Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Air limbah yang dihasilkan dari rumah tangga banyak mengandung bahan

organik yang dicirikan dengan tingginya nilai BOD (Biological Oxygen Demand)

atau COD (Chemical Oxygen Demand) pada air limbah tersebut. Air limbah

domestik dari rumah tangga tanpa akses terhadap bangunan pengolahan merupakan

sumber pencemaran utama di perkotaan yang dapat menimbulkan dampak yang

serius pada lingkungan karena dapat dengan mudah masuk ke badan air ataupun

meresap ke badan tanah. Saat ini sekitar 50-75% beban BOD sungai di perkotaan

Indonesia dihasilkan dari rumah tangga, sedangkan sisanya 25 -50 % berasal dari

industri.

Limbah domestik umumnya selama ini langsung dibuang ke badan air dan

tidak terkontrol sehingga terakumulasi dan mengakibatkan masalah pencemaran

lingkungan. Di beberapa kota limbah domestik telah dilakukan pengolahan dengan

sistem komunal menggunakan proses aerobik fakultatif.

Menurut data Status Lingkungan Hidup tahun 2002, tidak kurang dari

400.000 m3/ hari limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai dan tanah tanpa

melalui pengolahan terlebih dahulu. 61,5% dari jumlah tersebut terdapat di Pulau

Jawa. Mahalnya biaya operasional dengan metode yang ada saat ini mengakibatkan

pengabaian pembuatan unit pengolahan limbah. Berdasarkan pemikiran tersebut

maka perlu di kembangkan alternatif pengolahan limbah yang lebih efisien dengan

biaya serendah mungkin, pengoperasiannya mudah, biaya perawatannya murah dan

memberikan dampak yang relatif kecil. Salah satu alternatif pengolahan limbah cair

1
2

domestik yang mungkin bisa dikembangkan adalah menggunakan Cascade Aerator

dengan prinsip kerja air mancur. Sistem ini tidak membutuhkan proses yang rumit.

I.2 Rumusan Masalah

1. Cascade Aerator selama ini belum digunakan untuk pengolahan limbah

karena efisiensinya relatif rendah

2. Metode yang digunakan untuk pengolahan air buangan domestik selama

ini biaya relatif mahal

I.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui kemampuan Cascade Aerator dalam menyisihkan bahan

organik limbah cair domestik

I.4 Manfaat Penelitian

Membantu mendapatkan suatu alternatif teknologi yang sederhana, efektif


dan mudah pengoperasiannya untuk menurunkan bahan organik terlarut pada
limbah cair domestik

I.5 Batasan Masalah

1. Parameter yang diukur adalah bahan organik terlarut (COD)

2. Sumber air yang digunakan berasal dari limbah cair domestik


3

I.6 Ruang Lingkup

1. Pengambilan sampel limbah cair domestik di Kantin Pusat UPN

”Veteran” Jatim

2. Penelitian ini dilaksanakan di Lab Riset Progdi Teknik Lingkungan UPN

”Veteran” Jatim

3. Parameter yang dianalisa adalah COD


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Limbah Cair Domestik

Menurut Metcalf dan Eddy (2003) air limbah adalah kombinasi dari cairan

dan sampah – sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan,

perkantoran dan industri bersama – sama dengan air tanah, air permukaan, dan air

hujan yang mungkin ada. Sehingga dapat membahayakan kehidupan manusia

maupun makhluk hidup lainnya serta mengganggu kelestarian lingkungan.

Sesuai dengan penggunaannya, setiap air bekas pemakaian telah

terkontaminasi oleh bahan – bahan yang dipakainya yang mungkin bersifat fisik

(misal: air menjadi keruh dan berwana), bersifat kimiawi (air mengandung bahan –

bahan kimia yang mengganggu kesehatan/ lingkungan), bersifat organo-biologis (air

mengandung zat organik, mikroba/ bakteri pathogen dan sebagainya). Untuk cemaran

air limbah domestik yang dominan umumnya bersifat organo-mikrobiologis.

Sedangkan untuk limbah non domestik yang dominan fisik, kimiawi, terutama logam

berat.

Air limbah domestik menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor

112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik disebutkan pada pasal 1

ayat 1, bahwa air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan atau

kegiatan permukiman (real estate), rumah makan (restaurant), perkantoran,

perniagaan, apartment dan asrama.

Limbah domestik mengandung bahan – bahan pencemar organik, non-organik

dan bakteri yang sangat potensial untuk mencemari sumber – sumber air. Sumber

utama air limbah domestik (rumah tangga) dari masyarakat adalah berasal dari

4
5

perdagangan dan daerah pemukiman. Adapun sumber lain yang tidak kalah

pentingnya adalah daerah perkantoran atau lembaga, serta tempat rekreasi (Sugiharto,

1987). Limbah domestik seperti sampah – sampah organik dapat terurai menjadi

nitrat, fosfat dan karbonat, sedangkan deterjen dapat terurai menjadi fosfat.

Debit air limbah yang dihasilkan akan sangat tergantung dengan jenis

kegiatan dari masing-masing sumber air limbah, sehingga fluktuasi harian akan akan

sangat bervariasi untuk masing-masing kegiatan. Sedangkan fluktuasi harian pada

suatu kawasan perumahan faktor yang mempengaruhi cukup komplek, mengingat

aktivitas harian pada suatu kawasan perumahan akan sangat tergantung pada sosial

budaya maupun tingkat ekonomi dari penghuninya.

II.1.1 Karakteristik Limbah Cair Domestik

Dalam analisa limbah cair domestik, sebelumnya perlu diketahui mengenai

kandungan yang ada dalam air limbah serta sifat - sifatnya. Pada umumnya air

limbah mempunyai sifat yang dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu sifat fisik,

sifat kimia dan sifat biologi. Sedangkan pada limbah cair domestik kandungan yang

dimiliki dan sifat - sifatnya adalah:

1. Sifat Fisik Air Limbah

Sifat fisik yang menjadi parameter di dalam pengolahan meliputi

temperatur, total solid, warna, bau dan kekeruhan. Sebagian besar penyusun

air buangan domestik berupa bahan – bahan organik. Penguraian bahan –

bahan ini akan menyebabkan munculnya kekeruhan. Selain itu kekeruhan

juga disebabkan oleh Lumpur, tanah liat, zat koloid dan benda – benda

terapung yang tidak segera mengendap. Penguraian bahan – bahan organik

juga menimbulkan terbentuknya warna. Parameter ini dapat menunjukkan

kekuatan pencemar. Komponen penyusun bahan – bahan organik seperti


6

protein, lemak, minyak, dan sabun cenderung mempunyai sifat yang tidak

tetap dan mudah menjadi busuk. Keadaan ini menyebabkan air buangan

domestik menjadi berbau. Menurut Sugiharto (1987) dalam tabel 2.1

menunjukkan pengaruh dan penyebab air buangan domestik dari karakter

fisik.

