Anda di halaman 1dari 49

Nilai

Tanggal Revisi

Tanggal Terima

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

MODULUS YOUNG

Disusun Oleh:

Nama Praktikan : Ahmad Faishol Mubarok


NIM : 3334200045
Jurusan : Teknik Metalurgi
Grup : E5
Rekan : 1. Denis Rahmawati(3334200077)
2. Fikral Aditya Asril(3334200091)
3. Nafa Aulia Paramitha(3334200087)
Tgl. Percobaan : 2 April 2021
Asisten : Amalia Anugerah Mahallany
LABORATORIUM FISIKA TERAPAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON – BANTEN
2021

Jl. Jenderal Sudirman Km. 03 Cilegon 42435 Telp. (0254) 385502, 376712
Fax. (0254) 395540 Website: http://fisdas.untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id
ABSTRAK

Modulus Young, juga dikenal sebagai modulus elastis adalah suatu ukuran
bagaimana suatu materi atau struktur akan rusak dan berubah bentuk jika
ditempatkan di bawah tegangan. Tujuan diadakannya praktikum kali ini adalah
untuk menentukan nilai modulus young pada berbagai jenis logam. Dalam dunia
industri khususnya adalah di dunia metalurgi, modulus young dapat diterapkan
untuk menentukan jenis logam yang akan digunakan dalam pembangunan rumah,
jembatan, dan sebagainya dengan berbagai jenis sifat elastisitasnya. Prosedur
percobaan modulus young ini diawali dengan mengukur panjang, lebar, dan tebal
dari jenis logam yang akan diujikan menggunakan jangka sorong, lalu catat hasil
pengukuran yang didapat, setelah itu letakkan logam pada dudukan atau penumpu
logam secara proporsional, selanjutnya letakkan penggantung beban pada bagian
tengah logam, lalu tempatkan 5 buah logam dengan berat masing-masing logam
50 gram, kemudian atur dial indicator agar menyentuh permukaan logam namun
jarum tetap berada di angka nol, lalu ambil beban satu persatu dan amati nilai
pertambahan tingginya, setelah itu tulis data yang didapatkan, dan terakhir
mengulangi langkah tersebut dengan logam yang berbeda jenis. Dalam praktikum
kali ini didapatkan nilai modulus young dari alumunium sebesar 73,8 Gpa dengan
%error sebesar 5,42% dan nilai modulus young dari baja sebesar 207,8 Gpa
dengan %error sebesar 10,5%

Kata Kunci: Elastis, Logam, Modulus Young.

i
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL

ABSTRAK ..................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... iv

DAFTAR TABEL ......................................................................................................... v

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................. Error! Bookmark not defined.

1.2 Tujuan Percobaan ................................................................................................ 1

1.3 Batasan Masalah .................................................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Modulus Young ................................................................................................... 2

2.2 Tegangan ........................................................... Error! Bookmark not defined.

2.3 Regangan (Strain).............................................. Error! Bookmark not defined.

2.3 Hubungan Tegangan dan Regangan Dalam Modulus Young ............................. 6

2.3 Dual Indikator ...................................................................................................... 8

2.4 Elastisitas dan Plastisitas ..................................................................................... 9

2.5 Hukum Hooke ................................................................................................... 11

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir ...................................................... Error! Bookmark not defined.

3.2 Prosedur Percobaan ........................................... Error! Bookmark not defined.

3.3 Alat-alat yang digunakan ................................................................................... 15

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ii
4.1 Hasil Percobaan ................................................................................................. 16

4.2 Pembahasan ....................................................... Error! Bookmark not defined.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ........................................................ Error! Bookmark not defined.

5.2 Saran .................................................................. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

LAMPIRAN A. PERHITUNGAN ........................................................................... 29

LAMPIRAN B. TUGAS PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS .................... 34

LAMPIRAN C. ALAT DAN BAHAN ..................................................................... 38

LAMPIRAN D. BLANGKO PERCOBAAN .......................................................... 41

iii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan Pada Batang Alumunium .................................. 16

Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan Pada Batang Baja ............................................... 16

Tabel 4.3 Ralat Langsung dari Pengukuran Panjang Percobaan A .................... 17

Tabel 4.4 Ralat Langsung dari Perngukuran Lebar Percobaan A ...................... 17

Tabel 4.5 Ralat Langsung dari Pengukuran Tinggi Percobaan A ....................... 18

Tabel 4.6 Ralat Langsung dari Pengukuran Panjang Percobaan B .................... 18

Tabel 4.7 Ralat Langsung dari Pengukuran Lebar Percobaan B ........................ 19

Tabel 4.8 Ralat Langsung dari Pengukuran Tinggi Percobaan B ....................... 19

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
Gambar 2.1 Hubungan Tegangan dan Renggangan ............................................... 6

Gambar 2.2 Tegangan dan Regangan non Linear ................................................... 7

Gambar 2.3 Tegangan dan Regangan non Linear ................................................... 7

Gambar 2.4 Dial Indikator ......................................................................................... 8

Gambar 3.1 Diagram Alir Percobaan Modulus Young ......................................... 14

Gambar C.1 Batang Logam ..................................................................................... 39

Gambar C.2 Jangka Sorong ..................................................................................... 39

Gambar C.3 Mikrometer Sekrup ............................................................................ 39

Gambar C.4 Beban Bercelah ................................................................................... 39

Gambar C.5 Rel Alumunium ................................................................................... 39

Gambar C.6 Batang Rel Alumunium ...................................................................... 39

Gambar C.7 Statif Penyangga ................................................................................. 39

Gambar C.8 Dial Indikator ...................................................................................... 39

Gambar C.9 Penggantung Beban ............................................................................ 40

