Anda di halaman 1dari 1145

J

Jaaggoo K
Keellaan
naa
Karya : Tjan ID
Ebook pdf oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info
Jilid 1
Bab 1
BADAI salju bertiup dengan kencangnya membuat
seluruh permukaan bumi hanya tampak sinar putih ke-
perak2an yang menyilaukan mata, di tengah kesunyian
yang mencekam hanya terdengar suara gonggongan anjing
yang amat ramai diselingi suara mengayun nya cambuk
yang amat nyaring.
Seorang gadis muda dengan menunggang kereta yang
ditarik oleh tujuh-delapan ekor anjing dengan amat
cepatnya berlari mendatangi.
Di tengah permukaan salju yang amat sunyi dari kosong
melompong itu cuma kelihatan sebuah rumah gubuk yang
berdiri dengan kuatnya disamping seorang lelaki berewokan
yang baru saja meloncat keluar dari rumah tersebut sewaktu
mendengar suara yang amat ramai....
Didalam sekejap mata gadis muda itu sudah berlari
mendekati lelaki berewok itu, tampak usianya kurang lebih
baru tujuh-delapan belas tahunan dengan potongan wajah
yang amat cantik sekali, tetapi pada hawa seperti ini
kelihatan rada ke-pucat2an, gerak geriknya agak loyo
bahkan kedua belah pipinya jelas tampak bekas air mata
yang menapak, agaknya dia orang baru saja merasakan
kesedihan.
Sesampainya di hadapan lelaki berewok itu dengan suara
yang agak serak tanyanya:
"Apakah mereka ada ditempat ini ?".
Sikap dari lelaki berewok itu ternyata amat hormat sekali
terhadap gadis itu.
"Mereka pasti ada disini" sahutnya sambil menjura.
"Ehmm!" mendadak pergelangan tangannya membalik
"Sreet !" sebuah cambuk panjang berwarna merah darah
mendadak diayunkan ke depan sehingga mengeluarkan
suara yang amat nyaring.
Cambuk itu besarnya ada satu jari tetapi panjangnya
cuma satu kaki lima, enam, setelah diayunkan keatas
kepala, ketujuh delapan ekor anjing itu segera dia tarik
kembali, gerakannya amat lincah dan cepat sekali.
Dengan diikuti suara bergeletarnya cambuk tersebut
beberapa ekor anjing itu segera berhenti bergonggong.
Suasana menjadi amat sunyi... sunyi tak terdengar sedikit
suarapun.
Dan pada saat yang bersamaan pula dari dalam rumah
gubuk itu terdengar suara yang bercuitan pintu rumah
dengan perlahan dibuka.
Baru saja pintu terbuka, ketujuh, delapan ekor anjing itu
segera siap menubruk kembali kedepan tetapi sang gadis
dengan cekatannya menahan gerakan tersebut membuat
beberapa ekor anjing yang amat ganas itu segera berdiam
diri dan merebahkan diri keatas permukaan salju.
Pintu rumah gubuk itu dengan perlahan terbuka disusul
munculnya sebuah payung yang terbuat dari kertas minyak
yang dipentangkan lebar2, jelas kelihaatan diatas payung itu
sudah ada tiga buah lubang yang cukup besar.
Tampak seorang kakek tua yang memakai kain kulit
yang terbuat dari bulu domba dengan langkah yang amat
perlahan berjalan keluar
Kakek yang masih mengantuk itu dengan menggunakan
payungnya menutupi badan lalu berjalan maju satu langkah
ke depan, terdengar dia sedang bergumam:
"Ouww... sungguh hebat hujan salju kali ini."
Sembari berkata ia menongolkan kepalanya sekeliling
tempat itu, sewaktu dilihat hadirnya seorang lelaki berewok
disana mendadak dia berseru tertahan.
"Aaah kiranya Ong Cong-koan ! eeeh Ong Cong-koan
kau membawa sebegitu banyak orang apakah mau pergi
berburu malam ? kulit rase yang bagus apakah harus dicari
dengan berburu pada malam hari ? Ong Cong-koan
silahkan masuk, mari minum dulu secawan teh panas ! mari
... mari ... biar Loo-han pergi masak air."
Semenjak lelaki tua itu muncul sampai saat ini dia terus
menerus beribut tidak keruan tetapi tak seorangpun yang
memberikan langganannya.
Si lelaki berewok maupun gadis itu sewaktu melihat
lelaki tua itu berjalan keluar secara tiba2, pada air mukanya
segera memperlihatkan perubahan hebat, agaknya kejadian
ini berada di luar dugaan mereka, menanti setelah lelaki tua
itu selesai berbicara barulah lelaki berewok itu berseru:
"Tan Loo Tia . . ."
Begitu dia berseru, Tan Loo Tia lantas angkat kepalanya
kembali dan berteriak lagi:
"Aaah !! Bukankah gadis ini adalah Soat Ang Sio-cia dari
Benteng Thian te Poo?? Haa... haa sungguh mirip burung
hong yang melayang turun dari atas langit Soat Ang siocia
sewaktu Loohan melihatmu untuk pertama kakinya,
usiamu masih amat kecil sekali, pada hari kedua Loohan
sudah pergi menangkap tiga ekor rase yang amat besar
hehe... hee aku lihat kali ini belum tentu kau bisa berhasil
menangkap beberapa ekor..."
Baru saja dia berbicara sampai disini tampak gadis muda
itu sudah kerutkan alisnya rapat2.
"Aah ! Tan Loo Tia" Seru lelaki berewok itu dengan
gugup, "Kau banyak bicara lagi, kami sengaja datang untuk
mencari orang,
"Mencari orang. ooooh .. . kalian mau mencari Loo han
? ? ?" serunya melengak.
Kepalanya didongakkan tinggi2 sehingga tampaklah
pada wajah yang berwarna hitam seluruhnya ditutupi
dengan keriputan, agaknya usianya sudah lanjut sekali
sehingga dirinyapun tidak bisa mengatakan berapa besar
usianya tetapi Ong Cong Koan dari benteng Thian It Poo
ini sebaliknya tahu dengan amat jelas kalau kedua buah
rumah gubuk ini sudah ditinggali olehnya selama hampir
dua puluh tahun lamanya.
Ong Cong Koan sangat senang terhadap Tan Loo Tia
ini, karena sejak Tan Loo Tia berdiam di dalam dua buah
rumah gubuknya dua puluh li diluar benteng Thian It Poo
maka kedudukannya didalam Benteng Thian It Poo pun
sehari demi sehari meningkat sehingga akhirnya menduduki
sebagai Cong-koan.
Orang2 yang berlalu lalang didalam benteng Pek Kian
Poo semuanya pada merasa heran, keamanan serta
penjagaan dari Benteng Thian It Poo amat ketat sekali
bahkan pada dua puluh lima lie sebelum Benteng sudah
disebar pengawal serta mata2 yang pada menyebar disana,
dua puluh li sebelum Benteng semakin mendekat kearah
Benteng penjaganya semakin banyak, jika orang asing
hendak memasuki tempat itu tanpa ketahuan benar2 amat
sulit sekali, bagaikan terbang ke langit, tetapi kenapa pada
deretan penjaga pertama sudah ada orang yang tinggal
disana tanpa dicurigai, bukankah hal itu amat janggal
sekali?
Padahal sewaktu Tan Loo Tia untuk pertama kali pindah
kesana para jago dari Benteng Thian It Poo sudah menaruh
curiga terhadapnya bahkan melakukan pengawasan yang
ketat siang malam, tetapi lama kelamaan semua orang dari
Thian It Poo pada mengetahui kalau Tan Loo Tia adalah
seorang yang sedang melarikan dirinya dan tinggal dengan
sengsara seorang diri, Tan Loo Tia ini sama sekali tidak
mempunyai kepandaian lain selain bisa membuat arak yang
paling bagus.
Arak adalah barang yang paling mudah untuk
memperpendek jarak hubungan persaudaraan, lama
kelamaan orang2 dari Benteng Thian It Poo semuanya pada
tahu kalau Tan Loo Tia bukanlah seorang yang patut
dicurigai karenanya penjagaan nya pun menjadi semakin
kendor.
Sedangkan pada waktu itu Tan Loo Tia sudah amat tua,
selama dua puluh tahun ini hampir2 dia orang tidak bisa
berjalan lagi sudah tentu hal ini semakin membuat orang
lain tidak mencurigai dirinya lagi.
Kini melihat si kakek tua sudah salah menyangka kalau
mereka mau mencari dia orang tua tidak terasa lagi Ong
Cong-koan tertawa geli.
"Tuh... buat apa aku orang cari dirimu ?" ujarnya sambil
tertawa. "Kami sedang mengejar dua orang, satu laki satu
perempuan, yang laki tentunya kau sudah pernah bertemu,
dia adalah keponakan dari Toocu".
"Ohh benar, benar, aku memang pernah bertemu"
Potong Tan Loo Tia dengan cepat. "Bukankah bocah itu
putih dan besar perawakannya bahkan pandai memanah".
"Tidak salah !" sahut Ong Cong-koan mengangguk.
"Kami mau mencari dirinya, bukankah mereka ada didalam
rumahmu ?"
Tan Loo Tia segera menyipitkan matanya dan tertawa
terbahak2.
"Ong Cong-koan !" serunya, "Kau orang apa mau ajak
aku untuk bergurau ? bagaimana mungkin mereka ada
disini ?"
Mendengar perkataan tersebut Ong Cong-koan segera
palingkan kepalanya kearah gadis itu.
"Nona !" ujarnya dengan suara amat hormat. "Tan Loo
Toa bilang mereka tidak ada disini, lebih baik kita mengejar
terus kedepan saja, bilamana kita harus buang waktu
dengan percuma disini mereka tentu melarikan diri semakin
lama se makin menjauh".
"Tetapi anjing2ku ini sudah berhenti mengejar
sesampainya ditempat ini !" ujar gadis itu dengan wajah
yang adem.
"Benar... benar ! penciuman anjing adalah paling tajam
diantara binatang2 lain, sekalipun berada beberapa li jauh
nya dia masih bisa mencium bau manusia yang sedang
dicari, kini ke tujuh-delapan ekor anjing itu sudah berhenti
mengejar sesampainya disini jika mau dikatakan orang yang
mereka kejar tidak berada disini sebenarnya merupakan
suatu urusan yang sukar dipercayai."
Karenanya Ong Cong-koan segera berseru kembali: "Tan
Loo Tia, urusan ini kau jangan bicara secara guyon, mereka
benarkah tidak ada didalam rumahmu ?"
"Ong Toa-siok ! kau kenapa ?" teriak gadis itu mendadak
dengan amat gusarnya, "Manusia2 itu ada didalam rumah
atau tidak kenapa kau tidak memeriksanya sendiri ?"
Tubuhnya segera melayang menerjang kedalam rumah
itu, sewaktu tubuhnya mencapai ditengah udara cambuk
ditangannya dengan cepat menghajar kearah depan
memaksa ke tujuh-delapan ekor anjingnya ikut menerjang
masuk kedalam.
Menanti setelah tubuhnya melayang turun di depan
pintu rumah dan memukul rubuh pintu tersebut kedua ekor
anjing yang sudah ada dibelakang tubuhnya telah
menerjang kedalam sambil menggonggong tak hentinya.
"Cepat ambil api dan bawa kemari !" perintahnya sambil
berdiri tegak di depan pintu.
Suaranya amat serak sekali bahkan diucapkan keluar
sambil menggigit kencang bibirnya, sepertinya setelah ada
penerangan dia akan melihat sesuatu urusan yang amat
menggemaskan hatinya sehingga dia kepingin sekali
menghancurkannya.
Dia begitu berteriak segera tampak dua orang lelaki
meloncat masuk kedalam pekarangan dan memberikan
sebuah obor kepadanya.
Melihat kejadian tersebut Tan Loo Tia segera menutup
kembali payungnva, serunya sambil pentangkan tangannya
lebar2.
"Eeeeh.. Toa-siok sekalian sebenarnya kalian mau cari
apa ? eeh... Ong Cong-koan.... loo han... loo-han..."
"Kau orang tidak usah banyak bicara lagi" Potong Ong
Cong-koan dengan wajah keren, "Kami cuma mau mencari
orang saja, bilamana orang itu bisa kami temukan disini,
hemm ! hmm beberapa kerat tulang2 tuamu itu jangan
harap bisa tersisa !"
Berulang kali Tan Loo Toa mendepakkan kakinya keatas
tanah, wajahnya yang sudah penuh dengan keriput tampak
memperlihatkan wajah menyesalnya, sewaktu dia putar
badannya kembali tampaklah gadis tersebut mencekal obor
sudah berjalan memasuki rumah gubuk itu.
Kedua rumah gubuk itu amat kecil sekali, sewaktu
ketujuh-delapan anjing itu menerjang masuk sebentar saja
seluruh barang yang ada di sana sudah diobrak-abrik tidak
keruan, hanya sekali pandang saja gadis itu sudah bisa
melihat seluruh keadaan isinya.
Didalam rumah itu sudah tidak ada orangnya, tetapi
mendadak tampak ke tujuh-delapan ekor anjing itu
mengumpul menjadi satu dan menciumi tanah sambil
menggonggong terhadap permukaan tanah disekelilingnya.
Melihat itu si gadis tersebut segera tertawa dingin.
"Hmm! Ong Cong-koan" serunya dingin "Kau orang
sudah melihat belum, didalam rumah ini ada jalan rahasia,
Orang tua bangkotan ini pasti bukan manusia baik2, cepat
tangkap dia orang terlebih dulu !"
Tetapi Ong Cong koan sama sekali tidak turun tangan
terhadap diri Tan Loo-toa, sebaliknya dengan langkah
perlahan berjalan kebelakang tubuh gadis itu, ujarnya:
"Nona, tempat ini hanyalah sebuah gudang dibawah
tanah saja yang sudah diketahui oleh semua orang
dibenteng sebagai tempat untuk menyimpan arak wangi
yang dibuat Tan Loo-tia."
"Bagaimana kau bisa tahu didalam gudang ini tidak ada
orang yang sedang bersembunyi ?" bentak gadis itu dengan
amat gusarnya.
Bibir Ong congkoan tampak sedikit bergoyang,
sebenarnya dia mau berkata "Kenapa Tan Loo Tia mau
menyembunyikan orang", tetapi sewaktu dilihatnya wajah
gadis itu sudah diliputi oleh kegusaran dia tidak berani
meneruskannya kembali perkataan yang semula mau
diucapkan ditelan kembali mentah2. Dengan suara yang
amat berat bentak gadis itu kembali:
"Bongkar tempat ini, buka gudang tersebut !" Ong Cong
koan segera menyahut dan berjalan melalui dua ekor anjing
yang ada di sana lalu bungkukkan badannya
menyangkolkan jarinya pada satu lubang dan mengangkat
sebuah papan seluas lima depa keatas.Begitu papan itu
terbuka maka secara samar2 segera terbau harumnya arak
yang amat semerbak.
Gadis itu mengangkat obornya untuk menerangi gudang
dibawah tanah tersebut, tampaklah ruangan itu dalamnya
ada satu kaki dengan luas enam tujuh depa yang sudah
penuh diisi dengan gentong-gentong serta guci2 arak.
Dibawah sorotan api obor terlihatlah didalam gudang
dibawah tanah itu sama sekali tidak tampak adanya sesosok
manusiapun
Baru saja papan itu terbuka terlihatlah ketujuh, delapan
ekor anjing tersebut dengan kalapnya menyalak tak
hentinya lalu menubruk ke dalam semuanya.
Gadis itu dengan amat tenangnya berdiri disamping
pintu gudang dibawah tanah itu, tampak air mukanya
penuh diliputi oleh ke-ragu2an, mendadak tangannya
digetarkan cambuknya dengan amat dahsyatnya
menyambar kedalam gudang....
Seketika itu juga sebuah guci yang berisikan arak wangi
sudah tersambar hingga hancur lebur, arak wangi dengan
sendirinya mengalir keluar membasahi seluruh permukaan
membuat seluruh ruangan berbau wanginya arak.
Saat itu ketujuh delapan ekor anjing itu tidak ambil
diam, mereka mencium sana sini sambil menyalak tak
henti2nya.
Sebaliknya cambuk yang ada ditangan sang gadispun
bagaikan naga sakti ber-turut2 melancarkan beberapa kali
sambaran, membuat tujuh, delapan buah guci seketika itu
juga menjadi hancur lebur berhamburan diatas tanah,
orang2 yang mengerubungi tempat itu termasuk juga Ong
Cong-koan sendiri dalam hati diam2 merasa amat sayang
sekali.
Begitu ke tujuh-delapan buah guci arak itu terhajar
hancur maka seluruh ruangan gudang itu dapat dilihat
dengan amat jelasnya, ternyata disana sama sekali tidak
tampak adanya bayangan orang.
Waktu itu dengan jalan yang amat tegak Tan Loo Tia
sudah berjalan masuk kedalam ruangan sambil menghela
napas ujarnya dengan nada sayang:
"Nona kau sungguh2 sudah berbuat kesalahan besar, ke
tujuh-delapan buah guci arak itu sudah aku simpan selama
dua puluh tahun lamanya, aiii… coba lihat, bukankah
ditempatku sini tidak bersembunyi seseorang"
Dengan tidak henti2nya dia bergumam seorang diri,
tetapi tak seorangpun yang menggubris dirinya, tiba2 gadis
muda itu berteriak amat keras:
"Ong Cong-koan, coba kau lihat !!"
Sembari berteriak dia menuding kearah gudang dibawah
tanah itu, Ong Cong-koan yang mendengar seruan tersebut
terpaksa melongokkan kepalanya memandang kebawah,
tetapi sebentar kemudian dia sudah dibuat melengak.
Ke tujuh-delapan buah guci arak yang sudah terkena
pukulan cambuk hingga hancur seharusnya diatas tanah
ada genangan arak setinggi dua tiga coen tetapi saat ini
permukaan tanah cuma basah saja sedikitpun tidak tampak
adanya genangan arak.
Ong Cong-koan benar2 dibuat tertegun, serunya:
"Nona, ini...."
"Kau masih tidak paham juga ?" Potong gadis itu dengan
amat gusarnya " Dibawah gudang ini pasti ada jalan rahasia
lainnya, kalau tidak arak tersebut tidak mungkin bisa
merembes ke-tempat lain !"
Ong Cong-koan menjadi sangat terperanjat sekali,
"Tan Lo, . ." serunya,
Belum sempat dia mengucapkan "Tia" hurup yang
terakhir seketika itu juga dia berdiri melengak untuk kedua
kalinya,
Tampak tubuh dari Tan Loo Tia didalam sekejap mata
itulah sudah mengembang menjadi sangat besar sekali,
tetapi kejadian yang sudah berlangsung hanya didalam
sekejap mata itu tidak memberi kesempatan buat Ong
Congkoan untuk melihat lebih jelas lagi dengan cara
bagaimana tubuh dari Tan Loo Tia bisa mengembang
sampai begitu besarnya.
Karena pada saat tubuh Tan Loo Tia mengembang besar
dan berkelebat dengan amat cepatnya itulah segera
terdengar suara jeritan ngeri dari ke tujuh-delapan anjing
yang berada disamping badannya disusul terpentalnya
bayangan2 kecil keatas udara, ke tujuh-delapan ekor anjing
itu sudah pada bergulingan diatas tanah dan binasa seketika
itu juga.
Baru saja suasana menjadi hening sebentar kembali
terdengar dua buah pukulan dahsyat berkelebat didalam
ruangan, dua orang terpukul mental kebelakang hingga
menubruk tembok lalu rubuh keatas tanah tidak berkutik
kembali, dari bagian dadanya darah segar mengucur keluar
dengan amat derasnya.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar2
membuat semua orang menjadi terperanjat, tetapi mereka
sama sekali tidak bisa berbuat apa2, setelah itu kembali
terdengar dua orang secara tiba2 menjerit aneh lalu
tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menuju keluar.
Gerakkan mereka amat cepat sekali, hanya didalam
sekejap saja kedua orang itu sudah berada disamping tubuh
kudanya masing2.
Pada saat yang bersamaan pula tampak sesosok
bayangan manusia kembali berkelebat menyusut kedepan.
Gerakan tubuh bayangan itu amat cepat sekali laksana
berkelebatnya bayangan setan.
Hanya didalam sekejap saja dia orang sudah berkelebat
melalui diantara kedua orang itu dan menghadang didepan
mereka sepasang tangannya berkelebat berbareng
menghajar bagian wajah dari kedua orang itu.
Jurus serangannya ini amat aneh sekali, belum sempat
orang yang ada didalam rumah melihat jelas gerakan yang
digunakan, sepasang tangan dari Tan Loo Tia sudah
ditekan ke depan sehingga tampaklah bayangan telapak
memenuhi seluruh angkasa membuat mereka tak dapat
menghindarkan diri kembali.
Dua buah jeritan ngeri segera memecahkan kesunyian
disusul mundurnya mereka berdua dengan sempoyongan.
Sebetulnya mereka sudah berhasil keluar dari rumah
sejauh dari sepuluh langkah tetapi saat ini badannya
mundur dengan sempoyongan hingga masuk kedalam
rumah kembali, setelah itu kakinya baru lemas dan rubuh
keatas tanah.
Wajahnya yang membalik keatas segera terlihatlah
sebuah bekas telapak darah yang masih segar bugar.
Telapak tangan itu amat jelas sekali, persis seperti baru
saja dicapkan keatas wajah mereka sehingga membekas
amat dalam sekali.
Ong Cong-koan serta gadis itu sewaktu melihat kejadian
ini pada berdiri melongo, apalagi Ong Congkoan, ketika
melihat bekas telapak berdarah yang membekas di wajah
mereka berdua seketika itu juga dalam hatinya sudah
teringat dengan seseorang, tak tertahan lagi seluruh
tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya seperti baru saja
direndam didalam air dingin.
Dan pada detik2 itu pula Tan Loo Tia sudah berkelebat
kedalam rumah, tubuhnya dengan amat cepatnya kembali
berkelebat didalam ruangan tersebut membinasakan
keempat lelaki kasar lainnya yang masih tersisa.
Didalam sekejap mata empat orang itupun tubuh tanpa
mengeluarkan sedikit suarapun.
Suasana menjadi amat sunyi sekali... sunyi sehingga tak
terdengar suara gemerisik sedikit pun juga, tetapi sebentar
kemudian sudah dipecahkan dengan menggerusnya suara
yang keras kiranya saking takutnya seluruh tubuh dari Ong
Cong-koan sudah gemetar dengan amat kerasnya sehingga
giginya pada beradu dan mengeluarkan suara nyaring.
Sebaliknya wajah dari gadis muda itu walau pun amat
pucat pasi tetapi air mukanya masih tetap terlintas hawa
amarahnya yang bercampur rasa kaget, perubahan
wajahnya jauh berbeda dengan air muka Ong Congkoan
yang sudah berubah menjadi abu2 itu.
Tujuh-delapan ekor mayat anjing serta delapan sosok
mayat manusia menggeletak diatas tanah dengan amat
mengerikan, dibawah sorotan sinar obor kelihatan sangat
menyeramkan sekali.
Ketiga orang itu dengan berdiri pada arah yang
berlawanan berdiri tak bergerak sedikitpun juga, lama sekali
baru terdengar Ong Congkoan berkata dengan suara yang
ter putus2: "Tan Loo Tia, kau... kau..." Saking takutnya dia
tidak sanggup meneruskan kembali kata2 selanjutnya.
Tan Loo Tia yang ada dihadapan mereka sekarang ini
bukanlah Tan Loo Tia yang badannya bungkuk dengan
pandangan yang sayu.
Tampak tubuhnya berdiri tegak dengan angkernya,
sepertinya didalam sekejap mata itulah tubuhnya sudah
bertambah tinggi separuh kepala lebih, sedangkan sepasang
matanya memancarkan sinar yang amat dingin sekali
memandang tajam mereka berdua.
Terdengar dia tertawa dingin tak henti2nya membuat
seluruh tubuh Ong Cong-koan gemetar semakin keras,
mendadak dia jatuhkan diri berlutut sambil me-rengek2:
"Kau ampunilah diriku... kau... kau ampunilah jiwaku."
"Tidak dapat!" sahut Tan Loo Tia dengan nyaring
bahkan amat singkat sekali.
Ong Cong-koan menjadi tertegun, dengan perlahan dia
angkat kepalanya.
Tetapi pada saat dia angkat kepalanya itulah tangan
kanan dari Tan Loo Tia mendadak sudah di ulur kedepan
menekan ke atas wajahnya !
Sewaktu telapak tangan Tan Loo Tia ditarik kebelakang
itulah terdengar gadis muda itu menjerit kaget dan
menghembuskan napas dingin. Tampak wajah dari Ong
Cong-koan sudah di seset hingga kulitnya hilang semua,
sedangkan sebuah bekas telapak tangan yang penuh dengan
darah sudah membekas diatasnya.
Tetapi nyawanya masih belum melayang, tampak
tubuhnya sedikit bergerak lalu bangkit berdiri, teriaknya
dengan suara serak:
"Nona, ce... cepat... cepat beritakan kepada Poocu,
Hiat..."
Baru sempat dia mengucapkan kata2 "Hiat" tubuhnya
mendadak rubuh keatas tanah tidak berkutik kembali!
Terdengar Tan Loo Tia memperdengarkan suara tertawa
dinginnya yang amat menyeramkan, kepalanya digelengkan
lalu berseru dengan nada yang amat mengerikan.
"Hee... heee... tidak akan ada orang yang bisa
memberitahukan urusan ini kepada Poocu..."
Mendadak dia angkat kepalanya lalu beralih keatas
wajah sang gadis muda itu.
Tanpa terasa lagi gadis itu mengundurkan diri satu
langkah kebelakang.
Tan Loo Tia segera memperlihatkan sebaris giginya yang
putih menyeramkan.
"Tidak akan ada orang yang bisa beritahukan urusan ini
kepada Pocu kalian" ujarnya kembali dengan seram,
"Nona... kaupun tidak bisa hidup lagi karena kau terlalu
cerdik, selama puluhan tahun ini cuma kau seorang saja
tahu kalau dibawah gudang tersebut masih ada jalan rahasia
yang lain !"
Sembari berkata tubuhnya dengan perlahan mendesak
maju kedepan.
Gadis itu sewaktu melihat Tan Loo Tia mendesak
dirinya terus menerus terpaksa mundur kembali kebelakang,
didalam sekejap saja tubuhnya sudah merapat dengan
tembok rumah.
"Heee... heee... sebelum mati aku bisa beritahukan satu
soal kepadamu" Ujar Tan Loo Tia kembali sambil
memperdengarkan suara tertawa anehnya yang amat
mengerikan "Jalan rahasia dibalik gudang tersebut sudah
membuang waktuku selama dua puluh tahun lamanya dan
merupakan jalan yang menembus sampai ditengah-tengah
Benteng Thian It Poo, semua orang dari Benteng mimpipun
tidak akan menyangka akan hal ini, sudah tentu akupun
tidak boleh meninggalkan kehidupan ditempat ini !"
Tubuh gadis itu mulai kelihaian gemetar, bibirnya yang
pucat pasi sedikit bergerak mengucapkan kata2 dengan ter
potong2:
"Kau... kau berani bunuh aku... orang2 dari Benteng
Thian It Poo tentu akan ada yang datang mencari aku !"
"Sudah tentu... sudah tentu!” sahut Tan Loo Tia sambil
tertawa seram. "sudah tentu mereka akan mencari dirimu,
karena kau adalah burung Hong yang turun dan kahyangan
putri kesayangan dari Poo-cu jika mereka tidak tampak kau
muncul kembali kenapa tidak pergi mencarinya ? haahaha .
. tetapi mereka tidak akan menemukan sesuatu dari tempat
sini, menanti mereka tiba disini apapun sudah tidak ada,
bahkan sampai jejak yang mencurigakan akan lenyap tak
berbekas!"
Sehabis berkata tangan dari Tai Loo Tia dengan perlahan
diangkat keatas lalu diayunkan ke depan.
Gadis itu segera memperdengarkan suara jeritan
kagetnya yang amat tajam dan melengking tinggi, cambuk
ditangannya mendadak dikebutkan menjadi setengah
lingkaran lalu dengan dahsyatnya dibabat keatas tubuh Tan
Loo Tia.
Bersamaan waktunya pula tubuhnya membungkuk
kebawah, punggungnya dengan sekuat tenaga menerjang
tembok yang ada dibelakangnya sehingga muncullah
sebuah lubang yang amat besar sekali.
Tubuhnya tanpa membuang tempo lagi sudah
menerobos keluar dan ber-guling2 diatas permukaan salju
untuk cepat2 kabur dari sana.
Gerakan gadis itu boleh dikata amat cepat sekali
bagaikan sambaran kilat, tetapi baru saja dia berhasil
meloncat bangun, tubuh Tai Loo Tia sudah muncul
kembali dihadapannya.
Tangan gadis itu dengan cepat digerakkan kembali,
cambuk panjangnya dengan menimbulkan suara sambaran
yang amat keras kembali membabat kedepan.
