Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH ILMU GIZI

TERAPI DIET PADA PASIEN KANKER DAN HIV/AIDS

KELOMPOK 7

Dosen Pembimbing :
Bara Miradwiyana S.Kep., Ners., M.Kep

Dosen Penanggung Jawab Mata Ajar :


Mega Lestari Khoirunnisa S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.KJ

Anggota kelompok :
Hafifah Ayunda P17120120016
Nada Sya’bany Al-Humairo P17120120026
Nagita Nabila Cansa P17120120027

POLITEKNIK KESEKATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA I

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS

TAHUN AJARAN 2021/2022


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah Ilmu Gizi. Makalah ini dibuat
guna meningkatkan pengetahuan diri tentang pelaksanaan terapi diet pada pasien kanker dan
HIV/AIDS serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Gizi.

Dalam penyelesaian Makalah ini, kami banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk
itu kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Kepada Ibu Mumpuni S.Kp, M.Biomed selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1.
2. Kepada Ibu Mega Lestari Khoirunnisa, Ns., M.Kep., Sp.Kep.J selaku Dosen Penanggung
Jawab Mata Ajar Ilmu Gizi.
3. Kepada kedua orang tua, adik, kakak, keluarga, teman, dan sahabat yang telah memberi
dukungan moril dan materil sehingga kami dapat menyelesaikan makalah.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kami mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun
demi perbaikan dan penyempurnaan Makalah ini. Dengan adanya makalah ini diharapkan
dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para
pembaca. Semoga Makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

Jakarta, 2 September 2021

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................................................1
KATA PENGANTAR...........................................................................................................................2
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................................4
A. Latar Belakang...........................................................................................................................4
B. Tujuan........................................................................................................................................5
C. Manfaat......................................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................6
A. HIV/AIDS.................................................................................................................................6
1. Definisi..................................................................................................................................6
2. Patofisiologi HIV/AIDS........................................................................................................6
3. Tanda dan gejala penderita terkena HIV................................................................................6
4. Penatalaksanaan terapi pada pasien hiv/aids..........................................................................7
5. Intervensi Gizi.......................................................................................................................7
B. Kanker.......................................................................................................................................9
A. Definisi..................................................................................................................................9
B. Patofisiologi...........................................................................................................................9
C. Tanda dan gejala..................................................................................................................10
D. Penatalaksaanaan kanker.....................................................................................................10
E. Syarat Diet...........................................................................................................................10
F. Penatalaksanaan Gizi...........................................................................................................11
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................13
A. Kesimpulan..............................................................................................................................13
B. Saran........................................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................14

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh


dunia. Tingginya prevalensi kanker di Indonesia perlu dicermati dengan tindakan
pencegahan dan deteksi dini yang telah dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan.
Kasus kanker yang ditemukan pada stadium dini serta mendapat pengobatan yang
cepat dan tepat akan memberikan kesembuhan dan harapan hidup lebih lama. Oleh
karena itu, penting dilakukan pemeriksaan rutin secara berkala sebagai upaya
pencegahan dan deteksi dini kanker(Kementerian Kesehatan, 2015).
Kanker paru, hati, perut, kolorektal, dan kanker payudara adalah penyebab
terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya. Lebih dari 30% dari kematian akibat
kanker disebabkan oleh lima faktor risiko perilaku dan pola makan, yaitu: (1) Indeks
massa tubuh tinggi, (2) Kurang konsumsi buah dan sayur, (3) Kurang aktivitas fisik,
(4) Penggunaan rokok, dan (5) Konsumsi alkohol berlebihan. Faktor perilaku dan pola
makan memiliki peran penting terhadap timbulnya kanker(Kementrian Kesehatan RI,
2015).
Berdasarkan data (Kementrian Kesehatan RI, 2015) diketahui bahwa
kelompok umur 25-34 tahun, 35-44 tahun, dan 45-54 tahun merupakan kelompok
umur dengan prevalensi kanker yang cukup tinggi. Kelompok umur tersebut lebih
berisiko terhadap kanker karena faktor perilaku dan pola makan yang tidak sehat.
Selain itu, kurangnya konsumsi sayur dan buah merupakan faktor risiko tertinggi pada
semua kelompok umur. Proporsi penduduk yang merokok, obesitas, dan sering
mengonsumsi makanan berlemak tertinggi pada kelompok umur 25-34 tahun, 35-44
tahun, dan 45-54 tahun. Sementara itu, kebiasaan mengonsumsi makanan
dibakar/dipanggang dan mengonsumsi makanan hewani berpengawet cenderung lebih
tinggi pada kelompok umur yang lebih muda. Oleh karena itu, karena terdapat
perbedaan perilaku dan pola makan pada tiap kelompok umur, maka diperlukan upaya
pencegahan dan promosi kesehatan yang tepat.

