Anda di halaman 1dari 11

RM 

and Partners
Counsellor at Law
Jl. Mataram Millenia Estate kav.B.5/10 Jember
Mobile : 081 249 86186
www.rmandpartners.com
 
 
PLEDOI / NOTA PEMBELAAN
ATAS NAMA TERDAKWA ALIAS
Dalam perkara pidana Nomor : 0000000/Pid.B/2014/PN.Jr
 
LEBIH BAIK MELEPASKAN SERIBU ORANG YANG DIDUGA BERSALAH
DARIPADA MENGHUKUM SATU ORANG YANG TIDAK BERSALAH
 
Kepada Yth
Majelis Hakim yang Kami Muliakan
Penuntut Umum dan sidang yang kami hormati
Dengan penuh rasa hormat dalam menjunjung tinggi penegakan hukum dan keadilan di Negeri
tercinta ini, ijinkanlah kami untuk menyampaikan nota pledoi/pembelaan sebelum yang mulia
Majelis Hakim pemeriksa perkara ini menjatuhkan putusan terhadap perkara pidana atas nama
terdakwa ;
ALIAS, umur 16 tahun, alamat di Dusun Anumerta, Desa Suka, Kecamatan Suramadu,
Kabupaten Jember ;
DALAM DAKWAAN;
Bahwa, Terdakwa atas perbuatannya dalam perkara pidana ini telah di dakwa oleh Jaksa
Penuntut Umum dengan menggunakan dakwaan alternatif sebagaimana yang telah diuraikan
dalam surat dakwaan yakni :
Dakwaan Kesatu
-  Bahwa,  Terdakwa di duga telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam
menurut Pasal 81 ayat (1) Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak Subsidair  Pasal 81 ayat (2) Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak ;
atau
Dakwaan Kedua
-  Bahwa,  Terdakwa di duga telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam
menurut Pasal 82 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ;
Bahwa, oleh karena Penuntut Umum telah menggunakan teknis Dakwaan Alternatif maka
Penuntut Umum hanya WAJIB MEMBUKTIKAN salah satu dari kedua  dakwaan baik
KESATU atau KEDUA sehingga bilamana ada salah satu saja dakwaan diantaranya yang dapat
dibuktikan dan dikenakan atas perbuatan pidana yang dilakukan Terdakwa maka Penuntut
Umum telah dapat melakukan penuntutan terhadap Terdakwa ;
DALAM TUNTUTAN ;
Bahwa, Penuntut umum dalam tuntutannya Menyatakan Terdakwa bersalah melakukan tindak
pidana sebagaimana diatur dalam pasal Pasal 81 ayat (1) Undang-undang nomor 23 tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, dan menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara
selama 3 (tiga) tahun penjara dan denda sebesar Rp.60.000.0000 (enam puluh juta rupiah)
subsidair 3 (tiga) bulan menjalani pelatihan kerja di bapas ;
 
TENTANG ANALISIS DAN PERTIMBANGAN HUKUM
Hakim Majelis yang kami muliakan
Saudara Penuntut Umum dan sidang yang kami hormati,
KETERANGAN SAKSI-SAKSI DI DEPAN PERSIDANGAN
Saksi MELATI di bawah sumpah menerangkan ;
 Bahwa, benar saksi adalah ibu kandung korban ;
 Bahwa, benar korban mengalami sakit polio dan kesulitan dalam berbicara ;
 Bahwa, benar hanya saksi yang bisa mengerti dan bisa menerjemahkan perkataan
korban ;
 Bahwa, benar pada waktu kejadian saksi sedang nyuci di sungai ;
 Bahwa, benar saksi tidak mengetahui secara langsung kejadian pemerkosaan yang
menimpa korban ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui kejadian tersebut hanya dari cerita korban ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui ada darah di kain jarit dan ada sperma di celana pendek
korban ;
 Bahwa, benar korban pernah sakit dan pernah mengeluarkan darah dari telinga dan
hidung saat korban berumur 5 tahun ;
 Bahwa, benar rumah saksi sering dijadikan tempat penitipan alat-alat pertanian oleh
mandor dan kuli perkebunan ;
 Bahwa, benar saksi pernah menyuruh terdakwa untuk membelikan pulsa sesaat setelah
