Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

KEPERAWATAN MENJELANG AJAL & PALIATIF


PENGKAJIAN PERAWATAN PALIATIF
(BIO-PSIKO-SOSIO-SPIRITUAL-KULTURAL)

Dosen Pembimbing :
Ns. Mega Lestari Khoirunnisa., S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J

Disusun Oleh Kelompok 2 :


1. Kiana Rani Nurwita (P17120120023)
2. Maya Dias Kencana Rukmi (P17120120024)
3. Nada Nadidah Faras Dita Putri (P17120120025)
4. Nada Sya’bany Al Humairo (P17120120026)
5. Nagita Nabila Cansa (P17120120027)
6. Najmi Afifah (P17120120028)
7. Nurmala Sepiani (P17120120029)
8. Oktaviyana Tri Handayani (P17120120030)
9. Ranti Fauziyah (P17120120031)

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN & PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA 1
JAKARTA
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah Keperawatan
Menjelang Ajal dan Paliatif. Makalah ini dibuat guna meningkatkan pengetahuan diri
tentang asuhan perawatan paliatif ditinjau dari bio, psiko, sosio, dan kultural serta untuk
memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Menjelang Ajal dan Paliatif.
Dalam penyelesaian Makalah ini, kami banyak menerima bantuan dari berbagai
pihak. Untuk itu kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Kepada Ibu Mumpuni S.Kp, M.Biomed selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1.
2. Kepada Ibu Ns. Uun Nurulhuda, S.Kep., M.Kep., Sp.KMB selaku Dosen Penanggung
Jawab Mata Ajar Keperawatan Menjelang Ajal dan Paliatif.
3. Kepada Ns. Mega Lestari Khoirunnisa, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.J selaku Dosen
Pembimbing Kelompok 2 dalam mata kuliah Keperawatan Menjelang Ajal dan
Paliatif.
4. Kepada kedua orang tua, adik, kakak, keluarga, teman, dan sahabat yang telah
memberi dukungan moril dan materil sehingga kami dapat menyelesaikan makalah.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan Makalah ini. Dengan adanya
makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan dapat
menambah pengetahuan para pembaca. Semoga Makalah ini dapat berguna bagi kita
semua.

Jakarta, 10 Agustus 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan paliatif di Indonesia telah dimulai sejak 19 Februari 1992, Indonesia
menempati peringkat ke-53 dari 80 di dunia dengan nilai 33.6 untuk pelayanan paliatif
pada tahun 2015. Penyelenggaraan pelayanan paliatif di Indonesia masih dalam masa
pertumbuhan dan masih sangat terbatas pada rumah sakit tertentu. Jumlah tenaga
kesehatan dan masyarakat yang paham akan konsep pelayanan paliatif pun masih sangat
terbatas. Hasilnya lebih banyak pasien dengan penyakit kronis mengalami berbagai
penderitaan terkait dengan gejala penyakit dan meninggal di rumah sakit tanpa menerima
pelayanan paliatif menurut Soltani, R ( 2013 dalam Poerin et al., 2018).
World Health Organization (WHO) 2013 menyatakan kanker menjadi penyebab
kematian nomor dua di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskuler. Diperkirakan
tahun 2030 insiden kanker mencapai 26 juta orang dan 17 juta diantaranya meninggal
akibat kanker (Kemenkes, Mediakom, edisi 5, 2015). Di Indonesia berdasarkan data
Riskesdas tahun 2013 prevalensi tumor/ kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000
penduduk atau sekitar 330.000 orang. Kanker merupakan penyebab kematian no 7 di
Indonesia. Penderita kanker tertinggi di Indonesia adalah kanker payudara dan kanker
leher rahim (Kemenkes, Mediakom, edisi 5). Jumlah penderita rawat jalan maupun rawat
inap pada kanker payudara terbanyak yaitu 2014 orang (28,7%) dan kanker serviks 5,349
orang (12,8%) menurut (Anita, 2016).
Menurut (Farida Briani Sobri dkk, 2017) Kanker adalah penyakit akibat mutasi
sekumpulan gen pada sel tumbuh yang mengatur proses-proses penting, yaitu siklus
pembelahan sel, pengaturan kematian sel (apoptosis), dan pertahanan kestabilan atau
integritas genom (bentuk jamak dari gen).
Kanker Payudara merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat
berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Kanker payudara memperlihatkan
proliferasi keganasan sel epitel yang membatasi duktus atau lobus payudara. Pada
awalnya hanya terdapat hiperplasia sel dengan perkembangan sel-sel yang atipikal. Sel-
sel ini kemudian berlanjut menjadi karsiroma insitu dan menginvasi stroma. (Komite
Penanggulangan Kanker Nasional, 2019)

1
Gejala kanker payudara dapat ditemukan berupa benjolan pada ketiak, perubahan
ukuran dan bentuk payudara, keluar cairan darah atau berwarna kuning sampai kehijau-
hijauan yang berupa nanah. Ditandai juga dengan putting susu atau areola (daerah coklat
di sekeliling susu) payudara tampak kerahan dan putting susu tertarik ke dalam atau
terasa gatal (Ariani, 2015)
Permasalahan yang sering muncul ataupun terjadi pada pasien dengan perawatan
paliatif meliputi masalah psikologi, masalah hubungan sosial, konsep diri, masalah
dukungan keluarga serta masalah pada aspek spiritual (Campbell, 2013). Perawatan
paliatif ini bertujuan untuk membantu pasien yang sudah mendekati ajalnya, agar pasien
aktif dan dapat bertahan hidupselama mungkin. Perawatan paliatif ini meliputi
mengurangi rasa sakit dan gejala lainnya, membuat pasien menganggap kematias sebagai
prosesyang normal, mengintegrasikan aspek-aspek spikokologis dan spritual (Hartati
Nurwijaya et all, 2010). Selain itu perawatan paliatif juga bertujuan agar pasien terminal
tetap dalam keadaan nyaman dan dapat meninggal dunia dengan baik dan tenang
(Bertens, 2009).
Makalah ini penting dibuat untuk mengetahui bagaimana tinjauan sosisal dan
budaya perawatan paliatif mencakup bio Psiko Sosio Spiritual kultural untuk pasien
Kanker Payudara.

1.2 Tujuan
A. Tujuan Umum
Tujuan umum pembuatan makalah ini untuk memberikan gambaran mengenai
pengkajian perawatan paliatif baik dari aspek bio, psiko, sosio, spiritual, dan kultural
pada kanker payudara.
B. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa/i mampu memahami konsep perawatan paliatif.
2. Mahasiswa/i mampu memahami asuhan keperawatan paliatif.
3. Mahasiswa/i mampu menjelaskan keperawatan paliatif dalam perspektif sosial dan
budaya.
4. Mahasiswa/i mampu menggambarkan pengkajian fisik yang meliputi pengkajian
nyeri, pengkajian dispnea, pengkajian fatik, dan pengkajian delirium.
5. Mahasiswa/i mampu menjelaskan pengkajian psikologis, spiritual dan budaya.

2
1.3 Manfaat
Penulisan makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua pembaca untuk
menambah pengetahuan mengenai konsep dan asuhan keperawatan paliatif dalam
perspektif sosial dan budaya, serta melakukan pengkajian fisik maupun psikologis pasien

1.4 Sistematika Penulisan


Agar pembahasan makalah ini lebih teratur dan sistematis maka penyusunan pun
disususun dengan segala kemudahan sehingga memberikan pemahaman yang efesien
mungkin, adapun penyusunanya :
BAB I Pendahuluan : Latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,
manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka : Konsep perawatan paliatif, asuhan keperawatan
paliatif, perawatan paliatif dalam perspektif sosial dan budaya, Pengkajian fisik,
pengkajian psikologis, pengkajian spiritual, pengkajian budaya.
BAB III Pembahasan : Kasus, asuhan keperawatan terkait kasus, scenario.
BAB IV Penutup : Kesimpulan dan saran.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perawatan Paliatif