4
B. Tujuan

1) Tujuan umum

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu


mengidentifikasi penatalaksanaan terapi diet yang tepat untuk pasien dengan
penyakit kanker dan infeksi HIV tanpa mengurangi nutrisi yang dibutuhkan,
membagi pengetahuan dengan pembaca mengenai terapi diet untuk pasien kanker
dan HIV dan memenuhi tugas mata kuliah ilmu gizi yang diberikan oleh dosen
pembimbing.

2) Tujuan khusus

C. Manfaat

Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan ke pasien tentang terapi diet yang
tepat untuk pasien dengan penyakit kanker dan infeksi HIV tanpa mengurangi nutrisi
yang dibutuhkan.

5
BAB II

PEMBAHASAN
A. HIV/AIDS

1. Definisi
Acquired Immune Deficiency Syndrome ( AIDS ) merupakan kumpulan gejala
penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini
merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan turunnya atau
hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang berbagai penyakit infeksi.
(Sulastini et al., 2010)
Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang disebabkan karena virus yang
tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini
merupakan partikel yang inert, dan setelah masuk dalam sel target, virus ini baru bisa
berkembang terutama dalam sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk
virus HIV yang disebut CD4.(Nuraini, Iskari Ngadiarti, 2017)

2. Patofisiologi HIV/AIDS
Virus HIV masuk ke tubuh manusia dia langsung masuk ke dalam darah dan
langsung menyerang sel protein tertentu yaitu CD4 yang ada di limposit. Limposit
adalah sumber utama kemampuan imunitas tubuh, yang terlibat immunitas humoral
yang diproduksi sel Beta dan immunitas mediated sel yang diproduksi oleh Sel T.
Oleh karena itu ciri utama penderita HIV adalah penurunan kadar CD4. Pada orang
sehat , yang tidak terkena infeksi kadar CD4 berkisar antara 500 sampai dengan 1500
dalm setiap microliter darah. Penurunan kadar CD4 mendukung penderita mudah
terkena infeksi dan kanker tertentu serta dapat menyerang syaraf yang akhirnya terjadi
kerusakan otak.(Nuraini, Iskari Ngadiarti, 2017)

3. Tanda dan gejala penderita terkena HIV


Virus HIV menyerang segala usia baik anak maupun dewasa. Gejala yang dapat
diamati pada penderita dewasa adalah gejala mayor dan minor. Gejala mayor adalah
terjadi penurunan berat badan sebesar 10 persen atau lebih dalam waktu sekitar satu
bulan tanpa sebab, diare dan demam berkepanjangan lebih dari satu bulan. Sementara
tanda minornya adalah batuk kering yang sulit sembuh; kulit gatal di sekujur badan;
adanya infeksi jamur di mulut, lidah, atau tengorokan; terjadi pembesaran kelenjar di

6
area ketiak, selangkangan, dan leher; terserang herpes zoster yang sulit sembuh,
menurunnya kemampuan intelektual, dan kerusakan syaraf peripher.
Gejala yang muncul pada anak yang terserang virus HIV pada kondisi awal
mungkin hampir tidak terlihat, setelah dicermati baru nampak gejala mayornya yaitu
ada keterlambatan pertumbuhan, diare kronis atau berulang, pneumonia interstisial,
atau sariawan. Sedangkan gejala minornya adalah: kulit gatal di semua bagian badan;
pembengkakan di leher, ketiak, atau selangkangan; Serangan jamur di tenggorokan,
lidah, atau mulut; infeksi telinga, tenggorokan, atau organ lain.; batuk yang tidak
mereda. Namun tanda dan gejala yang nampak jelas pada AIDS adalah lemas,
anorexia, diare, berat badan turun, demam dan menurunnya sel darah putih atau
leukopenia. Untuk itu bagi seseorang yang terinfeksi HIV sebaiknya segera
memeriksakan kondisi kesehatannya agar jangan sampai kondisi kesehatannya
semakin parah atau menurun.(Nuraini, Iskari Ngadiarti, 2017)

