Anda di halaman 1dari 79

PROPOSAL

TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL


TENTANG PEMERIKSAAN HIV/AIDS

(LITERATUR REVIEW)

Disusun Oleh :

ELMI PUJI PANGESTU


NIM: 2018.A.09.0756

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2021
PROPOSAL

TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL


TENTANG PEMERIKSAAN HIV/AIDS
(LITERATUR REVIEW)

Dibuat Sebagai Syarat Dalam Menempuh Ujian Sidang Proposal


dan Melanjutkan Penelitian Pada Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangka Raya

Disusun Oleh :

ELMI PUJI PANGESTU


NIM: 2018.A.09.0756

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2021
SURAT PERNYATAAN
KEASLIAN KARYA TULIS DAN BEBAS PLAGIASI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Elmi Puji Pangestu
NIM : 2018.A.09.0756
Program Studi : D-III Kebidanan
Judul : Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang
Pemeriksaan HIV/AIDS

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa proposal tersebut secara keseluruhan


adalah murni karya saya sendiri, bukan buatan oleh orang lain, baik sebagian
maupun keseluruhan, bukan plagiasi sebagian atau keseluruhan dari karya tulis
orang lain, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sebagai sumber pustaka
sesuai dengan aturan penulis yang berlaku.
Apabila dikemudian hari didapatkan dibuktikan bahwa proposal saya tersebut
merupakan hasil karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan dan atau
plagiasi karya tulis orang lain, saya sanggup menerima sanksi peninjauan kembali
kelulusan saya, pembatalan kelulusan, pembatalan dan penarikan ijazah saya.
Demikan pernyataan ini saya buat dengan sungguh-sungguh dan tanpa
paksaan dari pihak manapun. Atas perhatianya saya ucapkan terima kasih.

Palangka Raya, Agustus 2021


Yang menyatakan
LEMBAR PERSETUJUAN

Judul : Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan HIV/AIDS


Nama : Elmi Puji Pangestu
NIM : 2018.A.09.0756

Proposal ini telah disetujui untuk diuji


Tanggal, Agustus 2021

Pembimbing

Meyska Widyandini, SST., M.Tr.Keb


PENETAPAN PANITIA PENGUJI

Judul : Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan HIV/AIDS


Nama : Elmi Puji Pangestu
NIM : 2018.A.09.0756

Proposal ini telah disetujui untuk diuji


Tanggal, Agustus 2021

PANITIA PENGUJI:

Ketua : .............................

Anggota : Meyska Widyandini, SST., M.Tr.Keb

Mengetahui,
Ketua Program Studi D-III Kebidanan

Desi Kumala F.P., SST., M.Kes


PENGESAHAN PROPOSAL

Judul : Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan HIV/AIDS


Nama : Elmi Puji Pangestu
NIM : 2018.A.09.0756

Proposal ini telah disetujui untuk diuji


Tanggal, Agustus 2021

PANITIA PENGUJI:

Ketua : .............................

Anggota : Meyska Widyandini, SST., M.Tr.Keb

Mengetahui,

Ketua Ketua
STIKes Eka Harap Palangka Raya Program Studi D-III Kebidanan

Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M.Kes Desi Kumala F.P., SST., M.Kes
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kesehatan,
akal pikiran, dan berkat yang diberikan sehingga proposal dengan judul “Gambaran
Tingkat Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Tentang HIV/AIDS” dapat diselesaikan
dengan baik dan tepat pada waktunya. Walaupun ada beberapa halangan yang
mengganggu proses pembuatan proposal ini, namun penulis dapat mengatasinya dan
tentunya atas campur tangan Tuhan Yang Maha Esa. Proposal ini merupakan salah satu
syarat untuk mengikuti ujian proposal di STIKes Eka Harap Palangka Raya. Penulisan
proposal ini dapat terlaksana karena adanya bantuan dari berbagai pihak baik secara
langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, secara khusus
penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak, yaitu:
1. Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M.Kes selaku Ketua STIKes Eka Harap yang telah
memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan D-III Kebidanan.
2. Desi Kumala F.P., SST., M.Kes selaku Ketua Program Studi D-III Kebidanan
yang memberikan dukungan dalam penyelesaian proposal ini.
3. Meyska Widyandini, SST., M.Tr.Keb selaku Pembimbing yang memberikan
dukungan, bimbingan, saran dan waktunya dalam penyelesaian proposal ini.
4. Seluruh Staf Pengajar Progran Studi D-III Kebidanan STIKES Eka Harap
Palangka Raya yang telah memberikan bimbingan dan ilmu pengetahuan selama
ini.
5. Orang Tua tercinta, orang terkasih dan seluruh keluarga yang memberikan
dukungan dan do’a maupun moral dan matril untuk penulis, sehingga dapat
menyelesaikan Proposal ini dengan sebaik-baiknya.
6. Seluruh teman D-III Kebidanan angkatan IX Tahun Ajaran 2020/2021, yang
selalu memberikan dukungan dan semangat demi selesainya proposal ini.
7. Semua pihak-pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan proposal ini
yang tidak dapat penulis ucapkan satu persatu.
Peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan proposal
ini. Akhirnya, peneliti berharap proposal ini dapat memberikan manfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan terutama bidang kebidanan, baik di masa sekarang
maupun di masa yang akan datang.

Palangka Raya, Agustus 2021

Penulis
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Kriteria Inklusi dan Eksklusi dengan PICOS Framework Gambaran
Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pemeriksaan HIV/AIDS Tahun 2021

Tabel 3.2 Jurnal Penelitian Untuk Data Sekunder Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil
tentang Pemeriksaan HIV/AIDS Tahun 2020
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Artikel Kelas Ibu Hamil Mempengaruhi Pengetahuan dan sikap terhadap
PITC HIV/AIDS
Lampiran 2: Artikel Pengetahuan HIV pada Ibu Rumah Hamil Tentang Skrinning
HIV/AIDS

Lampiran 3: Artikel Hubungan antara sumber Informasi tentang HIV/AIDS dengan


pemeriksaan pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) di Puskesmas II
Denpasar
Lampiran 4 : Artikel pemanfaatan pelayanan voluntary counselling and (VCT)
Pada Ibu Hamil di wilayah kerja puskesmas langsat pekanbaru
Lampiran 5: Lembar Konsultasi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu peristiwa yang penting dalam kehidupan seorang
wanita dan keluarga pada umumnya. Kehamilan yang diharapkan oleh seorang
wanita dalam keadaan normal, sehat dan tidak menyulitkan baik bagi calon ibu
maupun bayi. Penyakit yang dialami selama kehamilan akan berdampak kurang
menguntungkan bagi bayi. Salah satu penyakit yang saat ini sangat ditakuti adalah
Human Immunodeficiency Virus (HIV). Menurut World Health Organization
(WHO) hal ini disebabkan belum ada vaksin untuk mencegah HIV/AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrome) dan untuk pengobatannya juga belum ditemukan
(WHO, 2017). Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang
system kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami
penurunan kekebalan sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam
penyakit lain. Sedangkan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) yaitu
sekumpulan gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh
masuknya virus HIV (Kemenkes RI, 2020). HIV/AIDS merupakan salah satu
penyakit yang penyebarannya paling banyak di seluruh dunia. HIV dan AIDS
merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual, penggunaan
jarum suntik dan sering dikaitkan kesehatan reproduksi terutama kelompok
perempuan (UNAIDS, 2018). Kerentanan perempuan untuk tertular umumnya
karena kurangnya pengetahuan dan informasi tentang HIV/AIDS ataupun kurangnya
akses untuk mendapatkan layanan pencegahan HIV (Khadijah dan Palifiana, 2019).
Menurut WHO tahun 2017, angka prevalensi dan penularan HIV dari ibu ke
bayi masih terbatas, namun jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV cenderung
meningkat. Prevalensi HIV pada ibu hamil di Indonesia diproyeksikan meningkat
dari 0,38% pada tahun 2012 menjadi 0,49% pada tahun 2017, Jumlah ibu hamil
dengan HIV positif yang membutuhkan layanan (WHO, 2017). Jumlah kasus HIV
positif dilaporkan pada tahun 2019 sebanyak 356 kasus lebih sedekit dibandingkan
tahun 2018 sebanyak 490. Sedangkan jumlah penderita baru AIDS pada tahun 2019
sebanyak 184 kasus jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2018 sebanyak 220
kasus. Untuk kasus AIDS kumulatif pada tahun 2019 berjumlah 415 kasus (Profil
Kesehatan Kabupaten Kota, 2020). Kasus tersebut dapat ditularkan melalui perilaku
berisiko seperti heteroseksual (68%), homoseksual (4%), perinatal (3%), dan
penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (11%), sedangkan jumlah ibu
hamil yang tercatat pada pelayanan PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak)
adalah sebanyak 15.921 jiwa (Ditjen PP dan PL Kemenkes RI 2017). Data
kementerian tahun 2017 kesehatan menunjukkan dari 21.103 ibu hamil yang
menjalani tes HIV sebanyak 534 (2,5%) diantaranya positif terinfeksi HIV. Hasil
pemodelan matematika epidemic HIV Kementrian kesehatan tahun 2017,
menunjkkan prevalensi HIV populasi usia 15-49 tahun dan prevelensi HIV pada ibu
hamil di Indonesia meningkat. Jumlah kasus HIV/AIDS pada ibu hamil meningkat
dari 227 pada tahun 2011 menjadi 294 pada tahun 2015 (Kemenkes 2017). Selama
tahun 2019 terdapat 2.370.473 ibu hamil yang diperiksa HIV, dari pemeriksaan
tersebut di dapatkan 6.439 (0,27%) ibu hamil yang positif (Ditjen P2P, Kementerian
Kesahatan 2019). Di Kota Palangka Raya pada tahun 2019 jumlah kasus HIV
mencapai 63 dengan jumlah estimasi orang dengan risiko terinfeksi HIV sebesar
5.967 kasus. Sedangkan tahun 2018, jumlah kasus HIV mencapai 75 dengan jumlah
estimasi orang dengan risiko terinfeksi HIV sebesar 2.957 orang, dan persentase
orang dengan risiko terinfeksi HIV mendapatkan pelayanan deteksi dini HIV sesuai
standar sebesar 49,6% (Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, 2020).
HIV saat ini merupakan salah satu ancaman virus pada ibu hamil. Ibu dapat
menularkan virus kepada anaknya saat hamil, proses melahirkan atau pada saat
menyusui (Lusi Sulfiana Siswarni, 2019). Kebijakan nasional penanggulangan
AIDS yang diatur sejak diterbitkan keputusan Presiden No. 36 Tahun 1994 tentang
Komisi Penanggulan AIDS yang diperbarui melalui peraturan Presiden No. 75
Tahun 2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (Dinas Kesehatan
Kota Palangka Raya 2020). Tujuan pemeriksaan HIV pada ibu hamil adalah untuk
mencegah terjadinya kasus HIV pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan HIV.
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat terjadi selama masa kehamilan, saat persalinan
dan selama menyusui. Infeksi HIV pada bayi dapat menyebabkan kesakitan,
kecacatan dan kematian sehingga berdampak buruk pada kelangsungan pada
kualitas hidup anak.
Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dilakukan secara
komprehensif dan efektif di fasilitas pelayanan kesehatan dengan program
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) (Sholehah Ramadhana, 2016)
Pelayanan PPIA dapat dilakukan di berbagai sarana kesehatan (Rumah Sakit,
Puskesmas) dengan proporsi pelayanan yang sesuai dengan ketersedian sarana dan
tenaga/staf yang mengerti dan mampu dalam menjalankan program ini (Sholehah
Ramadhana, 2016) Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) telah
dilaksankan di Indonesia sejak tahun 2004, namun hingga akhir tahun 2011 baru
terdapat 94 layanan PPIA, yang baru menjangkau sekitar 7% dari perkiraan jumlah
ibu yang memerlukan layanan PPIA (Ni Luhputu Sri Erawati, 2018). Pemerintah
melalui kementerian kesehatan telah menetapkan pedoman pelaksanaan konseling
dan tes HIV (KTHIV) bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan. KTHIV
bertujuan untuk menegakkan diagnose HIV sedini mungkin dan mencegah
penularan/peningkatan jumlah kasus HIV. Adapun program pemerintah lainnya
dalam pencegahan dan pengendalian HIV AIDS yang masih berjalan yaitu
penerapan KTHIV diseluruh FASKES, Tes HIV masuk standar pelayanan medis
(SPM) sepertis tes laboratorium lainnya, Pada daerah dengan tingkat epidemi
meluas tes HIV ditawarkan pada semua pasien yang berkunjung ke FASKES
sebagai bagian dari standar pelayanan, Pada daerah dengan tingkat epidemi
terkonsentrasi tes HIV ditawarkan pada semua ibu hamil, penderita TB, penderita
hepatitis, penderita IMS, pasangan ODHA, dan populasi kunci (Profil Kesehatan
Indonesia Kemenkes RI, 2020).

Bidan sebagai tenaga kesehatan dan ujung tombak kesehatan ibu dan anak
berperan penting dalam memberikan konseling HIV terutama bagi ibu hamil tentang
informasi HIV yang tepat. Tujuan konseling kesehatan adalah untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS dan meningkatkan kemampuan
pengambilan keputusan untuk melakukan tes HIV (Menteri Kesehatan, 2014).
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk menganalisis Tingkat
Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan HIV/AIDS

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian ini yaitu
“Bagaimana Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan HIV/AIDS”
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemerriksaan HIV/AIDS
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Perkembangan IPTEK
Bagi Ilmu Pengetahuan dan teknologi (IPTEK) diharapkan hasil penelitian ini
dapat digunakan untuk melakukan evaluasi dalam binaan bagi setiap ibu
hamil untuk meningkatkan pengetahuan pemeriksaan HIV/AIDS. Penelitian
ini juga di harapkan dapat memberikan data terkait Tingkat Pengetahuan Ibu
Hamil Tentang Pemeriksaan HIV/AIDS untuk melakukan penelitian lanjutan
1.4.2 Mahasiswa
Bagi Mahasiswa diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dan
menambah wawasan dalam asuhan kebidanan terutama tentang memberikan
pendidikan dan informasi yang jelas tentang HIV/AIDS pada Ibu Hamil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar
2.1.1 Pengetahuan
2.1.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba
menurut Bachtiar yang dikutip dari Notoatmodjo (2012).
Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan
bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang
berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula.
Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek
positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang, semakin
banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap positif
terhadap objek tertentu.
Menurut teori WHO (Word Health Organization), salah satu bentuk objek
kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri
(Wawan dan Dewi, 2010).
2.1.1.2 Tingkat Pengetahuan.
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang
berbeda – beda. Menurut Notoatmodjo (2014) secara garis besarnya dibagi 6 tingkat,
yakni
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai recall atau memanggil memori yang telah ada sebelumnya
setelah mengamati sesuatu.
2) Memahami (Comprehensif)
Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut, dan
juga tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut dapat menginterpretasikan
secara benar tentang objek yang diketahuinya.
3) Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan ataupun mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut
pada situasi atau kondisi yang lain, Aplikasi juga diartikan aplikasi atau
penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, rencana program dalam situasi
yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang dalam menjabarkan atau memisahkan,
lalu kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen dalam suatu
objek atau masalah yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang telah
sampai pada tingkatan ini adalah jika orang tersebut dapat membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, membuat bagan (diagram) terhadap
pengetahuan objek tersebut.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam merangkum atau meletakkan
dalam suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan yang sudah
dimilikinya. Dengan kata lain suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
dari formulasi yang sudah ada sebelumnya.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu objek tertentu. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
2.1.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (dalam wawan dan dewi, 2010) faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut:
1) Faktor Internal
1. Pendidikan
Pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju impian atau cita-cita tertentu yang
menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan agar tercapai
keselamatan dan kebahagian. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan
informasi berupa hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip oleh
Notoatmodjo, pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga
perilaku akan pola hidup terutama dalam motivasi untuk sikap berpesan
serta dalam pembangunan pada umumnya makin tinggi pendidikan
seseorang maka semakin mudah menerima informasi.
2. Pekerjaan
Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam, pekerjaan adalah suatu
keburukan yang harus dilakukan demi menunjang kehidupannya dan
kehidupan keluarganya. Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang
memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun
tidak langsung.
3. Umur
Menurut Elisabeth BH yang dikutip dari Nursalam (2003), usia adalah umur
individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun.
Sedangkan menurut Huclok (1998) semakin cukup umur, tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan
bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa
dipercayai dari orang yang belum tinggi kedewasaannya.
2) Faktor Eksternal
1.) Lingkungan
Lingkungan ialah seluruh kondisi yang ada sekitar manusia dan
pengaruhnya dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku individu atau
kelompok.
2.) Sosial Budaya
Sistem sosial budaya pada masyarakat dapat memberikan pengaruh dari
sikap dalam menerima informasi.
2.1.1.4 Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden (Notoatmodjo, 2014). Menurut Notoatmodjo (2007) dalam Nurhasim
(2015) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat pengetahuan
responden yang meliputi tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi. Adapun pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk pengukuran
pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu
pertanyaan subjektif, misalnya jenis pertanyaan essay dan pertanyaan objektif,
misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple choice), betul-salah dan pertanyaan
menjodohkan. Cara mengukur pengetahuan dengan memberikan pertanyaan-
pertanyaan, kemudian dilakukan penilaian 1 untuk jawaban benar dan nilai 0
untuk jawaban salah. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah
skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya
prosentase kemudia digolongkan menjadi 3 kategori yaitu kategori baik (76-
100%), sedang atau cukup (56 – 75%) dan kurang (kurang55%). (Arikunto,
2013)
2.1.2 Konsep Dasar Kehamilan
2.1.2.1 Definisis Kehamilan
Kehamilan adalah masa ketika seorang wanita membawa embrio atau fetus
didalam tubuhnya. Awal terjadinya kehamilan terjadi pada saat sel telur perempuan
lepas dan masuk kedalam saluran sel telur. Kehamilan adalah dikandungnya janin hasil
pembuahan sel telur oleh sel sperma. Janin akan membuat tubuh ibu hamil mengalami
perubahan fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang menonjol adalah membesarnya
rahim. Payudara, penghitaman kulit didaerah tertentu, melunaknya alat kelamin, dan
mengendurnya sendi panggul. Secara alamiah perubahan tersebut dimaksudkan untuk
member kesempatan, tempat, dan jaminan bagi janin untuk tumbuh dan berkembang
sampai saat lahir. (Wiknjosastro, 2012).

