Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

TN. A DENGAN HEMOROID


DI POLI BEDAH RSU MITRA DELIMA

DEPARTEMEN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Oleh:
Ananda Nicola Hidayat (2130002)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM PROFESI
STIKES KEPANJEN
2021

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori Penyakit

1. Pengertian

Hemoroid adalah suatu pelebaran dari vena – vena di dalam

pleksus hemoroidalis. Hemoroid mempunyai nama lain, seperti wasir

dan ambeien. Sesuai tampilan klinis, hemoroid dibedakan menjadi

hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Hemoroid interna adalah

pelebaran vena pada pleksus hemoroidalis superior di atas garis

mukokutan dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid eksterna yang

merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior

terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah

epitel anus (Muttaqin & Sari, 2011).

Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah

vena di daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis.

Hemoroid eksterna adalah pelebaran vena yang berada di bawah kulit

(subkutan) di bawah atau luar linea dentate. Hemoroid interna adalah

pelebaran vena yang berada di bawah mukosa (submukosa) di atas atau

di dalam linea dentate (Nurarif & Kusuma, 2015).

Wasir adalah pembengkakan urat di anus dan rektum bawah, mirip

dengan varises. Peningkatan tekanan di pembuluh darah di daerah

anorektal menyebabkan wasir (Kardiyudiani & Susanti, 2019).

6
7

Hemoroid adalah pembengkakan (varikosa) vena pada anus atau

rektum. Hemoroid eksternal menonjol keluar menyerupai gumpalan di

sekitar anus. Hemoroid ini menyebabkan rasa sakit, khususnya jika

klien mengalami konstipasi dan mengedan saat defekasi (Rosdahl &

Kowalski, 2017). Hemoroid adalah pembesaran vena (varises) dari

pleksus venosis hemoroidalis yang diketemukan pada anal kanal

(Diyono & Mulyanti, 2013).

2. Etiologi

Menurut Nurarif & Kusuma (2015), hemoroid timbul karena

dilatasi, pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidalis yang

disebabkan oleh faktor – faktor resiko/pencetus, seperti :

a. Mengedan pada buang air besar yang sulit

b. Pola buang air besar yang salah (lebih banyak menggunakan

jamban duduk, terlalu lama duduk sambil membaca, merokok)

c. Peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor (tumor udud,

tumor abdomen)

d. Usia tua

e. Konstipasi kronik

f. Diare akut yang berlebihan dan diare kronik

g. Hubungan seks peranal

h. Kurang minum air dan kurang makan makanan berserat (sayur dan

buah)

i. Kurang olahraga/imobilisasi
3. Patofisiologi

Hemoroid umumnya menyebabkan gejala ketika mengalami

pembesaran, peradangan, atau prolaps. Diet rendah serat menyebabkan

bentuk feses menjadi kecil, yang bisa mengakibatkan kondisi

mengejan selama BAB. Peningkatan tekanan ini menyebabkan

pembengkakan dari hemoroid, kemungkinan gangguan oleh venous

rectum. Kehamilan atau obesitas memberikan tegangan abnormal dari

otot sfingter internal juga dapat menyebabkan masalah hemoroid,

mungkin melalui mekanisme yang sama. Penurunan venous return

dianggap sebagai mekanisme aksi. Kondisi terlalu lama duduk di toilet

(atau saat membaca) diyakini menyebabkan penurunan relatif venous

return di daerah perianal (yang disebut dengan efek tourniquet),

mengakibatkan kongesti vena dan terjadilah hemoroid. Kondisi

penuaan menyebabkan melemahnya struktur pendukung, yang

memfasilitasi prolaps (Muttaqin & Sari, 2011).

Mengejan dan konstipasi telah lama dianggap sebagai penyebab

dalam pembentukan hemoroid. Pasien yang melaporkan hemoroid

memiliki tonus kanal istirahat lebih tinggi dari biasanya. Tonus

istirahat setelah hemorrhoidektomi lebih rendah dari pada sebelum

prosedur. Perubahan dalam tonus istirahat adalah mekanisme aksi

dilatasi (Muttaqin & Sari, 2011).

Hipertensi portal telah sering disebutkan dalam hubungannya

dengan hemoroid. Perdarahan masif dari hemoroid pada pasien dengan

hipertensi portal biasanya bersifat masif. Varises anorektal merupakan


kondisi umum pada pasien dengan hipertensi portal. Varises terjadi di

midrektum, di antara sistem portal dan vena inferior rektal. Varises

terjadi lebih sering pada pasien yang nonsirosis dan mereka jarang

mengalami perdarahan (Muttaqin & Sari, 2011).