4. Penatalaksanaan terapi pada pasien hiv/aids


Terapi obat yang biasa diberikan pada pasien HIV /AIDS secara umum yaitu (1)
obat antiretroviral (ARV) terapi yang berfungsi menghambat virus dalam merusak
sistem kekebalan tubuh. Obat-obatan tersebut diberikan dalam bentuk tablet yang
dikonsumsi setiap hari. Contoh obatnya adalah tenofoir, retrovir, videx dan lain-lain.
Obat-obat ini membawa efek samping diantaranya diare, mual, muntah,
lipodystrophy, dyslipidemia, dan gangguan insulin. (2) obat untuk meningkatkan
imunitas seperti interleukin 2 dan interferon, dan beberapa suplemen vitamin dan
mineral seperti vitamin C, A, E dan selenium. (3) obat terapi antibiotik diberikan jika
ada infeksi oppurtinistik, dan infeksi lain seperti TBC ,hepatitis dan prophylaxis; (4)
obat untuk menanggulangi penyulit : agen penurunan lemak, agen anti diabetes; agen
anti hipertensi, stimulan nafsu makan; dan terapi pengganti hormon; (5) vaksin yang
terkait dengan penyakit oppurtunistik. Contoh vaksinasi yang sebaiknya dilakukan
adalah vaksin flu setiap tahun, vaksin pneumokokus lima tahun sekali(Nuraini, Iskari
Ngadiarti, 2017).
5. Tujuan diet untuk pasien HIV/AIDS
a. Tujuan umum
1) Memberikan intervensi gizi secara cepat dengan mempertimbangkan seluruh
aspek dukungan gizi pada semua tahap dini penyakit infeksi HIV.

7
2) Mencapai dan mempertahankan berat badan serta komposisi tubuh yang
diharapkan terutama jaringan otot (Lean Body Mass).
3) Memenuhi kebutuhan energi dan semua zat gizi.
4) Mendorong perilaku sehat dalam menerapkan diet, olahraga, dan relaksasi.
b. Tujuan khusus
1) Mengatasi gejala diare, intoleransi laktosa, mual, dan muntah.
2) Meningkatkan kemampuan untuk memusatkan perhatian yang terlihat pada
pasien dapat membedakan antara gejala anoreksia, perasaan kenyang,
perubahan indra pengecap, dan kesulitan menelan.
3) Mencapai dan mempertahankan berat badan normal.
4) Mencegah penurunan berat badan yang berlebihan (terutama jaringan otot).
5) Memberikan kebebasan pasien untuk memilih makanan yang adekuat sesuai
dengan kemampuan makan dan jenis terapi yang diberikan.(Miftahudin,
2021)
6. Syarat diet penderita HIV/AIDS.
Menurut Kemenkes (2010) syarat diet HIV/AIDS antara lain adalah :
1) Kebutuhan protein berdasarkan proporsi energi adalah 12-15% dan sebagian
pasien yang dirawat membutuhkan 1,0-1,5 gram/kg BB protein.
2) Kebutuhan lemak berdasarkan proporsi energi dari lemak yaitu berkisar 20-25%
dari total energi dengan rasio lemak tidak jenuh : lemak jenuh (2:1).
3) Kebutuhan karbohidrat berdasarkan proporsi energi dari karbohidrat adalah 60-
75% dari total energi atau sisa total energi setelah dikurangi energi yang berasal
dari protein dan lemak.
4) Kebutuhan mineral dan vitamin dapat diambildari Angka Kecukupan Gizi (AKG)
yag dianjurkan. Disamping itu, dipertimbangkan sifat penyakit, simpanan dalam
tubuh, kehilangan melalui urin, kulit atau saluran cerna, dan interaksi dengan
obatobatan. Untuk menjamin kebutuhan, dalam keadaan tertentu, vitamin dan
mineral perlu ditambahkan dalam bentuk suplemen.(Miftahudin, 2021)
7. Macam-macam diet penderita HIV/AID
1) Diet AIDS I
Diet AIDS I diberikan kepada pasien inveksi HIV akut, dengan gejala panas
tinggi, sariawan, kesulitan menelan, sesak napas berat, diare akut, kesadaran
menurun, atau segera setelah pasien dapat diberi makan.

8
Makanan berupa cairan dan bubur halus, diberikan selama beberapa hari
sesuai dengan keadaan pasien, dalam porsi kecil setiap 3 jam. Bila ada kesulitan
menelan, makanan diberikan dalam bentuk sonde atau dalam bentuk kombinasi
makanan cair dan makanan sonde. Makanan sonde dapat dibuat sendiri atau
menggunakan makanan enteral komersial energi dan protein tinggi. Makanan ini
cukup energi, zat besi, tiamin, vitamin C. bila dibutuhkan lebih banyak energi
dapat ditambahkan glukosa polimer (misalnya polyjoule).
2) Diet AIDS II
Diet AIDS II diberikan sebagai perpindahan diet AIDS I setelah tahap akut
teratasi. Makanan diberikan dalam bentuk saring atau cincang setiap 3 jam.
Makanan ini rendah nilai gizinya dan membosankan. Untuk memenuhi kebutuhan
energi dan zat gizinya, diberikan makanan enteral atau sonde sebagai tambahan
atau sebagai makanan utama
3) Diet AIDS III
Diet AIDS III diberikan sebagai perpindahan diet AIDS II atau kepada pasien
dengan infeksi HIV tanpa gejala. Bentuk makanan lunak atau biasa, diberikan
dalam porsi kecil dan sering. Diet ini tinggi energi, protein, vitamin, dan mineral.
Apabila kemampuan makan melalui mulut terbatas dan masih terjadi penurunan
berat badan, maka dianjurkan pemberian makanan sonde sebagai makanan
tambahan atau makanan utama. (Miftahudin, 2021)

