Anda di halaman 1dari 23

TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK DI MEDIA SOSIAL

BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-PERUNDANGAN


W. ERFANDY KURNIA RACHMAN, MUH SYARIEF SIMATUPANG, YESSY
KURNIANI, RELA PUTRI
fundee_mail@yahoo.com, simatupang_man@yahoo.com, 9yessi8@gmail.com &
cimon_ynnot@yahoo.co.id
ABSTRAK
Kemajuan teknologi yang ditandai dengan munculnya internet dapat
dioperasikan dengan menggunakan media elektronik seperti komputer. Teknologi
juga memberikan pengaruh yang signifikan dalam pemahaman mengenai kejahatan
terutama terhadap aliran-aliran dalam kriminologi yang menitikberatkan pada factor
manusia, baik secara lahir maupun psikologis.
Salah satu kejahatan yang dilakukandengan meyalahgunakan kecanggihan
teknologi elektronik dan komputer adalahkasus pencemaran nama baik melalui
mediasosial. Kebebasan berpendapat di Indonesia dapat dilihat di Undang-Undang
Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 pada Pasal 28(1). Akan
tetapi terdapat pula pembatasan agar tidak menjadi pencemaran nama
baik.Pengaturan pembatasan tersebut terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP). Terdapat pula beberapa peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang tindak pidana pencemaran nama baik. Selain yang diatur secara lex
generalis dalam KUHP, terdapat juga yang diatur secara lex specialis dalam undang-
undang di luar KUHP yaitu dalam UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik (UU ITE), UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU
Pers), dan UU Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran (UU Penyiaran).
Kata Kunci: Teknologi, Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik, Media Sosial.
ABSTRAC

In this modern era, the progress of information technology, electronic media


and globalization occur almost in all areas of life. Technological advances, like the
Internet can be operated using electronic media such as computers. The technology
also provides a significant influence in the understanding of crime especially on
streams in criminology that focus on humanity, both on the birth and psychological.
One of the crimes committed by misusing the benefit of electronic and computer
technology is the defamation case through social media. Freedom of opinion in
Indonesia can be seen in the Constitution of Republic Indonesia Year 1945 on Article
28 (1). There will still be limitation, so the freedom of opinion does not turn as

1
defamation. This arrangement is presented in the Criminal Code (KUHP). There are
also some legislation regulating criminal defamation. In addition, in Law Number 19
Year 2016 on Amendment to Law of the Republic of Indonesia Number 11 Year 2008
on Information and Electronic Transactions (UU ITE), Law Number 40 Year 1999
regarding Press (Act on Press), and Law Number 32 Year 2002 About Broadcasting
(Broadcasting Act).
Keywords: technology, Defamation, Media Social.
PENDAHULUAN kemudian diterapkan oleh UUD NKRI
A. Latar belakang 1945.
Setelah Indonesia bebas dari Salah satunya ialah penerapan
penjajahan Belanda, Pemerintah hukum pidana di Indonesia yang
mengeluarkan Undang-Undang Nomor berlaku di indonesia sekarang ini ialah
1 Tahun 1946 yang didasarkan pada hukum pidana yang telah dikodifikasi,
Pasal II Aturan Peralihan Undang- yaitu sebagian terbesar dari aturan –
Undang Dasar, yang mana: “Segala aturannya telah di susun dalam satu
badan negara dan peraturan yang ada kitab undang – undang kitab undang –
masih langsung berlaku selama belum undang hukum pidana, menurut suatu
diadakan yang baru menurut Undang- sistem yang tertentu. Ketentuan –
Undang Dasar ini”. Lebih lanjut ketentuan dalam bab 1 s/d bab VIII
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dari buku ke – 1 (aturan – aturan
Pasal 1 menyatakan keberlakuan umum), juga berlaku bagi perbuatan –
Wetboek van Strafrecht voor perbuatan yang oleh aturan – aturan
Nederlands-Indie yang diterjemahkan dalam perundangan lain di ancam
menjadi Kitab Undang-Undang dengan pidana, kecuali kalau di
Hukum Pidana. Hal ini merupakan tentukan lain oleh undang –
asas konkordansi, yakni undang.Istilah perbuatan pidana adalah
memberlakukan hukum negara jajahan perbuatan yang di larang oleh suatu
di negara yang dijajah. Oleh karena aturan hukum larangan mana di sertai
itu, konsep negara hukum yang ancaman ( sanksi ) yang berupa pidana

2
tertentu, bagi barangsiapa yang merupakan perkosaan terhadap
melanggar larangan tersebut. kehormatan seseorang.
Dapat juga dikatakan bahwa Di masa modern ini, kemajuan
perbuatan pidana adalah perbuatan teknologi informasi, media elektronika
yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan globalisasi terjadi hampir disemua
dan diancam pidana, asal saja dalam bidang kehidupan. Kemajuan
pada itu diingat bahwa larangan teknologi yang ditandai dengan
ditujukan kepada perbuatannya (yaitu munculnya internet dapat dioperasikan
suatu keadaan atau kejadian yang dengan menggunakan media
ditimbulkan oleh kelakukan orang), elektronik seperti komputer. Komputer
sedangkan ancaman pidananya merupakan salah satu penyebab
ditujukan kepada orang yang munculnya perubahan sosial pada
menimbulkan kejadian itu.( Moeljatno, masyarakat, yaitu mengubah
2009, 59) perilakunya dalam berinteraksi dengan
Di dalam KUHPdiatur secara manusia lainnya, yang terus menjalar
detail dan hal kecil yang oleh kebagian lain dari sisi kehidupan
masyarakat dianggap remeh diatur di manusia, sehingga muncul adanya
undang – undang tersebut tidak hanya norma baru, nilai-nilai baru, dan
perbuatan pidana yang identik dengan sebagainya. Melalui internet
seseorang yang melakukan kejahatan pertukaran informasi dapat dilakukan
pembunuhan, penipuan, perampokan secara cepat, tepat serta dengan biaya
tapi seseorang yang menjelek-jelekan yang murah. Oleh karena itulah
orang lain di ketahui oleh umum yang internet dapat menjadi media yang
biasa disebut pencemaran nama baik, memudahkan seseorang untuk
penyebabnya beragam seperti melakukan berbagai jenis tindak
melecehkan dengan tulisan, pidana yang berbasiskan teknologi
memfitnah, mengadu secara informasi (cybercrime) seperti, tindak
memfitnah, menuduh secara pidana pencemaran nama baik.
memfitnah. Pencemaran nama baik Sebelum kemajuan teknologi yang

