Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN “MINI RESEARCH”

GANGGUAN KLINIS

Disusun untuk memenuhi tugas UAS Psikologi Klinis


Pengampu : Iin Tri Rahayu, M.Psi
Disusun oleh :
Rohmatul Hannani (19410063)
Kelas Psikologi Klinis – F
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan klinis seperti gangguan kecemasan dan gangguan depresif banyak dialami oleh masyarakat
terutama oleh remaja. Hal ini disebabkan perubahan konsep berpikir dan cara menghadapi masalah yang
semakin berkembang. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang kesulitan dalam mengolah emosi dan
perasaan mereka dalam menghadapi tiap persoalan yang menghampirinya.

Selain itu, adanya pandemi COVID-19 juga banyak memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat, baik
itu positif maupun negatif. Dampak negatif yang banyak ditemukan adalah kerugian dan kesulitan di
berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, bahkan kesehatan. Tak hanya berdampak pada
kesehatan fisik, kesehatan mental juga terasa dampaknya, bahkan lebih bahaya efek panjangnya
dibandingkan fisik. Pemikiran negatif dan pesimisme akan mempersulit masa penyembuhan penyakit dan
dapat menurunkan imunitas. Oleh sebab itu di masa ini,, banyak ditemukan orang yang mengalami stres
bahkan depresi karena perubahan pola hidup yang tiba-tiba.

Hambatan untuk melakukan penelitian secara langsung dan offline akibat social distancing dan lockdown
juga membuat peneliti memutar otak untuk melakukan wawancara secara online dengan narasumber. Maka
dari itu, peneliti berusaha mencari jalan keluar lain untuk tetap mendapatkan data secara lengkap walaupun
secara online.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja gangguan klinis yang paling umum dialami remaja
2. Untuk mengetahui gejala-gejala yang dialami oleh klien atau pasien yang mengalami gangguan
klinis
3. Untuk mengaitkan gejala-gejala yang dialami klien atau pasien dengan pedoman diagnostik
dalam buku pedoman Diagnosis Gangguan Jiwa
C. Manfaat
1. Mampu mengetahui jenis gangguan klinis yang umum dialami remaja
2. Mampu mengetahui gejala-gejala yang dialami klien atau pasien melalui wawancara langsung
dengan klien atau pasien
3. Mampu mengaitkan gejala-gejala yang disebutkan klien atau pasien dengan buku pedoman
Diagnosis Gangguan jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Karakteristik Subjek
a. Data Identitas

Narasumber bernama Nabila Siti Aisyah, berusia 20 tahun. Asal Jakarta. Pernah beberapa kali ke psikiater
di daerah rumahnya di Jakarta. Didiagnosa mengalami gangguan kecemasan dan gangguan afektif (mood).

b. Sejarah Sosial

Narasumber adalah korban broken home. Ia kehilangan sosok ayah sejak kecil akibat perselingkuhan
ayahnya dengan wanita lain. Ia juga menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga yang dialami ibunya oleh
ayahnya. Hal terparah yang pernah ia lihat adalah ketikai Ibunya dicekik oleh ayahnya.

Sosok “ayah” membuatnya merasa kehilangan segalanya dan membuatnya mencemaskan banyak hal di
hidupnya, terutama cemas dan takut jika ibunya tidak bahagia. Kata ayah yang ada di pikirannya dulu
hingga sekarang tetap sama, yaitu jahat, penghianat, dan tidak ada artinya.

Suatu ketika, ia merasa memiliki pengganti ayahnya, yaitu kakeknya yang ada di Malang. Ia merasakan
lagi sosok ayah. Namun ketika kakeknya meninggal, ia kehilangan ayah untuk kedua kalinya. Ia merasa
ketidakadilan selalu datang di hidupnya. Tidak ada seorangpun yang bisa memahaminya, hingga ia bingung
harus percaya pada siapa. Tapi untungnya ia tidak pernah berfikir untuk bunuh diri.

Mengenai hubungan dengan orang lain, narasumber cukup mengalami kesulitan dalam berteman dengan
laki-laki. Namun ada satu orang yang bisa meyakinkan narasumber bahwa ia tidak seperti ayah narasumber,
awalnya narasumber ragu namun setiap hari teman laki-laki ini bisa membuktikan pada narasumber bahwa
ia berbeda dengan sang ayah, hingga mereka berpacaran dan narasumber bergantung padanya.

c. Observasi Perilaku, Keadaan Fisik, Keadaan Psikis :

