Anda di halaman 1dari 10

LI’AN DALAM PERSPEKTIF YURIDIS, PSIKOLOGIS, SOSIOLOGIS DAN EKONOMIS

Suryani*

Abstrak

Makna dasar dari sebuah perkawinan adalah suatu ikatan, dengan konsekwensi sebuah ikatan itu
dapat lepas, yang kemudian itu disebut thalaq. makna dasar thalak itu adalah melapaskan ikatan atau
melepaskan perjanjian. Putusnya suatu perkawinan telah diatur baik dalam fiqih maupun dalam
undang-undang dengan adanya thalaq, Para ulama telah membahas tentang masalah terputusnya
perkawinan, dan sebab-sebabnya, dan di antara sebab tersebut adalah li‟an.

Memperhatikan sebab li‟an di atas maka, yang menjadi bahasan dalam tulisan ini adalah Sebab-sebab
terjadinya li‟an , tujuan li‟an, ketentuan li‟an, syarat syahnya li‟an, akibat-akibat yang ditimbulkan
oleh adanya li‟an serta li‟an dalam Perspektif Yuridis, Psikologis, Sosiologis dan Ekonomis.

Kata Kunci : Li‟an, Perspektif,Yuridis, Psikologis, Sosiologis dan Ekonomis

Pendahuluan Oleh karena itu, perlu dijadikan perhatian


Perkawinan seorang laki-kaji bahwa problem yang ada dalam
dengan perempuan dalam Islam perkawinan tersebut harus dicermati akar
merupakan ikatan suci yang terkait permasalahnya, agar mendapatkan solusi
dengan keyakinan dan keimanan kepada yang terbaik, tanpa ada salah satu pihak
Allah, disebut dengan istilah misaqon yang merasa diabaikan hak-haknya.
gholizan, jadi bukanlah hanya sekedar
perkara perdata semata. Oleh karena itu Dengan demikian suatu
suatu perkawinan mempunyai dimensi perkawinan harus dipandang sebagai
ibadah, yang harus dipelihara dan sesuatu yang alami, bisa bahagia dan
dipertahankan dengan sebaik-baiknya, bertahan sampai akhir hayat, namun bisa
sehingga dapat langgeng dan abadi, untuk juga terputus ditengah perjalanan,Para
mewujudkan tujuan dari perkawinan itu ulama telah membahas tentang masalah
sendiri yaitu keluarga yang sejahtera, terputusnya perkawinan, dan sebab-
aman, damai, penuh dengan kasih sayang Sebabnya, 1 dan di antara sebab tersebut
(mawaddah warohmah). adalah li‟an. Dalam makalah ini akan
membahas tentang li‟an dalam aspek
Untuk mencapai tujuan intridisipliner
perkawinan yang mulia di atas sering kali
menemui kendala, seiring dengan B. Pengertian Li’an
Pengertian li‟an secara bahasa
kompleksnya permasalahan kehidupan
berasal dari kata la‟an, yang berarti
perkawinan yang dihadapi, yang
seringkali membuat kandas suatu mengutuk,2 menjauhkan dan mengusir
dari kebaikan.3Al-li‟an dan al-mula‟anah
mahligai perkawinan tersebut,
artinya melaknat di antara dua
perkawinan harus putus ditengah jalan.

