Wiryowidagdo.
Karnen Baratawidjaja, Ir. Pudjoprajitno, Dra. Mulyati 7. Imunologi/Serologi Ketua: DR. Kusdarminto;
Prijanto, Dr. Lina Herlina Soemara, Dra. Peggy Anggota: Prof. DR. Karnen Baratawidjaja, Drs.
Sunotoredjo, Dra. Sri. Kusmartini. Darodjatun, DR. Sutaryo, Dra. Sri Endeswari, Dra.
8. Klinis Ketua: Prof. DR. Karyadi; Anggota: Prof. Mulyati Prijanto, Dra. Peggy Sunotoredjo.
DR. Suyono Hadi, Prof. Dr. Widjoseno Gardjito, Dr. 8. Kimia Analisis/Kimia Farmasi/Bahan
Armen Muchtar, Dr. Hanafi B. Trisnohadi. Pembanding Ketua: Prof. DR. Kosasih Satyadarma;
9. Kimia Analisis/Kimia Farmasi/Bahan Anggota: Prof. DR. Soekeni Soedigdo, Prof. Drs.
Pembanding Ketua: Prof. DR. Sasongko Adisewojo; Sarjoko, Prof. DR. Raslim Rasjid, DR. Sriwoelan
Anggota: Prof. DR. Kosasih Satyadarma, Prof. DR. Soebito, DR. Makin Ibnu Hajar, DR. Kurnia Firman,
Soekeni Soedigdo, Prof. Drs. Sarjoko, Prof. DR. M.Sc, DR. Daniel Santoso, Drs. Swasono R. Tamat,
Raslim Rasjid, Dra. Sri Sugati Sjamsuhidajat, DR. MSc., PhD, Drs. Kawira, DR. Emelia Devi Logawa,
Sriwoelan Soebito, DR. Makin Ibnu Hajar, DR. Drs. Syahrial Tahir, Dra. Wayan Rediatning Suparna,
Daniel Santoso, Drs. Kawira, Drs. Swasono R. MSc.
Tamat, MSc., PhD, DR. Emelia Devi Logawa, Drs. Untuk memeriksa naskah Farmakope Indonesia
Syahrial Tahir, Dra. Wayan Rediatning Suparna, edisi IV dibentuk Dewan Redaksi Panitia Farmakope
MSc. Indonesia edisi IV berdasarkan SK Dirjen
Selanjutnya dibentuk kembali Panitia Farmakope Pengawasan Obat dan Makanan No.
Indonesia berdasarkan SK Men.Kes RI No. HK.00.06.2.01494, dengan susunan sebagai berikut:
695/Men.Kes/SK/VIII/1992 untuk melanjutkan Pengarah: Drs. Wisnu Katim; Ketua: Dra.
penyusunan Farmakope Indonesia edisi IV yang Andajaningsih, MSc; Wakil Ketua Pelaksana: Drs.
susunannya sebagai berikut: Ketua: Drs. Slamet Richard Panjaitan, SKM; Sekretaris: Dra. Lucky S.
Soesilo; Ketua Pelaksana: Dra. Andajaningsih, MSc; Slamet, M.Sc, DR. Emelia Devi Logawa; Anggota:
Wakil Ketua Pelaksana: Drs. Richard Panjaitan, Prof. DR. Charles J.P. Siregar, MSc, DR. Kurnia
SKM; Sekretaris: 1. Drs. Tjartim Hasan, 2. Dra. Firman, M.Sc, DR. Makin Ibnu Hajar, Drs.
Lucky S. Slamet, M.Sc. Sudjaswadi Wiryowidagdo, Drs. Soemitro, DR.
Seksi-seksi: Sriwoelan Soebito, Dra. Sri Sugati Sjamsuhidajat,
1. Tatanama, Farmasi Umum dan Perundang- Drs. A. Hadyana Pudjaatmaka, Ph.D., DR. Daniel
undangan Ketua: Drs. Soemitro; Anggota: Drs. Santoso.
Ading Suryana, Drs. Richard Panjaitan, SKM, Dra. Sesuai dengan amanat Undang-Undang No 36
Sri Sugati Sjamsuhidajat, Drs. A. Hadyana Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 105 “Sediaan
Pudjaatmaka, Ph.D., Dra. Siti Nurhayati, Drs. Janahar Farmasi yang berupa obat dan bahan baku obat harus
Murad. memenuhi syarat Farmakope Indonesia atau buku
2. Biologi/Mikrobiologi Ketua: DR. Sudana standar lainnya”, Farmakope memegang peranan
Atmawijaya; Anggota: Drs. P.S.M. Simatupang, DR. penting dalam jaminan mutu obat pada saat proses
Elin Yulinah, Dra. Lamria Siregar, Drs. Wusmin produksi dan saat sudah menjadi sediaan obat jadi
Tambunan, DR. Iwan Soemara, DR.Virginia. serta menjadi acuan utama untuk pengawasan mutu
3. Farmasetika/Teknologi Farmasi Ketua: Prof. DR. obat beredar, dalam upaya perlindungan kesehatan
Charles J.P. Siregar, MSc; Anggota: Prof. DR. masyarakat dari risiko obat yang tidak memenuhi
Goeswin Agoes, Prof. Drs. Moh. Anif, Drs. Munazir, syarat, palsu, substandar dan ilegal. Oleh sebab itu,
Drs. Tjetje, DR. Uluan Sitorus, DR. Uu Mar’u, Dra. dalam rangka up date Farmakope Indonesia Edisi IV
Maria Setioseputro, Drs. Syarif Bastaman, Drs. sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, maka
Soekismono. disusun Suplemen I Farmakope Indonesia Edisi IV
4. Farmakokinetik/Biofarmasi Ketua: Prof. DR. yang diberlakukan pada tanggal 27 Januari 2010 oleh
Fauzi Syuib; Anggota: Prof. DR. A. Aziz Hubeis, Menteri Kesehatan melalui Surat Keputusan Menteri
DR. Yeyet Cahyati S, Drs. Lukman Hakim, M.Sc, Kesehatan RI Nomor
Ph.D., Dra. Sri Suryawati, MS, Drs. Ibrahim Koatma. HK.03.01/MENKES/150/I/2010. Suplemen I
5. Farmakologi/Posologi/Toksikologi Ketua: Prof. Farmakope Indonesia Edisi IV memuat 105
DR. J.R. Wattimena, M.Sc; Anggota: Dra. monografi baru, 85 monografi dengan perubahan, 2
Andajaningsih, MSc, Prof. Dr. Karyadi, Prof. DR. lampiran baru dan 12 lampiran dengan perubahan.
Suyono Hadi, Prof. Dr. Widjoseno Gardjito, Dr. Adapun susunan Panitia Suplemen I Farmakope
Budiono Santoso, Ph.D, DR. Sarjono O Santoso, Dra. Indonesia Edisi IV sesuai Keputusan Menteri
Maria Setioseputro, Dra. Sri Endreswari, Drh. Kesehatan RI Nomor 712/MENKES/SK/IX/2009
Thamrin P, Dr. Armen Muchtar, Dr. Hanafi B. tanggal 1 September 2009 adalah sebagai berikut :
Trisnohadi, Dra. Azizi Nuraini. Pelindung: Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
6. Farmakognosi/Fitokimia Ketua: Prof. DR. Ketua 1: Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kosasih Padmawinata Prof. DR. S; Anggota:, Prof. Kesehatan, Ketua 2: Deputi Bidang Pengawasan
-8-

Produk Terapetik dan NAPZA, Wakil Ketua: Dalam penyusunan Suplemen II Farmakope
Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Indonesia Edisi IV, panitia penyusunan Suplemen
Kesehatan, Sekretaris 1: Direktur Bina Penggunaan Kedua (II) Farmakope Indonesia Edisi IV disahkan
Obat Rasional, Sekretaris 2: Direktur Standardisasi melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
Produk Terapetik dan PKRT, Badan POM. 1390/MENKES/SK/IX/2010 tanggal 21 September
Seksi-seksi: 2010 dengan Susunan panitia sebagai berikut:
1. Tata nama, farmasi, umum dan perundang- Pelindung: Menteri Kesehatan, Pengarah: Direktur
undangan Ketua: Dra. Lucky S.Slamet, MSc; Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan;
Anggota: Dra. Reri Indriani, Apt; Drs. T. Bahdar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan; Deputi
Johan Hamid, Apt, M.Pharm; Dra. Siti Aisyah, M.Si; Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA,
Prof. DR. Ernawati Sinaga; Drs. Udjianto, Apt; Drs. Ketua: Direktur Bina Penggunaan Obat Rasional,
Janahar Murad, Apt; Dra. Nani Sukasediati, Apt, Sekretaris: Direktur Standardisasi Produk Terapetik
MSi; Dra. Ema Viaza, Apt. dan PKRT.
2. Biologi/Mikrobiologi Ketua: Prof. DR. Sudana Seksi-seksi:
Atmawidjaja; Anggota: DR. Isnaeni, MS; DR. Marlia 1. Tatanama, farmasi, umum dan perundang-
Singgih; Drs. Wusmin Tambunan, MSi; Dra. Sumaria undangan Ketua: Dra.Nasirah Bahaudin, Apt, MM;
Sudan, Apt; dr. Zorni Fadia; Erie Gusnellyanti, S.Si, Anggota: Drs. Richard Pandjaitan, Apt, SKM; DR.
Apt; Faiq Bahfen, SH, LLM; Dra. Lucky S. Slamet, MSc,
3. Farmasetika/Teknologi Farmasi Ketua: DR. Yudi Apt; Drs. Purwadi, Apt, MM, ME; Dra. Reri Indriani,
Padmadisastra, MSc; Anggota: DR. Hasan Rachmat, Apt, MSi; Drs. Janahar Murad, Apt; Dra. Anggraini
M; Drs. Richard Panjaitan, Apt, SKM; Dra. Armyn, Apt, MM; Budi Djanu Purwanto, SH, MH;
Augustine Zaini, MSi; Dra. Rahmaniar Ulfah. MSi; Dra. Ema Viaza, Apt.
Dra. Ani Sulistyowati, Apt; Drs. Purwadi, Apt, 2. Biologi/Mikrobiologi Ketua: Prof. DR. Wahyono,
MKes; Dra. Dettie Yulia, Apt, MSi. SU, Apt; Anggota: Prof. DR. Ernawati Sinaga, Apt;
4. Farmakokinetik/Biofarmasi Ketua: Prof. DR. DR. Isnaeni, Apt, MS; DR. Debbie S. Retroningrum,
Yeyet Cahyati Sumirtapura; Anggota: Prof. DR. Apt; Dra. Sumaria Sudian, Apt; Dra. Kusmiaty, Apt,
Lukman Hakim, MSc; Drs. Didik Hasmono, MS; dr. M.Pharm; Dra. Dwi Retno, MSi; Drs. Wusmin
Abdullah Akhmad, MARS; Dra. Hermini Tetrasari, Tambunan, M.Si; Drs. Adriansyah; dr. Zorni Fadia;
MSi; Dita Novianti, S.Si, Apt, MM; Rohayati Dra. Dara Amelia, Apt, MM.
Rahafat, S.Si, Apt. 3. Farmasetika/Teknologi Farmasi Ketua: Prof. DR.
5. Kimia analisis/Kimia Farmasi/Bahan Pembanding Achmad Fudholi, DEA, Apt; Anggota: Prof. DR.
Ketua: Prof. DR. Slamet Ibrahim DEA; Anggota: Yudi Padmadisastra, MSc, Apt; DR. Hasan Rachmat,
DR. M. Yuwono; DR. Made Harmita, Apt; Drs. Siam Apt; DR. Marlin Abdassah, Apt; Dra. Esti Hendradi,
Subagyo, MSi; Drs. Ketut Kartawijaya, Apt; Drs. Apt, PhD; Dra. Augustine Zaini, Apt, MSi; Dra.
Syahrial Tahir, Apt; Drs. Sudjaswadi Wirjowidagdo, Rahmaniar Ulfah, Apt, MSi; Dra. Ani Sulistyowati,
Apt; Drs. JA. Kawira, Apt. Apt; Liza Fetrisiani, S.Si, Apt.
Susunan Dewan Redaksi Suplemen Pertama (I) 4. Farmakokinetik/Biofarmasi Ketua: Prof. DR.
Farmakope Indonesia Edisi IV terdiri dari: Ketua: Yeyet Cahyati Sumirtapura; Anggota: Prof. DR.
Drs. T. Bahdar J. Hamid, Apt, M.Pharm; Wakil Lukman Hakim, MSc, Apt; Drs. Didik Hasmono,
Ketua: Dra. Nasirah Bahaudin, Apt, MM dan Dra. MS; Dra. Hermini Tetrasari, MSi, Apt; Dra. Ati
Reri Indriani, MSi; Sekretaris: Dra. Siti Aisyah, MSi; Setiawati, M.Si, Apt; Dra. Ketut Kartawijaya, Apt;
Dra. Augustine Zaini, MSi; dr. Abdullah Akhmad, Dra. Engko Sosialine, Apt, M.Biomed; Dra. R. Dettie
MARS; Anggota: Prof. Dr. Budi Sampurna, SH; Drs. Yuliati, Apt, MSi.
Purwadi, Apt, MKes; Dra. Nani Sukasediati, Apt, 5. Kimia analisis/Kimia Farmasi/Bahan Pembanding
MSi; Sekretariat: Drs. Rahbudi Helmi, Apt, MKes; Ketua: Prof. DR. Slamet Ibrahim DEA; Anggota:
Tyaswening, SH, MM; Arsil Rusli, SH, MH; Drs. DR. M. Yuwono; Prof. DR. Sudibyo Martono, MS,
Riza Sultoni, Apt, MM; dr. Zorni Fadia; Dra. Nurma Apt; Drs. Siam Subagyo, MSi; Drs. T. Bahdar J.
Hidayati, M.Epid; Dra. Tuning Nina, Apt; Dra. Frida Hamid, Apt, M.Pharm; Drs. JA. Kawira, Apt; DR.
Tri Hadiati, Apt; Dra. Sumaria Sudian; Dra. Harmita, Apt; Drs. Janahar Murad; Drs. Syahrial
Kusmiaty MPharm; Dra. Herlina Budi, MSi; Dra. Tahir, Apt; Drs. Sudjaswadi Wirjowidagdo, Apt; Dra.
Hotma Limbong; Dra. Ati Setiawati, MSi; Dra. Nani Sukasediati, M.Si, Apt.
Neviyenti, Apt; Dra. Dini Prapti, MSi; Dra. Mirawati Selain panitia, telah dibentuk pula Dewan Redaksi
Siregar, MSi; Dra. Hariati Wiratningrum, MSi; Dra. Suplemen II Farmakope Indonesia Edisi IV sesuai
Rita Aritonang; Dra. Rosalyn, MSi; Dra. Lucky Surat Keputusan Dirjen Binfar dan Alkes Nomor
Hayati, MSi; Dra. Moriana Hutabarat, MSi; Dra. HK.03.05/III/873.1/2010 tanggal 29 Oktober 2010
Muhti Okayani, MEpid; Setyo Utami, SSi; dengan Ketua: Drs. Bahdar J. Hamid, Apt, M.Pharm;
Lusitawati, SSi, MSi; Daryani, SSi, Apt. Wakil Ketua: Dra. Nasirah Bahaudin, Apt, MM dan
Dra. Augustine Zaini, Apt, M.Si; Sekretaris:Dita
-9-

Novianti, SSi, Apt, MM; Anggota: Drs. Richard DR. M. Yuwono; Prof. DR. Sugeng Riyanto, Apt,
Pandjaitan, Apt, SKM; Drs. Janahar Murad, Apt; Drs. MS; Drs. JA. Kawira, Apt; DR. Harmita, Apt; Drs.
Syahrial Tahir, Apt, MM; Drs. Sudjaswadi Siam Subagyo, MSi; Drs. T. Bahdar J. Hamid, Apt,
Wirjowidagdo, Apt; Drs. Ketut Kartawijaya, Apt; M.Pharm; Drs. Janahar Murad; Drs. Syahrial Tahir,
Dra. Nani Sukasediati, Apt, MSi. Apt; Drs. Sudjaswadi Wirjowidagdo, Apt; Dra. Nani
Suplemen II Farmakope Indonesia Edisi IV terdiri Sukasediati, M.Si, Apt.
dari 103 monografi baru, 103 monografi dengan Selain panitia, telah dibentuk pula Dewan Redaksi
perbahan, 2 lampiran baru dan 4 lampiran dengan Suplemen Ketiga (III) Farmakope Indonesia Edisi IV
perubahan. sesuai Surat Keputusan Dirjen Binfar dan Alkes
Dalam rangkaian pemutakhiran Farmakope Nomor HK.03.05/V/424.1/2011 tanggal 5 Agustus
Indonesia Edisi IV secara berkesinambungan, maka 2011 dengan Ketua: Drs. Bahdar J. Hamid, Apt,
selanjutnya disusun Suplemen III Farmakope M.Pharm; Wakil Ketua: Dra. Augustine Zaini, Apt,
Indonesia Edisi IV dengan susunan panitia yang M.Si; dan dr.Setiawan Soeparan, MPH; Sekretaris:
disahkan melalui SK Menteri Kesehatan RI No. Dra. Detti Yuliati, Apt, M.Si; Anggota: Drs. Richard
1396/MENKES/SK/VII/ 2011 tanggal 4 Juli 2011 Pandjaitan, Apt, SKM; Drs. Janahar Murad, Apt; Drs.
dengan susunan sebagai berikut: Pelindung: Menteri Syahrial Tahir, Apt, MM; Drs. Sudjaswadi
Kesehatan RI, Pengarah: Kepala Badan Pengawas Wirjowidagdo, Apt; Drs. Ketut Kartawijaya, Apt;
Obat dan Makanan, Ketua 1: Direktur Jenderal Bina Dra. Nani Sukasediati, Apt, MSi.
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Ketua II: Deputi Suplemen III Farmakope Indonesia Edisi IV yang
Bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan NAPZA, terdiri dari 107 monografi baru, 97 monografi dengan
Sekretaris I: Direktur Bina Produksi dan Distribusi perubahan, 3 lampiran baru dan 7 lampiran dengan
Kefarmasian, Sekretaris II: Direktur Standardisasi perubahan, diberlakukan melalui Keputusan Menteri
Produk Terapeutik dan PKRT Kesehatan RI Nomor 006/MENKES/SK/I/2012
Seksi-seksi: tanggal 12 Januari 2012.
1. Tatanama, farmasi, umum dan perundang- Farmakope Indonesia Edisi IV yang telah
undangan Ketua: Dra. Lucky S.Slamet, MSc; dilengkapi dengan Suplemen I, Suplemen II, dan
Anggota: Drs. Richard Pandjaitan, Apt, SKM; Dra. Suplemen III perlu direvisi untuk disesuaikan dengan
Augustine Zaini, MSi; Dra. Endang Woro T, Apt, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
MSc; Dra. Reri Indriani, Apt; Dra. Nasirah Bahaudin, bidang kefarmasian. Penyusunan Farmakope
Apt, MM; Drs. Purwadi, Apt, MM, ME; Budi Djanu Indonesia Edisi V didahului dengan Pembentukan
Purwanto, SH, MH; Dra. Anggraini Armyn, Apt, Panitia Penyusun Farmakope Indonesia Edisi V
MM; Elza Gustanti, S.Si, Apt. melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI
2. Biologi/Mikrobiologi Ketua: Prof. DR. Wahyono, Nomor: 006/MENKES/SK/I/2014 tanggal 13 Januari
SU, Apt; Anggota: Prof. DR. Ernawati Sinaga, Apt; 2014 dengan Susunan panitia sebagai berikut:
DR. Isnaeni, Apt, MS; DR. Debbie S. Retroningrum, Pelindung: Menteri Kesehatan, Pengarah: Kepala
Apt; Drs. Roland Hutapea, M.Sc; Drs. Wusmin Badan Pengawas Obat dan Makanan, Ketua I:
Tambunan, Apt, MSi; Dra. Kusmiaty, Apt, M.Pharm; Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Dra. Dwi Retno, MSi; Drs. Riza Sultoni, Apt, MM; Kesehatan, Ketua II: Deputi Bidang Pengawasan
Drs. Elon Sirait, Apt, MScPH. Produk Terapetik dan NAPZA, Sekretaris I: Direktur
3. Farmasetika/Teknologi Farmasi Ketua: Prof. DR. Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Sekretaris
Achmad Fudholi, DEA, Apt; Anggota: Prof. DR. II: Direktur Standardisasi Produk Terapetik dan
Yudi Padmadisastra, MSc, Apt; DR. Hasan Rachmat, PKRT.
M; DR. Marlin Abdassah, Apt; Dra. Esti Hendradi, I. Seksi-seksi:
Apt, PhD; Dra. A. Retno Tyas Utami, Apt, M.Epid; 1. Tata nama, Farmasi Umum dan Perundang-
Dra. Muhti Okayani, Apt, M.Epid; Dra. Anny undangan
Sulistyowati, Apt; Dra. Rahmaniar Ulfah, Apt, MSi; Ketua: Dra. A. Retno Tyas Utami, Apt, M.Epid;
Dita Novianti S.A, S.Si, Apt; Ikka Tjahyaningrum, Anggota: Dra. Kustantinah, Apt, M.App.Sc; Drs.
S.Si, Apt. Richard Pandjaitan, Apt, SKM; Drs. T. Bahdar J.
4. Farmakokinetik/Biofarmasi Ketua: Prof. DR. Hamid, Apt, MPharm; Drs. Purwadi, Apt., MM.,
Yeyet Cahyati Sumirtapura; Anggota: Prof. DR. ME.; Dra. Endang Woro T, Apt. MSc; Dra.
Lukman Hakim. MSc, Apt; Drs. Didik Hasmono, Augustine Zaini, Apt, M.Si; Budi Djanu Purwanto,
MS; Dra. Siti Aisyah, Apt, MSi; Dra. Engko SH, MH; Dra. Moriana Hutabarat, Apt, MSi.; Dra.
Sosialine, Apt, M.Biomed; Drs. Ketut Kartawijaya, Hotma Limbong, Apt.; Dra. Hesti Kusuma, Apt.;
Apt; Dra. Hermini Tetrasari, Apt, MSi; Dra. Elis Dra. Loise Riani Sirait, Apt, MSi.; Aan Risma Uli
Sukmawati, Apt; Dra. Ati Setiawati, Apt, M.Si; Dra. Nainggolan, S.Si. Apt., MSi.; Sri Haryanti, S.Si.,
R. Dettie Yuliati, Apt, MSi. Apt.; Daryani, S.Si., M.Sc.
5. Kimia analisis/Kimia Farmasi/Bahan Pembanding 2. Biologi/Mikrobiologi Ketua: Prof. DR. Wahyono,
Ketua: Prof. DR. Slamet Ibrahim DEA; Anggota: SU, Apt.; Anggota: Prof. DR. Ernawati Sinaga, Apt.;
- 10 -

DR. Isnaeni, Apt, MS; DR. Debbie S. Retnoningrum, Parrangan; Ika Mahmudah, S.Si., Apt; Mutiara
Apt; Drs. Wusmin Tambunan, Apt, MSi; Dra. Djayanis Tia, S.Farm., Apt.
Kusmiaty, Apt, MPharm; Dra. Sumaria Sudian, Apt.; Farmakope Indonesia Edisi V ditetapkan sebagai
Dra. Dwi Retno, MSi; Dra. Muhti Okayani, Apt, standar mutu obat di Indonesia oleh Menteri
MEpid; Dina Sintia Pamela, Apt, MFarm.; Dra. Kesehatan RI melalui Keputusan Menteri Kesehatan
Sutanti Namtini, PhD.; Dra. Ika Prawahyu, RI Nomor: 108/MENKES/SK/IV/2014 tanggal 7
MBiomed.; Dra. Herlina Budi, Apt., MSi.; Henny April 2014 tentang Pemberlakuan Farmakope
Setiawati, S.Si., Apt.; Yulia Karyani Dewi, S.Si. Indonesia Edisi V.
3. Farmasetika/Teknologi Farmasi Ketua: Prof. DR. Farmakope Indonesia Edisi V kemudian dilengkapi
Achmad Fudholi, DEA, Apt.; Anggota: Prof. DR. dengan terbitnya Suplemen I melalui Keputusan
Yudi Padmadisastra, Apt, MSc; DR. Hasan Rachmat, Menteri Kesehatan RI Nomor: HK.02.02/MENKES/
Apt; DR. Marline Abdassah, Apt; Dra. Esti Hendradi, 366/2015 tanggal 15 September 2015. Disusul
Apt, PhD; Drs. Basuki Hadi, Apt, MM; Dra. Anny dengan Suplemen II dengan Keputusan Menteri
Sulistyowati, Apt; Dra. Rahmaniar Ulfah, Apt, MSi; Kesehatan RI Nomor: HK.01.07/MENKES/664/2017
Ikka Tjahyaningrum, S.Si., Apt; Nurul Hidayah., tanggal 28 Desember 2017 dan Suplemen III dengan
Apt., MSi.; Yudit Liske Kadang, S.Farm.,Apt; Attin Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:
Rachmawati,S.Si.; Lusitawati,S.Si.,Apt; Dra. Berlian HK.01.07/MENKES/457/2018 tanggal 24 Agustus
Hatulusan Hutagalung. 2018.
4. Farmakokinetik/Biofarmasi Ketua: Prof. DR. Perkembangan jenis dan sediaan obat beredar di
Yeyet Cahyati Sumirtapura; Anggota: Prof. DR. Indonesia serta perkembangan standar mutu agar
Yahdiana Harahap, Apt, MS; Prof. DR. Lukman terharmonisasi dengan standar internasional
Hakim, MSc; Drs. Didik Hasmono, Apt, MS; Drs. mendorong untuk disusunnya Farmakope Indonesia
Ketut Kartawijaya, Apt; DR. Iskandarsyah, MS, Apt; Edisi VI.
Dra. Hermini Tetrasari, Apt, MSi; Dra. Ati Setiawati, Untuk itu dibentuk Panitia Penyusun Farmakope
Apt, MSi; Drs. Siam Subagyo, MSi; Dra. Mirawati Indonesia Edisi VI melalui Surat Keputusan Menteri
Siregar, Apt; Dra. Neviyenti, Apt; Dra. T. Rosalin, Kesehatan RI Nomor: HK.01.07/MENKES/39/2020
Apt; Dra. Rita Aritonang, Apt; Diah Lestari, S.Si.; tanggal 10 Januari 2020.
Anggrida Saragih, S.Si., Apt; Sofiana Sari, S.Farm., Farmakope Indonesia Edisi VI ditetapkan sebagai
Apt. standar mutu obat di Indonesia oleh Menteri
5. Kimia Analisis/Kimia Farmasi/Bahan Kesehatan RI melalui Keputusan Menteri Kesehatan
Pembanding Ketua: Prof. DR. Slamet Ibrahim, DEA; RI ini.
Anggota: Prof. DR. M. Yuwono; Prof. DR. Sudibyo
Martono, MS; Prof. DR. Sugeng Riyanto, Apt., MS;
Drs. JA. Kawira,Apt; DR. Harmita, Apt; Drs.
Syamsudin, Apt, Msi; Drs. Janahar Murad, Apt; Drs.
Syahrial Tahir, Apt; Drs. Sudjaswadi Wirjowidagdo,
Apt; Dra. Nani Sukasediati, Apt, MSc; Dra.
Anggraini Armyn, Apt, MM; Dita Novianti, Apt,
MM; Dra. Dini Prapti Karyani, Apt., MSi.; Dra.
Hariati Wiratningrum, Apt., MSi; Nenden Solihatul
Zannah, S.Si., Apt; Lilik Budiarti, S.Si., Apt.
II. Dewan Redaksi Ketua: Dra. Engko Sosialine,
Apt., MBiomed; Wakil Ketua I: Dra. Augustine
Zaini, Apt., MSi; Wakil Ketua II: Drs. Purwadi, Apt.,
MM., ME; Sekretaris I: Dra. R. Dettie Yuliati, Apt.,
MSi; Sekretaris II: Dra. Nadirah Rahim, Apt., MKes;
Anggota: Drs. Richard Pandjaitan, Apt., SKM; Drs.
Janahar Murad, Apt; Drs. Syahrial Tahir, Apt., MM;
Dra. Nani Sukasediati, Apt., MSi; Drs. Wusmin
Tambunan, MSi. Drs. Siam Subagyo, MSi; Dra.
Tuning Nina Diyanti, Apt.
III. Sekretariat Ketua: Dra. Nadirah Rahim, Apt.,
MKes; Wakil Ketua: Dra. Muhti Okayani, Apt,
MEpid; Anggota: Dina Sintia Pamela, Apt., MFarm;
Ikka Tjahyaningrum, S.Si., Apt; Isnaeni Diniarti,
S.Farm., Apt; Helfi Yanti Alit Rahayu, S.Si.,Apt; Ari
Ariefah H., S.Farm., Apt; Nofiyanti; Damaris
- 11 -

DAFTAR SEDIAAN UMUM

1 Aerosol 12 Larutan
2 Emulsi 13 Pasta
3 Ekstrak dan Ekstrak Cair 14 Plester
4 Gel 15 Sediaan Obat Mata
5 Implan 16 Serbuk
6 Imunoserum 17 Supositoria
7 Inhalasi 18 Suspensi
8 Injeksi 19 Salep
9 Irigasi 20 Tablet
10 Kapsul 21 Vaksin
11 Krim

DAFTAR MONOGRAFI

1 Agar 29 Tablet Kunyah Alumina, Magnesia dan


2 Serbuk Agar Simetikon
3 Air Murni 30 Gel Aluminium Hidroksida
4 Air Steril untuk Injeksi 31 Gel Aluminium Hidroksida Kering
5 Air Steril untuk Irigasi 32 Amfoterisin B
6 Air untuk Injeksi 33 Salep Amfoterisin B
7 Akarbosa 34 Amfoterisin B untuk Injeksi
8 Tablet Akarbosa 35 Amikasin
9 Albendazol 36 Amikasin Sulfat
10 Tablet Albendazol 37 Injeksi Amikasin Sulfat
11 Alendronat Natrium 38 Amilorida Hidroklorida
12 Tablet Asam Alendronat 39 Tablet Amilorida Hidroklorida
13 Alfa Tokoferol 40 Aminofilin
14 Aloksiprin 41 Injeksi Aminofilin
15 Tablet Aloksiprin 42 Tablet Aminofilin
16 Alopurinol 43 Tablet Lepas Tunda Aminofilin
17 Tablet Alopurinol 44 Amiodaron Hidroklorida
18 Alprazolam 45 Injeksi Amiodaron Hidroklorida
19 Tablet Alprazolam 46 Amitriptilin Hidroklorida
20 Suspensi Oral Alumina dan Magnesia 47 Tablet Amitriptilin Hidroklorida
21 Tablet Alumina dan Magnesia 48 Amlodipin Besilat
22 Suspensi Oral Alumina dan Magnesium 49 Tablet Amlodipin Besilat
Karbonat 50 Amodiakuin Hidroklorida
23 Tablet Alumina dan Magnesium Karbonat 51 Tablet Amodiakuin Hidroklorida
24 Suspensi Oral Alumina dan Magnesium 52 Amoksisilin
Trisilikat 53 Kapsul Amoksisilin
25 Tablet Alumina dan Magnesium Trisilikat 54 Tablet Amoksisilin
26 Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan 55 Amoksisilin untuk Suspensi Oral
Kalsium Karbonat 56 Amoksisilin Natrium
27 Tablet Kunyah Alumina, Magnesia dan 57 Tablet Amoksisilin dan Kalium Klavulanat
Kalsium Karbonat 58 Amoksisilin dan Kalium Klavulanat untuk
28 Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan Suspensi Oral
Simetikon 59 Amonia
60 Amonium Klorida
- 12 -

61 Ampisilin 111 Krim Asam retinoat


62 Kapsul Ampisilin 112 Asam Salisilat
63 Tablet Ampisilin 113 Salep Asam Salisilat
64 Ampisilin untuk Injeksi 114 Asam Sitrat Anhidrat
65 Ampisilin untuk Suspensi Oral 115 Asam Sitrat Monohidrat
66 Ampisilin Natrium 116 Asam Sorbat
67 Ampisilin dan Sulbaktam untuk Injeksi 117 Asam Sulfat
68 Anastrozol 118 Asam Tartrat
69 Tablet Anastrozol 119 Asam traneksamat
70 Antazolin Hidroklorida 120 Injeksi Asam traneksamat
71 Antipirin 121 Tablet Asam traneksamat
72 Arang Jerap 122 Asam Undesilenat
73 Aripiprazol 123 Asam Ursodeoksikolat
74 Tablet Aripiprazol 124 Kapsul Asam Ursodeoksikolat
75 Artemeter 125 Asam Valproat
76 Injeksi Artemeter 126 Kapsul Asam Valproat
77 Tablet Artemeter dan Lumefantrin 127 Larutan Oral Asam Valproat
78 Artesunat 128 Asebutolol Hidroklorida
79 Artesunat untuk Injeksi 129 Kapsul Asebutolol Hidroklorida
80 Asam Alginat 130 Tablet Asebutolol Hidroklorida
81 Asam Aminokaproat 131 Asetazolamida
82 Tablet Asam Aminokaproat 132 Tablet Asetazolamida
83 Asam Aminosalisilat 133 Asetazolamida untuk Injeksi
84 Tablet Asam Aminosalisilat 134 Asetilkolin Klorida
85 Asam Asetat 135 Asetilsistein
86 Asam Asetat Glasial 136 Larutan Asetilsistein
87 Asam Asetilsalisilat 137 Aseton
88 Tablet Asam Asetilsalisilat 138 Asiklovir
89 Tablet Asam Asetilsalisilat Didapar 139 Krim Asiklovir
90 Tablet Eferversen Asam Asetilsalisilat 140 Salep Asiklovir
91 Tablet Lepas Tunda Asam Asetilsalisilat 141 Tablet Asiklovir
92 Asam Askorbat 142 Asiklovir untuk injeksi
93 Injeksi Asam Askorbat 143 Astemizol
94 Tablet Asam Askorbat 144 Tablet Astemizol
95 Asam Benzoat 145 Atenolol
96 Salep Asam Benzoat dan Salisilat 146 Tablet Atenolol
97 Asam Folat 147 Atorvastatin Kalsium
98 Tablet Asam Folat 148 Tablet Atorvastatin Kalsium
99 Asam Fosfat 149 Atrakurium Besilat
100 Asam Fusidat 150 Injeksi Atrakurium Besilat
101 Tetes Mata Asam Fusidat 151 Atropin Sulfat
102 Asam Hidroklorida 152 Injeksi Atropin Sulfat
103 Asam Mefenamat 153 Tablet Atropin Sulfat
104 Kapsul Asam Mefenamat 154 Tetes Mata Atropin Sulfat
105 Tablet Asam Mefenamat 155 Azatadin Maleat
106 Asam Nalidiksat 156 Azatioprin
107 Tablet Asam Nalidiksat 157 Tablet Azatioprin
108 Asam Nitrat 158 Azitromisin
109 Asam retinoat 159 Kapsul Azitromisin
110 Gel Asam retinoat 160 Tablet Azitromisin
- 13 -

161 Azitromisin untuk Injeksi 210 Bismut Subkarbonat


162 Azitromisin untuk Suspensi Oral 211 Bismut Subnitrat
163 Barium Sulfat 212 Bisoprolol Fumarat
164 Barium Sulfat untuk Suspensi 213 Tablet Bisoprolol Fumarat
165 Basitrasin 214 Bleomisin Sulfat
166 Basitrasin Zink 215 Bleomisin untuk Injeksi
167 Beklometason Dipropionat 216 Brinzolamida
168 Belerang Endap 217 Suspensi Tetes Mata Brinzolamida
169 Bentonit 218 Bromfeniramin Maleat
170 Benzalkonium Klorida 219 Bromheksin Hidroklorida
171 Benzatin Benzilpenisilin 220 Bromokriptin Mesilat
172 Suspensi untuk Injeksi Benzatin 221 Tablet Bromokriptin Mesilat
Benzilpenisilin 222 Budesonid
173 Benzetonium Klorida 223 Bupivakin Hidroklorida
174 Benzil Alkohol 224 Injeksi Bupivakin Hidroklorida
175 Benzil Benzoat 225 Bupivakin Hidroklorida dalam Injeksi
176 Benzoil Peroksida Hidrat Dekstrosa
177 Gel Benzoil Peroksida 226 Buprenorfin Hidroklorida
178 Benzokain 227 Buspiron Hidroklorida
179 Besi(II) Fumarat 228 Tablet Buspiron Hidroklorida
180 Tablet Besi(II) Fumarat 229 Busulfan
181 Tablet Besi(II) Fumarat dan Asam Folat 230 Tablet Busulfan
182 Besi(II) Glukonat 231 Butil Hidroksianisol
183 Tablet Besi(II) Glukonat 232 Butil Hidroksitoluen
184 Besi(II) Sulfat 233 Butilparaben
185 Larutan oral Besi(II) Sulfat 234 Daktinomisin
186 Tablet Besi(II) Sulfat 235 Daktinomisin untuk Injeksi
187 Betahistin Hidroklorida 236 Dapson
188 Tablet Betahistin Hidroklorida 237 Tablet Dapson
189 Betaksolol Hidroklorida 238 Daunorubisin Hidroklorida
190 Tetes Mata Betaksolol Hidroklorida 239 Daunorubisin Hidroklorida untuk Injeksi
191 Betametason 240 Deferoksamin Mesilat
192 Tablet Betametason 241 Deferoksamin Mesilat untuk Injeksi
193 Tetes Mata Betametason 242 Deksametason
194 Betametason Dipropionat 243 Gel Deksametason
195 Krim Betametason Dipropionat 244 Injeksi Deksametason
196 Salep Betametason Dipropionat 245 Tablet Deksametason
197 Betametason Natrium Fosfat 246 Deksametason Asetat
198 Injeksi Betametason Natrium Fosfat 247 Deksametason Natrium Fosfat
199 Betametason Valerat 248 Injeksi Deksametason Natrium Fosfat
200 Krim Betametason Valerat 249 Deksbromfeniramin Maleat
201 Salep Betametason Valerat 250 Deksklorfeniramin Maleat
202 Bikalutamida 251 Larutan Oral Deksklorfeniramin Maleat
203 Tablet Bikalutamida 252 Tablet Deksklorfeniramin Maleat
204 Biperiden 253 Dekspantenol
205 Injeksi Biperiden Laktat 254 Dekstran 40
206 Bisakodil 255 Injeksi Dekstran 40 dalam Dekstrosa
207 Supositoria Bisakodil 256 Injeksi Dekstran 40 dalam Natrium Klorida
208 Tablet Lepas Tunda Bisakodil 257 Dekstran 70
209 Bismut Subgalat 258 Injeksi Dekstran 70 dalam Dekstrosa
- 14 -

259 Injeksi Dekstran 70 dalam Natrium Klorida 309 Injeksi Diltiazem


260 Dekstrometorfan 310 Kapsul Lepas Lambat Diltiazem
261 Dekstrometorfan Hidrobromida Hidroklorida
262 Dekstrosa 311 Tablet Diltiazem Hidroklorida
263 Injeksi Dekstrosa 312 Dimenhidrinat
264 Dekualinium Klorida 313 Tablet Dimenhidrinat
265 Demeklosiklin Hidroklorida 314 Dimerkaprol
266 Kapsul Demeklosiklin Hidroklorida 315 Dimetikon
267 Deslanosida 316 Dinatrium Edetat
268 Injeksi Deslanosida 317 Tetes Mata Dinatrium Edetat
269 Desogestrel 318 Dipiridamol
270 Tablet Desogestrel 319 Tablet Dipiridamol
271 Tablet Desogestrel dan Etinil Estradiol 320 Disiklomin Hidroklorida
272 Desoksimetason 321 Disopiramida
273 Gel Desoksimetason 322 Disopiramida Fosfat
274 Krim Desoksimetason 323 Kapsul Disopiramida Fosfat
275 Salep Desoksimetason 324 Dobutamin Hidroklorida
276 Diazepam 325 Injeksi Dobutamin
277 Injeksi Diazepam 326 Dobutamin untuk Injeksi
278 Tablet Diazepam 327 Doksazosin Mesilat
279 Dibekasin Sulfat 328 Tablet Doksazosin
280 Dibukain Hidroklorida 329 Doksilamin Suksinat
281 Didanosin 330 Doksisiklin
282 Didanosin untuk Larutan Oral 331 Doksisiklin Hiklat
283 Didrogesteron 332 Kapsul Doksisiklin Hiklat
284 Tablet Didrogesteron 333 Tablet Doksisiklin Hiklat
285 Dietilkarbamazin Sitrat 334 Doksorubisin Hidroklorida
286 Tablet Dietilkarbamazin Sitrat 335 Doksorubisin Hidroklorida untuk Injeksi
287 Dietilstilbestrol 336 Suspensi oral Domperidon
288 Difenhidramin Hidroklorida 337 Domperidon Maleat
289 Injeksi Difenhidramin Hidroklorida 338 Tablet Domperidon
290 Larutan Oral Difenhidramin Hidroklorida 339 Donepezil Hidroklorida
291 Difenoksilat Hidroklorida 340 Tablet Donepezil Hidroklorida
292 Tablet Digitalis 341 Dopamin Hidroklorida
293 Digitoksin 342 Injeksi Dopamin Hidroklorida
294 Tablet Digitoksin 343 Droperidol
295 Digoksin 344 Edrofonium Klorida
296 Injeksi Digoksin 345 Efavirenz
297 Larutan Oral Digoksin 346 Kapsul Efavirenz
298 Tablet Digoksin 347 Efedrin
299 Dihidroergotamin Mesilat 348 Efedrin Hidroklorida
300 Dihidrostreptomisin Sulfat 349 Tablet Efedrin Hidroklorida
301 Diklofenak Kalium 350 Efedrin Sulfat
302 Tablet Diklofenak Kalium 351 Injeksi Efedrin Sulfat
303 Diklofenak Natrium 352 Ekonazol Nitrat
304 Tablet Lepas Tunda Diklofenak Natrium 353 Krim Ekonazol Nitrat
305 Dikloksasilin Natrium 354 Emetin Hidroklorida
306 Kapsul Dikloksasilin Natrium 355 Injeksi Emetin Hidroklorida
307 Dikloksasilin Natrium untuk Suspensi Oral 356 Enapril Maleat
308 Diltiazem Hidroklorida 357 Tablet Enapril Maleat
- 15 -

358 Enfluran 408 Tablet Famotidin


359 Epinefrin Bitartrat 409 Feksofenadin Hidroklorida
360 Injeksi Epinefrin 410 Kapsul Feksofenadin Hidroklorida
361 Tetes Mata Epinefrin 411 Tablet Feksofenadin Hidroklorida
362 Epirubisin Hidroklorida 412 Felodipin
363 Injeksi Epirubisin Hidroklorida 413 Fenazopiridin Hidroklorida
364 Epirubisin Hidroklorida untuk Injeksi 414 Fenilbutazon
365 Ergokalsiferol 415 Tablet Fenilbutazon
366 Ergometrin Maleat 416 Fenilefrin Hidroklorida
367 Injeksi Ergometrin Maleat 417 Fenilmerkuri Asetat
368 Tablet Ergometrin Maleat 418 Fenilmerkuri Nitrat
369 Ergotamin Tartrat 419 Fenilpropanolamin Hidroklorida
370 Ergotamin Tartrat Injeksi 420 Feniramin Maleat
371 Tablet Ergotamin Tartrat 421 Fenitoin
372 Tablet Ergotamin Tartrat dan Kofein 422 Suspensi Oral Fenitoin
373 Eritromisin 423 Tablet Kunyah Fenitoin
374 Salep Eritromisin 424 Fenitoin Natrium
375 Tablet Eritromisin 425 Injeksi Fenitoin Natrium
376 Eritromisin Etilsuksinat 426 Kapsul Fenitoin Natrium
377 Suspensi Oral Eritromisin Etilsuksinat 427 Fenobarbital
378 Tablet Eritromisin Etilsuksinat 428 Tablet Fenobarbital
379 Eritromisin Etilsuksinat untuk Suspensi Oral 429 Fenobarbital Natrium
380 Eritromisin Stearat 430 Injeksi Fenobarbital Natrium
381 Tablet Eritromisin Stearat 431 Fenobarbital Natrium untuk Injeksi
382 Estradiol 432 Fenofibrat
383 Estradiol Benzoat 433 Kapsul Fenofibrat
384 Estradiol Sipionat 434 Tablet Fenofibrat
385 Estriol 435 Fenol
386 Estrogen Terkonjugasi 436 Fenol Cair
387 Tablet Estrogen Terkonyugasi 437 Fenolftalein
388 Etakridin Laktat 438 Fenoterol Hidrobromida
389 Etambutol Hidroklorida 439 Fentanil Sitrat
390 Tablet Etambutol Hidroklorida 440 Injeksi Fentanil Sitrat
391 Etanol 441 Finasterid
392 Etanol Absolut 442 Tablet Finasterid
393 Etanol Encer 443 Fitonadion
394 Etoksibenzamida 444 Injeksi Fitonadion
395 Eter 445 Tablet Fitonadion
396 Etil Klorida 446 Fludarabin Fosfat
397 Etilmorfin Hidroklorida 447 Fludarabin Fosfat untuk Injeksi
398 Etilparaben 448 Fludrokortison Asetat
399 Etinil Estradiol 449 Flufenazin Dekanoat
400 Tablet Etinil Estradiol 450 Flufenazin Enantat
401 Etionamida 451 Flufenazin Hidroklorida
402 Tablet Etionamida 452 Tablet Flufenazin Hidroklorida
403 Etoposida 453 Flukloksasilin Natrium
404 Injeksi Etoposida 454 Flukonazol
405 Kapsul Etoposida 455 Injeksi Flukonazol
406 Etosuksimida 456 Kapsul Flukonazol
407 Famotidin 457 Tablet Flukonazol
- 16 -

458 Fluokortolon Heksanoat 508 Serbuk Gom Akasia


459 Fluokortolon Pivalat 509 Gonadotropin Korionik
460 Fluoksetin Hidroklorida 510 Gonadotropin Korionik untuk Injeksi
461 Kapsul Fluoksetin 511 Griseofulvin
462 Tablet Fluoksetin 512 Tablet Griseofulvin
463 Fluoksimesteron 513 Guaifenesin
464 Fluorometolon 514 Tablet Guaifenesin
465 Suspensi Tetes Mata Fluorometolon 515 Haloperidol
466 Fluoresein Natrium 516 Injeksi Haloperidol
467 Fluorourasil 517 Larutan Oral Haloperidol
468 Injeksi Fluorourasil 518 Tablet Haloperidol
469 Fluosinolon Asetonida 519 Halotan
470 Krim Fluosinolon Asetonida 520 Halsinonida
471 Salep Fluosinolon Asetonida 521 Heksaklorfen
472 Flurazepam Hidroklorida 522 Hidralazin Hidroklorida
473 Flurbiprofen Natrium 523 Hidrogen Peroksida Pekat
474 Furosemida 524 Larutan Topikal Hidrogen Peroksida
475 Injeksi Furosemida 525 Hidrokuinon
476 Tablet Furosemida 526 Krim Hidrokuinon
477 Gabapentin 527 Hidroklorotiazida
478 Kapsul Gabapentin 528 Tablet Hidroklorotiazida
479 Gansiklovir 529 Hidrokortison
480 Gansiklovir untuk Injeksi 530 Injeksi Suspensi Hidrokortison
481 Garam Oralit 531 Salep Hidrokortison
482 Gelatin 532 Tablet Hidrokortison
483 Gemfibrosil 533 Hidrokortison Asetat
484 Kapsul Gemfibrosil 534 Krim Hidrokortison Asetat
485 Tablet Gemfibrosil 535 Hidrokortison Butirat
486 Gemsitabin Hidroklorida 536 Hidroksiprogesteron Kaproat
487 Gemsitabin untuk Injeksi 537 Injeksi Hidroksiprogesteron Kaproat
488 Gentamisin Sulfat 538 Hidroksizin Hidroklorida
489 Injeksi Gentamisin 539 Hidroksokobalamin
490 Krim Gentamisin Sulfat 540 Hiosiamin Sulfat
491 Salep Gentamisin Sulfat 541 Hiosin Butilbromida
492 Salep Mata Gentamisin Sulfat 542 Injeksi Hiosin Butilbromida
493 Tetes Mata Gentamisin Sulfat 543 Tablet Hiosin Butilbromida
494 Gentian Violet 544 Hiosin Hidrobromida
495 Glibenklamida 545 Injeksi Hiosin Hidrobromida
496 Tablet Glibenklamida 546 Tablet Hiosin Hidrobromida
497 Gliklazida 547 Homatropin Hidrobromida
498 Tablet Gliklazida 548 Tetes Mata Homatropin Hidrobromida
499 Glimepirida 549 Ibuprofen
500 Tablet Glimepirida 550 Suspensi Oral Ibuprofen
501 Glipizida 551 Tablet Ibuprofen
502 Tablet Glipizida 552 Idoksuridin
503 Gliserin 553 Salep Mata Idoksuridin
504 Larutan Oral Gliserin 554 Ifosfamida
505 Tetes mata Gliserin 555 Ifosfamida untuk Injeksi
506 Glisin 556 Ioheksol
507 Gom Akasia 557 Injeksi Ioheksol
- 17 -

558 Iopamidol 607 Kalsium Sulfat


559 Injeksi Iopamidol 608 Kamfer
560 Iopromida 609 Kanamisin Sulfat
561 Injeksi Iopromida 610 Injeksi Kanamisin Sulfat
562 Ikhtamol 611 Kapsul Kanamisin Sulfat
563 Imipramin Hidroklorida 612 Kanamisin Sulfat untuk Injeksi
564 Indometasin 613 Kandesartan Sileksetil
565 Kapsul Indometasin 614 Tablet Kandesartan Sileksetil
566 Indometasin Natrium 615 Kaolin Ringan
567 Indometasin untuk Injeksi 616 Kapesitabin
568 Inositol Nikotinat 617 Tablet Kapesitabin
569 Iodum 618 Kapreomisin Sulfat
570 Iodum Tingtur 619 Kapreomisin Sulfat untuk Injeksi
571 Irbesartan 620 Kaptopril
572 Tablet Irbesartan 621 Tablet Kaptopril
573 Tablet Irbesartan dan Hidroklorotiazida 622 Karbamazepin
574 Irinotekan Hidroklorida 623 Suspensi Oral Karbamazepin
575 Injeksi Irinotekan Hidroklorida 624 Tablet Karbamazepin
576 Isoksuprin Hidroklorida 625 Karbidopa
577 Injeksi Isoksuprin Hidroklorida 626 Karbinoksamin Maleat
578 Isoniazid 627 Karboksimetilselulosa Natrium
579 Tablet Isoniazid 628 Karbon Dioksida
580 Isosorbid Dinitrat Encer 629 Karboplatin
581 Tablet Isosorbid Dinitrat 630 Injeksi Karboplatin
582 Tablet Lepas Lambat Isosorbid Dinitrat 631 Karboplatin untuk Injeksi
583 Tablet Sublingual Isosorbid Dinitrat 632 Karvedilol
584 Isosorbid Mononitrat Encer 633 Tablet Karvedilol
585 Tablet Isosorbid Mononitrat 634 Ketamin Hidroklorida
586 Tablet Lepas Lambat Isosorbit Mononitrat 635 Injeksi Ketamin Hidroklorida
587 Kalamin 636 Ketokonazol
588 Kalium Iodida 637 Krim Ketokonazol
589 Kalium Klorida 638 Tablet Ketokonazol
590 Kalium Klorida dalam Injeksi Natrium 639 Ketoprofen
Klorida 640 Kapsul Ketoprofen
591 Kalium Permanganat 641 Ketorolak Trometamin
592 Kalium Guaiakolsulfonat 642 Injeksi Ketorolak Trometamin
593 Kalsitriol 643 Tablet Ketorolak Trometamin
594 Kalsium Fosfat Dibasa Anhidrat 644 Kimotripsin
595 Kalsium Glukonat 645 Klaritromisin
596 Injeksi Kalsium Glukonat 646 Klaritromisin untuk Suspensi Oral
597 Kalsium Hidroksida 647 Tablet Klaritromisin
598 Larutan Topikal Kalsium Hidroksida 648 Tablet Lepas Lambat Klaritromisin
599 Kalsium Karbonat 649 Klavulanat Kalium
600 Suspensi Oral Kalsium Karbonat 650 Klemastin Fumarat
601 Tablet Kalsium Karbonat 651 Tablet Klemastin Fumarat
602 Kalsium Klorida 652 Klidinium Bromida
603 Injeksi Kalsium Klorida 653 Klindamisin Fosfat
604 Kalsium Laktat 654 Gel Klindamisin Fosfat
605 Tablet Kalsium Laktat 655 Injeksi Klindamisin
606 Kalsium Pantotenat 656 Larutan Topikal Klindamisin Fosfat
- 18 -

657 Suspensi Topikal Klindamisin Fosfat 705 Klorobutanol


658 Klindamisin untuk Injeksi 706 Klorobutanol Anhidrat
659 Klindamisin Hidroklorida 707 Kloroform
660 Kapsul Klindamisin Hidroklorida 708 Klorokresol
661 Klindamisin Palmitat Hidroklorida 709 Klorokuin
662 Klobazam 710 Klorokuin Fosfat
663 Tablet Klobazam 711 Tablet Klorokuin Fosfat
664 Klobetasol Propionat 712 Injeksi Klorokuin Hidroklorida
665 Krim Klobetasol Propionat 713 Klorokuin Sulfat
666 Klofazimin 714 Klorpromazin Hidroklorida
667 Kapsul Klofazimin 715 Injeksi Klorpromazin Hidroklorida
668 Kloksasilin Natrium 716 Sirup Klorpromazin Hidroklorida
669 Klomifen Sitrat 717 Tablet Klorpromazin Hidroklorida
670 Tablet Klomifen Sitrat 718 Klorpropamida
671 Klomipramin Hidroklorida 719 Tablet Klorpropamida
672 Kapsul Klomipramin Hidroklorida 720 Klortalidon
673 Klonazepam 721 Tablet Klortalidon
674 Tablet Klonazepam 722 Klorzoksazon
675 Klonidin Hidroklorida 723 Tablet Klorzoksazon
676 Injeksi Klonidin Hidroklorida 724 Klotrimazol
677 Tablet Klonidin Hidroklorida 725 Krim Klotrimazol
678 Klopidogrel Bisulfat 726 Larutan Topikal Klotrimazol
679 Tablet Klopidogrel 727 Tablet Vaginal Klotrimazol
680 Kloral Hidrat 728 Klozapin
681 Klorambusil 729 Tablet Klozapin
682 Tablet Klorambusil 730 Kodein
683 Kloramfenikol 731 Kodein Fosfat
684 Kapsul Kloramfenikol 732 Tablet Kodein Fosfat
685 Krim Kloramfenikol 733 Kodein Hidroklorida
686 Salep Mata Kloramfenikol 734 Kofein
687 Tetes Mata Kloramfenikol 735 Injeksi Kofein Sitrat
688 Tetes Telinga Kloramfenikol 736 Kolekalsiferol
689 Kloramfenikol Natrium Suksinat 737 Resin Kolestiramin
690 Kloramfenikol Natrium Suksinat untuk 738 Resin Kolestiramin untuk Suspensi Oral
Injeksi 739 Kolistin Sulfat
691 Kloramfenikol Palmitat 740 Kolkhisin
692 Suspensi Oral Kloramfenikol Palmitat 741 Tablet Kolkhisin
693 Klordiazepoksida 742 Koloidal Atapulgit Teraktivasi
694 Tablet Klordiazepoksida 743 Injeksi Kortikotropin
695 Klordiazepoksida Hidroklorida 744 Kortikotropin untuk Injeksi
696 Kapsul Klordiazepoksida Hidroklorida 745 Kortison Asetat
697 Tablet Klordiazepoksida Hidroklorida 746 Suspensi Steril Kortison Asetat
698 Kapsul Klordiazepoksid Hidroklorida dan 747 Kuinidin Sulfat
Klidinium Bromida 748 Tablet Kuinidin Sulfat
699 Klorfenamin Maleat 749 Kuinin Etilkarbonat
700 Injeksi Klorfenamin Maleat 750 Kuinin Hidroklorida
701 Tablet Klorfenamin Maleat 751 Kuinin Sulfat
702 Klorheksidin Asetat 752 Tablet Kuinin Sulfat
703 Larutan Klorheksidin Glukonat 753 Laktosa Anhidrat
704 Klorheksidin Hidroklorida 754 Laktosa Monohidrat
- 19 -

755 Laktulosa Pekat 805 Lopinavir


756 Larutan Laktulosa 806 Tablet Lopinavir dan Ritonavir
757 Lamivudin 807 Loratadin
758 Tablet Lamivudin 808 Larutan Oral Loratadin
759 Tablet Lamivudin dan Zidovudin 809 Tablet Loratadin
760 Lamotrigin 810 Lorazepam
761 Tablet Lamotrigin 811 Tablet Lorazepam
762 Lansoprazol 812 Losartan Kalium
763 Kapsul Lepas Tunda Lansoprazol 813 Tablet Losartan Kalium
764 Leflunomida 814 Lovastatin
765 Tablet Leflunomida 815 Tablet Lovastatin
766 Lemak Bulu Domba 816 Lumefantrin
767 Letrozol 817 Magnesium Hidroksida
768 Tablet Letrozol 818 Magnesium Karbonat
769 Leukovorin Kalsium 819 Magnesium Oksida
770 Injeksi Leukovorin Kalsium 820 Magnesium Stearat
771 Tablet Leukovorin Kalsium 821 Magnesium Sulfat
772 Leuprorelin 822 Injeksi Magnesium Sulfat
773 Leuprorelin untuk Injeksi 823 Magnesium Trisilikat
774 Levamisol Hidroklorida 824 Malam Kuning
775 Tablet Levamisol Hidroklorida 825 Malam Putih
776 Levetirasetam 826 Mangan Sulfat
777 Tablet Levetirasetam 827 Manitol
778 Levodopa 828 Injeksi Manitol
779 Levofloksasin 829 Maprotilin Hidroklorida
780 Infus Levofloksasin 830 Tablet Maprotilin Hidroklorida
781 Larutan Oral Levofloksasin 831 Mebendazol
782 Tablet Levofloksasin 832 Suspensi Oral Mebendazol
783 Levonorgestrel 833 Tablet Mebendazol
784 Tablet Levonorgestrel dan Etinil Estradiol 834 Medroksiprogesteron Asetat
785 Levotiroksin Natrium 835 Injeksi Suspensi Medroksiprogesteron Asetat
786 Tablet Levotiroksin Natrium 836 Tablet Medroksiprogesteron Asetat
787 Lidokain Hidroklorida 837 Meksiletin Hidroklorida
788 Gel Lidokain Hidroklorida 838 Melfalan
789 Injeksi Lidokain Hidroklorida 839 Tablet Melfalan
790 Larutan Oral-Topikal Lidokain Hidroklorida 840 Meloksikam
791 Injeksi Lidokain Hidroklorida dan Dekstrosa 841 Suspensi Oral Meloksikam
792 Injeksi Lidokain Hidroklorida dan Epinefrin 842 Tablet Meloksikam
793 Linestrenol 843 Menadion
794 Linkomisin Hidroklorida 844 Injeksi Menadion
795 Injeksi Linkomisin Hidroklorida 845 Menadion Natrium Bisulfit
796 Kapsul Linkomisin Hidroklorida 846 Mentol
797 Lisin Asetat 847 Mepiramin Maleat
798 Lisinopril 848 Meprobamat
799 Tablet Lisinopril 849 Merkaptopurin
800 Litium karbonat 850 Tablet Merkaptopurin
801 Tablet Litium karbonat 851 Meropenem
802 Loperamida Hidroklorida 852 Meropenem untuk Injeksi
803 Kapsul Loperamida Hidroklorida 853 Mestranol
804 Tablet Loperamida Hidroklorida 854 Metadon Hidroklorida
- 20 -

855 Larutan Oral Metadon Hidroklorida 904 Minosiklin Hidroklorida


856 Tablet Metadon Hidroklorida 905 Minyak Ikan
857 Metamizol Natrium 906 Minyak Jarak
858 Tablet Metamizol Natrium 907 Minyak Mineral
859 Metaproterenol Sulfat 908 Minyak Permen
860 Metenamin 909 Minyak Zaitun
861 Metenamin Mandelat 910 Mitomisin
862 Tablet Metenamin Mandelat 911 Mitomisin untuk Injeksi
863 Metformin Hidroklorida 912 Moksifloksasin Hidroklorida
864 Tablet Metformin Hidroklorida 913 Tetes Mata Moksifloksasin
865 Metildopa 914 Mometason Furoat
866 Tablet Metildopa 915 Krim Mometason Furoat
867 Metilergometrin Maleat 916 Morfin Hidroklorida
868 Injeksi Metilergometrin Maleat 917 Morfin Sulfat
869 Tablet Metilergometrin Maleat 918 Injeksi Morfin Sulfat
870 Metilfenidat Hidroklorida 919 Nadolol
871 Tablet Lepas Lambat Metilfenidat 920 Tablet Nadolol
Hidroklorida 921 Nafazolin Hidroklorida
872 Metilparaben 922 Nafazolin Nitrat
873 Metilprednisolon 923 Nalokson Hidroklorida
874 Metilprednisolon Tablet 924 Injeksi Nalokson Hidroklorida
875 Metilprednisolon Asetat 925 Nandrolon Dekanoat
876 Injeksi Suspensi Metilprednisolon Asetat 926 Injeksi Nandrolon Dekanoat
877 Metilselulosa 927 Nandrolon Fenpropionat
878 Metiltestosteron 928 Injeksi Nandrolon Fenpropionat
879 Metiltionin Klorida 929 Naproksen
880 Injeksi Metiltionin Klorida 930 Naproksen Natrium
881 Metil Salisilat 931 Tablet Naproksen Natrium
882 Metionin 932 Natamisin
883 Metoklopramida Hidroklorida 933 Suspensi Tetes Mata Natamisin
884 Injeksi Metoklopramida Hidroklorida 934 Natrium Aminosalisilat
885 Larutan Oral Metoklopramida Hidroklorida 935 Tablet Natrium Aminosalisilat
886 Tablet Metoklopramida Hidroklorida 936 Natrium Askorbat
887 Metoksalen 937 Natrium Benzoat
888 Metoprolol Tartrat 938 Natrium Fluorida
889 Injeksi Metoprolol Tartrat 939 Natrium Fusidat
890 Tablet Metoprolol Tartrat 940 Salep Natrium Fusidat
891 Metotreksat 941 Natrium Hidrogen Karbonat
892 Injeksi Metotreksat 942 Injeksi Natrium Hidrogen Karbonat
893 Tablet Metotreksat 943 Tablet Natrium Hidrogen Karbonat
894 Metronidazol 944 Natrium Hidroksida
895 Injeksi Metronidazol 945 Natrium Klorida
896 Tablet Metronidazol 946 Injeksi Natrium Klorida
897 Metronidazol Benzoat 947 Injeksi Ringer
898 Suspensi Oral Metronidazol Benzoat 948 Injeksi Ringer Laktat
899 Midazolam 949 Natrium Lauril Sulfat
900 Injeksi Midazolam 950 Natrium Metabisulfit
901 Mikonazol Nitrat 951 Natrium Nitropusida
902 Krim Mikonazol Nitrat 952 Natrium Nitropusida untuk injeksi
903 Serbuk Topikal Mikonazol Nitrat 953 Natrium Salisilat
- 21 -

954 Natrium Sitrat 999 Tablet Sub Lingual Nitrogliserin


955 Natrium Tetraborat 1000 Norepinefrin Bitartrat
956 Natrium Tiosulfat 1001 Injeksi Norepinefrin Bitartrat
957 Injeksi Natrium Tiosulfat 1002 Noretisteron
958 Neomisin Sulfat 1003 Tablet Noretisteron
959 Salep Mata Neomisin Sulfat dan Polimiksin 1004 Norgestrel
B Sulfat 1005 Nortriptilin Hidroklorida
960 Tetes Mata Neomisin Sulfat dan Polimiksin 1006 Noskapin
B Sulfat 1007 Ofloksasin
961 Salep Mata Neomisin Sulfat, Polimiksin B 1008 Tablet Ofloksasin
Sulfat dan Basitrasin Zink 1009 Oksaliplatin
962 Suspensi Tetes Mata Neomisin Sulfat, 1010 Injeksi Oksaliplatin
Polimiksin B Sulfat dan Deksametason 1011 Oksaliplatin untuk Injeksi
963 Tetes Telinga Neomisin Sulfat, Polimiksin B 1012 Oksigen
Sulfat dan Hidrokortison 1013 Oksigen 93%
964 Neomisin untuk injeksi 1014 Oksimetazolin Hidroklorida
965 Neostigmin Bromida 1015 Tetes Hidung Oksimetazolin Hidroklorida
966 Tablet Neostigmin Bromida 1016 Tetes Mata Oksimetazolin Hidroklorida
967 Neostigmin Metilsulfat 1017 Oksitetrasiklin
968 Injeksi Neostigmin Metilsulfat 1018 Oksitetrasiklin Hidroklorida
969 Nevirapin 1019 Oksitetrasiklin Hidroklorida untuk Injeksi
970 Suspensi Oral Nevirapin 1020 Salep Oksitetrasiklin Hidroklorida dan
971 Tablet Nevirapin Hidrokortison
972 Nifedipin 1021 Salep Oksitetrasiklin Hidroklorida dan
973 Kapsul Nifedipin Polimiksin B Sulfat
974 Tablet Nifedipin 1022 Oksitosin
975 Tablet Lepas Lambat Nifedipin 1023 Injeksi Oksitosin
976 Nikardipin Hidroklorida 1024 Oksprenolol Hidroklorida
977 Injeksi Nikardipin Hidroklorida 1025 Olopatadin Hidroklorida
978 Niketamida 1026 Tetes Mata Olopatadin Hidroklorida
979 Nikotinamida 1027 Omeprazol
980 Tablet Nikotinamida 1028 Kapsul Lepas Tunda Omeprazol
981 Nikotinil Alkohol Tartrat 1029 Tablet Lepas Tunda Omeprazol
982 Nimodipin 1030 Ondansetron Hidroklorida
983 Infus Nimodipin 1031 Injeksi Ondansetron
984 Tablet Nimodipin 1032 Larutan Oral Ondansetron
985 Nistatin 1033 Tablet Ondansetron
986 Krim Nistatin 1034 Orlistat
987 Losio Nistatin 1035 Kapsul Orlistat
988 Salep Nistatin 1036 Paklitaksel
989 Suspensi Oral Nistatin 1037 Injeksi Paklitaksel
990 Tablet Nistatin 1038 Pankreatin
991 Tablet Vaginal Nistatin 1039 Pankuronium Bromida
992 Nitrazepam 1040 Injeksi Pankuronium Bromida
993 Tablet Nitrazepam 1041 Papaverin Hidroklorida
994 Nitrofurantoin 1042 Injeksi Papaverin Hidroklorida
995 Kapsul Nitrofurantoin 1043 Tablet Papaverin Hidroklorida
996 Tablet Nitrofurantoin 1044 Parafin
997 Nitrogliserin Encer 1045 Paraformaldehida
998 Injeksi Nitrogliserin 1046 Parasetamol
- 22 -

1047 Injeksi Parasetamol 1097 Polimiksin B untuk Injeksi


1048 Larutan Oral Parasetamol 1098 Polisorbat 20
1049 Suspensi Oral Parasetamol 1099 Polisorbat 60
1050 Tablet Parasetamol 1100 Polisorbat 80
1051 Tablet Parasetamol dan Kofein 1101 Povidon Iodum
1052 Paromomisin Sulfat 1102 Larutan Topikal Povidon Iodum
1053 Pati Beras 1103 Pravastatin Natrium
1054 Pati Gandum 1104 Tablet Pravastatin Natrium
1055 Pati Jagung 1105 Prazikuantel
1056 Pati Kentang 1106 Tablet Prazikuantel
1057 Pati Singkong 1107 Prazosin Hidroklorida
1058 Pektin 1108 Tablet Prazosin Hidroklorida
1059 Penisilin V 1109 Prednisolon
1060 Tablet Penisilin V 1110 Krim Prednisolon
1061 Pentoksifilin 1111 Tablet Prednisolon
1062 Perak Nitrat 1112 Prednisolon Asetat
1063 Perak Sulfadiazin 1113 Suspensi Tetes Mata Prednisolon Asetat
1064 Krim Perak Sulfadiazin 1114 Prednison
1065 Perfenazin 1115 Tablet Prednison
1066 Tablet Perfenazin 1116 Primakuin Fosfat
1067 Petidin Hidroklorida 1117 Tablet Primakuin Fosfat
1068 Injeksi Petidin Hidroklorida 1118 Probenesid
1069 Pilokarpin Hidroklorida 1119 Tablet Probenesid
1070 Tetes Mata Pilokarpin Hidroklorida 1120 Progesteron
1071 Pilokarpin Nitrat 1121 Prokain Hidroklorida
1072 Tetes Mata Pilokarpin Nitrat 1122 Injeksi Prokain Hidroklorida
1073 Pindolol 1123 Prokain Penisilin G
1074 Pioglitazon Hidroklorida 1124 Prokainamida Hidroklorida
1075 Tablet Pioglitazon 1125 Prometazin Hidroklorida
1076 Piperazin 1126 Injeksi Prometazin Hidroklorida
1077 Piperazin Sitrat 1127 Larutan Oral Prometazin Hidroklorida
1078 Larutan Oral Piperazin Sitrat 1128 Tablet Prometazin Hidroklorida
1079 Tablet Piperazin Sitrat 1129 Prometazin Teoklat
1080 Pirantel Pamoat 1130 Propantelin Bromida
1081 Suspensi Oral Pirantel Pamoat 1131 Propilen Glikol
1082 Pirasetam 1132 Propiliodon
1083 Pirazinamida 1133 Propilparaben
1084 Tablet Pirazinamida 1134 Propiltiourasil
1085 Piridoksin Hidroklorida 1135 Tablet Propiltiourasil
1086 Injeksi Piridoksin Hidroklorida 1136 Propofol
1087 Tablet Piridoksin Hidroklorida 1137 Propranolol Hidroklorida
1088 Piridostigmin Bromida 1138 Injeksi Propranolol Hidroklorida
1089 Tablet Piridostigmin Bromida 1139 Tablet Propranolol Hidroklorida
1090 Pirimetamin 1140 Protamin Sulfat
1091 Piroksikam 1141 Injeksi Protamin Sulfat
1092 Kapsul Piroksikam 1142 Pseudoefedrin Hidroklorida
1093 Tablet Piroksikam 1143 Ramipril
1094 Polietilen Glikol 1144 Tablet Ramipril
1095 Polietilen Glikol 400 1145 Ranitidin Hidroklorida
1096 Polimiksin B Sulfat 1146 Injeksi Ranitidin
- 23 -

1147 Tablet Ranitidin Hidroklorida 1195 Sefazolin


1148 Repaglinida 1196 Injeksi Sefazolin
1149 Tablet Repaglinida 1197 Sefazolin Natrium
1150 Reserpin 1198 Sefazolin untuk Injeksi
1151 Tablet Reserpin 1199 Sefepim Hidroklorida
1152 Resorsinol 1200 Sefepim untuk Injeksi
1153 Ribavirin 1201 Sefiksim
1154 Tablet Ribavirin 1202 Tablet Sefiksim
1155 Riboflavin 1203 Sefiksim untuk Suspensi Oral
1156 Riboflavin Natrium Fosfat 1204 Sefoperazon Natrium
1157 Rifampisin 1205 Injeksi Sefoperazon
1158 Kapsul Rifampisin 1206 Sefoperazon untuk Injeksi
1159 Suspensi Oral Rifampisin 1207 Sefoperazon Natrium dan Sulbaktam
1160 Tablet Rifampisin Natrium untuk Injeksi
1161 Rifampisin untuk Injeksi 1208 Sefotaksim Natrium
1162 Kapsul Rifampisin dan Isoniazid 1209 Injeksi Sefotaksim
1163 Tablet Rifampisin, Isoniazid dan 1210 Sefotaksim untuk Injeksi
Pirazinamida 1211 Sefotiam Hidroklorida
1164 Tablet Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamida 1212 Sefotiam untuk Injeksi
dan Etambutol Hidroklorida 1213 Sefpodoksim Proksetil
1165 Risedronat Natrium 1214 Tablet Sefpodoksim Proksetil
1166 Tablet Risedronat Natrium 1215 Sefprozil
1167 Risperidon 1216 Tablet Sefprozil
1168 Tablet Risperidon 1217 Sefprozil untuk Suspensi Oral
1169 Ritonavir 1218 Sefradin
1170 Tablet Rosuvastatin 1219 Kapsul Sefradin
1171 Rosuvastatin Kalsium 1220 Tablet Sefradin
1172 Sakarin 1221 Sefradin untuk Injeksi
1173 Sakarin Natrium 1222 Sefradin untuk Suspensi Oral
1174 Sakarosa 1223 Seftazidim
1175 Salbutamol 1224 Injeksi Seftazidim
1176 Salbutamol Sulfat 1225 Seftazidim untuk Injeksi
1177 Injeksi Salbutamol 1226 Seftizoksim Natrium
1178 Larutan Oral Salbutamol 1227 Injeksi Seftizoksim
1179 Tablet Salbutamol 1228 Seftizoksim untuk Injeksi
1180 Salisilamida 1229 Seftriakson Natrium
1181 Sefadroksil 1230 Injeksi Seftriakson
1182 Kapsul Sefadroksil 1231 Seftriakson untuk Injeksi
1183 Tablet Sefadroksil 1232 Sefuroksim Aksetil
1184 Sefadroksil untuk Suspensi Oral 1233 Tablet Sefuroksim Aksetil
1185 Sefaklor 1234 Sefuroksim Natrium
1186 Kapsul Sefaklor 1235 Sefuroksim untuk Injeksi
1187 Sefaklor untuk Suspensi Oral 1236 Selenium Sulfida
1188 Sefaleksin 1237 Sertralin Hidroklorida
1189 Sefaleksin Hidroklorida 1238 Tablet Sertralin Hidroklorida
1190 Kapsul Sefaleksin 1239 Setil Alkohol
1191 Tablet Sefaleksin 1240 Setilpiridinium Klorida
1192 Sefaleksin untuk Suspensi Oral 1241 Setirizin Hidroklorida
1193 Sefamandol Nafat 1242 Larutan Oral Setirizin Hidroklorida
1194 Sefamandol Nafat untuk Injeksi 1243 Tablet Setirizin Hidroklorida
- 24 -

1244 Setrimida 1294 Tablet Sulfadiazin


1245 Sianokobalamin 1295 Sulfadimidin
1246 Injeksi Sianokobalamin 1296 Sulfadoksin
1247 Tablet Sianokobalamin 1297 Tablet Sulfadoksin dan Pirimetamin
1248 Siklofosfamida 1298 Sulfamerazin
1249 Tablet Siklofosfamida 1299 Sulfametizol
1250 Siklofosfamida untuk Injeksi 1300 Sulfametoksazol
1251 Sikloserin 1301 Injeksi Sulfametoksazol dan Trimetoprim
1252 Kapsul Sikloserin 1302 Suspensi Oral Sulfametoksazol dan
1253 Siklosporin Trimetoprim
1254 Injeksi Siklosporin 1303 Tablet Sulfametoksazol dan Trimetoprim
1255 Kapsul Siklosporin 1304 Sulfasalazin
1256 Larutan Oral Siklosporin 1305 Tablet Lepas Tunda Sulfasalazin
1257 Silostazol 1306 Sulfasetamida
1258 Tablet Silostazol 1307 Sulfasetamida Natrium
1259 Simetidin 1308 Salep Mata Sulfasetamida Natrium
1260 Tablet Simetidin 1309 Tetes Mata Sulfasetamida Natrium
1261 Simetikon 1310 Sumatriptan
1262 Simvastatin 1311 Sumatriptan Suksinat
1263 Tablet Simvastatin 1312 Talk
1264 Siprofloksasin Hidroklorida 1313 Tamoksifen Sitrat
1265 Siprofloksasin Injeksi 1314 Tablet Tamoksifen Sitrat
1266 Siprofloksasin Tablet 1315 Telmisartan
1267 Siprofloksasin Tetes Mata 1316 Tablet Telmisartan
1268 Siproheptadin Hidroklorida 1317 Tenoksikam
1269 Tablet Siproheptadin Hidroklorida 1318 Teofilin
1270 Sisplatin 1319 Tablet Teofilin
1271 Sisplatin untuk Injeksi 1320 Terazosin Hidroklorida
1272 Sistein Hidroklorida 1321 Tablet Terazosin
1273 Sitarabin 1322 Terbinafin Hidroklorida
1274 Injeksi Sitarabin 1323 Tablet Terbinafin
1275 Sitarabin untuk Injeksi 1324 Terbutalin Sulfat
1276 Sorbitol 1325 Injeksi Terbutalin Sulfat
1277 Spiramisin 1326 Tablet Terbutalin Sulfat
1278 Spironolakton 1327 Testosteron Enantat
1279 Tablet Spironolakton 1328 Injeksi Testosteron Enantat
1280 Spon Gelatin 1329 Testosteron Propionat
1281 Stanozolol 1330 Injeksi Testosteron Propionat
1282 Stavudin 1331 Tetrahidrozolin Hidroklorida
1283 Kapsul Stavudin 1332 Tetrakain
1284 Stavudin untuk Larutan Oral 1333 Tetrakain Hidroklorida
1285 Streptomisin sulfat 1334 Tetes Mata Tetrakain Hidroklorida
1286 Injeksi Streptomisin sulfat 1335 Tetrasiklin
1287 Streptomisin untuk Injeksi 1336 Tetrasiklin Hidroklorida
1288 Sufentanil Sitrat 1337 Kapsul Tetrasiklin Hidroklorida
1289 Injeksi Sufentanil Sitrat 1338 Salep Mata Tetrasiklin Hidroklorida
1290 Sukralfat 1339 Tiamfenikol
1291 Tablet Sukralfat 1340 Tiamin Hidroklorida
1292 Sulbaktam Natrium 1341 Injeksi Tiamin Hidroklorida
1293 Sulfadiazin 1342 Tablet Tiamin Hidroklorida
- 25 -

1343 Tiamin Mononitrat 1382 Valgansiklovir Hidroklorida


1344 Timerosal 1383 Tablet Valgansiklovir
1345 Timolol Maleat 1384 Valsartan
1346 Tetes Mata Timolol Maleat 1385 Tablet Valsartan
1347 Tiokonazol 1386 Vanilin
1348 Tiopental Natrium 1387 Vankomisin Hidroklorida
1349 Tiopental Natrium untuk Injeksi 1388 Vaselin Kuning
1350 Tobramisin 1389 Vaselin Putih
1351 Injeksi Tobramisin 1390 Vekuronium Bromida
1352 Salep Mata Tobramisin 1391 Verapamil Hidroklorida
1353 Tetes Mata Tobramisin 1392 Injeksi Verapamil Hidroklorida
1354 Tobramisin untuk Injeksi 1393 Tablet Verapamil Hidroklorida
1355 Tolbutamida 1394 Vinblastin Sulfat
1356 Tablet Tolbutamida 1395 Vinblastin Sulfat untuk Injeksi
1357 Topiramat 1396 Vinkristin Sulfat
1358 Tablet Topiramat 1397 Injeksi Vinkristin Sulfat
1359 Tragakan 1398 Vinkristin Sulfat untuk Injeksi
1360 Tramadol Hidroklorida 1399 Vinorelbin Tartrat
1361 Injeksi Tramadol Hidroklorida 1400 Injeksi Vinorelbin
1362 Tablet Tramadol Hidroklorida 1401 Vitamin A
1363 Travoprost 1402 Kapsul Vitamin A
1364 Tetes Mata Travoprost 1403 Warfarin Kalium
1365 Triamsinolon 1404 Warfarin Natrium
1366 Tablet Triamsinolon 1405 Tablet Warfarin Natrium
1367 Triamsinolon Asetonida 1406 Xilometazolin Hidroklorida
1368 Injeksi Suspensi Triamsinolon Asetonida 1407 Tetes Hidung Xilometazolin Hidroklorida
1369 Trifluoperazin Hidroklorida 1408 Zidovudin
1370 Tablet Trifluoperazin Hidroklorida 1409 Injeksi Zidovudin
1371 Triheksifenidil Hidroklorida 1410 Kapsul Zidovudin
1372 Tablet Triheksifenidil Hidroklorida 1411 Larutan Oral Zidovudin
1373 Trimetoprim 1412 Tablet Zidovudin
1374 Tablet Trimetoprim 1413 Zink Asetat
1375 Tripelenamin Hidroklorida 1414 Larutan Oral Zink Asetat
1376 Triprolidin Hidroklorida 1415 Zink Klorida
1377 Tropikamida 1416 Zink Oksida
1378 Tetes Mata Tropikamida 1417 Zink Sulfat
1379 Tubokurarin Klorida 1418 Larutan Oral Zink Sulfat
1380 Urea 1419 Tablet Zink Sulfat
1381 Krim Urea 1420 Zink Undesilenat

