Anda di halaman 1dari 36

BAB 5

PERSAMAAN SCHRÖDINGER

Dalam bab 4 kita sudah membahas tiga postulat penting dalam fisika ku-
antum, yaitu postulat tentang pendeskripsian keadaan sistem, postulat ten-
tang pendeskripsian besaran fisika, dan postulat tentang pengukuran be-
serta aspek-aspeknya. Ada satu lagi postulat penting dalam fisika kuantum
yang harus kita pahami, yaitu postulat tentang perubahan keadaan sistem
terhadap waktu.
Selain digunakan untuk mengetahui bagaimana keadaan sistem ber-
ubah terhadap waktu, postulat tersebut juga digunakan untuk mendapat-
kan fungsi gelombang. Sebagaimana disinggung di Bab 4, fungsi gelom-
bang tidak dapat dibangun hanya dengan menggunakan hipotesis de Brog-
lie semata. Untuk mendapatkan fungsi gelombang, Edwin Schrödinger, pa-
da tahun 1926, telah berhasil merumuskan caranya. Sebagai penghormatan
atas karya besarnya itu, formula yang dirumuskan Schrödinger tersebut di-
namai Persamaan Schrödinger.
Dalam bab ini kita akan membahas persamaan Schrödinger tersebut
dan menerapkannya pada kasus-kasus sederhana. Melalui contoh-contoh
penerapan pada kasus yang sederhana itu diharapkan Anda dapat memba-
ngun intuisi Anda tentang perilaku sistem mikroskopis sebagaimana Anda
dapat membangun intuisi Anda tentang perilaku sistem makroskopis
melalui penerapan mekanika Newton dalam berbagai kasus. Untuk me-
nunjukkan terpenuhinya asas kesepadanan teori Schrödinger dan mekani-
ka Newton, pada bab ini juga akan kita bahas bagaimana teori Schrödinger
dihubungkan dengan mekanika Newton tersebut.

5.1 PERUMUSAN PERSAMAAN SCHRÖDINGER

Sebagimana telah disinggung di depan, persamaan Schrödinger diper-


lukan untuk menemukan fungsi gelombang bagi suatu sistem mikroskopis.

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 115


116 Perumusan persamaan Schrödinger

Berikut kita bahas bagaimana bentuk persamaan itu dan bagaimana men-
dapatkannya.
Bentuk paling umum suatu persamaan yang penyelesaiannya berupa
suatu fungsi adalah persamaan diferensial. Karena fungsi yang akan diha-
silkan dari persamaan Schrödinger adalah fungsi gelombang (x,t), yang
merupakan fungsi dua variabel, yaitu x dan t, persamaan Schrödinger ha-
rus merupakan persamaan diferensial parsial. Ini merupakan petunjuk u-
mum yang kita miliki untuk mendapatkan persamaan Schrödinger.
Petunjuk yang lebih khusus dapat kita peroleh dari postulat-postulat
fisika kuantum sebagaimana telah kita bahas di Bab 4. Berdasarkan postu-
lat tentang pendeskripsian keadaan sistem, yaitu keadaan sistem dides-
kripsikan sebagai fungsi gelombang (x,t), kita dapatkan petunjuk bahwa
fungsi gelombang (x,t) yang dihasilkan oleh persamaan Schrödinger ha-
rus dapat digunakan untuk mengetahui nilai berbagai besaran fisika yang
dimiliki sistem.
Cara mengetahui nilai besaran fisika adalah dengan melakukan pengu-
kuran. Menurut postulat tentang pengukuran, mengukur adalah menger-
jakan operator (yang mewakili besaran fisika yang diukur) pada fungsi ge-
lombang yang mendeskripsikan keadaan sistem saat pengukuran. Marilah
kita gunakan petunjuk itu dengan menerapkan pada kasus khusus, yaitu
pengukuran energi total bagi sistem konservatif.
Pada sistem konservatif berlaku hukum kekekalan energi, yaitu jumlah
energi kinetik ditambah energi potensial bersifat kekal: artinya tidak ber-
gantung pada waktu maupun posisi. Sebagaimana kita ketahui, hukum
kekekalan energi tersebut telah dapat dijelaskan secara baik oleh fisika kla-
sik. Dengan demikian, sebagai teori yang lebih baru, persamaan Schrödi-
nger harus konsisten dengan hukum kekekalan energi tersebut.
Secara matematis hukum kekekalan energi dapat diungkapkan dengan
rumusan:
p2
 V( x)  E . (5. 1)
2m
Suku pertama ruas kiri menyatakan energi kinetik, suku kedua menyata-
kan energi potensial, dan ruas kanan menyatakan suatu tetapan yang bia-
sanya kita sebut sebagai energi total.
Untuk mendapatkan rumusan kuantum bagi hukum kekekalan energi
tersebut, kita ubah Persamaan (5.1) menjadi persamaan operator. Berdasar-
kan postulat pendeskripsian besaran fisika, khususnya yang berkaitan de-

Pengantar Fisika Kuantum


Perumusan persamaan Schrödinger 117

ngan kaedah pengkuantuman besaran fisika, persamaan operator yang se-


padan dengan Persamaan (5.1) adalah

Pˆ 2
 V ( Xˆ )  Eˆ . (5.1b)
2m
Dalam ruang posisi, cara kerja operator P̂ dan V ( Xˆ ) sudah kita dapat-
kan di Bab 4, yaitu Pˆ   i  / x dan V ( Xˆ )  V ( x) . Jika ungkapan ini kita isi-
kan pada Persamaan (5.1b) kemudian masing-masing ruas persamaan ter-
sebut kita kerjakan pada sebarang fungsi gelombang (x,t) kita dapatkan
persamaan
2
 2   ( x, t )
  V( x) ( x , t )  Eˆ  ( x , t ) . (5. 2)
2m x 2
Sejauh ini kita belum mengetahui cara kerja operator Ê terhadap fung-
si (x,t). Oleh sebab itu kita harus menemukan dahulu cara kerja operator
Ê tersebut. Untuk keperluan ini kita gunakan postulat pengukuran, khu-
susnya yang berhubungan dengan dampak pengukuran terhadap keadaan
sistem. Menurut postulat ini, fungsi gelombang tidak berubah akibat peng-
ukuran jika fungsi gelombang tersebut merupakan fungsi eigen bagi be-
saran yang diukur. Marilah kita gunakan postulat itu untuk menemukan
cara kerja operator Ê .
Perhatikan fungsi gelombang  ( x, t )  e i ( kx  t ). Fungsi gelombang ini
memiliki frekuensi sudut sebesar . Berdasarkan kaitan Planck-Einstein
E   (lihat Persamaan 3.1 di Bab 3), dapat disimpulkan bahwa fungsi ge-
lombang tadi mendeskripsikan keadaan partikel yang memiliki energi se-
besar E   . Dengan kata lain, fungsi gelombang tadi merupakan fungsi
eigen bagi operator energi Ê dengan nilai eigen E   . Dengan demikian
maka fungsi gelombang tadi harus memenuhi persamaan nilai eigen:

Eˆ ( x, t )   ( x, t ) . (5. 3)

Jadi, dengan menggunakan fungsi gelombang  ( x, t )  e i (kx  t ) ini dapat


disimpulkan bahwa operator Ê berbentuk Ê  i  / t , sebab

i
( x, t )
t
i
t
e 
 i ( kx  t )
  
   e i ( kx  t )    ( x, t ) .

Bab 5: Persamaan Schrödinger


118 Perumusan persamaan Schrödinger

Dengan telah ditemukannya cara kerja operator Ê tadi maka Persama-


an (5.2) menjadi

 2  2  ( x, t )  ( x, t )
  V ( x )  ( x, t )  i  . (5. 4)
2m x 2 t
Persamaan (5.4) merupakan persamaan diferensial parsial yang jika
diselesaikan akan menghasilkan fungsi gelombang (x,t). Persamaan ini te-
lah memenuhi harapan kita sebagaimana diungkapkan di depan. Namun
masih ada keterbatasan yang dimiliki oleh persamaan itu, yaitu hanya ber-
laku untuk sistem yang energi potensialnya secara eksplisit tidak bergan-
tung pada waktu t. Keterbatasan ini dapat dihilangkan dengan mempostu-
latkan bahwa persamaan tersebut juga berlaku untuk sistem yang energi
potensialnya secara eksplisit bergantung pada waktu. Untuk itu, perubah-
an yang kita lakukan cukup mengubah V(x) menjadi V(x,t). Dengan demi-
kian kita dapatkan persamaan akhir:

 2  2  ( x, t )  ( x, t )
  V ( x, t )  ( x, t )  i  . (5. 5)
2m x 2 t
Inilah persamaan yang kita cari, yaitu persamaan Schrödinger (dalam satu
dimensi). Dalam 3 dimensi, persamaan Schrödinger tersebut berbentuk

2 2  (r, t )
   (r, t )  V (r, t ) (r, t )  i  , (5. 6)
2m t

dengan  2 merupakan operator Laplacean yang dalam sistem koordinat


2 2 2
Cartesan berbentuk   . Sangat disarankan agar Anda menye-
x 2 y 2 z 2
garkan kembali pengetahuan Anda tentang bentuk operator Laplacean pa-
da sistem koordinat lainnya.