Narasumber mengalami gejala cemas yang berlebihan, ketakutan hingga pucat, khawatir berlebihan hingga
terpuruk dan tidak keluar kamar, gemetar, histeris, dan sulit tidur. Banyak menghindari keramaian dan tidak
mau diganggu . Rasa kecewa dan kesedihan yang dialaminya pernah membuatnya tidak sekolah selama
beberapa minggu. Selain itu, ia tidak mengalami penyakit ringan seperti mual, sakit lambung, atau
konstipasi.
Analisis Kasus

Dari wawancara dengan narasumber melalui chat, peneliti mendapatkan banyak data mengenai sejarah
social narasumber terutama dalam kehidupan keluarganya. Selain melalui wawancara, peneliti juga sempat
melakukan observasi perilaku narasumber berhubung narasumber pernah sekamar dengan peneliti. Selain
itu peneliti juga mencari informasi lebih lanjut dengan mewawancarai seorang psikolog klinis untuk
mengonfirmasi gejala-gejala dan gangguan serupa yang dialami narasumber.

Dari data yang diterima, narasumber didiagnosa mengalami gangguan kecemasan dan gangguan afektif
mayor (mood), lebih tepatnya jenis gangguan depresi) oleh psikiaternya. Narasumber memutuskan untuk
mendatangi psikiater setelah berminggu-minggu merasakan kesedihan yang berlarut-larut, kecewa, dan
sesak akibat sikap yang ditunjukkan ayah kandungnya, terutama pada ibunya. Sejak kecil, ayahnya memang
meninggalkan ia dan ibunya untuk berselingkuh dengan wanita lain. Namun suatu ketika, ia melihat ibunya
dicekik oleh ayahnya lalu ia berontak, ini merupakan puncak kemarahannya paa ayahnya. Sejak saat itu,
sosok ayah di matanya adalah penghianat dan tidak ada artinya. Bahkan hingga sekarang.

Walaupun ia hanya bisa merasakan kasih sayang ibu, ia bisa merasakan kasih sayang yang serupa dengan
kasih sayang seorang ayah. Ia menemukannya dari peran sang kakek. Kakeknya yang di Malang adalah
sosok ayah ayah yang sebenarnya bagi narasumber. Ia merasa hisupnya kembali sempurna saat ia bersama
ibu dan kakeknya. Namun hal itu tidaklah berlangsung lama. Setelah meninggalnya kakek, ia kembali
merasakan ketidak adilan selalu terjadi di hidupnya. Ia merasa tidak ada yang bisa memahaminya. Ia dilanda
rasa kecewa dan cemas. Ia cemas bahwa ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan, ia cemas untuk
menjalin hubungan dengan orang lain, dan yang paling ia cemaskan adalah ia takut ibunya tidak bahagia.
Apa yang telah ayahnya lakukan pada ibunya, membuatnya merasakan kekhawatiran yang berlebihan di
masa depannya. Ia cemas jika ia akan mendapat suami seperti ayahnya. Sampai suatu saat, ia bertemu
seorang teman laki-laki yang peduli padanya. Awalnya narasumber ragu, namun temannya ini berusaha
meyakinkan narasumber bahwa ia berbeda dengan ayahnya. Akhirnya narasumber menerima temannya ini,
hingga akhirnya berpacaran dengan teman laki-lakinya ini. Dari sana ia punya tempat bergantung lain selain
ibunya dan menemukan sosok lain yang bisa menjadi ayahnya.

Setelah mendapatkan data mengenai sejarah social dari narasumber, peneliti menanyakan gejala-gejala
yang dialami, terutama saat periode setelah peristiwa “pencekikan” yang dilakukan oleh ayahnya terhadap
ibunya yang membuat narasumber tidak sekolah selama berminggu-minggu. Gejala ynag dirasakan
narasumber berupa kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan akan masa depan, cemas jika ibunya tidak
bahagia, cemas jika ia tidak akan merasakan kebahagiaan, bahkan takut jika nanti akan mendapatkan suami
yang seperti ayahnya. Ia kerap kali ketakutan hingga pucat, khawatir berlebihan hingga tidak bisa keluar
dari kamar, bergetar, kerap kali menangis hingga histeris, dan sulit tidur. Akan tetapi gejala yang dialami
narasumber tidak disertai penyakit fisik ringan seperti mual, sakit kepala, ataupun konstipasi.

Menurut buku pedoman PPDGJ-III dan DSM-5 dalam bab Gangguan Neurotik, Gangguan Somatotropik,
dan Gangguan Terkait Stress halaman 74 nomor F41.1 Gangguan Cemas Menyeluruh. Gejala-gejala yang
dialami penderitanya mencakup unsur-unsur berikut :

(a) Kecemasan (khawatir akan nasib buruj, merasa seperti di ujung tanduk, sulit konsentrasi, dsb.);
(b) Ketegangan motoric (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai); dan
(c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantungberdebar-debar, sesak napas,
keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb.)