*Penulis adalah Dosen FUAD IAIN Bengkulu


El-Afkar Vol. 5 Nomor II, Juli- Desember 2016

orangbatau lebih.Secara istilah li‟an 1. Wajibnya li‟an karena adanya


adalah sumpah suami dengan lafal tuduhan berzina
tertentu atas perzinaan isterinya, atau 2. Mengingkari kandung
tidak mengakui anak isterinya sebagai
anaknya, dan sumpah isteri yang D. Syarat, cara pelaksanaan dan
menyatakan kedustaan tudahan suaminya tujuanLi’an.
terhadap dirinya.4 Dinamakan li;an karena Terjadinya li‟an pasti mempunyai
masing-masing suami isteri saling tujuan dan resiko atau dampak tersendiri,
melaknat dirinya sendiri pada kali kelima baik itu dari suami isteri yang berli‟an
jika dia berdusta. ataupun bagi anak yang ada dari
perkawinan suami isteri tersebut. Oleh
Imam Hanafai, Imam Maliki, karena itu li‟an harus mempunyai cara-
Imam Syafi‟I, secara umum berpendapat cara dan syarat-sarat tersendiri, Adapun
bahwa li‟an itu adalah tuduhan seorang syarat dan tata cara pelaksanaan lian
suami terhadap isteri berbuat zina, dan tersebut sebagai berikut:
tidak mengakui kehamilan isterinya,5 a. Syarat Li’an
Imam Maliki menegaskan bahwa sumpah
1. Adanya ikatan perkawinan6 , tidak
(li‟an) yang dilakukan di bawah
ada li‟an antara orang yang bukan
pengawasan hakim yang menyaksikan suami isteri
li‟an tersebut.
2. Pernikahannya adalah pernikahan
C. Sebab-sebab terjadinya li’an yang sah7, bukan pernikahan yang
Terjadinya li‟an merupakan fasid.
tuduhan berzina yang tidak terlepas dari 3. Suami adalah orang yang bisa
ketentuan penyaksian, Yakni, seorang memberikan kesaksian8 bagi
mengaku bahwa ia menyaksikan masyarakat Islam.
perbuatan zina. Atau tuduhan ini mutlak b. Cara Pelaksanaan Li’an
tanpa ikatan.Dan bila ia mengingkari 1. Li‟an terjadi di hadapan qodhi/hakim
kandungan, maka adakalanya ia atau wakilnya, karena sebagaima
mengingkarinya dengan pengingkaran Nabi telah memerintahkan Hilal
mutlak atau mengatakan bahwa ia tidak bin Umayyah untuk memanggil
mencampuri istrinya sesudah istrinya itu isterinya dihadapan beliau dan
membersihkan rahimnya dari saling melakukan li‟an di hadapan
kandungannya(istibrak). Dengandemikian beliau.9
empat persoalan pokok, dan semua 2. Li‟an disaksikan oleh orang
tuduhan tersusun dari keempat persoalan banyak, agar menjadi
ini. Misalnya seorang lelaki menuduh pembelajaran dan efek jera bagi
istrinya berzina dan ia mengingkari pihak yang ber – li‟an10
kandungannya. Atau mengakui 3. Mula-mula Hakim mengingatkan
kandungnanya, tetapi juga menuduhnya suami isteri yang berli‟an untuk
berzina. Oleh karena itu mengapa bertaubat sebelum memutuskan
seseorang harus li‟an adalah karena untuk berli‟an. Karena sebelum
sebagai berikut:

116
Suryani
Li’an dalam Perspektif Yuridis, Psikologis, Sosiologis dan Ekonomis

berli‟an pasti ada salah satu dari menasehati dan memberitahukan


keduanya ada yang berdusta.11 kepadanya bahwa itu
4. Hakim memulai dari suami, mengakibatkan kemurkaan Allah
dengan menyuruh berdiri seraya sebelum ia bersaksi untuk kelima
mengatakan, ucapkan empat kali,: kalinya.
“Aku persaksikan kepada Allah, 11. Bila ia menarik diri dan mengaku,
sesungguhnya aku termasuk orang- maka ia dikenakan had zina.
orang yang benar mengenai tuduhan 12. Bila melanjutkan
zina yang aku ucapkan kepada isteriku pengingkarannya, maka ia
ini,” bila li‟an itu tentang penafian diperintahkan untuk mengucapkan
anak, maka hakim menyuruh “Kemurkaan Allah menimpaku bila
untuk mengucapkan empat kali: ternyata ia (suamiku) termasuk orang-
“Aku persaksikan kepada Allah, orang yang benar, “, bila ia
sesungguhnya ia telah berzina, dan mengucapkan yang demikian
anak ini bukanlah anakku, dengan maka gugurlah had zina darinya.
menyebut anak yang dimaksud”.
5. Suami mengucapkan empat kali, c. Tujuan adanya li’an
“Aku persaksikan kepada Allah, 1. Perkawinan adalah ikatan yang
sesungguhnya aku termasuk orang- suci berdasarka n cinta, oleh
orang yang benar…” karena itu bila terjadi saling
6. Bila suami menarik kembali tuduh menuduh, maka akan
tuduhannya , maka ia dikenakan timbul rasa benci dan
hadd qadzab (hukuman karena menghilangkan kepercayaan
menuduh tanpa bukti) satu sama lainnya,
7. Bila suami tetap melanjutkan, itulah dengan adanya li‟an
maka ia mengatakan pada kali ke diharapkan saling tuduh
lima, dan “laknat Allah menimpaku menuduh tidak mudah
bila aku termasuk orang-orang dilakukan.12
berdusta,” dengan begitu gugurlah 2. Membuat rasa takut suami isteri
hadd kadzab darinya. dari melakukan perbuatan
8. Selanjutnya hakim mengatakan buruk yaitu berzina, dan
kepada si isteri, “engkau meli‟an, menjaga rasa malu dan
dan jika tidak engkau dihukum kehormatan rumah tangga.
dengan had zina. 3. Menjaga kehormatan suami dari
9. Bila isteri meneruskan li‟an, ia mendapat keaiban.
mengucapkan ”aku persaksikan 4. Menghindari terjadinya
kepada Allah, sesungguhnya ia keturunan yang buruk, artinya
termasuk orang-orang yang berdusta. bukan keturunan suami yang
“sebanyak empat kali.
sebenarnya.
10. Setelah itu hakim memerintahkan 5. Untuk kepentinga suami yang
seseorang untuk melihat kejadian zina isterinya,
menghentikannya, guna
tetapi tidak sempat atau dapat

