Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN


ANALISIS PENERAPAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL PADA
ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS : ABORTUS

DOSEN PENANGGUNG JAWAB MATA AJAR :


Dr. Tutiany, S.Kp., M.Kes

DOSEN PEMBIMBING :
Amelia Arnis, M.Nurs

ANGGOTA KELOMPOK II :
Azhar Ramadhan (P17120120011)
Maya Dias Kencana Rukmi (P17120120024)
Nada Sya’bany Al-Humairo (P17120120026)
Nagita Nabila Cansa (P17120120027)
Riska Wulandare (P17120120034)
Yesi Merwanda (P17120120038)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA I


PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN DAN
PROFESI NERS
TAHUN AJARAN 2021/2022
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah Psikososial dan Budaya dalam
Keperawatan. Makalah ini dibuat guna menganalisa penerapan keperawatan transkultural
pada asuhan keperawatan maternitas serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikososial dan
Budaya dalam Keperawatan.

Dalam penyelesaian Makalah ini, kami banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk
itu kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Kepada Ibu Mumpuni S.Kp, M.Biomed selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1.
2. Kepada Ibu Dr. Tutiany, S.Kp., M.Kes selaku Dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah
Psikosoial dan Budaya dalam Keperawatan.
3. Kepada Ibu Amelia Arnis, M.Nurs selaku Dosen Pembimbing Kelompok 2 dalam mata
kuliah Psikosoial dan Budaya dalam Keperawatan.
4. Kepada kedua orang tua, adik, kakak, keluarga, teman, dan sahabat yang telah memberi
dukungan moril dan materil sehingga kami dapat menyelesaikan makalah.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kami mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun
demi perbaikan dan penyempurnaan Makalah ini. Dengan adanya makalah ini diharapkan
dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para
pembaca. Semoga Makalah ini dapat berguna bagi kita semua.

Jakarta, 28 Agustus 2021

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................................2

DAFTAR ISI........................................................................................................................................3

BAB I....................................................................................................................................................4

PENDAHULUAN................................................................................................................................4

1.1. Latar Belakang.....................................................................................................................4

1.2. Rumusan Masalah...............................................................................................................5

1.3. Tujuan..................................................................................................................................5

1.4. Manfaat................................................................................................................................6

BAB II..................................................................................................................................................8

TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................................................8

BAB III...............................................................................................................................................16

PEMBAHASAN.................................................................................................................................16

BAB IV...............................................................................................................................................29

PENUTUP..........................................................................................................................................29

A. Kesimpulan............................................................................................................................29

B. Saran.......................................................................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................31
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kultur merupakan pengetahuan yang dipelajari dan disebarkan. Sebagai
pengetahuan yang dipelajari dan disebarkan, kultur menjadi suatu petunjuk bagi
seseorang dalam berpikir, bersikap dan bertindak sehingga menjadi suatu pola yang
mengekspresikan siapa mereka. Hal tersebut diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Karena begitu banyak perilaku dan sikap manusia yang dibentuk dan
dipengaruhi kultur, maka perawat harus menyadari bahwa pasien akan bertindak dan
berpeilaku dengan berbagai cara berdasarkan latar belakang kulturalnya. (Siti Lestari, W
Widodo, 2014)

Perawat merupakan petugas kesehatan yang mempunyai peran dominan dalam


membantu pasien sembuh dari penyakit yang dideritanya. Perawat sebagai ujung tombak
pelayanan di rumah sakit, sebagai aktor yang langsung berhadapan dengan pasien dalam
waktu yang lama. Kondisi yang seperti itu menuntut totalitas seorang perawat dalam
menjalankan fungsinya. Profesionalitas menjadi tuntutan yang harus selalu ditingkatkan.
Profesionalitas akan terus tumbuh dan berkembang bila seorang perawat mempunyai
kemauan untuk mengembangkan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan profesi
keperawatan. Profesi keperawatan bersifat multikausal dan multidisiplin. Seorang perawat
kesehatan harus mampu membuat konpigurasi berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan
dengan fakta real yang pada setiap pasien yang mempunya kasus, latar belakang berbeda-
beda ( multikausal ). (Siti Lestari, W Widodo, 2014)

Keperawatan transkultural merupakan suatu area utama dalam keperawatan yang


berfokus pada study komparatif dan analisis tentang budaya dan sub-budaya yang
berbeda didunia yang menghargai perilaku caring, layanan keperawatan, nilai-nilai,
keyakinan tentang sehat sakit, serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan
mengembangkan body of knowledge yang ilmiah dan humanistik guna memberi tempat
praktik keperawatan pada budaya tertentu dan budaya universal. Teori keperawatan
transkultural ini menekankan pentingnya peran perawat dalam memahami budaya klien.
(Samoeko, 2012)
Peran perawat pada transcultural nursing theory ini adalah menjebatani antara
sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan profesional
melalui asuhan keperawatan. oleh karena itu perawat harus mampu membuat keputusan
dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada masyarakat.jika di
sesuaikan dengan proses keperawatan, hal tersebut merupakan tahap perencanaan
tindakan keperawatan. (Samoeko, 2012)

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Abortus?
2. Apa etiologi dari Abortus?
3. Apa manifestasi klinis Abortus?
4. Apa faktor Predisposisi Abortus?
5. bagaimana komplikasi Abortus?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostic Abortus?
7. bagaimana penatalaksanaan dari Abortus?
8. Bagaimana melakukan pengkajian asuhan keperwatan Transkultural pada klien
Abortus?
9. Bagaimana menetapkan diagnosis keperawatan Transkurtural pada klien Abortus?
10. Bagaimana menyusun perencanaan asuhan keperawatan Transkurtural pada klien
Abortus?
11. Bagaimana melakukan tindakan asuhan keperawatan Transkurtural pada klien
Abortus?
12. Bagaimana melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan Transkurtural pada klien
Abortus?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memahami dan menerapkan konsep asuhan keperawatan Transkurtural pada
pasien Abortus.
2. Tujuan khusus
a. Mampu memahami definisi perawatan transkurtural
b. Mampu memahami definisi Abortus
c. Mampu memahami etiologi Abortus
d. Mampu memahami faktor Predisposisi Abortus
e. Mampu memahami manifestasi klinis Abortus
f. Mampu memahami komplikasi Abortus
g. Mampu memahami penatalaksanaan medis Abortus