Paliatif Care adalah pendekatan untuk merawat orang sakit parah yang telah lama
bagian dari perawatan kanker. Baik perawatan paliatif dan hospice telah diakui sebagai
jembatan penting antara paksaan untuk perawatan berorientasi penyembuhan dan bunuh
diri yang dibantu dokter (Saunders & Kastenbaum, 1997). Advokat untuk perawatan yang
lebih baik untuk orang yang sekarat telah menyatakan bahwa penerimaan, pengelolaan,
dan pemahaman kematian harus menjadi konsep yang sepenuhnya terintegrasi dalam arus
utama perawatan kesehatan (Callahan, 1993a; Morrison, Siu, Leipzig et al., 2000).
Semakin, perawatan paliatif ditawarkan kepada pasien dengan penyakit kronis non-
kanker, di mana gejala yang komprehensif manajemen dan dukungan psikososial dan
spiritual dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga. Istilah hospice
umumnya dikaitkan dengan perawatan paliatif yang diberikan di rumah atau di fasilitas
khusus kepada pasien yang mendekati akhir hayat.
Perawatan paliatif menekankan manajemen psikologis, sosial, dan masalah
spiritual selain untuk mengontrol rasa sakit dan gejala fisik lainnya. Tujuan perawatan
paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarga, dan banyak
aspek dari jenis komprehensif ini, berfokus pada kenyamanan pendekatan perawatan
dapat diterapkan lebih awal dalam proses penyakit yang mengancam jiwa dalam
hubungannya dengan penyembuhan yang berfokus pada perlakuan. Namun, definisi
perawatan paliatif, jasa yang merupakan bagian darinya, dan dokter yang
menyediakannya adalah berkembang stabil.
A. Perawatan Paliatif di Akhir Kehidupan
Perawatan paliatif secara luas dikonseptualisasikan sebagai: perawatan yang
komprehensif, berpusat pada orang dan keluarga ketika penyakit tidak responsif
terhadap pengobatan. Perawatan rumah sakit sebenarnya adalah perawatan
paliatif.perbedaannya adalah bahwa perawatan rumah sakit dikaitkan dengan akhir
dari kehidupan, dan meskipun berfokus pada kualitas hidup, perawatan rumah sakit
karena kebutuhan biasanya mencakup emosional realistis, sosial, spiritual, dan
keuangan persiapan kematian. Untuk sebagian besar, pasien yang sakit parah

4
meninggal dalam rumah sakit dan fasilitas perawatan jangka panjang. Jelas bahwa
perawatan yang lebih baik untuk sekarat sangat dibutuhkan di rumah sakit, fasilitas
perawatan jangka panjang, agen perawatan di rumah, dan pengaturan rawat jalan.
Pada waktu yang sama, banyak penyakit kronis tidak memiliki "tahap akhir" yang
dapat diprediksi itu memenuhi kriteria kelayakan rumah sakit, yang berarti bahwa
banyak pasien mati setelah penurunan yang lama, lambat, dan seringkali
menyakitkan, tanpa manfaat dari perawatan paliatif terkoordinasi yang untuk program
rumah sakit.
B. Perawatan Paliatif di Pengaturan Rumah Sakit
Insentif keuangan rumah sakit mentransfer pasien dengan penyakit terminal yang
tidak lagi membutuhkan perawatan tingkat akut ke pengaturan lain, seperti fasilitas
perawatan jangka panjang dan rumah, untuk menerima perawatan (Field & Cassel,
1997). Kekurangan yang mengganggu dalam perawatan sekarat di dalam pengaturan
rumah sakit:
1. Banyak pasien menerima perawatan yang tidak diinginkan di akhir hidupnya.
2. Dokter tidak menyadari preferensi pasien untuk mempertahankan hidup
pengobatan, bahkan ketika preferensi didokumentasikan dalam catatan klinis.
3. Nyeri sering kali tidak terkontrol dengan baik di akhir kehidupan.
4. Upaya peningkatan komunikasi tidak efektif.
Jelas bahwa banyak pasien akan terus memilih rumah sakit perawatan atau secara
default akan menemukan diri mereka dalam pengaturan rumah sakit di Akhir Hidup.
Semakin banyak, rumah sakit melakukan seluruh sistem penilaian praktik dan hasil
perawatan akhir kehidupan dan sedang berkembang model inovatif untuk
memberikan kualitas tinggi, berpusat pada orang merawat pasien yang mendekati
akhir hayat. Rumah sakit mengutip besar hambatan keuangan untuk menyediakan
paliatif berkualitas tinggi peduli dalam pengaturan perawatan akut (Cassel, Ludden &
Moon, 2000).

C. Perawatan Rumah Sakit


Akar kata hospice adalah hospes, yang berarti “tuan rumah”. Secara historis,
hospice telah merujuk ke tempat penampungan atau stasiun jalan untuk pelancong
yang lelah berziarah (Bennahum, 1996). Menurut Saunders, yang mendirikan Rumah
Sakit St. Christopher di London yang terkenal di dunia (Bennahum, 1996), prinsip
yang mendasari hospice adalah sebagai berikut:

5
1. Kematian harus diterima.
2. Perawatan total pasien paling baik dikelola oleh interdisipliner tim yang
anggotanya berkomunikasi secara teratur satu sama lain.
3. Nyeri dan gejala penyakit terminal lainnya harus dikelola.
4. Pasien dan keluarga harus dilihat sebagai satu kesatuan dari peduli.
5. Perawatan di rumah untuk orang yang sekarat diperlukan.
6. Perawatan berkabung harus diberikan kepada anggota keluarga.
7. Penelitian dan pendidikan harus terus dilakukan.

2.2 Asuhan Keperawatan Paliatif


Asuhan keperawatan paliatif merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan
praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien dengan menggunakan
pendekatan metodologi proses keperawatan berpedoman pada standart keperawatan,
dilandasi etika profesi dalam liungkup wewenang serta tanggung jawab perawat yang
mencakup wewenang serta tanggung jawab perawat pada seluruh proses kehidupan,
dengan menggunakan pendekatan holistik mencakup pelayanan biopsikososiospritual
yang komprehensif dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. (Muntamah,
2020)
A. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian Fisik
Perawat melakukan pengkajian kondisi fisik secara keseluruhan dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Masalah fisik yang sering dialami pasien biasanya
diakibatkan oleh karena penyakitnya mapun efek samping dari pengobatan yang
diterimanya. Di antaranya adalah nyeri, nutrisi, kelemahan umum, eliminasi luka
dekubitus serta masalah keperawatan lainnya.
2. Pengkajian Psiko sosio spiritual dan kultural
Perawat mekakukan pengkajian kemampuan fungsi sosial, kondisi mental/
emosional, hubungan interpersonal, kegiatan yang dilakukan oleh pasien, konflik
dalam keluarga yang dialami pasien jika ada, peran sistem budaya, spiritual dan
aspek religius, sumber keuangan, komunikasi, kepribadian, personality, adat
istiadat budaya/ pembuat keputusan, aspek religius/ kepercayaan, pertahanan
koping, sistem nilai, hubungan antar keluarga dan stres yang dihadapi oleh pasien.
B. Diagnosis Keperawatan
6
Diagnosis keperawatan yang sering muncul pada perawatan paliatif adalah :
gangguan body image : (rambut rontok, luka bau), gangguan hubungan seksual,
gangguan pelaksanaan fungsi peran keluarga, gangguan komunikasi, kurang
pengetahuan, gangguan pola tidur, gangguan interaksi social, koping keluarga tidak
efektif, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, nyeri.
C. Intervensi Keperawatan
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan pada intervensi keperawatan
pada perawatan paliatif :
1. Strategi pencapaian tujuan dari asuhan keperawatan
2. Memberikan prioritas intervensi keperawatan dan sesuai dengan masalah
keperawatan : nyeri, intake nutrisi, dan lain-lain
3. Modifikasi tindakan dengan terapi komplementer (hipnoterapi, yoga, healing
touch dan lain-lain)
4. Melibatkan keluarga pasien
Sedangkan intervensi keperawatan pada aspek psiko sosio kultural dan spiritual
adalah :
1. Berikan informasi dengan tepat dan jujur
2. Lakukan komunikasi terapeutik, jadilah pendengar yang aktif
3. Tunjukkan rasa empati yang dalam
4. Support pasien, meskipun pasien akan melewati hari-hari terakhir, pastikan pasien
sangat berarti bagi keluarganya
5. Tetap menghargai pasien sesuai dengan perannya dalam keluarga
6. Selalu melibatkan pasien dalam proses keperawatan
7. Tingkatkan penerimaan lingkungan terhadap peubahan kondisi pasien
8. Lakukan pendampingan spiritual yang intensif
D. Implementasi Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan paliatif pada pasien terdapat hal-hal yang
arus diperhatikan yaitu :
1. Memberikan asuhan keperawatan sesuai masalah keperawatan
2. Hak pasien adalah untuk menerima atau menolak tindakan keperawatan
3. Rasa empati, support, motivasi dari berbagai pihak khususnya perawat
4. Kolaborasi dengan tim perawatan paliatif
E. Evaluasi Keperawatan