kejadian karena saksi akan menelepon ayah korban untuk mengabari kejadian pemerkosaan
yang menimpa korban ;
Saksi ANGGREK di bawah sumpah menerangkan ;
 Bahwa, benar saksi adalah tetangga korban ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui korban diperkosa oleh Terdakwa hanya dari cerita saksi
ibu korba ;
 Bahwa, benar saksi pada saat kejadian sedang menggendong/menidurkan cucunya di
dekat rumah korban ;
 Bahwa, benar saksi tidak melihat Terdakwa masuk kerumah korban ;
 Bahwa, benar saksi mendengar korban menangis namun hal tersebut dianggap biasa oleh
saksi karena sehari-harinya saksi sering mendengar korban bernyanyi seperti suara orang
menangis ;
Saksi MAWAR di bawah sumpah menerangkan ;
 Bahwa, benar saksi adalah tetangga korban ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui korban diperkosa oleh Terdakwa hanya dari cerita saksi
ibu korban ;
 Bahwa, benar saksi pernah berpapasan dengan korban di tengah jalan saat Terdakwa
hendak beli pulsa milik saksi MELATI ;
 Bahwa, benar saksi pernah mengetahui korban pernah sakit-sakitan dan keluar darah dari
telinga dan hidung korban ;
Saksi A De Charge KUMBANG di bawah sumpah menerangkan ;
 Bahwa, benar saksi adalah tetangga korban ;
 Bahwa, benar saksi pada saat kejadian sedang bekerja membuat kusen di samping rumah
korban ;
 Bahwa, benar jam kerja saksi dari jam 08.00 s/d 12.00 WIB ;
 Bahwa, benar tempat kerja saksi berjarak 15 meter dari rumah korban ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui Terdakwa tidak masuk sekolah karena sakit panas ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui Terdakwa mengambil daun jeruk di depan rumah korban
untuk obat gatal-gatal di tangan Terdakwa ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui setelah mengambil daun jeruk Terdakwa langsung
pulang ke rumahnya ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui korban diperkosa oleh Terdakwa hanya dari cerita saksi
MELATI (ibu korban) ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui korban sering kejang-kejang (seperti orang ketakutan)
saat berhadapan dengan orang lain ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui korban sering sakit-sakitan dan sering mengeluarkan
darah dari hidung dan telinga korban ;
 Bahwa, benar banyak tukang kebun dan mandor perkebunan menitipkan alat-alat di
rumah korban ;
Saksi A De Charge LEO di bawah sumpah menerangkan ;
 Bahwa, benar saksi adalah tetangga korban ;
 Bahwa, benar saksi pada saat kejadian sedang bekerja membuat kusen di samping rumah
korban ;
 Bahwa, benar jam kerja saksi dari jam 08.00 s/d 12.00 WIB ;
 Bahwa, benar tempat kerja saksi berjarak 15 meter dari rumah korban ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui Terdakwa tidak masuk sekolah karena sakit panas ;
 Bahwa, benar saksi bersama dengan Terdakwa ke sungai untuk meminta daun jeruk
kepada saksi MELATI ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui setelah mengambil daun jeruk Terdakwa langsung
pulang ke rumahnya ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui korban diperkosa oleh Terdakwa hanya dari cerita saksi
MELATI (ibu korban) ;
 Bahwa, benar banyak tukang kebun dan mandor perkebunan menitipkan alat-alat di
rumah korban ;
 Bahwa, benar saksi mengetahui korban sering kejang-kejang (seperti orang ketakutan)
saat berhadapan dengan orang lain, karena saksi setap harinya sering melihat korban
digendong ibunya ;
KETERANGAN TERDAKWA DI DEPAN PERSIDANGAN
Keterangan Terdakwa di bawah sumpah menerangkan ;