Gejala yang dialami narasumber serupa dengan poin pertama dan kedua, namun tidak dengan poin ketiga.
Oleh karena itu untuk mencari lebih lanjut jenis gangguan yang sesuai, dicari tahu dengan menyesuaikan
gejala narasumber dengan klasifikasi gangguan kecemasan yang lainnya, yaitu nomor F41.3 Gangguan
Anxietas Campuran Lainnya dengan pedoman diagnostik :

 Memenuhi kriteria gangguan anxietas menyeluruh (F41.1) dan juga menunjukkan (meskipun hanya
dalam jangka pendek) ciri-ciri yang menonjol dari kategori gangguan F40-F49, akn tetapi
memenuhi kriterianya secara lengkap.
 Bila gejala-gejala yang memenuhi kriteria dari kriteria dari kelompok gangguan ini terjadi dalam
kaitan dengan perubahan atau stress kehidupan yang bermakna, maka dimasukkan dalam kategori
F43.2, gangguan penyesuaian.

Kemungkinan besar tipe inilah yang dimaksudkan psikiater narasumber mengenai jenis gangguan
kecemasan yang dialami narasumber.

Diagnosa kedua yang diberikan psikiater narasumber adalah gangguan mood. Menurut buku pedoman
PPDGJ-III dan DSM-5, ada banyak jenis gangguan mood. Dalam bab Gangguan Suasana Perasaan
(Gangguan Afektif/”Mood) halaman 60, gangguan afektif dibedakan menurut :

 Episode tunggal atau multiple;


 Tingkat keprahan gejala;
- Mania dengan gejala psikotik  mania tanpa gejala psikotik  hipomania;
- Depresi ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik  berat dengan gejala psikotik;
 Dengan atau tanpa gejala somatik
Berdasarkan gejala-gejala yang disebutkan narasumber, ia tidak mengalami periode maniak sama sekali.
Maka kemungkinan klasifikasi gangguan yang dimaksud psikiater narasumber adalah jenis gangguan
afektif yang dimaksud adalah nomor F33 Gangguan Depresif Berulang halaman 66 dengan pedoman
diagnostic :

 Gangguan ini tersifat dengan episode berulang dari :


- Episode depresi ringan (F32.0)
- Episode depresi sedang (F32.1)
- Episode depresi berat (F32.2 dan F32.3);

Episode masing-masing rata-rata lamanya 6 bulan , akan tetapi frekuensinya lebih jarang
dibandingkan dengan gangguan bipolar.

 Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peninggian afek dan hiperaktivitas yang memenuhi
kriteria mania (F30.1 dan F30.2)
Namun kategori ini tetap tetap harus digunakan jika ternyata ada episode singka dari peninggian
afek dan hiperaktivitas ringan yang memenuhi kriteria hipomania (F30.0) segera sesudah suatu
episode depresif (kadang-kadang tampaknya dicetuskan oleh tindakan pengobatan depresi.)
 Pemulihan keadaan biasanya biasanya sempurna diantara episode, namun sebagian kecil pasien
mungkin mendapat depresi yang akhirnya menetap, terutama paa usia lanjut (untuk keadaan ini
harus tetap digunakan).
 Episode masing-masing, dalam berbagai tingkat keparahan, seringkali dicetuskan oleh peristiwa
kehidupan yang penuh stress atau trauma mental lain (adanya stress tidak esensial untuk penegaan
diagnosis).

Sebelum menentukan lebih lanjut klasifikasi gangguan depresif berdasarkan gejala yang dialami
narasumber, maka perlu mengetahui jenisnya berdasarkan F32 Episode Depresif

 Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :


- afek depresif,
- kehilangan minat dan kegembiraan, dan
- berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata
sesudah kerja sedikt saja) dan menurunnya aktivitas.
 Gejala lainnya :
(a) Konsentrasi dan perhatian berkurang;
(b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
(c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
(d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimis;
(e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
(f) Tidur terganggu;
(g) Nafsu makan berkurang.

Kemudian melihat penjabaran lebih spesifik masuk ke klasifikasi episode depresif ringan, sedang, atau
berat. Jika melihat gejala yang disebutkan narasumber, klasifikasi episode depresif sedang karena ia
mengalami semua gejala utama dan empat gejala lainnya. Di antara pedoman diagnostik pada F32.1
Episode Depresif Sedang adalah :

 Sekurang- kurangnya harus ada 2 dari 3 gwjala utama depresi pada episode depresi ringan (F30.0);
 Ditambah sekurang – kurangnya 3 (dan sebaiknya 4 ) dari gejala lainnya;
 Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
 Menghindar kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan social, pekerjaan dan urusan rumah
tangga.