2.1.2.2 Tanda Gejala Awal Kehamilan


Menurut Astuti (Wiknjosastro, 2012 ) tanda dan gejala pada wanita hamil
berbeda-beda. Ada yang mengalami gejala kehamilan sejak awal, ada yang beberapa
minggu kemudian, atau bahkan tidak memiliki gejala kehamilan dini. Namun, tanda
yang pasti dari kehamilan adalah terlambatnya periode menstruasi. Selain itu didapatkan
tanda-tanda lain yaitu :
1. Nyeri atau payudara yang terasa membesar, keras, sensitif dengan sentuhan.
Tanda ini muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah konsepsi (pembuahan).
Dalam waktu 2 minggu setelah konsepsi, payudara seorang wanita hamil akan
mengalami perubahan untuk persiapan produksi ASI yang dipengaruhi oleh
hormon estrogen dan progesteron
2. Mual pagi hari (morning sickness) umum terjadi pada triwulan pertama.
Meskipun disebut morning sickness, namun mual dan muntah dapat terjadi
kapan saja selama kehamilan. Penyebab mual dan muntah ini adalah perubahan
hormonal yang dapat memicu bagian dari otak yang mengontrol mual dan
muntah. Gejala ini dialami oleh 75% wanita hamil.
3. Mudah lelah, lemas, pusing, dan pingsan adalah gejala kehamilan yang
disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah dalam kehamilan atau kadar gula
darah yang rendah.
4. Sakit kepala pada umumnya muncul pada minggu ke-6 kehamilan yang
disebabkan oleh peningkatan hormon
5. Konstipasi (sulit BAB) terjadi karena peningkatan hormon progesteron yang
menyebabkan kontraksi usus menjadi lebih pelan dan makanan lebih lambat
melalui saluran pencernaan.
6. Perubahan mood karena pengaruh hormon.
7. Bercak perdarahan. Terjadi ketika telur yang sudah dibuahi berimplantasi
(melekat) ke dinding rahim sekitar 10-14 hari setelah fertilisasi (pembuahan).
Tipe perdarahan umumnya sedikit, bercak bulat, berwarna lebih cerah dari darah
haid, dan tidak berlangsung lama.
2.1.2.3 Perubahan Pada Kehamilan
Kehamilan dibagi menjadi tiga trimester, yaitu trimester pertama dengan usia
kehamilan 1-3 bulan atau 0-12 minggu, trimester ke dua dengan usia kehamilan 4-6
bulan atau 13-24 minggu, dan trimester ke tiga dengan usia kehamilan 7-9 bulan atau
25-40 minggu (Wiknjosastro, 2012)
1. Trimester Pertama
Pada awalnya memang belum terjadi perubahan fisik yang luar biasa, namun pada
bulan ke -3 perut akan mulai membuncit. Pada saat trimester pertama ada beberapa
tanda-tanda yang bias terjadi pada tubuh ibu hamil yaitu, badan tidak menentu,
mual muntah, pusing, sering buang air kecil, mudah lelah, dan sembelit.
(Wiknjosastro, 2012)
2. Trimester Kedua
Pada trimester kedua keadaan fisik atau keadaan tubuh ibu hamil sudah mulai fit
dimana kandungan ibu hamil sudah mulai kuat dan bisa melakukan aktifitas seperti
olah raga. Pada kehamilan bulan ke-6 janin sudah bisa diajak bermain. Meskipun
pada trimester ini kondisi fisik ibu sudah lebih baik namun tetap ada keluhan yang
bisa saja muncul pada trimester ini yaitu, sakit pinggang, kaki kram, dan heartburn.
Keluhan ini terjadi karena semakin membesarnya rahim ibu akibat perkembangan
janin yang selalu berkembang. (Wiknjosastro, 2012)
3. Trimester Ketiga
Perubahan tubuh pada trimester akhir ini semakin pesat yang dapat menyebabkan
tubuh akan susah bergerak ataupun melakukan aktifitas. Keluhan-keluhan yang
sering terjadi pada trimester ke-3 yakni perut menjadi lebih besar, sesak napas, kaki
dan tangan bengkak, dan varises. (Wiknjosastro, 2012)
2.1.3 Konsep Dasar HIV/AIDS
2.1.3.1 Definisi HIV/AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan pathogen yang menyerang
sistem imun manusia, terutama semua sel yang dimiliki penenda CD 4+
dipermukaannya seperti makrofag dan limfosit T. AIDS (Acquired Immunodeficiency
Syndrome) merupakan suatu kondisi immunosupresif yang berkaitan erat dengan
berbagai infeksi oportunistik, neoplasma sekunder, serta manifestasi neurologic tertentu
akibat infeksi HIV (Marcelena dan Rengganis, 2014).
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu retrovirus yang berarti
terdiri atas untai tunggal RNA virus yang masuk ke dalam inti sel pejamu dan
ditranskripkan kedalam DNA pejamu ketika menginfeksi pejamu. AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome) adalah suatu penyakit virus yang menyebabkan kolapsnya
sistem imun disebabkan oleh infeksi immunodefisiensi manusia (HIV), dan bagi
kebanyakan penderita kematian dalam 10 tahun setelah diagnosis (Corwin, 2009).
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) atau kumpulan berbagai gejala
penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu akibat HIV (Hasdianah dkk, 2014)
2.1.3.2 Etiologi
Penyebab kelainan imun pada AIDS adalah suatu agen viral yang disebut HIV
dari sekelompok virus yang dikenal retrovirus yang disebut Lympadenopathy
Associated Virus (LAV) atau Human T-Cell Leukimia Virus (HTL-III) yang juga
disebut Human T-Cell Lympanotropic Virus (retrovirus). Retrovirus mengubah asam
rebonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribunokleat (DNA) setelah masuk kedalam
sel pejamu (Nurrarif & Hardhi, 2015).
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut Human Immunodeficiency
Virus (HIV). Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu:
1) Periode jendela: Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada
gejela
2) Fase infeksi HIV primer akut: lamanya 1-2 minggu depan gejala flu like illness
3) Infeksi asimtomatik: lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada
4) Supresi imun simtomatik: diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam
hari, berat badan menurun, diare, neuropati, lemah, rash,limfadenopati,lesi mulut
5) AIDS: lamanya bervariasi antara 1 – 5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai sistem
tubuh, dan manifestasi neurologis.

2.1.3.3 Klasifikasi
1) Fase 1
Umur infeksi 1 – 6 bulan (sejak terinfeksi HIV) individu sudah terpapar dan
terinfeksi. Tetapi ciri – ciri terinfeksi belum terlihat meskipun ia melakukan tes
darah. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum terbentuk. Bisa saja
terlihat/mengalami gejala – gejala ringan, seperti flu (biasanya 2 – 3 hari dan
sembuh sendiri).
2) Fase 2
Umur infeksi: 2 – 10 tahun setelah terinfeksi HIV. Pada fase kedua ini individu
sudah positif HIV dan belum menampakkan gejala sakit. Sudah dapat
menularkan pada orang lain. Bisa saja terlihat/mengalami gejala – gejala ringan,
seperti flu (biasanya 2 – 3 hari dan sembuh sendiri).
3) Fase 3
Mulai muncul gejela – gejala awal penyakit. Belum disebut gejala AIDS. Gejala
– gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam,
diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak
sembuh – sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat
badan terus berkurang. Pada fase ketiga ini sistem kekebalan tubuh mulai
berkurang.
4) Fase 4
Sudah masuk fase AIDS. AIDS baru dapat terdiagnosa setelah kekebalan tubuh
sangat berkurang dilihat dari jumlah sel T nya. Timbul penyakit tertentu yang
disebut dengan infeksi oportunistik yaitu TBC, infeksi paru – paru yang
menyebabkan radang paru – paru dan kesulitan bernafas, kanker, khusunya
sariawan, kanker kulit atau sarcoma kaposi, infeksi usus yang menyebabkan
diare parah berminggu – minggu, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan
mental dan sakit kepala (Hasdianah & Dewi, 2014).
2.1.3.4 Manifestasi
Penderita yang terinfeksi HIV dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan,
Yaitu:
1) Penderita asimtomatik tanpa gejala yang terjadi pada masa inkubasi yang
berlangsung antara 7 bulan sampai 7 tahun lamanya.
2) Persistent generalize lymphadenophaty (PGL) dengan gejala limfa denopati
umum.
3) AIDS Related Complex (ARC) dengan gejala lelah, demam, dan gangguan sistem
imun atau kekebalan.
4) Full Blown AIDS merupakan fase akhir AIDS dengan gejala klinis yang berat
berupa diare kronis, pneumonitis interstisial, hepatomegali, splenomegali, dan
kandidiasis oral yang disebabkan oleh infeksi oportunistik dan neoplasia misalnya
sarcoma kaposi. Penderita akhirnya meninggal dunia akibat komplikasi penyakit
infeksi sekunder (Soedarto, 2009).
Stadium klinis HIV/AIDS untuk remaja dan dewasa dengan infeksi HIV terkonfirmasi
menurut WHO:
1) Stadium 1 (asimtomatis)
a. Asimtomatis
b. Limfadenopati generalisata
2) Stadium 2 (ringan)
a. Penurunan berat badan < 10
b. Manifestasi mukokutaneus minor: dermatitis seboroik, prurigo,
onikomikosis, ulkus oral rekurens, keilitis angularis, erupsi popular pruritic
c. Infeksi herpers zoster dalam 5 tahun terakhir
d. Infeksi saluran napas atas berulang: sinusitis, tonsillitis, faringitis, otitis
media
3) Stadium 3 (lanjut)
a. Penurunan berat badan >10% tanpa sebab jelas
b. Diare tanpa sebab jelas > 1 bulan
c. Demam berkepanjangan (suhu >36,7°C, intermiten/konstan) > 1 bulan
d. Kandidiasis oral persisten
e. Oral hairy leukoplakia
f. Tuberculosis paru
g. Infeksi bakteri berat: pneumonia, piomiositis, empiema, infeksi tulang/sendi,
meningitis, bakteremia
h. Stomatitis/gingivitis/periodonitis ulseratif nekrotik akut
i. Anemia (Hb < 8 g/dL) tanpa sebab jelas, neutropenia (< 0,5×10/L) tanpa
sebab jelas, atau trombositopenia kronis (< 50×109/L) tanpa sebab yang jelas
4) Stadium 4 (berat)
a. HIV wasting syndrome
b. Pneumonia akibat pneumocystis carinii
c. Pneumonia bakterial berat rekuren
d. Toksoplasmosis serebral
e. Kriptosporodiosis dengan diare > 1 bulan
f. Sitomegalovirus pada orang selain hati, limpa atau kelenjar getah bening
g. Infeksi herpes simpleks mukokutan (> 1 bulan) atau visceral
h. Leukoensefalopati multifocal progresif
i. Mikosis endemic diseminata
j. Kandidiasis esofagus, trakea, atau bronkus
k. Mikobakteriosis atripik, diseminata atau paru
l. Septicemia Salmonella non-tifoid yang bersifat rekuren
m. Tuberculosis ekstrapulmonal
n. Limfoma atau tumor padat terkait HIV: Sarkoma Kaposi, ensefalopati HIV,
kriptokokosis ekstrapulmoner termasuk meningitis, isosporiasis kronik,
karsinoma serviks invasive, leismaniasis atipik diseminata
o. Nefropati terkait HIV simtomatis atau kardiomiopati terkait HIV simtomatis
(Marcelena dan Rengganis, 2014).

2.1.3.5 Komplikasi
1) Oral lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
2) Neurologik
a. Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human
Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi sosial.
b. Ensefalophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis atau ensefalitis. Dengan efek: sakit
kepala, malaise, demam, paralise total/parsial.
c. Infark serebral kornea sifilis menin govaskuler, hipotensi sistemik, dan
maranik endokarditis.
d. Neuropati karena inflamasi diemilinasi oleh serangan HIV.
3) Gastrointertinal
a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,
dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia,
demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik, demam
atritis.
c. Penyakit anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri
rectal, gatal-gatal dan diare.
4) Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus dan strongyloides dengan efek sesak nafas pendek, batuk, nyeri,
hipoksia, keletihan, gagal nafas.

5) Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus: virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekubitus dengan efek nyeri, gatal,
rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis.
6) Sensorik
a. Pandangan: sarcoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
b. Pendengaran: otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan Pendengaran
dengan efek nyeri (Susanto & Made Ari, 2013).
2.1.3.6 Cara Penularan

HIV ditularkan dari orang ke orang melalui pertukaran cairan tubuh seperti
darah, semen, cairan vagina, dan ASI. Terinfeksi tidaknya seseorang tergantung pada
status imunitas, gizi, kesehatan umum dan usia serta jenis kelamin merupakan faktor
risiko. Seseorang akan berisiko tinggi terinfeksi HIV bila bertukar darah dengan orang
yang terinfeksi, pemakaian jarum suntik yang bergantian terutama pada pengguna
narkoba, hubungan seksual (Corwin, 2009).

Penyakit ini menular melalui berbagai cara, antara lain melalui cairan tubuh seperti
darah, cairan genitalia, dan ASI. Virus juga terdapat dalam saliva, air mata, dan urin
(sangat rendah). HIV tidak dilaporkan terdapat didalam air mata dan keringat. Pria yang
sudah disunat memiliki risiko HIV yang lebih kecil dibandingkan dengan pria yang
tidak disunat. Selain melalui cairan tubuh, HIV juga ditularkan melalui:
1) Ibu hamil
a. Secara intrauterine, intrapartum, dan postpartum (ASI)
b. Angka transmisi mencapai 20-50%
c. Angka transmisi melalui ASI dilaporkan lebih dari sepertiga
d. Laporan lain menyatakan risiko penularan malalui ASI adalah 11-29%
e. Sebuah studi meta-analisis prospektif yang melibatkan penelitian pada dua
kelompok ibu, yaitu kelompok ibu yang menyusui sejak awal kelahiran bayi
dan kelompok ibu yang menyusui setelah beberapa waktu usia bayinya,
melaporkan bahwa angka penularan HIV pada bayi yang belum disusui
adalah 14% (yang diperoleh dari penularan melalui mekanisme kehamilan
dan persalinan), dan angka penularan HIV meningkat menjadi 29% setelah
bayinya disusui. Bayi normal dengan ibu HIV bisa memperoleh antibodi HIV
dari ibunya selama 6-15 bulan.
2) Jarum Suntik
a. Prevalensi 5-10%
b. Penularan HIV pada anak dan remaja biasanya melalui jarum suntik karena
penyalahgunaan obat
c. Di antara tahanan (tersangka atau terdakwa tindak pidana) dewasa, pengguna
obat suntik di Jakarta sebanyak 40% terinfeksi HIV, di Bogor 25% dan di
Bali 53%.
3) Transfusi darah
a. Risiko penularan sebesar 90%
b. Prevalensi 3-5%
4) Hubungan seksual
a. Prevalensi 70-80%
b. Kemungkinan tertular adalah 1 dalam 200 kali hubungan intim
c. Model penularan ini adalah yang tersering didunia. Akhir-akhir ini dengan
semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan kondom,
maka penularan melalui jalur ini cenderung menurun dan digantikan oleh
penularan melalui jalur penasun (pengguna narkoba suntik) (Widoyono,
2011).
2.1.3.7 Pencegahan HIV/AIDS Pada Ibu Ke Anak

Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dilakukan secara


komprehensif dan efektif di fasilitas pelayanan kesehatan dengan program Pencegahan
Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) (Sholehah Ramadhana, 2016). Pelayanan
PPIA dapat dilakukan di berbagai sarana kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas) dengan
proporsi pelayanan yang sesuai dengan ketersedian sarana dan tenaga/staf yang
mengerti dan mampu dalam menjalankan program ini (Sholehah Ramadhana, 2016).

2.1.3.8 Kelompok Resiko

Menurut UNAIDS (2017), kelompok risiko tertular HIV/AIDS sebagai berikut:

1) Pengguna napza suntik: menggunakan jarum secara bergantian


2) Pekerja seks dan pelanggan mereka: keterbatasan pendidikan dan peluang
3) untuk kehidupan yang layak memaksa mereka menjadi pekerja seks
4) Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki
5) Narapidana
6) Pelaut dan pekerja di sektor transportasi
7) Pekerja boro (migrant worker): melakukan hubungan seksual berisiko
8) seperti kekerasan seksual, hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HIV
tanpa pelindung, mendatangi lokalisasi/komplek PSK dan membeli seks
(Ernawati, 2016).
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita.
Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah:

1) Lelaki homoseksual atau biseks


2) Bayi dari ibu/bapak terinfeksi
3) Orang yang ketagihan obat intravena
4) Partner seks dari penderita AIDS
5) Penerima darah atau produk (transfusi) (Susanto & Made Ari, 2013).