 Bahwa, Terdakwa tidak pernah melakukan pemerkosaan terhadap Korban ;
 Bahwa, benar Terdakwa pernah meminta daun jeruk kepada saksi MELATI untuk
mengobati gatal-gatal di tangannya karena kena knalpot ;
 Bahwa, benar setelah mengambil daun jeruk Terdakwa langsung pulang, dan langsung
tidur ;
 Bahwa, benar Terdakwa terbangun dari tidurnya sekitar jam 11.00 WIB saat ada rame-
rame di rumah korban ;
 Bahwa, benar Terdakwa mengetahui korban diperkosa dari cerita ibu korban ;
 Bahwa, benar pada saat proses penyidikan (malam hari pada waktu/setelah ditangkap)
Terdakwa dipaksa dan dipukul agar mengakui telah memperkosa Korban ;
 Bahwa, benar Terdakwa telah di intimidasi dan dipaksa untuk mengaku telah
memperkosa korban di depan Penyidik kepolisian ;
KETERANGAN ORANG TUA TERDAKWA DI DEPAN PERSIDANGAN
 Bahwa, benar Terdakwa adalah anak kandungnya ;
 Bahwa, benar Terdakwa saat ini masih bersekolah di SMK dan masih belum
dikeluarkan ;
 Bahwa, benar Terdakwa pada hari selasa tanggal 01 Oktober 2013 tidak masuk sekolah
karena sakit panas ;
 Bahwa, benar orang tua Terdakwa tidak mempunyai pohon jeruk ;
 Bahwa, benar Terdakwa meminta daun jeruk kepada saksi MELATIuntuk mengobati
tangan Terdakwa yang gatal-gatal akibat kena knalpot ;
 Bahwa, benar orang tua Terdakwa ada kesenjangan sosial dengan saksi MELATI (orang
tua Korban) ;
 Bahwa, orang tua Terdakwa sanggup membimbing dan sanggup mengawasi serta
menyekolahkan Terdakwa ;
ANALISIS YURIDIS FORMIL.
1. Bahwa, setelah sekian lama waktu berjalan dan sangat melelahkan serta dengan penuh
kesabaran satu demi satu, tahap demi tahap dan akhirnya kami memperoleh sebuah fakta
hukum yang terkuak dan menjelaskan pada kebenaran formil dan material serta obyektif
dari segala hal-hal yang menyelimuti tabir perkara ini ;
2. Bahwa, berdasarkan keterangan saksi-saksi, saksi a de charge, serta surat-surat, petunjuk,
barang bukti serta keterangan Terdakwa sendiri di depan persidangan, telah diperoleh
adanya kelemahan dari sisi penerapan hukum formil sehubungan dengan pemberkasan
perkara a quo dimana penyidik dan Penuntut Umum dalam melakukan pembuktian
terhadap dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa kesemuanya tidak dapat
memberikan penilaian pembuktian yang sempurna, hal ini dapat dilihat dari proses
pemeriksaan baik dari saksi-saksi, barang bukti, visum et repertum yang dibuat dan
keterangan Tersangka yang terintimidasi kesemuanya tidak dapat memberikan keyakinan
yang kuat dalam mendukung atau mendasari dakwaan Penuntut Umum kepada Terdakwa ;
3. Bahwa, adalah dalam perkara ini penyidik dan penuntut umum sengaja memaksakan diri
untuk membuktikan kesalahan Terdakwa, karena dalam membuktikan kesalahan
Terdakwa hanya berdasarkan dari keterangan Terdakwa dalam BAP kepolisian yang
dilakukan dibawah tekanan dan ancaman, dan keterangan Korban Semata, sehingga dalam
hal ini sangat memungkinkan terjadinyarekayasa dan jauh dari kesan Objektif dan
Terpercaya maka sudah seharusnya keterangan tersebut tidak dapat diterima sebagai saksi
yang sempurna dan mohon ditolak atau dikesampingkan ;
4. Bahwa, meskipun alat bukti berupa surat visum et repertum telah dijadikan sebagai alat
bukti, hal tersebut tidak dapat menunjukkan apakah saksi korban telah mengalami
persetubuhan dengan Terdakwa, hal tersebut juga tidak dapat membuktikan secara sah dan
meyakinkan Terdakwa pulalah yang melakukannya, hal ini dikarenakan visum et repertum
nomor 123456 tertanggal 01 Oktober 2013 tidak dapat menunjukkan rekam jejak yang