Tetapi sayang sekali walaupun serangannya amat
dahsyat tetapi lima jari dari Tan Loo Tia yang
mencengkeram pergelangan tangannya jauh lebih gesit dan
kuat lagi bahkan tenaga tarikannya bagaikan tarikan dua
puluh ekor kuda.
Sang gadis yang meiihat ujung cambuknya terkena
pegang oleh pihak lawan, menjadi sangat bingung sekali,
bila mana dengan cepat dia melepaskan cambuknya
kemungkinan sekali masih tidak mengapa, siapa tahu
justeru cambuk itu terbuat dari kulit seekor ular raksasa
yang amat kuat dan bagus sekali, apalagi benda itupun
sudah digembolnya sejak kecil, untuk mana dia merasa
amat sayang sekali untuk melepaskannya kembali.
Pada saat dia merasa ragu2 itulah tenaga tarikan dari
Tan Loo Tia yang amat dahsyat sudah menerjang datang
membuat tubuh gadis itu tertarik maju beberapa langkah
kedepan, dan jatuh tertelungkup keatas tanah.
Gadis tersebut segera merasakan keadaannya sangat
berbahaya, dengan cepat tangannya mengendor melepaskan
cekatan pada cambuknya dan mundur kebelakang tetapi
waktu sudah terlambat pundaknya terasa mengencang
tangan dari Tan Loo Tia sudah berhasil mencengkeram
dirinya.
Tan Loo Tia yang sudah berhasil mencengkeram pundak
dari gadis muda itu tangan yang sebelah tidak henti2nya di-
goyang2kan didepan wajah sang gadis sambil
memperdengarkan suara tertawanya yang amat
menyeramkan.
Dengan cepat gadis muda itu angkat kepalanya keatas,
bunga salju selapis demi selapis jatuh berhamburan diatas
wajahnya yang pucat pasi bagaikan mayat, sepasang
matanya terbelalak lebar2-Walaupun air mukanya sudah
diliputi oleh perasaan ngeri serta ketakutan yang luar biasa
tetapi bibirnya tetap tertutup rapat2 tanpa mengucapkan
sepatah katapun.
Lima jari tangan kanan dari Tan Loo Tia yang
terpentang lebar2 sejengkal demi sejengkal semakin
mendekati wajah gadis itu, kelihatannya sebentar lagi diatas
wajah sang gadis yang amat cantik itu sudah akan
bertambah dengan sebuah cap telapak tangan berdarah yang
amat mengerikan.
Pada saat itulah gadis muda itu merasakan hidungnya
tercium bau amis darah yang amat memuakkan sekali,
telapak tangan dan Tan Loo Tia yang ada dihadapannya
kini sudah berobah memerah laksana darah, keadaannya
mirip dengan sebuah telapak tangan yang baru saja
direndam didalam darah segar, benar2 amat menyeramkan
sekali !
Walaupun sifat gadis itu ketus dan keras kepala tetapi
pada saat yang amat kritis dan menyangkut mati hidup
dirinya tidak urung hatinya dibuat ber debar2 juga,
napasnya ngos2an tidak teratur sedangkan sepasang
matanya dengan tajam memperhatikan telapak tangan yang
sudah ada kurang lebih tiga-empat coen dihadapannya.
Mendadak dengan menggunakan suara yang amat
gemetar ujarnya:
"Kau... kau... kau bukan Tan Loo Tia !".
"Haaa... haaa... haaa... sudah tentu aku bukan Tan Loo
Tia ! haaa... haa..." seru Tan Loo Tia sambil
memperdengarkan suara tertawa panjangnya yang amat
aneh sekali.
"Kau... kau... kau adalah "Hiat Ciang" atau sitelapak
berdarah, Tong Hauw ln." Teriak gadis itu kembali sambil
menelan ludah. "Kau!ah si iblis tukang pembunuh si telapak
berdarah, Tong Hauw!"
"Heee... heee... sungguh hebat, sungguh hebat!" Seru Tan
Loo Tia sambil memperdengarkan suara tertawanya yang
amat aneh, "Aku orang sudah ada dua puluh tahun
lamanya tidak pernah munculkan diri didalam dunia
persilatan orang yang berusia seperti kau ternyata
mengetahui juga namaku, sungguh hebat!"
Napas dari gadis itu semakin memburu, dadanya terasa
sesak. kepalanya terasa pening... tetapi dia orang tetap
berusaha untuk mempertahankan ketenangannya bahkan
tidak henti2nya memperdengarkan suara tertawa dingin
yang tidak kalah ketusnya.
"Hmm! bagaimana aku bisa mengetahui nama mu ? Di
dalam Benteng masih ada seorang yang sering mengungkit
dan menyebut namamu si telapak berdarah Tong Hauw,
aku tahu akan hal ini dari ayahku."
Tan Loo Tia... si telapak berdarah, Tong Hauw segera
mendengus dengan amat dinginnya.
"Orang2 Benteng Thian It Poo sering menyebut
namaku?" Teriaknya keras, "Kecuali Sie Liong si bajingan
tua itu ada siapa lagi yang sering menyebut namaku ?"
"Kau berani memaki ayahku ?" bentak gadis itu dengan
amat gusarnya.
Tong Hauw segera tertawa terbahak2 dengan amat
kerasnya, agaknya dia merasa sangat gembira sekali, ber-
turut2 teriaknya dengan keras:
"Sie Liong bajingan tua.. Sie Liong bajingan tua !"
Mendengar suara makian dari Tong Hauw ini sang gadis
muda itu demikian gusar lagi sehingga akhirnya mencapai
puncaknya, pundaknya kena cengkeram oleh Tong Hauw
membuat sepasang tangannya sama sekali tidak
mempunyai tenaga, sehingga tidak dapat lagi digunakan
untuk menghajar tubuh orang itu, tetapi sambil menggigit
kencang bibirnya mendadak dia orang melancarkan satu
tendangan kilat menghajar tubuh Tong Hauw.
Tong Hauw sama sekali tidak bisa menghindarkan
dirinya "Braak !" dengan disertai suara yang amat nyaring
tendangan kilat gadis itu dengan amat cepatnya berhasil
menghajar kaki dari Tong Hauw.
Tong Hauw segera tertawa panjang... sebaliknya gadis
itu segera merasakan kakinya amat sakit sekali !
Saking sakitnya tidak kuasa lagi gadis muda itu
meneteskan air matanya, tetapi dia orang tetap menggigit
kencang bibirnya sehingga tidak mengeluarkan sedikit suara
mengaduh atau rintihan pun.
Si telapak berdarah Tong Hauw segera tertawa keras.
"He he he tidak kusangka Sie Liong itu bajingan tua yang
tidak berguna seperti gentong nasi bisa mempunyai seorang
anak perempuan yang demikian keras kepalanya."
"Kau!ah yang tidak berguna seperti gentong nasi" balas
teriak gadis itu dengan khekinya sehingga seluruh tubuhnya
gemetar amat keras "Jikalau kau orang berguna kenapa
harus menyembunyikan nama aslimu secara rahasia bahkan
berdiam disini selama dua puluh tahun lamanya ?"
Air muka si telapak berdarah, Tong Hauw didalam
sekejap mata itulah sudah berubah sangat hebat, untuk
beberapa saat lamanya dia tidak mengucapkan sepatah
katapun.
Pada saat yang bersamaan pula telapak tangan yang ada
didepan wajah gadis muda itu dengan tidak henti2nya
bergoyang sehingga tercium bau amis darah yang sangat
memuakkan.
Gadis itu merasa hatinya semakin ber-debar2 dengan
amat kerasnya hingga hampir2 melompat keluar dari
tubuhnya, tetapi selama ini dia tetap tutup mulutnya tidak
mengeluh.
Lama sekali baru terdengar telapak berdarah Tong Houw
tertawa dingin.
"Benar selama dua puluh tahun lamanya aku
menyembunyikan nama dan berdiam disini, tetapi Sie
Liong itu bajingan tua apakah pernah melangkah keluar
satu langkahpun dari Benteng Thian It Poonya selama dua
puluh tahun ini?" serunya amat dingin.
"Hmmm" dengus gadis itu sambil kerutkan alisnya
rapat2 "Ayahku sedang melatih ilmu silatnya didalam
Benteng, bagaimana dia orang tua bisa dibandingkan
dengan kau manusia yang tidak keruan, manusia pengecut
cucu kura2 !"
Si telapak berdarah Tong Hauw segera tertawa dingin tak
henti2nya, setiap kali dia memperdengarkan suara tertawa
dinginnya yang amat keras, tubuh gadis itupun tergetar
dengan hebat.
"Heee... heee jikalau orang yang setiap kali menyebut
namaku bukan itu bajingan tua Sie Liong lalu siapa lagi ?"
ujarnya kasar
"Kenapa aku harus memberitahukan kepadamu ?" balas
teriak gadis itu sambil tertawa dingin pula, agaknya secara
mendadak dia teringat akan sesuatu urusan.
Telapak tangan dari si telapak berdarah Tong Hauw
semakin mendekati wajahnya lagi sehingga tinggal beberapa
coen saja.
"Ayoh bilang, siapa ?" bentaknya.
"Hmmm ! justru aku tidak akan berbicara !" teriak gadis
itu ketus sambil pejamkan matanya rapat2.
Tong Hauw benar2 tidak bisa bersabar lebih lama lagi,
disertai dengan suara dengusan yang amat dingin telapak
tangannya ditekan keatas wajah gadis tersebut.
Mendadak...
Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara
ringkikan kuda yang amat panjang sekali.
Suara ringkikan kuda itu kedengarannya sudah tidak
jauh dari rumah gubuk tersebut, Tong Hauw menjadi
melengak dibuatnya, telapak tangannya yang sudah mau
ditekankan keatas wajah gadis itupun mendadak ditarik
kembali, jari tangannya dengan cepat menotok jalan darah
"Ciao Cing Hiat" pada tubuh sang gadis lalu menyeretnya
kembali kedalam rumah dan diletakkan diatas dipan kayu.
Cepat2 dia mengambil sebuah selimut dan menyelimuti
seluruh tubuh gadis itu rapat2 sedang kan dirinya duduk
disampingnya.
"Eeeei... kalian berdua jangan bergerak dahulu, ada
orang datang !" serunya kemudian ke arah gudang dibawah
tanah itu.
Tetapi dari dalam gudang dibawah tanah tersebut sama
sekali tidak terdengar sedikit suara pun.
Si telapak berdarah Tong Hauw segera mengerutkan
alisnya rapat2, ujarnya lagi:
"Heeei kalian dengar suaraku tidak ?" Kali ini suara
bentakannya amat keras sekali, tetapi dari dalam gudang
dibawah tanah itu sama sekali tidak terdengar suara
sahutan.
Tong Hauw tidak bisa menahan sabar lagi, tubuhnya
dengan cepat berkelebat melayang turun kedalam gudang
tersebut.
Tetapi pada saat yang bersamaan pula terdengar suara
ringkikan kuda yang amat keras di susul menyambarnya
desiran angin keras menggulung kedalam rumah itu, saking
dahsyatnya desiran angin itu membuat kedua buah rumah
gubuk itu hampir2 terangkat dari tempatnya.
Sitelapak berdarah Tong Hauw yang ada di dalam
gudang dibawah tanah untuk sesaat lamanya tidak
mengetahui siapa yang telah datang, dengan ter-buru2 dia
bungkukkan badannya lalu memperdengarkan suara
batukan yang keras.
Belum habis dia berbatuk terdengar dari tempat atas
bergema datang suara bentakan yang amat keras: "Siapa ?"
"Aaa... aku... aku siorang tua she Tan !" jawab Tong
Hauw dengan suara yang amat serak. sembari berkata
sepasang tangannya memegang kepalanya, tubuhnya
berjongkok dan gemetar dengan amat kerasnya
Suara langkah manusia segera bergema diatas nya dan
berhenti disamping gudang dibawah tanah itu.
"Tan Loo Tia, kau ? apa yang sudah terjadi di sini ?"
ujarnya.
Si telapak berdarah Tong Hauw diam2 melirik sekejap
keatas, terlihatlah seorang lelaki kasar berdiri di tepi mulut
gudang itu.
Didalam sekali pandang saja dia sudah mengenal
kembali kalau orang itu adalah murid pertama dari Thian It
Poocu, Sie Liong.
"Aaa ... aku ... aku juga tidak tahu" sahutnya dengan
suara gemetar, "Semula datang seorang lelaki dan seorang
perempuan lalu datang juga banyak orang-yang saling
serang menyerang aaa ... aku ... aku ketakutan dan terpaksa
bersem... bersembunyi disini, aku benar2 tidak tahu, Thio
Thay-ya... aku sama sekali tidak tahu !"
"Ehmm ... kau naiklah !" perintah lelaki berusia
pertengahan itu. Dengan per-lahan2 Tong Hauw memanjat
naik keatas permukaan tanah, baru saja tubuhnya mencapai
separuh jalan mendadak tubuhnya berdiri tegak kembali
sedangkan telapak tangannya dengan kecepatan bagaikan
kilat mengirim satu pukulan dahsyat kedepan.
Pukulan telapak tersebut dengan amat cepatnya
menghajar lambung dari lelaki berusia pertengahan itu.
Pada wajah lelaki berusia pertengahan itu segera
memperlihatkan perasaannya yang amat terkejut, setelah
memandang kearah Tong Hauw selama beberapa saat
lamanya dia menghembuskan napas panjang dan rubuh
terlentang keatas tanah.
Si telapak berdarah Tong Hauw yang didalam satu kali
pukulan saja sudah berhasil membinasakan seseorang, tidak
terasa lagi dia orang memperdengarkan suara tertawa
dinginnya yang menyeramkan.
Tetapi pada saat dia tertawa dingin itulah mendadak dari
pintu luar berkumandang pula dua buah suara tertawa
dingin yang tidak kalah seramnya.
Suara tertawa dingin itu kedengaran amat aneh sekali. Si
telapak tangan berdarah Tong Hauw yang merupakan
seorang berkepandaian tinggi setelah mendengar suara itu
tidak terasa lagi sudah bersiul beberapa kali.
Dia orang sama sekali tidak menyangka orang yang baru
saja datang bukan cuma lelaki berusia pertengahan itu saja,
jikalau sejak tadi dia tahu kalau orang yang datang bukan
dia seorang saja sudah tentu dirinya tidak akan turun
tangan membinasakan dirinya.
Saat ini dengan cepat dia dongakkan kepalanya
terlihatlah didepan pintunya sudah berdiri seorang lelaki
dan seorang perempuan.
Yang lelaki mempunyai perawakan yang amat pendek
sekali sehingga kelihatan amat aneh, wajahnya beringas
kejam tetapi pakaian yang dikenakannya amat perlente
sekali, jubahnya yang berwarna putih tampak bersulamkan
beratus2 ekor kelabang dalam gaya yang sama sekali
berbeda dan mengeluarkan sinar yang amat menyilaukan
mata.
Sedangkan perempuan itu mempunyai perawakan yang
amat tinggi bahkan tinggi badan lelaki itu tidak lebih cuma
ada sepinggangnya saja.
Perempuan itu mempunyai wajah seperti kuda, pucat
pasi sedikitpun tidak kelihatan adanya darah sehingga
keadaannya amat menyeramkan sekali, ditengah sepasang
mata yang bulat besar memancar keluar sinar yang
membuat hati orang serasa bergidik, rambutnya awut2an
tidak keruan keadaannya didalam sepuluh bagian ada
sembilan bagian mirip dengan setan gentayangan atau
hantu liar !
Begitu melihat munculnya kedua orang itu tidak terasa
lagi sitelapak berdarah Toog Hauw menghembuskan napas
dingin, hatinya terasa berdesir...
"Hey lelaki busuk kau sudah melihat belum?" Seru
perempuan itu sedikit menggerakkan bibirnya, "lnilah yang
dinamakan Thian membantu manusia yang sedang
kesulitan !"
"Benar !" sahut lelaki itu dengan suara yang amat kasar
dan parau sekali, "Hey Nio cu ! Telapak darah dari Tong
Loo toa sudah mendapatkan kemajuan yang amat pesat
sekali jika dibandingkan sewaktu dia orang membinasakan
anak kita !"
"Eeei lelaki busuk perkataanmu sedikitpun tidak salah."
ujar perempuan itu lagi. "jikalau anak kita tidak binasa
dibawah pukulan telapak berdarahnya, tahun ini mungkin
sudah kawin, kau pun seharusnya sudah membopong
cucu!"
"Heee... heee... heee... Nio-cu, perkataanmu sedikitpun
tidak salah !"
Sitelapak berdarah Tong Hauw yang mendengar mereka
tidak henti2nya berbicara, dalam hatinya merasakan sedikit
tidak sabaran, dia orang segera tertawa keras.
"Heee... hee heee... sungguh tidak kusangka ditempat
yang demikian dingin dan tandusnya ternyata bisa bertemu
dengan Li Sincun serta Loei Sian Hoo suami istri !"
Sekali lagi lelaki serta perempuan ini memperdengarkan
suara tertawa yang amat menyeramkan.
"Hey Tong Loo-toa !" ujar mereka berbareng, "lnilah
yang dinamakan Thian membantu orang yang berada
didalam kesulitan, kita sudah ada dua puluh tahun lamanya
mencari dirimu, selama dua puluh tahun ini tempat
manapun sudah kita kunjungi, pada tiga empat tahun
dekat2 ini aku dengar orang bilang katanya sejak dulu kau
orang sudah menyingkir keluar perbatasan karena kita terus
menerus berputar2 diluar perbatasan. Heee... heee... jikalau
bukannya pukulanmu tadi, hampir2 kitapun tidak berani
mengenal dirimu kembali"
"Baik... baik... bagus... bagus sekali !" seru Si telapak
berdarah Tong Hauw dengan suara yang berat. "Kalian kini
sudah mendapatkan aku orang, sudah tentu hutang2
lamapun hendak kalian tagih semua bukan ?"
"Sudah tentu !" sahut perempuan itu dengan suara keras.
Tong Hauw menarik napas panjang2,sebentar kemudian
dia baru berkata kembali:
"Tetapi aku ada satu permintaan yang tidak sesuai, harap
kalian mau meluluskan."
"Hiii... hi... hiii... coba kau katakan, bagai manapun kita
sudah ada dua puluh tahun lamanya menantikan dirimu !"
Sahut perempuan itu sambil tertawa seram.
"Aku orang she Tong masih ada sedikit urusan ditempat
ini." ujar si telapak berdarah Tong Hauw sepatah demi
sepatah. "Tetapi urusan ini sudah hampir mendekati
keberhasilan, dua bulan kemudian aku akan menyerahkan
diri di istana Teh Hoo Kong, kalian berdua kira
bagaimana?"
Si lelaki maupun perempuan yang mendengar perkataan
ini mendadak tertawa menjerit dengan sangat seramnya
sehingga membuat orang yang mendengar merasakan
seluruh bulu kuduknya pada berdiri.
"Istana Teh Hoo Kong apa masih ada ?"
"Apa arti dari perkataanmu ini ?" tanya Tong Hauw
tertegun.
Mereka berdua tertawa seram tak henti2nya, suara
tertawanya terasa amat mengerikan sekali ditengah malam
buta yang amat sepi,
Terdengar lelaki itu berteriak dengan suara yang amat
dingin:
"Istana Teh Hoo Kong sejak lama sudah tidak ada lagi,
istana Teh Hoo Kong yang amat mewah dan sangat
berharga bahkan menjagoi seluruh Bu-lim sudah terbakar
ludas oleh kami !"
Tidak tertahan lagi tubuh Tong Hauw mundur satu
langkah ke belakang.
"Kenapa ?" tanyanya terperanjat.
Suara dari lelaki itu semakin lama semakin meninggi
semakin lama semakin melengking.
"sewaktu api berkobar dengan hebatnya membakar
istana Teh Hoo Kong, kami suami isteri berdua di hadapan
api yang berkobar sudah mengangkat sumpah untuk
menangkap kembali musuh besar kami, setelah itu
menghancurkan badan serta tulang2nya untuk dicampur
dengan kapur sebagai bahan untuk mengapuri istana Teh
Hoo Kong di kemudian hari !"
Tong Hauw yang mendengar perkataan mereka semakin
lama merasakan hatinya semakin terperanjat, sang lelaki
serta perempuan dua orang ini merupakan jagoan lihay dari
kalangan Hek-to, diatas gunung Mong-san didaerah Biauw
Ciang mereka mempunyai sebuah istana Teh Hoo Kong
yang amat mewah dan mentereng sekali, semua orang Bu
lim menganggapnya merupakan sebuah istana yang paling
mewah, paling mentereng, jika mengangkat majikan dari
istana Teh Hoo Kong ini si Kiem Uh sincun atau malaikat
kelabang emas Li Siauw serta Hek Hong Sian Hoo atau
Bidadari angin hitam Chan Si, siapapun mengenalnya.
Pada tempo hari si telapak berdarah Tong Hauw pernah
bertempur dengan seseorang didekat tembok besar, saat itu
ada seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh
tahunan tetapi sikapnya sangat congkak sedangkan
perkataannya atos dan kasar sekali, waktu itu Tong Hauw
tidak tahu siapakah dia orang sehingga terjadi pertempuran
yang amat sengit, kepandaian silat dari pemuda itu ternyata
biasa saja tidak sampai tiga juga jurus dia sudah menemui
ajalnya dibawah telapak berdarahnya.
Setelah Tong Hauw membinasakan pemuda itu dia baru
tahu kalau pemuda tersebut ternyata adalah satu2nya putra
dari majikan istana Teh Hoo Kong didaerah Biauw ciang,
itu si malaikat kelabang emas serta Bidadari angin hitam !
Bencana ini sudah tentu tidak kecil resikonya tetapi
dikarenakan bersamaan waktunya Tong Hauw menemui
pula suatu urusan pribadi yang jauh lebih penting memaksa
dia orang harus menyingkirkan diri jauh2 dari Tionggoan.
Diluar perbatasan itulah dia orang menyamar sebagai
"Tan Loo Tia" dan berdiam dengan tenangnya, oleh karena
itu terhadap urusan ini hampir2 dirinya sudah
melupakannya.
Tetapi... justru ditengah malam salju yang amat
merepotkan sepasang musuhnya munculkan diri disana
bahkan sewaktu mereka munculkan diri Tong Hauw pun
sedang melancarkan pukulan telapak berdarahnya
membinasakan seseorang membuat dia orang untuk
mungkirpun tidak sempat lagi.
Saat ini Tong Hauw benar2 merasakan hatinya amat
cemas sekali, jikalau dia diharuskan bergebrak dengan
kedua orang yang ada dihadapannya ini, kalau cuma satu
melawan satu kemungkinan sekali dengan paksakan diri
masih bisa seimbang tetapi bilamana dia orang diharuskan
satu melawan dua, kiranya sulit buat dirinya untuk
mmemperoleh kemenangan !!
Jika dilihat situasi yang ada dihadapinya saat ini sudah
tentu jalan yang paling selamat buat dirinya adalah merat
dari sana, asalkan dia berhasil melarikan diri kedalam
sebuah hutan lebat sepuluh li dari tempat ini mereka berdua
jangan harap bisa menemui dirinya lagi, tapi.. justeru
pekerjaan ini tidak mudah untuk dilakukan olehnya!
Tetapi selama dua puluh tahun lamanya ditempat ini dia
merahasiakan nama serta asal usulnya bahkan bersusah
payah berusaha, sudah kini pekerjaannya sudah hampir
mencapai hasil jikalau menyuruh dia orang pergi dari situ,
sebenarnya dia orang merasa sayang sekali dan tidak tega
untuk meninggalkan susah payahnya yang dilakukan
selama dua puluh tahun lamanya ini.
Oleh karena itu sambil memperlihatkan tertawa
seramnya didalam hati dia terus menerus memikirkan
langkah2 selanjutnya.
Terdengar si bidadari angin hitam, Chan Sie
memperdengarkan suara tertawanya jang amat tidak enak
didengar, tetapi dari suara tertawanya ini jelas sekali
menunjukkan kegirangan hatinya yang me-luap2, mereka
selama dua puluh tahun lamanya sudah mengunjungi
semua tempat untuk mencari pembunuh putranya, tidak
disangka secara tiba2 bisa menemui dirinya muncul
ditempat itu sudah tentu rasa girangnya saat itu sukar sekali
untuk dilukiskan.
Sembari tertawa keras, tangan kanannya dengan per-
lahan2 diayunkan keatas.
Dia orang yang mempunyai perawakan tinggi kurus
sepasang tangannyapun kurus sekali hingga mirip sekali
dengan cakar burung yang berwarna hitam pekat,
keadaannya sangat jelek dan mengerikan sekali. Melihat dia
orang sudah ber-siap2 untuk turun tangan, dengan cepat
Tong Hauw berteriak:
"Tahan dulu !"
"Heee... hee... kau orang ada perkataan apa lagi?" teriak
Chan Sie sambil tertawa seram.
Si telapak berdarah Tong Hauw tahu kalau urusan ini
tidak mungkin bisa dicegah lagi, tetapi dia pun tidak ingin
untuk bungkam terus.
"Ditempat ini aku ada satu urusan yang amat penting
sekali", ujarnya dengan cepat. "Malam ini atau besok
kemungkinan sekali sudah bisa beres, bagaimana kalau
kalian berdua untuk sementara waktu meninggalkan tempat
ini terlebih dulu untuk kemudian bertemu kembali pada
esok malam di tempat ini juga ?".
Chan Sie maupun Lie Siauw yang mendengar
perkataannya itu segera tertawa terbahak2, suara tertawa
mereka amat keras sekali ditambah pula tenaga dalam
mereka berdua sudah mencapai pada taraf kesempurnaan
membuat suara tertawa itu dengan dahsyatnya mengalun
sampai ditempat yang amat jauh sekali.
Walaupun suara tertawa mereka berdua amat keras
sekali sehingga serasa menusuk telinga, tetapi saat ini secara
samar2 bisa mendengar juga kalau dari pihak benteng Thian
It Poo pun berkumandang datang suara yang berisik.
Tong Hauw merasakan hatinya semakin berat, terdengar
Chan Sie sambil tertawa sudah berbicara kembali:
"Ooouw... kau orang masih ada urusan penting yang
belum diselesaikan ? hee... hee... kalau begitu sebelum
kematianmu dalam hati kau orang tentunya sangat
menderita bukan ?"
Air muka Tong Hauw segera berubah hebat, jelas sekali
perkataan dan Chan Sie sudah menusuk kedalam hatinya
membuat dia orang merasa sangat menderita dan sedih
sekali.
Baru saja perkataan Chan Sie selesai diucapkan Li Siauw
sudah melanjutkan kembali:
"Hee... hee... urusan itu benar2 sangat bagus sekali, aku
orang memang sangat mengharap demikian !"
Perkataannya begitu selesai diucapkan tubuhnya yang
pendek gemuk itu mendadak melancarkan satu pukulan
dahsyat kedepan disusul tubuhnya meloncat keatas
meluncur ke tengah ruangan, seketika itu juga seluruh
ruangan penuh diliputi oleh bau amis yang memuakkan.
Si telapak berdarah Tong Hauw yang melihat tubuh
pihak lawan sudah meloncat dan menubruk kearahnya,
dengan cepat badannya menyingkir kesamping.
"Sreeet !" Tubuhnya persis berada disamping lubang
dimana gadis tadi menerjang keluar, dengan cepat ia
mencelat kedepan.
Sedangkan Lie Siauw begitu tubuhnya menubruk masuk
kedalam ruangan sepasang telapak tangannya ber-turut2
melancarkan dua pukulan dahsyat menghajar kearahnya
Kekuatan dari kedua pukulan tersebut benar2 amat
dahsyat sekali, terasa dua gulung angin pukulan laksana
menggulungnya ombak besar ditengah samudra seketika itu
juga membuat seluruh tangan dipenuhi oleh hawa murni
yang membuat rumah gubuk itu tidak kuat untuk menahan
tekanan tersebut dan ambruk kebawah.
Sewaktu sepasang telapak dari Li Siauw melancarkan
serangan tadi, Chan Sie pun sudah maju satu langkah ke
depan melancarkan serangan dahsyat.
Saat itulah seluruh ruangan ambruk kebawah, baik atap
maupun tumpukan salju seketika itu juga menindihi badan
mereka berdua.
Tong Hauw ang baru saja menerobos keluar dari lubang
di samping rumah tersebut diwaktu mendengar dari
belakang tubuhnya bergema suara ambrukan yang amat
keras dengan cepat kepalanya di toleh ke belakang.
Ketika dilihatnya rumah itu ambruk tidak karuan hatinya
menjadi sangat girang sekali, dengan kecepatan yang luar
biasa tubuhnya berlari menuju keluar, hanya didalam
sekejap saja dia sudah ada di tempat sejauh dua tiga kaki
dari tempat semula.
Mendadak tubuhnya melayang tanpa menempel
permukaan tanah, sekali lagi tubuhnya berkelebat tujuh
enam kaki lebih, lalu merendah ke bawah.
Bila orang yang telah berdiam di tempat itu sangat lama
terhadap keadaan di sekeliling tempat itu sudah amat hapal
sekali, tubuhnya yang tiba2 merendah kebawah segera
bergelinding masuk kedalam sebuah liang kecil, seketika itu
juga tubuhnya berbaring didalam liang tersebut dengan
diatas badannya tertutup oleh salju yang amat tebal, orang
yang ada diatas permukaan jangan harap bisa melihat jelas
dirinya.