2.1.4 Konsep Dasar Ibu Hamil

2.1.4.1 Pengertian

Kehamilan adalah sebuah proses yang dimulai dari tahap konsepsi sampai
lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal adalah 280 hari (40 minggu) dihitung dari
hari pertama haid terakhir (Widatiningsih & Dewi, 2017).
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum
dan di lanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Kehamilan normal akan berlangsung
dalam waktu 40 minggu bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi (Walyani,
2015).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kehamilan adalah suatu proses
yang diawali dengan penyatuan spermatozoa dan ovum (fertilisasi) dan dilanjutkan
dengan implantasi hingga lahirnya bayi yang lamanya berkisar 40 minggu.
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Metode penelitian


Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review.
Literature review adalah analisis terintegrasi (bukan hanya ringkasan) tulisan ilmiah
yang terkait langsung dengan pertanyaan penelitian. Artinya, literatur menunjukkan
korespondensi antara tulisan-tulisan dan pertanyaan penelitian yang dirumuskan
(Nursalam, dkk, 2020). Literature review dapat berupa karya yang berdiri sendiri atau
pengantar untuk makalah penelitian yang lebih besar, tergantung pada jenis
kebutuhannya. Literature review penting karena dapat menjelaskan latar belakang
penelitian tentang suatu topik, menunjukkan mengapa suatu topik penting untuk diteliti,
menemukan. hubungan antara studi/ide penelitian, mengidentifikasi tema, konsep, dan
peneliti utama pada suatu topik, identifikasi kesenjangan utama dan membahas
pertanyaan penelitian lebih lanjut berdasarkan studi sebelumnya (Nursalam, dkk, 2020).
Tujuan akhir literature review adalah untuk mendapatkan gambaran yang berkenaan
dengan apa yang sudah pernah dikerjakan orang lain sebelumnya. Penelusuran pustaka
berguna untuk menghindari duplikasi dari pelaksanaan penelitian dan untuk mengetahui
penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya (Suryanarayana and Mistry, 2016; Alahi
and Mukhopadhyay, 2019). Suatu literatur review yang baik haruslah bersifat relevan,
mutakhir (tiga tahun terakhir), dan memadai (Denney and Tewksbury, 2013).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode penelitian


literature review adalah analisis terintegrasi yang bertujuan untuk mendapatkan
gambaran yang berkenaan dengan apa yang sudah pernah dikerjakan orang lain
sebelumnya dengan literatur bersifat relevan, mutakhir (tiga tahun terakhir), dan
memadai. Pada penelitian ini literature review yang dilakukan terkait Gambaran Tingkat
Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Tentang HIV/AIDS.

3.2 Kriteria Kelayakan

Strategi yang digunakan untuk mencari literatur dalam penelitian ini adalah
menggunakan PICOS Framework dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria
inklusi dan ekslusi dalam penelitian ini sebagai berikut

Tabel 3.1 Kriteria Inklusi dan Ekslusi dengan PICOS FrameworkGambaran Tingkat
Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan HIV/AIDS Tahun 2021
Kriteria Inklusi Eksklusi

Population/Problem Ibu Hamil Suami, Keluarga

Intervensi Tidak ada Intervensi Melakukan Intervensi

Comparison Tidak ada pembanding Terdapat variable


pembanding
Outcome Studi yang Jurnal/artikel yang tidak
mencamtukan dan mencantumkan dan
menjelaskan hasil data menjelaskan hasil data
gambaran tingkat tingkat pengetahuan ibu
pengetahuan ibu hamil hamil tentang pemeriksaan
pemeriksaan tentang HIV/AIDS
HIV/AIDS

Study Design Deskriptif Eksperimental,


Korelasional, Observasional
Publication Years Artikel/jurnal yang Artikel/jurnal yang
diterbitkan setelah diterbitkan sebelum tahun
tahun 2018 2018

Language Bahasa Indonesia Selain Bahasa Indonesia

3.3 Sumber Literatur

Data sebagai sumber literatur yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti
terdahulu. Adapun sumber data sekunder yang didapat berupa artikel jurnal nasional.
Dalam pencarian sumber literatur data sekunder peneliti menggunakan database
Google Scholar dengan menggunakan Keyword “Pengetahuan” AND “Ibu Hamil”
AND “HIV/AIDS”.

Sumber data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini dari Scholarly Journal
dengan alamat Url sebagai berikut:

1. http://jurnal.poltekeskupang.ac.id/index.php/jkp/article/download/350/225
2. https://www.ejournal.poltekkes-denpasar.ac.id/index.php/JIK/article/view/1053
3. http://journal.fdi.or.id/index.php/jatiemas/article/view/306
4. https://ejurnal.umri.ac.id/index.php/photon/article/view/869

Adapun uraian jurnal dapat dilihat pada tabel dibawah ini yaitu sebagai berikut :

No Judul Jurnal Penelitian Peneliti Tahun

1. Kelas Ibu Hamil Mempengaruhi Pengetahuan dan Lusi Sulfiana 2019


Sikap ibu hamil Terhadap PITC HIV/AIDS

2. Hubungan antara sumber Informasi tentang Ni LuhPutu Sri 2018


HIV/AIDS Dengan pemeriksaan Pencegahan Erawati
Penularan HIV dariIbu ke anak (PPIA) Di
Puskesmas IIDenpasar

3. Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Gina Muthia 2020


Skrinning HIV/AIDS

4. Pemanfaatan Pelayanan VoluntaryCounseling and Program Studi 2019


testing (VCT) Pada Ibu hamil di wilayah Kerja MagisterIlmu
puskesmas langsat pekanbaru KesehatanMasyarakat

3.4 Tahapan Pengumpulan Data

Menurut Nursalam, dkk (2020) tahapan proses pengumpulan data dalam


penelitian literatur ini meliputi beberapa tahap sebagai berikut:
1) Proses Penyusunan Proposal
Dalam memulai penelitian ini peneliti terlebih dahulu menyusun latar belakang
dan menentukan tujuan yang sesuai dengan topik penelitian yaitu mengetahui
tingkat pengetahuan ibu Hamil tentang Pemeriksaan HIV/AIDS. Pada bab 2
penulis melakukan tinjauan pustaka untuk mencari referensi variabel yang akan
diteliti. Pada bab 3 penulis menuliskan tentang metode penelitian untuk
penyusunan proposal yang kemudian akan dilanjutkan untuk penyusunan KTI.
2) Menentukan Pertanyaaan Penelitian
Peneliti menentukan pertanyaan dalam penelitian ini yaitu bagaimana gambaran
tingkat pengetahuan ibu rumah tangga tentang HIV/AIDS.
3) Mencari Literatur
Pencarian literatur dalam penelitian ini menggunakan database yaitu Google
Scholar dengan menggunakan kata kunci pencarian “Pengetahuan” AND “Ibu
Hamil” AND “HIV/AIDS”.
4) Seleksi Literatur Sesuai Kriteria
Untuk mendapatkan literatur yang layak sesuai dengan topik, peneliti
menentukan kriteria kelayakan artikel dengan strategi seleksi artikel
menggunakan PICOS yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
5) Seleksi Literatur yang Berkualitas
Setelah artikel penelitian ditemukan dan sesuai dengan kriteria inklusi, maka
selanjutnya peneliti melakukan seleksi studi dengan membaca lengkap
keseluruhan isi artikel mulai dari judul, abstrak, latar belakang, metode, hasil,
pembahasan dan daftar pustaka, apabila ditemukan artikel yang tidak lengkap
akan dieliminasi/dibuang.
6) Melakukan Ekstraksi Data
Setelah mendapatkan artikel yang sesuai memalui seleksi literatur, langkah
selanjutnya peneliti akan membaca dan menganalisa artikel satu persatu dan
melakukan ekstraksi (mengambil data hasil penelitian dari setiap artikel) data
sesuai dengan tujuan dan pertanyaan penelitian.
7) Melakukan Sintesis Data
Setelah dilakukan ekstraksi data dan telah ditemukan data-data hasil penelitian
tentang gambaran tingkat pengetahuan Ibu Hamil tentang Pemeriksaan
HIV/AIDS, kemudian peneliti melakukan pembahasan tentang hasil penelitian
yang didapatkan serta melakukan sintesis atau menuangkan ide, gagasan berupa
data-data informasi baru yang sebelumnya belum pernah ditulis oleh orang lain
dalam bentuk naratif.

3.5 Metode Analisis


Metode analisis literatur dalam penelitian ini menggunakan metode analisis
deskriptif yaitu menyajikan data dan menjabarkan secara naratif hasil-hasil penelitian
yang didapatkan dari artikel ilmiah yang dijadikan sebagai sumber literatur (Nursalam,
dkk, 2020).
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Denney, A. S. and Tewksbury, R. 2013. How to Write a Literature Review. Journal of


Criminal Justice Education. doi: 10.1080/10511253.2012.730617.

Dinkes Kota Palangka Raya. 2019. Profil Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2019.
Palangka Raya: Dinkes Kota Palangka Raya.

Dinkes Provinsi Kalimantan Tengah. 2019. Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan


Tengah Tahun 2019. Palangka Raya: Dinkes Provinsi Kalteng.
Ditjen P2P. 2019. Laporan Situasi Perkembangan HIV-AIDS di Indonesia. Jakarta:
Kemenkes RI.

Ditjen P2P. 2017. Laporan Perkembangan HIV/AIDS dan PMS. Jakarta: Kemenkes RI.

Hasdianah & Dewi. 2014. Imunologi Diagnosis dan Tehnik Biologi Molekuler.
Yogyakarta: Nuha Medika.

Hasdianah dan Dewi, P. 2014. Virologi Mengenal Virus Penyakit dan Pencegahannya.


Yogyakarta : Nuha Medika.

Sholehah Ramadhana. 2016. Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pencegahan Penularan


HIV dari Ibu Ke anak. Jurnal Kesehatan”Samodra Ilmu” Vol 07, Nomor 02,
juli 2016.

WHO. 2017. Global Summary of the AIDS Academic.

WHO.2017. HIV to be Continue a Major Global Public Health Issue. 22 Desember


2017

Kemenkes RI, 2020. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.

Kemenkes RI, 2012. Pedoman Nasional Pencegahan HIV dari Ibu ke Anak. Jakarta:
Kemenkes RI.

Khadijah, S. dan Palifiana, D.A. 2019. Upaya Peningkatan Pengetahuan Tentang


HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga di Dusun Sempon Cangkringan Sleman
Yogyakarta. Jurnal Pengabdian “ Dharma Bakti “ Vol.2, No.1, Februari 2019.

Ditjen PP dan PL.2017. Kasus yang ditularkan HIV/AIDS dan Pelayanan PPIA.
Jakarta: Kemenkes RI

Kemenkes RI, 2017. Jumlah Kasus HIV/AIDS Ibu Hamil. Jakarta: Kemenkes RI
.
Lusi Sulfiana Siswarni, 2109. Kelas Ibu Hamil Mempengaruhi Pengetahuan dan Sikap
Ibu Hamil terhadap PITC HIV/AIDS. Jurnal Kesehatan Primer, Volume 4
Nomor 2, November 2019

Marcelena R, Rengganis I. 2014. Kapita Selekta Kedokteran : Infeksi HIV/AIDS. Jilid


2. Edisi 4. Jakarta: Media Aesculapius.

Menteri Kesehatan. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74


Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Konseling Dan Tes HIV. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.

Ni Luh Putu Sri Erawati. 2018. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).
Jurnal Ilmiah Kebidanan” The Journal Of Midwifery”. Vol 6. No. 1 Tahun
2018.
Notoatmodjo, S. 2014. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi revisi.
Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. 2014. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Nurarif, A.H & Hardhi, K. 2015. Asuhan Keperawatan. Berdasarkan Diagnosa Medis
& NANDA. Yogyakarta : Mediaction Publishing. 

Nurhasim, S. 2015. Pengetahuan Perawat Tentang Respon Time Dalam Penanganan


Gawat Darurat Di Ruang Triage RSUD Karang Anyar. Program Studi S1
Keperwatan : STIKes Kusuma Husada Surakarta.

Nursalam, dkk, 2020. Pedoman Penyusunan Literature dan Systematic Review.


Surabaya: Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.

Soedarto. 2009. Penyakit Menular Seksual di Indonesia. Jakarta: CV Sagung Seto..


Susanto, C.R & Made Ari M. 2013. Penyakit Kulit dan Kelamin. Yogyakarta : Nuha
Medika.

UNAIDS. 2017. HIV Epidemic and Response Estimates, Global and by Region, 2010
and 2015. New York: UNAIDS.

UNAIDS. 2018. Global AIDS Update 2018. Geneva: Joint United Nations Progamme
on HIV/ AIDS.

Wawan, A & M. Dewi. 2010. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan.
Pemberantasaanya. Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga.
Lampiran 1
Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Skrinning HIV/AIDS Melalui
Audiovisual di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas

Gina Muthia1, Eka Putri Primasari2, Putri Nelly Syofiah1


1
Prodi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi, STIKes
MERCUBAKTIJAYA Padang, Jl. Jamal Jamil Pondok Kopi Siteba Padang

2
Prodi DIII Kebidanan, STIKes MERCUBAKTIJAYA
Padang, Jl. Jamal Jamil Pondok Kopi Siteba Padang

E-mail: ginamuthia@mercubaktijaya.ac.id

Abstrak —Selain mencegah terjadinya masalah pada ibu hamil dan bayinya, tujuan kualitas pelayanan
antenatal adalah untuk mendeteksi dini munculnya masalah tersebut dan menghindari dampak negatifnya
terhadap kesehatan. Hal ini termasuk infeksi HIV. Prevalensi HIV pada ibu hamil diproyeksikan meningkat
dari 0,38% (2012) menjadi 0,49% (2016). Data ibu hamil terinfeksi HIV di Puskesmas Andalas tahun 2017
berada pada kisaran 1.600. Diketahui data pelaksanaan VCT di Puskesmas Andalas, tahun 2017 (Januari –
Jun 2017) tercatat baru 250 pasien VCT, yang terdiri dari 224 orang ibu hamil dan 26 orang yang bukan ibu
hamil, artinya di wilayah kerja Puskesmas Andalas hanya 14% ibu hamil yang berpartisipasi untuk melakukan
pemeriksaan HIV (VCT). Oleh karena itu diperlukan adanya kegiatan pengabdian masyarakat untuk
meningkatkan pengetahuan tentang skrining HIV/AIDS pada ibu-ibu hamil. Hasil kegiatan berupa
penyuluhan kepada 6 orang ibu hamil dari 10 orang sasaran yang ada di Pustu Sarang Gagak Kelurahan
Andalas Padang. Luaran berupa publikasi artikel di jurnal pengabdian masyarakat yang ber E-ISSN dan
terakreditasi nasional, sosial media dan peningkatan pengetahuan tentang skrinning HIV/AIDS dari ibu
hamil.

Kata Kunci — Skrinning HIV/AIDS, Ibu Hamil, VCT

Abstract — In addition to preventing problems for pregnant women and their babies, the aim of quality
antenatal care is to detect the emergence of these problems early and avoid negative impacts on health. This
includes HIV infection. HIV prevalence in pregnant women is projected to increase from 0.38% (2012) to 0.49%
(2016). Data for pregnant women infected with HIV at Puskesmas Andalas in 2017 was in the range of 1,600.
It is known that data on the implementation of VCT at Puskesmas Andalas, in 2017 (January - Jun 2017) there
were only 250 VCT patients, consisting of 224 pregnant women and 26 non-pregnant women, meaning that in
the working area of the Andalas Puskesmas only 14% of pregnant womeparticipated to do an HIV test (VCT).
Therefore, it is necessary to have community service activities to increase knowledge about HIV / AIDS
screening in pregnant women. The results of the activity were counseling to 6 pregnant women from 10
target people in the Pustu Sarang Gagak Andalas Village, Padang. The output is in the form of publication of
articles in public service journals that are E-ISSN and nationally accredited, social media and increasing
knowledge about HIV / AIDS screening of pregnant women.

