Anda di halaman 1dari 26

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Balita

3.1.1 Balita

Secara harfiah, anak balita atau anak bawah lima tahun adalah

semua anak yang memiliki usia kurang dari lima tahun sehingga bayi

(anak usia dibawah satu tahun) juga termasuk dalam balita (Uripi,

2004). Sedangkan menurut WHO menyatakan dalam Badan

Perencanaan Pembangunan Nasional (2007), kelompok usia anak balita

adalah anak sengan usia 0 sampai 60 bulan. Namun, karena faal (kerja

alat tubuh semestinya) bayi usia di bawah satu tahun berbeda dengan

anak usia di atas satu tahun, banyak ilmuwan yang membedakannya.

Perubahan organ tubuh selama tahun pertama mempengaruhi

kesiapan bayi untuk menerima makanan padat, perubahan ini akan terus

terjadi disetiap pertambahan umur bayi. Setelah mencapai usia satu

tahun pertama sampai usia remaja akan menjadi periode laten bagi

kehidupan karena pertumbuhan fisik berlangsung tidak sedramatis

ketika masih berstatus bayi. Di tahun pertama kehidupan, panjang bayi

bertambah sebanyak 50 %, tetapi tidak berlipat setelah usia bertambah

sampai 4 tahun. Sedangkan pertambahan berat badan anak yang berusia

1-3 tahun adalah 2-2,5 kg dan rata-rata pertambahan tinggi badan

sebesar 12 cm setahun (Arisman, 2004).

10
11

Perkembangan mental anak dapat ditandai dengan adanya

kemampuan anak untuk menolak makanan dengan mengatakan “tidak”

pada hidangan yang telah disajikan. Pada usia ini, kebanyakan anak

hanya makan satu jenis makanan selama berminggu-minggu (Arisman,

2004).

3.1.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Balita

Setiap manusia yang hidup mengalami proses tumbuh kembang.

Istilah tumbuh kembang pada manusia menunjukkan proses sel telur

(ovum) yang telah dibuahi sampai mencapai status dewasa.

Pertumbuhan adalah perubahan ukuran, besar, dan jumlah sel serta

fungsi tingkat sel yang mengakibatkan ukuran fisik dan struktur tubuh

menjadi bertambah besar. Perubahan ini terjadi secara bertahap dimulai

dart masa konsepsi sampai remaja (Soetjiningsih, 1995; Supariasa,

2002; Depkes, 2005; Santoso, dkk, 2004).

Berbeda dengan pertumbuhan yang pengertiannya lebih

mengacu ke fisik, perkembangan adalah bertambahnya kemampuan

struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek sebagai hasil interaksi

kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya

(Soetjiningsih, 1995; Supariasa, 2002; Depkes, 2005). Sedangkan

menurut Santoso, dkk (2004), perkembangan adalah defisiensi bentuk

atau fungsi, termasuk perubahan emosi dan sosial. Pertumbuhan dan

perkembangan tersebut berperan penting dalam kehidupan dan terjadi

secara sinkron pada setiap individu.


12

3.1.3 Ciri-ciri dan Prinsip Tumbuh Kembang

Menurut Depkes tahun 2005 , proses tumbuh kembang memiliki

beberapa cirri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut antara lain:

1. Perkembangan menimbulkan perubahan.

Setiap pertumbuhan akan disertai dengan perubahan fungsi.

Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak menyertai

pertumbuhan otak dan serabut saraf.

2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan

perkembangan selanjutnya.

Anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan

sebelum ia melewati tahap sebelumnya. Seorang anak tidak akan bisa

berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri

apabila pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang berkaitan dengan

fungsi berdiri terhambat. Karena itu perkembangan awal merupakan

masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.

3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang

berbeda.

Perbedaan ini terdapat pada perbedaan kecepatan pertumbuhan

fisik dan perkembangan fungsi organ. Namun pola perkembangan pada

semua anak adalah sama, misalnya: anak akan belajar duduk terlebih

dahulu sebelum belajar berjalan, tetapi umur saat anak belajar duduk

atau berjalan berbeda antara anak satu dengan lainnya.


13

4. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.

Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan juga

berlangsung cepat. Anak yang sehat akan bertambah umur, berat badan

dan tinggi badan serta kepandaiannya.