7
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari proses asuhan keperawatan
paliatif, namun bukan berarti asuhan keperawatan akan berhenti pada tahapan ini,
melainkan lebih menekankan pada tahapan mengevaluasi perkembangan pasien
dengan melakukan analisa perkembangan kondisi yang ada pada pasien, melakukan
reasesment dan replanning melihat perkembangan kondisi yang ada pada pasien. Hal-
hal yang harus menjadi perhatian perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
paliatif adalah :
1. Asuhan keperawatan paliatif berarti asuhan intensif dan komprehensif
2. Selalu pelajari dan observasi hal yang baru dari pasien
3. Semua anggota tim sepakat untuk emndukung rencana tindakan yang telah
disusun
4. Melibatkan keluarga pasien
5. Gunakan bahasa yang mudah difahami
6. Beri kesempatan bertanya dan jawab dengan jujur
7. Jelaskan perkembangan, keadaan dan rencana tindak lanjut
8. Jangan memberikan janji kosong pada pasien
9. Melakukan konseling, pelatihan kepada pasien, keluarga dan care giver
10. Mempermudah kelancaran perawatan di rumah dalam pelaksanaan asuhan
11. Memperhatikan aspek religius pasien
12. Tunjukkan rasa empati, keseriusan serta sikap yang mendukung untuk siap
membantu
13. Pertimbangkan latar belakang pasien dan keluarga
14. Hindarkan memberi ramalan tentang waktu kematian
15. Bila pasien tidak ingin diberi tahu tentang kondisinya, tunggu dengan sabar
sampai menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikan

2.3 Perawatan Paliatif Dalam Perspektif Sosial dan Budaya


Seiring dengan meningkatnya kasus penyakit kronis yang disertai dengan
penurunan kualitas hidup dalam berbagai kasus penyakit terutama pada stadium lanjut
atau terminal maka kebutuhan akan pelayan dalam tatanan sosial pun turut meningkat.
Bila melihat cacatan sejarah bahwa perawatan paliatif dan hospis hadir sebagai bentuk
respon terhadap ketidakmampuan tatanan layanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan
pasien menjelang akhir kehidupan beserta keluarganya dengan baik (Lloyd-Williams,
2003). Mengingat akan kebutuhan tersebut maka perawatan paliatif dinyatakan sebagai
8
salah satu hak asasi manusia (Brennan, 2007 dalam Pesut, Beswick, Robinson & Bottorff,
2012). Lebih lanjut, perawatan paliatif juga telah menjadi sebuah isu keadilan sosial dan
semua anggota masyarakat harus dapat mengakses jenis perawatan tersebut. (Yodang,
2018)
Latar belakang budaya yang dimiliki oleh pasien sangat mempengaruhi pasien
terhadap bagaimana ia memilih atau merujuk sesuatu dan menginginkan hal terkait
mendiskusikan berita buruk, membuat keputusan, serta bagaimana pengalamannya terkait
kematian (Lum & Arnold, 2012) maupun penanganan dan perawatan menjelang kematian
(Clark & Philips, 2010). Olehnya itu, memahami latar belakang budaya pasien merupakan
hal yang sangat dasar untuk membangun rasa percaya dan hubungan yang bersifat
supportif antara pasien, keluarga dan profesional kesehatan. Selain itu memahami budaya
juga sebagai dasar untuk mengembangkan rencana perawatan kesehatan yang mencakup
harapan yang terkait budaya pasien, dan kepercayaan yang terkait kesehatan. Andrews
and Boyle (1995, dalam Matzo & Sherman, 2010) menjelaskan bahwa kepercayaan yang
terkait dengan kesehatan dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu:
A. Magico-religious, dalam perspektif ini seseorang berkeyakinan bahwa Tuhan atau
kekuatan supranatural mengontrol kesehatan dan sakit.
B. Biomedical, dalam perspektif ini seseorang meyakini bahwa sakit diakibatkan oleh
gangguan fisik dan proses biokimia dan hal tersebut dapat dimanipulasi di pelayanan
kesehatan.
C. Holistic, dalam pandangan ini bahwa kesehatan merupakan hasil keseimbangan atau
harmoni dari berbagai elemen alami, sehingga kondisi sakit terjadi sebagai suatu
kondisi ketidak harmonisan. (Yodang, 2018)

2.4 Pengkajian Fisik

Pengkajian fungsi fisik dalam perawatan suportif dan perawatan paliatif untuk
megetahui kondisi dan status fungsional pasien secara fisik. Penurunan status fungsional
memungkinkan adanya hubungan dengan kondisi seperti nyeri berat yang tiba-tiba,
delirium, dispena dengan usaha yang minimal, kerusakan saraf ireversibel menurut
(Bruera, Hingginson, voon Gunten & Morita, 2015) dalam (Yodang, 2018).
A. Pengakajian Nyeri
Pengkajian nyeri secara akurat serta mengkomunikasikan diagnosis terkait nyeri
serta merencanakan tindakan atau penanganan nyeri pada tim paliatif merupakan hal

9
yang tepenting untuk dapat mengelola nyeri dengan efektif terutama pada pasien
paliatif (Hughes, 2012). dalam Simon (2008 dalam Hughes, 2012) menyatakan bahwa
kuisioner nyeri dalam SOCRATES dapat digunakan untuk mengungkap riwayat nyeri
pasien paliatif.
1. Site of pain; di daerah mana nyeri dirasakan?
2. Onset; kapan nyeri terjadi, bagaimana nyeri tersebut ter jadi, kondisi apa yang
dapat memicu munculnya nyeri, apa kah nyerinya berubah dalam kurun waktu
selama kejadian
3. Character; bagaimana tipe nyeri dirasakan? apakah seperti rasa tertusuk, teriris,
gatal, panas atau terbakar, tertekan. Bagaimana pola nyerinya apakah nyeri terjadi
secara terus menerus atau hilang timbul.
4. Radiation; apakah nyeri menyebar kebagian tubuh lain nya, daerah apa?
5. Associated features; apakah saat nyeri terjadi kadang disertai dengan gejala yang
lain seperti mual, muntah.
6. Timing/pattern; apakah nyeri semakin parah pada wak tu-waktu tertentu, apakah
nyeri terjadi saat melakukan aktifitas seperti bergerak atau buang air kecil.
7. Exacerbating and relieving factors; apa saja yang membuat nyeri semakin buruk
atau nyeri menjadi lebih berkurang.
8. Severity; apakah derajat atau pun skala nyeri mengalami perubahan selama kurun
waktu kejadian.

Beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk mengkaji nyeri pasien paliatif,
yang mana instrumen tersebut juga mencakup bagaimana seorang perawat dapat
menggali informasi dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

1. The Numerical Rating Scale (NRS)


Nyeri
Tidak
Sangat
Nyeri
hebat
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2. The Visual Analog Scale (VAS)

10
Pasien akan ditanya mengenai perasaan nyeri yang dialami pada suatu garis
lurus dengan panjang sekitar 10cm, dari tidak ada nyeri hingga pada sisi ujung
lainnya berupa nyeri sangat hebat.
Tidak nyeri---------------------------------------Nyeri sangat hebat

3. The Verbal Rating Score


Pasien akan ditanya untuk menetapkan tingkat atau level nyeri yang
dialaminya dengan menggunakan daftar kata-kata yang menggambarkan adanya
peningkatan instesitas nyeri.
0 Tidak nyeri
1 Nyeri ringan
2 Nyeri sedang
3 Nyeri berat

4. Body Chart
Body chart juga dapat digunakan untuk mengkaji nyeri. Penggunaan body
chart memberikan kesempatan pada pasien nenetapkan dan menunjukkan tempat
kejadian nyeri yang dialaminya. Hal tersebut sangat penting mengingat bahwa
berapa pasien dapat memiliki nyeri lebih dari satu tempat, sehingga penggunaan
body chart sangat membantu perawat untuk mengidentifikasi dan memahami
daerah yang pasien sampaikan selama proses pengkajian. (Rosser Walsh, 2014).
Berikut contoh body chart yang digunakan untuk pengkajian nyeri.

