Anda di halaman 1dari 7

HAK ASASI MANUSIA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Wasil Rahman 1505111583


Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
FKIP Universitas Riau

ABSTRAK
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi
oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia. Berkaitan dengan HAM di situasi saat
ini dimana Indonesia sedang melawan virus pandemi Covid-19 yang sangat
meresahkan seluruh warga negara Indonesia di mana beberapa dampak yang
ditimbulkan sangat berkaitan dan bahkan mempengaruhi akan hak-hak asasi
manusia sebagai warga negara Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis
mengenai Hak Asasi Manusia di Tengah Pandemi Covid-19. Metode penelitian
berdasarkan studi kepustakaan dengan mencari referensi dari berbagai sumber
yaitu artikel penelitian atau jurnal, buku, berita online dan sumber internet yang
relevan sesuai topik kajian yang dianalisis. Hasil analisis diketahui bahwa ranah
Has Asasi Manusia yang tersentuh akibat adanya pandemi Covid-19 di Indonesia
antara lain hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, hak
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak mendapatkan pekerjaan
dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, hak mendapatkan jaminan saat
menganggur, hak untuk bebas bepergian serta hak berpolitik.

Kata Kunci : Covid-19, HAM, Pandemi

PENDAHULUAN

Hak asasi Manusia adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia
dalam kandungan. HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri
setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat
diganggu gugat siapa pun. Selama menyangkut persoalan HAM, setiap negara
tanpa kecuali, pada tataran tertentu memiliki tanggung jawab terkait pemenuhan
HAM pribadi-pribadi yang ada di dalam jurisdiksinya, termasuk orang asing
sekalipun.
Kepentingan paling mendasar dari setiap warga negara adalah
perlindungan terhadap hak-haknya sebagai manusia. Berdasarkan Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 1 disebutkan
bahwa “Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi
oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.
Berkaitan dengan HAM di situasi saat ini dimana Indonesia sedang
melawan virus pandemi Covid-19 yang sangat meresahkan seluruh warga negara
Indonesia di mana beberapa dampak yang ditimbulkan sangat berkaitan dan
bahkan mempengaruhi akan hak-hak asasi manusia sebagai warga negara
Indonesia. Virus yang menyerang kesehatan masyarakat ini memberikan
gambaran bahwa adanya tuntutan dan tanggung jawab pemerintah untuk
memenuhi hak dasar manusia yaitu hak untuk hidup dan mendapatkan pelayanan
kesehatan. Selain itu beberapa kebijakan akan mempengaruhi hak asasi manusia
khususnya dalam mendapatkan pekerjaan yang layak dan bekerja untuk
memenuhi kesejahteraan hidup yang berimbas kepada perekonomian warga.
Disektor lain hak-hak politik serta hak kebebasan dalam bepergian kini juga
adanya pembatasan. Berdasarkan fenomena yang terjadi maka pada artikel ini
akan dijelaskan lebih lanjut mengenai HAM ditengah pandemi Covid-19.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian berdasarkan studi kepustakaan dengan mencari referensi


dari berbagai sumber yaitu artikel penelitian atau jurnal, buku, berita online dan
sumber internet yang relevan sesuai topik kajian yang dianalisis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang HAM