3
menyebabkan adanya tindak pidana hukum normatif, yaitu suatu jenis
pencemaran nama baik melalu media penelitian hukum yang diperoleh dari
sosial, tindakan pencemaran nama baik studi kepustakaan, dengan
dikenal dengan tindakan penghinaan menganalisis suatu permasalahan
dan fitnah kepada korbannya. hukum melalui peraturan perUndang-
Di masa modern ini, pencemaran Undangan, literatur-literatur dan
nama baik marak terjadi di media bahan-bahan referensi lainnya yang
sosial. Seperti yang telah terjadi berhubungan dengan Tindak Pidana
beberapa waktu lalu, Dr. Ira Pencemaran Nama Baik.
mengirimkan email dama suatu
Adapun dalam skripsi ini
mailing list, yang menjelek-jelekkan
menggunakan Pendekatan yang
rekan kerjanya yakni Dr. Bambang.
digunakan dalam penelitian ini adalah
Berdasar uraian di atas, menarik
pendekatan perndang-undangan
untuk ditelaah lebih lanjut mengenai
(statute aproach), pendekatan konsep
kualifikasi seseorang bisa dikatakan
(conseptual approach) dan pendekatan
telah melakukan tindak pidana
kasus (case approach).
pencemaran nama baik. Dari segi
keberlakuan aturan hukum atas tindak Pendekatan perundang – undangan
pidana tersebut, serta adalah pendekatan yang dilakukan
pertanggungjawaban yang melakukan dengan cara menjawab rumusan
tindak pidana tersebut masalah yang diajukan berdasarkan
B. Rumusan Masalah ketentuan – ketentuan dalam peraturan
Pertanggung jawaban pidana perundang – undangan yang ada, baik
pelaku pencemaran nama baik yang berupa legislasi maupun
melalui media sosial regulasiyang bersangkut paut dengan
tindak pidana pencemaran nama baik.
C. Metode Penelitian
Pendekatan konsep dilakukan
Tipe penelitian yang digunakan
dengan memahami konsep – konsep
dalam penelitian ini adalah penelitian

4
hukum yang ditemukan oleh sarjana baik pada Ketuhanan Yang Maha Esa
hukum melalui pendapat serta doktrin maupun pada “kemanusiaan yang adil
– doktrin.Dalam penulisan skripsi ini dan beradab”, hidup saling
akan dikaji berbagai konsep khususnya menghormati.( Leden
terkait pencemaran nama baik. Marpaung,2010.7.) Pencemaran nama
baik dianggap melanggar norma
Pendekatan kasus (case
kesopanan. Pencemaran nama baik
approach), yaitu pendekatan dengan
sangat erat kaitannya dengan suatu
melakukan analisisputusan pengadilan
kata penghinaan dimana penghinaan
terkait dengan pencemaran nama baik,
itu sendiri memiliki pengertian
yakni kasus Putusan Pengadilan Tinggi
perbuatan menyerang nama baik dan
Banten Nomor: 151/ PID/ 2012/
kehormatan sesorang.
PT.BTN seperti yang sudah sedikit
Dalam KUHP, tindak pidana
dipaparkan dalam latar belakang,
pencemaran nama baik dijabarkan
untuk mengetahui secara konkrit
pada Bab XVI buku II KUHP adalah
contoh nyata dari suatu perbuatan
dengan mendasarkan delik - delik di
dikategorikan pencemaran nama baik
dalam KUHP, dalam kaitannya dengan
ataukah tidak.
media cetak sebagai pelaku tindak
D. ISI DAN PEMBAHASAN pidana. Pencemaran nama baik
1. Pencemaran Nama baik seseorang dalam KUHP dirumuskan
Melalui Media Sosial Menurut dalam pencemaran nama baik
Ketentuan Perundang- Penistaan secara lisan (Pasal 310 (1)
Undangan KUHP) Menista dengan surat(Pasal
1.1 Pencemaran Nama Baik 310 (2) KUHP), Memfitnah (Pasal 311
Menurut KUHP KUHP), Penghinaan ringan (Pasal 315
Bagi masyarakat Indonesia, KUHP), Penghinaan yang bersifat
“kehormatan nama baik” telah memfitnah (Pasal 317 KUHP),
tercakup perlindungan dan Perbuatan menuduh yang bersifat
penjaminannya di dalam Pancasila, fitnah (Pasal 318 KUHP), Penghinaan

5
terhadap orang yang telah meninggal sanksi denda seperti yang dijelaskan
dunia (Pasal 320-321 KUHP) Pasal 18 Undang – Undang No. 40
Tahun 1999
1.2 Pencemaran Nama Baik
Menurut Undang-Undang No. 1.3 Pencemaran Nama Baik
40 Tahun 1999 tentang Pers Menurut Undang-undang No.
Pencemaran nama baik dalam 32 Tahun 2002 tentang
Undang – Undang No. 40 Tahun 1999 Penyiaran
tentang Pers pengaturannya tidak Salah satu bentuk pers adalah
dijelaskan secara spesifik seperti yang media elektronik (siaran televisi atau
ada dalam KUHP. Undang – Undang siaran radio). Berdasarkan undang-
No. 40 Tahun 1999 menjelaskan undang Penyiaran Nomor 32 tahun
bahwa Pers mempunyai fungsi sebagai 2002 tentang penyiaran, menegaskan
media informasi, pendidikan, hiburan bahwa penyiaran dalam bentuk siaran
dan kontrol sosial dan juga dapat televisi atau siaran radio, merupakan
berfungsi sebagai lembaga ekonomi kegiatan yang mempunyai fungsi
seperti yang dijelaskan di Pasal 3 sebagai media informasi, pendidikan,
Undang – undang No. 40 tahun 1999. hiburan, dan kontrol sosial. Dalam
Namun secara implisit tindak pidana penyelenggaraan fungsi penyiaran
yang diklasifikasikan sebagai tersebut diperlukan aturan hukum
pencemaran nama baik dalam Undang untuk menanggulangi berbagai
– Undang No. 40 Tahun 1999 tentang pelanggaran, salah satunya dengan
Pers ada padaPasal5 ayat (1) dan Pasal penerapan sanksi pidana di dalam
13 huruf (a). Selain itu di dalam undang-undang penyiaran.
Undang – Undang No. 40 Tahun 1999 Pasal 36 ayat (5) UU Nomor 32
Tentang Pers tidak terdapat sanksi Tahun 2002 yang berisi tentang
pidana penjara terhadap pelaku yaitu larangan dalam isi siaran yaitu dalam
wartawan dan media massa (cetak dan huruf a, isi siaran dilarang bersifat
elektronik) namun yang ada hanyalah