Pada saat itulah terdengar Li Siauw serta Chan Sie
masing2 memperdengarkan suara teriakan yang amat aneh,
tubuhnya dengan cepat muncul dari antara ambrukan
rumah gubuk dan meloncat kedepan.
Mereka berdua sesudah munculkan dirinya tidak terasa
lagi pada mengalihkan pandangannya kearah telapak kaki
yang ada diatas tanah lalu mengejarnya kedepan!
Tetapi baru saja mengejar sejauh tiga kaki mendadak
bekas telapak kaki yang membekas diatas permukaan tanah
telah lenyap tak berbekas, walaupun saat itu salju melayang
turun dengan lebatnya tetapi bilamana diatas tanah ada
bekas telapak kaki tentunya tidak sebegitu cepat tertutup
lenyap.
Sudah tentu dengan kepandaian silat yang dimiliki Tong
Hauw untuk berjalan diatas permukaan salju tanpa
meninggalkan bekas kaki bukanlah merupakan suatu
urusan yang sulit tetapi kenapa permulaannya ada bekas
kaki yang tertinggal...
Chan Sie tertegun sebentar kemudian sadar kembali,
teriaknya dengan keras:
"Heei lelaki busuk, dia sudah merat, cepat kita pergi
mengejar."
Dengan cepat Li Siauw angkat kepalanya memandang
kedepan, salju turun semakin deras membuat pandangan
didepannya cuma kelihatan salju nan putih memenuhi
seluruh permukaan, benda yang ada didua, tiga kaki
jauhnya masih bisa terlihat dengan amat jelas sekali, cuma
saja bayangan Toog Hauw tidak kelihatan sama sekali.
Dia orang yang tidak tahu Tong Hauw merat dengan
mengambil arah sebelah mana dalam hati nya merasa
semakin gusar lagi, tidak terasa lagi dia sudah menjerit
aneh.
Pada saat itulah suara orang serta suara ringkikan kuda
dengan amat cepatnya sudah berkumandang datang...
Suara dari Chan Siepun semakin lama berubah semakin
tidak enak, didengar.
"Hey lelaki busuk ," teriaknya keras. "Ada orang datang,
jangan sampai membuang waktu sehingga urusan
berantakan !"
"Orang yang baru datang tentunya orang2 dari Benteng
Thian It Poo," jawab Li Siauw dengan suara yang amat
keras pula, "Lebih baik kita meminta bantuan mereka saja
untuk mencarikan bajingan she Tong itu, aku kira tentunya
mereka mau memberi bantuan kepada kita, jika jumlah
orang yang mencari bertambah banyak sudah tentu
pencariannya semakin mudah."
"Ehmm... perkataanmu sedikitpun tidak salah !" sahut
dan Sie sambil mengangguk.
Tidak selang lama kemudian tampaklah dua ekor kuda
dengan amat cepatnya berlari mendatang, telapak kuda
menyepak tanah membuat bunga2 salju pada berterbangan
keempat penjuru, hal ini menyebabkan siapa yang duduk
diatas kuda tunggangan itu sukar untuk dilihat lebih jelas.
Tetapi suara teriakan yang digemborkan oleh orang yang
ada diatas kuda amat jelas sekali, suara itu amat berat dan
penuh disertai tenaga dalam yang kuat.
"Soat Ang... Soat Ang... kau ada dimana ?"
Tubuh Li Siauw dengan cepat berkelebat menyambut
datangnya kedua orang tersebut.
Tubuhnya yang menerjang kedepan melalui bunga salju
yang ber lapis2 memenuhi sekeliling kuda tunggangannya
itu membuat kedua orang yang ada diatas kuda tunggangan
tersebut menjadi sangat terkejut sekali, ditengah suara
teriakan yang amat terperanjat dengan cepat mereka
mencoba menahan tali les kudanya.
Dengan sentakan yang secara mendadak ini kedua ekor
kuda ini segera meringkik panjang lalu mengangkat kakinya
yang depan keatas, ke dua orang yang ada diatas
tunggangannya dengan cepat meloncat keatas
meninggalkan kudanya masing2, satu dari kiri yang lain
dari kanan dengan kecepatan yang luar biasa berkelebat
kesamping badan Li Siauw dan berdiri tidak bergerak.
"Kau orang siapa ??" Bentaknya dengan suara yang amat
gusar.
Ditengah suara bentakan mereka yang amat keras itulah
tubuh Chan Sie bagaikan segulung asap dengan amat
ringannya sudah berkelebat kesamping badan suaminya,
sedang ditempat yang lain segera terlihatlah berpuluh2
orang lelaki kasar dengan cepatnya sudah menyusul
mendatang.
Tadi dikarenakan Lie Siauw berdiri seorang diri maka
semua orang sama sekali tidak mengenal siapakah orang
itu, tetapi dengan munculnya si bidadari angin hitam Chan
Sie yang berdiri disamping suaminya sehingga kelihatan
satu tinggi satu pendek maka semua orang segera mengenal
kembali siapakah sepasang suami isteri ini, kedua orang itu
tidak terasa lagi sudah mundur setengah langkah
kebelakang.
"Aaah... majikan istana Teh Hoo Cong !!!" Seru mereka
berdua secara berbareng.
"Benar !!!" Sahut Lie Siauw sambil mengangguk. "Kalian
berdua tentunya orang dari Benteng Thian It Poo bukan ?"
"Benar kami saudara berdua she Tang.." sahut mereka
berdua dengan suara yang amat berat.
Tetapi Li Siauw mana merasa sabaran untuk mendengar
nama mereka berdua, dia orang segera memotong
perkataan yang belum selesai itu.
Perbuatannya ini sudah tentu sama sekali tidak menaruh
hormat kepada kedua orang itu, tetapi dia orang yang sudah
terbiasa bersikap sombong ditambah lagi saat ini hatinya
cinta memikirkan cara untuk menangkap kembali musuh
besarnya, karena takut musuhnya melarikan diri semakin
jauh sudah tentu tidak mau mendengarkan omongan
mereka lebih lanjut.
"Tidak usah banyak omong lagi" serunya dengan keras.
"Cepat kalian membantu aku menangkap seseorang !"
Air muka kedua orang itu segera berubah sangat hebat.
"Kita sedang menyebutkan nama kita apakah ini juga
sedang omong kosong!" teriaknya kurang senang.
"Siapa yang mau mengurusi kalian she Tang atau kuah
atau She Swee atau air asalkan kalian bisa mengejar dapat
seseorang tentu ada kegunaan yang amat besar buat kalian
!" sambung sibidadari angin hitam Chan Se dengan cepat.
Kedua orang itu segera tertawa panjang.
"Bilamana kalian berdua mengira kami orang2 Benteng
Thian It Poo bisa disuruh orang dengan seenaknya hal itu
sungguh terlalu lucu sekali ?? kami juga sedang mencari
orang, urusan ini amat penting sekali untuk dilaksanakan
lebih cepat. maaf selamat tinggal!"
Tubuh mereka berdua dengan cepat berkelebat siap naik
kembali keatas kuda tunggangannya masing2.
Tetapi baru saja tubuh mereka sedikit bergerak segera
terdengarlah Chan Sie memperdengarkan suara teriakannya
yang amat keras dan menyeramkan sekali.
Suara teriakan ini tidak perduli siapapun yang
mendengar tentu akan tertegun dibuatnya, mereka
berduapun seketika itu juga dibuat ter-mangu2. Segera
terdengarlah Chan Si memperdengarkan suara tertawanya
yang amat aneh sekali.
"Bilamana kalian menolak permintaanku lagi sehingga
menunda waktu kami untuk mengejar bajingan tersebut,
kami orang pasti akan meratakan Benteng Thian It Poo
dengan tanah !" ancamnya dengan suara yang amat dingin.
Mereka berdua yang mendengar perkataan tersebut
segera tertawa terbahak2.
"Bagus... bagus sekali, silahkan kalian berdua meratakan
Benteng Thian It Poo kami dengan tanah !" sahutnya
berbareng
Sekali lagi Chan Sie menjerit aneh, tangannya dengan
cepat diayunkan kedepan sehingga mengeluarkan suara
sambaran angin yang amat kencang sekali, lima buah
jarinya bagaikan kuku garuda dengan kecepatan yang luar
biasa sudah diayun kedepan mencengkeram dada dari salah
satu lelaki yang ada di sebelah kiri.
Kedua orang itu merupakan jagoan berkepandaian tinggi
yang sangat diandalkan didalam Benteng Thian It Poo dan
merupakan saudara2 angkat dari Sie Liong itu Poocu dari
Thian It Poo, dia orang sebenarnya merupakan orang dari
aliran Tiang Pek Pay yang mengandalkan sebuah golok
tunggal menjagoi seluruh Bu lim sehingga mendapatkan
julukan sebagai "Sin Hauw Siang To" atau sepasang golok
harimau sakti, Tang Hua Tha serta Tang Hua An dua
bersaudara.
Bilamana mereka bukannya mereka memiliki
kepandaian silat amat tinggi dan merupakan seorang jagoan
yang berkepandaian tinggi dari Benteng Thian It Poo,
setelah bertemu dengan Li Siauw serta Chao Sie
sikapnyapun tentu tidak seketus demikian
Diantara mereka berdua sifat Tang Hoa Tha yang paling
berangasan sedangkan Tang Hoa Au sikapnya pendiam
tetapi banyak akal.
Serangan dan Chan Sie tadi dengan cepatnya
mencengkeram kedepan dada Tang Hoa Tha, melihat
datangnya serangan tersebut Tang Hoa Tha menjadi amat
gusar sekali, makinya dengan keras:
"Maknya... kau orang mau ajak berkelahi yaa ?"
Sembari memaki matanya memandang kearah
datangnya serangan tersebut, hanya didalam sekali pandang
saja dia orang segera mengetahui kalau serangan dari pihak
lawannya ini sangat luar biasa, tubuhnya mendadak
mencelat keatas udara lalu berjumpalitan mengundurkan
diri kebelakang.
Mereka berdua bersaudara sejak dahulu sudah malang
melintang beberapa puluh tahun lamanya didaerah
Tionggoan sudah tentu mengetahui juga kelihayan dari
kedua orang dihadapannya didalam sekejap saja dia segera
teringat kembali tugasnya yang diperintahkan oleh Poocu
untuk keluar Benteng mencari dapat putri dari Poocu Sie
Soat Ang, dia tahu dengan munculnya dua orang itu disana
kemungkinan sekali urusan tidaklah begitu mudah.
Apalagi kepandaian silat dari kedua orang itu amat tinggi
dan bukanlah tandingan dari dirinya hal ini harus Poocu
datang sendiri baru bisa menghadapinya, karena itu
sewaktu Chan Sie melancarkan cengkeramannya
mengancam tubuh Tang Hoa Tha, tangannya dengan cepat
digetarkan ke atas melepaskan satu panah tanda bahaya.
Panah tanda bahaya itu begitu meluncur sampai
ditengah udara segera meledak dengan amat kerasnya
disusul melayangnya segumpalan warna biru yang amat
tebal sekali semakin lama melayang semakin keatas.
Ditengah curahnya hujan salju yang amat lebat ditambah
dengan meluncurkan asap berwarna biru yang amat tebal
membuat pemandangan kelihatan sangat menarik sekali.
Sebaliknya Tang Hoa Tha yang berdiri didepan kudanya,
saat ini untuk menghindarkan diri dari cengkeraman Chan
Sie ini tubuhnya mendadak melayang ketengah udara lalu
berjumpalitan dan meloncat kesamping kuda yang lain.
Serangan dari Chan Sie ini amat dahsyat dan dilancarkan
amat cepat sekali, begitu tubuh Tang Hoa Tha meloncat
kesamping tangannya dengan amat kerasnya berhasil
menghajar perut kuda tersebut.
Seketika itu juga tangannya dengan dahsyatnya
menembus kedalam perut kuda itu sampai separuhnya
membuat darah segar memancur keluar dengan amat
derasnya memenuhi seluruh permukaan salju nan putih.
Chan Sie yang melihat serangannya mencapai sasaran
kosong, dia orang menjadi teramat gusar sekali, tangannya
direntangkan kesamping, seketika itu juga seekor kuda yang
amat berat terangkat keatas dengan hebatnya, ditengah
ayunan tangannya yang amat cepat kuda tersebut dengan
dahsyatnya sudah melayang keatas tubuh Tang Hoa Tha.
Perut kuda itu sebenarnya memangnya sudah berlubang
terkena tusukan tangan Chan Sie tadi, kini tubuh tersebut
dilemparkan kearah Tang Hoa Tha membuat isi perut dari
kuda tersebut dengan amat mengerikan sekali pada
berhamburan diatas tanah, bau amis darah yang amat tidak
mengenakkan segera memenuhi seluruh angkasa diikuti
segulung angin sambaran yang amat kuat menggulung
kearah depan.
Tang Hoa Tha yang berhasil menghindarkan diri dari
cengkeraman itu dengan cepat mencabut keluar goloknya,
saat ini sebenarnya dia masih ada kesempatan untuk
mundur kebelakang tetapi dia orang tidak mau
melakukannya karena pertama, dia tidak ingin kuda
kebaikannya mendapatkan serangan kembali sehingga
menemui ajalnya.
Kedua: jikalau dia kembali mengundurkan diri hal ini
akan memperlihatkan kelemahan dirinya, oleh karena itu
sewaktu melihat dia orang melemparkan kudanya kearah
dirinya dengan cepat dia membentak keras, goloknya
dengan disertai tenaga yang amat besar dibabat kedepan.
Tenaga bacokan ini sangat dahsyat sekali, hanya didalam
sekejap saja desiran angin memenuhi seluruh angkasa
sedangkan sinar golok yang menyilaukan mata melindungi
seluruh angkasa sedangkan sinar golok yang menyilaukan
mata melindungi seluruh tubuhnya kuda yang dilemparkan
kearahnya itu segera terbabat putus menjadi dua bagian,
dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau tenaganya
amat besar sekali.
Dengan meminjam tenaga babatan yang amat dahsyat
tadi goloknya segera berputar arah dengan berganti jurus,
ber-turut2 dia melancarkan tiga bacokan menghajar tubuh
Chan Sie.
Mereka dua bersaudara mendapatkan julukan sebagai
sepasang golok harimau sakti sudah tentu ilmu goloknya
sangat hebat sekali, setelah sambaran golok yang amat
dahsyat tadi lewat, ber-turut2 dia melancarkan tiga
serangan lagi membuat keadaan semakin membahayakan,
ditengah berkelebatnya sinar golok ang amat menyilaukan
mata serta bayangan sambaran yang memenuhi seluruh
angkasa seketika itu juga membuat seluruh tubuh bidadari
angin hitam hampir terkurung di dalam bayangan golok itu.
Melihat keadaan ini dalam hati Thoa Tha merasa amat
girang sekali, pikirnya.
"Hmm ! jikalau kali ini aku bisa melukai si bidadari
angin hitam ini sehingga menggeletak di atas permukaan
salju, sudah tentu namakupun akan terkenal di seluruh
dunia kangouw !"
Baru saja dia merasa sangat girang dan mengerahkan
tenaga dalamnya semakin mengencangkan permainan
goloknya, siapa sangka pada saat itulah dari tengah
berkelebatnya bayangan golok mendadak terdengar suara
desiran angin yang amat tajam sekali.
"Criinng.... Criing... Criing...." ditengah suara
gemerincingan yang amat memekikkan telinga Tang Hoa
Tha merasakan dari tangannya ada segulung angin tekanan
yang maha aneh dan dahsyat balik menggetarkan tubuhnya.
Setelah suara gemerincingan itu barulah serangan golok
dari Tang Hoa Tha pun seketika itu juga tersentak berhenti,
tampak ditangan Chan Sie sudah bertambah lagi dengan
sebilah pedang sepanjang dua depa dengan gagang yang
berwarna hitam pekat. itulah pedang Hek Hong-Kiam salah
satu dari empat pedang aneh dari golongan Hek to yang
diandalkan oleh Chan Sie untuk mengangkat namanya
didalam Bu Lim.
Dalam hati Tang Hoa Tha tahu kalau pedang Hek Hong
kiam ini sangat tajam sehingga bisa digunakan untuk
memotong emas atau baja, saat ini diapun kembali
bentrokan goloknya tadi sebanyak tiga kali tentu ada
sebabnya, apakah goloknya masih tetap utuh seperti sedia
kala ? ? ?
Sembari menarik kembali goloknya dan mengundurkan
diri kebelakang, tenaga dalamnya dikerahkan kembali
untuk sekali lagi melancarkan serangan kedepan.
Tetapi mendadak dia menjadi sangat terperanjat sekali.
Kiranya golok yang amat tebal dan terbuat dari baja asli itu
sudah terdapat tiga bacokan yang amat besar.
Ketiga bacokan pedang itu amat panjang sekali sehingga
menembus kearah punggung golok dan meninggalkan
tempat sampingan yang amat tipis sekali, bilamana
bukannya dengan cepat dia segera sadar dan sekali lagi
melancarkan serangan tentu goloknya seketika itu juga akan
terputus menjadi empat bagian.
Coba bayangkan saja, jikalau sewaktu melancarkan
serangan mendadak senjata tajam yang digunakan putus
menjadi dua bagian, apa yang bakal diterima sebagai
akibatnya ?
Setelah tertegun beberapa saat lamanya dengan cepat
Tang Hoa Tha meloncat mundur tujuh delapan langkah
kebelakang, sewaktu mengundurkan dirinya itulah dia
segera teringat kembali akan ketiga bacokan yang
membekas diatas goloknya, hal ini membuktikan kalau
pihak lawan bisa mengerahkan tenaga dalamnya sesuai
dengan saat dan tempat yang ditujunya, sebaliknya
serangannya tadi dilancarkan dengan amat cepat sekali,
ternyata musuh didalam keadaan seperti itu bisa
menggunakan tenaga dengan amat cepatnya, jelas kalau
tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang sukar untuk
dilawan..
Sewaktu teringat akan hal ini dia benar2 tertegun
sehingga berdiri mematung tidak bergerak sedikitpun juga,
air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat ! dia
benar2 tidak menyangka kalau pihak lawan memiliki
kepandaian silat yang demikian tingginya.
Sedangkan Tang Hoa An yang berdiri disamping sama
sekali tidak tahu keadaan yang sesungguhnya
"Koko, kau kenapa ?" tanyanya dengan keras.
Tang Hoa Tha tertawa pahit, tangannya di getarkan
golok yang ada ditangannya segera dilemparkan kedepan,
sebelum gagang golok itu mencapai permukaan tanah golok
tersebut sudah terputus menjadi empat bagian.
"Titi, kita sudah dikalahkan orang !" sahutnya dengan
loyo.
Mendengar perkataan dari kakaknya itu Tang Hoa Au
menjadi sangat terperanjat sekali. Saat itulah Chan Si sudah
bertanya lagi dengan suara yang amat dingin:
"Bagaimana ?" kalian mau tidak pergi bantu aku mencari
orang itu ?"
Sepasang harimau she Tang ini segera saling
berpandangan lama sekali mereka tidak bisa mengucapkan
sepatah katapun.
Setelah ter-mangu2 beberapa saat lamanya terdengar
Tang Hoa An baru membuka mulutnya bertanya:
"Entah kalian berdua mau menyuruh kita pergi cari
siapa?"
"Makinya . . nenek sundal !" maki Chan Sie dengan amat
gusarnya, "Kalian sengaja mau meng-ulur2 waktu ya ?
bukankah sejak tadi aku sudah bilang suruh kalian mencari
si telapak berdarah Tong Hauw !"
Tong Hoa Aa sengaja bertanya demikian memang
bertujuan untuk meng-ulur2 waktu karena tanda bahaya
dari Benteng Thian It Poo sudah dilepaskan berarti pula
sebentar lagi Poocu mereka akan segera melihat dan tentu
mengejar kemari
Karena itu dia yang jadi orang amat tenang dan banyak
akal sekalipun di-maki oleh pihak lawan sama sekali tidak
menjadi gusar.
"Si telapak berdarah Tong Hauw ?" tanyanya keheranan.
"Orang ini sudah lama tidak munculkan dirinya didalam
Bulim, kalian suruh kita pergi kemana mencari dirinya ?"
"Kalian sungguh2 tidak tahu atau pura2 tidak tahu ?"
teriak Chan Sie semakin gusar. "Apakah kalian kira ada
yang palsu ? dia sekarang ada disini dan menyamar sebagai
seorang kakek tua!"
-oo0dw0oo-

Jilid 2
"AAAAAH . . . disini memang ada seorang kakek tua !"
seru Tang Hoa An kaget, "Dia orang bernama Tan Loo Tia
dan tinggal disini sudah ada dua puluh tahun lamanya, tapi
dia bukanlah sitelapak berdarah Tong Hauw, mungkin
kalian sudah salah melihat !"
Baru saja dia selesai berkata mendadak terdengar suara
bentakan yang amat keras bergema datang:
"Coba kalian lihat sendiri !"
"Sreeeet... Sreeet..!" dua sosok mayat dengan cepatnya
melayang datang dan terjatuh keatas permukaan salju tepat
dihadapannya, di atas wajah mayat tersebut ternyata
sedikitpun tidak salah, masing2 wajah mayat tersebut
dengan amat jelasnya tertera sebuah bekas telapak berdarah
yang amat jelas sekali.
Sepasang harimau she Tang ini segera merasakan
hatinya amat terkejut, tanda tersebut memang benar2
merupakan ilmu tunggal yang paling diandalkan oleh si
telapak berdarah Tong Hauw, walaupun sudah ada
beberapa puluh tahun lamanya Tong Hauw ini tidak pernah
munculkan dirinya didalam Bu-lim tetapi ilmu iblisnya
Telapak berdarah masih diingat oleh semua orang dengan
amat jelasnya.
Kedua orang itu merasakan hatinya ber-debar2 dengan
amat keras, mereka sama sekali tidak segera menyangka
untuk mencari jejak dari putri kesayangan poocu mereka
Sie Soat Ang sudah bertemu dengan Li Chan dua orang saja
bakal amat merepotkan apalagi ditambah dengan seorang
iblis ganas sitelapak berdarah Tong Houw yang sudah lama
tidak diketahui jejaknya itu ? bukankah urusan akan
semakin ruwet lagi ?
"Lalu apakah kalian berdua sudah bertemu dengan nona
Sie ?" tanya mereka berdua dengan cepat.
"Apa nona Sie nona Ang... kami tidak tahu !" bentak
Chan Sie dengan amat kasarnya, "Kalian punya orang
banyak cepatlah menyebar keempat penjuru dan mengejar
dirinya, siapa saja yang berhasil menangkap sitelapak
berdarah Tong Hauw aku segera akan menghadiahkan
sebutir pil sakti "Sin Uh Tan" kepadanya, perkataanku ini
tidak akan aku cabut kembali !"
Mendengar perkataan tersebut sepasang harimau she
Tang merasa hatinya agak ragu2 sebaliknya orang2 yang
ada dibelakangnya segera merasakan hatinya ber-debar2
amat kerasnya, "Pil Sin Uh Tan" merupakan sebuah obat
untuk menghindari racun yang paling dahsyat bahkan
diketahui oleh semua orang didalam Bu-lim, cuma disuruh
mencari seorang saja sudah bisa mendapatkan sebutir pil
itu, kesempatan yang demikian baiknya mau dicari kemana
lagi ?
"Tang-ya !" segera terdengar salah seorang di antara
orang2 itu berteriak keras: "Orang yang menemui ajalnya
disini kelihatannya memang mati dibawah serangan telapak
berdarah, aku kira setelah menemukan jejak dari orang she-
Tong itu maka jejak dari nona pun bisa diketahui pula,
bukankah hal ini dinamakan satu kali pukul mendapat dua
hasil ?".
Sepasang harimau she-Tang itu segera saling bertukar
pandangan.
"Baiklah !" ujar Tang Hoa An kemudian, "Semua orang
yang ada disini kita bagi menjadi tiga kelompok, masing2
mengejar kedepan, ohh ya tolong tanya, si telapak berdarah
Tong Hauw apakah pergi dengan menunggang kuda ?".
Lie Siauw serta Chan Sie yang mendengar orang-orang
itu sudah menyetujui untuk membantu diri nya, dalam hati
sangat girang sekali.
"Tidak !" sahut mereka berbareng
"Jikalau tidak menunggang kuda ditengah hujan salju
yang demikian derasnya dia orang tentu belum pergi jauh,
asalkan kita mencarinya disekeliling dua puluh li ditempat
ini sudah tentu dia orang bisa ditemukan kembali".
Selesai berkata sepasang kakinya mengempit kencang
perut kudanya lalu dengan amat cepatnya menyusup
kedepan, disusul Tang Hoa Tha serta orang2 yang
dibawanya pada meninggalkan tempat tersebut.
Lie Siauw serta Chan Sie dua orang yang tidak
menunggang kuda dengan cepat berlari ber-sama2 menuju
kedepan.
Tampak sewaktu tubuh mereka berkelebat kedepan
diatas permukaan salju sama sekali tidak meninggalkan
bekas kaki, cuma terlihatlah empat garis panjang yang lurus
meluncur kedepan, kelihatannya kedua orang itu
menggunakan papan di atas kaki mereka untuk meluncur.
Didalam sekejap saja semua orang sudah lenyap dari
tempat itu, Lewat beberapa saat kemudian mendadak dari
atas liang yang tertutup oleh salju kelihatan sedikit bergerak
lalu tampaklah tubuh Tong Hauw merangkak keluar dari
tempat tersebut.
Dia tidak sempat untuk membersihkan bekas salju yang
mengotori bajunya, begitu merangkak keluar dari liang
tersebut tubuhnya dengan cepat meluncar keluar dan
berhenti didepan rumah gubuk nya yang sudah roboh,
tangannya dengan cepat bergerak memindahkan tiang kayu
yang menutupi tempat tersebut.
Tubuhnya dengan cepat melayang dan menerobos
kedalam bawah atap rumah, pertama2 dia meloncat naik
keatas pembaringan kayu untuk mencengkeram tangan dari
Sie Soat Ang kemudian baru menariknya turun dari
pembaringan dan menerobos masuk kedalam gudang
dibawah tanah itu.
Keadaan didalam gudang dibawah tanah itu amat gelap
gulita cuma ada sedikit sinar yang menerobos masuk dari
atas robohan rumah, tetapi Tong Hauw yang sudah ada dua
puluh tahun lamanya berada disana sekalipun pejamkan
mata diapun hapal dengan tepat sekeliling tempat itu.
Dia memindahkan dua buah gentong arak terlebih dulu
kemudian mengangkat sebuah papan ke atas, sedikit
tangannya digetarkan tubuh dari Sie Soat Ang sudah
dilemparkan kedalam.
Kemudian menyusul tubuhnyapun menyusup kedalam,
saat itulah suara ringkikkan kuda sudah berkumandang
kembali.
Kali ini jumlah orang yang datang tidak sedikit, dari
suara yang bergema datang saja sudah jelas menunjukkan
kalau kekuatan mereka sangat besar sekali.
Mendadak Tong Hauw tertawa ter-bahak2 dengan amat
kerasnya, pada air mukanya muncullah perasaan amat
bangga, tubuhnya menyusup semakin kedalam memasuki
jalan rahasia itu lalu menutup kembali papan yang berada
diatasnya.
Begitu papan itu menutup kembali ketempat asalnya
maka dari atas permukaan tanah sama sekali tidak kelihatan
tanda2 yang mencurigakan.
Apalagi rumah itupun sudah roboh tidak keruan, ada
siapa lagi yang mau memperhatikan keadaan dari gubuk
bobrok yang sudah hancur berantakan itu ?
Walaupun seluruh kejadian yang sudah terjadi hari ini
jauh berada di luar dugaannya bahkan rahasianya
sendiripun sudah diketahui oleh pihak musuh tetapi dengan
kejadian ini malah sebaliknya menguntungkan bagi
usahanya.
Sebetulnya jajan rahasia yang dia gali sudah berhasil
mencapai tengah2 dari Benteng Thian It Poo, pada ujung
jalan rahasia itu ada sebuah batu besar yang menutupi
tempat tersebut asalkan batu itu disingkirkan maka dia
orang segera sudah akan tiba didalam Benteng Thian It
Poo.
Tetapi selama ini dia tidak berani membuka batu besar
itu.
Ada kalanya dia berjongkok dibawah batu untuk
mendengarkan langkah kaki yang ada diatas permukaan
tanah serta memperdengarkan kata2 yang diucapkan oleh
mereka untuk mengetahui jelas keadaan dari Benteng Thian
It Poo demi berhasilnya gerakan selanjutnya, tetapi selama
satu bulan ini dia sama sekali tidak memperoleh hasil
apapun.
Tetapi selama ini pula dia orang sudah mendapatkan
satu keterangan dan kesimpulan yaitu tempat tersebut
tentunya merupakan sebuah tempat yang amat penting
sekali karena bukan saja orang yang berlalu lalang di sana
sangat sedikit sekali, bahkan setiap orang yang lewat
melangkah kakinya tentu amat ringan, suara
pembicaraannya boleh dikata perlahan sampai sukar
didengar sekalipun mereka sedang berbicara diapun tidak
tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka.