Tabel 2.1 Karakteristik Fisik Limbah Domestik


Cara
Sifat - sifat Penyebab Pengaruh Mengukur
Mempengaruhi kehidupan
Kondisi udara sekitarnya,
biologis, kelarutan oksigen
serta suhu air limbah yang Skala Celcius
Suhu atau gas lain, kerapatan air,
dibuang ke saluran dari atau Farenheit
daya viskositas, dan
rumah maupun industri
tekanan permukaan

Benda - benda tercampur Memantulkan sinar,


Pembiasan
seperti limbah cair, limbah mengurangi produksi
cahaya dan
padat, garam, tanah liat, oksigen yang dihasilkan
Kekeruhan penyerapan
bahan organik yang halus tumbuhan, merusak
pada perubahan
dari buah - buah asli, algae, estetika dan mengganggu
skala standar
organisme kecil kehidupan biota

Umumnya tidak berbahaya


Benda terlarut seperti sisa Penyerapan
dan berpengaruh terhadap
Warna bahan organik dari daun dan pada perubahan
kualitas estetika
tanaman, buangan industri skala standar
lingkungan

Bahan voliatile, gas terlarut, Petunjuk adanya Kepekaan


berasal dari pembusukkan pembusukkan air limbah terhadap bau
Bau bahan organik, minyak sehingga perlu adanya dari manusia
terutama dari pengolahan, menurunkan terhadap tingkat
mikroorganisme nilai estetika dari bau

Bahan penghasil bau, benda


terlarut yang menghasilkan Tidak diukur
Rasa Mempengaruhi kualitas air
bau, benda terlarut dan pada air limbah
beberapa senyawa

Mempengaruhi jumlah
Teknik analisis
bahan organik dan
Benda organik dan gravitasi,
anorganik, merupakan
Benda Padat anorganik yang terlarut jumlah zat
petunjuk pencemaran atau
ataupun tercemar padat, SS, DS,
kepekatan limbah
TSS
meningkat

2. Sifat Kimia Air Limbah


7

Kandungan bahan kimia yang ada di dalam air limbah dapat

merugikan lingkungan. Bahan organik terlarut dapat menghasilkan oksigen

dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap. Akan

lebih berbahaya jika bahan kimia merupakan bahan kimia beracun. Menurut

Sugiharto (1987) adapun bahan kimia yang penting yang ada di dalam air

limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Bahan Organik

Pada umumnya zat organik berisikan kombinasi dari karbon,

hidrogen dan oksigen, bersama-sama dengan nitrogen. Elemen lainnya

seperti belerang, fosfor, dan besi juga dapat dijumpai. Pada umumnya

kandungan bahan organik yang dijumpai dalam air limbah berisikan 40 –

60 % adalah protein, 25 – 50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya

berupa lemak atau minyak. Semakin lama jumlah dan jenis bahan

organik semakin banyak, hal ini akan mempersulit dalam pengolahan air

limbah sebab beberapa zat tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme.

2) Bahan Anorganik

Jumlah bahan anorganik meningkat sejalan dengan di

pengaruhinya oleh formasi geologis dari asal air atau air limbah berasal.

Bahan anorganik meliputi: pH, klorida, sulfur, zat beracun, logam berat,

metan, nitrogen, fosfor, gas.

Pengaruh kandungan bahan kimia yang ada di dalam air buangan

domestik dapat merugikan lingkungan melalui beberapa cara. Bahan-

bahan terlarut dapat menghasilkan DO atau oksigen terlarut dan dapat

juga menyebabkan timbulnya bau (Odor). Protein merupakan penyebab

utama terjadinya bau ini, hal ini disebabkan oleh struktur protein yang
8

sangat kompleks dan tidak stabil serta mudah terurai menjadi bahan

kimia lain oleh proses dekomposisi.

3. Sifat Biologis Air Limbah

Sifat biologis air buangan domestik perlu diketahui untuk kualitas air

terutama bagi air yang dipergunakan sebagai air minum dan air bersih serta

mengukur tingkat pencemaran sebelum dibuang ke badan air penerima.

Parameter yang sering digunakan adalah banyaknya kandungan

mikroorganisme yang ada dalam kandungan air limbah . Mikroorganisme

yang berperan dalam proses penguraian bahan-bahan organik di dalam air

buangan domestik adalah bakteri, jamur, protozoa, virus, algae, tanaman dan

hewan renik.

Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu yang menggunakan bahan

organik dan anorganik sebagai makanannya. Berdasarkan penggunaan

makanannya, bakteri dibedakan menjadi bakteri autotrof dan heterotrof.

Bakteri autotrof menggunakan bahan organik sebagai sumber zat karbonnya.

Bakteri yang memerlukan oksigen untuk mengoksidasi bahan organik disebut

bakteri aerob, sedangkan yang tidak memerlukan oksigen disebut bakteri

anaerob. (Sukawati, T. A. 2008)

Menurut Sugiharto (1987) Skema pengelompokan bahan yang

terkandung di dalam air limbah ditunjukkan pada gambar 2.1. Fraksi organik

terdiri dari protein, karbohidrat, dan lemak. Senyawa-senyawa ini, terutama

protein dan karbohidrat merupakan suatu substrat yang baik bagi

pertumbuhan bakteri.
9

Limbah Cair

Air (99,9 %) Bahan Padat (0,1 %)

Organik 70 % Anorganik 30 %

Protein (65 %) Butiran

Karbohidrat (25 %) Garam

Lemak (10 %) Metal

Gambar 2.1 Skema pengelompokan bahan yang terkandung didalam air limbah domestik

Berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Pemukiman tahun 1994

seperti pada tabel 2.2 dan tabel 2.3 karakteristik air limbah yang berasal dari

black water (toilet) dan grey water (cucian, kamar mandi, limbah dapur, dll)

Tinggi rendahnya mutu air lmbah di suatu tempat dipengaruhi oleh

karakteristik air limbah secara fisik, kimia maupun biologi dengan parameter

seperti fisik: temperatur, kekeruhan (turbidity), warna (colour), padatan

(solids), bau (odor). Kimia: pH, organik (karbohidrat, protein, lemak, fenol),

anorganik (zat mineral yang mengurangi O2, zat beracun dan logam berat).