Keywords — HIV / AIDS screening, Pregnant Women, VCT


1. PENDAHULUAN
Pelayanan kesehatan berkualitas yang diberikan kepada ibu mulai dari hamil,
melahirkan, dan nifas adalah indikator optimal kesehatan masyarakat. Ini menjamin
terjadinya kelahiran bayi secara selamat. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah
retrovirus yang menyerang komponen-komponen utama sistem kekebalan, terutama T-sel
CD4 positif dan makrofag. Akibatnya adalah sistem kekebalan tubuh yang terus menerus
melemah [1]. Infeksi HIV dan Aquired Immunity Deficiency Syndrome (AIDS) adalah salah satu
faktor yang dapat menghalangi kesehatan ibu dan bayi [2]. Bayi yang baru dilahirkan bisa
terinfeksi virus HIV yang ditularkan dari ibu saat masih dalam kandungan melalui plasenta.
Hal ini tidak banyak diketahui ibu hamil. Informasi tentang pemeriksaan HIV/AIDS bagi ibu
hamil tidak banyak tersampaikan. Skrining HIV juga bisa ditolak dilakukan ibu hamil saat
kunjungan pertama (K1) di Puskesmas. [3]. Lebih dari 90% bayi tertular dari ibu yang
menderita HIV selama rentang kehamilan hingga menyusui [4]. Infeksi HIV pada neonatal
terjadi akibat penularan dari ibu kepada janin selama dalam kandungan atau saat periode
intrapartum atau periode postpartum. [1].
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa sebaran
kasus HIV/AIDS ada di 368 dari 497 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sejumlah 26.527
(90%) penduduk usia reproduksi (15-49 tahun) dimana 12.279 diantaranya adalah
perempuan, merupakan kasus baru di tahun 2013. Dari 12.279 tersebut terdapat 429 (15%)
berada pada kelompok ibu rumah tangga dan apabila ibu tersebut hamil maka akan
berpotensi menularkan HIV kepada bayi yang dilahirkannya. [4].
Jumlah penderita HIV dan AIDS di Sumatera Barat pada tahun 2016 adalah 1.192 dan
1.515. [5]. Jumlah kasus HIV di Kota Padang tahun 2016 adalah 300 kasus dengan rincian 227
lelaki dan 73 wanita. Di tahun yang sama jumlah ibu hamil di Kota Padang adalah 18.511
orang ibu hamil dimana 875 orang (4,72%) telah melakukan tes HIV secara sukarela dan
didapatkan 9 orang (1,02%) positif HIV. Jumlah ibu hamil di Puskesmas Andalas pada tahun
2017 adalah berkisar 1600 orang dimana yang telah melakukan pemeriksaan VCT adalah 224
orang pada bulan Januari-Juni 2017 artinya dari keseluruhan jumlah ibu hamil yang ada
hanya 14% yang melakukan pemeriksaan HIV (VCT). [6]. Salah seorang petugas kesehatan di
Puskesmas Andalas mengatakan bahwa yang tidak melakukan pemeriksaan HIV tersebut
dikarenakan tidak tahu pentingnya deteksi dini HIV dan merasa baik-baik saja karena suami
mereka tidak pernah gonta ganti pasangan. Berdasarkan fenomena tersebut maka perlu
meningkatkan pemahaman ibu hamil tentang pentingnya deteksi dini HIV yang dilakukan
melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

2. SOLUSI PERMASALAHAN
Solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan masalah adalah meningkatkan
pengetahuan ibu hamil tentang skrinning HIV/AIDS melalui teknik audio visual.

3. METODE PELAKSANAAN
Pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini dimulai dengan koordinasi pihak Pustu
dan bidan pembina wilayah. Tahapan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut :
a. Melakukan observasi dan pengambilan data awal mengenai target sasaran dan tempat kegiatan
tempat pelaksanaan kegiatan
b. Melakukan koordinasi dengan Puskesmas setempat, bidan desa dan kader untuk membantu
lokalisasi keberadaan ibu hamil yang menjadi sasaran kegiatan yaitu di Pustu Sarang Gagak.
c. Pengabdi menyampaikan materi pentingnya Skrining HIV/AIDS bagi kesehatan ibu hamil dan bayi
d. Pengabdi melakukan posttest kepada sasaran ibu hamil terkait dengan materi yang sudah
disampaikan
e. Tim pengusul melibatkan peran serta mahasiswa dalam membantu kelancaran program
yang akan dilaksanakan serta dapat menambah wawasan mahasiswa untuk menerapkan
ilmunya secara langsung di lapangan.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Target pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan
pengetahuan tentang pentingnya skrinning dalam upaya pencegahan penularan
HIV/AIDS pada ibu hamil. Nantinya diharapkan semua ibu hamil di Pustu Sarang Gagak
mau melakukan pemeriksaan HIV/AIDS di puskesmas saat kunjungan pertama (K1).
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan kepada ibu
hamil yang diawali dengan pre test, pemberian materi tentang Gambaran
Perkembangan Kasus HIV/AIDS di Indonesia oleh Eka Putri Primasari, SKM, M.Kes,
materi tentang Pentingnya Pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil oleh Gina Muthia,
S.SiT.,M. Keb, materi tentang Apa itu HIV, penyebabnya, bagaimana cara penularan dan
pencegahannya oleh Putri Nelly Syofiah, S.SiT., M.Keb dan diakhiri dengan memberikan
post test kepada ibu hamil tentang materi yang sudah diberikan

Gambar 1. Pre test

Gambar 2. Pemberian materi tentang Gambaran Perkembangan Kasus HIV/AIDS di Indonesia oleh Eka Putri Primasari,
SKM, M.Kes
f. Pengabdi melakukan posttest kepada sasaran ibu hamil terkait dengan materi yang sudah
disampaikan
g. Tim pengusul melibatkan peran serta mahasiswa dalam membantu kelancaran program
yang akan dilaksanakan serta dapat menambah wawasan mahasiswa untuk menerapkan
ilmunya secara langsung di lapangan.

5. HASIL DAN PEMBAHASAN


Target pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan
pengetahuan tentang pentingnya skrinning dalam upaya pencegahan penularan
HIV/AIDS pada ibu hamil. Nantinya diharapkan semua ibu hamil di Pustu Sarang Gagak
mau melakukan pemeriksaan HIV/AIDS di puskesmas saat kunjungan pertama (K1).
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan kepada ibu
hamil yang diawali dengan pre test, pemberian materi tentang Gambaran
Perkembangan Kasus HIV/AIDS di Indonesia oleh Eka Putri Primasari, SKM, M.Kes,
materi tentang Pentingnya Pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil oleh Gina Muthia,
S.SiT.,M. Keb, materi tentang Apa itu HIV, penyebabnya, bagaimana cara penularan dan
pencegahannya oleh Putri Nelly Syofiah, S.SiT., M.Keb dan diakhiri dengan memberikan
post test kepada ibu hamil tentang materi yang sudah diberikan

Gambar 1. Pre test

Gambar 2. Pemberian materi tentang Gambaran Perkembangan Kasus HIV/AIDS di Indonesia oleh Eka Putri Primasari,
SKM, M.Kes
Gambar 3. Pemberian materi tentang Penting Pencegahan HIV/AIDS pada ibu Hamil oleh Gina Muthia, S.SiT., M.Keb

Gambar 4. Pemberian materi tentang Apa itu HIV, penyebabnya, bagaimana cara penularan dan pencegahannya oleh Putri
Nelly Syofiah, S.SiT., M.Keb

Gambar 5. Evaluasi kegiatan (post test)

Evaluasi dari kegiatan ini adalah tim pengabdi memberikan post test kepada ibu hamil tentang
materi yang sudah diberikan dengan hasil sebagai berikut :

Tabel 1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV sebelum dan sesudah pemberian materi

Pertanyaan Sebelum Setelah 6.


Org % Org % 6.
2 33,3 6 100 6.
Pengertian HIV 6.
Penyebab
3 0,5 5 83,3 6.
3 0,3 5 83,3 6.
Cara Penularan
6.
Pencegahannya
2 33,3 5 83,3 6.
6.
KESIMPULAN
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat terlaksana pada tanggal 15 November
2019 di Pustu Sarang Gagak, Wilayah Kerja Puskesmas Andalas dan berjalan dengan
lancar. Kegiatan penyuluhan ini meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang
pentingnya skrinning HIV/AIDS saat kunjungan pertama kehamilan.

UCAPAN TERIMAKASIH
Terima kasih disampaikan kepada Yayasan MERCUBAKTIJAYA, melalui LP2M STIKes
MERCUBAKTIJAYA Padang yang telah mendanai kegiatan pengabdian masyarakat ini.
Terima kasih juga disampaikan kepada Puskesmas Andalas khususnya ibu hamil di Pustu
Sarang Gagak yang telah membantu terlaksananya kegiatan pengabdian masyarakat ini
dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

1. Heffner, Schust, 2020. Penyuluhan dan Pemeriksaan HIV pada Ibu Hamil sebagai Upaya
Deteksi Dini Penularan dari Ibu Hamil ke Bayi di BPM R Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan,
dalam Tiara Carolin, Bunga. Novelia, Sinta. (2010). BERNAS : Jurnal Pengabdian kepada
Masyarakat Vol 1 No. 2

2. Departemen Keehatan RI, 2018. Hubungan Antara Sumber Informasi Tentang HIV/AIDS
Dengan Pemeriksaan Pencegahan Penularan HIV Dari Ibu Ke Anak (PPIA) Di Puskesmas II
Denpasar Selatan, dalam Sri Erawati, Ni Luh. Somoyani, Ni Ketut. Suindri, Ni Nyoman. (2007).
Jurnal Ilmiah Kebidanan : The Journal of Midwifery Vol 6 No. 1

3. Cahyoningsih, Hermi. (2014). Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Hamil Tentang HIV/AIDS
dan Tes HIV/AIDS Secara Sukarela Dengan Sikap Tes HIV/AIDS Secara Sukarela Di Puskesmas
Gedong Tengen Yogyakarta. http
: //lib.unisayogya.ac.id

4. Kementrian Kesehatan RI,. (2012). Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak.
Jakarta: Kementrian Kesehatan Repulblik Indonesia.
5. Info DATIN. (2016). Situasi dan Analisis HIV AIDS. Jakarta: Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan RI

6. DKK Padang. (2016). Laporan Bulanan Konseling, dan Tes HIV Sukarela (KTS/VCT). Padang:
Dinas Kesehatan Kota Padang.
Jurnal lampiran 2
Jurnal Kesehatan Primer
Vol 4, No 2 November 2019, pp. 124-129
P-ISSN 2549-4880, E-ISSN 2614-1310
Journal DOI: https://doi.org/10.31965/jkp
Website: http://jurnal.poltekeskupang.ac.id/index.php/jkp

The Class of Pregnant Women Influences the Knowledge and Attitudes of


Pregnant Women Toward PITC HIV/AIDS

Kelas Ibu Hamil Mempengaruhi Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil terhadap PITC
HIV/AIDS

Lusi Sulfiana Siswarini1, Kholisotin1, Yuana Dwi Agustin2

1
Universitas Nurul Jadid Paiton-Probolinggo
2
Universitas Bondowoso

Email: lusijasmine77@gmail.com

ARTICLE INFO

Article History:
Received date: September 25th, 2019
Revised date: October 19th, 2019 Accepted
date: November 20th, 2019

Keywords:
Class Of Pregnant Women Knowledge
Attitude
PITC HIV / AIDS

ARTICLE INFO

Article History:
Received date: September 25th, 2019 Revised date: October 19th, 2019 Accepted date:
November 20th, 2019
Keywords:
Class Of Pregnant Women Knowledge
Attitude
PITC HIV / AIDS
ABSTARCT/ABSTRAK

Background: HIV is currently one of the threats of the virus in pregnant women. Mothers can
transmit the virus to their children during pregnancy, childbirth or while breastfeeding.
Prevention can be done by requiring pregnant women to take an HIV test during pregnancy.
This activity is very important in an effort to increase public awareness about HIV and AIDS in
order to prevent the spread of HIV infection. The purpose of this study was to determine the
effect of the implementation of the class of pregnant women on the knowledge and attitudes
of pregnant women in the PITC HIV / AIDS examination at Tenggarang Health Center,
Bondowoso Regency. Method: This study uses a pre-experimental design, and data analysis
uses the Wilcoxon test. The respondents of this study consisted of 86 pregnant women who
were collected by total sampling technique. Result: The results showed that before and after
the classes of pregnant women there was an increase in knowledge of the good categories by
24 respondents (27.9%) to 63 respondents (73.3%). The attitude with a positive category was
37 respondents (43.0%) to 71 respondents (82.6%). Conclusion: So it can be concluded that
there is a significant influence before and after the implementation of the class of pregnant
women on the knowledge and attitudes of pregnant women in the PITC HIV / AIDS
examination.

Kata Kunci: Kelas ibu hamil Pengetahuan Sikap


PITC HIV/AIDS

Latar Belakang: HIV saat ini merupakan salah satu ancaman virus pada ibu hamil. Ibu dapat
menularkan virus kepada anaknya pada saat hamil, proses melahirkan atau pada saat
menyusui. Pencegahan dapat dilakukan dengan mewajibkan ibu hamil untuk melakukan tes
HIV pada masa kehamilan. Kegiatan ini sangat penting dilakukan dalam upaya meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang HIV dan AIDS demi mencegah meluasnya penularan infeksi HIV.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap
pengetahuan dan sikap ibu hamil dalam pemeriksaan PITC HIV/AIDS di Puskesmas Tenggarang
Kabupaten Bondowoso. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental, dan
analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Responden penelitian ini terdiri dari 86 ibu hamil yang
dikumpulkan dengan teknik total sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebelum dan
sesudah dilaksanakan kelas ibu hamil terdapat peningkatan pengetahuan kategori baik
berjumlah 24 responden (27,9%) menjadi berjumlah 63 responden (73,3%). Sikap dengan
kategori positif berjumlah 37 responden (43,0%) menjadi berjumlah 71 responden (82,6%).
Kesimpulan: Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan sebelumnya dan
sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil dalam
pemeriksaan PITC HIV/AIDS

PENDAHULUAN
Infeksi virus HIV pada anak saat ini menjadi masalah kesehatan yang sangat besar di
dunia, dan berkembang dengan cepat serta sangat berbahaya (Setiawan, 2011).
Dampaknya adalah bayi tumbuh lebih sering mengalami penyakit infeksi dan sering
mengalami gangguan tumbuh kembang bahkan sampai menyebabkan kematian (Kemenkes
RI, 2011). Pada ibu hamil, HIV bukan hanya ancaman bagi keselamatan jiwa ibu, tetapi juga
merupakan ancaman bagi anak yang dikandungnya karena penularan yang terjadi dari ibu
ke bayinya, lebih dari 90% kasus anak HIV mendapatkan infeksi dengan cara penularan dari
ibu ke anak (Mother To Child Transmission/MTCT) (Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
2017).
Menurut WHO tahun 2017, angka prevalensi dan penularan HIV dari ibu ke bayi
masih terbatas, namun jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV cenderung meningkat.
Prevalensi HIV pada ibu hamil di Indonesia diproyeksikan meningkat dari 0,38% pada tahun
2012 menjadi 0,49% pada tahun 2017. Jumlah ibu hamil dengan HIV positif yang
membutuhkan layanan (WHO, 2017).
Jawa Timur menempati urutan kedua tertinggi setelah DKI Jakarta sebagai provinsi
yang melaporkan kasus HIV tahun 2016 yaitu sebanyak 26.052 kasus hingga Maret 2017
menjadi 33.043 kasus HIV. (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Kasus HIV/AIDS
di Kabupaten Bondowoso mengalami peningkatan. Hal ini berdasarkan data dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Bondowoso tahun 2017, pada tahun 2016 jumlah kasus HIV/AIDS
mencapai 51.396 kasus, tahun 2017 jumlah kasus HIV/-AIDS mencapai 57.580 kasus (Dinas
Kesehatan Bondowoso, 2017).
Provider Initiated HIV Testing and Counseling (PITC) adalah suatu tes HIV dan
Konseling atau tepatnya pemberian informasi selama 5-10 menit yang diinisiasi oleh
petugas kesehatan kepada pengunjung sarana layanan kesehatan sebagai standar
pelayanan medis (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Tujuan utamanya adalah
untuk membuat

keputusan klinis dan menentukan pelayanan medis khusus yang tidak mungkin
dilaksanakan tanpa mengetahui status HIV seseorang seperti misalnya terapi ART
(Antiretroviral) Konseling dan tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan (TIPK) atau PITC
serta Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS) merupakan bagian dari program
pencegahan HIV yang dilaksanakan di layanan kesehatan dasar salah satunya di
puskesmas. Layanan TIPK tersebut dilakukan di poliklinik KIA/KB dengan sasaran ibu
hamil (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2017).
Ibu rumah tangga cenderung merasa aman dari HIV/AIDS karena hanya
melakukan hubungan seksual dengan suami mereka, sedangkan sebenarnya mereka
tidak tahu bahwa kemungkinan suami mereka telah menderita HIV/AIDS. akibatnya,
wanita yang dianggap berisiko rendah justru berisiko tinggi setelah melakukan
hubungan seksual dengan suami (Anggaraeningsih, 2017).
Berdasarkan dari fenomena dimana banyak ibu hamil yang tidak melakukan test
PITC sehingga ibu hamil banyak yang tidak termotivasi untuk melakukan pemeriksaan
HIV/AIDS, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “kelas ibu hamil
mempengaruhi pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap PITC HIV/AIDS”. Tujuan dari
penelitian ini untuk (1) mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil dalam pemeriksaan
PITC sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil, (2) mengidentifikasi sikap ibu
hamil dalam pemeriksaan PITC sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil, (3)
menganalisa pengaruh sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap
pengetahuan dalam pemeriksaan PITC, (4) menganalisa pengaruh sebelum dan
sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap sikap dalam pemeriksaan PITC di
Puskesmas Tenggarang Kabupaten Bondowoso

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini pre-eksperimental tipe one-group
pretest-posttes dengan suatu study kasus tunggal yaitu penelitian yang hanya melihat hasil
perlakuan pada satu kelompok obyek tanpa ada kelompok pembanding ataupun kelompok
kontrol (Sugiyono, 2017). Pada penelitian ini.terdapat pretest sebelum diberikan perlakuan
kemudian setelah diberikan perlakuan diadakan post test

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Tenggarang Kecamatan Tenggarang


Kabupaten Bondowoso. Waktu penelitian yaitu bulan April - Mei 2019. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berada di Kecamatan Tenggarang Kabupaten
Bondowoso yang berjumlah 86 ibu.
Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling yaitu semua subjek yang
memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi direkrut (Hidayat, 2014). Kriteria inklusi
dalam penelitian ini adalah umur ibu hamil 20 – 35 tahun dengan Kehamilan primipara
dan multipara, sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah Ibu yang tidak
kooperatif dalam pelaksanaan penelitian ini dan ibu yang sudah melakukan test HIV/AIDS.
Variabel independen penelitian ini adalah Variabel independen penelitian ini adalah kelas
ibu hamil, variabel dependen adalah pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang PITC.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat, untuk
menganalisis variabel-variabel yang ada secara deskriptif dengan menggunakan tabel
distribusi frekuensi. Analisa bivariat untuk menguji perubahan pengetahuan dan sikap
sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil
Uji beda dilakukan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap sebelum
dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil dengan menggunakan paired t test apabila syarat
terpenuhi nilai p > 0,05. Apabila distribusi data tidak normal, maka digunakan uji alternatif
yaitu uji wilcoxon.
HASIL PENELITIAN

Pengetahuan responden tentang pemeriksaan PITC sebelum dan sesudah


dilaksanakan kelas ibu hamil diuraikan dalam tabel 1

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan PITC


Sebelum dan Sesudah dilaksanakan Kelas Ibu Hamil

kategori skor Sebelum sesudah


F % f %
Negative < 5,30 49 57,0 15 17,4
Positif  5,30 37 43,0 71 82,6
total 86 100 86 100
Berdasarkan tabel 1 diperoleh bahwa pengetahuan ibu hamil tentang
pemeriksaan PITC sebelum dilaksanakan kelas ibu hamil dengan kategori baik sebesar
27,9%. Sesudah dilaksanakan kelas ibu hamil didapatkan hasil dengan kategori baik
sebesar 73,3%.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan PITC Sebelum dan Sesudah
dilaksanakan Kelas Ibu Hamil

kategori skor sebelum sesudah


f % f %
Negative < 5,30 49 57,0 15 17,4
Positif  5,30 37 43,0 71 82,6
total 86 100 86 100

Berdasarkan tabel 2 diperoleh bahwa sikap ibu tentang pemeriksaan PITC


sebelum dilaksanakan kelas ibu hamil dengan kategori negatif berjumlah 49 responden
(57,0%). Sesudah dilaksanakan kelas ibu hamil didapatkan hasil sikap ibu tentang
pemeriksaan PITC dengan kategori negatif berjumlah 15 responden (17,4%).