117
El-Afkar Vol. 5 Nomor II, Juli- Desember 2016

mencari saksi-saksi yang kesemuanya itu mengharuskan


diperlukan.13 keduanya tidak berkumpul kembali
selamanya. Demikian itu karena pada
d. Akibat-akibat li’an dasarnya hubungan suami istri tidak
Jumhur ulama berpendapat dibina atas dasar kasih sayang,
bahwa perceraian terjadi karena sementara mereka tidak memiliki lagi
li‟an,14Ibnu syihab mengatakan rasa kasih sayang ini sama sekali.
menurut riwayat Malik15, Maka hukuman yang layak bagi
demikianlah sunat yang tetap berlaku keduanya adalah bercerai dan
diantara dua orang yang berpisah.Ringkasnya, kebobrokan
berli‟an.Menurut para ulama‟ hubungan yang ada di antara
perceraian yang disebabkan li‟an keduanya telah melampaui batas
termasuk fasakh,16menurut Abi toleransi, oleh karena itu menurut para
Hanifah yaitu talak ba‟in, 17karena ulama dampak dari lian itu adalah
perceraian ini adalah dari fihak suami sbb:
tidak ada campur tangan isteri.
1. Hukuman digugurkan dari
Utsman al-batti dan golongan keduanya. 19

„ulama Basrah mengatakan bahwa li‟an 2. Lepasnya ikatan perkawinan


tidak mengakibatkan perpisahan antara keduanya untuk selama-
diantara suami istri. Mereka lamanya.20
mengemukakan alasan bahwa hukum 3. Terputusnya nasab si anak dari
perpisahan itu tidak termuat dalam fihak suami, dan ia dinasabkan
ayat li‟an,dan tidak pula dijelaskan kepada ibunya.21
dalam hadis-hadis tentang li‟an, 4. Haram bagi mantan suami
karena di dalam hadis yang mansyhur menikah lagi dengan mantan
dihadapan rasullaulah saw, sedang isterinya.22
beliau tidak mengingkari perbuatan Oleh karena itu menurut para
itu. Lagi pula,li‟an disyaratkan tidak ulama‟ bahwaHukum-hukum yang
lain untuk mengingkari perbuatan itu. menimpa orangyang melakukan
lagi pula li‟an disyaratkan bertujuan mula‟anah atau li‟anadalah sebagai
menghindari hukuman had karena berikut:
menuduh istri berzina. Oleh karena
itu,li‟an tidak mewajibkan 1. Kedua suami isteri yang berli‟an
harus diceraikan.23
pengharaman rujuk karena disamakan
2. Kedua suami isteri
dengan saksi.18
yangmelaksanakan lian haram
Jumhur ulama mengemukakan ruju‟ untuk selama-lamanya.24
alasan bahwa pada dasarnya diantara 3. Isteri berhak terhadap
keduanya telah terjadi pemutusan maharnya, suami tidak berhak
hubungan ,saling membenci, saling mengambil mahar tersebut.25
mengumbar hawa nafsu, dan merusak
batasan-batasan Allah, yang