Biologi: terdiri dari golongan mikro-organismeyang terdapat dalam air

(golongan coli). Karakteristik fisik, kimia dan biologi terdapat hubungan dan

saling mempengaruhi satu sama lainnya. Sebagai contoh, temperatur air

limbah berhubungan langsung dengan keaktifan mikro-organisme sehingga

air limbah dapat membusuk dan bau, contoh lainnya adalah adanya hubungan

tak langsung antara mikro-organisme dengan karakteristik kimia.


10

Tabel 2.2 Kualitas air limbah grey water

No Parameter Satuan Konsentrasi


1 pH - 8,5
0
2 Temperatur C 24
3 Amonium mg/ L 10
4 Nitrat mg/ L 0
5 Nitrit mg/ L 0,005
6 Sulfat mg/ L 150
7 Phospat mg/ L 6,7
8 CO2 mg/ L 44
9 HCO3 mg/ L 107
10 DO mg/ L 4,01
11 BOD5 mg/ L 189
12 COD mg/ L 317
13 Khlorida mg/ L 47
14 Zat Organik mg/ L KMnO4 554
15 Detergen mg/ L MBAS 2,7
16 Minyak mg/ L < 0,05
Sumber: Laboratorium Teknik Lingkungan ITB tahun 1994

Tabel 2.3 Kualitas Air Limbah Black Water

No Parameter Satuan Konsentrasi


1 pH - 6,5 - 7,0
0
2 Temperatur C 37
3 Amonium mg/ L 25
4 Nitrat mg/ L 0
5 Nitrit mg/ L 0
6 Sulfat mg/ L 20
7 Phospat mg/ L 30
8 CO2 mg/ L  
9 HCO3 mg/ L 120
10 BOD5 mg/ L 220
11 COD mg/ L 610
12 Khlorida mg/ L 45
13 Total Coli MPN 3.10-5
Sumber: Laboratorium Balai Lingkungan Pemukiman tahun 1994

Untuk mengukur sampai berapa jauh tingkat pengotor air, maka dapat

digunakan bebeapa parameter antara lain: BOD (Biochemical Oxygen

Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), SS (Suspended Solid), bakteri


11

coli dan golongan amoniak. Parameter – parameter ini dipakai pula untuk

mengukur kemampuan pengolahan air limbah.

Menurut Wijaya (2008), berdasarkan kemampuannya air limbah

digolongkan dalam 3 jenis yaitu: kuat, sedang dan lemah. Jenis kekuatan

tersebut biasanya dinyatakan dengan tingkat BOD, yaitu:

1. Kuat, bila nilai BOD > 300 mg/ L

2. Sedang, bila nilai BOD 100 – 300 mg/ L

3. Lemah, bila nilai BOD < 100 mg/ L

II.1.2 Kualitas Limbah Cair Domestik

Kualitas air limbah akan dapat terindifikasi dari kualitas parameter kunci,

dimana konsentrasi parameter kunci tidak melebihi dari standart baku mutu yang ada

sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku. Mengingat limbah cair

domestik mempunyai kandungan terbesar adalah bahan organik, maka parameter

kunci yang umum digunakan adalah BOD, COD, dan lemak/ minyak. Berdasarkan

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu

Air Limbah Domestik, maka parameter kunci untuk air limbah domestik adalah

BOD, TSS, pH serta Lemak dan Minyak.

Konsentrasi rata-rata untuk parameter tersebut menurut Sundstrom & Klei

dalam Sugiharto (1987) adalah sebagai berikut:

BOD520= 250 mg/L

COD = 500 mg/L

TSS = 500 mg/L


12

Adapun persyaratan yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia sesuai

dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku

Mutu Air Limbah Domestik adalah sebagai berikut:

pH =6–9

BOD = 100 mg/L

TSS = 100 mg/L

Lemak & Minyak = 10 mg/L

II.2 Sistem Pengolahan Limbah Cair

Pengolahan limbah cair bertujuan untuk menghilangkan atau menyisihkan

kontaminan. Kontaminan dapat berupa senyawa organik yang dinyatakan oleh nilai

BOD, COD, nutrient, senyawa toksik, mikroorganisme pathogen, partikel non

biodegradable, padatan tersuspensi maupun terlarut. Kontaminan dapat disisihkan

dengan pengolahan fisik, kimia, maupun biologi. (Metcalf & Eddy, 2003)

Menurut Suriawiria (1993) Tujuan pengolahan limbah cair domestik, adalah:

1. Segi kesehatan, untuk menghindari penyakit menular

2. Segi estetika, untuk melindungi air terhadap bau dan warna yang tidak

menyenangkan atau di harapkan

3. Segi kelangsungan kehidupan di dalam air, misal untuk kelompok hewan dan

tanaman air

Dalam pengolahan limbah domestik, baik di dalam substrat air ataupun tanah,

pendekatan dalam bentuk studi maupun analisis tentang bentuk, sifat, jenis dan

jumlah buangan. Sehingga perencanaan pengolahan yang kemudian akan dilakukan

memberikan hasil yang optimal sesuai dengan perhitungan. Tentunya juga masalah

bentuk dan sifat kehidupan di dalam substrat serta habitat yang kemudian akan

dikenai, merupakan masalah yang harus di analisa secara baik.


13

Unit operasi fisik merupakan metode pengolahan dimana di aplikasikan

proses fisik seperti screening, mixing, flokulasi, sedimentasi, flotasi, filtrasi dan

transfer gas. Unit proses kimia merupakan metode pengolahan dimana penyisihan

atau konversi kontaminan terjadi karena penambahan bahan kimia dan melewati

reaksi kimia seperti presipitasi, adsorpsi dan desinfeksi. Sedangkan unit proses

biologi merupakan metode pengolahan dimana kontaminan disisihkan melalui

aktivitas biologi yang ditujukan untuk menghilangkan substansi organik

biodegradable dalam limbah cair, adapun unit pengolahannya adalah lumpur aktif,

trickling filter, Kolam Oksidasi, Fermentasi metan (Penguraian anaerobik),

Dekomposisi Materi Toksik, Denitrifikasi (Metcalf & Eddy, 2003)

II.3 Pengolahan Air Limbah Secara Biologis

Pengolahan air limbah secara biologi adalah proses dengan mengikut sertakan

aktivitas atau pemanfaatan aktivitas dan kemampuan jasad hidup atau mikroba.