8. Intervensi Gizi
Dalam intervensi gizi diuraikan berdasarkan tahapan /stadium pada HIV yaitu
stadium I, II dan III dan stadium IV.
a. Stadium I: tujuannya adalah mempertahankan status gizi optimal dan mengoreksi
jika ada defisiensi zat gizi yang terjadi. Jadi syarat dietnya adalah energi dan
protein tinggi. Energi tinggi yang dimaksud adalah pemberian energi dan protein
kira 110 % diatas kebutuhan normal. Pada kondisi ini pasien perlu diberikan
suplementasi vitamin seperti vitamin C, B12, B6 dan asam folat serta mineral zat
besi, seng, copper untuk membantu membangun sistem imunitas. Suplementasi ini
tidak perlu diberikan mega dosis, cukup sama dengan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) yang dianjurkan.
b. Stadium II/III : Tujuan intervensi gizi pada stadium ini adalah mengurangi gejala
dan komplikasi seperti anorexia, nyeri esophagus dan sariawan, malabsorpsi,

9
komplikasi syaraf dan lain-lain. Pada pasien ini sudah ada tanda tanda infeksi
oppurtunistik maka dalam perhitungan energi khususnya BMR dinaikkan 20 s/d
50 % baik dewasa maupun anak-anak. Untuk memastikan apakah makanan
tersebut dapat diterima perlu dilakukan monitoring secara berkala dan lakukan
penyesuaian segera. Protein kebutuhannya 10 % dari kebutuhan normal. Namun
pagi pasien dengan penyakit penyerta seperti sirosis, ginjal dan pankreatitis,
kebutuhan protein menyesuaikan. Berkaitan dengan zat gizi mikro (vitamin dan
mineral) sangat diperlukan untuk imunitas. Defisiensi zat gizi mikro dapat
mempengaruhi fungsi imun dan mempercepat kemajuan penyakit. Diketahui
bahwa kadar vitamin A, B12, dan seng yang rendah berhubungan dengan
percepatan kemajuan penyakit, sedangkan asupan vitamin C dan B berhubungan
dengan peningkatan jumlah CD4 dan menurunnya progres HIV menjadi AIDS.
Pada stadium ini sering muncul sariawan, maka perlu diinformasikan hal-hal
penting seperti selalu menjaga kebersihan mulut, hindari bahan makanan yang
panas, berikan makanan yang lunak (mushed potato, telur orak arik, daging
cincang), jika minum gunakan sedotan, hindari bahan makanan yang
menyebabkan ketidak nyamanan (terlau pedas, terlalu manis, terlalu keras dll).
c. Stadium IV (Tahap akhir AIDS) : Pada tahap ini pasien sudah dalam kondisi
terminal, biasanya pasien asupan oralnya rendah (< 30 %), ataupun sudah
menolak makanan oral, dan mungkin makanan yang diberikan dalam bentuk
enteral, atau gabungan enteral dan parenteral. Masalah utama yang sering
dikeluhkan adalah diare dan malabsorpsi (Nuraini, Iskari Ngadiarti, 2017).
9. Bahan makan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan.
Tabel 9.1 bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan. (Miftahudin, 2021)

No Bahan makanan Dianjurkan Tidak dianjurkan


1. Sumber Semua bahan makanan Bahan makanan yang
karbohidrat kecuali yang menimbulkan gas
menimbulkan gas. seperti ubi jalar.
2. Sumber protein Susu, telur, daging, dan Daging dan ayam
hewani ayam tidak berlemak, berlemak, kulit ayam.
ikan.
3. Sumber protein Tempe, tahu dan Kacang merah.
nabati kacang hijau.
4. Sumber lemak Minyak, margarin, Semua makanan yang

10
santan, dan kelapa mengandung lemak
dalam jumlah terbatas. tinggi (digoreng,
bersantan kental).
5. Sayuran Sayuran yang tidak Sayuran yang
menimbulkan gas menimbulkan gas
seperti labu kuning, seperti kol, sawi, dan
wortel, bayam, ketimun.
kangkung, buncis,
kacang panjang, dan
tomat.
6. Buah-buahan Papaya, pisang, jeruk, Buah-buahan yang
apel dsb. menimbulkan gas,
seperti nangka dan
durian.
7. Bumbu Bumbu yang tidak Bumbu yang
merangsang, seperti merangsang seperti
bawang merah, bawang cabe, lada, asam,
putih, daun salam, cuka, dan jahe.
ketumbas, laos, dan
kecap.
8. Minuman Sirup, the dan kopi Minuman bersoda
dan mengandung
alcohol.