5.2 TINJAUAN UMUM

Sekarang marilah kita lakukan tinjauan secara umum terhadap persa-


maan Schrödinger di atas, khususnya dari segi variasi bentuk eksplisitnya
dan struktur matematisnya.

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan umum 119

5.2.1 Bentuk Eksplisit Persamaan Schrödinger


Bentuk umum persamaan Schrödinger telah kita temukan sebagaima-
na dinyatakan oleh Persamaan (5.5) atau (5.6). Pertanyaan selanjutnya ada-
lah apa yang membedakan persamaan Schrödinger bagi suatu sistem de-
ngan persamaan Schrödinger bagi sistem lainnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, perhatikan semua unsur yang mun-
cul pada Persamaan (5.5) atau (5.6). Unsur i   1 dan  keduanya meru-
pakan tetapan. Jadi kedua unsur itu akan selalu muncul pada semua sis-
tem. Unsur-unsur operator matematis (operator derivatif ke posisi, yaitu
 2 / x 2 dan operator derivatif ke waktu, yaitu  / t ) juga tidak bergan-
tung pada sistem yang dibicarakan. Unsur m (massa partikel) secara nume-
rik memang berbeda antara partikel yang satu dengan partikel lainnya,
tetapi lambangnya tetap sama, yaitu m. Maka unsur m akan muncul dalam
persamaan Schrödinger dengan cara yang sama, apapun sistem/partikel
yang dibicarakan. Dengan demikian, satu satunya unsur yang membeda-
kan satu sistem dengan sistem lainnya adalah V(x,t), yaitu ungkapan mate-
matis energi potensial sistem. Ini berarti bahwa faktor energi potensiallah
yang membedakan bentuk eksplisit persamaan Schrödinger untuk sistem
fisis yang satu dengan persamaan Schrödinger untuk sistem fisis lainnya.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa dalam membangun persa-
maan Schrödinger suatu sistem, hal pokok yang perlu kita ketahui adalah
variasi energi potensial terhadap posisi dan waktu. Variasi itu selanjutnya
kita nyatakan dalam bentuk fungsi V(x,t) untuk kasus satu dimensi, atau
V(r,t) untuk kasus 3 dimensi.

Contoh Soal 5.1


Dapatkan persamaan Schrödinger untuk osilator harmonis satu di-
mensi.
Analisis
Osilator harmonis memiliki energi potensial V(x,t) = ½ kx, dengan
k suatu tetapan yang dinamai tetapan pegas.
Subsitusi V(x,t) = ½ kx ke dalam Persamaan (5.5) kita peroleh per-
samaan Schrödinger untuk osilator harmonis:

 2  2  ( x, t ) 1  ( x, t )
  k x 2  ( x, t )  i  .
2m x 2 2 t

Bab 5: Persamaan Schrödinger


120 Tinjauan umum

Contoh Soal 5.2


Dapatkan persamaan Schrödinger untuk sebuah elektron yang
berada dalam medan listrik yang dihasilkan oleh muatan titik q
yang ditempatkan pada pusat koordinat.
Analisis
Dalam medan listrik tersebut elektron memiliki energi potensial
yang dihasilkan oleh interaksi Coulomb sebagai berikut
qe
V( x , y , z ) 
4 π x2  y 2  z2

dengan e dan  secara berurutan menyatakan muatan elektron dan


permitivitas medium di mana elektron berada.
Dengan demikian, persamaan Schrödinger untuk elektron tersebut
adalah

2 2 qe  ( x, y, z , t )
   ( x, y , z , t )   ( x, y , z , t )  i  .
2m 4π 2
x y z 2 2 t

5.2.2 Struktur Matematis Persamaan Schrödinger


Beberapa aspek penting pada struktur matematis persamaan Schrödi-
nger adalah sebagai berikut.

1. Persamaan Schrödinger merupakan persamaan diferensial dalam


ruang kompleks
Adanya bilangan imajiner i dalam persamaan Schrödinger menunjuk-
kan bahwa persamaan tersebut merupakan persaman diferensial da-
lam ruang kompleks. Akibatnya, penyelesaian persamaan Schrödinger
pada umumnya merupakan fungsi kompleks dengan variabel real (po-
sisi dan waktu). Itulah sebabnya mengapa fungsi gelombang tidak me-
miliki arti fisis secara langsung.
2. Persamaan Schrödinger merupakan persamaan diferensial linear
Persamaan Schrödinger termasuk persamaan diferensial linear, baik
terhadap ruang maupun waktu. Akibatnya, jika fungsi gelombang 1

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan umum 121

dan 2 merupakan penyelesaian persamaan Schrödinger untuk suatu


sistem tertentu, maka sebarang kombinasi linear kedua fungsi gelom-
bang itu, yaitu 3 = 1 +2 dengan  dan  merupakan tetapan,
juga merupakan penyelesaian persamaan Schrödinger untuk sistem
tersebut. Hal ini dengan mudah dapat dibuktikan sebagai berikut.
Subtitusi 3 = 1 +2 ke ruas kiri Persamaan (5.5) diperoleh
 2  ( 1  β2 )
2 2
 2  3
  V ( x , t ) 3    V( x , t )( 1  β2 )
2m  x 2 2m  x2
(5. 7)
  2  2 1    2  2 2 
    2
 V( x , t ) 1   β   2
 V( x , t ) 2  .
 2m  x   2m  x 
Sekarang perhatikan faktor yang dikurung pada ruas kanan Persama-
an (5.7). Karena 1 dan 2 telah diasumsikan merupakan penyelesaian
persamaan Schrödinger, maka Persamaan (5.7) itu menunjukkan kepa-
da kita bahwa kedua faktor dalam tanda kurung tadi masing masing
memenuhi hubungan

 2  2 1 ( x, t )  ( x, t )
  V ( x, t ) 1 ( x, t )  i  1 ,
2m  x2 t

dan
 2  2 2 ( x , t ) 2 ( x, t )
  V ( x , t ) 2 ( x , t )  i  .
2m x 2 t

Subsitusi kedua persaman terakhir itu ke dalam Persamaan (5.7)


menghasilkan

 2  2 3      2 
  V ( x, t ) 3    i  1   β  i  
2m  x 2  t   t 
 (  1  β2 )
 i
t
3
 i ,
t
yang menunjukkan bahwa 3 benar-benar merupakan penyele-
saian persamaan Schrödinger untuk sistem yang sama.

Bab 5: Persamaan Schrödinger


122 Tinjauan umum

3. Persamaan Schrödinger merupakan persamaan diferensial orde satu


terhadap waktu (variabel t )
Kenyataan ini menunjukkan bahwa perubahan fungsi gelombang ter-
hadap waktu bersifat deterministik. Artinya jika kita mengetahui fung-
si gelombang pada t tertentu, misalnya t = t0, maka fungsi gelombang
pada t berikutnya dapat diketahui secara pasti. Hal penting yang perlu
dicatat adalah: meskipun hasil pengukuran bersifat probabilistik (non
deterministik) dan informasi tentang nilai semua besaran fisika terkan-
dung dalam fungsi gelombang, ternyata perubahan fungsi gelombang
terhadap waktu bersifat deterministik.

Contoh Soal 5.3

Tunjukkan bahwa fungsi gelombang berikut


 2 nπx i E n t /  ; x a/2
 sin e
 ( x, t )   a a
0 ; x a/2

dengan n = 1, 2, 3, …, merupakan penyelesaian persamaan Schrö-
dinger bagi partikel bermasa m yang hanya bebas bergerak dalam
interval –a/2 ≤ x ≤ a/2. Tentukan batasan nilai En yang diijinkan!
Analisis
Pernyataan bahwa “partikel hanya dapat bergerak bebas dalam in-
terval a/2 ≤ x ≤ a/2” memiliki arti bahwa partikel tidak mungkin
berada di luar interval itu. Dengan kata lain, peluang mendapat-
kan partikel di luar interval itu sebesar nol. Hal ini hanya dipenuhi
jika fungsi gelombang di luar interval – a/2 ≤ x ≤ a/2 bernilai nol.
Partikel bebas bergerak dalam interval – a/2 ≤ x ≤ a/2 menunjuk-
kan bahwa partikel tidak mengalami gaya apapun dalam interval
itu. Jadi, energi potensialnya konstan. Jika potensial ini dilambangi
V0 maka persamaan Schrödinger dalam interval –a/2 ≤ x ≤ a/2
berbentuk

 2  2 ( x, t )  ( x, t )
  V0  ( x, t )  i  .
2m  x 2 t

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan umum 123

Untuk menguji apakah benar fungsi gelombang yang diketahui ta-


di merupakan penyelesaian persamaan Schrödinger, kita subtitu-
sikan fungsi gelombang itu ke dalam persamaan terakhir di atas.
Subsitusi ke ruas kiri menghasilkan

 2  2 ( x , t )  n2 π 2  2  2 nx iEnt /
 2
 V0 ( x , t )   2
 V0  sin e
2m  x  2ma  a a
 n2 π 2  2 
 2
 V0  ( x , t ).
 2ma 
Subsitusi ke ruas kanan menghasilkan

( x , t )  2 nx iEnt /  


i  i   - i En /  sin e 

t  a a 
2 nx iEnt / 
 En sin e  En ( x , t ) .
a a
Dengan demikian kita dapat hubungan
 n 2 π 2  2 
  V0  ( x, t )  E n  ( x, t ) .
 2ma 2 

Persamaan terakhir ini menunjukkan bahwa fungsi gelombang ta-


di dijamin sebagai penyelesaian persamaan Schrödinger bagi par-
tikel yang bebas bergerak dalam interval – a/2 ≤ x ≤ a/2 asalkan
tetapan En dalam fungsi gelombang itu memenuhi hubungan

n 2 π 2 2
En   V0 .
2ma 2
Ungkapan ini sekaligus memberikan batasan nilai yang harus
dipenuhi oleh En.

