Anda di halaman 1dari 15

MASALAH ETIS KLONING

MANUSIA DI INDONESIA

Disusun oleh:

Mahasiswa Semester 1

Nomor absen ganjil

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2007
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak lahirnya Dolly tanggal 5 Juli 1996 di Roslin Institute, Edinburgh,
Skotlandia, kata "kloning" tiba - tiba melanda dunia. Kata ini sebenarnya sudah
lama dipakai dalam bidang biologi, namun tidak pernah dipublikasikan
sedemikian maraknya sampai foto anak domba kecil dari jenis Finn Dorset ini
menghiasi setiap halaman muka surat kabar terkemuka di dunia (Iskandar, 2001).

Pengumuman perusahaan bioteknologi Advanced Cell Technology (ACT)


Inc dari Worcester, Massachusetts, tentang keberhasilannya melakukan kloning
terapeutik, menyulut kembali pro-kontra kloning pada manusia. Meski yang
dilakukan bukan kloning reproduksi, yaitu membuat manusia tiruan dari orangtua,
melainkan kloning terapeutik yang menghentikan proses pada tahap embrio untuk
diambil sel stem alias sel tunas untuk mengganti jaringan organ tubuh yang sakit,
tindakan itu tetap mendapat tantangan, bahkan oleh Presiden Amerika Serikat
George W Bush. Namun, tidak semua menentang. Anggota House of
Representative AS terbelah. Sebagian berpendapat, kloning terapeutik merupakan
hal buruk. Menggunakan embrio hasil kloning untuk membantu orang sakit sama
juga membunuh manusia untuk mendapat organ tubuhnya. Sebaliknya yang pro
berpendapat, tidak selayaknya membiarkan jutaan orang menderita sakit dan
meninggal karena menganggap sekelompok sel lebih penting. Menurut mereka,
memanfaatkan embrio dalam tahap awal perkembangan tidak sama dengan
membunuh manusia (Walujani, 2001).

Dalam bioetika, istilah kloning secara umum untuk menunjukkan segala


macam prosedur yang menghasilkan replika genetika yang sama persis dari induk
biologis, oleh karena organisme itu dihasilkan dari satu sel yang sama (Witarto,
2007).

canzyber@yahoo.com canzyber.com
Indonesia walaupun masih belum memiliki teknologi kloning mempunyai
kewajiban untuk menentukan sikap pasti ”setuju atau tidak” serta membuat
peraturan-peraturan tegas yang mungkin akan diterapkan di masa depan apabila
kloning jadi atau tidak dilaksanakan untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan.

1.2 Rumusan Masalah


1.) Bagaimana persepsi dunia mengenai kloning manusia?
2.) Apakah keuntungan pelaksanaan kloning manusia?
3.) Bagaimanakah masalah etis kloning manusia di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


1.) Mengetahui persepsi dunia mengenai kloning manusia
2.) Mengetahui keuntungan dalam pelaksanaan kloning manusia.
3.) Mengetahui masalah etis kloning manusia di Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan


1.) Dapat mengetahui persepsi dunia mengenai kloning manusia.
2.) Dapat mengetahui keuntungan dalam pelaksanaan kloning manusia.
3.) Dapat mengetahui masalah etis kloning manusia di Indonesia.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kloning

Kloning berasal dari kata klon (Yunani) yang berarti: tunas. Dari bahasa
yunani, kemudian masuk ke bahasa inggris menjadi clone (kata kerja: mengklon),
cloner (kata benda: orang yang mengklon), clonal (adjective : bersifat kloniah),
dan clonally (adverb : secara kloniah) (Wikipedia, 2007).

Kata kloning, dari kata Inggris clone, pertama kali diusulkan oleh Herbert
Webber pada tahun 1903 untuk mengistilahkan sekelompok makhluk hidup yang
dilahirkan tanpa proses seksual dari satu induk. Secara alami kloning hanya terjadi
pada tanaman contohya menanam pohon dengan stek. Kloning pada binatang
terjadi pada sebagian tubuh saja seperti regenerasi ekor cicak yang putus. Baru 65
tahun kemudian John Gurdon berhasil menciptakan klon katak dengan
menggunakan sel telur( Witarto, 2007).

Dalam bioetika, istilah kloning secara umum untuk menunjukkan segala


macam prosedur yang menghasilkan replika genetika yang sama persis dari induk
biologis, oleh karena organisme itu dihasilkan dari satu sel yang sama (Witarto,
2007).