Tong Hauw sendiripun juga tidak tahu harus sampai saat
kapan dia baru mempunyai keberanian untuk membuka
batu diatas jalan rahasianya, demikianlah urusan tersebut
semakin hari semakin ber-larut2, setengah tahun, setahun,
dia belum pernah melakukan gerakan apapun juga.
Tetapi peristiwa yang sudah terjadi dihadapannya saat
ini memaksa dia orang mau tidak mau harus melakukan
usahanya tersebut.
Bahkan dengan adanya kejadian ini sudah memberikan
keuntungan buat dirinya, para jago dari Benteng Thian lt
Poo sudah pada keluar dari Benteng kemungkinan juga
sampai poocu benteng Thian It Poo, Sie Liongpun ikut
keluar, bukankah hal ini sangat menguntungkan sekali ?
Apa lagi saat ini dia sudah berhasil menawan Sie Soat
Ang !
Keberuntungannya ini sudah seharusnya dia
mengucapkan terima kasih kepada siorang lelaki serta
perempuan yang melarikan diri ke rumah gubuknya.
Dengan menyeret tubuh Sie Soat Ang, Tong Hauw
merangkak melalui jalan rahasia yang amat sempit dan ber-
liku2 itu, sembari merangkak dalam hati dia berpikir terus,
mendadak teringat kembali akan sang pemuda serta pemudi
yang bersembunyi disana, dia menjadi sangat terkejut
sekali, kemanakah mereka berdua ? ?
Apakah mereka berdua sudah merangkak terus
mengikuti jalan rahasia ini ?
Berpikir sampai disitu hatinya tidak tertahan lagi sudah
ber-debar2 dengan amat kerasnya, jika hal ini benar2 terjadi
maka susah payahnya selama dua puluh tahun ini segera
akan hancur berantakan, bahkan dirinyapun pasti tidak bisa
lolos dalam keadaan hidup dari dalam jalan rahasia yang
digalinya selama dua puluh tahun lamanya.
Tetapi sebentar saja rasa terkejut itu sudah tersapu bersih
kembali dari dalam hatinya. Kiranya jalan rahasia ini sama
sekali tidak menembus langsung sampai pada ujungnya,
pada setiap jarak beberapa puluh kaki dia sudah pasang
sebuah batu untuk menutupinya, bahkan setiap batu itu
mirip sekali dengan batu yang ada pada ujung jalan rahasia
itu, sekalipun lelaki serta perempuan itu merangkak terus
kedepan mengikuti jalan rahasia itu tetapi sesampainya
pada batu tersebut merekapun tentu akan berhenti.
Tong Hauw setelah berhasil menenangkan pikirannya
segera tanyanya dengan suara yang amat berat:
"Heei kalian berdua apakah masih ada dijalan rahasia ini
?" suaranya halus tetapi keras dan bergema dengan tidak
henti2nya ke tempat yang amat jauh sekali.
Bahkan dari dalam jalan rahasia itu segera dia
mendengar suara dengusan yang amat berat, seperti
seseorang yang terjatuh ketanah.
Tong Hauw berteriak kembali untuk kedua kakinya,
tetapi tetap tidak terdengar suara jawaban, dia agak
melengak dibuatnya dan segera merasakan urusan sedikit
tidak beres, dia tidak berteriak memanggil lagi sebaliknya
menahan napas dan segera berbaring ketanah untuk
mendengar gerak-gerik disana dengan amat telitinya.
Ditengah suasana yang amat sunyi itu walaupun sedikit
suarapun segera bisa didengar olehnya dengan jelas.
Beberapa saat kemudian Tong Hauw sudah bisa mendengar
secara samar2 ada suara hembusan napas yang amat berat
sekali.
Sudah tentu suara hembusan napas itu berasal dan sang
lelaki yang terluka itu.
Kalau adanya sudah tentu mereka masih ada didalam
jalan rahasia ini ! bahkan jika didengar dari suara mereka
sedang berada dibalik batu halangan yang pertama, saat ini
seharusnya mereka mendengar suara teriakan yang amat
keras, tetapi kenapa tidak memberikan sahutannya ?
Per-lahan2 Tong Hauw terik napas panjang2, teringat
kembali bagaimana mengenaskannya keadaan kedua orang
itu sewaktu melarikan diri kedalam gubuknya, seumpama ia
tidak turun tangan menolong mereka berdua, niscaya
rahasia yang dipegang teguh selama dua puluh tahun ini tak
akan konangan, benarkah sedemikian cepatnya orang itu
melupakan budi terhadap dirinya, atau mungkin mereka
sudah tahu asal usulnya maka mulai saat itu menaruh sikap
permusuhan kepadanya ?
Sambil berpikir selangkah demi selangkah Tong Hauw
merangkak kedepan, tapi tingkah lakunya semakin ber-hati2
Ketika itu rangkakannya kedepan sangat lambat, bahkan
boleh dikata sedikit suarapun tak ada, justeru karena hal itu
maka dengusan napas yang bergema datang dari depan bisa
kedengaran amat jelas sekali.
Sampai akhirnya Tong Hauw berani yakin kalau
dengusan napas itu berada kurang lebih satu tombak
dihadapannya, ingin sekali ia menghardik sekali lagi, atau
secara tiba2 di hadapannya muncul suara teguran seorang
gadis yang mencerminkan betapa gelisah hatinya:
"Engkoh Hauw Sang, bagaimana perasaanmu ?"
Pertanyaan itu tidak peroleh jawaban, hanya rintihan
semakin kedengaran nyata.
Ditinjau dari rintihan itu, bisa ditarik kesimpulan apabila
orang itu sedang berusaha keras menahan rasa sakit dalam
tubuhnya, karena itu kendari suaranya lirih tetapi
kedengaran amat memilukan.
Terdengar suara gadis tadi kembali bergema datang:
"Ditinjau dari ucapan Tan Loo-ya ... aah tidak, bukan
Tong Hauw, agaknya ia sedang memanggil kita, tapi
mengapa lama sekali tak kedengaran suaranya ? apakah ia
mengira kita tak ada dilorong bawah tanah, maka ia lantas
mengundurkan diri."
Erangan serta rintihan tadi kembali terdengar, kemudian
meluncurlah jawaban dari seorang lelaki:
"Tiii... tidak mungkin".
"Kaaa ... kalau begitu bukankah kita habis sudah ?" Seru
gadis itu sambit menahan isak tangisnya.
"Bee ... benar ... kita ... kita habis sudah, kau Adik Giok
Jien aa... apakah kau menyesal?"
Ditengah isak tangis yang sedih, gadis itu tertawa.
"Engkoh Hauw Seng, kalau aku menyesal tak akan
kuikuti dirimu melarikan diri dari dalam benteng".
Lelaki itu menarik napas panjang2, rintihan kembali
berkumandang, Lama sekali baru kedengaran ia berteriak
lantang.
"Tong Hauw, kau... kau ada dimana?"
Dari pembicaraan mereka berdua, Tong Hauw sudah
tahu akan asal-usul mereka yang sebetulnya, terhadap
perkataan itu ia tidak kaget atau tercengang.
"Aku berada dihadapan kalian." segera jawabnya berat.
Agaknya muda mudi itu tidak menyangka kalau Tong
Hauw berada dihadapannya, karena itu begitu sitelapak
berdarah buka suara, tanpa terasa kedua orang itu berseru
tertahan.
"Kau... kau... siap .. . siap apakah kami berdua ??" tanya
lelaki itu beberapa saat kemudian.
"Mengapa kalian begitu takut kepadaku ?" tegur Tong
Hauw samoil tertawa. " Apakah namaku sudah pernah
kalian dengar ?"
Dalam pada itu dihati kecilnya ia merasa heran
bercampur girang, sebab sudah ada dua puluh tahun
lamanya ia tak berkelana dalam dunia persilatan, tak
disangka masih ada orang yang tahu akan namanya.
Disamping girang iapun keheranan, buat para jago
angkatan tua tentu saja tahu akan nama besarnya, tetapi
secara bagai mana seorang angkatan muda dari benteng
Thian It Poo pun tahu akan nama sitelapak berdarah Tong
Hauw ?
Terutama sekali benteng Thian It Poo letaknya terpencil,
peraturanpun sangat ketat, kecuali buat mereka yang
ditugaskan mencari bahan makanan setiap tahunnya, tidak
pernah ada orang yang keluar benteng, apalagi dari
angkatan mudanya.
Jikalau dikatakan poocu mereka Sie Liong yang
mengungkap hal ini semakin tak mungkin lagi, poocu
mereka Sie Liong... teringat akan Sie Liong Poocu dari
benteng Thian It Poo, sepasang gigi sitelapak berdarah
mulai berdetak ia menggertak bibirnya kencang2.
"Tentu... tentu saja... nama besarmu se... sering diungkap
oleh orang2 benteng Thian It Poo" jawab gadis gemetar.
"Hemm ! siapa yang sering mengungkap nama ku,
apakah Sie Liong keparat tua itu ?"
"Bukan, bukan Sie Poocu, sebaliknya Sie Poocu yang
melarang semua orang membicarakan tentang dirimu, suatu
kali ada dua orang membicarakan namamu dan kebetulan
didengar oleh Poocu, tanpa banyak bicara beliau segera
memerseni sebuah tamparan diatas pipi setiap orang. Ada
satu kali lagi, aku dengar siocia bertanya kepada Poocu,
siapakah manusia yang bernama si telapak berdarah Tong
Houw, Poocu yang dihari biasa menyayangi siocia kali ini
naik pitam dan memaki nona kami habis2an !!!"
Ketika gadis itu sedang bercerita, sang pemuda meronta
bangun sambil berseru:
"Adik Giok Jien, jangan mengungkat soal... soal siocia
lagi".
"Engkoh Hauw Seng, kau boleh berlega hati" Buru2
gadis itu menghibur dengan suara yang lembut, "Siocia
tidak bakal berhasil menemukan kita sekarang !!!"
"Lalu siapa yang sering mengungkap namaku?" Karena
makin curiga, Tong Hauw mendesak lebih jauh.
Tiba2 suara gadis itu berubah lirih dan penuh nada
ketakutan, seakan2 ia pernah menjumpai sesuatu yang
mengerikan
"Bukan... bukan manusia, dia adalah..."
"Aaai Giok Jien, jangan bicara sembarangan !" sela
pemuda itu.
"Tidak, cepat katakan ?" hardik Tong Hauw.
"Baik, baik, akan kukatakan dia adalah se... seorang...
setan yang ada dalam benteng kami suaranya amat
mengerikan dia... dia berada dipuncak pagoda hitam dalam
benteng kita, tempat itu merupakan daerah terlarang bagi
siapapun, seringkali kami dengar suara yang tak sedap
didengar muncul dari balik pagoda, ia berteriak tiada
hentinya: "Tong Hauw ! Tong Hauw ! si telapak berdarah
Tong Hauw... karena itu setiap anggota benteng Thian It
Poo tahu semua aa... akan nama besarmu, jago2 yang
datang dari Tionggoanpun mengatakan... anda... anda
adalah seorang..."
"Seorang gembong iblis yang membunuh orang tak
berkedip? bukan begitu ?" sambung Tong Hauw sambil
tertawa kering.
"Benar." jawab gadis itu semakin ketakutan "Tapi kau
telah menyelamatkan kami."
Kembali Tong Hauw tertawa kering.
"Apakah tak seorang manusiapun dalam benteng Thian
It Poo yang mencurigai orang yang ada diatas pagoda
adalah manusia bukan setan ?"
“Tidak... tidak..." buru2 gadis itu membantah "Dia
benar2 adalah setan, beberapa kali aku melayani siocia yang
ada disisi poocu, setiap kali mendengar suara itu, sampai
Poocu sendiripun berubah air mukanya, coba bayangkan
ilmu silat yang dimiliki Poocu sangat lihay. hampir boleh
dikata tiada seorangpun yang bisa menandinginya, tetapi
sampai diapun ketakutan hal ini bisa ditarik kesimpulan
kalau dia... pasti... pasti setan"
Mendengar perkataan ini si telapak berdarah Tong Hauw
tarik napas panjang2, saat ini kecurigaannya makin nyata,
keinginannya untuk mengunjungi benteng Thian It Poo pun
semakin membara,
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, ia baru berkata:
"Kalian berdua mengatakan baru saja melarikan diri dari
benteng Thian It Poo bahkan salah seorang diantara
menderita luka parah ditangan Sie Soat Ang putri
kesayangan Poocu benteng Thian It Poo, sebenarnya
siapakah kalian? demi kalian berdua aku sudah
mengundang bencana besar buat diriku, kalian harus bicara
terus terang kepadaku?"
"Aku... aku bernama Giok Jien semua orang memanggil
aku demikian, sedang aku sendiri sama sekali tak tahu apa
kan she ku, tapi kebanyakan aku adalah seorang anak yatim
piatu, karena sejak kecil dipelihara dalam benteng maka
sering kali aku dibentak dan dimaki, semua orang
menganiaya diriku".
Beberapa patah kata ini diutarakan dengan suara
mengenaskan sampai Tong Hauw gembong iblis pembunuh
tak berkedippun itu menghela napas panjang.
"Setelah aku menginjak dewasa..." sambung gadis itu
lebih jauh. "Aku melayani siocia, hitung2 aku hanya
seorang bawahan, seorang pelayan, seorang manusia yang
tiap hari kena dimaki, di aniaya"
Bicara sampai disitu tak tahan lagi ia menangis terisak.
Tapi dengan cepat ia berhenti menangis, jelas sudah
terbiasa baginya untuk menahan isak tangis disetiap
keadaan.
"Ditinjau dari gerakanmu melayang diatas salju sambil
membopong pemuda tersebut, dapat kuduga kalau ilmu
silatmu sempurna" kata Tong Hauw dengan nada berat.
"Dan siapa kau belajar ilmu silat kalau benar semua orang
menganiaya dirimu lalu siapa yang beri pelajaran ilmu silat
kepadamu?"
Dari suara penuh kesedihan, muncul nada terharu dan
berterima kasih.
"Dalam benteng Thian It Hauw hanya ada seorang yang
sangat baik kepadaku, dia adalah engkoh Hauw Seng !"
"Oooouw..! sekarang aku paham sudah, lalu siapakah
dia ?"
"Engkoh Hauw Seng adalah keponakan Poocu kami..."
"Hmmm ! jadi dia adalah putra dari Liem Teng si
makhluk tua itu ?" tukas Tong Hauw cepat.
Nyonya Sie Liong adalah adik perempuan dari Liem
Teng siansu aneh dari Ong Tie, soal ini sudah diketahui
oleh seantero jago Bu-lim, Sie Hujien sudah lama
meninggal, sedangkan Liem Teng yang berkepandaian
tinggi dikarenakan harus mempertahankan sebuah teratai
salju yang berbunga setiap lima ratus tahun akhirnya mati
di tangan para pendekar pedang dan partai Bu-tong, kini
putra diri Liem Teng dititipkan dalam benteng Thian It
Poo, kalau dibicarakan pada umumnya bukanlah suatu
peristiwa yang aneh.
Baru saja Tong Hauw bertanya, pemuda itu sudah
menjawab: "Perkataanmu tii. . . tidak salah."
"Kau adalah putra Liem Loo-koay, tidak aneh kalau
ilmu silatnya lihay, tetapi secara bagaimana kau bisa terluka
sedemikian parah dibawah cambuk Sie Soat Ang ?"
Liem Hauw Seng menarik napas panjang, berhubung
lukanya parah maka helaan napas itupun kedengaran
terputus.
"Engkoh Hauw Seng orangnya baik ," buru2 Giok Jien
berkata: "Ia bilang sejak masih orok sampai sekarang selalu
dibesarkan dalam benteng Thian It Poo, budi kebaikan ini
tak boleh dilupakan, maka dari itu dia... dia tidak mau
membalas."
"Hmmm ! tolol..."
Lama sekali ia membungkam, setelah pikirannya
berputar ujarnya kembali:
"Kalian berdua sama2 dibesarkan dalam benteng Thian
It Poo, tentang keadaan dalam benteng tentu tahu jelas
bukan ?"
"Be... benar..."
"Aku punya ikatan dendam sedalam lautan dengan
keparat tua she Sie itu, terus terang saja kuberitahukan
kepadamu untuk membuat lorong rahasia ini aku sudah
mengorbankan waktu selama dua puluh tahun, ujung
sebelah sana tepat merupakan tanah dibawah benteng
Thian It Poo!"
"Aaah ! ! !" Baik Liem Hauw Seng maupun Giok Jien
sama2 berseru kaget.
"Sebenarnya rencanaku setelah lorong ini tembus sampai
disana, secara diam2 aku hendak memasuki benteng Thian
It Poo dan turun tangan membinasakan keparat tua itu, tapi
aku sadar ilmu silat keparat tua itu sangat lihay, aku takut
seranganku gagal dan kehilangan kesempatan baik, karena
itu sampai kini belum kulaksanakan"
Setelah merandek sejenak, tambahnya: "Dan kebetulan
sekali aku bertemu dengan kalian, urusanpun lebih
gampang lagi penyelesaiannya".
Suasana hening beberapa saat lamanya, tiba2 Liem
Hauw Seng bertanya: "Apa maksudmu ber... berkata
demikian ?"
"Kalian berdua dibesarkan dalam benteng Thian It Poo,
tentu saja tahu dirumah manakah pada hari2 biasa keparat
tua she-Sie itu berdiam, aku hendak membawa kalian
memasuki benteng Thian It Poo kemudian mencari suatu
tempat yang baik untuk bersembunyi setelah itu cari
kesempatan untuk membinasakan keparat tua she-Sie guna
menuntut batas sakit hatiku selama banyak tahun ini !!"
Semua perkataan Tong Hauw lambat tapi lama
kelamaan keras, terutama ucapan terakhir.
"Setelah kubunuh keparat tua she-Sie, maka aku akan
angkat kaki jauh2" ujar Tong Hauw lagi, "Dengan
sendirinya benteng Thian It Poo akan jadi milikmu."
Tentu saja perkataan ini ditujukan kepada Liem Hauw
Seng.
Tetapi tak ada jawaban dari Liem Hauw Seng, saat
itulah Tong Hauw baru merasa keadaan tidak beres.
Lama sekali ia tertegun, kemudian baru berkata:
"Bagaimana ? apakah kau tidak ingin menduduki kursi
Poocu dari benteng Thian It Poo ?"
"Engkoh Hauw Seng, dia... dia sedang bertanya
kepadamu !"
"Giok Jien, menurut perkiraanmu dapatkah aku
menyanggupi permintaannya ?".
"Aku tahu. kau tidak akan menerima permintaannya",
"Giok Jien" Seru Liem Hauw Seng dengan nada
kegirangan "Tidak kecewa kita... bagus sekali, akhirnya kau
bisa menebak isi hatiku juga."
Sebaliknya si telapak berdarah Tong Hauw jadi amat
gusar, teriaknya penuh kegusaran:
"Apa ? kau tidak menerima permintaanku ?".
Ucapan ini kedengaran amat mengerikan terutama
ditengah kegelapan namun Liem Hauw Seng serta Giok
Jien sama sekali tidak dibikin ketakutan hampir bersamaan
waktunya mereka menjawab, suaranya tenang, seakan
sedang menjawab suatu pertanyaan yang sangat biasa.
"Benar !"
Si telapak berdarah Tong Hauw mendongak tertawa
terkekeh-kekeh.
"Kalau begitu aku tidak ingin memaksa kalian, tetapi
lorong bawah tanah ini merupakan rahasia yang paling
besar, aku tak dapat membiarkan kalian berdua tetap hidup
dikolong langit!"
Sambil tertawa dingin telapak tangannya perlahan
diayun keatas,
Ketika itu Tong Hauw berdiri empat-lima depa di
hadapan Giok Jien dan Liem Hauw Seng, tetapi berhubung
ruangan bawah tanah sangat gelap maka jarak mereka
sangat dekat namun tidak kelihatan.
Setelah telapak tangan Tong Hauw diayun ke atas,
seluruh lorong penuh dengan bau amis darah yang sangat
menusuk hidung.
Sementara Giok Jien dan Liem Hauw Seng ber sembunyi
diujung lorong, mereka merupakan sebuah pintu besi yang
menghadang jalan perginya, sedang didepan ada Tong Hau
yang siap mencabut nyawa mereka. suatu keadaan yang
amat kritis sekali.
"Apakah kalian sudah pikirkan masak ?" kembali Tong
Hauw menegur sambil ayunkan tangannya.
"Kau tak usah bertanya lagi, persoalan ini tak usah
kupikirkan lagi didalam hati, sejak kecil aku kehilangan
cinta kasih orang tua dan dibesarkan dalam benteng Thian
It Hoo, dipelihara oleh paman dan kini kau adalah musuh
besarnya, aku cuma bisa menyesal mengapa lukaku amat
parah sehingga tak bisa mewakili dirinya menyambut
kedatangan musuh tangguh, tidak sudi aku membantu kau
melakukan kejahatan !"
Setelah mengutarakan kata2 sebanyak itu, napasnya
mulai kempas kempis dan ter-engah2.
"He he he cuma kalian jangan lupa" jengek Tong Hauw
sambil tertawa dingin, "Siapakah yang menghantam kau
sampai terluka parah dan siapa pula yang hendak
membasmi kalian berdua ?"
"Aaaai !" orang lain boleh tak kenal budi dengan diriku,
namun aku tak ingin melupakan budi orang lain" jawab
Liem Hauw Seng sambil bersikap menghela napas panjang
"Bagaimanapun juga paman terhadap diriku sangat baik,
kalau kau mau membunuh silahkan bunuh, tak usah kita
banyak bicara lagi Giok Jien, kau tak usah takut, kita bisa
mati bersama, kejadian ini... sudah diluar dugaan."
"Benar engkoh Hauw Seng, aku sangat gembira sekali
sebab akhirnya kita selalu bersama, bukankah begitu ?"
Kata Giok Jien sambil bersenggukan, "Akhirnya kita selalu
bersama, mati bersama jauh lebih baik dari pada berpisah,
aku tidak sedih."
Sebenarnya telapak Tong Hauw sudah diangkat siap
melancarkan hantaman, namun sekarang telapaknya
berhenti ditengah udara, se akan2 ada suatu tenaga tak
berujud telah menahan gerakan selanjutnya.
Seandainya pada saat itu Liem Hauw Seng serta Giok
Jien dapat melihat keadaan Tong Hauw yang sebenarnya,
muda mudi ini bakal keheranan. Sebab dari sepasang mata
si telapak berdarah yang tersohor akan kekejiannya ini air
mata jatuh bercucuran, disisi telinga orang she Tong ketika
itu hanya berkumandang terus menerus kata2: "Mati
bersama jauh lebih baik daripada berpisah."
Tong Hauw merasa pernah seorang perempuan lain
mengutarakan kata2 yang sama, namun orang itu bukan
Giok Jien, peristiwa ini sudah berlangsung lama sekali,
Tong Hauw tidak ingin teringat kembali, sebab setiap kali ia
mendengar, rasa sedih susah ditahan dan air mata jatuh
bercucuran.
Siapa nyana kali ini ucapan itu terdengar kembali,
bahkan bukan cuma sekali muncul dari bibir seorang
pemuda serta seorang pemudi yang berada dalam situasi
kritis, saat ini jiwa orang lain berada ditangannya, Suasana
jadi sunyi-senyap tak kedengaran sedikit suarapun, lama...
lama sekali, akhirnya Liem Hauw Seng berkata:
"Mengapa... mengapa kau tidak lanjutkan seranganmu ?"
"Begitu kukuh kalian menampik perintahku seandainya
aku memaksa dan karena peristiwa ini sampai mencabut
jiwamu, bukankah aku akan jadi seorang pengecut?" kali ini
suara Tong Hauw halus dan lembut. "sekalipun begitu, aku
harus menotok jalan darah kalian agar rahasia ini tidak
sampai bocor ke tangan orang lain"
Tangannya bergerak cepat, dari serangan telapak kini ia
melancarkan serangan totokan merobohkan kedua orang
itu, kemudian merandek ke depan, menekan tombol
rohasia, membuka pintu penghadang dan teruskan
rangkakannya kedepan.
Belum jauh ia pergi, tiba2 ia berpaling kembali, ujarnya:
"Lebih baik untuk sementara waktu kalian berdiam
dalam lorong rahasia ini, menanti aku sudah kembali, jalan
darah kalian berdua pasti akan kubebaskan !"
Demikianlah, sambil membopong Si Soat Ang, ia
merangkak dalam lorong rahasia tersebut.
Tidak lama kemudian tibalah kedua orang itu di depan
pintu penghalang kedua, ia meneruskan rangkakannya ke
depan sekalipun hati terasa semakin menegang.
"Dua jam lamanya ia merangkak dalam lorong tersebut,
akhirnya ia berhenti. mengatur napas dan mulai
menimbang waktu, dalam dugaannya saat itu sudah
kentongan keempat sedang tiga depa di hadapannva sudah
merupakan ujung dari lorong tersebut, dimana pada pintu
masuk gua tadi tertutup oleh selembar papan batu.
Asalkan papan tadi tersingkap, mereka akan berada
didalam benteng Thian It Poo.
Tong Hauw ragu2 sejenak, kemudian ia tarik napas
panjang2. telapak diputar dan papan batu lambat2
tersingkap.
Menanti papan tadi sudah terbuka tiga, empat coen
tingginya. ia baru berhenti dan mengintip ke luar, tampak
olehnya tempat itu berupa sebuah halaman kecil yang sunyi
dan terpencil.
Tong Hauw belum pernah mendatangi benteng Thian It
Poo, ia tak tahu tempat itu benarkah benteng yang dituju
atau bukan.
Sepasang telinganya dipentang lebar2, setelah di
dengarnya tak ada sesuatu gerakan apapun disekitar sana
papan penutup tadi didorong semakin ke atas hingga
akhirnya terbuka lebar.
Jantungnya berdetak makin keras, sambil membopong Si
Soat Ang ia meloncat keluar dari lorong rahasia dan
merangkak naik keatas permukaan. Suasana sepi, hening
dan tak kedengaran sedikit suarapun, empat penjuru
tertutup oleh tembok tinggi dengan beberapa buah ruangan
yang gelap gulita beberapa tombak dihadapannya.
Tong Hauw menutup kembali papan batu tadi,
kemudian sambil membopong Si Soat Ang langsung
menuju kerumah tadi.
Bangunan tersebut amat kotor, pintu tertutup rapat dan
dikunci dengan sebuah gembokan berkarat, mungkin waktu
yang sudah berlangsung lama membuat gembokan tadi
sudah lapuk, dalam sekali sentakan gembokan tersebut
patah jadi dua dan pintu segera terpentang lebar.
Setibanya didalam ruangan, ia baru menghembuskan
napas lega, sebab paling sedikit untuk sementara waktu
jejaknya belum konangan.
Ia cengkeram bahu Si Soat Ang sementara tangan lain
membebaskan gadis itu dari pengaruh totokan, bentaknya
berat.
"Tempat apakah ini ? ayoh cepat katakan!"
oooo dw oooo

BAB 2
SI SOAT ANG tidak menjawab, secara tiba2 ia menjerit
lengking dengan suara yang aneh sekali.
Waktu itu suasana disekitar sana sepi, hening dan tak
kedengaran sedikit suara pun.
Tong Hauw sendiripun tidak menyangka Si Soat Ang
bisa menjerit lengking begitu jalan darahnya bebas, karena
terperanjat cengkeramannya tanpa sadarpun rada
mengendor.
Ambil kesempatan itu Si Soat Ang meronta kemudian
menggelinding keluar dari pintu, meloncat bangun dan lari
kearah depan.
Melihat kejadian itu Tong Hauw sangat terperanjat,
ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan
meluncur kedepan, tangannya bergerak cepat
mencengkeram kembali urat nadi pada pergelangan gadis
itu.
Si Soat Ang meronta keras, namun gagal, ia lantas
menjerit lengking. Tong Hauw kaget tangannya bergerak
cepat menotok kembali beberapa buah jalan darah ditubuh
gadis itu.
Walaupun Tong Hauw berhasil menguasai keadaan,
tetapi rasa gugup dan takutnya pada saat ini sukar
dilukiskan dengan kata2, sebab jeritan gadis tersebut betul2
kedengaran mengerikan sekali ditengah malam buta, ia
takut para jago benteng Thian It Poo mendengar jeritan tadi
dan pada memburu datang.
Makin dipikir Tong Hauw semakin gelisah, ia berputar
beberapa kali didalam ruangan yang gelap, akhirnya ia
merasa kembali dulu kedalam lorong rahasianya sambil
menanti saat yang lebih tepat lagi untuk bekerja lagi.
Ia tarik tangan Si Soat Ang dan diajak lari ke depan,
namun pada saat yang bersamaan tidak jauh dari ruangan
tadi berkumandang suara jeritan aneh. Tong Hauw
terperanjat buru2 ia berkelebat ke ujung ruangan, saking
cemasnya sampai2 Si Soat at Ang pun sudah ketinggalan
didepan pintu.
Punggungnya menempel diatas dinding, telapak
disilangkan didepan dada. ketegangan yang meliputi
benaknya semakin memuncak. sebab pada saat itulah dari
balik dinding muncul sesosok bayangan manusia yang
tinggi dan lembut.