5.3 PERUBAHAN NILAI HARAP TERHADAP WAKTU

Perubahan fungsi gelombang terhadap waktu telah terumuskan, yaitu


mengikuti persamaan Schrödinger. Mengingat fungsi gelombang berkaitan
erat dengan hasil pengukuran, maka timbul pertanyaan tentang bagaimana
hasil pengukuran berubah terhadap waktu. Perlu dicatat bahwa hasil peng-

Bab 5: Persamaan Schrödinger


124 Perubahan nilai harap terhadap waktu

ukuran di sini harus kita artikan sebagai nilai harap (rerata) pengukuran.
Hal ini disebabkan karena hasil pengukuran bersifat probabilistik sehingga
tidak mungkin bagi kita untuk menyelidiki perilaku hasil ukur secara indi-
vidual.
Dengan menggunakan persamaan Schrödinger, kita akan menemukan
jawaban atas pertanyaan tadi. Selanjutnya, untuk penyederhanaan penulis-
an, kita definisikan

2 2
Ĥ    V ( x ,t ) . (5. 8 )
2m x 2
Dengan menggunakan definisi di atas, persamaan Schrödinger dapat ditu-
lis dalam bentuk

Hˆ   i  , (5. 9)
t
dengan  merupakan penyingkatan dari (x,t).
Nilai harap pengukuran besaran A pada saat keadaan sistem dinyata-
kan oleh fungsi gelombang ternormalkan  adalah, lihat Persamaan (4.17)
di Bab 4,

Aˆ   * Aˆ  dx . (5. 10)


Untuk mengetahui bagaimana nilai harap berubah terhadap waktu, ki-


ta ambil derivatif Persamaan (5.10) terhadap waktu, yaitu
d ˆ
dt
A 
d  *ˆ

  A dx .
 dt  
 (5. 11)

Karena integrasi dilakukan terhadap x maka operator derivatif terhadap t


dapat dimasukkan ke dalam integral. Jadi ruas kanan Persamaan (5.11) da-
pat diubah menjadi


d  *ˆ
dt
 

   A dx     Aˆ  dx .
t
*
  (5. 12)

Perhatikan bahwa kita telah mengubah derivatif biasa (d/dt) menjadi


derivatif parsial (/t). Ini harus kita lakukan mengingat pengambilan de-
rivatif dilakukan terhadap t saja sedangkan , *, dan A ˆ pada umumnya
merupakan fungsi x dan t. Selanjutnya, dengan menggunakan aturan deri-

Pengantar Fisika Kuantum


Perubahan nilai harap terhadap waktu 125

vatif untuk perkalian dua fungsi atau lebih, integral di ruas kanan Persa-
maan (5.12) dapat diubah menjadi


 
t

 *ˆ
 A dx    * ˆ
t
 
A dx    *
Aˆ
t
 dx
(5. 13)

   * Aˆ dx .
t
Berdasarkan persamaan Schrödinger, derivatif fungsi gelombang pada
suku pertama dan suku terakhir ruas kanan persamaan tersebut masing-
masing dapat diganti dengan ungkapan
*
 *  1 ˆ 
t
  H    
1 ˆ *
H .   (5. 14a)
i  i

dan
 1 ˆ
 H , (5.14b)
t i

Subtitusi Persamaan (5.14) ke dalam Persamaan (5.13) menghasilkan

Aˆ
  t    
  1  *  1 
*
Aˆ  dx     Hˆ  Aˆ  dx     *  dx     * Aˆ Hˆ  dx.
i t i

 *
Karena Ĥ Hermitean maka berlaku   Hˆ  Aˆ  dx     * Hˆ Aˆ  dx (lihat

pertanyaan 12) sehingga persamaan terakhir tadi dapat diubah menjadi


 

t
 * Aˆ  dx  
1  * ˆ ˆ ˆˆ
i
 
   AH  HA  dx    
ˆ
* A
t
 dx . (5. 15)

Suku pertama ruas kanan Persamaan (5.15) menyatakan nilai harap bagi
 
ˆ , Hˆ ]  Aˆ Hˆ  Hˆ Aˆ dan suku kedua menyatakan nilai harap
komutator [ A
ˆ / t . Dengan demikian, Persamaan (5.15) tadi dapat diubah lagi
dari A
menjadi


 

t
 
 * Aˆ  dx 
1
i
[ Aˆ , Hˆ ] 
Ψ
Aˆ
t
. (5. 16)
Ψ

Bab 5: Persamaan Schrödinger


126 Perubahan nilai harap terhadap waktu

Subtitusi Persamaan (5.16) ke Persamaan (5.12) kemudian hasilnya disubti-


tusikan ke Persamaan (5.11) menghasilkan ungkapan akhir rumusan peru-
bahan nilai harap terhadap waktu sebagai berikut.

d 1 Aˆ
AΨ  [ Aˆ , Hˆ ]  . (5. 17)
dt i Ψ t
Ψ

Persamaan (5.17) menunjukkan bahwa perubahan terhadap waktu ni-


lai harap hasil ukur besaran A bergantung pada dua hal, yaitu: hubungan
ˆ , Hˆ ] dan kebergantungan secara eksplisit  terhadap waktu.
komutasi [ A
Jika  secara eksplisit tidak bergantung waktu, maka suku terakhir persa-
maan itu bernilai nol. Kebergantungan terhadap fungsi gelombang bersifat
implisit dan baru nampak ketika kita menghitung [ Aˆ , Hˆ ] dan Aˆ / t .
Persamaan (5.17) sering disebut sebagai Persamaan Gerak Heisenberg.

Contoh Soal 5.4

Dapatkan cara nilai harap: (a) posisi x, dan (b) momentum linear p
berubah terhadap waktu!
Analisis
Untuk mengetahui bagaimana nilai harap posisi dan momentum
linear berubah terhadap waktu kita gunakan rumusan umum se-
bagaimana dinyatakan pada Persamaan (5.17). Untuk pertanyaan
(a), kita ganti  dengan X̂ dan untuk pertanyaan (b) kita ganti Â
dengan P̂ . Sekarang kita selesaikan persoalan tadi satu per satu.
(a) Perubahan nilai harap posisi terhadap waktu
Berdasarkan Persamaan (5.17), perubahan nilai harap posisi terha-
dap waktu mengikuti hubungan

d 1 Xˆ
Xˆ   [ Xˆ , Hˆ ]  . (5. 18)
dt i  t

Komutator yang dibentuk oleh operator posisi dan hamiltonan a-


dalah

Pengantar Fisika Kuantum


Perubahan nilai harap terhadap waktu 127

X̂ , Ĥ  X̂ , 2P̂m  V(X̂)  X̂ , 2P̂m   X̂ , V(X̂) .


2 2
(5. 19a)
   
Komutator suku terakhir merupakan operator nol, sebab [ X̂ , X̂ ]  0
sehingga [X̂ ,V( X̂ )]  0 . Komutator suku pertama dapat diselesaikan
sebagai berikut.

i Pˆ
 ˆ Pˆ 2 
X , 
1 ˆ ˆ2
X, P  
1 ˆ ˆ ˆ

X , P P  Pˆ Xˆ , Pˆ  .   
 2m  2m 2m m

Dengan demikian, Persamaan (5.19a) dapat diubah menjadi

Xˆ , Hˆ   i mPˆ . (5.19b)

Selanjutnya, karena X̂ secara eksplisit tidak bergantung waktu


maka X̂ / t  0 sehingga X̂ / t  0. Subtitusi nilai ini dan Persa-
maan (5.19b) ke dalam Persamaan (5.18) diperoleh ungkapan ten-
tang perubahan nilai harap posisi terhadap waktu sebagai berikut

d 1 i P̂ P̂
X̂    . (5. 20)
dt i m m 

a) Perubahan nilai harap momentum linear terhadap waktu


Berdasarkan Persamaan (5.17), perubahan nilai harap momentum
linear terhadap waktu mengikuti hubungan

d 1 P̂
P̂   [ P̂ , Ĥ ]  . (5. 21)
dt i  t 

Komutator yang dibentuk oleh operator momentum linear dan ha-


miltonan adalah

P̂ , Ĥ    P̂ , 2P̂m  V ( X̂ )  P̂ , 2P̂m   P̂ , V ( X̂ ) .


2 2
(5. 22a)
   

Komutator suku pertama merupakan operator nol, sebab [P̂ , P̂]  0


sehingga [P̂ , P̂ 2 ]  0 . Komutator suku terakhir dapat diselesaikan

Bab 5: Persamaan Schrödinger


128 Perubahan nilai harap terhadap waktu

sebagai berikut. Jika komutator tersebut dikerjakan pada sebarang


fungsi gelombang (x), maka diperoleh hubungan

Pˆ , V ( Xˆ )  Pˆ V ( Xˆ )  V ( Xˆ )Pˆ    i  x V ( x)  V ( x)   i  x  


 

  V( x )     V( x )
 i   V( x )  V( x )  i .
 x x x  x


Ini berarti bahwa Pˆ , V( Xˆ )   i  V( x)
x
.