Pengolahan air limbah secara biologi bertujuan untuk membersihkan zat – zat

organik atau mengubah bentuk (transformasi) zat – zat organik menjadi bentuk –

bentuk yang kurang berbahaya. Misalnya proses nitrifikasi oleh senyawa – senyawa

nitrogen yang dioksidasi. (Effendi, 2003)

II.3.1 Pengolahan Aerob

Proses pengolahan aerob diartikan suatu sistem pengolahan yang memerlukan

oksigen untuk membantu mikroorganisme dalam menguraikan limbah baik secara

alamiah ataupun buatan.

Dengan penyedian udara yang cukup dan keadaan lingkungan yang seimbang

maka air buangan yang mengandung bahan organik akan diuraikan oleh

mikroorganisme aerob menjadi CO2, H2O dan sel-sel baru dalam keadaan ada
14

oksigen. Menurut Puspita, D (2008) persamaan umum secara aerob adalah sebagai

berikut:

C6H12O6 + 6 O2 + 38 ADP + 38 fosfat → 6 CO2 + 6 H2O + 38 ATP ...(2.1)

Penguraian dilakukan oleh sejumlah bakteri, proses metabolisme oleh bakteri

dipengaruhi oleh faktor sumber nutrisi dan oksigen. Kedua faktor ini saling berkaitan

didalam membantu pertumbuhan bakteri. Selama sumber nutrisi cukup dan oksigen

tidak berkurang maka bakteri akan berkembang dengan baik dan akan menghasilkan

energi yang cukup untuk menguraikan senyawa organik.

Pada sistem aerobik diperlukan aerator sebagai penyuplai udara/oksigen

kedalam limbah cair. Jika bakteri hanya berasal dari limbah maka yang tumbuh

bermacam-macam jenis bakteri dari mulai yang bersifat patogen maupun probiotik.

Dalam kondisi semacam ini maka proses hanya dapat berlangsung secara aerobik

karena diperlukan hembusan oksigen untuk melipatgandakan jumlah bakteri yang

ada.

Proses pengolahan air limbah secara biologis aerobik adalah dengan

memanfaatkan aktifitas mikroba aerob, untuk menguraikan zat organik yang terdapat

dalam air limbah, menjadi zat inorganik yang stabil dan tidak memberikan dampak

pencemaran terhadap lingkungan.

II.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Mekanisme Proses Aerob

Menurut Parisa (2010), faktor – faktor yang menmpengaruhi mekanisme

proses aerob adalah:

1. Temperatur

Temperatur tidak hanya mempengaruhi aktivitas metabolisme dari

populasi mikroorganisme, teapi juga mempengaruhi beberapa faktor seperti


15

kecepatan transfer gas dan karakteristik pengendapan. Temperatur optimum

untuk mikroorganisme dalam proses aerob tidak berbeda dengan proses anaerob.

2. pH

Nilai pH merupakan faktor kunci pertumbuhan mikroorganisme.

Beberapa bakteri dapat hidup pada pH 9,5 dan di bawah 4,0. Secara umum pH

optimum bagi pertumbuhan mikroorganisme adalah sekitar 6,5 – 7,5

3. Waktu tinggal hidrolis

Waktu tinggal hidrolis adalah waktu perjalanan limbah cair di dalam

reaktor atau lamanya proses pengolahan limbah cair tersebut. Semakin lama

waktu tinggal, maka penyisihannya yang terjadi maka semakin besar. Sedangkan

waktu tinggal pada reaktor aerob sangat bevariasi antara 4 – 8 jam.

4. Nutrient

Selain kebutuhan karbon dan energi, mikroorganisme juga membutuhkan

nutrient untuk sintesa sel pertumbuhan. Kebutuhan nutrient tersebut dinyatakan

dalam bentuk perbandingan antara karbon dan nitrogen serta phosphor yang

merupakan nutrient anorganik utama yang diperlukan mikroorganisme dalam

bentuk BOD : N : P  100 : 5 : 1

II.3.3 Mikroorganisme dalam Pengolahan Air Limbah Secara Biologi

Mikroba adalah jasad hidup yang memerlukan sumber nutrien dan lingkungan

kehidupan yang sesuai untuk aktivitasnya (metabolisme, perkembangbiakan dan

penyebaran), karena di dalam air kadang – kadang di dapatkan sejumlah benda asing

yang mungkin bersifat racun maka harus di kontrol sebaik – baiknya.

Proses pengolahan limbah secara biologi akan menghasilkan indikator biologi

yang terdiri dari jenis – jenis mikroba yang berperan. Mikroba tersebut tergolong

dalam bakteria, mikro algae, dan protozoa. Selain mikroba tersebut adapula jasad lain
16

yang ikut aktif, walaupun tidak merupakan jasad utama seperti jamur, serangga air,

dan hewan lainnya.

Bakteri diperlukan untuk menguraikan bahan organik yang ada di dalam air

limbah. Oleh karena itu di perlukan jumlah bakteri yang cukup untuk menguraikan

bahan – bahan tersebut. Bakteri itu sendiri akan berkembang biak apabila jumlah

makanan yang terkandung di dalamnya cukup tersedia, sehingga pertumbuhan

bakteri dapat dipertahankan secara konstan.

II.4 Aerasi

Aerasi adalah fenomena fisik dimana terjadi pertukaran molekul-molekul gas

di udara dengan cairan pada gas-liquid interface. Pertukaran tersebut menyebabkan

konsentrasi molekul gas di dalam cairan mencapai titik jenuh. Karena pertukaran gas

hanya terjadi pada permukaan (interface), maka proses tersebut harus dilakukan

dengan kontak sebanyak-banyaknya antara ke dua permukaan tersebut atau dengan

kata lain aerasi adalah proses pengolahan air dimana air dan udara berada dalam

suatu kontak antara yang satu dengan yang lain. Sasaran yang utama adalah

memaksimalkan luas dari permukaan air ke udara. Dengan maksud perpindahan

effisien terbesar dari satu medium ke medium yang lain. Hal ini sangat penting agar

dalam proses ini cukup berlangsung percampuran antara air dengan udara. Aerasi

bertujuan untuk:

1. Penambahan jumlah oksigen

2. Penurunan jumlah karbon dioksida (CO2)

3. Menghilangkan hidrogen sulfida (H2S), methan (CH4) dan

berbagai senyawa organik yang bersifat volatile (menguap) yang berkaitan untuk

rasa dan bau.


17

4. Secara tidak langsung juga diharapkan dapat menurunkan Fe, Mn

dan zat organik yang berlebihan di dalam air

5. Memperbaiki karakteristik kimia maupun fisik air dengan

memindahkan zat yang mudah menguap dari air atau ke air.

Dalam proses ini terjadi dalam 2 fase, yaitu fase gas dimana oksigen (O 2)

masuk ke dalam fase uap untuk menuju ke interfase gas cair yang kemudian melewati

film cair untuk menyebar ke bulk cair.