Kondisi hemoroid dapat memberikan berbagai manifestasi klinis

berupa nyeri dan perdarahan anus. Hemoroid interna tidak

menyebabkan sakit karena berada di atas garis dentate dan tidak ada

inervasi saraf. Namun, mereka mengalami perdarahan, prolaps dan

sebagai hasil dari deposisi dari suatu iritasi ke bagian sensitif kulit

perianal sehingga menyebabkan gatal dan iritasi. Hemoroid internal

dapat menghasilkan rasa sakit perianal oleh prolaps dan menyebabkan

spasme sfingter di sekitar hemoroid. Spasme otot ini mengakibatkan

ketidaknyamanan sekitar anus. Kadang perdarahan hemoroid yang

berulang dapat berakibat timbulnya anemia berat (Muttaqin & Sari,

2011).

Hemoroid eksternal menyebabkan trombosis akut yang mendasari

vena hemoroid eksternal dapat terjadi. Konsisi hemoroid eksternal juga

memberikan manifestasi kurang higienis akibat kelembapan dan

rangsangan akumulasi mukus (Muttaqin & Sari, 2011).


Bagan 2.1
Patofisiologi Hemoroid

Konsumsi makanan Terlalu lama duduk Kehamilan Peradangan pada usus,


rendah serat di toilet (atau saat obesitas seperti kolitis ulseratif
membaca) atau penyakit Crohn

Feses kecil dan Penurunan relatif venous Peningkatan


mengejan selama return di daerah perianal frekuensi BAB
BAB (yang disebut dengan efek
tourniquet)

Seringnya
penggunaan otot-

Pelebaran dari
dalam pleksus
hemoroidalis

vena-vena di
Melemahnya otot perianal
Kondisi
struktur
penuaan
Hemoroid

pendukung dan
memfasilitasi
prolaps

Peradangan pada
pleksus hemoroidalis
Peningkatan
venaMK
portal
Nyeri Kompresi Intake nutrisi
akut saraf lokal tidak adekuat

Perdarahan anus Ruptur Prolaps MK Risiko


feses darah vena pleksus keluar ketidakseimbangan
anus nutrisi kurang dari
kebutuhan
Anemia Intoleransi
aktivitas
serabut lokal
Respons

Port de
jaringan lunak

Ganggu Respon
pascabedah

entree
Kerusakan

skleroterapi
Intervensi

anMK s
Ansietaspsikolo
defekas
i gis

Luka
hemoroidektomi
Intervensi bedah
Pasca bedah

pascabedah
Preoperatif

MK Risiko
infeksi

(Muttaqin & Sari, 2011)


4. Derajat hemoroid

Menurut Nurarif & Kusuma (2015), terdapat 4 derajat hemoroid

yaitu sebagai berikut :

a. Derajat 1 : Pembesaran hemoroid yang tidak prolaps keluar

kanal anus. Hanya dapat dilihat dengan

anorektoskop

b. Derajat 2 : Pembesaran hemoroid yang prolaps dan

menghilang atau masuk sendiri ke dalam anus

secara spontan

c. Derajat 3 : Pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk

lagi ke dalam anus dengan bantuan dorongan jari

d. Derajat 4 : Prolaps hemoroid yang permanen, rentan dan

cenderung untuk mengalami thrombosis dan infark

5. Manifestasi Klinis

Menurut Kardiyudiani & Susanti (2019), tanda dan gejala umum

hemoroid meliputi:

a. Perdarahan tanpa rasa sakit saat buang air besar

b. Gatal atau iritasi di daerah anus

c. Nyeri atau ketidaknyamanan


d. Pembengkakan di sekitar anus

e. Benjolan dekat anus, yang mungkin sensitif atau menyakitkan

(wasir trombosis)

6. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Nurarif & Kusuma (2015), pemeriksaan penunjang pada

hemoroid yaitu sebagai berikut :

a. Pemeriksaan colok anus

Diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rectum.

Pada hemoroid interna tidak dapat diraba sebab tekanan vena di

dalamnya tidak cukup tinggi dan biasanya tidak nyeri.

b. Anoskopi

Diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak menonjol

keluar.

c. Proktosigmoidoskopi

Untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses

radang atau proses keganasan di tingkat yang lebih tinggi.