B. Kanker

A. Definisi
Kanker adalah sel tubuh yang mengalami mutasi (perubahan) dan tumbuh tidak
terkenda serta membelah lebih cepat dibandingkan dengan sel normal. Sel kanker
tidak mati setelah usianya cukup, melainkan tumbuh terus dan bersifat invasif
sehingga sel normal tubuh dapat terdesak atau malah mati.(Kementerian Kesehatan,
2015).
Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dengan cara multiplikasi
dengan cepat dan menyebar ke jaringan sekitarnya. Sel kanker akan merusak jaringan
tubuh yang berakibat gangguan fungsi organ yang terkena sel kanker.(Hartati, 2014)

11
B. Patofisiologi
Terlepas dari perbedaan jenis kanker secara histologis dan fisiologis, terdapat
proses patofisiologi umum dari tumor ganas atau perkembangan kanker dalam
organisme. Dasar patogenesis kanker yang diterima secara umum adalah kerusakan
pada aparatus genetik sel (seperti mutasi, gangguan ekspresi gen, aktivasi gen
promotor tumor, inaktivasi gen supresor tumor, dll.). Diyakini bahwa kerusakan pada
perangkat genetik sel bersama dengan inaktivasi gen anti-tumor terjadi dan sangat
penting untuk perkembangan tumor ganas(Hartati, 2014).
Pada tingkat sel, perkembangan kanker dipandang sebagai proses multilangkah
yang melibatkan mutasi dan seleksi sel dengan kapasitas yang semakin meningkat
untuk proliferasi, kelangsungan hidup, invasi, dan metastasis. Langkah pertama dalam
proses ini, inisiasi tumor, dianggap sebagai hasil dari perubahan genetik yang
menyebabkan proliferasi abnormal dari satu sel. Proliferasi sel kemudian mengarah
pada pertumbuhan populasi sel tumor yang diturunkan secara klonal. Perkembangan
tumor berlanjut ketika mutasi tambahan terjadi di dalam sel populasi tumor. Beberapa
dari mutasi ini memberikan keuntungan selektif pada sel, seperti pertumbuhan yang
lebih cepat, dan keturunan dari sel yang membawa mutasi seperti itu akibatnya akan
menjadi dominan dalam populasi tumor. Proses ini disebut seleksi klon, karena klon
baru sel tumor telah berevolusi berdasarkan peningkatan laju pertumbuhannya atau
sifat lain (seperti kelangsungan hidup, invasi, atau metastasis) yang memberikan
keuntungan selektif. Seleksi klon berlanjut sepanjang perkembangan tumor, sehingga
tumor terus tumbuh lebih cepat dan semakin ganas(Cooper, 2000).

C. Tanda dan gejala


Beberapa tanda dan gejala umum yang terkait dengan, tetapi tidak spesifik,
kanker, meliputi:
a) Kelelahan
b) Benjolan atau area penebalan yang dapat dirasakan di bawah kulit
c) Perubahan berat badan, termasuk kehilangan atau penambahan yang tidak
diinginkan
d) Perubahan kulit, seperti menguning, menggelap atau kemerahan pada kulit, luka
yang tidak kunjung sembuh, atau perubahan pada tahi lalat yang ada
e) Perubahan kebiasaan buang air besar atau kandung kemih
f) Batuk terus-menerus atau kesulitan bernapas
g) Kesulitan menelan
12
h) suara serak
i) Gangguan pencernaan atau ketidaknyamanan yang terus-menerus setelah makan
j) Nyeri otot atau sendi yang persisten dan tidak dapat dijelaskan
k) Demam atau keringat malam yang terus-menerus tanpa sebab yang jelas
l) Pendarahan atau memar yang tidak dapat dijelaskan(Mayo Clinic, 2021)

D. Penatalaksaanaan kanker
Operasi, terapai radiasi, dan kemoterapi dipakai secara tersendiri atau dalam
kombinasi untuk pengobatan kanker.