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap benda akan mengalami perubahan bentuk pada saat diberikan gaya
padanya. Pada benda elastis,akan , akan terjadi pertambahan panjang yang
merupakan akibat dari suatu gaya. Keelastisitasan ini juga memiliki batasan
tertentu dimana benda sudah tidak bias meregang, batas ini disebut titik
fraktur (patah/putus).
Berdasarkan hal di atas perubahan bentuk benda dibedakan menjadi 3 ,
yaitu regangan ,tegangan dan geseran. Regangan adalah besaran yang
menggambarkan hasil perubahan bentuk .Selain regangan, Tegangan adalah
kekuatan gaya yang menyebabkan perubahan bentuk. Oleh karna itu sebab
dilakukan percobaan ini adalah untuk menentukan nilai modulus young pada
berbagai jenis logam.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan percobaan pada praktikum modulus young kali ini adalah
menentukan nilai modulus young pada berbagai jenis logam

1.3 Batasan Masalah


Dalam percobaan kali ini mendapatkan batasan masalah dibagi menjadi
dua yaitu variable bebas dan variable terikat,yang termasuk variable bebas
yaitu jumlah beban yang digantungkan pada logam yang akan diuji dan
variable terikatnya adalah seberapa elastis benda yang akan diuji tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Modulus Young

Modulus Young, juga dikenal sebagai modulus elastis adalah suatu


ukuran bagaimana suatu materi atau struktur akan rusak dan berubah
bentuk jika ditempatkan di bawah tegangan. . Menurut wikipedia,
Modulus Young adalah ukuran kekakuan suatu bahan isotropik elastis dan
merupakan angka yang digunakan untuk mengkarakterisasi
bahan. Modulus Young didefinisikan sebagai rasio dari tegangan
sepanjang sumbu atas regangan sepanjang poros sumbu tersebut di mana
hukum Hooke berlaku. Modulus Young adalah ukuran bagaimana sulitnya
untuk memampatkan material, seperti baja. Mengukur tekanan dan
biasanya dihitung dalam satuan pascal (Pa). Hal ini paling sering
digunakan oleh fisikawan untuk menentukan tegangan yaitu pengukuran
seberapa material, menanggapi tekanan, seperti terjepit atau
diregangkan.[1]

………………..2.1

Beberapa contoh modulus elastisitas adalah Modulus geser,


modulus Bulk, modulus puntir dan modulus Young. Modulus geser
menunjukkan elastisitas benda ketika mengalami tegangan yang arahnya
tegak lurus sedangkan modulus Bulk menujukkan elastisitas benda ketika
mengalami tegangan dari segala arah.

1.1.1 modulus geser

modulus geser didefinisikan sebagai rasio tegangan geser geser


ketegangan. Hal ini juga dikenal sebagai modulus kekakuan dan
dapat dilambangkan dengan G atau kurang umum
oleh S atau μ . Satuan SI dari modulus geser adalah pascal (Pa),
3

tetapi nilai-nilai biasanya dinyatakan dalam gigapascals


(GPa). Dalam bahasa Inggris unit, modulus geser diberikan dalam
hal pound per inci persegi (PSI) atau kilo (ribuan) pound per
square di (ksi).
 Nilai modulus geser besar menunjukkan padat sangat kaku. Dengan
kata lain, kekuatan besar diperlukan untuk menghasilkan deformasi.
 Nilai modulus geser kecil menunjukkan padat lembut atau
fleksibel. gaya sedikit yang diperlukan untuk merusak itu.
 Salah satu definisi dari fluida adalah zat dengan modulus geser dari
nol. Setiap gaya deformasi permukaan.

1.1.2 modulus bulk

Modulus bulk dengan lambang K atau B suatu zat adalah ukuran


resistansi zat itu pada kompresi uniform. Didefinisikan sebagai
rasio kenaikan tekanan infinitesimal terhadap penurunan relatif
volume yang dihasilkan. Satuan SI modulus bulk adalah pascal,
dan bentuk dimensionalnya adalah M^1L^−1T^−2. Poisson Ratio,
yaitu rasio kontraksi terhadap ekstensi atau rasio dari tegangan
yang terjadi tegak lurus dengan beban terhadap tegangan aksial.
Modulus elastisitas adalah ukuran kekakuan suatu bahan. Jadi
semakin tinggi nilainya semakin sedikit perubahan bentuk pada
suatu benda apabila diberi gaya.

1.1.3 modulus punter


modulus puntir adalah rasio dari tegangan geser dan regangan
geser, pemahamannya sama dengan modulus young, hanya saja
perbedaannya terletak pada arah gaya dan tegangan yang terjadi.
Pada tegangan geser gaya diaplikasikan secara tangensial,
sedangkan pada tegangan biasa gaya diaplikasikan secara tega
lurus
4

2.2 Tegangan
Mekanika bahan adalah cabang ilmu dari mekanika terapan yang
membahas perilaku benda padat yang mengalami berbagai pembebanan.
Adapun benda padat yang akan dianalisa pada buku ini adalah batang (bar)
yang mengalami beban aksial, poros (shaft) yang mengalami beban torsi,
balok (beam) yang mengalami beban lentur, dan kolon (column) yang
mengalami beban tekan. Tujuan utama dalam mekanika bahan adalah
menentukan tegangan (stress), regangan (strain), dan perubahan panjang
(displacement) pada struktur dan komponenkomponennya akibat beban
yang bekerja padanya. Apabila nilai besaran-besaran ini menyebabkan
kegagalan, maka kita mempunyai gambaran tentang perilaku mekanis pada
struktur tersebut. Pemahaman perilaku mekanis sangat penting untuk
design yang aman pada semua jenis struktur [2].