6
fitnah, menghasut, menyesatkan negara Indonesia maupun warga
dan/atau bohong. negara Asing maupun suatu badan
hukum yang dengan sengaja dan tanpa
1.4 Pencemaran Nama Baik
hak mendistribusikan dan/atau
Menurut Undang No. 11 Tahun
mentransmisikan membuat dapat
2008 jo. Undang-Undang No.19
diaksesnya Informasi Elektronik
Tahun 2016 tentang Informasi
dan/atau Dokumen Elektronik yang
dan Transaksi Elektronik ( UU
memiliki muatan penghinaan dan/atau
ITE)
pencemaran nama baik.
Di dalam Pasal 27 ayat (3) UU
Unsur “dengan sengaja” dan
ITE seseorang yang dapat dikatakan
“tanpa hak”Pasal 27 ayat (3)UU ITE
melanggar ketika memenuhi 4 unsur
merupakan satu kesatuan bentuk
yaitu (1) unsur setiap orang; (2) Unsur
kumulatif yang dalam tataran
dengan sengaja dan tanpa hak; (3)
penerapan hukum harus dapat
unsur memiliki muatan penghinaan
dibuktikan oleh penegak hukum dalam
dan/atau pencemaran nama baik; (4)
memberlakukan Pasal tersebut.
mendistribusikan dan/atau
( Nurhadini Kristini, 2009. 63.) Unsur
mentransmisikan dan/atau membuat
“dengan sengaja” dan “tanpa hak”
dapat diaksesnya
dimaksudkan bahwa seseorang yang
Unsur “setiap orang”, menurut
melakukan perbuatan tersebut
Pasal 1 angka 21 Undang – Undang
mengetahui dan menghendaki secara
Informasi Transaksi Eletronik (ITE)
sadar bahwa tindakannya itu dilakukan
menyatakan bahwa orang adalah orang
tanpa hak. Dengan kata lain pelaku
perorangan, baik warga negara
secara sadar mengehendaki dan
Indonesia, baik warga negara Asing,
mengetahui bahwa perbuatan
maupun badan hukum. Jadi unsur
“mendistribusikan” dan/atau
setiap orang menurut Pasal 27 ayat (3)
“mentransmisikan” dan/atau membuat
adalah “setiap orang perorangan ,
dapat diaksesnya media informasi
setiap warga negara, baik warga
elektronik dan/atau dokumen

7
elektronik yang memiliki muatan pencemaran nama baik, yaitu tindakan
penghinaan penghinaan dan/atau menyerang kehormatan atau nama baik
pencemaran nama baik. Adapun unsur orang lain dengan maksud diketahui
“tanpa hak” merupakan unsur oleh umum. Kehormatan dan nama
melawan hukum. Pencantuman unsur baik memiliki pengertian yang
tanpa hak dimaksudkan untuk berbeda, tetapi keduanya tidak dapat
mencegah orang melakukan perbuatan dipisahkan satu dengan yang lainnya,
mendistribusikan dan/atau karena menyerang kehormatan
mentransmisikan dan/atau membuat seseorang akan berakibat terhadap
dapat diaksesnya informasi elektronik kehormatan serta nama baiknya
dan/atau dokumen elektronik yang tercemar, demikian juga sebaliknya,
memiliki muatan penghinaan dan/atau menyerang nama baik seseorang sama
pencemaran nama baik yang bukan saja akan berakibat tercemarnya nama
haknya untuk menyebarkan informasi baik dan kehormatan seseorang pula.
tersebut. Unsur “dengan sengaja” dan Oleh sebab itu, menyerang salah satu
“tanpa hak” inilah harus dapat diantara kehormatan atau nama baik
dibuktikan secara kumulatif untuk sudah cukup dijadikan alasan untuk
menentukan dapat tidaknya seseorang menuduh seseorang melakukan
dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat 3 penghinaan.( Mudzakir,, 2004.18.)
UU ITE Unsur “mendistribusikan dan/atau
Unsur “memiliki muatan mentransmisikan dan/atau
penghinaan dan/atau pencemaran membuat dapat diaksesnya” di
nama baik” menunjuk pada ketentuan dalam penjelasan mengenai Unsur
Bab 16 buku II KUHP tentang mendistribusikan UU ITE tidak
penghinaan, khususnya berkaitan menjelaskan definisi dari
dengan ketentuan Pasal 310 dan 311 mendistribusikan oleh karena itu harus
KUHP. (Ibid,.64) Kedua Pasal tersebut diambil definisi baku melalui Kamus
memberikan dasar pemahaman atau Besar Bahasa Indonesia yang
esensi mengenai penghinaan atau memberikan definisi sebagai berikut