Waktu itu salju telah berhenti, awan hitam buyar dan
sinar rembulan kembali memancarkan cahayanya,
bayangan manusia itu semakin nyata dan bisa ditegaskan,
dia adalah seorang perempuan berambut panjang.
Tong Hauw tarik napas panjang2, ia berdiri menanti
disana dengan tenangnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara gelak tertawa yang
aneh sekali berkumandang datang, gelak tertawa itu sangat
mengerikan membuat bulu kuduk siapapun pada bangun
berdiri.
Sementara Tong Hauw masih tegang, mendadak
perempuan itu berhenti tertawa, suasana kembali pulih
ditengah keheningan
Lambat2 Tong Hauw tarik napas panjang2. badannya
sedikit bergeser ingin melihat macam apakah perempuan
yang berada di hadapannya, tiba2..
"Tong Hauw, telapak berdarah Tong Hauw !"
Perempuan itu menyebut namanya, bahkan nama tadi
diucapkan sangat jelas sekali.
Tetapi Tong Hauw tetap tak berkutik, ia merasa dirinya
pun tak bisa melihat jelas gadis tersebut, tentu saja
perempuan itupun tidak seharusnya menemukan dirinya,
tetapi secara bagaimana perempuan itu dapat menyebutkan
namanya ?
Walaupun sudah setengah umur Tong Hauw berkelana
didalam dunia persilatan, dalam keadaan seperti ini tak
urung dibikin merinding juga, pikirnya:
"Namaku sudah diketahui oleh pihak lawan. percuma
saja aku tetap bersembunyi ... untung Si Soat Ang gadis sial
ini masih berada ditanganku, sekalipun gagal aku masih
bisa mengundurkan diri dengan andalkan sandera ini."
Karena berpikir demikian ia lantas mendongak tertawa
terbahak2.
"Haa... haa haa.. kiranya kedatangan aku orang she-
Tong sudah kalian ketahui !"
Sembari bicara ia melangkah keluar dari tempat
persembunyian, sebelah tangan mencengkeram tubuh gadis
itu sementara telapak lain ditempelkan di atas batok
kepalanya siap menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu ia sudah berada di luar pintu,
pemandangan disekelilingnya dapat terlihat amat jelas
sekali, mendadak ia bergidik dan menyusut mundur
kembali beberapa langkah kebelakang.
Kiranya keadaan dari gadis berambut panjang itu
mengerikan sekali, separuh rambutnya sudah beruban, dan
wajahnya kurus kering sedikitpun tiada daging keadaannya
lebih mirip dengan sekerat tengkorak hidup yang baru
bangun dari liang kubur sepasang matanya jauh didalam
memancarkan cahaya tajam, se-olah2 sepasang biji mutiara
yang setiap saat kemungkinan bisa terlepas dari tempatnya.
"Tong Hauw ! telapak berdarah Tong-Hauw!" kembali
perempuan aneh itu berseru, badannya lambat2 berputar
dan melototi lelaki tersebut tak berkedip.
"Siapakah anda ?" tegur Tong Hauw setelah tertegun
beberapa saat Iamanya, selama hidup belum pernah ia
jumpai kejadian seperti ini hari
"Tong Hauw . . ."
"Apakah kau anggota benteng Thian Poo ?" tukas Tong
Hauw kemudian setelah tertegun beberapa saat, Kali ini
perempuan aneh itu tidak berteriak lagi, ia mendongak
tertawa aneh. Tong Hauw benar2 dibikin kebingungan oleh
peristiwa yang terbentang didepan mata, dengan sangat ber
hati2 ia maju dua langkah kedepan.
Mendadak. . dari tempat kejauhan berkumandang datang
suara hiruk pikuk yang ramai sekali, diikuti ada orang
berteriak:
"Aaaa disini . . ia datang kemari, tidak bakal salah lagi,
coba kalian lihat bekas te!lapak kaki yang ada diatas
permukaan salju !" Kehadiran orang2 itu sangat cepat
sekali, dalam sekejap mata mereka sudah berada diluar
dinding tembok yang tinggi.
Terdengar seseorang diantaranya berseru: "Dia pasti
sudah meloncat masuk kebalik dinding tembok yang tinggi
ini !"
"Lalu apa yang harus kita lakukan ?" tanya yang lain.
"Kita tunggu dulu disini, dinding ini kita kurung rapat2.
tunggu saja keputusan dari Poocu sendiri"
Suara seseorang yang tua serak menyambung "Aaaai
keadaan malam ini sungguh tidak menguntungkan benteng
Thian It Poo kita, satu persoalan belum terselesaikan
persoalan lain kembali terjadi ?"
"Aku lihat terpaksa kita kurung saja tempat ini, sebab
cara ini jauh lebih baik dari pada kita harus beramai2
menangkapnya kembali, kalau kita tidak berbuat demikian,
seandainya Poocu datang kita tak bisa menanggung
resikonya !"
"Hmm ! enak sekali kau ngomong, nyalimu sungguh
kecil sekali!"
Beberapa saat kemudian suasana jadi sunyi senyap
kecuali obor2 yang mulai berdatangan mengurung seluruh
dinding tembok itu rapat2, berapa orang yang telah datang
susah diramalkan hanya yang jelas tak seorangpun diantara
mereka berani meloncat masuk kebalik dinding.
Melihat kejadian itu, Tong Hauw jadi lega hati.
Bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan kangouw
yang berpengalaman luas, walaupun belum diketahui apa
sebenarnya yang telah terjadi namun ia dapat memastikan
kalau orang2 benteng Thian It Poo sedang menghadapi
perempuan siluman tersebut.
Kembali Tong Hauw mundur kebelakang, telapak
tangannya masih tetap ditekan diatas batok kepala Si Soat
Ang. selangkah demi selangkah ia mundur kembali ke
dalam ruangan gelap tersebut
Suasana diluar tembok tinggi sunyi beberapa saat
lamanya, mendadak terdengar salah seorang berteriak:
"Sudah. . . bagus, bagus sekali Kan Jie ya telah datang I"
Ditengah teriakan tersebut, salah seorang diantaranya
berseru pula:
"Kan Jie-ya dalam persoalan ini terpaksa kita harus
minta bantuanmu !"
"Apa yang terjadi ?" suara seseorang yang nyaring dan
lantang menggema datang.
"Aku hanya datang seorang tamu, tidak seharusnya
banyak mencampuri urusan ini."
"Kan Jieya, kau jangan terlalu merendah, kau adalah
sahabat karib dari Poocu kami, tentu saja terhitung seorang
pembantu setia, Seorang perempuan gila yang terkurung
dalam pagoda entah apa sebabnya telah lolos dari
kurungan, sembilan bagian ia pasti berada didalam tembok
tersebut".
"Ooow, siapakah orang itu?"
"Kami sendiripun tidak tahu cuma ilmu silatnya... sangat
lihay"
"Baik, akan kuperiksa keadaan disana"
Mendengar perkataan itu Tong Hauw buru2 mundur
kebelakang dan bersembunyi dibalik ruangan.
Ketika itulah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan
dengan dandanan siucay melayang turun dari atas tembok
pekarangan.
Menjumpai orang itu, Tong Hauw segera berseru dalam
hatinya:
"Aaah kiranya Thian-Ti-Ceng-Ngo Auw atau seruling
Besi yang menggetarkan lima telaga Kan Tek Lim adanya."
Walaupun selama dua puluh tahun lamanya Tong Hauw
mengasingkan diri didaerah luar perbatasan, namun
kebanyakan ia kenal dengan jago tersohor dalam dunia
persilatan, siseruling besi yang menggemparkan lima telaga
Kan Tek Lim merupakan Cay cu dari benteng ditepi telaga
Tong-Ting, wataknya jujur, jantan dan berjiwa besar.
Gerak gerik Kan Tek Lim sangat ber-hati2 sekali, setelah
melayang turun dari atas dinding, punggungnya segera
menempel diatas dinding, setelah merasakan suasana tetap
tenang saja dan melihat perempuan itu sama sekali tidak
menyadari akan kehadirannya ia mendekati perempuan itu
semakin dekat.
Tiba2 ..
"Tong Hauw !" sambil putar badan perempuan itu
menjerit lengking.
"Tong Hauw ?" seru Kan Tek Lim dengan alis berkerut.
"Yang kau maksudkan apakah Si-telapak berdarah Tong
Hauw yang tersohor disekitar Kanglam tempo dulu ? ? ?"
Perempuan itu tidak menjawab, sebaliknya malah
berteriak semakin keras:
"Telapak berdarah Tong Hauw ! telapak berdarah Tong
Hauw !"
Mendengar jeritan itu Tong Hauw semakin keheranan, ia
merasa seandainya dahulu perempuan ini pernah
menjumpainya muka sepanjang masa tak akan dilupakan,
tapi ia merasa belum pernah menjumpai orang ini, tetapi
bagaimana mungkin ia bisa mengucapkan kata2 tersebut?
mungkinkah ia ada sangkut paut atau hubungan dengan
dirinya ?
Pikiran Tong Hiuw segera bergerak, tak kuasa ia bersin
beberapa kali buru2 pikirnya:
"Tidak tidak, tidak mungkin, aku tidak boleh berpikir
sembarangan pasti tak mungkin demikian . ."
Sementara itu perempuan tadi sudah berhenti menjerit
selangkah demi selangkah ia mendekati Kan Tek Lim.
Para jago Thian It poo yang bersandar diatas dinding,
segera pada berdetak keras sewaktu dilihatnya perempuan
itu mendekati diri Kan Tek Lim.
"Kan Ji ya, hati2, ia akan turun tangan,” Belum selesai
peringatan itu diutarakan mendadak kelima jari perempuan
itu bagaikan jepitan telah meluncur kedepan. serangan
perempuan itu cepat, namun Kan Tek Lim pun menghindar
dua langkah ke samping.
Serangan tadi mengenai sasaran kosong dan langsung
menghajar tembok dinding yang ada di hadapannya.
"Braaak. . ." tembok tebal terbuat dari beton tersebut
seketika hancur ber-keping2 dan meninggalkan lima buah
bekas cengkeraman yang dalam sekali, ditinjau dari hal ini,
bisa membuktikan betapa sempurna tenaga Iweekang yang
dimiliki perempuan itu.
Ambil kesempatan bagus itu, Kan Tek Lin segera putar
badan balas melancarkan sebuah cengkeraman mengancam
pergelangan lawan.
Terhadap datangnya serangan ini perempuan tersebut
tidak menghindar, melihat peristiwa itu Kan Tek Lin girang
sekali, kelima jarinya dengan cepat mencengkeram
pergelangan lawan.
Siapa sangka ketika itulah ujung telapak tangan
perempuan itu bergetar, diantara sambaran ujung bajunya
segulung angin pukulan yang maha dahsyat mengancam
dada orang she-Kan tersebut.
Segulung tenaga lunak yang besar dan dahsyat bagaikan
gulungan ombak ditengah samudra meluncur tiada
hentinya menekan dada lelaki tersebut.
"Bruukk !" Kan Tek Lin tergetar keras, tak berdaya
badannya mundur selangkah kebelakang sementara
dadanya jadi sesak, kepala pusing tujuh keliling dan mata
ber-kunang2, rasa kaget yang dialami Kan Tek Lin saat ini
susah dilukiskan dengan kata2.
Lengannya segera bergetar cepat, sebatang seruling besi
yang hitam pekat sepanjang dua depa segera diambil keluar,
"Criit, criit, criit" beruntun tiga jurus serangan berantai telah
dilepaskan, serangan itu kelihatan cepat bagaikan kilat
namun dalam kenyataan merupakan jurus pertahanan yang
kuat, sembari melepaskan ketiga jurus tadi iapun mundur
tiga langkah kebelakang.
Menanti ia sudah lolos dari mara bahaya, para jago yang
berada disekeliling dindingpun menghembuskan napas lega,
terdengar diantara mereka ada yang berseru keras:
"Kan Jie hiap, aku lihat lebih baik tunggu saja kehadiran
Pocu kita !"
Tentu saja orang itu berkata demikian karena bermaksud
baik, tapi justru karena perkataan ini pula Kan Tek Lin
membatalkan maksudnya untuk mengundurkan diri, sebab
ia merasa seandainya dia mengundurkan diri maka nama
besarnya akan kecundang.
Ia mendengus dingin dan berseru:
"Hmm! ternyata ilmu silat perempuan ini benar2 sangat
lihay !"
"Benar." jawab seseorang, "Bahkan Poocu sendiripun. .
."
"Jangan bicara sembarang !" belum habis orang itu
berkata, salah seorang rekannya telah menukas.
Kan Tek Lim tertawa lebar, ujarnya kembali: "Karena
tak kusangka ia memiliki ilmu silat selihay itu, hampir2 saja
aku menderita kerugian besar agaknya ia tidak benar2 gila
!"
Sembari berkata selangkah demi selangkah ia berjalan
mendekat, hanya saja gerakannya kali ini semakin hati2, ia
berhenti kurang lebih tiga-empat depa dihadapan lawan.
Badannya mendadak merendah, serulingnya laksana
kilat meluncur kedepan menotok jalan darah lemas
dipinggang perempuan itu.
Serangan ini ganas, telengas dan cepatnya luar biasa,
pada hari2 biasa serangan ini akan bersarang ditubuh lawan
sebelum pihak musuh merasakan apa sebenarnya yang telah
terjadi.
Senjata seruling ditangan Kan Tek Lin dalam sekejap
mata telah tiba ditempat sasaran sebentar lagi serangan itu
pasti akan menemui sasarannya, tiba2 perempuan itu putar
badan menyambar ke arah seruling besi tersebut.
Sejak Kan Tek Lin berhasil merebut gelar seruling besi
yang menggemparkan lima telaga, entah sudah berapa
banyak jago yang roboh ditangannya namun belum pernah
ia jumpai kejadian seperti ini,
Buru2 serangannya dibuyarkan dan senjata seruling
besinya ditarik kembali kebelakang.
Ia cepat, perempuan itu jauh lebih cepat, sebelum dia
sempat menyelamatkan senjatanya, seruling besi itu sudah
kena dicengkeram oleh perempuan tadi.
Setelah berhasil mencekal senjata tersebut, kembali ia
berdiri termangu. disana, kejadian ini makin membuat Kan
Tek Lin malu, sudah beberapa kali ia coba menarik kembali
senjatanya, tetapi tiap kali maksudnya gagal total.
Kan Tek Lin tahu, bila ia tidak lepas tangan pada saat ini
maka kerugian besar akan diterimanya, sebaliknya kalau ia
lepas tangan berarti nama besarnya jatuh kecundang
ditangan orang lain.
Setelah ragu2 beberapa waktu, ia segera ambil keputusan
dengan menggunakan tenaga sembilan bagian ia menarik
serulingnya kuat2.
Tarikan ini tetap gagal merampas senjata tersebut,
namun cukup membuat perempuan itu bergoyang keras.
Terdengar perempuan itu menjerit, tangan kanannya
ditarik kebelakang keras2 membuat badan Kan Tek Lim tak
kuasa lagi terseret kedepan.
Rasa kaget yang dialami Kan Tek Lim bukan alang
kepalang, berada dalam keadaan seperti ini kalau ia tidak
lepas tangan maka keadaan semakin konyol, terpaksa ia
lepas senjata andalannya dan mundur kebelakang, akhirnya
berhenti didepan bangunan gelap.
Pada saat ini asalkan ia berpaling maka sitelapak
berdarah Tong Hauw serta Si Soat Ang yang bersembunyi
ditempat kegelapan bakal ketahuan jejaknya.
Tetapi saat ini jantungnya sedang berdetak keras, tak ada
waktu baginya untuk mengurusi persoalan lain, apalagi
Tong Hauw sudah tutup semua pernapasannya.
Sementara itu bukan saja Kan Tek Lin bungkam, bahkan
Tong Hauw serta semua anggota Thian It Poo pun tertegun
dibuatnya, Kan Tek Lin bukan jagoan sembarangan, siapa
nyana dalam satu jurus saja senjatanya berhasil dirampas
orang ini, betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang ini.
Setelah berhasil merampas senjata tersebut seruling tadi
dibolak balik berulang kali seakan tidak tahu benda apakah
itu, kemudian dibuangnya benda tersebut kesamping.
"Criing . . ." dengan diiringi desiran tajam seruling
tersebut meluncur kedepan dan menancap didalam tembok
sehingga lima coen dalamnya.
Begitu melihat senjatanya dibuang, Kan Tek Lio segera
meloncat kesisi tembok dan dicabut nya sekuat tenaga,
kemudian tanpa memperdulikan gengsinya lagi, ia meloncat
naik keatas tembok dinding.
"Poocu menerima tanda bahaya, saat ini sudah
meninggalkan benteng karena takut siocia menjumpai
peristiwa diluar dugaan."
"Siapakah perempuan ini ? apakah diantara kalian tak
seorangpun yang tahu ?" kembali Kan Tek Lim bertanya.
Orang2 itu pada membungkam, mereka saling
berpandangan tanpa seorangpun yang bisa menjawab, lama
sekali . . seorang yang berusia rada lanjut baru buka suara
berkata:
"Jian Jie-ya, perempuan ini misterius sekali, hampir
boleh dikata semua anggota dalam benteng Thian It Poo
mengetahui akan perempuan gila ini, tapi tak tahu asal
usulnya, aku dengar aku dengar... sejak ia datang kemari.
Poocu lantas mengusir semua orang yang semula tinggal
dalam benteng Thian It Poo ini, peristiwa tersebut terjadi
setahun setelah Poocu berpesiar keselatan."
Buat Kao Tek Lin yang mendengar kisah ini hanya
mangut2 belaka, tanpa ada perasaan lain.
Tetapi sitelapak berdarah Tong Hauw yang bersembunyi
ditempat kegelapan hampir2 saja berseru tertahan setelah
selesai mendengar kisah tersebut untung dia adalah seorang
jago kangouw kawakan, walaupun terperanjat ia tidak
sampai melampiaskan emosinya, per-lahan2 ia
menghembuskan napas panjang sementara sepasang
matanya dengan ber-kaca2 memperhatikan perempuan gila
yang lebih mirip siluman itu.
Kan Tek Lin setelah berada diatas tembok dengan wajah
ter-sipu2 tertawa kering lalu berkata:
"Ilmu silat yang ia miliki sangat lihay sekali, aku bukan
tandingannya, tetapi kedudukan serta asal usulnya amat
misterius, kemungkinan besar ia ada hubungan dengan
Poocu. . . aku lihat- -aku. . " bicara sampai disitu ia tertawa
kering dan tambahnya:
"Aku lihat lebih baik kita bicarakan lagi setelah Poocu
kalian pulang !"
Sejak Kan Tek Lin menderita kekalahan total, para jago
Thian It Poo sudah pada ketakutan setengah mati, mereka
kepingin sekali mengundurkan diri dari sana. Kini
mendengar ajakan orang she Kan itu, tidak menanti
perkataan kedua diutarakan dalam sekejap mata sudah pada
mengundurkan diri semua.
Dalam pada itu suara dari Kan Tek Lin masih terdengar
berkumandang datang dari balik dinding tembok.
"Merepotkan kalian harus ber jaga2 disini, sekalipun ia
meloncat keluar dari dinding ini, kalianpun tak usah terlalu
gugup, aku lihat asalkan tak ada orang yang turun tangan
lebih dahulu, ia tak akan melukai orang !"
"Kalau begitu Kan Jie-hiap, kau . ."
"Aku akan panggil pulang poocu kalian, kalau ia
tinggalkan halaman ini kuntitlah terus dari belakangnya,
coba kalian lihat perempuan gila itu pergi kemana saja,
dengan demikian kalau Poocu pulang, dengan gampang
bisa ditemukan !"
Walaupun orang2 itu sangat takut namun terpaksa
disetujuinya perintah tersebut, suasana jadi tenang kembali
kecuali suara2 menggerutu dari beberapa orang. Menanti
suasana jadi tenang kembali Tong Hauw baru alihkan sinar
matanya kembali kearah perempuan itu.
Ia berusaha untuk menemukan tanda2 persamaan dari
orang yang dibayangkan dalam benaknya saat ini, namun ia
jelas mengerti hal ini tak mungkin terjadi, sebab orang yang
dibayangkan adalah seorang perempuan cantik sedang
perempuan yang berada dihadapannya jelek sekali.
Sekalipun begitu Tong Houw masih ragu2. . . .
Akhirnya ia lepaskan cekalannya pada Si Soat Ang dan
per lahan2 maju kedepan, selangkah demi selangkah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun mendekati perempuan itu,
pendengaran perempuan itu benar2 tajam mendadak ia
berpaling.
Tong Hauw tetap membungkam, ia maju terus kedepan,
semakin mendekati raut wajah perempuan tersebut yang
jelek seperti tengkorak, perasaan aneh semakin menebal,
bahkan seluruh tubuhnya mulai gemetar keras menahan
emosi.
Akhirnya dia berhenti dihadapan perempuan itu
sementara perempuan itupun melototi dirinya tak berkedip,
sepasang biji matanya tak bersinar, sayu dan mendatangkan
rasa ngeri bagi setiap orang.
Tong Hauw berhenti, mengatur napas dan
menghembuskan napas panjang, lalu tegurnya lambat-
lambat:
"Kau . . kau adalah Ciang Oh ?"
Suara itu rendah dan lirih, sebab ia takut suaranya
kedengaran para jago Thian It Poo yang ada diluar tembok
dinding.
Walaupun suara itu lirih, namun perempuan tersebut
memberi reaksi, tiba2 ia putar badan, dalam sekejap mata
raut wajahnya yang kurus seperti tengkorak menampilkan
suatu perasaan yang susah dilukiskan dengan kata2.
Diikuti terdengar ia menjerit lengking, suara nya tinggi
keras dan memekikkan telinga . . .
Jeritan ini membuat Tong Hauw terperanjat buru2 ia
mundur dua langkah kebelakang sementara suaranya diluar
dinding tembok jadi amat gaduh.
Setelah menjerit perempuan itu tertawa aneh.
Sambil tertawa bibirnya bergetar mengucapkan puluhan
patah kata, namun disebabkan gelak tertawanya amat
memekikkan telinga maka apa yang diucapkan sepatah
katapun tak bisa ditangkap jelas.
Buru2 Tong Hauw bergerak mundur kembali kedalam
bangunan kecil tersebut, pikirannya terasa makin kacau.
Apa sebabnya perempuan itu menjerit lengking
kemudian tertawa aneh setelah mendapat pertanyaan itu,
mungkinkah dia adalah Cang Ooh ? mungkinkah dia
adalah Ciang Ooh yang dianggap sudah mati sejak dua
puluh tahun berselang ?
Tidak mungkin ! hal ini tidak mungkin terjadi, Ciang
Ooh adalah wanita tercantik didaerah Biauw, waktu
pertama kali ia berjumpa dengan gadis tersebut tepat
merupakan malam bulan purnama, gadis itu bagaikan
bidadari yang turun dari kahyangan, kecantikan wajahnya
amat mempersonakan karena itulah ia memberi nama
Ciang Ooh kepadanya.
Sedang perempuan yang berada dihadapannya ? Jelek.
menakutkan, bahkan lebih seram dari siluman, mana
mungkin dia adalah Ciang Ooh?
Lagi pula Ciang Ooh hanya seorang gadis suku Biauw
biasa. ia tidak memiliki ilmu silat, sedangkan perempuan
gila yang ada dihadapannya memiliki ilmu silat yang sangat
lihay, tentu saja dia bukan Ciang Ooh yang di-idam2kan
dan dirindukan selama ini.
Kalau benar dia bukan Ciang Ooh, mengapa perempuan
ini menunjukkan sikap terperanjat sewaktu mendengar
nama tersebut ? dan mengapa pula ia selalu memanggil
namanya ?
Timbul suatu perasaan dalam benak Tong Hauw, ia
merasa sekalipun perempuan itu bukan Ciang Ooh tentu
punya hubungan yang sangat erat dengan gadis biauw
tersebut atau mungkin...dari nada ucapannya bisa ditarik
kesimpulan tempo dulu Ciang Ooh telah sangat
menderita..ia mati karena tersiksa.
Teringat sampai disitu Tong Hauw gertak gigi kerat2,
seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Seperminum teh lamanya perempuan itu menjerit,
kemudian suasana hening kembali kecuali bibirnya masih
bergerak seperti lagi mengucapkan sesuatu namun tak
kedengaran sedikitpun
Melihat suasana tenang kembali, Tong Hauw ingin sekali
berjalan keluar lagi, se-konyong2 . . suara bentakan keras
berkumandang dari tempat kejauhan makin lama semakin
mendekat dan cepatnya luar biasa.
Bentakan itu mula2 ditempat jauh tapi dalam sekejap
mata sudah berada didepan mata bahkan laksana be-ribu2
ekor kuda berlari berbareng seluruh kalangan tergetar keras.
Tong Hauw berdiri tertegun, ia tertegun bukan karena
kaget oleh bentakan tersebut melainkan ia dapat mendengar
suara itu dipancarkan oleh Si Liong. Poocu dari benteng
Thian It Poo yang didendam dan dibencinya selama dua
puluh tahun.
Sementara ia masih berdiri tertegun, Kan Tek Lim yang
ada diluar tembok sedang berkata:
"Toako, kau telah kembali ? apakah keponakan Soat An
tidak menemui kejadian apa2 ?"
"Hemm !" Si Liong mendengus dingin "Budak itu belum
kutemukan, namun aku telah menjumpai suatu peristiwa
diluar dugaan."
Tong Hauw terkesiap sehabis mendengar ucapan itu, ia
tahu yang dimaksud "peristiwa diluar dugaan" oleh Si
Liong tentu menunjukkan dirinya.
Segera pikirnya didalam hati:
"Walaupun aku punya Si Soat Ang sebagai sandera,
namun tidak mempunyai keyakinan untuk menang, paling
sedikit aku harus cari kesempatan untuk mengundurkan diri
dari sini..."
Karena itu ia segera masuk kembali kedalam kamar
gelap itu dan mencengkeram Si Soat Ang kencang2.
Terdengar Si Liong yang ada diluar tembok bertanya
kembali:
"Apakah ia melarikan diri dari kurungan ?".
"Benar." seseorang menjawab, "Kan Jie-ya pergi
menghadapinya... namun... namun menderita kerugian.”
Kan Tek Lin menghela napas panjang.
"Aaaai...Toako. walaupun benteng Thian It Poo terletak
jauh diluar perbatasan, namun nama besarnya benar2
bukan nama kosong belaka didalam sejurus perempuan gila
itu berhasil merebut senjata seruling besiku !".
"Jie-te jangan menggoda. bahkan aku sendiri . . . aku
sendiripun..." Si Liong cuma bicara sampai setengah jalan
untuk kemudian menghela napas beberapa kali dan
membungkam.
"Toako, siapakah perempuan itu ?"
"Kalau dibicarakan amat panjang sekali, persoalan ini
tentu akan kuberitahukan kepadamu, ia bisa melarikan diri
dari kurungan berarti jeriji besi setebal satu coen yang
mengurung dirinya berhasil dipatahkan atau dengan
perkataan lain ilmu silatnya memperoleh kemajuan pesat,
belum tentu aku bisa menangkap dia. Jie-te, mari bantu
diriku !"
"Baik !"
Dua sosok bayangan manusia laksana kilat meloncat
melewati tembok dan melayang turun keatas permukaan.
Tong Hauw yang bersembunyi ditempat kegelapan dapat
melihat jelas sekali, orang pertama bukan lain adalah si
seruling Besi yang menggetarkan lima telaga Kan Tek Lin,
sedang orang kedua punya perawakan tinggi besar,
bercambang warna emas serta wajah yang keren terutama
sekali sepasang matanya memancarkan cahaya.
Sudah dua puluh tahun lamanya Tong Hauw tidak
berjumpa dengan orang ini, dia bukan lain adalah Si Liong.
Tong Hauw harus mengerahkan segenap
kemampuannya untuk menahan diri, lambat2 ia tarik napas
dan mengerem langkah kakinya yang hendak melangkah
keluar sementara itu Si Liong telah melayang turun
kedalam halaman, ia menghela napas dan ulapkan
tangannya memberi tanda kepada Kan Tek Lin agar jangan
terlalu mendekati perempuan itu, sedang ia sendiri berhenti
kurang lebih lima enam depa dihadapan perempuan
tersebut.
Setelah itu kembali ia menghela napas panjang dengan
suara yang serius dan keren tegurnya:
"Kau . . . kembali kau melarikan diri, Aaai buat apa kau
menyusahkan diriku terus menerus ?"
Perempuan itu tetap berdiri tak berkutik ditempat
semula.
"Mari. ikut aku pulang kekamarmu !" seru Si Liong
kembali sambil angsurkan tangannya ke-depan.
Gerakannya lambat sekali, siapapun dapat melihat kalau
ia bertindak sangat hati2 dan tak berani gegabah.
Namun perempuan itu tetap berdiri tak berkutik.
Makin lama tangan si Liong semakin mendekati
pergelangannya, ketika itulah gerakan orang itu semakin
cepat, laksana kilat kelima jarinya mencengkeram
pergelangan perempuan itu.