Setiap material adalah elastis pada keadaan alaminya. Karena itu


jika gaya luar bekerja pada benda, maka benda tersebut akan mengalami
deformasi. Ketika benda tersebut mengalami deformasi, molekulnya akan
membentuk tahanan terhadap deformasi. Tahanan ini per satuan luas
dikenal dengan istilah tegangan. Secara matematik tegangan bisa
didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. [2]

………………………………………(2.3)

Dimana: σ = tegangan normal (N/m2).


F = Besar gaya yang bekerja (N).
A = Luas penampang (m2).
2.3 Regangan
Regangan didefinisikan sebagai perubahan ukuran atau bentuk
material dari panjang awal sebagai hasil dari gaya yang menarik atau yang
menekan pada material. Apabila suatu spesimen struktur material diikat
pada jepitan mesin penguji dan beban serta pertambahan panjang
5

spesifikasi diamati serempak, maka dapat digambarkan pengamatan pada


grafik dimana ordinat menyatakan beban dan absis menyatakan
pertambahan panjang [3].
Batasan sifat elastis perbandingan regangan dan tegangan akan
linier akan berakhir sampai pada titik mulur. Hubungan tegangan dan
regangan tidak lagi linier pada saat material mencapai pada batasan fase
sifat plastis. Menurut Marciniak dkk. (2002) regangan dibedakan menjadi
dua, yaitu : engineering strain dan true strain. Engineering strain adalah
regangan yang dihitung menurut dimensi benda aslinya (panjang awal).
Sehingga untuk mengetahui besarnya regangan yang terjadi adalah dengan
membagi perpanjangan dengan panjang semula. Sedangkan, true strain
regangan yang dihitung secara bertahap (increment strain), dimana
regangan dihitung pada kondisi dimensi benda saat itu (sebenarnya) dan
bukan dihitung berdasarkan panjang awal dimensi benda [3].
Regangan (ε) adalah perubahan bentuk akibat tegangan, diukur
sebagai rasio perubahan dari sejumlah dimensi benda terhadap dimensi
awal dimana perubahan terjadi. Jika suatu benda ditarik atau ditekan, gaya
P yang diterima benda mengakibatkan adanya ketegangan antarpartikel
dalam material yang besarnya berbanding lurus. Perubahan tegangan
partikel ini menyebabkan adanya pergeseran struktur material regangan
atau himpitan yang besarnya juga berbanding lurus. Karena adanya
pergeseran, maka terjadilah deformasi bentuk material misalnya perubahan
panjang menjadi L + ∆L (atau L - ∆L). Dimana L adalah panjang awal
benda dan ∆L adalah perubahan panjang yang terjadi. Rasio perbandingan
antara ∆L terhadap L inilah yang disebut strain (regangan) dan
dilambangkan dengan “ε” (epsilon). Dengan demikian didapatkan rumus
[3]:

...........................................................(2.4)

Dengan : ε = regangan/ strain


L = panjang benda mula-mula (m)
∆L = perubahan panjang benda (m)
6

Regangan tidak memiliki satuan karena merupakan rasio dari besaran-


besaran yang sama. Menurut Hooke regangan sebanding dengan
tegangannya, dimana yang dimaksud dengan regangan adalah persentase
perubahan dimensi. Dalam regangan terdapat 3 macam, yakni regangan
panjang, regangan volume,
dan regangan sudut.[3]
2.4 Hubungan Tegangan dan Regangan dalam Modulus Young
Jika luas benda dengan luas penampang x, kemudian diberi gaya
tekan, tarikan atau menjadi lentur, maka benda tersebut memegang gaya N
dibagi dengan luas penampangnya.

Gambar 2.1 Hubungan tegangan renggangan


Dari hubungan tersebut didapatkan 3 persamaan sebagai berikut.
................................................2.5

Dalam rumus tersebut E adalah modulus elastis benda, adalah tegangan


yang diberikan pada benda dan e adalah regangan yang terjadi pada benda.
................................................2.6

Dalam persamaan ini adalah tegangan yang akan terjadi pada benda F
adalah gaya yang diberikan, dan A adalah luas penampang benda tersebut.

e= ................................................2.7

dalam persamaan yang terahir ini e adalah regangan yang akan terjadi pada
benda, adalah pertambahan panjang yang akan terjadi benda yang akan
diuji, dan Lo adalah panjang mula-mula dari benda tersebut.
Hubungan tegangan dan regangan seperti ini adalah linear, dimana
regangan berbanding lurus dengan tegangannya bahan benda yang
7

memiliki bentuk diagram tegangan-regangan seperti gambar tersebut


disebut bahan elastis linear. Diamana bahannya memiliki modulus
elastisitas yang konstan. Hukum Hooke berlaku dalam keadaaan benda
yang seperti ini. Namun, dalam kenyataannya, tegangan itu tidak selalu
berbanding lurus dengan regangan, apabila nilai dari tegangan dan
regangan dipetakan dalam bentuk titik, maka tidak terbentuk hubungan
linearnya.

Gambar 2.2 Tegangan dan regangan non linear

Gambar 2.3 Tegangan dan regangan non linear


Jika dapat diperhatikan gambar di atas hubungan pada gambar di atas
adalah non linear, dimana regangan tidak berbanding lurus dengan
tegangannya. Bahan benda memiliki bentuk diagram tegangan dimana
setiap nila tegangan dan renggangan terjadi dipetakan kedalamnya dalam
8

bentuk titik. Maka titik regangan seperti itu disebut bahan elastis non
linear, dimana dalam bahan tersebut tidak memiliki modulus young yang
konstan.
Hukum Hooke tidak berlaku jika benda dalam keadaan yang sudah
dijelaskan di paragraf sebelumnya. Ada juga suatu keadaan hubungan
tegangan dan renggangan dimana hubungan linearnya terjadi pada nilai
tegangan yang rendah Dan setelah nilai tegangannya naik maka
hubungannya tidak linear lagi, sehingga hukum Hooke tidak berlaku.