menyatakan bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat
pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa
dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan
dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Berdasarkan pernyataan tersebut
memperjelas bahwa Hak Asasi Manusia dilindungi oleh hukum, negara dan
pemerintah.
Indonesia saat ini sedang dilanda oleh wabah penyakit menular dimana
pergerakan infeksi dan penularanya sangat cepat. Penyakit ini telah ditetapkan
oleh WHO sebagai pandemi karena penularannya yang begitu cepat dan masif.
Indonesia sendiri sudah menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat
seperti tertuang dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan
Kesehatan dalam Pasal 1 ayat 2 dijelaskan bahwa “Kedaruratan Kesehatan
Masyarakat adalah kejadian kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa
dengan ditandai penyebaran penyakit menular dan/atau kejadian yang
disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia,
bioterorisme, dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi
menyebar lintas wilayah atau lintas negara”. Kedaruratan kesehatan masyarakat
yang dimaksud dalam pasal tersebut dan sesuai dengan kondisi saat ini yaitu
penyebaran penyakit menular yang disebut dengan Covid-19.
Berkaitan dengan permasalahan pandemi Covid-19 yang sedang melanda
Indonesia maka pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengatasi
permasalahan penyakit yang berkaitan dengan kesehatan atau dengan kata lain
menyerang kesehatan manusia selaku warga negara Indonesia. Pemerintah saat ini
menerapkan sejumlah kebijakan sebagai ikhtiar atau usaha dalam memutus rantai
penyebaran Covid-19. Konvenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan
Budaya (Ekosob) dalam Pasal 12 salah satu ketentuannya menyatakan bahwa
negara pihak harus melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk
mengupayakan pencegahan, pengobatan, dan pengendalian segala penyakit
menular, endemik, penyakit lainnya.
Berdasarkan hal tersebut, beberapa kebijakan yang sedang diterapkan yaitu
social distancing dimana warga atau masyarakat dihimbau untuk seminimal
mungkin berada dan berkegiatan diluar rumah dan penerapan untuk bekerja dari
rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah. Pembatasan Sosial Berskala
Besar (PSBB) dan karantina wilayah juga sudah mulai diterapkan di beberapa
daerah di Indonesia. Kebijakan yang diterapkan secara langsung akan
berhubungan dengan masa depan keberlangsungan hidup orang banyak atau
warga negara Indonesia sebagai insan yang memiliki Hak Asasi Manusia.
Berbicara mengenai HAM, permasalahan pandemi Covid-19 ini ternyata
berimbas kepada hak asasi manusia khususnya hak untuk hidup dan hak untuk
mendapatkan kesehatan. Kesehatan berhubungan erat dengan hidup seseorang
karena menjadi prasyarat seseorang untuk dapat maksimal mencapai harkat
hidupnya. Kesehatan masyarakat merupakan salah satu hak asasi manusia yang
dijamin secara konstitusional.
Dalam pasal 28 H ayat 1 UUD 1945 dinyatakan bahwa setiap orang
berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Berdasarkan situasi pandemi yang
sedang terjadi di Indonesia dimana diketahui setiap harinya ada penambahan
kasus positif Covid-19 yang mengharuskan penderita atau pasien mendapatkan
penanganan kesehatan secara medis. Aturan terkait HAM mendapatkan pelayanan
kesehatan tersebut menegaskan bahwa semua orang mempunyai hak mendapat
pelayanan kesehatan, walaupun itu dari kalangan kurang mampu maupun yang
mampu atapun faktor diskriminasi lainnya. Setiap orang yang membutuhkan
pertolongan kesehatan harus sama-sama menjadi prioritas tanpa pilah-pilah dalam
menangani kasus yang terjadi. Semua potensi yang dapat mengarahkan kepada
tindakan pelanggaran HAM dalam rangka pencegahan dan penanganan Covid-19
harus dihindari semaksimal mungkin. Para tenaga medis dalam menjalankan tugas
sebagai garda terdepan dalam menangani kasus pandemi Covid-19 ini harus
didasarkan atas HAM, harus non-diskriminatif kepada kelompok rentan seperti
anak-anak, lansia, penyandang disabilitas dan penyakit komplikasi. Semua pasien