5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap.

Perkembangan mempunyai dua pola yaitu:

a. Pola sefalokaudal: perkembangan terjadi terlebih dahulu di

daerah kepala, kemudian menuju kearah kaudal atau anggota

tubuh.

b. Pola proksimodistal: perkembangan terjadi terlebih dahulu di

daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal

seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus.

6. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.

Perkembangan akan terjadi sevara berurutan dan mengikuti pola

yang teratur serta perkembangan tersebut tidak bisa terjadi secara

terbalik.

Jadi setiap individu pasti akan mengalami suatu proses tumbuh

kembang yang terjadi secara kontinyu yang dimulai sejak konsepsi

sampai dewasa. Proses tumbuh kembang tersebut merupakan dua

proses yang saling berkorelasi dan memiliki pola yang tetap namun

memiliki kecepatan yang berbeda-beda.

Sedangkan prinsip tumbuh kembang menurut Depkes (2005)

adalah sebagai berikut:


14

1. Perkembangan adalah hasil proses kematangan dan belajar.

Kematangan merupakan suatu proses alamiah yang terjadi

sesuai dengan potensi yang dimiliki individu. Sedangkan belajar adalah

perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha.

2. Pola perkembangan dapat diramalkan.

Pola perkembangan anak adalah sama. Perkembangan tersebut

akan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik dan terjadi

secara berkesinambungan.

3.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tumbuh Kembang

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan

perkembangan yang normal, dan ini merupakan hasil interaksi banyak

faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap

tumbuh kembang anak, yaitu: faktor internal (genetik) dan faktor

eksternal (lingkungan) (Soetjiningsih, 1995; Supariasa, 2002; Depkes,

2005).

1. Faktor Internal (Genetik)

Menurut Depkes (2005), ada beberapa faktor yang termasuk

dalam faktor internal, antara lain:

a. Perbedaan ras / etnik atau bangsa

Bila seseorang dilahirkan sebagai ras Amerika maka tidak

mungkin ia memiliki faktor ras orang Indonesia atau sebaliknya.


15

Pertumbuhan anak Indonesia pada periode 6-24 bulan lebih

lambat disbanding anak Amerika. Keadaan ini mengakibatkan

anak Indonesia menjadi lebih pendek 5 cm dengan berat badan

yang lebih rendah 2 kg disbanding anak di negara lain.

b. Keluarga

Ada kecenderungan keluarga yang tinggi dan ada keluarga yang

gemuk.

c. Umur

Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal,

tahun pertama kehidupan dan masa remaja.

d. Jenis kelamin

Fungsi repoduksi anak perempuan berkembang lebih cepat

daripada anak laki-laki. Akibatnya anak perempuan lebih cepat

dewasa bila dibandingkan dengan laki-laki. Tetapi setelah masa

pubertas, pertumbuhan anak laki-laki lebih cepat.

e. Genetik

Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil proses tumbung

kembang yang kemudian akan menjadi cirri khas bagi seorang

anak. Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering

diakibatkan oleh faktor genetik. Ada beberapa kelainan genetik

yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.


16

f. Kelainan kromosom

Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan

pertumbuhan seperti pada sindroma Down’s dan sindroma

Turner’s.

2. Faktor Eksternal (Lingkungan)

Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan

tercapainya potensi genetik yang optimal. Apabila kondisi

lingkungan tidak adekuat maka potensi genetik yang optimal tidak

tercapai (Supariasa, 2002). Menurut Depkes (2005), faktor

lingkungan secara garis besar dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Faktor Pranatal

1) Gizi

Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan

akan mempengaruhi pertumbuhan janin. Apabila nutrisi yang

diperoleh ibu jelek (baik sebelum maupun sedang hamil) akan

menyebabkan bayi BBLR atau lahir mati dan jarang

menyebabkan cacat bawaan. Selain itu anak akan lebih mudah

terkena penyakit infeksi (Soetjiningsih, 1995).

2) Mekanis

Posisi fetus yang abnormal dapat menyebabkan kelainan

kongenital seperti club foot.

3) Toksin (zat kimia)

Masa organogenesisi adalah masa yang sangat peka terhadap

zat-zat teratogen (Soetjiningsih, 1995). Aminopterin dan obat


17

kontrasepsi dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti

palatoskitis.