2.2 Dasar Teori

Dalam diri setiap manusia terdapat miliaran sel yang membentuk tubuh
manusia. Sel somatik manusia berjumlah 46 buah kromosom diploid. Dari 46
kromosom diploid ini terbebtuk dari 44 buah autosom (kromosom penentu sifat-
sifat tubuh) dan 2 buah gonosom (kromosom penentu jenis kelamin). Sel somatik
pria berkromosom 44 autosom dan gonosom XY, sedangkan wanita berkromosom
44 autosom dan gonosom XX. (Campbell, 2002).

canzyber@yahoo.com canzyber.com
Sel-sel manusia ini berkembang dari satu sel yang merupakan fungsi dari
sel sperma dan sel telur pada waktu terjadi pembuahan. Karena seluruh sel itu
berkembang dari satu sel, secara genetik seluruh sel itu sama. Sel rambut sama
dengan sel hati, sama dengan sel kaki, dan seterusnya. Selang beberapa hari, sel
itu membelah menjadi 2, lalu 4, kemudian 8 dan seterusnya hingga terbentuklah
manusia (Campbell, 2002).

Sampai dengan tahap perkembangan 8 sel, semua sel itu ada dalam tahap
totipotens, yakni tahap dimana setiap sel itu memiliki kemampuan diferensiasi
untuk membentuk seluruh jaringan tubuh yang diperlukan sebagai manusia utuh,
bila masing-masing sel itu dipisahkan maka masing-masing sel itu akan menjadi
manusia yang utuh. Dalam perkembangan selanjutnya sel-sel itu kemudian
mengkhususkan tugasnya (spesialisasi) untuk membentuk jaringan-jaringan tubuh
manusia tertentu. Jadi, sel-sel yang telah terspesialisasi adalah sel-sel yang telah
berkembang secara khusus membentuk jaringan tubuh tertentu misalnya kulit dan
otot (Campbell, 2002).

Kloning menunjukkan segala macam prosedur yang menghasilkan replika


genetika yang sama persis dari induk biologis, oleh karena organisme itu
dihasilkan dari satu sel yang sama

2.3 Teknik Kloning

Ada tiga macam cara untuk mendapatkan replika yang sama persis
(kloning) (Wilmut, 1997), yaitu :

1.) Embrio biasa adalah hasil pembuahan sel sperma dan sel telur. Pada tahap
perkembangannya, tepatnya sebelum embrio itu menempel di dinding
rahim, embrio itu berada dalam tahap yang disebut totipotensi, yaitu tiga
hari setelah pembuahan dan embrio terdiri 2-8 sel. Kemudian embrio ini
dikembangkan bersamaan dengan program bayi tabung dan nantinya akan
menjadi individu baru.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
2.) Recombinant DNA technology atau gene kloning adalah cara
menggabungkan gen yang akan diklon dengan sebuah vektor. Vektor
dapat berupa plasmid, bakteriofage, YAC (Yeast Artificial Cosmidae),
dan lain-lain. DNA baru ini (recombinant DNA), sekurang-kurangnya
harus terdiri 2 bit DNA, kemudian gen dan vektornya diletakkan dalam
organisme yang cocok, misalnya bakteri atau ragi. Gen-vektor ini akan
tumbuh dengan multiplikasi di dalam organisme itu sehingga menjadi
banyak dan terjadilah kloning sel, yakni sel-sel yang secara genetis satu
sama lainnya. Organisme itu bisaanya adalah E. Coli yang hidup di usus
besar manusia dan teknologi ini pula digunakan untuk menghasilkan
bahan-bahan farmasi kedokteran.
3.) Somatic Cell Nuclear Transfer adalah mengambil inti somatis dari sebuah
objek biologis yang sudah dewasa, lalu menanamkan pada sel telur yang
sudah dibuahi inti selnya. Dari sini, ditumbuhkembangkan dalam sebuah
medium dengan aliran listrik untuk merangsang pertumbuhan sel itu
sebagaimana pada pembuahan biasa. Kemudian embrio dimasukkan ke
dalam rahim yang telah disiapkan secara biologis mengembangkan
embrio kloning itu sebagaimana biasanya. Teknik inilah yang dipakai
untuk mendapatkan domba Dolly.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Tempat dan Waktu Penulisan

Penulisan dan pencarian data dilakukan di beberapa tempat antara lain:

1. Laboratorium komputer PS.IKM UNUD Denpasar yang dilaksanakan pada


tanggal 15-21 Desember 2007.
2. Serta beberapa warung internet di seputaran Bukit Jimbaran yang
dilaksanakan pada tanggal 14-15 Desember 2007.