8
menyalurkan (membagikan, ini disebut juga dengan mens rea.
mengirimkan) kepada beberapa orang Suatu perbuatantidak mengakibatkan
atau ke beberapa tempat (seperti pasar, seorang bersalah kecuali jika pikirn
toko). Unsur mentransmisikan UU ITE orang itu jahat. Doktrin mens rea itu
juga tidak menjelaskan definisi dari dilandaskan pada maxsim actuis
mentransmisikan oleh karena itu harus nonfacit reum nisi mens sit rea, yang
diambil definisi baku melalui Kamus berarti “suatu perbuatan tidak
Besar Bahasa Indonesia yang mengakibatkan seseorang bersalah jika
memberikan definisi sebagai berikut pikiran orang tersebut jahat”.( Roeslan
mengirimkan atau meneruskan pesan Saleh 1982. 23.)
dari seseorang (benda) kepada orang Kitab Undang – undang Hukum
lain (benda lain).Unsur membuat dapat Pidana tidak menyebutkan secara
diaksesnya UU ITE juga sama sekali eksplisit sistem pertanggungjawaban
tidak memaparkan definisi dari pidana yang dianut. Beberapa Pasal
membuat dapat diaksesnya selain KUHP sering menyebutkan kesalahan
hanya memberikan definisi tentang berupa kesengajaan atau kealpaan.
akses yaitu kegiatan melakukan Namun sayang, kedua istilah tersebut
interaksi dengan Sistem Elektronik tidak dijelaskan lebih lanjut oleh
yang berdiri sendiri atau dalam Undang-Undang tentang maknanya.
jaringan. Jadi, baik kesengajaan maupun
1.3 Pertanggungjawaban Pidana kealpaan tidak ada keterangan lebih
Pelaku Pencemaran Nama Baik lanjut dalam KUHP. Kedua kata kata
Menurut Kitab Undang Undang itu sering dipakai dalam rumusan
Hukum Pidana delik, seakan-akan sudah pasti, tetapi
Dalam hukum pidana konsep tidak tahu apa maknanya. Hal itu
liability atau “pertanggung jawaban” seakan-akan tidak menimbulkan
itu merupakan konsep sentral yang keragu-raguan lagi dalam
dikenal dengan ajaran kesalahan. pelaksanaannya.( Ibid,.98)
Dalam bahasa latin ajaran kesalahan Kesalahan, pertanggung jawab,

9
dan pidana adalah ungkapan – dikenakan pidana atas perbuatan
ungkapan yang terdengar dan tersebut.( Ibid..33, 34.) Untuk
digunakan dalam percakapansehari meminta pertanggungjawaban pidana
hari, dalam moral, agam dan hukum. seseorang, pertama-tama harus
Tiga unsur itu berkaitan suatu dengan seseorang tersebut harus melakukan
yang lain, dan berakar dalam suatu perbuatan pidana sebagaimana diatur
keadaan yang sama yaitu adanya dalam Pasal 1 KUHP berbunyi:
pelanggaran terhadap sistem aturan – (1) Suatu perbuatan tidak dapat
dipidana, kecuali berdasarkan
aturan. Sistem aturan – aturan ini
kekuatan ketentuan perundang-
dapat bersifat luas dan beraneka undangan pidana yang telah
ada
macam (hukum perdata, hukum
(2) Bilamana ada perubahan dalam
pidana, aturan moral dan sebagainya). perundang-undangan sesudah
perbuatan dilakukan, maka
Kesamaan dari ketiganya bahwa
terhadap terdakwa diterapkan
mereka meliputi suatu rangkaian ketentuan yang paling
menguntungkannya.
aturan tentang tingkah laku yang
diikuti oleh suatu kelompok tertentu. Walaupun tidak secara tegas
Jadi sistem yang melahirkan konsepsi disebut dalam KUHP tentang adanya
kesalahan, pertanggung jawaban dan asas tiada pidana tanpa kesalahan,
pemidanaan itu adalah sistem namun asas tersebut diakui melalui
normatif. Pasal 1 ayat (1) KUHP di atas.
Berpangkal tolak kepada ( Erdianto Effendi ,2011.108.)
sistem normatif yang melahirkan Suatu perbuatan dikatakan
konsepsi kesalahan, pertanggung melawan hukum apabila orang tersebut
jawaban dan pemidanaan itu, melanggar undang-undang yang
dicobanya menganalisa tentang ditetapkan oleh hukum. Tidak semua
pertanggungjawaban pidana. tindak pidana merupakan perbuatan
Bertanggung jawab atas sesuatu melawan hukum karena ada alasan
perbuatan pidana berarti yang pembenar, berdasarkan Pasal 50, Pasal
bersangkutan secara sah dapat

10
51 KUHP. Sifat dari melawan hukum Jika diperhatikan dengan seksama,
itu sendiri meliputi : di dalam KUHP, terutama buku dua,
a.         Sifat formil yaitu bahwa dapat kita dapati perbedaan antara
perbuatan tersebut diatur oleh kesengajaan dan kealpaan. Berikut
undang-undang. rumusan dari KUHP yang dapat
b.        Sifat materiil yaitu bahwa membedakan antara kedua hal
perbuatan tersebut tidak selalu tersebut: a. dengansengaja; b. karena
harus diatur dalam undang- kealpaan. Tidak dijelaskan lebih lanjut
undangtetapi juga dengan seperti apa kesengajaan dan kealpaan
perasaan keadilan dalam tersebut. Tetapi dari doktrin-doktrin
masyarakat. yang ada, dapat disimpulkan bahwa
Berdasarkan pandangan – untuk pertanggungjawaban pidana
pandangan tersebut di atas maka, perlu dibuktikan terlebih dahulu unsur
dapat dirumuskan pengertian kesalahan.
pertanggungjawaban pidana yaitu Untuk mengetahui
sebagai penilaian keadaaan dan pertanggungjawaban pidana pada
kemampuan seseorang yang diduga tindak pidana pencemaran nama baik,
melakukan tindak pidana apakah ia perlu dilihat dari Pasalnya terlebih
dapat dimintai pertanggung jawaban dahulu. Kesalahan apa yang
atau tidak. Sedangkan untuk menilai ditekankan. Berdasarkan ketentuan
bagaimana keadaan tentang terjadinya yang diatur dalam KUHP, adapun
suatu tindak pidana haruslah diketahui pasal-pasal yang digunakan untuk
adanya kesalahan dari si pelaku, untuk menjerat tindak pidana pencemaran
menilai kemampuan si pelaku haruslah nama baik diatur dalam bab XVI
dilakukan pengujian kesehatan jiwa si tentang penghinaan yang termuat
pelaku apakah ia tergolong mampu dalam Pasal 310 sampai dengan Pasal
atau tidak untuk bertanggung jawab. 321 KUHP. Pasal 310 dapat
( Ibid.109.) digunakan untuk menjerat pelaku
pencemaran nama baik yang