Dengan demikian, Persamaan (5.22a) menjadi

Pˆ , Hˆ   i   Vx( x) . (5.22b)

Selanjutnya, karena P̂ secara eksplisit tidak bergantung pada wak-


tu maka Pˆ / t  0 sehingga nilai harap Pˆ / t  0 .Subtitusi nilai
ini dan Persamaan (5.22b) ke Persamaan (5.21) diperoleh ungkap-
an tentang perubahan nilai harap momentum linear terhadap
waktu sebagai berikut.
d ˆ 1 dV ( x) dV ( x)
P   i  . (5. 23)
dt i dx dx

Marilah kita telaah sejenak Persamaan (5. 20) dan (5.23) di atas. Persa-
ˆ
maan (5.20) dapat diubah menjadi  Pˆ   m ddXt  . Jika setiap operator da-
lam persamaan ini kita ganti dengan besaran fisik yang diwakilinya, kita
dapatkan hubungan  p   m ddxt  . Dalam fisika klasik, momentum linear
didefinisikan sebagai p  m ddxt , yang ternyata sangat mirip dengan yang
kita dapatkan tadi.
Sekarang kita perhatikan Persamaan (5.23). Dalam fisika klasik terda-
pat hubungan F  dp / dt (Hukum ke-2 Newton) dan untuk gaya konser va-
tif berlaku hubungan F   dV / dx . Jadi dalam fisika klasik, khususnya un-
tuk sistem konservatif, berlaku hubungan

Pengantar Fisika Kuantum


Perubahan nilai harap terhadap waktu 129

dp dV
 . (5. 24)
dt dx
Jika kita bandingkan Persamaan (5.23) dan (5.24) maka dapat kita sim-
pulkan bahwa Persamaan (5.23) merupakan pernyataan Hukum ke-2 New-
ton dalam formulasi fisika kuantum.
Telaah tadi menunjukkan kepada kita adanya kesepadanan antara fisi-
ka kuantum dengan fisika klasik. Kesepadanan rumusan kuantum dan ru-
musan klasik tentang Hukum ke-2 Newton ini dikenal sebagai Teorema
Ehrenfest.

Contoh Soal 5.5

Tunjukkan bahwa persamaan Schrödinger menjamin tetap berla-


kunya hukum kekekalan energi.
Analisis
Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa hamiltonan (energi
kinetik ditambah energi potensial) sistem konservatif bersifat ke-
kal. Dengan kata lain, hamiltonan sistem tidak berubah terhadap
waktu. Oleh sebab itu, untuk menguji apakah persamaan Schrö-
dinger menjamin berlakunya hukum kekekalan energi atau tidak,
kita selidiki bagaimana nilai harap hamiltonan sistem berubah
terhadap waktu.
Berdasarkan Persamaan (5.17), perubahan nilai harap hamiltonan
terhadap waktu mengikuti formulasi dasar sebagai berikut.

d ˆ 1 Hˆ
H   [ Hˆ , Hˆ ]  . (5. 25)
dt i  t

Karena [ Hˆ , Hˆ ]  0 dan untuk sistem konservatif Hˆ / t  0 maka


Persamaan (5.25) menjadi
d ˆ
H   0, atau Ĥ  konstanta. (5. 26)
dt
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai harap hamiltonan
sistem konservatif bersifat kekal. Ini berarti bahwa persamaan
Schrödinger menjamin tetap berlakunya hukum kekekalan energi..

Bab 5: Persamaan Schrödinger


130 Rapat arus peluang

5.4 RAPAT ARUS PELUANG

Pada Bab 3 telah didefinisikan fungsi rapat peluang yang diasosiasi-


kan dengan fungsi gelombang sebagai( r , t )   * ( r , t ) ( r , t ) sedemikian ru-
pa sehingga (r , t ) d 3 x menyatakan besarnya peluang menemukan partikel
di dalam unsur volume d3x di sekitar r pada saat t (lihat Persamaan 3.12).
Kita juga sudah menyatakan bahwa untuk  (r, t ) yang telah ternormalkan
berlaku
3
V (r, t ) d x  1 , (5. 27)

dengan integrasi meliputi seluruh ruang V (Lihat Persamaan 3.13).


Persamaan (5.27) menunjukkan bahwa jika kita melacak kehadiran
partikel meliputi seluruh ruang maka peluang untuk mendapatkannya
adalah 1, artinya kita pasti menemukan partikel tersebut. Persamaan itu ju-
ga menunjukkan bahwa rapat peluang global (dihitung meliputi seluruh
ruang) bersifat konstan, tidak bergantung pada waktu. Ini berarti bahwa
rapat peluang global bersifat kekal. Bagaimana jika rapat peluang tersebut
dihitung secara lokal (meliputi ruang yang terbatas)? Apakah juga tidak
bergantung pada waktu?
Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita selidiki apa yang terjadi
jika rapat peluang lokal, yaitu(r, t )   * (r, t ) (r, t ) , kita ambil derivatif-
nya terhadap waktu t. Hasilnya adalah

(r, t )  (r, t )  * (r, t )


 *  . (5. 28)
t t t
Menurut persamaan Schrödinger (Persamaan 5.6), kedua derivatif fungsi
gelombang terhadap waktu di ruas kanan Persamaan (5.28) tersebut ma-
sing-masing bernilai
  (r, t ) i 2 i
   (r, t )  V (r, t )  (r, t ) , (5. 29a)
t 2m 

dan

  * (r, t ) - i  2 * i
   (r, t )  V (r, t )  * (r, t ) . (5. 29b)
t 2m 
Subtitusi Persamaan (5.29) ke dalam Persamaan (5.28) menghasilkan

Pengantar Fisika Kuantum


Rapat arus peluang 131

( r , t )
t
 
i
2m
 *2    2  * 
i
2m
  
   *     * , (5. 30) 
dengan  menyatakan vektor operator (nabla) yang dalam sistem koordi-
  ˆ 
nat Cartesan berbentuk i j k .
x y z
Persamaan (5.30) dapat diubah menjadi
( r , t )
   J( r , t )  0, (5. 31)
t

dengan vektor rapat arus peluang J(r,t) didefinisikan sebagai

J (r, t ) 

i 2m
 *   * .  (5. 32)

Persamaan (5.31) memiliki bentuk yang sama dengan persamaan kon-


tinuitas yang sudah kita kenal dalam fisika klasik. Sebagai misal, dalam
 ρ( r , t )
elektrodinamika, adalah    J( r , t )  0, dengan   rapat muatan
t
(per satuan volume) dan J  vektor rapat arus muatan (per satuan luas).
Persamaan kontinuitas ini menyatakan bahwa jika rapat muatan listrik da-
lam suatu volume tertutup berubah (berkurang atau bertambah) terhadap
waktu maka harus ada aliran muatan listrik (keluar atau masuk) yang me-
nembus luasan yang membatasi ruang tertutup tersebut secara tegaklurus.
Persamaan kontinuitas dalam elektrodinamika ini merupakan manifestasi
dari hukum kekekalan muatan listrik.
Pemaknaan secara fisik Persamaan (5.31) tersebut dapat dilakukan de-
ngan mengambil analogi dengan persamaan kontinuitas dalam elektrodi-
namika. Jika dalam elektrodinamika  sebagai rapat muatan dan J sebagai
vektor rapat arus muatan, maka dalam konteks Persamaan (5.31):  seba-
gai rapat peluang (sudah didefinisikan sebelumnya) dan J sebagai vektor
rapat arus peluang (sebagai hasil analogi).
Kembali ke pertanyaan awal kita, yaitu apakah rapat peluang secara
lokal bergantung pada waktu. Jawaban atas pertanyaan ini sudah kita da-
patkan sebagaimana dinyatakan pada Persamaan (5.31), yaitu bahwa rapat
peluang lokal bergantung pada waktu. Lebih lanjut, Persamaan (5.13) me-
nunjukkan bahwa jika rapat peluang dalam suatu volume terbatas berubah
terhadap waktu maka harus ada “aliran” peluang yang menembus secara
tegaklurus luasan yang membatasi volume tadi. Analog dengan persamaan

Bab 5: Persamaan Schrödinger


132 Rapat arus peluang

kontinuitas dalam elektrodinamika, Persamaan (5.31) dapat juga dimaknai


sebagai hukum kekekalan rapat peluang secara lokal.
Apakah besaran J yang didefinisikan menurut Persamaan (5.32) terse-
but sungguh-sungguh memiliki arti sebagai rapat arus? Untuk menjawab
ini, marilah kita ungkap kembali makna J dalam elektodinamika. Dalam
elektrodinamika, J didefinisikan sebagai rapat kuat arus listrik (I) per satu-
an luas (A): J = I/A n̂ dengan n̂ menyatakan vektor satuan pada arah tegak
lurus luasan. Dengan mengganti I  dQ/dt = A dx/dt diperoleh hubung-
an J =  v, dengan  menyatakan rapat muatan dan v  dx/dt n̂ menya-
takan rerata kecepatan hanyut (drift velocity) partikel-partikel pembawa
muatan yang menghasilkan arus listrik tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, jika benar bahwa J yang didefinisikan
menurut Persamaan (5.32) tersebut sungguh-sungguh memiliki arti sebagai
rapat arus maka harus dapat ditunjukkan bahwa J (r , t ) (r , t ) v dengan v
menyatakan kecepatan grup gelombang yang diasosiasikan dengan parti-
kel yang dibicarakan. Contoh berikut memberikan bukti untuk itu.