secara pasti dengan siapa saksi korban tersebut telah melakukan persetubuhan, mengingat
dari hasil visum et repertum tersebut tidak dapat diketemukan bukti yang meyakinkan jika
Terdakwa tersebut telah melakukannya ;
5. Bahwa, barang bukti berupa 1 (satu) buah jarit yang terdapat noda darah dan 1 (satu)
buah celana pendek yang terdapat noda sperma, hal tersebut juga tidak dapat membuktikan
dan menunjukkan bahwasanya Terdakwa memang benar-benar memperkosa Korban,
Penyidik tidak pernah melakukan tes laboratorium, atau uji klinis, ataupun tes forensik
apakah sperma yang terdapat pada barang bukti adalah sperma Terdakwa atau bukan, dan
alat bukti kain jarit yang terdapat noda darah juga tidak dapat membuktikan apakah itu
benar-benar noda darah karena korban diperkosa karena keterangan semua saksi di depan
persidangan bahwasanya korban sering sakit-sakitan dan sering keluar darah dari telinga
dan hidungnya, namun ironisnya, meskipun alat bukti permulaan belumlah cukup, namun
pihak kepolisian tetap menangkap korban, memaksa dan mengancam Terdakwa untuk
mengakui telah memperkosa korban, sehingga berawal dari pengakuan Terdakwa yang
dilakukan dibawah ancaman dan tekanan, Penyidik dan Penuntut Umum menganggap
berkas perkara Terdakwa telah lengkap;
6. Bahwa, dalam pasal 1 angka 14 Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau
keadaannya berdasarkan bukti permulaan yang cukup patut diduga sebagai pelaku tindak
pidana, apa sebenarnya arti istilah “bukti permulaan yang cukup ?” hal ini jika
dikorelasikan dengan pasal 183 KUHAP maka harus memenuhi syarat sebagaimana pasal
tersebut yang bunyinya :
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-
kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya ;
7. Bahwa, pada prinsipnya batas minimal pembuktian yang terdiri sekurang-kurangnya dua
alat bukti, bisa terdiri dari dua orang saksi dan alat bukti  lain atau saksi di tambah 2
(dua) alat bukti yang lain, hal ini merupakan batasan pembuktian yang lebih ketat dari
pada dahulu yang di atur di dalam HIR yaitu pada Pasal 292 sampai dengan Pasal 322
tentang permusyawaratan, bukti dan putusan hakim, hal ini sangat berdampak pada
suasana penyidikan yang tidak lagi main tangkap dulu baru nanti di pikirkan
pembuktiannya, namun metode kerja penyidik menurut KUHAP haruslah di balik yaitu
lakukan penyelidikan, penyidikan dengan cermat dengan teknik dan taktis investigasi
yang mampu mengumpulkan bukti yakni alat-alat bukti yang sah menurut Pasal 184
KUHAP dan termasuk bukti lain yang berasal dari barang-barang bukti hasil kejahatan,
dari bukti-bukti tersebut baru dilakukan pembuktian, dalam perkara ini penyidik dengan
sengaja memaksakan terpenuhinya unsur pidana yang menjerat Terdakwa, mereka
melakukan penangkapan terhadap Terdakwa hanya berdasarkan laporan dan keterangan
dari ibu korban semata yang menceritakan bahwa korban telah diperkosa oleh Terdakwa,
sehingga jelas dan nyata dalam hal ini pihak kepolisian main tangkap seenaknya baru
nanti di pikirkan pembuktiannya dengan cara mengintimidasi, memaksa, atau
mengancam Terdakwa nantinya agar mau mengakui perbuatan pemerkosaan terhadap
korban yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya ;
Maka berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa
mohon kepada yang Mulia Hakim Majelis pemeriksa perkara ini untuk menolak/ tidak
mengabulkan dakwaan Penuntut Umum, atau setidak nya tidak dapat diterima dan
dikesampingkan ;
ANALISIS YURIDIS MATERIL.
