Anda di halaman 1dari 6

PAJANAN OKUPASIONAL

TUJUAN

Peserta mampu:

 Memahami penanganan alur dalam: Manajemen Pajanan Okupasional.

PENDAHULUAN

Banyak petugas kesehatan, laboratorium, sosiali, dan petugas lainnyaii mungkin dalam risiko
pajanan okupasional terhadap HIV dan infeksi lainnya. Karena itu penting bagi mereka
memperoleh pendidikan tentang pajanan okupasional dan proses yang harus diikutinya.
Seringkali petugas kesehatan kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa ketika mereka
terpajan1. Mereka yang secara nyata terpajan risiko harus dinilai untuk mendapat profilaksis
pasca pajanan (post exposure prophylaxis=PEP) dan PEP harus dilakukan dalam 24-36 jam
dan disarankan dalam waktu secepatnya pasca pajanan2,3. Seringkali petugas kesehatan
juga mengalami krisis untuk tes, dan menganggap tes lebih prioritas daripada konseling.
Petugas kesehatan juga sering tes tanpa konseling atau informed consent, banyak yang
menerima informasi tidak tepat dan berbagai kesulitan potensial yang mereka hadapi ketika
menerima PEP, dan kerahasiaan senantiasa terbongkar.

RISIKO INFEKSI

Perkiraan umum risiko infeksi HIV pada petugas kesehatan sesudah pajanan melalui kulit
atau mukosa kurang dari 0.5% dalam insidensi beberapa studi4, meski studi dengan kontrol
menunjukkan risiko lebih tinggi, dan tertinggi lewat pajanan percutan. Sebagian besar
pajanan terjadi pada perawat sesudah kontak darah pasien AIDS melalui pajanan per kutan,
karena menusuk vena atau arteri pasien. Penularan juga dimungkinkan dari percikan , irisan
dan kontaminasi pada kulit, walaupun risiko infeksinya rendah. Sebagai tambahan pada
penilaian risiko pajanan HIV, petugas kesehatan juga harus dilakukan pemeriksaan untuk
HBV dan HCV

TEST HIV DAN PERTIMBANGAN KHUSUS.

Tes awal HIV yang dilakukan setelah seseorang terpajan akan dapat merupakan data dasar
untuk memonitor serokonversi setelah mengalami pajanan.
Tes awal ini hanya dapat memberikan gambaran meningkatnya pajanan dari petugas yang
mempunyai risiko.

Pada saat ini di negara-negara yang prevalensinya tinggi, banyak orang akan memberikan
hasil tes seropositif HIV, misalnya prevalensi HIV pada petugas kesehatan. Ini merupakan
gambaran prevalensi pada populasi umum.
Hal ini amatlah penting dimana petugas kesehatan perlu memdapatkan informasi tersebut
diatas dan penilaian risiko individu. Pelaksanaan tes dasar pada petugas kesehatan dapat
dilakukan ditempat lain selain tempat kerja, seperti pada klinik awanama untuk membantu
menjaga kerahasiaan. Bila pada tahap selanjutnya petugas membutuhkan bukti bahwa
tesnya negatif pada saat itu, dapat diberikan dengan terlebih dahulu melakukan persetujuan.

MANAJEMEN PAJANAN OKUPASIONAL


i

ii
1. Pertolongan pertama terjadi sebelum konseling atau testing ketika petugas
kesehatan tiba-tiba mendapatkan luka yang berikatan dengan pajanan. Hal ini dapat
ditolong dengan, misalnya mencuci dengan air dingin dan sabun mandi atau dalam
larutan cairan hipoklorid.

2. Penilaian risko pajanan. Berfokuslah pada analisis rinci tentang kejadian pajanan (
luka dalam, jenis dan jumlah cairan tubuh, dan lain-lain). Pasien yang diduga
sebagai sumber disarankan untuk melakukan tes secepatnya setelah mengalami
kecelakaan pajanan, dokter atau petugas kesehatan lainnya mengevaluasi infeksi
berkaitan dengan hal dibawah ini:
 Keparahan pajanan.
 Kedalaman luka
 Lamanya pajanan
 Jenis instrumen atau jarum (bor atau jarrum sutura)
 Status Serologi pasien
 Stadium penyakit (simptomatik/asimptomatik, tinggi/rendal viral
load atau jumlah CD4 ) dari pasien yang diduga terinfeksi
 ZDV atau resistensi terhadap ARV dari pasien terinfeksi, yang
sedang dalam terapi Anti-Retroviral