DAFTAR LAMPIRAN

<11> Baku Pembanding Farmakope Indonesia <71> Uji Sterilitas


<21> Peralatan Volumetrik <81> Desain dan Analisa Penetapan Hayati
<31> Termometer <91> Penetapan Aktivitas Vitamin B12
<41> Timbangan & Anak Timbangan <101> Penetapan Golongan Darah ABO Donor
<51> Uji Batas Mikroba <111> Penetapan Golongan Darah Rh Donor
<61> Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba <121> Penetapan Kadar Kalsium Pentotenat
<65> Uji Kinerja Resistensi Indikator Biologi
- 26 -

<131> Penetapan Potensi Antibiotik secara <551> Penetapan Kadar Gula darah
Mikrobiologi <561> Penetapan Kadar Kalsiferol
<141> Penetapan Potensi Fraksi Faktor VIII <571> Penetapan Kadar Kobalamin secara
<151> Penetapan Potensi Fraksi Faktor IX Perunut Radioaktif
<161> Penetapan Potensi Insulin <581> Penetapan Kadar Nitrogen
<171> Penetapan Potensi Streptokinase <591> Penetapan Kadar Nitrogen dalam Produk
<181> Perangkat Infus dan Transfusi Darah
<191> Uji Daya Hipotensif <601> Penetapan Kadar Riboflavin
<201> Uji Endotoksin Bakteri <611> Penetapan Kadar Zink
<211> Uji Hemolisin <621> Penetapan Kadar Sineol
<221> Uji Histamin <631> Penetapan Kadar Steroid
<231> Uji Pirogen <641> Penetapan Kadar Steroid Tunggal
<241> Uji Reaktivitas Biologi secara in-vitro <651> Penetapan Kadar Tiamin
<251> Uji Reaktivitas Biologi secara in-vivo <661> Penetapan Penisilin G
<261> Identifikasi Basa Nitrogen Organik <671> Pengambilan Contoh dan Metode
<271> Identifikasi Tetrasiklin Analisis Simplisia
<281> Identifikasi secara Kromatografi Lapis <711> Titrimetri
Tipis <721> Tutup Elastomerik untuk Injeksi
<291> Uji Identifikasi Umum <731> Uji Bahan Tambahan dalam Vaksin dan
<301> Penetapan Sisa Pemijaran Imunoserum
<310> Uji batas 4-Aminofenol dalam Sediaan <741> Analisis Termal
Mengandung Parasetamol <751> Bahan Partikulat dalam Injeksi
<311> Uji Batas 4-epianhidrotetrasiklin <761> Beban Renggang Minimum
<315> Uji Batas Aluminium <771> Bobot per Satuan Luas
<321> Uji Batas Arsen <780> Daya Kait jarum Benang Bedah
<331> Uji Batas Besi <781> Daya Renggang Benang Bedah
<342> Uji Batas Etilendioksida dan Dioksan <791> Daya Rekat
<351> Uji Batas Kalsium, Kalium dan Natrium <801> Diameter Benang Bedah
<361> Uji Batas Klorida dan Sulfat <811> Difraksi Sinar-X
<362> Uji Batas Dimetilanilin <821> Elastisitas
<371> Uji Batas Logam Berat <831> Elektroforesis
<381> Uji Batas Raksa <835> Estimasi Distribusi Ukuran Partikel
<391> Uji Batas Selenium dengan Pengayak Analitik
<401> Uji Batas Timbal <841> Identifikasi Serat
<411> Uji Zat Mudah Terarangkan <851> Indeks Pengembangan
<421> Kadar Zink Oksida dalam Massa Perekat <861> Isi Minimum
<431> Kandungan Antiseptik dalam Pembalut <871> Jumlah Benang Per Satuan Panjang
<441> Kandungan Zat Antimikroba <875> Karbon Organik Total
<451> Kapasitas Penetralan asam <881> Kejernihan Larutan
<461> Kelarutan dalam Etanol <891> Kerapatan Serbuk Ruahan dan Serbuk
<471> Cemaran Senyawa Organik Mudah Mampat
Menguap <901> Kesempurnaan Melarut
<481> Cemaran Umum <911> Keseragaman Sediaan
<491> Lemak dan Minyak Lemak <921> Ketahanan terhadap Air
<501> Pembakaran dengan Labu Oksigen <925> Konduktivitas Air
<511> Penetapan Kadar Vitamin A <931> Kromatografi
<521> Penetapan Kadar Antibiotik secara <941> Osmolalitas dan Osmolaritas
Iodometri <951> Panjang Serat
<531> Penetapan Kadar Barbiturat <961> Pelepasan Obat
<541> Penetapan Kadar Garam Basa Nitrogen <971> Penetapan Batas Flokulasi Vaksin dan
Organik Toksin Difteri
- 27 -

<981> Penetapan Bobot Jenis <1221> Uji Daya Serap


<991> Penetapan Bobot per mililiter <1231> Uji Disolusi
<1001> Penetapan Indeks Bias <1241> Uji Salep Mata
<1011> Penetapan Jarak Destilasi <1251> Uji Waktu Hancur
<1021> Penetapan Jarak Lebur atau Suhu Lebur <1261> Volume Terpindahkan
<1031> Penetapan Kadar Air <1271> Wadah
<1041> Penetapan Kadar Etanol <1281> Uji Kinerja Wadah
<1051> Penetapan Kekentalan <1291> Warna dan Akromisitas
<1061> Penetapan Partikel Logam dalam Salep <1301> Zat Larut dalam Air
Mata <1311> Zat Larut dalam Eter
<1071> Penetapan pH <1321> Indikator Biologik untuk Sterilsasi
<1076> Mikroskopik Optik <1331> Pencucian Peralatan Kaca
<1081> Penetapan Rotasi Optik <1341> Pengukuran Warna dengan Instrumen
<1091> Penetapan Sifat Hablur <1342> Penimbangan pada Timbangan Analitik
<1101> Penetapan Suhu Beku <1351> Pertimbangan tentang Stabilitas dalam
<1111> Penetapan Susut Pemijaran Pemberian Obat
<1121> Penetapan Susut Pengeringan <1352> Praktek Laboratorium Mikrobiologi yang
<1131> Penetapan Volume Injeksi dalam Wadah baik
<1141> Pengayak dan Derajat Halus Serbuk <1353> Prosedur Disolusi: Pengembangan dan
<1151> Permiabilitas Uap Air validasi
<1161> Polarografi <1371> Sterilisasi dan Jaminan Sterilitas Bahan
<1171> Radioaktivitas Kompendia
<1191> Spektrofotometri dan Hamburan Cahaya <1381> Validasi Prosedur dalam Farmakope
<1201> Spektrofotometri Massa <1382> Verifikasi Prosedur dalam Farmakope
<1211> Uji Aerosol

MONOGRAFI BARU

1 Air Steril untuk Irigasi 23 Bikalutamida


2 Akarbosa 24 Tablet Bikalutamida
3 Tablet Akarbosa 25 Brinzolamida
4 Amiodaron Hidroklorida 26 Suspensi Tetes Mata Brinzolamida
5 Injeksi Amiodaron Hidroklorida 27 Desogestrel
6 Anastrozol 28 Tablet Desogestrel
7 Tablet Anastrozol 29 Injeksi Diltiazem
8 Aripiprazol 30 Kapsul Lepas Lambat Diltiazem Hidroklorida
9 Tablet Aripiprazol 31 Doksazosin Mesilat
10 Tetes Mata Asam Fusidat 32 Tablet Doksazosin
11 Asam traneksamat 33 Suspensi Oral Domperidon
12 Injeksi Asam traneksamat 34 Donepezil Hidroklorida
13 Tablet Asam traneksamat 35 Tablet Donepezil Hidroklorida
14 Asam Ursodeoksikolat 36 Epirubisin Hidroklorida
15 Kapsul Asam Ursodeoksikolat 37 Injeksi Epirubisin Hidroklorida
16 Asiklovir untuk injeksi 38 Epirubisin Hidroklorida untuk Injeksi
17 Atorvastatin Kalsium 39 Tablet Etinil Estradiol
18 Tablet Atorvastatin Kalsium 40 Fludarabin Fosfat
19 Tablet Betahistin Hidroklorida 41 Fludarabin Fosfat untuk Injeksi
20 Betaksolol Hidroklorida 42 Kapsul Flukonazol
21 Tetes Mata Betaksolol Hidroklorida 43 Fluorometolon
22 Tetes Mata Betametason 44 Suspensi Tetes Mata Fluorometolon
- 28 -

45 Gansiklovir 95 Natrium Fusidat


46 Gansiklovir untuk Injeksi 96 Salep Natrium Fusidat
47 Larutan Oral Haloperidol 97 Tablet Nifedipin
48 Injeksi Hiosin Butilbromida 98 Nikardipin Hidroklorida
49 Tablet Hiosin Butilbromida 99 Injeksi Nikardipin Hidroklorida
50 Ifosfamida 100 Infus Nimodipin
51 Ifosfamida untuk Injeksi 101 Tablet Nimodipin
52 Ioheksol 102 Norepinefrin Bitartrat
53 Injeksi Ioheksol 103 Injeksi Norepinefrin Bitartrat
54 Iopamidol 104 Oksaliplatin
55 Injeksi Iopamidol 105 Injeksi Oksaliplatin
56 Iopromida 106 Oksaliplatin untuk Injeksi
57 Injeksi Iopromida 107 Olopatadin Hidroklorida
58 Irinotekan Hidroklorida 108 Tetes Mata Olopatadin Hidroklorida
59 Injeksi Irinotekan Hidroklorida 109 Paklitaksel
60 Kanamisin Sulfat untuk Injeksi 110 Injeksi Paklitaksel
61 Kandesartan Sileksetil 111 Infus Parasetamol
62 Tablet Kandesartan Sileksetil 112 Perak Sulfadiazin
63 Kapesitabin 113 Krim Perak Sulfadiazin
64 Tablet Kapesitabin 114 Pioglitazon Hidroklorida
65 Injeksi Karboplatin 115 Tablet Pioglitazon
66 Krim Ketokonazol 116 Injeksi Piridoksin Hidroklorida
67 Klobazam 117 Tablet Piridostigmin Bromida
68 Tablet Klobazam 118 Tablet Ramipril
69 Laktulosa Pekat 119 Tablet Ribavirin
70 Larutan Laktulosa 120 Tablet Rifampisin
71 Lamotrigin 121 Tablet Rosuvastatin
72 Tablet Lamotrigin 122 Rosuvastatin Kalsium
73 Leflunomida 123 Injeksi Salbutamol
74 Tablet Leflunomida 124 Larutan Oral Salbutamol
75 Letrozol Sefoperazon Natrium dan Sulbaktam Natrium
125
76 Tablet Letrozol untuk Injeksi
77 Leuprorelin 126 Sefpodoksim Proksetil
78 Leuprorelin untuk Injeksi 127 Tablet Sefpodoksim Proksetil
79 Levetirasetam 128 Sertralin Hidroklorida
80 Tablet Levetirasetam 129 Tablet Sertralin Hidroklorida
81 Infus Levofloksasin 130 Tablet Sianokobalamin
82 Litium karbonat 131 Tetes Mata Siprofloksasin
83 Tablet Litium karbonat 132 Injeksi Sitarabin
84 Tablet Maprotilin Hidroklorida 133 Sukralfat
85 Metilfenidat Hidroklorida 134 Tablet Sukralfat
86 Tablet Lepas Lambat Metilfenidat Hidroklorida 135 Sulfasalazin
87 Injeksi Metoprolol Tartrat 136 Tablet Lepas Tunda Sulfasalazin
88 Metronidazol Benzoat 137 Tablet Teofilin
89 Suspensi Oral Metronidazol Benzoat 138 Terazosin Hidroklorida
90 Midazolam 139 Tablet Terazosin
91 Injeksi Midazolam 140 Terbinafin Hidroklorida
92 Serbuk Topikal Mikonazol Nitrat 141 Tablet Terbinafin
93 Natamisin 142 Tetes Mata Tetrakain Hidroklorida
94 Suspensi Tetes Mata Natamisin 143 Topiramat
- 29 -

144 Tablet Topiramat 153 Vinblastin Sulfat untuk Injeksi


145 Injeksi Tramadol Hidroklorida 154 Vinorelbin Tartrat
146 Travoprost 155 Injeksi Vinorelbin
147 Tetes Mata Travoprost 156 Kapsul Vitamin A
148 Tablet Trifluoperazin Hidroklorida 157 Zink Asetat
149 Urea 158 Larutan Oral Zink Asetat
150 Krim Urea 159 Larutan Oral Zink Sulfat
151 Valgansiklovir Hidroklorida 160 Tablet Zink Sulfat
152 Tablet Valgansiklovir

LAMPIRAN BARU

1 Uji batas 4-Aminofenol dalam Sediaan Mengandung Parasetamol <310>

DAFTAR MONOGRAFI FI V YANG DIHAPUS

1 Akar Ipeka 32 Serbuk Daun Digitalis


2 Akar Pule Pandak 33 Eliksir Deksametason
3 Akar Manis 34 Larutan oral Dekstrometorfan Hidrobromida
4 Ekstrak Akar Manis 35 Dikloksasilin Natrium Steril
5 Larutan Albumin 36 Dikumarol
6 Injeksi Albumin Teriodinasi 125I 37 Etilestrenol
7 Injeksi Albumin Teriodinasi 131I 38 Etisteron
8 Injeksi Albumin Teriodinasi 131I 39 Eugenol
Teragregasi 40 Fenfluramin Hidroklorida
9 Alfa Tokoferol Asetat 41 Tablet Fenfluramin Hidroklorida
10 Aloe 42 Fluklortolon Asetonida
11 Alprenolol Hidroklorida 43 Fraksi Faktor VIII Kering
12 Tablet Alprenolol Hidroklorida 44 Fraksi Faktor IX Kering
13 Aluminium Kalium Sulfat 45 Fraksi Protein Plasma
14 Amantadin Hidroklorida 46 Injeksi Galium 67Ga Sitrat
15 Amfetamin Sulfat 47 Gips Pembalut
16 Injeksi Amfetamin Sulfat 48 Glutetimida
17 Tablet Amfetamin Sulfat 49 Heparin Natrium
18 Amobarbital 50 Injeksi Heparin Natrium
19 Amobarbital Natrium untuk Injeksi 51 Daun Hiosiamus
20 Apomorfin Hidroklorida 52 Ekstrak kering Hiosiamus
21 Asetofenazin Maleat 53 Imunoglobulin Campak
22 Daun Beladona 54 Imunoglobulin Hepatitis B
23 Ekstrak Beladona 55 Imunoglobulin Normal
24 Tablet Ekstrak Beladona 56 Imunoglobulin Rabies
25 Benang Bedah Terabsorpsikan 57 Imunoglobulin Tetanus
26 Benang Bedah Tidak Terabsorbsi 58 Imunoserum Botulinum
27 Injeksi Besi(II) 59 Sitrat 59 Imunoserum Difteri
28 Buah Adas Manis 60 Imunoserum Tetanus
29 Darah 61 Larutan Indium 111In Oksikuinolon
30 Darah Sedikit Plasma 62 Injeksi Indium 111In Pentetat
31 Daun Digitalis 63 Insulin
- 30 -

64 Injeksi Insulin Netral 96 Pembalut Perekat Elastis


65 Kapas Murni 97 Piperazin Adipat
66 Karisoprodol 98 Piperazin Fosfat
67 Tablet Karisoprodol 99 Tablet Piperazin Fosfat
68 Kasa Pembalut 100 Plasma Segar Beku
69 Kasa Pembalut Framisetin 101 Plester Bedah Zink Oksida
70 Kasa Pembalut Klorheksidin 102 Plester Sintetik Permeabel Tidak Ditenun
71 Kliokuinol 103 Larutan protein plasma
72 Larutan Oral Kloramfenikol 104 Rimpang Podofili
73 Kokain Hidroklorida 105 Injeksi Ros Bengal Natrium 131I
74 Kreolin 106 Sel Darah Merah Pekat
75 Kresol 107 Kapsul Sianokobalamin 57Co
76 Kulit Kina 108 Larutan Oral Sianokobalamin 57Co
77 Lanatosida C 109 Streptokinase
78 Magnesium Karbonat Berat 110 Strihnin Nitrat
79 Medazepam 111 Injeksi Talium 201Tl Klorida
80 Daun Menta 112 Temulawak
81 Minyak Anis 113 Tetrasiklin Fosfat Kompleks
82 Minyak Eukalipti 114 Kapsul Tetrasiklin Fosfat Kompleks
83 Injeksi Natrium Fosfat 32P 115 Tuberkulin PPD
84 Kapsul Natrium Iodida 123I 116 Vaksin Basil Calmette-Guerin Beku Kering
85 Larutan Natrium Iodida 123I 117 Vaksin Campak, Hidup
86 Kapsul Natrium Iodida 131I 118 Vaksin Demam Kuning, Hidup
87 Larutan Natrium Iodida 131I 119 Vaksin Difteri dan Tetanus Jerap
88 Injeksi Natrium Iodohipurat 123I 120 Vaksin Difteri, Tetanus dan Pertusis Jerap
89 Injeksi Natrium Iodohipurat 131I 121 Vaksin Hepatitis B Asal Plasma Manusia
90 Injeksi Natrium Kromat 51Cr 122 Vaksin Kolera
91 Injeksi Natrium Perteknetat 99mTc 123 Vaksin Polio Oral, Hidup
92 Oksifenbutazon 124 Vaksin Polisakarida Meningokokus
93 Opium Mentah 125 Vaksin Rabies
94 Opium Serbuk 126 Vaksin Tetanus Jerap
95 Pembalut Krep Katun 127 Vaksin Tifus
KETENTUAN UMUM
- 33 -

KETENTUAN DAN PERSYARATAN Bahan resmi adalah bahan aktif obat, bahan tambahan
UMUM farmasi, komponen lain, atau komponen produk jadi
yang judul monografinya tidak mencakup indikasi
Ketentuan Umum dan Persyaratan Umum, untuk sifat-sifat bentuk produk jadi tersebut.
selanjutnya disebut “Ketentuan Umum” menetapkan
pedoman dasar, definisi dan kondisi umum untuk Sediaan resmi adalah produk jadi, produk setengah
penafsiran dan penerapan Farmakope Indonesia. jadi (misalnya suatu padatan steril yang harus dibuat
menjadi larutan jika hendak digunakan) atau produk
Persyaratan Umum yang dinyatakan dalam ketentuan dari satu atau lebih bahan resmi atau produk yang
umum diterapkan untuk semua monografi Farmakope diformulasikan untuk digunakan pasien
Indonesia dan untuk semua lampiran kecuali secara
khusus ditekankan dengan pernyataan “kecuali 2.3 Pengakuan hukum Farmakope Indonesia diakui
dinyatakan lain”. Jika terdapat pengecualian pada secara hukum di Indonesia. Peraturan perundang-
monografi terhadap persyaratan umum atau lampiran, undangan mendukung penerapan Farmakope
maka persyaratan dalam monografi digunakan sebagai Indonesia sebagai standar mutu sesuai dengan
pengganti persyaratan pada ketentuan umum atau Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun
lampiran. 2009 tentang Kesehatan Pasal 105 ayat (1) bahwa
sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan baku obat
harus memenuhi syarat Farmakope Indonesia atau
1. JUDUL buku standar lainnya.

Judul lengkap buku ini termasuk suplemennya, adalah


Farmakope Indonesia edisi Enam. Judul tersebut dapat 3. KESESUAIAN DENGAN STANDAR
disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi VI atau
FI VI. Farmakope Indonesia edisi VI menggantikan 3.1 Penggunaan standar Standar untuk suatu
edisi sebelumnya. Jika digunakan istilah FI tanpa monografi Farmakope Indonesia dinyatakan dalam
keterangan lain, selama periode berlakunya ketentuan umum, monografi, dan lampiran. Identitas,
Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan kekuatan, kualitas dan kemurnian bahan ditetapkan
adalah FI VI dan semua suplemennya. Selanjutnya sesuai jenis pengujian, prosedur pengujian, dan
jika disebut Farmakope dalam dokumen ini, yang kriteria keberterimaan yang dinyatakan baik dalam
dimaksud adalah Farmakope Indonesia edisi VI. monografinya, dalam ketentuan umum ataupun dalam
Secara berkala FI VI menerbitkan Suplemen. lampiran, kecuali secara khusus dinyatakan lain.

Standar ketentuan umum, monografi, dan lampiran


2. STATUS “RESMI” DAN PENGAKUAN diberlakukan terhadap bahan tersebut mulai dari
HUKUM proses produksi hingga kedaluwarsa. Spesifikasi
produk dan Cara Pembuatan Obat yang Baik,
Kata “resmi” yang digunakan dalam Farmakope dikembangkan dan diterapkan untuk menjamin
Indonesia ini atau yang merujuk kepadanya, adalah kesesuaian bahan dengan Farmakope hingga batas
sinonim dengan “Farmakope Indonesia”, atau dengan waktu kedaluwarsanya dalam kondisi penyimpanan
“FI”. Pencantuman FI di belakang judul resmi dari yang sesuai, sehingga setiap bahan resmi yang diuji
suatu artikel pada etiket adalah suatu tand bahwa akan memenuhi kesesuaian dengan Farmakope.
artikel tersebut diakui memenuhi standar FI.
Beberapa pengujian, seperti Disolusi dan
2.1 Teks resmi Farmakope terdiri dari monografi, Keseragaman Sediaan, memerlukan banyak satuan uji
lampiran dan ketentuan umum. sehubungan dengan skema pengambilan keputusan.
Pengujian ini, walaupun menggunakan banyak satuan
2.2 Monografi resmi adalah monografi yang uji, sebenarnya merupakan satu penetapan, jangan
tercantum sebagai monografi dalam Farmakope. rancu dengan rencana statistik pengambilan contoh.
Pendekatan prosedur statistik dimaksudkan untuk
Judul yang tercantum dalam monografi dalam bahasa membuat kesimpulan terhadap jumlah kelompok
Indonesia dan bahasa Inggris adalah nama resmi dari satuan yang lebih besar, tetapi dalam semua kasus,
monografi tersebut. Nama-nama yang dianggap pernyataan memenuhi kesesuaian dengan Farmakope
sinonim dengan judul resmi tidak dapat digunakan ditetapkan hanya pada unit yang diuji. Pengulangan,
sebagai pengganti judul resmi. replikasi, pengabaian hasil pencilan data secara
statistik ataupun ekstrapolasi hasil terhadap kelompok
Monografi resmi meliputi bahan resmi dan sediaan uji yang lebih luas, seperti halnya frekuensi yang
resmi. sesuai untuk pengujian bets tidak dinyatakan secara
spesifik dalam Farmakope, melainkan diputuskan
- 34 -

berdasarkan tujuan pengujian. Frekuensi pengujian Beberapa lampiran menyajikan penjelasan suatu jenis
dan sampling ditetapkan sesuai pilihan atau tujuan uji atau teknik analisis. Lampiran ini dapat menjadi
pengujian kesesuaian dan kegunaan lain oleh rujukan lampiran pengujian lain yang mencantumkan
pengguna Farmakope. teknik terkait, prosedur rinci, urutan dan kriteria
keberterimaan.
Pembuatan obat dilakukan sesuai dengan prinsip
dasar Cara Pembuatan Obat yang Baik dengan
menggunakan komponen yang sesuai dengan 5. KOMPONEN MONOGRAFI
rancangan spesifikasi untuk menjamin sediaan akhir
memenuhi persyaratan monografi. 5.1 Rumus molekul Pencantuman rumus molekul
untuk bahan aktif, pada suatu monografi,
dimaksudkan untuk memperlihatkan kadar secara
4. MONOGRAFI DAN LAMPIRAN kimia, seperti disebutkan dalam nama kimia yang
lengkap dan mempunyai kemurnian mutlak (100%).
4.1 Monografi Mencantumkan nama bahan, definisi,
spesifikasi, dan persyaratan lain yang berkaitan 5.2 Bahan tambahan Bahan tambahan yang dianggap
dengan kemasan, penyimpanan dan penandaan. tidak sesuai untuk sediaan resmi, tidak boleh
Spesifikasi dalam monografi meliputi jenis pengujian, digunakan jika: 1) melebihi jumlah minimum yang
prosedur pengujian, dan kriteria penerimaan untuk dibutuhkan untuk menyebabkan efek yang
memastikan identitas, kekuatan, kualitas, dan diharapkan; 2) keberadaannya mengganggu
kemurnian bahan. Untuk ketentuan umum yang ketersediaan hayati, efek terapi atau keamanan dari
spesifik berkaitan dengan bagian monografi, lihat yang disebutkan dalam sediaan resmi; 3) mengganggu
Komponen monografi. penetapan kadar dan uji-uji lain yang dimaksudkan
untuk penentuan kesesuaian dengan Farmakope.
4.1.1 Penggunaan prosedur uji Tiap monografi
dapat mencantumkan beberapa parameter pengujian, Udara dalam wadah sediaan resmi, bila perlu,
prosedur dan atau kriteria keberterimaan, yang dihilangkan dengan karbondioksida, helium, argon,
mencerminkan variasi bahan dari tiap industri. atau nitrogen, atau campuran gas-gas tersebut. Fungsi
Misalnya tersedia beberapa alternatif untuk bentuk gas tersebut tidak perlu dicantumkan dalam etiket.
polimorf yang berbeda, cemaran, bentuk hidrat dan
disolusi. Monografi menyatakan pengujian, prosedur 5.2.1 Bahan tambahan dan eksipien dalam bahan
dan atau kriteria keberterimaan yang digunakan, dan resmi Bahan resmi hanya boleh mengandung bahan-
penandaan yang dipersyaratkan. bahan tambahan tertentu yang diperbolehkan seperti
tertera pada masing-masing monografi. Nama dan
4.1.2 Kriteria keberterimaan Meliputi kesalahan jumlah bahan tambahan tersebut harus dicantumkan
analisis dari variasi yang tidak bisa dihindari pada saat dalam etiket.
produksi dan formulasi, dan kesalahan yang masih
dapat diterima pada kondisi teknis. Nilai kriteria 5.2.2. Bahan tambahan dan eksipien dalam sediaan
keberterimaan Farmakope bukan merupakan dasar resmi Bahan tambahan dan eksipien yang sesuai
pengakuan bahwa bahan resmi dengan kemurnian seperti bahan antimikroba, bahan dasar farmasetik,
melebihi 100% adalah melebihi kualitas Farmakope. penyalut, perisa, pengawet, penstabil dan pembawa
Sama halnya, ketika bahan disiapkan dengan dapat ditambahkan ke dalam sediaan resmi untuk
persyaratan kondisi yang lebih ketat dari spesifikasi meningkatkan stabilitas, manfaat atau penampilan
monografi tidak menjadi dasar pengakuan bahwa maupun untuk memudahkan pembuatan, kecuali
bahan tersebut melebihi persyaratan Farmakope. dinyatakan lain dalam masing-masing monografi.

4.2 Lampiran Masing-masing lampiran menetapkan Bahan pewarna dapat ditambahkan dalam sediaan
penomoran yang dicantumkan dalam tanda kurung resmi kecuali sediaan parenteral dan sediaan untuk
setelah judul lampiran (contoh Kromatografi <931>). mata. Bahan tambahan atau eksipien lain yang sesuai
Lampiran terdiri dari : untuk sediaan parenteral, seperti tertera pada Bahan
• Uraian tentang jenis pengujian dan prosedur Tambahan dalam Injeksi.
penetapannya pada masing-masing monografi.
• Informasi umum untuk interpretasi persyaratan Komposisi bahan dasar dan penyiapan sediaan salep
Farmakope. dan supositoria dapat bervariasi untuk
• Uraian umum tentang jenis wadah dan mempertahankan konsistensi dalam kondisi iklim
penyimpanan. yang berbeda, mempertahankan kadar bahan aktif, dan
Jika monografi merujuk pada lampiran, kriteria agar ketersediaan hayati, efek terapi dan keamanan
penerimaan dicantumkan setelah judul lampiran. sediaan terjamin.
- 35 -

Produk setengah jadi yang menyebutkan komposisi menunjukkan aktivitas biologi dalam unit potensi,
secara lengkap, hanya mengandung bahan yang yang mengacu pada baku pembanding yang telah
disebutkan dalam formula, kecuali dinyatakan lain ditetapkan secara resmi.
pada masing-masing monografi. Penyimpangan dalam
proses atau metode pencampuran yang telah Unit potensi biologis didefinisikan oleh World Health
ditetapkan, jika bukan jumlah atau komposisi bahan Organization (WHO) untuk International Biological
tambahan, dapat dilakukan, asalkan menghasilkan Standards and International Biological Reference
sediaan akhir yang memenuhi standar dan mengikuti Preparations dinyatakan sebagai Unit Internasional
proses yang telah ditetapkan. (UI). Monografi mengacu pada satuan yang
dinyatakan dengan Baku Pembanding Farmakope
Jika monografi untuk produk setengah jadi Indonesia sebagai “Unit FI”. Untuk produk biologi,
menyatakan bahwa digunakan sejumlah tertentu unit potensi mengacu pada Unit Internasional.
bahan dalam bentuk kering, bahan tersebut tidak perlu
dikeringkan sebelum digunakan apabila dalam proses 5.6 Senyawa asing dan cemaran Pengujian terhadap
penyiapan sediaan digunakan air atau bahan yang adanya senyawa asing dan cemaran dimaksudkan
mudah menguap. untuk membatasi senyawa tersebut sampai pada
jumlah yang tidak mempengaruhi bahan pada kondisi
5.3 Pemerian dan kelarutan Monografi dapat penggunaan biasa. Pengujian yang tidak tertera pada
mencantumkan informasi pemerian suatu bahan. monografi dan kriteria keberterimaan yang sesuai
Informasi ini secara tidak langsung dapat membantu untuk mendeteksi dan mengendalikan cemaran yang
evaluasi pendahuluan suatu bahan, tetapi tidak merupakan hasil perubahan dari metode pembuatan
dimaksudkan sebagai standar atau uji kemurnian. atau berasal dari sumber eksternal harus dilaksanakan
Kelarutan suatu zat dapat dinyatakan sebagai berikut: sebagai uji tambahan dari yang dinyatakan dalam
masing-masing monografi.
Jumlah bagian pelarut yang
Istilah kelarutan diperlukan untuk melarutkan Cemaran organik Jika monografi memuat penetapan
1 bagian zat kadar atau uji cemaran organik berdasarkan
Sangat mudah larut Kurang dari 1 kromatografi selain uji sisa pelarut, dan prosedur
Mudah larut 1 sampai 10 monografi tidak dapat mendeteksi identitas dan
Larut 10 sampai 30 jumlah cemaran dalam bahan yang diketahui, maka
Agak sukar larut 30 sampai 100 harus dinyatakan sebagai cemaran organik.
Sukar larut 100 sampai 1000
Sangat sukar larut 1000 sampai 10.000 Cemaran organik yang tidak tercantum pada etiket
Praktis tidak larut lebih dari 10.000 bahan resmi adalah varian standar jika jumlahnya
0,1% atau lebih besar. Total cemaran organik
5.4 Identifikasi Uji di bawah judul Identifikasi pada ditambah cemaran yang dapat diidentifikasi dengan
monografi dimaksudkan sebagai suatu cara untuk metode pada monografi tidak lebih dari 2,0% (seperti
membuktikan bahwa zat mempunyai identitas yang yang tertera pada Cemaran Umum <481>), kecuali
sesuai dengan yang tertera pada etiket. dinyatakan lain dalam monografi.
Uji identifikasi dalam suatu monografi dapat terdiri
dari satu atau lebih prosedur. Ketika uji identifikasi Beberapa kategori bahan aktif berikut ini tidak perlu
dilakukan, semua persyaratan dari prosedur spesifik memenuhi uji persyaratan cemaran organik:
harus terpenuhi. Kegagalan suatu bahan untuk • Produk fermentasi dan turunan semi-sintesisnya
memenuhi persyaratan uji Identifikasi (misalnya tidak • Radiofarmaka
sesuai dengan semua persyaratan prosedur spesifik • Produk biologi
yang merupakan bagian dari uji) menunjukkan adanya • Produk turunan-bioteknologi
ketidaksesuaian dengan etiket dan/atau palsu. • Peptida
• Produk herbal
5.5 Penetapan kadar Penetapan kadar untuk produk • Bahan mentah yang berasal dari tanaman atau
setengah jadi tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi hewan
produk setengah jadi sebelum diserahkan, tetapi Bahan yang diketahui bersifat toksik tidak boleh
berfungsi sebagai uji resmi jika ada pertanyaan atau dinyatakan sebagai cemaran organik.
perdebatan mengenai pemenuhan persyaratan
terhadap standar resmi. 5.7 Uji kinerja Jika uji keseragaman kandungan
Penetapan kadar bahan dan sediaan resmi dilakukan menggunakan metode analisis yang sama
dicantumkan dalam masing-masing monografi. dengan Penetapan kadar, dengan memperhatikan
perbedaan yang dapat diterima pada prosedur
Unit potensi biologi Bahan yang tidak sepenuhnya penyiapan contoh, rata-rata dari semua hasil uji
dapat dikarakterisasi secara kimia atau fisika, perlu
- 36 -

keseragaman kandungan dapat dinyatakan sebagai masing-masing monografi. Jika kandungan air atau
kadar dari sediaan. senyawa mudah menguap mempengaruhi prosedur,
maka lakukan pengeringan bahan sebelum penetapan
5.8 Baku Pembanding FI Baku Pembanding FI seperti tertera pada masing-masing monografi.
adalah senyawa yang telah disetujui keabsahan Istilah “menggunakan zat yang telah dikeringkan” dan
penggunaannya sebagai pembanding dalam pengujian tidak ada penjelasan cara pengeringannya, maka
dan penetapan kadar berdasarkan FI (seperti tertera digunakan cara seperti tertera pada Penetapan Susut
pada Baku Pembanding Farmakope Indonesia <11>). Pengeringan <731> atau metode Gravimetri dalam
Jika suatu pengujian atau penetapan kadar monografi Penetapan Kadar Air <1031>.
perlu menggunakan baku pembanding dan bukan Apabila dinyatakan “keringkan dalam hampa udara
Baku Pembanding FI, maka dapat digunakan baku (pengurangan tekanan) di atas pengering”, maka dapat
pembanding lain yang memenuhi semua persyaratan digunakan desikator hampa, piston pengering hampa
dalam monografi. atau pengering hampa lain yang sesuai.
Penggunaan baku pembanding mengacu pada
petunjuk yang tertera pada sertifikat analisis. Pemijaran sampai bobot tetap Kecuali dinyatakan
lain “Pemijaran sampai bobot tetap” pemijaran harus
dilanjutkan pada suhu 800±25° hingga hasil dua
6. PENGUJIAN DAN PROSEDUR penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari
0,50 mg tiap g zat yang digunakan; penimbangan
6.1 Cara berlaboratorium yang baik Dalam kedua dilakukan setelah pemijaran kembali pada
melaksanakan pengujian, keamanan cara waktu yang sesuai.
berlaboratorium yang baik harus dipatuhi, termasuk
langkah pencegahan, perlengkapan pelindung dan Pengeringan sampai bobot tetap “Keringkan sampai
konsistensi tahapan pengujian bahan kimia dan bobot tetap” berarti pengeringan harus dilanjutkan
prosedur yang digunakan. Sebelum memulai hingga pada perbedaan dua kali penimbangan
pengujian, penguji harus memahami risiko terkait berturut-turut tidak lebih dari 0,50 mg tiap g zat yang
bahan kimia, serta teknik dan cara melindunginya. digunakan; penimbangan kedua dilakukan setelah
Farmakope ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan pengeringan kembali selama waktu yang sesuai.
risiko atau tahapan perlindungan.
6.5 Penyiapan larutan
6.2 Prosedur otomatis Baik prosedur otomatis dan 6.5.1 Penyaringan Jika dalam prosedur dikatakan
manual yang mempunyai prinsip dasar kimia yang “saring” tanpa penjelasan lebih lanjut, cairan disaring
sama dinyatakan setara. menggunakan kertas saring yang sesuai hingga
diperoleh filtrat yang jernih. Karena adanya
6.3 Metode dan prosedur lain Metode dan/atau kemungkinan efek dari kertas saring, sejumlah volume
prosedur lain dapat digunakan jika lebih unggul dalam filtrat awal sebaiknya dibuang.
ketepatan, kepekaan, presisi, selektifitas, atau dapat
disesuaikan terhadap otomatisasi atau penyederhanaan 6.5.2 Larutan Kecuali dinyatakan lain, semua larutan
data menggunakan komputer, atau dalam keadaan dibuat dengan air sebagai pelarut. Larutan untuk
khusus. Prosedur dan metode lain harus divalidasi pengukuran kuantitatif harus dibuat menggunakan zat
sesuai Validasi Prosedur dalam Farmakope <1381> yang ditimbang atau diukur saksama (lihat bagian
dan harus dapat dibuktikan memberikan validitas yang Lebih kurang).
setara atau lebih baik. Apabila prosedur lain, atau Pernyataan “(1 dalam 10)” mempunyai arti 1 bagian
metode alternatif memberikan hasil yang berbeda volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat yang
dengan metode Farmakope, maka yang dianggap harus diencerkan atau dilarutkan dalam sejumlah
benar adalah hasil yang menggunakan prosedur pengencer atau pelarut yang sesuai untuk membuat
Farmakope. bagian atau volume akhir 10.
Kecuali dinyatakan lain pernyataan (20:5:2) berarti
6.4 Bahan yang dikeringkan, dipijarkan, anhidrat, campuran beberapa cairan dengan perbandingan
atau bebas pelarut Kecuali dinyatakan lain, semua volume seperti yang disebutkan.
perhitungan dalam Farmakope dilakukan sebagaimana
adanya. 6.5.3 Larutan pereaksi Penjelasan mengenai larutan
pereaksi dapat dilihat pada Larutan pereaksi dalam
Prosedur pengujian dapat menggunakan bahan yang Pereaksi, Indikator dan Larutan. Penggunaan larutan
belum dikeringkan atau dipijarkan dan hasilnya pereaksi lain atau perubahan larutan pereaksi perlu
diperhitungkan terhadap bahan yang dikeringkan, divalidasi.
dipijarkan atau anhidrat, menggunakan faktor yang
diperoleh dari hasil Penetapan Susut Pengeringan,
Sisa Pemijaran atau Kadar Air seperti tertera pada
- 37 -

6.5.4 Larutan indikator Kecuali dinyatakan lain, dari cahaya atau wadah bening yang dilapisi atau
penggunaan larutan indikator dalam suatu prosedur dibungkus agar tidak tembus cahaya.
lebih kurang 0,2 mL atau 3 tetes larutan.
6.8.3 Instrumen Penggunaan instrumen tertentu
6.6 Jumlah sediaan yang dibutuhkan untuk dalam monografi dapat digantikan instrumen lain
pengujian Kecuali dinyatakan lain, sejumlah sediaan dengan prinsip dasar pengoperasian yang sama dan
yang digunakan harus cukup untuk menjamin mempunyai sensitivitas dan ketelitian yang setara atau
kesesuaian hasil pengujian. lebih. Karakteristik ini harus disesuaikan.

Tablet Jika dalam penetapan kadar tablet disebutkan Tabung dan kolom kromatografi Yang dimaksud
“timbang dan serbukkan tidak kurang dari” sejumlah “diameter” adalah diameter dalam.
tablet, berarti tablet yang telah dihitung ditimbang
terlebih dahulu kemudian diserbukkan. Sejumlah Pipa Yang dimaksud “diameter” adalah diameter luar.
serbuk yang digunakan harus ditimbang saksama
karena mewakili seluruh tablet. Tangas Uap Apabila dinyatakan penggunaan tangas
uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas
Kapsul Jika dalam penetapan kadar kapsul disebutkan mengalir. Dapat juga digunakan pemanas lain yang
“Timbang saksama tidak kurang dari sejumlah kapsul. disertai pengatur suhu, hingga suhu setara dengan uap
Keluarkan isi semua kapsul, bersihkan cangkang panas mengalir.
kapsul dan timbang saksama, hitung bobot rata-rata isi
tiap kapsul. Timbang saksama sejumlah serbuk Tangas Air Kecuali dinyatakan lain, tangas air adalah
kapsul” berarti sejumlah kapsul ditimbang saksama, tangas air yang mendidih secara stabil.
kemudian dibuka secara hati-hati dan isinya
dikeluarkan, cangkang kapsul dibersihkan, digabung,
dan ditimbang saksama. Hitung bobot rata-rata isi 7. HASIL UJI
kapsul. Sejumlah isi kapsul yang digunakan harus
ditimbang saksama karena mewakili seluruh isi 7.1 Interpretasi persyaratan Hasil analisis yang
kapsul. diamati di laboratorium (atau dihitung dari
pengukuran pengujian) dibandingkan dengan kriteria
6.7 Pereaksi Prosedur Farmakope yang valid keberterimaan untuk menentukan kesesuaian bahan
tergantung antara lain dari kualitas pereaksi yang tersebut dengan persyaratan Farmakope.
digunakan. Spesifikasi pereaksi tertera pada Pereaksi,
Indikator dan Larutan. Jika spesifikasi pereaksi tidak Nilai yang dilaporkan, umumnya adalah nilai rata-rata
tercantum, pereaksi yang digunakan harus mempunyai untuk beberapa penetapan secara individual,
mutu yang sesuai untuk tujuan pengujian. Bahan- dibandingkan dengan kriteria keberterimaan. Nilai
bahan yang ada dalam Pereaksi, Indikator dan yang dilaporkan adalah hasil akhir dari prosedur
Larutan, termasuk indikator dan larutan pereaksi, pengukuran yang lengkap, seperti yang telah
tidak boleh digunakan untuk tujuan terapi, sehingga ditetapkan.
dalam etiketnya harus tercantum istilah “pereaksi”
atau “kelas pereaksi”. Jika kriteria keberterimaan dinyatakan secara numerik
melalui spesifikasi batas atas atau batas bawah, nilai
6.8 Peralatan Kecuali dinyatakan lain, spesifikasi yang diterima termasuk nilai batas yang telah
ukuran atau tipe wadah atau perangkat tertentu dalam ditetapkan, tetapi bukan nilai diluar batas. Kriteria
prosedur hanya digunakan sebagai rekomendasi. penerimaan dianggap bermakna sampai angka terakhir
Ukuran atau tipe lain dapat digunakan jika sesuai yang ditampilkan.
dengan penggunaannya.
Kadar nominal dalam rumus Jika ”kadar nominal”
6.8.1 Alat ukur Apabila dinyatakan penggunaan labu telah ditentukan, kadar dihitung berdasarkan yang
tentukur atau alat timbang atau alat ukur jenis lain, tertera pada etiket. Pada prosedur penetapan kadar,
maka dapat digunakan alat ini atau alat ukur lain koreksi air biasanya dinyatakan dalam definisi dan
dengan ketelitian yang setara. pada etiket di Baku Pembanding Farmakope Indonesia
(BPFI). Untuk prosedur lainnya, koreksi untuk
Pipet Apabila dinyatakan penggunaan pipet, dapat pengujian kandungan, potensi, atau keduanya dibuat
digantikan dengan buret yang sesuai. Jika disebutkan terutama untuk penggunaan kadar pada persamaan
pipet, dapat digunakan labu tentukur yang sesuai. yang tertera dalam monografi.
6.8.2 Pelindung cahaya Apabila dinyatakan wadah Kesetaraan dalam prosedur titrimetri Petunjuk untuk
aktinik-rendah atau tidak tembus cahaya, dapat prosedur titrimetri disimpulkan dengan pernyataan
digunakan wadah khusus yang dapat melindungi zat bobot zat yang setara dengan tiap mL titran yang telah
dibakukan. Dalam pernyataan kesetaraan tersebut,
- 38 -

diartikan bahwa jumlah angka bermakna dalam kadar


titran sesuai dengan jumlah angka bermakna pada 8.2 Lebih kurang Pernyataan “Lebih kurang”
bobot zat yang ditetapkan. Jika diperlukan, koreksi menunjukkan kuantitas dalam rentang 10%. Jika
terhadap perhitungan yang didasarkan pada penetapan pengukuran dinyatakan dengan “diukur saksama” atau
blangko dibuat untuk semua penetapan kadar “ditimbang saksama” ikuti pernyataan dalam
titrimetri. Peralatan Volumetri <21> dan Timbangan dan Anak
Timbangan <41>.
7.2 Aturan pembulatan Nilai yang diamati atau yang
dihitung harus dibulatkan ke angka desimal yang telah 8.3 Kadar alkohol Persentase etanol, seperti pada
disepakati batasnya. Angka-angka tersebut tidak boleh judul Kadar Alkohol mengacu pada persentase volume
dibulatkan sampai perhitungan akhir untuk nilai yang C2H5OH pada suhu 15,56º. Jika suatu formula,
dilaporkan. Perhitungan antara (misalnya kemiringan pengujian, atau penetapan untuk alkohol, etil alkohol,
untuk linieritas) dapat dibulatkan untuk tujuan atau etanol, maka digunakan monografi “Etanol”. Jika
pelaporan, tapi nilai asli (yang tidak dibulatkan) harus pembanding menyebutkan “C2H5OH”, maka yang
digunakan untuk perhitungan tambahan lainnya. dimaksud adalah etanol mutlak (100%). Jika prosedur
Kriteria penerimaan adalah nilai yang sudah menyebutkan etanol dehidrat, etanol mutlak, atau
ditetapkan dan tidak dibulatkan. etanol anhidrat, maka yang harus digunakan adalah
monografi “Etanol Mutlak”.
Jika diperlukan pembulatan, pastikan hanya satu
angka pada desimal terakhir. Jika angka lebih kecil 8.4 Bobot atom Bobot atom yang digunakan sebagai
dari lima, maka dihilangkan dan angka sebelumnya dasar perhitungan bobot molekul dan faktor pada
tidak dihilangkan. Jika angka sama atau lebih besar penetapan kadar atau pada bagian lain Farmakope
dari lima, maka dihilangkan dan angka sebelumnya adalah sesuai dengan yang ditetapkan oleh IUPAC
bertambah sebesar satu. Commision on Atomic Weights and Isotopic
Abundances.
Ilustrasi Nilai Pembulatan Numerik
sebagai Perbandingan dengan Persyaratan 8.5 Penetapan blangko Jika diperlukan koreksi
Persyarata Nilai yang Hasil Kesesuaia terhadap suatu penetapan dengan cara penetapan
n belum pembu n blangko, penetapan dilakukan menggunakan pereaksi
Farmakope dibulatka latan yang sama, cara yang sama seperti pada larutan atau
n campuran yang mengandung zat yang ditetapkan,
Batas 97,96% 98,0% Ya tetapi tanpa zat yang ditetapkan.
penetapan 97,92% 97,9% Tidak
kadar 97,95% 98,0% Ya 8.6 Desikator Jika dinyatakan “dalam desikator”
≥ 98,0% menunjukkan penggunaan wadah tertutup rapat
Batas 101,55% 101,6 Tidak dengan ukuran yang sesuai dan desain yang dapat
penetapan 101,46% % Ya mempertahankan kelembaban rendah dengan
kadar 101,45% 101,5 Ya menggunakan pengering yang sesuai seperti kalsium
≤ 101,5% % klorida anhidrat, magnesium perklorat, fosfor
101,5 pentoksida, atau silika gel (seperti tertera pada
% Desikator Hampa).
Uji batas ≤ 0,025% 0,03% Tidak
8.8 Logaritma Yang dimaksud adalah bilangan dasar
0,02% 0,015% 0,02% Ya
10.
0,027% 0,03% Tidak
Uji batas ≤ 3,5 bpj 4 bpj Tidak
8.9 Galur mikroba Harus mengacu dan disebutkan
3 bpj 3,4 bpj 3 bpj Ya
dengan nomor katalognya, misal: ATCC dan harus
2,5 bpj 3 bpj Ya
digunakan secara langsung atau jika disubkultur harus
digunakan tidak lebih dari lima pasase dari galur asli.
8. ISTILAH DAN DEFINISI 8.10 Bobot yang dapat diabaikan Dimaksudkan
bobot yang tidak melebihi 0,50 mg.
8.1 Singkatan
BPFI : Baku Pembanding Farmakope Indonesia 8.11 Bau Pernyataan “tidak berbau”, “praktis tidak
LK : Larutan Kolorimetri berbau”, “berbau khas lemah” atau lainnya, ditetapkan
LP : Larutan Pereaksi dengan pengamatan setelah bahan terkena udara
LV : Larutan Volumetrik yang telah dibakukan sesuai selama 15 menit. Bau yang disebutkan hanya bersifat
dengan petunjuk yang tertera dalam monografi atau deskriptif dari bahan yang bersangkutan.
Pereaksi, Indikator, dan Larutan.
P : Pereaksi
- 39 -

8.12 Persen Digunakan tanpa kualifikasi berarti: Molalitas diberi simbol m, adalah jumlah gram
• Untuk campuran padat dan semi padat, persen b/b molekul zat yang dilarutkan dalam 1 kg pelarut.
• Untuk larutan atau suspensi padatan dalam cairan,
persen b/v Molaritas diberi simbol M, adalah jumlah gram
• Untuk larutan cairan dalam cairan, persen v/v molekul zat yang dilarutkan dalam pelarut hingga
• Untuk larutan gas dalam cairan, persen b/v volume 1 L.

Sebagai contoh, 1 persen larutan dibuat dengan Normalitas diberi simbol N, adalah jumlah gram
melarutkan 1 g zat padat atau semi padat, atau 1 mL ekuivalen zat yang dilarutkan dalam pelarut hingga
cairan, dalam pelarut sampai volume 100 mL larutan. volume 1 L.

8.13 Persentase kadar Persentase kadar dinyatakan Satuan bobot dan ukuran serta singkatannya yang
sebagai berikut: sering digunakan dalam Farmakope adalah sebagai
• Persen bobot dalam bobot (b/b) adalah jumlah g zat berikut:
terlarut dalam 100 g larutan
• Persen bobot dalam volume (b/v) adalah jumlah g Unit Simbol Keterangan
zat terlarut dalam 100 mL larutan Panjang
• Persen volume dalam volume (v/v) adalah jumlah meter m
ml zat terlarut dalam 100 mL larutan. sentimeter cm
millimeter mm
8.14 Tekanan Ditentukan menggunakan manometer mikrometer µm Sebelumnya
atau barometer terkalibrasi sesuai dengan tekanan mengacu sebagai
yang diberikan oleh kolom air raksa dari ketinggian mikron
yang ditetapkan. nanometer nm Sebelumnya
digunakan symbol
8.15 Waktu reaksi Kecuali dinyatakan lain, waktu mµ (milimikron)
reaksi adalah 5 menit. Ångström Å Setara 0,1 nm
Bobot
8.16 Bobot jenis Adalah bobot suatu zat di udara pada kilogram kg
suhu 25º dibagi dengan bobot volume air yang setara gram g
pada suhu sama. milligram mg
mikrogram µg mikrogram juga
8.17 Suhu Kecuali dinyatakan lain, semua suhu di menggunakan
dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat Celsius penandaan “mcg”
dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25. Jika pada pembuatan
dinyatakan “suhu ruang terkendali” yang dimaksud resep. sedangkan
adalah suhu antara 15 dan 30. Jika digunakan “panas “gamma” atau “γ”,
sedang” menunjukkan suhu tidak lebih dari 45º. sering dipakai
sebagai penandaan
8.18 Hampa udara Kecuali dinyatakan lain istilah mikrogram dalam
“dalam hampa udara” dimaksudkan kondisi dengan pustaka biokimia.
tekanan udara kurang dari 20 mmHg. nanogram ng
pikogram pg
8.19 Desikator hampa udara Adalah desikator yang dalton Da Juga mengacu pada
dapat mempertahankan kelembaban rendah pada unit massa atom yang
tekanan tidak lebih dari 20 mmHg atau pada tekanan setara dengan 1/12
lain yang ditetapkan dalam monografi. kali massa atom
karbon 12 bebas
8.20 Air kilodalton kDa
Air sebagai bahan dalam produk resmi Sebagai bahan Volume
dalam produk resmi, harus memenuhi persyaratan air liter L 1 L setara dengan
yang sesuai dengan monografi. 1000cm3 (sentimeter
Air dalam prosedur Farmakope Kecuali dinyatakan kubik)
lain, harus digunakan “Air Murni”. Definisi untuk air desiliter dL
yang lainnya tercantum dalam Pereaksi. milliliter mL 1 mL setara dengan 1
cm3, kadang ditulis
8.30 Bobot dan ukuran Bobot dan ukuran yang sebagai cc
digunakan di dalam Farmakope adalah sistem metrik. mikroliter µL
- 40 -

Unit Simbol Keterangan Unit Simbol Keterangan


Suhu acceleration g untuk menyatakan
Celsius °C due to gravity kecepatan sentrifuga
Jumlah bahan revolusi per rpm untuk menyatakan
mol mol Secara historis menit kecepatan sentrifuga
disebut sebagai bobot
molekul atau bobot
atom gram- 9. WADAH DAN PENYIMPANAN
millimol mmol
mikromol µmol 9.1 Penyimpanan pada kondisi yang tidak
femtomol fmol ditentukan Jika tidak ada petunjuk dan pembatasan
ekuivalen Eq Juga mengacu yang khusus pada Wadah dan penyimpanan
sebagai bobot gram monografi atau pada etiketnya, kondisi penyimpanan
ekuivalen. Digunakan harus pada ruang dengan suhu terkendali, terlindung
pada perhitungan dari lembab, dan jika perlu terlindung dari cahaya.
kadar dalam unit Tanpa memperhatikan jumlah, zat tersebut harus
normalitas. terlindung dari lembab, pembekuan, dan suhu
milli ekuivalen mEq berlebih, dan jika perlu terlindung dari cahaya selama
osmol Osmol Tekanan osmotik dari pengangkutan atau distribusi.
larutan yang
ekuivalen dengan 9.2 Wadah Suatu tempat penyimpanan bahan yang
konsentrasi zat berhubungan langsung atau tidak langsung dengan
milliosmol mOsmol bahan. Wadah langsung adalah wadah yang langsung
Tekanan berhubungan dengan bahan sepanjang waktu. Tutup
adalah bagian dari wadah.
paskal Pa
kilopaskal kPa
Sebelum diisi wadah harus bersih. Prosedur
pounds per psi
pencegahan khusus dan pembersihan diperlukan untuk
square inch
menjamin agar tiap wadah bersih dan benda asing
millimeter mmHg setara 133,322 Pa tidak masuk ke dalamnya atau mencemari bahan.
raksa
Unit listrik Wadah dan tutup tidak boleh mempengaruhi bahan
ampere A yang disimpan di dalamnya baik secara kimia maupun
volt V secara fisika, yang dapat mengakibatkan perubahan
millivolt mV kekuatan, mutu atau kemurniannya hingga tidak
hertz Hz Unit frekuensi memenuhi persyaratan resmi.
kilohertz kHz
megahertz MHz Kecuali dinyatakan lain, persyaratan wadah yang
elektron volt eV tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang
kilo-elektron keV digunakan dalam penyerahan obat oleh Apoteker.
volt
mega-elektron MeV 9.2.1 Kemasan tahan dirusak Wadah suatu bahan
volt steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau
Radiasi telinga, kecuali yang disiapkan segera sebelum
becquerel Bq Unit Standar diserahkan atas dasar resep, harus disegel sedemikian
Internasional untuk rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa
aktivitas radionuklida merusak segel.
kilobecquerel kBq
megabecquerel MBq Bahan yang dijual tanpa resep juga harus memenuhi
gigabecquerel GBq persyaratan Kemasan tersegel dan penandaan sesuai
curie Ci Non Unit Standar dengan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Internasional untuk
aktivitas radionuklida Wadah tidak tembus cahaya Harus dapat melindungi
millicurie mCi isi dari pengaruh cahaya, dibuat dari bahan khusus
microcurie µCi yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan
nanocurie nCi melapisi wadah tersebut. Wadah yang bening dan
Lainnya tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat
dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi
pembungkus yang buram. Dalam hal ini pada etiket
- 41 -

harus disebutkan bahwa pembungkus buram 9.2.9 Wadah satuan ganda Adalah wadah yang
diperlukan sampai isi dari wadah habis diminum atau memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali
digunakan untuk keperluan lain. tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan, mutu atau
kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut.
Jika dalam monografi dinyatakan “terlindung
cahaya”, dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan 9.2.10 Wadah dosis ganda Adalah Wadah satuan
dalam wadah tidak tembus cahaya. ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara
parenteral.
9.2.2 Wadah tidak tembus cahaya Harus dapat
melindungi isi dari pengaruh cahaya, dibuat dari bahan 9.3 Suhu dan Kelembaban Penyimpanan Beberapa
khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau monografi mencantumkan ketentuan khusus mengenai
dengan melapisi wadah tersebut. Wadah yang bening suhu dan kelembaban serta distribusi bahan termasuk
dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya pengangkutan bahan kepada konsumen (jika data
dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara stabilitas bahan menunjukkan penyimpanan dan
memberi pembungkus yang buram. Dalam hal ini pada distribusi pada suhu yang lebih rendah atau lebih
etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram tinggi dan kelembaban yang lebih tinggi menyebabkan
diperlukan sampai isi dari wadah habis diminum atau hasil yang tidak diinginkan). Ketentuan tersebut
digunakan untuk keperluan lain. digunakan kecuali jika etiket zat menyatakan suhu
Jika dalam monografi dinyatakan “terlindung penyimpanan yang berbeda berdasarkan data stabilitas
cahaya”, dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan pada formula tersebut. Jika tidak ada petunjuk
dalam wadah tidak tembus cahaya. penyimpanan khusus atau pembatasan pada
monografi, tetapi etiket zat menyatakan suhu
9.2.3 Wadah tertutup baik Harus melindungi isi penyimpanan berdasarkan data stabilitas formula
terhadap masuknya bahan padat dan mencegah tersebut, maka petunjuk penyimpanan pada etiket
kehilangan bahan selama penanganan, pengangkutan, tersebut yang berlaku. Kondisi tersebut dijelaskan
penyimpanan dan distribusi. pada istilah-istilah berikut, walaupun untuk penandaan
pada etiket direkomendasikan untuk mencantumkan
9.2.4 Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi suhu dimaksud.
terhadap masuknya bahan cair, bahan padat atau uap
dan mencegah kehilangan, merekat, mencair atau 9.3.1 Lemari pembeku Menunjukkan ruangan
menguapnya bahan selama penanganan, dengan suhu dipertahankan secara termostatik antara
pengangkutan, penyimpanan dan distribusi, harus -25º dan -10º.
dapat ditutup rapat kembali. Wadah tertutup rapat
dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk 9.3.2 Dingin Adalah kondisi suhu tidak lebih dari 8,
bahan dosis tunggal. lemari pendingin mempunyai suhu antara 2dan 8.

9.2.5 Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah 9.3.3 Sejuk Adalah kondisi suhu antara 8 dan 15.
menembusnya udara atau gas lain selama penanganan, Kecuali dinyatakan lain, bahan yang harus disimpan
pengangkutan, penyimpanan dan distribusi. pada suhu sejuk dapat disimpan di dalam lemari
pendingin.
9.2.6 Wadah satuan tunggal Digunakan untuk
produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan 9.3.4 Suhu ruang dingin terkendali Adalah suhu
sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera yang dipertahankan secara termostatik antara 2º dan 8º
setelah dibuka. Wadah atau pembungkusnya berdasarkan pengalaman penyimpangan antara 0º dan
sebaiknya dirancang sedemikian rupa hingga dapat 15º selama penyimpanan, pengangkutan dan distribusi
diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. Tiap hingga rata-rata suhu kinetik tidak lebih dari 8º.
wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang Lonjakan suhu hingga 25º diperbolehkan jika
menyebutkan identitas, kadar atau kekuatan, nama produsen memberikan keterangan demikian dan
produsen, nomor bets dan tanggal kedaluwarsa. lonjakan suhu tersebut tidak lebih dari 24 jam kecuali
didukung oleh data stabilitas atau produsen
9.2.7 Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan menyarankan demikian.
tunggal untuk bahan yang hanya digunakan secara
parenteral. Tiap wadah dosis tunggal harus diberi 9.3.5 Suhu Ruang Adalah suhu pada ruang kerja tidak
etiket seperti pada Wadah satuan tunggal. lebih dari 30º.
9.3.6 Suhu Ruang Terkendali Adalah suhu yang
9.2.8 Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan dipertahankan secara termostatik antara 20º dan 25º,
tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara dengan toleransi penyimpangan antara 15º dan 30º
parenteral dalam dosis tunggal, langsung dari wadah. hingga rata-rata suhu kinetik tidak lebih dari 25º,
berdasarkan pengalaman di apotek, rumah sakit, dan
- 42 -

gudang. Jika suhu kinetik rata-rata tetap pada rentang


yang diperbolehkan, lonjakan suhu hingga 40º Bahan pada Farmakope ini harus memenuhi
diperbolehkan selama tidak lebih dari 24 jam dengan persyaratan penandaan sesuai dengan peraturan
didukung data stabilitas. perundang-undangan sebagai persyaratan tambahan.

Suhu kinetik rata-rata adalah nilai yang digunakan Jumlah Zat Aktif Per Satuan Dosis Kekuatan obat
sebagai suhu penyimpanan isotermal yang dicantumkan pada etiket wadah dalam mikrogram,
mensimulasikan pengaruh non-isotermal dari miligram, gram atau persen senyawa atau bentuk aktif,
perubahan suhu penyimpanan. kecuali dinyatakan lain dalam monografi. Nama
senyawa atau bentuk aktifnya dan jumlah
Pada etiket bahan yang harus disimpan di ruang ekuivalensinya dinyatakan pada etiket.
terkendali dapat dicantumkan “disimpan pada suhu
ruang terkendali” atau “disimpan pada suhu hingga Bahan resmi pada kapsul, tablet, atau bentuk sediaan
25º”. lainnya harus diberi etiket untuk menyatakan jumlah
masing-masing zat aktif kecuali satuan dosis larutan
Bahan yang disimpan pada suhu ruang terkendali oral atau suspensi yang disiapkan dalam bentuk cairan
dapat juga disimpan dan didistribusikan pada tempat atau perlu direkonstitusi terlebih dahulu dengan
dengan suhu antara 8º dan 15º, kecuali dinyatakan lain sejumlah pelarut. Etiket harus menyatakan jumlah zat
pada masing-masing monografi atau pada etiket. aktif yang ditentukan pada Volume terpindahkan
<1261>. Sediaan resmi yang tidak dalam bentuk
9.3.7 Hangat Adalah kondisi suhu antara 30º dan 40º. satuan dosis harus diberi etiket yang menyatakan
jumlah masing-masing zat aktif dalam tiap mililiter,
9.3.8 Panas Berlebih Adalah kondisi suhu di atas 40. tiap gram atau dalam persen masing-masing zat aktif
(seperti tertera pada Kadar dalam Persen), kecuali
9.3.9 Perlindungan dari pembekuan Disamping cairan oral atau padatan untuk rekonstitusi, dapat
risiko kerusakan isi, pembekuan zat dapat diberi etiket tiap 5 mililiter cairan rekonstitusi. Kecuali
menghilangkan kekuatan atau potensi, atau merusak dinyatakan lain dalam monografi, kekuatan atau
karakteristik zat, maka pada etiket harus dinyatakan jumlah zat aktif harus dinyatakan dalam satuan metrik
bahwa zat harus terhindar dari pembekuan. (seperti tertera pada Unit potensi biologi).

9.3.10 Tempat Kering Merupakan tempat dengan 9.4.1 Penggunaan desimal nol pada penandaan
kelembaban relatif rata-rata tidak lebih dari 40% pada Untuk meminimalkan kesalahan dalam peracikan dan
suhu ruang terkendali atau sebanding dengan tekanan penggunaan obat, jumlah zat aktif dinyatakan dalam
penguapan air pada suhu lain. Penentuan dapat angka tanpa nilai desimal yang diikuti dengan angka
dilakukan dengan pengukuran langsung pada ruangan nol [contoh: 4 mg (bukan 4,0 mg)].
berdasarkan tidak kurang dari 12 pengukuran yang
mencakup satu musim, satu tahun, atau sesuai data 9.4.2 Penandaan obat dalam bentuk garamnya
periode penyimpanan bahan. Kelembaban relatif dapat Pada prinsipnya semua bahan resmi hanya memiliki
mencapai 45% dengan kelembaban relatif rata-rata satu nama resmi. Untuk menyingkat penulisan dalam
40%. etiket, dan karena kebanyakan simbol kimia garam-
garam organik obat sudah diketahui sebagai sinonim
Penyimpanan dalam wadah yang diinginkan untuk dengan bentuk tulisan, penulisan berikut
melindungi zat dari uap lembab, termasuk diperbolehkan dalam penandaan bahan resmi, yaitu:
penyimpanan dalam bentuk ruahan, dianjurkan untuk HCl untuk hidroklorida, HBr untuk hidrobromida, Na
disimpan di tempat kering. untuk Natrium, dan K untuk kalium. Simbol Na dan K
ditujukan untuk menyingkat nama garam asam
9.4 Penandaan Ditujukan kepada seluruh etiket dan organik, ditulis pada bagian belakang nama zat
tulisan, cetakan, atau grafik yang terdapat pada wadah (contoh: Fenobarbital Na)
langsung bahan atau pada kemasan atau bungkus
lainnya kecuali wadah pemindahan lainnya. Etiket 9.4.3 Penandaan obat yang mengandung vitamin
diartikan sebagai bagian dari penandaan pada wadah Kandungan vitamin pada sediaan resmi harus
langsung. dinyatakan pada etiket dalam satuan metrik per satuan
Wadah pengangkutan yang mengandung zat tunggal, dosis. Jumlah vitamin A, D, dan E dapat dinyatakan
kecuali wadah tersebut juga merupakan wadah juga dalam unit FI. Jumlah vitamin A dinyatakan
langsung atau bagian luar dari kemasan diberi etiket dalam satuan metrik ekuivalen terhadap jumlah retinol
dengan identitas minimum dari produk (kecuali untuk (vitamin A dalam bentuk alkoholnya).
bahan yang dikendalikan) terdiri dari: nomor lot,
waktu kedaluwarsa, kondisi penyimpanan dan 9.4.4 Penandaan sediaan parenteral dan topikal
distribusi. Harus menyatakan semua nama zat yang ditambahkan
- 43 -

(Zat aktif, zat tambahan, eksipien) seperti tertera pada digunakan” dalam etiket wadah dosis ganda, untuk
Bahan tambahan juga harus dicantumkan jumlah atau membatasi penggunaan oleh pasien.
perbandingan, kecuali untuk zat yang ditambahkan
untuk mengatur pH atau isotonis. Pada etiket hanya Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing
disebutkan nama dan tujuan penambahan zat tersebut. monografi atau tidak adanya data stabilitas, waktu
Penandaan Sediaan Elektrolit Kadar dan dosis boleh digunakan harus tidak melewati waktu
elektrolit untuk terapi pengganti (contohnya Natrium kedaluwarsa.
Klorida atau Kalium Klorida) harus dinyatakan pada
etiket dalam miliekuivalen (mEq). Etiket juga harus Untuk sediaan padat dan cair non-steril yang dikemas
menyatakan kadar dalam bobot atau persen. dalam wadah satuan tunggal atau satuan dosis, “waktu
boleh digunakan” 1 tahun setelah sediaan ini dikemas
9.4.5 Penandaan etanol Kandungan etanol dalam dalam satuan tunggal atau waktu kedaluwarsa pada
cairan harus dinyatakan pada etiket dalam persen (v/v) kemasan produsen, gunakan mana yang lebih singkat,
C2H5OH. kecuali data stabilitas atau penandaan produsen
menyatakan lain.
9.4.6 Tablet dan kapsul khusus Etiket sediaan
kapsul atau tablet tidak ditujukan untuk ditelan utuh Penyedia obat harus memelihara fasilitas tempat
harus menyatakan cara penggunaan secara jelas. sediaan dikemas dan disimpan, pada suhu kinetik rata-
rata tidak lebih dari 25. Kemasan plastik yang
9.4.7 Waktu Kedaluwarsa Etiket sediaan resmi harus digunakan untuk sediaan harus memberikan
mencantumkan waktu kedaluwarsa. Waktu perlindungan lebih baik dibanding polivinil klorida
kedaluwarsa harus dapat dibaca oleh setiap orang pada yang tidak memberikan perlindungan cukup terhadap
kondisi pemakaian biasa. Waktu kedaluwarsa harus permeasi lembab. Suhu ruang tempat penyimpanan
mudah dimengerti dan ditunjukkan secara jelas sediaan dan kemasan plastik yang digunakan harus
dengan latar belakang yang kontras atau dicetak selalu dicatat.
timbul (contoh: “EXP 6/08”, “Exp.Juni 08”, atau
Expires 6/08”). 9.4.8 Sediaan racikan Etiket wadah atau kemasan
sediaan racikan resmi harus menyatakan “waktu boleh
Monografi beberapa sediaan menyatakan waktu digunakan”. Waktu boleh digunakan adalah batas
kedaluwarsa harus dicantumkan pada etiket. Jika tidak waktu dimana setelah tanggal tersebut sediaan racikan
ada persyaratan khusus pada masing-masing tidak boleh digunakan lagi. Karena sediaan racikan
monografi sediaan, etiket harus menunjukkan waktu ditujukan untuk penyimpanan jangka pendek, waktu
kedaluwarsa pada sediaan dan kemasan tersebut. boleh digunakan dapat ditetapkan berdasarkan kriteria
yang berbeda dengan yang digunakan pada penentuan
Waktu kedaluwarsa menunjukkan jangka waktu bahan waktu kedaluwarsa produk jadi oleh produsen.
tersebut diharapkan memenuhi persyaratan monografi
pada kondisi penyimpanan yang ditetapkan. Waktu Monografi sediaan resmi mencantumkan persyaratan
kedaluwarsa membatasi waktu zat dapat diracik atau “waktu boleh digunakan” yang menyatakan rentang
digunakan. Jika waktu kedaluwarsa hanya dinyatakan waktu setelah disiapkan, disimpan dan dapat
dalam bulan dan tahun, maka waktu kedaluwarsa digunakan.
adalah hari terakhir bulan yang dinyatakan.
Jika tidak ada data stabilitas yang dapat digunakan,
Jika pada bahan resmi dipersyaratkan waktu kecuali dinyatakan lain, gunakan rekomendasi “waktu
kedaluwarsa, bahan tersebut harus diracik sebelum boleh digunakan” maksimum untuk sediaan non-steril
waktu kedaluwarsa yang tertera pada etiket tersebut. yang dikemas pada wadah tertutup rapat, terlindung
Waktu boleh digunakan adalah batas waktu setelah cahaya dan disimpan pada suhu ruang terkendali.
tanggal tersebut sediaan tidak boleh digunakan lagi.
Untuk bahan yang harus dikonstitusi terlebih dahulu,
waktu kedaluwarsa untuk sediaan yang telah
dikonstitusi harus dinyatakan pada etiket.

Untuk semua bentuk sediaan, dalam menentukan masa


simpan yang sesuai oleh pasien, setelah penyerahan
oleh penyedia obat harus diperhitungkan faktor-faktor
tambahan seperti sifat bahan, wadah dari pabrik dan
waktu kedaluwarsa, karakeristik kemasan, jangka
waktu terapi dan kondisi penyimpanan oleh pasien
yang sangat mungkin tidak memenuhi syarat.
Penyedia obat harus mencantumkan “waktu boleh
SEDIAAN UMUM
- 46 -

AEROSOL lain, mengubah bahan ke bentuk fisik yang


Aerosols diinginkan. Secara umum propelan diklasifikasikan
sebagai gas yang dicairkan atau gas dimampatkan;
Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas umumnya mempunyai tekanan atau gas
di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapetik dimampatkan; umumnya mempunyai tekanan uap
yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai lebih besar dari tekanan atmosfer. Menurut definisi
ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian ini propelan meliputi berbagai hidrokarbon,
topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada khususnya turunan fluoroklorometan dan etan,
hidung (aerosol nasal), mulut (aerosol lingual) atau hidrokarbon dengan bobot molekut rendah seperti
paru-paru (aerosol inhalasi). butan dan pentan dan gas mampat seperti karbon
Istilah “aerosol” digunakan untuk sediaan dioksida, nitrogen dan nitrosa. Campuran propelan
semprotan kabut tipis dari suatu sistem bertekanan sering digunakan untuk memperoleh karakteristik
tinggi. Tetapi istilah aerosol telah disalah-artikan tekanan, pelepasan dan semprotan yang diinginkan.
pada semua jenis sediaan bertekanan, sebagian Sistem propelan yang baik harus mempunyai tekanan
diantaranya melepaskan busa atau cairan setengah uap yang tepat sesuai dengan komponen aerosol
padat. Dalam hal Aerosol inhalasi, ukuran partikel lainnya.
obat harus dikontrol dan ukuran rata-rata partikel Katup Fungsi utama katup adalah mengatur aliran
harus lebih kecil dari 5 μm. Sediaan ini juga dikenal zat terapetik dan propelan dari wadah. Karakteristik
sebagai inhaler dosis terukur (lihat Inhalasi). Jenis semprotan aerosol dipengaruhi oleh ukuran, jumlah
aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel dan lokasi lubang. Sebagian besar katup aerosol
berdiameter beberapa ratus mikrometer. dirancang untuk penyemprotan yang terus menerus
Komponen-komponen dasar sistem aerosol adalah dan digunakan pada sediaan topikal. Namun, sediaan
wadah, propelan, konsentrat mengandung zat aktif, farmasi untuk inhalasi oral atau inhalasi nasal kering
katup dan penyemprot. Sifat komponen-komponen menggunakan katup dosis terukur yang harus
ini menentukan karakteristik distribusi ukuran memberikan jumlah semprotan seragam jika katup
partikel, keseragaman pelepasan dari katup untuk ditekan. Ketepatan dan keterulangan dosis yang
katup terukur, kecepatan pelepasan, kebasahan dan dilepaskan dari katup terukur umumnya baik,
suhu semprotan, bobot jenis busa atau kekentalan sebanding dengan keseragaman bentuk sediaan padat
cairan. seperti tablet dan kapsul. Tetapi jika kemasan aerosol
tidak disimpan secara baik, atau bila sediaan sudah
Jenis aerosol Aerosol terdiri dari sistem dua fase lama tidak digunakan, fungsi katup harus dipastikan
(gas dan cair) atau sistem tiga fase (gas, cair dan sebelum digunakan. Bahan-bahan yang digunakan
padat atau cair). Sistem dua fase terdiri dari larutan untuk pembuatan katup harus inert terhadap formula
zat aktif dalam propelan cair dan propelan bentuk yang digunakan. Komponen katup umumnya plastik,
uap. Pelarut yang digunakan terdiri dari propelan atau karet, aluminium dan baja tahan karat. Katup dosis
campuran propelan dan kosolven seperti etanol, terukur harus melepaskan dosis yang tepat dalam
propilenglikol dan polietilen glikol yang sering batas tertentu.
digunakan untuk menambah kelarutan zat aktif.
Sistem tiga fase terdiri terdiri dari suspensi atau Penyemprot Penyemprot adalah alat yang
emulsi zat aktif dan propelan bentuk uap. Suspensi dilekatkan pada batang katup aerosol yang jika
terdiri dari zat aktif yang dapat didispersikan dalam ditekan atau digerakkan, membuka katup dan
sistem propelan dengan zat tambahan yang sesuai mengatur semprotan yang mengandung obat ke
seperti zat pembasah dan atau bahan pembawa padat daerah yang diinginkan. Penyemprot umumnya
seperti talk dan silika koloidal. menunjukkan arah penyemprotan dan melindungi
Aerosol busa adalah emulsi yang mengandung tangan atau jari dari efek beku propelan. Penyemprot
satu atau lebih zat aktif, surfaktan, cairan menyatu dengan lubang penyemprotan yang ukuran
mengandung air atau tidak mengandung air dan dan bentuknya dapat sangat beragam. Ukuran lubang
propelan. Jika propelan berada dalam fase internal penyemprotan, desain wadah, sifat propelan dan
(misalnya tipe minyak dalam air), akan menghasilkan formulasi mempengaruhi karakteristik fisik
busa stabil, dan jika propelan berada dalam fase semprotan, busa atau aliran partikel padat yang
eksternal (misalnya air dalam minyak), akan dikeluarkan. Untuk aerosol inhalasi atau aerosol oral,
menghasilkan semprotan atau busa yang kurang digunakan penyemprotan yang mampu mengeluarkan
stabil. obat dalam rentang ukuran partikel yang tepat.