E. Syarat Diet
a. Syarat diet untuk stadium 1 dan 2
1) Mengkonsumsi protein dari sumber hewani dan nabati seperti daging, telur,
ayam, ikan, kacang – kacang dan produk olahannya.
2) Banyak makan sayur dan buah – buahan secara teratur terutama sayuran dan
buah-buahan berwarna kaya vitamin A dan zat besi.
3) Bila ODHA sudah terbiasa minum susu, teruskan, karena susu sangat baik
untuk kesehatan .
4) Menghindari makanan yang diawetkan dan makanan yang beragi (tape, brem)
5) Menghindari makanan yang merangsang alat penciuman (untuk mencegah
mual).
6) Menghindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara mekanik,
termik maupun kimia
7) Menghindari rokok, kafein dan alkohol
8) Makanan bebas dari pestisida dan zat – zat kimia
9) Bila ODHA mendapat obat anti retroviral, pemberian makanan disesuaikan
dengan jadwal minum obat saat lambung kosong saat lambung terisi, atau
diberikan bersama-sama dengan makanan(Sulastini et al., 2010).
b. Syarat diet untuk stadium 3 dan 4
1) Mengkonsumsi protein dari sumber hewani dan nabati seperti daging, telur,
ayam, ikan, kacang – kacang dan produk olahannya
2) Makanan diberikan dalam porsi kecil tetapi sering
3) Sayur dan buah – buahan diberikan sesuai kebutuhan
4) Rendah serat, makanan lunak / cair, jika ada gangguan saluran pencernaan
5) Rendah laktosa dan rendah lemak jika ada diare

13
6) Dianjurkan minum susu yang rendah lemak dan sudah dipasteurisasi; jika
tidak dapat menerima susu sapi, dapat diganti dengan susu kedelai
7) Bentuk makanan disesuaikan dengan kondisi pasien untuk memenuhi
kebutuhan gizinya
8) Sesuaikan syarat diet dengan infeksi oportunistik dan penyakit lain yang
menyertai (TB, diare, sarkoma, kandidiasis oral)
9) Menghindari makanan yang diawetkan dan makanan yang beragi (tape, brem)
10) Menghindari aroma makanan yang merangsang (untuk mencegah mual) dan
makanan yang merangsang pencernaan baik secara mekanik, termik maupun
kimia
11) Menghindari rokok, kafein dan alkohol
12) Makanan bebas dari pestisida dan zat – zat kimia
13) Dapat ditambahkan vitamin berupa suplemen, tapi pemberian dosis besar
(megadosis) harus dihindari karena dapat menekan kekebalan tubuh
14) Bila ODHA mendapat obat anti retroviral, pemberian makanan disesuaikan
dengan jadwal minum obat saat lambung kosong, saat lambung terisi, atau
diberikan bersama-sama dengan makanan(Sulastini et al., 2010).

F. Tujuan diet penderita kanker

Tujuan pemberian diet pasien kanker diantaranya adalah :

1) Mencegah terjadinya penurunan berat badan (jangka pendek).

2) Mencapai dan memelihara berat badan normal (jangka panjang ).

3) Mengganti zat gizi yang hilang karena efek pengobatan.

4) Memenuhi kebutuhan kalori, protein, KH, L, Vitamin dan mineral yang seimbang
untuk mencegah terjadinya nutrisi.

5) Memenuhi kebutuhan mikronutrien.

6) Menjaga keseimbangan kadar glukosa darah.

7) Mencegah terjadinya infeksi dan komplikasi lebih lanjut.

G. Penatalaksanaan Gizi
a. Tujuan :
• Untuk mengidentifikasi dan mencegah atau memperbaiki defisiensi gizi akibat
kanker atau pengobatannya
14
• Untuk mempertahankan atau memperbaiki kapasitas fungsional dan kualitas
kehidupan
b. Intervensi
1) Kebutuhan kalori : individu dengan status gizi bagus mungkin hanya
memerlukan 30-35 kkal/kg/hari untuk mempertahankan BB-nya. Individu
dengan kekurangan gizi memerlukan sebanyak 45-50 kkal/kg/hari.
2) Kebutuhan protein : makanan yang mengandung 1.5-2 g/kg BB/hari cukup
3) Kebutuhan vitamin dan mineral : kebutuhan semua vitamin meningkat sesuai
dengan kenaikan kkal yang masuk. Walaupun demikian, peningkatan biasanya
mmenuhi keperluan akan vitamin
4) Zat besi : Anemia sering terjadi sebagai akibat dari kehilangan darah atau
tidak suka makanan yang kaya akan zat besi. Ayam dan ikan dapat diterima
individu yang tidak suka makan daging, dan sayuran berdaun hijau, dan biji-
bijian atau roti dan sereal yang sudah diperkaya dengan zat besi, ini dapat
menambah zat besi. Lepasan zat besi dari panci dapat dipakai untuk
meningkatkan makanan yang mengandung zat besi. Suplemen 20-50 mg/hari
mungkin diperlukan. Untuk meningkatkan ab sorpsi, maka jangan minum
kopi, teh bersama dengan suplemen. Suplemen dapat dimakan bersama
daging, ikan, ayam atau buah dan jus bila me mungkinkan.
5) Kalsium : Intoleransi laktosa sering terjadi sebagai akibat kerusakan usus yang
disebabkan radiasi atau kemoterapi. Masuknya kalsium mung kin rendah bila
tidak minum susu. Pada individu dengan intoleransi laktosa dapat makan
yogurt, keju, keju lembut, buttermilk (cairan yang tinggal se telah membikin
mentega dari susu), atau susu yang sudah ditambah enzim laktase (Lact-Aid
atau Lactrase). Suplemen 800 mg/hari kalsium dapat diberikan untuk
mengganti susu dan penukarnya.
6) Seng : Seng dijumpai pada makanan yang sama dengan zat besi, dan in dividu
yang tidak menyukai makanan tertentu, dapat membatasi masuknya seng.
Pasien memerlukannya pada waktu penyembuhan dan anabolisme tinggi.
Suplemen seng 20-50 mg/hari dapat diberikan.(Moore, 1997)