7. Penatalaksanaan Medis

Menurut Kardiyudiani & Susanti (2019), penatalaksanaan medis

pada hemoroid sebagai berikut :

a. Pengobatan di rumah

1) Konsumsi makanan berserat tinggi

2) Menggunakan perawatan topikal. Oleskan krim wasir atau

supositoria yang mengandung hidrokortison


3) Merendam anus secara teratur dalam air hangat

4) Menjaga kebersihan area anal

5) Menempatkan kompres es

6) Mengonsumsi pereda nyeri oral

Pasien dapat menggunakan acetaminophen, aspirin, atau

ibuprofen sementara untuk membantu meringankan

ketidaknyamanan.

b. Obat – obatan

Jika hemoroid hanya menimbulkan ketidaknyamanan ringan, maka

terapi yang diberikan yaitu pemberian krim, salep, supositoria, atau

bantalan.

c. Thrombectomy hemoroid eksternal

Jika gumpalan darah (trombosis) telah berbentuk pada wasir

eksternal, dokter dapat menghilangkan bekuan dengan sayatan dan

drainase sederhana.

d. Prosedur minimal invasif

Untuk perdarahan persisten atau wasir yang menyakitkan, dokter

dapat merekomendasikan salah satu prosedur minimal invasif lain

yang tersedia, meliputi ligasi karet gelang, injeksi (skleroterapi),

dan koagulasi (inframerah, laser, dan bipolar).

e. Prosedur operasi

Jika prosedur lain tidak berhasil atau pasien memiliki wasir yang

parah, dokter dapat merekomendasikan prosedur pembedahan

berupa hemoroidektomi.
Perawatan perioperatif menurut Rosdahl & Kowalski (2017)

1) Persiapan pre operasi

Sebelum pembedahan, dokter bedah atau dokter

anestesiologi menuliskan program yang diindikasikan dengan

pasti apa obat dan persiapan fisik yang diperlukan pasien.

Penting untuk mengajarkan pasien melaksanakan program

praoperasi yang tepat, karena hal tersebut akan memengaruhi

kesuksesan pembedahan. Sambil mengajarkan asuhan

praoperasi, ingat perasaan pasien dan keluarga serta perlunya

mereka untuk ditenangkan. Dalam pembedahan darurat,

periode praoperasi mungkin sangat singkat. Dalam

keterbatasan ini, ingat untuk memberikan dukungan emosional

ke semua pasien.

Menjelaskan apa yang akan terjadi selama dan setelah

pembedahan paling membantu dalam mempersiapkan pasien

dan keluarga. Mereka yang memahami prosedur ini biasanya

lebih rileks dan kooperatif. Informasikan pasien dan keluarga

tentang apa yang diharapkan ketika pasien kembali dari ruang

operasi. Ajarkan pasien bagaimana melakukan latihan

pernapasan.
2) Pasca operasi

Hampir semua rumah sakit memiliki sebuah ruangan atau

deretan ruangan yang dibuat di samping untuk perawatan

pasien sesaat setelah pembedahan. Berbagai nama digunakan

untuk mengidentifikasi area ini, termasuk unit perawatan

pascaanestesia (postanesthesia care unit, PACU). Pasien secara

cermat dipantau di PACU sampai ia pulih dari anestesia dan

bersih secara medis untuk meninggalkan unit. Pemantauan

spesifik termasuk ABC dasar kehidupan.

Pada saat pasien kembali dari PACU ke area penerimaan

rawat jalan atau ke unit keperawatan, pasien biasanya terjaga

dan menyadari sejumlah ketidaknyamanan. Nyeri biasanya

merupakan ketidaknyamanan pertama pascaoperasi yang

disadari oleh pasien. Nyeri dievaluasi setiap kali tanda vital

yang lain diukur. Nyeri biasanya paling berat sesaat setelah

pasien pulih dari anestesi.

8. Komplikasi

Menurut Haryono (2012), komplikasi hemoroid yang paling sering

terjadi adalah :

a. Perdarahan, dapat sampai dengan anemia

b. Trombosis (pembekuan darah dalam hemoroid)

c. Hemoroidal strangulasi adalah hemoroid yang prolaps dengan

suplai darah dihalangi oleh sfingterani


B. Asuhan Keperawatan Teoritis

Asuhan keperawatan adalah serangkaian tindakan sistematis berkesinambungan,

yang meliputi tindakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan individu atau

kelompok, baik actual maupun potensial kemudian merencanakan tindakan

untuk menyelesaikan, mengurangi, atau mencegah terjadinya masalah baru dan

melaksanakan tindakan atau menugaskan orang lain untuk melaksanakan

tindakan keperawatan serta mengevaluasi keberhasilan dari tindakan yang

dikerjakan.