Contoh Soal 5.6

Dapatkan rapat arus peluang yang diassosiasikan dengan fungsi


gelombang bidang ( r , t )  A e i ( k.r - ωt ) , dengan A merupakan tetap-
an penormalan.
Analisis
Dengan fungsi gelombang seperti itu kita dapatkan:

(r, t )  i k A e i (k.r - ωt )  i k (r, t )


sehingga  * (r, t )(r, t )  i k(r, t ) ,
dan  * (r, t )   i k A e  i (k.r  ωt )   i k  * (r, t )
sehingga (r, t ) * (r, t )   i k(r, t ) .
Subtitusi kedua hasil perhitungan ini ke dalam Persamaan (5.32)
menghasilkan

J (r, t ) 

i 2m
 *    * 

i 2m

2 ik(r, t )  (r, t )
k
m
. (5. 33)

Karena k / m adalah kecepatan gelombang, maka kita peroleh


hubungan J (r , t ) (r , t ) v .

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrödinger bebas waktu 133

5.5 PERSAMAAN SCHRÖDINGER BEBAS WAKTU

5.5.1 Penjabaran Persamaan Schrödinger Bebas Waktu


Persamaan Schrödinger merupakan persamaan diferensial parsial. Per-
samaan diferensial parsial dapat diubah menjadi sistem persamaan dife-
rensial biasa melalui teknik pemisahan variabel. Untuk itu, fungsi gelom-
bang (x,t) kita nyatakan sebagai perkalian fungsi posisi, misalnya (x),
dan fungsi waktu, misalnya F(t). Jadi (x,t) = (x)F(t). Dengan cara ini
maka persamaan Schrödinger menjadi

2 d 2 ( x) dF (t )
 F (t )  V ( x, t ) F (t ) ( x)  i  ( x) (5. 34)
2m 2 dt
dx
Jika kedua ruas kita bagi dengan  (x) F(t) diperoleh

 2 1 d 2 ( x) 1 dF (t )
  V ( x, t )  i  (5. 35)
2m  ( x) dx 2 F (t ) dt

Ruas kanan Persamaan (5.35) merupakan fungsi t, sedangkan ruas kiri


merupakan fungsi x dan t. Satu-satunya suku yang memuat x dan t adalah
V(x,t). Ini berarti bahwa pemisahan variabel hanya akan berhasil jika V ha-
nya bergantung pada x saja, atau hanya bergantung pada t saja. Mengingat
x merupakan variabel dinamis fundamental dalam fisika kuantum, kita
pilih yang pertama.
Jika V hanya bergantung pada x maka Persamaan (5.28) dapat dinyata-
kan sebagai berikut.

 2 1 d 2 ( x) 1 dF (t )
  V ( x)  i  (5. 36)
2m  ( x) dx 2 F (t ) dt

Ruas kiri persamaan ini merupakan fungsi x saja, sedangkan ruas kanan-
nya merupakan fungsi t saja. Jadi persamaan tersebut menyatakan kesa-
maan antara suatu fungsi yang hanya bergantung pada x dengan fungsi
lain yang hanya bergantung pada t. Kesamaan semacam itu hanya akan
terpenuhi untuk semua x dan t jika masing-masing ruas berupa suatu te-
tapan, yaitu suatu bilangan yang tidak bergantung pada x maupun t.
Arti fisik dari tetapan tersebut dapat dideduksi sebagai berikut. Suku
kedua di ruas kiri adalah energi potensial. Oleh karena itu, suku-suku lain-
nya, baik yang di ruas kiri maupun yang di ruas kanan, juga harus berdi-
mensikan energi. Lebih lanjut, karena ruas kiri persamaan tersebut menya-

Bab 5: Persamaan Schrödinger


134 Persamaan Schrödinger bebas waktu

takan jumlah energi kinetik ditambah energi potensial, maka tetapan yang
kita gunakan nanti memiliki arti fisik sebagai energi total, atau hamiltonan,
sistem. Selanjutnya tetapan itu kita lambangi E.
Dengan menggunakan tetapan E tersebut Persamaan (5.36) dapat di-
nyatakan sebagai sistem persamaan diferensial biasa sebagai berikut.

 2 1 d 2 ( x)
  V ( x)  E , (5. 37)
2m  ( x) dx 2
dan
1 dF (t )
i  E. (5. 38)
F (t ) dt

Persamaan (5.37) menghasilkan penyelesaian (x) sedangkan Persama-


an (5.38) menghasilkan penyelesaian F(t )  e  i E t /. Dengan demikian penye-
lesaian akhir Pesamaan Schrödinger berbentuk

 ( x,t )  ( x) e i E t /  . (5. 39)


Persamaan (5.37) dapat diubah menjadi

 2 d 2 ( x)
  V ( x ) ( x )  E  ( x ) . (5. 40)
2m dx 2
Persamaan tersebut identik dengan persamaan Schrödinger, bedanya
bahwa persamaan itu tidak bergantung pada t. Oleh karena itu, persamaan
tersebut sering disebut sebagai persamaan Schrödinger bebas waktu (time-
independent Schrödinger equation).
Persamaan (5.40) dapat pula ditulis dalam bentuk
  2 d 2 
  V ( x) ( x)  E  ( x) (5. 41)
 2m dx 2 

Faktor dalam kurung di ruas kiri tidak lain menyatakan operator hamil-
tonan sistem, yaitu operator yang mewakili jumlahan energi kinetik (suku
pertama) dan energi potensial (suku kedua). Jika operator itu kita lambangi
Ĥ maka Persamaan (5.41) dapat ditulis menjadi
Ĥ ( x)  E  ( x) . (5. 42)

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrödinger bebas waktu 135

Persamaan (5.42) merupakan contoh dari persamaan nilai eigen (eigen-


value equation), sebab operasi Ĥ terhadap fungsi  (x) tidak menghasilkan
fungsi baru melainkan hanya mengalikan fungsi itu dengan suatu bilangan
(E). Dengan menggunakan peristilahan dalam persamaan nilai eigen, Per-
samaan (5.42) dapat diungkapkan sebagai berikut:  (x) merupakan fungsi
eigen (fungsi karakteristik) bagi operator Ĥ dengan nilai eigen (nilai karakteristik)
sebesar E.
Adanya persyaratan bahwa E harus memenuhi persamaan nilai eigen
mengakibatkan bahwa E tidak boleh bernilai sebarang. Dikatakan bahwa
energi total (E) bersifat diskret. Uraian lebih lanjut tentang hal ini disajikan
di bagian 5.6, yaitu di sub-bab Pengkuantuman Energi.
Pada umumnya terdapat sejumlah besar pasangan  (x) dan E yang
memenuhi Persamaan (5.42) untuk Ĥ tertentu. Oleh karena itu, untuk
membedakan antara pasangan yang satu dengan lainnya kita gunakan in-
deks diskret n. Jadi Persamaan (5.42) dapat diperluas menjadi

Hˆ  n( x)  E n  n( x) , (5. 43)
dan penyelesaian umum persamaan Schrödinger (Persamaan 5.39) diper-
luas menjadi

n ( x , t )  n ( x ) e iEn t /  . (5. 44)

Bilangan n disebut bilangan kuantum (quantum number). Nilai terendah n,


biasanya 0, menyatakan keadaan dasar (ground state). Nilai berikutnya: 1, 2,
dst, menyatakan keadaan tereksitasi (terbangkit) pertama, kedua, dan sete-
rusnya.
Persamaan (5.44) menunjukkan bahwa ada sejumlah fungsi gelombang
yang semuanya merupakan penyelesaian persamaan Schrödinger untuk
sistem yang sama. Mengingat persamaan Schrödinger merupakan persa-
maan diferensial linear maka kombinasi linear dari semua fungsi gelom-
bang itu juga merupakan penyelesaian persamaan Schrödinger untuk sis-
tem tersebut. Kombinasi linear tersebut merupakan penyelesaian umum
yang dapat diungkapkan secara

( x, t )   c n n ( x, t )   c n n ( x) e i En t /  . (5. 45)
n n

dengan cn merupakan tetapan.

Bab 5: Persamaan Schrödinger


136 Persamaan Schrödinger bebas waktu

Penting untuk dicatat bahwa persamaan Schrödinger bebas waktu bu-


kan merupakan versi (jenis) lain persamaan Schrödinger. Melainkan hanya
merupakan persamaan yang digunakan sebagai tahapan untuk menyele-
saikan persamaan Schrödinger. Ingat bahwa persamaan Schrödinger meng-
hasilkan fungsi gelombang  ( x, t ) sedangkan persamaan Schrödinger be-
bas waktu menghasilkan fungsi eigen  (x) . Penting pula untuk dicatat
bahwa persamaan Schrödinger bebas waktu hanya dapat digunakan jika
potensial sistem secara eksplisit tidak bergantung waktu. Pada bab beri-
kutnya kita akan membahas lebih lanjut penerapan persamaan Schrödinger
bebas waktu.