4) Endokrin

Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan

janin adalah somatotropin, hormone plasenta, hormone tiroid

dan insulin dan peptide-peptida lain dengan aktivitas mirip

insulin (Soetjiningsih, 1995). Kekurangan insulin

mengakibatkan terjadinya Diabetes mellitus dapat

menyebabkan makrosomia, kardimegali, hyperplasia adrenal.

5) Radiasi

Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan

kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi

mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongenital

mata, kelainan jantung.

6) Infeksi

Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH

(Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks),

PMS (Penyakit Menular Seksual) serta penyakit virus lainnya

dapat menyebabkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu

tuli, mikrosefali, retardasi mental, dan kelainan jantung

kongenital.

7) Kelainan imunologi

Eritrobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan

darah anatar janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi


18

terhadap sel darah merah janin. Eritobaltosis fetalis ini dapat

menyababkan kerusakan jaringan otak.

8) Anoksia embrio

Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi

plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu seperti bayi

lahir dengan BBLR.

9) Psikologis ibu

Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah atau

kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

b. Faktor Persalinan

Kompilkasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala dan

asfiksia dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak.

c. Pasca Natal atau Pasca Salin

1) Gizi

Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang

adekuat. Kebutuhan makanan pada anak berbeda dengan

kebutuhan orang dewasa dan dipengaruhi oleh ketahanan

pangan keluarga (Soetjiningsih, 1995).

2) Penyakit kronis (kelainan kongenital)

Tuberculosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan

retardasi pertumbuhan jasmani.

3) Lingkungan fisik dan kimia

Sanitasi lingkungan kurang baik, kurangnya sinar matahari,

paparan sinar radiokatif, zat kimia tertentu (Pb, mercuri, rokok,


19

dan lain-lain) mempunyai dampak yang negative terhadap

pertumbuhan anak.

4) Psikologis

Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seoarang anak yang

tidak dikehendaki oleh orangtuanya atau anak yang selalu

merasa tertekan akan mengalami hambatan di dalam

pertumbuhan dan perkembangannya.

5) Endokrin

Gangguan hormon misalnya pada penyakit hipertiroid akan

menyebabkan mengalami hambatan pertumbuhan. Defisiensi

hormon pertumbuhan akan menyebabkan anak menjadi kerdil.

6) Sosio-ekonomi

Kemiskinan selalu berkaitan dnegan kekurangan makanan,

kesehatn lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan

menghambat pertumbuhan anak.

7) Lingkungan pengasuhan

Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat

mempengaruhi tumbuh kembang anak.

8) Stimulasi

Perkembangan memerlukan rangsangan / stimulasi khususnya

dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi

anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap

kegiatan anak, perlakuan ibu terhadap perilaku anak. Anak

yang mendapatkan stimulasi yang terarah akan mengalami


20

tumbuh kembang yang lebih cepat dibanding yang tidak

memperoleh stimulasi (Soetjiningsih, 1995).

9) Obat-obatan

Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat

pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat

perangsang terhadap susunan saraf pusat yang menyebabkan

terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

Jadi pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh

dua faktor yaitu faktor genetik dan lingkungan. Apabila terjadi

ketidakseimbangan atau terjadi gangguan pada faktor-faktor

tersebut akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan

perkembangan. Oleh sebab itu peran ibu dan penciptaan

lingkungan yang kondusif sangat diperlukan agar tercipta tumbuh

kembang yang optimal.

3.1.5 Periode Pertumbuhan dan Perkembangan

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa

pertumbuhan dan perkembang terjadi secara teratur, saling berkaitan

dan berkesinambungan. Terdapat berbagai pendapat mengenai

pembagian periode ini, menurut Depkes (2005) maka periode ini dibagi

menjadi empat yaitu:

1. Masa pranatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).

Masa ini dibagi menjadi tiga periode yaitu masa zigot, masa

embrio dan masa janin. Periode yang paling penting dalam masa ini

adalah trisemester pertama kehamilan. Pada periode ini pertumbuhan


21

otak janin peka terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu penciptaan

lingkungan yang baik sangat diperlukan pada masa ini.