2.5 Dial Indikator


Modulus young akan mengukur kekuatan sifat elastis suatu bahan
dapat diukur menggunakan alat pengukur yang disebut dial indicator. Dial
indicator merupakan alat yang mengukur jarak penyimpangan yang sangat
kecil dari sebuah bidang. Bidang datar, bulat bahkan silinder dan bisa
mendeteksi perbedaan tinggi yang sangat kecil.

Gambar 2.4 Dial Indicator

Adapun cara menggunakan alat ini adalah sebagai berikut :


1. Tekan sensor dan amati pergerakan jarum. Jika sensor ditekan
maka jarum panjang akan bergerak ke kanan (searah jarum jam) dan jarum
pendek bergerak ke kiri (berlawanan arah jarum jam). Jika sensor dilepas
maka kedua jarum akan kembali ke posisi awal yaitu skala nol.
9

2. Saat pemasangan, pastikan bahwa dial indicator tegak lurus dengan


bidang yang akan diukur.
3. Jangan memberikan tekanan atau hentakan yang tiba-tiba pada dial
indicator saat melakukan pengukuran.
4. Jika jarum panjang tidak menunjuk tepat pada angka nol, maka
putar rangka hitam yang mengelilingi dial indicator untuk memutar skala
dan paskan jarum panjang agar berada tepat di angka nol untuk
memudahkan pengukuran.

Kemudian untuk mmebaca skala pada dial indicator sebagai berikut:


1. Saat pengukuran, perhatikan jarum panjang terlebih dahulu. Jarum
panjang menunjukan skala nonius. Satu ruas bernilai 0,01 mm. Jika jarum
panjang melakukan satu putaran penuh, maka jarum pendek akan bergerak
satu strip, yaitu sebesar 1 mm.
2. Misalkan jarum panjang menunjukkan skala 11, berarti 11 x 0,01
mm = 0,011 mm.
3. Jarum pendek menunjukkan skala 1 mm tiap ruasnya. Jika jarum
pendek melakukan satu putaran penuh, maka pengukuran bernilai 10 mm
yang merupakan skala pengukuran maksimal.
4. Misalkan jarum pendek menunjukkan skala 3 atau lebih dari 3
namun kurang dari 4, maka pembacaan skala 3 x 1 mm = 3 mm.

2.6 Elastisitas dan Plastisitas

2.6.1 Elastisitas
Elastisitas adalah sifat dimana benda kembali pada ukuran dan
bentuk awalnya ketika gaya-gaya yang mengubah bentuknya
dihilangkan. Perubahan bentuk tersebut dapat berupa pertambahan
atau pengurangan panjang. Batas elastis suatu benda adalah tegangan
terkecil yang akan menghasilkan gangguan permanen pada benda.
Ketika diberikan tegangan melebihi batas ini, benda tidak akan
10

kembali persis seperti keadaan awalnya setelah tegangan tersebut


dihilangkan.[4]
Sebuah benda dikatakan elastik sempurna jika setelah gaya
penyebab perubahan bentuk dihilangkan. Sifat dari elastik adalah
lentur, fleksibel, dapat mengikuti bentuk dan tidak getas. Banyak
benda yang hampir elastik sempurna, yaitu sampai depormasi yang
terbatas disebut limit elastiknya, dan apabila gaya-gaya dihilangkan,
maka benda tersebut tidak kembali ke bentuk semula. Beberapa
bahan mendekati sifat tidak elastik sempurna dan menujukkan tidak
ada kecenderungan untuk kembali ke bentuk semula setelah gaya
dihilangkan. Bahan ini disebut bersifat pelastik yakni getar, keras
namun relatif mudah hancur dibanding benda pejal [4].
Sebenarnya perbedaan antara sifat elastik dan pelastik hanyalah
terletak pada tingkatan dalam besar atau kecilnya deformasi yang
terjadi. Anggap saja benda-benda ini bersifat homogen dan isotropik.
Homogen berarti pada setiap bagian benda mempunyai kerapatan
sama. Sedangkan isotropik artinya pada setiap titik pada benda
mempunyai sifat-sifat fisis sama kesegala arah.[4]
Sebuah benda terdiri dari partikel-partikel kecil atau molekul-
molekul. Diantara molekul-molekul ini bekerjalah gaya-gaya yang
biasa disebut gaya molekuler. Gaya-gaya molekuler ini memberi
perlawanan terhadap gaya-gaya luar yang berusaha mengubah
bentuk benda itu sampai terjadi suatu keseimbangan antara gaya-
gaya luar dan gaya-gaya dalam. Selanjutnya benda itu dikatakan
berada dalam keadaan regang ( state of strain ). Elastisitas bahan
ditentukan oleh modulus elastisitas, modulus elastisitas suatu bahan
didapat dari hasil bagi antara tegangan dan regangan [4].

...........................................................(2.5)

Dimana : E = Modulus elastisitas (Mpa)