11
mempunyai unsur subjektif dengan itulah yang berhak mengadu, jika
sengaja sedangkan unsur objektifnya apabila korban yang ingin melakukan
menyerang kehormatan atau nama aduan adalah anak yang belum
baik seseorang dengan menuduhkan dewasa. Hal ini diatur di Pasal 72 dan
sesuatu hal, yang maksudnya agar 73 KUHP.
supaya hal itu diketahui oleh umum. Berdasarkan rumusan Pasal 72
( Alexander Imanuel Korassa Sonbai I KUHP, maka yang berhak mengadu
Ketut Keneng, 2016. 3) Di dalam adalah Wakilnya yang sah, Wali
Kitab Undang – Undang Hukum pengawas/ wali pengampu, Keluarga
Pidana ini dititik beratkan kepada sedarah sampai derajat ketiga. Jika
perbuatan itu pada unsur kesengajaan korban kejahatan telah meninggal
yang dilakukan oleh pelaku, sehingga dunia, maka pengaduan diatur oleh
untuk melakukan pembuktian Pasal 73 Kitab Undang - Undang
bersalahnya pelaku maka dititik Hukum Pidana yakni Orang tuanya,
beratkan di kesengajaan atas Anaknya, Istri/Suami yang masih
perbuatannya tersebut. hidup.( Leden Marpaung,Op.Cit.. 77-
Tindak pidana kehormatan 78.)
yang termasuk delik aduan, yang
1.4 Pertanggungjawaban Pidana
diatur oleh Bab VIII, Pasal 72, Pasal
Pelaku Pencemaran Nama Baik
73, Pasal 74, dan Pasal 75 KUHP.
di dalam Undang-Undang No.
Suatu pengaduan adalah suatu
40 Tahun 1999 tentang Pers
pernyataan tertulis dari orang yang
Pertanggungjawaban pers setelah
berhak untuk mengadu bahwa ia
berlakunya Undang-Undang Nomor 40
menghendaki penuntutan pelaku suatu
Tahun 1999 tentang pers, secara
pelanggaran tindak pidana. “orang
eksplisit diatur dalam penjelasan Pasal
yang mengadu” jika yang menderita
12 dan Pasal 18 ayat (2), bunyi
atau korban kejahatan suatu tindak
pasalnya yaitu:
pidana sudah dewasa maka tidak
menimbulkan masalah karena korban Pasal 12

12
“Perusahaan pers wajib Undang Nomor 40 Tahun 1999
mengumumkan nama, alamat, tentang Pers, menyatakan dalam hal
dan penanggung jawab secara pelanggaran pidana dapat dikenakan
terbuka melalui media yang ketentuan pidana denda.
bersangkutan; khusus untuk Berdasarkan Pasal 12 dan Pasal
penerbitan pers ditambah nama 18 ayat (2) dapat disimpulkan bahwa
dan alamat percetakan.” pertanggung jawaban pers, yaitu:
(Idriyanto Seno Adji, 2005.27-28)
Berdasarkan penjelasan Pasal 12
1. Berdasarkan Undang-Undang
Undang-Undang Nomor 40 Tahun
Nomor 40 Tahun 1999 tentang
1999 tentang Pers, menyatakan yang
Pers, pertanggunjawaban pers
dimaksud penanggung jawab adalah
meliputi pertanggung jawaban
penanggung jawab perusahaan pers
fiktif, karena masih
yang meliputi bidang usaha dan bidang
menempatkan
redaksi, sepanjang menyangkut
penanggungjawab perusahaan
pertanggung jawaban pidana menganut
pers yang meliputi bidang
ketentuan perundang-undangan yang
usaha dan bidang redaksi.
berlaku.
Sehingga yang dapat
Pasal 18 ayat (2) bertanggungjawab terhadap
pemberitaan apabila terdapat
Perusahaan pers yang melanggar
pelanggaran hukum adalah
ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan
pemimpin redaksi;
ayat (2), serta Pasal 13 dipidana,
2. Berdasarkan penjelasan Pasal
dengan pidana denda paling
12 Undang-Undang Nomor 40
banyak Rp 500.000.000,00 (lima
Tahun 1999 tentang Pers,
ratus juta rupiah)
menyangkut pertanggung
Kemudian berdasarkan jawaban pidana menganut
penjelasan Pasal 18 ayat (2) Undang- ketentuan perundang-undangan
yang berlaku. Makna yang

13
berlaku tersebut dimaksudkan 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran,
sebagai “individual didasarkan pada pasal Pasal 54, yaitu:
responsibility” yang Pasal 54
menyangkut actual and factual Pimpinan badan hukum lembaga
wrongdoer (pelaku utama). penyiaran bertanggung jawab
1.5 Pengaturan tentang Sistem secara umum atas
Pertanggung Jawaban Tindak penyelenggaraan penyiaran dan
Pidana Pencemaran Nama Baik wajib menunjuk penanggung
di dalam Undang-Undang No. jawab atas tiap-tiap program
32 Tahun 2002 tentang yang dilaksanakan.
Penyiaran
Pasal 57 huruf d, mengatur Dapat diartikan bahwa
sanksi pidana terhadap pelanggaran pemimpin badan hukum dalam
terhadap Pasal 36 ayat (5) yang berisi lembaga penyiaran bertanggung jawab
tentang larangan dalam isi siaran yaitu secara umum, namun pertanggung
dalam huruf a, isi siaran dilarang jawaban utama ditunjuk terhadap
bersifat fitnah, menghasut, penanggungjawab setiap program.
menyesatkan dan/atau bohong. Hal ini Apabila terjadi pelanggaran hukum
mengartikan bahwa apabila terjadi dalam suatu tayangan atau siaran,
pelanggaran, yaitu terhadap isi siaran, maka yang bertanggungjawab adalah
salah satunya melalui siaran televisi, penanggungjawab siaran yaitu
terdapat fitnah yang kemudian produser siaran.
mencemarkan nama baik, seseorang
1.6 Pertanggungjawaban Pidana
yang bertanggung jawab dalam
Pelaku Pencemaran Nama Baik
lembaga penyiaran tersebut (stasiun
menurut Undang-Undang No.
televisi) dapat dijatuhi pidana.
11 Tahun 2008 jo. Undang-
Pertanggungjawaban yang
Undang No.19 Tahun 2016
diatur dalam Undang-Undang Nomor
tentang Informasi dan