2. Masa bayi (umur 0 sampai 11 bulan).

Pada masa bayi dibagi menjadi dua periode yaitu masa neonatal

(umur 0-28 hari) dan masa post neonatal (umur 29 hari-1 bulan). Pada

masa neonatal terjadi proses adaptasi terhadap lingkungan, perubahan

sirkulasi darah, dan mulai berfungsinya organ. Pada masa ini anak

makanan yang terbaik adalah ASI sehingga ASI harus diberikan segera

setelah bayi lahir.

Pertumbuhan yang sangat pesat dan proses pematangan yang

terus menerus terjadi pada masa post neonatal. Pada masa ini seorang

bayi bergantung pada orang tua. Peranan ibu sangat berpengaruh dalam

masa ini.

3. Masa anak di bawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan).

Pada masa ini kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan

terdapt kemajuan dalam perkembangan motorik (gerakan kasar dan

gerakan halus) serta fungsi ekskresi. Periode ini merupakan periode

terpenting karena pertumbuhan dasar yang berlangsung pada periode ini

akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya.

4. Masa anak prasekolah (anak umur 60-72 bulan).

Pada masa inipertumbuhan berlangsung secara stabil. Terjadi

perkembangan dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan

meningkatnya keterampilan dan proses berfikir. Anak mulai mampu

menunjukan keinginannya, berteman dan bermain dengan teman


22

sebanyanya. Sehingga selain lingkungan di dalam rumah, lingkungan di

luar rumah juga berpengaruh pada tumbuh kembang.

3.1.6 Penilaian Perkembangan

Anak harus dikembangkan secara optimal agar dapat mencapai

kindisi yang baik di masa yang akan datang maka dibutuhkan stimulasi

perkembangan untuk perkembangan anak. Anak yang mendapat

stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang

dibandingkan anak yang kurang mendapatkan stimulasi (Nugroho,

2009).

Penyimpangan perkembangan harus dideteksi sedini mungkin

melalui metode skrining. Terdapat beberapa metode dalam penilaian

perkembangan anak, diantaranya adalah (Nugroho, 2009: Depkes,

2005) :

a. Denver Developmental Skrining Test (DDST),

dipublikasikan oleh Denver Developmental Materials,

Inc., di Denver, Colorado. DDTS merefleksikan

presentase kelompok anak usia tertentu yang dapat

menampilkan tugas perkembangan tertentu.

b. Neonatal Behavioral Assessment Scale (NBAS), yang

disusun oleh ahli pediatric Havard, T. berry Brazleton

dan lebih dikenal sebagai “The Brazlenton”.

c. Early Laguage Milistone (ELM) scale untuk anak usia 0-

3 tahun
23

d. Clinical Adaptive Test (CAT) dan Clinical Linguistic

and Auditory Milestone Scale (CLAMS) untuk anak usia

0-3 tahun.

e. Infant Monitoring System untuk anak usai 4-36 bulan.

f. Early Screening Inventory untuk anak usia 3-6 tahun.

g. Peabody picture vocabulary test (“The Peabody”) untuk

anak usia 2,5 sampai 4 tahun.

h. Kuesioner Pra Skinning Perkembangan (KPSP) untuk

anak usia 0-72 bulan.

i. Tes Daya Lihat (TDL).

j. Tes Daya Dengar (TDD).

Pada penelitian ini menggunakan metode KPSP. KPSP ini dapat

dilakukan oleh petugas pusat PADU terlatih, guru TK terlatih, dokter,

bidan dan perawat. Pelaksanakan memberikan pertanyaan kepada ibu

atau pengasuh. KPSP ini dikelompokan berdasarkan umur. Dalam

kuesiner ini terdapat 9-10 pertanyaan tentang kemampuan

perkembangan yang telah dicapai anak. Pertanyaan dibagi kedalam

empat kategori yaitu kemampuan gerak kasar, gerak halus, sosialisasi

dan kemandirian serta bicara dan bahasa (Depkes, 2005).

Hasil perkembangan dapat diketahui dari jumlah jawaban “ya”

dan “tidak”. Jawaban “ya” berjumlah 9 atau 10 maka perkembangan

anak sesuai dengan tahap perkembangannya (S). Apabila jumlah

jawaban “ya” adalah 7 atau 8 maka perkembangan anak meragukan

(M). Jumlah jawaban “ya” adalah 6 atau kurang, kemungkinan ada


24

penyimpangan (P) dan untuk jawaban “tidak”, perlu dirinci jumlah

jawaban “tidak” menurut jenis keterlambatan.