D. Manfaat
Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan asuhan keperawatan transkultural
pada pasien abortus dengan memperhatikan latar belakang budaya pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Penyakit/ Masalah Kesehatan
1. Pengertian
Berakhirnya kehamilan sebelum janin mampu hidup, yaitu ketika usia kehamilan
belum mencapai 20 minggu atau berat janin <500 gram, baik secara spontan maupun
diinduksi dikenal dengan istilah keguguran (abortus).(Kementerian Kesehatan RI,
2020)

2. Penyebab/ Etiologi
a) Perkembangan Zigot yang Abnormal
Abnormalitas kromosom merupakan penyebab dari abortus spontan. Sebuah
penelitian meta-analisis menemukan kasus abnormalitas kromosom sekitar 49%
dari abortus spontan.
b) Faktor Maternal
1) Infeksi : organisme seperti Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis,
Neisseria gonorhoeae, Streptococcus agalactina, virus herpes simplek,
cytomegalovirus Listeria monocytogenes dicurigai berperan sebagai penyebab
abortus. Toxoplasma juga disebutkan dapat menyebabkan abortus.
2) Penyakit-Penyakit Kronis yang Melemahkan : penyakit-penyakit kronis yang
melemahkan keadaan ibu misalnya penyakit tuberkulosis atau karsinomatosis
jarang menyebabkan abortus.
3) Pengaruh Endokrin : defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon
tersebut dari korpus luteum atau plasenta mempunyai hubungan dengan
kenaikan insiden abortus.
4) Nutrisi : malnutrisi umum sangat berat yang paling besar kemungkinanya
menjadi predisposisi meningkatnya kemungkinan abortus.
5) Laparotomi : trauma akibat laparotomi kadang-kadang dapat mencetuskan
terjadinya abortus. Pada umumnya, semakin dekat tempat pembedahan
tersebut dengan organ panggul, semakin besar kemungkinan terjadinya
abortus.
c) Faktor Paternal
1) Faktor fetal : kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan
kematian janin atau cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian
janin pada hamil muda.
2) Faktor plasenta : seperti endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan
menyebabkan oksigenasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan
gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak
kehamilan muda misalnya karena hipertensi yang menahun.(Dharma,
2015)

3. Faktor Predisposisi
Temuan penelitian menunjukkan bahwa usia pertama kali menikah dan usia
kehamilan pertama merupakan faktor risiko penting dalam aborsi spontan. Para
ilmuwan percaya bahwa pernikahan dan kehamilan seorang ibu di usia yang lebih tua
meningkatkan risiko aborsi, masalah janin dan kromosom, dan komplikasi terkait
kehamilan. Perokok pasif juga meningkatkan risiko aborsi spontan tetapi tidak secara
signifikan. Namun, tidak ada satu tahap pun di mana merokok itu aman. Oleh karena
itu, ibu hamil harus menjauhkan diri dari paparan kontaminasi tembakau.
Pil kontrasepsi, sebagai faktor preventif, mungkin karena pil kontrasepsi juga
memiliki efek terapeutik, selain efek kontrasepsi, dan terkadang digunakan untuk
mencegah kista ovarium atau untuk memperkuat folikel, risiko aborsi meningkat
seiring dengan meningkatnya jumlah kehamilan. Selain itu, kemungkinan aborsi
spontan meningkat dengan meningkatnya tingkat pendidikan sehingga wanita dengan
pendidikan menengah berada pada risiko terbesar untuk aborsi spontan. Prevalensi
abortus spontan pada wanita dengan hipertensi lebih besar dibandingkan dengan yang
tidak hipertensi (Moradinazar et al., 2020).

4. Tanda dan gejala


Berikut tanda gejala abortus :
a. Perdarahan per vagina
b. Nyeri perut bagian bawah
c. Pingsan atau pusing
d. Nyeri pundak (shoulder tip pain)
e. Gangguan gastrointestinal
f. Nyeri tekan perut bawah
g. Nyeri tekan dan massa adneksa
h. Nyeri goyang portio (Kementerian Kesehatan RI, 2020)

5. Komplikasi
Keputihan yang menyerang, rahim lunak, syok septik dan peritonitis panggul
termasuk di antara temuan fisik yang tercatat. Anemia yang terdeteksi secara klinis
dibuktikan dengan pucat ditemukan sebagai komplikasi utama diikuti oleh syok
hipovolemik dan septik.(Sajadi-Ernazarova & Martinez., 2021)
Selain itu, menurut (Melese et al., 2017) komplikasi yang terjadi saat abortus
diantaranya :
a) Pendarahan
b) Sepsis
c) Peritonitis
d) Trombosis vena dalam
e) Kematian