Dalam fase tersebut terjadi perpindahan yaitu perpindahan gas (gas transer)

dan perpindahan massa (mass transfer) dan terjadi kelarutan gas dalam cairan.

Aerasi mampu mengendapkan besi (Fe) jika tidak ada zat organik jenis humic

dan fuluic acid, tetapi jika terdapat zat organik maka akan membentuk senyawa

komplek dengan besi (Fe) yang tidak dapat mengendap secara sempurna setelah

aerasi (Kawamura, 2000). Ikatan komplek ini umumnya berwarna dan memperlambat

proses oksidasi sampai beberapa hari, meski dalam air terdapat oksigen (O 2)

(AWWA, 1990).

Bila suatu cairan yang mengandung gas terlarut kontak dengan udara maka

pada kondisi tertentu akan terjadi kesetimbangan yang diikuti dengan perpindahan

gas dari fase cair ke udara. Secara reversibel, teori ini menjelaskan mengenai hal ini

adalah teori penetrasi dan teori film.

Pengambilan zat pencemar yang terkandung di dalam air merupakan tujuan

pengolahan air. Penambahan oksigen adalah salah satu usaha dari pengambilan zat

pencemar tersebut, sehingga konsentrasi zat pencemar akan berkurang atau bahkan

dapat dihilangkan sama sekali. Zat yang diambil dapat berupa gas, cairan, ion, koloid

atau bahan tercampur. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan unit

aerasi adalah: Kecepatan gas transfer berbanding langsung dengan luas kontak per
18

unit volume. Peralatan aerasi yang ideal akan memaksimumkan luas kontaknya.

Misal untuk aerator cascade, terjunan yang lebih tinggi akan meningkatkan luas

kontak. Untuk spray aerator, nozzle yang menghasilkan butiran yang lebih kecil

memberikan luas kontak yang lebih besar.

II.4.1 Bangunan Aerator

Beberapa macam jenis aerator yang ada dapat kita bagi menjadi:

1. Gravity Aerator

Gravity aerator adalah aerator yang memanfaatkan gaya gravitasi

untuk mengkontakkan air dengan udara, dengan membentuk lapisan air yang

tipis sehingga dapat berkontak sebanyak – banyaknya dengan udara. Adapun

yang termasuk gravity aerator antara lain:

1) Cascade Aerator

Menurut Sudiati, K (2004) prinsip utama cascade aerator

adalah menyebarkan air sebanyak mungkin serta mengalirkannya

melalui tangga – tangga yang menyebabkan turbulensi sehingga

terjadi kontak air – udara semaksimal mungkin. Waktu dapat di

perpanjang dengan menambah jumlah anak tangga.

Cascade adalah varian aerator gravitasi yang fisik artistiknya

berbentuk tangga, indah dipandang, the art of aeration. Aerasi ini

serupa dengan tangga (stairs) yang ada di setiap rumah atau kantor.

Pada Aerator tangga ini air dijatuhkan ke permukaan serial undakan

untuk menghasilkan turbulensi dan menimbulkan percikan indah

butiran air. (AWWA, 1990)


19

Proses aerasi akan semakin bagus kalau ukuran butir airnya

makin kecil. Selain itu, lapisan air tipis yang melimpah di atas tangga

juga mendukung terjadinya aerasi. Semakin luas undakannya semakin

tinggi efisiensinya.

Cascade aerator adalah unit yang didesain mengikuti hukum

gerak jatuh bebas berlandaskan hukum Newton. Itu sebabnya, elemen

penting dalam kalkulasi desainnya adalah head yang tersedia

(available head, h atau H) dan umumnya diambil antara 1- 3 m (tetapi

jarang yang 1 m). Karena memanfaatkan energi jatuh bebas inilah

Cascade Aerator yang dikatakan hemat energi.

Gambar 2.2 Cascade Aerator

Kekurangannya tentu saja ada dan ini berkaitan dengan

efisiensinya yang lebih rendah dari pada tipe lain. Ini dapat dimaklumi

karena energinya semata-mata dari energi alami. Oleh sebab itu, unit

ini kurang layak digunakan untuk instalasi besar. Lebih cocok untuk

debit kecil, misalnya dalam lingkup satu kantor atau pabrik kecil.

Namun tetap bisa diterapkan untuk kapasitas besar dengan cara


20

pembagian debit olahan menjadi beberapa unit tipikal. Dengan desain

yang tepat, bisalah diperoleh penyisihannya yang tinggi.

Perbedaan head pada cascade aerator di bagi menjadi beberapa

tahapan atau tangga (step) yang diharapkan mampu meningkatkan

jumlah transfer oksigen. Penambahan oksigen itu diharapkan dapat

mengurangi konsentrasi besi (Fe) di dalam air. Setiap cascade aerator

memegang peranan penting dalam pembentukan interfacial baru yang

dapat menaikkan efisiensi desorbsi gas yang tidak dikehendaki dan

mengurangi bau dan rasa yang ada dalam air.

2) Inclined Planes

Suatu terjunan yang berupa bidang miring. Air dilewatkan ke bidang

miring tersebut agar terbentuk lapisan air yang tipis, sehingga air

dapat berkontak dengan udara bebas. Sudiati, K (2004)

Gambar 2.3 Inclined Planes


21

3) Multiple Tray

Aerator jenis ini terdiri dari beberapa seri tray (rak) yang

dilengkapi dengan plat berlubang yang saling berhubungan dengan

alasnya sehingga mampu mendistribusikan air dari seri atas ke seri

yang di bawahnya. Dalam multiple aerator ini sering ditambahkan

media berupa batu – batu kecil, batu bara atau keramik untuk

meningkatkan kontak antara udara – air.

Oksidasi dengan oksigen dapat dilakukan melalui berbagai

cara, seperti yang telah dijelaskan di atas. Aerasi dengan

menggunakan tray adalah cara yang lebih efektif untuk mengoksidasi

besi (Fe). Aerator jenis ini terdiri dari 1 tray (rak) yang dilengkapi

dengan plat berlubang sehingga mampu mendistribusikan air dari ahap

atas ke tahap yang dibawahnya. Dalam tray aerator ini sering

ditambahkan media berupa batu – batu kecil, batu bara atau keramik

untuk meningkatkan kontak antara udara – air. Surface Loading

adalah 15 – 20 gpm/ ft2 (37 – 50 m/ h) (AWWA, 1990)

Gambar 2.4 Tray Aerator


22

2. Spray Aerator

Aerator jenis ini terdiri dari lubang – lubang semprot di sepanjang

kisi- kisi pendistribusian pipa, dimana air disemprotkan ke udara seperti air

mancur. Desain lubang semprot sangan penting untuk mendapatkan kontak

udara – air yang optimum.

