Anda di halaman 1dari 11

PENGGUNAAN BAHASA DALAM MENGUNGKAPKAN

KERESAHAN HATI DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK


BERDASARKAN TINGKATAN USIA

Oleh:

Eka Yuliyanti (A1B18014)


Rohdiana (A1B118018)
Farah Ayuni (A1B118024)

ABSTRAK
Bahasa dan usia memiliki hubungan yang erat. Seorang penutur bahasa dapat
menunjukkan identitasnya melalui gaya bahasa yang digunakan. Seorang penutur
bahasa memiliki perbedaan dalam gaya bahasa yang digunakan. Berdasarkan hal
tersebut maka pada artikel ini mencoba untuk melihat perbedaan penggunaan bahasa
dalam mengungkapkan keresahan hati di media sosial Facebook berdasarkan
tingkatan usia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sebagai unit
amatannya adalah update status di facebook. Akun facebook yang diamati yaitu
pemilik akun yang tergolong anak-anak berusia 11 tahun dengan nama Elisabet
Hutabarat. Selanjutnya akun Facebook yang tergolong remaja berusia 17 tahun
dengan nama Liilik Efeendii. Adapun unit analisis dalam penelitian ini adalah
menganalisa gaya bahasa status facebook dan makna apa yang terkandung dalam
bahasa status tersebut. Hasil menunjukkan penggunaan bahasa anak-anak yang dilihat
dari status Facebook Elisabet tergolong sederhana sedangkan Penggunaan bahasa
remaja yang dilihat dari status Facebook Liilik Efeendii dalam mengungkapkan
keresahan hatinya kompleks dan rumit karena terdapatnya beberapa kata asing, istilah
kiasan, bahasa gaul, singkatan bahasa inggris, perubahan huruf pada kata serta adanya
ungkapan sarkasme.

Kata Kunci: Bahasa, Facebook, Usia

Pendahuluan
Manusia adalah makhluk bahasa, mereka menggunakan bahasa sebagai alat
komunikasi dan segala tindakannya selalu bertumpu pada bahasa. Dengan bahasa
seseorang dapat mengungkapkan ide, gagasan, pikiran dan keinginan dalam
menyampaikan pendapat dan informasi. Manusia sebagai anggota masyarakat selalu
berkomunikasi dan berinteraksi dengan bahasa, maka bahasa merupakan alat
komunikasi yang vital.
Bahasa di era globalisasi ini bermunculan modifikasi gaya bahasa. Modifikasi
gaya bahasa sangat sering di jumpai seiring adanya media sosial khususnya Facebook
yang dapat dijadikan sebagai media tempat mengungkapkan perasaan melalui status
Facebook.
Berbicara tentang bahasa dan usia akan melibatkan hubungan keduanya.
Bahasa dan usia memiliki hubungan yang erat. Seorang penutur bahasa dapat
menunjukkan identitasnya melalui gaya bahasa yang digunakan. Seorang penutur
bahasa memiliki perbedaan dalam gaya bahasa yang digunakan. Perbedaan ini
menentukan posisi untuk mengambil peranan seperti apa dan menempatkan diri
sesuai dengan usia yang menyebabkan terjadinya variasi bahasa dan ragam bahasa.
Tuturan dilakukan menurut usia penutur sehingga ada kosakata yang hanya
dipahami oleh anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Bahasa dalam perspektif
lintas generasi memperlihatkan bahwa setiap generasi memiliki “kreasi” bahasa yang
berbeda dengan bahasa yang digunakan pendahulunya. Semua itu terjadi karena,
kebutuhan komunikasi lambat laun berubah dan memaksa setiap generasi baru
melakukan pengenalan bahasa untuk disesuaikan dengan pengalaman mereka,
selanjutnya pada waktu tertentu kebutuhan dan kemampuan komunikasi dari generasi
terkini berbeda dengan pendahulunya. Kedua fakta tersebut menjelaskan bahwa umur
dan perbedaan generasi merupakan faktor yang menyebabkan variasi khusus dalam
pilihan bahasa.
Berdasarkan hal tersebut maka pada artikel ini mencoba untuk melihat
perbedaan penggunaan bahasa dalam mengungkapkan keresahan hati di media sosial
Facebook berdasarkan tingkatan usia.
Kajian Teori
Konsep Bahasa
Bahasa merupakan salah satu fenomena sosial (Antono, Ida Zulaecha, Imam
Baehaqie, 2019). Bahasa juga sebagai media komunikasi utama masyarakat
Indonesia. Bahasa secara filosofis adalah pengungkapan manusia atas realitas melalui
simbol-simbol. Berarti, eksistensi bahasa Indonesia sangat tergantung pada tingkat
keberhasilan mengembangkan bahasa, misalnya menciptakan kosa kata dan istilah-
istilah baru, baik penyerapan kosa kata bahasa daerah maupun asing semakin
digiatkan. Bahasa merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh setiap individu
dalam memberikan informasi yang berupa pikiran, gagasan, maksud maupun
perasaan. Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi dan
interaksi (Chaer dan Agustina, 2010).
Bahasa Indonesia harus mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan
teknologi. Mengingat saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era
global, terutama teknologi informasi sangat cepat (Marsudi, 2009). Fungsi utama
bahasa adalah sebagai alat komunikasi di dalam masyarakat yang digunakan dalam
berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam (Saddhono,
2012). Bahasa mempunyai fungsi sosial, baik sebagai alat komunikasi untuk
berinteraksi maupun sebagai cara mengidentifikasikan kelompok sosial (Simatupang
dkk, 2018).
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk komunikasi antara sesama
manusia, sebab tanpa komunikasi kebahasaan, sistem sosial kemasyarakatan tidak
akan terwujud. Tanpa bahasa manusia tidak dapat berinteraksi dengan yang lain serta
tidak dapat menjalin hubungan kekerabatan antara yang satu dengan yang lain.
Sehingga bahasa memiliki fungsi utama untuk berkomunikasi (Nababan, 1986).
Disisi lain bahasa menunjukan bangsa, tutur bahasa yang sopan menunjukan asalusul
yang tinggi. Bahasa juga dianggap memiliki fungsi selain fungsi ekspresif, yaitu
sebagai alat untuk menunjukan identitas pemakai bahasa (Rai, 2017). Bahasa
bervariasi yang menyangkut pilihan bahasa-bahasa bagi para pemakai dan digunakan
sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan pikiran-pikiran dari seseorang
(Saddhono, 2006). Tentunya media sosial sekarang juga sama berfungsi sebagai alat
komunikasi dan informasi.