Propelan Dalam sistem aerosol propelan memberi Wadah Wadah aerosol biasanya dibuat dari kaca,
tekanan yang dibutuhkan untuk mengeluarkan bahan plastik atau logam, atau kombinasi bahan-bahan ini.
dari wadah, dan dalam kombinasi dengan komponen Wadah kaca harus dirancang teliti untuk memberikan
- 47 -

keamanan tekanan maksimum dan tahan tekanan. Peringatan Gunakan hanya sesuai petunjuk;
Plastik dapat digunakan untuk melapisi wadah kaca penggunaan salah dengan sengaja menghirup isi
guna meningkatkan karakteristik keamanan atau dapat berbahaya atau berakibat fatal.
untuk melapisi wadah logam guna memperbaiki daya
tahan terhadap korosi dan memperbesar stabilitas
formula. Logam yang sesuai meliputi baja tahan EMULSI
karat, aluminium dan baja yang dilapis timah. Emulsions

Pembuatan Aerosol biasanya dibuat dengan salah Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu
satu dari dua proses berikut ini. cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam
Pada proses pengisian dengan pendinginan, bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan
konsentrat (umumnya didinginkan sampai suhu fase terdispersi dan larutan air merupakan fase
dibawah 0) dan propelan dingin diukur dengan pembawa, sistem ini disebut emulsi minyak dalam
wadah terbuka (biasanya didinginkan). Katup air. Sebaliknya, jika air atau larutan air yang
penyemprot kemudian dipasang pada wadah hingga merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan
membentuk tutup kedap tekanan. Selama interval seperti minyak merupakan fase pembawa, sistem ini
antara penambahan propelan dan pemasangan katup disebut emulsi air dalam minyak. Emulsi memiliki
terjadi penguapan propelan yang cukup untuk fase terdispersi biasanya dalam ukuran antara 0,1 dan
mengeluarkan udara dari wadah. 100 µm. Mikroemulsi mempunyai fase terdispersi
Pada metode pengisian dengan tekanan, berukuran kurang dari 0,1 µm. Emulsi dapat
konsentrat ditempatkan dalam wadah, dan propelan distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi
ditekan melalui lubang katup sesudah katup ditutup; yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetes
atau propelan dibiarkan mengalir di bawah tutup kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu
katup, kemudian katup ditutup (pengisian di bawah fase tunggal yang memisah. Bahan pengemulsi
tutup), Pada kedua metode pengisian dengan (surfaktan) menstabilkan dengan cara menempati
tekanan, harus diusahakan agar terjadi pengosongan antar permukaan antara tetesan dan fase eksternal,
udara dengan alat hampa udara atau dengan dan dengan membuat batas fisik di sekeliling partikel
pemindahan menggunakan sejumlah kecil propelan. yang akan berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi
Pengendalian proses pembuatan biasanya meliputi tegangan antar permukaan antara fase, sehingga
pemantauan formulasi yang sesuai dan bobot meningkatkan proses emulsifikasi selama
pengisian propelan serta uji tekanan dan uji pencampuran.
kebocoran pada produk akhir aerosol. Polimer hidrofilik alam, semisintetik dan sintetik
dapat digunakan bersama surfaktan pada emulsi
Penandaan Pada penandaan sediaan aerosol obat minyak dalam air karena akan terakumulasi pada
dicantumkan sekurang-kurangnya peringatan- antar permukaan dan juga meningkatkan kekentalan
peringatan berikut sesuai peraturan yang berlaku. fase air, sehingga mengurangi kecepatan
Peringatan Hindari penghirupan. Jauhkan dari pembentukan agregat tetesan. Agregasi biasanya
mata atau selaput lendir lain. diikuti dengan pemisahan emulsi yang relatif cepat
Pernyataan ”Hindari penghirupan” tidak menjadi fase yang banyak butiran dan sedikit tetesan.
diperlukan pada sediaan yang digunakan untuk Secara normal kerapatan minyak lebih rendah dari
inhalasi. kerapatan air, sehingga jika tetesan minyak dan
Pernyataan “atau selaput lendir lain” tidak agregat tetesan meningkat, terbentuk krim. Makin
diperlukan untuk sediaan yang digunakan untuk besar kecepatan agregasi, makin besar ukuran tetesan
selaput lendir. dan makin besar pula kecepatan pembentukan krim.
Peringatan Isi bertekanan. Wadah jangan ditusuk Tetesan air dalam emulsi air dalam minyak biasanya
atau dibakar. Hindari dari panas atau simpan pada membentuk sedimen disebabkan oleh kerapatan yang
suhu di bawah 49. Jauhkan dari jangkauan anak- lebih besar.
anak. Konsistensi emulsi sangat beragam, mulai dari
Selain peringatan tersebut di atas, penandaan obat cairan yang mudah dituang hingga krim setengah
yang dikemas dalam wadah aerosol yang padat. Umumnya krim minyak dalam air dibuat pada
mengandung propelan, yang seluruhnya atau suhu tinggi, berbentuk cair pada suhu ini, kemudian
sebagian terdiri dari halokarbon atau hidrokarbon, didinginkan pada suhu kamar, dan menjadi padat
dicantumkan peringatan berikut sesuai peraturan akibat terjadinya solidifikasi fase internal. Dalam hal
yang berlaku. ini, tidak diperlukan perbandingan volume fase
Peringatan Tidak boleh langsung dihirup, internal terhadap volume fase eksternal yang tinggi
penghirupan secara sengaja dapat menyebabkan untuk menghasilkan sifat setengah padat, misalnya
kematian. krim asam stearat atau krim pembersih adalah
- 48 -

setengah padat dengan fase internal hanya 15%. Sifat organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
setengah padat emulsi air dalam minyak, biasanya Jika massa gel terdiri dari jaringan partikel kecil
diakibatkan oleh fase eksternal setengah padat. yang terpisah, gel digolongkan sebagai sistem dua
Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba fase (misalnya Gel Aluminium Hidroksida). Dalam
karena fase air mempermudah pertumbuhan sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase
mikroorganisme. Adanya pengawet sangat penting terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang
dalam emulsi minyak dalam air karena kontaminasi dinyatakan sebagai magma (misalnya Magma
fase eksternal mudah terjadi. Karena jamur dan ragi Bentonit). Baik gel maupun magma dapat berupa
lebih sering ditemukan daripada bakteri, lebih tiksotropik, membentuk semipadat jika dibiarkan dan
diperlukan yang bersifat fungistatik dan menjadi cair pada pengocokan. Sediaan harus
bakteriostatik. Bakteri ternyata dapat menguraikan dikocok dahulu sebelum digunakan untuk menjamin
bahan pengemulsi nonionik dan anionik, gliserin, homogenitas dan hal ini tertera pada etiket (lihat
dan sejumlah bahan penstabil alam seperti tragakan Suspensi).
dan gom guar. Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul
Kesulitan muncul pada pengawetan sistem emulsi, organik yang tersebar merata dalam suatu cairan
sebagai akibat memisahnya bahan antimikroba dari sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara
fase air yang sangat memerlukannya, atau terjadinya molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase
kompleksasi dengan bahan pengemulsi yang akan tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik
mengurangi efektivitas. Karena itu, efektivitas sistem (misalnya Karbomer) atau dari gom alam (misalnya
pengawetan harus selalu diuji pada sediaan akhir. Tragakan). Sediaan tragakan disebut juga musilago.
Pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah Walaupun gel-gel ini umumnya mengandung air,
metil-, etil-, propil-, dan butil-paraben, asam benzoat, etanol dan minyak dapat digunakan sebagai fase
dan senyawa amonium kuaterner. pembawa. Sebagai contoh, minyak mineral dapat
dikombinasi dengan resin polietilena untuk
membentuk dasar salep berminyak.
EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR Gel dapat digunakan untuk obat yang
Extracts and Fluidextracts pemberiannya secara topikal atau dimasukkan ke
dalam lubang tubuh.
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh
dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia
menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua IMUNOSERUM
atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau Immunosera
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga
memenuhi baku yang telah ditetapkan. Imunoserum adalah sediaan mengandung
Sebagian besar ekstrak dibuat dengan imunoglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan
mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi. dengan pemurnian. Imunoserum mempunyai
Seluruh perkolat biasanya dipekatkan dengan cara kekuatan khas mengikat venin atau toksin yang
destilasi dengan pengurangan tekanan, agar bahan dibentuk oleh bakteri, atau mengikat antigen bakteri,
utama obat sesedikit mungkin terkena panas. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk
Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia, yang pembuatan sediaan.
mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai Imunoserum diperoleh dari hewan sehat yang
pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. Jika diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksoid,
tidak dinyatakan lain pada masing-masing monografi, venin, suspensi mikroorganisme atau antigen lain
tiap ml ekstrak mengandung bahan aktif dari 1 g yang sesuai. Selama imunisasi hewan tidak boleh
simplisia yang memenuhi syarat. diberi penisilin. Imunoglobulin khas diperoleh dari
Ekstrak cair yang cenderung membentuk endapan serum yang mengandung kekebalan dengan
dapat didiamkan dan disaring atau bagian yang pengendapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau
bening dienaptuangkan. Beningan yang diperoleh dengan cara kimia atau fisika lain.
memenuhi persyaratan Farmakope. Dapat ditambahkan pengawet antimikroba yang
sesuai dan ditambahkan serba sama bila sediaan
dikemas dalam dosis ganda. Sediaan akhir steril
GEL dibagi secara aseptik dalam wadah steril dan ditutup
Gels kedap untuk menghindari kontaminasi. Alternatif
lain, setelah sediaan dibagikan dalam wadah steril
Gel, kadang-kadang disebut Jeli, merupakan dapat dibekukeringkan untuk mengurangi kadar air
sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat hingga tidak lebih dari 1,0% b/b. Kemudian wadah
dari partikel anorganik yang kecil atau molekul ditutup kedap dalam hampa udara atau diisi gas
- 49 -

nitrogen bebas oksigen atau gas inert lain yang sesuai Wadah dan penyimpanan Dalam wadah
sebelum ditutup kedap; pada setiap kasus wadah terlindung dari cahaya. Kecuali dinyatakan lain,
ditutup kedap sedemikian rupa untuk meniadakan sediaan cair harus disimpan pada suhu 2 sampai 8,
kontaminasi. Imunoserum direkonstitusi segera hindari pembekuan.
sebelum digunakan.
Imunoserum yang diperoleh dengan perlakuan Penandaan Pada penandaan tertera: 1) Jumlah
enzim dan pengendapan fraksi paling stabil pada pH minimum unit per ml. 2) Dosis. 3) Tanggal
6. Metode pembuatan imunoserum sedemikian rupa kedaluwarsa. 4) Kondisi penyimpanan. 5) Volume
sehingga kehilangan aktivitas tidak lebih dari 5% per rekonstitusi untuk serbuk kering. 6) Bahan tambahan.
tahun bila disimpan pada pH 6 pada suhu 20 dan 7) Nama spesies sumber imunoserum.
tidak lebih dari 20% per tahun bila disimpan pada
suhu 37.
Imunoserum berupa cairan hampir tidak berwarna IMPLAN
atau berwarna kuning pucat, tidak keruh, dan hampir Implants
tidak berbau kecuali bau pengawet antimikroba yang
ditambahkan. Sediaan kering berupa padatan atau Implan atau pelet adalah sediaan dengan massa
serbuk warna putih atau kuning pucat, mudah larut padat steril berukuran kecil, berisi obat dengan
dalam air membentuk larutan tidak berwarna atau kemurnian tinggi (dengan atau tanpa eksipien), dibuat
warna kuning pucat, dan mempunyai sifat sesuai dengan cara pengempaan atau pencetakan. Implan
dengan sediaan cair. atau pelet dimaksudkan untuk ditanam di dalam
Imunoserum, bila perlu direkonstitusi seperti tubuh (biasanya secara subkutan) dengan tujuan
tertera pada label harus memenuhi persyaratan untuk memperoleh pelepasan obat secara
sebagai berikut: berkesinambungan dalam jangka waktu lama. Implan
ditambahkan dengan bantuan injektor khusus yang
pH <1071> Antara 6,0 sampai 7,0. sesuai atau dengan sayatan bedah. Bentuk sediaan ini
digunakan untuk pemberian hormon seperti
Protein total Tidak lebih dari 17%; lakukan testosteron atau estradiol. Sediaan ini dikemas
penetapan seperti yang tertera pada Penetapan Kadar masing-masing dalam vial atau lembaran kertas
Nitrogen dalam Produk Darah <591> Metode I. timah steril.
Hasil yang diperoleh kalikan 6,25.

Albumin Kecuali dinyatakan lain dalam INHALASI


monografi, jika ditetapkan secara elektroforesis, Inhalations
imunoserum menunjukkan tidak lebih dari sesepora
protein yang mempunyai mobilitas albumin. Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau
suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang
Protein asing Jika ditetapkan dengan uji diberikan melalui saluran napas hidung atau mulut
pengendapan menggunakan imunoserum khas, hanya untuk memperoleh efek lokal atau sistemik.
mengandung protein galur hewan yang digunakan. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam
larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat
Fenol imunoserum yang mengandung fenol disemprotkan menggunakan gas inert. Penyemprot
sebagai pengawet tidak lebih dari 0,25%, lakukan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika
penetapan seperti yang tertera pada Uji Bahan memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan
Tambahan dalam Vaksin dan Imunoserum <731>. seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli.
Semprotan larutan dapat diisap langsung dari alat
Toksisitas abnormal Memenuhi syarat. Lakukan penyemprot dapat disambungkan pada masker
uji seperti tertera pada Uji Reaktivitas secara Biologi plastik, selubung atau alat pernapasan dengan
invivo <251>. tekanan positif yang terputus-putus.
Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai
Sterilitas Memenuhi syarat seperti yang tertera inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan
pada Uji Sterilitas <71>. obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa
kosolven dan dimaksudkan untuk memberikan dosis
Potensi Lakukan penetapan potensi dengan obat terukur ke dalam saluran pernapasan. Inhaler
membandingkan terhadap baku menggunakan dosis terukur mengandung dosis ganda, biasanya
metode seperti yang tertera pada masing-masing lebih dari beberapa ratus. Volume dosis tunggal yang
monografi. Hasil dinyatakan dalam unit per ml. umum diberikan mengandung 25 l hingga 100 l
(dapat juga dinyatakan dalam mg) tiap kali semprot.
- 50 -

Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi, volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam
menggunakan alat mekanik secara manual untuk wadah bertanda volume 100 ml atau kurang.
menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi Definisi sediaan steril untuk penggunaan parenteral
penderita yang bersangkutan. pada umumnya tidak berlaku untuk sediaan biologik
Jenis inhalasi khusus yang disebut inhalan terdiri karena sifat khusus dan persyaratan perizinan.
dari satu atau kombinasi beberapa obat, yang karena
bertekanan uap tinggi, dapat terbawa oleh aliran Zat Pembawa Air Air sebagai zat pembawa
udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. injeksi memenuhi syarat Uji Pirogen <231>; atau Uji
Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut Endotoksin Bakteri <201> seperti yang tertera dalam
inhaler. monografi. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi,
pada umumnya digunakan Air untuk Injeksi sebagai
zat pembawa. Natrium klorida dapat ditambahkan
INJEKSI dalam jumlah sesuai untuk memperoleh larutan
Injections isotonik. Injeksi Natrium Klorida atau Injeksi Ringer
dapat digunakan sebagian atau keseluruhan pengganti
Sediaan parenteral adalah sediaan yang ditujukan Air untuk Injeksi kecuali dinyatakan lain dalam
untuk penyuntikan melewati kulit atau batas jaringan monografi. Penggunaan bahan tambahan lain, seperti
eksternal lain, dimana zat aktif yang diberikan yang tertera pada Bahan Tambahan pada bab ini.
dengan adanya gravitasi atau kekuatan, mengalir
langsung ke pembuluh darah, organ, atau jaringan. Zat pembawa lain Minyak tertentu dapat
Sediaan parenteral dibuat dengan teliti mengunakan digunakan sebagai zat pembawa injeksi bukan air
metode yang dirancang untuk menjamin bahwa adalah berasal dari tanaman; tidak berbau atau
sediaan memenuhi persyaratan Farmakope untuk hampir tidak berbau, dan tidak memiliki bau atau rasa
sterilitas, pirogen, bahan partikulat, dan kontaminan tengik. Memenuhi persyaratan uji Parafin Padat
lain dan bila perlu mengandung bahan penghambat seperti tertera pada Minyak Mineral, pada tangas
pertumbuhan mikroba. Injeksi adalah sediaan yang pendingin yang dipertahankan pada suhu 10º,
ditujukan untuk pemberian parenteral, dapat mempunyai Bilangan Penyabunan antara 185 dan
dikonstitusi atau diencerkan dahulu menjadi sediaan 200, Bilangan Iodum antara 79 dan 128 seperti yang
sebelum digunakan. tertera pada Lemak dan Minyak Lemak <491>, dan
memenuhi syarat uji sebagai berikut:
Istilah dan Definisi Istilah berikut Bahan Tak Tersabunkan Lakukan seperti tertera
menggolongkan 5 jenis tipe sediaan parenteral yang pada Lemak dan Minyak Lemak <491>; tidak lebih
umum. Sediaan dapat mengandung dapar, pengawet dari 1,5%.
atau bahan tambahan lain. Asam Lemak Bebas Lakukan seperti tertera pada
1. Injeksi [nama zat aktif]: sediaan cair yang berupa Lemak dan Minyak Lemak <491>; tidak lebih dari
bahan obat atau larutannya; 1,2.
2. [Nama zat aktif] untuk Injeksi : sediaan padat Bilangan Peroksida Lakukan seperti tertera pada
kering atau cairan pekat dengan atau tanpa Lemak dan Minyak Lemak <491>; tidak lebih dari
penambahan bahan pembawa yang sesuai, 5,0.
menghasilkan larutan yang memenuhi persyaratan Kadar Air <1031> Metode Ic Tidak lebih dari
untuk injeksi; 0,1%
3. Injeksi Emulsi [nama zat aktif] : sediaan cair zat Tembaga, besi, timbal dan nikel [Catatan Uji
aktif terlarut atau terdispersi pada media emulsi yang untuk nikel tidak diperlukan jika minyak tidak
sesuai; melalui proses hidrogenasi, atau tidak digunakan
4. Injeksi Suspensi [nama zat aktif] : sediaan cair dari katalis tembaga pada saat pengolahan] Lakukan
padatan tersuspensi pada media cair yang sesuai; seperti tertera pada Logam renik dalam Lemak dan
5. [Nama zat aktif] untuk Suspensi Injeksi: sediaan Minyak Lemak <491> Masing-masing untuk
padat kering yang dengan penambahan pembawa tembaga, besi, timbal dan nikel tidak lebih dari 1 bpj.
yang sesuai menghasilkan larutan yang memenuhi Monogliserida dan digliserida sintetik dari asam
persyaratan untuk suspensi injeksi. lemak dapat digunakan sebagai zat pembawa apabila
berupa cairan dan tetap jernih bila didinginkan pada
Injeksi Volume Besar dan Injeksi Volume Kecil suhu 10º dan mempunyai Bilangan Iodida tidak lebih
Dalam Farmakope, yang dimaksud dengan Larutan dari 140 (lihat Lemak dan Minyak Lemak <491>).
Intravena volume besar adalah injeksi volume besar Bahan pembawa bukan air lain dapat digunakan
dosis tunggal untuk intravena yang dikemas dalam apabila aman pemakaiannya dalam volume injeksi
wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. Injeksi yang digunakan. Juga apabila tidak mempengaruhi
- 51 -

efek terapetik sediaan atau mempengaruhi respons komponen dalam volume tertentu, kecuali bahan
pada uji dan penetapan kadar. yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk
membuat larutan isotonik, dapat dinyatakan dengan
Bahan tambahan Bahan tambahan yang sesuai nama dan pernyataan fungsi bahan tersebut, (2) untuk
dapat ditambahkan ke dalam sediaan untuk injeksi sediaan kering atau sediaan yang memerlukan
untuk meningkatkan stabilitas atau efektivitas, pengenceran sebelum digunakan: jumlah tiap
kecuali dinyatakan pada masing-masing monografi, komponen, komposisi pengencer yang dianjurkan
dan bila bahan tambahan tidak berbahaya dalam (nama, bila formula disebutkan dalam masing-masing
jumlah yang digunakan dan tidak mengganggu efek monografi); jumlah cairan pengencer yang
terapetik atau respons pada uji dan penetapan kadar. ditambahkan untuk mendapatkan kadar tertentu dari
Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna, kecuali bahan aktif atau volume akhir dari larutan yang
hanya untuk mewarnai sediaan akhir seperti yang diperoleh; cara penyimpanan larutan terkonstitusi;
tertera pada Bahan Tambahan dalam Ketentuan tanggal kedaluwarsa yaitu batas waktu larutan
Umum dan Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba terkonstitusi masih memenuhi syarat potensi seperti
<61>. tertera pada etiket bila disimpan seperti yang
Bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk dianjurkan.
mencegah pertumbuhan mikroba harus ditambahkan Wadah untuk injeksi yang akan digunakan untuk
dalam injeksi yang dikemas dalam wadah dosis dialisis, hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume
ganda tanpa memperhatikan metode sterilisasi yang lebih dari 1 liter, diberi penandaan bahwa sediaan
digunakan, kecuali salah satu dari kondisi berikut : tidak digunakan untuk infus intravena.
(1) dinyatakan berbeda dalam masing-masing Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa
monografi; (2) bahan mengandung radionuklida sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket,
dengan waktu paruh fisika kurang dari 24 jam; dan untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual.
(3) zat aktif sudah merupakan antimikroba. Beberapa
bahan digunakan dalam kadar untuk mencegah Wadah Untuk Injeksi Wadah untuk sediaan
pertumbuhan atau membunuh mikroba dalam sediaan injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi
injeksi. Bahan tersebut harus memenuhi syarat seperti secara fisika maupun kimia dalam bentuk apapun
tertera pada Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba dengan sediaan, yang dapat mengubah kekuatan,
<61>. dan Kandungan Zat Antimikroba <441>. kualitas atau kemurnian di luar persyaratan resmi
Proses sterilisasi tetap dilakukan meskipun dalam kondisi penanganan, pengangkutan,
mengandung bahan tambahan tersebut (lihat Bahan penyimpanan, penjualan dan penggunaannya. Wadah
Tambahan dalam Ketentuan Umum dan Sterilisasi terbuat dari bahan yang dapat mempermudah
Jaminan Sterilitas Bahan Kompendial <1371>). pengamatan terhadap isi. Tipe kaca untuk tiap
Udara dalam wadah dapat dihilangkan atau diganti sediaan parenteral umumnya dinyatakan dalam
dengan gas inert. Bila injeksi sensitif terhadap masing-masing monografi. Kecuali dinyatakan lain
oksigen, informasi tersebut harus tertera dalam dalam masing-masing monografi, wadah plastik
penandaan. dapat digunakan untuk pengemasan injeksi seperti
yang tertera pada Wadah <1271>.
Penandaan Pada etiket minimal tertera nama Definisi wadah dosis tunggal dan dosis ganda,
sediaan; pada sediaan cair tertera kandungan obat tertera pada Wadah dalam Ketentuan Umum. Wadah
atau jumlah obat pada volume tertentu, untuk sediaan untuk injeksi memenuhi persyaratan seperti yang
kering tertera jumlah zat aktif; cara penggunaan; tertera pada Wadah <1271>.
kondisi penyimpanan, dan tanggal kedaluwarsa; Wadah ditutup dan disegel dengan berbagai cara
nama dan alamat pabrik pembuat; pengemas atau untuk mencegah kontaminasi atau kehilangan isi.
distributor; identifikasi nomor bets/lot dan nomor Validasi integritas wadah harus menunjukkan tidak
izin edar. Nomor bets/lot harus dapat memberikan ada penetrasi kontaminasi mikroba atau cemaran
informasi tentang riwayat pengemasan spesifik kimia atau fisika. Sebagai tambahan, wadah harus
termasuk proses produksi, pengisian, sterilisasi, dan dapat mempertahankan jumlah total dan jumlah
penandaan. relatif atau kadar dari zat terlarut dan pembawa bila
Bila dalam monografi tertera berbagai kadar zat terpapar kondisi ekstrem pada proses produksi,
aktif dalam sediaan parenteral maka kadar masing- penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi. Penutup
masing komponen disebut dengan nama umum wadah dosis ganda harus memungkinkan
misalnya Injeksi Dekstrosa 5 % atau Injeksi pengambilan isi tanpa membuka atau merusak
Dekstrosa (5%) dan injeksi Natrium Klorida (0,2%). penutup. Penutup harus memungkinkan penetrasi
Penandaan mencakup informasi berikut kecuali oleh jarum suntik dan pada waktu jarum suntik
dinyatakan lain dalam masing-masing monografi : (1) dicabut, segera menutup untuk melindungi wadah
untuk sediaan cair, persentase isi atau jumlah setiap dari kontaminasi. Validasi integritas wadah dosis
- 52 -

ganda harus termasuk verifikasi seperti pencegah yang dipindahkan dari tiap siring tidak kurang dari
kontaminasi mikroba atau hilangnya isi produk untuk volume dosis yang ditetapkan.
mengantisipasi penusukan berulang pada Larutan intravena volume besar Untuk larutan
penggunaan. intravena, pilih 1 wadah. Pindahkan isi ke dalam
Wadah untuk sediaan padat steril Wadah gelas ukur kering dengan kapasitas volume yang akan
termasuk penutup untuk sediaan padat kering yang diukur tidak kurang dari 40% volume nominal gelas
ditujukan untuk penggunaan parenteral harus tidak ukur. Ukur volume yang dipindahkan. Volume tidak
berinteraksi secara fisika maupun kimia dengan kurang dari volume nominal.
sediaan, yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau
kemurnian di luar persyaratan resmi dalam kondisi Pengemasan dan Penyimpanan Volume Injeksi
penanganan, pengangkutan, penyimpanan, penjualan wadah dosis tunggal dapat memberikan jumlah
dan penggunaannya. tertentu untuk pemakaian parenteral sekali pakai dan
Wadah untuk sediaan padat steril memungkinkan tidak ada yang memungkinkan pengambilan isi dan
penambahan pelarut yang sesuai dan pengambilan pemberian sebesar 1 liter.
sejumlah volume tertentu larutan atau suspensi yang Sediaan untuk pemberian intraspinal, intrasisternal
dihasilkan sedemikian rupa sehingga sterilitas produk atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam
dapat dipertahankan. wadah dosis tunggal.
Bila Penetapan kadar dalam monografi Bila tidak dinyatakan lain dalam monografi, tidak
memberikan suatu prosedur untuk penyiapan Larutan ada wadah dosis ganda yang berisi sejumlah volume
uji, pada pengambilan isi keseluruhan dari satu Injeksi yang memungkinkan pengambilan sebesar 30
wadah dosis tunggal menggunakan alat suntik dan ml.
jarum suntik hipodermik, isi harus diambil Injeksi yang dikemas untuk digunakan sebagai
sesempurna mungkin dengan alat suntik hipodermik larutan irigasi, hemofiltrasi, dialisis atau untuk
kering dengan kapasitas tidak lebih dari tiga kali nutrisi secara parenteral dibebaskan dari pembatasan
volume yang akan diambil dan dilengkapi dengan pengemasan di atas. Wadah untuk injeksi yang
jarum suntik nomor 21, panjang tidak kurang dari 2,5 dikemas untuk larutan hemofiltrasi atau larutan
cm. Dengan hati-hati keluarkan gelembung udara, irigasi dapat dirancang agar kosong dengan cepat dan
dan masukkan ke dalam wadah untuk pengenceran boleh berisi lebih dari 1 liter.
dan penetapan kadar.
Bahan Asing dan Bahan Partikulat Seluruh
Isi Wadah Setiap wadah injeksi diisi sedikit sediaan yang ditujukan untuk penggunaan parenteral
berlebih dari jumlah yang tertera pada etiket atau harus dibuat sedemikian rupa untuk mendeteksi
volume yang akan diambil. Kelebihan volume yang bahan partikulat seperti yang didefinisikan dalam
dianjurkan dalam tabel yang tertera pada Penetapan Bahan Partikulat Dalam Injeksi <751>. Setiap wadah
Volume Injeksi dalam wadah <1131>, umumnya sediaan parenteral harus diperiksa terhadap
cukup untuk memenuhi volume pengambilan dan kemungkinan adanya bahan asing dan bahan
pemakaian seperti yang tertera pada etiket. partikulat (selanjutnya disebut sebagai “partikulat
visibel”) di dalam isi. Proses pemeriksaan harus
Penetapan Volume Injeksi Dalam Wadah dirancang dan dikualifikasi untuk menjamin bahwa
Suspensi dan emulsi harus dikocok sebelum setiap lot dari seluruh sediaan parenteral bebas dari
pengambilan isi dan sebelum penetapan bobot jenis. partikulat visibel. Setiap wadah yang isinya
Sediaan berminyak dan kental dapat dihangatkan jika menunjukkan adanya partikulat visibel harus ditolak.
perlu, dan kocok kuat, segera keluarkan isinya. Isi Pemeriksaan partikulat visibel dapat dilakukan
kemudian didinginkan pada 20º sampai 25º sebelum dengan pemeriksaan efek kritikal lainnya seperti
pengukuran volume. Sediaan padat steril harus retak atau pecahnya wadah atau segel atau pada saat
direkonstitusi sesuai dengan yang tertera pada etiket karakterisasi penampilan fisik sediaan terliofilisasi.
sebelum mengeluarkan isinya. Kemudian ukur isi Bila sifat isi atau sistem penutup wadah
sesuai prosedur untuk suspensi, emulsi atau larutan. memungkinkan hanya pengawasan terbatas dari isi
Wadah dosis tunggal Memenuhi syarat Penetapan keseluruhan, pengawasan 100% terhadap lot harus
Volume Injeksi dalam Wadah <1131>. dilengkapi dengan pemeriksaan terhadap isi (contoh
Wadah dosis ganda Untuk wadah injeksi dosis pengeringan) atau mengeluarkan isi dari wadah
ganda dengan etiket menyebutkan jumlah dosis (contoh wadah berwarna coklat gelap) dari sebuah
dalam volume tertentu, pilih satu wadah, lakukan lot.
seperti pada Wadah dosis tunggal, menggunakan Semua injeksi volume besar untuk infus dosis
sejumlah siring terpisah berukuran sama dengan tunggal dan injeksi volume kecil harus melalui uji
ukuran disesuaikan volume yang ditetapkan. Volume pengaburan cahaya dan prosedur mikroskopik untuk
bahan partikulat subvisibel seperti tertera pada Bahan
- 53 -

Partikulat dalam Injeksi <751> kecuali dinyatakan KAPSUL


lain dalam masing-masing monografi. Capsules
Larutan untuk injeksi dengan pemberian secara
intramuskular atau subkutan harus memenuhi Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari
persyaratan seperti yang tertera pada Bahan obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat
Partikulat dalam Injeksi <751>. larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi
Kemasan parenteral dengan penandaan khusus dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang
untuk penggunaan sebagai larutan irigasi dan sediaan sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari
radiofarmaka, dikecualikan dari persyaratan seperti nomor paling kecil (5) sampai nomor paling besar
yang tertera pada Bahan Partikulat dalam Injeksi (000). Umumnya ukuran nomor 00 adalah ukuran
<751>. Sediaan parenteral yang pada etiket terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. Ada
dinyatakan untuk penggunaan disaring terlebih juga kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk
dahulu pada tahap akhir sebelum digunakan, memanjang (dikenal sebagai ukuran OE), yang
dikecualikan dari persyaratan yang tertera pada memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa
Bahan Partikulat dalam Injeksi <751>, dengan peningkatan diameter. Kapsul gelatin keras terdiri
menyediakan data ilmiah untuk mendukung atas dua bagian, bagian tutup dan induk. Umumnya,
pengecualian ini. ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk, untuk
memberikan penutupan yang baik bila bagian induk
Sterilitas Sediaan untuk injeksi memenuhi dan tutup cangkangnya diletakkan sepenuhnya, yang
persyaratan pada Uji Sterilitas <71>. mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah
diisi, selama transportasi dan penanganan. Penutupan
Larutan Terkonstitusi Pada sediaan padat kering sempurna juga dapat dicapai dengan penggabungan
yang akan dibuat menjadi larutan terkonstitusi untuk bagian tutup dan induk dengan cara pemanasan
injeksi diberi nama sesuai bentuknya [Nama zat langsung atau penggunaan energi ultrasonik. Kapsul
aktif] untuk Injeksi. Untuk menjamin mutu sediaan gelatin keras yang diisi dipabrik dapat ditutup secara
injeksi sebagaimana diberikan, uji yang tidak sempurna dengan cara dilekatkan, suatu proses
merusak sediaan injeksi seperti berikut ini dilakukan dimana lapisan gelatin dioleskan satu kali atau lebih
untuk memperlihatkan kesesuaian larutan di seluruh bagian pelekatan bagian tutup dan induk;
terkonstitusi pada saat sebelum digunakan. atau dengan proses pelekatan menggunakan cairan,
yaitu kapsul yang telah diisi dibasahi dengan air-
Kesempurnaan melarut dan kejernihan larutan alkohol yang akan merembes ke dalam rongga bagian
Konstitusi larutan seperti yang tertera pada etiket kapsul tutup dan induk yang saling tumpang tindih,
untuk sediaan kering steril. kemudian dikeringkan. Kapsul cangkang keras
A. Sediaan padat larut sempurna, tidak terdapat terbuat dari pati terdiri atas bagian tutup dan induk.
residu yang tampak sebagai bahan tak terlarut. Karena kedua bagian tersebut tidak melekat dengan
B. Kejernihan larutan terkonstitusi harus sama dengan baik, maka bagian-bagian tersebut dilekatkan
secara signifikan dari volume yang sama dengan menjadi satu pada saat pengisian, untuk menghindari
pengencer atau Air Murni dalam wadah serupa dan pemisahan. Kapsul pati dilekatkan dengan
diperiksa dengan cara yang sama. mengoleskan campuran air-alkohol pada rongga
cangkang tutup, segera sebelum dilekatkan ke
Bahan partikulat Konstitusi larutan seperti yang cangkang induk.
tertera pada etiket untuk sediaan kering steril: larutan Pelekatan kapsul gelatin cangkang keras atau
bebas dari partikel bahan asing yang dapat diamati pelekatan dengan cairan pada kapsul pati cangkang
secara visual. keras meningkatkan keamanan karena kapsul sukar
dibuka tanpa kerusakan nyata dan meningkatkan
stabilitas isi kapsul dengan membatasi masuknya
IRIGASI oksigen. Kapsul bercangkang keras yang diisi di
Irrigations pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda
atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik.
Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk Pada kapsul seperti ini dapat dicantumkan jumlah zat
mencuci atau membersihkan luka terbuka atau aktif, kode produk dan lain-lain yang dicetak secara
rongga-rongga tubuh. Pemakaiannya secara topikal, aksial atau radial. Tinta cetak kualitas farmasi
tidak boleh digunakan secara parenteral. Pada etiket memenuhi ketentuan yang berlaku mengenai pigmen
diberi tanda bahwa sediaan ini tidak dapat digunakan dan zat warna yang diizinkan.
untuk injeksi. Dalam praktek pelayanan resep di apotek, kapsul
cangkang keras dapat diisi dengan tangan.
Fleksibilitas ini merupakan kelebihan kapsul
- 54 -

cangkang keras dibandingkan bentuk sediaan tablet Disintegran dapat ditambahkan ke dalam formulasi
dan kapsul cangkang lunak. Kapsul cangkang keras serbuk untuk memudahkan deagregasi dan dispersi
biasanya terbuat dari gelatin berkekuatan gel relatif gumpalan kapsul dalam saluran cerna. Formulasi
tinggi. Berbagai jenis gelatin dapat digunakan, tetapi serbuk sering dapat dibuat melalui pencampuran
gelatin dari campuran kulit atau tulang sering kering, sedangkan formulasi ruah membutuhkan
digunakan untuk mengoptimalkan kejernihan dan densifikasi dengan teknik rol atau teknik granulasi
kekerasan cangkang. Kapsul cangkang keras dapat lain yang sesuai.
juga dibuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Campuran serbuk yang cenderung meleleh dapat
Kapsul cangkang keras dapat juga mengandung zat dimasukkan ke dalam kapsul cangkang keras, jika
warna yang diizinkan atau zat warna dari berbagai digunakan absorben, seperti magnesium karbonat,
oksida besi, bahan opak seperti titanium dioksida, silikon dioksida koloidal, atau zat lain yang sesuai.
bahan pendispersi, bahan pengeras seperti sukrosa Obat-obat yang berkhasiat keras sering dicampur
dan pengawet. Biasanya bahan-bahan ini dengan zat pengencer inert sebelum diisikan ke
mengandung air antara 10% dan 15%. dalam kapsul. Jika dua macam obat yang tak
Kapsul gelatin keras dibuat melalui suatu proses tercampurkan diresepkan bersama, kadang-kadang
dengan cara mencelup pin ke dalam larutan gelatin, dimungkinkan untuk menempatkan salah satunya di
kemudian lapisan gelatin dikeringkan, dirapikan dan dalam kapsul kecil dan menggabungnya dengan
dilepaskan dari pin tersebut, kemudian bagian induk kapsul lebih besar yang berisi obat kedua. Obat-obat
dan tutup dilekatkan. Kapsul pati dibuat dengan yang tak tercampurkan dapat juga dipisahkan dengan
mencetak campuran pati dan air, kemudian kapsul menempatkan pelet atau tablet bersalut, atau kapsul
dikeringkan. Gunakan cetakan terpisah untuk bagian cangkang lunak yang berisi obat pertama ke dalam
tutup dan induk kapsul dan kedua bagian ini dibuat cangkang kapsul sebelum penambahan obat kedua.
secara terpisah. Kapsul kosong disimpan dalam Bahan semipadat tiksotropik dapat dibentuk
wadah tertutup rapat sampai kapsul diisi. Karena dengan cara mengubah obat cair atau zat pembawa
gelatin berasal dari hewan dan pati berasal dari menjadi bentuk gel dengan menggunakan silika
tanaman, maka kapsul ini sebaiknya terlindung dari koloidal atau serbuk polietilen glikol berbobot
sumber pencemaran yang potensial atau kontaminasi molekul tinggi. Berbagai senyawa malam atau lemak
mikroba. dapat digunakan untuk menyiapkan matriks
Kapsul cangkang keras biasanya diisi dengan semipadat dengan peleburan.
serbuk, butiran atau granul. Butiran gula inert dapat Kapsul cangkung lunak yang dibuat dari gelatin
dilapisi dengan komposisi bahan aktif dan penyalut (kadang-kadang disebut gel lunak) atau bahan lain
yang memberikan profil lepas lambat atau bersifat yang sesuai membutuhkan metode produksi skala
enterik. Sebagai alternatif, bahan aktif bentuk pelet besar. Cangkang gelatin lunak sedikit lebih tebal
dan kemudian disalut. Bahan semipadat atau cairan dibanding kapsul cangkang keras dan dapat
dapat juga cairan dimasukkan dalam kapsul, salah diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol,
satu teknik penutupan harus digunakan untuk seperti sorbitol atau gliserin. Perbandingan bahan
mencegah terjadinya kebocoran. plastisasi kering terhadap gelatin kering menentukan
Dalam pengisian kapsul gelatin keras, bagian kekerasan cangkang dan dapat diubah untuk
tutup dan induk cangkang dipisahkan dahulu sebelum penyesuaian dengan kondisi lingkungan dan juga
diisi. Dalam pengisian kapsul pati cangkang keras, sifat isi kapsul. Seperti cangkang keras, komposisi
bagian tutup dan induk cangkang ditempatkan secara cangkang dapat mengandung pigmen atau pewarna
terpisah dan dipasang pada tempat yang berbeda dari yang diizinkan, bahan opak seperti titanium dioksida,
suatu mesin pengisi. Mesin yang menggunakan dan pengawet. Bahan pengharum dapat ditambahkan,
berbagai prinsip dosis dapat digunakan untuk selain itu sukrosa hingga 5% dapat dimasukkan
mengisikan serbuk ke dalam kapsul cangkang keras, sebagai pemanis dan untuk menghasilkan cangkang
tetapi kebanyakan mesin otomatis, membentuk yang dapat dikunyah. Cangkang gelatin lunak
sumbat serbuk dengan cara pengempaan yang umumnya mengandung 6% hingga 13% air. Kapsul
kemudian dilepaskan ke dalam bagian induk kapsul cangkang lunak juga dapat diberi kode produk,
kosong. Umumnya bagian pelengkap mesin ini jumlah zat aktif dan lain-lain dengan cara dicetak.
tersedia untuk berbagai jenis pengisian lain. Umumnya kapsul cangkang lunak diisi dengan
Formulasi serbuk sering membutuhkan penambahan cairan. Khususnya bahan aktif dilarutkan atau
zat pengisi, lubrikan dan glidan pada bahan aktif disuspensikan dalam bahan pembawa cair. Dahulu
untuk mempermudah proses pengisian kapsul. digunakan bahan pembawa minyak seperti minyak
Formulasi dan metode pengisian, terutama derajat nabati; sekarang ini lebih umum digunakan bahan
kepadatan, dapat mempengaruhi laju pelepasan obat. pembawa cair bukan air yang dapat bercampur
Penambahan bahan pembasah pada massa serbuk, dengan air, seperti polietilen glikol berbobot molekul
biasa dilakukan jika bahan aktif bersifat hidrofobik.
- 55 -

lebih rendah, karena mempunyai lebih sedikit ”sustained-release” juga digunakan untuk
masalah ketersediaan hayati. menggambarkan sediaan tersebut. Namun, istilah
Kapsul cangkang lunak tersedia dalam berbagai ”lepas tunda” digunakan dalam persyaratan
bentuk dan ukuran, dan dibentuk, diisi serta Farmakope untuk Pelepasan Obat <961> seperti
dilekatkan dengan menggunakan mesin yang sama; yang tertera pada masing-masing monografi.
khususnya dengan proses berputar, mekipun dapat
juga digunakan suatu proses lempeng atau proses
turun naik. Kapsul cangkang lunak dapat juga KRIM
diproduksi melalui proses gelembung yang Creams
membentuk kapsul sferik tanpa lekukan. Dengan
peralatan yang sesuai, serbuk dan zat padat kering Krim adalah bentuk sediaan setengah padat
lain dapat diisikan ke dalam kapsul cangkang lunak. mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
Kapsul berisi cairan dari setiap jenis kapsul, terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini
melibatkan teknologi formulasi yang sama dan secara tradisional telah digunakan untuk sediaan
memberikan keuntungan serta keterbatasan yang setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif
sama. Sebagai contoh, kedua jenis kapsul dapat cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak
memberikan keuntungan dibandingkan kapsul berisi atau minyak dalam air. Sekarang ini batas tersebut
zat kering dan tablet dalam hal keseragaman lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi
kandungan dan disolusi obat. Homogenitas yang minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-
lebih besar mungkin terjadi dalam sistem cair, dan asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air,
cairan dapat diukur lebih tepat. Disolusi obat yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan
mungkin lebih baik karena obat sudah dalam larutan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim
atau paling tidak tersuspensi dalam bahan pembawa dapat digunakan untuk pemberian obat melalui
hidrofilik. Namun, kontak antara cangkang lunak vaginal.
atau keras dengan isi zat cair lebih besar
dibandingkan dengan kapsul berisi serbuk kering, dan
dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya LARUTAN
interaksi yang tidak diinginkan. Sifat cairan isi kapsul Solutions
menyebabkan masalah teknologi yang berbeda
dibandingkan kapsul isi zat kering dalam hal uji Larutan adalah sediaan cair yang mengandung
waktu hancur dan disolusi. Ditinjau dari segi satu atau lebih zat kimia yang terlarut, misal:
formulasi, teknologi dan biofarmasi, kapsul berisi terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang
cairan dari jenis kapsul apa saja lebih seragam sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur.
dibanding kapsul berisi serbuk kering dari jenis Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi
cangkang yang sama. Oleh karena itu untuk secara merata, maka penggunaan larutan sebagai
penetapan standar resmi dan metode lebih bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan
didasarkan pada pertimbangan sifat isi kapsul keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik
dibanding jenis cangkangnya. jika larutan diencerkan atau dicampur.
Sediaan padat secara kimia umumnya lebih stabil
Kapsul lepas tunda dibanding senyawa dalam larutan, dan dapat dikemas
Kapsul dapat disalut atau pada umumnya lebih ringkas dan ringan. Untuk semua larutan,
enkapsulasi granul disalut untuk menghambat terutama yang mengandung pelarut mudah menguap,
pelepasan obat dalam cairan lambung dimana harus digunakan wadah tertutup rapat dan terhindar
penundaan menjadi penting untuk mengurangi dari panas berlebih. Jika senyawa tidak stabil dan
masalah yang potensial yang menyebabkan obat mudah mengalami degradasi secara fotokimia,
diinaktivasi atau iritasi mukosa lambung. Istilah penggunaan wadah tahan cahaya perlu
”lepas tunda” digunakan pada masing-masing dipertimbangkan. Bentuk sediaan larutan
monografi kapsul salut enterik yang ditujukan untuk digolongkan menurut cara pemberiannya, misalnya
menunda pelepasan obat, temasuk uji dan spesifikasi Larutan oral, Larutan topikal, atau penggolongan
untuk Pelepasan Obat <961> seperti yang tertera didasarkan pada sistem pelarut dan zat terlarut seperti
pada masing-masing monografi. Spirit, Tingtur dan Larutan air. Larutan yang
diberikan secara parenteral disebut Injeksi.
Kapsul lepas lambat
Kapsul lepas lambat diformulasi dengan cara Larutan oral larutan oral adalah sediaan cair
tersebut untuk membuat obat tersedia selama periode yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu
waktu perpanjangan setelah dikonsumsi. Istilah atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma,
seperti ”prolonged-action,” ”repeat-action,” dan pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau
- 56 -

campuran kosolven-air. Larutan oral dapat Larutan Otik Neomisin dan Polimiksin B Sulfat dan
diformulasikan untuk diberikan langsung secara oral Larutan Otik Hidrokortison.
kepada pasien atau dalam bentuk lebih pekat yang
harus diencerkan lebih dulu sebelum diberikan. Larutan Optalmik Seperti tertera pada Sediaan
Penting untuk diketahui bahwa pengenceran larutan Obat Mata.
oral dengan air yang mengandung kosolven seperti
etanol, dapat menyebabkan pengendapan bahan Spirit Spirit adalah larutan mengandung etanol
terlarut. Jika terdapat kosolven, pengenceran larutan atau hidroalkohol dari zat mudah menguap,
pekat perlu berhati-hati. Sediaan zat padat atau umumnya merupakan larutan tunggal atau campuran
campuran zat padat yang harus dilarutkan dalam bahan. Beberapa spirit digunakan sebagai bahan
pelarut sebelum diberikan secara oral disebut “... pengaroma, yang lain memiliki makna pengobatan.
untuk Larutan Oral”, misalnya : Kalium Klorida Penurunan kadar etanol dalam spirit dengan
untuk Larutan Oral. mencampurkan sediaan yang mengandung air sering
Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula menyebabkan kekeruhan.
lain kadar tinggi, dinyatakan sebagai Sirup. Larutan Spirit harus disimpan dalam wadah tertutup rapat,
sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai Sirup tidak tembus cahaya untuk mencegah penguapan dan
atau Sirup Simpleks. Penggunaan istilah sirup juga memperkecil perubahan akibat oksidasi.
digunakan untuk bentuk sediaan cair lain yang dibuat
dengan pengental dan pemanis, termasuk suspensi Tingtur Tingtur adalah larutan mengandung
oral. etanol atau hidroalkohol dibuat dari bahan tumbuhan
Disamping sukrosa dan gula lain, senyawa poliol atau senyawa kimia.
tertentu seperti sorbitol atau gliserin dapat digunakan Jumlah obat dalam tingtur yang berbeda tidak
dalam Larutan oral untuk menghambat penghabluran selalu seragam tetapi bervariasi, sesuai dengan
dan untuk mengubah kelarutan, rasa, dan sifat lain zat masing-masing standar yang telah ditetapkan. Secara
pembawa. Umumnya juga ditambahkan antimikroba tradisional tingtur tumbuhan berkhasiat obat
untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur dan menunjukkan aktivitas dari 10 g obat dalam tiap 100
ragi. Beberapa Larutan oral tidak mengandung gula, ml tingtur, potensi ditetapkan setelah dilakukan
melainkan bahan pemanis buatan, seperti sorbitol penetapam kadar. Sebagian besar tingtur tumbuhan
atau aspartam, dan bahan pengental seperti gom lain mengandung 20 g bahan tumbuhan dalam 100 ml
selulosa. Larutan kental dengan pemanis buatan tingtur.
seperti ini, tidak mengandung gula; dibuat sebagai zat Cara perkolasi Campur dengan hati-hati serbuk
pembawa untuk pemberian obat kepada pasien bahan obat atau campuran bahan obat dengan pelarut
diabetes. atau campuan pelarut tertentu secukupnya, hingga
Banyak larutan oral yang mengandung etanol rata dan cukup basah, biarkan selama 15 menit,
sebagai kosolven dinyatakan sebagai Eliksir. Banyak pindahkan ke dalam perkolator yang sesuai, dan
lainnya dinyatakan sebagai larutan oral, juga mampatkan. Tuangkan secukupnya pelarut atau
mengandung etanol dalam jumlah yang berarti. campuran pelarut tertentu sampai terendam
Karena kadar etanol tinggi dapat menimbulkan efek seluruhnya, tutup bagian atas perkolator dan jika
farmakologi jika diberikan secara oral, dapat cairan sudah hampir menetes dari perkolator, tutup
digunakan kosolven lain seperti gliserin dan propilen lubang bawah. Perkolasi selama 24 jam atau sesuai
glikol, untuk mengurangi jumlah etanol yang dengan waktu yang tertera pada monografi. Jika
diperlukan. Untuk dapat menyatakan sebagai Eliksir, penetapan kadar tidak dinyatakan lain, lakukan
larutan harus mengandung etanol. perkolasi secara perlahan, atau pada kecepatan yang
telah ditentukan dan secara bertahap tambahkan
Larutan Topikal Larutan Topikal adalah larutan pelarut atau campurkan pelarut secukupnya hingga
yang biasanya mengandung air tetapi seringkali diperoleh 1000 ml tingtur, (untuk menetapkan
mengandung pelarut lain, seperti etanol dan poliol, kecepatan aliran, lakukan seperti yang tertera pada
untuk penggunaan topikal pada kulit, atau dalam hal Ekstrak dan Ekstrak cair). Jika penetapan kadarnya
Larutan Lidokain Oral Topikal, untuk penggunaan dinyatakan, kumpulkan 950 ml perkolat, dan campur,
pada permukaan mukosa mulut. Istilah Lotio tetapkan kadar terhadap sebagian perkolat seperti
digunakan untuk larutan atau suspensi yang yang dinyatakan. Untuk memperoleh tingtur yang
digunakan secara topikal. memenuhi syarat baku, perlu pengenceran sisa tingtur
dengan sejumlah pelarut atau campuran pelarut
Larutan Otik Larutan Otik adalah larutan yang tertentu yang telah dihitung dari penetapan kadar.
mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan Cara maserasi Maserasi bahan obat dengan 750 ml
bahan pendispersi, untuk penggunaan dalam telinga pelarut atau campuran pelarut tertentu dalam wadah
luar misalnya Larutan Otik Benzokain dan Antipirin, yang dapat ditutup, dan letakkan ditempat hangat.
- 57 -

Diamkan selama 3 hari, sambil sering dikocok atau menyangga, dan atau untuk memberikan daya perekat
hingga terlarut. Pindahkan campuran ke dalam dan daya maserasi, dan memberikan pengobatan jika
penyaring, dan jika sebagian besar dari cairan telah melekat pada kulit. Plester yang mengandung obat,
mengalir keluar, cuci residu pada penyaringan telah lama digunakan untuk pemberian obat secara
dengan sejumlah pelarut atau campuran pelarut lokal atau regional sebagai bentuk dasar pemberian
tertentu secukupnya, kumpulkan filtrat, hingga obat transdermal.
diperoleh 1000 ml tingtur. Plester biasanya menempel pada kulit dengan
Tingtur harus disimpan dalam wadah tertututp bantuan bahan perekat. Massa perekat harus melekat
rapat, tidak tembus cahaya, jauhkan dari cahaya pada bahan plastik penyangga dan pada kulit (atau
matahari langsung dan panas yang berlebihan. pembalut) dengan keseimbangan daya lekat yang
tepat. Keseimbangan daya lekat seperti ini
Air aromatik Kecuali dinyatakan lain Air dimaksudkan untuk melepaskan kembali plester,
aromatik adalah larutan jernih dan jenuh dalam air, sehingga bila plester diangkat, permukaan kulit
dari minyak mudah menguap atau senyawa aromatik tempat plester menempel tetap bersih.
atau bahan mudah menguap lain. Bau dan rasanya
mirip dengan obat atau senyawa mudah menguap
yang ditambahkan, dan bebas dari bau empirematik SEDIAAN OBAT MATA
dan bau asing lain. Air aromatik dapat dibuat secara Ophthalmic Preparations
destilasi atau dari larutan senyawa aromatik, dengan
atau tanpa menggunakan bahan pendispersi. Obat mata tersedia dalam berbagai bentuk
Air aromatik perlu disimpan terlindung cahaya sediaan, beberapa diantaranya memerlukan perhatian
dan panas berlebih. khusus.

Salep Salep mata adalah salep yang digunakan


PASTA pada mata. Pada pembuatan salep mata harus
Pastes diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari
bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan
Pasta adalah sediaan semipadat yang aseptik yang ketat serta memenuhi syarat Uji
mengandung satu atau lebih bahan obat yang Sterilitas <71>. Bila bahan tertentu yang digunakan
ditujukan untuk pemakaian topikal. Kelompok dalam formulasi tidak dapat disterilkan dengan cara
pertama dibuat dari gel fase tunggal mengandung air, biasa, maka dapat digunakan bahan yang memenuhi
misalnya Pasta Natrium Karboksimetilselulose, syarat Uji Sterilitas <71> dengan pembuatan secara
kelompok lain adalah pasta berlemak misalnya Pasta aseptik. Salep mata harus mengandung bahan atau
Zink Oksida, merupakan salep yang padat, kaku, campuran bahan yang sesuai untuk mencegah
yang tidak meleleh pada suhu tubuh dan berfungsi pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang
sebagai lapisan pelindung pada bagian yang diolesi. mungkin masuk secara tidak sengaja bila wadah
Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan dibuka pada waktu penggunaan; kecuali dinyatakan
lebih menyerap dibandingkan dengan salep karena lain dalam monografi atau formulanya sendiri sudah
tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas bersifat bakteriostatik (lihat Bahan Tambahan seperti
terhadap air. Pasta ini cenderung untuk menyerap yang tertera pada Uji Salep Mata <1241>). Bahan
sekresi seperti serum; dan mempunyai daya penetrasi obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep
dan daya maserasi lebih rendah dari salep. Oleh berbentuk larutan atau serbuk halus. Salep mata harus
karena itu pasta digunakan untuk lesi akut yang bebas dari partikel kasar dan harus memenuhi syarat
cenderung membentuk kerak, menggelembung atau kebocoran dan partikel logam pada Uji Salep Mata
mengeluarkan cairan. <1241>. Wadah untuk salep mata harus dalam
Pasta gigi digunakan untuk pelekatan pada keadaan steril pada waktu pengisian dan penutupan.
selaput lendir untuk memperoleh efek lokal (misal Wadah salep mata harus tertutup rapat dan disegel
pasta gigi Triamsinolon Asetonida). untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.
Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi
mata, memungkinkan difusi obat dalam cairan mata
PLESTER dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam
Plester jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan
yang tepat.
Plester adalah bahan yang digunakan untuk Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak
pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat digunakan. Beberapa bahan dasar salep yang dapat
melekat pada kulit dan menempel pada pembalut. menyerap, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air
Plester dimaksudkan untuk melindungi dan dan bahan dasar larut dalam air dapat digunakan
- 58 -

untuk obat yang larut dalam air. Bahan dasar salep sehingga tidak terlalu merangsang mata. Dalam
seperti ini memungkinkan dispersi obat larut air yang beberapa hal, pH dapat berkisar antara 3,5 dan 8,5.
lebih baik, tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi Beberapa obat, seperti pilokarpin hidroklorida dan
pada mata. epinefrin bitartrat, lebih asam sehingga melebihi
kapasitas dapar air mata. Secara ideal larutan obat
Larutan Larutan obat mata adalah larutan steril, mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama
bebas partikel asing, merupakan sediaan yang dibuat dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan
dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai karena pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup
digunakan pada mata. Pembuatan larutan obat mata larut dalam air. Sebagian besar garam alkaloid
membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini.
bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan pengawet Selain itu banyak obat tidak stabil secara kimia pada
(dan jika perlu pemilihan pengawet) sterilisasi dan pH mendekati 7,4. Ketidakstabilan ini lebih nyata
kemasan yang tepat. Perhatian yang sama juga pada suhu tinggi yang digunakan pada sterilitasi
dilakukan untuk sediaan hidung dan telinga. dengan pemanasan. Oleh karena itu sistem dapar
Nilai isotonisitas Cairan mata isotonik dengan harus dipilih sedekat mungkin dengan pH fisiologis
darah dan mempunyai nilai isotonisitas sesuai dengan yaitu 7,4 dan tidak menyebabkan pengendapan obat
larutan natrium klorida P 0,9%. Secara ideal larutan atau mempercepat kerusakan obat.
obat mata harus mempunyai nilai isotonis tersebut, Pembuatan obat mata dengan sistem dapar
tetapi mata tahan terhadap nilai isotonis rendah yang mendekati pH fisiologis dapat dilakukan dengan
setara dengan larutan natrium klorida P 0,6% dan mencampurkan secara aseptik larutan obat steril
tertinggi setara dengan larutan natrium klorida P dengan larutan dapar steril. Walaupun demikian,
2,0% tanpa gangguan nyata. perlu diperhatikan mengenai kemungkinan
Beberapa larutan obat mata perlu hipertonik untuk berkurangnya kestabilan obat pada pH yang lebih
meningkatkan daya serap dan menyediakan kadar tinggi, pencapaian dan pemeliharaan sterilitas selama
bahan aktif yang cukup tinggi untuk menghasilan proses pembuatan.
efek obat yang cepat dan efektif. Apabila larutan obat Berbagai obat, bila didapar pada pH yang dapat
seperti ini digunakan dalam jumlah kecil, digunakan secara terapetik, tidak akan stabil dalam
pengenceran dengan air mata cepat terjadi sehingga larutan untuk jangka waktu yang lama. Sediaan ini
rasa perih akibat hipertonisitas hanya sementara. dibeku-keringkan dan direkonstitusikan segera
Tetapi penyesuaian isotonisitas oleh pengenceran sebelum digunakan (misalnya Asetikolin Klorida
dengan air mata tidak berarti, jika digunakan larutan untuk Larutan Obat Mata).
hipertonik dalam jumlah besar sebagai koliria untuk Sterilisasi Pada larutan yang digunakan untuk
membasahi mata. Jadi yang penting adalah larutan mata yang luka, sterilitas adalah yang paling penting.
obat mata untuk keperluan ini harus mendekati Sediaan steril dalam wadah khusus untuk
isotonik. penggunaan perorangan pada pasien harus tersedia
Pendaparan Banyak Obat, khususnya garam pada setiap rumah sakit atau instalasi lain yang
alkaloid, paling efektif pada pH optimal bagi melakukan perawatan mata karena kecelakaan atau
pembentukan basa bebas tidak terdisosiasi. Tetapi pembedahan mata. Metode untuk mencapai sterilitas
pada pH ini obat mungkin menjadi tidak stabil, terutama ditentukan oleh sifat sediaan tersebut
sehingga pH harus diatur dan dipertahankan dengan (seperti yang tertera pada Sterilisasi dan Jaminan
penambahan dapar. Salah satu maksud pendaparan Sterilitas Bahan Kompendia <1371>).
larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan Jika memungkinkan, penyaringan dengan
pH yang disebabkan pelepasan lambat ion hidroksil penyaring membran steril secara aseptik merupakan
dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu metode yang lebih baik. Jika dapat ditunjukkan
kelarutan dan stabilitas obat. Penambahan dapar bahwa pemanasan tidak mempengaruhi stabilitas
dalam pembuatan obat mata harus didasarkan pada sediaan, sterilisasi obat dalam wadah akhir dengan
beberapa pertimbangan tertentu. Air mata normal otoklaf juga merupakan metode yang baik.
memiliki pH lebih kurang 7,4 dan mempunyai Pendaparan obat tertentu disekitar pH fisiologis,
kapasitas dapar tertentu. Penggunaan obat mata dapat menyebabkan obat tidak stabil pada suhu
merangsang pengeluaran air mata dan penetralan tinggi.
cepat setiap kelebihan ion hidrogen atau ion hidroksil Penyaringan menggunakan penyaringan bakteri
dalam kapasitas pendaparan air mata. Berbagai obat adalah suatu cara yang baik untuk menghindari
mata seperti garam alkaloid bersifat asam lemah dan pemanasan, namun perlu perhatian khusus dalam
hanya mempunyai kapasitas dapar yang lemah. Jika pemilihan, perakitan dan penggunaan alat-alat.
hanya satu atau dua tetes larutan yang mengandung Sedapat mungkin gunakan penyaring steril sekali
obat tersebut diteteskan pada mata, pendaparan oleh pakai.
air mata biasanya cukup untuk menaikan pH
- 59 -

Pengawet Larutan obat mata dapat dikemas kapsul dalam ukuran yang lazim, dapat dibuat dalam
dalam wadah takaran ganda bila digunakan secara bentuk serbuk. Sebelum digunakan, biasanya serbuk
perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat oral dapat dicampur dengan air minum.
kerusakan pada permukaan mata. Wadah larutan obat Masalah stabilitas yang seringkali dihadapi dalam
mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sediaan bentuk cair, tidak ditemukan dalam sediaan
sterilitas pada pemakaian pertama. Larutan harus bentuk serbuk. Obat yang tidak stabil dalam suspensi
mengandung zat atau campuan zat sesuai untuk atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk
mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri atau granul. Konstitusi sediaan dapat dilakukan oleh
yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka saat apoteker dengan cara menambahkan sejumlah air
digunakan. sebelum diserahkan. Karena sediaan yang sudah
Sedangkan untuk penggunaan pada pembedahan, dikonstitusi ini mempunyai stabilitas yang terbatas,
disamping steril, larutan obat mata tidak boleh harus dicantumkan waktu kedaluwarsa setelah
mengandung bahan antibakteri karena dapat dikonstitusi dan dapat juga dipersyaratkan untuk
menimbulkan iritasi pada jaringan mata. disimpan dalam lemari pendingin.
Bahan pengental Metilselulosa khusus untuk Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi
sediaan farmasi (misal 1% bila kekentalan 25 (Pulveres) atau tidak terbagi (Pulvis). Pada umumnya
sentipois atau 0,25% bila kekentalan 4000 sentipois) serbuk terbagi dibungkus dengan kertas perkamen.
atau bahan pengental lain yang sesuai seperti Walaupun begitu apoteker dapat lebih melindungi
hidroksipropil metilselulosa atau kadang-kadang serbuk dari pengaruh lingkungan dengan melapisi
polivinil alkohol dapat ditambahkan untuk tiap bungkus dengan kertas selofan atau sampul
meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama polietilena.
kontak dengan jaringan. Larutan obat mata yang Serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat
dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat yang relatif tidak poten, seperti laksan, antasida,
terlihat. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu dan
Suspensi Suspensi obat mata adalah sediaan cair pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh
steril yang mengandung partikel-partikel yang atau penakar lain. Serbuk tidak terbagi lainnya antara
terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian lain, serbuk gigi, serbuk tabur. Serbuk tidak terbagi
pada mata seperti yang tertera pada Suspensi. Obat sebaiknya disimpan dalam wadah gelas, bermulut
dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi lebar, tertutup rapat, untuk melindungi pengaruh
agar tidak menimbulkan iritasi dan atau goresan pada atmosfer dan mencegah penguapan senyawa yang
kornea. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan mudah menguap.
bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan. Serbuk tabur adalah serbuk ringan untuk
penggunaan topikal, dapat dikemas dalam wadah
Strip Larutan natrium fluoresin harus diracik yang bagian atasnya berlubang halus untuk
dalam wadah dosis tunggal steril atau strip kertas memudahkan penggunaan pada kulit. Pada umumnya
steril yang diimpregnasi dengan natrium fluoresin. serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat
Kertas akan melepaskan obat dalam jumlah yang halus 100 mesh seperti tertera pada Derajat Halus
cukup untuk keperluan diagnostik bila disentuhkan Serbuk <1141> agar tidak menimbulkan iritasi pada
pada mata yang diperiksa terhadap benda asing atau bagian yang peka.
abrasi kornea. Kontak antara kertas dengan mata
dapat dihindarkan dengan membilas obat dari kertas
ke mata menggunakan air steril atau larutan natrium SUPOSITORIA
klorida steril. Suppositories

Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai


SERBUK bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal,
Powders vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau
melarut pada suhu tubuh. Supositoria dapat bertindak
Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai
zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau
pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Karena sistemik. Bahan dasar supositoria yang umum
mempunyai luas permukaan yang luas, serbuk lebih digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi,
mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen
sediaan yang dipadatkan. Anak-anak atau orang glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak
dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih polietilen glikol.
mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. Obat Bahan dasar supositoria yang digunakan sangat
yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau berpengaruh pada pelepasan zat terapetik. Lemak
- 60 -

coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak Minyak nabati terhidrogenasi dan Lemak padat).
tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena itu Produk ini dapat dirancang sedemikian hingga dapat
menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada mengurangi terjadinya ketengikan. Selain itu sifat
tempat yang diobati. Polietilen glikol adalah bahan yang diinginkan seperti interval yang sempit antara
dasar yang sesuai untuk beberapa antiseptik. Jika suhu melebur dan suhu memadat dan jarak lebur juga
diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik dapat dirancang untuk penyesuaian berbagai
menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik, agar formulasi dan keadaan iklim.
diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum.
Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas dari Supositoria Gelatin Tergliserinasi Bahan obat
bahan dasar yang dapat bercampur dengan air, seperti dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin
gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan tergliserinasi, dengan menambahkan sejumlah
dasar ini cenderung sangat lambat larut sehingga tertentu kepada bahan pembawa yang terdiri dari
menghambat pelepasan. Bahan pembawa berminyak lebih kurang 70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin dan
seperti lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan 10 bagian air.
vagina, karena membentuk residu yang tidak dapat Supositoria ini harus disimpan dalam wadah
diserap, sedangkan gelatin tergliserinasi jarang tertutup rapat, sebaiknya pada suhu dibawah 35º.
digunakan melalui rektal karena disolusinya lambat.
Lemak coklat dan penggantinya (lemak keras) lebih Supositoria dengan Bahan Dasar Polietilen
baik untuk menghilangkan iritasi, seperi pada sediaan glikol Beberapa kombinasi polietilen glikol
untuk hemoroid internal. mempunyai suhu lebur lebih tinggi dari suhu badan
dan biasa digunakan sebagai bahan dasar supositoria.
Supositoria Lemak Coklat Supositoria dengan Karena pelepasan dari bahan dasar lebih ditentukan
bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan oleh disolusi dari pada pelelehan, maka masalah
mencampur bahan obat yang dihaluskan ke dalam dalam pembuatan dan penyimpanan jauh lebih sedikit
minyak padat pada suhu kamar dan massa yang dibanding masalah yang disebabkan oleh jenis
dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai, atau dibuat pembawa yang melebur. Tetapi polietilen glikol
dengan minyak dalam keadaan lebur dan suspensi dengan kadar tinggi dan bobot molekul lebih tinggi
yang dihasilkan didiamkan menjadi dingin di dalam dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga
cetakan. Sejumlah zat pengeras yang sesuai dapat menghambat pelepasan. Pada etiket supositoria
ditambahkan untuk mencegah kecenderungan polietilen glikol harus tertera petujuk “Basahi dengan
beberapa obat, (seperti kloralhidrat dan fenol) air sebelum digunakan”. Meskipun dapat disimpan
melunakkan bahan dasar. Yang penting, supositoria tanpa pendinginan, supositoria ini harus dikemas
meleleh pada suhu tubuh. dalam wadah tertutup rapat.
Perkiraan bobot supositoria yang dibuat dengan
lemak coklat, dijelaskan dibawah ini. Supositoria Supositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan
yang dibuat dari bahan dasar lain, bobotnya Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia
bervariasi dan umumnya lebih berat daripada bobot mendekati polietilen glikol dapat digunakan sebagai
yang disebutkan dibawah ini. bahan pembawa supositoria. Contoh surfaktan ini
Supositoria rektal Supsitoria rektal untuk dewasa adalah ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan
berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini dapat digunakan
biasanya berbobot lebih kurang 2 g. dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan
Supositoria vaginal Umumnya berbentuk bulat supositoria lain untuk memperoleh rentang suhu
atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat lebur yang lebar dan konsistensi. Salah satu
dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang keuntungan utama pembawa ini adalah dapat
dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol terdispersi dalam air. Tetapi harus hati-hati dalam
atau gelatin tergliserinasi. penggunaan surfaktan, karena dapat meningkatkan
Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat kecepatan absorpsi obat atau dapat berinteraksi
harus disimpan dalam wadah tertutup baik, sebaiknya dengan molekul obat, yang menyebabkan penurunan
pada suhu dibawah 30º (suhu kamar terkendali). aktivitas terapetik.

Pengganti Lemak Coklat Supositoria dengan Supositoria kempa atau Supositoria sisipan
bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari berbagai Supositoria vaginal dapat dibuat dengan cara
minyak nabati, seperti minyak kelapa atau minyak mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai.
kelapa sawit yang dimodifikasi dengan esterifikasi, Dapat juga dengan cara pengkapsulan dalam gelatin
hidrogenasi dan fraksionasi dengan esterifikasi, lunak.
hidrogenasi dan fraksionasi hingga diperoleh
berbagai komposisi dan suhu lebur (misalnya:
- 61 -

SUSPENSI suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma


Suspensions termasuk dalam kategori ini.

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung Suspensi topikal Suspensi topikal adalah sediaan
partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair mengandung partikel padat yang terdispersi
cair. Sediaan yang digolongkan sebagai suspensi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk
adalah sediaan seperti tersebut di atas, dan tidak penggunaan pada kulit. Beberapa suspensi yang
termasuk kelompok suspensi yang lebih spesifik, diberi etiket sebagai “Lotio” termasuk dalam
seperti suspensi oral, suspensi topikal, dan lain-lain. kategori ini.
Beberapa suspensi dapat langsung digunakan,
sedangkan yang lain berupa campuran padat yang Suspensi tetes telinga Suspensi tetes telinga
harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel
pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan. halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga
Istilah susu kadang-kadang digunakan untuk suspensi bagian luar.
dalam pembawa yang mengandung air yang
ditujukan untuk pemakaian oral, seperti Susu Suspensi optalmik Seperti tertera pada Sediaan
Magnesia. Istilah Magma sering digunakan untuk Obat Mata.
menyatakan suspensi zat padat anorganik dalam air
seperti lumpur, jika zat padatnya mempunyai
kecenderungan terhidrasi dan teragregasi kuat yang SALEP
menghasilkan konsistensi seperti gel dan sifat reologi Ointments
tiksotropik seperti Magma Bentonit. Istilah Lotio
banyak digunakan untuk golongan suspensi topikal Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan
dan emulsi untuk pemakaian pada kulit seperti Lotio untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput
Kalamin. Beberapa suspensi dibuat steril dan dapat lendir.
digunakan untuk injeksi, juga untuk sediaan mata dan Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa
telinga. Suspensi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu dibagi dalam 4 kelompok: dasar salep senyawa
suspensi yang siap digunakan atau yang hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang
dikonstitusikan dengan jumlah air untuk injeksi atau dapat dicuci dengan air, dasar salep larut dalam air.
pelarut lain yang sesuai sebelum digunakan. Suspensi Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep
tidak boleh diinjeksikan secara intravena dan tersebut.
intratekal.
Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan dengan Dasar salep hidrokarbon Dasar salep ini dikenal
cara tertentu harus mengandung zat antimikroba yang sebagai dasar salep berlemak antara lain vaselin putih
sesuai untuk melindungi kontaminasi bakteri, ragi dan salep putih. Hanya sejumlah kecil komponen
dan jamur seperti yang tertera pada Emulsi dengan berair dapat dicampurkan ke dalamnya. Salep ini
beberapa pertimbangan penggunaan pengawet dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan
antimikroba juga berlaku untuk suspensi. Sesuai obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut
sifatnya, partikel yang terdapat dalam suspensi dapat penutup. Dasar salep hidrokarbon digunakan
mengendap pada dasar wadah bila didiamkan. terutama sebagai emolien, dan sukar dicuci. Tidak
Pengendapan seperti ini dapat mempermudah mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu
pengerasan dan pemadatan sehingga sulit terdispersi lama.
kembali, walaupun dengan pengocokan. Untuk
mengatasi masalah tersebut, dapat ditambahkan zat Dasar salep serap Dasar salep serap ini dapat
yang sesuai untuk meningkatkan kekentalan dan dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri
bentuk gel suspensi seperti tanah liat, surfaktan, atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air
poliol, polimer atau gula. Yang sangat penting adalah membentuk emulsi air dalam minyak (Parafin
bahwa suspensi harus dikocok baik sebelum hidrofilik dan Lanolin anhidrat), dan kelompok
digunakan untuk menjamin distribusi bahan padat kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang
yang merata dalam pembawa, hingga menjamin dapat bercampur dengan sejumlah larutan air
keseragaman dan dosis yang tepat. Suspensi harus tambahan (Lanolin). Dasar salep serap juga
disimpan dalam wadah tertutup rapat. bermanfaat sebagai emolien.

Suspensi oral Suspensi oral adalah sediaan cair Dasar salep yang dapat dicuci dengan air Dasar
mengandung partikel padat yang terdispersi dalam salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain
pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai, Salep hidrofilik dan lebih tepat disebut “Krim” (lihat
dan ditujukan untuk penggunaan oral. Beberapa Cremores). Dasar ini dinyatakan juga sebagai “dapat
- 62 -

dicuci dengan air” karena mudah dicuci dari kulit sudah jarang digunakan. Tablet hipodermik adalah
atau dilap basah, sehingga lebih dapat diterima untuk tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah
dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi melarut atau melarut sempurna dalam air, dulu
lebih efektif menggunakan dasar salep ini daripada umumnya digunakan untuk membuat sediaan injeksi
Dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar hipodermik. Diberikan secara oral atau jika
salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti
mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan halnya pada Tablet Nitrogliserin, diberikan secara
dermatologik. sublingual.
Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan
Dasar salep larut dalam air Kelompok ini tablet di antara pipi dan gusi dan tablet sublingual
disebut juga “dasar salep tak berlemak” dan terdiri digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah
dari konstituen larut air. Dasar salep jenis ini lidah, sehingga zat aktif diserap secara langsung
memberikan banyak keuntungan seperti dasar salep melalui mukosa mulut. Beberapa obat mudah diserap
yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung dengan cara ini (seperti nitrogliserin dan hormon
bahan tak larut dalam air seperti parafin, lanolin steroid tertentu) dan mempunyai banyak keuntungan.
anhidrat atau malam. Dasar salep ini lebih tepat Tablet efervesen yang larut, dibuat dengan cara
disebut “gel” (lihat Gel). dikempa; selain zat aktif, juga mengandung
Pemilihan dasar salep Pemilihan dasar salep campuran asam (asam sitrat, asam tartrat) dan
tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat yang natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam air
diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan, akan menghasilkan karbon dioksida. Tablet
ketersediaan hayati, stabilitas dan ketahanan sediaan dilarutkan atau didispersikan dalam air sebelum
jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar pemberian. Tablet efervesen harus disimpan dalam
salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab,
yang diinginkan. Misalnya obat-obat yang cepat pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan.
terhidrolisis, lebih stabil dalam Dasar salep
hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung Tablet kunyah Tablet kunyah dimasudkan untuk
air, meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dikunyah, memberikan residu dengan rasa enak
dalam dasar salep yang mengandung air. dalam rongga mulut, mudah ditelan dan tidak
meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. Jenis tablet
ini digunakan dalam formulasi tablet untuk anak,
TABLET terutama formulasi multivitamin, antasida dan
Tablets antibiotika tertentu. Tablet kunyah dibuat dengan
cara dikempa, umumnya menggunakan manitol,
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan
obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan bahan pengisi, mengandung bahan pewarna dan
metode pembuatan, dapat digolongkan sebagai tablet bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan
cetak dan tablet kempa. dan rasa.
Sebagian besar tablet dibuat dengan cara
pengempaan dan merupakan bentuk sediaan yang Tablet lepas-lambat Tablet lepas-lambat dibuat
paling banyak digunakan. Tablet kempa dibuat sedemikian sehingga zat aktif akan tersedia selama
dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Istilah
granul menggunakan cetakan baja. Tablet dapat efek-diperpanjang, efek-pengulangan dan lepas-
dibuat dalam berbagai ukuran, bentuk dan penandaan lambat telah digunakan untuk menyatakan kesediaan
permukaan tergantung pada desain cetakan. Tablet tersebut. Tetapi, istilah lepas-lambat digunakan untuk
berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bolus tujuan farmakope dan persyaratan pelepasan obat
adalah tablet besar yang digunakan untuk obat dijelaskan dalam masing-masing monografi.
hewan, umumnya untuk hewan besar.
Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa Tablet hisap (Lozenges) Tablet Hisap adalah
serbuk lembab dengan tekanan rendah ke dalam sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan
lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan
ikatan kristal yang terbentuk selama proses manis, yang dapat membuat tablet melarut atau
pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada hancur perlahan dalam mulut. Tablet dibuat dengan
kekuatan tekanan yang diberikan. cara tuang (dengan bahan dasar gelatin dan atau
Tablet triturat merupakan tablet cetak atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol) atau dengan
kempa berbentuk kecil, umumnya silindris, cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula.
digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang Tablet hisap tuang kadang-kadang disebut sebagai
tepat untuk peracikan obat. Jenis tablet ini sekarang pastiles, sedangkan tablet hisap kempa disebut
- 63 -

sebagai troches. Tablet umumnya ditujukan untuk Lubrikan mengurangi gesekan selama proses
mengobati iritasi lokal atau infeksi mulut atau pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah
tenggorokan, tetapi dapat juga mengandung bahan massa tablet melekat pada cetakan. Senyawa asam
aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah stearat dengan logam, asam stearat, minyak nabati
ditelan. terhidrogenasi dan talkum digunakan sebagai
lubrikan. Pada umumnya lubrikan bersifat hidrofobik,
Pembuatan tablet cetak Tablet cetak dibuat dari sehingga cenderung menurunkan kecepatan
campuran bahan obat dan bahan pengisi, umumnya disintegrasi dan disolusi tablet. Oleh karena itu kadar
mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam lubrikan yang berlebihan harus dihindarkan.
berbagai perbandingan. Massa serbuk dibasahi Polietilen glikol dan beberapa garam lauril sulfat
dengan larutan yang mengandung etanol persentase digunakan sebagai lubrikan yang larut, tetapi lubrikan
tinggi. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat seperti ini umumnya tidak memberikan sifat lubrikasi
aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan yang optimal, dan diperlukan dengan kadar yang
derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Massa lebih tinggi.
serbuk yang lembab ditekan ke dalam cetakan, Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan
dikeluarkan dan dibiarkan kering. Tablet cetak agak kemampuan mengalir serbuk, umumnya digunakan
rapuh, sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Glidan
dan pendistribusian. yang paling efektif adalah silika pirogenik koloidal.
Bahan pewarna dan lak yang diizinkan sering
Formulasi tablet kempa Pada umumnya tablet ditambahkan pada formulasi tablet untuk menambah
kempa mengandung zat aktif dan bahan pengisi, nilai estetik atau untuk identitas produk. Kebanyakan
bahan pengikat, disintegran dan lubrikan, dapat juga bahan pewarna peka terhadap cahaya dan warnanya
mengandung bahan warna dan lak (bahan warna yang akan memudar jika terpapar cahaya.
diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak
larut) yang diizinkan, bahan pengaroma dan bahan Cara pembuatan Tablet dibuat dengan 3 cara
pemanis. Bahan pengisi ditambahkan jika jumlah zat umum, yaitu granulasi basah, granulasi kering
aktif sedikit atau sulit dikempa. Bahan pengisi tablet (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung.
yang umum adalah laktosa, pati, kalsium fosfat Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk
dibasa dan selulosa mikrokristal. Tablet kunyah meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan
sering mengandung sukrosa, manitol atau sorbitol kempa.
sebagai bahan pengisi. Jika kandungan zat aktif Granulasi kering dilakukan dengan cara menekan
kecil, sifat tablet secara keseluruhan ditentukan oleh massa serbuk pada tekanan tinggi sehingga menjadi
bahan pengisi yang besar jumlahnya. Karena masalah tablet besar yang tidak berbentuk baik, kemudian
ketersediaan hayati obat hidrofobik yang digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan
kelarutannya dalam air kecil, maka digunakan bahan ukuran partikel yang diinginkan. Keuntungan
pengisi yang larut dalam air. granulasi kering adalah tidak diperlukan panas dan
Bahan pengikat memberikan daya adhesi pada kelembaban dalam proses granulasi. Granulasi kering
massa serbuk sewaktu granulasi dan pada tablet dapat juga dilakukan dengan meletakkan massa
kempa serta menambah daya kohesi yang telah ada serbuk diantara mesin rol yang dijalankan secara
pada bahan pengisi. Zat pengikat dapat ditambahkan hidrolik untuk menghasilkan massa padat yang tipis,
dalam bentuk kering, tetapi lebih efektif jika selanjutnya diayak atau digiling hingga diperoleh
ditambahkan dalam larutan. Bahan pengikat yang granul dengan ukuran yang diinginkan.
umum meliputi gom akasia, gelatin, sukrosa, Pembuatan tablet dengan kecepatan tinggi
povidon, metilselulosa, karboksimetilselulosa dan memerlukan eksipien yang memungkinkan
pasta pati terhidrolisis. Bahan pengikat kering yang pengempaan langsung tanpa tahap granulasi terlebih
paling efektif adalah selulosa mikrokristal, yang dahulu. Eksipien ini terdiri dari zat berbentuk fisik
umumnya digunakan dalam membuat tablet kempa khusus seperti laktosa, sukrosa, dekstrosa, atau
langsung. selulosa yang mempunyai sifat aliran dan
Disintegran membantu hancurnya tablet setelah kemampuan kempa yang diinginkan. Bahan pengisi
ditelan. Disintegran tablet yang paling banyak untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan
digunakan adalah pati. Pati dan selulosa yang adalah selulosa mikrokristal, laktosa anhidrat, laktosa
termodifikasi secara kimia, asam alginat, selulosa semprot-kering, sukrosa yang dapat dikempa dan
mikrokristal dan povidon sambung-silang juga dapat beberapa bentuk pati termodifikasi. Kempa langsung
digunakan. Campuran efervesen digunakan sebagai menghindari banyak masalah yang timbul pada
disintegran dalam sistem tablet larut. Kandungan granulasi basah dan granulasi kering. Walaupun
disintegran, cara penambahan dan derajat kepadatan demikian sifat fisik masing-masing bahan pengisi
berperan dalam efektivitas daya hancur tablet. merupakan hal kritis, perubahan sedikit dapat
- 64 -

mengubah sifat alir dan kempa sehingga menjadi mengandung air sering digunakan sebelum tablet
tidak sesuai untuk dikempa langsung. gula. Jumlah penyalut yang berlebihan harus
Keadaan fisik mutu tablet yang kurang baik dihindarkan. Kelemahan dari penyalutan dengan gula
diuraikan dalam Pertimbangan tentang Stabilitas antara lain waktu penyalutan lama, perlu penyalut
dalam Pemberian Obat <1351>. tahan air. Hal ini dapat memperlambat disolusi dan
memperbesar bobot tablet sehingga menyebabkan
Keragaman bobot dan keseragaman penggunaan salut selaput lebih dapat diterima. Zat
kandungan Tablet harus memenuhi uji keragaman penyalut selaput berisi zat yang larut atau terdispersi
bobot seperti yang tertera pada Keseragaman dalam air seperti hidroksipropil metilselulosa,
Sediaan <911>, jika zat aktif merupakan bagian metilselulosa, hidroksi-propilselulosa, natrium
terbesar dari tablet dan jika uji keragaman bobot karboksimetilselulosa, dan campuran selulosa asetat
dianggap cukup mewakili keseragaman kandungan. ftalat dan polietilen glikol dalam pelarut yang tidak
Keragaman bobot bukan merupakan indikasi yang mengandung air atau mengandung air. Penguapan
cukup dari keseragaman kandungan jika zat aktif pelarut akan meninggalkan lapisan tipis yang
merupakan bagian kecil dari tablet atau jika tablet langsung melekat pada tablet sehingga bentuk aslinya
bersalut gula. Oleh karena itu, umumnya farmakope dapat dipertahankan, termasuk penandaan untuk
mensyaratkan bahwa tablet bersalut dan tablet yang identifikasi.
mengandung zat aktif 50 mg atau kurang, dan bobot
zat aktif lebih kecil dari 50% bobot sediaan, harus Tablet salut-enterik Jika obat dapat rusak atau
memenuhi syarat uji keseragaman kandungan seperti inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi
yang tertera pada Keseragaman Sediaan <911> yang mukosa lambung, diperlukan bahan penyalut enterik,
pengujiannya dilakukan pada tiap tablet. yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat
sampai tablet telah melewati lambung. Istilah lepas-
Waktu hancur dan Disolusi Waktu hancur adalah tunda digunakan untuk tujuan farmakope dan
hal yang penting untuk tablet yang diberikan melalui masing-masing monografi, meliputi pengujian dan
mulut, kecuali tablet yang harus dikunyah sebelum spesifikasi untuk pelepasan obat seperti yang tertera
ditelan dan beberapa jenis tablet lepas-lambat. Uji pada Pelepasan Obat <961>.
waktu hancur tertera pada Uji Waktu Hancur <1251>
dan batas waktu hancur untuk berbagai jenis tablet
tertera pada masing-masing monografi. VAKSIN
Untuk obat yang kelarutan dalam air terbatas, Vaccines
disolusi akan lebih berarti dari pada waktu hancur.
Uji disolusi seperti yang tertera pada Uji Disolusi Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat
<1231> dipersyaratkan dalam sejumlah monografi antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif
tablet. Dalam banyak hal, kecepatan disolusi dapat dan khas pada manusia. Vaksin dibuat dari bakteria,
dikorelasikan dengan ketersediaan hayati zat aktif. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi
Tetapi uji tersebut terutama berguna sebagai alat organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid.
untuk tapis pendahuluan formulasi dan sebagai Metode pembuatan bervariasi tergantung dari jenis
prosedur pengawasan mutu secara rutin. vaksin seperti yang tertera di bawah ini atau dalam
masing-masing monografi dan dirancang agar dapat
Penyalutan Tablet disalut untuk berbagai alasan, mempertahankan sifat antigenisitas yang sesuai,
antara lain melindungi zat aktif dari udara, membuat sediaan tidak berbahaya dan bebas dari
kelembaban atau cahaya, menutupi rasa dan bau yang kontaminasi senyawa asing. Jika memungkinkan
tidak enak, membuat penampilan lebih baik dan pembuatan vaksin harus menggunakan lot benih yang
mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. sudah ditetapkan dan untuk mendapatkan vaksin
yang baik, vaksin tidak boleh dibuat dari sub kultur
Tablet salut biasa Umumnya tablet disalut benih awal.
dengan gula dari suspensi dalam air mengandung Pada waktu pembuatan dapat ditambahkan
serbuk yang tidak larut seperti pati, kalsium karbonat, penisilin pada setiap tahap pembuatan atau pada
talk atau titanium dioksida, yang disuspensikan produk akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam
dengan gom akasia atau gelatin. Untuk tujuan monografi, streptomisin tidak boleh digunakan dalam
identifikasi dan nilai estetik, zat penyalut bagian luar pembuatan vaksin; penambahan ke dalam biakan sel
dapat diwarnai. Tablet yang sudah disalut, dilapisi yang akan digunakan dalam produksi vaksin
dengan larutan malam yang encer dalam pelarut diperkenankan, tetapi tidak boleh terdeteksi jika
seperti kloroform atau campuran serbuk. Penyalut biakan sel diinokulasi dengan virus.
tahan air berisi zat seperti syelak (shellac) atau Kemampuan menimbulkan imunitas vaksin dapat
selulosa asetat ftalat dalam pelarut yang tidak ditingkatkan dengan penjerapan pada aluminium
- 65 -

fosfat, aluminium hidroksida, kalsium fosfat atau Bila dijerap, mengandung partikel putih atau kelabu
bahan jerap lain seperti yang tertera pada monografi. yang terdispersi dalam cairan tidak berwarna atau
Zat jerap dibuat dalam kondisi yang dapat berwarna kuning pucat; partikel seperti ini dapat
memberikan bentuk fisik dan sifat jerap yang tepat. membentuk endapan pada dasar wadah.
Jika vaksin dikemas dalam wadah dosis ganda,
kecuali dinyatakan lain dalam monografi, dapat Vaksin Virus dan Riketsia Vaksin virus dan
ditambahkan pengawet antimikroba yang sesuai riketsia adalah suspensi virus atau riketsia yang
selain antibiotik pada vaksin steril dan vaksin inaktif ditumbuhkan dalam telur berembrio, dalam biakan
dan penambahannya secara bervariasi. Pengawet sel atau dalam jaringan yang sesuai dan mengandung
antimikroba tidak ditambahkan pada sediaan vaksin virus atau riketsia hidup atau yang inaktif atau
yang akan dikeringkan. komponen imunogeniknya. Umumnya tersedia dalam
Produk akhir dibagikan secara aseptik ke dalam bentuk sediaan beku kering.
wadah yang memenuhi syarat dan ditutup kedap Vaksin virus hidup umumnya dibuat dari virus
untuk mencegah kontaminasi mikroba; atau galur khas yang virulensinya telah dilemahkan.
dibagikan dalam wadah steril, kemudian Opasitas vaksin virus dapat berbeda tergantung
dibekukeringkan dengan cara yang sesuai untuk cara pembuatan, dapat berwarna bila mengandung
mengurangi kadar air hingga tidak lebih dari 2,0% indikator pH seperti merah fenol.
dalam produk akhir, kecuali dinyatakan lain dalam
monografi. Wadah kemudian ditutup kedap dalam Vaksin campuran Vaksin campuran adalah
hampa udara atau dapat diisi gas nitrogen bebas campuran dua atau lebih vaksin.
oksigen atau gas inert lain yang sesuai sebelum
wadah ditutup kedap untuk menghindari kontaminasi Vaksin, bila perlu direkonstitusi, memenuhi
mikroba. Vaksin kering direkonstitusi segera sebelum syarat seperti di bawah ini, kecuali dinyatakan lain
digunakan. dalam monografi.