Gambar 2.5 Spray Aerator

3. Diffuser Udara

Aerator tipe ini berbentuk tanki persegi panjang ataupun lingkaran

dimana tabung difusser yangterpori dimasukkan ke bagian bawah tanki

tersebut dan udara bertekanan diinjeksikan di sepanjang system untuk

menghasilkan gelembung – gelembung halus yang muncul dalam air,

sehingga didapatkan turbulensi secara kontinyu. Waktu yang dibutuhkan

aerator tipe ini lebih lama dari type gravity aerator, karena kecepatan rata –

rata munculnya gelembung lebih lama dari pada curahan tetesan air. Periode

aerasi berkisar antara 10 – 30 menit dengan suplai udara 0,1 – 1 m 3/ mnt/ m3

volume tangki.

4. Aerator Mekanis
23

Aerator mekanis menggunakan alat pengaduk yang digerakkan motor.

Alat pengaduk yang umumnya digunakan adalah paddle, impeller, turbin dan

aerator draft tube.

II.5 Landasan Teori

Cascade aerator merupakan salah satu alat untuk proses pengolahan air

limbah secara biologi yang menggunakan oksigen untuk mendekomposisi bahan –

bahan organik. Pada cascade aerator ini, proses aerasi dilakukan dengan cara

menyemprotkan air limbah menggunakan nozzle dan menjatuhkannya melalui

beberapa tahapan. Splashing pada air menimbulkan turbulensi dan pencampuran air.

Adapun hal – hal yang mempengaruhi proses pelarutan oksigen pada cascade

aerator adalah sebagai berikut:

1. Ketinggian

Semakin tinggi terjunannya maka akan meningkatkan luas kontak antara air dan

udara yang ditujukan untuk peningkatan kadar oksigen dalam air

2. Debit

Semakin kecil debit yang digunakan maka akan menghasilkan droplets yang

semakin halus dan memberikan luas area interfase yang besar

Pada cascade aerator terdapat beberapa mekanisme dalam penyisihan

kontaminan di dalam air limbah. Mekanisme tersebut adalah:

1) Proses penyuntikkan udara, yaitu proses penambahan jumlah oksigen yang

dilakukan dengan cara menyemprotkan air limbah menggunakan nozzle.

2) Proes pengendapan, berfungsi untuk mengembalikan sebagian Lumpur aktif yang

terbawa oleh aliran effluent. Sebagian Lumpur yang masuk ke dalam bak
24

pengendap di resirkulasi kembali ke cascade aerator sedangkan lumpur yang

lainnya dibiarkan untuk diendapkan.

3) Aktivitas biologi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang hidup dengan

bantuan oksigen dari cascade aerator.

Dengan adanya pengembalian lumpur ke cascade aerator, diharapkan dapat

memberi kesempatan untuk berkontak dengan udara sehingga efisiensi meningkat.


BAB III

METODE PENELITIAN

III.1 Bahan Penelitian

Bahan – bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Air limbah domestik yang berasal dari kantin pusat UPN “Veteran” Jatim dan

parameter yang di analisa adalah COD

2. Bahan pembantu yang merupakan bahan – bahan uji COD

III.2 Peralatan Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Bak penampung mempunyai volume 70 liter

2. Reaktor mempunyai volume 25 liter

3. Bak pengendap mempunyai volume 15 liter

4. Valve (kran)

5. Pompa yang digunakan untuk menyemprotkan air limbah dari bak

penampung ke cascade aerator dan untuk meresirkulasi lumpur

25
26

III.3 Gambar Sketsa Alat

Keterangan:
1. Bak Penampung
6 2. Pompa
3. Valve
4. Cascade Aerator
5. Bak Pengendap
6. Pompa resirkulasi
27

III.4 Prosedur Kerja

Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap

pelaksanaan

III.4.1 Tahap Persiapan

1. Pembenihan dilakukan dengan menggunakan limbah cair domestik yang

diberti starter Bio HS dan proses pembenihan dilakukan secara kontinyu

2. Selama proses penumbuhan bakteri yang cukup lama maka perlu diberikan

nutrisi atau makanan bagi mikroorganisme pendegradasi limbah yaitu

glukosa, urea dan K2PO4. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian

nutrisi adalah kebutuhan nutrisi yang dinyatakan dalam perbandingan BOD :

N : P = 100 : 5 : 1

3. Setelah beberapa hari, analisa MLSS yang menunjukkan jumlah

mikroorganisme yang telah beradaptasi yaitu 2000 – 3000

4. Aklimatisasi

Air seeding yang ada dalam reaktor diambil 10% dari total volume seeding

dan diganti dengan air limbah domestik di biarkan selama 1 hari.

5. Pada hari kedua diambil 20% dan diganti dengan air limbah domestik di

biarkan selama 1 hari.

6. Aklimatisasi dilakukan sampai kondisi 100% tergantikan dengan limbah

domestik
28

III.4.2 Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan dilakukan secara kontinyu, cara kerja yang dilakukan

dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:

1. Bahan baku yang digunakan berasal dari air limbah domestik kantin pusat

UPN ”Veteran” Jatim

2. Air limbah domestik yang akan diolah dimasukkan ke dalam bak penampung

kemudian dilakukan analisa awal (COD)

3. Setelah dilakukan analisa awal, kran yang menghubungkan antara bak

penampung dengan cascade aerator dibuka sesuai dengan variasi debit dan

rasio resirkulasi yang telah ditentukan kemudian menyemprotkan butiran air

ke udara melalui lubang atau nozzle pada bagian paling atas dengan bantuan

pompa

4. kemudian air jatuh melalui beberapa tahapan di cascade aerator, limbah akan

keluar dan masuk ke bak reaktor kemudian ke bak pengendap.

5. Dari bak pengendap inilah limbah disirkulasikan kembali, demikian

seterusnya dan dilakukan secara kontinyu.

6. Setelah proses dalam reaktor berjalan sesuai dengan peubah yang dijalankan

yaitu debit air limbah dan rasio resirkulasi, kemudian air limbah domestik

diambil setiap 1 jam dan di analisa CODnya sampai CODnya konstan.