15
H. Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjutkan penderita kanker

1) Makanan yang boleh dimakan oleh penderita kanker :

- Sereal padi-padian utuh. Beras

- Bubur beras

- Barley (sejenis padi-padian)

- Oat

2) Makanan yang harus dihindari pada penderita kanker :

- Garam

- Gula Minyak olahan dan minyak murni

- Susu dan produk-produk susu

- Daging dan proteinnya

- Makanan yang mengandung kimia : pengawet, pewarna,pemberi rasa,dsb.

- Gandum

- Apel

- Wortel

- Kol

- Akar bit

- Seledri

- Ketimun

- Anggur

- Pepaya

- Selada

- Kentang

- Semangka

- Sayura-sayuran(Anz, 2021)

16
I. Contoh menu untuk penderita kanker

No. Contoh menu Bahan makanan Kandungan gizi

1. Sup pure kentang Kaldu ayam 1 gelas. Energi : 234 kalori


Kentang 100 g. Susu Protein : 4,875 g
10 cc. Seledri cincang Lemak : 5,875 g
½ sdt. Keju parut 10 g Karbohidrat : 41,125
g

2. Kentang panggang Kentang : 500 g. Energi : 348 kalori


Pala : ½ sdt. Garam : Protein : 10 g. Lemak
½ sdt. Margarin : 0 g. Karbohidrat :
secukupnnya 100 g.

3. Kue dadar Adonan dasar kue Energi : 720 kalori


dadar ½ resep. Gula Protein : 11,2 g
merah/palem 100 g. Lemak : 11,83 g
Air ½ gelas. Karbohidrat : 159,5 g

J. Buah juice, sayuran dan manfaatnya


 Apel : Pektin yg terkandung dalam apel dapat melawan lemak & menurunkan
kolesterol, sertanya membantu proses pencernaan. Dagingnya membantu
melarutkan kristal asam di dalam sendi. Baik untuk artritis, konstipasi,
kolesterol, ggn hati ringan, kegemukan.
 Wortel : Jus wortel mengandung setiap mineral yang diperlukan tubuh.
Merupakan betakaroten & vitamin A, baik untuk penyakit hati, rabun senja,
menurunkan kolesterol, gangguan kulit, menghilangkan lemak & lupus.
 Seledri : Kandungan natrium berfungsi sebagai pelarut untuk melepaskan deposit
kalsium yang menyangkut di ginjal & sendi. Mengandung magnesium untuk
menghilangkan stress. Baik utuk allergi, sulit konsentrasi, eksema, hiperaktifitas.
 Mentimun : Rendah kalori & kaya silikon & florin. Kalium membantu
membuang sisa metabolisme & deposit lemak. Baik untuk kulit kering, kulit
yang terbakar sinar matahari, eksema, gangguan hati, kesehatan rambut & kuku,
sebagai pasta untuk mengobati gigitan serangga, gatal karena tumbuhan.
 Alpukat : Asam lemak yang sehat, vitamin, & mineral seperti kalsium.
Menurunkan lemak, baik untuk malnutrisi & kulit kering.
 Pisang : Pisang mengandung kalium dlm dosis besar yang diperlukan untuk
pembentukan enzim. Baik untuk ulkus, divertikulitis, heartbuen, & kelelahan.