Dalam rumusan pasal 81 ayat (1) Undang-undang nomor 23 tahun 2002 ;
DENGAN SENGAJA MELAKUKAN KEKERASAN ATAU ANCAMAN KEKERASAN
MEMAKSA ANAK MELAKUKAN PERSETUBUHAN DENGANNYA ATAU DENGAN
ORANG LAIN
Sebagaimana dalam tuntutan Penuntut Umum yang menyatakan Terdakwa dianggap telah
melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 82 ayat (1) Undang-
undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan mengesampingkan maka yang
perlu dibuktikan adalah ;
Unsur Setiap Orang.
Pengertian unsur tersebut adalah setiap orang sebagai subjek hukum pendukung hak dan
kewajiban yang sehat akal pikirannya dan dapat dimintakan pertanggung jawaban hukum atas
perbuatannya, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan bahwa Terdakwa
sebagai orang yang telah didakwa oleh penuntut umum karena melakukan suatu tindak pidana
dan terdakwa mengakui seluruh identitas yang sesuai dalam surat dakwaan penuntut umum
sebagaimana ketentuan pasal 155 ayat (1) KUHAP, dan terdakwa dalam keadaan sehat jasmani
dan rohani serta dapat menjawab dan mendengar setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya
sehingga terdakwa tergolong mampu secara hukum dapat mempertanggung jawabkan
perbuatannya, berdasarkan uraian tersebut maka unsur barang siapa telah terpenuhi ;
Unsur Dengan Sengaja.
Unsur dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa melakukan tipu
muslihat serangkaian kebohongan atau membujuk anak ;
 Bahwa berdasarkan fakta hukum tidak ada alat bukti baik keterangan saksi-saksi yang
menerangkan bila Terdakwa benar-benar telah melakukan tindakan sebagaimana unsur
tindak pidana yang dimaksud selain dari berdasarkan dari keterangan Korban Semata,
sehingga dalam hal ini sangat memungkinkan terjadinyarekayasa dan jauh dari kesan
Objektif dan Terpercaya maka sudah seharusnya keterangan tersebut tidak dapat
diterima sebagai saksi yang sempurna dan mohon ditolak atau dikesampingkan. Berpijak
dari fakta-fakta hukum dalam persidangan tersebut unsur ini dapat dikatakan tidak
terbukti secara sah dan meyakinkan ;
 Bahwa, berdasarkan fakta persidangan, Terdakwa menyangkal dan mengingkari semua
isi BAP kepolisian. Kami lebih cenderung agar Yang Mulia Hakim Majelis bersifat aktif,
BAP merupakan dasar hukum dibuatnya surat dakwaan oleh jaksa atau penuntut umum.
BAP yang cacat yuridis akan membawa konsekuensi surat dakwaan batal demi hukum
(vide: Pasal 143 KUHAP). Keempat, penyidik yang melakukan kekerasan atau
pemaksaan dapat dikenai delik Pasal 422 KUHP dan delik penculikan. Juga dapat digugat
secara perdata melalui pasal catch all 1365 KUH Perdata (BW), dalam perkara tindak
pidana umum hanya penyidik (polisi) yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk
melakukan penyidikan, penangkapan, atau penahanan. Jadi, bukan wewenang badan
ekstrayudisial. Mengingat Indonesia adalah negara hukum (menurut UUD 1945), bukan
negara kekuasaan, konsekuensinya rule of law, rule of justice, law gives even treatment
to all, hak-hak asasi manusia, dan sebagainya ditegakkan. Walaupun negara hukum itu
dalam prakteknya hanya utopia, kita harus selalu cenderung mengimplementasikan cita-
cita negara hukum tersebut, paling tidak secara maksimal berusaha ke arah negara
hukum. Di sini, sudah saatnya direnungkan, untuk memakai judicial precedent seperti di
negara-negara common law ;
Berita acara pemeriksaan (BAP) sebagai hasil dari proses verbalisan yang dilaksanakan
penyidik terhadap saksi maupun tersangka, tidak memiliki kekuatan pembuktian yang
sempurna. Artinya, bagi hakim isi BAP tidak dapat dipakai dasar untuk menyatakan
bahwa berdasarkan BAP saksi-saksi, seorang terdakwa dapat dinyatakan terbukti
bersalah. Sebab menurut yurisprudensi Mahkamah Agung RI menyatakan sebagai berikut
;
 Bahwa berdasarkan alasan dalam keadaan bingung atau keadaan tertentu, maka
keterangan/pengakuan terdakwa (isi dalam BAP) di muka polisi dan di muka persidangan
dapat berbeda (Yurisprudensi No. 33 K/Kr/1974, tanggal 29 Mei 1975) ;
 Bahwa pengakuan dalam BAP seorang tersangka di muka polisi dalam pemeriksaan
pendahuluan (penyidikan) menurut hukum adalah suatu pengakuan yang dalam bahasa asing
disebut “bloke bekentenis”, yang dalam bahasa Indonesianya berarti “pengakuan hampa”.