2.B.1 Pengkajian

1. Biodata

a. Identitas Pasien : Nama/Inisial, umur, jenis kelamin, status, agama,

pekerjaan, pendidikan, alamat, no MR, ruang rawat, tanggal masuk,

tanggal pengkajian.

b. Identitas Penanggung Jawab : Nama/Inisial, umur, jenis kelamin,

hubungan keluarga, pekerjaan, alamat.


2. Alasan Masuk/Keluhan Utama

Keluhan utama merupakan hal yang pertama kali dikeluhkan klien kepada

perawat / pemeriksa.

3. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Riwayat kesehatan sekarang merupakan pengembangan dari keluhan utama

yang mencakup PQRST. Adapun hal – hal yang harus diperhatikan saat

melakukan pengkajian riwayat kesehatan sekarang klien, yaitu :

1) Apakah ada rasa gatal, panas / terbakar dan nyeri pada saat

defekasi.

2) Adakah nyeri abdomen.

3) Apakah ada perdarahan di rectum, seberapa banyak, seberapa

sering, dan apa warnanya (merah segar atau warna merah tua).

4) Bagaimana pola eliminasi klien, apakah seing menggunakan

laktasif atau tidak.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu

Tanyakan pada klien apakah dahulu pernah mengalami hal yang sama,

kapan terjadinya, bagaimana cara pengobatannya. Apakah memiliki

riwayat penyakit yang dapat menyebabkan hemoroid atau yang dapat

menyebabkan kambuhnya hemoroid.


c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Tanyakan apakah keluarga klien memiliki riwayat penyakit menular

(seperti TBC, HIV/AIDS, hepatitis, dll) maupun riwayat penyakit

keturunan (seperti hipertensi, Diabetes, asma, dll).

4. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum Klien

Penampilan klien, ekspresi wajah, bicara, mood, berpakaian dan kebersihan

umum, tinggi badan, BB, gaya berjalan.

2) Tanda-tanda Vital

Pemeriksaan pada tanda-tanda vital mencakup : suhu, nadi, pernapasan dan

tekanan darah.

Pemeriksaan fisik pada pasien hemoroid biasanya seperti pemeriksaan fisik pada

umumnya, tetapi pada saat pemeriksaan rectum dilakukan hal – hal sebagai

berikut :

Pasien dibaringkan dengan posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan

dada menempel pada tempat tidur (posisi genupectoral / kneechest).

1) Inspeksi

a) Pada inspeksi lihat apakah ada benjolan sekitar anus

b) Apakah benjolan terlihat saat prolaps

c) Bagaimana warnanya, apakah kebiruan, kemerahan, atau

kehitaman.

d) Apakah benjolan tersebut terletak diluar atau didalam (internal /

eksternal)
2) Palpasi

Palpasi dilakukan dengan menggunakan sarung tangan dan vaselin dengan

melakukan rektal taucher, dengan memasukan satu jari kedalam anus.

Apakah ada benjolan, apakah benjolan tersebut lembek, lihat apakah ada

perdarahan.

5. Data Biologis

Di kaji kegiatan/aktivitas sehari-hari pasien seperti : saat sehat porsi makan

selalu habis minumnya pun 7-8 L/hari atau saat sakit porsi makannya tidak

habis atau ½ porsi, dalam pengkajian eliminasi saat sehat BAB rutin dalam

sehari 2-3 kali dan tidak ada kesulitan dan BAK juga rutin dalam sehari 9-10

kali dan tidak ada kesulitan, dan saat sakit BAB dan BAK pasien mengalami

kesulitan seperti halnya BAB sulit mengedan atau konsistensi cair dan BAK

terganggu sehingga dipasang kateter, istirahat dan tidur tidak ada kesulitan

saat sehat dan saat sakit bisa saja terganggu tidur karena penyakit yang

diderita pasien, dan juga personal hygiene pasien saat sehat bisa melakukan

sendiri dan saat sakit dibantu oleh keluarga dan kerabat pasien.