III.5 Variabel Penelitian

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Variabel tetap

Volume bak reaktor sebesar 25 liter


29

2. Peubah

1) Debit (Q): 140 ml/min, 170 ml/min, 210 ml/min, 280 ml/min, 420

ml/min

2) Rasio Resirkulasi (R): 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7 ; 0,8

III.6 Kerangka Penelitian

Ide Studi Pengolahan Limbah Domestik


Menggunakan Cascade Aerator

Studi Literatur

Persiapan Alat dan Bahan

Pembuatan Reaktor Cascade Aerator

Melakukan uji penurunan kandungan organik terlarut dengan variasi


debit 140 ml/min, 170 ml/min, 210 ml/min, 280 ml/min, 420 ml/min
dan rasio resirkulasi 0,4 ; 0,5 ; 0,6 ; 0,7 ; 0,8

Analisa Uji dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini dilakukan analisa awal terlebih dahulu untuk mengetahui

kadar COD. Limbah cair domestik berasal dari saluran pembuangan di kantin pusat

UPN “Veteran” Jawa Timur. Hasil analisa limbah cair domestik tersebut

menunjukkan angka pada kisaran 990 - 1500 mg/lt sedangkan baku mutu yang

ditetapkan KepMen LH No. 112 tahun 2003 tentang baku mutu limbah cair domestik

adalah 100 mg/lt dan baku mutu yang ditetapkan SK Gubernur Jatim No. 45 tahun

2002 adalah 100 mg/lt sehingga diperlukan proses pengolahan terlebih dahulu

sebelum limbah cair domestik dibuang ke badan air.

Dengan adanya pengolahan limbah cair domestik dengan cascade aerator

diharapkan dapat menurunkan kandungan COD.

IV.1 Pengaruh Debit Terhadap Penyisihan COD

Kemampuan penyisihan COD dalam limbah cair domestik yang berasal dari

kantin pusat UPN “Veteran” Jawa Timur tersebut diolah dengan proses biologi

menggunakan cascade aerator secara berkelanjutan yang dioperasikan menggunakan

variasi debit dan rasio resirkulasi. Dibawah ini adalah data hasil penelitian penyisihan

konsentrasi COD dalam limbah cair domestik setelah melalui bak reaktor pada

kondisi steady yang ditampilkan pada tabel 4.1

30
31

Tabel 4.1 Data Hasil Analisa Penyisihan COD dengan Variasi Debit dan

Rasio Resirkulasi

Nilai COD Efisiensi


Debit (ml/min) Rasio Resirkulasi
(mg/lt) Penyisihan (%)
awal 1500  
0.4 650 56.67
0.5 350 76.67
140
0.6 50 96.67
0.7 150 90.00
0.8 200 86.67
awal 1170  
0.4 520 55.56
0.5 325 72.22
170
0.6 65 94.44
0.7 130 88.89
0.8 195 83.33
awal 1274  
0.4 588 53.85
0.5 392 69.23
210
0.6 98 92.31
0.7 147 88.46
0.8 245 80.77
awal 1440  
0.4 720 50.00
0.5 450 68.75
280
0.6 180 87.50
0.7 270 81.25
0.8 360 75.00
awal 990  
0.4 495 50.00
0.5 330 66.67
420
0.6 165 83.33
0.7 275 72.22
0.8 385 61.11
Sumber: Hasil Penelitian

Berdasarkan tabel 4.1 pengaruh debit pada proses biologi menggunakan

cascade aerator terhadap limbah cair domestik terlihat bahwa persentase penyisihan

COD pada rasio resirkulasi 0,6 mengalami kenaikan yang cukup tajam dan mencapai

titik optimum.
32

Pada debit 140 (ml/menit) dengan rasio resirkulasi 0,6 memberikan hasil

penyisihan yang paling besar terhadap penyisihan COD yaitu sebesar 96,67 %

sedangkan pada debit 420 (ml/menit) dengan rasio resirkulasi yang sama yaitu 0,6

memberikan hasil penyisihan COD sebesar 83,33 % tetapi pada debit 280 (ml/menit)

dengan rasio resirkulasi 0,8 mengalami kenaikan penyisihan sebesar 87,50 %. Hal ini

menunjukkan bahwa semakin kecil debit pada proses tersebut maka kemampuan

penyisihan COD semakin meningkat.

Untuk memudahkan evaluasi dari table 4.1 secara keseluruhan penyisihan

COD ditampilkan pada gambar 4.1 sebagai berikut:

Gambar 4.1 Hubungan Antara Debit Terhadap Penyisihan COD pada Berbagai

Rasio Resirkulasi

Dari gambar 4.1 dapat dilihat pengaruh perubahan debit terhadap penyisihan

COD. Pada debit 140 ml/menit dan rasio resirkulasi 0,6 dalam reaktor proses

memberikan hasil yang paling besar terhadap efisiensi penyisihan COD yaitu sebesar

96,67% dibandingkan pengaruh perubahan berbagai debit lainnya karena pada debit

140 ml/menit dengan rasio resirkulasi yang sesuai dengan kebutuhan bakteri yaitu 0,6
33

akan terjadi kontak yang lama antara limbah cair domestik dengan bakteri yang

tersuspensi dan didukung dengan proses transfer oksigen yang cukup sehingga

dengan berkurangnya debit air limbah maka semakin lama pula waktu tinggal dalam

rektor proses maka memberikan kesempatan bakteri untuk mendegradasi bahan

organik dalam jumlah yang besar.

Menurut Syamsyudin, dkk (2006) yang melakukan penelitian dengan

menggunakan reaktor conventional activated sludge dengan penambahan enzim

(selulase dan xilanase) menunjukkan bahwa semakin kecil debit maka semakin lama

waktu tinggal sehingga efisiensi penyisihan bahan organik semakin tinggi. Hal ini

karena semakin banyak waktu yang tersedia bagi bakteri untuk mendegradasi

senyawa organik.

Sedangkan pada debit 420 ml/menit dengan rasio resirkulasi 0,6 memberikan

penyisihan COD lebih rendah yaitu sebesar 83,33% karena pada debit 420 ml/menit

tersebut kesempatan bakteri untuk menyisihkan bahan organik lebih singkat karena

semakin besar debit maka semakin pendek pula waktu tinggalnya sehingga proses

penyisihan bahan organik kurang berjalan dengan baik dan kemampuan bakteri

dalam penyisihan COD belum mendapatkan hasil yang baik pula.

Kondisi tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Fahamsyah, R.N

(2004) dengan proses Conventional Activated Sludge secara kontinyu yang

menunjukkan bahwa dengan debit yang besar maka semakin kecil pula waktu

tinggalnya sehingga kesempatan bakteri untuk berkontak dengan bahan organik

makin singkat dan efisiensi penguraiannya semakin rendah.