Konsep Facebook
Facebook adalah salah satu Online Social Networking atau situs jejaring sosial
yang diciptakan untuk memberikan fasilitas teknologi dengan maksud pengguna
dapat bersosialisasi atau berinteraksi dalam dunia maya (Andi dan MADCOMS,
2009). Komponen-komponen facebook yang terdapat di dalamnya, di antaranya
(Sartika Kurniali, 2009) : Menu Beranda, Menu Profil, Menu Teman, Menu Pesan
Masuk, Menu Pengaturan, Kotak Pencarian, Aplikasi, Kolekfi Foto, Video, Grup,
Catatan, Tautan, Teman yang Online, Pemberitahuan, Obrolan.

Konsep Usia
Istilah usia diartikan dengan lamanya keberadaan seseorang diukur dalam
satuan waktu di pandang dari segi kronologik, individu normal yang memperlihatkan
derajat perkembangan anatomis dan fisiologik (Nuswantari, 1998). Usia adalah lama
waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan) (Hoetomo, 2005). Menurut
Depkes RI (2009) klasifikasi usia manusia yaitu sebagai berikut:
1. Masa Balita : Usia 0-5 tahun
2. Masa Kanak-Kanak : Usia 6-11 tahun
3. Masa Remaja Awal : Usia 12-16 tahun
4. Masa Remaja Akhir : Usia 17-25 tahun
5. Masa Dewasa Awal : Usia 26-35 tahun
6. Masa Dewasa Akhir : Usia 36-45 tahun
7. Masa Lansia Awal : Usia 46-55 tahun
8. Masa Lansia Akhir : Usia 56-65 tahun
9. Masa Manula : Usia 65 tahun keatas
Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian
yang digunakan adalah diskriptif eksplanatoris. Sebagai unit amatannya adalah
update status di facebook. Akun facebook yang diamati yaitu pemilik akun yang
tergolong anak-anak berusia 11 tahun dengan nama Elisabet Hutabarat. Selanjutnya
akun Facebook yang tergolong remaja berusia 17 tahun dengan nama Liilik Efeendii.
Adapun unit analisis dalam penelitian ini adalah menganalisa gaya bahasa status
facebook dan makna apa yang terkandung dalam bahasa status tersebut.