Gerakan ini betul2 cepat laksana kilat, tahu2 kelima jari
tangannya berhasil mencengkeram urat nadi perempuan itu
erat2, wajahnya terlintas rasa girang bukan main.
"Kita . . ." serunya.
Mendadak situasi berubah diluar dugaan.
Laksana kilat perempuan itu putar badan memandang
sekejap kearah Si Liong, diikuti telapak tangannya diayun
menggaplok pipi lelaki tua itu.
Buru2 Si Liong berkelit, namun gerakannya terlambat
selangkah.
"Plaaak!" dengan telak serangan itu bersarang diatas pipi
Si Liong membuat lelaki tua ini mundur tiga langkah
kebelakang. cengkeramannyapun jadi mengendor.
Menanti ia dapat berdiri tegak, terdengar Kan Tek Lin
berseru tertahan: "Toako, pipimu . ."
Si Liong meraba pipinya, bukan saja terasa panas, linu
dan sakit bahkan bekas gaplokan lima jarinya dapat teraba
nyata.
Air muka Si Liong kontan berubah hebat, ia tarik napas
panjang2 kemudian ambil keluar suatu senjata tajam yang
aneh sekali bentuknya.
Senjata itu berupa cakar naga yang panjangnya tiga depa
dan terbuat dari baja murni, lima sisik cakar memancarkan
cahaya ke-emas2an yang berkilauan.
Setelah senjata ini dikeluarkan maka Kan Tek Lin makin
tegang, senjata serulingnya disiapkan mengarah jalan darah
penting di depan dada perempuan itu. Kali ini ia tak berani
bertindak gegabah.
Tong Hauw yang mengintip kejadian itu dari tempat
persembunyiannya jadi terkesiap, keringat dingin serasa
mengucur keluar dengan derasnya.
Waktu itu Si Liong telah mempersiapkan senjatanya,
selangkah demi selangkah ia mendesak kedepan, wajahnya
penuh diliputi ketegangan.. ia mendesak kedepan dari
sebelah kiri perempuan itu, sementara Kan Tek Lin dengan
senjata terhunus dan mengarah kebawah selangkah demi
selangkah maju kedepan.
Akhirnya Si Liong tiba di hadapan perempuan itu, ia
merandek sejenak dan menegur dengan suara berat:
"Kau jangan mengaco belo lagi, ayoh cepat ikut aku
pulang !".
Tenaga lweekangnya amat sempurna. bentakan ini
bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong.
Seluruh tubuh perempuan itu tergetar keras, mendadak ia
jerit melengking dan tertawa ter-kekeh2.
"Apa yang kau tertawakan"!" bentak Si Liong teramat
gusar.
Sembari menegur, senjata cakar naganya dengan disertai
sekilas cahaya tajam dari atas kearah bawah menghantam
batok kepala perempuan itu, gerakannya cepat laksana
sambaran kilat.
Tong Hauw yang melihat kejadian itu dari tempat
persembunyian jadi tercelos hatinya, sebab dari jarak sejauh
tiga-empat tombak ia masih kedengaran desiran tajam dari
serangan itu.
"Kau ingin membinasakan diriku ?" mendadak
perempuan itu berteriak aneh.
Bersamaan teriakan itu badannya merendah ke bawah,
gerakan ini aneh dan tidak masuk dalam akal.
Sebab serangan Si Liong mengancam batok kepalanya,
sekalipun ia telah merendah kebawah paling banter hanya
memperlambat beberapa saat serangan tersebut, untuk
menghindar boleh dikata percuma.
Melihat hal tersebut diatas, Si Liong memperbesar tenaga
serangannya, senjata cakar naganya bergetar semakin cepat.
Terdengar perempuan itu menjerit aneh, mendadak
badannya makin merendah kebawa untuk kemudian melejit
keatas.
Serangan Si Liong yang menggunakan tenaga amat besar
ini tak sempat ditarik kembali lagi, begitu sasarannya lenyap
senjata cakar naganya tidak ampun menghantam
permukaan tanah keras.
Bunga2 salju beterbangan memenuhi angkasa diiringi
suara bentrokan keras permukaan salju yang tebal beberapa
coen itu hancur ber-keping2.
Perempuan itu setelah melejit ketengah udara sebenarnya
ia punya peluang baik untuk merebut kemenangan namun
perempuan gila itu tidak berbuat demikian ia melayang
turun ke atas permukaan dan berdiri mematung.
Si Liong segera mundur kebelakang, wajahnya berubah
hijau membesi dengan ter-sipu2 ia tertawa apa boleh buat.
"ilmu ... ilmu silatmu benar2 tambah lihay." serunya.
Perempuan itu gelak tertawa. suaranya tinggi
melengking.
Karena gagal menggunakan kekerasan, kali ini Si Liong
menggunakan kelunakan, dengan suara halus ujarnya:
"Kau. . . Aaaai . . padahal kalau tidak gila, akupun tidak
akan mengurung dirimu dalam pagoda tersebut seorang diri
!"
Perempuan tadi tetap membungkam se-olah2 terhadap
apa yang diucapkan Si Liong sama sekali tidak mendengar.
Lambat2 Si Liong berjalan makin mendekati lagi.
"Toako, hati2..." melihat tindakan tersebut Kan Tek Lim
segera berseru. Dengan cepat Si Liong goyangkan
tangannya mencegah ia bersuara lebih jauh. ia berjalan
sampai kesisi perempuan tadi kemudian dengan suara halus
sapanya: "Ciang Ooh. . ."
Tentu saja setelah menyebut namanya, ia masih
mengucapkan perkataan lain, hanya si telapak berdarah
Tong Hauw yang bersembunyi ditempat kegelapan tak
mendengar sedikitpun apa yang diucapkan.
Ketika Tong Hauw mendengar kata2 "Ciang Ooh"
tersebut benaknya seperti digodam dengan martil berat,
dalam sekejap pandangan jadi gelap dan telinga serasa
mendengung keras.
Tentu saja kejadian ini hanya berlangsung sedetik, diikuti
jeritan perempuan itu menyadarkan dirinya, ia mulai dapat
menguasai diri dan melihat kejadian didepan matanya
semakin nyata.
Tampak olehnya Si Liong sedang mundur ke belakang
dalam keadaan mengenaskan, sementara sepasang mata
perempuan itu melototi dirinya tak berkedip.
Sepasang biji mata perempuan itu yang benar bukan
mata manusia hidup, biji matanya hampir boleh dikata
berwarna abu2 semua itu kelihatan amat mengerikan sekali.
"Ciang Ooh ? benarkah perempuan seram ini adalah
Ciang Ooh ? tidak mungkin !"
Tapi bukankah dengan jelas sekali Si Liong memanggil
perempuan itu sebagai Ciang Ooh?
Ciang Ooh, adalah nama yang diberikan olehnya kepada
seorang gadis suku Biauw pada dua puluh lima tahun
berselang, sebetulnya gadis itu punya sebuah nama yang
jelek dan susah dibaca, beberapa kali Tong Hauw tidak bisa
menghapalnya, kemudian ia panggil gadis ini sebagai Ciang
Ooh.
Tong Hauw bukan seorang penyair atau pujangga
pandai, ia hanya tahu Ciang Ooh adalah bidadari paling
cantik dirembulan. sedang Ciang Oh nya adalah perempuan
yang paling cantik pula di kolong langit.
Sewaktu Tong Hauw berkenalan dengan gadis tersebut.
ia sudah berusia tiga puluh tahunan, nama besarnya sudah
tersohor didalam dunia persilatan.
Ilmu telapak berdarah yang ia yakini sebenarnya ilmu
beracun, dan iapun bukan seorang lelaki sejati, maka dari
itu namanya tidak sedap di dengar, setiap orang akan
membayangkan dia sebagai seorang manusia paling sadis,
paling menakutkan, semua orang tahu akan hal ini kecuali
seorang yakni Ciang Ooh yang ada di daerah Biauw.
Ciang Ooh hanya tahu ia bernama Tong Houw si telapak
berdarah Tong Hauw.
Dalam bayangan Ciang Ooh, lelaki yang bernama Tong
Hauw sama halnya malaikat dari langit, orang yang paling
dicintainya, paling dihormatinya sebab kalau bukan ada
Tong Hauw ia sudah mati ditelan harimau, dan dengan
mata kepala sendiri pula ia melihat bagaimana caranya
Tong Hauw membinasakan harimau tersebut dengan
mudah.
Bagi Tong Hauw sendiripun tidak pernah menyangka,
perjalanan yang bermaksud mencari kitab ilmu silat warisan
seorang tokoh silat dari aliran Thiam-cong pay berakhir
dengan perjumpaan tersebut.
Demikianlah mengikuti adat istiadat suku Biauw, ia
kawin dengan Ciang Ooh dan berdiam selama tiga tahun
disana.
Selama tiga tahun ini boleh dikata merupakan masa
paling bahagia baginya, kalau dibandingkan dengan dua
puluh tahun kemudian maka perbedaannya bagaikan
disurga dan dineraka.
Tiga tahun kemudian, tiba2 Tong Hauw teringat dengan
sahabat2 karibnya yang tinggal di Tionggoan, ia ingin
memboyong istrinya pulang negeri leluhur dan dipamerkan
di hadapan rekan2 nya, namun Ciang Ooh tidak mau
meninggalkan desa kelahirannya, karena itu Tong Hauw
lantas berjanji setahun kemudian dia akan kembali lagi ke
daerah Biauw dan sejak itu tidak akan pergi2 lagi.
Seumpamanya waktu itu Tong Hauw tidak
meninggalkan dirinya, mungkin keadaannya akan jauh
berbeda.
Tetapi Tong Hauw telah meninggalkan daerah Biauw, ia
bermaksud melakukan beberapa peristiwa yang
menggemparkan dunia persilatan.
Demikianlah setahun kemudian, dengan penuh
kegembiraan Tong Hauw kembali ke daerah Biauw tapi apa
yang ditemukan?
Pondokannya sudah rata dengan tanah, yang terlihat
hanya puing2 yang berserakan.. berapa jam lamanya ia
berteriak dan mencari namun gagal sehingga akhirnya
beberapa orang Biauw yang masih tersisa muncul dari
tempat persembunyian dan menceritakan apa sebetulnya
yang telah terjadi.
Kiranya tidak lama setelah ia pergi, ditempat itu muncul
serombongan orang2 Han yang memiliki ilmu silat tinggi,
katanya mereka sedang mencari kitab ilmu silat warisan
seorang tokoh sakti.
Namun sejak mereka berjumpa dengan Ciang Ooh, soal
kitab ilmu silat sudah terlupakan sama sekali. Demi
mendapatkan perempuan cantik ini beberapa orang bangsa
Han itu mulai gontok2an sendiri sehingga akhirnya
dimenangkan oleh seorang lelaki tinggi besar yang berhasil
memboyong pulang Ciang Ooh.
Sebelum gadis itu diboyong, beberapa orang suku Biauw
melihat dengan mata kepala sendiri betapa Ciang Ooh
mencabut sebilah pisau dan menusuk dada sendiri, banyak
orang menyangsikan mungkin ia sudah lama menemui
ajalnya.
Waktu itu Tong Hauw merasakan badannya seperti
kaku, ia berdiri mendelong beberapa saat lamanya sehingga
beberapa orang berteriak keras, barulah ia mendusin dan
menangis tersedu2.
Tangisannya ini betul2 luar biasa, tiga hari tiga malam
tidak berhenti, makan tidak minum tidak bahkan tidurpun
tidak, beberapa orang suku Biauw yang bersedia menolong
dirinya.
Beberapa hari kemudian ia berangkat meninggalkan
daerah Biauw.
Sejak ia kehilangan Ciang Ooh, dalam dunia
persilatanpun kehilangan seorang tokoh silat yang bernama
sitelapak berdarah Tong Houw.
Untuk memperoleh bagaimanakah bentuk wajah bentuk
badan manusia yang merampas Ciang Oh tersebut, Tong
Hauw telah mengorbankan waktu setengah tahun lamanya,
ia menyusun lukisan itu berdasarkan gambaran beberapa
orang suku Biauw yang menyaksikan sendiri jalannya
peristiwa tadi.
Kemudian dengan membuang banyak tenaga dan pikiran
pula ia berkelana didalam dunia persilatan untuk mencari
orang yang dimaksud.
Setelah selidiki sana selidiki sini, ia ambil kesimpulan
kemungkinan besar Si Liong seorang pemimpin benteng
Thian It Poo lah merupakan manusia yang dicari.
Begitulah ia lantas berangkat keluar perbatasan dan
tanpa mengucapkan banyak kata2 ia bertarung melawan Si
Liong.
Waktu itu Tong Hauw tidak langsung melaporkan asal-
usulnya, ia cuma bergebrak sebanyak tiga jurus dengan
orang itu, dari sana ia bisa menarik kesimpulan bahwasanya
ilmu silat yang ia miliki masih ketinggalan jauh, untuk
membalas dendam bukan suatu pekerjaan yang ringan.
Disamping itu iapun tahu, penjagaan didalam benteng
Thian It Poo amat ketat, jago lihay banyak terdapat disana,
untuk menyelonong kedalam bentengnya merupakan suatu
pekerjaan yang lebih sukar dari pada terbang kelangit.
Pelbagai kesulitan menimbulkan kebulatan tekadnya
untuk berjuang mati2an. ia lantas menyaru sebagai seorang
pelarian yang kemudian bersemayan diluar benteng Thian
It Poo, disana ia mendirikan sebuah rumah gubuk dan
melewatkan hidupnya dengan susah payah dan
mengenaskan.
Selama banyak tahun ini, orang2 benteng Thian It Poo
hanya tahu kakek tua itu bernama Tan Loo-ya, tak
seorangpun yang tahu asal-usul sebenarnya, selama dua
puluh tahun ini setiap ada kesempatan Tong Hauw segera
bekerja keras membuat terowongan dibawah tanah yang
akhirnya berhasil ia tembusi sampai kedalam benteng Thian
It Poo.
Kebulatan tekad serta kekukuhan hatinya ini timbul
karena ia hendak membalaskan dendam kematian Ciang
Ooh, sebab didalam pandangannya Ciang Ooh, istri
tercintanya sudah mati ditangan orang lain.
Namun sekarang apa yang terjadi ?
Dengan jelas sekali ia mendengar Si Liong menyebut
perempuan itu sebagai "Ciang Ooh" . . .
Mungkinkah perempuan jelek yang lebih mirip siluman
ini adalah Ciang Ooh ? ? istrinya yang tercinta ? seorang
gadis Biauw yang paling cantik dikolong langit. . .
Usia berlalu dengan amat cepatnya laksana sambaran
kilat, hanya sebentar saja dua puluh tahun sudah berlalu
didalam waktu yang sangat lama ini ia sendiri dari seorang
pemuda yang gagah dan tampan kini sudah berubah
menjadi seorang kakek yang kurus kering dan berkeriput,
apalagi diri Ciang Ooh ia berubah jadi begitu sebenarnya
sama sekali tidak mengherankan.
Tetapi . . . pada masa yang lalu Ciang Ooh adalah
seorang gadis cantik yang lemah lembut hanya terkena
tiupan angin saja sudah ber-goyang2, bagaimanapun
sesudah berpisah selama dua puluh tahun ia bisa berubah
setengah gila bahkan memiliki kepandaian silat yang
demikian tinggi nya ??
Pikiran si telapak berdarah Tong Hauw pada waktu ini
amat kacau sekali, berbagai persoalan yang menimbulkan
rasa curiga dihatinya mulai memenuhi seluruh benaknya
akhirnya saking bingungnya tak kuasa lagi tubuhnya rubah
beberapa langkah kesamping, menanti tangannya berhasil
memegang tembok tubuhnya baru bisa berdiri kembali.
Sepasang matanya dipentangkan lebar2 memandang
kearah luar, dimana pada waktu itu Si Liong sedang
mundur kebelakang dengan kecepatan bagaikan kilat.
Kiranya Si Liong kena didesak mundur terus kebelakang
oleh tudingan perempuan itu yang semakin lama semakin
mendekati kearah badannya.
"Kaukah yang memanggil aku ?" teriak perempuan itu
setengah menjerit.
Sesudah mendengar ucapan dari perempuan tersebut,
dalam hati Tong Hauw sudah berani memastikan kalau
perempuan jelek yang ada dihadapinya ini benar2 adalah
Ciang Ooh. . Karena ..kendati mereka sudah berpisah
selama dua-puluh tahun lamanya, sehingga nada suaranya
boleh dikata sama sekali berubah. . . berubah semakin
melengking, semakin mengerikan dan membuat bulu kuduk
setiap orang pada berdiri tapi nada keras dalam bahasa Han
yang masih di campuri dengan bahasa suku Biauwnya
belum hilang sama sekali.
-oooo0de-wi0oooo-

Jilid 3
“CIANG OOH ! memang aku yang memanggil dirimu"
sahut Si Liong keras. "Kau jangan mengacau lagi, ayoh ikut
aku pulang dan berpikirlah secara tenang seorang diri."
"Siapa yang aku pikirkan ?" mendadak Ciang Ooh
berteriak sambil melototkan matanya kearah siorang tua itu,
"Heee. . . heeh..." Si Liong tertawa dingin tiada hentinya
"Sudah tentu memikirkan orang yang selama ini kau
pikirkan terus!"
Dari bagian tenggorokan Ciang Ooh mendadak
memperdengarkan suatu suara yang amat serak dan aneh
sekali.
"Tong Hauw... sitelapak berdarah TongHauw" teriaknya.
Tong Hauw yang ada didalam ruangan sewaktu melihat
dan mendengar apa yang diucapkan oleh perempuan
tersebut, bahkan menjerit dan menyebutkan namanya
dengan suara yang begitu menyeramkan, dalam hatinya
semakin mantap bila dia benar2 adalah Ciang Ooh yang
sudah berpisah selama dua puluh tahun lamanya dengan
dirinya.
Hatinya benar2 merasa tidak tahan lagi, ia merasakan
suara sesunggukan isak tangis mulai berbunyi dari
tenggorokannya, karena tertahan dengan paksa maka suara
tersebut pada saat ini kedengarannya jadi sangat aneh
sekali.
Pada waktu itu Si Liong sedang pusatkan seluruh
perhatiannya untuk menghadapi Ciang Ooh sehingga dia
orang sama sekali tidak mendengar adanya suara aneh yang
berkumandang keluar dari balik ruangan disampingnya.
Lain halnya dengan Kan Tek Lin yang berdiri disisinya,
sewaktu mendengar dari dalam ruangan bergema keluar
suara yang sangat aneh, ia jadi rada tertegun.
"Toako, siapa yang ada didalam ruangan itu?" serunya
tak tertahan, Si Liong jadi melengak, "Aaakh ! tidak ada
orang..." Tetapi belum habis ia mengucapkan kata2nya
pada waktu itu iapun bisa menangkap datangnya suara
aneh dari dalam ruangan tersebut.
Tubuhnya buru2 meloncat kesamping kemudian laksana
sambaran kilat berkelebat maju dua tiga langkah kedepan.
"Siapa ?" bentaknya sambil mengayunkan senjata cakar
naga saktinya kedepan.
Pada waktu itu, sekalipun Si Liong tidak membentak,
Tong Hauw dengan sendiripun akan ke luar dan tempat
persembunyiannya.
Menurut pikiran Tong Hauw, kepingin sekali ia
menerjang keluar dan langsung menerjang kehadapan
Ciang Ooh untuk menuturkan seluruh kisah sedihnya
selama perpisahan ini.
Tetapi...penghidupan selama dua puluh tahun yang
terasing membuat sifatnya jauh lebih tenang, ia tahu berada
dalam keadaan seperti ini bilamana ia bertindak secara
gegabah maka nyawanya kemungkinan sekali bakal
terancam bahaya.
Oleh karena itu sewaktu mendengar suara bentakan dari
Thian It Poocu, ini tangannya mencengkeram pergelangan
tangan Si Soat Ang jauh lebih mengencang lagi sedang
telapak kanannya ditempelkan rapat2 diatas batok kepala
gadis tersebut.
Setelah itu dengan langkah yang amat perlahan ia
munculkan dirinya dari balik ruangan ter sebut.
"Si Poocu ! aku adanya !"
Halaman tersebut sudah sangat lama dikosongkan, Si
Liong sebagai Thian It Poocu sudah tentu tidak mungkin
tidak tahu kalau tempat itu sebenarnya adalah kosong.
Sewaktu mendengar timbulnya suara aneh tadi dalam
hati ia merasa keheranan apalagi pada saat ini mendengar
suara jawaban rasa terperana dari Si Liong kali ini benar2
luar biasa sekali.
Selama satu malaman ber-turut2 sudah terjadi dua buah
peristiwa yang ada diluar dugaan.
Ditengah suasana yang sunyi dan curahan salju yang
lebat ber-turut2 Si Liong harus mendapatkan dua kali
pukulan keras, apalagi jejak dari putrinya tidak diketahui,
ditambah lagi pada saat ini didalam bentengnya secara
mendadak muncul seorang asing bagaimana mungkin hal
ini tidak membuat hatinya terasa sangat terperanjat ? ?
Haruslah diketahui, penjagaan disekeliling Benteng
Thian It Poo amat ketat sekali, jangan harap ada seorang
manusiapun bisa memasuki benteng tersebut tanpa
diketahui oleh para penjaga.
Tetapi kini, didalam Benteng Thian It Poo ternyata
sudah muncul seorang asing tanpa berhasil diketahui oleh
para penjaga, jelas hal ini menunjukkan kalau kepandaian
silat dari orang itu sangat luar biasa sekali.
Oleh karena itu dalam keadaan sangat terperanjat buru2
ia memberi tanda kepada Kan Tek Lin untuk bersiap siaga
sedang ia sendiri dengan pandangan yang tajam
memperhatikan orang itu.
Tong Hauw sesudah buka bicara, tubuhnyapun dengan
cepat munculkan dirinya dari balik pintu.
Per tama2 yang dapat dilihat oleh Si Liong adalah
munculnya Si Soat Ang dibawah cengkeraman Tong Hauw
..
Sewaktu melihat putri kesayangannya secara tiba-tiba
munculkan dirinya disana, Si Liong jadi terkejut.
"Ang-jie!" teriaknya keras.
Tubuhnya dengan cepat berkelebat menubruk kearah
depan !
Tetapi sebentar kemudian ia sudah melihat bila nyawa
putrinya pada saat itu sudah ada di tangan orang lain,
dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan memandang
tajam keatas wajah sitelapak berdarah yang ada dibelakang
putrinya itu.
sepasang mata dari Thian It Poocu yang sangat tajam
dengan tiada berkedip memandang wajah Tong Hauw terus
menerus, lama sekali mereka berdua tak mengucapkan
sepatah katapun.
"Toako ! siapakah dia orang?" akhirnya Kan Tek Lim
ada di sisinya tak bisa menahan sabar lagi dan bertanya.
"Aku rasa kawan ini tentunya bukan lain adalah si
telapak berdarah Tong Hauw yang sudah lama lenyap dari
kalangan Bulim. bukan begitu ?"
"Heee... heeee... sedikitpun tidak salah, aku orang
memang she Tong !" teriak Tong Hauw sambil
memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat
menyeramkan.
"Heee... haaaa... haaa... ternyata saudara bisa
menandingi benteng Thian It Poo seorang diri, peristiwa ini
benar2 sangat mustahil sekali!"
"Hmmm, dikolong langit tak ada urusan yang sukar, asal
dalam hati ada niat !"
Per-lahan2 Si Liong maju satu langkah kedepan.
"Tadi sewaktu aku keluar dari Benteng Thian It Poo dan
berbicara dengan para anggota Benteng serta Teh Hoo
Siang Sah, cayhe baru tahu bila kau sudah menyaru sebagai
seorang kakek tua yang sedang menyingkir dari bahaya dan
berdiam selama dua puluh tahun lamanya diluar benteng
Thian It Poo, agaknya tujuanmu hendak memasuki ke
dalam benteng kami !"
Dalam hati Tong Hauw benar2 merasa amat gusar,
tetapi bagaimanapun dia adalah seorang jagoan yang sudah
lama berkelana didalam dunia persilatan dia tahu setelah
dirinya berhasil mencengkeram Si Soat Ang maka keadaan
situasi sangat menguntungkan terhadap dirinya.
Tetapi sesudah dilihatnya sampai pada saat ini keadaan
masih tidak juga menguntungkan dirinya, dan memerlukan
waktu yang lebih lama lagi untuk bersabar maka dengan
paksakan diri menahan rasa gusar yang berkecamuk
dihatinya ia menjawab:
"Sedikitpun tidak salah !"
Si Liong dongakkan kepalanya tertawa terbahak2, suara
tertawanya ini sangat aneh sekali dan memanjang tiada
henti2nya.
Kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru berhenti
tertawa. teriaknya keras:
"Lalu apakah saudara ada ikatan dendam dengan aku
orang she Si ?"
"Benar ! dendam atas perbuatanmu merebut istriku ?"
Teriak Tong Hauw sambil menggertak giginya kencang2.
Didalam anggapan Sitelapak berdarah, setelah perkataan
tersebut diucapkan keluar maka diatas paras muka Si Liong
tentu akan memperlihatkan perubahan yang sangat hebat,
karenanya dengan penuh perhatian gerak gerik musuhnya
sambil diam2 mengambil persiapan untuk menghadapi
perubahan mendadak.
Siapa sangka, peristiwa yang telah terjadi jauh berada
diluar dugaannya, Si Liong hanya melengak saja sesudah
mendengar perkataan tersebut "Apa maksud dari perkataan
saudara ini?" tanyanya kebingungan.
"Apakah kau masih tidak paham ataunya memang pura2
berlagak pilon ?" Bentak Tong Hauw dengan murka, "Siapa
yang pernah kau rebut pulang dari daerah Biauw Ciang
pada dua puluh tahun yang lalu ?"
Air muka Si Liong mendadak berubah menghebat,
"Ciang Ooh ?" serunya tak tertahan.
Sembari berkata ia melangkah mundur satu langkah
kebelakang lalu memandang sekejap kearah Ciong Ooh dan
memandang pula kearah Tong Hauw, agaknya ia menjadi
paham kembali dan mengangguk perlahan.
"Ehmmm...! tidak aneh kalau dia menyebut kan nama
Tang Hauw terus menerus, kiranya dia adalah..."
Tidak menunggu Thian It Poocu menyelesaikan
perkataannya, dengan jantung hampir meledak saking tidak
kuatnya Tong Hauw menggembor keras:
"Benar! dia adalah istriku !"
Teriakannya kali ini benar2 sangat keras laksana
halilintar yang membela bumi, membuat semua orang
merasa sangat terperanjat !
Bersamaan dengan suara gemborannya itu mendadak
tampaklah telapak tangan kirinya mencengkeram kencang2
urat nadi Si Soat Ang sedang tangan kanannya yang semula
ditekan ke atas batok kepala gadis tersebut pada saat ini per-
lahan2 diayunkan keatas.
Telapaknya per-lahan2 berubah jadi memerah laksana
darah, sambil menarik tubuh Si Soat Ang maju kedepan
telapak tangannya langsung melancarkan satu pukulan
dahsyat menghantam dada Si Liong.
Datangnya serangan tersebut benar2 luar biasa cepatnya,
Si Liong yang melihat telapak tangannya sudah berubah
jadi merah padam laksana darah dan sangat menyeramkan
sekali, apabila angin pukulan yang menyambar datang
diselingi dengan bau darah yang amis buru2 meloncat
mundur kebelakang.
Senjata cengkeraman naga saktinya dengan gerakan dari
atas menuju kebawah menghajar pergelangan tangan kanan
Tong Hauw.
Tong Hauw begitu dapat melihat wajah Si Liong yang
ada dihadapannya, dalam benak pun segera teringat
kembali akan pahit getirnya yang diderita selama dua puluh
tahun ini.
Hawa amarah yang memuncak tak dapat di tahan lagi,
dengan penuh rasa dendam dan benci ia mengirim satu
pukulan yang maha dahsyat kearah musuhnya.
Tampak sepasang matanya berubah jadi merah ber-api2,
dari mulutnya memperdengarkan suara jeritan yang sangat
aneh. Melihat serangannya gagal mendadak ia menarik
kembali tangannya kebelakang kemudian tanpa berpikir
panjang lagi kembali ia mengirim satu hajaran keatas batok
kepala Si Soat Ang.
Urat nadi dari Si Soat Ang sudah kena dicengkeram hal
ini membuat dirinya pada saat ini boleh dikata tak memiliki
tenaga lagi untuk me lawan, ditambah pula datangnya
serangan tersebut cepat laksana kilat.
Kelihatannya sebentar lagi batok kepala dari Si Soat Ang
sang gadis tersebut akan hancur di bawah hajaran serangan
telapak berdarahnya itu !
Tetapi pada saat2 vang amat kritis itulah, situasi kembali
berubah.
Si Liong Hauw melihat putri kesayangannya bakal
menemui ajalnya ditangan Tong Hauw, saking
terperanjatnya ia jadi berdiri mematung dengan mata
terbelalak dan mulut melongo lebar2 kendari tak ada
maksud untuk berteriak tetapi tak sepatah katapun berhasil
meloncat keluar dari mulutnya.