Tabel 3. Uji Beda Pengetahuan Ibu Hamil Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil

Rata-rata

Variabel Pre Post P Keterangan

value

Pengetahuan 6,31 8,30 0,000 Ada


perbedaan
Berdasarkan tabel 3 menunjukkan, rata- rata pengetahuan sebelum dan sesudah
diberi perlakuan mengalami peningkatan yaitu dari 6,31 menjadi 8,30, dilihat dari uji
statistik p=0,000 (p<0,05) yaitu menunjukkan bahwa ada perbedaan pengetahuan sebelum
dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil.

Tabel 4. Rata-rata Sikap Ibu Hamil Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil

Rata-rata P
Variabe Keterangan
Pre Post Value
l
Ada
Sikap 5,30 7,58 0,000
perbedaan

Berdasarkan tabel 4 menunjukkan, rata- rata sikap sebelum dan sesudah diberi perlakuan
mengalami peningkatan yaitu dari 5,30 menjadi 7,58, dilihat dari uji statistik p=0,000 (p<0,05)
yaitu menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu
hamil

PEMBAHASAN

1. Pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil
Hasil analisis menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan terhadap pengetahuan
ibu hamil sesudah dilaksanakan kelas ibu hamil kategori baik sebesar 73,3% dan hasil
sebelum pelaksanaan sebesar 27,9%. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Septiaria (2017)
yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil tentang penyakit HIV/AIDS
mayoritas pada tingkat pengetahuan baik sebesar 26,4% .

Menurut peneliti kelas ibu hamil diperlukan untuk menambah pengetahuan mengenai
penyakit HIV/AIDS khususnya tentang pemeriksaan PITC, sehingga selain mampu
melaksanakan pencegahan penyakit HIV/AIDS dengan baik, Ibu juga memahami bahwa
pemeriksaan PITC merupakan salah satu tindakan untuk mengurangi penyakit
HIV/AID
2. Sikap ibu hamil sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil
Menurut Wawan (2010) sikap merupakan konsep paling penting dalam psikologi
sosial yang membahas unsur sikap baik sebagai individu maupun kelompok, serta
pilihan-pilihan yang ditentukan berdasarkan lingkungan dan pengaruhnya terhadap
perubahan. Hasil analisis sikap ibu hamil tentang pemeriksaan PITC sesudah
dilaksanakan kelas ibu hamil dengan kategori negatif sebesar 17,4% dan kategori
positif sebesar 82,6%. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan
terhadap sikap ibu hamil.
Masalah sikap sesuai dengan penelitian Fitria (2018) yang menyatakan bahwa
ada hubungan analisis tes HIV dengan sikap ibu hamil dalam pencegahan penyakit
HIV/AIDS. Diharapkan kepada masyarakat untuk lebih memahami pentingnya
pelaksanaan tes HIV/AIDS pada ibu hamil. Menurut peneliti pemberian informasi yang
kompeherensif dan tepat juga memiliki pengaruh terhadap pengetahuan yang pada
akhirnya akan mempengaruhi sikap

3. Pengaruh sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap pengetahuan
dalam pemeriksaan PITC
Hasil analisis rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberi perlakuan
mengalami peningkatan yaitu dari 6,31 menjadi 8,30, dilihat dari uji statistik p=0,000
(p<0,05) yang menunjukkan ada perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah
pelaksanaan kelas ibu hamil. Menurut Novian (2013) bahwa untuk pencegahan penularan
tidak hanya berfokus pada cairan darah saja namun juga dari hubungan seksual yaitu
dengan perilaku seksual yang aman dan tidak berganti-ganti pasangan. Selain itu
pencegahan melalui darah dengan memastikan darah yang dipakai untuk transfusi tidak
tercemar HIV, alat suntik dan alat lain yang dapat melukai kulit tidak digunakan secara
bergantian dan sebaiknya untuk membersihkan alat-alat seperti jarum, alat cukur dan alat
tindik dengan pemanasan atau desinfeksi.
Penelitian yang dilakukan peneliti sesuai dengan penelitian Sita (2017) dalam
penelitiannya juga menyimpulkan bahwa pengetahuan yang baik memiliki sikap positif
terhadap sikap responden tentang pemeriksaan screening HIV / AIDS disebabkan oleh
informasi yang diperoleh dari responden dimana dengan memperoleh informasi yang baik
maka semakin baik pengetahuan yang responden peroleh dari menerima atau mencari
informasi terkait tentang pemeriksaan screening yang ibu miliki mempengaruhi sikapnya
yang semakin positif (Sita,2017).
Penelitian yang dilakukan peneliti berbeda dengan penelitian Anggaraeningsih
(2017) yang menyatakan pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang HIV/AIDS dan VCT masih
sangat kurang mendukung terhadap pemeriksaan HIV/AIDS dan VCT sehingga masih
diperlukan peran tenaga kesehatan untuk lebih sering memberikan informasi kesehatan
yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Menurut peneliti, pengetahuan ibu hamil mendapat
penyuluhan mengenai pemeriksaan PITC agar ibu hamil mampu mencegah penyakit
HIV/AIDS. Dengan adanya penyuluhan yang dilakukan oleh peneliti ini diharapkan agar ibu
hamil yang telah mendapat informasi tentang pemeriksaan PITC mampu untuk
membagikan ilmu yang didapat kepada ibu hamil yang lainnya. Selain itu semakin baik
pengetahuan ibu hamil maka akan semakin meningkatkan perilaku pencegahan HIV/AIDS
dan semakin mereka tahu pentingnya melakukan pencegahan terhadap HIV AIDS maka
mereka akan mau mengikuti kegiatan pemeriksaan PITC.

4. Pengaruh sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap sikap dalam
Pemeriksaan PITC
Dari hasil uji statistik menunjukkan, rata- rata sikap sebelum dan sesudah dilakukan
kelas ibu hamil mengalami peningkatan yaitu dari 5,30% menjadi 7,58% dengan P=0,000
(P<0,05),menunjukkan ada perbedaan sikap sebelum dan sesudah pelaksanaan kelas ibu
hamil. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Kholisotin (2017) yaitu menunjukkan adanya peningkatan sikap setelah diberikan
penyuluhan. Menurut peneliti bahwa sebagian besar responden untuk melakukan
pemeriksaan PITC cenderung positif, akan tetapi responden tersebut justru bukan karena
pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS, melainkan karena biayanya gratis, demi
kesehatan janin di dalam kandungan dan karena dianjurkan oleh bidan.

KESIMPULAN
Pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan PITC sebelum dilaksanakan kelas
ibu hamil dengan kategori baik sebesar 27,9%. Sesudah dilaksanakan kategori baik
sebesar 73,3%. Sikap ibu hamil tentang pemeriksaan PITC sebelum dilaksanakan kelas
ibu hamil dengan kategori negatif sebesar 57,0%. Sesudah dilaksanakan didapatkan
hasil dengan kategori negatif sebesar 17,4%. Terdapat pengaruh pengetahuan sebelum
dan sesudah pelaksanaan yaitu p=0,000 (p<0,05). Terdapat pengaruh sikap sebelum
dan sesudah pelaksanaan yaitu p=0,000 (p<0,05). Disarankan hasil penelitian dapat
dimanfaatkan sebagai bahan informasi dan literature terkait pemeriksaan PITC. Selain
itu Insitusi kesehatan hendaknya memberikan penyuluhan kesehatan secara rutin
kepada ibu hamil untuk memberikan pengetahuan kepada ibu hamil tentang
pemeriksaan PITC, sehingga dapat mencegah morbiditas akibat HIV/AIDS, selain itu
perlu dilakukan evaluasi secara regular untuk meningkatkan dan mengembangkan
program.

DAFTAR PUSTAKA
Anggaraeningsih, Ni Luh Made Diah Putri. (2017). Pengetahuan Ibu Hamil Terhadap
Sikap Ibu Hamil Dalam Tes HIV Di Pusat Kesehatan Masyarakat Sikumana Tahun
2016 : Jurnal Info Kesehatan, vol. 15, no.1 .
Dinas Kesehatan Bondowoso. (2017). Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso
tahun
2017. Bondowoso: Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso.
Fitria,Aida. (2018). Analisis Tes HIV dengan Sikap Ibu Hamil dalam Pencegahan Penyakit
HIV/AIDS di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Stabat Lama Tahun 2018, Jurnal Ilmiah
Universitas Batanghari Jambi, Vol. 19 No. 1, (Februari).

Hidayat A.A. (2014). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data: Contoh
Aplikasi Studi Kasus, Edisi 2., Salemba Medika, Jakarta.

Kemenkes RI. (2011). Laporan Kasus HIV/AIDS di Indonesia. Triwulan 3 Tahun 2011.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI
Kholisotin. (2017). Efektifitas Paket Edukasi Preeklampsia Terhadap Pengetahuan, Sikap,
Dan Keterampilan Ibu Hamil Yang Beresiko Mengalami Preeklampsia Di Kabupaten
Situbondo. Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Laporan Perkembangan HIV AIDS &
Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Triwulan I Tahun 2017.
Notoatmodjo. (2014). Ilmu Prilaku kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta.

Novian, A. (2013). Kepatuhan Diit Pasien Hipertensi. Jurnal Kesehatan Masyarakat


Universitas Negeri Semarang. Volume 1.
Septiaria, Dwi. (2017). Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Yang
Memanfaatkan PITC Terhadap Penyakit HIV/AIDS Di Puskesmas Kretek Kabupaten
Bantul Yogyakarta, Naskah Publikasi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah
Yogyakarta
Setiawan, I. (2011). Management of HIV/AIDS- Infection in Infants and Children. Journal of
the Indonesian Medical Association, 59(12).

Sita, Pipit Maria. (2017). Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Dengan Sikap
Terhadap Screening HIV/AIDS Di Puskesmas Lubuk
Baja Kota Batam Tahun 2017, Jurnal Kebidanan, vol. 8, no.1 (Desember).

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan


R& Bandung, D, Alfabeta.

Wawan, A & Dewi, M. (2010). Buku Teori dan Pengukuran Pengetahuan Sikap dan
Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.
WHO. (2017). Global Summary of the AIDS Academic
Jurnal lampiran 3

Pemanfaatan Pelayanan Voluntary Counselling and Testing


(VCT) HIV Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Langsat
Pekanbaru Tahun 2018

Ifni Wilda
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan
Masyarakat STIKes Hang Tuah Pekanbaru Email :
ifniwilda1@gmail.com

ABSTRAK

Selama lebih dari 20 tahun layanan VCT disediakan, cakupan global dari ODHA yang menggunakan
pelayanan VCT masih rendah. UNAIDS melaporkan bahwa 80% ODHA di dunia tidak mengetahui bahwa
mereka terinfeksi HIV karena mereka belum menggunakan layanan VCT untuk memeriksakan status
kesehatannya terkait HIV. VCT adalah konseling dan tes HIV sukarela yang merupakan pintu masuk untuk
membantu setiap orang mendapatkan akses ke semua pelayanan HIV. Puskesmas Langsat merupakan
puskesmas dengan persentase ibu hamil yang memanfaatkan Pelayanan VCT terendah yaitu 21,6%. Tujuan
Penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Voluntary
Counselling And Testing (VCT) HIV Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Langsat Pekanbaru Tahun
2018. Metode Penelitian bersifat kuantitatif analitik observasional dengan studi crosssectional. Populasi
Penelitian berjumlah 571 ibu hamil dengan sampel 180 ibu. Analisis data dilakukan secara univariat,
bivariat dengan uji chi square, dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Berdasarkan hasil analisis
multivariat, variabel yang paling berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan VCT pada ibu hamil di
Wilayah Kerja Puskesmas Langsat Tahun 2018 adalah variabel Dukungan Suami/Keluarga (POR:2,002) dan
dukungan Tenaga Kesehatan (POR:2,571). Kesimpulan ibu yang mendapatkan dukungan suami/keluarga 2
kali memanfaatkan pelayanan VCT, ibu yang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan 2,5 kali
memanfaatkan pelayanan VCT. Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan sosialisasi
tentang program VCT, khususnya kepada ibu hamil yang berisiko,suami/kelaurga melalui media massa,
cetak dan elektronik dan meningkatkan screening dengan melakukan VCT untuk semua ibu hamil yang
datang ANC ke fasilitas kesehatan

Kata Kunci: Pemanfaatan Pelayanan VCT, Dukungan Suami/Keluarga, Dukungan


Tenaga Kesehatan, Puskesmas Langsat Pekanbaru

ABSTRACT

For more than 20 years VCT services have been provided, global coverage of
PLWHA who use VCT services is still low. UNAIDS reports that 80% of people
living with HIV in the world do not know that they are infected with HIV because
they have not used VCT services to check their health status related to HIV. VCT is
voluntary HIV testing and counseling which is the entry point to help everyone
get access to all HIV services. Langsat Health Center is a health center with the
percentage of pregnant women utilizing the lowest VCT service, which is 21.6%.
The purpose of this study was to determine the factors related to the use of HIV
Voluntary Counseling and Testing Services in Pregnant Women in the Work Area
of Langsat Pekanbaru Public Health Center in 2018. The research method was
quantitative observational analytic with cross sectional studies. Study population
numbered 571 pregnant women with a sample of 180 mothers. Data analysis
was carried out by univariate, bivariate with chi square test, and multivariate by
multiple logistic regression test. Based on the results of multivariate analysis, the
variables most related to VCT Service Utilization in pregnant women in the
Langsat Health Center Work Area in 2018 are variables of Husband / Family
Support (POR: 2,002) and support from Health Workers (POR: 2,571). Conclusion
The mother who received husband / family support 2 times using VCT services,
the mother who received the support of health workers 2.5 times made use of
VCT services. Expected to health workers to increase the socialization of VCT
programs, especially to pregnant women who are at risk, husbands / families
through mass media, print and electronic and improve screening by conducting
VCT for all pregnant women who come to ANC to health facilities.