Hasil dan Pembahasan


Ungkapan Keresahan Hati Anak Usia 11 tahun (Kanak-Kanak) di Media Sosial
Facebook
Anak berusia 11 tahun yang termasuk kanak-kanak mengungkapkan
keresahan hatinya melalui Akun Facebooknya yaitu Elisabet Hutabarat sebagai
berikut:
1. Status 1
Sebentar lagi sahabat aku yang bernama Nabila Safitri Nasution Akan
pindah rumah, aku pasti akan sedih, nanti siapa lagi sahabat aku, teman aku

Bye bye Sahabat aku tercinta dan tersayang I LOVE YOU NABILA

Penggunaan bahasa pada status yang diunggah Elisabet Hutabarat di


akun Facebooknya tersebut menunjukkan bahwa bahasa digunakan untuk
mengungkapkan perasaan berupa keresahan hati dimana Ia sangat resah
karena sahabatnya yang sangat disayangi yang bernama Nabila Nasution akan
pindah sehingga ia akan sedih dan khawatir tidak memiliki teman lagi.
Kendatipun demikian Ia tetap memberikan ucapan perpisahan dan
mengungkapkan rasa sayang kepada sahabatnya tersebut.
Isi keresahan hati Elisabet Hutabarat yang dituangkan melalui status di
akun Facebooknya jika ditinjau dari aspek leksikal terdapat gaya
pencampuran bahasa. Gaya Pencampuran Bahasa atau Language mixing atau
yang sering disebut campur bahasa adalah proses penggunaan dua bahasa
yang berbeda atau lebih dalam sebuah Status Facebook (Intan Duhita; Daru
Purnomo; Rulliyanti Puspowardhani, 2013). Status Elisabet Hutabarat
tersebut munculnya beberapa kosa kata atau kalimat asing dalam bahasa
Inggris seperti “Bye bye” yang artinya “selamat tinggal” sebagai ucapan
perpisahan kepada sahabatnya dan “ I Love You” yang artinya “aku sangat
menyayangimu” sebagai ungkapan rasa sayangnya kepada sahabatnya yang
bernama Nabila Nasution.

2. Status 2
Teman teman aku lagi sedih karena sahabat aku
Status yang diunggah Elisabet Hutabarat di akun Facebooknya tersebut
menunjukkan bahwa bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan
berupa keresahan hati dimana Ia sedang sedih yang disebabkan oleh
sahabatnya. Emoji menangis yang digunakan memberikan penguatan bahwa
Ia benar-benar sedih.
Penggunaan bahasa status 1 dan status 2 Elisabet Hutabarat berdasarkan
tingkat keformalannya tergolong ke dalam ragam bahasa tidak resmi. Ragam bahasa
tidak resmi adalah ragam bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi
seperti pengungkapan suasana hati atau keresahan hati seperti yang dituliskan oleh
Elisabet Hutabarat di akun Facebooknya.
Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk menciptakan keadaan perasaan hati
tertentu, misalnya kesan baik atau buruk, senang, tidak enak dan sebagainya (Reza
Alriadi, 2020). Gaya bahasa yang digunakan Elisabet Hutabarat pada status 1 dan 2
dapat menjadikan pembaca hanyut dalam suasana hati yang sedih setelah mengetahui
tentang apa yang disampaikan oleh Elisabet Hutabarat melalui status Facebook
tersebut.
Penggunaan bahasa yang digunakan Elisabet Hutabarat tergolong sederhana.
Sederhana disini maksudnya adalah kalimat yang tidak bertele-tele atau
mengungkapkan langsung ke poinnya, tidak banyak menggunakan kata kiasan, tidak
menggunakan kata-kata yang rumit sehingga bahasa yang digunakan mudah
dimengerti. Hal ini disebabkan karena faktor usia dimana usia anak-anak memiliki
tahap perkembangan bahasa yang masih sederhana.