σ = Tegangan (Mpa)
11

ε = Regangan

2.4.2 Plastisitas
Plastisitas merupakan sifat yang ada pada suatu material, yaitu
ketika pemberian beban dilakukan kepada suatu material sampai
mengalami perubahan bentuk kemudian beban tersebut dihilangkan
maka benda tidak bisa kembali lagi sepenuhnya kebentuk semula.
Teori plastis dibagi menjadi dua macam, yaitu teori fisik dan teori
matematik [5].
1) Teori fisik
Teori ini menjelaskan bagaimana proses aliran suatu material
menjadi plastis. Meninjau pada kandungan mikroskopik material
seperti pengerasan kristal atom dan dislokasi butir kandungan
material saat mengalami tahap plastisitas [5].
2) Teori matematik
Teori ini didasarkan pada fenomena logis alami dari suatu material
yang kemudian dideterminasikan ke dalam suatu rumus yang
dipergunakan sebagai acuan perhitungan pengujian material tanpa
diabaikannya sifat dasar dari material [5].
2.7 Hukum Hooke
Hukum Hooke berbunyi : “ Jika gaya tarik tidak melampaui batas
elastis pegas, maka pertambahan panjangnya akan sebanding dengan gaya
tariknya”. Pernyataan ini dikemukakan oleh Robert Hooke, seorang arsitek
yang ditugaskan 8 membangun kembali gedung-gedung di London yang
mengalami kebakaran pada tahun 1666. Hukum hooke adalah hukum atau
ketentuan mengenai gaya pada suatu benda dalam bidang ilmu fisika yang
terjadi karena sifat elastisitas dari sebuah pegas. Menurut Hooke, bila
benda masih berada dalam keadaan elastis (belum melampaui batas
elastisnya), pertambahan panjang x sebanding dengan besar gaya F yang
meregangkan benda. Secara sistematis dituliskan:
12

…..(2.1)

Keterangan:

F = gaya (N)

K = konstanta pegas (N/m)

= pertambahan panjang pegas


BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir

Berikut merupakan diagram alir dari percobaan modulus young:

Mulai

Mempersiapkan alat dan bahan

Menentukan dua jenis logam yang akan digunakan

Mengukur lebar dan tebal kedua logam menggunakan


jangka sorong

Mencatat hasil pengukuran pada blangko percobaan

Meletakkan logam pada penumpu logam

Meletakkan penggantung beban pada bagian tengah


beban

Menempatkan lima buah beban yang masing-masing


beratnya 50 gram

Mengatur Dial Indicator agar menyentuh pemukaan


logam
14

Mengambil beban satu per satu, kemudian amati nilai pertambahan


tinggi pada dial indicator

Menulis data yang didapat pada blangko percobaan

Ulangi langkah percobaan pada logam kedua

Data Pengamatan
Literatur

Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Percobaan

3.2 Prosedur Percobaan

Berikut ini adalah metode percobaan yang harus dilaksanakan dalam


percobaan modulus young,sebagai berikut:
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditentukan dua jenis logam yang akan digunakan
3. Diukur lebar dan tebal kedua logam menggunakan jangka sorong dan
lakukan pengulangan sebanyak 3 kali
4. Dicatat hasil pengukuran pada blangko percobaan
5. Diletakkan logam pada penumpu logam secara proporsional
6. Diletakkan penggantung beban pada bagian tengah beban
15

7. Ditempatkan lima buah beban yang masing-masing beratnya 50 gram


8. Diatur Dial Indicator agar menyentuh pemukaan logam namun jarum
tetap berada di angka nol
9. Diambil beban satu per satu, kemudian amati nilai pertambahan tinggi
dari tiap pengambilan satu beban tersebut pada dial indicator
10. Ditulis data yang didapat pada blangko percobaan
11. Dilakukan langkah yang sama untuk mengetahui nilai modulus young
pada logam kedua, dengan catatan logam yang digunakan harus berbeda
jenis
3.3 Alat dan Bahan

Berikut ini adalah alat dan bahan yang dibutuhkan dan diharuskan dalam
percobaan modulus young,sebagai berikut:
1. Batang logam
2. Jangka sorong
3. Mikrometer sekrup
4. Beban bercelah
5. Penggantung beban
6. Rel alumunium
7. Statif penyangga balok
8. Dial Indicator
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berikut ini adalah diagram alir percobaan modulus young:

Tabel 4.1 Hasil percobaan pada batang alumunium


Massa
Berat, 𝑾 Pertambahan Modulus
Beban, 𝒎 Error (%)
(N) Tinggi, 𝑯 (m) Young, 𝒀 (GPa)
(kg)
0,05 0,5 6,6 x 10-4 74 5,71%
0,10 1 1,32 x 10-3 74 5,71%
-3
0,15 1,5 1,95 x 10 75 7,14%
0,20 2 2,65 x 10-3 73,5 5%
0,25 2,5 3,36 x 10-3 72,5 3,57%
Rata-rata 73,8 5,42%

Tabel 4.2 Hasil percobaan pada batang baja


Massa
Berat, 𝑾 Pertambahan Modulus
Beban, 𝒎 Error (%)
(N) Tinggi, 𝑯 (m) Young, 𝒀 (GPa)
(kg)
0,05 0,5 7,4 x 10-4 219 4,3%
0,10 1 1,49 x 10-3 218 3,8%
0,15 1,5 2,65 x 10-3 183 12,9%
0,20 2 3,09 x 10-3 210 0%
0,25 2,5 3,89 x 10-3 209 0,5%
Rata-rata 207,8 10,5%
17

4.1.1 Ralat Langsung

Tabel 4.3 Ralat Langsung dari Pengukuran Panjang Percobaan A


n Ln Ln | | | | SL SR

1 0,3 0 0

2 0,3 0 0 0 0 0% 0,3 ± 0
0,3
3 0,3 0 0

 0,9 0 0

Tabel 4.4 Ralat Langsung dari Perngukuran Lebar Percobaan A


n bn bn | | | | Sb SR

0,01x10-
1,01 1x10-8
-2 2
1 1,02 x10 1,01 x 10-2
x
3x10-8 4,5x10-4 4,45%
10-2
0,01x10- ± 4,5x10-2
1x10-8
-2 2
2 1x10
18