5.5.2 Keadaan stasioner


Jika potensial sistem secara eksplisit tidak bergantung pada waktu ma-
ka bagian ruang dan waktu penyelesaian persamaan Schrödinger memiliki
bentuk seperti dinyatakan pada Persamaan (5.44). Fungsi gelombang itu
2 2
menghasilkan fungsi rapat peluang posisi: ( x, t )  n ( x, t )   n ( x) ,
yang ternyata tidak bergantung pada waktu. Oleh karena itu, fungsi ge-
lombang seperti dinyatakan pada Persamaan (5.44) tersebut disebut seba-
gai fungsi gelombang stasioner atau penyelesaian stasioner persamaan Schrö-
dinger, dan sistem yang bersangkutan dikatakan dalam keadaan stasioner.
Segera akan kita lihat bahwa keadaan stasioner merupakan keadaan de-
ngan energi pasti. Sesungguhnya, sifat kepastian energi inilah yang biasa
dipakai untuk mencirikan keadaan stasioner.
Perhatikan bahwa fungsi gelombang tersebut hanya memuat satu nilai
E. Karena hanya ada satu macam nilai E maka pengukuran berulang
terhadap energi sistem selalu menghasilkan nilai ukur yang sama, yaitu
sebesar E tadi. Ini berarti bahwa keadaan stasioner merupakan keadaan di
mana energi sistem bernilai pasti (tertentu).

Contoh soal 5.7


Fungsi gelombang yang menyatakan keadaan dasar suatu partikel
yang terkungkung di dalam potensial “kotak” 1 dimensi adalah
 π 2
 2 πx  i t
e 2ma
2 ; 0  x a
 sin
 ( x, t )   a a

 0 ; x  0 atau x  a

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrödinger bebas waktu 137

dengan m dan a suatu tetapan (lihat Persamaan (6.56) di Bab 6).


Selidikilah apakah fungsi gelombang tersebut menyatakan kea-
daan stasioner atau tidak. Hitung nilai harap energi total partikel
beserta ketakpastiannya.
Analisis
Fungsi rapat peluang posisi partikel adalah
 2 2 πx
 a sin  a  ; 0 xa
( x , t )    

0 ; x  0 atau x  a

Ternyata fungsi rapat peluang posisi tersebut tidak bergantung


pada waktu. Dengan demikian disimpulkan bahwa fungsi gelom-
bang tersebut menyatakan keadaan stasioner
Nilai harap energi total
Karena fungsi gelombang tersebut sudah ternormalkan maka nilai
harap energi total dihitung dengan prosedur sebagai berikut.

Eˆ   -  * Eˆ  dx

 π 2   π 2 
  π x i 2 ma 2 t 
2   2 π x  i 2 ma 2 t 
 sin
 
e  i  a sin a e  dx
 a a  t  
   
2  π 2    πx 2 π 22 a π 22
 i    i 2
  sin 2   dx    
a  2ma   a  a 2ma 2 2 2ma 2

Ketakpastian energi total


Untuk mendapatkan ketakpastian ini kita hitung dulu nilai harap
kuadrat energi total, yaitu

Eˆ 2   -  * Eˆ 2  dx

 π 2   π 2 
  π x i 2 ma 2 t     2
2  2 π x  i 2 ma 2 t 
 
sin e   i  t   a sin a e  dx
 a a   
   

Bab 5: Persamaan Schrödinger


138 Persamaan Schrödinger bebas waktu

2 2 2

   2πma   2  π 22  a  π 22 


2

2
a

 2 
2  
 πx
sin 2   dx  
a  2ma 2
   
2 
   a   2  2ma 
Dari nilai harap energi total dan nilai harap kuadrat energi total
tersebut didapatkan nilai ketakpastian energi total sebagai berikut.
2
ΔE  Eˆ 2  Eˆ  0.

π 22
Jadi nilai harap energi total pada keadaan itu adalah de-
2ma 2
ngan ketakpastian sebesar nol, Karena ketakpastiannya nol berarti
nilai energi total partikel bersifat pasti. Contoh ini kiranya dapat
memperjelas pernyataan sebelumnya bahwa keadaan stasioner
merupakan keadaan di mana energi partikel bernilai pasti.
5.5.3 Kombinasi linear beberapa fungsi gelombang stasioner
Untuk sebarang nilai n, fungsi gelombang pada Persamaan (5.44) me-
rupakan fungsi gelombang stasioner. Sekarang marilah kita selidiki apakah
kombinasi linear fungsi-fungsi gelombang stasioner tersebut akan meng-
hasilkan fungsi gelombang stasioner pula.
Sebagai contoh, marilah kita kombinasikan dua fungsi gelombang sta-
sioner n(x,t) dan m(x,t) dengan m dan n = 1, 2, 3, yaitu

 ( x, t )  cn  n ( x) e i Ent /   cm  m ( x) e i Emt /  . (5. 46)


Fungsi gelombang tersebut menghasilkan fungsi rapat peluang posisi
( x , t )   * ( x , t )  ( x , t )  { c n n ( x) e  i En t /   c m m ( x) e  i Em t /  }  kk
2 2
 c n n  c m m  c *n c m n ( x) e  i ( Em  En )t /  (5.47)
 c n c *m  n ( x) e i ( Em  En )t / 
(kk, pada baris pertama, menyatakan penyingkatan dari kompleks
konjugate dari faktor yang ditulis di dalam kurung besar). Persamaan
(5.47) menunjukkan bahwa fungsi rapat peluang posisi bergantung pada
waktu (ditunjukkan oleh dua suku terakhir). Lebih lanjut, kedua suku
terakhir tersebut menunjukkan bahwa peluang posisi partikel tersebut
berosilasi terhadap waktu dengan frekuensi sudut
E E
 m n , (5. 48)

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrödinger bebas waktu 139

yang ternyata mirip dengan frekuensi foton yang dipancarkan atau yang
diserap atom ketika ada transisi elektron dari keadaan bertingkat energi Em
ke keadaan bertingkat energi En.
Perhatikan lagi fungsi gelombang hasil kombinasi (Persamaan 5.46)
tersebut. Dalam fungsi gelombang itu terdapat dua macam nilai energi yai-
tu En dan Em. Berarti fungsi gelombang tersebut mendeskripsikan keadaan
partikel yang energinya tidak pasti, apakah En ataukah Em.
Analisis tadi menunjukkan bahwa kombinasi linear dua fungsi gelom-
bang stasioner tidak menghasilkan fungsi gelombang yang stasioner.

5.5.4 Persyaratan Fungsi eigen (x)


Di depan telah kita pelajari bahwa fungsi eigen (x) membentuk fung-
si gelombang (x,t) menurut Persamaan (5.39) atau (5.44). Dengan demi-
kian, sebagai pembentuk fungsi gelombang maka fungsi eigen tersebut ha-
rus memenuhi beberapa persyaratan santun (well-behaved) sebagai berikut.
d ( x)
  ( x) dan harus bernilai berhingga di semua x
dx
d ( x)
  ( x) dan harus bernilai tunggal di semua x
dx
d ( x)
  ( x) dan harus kontinu di semua x
dx
  (x) bukan fungsi nol (tidak bernilai nol meliputi seluruh x)
Untuk memperjelas makna persyaratan tersebut, dalam Gambar 5.1
berikut disajikan beberapa contoh fungsi yang tidak memenuhi persyarat-
an tersebut. Khususnya tiga persyaratan pertama.

f(x) f(x)

X X

Bernilai takhingga di x   Bernilai takhingga di x  

Gambar 5.1a Beberapa contoh fungsi yang tidak memenuhi syarat sebagai
fungsi eigen

Bab 5: Persamaan Schrödinger


140 Pengkuantuman energi

f(x) f(x)

x1 x2 X X

Tidak bernilai tunggal di x1  x  x2 Tidak kontinu di x = 0

Gambar 5.1b Beberapa contoh fungsi yang tidak memenuhi syarat sebagai
fungsi eigen

5.6 PENGKUANTUMAN ENERGI

Salah satu konsep penting dalam fisika kuantum adalah pengkuan-


tuman energi, yaitu bahwa energi partikel pada umumnya tidak boleh se-
barang. Khusus pada keadaan terikat, energi partikel harus terkuantisasi.
Pada bagian ini, melalui penerapan persamaan Schrödinger bebas waktu,
akan kita temukan konsep itu.
Perhatikan sekali lagi persamaan Schrödinger bebas waktu (Persamaan
5.40). Secara matematis, parameter E pada persamaan tersebut dapat berni-
lai sebarang, artinya berapapun nilai E yang kita isikan, persamaan terse-
but selalu dapat kita selesaikan untuk menghasilkan (x). Namun demi-
kian, fungsi (x) yang dihasilkan belum tentu memenuhi persyaratan seba-
gaimana disebutkan di depan. Sebaliknya, jika (x) harus memenuhi per-
syaratan tersebut maka E tidak boleh bernilai sebarang. Dengan kata lain,
untuk menghasilkan (x) yang memenuhi syarat maka E harus bernilai
tertentu. Untuk memahami penalaran ini, perhatikan contoh berikut.

Contoh Soal 5.8

Sebuah partikel bermassa m memiliki energi potensial sebagai ber-


ikut.
0 ;0 x  a
V ( x)  
 ; x  a atau x  0

Pengantar Fisika Kuantum


Pengkuantuman energi 141

Dapatkan energi total yang mungkin dimiliki partikel tersebut.


