Anda di halaman 1dari 2

Olah Rasa tentang Tujuan Hidup

Nama : Ignatius Sahala Limbong


NIM : 216020301111014
Kelas : GB

Setiap makhuk pastilah melewati siklus kehidupan, begitu pula kita sebagai manusia
tidak lepas dari siklus yang berlaku sesuai Sunnatullah tersebut. Siklus kehidupan kita dimulai
dengan kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, semua harapan dan doa
orang tua tercurah agar kelak kita lahir menjadi anak yang baik, berbudi pekerti luhur dan sukses
kehidupan dunia dan akhiratnya. Hal yang paling dinantikan kedua orang tua adalah tangisan
kita, karena tangisan kita bagi mereka adalah hadiah terindah dari Tuhan YME. Ketika lahir ke
dunia kita tidak memiliki daya upaya apapun, yang bisa kita lakukan hanya pasrah dan sekedar
berderai air mata, berharap orang tua tau apa kemauan kita, tangan mengepal erat seolah olah
dunia hendak kita genggam walaupun dengan segala ketidakberdayaan.
Kehidupan sebagai anak-anak menurut saya adalah fase yang paling menyenangkan,
beruntung kita semua melewati fase tersebut karena kehidupan anak anak pada umumnya berisi
hal-hal yang menyenangkan, penuh permainan dan curahan kasih sayang orang-orang sekitar
kita, tidak terbebani tanggung jawab yang dipikul oleh orang-orang dewasa.
Pada fase remaja barulah kita mulai melakukan pencarian jati diri, mencari role model
yang hendak kita contoh untuk kita terapkan nilai-nilainya, deskripsi tentang bagaimana sifat
orang yang baik dan orang yang buruk sudah mulai jelas dibenak kita, tidak heran kalo dulu pada
waktu remaja kita seringkali meniru aktor atau artis yang menurut kita keren hanya sekedar
mencontoh gaya bicara dan penampilannya. Fase kehidupan yang terakhir adalah fase manusia
dewasa pada fase ini manusia mengalami perubahan orientasi yang luar biasa hebat, dari pribadi
yang hanya bergantung kepada orang tua menjadi pribadi yang mempunyai tanggungjawab
personal karena seorang  manusia dewasa perlu mempersiapkan diri menjalani kehidupan yang
sebenarnya,dia harus bekerja, menikah, membesarkan anak, menjadi tua dan pada akhirnya
meninggal dunia. Begitu seterusnya siklus kehidupan itu berjalan yang baru menggantikan
eksistensi yang lama, kaum tua tergantikan oleh kaum muda, orang jaman sekarang akan
menjadi orang jaman dahulu seiring berjalannya waktu.
Seringkali dalam kesunyian dan keheningan kontemplasi yang mendalam, saya
menanyakan pada diri “apa sebenarnya tujuan  hidup saya dan mengapa Tuhan
memberikan kehidupan kepada kita kalo pada akhirnya akan sirna tergantikan oleh siklus
penciptaan yang baru“ mungkin jawaban pertanyaan tersebut masih menjadi misteri yang
belum saya temukan jawaban pastinya. Pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari pengalaman
hidup saya selama ini bahwa Tuhan tidaklah sekedar menciptakan sesuatu melainkan ada
tujuannya yaitu sebuah grand design kehidupan yang pada intinya mempersiapkan seorang
manusia untuk menjalani kehidupan yang kekal yakni kehidupan di alam akhirat kelak, jasad kita
boleh saja sudah hancur luluh berbaur tanah namun jejak-jejak kehidupan kita untuk anak
keturunan kita haruslah tetap ada, kita sebagai manusia haruslah memberikan kontribusi positif
bagi kehidupan dunia melalui dedikasi yang tinggi apapun profesi kita dan apapun kedudukan
kita.

Dengan demikian saya tetapkan tujuan hidup saya yaitu untuk menjadi pribadi yang
sebaik-baiknya sebagai insan Ilahi yang bertakwa, anak yang berbakti bagi kedua orang
tua, suami dan ayah yang bisa menjadi panutan bagi istri dan anak-anak saya kelak, dan
menjadi orang yang banyak memberi manfaat bagi orang lain karena sebaik-baiknya
manusia adalah manusia yang banyak memberi manfaat bagi orang lain. Oleh karena itu
sepanjang kita masih diberi waktu hidup dan masih menjadi manusia zaman sekarang marilah
kita manfaatkan kehidupan kita ini dengan sebaik-baiknya sebelum kita dinyatakan sebagai
manusia zaman dahulu yang tidak meninggalkan suatu apapun kelak.