Key word: Utilization of VCT Services, Husband / Family Support, Support of


Health Workers, Langsat Pekanbaru Health Center

PENDAHULUAN
Perempuan yang terinfeksi HIV setiap tahun mengalami peningkatan dengan kasus tertinggi
sebanyak 12.302 pada Ibu Rumah Tangga, seiring dengan terjadinya peningkatan jumlah laki –
laki yang melakukan hubungan seksual yang tidak aman, yang akan menularkan HIV pada
pasangan seksualnya (Kemenkes RI, 2017).
Ketika terjadinya kehamilan, Virus HIV bukan hanya ancaman pada keselamatan jiwa ibu,
tetapi juga ancaman bagi bayi yang dikandungnya. Tanpa upaya khusus, Estimasi dan proyeksi
ibu hamil positif HIV mengalami peningkatan, dari tahun 2011 sebesar 14.194 menjadi 19.636
di tahun 2016 (Kementerian Kesehatan, 2014). Dan diperoleh Kasus lebih dari 90% Anak
dengan HIV yang mendapatkan infeksi dengan cara penularan dari ibunya (Kementerian
Kesehatan, 2013).
Salah satu program Penanggulangan HIV/AIDS yang ditetapkan oleh United Nations
Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) adalah program Harm Reduction (UNAIDS, 2017). Salah
satu program dari pengurangan dampak buruk (Harm Reduction) adalah program VCT (Yulianti,
2011). Identifikasi ibu hamil yang terinfeksi HIV melalui Voluntary Counselling and Testing
(VCT) merupakan langkah awal dalam penetapan intervensi. Panduan untuk mengajak ibu
hamil melakukan konseling dan tes, pertama kali dikeluarkan pada tahun 1995 oleh layanan
kesehatan masyarakat USA (Agnes et al., 2010)
Berdasarkan Kebijakan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2003 Tentang
Penanggulangan HIV AIDS, dalam pasal 17 disebutkan bahwa semua ibu hamil yang melakukan
pemeriksaan kehamilannya diharuskan mengikuti pemeriksaan HIV dengan Tes dan Konseling
(VCT) sebagai upaya pencegahan ibu ke anak yang dikandungnya.(Kementerian Kesehatan,
2013).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Tahun 2016 menunjukkan dari 20
Puskesmas yang ada di Kota Pekanbaru, persentase ibu hamil yang memanfaatkan Pelayanan
VCT terendah berada di Puskesmas Langsat yaitu sebesar 21,6% tahun 2017 dan 8,37% tahun
2016.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan desain
Cross- sectional Study. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang ada di
Wilayah Kerja Puskesmas Langsat Pekanbaru yang berjumlah 180 orang. Pengambilan sampel
mengacu pada data ibu hamil yang ada disetiap kelurahan yang telah dikumpulkan di bagian
KIA Puskesmas Langsat kota Pekanbaru, pengumpulan data dilakukan di wilayah kerja
puskesmas. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer. Data primer diperoleh dari
pengisian kuesioner untuk variabel independen yaitu pengetahuan, Persepsi, Stigma dan
Diskriminasi, dukungan suami/keluarga, dukungan tenaga kesehatan, ketersediaan informasi,
pendidikan,umur.Pengolahan data dilakukan dalam tahap-tahap editing, coding, processing, cleaning
dan tabulating. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi square dan analisis
multivariat dengan multiple logistic regression.
HASIL
Analisis Univariat

Pada analisa univariat didapatkan hasil dari 180 responden yang diteliti terdapat sebanyak 68,9
persen persepsi rendah, sebanyak 55,6 persen menyatakan tidak tersedia informasi, sebanyak
25 persen ibu berpendidikan rendah, sebanyak 57,8 persen ibu berada pada umur beresiko.
Sebanyak 50,6 persen ibu dengan stigma dan diskriminasi rendah, sebanyak 55,6 ibu tidak
mendapatkan dukungan suami, sebanyak 60 persen ibu dengan pengetahuan kurang baik dan
97 persen ibu tidak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan

Analisis Bivariat

Dari analisis bivariat didapatkan hasil dari 8 variabel independen ada enam variabel yang
berhubungan signifikan (p<0,05) dengan pemanfaatan pelayanan VCT oleh ibu hamil, yaitu
variabel Persepsi, Ketersediaan informasi, stigma dan diskriminasi, dukungan suami/keluarga,
pengetahuan dan dukungan tenaga Kesehatan. Sedangkan variabel yang tidak berhubungan
(p>0,05) yaitu Pendidikan ibu dan umur ibu
Untuk analisis multivariat dilakukan beberapa tahapan yang pertama yaitu seleksi bivariat
untuk mengetahui variabel mana yang akan dimasukkan ke dalam permodelan multivariat.
Selanjutnya pemeriksaan counfounding (perubahan OR > 10%) dengan mengeluarkan variabel
yang p valuenya ≥ 0,05 secara bertahap dari p value yang besar. Pada penelitian ini didapatkan
hasil permodelan akhir variabel yang berhubungan signifikan terhadap pemanfaatan
pelayanan VCT yaitu Dukungan suami/keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan

PEMBAHASAN
Dukungan Suami/Keluarga

Pada penelitian ini ditemukan bahwa ibu hamil yang mendapatkan dukungan suami/keluarga 2
kali untuk memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan ibu hamil yang tidak mendapatkan
dukungan suami/keluarga

Hal ini sejalan dengan penelitan (Nurhayati, 2016) yang menunjukkan ada hubungan yang
bermakna antara dukungan suami/keluarga dengan keikutsertaan ibu hamil dalam
pemeriksaan VCT di Puskesmas Guguk Panjang Kota Bukittinggi tahun 2016 dengan nilai p
value = 0,016 dan OR= 6,611). Penelitian (Legiati, Shaluhiyah, & Suryoputro, 2010) tentang
prilaku ibu hamil untuk tes HIV di Kelurahan Bandarharjo dan Tanjung Mas Kota Semarang,
dimana OR untuk variabel dukungan suami adalah 15,7111 yang artinya ibu yang mendapatkan
dukungan suami 15,711 kali lebih memungkinkan untuk mengikuti tes HIV dibandingkan
dengan ibu yang tidak mendapatkan dukungan suami.

Suami dan keluarga merupakan unit terkecil dalam tatanan masyarakat sekaligus menjadi
bagian yang paling dekat dan berpengaruh terhadap seseorang. Keluarga memberikan
dukungan berupa dukungan informasi maupun instrumental yang berpengaruh terhadap
keputusan seseorang dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Dorongan dan dukungan suami/keluarga sangat membantu dalam pembentukan prilaku


kesehatan ibu hamil karena ibu akan cenderung menuruti apa yang disarankan oleh suami atau
keluarganya. seperti yang dinyatakan L.Green bahwa faktor penguat adalah faktor-faktor yang
akan datang dari perilaku yang memberikan penghargaan (reward) atau perangsang untuk
perilaku tersebut dan menyumbang kelangsungan dan pengulangan perilaku tersebut,
diantaranya adalah dukungan suami (Green, 1991). Dukungan suami sangat penting dalam hal
ini karena masih adanya budaya patriarki, dimana suami merupakan kepala keluarga dan
pengambil keputusan dalam keluarga. Partisipasi suami akan mendukung ibu hamil untuk
datang ke pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta membantu ibu hamil pada saat-saat
penting, seperti menentukan apakah ingin melakukan konseling sukarela (VCT) hingga
menjalani tes HIV, mengambil hasil tes, menggunakan obat ARV ataupun memilih makanan
bayi agar tidak tertular HIV.
Dari hasil penelitian dilapangan, ditemukan masih banyak suami yang tidak memberikan
dukungan kepada istrinya untuk memanfaatkan pelayan VCT karena alasan suami sibuk
bekerja dan tidak bisa mendampingi ibu untuk memeriksakan kehamilannya.

Dukungan Tenaga Kesehatan


Pada penelitian ini ditemukan bahwa ibu hamil yang mendapatkan dukungan tenaga
kesehatan 2,5 kali untuk memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan ibu hamil yang tidak
mendapatkan dukungan tenaga kesehatan. Penelitian (Nurhayati, 2016) didapatkan hasil yang
signifikan antara peran tenaga kesehatan dengan keikutsertaan ibu hamil dalam pemeriksaan
VCT dengan nilai P Value = 0,000 dan OR = 69 yang artinya ibu hamil yang mendapatka
dukungan dari tenaga kesehatan 69 kali ikut serta dalam pemeriksaan VCT dibandingkan ibu
yang tidak mendapatkan dukungan tenaga kesehatan.

Dalam penelitian (Indriyani, 2012) dimana hasil uji statistic tentang dukungan tenaga
kesehatan dengan partisipasi untuk VCT adalah p value= 0,047 nilai odd Ratio ( OR 2,533) yang
berarti bahwa responden yang mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan mempunyai
peluang 2 kali untuk berpartisipasi dalam VCT dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan
dukungan dari tenaga kesehatan. Dalam penelitian (Ananda, Kamil, & Rismayanti, 2012)
didapatkan hasil yang signifikan

antara hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan VCT dengan
nilai p Value = 0,002.

Hal ini sejalan dengan penelitian (Legiati, Shaluhiyah, & Suryoputro, 2010) tentang prilaku ibu
hamil untuk tes HIV di Kelurahan Bandarharjo dan Tanjung Mas Kota Semarang, dimana
hubungan dukungan bidan dengan prilku tes didapatkan p value=0,000.

Petugas kesehatan mempunyai peran majemuk dan menentukan dalam program


penanggulangan HIV/AIDS yang meliputi pemberian informasi dasar tentang penularan dan
penyebaran HIV serta cara pencegahannya, pemeriksaan deteksi dini, motivasi pasien untuk
pemeriksaan HIV sukarela dan melakukan konseling yang tepat. (Ananda et al., 2012). Meski
seseorang memiliki pengetahuan yang baik tentang prilaku sehat, belum tentu dia akan
mempraktikkan prilaku tersebut. Karena itu diperlukan adanya dorongan dari luar individu
tersebut untuk mempraktekkan prilaku sehat sesuai yang diketahui dan diyakininya. Peran
tenaga kesehatan masih menjadi faktor dorongan utama yang mempengaruhi pemanfaatan
VCT.

Menurut analisis peneliti banyak nya ibu hamil yang kurang mendapatkan dukungan dari
tenaga kesehatan dikarenakan petugas kesehatan jarang melakukan penyuluhan kepada ibu
hamil tentang pelayanan VCT dan mungkin kurangnya jumlah petugas laboratorium yang
melakukan pemeriksaan VCT kepada ibu hamil yang berkunjung, serta petugas kesehatan tidak
pernah memberikan brosur kepada ibu hamil yang berkaitan dengan pentingnya melakukan
pemeriksaan VCT.

Disamping itu banyaknya ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan
untuk memanfaatkan VCT dikarenakan belum optimalnya pelaksanaan standar pelayanan
antenatal terpadu oleh tenaga kesehatan yang didalamnya terdapat pelayanan HIV/AIDS untuk
ibu hamil meskipun kebijakan Menteri Kesehatan RI No 21 Tahun 2013 telah disebutkan
bahwa semua ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan diharuskan mengikuti
pemeriksaan HIV dengan Tes dan Konseling (VCT). Hal ini mungkin disebabkan karena belum
terakomodasinya kebijakan, strategi, kegiatan dari program terkait

Persepsi
ini menunjukkan bahwa ada hubungan protektif antara variabel persepsi dengan pemanfaatan
pelayanan VCT. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa ibu hamil yang memiliki persepsi
yang tinggi 0,162 kali lebih memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan dengan ibu hamil yang
memiliki persepsi yang rendah dengan Confidence Interval (CI) 0,059-0,445. Untuk hasil nilai
POR yang bersifat protektif (karena nilainya <1), bisa dibalik dengan menjadikan nilai tersebut
1/POR. Maka menjadi 1/0,162 dan bila dihitung 1 dibagi 0,162 menjadi 6,17. Dapat
diinterpretasikan bahwa ibu hamil yang memiliki persepsi yang rendah 6,17 kali lebih besar
untuk memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan ibu hamil yang memiliki persepsi yang
tinggi. Hubungan protektif ini mungkin disebabkan karena variabel persepsi memiliki 2 variabel
Confounding yaitu variabel ketersediaan informasi dan umur. Hal ini kemungkinan terjadi
karena ketersediaan informasi dan umur mempengaruhi persepsi ibu.

Persepsi merupakan pengalaman terhadap suatu objek, peristiwa, atau hubungan – hubungan
yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya (Notoatmodjo, 2010).

Persepsi yang tinggi tentang Pelayanan VCT tidak serta merta meningkatkan pemanfaatan
Pelayanan VCT. Hal tersebut dikarenakan ada faktor harapan yang bersama-sama dengan
faktor persepsi mempengaruhi tingkat kepuasan seseorang terhadap suatu pelayanan, dalam
hal ini pelayanan dari Pelayanan VCT. Sikap yang baik dari petugas kesehatan terhadap
Pelayanan VCT tidak selamanya mampu meningkatkan jumlah kunjungan klien ke Pelayanan
VCT. Hal ini disebabkan adanya pertimbangan untung dan rugi dari suatu perilaku.

Menurut (Glanz, Barbara, & Viswanath, 2008) dalam teori Health Belief Model dinyatakan
bahwa pengetahuan membentuk beberapa persepsi dalam proses pencegahan terhadap suatu
penyakit. Persepsi membentuk stigma terhadap sesuatu. keikutsertaan dalam tes HIV juga
dipengaruhi oleh faktor yang lain misalnya pendidikan dan pengetahuan tentang berbagai
aspek HIV/AIDS merupakan faktor yang ditemukan oleh peneliti bisa memainkan peran dalam
keputusan untuk memanfaatkan Pelayanan VCT.

Adanya persepsi tidak memiliki resiko untuk terjangkiti HIV/AIDS dapat menjadi salah satu
penghambat dalam pemanfaatan VCT. Anggapan ini mungkin disebabkan karena mayoritas
responden memiliki pengetahuan yang kurang. Klinik layanan VCT bersifat sukarela atas
keinginan klien akan sangat berkaitan dengan faktor kebutuhan klien untuk memanfaatkan
layanan klinik VCT. Mungkin kebutuhan klien terhadap pelayanan VCT cukup tinggi walaupun
mereka memiliki persepsi yang rendah. Dalam teori Health Belief Model dijelaskan bahwa
dalam melakukan tindakan dalam mencegah terjadinya suatu penyakit maupun mencari
pengobatan dipe-ngaruhi oleh perceived severity yaitu persepsi keparahan yang mungkin
dirasakan bila menderita suatu penyakit. Persepsi ini merupakan pandangan individu tentang
beratnya penyakit yang diderita. Pandangan ini mendorong seseorang untuk mencari
pengobatan atas penyakit yang dideritanya. Keseriusan ini ditambah dengan akibat dari suatu
penyakit misalnya kematian, pengurangan fungsi fisik dan mental, kecacatan dan dampaknya
terhadap kehidupan sosial. Hal ini sejalan dengan penelitian (Fibriana, 2013) yang
menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara persepsi keparahan dengan praktik VCT
dengan nilai P Value 0,004 dan nilai OR = 8 yang berarti ibu yang memiliki persepsi keparahan
yang mungkin dirasakan bila menderita suatu penyakit 8 kali lebih cenderung untuk
memanfaatkan praktik layanan VCT.

Stigma dan Diskriminasi


Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan protektif antara variabel Stigma dan
Diskriminasi dengan pemanfaatan pelayanan VCT.

Hubungan protektif ini dapat terjadi karena Bias informasi, walaupun telah dilakukan
pengumpulan data sebaik mungkin. Pengumpulan data dibantu 6 orang enumerator
mahasiswi semester akhir DIII kebidanan, meskipun telah dilakukan persamaan persepsi, bias
tetap dapat terjadi misalnya saat memberikan kuisioner pertanyaan stigma dan diskriminasi
tanpa terlebih dahulu memberikan arahan yang baik tentang bagaimana responden harus
menjawab atau subjek penelitian menyembunyikan kondisi yang sebenarnya.

Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa ibu hamil yang memiliki Stigma dan Diskriminasi
yang rendah 0,401 kali lebih memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan dengan ibu hamil
yang

memiliki stigma dan diskriminasi yang tinggi dengan Confidence Interval (CI) 0,199-0,811.
Untuk hasil nilai POR yang bersifat protektif (karena nilainya <1), bisa dibalik dengan
menjadikan nilai tersebut 1/POR. Maka menjadi 1/0,401 dan bila dihitung 1 dibagi 0,401
menjadi 2,49. Dapat diinterpretasikan bahwa ibu hamil yang memiliki stigma dan diskriminasi
yang tinggi 2,49 kali lebih besar untuk memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan ibu hamil
yang memiliki stigma dan diskriminasi yang rendah.

Hal ini tidak sejalan dengan Penelitian (Pangaribuan, 2017) tentang Pengaruh Stigma dan
Diskriminasi ODHA terhadap Pemanfaatan VCT di Distric Sorong Timur Kota Sorong didapatkan
bahwa Stigma dan Diskriminasi yang sangat tinggi terhadap ODHA berpengaruh kuat dengan
pemanfaatan layanan VCT, dengan kata lain bahwa karena takut stigma dan diskriminasi maka
hampir tidak ada masyarakat secara sadar dan sukarela datang memeriksakan status HIVnya.

Stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS akan berdampak terhadap upaya
pencegahan HIV seperti orang akan enggan untuk melakukan tes HIV karena takut akan
mendapatkan stigma dan diskriminasi apabila hasil tesnya positif. Hal tersebut juga akan
terjadi pada ibu hamil yang memiliki stigma akan cenderung untuk tidak mengikuti tes HIV.
Namun dari ibu hamil yang memiliki stigma yang tinggi terhadap HIV/AIDS tidak semua
memilih untuk tidak mengikuti tes HIV, ada beberapa ibu hamil yang tetap memilih untuk tes
HIV dikarenakan sebagian besar responden sudah memiliki pendidikan tinggi dan orang yang
berpendidikan tinggi akan lebih sadar untuk mencari informasi kesehatan tentang dirinya saat
menghadapi kehamilan dan cenderung mengabaikan stigma dan diskriminasi yang mereka
anggap memiliki efek yang signifikan dan berbahaya pada transmisi kesehatan dan penyakit
yaitu menunda pencarian pengobatan dan kegagalan untuk mengungkapkan kondisi kesehatan
yang sebenarnya. Terlepas dari ada stigma, ibu hamil yang memiliki pendidikan yang tinggi
mungkin mengetahui prilaku beresiko yang dapat menyebabkan mereka bisa terinifeksi HIV
sehingga mereka beranggapan perlu melakukan pemeriksaan HIV dan memanfaatkan
pelayanan VCT. Selain itu responden mungkin percaya bahwa tenaga kesehatan atau konselor
akan menjaga kerahasiaan hasil tes mereka sehingga stigma dan diskriminasi bukan menjadi
penghambat untuk melakukan memanfaatkan VCT. Salah satu faktor yang dapat menjadi
penghambat untuk pemanfaatan VCT diantaranya ketakutan dengan hasil yang positif. Hal ini
sejalan dengan penelitian (Bock,2009) yang melaporkan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi pemanfaatan VCT adalah ketakutan mereka terhadap kemungkinan hasil tes
positif.