3.2 Status Gizi

3.2.1 Definisi Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam

bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk

variabel tertentu (Supariasa, 2002). Menurut Almatsier (2001), status

gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

penggunaan zat gizi yang dibedakan menjadi status gizi buruk, kurang

dan lebih. Zat gizi sangat berkaitan dengan perkembangan otak,

kemampuan belajar dan produktifitas kerja serta daya tahan terhadap

infeksi. Jadi status gizi adalah keadaan keseimbangan dalam tubuh

sebagai akibat dari konsumsi makanan yang dapat mempengaruhi

perkembangan, pertumbuhan dan daya tahan tubuh.

3.2.2 Penilaian Status Gizi

Terdapat dua macam penilaian status gizi, yaitu penilaian status

gizi secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung

(Supariasa, 2002). Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi

menjadi empat penilaian, antara lain: antropometri, klinis, biokimia,

dan biofisik (Supariasa, 2002). Sedangkan penilaian gizi secara tidak

langsung dibagi menjadi tiga, yaitu survei ekonomi makanan, statistik

vital, dan faktor ekologi (Supariasa, 2002). Dalam penelitian ini peneliti

melakukan penilaian status gizi dengan antropometri (langsung) dan


25

survei konsumsi makanan yaitu recall 2x24 jam dan food frequency

(tidak langsung).

3.2.2.1 Antropometri

Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Antropometri gizi

berkaitan dengan pengukuran dimensi dan komposisi tubuh dari berbagi

tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, 2002). Salah satu kegunaan

antropometri adalah mengukur status gizi akibat ketidakseimbangan

asupan energi dan protein yang dapat dilihat dari pola pertumbuhan

fisik dan proporsi jaringan tubuh (Supariasa, 2002).

Parameter antropometri merupakan dasar bagi penilaian status

gizi. Kombinasi antara beberapa parameter antropometri disebut dengan

indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri telah banyak

dikenal seperti berat badan per umur (BB/U), tinggi badan menurut

umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan lingkar

lengan atas menurut umur (LLA/U). Penggunaan dan pemilihan indeks

tersebut sangat bergantung pada tujuan pengukuran yang dilaksanakan

(Gibson, 2005; Soegianto 2007). Pada penelitian ini peneliliti

menggunakan dua indeks antropometri yaitu berat badan menurut umur

(BB/U) dan tinggi badan menurut umur (TB/U).

a. Berat Badan menurut Umur (BB/U)

Berat badan merupakan parameter yang memberikan

gambaran massa tubuh yang sangat sensitif terhadap

perubahan. Apabila dalam keadaan normal yaitu keadaan

kesehatan baik dan keseimbangan zat gizi terjamin maka


26

berat badan akan berkembang mengikuti pertambahan umur.

Oleh karena itu BB/U lebih menggambarkan status gizi

seseorang saat ini (Supariasa, 2002).

b. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan parameter yang menggambarkan

keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi

badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.

Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap

defisiensi zat gizi dalam jangka waktu pendek. Oleh karena

itu TB/U menggambarkan status gizi masa lalu dan

berkaitan dengan status sosial ekonomi (Supariasa, 2002).

3.2.2.2 Survei Konsumsi Makanan

Survei konsumsi makanan merupakan salah satu metode yang

digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok

(Supariasa, 2002). Secara umum survei ini dimaksudkan untuk

mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan

makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok, rumah tangga dan

perorangan serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi

makanan tersbut (Supariasa, 2002).

1. Metode Food Recall 24 Hours

Menurut Supariasa (2002), prinsp metode ini yaitu dilakukan

dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi

pada periode 24 jam yang lalu. Langkah-langkah pelaksanaan recall

24 hours antara lain:


27

a. Pewawancara menanyakan kemali dan mencatat semua makanan

dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah

tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu,

b. Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan

menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM), dan

c. Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan

(DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.

Menurut Supariasa (2002), metode Recall 24 Hours ini

mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan, sebagai berikut:

a. Kelebihan metode Recall 24 Hours:

1) Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani

responden.