Perhatikan semua komponen diatas, dan jenis pajanan yang terjadi:

1) Banyak
2) Sedang
3) Sedikit

Jenis pajanan Simptomatik dan Asimptomatih


/atau tingginya viral dan/atau rendahnya
load viral load

Banyak Disarankan PEP Disarankan PEP

Sedang Disarankan PEP Dimungkinkan

Sedikit Dimungkinkan Dimungkinkan


(Di-konseling tentang
opsinya)

3. Tes pasien yang diduga sumber pajanan hanya terjadi bila pasien sedang dalam
akses konseling pra dan pasca tes Jika pasien sedang dalam terapi untuk kondisi
non HIV, carilah terapi apa yang sedang diberikan kepada pasien, terapi spesifik
menunjukkan infeksinya.

4. PEP diresepkan sesudah melakukan informed consent dari petugas kesehatan.


Termasuk didalamnya umpan balik penilaian risiko pajanan, keuntungan dan
masalah yang berkaitan dengan meminum obat serta penggalian dari hambatan
yang mungkin timbul pada saat kepatuhan berobat diperlukan, lakukan manajemen
strategi guna mengatasi kesulitannya.

REKOMENDASI WHO TENTANG RESIMEN TERAPI UNTUK TEMPAT LAYANAN


YANG KURANG MEMADAI
PEP harus segera diberikan sesudah kecelakaan pajanan, idealnya dalam waktu 2-4
jam. Namun banyak negara merekomendasikan bahwa tidak ada waktu terlambat
sehingga profilaksis kadang diberikan menurut empiris sampai 2 minggu pada kasus
pajanan berat ketika terjadi penundaan terapi tidak terhindarkan. Terapi kombinasi
diperlukan, karena lebih baik daripada terapi tunggal. Terapi dua atau tiga jenis obat
juga dianjurkan, tergantung pada jenis pajanan dan status sumber pajanan.

Resimen terapi diputuskan atas dasar pemberian obat sebelumnya diterima oleh
pasien yang diduga sumber pajanan dan perlu pertimbangan kemungkinan resistensi
silang obat yang berbeda. Juga perlu diketahui keseriusan pajanan dan ketersediaan
jenis ARV pada tempat layanan. Dosis dan kombinasi obat perlu diberikan ketika kita
tidak mengetahui apakah pasien sumber pajanan resisten terhadap zidovudine
(ZVD) atau lamivudine:

Minimal – Pajanan Sedang

 ZDV 250-300mg duakali sehari


 Lamivudine 150 mg tigakali sehari

Pajanan masif/berat

Jika diperlukan tambahan obat ketiga


 Indinavir 800 mg 3 tigakali sehari atau Efavirenz 600 mg sekali sehari (tidak
direkomendasikan pada ibu hamil )

Pemberian terapi ARV (ART) harus mengikuti protokol institusi yang ada, (dan dibuat
sebagai bagian ‘kit’ PEP) atau, jika mungkin melalui konsultasi dengan dokter
spesialis. Konsultasi ahli sangat diperlukan terutama pada pajanan dari pasien yang
resisten terhadap pengobatan HIV. Ketika PEP akan dimulai, perlu diperhatikan
bahwa telah tersedia pengobatan ARV selama sebulan penuh. Direkomendasikan
terapi harus empat minggu. Dokter terlatihlah yang meresepkan ARV. Dokter harus
mengambil keputusan resimen obat apa dan berapa dosis yang tepat bagi individu.

5. Konseling Pra Tes harus dilakukan sebelum pemeriksaan darah. Petugas


kesehatan wajib mendapatkan informasikan bahwa tes awal untuk merefleksikan
status saat kecelakaan itu dan tidak memperlihatkan risiko yang sedang terjadi.
Karena itu penilaian risiko pribadi harus dilakukan. Untuk alasan pribadi, petugas
kesehatan perlu melakukan tes dasar dimana saja dan memberikan hasilnya kepada
pegawai yang terpajan bila terjadi konversi serum.