118
Suryani
Li’an dalam Perspektif Yuridis, Psikologis, Sosiologis dan Ekonomis

4. Isteri tidak mempunyai hak Kompilasi Hukum Islam dengan jelas


nafkah dan tempat tinggal atas mengatur tentang tata
suaminya.26 carali‟an,sebagaimana dituangkan dalam
5. Anak yang terlahir dari isteri pasal 127, tata cara li‟an diatur sebagai
yang li‟an harus diserahkan berikut:31
kepada sang isteri. Oleh karena
a. Suami bersumpah empatkali
itu terputus nasab anak dari
dengan kata tuduhan zina dan
garis keturunan pihak
/atau pengingkaran anak tersebut,
ayahnya. 27
diikuti sumpah kelima dengan
6. Berlaku pewarisan antara
kata-kata “laknat Allah atas dirinya
perempuan yang dili‟an
apabila tuduhan dan/atau
dengan anaknya. 28
pengingkaran tersebut dusta”.
b. Isteri menolak tuduhan dan/atau
pengingkaran tersebut dengan
sumpah empat kali dengan kata
E. Li’an dalam perspektif Yuridis
“tuduhan dan/atau pengingkaran
Pengaturan Li‟an dalam
tersebut tidak benar”, diikuti dengan
Perundang-undangan Perkawinan, yaitu:
sumpah kelima dengan kata-kata
dalam dalam UU. Perkawinan Nomor.
murka Allah atas dirinya bila
Tahun 1974 B ab VIII pasal 39 poin.2,
“tuduhan dan/atau pengingkaran
namun pasal tersebut tidak secara ekplisit
tersebut benar”.
menjelaskan tentang li‟an. Dalam pasal ini
c. Tata cara pada huruf a dan b
hanya dijelaskan bahwa perceraian harus
tersebut merupakan satu kesatuan
ada cukup alasan, pada penjelasan UUN
yang tak terpisahkan.
tersebut, baru ada disebutkan alasa-alasan
d. Apabila tata cara huruf a tidak
bercerai salah satunya adalah karena salah
diikuti dengan tata cara huruf b,
satu pihak berbuat zina.29Dalam Peraturan
maka dianggap tidak terjadi li‟an.
Pemerintah RI No. 9 Tahun 1975 tentang
Pada pasal 128 disebutkan; “ Li‟an
pelaksanaan UU.No.1 tahun 1974, pasal
hanya sah apabila dilakukan dihadapan siding
19.30
Pengadilan Agama”, selain itu dalam KHI
Pasal yang dengan jelas mengatur
diatur juga masa iddah dalam Bab XVII
masalah li‟an ini adalah dalam Kompilasi
Akibat Putusnya Perkawinan bagian
Hukum Islam (KHI) Bab XVI pasal 125
Kesatuakibat Talak pasal 155, “ Waktu
menegaskan “li‟an menyebabkan
iddah bagi janda yang putus perkawinannya
putusnya perkawinan antara suami isteri
karena khuluk, fasakh, dan li‟an berlaku iddah
untuk selama-lamanya”. Pasal 126
talak”. Lebih lanjut penetapan tentang
menyebutkan “ Li‟anterjadi karena suami
akibat dari li‟an pada pasal 162, “
menuduh isteri berbuat zina dan / atau
Bilamanali‟an terjadi, maka perkawinan
mengingkari anak dalam kandungan atau
itu putus untuk selamanya dan anak yang
yang sudah lahir dari isterinya, sedangkan
dikandung dinasabkan kepada ibunya,
isteri menolak tuduhan dan / atau
sedang suaminya terbebas dari kewajiban
pengingkaran tersebut. Lebih lanjut
member nafkah.32

119
El-Afkar Vol. 5 Nomor II, Juli- Desember 2016

Dengan demikian dipahami bahwa resmi dengan lelaki yang menghamilinya.