6. Penatalaksanaan medis
Pada kasus ini pada saat pasien datang ke rumah sakit keadaan umumnya
stabil, dan tidak didapatkan tanda-tanda syok. Oleh karena pada pemeriksaan fisik
tidak teraba massa jaringan dan perdarahan berhenti setelah dilakukan observasi
selanjutnya diberikan medikamentosa berupa tokolitik dan vitamin. Sangat penting
selama kehamilan untuk monitoring vital sign dan adanya keluhan. Maka dari itu
adanya komplikasi seperti perdarahan ringan sampai berat, infeksi, dan kelainan
fungsi pembekuan darah dapat dihindari. Keadaan pasien stabil dan diberikan
pengobatan Isoxsuprine dan allylesterenol untuk mempertahankan kondisi uterus yang
mana berperan dalam menjaga kandungan dan asam mefenamat untuk analgetik. KIE
merupakan hal yang sangat penting didalam kasus ini dimana yang harus dititik
beratkan adalah tentang diagnosis penyakitnya, tindakan apa yang dilakukan terhadap
penyakitnya tersebut, komplikasi apa yang dapat terjadi, rencana monitoring
kehamilan yang (persiapan untuk faktor anatomi dan psikologis ibu), kontrol atau
evaluasi terhadap tindakan (febris, nyeri) dan yang tidak kalah pentingnya adalah
mencari penyebab abortus (untuk persiapan kehamilan beikutnya), disamping itu juga
terhadap faktor sosial dimana harapan masih bisa hamil lagi, prognosis abortus yang
berulang atau tidak.(Dharma, 2015)
B. Konsep Asuhan Keperawatan Transkultural
1. Pengkajian keperawatan
Proses tindakan pengkajian keperawatan transkultural dalam keluarga atau komunitas
mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budayanya.
Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen pada Sunrise Model dalam (Putri,
2017) yaitu :
a. Faktor teknologi. Faktor teknologi yang dimaksud adalah teknologi kesehatan
yang memungkinkan individu dapat memilih atau mendapat penawaran
menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Tugas perawat harus
mengkaji persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah
kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih
pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan
teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup. Agama dan keyakinan klien menjadi titik
tolak yang mengakibatkan pandangan menjadi amat realistis bagi para
pemeiuknya. Agama menjadi tuntunan dalam membuat penilaian kebaikan,
keburukan, serta benar dan salah dalam kehidupan klien di atas segalanya.
Faktor agama yang harus dikaji oleh perawatadalah agama yang dianut, status
pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab cara pengobatan dan
kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga mencakup hubungan sosial yang
terbangun di lingkungan klien berada serta kebiasaan yang dilakukan. Perawat
pada tahap ini harus mengkaji fakto-faktor: nama lengkap, nama panggilan,
umur dan tempat tanggal jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan
keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup. Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang
dirumuskan dan disepakati dalam suatu masyarakat tertentu, menjadi sebuah
kebiasaan, kepercayaan, simbol, dengan ciri tertentu yang dapat dibedakan
antara satu dengan yang lainnya. Nilai budaya digunakan untuk dasar perilaku
dan tanggapan tentang apa yang sedang terjadi. Norma-norma budaya adalah
suatu kaidah yang memiliki sifat mengikat pada golongan tertentu dalam
masyarakat. Perawat perlu mengkaji posisi dan jabatan yang dipegang oleh
kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan membersihkan diri,
kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, dan persepsi
sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku. Kebijakan dan peraturan yang
berlaku merupakan segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu
dalam asuhan keperawatan lintas budaya berhubungan dengan kehadiran
negara melalui peraturan perundangan yang menjadi dasar pelaksanaan
pelayanan.Perlu dikaji pada tahap ini adalah peraturan dan kebijakan yang
berkaitan dengan kebijakan KB, JAMKESMAS, ASKESKIN.
f. Faktor ekonomi, kemampuan klien yang membiayai sakitnya agar segera
sembuh selama di rumah sakit. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat
diantaranya: pekerjaan, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh
keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari
kantor atau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan. Latar belakang pendidikan klien dalam keluarga yang
dimaksud pengalaman klien dalam menempuh pendidikan formal tertinggi
saat ini. Jika klien memiliki riwayat pendidikan yang tinggi maka keyakinan
klien biasanya didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang logis.Klien akan dapat
dengan mudah beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi
kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah tingkat pendidikan
anggota keluarga, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara
aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

2. Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan penilaian klinis terhadap pengalaman atau
respon individu, keluarga, atau komunitas pada masalah kesehatan, pada risiko
masalah kesehatan atau pada proses kehidupan. Diagnosis keperawatan merupakan
bagian vital dalam menentukan asuhan keperawatan yang sesuai untuk membantu
klien mencapai kesehatan yang optimal.(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016)
Diagnosa keperawatan transkultural merupakan langkah keluarga sesuai latar
belakang budayanya untuk merespon suatu keadaan kesehatan anggota keluarga baik
berupa pencegahan, mengubah atau mengurangi melalui intervensi keperawatan.
Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan
keperawatan transkultural yaitu: gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan
perbedaan budaya, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural
dan ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.
Komunikasi menjadi kunci utama dalam diagnosis keperawatan. Kompetensi
dan ketrampilan berbicara sesuai budaya daerah dinas menjadi penting untuk dikuasi
tenaga perawat. Ketidaktahuan perawat terhadap penyebutan suatu kondisi atau luka
yang diderita pasien dapat menyumbang kekeliruan tindakan dan evaluasi. Faktor lain
adalah kedisiplinan dan kepatuhan pasien terhadap perawat. Dalam budaya tertentu,
ada yang beranggapan bahwa pengobatan tradisional lebih manjur daripada minum
obat yang diberikan oleh dokter atau perawat. Saat kondisi darurat, perawat harus
mencari inisiatif dan inovasi dalam memberikan obat sehingga bisa masuk ke tubuh
pasien.
Kondisi anak “rambut bajang” yang tidak dimungkinkan potong rambut saat
menjalankan tindakan operasi. Perawat harus mengupayakan akan rambut anak
tersebut bisa dikondisikan bersih saat tindakan operasi dilakukan. (Putri, 2017)

3. Perencanaan dan pelaksanaan keperawatan


Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan transkultural merupakan
kesatuan proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu
proses memilih strategi yang tepat untuk menangani pasien. Pelaksanaan adalah
aktivitas/tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya pasien saat memberikan
perlakuan terhadap pasien.
Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural, yaitu
mempertahankan budaya yang dimiliki pasien bila budaya pasien tidak bertentangan
dengan kesehatan, mengakomodasi budaya pasien bila budaya pasien
kurangmenguntungkan kesehatan dan menguubah budaya pasien bila budaya yang
dimilikinya bertentangan dengan kesehatan.
a. Cultural care preservation/maintenance
- Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses
melahirkan dan perawatan bayi.
- Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien.
- Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat.
b. Cultural careaccomodation / negotiation
- Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien.
- Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan.
- Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan
berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klie dan standar etik
c. Cultual care repartening / reconstruction
- Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan
melaksanakannya.
- Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok.
- Gunakan pihak ketiga bila perlu.
- Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang
dapat dipahami oleh klien dan orang tua
- Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
Keberhasilan perencanaan dan pelaksaanaan keperawatan transkulturul terjadi jika
perawat dan pasien mencoba memhami budaya masing-masing melalui proses
akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang
akhirnya akan memperkaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya
pasien maka akan timbul rasa tidakpercaya sehingga hubungan terapeutik antara
perawat dengan pasien akan terganggu. Pemahaman budaya pasien amat mendasari
efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat danpasien yang bersifat
terapeutik. (Putri, 2017)

4. Evaluasi keperawatan
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan
klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi
budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya
baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui
evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang
budaya klien (Rejeki, n.d.)
BAB III

PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan
1. Skenario Kasus
Klien bernama Ny. W, berusia 30 tahun, agama Islam, pendidikan SMP, pekerjaan
petani, suku jawa, diagnosis medis abortus. Klien hamil 12 minggu, klien sangat
mengharapkan memiliki anak. Klien mengeluh mengalami pendarahan dan perut
mulas-mulas selama 3 hari. Klien dianjurkan untuk kuratase. Klien memeriksakan
kehamilannya di dukun dan berencana akan melahirkan disana. Klien mendapati
informasi tentang kehamilan dari mertua. Klien masih percaya pada sihir dan hal-
hal gaib, mereka percaya banyak anak banyak rejeki dan percaya bahwa abortus
merupakan perbuatan dosa. Setelah di diagnosis abortus, klien tidak menerima dan
merencanakan akan berobat kedukun. Mereka menganggap hal itu akibat ibunya
melanggar pantangan dalam menyediakan sesaji. Hubungan kekerabatan yang
lebih dominan adalah pihak laki-laki, pola pengambilan keputusan di pihak laki-
laki. Pantangan makanan jantung pisang, gurita, dan air kelapa sedangkan
suaminya pantang memanjat pohon kelapa atau pohon yang tinggi. Aturan dan
kebijakan di atur oleh pemuka agama dan para santri. Ada tabungan yang sudah di
persiapkan oleh keluarga untuk persalinan ini.
2. Klarifikasi istilah
a. Abortus → Keguguran, Keguguran sering terjadi karena janin tidak
berkembang secara normal. Tanda dan gejala berupa cairan, darah, atau
jaringan yang keluar dari vagina dan nyeri pada perut atau punggung bawah.
(Achadiat, 2004)
b. Pendarahan → Keluarnya darah dari pembuluh darah yang rusak, baik di
dalam maupun di luar tubuh. Cedera dan penyakit adalah penyebab utama dari
pendarahan. Cedera pada organ tubuh dapat menyebabkan pembuluh darah
pecah, walaupun tidak ada tusukan pada kulit. Gejala utama pendarahan
adalah hilangnya darah, baik melalui luka luar atau luka dalam (YULIATI,
2017)
c. Kuratase → Cara membersihkan hasil konsepsi. Penyebab dilakukannya
tindakan kuretase yaitu abortus.(Angraini, 2015)
3. Identifikasi masalah
a. Pasien mengalami perdarahan dan mulas-mulas selama 3 hari. Pasien
dibawa ke rumah sakit dan di diagnosa medis abortus dan akan dilakukan
kuretase. Pasien tidak menerima dan ingin memeriksakan ke dukun.
b. Pasien masih percaya sihir dan hal-hal gaib, dan menganggap bahwa
abortus itu dosa.
4. Identifikasi kasus (apakah kasus termasuk ke dalam keperawatan transkultural?
Berikan alasannya!)
 Kasus diatas termasuk ke dalam keperawatan transkultural karena Klien
memiliki nilai budaya dan kepercayaan yang berbeda. Serta keperawatan
transkultural ini berfokus pada perilaku individu/kelompok dan proses
untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat/sakit secara
fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya. Pada kasus, klien
masih percaya akan sihir dan hal gaib selain itu klien juga masih percaya
dengan dukun untuk memeriksakan kesehatan janin.
5. Identifikasi setiap kasus (konsep dasar transkultural apa saja yang termasuk di
dalam nya dan jelaskan pendapatnya)
a. Kultur/Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok
yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir,
bertindak dan mengambil keputusan.
→ Pada kasus diatas, hubungan yang dominan yaitu di pihak laki-laki
sehingga pengambilan keputusan ada di laki-laki
b. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih
diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu
tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
→ Pada kasus diatas, klien menolak kuretase dan tetap mempertahankan
janin nya, bahkan klien tetap ingin memeriksakan kehamilan ke dukun.
c. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya
yangdigolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
→ Pada kasus di atas, klien berasal dari suku Jawa
d. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada
keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi
kehidupan manusia.
→ Pada kasus diatas, klien dianjurkan untuk kuretase.
e. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui
nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing,
mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok
untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup,
hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
→ Pada kasus di atas, klien ingin tetap memeriksakan ke dukun untuk
mengetahui kondisi kehamilannya. Dan menganggap itu kesalahan dari ibu
klien dalam meyediakan sesaji.
6. Hubungkan kasus dengan konsep sentral dalam transculture nursing
Paradigma keperawatan transcultural Leininger (1985) diartikan sebagai cara
pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat
konsepsentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan.
Empat Komponen Landasan Berpikir Paradigma Keperawatan Transkultural
a. Manusia
Individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma- norma
yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan suatu
tindakan. Manusia memiliki kemampuan kognitif cenderung akan
mempertahankan budayanya dimanapun ia berada (Nurlaily, 2014).
 Pada kasus, Ny. W masih percaya akan sihir dan hal gaib, serta klien
masih menganggap banyak anak banyak rezeki. Klien beranggapan bahwa
perdarahan dan mual disebabkan karena kesalahan dari ibu klien dalam
mempersiapkan sesaji.
b. Kesehatan
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu
keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk
menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat
diobservasidalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan
yang sama, yakni ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat
sakit yang adaptif (Nurlaily, 2014).
 Pada kasus, Ny.W dibawa ke RS setelah terjadi perdarahan dan mual.
Namun Ny. W tidak menerima hasil diagnosis medis, dan tetap berpegang
teguh atas budaya yang diterapkan.
c. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang
sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling
berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti
yang bermanfaat untuk mempertahankan kehidupan. Misalnya: pemakaian
obat-obatan untuk kesehatan, membuat rumah sesuai iklim dan geografis
lingkungan. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas yang mempengaruhi kehidupan (Nurlaily, 2014).
 Pada kasus, hubungan kekerabatan yang lebih dominan adalah pihak laki-
laki, pola pengambilan keputusan di pihak laki-laki. Aturan dan kebijakan
di atur oleh pemuka agama dan para santri.
d. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan atau
memberdayakan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang
digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan
budaya, mengakomodasi/negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya
klien(Nurlaily, 2014).
 Pada kasus, dijelaskan bahwa tenaga kesehatan menyarankan kepada
Ny.W untuk melakukan kuretase.
7. Jenis budaya (jenis budaya dalam kasus x jenis budaya perawat, jelaskan alasan)
Menurut Leininger, 1984 strategi yang digunakan adalah
perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/menegosiasi budaya dan
mengubah/mengganti budaya klien. (Askar, n.d.)
 Perawat mencoba bernegosiasi kepada klien agar klien dapat dilakukan
kuretase untuk kebaikan dan kesehatan Ny. W, dan diharapkan Ny. W
tidak pergi ke dukun untuk memeriksakan kesehatan janin. Karena
semakin lama janin meninggal di dalam rahim ibu maka akan mengganggu
kesehatan reproduksi.
8. Jelaskan masing-masing komponen (mana yg termasuk 7 sub sistem pengkajian
sunrise Leininger)
a. Faktor teknologi
Klien memeriksakan kehamilannya di dukun dan berencana akan
melahirkan disana, Klien mendapat informasi tentang kehamilan dari mertua,
Klien mengeluh mengalami perdarahan dan perut mulas-mulas selama 3 hari.
Klien biasa berobat kedukun, Klien masih percaya pada sihir dan hal-hal gaib
b. Faktor kepercayaan
 Agama yang diatut yaitu agama islam.
 Kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan menurut
aturan yang dibuat oleh pemuka agama dan para santri bahwa bagi para
laki-laki yang istrinnya hamil dilarang memanjat pohon kelapa atau pohon
tinggi.
 Klien dan keluarga percaya bahwa banyak anak banyak rejeki dan percaya
bahwa abortus perbuataan dosa sehingga klien merencanakan akan
berobat kedukun.
 Klien masih mempercayai adanya hal-hal mistik, seperti tidak boleh
memakan jantung pisang, gurita dan air kelapa sedangkan suaminya
pantang untuk memanjat pohon kelapa atau pohon yang tinggi
c. Faktor kekeluargaan dan sosial
Nama : Ny. W
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Profesi : petani
Status : sudah menikah
Pendidikan : SMP
Tipe keluarga : ibu rumah tangga memiliki seorang suami (kepala rumah
tangga), belum mempunyai anak
Pengambil keputusan : suami sebagai kepala rumah tangga
d. Nilai-nilai budaya, kepercayaan dan gaya hidup
 Posisi yang dipegang oleh kepala keluarga adalah sebagai pengambil
keputusan karena pola kekerabatan pihak laki-laki lebih dominan.
 Makanan pantangan jantung pisang, gurita dan air kelapa.
 Persepsi sehat sakit : klien mengatakan ingin mengecek kehamilannya di
dukun, klien mengeluh mengalami perdarahan dan mulas-mulas selama 3
hari.
e. Faktor kebijakan dan peraturan
 Alasan mereka datang ke RS → Karena pasien mengeluh nyeri
dibagian perut dan mules-mules serta mengalami perdarahan.
 Kebijakan yang didapat di RS → Klien diminta melakukan kuretase
karena pasien didiagnosa abortus. Dengan hasil atau petunjuk dari hasil
usg. Sop dari medis dilakukan kuretase.
f. Faktor ekonomi
Berdasaarkan ekonomi klien yang bekerja sebagai petani, klien sudah ada
tabungan yang di persiapkan oleh keluarga untuk persalinan ini.
g. Faktor Pendidikan
Berdasarkan tingkat Pendidikan klien, klien lulusan SMP. Dan klien masih
percaya akan hal-hal gaib serta klien akan merencanakan untuk berobat
kedukun.
9. Sistem organ (anatomi fisiologi reproduksi)
Secara anatomi, sistem reproduksi wanita terdiri dari genitalia eksternal dan
genitalia internal. Genitalia eksternal terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia
minora, klitoris, glandula vestibularis mayor, glandula vestibularis
minor.Sedangkan genitalia internal terdiri dari vagianhymen, tuba uterina, uterus,
ovarium.
Genitalia Eksternal
a. Mons pubis
Mons pubis adalah penonjolan berlemak di sebelah ventral simfisis dan daerah
supra pubis. Sebagian besar mons pubis terisi oleh lemak, jumlah jaringan
lemak bertambah pada pubertas dan berkurang setelah menopause. Setelah
dewasa, mons pubis tertutup oleh rambut kemaluan yang kasar.