0,01x10-
1x10-8
-2 2
3 1x10

0,03x10-

 3,02,x10-2 2 9x10-8

Tabel 4.5 Ralat Langsung dari Pengukuran Tinggi Percobaan A


n tn tn | | | | St SR

1 1,9x10-3 0 0

2 1,9x10-3 0 0 0 0 0%
1,9 1,9 x 10-3 ± 0
x
3 1,9x10-3 0 0
-3
10

 5,7 x 10-3 0 0

Tabel 4.6 Ralat Langsung dari Pengukuran Panjang Percobaan B


n Ln Ln | | | | SL SR

1 0,4 0 0

2 0,4 0 0 0 0 0% 0,4 ± 0
0,4
3 0,4 0 0

 0,12 0 0
19

Tabel 4.7 Ralat Langsung dari Pengukuran Lebar Percobaan B


n bn bn | | | | Sb SR

1 1,45x10-2 1x10-4 1x10-8


1,46 x 10-2
2 1,46x10-2 0 0 6,8x10-7 0,5x1 0,34%
±
1,46x 0-4
0,5x10-4
3 1,46x10-2 10 -2 0 0

 4,37x10-2 1x10-4 1x10-8

Tabel 4.8 Ralat Langsung dari Pengukuran Tinggi Percobaan B


n tn tn | | | | St SR

1 1,48x10-3 2x10-5 4x10-10


1,5x10-3
27
2 1,57x10-3 7x10-5 49x10-10 6,4x10 4,3%
-5 ±
1,5 x -10
x 10
-3 6,4x10-5
3 1,5x10 10-3 0 0

 4,55x10-3 9x10-5 81x10-10

4.1.2 Ralat Tidak Langsung

Turunan dari rumus dan didapatkan untuk mencari panjang, lebar,


dan tinggi yaitu:
Panjang =
20

Lebar =

Tinggi =
Alumunium

 Percobaan 1

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )


= 3,285x109
 Percobaan 2

Pa b
21

Sy = √( ) ( ) ( )


= 3,285x109
 Percobaan 3

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )


= 3,330x109

 Percobaan 4

Pa
22

Sy = √( ) ( ) ( )


= 3,276x109

 Percobaan 5

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )


= 3,231x109

Baja

 Percobaan 1
23

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )

=

= 9,856x109
 Percobaan 2

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )

=

= 9,792x109

 Percobaan 3
24

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )

=

= 8,256x109
 Percobaan 4

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )

=

= 9,472x109

 Percobaan 5
25

Pa

Sy = √( ) ( ) ( )

=

= 9,344x109

4.2Pembahasan
Dari percobaan yang telah kita lakukan dapat dipastikan bahwa
batang baja memiliki modulus young yang lebih besar dibandingkan
dengan batang alumunium. Batang alumunium ketika diberi massa
sebesar 0,05 kg memiliki modulus young sebesar 74 GPa dengan %error
sebesar 5,71%, pada saat diberi beban seberat 0,1 kg memiliki modulus
young sebesar 74 GPa dengan %error sebesar 5,71%, pada saat diberi
beban seberat 0,15 kg memiliki modulus young sebesar 75 GPa dengan
%error sebesaar 7,14%, pada saat diberi beban seberat 0,2 kg memiliki
modulus young sebesar 73,5 GPa dengan %error sebesar 5%, pada saat
diberi beban 0,25 kg memiliki modulus young sebesar 72,5 GPa dengan
%error sebesar 3,57%. Maka, dapat disimpilkan dari percobaan ini
diperoleh modulus young pada batang alumunium sebesar 73,8 GPa
dengan %error sebesar 5,42%. Batang baja ketika diberi massa sebesar
0,05 kg memiliki modulus young sebesar 219 GPa dengan %error sebesar
4,3%, pada saat diberi beban seberat 0,1 kg memiliki modulus young
sebesar 218 GPa dengan %error sebesar 3,8%, pada saat diberi beban
seberat 0,15 kg memiliki modulus young sebesar 183 GPa dengan %error
sebesaar 12,9%, pada saat diberi beban seberat 0,2 kg memiliki modulus
26

young sebesar 210 GPa dengan %error sebesar 0%, pada saat diberi beban
0,25 kg memiliki modulus young sebesar 209 GPa dengan %error sebesar
0,5%. Maka, dapat disimpilkan dari percobaan ini diperoleh modulus
young pada batang baja sebesar 207,8 GPa dengan %error sebesar 10,5%.
Perbedaan ini terjadi karena adanya bebarapa faktor yang
mempengaruhi nilai modulus young yaitu jenis bahan, suhu. Jenis bahan
sangat berpengaruh tehadap nilai modulus young karena setiap bahan
memiliki kerapatan molekul yang berbeda sehingga nilai modulus young
nya pun akan berbeda. Suhu berpengaruh terhadap nilai modulus young
karena semakin tinggi suhu maka molekul akan semakin bebas untuk
bergerak, hal ini menyebabkan nilai modulus young akan berbeda jika
suhunya berbeda. Perbedaan kekuatan, keuletan, kekakuan, ketangguahan,
dan kekerasan sebuah benda juga berpengaruh terhadap nilai modulus
young nya. Massa tidak akan berpengaruh terhadap nilai modulus young
karena jika jenis benda sama tetapi massanya berbeda itu tidak akan
mempengaruhi hasil dari modulus young tersebut.
Fenomena yang terjadi pada percobaan modulus young kali ini
adalah ketika logam diberi beban tambahan maka akan terjadi lendutan
pada logam tersebut. Ketika beban diambil satu persatu maka logam akan
kembali ke bentuk yang semula. Pada bagian inilah tedapat Hukum
Hooke dimana gaya yang diberikan pada pegas tidak melampau batas
elastis pegas sehingga tidak terjadi perpatahan pada logam.
Adapun pada saat praktikum terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan nilai modulus young percobaan dengan nilai modulus young
literatur berbeda. Hal ini disebabkan oleh perubahan suhu yang terjadi
pada saat praktikum sehingga mempengaruhi perubahan nilai modulus
young, dan juga faktor kurang ketelitian dari praktikan pada saat
perhitungan juga yang menyebabkan nilai modulus young percobaan
berbeda dengan nilai modulus young literatur.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 kesimpulan
Pada praktikum kali ini didapatkan kesimpulan:
1. Nilai modulus young pada batang alumunium sebesar 73,8 GPa dan nilai
modulus young pada batang baja sebesar 207,8 GPa