6. Riwayat Alergi

Di kaji melalui pasien atau keluarga pasien riwayat alergi pasien baik

makanan, minuman, maupun obat-obatannya.


7. Data Psikologis

Di kaji perilaku verbal pasien yaitu bagaimana pasien memberikan jawaban

kepada perawat dan non verbal pasien yaitu bagaimana perawat melihat

keadaan dan tingkat kesadaran pasien, di kaji emosi pasien dalam

menghadapi penyakitnya apakah pasien sudah tenang atau stabil, di kaji

persepsi penyakit bagaimana pasien memandang penyakit yang dia derita, di

kaji konsep diri bagaimana sikap pasien apakah dia optimis atau pesimis

dalam menghadapi penyakit yang dia derita, di kaji bagaimana pasien

beradaptasi dengan lingkungan pasien disekitarnya, dan juga di kaji

mekanisme pertahanan diri pasien terhadap penyakitnya yang di deritanya

apakah dengan cara bercerita dengan keluarga atau kerabatnya atau dengan

cara dipendam sendiri oleh pasien.

8. Data Sosial Ekonomi

Di kaji bagaimana pola komunikasi pasien saat sakit, orang yang dapat

memberi rasa nyaman, orang yang paling berharga bagi pasien, dan

hubungan keluarga dengan lingkungan sekitarnya.

9. Data Spiritual

Di kaji data spiritual pasien seperti keyakinan terhadap agama yang dianut,

ketaatan beribadah, dan keyakinan terhadap penyembuhan penyakitnya.


10. Data Penunjang

Biasanya yang diperlukan dalam pengkajian data penunjang yaitu data

laboratorium dan hasil pemeriksaan colonoscopy yang sangat menunjang

dalam pengkajian penyakit hemoroid, pemeriksaan EKG (jika ada),

pemeriksaan thoraks (jika ada), dan pemeriksaan lainnya.

11. Data Pengobatan

Di kaji data pengobatan seperti obat non parenteral, obat parenteral, dan obat

intra vena (jika ada) berapa dosis yang diberikan oleh perawat dan kapan

waktu pemberian obat.

12. Data Fokus

Di dalam data fokus ada data subjektif yaitu data yang dikeluhkan oleh pasien

dan keluarga pasien dan data objektif data yang tampak oleh perawat pada

pasien.

3 Diagnosa Keperawatan

1. Ansietas b.d krisis situasional d.d merasa gelisah

2. Risiko defisit nutrisi b.d faktor psikologis

3. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri

4. Risiko infeksi b.d efek prosedur infasif


4 Rencana Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


(SDKI) (SLKI) (SIKI)
Risiko defisit Nutrisi (D. Setelah dilakukan tindakan keperawatan SIKI: Menejemen
0032) selama 3x24 jam, diharapkan bersihan Gangguan Makan
Definisi: jalan napas meningkat. Dengan kriteria (I.03111)
Berisiko mengalami hasil: Observasi
asupan nutrisi tidak cukup SLKI: Status Nutrisi (L.03030) - Identifikasi
untuk memenuhiNo Indikator adanya alergi
kebutuhan metabolisme Asupan Terapeutik
Penyebab: - Tawarkan makanan
makanan
- Faktor Psikologis ringan yang padat
- Faktor Ekonomi gizi
Asupan
cairan - Atur diet yang
Gejala dan tanda minor: diperlukan
a. Subyektif: Asupan gizi
Keterangan: - Tentukan jumlah
Tidak ada kalori dan jenis
b. Objektif: nutrisi yang
Tidak ada A:
1 : Memburuk dibutuhkan untuk
2 :Cukup memburuk memenuhi
3 : Sedang persyaratan gizi
4 : Cukup membaik - Ciptakan
5 : Membaik lingkungan yang
optimal pada saat
mengonsumsi
- makanan
Edukasi
- Lakukan atau bantu
pasien terkait
dengan perawatan
mulut sebelum
makan
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan
ahli gizi tentang
cara meningkatkan
asupan makanan
Ansietas (D.0080) Setelah dilakukan tindakan keperawatan SIKI: Konseling
Definisi: Kondisi emosi selama 3x24 jam, diharapkan bersihan (1.10334)
dan pengalaman jalan napas meningkat. Dengan kriteria Observasi
subyektif individu hasil: Kaji tanda verbal dan
terhadap objek yang SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093) non verbal
tudak jelas akibatNo Indikator Kecemasan
antisipasi bahaya 1A beristirahat Terapeutik
Penyebab: 2B Perasaan - Berada di sisi
- Krisis situasional gelisah pasien untuk
- Kurang tepapar3B Rasa takut meningkatkan
informasi 4B Rasa rasa aman dan
cemas mengurangi
tanda mayor: Keterangan: ketakutan
a. Subjektif - Dorong
- Merasa binguung A: keluarga
- Merasa khawatir 1 : Memburuk untuk
dengan kondisi yang 2 :Cukup memburuk mendampingi
dihadapi 3 : Sedang pasien
- Gunakan
b. Objektif 4 : Cukup membaik pendekatan yang
- Tampak gelisah 5 : Membaik tenang dan
- Tampak tegang meyakinkan
B: Edukasi
Gejala dan tanda minor: 1 : Meningkat - Instruksikan
a. Subyektif: 2: Cukup meningkat pasien untuk
- Anoreksia 3 : Sedang menggunakan
b. Obyektif: 4 : Cukup menurun teknik relaksasi
- Frekusensi napas 5 : Menurun
meningkat
- Frekuensi nadi
meningkat
- Tekanan darah
meningkat
- Tremor
- Muka tampak pucat
- Kontak mata buruk