Kan Tek Lin yang melihat putri kawan karibnya
terancam bahaya segera membentak keras, seruling besinya
dengan disertai suara desiran yang tajam membabat
kedepan memaksa Tong Hauw mau tak mau harus menarik
kembali serangannya kebelakang.
Ketika itu Tong Hauw sudah mengumbar rasa dendam
serta gusarnya yang terpendam selama dua puluh tahun
lamanya ini. bagaikan kalap ia menerjang dan menubruk
kesana kemari bermaksud hendak membinasakan
musuhnya.
Melihat Kan Tek Lim menggagalkan usahanya untuk
membinasakan gadis tersebut ia semakin gusar lagi, sambil
berteriak keras laksana kilat menyambar kembali dia orang
mengirim satu pukulan laksana ombak dahsyat ditengah
tengah samudra.
Kontan saja tubuh Kan Tek Lin kena terhantam sehingga
tak kuasa lagi kena terdesak mundur satu langkah lebar
kebelakang.
Tetapi justru karena ia mundur kebelakang tubuhnya jadi
terbentur dengan Ciang Ooh yang ada disana.
Kan Tek Lin pernah merasakan pahit getir-nya ditangan
Ciang Ooh, begitu ia merasakan tubuhnya menubruk
perempuan tersebut dalam hati lantas mengerti kalau
keadaan sangat tidak menguntungkan bagi dirinya.
Belum sempat ia meloloskan diri dari sana, Tiba2
terdengar Ciang Ooh menjerit aneh, pundaknya terasa sakit
tahu2 ia sudah kena dicengkeram oleh perempuan tersebut.
Kan Tek Lim jadi amat terperanjat, tetapi perubahan
situasi sudah berlangsung dengan cepatnya, belum sempat
ia menjerit kaget telapak tangan Ciang Ooh sudah
digetarkan.
Tanpa ampun lagi tubuhnya melempar keatas udara
kemudian melayang turun menekan ke-arah Tong Hauw.
Seluruh kejadian ini berlangsung dalam waktu yang amat
singkat, bahkan boleh dikata berlangsung dalam saat yang
bersamaan !
Telapak tangan Tong Hauw belum sampai mampir
diatas balok kepala Si Soat Ang, tubuh Kan Tek Lin yang
tinggi besar itu sudah jatuh menindih tubuhnya.
Terhadap Tong Hauw, peristiwa ini merupakan suatu
kejadian yang berlangsung diluar dugaannya, ia ingin
menghindarkan diri tetapi tidak sempat lagi.
Dalam keadaan gugup dan gelagapan buru2 hawa
murninya ditarik mengelilingi seluruh tubuh, pergelangan
tangannya mendadak membalikkan serangannya yang
semula ditujukan keatas batok kepala Si Soat Ang, kini
berbalik menghantam keatas pundak Kan Tek Lin.
"Braak.... aduuuh !" suara benturan serta jeritan
berkumandang ber-sama2 memenuhi angkasa.
Pukulan telapak berdarah dari Tong Hauw benar2 luar
biasa lihaynya sekalipun Kan Tek Lin adalah seorang
jagoan lihay yang memiliki kepandaian silat tinggi tak
urung tubuhnya kena terhajar pula sehingga kembali
terpental ketengah udara.
Diiringi suara jeritan ngeri yang menyeramkan tubuh
orang itu melayang ketengah udara bagaikan layang2 putus
dan terlempar jauh keluar dari kalangan.
Dan bersamaan waktu itu pula Si Liong berhasil
menenangkan pikirannya.
Bagaimanapun Si Liong adalah seorang jagoan Bu lim
yang mempunyai pengetahuan luas, pada saat itulah ia
dapat melihat telapak kanan Tong Hauw mengayun keatas
sedang tangan kirinya mencengkeram urat nadi Si Soat Ang
membuat bagian dadanya jadi terbuka, inilah suatu
kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan.
Tanpa ragu2 lagi, kakinya menginjak kedudukan "Tiong
Kiong" menuju kepintu "Cong Bun", senjata cengkeraman
naga saktinya laksana serentetan cahaya pelangi langsung
menerjang kearah dada Tong Hauw.
Baru saja sitelapak berdarah berhasil memukul pantai
tubuh Kan Tek Lin, untuk membalikkan lengan menangkis
datangnya serangan tersebut tidak mungkin lagi . . . ia jadi
bingung setengah mati ! !
Didalam keadaan yang sangat kritis ia merasa jauh lebih
penting mempertahankan nyawanya, mendadak terdengar
Tong Hauw berteriak aneh, kelima jari tangan kirinya yang
mencengkeram Si Soat Ang dilepaskan, lalu melemparkan
tubuh gadis tersebut jauh2 dari tengah kalangan.
Tangan kirinya langsung menerjang kedepan menyambut
datangnya serangan senjata cengkeraman naga sakti
tersebut dengan gerakan menyambar.
Walaupun sambarannya ini dilakukan dalam keadaan
ter-gesa2, tetapi gerakannya sangat tepat dan ganas, tahu2
kelima jarinya sudah mengejang dan mencekal senjata
musuhnya erat2.
Mereka berdua ber-sama2 kerahkan tenaga untuk
menarik kearah belakang. Bila membicarakan soal tenaga
dalam maka hawa Iweekang yang dimiliki Si Liong jauh
lebih tinggi satu tingkat dari sitelapak berdarah, oleh karena
itu sewaktu mereka berdua ber-sama2 menarik senjata itu
sekuat tenaga. tubuh Tong Hauw tidak bisa berdiri tegak
lagi, tak kuasa tubuhnya tersentak maju setengah langkah
kedepan.
Ketika itu mereka berdua sama2 mencekal senjata
cengkeraman naga saktinya setiap orang satu ujung yang
berlawanan dengan jarak cuma tiga depa saja, justru
keadaan yang sangat dekat inilah membuat situasi semakin
menegangkan karena pertempuran jarak dekat lebih
mengerikan dari pada pertempuran biasa.
Suara tertawa terbahak2 dari Si Liong tadi sebenarnya
merupakan pertanda bagi jago2 lihay dari benteng Thian It
Poo, pada waktu ini mereka dengan membawa obor segera
berlarian mendatang dan mengurung halaman tersebut
rapat2.
BoIeh dikata hampir seluruh pekarangan sudah dipenuhi
dengan jago2 lihay, hanya saja Tong Hauw serta Si Liong
yang sedang melakukan pertempuran sengit tak ada waktu
lagi untuk memperhatikan hal2 tersebut.
Sebaliknya para jago yang keburu tiba disana ketika
melihat si seruling besi yang menggetarkan lima telaga Kan
Tek Lin kena terpukul pental oleh hantaman musuh dan
melihat pula Pocu mereka sedang melangsungkan
pertempuran jarak dekat dengan pihak musuh, saking
kagetnya mereka pada membelalakkan matanya dan mulut
melongo!
Tong Hauw segera melancarkan satu pukulan menghajar
tubuh Si Liong yang berada sangat dekat dengan dirinya
itu.
Dalam hati Si Liong mengerti bila tenaga dalam yang
dimilikinya jauh lebih tinggi dari tenaga lwekang pihak
musuh, kendari begitu ia pun mengetahui pula bila pukulan
telapak berdarah merupakan salah satu ilmu pukulan
beracun yang sangat lihay dari aliran sesat, bila ia berani
menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras,
malah tidak urung dirinya akan menderita kerugian juga !
Oleh karena itu sambil menunduk menghindarkan diri
dari datar gaya serangan tersebut, tiba2 ia melepaskan
senjata andalannya dan berputar secepat kilat diatas
permukaan salju langsung menubruk kebelakang punggung
Tong Hauw.
Terlihatlah bunga2 salju beterbangan memenuhi angkasa
dan tersebar keempat penjuru karena terkena gesekan
kakinya itu.
Pada waktu itu Tong Hauw lagi berdiri melengak, Si
Liong yang berhasil menerobos kebelakang punggung
musuhnya kontan mengayunkan sang telapak tangan
melancarkan satu pukulan bebat.
Tong Hauw yang melihat pihak musuhnya secara tiba2
melepaskan senjata andalannya, dalam hati sudah merasa
keadaan tidak beres, apalagi pada saat ini secara mendadak
ia merasakan datangnya angin pukulan dibelakang
punggung, dalam hati merasa semakin terperanjat lagi.
Ujung kakinya buru2 menutul keatas permukaan tanah
untuk menerjang maju kearah depan.
Sebenarnya keadaan dari Si Liong pada saat ini sangat
menguntungkan sekali, asalkan pukulannya dikirim
kedepan maka pihak musuh pasti akan terkena hajaran.
Siapa tahu . . pada saat itulah se-konyong2 terdengar Si
Soat Ang putri kesayangannya menjerit keras.
"Aaaaah, , . ayah ! cepat. . . . cepat tolong aku. . .ayah !"
Begitu mendengar suara teriakan itu, tanpa banyak
berbicara lagi Si Liong menarik kembali serangannya dan
buru2 menoleh kearah putrinya.
"Aaah. ." Begitu dapat melihat apa sudah terjadi, Thian
It Poocu segera merasakan hatinya bergidik, bulu roma
pada berdiri semua.
Terlihatlah Si Soat Ang, putri kesayangannya sudah
terjatuh ketangan Ciang Ooh siperempuan gila itu !
cengkeraman Ciang Ooh yang aneh seperti cakar elang
dengan kencangnya mencengkeram pundak sang gadis dan
mengangkat tubuhnya sehingga jauh meninggalkan
permukaan tanah.
Walau Si Soat Ang meronta sekuat tenaga tetapi tiada
berguna, bukannya terlepas dari cengkeraman perempuan
itu, ia malah merasakan pundaknya semakin sakit.
Yang membuat Si Liong lebih terkejut lagi adalah paras
muka Ciang Ooh yang berubah sangat aneh sekali pada
waktu itu.
Sebenarnya paras muka Ciang Ooh sudah amat kurus
sekali sehingga dagingpun sudah habis dan mirip dengan
seperangkat tengkorak, apa lagi pada saat ini bergetar amat
keras membuat setiap orang yang melihat wajahnya terasa
seperti melihat panca indranya sedang bergoyang dan
berpindah tempat tiada hentinya.
Terutama sekali sepasang matanya yang memancarkan
cahaya tajam itu !
Melihat peristiwa tersebut saking terperanjatnya Si Liong
hanya bisa berdiri mematung sambil goyangkan tangannya
berulang kali, apa yang ingin dibicarakan sukar untuk
dikeluarkan ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat
oleh sesuatu.
Didalam menghadapi situasi semacam ini sudah tentu
tak ada waktu lagi baginya untuk melanjutkan serangannya
kearah Tong Hauw.
Sedang Tong Hauw pun buru2 melayang sejauh
beberapa kaki kemudian memutar badannya, tetapi ketika
melihat kejadian ini diapun dibuat berdiri melengak.
"Eeeei . . . cepat lepaskan dirinya ! cepat lepaskan dirinya
. . . " teriak Thian It Pocu dengan suara yang keras.
Tenaga dalam dari Thian It Poocu sudah berhasil dilatih
hingga mencapai pada taraf kesempurnaan apalagi Si Soat
Ang adalah putri kesayangannya.
Suara teriakannya kali ini benar-benar amat keras sekali
bahkan sangat menyeramkan !
Saking ngerinya membuat Tong Hau yang sudah ber-
siap2 melancarkan serangan kedepan jadi tertegun dan
membatalkan niatnya itu.
Walaupun jago2 lihay dari Benteng Thian lt Poo sangat
banyak, tetapi suatu melihat puteri kesayangan Poocu
mereka terjatuh ditangan siperempuan gila itu, mereka pun
tidak bisa berbuat apa2, dengan wajah pucat dan mata
mendelong mereka cuma bisa berdiam diri.
Suasana disekeilling tempat itu segera berubah jadi
sangat tenang sekali, tak kedengaran sedikit suarapun
bergema disana.
Si Soat Ang yang kena dicengkeram Ciang Ooh, dalam
hati benar2 merasa amat takut, dengan napas ter-engah2
dan berusaha meronta sekuat tenaga tiba2 teriaknya keras.
"Tia ! kenapa kau tidak turun tangan menolong aku?
kenapa kau tidak hajar perempuan gila yang terkutuk ini ?"
Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai mulai
mengucur keluar dengan derasnya, membasahi seluruh
tubuh Si Liong ber-turut2 ia maju dua langkah kedepan.
Pada waktu itulah mendadak
"Heee. . . heee, . kau jangan coba2 berjalan maju lagi. . .
kalau tidak, . . Hemm ! aku hajar mati dulu si bocah
perempuan ini !" ancam Ciang Ooh dengan nada suara
yang sangat dingin.
Agaknya pada waktu itu kesadarannya sudah rada jadi
tenang.
Sekalipun Si Liong mempunyai kepandaian silat yang
sangat lihaypun menghadapi keadaan seperti ini ia jadi mati
kutunya.
"Ciang Ooh ! kiranya kau sudah sadar kembali." serunya
pura2 merasa gembira, "Kalau begitu bagus sekali ! mari
kita bicarakan persoalan kita secara per-lahan2 !"
"Hee . . hee, . . selama puluhan tahun ini aku selalu sadar
! kapan aku pernah kehilangan kesadaranku ?" Tegur Ciang
Ooh dingin, "Sejak kapan aku pernah melupakan
perbuatanmu yang seperti binatang terkutuk itu ?"
Beberapa patah perkataan itu diucapkan oleh perempuan
tersebut dengan amat jelas sekali, hal ini membuat keadaan
diri Si Liong lebih mengenaskan lagi, tetapi dia orang sama
sekali tidak mengumbar hawa amarahnya.
"Benar. . . benar sekali !" terpaksa jawabnya, "Tetapi
seharusnya kau lepaskan dulu bocah perempuan itu !"
walaupun perkataan dari Ciang Ooh kedengarannya sangat
jelas dan menunjukkan kalau pikirannya masih terang,
tetapi omongnya ternyata kadang2 rada kacau.
Terdengar ia tertawa dengan seramnya "Heee... heeee
kenapa ? aku... aku tidak gampang aku mencari dirinya,
sekarang sesudah kuketemu kan kenapa harus aku lepaskan
kembali ?"
"Ciang Ooh ! kau sudah salah menduga," teriak Si Liong
sembari mengusap kering keringat yang mengucur keluar
"Kau kira orang yang kau cekal pada saat ini adalah siapa ?"
Sepasang mata dari perempuan gila itu mulai berputar2,
sedang dari tenggorokannya memperdengarkan suara yang
amat tinggi melengking.
"Tong Hauw. . . sitelapak berdarah Tong Hauw..."
Keadaan serta pemandangan yang berlangsung pada saat
ini benar2 membuat Tong Hauw merasa amat pedih dan
seperti di-iris2, saking terpukulnya seluruh tubuh tiada
hentinya gemetar sangat keras.
Kepingin sekali dia orang berbicara banyak dengan
perempuan itu tetapi, kecuali suara aneh yang tiada
hentinya bergema keluar dari bibirnya tak sepatah katapun
bisa diucapkan keluar
Si Liong yang mendengar jawaban dari perempuan gila
itu, per-lahan2 baru menghembuskan napas lega.
"Ciang Ooh ! kau sudah salah mencari orang2 yang kau
pegang pada saat ini bukanlah Tong Hauw !" serunya keras,
"Coba kau perhatikan lebih jelas lagi. dia cuma seorang
bocah perempuan yang masih kecil, seorang gadis sudah
tentu tidak mungkin adalah Tong Hauw-mu itu!"
Ciang Ooh jadi melengak, mendadak ia mengangkat
tubuh Si Soat Ang tinggi2 kemudian sambil pentangkan
matanya lebar2 ia memperhatikan gadis tersebut tajam2.
Pada saat itu ujung hidungnya hampir2 saja menempel
dengan hidung dari Si Soat Ang, sepasang matanya yang
sudah sayu dan boleh dikata mati memancarkan cahaya
tajam yang amat menakutkan.
Si Soat Ang jadi sangat ketakutan, ia pejamkan matanya
rapat2 sedang mulutnya menjerit2 terus.
Setelah memperhatikan si Soat Ang beberapa waktu
lamanya, terakhir Ciang Ooh gelengkan kepalanya berulang
kali
"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, dia... dia memang
bukan Tong Hauw ku !"
Sembari berkata ia benar2 mengendorkan cekalannya
sehingga membuat tubuh Si Soat Ang jadi jatuh terkulai
keatas tanah, tetapi sebelum tubuh gadis tersebut mencapai
permukaan tanah Si Liong sudah keburu merendahkan
badan sambil melancarkan serangan dengan mendorong
sepasang telapaknya sejajar dada.
"Branak . . !" segulung angin pukulan yang sangat keras
dengan cepat menggulung tubuh Si Soat Ang sehingga jatuh
terpental kearah luar kalangan.
"Jie-te !" teriak Si Liong dengan cepat sehabis
melancarkan serangan tersebut.
Kan Tek Lin menyahut, tubuhnya dengan gesit dan
sebatnya lantas mencelat kedepan mengejar tubuh Si Soat
Ang dan menerima badan gadis tersebut sebelum terjatuh
kembali ketanah.
Begitu gadis tersebut kena terpegang oleh Kan Tek Lin.
ia jadi lemas dan merintih tiada hentinya. Ternyata ia sudah
kehabisan tenaga saking takut dan tegangnya tadi.
"Jie-te !" teriak Thian It Poocu kembali.
"Tidak mengapa, tidak mengapa ia cuma jatuh tak
sadarkan diri karena saking takut dan terperanjatnya".
Melihat putrinya selamat tanpa kekurangan sesuatu
apapun, Si Liong baru bisa menghembuskan napas lega,
tubuhnya dengan cepat mengundurkan diri kearah
belakang.
"Si Liong, kau jangan pergi !" mendadak Ciang Ooh
menjerit tajam.
Si Liong jadi melengak, telapak tangannya segera
disilangkan kedepan serta kebelakang ber jaga2 terhadap
serangan bokongan dari Tong Hauw.
"Ada apa kau memanggil aku lagi ?" tegurnya. "Selama
ini aku mengira kau sudah menjadi gila maka itu demi
kebaikanmu aku sudah kurung dirimu didalam pagoda
tersebut kini bilamana kau merasa pikiranmu sudah terang.
suka meninggalkan tempat ini pergilah sesukamu, aku tidak
akan menahan dirimu lagi !"
Untuk beberapa waktu lamanya tegak Ciang Ooh seperti
orang yang sedang kebingungan terhadap perkataan dari Si
Liong tadi. ia menengadah keatas dan terpekur diam.
"Aku.,.aku harus pergi kemana ?" tanyanya kemudian
semudah lewat beberapa saat lamanya.
Mendadak Si Liong berkelebat menyingkir sejauh-jauh,
delapan depa kesamping kalangan.
"Kau mau pergi kemana, bagaimana aku bisa tahu ?
lebih baik kau tanyakan saja kepada sitelapak berdarah
Tong Hauw !" jawabnya kemudian.
"Tong Hauw?" teriak Ciang Ooh sambil
memperdengarkan tertawa pahitnya yang sangat
menyedihkan, "Dia...dia ada dimana ?"
Sitelapak berdarah Tong Hauw sudah tidak bisa
menahan sabarnya lagi, mendadak ia menjerit aneh dan
berteriak keras:
"Aku...aku...aku ada.,.ada disini !"
Disebabkan golakan didalam hatinya yang sangat hebat
dicampur pula perasaan terharu yang mencengkram seluruh
benaknya, memulai perkataannya tadi jadi gemetar dan
terputus2.
Mendengar jeritan tadi, sekali lagi Ciang Ooh
mendongakkan kepalanya keatas.
Dengan badan gemetar Tong Hauw mulai melangkah
maju kedepan dan akhirnya berhenti di depan tubuh
siperempuan tersebut.
"Ciang Ooh !" sapanya, "Aku adalah Tong Hauw yang
kau pikirkan selama !"
Kali ini, agaknya Ciang Ooh bisa mendengar jelas
perkataan tersebut. sepasang matanya terbelalak lebar2
kemudian memandang tajam seluruh tubuh sitelapak
berdarah itu.
Tong Hauwpun membelalakkan matanya yang pada saat
ini sudah dibasahi dengan kucuran air mata, dalam hati ia
berpikir, Ciang Ooh tentu bisa mengenali dirinya kembali !
dia pasti kenal dirinya !"
ia mengira Ciang Ooh yang sedang memperhatikan
seluruh tubuhnya tentu akan membuat perempuan tersebut
mengenali kembali dirinya, hal ini sudah tentu menurut
pikiran serta perasaan dari Tong Hauw sendiri.
Padahal, jangan dikata Ciang Ooh adalah seorang
perempuan yang sudah gila, sekalipun seorang yang masih
segar bugar dan awaspun belum tentu dapat mengenali
dirinya yang tempo dulu merupakan seorang pemuda yang
tampan dan kini telah berubah menjadi seorang kakek tua
yang wajahnya telah dipenuhi dengan keriput dan matanya
memancarkan cahaya berapi2.
Selagi Tong Hauw hendak mengucapkan sesuatu,
mendadak Ciang Ooh siperempuan gila itu mengayunkan
tangannya memerseni sebuah gaplokan keras kearah wajah
Tong Hauw.
Pada ketika itu Tong Hauw sedang memandang wajah
Ciang Ooh dengan rasa terharu, semua pikiran didalam
benaknya sudah kosong melompong ditambah pula ia tidak
menyangka kalau perempuan tersebut bisa melancarkan
serangan kearahnya.
Tanpa ampun lagi: "Plaaak!" pipinya kena terhajar
sangat keras hingga membuat tubuh si telapak berdarah
terpental kesamping dan jatuh terjengkang keatas tanah.
Walaupun dengan sebatnya Tong Hauw berhasil
meloncat bangun kembali, tapi tak urung pipinya jadi
bengkak juga terkena gaplokan yang amat keras itu.
Napasnya masih ter-engah2, sedang matanya terbelalak
semakin lebar, untuk beberapa saat lamanya sitelapak
berdarah yang telah sangat terkenal didalam dunia
persilatan ini tak dapat mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itulah terdengar Ciang Ooh mulai memaki kalang
kabut
"Hmm ! kau manusia macam apa ? bagaimana mungkin
kau adalah Tong Hauw yang aku pikirkan !"
"Ciang Ooh ! aku adalah Tong Hauw, aku benar2 adalah
Tong Hauw... coba kau perhatikan lebih teliti, aku memang
banyak berobah tetapi bila kau perbaikan lebih seksama
maka kau pasti akan mengenali diriku kembali, coba ! kau
perhatikan diriku lagi" jerit sitelapak berdarah dengan keras.
Sinar mata yang tajam dari Ciang Ooh tiada hentinya
memperhatikan wajah Tong Hauw, tetapi tempo dulu
sewaktu ia memasuki benteng Thian It Poo ini dalam
keadaan gila, ia sendiri pun sama sekali tidak mengetahui
dirinya pada waktu itu sudah berubah jadi seperti apa
didalam benaknya ia cuma mengingat terus bahwa Tong
Hauw seorang pemuda yang sangat tampan.
Kini secara mendadak seorang kakek tua cela ka
mengakui dirinya sebagai Tong Hauw, hal ini sudah tentu
membuat hawa amarahnya jadi memuncak. Terdengar
perempuan itu tiba2 mem perdengarkan suara jeritan yang
tidak enak didengar.
"Kau berani mengaku lagi !" bentaknya gusar
Ketiga patah kata itu dijeritkan dengan sangat
mengerikan laksana enam batang anak panah yang
menembusi selaput telinga saja membuat paras muka setiap
orang terasa berubah hebat.
Kan Tek Lin serta Si Liong sekalipun buru2
menghindarkan diri beberapa langkah kebelakang, sedang
para jago yang bersembunyi disekeliling tembok pekarangan
tersebut ada beberapa orang yang hatinya tergetar keras
sehingga tak terhindar lagi pada jatuh terpelanting keatas
tanah.
Tong Hauw yang pertama2 menerjang kedepan, didalam
sekejap saja merasakan darah panas bergejolak dengan amat
kerasnya didalam dada, ia merasa mulutnya jadi manis,
sambil mundur kebelakang dengan sempoyongan dan
mulutnya memuntahkan darah segar.
Dimana tubuhnya mengundurkan diri tepat merupakan
dihadapan Si Liong berada.
Thian It Poocu yang melihat kesempatan baik ada
didepan mata, ia tidak mau me-nyia2kan lagi, kontan saja
telapak tangannya dikirim kedepan melancarkan satu
pukulan dahsyat menghajar pinggang dari sitelapak
berdarah itu.
Didalam jeritannya tadi sebenarnya Ciang Ooh tidak ada
maksud buat melukai orang, tetapi berhubung tenaga
dalamnya berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf yang
sangat tinggi maka jeritannya tadi tanpa terasa sudah
mempunyai daya kekuatan yang mirip dengan ilmu
"Auman singa emas" dari kalangan Buddha serta "Ilmu iblis
pembelot sukma" dari aliran sesat.
Jika dibicarakan dari tingkatan tenaga lwee-kang yang
berhasil dimiliki Tong Hauw pada waktu itu, asalkan
kerahkan tenaga murninya untuk melindungi seluruh
tubuhnya saja tidak bakal sampai terluka dibawah serangan
jeritan keras tadi.
Cuma sayang, sewaktu keadaan mencapai pada saat2
kritisnya, Si Liong sudah menggunakan kesempatan baik
itu untuk mengirim satu pukulan keatas punggungnya.
Tak kuasa lagi badan si telapak berdarah itu terpelanting
kearah depan dan muntahkan darah segar dengan amat
derasnya.
Tubuhnya yang rubuh keatas tanah segera melingkar jadi
satu, darah segar yang muncrat ke luar dari mulutnya
dengan cepat mengotori permukaan salju nan putih itu.
Si Liong yang melihat serangannya berhasil merubuhkan
Tong Hauw keatas tanah dalam hati serasa sangat girang,
tubuhnya dengan cepat maju selangkah kedepan siap2
mengirim kembali satu hantaman guna membereskan
nyawanya.
Pada saat itulah mendadak. . .
"Si Pocu! jangan turun tangan jahat" mendadak dari
balik tembok pekarangan berkumandang datang suara
seseorang. "Orang ini kami perlukan dalam keadaan
hidup2!"
Diiringi suara perkataannya, muncullah sesosok
bayangan manusia melayang turun kedalam kalangan.
Orang itu bukan lain adalah sibidadari angin hitam Chao
Sie adanya!
Di belakang tubuh sibidadari angin hitam Chan Sie
menyusul pula suaminya si malaikat kelabang emas Li
Siauw beserta beberapa orang jagoan lihay dari benteng
Thian It Poo seperti Sin To Siang Hauw dan lain2nya.
Si Liong yang sedang siap2 melancarkan pukulan
menghajar mati Tong Hauw mendadak tindakannya ini
dicegah oleh Chan Sie, dengan cepat ia menurunkan
tangannya kembali.
"Ooouw...kiranya kaitan berdua sudah datang" ujarnya
perlahan "Apakah kalian berdua pun ada ganjalan sakit hati
sedalam lautan dengan sitelapak berdarah Tong Hauw ?"
"Benar !" sahut Chan Sie membenarkan. "Kami sudah
ada dua puluh tahun lamanya mencari dirinya, ini hari
sesudah menemukan dirinya kembali sangat mengharapkan
Si Poocu suka menyerahkan kepada kami. Budi ini kami
berdua tidak bakal melupakan untuk selamanya".
"Haaa...haaa...Chan Sian Ho terlalu sungkan... bila
orang ini benar merupakan musuh bebuyutan yang sedang
kalian cari, kami orang2 dari pihak benteng Thian It Poo
pasti tidak akan menghalangi perbuatan kalian ini"
"Kalau begitu kami ucapkan terima kasih dulu kepada Si
Poocu !" seru Chan Sie serta Li Siauw berbareng.
Gerakan mereka serempak, sembari berkata tubuhnya
sudah melangkah maju kedepan, masing-masing orang
sambil berjongkok dengan arah yang berlainan mendadak
mencengkeram urat nadi kedua tangan Tong Hauw.
Diantara getaran sepasang tangannya mendadak mereka
menarik tubuh si telapak berdarah itu dengan paksa dalam
arah yang berlawanan.
Wajah Tong Hauw pada waktu itu sangat menyeramkan
sekali, separuh pipinya sembab bengkak, ujung bibirnya
masih membekas darah segar yang pada waktu ini sudah
membeku saking dinginnya cuaca pada waktu itu.
Agaknya luka dalam yang dideritanya amat parah sekali,
walaupun tubuhnya pada saat ini sudah diangkat oleh Li
Siauw serta Chan Sie tetapi kepalanya masih tertunduk
dengan lemas.
"Ha ha ha hi hi hi Tong Hauw ! tidak di sangka kaupun
bisa jadi begini pada hari ini !" Teriak Chan sie serta Li
Siauw berbareng sambil memperdengarkan suara jeritannya
yang sangat menyeramkan.
Per-lahan2 simalaikat kelabang emas Li Siauw
mengangkat telapak tangannya keatas siap2 hendak
ditabokkan keatas batok kepala sitelapak berdarah itu.