Pengetahuan
Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan protektif antara variabel Pengetahuan
dengan pemanfaatan pelayanan VCT. Hubungan protektif ini dapat terjadi karena bias
informasi. walaupun pengumpulan data dilakukan dengan bantuan enumerator yang telah
dilakukan persamaan persepsi terlebih dahulu jika saat memberikan kuisioner pertanyaan
tanpa terlebih dahulu memberikan arahan yang baik tentang bagaimana responden harus
menjawab dapat menyebabkan terjadinya bias.

Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuan yang baik
0,433 kali lebih memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki

pengetahuan yang kurang baik dengan Confidence Interval (CI) 0,209-0,898. Untuk hasil nilai
POR yang bersifat protektif (karena nilainya <1), bisa dibalik dengan menjadikan nilai tersebut
1/POR. Maka menjadi 1/0,433 dan bila dihitung 1 dibagi 0,433 menjadi 2,3. Dapat
diinterpretasikan bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuan yang kurang baik 2,3 kali lebih
besar untuk memanfaatkan pelayanan VCT dibandingkan ibu hamil yang memiliki pengetahuan
yang baik. Hal ini mungkin disebabkan bias seleksi, sehinga hubungan variabel pengetahuan
tentang pelayanan VCT dengan pemanfaatan pelayanan VCT menunjukkan hubungan
signifikansi terbalik. Hasil diatas tidak sesuai dengan Hasil penelitian (Nurhayati, 2016) yang
menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan keikutsertaan ibu
dalam pemeriksaan VCT dengan P value 0,023 dan OR= 5 yang menunjukkan bahwa ibu yang
memiliki pengetahuan tinggi 5 kali lebih memanfaatkan pemeriksaan VCT daripada ibu yang
memiliki pengetahuan rendah.
Secara teoritis, pengetahuan tentang VCT merupakan variabel penting yang mempengaruhi
seseorang untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan. Semakin besar pengetahuan tentang VCT,
semakin tinggi tingkat pemanfaatan fasilitas kesehatan yang dianggap mampu mengatasi
masalah kesehatan tersebut. Klinik VCT bukan hanya digunakan oleh si penderita HIV/AIDS
namun dapat juga dimanfaatkan oleh orang yang sehat tapi beresiko terkena penyakit
HIV/AIDS. Namun apa yang ditemukan dilapangan berbicara lain, justru para ibu hamil yang
berpengetahuan baik tentang VCT dan belum memanfaat klinik VCT, kemungkinan hal
dipengaruhi oleh mereka tidak tau harus pergi kemana untuk mendapatkan informasi dalam
mencegahnya dan belum mengetahui benar manfaat dari klinik VCT.

Akses informasi dan sosialisasi tentang penyakit HIV/AIDS dan banyak tersedia dan mudah
diakses oleh siapa saja, hal ini akan memberikan pengaruh yang baik terhadap pengetahuan
tentang penyakit. Namun masih ada stigma di masyarakat yang memberikan penilaian yang
buruk terhadap penderita HIV/AIDS yang akan menjadi penghambat dalam memanfaatkan
klinik VCT. Selain itu tidak terlalu terdapat perbedaan pengetahuan antara orang yang
memanfaatkan VCT dan orang yang tidak memanfaatkan VCT karena selain pengetahuan,
pemanfaatan VCT juga dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti sikap, kekhawatiran status
dirinya HIV positif, kurang terjaminnya kerahasiaan klien, jauhnya jarak untuk mencapai Klinik
VCT, serta lamanya waktu untuk kembali lagi ke Klinik VCT untuk melihat hasil tes, menjadi
beberapa penyebab enggannya masyarakat datang ke Klinik VCT, sehingga pengetahuan yang
baik tidak selalu meningkatkan pemanfaatan VCT.

Pengetahuan
Dari hasil penelitian yang dilakukan, variabel pendidikan tidak berhubungan signifikan dengan
pemanfaatan pelayanan VCT yaitu dimana pvalue 0,384 > 0,05. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh (Juniwati, 2012) yang menyatakan bahwa tidak terdapat
hubungan signifikan antara pendidikan dengan pemanfaatan klinik VCT.

Pendidikan merupakan suatu usaha mengembangkan kepribadian baik secara formal ataupun
non formal, yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Peningkatan pengetahuan
tidak mutlak

diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal
(Budiman, 2013)

Dari hasil penelitian di lapangan diperoleh ibu yang berpendidikan tinggi justru tidak
memanfaatkan Pelayanan VCT, sehingga didapatkan hubungan yang tidak signifikan untuk
variabel ini.

Kenyataan yang ada saat ini, hampir sebagian besar ibu yang memiliki pendidikan tinggi
bekerja di luar rumah, sehingga akan menghambat waktunya untuk memanfaatkan Pelayanan
VCT. selain itu, orang yang berpendidikan tinggi akan lebih sadar untuk mencari informasi
kesehatan secara mandiri yang penting bagi dirinya saat menghadapi kehamilan dan cendrung
akan lebih memilih pelayanan kesehatan yang lebih tinggi daripada Puskesmas. Teknologi yang
berkembang pesat juga memudahkan seseorang untuk mengakses informasi kesehatan,
sehingga pendidikan formal tidak lagi menjadi faktor utama yang terkait dengan perilaku
kesehatan ibu. Selain itu kurikulum sekolah di Indonesia belum memfasilitasi pengetahuan
tentang kesehatan reproduksi, sehingga pengetahuan tentang VCT tidak serta merta
didapatkan di Sekolah.

KESIMPULAN
Proporsi ibu yang memanfaatkan pelayanan VCT yaitu 76 orang (42,2%), sedangkan ibu yang
tidak memanfaatkan pelayanan VCT sebanyak 104 orang (57,8%). Variabel independen yang
memiliki hubungan sebab akibat dengan pemanfaatan pelayanan VCT adalah dukungan
suami/keluarga, dukungan tenaga kesehatan. Adapun hasil penelitian ibu yang tidak
mendapatkan dukungan tenaga kesehatan berpengaruh 2 kali (POR:2,002 ; CI 95% :0,994-
4,033). Ibu yang tidak mendapatkan dukungan tenaga kesehatan berpengaruh 2,5 kali
(POR:2,571 ; CI 95% :1,274-5,187). Penelitian independen yang memiliki hubungan protektif
terhadap variabel dependen adalah persepsi, stigma dan diskriminasi dan pengetahuan.
Penelitian ini mempunyai 2 variabel yang confounding yaitu ketersediaan informasi dan umur.
Variabel independen yang tidak memiliki hubungan statistik signifikan dengan Pemanfaatan
VCT adalah pendidikan. Terdapat Variabel Interaksi yaitu antara Dukungan Tenaga Kesehatan
dengan Pengetahuan

SARAN
Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan sosialisasi tentang program VCT,
khususnya kepada ibu hamil yang berisiko dengan cara melakukan Komunikasi Informasi dan
Edukasi baik ke individu maupun kelompok, melakukan sosialisasi melalui media massa, media
elektronik, dan menyebarkan buku-buku, liflet, poster tentang VCT dan juga HIV/AIDS,
meningkatkanscreening dengan melakukan VCT untuk semua ibu hamil yang datang ANC ke
fasilitas kesehatan.

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih ditujukan kepada Bapak Ahmad Hanafi, SKM, M.Kes selaku Ketua STIKes
hang Tuah Pekanbaru, Ibu Dr. Mitra, SKM, MKM selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu
Kesehatan Masyarakat STIKes Hang Tuah Pekanbaru, Bapak Dr. dr. Toha Muhaimin, M.Sc
selaku Pembimbing Utama dan Ibu Herlina Susmaneli, SKM, M.Kes selaku Pembimbing
Pendamping yang telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan dan masukan
dalam penulisan ini

DAFTAR PUSTAKA
Agnes, M., Kusmiyati, & Iyam, M. (2010). Hubungan Pelaksanaan Standar Pelayanan Antenatal
Dengan Keikutsertaan Ibu Hamil Untuk Konseling Dan Test HIV. Jurnal Ilmiah Bidan
,Volume 2 No1.Hal 55– 61.
Aminudin, Adhaniar (2017). Hubungan Stigma terhadap ODHA dengan Minat Melakukan VCT
pada ibu Rumah Tangga di Gedong Tengen Yogyakarta. Tesis. Fakultas Ilmu Kesehatan
Universita Aisyiyah Yogyakarta
Arniti, Ni Ketut. (2014). Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Penerimaan Tes HIV oleh Ibu
hamil di Puskesmas Kota Denpasar, Tesis, Universita Udayana Denpasar
Ananda, J. N., Kamil, Ri., & Rismayanti. (2012). Faktor Yang Berhubungan Dengan
Pemanfaatan Voluntary Counselling and Testing ( vct ) di RSP Jumpandang Baru Kota
Makassar Tahun 2012, Jurnal Media kesehatan Masyarakat Indonesia 8(4).hal 225-232
Ardhiyanti, Y., Lusiana, N., & Megasari, K. (2015). Bahan Ajar AIDS Pada Asuhan Kebidanan.
Yogyakarta: Deepublish.
Bock, M. E. (2009). Factors Influencing The Uptake Of Hiv Voluntary Counselling And Testing
In Namibia.
Thesis.Vrije University Amsterdam.Netherlands, Hal. 12-29
Budiman, Riyanto, A. (2013). Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan dan Sikap dalam
Penelitian Kesehatan.
Jakarta. Salemba Medika
Burhan, R. (2015). Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh Perempuan Terinfeksi # Health
Service Utilization in Women Living with HIV / AIDS. Jurnal Kesehatan Masyarakat (3),
33–38.
Churcher, Sian. (2013). Stigma Related to HIV and AIDS As a Barier To Accesing Health Care In
Thailand : A Review Af Recent Literature. Available online at www.
Searo.who.int/publications/journals/seajph ( Diakses 02 Agustus 2018)
Colon-Ramos U, Atienza AA, Weber D, Taylor M, Uy C, Y.A. (2009). Practicing what they
preach : health behaviors of those who provide health advice to extensive social
networks. J Health Commun, 14 (2).
Demissie, a.,Deribew, a., & Abera, M. (2009). Determinants of Acceptance of Voluntary HIV
Testing Among Antenatal Clinic Attendees at dil hora Hospital , Dire Dawa ,East
Ethiopia.Ethiopia Jurnal Health Dev;23(2); 141-147
Deshpande, s., Basil, B. D., & Basil, D. Z. (2009). Factors Influencing Healthy Eating Habits
Among College Students :An Application Of The Health Belief
Model, (MAY). Https://doi.org/10.1080/07359680802619834
Dirjen PP dan PL Kemenkes RI. (2010). Modul Pelatihan Konseling Dan Tes Sukarela (voluntary
Counseliling And Testing ) / VCT untuk konselor profesional.Jakarta. Departemen
Kesehatan RI
Dirjen PP dan PL Kemenkes RI. (2011). Survey Terpadu Biologis Dan Prilaku.
Jakarta.Departemen Kesehatan RI
Fibriana, Arulita. Ika. (2013). Keikutsertaan Pelanggan Wanita Pekerja Seks Komersial Dalam
Voluntary Counselling Test (vct).Jurnal Kesehatan Masyarakta 8(2), 161–165.
Fip-UPI, t. P. I. P. (2007). Ilmu Pendidikan Teoritis. Bandung: Imperial Bhakti Utama.
Glanz, K., Barbara, K., & Viswanath. (2008). Health Behavior And Health Education. San
Fransisco:Jossey- Bass.
Green, lw & Kreuter, M. (N.D.). Health Promotion Planning : An Educational And Ecological
Approach (4th ed).Myfield Publishing Company. Mountain View-Toronto- London
Indriyani, A. L. (2012). Gambaran Dan Faktor Yang Berhubungan Dengan Partisipasi VCT Pada
Warga Binaan Pemasyarakatan di Rumah Tahanan Negara Kelas II A Pondok Bambu
Tahun 2012.Tesis Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Jakarta
Irianto, Koes. (2015). Kesehatan Reproduksi ( Reproductive Health )Teori & Praktikum (1ST
ED.). Bandung: Alfabeta.
Juniwati B, Darwita (2012). Hubungan Faktor Pendukung Dan Faktor Penguat Psk (Pekerja
Seks Komersil)Denganpemanfaatanklinik Vct (Voluntary Conselling Testing) Diwilayah
Kerja Puskesmas Wisata Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang
Tahun 2012.Tesis Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Medan
Kemenkes RI. (2006). Pedoman Pelayanan Konseling Dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela
( Voluntary Counselling And Testing ).Jakarta. Departemen Kesehatan
Kemenkes RI. (2017). Laporan Situasi Perkembangan HIV-AIDS & PMS di Indonesia Januari -
Maret 2017.http//www.aids.indonesia.or.id. Diakses tanggal 12 Juni 2018
Kementerian Kesehatan, RI. (2013). Rencana Aksi Nasional Pencegahan Penularan HIV Dari
Ibu Ke Anak (PPIA) Indonesia 2013- 2017 Menuju Akses Universal.http//
http://hivreview.net/book/rencana- aksi-nasional-pencegahan-penularan-hiv-dari-ibu-
ke-anak-ppia-tahun-2013-2017/diakses 12 juni
2018
Kementeran Kesehatan, RI. (2012). Buku Pedoman Penghapusan Stigma dan
Diskriminasi bagi Pengelola Program, Petugas Layanan Kesehatan dan
Kader.Jakarta. Departemen Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan, RI. (2014). Estimasi Dan Proyeksi HIV / AIDS di Indonesia
Tahun 2011- 2016.http//Siha.depkes.go.id/portal/file_upload/
Estimasi-dan_proyeksi_HIV_AIDS_di_Indonesia.pdf.diakses tanggal 28 Juni 2108 Lapau,
B. (2013). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta. Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Lapau, B. (2013). Prinsip dan Metode Epidemiologi. Jakarta. FKUI
Legiati, T. P., Shaluhiyah, Z., & Suryoputro, A. (2010). Perilaku Ibu Hamil Untuk Tes HIV
di Kelurahan Bandarharjo Dan Tanjung Mas Kota Semarang. Jurnal Promosi
Kesehatan,153–164.
Mitra (2015). Manajemen dan Analisis Data Kesehatan. (A. A. C, Ed). Yogyakarta : CV.
Andi Offset
Namazzi, Julie. Abimanyi. (2010). Determinants Of Using Voluntary Counselling And
Testing for HIV / AIDS in Kenya. Monash University: Journal of Management Policy
and Practice. http://www.na- bussinespress.com/JMPP/NamazziWeb.pdf. diakses
25 Mei 2018
Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan Dan Ilmu Prilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu Prilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Novita, Nesi & Fransisca, Y. (2011). Promosi Kesehatan Dalam Pelayanan Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika.
Nurhayati. (2016). Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Keikutsertaan Ibu Hamil
Dalam Pemeriksaan VCT di Puskesmas.Jurnal Human Care.Volume 1(Nomor 3).
Pangaribuan, Sariana (2017). Pengaruh Stigma dan Diskriminasi ODHA terhadap
Pemanfaatan VCT di Distrik Sorong Timur Kota Sorong. Junal Global Heatlh
Science.Volume 2 (Nomor ).
Priyoto. (2014). Teori dan Prilaku dalam Kesehatan. Yogyakarta :Nuha Medika
Retnaningsih, Ekowati ( 2013). Akses Layanan Kesehatan. Jakarta : Raja Grafindo
Persada
Riyanto, A. (2013). Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan Dan Sikap dalam Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
Siregar, D. (2015). HIV dan AIDS Untuk Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan
masyarakat. Jakarta: Uni Pres.
Siregar, M.Sakti (2012). Mutu Pelayanan klinik VCT dengan Pemanfaatan Klinik VCT oleh
Warga Binaan Risiko HIV/AIDS di Rumah Tahanan Negara Klas I Medan. Tesis
Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Medan
Syahrir, W., & Amiruddin, R. (2013). faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan
Klinik Voluntary Counseling And Testing ( VCT ) di Puskesmas Kota Makassar. Tesis
Pasca Sarjana. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin.Makasar
UNAIDS, (2017). UNAIDS Data.(diakses tanggal 25 Mei 2018)Available from
http://www.unaids.org/en/resources/documents/2017/2017_data_book
Yulianti, Dina. (2011). Hegemoni Epistemic Community Dalam Program Harm Reduction
UNAIDS ( Joint United Nations Programme On HIV / AIDS ): Studi Kasus di LSM
Rumah Cemara. Tesis Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Padjadjaran .Bandung

Jurnal lampiran 4

HUBUNGAN ANTARA SUMBER INFORMASI TENTANG HIV/AIDS DENGAN


PEMERIKSAAN PENCEGAHAN
PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK
(PPIA) DI PUSKESMAS II DENPASAR
SELATAN
Ni LuhPutu Sri Erawati1, Ni Ketut Somoyani1, Ni Nyoman Suindri1
1
Dosen Jurusan
Kebidanan
email:
erawatiputu@
yahoo.com

ABSTRACT.

Transmission of HIV from infected mothers to their babies tends to increase.