pengaturan tentang li‟an dijelaskan secara Dan suami perempuan yang dihamili
eksplisit dalam Kompilasi Hukum Islam lelaki lain tidak mengakui anak yang di
(KHI), jelas bahwabila terjadi li‟an maka kandungnya.34
tidak ada ruju‟, bagi suami isteri tersebut,
Bagi suami yang menuduh istrinya
sedangkan anak yang dikandung ketika
terjadinya li‟an nisbatnya kepada ibunya, melakukan zina tetapi dia melakukan
qadzf (tuduhan yang tidak desertai bukti)
bukan kepada suami yang li‟an
tersebut.Demikian juga nafkah yang dengan tuduhan tersebut, dia harus
dikenakan hukuman cambuk sebanyak
timbul dari anak tersebut tidak menjadi
tanggung jawab suami yang meli‟an, delapan puluh kali. Seseorang yang
dengan demikian maka, dalam kasus li‟an mengatakan bahwa anaknya adalah anak
ini segala beban yang timbul dari adany zina,dia harus dikenakan hukuman
qadzf,karena tuduhan yang ditunjukan
li‟an sepenuhnya ditanggung oleh fihak
kepadanya sama dengan tuduhan yang
isteri atau perempuan.
ditujukan kepada ibunya (istrinya).
Dalam Islam juga, jika seorang
Begitulah hukuman yang
laki-laki tidak mengakui anaknya
kemudian melakukan li‟an,maka semestinya dijatuhkan kepada orang yang
melakukan tuduhan dengan tanpa
hubungan nasab antara bapak dengan
disertai dengan bukti yang kuat sebagai
anak yang dikandung istrinya terputus.
balasan atas perbuatannya.Akan tetapi,
Dia juga tidak berhak mendapatkan
jika dilihat dari segi ketentuan Allah swt,
nafkah, tidak bisa saling mewarisi dan
maka anak tersebut tetap sebagai anaknya
anak tersebut di nisbatkan kepada ibunya.
sendiri. Hal ini bertujuan untuk menjaga
Anak yang dikandung nantinya
kepentingan sianak. Oleh sebab itu, anak
dinasabkan kepada ibunya dan diantara
tersebut tidak boleh menerima zakat yang
mereka diperbolehkan saling mewarisi.
dikeluarkan ayahnya. Jika ayahnya
Sebagai landasan atas hal ini adalah hadis
membunuhnya maka tidak ada hukum
yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu‟aib
qishash terhadapnya. Anak ini dengan
dari ayahnya,dari kakeknya,dia berkata,
anak-anaknya yang lain menjadi muhrim
”Rasulullah telah memutuskan tentang anak diantara muhrim. Diantara mereka tidak
dari suami istri ayng melakukan li‟an, bahwa diperbolehkan menjadi saksi bagi yang
si anak memperoleh harta warisan dari ibunya lain di pengadilan, dan anak ini tidak
dan ibunya bisa mendapat warisan dari boleh dianggap sebagai anak yang tidak
anaknya. Orang yang menuduh perempuan memiliki nasab. Anak itu juga tidak boleh
berzina, wajib dicambuk sebanyak delapan mengakui orang lain sebagai ayanahnya.
puluh kali.”33 Jika kemudian suami menarik
tuduhannya, maka anaknya boleh
Hadits ini diperkuat dengan
dinisbatkan kepadanya dan seluruh akibat
adanya dalil yang menyatakan bahwa
hukum li‟an dihapuskan dari anak
nasab anak di nisbahkan pada suami yang
tersebut.
memiliki ikatan resmi dengan istrinya,
sementara sang istri tidak memiliki ikatan

120
Suryani
Li’an dalam Perspektif Yuridis, Psikologis, Sosiologis dan Ekonomis

Terdapat beberapa pendapat Secara psikologis terjadinya


mengenai li‟an ini, pendapat Mayoritas li‟anakan berpengaruh terhadap perasaan
Ulama, perceraian yang disebabkan li‟an dan jiwasuami isteri tersebut, terutama
termasuk fasakh. Abu Hanifah dalam hal ketentuan-ketentuan dari li‟an
berpendapat bahwa perceraian yang tersebut sebagaimana dikemukakan
disebabkan li‟an dan talak ba‟in karena terdahulu, di antaranya adalah:
perceraian ini disebabkan oleh pihak
1. Pelaksanaan li‟an yang harus
suami dan sama sekali tidak ada campur
disaksikan dihadapan orang
tangan dari pihak istri. Setiap perceraian
banyak, hal ini akan membuat
yang timbul dari pihak suami dianggap
malu dan terbukanya aib
talak, bukan fasakh. Perceraian yang
disebabkan li‟an sama halnya deengan (kejahatan) rumah tangga yang
semestinya tidak terjadi, bukan
perceraiaan yang disebabkan suami
tidak mungkin hal ini akan
impoten,tapi tretap mengacu pada
menimbulkan depresi. Di lain
keputusan hakim.
pihak li‟an adalah sebagai efek jera
Ulama yang berpendapat bagi salah satu pasangan yang
perceraian karena li‟an sebagai fasakh berbuat kejahatan atau perbuatan
mengatakan bahwa mereka (suami-istri) keji (zinai ).
tidak diperbolehkan menikah untuk 2. Li‟an yang dinyatakan suami
selama-lamanya. Hal ini sama dengan berdampak pada siksa yang
larangan menikah yang disebabkan dialami oleh isteri, baik berupa
hubungan darah (muhrim)Hubungan hukuman, ataupun pemenjaraan,
diantara mereka disamakan dengan dengan menanggung rasa malu
hubungan darah . dan bersalah. Sementara li‟an yang
dilakukan oleh isteri hanya upaya
Istri yang dicerai karena li‟an yang
untuk membebaskan diri dari
juga disebut dengan cerai fasakh tidak
hukuman yang harus dijalaninnya,
berhak mendapatkan nafkah maupun bukan menghilangkan rasa malu
tempat tinggal. Nafkah dan tempat tinggal
dan bersalah yang menyiksanya.
hanya diberikan kepada istri yang dicerai 3. Pandangan negatif dan miring dari
bukan disebabkan karena fasakh selama
masyarakat akan tetap diterima
masih dalam „iddah. Hal ini diperkuat
oleh seorang perempuan yang di
dengan hadis yang diriwayatkan oleh li‟an.
Ibnu Abbas berkenaan dengan masalah 4. Li‟an yang dikemukakan oleh
li‟an bahwasanya rasullaulah saw.telah suami isteri akan berakibat pada
memutuskan bahwa tidak ada nafkah dan siksa yang akan menimpa salah
tempat tinggal bagi perempuan yang seorang dari keduanya, baik dunia
berpisah bukan karena talak atau maupun akhirat, karena di antara
suaminya meninggal dunia “.35 keduanya pasti ada yang berdusta.
F. Li’an dalam perspektif Psikologis, 5. Dampak dari ketentuan suami
sosiologis dan ekonomis. isteri yang berli‟an harus