3.2 Jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan untuk menyusun artikel ini dibedakan menjadi 2
jenis yaitu :

 Data kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka yang dapat diukur
dengan satuan hitung tertentu.
 Data kualitatif yaitu data yang tidak dapat diukur dengan satuan hitung
tertentu dan biasanya berupa penjelasan yang berhubungan dengan topik
yang digunakan untuk mendukung kelengkapan data.
2. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh untuk menyusun artikel ini dibedakan menjadi
2 jenis yaitu:

 Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati,
dan dicatat untuk pertama kalinya.
 Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk data yang sudah
jadi, dikumpulkan dan diolah menjadi data yang siap pakai. Data sekunder

canzyber@yahoo.com canzyber.com
dalam penelitian ini diperoleh dari sumber-sumber yang layak dipercaya,
seperti buku-buku referensi, dan menggunakan media internet.
3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan di dalam pengumpulan data adalah Studi


Kepustakaan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan landasan dalam
menganalisa data-data yang diperoleh dari berbagai sumber yang dapat
dipercaya maupun tidak langsung (internet). Dengan demikian akan
diperoleh suatu kesimpulan yang lebih terarah dari pokok bahasan.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Persepsi Dunia Mengenai Kloning Manusia

Para penderita penyakit degeneratif otak seperti selebritis Michael J Fox,


yang menderita parkinson, sangat mengharapkan dukungan Pemerintah Amerika
untuk pengembangan teknologi ini. Namun, semua kesulitan teknis dalam kloning
reproduksi akan segera hilang begitu kloning terapi sudah dikuasai dengan
sempurna. Sekali mendapatkan embrio hasil kloning terapi, kloning manusia pun
terjadi hanya dengan mencangkokkan embrio itu kepada rahim seorang
perempuan (Witarto, 2007).

Itu sebabnya negara-negara maju sangat berhati-hati memberikan izin


kloning terapi. Inggris, sebagai tempat lahirnya teknologi kloning reproduksi
adalah negara pertama yang memberikan izin kloning terapi dengan syarat:
embrio berusia 14 hari harus dimusnahkan. Begitu pula Jepang yang baru
menyusul kemudian. Tapi Amerika Serikat dengan dukungan kuat dari lembaga-
lembaga agama masih melarang total segala jenis kloning (Witarto, 2007).

Ketika masalah kloning dibahas di PBB, Indonesia merupakan salah satu


dari 37 negara yang abstain dalam pemungutan suara atas draf deklarasi Majelis
Umum PBB pada 8 Maret 2005, yang berisi seruan larangan bagi semua bentuk
kloning manusia, termasuk kloning untuk keperluan medis. Sebanyak 84 negara
mendukung deklarasi tersebut, sedangkan 34 negara menentang. Alasan Indonesia
untuk bersikap abstain adalah karena masalah kloning tidak dapat diputuskan
dengan cara pemungutan suara. Harus dilakukan musyawarah dengan memandang
berbagai latar belakang dan sudut pandang, termasuk agama (Arianto, 2007).

canzyber@yahoo.com canzyber.com
4.2 Keuntungan Kloning Manusia

1.) Memproduksi Organ Tubuh untuk Transplantasi.

Sampai sekarang ini, masalah transplantasi organ masih kurang.


Banyak orang yang sebenarnya organnya harus diganti tapi karena
kekurangan donor, maka terpaksa harus menunggu bahkan banyak
diantara mereka meninggal di dalam penantian. Misalnya, jenis penyakit
leukimia tetentu hanya bisa disembuhkan secara total dengan cangkok
sumsum tulang belakang, banyak diantara mereka yang meninggal di
dalam penantian meskipun ada orang yang mau mendonorkan belum tentu
cocok bila dicangkokkan kerena ada reaksi negatif penolakan dari
tubuhnya.

Kloning dipandang sebagai salah satu alternatif yang


memungkinkan untuk mensuplai organ tubuh. Pada mulanya teknik ini
terutama dipikirkan bagi seorang anak/bayi yang memerlukan
transplantasi supaya bisa hidup. 0rang tua bisa mengklon dirinya dengan
harapan bahwa anak hasil kloning ini secara genetis tidak jauh berbeda
dengan anak yang sakit itu dan dengan demikian anak yang hasil kloning
ini bisa mendonorkan bagian tubuhnya untuk menyelamatkan anak yang
sakit itu.