Maka pengakuan dalam pemeriksaan pendahuluan itu hanya dapat dipakai sebagai ancer-
ancer (aanwijzing) yang apabila tidak dikuatkan dengan alat-alat bukti lain yang sah, maka
menurut hukum belum terbukti sempurna kesalahan terdakwa ;
Maka apabila hal ini kita korelasikan dengan keterangan ibu korban yang hanya mendengar
keterangan saksi korban semata (testimonium de auditu), maka prinsip minimal pembuktian
tidaklah terpenuhi;
Karena itulah sesuai dengan ketentuan Pasal 185 ayat (1) KUHAP tegas mengatakan, keterangan
saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Dengan demikian
BAP sebagai hasil pemeriksaan pihak penyidik, baik terhadap saksi maupun tersangka, tidak
lebih dari sekadar pedoman bagi hakim untuk menjalankan pemeriksaan. Apa yang tertulis di
dalam BAP tidak menutup kemungkinan berisi pernyataan-pernyataan tersangka yang timbul
karena situasi psikis, kebingungan, atau bahkan keterpaksaan disebabkan siksaan ;
Unsur Melakukan atau Membiarkan Perbuatan Cabul.
Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan lagi-lagi Penuntut Umum
hanya mengikuti ritme irama keterangan dari Saksi Korban sendiri dan pengakuan Terdakwa
dalam BAP kepolisian, tanpa adanya dukungan bukti lain, yakni saksi-saksi lain yang
memperkuat keterangan dari Saksi Korban tersebut, yang faktanya antara keterangan saksi
korban dengan Saksi lainnya tidak ada kesesuaian (kontradiktif), dengan kata lain semua saksi
tidak ada yang melihat Terdakwa masuk ke rumah korban pada saat kejadian, dan semua saksi-
saksi di dalam BAP lagi-lagi hanyalah saksi Testimonium de auditu saja, mereka hanya
mendengar cerita bohong pemerkosaan yang menimpa korban dari ibu korban saja sehingga
kesaksian tersebut mohonlah kiranya ditolak atau dikesampingkan ;
Bahwa, meskipun visum et repertum nomor 123456 tertanggal 01 Oktober 2013 telah dijadikan
sebagai alat bukti, hal tersebut tidak dapat menunjukkan dan tidak bisa menerangkan tentang
siapa sebenarnya yang telah memperkosa korban, sebab hasil visum tersebut hanya sebatas
keterangan ahli kedokteran untuk menjelaskan adanya luka pada alat vital korban sebagai bukti
adanya persetubuhan, namun tidak bisa menerangkan tentang siapa sebenarnya yang telah
bersetubuh/memperkosa korban ;
Bahwa, barang bukti berupa 1 (satu) buah celana pendek yang terdapat noda sperma, hal tersebut
juga tidak dapat menunjukkan bahwasanya Terdakwa memang benar-benar memperkosa
Korban, Penyidik tidak pernah melakukan tes forensik/laboratorium apakah sperma yang
terdapat/menempel dicelana pendek korban adalah sperma Terdakwa ataukah sperma orang lain.