Vaksin bakteri Vaksin bakteri dibuat dari biakan Fenol Vaksin mengandung fenol sebagai
galur bakteri yang sesuai dalam media cair atau padat pengawet tidak lebih dari 0,25%, kecuali dinyatakan
yang sesuai dan mengandung bakteri hidup atau lain dalam monografi. Lakukan penetapan seperti
inaktif atau komponen imunogeniknya. Sediaan yang tertera pda Uji Bahan Tambahan dalam Vaksin
berupa suspensi dengan berbagai tingkat opasitas dan Immunosera <731>.
dalam cairan tidak berwarna atau hampir tidak
berwarna atau berupa sediaan beku kering. Formaldehida bebas Vaksin mengandung
Vaksin bakteri inaktif mengandung bakteri atau formaldehida bebas tidak lebih dari 0,02%. Lakukan
komponen imunogenik yang diinaktivasi dengan cara penetapan seperti yang tertera pada Uji Bahan
tertentu sehingga sifat antigenisitas dipertahankan. Tambahan dalam Vaksin dan Immunosera <731>.
Vaksin bakteri hidup dibuat dari galur bakteri
dengan virulensi yang telah dilemahkan dan mampu Aluminium Vaksin jerap mengandung
merangsang pembentukan kekebalan terhadap galur aluminium, tidak lebih dari 1,25 mg per dosis,
patogen yang sama atau jenis bakteri yang sifat kecuali dinyatakan lain dalam monografi. Lakukan
antigeniknya berhubungan. penetapan seperti yang tertera pada Uji Bahan
Konsentrasi bakteri hidup atau inaktif dari tiap Tambahan dalam Vaksin dan Immunosera <731>.
varietas atau jenis bakteri dinyatakan opasitasnya
dalam Unit Internasional Opasitas, atau bila sesuai Kalsium Vaksin jerap mengandung kalsium tidak
dengan menghitung jumlah sel langsung, atau jika lebih dari 1,3 mg per dosis, kecuali dinyatakan lain
bakteri hidup dengan angka viabel. dalam monografi. Lakukan penetapan seperti yang
tertera pada Uji Bahan Tambahan dalam Vaksin dan
Toksoid bakteri Toksoid bakteri diperoleh dari Immunosera <731>.
toksin yang telah dikurangi atau dihilangkan sifat
toksisitasnya hingga mencapai tingkat tidak terdeteki, Toksisitas Abnormal Memenuhi syarat Uji
tanpa mengurangi sifat imunogenisitas, dengan cara toksisitas abnormal seperti yang tertera pada Uji
tertentu yang dapat mencegah berubahnya kembali Reaktivitas secara Biologis in-vivo <251>, kecuali
toksoid menjadi toksin. Toksin diperoleh dari galur dinyatakan lain dalam monografi.
pilihan mikroorganisme khas yang ditumbuhkan
dalam media yang sedapat mungkin bebas dari Sterilitas Jika tidak dinyatakan lain semua vaksin
senyawa yang diketahui menyebabkan reaksi toksik, memenuhi syarat sterilitas seperti yang tertera pada
alergi atau yang tidak diinginkan pada manusia. Uji Sterilitas <71>, kecuali vaksin bakteri hidup
Toksoid bakteri dapat berupa cairan atau beku kering. diperbolehkan pertumbuhan bakteri pembuat vaksin.
- 66 -

Wadah dan penyimpanan Jika tidak dinyatakan


lain, vaksin disimpan pada suhu 2º sampai 8º,
terlindung dari cahaya, tidak boleh dibekukan.
MONOGRAFI
- 69 -

AGAR melalui penyaring kaca masir, bilas sisa dengan air


Agar-Agar panas dan keringkan pada suhu 100º - 105º.

Agar terdiri dari polisakarida yang diperoleh dengan Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 20,0%;
ekstraksi berbagai spesies Rhodophyceae, terutama lakukan pengeringan pada suhu 100º sampai 105º,
yang termasuk genus Gelidium, dengan air mendidih, menggunakan 1 g zat dalam bentuk serbuk yang lewat
disaring selagi panas dan diuapkan sampai kering. pengayak nomor 270.

Pemerian Tidak berbau, atau bau lemah; berasa Sisa pemijaran <301> Metode II Tidak lebih dari
musilago pada lidah. 4,5%; lakukan penetapan menggunakan 1 g serbuk
yang lewat pengayak nomor 270.
Kelarutan Tidak larut dalam air dingin; larut dalam
air mendidih. Indeks pengembangan <851> Tidak kurang dari 15;
lakukan penetapan menggunakan zat dalam bentuk
Mikroskopik Gumpalan potongan memanjang serbuk yang lewat pengayak nomor 270.
dengan lebar 2 - 5 mm, kadang-kadang dalam bentuk
kepingan, tidak berwarna sampai kuning pucat, Batas mikroba <51> Tidak boleh mengandung
bening, agak liat dan sukar dipatahkan, menjadi lebih Escherichia coli; lakukan penetapan menggunakan 1,0
rapuh pada pengeringan. g.

Mikroskopik Dalam iodum 0,005 M, sebagian Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
berwarna ungu kecokelatan. Menunjukkan banyak baik.
butiran kecil tidak berwarna, bulat telur atau bulat
dengan latar belakang amorf; kadang-kadang ada yang
berbentuk spora bulat atau bulat telur berwarna cokelat SERBUK AGAR
dengan ukuran sampai 60 µm dengan permukaaan Pulvis Agar
seperti jala.
Serbuk Agar adalah agar dalam bentuk serbuk.
Identifikasi
A. Larutkan 100 mg zat dalam 50 mL air dengan Pemerian Serbuk putih kekuningan; pada
pemanasan dan biarkan dingin. Pada 1 mL larutan ini pengamatan di bawah mikroskop terlihat fragmen
tambahkan 3 mL air kemudian 0,1 mL iodum 0,05 M bersudut dengan ciri-ciri yang sama seperti pada Agar
melalui dinding tabung:terjadi warna ungukecokelatan bentuk potongan atau kepingan; beberapa fragmen
diantara dua lapisan cairan. Jika dicampur, cairan berwarna ungu kecokelatan pada penambahan iodum
menjadi kuning pucat. 0,005 M.
B. Larutkan 100 mg zat dalam 50 mL air dengan
pemanasan, biarkan dingin. Panaskan 5 mL larutan ini Identifikasi Gelatin, Zat tidak larut, Susut
dengan 0,5 mL asam hidroklorida P selama 30 menit pengeringan, Sisa pemijaran, Indeks pengembangan
di dalam tangas air, kemudian tambahkan 1 mL larutan Memenuhi syarat seperti tertera pada Agar.
barium klorida P 6,1%: terjadi kekeruhan berwarna
putih dalam waktu 30 menit. Batas mikroba <51> Tidak boleh mengandung
C. Masukkan 500 mg zat ke dalam tabung reaksi, Escherichia coli; lakukan penetapan menggunakan 1,0 g.
tambahkan air, panaskan di dalam tangas air: hanya
beberapa bagian tetap tidak larut dan pada Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
pendinginan antara 35º dan 30º membentuk gel. Bila baik.
dipanaskan di dalam tangas air, gel tidak mencair pada
suhu dibawah 80º.
AIR MURNI
Gelatin Panaskan 1,0g zat dalam 100 mL air sampai Purified Water
larut dan biarkan dingin hingga suhu 50º. Pada 5 mL
tambahkan 5 mL larutan 2,4,6-trinitrofenol P 1%: H2O BM 18,02
tidak terjadi kekeruhan dalam waktu 10 menit.
Air Murni adalah air yang memenuhi persyaratan air
Zat tidak larut Tidak lebih dari 0,5%; lakukan minum, yang dimurnikan dengan cara destilasi,
penetapan dengan cara sebagai berikut: Pada 5 g zat penukar ion, osmosis balik atau proses lain yang
yang telah diserbuk dan diayak dengan pengayak sesuai. Tidak mengandung zat tambahan lain.
nomor 270, tambahkan 100 mL air dan 14 mL asam [Catatan Air Murni dalam bentuk ruahan atau
hidroklorida 2 M, didihkan perlahan-lahan selama 15 kemasan, digunakan untuk pembuatan sediaan atau
menit, sambil sering diaduk. Saring selagi panas pengujian dan penetapan kadar. Bila digunakan untuk
- 70 -

sediaan steril, selain untuk sediaan parenteral, air pendingin dan gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan
harus memenuhi persyaratan Uji Sterilitas <71>, vial yang belum dibuka dalam lemari pembeku.
atau gunakan air murni steril yang dilindungi
terhadap kontaminasi mikroba. Tidak boleh Zat yang mudah teroksidasi Pada 100 mL
menggunakan Air Murni untuk sediaan parenteral. tambahkan 10 mL asam sulfat 2 N, panaskan hingga
Untuk keperluan ini gunakan Air untuk Injeksi, Air mendidih. Untuk Air Steril untuk Injeksi dalam wadah
Bakteriostatik untuk Injeksi atau Air Steril untuk dengan volume kurang dari 50 mL, tambahkan 0,4 mL
Injeksi. Air Murni dalam kemasan yang kalium permanganat 0,1 N dan didihkan selama 5
diperdagangkan harus memenuhi persyaratan menit; untuk volume 50 mL atau lebih tambahkan 0,2
tambahan pada Wadah dan penyimpanan, dan mL kalium permanganat 0,1 N didihkan selama 5
Penandaan seperti tertera pada monografi ini] menit. Bila terbentuk endapan, dinginkan dalam
tangas es hingga suhu ruang dan saring melalui
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau. penyaring kaca masir: warna merah muda tidak hilang
sempurna.
Baku pembanding 1,4-Benzokuinon BPFI; tidak
boleh dikeringkan sebelum digunakan, simpan dalam Endotoksin bakteri <201> Tidak boleh lebih dari 0,25
wadah tertutup rapat dalam lemari pendingin, unit Endotoksin FI per mL.
terlindung dari cahaya. Dapat disonikasi untuk Sterilitas <71> Memenuhi syarat.
melarutkan. Sukrosa BPFI; tidak boleh dikeringkan
sebelum digunakan, simpan dalam wadah tertutup Bahan partikulat <751> Memenuhi syarat
rapat.
Konduktivitas air <925> Air steril memenuhi syarat.
Konduktivitas air <925> Air ruahan Memenuhi
syarat. Karbon organik total <875> Air steril Memenuhi
syarat [Catatan Persyaratan Air untuk injeksi dalam
Karbon organik total <875> Tidak lebih dari 0,5 mg bentuk ruahan atau kemasan].
per liter.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah dosis
Uji batas mikroba <51> Angka lempeng total tidak tunggal dari kaca atau plastik, tidak lebih besar dari 1
lebih dari 100 koloni per mL. Gunakan metoda tuang L. Wadah kaca lebih baik dari kaca tipe I atau II.
atau penyaringan membran dengan porositas tidak Penandaan Pada etiket tertera tidak mengandung
lebih besar dari 0,45µm, volume sampel 1,0 mL, antimikroba atau zat tambahan lain dan tidak
media biakan Plate Count Agar, waktu inkubasi 48-72 digunakan untuk penyuntikan intravaskular tanpa
jam dan suhu inkubasi 30-35. terlebih dahulu dibuat isotonik dengan menambahkan
zat terlarut yang sesuai.
Wadah dan penyimpanan Jika dikemas, gunakan
kemasan wadah non reaktif yang dirancang untuk
mencegah masuknya mikroba. AIR STERIL UNTUK IRIGASI
Water For Irigation
Penandaan Jika dikemas, pada etiket tertera metode
penyiapan dan tidak untuk penggunaan parenteral.
H2O BM 18,02

Air Steril untuk Irigasi dibuat dari Air untuk injeksi


AIR STERIL UNTUK INJEKSI yang disterilkan dan dikemas dalam kemasan yang
Sterile Water for Injection sesuai. Tidak mengandung zat antimikroba atau bahan
tambahan lain.
H2O BM 18,02
Baku pembanding 1,4-Benzokuinon BPFI; tidak
Air steril untuk injeksi dibuat dari Air untuk Injeksi boleh dikeringkan. Simpan dalam wadah tertutup
yang disterilkan dan dikemas dalam wadah yang rapat, terlindung cahaya, dalam lemari pendingin.
sesuai. Tidak mengandung zat antimikroba dan zat Sebelum digunakan diamkan pada suhu ruang dan
tambahan lain. sonikasi jika perlu untuk melarutkan endapan.
Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat pirogenik,
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau. penanganan vial dan isi harus hati-hati untuk
menghindari kontaminasi.] Rekonstitusi semua isi,
Baku pembanding Endotoksin BPFI; [Catatan
simpan larutan dalam lemari pendingin dan gunakan
Bersifat pirogenik, penanganan vial dan isi harus
dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum dibuka
hati-hati untuk menghindari kontaminasi]
dalam lemari pembeku. Sukrosa BPFI; tidak boleh
Rekonstitusi seluruh isi, simpan larutan dalam lemari
dikeringkan. Untuk penggunaan kuantitatif, gunakan
- 71 -

1,000 mg per mg zat. Simpan dalam wadah tertutup Baku pembanding Endotoksin BPFI; [Catatan
rapat. Lakukan pengerjaan di bawah kelembapan 60%. Bersifat pirogenik, penanganan vial dan isi harus hati-
hati untuk menghindari kontaminasi]. Rekonstitusi
Zat mudah teroksidasi Pada 100 ml zat, tambahkan seluruh isi, simpan larutan dalam lemari pendingin
10 ml asam sulfat 2 N, didihkan. Untuk kemasan zat dan gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang
isi kurang dari 50 mL, tambahkan 0,4 mL kalium belum dibuka dalam lemari pembeku. 1,4-
permanganat 0,02 M, didihkan selama 5 menit; untuk Benzokuinon BPFI; tidak boleh dikeringkan sebelum
kemasan zat isi 50 mL atau lebih, tambahkan 0,2 mL digunakan, simpan dalam wadah tertutup rapat dalam
kalium permanganat 0,02 M, didihkan selama 5 menit. lemari pendingin, terlindung dari cahaya. Dapat
Jika terbentuk endapan, dinginkan dalam tangas es disonikasi untuk melarutkan. Sukrosa BPFI; tidak
sampai suhu ruang, dan saring melalui penyaring kaca boleh dikeringkan sebelum digunakan, simpan dalam
masir: warna merah muda tidak hilang dengan wadah tertutup rapat.
sempurna. Sebagai alternatif lakukan uji Karbon
organik total <875> untuk Air steril. Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 0,25 unit
Endotoksin FI per mL.
Karbon organik total <875> Memenuhi syarat.
Sebagai alternatif lakukan uji Zat mudah teroksidasi. Konduktivitas air <925> Air ruahan Memenuhi
syarat.
Konduktivitas air <925> Memenuhi syarat.
Karbon organik total<875> Tidak lebih dari 0,5 mg
Sterilitas <71> Memenuhi syarat. per liter.

Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 0,25 unit Uji batas mikroba <51> Angka lempeng total tidak
Endotoksin FI per mL Air untuk Irigasi. lebih dari 10 koloni per 100 mL. Gunakan metoda
penyaringan membran dengan porositas tidak lebih
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah kaca atau besar dari 0,45 µm, volume sampel minimal 100 mL,
plastik dosis tunggal, sebaiknya dari kaca Tipe I atau media pertumbuhan Plat Count Agar, waktu inkubasi
Tipe II. Kemasan dapat berisi lebih dari 1 L dan 48-72 jam, suhu inkubasi 30 – 35 º.
dirancang untuk kosong dengan cepat.

Penandaan Pada etiket dicantumkan tidak AKARBOSA


mengandung antimikroba dan zat tambahan lain, Acarbose
cantumkan dengan jelas “hanya untuk irigasi” dan “
tidak untuk injeksi”.

AIR UNTUK INJEKSI


Water for Injection

Air untuk injeksi adalah air yang telah dimurnikan


dengan cara destilasi atau proses pemurnian lain yang O-4,6-Dideoksi-4-{[(1S,4R,5S,6S)-4,5,6-trihidroksi-
setara atau lebih baik dari destilasi untuk menurunkan 3-(hidroksimetil)-2-sikloheksan-1-il]amino}-α-D-
kontaminan mikroba dan zat kimia. Air untuk injeksi glukopiranosil-(1→4)-O-α-D-glukopiranosil-(1→4)-
diolah dari air yang memenuhi persyaratan Air Murni. D-glukosa [56180-94-0]
Tidak mengandung zat tambahan lain. [Catatan Air C25H43NO18 BM 645,60
untuk injeksi digunakan untuk penyiapan larutan
parenteral. Jika digunakan untuk penyiapan larutan Akarbosa dihasilkan dari galur Actinoplanes utahensis
parental dengan sterilisasi akhir, gunakan alat yang tertentu, mengandung tidak kurang dari 95,0% dan
sesuai yang dapat meminimalkan pertumbuhan tidak lebih dari 102,0%, C25H43NO18, dihitung
mikroba, atau air dibuat steril, dan kemudian terhadap zat anhidrat.
dilindungi dari kontaminan mikroba. Untuk larutan
parenteral yang disiapkan secara aseptik dan tidak Pemerian Serbuk putih sampai hampir putih.
disterilkan dengan filtrasi atau dalam wadah akhir, air
dibuat steril dan kemudian dilindungi dari Kelarutan Larut dalam air.
kontaminan mikroba].
Baku pembanding Akarbosa BPFI; tidak boleh
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau. dikeringkan. Simpan dalam wadah tertutup rapat,
terlindung cahaya, dalam lemari pendingin, bersifat
- 72 -

higroskopis. Campuran Senyawa Sejenis Akarbosa Cemaran B 0,8 1,6 0,5


BPFI. Cemaran C 1,2 1 1,5
Cemaran D 0,5 1,33 1,0
Identifikasi Cemaran E 1,7 0,8 0,2
A. Spektrum serapan inframerah zat yang Cemaran F 1,9 0,8 0,3
didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan Cemaran G 2,2 0,8 0,3
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang Cemaran H 0,6 1 0,2
Cemaran lain - - 0,2
sama seperti pada Akarbosa BPFI.
Total cemaran - - 3,0
B. Waktu retensi puncak utama Larutan uji sesuai
dengan Larutan baku, seperti yang diperoleh pada
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Penetapan kadar.
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>.
Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,2%.
Larutan A Buat campuran larutan kalium fosfat
Lakukan penetapan menggunakan 1,0 g zat.
monobasa P dan natrium fosfat dibasa P dengan kadar
berturut-turut 0,6 mg per mL dan 0,35 mg per mL
Logam berat <371> Metode III Tidak lebih dari
dalam air.
20 bpj.
Fase gerak Campuran asetonitril P-Larutan A
(3:1), saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
Rotasi jenis <1081> +168º sampai +183º. Lakukan
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
penetapan menggunakan 10 mg zat per mL dalam air.
pada Kromatografi <931>.
Larutan kesesuaian sistem Timbang saksama
pH <1071> Antara 5,5 dan 7,5; lakukan penetapan
sejumlah Campuran Kesesuaian Sistem Akarbosa
menggunakan larutan 50 mg per mL.
BPFI, larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar
lebih kurang 20 mg per mL.
Air <1031> Metode Ic, Tidak lebih dari 4,0%.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Akarbosa
BPFI, larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar
Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara
lebih kurang 20 mg per mL.
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat,
Kromatografi <931>.
larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar lebih
Fase gerak, Larutan kesesuaian sistem, Larutan uji,
kurang 20 mg per mL.
dan Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja
Penetapan kadar.
tinggi dilengkapi dengan detektor 210 nm dan kolom
Enceran larutan uji Pipet lebih kurang 1 mL
4,0 mm × 25 cm berisi bahan pengisi L8. Pertahankan
Larutan uji, masukkan ke dalam labu tentukur
100-mL, encerkan dengan air sampai tanda. suhu kolom pada 35. Laju alir lebih kurang 2,0 mL
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah per menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan uji dan kesesuaian sistem, rekam kromatogram, dan ukur
Enceran larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam respons puncak seperti tertera pada Prosedur:
kromatogram dan ukur semua respons puncak. Hitung perbandingan puncak terhadap lembah cemaran A
persentase masing-masing cemaran dalam zat dengan tidak kurang dari 1,2.
rumus: Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
 ri   1 
      100 kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
 rA   F 
persentase akarbosa, C25H43NO18, dalam zat dengan
rumus:

ri adalah respons puncak masing-masing cemaran  rU   CS 


dalam Larutan uji; rA adalah respons puncak utama       100
akarbosa dalam Enceran larutan uji; F adalah faktor  rS   CU 
respons relatif untuk masing-masing puncak cemaran.
Masing-masing cemaran dan total cemaran tidak lebih rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan
dari batas yang tertera pada Tabel. uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Akarbosa BPFI
dalam mg per mL Larutan baku; CU adalah kadar
Tabel akarbosa dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan
bobot yang ditimbang.
Nama Waktu Faktor Batas
retensi respons (%)
relatif relatif Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Cemaran A 0,9 1 0,6 rapat.
- 73 -

Fase gerak Campuran Larutan A-Larutan B


(40:60), saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
TABLET AKARBOSA penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
Acarbose Tablets pada Kromatografi <931>.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Akarbosa
Tablet Akarbosa mengandung akarbosa, C25H43NO18, BPFI, larutkan, dan encerkan dengan Fase gerak
tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0% hingga kadar lebih kurang 0,02 %.
dari jumlah yang tertera pada etiket. Larutan uji Timbang dan serbukkan tidak kurang
dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk
Baku pembanding Akarbosa BPFI; tidak boleh setara dengan lebih kurang 50 mg akarbosa, masukkan
dikeringkan. Simpan dalam wadah tertutup rapat, ke dalam labu tentukur 250-mL, larutkan dan encerkan
terlindung cahaya, dalam lemari pendingin, bersifat dengan Fase gerak sampai tanda, kocok secara
higroskopis. mekanik dan saring.
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
Identifikasi Waktu retensi puncak utama dilengkapi dengan detektor 210 nm dan kolom 4,6 mm
kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku x 25 cm berisi bahan pengisi L18, dengan ukuran
seperti yang diperoleh pada Penetapan kadar. partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang 1,0 mL per menit.
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam
Disolusi <1231> kromatogram, dan ukur respons puncak seperti tertera
Media disolusi: 500 mL Dapar fosfat pH 3,0. pada Prosedur: simpangan baku relatif pada
Alat tipe 1: 100 rpm penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%.
Waktu: 30 menit Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
Lakukan penetapan persentase akarbosa, C25H43NO18, volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan
yang terlarut dengan cara Kromatografi cair kinerja Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>. Fase kromatogram, dan ukur respons puncak utama.
gerak, Sistem kromatografi Lakukan seperti pada Hitung persentase akarbosa, C25H43NO18, dalam tablet
Penetapan kadar. dengan rumus:
Dapar fosfat pH 3,0 Timbang 1,36 gram kalium
dihidrogen fosfat P dan pipet 2 mL trietilamin P,  rU   CS 
masukkan ke dalam labu tentukur 1000-mL, larutkan      100
dan encerkan dengan air sampai tanda. Atur pH hingga  rS   CU 
3,0 dengan penambahan asam fosfat P dan saring.
Pelarut Campuran Dapar fosfat pH 3,0-asetonitril rU dan rs berturut-turut adalah respons puncak Larutan
P (15:85). uji dan Larutan baku; Cs adalah kadar Akarbosa BPFI
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Akarbosa
dalam mg per mL Larutan baku; CU adalah kadar
BPFI, larutkan dan encerkan dengan Pelarut hingga
akarbosa dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan
kadar lebih kurang 0,002%.
jumlah yang tertera pada etiket.
Larutan uji Encerkan sejumlah alikot dengan
Pelarut hingga kadar lebih kurang 0,002%.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah terlindung
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
cahaya dan kelembapan.
volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
ALBENDAZOL
persentase, C25H43NO18, yang terlarut.
Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak Albendazole
kurang dari 70% (Q), C25H43NO18, dari jumlah yang
tertera pada etiket.

Syarat lain Memenuhi syarat seperti tertera pada


Tablet.
Metil5-(propiltio)-2-benzimidazolkarbamat [54965-
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara 21-8]
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada C12H15N3O2S BM 265,33
Kromatografi <931>.
Larutan A Timbang 0,6 g kalium dihidrogen fosfat Albendazol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan
P dan 0,35 g natrium dihidrogen fosfat P, masukkan tidak lebih dari 102,0%,C12H15N3O2S, dihitung
ke dalam labu tentukur 1000-mL, larutkan, dan terhadap zat kering.
encerkan dengan air sampai tanda.
Larutan B Gunakan asetonitril P. Pemerian Serbuk putih sampai kuning pucat.
- 74 -

Tiap mL asam perklorat 0,1 N


Kelarutan Larut dalam asam format anhidrat; sangat setara dengan 26,53 mg C12H15N3O2S
sukar larut dalam eter dan dalam metilen klorida;
praktis tidak larut dalam etanol dan dalam air. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
rapat, pada suhu ruang terkendali.
Baku pembanding Albendazol BPFI; tidak boleh
dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat dan
terlindung cahaya. TABLET ALBENDAZOL
Albendazole Tablets
Identifikasi
A. Spektrum serapan inframerah zat yang telah Tablet Albendazol mengandung Albendazol,
dikeringkan dan didispersikan dalam minyak mineral P C12H15N3O2S, tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih
menunjukkan maksimum hanya pada bilangan dari 110,0 % dari jumlah yang tertera pada etiket.
gelombang yang sama seperti pada Albendazol BPFI.
B. Harga Rf bercak utama Larutan uji sesuai dengan Baku pembanding Albendazol BPFI; tidak boleh
Larutan bakuseperti yang diperoleh pada Cemaran dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat dan
organik. terlindung cahaya. Parbendazol BPFI; tidak boleh
dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat
Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5%; dalam lemari pendingin.
lakukan pengeringan pada suhu 105o selama 4 jam.
Identifikasi
Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,2%. A. Encerkan sebagian filtrat pada Larutan uji dan
Larutan baku persediaan yang diperoleh pada
Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara penetapan disolusi dengan Metanol diasamkan hingga
Kromatografi lapis tipis seperti tertera pada diperoleh kadar albendazol lebih kurang 10 µg per mL.
Kromatografi <931>. Spektrum serapan ultraviolet larutan menunjukkan
Fase gerak Campuran kloroform P-asam asetat maksimum dan minimum pada panjang gelombang
glasial P-eter P (60:10:10). yang sama seperti pada Albendazol BPFI.
Larutan baku Timbang sejumlah Albendazol BPFI B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
masukkan ke dalam labu tentukur yang sesuai, Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang
larutkan dan encerkan dengan asam asetat glasial P diperoleh pada Penetapan kadar.
hingga kadar lebih kurang 5 mg per mL.
Enceran larutan baku Pipet 1 mL Larutan baku ke Disolusi <1231>
dalam labu tentukur 100-mL, encerkan dengan asam Media disolusi: 900 mL asam hidroklorida 0,1 N
asetat glasial P sampai tanda. Alat tipe 2 : 50 rpm
Larutan uji Timbang lebih kurang 50 mg zat, Waktu: 30 menit
masukkan ke dalam labu tentukur 5-mL. Larutkan Metanol diasamkan Masukkan 50 mL metanol P ke
dalam 3,0 mL asam asetat glasial P, encerkan dengan dalam labu tentukur 100-mL, tambahkan 2 mL asam
asam asetat glasial P sampai tanda. hidroklorida P, encerkan dengan metanol P sampai
Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing tanda.
10 μL Larutan uji, Larutan baku dan Enceran larutan Larutan baku Timbang saksama lebih kurang 90 mg
baku pada lempeng kromatografi silika gel P setebal Albendazol BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur
0,25 mm. Masukkan lempeng ke dalam bejana 250-mL, tambahkan 10 mL Metanol diasamkan,
kromatograf yang telah dijenuhkan dengan Fase kocok hingga larut. Encerkan dengan asam
gerak, biarkan merambat hingga tiga per empat tinggi hidroklorida 0,1 N sampai tanda. Pipet 5,0 mL larutan,
lempeng. Angkat lempeng, tandai batas rambat dan masukkan ke dalam labu tentukur 200-mL encerkan
biarkan mengering. Amati bercak di bawah cahaya dengan natrium hidroksida 0,1 N sampai tanda.
ultraviolet 254 nm. Tidak satupun bercak lain selain Larutan uji Pipet 10 mL alikot yang telah disaring
bercak utama dari kromatogram Larutan uji lebih dengan penyaring yang sesuai, masukkan ke dalam
besar ataulebih intensif dari bercak utama labu tentukur 250-mL, encerkan dengan natrium
kromatogram Enceran larutan baku (0,5%). hidroksida 0,1 N sampai tanda.
Prosedur Lakukan penetapan jumlah,
Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 250 C12H15N3O2S, yang terlarut dengan mengukur segera
mg zat, larutkan dalam 100 mL asam asetat glasial P, serapan Larutan uji dan Larutan baku pada panjang
jika perlu hangatkan hati-hati sampai larut. Dinginkan gelombang serapan maksimum dan minimum lebih
dan titrasi dengan asam perklorat 0,1 N LV. Tetapkan kurang 308 nm dan 350 nm menggunakan natrium
titik akhir secara potensiometrik. Lakukan penetapan hidroksida 0,1 N sebagai blangko. Hitung jumlah
blangko. dalam mg, C12H15N3O2S, yang terlarut dengan rumus:
- 75 -

 Au  Larutan baku Timbang saksama lebih kurang 100


22,5 C   mg Albendazol BPFI, masukkan ke dalam labu
 As  tentukur 50-mL. Tambahkan 5 mL Asam sulfat dalam
metanol dan 25 mL metanol P, kocok hingga larut,
C adalah kadar Albendazol BPFI dalam µg per mL encerkan dengan metanol P sampai tanda. Pipet 5 mL
Larutan baku; AU dan AS berturut–turut adalah larutan, masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL,
perbedaan serapan pada panjang gelombang 308 nm tambahkan 5,0 mL Larutan baku internal, encerkan
dan 350 nm dari Larutan uji dan Larutan baku. dengan metanol P sampai tanda.
Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak Larutan uji Timbang dan serbuk haluskan tidak
kurang dari 80% (Q), C12H15N3O2S, dari jumlah yang kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah
tertera pada etiket. serbuk tablet setara dengan lebih kurang 100 mg
albendazol, masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL.
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat Tambahkan 5 mL asam sulfat dalam metanol dan 20
Prosedur untuk keseragaman kandungan mL metanol P, kocok dengan pengocok mekanik
Metanol diasamkan dan Larutan baku Lakukan selama lebih kurang 15 menit. Encerkan dengan
seperti tertera pada uji Disolusi. metanol P sampai tanda, saring. Buang lebih kurang
Larutan uji Masukkan 1 tablet ke dalam labu tentukur 15 mL filtrat pertama. Pipet 5,0 mL filtrat, masukkan
500-mL, tambahkan 300 mL Metanol diasamkan, ke dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan 5,0 mL
kocok dengan pengocok mekanik selama lebih kurang Larutan baku internal, encerkan dengan metanol P
30 menit. Encerkan dengan Metanol diasamkan sampai sampai tanda.
tanda. Saring larutan, buang lebih kurang 20 mL filtrat Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja
pertama. Pipet 4 mL filtrat, masukkan ke dalam labu tinggi dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom
tentukur 200-mL, encerkan dengan natrium hidroksida berukuran 4,6 mm x 25 cm berisi bahan pengisi L1
0,1 N sampai tanda. dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang 2
Prosedur Ukur segera secara bersamaan serapan mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap
Larutan uji dan Larutan baku pada panjang gelombang Larutan baku, rekam kromatogram, dan ukur respons
maksimum dan minimum pada 308 nm dan 350 nm puncak seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R,
menggunakan natrium hidroksida 0,1 N sebagai antara puncak albendazol dan parbendazol tidak
blangko. Hitung jumlah dalam mg, C12H15N3O2S, per kurang dari 2,0; faktor ikutan tidak lebih dari 2,0;
tablet dengan rumus: efisiensi kolom tidak kurang dari 1000 lempeng
teoritis dan simpangan baku relatif pada penyuntikan
ulang tidak lebih dari 2,0%.
 Au 
25 C   Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan
 As  Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
kromatogram, dan ukur respons puncak utama. Hitung
C adalah kadar Albendazol BPFI dalam µg per mL jumlah dalam mg, Albendazol, C12H15N3O2S, dalam
Larutan baku; AU dan AS berturut-turut adalah tablet dengan rumus :
perbedaan serapan pada panjang gelombang 308 nm
dan 350 nm dari Larutan uji dan Larutan baku.
R 
500C  u 
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
 Rs 
Kromatografi <931>.
Fase gerak Timbang 0,5 g amonium fosfat C adalah kadar Albendazol BPFI dalam mg per mL
monobasa P, larutkan dalam 400 mL air. Tambahkan Larutan baku; RU dan RS berturut-turut adalah
600 mL metanol P, campur, dan saring. Buang 15 mL perbandingan respons puncak analit terhadap puncak
filtrat pertama, awaudarakan. Jika perlu lakukan baku internal dari Larutan uji dan Larutan baku.
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
pada Kromatografi <931>. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Asam sulfat dalam metanol Campuran metanol P - rapat, pada suhu ruang terkendali.
asam sulfat P (99:1).
Larutan baku internal Timbang saksama lebih Penandaan Cantumkan jika hanya ditujukan untuk
kurang 150 mg Parbendazol BPFI, masukkan ke penggunaan pada kesehatan hewan.
dalam labu tentukur 50-mL. Tambahkan 5 mL asam
sulfat dalam metanol dan 25 mL metanol P, kocok
hingga larut, encerkan dengan metanol P sampai
tanda.
- 76 -

ALENDRONAT NATRIUM Larutan 9-fluoroenilmetil kloroformat Timbang


Alendronate Sodium sejumlah 9-fluoroenilmetil kloroformat, larutkan
dalam asetonitril P hingga kadar lebih kurang 4 mg
per mL. Larutan dibuat segar.
Larutan A Buat campuran Dapar-asetonitril P
(17:3). Saring dan awaudarakan.
Larutan B Buat campuran asetonitril P-Dapar
(7:3). Saring dan awaudarakan.
Fase gerak Gunakan variasi campuran Larutan A
dan Larutan B seperti tertera pada Sistem
Natrium trihidrogen (4-amino-1-hidroksi butiliden)-
kromatografi.
difosfonat,trihidrat[121268-17-5]
Larutan baku persediaan Timbang saksama
C4H12NNaO7P2. 3H2O BM 325,12
sejumlah Alendronat Natrium BPFI, larutkan dalam
Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,6 mg per mL.
Alendronat Natrium mengandung tidak kurang dari
Larutan baku Pipet 5 mL Larutan baku persediaan
98,0% dan tidak lebih dari 102,0%, C4H12NNaO7P2,
ke dalam tabung sentrifuga polipropilen 50 mL
dihitung terhadap zat kering.
bertutup ulir yang berisi 5 mL Larutan borat.
Tambahkan 5 mL asetonitril P dan 5 mL Larutan 9-
Pemerian Serbuk putih mudah mengalir.
fluoroenilmetil kloroformat, kocok selama 45 detik.
Biarkan pada suhu ruang selama 30 menit. Tambahkan
Kelarutan Larut dalam air; sangat sukar larut dalam
20 mL metilen klorida P, kocok kuat selama 1 menit.
dimetil sulfoksida, dalam metil alkohol dan dalam
Sentrifus selama 5-10 menit, gunakan bagian yang
propilen glikol; praktis tidak larut dalam aseton, dalam
jernih di atas lapisan air.
asetonitril, dalam etanol, dalam kloroform dan dalam
Enceran larutan baku Ukur saksama sejumlah
isopropil alkohol.
volume Larutan baku persediaan, encerkan dengan
Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,6 µg per mL.
Baku pembanding Alendronat Natrium BPFI; tidak
Pipet 5 mL larutan, lakukan seperti tertera pada
boleh dikeringkan. Merupakan bentuk trihidrat dari
Larutan baku, mulai dari ”ke dalam tabung sentrifuga
alendronat natrium. Simpan dalam wadah tertutup
polipropilen 50 mL bertutup ulir”.
rapat. Setelah dibuka, simpan dalam desikator pada
Blangko Gunakan 5 mL Pengencer, lakukan seperti
suhu ruang.
tertera pada Larutan baku, mulai dari ”ke dalam
tabung sentrifuga 50 mL polipropilen bertutup ulir”.
Identifikasi
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 30 mg
A. Spektrum serapan inframerah zat yang
zat, masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL, larutkan
didispersikan dalam minyak mineral P menunjukkan
dan encerkan dengan Pengencer sampai tanda, kocok.
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
Pipet 5 mL larutan dan lakukan seperti tertera pada
sama seperti pada Alendronat Natrium BPFI.
Larutan baku, mulai dari ”ke dalam tabung sentrifuga
B. Menunjukkan reaksi nyala Natrium seperti
polipropilen bertutup ulir 50 mL”.
tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi
Susut pengeringan <1121> Tidak kurang dari 16,1%
dilengkapi dengan detektor 266 nm dan kolom 4,1 mm
dan tidak lebih dari 17,1%; lakukan pengeringan pada
x 25 cm yang berisi bahan pengisi L21. Laju alir lebih
tekanan tidak lebih dari 5 mmHg, pada suhu 140º
kurang 1,8 mL per menit. Pertahankan suhu kolom
hingga bobot tetap.
pada 45°. Kromatograf diprogram sebagai berikut:
Logam berat <371> Metode V Tidak lebih dari 10 bpj.
Waktu Larutan A Larutan B Eluasi
(menit) (%) (%)
Cemaran organik Masing-masing cemaran tidak
0 100 0 Kesetimbangan
lebih dari 0,1% dan total cemaran tidak lebih dari 0-15 100 → 50 0 → 50 Gradien Linier
0,5%. Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi 15-25 50 → 0 50 → 100 Gradien Linier
cair kinerja tinggi seperti tertera pada Kromatografi
<931>. 25-27 0 → 100 100 → 0 Gradien Linier
Larutan borat dan Pengencer Lakukan seperti 27-32 100 0 Isokratik
tertera pada Penetapan kadar.
Dapar Timbang 5,88 g natrium sitrat dihidrat P dan Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku dan
2,84 g natrium fosfat dibasa anhidrat P masukkan ke Enceran larutan baku, rekam kromatogram dan ukur
dalam labu tentukur 2000-mL, larutkan dan encerkan respons puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor
dengan air sampai tanda. Atur pH hingga 8 dengan ikutan puncak utama pada kromatogram Larutan baku
penambahan asam fosfat P. Saring melalui penyaring tidak lebih dari 2,0;puncak Enceran larutan baku pada
dengan porositas 0,5 μm atau lebih kecil. waktu retensi yang sama dengan Larutan baku harus
- 77 -

mempunyai perbandingan “signal to noise” tidak Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
kurang dari 3. Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah dilengkapi dengan detektor 266 nm dan kolom
volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan uji dan 4,1 mm x 25 cm berisi bahan pengisi L21. Laju alir
Blangko, rekam kromatogram dan ukur respons semua lebih kurang 1,2 mL per menit. Pertahankan suhu
puncak. Abaikan setiap puncak yang sesuai dengan kolom pada 35º. Lakukan kromatografi terhadap
puncak Blangko. Hitung persentase masing-masing Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons
cemaran dalam zat dengan rumus: puncak seperti tertera pada Prosedur: efisiensi kolom
tidak kurang dari 1500 lempeng teoritis; faktor ikutan
r  tidak lebih dari 1,5; simpangan baku relatif pada
100  i  penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%.
 rS  Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku,
ri adalah respons puncak masing-masing cemaran;rS Larutan uji dan Blangko, rekam kromatogram dan
adalah jumlah semua respons puncak cemaran dan ukur respons puncak utama. Hitung jumlah dalam mg
puncak utama. alendronat natrium, C4H12NNaO7P2, dalam zat yang
digunakan dengan rumus:
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada r 
Kromatografi <931>. DCS  U 
Dapar Larutkan 14,7 g natrium sitratdihidrat P dan  rS 
7,05 g natrium fosfat dibasa anhidrat P dalam air
hingga 1000 mL, atur pH hingga 8 dengan D adalah faktor pengenceran Larutan uji persediaan;
penambahan asam fosfat P. CS adalah kadar Alendronat Natrium BPFI dihitung
Pengencer Larutkan 29,4 g natrium sitrat dihidrat sebagai bentuk anhidrat dalam mg per mL Larutan
P dalam air hingga 1000 mL. baku persediaan; rU dan rS berturut-turut adalah
Larutan borat Larutkan 19,1 g natrium borat P respons puncak dari Larutan uji dan Larutan baku.
dalam air hingga 1000 mL.
Larutan 9-Fluoroenilmetil kloroformat Timbang Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
sejumlah 9-fluoroenilmetil kloroformat, larutkan baik, pada suhu ruang.
dalam asetonitril P hingga kadar lebih kurang 0,5 mg
per mL. Larutan dibuat segar.
Fase gerak Buat campuran Dapar-asetonitril P- TABLET ASAM ALENDRONAT
metanol P (70:25:5), saring dan awaudarakan. Jika
Alendronic Acid Tablets
perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian sistem
seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Tablet Asam Alendronat mengandung Alendronat
Larutan baku persediaan Timbang saksama
Natrium, yang setara dengan asam alendronat,
sejumlah Alendronat Natrium BPFI, larutkan dalam
C4H13NO7P2, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih
Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,1 mg per mL.
dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Larutan baku Pipet 5 mL Larutan baku persediaan
ke dalam tabung sentrifuga polipropilen 50 mL
Baku pembanding Alendronat Natrium BPFI; tidak
bertutup ulir yang berisi 5 mL Larutan borat.
boleh dikeringkan. Merupakan bentuk trihidrat dari
Tambahkan 5 mL Larutan 9-fluoroenilmetil kloroformat
alendronat natrium. Simpan dalam wadah tertutup
dan kocok selama 30 detik. Diamkan pada suhu ruang
rapat, setelah dibuka, simpan dalam desikator pada
selama 25 menit. Tambahkan 25 mL metilen klorida P,
suhu ruang.
kocok kuat selama 1 menit. Sentrifus selama 5-10
menit. Gunakan bagian yang jernih di atas lapisan air.
Identifikasi Waktu retensi puncak utama
Blangko Gunakan 5 mL Pengencer, lakukan seperti
kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku
tertera pada Larutan baku, dimulai dengan ”ke dalam
seperti yang diperoleh pada Penetapan kadar.
tabung sentrifuga polipropilen 50 mL bertutup ulir”.
Larutan uji persediaan Timbang saksama lebih
Disolusi <1231>
kurang 25 mg zat, masukkan ke dalam labu tentukur
Uji 1
250-mL, larutkan dan encerkan dengan Pengencer
Media disolusi: 900 mL air
sampai tanda.
Alat tipe 2: 50 rpm.
Larutan uji Pipet 5 mL Larutan uji persediaan,
Waktu: 15 menit.
lakukan seperti tertera pada Larutan baku dimulai
Prosedur Lakukan penetapan jumlah C4H13NO7P2
dengan ”ke dalam tabung sentrifuga polipropilen 50
yang terlarut dengan cara Kromatografi cair kinerja
mL bertutup ulir”.
tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>.
- 78 -

Dapar dan Fase gerak Buat seperti tertera pada Larutan uji dan Larutan baku. [Catatan: 827,1 adalah
Penetapan kadar. faktor konversi bobot molekul C4H13NO7P2/
Larutan 9-Fluorenilmetil kloroformat 0,05% C4H12NNaO7P2) dikalikan dengan volume media (900
Timbang lebih kurang 100 mg 9-fluorenilmetil mL)]
kloroformat, masukkan ke dalam labu tentukur 200- Toleransi Dalam waktu 15 menit harus larut tidak
mL, larutkan dan encerkan dengan asetonitril P kurang dari 80% (Q) C4H13NO7P2, dari jumlah yang
sampai tanda. Larutan dibuat segar. tertera pada etiket. Untuk tablet dengan etiket dosis
Dapar borat Timbang 6,2 g asam borat P, larutkan mingguan, dalam waktu 15 menit harus larut tidak
dalam lebih kurang 950 mL air, atur pH hingga 9,0 kurang dari 75% (Q) C4H13NO7P2 dari jumlah yang
dengan penambahan natrium hidroksida 1 N, dan tertera pada etiket.
encerkan dengan air hingga 1000 mL.
Pengencer Timbang 176,4 g natrium sitrat dihidrat Uji 2
P, masukkan ke dalam labu tentukur 1000-mL, Jika sediaan harus memenuhi uji ini, pada penandaan
larutkan dan encerkan dengan Media disolusi sampai dicantumkan uji disolusi 2, jika tidak menggunakan uji
tanda. disolusi 1.
Larutan baku persediaan Timbang saksama Media disolusi: 900 mL air
sejumlah Alendronat Natrium BPFI, larutkan dalam Alat tipe 2: 50 rpm.
Media disolusi, encerkan secara kuantitatif dan jika Waktu: 30 menit.
perlu bertahap dengan media disolusi hingga kadar Prosedur: Lakukan penetapan jumlah
seperti larutan disolusi. C4H12NNaO7P2.3H2O yang terlarut seperti tertera pada
Larutan baku Pipet 5 mL Larutan baku persediaan Penetapan Kadar.
ke dalam tabung sentrifuga polipropilen 50 mL Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak
bertutup ulir yang berisi 1,0 mL Pengencer dan 5,0 mL kurang dari 80% (Q) C4H12NNaO7P2.3H2O dari
Dapar borat, campur selama lebih kurang 3 menit. jumlah yang tertera pada etiket.
Tambahkan 4,0 mL Larutan 9-Fluorenilmetil
kloroformat 0,05% dan kocok selama lebih kurang 30 Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.
detik. Diamkan larutan pada suhu ruang selama 25
menit. Tambahkan 25 mL metilen klorida P, dan Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
kocok selama 40 detik. Sentrifus campuran selama 5 Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
menit. Gunakan bagian yang jernih di atas lapisan air. Kromatografi <931>.
Blangko Gunakan 5 mL air, lakukan seperti tertera Pengencer Timbang 29,4 g natrium sitrat dihidrat
pada Larutan baku, dimulai dari ”ke dalam tabung P, masukkan ke dalam labu tentukur 1000-mL,
sentrifuga polipropilen 50 mL bertutup ulir”. larutkan dan encerkan dengan air sampai tanda.
Larutan uji Setelah 15 menit, ambil sejumlah alikot Dapar Timbang 14,7 g natrium sitrat dihidrat P dan
dan sentrifus segera. Pipet 5 mL beningan, lakukan 7,05 g natrium fosfat dibasa anhidrat P, masukkan ke
seperti tertera pada Larutan baku, dimulai dari ”ke dalam labu tentukur 1000-mL, larutkan dalam 900 mL
dalam tabung sentrifuga polipropilen 50 mL bertutup air, atur pH hingga 8,0 dengan penambahan asam
ulir”. fosfat P, encerkan dengan air sampai tanda.
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada Larutan 9-Fluorenilmetil kloroformat 0,1%
Kromatografi <931>. Lakukan seperti tertera pada Timbang lebih kurang 250 mg 9-fluorenilmetil
Penetapan kadar. Lakukan kromatografi terhadap kloroformat, masukkan ke dalam labu tentukur 250-
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons mL, encerkan dengan asetonitril P sampai tanda.
puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor kapasitas, Larutan dibuat segar.
k, tidak kurang dari 2,0; dan simpangan baku relatif Larutan borat Timbang lebih kurang 38,1 g natrium
pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%. borat P, masukkan ke dalam labu tentukur 1000-mL,
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah larutkan dan encerkan dengan air sampai tanda.
volume sama (lebih kurang 50 μL) Larutan baku, Fase gerak Buat campuran Dapar-asetonitril P-
Larutan uji dan Blangko ke dalam kromatograf, rekam metanol P (75:20:5), saring dan awaudarakan. Jika
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian sistem
jumlah dalam mg asam alendronat, C4H13NO7P2, yang seperti tertera pada Kromatografi <931>.
terlarut dengan rumus: Larutan baku persediaan Timbang saksama
sejumlah Alendronat Natrium BPFI, larutkan dan
r  encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih
827,1C  U  kurang 0,03 mg per mL.
 rS  Larutan baku Pipet 5 mL Larutan baku persediaan
ke dalam tabung sentrifuga polipropilen 50 mL
C adalah kadar Alendronat Natrium BPFI dalam mg bertutup ulir yang berisi 5 mL Larutan borat, campur
per mL Larutan baku persediaan; rU dan rS berturut- selama 3 menit. Tambahkan 4 mL Larutan 9-
turut adalah respons puncak yang diperoleh dari Fluorenilmetil kloroformat 0,1%, kocok selama 30
- 79 -

detik. Diamkan larutan pada suhu ruang selama 25 d-atau dl-alfa tokoferol asam suksinat (C33H54O5).
menit. Tambahkan 25 mL metilen klorida P, dan Mengandung tidak kurang dari 96,0% dan tidak lebih
kocok selama 40 detik. Sentrifus larutan selama 10 dari 102,0% masing-masing C29H50O2, C31H52O3, atau
menit. Gunakan bagian yang jernih di atas lapisan air. C33H54O5.
Larutan uji persediaan Masukkan tidak kurang dari
10 tablet ke dalam labu tentukur 1000-mL. Pemerian Praktis tidak berbau dan tidak berasa
Tambahkan 500 mL Pengencer, kocok secara mekanik bentuk alfa tokoferol dan alfa tokoferol asetat berupa
selama 30 menit dan sonikasi selama 5 menit. minyak kental jernih, warna kuning atau kuning
Encerkan dengan Pengencer sampai tanda dan kehijauan. d-Alfa tokoferol asetat dapat berbentuk
sentrifus sebagian dari larutan ini. Encerkan secara padat pada suhu dingin. Alfa tokoferol asam suksinat
kuantitatif sejumlah volume beningan hingga kadar berupa serbuk warna putih; bentuk d-isomer melebur
0,02 - 0,03 mg per mL. pada suhu lebih kurang 75° dan bentuk dl-melebur
Larutan uji Pipet 5 mL Larutan uji persediaan, pada suhu lebih kurang 70°. Golongan alfa
lakukan seperti tertera pada Larutan baku, dimulai tokoferoltidak stabil terhadap udara dan cahaya.
dari ”ke dalam tabung sentrifuga polipropilen 50 mL Bentuk ester stabil terhadap udara dan cahaya.
bertutup ulir”. Golongan alfa tokoferol dan esternya tidak stabil
Blangko Gunakan 5 mL Pengencer, lakukan seperti dalam suasana alkalis. Senyawa dengan asam suksinat
tertera pada Larutan baku, dimulai dari ”ke dalam juga tidak stabil bila dalam bentuk leburan.
tabung sentrifuga polipropilen 50 mL bertutup ulir”.
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada Kelarutan Alfa tokoferol asam suksinat tidak larut
Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi dalam air; sukar larut dalam larutan alkali; larut dalam
dilengkapi dengan detektor 266 nm dan kolom 4,1 mm etanol, dalam eter, dalam aseton dan dalam minyak
x 25 cm yang berisi bahan pengisi L21, pertahankan nabati. Sangat mudah larut dalam kloroform. Bentuk
suhu kolom pada 35º. Laju alir lebih kurang 1 mL per vitamin E lain tidak larut dalam air; larut dalam etanol;
menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku dapat bercampur dengan eter dengan aseton dengan
dan ukur respons puncak seperti tertera pada minyak nabati dan dengan kloroform.
Prosedur: faktor kapasitas, k, tidak kurang dari 2,0 dan
simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang tidak Baku pembanding Alfa Tokoferol BPFI; simpan
lebih dari 2,0%. dalam wadah tertutup rapat terlindung cahaya; setelah
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah ampul dibuka segera ambil zat dan simpan ampul yang
volume sama (lebih kurang 50 μL) Larutan baku, berisi sisa zat dibawah gas inert, dalam wadah tertutup
Larutan uji dan Blangko ke dalam kromatograf, rekam rapat dan terlindung cahaya, tidak boleh dikeringkan
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung sebelum digunakan. Alfa Tokoferol Asetat BPFI;
jumlah dalam mg asam alendronat, C4H13NO7P2 dalam simpan dalam wadah tertutup rapat terlindung cahaya,
tablet yang digunakan dengan rumus: tidak boleh dikeringkan sebelum digunakan, setelah
ampul dibuka segera ambil zat dan simpan ampul yang
r  berisi sisa zat di bawah gas inert, dalam wadah tertutup
0,919 DC  U  rapat, terlindung cahaya. Alfa Tokoferol Asam Suksinat
 rS  BPFI; simpan dalam wadah tertutup rapat dan
terlindung cahaya, tidak boleh dikeringkan sebelum
D adalah faktor pengenceran Larutan baku digunakan.
persediaan; C adalah kadar Alendronat Natrium BPFI
dalam mg per mL Larutan baku persediaan; rU dan rS Identifikasi
berturut-turut adalah respons puncak Larutan uji dan Larutan uji untuk alfa tokoferol asetat [Catatan
Larutan baku. [Catatan 0,919 adalah faktor konversi gunakan alat kaca aktinik rendah]. Timbang saksama
bobot molekul (C4H13NO7P2/ C4H12NNaO7P2)]. lebih kurang 220 mg d- atau dl-alfa tokoferol asetat,
masukkan kedalam labu alas bulat bersumbat kaca 150
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup mL, larutkan dalam 25 mL etanol mutlak P.
rapat, pada suhu antara 15º dan 30º. Tambahkan 20 mL larutan asam sulfat P dalam etanol
P (1 dalam 7), refluks dalam alat yang semua terdiri
dari kaca selama 3 jam, terlindung cahaya matahari.
Dinginkan pindahkan ke dalam labu tentuktur 200-
ALFA TOKOFEROL
mL, encerkan dengan larutan asam sulfat P dalam
Vitamin E etanol P (1 dalam 72 ) sampai tanda dan campur.
Tocopherol Larutan uji untuk alfa tokoferol asam suksinat
[Catatan gunakan alat kaca aktinik rendah]. Timbang
Vitamin E adalah bentuk dari alfa tokoferol saksama sejumlah zat uji setara dengan lebih kurang
(C29H50O2) termasuk d- atau dl-alfa tokoferol 200 mg alfa tokoferol, masukkan kedalam labu alas
(C29H50O2); d-atau dl-alfa tokoferol asetat (C31H52O3); bulat bersumbat kaca 250 mL, larutkan dalam 50 mL
- 80 -

etanol mutlak P dan refluks selama 1 menit. Bila C. Waktu retensi relatif puncak utama kromatogram
larutan sudah mendidih tambahkan 1 g kepingan terhadap baku internal dari larutan uji yang diperoleh
kalium hidroksida P melalui kondensor satu persatu dari penetapan kadar sama seperti pada Larutan baku.
untuk menghindari terbentuknya panas berlebihan
[Perhatian gunakan kacamata pelindung]. Lanjutkan Keasaman Alfa tokoferol asam suksinat memerlukan
refluks selama 20 menit, tanpa didinginkan, tambahkan antara 18,0 dan 19,3 mL natrium hidroksida 0,1 N:
hati-hati 2 mL asam hidroklorida P tetes demi tetes bentuk vitamin E lain memerlukan tidak lebih dari 1,0
melalui kondensor [Catatan untuk menghindari mL natrium hidroksida 0,1 N. Lakukan penetapan
oksidasi udara karena zat dalam pelarut alkali], dengan melarutkan 1,0 g zat uji dalam 25 mL
dinginkan, pindahkan isi labu kedalam corong pisah campuran sama banyak etanol P dan eter P (yang telah
500 mL bilas labu dengan 100 mL air, kemudian dinetralkan terhadap Fenolftalein dengan natrium
dengan 100 mL eter P. Masukkan bilasan dalam hidroksida 0,1 N LV), tambahkan 0,5 mL Fenolftalein
corong pisah. Kocok kuat biarkan memisah, masukkan LP titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N LV hingga
tiap lapisan kedalam dua corong pisah yang berbeda. terjadi warna merah muda lemah yang tidak hilang
Ekstraksi lapisan air dua kali, tiap kali dengan 50 mL setelah dikocok 30 detik.
eter P. Tambahkan ekstrak eter ini pada ekstrak eter
pertama. Kumpulan ekstrak eter dibilas empat kali, Penetapan kadar alfa tokoferol Lakukan penetapan
tiap kali dengan 100 mL air, kemudian uapkan ekstrak dengan cara Kromatografi gas seperti tertera pada
eter diatas tangas air dibawah tekanan atau aliran gas Kromatografi <931>.
nitrogen P hingga tersisa lebih kurang 7 atau 8 mL. Larutan baku internal Timbang sejumlah
Uapkan sisa eter tanpa pemanasan. Larutkan segera heksadesil heksadekanoat P, larutkan dalam n-heksana
residu dalam larutan asam sulfat P dalam etanol P (1 P hingga kadar lebih kurang 1 mg per mL.
dalam 72), pindahkan kedalam labu tentukur 200-mL, Larutan baku [Catatan gunakan alat kaca aktinik
encerkan dengan larutan asam sulfat P dalam etanol P rendah]. Timbang saksama sejumlah alfa tokoferol
sampai tanda, campur. BPFI, larutkan dalam sejumlah larutan baku internal
A. Buat larutan mengandung 10 mg alfa tokoferol hingga kadar lebih kurang 1 mg per mL.
tak teresterifikasi dalam 10 mL etanol mutlak P atau Larutan uji [Catatan gunakan alat kaca aktinik
gunakan 10 mL larutan uji untuk alfa tokoferol asetat rendah]. Timbang saksama lebih kurang 50 mg zat (d-
atau larutan uji untuk alfa tokoferol asam suksinat. atau dl alfa tokoferol), masukan ke dalam labu
Tambahkan dengan digoyang 2 mL asam nitrat P, dan tentukur 50-mL, larutkan dalam larutan baku internal,
panaskan pada suhu lebih kurang 75° selama 15 menit: encerkan dengan larutan baku internal sampai tanda.
terjadi warna merah terang atau jingga. Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
B. Timbang saksama lebih kurang 100 mg alfa Kromatografi <931>. Kromatograf gas dilengkapi
tokoferol tak teresterifikasi larutkan dalam 50 mL eter dengan detektor ionisasi nyala dan kolom kaca
P. Untuk ester d-tokoferol, pipet Larutan uji untuk alfa borosilikat 4 mm x 2m berisi bahan pengisi 2% - 5%
tokoferol asetat atau Larutan uji untuk alfa tokoferol fase cair G2 pada partikel penyangga S1AB80 80 - 100
asam suksinat setara dengan lebih kurang 100 mg zat mesh. Pertahankan suhu kolom pada suhu antara 245 0
uji, masukkan ke dalam corong pisah dan tambahkan dan 2650, suhu injektor dan detektor lebih kurang 10 0
200 mL air. Ekstraksi dua kali, pertama dengan 75 mL lebih tinggi dari suhu kolom; laju alir gas pembawa
eter P, kemudian dengan 25 mL eter P. Masukkan kering disesuaikan hingga diperoleh puncak
kumpulan ekstrak eter ke dalam corong pisah yang heksadesil heksadekanoat, lebih kurang 18 hingga 20
lain. Pada ekstrak eter dari bentuk tak teresterifikasi menit setelah penyuntikan larutan contoh bila
atau alfa tokoferol terhidrolisis tambahkan 20 mL digunakan kolom 2% atau 30 hingga 32 menit bila
larutan kalium heksasianoferat(III) P (1 dalam 10) dan digunakan kolom 5% [Catatan kondisikan kolom
larutan natrium hidroksida P (1 dalam 25), kocok dengan cara seperti tertera pada Kromatografi
selama 3 menit. Bilas ekstrak eter empat kali, tiap kali <931>].
dengan 50 mL air, buang cairan bilasan dan keringkan Uji zat pengganggu Timbang saksama zat uji,
dengan natrium sulfat anhidrat P. Uapkan ekstrak eter larutkan dalam n-heksana P hingga diperoleh larutan
diatas tangas air di bawah tekanan atau aliran gas dengan kadar lebih kurang 1 mg per mL. Suntikkan
nitrogen P hingga tersisa lebih kurang 7-8 mL, sejumlah volume larutan ini yang diukur saksama
kemudian lanjutkan penguapan tanpa pemanasan. hingga diperoleh kromatogram dengan puncak utama
Larutkan segera residu dalam 5,0 mL isooktana P dan tidak kurang dari 50% respon maksimum perekam.
tetapkan rotasi jenis. Hitung rotasi jenis sesuai tertera Dengan cara yang sama suntikkan sejumlah volume
pada Penetapan Rotasi Optik <1081>; c adalah jumlah larutan baku internal yang diukur saksama. Bila
gram tokoferol total yang diperoleh pada Penetapan sebuah puncak kromatogram zat uji mempunyai waktu
kadar dalam tiap 100 mL larutan uji: bentuk d-isomer retensi sama dengan heksadesil heksadekanoat, buat
mempunyai rotasi jenis tidak kurang dari +240 suatu faktor koreksi pengenceran atau atenuasi dan
sedangkan bentuk dl tidak menunjukan rotasi optik. tentukan luas yang disebabkan oleh komponen
penggangu yang harus dikurangkan dari luas puncak
- 81 -

larutan baku internal yang diperoleh pada larutan uji


seperti tertera pada Prosedur. Penandaan Pada etiket tertera bentuk kimia d- atau
Kesesuaian sistem Suntikkan sejumlah larutan dl-. Aktivitas vitamin E dapat dinyatakan sebagai
campuran dalam n-heksana P dengan kadar 1 mg per jumlah eqivalen d-alfa tokoferol dalam mg per g
mL masing-masing Alfa Tokoferol BPFI dan Alfa berdasarkan hubungan unit dan bobot.
Tokoferol Asetat BPFI seperti tertera pada prosedur
hingga diperoleh resolusi, R, tidak kurang dari 1,0.
Kalibrasi Suntikkan sejumlah larutan baku, rekam ALOKSIPRIN
luas puncak seperti tertera pada prosedur. Hitung Aloxiprin
faktor respons relatif, F, dari Larutan baku dengan
rumus: Aloksiprin [9014-67-9]

 AS  CD  Aloksiprin mengandung tidak kurang dari 7,5% dan


   tidak lebih dari 8,5% aluminium (Al) dan tidak kurang
 AD  CS  dari 79,0% dan tidak lebih dari 87,4% salisilat total,
dihitung sebagai asam o-asetilsalisilat, C9H8O4,
CD dan CS berturut-turut adalah kadar heksadesil masing-masing dihitung terhadap zat kering.
heksadekanoat P dan Alfa Tokoferol BPFI dalam mg
Pemerian Serbuk halus; putih atau agak merah muda.
per mL Larutan baku. Kemudian suntikkan berturut-
turut sejumlah sediaan baku untuk memastikan bahwa Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, dalam etanol,
faktor respon relatif, F, tetap sekitar 2,0%. dan dalam eter.
Prosedur Suntikkan sejumlah volume (2 hingga 5
μL) Larutan uji ke dalam kromatograf gas yang sesuai, Baku pembanding Asam Salisilat BPFI; tidak boleh
rekam kromatogram hingga diperoleh sekurang- dikeringkan sebelum digunakan, simpan dalam wadah
kurangnya 50% respon maksimum perekam. Ukur tertutup rapat.
luas dari puncak utama pertama alfa tokoferol dan luas
puncak utama kedua heksadesil heksadekanoat, rekam Identifikasi
harga berturut-turut sebagai aU dan aD. Hitung kadar A. Didihkan 1 g zat dengan 20 mL asam
dalam mg alfa tokoferol dalam vitamin E dengan hidroklorida 2 N, dinginkan, saring dan simpan filtrat.
rumus: Larutkan residu yang diperoleh dalam 10 mL natrium
hidroksida 0,1 N dan netralkan dengan asam asetat 1
N. Pada 1 mL larutan menunjukkan reaksi Salisilat cara
 50 C D  aU 
   A seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
 F  aD  B. Filtrat pada Identifikasi A menunjukkan reaksi
Aluminium sebagai berikut:
CD adalah kadar heksadisil heksadekanoat dalam mg Pereaksi tioasetamida Pada 0,2 mL tioasetamida
per mL Larutan baku; F adalah faktor respons relatif. LP tambahkan 1 mL campuran 15 mL natrium
hidroksida P 8,5%, 5 mL air dan 20 mL gliserol P
Penetapan kadar alfa tokoferol asetat Lakukan 85%, panaskan dalam tangas air selama 20 detik,
penetapan seperti tertera pada Penetapan kadar alfa dinginkan dan gunakan segera.
tokoferol dengan mengganti alfa tokoferol dengan alfa Prosedur Pada filtrat tambahkan 0,5 mL asam
tokoferol asetat dan Alfa Tokoferol BPFI dengan Alfa hidroklorida P 7,3% dan 0,5 mL Pereaksi
Tokoferol Asetat BPFI. tioasetamida: terbentuk endapan putih gelatinous
yang akan larut dengan penambahan natrium
Penetapan kadar alfa tokoferol asam suksinat hidroksida P 8,5%. Tambahkan amonium klorida P
Lakukan penetapan seperti tertera pada Penetapan 10,7%: endapan putih gelatinous terbentuk kembali.
kadar alfa tokoferol dengan mengganti alfa tokoferol
asam suksinat dan Alfa Tokoferol BPFI dengan Alfa Logam berat <371> Metode IV Tidak lebih dari 10
Tokoferol Asam Suksinat BPFI. Kromatogram yang bpj; lakukan penetapan menggunakan 2,0 g zat dan 2
diperoleh pada penetapan kadar menunjukkan waktu mL Larutan baku timbal (10 bpj).
retensi relatif lebih kurang 0,53 untuk alfa tokoferol,
0,62 untuk alfa tokoferol asetat, 0,54 untuk alfa Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 2,0%;
tokoferol asam suksinat dan 1,0 untuk heksadesil lakukan pengeringan di atas fosfor pentoksida P pada
heksadekanoat. tekanan tidak lebih dari 5,25 mmHg, menggunakan 1
g zat.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
rapat, terlindung cahaya. Bentuk d-atau dl-alfa Salisilat terikat Tidak lebih dari 9,5% dihitung
tokoferol dilindungi dengan gas inert. sebagai asam salisilat, C7H6O3, dibandingkan terhadap
asam o-asetilsalisilat yang ditetapkan dengan cara
- 82 -

sebagai berikut: pada 100 mg zat, masukkan ke dalam Blangko Pipet 4 mL besi(III) klorida LP ke dalam
corong pisah yang sesuai, tambahkan 40 mL larutan labu tentukur 50-mL, encerkan dengan air sampai
natrium florida P 0,5% dalam asam hidroklorida 0,1 tanda.
N, kocok selama 5 menit. Diamkan 10 menit sambil Prosedur Ukur serapan Larutan baku dan Larutan
sering dikocok. Ekstraksi enam kali tiap kali dengan uji pada panjang gelombang serapan maksimum 530
20 mL diklorometan P, saring kumpulan ekstrak nm, menggunakan Blangko. Hitung salisilat total
diklorometan melalui natriumsulfat anhidrat P, sebagai C9H8O4.
masukkan ke dalam labu tentukur 200-mL, bilas
natrium sulfat anhidrat P dengan 30 mL diklorometan Tiap 1 g asam salisilat
P dan encerkan bilasan dengan diklorometan P sampai setara dengan 1,305 g C9H8O4
tanda. Pipet 20 mL larutan ke dalam labu tentukur 50-
mL, encerkan dengan diklorometan P sampai tanda. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Ukur serapan larutan pada panjang gelombang serapan baik.
maksimum 308 nm. Hitung jumlah, C7H6O3, dengan
serapan jenis (1%, 1 cm) adalah 293.
TABLET ALOKSIPRIN
Asam asetilsalisilat bebas Tidak lebih dari 0,5% di Aloxiprin Tablet
hitung terhadap salisilat total; lakukan penetapan
sebagai berikut: Pada sejumlah zat yang setara dengan Tablet Aloksipirin mengandung salisilat total tidak
1,0 g salisilat total, tambahkan 50 mL eter P kering, kurang dari 92,5% dan tidak lebih dari 107,5%
kocok selama 30 menit. Saring dengan cepat melalui dihitung sebagai asam o-asetilsalisilat, C9H8O4, dari
kertas saring lipat, masukkan ke dalam labu tentukur jumlah yang tertera pada etiket.
100-mL, bilas kertas saring beberapa kali dengan eter
P kering, encerkan dengan eter P kering sampai tanda. Baku pembanding Asam Salisilat BPFI; tidak boleh
Serapan larutan pada panjang gelombang serapan dikeringkan sebelum digunakan, simpan dalam wadah
maksimum 278 nm tidak lebih dari 0,36. tertutup rapat.
Asam Salisilat Tidak lebih dari 0,15% dihitung Identifikasi Timbang 500 mg serbuk tablet, masukkan
terhadap salisilat total; serapan asam asetilsalisilat ke dalam gelas piala yang sesuai, tambahkan 5 mL
pada panjang gelombang serapan maksimum 308 nm asam hidroklorida P, didihkan dan dinginkan, saring.
tidak lebih dari 0,50. Bilas residu dengan 20 mL air, kumpulkan filtrat dan
hasil bilasan. Gunakan larutan yang diperoleh untuk
Penetapan kadar Aluminium Timbang saksama pengujian sebagai berikut:
lebih kurang 2 g zat, masukkan ke dalam krus silika A. Aluminium
yang telah ditara, panaskan perlahan-lahan sampai Pereaksi tioasetamida Pada 0,2 mL tioasetamida
senyawa organik terurai dan pijarkan sampai bobot LP tambahkan 1 mL campuran 15 mL natrium
tetap pada suhu 1000º. Tiap g sisa pemijaran setara hidroksida P 8,5%, 5 mL air dan 20 mL gliserol P
dengan 529,2 mg Al. 85%, panaskan dalam tangas air selama 20 detik,
dinginkan dan gunakan segera.
Penetapan kadar Salisilat total Prosedur Pada filtrat tambahkan 0,5 mL asam
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Asam hidroklorida P 7,3% dan 0,5 mL Pereaksi
Salisilat BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur yang tioasetamida: terbentuk endapan putih gelatinous
sesuai, larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar yang akan larut dengan penambahan natrium
lebih kurang 0,05%. Pipet 4 mL larutan, masukkan ke hidroksida P 8,5%. Tambahkan amonium klorida P
dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan 4 mL besi(III) 10,7%: endapan putih gelatinous terbentuk kembali.
klorida LP, diamkan selama 30 menit, encerkan dengan B. Netralkan larutan dengan natrium hidroksida 1
air sampai tanda. N, larutan menunjukkan reaksi Salisilat Cara A seperti
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
250 mg zat, masukkan ke dalam gelas piala yang
sesuai, tambahkan 50 mL larutan natrium hidroksida Salisilat bebas Tidak lebih dari 1,5%, dihitung
1 N, didihkan perlahan-lahan sampai larut. Dinginkan, terhadap Salisilat total. Penetapan dilakukan dengan
tambahkan 50 mL air, atur pH antara 2,40 dan 2,50 cara sebagai berikut:
dengan asam hidroklorida 1 N, pindahkan ke dalam Larutan baku Timbang saksama sejumlah Asam
labu tentukur 500-mL, encerkan dengan air sampai Salisilat BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur yang
tanda. Pipet 5 mL larutan ke dalam labu tentukur 50- sesuai, larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar
mL, tambahkan 4 mL besi(III) klorida LP, diamkan lebih kurang 0,036%. Pipet 5 mL larutan, masukkan
selama 30 menit, encerkan dengan air sampai tanda. ke dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan 4,0 mL
besi(III) klorida LP, encerkan dengan dapar asetat pH
- 83 -

2,45 sampai tanda. Diamkan selama 30 menit, encerkan dengan lebih kurang 300 mg Salisilat total, masukkan
dengan air sampai tanda. ke dalam gelas piala yang sesuai, tambahkan 50 mL
Larutan uji Timbang saksama sejumlah serbuk natrium hidroksida 1 N, didihkan hati-hati selama 15
tablet setara dengan 600 mg Salisilat total, masukkan menit, sambil sesekali digoyang. Dinginkan, atur pH
ke dalam gelas piala yang sesuai, tambahkan 50 mL antara 2,40 dan 2,50 dengan penambahan asam
eter P kering, kocok selama 30 menit. Saring dengan hidroklorida 1 N, masukkan ke dalam labu tentukur
cepat melalui kertas saring lipat, bilas kertas saring 500-mL, encerkan dengan air sampai tanda. Saring
beberapa kali dengan eter P kering. Tambahkan pada sebagian suspensi; pipet 5 mL filtrat ke dalam labu
kumpulan filtrat dan bilasan, 10 mL natrium tentukur 50-mL, tambahkan 35 mL dapar asetat pH
hidroksida 1 N, goyangkan dan campur, uapkan eter di 2,45 dan 4,0 mL besi (III) klorida LP, encerkan dengan
atas tangas air. Dinginkan, atur pH antara 2,40 dan air sampai tanda. Diamkam selama 30 menit.
2,50 dengan asam hidroklorida 1 N, masukkan ke Blangko Pipet 4 mL besi (III) klorida LP ke dalam
dalam labu tentukur 100-mL, encerkan dengan air labu tentukur 50-mL, encerkan dengan dapar asetat
sampai tanda. Pipet 20 mL larutan, masukkan ke pH 2,45 sampai tanda.
dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan 4,0 mL Prosedur Ukur serapan Larutan baku dan Larutan
besi(III) klorida LP, encerkan dengan dapar asetat pH uji pada panjang gelombang serapan maksimum 530
2,45 sampai tanda. Biarkan selama 30 menit, bila perlu nm, menggunakan Blangko. Hitung salisilat total
saring. sebagai C9H8O4, dalam serbuk tablet yang digunakan.
Blangko Pipet 4 mL besi (III) klorida LP ke dalam
labu tentukur 50-mL, encerkan dengan dapar asetat Tiap 1 g asam salisilat
pH 2,45 sampai tanda. setara dengan 1,305 g C9H8O4
Prosedur Ukur serapan Larutan uji dan Larutan
baku pada panjang gelombang serapan maksimum 530 Penandaan Pada etiket tertera kandungan senyawa
nm: Serapan Larutan uji tidak boleh lebih besar dari aloksiprin dan kesetaraan jumlah salisilat dihitung
serapan Larutan baku. sebagai asam o-asetilsalisilat, C9H8O4.