2) Biaya realtif murah, karena tidak memerlukan peralatan

khusus dan tempat yang luas untuk wawancara.

3) Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden.

4) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf.

5) Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar

dikonsumsi individu sehingga dihitung asupan gizi sehari.

b. Kekurangan Recall 24 Hours:

1) Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila

hanya dilakukan recall satu hari.

2) Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden.


28

2. Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency)

Metode frekuensi makanan adalah ntuk memperoleh data

tentang frekuesni konsumsi sjumlah bahan makanan jadi selama

periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun (Supariasa,

2002). Langkah-langkah metode frekuensi makanan sebagai berikut:

a. Responden diminta untuk memberi tanda pada datar makanan

yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaannya

dan ukuran porsinya.

b. Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis

bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan

sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula.

Menurut Supariasa (2002), metode frekuensi makanan ini

mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan, sebagai berikut:

a. Kelebihan metode frekuesi makanan:

1) Relatif murah dan sederhana.

2) Dapat dilakukan sendiri oleh responden.

3) Tidak membutuhkan latihan khusus.

4) Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit

dan kebiasaan makan.

b. Kekuragan metode frekuensi makanan:

1) Tidak dapat untuk menghitung asupan zat gizi sehari.

2) Cukup menjemukan kuesioner pengumpulan data.

3) Perlu membantu percobaan pendahuluan untuk menentukan

jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kusioner.


29

4) Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi.

3.2.3 Klasifikasi Status Gizi

Penentuan klasifikasi status gizi harus menggunakan ukuran

baku yang disebut reference. Baku antropometri yang digunakan adalah

WHO-MGRS (World Health Organization-Multicentre Growth

Reference Study). WHO-MGRS dilaksanakan antara tahun 1997 sampai

2003 untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak bawah

lima tahun (balita). MGRS mengumpulkan data pertumbuhan dan

informasi dari 8440 bayi sehat yang mengkonsumsi ASI (Air Susu Ibu)

dan anak yang mempunyai latar belakang etnis dan budaya yang

berbeda-beda (WHO, 2009). Cara perhitungan z-score adalah sebagai

berikut menurut Supariasa (2000):

Nilai Individu Subyek – Nilai Median Baku Rujukan


z-score =
Nilai Simpang Baku Rujukan

Klasifikasi status gizi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

Tabel 3.1 Klasifikasi Status Gizi Anak Berdasarkan Z-score dengan


indeks Berat Badan menurut Umur

Z-score Berat Badan menurut Umur


Di atas 3 Lihat catatan 1
Di atas 2 Lihat catatan 2
Di atas 1 Lihat catatan 2
0 (median) Normal
Di bawah -1 Normal
Di bawah -2 BB kurang (Underweight)
Di bawah -3 BB Sangat Kurang (Severe Underweight)
Sumber : WHO 2006
30

Catatan 2 : kemungkinan anak mengalami masalah pertumbuhan. Akan

lebih baik apabila dinilai berdasarkan indeks BB/TB atau

BB/PB atau IMT/U.

Tabel 3.2 Klasifikasi Status Gizi Anak Berdasarkan Z-score dengan


indeks Tinggi Badan menurut Umur

Z-score Tinggi Badan menurut Umur


Di atas 3 Lihat catatan 1
Di atas 2 Normal
Di atas 1 Normal
0 (median) Normal
Di bawah -1 Normal
Di bawah -2 Pendek (Stunted) Lihat catatan 4
Sangat Pendek (Severe Underweight) Lihat
Di bawah -3
catatan 4
Sumber : WHO 2006

Catatan 1 : anak termasuk dalam kategori sangat tinggi, hal ini tidak

masalah kecuali mungkin sangat tinggi ini karena kelainan

endokrin. Rujuk anak tersebut jika mengalami gangguan

endokrin.

Catatan 4 : anak yang pendek atau sangat pendek, kemungkinan akan

menjadi gemuk apabila mendapat intervensi gizi yang salah.

3.2.3.1 Underweight (Berat Badan menurut Umur rendah)

Berdasarkan tabel 3.1 di atas yang dimaksud underweight

adalah suatu keadaan dimana berdasarkan indeks BB/U balita

mempunyai berat badan kurang (di bawah -2 SD). Underweight

menggambarkan status gizi seseorang saat ini karena berat badan sangat

labil terhadap perubahan (Supariasa, 2002).