sama-sama memiliki hak untuk hidup dan sama-sama memiliki hak untuk
mendapatkan kesehatan melalui pelayanan kesehatan, karena mereka memiliki
hak yang diatur dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 3
ayat 3 yang menyatakan bahwa Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi
manusia dan kebebasan dasar manusia, tanpa diskriminasi.
Kebebasan dasar dan hak asasi manusia yang paling mendasar adalah hak
untuk hidup. Berdasarkan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Pasal 9 ayat 1 menyatakan bahwa Setiap orang berhak untuk hidup,
mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. Dengan adanya
hak untuk hidup maka akan dilanjutkan dengan hak-hak asasi manusia lainnya
dalam rangka meningkatkan taraf kehidupannya seperti hak mendapatkan
pekerjaan yang layak, hak berpolitik dan lain sebagainya yang telah diatur oleh
Undang-undang Dasar 1945 serta peraturan-peraturan dan Undang-undang
mengenai HAM.
Berbagai upaya yang ditujukan bagi perlindungan dan pemajuan Hak
Asasi Manusia (HAM) khususnya di bidang kesehatan perlu diterapkan oleh
pemerintah karena pemerintah memiliki tanggung jawab dalam pemberian
pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak Covid-19.
Selanjutnya, penting juga dipahami bahwa Komentar Umum No. 14
(2000) terkait Pasal 12 ICESCR menyatakan aplikasi presisi penting dilakukan
negara untuk memastikan terpenuhinya HAM atas kesehatan dengan
memerhatikan empat unsur penting kesehatan, yakni:
1. Ketersediaan
2. Aksesibilitas
3. Akseptabilitas
4. Kualitas
Oleh karena itu pemerintah wajib memenuhi tanggung jawabnya dalam rangka
pemenuhan hak kesehatan warganya dengan memastikan keempat akses dasar
yang harus dimiliki dibagian medis baik itu Rumah Sakit, Puskesmas bahkan
tenaga medis dan ini merupakan faktor pendukung utama dalam rangka
memerangi kasus pandemi Covid-19 di tanah Air.
Pemerintah harus mampu memastikan sinerjitas semua penyelenggara
pemerintahan dan swasta dengan berbasis delapan pilar rencana strategis
kedaruratan dan kewaspadaan untuk mencegah dan menangani transmisi COVID-
19, langkah optimal pelaksanaan kebijakan terukur dan berkesinambungan itu
mewajibkan negara melindungi HAM dengan memastikan ketersediaan
kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat seperti makanan, air, fasilitas medis dan
obatan serta ketersediaan fasilitas dan jaminan kesehatan yang dapat mendukung
ketangguhan sumber daya petugas dan tenaga kesehatan serta sarana-sarana
penunjang kesehatan masyarakat.
Berdasarkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Duham) Pasal 25
ayat 1 menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas tingkat hidup yang memadai
untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas
pangan, pakaian, perumahan, dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial
yang diperlukan, dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita
sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya
yang mengakibatkan kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaanya”.
Kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dalam ikhtiar melawan virus
pandemi yang telah meresahkan seluruh warga Indonesia bahkan seluruh negara
terdampak mengakibatkan perekonomian masyarakat menurun drastis. Tukang
ojek, buruh bangunan atau buruh harian lepas, pedagang kecil, dan sejumlah
tempat untuk orang bekerja sebagai karyawan di sektor pariwisata, perhotelan,
hiburan, pusat perbelanjaan kini harus ditutup dan menyebabkan terjadinya
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran yang mengakibatkan
sebagian besar warga Indonesia kehilangan pekerjaan dan tidak mendapatkan
pekerjaan sebagai imbas dari adanya pembatasan yang diterapkan. Jangankan
untuk mendapatkan pekerjaan, untuk bekerja saja sudah tidak bisa. Lantas
darimana rakyat kecil dengan golongan ekonomi menengah dan kebawah
mendapatkan uang untuk biaya kehidupan sehari-hari ?. Hak untuk bekerja dan
mendapatkan pekerjaan merupakan salah satu hak asasi manusia yang diatur
konstitusi yaitu dalam UUD 1945 pasal Pasal 27 Ayat (2) yang berbunyi, ‘Tiap-
tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan’. Berdasarkan hal tersebut dapat kita katakan bahwa hak atas