Nyeri Akut (D.0077) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan SIKI: menejemen


Definisi: Pengalaman keperawatan 3x24 jam diharapkan nyeri (I.08238)
sensorik atau tingkat nyeri menurun. Dengan kriteria Observasi
emosional yang hasil: 1. Identifikasi lokasi,
berkaitan dengan karakteristik, durasi,
kerusakan jaringan SLKI: Tingkat Nyeri (L.08066) frekuensi, kualitas,
aktual atauNo Indikator intensitas nyeri
fungsional, dengan1A Kemampuan 2. Identifikasi skala
onset mendadak atau menunt nyeri
lambat dan askan 3. Identifikasi respons
berintensitas ringan aktivita nyeri non verbal
hingga berat yang s 4. Identifikasi faktor
berlangsung kurang2B Keluhan yang memperberat
dari 3 bulan Nyeri dan memperingan
Penyebab: 3B Meringis nyeri
- Agen pencedera4B Sikap 5. Identifikasi
fisiologis (mis. Protekt pengetahuan dan
infarmasi, lakemia, if keyakinan tentang
neoplasma) 5B Gelisah nyeri
- Agen pencedera6B Kesulitan 6. Identifikasi
kimiawi (mis. tidur pengaruh nyeri pada
terbakar, bahan7C Frekuensi kualitas hidup
kimia iritan) nadi 7. Monitor efek
- Agen pencedera Keterangan: samping
fisik (mis.abses, A: penggunaan
amputasi, terbakar, 1 : Menurun analgetik
terpotong, 2 : Cukup menurun
mengangkat berat, Terapeutik
3 : Sedang
prosedur operasi, 1. Berikan teknik
4 : Cukup meningkat
trauma, latihan fisik nonfarmakologi
5 : Meningkat
berlebihan) untuk mengurangi
rasa nyeri
B:
Gejala dan tanda 2. Kontrol lingkungan
1 : Meningkat
mayor: yang memperberat
2: Cukup meningkat
a. Subyektif: rasa nyeri
3 : Sedang
- Mengeluh Nyeri 3. Fasilitasi istirahat
4 : Cukup menurun
b. Obyektif: dan tidur
5 : Menurun
- Tampak meringis 4. Pertimbangkan jenis
- Bersikap protektif dan sumber nyeri
C:
(mis. waspada, dalam pemilihan
posisi menghindari 1 : Memburuk strategi meredakan
nyeri) 2 :Cukup memburuk nyeri
- Gelisah 3 : Sedang
- Frekuensi nadi 4 : Cukup membaik Edukasi
meningkat 5 : Membaik 1. Jelaskan penyebab,
- Sulit tidur periode, dan pemicu
nyeri
Gejala dan tanda minor: 2. Jelaskan strategi
a. Subyektif: meredakan nyeri
1) Mengeluh nyeri 3. Ajarkan teknik
b. Obyektif: nonfarmakologis
1) Tampak meringis untuk mengurangi
rasa nyeri
2) Bersikap protektif
Kolaborasi
3) Gelisah Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
4) Nadi meningkat