31

3.2.3.2 Stunting (Pendek)

Berdasarkan tabel 3.2 di atas yang dimaksud dengan stunting

adalah suatu keadaan dimana berdasarkan indeks TB/U balita

mengalami masalah gizi (pendek) dengan z-score di bawah -2 SD.

Menurut Soegianto (2007), stunting adalah pertumbuhan tulang yang

terlambat dari tinggi badan. Kondisi ini adalah hasil interaksi dari

intake makanan yang tidak adekuat dan meningkatnya angka kesakitan,

yang biasa didapat dari negara miskin.

Stunting menggambarkan status gizi yang kronis artinya

pengaruh defisiensi zat gizi tersebut akan nampak dalam waktu yang

relatif lama. Stunting juga berkaitan dengan status sosial ekonomi

(Supariasa, 2002 ; Soegianto, 2007).

3.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Banyaknya zat gizi yang diperlukan, berbeda antara satu orang

dengan orang lain tetapi fungsi gizi pada pokoknya sama untuk semua

orang. Status gizi seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor

langsung dan tidak langsung (Supariasa, 2002 ; Soekirman, 2000).

Faktor penyebab langsung adalah konsumsi zat gizi dan penyakit

infeksi. Konsumsi zat gizi dan penyakit infeksi adalah suatu faktor yang

sinergistik. Apabila tubuh berada dalam kondisi yang kekurangan

asupan energi maka tubuh akan rentang terhadap penyakit infeksi.

Begitu sebaliknya, apabila kita terkena penyakit infeksi maka nafsu

makan kita akan menurun mengakibatkan asupan zat gizi kurang

(Gibney, et al, 2008). Faktor penyebab tidak langsung dari status gizi
32

adalah ketersediaan pangan keluarga, pola asuh dan hygiene sanitasi

(Supariasa, 2002 ; Soekirman, 2000).

3.2.4.1 Faktor Penyebab Langsung

3.2.4.1.1 Tingkat Konsumsi Makanan Balita

Tingkat konsumsi makanan ditentukan oleh kuantitas dan kualitas

hidangan. Kuantitas menunjukan jumlah dari masing-masing zat gizi

terhadap kebutuhan tubuh, sedangkan kualitas menunjukkan adanya

semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan.

Apabila asupan zat gizi baik maka akan tercipta status gizi yang baik

(Sediaoetama, 2008).

Tingkat konsumsi makanan berbeda-beda menurut umur dan jenis

kelamin. Tingkat konsumsi diperoleh dengan membandingkan antara

zat gizi yang dikonsumsi dengan Standard Angka Kecukupan Gizi

(AKG). Secara umum terdapat dua kriteria untuk menentukan

kecukupan konsumsi pangan, yaitu konsumsi energi dan protein.

Kecukupan konsumsi energi dan protein pada balita menurut AKG

tahun 2004, disajikan pada tabel 3.3

Tabel 3.3 Angka kecukupan energi, protein, dan pada balita

Golongan Berat Tinggi AKE AKP


Usia Badan Badan (kkal/kap/ (g/kap/hari)
(kg) (cm) hari)
0 - 6 bulan 6,0 60 550 10
7 - 11 bulan 8,5 71 650 16
1 - 3 tahun 12,0 90 1000 25
4 - 6 tahun 18,0 110 1550 39
7 - 9 tahun 25,0 120 1800 45
Sumber : Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat UI, 2008
33

3.2.4.1.2 Penyakit Infeksi

Antara status gizi kurang dan infeksi terdapat interaksi bolak-balik.

Selama terjadinya infeksi, status gizi akan menurun karena saat infeksi

terjadi penurunan nafsu makan dan toleransi terhadap makanan, dengan

menurunnya status gizi maka anak tersebut akan menjadi kurang

resisten terhadap infeksi (Suhardjo, 2005). Respon imun menjadi

kurang efektif dan kuat ketika seseorang mengalami gizi kurang. Ketika

terjadi demam pada anak akan meningkatkan pengeluaran energi sekitar

15 % untuk setiap kenaikan 1 0C di atas suhu 37 0C (Gibney, et al,

2008). Oleh karena itu penyakit infeksi secara langsung dapat

mempengaruhi status gizi.