5.2 Saran
Adapun beberapa saran agar praktikum yang akan datang bisa lebih baik
lagi antara lain:

1. Menambah variasi jenis logam


2. Mengatur suhu.
DAFTAR PUSTAKA

[1]https://www.academia.edu/9051243/Pengertian_Modulus_Young_Modulus_Y
oung?ssrv=c

[2] Zainal Arif, S. M. (2014). MEKANIKA KEKUATAN MATERIAL. Langsa:


Fakultas Teknik JurusanTeknik Mesin Universitas Samudra :
https://www.academia.edu/9051243/Pengertian_Modulus_Young_Modulu
s_Young

[3]https://www.zegahutan.com/2020/03/laporan-praktikum-fisika-modulus-
young.html?m=1

[4] Nugroho N, d. S. (2010). Estimating Young’s Modulus and Modulus of


Rupture of Coconut Logs using Reconstruction Method. Jurnal Civil
Engineering Dimension, Volume 12, Nomor 2.

[5] (2011). Retrieved from http://repository.ub.ac.id/8953/3/BAB%20II.pdf


LAMPIRAN A

PERHITUNGAN
30

Percobaan A
Rumus :

Menggunakan : X t = 1,9 x 10-3

X L = 3 x 10-1

X b = 1,01 x 10-2
 Massa Beban, m = 0,05 kg

= 7,4 x 1010 Pa
= 74 GPa
 Massa Beban, m = 0,1 kg

= 7,4 x 1010 Pa
= 74 GPa
 Massa Beban, m = 0,15 kg

= 7,5 x 1010 Pa
= 75 GPa
 Massa Beban, m = 0,2 kg

= 7,35 x 1010 Pa
= 73,5 GPa
 Massa Beban, m = 0,25 kg

= 7,25x 1010 Pa
= 72,5 Gpa
31

 Rata-rata Modulus Young (Pa) pada logam percobaan A :

X
= 7,38 x Pa
 Rata-rata Modulus Young (Gpa) pada logam percobaan A :

X
= 73,8 GPa

Perhitungan Error (%)

Rumus : Error (%) = | |

Menggunakan : Y literatur = 70 Gpa


 Ypercobaan = 74 Gpa

Error = | | = 5,71%

 Ypercobaan = 74GPa

Error = | | = 5,71%

 Ypercobaan = 75 GPa

Error = | | = 7,14%

 Ypercobaan = 73,5 GPa

Error = | | = 5%

 Ypercobaan = 72,5 GPa

Error = | | = 3,57%

Percobaan B

Rumus :

Menggunakan : X t = 1,5 x 10-3


X L = 4 x 10-1
X b = 1,46 x 10-2
 Massa Beban, m = 0,05 kg
32

= 21,9 x 1010 Pa
= 219 Gpa
 Massa Beban, m = 0,1 kg

= 21,8 x 1010 Pa
= 218 Gpa
 Massa Beban, m = 0,15 kg

= 18,3 x 1010 Pa
= 183 Gpa
 Massa Beban, m = 0,2 kg

= 21 x 1010 Pa
= 210 GPa
 Massa Beban, m = 0,25 kg

= 20,9 x 1011 Pa
= 209 GPa

 Rata-rata Modulus Young (Pa) pada logam percobaan B :

X=
= 20,78 x 1010 Pa
 Rata-rata Modulus Young (Gpa) pada logam Percobaan B :

X=
= 207,8 GPa
33

Perhitungan Error (%)

Rumus : Error (%) = | |

Menggunakan : Y literatur = 210 Gpa


 Ypercobaan = 219 Gpa

Error = | | = 4,3%

 Ypercobaan = 218 GPa

Error = | | = 3,8%

 Ypercobaan = 183 GPa

Error = | | = 12,9%

 Ypercobaan = 210 GPa

Error = | | = 0%

 Ypercobaan = 209 GPa

Error = | | = 0,5%
LAMPIRAN B

TUGAS PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS


35

Lampiran B. Tugas Pertanyaan Dan Tugas Khusus


B.1 Jawab pertanyaan
1. Jelaskan fungsi grafik regangan dan tegangan serta peristiwa necking baik
mikroskopis maupun secara makroskopis yang terdapat pada grafik regangan
dan tegangan tersebut !
Jawab:
Fungsi dari grafik regangan dan tegangan adalah untuk mengetahui batas
elastisitas dan titik patah suatu material. Saat benda masih dalam batas elastis,
maka modulus elastis masih berlaku. Sedangkan saat sudah melewati batas
elastisnya, benda akan kehilangan sifat elastisnya dan beralih ke sifat plastis .
Pada saat benda mencapai tegangan maksimal, akan terjadi pengecilan
spesimen yang menyebabkan benda mengalami perubahan bentuk atau disebut
dengan Necking. Secara mikroskopik, pada deformasi elastis apabila tegangan
diberikan maka atom-atom akan berdislokasi ke posisinya yang baru, namun
saat tegangan ditiadakan atom-atom akan kembali ke tempat asalnya.
Sedangkan pada deformasi plastis, atom akan tetap berada diposisi yang baru
walaupun tegangan ditiadakan.