2.) Menghindarkan Penyakit

Ada banyak sekali penyakit keturunan yang diturunkan dari orang


tua ke anak yang disebabkan oleh abnormalitas gen yang ada di dalam sel
orang tuanya. Masalah penyakit keturunan abormalitas gen dalam
mitokondria ini bisa dipecahkan dengan kloning, yakni dengan membuang
mitokondria dari sel telur yang abnormalitas gen itu dan memasukkan
nukleusnya ke dalam sel telur yang sehat, mitokondrianya lalu
dikembangkan dalam medium sebelum akhirnya diimplitasikan ke dalam
rahim (Wilmut, 1997).

canzyber@yahoo.com canzyber.com
3.) Menciptakan Manusia Unggul

Banyak orang menginginkan generasi setelahnya lebih baik dari


dirinya. Para pendukung kloning juga mencita-citakan untuk menciptakan
manusia atau ras unggul untuk memperbaiki ras manusia sekarang.
Mereka ingin mengklon manusia seperti Einstein, Newton, Aristoteeles,
serta pemenang nobel lainnya. Dunia akan menjadi semakin cepat maju
dan berkembang seandainya ada banyak orang jenius yang mengabdikan
diri untuk perkembangan IPTEK. Menunggu kelahiran manusia unggul
macam ini dengan cara natural belum tentu seratus tahun ada satu kali,
padahal dengan kloning diperkirakan bahwa orang jenius itu bisa
diproduksi secara masal. Dengan cara ini kita tidak akan pernah lagi
kekurangan orang-orang jenius yang inovatif dan selalu menemukan
sesuatu untuk perkembangan manusia.

4.) Menyediakan Bahan Riset


Dengan adanya kloning, bisa disediakan suplai bahan riset yang
mencukupi. Hal ini karena sel orang yang diambil untuk dikloning sangat
mudah tanpa orang itu merasa kehilangan. Serta dengan adanya persamaan
identitas biologi akan mempermudah melaksanakan analisis dan koreksi
genetika sehingga manusia yang akan lahir sehat dan bebas dari penyakit
keturunan.

5.) Bisnis
Kloning merupakan bidang usaha yang menjanjikan laba yang
sangat besar, karena beberapa kelebihannya. Namun, karena belum adanya
prospek bisnis dan izin yang jelas untuk saat ini, maka minat investor
untuk menanamkan modalnya masih belum banyak.

6.) Immortalitas dalam Genetis


Kloning bukanlah berarti keabadian terhadap keseluruh tubuh,
namun yang sama hanyalah sejauh hal-hal yang bersifat genetis. Pribadi
manusia sendiri merupakan percampuran dari faktor-faktor internal dan

canzyber@yahoo.com canzyber.com
eksternal. Jadi pikiran dalam otak dan perasaan dalam hati manusia selalu
tidak akan pernah sama.

7.) Memecahkan Masalah Reproduksi


Kloning akan mampu melaksanakan emansipasi bagi kaum wanita
karena wanita mampu menghasilkan generasi penerusnya tanpa pengaruh
dari kaum laki-laki, sedangkan laki-laki tidak akan mampu tanpa bantuan
perempuan disebabkan laki-laki tidak memiliki rahim untuk
perkembangan embrio. Hal ini pun sangat membantu bagi pasangan homo
(guy dan lesbian) untuk memperoleh keturunan.

4.3 Masalah Etis Kloning Manusia di Indonesia


1.) Manusia merupakan Manusia karena Keturunan Manusia
Anak kera adalah anak kera dan anak manusia adalah anak
manusia. Oleh karena itu sejak pembuahan, anak manusia harus
mendapatkan perlindungan sebagai manusia, terutama hak asasinya yang
paling dasar, yakni hak untuk hidup dan hak untuk menjadi diri sendiri.
Tanpa merujuk pada ajaran agama, sel telur yang sudah dibuahi adalah
manusia utuh, yang telah memiliki seluruh informasi genetisnya dan
tinggal memerlukan waktu untuk berkembang lebih lanjut. Agama selaras
dengan sains karena dalam sudut pandang manusia merupakan manusia
karena keturunan manusia. Dan karenanya, manusia tidak boleh
dipermainkan.