B. Pengkajian Dispneu
Berbagai alat ukur yang tervalidasi dapat digunakan untuk menilai dispnea baik
secara kuantitatif maupun kualitatif pada pasien paliatif. Instrument tersebut mulai

11
dari yang menggunakan skala ordinal dengan menggunakan acuan single-item seperti
visual analog scale (VAS), numerical rating scale (NRS) dimana angka 0
menunjukkan tidak mengalami dispnea sedangkan angka 10 menunjukkan dispnea
yang sangat berat atau sangat buruk (Kamal, Maguire, Wheeler, Currow &
Abernethy, 2011).
The Respiratory Distress Obseruation Scale (RDOS) merupakan instrument yang
valid dan reliabel untuk mengukur dan menilai tanda-tanda yang konsisten ditemukan
pada saat dispnea terjadi, intensitas dan respon terhadap pengobatan terutama pada
pasien yang tidak mampu melaporkan sendiri mengenai kondisi dispnea yang
dialaminya (Pantilat, Anderson, Gonzales &Widera, 2015).
The RDOS adalah instrument yang menggunakan skala ordinal pada 8 variabel
yang digunakan untuk menilai derajat dispnea. Setiap variabel dinilai dari skor 0
sampai 2, lalu seluruh skor ditotal untuk menentukan derajat dispnea. Berikut ini
gambaran variabel yang diobservasi pada RDOS yaitu:
Skor
Variabel Total
0 1 2
Denyut nadi per <90 kali per 90-109 kali ≥ 110 kali per
menit menit per menit menit
Frekuensi pernafasan ≤ 18 kali per 19-30 kali per > 30 kali per
per menit menit menit menit
Kadang-
Resstlesnes;
kadang, Melakukan
pergerakan yang
tidak melakukan gerakan berlebih
tidak bermakna
gerakan yang sering
tujuan
minim
Pola pernafasan
paradoks; perut
Tidak - Iya
bergerak kedalam
saat inspirasi
Penggunaan otot-otot
bantu pernafasan;
klavikula tertarik ke
Sedikit Nampak jelas
atas saat inspirasi dan Tidak
terangkat ternagkat
suara seperti
mendengkur di akhir
ekspirasi
Suara seperti
Iya
mendengkur di akhir Tidak -
ekspirasi

12
Cuping hidunh Tidak - Iya
Ekspresi ketakutan
Tidak - Iya
atau cemas
Total

Petunjuk penggunaan instrumen RDOS :

1. RDOS tidak dapat digunakan pada pasien yang mampu melaporkan kondisi
dispneanya
2. RDOS merupakan isntrument pengkajian untuk pasien dewasa
3. RDOS tidak dapat digunakan bila pasien mengalaami paralisis atau pasien yang
mendapatkan obat agen penghambat neuromuscular
4. Hitung frekuensi denyut nadi dan pernafasan dalam satu menit, bila perlu lakukan
auskulatsi
5. Suara mendengkur kemungkinannya dapat didengar melalaui auskultasi pada
pasien yang dilakukan intubasi

C. Pengkajian Fatik
Pengkajian fatik dengan memperhatikan aspek atau dimensi fisik, kognitif dan
spirit merupakan hal yang sangat dasar (Paice, 2014). Beberapa istilah yang sering
digunakan oleh pasien untuk menggambarkan kondisi fatik yang dialaminya seperti
hilang energi atau tenaga untuk melakukan aktifitas ringan, kelemahan dan
kelelalahan.
Pada pasien kanker stadium lanjut, fatik menjadi gejala yang sering dikeluhkan
dan sebagai penyebab terjadi kelemahan dan ketidakberdayaan pada pasien, dimana
berdasarkan studi yang dilakukan ditemukan bahwa kejadian fatik pada pasien kanker
sekitar 60-90% (Cherny, Fallon, Kaasa, Portenoy & Currow,2015). Beberapa kriteria
yang digunakan untuk menetapkan diagnosis fatik yang berhubungan dengan kanker
yaitu :
1. Gejala fatik yang dirasakan hampir setiap hari dalam kurun 2 minggu terakhir.
2. Menyatakan akan adanya kelemahan yang bersifat umum atau tungkai terasa
berat.
3. Kemampuan berkonsentrasi ataupun perhatian semakin berkurang.
4. Menurunnya motivasi atau keinginan untuk melakukan kegiatan rutin.
5. Insomnia atau hypersomnia.
13
6. Pasien merasa tidak segar saat terbangun dari tidur.
7. Mengalami kesulitan untuk mengatasi kondisi ketidakaktifan
8. Ditandai dengan reaktif emosional yang mengakibatkan pasien merasa fatik
seperti kesedihan, frustasi, dan irirabilitas
9. Mengalami kesulitan untuk menyelesaikan aktiftas rutin runmah tangga.
10. Mengalami masalah terkait memori jangka pendek.
11. Merasakan ketidaknyaman dalam beberapa jam setelah melakukan latihan fisik
atau aktiftas.

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengkaji dan mendiagnosis fatik.
Berbagai instrument telah dikembangkan untuk mengukur atau menilai kondisi fatik
pada pasien dewasa dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang beragam. Instrument
pengukuran fatik seperti The Multidimensional Asssessment of Fatigue, the Symptom
Distress Scale, the Fatigue Scale, the Fatigue Observation Checklist, dan Visual
Analog Scale untuk Fatigue. Dalam tatanan klinik, penggunaan skala rating secara
verbal merupakan metode yang sangat efisien. Dimana tingkat atau derajat fatik akan
dengan mudah dan cepat untuk dikaji dengan menggunakan kriteria O yang berarti
tidak fatik kriteria 10 yang berarti fatik berat.
Tidak Fatik
Fatik Berat
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

D. Pengkajian Delirium
Delirium merupakan salah satu masalah yang terkait dengan gangguan mental
yang sering ditemukan pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit. Close
dan Long (2012) menjelaskan bahwa delirium merupakan komplikasi yang paling
lazim ditemukan pada pasien dengan penyakit stadium lanjut atau terminal. Gambaran
klinis delirium yaitu:
1. Adanya perubahan tingkat kesadaran dan kewaspadaan. Adanya perubahan
tingkat perhatian.
2. Secara klinis kejadiannya dapat berlangsung dan berfluktuasi, timbulnya gejala
yang tiba-tiba dan tidak dapat diperkirakan atau diharapkan secara cepat.
3. Disorientasi.

14
4. Perubahan kognitif seperti gangguan memori, apraks agnosia, disfungsi visual-
spasial, gangguan atau perubahan dalam berbahasa.
5. Terjadinya peningkatan atau penurunan aktifitas motorik. Terjadi perubahan
siklus tidur dan terjaga.
6. Gejala terkait mood seperti depresi dan mood yang labil.
7. Gangguan persepsi seperti halusinasi, ilusi atau delusi.
8. Proses pikir yang tidak terstruktur dan terorganisir dengan baik.
9. Berbicara dengan tidak koheren.
10. Kemungkinan ditemukan gejala terkait gangguan saraf seperti asteriksis,
mioklonus, tremor, dan terjadi perubahan tonus otot.

Instrument skrining digunakan untuk mengidentifikasi adanya gangguan kognitif


pada pasien, namun skrining tersebut tidak bertujuan untuk mendiagnosis delirium,
akan tetapi untuk mengidentifikasi adanya kondisi lain yang menyerupai delirium
seperti demensia. The NEECHAM Confusion Scale sering di gunakan sebagai
instrument pengkajian yang sifatnya cepat dan sekaligus memonitor kondisi konfusi
akut pada pasien lanjut usia. Selain itu, The Nursing Delirium Screening Scale juga
dapat digunakan untuk memonitor gejala. Instrument tersebut terdiri dari 5 item
pertanyaan sehingga menjadikan instrument tersebut mudah digunakan dan akurat
(Close & Long, 2012).

2.5 Pengkajian Psikologis


Gangguan mood seperti depresi dan kecemasan merupakan gejala terkait psikiatri
yang paling sering terjadi pada pasien kanker stadium lanjut, akan tetapi gangguan mood
tersebut sering luput dari pengawasan sehingga tidak terdiagnosis, oleh karena itu
gangguan mood sering tidak diintervensi. Akan tetapi saat ini berbagai instrument
pengkajian telah dikembangkan sehingga dapat meningkatkan tingkat akurasi dari
skrining yang dilakukan terhadap masalah depresi dan kecemasan (Yenurajalingam &
Bruera, 2016).
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan mengapa penting melakukan
identifikasi pada pasien depresi, yaitu:

A. Lebih dari 80% pasien depresi memberikan respon positif terhadap pengobatan.

15
B. Depresi yang tidak tertangani dapat memicu pasien menarik diri dari kehidupan sosial
sehingga terjadi isolasi sosial.
C. Mencegah pasien dari ketidakmampuan pasien untuk menyelesaikan urusan atau
kegiatannya.
D. Derpresi yang tidak tertangani juga dapat mempengaruhi gejala yang lainnya baik
fisik maupun psikis.
E. Gejala yang dialami pasien dapat menjadi lebih buruk dibandingkan dengan kondisi
penyakit pasien itu sendiri (Rosser & Walsh, 2014).

The Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) merupakan instrument yang
cukup singkat dan mudah digunakan untuk mengukur tingkat distress psikologis pasien.
Selain the HADS, Distress Termometer juga dapat digunakan untuk menilai tingkat
distress pasien. Distress thermometer merupakan instrument yang menggunakan skala
visual analog, sehingga penggunaannya menjadi lebih mudah terutama pada pasien
paliatif (Zeppetella, 2012).

Cara penggunaan distress termometer yaitu: Pasien diminta untuk menentukan


skor atau nilai yang tertera pada ter mometer tersebut yang mana skor atau nilai tersebut
meng gambarkan derajat distress yang dialami oleh pasien.

2.6 Pengakajian Spiritual


Perawatan holistik tidak hanya melibatkan pengkajian akan kebutuhan fisik,
emosional dan sosial, akan tetapi juga mengenai kebutuhan spiritual dan harapan-harapan
yang ingin dicapai oleh pasien (Matzo & Sherman, 2010). Riwayat spiritual merupakan
16
suatu riwayat mengenai nilai dan kepercayaan yang dianut oleh seseorang yang secara
tidak langsung menggambarkan peran spiritualitas dan agama terhadap kehidupan pasien.
Sekalipun isu terkait spiritual bukanlah tanggung jawab seorang perawat untuk mengatasi
masalah terkait isu spiritual pasien namun perawat harus tahu dan dapat melakukan
pengkajian terkait spiritual pasien untuk mengidentifikasi ketika pasien atau keluarga
pasien mengalami distress spiritual.
Riwayat spiritual dan pengkajian spiritual harus dilakukan pada setiap pasien baru
dan dapat dilakukan secara berkala pada pasien kunjungan berulang. Riwayat spiritual
menggambarkan peran agama dan spiritualitas terhadap kemampuan pasien untuk
mengatasi penyakitnya. Pengkajian terkait riwayat spiritual pasien dapat menggunakan
metode FICA yang diperkenalkan oleh Puchalski (1998 dalam Matzo & Sherman, 2010).
A. F merujuk pada Faith yaitu keyakinan. Hal ini dapat di identifikasi melalui
pertanyaan "Apa keyakinan atau kepercayaan yang anda anut?" Disini keyakinan
dapat merujuk pada afiliasi terhadap agama.
B. I merujuk pada Influence yang bermakna pengaruh. Hal ini dapat ditelusuri dengan
mengajukan pertanyaan berupa "Bagaimana keyakinan atau agama anda
mempengaruhi keputusan anda terkait pengobatan anda?"
C. C merujuk pada Community yang bermakna komunitas atau sekumpulan orang yang
memiliki karakteristik yang hampir sama. Hal ini dapat dinilai dengan mengajukan
pertanyaan "Apakah anda merupakan bagian dari suatu komunitas keagamaan atau
spiritual?"
D. A merujuk pada Addressing spiritual concerns yang bermakna cara mengatasi isu-isu
spiritual yang dialami oleh pasien. Hal ini dapat digambarkan dengan pertanyaan
berupa "Apakah anda menginginkan seseorang yang dapat membantu mengatasi
masalah atau isu-isu terkait spiritual yang anda hadapi?"

Pendekatan lain yang dapat digunakan untuk mengkaji kebutuhan spiritual pasien
yaitu metode SPIRIT, yang diperkenalkan oleh Highfield (2000 dalam Matzo & Sherman,
2010).

A. S  Spiritual belief sistem yang bermakna sistem kepercayaan spiritual dalam hal ini
juga dapat merujuk pada afiliasi keagamaan seseorang.

17
B. P  Personal spirituality yang bermakna spiritualitas individu. Spiritualitas individu
tersebut dapat mencakup kepercayaan dan praktik dari suatu afiliasi keagamaan yang
mana pasien dan keluarga terima dan jalankan.
C. I  Integration with a spiritual community yang bermakna integrasi dengan sebuah
komunitas spiritual. Hal tersebut dapat mencakup peran kelompok agama/ spiritual,
peran individu dalam suatu kelompok.
D. R  Ritualised practices and restrictions yang bermakna praktik ritual yang
dijalankan dan pantangan-pantangan yang diyakini. Hal ini juga termasuk hal-hal
seperti kepercayaan yang dianut oleh pasien yang mana tenaga profesional kesehatan
harus memfasilitasinya selama masa perawatan.
E. I  Implication for medical care yang dapat berarti dampak terhadap perawatan dan
pengobatan.
F. T  Terminal events planning yang dapat berarti perencanaan mengenai kejadian
yang akan atau kemungkinan terjadi di masa-masa menjelang akhir kehidupan. Hal
tersebut dapat mencakup seperti dampak dari keyakinan pasien mengenai perencaan
tingkat lanjut seperti pengambilan keputusan disaat pasien tidak mampu secara
mandiri membuat kepu tusan, donasi organ tubuh, dan bagaimana menghubungi
tenaga rohaniawan (Yenurajalingam & Bruera, 2016).

Keyakinan seseorang terhadap suatu agama kemungkinan dapat mempengaruhi


keputusan seseorang terhadap proses pe ngobatannya, terkhusus bila penyakit menjadi
semakin parah atau kritis seperti keputusan terkait tindakan resusitasi jantung paru, atau
tetap mempertahankan atau bahkan melepaskan segala tindakan yang berfungsi untuk
mempertahan atau mem perpanjang masa hidup pasien.

2.7 Pengkajian Budaya


Untuk dapat mengembangkan kompetensi mengenai budaya maka perawat
membutuhkan dan harus dapat mendengarkan secara seksama serta mengumpulkan
berbagai informasi mengenai budaya. Latar belakang pasien memungkinan untuk
memberikan informasi awal mengenai nilai dan kepercayaan yang dianutnya, namun
semua hal tersebut hanya sebatas asumsi sehingga seorang perawat dapat melakukan
klarifikasi dan memvalidasi dengan jalan mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai
nilai dan kepercayaan yang dianut, kebutuhan, harapan dan impiannya (Matzo &

18
Sherman, 2010). Pengetahuan mengenai budaya kelompok yang dianut oleh seseorang
dapat dijadikan sebagai langkah awal atau acuan dalam melakukan pengkajian pada
seseorang terkait nilai dan kepercayaan yang dianutnya berdasarkan budaya yang
dimiliki. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengkajian terkait
budaya, yaitu:

A. Mengidentifikasi tempat kelahiran pasien.


B. Menanyakan mengenai pengalaman migrasi pasien.
C. Determinasi mengenai tingkat identitas budaya atau etnis pasien.
D. Mengevaluasi tingkat akulturasi pasien terhadap budaya lokal tempat pasien
berdomisili.
E. Mengidentifikasi kemampuan pasien menggunakan jaringan informal dan sumber-
sumber untuk mendukung dalam kegiatan di komunitas.
F. Mengidentifikasi penentu dan pembuat keputusan, apakah pasien, keluarga atau suatu
unit sosial.
G. Menelusuri bahasa utama dan bahasa kedua yang digunakan oleh pasien dan keluarga.
H. Gambaran pola komunikasi pasien baik verbal maupun non verbal.
I. Pertimbangkan isu gender dan power dalam suatu hubungan atau relasi yang terjalin.
J. Mengevaluasi pandangan pasien mengenai harga diri.
K. Identifikasi pengaruh agama dan spiritualitas terhadap harapan dan perilaku pasien
dan keluarga.
L. Telusuri mengenai pandangan pasien tentang isu diskriminasi, rasis, atau SARA.
M. Identifikasi mengenai tradisi masak-memasak dan perjamuan, serta makna makanan
N. Gambaran tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi pasien.
O. Kaji perilaku, nilai dan kepercayaan serta praktik keseharian yang berhubungan
dengan kesehatan, sakit, penderitaan dan kematian.
P. Kaji tentang nilai dan upaya pasien untuk menggunakan terapi komplementer.
Q. Diskusikan bagaimana pasien menjaga dan mempertahankan harapan-harapannya
(Matzo & Sherman, 2010).

19
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Ny E berusia 45 tahun, dirawat di rumah sakit karena mengalami tumor pada
mamae dekstra, dan harus diangkat tumor (mastektomi) dilakukan pemeriksaan patologi
anatomi (PA), keluarga menunggu hasil tersebut dengan cemas. Setelah satu minggu hasil
PA dinyatakan adenocarsinoma grade III. Pasien hanya diam saja, sering mengatakan
bahwa dia tidak akan hidup lama lagi. Dan selanjutnya pasien akan dilakukan kemoterapi
dengan 6 kur. Klien punya anak 2 masih sekolah SMA dan SMP, suami PNS.