6. Penting untuk mengingatkan petugas bahwa perlu melakukan tes lanjutan. Status
serum konversi akan berbeda-beda sesuai dengan tahap infeksinya, dan ketika
petugas melakukan PEP maka perlu diperhatikan tahapan infeksinya.

7. Dukungan psikososial konseling dilakukan jika petugas membutuhkan dukungan


tambahan. Tidak jarang terdapat riwayat kecemasan, depresi dan gangguan tidur.
Perilaku untuk melayani klien dipengaruhi oleh respon psikologis pajanan. Beberapa
mengubah perilaku, menjadi seks aman, yang sebelumnya tidak pernah
dilakukannya.

Banyak pengalaman yang sama dialami oleh petugas kesehatan, tak berbeda
dengan pengalaman klien lainnya di masyarakat seperti pengalaman harus patuh
berobat . Pengalaman lainnya termasuk:
 Ketakutan mereka bahwa rekan kerja akan melihat mereka minum obat dan
berasumsi bahwa mereka mempunyai status HIV .
 Efek samping obat membuat orang sulit bekerja – banyak petugas kesehatan
bekerja untuk waktu yang lama dan padat.
 Setiap hari berhadapan dengan Odha dan AIDS lanjut yang akan menyebabkan
perhatian berlebihan kepada status sero konversi dan penyakit yang disertai oleh
HIV.
 Jika petugas kesehatan tersebut hamil, sangat mungkin menjadi cemas akan
dampak resimen obat pada janinnya.

8. Pendidikan pengurangan risiko pajanan. Konselor harus memberikan intisari


tahapan pajanan dengan penuh kepekaan dan tidak menghakimi. Ini akan
membantu petugas kesehatan untuk melindungi diri dari pajanan dikemudian hari.

9. Protokol prosedur konseling staf pasca pajanan untuk kepastian langkah


tindakan pada pajanan.
KESIMPULAN ALUR LAYANAN VCT DALAM
MANAJEMEN PAJANAN OKUPASIONAL

1. Pertolongan Pertama Apa yang dilakukan? Jika tidak tertulis pada Pertolongan
Pertama, maka lakukan segera sesudah pajanan.
 Misalnya untuk tusukan jarum. Darah yang menetes atas luka dicuci
dengan air bersabun lembut (sabun mandi)
 Misal Semburan darah ke dalam mata, cuci mata dengan air steril segera.

2. Penilaian Risiko Pajanan dan umpan balik atas risiko (ESSE)


 Gunakan empat prinsip penularan (Exit, Survive, Sufficient, Enter)
 Misal jelaskan apakah itu sebuah bor berongga atau semburan darah dari
luka dan sebagainya

3. Konseling profilaksis – termasuk informed consent untuk ARV


 Bukti intervensi
 Diskusikan efek samping yang mungkin
 Masa jendela yang terlambat
 Kepatuhan berobat

4. Konseling Pra tes – semua konseling pra tes secara umum dan:
 Pendidikan pengurangan risiko pajanan okupasional dikemudian hari
 Prosedur tes untuk menggambarkan masa jendela
 Formalitas untuk kompensasi , asuransi dsb.
 Ketika dilakukan tes lanjutan.

5. Gambaran pemeriksaan untuk tes dasar

6. Rapid tes HIV yang digunakan – Konseling Pasca tes

RUJUKAN
1
Tannebaum, J Anastoff, J (1997) The role of psychosocial assessment and support in the occupational exposure
management. AIDS Education & Prevention
2
CDC (1998) Public Health Service Guidelines for the Management of Health worker exposures to HIV and
Recommendations for post – exposure prophylaxis. MMWR (RR-7);1-28 on
http://wonder.cdc.gov/wonder/preguid/m0052722.
3
CDC(1998) Recommendations for Prevention and control of Hepatitis C virus(HCV) infection and HCV related chronic
disease. MMWR 47(RR19); 1-3
4
Ippollito,G;Puro,V., Heptonstall,J,Jagger,J, de Carli,J. and Petrosillo,N. (1999) Occupational Human
Immunodeficiency Virus Infection in Health Care Workers : Worldwide cases through September 1997 Clinical
Infectious Diseases 28:365-83