Anda di halaman 1dari 3

EVALUASI AKADEMIK LATSAR CPNS GELOMBANG

III GOL III AKT LXXI BADIKLAT JATENG


Nama : dr. Renata Dwi Anddora

Angkatan/ Kelompok : LXXI/2

Revolusi Industri 4.0 : Tantangan dan Peluang untuk Optimalisasi Pelayanan Publik

1. Mendeskripsikan rumusan kasus dan/ atau masalah pokok, aktor yang terlibat dan peran
setiap aktornya berdasarkan konteks deskripsi kasus.

Pokok permasalahan dalam kasus tersebut adalah pada era Revolusi Industri 4.0,
penyelenggara pelayanan publik di Indonesia dituntut untuk wajib mengelola sistem
informasi yang dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menerima
pelayanan publik yang berbasis digital. Pemerintah wajib memenuhi kebutuhan dasar kepada
masyarakat baik pelayanan berupa barang, jasa, dan pelayanan administrasi terkait pelayanan
publik. Dalam menyelenggarakan pelayanan publik, pemerintah mulai menerapkan sistem E-
Government di setiap instansi guna mewujudkan good governance dan open governance
pada penyelenggaraan pemerintah di Indonesia.

Aktor dan peran yang terlibat dalam kasus ini, yaitu:

a) Presiden sebagai pemerintahan tertinggi, meluncurkan peta jalan "Making Indonesia 4.0",
yang merupakan salah satu langkah strategi dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0.
Dengan adanya peta jalan ini, diharapkan pemerintah mempersiapkan diri dalam
menghadapi gelombang disrupsi terkait penyelenggaraan pelayanan publik basis digital.
b) Penyelenggara pelayanan publik (menteri, kepala lembaga, gubernur, bupati, walikota,
dan jajaran terkait dalam pemerintahan) mempunyai kewajiban dalam menyediakan
sistem informasi pelayanan publik dengan memanfaatkan teknologi informasi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan agar masyarakat dapat menjangkau informasi
pelayanan publik dengan mudah.
2. Melakukan analisis terhadap : A. Bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai
dasar PNS, dan Pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dan NKRI oleh setiap aktor
yang terlibat berdasarkan konteks deskripsi kasus. B. Dampak tidak diterapkannya nilai-nilai
dasar PNS dan pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dalam NKRI berdasarkan
konteks deskripsi kasus

A. Bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap nilai dasar PNS pada kasus tersebut, yaitu:

Pemerintah mempunyai komitmen dalam menyelenggarakan pelayanan publik berbasis


digital dalam era Revolusi Industri 4.0 agar memudahkan masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan. Dengan memanfaatkan teknologi, transparansi, kecepatan, dan kemudahan
menjadi kunci dalam mewujudkan penyelenggaraan pelayanan publik, sehingga dapat
meningkatkan juga kepercayaan kepada pelanggan, yaitu masyarakat. Hal ini terkait dengan
penerapan nilai dasar PNS yaitu nilai akuntabilitas, komitmen mutu, dan etika publik.

Sistem informasi terkait pelayanan publik berbasis digital merupakan program jangka
panjang kepada instansi dan juga masyarakat dalam kelangsungan penyelenggaraan
pelayanan publik. Selain itu, aplikasi Sistem Informasi Pelayanan Publik Nasional (SIPPN)
yang diatur dalam Permenpan RB Nomor 13 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan
SIPPN juga merupakan bentuk inovasi dari pemerintah yang akan mempermudah pelayanan
publik. Dengan memanfaatkan aplikasi ini, kinerja Aparatur Negara dalam memberikan
pelayananan menjadi lebih efektif dan efisien, pelayanan lebih mudah dan cepat, serta adanya
transparansi terkait pelayanan yang diberikan oleh penyelenggara pelayanan publik sehingga
dapat meningkatkan kepercayaan di mata publik, baik pihak instansi terkait dan masyarakat.
Pelayanan publik yang diberikan harus dipertanggungjawabkan .

Namun pada kenyataanya, aplikasi SIPPN belum sempurna untuk digunakan sehingga
mempersulit pihak-pihak instansi terkait untuk menginput data informasi pelayanan publik ke
dalam aplikasi tersebut dan juga lemahnya kewenangan Menpan RB dalam mendorong
menjalankan pelayanan publik. Selain itu juga dapat memberikan citra yang buruk dan tidak
memuaskan di mata masyarakat jika pelayanan publik tidak berjalan dengan baik.

B. Dampak dari tidak diterapkannya nilai PNS pada kasus tersebut adalah pelayanan publik
berbasis digital tidak bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada instansi terkait dan
masyarakat sehingga dapat menurunkan kepercayaan terkait penyelenggaraan pelayanan publik
dan hasil kinerja yang harus dicapai oleh penyelenggara pelayanan publik tidak mencapai target.

3. Mendeskripsikan gagasan-gagasan alternatif pemecahan masalah berdasarkan konteks


deskripsi kasus

Gagasan alternatif pemecahan masalah pada kasus tersebut adalah perlu adanya kesadaran
dan dorongan dalam menererapkan dan mengaplikasikan nilai Akuntabilitas, Komitmen
Mutu, dan Etika Publik dalam penyelenggarakan pelayanan publik agar tidak mengecewakan
pihak instansi dan juga masyarakat. Sebagai CPNS, melalui mengikuti kegiatan LATSAR ini
diharapkan dapat mengoptimalkan tugas dan fungsi PNS ke depannya sebagai pelaksana
kebijakan publik, pelayan publik, dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa demi
mewujudkan Good Governance dan Open Governance, serta mewujudkan tujuan nasional
bangsa Indonesia (dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4) yaitu melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

4. Mendeskripsikan konsekuensi penerapan dari setiap alternatif gagasan pemecahan masalah


berdasarkan konteks deskripsi kasus.

Konsekuensi penerapan terkait alternatif pemecahan kasus tersebut adalah diharapkan


sebagai ASN mampu menjalankan tugasnya dalam menyelenggarakan pelayanan publik
dengan menjunjung tinggi integritas, bertanggung jawab, harus bisa beradaptasi terhadap
perubahan terutama dalam proses penyelenggaraan pelayanan, dan mampu memberikan
pelayanan publik secara efektif, efisien, jujur, cepat, tanggap, tepat, akurat, berdaya guna,
berhasil dan santun.

Anda mungkin juga menyukai