2. Seutas lawat baja memiliki panjang 4 m dan luas penampang 2 x .


Modulus elastis baja 2 x N/ . Sebuah gaya dikerjakan untuk menarik
kawat itu sehingga bertambah panjang 0,3 m. Hitung gaya tarik itu!
Jawab:
E=

F=

F = 30 Kn

3. Bagaimana perbedaan grafik tegangan dan regangan antara bahan logam,


polimer, dan keramik
Jawab :
a. Logam
36

b. Polimer

c. Keramik

4. Untuk keamanan dalam mendaki, seorang pendaki gununng menggunakan


sebuah tali nilon yang panjangnya 50 m dan tebalnya 1,0 cm. ketika menopang
pendaki yang bermassa 80 Kg, tali bertambah panjang 1,6 m. Tentukan
modulus young nilon tersebut! (Gunakan 𝜋= 3,14 dan g = 9,8 m/s)
Jawab :

E=

E=

E=
5. Buktikan penurunan rumus pada persamaan (5.4)
Jawab :
37

Y= = = =

B.2 Tugas Khusus


1. Jelaskan perbedaan kekuatan, kekakuan, kekerasan, ketangguhan dan keuletan

Jawab: Secara definisi, kekuatan didefinisikan kemampuan menerima suatu


beban hingga benda mengalami patah (fraktur). Keuletan didefinisikan sebagai
kemampuan suatu benda untuk mengalami deformasi plastis hingga putus.
Kekakuan adalah kemampuan material untuk menahan terjadinya deformasi.
Ketangguhan merupakan kekuatan material yang juga didapat dari kurva
hubungan tegangan-regangan.

2.jelaskan jenis jenis tumpuan

Jawab:Tumpuan Sendi atau engsel adalah merupakan salah satu tempat untuk
bertumpunya sebatang balok. Tumpuan Sendi dapat menahan gaya tekan, tarik
dari berbagai arah vertikal dan horizontal, gaya tekan dan tarik ini tetap akan
melalui pusat sendi. Tumpuan sendi tidak dapat menahan momen atau
meneruskan momen. Gaya Reaksi sendi ini dapat diproyeksikan pada arah
vertikal dan horizontal. Tumpuan Rol ini tidak dapat menahan gaya tarik dan
tekan sembarang arah . Tumpuan ini hanya bisa menahan gaya tekan dan gaya
tarik berarah vertikal saja. Tumpuan rol tidak dapat menahan momen atau
meneruskan momen. Gaya Reaksi rol ini dapat diproyeksikan pada arah
vertikal. Tumpuan Jepit ini membuat Balok dalam keadaan kaku, justru
karenanya dapat meneruskan gaya tarik dan tekan dengan sembarang arah
disamping itu juga dapat meneruskan momen. Dengan demikian tumpuan jepit
ini dapat menahan Gaya Vertikal, Gaya Horizontal dan Momen.
LAMPIRAN C

ALAT DAN BAHAN


39

Lampiran C. Gambar Alat Dan Bahan

Gambar C.1 Batang Logam Gambar C.5 Rel Alumunium

Gambar C.2 Jangka Sorong Gambar C.6 Batang Rel Al

Gambar C.3 Mikrometer Sekrup Gambar C.7 Statif penyangga

Gambar C.4 Beban Bercelah Gambar C.8 Dial Indicator


40

Gambar C.9 Penggantung Beban


LAMPIRAN D

BLANKO PERCOBAAN
BLANGKO PERCOBAAN MODULUS YOUNG
DATA PRAKTIKAN
NAMA Ahmad Faishol Mubarok
NIM / GRUP 3334200045/E5
JURUSAN Teknik Metalurgi
REKAN Denis R, Fikral A, Nafa A
TGL. 2 April 2021
PERCOBAAN

PERCOBAAN A (ALUMUNIUM)

Tabel A Pengukuran logam

1 2 3
Panjang, (m) 0,3 0,3 0,3
Lebar,(m) 1,02 x 10-2 1 x 10-2 1 x 10-2
Tinggi, (m) 1,9 x 10-3 1,9 x 10-3 1,9 x 10-3

Tabel B Pengukuran dan Perhitungan Modulus Young

Massa
Berat, 𝑾 Pertambahan Modulus Modulus
Beban, 𝒎 Error (%)
(N) Tinggi, 𝑯 (m) Young, 𝒀 (Pa) Young, 𝒀 (GPa)
(kg)
0,05 0,5 6,6 x 10-4 7,4x1010 74 5,71%
0,10 1 1,32 x 10-3 7,4x1010 74 5,71%
0,15 1,5 1,95 x 10-3 7,5x1010 75 7,14%
-3 10
0,20 2 2,65 x 10 7,35x10 73,5 5%
0,25 2,5 3,36 x 10-3 7,25x1010 72,5 3,57%
Rata-rata 7,38x1010 73,8 5,42%
PERCOBAAN B (BAJA)

Tabel C Pengukuran logam

1 2 3
Panjang, (m) 0,4 0,4 0,4
Lebar, (m) 1,45 x 10-2 1,46 x 10-2 1,46 x 10-2
Tinggi, (m) 1,48 x 10-3 1,57 x 10-3 1,5 x 10-3

Tabel D Pengukuran dan Perhitungan Modulus


Young

Massa
Berat, 𝑾 Pertambahan Modulus Modulus
Beban, 𝒎 Error (%)
(N) Tinggi, 𝑯 (m) Young, 𝒀 (Pa) Young, 𝒀 (GPa)
(kg)
0,05 0,5 7,4 x 10-4 21,9x1010 219 4,3%
0,10 1 1,49 x 10-3 21,8x1010 218 3,8%
0,15 1,5 2,65 x 10-3 18,3x1010 183 12,9%
0,20 2 3,09 x 10-3 21x1010 210 0%
0,25 2,5 3,89 x 10-3 20,9x1010 209 0,5%
Rata-rata 20,78x1010 207,8 10,5%

Suhu ruang awal = 19℃


Suhu ruang akhir = 19℃
Sikap barometer awal = 752mmHg
Sikap barometer akhir = 752mmHg