121
El-Afkar Vol. 5 Nomor II, Juli- Desember 2016

diceraikan, yang tidak mustahil Ditinjau dari perspektif ekonomis,


akan menyisakan rasa dendam, bahwali‟an mengakibatkan seorang
benci, amarah di antara suami perempuan (isteri) yang dili‟an tidak
isteri, yang sulit untuk mempunyai hak nafkah dan tempat
dihilangkan. tinggal atas suaminya, tidak ada istilah
6. Suami Isteri yang telah terjadi li‟an harta gono gini, sebagaimana bila terjadi
tidak boleh rujuk kembali, secara perceraian yang biasanya selain li‟an,
psikologis dapat membuat rasa maka tidak ada kewajiban suami untuk
kecewa dan penyesalan yang memberi nafkah atas isteri ataupun anak
berkepanjangan, namun demikian yang dilkandung isterinya ketika li‟an
hal ini adalah pembelajaran bagi tersebut.t36Hanya saja perempuan yang
suami isteri agar tidak mudah dili‟an suaminya berhak atas
saling tuduh menuduh dan lebih maharnya.37Secara ekonomis, bila dilihat
bersabar. Akan tetapi bagi suami dari jumlah mahar pada umumnya yang
yang memang mempunyai bukti ada ketika melaksanakan pernikahan,
bahwa isterinya berzina, maka ia jumlah mahar itu tidak akan seberapa dan
wajib meli‟annya, bila tidak maka tidak akan mencukupi kebutuhan biaya
ia akan dituding sebagai laki-laki kehidupan seorang perempuan setelah di
yang dayyus. li‟an, apalagi bila seorang perempuan ini
Secara sosiologis, suami isteri yang harus menghidupi anaknya yang telah
melakukan li‟an ini akan mendapat hilang nasab dari pihak suami karena li‟an.
banyak cercaan di lingkungan
Hilangnya nasab si anak dari
masyarakat, bahkan dikucilkan
suami, dan nasab anak disandarkan
masyarakat, oleh karena itu mereka akan
sulit untuk beradaptasi dan mendapat kepada ibunya, hal ini berdampak akan
tidak adanya hak perwarisan bagi anak
tempat di masyarakat. Begitu juga anak
dari pasangan yang melakukan li‟an, tersebut dari pihak suami, tidak ada
secara psikologis dia akan banyak kewajiban untuk memberi nafkah,38 baik
menerima cercaan dan hinaan dari nafkah yang harus ditunaikan oleh
seorang bapak kepada anaknya, maupun
lingkungannnya , dia akan merasa rendah
diri, bahkan dia akan dikatakan anak yang nafkah yang harus ditunaikan oleh anak
terhadap bapaknya.Secara ekonomi, hal
tidak mempunyai bapak karena akibat
dari li’anyang dilakukan orang tuanya, ini akan sangat membebani seorang
perempuan yang akan menghidupi dan
menjadikan ia tidak dapat dinasabkan
dengan suami dari ibunya. Pandangan membesarkan anak tanpa ada nafkah dari
seorang bapak, Seorang perempuan
rendah dari masyarakat akan selalu
mengiringi kehidupan suami, isteri yang dituntut membiayai, mendidik dan
melakukan li‟an dan anak dari pasangan mengasuh anaknya tanpa ada nafkah dari
yang li‟an tersebut, membuat komunikasi suami, sebagai akibat dari li‟an yang
dilakukan.
dan adaptasi dengan masyarakat akan
sulit terwujud. G. Kesimpulan