Selama ini dasar dari tuduhan terhadap pelaku perkosaan umumnya adalah hanya dari kesaksian
korban dan pengakuan tersangka saja, padahal kedua alat bukti ini seringkali sulit dipercaya
karena sifatnya yang sangat subyektif ;
Bahwa, barang bukti berupa 1 (satu) buah jarit yang terdapat noda darah juga tidak dapat
membuktikan dan menunjukkan bahwasanya Terdakwa memang benar-benar memperkosa
Korban, karena keterangan semua saksi di depan persidangan menerangkan korban sejak kecil
sering sakit-sakitan dan sering keluar darah dari telinga dan hidungnya ;
Bahwa, keterangan saksi yang pada saat kejadian bekerja sangat dekat sekali dengan rumah
korban (±15 meter depan rumah korban), pada intinya menerangkan bahwasanya kedua saksi
tersebut melihat dengan jelas setelah Terdakwa mengambil daun jeruk di depan rumah korban
Terdakwa langsung pulang ke rumahnya, sehingga unsur tindak pidana ini tidak dapat terbukti
secara sah dan meyakinkan bilamana Terdakwa melakukannya ;
Bahwa, secara Fisik dan Psikis Terdakwa adalah seorang pribadi yang sempurna, selain dirinya
tampan dan masih muda belia, Terdakwa juga sudah punya pacar teman sebayanya, dan
Terdakwa terkenal sebagai pribadi yang pendiam, sehingga  sangatlah tidak masuk akal bilamana
Terdakwa tega melakukan pemerkosaan terhadap korban yang masih anak di bawah umur ;
Bahwa, berdasarkan keterangan saksi-saksi di depan persidangan, rumah korban memang sering
dijadikan tempat menitipkan alat-alat perkebunan oleh tukang kebun dan mandor kebun,
sehingga tidak menutup kemungkinan pada saat kejadian ada orang lain yang masuk dan
melakukan perbuatan pemerkosaan itu ;
Bahwa, berdasarkan keterangan saksi memang benar korban sering kejang-kejang seperti orang
ketakutan saat berhadapan dengan seseorang, dan itu sudah menjadi kebiasaan korban sejak
lama, sehingga tingkah laku korban di depan persidangan yang sering kejang ketakutan saat
berhadapan dengan Terdakwa adalah hal yang biasa dan bukan karena ketakutan kepada
Terdakwa;
Bahwa, oleh karena Penuntut Umum telah melakukan penuntutan atas Terdakwa tidak didasari
oleh fakta hukum baik kebenaran formil naupun material maka kami selaku Penasihat Hukum
Terdakwa mohon kepada yang Mulia Hakim Majelis pemeriksa perkara ini untuk menolak/ tidak
mengabulkan atau setidak nya tidak dapat diterima dan dikesampingkan ;
TENTANG PERTIMBANGAN DALAM PENJATUHAN PIDANA.
1. Bahwa berdasarkan Pasal 26 ayat 1 (satu) Undang-Undang nomor 03 Tahun 1997 tentang
Peradilan Anak penjatuhan pidana terhadap anak paling lama ½ dari maksimal ancaman
pidana penjara bagi orang dewasa, jadi secara acontrario dapat ditafsir pula paling lama ½
dari minimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa ;
2. Bahwa putusan Kasasi Mahkamah Agung RI No.695K/Pid/2006 yang mana Terdakwa
anak didakwa melanggar pasal 82 UU nomor 23 tahun 2002 dalam pertimbangan
hukumnya Mahkamah Agung berpendapat ;
3. Bahwa berdasarkan pasal 26 (1) Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 jo. Pasal 1 angka 2
huruf a Undang-Undang Pengadilan Anak tersebut, terhadap Terdakwa yang berumur 16
tahun tersebut pidana penjara yang dapat dijatuhkan adalah ½ dari maksimum ancaman
pidana penjara bagi orang dewasa ;
4. Karena ketentuan pasal 82 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 ditentukan ancaman
pidana penjara kumulatif dengan pidana denda yaitu paling singkat 3 tahun dan denda
paling sedikit Rp 60.000.000,- maka secara analogis dengan Pasal 26 (1) Undang-
Undang No. 3 tahun 1997 tersebut,maka ancaman pidana minimum bagi anak adalah ½
nya dari orang dewasa yaitu penjara 1 tahun 6 bulan dan denda Rp.30.000.000,- ;
5. Bahwa dalam putusan Kasasi lainnya nomor 2824 K/Pid/2006 tertanggal 31 Januari