3.2 Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian Fisik
1. Identitas Klien
 Nama : Ny. E
 Umur : 45 Tahun
 Status Perkawinan : Menikah
 Agama : Islam
 Suku bangsa : Jawa
 Alamat : Jalan Malioboro
 No. Register : 00130602
 Diagnosa Medis : Adenocarsinoma Mammae Dextra Grade III
 Tanggal Pengkajian : 10 September 2021

2. Status Kesehatan Saat Ini


 Keluahan utama : Nyeri dan benjolan di payudara kanan
 Lamanya timbul keluhan : Sejak 7 bulan lalu
 Upaya yang dilakukan : Minum jamu tradisional
 Riwayat keluarga : (genogram)

3. Riwayat Kesehatan
 Riwayat masuk RS : Pasien mengatakan tidak pernah dirawat di RS

20
 Riwayat keluarga : Pasien mengatakan neneknya pernah menderita
kanker payudara
 Riwayat alergi : Pasien mengatakan tidak memiliki alergi
 Riwayat obat obatan : Pasien mengatakan tidak mengkonsumsi obat
 Riwayat merokok : Pasien mengatakan tidak merokok

4. Pola Kebiasaan
 Pola Tidur/Istirahat
Pasien mengatakan waktu tidur di rumah lamanya ± 7 jam, waktu tidur
di RS lamanya ± 5 jam. Pasien mengatakan tidak merasa nyenyak dan sering
terbangun saat tidur. Pasien mengatakan mudah tidur saat siang hari dan
mudah bangun jika nyeri muncul.
 Pola Eliminasi
Pasien mengatakan dirumah BAB 1 kali sehari dengan warna kuning
kecoklatan dan konsistensi lembek. Di rumah sakit pasien sudah BAB 1 kali.
dengan warna kuning kecoklatan dan konsistensi keras. Masalah BAB tidak
ada. Pasien mengatakan di rumah BAK 3-5 kali sehari dengan warna kuning
jernih, di rumah sakit 3-5 kali. Masalah BAK tidak ada
 Pola Makan dan Minum
Pasien mengatakan di rumah makan 3 kali sehari: nasi, sayur, lauk
pauk (ikan, tahu, tempe) pasien selalu menghabiskan porsi makannya dan
untuk minum air putih 5-8 gelas/hari yang dilakukan setelah makan dan
sewaktu-waktu. Pasien mengatakan di rumah sakit makan 3 kali sehari: nasi,
sayur, lauk pauk, buah, pasien hanya menghabiskan ½ porsi makannya dan
untuk minum air putih 3-6 gelas/hari yang dilakukan setelah makan dan
sewaktu-waktu
 Kebersihan Diri
Pasien mengatakan di rumah mandi 2-3 kali sehari, pemeliharaan gigi
2 kali sehari dan untuk pemeliharaan kuku di rumah 1 kali seminggu. Pasien
mengatakan di rumah sakit telah mandi 2 kali, selama di rumah sakit gosok
gigi 2 kali dan untuk pemeliharaan kuku di rumah sakit belum ada memotong
kuku.

5. Pemeriksaan Fisik
21
 Keadaan Umum : Compos mentis
 Tanda-Tanda Vital : TD : 130/80 mmHg N : 90 x/menit
RR : 19 x/menit S : 36,3 °C
 Pemeriksaan Kepala
Warna rambut hitam, distribusi rambut merata, tidak terdapat luka,
tumor, edema, ketombe, dan bau
 Pemeriksaan Integumen
Kulit terlihat bersih, badan klien teraba hangat, warna kulit pasien
sawo matang, turgor kulit baik kembali dalam <2 detik, kulit tampak lembab
kenyal dan elastis.
 Pemeriksaan Payudara
Payudara tidak simetris, warna payudara kanan kecoklatan dan aerola
kecoklatan, kelainan pada payudara terlihat benjolan pada payudara kanan,
aksila terdapat pembengkakan dan clavikula tidak simetris antara kanan dan
kiri karena terdapat penonjolan masa pada area dada kanan.
 Pemeriksaan dada
Inspeksi: bentuk dada tidak simetris antara kanan dan kiri, tidak ada
kesulitan bernafas. Palpasi: tidak adanya tanda kesulitan bernafas, tidak ada
penggunaan otot bantu pernafasan. Perkusi: suara dada kanan dan kiri sonor
Auskultasi: suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan.
 Pemeriksaan Abdomen
Bentuk simetris, tidak ada nyeri tekan, apakah ada benjolan, tidak ada
tanda pembesaran hepar, tidak didapati asites, dan hasil perkusi didapat suara
timpani.
 Pemeriksaan Genetalia
Tidak ada benjolah, tidak ada nyeri tekan, tidak ada iritasi dan bau
pada genetalia.
 Pemeriksaan Anus dan Rektum
Tidak ada abses dan hemoroid, pada rectum tidak didapati lendir,
darah, atau nanah.
 Pemeriksaan muskuloskeletal (ekstremitas)
Kekuatan otot menurun, terdapat pembengkakan limfaderma pada
tangan kanan, tangan kanan agak nyeri saat digerakan untuk beraktivitas,
kekuatan otot 3555
22
6. Pemeriksaan Diagnostik
 Patologi Anatomi (PA) : Adenocarsinoma grade III

B. Pengkajian Psikososial

 Keluhan : Pasien tampak sedih, pasien hanya diam saja, ansietas.

 Mekanisme koping terhadap stress : Diam dan menangis

 Program pengobatan yang bertentangan dengan keyakinan : tidak ada

 Respon terhadap penyakit : pasien hanya diam dan terlihat bingung (depresi)

 Informasi yang dibutuhkan : informasi tentang penyakitnya, tindakan yang akan


dilakukan, pengobatan gejala (manajemen nyeri), efek samping pengobatan.

 Hal yang dipikirkan saat ini : Pasien sering mengatakan bahwa dia tidak akan
hidup lama lagi

 Harapan setelah menjalani perawatan : Pasien ingin cepat sembuh

 Dukungan keluarga : Suami dan anak bergantian datang ke RS. Keluarga selalu
memberikan semangat dan doa agar pasien dapat tegar dan ikhlas dengan
penyakitnya.

C. Pengkajian Spiritual
 Faith : agama islam
 Influence : pasien mengatakan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya
 Community : pasien mengatakan aktif dalam kegiatan pengajian ibu-ibu malam
jumat.
 Addresing spiritual concerns : pasien mengatakan ingin lebih dekat dengan Allah
dan berserah diri kepada Allah

D. Pengkajian Kultural
 Pasien mengatakan berasal dari suku Jawa

23
 Pasien masih menganut budaya lama, namun telah mengalami akulturasi sehingga
tidak ada tumpang tindih antara budaya lama denga budaya yang baru.
 Pasien mengatakan bahwa yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah
suami
 Pasien masih menggunakan bahasa jawa dalam komunikasi serta bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan.

3.3 Skenario
PEMERAN:

Narator :

Pasien :

Ibu Pasien :

Perawat 1 :

Perawat 2 :

Dokter :

Spiritual worker : ustadzah

Radiologi :

Laboratorium worker :

ADEGAN 1

Staff medis berdiskusi mengenai care plan pada pasien Y tanggal lahir 20-08-1976.
Diskusi tanggal 11/09/2021 pukul 07:00 WIB

Dokter : “Selamat siang ners, saya dokter …, saya ingin melihat catatan medis
pasien atas nama pasien Y tanggal lahir 20 Augustus Tahun 1976”.

Perawat 1 : “Berdasarkan hasil pengkajian keluhan pasien masih merasakan nyeri


dengan skala nyeri 9 dok”.

24
Perawat 2 : “Ini dok, berikut hasil pengkajiannya (menyerahkan hasil
dokumentasi pengkajian pasien) pasien mengatakan ingin dipanggilkan
ustadzah saja dok, untuk di doakan bersama”.

Perawat 1 : “Kami sudah melakukan juga kontrak waktu dengan spiritual worker
RS dan bersedia melakukan pendekatan spiritual pada pasien hari ini
pada jam 10:00 WIB”.

Radiologi : “Berdasarkan hasil pemeriksaan juga dok, pasien di indikasikan Ca.


Mammae grade III”.