pekerjaan dan bekerja bagi masyarakat dalam rangka penghidupan yang layak
bagi individu warga tersebut belum terpenuhi dan lagi-lagi ini bukanlah suatu
kesengajaan pemerintah akan tetapi diakibatkan karena status pandemi yang
sedang dihadapi.
Pemerintah dalam hal ini tidak semena-mena dan bersikap sengaja untuk
tidak memperhatikan hak asasi manusia warga nya akan tetapi kebijakan yang
diterapkan pemerintah tersebut dilakukan agar permasalahan pandemi Covid-19
dapat terhenti penyebaran virusnya dan tidak ada lagi warga negaranya yang
terinfeksi serta Indonesia dan seluruh warga dapat merasakan lingkungan yang
baik dan sehat tanpa virus sehingga nantinya seluruh warga tanpa terkecuali akan
dapat beraktivitas diluar seperti sedia kala dan mendapatkan hak-hak asasi nya
yang untuk saat sekarang ini harus dikorbankan demi melawan virus Covid-19.
Berkaitan dengan keinginan dan harapan seluruh warga negara yang sangat
menantikan dan mengharapkan lingkungan dapat steril kembali dari virus dan
lingkungan menjadi baik dan sehat untuk beraktivitas ternyata merupakan hak
asasi bagi setiap manusia dan ini diatur dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia Pasal 9 ayat ayat 3 : Setiap orang berhak atas lingkungan hidup
yang baik dan sehat.
Untuk menjawab adanya pembatasan HAM khususnya dalam hal
pekerjaan dan bekerja sesuai yang diamanatkan dalam pasal Pasal 27 Ayat (2) dan
terlihat jelas dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Duham) Pasal 25
ayat 1 yang menyatakan bahwa adanya hak atas jaminan saat menganggur maka
karena adanya pandemi Covid-19 yang berimbas kepada sebagian besar warga
yang tidak dapat bekerja atau dapat dikatakan menjadi status menganggur maka
pemerintah sebisa mungkin memikul tanggung jawab atas hak warga negaranya
tersebut. Pemerintah sejauh ini telah berupaya menyeimbangkan atas pembatasan
HAM yang terjadi dengan mengeluarkan berbagai macam bantuan yang diberikan
kepada warga negaranya dari kelompok ekonomi menengah dan kebawah yang
khususnya terkena dampak dari pandemi Covid-19. Beberapa bantuan sosial yang
diberikan oleh pemerintah antara lain berupa bantuan kebutuhan pokok per KK,
Program Keluarga Harapan, Penerima Bantuan Iuran, Kartu Sembako, Kartu Pra-
Kerja hingga Dana Desa.
Berdasarkan kebijakan pencegahan dan penanganan COVID-19 yang
diimbangi dengan usaha pemerintah dalam menangani permasalahan
perekonomian masyarakat terdampak maka dapat dikatakan bahwa saat ini
pemerintah telah menjalankan amanat konstruksi kebijakan internasional dan
nasional terkait pencegahan dan penanganan COVID-19 dimana setiap kebijakan
yang diterapkan oleh pemerintah pusat maupuun pemerintah daerah harus tetap
berada dalam rangka menghormati HAM. Hal ini ditegaskan pada ketentuan Pasal
32 IHR yang menyatakan bahwa segala bentuk tindakan pembatasan yang
dilakukan negara semaksimal mungkin mampu meminimalkan setiap tindakan
yang tidak nyaman atau menyusahkan (minimize any discomfort or distress
associated with such measures).
Perlu diperjelas bahwa tindakan yang tidak nyaman disini yang
diterapkan oleh pemerintah dalam masa darurat kesehatan demi menjalankan
tugas pencegahan dan penanganan pandemi COVID-19 yang mau tidak mau
sebagai warga negara yang baik harus melaksanakan kewajiban asasi manusia
yaitu dengan mengikuti semaksimal mungkin semua anjuran, imbauan dan
ketetapan pemerintah dan tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya kebijakan
tersebut oleh sebagian warga dirasa tidak nyaman dan menimbulkan kesusahan
antara lain berimbas kepada hak asasi warga selaku manusia yaitu hak untuk
hidup, hak mendapatkan pelayanan kesehatan, hak mendapatkan lingkungan yang
baik dan sehat, hak mendapatkan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup.
Inkorporasi HAM menjadi bagian integral dan berperan penting serta
memiliki adil untuk memastikan dan memantau setiap langkah-langkah
pencegahan dan penanganan COVID-19 yang diterapkan oleh pemerintah kepada
seluruh warga negaranya dijalankan dan diterapkan atas dasar menjunjung tinggi
kemartabatan, HAM dan kebebasan dasar manusia sebagaimana ditegaskan