122
Suryani
Li’an dalam Perspektif Yuridis, Psikologis, Sosiologis dan Ekonomis

1. Li‟an dinyatan sah bila


6
dilakukan dihadapan qadhi Sebagaimana dijelaskan dalam QS: al-Nur:”Dan
orang-orang yang menuduh isterinya (Berzina)”.
atau di Pengadilan Agamali Oleh karena itu tidak ada li‟an bagi isteri yang
2. Li‟an mengakibatkan putusnya sudah meninggal dan isteri yang telah ditalak ba‟in,
7
perkawinan untuk selama- Lihat Ibid., h. 485-486, .
8
Maksud darimemberi kesaksian di sini adalah
lamanya, tidak ada merdeka, baligh, berakal, muslim, mampu berbicara
kemungkinan ruju‟ kembali. dan belum pernah dikenakan hukuman had karena
menunduh. Lihat ibid., lihat lebih lnajut Abu Malik
3. Seorang isteri yang dili‟an
Kamal bin as-Syayyid Salim, Op. cit., h. 523-529.
tidak ada hak atas harta 9
Lihat ibid., 521, lihat Al-Bukhari, Shahih al-
suaminya. Bukhari, (Mesir: Dar al-Fikr, t.th), h. 4745,
Muslim, Shahih Muslim, (Mesir: Dar al-Fikr, t. th),
4. Anak yang dilahirkan dari li‟an h. 1492. :
tidak dapat dinisbatkan 10
Lihat lebih lanjut al-Bukhari, Op. cit., Abu Daud,
kepada suami, tetapi nisbatnya Sunan Abi Daud, (Mesir: Dar al-Fikr, t.th), h, 2237,
al-Tirmizi, Sunan al-Tirmizi, (Mesir: Dar al-Fikr,
kepada isteri. t.th), h. 3229, Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah,
5. Secara Psikologi, sosiologi dan (Mesir: Dar al-Fikr, t. th), h. 2067.
11
ekonomis, li‟an sangat Karena sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi
dari ibnu Abbas, “sesungguhnya Allahmengetahui
merugikan baik itu fihak isteri, bahwa salah seorang dari kalian telah berdusta,
anak, ataupun suami, karena adakah di antara kalian yang bertaubat”, lihat ibid.
12
li‟an mempunyai dampak yang 13
Abdurrahman bin Nashir al-Sa‟di, Op. cit., h. 785.
Sebagaimana Yang disebutkan dalam QS: al-
lama dalam masyarakat, Nur: 6-9.
kejiwaan, yang mengakibatkan 14
karena hal ini telah terkenal melalui hadis-hadis
secara ekonomi terganggu dan li‟an yang menyatakan: ‫ان ر سى ل هللا صلى هللا عليه وسلم‬
‫“فرق بينهما‬bahwa rasullaulah saw, memisahkan
membebankan. antara keduanya,”
15
mereka juga beralasan dengan sabda nabi saw:, ‫ال‬
‫“سبيل لك عليها‬tidak ada jalan lain baginya kepadanya”
Referensi Lihat Ibn Ruysd, Op. cit., h. 687, Muslim, Op.cit.,
h., Abi Daud, Op. cit., h.
1
Menurut Imam Malik sebab-sebab terputusnya 16
perkawinan adalah talaq, khuluk, khiyar/fasakh, Fasakh yaitu pembatalaan atau pembubaran
syiqoq, nusuz, ila‟ dan zihar.Imam Syafi‟I perkaawinan atau akad nikah karena kecacatan
menyebutkan, sebab-sebab terputusnya perkawinan yang ada pada waktu akad nikah ataupun yang
adalah karena, talaq, khuluk, khiyar/fasakh, syiqoq, dating setelahnya. Dapat juga diartikan jatuhnya
nusuz, ila‟ dan zihar dan li‟an. Sedangkan As- talak ileh keputusan hakim atas pengaduan isteri
Sarakshi menyebutkan talak, khuluk, ila dan atau terdapat cacat disalah satu fihak, Lihat Sayyid
zihar.Lihat, Khairuddin Nasution, Status wanita di Sabiq, Op. cit., h. 115.
17
Asia Tenggara: Studi Terhadap Perundang- Talak bain yaitu, talak yang dijatuhkan suami dan
Undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di bekas suami, tidak boleh rujuk kembali dengan
Indonesia dan Malaysia,( Jakarta: Seri INis, 2002), pembaharuan akad nikah, dengan seluruh syarat
h. 203, Lihat Amiur Nuruddin, Op. cit., h. 208. dan rukunnya.Lihat ibid.
2 18
Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Lihat, Ibn Rusyd, Op. cit., h. 687
19
Ilmu Ushul Fikih, (Jakarta: AMZAH, 2009), h. 172. Lihat sebagaimana dijelaskan dalam QS: al-Nur:
3
Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih 6-9, lihat juga hadis dari Ibnu Abbas, al-
Fiqh al-Sunnah (Mesir, Kairo: Maktabah al- Bukhari, Op. cit., h.4747
20
Taufiqiyah, 2003/1424), Juz IV, h. 519 Lebih lanjut lihat, Sayyid Salim, Juz IV, Op. cit.,
4 h. 538-539, Sayyid Sabiq, Juz IV, Op. cit.,
Lihat ibid.,
5 Abdurrahman bin Nashir as-Sa‟di, Syarh
Lihat Wahbah az-Zuhaili: Fikih Islam wa
adillatuhu, (Damaskus: Darul Fikr, 2007), Juz IX, „Umdaal-Ahkam, terjemahan Suharlan dan
h. 481. Suratman, (Darus Sunnah press, 2012), h. 783 -784.