14
Transaksi Elektronik ( UU ITE) untuk pertanggungjawaban pidana
UU ITE merupakan Lex pelaku ditekankan pada unsur
Specialis dari Kitab Undang – Undang subjektifnya, yakni kesalahan dengan
Hukum Pidana karena merupakan maksud kesengajaan yang dilakukan
pengkhususan dari penghinaan dalam oleh pelaku yang melakukan tindakan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana seperti yang terdapat di Pasal 27
diranah internet. Dapat diketahui sampai dengan Pasal 36 UU ITE.
bahwa Undang-Undangtentang Maka untuk membuktikan bahwa
Informasi dan Transaksi Elektronik seorang pelaku melakukan
Pasal 27 ayat (3) mengatur tentang pencemaran nama baik di media
pencemaran nama baik dalam media sosial, penegak hukum harus dapat
sosial. Di dalam Pasal tersebut membuktikan bahwa pelaku secara
terdapat dua unsur, yakni unsur sadar menghendaki dan mengetahui
subjektif serta unsur objektif. Unsur perbuatannya.
subjektif dari Pasal tersebut adalah Sehingga yang harus
unsur kesalahan yang dimaksud dibuktikan agar seseorang dapat
dengan adanya kata-kata dengan dikenakan pencemaraan nama baik
sengaja sedangkan unsur objektif dengan UU ITE adalah adanya
Pasal tersebut adalah adanya kesengajaan dari sang pelaku dalam
perbuatan mendistribusikan dan/atau tindakannya “mendistribusikan”
mentransmisikan dan/atau membuat dan/atau “mentransmisikan” dan/atau
dapat diaksesnya Informasi elektronik “membuat dapat diaksesnya informasi
dan/atau Dokumen Elektronik yang elektronik dan/atau informasi
memiliki muatan penghinaan dan/atau elektronik” adalah memiliki muatan
pencemaran nama baik.( Alexander penghinaan/pencemaran nama baik.
Imanuel Korassa Sonbai I Ketut Di dalam contoh kasus – kasus
Keneng., Op.Cit.4) pencemaran nama baik yang telah
Di dalam Undang-Undang dijabarkan di Bab II maka untuk dapat
Informasi dan Transaksi Elektronik ini dijerat dengan Pasal pencemaran nama

15
baik di dalam UU ITE haruslah dilihat nomor 11 Tahun 2008 tentang
terlebih dahulu apakah pelaku tersebut Informasi dan Transaksi Elektronik
bisa bertanggung jawab secara akal. ialah ditekankan pada adanya
Jika pelaku bisa bertanggung jawab kesalahan pelaku, yakin terdapat unsur
secara akal, maka untuk dibuktikan sengaja oleh sang pelaku atas
bersalah maka haruslah pelaku dapat tindakannya, “mendistribusikan”
dibuktikan memenuhi unsur dan/atau “mentransmisikan” dan/atau
kesalahan, yakni kesengajaan, bahwa “membuat dapat diaksesnya informasi
orang itu secara sadar dan sengaja elektronik dan/atau informasi
mengetahui apa yang dilakukannya elektronik” ditujukan kepada
memuat pencemaran nama baik. seseorang atau pihak tertentu serta
Seperti Kasus Prita Mulyasari memuat unsur
ditahan karena email keluhkan layanan penghinaan/pencemaran nama baik.
rumah sakit ia sebarkan melalui Jadi apabila melihat dari
mailing list, Kasus Farah dihukum contoh – contoh kasus yang ada
karena mencaci di Facebook, Kasus tersebut, maka baik di dalam Kitab
yang terjadi pada Farhat Abbas yang Undang – Undang Hukum
menuliskan kicauan yang Pidana,Pasal 310 dan 311, maupun di
menyinggung perasaan dari Achmad dalamUndang-Undang Informasi dan
Dhani melalu media social,Kasus Transaksi Elektronik Pasal 27 kedua-
Benhan yang dihukum karena keduanya untuk pertanggungjawaban
cemarkan nama Misbakhun di Twtiter, pidananya sama-sama melihat dari
serta kasus penulisan status BBM unsur kesalahan sang pelaku, yang
menyerang oleh Nurdin Halid yang mana kesalahan tersebut berupa
membuat ia dilaporkan polisi.Dari kesengajaan. Kesengajaan sang pelaku
beberapa contoh kasus pencemaran itulah yang harus dibuktikan oleh
nama baik di media sosial ini untuk penegak hukum. Hal ini terlihat dari
dapat dijerat dengan Pasal pencemaran adanya kata-kata “dengan sengaja”
nama baik dalam Undang-Undang dalam Pasal-Pasal tersebut.