Salisilat terikat Tidak lebih dari 15,0%, dihitung


sebagai asam salisilat, C7H6O3, terhadap Salisilat ALOPURINOL
total. Lakukan penetapan dengan cara sebagai berikut: Allopurinol
Timbang saksama sejumlah serbuk tablet setara
dengan 150 mg Salisilat total, masukkan ke dalam
corong pisah yang sesuai, tambahkan 40 mL larutan
natrium florida P 0,5% dalam asam hidroklorida 0,1
N, kocok selama 5 menit. Diamkan 10 menit sambil
sering dikocok. Ekstraksi enam kali tiap kali dengan
20 mL kloroform P, saring kumpulan ekstrak
kloroform melalui natrium sulfat anhidrat P,
1H-Pirazolo[3,4-d]pirimidin-4-ol [315-30-0]
masukkan ke dalam labu tentukur 200-mL, bilas
C5H4N4O BM 136,11
natrium sulfat anhidrat P dengan 30 mL kloroform P
dan encerkan dengan kloroform P sampai tanda. Pipet
Alopurinol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan
20 mL larutan ke dalam labu tentukur 100-mL,
tidak lebih dari 102,0%, C5H4N4O, dihitung terhadap
encerkan dengan kloroform P sampai tanda. Ukur
zat kering.
serapan larutan pada panjang gelombang serapan
maksimum 308 nm. Hitung jumlah asam salisilat,
Pemerian Serbuk halus putih hingga hampir putih;
C7H6O3, dengan serapan jenis (1%, 1 cm) adalah 293.
berbau lemah.
Waktu hancur <1251> Tidak lebih dari 5 menit.
Kelarutan Sangat sukar larut dalam air dan dalam
etanol; larut dalam larutan kalium hidroksida dan
Penetapan kadar
dalam natrium hidroksida; praktis tidak larut dalam
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Asam
kloroform dan dalam eter.
Salisilat BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur yang
sesuai, larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar
Baku pembanding Alopurinol BPFI; tidak boleh
lebih kurang 0,05%. Pipet 4 mL larutan, masukkan ke
dikeringkan; lakukan pengeringan dalam hampa udara
dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan 35 mL dapar
pada suhu 105° selama 5 jam sebelum digunakan,
asetat pH 2,45 dan 4,0 mL besi(III) klorida LP,
simpan dalam wadah tertutup rapat; Senyawa Sejenis A
encerkan dengan air sampai tanda. Diamkan selama 30
Alopurinol BPFI; Senyawa Sejenis B Alopurinol
menit.
BPFI; Senyawa Sejenis C Alopurinol BPFI; Senyawa
Larutan uji Timbang dan serbukkan 20 tablet.
Sejenis D Alopurinol BPFI; Senyawa Sejenis E
Timbang saksama sejumlah serbuk tablet, setara
Alopurinol BPFI.
- 84 -

seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara


Identifikasi Spektrum serapan inframerah zat yang benzaldehid dan benzalazin tidak kurang dari 2,0;
telah dikeringkan didispersikan dalam kalium bromida waktu retensi relatif benzaldehid dan benzalazin
P, menunjukkan maksimum pada bilangan gelombang berturut-turut adalah 1,0 dan 0,8; simpangan baku
yang sama seperti pada Alopurinol BPFI. relatif untuk puncak benzalazin pada penyuntikan
ulang tidak lebih besar dari 15,0 %.
Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5%; Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
lakukan pengeringan dalam hampa udara pada suhu volume sama (lebih kurang 20 μL) Blangko, Larutan
105º selama 5 jam. baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam
kromatogram tidak kurang dari dua kali waktu retensi
Hidrazin Tidak lebih dari 10 bpj. [Catatan Dalam puncak benzaldehid dan ukur semua respons puncak.
kondisi berikut, hidrazin dalam zat uji akan bereaksi Hitung jumlah dalam bpj hidrazin dalam zat
dengan benzaldehid membentuk benzalazin.] Lakukan menggunakan rumus:
penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja
tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>. 𝑟𝑈 𝐶𝑆 32,05
Larutan natrium hidroksida 2 N Timbang lebih ( )( )( ) × 1000
𝑟𝑆 𝐶𝑇 130,12
kurang 8,5 g natrium hidroksida P, larutkan dalam 100
mL air. rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak
Pengencer Campuran Larutan natrium hidroksida 2 benzalazin dari Larutan uji dan Larutan baku; CS
N-metanol P (1:1). adalah kadar dalam µg per mL hidrazin sulfat dalam
Larutan benzaldehid Buat larutan benzaldehid P 40 Larutan hidrazin; CT adalah kadar dalam mg per mL
mg per mL dalam Pengencer. Buat segera sebelum alopurinol dalam Larutan uji; 32,05 dan 130,12
digunakan. berturut-turut adalah bobot molekul hidrazin dan
Larutan hidrazin Timbang saksama lebih kurang 10 hidrazin sulfat; 1000 adalah koefisien konversi dari µg
mg hidrazin sulfat P masukkan ke dalam labu tentukur per mL ke bpj.
50-mL, larutkan dengan Pengencer, sonikasi selama 2
menit dan encerkan dengan Pengencer sampai tanda. Cemaran organik [Catatan Simpan dan masukkan
Encerkan larutan secara kuantitatif dan jika perlu Larutan kesesuaian sistem, Larutan baku, dan
bertahap dengan Pengencer hingga kadar lebih kurang Larutan uji pada suhu 8°, menggunakan autosampler
2,0 µg per mL. berpendingin.] Lakukan penetapan dengan cara
Larutan baku Pipet 5 mL Larutan hidrazin Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
masukkan ke dalam labu yang sesuai, tambahkan 4 Kromatografi <931>.
mL Larutan benzaldehid, campur dan diamkan selama Larutan A Larutkan lebih kurang 1,25 g kalium
2,5 jam pada suhu ruang. Tambahkan 5,0 mL heksan fosfat monobasa P dalam 1000 mL air, saring dan
P dan kocok selama 1 menit. Diamkan hingga lapisan awaudarakan.
terpisah dan gunakan lapisan atas (heksan). Larutan B Gunakan metanol P.
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 250 mg Fase gerak Gunakan variasi campuran
zat, masukkan ke dalam labu yang sesuai dan larutkan Larutan A dan Larutan B seperti tertera pada
dengan 5,0 mL Pengencer. Tambahkan 4 mL Larutan Sistem kromatografi.
benzaldehid, campur dan diamkan selama 2,5 jam Pengencer Campuran Larutan A–Larutan B
pada suhu ruang. Tambahkan 5,0 mL heksan P dan (90:10).
kocok selama 1 menit. Biarkan hingga lapisan terpisah Larutan baku persediaan Timbang saksama
dan gunakan lapisan atas (heksan). masing-masing lebih kurang 5 mg Alopurinol BPFI,
Blangko Buat campuran 5,0 mL Pengencer dan 4 Senyawa Sejenis A Alopurinol BPFI, Senyawa Sejenis
mL Larutan benzaldehid, diamkan selama 2,5 jam B Alopurinol BPFI, Senyawa Sejenis C Alopurinol
pada suhu ruang. Tambahkan 5,0 mL heksan P dan BPFI, Senyawa Sejenis D Alopurinol BPFI, dan
kocok selama 1 menit. Diamkan hingga lapisan Senyawa Sejenis E Alopurinol BPFI, masukkan ke
terpisah dan gunakan lapisan atas (heksan). dalam labu tentukur100-mL. Tambahkan 2,0 mL
Fase gerak Campuran heksan P -isopropil alkohol natrium hidroksida 0,1 N, segera sonikasi dengan
P (95:5). Saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan digoyang selama tidak lebih dari 1 menit hingga larut,
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera tambahkan 80 mL Pengencer, lanjutkan sonikasi
pada Kromatografi <931>. selama 5 menit. Encerkan dengan Pengencer sampai
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi tanda. [Catatan Larutan stabil selama 48 jam jika
dilengkapi dengan detektor 310 nm dan kolom disimpan pada suhu 8°.]
berukuran 4,0 mm x 25 cm yang berisi bahan pengisi Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
L10 dengan ukuran partikel 5 µm. Pertahankan suhu persediaan, masukkan ke dalam labu tentukur yang
kolom pada 30°. Laju alir lebih kurang 1,5 mL per sesuai, encerkan dengan Pengencer hingga kadar
menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, alopurinol lebih kurang 0,5 µg per mL dan masing-
rekam kromatogram dan ukur semua respons puncak masing senyawa sejenis lebih kurang 0,5 µg per mL.
- 85 -

Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 25 mg Alopurinol 1,0 -


zat, masukkan ke dalam labu tentukur 100-mL, Senyawa Sejenis D 4,4 0,2
tambahkan 5,0 mL natrium hidroksida 0,1 N untuk Alopurinol
melarutkan, segera sonikasi sambil digoyang selama Senyawa Sejenis E 4,8 0,2
Alopurinol
tidak lebih dari 1 menit, tambahkan 80 mL Pengencer Etil-(E/Z)-3-(2- 6,5 0,2
dan sonikasi selama 5 menit. Encerkan dengan karbetoksi-2-
Pengencer sampai tanda. sianoetenil)amino-
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi 1H-pirazol-4-
dilengkapi dengan detektor 220 nm dan kolom karboksilat
berukuran 4,6 mm x 25 cm yang berisi bahan pengisi Cemaran lain - 0,1
L1 dengan ukuran partikel 5 µm. Pertahankan suhu Total Cemaran - 1,0
kolom pada 30°. Laju alir lebih kurang 1,0 mL per
menit. Kromatograf diprogram sebagai berikut: Penetapan kadar [Catatan Simpan dan masukkan
Larutan kesesuaian sistem, Larutan baku, Larutan uji
Waktu Larutan A Larutan Eluasi pada suhu 8°, menggunakan autosampler
(menit) (%) B berpendingin.] Lakukan penetapan dengan cara
(%) Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
0-30 90→70 10→30 gradien linier Kromatografi <931>.
30-35 70 30 isokratik Fase gerak Larutkan lebih kurang 1,25 g kalium
35-36 70→90 30→10 gradien linier fosfat monobasa P dalam 1000 mL air, saring dan
36-46 90 10 kesetimbangan
awaudarakan.
kembali
Larutan kesesuaian sistem Timbang saksama
sejumlah Alopurinol BPFI, Senyawa Sejenis B
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam
Alopurinol BPFI, Senyawa Sejenis C Alopurinol
kromatogram dan ukur semua respons puncak seperti
BPFI, masukkan ke dalam tiga labu tentukur terpisah
tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara senyawa
yang sesuai, larutkan dengan sejumlah kecil natrium
sejenis B alopurinol dan senyawa sejenis C alopurinol
hidroksida 0,1 N dan segera encerkan secara
tidak kurang dari 0,8 dan faktor ikutan untuk puncak
kuantitatif dengan Fase gerak hingga kadar masing-
alopurinol tidak lebih dari 1,5.
maisng 0,05 mg per mL. Pipet 1 mL masing-masing
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
ketiga larutan, masukkan ke dalam labu tentukur 100-
volume sama (lebih kurang 40 μL) Larutan baku dan
mL yang sama, encerkan dengan Fase gerak sampai
Larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam
tanda, kocok.
kromatogram dan ukur semua respons puncak. Hitung
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
persentase masing-masing cemaran dalam zat dengan
Alopurinol BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur
rumus:
yang sesuai, larutkan dengan sejumlah kecil natrium
hidroksida 0,1 N dan encerkan segera dengan Fase
𝑟𝑖 𝐶𝑆
( ) ( ) 100 gerak hingga kadar lebih kurang 0,5 mg per mL.
𝑟𝑆 𝐶𝑈 Encerkan larutan secara kuantitatif dengan Fase gerak
hingga kadar alopurinol lebih kurang 0,08 mg per mL.
ri dan rs berturut-turut adalah respons puncak masing- Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 50 mg
masing cemaran dalam Larutan uji dan Larutan baku; zat, masukkan ke dalam labu tentukur 100-mL,
Cs adalah kadar masing-masing cemaran dalam mg per larutkan dalam 5,0 mL natrium hidroksida 0,1 N,
ml Larutan baku; Cu adalah kadar alopurinol dalam encerkan segera dengan Fase gerak sampai tanda dan
mg per ml Larutan uji berdasarkan bobot yang kocok. Encerkan larutan secara kuantitatif dengan
ditimbang. [Catatan Untuk cemaran yang tidak Fase gerak hingga kadar zat lebih kurang 0,08 mg per
diketahui, rS adalah respon puncak alopurinol dalam mL.
Larutan baku.] Masing-masing cemaran dan jumlah Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
semua cemaran tidak lebih dari batas yang tertera pada dilengkapi dengan detektor 230 nm dan kolom
Tabel. berukuran 4,6 mm x 25 cm yang berisi bahan pengisi
L1.Laju alir lebih kurang 1,8 mL per menit. Lakukan
Tabel kromatografi terhadap Larutan kesesuaian sistem,
Waktu Retensi Batas rekam kromatogram dan ukur semua respons puncak
Cemaran seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara
Relatif (%)
senyawa sejenis B alopurinol dan senyawa sejenis C
Senyawa Sejenis A 0,62 0,2
Alopurinol
alopurinol tidak kurang dari 1,1 dan antara senyawa
Senyawa Sejenis C 0,79 0,2 sejenis C alopurinol dan alopurinol tidak kurang dari
Alopurinol 6,0 [Catatan Untuk tujuan identifikasi, waktu retensi
Senyawa Sejenis B 0,81 0,2 relatif senyawa sejenis B alopurinol, senyawa sejenis
Alopurinol C alopurinol dan alopurinol berturut-turut 0,7, 0,8
- 86 -

dan 1,0.] Lakukan kromatografi terhadap Larutan mekanik selama lebih kurang 10 menit, encerkan
baku, rekam kromatogram dan ukur semua respons dengan Media disolusi sampai tanda.
puncak seperti tertera pada Prosedur: simpangan baku Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
relatif pada penyuntikan ulang tidak lebih besar dari persediaan ke dalam labu tentukur yang sesuai,
2,0 %. encerkan dengan Media disolusi hingga diperoleh
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah kadar mendekati kadar Larutan uji.
volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan Larutan uji Pipet sejumlah alikot, saring dengan
Larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam penyaring yang sesuai, jika perlu encerkan dengan
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung Media disolusi.
persentase alopurinol, C5H4N4O, dalam zat dengan Prosedur Lakukan penetapan jumlah ,C5H4N4O,
rumus: yang terlarut dengan mengukur serapan Larutan uji
dan Larutan baku pada panjang gelombang serapan
𝑟𝑈 𝐶𝑆 maksimum lebih kurang 250 nm.
( ) ( ) 100 Toleransi Dalam waktu 45 menit harus larut
𝑟𝑆 𝐶𝑈
tidak kurang dari 75% (Q), C 5 H 4 N 4 O,
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak dari dari jumlah yang tertera pada etiket.
Larutan uji dan Larutan baku; CS dan CU berturut-
turut adalah kadar alopurinol dalam mg per mL Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.
Larutan baku dan Larutan uji.
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
baik, dalam suhu ruang. Kromatografi <931>. [Catatan Tidak boleh ada sisa
fase gerak dalam kolom selama semalam. Sesudah
digunakan bilas kolom dengan aliran air selama 20
TABLET ALOPURINOL menit, kemudian dilanjutkan dengan metanol P selama
20 menit.]
Allopurinol Tablets Fase gerak Buat larutan amonium fosfat monobasa
0,05 M, saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
Tablet Alopurinol mengandung Alopurinol, C5H4N4O,
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0%
pada Kromatografi <931>.
dari jumlah yang tertera pada etiket.
Larutan baku internal Larutkan lebih kurang 50 mg
hipoksantin P dalam 10 mL natrium hidroksida 0,1 N,
Baku pembanding Alopurinol BPFI; lakukan
kocok dengan pengocok mekanik selama 10 menit,
pengeringan dalam hampa udara pada suhu 105 hingga larut. Encerkan dengan air hingga 50 mL.
selama 5 jam sebelum digunakan. Simpan dalam Larutan dibuat segar.
wadah tertutup rapat. Larutan baku Timbang saksama lebih kurang 50 mg
Alopurinol BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur
Identifikasi Timbang sejumlah serbuk halus tablet 50-mL, tambahan 10 mL natrium hidroksida 0,1 N,
setara dengan 50 mg alopurinol, triturasi dengan 10 kocok dengan pengocok mekanik selama 10 menit,
mL natrium hidroksida 0,1 N, saring. Asamkan filtrat encerkan dengan air sampai tanda. Pipet 4 mL larutan
dengan asam asetat 1 N, diamkan 10 - 15 menit agar ini dan 2 mL Larutan baku internal ke dalam labu
terjadi cukup pengendapan, kumpulkan endapan. tentukur 200-mL, encerkan dengan Fase gerak sampai
Bilas endapan dengan 3 mL etanol mutlak P sedikit tanda. Larutan dibuat segar.
demi sedikit dan terakhir dengan 4 mL eter P. Biarkan Larutan uji Timbang dan serbuk haluskan tidak
kering di udara selama 15 menit, keringkan pada suhu kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah
105 selama 3 jam. Spektrum serapan inframerah zat serbuk setara dengan lebih kurang 50 mg alopurinol,
yang telah dikeringkan dan didispersikan dalam masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan
kalium bromida P menunjukkan maksimum pada 10 mL natrium hidroksida 0,1 N, kocok dengan
bilangan gelombang yang sama seperti pada pengocok mekanik selama 10 menit, encerkan dengan
Alopurinol BPFI. air sampai tanda. [Catatan Penetapan selanjutnya
tidak boleh ditunda.] Saring, buang 10 mL filtrat
Disolusi <1231> pertama. Pipet 4 mL larutan ini dan 2 mL Larutan baku
Media disolusi: 900 mL asam hidroklorida 0,01 N internal ke dalam labu tentukur 200-mL, encerkan
Alat tipe 2: 75 rpm dengan Fase gerak sampai tanda.
Waktu: 45 menit Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
Larutan baku persediaan Timbang saksama 40 mg dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom
Alopurinol BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur berukuran 4 mm x 30 cm berisi bahan pengisi L1. Laju
200-mL. Tambahkan 10 mL natrium hidroksida 0,1 N, alir lebih kurang 1,5 mL per menit. Lakukan
sonikasi selama 2 menit, kocok dengan pengocok kromatografi terhadap Larutan baku, rekam
- 87 -

kromatogram, dan ukur respons puncak seperti tertera A. Spektrum serapan inframerah zat yang
pada Prosedur: waktu retensi relatif dari hipoksantin didispersikan dalam minyak mineral P menunjukkan
0,6 dan alopurinol 1,0; resolusi, R, antara puncak zat maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
uji dan baku internal tidak kurang dari 5 dan sama seperti pada Alprazolam BPFI.
simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang tidak B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
lebih dari 3,0%. Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah diperoleh pada Penetapan Kadar.
volume sama (lebih kurang 15 L) Larutan baku dan
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5%;
kromatogram, dan ukur respons puncak utama. Hitung lakukan pengeringan pada suhu 105° selama 1 jam.
jumlah dalam mg alopurinol, C5H4N4O, dalam serbuk
tablet yang digunakan dengan rumus: Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,5%.

R  Logam berat <371> Metode III Tidak lebih dari


2,5 C  U  20 bpj.
 RS 
Cemaran Organik Lakukan penetapan dengan cara
C adalah kadar Alopurinol BPFI dalam g per mL Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Larutan Baku; RU dan RS berturut-turut adalah Kromatografi <931>.
perbandingan respons puncak analit terhadap puncak Pengencer, Dapar dan Fase gerak Lakukan seperti
baku internal dari Larutan uji dan Larutan baku. tertera pada Penetapan kadar.
Larutan kesesuaian sistem Timbang saksama
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup sejumlah Alprazolam BPFI, Senyawa Sejenis A
baik. Alprazolam BPFI dan 2-Amino-5-Klorobenzofenon
BPFI, larutkan dan encerkan dengan Pengencer
hingga kadar masing-masing lebih kurang 20 µg per
mL.
ALPRAZOLAM Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Alprazolam Alprazolam BPFI, larutkan dan encerkan dengan
Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,25 µg per mL.
[Catatan Larutan stabil selama 48 jam jika disimpan
dalam wadah tertutup pada suhu ruang.]
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat,
larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar
lebih kurang 250 µg per mL, dan sonikasi selama 1
menit. [Catatan Larutan stabil selama 24 jam jika
disimpan dalam wadah tertutup pada suhu ruang.]
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
8-Kloro-1-metil-6-fenil-4H-s-triazolo[4,3-α]
Penetapan kadar. Lakukan kromatografi terhadap
[1,4]benzodiazepina [28981-97-7]
Larutan kesesuaian sistem, rekam kromatogram dan
C17H13ClN4 BM 308,76
ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur:
resolusi, R, antara senyawa sejenis A alprazolam dan
Alprazolam mengandung tidak kurang dari 98,0% dan alprazolam tidak kurang dari 2,0. Lakukan
tidak lebih dari 102,0%, C17H13ClN4. kromatografi terhadap Larutan baku, rekam
[Perhatian hindari terhirupnya partikel Alprazolam
kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera
dan pemaparan pada kulit].
pada Prosedur: simpangan baku relatif pada
penyuntikan ulang tidak lebih dari 5,0%. [Catatan
Pemerian Serbuk hablur putih sampai hampir putih, Waktu retensi relatif seperti tertera pada Tabel.]
melebur pada suhu lebih kurang 225º. Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan uji dan
Kelarutan Tidak larut dalam air; sukar larut dalam etil
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur semua
asetat; agak sukar larut dalam aseton; larut dalam
respons puncak. Hitung persentase masing-masing
etanol; mudah larut dalam kloroform.
cemaran dalam zat dengan rumus:
Baku pembanding Alprazolam BPFI; tidak boleh
dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat;  ri   CS  1
      100
r  C  F
Senyawa Sejenis A Alprazolam BPFI; 2-Amino-5-  S   U 
Klorobenzofenon BPFI.

Identifikasi
- 88 -

ri adalah respons puncak masing-masing cemaran dari  rU   CS 


Larutan uji; rS adalah respons puncak alprazolam dari       100
Larutan baku; CS adalah kadar Alprazolam BPFI  rS   CU 
dalam µg per mL Larutan baku; CU adalah kadar
alprazolam dalam µg per mL Larutan uji berdasarkan rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan
bobot yang ditimbang; F adalah faktor respons relatif. uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Alprazolam
Masing-masing cemaran dan total cemaran tidak lebih BPFI dalam µg per mL Larutan baku; CU adalah kadar
dari batas yang tertera pada Tabel. alprazolam dalam µg per mL Larutan uji berdasarkan
bobot yang ditimbang.
Tabel
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Nama Waktu Faktor Batas rapat dan simpan pada suhu ruang terkendali.
retensi respons (%)
relatif relatif
Senyawa sejenis A 0,8 0,76 0,15 TABLET ALPRAZOLAM
alprazolam
Alprazolam Tablets
Alprazolam 1,0 1,0 -
2-amino-5- 4,0 1,0 0,15 Tablet Alprazolam mengandung alprazolam,
klorobenzofenon C17H13ClN4, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih
Cemaran lain - 1,0 0,10 dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Total Cemaran - - 1,0
Baku pembanding Alprazolam BPFI; tidak boleh
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat.
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>. Identifikasi Larutkan sejumlah serbuk halus tablet,
Pengencer Campuran asetonitril P-air (1:1). setara dengan lebih kurang 15 mg alprazolam dalam
Dapar Timbang 1,4 g kalium fosfat monobasa P, 10 mL larutan natrium karbonat P (1 dalam 100).
larutkan dalam 1000 mL air. Tambahkan 15 mL kloroform P kocok kuat selama 30
Fase gerak Campuran asetonitril P - Dapar (1:1), menit, sentrifus, buang lapisan air, pindahkan lapisan
saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan kloroform dalam wadah yang bersih. Tambahkan lebih
penyesuaian menurut kesesuaian sistem seperti tertera kurang 200 mg kalium bromida P. Uapkan kloroform
pada Kromatografi <931>. dari campuran ini hingga kering, keringkan dalam
Larutan baku Timbang saksama sejumlah hampa udara pada suhu 60º selama 24 jam. Gerus
Alprazolam BPFI, larutkan dan encerkan dengan hingga menjadi serbuk halus: taburkan 20 mg serbuk
Pengencer hingga kadar lebih kurang 25 µg per mL. ini diantara lapisan 100 mg kalium bromida kering dan
[Catatan Larutan stabil selama 48 jam jika disimpan cetak: spektrum serapan inframerah yang diperoleh
dalam wadah tertutup pada suhu ruang.] dengan cara tersebut menunjukkan maksimum hanya
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, pada bilangan gelombang yang sama seperti pada
larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar Alprazolam BPFI yang diperlakukan sama.
lebih kurang 25 µg per mL, dan sonikasi selama 1
menit. [Catatan Larutan stabil selama 48 jam jika Disolusi <1231> [Catatan Prosedur untuk gabungan
disimpan dalam wadah tertutup pada suhu ruang.] sampel.]
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi Dapar persediaan Larutkan 80 g kalium fosfat
dilengkapi dengan detektor 231 nm dan kolom 4,6 mm monobasa P dan 20 g kalium fosfat dibasa P dalam air,
x 25 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir lebih kurang encerkan dengan air hingga 1000 mL. Atur pH hingga
1 mL per menit. Pertahankan suhu kolom pada 40°. 6,0 ± 0,1 dengan penambahan asam fosfat P atau
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam larutan kalium hidroksida P (45 dalam 100).
kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera Dapar Encerkan 1 bagian Dapar persediaan dalam
pada Prosedur: faktor ikutan tidak lebih dari 2,0 dan 10 bagian air; atur pH hingga pH 6,0 ± 0,1.
simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang tidak Media disolusi : 500 mL Dapar.
lebih dari 2,0%. Alat tipe 1 : 100 rpm.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah Waktu : 30 menit
volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan Lakukan penetapan persentase alprazolam,
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam C17H13ClN4, yang terlarut dengan cara Kromatografi
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung cair kinerja tinggi seperti tertera pada Kromatografi
persentase alprazolam, C17H13ClN4, dalam zat dengan <931>.
rumus: Fase gerak Buat campuran Dapar-asetonitril P-
tetrahidrofuran P (60:35:5), saring dan awaudarakan.
- 89 -

Jika perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian RU dan RS berturut-turut adalah perbandingan respons
sistem seperti tertera pada Kromatografi <931>. puncak antara alprazolam dan baku internal dari
Larutan baku persediaan Timbang saksama Larutan uji dan Larutan baku; C adalah kadar
sejumlah Alprazolam BPFI, larutkan dan encerkan Alprazolam BPFI dalam mg per mL Larutan baku: V
dengan metanol P hingga kadar lebih kurang 0,05 mg adalah volume dalam mL Larutan baku internal yang
per mL. ditambahkan; L adalah jumlah alprazolam dalam mg
Larutan baku Masukkan 50 mL Dapar persediaan per tablet yang tertera pada etiket.
dan 250 mL air ke dalam labu tentukur 500-mL.
Tambahkan 5,0 mL Larutan baku persediaan untuk Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
setiap 0,25 mg alprazolam yang terkandung dalam Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
tablet yang diuji. Encerkan dengan air sampai tanda. Kromatografi <931>.
Larutan uji Gunakan alikot yang telah disaring Fase gerak Buat campuran asetonitril P - kloroform
dengan penyaring yang sesuai. P - n-butanol P - asam asetat glasial P - air (850 : 80 :
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi 50 : 0,5 : 20), saring dan awaudarakan. Jika perlu
dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom 4,6 mm lakukan penyesuaian menurut kesesuaian sistem
x 10 cm berisi bahan pengisi L7. Laju alir lebih kurang seperti tertera pada Kromatografi <931>.
1 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku internal Timbang saksama sejumlah
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons triazolam, larutkan dan encerkan dengan asetonitril P
puncak seperti tertera pada Prosedur: jumlah lempeng hingga kadar lebih kurang 0,25 mg per mL.
teoritis tidak kurang dari 500. Simpangan baku relatif Larutan baku persediaan Timbang saksama
pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 3,0%. sejumlah Alprazolam BPFI larutkan dan encerkan
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah dengan Larutan baku internal hingga kadar lebih
volume sama Larutan uji dan Larutan baku ke dalam kurang 0,25 mg per mL.
kromatograf, rekam kromatogram dan ukur respons Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
puncak utama. Hitung persentase alprazolam, persediaan, encerkan dengan asetonitril P hingga
C17H13ClN4, yang terlarut. kadar lebih kurang 25 µg per mL.
Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak Larutan uji Timbang dan serbuk haluskan tidak
kurang dari 80% (Q), C17H13ClN4, dari jumlah yang kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah
tertera pada etiket. serbuk tablet, masukkan ke dalam labu tentukur yang
sesuai. Tambahkan air sebanyak 1% volume labu.
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat. Tambahkan Larutan baku internal sebanyak 10%
Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi Cair volume labu. Kocok kuat selama 10 menit dan
Kinerja Tinggi seperti tertera pada Kromatogafi encerkan dengan asetonitril P sampai tanda. Larutan
<931>. mengandung alprazolam dengan kadar lebih kurang
Fase gerak dan Sistem kromatografi Lakukan 25 µg per mL.
seperti tertera pada Penetapan kadar. Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
Larutan baku internal Timbang saksama sejumlah dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom 4,6 mm
triazolam, larutkan dan encerkan dengan asetonitril P x 30 cm berisi bahan pengisi L3. Laju alir lebih kurang
hingga kadar lebih kurang 0,032 mg per mL. 2 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap
Larutan uji Masukkan 1 tablet ke dalam labu, Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons
tambahkan lebih kurang 0,4 mL air langsung pada puncak seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R,
tablet, biarkan selama 2 menit, goyangkan labu hingga antara puncak triazolam dan alprazolam tidak kurang
tablet terdispersi. Untuk setiap kandungan 0,25 mg dari 2,0; simpangan baku relatif pada penyuntikan
alprazolam dalam tablet, tambahkan 10,0 mL Larutan ulang tidak lebih dari 2,0%.
baku internal. Kocok dan sentrifus bila perlu. Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
Larutan baku Timbang saksama sejumlah volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan
Alprazolam BPFI larutkan dan encerkan dengan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram
Larutan baku internal hingga kadar lebih kurang dan ukur respons puncak utama. Hitung persentase
0,025 mg per mL. alprazolam, C17H13ClN4, dalam tablet dengan rumus:
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan  RU   CS 
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram       100
dan ukur respons puncak utama. Hitung persentase  RS   CU 
alprazolam, C17H13ClN4, dalam tablet dengan rumus:
RU dan RS berturut-turut adalah perbandingan respons
 RU  puncak antara alprazolam dan baku internal dari
  C  V  
100 
  Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah kadar
 RS   L  Alprazolam BPFI dalam µg per mL Larutan baku; CU
- 90 -

adalah kadar alprazolam dalam µg per mL berdasarkan


jumlah yang tertera pada etiket. Sulfat <361> Tidak lebih dari 0,1%; lakukan
penetapan dengan melarutkan 5,0 g suspensi dalam 5
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup mL asam hidroklorida 3 N dengan pemanasan
rapat, tidak tembus cahaya dan simpan pada suhu perlahan. Dinginkan, tambahkan air hingga 250 mL,
ruang terkendali. saring: 20 mL filtrat menunjukkan sulfat tidak lebih
dari 0,4 mL asam sulfat 0,02 N.

SUSPENSI ORAL ALUMINA DAN Syarat lain Memenuhi syarat uji Arsen dan Logam
MAGNESIA berat seperti tertera pada Gel Aluminium Hidroksida.
Alumina and Magnesia Oral Suspension
Penetapan kadar aluminium hidroksida
Suspensi Oral Alumina dan Magnesia mengandung Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti
aluminium hidroksida, Al(OH)3 dan magnesium tertera pada Penetapan kadar dalam Amonium Kalium
hidroksida, Mg(OH)2 masing-masing tidak kurang Sulfat.
dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah Larutan uji Kocok suspensi oral dalam kemasan
yang tertera pada etiket. Mengandung perisa dan asli, ukur saksama sejumlah volume suspensi oral
antimikroba yang sesuai. setara dengan lebih kurang 1200 mg aluminium
hidroksida, masukkan ke dalam gelas piala yang
Identifikasi sesuai. Tambahkan 20 mL air, aduk dan tambahkan
A. Pada larutan yang mengandung 5 g zat uji dalam secara perlahan 10 mL asam hidroklorida P. Jika perlu
10 mL asam hidroklorida 3 N, tambahkan 5 tetes panaskan secara perlahan hingga larut, dinginkan dan
merah metil LP. Panaskan hingga mendidih dan saring, masukkan ke dalam labu tentukur 200-mL.
tambahkan amonium hidroksida 6 N hingga warna Bilas penyaring dengan air, masukkan ke dalam labu
larutan berubah menjadi kuning tua. Lanjutkan tentukur, encerkan dengan air sampai tanda.
pemanasan selama 2 menit, saring: filtrat Prosedur Pipet 10 mL Larutan uji, masukkan ke
menunjukkan reaksi Magnesium seperti tertera pada dalam gelas piala 250 mL, tambahkan 20,0 mL air,
Uji Identifikasi Umum <291>. sambil terus diaduk, tambahkan 25,0 mL Titran
B. Bilas endapan yang diperoleh dari uji Identifikasi dinatrium edetat dan 20 mL dapar asam asetat-
A dengan larutan panas amonium klorida 20 mg per amonium asetat LP. Panaskan hingga mendekati titik
mL. Larutkan endapan dalam asam hidroklorida P: didih selama 5 menit. Dinginkan, tambahkan 50 mL
larutan menunjukkan reaksi Aluminium seperti tertera etanol P dan 2 mL ditizon LP, campur. Titrasi dengan
pada Uji Identifikasi Umum <291>. zink sulfat 0,05 M LV hingga warna berubah dari hijau
violet menjadi merah muda. Lakukan penetapan
Batas mikroba <51>Angka lempeng total tidak lebih blangko.
dari 100 unit koloni per mL. Uji Escherichia coli Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
memberikan hasil negatif. setara dengan 3,900 mg Al(OH)3
Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang
digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang Penetapan kadar magnesium hidroksida
dari 5 mEq dan tidak kurang dari jumlah mEq yang Larutan uji Lakukan seperti tertera pada Penetapan
dihitung dengan rumus: kadar aluminium hidroksida.
Larutan hitam eriokrom Larutkan 200 mg hitam
0,55(0,0385 A) + 0,8(0,0343M ) eriokrom T P dalam campuran 15 mL trietanolamina
P dan 5 mL etanol mutlak P, campur.
Prosedur Pipet sejumlah volume Larutan uji setara
0,0385 dan 0,0343 berturut-turut adalah kapasitas
dengan lebih kurang 40 mg magnesium hidroksida,
penetralan asam teoritis Al(OH)3 dan Mg(OH)2 dalam
masukkan ke dalam gelas piala 400 mL, tambahkan 200
mEq; A dan M berturut-turut adalah jumlah Al(OH)3
mL air dan 20 mL trietanolamina P, aduk. Tambahkan
dan Mg(OH)2 dalam mg, yang dihitung berdasarkan
10 mL dapar amonia-amonium klorida LP dan 3 tetes
jumlah yang tertera pada etiket.
Larutan hitam eriokrom T, dinginkan larutan dalam
tangas es hingga suhu 3-4, angkat. Titrasi dengan
pH <1071> Antara 7,3 dan 8,5.
dinatrium edetat 0,05 M LV hingga warna biru.
Lakukan penetapan blangko.
Klorida <361> Tidak lebih dari 0,14%; lakukan
penetapan dengan melarutkan 5,0 g zat dalam sedikit
Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
mungkin volume asam nitrat P yang dibutuhkan,
setara dengan 2,916 mg Mg(OH)2
tambahkan 1 mL asam berlebih, kemudian tambahkan
air hingga 100 mL dan saring: 10 mL filtrat
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
menunjukkan klorida tidak lebih dari 1,0 mL asam
rapat, hindari dari pembekuan.
hidroklorida 0,02 N.
- 91 -

secara perlahan 30 mL asam hidroklorida 3 N.


Penandaan Pada etiket dicantumkan kadar Lakukan seperti tertera pada Larutan uji pada
aluminium hidroksida setara dengan jumlah gel Penetapan kadar aluminium hidroksida dalam
aluminium hidroksida kering, tiap mg gel kering setara Suspensi Oral Alumina dan Magnesia. Dimulai dari
dengan 0,765 mg aluminium hidroksida, Al(OH) 3. “Jika perlu panaskan secara perlahan”.
Prosedur Lakukan Prosedur seperti tertera pada
Penetapan kadar aluminium hidroksida dalam
TABLET ALUMINA DAN MAGNESIA Suspensi Oral Alumina dan Magnesia.
Alumina and Magnesia Tablets
Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
Tablet Alumina dan Magnesia mengandung setara dengan 3,900 mg Al(OH)3
aluminium hidroksida, Al(OH)3 dan magnesium
hidroksida, Mg(OH)2 masing-masing tidak kurang Penetapan kadar magnesium hidroksida
dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah Larutan uji Lakukan seperti tertera pada Penetapan
yang tertera pada etiket. kadar aluminium hidroksida.
Prosedur Lakukan Prosedur seperti tertera pada
Identifikasi Penetapan kadar magnesium hidroksida dalam
A. Pada 700 mg tablet yang diserbuk haluskan Suspensi Oral Alumina dan Magnesia.
tambahkan 10 mL asam hidroklorida 3 N dan 5 tetes
merah metil LP, panaskan hingga mendidih dan Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
tambahkan amonium hidroksida 6 N hingga warna baik.
larutan berubah menjadi kuning tua, lanjutkan
pemanasan selama 2 menit, saring: filtrat Penandaan Tablet dibuat dengan menggunakan
menunjukkan reaksi Magnesium seperti tertera pada Aluminium Hidroksida Gel Kering, yang dapat
Uji Identifikasi Umum <291>. dicantumkan untuk menyatakan kandungan
B.Bilas endapan yang diperoleh dari uji Identifikasi aluminium hidroksida setara dengan jumlah
A dengan larutan amonium klorida P (1 dalam 50) aluminium hidroksida gel kering, tiap mg gel kering
panas, larutkan endapan dalam asam hidroklorida P: setara dengan 0,765 mg Al(OH)3.
larutan menunjukkan reaksi Aluminium seperti tertera
pada Uji Identifikasi Umum <291>.
SUSPENSI ORAL ALUMINA DAN
Waktu hancur <1251> Tidak lebih dari 10 menit. MAGNESIA KARBONAT
Gunakan cairan lambung buatan LP. Alumina and Magnesia Carbonate Oral
Suspension
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi persyaratan
Keragaman bobot untuk Alumina dan Magnesia. Suspensi Oral Alumina dan Magnesia Karbonat
mengandung aluminium hidroksida Al(OH)3 dan
Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang magnesium karbonat MgCO3 masing-masing tidak
digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari
dari 5 mEq dan tidak kurang dari jumlah mEq yang jumlah yang tertera pada etiket.
dihitung berdasarkan rumus:
Identifikasi
0,55(0,0385 A) + 0,8(0,0343M ) A. Masukkan lebih kurang 1 g ke dalam labu yang
dilengkapi dengan sumbat dan pipa kaca, ujungnya
0,0385 dan 0,0343 berturut-turut adalah kapasitas dicelupkan ke dalam tabung reaksi yang berisi kalsium
penetralan asam teoritis Al(OH)3 dan Mg(OH)2 dalam hidroksida LP. Tambahkan 5 mL asam hidroklorida 3
mEq; A dan M berturut-turut adalah jumlah Al(OH)3 N ke dalam labu dan tutup segera: akan terbentuk gas
dan Mg(OH)2 dalam zat uji dalam mg yang dihitung dalam labu dan akan terbentuk endapan dalam tabung
berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket. reaksi.
B. Pada larutan 5 g dalam 10 mL asam hidroklorida
Penetapan kadar aluminium hidroksida 3 N, tambahkan 5 tetes merah metil LP, panaskan
Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti hingga mendidih dan tambahkan amonium hidroksida
tertera pada Penetapan kadar dalam Amonium Kalium 6 N hingga warna larutan berubah menjadi kuning tua,
Sulfat. lanjutkan pemanasan selama 2 menit, saring. Filtrat
Larutan uji Timbang dan serbuk haluskan tidak menunjukkan reaksi Magnesium seperti tertera pada
kurang tablet setara dengan lebih kurang 1200 mg dari Uji Identifikasi Umum <291>.
20 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk C. Bilas endapan yang diperoleh dari uji Identifikasi
aluminium hidroksida, masukkan ke dalam gelas piala B dengan larutan amonium klorida P (1 dalam 50)
150 mL, tambahkan 20 mL air, aduk dan tambahkan panas, larutkan endapan dalam asam hidroklorida P:
- 92 -

larutan menunjukkan reaksi Aluminium seperti tertera


pada Uji Identifikasi Umum <291>.  78,00  A 
 (0,25) U 
Batas mikroba <51> Total mikroba aerobik tidak  26,98   RS 
lebih dari 100 unit koloni per mL. Memenuhi syarat
uji bebas Escherichia coli, Salmonella species, 78,00 adalah bobot molekul aluminium hidroksida dan
Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. 26,98 adalah bobot atom aluminium; AU adalah
serapan Larutan uji; RS adalah rata-rata tiga
Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang perbandingan serapan Larutan baku terhadap masing-
digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang masing kadarnya, dalam g aluminium per mL.
dari 5 mEq dan tidak kurang dari jumlah mEq yang
dihitung dengan rumus: Penetapan kadar magnesium karbonat
Larutan lantanum klorida Buat larutan lantanum
0,55(0,0385 A) + 0,8(0,024 M ) klorida dalam air yang mengandung 5 mg per mL.
Larutan persediaan magnesium Timbang saksama
0,0385 dan 0,024 berturut-turut adalah kapasitas penetralan 1 g logam magnesium, masukkan ke dalam labu
asam teoritis Al(OH)3dan MgCO3 dalam mEq; A dan tentukur 1000-mL yang berisi 50 mL air, tambahkan
M berturut-turut adalah jumlah Al(OH)3 dan MgCO3 secara perlahan 10 mL asam hidroklorida P, encerkan
dalam mg, yang dihitung berdasarkan jumlah yang dengan air sampai tanda. Masukkan 10,0 mL larutan
tertera pada etiket. ini ke dalam labu tentukur 100-mL, encerkan dengan
air sampai tanda.
pH <1071> Antara 7,5 dan 9,5. Larutan baku Pada labu tentukur 100-mL terpisah
yang masing-masing berisi 10 mL Larutan lantanum
Penetapan kadar aluminium hidroksida klorida, tambahkan berturut-turut 1,70 dan 1,80 mL
Larutan kalium klorida Buat larutan yang Larutan persediaan magnesium, encerkan dengan air
mengandung 4,5 g kalium klorida per 100 mL. sampai tanda. Larutan baku ini berturut-turut
Larutan persediaan aluminium Timbang saksama 1 mengandung magnesium lebih kurang 1,70 dan 1,80
g logam aluminium, masukkan ke dalam labu tentukur g per mL.
1000-mL, tambahkan 50 mL asam hidroklorida 6 N, Larutan uji Ukur saksama sejumlah volume
kocok hingga aluminium dan asam bereaksi, biarkan Larutan uji dalam Penetapan kadar aluminium
reaksi hingga aluminium larut sempurna, encerkan hidroksida, encerkan secara bertahap dan kuantitatif
dengan air sampai tanda. dengan air hingga diperoleh larutan dengan kadar
Larutan baku Pada labu tentukur 100-mL yang lebih kurang 6 g magnesium karbonat per mL.
terpisah dan masing-masing berisi 10 mL Larutan Prosedur Lakukan penetapan menggunakan
kalium klorida, tambahkan berturut-turut 9,0, 10,0 dan Spektrofotometer serapan atom seperti tertera pada
11,0 mL Larutan persediaan aluminium, encerkan Spektrofotometri dan Hamburan Cahaya <1191>.
dengan air sampai tanda. Larutan baku ini berturut- Ukur secara bersamaan serapan Larutan baku dan
turut mengandung aluminium 90, 100 dan 110 g per Larutan uji pada garis emisi magnesium 285,2 nm,
mL. menggunakan spektrofotometer serapan atom yang
Larutan uji Kocok baik-baik suspensi oral dalam dilengkapi dengan lampu “hollow cathode”
kemasan aslinya, ukur saksama sejumlah suspensi oral aluminium dan nyala asetilena-udara, gunakan air
setara dengan lebih kurang 75 mg aluminium hidroksida, sebagai blangko. Hitung jumlah dalam mgmagnesium
masukkan ke dalam gelas piala yang sesuai. karbonat, MgCO3, dalam zat uji dengan rumus:
Tambahkan 25 mL asam hidroklorida 6 N, panaskan
di atas tangas uap selama 30 menit dengan sesekali
 84,31  V  AU 
diaduk. Biarkan dingin, masukkan dengan bantuan air    
ke dalam labu tentukur 250-mL yang berisi 25 mL  24,31  1000  RS 
Larutan kalium klorida, encerkan dengan air sampai
tanda, saring. 84,31 adalah bobot molekul magnesium karbonat;
Prosedur Lakukan penetapan menggunakan 24,31 adalah bobot atom magnesium dan V adalah
Spektrofotometer serapan atom seperti tertera pada volume pengenceran Larutan uji; AU adalah serapan
Spektrofotometri dan Hamburan Cahaya <1191>. Larutan uji; RS adalah rata-rata perbandingan serapan
Ukur secara berurutan serapan Larutan baku dan Larutan baku terhadap masing-masing kadarnya
Larutan uji pada garis emisi aluminium 309,3 nm dalam g magnesium per mL.
menggunakan spektrofotometer serapan atom yang
dilengkapi dengan lampu “hollow cathode” aluminium Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
dan nyala asetilen- nitrogen oksida, gunakan air rapat, hindari dari pembekuan.
sebagai blangko. Hitung jumlah dalam mg aluminium
hidroksida, Al(OH)3, dalam zat uji dengan rumus:
- 93 -

Larutan baku Pada labu tentukur 100-mL terpisah


masukkan berturut-turut 3,0; 4,0; 5,0 mL Larutan
TABLET ALUMINA DAN MAGNESIUM persediaan aluminium. Pada masing-masing labu
KARBONAT tambahkan 10 mL Larutan kalium klorida dan 7,5 mL
Alumina and Magnesium Carbonate Tablets Cairan pencerna, encerkan dengan air sampai tanda.
Kadar aluminium larutan baku berturut-turut lebih
Tablet Alumina dan Magnesium Karbonat kurang 30,0; 40,0 dan 50,0 g per mL.
mengandung aluminium hidroksida Al(OH)3 dan Larutan uji Timbang dan serbuk haluskan tidak
magnesium karbonat MgCO3 masing-masing tidak kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari serbuk tablet setara dengan lebih kurang 30 mg
jumlah yang tertera pada etiket. aluminium hidroksida, masukkan ke dalam labu
tentukur 100-mL, tambahkan 25 mL Cairan pencerna,
Identifikasi dan panaskan diatas tangas air selama 30 menit atau
A. Masukkan lebih kurang 1 g serbuk tablet ke pada lempeng panas hingga volume berkurang
dalam labu yang dilengkapi dengan sumbat dan pipa setengah. Dinginkan, encerkan dengan air sampai
kaca, ujung pipa dicelupkan ke dalam tabung reaksi tanda, dan kocok. Saring, buang 20 mL filtrat pertama.
yang berisi kalsium hidroksida LP. Tambahkan 5 mL Pipet 15 mL filtrat, masukkan ke dalam labu tentukur
asam hidroklorida 3 N ke dalam labu dan tutup segera: 50-mL, tambahkan 5,0 mL Larutan kalium klorida,
akan terbentuk gas dalam labu dan terbentuk endapan encerkan dengan air sampai tanda. [Catatan Simpan
dalam tabung reaksi. sebagian filtrat untuk digunakan dalam Penetapan
B. Pada 7 g serbuk tablet, tambahkan 10 mL kadar magnesium karbonat.]
asam hidroklorida 3 N mL dan 5 tetes merah metil LP, Prosedur Lakukan penetapan menggunakan
panaskan hingga mendidih dan tambahkan amonium Spektrofotometer serapan atom seperti tertera pada
hidroksida 6 N hingga warna larutan berubah menjadi Spektrofotometer dan Hamburan Cahaya <1191>.
kuning tua, lanjutkan pemanasan selama 2 menit, Ukur secara berurutan serapan Larutan baku dan
saring: filtrat menunjukkan reaksi Magnesium seperti Larutan uji pada garis emisi aluminium 309,3 nm
tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>. menggunakan spektrofotometer serapan atom yang
C. Bilas endapan yang diperoleh dari uji dilengkapi dengan lampu “hollow cathode”
Identifikasi B dengan larutan amonium klorida P (1 aluminium dan nyala asetilen-nitrogen oksida,
dalam 50) panas, larutkan endapan dalam asam gunakan air sebagai blangko. Buat kurva kalibrasi
hidroklorida P: larutan menunjukkan reaksi serapan Larutan baku terhadap kadar Al dalam µg per
Aluminium seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum mL dan buat garis regresi. Dari kurva kalibrasi yang
<291>. diperoleh, tetapkan kadar aluminium, C dalam µg per
mL tiap mL Larutan uji. Hitung jumlah dalam mg
Waktu hancur <1251> Tidak lebih dari 10 menit. aluminium hidroksida, Al(OH)3, dalam serbuk tablet
Gunakan cairan lambung buatan LP sebagai yang digunakan dengan rumus:
pengganti air.
 78,00   C 
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi persyaratan     

Keragaman bobot untuk aluminium hidroksida dan  26,98   3 
magnesium karbonat.
78,00 adalah bobot molekul aluminium hidroksida dan
Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang 26,98 adalah bobot atom aluminium.
digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang
dari 5 mEq. Penetapan kadar magnesium karbonat
Larutan lantanum klorida Timbang 17,6 g
Penetapan kadar aluminium hidroksida lantanum klorida P, masukkan ke dalam labu tentukur
Larutan kalium klorida Buat larutan yang 1000-mL, tambahkan 500 mL air dan secara hati-hati
mengandung 38,1 g kalium klorida P per 1000 mL. tambahkan 50 mL asam hidroklorida P. Campur dan
Cairan pencerna Buat campuran 5 mL asam diamkan sampai dingin. Encerkan dengan air sampai
hidroklorida P, 10 mL asam nitrat P dan 10 mL air, tanda.
gunakan segera setelah pembuatan. Cairan pencerna Buat campuran 5 mL asam
Larutan persediaan aluminium Timbang saksama hidroklorida P, 10 mL asam nitrit P dan 10 mL air,
lebih kurang 1 g logam aluminium, masukkan ke gunakan segera setelah pembuatan.
dalam labu tentukur 1000-mL, tambahkan 50 mL Larutan persediaan magnesium Timbang saksama
asam hidroklorida 6 N, kocok hingga aluminium dan lebih kurang 1,0 g logam magnesium, masukkan ke
asam bereaksi, biarkan reaksi hingga aluminium larut dalam labu tentukur 1000-mL yang berisi 50 mL air,
sempurna, encerkan dengan air sampai tanda. tambahkan secara perlahan 10 mL asam hidroklorida
P, encerkan dengan air sampai tanda. Pipet 5 mL
- 94 -

larutan ke dalam labu tentukur 500-mL, encerkan kuning tua, lanjutkan pemanasan selama 2 menit,
dengan air sampai tanda. saring: filtrat menunjukkan reaksi Magnesium seperti
Larutan baku Pada labu tentukur 100-mL terpisah tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
masukkan berturut-turut 4,0; 6,0; 8,0 mL Larutan B. Bilas padatan pada kertas saring yang diperoleh
persediaan magnesium. Pada masing-masing labu dari uji Identifikasi A dengan larutan amonium klorida
tambahkan 10 mL Larutan lantanum klorida dan 0,5 P (1 dalam 50) panas, tambahkan 10 mL asam
mL Cairan pencerna, encerkan dengan air sampai hidroklorida 3 N, saring: filtrat menunjukkan reaksi
tanda. Kadar magnesium larutan baku berturut-turut Aluminium seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum
lebih kurang 0,40; 0,60 dan 0,80 g per mL. <291>.
Larutan uji Pipet sejumlah volume Larutan uji C. Masukkan kertas saring dan isinya yang
dalam Penetapan kadar aluminium hidroksida, setara diperoleh dari uji Identifikasi B ke cawan platina kecil,
lebih kurang 0,4 mg magnesium karbonat, masukan ke pijarkan, dinginkan dalam desikator dan timbang.
dalam labu tentukur 200-mL, tambahkan 20 mL Basahkan residu dengan air, tambahkan 6 mL asam
Larutan lantanum klorida, encerkan dengan air fluorida P. Uapkan hingga kering, pijarkan selama 5
sampai tanda. menit, dinginkan dalam desikator, timbang: hilangnya
Prosedur Lakukan penetapan menggunakan bobot yang tidak lebih dari 10% bobot residu pada
Spektrofotometer serapan atom seperti tertera pada pemijaran awal menunjukkan adanya SiO2.
Spektrofotometri dan Hamburan Cahaya <1191>.
Ukur secara berturut-turut serapan Larutan baku dan Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang
Larutan uji pada garis emisi magnesium 285,2 nm, digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang
menggunakan spektrofotometer serapan atom yang dari 5 mEq.
dilengkapi dengan lampu “hollow cathode” magnesium
dan nyala asetilen-udara, gunakan air sebagai blangko. pH <1071> Antara 7,5 dan 8,5.
Buat kurva kalibrasi serapan Larutan baku terhadap
kadar Mg dalam µg per mL dan buat garis regresi. Dari Penetapan kadar aluminium hidroksida
kurva kalibrasi yang diperoleh, tetapkan kadar Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti
magnesium, C dalam µg per mL tiap mL Larutan uji. tertera pada Penetapan kadar dalam Amonium Kalium
Hitung jumlah dalam mg, magnesium karbonat, Sulfat.
(MgCO3), dalam serbuk tablet yang digunakan dengan Larutan uji Kocok baik-baik suspensi oral, timbang
rumus: saksama lebih kurang 10 g suspensi oral, masukkan ke
dalam gelas piala yang telah ditara. Tambahkan 50 mL
air dan 10 mL asam hidroklorida P, digesti pada tangas
 84,31   20C 
   uap selama 1 jam. Dinginkan dan saring ke dalam labu
 24,31   V  tentukur 200-mL. Bilas kertas saring dengan air, masukkan
ke dalam labu, encerkan dengan air sampai tanda.
84,31 adalah bobot molekul magnesium karbonat; Prosedur Pipet 20 mL Larutan uji, masukkan ke
24,31 adalah bobot atom magnesium; V adalah volume dalam gelas piala 250 mL, tambahkan 20 mL air,
dalam mL Larutan uji. sambil terus diaduk tambahkan 25,0 mL Titran
dinatrium edetat dan 20 mL dapar asam asetat-
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup amonium asetat LP, panaskan larutan hingga
rapat. mendekati titik didih selama 5 menit. Dinginkan,
tambahkan 50 mL etanol P dan 2 mL ditizon LP,
campur. Titrasi dengan zink sulfat 0,05 M LV hingga
SUSPENSI ORAL ALUMINA DAN warna larutan berubah dari hijau violet menjadi merah
MAGNESIUM TRISILIKAT muda. Lakukan penetapan blangko.
Alumina and Magnesium Trisilicate Oral
Suspension Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
setara dengan 3,900 mg Al(OH)3
Suspensi Oral Alumina dan Magnesium Trisilikat
mengandung aluminium hidroksida Al(OH)3 dan Penetapan kadar magnesium trisilikat
magnesium trisilikat, Mg2Si3O8, masing-masing tidak Larutan kalium klorida Buat seperti tertera pada
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari Penetapan kadar aluminium hidroksida.
jumlah yang tertera pada etiket. Larutan hitam eriokrom T Lakukan seperti tertera
pada Penetapan kadar magnesium hidroksida dalam
Identifikasi Suspensi Oral Alumina dan Magnesia.
A. Pada campuran 5 mL dalam 10 mL asam Prosedur Pipet 20 mL Larutan uji, masukkan ke
hidroklorida 3 N, tambahkan 5 tetes merah metil LP, dalam gelas piala 400 mL, tambahkan 180 mL air dan
panaskan hingga mendidih dan tambahkan amonium 20 mL trietanolamina P, aduk. Tambahkan 10 mL
hidroksida 6 N hingga warna larutan berubah menjadi dapar amonia-amonium klorida LP dan 3 tetes
- 95 -

Larutan hitam eriokrom T, dinginkan larutan dalam tambahkan 50 mL etanol P dan 2 mL ditizon LP,
tangas es hingga suhu 3- 4, angkat. Titrasi dengan campur. Titrasi dengan zink sulfat 0,05 M LV hingga
dinatrium edetat 0,05 M LV hingga warna biru. warna larutan berubah dari hijau violet menjadi merah
Lakukan penetapan blangko. muda. Lakukan penetapan blangko.

Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M


setara dengan 6,521 mg Mg2Si3O8 setara dengan 3,900 mg Al(OH)3

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Penetapan kadar magnesium trisilikat
rapat. Larutan kalium klorida Buat larutan dalam air yang
mengandung 5 g kalium klorida per 100 mL.
Larutan persediaan magnesium Masukkan 1000
TABLET ALUMINA DAN MAGNESIUM mg logam magnesium ke dalam labu tentukur 1000-
TRISILIKAT mL yang berisi 50 mL air, tambahkan secara perlahan
Alumina and Magnesium Trisilicate Tablets 10 mL asam hidroklorida P, encerkan dengan air
sampai tanda. Masukkan 5,0 mL larutan ini ke dalam
labu tentukur 500-mL, encerkan dengan air sampai
Tablet Alumina dan Magnesium Trisilikat
tanda.
mengandung aluminium hidroksida, Al(OH)3, dan
Larutan baku Pada labu tentukur 100-mL yang
magnesium trisilikat, Mg2Si3O8, masing-masing tidak
terpisah, tambahkan berturut-turut 16,0; 18,0 dan 20,0
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari
mL Larutan persediaan magnesium. Pada masing-
jumlah yang tertera pada etiket.
masing labu tambahkan 2,0 mL Larutan kalium
klorida, encerkan dengan air sampai tanda. Larutan ini
Identifikasi Lakukan uji Identifikasi seperti tertera
berturut-turut mengandung magnesium lebih kurang
pada Suspensi Oral Alumina dan Magnesium
Trisilikat. 1,6; 1,8 dan 2,0 g per mL. [Catatan Larutan dibuat
pada saat akan digunakan].
Waktu hancur <1251> Tidak lebih dari 10 menit. Larutan uji Timbang dan serbuk haluskan tidak
Gunakan cairan lambung buatan LP. [Catatan Tablet kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah
yang harus dikunyah terlebih dahulu sebelum ditelan, serbuk tablet setara dengan lebih kurang 5 mg
dibebaskan dari persyaratan ini]. magnesium trisilikat, masukkan ke dalam labu
tentukur 100-mL, tambahkan 10 mL asam sulfat 18 N.
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi persyaratan Panaskan di atas tangas uap selama 30 menit dengan
Keragaman bobot untuk Aluminium Hidroksida dan sesekali diaduk. Biarkan dingin, encerkan dengan air
Magnesium Trisilikat. sampai tanda. Saring, buang 20 mL filtrat pertama.
Masukkan 20,0 mL filtrat ke dalam labu tentukur 100-
Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang mL kedua, tambahkan 2,0 mL Larutan kalium klorida,
digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang encerkan dengan air sampai tanda.
dari 5 mEq. Prosedur Lakukan penetapan menggunakan
Spektrofotometer serapan atom seperti tertera pada
Penetapan kadar aluminium hidroksida Spektrofotometer dan Hamburan Cahaya <1191>.
Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti Ukur secara berurutan serapan Larutan baku dan
tertera pada Penetapan kadar dalam Amonium Kalium Larutan uji pada garis emisi magnesium 285,2 nm,
Sulfat. menggunakan spektrofotometer serapan atom yang
Larutan uji Timbang dan serbukhaluskan tidak dilengkapi dengan lampu “hollow cathode”
kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah magnesium dan nyala asetilena-nitrogen oksida,
serbuk tablet setara dengan lebih kurang 600 mg gunakan air sebagai blangko. Buat kurva serapan
aluminium hidroksida, masukkan ke dalam gelas Larutan baku terhadap kadar magnesium dalam g per
piala, tambahkan 20 mL air, aduk dan tambahkan mL, buat garis lurus dari 3 titik. Dari grafik yang
secara perlahan 40 mL asam hidroklorida 3 N. Jika diperoleh, tetapkan kadar magnesium, C dalam g per
perlu panaskan perlahan hingga larut, dinginkan dan mL Larutan uji. Hitung jumlah dalam mg, magnesium
masukkan ke dalam labu tentukur 200-mL. Bilas gelas trisilikat, Mg2Si3O8, yang digunakan dengan rumus:
piala dengan air, masukkan ke dalam labu tentukur,
encerkan dengan air sampai tanda.  260,86 
Prosedur Pipet 10 mL Larutan uji, masukkan ke 0,5C  
 48,62 
dalam gelas piala 250 mL, tambahkan 20 mL air,
sambil terus diaduk tambahkan 25,0 mL titran
dinatrium edetat 0,05 M dan 20 mL dapar asam asetat- 260,86 adalah bobot molekul magnesium trisilikat
amonium asetat LP, panaskan larutan hingga anhidrat; 48,62 adalah dua kalinya bobot atom
mendekati titik didih selama 5 menit. Dinginkan, magnesium.
- 96 -

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup 0,0385; 0,0343; dan 0,02 berturut-turut adalah
baik. kapasitas penetralan asam teoritis aluminium
hidroksida, Al(OH)3; magnesium hidroksida,
Penandaan Pada etiket dicantumkan kandungan Mg(OH)2 dan kalsium karbonat, CaCO3 dalam mEq;
aluminium hidroksida setara dengan jumlah A,M dan C berturut-turut adalah jumlah aluminium
aluminium hidroksida gel kering, tiap mg gel kering hidroksida, Al(OH)3; magnesium hidroksida,
setara dengan 0,765 mg aluminium hidroksida, Mg(OH)2 dan kalsium karbonat, CaCO3 dalam
Al(OH)3. suspensi, dihitung berdasarkan jumlah yang tertera
pada etiket.

SUSPENSI ORAL ALUMINA, pH <1071> Antara 7,5 dan 8,5.


MAGNESIA DAN KALSIUM KARBONAT
Alumina, Magnesia and Calcium Carbonate Klorida <361> Tidak lebih dari 0,14%; Lakukan
Oral Suspension penetapan dengan melarutkan 5,0 g dalam 3 mL asam
nitrat P, tambahkan air hingga 100 mL dan saring: 10
Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan Kalsium mL filtrat menunjukkan klorida tidak lebih dari 1,0 mL
Karbonat mengandung aluminium hidroksida asam hidroklorida 0,02 N.
Al(OH)3; magnesium hidroksida Mg(OH)2 dan
kalsium karbonat CaCO3 masing-masing tidak kurang Sulfat <361> Tidak lebih dari 0,1%; Lakukan
dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah penetapan dengan melarutkan 5,0 g suspensi dalam 7
yang tertera pada etiket. mL asam hidroklorida 3 N dengan pemanasan
perlahan. Dinginkan, tambahkan air hingga 250 mL,
Identifikasi saring: 20 mL filtrat menunjukkan sulfat tidak lebih
A. Pada 5 g suspensi oral, tambahkan 25 mL asam dari 0,4 mL asam sulfat 0,02 N.
sulfat 2 N, aduk dan biarkan selama 5 menit.
Tambahkan 25 mL etanol P, aduk, masukkan dalam Syarat lain Memenuhi syarat uji Arsen dan Logam
tangas es selama 30 menit. Saring dalam keadaan berat seperti tertera pada Gel Aluminium Hidroksida.
dingin, simpan filtrat untuk uji Identifikasi B. Bilas
endapan dengan 50 mL asam sulfat 0,75 N, buang Penetapan kadar aluminium hidroksida
bilasan: larutkan endapan yang diperoleh dalam asam Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti
hidroklorida 3 N, saring, filtrat menunjukkan reaksi tertera pada Penetapan kadar dalam Amonium Kalium
Kalsium seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum Sulfat.
<291>. Larutan uji Kocok baik-baik suspensi oral dalam
B. Pada filtrat yang diperoleh dari uji Identifikasi A kemasan aslinya, timbang saksama sejumlah suspensi
tambahkan 5 tetes merah metil LP, panaskan hingga oral setara dengan lebih kurang 600 mg aluminium
mendidih. Tambahkan amonium hidroksida 6 N hidroksida, masukkan ke dalam gelas piala yang telah
hingga warna larutan berubah menjadi kuning tua, ditara. Tambahkan 20 mL air, aduk dan tambahkan
lanjutkan pendidihan selama 2 menit, saring melalui secara perlahan 40 mL asam hidroklorida 3 N. Jika
kertas saring (simpan filtrat untuk uji Identifikasi C). perlu panaskan secara perlahan hingga larut,
Bilas endapan dengan 350 mL larutan amonium dinginkan dan masukkan ke dalam labu tentukur 200-
klorida P (1 dalam 50) panas, buang bilasan: larutkan mL. Bilas gelas piala dengan air, tambahkan bilasan ke
endapan yang diperoleh dalam asam hidroklorida 3 N, dalam labu tentukur, encerkan dengan air sampai
menunjukkan reaksi Aluminium seperti tertera pada tanda.
Uji Identifikasi Umum <291>. Prosedur Pipet 10 mL Larutan uji, masukkan ke
C. Filtrat yang diperoleh dari uji Identifikasi B dalam gelas piala 250 mL, tambahkan 20 mL air,
menunjukkan reaksi Magnesium seperti tertera pada sambil terus diaduk, tambahkan 25,0 mL titran
Uji Identifikasi Umum <291>. dinatrium edetat 0,05 M LV dan 20 mL dapar asam
asetat-amonium asetat LP, panaskan hingga
Batas mikroba <51> Total mikroba aerobik tidak mendekati titik didih selama 5 menit. Dinginkan,
lebih dari 100 unit koloni per mL. Memenuhi syarat tambahkan 50 mL etanol P dan 2 mL ditizon LP,
uji bebas Escherichia coli. campur. Titrasi dengan zink sulfat 0,05 M LV hingga
warna berubah dari hijau violet menjadi merah muda.
Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang Lakukan penetapan blangko.
digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang
dari 5 mEq dan tidak kurang dari jumlah mEq yang Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
dihitung dengan rumus: setara dengan 3,900 mg Al(OH)3

0,55(0,0385 A) + 0,8(0,0343M ) + 0,9(0,02C )


- 97 -

dan panaskan pada tangas uap selama 10 menit.


Penetapan kadar magnesium hidroksida Dinginkan dan tambahkan 50 mL etanol P, aduk:
Larutan uji Lakukan seperti tertera pada Penetapan campuran yang diperoleh menunjukkan reaksi seperti
kadar aluminium hidroksida. tertera pada uji Identifikasi A, B dan C dalam Suspensi
Larutan hitam eriokrom T Lakukan pembuatan Oral Alumina, Magnesia dan Kalsium Karbonat
seperti tertera pada Penetapan kadar magnesium dimulai dari uji Identifikasi A “Masukkan dalam
hidroksida dalam Suspensi Oral Alumina dan tangas es selama 30 menit”.
Magnesia.
Prosedur Pipet sejumlah volume Larutan uji setara Waktu hancur <1251> Tidak lebih dari 45 menit.
dengan lebih kurang 40 mg magnesium hidroksida,
masukkan ke dalam gelas piala 400 mL, tambahkan Keseragaman sediaan <911> Memenuhi persyaratan
200 mL air dan 20,0 mL trietanolamina P, aduk. Keragaman bobot untuk alumina, magnesia dan
Tambahkan 50 mL dapar amonia-amonium klorida kalsium karbonat.
LP dan 2 tetes Larutan hitam eriokrom T dinginkan
larutan dalam tangas es hingga suhu 3- 4, angkat. Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang
Titrasi dengan dinatrium edetat 0,05 M LV hingga digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang
warna biru. Lakukan penetapan blangko. dari 5 mEq dan tidak kurang dari jumlah mEq yang
dihitung dengan rumus:
Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
setara dengan 2,916 mg Mg(OH)2 0 ,55(0 ,0385 A) + 0 ,8( 0 ,0343 M ) + 0 ,9( 0 ,02C )

Penetapan kadar kalsium karbonat 0,0385; 0,0343 dan 0,02 berturut-turut adalah
Larutan uji Lakukan seperti tertera pada Penetapan kapasitas penetralan asam teoritis aluminium
kadar aluminium hidroksida. hidroksida, Al(OH)3; magnesium hidroksida,
Prosedur Pipet sejumlah volume Larutan uji setara Mg(OH)2 dan kalsium karbonat, CaCO3 dalam mEq;
dengan lebih kurang 50 mg kalsium karbonat, A, M dan C berturut-turut adalah jumlah aluminium
masukkan ke dalam gelas piala 500 mL, tambahkan hidroksida, Al(OH)3; magnesium hidroksida,
200 mL air dan 5 mL larutan natrium hidroksida P (1 Mg(OH)2 dan kalsium karbonat, CaCO3 dalam serbuk
dalam 2) dan 250 mg biru hidroksi naftol P. Aduk tablet yang digunakan, dihitung berdasarkan jumlah
dengan pengaduk magnetik, titrasi segera dengan yang tertera pada etiket.
dinatrium edetat 0,05 M LV hingga larutan berwarna
biru. Lakukan penetapan blangko. Penetapan kadar aluminium hidroksida
Titran dinatrium edetat Lakukan seperti tertera pada
Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M Penetapan Kadar dalam Suspensi Oral Alumina,
setara dengan 5,004 mg CaCO3 Magnesia dan Kalsium Karbonat.
Larutan uji Timbang dan serbukkan tidak kurang
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk
rapat, hindari dari pembekuan. tablet setara dengan lebih kurang 600 mg aluminium
hidroksida, masukkan ke dalam gelas piala,
Penandaan Diberi etiket untuk menyatakan tambahkan 20 mL air, aduk dan tambahkan secara
kandungan aluminium hidroksida setara dengan perlahan 40 mL asam hidroklorida 3 N. Panaskan
jumlah aluminium hidroksida gel kering, tiap mg gel hingga mendidih, dinginkan dan saring, masukkan ke
kering setara dengan 0,765 mg Al(OH)3. dalam labu tentukur 200-mL. Bilas gelas piala dengan
air, masukkan air bilasan ke dalam labu tentukur,
encerkan dengan air sampai tanda.
TABLET KUNYAH ALUMINA, MAGNESIA Prosedur Lakukan seperti tertera pada Prosedur
DAN KALSIUM KARBONAT Penetapan kadar aluminium hidroksida dalam
Alumina, Magnesia and Calcium Carbonate Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan Kalsium
Chewable Tablets Karbonat.

Tablet Kunyah Alumina, Magnesia dan Kalsium Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
Karbonat mengandung aluminium hidroksida, setara dengan3,900 mg Al(OH)3.
Al(OH)3; magnesium hidroksida, Mg(OH)2 dan
kalsium karbonat, CaCO3 masing-masing tidak kurang Penetapan kadar magnesium hidroksida
dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah Titran dinatrium edetat dan Larutan uji Lakukan
yang tertera pada etiket. seperti tertera pada Penetapan Kadar aluminium
hidroksida.
Identifikasi Pada 3 g tablet yang diserbukhaluskan Prosedur Lakukan seperti tertera pada Prosedur
tambahkan 25 mL air dan 25 mL asam sulfat 2 N, aduk Penetapan kadar magnesium hidroksida dalam
- 98 -

Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan Kalsium pemanasan selama 2 menit, saring: filtrat
Karbonat. menunjukkan reaksi Magnesium seperti tertera pada
Uji Identifikasi Umum <291>.
Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M C. Bilas endapan yang diperoleh dari uji Identifikasi
setara dengan2,916 mg Mg(OH)2 B dengan larutan panas amonium klorida P (1 dalam
50), larutkan endapan dalam asam hidroklorida P,
Penetapan kadar kalsium karbonat bagi menjadi 2 bagian: pada bagian pertama,
Titran dinatrium edetat dan Larutan uji Lakukan tambahkan tetes demi tetes amonium hidroksida 6 N
seperti tertera pada Penetapan Kadar aluminium hingga terbentuk endapan gelatin berwarna putih.
hidroksida. Endapan tidak larut dalam amonium hidroksida 6 N
Prosedur Lakukan seperti tertera pada Prosedur berlebih. Pada bagian yang lain tambahkan tetes demi
Penetapan kadar kalsium karbonat dalam Suspensi tetes natrium hidroksida 1 N hingga terbentuk
Oral Alumina, Magnesia dan Kalsium Karbonat. endapan gelatin berwarna putih. Endapan larut dalam
natrium hidroksida 1 N berlebih, larutan menjadi
Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M keruh.
setara dengan 5,004 mg CaCO3
Batas mikroba <51>Angka lempeng total tidak lebih
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup dari 100 unit koloni per mL. Uji Escherichia coli
baik. memberikan hasil negatif.

Penandaan Pada etiket harus tertera “Tablet dikunyah Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang
terlebih dahulu sebelum ditelan”. Tablet dibuat dengan digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang
menggunakan Aluminium Hidroksida Gel Kering, dari 5 mEq dan tidak kurang dari jumlah mEq yang
yang dapat dicantumkan untuk menyatakan dihitung dengan rumus:
kandungan aluminium hidroksida setara dengan
jumlah aluminium hidroksida gel kering, tiap mg gel 0,55( FA  A) + 0,8( FM  M )
kering setara dengan 0,765 mg aluminium hidroksida,
Al(OH)3. FA dan FM berturut-turut adalah kapasitas penetralan
asam teoritis aluminium hidroksida, Al(OH)3 (0,0385)
dan magnesium hidroksida, Mg(OH)2 (0,0343) dalam
SUSPENSI ORAL ALUMINA, MAGNESIA mEq; A dan M berturut-turut adalah jumlah aluminium
DAN SIMETIKON hidroksida, Al(OH)3 dan magnesium hidroksida,
Alumina, Magnesia and Simethicone Oral Mg(OH)2 dalam mg, yang dihitung berdasarkan
Suspension jumlah yang tertera pada etiket.

Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan Simetikon pH <1071> Antara 7,0 dan 8,6.
mengandung aluminium hidroksida, Al(OH) 3 dan
magnesium hidroksida, Mg(OH)2 masing-masing Natrium
tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 115,0% Larutan kalium klorida Buat larutan kalium klorida P
dan mengandung polidimetilsiloksan [-(CH3)2SiO-]6 dalam air yang mengandung 38 mg per mL.
tidak kurang dari 85,0% dan tidak lebih dari 115,0% Blangko Campurkan 4,0 mL asam hidroklorida 1 N
dari jumlah yang tertera pada etiket. dan 10,0 mL Larutan kalium klorida ke dalam labu
tentukur 100-mL, encerkan dengan air sampai tanda.
Baku pembanding Polidimetilsiloksan BPFI; campur Larutan persediaan natrium klorida Timbang
sebelum digunakan, simpan dalam wadah tertutup saksama sejumlah natrium klorida P yang telah
rapat. Setelah dibuka, simpan dalam gas inert. dikeringkan pada suhu 105 selama 2 jam, larutkan
dalam air, encerkan secara bertahap dengan air hingga
Identifikasi diperoleh larutan dengan kadar 25,42 µg per mL (10 µg
A. Spektrum serapan inframerah zat menunjukkan per mL natrium).
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang Larutan baku Buat pada saat akan digunakan. Ke
sama seperti pada Polidimetilsiloksan BPFI. Lakukan dalam dua labu tentukur 100-mL, masukkan masing-
penetapan menggunakan sel 0,5 mm dan Larutan uji masing 4 mL asam hidroklorida 1 N dan 10 mL
seperti tertera pada Penetapan kadar dalam Larutan kalium klorida. Ke dalam masing-masing labu
polidimetilsiloksan. tambahkan 5,0 dan 10,0 mL Larutan persediaan
B. Pada larutan yang mengandung 5 g zat uji dalam natrium klorida, encerkan dengan air hingga kadar
10 mL asam hidroklorida 3 N, tambahkan 5 tetes beturut-turut 0,5 dan 1,0 µg per mL.
merah metil LP, panaskan hingga mendidih dan Larutan uji Kocok suspensi oral dalam kemasan
tambahkan amonium hidroksida 6 N hingga warna asli, masukkan 5,0 mL suspensi ke dalam labu
larutan berubah menjadi kuning tua, lanjutkan tentukur 100-mL. Tambahkan 50 mL asam klorida
- 99 -

1 N, didihkan selama 15 menit, dinginkan hingga suhu Penetapan kadar magnesium hidroksida
ruang, encerkan dengan air sampai tanda. Saring, Larutan uji Lakukan seperti tertera pada Penetapan
buang beberapa mL filtrat pertama, masukkan 5,0 mL kadar aluminium hidroksida.
filtrat ke dalam labu tentukur 100-mL yang berisi 10 Larutan hitam eriokrom T Lakukan seperti tertera
mL Larutan kalium klorida, encerkan dengan air pada Penetapan kadar magnesium hidroksida dalam
sampai tanda. Suspensi Oral Alumina dan Magnesia.
Prosedur Lakukan penetapan menggunakan Prosedur Pipet sejumlah volume Larutan uji setara
Spektrofotometer serapan atom seperti tertera pada dengan lebih kurang 40 mg magnesium hidroksida,
Spektrofotometri dan Hamburan Cahaya <1191>. masukkan ke dalam gelas piala 400 mL, tambahkan
Ukur secara berurutan serapan Larutan baku dan 200 mL air dan 20 mL trietanolamina P, aduk.
Larutan uji pada garis emisi natrium 589,0 nm Tambahkan 10 mL Dapar amonia-amonium klorida
menggunakan spektrofotometer serapan atom yang LP dan 3 tetes Larutan hitam eriokrom T, dinginkan
dilengkapi dengan lampu “hollow cathode” natrium larutan dalam tangas es hingga suhu 3-4, angkat.
dan nyala asetilen-udara, lakukan penetapan blangko. Titrasi dengan dinatrium edetat 0,05 M LV hingga
Buat kurva linier serapan Larutan baku terhadap kadar warna biru. Lakukan penetapan blangko.
natrium dalam µg per mL. Dari grafik yang diperoleh,
tetapkan kadar natrium, C, dalam µg per mL Larutan Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
uji. Hitung jumlah dalam mg natrium yang digunakan setara dengan 2,916 mg Mg(OH)2
dengan rumus:
Penetapan kadar polidimetilsiloksan
CDF Blangko Campurkan 10 mL toluen P dan 0,5 g
N natrium sulfat anhidrat P, sentrifus hingga diperoleh
beningan jernih.
C adalah kadar natrium dalam µg per mL dari Larutan
Larutan baku Lakukan seperti tertera pada Larutan
uji; D adalah faktor pengencer dari Larutan uji (2000);
uji, dengan melarutkan lebih kurang 50 mg
F adalah faktor konversi (0,001 mg per µg); N adalah Polidimetilsiloksan BPFI yang ditimbang saksama
volume suspensi oral yang digunakan untuk membuat dalam wadah berisi 25,0 mL toluen P, tambahkan 40
Larutan uji (5 mL).
mL natrium hidroksida 0,1 N, tambahkan air sejumlah
volume sama dengan suspensi oral yang digunakan.
Penetapan kadar aluminium hidroksida
Larutan uji Ukur saksama sejumlah volume
Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti
suspensi oral setara dengan lebih kurang 50 mg
tertera pada Penetapan kadar dalam Amonium Kalium simetikon, masukkan ke dalam botol bulat bermulut
Sulfat. sempit dan bertutup ulir 120 mL, masukkan 40 mL
Larutan uji Kocok suspensi oral dalam kemasan
natrium hidroksida 0,1 N, goyang hingga terdispersi.
asli, ukur saksama sejumlah volume suspensi oral
Tambahkan 25 mL toluen P, tutup botol dengan
setara dengan lebih kurang 800 mg aluminium
sumbat inert, kocok selama 15 menit pada pengocok
hidroksida, masukkan ke dalam gelas piala.
resiprokal (lebih kurang 200 osilasi per menit dan
Tambahkan 20 mL air, aduk dan tambahkan secara
goyangan 38  2 mm). Masukkan campuran ke dalam
perlahan 10 mL asam hidroklorida P. Jika perlu
corong pisah 125 mL, biarkan mengendap. Ambil 5
panaskan secara perlahan hingga larut, dinginkan,
mL lapisan organik di bagian atas, masukkan ke dalam
saring dan masukkan air bilasan ke dalam labu
tabung reaksi 15 mL bertutup ulir yang berisi lebih
tentukur 200-mL. Bilas penyaring dengan air,
kurang 0,5 g natrium sulfat anhidrat P. Tutup tabung,
masukkan air bilasan ke dalam labu, encerkan dengan
kocok kuat-kuat, sentrifus hingga diperoleh beningan
air sampai tanda.
jernih.
Prosedur Pipet 10 mL Larutan uji, masukkan ke
Prosedur Ukur secara bersamaan serapan Larutan
dalam gelas piala 250 mL, tambahkan 20 mL air,
baku dan Larutan uji dalam sel 0,5 mm pada panjang
sambil terus diaduk tambahkan 25,0 mL Titran
gelombang serapan maksimum 7,9 µm menggunakan
dinatrium edetat dan 20 mL dapar asam asetat-
spektrofotometer inframerah. Lakukan penetapan
amonium asetat LP, panaskan hingga mendekati titik
blangko. Hitung persentase, polidimetilsiloksan, [-
didih selama 5 menit. Dinginkan, tambahkan 50 mL
(CH3)2SiO-]n, dalam suspensi oral yang digunakan,
etanol P dan 2 mL ditizon LP, campur. Titrasi dengan
dengan rumus:
zink sulfat 0,05 M LV hingga warna berubah dari hijau
violet menjadi merah muda. Lakukan penetapan
blangko.  AU   WS 
      100
 AS   WU 
Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M
setara dengan 3,900 mg Al(OH)3.
AU dan AS berturut-turut adalah serapan Larutan uji
dan Larutan baku; WS adalah bobot dalam mg
Polidimetilsiloksan BPFI dari Larutan baku; WU
- 100 -

adalah bobot dalam mg simetikon dari Larutan uji dari 5 mEq dan tidak kurang dari jumlah mEq yang
berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket. dihitung berdasarkan rumus:

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup 0,55(0,0385 A) + 0,8(0,0343M )


rapat, hindari dari pembekuan.
0,0385 dan 0,0343 berturut-turut adalah kapasitas
Penandaan Pada etiket dicantumkan kadar penetralan asam teoritis aluminium hidroksida,
aluminium hidroksida setara dengan jumlah Al(OH)3 dan magnesium hidroksida, Mg(OH)2 dalam
aluminium hidroksida gel kering, tiap mg gel kering mEq; A dan M berturut-turut adalah jumlah dalam mg,
setara dengan 0,765 mg aluminium hidroksida, aluminium hidroksida, Al(OH)3 dan magnesium
Al(OH)3 serta kadar natrium, jika kadarnya lebih besar hidroksida, Mg(OH)2 dalam serbuk tablet yang
dari 1 mg per mL. digunakan, dihitung berdasarkan jumlah yang tertera
pada etiket.