Ungkapan Keresahan Hati Anak Usia 17 tahun (Remaja) di Media Sosial


Facebook
Anak berusia 17 tahun yang termasuk masa remaja mengungkapkan
keresahan hatinya melalui Akun Facebooknya yaitu Liliik Efeendii sebagai berikut:
Pengen CEPAT sembuh 
ga tahan kayag gini muLu.
Bisa nya cuma makan,itupun ga selera, tapi harus dipaksain lepas tu minum obat
istirahad dikamar,bobog, atau gag mainin hape.
Yang ga kalah penting nya salu UPDATE status.
Bosan gua . . !
Eh PARASIT, Kok kagag pigi pigi sih Lu dari hidup gua?
Parasit . . . ! Parasit . . . !
Stress gua kalau ada Lu . . !
GWS for my seLf. . . !
Back to HEALTH.

Penggunaan bahasa dalam mengungkapkan keresahan hati yang ditulis oleh


Liilik Efeendii melalui status Facebooknya berdasarkan tingkat keformalannya
tergolong ke dalam ragam bahasa tidak resmi. Ragam bahasa tidak resmi adalah
ragam bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi seperti pengungkapan
suasana hati atau keresahan hati seperti yang diungkapkan oleh Liilik Efeendii bahwa
Ia sedang sakit dan tidak nyaman dengan kondisi tersebut.
Isi keresahan hati Liilik Efeendii yang dituangkan melalui status di akun
Facebooknya jika ditinjau dari aspek leksikal terdapat Gaya Bahasa Gaul. Gaya
bahasa gaul adalah bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, berbentuk
tidak formal Intan Duhita; Daru Purnomo; Rulliyanti Puspowardhani, 2013) seperti
kalimat:
ga tahan kayag gini muLu
Yang ga kalah penting nya salu UPDATE status
Mainin
Bosan Gua
Kok kagag pigi pigi sih Lu dari hidup gua?
Stress gua kalau ada Lu
Akronim juga terdapat pada kalimat status Facebook Liilik Efeendii tersebut.
Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian
lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang sesuai dengan kaidah fonotaktik
bahasa yang bersangkutan” (Kridalaksana, 2001). Akronim yang terdapat di status
Liilik Efeendii yaitu “GWS” yang merupakan pemendekan dari kata bahasa Inggris
“Get Well Soon”.
Berdasarkan aspek leksikal terdapat gaya pencampuran bahasa. Gaya
Pencampuran Bahasa atau Language mixing atau yang sering disebut campur bahasa
adalah proses penggunaan dua bahasa yang berbeda atau lebih dalam sebuah Status
Facebook (Intan Duhita; Daru Purnomo; Rulliyanti Puspowardhani, 2013). Status
Liilik Efeendii tersebut munculnya beberapa kosa kata atau kalimat asing dalam
bahasa Inggris seperti:
GWS (Get Well Soon) for my self yang artinya semoga segera membaik untuk
diriku
Back to HEALTH yang artinya kembali pulih
Update yang artinya mengunggah
Selanjutnya terdapat Gaya Fortrisi (S-Fort) yaitu penggunaan style menulis
dengan cara merubah suara dari suara lemah menjadi suaran yang kuat. Seperti data
status Liilik Efeendii berikut :
Istirahad
Bobog
Gag
Kagag

Ditinjau dari makna kalimatnya, diketahui pula bahwa munculnya unsur-unsur


sarkasme dalam kalimat status Facebook. Adapun sarkasme adalah penggunaan kata-
kata yang termasuk dalam kelompok kata bermakna kasar, mengandung umpatan.
Penggunaan kalimat sarkasme terdapat pada kalimat:
Eh PARASIT, Kok kagag pigi pigi sih Lu dari hidup gua? Parasit . . . !
Parasit . . . ! Stress gua kalau ada Lu . . !
Berdasarkan kalimat tersebut diketahui bahwa Liilik Efeendii melalui
statusnya sedang mengumpat kepada parasit dalam hal ini virus yang membuat Ia
sakit sehingga Ia merasa stress disebabkan penyakit tersebut.
Penggunaan bahasa status Liilik Efeendii dalam mengungkapkan keresahan
hatinya tergolong ke dalam bahasa tidak formal dan terdapat bahasa yang tidak baku
dan secara keseluruhan bahasa yang digunakan tergolong kompleks dan rumit karena
terdapatnya beberapa kata asing, istilah kiasan, bahasa gaul, singkatan bahasa inggris,
perubahan huruf pada kata serta adanya ungkapan sarkasme. Hal ini disebabkan
karena adanya faktor usia dimana masa remaja merupakan masa-masa penjajakan
diri.
Anak remaja sangat ingin menunjukkan eksistensi dirinya sehingga membuat
ia menulis status keresahan diri menggunakan variasi dan ragam bahasa yang
dianggapnya dapat menonjolkan dan menarik perhatian orang ketika membaca
statusnya tersebut. Hal inilah yang membuat Ia menggunakan kata-kata asing, bahasa
yang gaul, adanya kata singkatan, menggunakan istilah kiasan serta perubahan huruf
kata. Selanjutnya ungkapan sarkasme menjadi pendukung akan asistensi dirinya.