Dapat disimpulkan bahwa diagnosa yang diberikan psikiater pada narasumber adalah jenis gangguan
mood dengan episode depresif sedang.

Dalam proses asesmen, praktisi klinis atau psikiater biasanya akan melakukan observasi terhadap perilaku
dan gestur klien atau klien dan wawancara langsung kepada klien atau pasien. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan data seputar gejala apa yang dialami klien atau pasien dari sudut pandang mereka sendiri.
Setelah itu, praktisi klinis atau psikiater akan memilih dan menentukan intervensi apa yang sesuai dengan
klien atau pasien. Jika sekiranya masih dibutuhkan beberapa konseling atau pertemuan lagi dengan klien
atau pasien, praktisi klinis atau psikiater atau menentukan jadwal untuk klien atau pasien. Hal ini dilakukan
untuk memantau perkembangan klien atau pasien setelah konseling pertama dan untuk melihat efek dari
intervensi yang diberikan.

Intervensi yang diterima narasumber sendiri dari psikiaternya adalah saran untuk tidak memendam masalah
sendirian dan selalu terbuka serta mau bercerita jika ada masalah. Sejauh ini data yang peneliti terima
mengenai intervensi yang diterima narasumber. Namun dalam laporan ini yang menjadi fokus penulis
adalah diagnosis gangguan klinis berdasarkan gejala yang dialami narasumber.
Sesi konsultasi narasumber dilakukan dengan jangka waktu sekitar tiga bulan sekali, terutama setelah
kejadian “pencekikan” dan saat masa depresi narasumber berlangsung selama berminggu-minggu. Setelah
konseling pertama dan setelah narasumber merasa tidak lagi sering merasakan gejala-gejala seperti
sebelumnya, narasumber mengurangi sesi konselingnya. Ia sudah bisa mencari solusinya sendiri, untuk
menghadapi kecemasan dan pikiran-pikiran negatifnya.

Terakhir kali narasumber menemui psikiaternya adalah sebelum masuk kuliah.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Wawancara dengan narasumber yang mempunyai riwayat mengalami gangguan kecemasan dan gangguan
afektif menghasilkan beberapa poin penting yang diperoleh peneliti, meliputi gejala-gejala yang dijumpai
pada pasien yang mengalami gangguan kecemasan dan gangguan efektif; cara mendiagnosa klien atau
pasien berdasarkan gejala yang dialami klien atau pasien berdasarkan pedoman diagnostik dalam PPDGJ-
III dan DSM-5; serta cara dan tahapan dalam melakukan asesmen pada klien atau pasien.

Kesimpulan dari wawancara yang telah dilakukan peneliti adalah gangguan klinis merupakan fokus utama
dalam psikologi klinis. Gangguan klinis memiliki banyak macam jenis dan kriteria, di usia remaja,
gangguan kecemasan dan gangguan afektif adalah jenis gangguan klinis yang paling umum dan paling
banyak dijumpai. Bukan hanya orang-orang dengan kehidupan mewah, bebas, ataupun kehidupan yang
bermasalah saja yang dapat menyebabkan gangguan kecemasan ataupun gangguan afektif. Akan tetapi
perbedaan “daya tahan terhadap stress” pada setiap orang berbeda. Hal ini yang menjadi fokus dan
penyebab utama dalam banyak gangguan klinis.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan dari kegiatan wawancara yang telah dilakukan adalah agar senantiasa
meningkatkan kedekatan dan keimanan kepada Tuhan YME. Hal ini sangatlah berpengaruh pada kehidupan
dan sistem pola pikir pada manusia, terutama pada umat beragama dalam menghadapi setiap persoalan dan
permasalahan hidup yang dialaminya.
LAMPIRAN

Wawancara dengan narasumber

Selengkapnya :
https://drive.google.com/file/d/1BP0rPDbrimKbfgA6HA0Bs3j3N_2Pd7Mv/view?usp=drivesdk

Wawancara dengan psikolog klinis :


https://drive.google.com/file/d/1BdmzIqp0CvkBRemsbKeCfyskpIeI_ErL/view?usp=drivesdk
DAFTAR PUSTAKA

https://drive.google.com/file/d/1BP0rPDbrimKbfgA6HA0Bs3j3N_2Pd7Mv/view?usp=drivesdk

Maslim, Rusdi.(2013). Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta : PT Nuh Jaya

Wiramihardja, Sutardjo. (2012). Pengantar Psikologi Klinis. Bandung : PT Refika Aditama

Anda mungkin juga menyukai