3.2.4.2 Faktor Penyebab tidak Langsung

3.2.4.2.1 Ketersediaan Makanan Keluarga

Ketersediaan pangan keluarga mengacu pada pangan yang cukup dan

tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memenuhi kebutuhan

konsumsi keluarga (Suhardjo, 2005). Di dalam rumah tangga, salah

satu cara untuk mempertahankan ketersediaan pangan dalam jangka

waktu tertentu adalah dengan mengurangi frekuensi makan atau

mengkombinasikan bahan makanan pokok (Raharto, 1999; Romdiati,

1999 dalam Puslit Kependudukan LIPI, 2004). Ketersediaan pangan

secara langsung akan mempengaruhi tingkat konsumsi makanan.

Apabila ketersediaan pangan melimpah maka keluarga tersebut tidak

akan kekurangan asupan zat gizi.


34

3.2.4.2.2 Pola Konsumsi

Pola konsumsi adalah kebiasaan makan yang terbentuk dari perilaku

makan yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama dan

masing-masing suku bangsa maupun individu mempunyai pola makan

sendiri yang berbeda satu sama lain (Sediaoetama, 2008). Pola

konsumsi akan menentukan tingkat konsumsi makanan. Apabila pola

konsumsi kita adalah makanan yang beragam dan seimbang yaitu terdiri

dari 50-60 % karbohidrat, 20-25 % lemak dan 15-20 % protein maka

tingkat konsumsi makanan kita akan baik.

3.2.4.2.3 Daya Beli Pangan

Menurut Apriadji (1986), kemampuan keluarga untuk membeli bahan

makanan antara lain tergantung pada besar-kecilnya pendapatan

keluarga dan harga bahan makanan. Keluarga yang memiliki

pendapatan terbatas maka kemungkinan keluarga tersebut kurang dapat

memenuhi kebutuhan makananya serta keanekaragaman bahan

makanan kurang bisa dijamin. Bahan makanan yang harganya mahal

biasanya tidak akan dibeli sehingga suatu jenis makanan tidak pernah

dihdangkan dalam susunan makanan keluarga.

3.2.4.2.4 Pola Asuh

Pola asuh adalah kemampuan masyarakat untuk menyediakan waktu,

perhatian dan dukungan dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan

sosial dari aak yang sedang tumbuh dalam anggota keluarga lainnya

(Husin, 2008). Gezairy (2005) dan WHO (2006) menyatakan bahwa

terdapat beberapa faktor lingkungan dan perilaku beresiko yang juga


35

merupakan penyebab kematian balita, termasuk lingkungan yang tidak

higienis dan tidak aman (seperti kurangnya akses air dan sanitasi yang

aman, perumahan miskin, dan polusi udara di dalam ruangan) dan

makanan dan menyusui yang cukup.

3.2.4.2.5 Pelayanan Kesehatan dan Higiene Sanitasi

Kebersihan atau sanitasi lingkungan memang bukan merupakan faktor

yang langsung berpengaruh terhadap status gizi seseorang namun faktor

ini cukup besar peranannya. Tingkat kecukupan zat gizi yang baik tidak

akan berarti apabila anak menderita cacingan karena hampir semua zat

gizi yang seharusnya diserap dan bisa dimanfaatkan diserobot oleh

cacing. Cacing ini berasal dari lingkungan sekitar kita. Lingkungan

yang kotor merupakan tempat hidup cacing (Apriadji, 1986). Oleh

karena itu kita harus menjaga lingkungan dan mengupayakan perilaku

hidup bersih dan sehat.

Akses terhadap pelayanan kesehatan juga memegang peranan dalam

pencapaian status gizi. Jumlah pelayanan kesehatan, jarak pelayanan

kesehatan dari rumah, transportasi, dan keterjangkauan harga menjadi

pertimbangan masyarakat untuk menggunakan pelayanan kesehatan.

Apabila masyarakat merasa tidak mampu menjangkau pelayanan

kesehatan karena alasan diatas maka kesempatan dalam pencapaian

status gizi yang baik akan terganggu.

Beri Nilai