5) Slit tidur

Resiko Infeksi (D.0142) Tujuan: Setelah dilakukan tindakan SIKI: Pencegahan


Definisi: Berisiko keperawatan 3x24 jam derajat infeksi Infeksi (I.14539)
mengalami menurun. Dengan kriteria hasil: Observasi
peningkatan Monitor tanda gejala
terserang oganisme SLKI: Tingkat Nyeri (L.14137) infeksi local dan
patogenik No Indikator sistemik
Faktor Resiko: 1B Demam Terapeutik
1. Penyakit Kronis 2B Kemerahan 1. Batasi jumlah
2. Efek prosedur3B Nyeri pengunjung
Infasif 4B Bengkak 2. Berikan perawatan
3. Malnutrisi 5C Kadar Sel kulit pada daerah
4. Peningkatan paparan Darah edema
organisme patogen Putih 3. Cuci tangan
lingkungn Keterangan: sebelum dan
5. Ketidakadekuatan A: sesudah kontak
pertahanan tubuh 1 : Menurun dengan pasien dan
perifer : 2 : Cukup menurun lingkungan pasien
- Gangguan peristltik 3 : Sedang 4. Pertahankan teknik
- Kerusakan integritas 4 : Cukup meningkat aseptik pada pasien
kulit 5 : Meningkat berisiko tinggi
- Perubahan sekresi
PH Edukasi
B:
- Penurunan kerja 1. Jelaskan tanda dan
1 : Meningkat
siliaris gejala infeksi
2: Cukup meningkat
- Ketuban pecah lama 2. Ajarkan cara
3 : Sedang
- Ketuban pecah memeriksa luka
4 : Cukup menurun
sebelum waktunya 3. Anjurkan
5 : Menurun
- Merokok meningkatkan
- Statis cairan tubuh asupan cairan
C:
6. Ketidakadekuatan 1 : Memburuk
pertahan tubuh Kolaborasi
2 :Cukup memburuk
sekunder: Kolaborasi pemberian
3 : Sedang imunisasi, jika perlu
- Penurunan 4 : Cukup membaik
Hemoglobin 5 : Membaik
- Imunosupresi
- Leukopenia
- Supresi Respon
Inflamasi
- Faksinasi tidak
adekuat
5. Implementasi

Implementasi yang merupakan komponen dari proses keperawatan adalah


kategori dari prilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai
tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan
diselesaikan. Dalam teori, implementasi dari rencana asuhan keperawatan
mengikuti komponen perencanaan dari proses keperawatan. Namun demikian, di
banyak lingkungan perawatan kesehatan, implementasi mungkin dimulai secara
langsung setelah pengkajian. (Potter & Harry, 2005)
6. Evaluasi
Evaluasi adalah langkah terakhir dalam asuhan keperawatan, evaluasi
dilakukan dengan pendekatan SOAP (data subjektif, data objektif, analisa dan
planning). Dalam evaluasi ini dapat ditemukan sejauh mana keberhasilan rencana
tindakan keperawatan yang harus dimodifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Berman, A., Synder, S. & Fradsen, G.. (2016). Kozier & Erb’s Fundamentals of
Nursing (10th ed.). USA: Pearson Education.
Boyd, M. A. (2011). Psychiatric Nursing : Contemporary Practice (5th ed.)
Philadelphia: Lippincot Williams & Wilkins.
Burns, S. M. (2014). AACN Essentials of Critical Care Nursing (3th ed). New
York: McGraw-Hill Education
Derr, P., McEvoy, M., & Tardiff, J. (2014). Emergency & Critical Care (8th ed.).

USA: Jones & Barlett Learning.

Donadini, M.P ., Ageno, W. & Douketis, J.D (2012). Management of bleeding in


patients receiving conventional or new anticoagulants: A practical and case-
based approach. Drugs, 72(15), 1965-1975.
Dougherty, L. & Lister, S. (2015). Manual of Clinical Nursing Procedures (9th ed.).
UK: The Royal Marsden NHS Foundation Trust.
Hockenberry, Marilyn J, Wilson, David. (2014). Wong’s Nursing Care of Infants
and Children. Elsevier Health Sciences.
Hurwitz, A., Massone, R. & Lopez, B.L. (2014). Acquired Bleeding Disoders.

Emergency Medicine Clinics of North America, 32(3), 691-713.

Keough, M. E., & Schmidt, N. B. (2012). Refinement of a brief anxiety sensitivity

reduction intervention. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 80(5), 766-772.

Doi:http://dx.doi.org/10.1037/a0027961.

Anda mungkin juga menyukai