Prevention Mother-to-Child HIV Transmission (PMTCT) is one of the most
effective interventions to prevent HIV transmission. This study aims to
determine the relationship between information sources about HIV / AIDS with
Prevention Mother-to-Child HIV Transmission (PMTCT) at Puskesmas II
Denpasar Selatan from August to October 2017. The research design was
observational by using cross-sectional design on pregnant women who perform
antenatal care. Data analysis by Chi-square test. The results showed that the
main source of information from Respondent in obtaining knowledge about
HIV/AIDS was majority from health worker (30.0%). Most of the respondents
had done PMTCT (71,7%). Sources of information have a significant and
practical relationship statistically to the Prevention Mother-to-Child HIV
Transmission (PMTCT)with OR of 3.167 (95% CI: 0.78 - 12.8). There is no
correlation between information source about HIV / AIDS with Prevention
Mother-to- Child HIV Transmission (PMTCT)to pregnant mother at Public
Health Centre II South Denpasar with value p = 0,200 and value OR = 3,167
with significance level 95% (α = 0,05). From this research recommended that
Public Health Centre officers provide information sources and motivate
pregnant women to do Mother-to-Child HIV test.

Keywords: Source of Information, Prevention Mother-


to-Child HIV Transmission (PMTCT), Pregnant Mother.

PENDAHULUAN

Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat dicapai dengan


pemeliharaan kesehatan sedini mungkin dari saat hamil, melahirkan hingga bayi lahir
sehat. Salah satu faktor yang dapat menghambat pencapaian derajat kesehatan yang
optimal adalah infeksi Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan Aquired Immunity
Deficiency Syndrome (AIDS) HIV1.

Di sejumlah negara berkembang HIV-AIDS merupakan penyebab utama


kematian perempuan usia reproduksi khususnya ibu hamil. Infeksi HIV pada ibu hamil
dapat mengancam kehidupan ibu serta dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih
dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke
anak atau mother- to-child HIV transmission (MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari
ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat
menyusui2.

Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung
meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang tertular
baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko 3. Kasus HIV/AIDS di Bali sejak
Tahun 1987 sampai dengan Bulan Mei 2013 adalah sebesar 7.856 orang dan 35,5 %
adalah perempuan. Kota Denpasar merupakan penyumbang angka HIV/AIDS tertinggi
dibandingkan dengan 8 kabupaten lainnya. Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS sampai
dengan Bulan Mei 2013 di Kota Denpasar sebanyak 3.146 orang atau 40,05% dari
seluruh kasus HIV di Provinsi Bali, dan cakupan ibu hamil yang melakukan
pemeriksaan HIV hanya mencapai 2,58% dari 17.552 orang dari sasaran ibu hamil
pada Tahun 20124.

Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) merupakan salah
satu intervensi yang sangat efektif untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Di
negara maju risiko anak tertular HIV dari ibu dapat ditekan hingga kurang dari 2%
karena tersedianya intervensi PPIA dengan layanan optimal. Di negara berkembang
atau negara miskin, dengan minimnya akses intervensi, risiko penularan masih
berkisar antara 20% dan 50%. Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak telah
dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2004, khususnya di daerah dengan tingkat
epidemi HIV tinggi, namun hingga akhir tahun 2011 baru terdapat 94 layanan PPIA,
yang baru menjangkau sekitar 7% dari perkiraan jumlah ibu yang memerlukan layanan
PPIA2.

Penelitian Anggarini5 di Puskesmas II Melaya mengungkapkan bahwa 76,5%


responden tidak melakukan pemeriksaan PPIA dan ada hubungan bermakna antara
pengetahuan dan perilaku ibu untuk melakukan PPIA. Penelitian Arniti 6 menyatakan
bahwa

sebagian besar ibu hamil di Kota Denpasar (74,2%) menyatakan sumber informasi
tentang PPIA diperoleh dari media elektronik.

Puskesmas II Denpasar Selatan merupakan salah satu Puskesmas di Kota


Denpasar yang memiliki klinik khusus Infeksi Menular Seksual/IMS, dan memiliki
program unggulan kesehatan ibu dan anak komprehensif dimana semua ibu hamil
yang berkunjung ke Puskesmas II Denpasar Selatan diberikan pelayanan PPIA. Rata-
rata kunjungan ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan PPIA sebanyak 2-3 orang tiap
hari. Hal ini yang mendasari peneliti untuk mengetahui hubungan sumber informasi
tentang HIV/AIDS dengan PPIA di Puskesmas II Denpasar Selatan.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan


rancangan cross-sectional (potong lintang). Penelitian dilakukan di Puskesmas II
Denpasar Selatan pada Bulan Agustus – Oktober 2017. Subjek penelitian ini adalah
semua ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal di Puskesmas II Denpasar
Selatan, serta memenuhi kriteria inklusi. Besar sampel penelitian ini sebanyak 60
orang. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik puposive sampling. Jenis data yang
dikumpulkan adalah data primer. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan
dengan cara pengisian kuesioner dan wawancara. Analisis data dilakukan melalui dua
tahapan analisis yaitu analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk
menggambarkan karakteristik subjek penelitian. Analisis bivariat dilakukan untuk
mengidentifikasi ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat

dan variabel terikat dengan variabel luar menggunakan uji statistik chi-square (  2).

HASIL PENELITIAN
1. Karakteristik subjek penelitian
Hasil uji normalitas data menunjukkan bahwa usia subjek penelitian dan usia kehamilan
berdistribusi normal, sehingga data disajikan dalam bentuk nilai mean dan standar
deviasi. Data pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, gravida, dan pengetahuan ibu
tentang HIV/AIDS disajikan dalam distribusi frekuensi. Adapun karakteristik subjek
penelitian dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian ini rata – rata berusia
26 tahun dengan rentang usia 18-38 tahun. Pendidikan subjek penelitian sebagian
besar berpendidikan menengah (58, 3%) dan hanya sebagian kecil berlatar belakang
pendidikan tinggi (11,7%). Dilihat dari status perkawinan, semua dari subjek penelitian
telah menikah. Sebagian besar dari subjek penelitian memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah
tangga (51,7%). Sebagian besar dari subjek penelitian pada kelompok multigravida (53,3%).
Usia kehamilan dari subjek penelitian ini berkisar antara 1 – 9 bulan dengan rata –
rata berusia 5, 58 bulan.

Pengetahuan responden tentang HIV/AIDS menunjukkan hasil bahwa


sebagian besar sebesar (78,3%) telah mengetahui tentang HIV/AIDS. Walapun masih
ada subjek penelitian yang belum mengetahui tentang HIV/AIDS, namun sebagian dari
mereka sudah melakukan pemeriksaan PPIA.

1. Gambaran Sumber informasi yang diperoleh oleh ibu hamil tentang HIV/AIDS
Data tentang sumber informasi dari subjek penelitian
dianalisis dengan menggunakan analisis univariat. Hasil
analisis disajikan pada tabel berikut

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian telah


mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi. Hanya sebagian kecil (16,7%)
yang tidak memiliki sumber informasi. Sumber informasi yang tertinggi, bersumber
dari tenaga kesehatan (30,0%).

2. Proporsi ibu hamil yang melakukan pemeriksaan PPIA


Proporsi ibu hamil yang melakukan pemeriksaan PPIA dianalisis
menggunakan analisis univariat sehingga data yang disajikan dalam
bentuk distribusi frekuensi. Hasil analisis disajikan pada Tabel 3.

Sebagian besar (71,7%) ibu hamil yang menjadi subjek penelitian sudah
melakukan pemeriksaan PPIA, namun masih ada juga sebagian kecil dari ibu hamil
yang belum melakukan pemeriksaan PPIA. Dari hasil wawancara mengungkapkan
bahwa ibu yang belum melakukan pemeriksaan PPIA tersebut merasa takut
mengetahui hasil pemeriksaan.

3. Hubungan antara Sumber Informasi tentang HIV/AIDS dengan PPIA


Hubungan antara sumber informasi tentang HIV/AIDS dengan PPIA dapat dilihat
pada Tabel 4. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,20, nilai 
2
sebesar 2,81 (95% CI: 0,78 – 12,8)

Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara
sumber informasi tentang HIV/AIDS dengan PPIA di Puskesmas II Denpasar Selatan.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian ini rata – rata berusia 26
tahun dengan rentang usia 18-38 tahun. Pendidikan subjek penelitian sebagian besar
berpendidikan menengah dan hanya sebagian kecil berlatar belakang pendidikan
tinggi. Dilihat dari status perkawinan, semua dari subjek penelitian telah menikah.
Sebagian besar dari subjek penelitian memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.
Sebagian besar dari subjek penelitian pada kelompok multigravida, dengan usia kehamilan
berkisar antara 1 – 9 bulan. Sebagian besar responden telah mengetahui tentang
HIV/AIDS. Walapun masih ada subjek penelitian yang belum mengetahui tentang
HIV/AIDS, namun sebagian dari mereka sudah melakukan pemeriksaan PPIA.

Karakteristik usia pada responden penelitian ini hampir sama dengan karakteristik usia
responden pada penelitian Anggarini yang sebagian besar berusia 20 – 34 tahun. 5
Penelitian Legiati, dkk. & Halim, dkk. mengungkapkan bahwa sebagian besar
respondennya pada kelompok usia dewasa, namun secara statitik tidak ada hubungan
antara umur dengan perilaku ibu hamil dalam pemeriksaan HIV. 7,8 Hasil penelitian Halim,
dkk. juga mengungkapkan bahwa sebagian besar (98,1%) respondennya memiliki tingkat
pendidikan menengah, walaupun dari hasil analisis penelitian tersebut menyatakan
tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan perilaku pemeriksaan
HIV.8 Karakteristik status perkawinan pada subjek penelitian ini lebih tinggi dari hasil
penelitian Moges & Amberbir yang menunjukkan bahwa proporsi responden yang menikah
sebesar 91,4%.9

Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian Moges & Amberbir yang
mempunyai responden dengan karakteristik pekerjaan pada kelompok ibu rumah tangga
sebesar 62, 2%.9 Anggraeni juga mengungkapkan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara pekerjaan ibu dengan perilaku pemeriksaan HIV. Status pekerjaan dari seorang
wanita menjadi faktor penting dalam penerimaan tes HIV. 5 Ibu hamil yang bekerja di
sektor swasta ataupun pemerintah kemungkinan 4 kali lebih tinggi untuk melakukan
tes HIV dibandingkan dengan ibu rumah tangga. Hal ini disebabkan karena ibu yang
bekerja lebih banyak terpapar informasi tentang VCT di tempat kerja9.

Penelitian Setiyawati & Meilani, juga memiliki kelompok responden


multigravida yang proporsinya hampir sama dengan penelitian ini yaitu sebesar 63%. 10
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Moges & Amberbir yang
mengelompokkan usia kehamilan responden penelitiannya menjadi tiga kelompok yaitu
Trimester I, Trimester II dan Trimester III. Dari hasil penelitiannya itu, sebagian besar usia
kehamilan pada kelompok Trimester II sebesar 55,7%.9

Hasil penelitian ini masih lebih tinggi dari hasil penelitian Legiati, dkk. yang
menunjukkan bahwa 64,4% dari responden mempunyai pengetahuan baik, 7
sedangkan hasil Penelitian Setiyawati & Meilani menunjukkan 54% mempunyai
pengetahuan baik tentang HIV. 10 Penelitian Rahyani, dkk. mengungkapkan hampir
50% ibu hamil tidak tahu apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan HIV reaktif.
Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman ibu hamil tentang risiko HIV. 11

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian telah


mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi. Hanya sebagian kecil yang
tidak memiliki sumber informasi. Sumber informasi yang tertinggi, bersumber dari
tenaga kesehatan (30,0%). Hasil penelitian Setiyawati dan Meilani menunjukkan
bahwa ketersediaan informasi mengenai HIV dari petugas kesehatan, keluarga dan
kader kesehatan kemungkinan dapat meningkatkan kesediaan ibu hamil untuk
melakukan tes HIV.10 Hasil penelitian Rahyani, dkk. mengungkapkan bahwa peran
petugas kesehatan untuk menjelaskan pentingnya pemeriksaan PPIA bagi ibu hamil
masih rendah.11

Sebagian besar ibu hamil yang menjadi subjek penelitian sudah melakukan pemeriksaan
PPIA, namun masih ada juga sebagian kecil dari ibu hamil yang belum melakukan
pemeriksaan PPIA. Dari hasil wawancara mengungkapkan bahwa ibu yang belum
melakukan pemeriksaan PPIA tersebut merasa takut mengetahui hasil pemeriksaan.
Senada dengan hasil penelitian Setiyawati dan Meilani yang juga mengungkapkan bahwa
stigma dan diskriminasi masyarakat yang menjadikan ibu hamil merasa takut
mengetahui dirinya terinfeksi HIV. Selain itu, ibu hamil juga mempunyai persepsi bahwa
mereka sehat dan tidak

akan tertular HIV/AIDS. Inisiasi pemberi layanan untuk melakukan tes HIV merupakan
faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku tes HIV pada ibu hamil.10

Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara
sumber informasi tentang HIV/AIDS dengan PPIA di Puskesmas II Denpasar Selatan.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan Legiati, dkk. yang mengungkapkan bahwa ibu
hamil yang memiliki akses informasi yang baik, 3,079 kali lebih memungkinkan untuk
mengikuti tes HIV dibandingkan ibu hamil dengan akses informasi yang kurang. 7 Akses
informasi sangat penting dalam hal ini. Informasi atau pesan kesehatan dapat
meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang kesehatan seseorang sehingga dapat
berperilaku sehat. Informasi yang kurang jelas tentang HIV dapat menyebabkan
persepsi yang salah tentang manfaat tes HIV yang akhirnya dapat menyebabkan
halangan untuk melakukan tes HIV. Perbedaan hasil penelitian ini dapat terjadi karena
adanya perbedaan besar sampel, metode penelitian serta karakteristik dari subjek
penelitian. Selain itu, walaupun ibu hamil tidak memiliki sumber informasi
sebelumnya, tetapi karena pemeriksaan PPIA sudah menjadi program pemerintah
sehingga hampir semua ibu hamil melakukan pemeriksaan tersebut. Kesediaan ibu
hamil untuk melakukan pemeriksaan PPIA tidak hanya dipengaruhi oleh sumber
informasi saja. Penyebab lain yang diduga berhubungan dengan perilaku ibu hamil
melakukan pemeriksaan PPIA yaitu pengetahuan, sikap, ketersediaan sarana dan
prasarana dan dukungan tenaga kesehatan. Dukungan tenaga kesehatan pada ibu
hamil untuk melakukan pemeriksaan PPIA dapat berupa pemberian informasi, saran
untuk pemeriksaan dan konseling pasca pemeriksaan8,11,

12
.

SIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden
memperoleh informasi dari petugas kesehatan dan sebagian besar responden telah
melakukan pemeriksaan pencegahan HIV dari Ibu Anak. Tidak ada hubungan yang
bermakna antara sumber informasi tentang HIV/AIDS dengan kunjungan PPIA
Puskesmas II Denpasar Selatan. Untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini, rekomendasi
yang diajukan adalah sebagai berikut: 1. Petugas kesehatan diharapkan tetap
memberikan informasi dan pendidikan melalui promosi Bagi akseptor kontrasepsi
hormonal dan untuk peneliti selanjutnya, melakukan penelitian yang sejenis dengan
sampel dan lokasi penelitian yang lebih luas sehingga data yang dikumpulkan lebih
reliabel dan valid

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. 2007. Laporan Pemodelan Matematika
Epidemi HIV di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
2. Kementerian Kesehatan RI. 2011. Data HIV/AIDS Indonesia. Ditjen P2PL.
Jakarta: Kemenkes RI.

3. Kementerian Kesehatan RI. 2012. Pedoman Nasional Pencegahan


penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), Jakarta : Kemenkes RI.

4. Dinas Kesehatan Provinsi Bali. 2013. Laporan Bulanan Konseling dan


Pemeriksaan Sukarela (KTS/VCT). Denpasar.

5. Anggarini, A. 2014. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku


Pemeriksaan VCT Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas II Melaya
Kabupaten Jembrana Provinsi Bali (Skripsi) Unggaran: Program Studi
Diploma IV Kebidanan STIKES Ngudi Waluyo.

6. Arniti. 2014. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penerimaan Tes HIV


oleh Ibu Hamil di Puskesmas Kota Denpasar (Tesis). Denpasar: Universitas
Udayana.

7. Legiati, T., Shaluhiyah, Z., & Suryaputro, A. 2012. Perilaku Ibu Hamil untuk
Tes HIV di Kelurahan Bandarharjo dan Tanjung Mas Kota Semarang. Jurnal
Promosi Kesehatan Indonesia. Vol. 7 (2): 153-164.

8. Halim, Y., Syamsulhuda, & Kusumawati, A. 2016. Faktor-faktor yang


Berhubungan dengan Perilaku Ibu Hamil dalam Pemeriksaan HIV di
Wilayah Kerja Puskesmas Halmahera Kota Semarang. Jurnal Kesehatan
Masyarakat. Vol. 4 (5): 395-405.

9. Moges, Z. & Amberbir, A. 2011. Factors Associated with Readiness to VCT


Service Utilization among Pregnant Women Attending Antenatal Clinics in
Northweatern Ethiopia: A Health Belief Model Approach, Ethiop J Health
Sci. Vol. 21 Special Issue: 107-115.

10. Setiyawati, A. & Meilani, N. 2015. Determinan Perilaku Tes HIV pada Ibu
Hamil,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, Vol 9 (3): 201-206.

11. Rahyani, N.K.Y, Arini, N.K.A., Suarniti, N.W., & Muliari, N.K.S. 2015, SWOT
Analysis The Midwife’Role in Controlling HIV/AIDS in Denpasar: Assesment
of Barriers and Achievements, Malaysian Journal of Public Health Medicine.
Vol. 15 (Supplement 1): 30.