Analisis
Keadaan partikel tersebut secara kualitatif dideskripsikan sebagai
berikut. Partikel tidak mungkin berada di luar interval: 0  x  a,
sebab di daerah itu energi kinetik partikel bernilai negatif. Ingat
bahwa energi kinetik sama dengan energi total dikurangi energi
potensial, sehingga jika energi potensialnya tak berhingga maka
energi kinetiknya pasti negatif. Padahal, jika energi kinetik negatif
maka kecepatannya imajiner. Ini jelas melanggar definisi besaran.
Berdasarkan argumen itu maka fungsi gelombang di luar interval
0 x a harus selalu nol. Demikian pula dengan fungsi eigennya.
Fungsi eigen di dalam interval 0  x  a dapat ditemukan dengan
menyelesaikan persamaan Schrödinger bebas waktu di daerah itu.
Karena potensial partikel nol maka persamaan Schrödinger bebas
waktunya berbentuk

 2 d 2 ( x)
  0  E ψ ( x) ,
2m dx 2

atau

d 2 ( x) 2 2mE
 k 2 ( x)  0 ; dengan k  . (i)
dx 2 2
Penyelesian umum persamaan tersebut adalah
 ( x)  A sin (kx   ) (ii)

dengan A dan  suatu tetapan yang dapat ditentukan nilainya de-


ngan cara sebagai berikut. Agar fungsi eigen tersebut kontinu di
semua tempat, sedangkan kita tahu bahwa fungsi eigen (x) berni-
lai nol di x = 0 dan di x = a, maka nilai A dan  harus dipilih se-
hingga (x) bernilai nol di x = 0 dan di x = a.
Agar (x) bernilai nol di x = 0 maka  harus sama dengan nol. Se-
lanjutnya agar  (x) bernilai nol di x = a maka haruslah k = n /a
dengan n = 1,2,3 … (nilai n = 0 tidak dipakai sebab akan mengha-
silkan  (x) = 0 di semua x).
Dengan menggunakan nilai k tersebut maka nilai E yang mungkin

Bab 5: Persamaan Schrödinger


142 Pengkuantuman energi

adalah

n 2 π 2 2
E . (iii)
2ma 2
Jadi energi yang mungkin dimiliki partikel harus memenuhi Per-
samaan (iii) tersebut.

Untuk lebih memahami analisis pada Contoh Soal 5.8 tadi, perhatikan
Gambar 5.2 berikut. Pada gambar tersebut ditunjukkan empat macam nilai
π 2 2
E yang berkisar dari E = E0 sampai E = 4 E0 dengan E 0  . Terlihat bah-
2 ma 2
wa untuk menghasilkan fungsi eigen yang kontinu di mana-mana, nilai E
tidak boleh sebarang. Dalam rentang nilai E tersebut, hanya dua nilai E
yang memenuhi syarat, yaitu E = E0 dan E = 4 E0. Perhatikan bahwa dua ni-
lai E tersebut menghasilkan fungsi yang kontinu di mana-mana, sedangkan
dua nilai E lainnya menghasilkan fungsi yang tidak kontinu di x = a.

 (x)
E = E0

E = 1,2 E0

0 a
E = 4E0

E = 1,5 E0

Gambar 5.2 Grafik fungsi  (x) yang dihasilkan oleh persamaan Schrödinger
bagi partikel terikat pada potensial sumur tak berhingga untuk 4
macam nilai parameter E. Terlihat bahwa hanya E yang merupa-
kan kelipatan bulat dari E0 yang menghasilkan fungsi yang konti-
nu di mana-mana.

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 143

RANGKUMAM

1. Persamaan Schrödinger merupakan perangkat utama dalam fisika ku-


antum. Peran penting persamaan Schrödinger dalam fisika kuantum
setara dengan peran penting hukum kedua Newton dalam fisika kla-
sik.
2. Persamaan Schrödinger, dalam sistem koordinat Cartesan, berbentuk
 2  2  ( x, t )   ( x, t )
  V ( x , t )  ( x, t )  i  ,
2m x 2 t
(untuk kasus 1 dimensi), sedangkan untuk 3 dimensi berbentuk

2 2  (r, t )
   (r, t )  V (r, t ) (r, t )  i  ,
2m t

dengan m  massa partikel,   tetapan Planck dibagi 2 dan V(x,t)


 energi potensial partikel.
3. Bentuk eksplisit persamaan Schrödinger ditentukan oleh fungsi energi
potensial partikel yang dibicarakan. Oleh sebab itu, untuk merumus-
kan persamaan Schrödinger bagi suatu sistem, kita harus mengetahui
terlebih dahulu energi potensial sistem. Rumusan klasik dapat kita gu-
nakan untuk keperluan ini. Misalnya, untuk osilator harmonis:V(x,t) 
½kx2.
4. Persamaan Schrödinger merupakan persamaan diferensial parsial da-
lam ruang fungsi kompleks variabel real. Akibatnya, fungsi gelombang
yang dihasilkan pada umumnya berupa fungsi kompleks variabel real.
5. Persamaan Schrödinger merupakan persamaan diferensial linear. Aki-
batnya, kombinasi linear beberapa fungsi penyelesaiannya juga meru-
pakan penyelesaian persamaan Schrödinger untuk sistem yang sama.
6. Dengan persamaan Schrödinger kita dapat melakukan berbagai hal,
antara lain seperti tersebut di bawah ini.
 Mendapatkan fungsi gelombang. Sebagaimana telah dibahas di Bab
4, dari fungsi gelombang itu kita dapat mengetahui berbagai hal
tentang keadaan sistem yang dibicarakan.
 Mengetahui bagaimana fungsi gelombang (keadaan sistem) beru-
bah terhadap waktu.
 Mengetahui bagaimana nilai harap besaran fisis berubah terhadap
waktu. Formulasi yang telah kita rumuskan untuk keperluan ini
adalah

Bab 5: Persamaan Schrödinger


144 Rangkuman

d 1 Aˆ
A  [ Aˆ , Hˆ ] 
dt i  t

ˆ , Hˆ ]
dengan A menyatakan besaran fisika yang dibicarakan dan [ A
adalah komutator yang dibentuk oleh  dan Ĥ , yaitu operator
yang mewakili besaran A dan hamiltonan sistem H. Persamaan itu
dikenal sebagai persamaan gerak Heisenberg.
 Mengetahui spektrum energi (kumpulan nilai energi) yang dimiliki
partikel.
7. Penerapan formula perubahan nilai harap besaran fisis terhadap
waktu pada besaran posisi, momentum linear, dan hamiltonan sistem
konservatif menunjukkan bahwa persamaan Schrödinger memenuhi
asas kesepadanan dengan fisika klasik. Perhatikan tabel berikut.

Konsep Rumusan Klasik Rumusan Kuantum


Momentum dan dx d x
kecepatan pm p m
dt dt
Hukum ke-2 dp x dV ( x) d px dV ( x)
Newton  
dt dx dt dx
dp
  V (r ) dp
dt   V (r )
dt
Hukum H  Ek + Ep = konstanta H = konstanta
Kekekalan Energi

8. Jika energi potensial sistem secara eksplisit tidak bergantung pada


waktu, maka penyelesaian umum persamaan Schrödingernya merupa-
kan kombinasi linear dari fungsi-fungsi gelombang stasioner yang
masing-masing berbentuk

 ( x, t )   ( x) e i E t /  ,

dengan  (x) dan E harus memenuhi persamaan Schrödinger bebas


waktu:

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 145

 2 d 2 ( x)
  V ( x ) ( x )  E  ( x ) .
2m dx 2
9. Persamaan Schrödinger bebas waktu hanya dapat digunakan jika po-
tensial sistem secara eksplisit tidak bergantung pada waktu. Persama-
an ini bukan versi lain dari persamaan Schrödinger, melainkan hanya-
lah suatu persamaan yang diperlukan untuk mendapatkan bagian ru-
ang bagi fungsi gelombang lengkap pada keadaan stasioner.
10. Persamaan Schrödinger bebas waktu disebut juga sebagai persamaan
nilai eigen (eigenvalue equation) bagi hamiltonan sistem, dan dapat ditu-
lis dalam bentuk
Ĥ  ( x)  E  ( x)
2
 d2
dengan Hˆ    V ( x) . Dalam hal ini,  (x) disebut fungsi eigen
2 m dx 2
dan E disebut nilai eigen

11. Fungsi eigen  (x) harus memenuhi syarat: (1) (x) dan derivatifnya
terhadap x harus kontinu di mana-mana (di semua x), (2) (x) dan
derivatifnya terhadap x harus berhingga di mana-mana (di semua x),
(3)  (x) dan derivatifnya terhadap x harus bernilai tunggal di mana-
mana (di semua x), dan (4)  (x) dan derivatifnya harus dapat dinor-
malkan (jadi harus tergolong fungsi SI).
12. Dengan adanya persyaratan yang harus dipenuhi fungsi eigen tersebut
maka nilai E (dalam hal ini menyatakan energi total sistem) tidak boleh
bernilai sebarang.
13. Fungsi gelombang  ( x, t )  ( x) e iEt /  menghasilkan rapat peluang
posisi yang tidak bergantung pada waktu. Oleh karena itu, fungsi ge-
lombang itu dikatakan sebagai fungsi gelombang stasioner. Keadaan
sistem yang dideskripsikan disebut keadaan stasioner.
14. Pengukuran energi pada fungsi gelombang stasioner menghasilkan ke-
tidakpastian sebesar nol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
keadaan stasioner merupakan keadaan dengan energi pasti.
15. Hasil kombinasi linear beberapa fungsi gelombang stasioner dengan
energi berbeda bukan merupakan fungsi gelombang stasioner.