2.) Merendahkan Martabat Kehidupan Manusia (human dignity) Indonesia


Indonesia dengan dasar negara Pancasila, khususnya sila
“kemanusiaan yang adil dan beradab” menjamin setiap kehidupan manusia
Indonesia dilindungi oleh negara. Embrio-embrio sebagai bahan untuk
dikloning tidak pernah bisa mengorbankan diri karena ia belum memiliki
kesadaran diri dan tidak pernah bisa mengorbankan dirinya karena ia
belum memilki kesadaran diri dan tidak pernah bisa memberikan izin
kepada orang lain untuk mempergunakan hidupnya karena ia belum dapat

canzyber@yahoo.com canzyber.com
berkomunikasi. Maka mengkloning yang bertujuan sebagai pabrik organ
tubuh manusia, merupakan kesalahan besar karena mengorbankan manusia
untuk manusia lain tanpa persetujuan kedua belah pihak (human dignity),
dimana disebabkan salah satunya belum dapat berkomunikasi. Di
Indonesia, hal ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

3.) Teknik yang Berisiko Tinggi pada Kesehatan


Dari biri-biri yang telah berhasil diklon, terbukti bahwa proses
penuaan selnya lebih cepat dari yang normal sehingga binatang yang
diklon akan lebih cepat tua dan mati. Maka sampai dengan tahap ini, bila
teknik kloning dilaksanakan pada manusia akan menyalahi prinsip dasar
kedokteran yakni dokter atau peneliti dilarang melakukan percobaan
dengan subjek manusia, jika resikonya lebih besar daripada manfaatnya
yang bisa diperoleh dari percobaan tersebut (Wilmut, 1997).

4.) Erosi Kehidupan Keluarga


Manusia yang lahir secara kloning, bukan hanya tidak mempunyai
ayah tetapi ia bisa tidak memiliki kedua orang tua, karena mungkin saja
manusia yang baru ini merupakan kloning dari neneknya yang telah
meninggal. Jadi penyesuaian diri terhadap komunitas keluarga akan sulit
terlaksana. Hal ini pun bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia
yang mengenal adaya keluarga besar (extended family), yang biasanya
berkumpul disatu waktu dan bersama-sama, disini manusia hasil kloning
akan sulit menerapkan konsep kebersamaan, karena ia bukan berasal dari
sistem ikatan darah secara murni.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

a. Kloning berasal dari kata klon (Yunani) yang berarti: tunas. Kemudian meluas
dan kini berarti teknik untuk yang menghasilkan replika genetika yang sama
persis dalam artian genetis dari induk biologis, oleh karena organisme itu
dihasilkan dari satu sel yang sama.

b.Ada tiga jenis tenik kloning yaitu Embrio biasa, Recombinant DNA technology
atau gene cloning, dan Somatic Cell Nuclear Transfer. Dan kloning hewan dan
manusia termasuk dalam teknik yang ketiga.

c.Keuntungan teknik kloning pada manusia adalah memproduksi organ tubuh


untuk transplantasi, menghindarkan penyakit, menciptakan manusia unggul,
menyediakan bahan riset, keuntungan dalam bisnis, immortalitas dalam genetis,
serta memecahkan masalah reproduksi.

d.Masalah etis dalam pelaksanaan kloning manusia di Indonesia adalah manusia


merupakan manusia karena keturunan manusia, merendahkan martabat
kehidupan manusia (human dignity) Indonesia, teknik yang berisiko tinggi pada
kesehatan, serta erosi pada kehidupan keluarga.

5.2 Saran

Kita manusia tidak bisa dan tidak perlu membendung lajur perkembangan
teknologi karena teknologi merupakan kebebasan dan keingintahuan manusia
untuk mengungkap misteri alam semesta. Teknologi bukanlah sesuatu yang
berbahaya karena teknologi berkembang karena kehadiran manusia pula. Oleh
karena itu kita tidak perlu takut, yang harusnya kita lakukan adalah menjaga
agar teknologi tetap berada di bawah kendali manusia demi kepentingan

canzyber@yahoo.com canzyber.com
kehidupan yang lebih baik. Namun, untuk masalah teknologi kloning di
Indonesia yang merupakan negara yang berdasarkan atas Pancasila dengan
KeTuhanan Yang Maha Esa sebaiknya hal ini dihindari.

canzyber@yahoo.com canzyber.com