TABLET KUNYAH ALUMINA, Natrium


MAGNESIA DAN SIMETIKON Larutan kalium klorida, Larutan baku natrium
Alumina, Magnesia and Simethicone klorida dan Larutan baku Lakukan seperti tertera pada
Chewable Tablets Natrium dalam Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan
Simetikon.
Tablet Alumina, Magnesia dan Simetikon Larutan uji Timbang dan serbukkan tidak kurang
mengandung aluminium hidroksida, Al(OH) 3 dan dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk
magnesium hidroksida, Mg(OH)2 masing-masing tablet setara dengan bobot rata-rata 1 tablet, masukkan
tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% ke dalam labu tentukur 100-mL. Tambahkan 50 mL
dan mengandung polidimetilsiloksan, [-(CH3)2SiO-]n asam hidroklorida 1 N, didihkan selama 15 menit,
tidak kurang dari 85,0% dan tidak lebih dari 115,0% dinginkan hingga suhu ruang, encerkan dengan air
dari jumlah yang tertera pada etiket. sampai tanda. Saring, buang beberapa mL filtrat
pertama, pipet 5 mL filtrat masukkan ke dalam labu
Identifikasi tentukur 100-mL yang berisi 10 mL Larutan kalium
A. Spektrum serapan inframerah zat menunjukkan klorida, encerkan dengan air sampai tanda.
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang Prosedur Lakukan seperti tertera pada Natrium
sama seperti pada Polidimetilsiloksan. Lakukan dalam Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan
penetapan menggunakan sel 0,5 mm dan Larutan Simetikon. Hitung jumlah dalam mg, natrium per
seperti tertera pada Penetapan kadar tablet dengan rumus:
polidimetilsiloksan.
B. Pada sejumlah tablet yang telah diserbuk 2C
haluskan, setara dengan lebih kurang 600 mg
magnesium hidroksida, tambahkan 25 mL asam Penetapan kadar aluminium hidroksida
hidroklorida 3 N dan 25 mL air, campur. Didihkan Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti
secara perlahan selama 2 menit. Biarkan dingin dan tertera pada Penetapan kadar dalam Amonium Kalium
saring. Tambahkan 5 tetes merah metil LP, panaskan Sulfat.
hingga mendidih dan tambahkan amonium hidroksida Larutan uji Timbang dan serbuk haluskan tidak
6 N hingga warna larutan berubah menjadi kuning tua, kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah
lanjutkan pendidihan selama 2 menit, saring: filtrat serbuk tablet setara dengan lebih kurang 800 mg
menunjukkan reaksi Magnesium seperti tertera pada aluminium hidroksida, masukkan ke dalam gelas piala
Uji Identifikasi Umum <291>. 150 mL, tambahkan 20 mL air, aduk. Tambahkan
C. Bilas endapan yang diperoleh dari uji Identifikasi perlahan 30 mL asam hidroklorida 3 N, aduk. Jika
B dengan larutan panas amonium klorida P (1 dalam perlu panaskan perlahan hingga larut, dinginkan
50), larutkan endapan dalam asam hidroklorida P: hingga suhu ruang, saring dan masukkan ke dalam
larutan menunjukkan reaksi seperti tertera pada uji labu tentukur 200-mL. Bilas penyaring dengan air,
Identifikasi C dalam Suspensi Oral Alumina, masukkan air bilasan ke dalam labu, encerkan dengan
Magnesia dan Simetikon. air sampai tanda.
Prosedur Lakukan Prosedur seperti tertera pada
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi persyaratan Penetapan kadar aluminium hidroksida dalam
Keragaman bobot untuk aluminium hidroksida dan Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan Simetikon.
magnesium hidroksida.
Penetapan kadar magnesium hidroksida
Kapasitas penetralan asam <451> Asam yang Larutan uji Lakukan seperti tertera pada Penetapan
digunakan pada dosis tunggal minimum tidak kurang kadar aluminium hidroksida.
- 101 -

Prosedur Lakukan Prosedur seperti tertera pada GEL ALUMINIUM HIDROKSIDA


Penetapan kadar magnesium hidroksida dalam Aluminium Hydroxide Gel
Suspensi Oral Alumina, Magnesia dan Simetikon.
Aluminium hidroksida [21645-51-2]
Al(OH)3 BM 78,00
Penetapan kadar polidimetilsiloksan
Larutan uji Timbang dan serbukkan tidak kurang Gel Aluminium Hidroksida adalah suspensi dari
dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk aluminium hidroksida bentuk amorf, sebagian
tablet setara dengan lebih kurang 33 mg simetikon, hidroksida disubstitusi dengan karbonat. Mengandung
masukkan ke dalam wadah bulat bermulut sempit dan aluminium hidroksida setara dengan tidak kurang dari
bertutup ulir 120 mL, tambahkan 40 mL natrium 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% Al(OH) 3, dari
hidroksida 0,1 N, aduk hingga terdispersi. Tambahkan jumlah yang tertera pada etiket. Dapat mengandung
20 mL toluena P, tutup wadah dengan sumbat inert minyak permen, gliserol, sorbitol, sukrosa, sakarin
kocok selama 30 menit pada pengocok resiprokal atau penambah rasa lain dan dapat mengandung bahan
(lebih kurang 200 osilasi per menit dan goyangan 38  antimikroba yang sesuai.
2 mm). Masukkan campuran ke dalam corong pisah
125 mL, biarkan memisah. Angkat lapisan organik di Pemerian Suspensi kental, putih, jika dibiarkan akan
bagian atas, masukkan ke dalam tabung sentrifuga terjadi sedikit cairan jernih yang memisah.
bertutup ulir yang berisi lebih kurang 2 g natrium
sulfat anhidrat P. Tutup tabung, kocok kuat-kuat, Identifikasi
sentrifus hingga diperoleh beningan jernih. A. Masukkan 1g zat dalam labu bersumbat
Larutan baku Lakukan seperti pada Larutan uji, dilengkapi pipa kaca yang ujungnya dicelupkan ke
menggunakan lebih kurang 33 mg Polidimetilsiloksan dalam kalsium hidroksida LP dalam tabung reaksi.
BPFI yang ditimbang saksama. Lakukan penetapan Tambahkan ke dalam labu 5 mL asam hidroklorida 3
blangko menggunakan campuran 10 mL toluen P dan N dan tutup segera: terbentuk gas dalam labu dan
1 g natrium sulfat anhidrat P, sentrifus hingga terbentuk endapan dalam tabung reaksi.
diperoleh beningan jernih. B. Larutan dalam labu yang diperoleh dari
Prosedur Ukur secara berurutan serapan Larutan Identifikasi A memberikan reaksi Aluminium cara A
baku dan Larutan uji menggunakan sel 0,5 mm pada dan B seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum
bilangan gelombang serapan maksimum 7,9 µm <291>.
(1265,8 cm-1), menggunakan spektrofotometer
inframerah. Lakukan penetapan blangko. Hitung Batas mikroba <51> Jumlah mikroba aerob tidak
jumlah dalam mg, polidimetilsiloksan, [-(CH3)2SiO-]n, lebih dari 100 per mL, dan tidak mengandung
dalam serbuk tablet yang digunakan, dengan rumus: Escherichia coli.

A  Kapasitas penetralan asam <451> Tidak kurang dari


W  U  65,0% dari angka miliekuivalen yang dihitung dari
 AS  hasil Penetapan kadar yang diperoleh. Tiap mg
aluminium hidroksida, Al(OH)3 mempunyai kapasitas
W adalah bobot dalam mg, Polidimetilsiloksan BPFI penetralan asam 0,0385 miliekuivalen.
yang digunakan untuk membuat Larutan baku; AU dan
AS berturut-turut adalah serapan Larutan uji dan pH <1071> Antara 5,5 dan 8,0; lakukan penetapan
Larutan baku. secara potensiometrik.

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Klorida Tidak lebih dari 4,7% dihitung terhadap
baik. kandungan aluminium hidroksida, Al(OH)3. Timbang
saksama gel setara dengan 600 mg aluminium
Penandaan Pada etiket tertera “Tablet dikunyah hidroksida, Al(OH)3, masukkan ke dalam cawan
terlebih dahulu sebelum ditelan”. Pada etiket harus porselen. Tambahkan 0,1 mL kalium kromat LP dan 25
dicantumkan kadar natrium, jika kadarnya lebih besar mL air. Aduk dan tambahkan perak nitrat 0,1 N hingga
dari 5 mg per tablet. Pada etiket dapat dicantumkan terjadi warna merah muda lemah yang stabil:
kandungan aluminium hidroksida setara dengan diperlukan tidak lebih dari 8,0 mL perak nitrat 0,1 N.
jumlah aluminium hidroksida gel kering, tiap mg gel
keringsetara dengan 0,765 mg Al(OH)3. Sulfat <361> Tidak lebih dari 0,8 % dihitung terhadap
kandungan aluminium hidroksida, Al(OH)3; lakukan
penetapan dengan menambahkan 5,0 mL asam
hidroklorida 3 N pada sejumlah gel yang ditimbang
saksama setara dengan 300 mg aluminium hidroksida,
Al(OH)3. Panaskan sampai larut, dinginkan, encerkan
- 102 -

dengan air sampai 250 mL dan saring bila perlu: 20 Aluminium Hidroksida [21645-51-2]
mL filtrat yang diperoleh menunjukkan sulfat tidak Al(OH)3 BM 78,00
lebih keruh dari 0,20 mL asam sulfat 0,02 N.
Gel Aluminium Hidroksida Kering adalah serbuk
Arsen <321> Metode I Tidak lebih dari 10 bpj, amorf aluminuim hidroksida, yang sebagian
dihitung terhadap kandungan aluminium hidroksida, hidroksida disubstitusi dengan karbonat. Mengandung
Al(OH)3. Buat Larutan baku seperti pada Uji Batas setara tidak kurang dari 76,5% Al(OH) 3 dan dapat
Arsen, kecuali 3 μg arsen diganti 5 μg. Buat Larutan mengandung aluminium karbonat dan aluminium
uji sebagai berikut: Timbang saksama gel setara bikarbonat basa dalam jumlah bervariasi.
dengan 500 mg aluminium hidroksida, Al(OH) 3,
larutkan dalam 20 mL asam sulfat 7 N. Pemerian Serbuk amorf, putih; tidak berbau; tidak
berasa.
Logam berat <371> Tidak lebih dari 83 bpj, dihitung
terhadap kandungan aluminium hidroksida, Al(OH) 3; Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dan dalam
lakukan penetapan dengan melarutkan sejumlah gel etanol; larut dalam asam mineral encer dan dalam
yang ditimbang saksama setara dengan 240 mg larutan alkali hidroksida.
aluminium hidroksida, Al(OH)3 dalam 10 mL asam
hidroklorida 3 N dengan pemanasan, saring bila perlu Baku pembanding Gel Aluminium Hidroksida
dan encerkan dengan air hingga 25 mL. Kering BPFI; tidak boleh dikeringkan sebelum
digunakan.
Penetapan kadar
Titran dinatrium edetat Buat dan bakukan seperti Identifikasi
tertera pada Penetapan kadar dalam Aluminium A. Spektrum serapan inframerah zat yang
Kalium Sulfat. didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan
Prosedur Timbang saksama sejumlah gel setara maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
dengan 1,5 g aluminium hidroksida, Al(OH) 3, sama seperti pada Gel Aluminium Hidroksida Kering
masukkan ke dalam gelas piala, tambahkan 15 mL BPFI.
asam hidroklorida P dan panaskan perlahan-lahan B. Larutkan 500 mg zat dalam 10 mL asam
sampai larut sempurna. Dinginkan, masukkan ke hidroklorida 3 N dengan penghangatan: larutan
dalam labu tentukur 500-mL, encerkan dengan air menunjukkan reaksi Aluminium cara A dan B seperti
sampai tanda, campur. Pipet 20 mL larutan ke dalam yang tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
gelas piala 250 mL, tambahkan secara berurutan
sambil diaduk terus-menerus 25,0 mL Titran Kapasitas penetralan asam <451> Tidak kurang dari
dinatrium edetat, dan 20 mL larutan dapar asam 25,0 miliekuivalen per gram; lakukan penetapan
asetat-amonium asetat LP. Kemudian panaskan dengan menggunakan 400 mg zat seperti pada Serbuk
larutan mendekati titik didih selama 5 menit. dalam Larutan uji pada Kapasitas penetralan asam
Dinginkan dan tambahkan 50 mL etanol P dan 2 mL <451>.
ditizon LP. Titrasi larutan dengan zink sulfat 0,05 M
LV sampai warna berubah dari hijau lembayung pH <1071> Tidak lebih dari 10,0; lakukan penetapan
menjadi merah muda. Lakukan penetapan blangko menggunakan larutan zat terdispersi dalam air (1
menggunakan 20 mL air. dalam 25).

Tiap mL titran dinatrium edetat 0,05 M Klorida <361> Tidak lebih dari 0,85%; lakukan
setara dengan 3,900 mg Al(OH)3 penetapan dengan melarutkan 1,0 g zat dalam 30 mL
asam nitat 2 N, didihkan, tambahkan air hingga 100
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup mL, saring. Encerkan 5,0 mL filtrat dengan air volume
rapat dan hindarkan dari pembekuan. sama: menunjukkan tidak lebih keruh dari larutan
pembanding yang mengandung 0,60 mL asam
hidroklorida 0,020 N.
GEL ALUMINIUM HIDROKSIDA
KERING Sulfat <361> Tidak lebih dari 0,6%; lakukan
Dried Aluminum Hydroxide Gel penetapan dengan melarutkan 330 mg zat dalam 15
mL asam hidroklorida 3 N, didihkan, tambahkan air
hingga 250 mL dan saring: 25,0 mL filtrat
menunjukkan tidak lebih keruh dari larutan
pembanding yang mengandung 0,20 mL asam sulfat
0,020 N.
- 103 -

Arsen <321> Metode I Tidak lebih dari 8 bpj; lakukan dioksabisiklo [33 .3.1] nonatriakonta-19,
penetapan dengan melarutkan 1,5 g zat dalam 80 mL 21,23,25,27,29,31-heptaena-36-karboksilat [1397-
asam sulfat 7 N, encerkan dengan air hingga 220 mL; 89-3]
55 mL larutan memenuhi syarat uji batas arsen tanpa C47H73NO17 BM 924,08
penambahan 20 mL asam sulfat 7 N seperti yang
tertera pada Prosedur dalam Uji Batas Arsen <321>. Amfoterisin B mempunyai potensi tidak kurang dari
750 µg C47H73NO17 per mg, dihitung terhadap zat
Logam berat <371> Metode I Tidak lebih dari 60 bpj; kering.
lakukan penetapan dengan melarutkan 330 mg zat
dalam 10 mL asam hidroklorida 3 N dengan Pemerian Serbuk, kuning sampai jingga; tidak berbau
pemanasan, jika perlu saring, encerkan dengan air atau praktis tidak berbau.
hingga 25 mL.
Kelarutan Tidak larut dalam air, dalam etanol mutlak,
Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 2 g dalam eter, dalam benzen, dan dalam toluen; larut
zat, masukkan ke dalam gelas piala, tambahkan 15 mL dalam dimetilformamida, dalam dimetilsulfoksida dan
asam hidroklorida P dengan pemanasan, dinginkan dalam propilen glikol; sukar larut dalam metanol.
dan masukkan ke dalam labu tentukur 500-mL,
encerkan dengan air sampai tanda, campur. Pipet 20 Baku pembanding Amfoterisin B BPFI; lakukan
mL larutan ke dalam gelas piala 250 mL, tambahkan pengeringan dalam hampa udara dengan tekanan tidak
sambil diaduk terus menerus berturut-turut 25,0 mL lebih dari 5 mmHg pada suhu 60 selama 3 jam
Dinatrium edetat 0,05 M LV, dan 20 mL Dapar asam sebelum digunakan. Simpan dalam wadah tertutup
asetat-amonium asetat LP, kemudian panaskan rapat, terlindung dari cahaya pada tempat dingin.
larutan mendekati titik didih selama 5 menit. Nistatin BPFI; lakukan pengeringan dalam hampa
Dinginkan, tambahkan 50 mL etanol P dan 2 mL udara dengan tekanan tidak lebih dari 5 mmHg pada
ditizon LP. Titrasi larutan dengan zink sulfat 0,05 M suhu 40 selama 2 jam sebelum digunakan. Simpan
LV sampai berwarna merah muda cerah. Lakukan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
penetapan blangko menggunakan 20 mL air. pada lemari pembeku.

Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M Identifikasi Spektrum serapan ultraviolet Larutan uji
setara dengan 3,900 mg Al(OH)3 seperti yang diperoleh pada Amfoterisin A
menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup gelombang antara 240 nm dan 320 nm sama seperti
rapat. pada Larutan baku Amfoterisin B dalam Amfoterisin
A, kemungkinan ada puncak tambahan pada lebih
Penandaan Pada etiket dicantumkan kesetaraan kurang 304 nm. Spektrum serapan ultraviolet dan
jumlah gel aluminium hidroksida kering berdasarkan cahaya tampak larutan yang diperoleh dengan
perhitungan tiap 1 mg gel kering setara dengan 0,765 pengenceran Larutan uji dengan 9 volume metanol P,
mg Al(OH)3. menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang
gelombang antara 320 nm dan 400 nm sama seperti
pada Larutan baku Amfoterisin B yang diperlakukan
AMFOTERISIN B sama.
Amphotericin B
Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 5,0%;
lakukan pengeringan dalam botol bersumbat kapiler
pada hampa udara dengan tekanan tidak lebih dari 5
mmHg pada suhu 60 selama 3 jam, menggunakan
lebih kurang 100 mg zat.

Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,5%; pada


sisa pengarangan dibasahi dengan 2 mL asam nitrat P
dan 5 tetes asam sulfat P, pijarkan. [Catatan
Amfoterisin B yang digunakan untuk menyiapkan
sediaan dermatologi krim, losio, salep, suspensi oral
dan kapsul: hasil tidak lebih dari 3,0%.]
Asam [1R-(1R*,3S*,5R*,6R*, 9R*, 11R*, 15S*, 16R*,
17R*, 18S*, 19E, 21E, 23E, 25E, 27E, 29E, 31E,
Amfoterisin A Tidak lebih dari 5%, dihitung terhadap
33R*, 35S*, 36R*, 37S*)]-33-[(3-amino-3,6-dideoksi-
zat kering.
ß-D-manopiranosil)oksi]-1,3,5,6,9,11,17,37-
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 50 mg
oktahidroksi-15,16,18-trimetil-13-okso-14,39-
zat, masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL, larutkan
- 104 -

dalam 10,0 mL dimetil sulfoksida P, encerkan dengan Baku pembanding Amfoterisin B BPFI; lakukan
metanol P sampai tanda. Pipet 4 mL larutan ini ke pengeringan dengan tekanan tidak lebih dari 5
dalam labu tentukur 50-mL, encerkan dengan metanol mmHg pada suhu 60º selama 3 jam sebelum
P sampai tanda. digunakan. Simpan dalam wadah tertutup rapat,
Larutan baku Nistatin Timbang saksama lebih terlindung cahaya, di lemari pembeku.
kurang 20 mg Nistatin BPFI, masukkan ke dalam labu
tentukur 200-mL, larutkan dalam 40,0 mL Isi minimum <861>Memenuhi syarat.
dimetilsukfoksida P, encerkan dengan metanol P
sampai tanda. Pipet 4 mL larutan ini ke dalam labu Air <1031>Metode I Tidak lebih dari 1,0%; lakukan
tentukur 50-mL, encerkan dengan metanol P sampai penetapan menggunakan 20 mL campuran toluen P -
tanda. metanol P (7:3) sebagai ganti metanol P.
Larutan baku Amfoterisin B Timbang saksama lebih
kurang 50 mg Amfoterisin B BPFI, masukkan ke Penetapan kadar Lakukan penetapan amfoterisin B
dalam labu tentukur 50-mL, larutkan dalam 10,0 mL seperti tertera pada Penetapan Potensi Antibiotik
dimetilsukfoksida P encerkan dengan metanol P secara Mikrobiologi <131>. Timbang saksama
sampai tanda. Pipet 4 mL larutan ini ke dalam labu sejumlah salep setara dengan 30 mg amfoterisin B,
tentukur 50-mL, encerkan dengan metanol P sampai tambahkan 10,0 mL eter P dalam labu Erlenmeyer
tanda. Larutan dibuat segar. bersumbat kaca yang sesuai, biarkan selama 1 jam
Prosedur Ukur serapan Larutan baku dan Larutan dengan sesekali dikocok. Tambahkan 20,0 mL dimetil
uji menggunakan sel 1-cm, pada panjang gelombang sulfoksida P, kocok secara mekanik selama 10 menit.
304 nm dan 282 nm, menggunakan dimetilsulfoksida Encerkan secara kuantitatif dan bertahap dengan
P dalam metanol P (1 dalam 62,5) sebagai blangko. dimetil sulfoksida P hingga kadar lebih kurang 20 µg
Hitung persentase Amfoterisin A dalam zat dengan per mL. Encerkan larutan dengan dapar nomor 10
rumus: hingga diperoleh Enceran larutan uji dengan kadar
yang setara dengan aras dosis tengah baku.
25 WN ( AB 282  AU 304 ) − ( AB 304  AU 282 )
WU ( AB 282  AU 304 ) − ( AB 304  AU 282 ) Wadah dan penyimpanan Dalam tube yang dapat
dilipat atau dalam wadah tertutup baik.
WN adalah bobot Nistatin BPFI dalam mg; AB282 dan
AB304 berturut-turut adalah serapan Larutan baku
Amfoterisin B pada panjang gelombang 282 nm dan AMFOTERISIN B UNTUK INJEKSI
304 nm; AN282 dan AN304 berturut-turut adalah serapan Amphotericin B for Injection
Larutan uji nistatin pada panjang gelombang 282 nm
dan 304 nm; WU adalah bobot Amfoterisin B dalam Amfoterisin B untuk Injeksi adalah sediaan steril
mg, [Catatan Amfoterisin B yang digunakan dalam kompleks amfoterisin B dan natrium deoksikolat dan
sediaan dermatologi krim, losio, salep, suspensi oral satu atau lebih dapar yang sesuai. Mengandung
dan kapsul mengandung tidak lebih dari 15% Amfoterisin, C47H73NO17, tidak kurang dari 90,0%
Amfoterisin A yang dihitung terhadap zat kering.] dan tidak lebih dari 120,0% dari jumlah yang tertera
pada etiket.
Penetapan kadar Lakukan penetapan seperti yang
tertera pada Penetapan Potensi Antibiotik secara Baku pembanding Amfoterisin B BPFI; lakukan
Mikrobiologi <131>. pengeringan dalam hampa udara dengan tekanan tidak
lebih dari 5 mmHg pada suhu 60 selama 3 jam
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup sebelum digunakan. Simpan dalam wadah tertutup
rapat, tidak tembus cahaya, simpan di tempat dingin. rapat, terlindung dari cahaya pada tempat dingin.
Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat pirogenik,
Penandaan Pada etiket dicantumkan petunjuk penanganan vial dan isi harus hati-hati untuk
penggunaan sediaan dermatologi dan oral atau sediaan menghindari kontaminasi] Rekonstitusi seluruh isi,
parenteral. simpan larutan dalam lemari pendingin dan gunakan
dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum dibuka
dalam lemari pembeku.
SALEP AMFOTERISIN B
Amphotericin B Ointment Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 5,0 unit
Endotoksin FI per mg Amfoterisin B. Jika digunakan
Salep Amfoterisin B adalah Amfoterisin B dalam atau dicantumkan pada etiket untuk injeksi intratekal,
dasar salep yang sesuai,mengandung Amfoterisin B, tidak lebih dari 0,9 unit Endotoksin FI per mg
C47H73NO17,tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih Amfoterisin B.
dari 125,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
- 105 -

Sterilitas <71> Memenuhi syarat; lakukan penetapan


dengan Penyaringan membran, menggunakan 50 mg
zat dari tiap wadah.

pH <1071> Antara 7,2 dan 8,0; lakukan penetapan


menggunakan larutan yang mengandung 10 mg per
mL.

Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 8,0%;


lakukan pengeringan dalam botol bersumbat kapiler,
pada hampa udara dengan tekanan tidak lebih dari 5 O-3-Amino-3-deoksi-α-D-glukopiranosil(1 4)-O-
[6-deoksi-α-D-glukopiranosil(1 6)]-N3-(4-amino-L-
mmHg pada suhu 60 selama 3 jam, menggunakan
2-hidroksi-butiril)-2-deoksi-L-streptamina [37517-
lebih kurang 100 mg zat.
28-5]
C22H43N5O13 BM 585,60
Syarat lain Memenuhi syarat Keseragaman sediaan
<911> dan Penandaan seperti yang tertera pada
Amikasin mempunyai potensi tidak kurang dari 900
Injeksi.
µg C22H43N5O13 per mg, dihitung terhadap zat
anhidrat.
Penetapan kadar
Larutan uji 1 (Jika dikemas dalam wadah dosis
Pemerian Serbuk hablur putih.
tunggal) Larutkan sesuai dengan yang tertera pada
etiket. Keluarkan seluruh isi menggunakan jarum
Kelarutan Agak sukar larut dalam air.
suntik yang sesuai. Encerkan dengan dimetil
sulfoksida P hingga kadar lebih kurang 20 µg per mL.
Baku pembanding Amikasin BPFI; tidak boleh
Larutan uji 2 (Jika etiket mencantumkan jumlah
dikeringkan sebelum digunakan. Simpan dalam wadah
amfoterisin B dalam volume larutan terkonstitusi)
tertutup rapat, terlindung cahaya pada tempat sejuk.
Larutkan sesuai dengan yang tertera pada etiket. Pipet
Kanamisin Sulfat BPFI; tidak boleh dikeringkan
sejumlah volume larutan konstitusi menggunakan
sebelum digunakan. Simpan dalam wadah tertutup
jarum suntik yang sesuai dan encerkan dengan dimetil
rapat, terlindung cahaya pada tempat sejuk.
sulfoksida P hingga kadar lebih kurang 20 µg
amfoterisin B per mL.
Identifikasi
Prosedur Lakukan penetapan seperti yang tertera
A. Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti tertera
pada Penetapan Potensi Antibiotik secara
pada Kromatografi <931>.
Mikrobiologi <131> Pipet Larutan uji, encerkan
Fase gerak Campuran metanol P-amonium
dengan Dapar nomor 10 untuk mendapatkan Enceran
hidroksida P-kloroform P (60:30:25).
larutan uji yang mempunyai kadar setara dengan aras
Larutan baku Timbang sejumlah zat, larutkan
dosis tengah baku.
dalam air hingga kadar 6 mg per mL.
Larutan uji Timbang sejumlah zat, larutkan dalam
Wadah dan penyimpanan Dalam Wadah untuk
air hingga kadar 6 mg per mL.
padatan steril seperti yang tertera pada Injeksi.
Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing 3
Simpan dalam lemari pendingin dan terlindung dari
μL Larutan baku, Larutan uji dan campuran dari
cahaya.
sejumlah volume sama Larutan baku dan Larutan uji
pada lempeng silika gel setebal 0,25 mm. Masukkan
Penandaan Pada etiket dicantumkan hanya untuk
lempeng ke dalam bejana kromatograf yang sesuai dan
penggunaan infus intravena pada pasien rawat inap,
eluasi bersinambung selama 5 jam 30 menit dengan
dan larutan harus terlindung dari cahaya selama
Fase gerak. Angkat lempeng, keringkan di udara,
pemberian.
panaskan pada suhu 110º selama 15 menit. Segera
tandai bercak dengan menyemprot lempeng dengan
larutan ninhidrin P (1 dalam 100) dalam campuran
AMIKASIN butanol P-piridina P (100:1). Amikasin tampak
Amikacin sebagai bercak berwarna merah muda. Harga Rf dan
warna bercak utama Larutan uji dan bercak utama
campuran Larutan baku dan Larutan uji sesuai dengan
yang diperoleh dari Larutan baku.
B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang
diperoleh pada Penetapan kadar.
- 106 -

Rotasi jenis <1081> Antara +97º dan +105º, dihitung Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
terhadap zat anhidrat; lakukan penetapan kromatogram dan ukur respons puncak utama.
menggunakan larutan 20 mg per mL. Hitung jumlah dalam µg amikasin, C22H43N5O13,
dalam tiap mg zat dengan rumus:
Sifat hablur <1091> Memenuhi syarat.
 CE  rU 

pH<1071> Antara 9,5 dan 11,5; lakukan penetapan 2500 
menggunakan larutan 10 mg per mL.  W  rS 
Air <1031> Metode I tidak lebih dari 8,5%. C adalah kadar Amikasin BPFI dalam mg per mL
Larutan baku;E adalah kadar amikasin dalam µg per
Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 1,0%; sisa mg Amikasin BPFI; W adalah bobot zat dalam mg
pengarangan dibasahkan dengan 2 mL asam nitrat P yang digunakan dalam Larutan uji; rU dan rS berturut-
dan 5 tetes asam sulfat P. turut adalah respons puncak Larutan uji dan Larutan
baku.
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Kromatografi <931>. rapat.
Fase gerak Buat larutan natrium hidroksida 0,115
N. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut
Kesesuaian sistem seperti tertera pada Kromatografi AMIKASIN SULFAT
<931>.
Amikacin Sulphate
Larutan kesesuaian sistem Timbang sejumlah
Amikasin BPFI dan Kanamisin Sulfat BPFI, larutkan
dalam air hingga kadar berturut-turut lebih kurang
0,02 dan 0,008 mg per mL.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Amikasin
BPFI larutkan dalam air hingga kadar lebih kurang
0,02 mg per mL.
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 50 mg
zat, masukkan ke dalam labu tentukur 250-mL,
larutkan dan encerkan dengan air sampai tanda. Pipet
10 mL larutan ke dalam labu tentukur 100-mL,
encerkan dengan air sampai tanda.
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada O-3-Amino-3-deoksi α-D-glukopiranosil(1 4)-O-[6-
Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi amino-6-deoksi-α-D-glukopiranosil
dilengkapi dengan detektor elektrokimia, dengan (1 6)]-N3-(4-amino-L-2-hidroksibutiril)-2-deoksi-
elektroda emas, dan elektroda pembanding pH perak- L-streptamina sulfat (1:2 atau 1:1,8) [39831-55-5]
perak klorida, kolom pelindung berisi bahan pengisi C22H43N5O13.1,8H2SO4 BM 762,15
L47, dan kolom analisis 4 mm x 25 cm berisi bahan C22H43N5O13.2H2SO4 BM 781,76
pengisi L47. Detektor elektrokimia yang digunakan
dengan model amperometrik dengan skala 300 nC, Amikasin Sulfat dengan perbandingan molar amikasin
dengan hasil 1 V pada skala penuh, waktu kenaikan dan sulfat 1:2 mengandung setara tidak kurang dari
0,5 detik, polaritas positif, potensial E = 0,04 V; t 1 = 674 µg dan tidak lebih dari 786 µg C22H43N5O13 per
200 ms; E2 = 0,8 V; t2 = 190 ms; E3 = -0,8 V; t3 = 190 mg, dihitung terhadap zat kering. Amikasin Sulfat
ms. Laju alir lebih kurang 0,5 mL per menit. Lakukan dengan perbandingan molar amikasin dan sulfat 1:1,8
kromatografi terhadap Larutan kesesuaian sistem, mengandung setara tidak kurang dari 691 µg dan tidak
rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti lebih dari 806 µg C22H43N5O13 per mg, dihitung
tertera pada Prosedur: waktu retensi relatif kanamisin terhadap zat kering.
dan amikasin berturut-turut lebih kurang 0,8 dan 1,0;
resolusi, R, antara puncak kanamisin dan puncak Pemerian Serbuk hablur putih.
amikasin tidak kurang dari 3. Lakukan kromatografi
terhadap Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur Kelarutan Mudah larut dalam air.
respons puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor
ikutan tidak lebih dari 2,0 dan simpangan baku relatif Baku pembanding Amikasin BPFI; tidak boleh
pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 3%. dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat,
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah terlindung cahaya, pada tempat sejuk. Kanamisin
volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan Sulfat BPFI; tidak boleh dikeringkan simpan dalam
- 107 -

wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, pada tempat


sejuk. INJEKSI AMIKASIN SULFAT
Amikacin Sulphate Injection
Identifikasi Lakukan penetapan seperti terterapada
Identifikasi dalam Amikasin. Injeksi Amikasin Sulfat adalah larutan steril amikasin
sulfat dalam Air untuk Injeksi atau larutan steril
Rotasi jenis <1081> Antara +76º dan +84º, dihitung amikasin dalam Air untuk Injeksi yang dibuat dengan
terhadap zat kering; lakukan penetapan menggunakan bantuan asam sulfat, mengandung amikasin
larutan 20 mg per mL. C22H43N5O13 tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih
dari 120,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Sifat hablur <1091> Memenuhi syarat.
Baku pembanding Amikasin BPFI; tidak boleh
pH <1071> Antara 2,0 dan 4,0 (garam 1:2) atau antara dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat,
6,0 dan 7,3 (garam 1:1,8); lakukan penetapan terlindung cahaya, pada tempat sejuk. Kanamisin
menggunakan larutan 10 mg zat per mL. Sulfat BPFI; tidak boleh dikeringkan, simpan dalam
wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, pada tempat
Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 13,0%; sejuk. Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat pirogenik,
lakukan pengeringan dengan tekanan tidak lebih dari penanganan vial dan isi harus hati-hati untuk
5 mmHg pada suhu 110° selama 3 jam. menghindari kontaminasi] Rekonstitusi seluruh isi,
simpan larutan dalam lemari pendingin dan gunakan
Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 1,0%; sisa dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum dibuka
pengarangan dibasahkan dengan 2 mL asam nitrat P dalam lemari pembeku.
dan 5 tetes asam sulfat P.
Identifikasi
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara A. Encerkan dengan air hingga kadar 6 mg per mL.
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada Larutan yang diperoleh memenuhi syarat Identifikasi
Kromatografi <931>. A seperti tertera pada Amikasin.
Fase gerak, Larutan kesesuaian sistem, Larutan B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
baku, dan Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang
pada Penetapan kadar dalam Amikasin. diperoleh pada Penetapan kadar.
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, setara
dengan 50 mg amikasin, masukkan ke dalam labu Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 0,33 unit
tentukur 250-mL, tambahkan lebih kurang 50 mL air Endotoksin FI per mg.
dan kocok untuk melarutkan. Encerkan dengan air
sampai tanda. Pipet 10 mL larutan ini ke dalam labu pH <1071> Antara 3,5 dan 5,5.
tentukur 100-mL, encerkan dengan air sampai tanda.
Prosedur Lakukan seperti tertera pada Penetapan Bahan partikulat <751> Memenuhi syarat seperti
kadar dalam Amikasin. tertera pada Injeksi volume kecil.
Hitung jumlah dalam μg amikasin, C22H43N5O13,
dalam tiap mg zat dengan rumus: Syarat lain Memenuhi syarat seperti tertera pada
Injeksi.
 CE  rU 

2500 
 W  rS
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
 Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>.
C adalah kadar Amikasin BPFI dalam mg per mL Fase gerak, Larutan kesesuaian sistem, Larutan
Larutan baku; E adalah kadar amikasin dalam µg per baku, dan Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera
mg Amikasin BPFI; W adalah bobot zat dalam mg pada Penetapan kadar dalam Amikasin.
yang digunakan dalam Larutan uji; rU dan rS berturut- Larutan uji Pipet sejumlah volume injeksi,
turut adalah respons puncak Larutan uji dan Larutan encerkan secara kuantitatif dan jika perlu bertahap
baku. dengan air hingga kadar lebih kurang 0,02 mg per mL.
Prosedur Lakukan seperti tertera pada Penetapan
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup kadar dalam Amikasin.
rapat. Hitung jumlah dalam mg amikasin, C22H43N5O13,
dalam tiap mL injeksi dengan rumus:
Penandaan Pada etiket mencantumkan perbandingan
molar amikasin terhadap asam sulfat adalah 1:2 atau
1:1,8.
- 108 -

sama seperti pada Amilorida Hidroklorida BPFI yang


 L  CE  rU 

   telah dikeringkan.
 D  1000  rS  B. Buat larutan dalam air hingga kadar lebih kurang
600 µg per mL, dan encerkan secarakuantitatif dan
L adalah jumlah amikasin dalam mg per mL injeksi bertahap dengan asam hidroklorida 0,1 N hingga
yang tertera pada etiket; D adalah kadar amikasin kadar lebih kurang 9,6 µg per mL. Spektrum serapan
dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah ultraviolet larutan ini menunjukkan maksimum dan
yang tertera pada etiket per mL dan faktor minimum pada panjang gelombang yang sama seperti
pengenceran. pada Amilorida Hidroklorida BPFI.
C. Menunjukkan reaksi Klorida cara A, B dan C
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah dosis seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
tunggal atau wadah dosis ganda, sebaiknya dari kaca
Tipe I atau Tipe III. Keasaman Larutkan 1,0 g zat dalam 100 mL
campuran metanol P-air (1:1), titrasi dengan natrium
hidroksida 0,1 N LV, Tetapkan titik akhir secara
potensiometrik: diperlukan tidak lebih dari 0,30 mL
AMILORIDA HIDROKLORIDA (0,1% sebagai HCl).
Amiloride Hydrochloride
Susut pengeringan Tidak kurang dari 11,0% dan
tidak lebih dari 13,0%; [Catatan Jumlah zat uji yang
digunakan pada penetapan jika perlu dapat
disesuaikan dengan kepekaan alat]. Lakukan
penetapan secara Analisis Termal <741> sebagai
berikut: Timbang saksama lebih kurang 10 mg zat,
panaskan dengan kenaikan suhu 10º per menit antara
suhu kamar dan 225° di bawah aliran nitrogen P
N-Amidino-3,5-diamino-6-kloropirazina dengan laju alir 40 mL per menit. Dari termogram
karboksamida monohidroklorida dihidrat [17440-83- tetapkan akumulasi penyusutan bobot selama
4] pemanasan antara suhu kamar dan suhu lebih kurang
C6H8ClN7O.HCl.2H2O BM 302,12 200° saat kurva mulai mendatar.

Amilorida Hidroklorida mengandung tidak kurang Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,1%.
dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0%
C6H8CIN7O.HCl, dihitung terhadap zat kering. Cemaran senyawa organik mudah menguap <471>
Metode V Memenuhi syarat.
Pemerian Serbuk kuning hingga kuning kehijauan; Pelarut Gunakan pelarut dimetil sulfoksida P.
tidak berbau atau praktis tidak berbau.
Cemaran organik Lakukan Kromatografi lapis tipis
Kelarutan Sukar larut dalam air; tidak larut dalam seperti tertera pada Kromatografi <931>.
eter, dalam etil asetat, dalam aseton dan dalam Fase gerak Campuran tetrahidrofuran P-amonium
kloroform; mudah larut dalam dimetilsulfoksida; agak hidroksida 3 N (15:2)
sukar larut dalam metanol. Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Amilorida Hidroklorida BPFI dan buat satu seri
Baku pembanding Amilorida Hidroklorida BPFI; larutan A, B, C, D, E dan F dengan melarutkan dan
lakukan Analisis termogravimetri seperti tertera pada mengencerkan dalam campuran metanol P-kloroform
Analisis Termal <741>; lakukan penetapan sebagai P (4:1) hingga kadar berturut-turut 4000, 40, 20, 8, 4
berikut: Timbang saksama lebih kurang 10 mg zat, dan 2 µg per mL.
panaskan dengan kenaikan suhu 10° permenit antara Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat,
suhu kamar sampai 225° di bawah aliran nitrogen P larutkan dalam campuran metanol P-kloroform P (4:1)
dengan laju alir 40 mL per menit. Dari termogram hingga kadar 4 µg per mL.
tetapkan akumulasi penyusutan bobot selama Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing 5
pemanasan antara suhu kamar dan suhu lebih kurang μL Larutan baku A, B, C, D, E dan F dan Larutan uji
200°saat kurva mulai mendatar. pada lempeng kromatografi silika gel setebal 0,25 mm
yang sebelumnya telah dibilas dengan metanol P.
Identifikasi Masukkan lempeng ke dalam bejana kromatograf
A. Spektrum serapan inframerah zat yang telah berisi Fase gerak hingga merambat lebih kurang tiga
didispersikan dalam minyak mineral P, menunjukkan per empat tinggi lempeng. Angkat lempeng, tandai
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang batas rambat, biarkan fase gerak menguap. Amati di
bawah cahaya ultraviolet panjang gelombang 366 nm:
- 109 -

hingga Rf bercak utama dari Larutan uji sesuai dengan


Larutan baku A. Perkirakan kadar setiap bercak lain Disolusi <1231>
selain bercak utama dari Larutan uji dengan Media disolusi : 900 mL asam hidroklorida 0,1 N
membandingkan terhadap bercak utama dari Larutan Alat tipe 2 : 50 rpm
baku B, C, D, E dan F: jumlah intensitas bercak lain Waktu : 30 menit
tidak lebih dari bercak utama Larutan baku B atau Prosedur Lakukan penetapan jumlah
tidak lebih dari 1,0%. C6H8CIN7O.HCl, yang terlarut dengan mengukur
serapan alikot, jika perlu encerkan dengan asam
Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 450 hidroklorida 0,1 N bandingkan dengan serapan baku
mg zat, larutkan dalam 100 mL asam asetat glasial P, Amilorida Hidroklorida BPFI dalam media yang sama
tambahkan 10 mL raksa(II) asetat LP, dan 15 mL pada panjang gelombang serapan maksimum lebih
dioksan P, campur. Tambahkan kristal violet LP dan kurang 363 nm. Sejumlah metanol, tidak lebih dari 2%
titrasi dengan asam perklorat 0,1 N LV. Lakukan dari volume total Larutan baku dapat digunakan untuk
penetapan blangko. melarutkan amilorida hidroklorida.
Toleransi dalam waktu 30 menit harus larut tidak
Tiap mL asam perklorat 0,1 N kurang dari 80% (Q) C6H8CIN7O.HCl, dari jumlah
setara dengan26,61 mg C6H8CIN7O.HCl yang tertera pada etiket.

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.
baik. Penetapan keseragaman kandungan Masukkan 1
tablet yang telah diserbuk halus ke dalam labu
tentukur 100-mL, tambahkan 60 mL asam
TABLET AMILORIDA HIDROKLORIDA hidroklorida 0,1 N, kocok secara mekanik selama 30
Amiloride Hydrochloride Tablet menit. Encerkan dengan asam hidroklorida 0,1 N
sampai tanda, campur dan sentrifus. Encerkan
Tablet Amilorida Hidroklorida mengandung sejumlah beningan hingga kadar 10 µg per mL. Ukur
Amilorida Hidroklorida, C6H8CIN7O.HCl, tidak serapan larutan ini dan larutan baku Amilorida
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0 % dari Hidroklorida BPFI 10 µg per mL dalam pelarut yang
jumlah yang tertera pada etiket. sama, pada panjang gelombang 363 nm, menggunakan
asam hidroklorida 0,1 N sebagai blangko. Hitung
Baku pembanding Amilorida Hidroklorida BPFI; jumlah dalam mg amilorida hidriklorida,
lakukan Analisis termogravimetri seperti tertera pada C6H8CIN7O.HCl, dalam tablet yang digunakan dengan
Analisis Termal <741>; lakukan penetapan sebagai rumus:
berikut: Timbang saksama lebih kurang 10 mg zat,
panaskan dengan kenaikan suhu 10° per menit antara  TC   AU 

 
 D   AS
suhu kamar sampai 225o di bawah aliran nitrogen P
dengan Laju alir 40 mL per menit. Dari termogram 
tetapkan akumulasi penyusutan bobot selama
pemanasan antara suhu kamar dan suhu lebih kurang T adalah jumlah mg amilorida hidroklorida yang
200° saat kurva mulai mendatar. tertera pada etiket; C adalah kadar Amilorida
Hidroklorida BPFI dalam µg per mL Larutan baku
Identifikasi yang telah dikoreksi terhadap penyusutan bobot; D
A. Waktu retensi puncak utama pada kromatogram adalah kadar amilorida hidroklorida dalam µg per mL
yang diperoleh dari Larutan uji sesuai dengan Larutan Larutan uji sesuai etiket dan pengenceran; AU dan AS
baku seperti tertera pada Penetapan kadar. berturut-turut adalah serapan Larutan uji dan Larutan
B. Masukkan sejumlah serbuk tablet yang setara baku.
dengan 5 mg amilorida hidroklorida ke dalam labu
tentukur 25-mL, tambahkan metanol P sampai tanda, Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
campur dan saring. Totolkan secara terpisah 10 μL Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
filtrat dan 10 μL larutan Amilorida Hidroklorida BPFI, Kromatografi <931>.
0,2 mg per mL dalam methanol P pada lempeng Dapar Larutkan 136 g kalium fosfat monobasa P
kromatografi silika gel P. Masukkan lempeng dalam dalam 800 mL air, tambahkan asam fosfat P
bejana kromatograf yang telah dijenuhkan dengan secukupnya hingga diperoleh pH 3,0. Encerkan
tetrahidrofuran P-amonium hidroksida 3 N (22:3), dengan air hingga 1000 mL.
biarkan merambat hingga lebih kurang tiga per empat Fase gerak Buat campuran air-metanol P-Dapar
tinggi lempeng. Angkat lempeng, tandai batas rambat, (71:25:4), saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
biarkan kering di udara dan amati dengan cahaya penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
ultraviolet 254 nm; harga Rf bercak utama Larutan uji pada Kromatografi <931>.
sesuai dengan bercak utama Larutan baku.
- 110 -

Larutan baku Timbang saksama sejumlah C16H24N10O4 BM 420,43


Amilorida Hidroklorida BPFI, larutkan dalam C16H24N10O4.2H2O [5897-66-5] BM 456,46
metanol P hingga kadar 1,0 mg per mL. Masukkan 5,0
mL larutan ini ke dalam labu tentukur 50-mL, Aminofilin adalah senyawa anhidrat atau mengandung
tambahkan 10,0 mL metanol P dan 2,0 mL asam tidak lebih dari 2 molekul hidrat. Mengandung tidak
hidroklorida 0,1 N, encerkan dengan air sampai tanda. kurang dari 84,0% dan tidak lebih dari 87,4% teofilin
Larutan baku ini mengandung Amilorida Hidroklorida anhidrat, C7H8N4O2, dihitung terhadap zat anhidrat.
BPFI, lebih kurang 0,1 mg per mL.
Larutan uji Timbang dan serbukkan tidak kurang Pemerian Butir atau serbuk putih atau agak
dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk kekuningan; bau amonia lemah, rasa pahit. Jika
tablet setara dengan lebih kurang 5 mg amilorida dibiarkan di udara terbuka, perlahan-lahan kehilangan
hidroklorida, masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL etilenadiamina dan menyerap karbon dioksida dengan
yang berisi 15,0 mL metanol P dan asam hidroklorida melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa terhadap
0,1 N. Sonikasi selama 10 menit, encerkan dengan air kertas lakmus.
sampai tanda, sonikasi lagi selama 10 menit, saring.
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada Kelarutan Tidak larut dalam etanoldan dalam eter
Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi Larutan 1 g dalam 25 mL air menghasilkan larutan
dilengkapi dengan detektor 286 nm dan kolom 3,9 mm jernih; larutan 1 g dalam 5 mL air menghablur jika
x 30 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir lebih kurang didiamkan dan larut kembali jika ditambah sedikit
1 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap etilenadiamina.
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons
puncak seperti tertera pada Prosedur: simpangan baku Baku pembanding Teofilin BPFI; lakukan
relatif pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0% pengeringan pada suhu 105º selama 4 jam sebelum
dan faktor ikutan dari puncak utama tidak lebih dari digunakan. Simpan dalam wadah tertutup rapat.
2,0.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah Identifikasi
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan uji dan A. Larutkan lebih kurang 500 mg zat dalam 20 mL
Larutan baku ke dalam kromatograf. Ukur respons air tambahkan sambil diaduk 1 mL asam hidroklorida
puncak utama. Hitung jumlah dalam mg amilorida 3 N. Saring dan simpan filtrat. Bilas endapan dengan
hidroklorida, C6H8CIN7O.HCl, dalam serbuk tablet air dingin dan keringkan pada suhu 105º selama 1 jam:
yang digunakan dengan rumus: endapan teofilin yang diperoleh melebur antara 270º
dan 274º.
r  B. Pada lebih kurang 10 mg endapan kering
50 C  U  diperoleh pada Identifikasi A, masukkan ke dalam
 rS  cawan porselen, tambahkan 1 mL asam hidroklorida
P dan 100 mg kalium klorat P, uapkan di atas tangas
C adalah kadar Amilorida Hidroklorida BPFI dalam uap hingga kering, balikkan cawan di atas wadah yang
mg per mL Larutan baku yang telah dikoreksi berisi beberapa tetes amonium hidroksida 6 N: residu
terhadap penyusutan bobot; rU dan rS berturut-turut berwarna ungu yang hilang dengan penambahan
adalah respons puncak Larutan uji dan Larutan baku. larutan alkali.
C. Pada filtrat yang diperoleh dari Identifikasi A
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup tambahkan 0,5 mL benzensulfonil klorida P dan
baik. basakan dengan 5 mL natrium hidroksida 1 N, kocok
selama 10 menit, asamkan dengan 5 mL asam
hidroklorida 3 N, dinginkan, kumpulkan endapan
etilendiamina disulfonamida, bilas dengan air,
AMINOFILIN hablurkan kembali dari air, keringkan pada suhu 105º
Teofilin Etilendiamin selama 1 jam: endapan melebur antara 164º dan 171º.
Aminophylline
Air <1031> Metode I Tidak lebih dari 0,75%
(anhidrat) dan tidak lebih dari 7,9% (hidrat): lakukan
penetapan menggunakan 1,5 g zat, dengan campuran
25 mL kloroformP dan 25 mL metanol P sebagai
pengganti pelarut metanol.

Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,15%.

Kandungan etilenadiamina Antara 157 dan 175 mg


Senyawa teofilin dengan etilendiamina (2:1) [317-34-
per g C7H8N4O2 yang diperoleh pada Penetapan
0]
- 111 -

kadar. Lakukan penetapan sebagai berikut: timbang


saksama lebih kurang 500 mg aminofilin, larutkan Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
dalam 30 mL air, tambahkan jingga metil LP, tirasi rapat.
dengan asam hidroklorida 0,1 N LV.
Penandaan Pada etiket cantumkan anhidrat atau
Tiap mL asam hidroklorida 0,1 N hidrat dan kandungan teofilin anhidrat.
setara dengan3,005 mg C2H8N2

Penetapan kadar Lakukan Kromatografi cair kinerja INJEKSI AMINOFILIN


tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>. Aminophylline Injection
Fase gerak Buat campuran 200 mL metanol P dan
960 mg natrium-1-pentanasulfonat P dan air Injeksi Aminofilin adalah larutan steril aminofilin
secukupnya hingga 1 liter. Atur dengan penambahan dalam Air untuk Injeksi atau larutan steril teofilin
asam asetat glasial P hingga pH 2,9 ± 0,1, saring dan dalam Air untuk injeksi yang dibuat dengan
awaudarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut penambahan etilenadiamina. Tiap mL mengandung
Kesesuaian sistem seperti tertera pada Kromatografi aminofilin setara dengan tidak kurang dari 93,0% dan
<931>. tidak lebih dari 107,0% teofilin anhidrat,
Pengencer Buat campuran air-metanol P (4:1). C7H8N4O2,dari jumlah yang tertera pada etiket. Injeksi
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Teofilin aminofilin boleh mengandung etilenadiamina berlebih
BPFI, larutkan dan encerkan secara bertahap dengan tetapi tidak boleh ditambah zat lain untuk pengaturan
larutan pengencer hingga kadar lebih kurang 0,08 mg pH. [Catatan Injeksi tidak boleh digunakan jika telah
per mL. terlihat hablur yang memisah].
Larutan resolusi Larutkan sejumlah teobromin
dalam Larutan baku hingga kadar lebih kurang 0,08 Baku pembanding Teofilin BPFI; merupakan bentuk
mg per mL. Pipet 20 mL larutan ini ke dalam labu anhidrat dari teofilin; lakukan pengeringan pada suhu
tentukur-25 mL, encerkan dengan Pengencer sampai 105º selama 4 jam sebelum digunakan. Simpan dalam
tanda. wadah tertutup rapat. Endotoksin BPFI; [Catatan
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 24 mg Bersifat pirogenik, penanganan vial dan isi harus
zat, masukkan ke dalam labu tentukur- 250 mL, hati-hati untuk menghindari kontaminasi]
larutkan dan encerkan dengan Pengencer sampai Rekonstitusi seluruh isi, simpan larutan dalam lemari
tanda. pendingin dan gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada vial yang belum dibuka dalam lemari pembeku.
Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi
dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom 3,9 mm Identifikasi Encerkan sejumlah volume injeksi yang
x 15 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir 1 mL per setara dengan lebih kurang 500 mg aminofilin dengan
menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan air hingga lebih kurang 20 mL, tambahkan 1 mL asam
resolusi, rekam kromatogram dan ukur respons hidroklorida 3 N atau secukupnya sambil terus diaduk
puncak seperti tertera pada Prosedur. Waktu retensi hingga teofilin mengendap sempurna. Saring, filtrat
relatif teobromin dan teofilin berturut-turut 0,65 dan menunjukkan Identifikasi C seperti tertera pada
1,0 faktor ikutan puncak teofilin tidak lebih dari 2,0 Aminofilin.
dan resolusi, R, antara puncak teobromin dan teofilin Bilas endapan dengan sedikit air dingin, keringkan
tidak kurang dari 3,0. Lakukan kromatografi terhadap pada suhu 105º selama 1 jam: endapan melebur antara
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons 270º dan 274º dan menunjukkan Identifikasi B seperti
puncak seperti tertera pada Prosedur: simpangan baku tertera pada Aminofilin.
relatif tidak lebih dari 2,0%.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 1,0 unit
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan Endotoksin FI per mg aminofilin.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung pH <1071> Antara 8,6 dan 9,0.
jumlah dalam mg teofilin, C7H8N4O2, dalam
aminofilin dengan rumus: Bahan partikulat <751> Memenuhi syarat seperti
tertera pada Injeksi volume kecil.
𝑟𝑈
( ) 250𝐶
𝑟𝑆 Syarat lain Memenuhi syarat seperti tertera pada
Injeksi.
C adalah kadar Teofilin BPFI dalam mg per mL
Larutan baku; rU dan rS berturut-turut adalah respons Kandungan etilendiamina Antara 166 dan 192 mg
puncak yang dihasilkan oleh Larutan uji dan Larutan per g teofilin anhidrat, C7H8N4O2, yang diperoleh pada
baku. Penetapan kadar. Lakukan penetapan sebagai berikut:
- 112 -

Ukur saksama sejumlah volume setara dengan lebih filtrat menunjukkan reaksi basa terhadap lakmus P.
kurang 500 mg aminofilin, jika perlu encerkan dengan Pada filtrat tambahkan 1 mL asam hidroklorida 3 N,
air hingga lebih kurang 30 mL. Tambahkan jingga aduk dan dinginkan jika perlu, hingga terbentuk
metil LP, titrasi dengan asam hidroklorida 0,1 N LV. endapan. Saring dan simpan filtrat. Bilas endapan
dengan sedikit air yang didinginkan dan keringkan
Tiap mL asam hidroklorida 0,1 N pada suhu 105 selama 1 jam: endapan yang diperoleh
setara dengan 3,005 mg C2H8N2 menunjukkan reaksi seperti tertera pada Identifikasi B
dalam Aminofilin, dan jika dihablurkan kembali dari
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara air dan dikeringkan pada suhu 1050 selama 1 jam,
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada melebur antara 270 dan 274.
Kromatografi <931>. B. Filtrat yang diperoleh dari uji A menunjukkan
Fase gerak, Pengencer, Larutan baku, Larutan reaksi seperti tertera pada Identifikasi C dalam
resolusi dan Sistem kromatografi Lakukan seperti Aminofilin.
tertera pada Penetapan kadar dalam Aminofilin.
Larutan uji Ukur saksama sejumlah volume injeksi Disolusi <1231>
setara dengan lebih kurang 100 mg teofilin, masukkan Media disolusi: 900 mL air.
ke dalam labu tentukur 100-mL, larutkan dan encerkan Alat tipe 2: 50 rpm
dengan Pengencer sampai tanda. Pipet 4 mL larutan Waktu: 45 menit
ini masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL, encerkan Prosedur Lakukan penetapan jumlah C7H8N4O2
dengan Pengencer sampai tanda. yang terlarut dengan mengukur serapan alikot, jika
Prosedur Lakukan menurut Prosedur seperti tertera perlu diencerkan dengan Media disolusi dan serapan
pada Penetapan kadar dalam Aminofilin. Hitung larutan baku Teofilin BPFI dalam media yang sama
jumlah dalam mg teofilin, C7H8N4O2, dalam larutan pada panjang gelombang serapan maksimum lebih
injeksi yang digunakan dengan rumus: kurang 269 nm.
Toleransi Dalam waktu 45 menit harus larut tidak
r  kurang dari 75% (Q) C7H8N4O2, dari jumlah yang
1250 C  U  tertera pada etiket.
 rS 
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat
C adalah kadar Teofilin BPFI dalam mg per mL Penetapan keseragaman kandungan.
Larutan baku; rU dan rS berturut-turut adalah respons Larutan baku Timbang saksama sejumlah Teofilin
puncak yang dihasilkan oleh Larutan uji dan Larutan BPFI, larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar
baku. lebih kurang 10 µg per mL.
Larutan uji Masukkan 1 tablet ke dalam labu
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah dosis tentukur 250-mL, tambahkan 200 mL air, kocok
tunggal bebas karbon dioksida, dari kaca Tipe I, hingga hancur sempurna. Tambahkan air sampai
terlindung cahaya. tanda. Saring dan buang 20 mL filtrat pertama.
Gunakan filtrat sebagai larutan uji.
Penandaan Cantumkan kandungan teofilin anhidrat. Prosedur Ukur serapan Larutan uji dan Larutan
baku menggunakan sel 1-cm, pada panjang
gelombang serapan maksimum lebih kurang 269 nm.
TABLET AMINOFILIN Gunakan air sebagai blangko. Hitung jumlah dalam
Aminophylline Tablet mg, teofilin anhidrat, C7H8N4O2, dalam tablet dengan
rumus:
Aminofilin setara dengan teofilin anhidrat, C7H8N4O2,
tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0% 𝐴𝑈 𝑇𝐶
( )( )
dari jumlah yang tertera pada etiket. [Catatan Tablet 𝐴𝑆 𝐷
Aminofilin yang disimpan dalam wadah tertutup
rapat, bila dibuka akan memberikan bau amoniak T adalah jumlah mg teofilin anhidrat per tablet yang
yang kuat. Ini disebabkan terbentuknya uap dari tertera pada etiket; C adalah kadar Teofilin BPFI
etilendiamin.] dalam µg per mL Larutan baku; D adalah kadar
teofilin dalam µg per mL Larutan uji; AU dan AS
Baku pembanding Teofilin BPFI; lakukan berturut-turut adalah serapan dari Larutan uji dan
pengeringan pada suhu 105 selama 4 jam sebelum Larutan baku.
digunakan. Simpan dalam wadah tertutup rapat.
Etilendiamin Antara 140 mg dan 190 mg etilen
Identifikasi diamin, C2H8N2 per g C7H8N4O2 yang diperoleh dari
A. Maserasi sejumlah tablet setara dengan lebih Penetapan kadar. Lakukan penetapan sebagai berikut:
kurang 500 mg aminofilin dengan 25 mL air, saring:
- 113 -

Timbang saksama sejumlah serbuk tablet seperti Waktu Larutan A Larutan B


diperoleh dari Penetapan kadar setara dengan lebih (menit) (%) (%)
kurang 350 mg aminofilin anhidrat, masukkan ke 0 98 2
dalam labu Erlemeyer 100 mL, tambahkan 20 mL air, 7 50 50
7,3 10 90
dan hangatkan hingga suhu 50º dengan pengocokan
8,3 10 90
secara berkala selama 30 menit. Dinginkan, saring. 8,31 98 2
Masukkan filtrat ke dalam Erlemeyer 250-mL dan 12 98 2
bilas dengan air hingga air pembilas bereaksi netral
terhadap lakmus P. Kumpulkan filtrat dan air Lakukan kromatografi terhadap Larutan kesesuaian
pembilas, tambahkan indikator jingga metil LP dan sistem, rekam kromatogram dan ukur respons puncak
titrasi dengan asam hidroklorida 0,1 N LV. seperti tertera pada Prosedur. Resolusi, R, antara
puncak aminofilin dan senyawa sejenis F aminofilin
Tiap mL asam hidroklorida 0,1 N tidak kurang dari 2,0. Lakukan kromatografi terhadap
setara dengan 3,005 mg C7H8N4O2 Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons
puncak seperti tertera pada Prosedur: simpangan baku
Penetapan kadar Lakukan Kromatografi cair kinerja relatif tidak lebih dari 1,0%.
tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>. Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
Larutan A 10 mMol amonium asetat, masukkan volume sama (lebih kurang 1 μL) Larutan baku dan
770,8 mg amonium asetat P ke dalam labu tentukur 1 Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
L. Larutkan dengan air sampai 80% volume labu. Atur kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
pH sampai 5,5 dengan penambahan asam asetat persentase aminofilin, C7H8N4O2, dalam serbuk tablet
glasial P, encerkan dengan air sampai tanda. Saring dengan rumus:
dengan penyaring dengan porositas 0,2 µm.
Larutan B Gunakan metanol P.
Fase gerak Gunakan variasi campuran seperti  rU   CS 
     100
tertera pada Sistem kromatografi.
 rS   CU 
Larutan cemaran persediaan Timbang saksama
sejumlah Senyawa Sejenis F Aminofilin BPFI,
larutkan dan encerkan dengan air hingga 25 µg per rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak
mL. aminofilin dari Larutan uji dan Larutan baku;
Larutan kesesuaian sistem Timbang saksama CS adalah kadar Aminofilin BPFI dalam mg per mL
sejumlah aminofilin BPFI dan Senyawa Sejenis F Larutan baku; CU adalah kadar aminofilin dalam mg
Aminofilin BPFI, larutkan dan encerkan dengan air per mL Larutan uji berdasarkan jumlah yang tertera
hingga kadar berturut-turut 0,8 mg per mL dan 1 µg pada etiket.
per mL. Masukkan 21 mg aminofilin BPFI ke dalam
labu tentukur 25-mL, tambah 5 mL air, sonikasi Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
sampai larut, dan tambahkan 1 mL Larutan cemaran rapat.
persediaan dan encerkan dengan air sampai tanda.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Penandaan Pada etiket tertera jumlah aminofilin
aminofilin BPFI, larutkan dan encerkan dengan air anhidrat.
hingga kadar 0,17 mg per mL.
Larutan uji Serbuk haluskan tidak kurang dari 20
tablet. Timbang saksama serbuk tablet setara dengan TABLET LEPAS TUNDA AMINOFILIN
lebih kurang 34 mg zat, masukkan ke dalam labu Aminophylline Delayed-Released Tablet
tentukur 200-mL. Tambahkan 20 mL air dan aduk
selama satu menit. Tambahkan 140 mL air dan Tablet Lepas Tunda Aminofilin mengandung
sonikasi selama 30 menit, encerkan dengan air sampai aminofilin, setara dengan teofilin anhidrat, C7H8N4O2,
tanda, saring melalui penyaring dengan porositas 0,22 tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0%
µm. Buang dua sampai tiga mL filtrat pertama. dari jumlah yang tertera pada etiket [Catatan Tablet
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada lepas tunda aminofilin yang disimpan dalam wadah
Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi tertutup rapat, bila dibuka akan memberikan bau
dilengkapi dengan detektor 270 nm dan kolom 2,1 mm amoniak yang kuat. Ini disebabkan terbentuknya uap
x 10 cm berisi bahan pengisi L1 dengan ukuran dari etilendiamin].
partikel 1,7 µm. Pertahankan suhu kolom pada 40°.
Laju alir lebih kurang 0,4 mL per menit. Kromatograf Baku pembanding Teofilin BPFI; lakukan
diprogram sebagai berikut: pengeringan pada suhu 105º selama 4 jam sebelum
digunakan. Simpan dalam wadah tertutup rapat.
- 114 -

Waktu hancur <1251> Tidak lebih dari 30 menit B. Menunjukkan reaksi Klorida seperti tertera pada
untuk tablet lepas tunda (salut enterik), lakukan Uji Identifikasi Umum <291>.
penetapan seperti tertera pada Tablet Salut Enterik.
pH <1071> Antara 3,2 dan 3,8. Lakukan penetapan
Syarat lain Tablet lepas tunda menunjukkan reaksi menggunakan larutan 1,0 g zat dalam air dan panaskan
seperti tertera pada uji Identifikasi dan memenuhi pada suhu 80°, kemudian dinginkan. Encerkan dengan
syarat Keseragaman sediaan, Kandungan air hingga 20 mL.
etilendiamin dan Penetapan kadar seperti tertera pada
Tablet Aminofilin. Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,1%.
Lakukan penetapan menggunakan 1,0 g zat.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
rapat. Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5%;
lakukan penetapan menggunakan 1,0 g zat, keringkan
Penandaan Pada etiket tertera kandungan teofilin dalam hampa udara pada tekanan tidak lebih dari 2,25
anhidrat. mmHg, pada suhu 50º selama 4 jam.

Logam berat <371> Tidak lebih dari 20 bpj; warna


AMIODARON HIDROKLORIDA coklat pada Larutan uji tidak lebih intensif dari pada
Larutan baku. [Catatan Jika hasil yang didapat sulit
Amiodarone Hydrochloride
untuk dinilai, saring larutan menggunakan penyaring
membran dengan porositas 3 µm. Saring perlahan dan
seragam, gunakan tekanan konstan dan sedang.
Bandingkan bercak yang didapat pada penyaring dari
larutan berbeda.]
Dapar Timbang saksama lebih kurang 25 g amonium
asetat P, larutkan dengan 25 mL air, tambahkan 38 mL
asam hidroklorida 70%. Jika perlu, atur pH hingga lebih
kurang 3,5 dengan penambahan asam hidroklorida encer
LP atau larutan amonia encer LP. Encerkan dengan air
2-Butil-3-benzofuranil 4-[2-(dietilamino)etoksi]-3,5- hingga 100 mL.
diiodofenil keton hidroklorida [19774-82-4] Larutan baku timbal persediaan (Pb 1000 bpj)
2-Butil-3-benzofuranil 4-[2-(dietilamino)etoksi]-3,5- Timbang saksama sejumlah timbal(II) nitrat P, larutkan
diiodofenil keton [1951-25-3] dan encerkan dengan air hingga kadar lebih kurang
C25H29I2NO3.HCl BM 681,77 1,6 mg per mL.
Larutan baku timbal Pipet sejumlah Larutan baku
Amiodaron hidroklorida mengandung tidak kurang timbal persediaan, encerkan dengan air hingga kadar
dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0%, lebih kurang 10 bpj. [Catatan Larutan dibuat segera
C25H29I2NO3.HCl , dihitung terhadap zat kering. sebelum digunakan.]
Larutan fenolftalein Timbang 0,1 g fenolftalein P,
Pemerian Serbuk hablur halus, putih sampai hampir larutkan dengan 80 mL etanol P, dan encerkan dengan
putih. air hingga 100 mL.
Larutan tioasetamida Timbang saksama sejumlah
Kelarutan Sangat sukar larut dalam air; mudah larut tioasetamida P, larutkan dan encerkan dengan
dalam metilen klorida; larut dalam metanol; agak air hingga kadar lebih kurang 40 g per L. Pipet 0,2 mL
sukar larut dalam etanol. larutan ini, tambahkan 1 mL campuran gliserol 85%-
natrium hidroksida 1 N-air (4:3:1). Panaskan dalam
Baku pembanding Amiodaron Hidroklorida BPFI; tangas air selama 20 detik.
tidak boleh dikeringkan. Simpan dalam wadah Larutan uji Timbang saksama lebih kurang
tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam lemari 1 g zat, masukkan ke dalam krus silika bersama dengan
pendingin. Senyawa Sejenis D Amiodaron BPFI. 4 mL magnesium sulfat P (timbang sejumlah magnesium
Senyawa Sejenis E Amiodaron BPFI. Senyawa Sejenis sulfat P, larutkan dan encerkan dengan asam sulfat encer
H Amiodaron BPFI. LP hingga kadar lebih kurang 250 g per L). Campur
menggunakan batang pengaduk kaca, dan panaskan
Identifikasi hati-hati. Jika campuran berbentuk cairan, uapkan
A. Spektrum serapan inframerah zat yang hati-hati hingga kering dalam tangas air. Panaskan
didispersikan dalam kalium bromida P, menunjukkan secara bertahap hingga berpijar, dan lanjutkan
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang pemanasan hingga didapatkan residu berwarna hampir
sama seperti pada Amiodaron Hidroklorida BPFI. putih atau abu-abu. Lakukan pemijaran pada suhu
tidak lebih dari 800°. Dinginkan. Basahkan residu
- 115 -

dengan beberapa tetes asam sulfat encer LP. Uapkan Fase gerak Campuran metilen klorida P-metanol P-
dan pijarkan kembali, dan dinginkan. Total waktu asam format anhidrat P (17:2:1).
pemijaran tidak lebih dari 2 jam. Larutkan residu dalam Larutan kalium iodobismutat Timbang saksama
dua bagian, masing-masing dengan 5 mL larutan asam 100 g asam tartrat P, larutkan dalam 400 mL air dan
hidroklorida P 20%. Tambahkan 0,1 mL Larutan tambahkan 8,5 g bismut subnitrat P. Kocok selama 1
fenolftalein dan larutan ammonia P 25% dalam air jam, tambahkan 200 mL larutan kalium iodida P
hingga terjadi warna merah muda. Dinginkan, dengan kadar 400 g per L, dan kocok. Diamkan selama
tambahkan asam asetat glasial P hingga warna larutan 24 jam, saring, dalam wadah terlindung cahaya.
hilang, dan tambahkan 0,5 mL asam asetat glasial P Larutan baku A Timbang saksama sejumlah
berlebih. Jika perlu saring, bilas penyaring, dan encerkan Senyawa Sejenis H Amiodaron BPFI, larutkan
dengan air hingga 20 mL. dan encerkan dengan metilen klorida P hingga kadar
Larutan baku Lakukan seperti tertera pada lebih kurang 0,02 mg per mL.
Larutan uji menggunakan 2 mL Larutan baku Larutan baku B Gunakan campuran Larutan baku A
timbal. Tambahkan 2 mL Larutan uji ke dalam dan Larutan uji (1:1).
10 mL larutan yang didapat. Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat,
Larutan pembanding Lakukan seperti tertera pada larutkan dan encerkan dengan metilen klorida P
Larutan uji, tambahkan 2 mL Larutan baku ke dalam hingga kadar lebih kurang 100 mg per mL.
1 g zat. Prosedur Totolkan secara terpisah 50 μL Larutan
Blangko Gunakan 10 mL air dan 2 mL Larutan uji. baku A, 100 μL Larutan baku B, dan 50 μL Larutan
Prosedur Tambahkan 2 mL Dapar ke dalam masing- uji pada lempeng kromatografi Silika gel F254.
masing 12 mL Larutan baku, Larutan uji, Blangko, dan Masukkan lempeng ke dalam bejana kromatograf
Larutan pembanding, campur, kemudian tambahkan 1,2 berisi Fase gerak. Biarkan Fase gerak merambat
mL Larutan tioasetamida, dan segera campur. Uji hingga tidak kurang dari dua pertiga tinggi lempeng,
larutan setelah 2 menit: uji tidak valid jika Larutan baku angkat lempeng, dan biarkan kering di udara dingin.
tidak menunjukkan warna agak coklat dibandingkan Semprot dengan Larutan kalium iodobismutat
dengan Blangko atau jika Larutan pembanding tidak bisa kemudian dengan larutan hidrogen peroksida 3%.
dibandingkan dengan Larutan baku. Segera amati bercak di bawah sinar matahari: bercak
dari Larutan baku B terlihat jelas disebabkan senyawa
Iodida Tidak lebih dari 150 bpj. sejenis H amiodaron. Setiap bercak dengan Rf yang
Larutan A Timbang saksama lebih kurang 1,5 g zat, sama dengan senyawa sejenis H amiodaron dari
masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan Larutan uji tidak lebih intensif dari Larutan baku A.
ke dalam 40 mL air pada suhu 80°, kocok hingga larut Prosedur 2 Total cemaran tidak lebih dari 0,5%.
sempurna. Dinginkan dan encerkan dengan air sampai Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi cair
tanda. kinerja tinggi seperti tertera pada Kromatografi
Larutan baku Pipet 15 mL Larutan A, masukkan ke <931>.
dalam labu tentukur 20-mL. Tambahkan 1,0 mL asam Dapar Pipet 3 mL asam asetat glasial P, masukkan
hidroklorida 0,1 N, 1,0 mL kalium iodida LP dengan ke dalam labu tentukur 1000-mL. Tambahkan 800 mL
kadar 88,2 mg per mL, dan 1,0 mL kalium iodat 0,05 air. Atur pH hingga lebih kurang 4,9 dengan
M. Encerkan dengan air sampai tanda, diamkan selama penambahan larutan amonia encer P, dan encerkan
4 jam dan terlindung cahaya. dengan air sampai tanda.
Larutan uji Pipet 15 mL Larutan A, masukkan ke Fase gerak Buat campuran asetonitril P-metanol P-
dalam labu tentukur 20-mL. Tambahkan 1,0 mL asam Dapar (4:3:3), saring dan awaudarakan. Jika perlu
hidroklorida 0,1 N dan 1,0 mL kalium iodat lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian sistem
0,05 M. Encerkan dengan air sampai tanda, diamkan seperti tertera pada Kromatografi <931>.
selama 4 jam dan terlindung cahaya. Pengencer Campuran asetonitril P-air (1:1).
Prosedur Pipet 15 mL Larutan A dan Larutan baku persediaan Timbang saksama
1,0 mL asam hidroklorida 0,1 N, masukkan ke dalam sejumlah sama masing-masing Senyawa Sejenis D
labu tentukur 20-mL. Encerkan dengan air sampai Amiodaron BPFI, Senyawa Sejenis E Amiodaron
tanda. Gunakan sebagai blangko. Ukur serapan BPFI, dan Amiodaron Hidroklorida BPFI, larutkan
Larutan baku dan Larutan uji pada panjang dan encerkan dalam sejumlah metanol P hingga kadar
gelombang 420 nm: serapan Larutan uji tidak lebih tertentu.
dari setengah serapan Larutan baku. Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
persediaan, larutkan dan encerkan dengan Pengencer
Cemaran organik [Catatan Zat memenuhi hingga kadar Senyawa Sejenis D Amiodaron BPFI,
persyaratan untuk kedua prosedur.] Senyawa Sejenis E Amiodaron BPFI, dan Amiodaron
Prosedur 1 Tidak lebih dari 0,02%, Hidroklorida BPFI masing-masing lebih kurang 0,01
Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi lapis mg per mL.
tipis seperti tertera pada Kromatografi <931>.
- 116 -

Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, Dapar Timbang saksama 6,80 g kalium fosfat
larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar monobasa P, masukkan ke dalam labu tentukur 1000-
amiodaron hidroklorida lebih kurang 5 mg per mL. mL. Tambahkan 900 mL air dan tambahkan 1,0 mL
Sistem Kromatografi Kromatograf cair kinerja trietilamin P. Atur pH hingga lebih kurang 6,0 ± 0,05
tinggi dilengkapi dengan detektor 240 nm dan kolom dengan penambahan asam fosfat P, encerkan dengan
berukuran 4,6 mm x 15 cm yang berisi bahan pengisi air sampai tanda.
L1 dengan ukuran partikel 5 µm. Pertahankan suhu Pengencer Campuran asetonitril P-air (1:1).
kolom pada 30°. Laju alir lebih kurang 1 mL per Fase gerak Campuran asetonitril P-Dapar (1:1),
menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
rekam kromatogram, dan ukur respons puncak seperti penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara senyawa pada Kromatografi <931>.
sejenis D amiodaron dan senyawa sejenis E amiodaron Larutan baku persediaan Timbang saksama
tidak kurang dari 3,5. sejumlah Amiodaron Hidroklorida BPFI, larutkan dan
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah encerkan dalam metanol P hingga kadar lebih kurang
volume sama (lebih kurang 10 L) Larutan baku dan 0,5 mg per mL.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
kromatogram 2 kali waktu retensi amiodaron, dan persediaan, encerkan dalam Pengencer hingga kadar
ukur semua respons puncak. Hitung persentase lebih kurang 0,1 mg per mL.
masing-masing cemaran dalam zat dengan rumus: Larutan uji persediaan Timbang saksama sejumlah
zat, larutkan dan encerkan dengan metanol P, hingga
 ri   CS  kadar lebih kurang 0,5 mg per mL.
     100 Larutan uji Pipet sejumlah Larutan uji persediaan,
 rS   CU  encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih
kurang 0,1 mg per mL.
ri adalah respons puncak masing-masing cemaran dari Sistem Kromatografi Kromatograf cair kinerja
Larutan uji; rS adalah respons puncak amiodaron dari tinggi dilengkapi dengan detektor 240 nm dan kolom
Larutan baku; CS adalah kadar Amiodaron berukuran 3,9 mm x 15 cm yang berisi bahan pengisi
Hidroklorida BPFI dalam mg per mL Larutan baku; L26, dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih
CU adalah kadar amiodaron hidroklorida dalam mg per kurang 1,5 mL per menit. Lakukan kromatografi
mL Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang. terhadap Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur
Masing-masing cemaran dan total cemaran tidak lebih respons puncak seperti tertera pada Prosedur: efisiensi
dari batas yang tertera pada Tabel. kolom tidak kurang dari 1000 lempeng teoritis; faktor
ikutan tidak lebih dari 2,0; dan simpangan baku relatif
Tabel pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 1,0 %.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
Nama Waktu Batas volume sama (lebih kurang 10 L) Larutan baku dan
retensi (%) Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
relatif kromatogram, dan ukur respons puncak utama. Hitung
Senyawa sejenis A 0,26 0,2 persentase amiodaron hidroklorida, C25H29I2NO3.HCl,
amiodaron dalam zat dengan rumus:
Senyawa sejenis D 0,29 0,2
amiodaron
 rU   CS 
Senyawa sejenis E 0,37 0,2      100
amiodaron
Senyawa sejenis B 0,49 0,2  rS   CU 
amiodaron
Senyawa sejenis C 0,55 0,2 rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak
amiodaron amiodaron dari Larutan uji dan Larutan baku;
Senyawa sejenis G 0,62 0,2 CS adalah kadar Amiodaron Hidroklorida BPFI dalam
amiodaron mg per mL Larutan baku; CU adalah kadar amiodaron
Senyawa sejenis F 0,69 0,2 hidroklorida dalam mg per mL Larutan uji
amiodaron berdasarkan bobot yang ditimbang.
Amiodaron hidroklorida 1,00 -
Cemaran lain - 0,1 Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Abaikan puncak yang kurang dari 0,05%. rapat, terlindung cahaya, pada suhu ruang terkendali.

Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara


Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>.
- 117 -

INJEKSI AMIODARON HIDROKLORIDA Larutan uji Pipet 15 mL Larutan persediaan


Amiodarone Hydrochloride Injection amiodaron, masing-masing 1 mL asam hidroklorida
0,1 N, 1 mL Larutan kalium iodat, dan 3 mL air,
Injeksi Amiodaron hidroklorida adalah campur dan diamkan selama 4 jam, terlindung cahaya.
larutan steril Amiodaron hidroklorida. Mengandung Blangko Pipet masing-masing 15 mL Larutan
Amiodaron hidroklorida, C25H29I2NO3.HCl, tidak persediaan amiodaron, 1 mL asam hidroklorida 0,1
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari N, dan 4 mL air, campur dan diamkan selama 4 jam,
jumlah yang tertera pada etiket. Dapat mengandung terlindung cahaya.
pengawet yang sesuai. Prosedur Ukur serapan Larutan baku, Larutan uji
dan Blangko menggunakan sel 1-cm pada panjang
Baku pembanding Amiodaron Hidroklorida BPFI; gelombang 420 nm. Hitung jumlah iodida dalam zat
tidak boleh dikeringkan. Simpan dalam wadah yang digunakan, dengan rumus:
tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam lemari
pendingin. Senyawa Sejenis D Amiodaron BPFI. (𝐴𝑈 − 𝐴𝐵 ) 𝐶𝑆 126,90
×( )×( )
Senyawa Sejenis E Amiodaron BPFI. Benzil alkohol (𝐴𝑆 − 𝐴𝐵 ) − (𝐴𝑈 − 𝐴𝐵 ) 𝐶𝑈 166,00
BPFI. Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat pirogenik,
penanganan vial dan isi harus hati-hati untuk AU, AB dan AS berturut-turut adalah serapan dari
menghindari kontaminasi.] Rekonstitusi semua isi, Larutan uji, Blangko, dan Larutan baku; CS adalah
simpan larutan dalam lemari pendingin dan gunakan kadar kalium iodida dalam µg per mL Larutan baku;
dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum dibuka CU adalah kadar amiodaron hidroklorida dalam g per
dalam lemari pembeku. mL Larutan uji berdasarkan jumlah yang tertera pada
etiket; 126,90 dan 166,00 berturut-turut adalah bobot
Identifikasi molekul iodida dan kalium iodida.
A. Waktu retensi puncak utama kromatogram
Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang Benzil Alkohol (Jika ada) Antara 90 dan 110 %.
diperoleh pada Penetapan kadar. Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi gas
seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 8,33 unit Larutan baku internal Timbang sejumlah fenol P,
Endotoksin FI per mg Amiodaron hidroklorida. larutkan dan encerkan dalam isopropil alkohol P
hingga kadar 1 mg per mL.
Sterilitas <71> Memenuhi syarat. Blangko Pipet 5 mL Larutan baku internal,
masukkan ke dalam labu tentukur 25-mL, encerkan
pH <1071> Antara 3,0 dan 5,0. dengan isopropil alkohol P sampai tanda. Kadar
larutan 0,2 mg per mL.
Bahan partikulat <751> Memenuhi syarat, seperti Larutan baku persediaan Timbang sejumlah Benzil
tertera pada Injeksi volume kecil. alkohol BPFI, larutkan dan encerkan dalam isopropil
alkohol P hingga kadar lebih kurang 1,62 mg per mL.
Syarat lain Memenuhi syarat seperti tertera pada Larutan baku Pipet masing-masing 5 mL Larutan
Injeksi. baku internal dan 3 mL Larutan baku persediaan,
masukkan ke dalam labu tentukur 25-mL, encerkan
Iodida Tidak lebih dari 250 bpj [Catatan Larutan dengan isopropil alkohol P sampai tanda.
dibuat segar dalam wadah coklat]. Lakukan Larutan uji persediaan Pipet 2 mL injeksi ke dalam
penetapan dengan cara Spektrofotometri UV-Vis labu tentukur 25-mL, encerkan dengan isopropil
seperti tertera pada Spektrofotometri dan hamburan alkohol P sampai tanda. Kadar larutan lebih kurang
cahaya <1191>. 1,61 mg per mL berdasarkan jumlah yang tertera pada
Larutan kalium iodat Timbang saksama sejumlah etiket.
kalium iodat, larutkan dan encerkan dengan air hingga Larutan uji Pipet masing-masing 5 mL Larutan
kadar 10,7 gram per L. baku internal dan 3 mL Larutan uji persediaan ke
Larutan kalium iodida Timbang saksama sejumlah dalam labu tentukur 25-mL, encerkan dengan
kalium iodida, larutkan dan encerkan dengan air isopropil alkohol P sampai tanda. Kadar fenol dan
hingga kadar 88,2 mg per L. benzil alkohol berturut-turut lebih kurang 0,2 dan 0,19
Larutan persediaan Amiodaron Pipet sejumlah mg per mL.
volume zat ke dalam labu tentukur yang sesuai, Sistem kromatografi Kromatograf gas
encerkan dengan air dengan kadar 5 mg per mL. dilengkapi dengan detektor ionisasi nyala
Larutan baku Pipet masing-masing 15 mL Larutan dan kolom 0,32 mm x 30 m dilapisi 1 µm fase
persediaan amiodaron; 1 mL asam hidroklorida 0,1 diam G16, dengan split rasio lebih kurang
N; 1 mL Larutan kalium iodida, 1 mL Larutan kalium 10:1. Pertahankan suhu injektor pada 200º,
iodat dan 2 mL air, campur dan diamkan selama 4 jam, detektor pada 200º, dan suhu kolom 150º. Gunakan
terlindung cahaya. nitrogen P sebagai gas pembawa dengan laju
- 118 -

alir 10 mL per menit. Lakukan kromatografi 2,0 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan
terhadap Larutan baku, rekam kromatogram ulang tidak lebih dari 5%.
dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
Prosedur: simpangan baku relatif pada volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku A,
penyuntikan ulang untuk benzil alkohol Larutan baku B, dan Larutan uji ke dalam
terhadap fenol tidak lebih dari 2,0%. kromatograf, rekam kromatogram tidak kurang dari
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah 1,5 kali waktu retensi amiodaron dari Larutan baku,
volume sama (lebih kurang 1 L) Larutan baku dan dan tidak kurang dari 2 kali waktu retensi amiodaron
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam dari Larutan uji dan ukur semua respons puncak.
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung Hitung persentase Senyawa sejenis D amiodaron atau
persentase benzil alkohol dalam injeksi dengan rumus: Senyawa sejenis E amiodaron dalam zat dengan
rumus:
 rU   CS 
      100  ri   CS 
 rS   CU        100
 rS   CU 
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak benzil
alkohol terhadap fenol dari Larutan uji dan Larutan ri dan rS berturut-turut adalah respons puncak masing-
baku; CS adalah kadar Benzil alkohol BPFI dalam mg masing senyawa sejenis D amiodaron atau senyawa
per mL Larutan baku; CU adalah kadar benzil alkohol sejenis E amiodaron dari Larutan uji dan Larutan baku
dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah B; CS adalah kadar Senyawa sejenis D Amiodaron
yang tertera pada etiket. BPFI atau Senyawa sejenis E Amiodaron BPFI dalam
mg per mL Larutan baku B; CU adalah kadar
Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara amiodaron hidroklorida dalam mg per mL Larutan uji
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket. Hitung
Kromatografi <931>. persentase cemaran dengan rumus:
Dapar Buat larutan 3 mL per L asam asetat glasial
P yang dibuat sebagai berikut: pada sejumlah volume
 ri   CS 
asam asetat glasial P tambahkan 80% air dari volume       100
total labu tentukur yang sesuai. Atur pH hingga 4,9  rS   CU 
dengan penambahan amonia P, encerkan dengan air
sampai tanda. ri dan rS berturut-turut adalah respons puncak masing-
Fase gerak Campuran asetonitril P–metanol P- masing cemaran dari Larutan uji dan Larutan baku A;
Dapar (400:300:300), saring dan awaudarakan. Jika CS adalah kadar Amiodaron Hidroklorida BPFI dalam
perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian sistem mg per mL Larutan baku A; CU adalah kadar
seperti tertera pada Kromatografi <931>. amiodaron hidroklorida dalam mg per mL Larutan uji
Pengencer Campuran asetonitril P– metanol P- air berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket. Masing-
(50:30:20). masing cemaran dan total cemaran tidak lebih dari
Larutan baku A Timbang saksama sejumlah batas yang tertera pada Tabel.
Amiodaron Hidroklorida BPFI, larutkan dan encerkan
dengan Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,001 Tabel
mg per mL.
Larutan baku B Timbang saksama sejumlah Cemaran Waktu Batas
Senyawa sejenis D Amiodaron BPFI dan Senyawa retensi relatif (%)
sejenis E Amiodaron BPFI larutkan dengan Pengencer (menit)
hingga kadar masing-masing lebih kurang 0,03 mg per Senyawa sejenis E 0,39 0,2
mL dan 2 µg per mL. Amiodaron
Larutan uji Pipet sejumlah volume zat ke dalam Senyawa sejenis D 0,55 3,0
labu tentukur yang sesuai, encerkan dengan Amiodaron
Pengencer hingga kadar lebih kurang 1 mg per mL Amiodaron 1,00 -
berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket. Cemaran lain - 0,2
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi Total cemaran - 3,5
dilengkapi dengan detektor UV 240 nm dan kolom
berukuran 4,6 mm x 15 cm berisi bahan pengisi L1 Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
dengan ukuran partikel 5 µm. Pertahankan suhu kolom Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
pada 30 dan laju alir lebih kurang 1,0 mL per menit. Kromatografi <931>.
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku A, Dapar Timbang lebih kurang 1,36 g kalium fosfat
rekam kromatogram, dan ukur respons puncak seperti monobasa P, masukkan ke dalam labu tentukur 1-L,
tertera pada Prosedur: faktor ikutan tidak lebih dari tambahkan 900 mL air dan 1 mL trietilamin P. atur pH
- 119 -

hingga 6,0 dengan penambahan asam fosfat P,


encerkan dengan air sampai tanda.
Fase gerak Campuran asetonitril P-Dapar
(800:200), saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
pada Kromatografi <931>.
Pengencer Campuran asetonitril P–air (60:40).
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Amiodaron Hidroklorida BPFI, larutkan, dan
encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih 10,11-dihidro-N,N-dimetil-5H-
kurang 0,025 mg per mL. dibenzo[α,d]siklohepten-5,-propilamin hidroklorida.
Larutan uji Pipet sejumlah volume injeksi, [549-18-8]
encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih C20H23N.HCl BM 313,86
kurang 0,012 mg per mL.
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi Amitriptilin Hidroklorida mengandung tidak kurang
dilengkapi dengan detektor 240 nm dan kolom dari 98,0% dan tidak lebih dari 102,0%, C20H23N.HCl,
berukuran 4,6 mm × 10 cm berisi bahan pengisi L1 dihitung terhadap zat kering.
dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang
2,0 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap Pemerian Serbuk hablur atau hablur kecil; putih atau
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons hampir putih; tidak berbau atau hampir tidak berbau.
puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor ikutan
tidak lebih dari 2,0; simpangan baku relatif pada Kelarutan Mudah larut dalam air, dalam etanol,
penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%. dalam kloroform, dan dalam metanol; tidak larut
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah dalam eter.
volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam Baku pembanding Amitriptilin Hidroklorida BPFI;
kromatogram dua kali waktu retensi amiodaron dan lakukan pengeringan dalam hampa udara, tidak lebih
ukur respons puncak utama. Hitung persentase dari 5mmHg, pada suhu 60 hingga bobot tetap
Amiodaron hidroklorida, C25H29I2NO3.HCl, dalam zat sebelum digunakan. Simpan dalam wadah tertutup
dengan rumus: rapat. Senyawa Sejenis A Amitriptilin BPFI. Senyawa
Sejenis B Amitriptilin BPFI. Siklobenzaprin
Hidroklorida BPFI; lakukan pengeringan pada suhu
 rU   CS  105º hingga bobot tetap. Simpan dalam wadah tertutup
      100
rapat. Nortriptilin Hidroklorida BPFI; tidak boleh
 rS   CU  dikeringkan. Simpan dalam wadah tertutup rapat,
terlindung cahaya.
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak utama
Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Identifikasi
Amiodaron Hidroklorida BPFI dalam mg per mL A. Spektrum serapan inframerah zat yang
Larutan baku; CU adalah kadar amiodaron didispersikan dalam kalium bromida P, menunjukkan
hidroklorida dalam mg per mL Larutan uji maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket. sama seperti pada Amitriptilin Hidroklorida BPFI.
B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah dosis Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang
tunggal atau ganda, tidak tembus cahaya dan panas diperoleh pada Penetapan kadar.
berlebih, pada suhu terkendali. C. Menunjukkan reaksi Klorida cara A, B, dan C
seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
Penandaan Cantumkan pada etiket untuk dilarutkan
dengan pembawa parenteral yang sesuai hingga pH <1071> Antara 5,0 dan 6,0; lakukan penetapan
mencapai kekuatan yang diinginkan sebelum menggunakan larutan zat (1 dalam 100).
digunakan. Cantumkan pada etiket, jenis dan jumlah
pengawet yang digunakan, jika tidak menggunakan Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5%;
pengawet cantumkan “tidak mengandung pengawet”. lakukan pengeringan dalam hampa udara dengan
tekanan tidak lebih dari 5 mmHg pada suhu 60º hingga
bobot tetap.
AMITRIPTILIN HIDROKLORIDA
Amitriptyline Hydrochloride Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,1%.

Logam berat <371> Metode III Tidak lebih dari 10 bpj.


- 120 -

Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara


Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi <931>. Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Asam fosfat encer, Dapar, Fase gerak, Kesesuaian Kromatografi <931>.
sistem, dan Sistem kromatografi Lakukan seperti Asam fosfat encer Campuran asam fosfat P - air
tertera pada Penetapan Kadar. (1:10).
Larutan baku Gunakan Larutan kesesuaian sistem Dapar Buat larutan natrium fosfat dibasa P 1,42 mg
seperti tertera pada Penetapan Kadar. per mL, atur pH hingga 7,7 dengan penambahan Asam
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, fosfat encer.
larutkan, dan encerkan dengan Fase gerak hingga Fase gerak Campuran metanol P - Dapar (7:3).
kadar lebih kurang 1 mg per mL. Saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan pada Kromatografi <931>.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam Larutan baku Timbang saksama sejumlah Amitriptilin
kromatogram, dan ukur semua respons puncak. Hitung Hidroklorida BPFI, larutkan, dan encerkan dengan Fase
persentase masing-masing senyawa sejenis gerak hingga kadar lebih kurang 0,2 mg per mL.
amitriptilin dalam zat yang digunakan dengan rumus: Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat,
larutkan, dan encerkan dengan Fase gerak hingga kadar
 ri  C S  lebih kurang 0,2 mg per mL.
    100 Larutan persediaan kesesuaian sistem A Timbang
 rS  CU  saksama sejumlah Senyawa Sejenis A Amitriptilin
BPFI, larutkan, dan encerkan dengan metanol P hingga
kadar lebih kurang 1 mg per mL.
ri adalah respons puncak masing-masing senyawa
Larutan persediaan kesesuaian sistem B Timbang
sejenis amitriptilin dari Larutan uji; rS adalah respons
saksama masing-masing sejumlah Amitriptilin
puncak senyawa sejenis amitriptilin dari Larutan
Hidroklorida BPFI, Senyawa Sejenis B Amitriptilin
baku; CS adalah kadar masing-masing senyawa sejenis
BPFI, Siklobenzaprin Hidroklorida BPFI, dan
amitriptilin dalam mg per mL Larutan baku dan CU
Nortriptilin Hidroklorida BPFI, masukkan ke dalam
adalah kadar amitriptilin hidroklorida dalam mg per
labu tentukur yang sesuai, larutkan dan encerkan dengan
mL Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang.
Fase gerak hingga kadar berturut-turut lebih kurang
Hitung persentase cemaran lain dalam zat dengan
0,4 mg per mL; 0,6 mg per mL; 0,6 mg per mL; dan
rumus:
0,6 mg per mL.
Larutan kesesuaian sistem Encerkan sejumlah
 ri  C S  volume Larutan baku, Larutan persediaan kesesuaian
    100 sistem A, dan Larutan persediaan kesesuaian sistem B
 rS  CU  dengan Fase gerak hingga kadar amitriptilin
hidroklorida, senyawa sejenis A amitriptilin, senyawa
ri adalah respons puncak masing-masing cemaran lain sejenis B amitriptilin, siklobenzaprin hidroklorida dan
dari Larutan uji; rS adalah respons puncak senyawa nortriptilin hidroklorida berturut-turut lebih kurang 1
sejenis amitriptilin dari Larutan baku; CS adalah kadar µg per mL; 0,5 µg per mL; 1,5 µg per mL; 1,5 µg per
Amitriptilin Hidroklorida BPFI dalam mg per mL mL; dan 1,5 µg per mL.
Larutan baku; dan CU adalah kadar amitriptilin Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja
hidroklorida dalam mg per mL Larutan uji tinggi dilengkapi dengan detektor 215 nm dan kolom
berdasarkan bobot yang ditimbang. [Catatan: Abaikan berukuran 4,6 mm × 25 cm berisi bahan pengisi L7
puncak dengan waktu retensi relatif kurang dari dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang
0,22.] Masing-masing cemaran dan total cemaran 1,5 mL per menit. Pertahankan suhu kolom pada 45 o.
tidak lebih dari batas yang tertera pada Tabel. Lakukan kromatografi terhadap Larutan kesesuaian
Tabel sistem, rekam kromatogram, dan ukur respons puncak
seperti tertera pada Prosedur: waktu retensi relatif
Waktu Retensi Batas senyawa sejenis tertera pada Tabel; resolusi, R, antara
Cemaran
Relatif (%) puncak senyawa sejenis B amitriptilin dengan puncak
Senyawa sejenis nortriptilin tidak kurang dari 1,5. Lakukan
0,35 0,05
A amitriptilin kromatografi terhadap Larutan baku, rekam
Senyawa sejenis kromatogram, dan ukur respons puncak seperti tertera
0,52 0,15
B amitriptilin pada Prosedur: simpangan baku relatif pada
Nortriptilin 0,60 0,15 penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%.
Siklobenzaprin 0,76 0,15
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
Amitriptilin 1,0 -
volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan
Cemaran lain - 0,10
Total cemaran - 1,0
Larutan uji ke dalam kromatograf, lakukan
- 121 -

kromatografi selama satu setengah kali waktu retensi panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang
amitriptilin, rekam kromatogram, dan ukur respons 239 nm.
puncak utama. Hitung persentase amitriptilin Toleransi Dalam waktu 45 menit harus larut tidak
hidroklorida, C20H23N.HCl, dalam zat dengan rumus: kurang dari 75% (Q) C20H23N.HCl, dari jumlah yang
tertera pada etiket.
 rU  C S 
    100 Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.
 rS  CU 
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak utama Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Kromatografi <931>.
Amitriptilin Hidroklorida BPFI dalam mg per mL Dapar Larutkan 11,04 g natrium fosfat monobasa P
Larutan baku dan CU adalah kadar amitriptilin dalam 900 mL air, atur pH hingga 2,5 ± 0,5 dengan
hidroklorida dalam mg per mL Larutan uji penambahan asam fosfat P dan encerkan dengan air
berdasarkan bobot yang ditimbang. hingga 1000 mL.
Fase gerak Buat campuran Dapar-asetonitril P
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup (58:42), saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
baik. penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
pada Kromatografi <931>.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Amitriptilin Hidroklorida BPFI, larutkan dan
TABLET AMITRIPTILIN HIDROKLORIDA encerkan dengan Fase gerak hingga kadar lebih
Amitriptyline Hydrochloride Tablet kurang 0,2 mg per mL.
Larutan uji Masukkan 20 tablet ke dalam labu
Tablet Amitriptilin Hidroklorida mengandung tentukur 500-mL, tambahkan 250 mL Fase gerak,
Amitriptilin hidroklorida, C20H23N.HCl, tidak kurang kocok selama 1 jam atau sampai tablet hancur.
dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah Tambahkan Fase gerak sampai tanda dan saring.
yang tertera pada etiket. Encerkan sejumlah volume filtrat (VF mL) dengan
Fase gerak (VA mL) hingga kadar amitriptilin
Baku pembanding Amitriptilin Hidroklorida BPFI; hidroklorida lebih kurang 0,2 mg per mL.
lakukan pengeringan dalam hampa udara, tidak lebih Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
dari 5mmHg, pada suhu 60 hingga bobot tetap Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi
sebelum digunakan. Simpan dalam wadah tertutup dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom 4 mm
rapat. x 30 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir lebih kurang
2 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap
Identifikasi Larutan baku dan ukur respons puncak seperti tertera
A. Masukkan sejumlah serbuk tablet setara dengan pada Prosedur: faktor ikutan tidak lebih dari 2,0;
lebih kurang 10 mg amitriptilin hidroklorida ke dalam efisiensi kolom tidak kurang dari 800 lempeng teoritis
labu tentukur 100-mL, tambahkan 50 mL metanol P, dan simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang
kocok dan encerkan dengan metanol P sampai tanda. tidak lebih dari 2,0%.
Saring larutan, pipet 10 mL filtrat dan encerkan Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
dengan metanol P hingga 100 mL. Spektrum serapan volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan
larutan menunjukkan maksimum hanya pada bilangan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
gelombang yang sama seperti Amitriptilin Hidroklorida kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
BPFI. jumlah dalam mg, amitriptilin hidroklorida,
B. Waktu retensi puncak utama kromatogram C20H23N.HCl, dalam tiap tablet yang digunakan
Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang dengan rumus:
diperoleh pada Penetapan kadar.
 C  V  r 
Disolusi <1231> 500  A  U 
Media disolusi : 900 mL asam hidroklorida 0,1 N.  20  VF  rS 
Alat tipe1 : 100 rpm.
Waktu : 45 menit. C adalah kadar Amitriptilin Hidroklorida BPFI dalam
Prosedur Lakukan penetapan jumlah amitriptilin mg per mL Larutan baku; VA dan VF berturut-turut
hidroklorida, C20H23N.HCl, yang terlarut dengan adalah volume dalam mL Fase gerak dan filtrat pada
mengukur alikot, jika perlu encerkan dengan Media pengenceran Larutan uji; rU dan rS berturut-turut
disolusi dan serapan larutan baku Amitriptilin adalah respons puncak amitriptilin hidroklorida dalam
Hidroklorida BPFI dalam media yang sama pada Larutan uji dan Larutan baku.
- 122 -

Wadah dan penyimpanan Simpan dalam wadah Larutan kesesuaian sistem Timbang lebih kurang
tertutup baik. 14 mg Amlodipin Besilat BPFI, masukkan ke dalam
wadah yang sesuai, larutkan dalam 0,2 mL metanol P.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
AMLODIPIN BESILAT Amlodipin Besilat BPFI, larutkan dan encerkan
Amlodipine Besylate dengan metanol P hingga kadar lebih kurang 7 mg per
mL.
Larutan baku 1 Pipet 3 mL Larutan baku ke dalam
labu tentukur 100-mL, encerkan dengan metanol P
sampai tanda.
Larutan baku 2 Pipet 1 mL Larutan baku ke dalam
labu tentukur 100-mL, encerkan dengan metanol P
sampai tanda.
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 140 mg
zat, larutkan dan encerkan dengan metanol P hingga
3-Etil5-metil()-2-[(2-aminoetoksi)metil]-4-(o-kloro- kadar 70 mg per mL.
fenil)-1,4-dihidro-6-metil-3,5-piridin dikarboksilat Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing
monobenzen sulfonat [111470-99-6] 10 L Larutan uji, Larutan kesesuaian sistem, Larutan
C20H25ClN2O5.C6H6O3S BM 567,05 baku, Larutan baku 1, dan Larutan baku 2 pada
lempeng kromatografi silika gel setebal 0,25 mm.
Amlodipin Besilat mengandung tidak kurang dari Masukkan lempeng ke dalam bejana kromatograf
97,0% dan tidak lebih dari 102,0%, C20H25ClN2O5. yang berisi Fase gerak, dan biarkan merambat hingga
C6H6O3S, dihitung terhadap zat anhidrat. tiga per empat tinggi lempeng. Angkat lempeng,
tandai batas rambat dan panaskan pada suhu 80
Pemerian Serbuk putih sampai hampir putih. selama 15 menit. Amati di bawah cahaya ultraviolet
254 dan 365 nm. Harga Rf bercak lain selain bercak
Kelarutan Mudah larut dalam metanol; agak sukar larut utama Larutan kesesuaian sistem berturut-turut adalah
dalam etanol; sukar larut dalam 2-propanol dan dalam air. lebih kurang 0,18 dan 0,22. Intensitas bercak lain
selain bercak utama pada Larutan uji tidak lebih besar
Baku pembanding Amlodipin Besilat BPFI. dari bercak pada Larutan baku 1 (0,3%).Tidak lebih
dari dua bercak pada Larutan uji lebih besar dari
Identifikasi bercak pada Larutan baku 2 (0,1%).
A. Spektrum serapan inframerah zat yang
didispersikan dalam minyak mineral P menunjukkan Prosedur 2
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang Tidak lebih dari 0,3% masing-masing untuk
sama seperti pada Amlodipin Besilat BPFI. cemaran A amlodipin dan total cemaran lain.Lakukan
B. Waktu retensi puncak utama kromatogram penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja
Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>.
diperoleh pada Penetapan kadar. Dapar pH 3,0 dan Fase gerak Lakukan seperti
tertera pada Penetapan kadar.
Rotasi optik <1081> Antara −0,10 dan +0,10; Larutan kesesuaian sistem Larutkan lebih kurang 5
lakukan penetapan pada 20 menggunakan larutan 10 mg zat dalam 5 mL hidrogen peroksida P, panaskan
mg per mL dalam metanol P. pada suhu 70 selama 45 menit.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Air <1031> Metode I Tidak lebih dari 0,5%. Amlodipin Besilat BPFI, larutkan dan encerkan
dengan Fase gerak hingga kadar lebih kurang 3 µg per
Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,2%. mL.
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 50 mg
Logam berat <371> Metode III Tidak lebih dari 20 zat, masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL.
bpj. Larutkan dan encerkan dengan Fase gerak sampai
tanda.
Cemaran organik Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
Prosedur 1 dilengkapi dengan detektor 237 nm dan kolom 3,9 mm
Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi lapis x 15 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir lebih kurang
tipis seperti tertera pada Kromatografi <931>. 1 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap
Fase gerak Buat campuran metil isobutil keton P- Larutan kesesuaian sistem. Rekam kromatogram dan
air-asam asetat glasial P (50:25:25), kocok dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur:
biarkan sampai terpisah. Gunakan lapisan atas. resolusi, R, antara puncak cemaran A amLodipin (3-
etil5-metil 2-[(2-aminoetoksi) metil]-4-(2-
- 123 -

klorofenil)-6-metilpiridin-3,5-dikarboksilat] dan kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung


puncak amlodipin tidak kurang dari 4,5; waktu retensi jumlah dalam persentase, amlodipin besilat,
relatif benzen sulfonat, cemaran A amlodipin dan C20H25ClN2O5.C6H6O3S, dalam zat dengan rumus:
amLodipin berturut-turut adalah lebih kurang 0,2; 0,5
dan 1,0. Lakukan kromatografi terhadap Larutan C  rU 
baku, ukur respons puncak seperti tertera pada 100 S  
Prosedur: simpangan baku relatif pada penyuntikan  CU  rS 
ulang tidak lebih dari 10,0%.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah CS adalah kadar Amlodipin Besilat BPFI dalam mg per
volume sama (lebih kurang 10 L) Larutan baku dan mL Larutan baku; CU adalah kadar amlodipin besilat
Larutan uji ke dalam kromatograf. Lakukan dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan bobot yang
kromatografi selama tiga kali waktu retensi amlodipin ditimbang; rU dan rS berturut-turut adalah respons
besilat, rekam kromatogram dan ukur respons puncak. puncak Larutan uji dan Larutan baku.
Hitung persentase masing-masing cemaran dalam zat
dengan rumus: Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
rapat dan terlindung cahaya. Simpan dalam suhu
 1  C  ri  ruang.
100  S  
 F  CU  rS 
TABLET AMLODIPIN BESILAT
F adalah faktor respons relatif cemaran A amLodipin Amlodipine Besylate Tablets
dan cemaran lain berturut-turut adalah 0,5 dan 1,0; CS
dan CU berturut-turut adalah kadar amlodipin besilat Tablet Amlodipin Besilat mengandung amlodipin,
dalam mg per mL Larutan baku dan Larutan uji; ri C20H25N2O5Cl, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih
adalah respons puncak masing-masing cemaran dari
dari 110,0%, dari jumlah yang tertera pada etiket.
Larutan uji dan rS adalah respons puncak amLodipin
besilat dari Larutan baku. Abaikan puncak yang lebih
Baku pembanding Amlodipin Besilat BPFI; simpan
kecil dari 0,03% dan puncak benzen sulfonat.
dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam
lemari pendingin. Senyawa Sejenis A Amlodipin BPFI.
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Identifikasi
Kromatografi <931>.
A. Spektrum serapan ultraviolet larutan zat dalam
Dapar pH 3,0 Larutkan 7,0 mL trietilamina P dalam
sel setebal 2 cm pada daerah panjang gelombang
800 mL air. Atur pH hingga 3,0 ± 0,1 dengan
antara 200 nm dan 400 nm menunjukkan maksimum
penambahan asam fosfat P, encerkan dengan air dan minimum pada panjang gelombang yang sama
hingga 1000 mL. seperti pada Amlodipin Besilat BPFI. Lakukan
Fase gerak Buat campuran Dapar pH 3,0-metanol
penyiapan Larutan baku dan Larutan uji seperti tertera
P-asetonitril P (50:35:15), saring dan awaudarakan.
pada uji Disolusi.
Jika perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian
B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
sistem seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang
Larutan baku Timbang saksama sejumlah diperoleh pada Penetapan kadar.
Amlodipin Besilat BPFI, larutkan dan encerkan
dengan Fase gerak hingga kadar lebih kurang 0,05 mg
Disolusi <1231> [Catatan Semua larutan yang
per mL.
mengandung amlodipin tidak boleh bersinggungan
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 50 mg
dengan baja tahan karat karena penguraian
zat, masukkan ke dalam labu tentukur 50-mL. amlodipin]
Larutkan dan encerkan dengan Fase gerak sampai Media disolusi: 500 mL asam hidroklorida 0,01 N.
tanda. Pipet 5 mL larutan ke dalam labu tentukur 100-
Alat tipe 2: 75 rpm. [Catatan Gunakan dayung yang
mL, encerkan dengan Fase gerak sampai tanda.
dilapisi bahan teflon atau bahan inert lainnya selain
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
baja tahan karat]
dilengkapi dengan detektor 237 nm dan kolom 3,9 mm
Waktu: 30 menit.
x 15 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir lebih kurang Larutan baku Timbang saksama sejumlah
1 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap Amlodipin Besilat BPFI, larutkan dan encerkan
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons
dengan Media disolusi hingga diperoleh kadar sebagai
puncak seperti tertera pada Prosedur: simpangan baku
berikut:
relatif pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%.
- 0,00695 mg per mL untuk tablet dengan kadar
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
amlodipin besilat 2,5 mg.
volume sama (lebih kurang 10 L) Larutan baku dan
Larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam
- 124 -

- 0,0139 mg per mL untuk tablet dengan kadar rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak senyawa
amlodipin besilat 5 mg. sejenis A amlodipin dalam Larutan uji dan Larutan
- 0,0278 mg per mL untuk tablet dengan kadar baku; CS adalah kadar Senyawa Sejenis A Amlodipin
amlodipin besilat 10 mg. BPFI dalam mg per mL Larutan baku; CU adalah
Larutan stabil selama 1 hari. kadar amlodipin dalam mg per mL Larutan uji
Larutan uji Saring alikot menggunakan penyaring berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket; 406,86
membran porositas 0,45 µm. dan 522,93 berturut-turut adalah bobot molekul
Prosedur Lakukan penetapan jumlah zat terlarut senyawa sejenis A amlodipin dan senyawa sejenis A
dengan mengukur serapan Larutan uji dan Larutan amlodipin fumarat.
baku, pada panjang gelombang serapan maksimum
lebih kurang 239 nm menggunakan sel kuarsa Hitung persentase amlodipin-glukosa/galaktosa atau
berukuran 1-cm dan Media disolusi sebagai blangko. amlodipin-laktosa, jika ada, dan produk degradasi
Hitung persentase amlodipin, C20H25N2O5Cl, yang lainnya dalam tablet dengan rumus :
terlarut dengan rumus:
𝑟𝑖 𝐶𝑆 408,88
𝐴𝑈 𝐶𝑆 408,88 ( )( )( ) 100
( )( )( ) 100𝐷𝑉 𝑟𝑆 𝐶𝑈 567,05
𝐴𝑆 𝐿 567,05
ri adalah respons puncak amlodipin-
AU dan AS berturut-turut adalah serapan Larutan uji glukosa/galaktosa, amlodipin-laktosa atau produk
dan Larutan baku; CS adalah kadar Amlodipin Besilat degradasi lainnya dalam Larutan uji dan rS adalah
BPFI dalam mg per mL Larutan baku; L adalah kadar respons puncak amlodipin dalam Larutan baku; CS
amlodipin besilat sesuai etiket; 408,88 dan 567,05 adalah kadar Amlodipin Besilat BPFI dalam mg per
berturut-turut adalah bobot molekul amlodipin dan mL Larutan baku; CU adalah kadar amlodipin dalam
amlodipin besilat; D adalah faktor pengenceran mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah yang
Larutan uji; V adalah volume Media disolusi (500 tertera pada etiket; 408,88 dan 567,05 berturut-turut
mL). adalah bobot molekul amlodipin dan amlodipin
Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak besilat. Masing-masing cemaran tidak lebih dari batas
kurang dari 75% (Q) amlodipin, C20H25N2O5Cl dari yang tertera pada Tabel sebagai berikut:
jumlah yang tertera pada etiket.
Tabel
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.
Nama Waktu Batas tidak
Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara Retensi lebih dari
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada Relatif (%)
Kromatografi <931>. Senyawa sejenis A 0,50 1,0
Amlodipina
Dapar, Fase gerak, Larutan baku, dan Sistem
Amlodipin-laktosab 0,80 0,5
kromatografi Lakukan seperti yang tertera pada Amlodipin- 0,90 0,5
Penetapan kadar. glukosa/galaktosa
Larutan uji Ambil sejumlah tablet masukkan ke Amlodipin besilat 1,0 -
dalam labu tentukur 25-mL sehingga diperoleh kadar Produk degradasi lain - 0,2
amlodipin 0,4 mg per mL. Tambahkan 10 mL Fase tidak spesifik
gerak. Kocok hingga tablet hancur, lanjutkan dengan
sonikasi selama 5 menit hingga larut sempurna, Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
biarkan hingga suhu ruang. Encerkan dengan Fase Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
gerak sampai tanda. Kocok dengan pengocok Kromatografi <931>.
magnetik selama 15 menit, saring menggunakan Dapar pH 3,0 Larutkan 7,0 mL trietilamina P
penyaring membran porositas 0,45 μm, buang 5 mL dalam 900 mL air. Atur pH hingga 3,0 ± 0,1 dengan
filtrat pertama. penambahan asam fosfat P, encerkan dengan air
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah hingga 1000 mL.
volume sama (lebih kurang 50 L) Larutan baku dan Fase gerak Buat campuran Dapar pH 3,0-metanol
Larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam P-asetonitril P (50:35:15), saring dan awaudarakan.
kromatogram dan ukur semua respons puncak. Hitung Jika perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian
persentase senyawa sejenis A dalam tablet dengan sistem seperti yang tertera pada Kromatografi <931>.
rumus: Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Amlodipin Besilat BPFI dan Senyawa Sejenis A
𝑟𝑈 𝐶𝑆 406,86 Amlodipin Besilat BPFI, larutkan dan encerkan
( )( )( ) 100 dengan Fase gerak hingga kadar berturut-turut lebih
𝑟𝑆 𝐶𝑈 522,93
kurang 0,0275 dan 0,0025 mg per mL.
- 125 -

Larutan uji persediaan Masukkan 5 tablet dalam 4-[(7-kloro-4-kuinolil)amino]--(dietilamino)-o-


labu tentukur 500-mL. Tambahkan 50 mL Fase gerak kresol dihidroklorida dihidrat [6398-98-7].
dan kocok hingga tablet hancur. Tambahkan 300 mL C20H22ClN3O.2HCl.2H2O BM 464,81
Fase gerak, tutup dan kocok menggunakan pengocok Anhidrat BM 428,79
bolak balik selama 30 menit. Encerkan dengan Fase
gerak sampai tanda dan campur. Amodiakuin Hidroklorida mengandung tidak kurang
Larutan uji Encerkan sejumlah Larutan uji dari 97,0% dan tidak lebih dari 103,0%,
persediaan dengan Fase gerak hingga diperoleh kadar C20H22ClN3O.2HCl, dihitung terhadap zat anhidrat.
amlodipin lebih kurang 0,02 mg per mL. Saring
larutan menggunakan penyaring membran porositas Pemerian Serbuk hablur warna kuning; tidak berbau
0,45 µm. Buang beberapa mL filtrat pertama. dan berasa pahit.
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
dilengkapi dengan detektor 237 nm dan kolom 3,9 mm Kelarutan Larut dalam air; agak sukar larut dalam
× 15 cm berisi bahan pengisi L1, dengan ukuran etanol; sangat sukar larut dalam benzen, dalam
partikel 5 μm. Laju alir lebih kurang 1 mL per menit. kloroform dan dalam eter.
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, ukur
respons puncak seperti tertera pada Prosedur [Catatan Baku pembanding Amodiakuin Hidroklorida BPFI,
Lakukan kromatografi selama tiga kali waktu retensi tidak boleh dikeringkan. Tetapkan kadar air secara
puncak amlodipin]: resolusi, R, antara puncak titrimetri pada waktu akan digunakan. Simpan dalam
amlodipin dan senyawa sejenis A amlodipin tidak wadah tertutup rapat.
kurang dari 8,5; faktor ikutan tidak lebih dari 2,0 untuk
masing-masing amlodipin dan senyawa sejenis A Kesempurnaan melarut <901> Larutan jernih;
amlodipin; simpangan baku relatif pada penyuntikan lakukan penetapan menggunakan larutan 200 mg zat
ulang tidak lebih dari 5,0% untuk senyawa sejenis A dalam 10 mL air.
amlodipin.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah Identifikasi
volume sama (lebih kurang 50 L) Larutan baku dan A. Masukkan 20 mg zat ke dalam corong pisah,
Larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam larutkan dalam 10 mL air, tambahkan 1 mL amonium
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung hidroksida P, ekstraksi dengan 25 mL kloroform
persentase amlodipin, C20H25N2O5Cl dalam tablet P.Tampung dan uapkan ekstrak kloroform, kemudian
dengan rumus: keringkan residu pada 105° selama 2 jam. Spektrum
serapan inframerah residu yang didispersikan dalam
𝑟𝑈 𝐶𝑆 408,88 kalium bromida P menunjukkan maksimum hanya
( )( )( ) 100
𝑟𝑆 𝐶𝑈 567,05 pada bilangan gelombang yang sama seperti pada
Amodiakuin Hidroklorida BPFI.
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak B. Spektrum serapan ultraviolet larutan 10 g per
amlodipin dalam Larutan uji dan Larutan baku; CS mL zat dalam larutan asam hidroklorida P (1 dalam
adalah kadar Amlodipin Besilat BPFI dalam mg per 100) menunjukkan maksimum dan minimum pada
mL Larutan baku; CU adalah kadar amlodipin dalam panjang gelombang yang sama seperti pada
mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah yang Amodiakuin Hidroklorida BPFI.
tertera pada etiket; 408,88 dan 567,05 berturut-turut C. Menunjukkan reaksi Klorida cara A, B dan C
adalah bobot molekul amlodipin dan amlodipin seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
besilat.
Air <1031> Metode I Tidak kurang dari 7,0% dan
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup tidak lebih dari 9,0%.
rapat dan terlindung cahaya. Simpan dalam suhu ruang
terkendali. Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,2%.

Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara


AMODIAKUIN HIDROKLORIDA Kromatografi lapis tipis seperti tertera pada
Amodiaquine Hydrochloride Kromatografi <931>.
Fase gerak Buat campuran kloroform P yang telah
OH CH3 dijenuhkan dengan amonium hidroksida P dan etanol
N
mutlak P (9:1).
N
N CH3 Larutan baku 1 Timbang lebih kurang 20 mg
H Amodiakuin Hidroklorida BPFI, masukkan ke dalam
Cl .2HCl.2H2O tabung reaksi bersumbat kaca.Tambahkan 1 mL
kloroform P yang telah dijenuhkan dengan amonium
hidroksida P, kocok kuat selama 2 menit. Biarkan
- 126 -

padatan mengendap, tuang cairan ke dalam tabung TABLET AMODIAKUIN HIDROKLORIDA


kedua. Amodiaquine Hydrochloride Tablet
Larutan baku 2 Encerkan 1 bagian volume Larutan
baku 1 dengan kloroform P yang telah dijenuhkan Tablet Amodiakuin Hidroklorida mengandung
dengan amonium hidroksida P hingga 200 bagian Amodiakuin Hidroklorida, C20H22ClN3O.2HCl. 2H2O,
volume larutan. setara dengan Amodiakuin, C20H22ClN3O, tidak
Larutan uji Timbang lebih kurang 200 mg zat, kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0%, dari
masukkan ke dalam tabung reaksi bersumbat kaca. jumlah yang tertera pada etiket.
Tambahkan 10 mL kloroform P yang telah dijenuhkan
dengan amonium hidroksida P, kocok dengan kuat Baku pembanding Amodiakuin Hidroklorida BPFI,
selama 2 menit. Biarkan padatan mengendap, tuang tidak boleh dikeringkan, lakukan penetapan kadar air
cairan ke dalam tabung reaksi bersumbat kaca kedua. secara titrimetri pada saat digunakan, simpan dalam
Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing wadah tertutup rapat.
10 L Larutan baku 1, Larutan baku 2 dan Larutan uji
pada lempeng kromatografi campuran silika gel Identifikasi
setebal 0,25 mm. Masukkan lempeng ke dalam bejana A. Gerus 1 tablet atau lebih, masukkan serbuk tablet
kromatograf yang berisi Fase gerak dan biarkan Fase setara dengan lebih kurang 50 mg amodiakuin ke
gerak merambat hingga tiga per empat tinggi lempeng. dalam corong pisah 125 mL. Tambahkan 20 mL air,
Angkat lempeng dan tandai batas rambat. Biarkan kocok selama 1 menit. Tambahkan 25 mL kloroform P
kering dan amati bercak di bawah cahaya ultraviolet dan 1 mL amonium hidroksida P, kocok selama 2
254 nm. Harga Rf bercak utama Larutan uji sesuai menit dan setelah mengendap saring ekstrak
dengan yang diperoleh dari Larutan baku. Tidak kloroform melalui kapas yang telah dibasahi
terdapat bercak sekunder dari Larutan uji yang lebih kloroform P, tampung ekstrak ke dalam wadah yang
intensif dari bercak utama Larutan baku 2. sesuai untuk penguapan. Uapkan kloroform dan
keringkan residu pada 105 selama 1 jam. Spektrum
Cemaran senyawa organik mudah menguap <471> serapan inframerah residu yang didispersikan dalam
Metode V Memenuhi syarat; gunakan dimetil kalium bromida P menunjukkan maksimum hanya
sulfoksida LP sebagai pelarut. pada bilangan gelombang yang sama seperti
Amodiakuin Hidroklorida BPFI.
Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 300 B. Spektrum serapan ultraviolet larutan uji yang
mg zat, masukkan ke dalam labu tentukur 200-mL, dibuat seperti pada Penetapan kadar menunjukkan
larutkan dan encerkan dengan larutan asam maksimum hanya pada panjang gelombang yang sama
hidroklorida P (1 dalam 100) sampai tanda. Pipet 10 seperti pada Amodiakuin Hidroklorida BPFI.
mL larutan ini ke dalam labu tentukur 1000-mL,
encerkan dengan larutan asam hidroklorida P (1 Disolusi <1231>
dalam 100) sampai tanda. Ukur serapan Larutan uji Media disolusi : 900 mL air.
dan larutan Amodiakuin Hidroklorida BPFI dalam Alat tipe 2 : 50 rpm.
larutan asam hidroklorida P (1 dalam 100) dengan Waktu : 30 menit.
kadar lebih kurang 15 g per mL pada panjang Prosedur Lakukan penetapan jumlah
gelombang serapan maksimum lebih kurang 342 nm. C20H22ClN3O.2HCl.2H2O yang terlarut dengan
Gunakan larutan asam hidroklorida P (1 dalam 100) mengukur serapan alikot, jika perlu diencerkan
sebagai blangko. Hitung jumlah dalam mg, dengan Media disolusi dan serapan Larutan Baku
amodiakuin hidroklorida, C20H22ClN3O.2HCl, dalam Amodiakuin Hidroklorida BPFI dalam media yang
zat yang digunakan dengan rumus: sama pada panjang gelombang serapan maksimum
lebih kurang 342 nm.
A  Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak
20C  U  kurang dari 75% (Q), C20H22ClN3O.2HCl.2H2O, setara
 AS  dengan C20H22ClN3O dari jumlah yang tertera pada
etiket.
C adalah kadar Amodiakuin hidroklorida BPFI dalam
g per mL larutan baku; AU dan AS berturut-turut Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.
adalah serapan Larutan uji dan Larutan baku.
Penetapan kadar Timbang dan serbukkan tidak
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah
rapat. serbuk tablet setara dengan lebih kurang 300 mg
amodiakuin masukkan ke dalam gelas piala 250-mL,
tambahkan 100 mL larutan asam hidroklorida P (1
dalam 100). Panaskan di atas tangas uap selama lebih
kurang 15 menit dengan sekali-sekali digoyang.
- 127 -

Dinginkan pada suhu ruang, pindahkan ke dalam labu


tentukur 200-mL, tambahkan larutan asam Pemerian Serbuk hablur; putih; praktis tidak berbau.
hidroklorida P (1 dalam 100) sampai tanda. Pipet 10
mL beningan ke dalam corong pisah 125-mL. Kelarutan Sukar larut dalam air dan dalam metanol;
Tambahkan lebih kurang 10 mL asam hidrokloridaP tidak larut dalam benzen, dalam karbon tetraklorida
(1 dalam 100), bilas dengan 20 mL kloroform P, buang dan dalam kloroform.
lapisan kloroform. Tambahkan 4,5 mL natrium
hidroksida 1 N, ekstraksi empat kali tiap kali dengan Baku pembanding Amoksisilin BPFI; tidak boleh
25 mL kloroform P. Ekstraksi kumpulan kloroformtiga dikeringkan, merupakan bentuk trihidrat. Simpan
kali tiap kali dengan 50 mL larutan asam hidroklorida dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam
P (1 dalam 100). Kumpulkan ekstrak asam dalam labu lemari pembeku. Senyawa Sejenis A Amoksisilin
tentukur 200-mL, tambahkan larutan asam BPFI. Senyawa Sejenis D Amoksisilin BPFI.
hidroklorida P (1 dalam 100) sampai tanda. Pipet 20 Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat pirogenik,
mL larutan ke dalam labu tentukur 100-mL, encerkan penanganan vial dan isi harus hati-hati untuk
dengan larutan asam hidroklorida P (1 dalam 100) menghindari kontaminasi.] Rekonstitusi semua isi,
sampai tanda. Ukur serapan larutan pada panjang simpan larutan dalam lemari pendingin dan gunakan
gelombang serapan maksimum lebih kurang 342 nm, dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum dibuka
gunakan larutan asam hidroklorida P (1 dalam 100) dalam lemari pembeku.
sebagai blangko. Bandingkan dengan Amodiakuin
Hidroklorida BPFI dengan kadar lebih kurang 15 µg Identifikasi Spektrum serapan inframerah zat yang
per mL yang diperlakukan sama dengan larutan uji. didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan
Hitung jumlah dalam mg amodiakuin hidroklorida, maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
C20H22ClN3O.2HCl.2H2O, dalam serbuk tablet yang sama seperti Amoksisilin BPFI.
digunakan dengan rumus:
Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 0,25 unit
A  Endotoksin FI per mg amoksisilin, jika pada etiket
21,68C  C  tertera amoksisilin steril atau harus dilakukan proses
 AS  sterilisasi untuk pembuatan sediaan injeksi.

C adalah kadar Amodiakuin Hidroklorida BPFI dalam Sterilitas <71> Memenuhi syarat. Jika pada etiket
µg per mL larutan baku dihitung terhadap zat anhidrat; dinyatakan amoksisilin steril, lakukan penetapan
AU dan AS berturut-turut adalah serapan Larutan uji dengan Inokulasi langsung ke dalam Media seperti
dan Larutan baku. Kadar amodiakuin, C20H22ClN3O tertera pada Uji sterilitas sediaan, sebagai ganti
ditetapkan dengan cara dikalikan dengan 0,7656. menggunakan Media Cair Tioglikolat yang
mengandung larutan polisorbat 80 (5 mg per mL) dan
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup sejumlah penisilinase steril secukupnya untuk
rapat. menginaktivasi amoksisilin pada masing-masing
tabung, gunakan “Soybean-Casein Digest Medium”
mengandung polisorbat 80 (5 mg per mL) dan
sejumlah penisilinase steril yang cukup untuk
AMOKSISILIN
menginaktivasi amoksisilin pada masing-masing
Amoxicillin tabung dan goyang labu sampai larut sempurna
sebelum disaring.

Sifat hablur <1091> Memenuhi syarat.

pH <1071> Antara 3,5 dan 6,0; lakukan penetapan


menggunakan larutan 2 mg per mL.

Asam (2S,5R,6R)-6[(R)-(−)-2-amino-2-(p- Air <1031>Metode I Antara 11,5% dan 14,5%.


hidroksifenil)-asetamido]-3,3-dimetil-7 -okso-4-tia-1-
azabisiklo[3.2.0]heptan-2-karboksilat trihidrat Dimetilanilin <362> Memenuhi syarat.
[61336-70-7]
C16H19N3O5S.3H2O BM 419,45 Cemaran Organik Lakukan penetapan dengan cara
Anhidrat [26787-78-0] BM 365,41 Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>.
Amoksisilin mengandung tidak kurang dari 900 µg per Larutan A Buat larutan kalium fosfat monobasa P
mg dan tidak lebih dari 1050 µg per mg, C16H19N3O5S, 2,72 mg per mL, atur pH hingga 5,0 ± 0,1 dengan
dihitung terhadap zat anhidrat.
- 128 -

penambahan kalium hidroksida 1 N atau larutan asam cemaran tidak lebih dari batas yang tertera pada Tabel
fosfat P 20%, saring dan awaudarakan. dan total cemaran tidak lebih dari 5,0%.
Larutan B Gunakan metanol P.
Fase gerak Gunakan variasi campuran Larutan A Tabel
dan Larutan B seperti tertera pada Sistem kromatografi.
Waktu Retensi Batas
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Cemaran
Relatif (%)
Amoksisilin BPFI, larutkan, dan encerkan dengan
Senyawa sejenis I amoksisilin
Larutan A hingga kadar lebih kurang 12,5 g per mL. (D-hidroksifenilglisin)
0,32 1,0
Larutan kesesuaian sistem Timbang saksama
masing-masing sejumlah Senyawa Sejenis A Senyawa sejenis D amoksisilin 0,53 1,0
Amoksisilin BPFI dan Senyawa Sejenis D Amoksisilin (Amoksisilin cincin terbuka)
0,68 1,0
BPFI, larutkan dan encerkan dengan Larutan A hingga Senyawa sejenis A amoksisilin
0,78 0,5
kadar masing-masing 12,5 g per mL. (asam 6-aminopenisilanat)
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, Senyawa sejenis B amoksisilin
0,87 -
larutkan, dan encerkan dengan Larutan A hingga kadar (L-amoksisilin)
lebih kurang 1,25 mg per mL [Catatan simpan larutan Amoksisilin 1,0 -
ini pada suhu 4º dan gunakan dalam waktu 4 jam.] Senyawa sejenis G amoksisilin
(D-hidroksifenil- 2,9 0,1
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
glisilamoksilin)
dilengkapi dengan detektor 210 nm dan kolom
Senyawa sejenis E amoksisilin
berukuran 4,6 mm × 10 cm berisi bahan pengisi L1 (derivat amoksisilin peniloik)
4,5 1,0
dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang Senyawa sejenis M (N-
1,5 mL per menit. Pertahankan suhu kolom dan (penisilan-6-il) cincin terbuka 6,0 1,0
autoinjektor berturut-turut pada 40 dan 4. amoksilinamida)
Kromatograf diprogram sebagai berikut: Senyawa sejenis F amoksisilin
6,3 -
(Fenilpirazinediol)
Waktu Larutan A Larutan B Senyawa sejenis C (Produk
6,4 1,0
(menit) (%) (%) penyusunan ulang amoksisilin)
0 97 3 Senyawa sejenis E amoksisilin
6,7 1,0
10 97 3 (derivat amoksisilin peniloik)
22 75 25 Senyawa sejenis J amoksisilin
26 97 3 (cincin terbuka dimer 8,8 1,0
amoksisilin)
Lakukan kromatografi terhadap Larutan kesesuaian Senyawa sejenis L
amoksisilin(N-(penisilan-6-il) 9,0 1,0
sistem, rekam kromatogram, dan ukur respons puncak
amoksisilinamida)
seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara kedua
Cemaran lain - 1,0
puncak senyawa sejenis A amoksisilin dan senyawa Abaikan respons puncak cemaran yang lebih kecil dari
sejenis D amoksisilin tidak lebih dari 1,5. Lakukan 0,03% respons puncak amoksisilin dalam Larutan baku.
kromatografi terhadap Larutan baku, rekam
kromatogram, dan ukur respons puncak seperti tertera Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
pada Prosedur: simpangan baku relatif pada Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
penyuntikan ulang tidak lebih dari 10%. Kromatografi <931>.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah Pengencer Buat larutan kalium fosfat monobasa P
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan dengan kadar 6,8 mg per mL, atur pH hingga 5,0 ± 0,1
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam dengan penambahan kalium hidroksida P 45%.
kromatogram dan ukur semua respons puncak. Hitung Fase gerak Campuran Pengencer - asetonitril P
persentase masing-masing cemaran dalam zat dengan (24:1), saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
rumus: penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
pada Kromatografi <931>.
 ri  C S  Larutan baku Timbang saksama sejumlah
    F  100 Amoksisilin BPFI, larutkan, dan encerkan dengan
 rS  CU  Pengencer hingga kadar lebih kurang 1,2 mg per mL.
Gunakan larutan dalam waktu 6 jam.
ri adalah respons puncak masing-masing cemaran Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat,
dalam Larutan uji; rS adalah respons puncak larutkan, dan encerkan dengan Pengencer hingga
amoksisilin dalam Larutan baku; CS adalah kadar kadar setara dengan lebih kurang 1,2 mg per mL.
Amoksisilin BPFI dalam mg per mL Larutan baku; CU Gunakan larutan dalam waktu 6 jam.
adalah kadar amoksisilin dalam mg per mL Larutan Sistem Kromatografi Kromatograf cair kinerja
uji berdasarkan bobot yang ditimbang; dan F adalah tinggi dilengkapi dengan detektor 230 nm dan kolom
faktor konversi 0,001 mg per µg. Masing-masing berukuran 4 mm × 25 cm berisi bahan pengisi L1. Laju
- 129 -

alir lebih kurang 1,5 mL per menit. Lakukan mengukur serapan filtrat alikot, jika perlu encerkan
kromatografi terhadap Larutan baku, rekam dengan Media disolusi dan serapan larutan baku
kromatogram, dan ukur respons puncak seperti tertera Amoksisilin BPFI dalam media yang sama pada
pada Prosedur: faktor ikutan puncak utama tidak lebih panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang
dari 2,5 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan 272 nm.
ulang tidak lebih dari 2,0%. Toleransi Dalam waktu 60 menit harus larut tidak
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah kurang dari 80% (Q), C16H19N3O5S, dari jumlah yang
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan tertera pada etiket.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung Uji 2
jumlah amoksisilin, C16H19N3O5S, dalam μg per mg Media disolusi : 900 mL air.
zat dengan rumus: Alat tipe 1 : 100 rpm.
Waktu : 90 menit.
 rU  CS  Prosedur Lakukan penetapan persentase
    P amoksisilin, C16H19N3O5S, yang terlarut dengan
 rS  CU  mengukur serapan alikot, jika perlu encerkan dengan
Media disolusi dan serapan larutan baku Amoksisilin
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak utama BPFI dalam media yang sama pada panjang
Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah kadar gelombang serapan maksimum lebih kurang 272 nm.
Amoksisilin BPFI dalam mg per mL Larutan baku; CU Toleransi Dalam waktu 90 menit harus larut tidak
adalah kadar amoksisilin dalam mg per mL Larutan kurang dari 80% (Q) C16H19N3O5S, dari jumlah yang
uji berdasarkan bobot yang ditimbang; dan P adalah tertera pada etiket.
potensi amoksisilin dalam g per mg Amoksisilin
BPFI. Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Batas mikroba <51> Angka lempeng total tidak lebih
rapat, pada suhu ruang terkendali. dari 103 unit koloni per g dan total kapang khamir tidak
Penandaan Jika digunakan untuk sediaan injeksi, lebih dari 102 unit koloni per g.
pada etiket tertera hanya untuk hewan dan steril atau
harus mengikuti proses selanjutnya dalam pembuatan Penetapan kadar Lakukan penetapan secara
sediaan injeksi. Pada etiket amoksisilin lain harus Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
dicantumkan hanya digunakan dalam pembuatan obat Kromatografi <931>.
non parenteral. Dapar Timbang saksama sejumlah kalium fosfat
monobasa P, larutkan dan encerkan dengan air hingga
kadar lebih kurang 6,8 g per L. atur pH hingga 5,0 ±
KAPSUL AMOKSISILIN 0,1 dengan penambahan larutan kalium hidroksida P
45%.
Amoxicillin Capsules
Fase gerak Campuran asetonitril P-Dapar (1:24).
Saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
Kapsul Amoksisilin mengandung amoksisilin,
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
C16H19N3O5S, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih
pada Kromatografi <931>.
dari 120,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Amoksisilin BPFI larutkan dan encerkan dengan
Baku pembanding Amoksisilin BPFI; dalam bentuk
Dapar hingga kadar lebih kurang 1,2 mg per mL.
trihidrat, tidak boleh dikeringkan, simpan dalam
[Catatan Gunakan larutan dalam waktu 6 jam.]
wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam lemari
Larutan uji Timbang isi tidak kurang dari
pembeku.
20 kapsul, keluarkan isi semua kapsul dan campur,
bersihkan cangkang kapsul dan timbang saksama
Identifikasi Waktu retensi puncak utama
sejumlah isi kapsul setara dengan lebih kurang
kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku
200 mg amoksisilin anhidrat, masukkan ke dalam labu
seperti tertera pada Penetapan Kadar.
tentukur 200-mL, tambahkan Dapar sampai tanda.
Jika perlu sonikasi hingga larut sempurna dan gunakan
Disolusi <1231>
filtrat sebagai Larutan uji. [Catatan Gunakan larutan
Uji 1
dalam waktu 6 jam.]
Media disolusi : 900 mL air.
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi
Alat tipe 1 : 100 rpm untuk kapsul berisi 250 mg.
dilengkapi dengan detektor 230 nm dan kolom
Alat tipe II : 75 rpm, untuk kapsul berisi 500 mg.
berukuran 4 mm x 25 cm berisi bahan pengisi L1
Waktu : 60 menit.
dengan ukuran partikel 10 µm. Laju alir lebih kurang
Prosedur Lakukan penetapan persentase
1,5 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap
amoksisilin, C16H19N3O5S, yang terlarut dengan
- 130 -

Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons Prosedur Lakukan penetapan seperti tertera pada
puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor ikutan Identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis <281>.
tidak lebih dari 2,5; dan simpangan baku relatif pada Keringkan lempeng dengan udara hangat selama 10
penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%. menit. Tandai bercak pada kromatogram dengan
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah menyemprotkan Penampak bercak. Keringkan pada
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan 110 selama 5 menit.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung Disolusi <1231>
persentase amoksisilin, C16H19N3O5S, dalam kapsul Media disolusi : 900 mL air
dengan rumus: Alat tipe 2 : 75 rpm
Waktu : 30 menit
 rU   CS  Prosedur Lakukan penetapan jumlah C16H19N3O5S
      P  F  100 yang terlarut dengan cara Kromatografi cair kinerja
 rS   CU  tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Dapar pH 5,0 Larutkan lebih kurang 27,2 g kalium
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan fosfat monobasa P dalam 3 liter air, atur pH hingga 5,0
uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Amoksisilin ± 0,1 dengan penambahan kalium hidroksida 45%
BPFI dalam mg per mL Larutan baku; CU adalah (b/b). Encerkan dengan air hingga 4 liter.
kadar amoksisilin dalam mg per mL Larutan uji Fase gerak Buat campuran Dapar pH 5,0-
berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket; P adalah asetonitril P (3900:100), saring melalui penyaring
potensi amoksisilin dalam g per mg Amoksisilin membran dengan porositas 0,5 µm atau lebih kecil.
BPFI; F adalah faktor konversi 0,001 mg per µg. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian
sistem seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Larutan baku Timbang saksama sejumlah
rapat, pada suhu ruang terkendali. Amoksisilin BPFI, larutkan dan encerkan dengan
Dapar pH 5,0 hingga kadar lebih kurang 0,05 mg per
Penandaan Jika tidak menggunakan Disolusi mL. Gunakan larutan ini dalam waktu 6 jam setelah
Uji 1, cantumkan uji disolusi yang digunakan. pembuatan.
Larutan uji Saring sejumlah larutan disolusi melalui
penyaring membran dengan porositas 0,5 µm atau
lebih kecil. Encerkan secara kuantitatif dengan air
TABLET AMOKSISILIN
hingga kadar lebih kurang 0,045 mg per mL. Gunakan
Amoxicillin Tablet larutan dalam waktu 6 jam setelah pembuatan.
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
Tablet Amoksisilin mengandung Amoksisilin, Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi
C16H19N3O5S, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dilengkapi dengan detektor 230 nm dan kolom 3,9 mm
dari 120,0% seperti tertera pada etiket. x 30 cm berisi bahan pengisi L1 dan kolom pelindung
2 mm x 2 cm berisi bahan pengisi L2. Laju alir lebih
Baku pembanding Amoksisilin BPFI; tidak boleh kurang 0,7 mL per menit, pertahankan suhu kolom
dikeringkan, merupakan bentuk trihidrat. Simpan
pada 40 ± 1. Lakukan kromatografi terhadap
dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam
Larutan baku, rekam kromatogam dan ukur respons
lemari pembeku.
puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor kapasitas,
k’, antara 1,1 dan 2,8; efisiensi kolom tidak kurang
Identifikasi Lakukan penetapan dengan cara
dari 1700 lempeng teoritis; faktor ikutan tidak lebih
Kromatografi lapis tipis seperti tertera pada
dari 2,5 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan
Kromatografi <931>.
ulang tidak lebih dari 1,5%.
Fase gerak Campuran metanol P-kloroform P-air-
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
piridin P (90:80:30:10).
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan
Penampak bercak Larutan ninhidrin P 3 mg per mL
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
dalam etanol P.
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
Larutan baku Timbang sejumlah Amoksisilin BPFI,
jumlah dalam mg amoksisilin, C16H19N3O5S terlarut
larutkan dalam asam hidroklorida 0,1 N hingga kadar
dengan rumus:
lebih kurang 4 mg per mL. Gunakan dalam waktu 10
menit setelah pembuatan.
Larutan uji Pada sejumlah serbuk tablet tambahkan r 
asam hidroklorida 0,1 N hingga kadar setara dengan 0,9 DCP  U 
lebih kurang 4 mg per mL. Gunakan dalam waktu 10  rS 
menit setelah pembuatan.
Volume penotolan 5 μL. D adalah faktor pengenceran Larutan uji; C adalah
kadar Amoksisilin BPFI dalam mg per mL Larutan
- 131 -

baku; P adalah kandungan amoksisilin dalam µg per µg per mg Amoksisilin BPFI; V adalah volume
mg Amoksisilin BPFI; rU dan rS berturut-turut adalah Pengencer dalam mL yang digunakan dalam Larutan
respons puncak Larutan uji dan Larutan baku. uji; rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak
Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak Larutan uji dan Larutan baku.
kurang dari 75% (Q) C16H19N3O5S dari jumlah yang
tertera pada etiket. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
rapat dan pada suhu ruang terkendali.
Untuk tablet kunyah Lakukan Prosedur disolusi
seperti di atas. Penandaan Etiket tablet kunyah menyatakan bahwa
harus dikunyah sebelum ditelan. Tablet yang ditujukan
Untuk tablet kunyah yang mengandung 200 mg atau hanya untuk obat hewan juga harus diberi etiket, hanya
400 mg untuk penggunaan hewan.
Waktu : 20 menit
Toleransi : Dalam waktu 20 menit harus larut tidak
kurang dari 70% (Q) C16H19N3O5S dari jumlah yang AMOKSISILIN UNTUK SUSPENSI ORAL
tertera pada etiket. Amoxicillin for Oral Suspension
Untuk tablet kunyah yang mengandung 125 mg atau Amoksisilin untuk Suspensi Oral mengandung
250 mg amoksisilin, C16H19N3O5S tidak kurang dari 90,0%
Waktu : 90 menit dan tidak lebih dari 120,0% dari jumlah yang tertera
Toleransi : Dalam waktu 90 menit harus larut tidak pada etiket. Mengandung satu atau lebih dapar,
kurang dari 70% (Q) C16H19N3O5S dari jumlah yang pewarna, perisa, pengawet, penstabil, pemanis dan
tertera pada etiket. pensuspensi yang sesuai.

Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara Baku pembanding Amoksisilin BPFI; tidak boleh
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada dikeringkan, merupakan bentuk trihidrat. Simpan
Kromatografi <931>. dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam
Fase gerak, Pengencer, Larutan baku, dan Sistem lemari pembeku.
kromatografi lakukan seperti tertera pada Penetapan
kadar dalam Amoksisilin. Identifikasi Waktu retensi puncak utama
Larutan uji Masukkan tidak kurang dari 5 tablet ke kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku
dalam blender berkecepatan tinggi yang berisi seperti yang diperoleh pada Penetapan kadar.
sejumlah volume Pengencer yang diukur saksama
hingga kadar lebih kurang 1 mg per mL amoksisilin pH <1071> Antara 5,0 dan 7,5; lakukan penetapan
anhidrat. Blender selama 4 ± 1 menit, Biarkan lebih menggunakan suspensi yang dikonstitusikan seperti
kurang 5 menit dan sentrifus sebagian campuran. yang tertera pada etiket.
[Catatan Jika volume Pengencer yang tersedia lebih
dari 500 mL, masukkan 5 tablet ke dalam labu Volume terpindahkan <1261> Memenuhi syarat.
tentukur dengan kapasitas tertentu hingga kadar lebih
kurang 1 mg per mL amoksisilin anhidrat, tambahkan Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat
Pengencer lebih kurang tiga per empat kapasitas labu, untuk padatan yang dikemas dalam wadah dosis
sonikasi selama 5 menit dan encerkan dengan tunggal.
Pengencer sampai tanda dan aduk dengan pengaduk
magnetik selama lebih kurang 30 menit. Sentrifus Uji batas mikroba <51> Angka lempeng total tidak
sebagian campuran].Saring melalui penyaring lebih dari 1000 koloni per g, dan angka total kapang
membran dengan porositas 1 µm atau lebih kecil. dan khamir tidak lebih dari 100 koloni per g.
Gunakan larutan ini dalam waktu 6 jam setelah
pembuatan. Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Prosedur Lakukan sesuai Prosedur seperti tertera Kromatografi cair kinerja tinggi seperti yang tertera
pada Penetapan kadar dalam Amoksisilin. Hitung pada Kromatografi <931>.
jumlah dalam mg amoksisilin, C16H19N3O5S, dalam Pengencer, Fase gerak dan Larutan baku Lakukan
tiap tablet dengan rumus: seperti tertera pada Penetapan kadar dalam
Amoksisilin.
 V   rU 

Larutan uji Konstitusikan amoksisilin untuk
 CP
 5000   rS
suspensi oral seperti tertera pada etiket, bebas
 gelembung udara. Encerkan suspensi dengan
Pengencer hingga kadar lebih kurang 1 mg per mL.
C adalah kadar Amoksisilin BPFI dalam mg per mL Saring melalui penyaring dengan porositas 1 µm atau
Larutan baku; P adalah kandungan amoksisilin dalam lebih kecil. Gunakan filtrat dalam waktu 6 jam.
- 132 -

Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada Baku pembanding Amoksisilin Natrium BPFI;
Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi Amoksisilin Trihidrat BPFI; Ampisilin Trihidrat
dilengkapi dengan detektor 230 nm dan kolom 4 mm BPFI; Sefadroksil BPFI; Endotoksin BPFI; [Catatan
× 25 cm berisi bahan pengisi L1 dengan ukuran Bersifat pirogenik, penanganan vial dan isi harus hati-
partikel 10 µm. Laju alir lebih kurang 1,5 mL per hati untuk menghindari kontaminasi.] Rekonstitusi
menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, semua isi, simpan larutan dalam lemari pendingin dan
rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum
tertera pada Prosedur: faktor ikutan tidak lebih dari dibuka dalam lemari pembeku.
2,5; dan simpangan baku relatif pada penyuntikan
ulang tidak lebih dari 2,0%. Identifikasi Lakukan identifikasi A, D atau B, C, D
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah A. Timbang 250 mg zat, larutkan dalam 5 mL air,
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan tambahkan 0,5 mL asam asetat encer LP, aduk dan
Larutan uji ke dalam kromatograf. Rekam diamkan dalam tangas es selama 10 menit. Saring dan
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung bilas residu dengan 2 sampai 3 mL campuran air -
persentase amoksisilin, C16H19N3O5S dalam suspensi aseton P (1:9). Keringkan dalam oven pada suhu 60
dengan rumus: selama 30 menit. Spektrum serapan inframerah residu
yang didispersikan dalam kalium bromida P
𝐶𝑆 𝑟𝑈 menunjukkan maksimum hanya pada bilangan
( ) ( ) × 𝑃 × 𝐹 × 100 gelombang yang sama seperti pada Amoksisilin
𝐶𝑈 𝑟𝑆
Trihidrat BPFI.
CS adalah kadar Amoksisilin BPFI dalam mg per mL B. Lakukan penetapan secara Kromatografi lapis
Larutan baku; CU adalah kadar amoksisilin dalam mg tipis seperti tertera pada Kromatografi <281>.
per mL Larutan uji berdasarkan jumlah yang tertera Fase gerak Campuran aseton P dan larutan
pada etiket; rU dan rS berturut-turut adalah respons amonium asetat P 15,4%, atur pH hingga 5,0 dengan
puncak Larutan uji dan Larutan baku; P adalah penambahan asam asetat glasial P (10:90).
potensi amoksisilin dalam µg per mg Amoksisilin Larutan baku A Larutkan 25,0 mg Amoksisilin
BPFI; F adalah faktor konversi 0,001 mg per µg. Trihidrat BPFI dalam 10 mL larutan natrium
bikarbonat P 4,2%.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Larutan baku B Larutkan 25,0 mg Amoksisilin
rapat, pada suhu ruang terkendali. Trihidrat BPFI dan 25,0 mg Ampisilin Trihidrat BPFI
dalam 10 mL larutan natrium bikarbonat P 4,2%.
Larutan uji Larutkan 25 mg zat dalam 10 mL
AMOKSISILIN NATRIUM larutan natrium bikarbonat P 4,2%.
Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing
Amoxicillin Sodium
1,0 μL Larutan baku A, Larutan Baku B dan Larutan
uji pada lempeng kromatografi yang dilapisi campuran
silika gel P yang tersilanisasi. Masukkan lempeng ke
dalam bejana kromatograf berisi Fase gerak dan
biarkan Fase gerak merambat hingga 15 cm. Angkat
lempeng, tandai batas rambat, biarkan lempeng kering
di udara dan paparkan dengan uap iodum P hingga
bercak tampak. Bercak utama yang diperoleh dari
Natrium-(2S,5R,6R)-6-[[(2R)-2-amino-2-(4- Larutan uji mempunyai harga Rf, warna dan ukuran
hidroksifenil asetil]amino]-3,3-dimetil-7-okso-4-tia- yang sama dengan bercak utama yang diperoleh dari
1-azabisiklo[3,2,0]heptan-2-karboksilat [34642-77-8] Larutan baku A. Kromatogram Larutan baku B
C16H18N3NaO5S BM 387,4 menunjukkan dua bercak yang terpisah dengan
sempurna.
Amoksisilin Natrium mengandung tidak kurang dari C. Masukkan lebih kurang 2 mg zat ke dalam
89,0% dan tidak lebih dari 102,0% C16H18N3NaO5S, tabung reaksi dengan ukuran panjang lebih kurang 150
dihitung terhadap zat anhidrat. mm dan diameter dalam 15 mm. Basahkan dengan
0,05 mL air dan tambahkan 2 mL asam sulfat-
Pemerian Serbuk putih atau hampir putih; sangat formaldehid LP goyangkan tabung: larutan praktis
higroskopik. tidak berwarna. Panaskan tabung dalam tangas air
selama 1 menit: terjadi warna kuning tua.
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air; agak sukar D. Menunjukkan reaksi Natrium cara B seperti
larut dalam etanol mutlak; sangat sukar larut dalam tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
aseton.
Kejernihan larutan <881> Tidak lebih opalesen dari
Suspensi padanan II; Timbang saksama lebih kurang
- 133 -

1,0 g zat, larutkan dalam 10,0 mL air: larutan tidak berukuran 4,6 mm × 25 cm, berisi bahan pengisi L1
boleh lebih keruh dari Suspensi padanan II. Larutan dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang
awal berwarna merah muda, setelah 5 menit, ukur 1,0 mL per menit. Kromatograf diprogram sebagai
serapan pada 430 nm: serapan tidak lebih besar dari berikut:
0,20.
Waktu Fase gerak A Fase gerak B
pH <1071> Antara 8,0 dan 10,0; lakukan penetapan (menit) (%) (%)
menggunakan larutan 2,0 g zat dalam 20 mL air bebas 0 - tR 92 8
karbon dioksida P. tR – (tR + 25) 92 → 0 8 → 100
(tR + 25) - (tR + 40) 0 100
Rotasi jenis <1081> Antara +240º dan +290º dihitung (tR + 40) - (tR + 55) 92 8
terhadap zat anhidrat; lakukan penetapan tR adalah waktu retensi amoksisilin yang diperoleh dari
Larutan baku C.
menggunakan 62,5 mg zat yang dilarutkan dalam
larutan kalium biftalat P 0,4% hingga 25,0 mL.
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku B,
rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti
Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara
tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara puncak
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
amoksisilin dan sefadroksil tidak kurang dari 2,0.
Kromatografi <931>.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
Dapar Larutan kalium fosfat monobasa 0,2 N, atur
volume sama (lebih kurang 50 μL) Larutan baku B,
pH hingga 5,0 dengan penambahan natrium
Larutan baku C, mengikuti eluasi isokratik; dan
hidroksida encer LP. Encerkan 25 mL larutan hingga
Larutan baku D, Larutan uji B, dan Blangko
100 mL.
mengikuti eluasi gradien ke dalam kromatograf,
Fase gerak A Campuran asetonitril P - Dapar
rekam kromatogram dan ukur semua respons puncak.
(1:99).
Dari kromatogram Larutan baku D lakukan
Fase gerak B Campuran asetonitril P - Dapar (1:4).
identifikasi cemaran: waktu retensi relatif cemaran C,
Fase gerak Gunakan variasi Fase gerak A dan Fase
amoksisilin dimer (cemaran J; n=1), dan amoksisilin
gerak B seperti tertera pada Sistem kromotografi.
trimer (cemaran J n=2), berturut-turut lebih kurang
Larutan baku A Timbang saksama 30,0 mg
3,4; 4,1 dan 4,5 relatif terhadap amoksisilin. Lakukan
Amoksisilin Trihidrat BPFI, masukan ke dalam labu
kromatografi terhadap Larutan baku B, rekam
tentukur 50-mL, larutkan dan encerkan dengan Fase
kromatogram dan ukur respons puncak; resolusi, R,
gerak A sampai tanda.
antara puncak amoksisilin dan sefadroksil minimum
Larutan baku B Timbang saksama 4,0 mg
2,0; Jika perlu, atur perbandingan Fase gerak A dan
Sefadroksil BPFI, masukan ke dalam labu tentukur 50-
Fase gerak B. Masing-masing cemaran dan total
mL, larutkan dan encerkan dengan Fase gerak A
cemaran tidak lebih dari batas yang tertera pada Tabel.
sampai tanda. Pipet 5 mL larutan ke dalam labu
tentukur 100-mL, tambahkan 5,0 mL Larutan baku A, Tabel
encerkan dengan dengan Fase gerak A sampai tanda.
Cemaran Batas
Larutan baku C Pipet 2 mL Larutan baku a ke
Cemaran J (n=1) Tidak lebih dari 3 kali respons
dalam labu tentukur 20-mL, encerkan dengan Fase puncak utama Larutan baku C (3 %)
gerak A sampai tanda. Pipet 5 mL larutan ke dalam Cemaran lain Tidak lebih dari 2 kali respons
labu tentukur 20-mL, encerkan dengan Fase gerak A puncak utama Larutan baku C (2 %)
sampai tanda. Total cemaran Tidak lebih dari 9 kali respons
Larutan baku D Timbang saksama 200 mg puncak utama Larutan baku C (9 %)
Amoksisilin trihidrat BPFI, tambahkan 1,0 mL air, Abaikan respons puncak 0,1 kali respons puncak utama
kocok dan tambahkan tetes demi tetes natrium Larutan baku C (0,1%).
hidroksida encer LP, sampai larut. pH larutan kurang
lebih 8,5. Simpan larutan pada suhu ruang selama 4 Dimetilanilin <362> Tidak lebih dari 20 bpj.
jam. Pipet 0,5 mL larutan ke dalam labu tentukur 50-
mL, encerkan dengan Fase gerak A sampai tanda. Asam 2-etilheksanoat Tidak lebih dari 0,8%.
Blangko Gunakan Fase gerak A. Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi gas,
Larutan uji A Timbang saksama lebih kurang 30 mg seperti tertera pada Kromatografi <931>.
zat, masukan ke dalam labu tentukur 50-mL, larutkan Larutan baku internal Larutkan 100 mg 3-asam
dan encerkan dengan Fase gerak A sampai tanda. sikloheksilpropionat dalam 100 mL sikloheksan P.
Larutan uji B Timbang saksama lebih kurang 30 Larutan baku Larutkan 75 mg asam 2-etil heksanoat
mg zat, masukan ke dalam labu tentukur 20-mL, dalam Larutan baku internal hingga 50,0 mL. Pipet
larutkan dan encerkan dengan Fase gerak A sampai 1 mL larutan, tambahkan 4,0 mL asam hidroklorida P.
tanda. Buat larutan segera sebelum digunakan. Kocok kuat selama 1 menit. Biarkan lapisan memisah,
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi jika perlu lakukan sentrifugasi, gunakan lapisan atas.
dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom
- 134 -

Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 300 mg Dapar, Fase gerak A, Fase gerak B, Larutan baku
zat, masukkan ke dalam labu tentukur, tambahkan 4,0 A, Larutan uji A, Lakukan seperti tertera pada
mL asam hidroklorida P. Kocok kuat dengan 1 mL Cemaran organik.
Larutan baku internal selama 1 menit. Biarkan lapisan Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
memisah, jika perlu lakukan sentrifugasi, gunakan Cemaran organik. Lakukan kromatografi terhadap
lapisan atas. Larutan baku A, rekam kromatogram dan ukur respons
Sistem kromatografi Kromatograf gas dilengkapi puncak, seperti tertera pada Prosedur: simpangan
detektor ionisasi nyala dan kolom leburan silika 0,53 baku relatif pada penyuntikan ulang 6 kali tidak lebih
mm x 10 meter dilapisi makrogol 20.000 2- dari 1,0%.
nitrotereftalat (G35) setebal 1,0 μm. Gunakan gas Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
helium P sebagai gas pembawa dengan laju alir 10 mL volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku A dan
per menit. Suhu injektor 200°, suhu detektor 300° dan Larutan uji A ke dalam kromatograf, rekam
atur suhu kolom sebagai berikut: kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
persentase Amoksisilin natrium, C16H18N3NaO5S,
waktu suhu kenaikan dalam zat yang digunakan dengan rumus:
(menit) () suhu Keterangan
(/menit)
 rU   CS   387,4 
0-2 40 - isotermal          100
2-7,3 40 → 200 30 gradien linear
 rS   CU   365,41 
7,3-10,3 200 - isotermal
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak dari
volume sama (lebih kurang 1 μL) Larutan baku dan
Larutan uji A dan Larutan baku A; CS adalah kadar
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
Amoksisilin Trihidrat BPFI setara amoksisilin dalam
kromatogram, ukur semua respons puncak. Hitung
mg per mL Larutan baku A; CU adalah kadar zat dalam
persentase asam 2-etilheksanoat dengan rumus:
mg per mL Larutan uji A berdasarkan bobot yang
ditimbang; 387,4 dan 365,41 berturut-turut adalah
 RU   CS 
     100 bobot molekul amoksisilin natrium dan amoksisilin.
 RS   CU 
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
rapat. Jika bahan steril, simpan dalam wadah steril
RU dan RS berturut-turut adalah perbandingan respons tertutup rapat dan bersegel.
puncak asam 2-etilheksanoat terhadap baku internal
dari Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah kadar 2-
etilheksanoat dalam mg per mL Larutan baku; CU TABLET AMOKSISILIN DAN KALIUM
adalah kadar zat dalam mg per mL Larutan uji KLAVULANAT
berdasarkan bobot yang ditimbang. Amoxicillin and Potassium Clavulanate
Tablets
Logam berat <371> Metode IV Tidak lebih dari 20
bpj; lakukan penetapan menggunakan 1,0 g zat dan 2
Tablet Amoksisilin dan Kalium Klavulanat
mL Larutan baku timbal (10 bpj).
mengandung amoksisilin, C16H19N3O5S dan asam
klavulanat, C8H9NO5, setara dengan tidak kurang dari
Air <1031> Metode I Tidak lebih dari 3,0%; lakukan
90,0% dan tidak lebih dari 120,0% dari jumlah yang
penetapan menggunakan 400 mg.
tertera pada etiket.
Sterilitas <71> Memenuhi syarat.
Baku pembanding Amoksisilin BPFI; dalam bentuk
trihidrat, tidak boleh dikeringkan, simpan dalam
Pirogen <231> Memenuhi syarat, lakukan penetapan
wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam lemari
menggunakan dosis uji 1 mL per kg yang mengandung
pembeku. Litium Klavulanat BPFI; tidak boleh
20 mg zat uji per mL dalam air untuk injeksi P.
dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat,
terlindung cahaya dan dalam lemari pendingin.
Endotoksin Bakteri <201> Tidak lebih dari 0,25
unit Endotoksin FI per mg, jika digunakan untuk
Identifikasi Waktu retensi puncak utama
pembuatan sediaan parenteral tanpa prosedur
kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku
sterilisasi lebih lanjut.
seperti diperoleh pada Penetapan kadar.
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Disolusi <1231>
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Uji 1
Kromatografi <931>.
Media disolusi : 900 mL air.
- 135 -

Alat tipe 2 : 75 rpm. kadar dalam Amoksisilin dan Kalium Klavulanat


Waktu : 30 menit; atau 45 menit untuk tablet yang untuk Suspensi Oral.
pada etiket tertera sebagai tablet kunyah. Larutan uji persediaan Larutkan tidak kurang dari
Lakukan penetapan persentase amoksisilin, 10 tablet dalam air dengan bantuan pengaduk
C16H19N3O5S dan asam klavulanat, C8H9NO5, yang mekanik, pindahkan ke dalam labu tentukur yang
terlarut dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi sesuai, encerkan dengan air sampai tanda. Saring
seperti tertera pada Kromatografi <931>. sejumlah tertentu larutan ini, buang 10 mL filtrat
Fase gerak, Larutan baku, dan Sistem kromatografi pertama.
Lakukan seperti tertera pada Penetapan kadar. Larutan uji Pipet sejumlah volume Larutan uji
Larutan uji Gunakan alikot. persediaan, encerkan hingga kadar lebih kurang 0,5
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah mg per mL amoksisilin. Gunakan Larutan uji dalam
volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan waktu satu jam.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam Prosedur Lakukan Prosedur seperti tertera pada
kromatogram dan ukur respons puncak utama Hitung Penetapan kadar dalam Amoksilin dan Kalium
persentase amoksisilin (C16H19N3O5S) dan asam Klavulanat untuk Suspensi Oral. Hitung persentase
klavulanat (C8H9NO5), yang terlarut. amoksisilin, C16H19N3O3S, dalam tablet, dengan
Toleransi Dalam waktu 30 menit harus larut tidak rumus:
kurang dari 85% (Q) C16H19N3O5S dan tidak kurang
dari 80% (Q) C8H9NO5 dari jumlah yang tertera pada  rU   CS 
etiket. Untuk tablet kunyah dalam waktu 45 menit       P  F  100
harus larut tidak kurang dari 80% (Q) C16H19N3O5S  rS   CU 
dan C8H9NO5 dari jumlah yang tertera pada etiket.
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak
Uji 2 amoksisilin Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah
Media disolusi, Alat tipe 2 dan Prosedur Lakukan kadar Amoksisilin BPFI dalam mg per mL Larutan
seperti tertera pada Uji 1. baku; CU adalah kadar amoksisilin dalam mg per mL
Waktu: 45 menit untuk amoksisilin dan 30 menit Larutan uji berdasarkan jumlah yang tertera pada
untuk asam klavulanat. etiket; P adalah potensi Amoksisilin BPFI dalam g
Toleransi Dalam waktu 45 menit harus larut tidak per mg; F adalah faktor konversi 0,001 mg per µg.
kurang dari 85% (Q) C16H19N3O5S dan dalam waktu Hitung persentase, asam klavulanat (C8H9NO5) dalam
30 menit harus larut tidak kurang dari 80% (Q) tablet dengan rumus:
C8H9NO5 dari jumLah yang tertera pada etiket.

Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.  rU   CS 


    P 100
r  C 
 S   U 
Air <1031> Metode I

Kekuatan tablet amoksisilin Batas, tidak lebih


rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak asam
(mg per tablet) dari (%) klavulanat Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah
≤250 7,5 kadar Litium Klavulanat BPFI dalam mg per mL
>250 dan ≤500 10,0 Larutan baku; CU adalah kadar asam klavulanat dalam
>500 11,0 mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah yang
tertera pada etiket; P adalah potensi asam klavulanat
dalam mg per mg Litium Klavulanat BPFI.
Untuk tablet kunyah
Kekuatan tablet amoksisilin Batas, tidak lebih Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
(mg per tablet) dari (%) rapat.
≤125 6,0
>125 8,0 Penandaan Pada tablet kunyah cantumkan “dapat
dikunyah sebelum ditelan”. Jika tidak menggunakan
Batas mikroba <51> Angka lempeng total tidak lebih Disolusi Uji 1, cantumkan uji disolusi yang
dari 103 unit koloni per g dan total kapang khamir tidak digunakan.
lebih dari 102 unit koloni per g.

Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara AMOKSISILIN DAN KALIUM


Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada KLAVULANAT UNTUK SUSPENSI ORAL
Kromatografi <931>. Amoxicillin and Potassium Clavulanate for
Dapar, Fase gerak, Larutan baku dan Sistem Oral Suspension
kromatografi Lakukan seperti tertera pada Penetapan
- 136 -

Amoksisilin dan Kalium Klavulanat untuk Suspensi 4 mm x 30 cm yang berisi bahan pengisi L1 dengan
Oral mengandung amoksisilin, C16H19N3O5S, setara ukuran partikel 3 sampai 10 m. Laju alir lebih kurang
dengan tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 2 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap
120,0% dari jumlah yang tertera pada etiket, dan Larutan baku dan ukur respons puncak seperti tertera
mengandung asam klavulanat, C8H9NO5, setara pada Prosedur: resolusi, R, antara puncak amoksisilin
dengan tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari dan asam klavulanat tidak kurang dari 3,5; faktor
125,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. ikutan masing-masing puncak analit tidak lebih dari
Mengandung satu atau lebih dapar, pewarna, perisa, 1,5; dan simpangan baku relatif pada penyuntikan
pengawet, penstabil, pemanis dan bahan pensuspensi. ulang tidak lebih dari 2,0%. [Catatan Waktu retensi
relatif asam klavulanat dan amoksisilin berturut-turut
Baku pembanding Amoksisilin BPFI; dalam bentuk 0,5 dan 1,0.]
trihidrat, tidak boleh dikeringkan, simpan dalam Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam lemari volume sama (lebih kurang 20 L) Larutan baku dan
pembeku. Litium Klavulanat BPFI; tidak boleh Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat, kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
terlindung cahaya dan dalam lemari pendingin. persentase amoksisilin, C16H19N3O5S, dalam suspensi
oral dengan rumus:
Identifikasi Waktu retensi puncak utama
kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku
 rU   CS 
seperti diperoleh pada Penetapan kadar.       P  F  100
 rS   CU 
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat
untuk serbuk kemasan tunggal.
ru dan rs berturut-turut adalah respons puncak
amoksisilin Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah
Volume terpindahkan <1261> Memenuhi syarat
kadar Amoksisilin BPFI dalam mg per mL Larutan
untuk serbuk kemasan ganda.
baku; CU adalah kadar amoksisilin dalam mg per mL
Larutan uji berdasarkan jumlah yang tertera pada
pH <1071> Antara 3,8 dan 6,6; lakukan penetapan
menggunakan suspensi segera setelah dikonstitusi etiket; P adalah potensi amoksisilin dalam g per mg
sesuai etiket. Amoksisilin BPFI; F adalah faktor konversi 0,001 mg
per µg. Hitung persentase asam klavulanat,
Batas mikroba <51> Angka lempeng total tidak lebih (C8H9NO5), dalam suspensi oral dengan rumus:
dari 103 unit koloni per g dan total kapang khamir tidak
lebih dari 102 unit koloni per g.  rU   CS 
    P 100
r  C 
 S   U 
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>. rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak asam
Dapar Larutkan 7,8 g natrium fosfat monobasa P klavulanat dari Larutan uji dan Larutan baku;
CS adalah kadar Litium Klavulanat BPFI dalam mg per
dalam 900 mL air, atur pH hingga 4,4  0,1 dengan
mL Larutan baku; CU adalah kadar asam klavulanat
penambahan asam fosfat P atau natrium hidroksida 10
dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah
N encerkan dengan air hingga 1000 mL.
yang tertera pada etiket; P adalah potensi asam
Fase gerak Campuran Dapar-metanol P (19:1).
klavulanat dalam mg per mg Litium Klavulanat BPFI.
Saring melalui penyaring yang sesuai dan
awaudarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Kesesuaian sistem seperti tertera pada Kromatografi
rapat, pada suhu ruang terkendali.
<931>.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Amoksisilin BPFI dan Litium Klavulanat BPFI,
larutkan dan encerkan dengan air hingga kadar AMONIA
berturut-turut lebih kurang 0,5 dan 0,2 mg per mL. Ammonia
Larutan uji Ukur saksama sejumlah volume
suspensi oral yang telah dikonstitusi, encerkan dengan Amonia [7664-41-7]
air hingga kadar amoksisilin lebih kurang 0,5 mg per NH3 BM 17,03
mL. Aduk dengan pengaduk mekanik selama 10 menit
dan saring. Gunakan filtrat dalam waktu 1 jam setelah Amonia adalah larutan NH3 yang mengandung tidak
suspensi dikonstitusi. kurang dari 27,0% dan tidak lebih dari 31,0% b/b NH3.
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi Di udara terbuka amonia cepat hilang. [Perhatian
dilengkapi dengan detektor 220 nm dan kolom ukuran Penanganan amonia harus hati-hati sebab larutan
- 137 -

bersifat kaustik dan uapnya bersifat iritasi. Dinginkan NH4Cl BM 53,49


wadah sebelum dibuka dan tutup dengan kain atau
sejenisnya pada waktu membuka. Jangan dicicipi dan Amonium Klorida mengandung tidak kurang dari
cegah penghirupan uap]. 99,5% dan tidak lebih dari 100,5% NH4Cl, dihitung
terhadap zat kering.
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna; berbau khas,
menusuk kuat. Bobot jenis kurang dari 0,90. Pemerian Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur
halus atau kasar putih; dalam keadaan dingin rasa asin
Identifikasi Letakkan batang pengaduk kaca yang dan bersifat higroskopis.
telah dibasahi dengan asam hidroklorida P dekat
permukaan larutan: terbentuk kabut tebal putih. Kelarutan Mudah larut dalam air dan dalam gliserin;
lebih mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut
Sisa tidak menguap Tidak lebih dari 0,05%; lakukan dalam etanol.
penetapan dengan menguapkan 10 mL dalam cawan
platina atau cawan porselen yang telah ditara hingga Identifikasi Larutan (1 dalam 10) menunjukkan reaksi
kering dan keringkan pada suhu 105º selama 1 jam. Amonium dan Klorida cara A dan B seperti tertera pada
Uji Identifikasi Umum <291>.
Logam berat <371> Metode I Tidak lebih dari 13 bpj;
lakukan penetapan menggunakan larutan yang dibuat pH <1071> Antara 4,6 dan 6,0; lakukan penetapan
sebagai berikut: uapkan 1,7 mL di atas tangas uap menggunakan larutan zat (1 dalam 20).
hingga kering. Larutkan sisa dalam 2 mL asam asetat
1 N dan encerkan dengan air hingga 25 mL. Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5%;
lakukan pengeringan di atas silika gel P selama 4 jam.
Zat mudah teroksidasi Pada campuran 4,0 dan 6,0
mL air tambahkan asam sulfat 2 N sampai sedikit asam Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,1%; lakukan
dan 0,10 mL kalium permanganat 0,1 N: warna merah penetapan sebagai berikut: Timbang saksama lebih
muda tidak hilang sempurna dalam 10 menit. kurang 2 g zat, tambahkan 1 mL asam sulfat P,
panaskan hati-hati hingga menguap sempurna; sisa
Penetapan kadar Masukkan dengan cepat sejumlah berwarna putih, kemudian pijarkan hingga bobot tetap.
zat ke dalam wadah bertutup, berdinding tebal (dapat
digunakan botol tahan tekanan) hingga tinggi cairan Tiosianat Asamkan 10 mL larutan zat (1 dalam 10)
lebih kurang 20 cm, tutup. Kemudian dinginkan dengan asam hidroklorida P, tambahkan beberapa
wadah dan isi hingga suhu 10º atau lebih rendah. tetes besi(III) klorida LP: tidak terjadi warna merah
Timbang saksama labu Erlenmeyer 125 mL bersumbat jingga.
kaca yang berisi 35,0 mL asam sulfat 1 N LV.
Masukkan pipet ukur ke dalam amonia yang telah Logam berat <371> Metode I Tidak lebih dari 10 bpj.
didinginkan, biarkan cairan naik ke dalam pipet tanpa
dihisap, angkat pipet dan bersihkan cairan yang Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 100
menempel dan buang 1 mL larutan pertama. Letakkan mg zat, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer dan
ujung pipet tepat diatas permukaan asam sulfat 1 N larutkan dalam 10 mL air, tambahkan berturut-turut 10
dalam labu Erlenmeyer dan alirkan lebih kurang 2 mL mL asam asetat glasial LP, 75 mL metanol P dan 0,5
ke dalam labu. Tutup labu, campur dan timbang mL eosin Y LP, titrasi dengan perak nitrat 0,1 N LV
kembali untuk memperoleh bobot contoh. Titrasi hingga titik akhir berwarna merah muda.
kelebihan asam dengan natrium hidroksida 1 N LV
menggunakan indikator merah metil LP. Lakukan Tiap mL perak nitrat 0,1 N
penetapan blangko seperti tertera pada Titrasi residual setara dengan 5,349 mg NH4Cl
dalam Titrimetri <711>.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Tiap mL asam sulfat 1 N rapat.
setara dengan 17,03 mg NH3

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup AMPISILIN


rapat pada suhu tidak lebih dari 25º. Ampicillin
COOH
H
O
CH3
AMONIUM KLORIDA H O N
CH3
Ammonium Chloride
C C N S
H

Amonium klorida [12125-02-9] NH2 H H


- 138 -

Asam(2S,5R,6R)-6-[(R)-2-Amino-2-fenilasetamido]- Air <1031> Metode I Tidak lebih dari 2,0% jika pada
3,3-dimetil-7-okso-4-tia-1-azabisiklo[3.2.0]heptan-2- etiket tertera ampisilin anhidrat. Antara 12,0% dan
karboksilat [69-53-4] 15,0% jika pada etiket tertera ampisilin trihidrat.
C16H19N3O4S (anhidrat) BM 349,41
Trihidrat [7177-48-2] BM 403,46 Dimetilanilin <362> Memenuhi syarat.

Ampisilin berbentuk anhidrat atau trihidrat. Penetapan kadar Lakukan penetapan kadar dengan
Mengandung tidak kurang dari 900 µg dan tidak lebih cara Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera
dari 1050 µg per mg, C16H19N3O4S, dihitung terhadap pada Kromatografi <931>.
zat kering. Fase gerak Buat campuran air-asetonitril P-kalium
fosfat monobasa 1 M-asam asetat 1 N (909:80:10:1),
Pemerian serbuk hablur putih; praktis tidak berbau. saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
Kelarutan Sukar larut dalam air dan dalam metanol; pada Kromatografi <931>.
tidak larut dalam benzen, dalam karbon tetraklorida Pengencer Campur 10 mL kalium fosfat monobasa
dan dalam kloroform. 1 M dan 1 mL asam asetat 1 N, encerkan dengan air
hingga 1000 mL.
Baku pembanding Ampisilin BPFI; merupakan Larutan baku Timbang saksama sejumlah Ampisilin
bentuk anhidrat dari ampisilin, lakukan pengeringan BPFI, larutkan dalam Pengencer hingga kadar lebih
dalam hampa udara diatas fosfor pentoksida P pada kurang 1 mg per mL, gunakan pengocokan dan
suhu ruang hingga bobot tetap sebelum digunakan. sonikasi hingga larut sempurna. Gunakan larutan
Simpan dalam wadah tertutup rapat ditempat yang segera setelah dibuat.
sejuk dan kering. Ampisilin Trihidrat BPFI; tidak Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat setara
boleh dikeringkan, simpan dalam wadah tertutup rapat dengan lebih kurang 100 mg ampisilin anhidrat,
dan terlindung cahaya, di tempat yang dingin dan masukkan ke dalam labu tentukur 100-mL, tambahkan
kering. Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat lebih kurang 75 mL Pengencer, jika perlu kocok dan
pirogenik, penanganan vial dan isi harus hati-hati sonikasi hingga larut sempurna, encerkan dengan
untuk menghindari kontaminasi] Rekonstitusi seluruh Pengencer sampai tanda. Gunakan larutan segera
isi, simpan larutan dalam lemari pendingin dan setelah dibuat.
gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum Larutan resolusi Larutkan sejumlah kafein dalam
dibuka dalam lemari pembeku. Larutan baku hingga kadar lebih kurang 0,12 mg per
mL.
Identifikasi Spektrum serapan inframerah zat yang Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
telah dikeringkan dan didispersikan dalam kalium Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi
bromida P menunjukkan maksimum hanya pada dilengkapi dengan detektor 254 nm, pra-kolom 4 mm
bilangan gelombang yang sama seperti pada x 5 cm dan kolom analisis 4 mm x 30 cm berisi bahan
Ampisillin BPFI . pengisi L1 dengan ukuran partikel 5 hingga 10 µm.
Laju alir lebih kurang 2 mL per menit. Lakukan
Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 0,15 unit kromatografi terhadap Larutan resolusi, rekam
Endotoksin FI per mg ampisilin, jika pada etiket kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera
menyatakan ampisilin steril atau harus dilakukan pada Prosedur: resolusi, R, antara puncak kafein dan
proses lebih lanjut untuk sediaan injeksi. ampisilin tidak kurang dari 2,0. Waktu retensi relatif
ampisilin dan kafein berturut-turut lebih kurang 0,5
Sterilitas <71> Jika pada etiket menyatakan dan 1,0. Lakukan kromatografi terhadap Larutan
Ampisilin steril, maka harus memenuhi syarat jika baku, rekam kromatogram dan ukur respons puncak
dilakukan Uji Penyaringan membran seperti tertera seperti tertera pada Prosedur: faktor kapasitas, k’,
pada Uji sterilitas produk, kecuali larutkan 6 g zat tidak lebih dari 2,5; faktor ikutan tidak lebih dari 1,4
dalam 800 mL Cairan D yang mengandung dan simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang
penisilinase steril yang cukup untuk menginaktivasi tidak lebih dari 2,0%.
ampisilin dan goyang labu sampai larut sempurna Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
sebelum disaring. volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
Sifat hablur <1091> Memenuhi syarat. kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
jumlah dalam µg, C16H19N3O4S, dalam tiap mg
pH <1071> Antara 3,5 dan 6,0; lakukan penetapan ampisilin dengan rumus:
menggunakan larutan 10 mg per mL.
 CP  rU 

100  
 W  rS 
- 139 -

Disolusi <1231>
C adalah kadar Ampisilin BPFI dalam mg per mL Media disolusi : 900 mL air.
Larutan baku; P adalah potensi Ampisilin BPFI dalam Alat Tipe 1 : 100 rpm.
µg per mg; W adalah bobot dalam mg ampisilin yang Waktu : 45 menit.
digunakan; rU dan rS berturut-turut adalah respons Prosedur Lakukan penetapan jumlah C16H19N3O4S,
puncak yang diperoleh dari Larutan uji dan Larutan yang terlarut dengan mengukur serapan alikot secara
baku. spektrofotometri, jika perlu encerkan dengan Media
disolusi dan bandingkan dengan serapan Larutan Baku
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Ampisilin BPFI dalam media yang sama.
rapat. Toleransi Dalam 45 menit harus larut tidak kurang
dari 75% (Q) C16H19N3O4S, dari jumlah yang tertera
Penandaan Etiket menunjukkan bentuk anhidrat atau pada etiket.
trihidrat. Jika pada sediaan disebutkan jumlah
ampisilin maka yang dimaksud adalah ampisilin Keseragaman kesediaan <911> Memenuhi syarat.
anhidrat. Jika digunakan untuk sediaan injeksi pada
etiket disebutkan ampisilin trihidrat dan steril atau Air <1031> Metode I Tidak lebih dari 4,0% jika
memerlukan proses lebih lanjut untuk pembuatan kapsul mengandung ampisilin anhidrat, atau antara
sediaan injeksi. 10,0% dan 15,0% jika kapsul mengandung ampisilin
trihidrat.

KAPSUL AMPISILIN Penetapan kadar


Ampicillin Capsules Larutan baku Buat seperti tertera pada Larutan
baku pada Penetapan kadar Antibiotik secara
Kapsul Ampisilin mengandung sejumlah ampisilin Iodometri <521>, menggunakan Ampisilin BPFI.
(anhidrat atau trihidrat) setara dengan tidak kurang Larutan uji Masukkan tidak kurang dari 5 kapsul
dari 90,0% dan tidak lebih dari 120,0% C16H19N3O4S ampisilin ke dalam tabung blender kaca berkecepatan
dari jumlah yang tertera pada etiket. tinggi yang berisi sejumlah air yang diukur saksama,
blender selama 4 ± 1 menit. Encerkan sejumlah
Baku pembanding Ampisillin BPFI; merupakan volume larutan ini yang diukur saksama secara
bentuk anhidrat dari ampisilin; lakukan pengeringan kuantitatif dan bertahap hingga kadar lebih kurang
dalam hampa udara diatas fosfor pentoksida P pada 1,25 mg ampisilin per mL.
suhu ruang hingga bobot tetap sebelum digunakan. Prosedur Lakukan seperti tertera pada Prosedur
Simpan dalam wadah tertutup rapat ditempat yang pada Penetapan Kadar Antibiotik Secara Iodometri
sejuk dan kering. <521>. Hitung jumlah dalam mg, C16H19N3O4S, pada
tiap kapsul dengan rumus:
Identifikasi Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti
tertera pada Kromatografi <931>.  T  F 
Fase gerak Campuran aseton P-air-toluena P-asam    (B − I )
asetat glasial P (650:100:100:25).  D  2000 
Pelarut Campuran aseton P-asam hidroklorida 0,1
N (4:1) T adalah kadar ampisilin dalam mg per kapsul seperti
Larutan baku Timbang sejumlah Ampisilin BPFI, yang tertera pada etiket; D adalah kadar ampisilin
larutkan dalam Pelarut hingga kadar 0,5%. dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah per
Larutan uji Timbang sejumlah zat larutkan dalam kapsul yang tertera pada etiket dan faktor
Pelarut hingga kadar 0,5%. pengenceran.
Penampak bercak Larutan ninhidrin P 0,3% dalam
etanol P. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Prosedur Totolkan masing-masing 2 μL Larutan rapat.
baku dan Larutan uji pada lempeng kromatografi
silika gel P setebal 0,25 mm. Masukkan lempeng ke Penandaan Etiket pada kapsul menunjukkan
dalam bejana kromatograf berisi Fase gerak, biarkan ampisilin anhidrat atau trihidrat.
merambat hingga tiga per empat tinggi lempeng.
Angkat lempeng, tandai batas rambat, biarkan kering.
Semprot lempeng dengan Penampak bercak dan TABLET AMPISILIN
panaskan lempeng pada suhu 90º selama 15 menit; Ampicillin Tablet
harga, Rf, dari bercak utama Larutan uji sesuai dengan
Larutan baku. Tablet Ampisilin mengandung sejumlah Ampisilin
(anhidrat atau trihidrat) setara dengan tidak kurang
- 140 -

dari 90,0% dan tidak lebih dari 120,0%, C16H19N3O4S, Tabel


dari jumlah yang tertera pada etiket.
Bentuk Batas
Jenis tablet
ampisilin (%)
Baku pembanding Ampisilin anhidrat BPFI;
Bukan tablet kunyah Anhidrat Tidak lebih dari 4,0
Lakukan pengeringan dalam hampa udara di atas
Bukan tablet kunyah Trihidrat 9,5-12,0
fosfor pentoksida P pada suhu ruang hingga bobot
tetap sebelum digunakan. Simpan dalam wadah Tablet kunyah Anhidrat Tidak lebih dari 3,0
tertutup rapat, dalam lemari pendingin. Ampisilin Tablet kunyah Trihidrat Tidak lebih dari 5,0
trihidrat BPFI; tidak boleh dikeringkan. Simpan
dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya dan Penetapan kadar
kelembapan, dalam lemari pendingin. Larutan baku Buat seperti tertera pada Penetapan
kadar Antibiotik secara Iodometri <521>,
Identifikasi Lakukan penetapan seperti tertera pada menggunakan Ampisilin BPFI.
Identifikasi Secara Kromatografi Lapis Tipis <281>. Larutan uji Masukkan tidak kurang dari 5 tablet
Fase gerak Campuran aseton P-toluena P-asam ampisilin ke dalam bejana blender kaca berkecepatan
asetat glasial P-air (650:100:25:100). tinggi yang berisi sejumlah air yang diukur saksama,
Pengencer Campuran aseton P-asam hidroklorida blender selama 4±1 menit. Pipet sejumlah volume
0,1 N (4:1). larutan ini, encerkan secara kuantitatif dan bertahap
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Ampisilin hingga kadar lebih kurang 1,25 mg per mL.
BPFI, larutkan dan encerkan dengan Pengencer Prosedur Lakukan seperti tertera pada Prosedur
hingga kadar lebih kurang 5 mg per mL. dalam Penetapan Kadar Antibiotik secara Iodometri
Larutan uji Timbang saksama sejumlah serbuk <521>. Hitung persentase ampisilin, C16H19N3O4S,
tablet, larutkan dan encerkan dengan Pengencer pada tiap tablet dengan rumus:
hingga kadar lebih kurang 5 mg per mL.
Penampak bercak Larutan ninhidrin P 3 mg per mL  1 
dalam etanol P. (B − I )   F1      F2  100
Prosedur Totolkan masing-masing 2 μL Larutan  2   CU 
baku dan Larutan uji pada lempeng kromatografi yang
dilapisi silika gel P setebal 0,25 mm. Masukkan B adalah volume dalam mL natrium tiosulfat 0,01 N
lempeng ke dalam bejana kromatograf berisi Fase LV yang digunakan pada penetapan Blangko; I adalah
gerak, biarkan Fase gerak merambat hingga tiga per volume dalam mL natrium tiosulfat 0,01 NLV yang
empat tinggi lempeng. Angkat lempeng, tandai batas digunakan pada Inaktivasi dan Titrasi Larutan uji; F1
rambat, biarkan kering. Semprot lempeng dengan adalah faktor yang dihitung dalam Penetapan Kadar
Penampak bercak dan panaskan lempeng pada suhu Antibiotik secara Iodometri <521>; CU adalah kadar
90º selama 15 menit: harga Rf, bercak utama Larutan ampisilin dalam mg per mL Larutan uji seperti yang
uji sesuai dengan Larutan baku. tertera pada etiket; F2 adalah faktor konversi 0,001 mg
per µg.
Disolusi <1231>
Media disolusi: 900 mL air Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Alat Tipe 1: 100 rpm rapat, simpan pada suhu ruang terkendali.
Waktu: 45 menit
Prosedur Lakukan penetapan jumlah ampisilin Penandaan Pada etiket dicantumkan bentuk ampisilin
C16H19N3O4S, yang terlarut dengan mengukur serapan anhidrat atau trihidrat. Etiket untuk tablet kunyah
filtrat alikot jika perlu encerkan dengan Media disolusi menyatakan tablet harus dikunyah sebelum ditelan.
dan serapan larutan baku Ampisilin BPFI dalam media
yang sama secara spektorofotmetri.
Toleransi Dalam waktu 45 menit harus larut tidak AMPISILIN UNTUK INJEKSI
kurang dari 75% (Q) ampisilin, C16H19N3O4S, dari Ampicillin for Injection
jumlah yang tertera pada etiket.
Ampisilin untuk Injeksi mengandung ampisilin
Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat. natrium setara denganampisilin, C16H19N3O4S, tidak
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 115,0% dari
Air <1031> Metode I Kadar air dalam masing-masing jumlah yang tertera pada etiket.
jenis tablet tidak lebih dari batas yang tertera pada
Tabel sebagai berikut: Baku pembanding Ampisilin Natrium BPFI; tidak
boleh dikeringkan sebelum digunakan. higroskopis,
simpan dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk
dan kering. Ampisilin BPFI; merupakan bentuk
anhidrat dari ampisilin. Sebelum digunakan, lakukan
- 141 -

pengeringan sampai bobot tetap dalam hampa udara


dengan fosfor pentoksida P pada suhu ruang. Simpan  L  CP  rU 
dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dan    
kering. Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat  D  1000  rS 
pirogenik, penanganan vial dan isi harus hati-hati
untuk menghindari kontaminasi] Rekonstitusi seluruh L adalah jumlah ampisilin, C16H19N3O4S dalam mg
isi, simpan larutan dalam lemari pendingin dan yang tertera pada etiket di wadah atau volume larutan
gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum terkonstitusi yang digunakan; D berturut-turut adalah
dibuka dalam lemari pembeku. kadar ampisilin, C16H19N3O4S dalam mg per mL
Larutan uji 1 atau Larutan uji 2 berdasarkan jumlah
Larutan terkonstitusi Pada saat digunakan larutan yang tertera pada etiket di wadah atau dalam larutan
memenuhi syarat Larutan terkonstitusi seperti tertera terkonstitusi yang digunakan dan faktor pengenceran;
pada Injeksi. C adalah kadar Ampisilin BPFI dalam mg per mL
Larutan baku; P adalah potensi Ampisilin BPFI dalam
Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 0,15 unit µg per mg; rUdan rS berturut-turut adalah respons
Endotoksin FI per mg ampisilin. puncak Larutan uji dan Larutan baku.

Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat. Wadah dan penyimpanan Simpan dalam wadah
Prosedur untuk keseragaman kandungan Lakukan untuk padatan steril seperti tertera pada Injeksi.
pengujian dalam wadah terpisah menggunakan Hindari larutan konstitusi dari pembekuan.
Larutan uji 1 atau Larutan uji 2 atau keduanya, jika
diperlukan.
AMPISILIN UNTUK SUSPENSI ORAL
Bahan partikulat <751> memenuhi syarat seperti Ampicillin for Oral Suspension
tertera pada Injeksi Volume Kecil.
Ampisilin untuk Suspensi Oral mengandung sejumlah
Syarat lain Memenuhi syarat uji Identifikasi, Sifat ampisilin (anhidrat atau trihidrat) setara dengan tidak
hablur, pH, Air seperti tertera pada Ampisilin Natrium. kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 120,0%
Juga memenuhi syarat Uji Sterilitas <71> dan C16H19N3O4S, dari jumlah yang tertera pada etiket,
penandaan seperti tertera pada Injeksi. bila dikonstitusi sesuai petunjuk. Mengandung satu
atau lebih dapar yang sesuai, bahan pewarna,
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara penyedap, pengawet dan pemanis.
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>. Baku pembanding Ampisilin BPFI; merupakan
Fase gerak, Pengencer, Larutan baku, Larutan bentuk anhidrat dari ampisilin, lakukan pengeringan
resolusi dan Sistem kromatografi Lakukan seperti dalam hampa udara diatas fosfor pentoksida P pada
tertera pada Penetapan kadar dalam Ampisilin. suhu ruang hingga bobot tetap sebelum digunakan.
Larutan uji 1 (Bila dianggap sebagai wadah dosis Simpan dalam wadah tertutup rapat ditempat yang
tunggal). Konstitusikan ampisilin untuk injeksi dalam sejuk dan kering.
volume Pengencer yang telah diukur saksama, sesuai
volume pelarut yang tertera pada etiket. Keluarkan Identifikasi Larutkan sejumlah zat dalam campuran
semua isi menggunakan jarum dan alat suntik aseton P-asam korida 0,1 N (4:1) hingga kadar 5 mg
hipodermik yang sesuai dan encerkan secara ampisilin per mL: larutan yang diperoleh
kuantitatif dengan Pengencer hingga kadar lebih menunjukkan uji Identifikasi seperti tertera pada l
kurang 1 mg per mL ampisilin. Gunakan larutan Kapsul Ampisilin.
segera setelah dibuat.
Larutan uji 2 (Jika pada etiket tertera jumlah Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat
ampisilin dalam volume larutan terkonstitusi yang untuk zat padat terkemas dalam satuan tunggal.
ditetapkan). Konstitusikan isi 1 wadah dalam volume
Pengencer yang diukur saksama, sesuai dengan pH <1071> Antara 5,0 dan 7,5 lakukan penetapan
volume pelarut yang tertera pada etiket. Encerkan menggunakan suspensi yang dibuat sesuai petunjuk
sejumlah larutan terkonstitusi yang telah diukur pada etiket.
saksama dengan Pengencer secara bertahap hingga
diperoleh kadar ampisilin lebih kurang 1 mg per mL. Air <1031> Metode I Tidak lebih dari 2,5%, atau tidak
Gunakan larutan segera setelah dibuat. lebih dari 5,0% bila mengandung ampisilin trihidrat
Prosedur Lakukan menurut Prosedur seperti tertera dan mengandung setara dengan 100 mg ampisilin per
pada Penetapan kadar dalam Ampisilin. Hitung mL bila dikonstitusi sesuai petunjuk pada etiket.
jumlah dalam mg ampisilin, C16H19N3O4S, dalam
larutan terkonstitusi yang digunakan dengan rumus: Volume terpindahkan <1261> Memenuhi syarat.
- 142 -

hati-hati untuk menghindari kontaminasi]


Penetapan kadar Rekonstitusi seluruh isi, simpan larutan dalam lemari
Larutan baku Buat Larutan baku seperti tertera pendingin dan gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan
pada Penetapan kadar Antibiotik secara Iodometri vial yang belum dibuka dalam lemari pembeku.
<521>, menggunakan Ampisilin BPFI.
Larutan uji Ukur saksama sejumlah volume Identifikasi
suspensi oral yang dibuat segar sesuai petunjuk pada A. Spektrum serapan inframerah zat yang
etiket dan bebas dari gelembung udara, encerkan didispersikan dalam minyak mineral P menunjukkan
bertahap secara kuantitatif dengan air hingga kadar maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
lebih kurang 1,25 mg ampisilin per mL. sama seperti pada Ampisillin Natrium BPFI.
Prosedur Lakukan menurut Prosedur seperti tertera B. Menunjukkan reaksi Natrium cara A dan B
pada Penetapan kadar Antibiotik secara Iodometri seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
<521>. Hitung jumlah dalam mg, C16H19N3O4S, tiap
mL suspensi yang digunakan, dengan rumus : Sifat hablur <1091> Memenuhi syarat. [Catatan
Kecuali untuk Ampisilin Natrium dalam bentuk beku-
kering, tidak perlu memenuhi pesyaratan ini.]
 T  F 
   (B − I )
 D  2000  Endotoksin bakteri <201> Jika pada etiket tertera
ampisilin natrium steril, atau jika pada etiket tertera
T adalah jumah ampisilin dalam mg per mL suspensi ampisilin natrium harus diproses lebih lanjut
yang dibuat sesuai petunjuk pada etiket; D adalah untuk pembuatan sediaan injeksi, Tidak lebih dari
kadar ampisilin dalam mg per mL Larutan uji 0,15 unit Endotoksin FI per mg ampisilin.
berdasarkan jumlah yang tertera pada etiket dan faktor
pengenceran. pH <1071> Antara 8,0 dan 10,0; lakukan penetapan
dengan larutan yang mengandung 10,0 mg per mL.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat.
Air <1031> Metode 1 Tidak lebih dari 2,0%.
Penandaan Pada etiket harus dicantumkan ampisilin
yang digunakan dalam bentuk anhidrat atau trihidrat. Uji Sterilitas <71> Jika pada etiket tertera ampisilin
natrium steril, memenuhi syarat.

Dimetillanilin <1071> Memenuhi syarat.


AMPISILIN NATRIUM
Ampicillin Sodium Metilen klorida Tidak lebih dari 0,2%.
Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi gas
Mononatrium D-(-)-6-(2-amino-2-fenilasetamido)-3,3- seperti tertera pada Kromatografi <931>.
dimetil-7-okso-4-tia-1-azabisiklo[3.2.0] heptan-2- Larutan baku internal Buat larutan dioksan P dalam
karboksilat [69-52-3] dimetil sulfoksida P hingga kadar lebih kurang 2,1 mg
per mL.
C16H18N3NaO4S BM 371,39 Larutan baku Timbang saksama sejumlah metilen
klorida P, larutkan dalam Larutan baku internal
Ampisilin Natrium mempunyai potensi setara dengan hingga kadar lebih kurang 0,33 mg per mL.
tidak kurang dari 845 µg dan tidak lebih dari 988 µg Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat,
ampisilin, C16H19N3O4S, per mg, dihitung sebagai zat larutkan dan encerkan dengan Larutan baku internal
anhidrat. hingga kadar lebih kurang 166,7 mg per mL.
Sistem kromatografi Kromatograf gas dilengkapi
Pemerian Serbuk hablur, putih sampai hampir putih, dengan detektor ionisasi nyala dan kolom kaca
tidak berbau atau praktis tidak berbau, higroskopik. 4 mm x 1,8 m berisi bahan pengisi 10% G39 dengan
partikel penyangga S1A yang tidak tersilanisasi.
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air, dalam Pertahankan suhu kolom, suhu injektor dan suhu
larutan natrium hidroklorida isotonik dan dalam detektor berturut-turut pada suhu lebih kurang 65°,
larutan dekstrosa. 100° dan 260°. Gunakan nitrogen P sebagai gas
pembawa, dengan laju alir lebih kurang 60 mL per
Baku pembanding Ampisilin BPFI; merupakan menit. Suntikkan Larutan baku ke dalam kromatograf
bentuk anhidrat dari ampisilin. Sebelum digunakan, dan rekam kromatogram dan ukur respons puncak
lakukan pengeringan sampai bobot tetap pada vakum seperti tertera pada Prosedur: Waktu retensi relatif
diatas fosfor pentoksida P pada suhu ruang. Simpan metilen klorida dan dioksan berturut-turut lebih
dalam wadah tertutup rapat, dalam lemari pendingin. kurang 0,5 dan 1,0; resolusi, R, antara puncak metilen
Ampisilin Natrium BPFI; Endotoksin BPFI; [Catatan klorida dan puncak dioksan tidak kurang dari 4 dan
Bersifat pirogenik, penanganan vial dan isi harus
- 143 -

simpangan baku relatif untuk penyuntikan ulang tidak puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor ikutan
lebih dari 5%. tidak lebih dari 1,4; faktor kapasitas, k’, tidak kurang
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah dari 2,5 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan
volume sama (lebih kurang 1 μL) Larutan baku dan ulang tidak lebih dari 2,0%.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam Prosedur Suntikan secara terpisah sejumlah volume
kromatogram dan ukur respons puncak metilen klorida sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan Larutan
dan dioksan. Hitung persentase metilen klorida dalam uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram dan
ampisilin natrium yang digunakan dengan rumus: ukur respons puncak utama. Hitung jumlah dalam g
ampisilin, C16H19N3O4S, dalam tiap mg zat uji dengan
 RU   CS  rumus:
      100
 RS   CU   rU   CS 
      P
RU dan RS berturut-turut adalah perbandingan respons  rS   CU 
puncak metilen klorida terhadap respons puncak
dioksan yang diperoleh dari Larutan uji dan Larutan rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan
Baku; CS adalah kadar metilen klorida dalam mg per uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Ampisilin BPFI
mL Larutan baku; CU adalah kadar ampisilin natrium dalam mg per mL Larutan baku; CU adalah kadar
dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan bobot yang ampisilin natrium dalam mg per mL Larutan uji
ditimbang. berdasarkan bobot yang ditimbang; P adalah potensi
ampisilin dalam µg per mg Ampisilin BPFI.
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Kromatografi <931>. rapat.
Pengencer Buat campuran air-kalium fosfat
monobasa 0,1 M-asam asetat 1 N (989:10:1). Penandaan Jika digunakan untuk pembuatan sediaan
Fase gerak Buat campuran asetonitril P-air-kalium injeksi, pada etiket harus dinyatakan steril atau
fosfat monobasa 0,1 M-asam asetat 1 N (80:909:10:1). memerlukan proses lebih lanjut untuk pembuatan
Saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan sediaan injeksi.
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
pada Kromatografi <931>.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah AMPISILlN DAN SULBAKTAM UNTUK
Ampisilin BPFI, larutkan dan encerkan dengan INJEKSI
Pengencer hingga kadar lebih kurang 1 mg per mL, Ampicillin and Sulbactam for Injection
jika perlu kocok dan sonikasi untuk melarutkan.
Gunakan larutan segera setelah dibuat. Ampisilin dan Sulbaktam untuk Injeksi adalah suatu
Larutan kesesuaian sistem Timbang saksama campuran ampisilin natrium dan sulbaktam natrium
sejumlah kafein, larutkan dan encerkan dengan kering dan steril. Mengandung ampisilin,
Larutan baku hingga kadar lebih kurang 0,12 mg per C16H19N3O4S, dan sulbaktam, C8H11NO5S, setara
mL. dengan tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari
Larutan uji [Catatan Ampisilin natrium bersifat 115,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
higroskopis, hindari paparan terhadap udara dan Perbandingan ampisilin dan sulbaktam pada etiket
timbang segera.] Timbang saksama sejumlah zat, adalah 2:1. Mengandung ampisilin dan sulbaktam,
larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar berturut-turut tidak kurang dari 563dan 280 µg per mg,
setara dengan lebih kurang 1 mg per mL ampisilin dihitung terhadap zat kering.
anhidrat. Gunakan larutan segera setelah dibuat.
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi Baku pembanding Ampisilin BPFI bentuk anhidrat;
dilengkapi dengan detektor 254 nm, prakolom 4 mm x keringkan dalam hampa di atas fosforpentaoksida P
5 cm, berisi bahan pengisi L1 dengan ukuran partikel pada suhu ruang hingga bobot tetap sebelum
5 sampai 10 µm dan kolom 4 mm x 30 cm, berisi bahan digunakan. Simpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk
pengisi L1 dengan ukuran partikel 5 sampai 10 µm. dan kering. Endotoksin BPFI; [Catatan Bersifat
Laju alir lebih kurang 2 mL per menit. Lakukan pirogenik, penanganan vial dan isi harus hati-hati
kromatografi terhadap Larutan kesesuaian sistem, untuk menghindari kontaminasi] Rekonstitusi seluruh
rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti isi, simpan larutan dalam lemari pendingin dan
tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara puncak gunakan dalam waktu 14 hari. Simpan vial yang belum
kafein dengan puncak ampisilin tidak kurang dari 2,0; dibuka dalam lemari pembeku. Sulbaktam BPFI; tidak
waktu retensi relatif ampisilin dan kafein berturut- boleh dikeringkan sebelum digunakan, simpan dalam
turut 0,5 dan 1,0. Lakukan kromatografi terhadap wadah tertutup rapat dan dalam lemari pembeku.
Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons
- 144 -

Larutan terkonstitusi Pada waktu digunakan, Larutan uji 1 Homogenkan isi satu wadah ampisilin
memenuhi syarat Larutan terkonstitusi seperti tertera dan sulbaktam untuk injeksi. Timbang saksama
pada Injeksi. sejumlah serbuk, larutkan dalam Fase gerak hingga
kadar lebih kurang 1 mg per mL.[Catatan Segera
Identifikasi Waktu retensi puncak utama suntikkan larutan ini].
kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku Larutan uji 2 (Untuk kemasan dosis tunggal).
seperti yang diperoleh pada Penetapan kadar. Konstitusikan satu wadah ampisilin dan sulbaktam
untuk injeksi dengan sejumlah volume air yang diukur
Endotoksin bakteri <201> Tidak lebih dari 0,17 unit saksama sesuai dengan volume pelarut yang tertera
Endotoksin FI dalam zat yang setara dengan 1 mg pada etiket. Pipet semua kandungan isi wadah
campuran ampisilin dan sulbaktam (berturut-turut menggunakan alat suntik dan jarum hipodermis, jika
0.67 dan 0.33 mg). perlu encerkan secara kuantitatif dan bertahap dengan
Fase gerak hingga kadar ampisilin dan sulbaktam
Sterilitas <71> Memenuhi syarat, seperti tertera pada berturut-turut lebih kurang 0,6 dan 0,3 mg per mL.
Penyaring Membran dalam Uji Sterilitas dari produk [Catatan Segera suntikkan larutan ini].
yang diuji. Larutan uji 3 (Jika pada etiket tertera jumlah
ampisilin dan sulbaktam dalam volume tertentu
pH <1071> Antara 8,0 dan 10,0; lakukan penetapan larutan konstitusi). Konstitusikan satu wadah
menggunakan larutan yang mengandung ampisilin 10 ampisilin dan sulbaktam untuk injeksi dengan
mg per mL dan sulbaktam 5 mg per mL. sejumlah volume air yang diukur saksama sesuai
dengan volume pelarut yang tertera pada etiket. Jika
Kadar air <1031> Metode I Tidak lebih dari 2,0%. perlu encerkan secara kuantitatif dan bertahap larutan
yang terkonstitusi dengan Fase gerak hingga kadar
Bahan partikulat <751> Memenuhi syarat seperti larutan ampisilin dan sulbaktam berturut-turut lebih
tertera pada Injeksi volume kecil. kurang 0,6 dan 0,3 mg per mL. [Catatan Segera
suntikkan larutan ini].
Syarat lain Memenuhi syarat Keseragaman sediaan Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada
<911> dan Penandaan pada Injeksi. Kromatografi <931>. Kromatograf cair kinerja tinggi
dilengkapi dengan detektor 230 nm dan kolom 4 mm
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara x 30 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir lebih kurang
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada 2 mL per menit. Lakukan kromatografi terhadap
Kromatografi <931>. Larutan resolusi, rekam kromatogram dan ukur
Tetrabutilamonium hidroksida 0,005 M Encerkan respons puncak seperti tertera pada Prosedur: waktu
6,6 mL Larutan tetrabutilamonium hidroksida 40% retensi relatif untuk Ampisilin lebih kurang 0,7 dan
dengan air hingga 1800 mL. Atur pH hingga 5,0 ± 0,1 untuk hasil degradasi alkali sulbaktam adalah 1,0;
dengan penambahan asam fosfat 1 M. Encerkan resolusi, R, antara ampisilin dan hasil degradasi alkali
dengan air hingga 2000 mL. sulbaktam tidak kurang dari 4,0. Lakukan
Fase gerak Buat campuran tetrabutilamonium kromatografi terhadap Larutan baku, ukur respons
hidroksida 0,005M-asetonitril P (1650:350), saring puncak seperti tertera pada Prosedur: waktu retensi
dan awaudarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian relatif Ampisilin dan sulbaktam berturut-turut lebih
menurut Kesesuaian sistem seperti tertera pada kurang 0,35 dan 1,0; efisiensi kolom puncak
Kromatografi <931>. sulbaktam tidak kurang dari 3500 lempeng teoritis;
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Ampisilin faktor ikutan tidak lebih dari 1,5; dan simpangan baku
BPFI dan Sulbaktam BPFI, larutkan dalam Fase gerak relatif pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%.
hingga kadar ampisilin dan sulbaktam berturut-turut Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
lebih kurang 0,6dan 0,3 mg per mL. [Catatan Segera volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan
suntikkan larutan ini]. Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
Larutan resolusi Timbang saksama sejumlah kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung
SulbaktamBPFI, larutkan dalam natrium hidroksida jumlah dalam µg ampisilin, C16H19N3O4S, dan
0,01 N hingga kadar lebih kurang 0,3 mg per mL, sulbaktam, C8H11NO5S, dalam serbuk injeksi yang
diamkan selama 30 menit. Atur pH hingga 5,0 ± 0,1 digunakan dengan rumus:
dengan penambahan asam fosfat P. Pipet 5 mL larutan
ke dalam labu tentukur 25-mL, tambahkan 4,25 mL
 CS P  rU 
asetonitril P, encerkan dengan tetrabutilamonium
hidroksida 0,005 M sampai tanda. Pipet 1 mL larutan
  
ke dalam labu tentukur 25-mL kedua, tambahkan 15  CU  rS 
mg Ampisilin BPFI, encerkan dengan Fase gerak
sampai tanda. [Catatan Segera suntikkan larutan ini]. CS adalah kadar Ampisilin BPFI atau Sulbaktam BPFI
dalam mg per mL Larutan baku; P adalah kandungan
- 145 -

Ampisilin BPFI atau Sulbaktam BPFI dalam µg per Identifikasi


mg; CU adalah kadar ampisilin atau sulbaktam untuk A. Spektrum serapan inframerah zat yang
injeksi dalam mg per mL Larutan uji 1; rU dan rS didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan
adalah respons puncak analit dari Larutan uji 1 dan maksimum hanya pada bilangan gelombang yang sama
Larutan baku. Hitung jumlah ampisilin, C16H19N3O4S, seperti pada Anastrozol BPFI.
dan sulbaktam, C8H11NO5S, dalam wadah atau dalam B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
volume larutan konstitusi dengan rumus: Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang
diperoleh pada Penetapan kadar.
L r 
 (Cs P ) U  Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,1%.
D  rS 
Logam berat <371> Metode III Tidak lebih dari 10
L adalah jumlah ampisilin atau sulbaktam dalam mg bpj.
seperti yang tertera pada etiket, dalam wadah atau
dalam volume larutan terkonstitusi yang digunakan; D Air <1031> Metode Ic Tidak lebih dari 0,3%
adalah kadar ampisilin atau sulbaktam dalam mg per
mL Larutan uji 2 atau Larutan uji 3, berdasarkan Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara
jumlah dalam mg ampisilin atau sulbaktam yang Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
tertera pada etiket; rU adalah respons puncak Larutan Kromatografi <931>.
uji 2 atau Larutan uji 3 dan rS adalah respons puncak Larutan A, Larutan B, Fase gerak, dan Sistem
Larutan baku. kromatografi Lakukan seperti tertera pada Penetapan
kadar.
Wadah dan penyimpanan Simpan dalam Wadah Larutan baku persediaan Timbang saksama
padatan steril seperti tertera pada Injeksi. sejumlah Anastrozol BPFI, larutkan dalam asetonitril
P lebih kurang 40% dari volume akhir labu tentukur
yang sesuai, dan encerkan dengan Larutan A hingga
kadar larutan lebih kurang 0,2 mg per mL.
ANASTROZOL
Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
Anastrozole persediaan, encerkan dengan Larutan A hingga kadar
0,02 mg per mL.
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 50 mg
zat, masukkan ke dalam labu tentukur 25-mL,
tambahkan 10 mL asetonitril P. Encerkan dengan
Larutan A sampai tanda. Kadar larutan lebih kurang 2
mg per mL.
Blangko Pipet 10 mL asetonitril P ke dalam labu
tentukur 25-mL, encerkan dengan Larutan A sampai
tanda.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
α, α, α’, α’,- Tetrametil-5-(1H-1,2,4-triazol-1-ilmetil)- volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku,
m-benzendiasetonitril [120511-73-1] Larutan uji, dan Blangko ke dalam kromatograf,
C17H19N5 BM 293,37 rekam kromatogram, dan ukur semua respons puncak.
Hitung persentase masing-masing cemaran dalam zat
Anastrozol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan dengan rumus:
tidak lebih dari 102,0%, C17H19N5, dihitung terhadap
zat anhidrat dan bebas pelarut.
 ri   CS 
      100
Pemerian Serbuk hablur; putih atau hampir putih.  rS   CU 

Kelarutan Sangat mudah larut dalam asetonitril; ri dan rS berturut-turut adalah respons puncak masing-
mudah larut dalam metanol, dalam aseton, dalam masing cemaran dan anastrozol dalam Larutan uji dan
etanol, dan dalam tetrahidrofuran. Larutan baku; CS adalah kadar Anastrozol BPFI dalam
mg per mL Larutan baku; CU adalah kadar anastrozol
Baku pembanding Anastrozol BPFI; tidak boleh dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan bobot yang
dikeringkan. Simpan dalam wadah tertutup rapat, ditimbang. Masing-masing cemaran dan total cemaran
terlindung cahaya. tidak lebih dari batas yang tertera pada Tabel.
- 146 -

Tabel kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung


persentase anastrozol, C17H19N5, dalam zat dengan
Cemaran Waktu Batas rumus:
retensi relatif (%)
(menit)
Desmetil anastrozol 0,6 0,2  rU   CS 
      100
Anastrozol 1,0 -
Anastrozol dimer 2,0 0,2  rS   CU 
5-Bromometil anastrozol 4,3 0,1
5-Dibromometil anastrozol 5,4 0,1 rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak utama
Cemaran lain - 0,1 Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah kadar
Total cemaran - 0,5 Anastrozol BPFI dalam mg per mL Larutan baku; CU
Abaikan puncak yang lebih kecil dari 0,05%. [Catatan Atur adalah kadar anastrozol dalam mg per mL Larutan uji
puncak area untuk pengganggu dari Blangko.] berdasarkan bobot yang ditimbang.

Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada baik, pada suhu ruang.
Kromatografi <931>.
Larutan A Campuran asetonitril P–metanol P-asam
trifloroasetat P-air (100:300:0,5:600). TABLET ANASTROZOL
Larutan B Campuran asetonitril P–metanol P-asam Anastrozole Tablets
trifloroasetat P-air (150:450:0,5:400).
Fase gerak Gunakan variasi campuran Larutan A Tablet anastrozol mengandung, C17H19N5, tidak kurang
dan Larutan B seperti tertera pada Sistem dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang
kromatografi. tertera pada etiket.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah
Anastrozol BPFI, larutkan dalam asetonitril P lebih Baku pembanding Anastrozol BPFI; tidak boleh
kurang 40% dari volume akhir labu tentukur yang dikeringkan. Simpan dalam wadah tertutup rapat,
sesuai, encerkan dengan Larutan A hingga kadar terlindung cahaya.
larutan lebih kurang 0,5 mg per mL.
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat Identifikasi
setara dengan lebih kurang 25 mg zat, masukkan A. Timbang saksama sejumlah serbuk halus
dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan 20 mL tablet setara dengan 8 mg anastrozol, masukkan ke
asetonitril P dan encerkan dengan Larutan A sampai dalam wadah yang sesuai. Tambahkan 10 mL dietil
tanda. Kadar larutan lebih kurang 0,5 mg per mL. eter P dan sonikasi selama 5 menit. Saring melalui
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi penyaring nilon dengan ukuran partikel 0,45 µm ke
dilengkapi dengan detektor 215 nm dan kolom dalam wadah yang sesuai mengandung 400 mg kalium
berukuran 3,2 mm × 10 cm berisi bahan pengisi L42 bromida P. Uapkan hingga kering menggunakan gas
dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang nitrogen. Keringkan pada hampa udara pada suhu 50°
0,75 mL per menit. Kromatograf diprogram sebagai selama 1 jam. Tambahkan kembali 400 mg kalium
berikut: bromida P untuk membuat pelet: spektrum serapan
bilangan gelombang yang diperoleh dari zat uji pada
Waktu Larutan A Larutan B
lebih kurang 2235, 1606, 1500, 1359, 1205, 1137,
(menit) (%) (%)
0 100 0
1013, dan 875 cm-1 menunjukkan bilangan gelombang
10 100 0 yang sama seperti pada Anastrozol BPFI.
40 0 100 B. Waktu retensi puncak utama kromatogram
41 100 0 Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang
56 100 0 diperoleh pada Penetapan kadar.
[Catatan Waktu elusi gradien dapat disesuaikan dengan
mengurangi waktu tunda untuk mencapai pemisahan.] Disolusi <1231>
UJI 1
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam Media disolusi: 900 mL air, awaudarakan.
kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera Alat tipe 2: 50 rpm
pada Prosedur: faktor ikutan antara 0,9 dan 1,4; Waktu: 15 menit
simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang tidak Lakukan penetapan persentase anastrozol, C17H19N5,
lebih dari 0,73%. terlarut dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah seperti tertera pada Kromatografi <931>.
volume sama (lebih kurang 10 L) Larutan baku dan Fase gerak Campuran asetonitril P-air (40:60),
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
- 147 -

penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera tentukur yang sesuai, tambahkan asetonitril P setara
pada Kromatografi <931>. dengan 8% volume akhir labu. Sonikasi sampai larut,
Pengencer Campuran asetonitril P-air (50:50). encerkan dengan air sampai tanda.
Larutan baku persediaan Timbang saksama Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
sejumlah Anastrozol BPFI, larutkan, dan encerkan persediaan, encerkan dengan Media disolusi hingga
dengan Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,2 mg diperoleh kadar (L/1000). L adalah kadar dalam mg
per mL. per tablet sesuai dengan yang tertera pada etiket.
Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku Larutan uji Saring sejumlah alikot menggunakan
persediaan, encerkan dengan Media disolusi hingga penyaring yang sesuai dengan porositas 0,45 µm.
diperoleh kadar (L/1000). L adalah kadar dalam mg Buang beberapa mL filtrat pertama
per tablet sesuai dengan yang tertera pada etiket. Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja
Larutan uji Saring sejumlah alikot menggunakan tinggi dilengkapi dengan detektor 215 nm dan kolom
penyaring yang sesuai dengan porositas 0,45 µm. 3,2 mm x 10 cm berisi bahan pengisi L42 dengan
Buang beberapa mL filtrat pertama. ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang 0,75 mL
Sistem kromatografi Kromatograf cair kinerja per menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan
tinggi dilengkapi dengan detektor 215 nm dan kolom baku, rekam kromatogram, dan ukur respons puncak
4,6 mm x 15 cm berisi bahan pengisi L1 dengan seperti tertera pada Prosedur: faktor ikutan antara 0,9
ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang 1,0 mL dan 1,4; simpangan baku relatif pada penyuntikan
per menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan ulang tidak lebih dari 1,5%.
baku, rekam kromatogram, dan ukur respons puncak Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah
seperti tertera pada Prosedur: faktor ikutan tidak lebih volume sama (lebih kurang 100 μL) Larutan baku dan
dari 2,0 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
ulang tidak lebih dari 2,0%. kromatogram, dan ukur respons puncak utama. Hitung
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah persentase anastrozol, C17H19N5, yang terlarut dengan
volume sama (lebih kurang 50 μL) Larutan baku dan rumus:
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung  rU   CS 
persentase anastrozol, C17H19N5, yang terlarut dengan       V  100
rumus:  rS   L 
 rU   CS  rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan
      V  100 uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Anastrozol
 rS   L  BPFI dalam mg per mL Larutan baku, koreksi kadar
air; L adalah jumlah anastrozol dalam mg per tablet
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan yang tertera pada etiket; V adalah volume Media
uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Anastrozol disolusi, 1000 mL.
BPFI dalam mg per mL Larutan baku, koreksi kadar Toleransi Dalam waktu 15 menit harus larut tidak
air; L adalah jumlah anastrozol dalam mg per tablet kurang dari 80% (Q), anastrozol, C17H19N5, dari
yang tertera pada etiket; V adalah volume Media jumlah yang tertera pada etiket.
disolusi, 900 mL.
Toleransi Dalam waktu 15 menit harus larut tidak Keseragaman sediaan <911> Memenuhi syarat.
kurang dari 80% (Q), anastrozol, C17H19N5, dari
jumlah yang tertera pada etiket. Cemaran organik Lakukan penetapan dengan cara
Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
UJI 2 [Catatan Jika memenuhi uji ini pada etiket Kromatografi <931>.
dicantumkan memenuhi Disolusi Uji 2]. Larutan A Campuran metanol P-asetonitril P-asam
Media disolusi: 1000 mL air, awaudarakan. trifluoroasetat P-air (200:100:0,7:700).
Alat tipe 2: 50 rpm Larutan B Campuran metanol P-asetonitril P-asam
Waktu: 15 menit trifluoroasetat P-air (500:250:0,7:250).
Lakukan penetapan persentase anastrozol, C17H19N5, Fase gerak Gunakan variasi campuran Larutan A
terlarut dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi dan Larutan B.
seperti tertera pada Kromatografi <931>. Pengencer Campuran asetonitril P-asam
Fase gerak Campuran asetonitril P-asam trifluoroasetat P-air (200:0,8:800).
trifluoroasetat P-air (300:1:700), saring dan Larutan kesesuaian sistem persediaan Timbang
awaudarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut saksama sejumlah Anastrozol BPFI dan etil-4-
Kesesuaian sistem seperti tertera pada Kromatografi hidroksibenzoat P, masukkan ke dalam labu tentukur
<931>. yang sesuai. Larutkan dengan Pengencer sebanyak
Larutan baku persediaan Timbang saksama 50% volume akhir labu. Sonikasi sampai larut,
sejumlah Anatrozol BPFI, masukkan ke dalam labu
- 148 -

encerkan dengan Pengencer hingga kadar berturut-


turut lebih kurang 0,5 mg per mL dan 0,3 mg per mL.
Larutan kesesuaian sistem Pipet sejumlah volume  ri   CS 
Larutan kesesuaian sistem persediaan, encerkan       100
dengan Pengencer hingga kadar Anastrozol BPFI dan  rS   CU 
etil-4hidroksibenzoat P berturut-turut lebih kurang 10
µg per mL dan 6 µg per mL.
ri adalah respons puncak masing-masing cemaran dari
Larutan baku persediaan Timbang saksama
Larutan uji; rS adalah respons puncak anastrozol dari
sejumlah Anastrozol BPFI, masukkan ke dalam labu
Larutan baku; CS adalah kadar Anastrozol BPFI dalam
tentukur yang sesuai, tambahkan Pengencer sebanyak
mg per mL Larutan baku; CU adalah kadar anastrozol
50% volume akhir labu, sonikasi sampai larut, dan
dalam mg per mL Larutan uji berdasarkan jumlah
encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih
yang tertera pada etiket; Masing-masing cemaran dan
kurang 0,5 mg per mL.
total cemaran tidak lebih dari batas yang tertera pada
Larutan baku Pipet sejumlah Larutan baku
Tabel.
persediaan, encerkan dengan Pengencer hingga kadar
Anastrozol BPFI 10 µg per mL.
Tabel.
Larutan uji Timbang dan serbukkan tidak kurang Nama Waktu retensi Batas
dari 25 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk relatif (%)
tablet setara dengan 10 mg anastrozol, masukkan ke (menit)
dalam labu tentukur 10-mL. Larutkan dan encerkan Anastrozol-diamida 0,11 0,5
dengan Pengencer sampai tanda. Sonikasi selama 30 Anastrozol monoasid 0,26 0,5
menit dan diamkan sampai dingin pada suhu ruang. monoamida
Saring melalui penyaring yang sesuai dengan Anastrozol monoamida 0,30 0,5
porositas 0,45 µm, buang beberapa mL filtrat pertama. mononitril
Jika filtrat belum jernih, saring melalui penyaring Desmetil anastrozol 0,51 -
yang sesuai dengan porositas 0,2 µm, buang beberapa Anastrozol diasid 0,71 0,5
mL filtrat pertama. Kadar larutan lebih kurang 1,0 mg Anastrozol monoasid 0,87 0,5
mononitril
per mL anastrozol.
Anastrozol 1,00 -
Sistem kromatografi Kromatografi cair kinerja
Cemaran lain - 0,5
tinggi dilengkapi dengan detektor 215 nm dan kolom Total cemaran - 1,0
3,2 mm x 10 cm berisi bahan pengisi L42, dengan Abaikan cemaran dengan puncak kurang dari 0,1%.
ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang 1,0 mL
per menit. Waktu analisa lebih kurang 25 menit. Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara
Kromatograf diprogram sebagai berikut: Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>.
Waktu Larutan A Larutan B Fase gerak Campuran asetonitril P-air (40:60),
(menit) (%) (%)
saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan
0 100 0
25 100 0
penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera
25,1 0 100 pada Kromatografi <931>.
30 0 100 Pengencer Campuran asetonitril P-air (50:50).
31 100 0 Larutan baku Timbang saksama sejumlah
40 100 0 Anastrozol BPFI, larutkan dan encerkan
dengan Pengencer hingga kadar lebih kurang
Lakukan kromatografi terhadap Larutan kesesuaian 40 µg per mL. Jika perlu sonikasi.
sistem, rekam kromatogram, dan ukur respons puncak Larutan uji Masukkan tidak kurang dari 10 tablet ke
seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara dalam labu tentukur yang sesuai, tambahkan air
puncak etil 4-hidroksibenzoat dan anastrozol lebih sebanyak 40% volume akhir labu. Kocok dengan
besar dari 4; faktor ikutan puncak anastrozol antara pengocok putar selama 10 menit untuk
0,9 dan 1,3; dan simpangan baku relatif pada menghancurkan tablet. Tambahkan asetonitril P lebih
penyuntikan ulang tidak lebih dari 5% untuk kurang 40% volume akhir labu, sonikasi selama 15
anastrozol. [Catatan Waktu retensi relatif etil 4- menit dengan sesekali di kocok. Atur suhu sonikator
hidroksibenzoat dan anastrozol berturut-turut adalah pada 25°. Encerkan dengan Pengencer sampai tanda.
0,7 dan 1,0.] Sentrifus sejumlah larutan ini pada 3500 rpm selama
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah 10 menit. Gunakan beningan. Kadar larutan lebih
volume sama (lebih kurang 10 μL) Larutan baku dan kurang 40 µg per mL anastrozol.
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam Sistem kromatografi Kromatografi cair kinerja
kromatogram dan ukur semua respons puncak. Hitung tinggi dilengkapi dengan detektor 215 nm dan kolom
persentase masing-masing cemaran dalam tablet 4,6 mm x 15 cm berisi bahan pengisi L1, dengan
dengan rumus: ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang 1,0 mL
- 149 -

per menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan A. Spektrum serapan inframerah zat yang
baku, rekam kromatogram, dan ukur respons puncak didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan
seperti tertera pada Prosedur: faktor ikutan tidak lebih maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
dari 2,0; simpangan baku relatif pada penyuntikan sama seperti pada Antazolin Hidroklorida BPFI.
ulang tidak lebih dari 2,0%. B. Amati Kromatogram yang diperoleh pada uji
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah Cemaran organik. Letak, warna dan ukuran bercak
volume sama (lebih kurang 20 μL) Larutan baku dan utama Larutan uji B sesuai dengan bercak Larutan
Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam baku B.
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung C. Pada 5 mL larutan zat yang disiapkan sebagai
persentase anastrozol, C17H19N5, dalam tablet dengan berikut: larutkan 2,0 g zat dalam air bebas karbon
rumus: dioksida P, jika perlu panaskan pada suhu 60°,
dinginkan dan encerkan sampai 100 mL dengan
 rU   CS  pelarut yang sama, tambahkan natrium hidroksida P
      100 8,5% tetes demi tetes hingga larutan alkalis, saring.
 rS   CU  Bilas endapan dua kali, tiap kali dengan 10 mL air,
keringkan dengan tekanan udara rendah dalam
rU dan rS berturut-turut adalah jumlah respons puncak desikator, meleleh pada suhu 119° - 123°.
anastrozol Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah D. Menunjukkan reaksi Klorida seperti tertera pada
kadar Anastrozol BPFI dalam mg per mL Larutan Uji Identifikasi Umum <291>.
baku; CU adalah kadar anastrozol dalam mg per mL
Larutan uji berdasarkan jumlah yang tertera pada Kejernihan larutan <881> Harus jernih; lakukan
etiket. penetapan menggunakan larutan yang disiapkan
sebagai berikut: larutkan 2,0 g zat dalam air bebas
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup karbon dioksida P, jika perlu panaskan pada suhu 60°,
rapat, pada suhu ruang terkendali. dinginkan dan encerkan sampai 100 mL dengan
pelarut yang sama.
Penandaan Cantumkan uji disolusi yang digunakan,
jika tidak menggunakan Uji 1. Warna dan Akromisitas <1291> Metode III warna
larutan tidak lebih intensif dari Larutan padanan W7;
lakukan penetapan menggunakan larutan 2,0% dalam
ANTAZOLIN HIDROKLORIDA air bebas karbon dioksida P.
Antazoline Hydrochloride
Suhu lebur <1021> Metode II Lebih kurang 240º,
disertai peruraian.

Keasaman-kebasaan Pada 10 mL larutan seperti


tertera pada Kejernihan larutan, tambahkan 0,2 mL
larutan merah metil P. Dibutuhkan tidak lebih dari 0,1
mL asam hidroklorida 0,01 N atau natrium hidroksida
0,01 N untuk mengubah warna indikator.
N- benzil-N-[(4,5 dihidro-1H-imidazol-2-il)metil]
anilina hidroklorida [2508-72-7] Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5%;
C17H19N3.HCl BM 301,8 lakukan pengeringan pada suhu 105° selama 3 jam
menggunakan 1 g zat.
Antazolin Hidroklorida mengandung tidak kurang dari
99,0% dan tidak lebih dari 101,0% C17H19N3.HCl, Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,1%.
dihitung terhadap zat kering. Gunakan residu hasil susut pengeringan.

Pemerian Serbuk hablur putih atau hampir putih. Logam berat <371> Metode IV Tidak lebih dari 20
bpj. Lakukan penetapan dengan menggunakan 1 g zat
Kelarutan Agak sukar larut dalam air; larut dalam dan 2 mL Larutan baku timbal 10 bpj.
etanol; sukar larut dalam metilen klorida.
Cemaran organik. Lakukan penetapan dengan cara
Baku pembanding Antazolin Hidroklorida BPFI; Kromatografi lapis tipis seperti tertera pada
Xilometazolin Hidroklorida BPFI. Kromatografi <931>.
Fase gerak Campuran dietilamin P-metanol P-etil
Identifikasi asetat P (5:10:85).
Lakukan identifikasi A dan D atau B, C dan D. Penjerap Campuran silika gel P GF 254. Panaskan
pada suhu 110° selama 15 menit sebelum digunakan.
- 150 -

Penampak bercak Buat campuran besi(III) klorida Kelarutan Sangat mudah larut dalam air; mudah larut
P 20% dan kalium besi(III) sianida P 0,5% (1:1). dalam etanol dan dalam kloroform; agak sukar larut
Larutan uji A Larutkan dan encerkan 100 mg zat dalam eter.
dalam 5,0 mL metanol P.
Larutan uji B Pipet 1 mL Larutan uji A dan Baku pembanding Antipirin BPFI; lakukan
encerkan dengan metanol P hingga 5,0 mL. pengeringan pada suhu 60 selama 2 jam sebelum
Larutan baku A Pipet 0,5 mL Larutan uji A dan digunakan. Simpan dalam wadah tertutup rapat.
encerkan dengan metanol P hingga 100,0 mL.
Larutan baku B Larutkan dan encerkan 20 mg Kesempurnaan melarut dan warna larutan Larutan
Antazolin Hidroklorida BPFI dalam 5,0 mL metanol zat dalam 1 bagian air dingin, jika diamati secara
P. melintang dalam tabung yang berdiameter lebih
Larutan baku C Larutkan 20 mg Xilometazolin kurang 20 mm, larutan tampak tidak berwarna atau
Hidroklorida BPFI dalam 1,0 mL Larutan uji A dan tidak lebih tua dari kuning muda.
encerkan dengan metanol P hingga 5,0 mL.
Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing 5 Identifikasi
L Larutan uji A, Larutan uji B, Larutan baku A, Larutan A. Spektrum serapan inframerah zat yang
baku B dan Larutan baku C pada lempeng kromatografi. didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan
Masukkan lempeng ke dalam bejana kromatograf yang maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
berisi Fase gerak dan biarkan Fase gerak merambat sama seperti pada Antipirin BPFI.
hingga tiga per empat tinggi lempeng. Angkat B. Spektrum serapan ultraviolet larutan zat dalam
lempeng, tandai batas rambat, biarkan Fase gerak metanol P yang mengandung 20 µg per mL
menguap selama 15 menit. Amati dibawah cahaya menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang
ultraviolet 254 nm: Larutan baku C harus memberikan gelombang yang sama seperti pada Antipirin BPFI;
dua bercak utama yang terpisah. Semprot dengan daya serap masing-masing dihitung terhadap zat
Penampak bercak dan amati segera: bercak lain selain kering pada panjang gelombang serapan maksimum
bercak utama Larutan uji tidak lebih intensif dari bercak lebih kurang 266 nm, berbeda tidak lebih dari 3,0%.
utama Larutan baku A (0,5%). C. Pada larutan zat tambahkan asam tanat LP:
terbentuk endapan putih.
Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 250
mg zat, larutkan dalam 100 mL etanol P, tambahkan Jarak lebur <1021> Antara 110 dan 112,5.
0,1 mL fenoftalein LP dan titrasi dengan kalium
hidroksida etanolat 0,1 N LV. Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 1,0%;
lakukan pengeringan pada suhu 60 selama 2 jam.
Tiap mL kalium hidroksida etanolat 0,1 N LV
setara dengan 30,18 mg C17H19N3.HCl Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,15%.

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup Logam berat <371> Tidak lebih dari 20 bpj; lakukan
baik, terlindung cahaya. penetapan dengan melarutkan 1 g zat dalam 2 mL
asam asetat 1 N, dan tambahkan air hingga 25 mL.

ANTIPIRIN Cemaran umum <481>


Antipyrine Larutan uji Gunakan pelarut kloroform P.
Larutan baku Gunakan pelarut kloroform P.
Fase gerak Buat campuran kloroform P-aseton P-
butil alkohol P-asam format P (60:15:15:15).
Penampak bercak Gunakan teknik penampak
nomor 1.

2,3- Dimetil-1-fenil-3-pirazolin-5-on [60-80-0] Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 150
C11H12N2O BM 188,23 mg zat, masukkan ke dalam labu iodum 250 mL,
larutkan dalam 25 mL air. Tambahkan 2 g natrium
Antipirin mengandung tidak kurang dari 99,0% dan asetat P, 1 mL asam asetat encer LP dan 20,0 iodum
tidak lebih dari 100,5% C11H12N2O, dihitung terhadap 0,1 N LV, biarkan di tempat gelap dan sejuk selama 20
zat kering. menit. Tambahkan 25 mL etanol P hingga endapan
larut. Titrasi kelebihan iodum dengan natrium
Pemerian Serbuk hablur, hablur tidak berwarna atau tiosulfat 0,1 LV, menggunakan kanji LP sebagai
putih, tidak berbau dan agak pahit. Larutan netral indikator.
terhadap lakmus.
- 151 -

Tiap mL iodum 0,1 N dihubungkan dengan pendingin dilengkapi dengan


setara dengan 9,412 mg C11H12N2O adaptor yang dipasang rapat, dengan salah satu ujung
tercelup di dalam campuran 2 mL natrium hidroksida
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup 1 N dan 10 mL air di dalam labu kecil yang direndam
rapat. es. Panaskan campuran di dalam labu destilasi sampai
mendidih dan diperoleh destilat lebih kurang 25 mL.
Encerkan destilat dengan air hingga 50 mL, campur.
ARANG JERAP Pada 25 mL enceran destilat, tambahkan 12 tetes
Activated Charcoal besi(II) sulfat LP, panaskan hingga hampir mendidih,
dinginkan dan tambahkan 1 mL asam hidroklorida P:
Arang Jerap adalah residu destilasi destruktif dari tidak terjadi warna biru.
beberapa bahan organik yang telah diberi perlakuan
untuk mempertinggi daya serap. Logam berat <371> Tidak lebih dari 50 bpj; lakukan
penetapan menggunakan larutan yang dibuat sebagai
Pemerian serbuk halus, bebas dari butiran, hitam; berikut: Didihkan 1,0 g zat dengan campuran 20 mL
tidak berbau; tidak berasa. asam hidroklorida 3 N dan 5 mL brom LP selama 5
menit, saring dan bilas dengan 50 mL air mendidih.
Kelarutan praktis tidak larut dalam air dan dalam Uapkan filtrat dan air bilasan sampai kering, pada
etanol. residu tambahkan 1 mL asam hidroklorida 1 N, 20 mL
air dan 5 mL asam sulfit P. Didihkan larutan sampai
Keasaman-kebasaan Didihkan 3,0 g zat dengan 60 seluruh belerang dioksida hilang, saring jika perlu,
mL air selama 5 menit, biarkan dingin, tambahkan air encerkan dengan air hingga 50 mL. Pada 20 mL
sampai volume semula, saring: filtrat tidak berwarna larutan tambahkan air hingga 25 mL.
dan netral terhadap lakmus P.
Zat tak terarangkan Didihkan 250 mg zat dengan 10
Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 15,0% mL natrium hidroksida 1 N selama 5 detik, saring:
lakukan pengeringan pada suhu 120selama 4 jam. filtrat tidak berwarna.

Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 4,0% lakukan Daya jerap
penetapan menggunakan 500 mg zat. Alkaloid Kocok 1 g zat yang telah dikeringkan pada
120º selama 4 jam dengan larutan 100 mg striknin
Senyawa larut asam Tidak lebih dari 3,5%. Didihkan sulfat P dalam 50 mL air selama 5 menit, saring dan
1,0 g zat dengan campuran 20 mL air dan 5 mL asam buang 10 mL filtrat pertama. Pada 10 mL filtrat,
hidroklorida P selama 5 menit. Saring ke dalam krus tambahkan 1 tetes asam hidroklorida P dan 5 tetes
yang telah ditimbang, bilas residu dengan 10 mL air kalium raksa(II) iodida LP: tidak terjadi kekeruhan.
panas, kumpulkan bilasan dengan filtrat, tambahkan 1 Zat warna Pipet 50 mL larutan biru metilen P (1
mL asam sulfat P. Uapkan hingga kering dan pijarkan dalam 1000) masing-masing ke dalam dua labu 100
hingga bobot tetap. Residu tidak lebih dari 35 mg. mL bersumbat kaca. Tambahkan 250 mg zat yang
ditimbang saksama ke dalam salah satu labu, tutup dan
Klorida <361> Tidak lebih dari 0,2%; lakukan kocok selama 5 menit. Saring isi masing-masing labu
penetapan menggunakan 10 mL filtrat yang diperoleh melalui penyaring kering, buang 20 mL dari masing-
pada uji Keasaman-kebasaan: tidak lebih keruh masing filtrat pertama. Pipet 25 mL masing-masing
dibandingkan larutan pembanding yang mengandung filtrat ke dalam dua labu tentuktur 250-mL.
1,5 mL asam hidroklorida 0,020 N. Tambahkan 50 mL larutan natrium asetat P (1 dalam
10) ke dalam masing-masing labu, campur;
Sulfat <361> Tidak lebih dari 0,2%; lakukan tambahkan melalui buret 35,0 mL iodum 0,1 N LV,
penetapan menggunakan 10 mL filtrat yang diperoleh sambil digoyang. Tutup labu, biarkan selama 50 menit,
pada uji Keasaman-kebasaan: tidak lebih keruh kocok kuat dengan selang waktu 10 menit. Encerkan
dibandingkan larutan pembanding yang mengandung masing-masing campuran dengan air sampai tanda,
1,0 mL asam sulfat 0,020 N. campur, diamkan selama 10 menit, saring melalui
penyaring kering, buang masing-masing 30 mL filtrat
Sulfida Didihkan perlahan-lahan 500 mg zat dengan pertama. Titrasi kelebihan iodum dalam masing-
20 mL air dan 5 mL asam hidroklorida P dalam labu masing 100 mL filtrat dengan natrium tiosulfat 0,1 N
Erlenmeyer kecil: terbentuk uap yang tidak LV menggunakan 3 mL kanji LP sebagai indikator.
menghitamkan kertas saring yang dibasahi dengan Hitung jumlah mL iodum 0,1 N yang diperlukan pada
timbal(II) asetat LP. masing-masing titrasi: perbedaaan antara kedua
volume tidak kurang dari 0,7 mL.
Senyawa sianogen Masukkan 5 g zat, 50 mL air dan
2 g asam tartrat P ke dalam labu destilasi yang
- 152 -

Batas mikroba <51> Tidak boleh mengandung Larutan Kesesuaian Sistem. Lakukan seperti tertera
Salmonella sp dan Escherichia coli. pada Penetapan kadar.
Prosedur Suntikkan sejumlah volume (lebih kurang
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup 20 μL) Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
baik. kromatogram, dan ukur semua respons puncak. Hitung
persentase masing-masing cemaran dalam zat dengan
rumus:
ARIPIPRAZOL
Aripiprazole  ri  1 
     100
 
 rS  F 
ri adalah respons puncak masing-masing cemaran
dalam Larutan uji; rS adalah respons puncak
aripiprazol dalam Larutan uji; F adalah faktor respons
relatif. Masing-masing cemaran dan total cemaran
7-[4-[4-(2,3-Diklorofenil)-1-piperazinil]butoksi]-3,4- tidak lebih dari batas yang tertera pada Tabel.
dihidrokarbostiril [129722-12-9]
Tabel
C23H27Cl2N3O2 BM 448,39 Cemaran Waktu Faktor Batas
retensi Respons (%)
Aripiprazol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan relatif Relatif
tidak lebih dari 102,0%, C23H27Cl2N3O2, dihitung (menit)
terhadap zat kering. Senyawa sejenis G 0,9 0,72 0,1
aripiprazol
Pemerian Serbuk hablur; putih atau hampir putih. Aripiprazol 1,0 - -