17
 Bit : Tinggi zat besi, vitamin A. Baik untuk alkoholisme, penyakit hati, PMS,
kanker.
 Kubis : Kaya serat, belerang tinggi untuk menetralkan efek toksik dari kobalt,
nikel, & tembaga yang berlebihan. Menghilangkan karsinogen, Kolesterol tinggi,
DM, ulkus, menurunkan berat badan.
 Anggur : Sangat baik untuk meningkatkan energi tubuh. Sangat baik untuk ginjal
dan hati serta untuk mencegah kanker. Baik untuk serangan jantung, spasme
otot, infeksi virus, mencegah lubang pada gigi.
 Selada : Zat besi dan magnesiumnya membantu kerja diuretik, merangsang
pembuluh darah, meningkatkan metabolisme. Baik untuk batuk, insomnia.
 Melon : Kaya vitamin A dan C, melon oranye kaya akan betakaroten. Baik untuk
menghilangkan kanker paru, obesitas, ggn lambung.
 Bayam, kangkung, Watercress : Trio ini mengandung vitamin, mineral, termasuk
kalsium, zat besi, kalium, vitamin A & C. Baik untuk asma, bronkitis, pnemonia,
kolik, anemia, keleahan, konstipasi, osteoporosis.
 Tomat : Kaya vitamin C & betakaroten. Baik untuk nafsu makan yang rendah,
gangguan hati, PMS, hipoglikemi, gangguan prostat, dan kegemukan.
 Semangka : Kandungan air yang tinggi menjadikan sebagai pembersih yang
baik. Kaya kalium dan kalsium. Baik untuk kolik, artritis, keracunan uremik,
gangguan kulit, gout, anemia, batu ginjal, mual.(Anz, 2021)

18
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Asuhan gizi pada pasien HIV/AIDS dengan pendekatan ADIME (Assesment,
Diagonosa gizi, Intervensi gizi, Monitoring dan Evaluasi). Terapi diet disesuaikan
dengan stadium ODHA. Pada stadium 1 terapi diet diberikan untuk mempertahankan
status gizi optimal dan mengoreksi jika terjadi defisiensi zat gizi, stadium 2 atau 3
untuk mengurangi gejala dan komplikasi, sedangkan stadium 4 ODHA di masa
terminal asupan oralnya rendah bahkan menolak makanan oral.
Pada pasien kanker kebutuhan kalori 30-35 kkal/kg/hari untuk
mempertahankan BB-nya dan memerlukan sebanyak 45-50 kkal/kg/hari pada status
kekurangan gizi. Kebutuhan vitamin meningkat, kebutuhan zat besi suplemen 20-50
mg/hari mungkin diperlukan untuk mencegah anemia, kalsium pada pasien intoleransi
laktosa didapatkan dari enzim laktase tambahan pada susu, produk olahan susu, dan
suplemen 800 mg/hari. Pada proses pemulihan suplemen seng 20-50 mg/hari dapat
diberikan.

B. Saran
Perbedaan kondisi pada tiap individu memerlukan terapi diet yang berbeda.
Pasien ODHA maupun kanker diharapkan mengikuti terapi diet yang sudah
dikonsultasikan tiap individunya. Terapi diet yang diberikan dapat mendukung status
gizi pada pasien walaupun dalam kondisi sakit. Dengan demikian terapi diet yang
diberikan menunjang kualitas hidup pasien.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anz, D. (2021). Kanker penyebab dan contoh menu untuk kanker. 1–37.

Cooper. (2000). Sel: Pendekatan Molekuler. edisi ke-2. Sinauer Associates.

Hartati, S. A. B. (2014). Upaya Peningkatan Asupan Makan Pada Pasien Kanker. Gizi
Indonesia, 30(1), 70–72. https://doi.org/10.36457/gizindo.v30i1.38

Kementerian Kesehatan. (2015). Buletin kanker. Buletin Jendela Data Dan Informasi
Kesehatan, 53(9), 1689–1699.

Kementrian Kesehatan RI. (2015). Situasi Penyakit Kanker Indonesia. Pusat Data Dan
Informasi Kemenkes RI, 2, 31–33.

Mayo Clinic. (2021). Cancer.

Miftahudin, H. (2021). HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immuno


Deficiency Syndrome). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–
1699.

Moore, M. C. (1997). TERAPI DIET DAN NUTRISI (Melfiawati (ed.); 2nd ed.). Hipokrates.

Nuraini, Iskari Ngadiarti, Y. M. (2017). DIETETIKA PENYAKIT INFEKSI (H. Kurniawati


(ed.); 1st ed.). Pusdik SDM Kesehatan.

Sulastini, dr. Mk., Anie Kurniawan, D. dr. Ms., Syamsu, P. D. S. P., Matulessy, dr. P. F. S.
G., Christianto, D. E. S. G., Prawitasari, dr. T. S. ., Ginting, dr. G. M., Ineu, S.,
Fatimah DCN, S. Mk., Cornelia, S. M., Ranida, I. R. I. A. M., Suroto, S. M., &
Resmisari, T. (2010). Pedoman pelayanan gizi bagi ODHA (Issue 1).

20

Anda mungkin juga menyukai