2007, terhadap Terdakwa yang masih di bawah umur/belum dewasa yang juga terbukti
melanggar Pasal 82 UU nomor 23 Tahun 2002, dalam putusannya MA mengambil
tindakan, yaitu mengembalikan terdakwa kepada orang tuanya. Dalam Pertimbangan
Hukumnya :
6. Menimbang bahwa atas alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
Terlepas dari alasan-alasan tersebut, ternyata judex factie telah salah menerapkan
peraturan hukum/tidak menerapkan sebagaimana mestinya, karena judex factie telah
menerapkan penjatuhan pidana terhadap Terdakwa yang masih berumur 14 tahun ini
sama dengan terhadap orang dewasa, sedangkan berdasarkan Pasal 26 (1) Undang-
Undang No.3 Tahun 1997 penjatuhan pidana terhadap anak nakal paling lama ½ dari
maximum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa, serta secara acontrario dapat
ditafsir pula paling lama ½ dari minimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa ;
7. Oleh karena  Terdakwa masih begitu muda belum mengetahui baik buruknya perbuatan
yang dilakukannya tersebut dan supaya pemidanaan tidak mempengaruhi pendidikannya
masa mendatang, maka perlu hanya dilakukan tindakan terhadap Terdakwa tersebut
berupapengembalian pada orang tua untuk dapat dilakukan pengawasan dan
pembinaan yang lebih terarah (Pasal 24 (1) Undang-Undang No.3 Tahun 1997 ;
8. Bahwa, dalam putusan yang lainnya Mahkamah Agung kembali memperkuat
pertimbangan putusan-putusan di atas yang menafsirkan bahwa ancaman pidana minimum
bagi terdakwa anak dikurangi setengahnya, yaitu dalam Putusan nomor
277K/Pid.Sus/2007 terhadap Terdakwa berusia 17 tahun, dan Putusan nomor
1185K/Pid.Sus/2010 terhadap terdakwa yang saat melakukan tindak pidana juga masih
berusia 17 tahun ;
9. Bahwa Terdakwa ALIAS didakwa melanggar pasal 81 ayat (1) Undang-undang nomor
23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, maka terhadap Terdakwa ALIAS yang masih
berumur 16 tahun, pidana penjara yang akan dijatuhkan haruslah mengikuti ancaman
minimum pidana penjara di Undang-undang itu sendiri yaitu 3 tahun, Sehingga hal
tersebut memberikan pedoman bagi Hakim untuk tidak menjatuhkan pidana melebihi ½
dari ancaman pidana maksimum, tetapi tidak pula melarang menjatuhkan pidana di bawah
minimum (vide: putusan kasasi nomor 2824 K/Pid/2006) ;
TENTANG PEMBELAAN TERDAKWA
Bahwa berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas maka penjatuhan pidana terhadap Terdakwa
yang didakwa melanggar Pasal 81 ayat (1) Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak adalah dakwaan yang tidak berdasarkan penerapan Hukum Formil dan
Materil yang benar ;
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka kami selaku Penasehat Hukum Terdakwa
memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim pemeriksa perkara ini, untuk sudilah kiranya
menjatuhkan amar putusan yang berbunyi ;
1. Menyatakan Terdakwa TIDAK TERBUKTI SECARA SAH MELANGGAR
PASAL 81 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG
PERLINDUNGAN ANAK ;
2. Memerintahkan kepada Penuntut Umum untuk segera membebaskan Terdakwa
dari tahanan demi hukum setelah putusan ini dibacakan ;
3. Memulihkan nama baik Terdakwa oleh negara sebagaimana hukum dan aturan
yang berlaku ;
4. Membebankan seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini kepada negara ;
Apabila Hakim Majelis berpendapat lain dan dengan pertimbangan hukum tersendiri dalam
memutus perkara ini, maka kami Penasihat Hukum terdakwa mohon agar putusan yang nantinya
dijatuhkan kepada terdakwa adalah yang seadil-adilnya dan seringan-ringannya ;
Demikian Pembelaan kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa, dibacakan dan disampaikan pada
sidang Hari ini Kamis tanggal 20 Maret 2014 
Hormat kami,
Penasehat Hukum  terdakwa,
RUDY MARJONO
JUDA HERY WITJAKSONO
FAKIH IMAM KURNAIN
FREDDY ANDREAS CAESAR