b. Labia mayora
Labia mayora merupakan organ yang terdiri atas dua lipatan yang memanjang
berjalan ke kaudal dan dorsal dari mons pubis dan keduanya menutup rima
pudendi (pudendal cleft). Permukaan dalamnya licin dan tidak mengandung
rambut. Kedua labia mayora di bagian ventral menyatu dan terbentuk
komisura anterior. Jika dilihat dari luar, labia mayora dilapisi oleh kulit yang
mengandung banyak kelenjar lemak dan tertutup oleh rambut setelah pubertas.
c. Labia minora
Labia minora merupakan organ yang terdiri atas dua lipatan kulit kecil terletak
di antara kedua labia mayora pada kedua sisi introitus vaginae. Kedua labium
minus membatasi suatu celah yang disebut sebagai vestibulum vaginae. Labia
minora ke arah dorsal berakhir dengan bergabung pada aspectus medialis labia
mayora dan di sini pada garis mereka berhubungan satu sama lain berupa
lipatan transversal yang disebut frenulum labi. Sementara itu, ke depan
masing-masing minus terbagi menjadi bagian lateral dan medial.Pars lateralis
kiri dan kanan bertemu membentuk sebuah lipatan di atas (menutup) glans
klitoris disebut preputium klitoridis. Kedua pars medialis kiri dan kanan
bergabung di bagian kaudal klitoris membentuk frenulum klitoris. Labia
minora tidak mengandung lemak dan kulit yang menutupnya berciri halus,
basah dan agak kemerahan.
d. Klitoris
Terletak dorsal dari komisura anterior labia mayora dan hampir
keseluruhannya tertutup oleh labia minora. Klitoris mempunyai tiga bagian
yaitu krura klitoris, korpus klitoris dan glans klitoris.
e. Glandula vestibularis mayor
Sering disebut juga kelenjar Bartholini, merupakan kelenjar yang bentuknya
bulat/ovoid yang ada sepanjang dan terletak dorsal dari bulbus vestibule atau
tertutup oleh bagian posterior bulbus vestibuli.
f. Glandula vestibularis minor
Glandula vestibularis minor mengeluarkan lendir ke dalam vestibulum vagina
untuk melembapkan labia minora dan mayora serta vestibulum vagina. Organ
ini adalah daerah dengan peninggian di daerah dengan peninggian di daerah
median membulat terletak ventral dari simfisis pubis. Sebagian besar terisi
oleh lemak. Setelah pubertas, kulit diatas tertutup rambut kasar.
Genitalia Internal
a. Vagina
Secara anatomi, vagina merupakan organ yang berbentuk tabung dan membentuk
sudut kurang lebih 60 derajat dengan bidang horizontal. Namun, posisi ini
berubah sesuai dengan isi vesika urinaria. Dinding ventral vagina yang ditembus
serviks panjangnya7,5 cm, sedangkan panjang dinding posterior kurang lebih 9
cm. Dinding anterior dan posterior ini tebal dan dapat diregang. Dinding
lateralnya di bagian cranial melekat pada ligament Cardinale, dan di bagian kaudal
melekat pada diafragma pelvis sehingga lebih rigid dan terfiksasi. Vagina ke
bagian atas berhubungan dengan uterus, sedangkan bagian kaudal membuka pada
vestibulum vagina pada lubang yang disebut introitus vaginae.
a. Himen Adalah lipatan mukosa yang menutupi sebagian dari introitus vagina.
Himen tidak dapat robek disebut hymen imperforatus. Terdapat beberapa bentuk
himen diantaranya : himen anular, himen septal, himen kribiformis, himen parous.
b. Tuba uterina
Tuba uterina atau tuba fallopi memiliki panjang masing-masing tuba kurang lebih
10 cm. Dibagi atas 4 bagian (dari uterus kea rah ovarium) yaitu pars uterine tubae
(pars intramuralis), isthmus tubae, ampulla tubae, dan infundibulum tubae.
c. Uterus
Uterus merupakan organ berongga dengan dinding muscular tebal, terletak di
dalam kavum pelvis minor (true pelvis) antara vesika urinaria dan rectum. Ke
arah kaudal, kavum uteri berhubungan dengan vagina. Uterus berbentuk seperti
buah pir (pyriformis) terbalik dengan apeks mengarah ke kauda dorsal, yang
membentuk sudut dengan vagina sedikit lebih 90 derajat uterus seluruhnya
terletak di dalam pelvis sehingga basisnya terletak kaudal dari aperture pelvis
kranialis. Organ ini tidak selalu terletak tepat di garis median, sering terletak lebih
kanan. Posisi yang tidak tepat (fixed) bisa berubah tergantung pada isi vesika
urinaria yang terletak ventro kaudal dan isi rectum yang terletak dorso cranial.
Panjand uterus kurang kebih 7,5 cm, lebarnya kurang lebih 5 cm, tebalnya kurang
lebih 2,5 cm, beratnya 30-40 gram. Uterus dibagi menjadi tiga bagian yaitu
fundus uteri, korpus uteri dan serviks uteri.
d. Ovarium
Ukuran dan bentuk ovarium tergantung umur dan stadium siklus menstruasi.
Bentuk ovarium sebelum ovulasi adlah ovoid dengan permukaan licin dan
berwarna merah muda keabu-abuan. Setelah berkali-kali mengalami ovulasi,
maka permukaan ovarium tidak rata/licin karena banyaknya jaringan parut
(cicatrix) dan warnanya berubahm menjadi abu-abu. Pada dewasa muda ovarium
berbentuk ovoid pipih dengan panjang kurang lebih 4 cm, lebar kurang lebih 2
cm, tebal kurang lebih 1 cm dan beratnya kurang lebih 7 gram. Posis i ovarium
tergantung pada posisi uterus karena keduanya dihubungkan oleh ligamen-
ligamen.(Fatmawati et al., 2020)
B. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik berlangsung
aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi
respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan
dengan kesehatan. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada kasus Abortus
yaitu :
 Diagnosis Keperawatan Transkultural
Masalah
No Data Etiologi
Keperawatan
1. DS : Sistem nilai Ketidakpatuhan
 Klien mengatakan bahwa klien lebih yang diyakini dalam pengobatan
memilih berobat kembali ke dukun
setelah disarankan untuk kuratase dan
menganggap itu perbuatan dosa
DO : -
2. DS : Kepercayaan Defisit
 Klien masih percaya pada sihir dan hal- budaya pengetahuan
hal gaib setempat
 Pantangan makanan jantung pisang,
gurita, dan air kelapa sedangkan
suaminya pantang memanjat pohon
kelapa atau pohon yang tinggi
 klien tidak menerima dan merencanakan
akan berobat kedukun
DO :
 Pendidikan SMP