Sesuai dengan gambar 4.1 yang menunjukkan bahwa dengan berkurangnya

debit air limbah dalam proses akan memberikan kesempatan bakteri untuk
34

menguraikan atau mendegradasi bahan organik semakin lama dan secara tidak

langsung hal ini memberikan penurunn bahan organik yang semakin meningkat,

sehingga kemampuan reaktor cascade aerator dalam melakukan penyisihan COD

akan bertambah besar pula seiring dengan berkurangnya debit dalam proses.

IV.2 Pengaruh Rasio Resirkulasi (ml/menit) Terhadap Penyisihan COD

Dari tabel 4.1 menunjukkan bahwa persentase penyisihan COD pada rasio

resirkulasi 0,4; 0,5 dan 0,6 memberikan hasil kenaikan yang cukup tajam tapi pada

rasio resirkulasi 0,7 dan 0,8 mengalami penurunan.

Pada rasio resirkulasi 0,6 dengan debit 140 (ml/menit) memberikan hasil

kenaikan yang paling besar terhadap penyisihan COD yaitu sebesar 96,67%

sedangkan pada rasio resirkulasi 0,8 dengan dengan debit yang sama yaitu 140

(ml/menit) mengalami penurunan penyisihan COD sebesar 86,67% tetapi pada rasio

resirkulasi 0,8 pada debit 280 (ml/menit) mengalami kenaikan sebesar 87,50%.

Untuk memudahkan evaluasi dari table 4.1 secara keseluruhan penyisihan

COD ditampilkan pada gambar 4.2 sebagai berikut:


35

Gambar 4.1 Hubungan Antara Rasio Resirkulasi Terhadap Penyisihan COD pada

Berbagai Debit

Dari grafik yang diperoleh pada gambar 4.2 dapat dilihat bahwa terjadi

kenaikan kemampuan penyisihan COD pada variasi rasio resirkulasi 0,4; 0,5 dan 0,6

karena pada rasio resirkulasi yang relatif kecil bakteri dapat memperoleh oksigen

dengan baik atau dengan kata lain oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri terpenuhi

dan peristiwa ini berlaku sampai mencapai titik optimum yaitu pada rasio resirkulasi

0,6. Rasio resirkulasi 0,6 merupakan rasio resirkulasi optimum dimana bakteri dapat

melakukan kerjanya dengan baik sehingga memberikan penyisihan COD sebesar

96,67% sebab pada rasio resirkulasi 0,6 bakteri mendapat oksigen yang optimal

dikarenakan jumlah bakteri yang ada dalam reaktor sebanding dengan suplai oksigen

terlarut dalam reaktor sehingga bakteri telah siap melakukan tugasnya untuk

menguraikan polutan organik secara besar – besaran dalam penyisihan COD berjalan

dengan baik.
36

Sedangkan pada rasio resirkulasi 0,7 dan 0,8 kemampuan penyisihan COD

mengalami penurunan karena adanya penambahan rasio resirkulasi maka MLSS dari

dalam reaktor menjadi semakin tinggi, dengan semakin tingginya MLSS di dalam

reaktor maka akan menyebabkan oksigen terlarut (DO) didalam reaktor berkurang

sehingga proses metabolisme bakteri menjadi terganggu. Hal ini dapat

mengakibatkan bakteri kurang efektif mendegradasi COD sehingga efisiensi

penyisihan COD mengalami penurunan.

Menurut Syamsudin, dkk (2006)yang melakukan penelitian dengan

conventional activated sludge dengan penambahan enzim (selulase dan xilanase)

menunjukkan bahwa semakin tinggi MLSS maka semaki tinggi konsumsi oksigen

terlarut (DO) untuk proses metabolisme bakteri.

Rasio resirkulasi yang semakin bertambah besar maka akan memberikan

peningkatan jumlah massa bakteri yang semakin besar pula sehingga oksigen terlarut

yang ada dalam reaktor tidak mencukupi. Pada kondisi seperti ini didalam reaktor

akan terjadi persaingan antara bakteri yang hidup untuk mendapatkan oksigen dan

makanannya (substrat) sehingga bakteri yang kalah memperoleh oksigen dan substrat

akan mengalami endegenous (mati), hal ini ditandai adanya lumpur hitam dan

peristiwa ini dinamakan sloughing.

Dengan adanya bakteri yang mati karena kekurangan oksigen dan tidak

mendapatkan substrat maka bakteri yang berperan dalam penyisihan COD akan

semakin sedikit atau berkurang sehingga kemampuan reaktor proses (cascade

aerator) dalam penyisihan COD pada air limbah domestik juga mengalami

penurunan.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.I Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan

bahwa:

1. Pengolahan limbah cair domestik dengan menggunakan cascade aerator yang

dilakukan secara kontinyu dapat menurunkan konsentrasi COD sesuai baku

mutu yang telah ditetapkan yaitu dengan konsentrasi COD 100 mg/ lt.

Kemampuan penyisihan COD limbah cair domestik mencapai hasil terbaik

yaitu sebesar 50 mg/ lt dengan efisiensi sebesar 96,67% pada variasi debit

140 ml/menit dengan rasio resirkulasi (R) 0,6 Qin (ml/menit)

2. Semakin kecil debit maka semakin lama waktu tinggal sehingga efisiensi

penyisihan COD semakin tinggi sedangkan semakin tinggi rasio resirkulasi

kemampuan penyisihan COD juga semakin tinggi dan mencapai puncak pada

rasio resirkulasi diatas 0,6 Qin (ml/menit) tetapi pada rasio resirkulasi diatas

0,6 Qin (ml/menit) kemampuan penyisihan COD terus menurun karena

bakteri kekurangan oksigen dengan bertambahnya rasio resirkulasi

3. Pengolahan limbah cair domestik dengan cascade aerator merupakan salah

satu alternatif dalam proses pengolahan air limbah karena pengoperasian dan

perawatannya mudah tanpa mengurangi kualitas effluent yang dihasilkan.

37
38

V.2 Saran

1. Dari variable yang berpengaruh dalam proses biologi (cascade aerator) hanya

2 variabel yang ditinjau yaitu debit dan rasio resirkulasi (R) maka disarankan

untuk melakukan penelitian terhadap variabel yang berpengaruh lainnya

2. Memperbesar waktu tinggal air limbah dalam bak reaktor yaitu sekitar 6 – 8

jam. Dengan cara ini diharapkan waktu kontaknya akan semakin lama.

Semakin lama waktu kontak akan dihasilkan penurunan kadar COD yang

semakin besar pula.

3. Disarankan kepada peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian terhadap

Jenis limbah yang berbeda dan faktor – faktor lain yang mempengaruhi proses

aerasi supaya lebih diperhatikan