Lab. worker : “Saya juga ingin lapor, dari hasil laboratorium, atas nama pasien Y
pada tanggal 10 September 2021 tidak mengalami perubahan dok”.

Dokter : “Baik terima kasih semua atas penjelasannya. Untuk pengobatan


pasien tidak ada tambahan dosis obat. Berikan sesuai dengan resep
yang tertera. Saya akan melakukan kunjungan setelah dilakukan
pendekatan spiritual untuk implementasi lanjutan pada pasien,
semuanya selamat bisa kembali bekerja”.

Setelah melakukan kontrak dengan Ny.Y dan suami pasien, perawat 1 melakukan
pengkajian data pasien.

Perawat 1 : “Assalamualaikum, selamat pagi ibu ... kami ners yang sebelumnya
telah melakukan kontrak waktu untuk melakukan pengkajian kepada
Ny. Y, baik, sesuai dengan kontrak program yang telah dibuat, saya
akan melakukan pengkajian kepada Ny. Y ya bu”.

Ibu Pasien : “Iya ners silahkan (mempersilahkan perawat melakukan pengkajian


dengan ekspresi wajah cemas)”.

Perawat 1 : “Baik ibu, bisa disebutkan nama dan juga tanggal lahir ibu? (sambil
mengecek gelang identitas pasien)

Ny. Y : “Nama saya Y, tanggal lahir tanggal 20 Augustus tahun 1976”.

Perawat 1 : “Baik bu (menandakan pernyataan pasien sesuai dengan identitas


pasien) sudah sesuai ya ibu, sebelum saya melakukan pengkajian,
apakah ada yang ingin ibu tanyakan terlebih dahulu?”.

25
Ny. Y : “Ners saya mau tanya, kenapa ya, nyeri di payudara saya tidak hilang-
hilang ya ners, rasanya kayak disayat-sayat gitu, pada bagian payudara
sebelah kanan saya”.

Perawat 1 : “Seperti itu ya bu, baik bu, mohon maaf sebelumnya ya ibu, mba ...
apakah saya sudah boleh melakukan pengkajian kepada ibu?”.

Ny. Y : (menjawab silahkan kepada perawat).

Perawat 1 : “Saya akan mengukur skala nyeri ibu terlebih dahulu ya ibu (sambil
menunjukan template pengukuran skala nyeri)”.

 Skala 0 berarti tidak ada nyeri sama sekali


 Skala 1-3 berarti nyeri ringan (masih bisa ditahan, tidak sampai
mengganggu aktifitas)
 Skala 4-6 berarti Nyeri Sedang (sudah mulai mengganggu aktifitas)
 Skala 7-10 berarti Nyeri Berat (sampai tidak bisa melakukan aktifitas fisik
secara mandiri).

Ny. Y : “Skala nyeri saya 9 ners, karena saya merasa keseharian beraktivitas
saya tidak kuat bergerak ners dan juga sangat tidak nyaman”.

Perawat 1 : “Apakah ibu mengkonsumsi obat yang sudah diresepkan oleh dokter
secara teratur?”.

Ny. Y : “Iya ners sudah teratur, tetapi masih terasa nyeri”.

Ibu Pasien : “Benar ners sudah teratur, saya selalu memastikannya”.

Perawat 1 : “Apakah makanan dan minuman ibu yang diberikan oleh orang gizi
selalu dihabiskan?”.

Ibu Pasien : “Nafsu makan anak saya berkurang ners, saat diberikan makanan
tidak pernah dihabiskan”.

Perawat 1 : “Bisa diceritakan kenapa ibu tidak nafsu makan?”.

Ny. Y : “Karena rasa nyeri yang saya rasakan tidak hilang-hilang ners”.

Perawat 1 : “Baik ibu, saya mengerti dengan kondisi ibu sekarang, selanjutnya
saya juga ingin menyampaikan sesuai dengan keinginan ibu untuk

26
didoakan bersama-sama, kami telah bekerja sama dengan ustadzah …
untuk bisa mendoakan ibu. Baik, kepada ustadzah … dipersilahkan
untuk memandu doanya”.

Ustadzah : “Perkenalkan saya ustadzah … yang akan membimbing doa untuk ibu
Y hari ini, supaya ibu Y diringankan sakitnya dan senantiasa
didekatkan rohaninya pada Allah SWT. Baik sama-sama kita mulai ya
bu, bismillahirahmanirahiim (membacakan alfatihah) Amin”.

Semuanya : “Amin Ya Rabbal alamiin”.

Ustadzah : “Selanjutnya kita berdoa fokus untuk kesembuhan pasien, mari kita
berdoa bersama-sama ya bu. Bismillahirohmanirrohim, Allahumma
Rabbannaasi Adzhibil Basa Wasy Fihu. Wa Antas Syaafi, Laa Syifaa-
A Illa Syifaauka, Syifaa-An Laa Yughaadiru Saqomaa. Ya Allah, Rabb
manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau
Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali
kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit
lain” (HR Bukhari dan Muslim)

Ny. Y dan ibu pasien : “aamiin ya robal alaamin”.

ADEGAN 2

Perawat 2 : “Assalamualakum, selamat pagi saya ners … yang akan bertugas pagi
ini. Apakah benar ini dengan keluarga dari pasien yang bernama Ny.
Y?”

Ibu pasien : “Wa’alaikum salam, iya saya ibunya. Ada apa ya ners?”

Perawat 2 : “Ibu boleh ikut saya untuk bicara sebentar?”

Ibu pasien : “Oh ... baik ners”

Perawat 2 : “Baik, mari ikut dengan saya bu”

Perawat dan ibu pasien pun pergi menuju Nurse Station.

ADEGAN 3

Perawat 2 : “Silahkan duduk bu” (sambil menunjuk kearah kursi)

27
Ibu pasien : (suami pasien duduk)

Perawat 2 : “Begini bu, setelah dilakukan pemeriksaan patologi (PA) kemarin,


ternyata anak ibu mengidap kanker payudara grade III” (sambil
memperlihatkan hasil pemeriksaan)

Ibu pasien : “Astagfirullah, kanker payudara ners? Maksudnya bagaimana ners?”


(dengan raut wajah kaget)

Perawat 2 : “Iya bu, jadi anak ibu mengidap kanker payudara bagian kanan yang
dimana pada stadium III kankernya sudah menyebar ke kelenjar getah
bening.”

Ibu pasien : “Ya Allah, lalu bagaimana dengan pengobatannya ners, bisa sembuh
kan ners?”

Perawat 2 : “Untuk pengobatannya sendiri anak ibu harus menjalani mastektomi


yaitu mengangkat seluruh payudara yang terkena kanker yang dimana
tujuannya untuk mencegah penyebaran sel kanker yang makin luas.
Dan dokter sudah sampaikan bahwa operasinya dilakukan seminggu
lagi pak. Baik kalau begitu pak… sebaiknya sekarang kita fokus ke
pengobatan yang akan ditempuh anak ibu ya”

Ibu pasien : “Iya ners, tolong sembuhkan anak saya ya ners..”

Ibu pasien pun kembali menuju ke ruangan dimana istrinya dirawat, dan ia
memberitahukan hal tersebut kepada anaknya.

ADEGAN 4

Ibu pasien : “Assalamualaikum” (dengan raut wajah yang lemas dan terlihat sedih)

Pasien : “Waalaikumsalam, ibu kenapa?”

Ibu pasien : (langsung duduk disamping anaknya)

Pasien : “kenapa bu?”

Ibu pasien : “Nak, ada yang ingin ibu sampaikan, kamu harus kuat ya nak...”

Pasien : “Memangnya ada apa bu? Aku sakit apa?”

28
Ibu pasien : “Tadi setelah ibu dipanggil sama perawat terkait dengan kondisi kamu
saat ini. (menghela nafas). Kamu harus ikutin apa kata dokter dan
perawat ya, biar cepet sembuh”

Pasien : “Memangnya aku sakit apa?”

Ibu pasien : “Sebenarnya kamu mengidap penyakit kanker payudara stadium 3 dan
jalan terbaik untuk menyembuhkan kankernya adalah harus dioperasi
pengangkatan payudara bagian kanan, dan operasinya kan dilakukan
dalam waktu seminggu lagi.”

Pasien : (hanya terdiam dan menangis)

Ibu pasien : “kamu yang sabar ya nak, ibu juga mengusahakan yang terbaik buat
kesembuhan kamu dan akan selalu ada buat nemenin kamu”

Semenjak pasien mengetahui penyakit yang dideritanya, pasien sangat terpukul. Pasien
diam saja dan sering mengatakan bahwa dia tidak akan hidup lama lagi. Semangat
hidupnya seakan sudah hilang.