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom pada 15 Februari 2020, this is a time
for facts, not fear. This is a time for rationality, not rumours. This a time for
solidarity, not stigma.
Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta karantina
wilayah yang diterapkan sebagai upaya dalam memerangi COVID-19 ternyata
memberikan batasan bagi warganya untuk bepergian, baik pergi keluar kota,
keluar negeri, mudik ke kampung halaman bahkan batasan untuk bepergian di
wilayah itu sendiri dalam rangka tujuan yang tidak terlalu penting. Pembatasan
tersebut jika dikaitkan dengan HAM maka sudah jelas sangat bertentangan. UU
No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 27 ayat 1 menyatakan Setiap
warga negara Indonesia berhak untuk secara bebas bergerak, berpindah, dan
bertempat tinggal dalam wilayah negara Republik Indonesia. Ayat 2 menegaskan
kembali bahwa Setiap warga negara Indonesia berhak meninggalkan dan masuk
kembali ke wilayah negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Lagi-lagi ini perlu diperjelas bahwa hal tersebut dapat dikatakan menjadi
pelanggaran HAM apabila dilakukan secara sengaja dan tanpa alasan yang jelas.
Akan tetapi untuk kasus ini sudah sangat jelas bahwa aturan tersebut terpaksa
harus dilakukan dan harus konsisten dijalankan karena adanya darurat kesehatan
masyarakat yang mau tidak mau inilah satu-satunya solusi yang wajib ditaati bagi
seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Hal ini diperjelas dalam
Undang-Undang No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dalam Pasal
3 menjelaskan bahwa PSBB dan karantina wilayah dimaksudkan dengan tujuan
melindungi masyarakat dari penyakit dan/atau Faktor Risiko Kesehatan
Masyarakat yang berpotensi menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat;
mencegah dan menangkal penyakit dan/atau Faktor Risiko Kesehatan Masyarakat
yang berpotensi menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat; meningkatkan
ketahanan nasional di bidang kesehatan masyarakat; dan memberikan pelindungan
dan kepastian hukum bagi masyarakat dan petugas kesehatan.
Pandemi Covid-19 juga menyentuh ranah Hak Asasi Manusia dibidang
politik. Dilansir oleh berita online Liputan 6 pada 31 Maret 2020 dinyatakan
bahwa Pilkada serentak 2020 resmi ditunda. Hak politik ini termasuk hak memilih
dan dipilih yang ditunda seiring rencana penundaan pilkada. Komisioner Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Amiruddin Al Rahab, mengatakan
bahwa hak politik bisa ditunda sementara waktu di tengah pandemi virus corona
yang kian meningkat di Indonesia. Menurut dia, pemerintah juga berkewajiban
memenuhi hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak yang
tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun atau nonderogable rights.
Sementara, hak politik merupakan derogable rights, hak-hak yang masih dapat
dikurangi atau dibatasi pemenuhannya oleh negara dalam keadaan tertentu. Dalam
hal ini di tengah wabah Covid-19 yang mengancam keselamatan warga negara
termasuk penyelenggara negara (Republika, 2020).

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas maka dapat disimpulkan


bahwa ranah Has Asasi Manusia yang tersentuh akibat adanya pandemi Covid-19
di Indonesia antara lain hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan, hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak
mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, hak
mendapatkan jaminan saat menganggur, hak untuk bebas bepergian serta hak
berpolitik.

DAFTAR PUSTAKA

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Duham) Pasal 25


Liputan 6. 2020. Pilkada 2020 Ditunda di Tengah Pandemi Corona, PDIP: Tidak Perlu Berpolemik
Lagi. https://www.liputan6.com/pilkada/read/4215515/pilkada-2020-ditunda-
di-tengah-pandemi-corona-pdip-tidak-perlu-berpolemik-lagi. Diakses pada
Tanggal 12 April 2020.

Republika. 2020. Komnas HAM: Pandemi Corona, Hak Politik Bisa Ditunda.
https://republika.co.id/berita/q8d7n1428/komnas-ham-pandemi-corona-hak-
politik-bisa-ditunda. Diakses pada Tanggal 12 April 2020.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi


Manusia

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945