123
El-Afkar Vol. 5 Nomor II, Juli- Desember 2016

21
hal itu berdasarkan hadis Nabi dalam al-Bukhari ,
Op. cit., h. 4745, 5315, Muslim, Op. cit., h. 1492,
h 1494..
22
Lihat, Sayyid Salim, Loc. Cit., Sayyid Sabiq, Loc.
Cit.
23
Berdasarkan hadis Nabi dari Ibn Umar “Nabi
melangsungkan li‟an antara seorang laki-laki dan
seorang prempuan dari kaum Ansor, lalu beliau
memisahkan antara keduanya”, Lihat Bukhari, Op.
cit., h. 5314, Ibn Hajar al-Asyqalani, Fath al-
bari‟, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), Juz , IX, h. 458,
Muslim, Op. cit., juz. II, h. 1133 dan 1494.
24
„Aun al-Ma‟bud, Juz VI, h. 337. ???
25
Al-Asyqalany, Op. cit.,, juz IX, h.456, Muslim,
Op.cit., Juz II, h. 1130, Aunul Ma‟bud, ibid, 347.
26
Lihat Sayid Salim, Op. cit., h. 541.
27
Lihat, al-Bukhari, Op. cit., h. 4745, Muslim, Op.
cit., h. 1492, Abu daud, Op. cit., h. 2906, al-
Tirmizi, Op. Cit., h. 2115.
28
Sebagian ulama‟ berpendapat bahwa nasab yang
sebelumnya dikaitkan kepada bapak, lalu dialihkan
kepada ibunya, maka ibu menempati posisi ayah
dalam hal kewarisan, maka ibu menjadi ashobah si
anak. Yaitu orang yang mendapat warisan tanpa
ditentukan bahagiannnya, begitu juga si anak, jika
si anak meninggal maka, ibu mengambil semua
warisannya, lihat Ibid., , Abu daud, h. 2906, al-
Tirmizi, h. 2116.
29
Lihat, UU. Perkawinan, No. 1, Tahun 1974,
dalam Mardani, Hukum Islam: Kumpulan
Peraturan Tentang Hukum Islam di Indonesia,
(Jakarta: Prenada Media Group, 2013), h. 94.
30
Dalam pasal tersebut bahwa alas an perceraian itu,
salah satu pihak berbuat zina, dalam keduanya, UU.
No. 1, 1974 dan PP. 1975 ini tidak secara konkrit
dijelaskan tentang li‟an dan aturannya. Lihat Ibid.,
h. 104.
31
Lihat ibid., h. 161-162.
32
Libih lanjut lihat, ibid., h. 170-171.
33
Ahmad bin Hanbal, Ibid., Juz II, h. 216.
34
Lihat Sayyid Sabiq, Op. cit., h. 116, lihat lebih
lanjut, Abdurrahman bin Nashir al-Sa‟di, Op. cit.,
h. 787-796.
35
.Abu Daud, Op. cit, Juz II, h. 690 (dalam kitab
ath-thalaq, bab fi al-li‟an, 2256). Ahmad bin
Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Kairo: Dar
al-Fikr, t. th), Juz II, h. 239-245.Syekh Syakir
menganggap sanadnya shahih.athThayalisi,2667,
36
Lihat Mardani, dalam Kompilasi Hukum Islam,
Loc. Cit.
37
Lihat al-Asyqalany,Op. cit., Juz IX, h. 456,
Muslim,Op. cit., juz II, h. 1130, Aunil Ma‟bud, Op.
cit., Juz VI, h. 347, al-Nasa‟I,Op. cit., Juz V, h.
177.
38
lihat Wahbah Zuhaili, Op. cit., h. 503-505

124