Bab 5: Persamaan Schrödinger


146 Perlatihan

PERLATIHAN

Pertanyaan konsep
1. Bandingkan struktur persamaan Schrödinger dengan persamaan-per-
samaan gelombang yang Anda kenal dalam fisika klasik. Adakah per-
bedaan atau kesamaannya? Daftar dan deskripsikan perbedaan dan
kesamaan yang Anda temukan itu.
2. Dalam fisika klasik seringkali kita menggunakan fungsi kompleks un-
tuk menyelesaikan persamaan fisika yang berupa persamaan diferen-
sial, misalnya pada persoalan osilator, arus bolak-balik, atau gelom-
bang elektromagnet. Tetapi ketika memaknai fungsi tersebut kita tidak
menggunakannya secara utuh melainkan hanya mengambil bagian
real atau bagian imajinernya saja. Mengapa demikian? Menurut Anda,
apakah cara tersebut juga harus kita gunakan dalam memaknai fungsi
gelombang hasil penyelesaian persamaan Schrödinger?
3. Dapatkah persamaan Schrödinger digunakan untuk partikel immaterial
(partikel tak bermassa) seperti foton misalnya?
4. Dapatkah persamaan Schrödinger digunakan untuk sistem non kon-
servatif? (Petunjuk: Pecahkan dulu pertanyaan “dapatkah Anda men-
definisikan/merumuskan energi potensial bagi sistem non konserva-
tif?”).
5. Apakah persamaan Schrödinger mengakomodasi prinsip superposisi
gelombang seperti halnya persamaan gelombang lainnya?
6. Dalam mekanika Newton, keadaan gerak partikel dapat diketahui dari
trayektorinya (biasanya diwujudkan dalam bentuk fungsi yang me-
nyatakan bagaimana posisi partikel berubah terhadap waktu), dan
trayektori itu didapatkan dengan menyelesaikan hukum ke-2 Newton:
d2x
F m 2 .
dt
Jadi, untuk mendapatkan trayektori kita harus mengetahui terlebih da-
hulu gaya yang bekerja pada partikel itu. Apakah untuk mengetahui
fungsi gelombang yang diasosiasikan dengan suatu partikel kita juga
harus mengetahui gaya yang bekerja pada partikel itu?
7. Informasi apakah yang nilainya tetap (tidak bergantung pada waktu)
yang terkandung dalam fungsi gelombang stasioner?
8. Kapan Anda diperbolehkan menggunakan persamaan Schrödinger be-
bas waktu?

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 147

9. Suatu partikel bermassa m berada pada medan gravitasi yang diha-


silkan oleh benda lain yang bermassa M. Dapatkah Anda menggu-
nakan persamaan Schrödinger bebas waktu untuk kasus itu? Adakah
persyaratan yang harus dipenuhi?
10. Kesepadanan (kesetaraan) antara rumusan fisika kuantum dan rumus-
an mekanika Newton akan dicapai jika ungkapan-ungkapan dalam ru-
musan kuantum tersebut dinyatakan dalam nilai harap. Mengapa de-
mikian?

Pertanyaan Analisis
1. Tuliskan persamaan Schrödinger dalam sistem koordinat (a) bola, (b)
silinder!
2 - i Et / 
2. Diketahui fungsi gelombang ( x , t )  A x e  x e dengan A suatu
tetapan. (a) Jika fungsi gelombang tersebut merupakan penyelesaian
persamaan Schrödinger, dapatkan potensial partikel yang dideskripsi-
kan oleh fungsi gelombang itu. (b) Adakah hubungan antara E dan ?
3. Selidikilah apakah fungsi gelombang pada soal nomor 2 di atas meme-
nuhi syarat sebagai fungsi gelombang yang menyajikan keadaan suatu
sistem? (Petunjuk: Selidiki apakah fungsi gelombang tersebut kontinu,
bernilai tunggal, dan berhingga di mana-mana)
4. Selidikilah apakah fungsi gelombang pada nomor 2 tersebut mendes-
kripsikan keadaan stasioner?
5. Dengan menggunakan fungsi gelombang pada nomor 2 di atas hitung:
(a) nilai harap posisi partikel, (b) nilai harap momentum linear parti-
kel, dan (c) nilai harap energi total partikel.
6. Selidiki apakah fungsi gelombang pada nomor 2 di atas menyatakan
keadaan sistem konservatif?
7. (a) Tuliskan persamaan Schrödinger untuk partikel yang dipengaruhi
 1 1 
oleh potensial Lenard-Jones V( r , t )   k  6  12  . (b) Dapatkah Anda
r r 
menggunakan persamaan Schrödinger bebas waktu pada kasus itu?
8. Tuliskan persamaan Schrödinger bagi partikel yang dipengaruhi oleh
potensial periodik dengan periode (a + b) jika dalam interval 0 < x < b
potensial tersebut berbentuk
 0 ;0x a
V( x )   .
V0 ; a  x  b

Bab 5: Persamaan Schrödinger


148 Perlatihan

9. Selidikilah apakah setiap fungsi gelombang (untuk nilai n tertentu)


berikut
 2 nπx  i Et / 
 sin e ; x  a/2
 a a
 ( x, t )  

 0 ; x  a/2
(n merupakan bilangan asli) menyatakan keadaan stasioner? Apakah
kombinasi 2 atau lebih fungsi gelombang itu (misalnya antara n = 1
dan n = 2) menyatakan keadaan stasioner?
10. Dengan menggunakan fungsi gelombang pada nomor 9 di atas, dapat-
kan rumusan tentang (a) kebergantungan nilai harap posisi terhadap
waktu, (b) kebergantungan nilai harap momentum linear terhadap
waktu.
11. Tunjukkan bahwa pada osilator harmonis satu dimensi dengan freku-
d2  x 
ensi sudut  berlaku hubungan  2  x   0 .
dt2
12. Mengingat operator hamiltonan Ĥ bersifat Hermitean, tunjukkan bah-

  * 
wa   Hˆ  Aˆ  dx     * Hˆ Aˆ  dx .
2 m
13. Jika fungsi  ( x )  A e ax dengan A suatu tetapan dan a  merupa-
2
kan penyelesaian persamaan Schrödinger bebas waktu bagi osilator
harmonis, tentukan berapa energi E osilator harmonis tersebut!
m 2 m
14. Jika fungsi  ( x )  x e ax dengan a  merupakan penyelesaian
 
persamaan Schrödinger bebas waktu bagi osilator harmonis, tentukan
berapa energi E osilator harmonis tersebut!
15. Untuk merumuskan persamaan Schrödinger bagi suatu sistem, apakah
yang harus Anda ketahui terlebih dahulu tentang sistem itu? (Petun-
juk: apakah fungsi gelombangnya, atau energi kinetiknya, atau energi
totalnya, atau energi potensialnya, atau massanya?)

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 149

Keadaan stasioner, energi pasti 138


B Keadaan tereksitasi 135
Kecepatan hanyut (drift velocity) 132
Bilangan kuantum 135
Komutator
D mometum dan Hamiltonan 127
posisi dan Hamiltonan 126
Deterministik 122
L
E
Laplacean 118
Ehrenfest, teorema 129 Lenard-Jones 147

F N
Fisika kuantum Newton 115, 128, 129, 143, 144, 146,
kesepadanan dengan fisika klasik 147
129 nilai eigen 135
kesepadanan dgn mekanika Nilai harap
Newton 147 perubahan terhadap waktu 123,
fungsi eigen 135 126
Fungsi eigen
persyaratan 139 O
Fungsi eigen, persyaratan santun 139
Operator energi total 117
Fungsi kompleks 120
Operator Hermitean 148
G Operator Laplacean 118

Gelombang stasioner P
kombinasi linear 138
Pengkuantuman energi 135, 140
H berdasarkan Pers. Schrödinger 140
persamaan nilai eigen
Hamiltonan 126, 127, 129, 134, 144, Hamiltonan 135
145, 148 Persamaan nilai eigen
Heisenberg energi total 117
persamaan gerak 126 Persamaan Schrodinger
hukum kekekalan energi 116 bebas waktu
Hukum kekekalan energi syarat berlakunya 136
persamaan operator 116 dan Hukum Newton 143
Hukum kekekalan muatan listrik 131 Persamaan Schrödinger
3 dimensi 118
K bebas waktu 133, 134
keadaan dasar (ground state) 135 dan hukum kekekalan energi 129
Keadaan stasioner 136, 137 kesepadanan dengan mekanika
energi pasti 136 Newton 115

Bab 5: Persamaan Schrödinger


150 Perlatihan

satu dimensi 118 Persamaan kontinuitas 131


untuk elektron dalam medan Rapat peluang
Coulomb 120 kekalan global 130
untuk osilator harmonis 119
Perubahan nilai harap S
momentum 127
Schrodinger, Persamaan
posisi 126
bentuk eksplisit 119
Planck-Einstein, kaitan 117
Schrödinger, persamaan
bebas waktu 133–34
R
penjabaran 115–18
Rapat arus peluang 131, 132 Schrödinger, Persamaan
definisi 131 struktur matematis 120
kekekalan lokal 132

Pengantar Fisika Kuantum

Anda mungkin juga menyukai