No DX Diagnosis Keperawatan Transkultural


D.011 Defisit pengetahuan berhubungan dengan kepercayaan budaya setempat dibuktikan
1 dengan klien masih percaya pada sihir dan hal-hal gaib, pantangan makanan jantung
pisang, gurita, dan air kelapa sedangkan suaminya pantang memanjat pohon kelapa
atau pohon yang tinggi, klien tidak menerima dan merencanakan akan berobat
kedukun

D.011 Ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan ketidakadekuatan


4 pemahaman mengenai sistem nilai yang diyakini dan tradisi yang dianut dibuktikan
dengan Klien mengatakan bahwa klien lebih memilih berobat kembali ke dukun
setelah disarankan untuk kuratase dan menganggap itu perbuatan dosa.

 Diagnosis Keperawatan
No Data Etiologi Masalah
1 DS : - kematian Berduka
DO : keluarga atau
 Pasien tidak menerima kuretase dan orang yang
ingin memeriksakan keadaannya ke berarti
dukun

NO Diagnosa Keperawatan
DX
D.0081 Berduka berhubungan dengan kematian keluarga atau orang yang berarti dibuktikan
dengan Pasien tidak menerima kuretase dan ingin memeriksakan keadaannya ke
dukun

C. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat yang
didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome)
yang diharapkan

Nama
NO Diagnosa Tujuan dan Hasil dan
Rencana Tindakan
DX Keperawatan Kriteria Hasil Tanda
Tangan
D.0081 Berduka berhubungan Setelah dilakukan Berduka
dengan kematian intervensi Observasi :
keluarga atau orang diharapkan tingkat - Identifikasi kehilangan
yang berarti berduka membaik, yang dihadapi
dibuktikan dengan dengan ktiteria - Identifikasi sifat
Pasien tidak menerima hasil : keterarikan pada orang
kuretase dan ingin - verbalisasi yang meninggal
memeriksakan menerima - Indetifikasi reaksi awal
keadaannya ke dukun kehilangan terhadap kehilangan
meningkat Terapeutik :
- Verbalisasi - Fasilitasi melakukan
harapan kebiasaan sesuai
meningkat dengan budaya,agama
- Verbalisasi dan norma sosial
perasaan sedih - Diskusikan strategi
menurun koping yang dapat
digunakan
Edukasi :
- Jelaskan kepada pasien
dan keluarga bahwa
sikap
mengingkari,marah,
tawar menawar,spresi
dan menerima adalah
wajar dalam
menghadapi
kekhilangan
- Anjurkan
mengidentifikasi
ketakutan terbesar
pada kehilangan