16
dalam mengirim email ke banyak
2.5 Analisis Contoh Kasus mengenai orang terkait Dr. Bambang melakukan
Pertanggungjawaban Pidana pelecehan seksual (yang ternyata
Dalam Kasus Tindak Pidana hanyalah fakta diputar balikkan)
Pencemaran Nama Baik di membuatnya dikenai Pasal 27 ayat (3)
Media Sosial Menurut UU ITE UU ITE oleh Pengadilan Tinggi
Dengan Putusan Pengadilan Banten.
Tinggi Banten Nomor: 151/ Pasal 27 ayat (3) UU ITE berbunyi:
PID/ 2012/ PT.BTN (3) Setiap orang dengan sengaja
Dr. Ira menulis email yang dan tanpa hak
berisi penuduhan Dr.Bambang sebagai mendistribusikan dan/atau
pelaku pelecehan seksual, padahal mentransmisikan dan/atau
faktanya tidak seperti itu. Putusan membuat dapat diaksesnya
Pengadilan Tinggi Tangerang atas Informasi Elektronik dan/atau
Banding yang diajukan menyatakan Dokumen Elektronik yang
bahwa Dr. Ira bersalah dan dijerat memiliki muatan penghinaan
dengan Pasal 27 UU ITE. Bahwa Dr. dan/atau pencemaran nama
Ira terbukti secara sah dan meyakinkan baik
bersalah melakukan tindak pidana : “
Dengan sengaja dan tanpa hak Unsur pertama dari Pasal
Mendistribusikan dan tersebut: setiap orang. Dalam unsur
mentransmisikan dan membuat dapat setiap orang, biasa terkait dengan
diaksesnya Informasi elektronik yang barangsiapa. Yakni siapa yang
memiliki muatan penghinaan dan/atau melakukan. Dalam hal ini, terkait
pencemaran nama baik “. subjek hukum yang melakukan tindak
Pertanggung jawaban pidana pidana, dalam hal ini yang didakwa
yang akan penulis bahas disini terkait ialah Dr. Ira.
dengan pencemaran nama baik, ialah Unsur kedua ialah unsur
terhadap Dr. Ira. Tindakan Dr. Ira dengan sengaja dan tanpa hak. Dalam

17
kasus tersebut, Dr. Ira dengan sengaja 2.6 Analisis Kasus Tindak Pidana
mengirimkan email ke orang-orang Pencemaran Nama Baik di Media
tersebut. Disini, unsur kesengajaan Sosial Menurut UU ITE Dengan
terlihat dari email yang dikirimnya Putusan Pengadilan Tinggi
ditujukan agar dibaca oleh pihak-pihak MasohiNo. 45 /Pid.B/2012/PN.MSH
yang dituju. Terdakwa LECO MABA Alias
Unsur ketiga ialah
LECO Alias ECON pada hari Jumat
mendistribusikan dan/atau
tanggal22 Oktober 2010 sekitar pukul
mentransmisikan dan/atau membuat
dapat diaksesnya. Dr. Ira telah 13.15 WIT saat itu ia baru tiba di
dan/atau mentransmisikan dan/atau
rumah setelah shalat Jumat pada
membuat dapat diaksesnya email yang
mesjid Kampung Hatui, ia saat masih
dikirim sendiri olehnya secara sengaja.
Unsur keempat dan yang berada di atas sepeda motor, melihat
terakhir ialah muatan penghinaan
bahwa Kadir Rumuar, mencungkil
dan/atau pencemaran nama baik.
kotak amal di depan Masjid Attaqwa,
Muatan pencemaran nama baik disini
jelas-jelas ialah yang dilakukan oleh tepatnya di pintu masuk halaman
DR. Ira, menuduh Dr. Bambang atas
Masjid Attaqwa Kampung Jawa. Leco
perbuatan pelecehan seksual yang
melihat setelah mencungkil, Kadir
tidak dilakukan olehnya.
Dengan terpenuhinya ke empat membawa kotak amal tersebut
unsur dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE
menggunakan motor milk Haji Amrin
maka Dr. Ira telah melakukan
Mantuinai.
perbuatan pencemaran nama baik atas
Dr. Bambang.Terbuktinya Melihat kejadian itu, Leco
kesengajaan dari Dr. Ira, membuatnya
Maba mengakses Facebook melalui
dikenai tanggungjawab pidana atas
Hpnya, kemudian ia menuliskan dan
tindakannya tersebut.

18
mengupdate status di akun Pengadilan Negeri Masohi kemudian

facebooknya “Telah hilang 1 (satu) memvonis Leco dengan tuntutan

buah kotak amal milik Panitia tersebut.

Pembangunan MesjidAttaqwa Pertanggung jawaban pidana

Kampung Jawa yang berada di lokasi yang akan penulis bahas disini terkait

pembangunan mesjid, dan menurut dengan pencemaran nama baik, ialah

saksimata yang mencuri adalah saksi terhadap terdakwa Leco. Tindakan

korban Kadir Rumuar”. Leco dalam mengupdate status berisi

Padahal, dalam kejadian fitnah terhadap Kadir mengenai ia

sebenarnya, Korban Kadir selaku mengambil kotak amal membuatnya

muazin masjid diberikan kuasa untuk dikenai Pasal 27 ayat (3) UU ITE oleh

memindahkan kotak amal tersebut Pengadilan Negeri Masohi. Adapun

sendirian dikarenakan kondisi masjid Pasal 27 ayat (3) UU ITE berbunyi:

yang sedang adanya renovasi.Korban (3) Setiap orang dengan sengaja


dan tanpa hak
Kadir merasa Leco sengaja menulis mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau
hal tersebut karena masalah yang membuat dapat diaksesnya
Informasi Elektronik dan/atau
dahulu ada diantara mereka berdua. Dokumen Elektronik yang
memiliki muatan penghinaan
Korban Kadir kemudian menuntut dan/atau pencemaran nama
baik
kepada pengadilan, agar Leco dikenai
Unsur pertama dari Pasal
“Pencemaran nama baik/penghinaan”
tersebut: setiap orang. Dalam unsur
sebagaimana diatur dalam pasal 27ayat
setiap orang, biasa terkait dengan
(3) Jo pasal 45 ayat (1) UU ITE.

19
barangsiapa. Yakni siapa yang memaksudkan agar statusnya menjadi

melakukan. Dalam hal ini, terkait publik dan bisa diakses oleh banyak

subjek hukum yang melakukan tindak orang.

pidana, dalam hal ini yang didakwa Unsur keempat dan yang

ialah Econ. terakhir ialah muatan penghinaan

Unsur kedua ialah unsur dengan dan/atau pencemaran nama baik.

sengaja dan tanpa hak. Dalam kasus Muatan pencemaran nama baik disini

tersebut, Leco dengan sengaja ialah ia menuduh bahwa Kadir lah

mengirimkan status yang memfitnah yang telah mengambil kotak amal

Kadir, terlebih ia memiliki histori masjid.