Simpulan
Bahasa dalam media sosial yang sering kita gunakan merupakan bahasa yang
tidak baku tidak sesuai dengan KBBI. Mengapa Bahasa Indonesia tidak digunakan
sesuai aturannya, karena dalam media sosial terutama Facebook memiliki gengsi
yang besar dan mengakibatkan pengguna mejadi kebiassan menggunakan bahasa
gaul, bahasa tidak baku dan Bahasa Inggris. Tetapi disisi lain dalam penggunaan
bahasa yang tidak sesuai juga sama saja bisa diartikan makna yang sama sesuai
maksud dari tulisan tersebut.
Penggunaan bahasa anak-anak yang dilihat dari status Facebook Elisabet
tergolong sederhana sedangkan Penggunaan bahasa remaja yang dilihat dari status
Facebook Liilik Efeendii dalam mengungkapkan keresahan hatinya kompleks dan
rumit karena terdapatnya beberapa kata asing, istilah kiasan, bahasa gaul, singkatan
bahasa inggris, perubahan huruf pada kata serta adanya ungkapan sarkasme.

Daftar Pustaka
Andi dan MADCOMS. 2009. Gaul Berteman Lewat Facebook. Yogyakarta: C.V
Andi Offiset
Antono, Ida Zulaecha, Imam Baehaqie. 2019. Pemerintahan Fonologi dan Leksikal
Bahasa Jawa di Kabupaten Wonogiri: Kajian Geografi Dialek. Jurnal sastra
Indonesia, 8(1): 24-32. DOI: https://doi.org/10.15294/jsi.v8i1.29854
Chaer dan Agustina. 2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Ed. Rev. Jakarta:
Rineka Cipta.
Hoetomo. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Mitra Pelajar
Intan Duhita, Daru Purnomo, Rulliyanti Puspowardhani, 2013. Ragam Bahasa
Update Status Facebook: Analisa Wacana Studi Kelompok Mio Salatiga Club
Automatic Leader. Cakrawala Jurnal Penelitian Sosial, 1(2): 1-20
Marsudi. 2009. Jati Diri Bahasa Indonesia di Era Globalisasi Teknologi Informasi.
Jurnal Sosial Humaniora, 2(2): 133-148. DOI:
http://dx.doi.org/10.12962/j24433527.v2i2.658
Nababan. 1986. Sosiolinguistik. Jakarta: PT.Gramedia.
Nuswantari. 1998. Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 25. Jakarta : EGC.
Rai Bagus Triadi. 2017. Penggunaan Makian Bahasa Indonesia Pada Media Sosial
(Kajian Sosiolinguistik). Jurnal Sasind Unpam, 5(2) DOI:
10.29210/0243jpgi0005
Reza Alriadi. 2020. Penggunaan Ragam Bahasa Alay pada Facebook. Skripsi.
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Saddhono. 2006. Bahasa Etnik Madura di Lingkungan Sosial. Jurnal Kajian
Linguistik dan Sastra, 18(34) : 1-15. http://hdl.handle.net/11617/204
Saddhono. 2012. Pengantar Sosiolinguistik Teori dan Konsep Dasar. Surakarta:
Program Buku Teks LPP UNS.
Sartika Kurniali. 2009. Step by Step Facebook. Jakarta: PT. Elek Media Komputindo
Simatupang. Ruth R., Muhammad R., Khundharu S. 2018. Tuturan dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia (Kajian Sosiolinguistik Alih Kode dan Campur
Kode). Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, 3(2): 119-130 DOI:
https://doi.org/10.23917/kls.v3i2.5981