ADEGAN 5

Setelah beberapa saat perawat 1 dan perawat 2 pun datang ke ruangan pasien.

Perawat 1 : “Assalamualaikum”

Pasien : (tidak menjawab salam dan hanya terdiam)

Perawat 1 : “Selamat sore bu, saya Ners … ingin memberikan makanan untuk
sore ini, apakah benar dengan Ny. Y?” (sambil menyodorkan obat)

Suami Pasien : “benar ners”

Pasien : “Saya tidak mau makan, buat apa makan, penyakit saya juga kan ga
sembuh-sembuh” (menepis makanan yang dipegang oleh perawat)

Perawat 1 : “Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, ibu harus percaya akan
hal itu. Ibu juga harus ingat bahwa orang di sekitar ibu itu sayang sama
ibu, dan menginginkan ibu sembuh. Keluarga ibu sudah berusaha untuk
kesembuhan ibu, sekarang tinggal ibu yang harus berjuang untuk
melawan penyakit ibu, ibu harus sembuh setidaknya untuk orang-
orang yang sayang sama ibu”
29
Pasien : (terdiam)

Perawat 2 : “Apa yang sedang ibu pikirkan? Mungkin ada yang ingin ibu
ceritakan?”

Pasien : “Saya merasa khawatir ners karena seminggu lagi saya akan operasi
pengangkatan payudara bagian kanan. Jujur saya takut dan cemas ners”

Perawat 2 : “memang apa yang ibu khawatirkan?”

Pasien : “sebagai seorang perempuan saya belum rela kehilangan salah satu
payudara saya ners. Namun disisi lain saya juga ingin sembuh.”

Perawat 2 : “Saya bisa merasakan apa yang ibu rasakan, namun saya piker inilah
jalan terbaik untuk kesembuhan pasien seperti ibu”

Pasien : “Iya ners, tapi tetap saja masih terasa takut. Soalnya ini pengalaman
pertama saya. Saya takut tidak bisa menahan rasa sakitnya ners.”

Perawat 2 : “jangan khawatir bu, nanti ketika di operasi ibu akan dibius total agar
tidak merasa sakit. Dan kami sebagai tim medis akan melakukan hal
yan terbaik bagi kesembuhan pasien.”

Pasien : “atau saya tidak usah operasi saja ya ners, saya pilih untuk
pengobatan alternative lain untuk mengobati kankernya?”

Perawat 2 : “coba ibu fikirkan apakah masih mungkin untuk dilakukan


pengobatan alternative?”

Pasien : “kata keluarga saya ini jalan yang terbaik karena kanker saya sudah
memasuki stadium III ners. Sehingga harus dilakukan pengangkatan
payudara.”

Perawat 2 : “Biasanya bila ibu merasa khawatir apa yang ibu lakukan?”

Pasien : “Biasanya saya memperbanyak dzikir dan berdoa kepada Allah SWT
ners”

Perawat 2 : “Iya itu sudah bagus bu, dengan berdoa semoga hati ibu bisa menjadi
tenang dan operasi ibu bisa berjalan dengan lancar”

30
Pasien : “Tapi saya juga takut nanti kalu setelah operasi, tidak bisa menahan
rasa sakitnya ners.”

Perawat 2 : “untuk itu, dokter pasti akan memberikan obat untuk menghilangkan
rasa sakit itu bu. Biasanaya setelah pembiusan pasien merasa
tenggorokannya gatal dan ingin batuk. Untuk meminimalkan kontraksi
di daerah sekita jahitan. Ketika ibu batuk bisa diletakkan bantal di dada
ibu agar bekas luka tidak berkontraksi.”

Pasien : “ohhh jadi seperti itu ya ners”

Perawat 2 : “iya bu, melihat dari kondisi ibu sekarang. Nanti sayaa akan
memberikan aromaterapi agar ibu merasa rileks ketika kan menjalani
operasi”

Pasien : “tapi apakah setelah operasi nanti, saya masih bisa menjalani
kehidupan saya seperti biasa ners?”

Perawat 2 : “pasti bisa bu, malah lebih baik. Sebelumnya ibu merasa selalu nyeri
dengan payudara kanan ibu. Dan setelah di operasi nyeri itu sudah
hilang. Ibu juga bisa menyiasati payudara ibu dengan pakaian- pakaian
yang longgar jadi tidak terlihat kalau payudara kanan ibu sudah
diangkat.”

Pasien : "Baik ners saya sudah mulai mengerti"

Perawat 1 : "jadi bagaimana perasaan ibu sekarang?"

Pasien : "saya sudah merasa mulai tenang ners setelah ngobrol-ngobrol sama
ners. terimakasih ya ners"

Perawat 1 : “iya sama-sama bu., ini sudah kewajiban saya untuk memberi
dukungan kepada pasien-pasien. Saya kira perbincangan kali ini sudah
cukup bu. Mungkin lusa pasca operasi kita bisa berbincang-bincang
kembali.”

Pasien : “iya ners”

Perawat 1 : “kalau begitu saya permisi dulu ya bu, semoga operasinya berjalan
lancar dan selamat beristirahat bu”

31
Pasien : “Aamiin

(perawat 1 dan perawat 2 kembali ke nurse station)

Setelah berbincang dengan perawat, pasien sudah mulai menerima penyakit yang di
deritanya dan tidak takut untuk menjalani operasi.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Perawatan paliatif menekankan manajemen psikologis, sosial, dan masalah
spiritual selain untuk mengontrol rasa sakit dan gejala fisik lainnya. Tujuan perawatan
paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarga, dan banyak
aspek dari jenis komprehensif ini, berfokus pada kenyamanan pendekatan perawatan
dapat diterapkan lebih awal dalam proses penyakit yang mengancam jiwa dalam
hubungannya dengan penyembuhan yang berfokus pada perlakuan.
Asuhan keperawatan paliatif merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan
praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien dengan menggunakan
pendekatan metodologi proses keperawatan berpedoman pada standart keperawatan,
dilandasi etika profesi dalam liungkup wewenang serta tanggung jawab perawat yang
mencakup wewenang serta tanggung jawab perawat pada seluruh proses kehidupan,
dengan menggunakan pendekatan holistik mencakup pelayanan biopsikososiospritual
yang komprehensif dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Sehat, sakit,
dan penyakit bukan hanya kondisi terkait biologis dan psikologis, namun juga terkait
dengan status social (Clarke, 2010). Dimensi social tersebut merupakan inti dari studi
sosiologi mengenai sehat dan sakit.

4.2 Saran
Sebagai calon perawat, hendaknya kita dapat mempelajari serta menerapkan
tentang bagaiman proses merawat pasien yang menderita penyakit terminal/ akhir. Karena
dengan disusunnya makalah ini, diharapkan dapat menjadi proses pembelajaran untuk

32
melakukan perawatan palliative care secara benar dan tepat sehingga tidak menimbulkan
dampak dan risiko bagi keluarga pasien maupun tenaga kesehatan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Anita, A. (2016). Perawatan Paliatif dan Kualitas Hidup Penderita Kanker. Jurnal Kesehatan,
7(3), 508. https://doi.org/10.26630/jk.v7i3.237

Ariani, S. (2015). Stop! Kanker. Istana Media.

Farida Briani Sobri dkk. (2017). Manajemen Terkini Kanker Payudara. Media Aesculapius.

Hartati Nurwijaya et all. (2010). Cegah dan deteksi kanker serviks. Elex Media Komputindo.

Komite Penanggulangan Kanker Nasional. (2019). Panduan Penatalaksanaan Kanker


Payudara (Breast Cancer Treatment Guideline). Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf

Muntamah, U. (2020). Pedoman Perawatan Paliatif Pada Orang Dengan HIV/AIDS


(ODHA) di Rumah Sakit (M. Kavid, M. D. Saputro, W. Saputra, & O. D. Purnama
(eds.); Vol. 53, Issue 9). Yuma Pustaka.
http://repository.itspku.ac.id/226/1/PERAWATAN PALIATIF HIV AIDS Cetak.pdf

Poerin, N. O., Arisanti, N., Sudjud, R. W., & Setiawati, E. P. (2018). Gambaran Persepsi
Masyarakat tentang Keberadaan Pelayanan Paliatif di Kota Bandung. Jurnal Komunitas
& Darurat, 4, 133–139.

Yodang. (2018). Buku Ajar Keperawatan Paliatif (A. W. Arr & A. Maftuhin (eds.); 1st ed.).
CV. Trans Info Media.

34

Anda mungkin juga menyukai