D. Intervensi Keperawatan Transkultural

Nama dan
No Diagnosis Tujuan dan
Intervensi Tanda
DX Keperawatan Kriteria Hasil
Tangan
D.011 Defisit Setelah diberikan Edukasi Prosedur Nadasya
1 pengetahuan asuhan Tindakan
berhubungan keperawatan Observasi
dengan selama 1x24 jam,  Identifikasi kesiapan
kepercayaan diharapkan dan kemampuan
budaya setempat tingkat menerima informasi
dibuktikan dengan pengetahuan Terapeutik
klien masih percaya meningkat  Jadwalkan
pada sihir dan hal- Dengan kriteria Pendidikan
hal gaib, pantangan hasil : Kesehatan sesuai
makanan jantung  Perilaku kesepakatan
pisang, gurita, dan sesuai Edukasi
air kelapa anjuran  Jelaskan tujuan dan
sedangkan meningkat manfaat tindakan
suaminya pantang  Perilaku yang akan dilakukan
memanjat pohon sesuai dengan  Jelaskan perlunya
kelapa atau pohon pengetahuan tindakan dilakukan
yang tinggi, klien meningkat  Jelaskan keuntungan
tidak menerima dan  Persepsi yang dan kerugian jika
merencanakan akan keliru tindakan dilakukan
berobat kedukun terhadap  Jelaskan Langkah-
masalah langkah tindakan
menurun yang akan dilakukan
 Anjurkan kooperatif
saat tindakan
E. Implementasi Keperawatan

HARI/TANGGAL JAM NO.DX TINDAKAN KEPERAWATAN


(Diagnosa Keperawatan Prioritas)
Senin, 22 Mei 2021 07.00 D.0081 Tindakan :
Identifikasi kehilangan, sifat keterarikan pada
orang yang meninggal, reaksi awal terhadap
kehilangan.
Respon :
DS: klien sangat terkejut mendengar
informasi dari perawat bahwa akan di lakukan
kuratase
DO : klien tidak menerima dan memeriksakan
ke dukun
07.10 D.0081
Tindakan :
Fasilitasi dengan melakukan negosiasi kepada
klien agar dilakukan kuretase dan tidak
memeriksakan keadaanya ke dukun
Respon :
DS : klien sangat ingin memiliki anak dan
tidak ingin melakukan kuratase
DO : klien koopratif, klien bersedia

07.30 D.0081
Tindakan :
Edukasi pasien dan keluarga bahwa sikap
mengingkari,marah, tawar menawar,tidak
menerima,spresi dan menerima adalah wajar
dalam menghadapi kekhilangan
Respon :
DS : klien tidak menerima dan merencanakan
akan berobat ke dukun
08.00 D.0081 DO : klien kooperatif, klien bersedia
Tindakan :
Edukasi cara menghadapi ketakutan terbesar
pada kehilangan
Respon :
DS : klien tidak menerima kehilangan dan
ingin memiliki anak
DO : klien kooperatif, klien bersedia

TINDAKAN KEPERAWATAN
HARI/TANGGAL JAM NO.DX
(Diagnosa Keperawatan Prioritas)
Senin, 22 Mei 08.30 D.0111 Tindakan :
2021 Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi
Respon :
DS : Klien mengatakan siap menerima
informasi
DO : Klien sudah siap menerima informasi

08.40 D.0111 Tindakan :


Jadwalkan Pendidikan Kesehatan sesuai
kesepakatan
Respon :
DS : Klien mengatakan bersedia di jam
tersebut
DO : Pendidikan Kesehatan dilakukan jam
09.00 bertempat di ruang rawat klien.

09.00 D.0111 Tindakan :


Jelaskan tujuan dan manfaat tindakan yang
akan dilakukan
09.10 Respon :
DS : Klien mengatakan sudah paham dengan
apa yang dijelaskan
DO : Klien mendengarkan informasi yang
diberikan.

D.0111 Tindakan :
Jelaskan perlunya tindakan dilakukan
09.20 Respon :
DS : Klien mengatakan sudah mengerti
maksud dari tindakan tersebut.
DO : Klien sangat memperhatikan apa yang
sedang di informasikan.

D.0111 Tindakan :
Jelaskan keuntungan dan kerugian jika
tindakan dilakukan
Respon :
09.30 DS : Klien mengatakan sudah mengerti
keuntungan dan kerugian dari tindakan
tersebut.
DO : Klien sangat memperhatikan denga napa
yang sedang dijelaskan

D.0111 Tindakan :
Jelaskan Langkah-langkah tindakan yang akan
dilakukan
09.40 Respon :
DS : Klien mengatakan sudah mengerti
dengan Langkah-langkah tindakan tersebut
dan bersedia akan melakukan tindakan
tersebut.
DO : Klien mendengarkan dengan seksama
dan klien bersedia dilakukan tindakan
10.00 Tindakan :
Anjurkan kooperatif saat tindakan
D.0111 Respon :
DS : Klien mengatakan akan kooperatif saat
tindakan
DO : Klien kooperatif saat tindakan.

F. Implementasi Keperawatan (prinsip etis dan nursing advokat)


 Pada kasus di atas prinsip etis yang diterapkan adalah sebbagai berikut :
a. Fiduciarity (kepercayaan)
Prinsip fiduciarity atau kepercayaan adalah hukum hubungan atau etika
kepercayaan antara dua atau lebih pihak. Kepercayaan dibutuhkan untuk
komunikasi antara professional kesehatan dan pasien. Seseorang secara
hukum ditunjuk dan diberi wewenang untuk memegang aset dalam
kepercayaan untuk orang lain. (Irwan, 2017)
 Klien memeriksa dan melahirkan janinnya di dukun, serta klien dan
keluarga mengikuti aturan dan kebijakan yang di atur oleh pemuka agama
dan para santri.
b. Autonomy (autonomi)
Dalam prinsip ini seorang perawat menghormati martabat manusia. Setiap
individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak
menentukan nasib diri sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir
secara logis dan membuat keputusan sendiri. (Irwan, 2017)
 Klien memeriksakan kehamilannya di dukun dan berencana akan
melahirkan disana. Hubungan kekerabatan yang lebih dominan adalah
pihak laki-laki, pola pengambilan keputusan di pihak laki-laki.
 Adapun nursing advokasi pada kasus di atas adalah :
Menurut Vaartio,( 2005) dan Blais (2007) dalam (Afidah & Sulisno, 2013),
advokasi adalah tindakan membela hak-hak pasien dan bertindak atas nama
pasien. Perawat mempunyai kewajiban untuk menjamin diterimanya hak-hak
pasien. Perawat harus membela pasien apabila haknya terabaikan.
Perannya sebagai advokat, perawat diharapkan mampu untuk bertanggung
jawab dalam membantu pasien dan keluarga menginterpretasikan informasi dari
berbagai pemberi pelayanan yang diperlukan untuk mengambil persetujuan atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya serta mempertahankan dan
melindungi hak-hak pasien. Hal ini harus dilakukan, karena pasien yang sakit dan
dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas Kesehatan.
(Afidah & Sulisno, 2013)