adanya masalah dengan Kadir. Disini, Dengan terpenuhinya ke empat

unsur kesengajaan terlihat dari ia unsur dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE

sengaja mengupdate status di maka Leco telah melakukan perbuatan

Facebook agar bisa dilihat banyak pencemaran nama baik atas

orang, dan ia tidak memiliki hak untuk Kadir.Terbuktinya kesengajaan dari

menyebarkan informasi (tuduhan) Leco membuatnya dikenai

tersebut. tanggungjawab pidana atas

Unsur ketiga ialah tindakannya tersebut.

mendistribusikan dan/atau A. Penutup


Kesimpulan
mentransmisikan dan/atau membuat

dapat diaksesnya. Dengan mengupdate 1. Pasal ini bukan berarti melarang


hak setiap orang untuk bebas
statusnya di Facebook ia

20
berpendapat seperti yang di terpenuhinya unsur – unsur tindak
jelaskan di Undang – Undang Dasar pidana pencemaran nama baik dan
Republik Indonesia terdapat di UU ITE yang ada 4 unsur:(1) unsur
Pasal 28 dan juga dalam Undang – setiap orang; (2) Unsur dengan
Undang Republik Indonesia Nomor sengaja dan tanpa hak; (3) unsur
9 Tahun 1998 tentang memiliki muatan penghinaan
Kemerdekaan Penyampaian dan/atau pencemaran nama baik; (4)
Pendapat dimuka UmumPasal 1 dan mendistribusikan dan/atau
2 dan bukan juga tidak menjamin mentransmisikan dan/atau membuat
hak setiap individu atas dapat diaksesnya.
kehormatannya atau repurtasinya 2. Untuk dapat melakukan
akan tetapi terdapat batasan – pertanggung jawaban pidana dalam
batasan yang sudah diatur di dalam tindak pidana pencemaran nama
KUHP. Pasal 27 Undang-Undang baik di media sosial, seseorang
ITE mempunyai unsur-unsur yang harus memenuhi unsur-unsur
hampir sama dan UU ITE ini pertanggung jawaban pidana pada
merupakan lex specialis dari Tindak umumnya. Yakni, sebagai subjek
Pidana Pencemaran Nama Baik hukum yang mampu bertanggung
yang telah lebih dulu diatur dalam jawab. Kemudian, untuk dapat
KUHP secara lebih luas.Pasal dipertanggung jawabkan secara
tersebut, bukan melarang, hanya ia pidana, harus dibuktikan oleh jaksa
memiliki tujuan agar setiap orang akan unsur kesengajaan dari si
yang ingin mengunggah informasi, pelaku dalam perbuatannya
gambar di media sosial, tersebut.
mendistibusikan maupun
Saran
mentransmisikan, ia harus
memikirkan terlebih dahulu apakah 1. Revisi UU ITE yang ada dengan
hal yang akan di upload di media mengurangi masa tahanan,
sosial tersebutdapat menimbulkan membuat tindak pidana pencemaran

21
nama baik merupakan tindak Asshiddiqqie, Jimly. Pengantar Ilmu
pidana ringan. Hal ini justru
Hukum Tata Negara. Jakarta:
merupakan suatu
PT. Raja Grafindo, 2015.
kemunduran,penulis harap
kedepannya perubahan akan masa Effendi. Erdianto. Hukum Pidana
Indonesia, Bandung, 2011.
hukuman bisa ditangguhkan, agar
masyarakat khalayak ramai dapat Moeljatno. Asas – asas Hukum
Pidana. Jakarta : PT RINEKA
berhati-hati dalam mengunggah
CIPTA, 2009.
konten di media sosial. Pengetatan
Mansyur, Dikdik M. Arif mansyur dan
sanksi kembalipun juga demi
Elisatris Gultom. CYBER LAW
mengurangi tindak pidana Aspek Hukum Teknologi
Informasi. Bandung: PT.
pencemaran nama baik di media
Refika Aditama , 2005 .
sosial.
Marpaung, Leden. Tindak Pidana
2. Perlu adanya kerjasama antara para
Terhadap Kehormatan. Jakarta:
aparat penegak hukum, tidak hanya PT.Sinar Grafika, 2010.
dari jaksa saja, dalam membuktikan
Mudzakir. Delik Penghinaan dalam
unsur kesengajaan dari si pelaku Pemberitaan Pers Mengenai
Pejabat Publik Dictum 3.
agar perbuatan pelaku dapat
Yogyakarta:
dipertanggung jawabkan secara Atmajaya Pres, 2004.
pidana.
Prodjodikoro, Wirjono. Asas-Asas
Hukum Pidana di Indonesia,
Refika Aditama, 2003.
DAFTAR BACAAN Saleh, Roeslan. Pikiran – pikiran
tentang Pertanggungan
Jawaban Pidana. Jakarta,
Anwar, Moch. Hukum Pidana Bagian
1982.
Khusus (KUHP buku II) Jilid
1. Bandung: PT. Citra Aditya
Syamsuddin, Aziz. Tindak Pidana
Bakti, 1994.
Khusus. Jakarta: Sinar Grafika, 2014.

22
Sianturi,SR.Asas – asas Hukum Kristini, Nurhadini. “Tindak Pidana
Pidana di Indonesia dan
Penerapannya. Jakarta, 1982. Dibidang Informasi dan
Sudarto, Hukum Pidana I, Cetakan Transaksi Elektronik yang
kedua (Semarang Yayasan
Sudarto d/s FakultasHukum Bermuatan Peghinaan Dan
Universitas Diponegoro), 1990.
Pencemaran Nama Baik.”
https://www.merdeka.com/peristiwa/in
Tesis, Fakultas Hukum
i-korban-korban-keganasan-uu-
Airlangga, 2009.
ite/farah dihukum-karena-
Imanuel Korassa Sonbai I Ketut
mencaci-di-facebook.html,
Keneng, Alexander,
diakses pada tanggal 9
PertangungJawaban Pidana
November 2016.
PelakuTindak Pidana
www.Merdeka.com/www.baranews.co
, dikunjungi pada tanggal 9 November Pencemaran Nama Baik
2016.
http://www.suduthukum.com/20 Melalui Media Sosial dalam

16/11/unsur-unsur-pencemaran- Hukum Pidana Indonesia,

nama-baik-dalam.html , di akses Fakultas Hukum Udayana,03

pada tanggal 12 Januari 2017. April 2016.

23