G. Evaluasi Keperawatan

EVALUASI HASIL (SOAP)


NO (MENGACU PADA TUJUAN)
Hari, Tanggal, Jam
DX (Diagnosa Keperawatan Prioritas)
D.008 Selasa, 23 Mei 2017/ S : klien mengatakan sudah menerima kehilangan
1 07.00 WIB O:-
A : masalah kehilangan dapat teratasi
P : Intervensi dihentikan

H. Evaluasi Keperawatan Transcultural

EVALUASI HASIL (SOAP)


NO (MENGACU PADA TUJUAN)
Hari, Tanggal, Jam
DX (Diagnosa Keperawatan Prioritas)

D.0111 Selasa 23 Mei S : Klien mengatakan sudah paham dengan tindakan


2017/07.00 WIB yang akan dilakukan dan klien mengatakan mau
dilakukan tindakan tersebut

O : Klien kooperatif dan bersedia dilakukan tindakan

A : masalah defisit pengetahuan teratasi

P : Intervensi dihentikan
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keperawatan transkultural merupakan suatu area utama dalam keperawatan yang
berfokus pada study komparatif dan analisis tentang budaya dan sub-budaya yang
berbeda didunia yang menghargai perilaku caring, layanan keperawatan,nilai-nilai,
keyakinan tentang sehat sakit, serta pola-pola tingkah laku yang bertujuan
mengembangkan body of knowledge yang ilmiah dan humanistik guna memberi tempat
praktik keperawatan pada budaya tertentu dan budaya universal. Teori keperawatan
transkultural ini menekankan pentingnya peran perawat dalam memahami budaya klien.
(Samoeko, 2012)

Peran perawat pada transcultural nursing theory ini adalah menjebatani antara
sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan profesional
melalui asuhan keperawatan. oleh karena itu perawat harus mampu membuat keputusan
dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada masyarakat.jika di
sesuaikan dengan proses keperawatan, hal tersebut merupakan tahap perencanaan
tindakan keperawatan. (Samoeko, 2012)

Faktor  menurut model sunrise leininger seperti factor teknologi, faktor social dan
keterkaitan keluarga, faktor agama dan falsafah hidup, nilai-nilai budaya dan gaya hidup,
faktor pendidikan. Dalam asuhan keperawatan transkurtural terdapat advokasi yang
dilakukan oleh perawat terhadap pasien seperti membela hak-hak pasien dan bertindak
atas nama pasien. Perawat mempunyai kewajiban untuk menjamin diterimanya hak-hak
pasien.

B. Saran
Mahasiswa sebagai calon perawat profesional diharapkan mampu memahami dan
menerapkan asuhan keperawatan transkultural pada pasien abortus dengan
memperhatikan latar belakang budaya pasien, sehingga pasien mendapatkan asuhan
keperawatan yang terbaik.
DAFTAR PUSTAKA
Achadiat, C. M. (2004). Obsetri & Ginekologi. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta.

Afidah, E. N., & Sulisno, M. (2013). Rumah Sakit Negeri Di Kabupaten Semarang. 1(2),
124–130.

Angraini, P. (2015). Karakteristik Pasien Tindakan Kuretase pada Abortus dan Mola
Hidatidosa di RS Muhammadiyah Palembang tahun 2013.

Askar, M. (n.d.). Perilaku budaya kesehatan dan paradigma keperawatan transkultural.

Dharma, A. . G. K. S. (2015). LAPORAN KASUS ABORTUS IMINENS JUNI 2015


FAKTOR RESIKO, PATOGENESIS, DAN PENATALAKSANAAN. Intisari Sains
Medis, 3(1), 44. https://doi.org/10.15562/ism.v3i1.65

Fatmawati, L., St, S., & Kes, M. (2020). Keperawatan Maternitas I Anatomi Fisiologi Sistem
Reproduksi Oleh :

Irwan. (2017). Etika dan Perilaku Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman nasional asuhan pasca keguguran yang
komprehensif. In Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Melese, T., Habte, D., Tsima, B. M., Mogobe, K. D., Chabaesele, K., Rankgoane, G.,
Keakabetse, T. R., Masweu, M., Mokotedi, M., Motana, M., & Moreri-Ntshabele, B.
(2017). High levels of post-abortion complication in a setting where abortion service is
not legalized. PLoS ONE, 12(1), 1–13. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0166287

Moradinazar, M., Najafi, F., Nazar, Z. M., Hamzeh, B., & Pasdar, Y. (2020). Lifetime
Prevalence of Abortion and Risk Factors in Women : Evidence from a Cohort Study.
2020, 8. https://doi.org/10.1155/2020/4871494

Nurlaily, A. P. (2014). Modul 1 KONSEP KEPERAWATAN TRANSKULTURAL. 1–148.


http://repository.ut.ac.id/3891/1/EKSI4417-M1.pdf

Putri, D. M. P. (2017). Buku Keperawatan Transkultural Lengkap.pdf (pp. 1–174).

Rejeki, S. (n.d.). HERBAL dan KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN (Suatu


Pendekatan Transkultural dalam Praktik Keperawatan Maternitas) PENDAHULUAN.
148, 148–162.

Sajadi-Ernazarova, K. R., & Martinez., C. L. (2021). Abortion Complications. StatPearls


Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430793/

Samoeko. (2012). Konsep teori keperawatan transkultural . 9.


https://samoke2012.files.wordpress.com/2017/02/1-konsep-teori-keperawatan-
transkultural.pdf

Siti Lestari, W Widodo, S. S. (2014). Pendekatan Kultural Dalam Praktek Keperawatan


Profesional Di Rumah Sakit Jogja International Hospital. Jurnal Kesehatan Kusuma
Husada, 5(1), 1–8.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.).
DPP PPNI.

YULIATI. (2017). Modul Pengelolaan Kasus Perdarahan: Materi Trauma. 1–14.

Anda mungkin juga menyukai