Tetapi baru saja tangannya diayunkan keatas mendadak
Chan Sie, istrinya sudah melancarkan serangan menyentil
telapak tangannya itu.
"Hey, apa yang hendak kau lakukan ?" mendadak
bentaknya keras "Bila kau sekali tepuk menghajar mati
dirinya bukankah terlalu enak bagi dirinya ?"
Li Siau yang merasa berpengalaman tangannya kena
disentil, buru2 menarik kembali tangannya
"Tong Hauw !" teriak Chan Sie.
Tong Hauw tetap menundukkan kepalanya rendah-
rendah, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar
olehnya.
"Tong Hauw !" kembali Chan Sie membentak.
Suara bentakan keduanya ini tetap tidak memperoleh
suara jawaban dari Tong Hauw, sebaliknya menimbulkan
perhatian dari Ciang Ooh si-perempuan gila itu.
"Siapa kau ? apa kau kira nama Tong Hauw bisa kau
sebutkan seenaknya ?" tiba2 saja ia menegur dengan
suaranya yang sangat dingin.
Mendengar perkataan tersebut kontan saja Chan Sie serta
Li Siauw jadi tertegun, sibidadari angin hitam yang bersifat
lebih berangasan dalam hati segera merasa amat gusar.
Bilamana pada saat ini ia tidak berada didalam Benteng
Thian It Poo mungkin sejak semula dia sudah kepingin
mengumbar hawa amarahnya, tetapi dalam hati ia tahu,
dirinya tidak dapat bergerak secara gegabah bila tidak
menginginkan terjadinya bentrokan2 dengan orang2
Benteng Thian It Poo.
Mereka berdua baru saja datang kedalam Benteng Thian
It Poo dengan dipimpin oleh Sio To Siang Hauw, sudah
tentu tidak mengetahui pula siapakah Ciang Ooh ini.
Dengan dingin Chan Sie melirik sekejap kearah
perempuan gila itu lalu sambil menoleh kearah Thian It
Poocu tanyanya:
"Eeei, Si Poocu, siapakah orang ini ?"
Pikiran tajam dengan cepat berkelebat didalam benak
siorang tua ini, akhirnya ia tertawa tawar.
"Chan Sian Hoo! pertanyaanmu ini sungguh lucu sekali.
dia datang kedalam benteng Thian It Poo kami ber sama2
dengan Tong Hauw, bagaimana aku bisa tahu siapakah dia
orang ?"
Begitu beberapa patah kata itu meluncur ke luar dari
mulut sang Poocu dan benteng Thian It Poo, kontan saja
membuat Kan Tek Lin beserta Sio To Siang Hauw sekalian
beberapa orang jagoan lihay jadi melengak dan berdiri
melongo, karena mereka tahu bila apa yang sedang
dibicarakan oleh Poocunya sama sekali tidak benar !
Tetapi mereka adalah jago2 dunia persilatan yang
berpikiran cerdik, setelah tertegun beberapa saat lamanya
dengan cepat mereka menjadi paham kembali apakah
maksud yang sebenarnya dari Si Poocu mereka ini.
Karena itu tak seorangpun diantara mereka yang buka
suara, semua orang bungkam diri sambil melihat perubahan
situasi selanjutnya.
"He he he, kiranya begitu." seru simalaikat angin hitam
sambil tertawa dingin, "Jadi kau lagi turun tangan untuk
menolong Tong Hauw ?"
"Tong Hauw ? Tong Hauw ada dimana ?" teriak Ciang
Ooh kebingungan.
Chan Sie serta Li Siauw diam2 saling bertukar
pandangan sekejap kendari mereka sudah sering berkelana
didalam dunia persilatan sehingga mereka memiliki
pengetahuan yang amat luas tetapi pada saat inipun tidak
berhasil menebak dari aliran manakah perempuan tersebut.
Sambil menahan hawa gusar yang semakin memuncak
didalam dadanya, Chan Sie tertawa dingin tiada hentinya.
"Tong Hauw ada dimana apakah kau tidak tahu ?" balik
tanyanya.
Ciang Ooh adalah seorang perempuan yang sudah gila,
sewaktu pikirannya tidak boleh di kata urusan apapun tidak
diketahui olehnya kecuali Tong Hauw seorang.
Oleh sebab itu ketika mendengar pertanyaan dari si
bidadari ang"n hitam ini ia jadi menangis tersedu2.
"Aku tidak tahu, aku tidak tahu Tong Hauw ada
dimana..." teriaknya keras.
Melihat kejadian ini perasaan curiga didalam hati Chan
Sie serta Li Siauw semakin menebal.
"Hmm ! Tong Hauw sudah berhasil kami tawan apakah
kau tidak dapat melihat ?" bentak Chan Si lagi.
Sewaktu pikiran Ciang Ooh tidak sadar, biji matanya
memang berwarna abu2 dan sama sekali tak bersinar
sehingga keadaannya mirip sekali dengan seorang buta,
karena itu Chan Sie baru mengajukan pertanyaan tadi.
"Dimana?" terdengar Ciang Ooh siperempuan gila itu
menggembor keras, "Kalian sudah menawan dirinya ?
mengapa kalian menawan Tong Hauw ku ?"
Sembari menjerit keras tubuhnya segera menerjang maju
ke depan mendesak kearah mereka berdua.
Chan Sie yang melihat pihak lawan mendesak datang,
dengan cepat ia mengirim satu kerlingan mata kearah Li
Siauw.
Li Siauw mengiakan begitu dilihatnya tubuh Ciang Ooh
sudah ada dua tiga tengah dihadapan mereka buru2 ia
melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan si telapak
berdarah itu.
Begitu Li Siauw melepaskan tangannya, Can Sie segera
menyentak lengannya kebelakang dan melemparkan tubuh
Tong Hauw yang sama sekali tak bertenaga itu kearah
belakang.
Pada Waktu itulah Li Siauw sudah merangkap sepasang
telapaknya sejajar dengan dada kemudian langsung
mengirim satu pukulan menghantam dada Ciang Ooh.
Chan Sie agaknya merupakan seorang yang mempunyai
sifat teliti, karena dalam hatinya ia masih merasa takut
terhadap hubungan perempuan gila itu dengan pihak
benteng Thian It Poo, maka sewaktu Li Siauw melancarkan
serangan dahsyat kearah depan sinar matanya yang tajam
berputar tiada hentinya memandang disekeliling tempat itu.
Diam2 tangannya menggenggam satu genggaman senjata
rahasia. ia ber-siap2 bila orang2 dari Benteng Thian It Poo
memberikan sesuatu gerak gerik yang mencurigakan ia
segera akan menghadapinya dengan menggunakan senjata
rahasia.
Sekalipun ia sudah bersiap sedia dan memperhatikan
gerak gerik disekelilingnya tetapi orang2 dari benteng Thian
It Poo itu ternyata benar2 tidak ambil perduli terhadap
peristiwa tersebut, setiap jago pada berdiri ditempatnya
semula tanpa bergerak.
Melihat keadaan tersebut Chan Sie baru merasa berlega
hati, mendadak.
"Braak !" dengan menimbulkan suara yang sangat keras
sepasang telapak tangan dari Li Siauw yang melancarkan
serangan dahsyat tersebut berhasil menghantam dada dari
Ciang Ooh.
Bagaimana kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki
simalaikat kelabang emas pada saat ini sudah tentu Chan
Sie mengetahuinya dengan teramat jelas, sewaktu
dilihatnya serangan yang sangat gencar itu berhasil
mengenai sasaran, didalam anggapannya kendari seorang
jagoan lihaypun belum tentu kuat menahan serangan
tersebut tidak terkecuali Thian It Poocu sendiri Si Liong.
Maka dari itu ia rasa kemenangan sudah pasti berada
didalam pihaknya.
Saking gembiranya perempuan itu mulai tertawa seram
dengan amat kerasnya.
Mendadak terdengar Li Siauw mendengus berat disusul
tubuhnya mundur satu langkah kebelakang dalam keadaan
sempoyongan.
Chan Sie jadi amat terperanjat buru2 ia menoleh dan
memandang kearah-nya. Tampaklah air muka Simalaikat
kelabang emas yang semula merah padam pada saat ini
sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, jelas sekali
ia sudah menderita luka dalam yang sangat parah sekali.
Rasa terkejut dari si Bidadari angin hitam kali ini benar2
luar biasa hebatnya, tanpa memperdulikan lagi
bagaimanakah keadaan luka yang diderita oleh suaminya Li
Siauw, pergelangan tangannya mendadak digetarkan enam
batang senjata rahasia beracun dengan kecepatan laksana
kilat segera melesat ketengah udara.
Gerakan dari keenam batang senjata rahasia berkelebat
dengan amat cepatnya kearah depan.
"Plaaak. . . plaaak. . . !" dengan mengeluarkan suara
benturan yang nyaring, keenam senjata rahasia itu dengan
tepat berhasil menghajar diatas tubuh Ciang Ooh.
Siapa sangka mendadak perempuan gila tersebut
mengulapkan tangannya kedepan, senjata rahasia yang
semula menancap di seluruh tubuhnya pada saat ini sudah
jatuh berserakan diatas tanah kemudian dengan gerakan
yang sangat tenang ia melangkah maju kedepan.
"Tong Hauw ada dimana? apakah kau sudah menawan
Tong Hauwku ?" teriaknya berulang kali
Ketika itu darah segar mengucur keluar dengan derasnya
dari ujung bibir Li Siauw, sedang Chan Sie yang melihat
Ciang Ooh mulai mendesak ke arahnya pun jadi rada
ketakutan, tubuhnya buru2 mengundurkan diri sembari
menarik tangan Li Siauw.
Gerakan dari Ciang Ooh benar2 luar biasa cepatnya,
hanya dalam sekejap mata ia sudah berada di depan mereka
berdua.
"Kau tidak boleh menangkap Tong Hauwku!" kembali
teriaknya keras.
Dimana tubuh Ciang Ooh menyambar datang Chan Sie
hanya merasakan segulung hawa tekanan yang sangat keras
mengurung seluruh badannya, membuat napaspun terasa
mulai jadi sesak, apalagi pada saat ini suaminya menderita
luka dalam yang amat parah, boleh dikata daya kekuatan
untuk bertempur sama sekali sudah punah.
Sekalipun begitu mereka pun tidak ingin ter-buru2
meninggalkan tempat tersebut, sudah ada dua puluh tahun
lamanya mereka berkelana untuk mencari jejak Tong Hauw
guna membalas dendam atas kematian putranya, kini
mereka sudah menemukan jejak sitelapak berdarah
pembunuh putranya.
Sudah jelas Chan Sie berdua tidak ingin lepas tangan
dengan begitu saja.
Tetapi sewaktu melihat keadaan saat ini yang sama
sekali tidak menguntungkan terhadap dirinya ini, dalam
hati perempuan tersebut merasa sangat terkejut bercampur
gusar. Sembari menyalurkan hawa murninya mengelilingi
seluruh tubuh bentaknya keras:
"Nih. Tong Hauw mu ada disini !"
Begitu perkataan terakhir meluncur keluar dari bibirnya
sang telapak sudah diayunkan kedepan melemparkan tubuh
Tong Hauw kearah tubuh Ciang Ooh.
Sebenarnya Tong Hauw sudah menderita luka dalam
yang amat parah, kini Chan Sie mencengkeram urat
nadinya dengan mengerahkan tenaga besar, hal ini
membuat lukanya semakin parah lagi, sembari melayang
kearah tubuh Ciang Ooh kembali ia muntahkan darah
segar.
Chan Sie sesudah melemparkan tubuh Tong Hauw
kearah Ciang Ooh sambil menarik tangan Li Siauw, buru2
ia enjotkan badannya berkelebat melewati tembok
pekarangan.
"Si Poocu, berkat bantuanmu kali ini aku orang tidak
akan melupakan untuk selamanya." teriaknya keras.
Haruslah diketahui pada waktu ini yang diinginkannya
telah lebih bisa mengundurkan diri dari tempat tersebut,
tanpa berani mencari gara2 lagi dengan orang2 benteng
Thian It Poo.
Sio To Siang Hauw sekalian ketika melihat kedua orang
itu berlalu buru2 melirik sekejap kearah Si Liong Poocu
mereka, Si Liong dengan cepat ulapkan tangannya memberi
tanda agar mereka tidak usah melakukan pengejaran.
Melihat Poocu mereka sudah memberi perintah, orang2
itupun lantas berdiri tegak ditempat semula sambil alihkan
pandangannya kearah Ciang Ooh.
Waktu itu siperempuan gila tersebut sedang
membimbing tubuh Tong Hauw yang sudah amat parah
keadaannya sambil mengucurkan airmata dengan sangat
derasnya.
"Toako! perempuan ini..." seru Kan Tek Lin dengan
suara yang amat lirih.
"Kita tidak nian banyak berbicara, secara diam2 mari
pada keluar dari tembok pekarangan ini " potong Si Liong
sambil ulapkan tangannya.
"Tapi.. Poocu, tindakan ini bukan suatu cara yang benar"
sela Sin To Siang Hauw dengan cepat
Si Liong tertawa pahit.
"Apakah tadi kalian tidak melihat sendiri bagaimanakah
kehebatan serta kesempurnaan dari tenaga Iweekang serta
ilmu silatnya ? Siapa diantara kita yang bisa menahan
serangannya ? Aku rasa perempuan itu pasti akan menangis
beberapa saat lamanya, sedang Tong Hauw pun
kebanyakan tak bisa hidup lebih lama lagi" katanya
kemudian.
"Mari kita mengundurkan diri dulu ke balik tembok
pekarangan dan memerintahkan orang yang lebih banyak
untuk ber-jaga2 disekelilingnya, bila ia memperlihatkan
sesuatu gerakan kembali, barulah kita mengambil langkah2
selanjutnya".
Akhirnya semua orang mengangguk tanda setuju,
demikianlah satu persatu mereka mulai meloncat keluar
dari tembok pekarangan itu dan terakhir Si Liong serta Si
Soat Ang pun meloncat keluar dari sana.
Menanti mereka telah tiba dibalik tembok pekarangan, Si
Soat Ang mendadak menangis tersedu2.
"Ang-Jie! sekarang sudah tak ada urusan lagi buat apa
kau menangis ?" tegur Si Liong dengan cepat
"Tia !" sembiri menangis terisak, "Seorang
perempuanpun kau tidak berhasil menangkan, bila
dikemudian hari waktu berkelana didalam dunia persilatan
bukankah nama kita diluaran akan kurang baik ? bukankah
semua orang bakal mengejek aku sebagai seorang putri dari
Thian It Poocu yang tidak becus ?"
"Ang-jie ! kau jangan sembarangan berbicara lagi"
potong Si Liong dengan rasa amat jengah "Perempuan gila
ini.. sebenarnya aku tidak ingin bergebrak secara terang2an
melawan dirinya !"
"Hmm..!" dengus gadis itu, agaknya ia tidak suka
membicarakan soal itu lagi, sambil mengerutkan dahinya Si
Soat Ang melanjutkan kembali masalahnya dengan
persoalan yang lain.
"Tia ! lalu bagaimana dengan Liem Hauw Seng serta
Giok Jien kedua orang itu ? aku ingin membawa orang
untuk mengejar mereka berdua !"
"Heeei... Ang jie ! kau dengarkanlah perkataanku dan
jangan mengubris diri mereka lagi." seru Thian It Poocu
sambil menghela napas panjang, "Kalau memangnya
mereka sudah meninggalkan benteng Thian It Poo biarlah
mereka pergi ! bila malam ini kau tidak melakukan
pengejaran terhadap mereka, rasanya tidak bakal pula
sampai menimbulkan banyak persoalan !"
Air muka Si Soat Ang segera berubah hebat sesudah
mendengar perkataan tersebut, wajahnya yang semula
cantik menarik dan mempesonakan pada saat ini sudah
berubah hijau membesi, sepasang matanya memancarkan
cahaya yang sangat buas sehingga membuat paras mukanya
itu kelihatan sangat menyeramkan sekali.
Begitu menanti ayahnya menyelesaikan kata2 nya, ia
menjerit keras dan mendepak-depakkan kakinya keatas
tanah.
"Tidak bisa ! Tidak bisa ! aku pasti akan mengejar
mereka kembali - aku pasti akan mengejar mereka pulang ! !
!".
Si Liong sebenarnya adalah seorang jagoan Bu-lim yang
mempunyai kedudukan amat tinggi didalam dunia
persilatan, tetapi sejak kecil ia sudah terbiasa dimanjakan
putri kesayangannya ini, kini sama sekali tak kuasa baginya
untuk memperlihatkan sikap yang keren terhadap gadis
tersebut.
Setelah ter mangu2 beberapa saat lamanya terakhir
sambil mengerutkan alis rapat2 katanya:
"Benteng kita baru saja kacau balau, kitapun
membutuhkan orang untuk menjaga pekarangan tersebut,
lebih baik..".
Tidak kendari Si Liong menyelesaikan kata2 nya Si Soat
Ang sudah mendepakkan kakinya ke atas tanah.
"Baik... baiklah ! tidak ada orang yang ikut aku pergi juga
biarlah, aku bisa pergi sendiri l"
Sembari berkata ia lantas melangkah menuju kearah luar
benteng !
"Ang-jie ! kau jangan cari gara2 lagi" teriak Si Liong
dengan sangat cemas, "Bilamana kau tidak cari gara2
bagaimana mungkin sitelapak berdarah Tong Hauw pun
bisa terpancing untuk memasuki benteng kita?"
"Hmm, kau yang lagi bermimpi disiang hari bolong!"
teriak Si Soat Ang dengan sangat gusar.
"Liem Hauw Seng serta Giok Jien bersembunyi didalam
jalan rahasia dibawah tanah yang digali oleh si telapak
berdarah Tong Hauw, sitelapak berdarah bisa masuk
kedalam benteng tentu mereka berdua yang sudah kasih
petunjuk."
Melihat putrinya berani membentak dihadapannya air
muka Si Liong kontan berubah membesi.
"Soat Ang ! semakin lama kau semakin tidak pakai
aturan, kau tahu pada saat ini siapa yang lagi kau ajak
bicara ?" tegurnya.
"Hemmm, soal ini bagaimana bisa menyalahkan diriku
?" seru Si Soat Ang sambil mencibirkan bibirnya yang kecil
mungil dan menarik hati itu. "Siapa yang suruh kau tanpa
mengetahui sebabnya sudah menuduh orang lain dengan
kata2 yang bukan2 ?"
Terhadap putrinya ini Thian It Poocu benar2 kewalahan,
akhirnya ia cuma bisa menghela napas panjang saja.
"Heeeei, . . Ang-jie !" katanya perlahan, "Baik atau buruk
Hauw Seng adalah kakak misanmu."
"Bukan ! aku tidak mempunyai saudara semacam
dirinya" tidak menunggu ayahnya menghabiskan perkataan
tersebut Si Soat Ang sudah menjerit keras.
"Macam apakah dia orang ? Hmm ! aku orang sama
sekali tiada hubungan dengan dirinya !"
Melihat kebandelan dan keketusan dari Si Soat Ang ini,
lama kelamaan Si Liong merasa gusar juga air mukanya
berubah semakin membesi.
"Baik ! sekarang aku mau bertanya kepadamu bilamana
kau berhasil mendapatkan mereka berdua untuk diseret
pulang, apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka?"
tanyanya.
"Aku . . aku akan . . akan menghajarnya."
"Sudah! jangan banyak bicara lagi !" bentak Si Liong
kemudian dengan sangat keras.
Walaupun diluarnya ia membentak keras untuk
memotong pembicaraan putrinya, padahal dalam hati ia
merasa amat sedih dan ragu2.
Ibu Si Soat Ang sudah meninggal, untuk merawat putri
kesayangannya ini berpuluh tahun belum pernah dia orang
meninggalkan benteng Thian It Poo barang selangkahpun
Bagaimana sifat dari putrinya ini sudah tentu siorang tua
inipun mengetahui sangat jelas sekali, ia tahu setiap orang
yang sudah melanggar dan bertentangan dengan maksud
hatinya, ia pasti akan mencaci dirinya dan berusaha untuk
membalas dendam tersebut.
Dan kali ini Liem Hauw Siang serta Giok Jien telah
melarikan diri ber-sama2. Si Liong mengetahui, bila
didalam hati putrinya tentu menaruh rasa dendam terhadap
mereka berdua, sebenarnya ia tidak ingin mendengar
putrinya menceritakan dengan cara yang bagaimana dia
hendak menyiksa dan menganiaya kedua orang itu.
"Heeee. . . heeee, . . Tia ! harap kau suka berlega hati."
seru Si Soat Ang sang gadis sambil memperdengarkan suara
tertawanya yang sangat menyeramkan, "Asalkan aku
berhasil menawan mereka, aku pasti mempunyai cara untuk
menyiksa mereka berdua !"
"Ang jie !" per-lahan2 Si Liong berjalan mendekati-putri
kesayangannya. "Bukankah sejak kecil kau sudah menyukai
Hauw Seng ? Bagaimana kalau kita ber-sama2 pergi
mencari mereka, lalu biarlah aku yang memberi nasehat,
kemungkinan sekali..."
Si Soat Ang menggigit bibirnya semakin kencang, paras
mukanya sudah berubah jadi pucat si bagaikan mayat, dari
kelopak matanya keluarlah titik2 air mata dengan sangat
derasnya, tetapi ia berusaha keras untuk menahan menetes
keluarnya sang air mata tersebut.
Lama sekali ia baru berteriak:
"Sungguh memalukan sekali! Tia ! kau jangan berbuat
tindakan yang memalukan lagi !"
Si Liong jadi melengak dibuatnya.
"Memalukan ? apa maksud dari perkataanmu itu? kapan
aku pernah berbuat tindakan yang memalukan ?" tanyanya.
Si Soat Ang sama sekali tidak menjawab, sebaliknya
putar badan dan berlalu dari situ.
Si Liong dengan cepat mengulur tangannya bermaksud
hendak menarik kembali badannya tetapi sewaktu teringat
bagaimana, kasarnya sifat dari putri kesayangannya ini.
sebelum tangannya berhasil menangkap tubuh sang gadis
tersebut, ia sudah menarik kembali cepat2.
"Bagaimana ?" tanyanya terpaksa.
"Aku.... aku sudah pernah membicarakan persoalan ini
dengan dirinya" ujar Si Soat Ang sambil menarik napas
panjang2.
Semula Si Liong rada melengak, tetapi sebentar
kemudian ia sudah tersadar kembali, bila putri
kesayangannya ini sebenarnya sudah pernah menyatakan
rasa cinta kepada Lie Hauw Seng.
Ia kembali jadi melengak.
"Lalu apa yang dikatakan oleh Hauw Seng, si bocah cilik
itu..?" tanyanya.
Suara dari Si Soat Ang lelah berubah jadi dingin dan
kaku seperti es, suara pembicaraannya amat tawar seperti
sedang membicarakan persoalan orang lain yang sama
sekali tiada hubungan dengan dirinya.
"Apa yang dia katakan ? dia bilang, ia tidak ingin hidup
didalam Benteng Thian It Poo lagi yang se gala2nya
menggantungkan pada orang lain, ia ingin berkelana dan
mengembara ditempat luaran, ia tidak ingin orang lain
menganggap dirinya hanya bisa hidup kalau
menggantungkan benteng Thian It Poo saja !"
Alis yang dikerutkan Thian It Poocu semakin lama
semakin mengencang, sewaktu mendengar kisah yang
dituturkan oleh putrinya ini dalam hati sudah tentu merasa
rada marah, tetapi bagaimana pun dia adalah seorang
jagoan Bu-lim yang sudah punya nama.
Setelah mendengar perkataan tersebut kendari dalam hati
merasa marah tetapi iapun merasa bangga pula.
"Ehmm ! bocah cilik itu ternyata punya semangat juga !"
pujinya.
"Benar ! dia memang bersemangat!" teriak Si Soat Ang
dengan suaranya yang melengking meninggi, "Hemm !
kalau ia berkata tidak ingin bersandar pada benteng Thian lt
Poo lagi hal ini sama saja ia sudah tidak maui aku lagi,
aku...aku lantas suruh dia menggelinding pergi dari sini,
aku tidak mengijinkan dia berdiam lagi didalam Benteng
Thian lt Poo."
"Apa ? kau mengusir dia pergi ?" teriak Si Liong sangat
terperanjat.
"Kenapa ?" per-lahan2 Si Soat Ang putar badannya,
"Terang2an orang lain sudah mengatakan bila ia tidak ingin
bersandar pada benteng Thian It Poo lagi, apakah kita
orang perlu me mohon2 dirinya untuk tetap tinggal disini ?
apakah benteng Thian It Poo kita tergantung padanya ?"
"Maksudku bukannya begitu, bukankah selama ini kau
suka kepadanya, dengan perbuatan ini bukankah... heee !
bukanlah terlalu."
"Hi hi hi, aku rasa inilah suatu tindakan yang paling
bagus!" teriak gadis itu sambil tertawa sombong
"Sebenarnya aku masih tidak tahu kalau dia adalah seorang
binatang yang tak berperasaan dan berhati licin, aku
mengira dia adalah seorang lelaki sejati yang patut di puji
dan dibanggakan sekarang... Hmm ! ia sudah menggaet
Giok Jien untuk diajak lari, dia sudah membawa lari
budakku ! Tia, coba kau bilang pantaskah aku melepaskan
dia begitu saja? ayoh kau katakan."
Semakin berbicara suara dari gadis itu semakin tinggi
melengking, butiran air matapun mengucur keluar dengan
sangat derasnya, jelas dalam hati ia merasa kheki
bercampur mendongkol. keadaannya sangat mengenaskan.
oooOdwOooo
BAB 3
MELIHAT keadaannya itu Si Liong merasa hatinya
seperti di-iris2 dengan beribu-ribu bilah golok tajam.
"Benar ! bangsat cilik itu memang sangat kurang ajar
sekali !" teriaknya keras.
"Tia ! kalau memang begitu, tentunya kau sudah
mengijinkan aku membawa orang untuk menangkap
kembali kedua orang itu bukan ?" seru Si Soat Ang sambil
menghentikan isak tangisnya. "Aku tahu mereka masih
berada didalam jalan rahasia dibawah tanah, sekalipun
berhasil keluar dari tempat itu kedua orang bangsat itupun
tidak mungkin bisa pergi terlalu jauh, karena Lim Hauw
Seng sudah terluka ?"
"Benar, selama ini selalu mengira rahasia kepergiannya
sangat rapat dan tidak diketahui orang lain, padahal begitu
ia melarikan diri aku lantas tahu, maka aku melakukan
pengejaran ke luar dan bergebrak dengan dirinya."
"Tetapi... tetapi sejak kapan kepandaian silatmu berhasil
melampaui dirinya ?"
Tanya Si Liong dengan pandangan mata penuh ke-
ragu2an.
"Dia..."
Mendadak ia merandek sejenak, setelah lewat beberapa
saat lamanya baru menyambung kembali:
"Sebetulnya ia bisa menangkan diri ku, tetapi selama itu
ia selalu melindungi Giok Jien siperempuan rendah itu,
maka dari itu ia baru berhasil aku desak sehingga berada
dibawah angin dan akhirnya kena kulukai. bilamana waktu
itu hujan salju tidak deras dan angin tidak kencang
ditambah pula ia memperoleh bantuan dari sitelapak
berdarah Tong Hauw, bangsat itu pasti tidak bakal berhasil
meloloskan diri !"
"Ooouw . . . kiranya begitu !" ujar Si Liong dengan rasa
setengah percaya setengah ragu2. "kalau begitu, bagaimana
kalau aku suruh paman Kan Jie siokmu saja yang
mengawani dirimu ?"
"Aaak...!" hal itu sangat kebetulan sekali. Paman Jie-siok
!" Teriak Si Soat Ang kegirangan.
Pada waktu itu Kan Tek Lin baru saja berjalan keluar
dan memutari sebuah ujung tembok mendengar suara
panggilan dari Si Soat Ang tersebut dengan cepat ia putar
badan.
"Soat Ang, ada urusan apa?"
"Paman Jie Siok. Tia suruh kau orang mengawani diriku
pergi keluar benteng kau suka bukan?" tanya gadis tersebut
sambil berlari mendekat.
Pada saat ini hatinya sangat penurut sekali, ia tahu kalau
Kan Tek Lin sebagai seorang jagoan Bu lim yang memiliki
kepandaian silat tinggi suka membantu dirinya maka usaha
ini tentu bakal menemui kesuksesan.
"Hal ini sudah tentu saja !" sahut Kan Tek Lin sambil
tertawa.
Si Soat Ang jadi kegirangan dengan cepat ia bersuit
panjang dengan amat kerasnya.
"Cepat berangkat dan persiapkan kereta salju!"
"Apakah kedua orang yang kau cari adalah Hauw Seng
serta gadis itu ?"
"Benar !" sahut Si Soat Ang mengangguk dan menggigit
kencang bibirnya.
Per-lahan2 Kan Tek Lin menghela napas panjang.
"Heeei...! Soat Ang, walaupun aku belum begitu lama
berada didalam benteng Thian It Poo, tetapi aku rasa Hauw
Seng bukanlah seorang penjahat. Soat Ang ! sekalipun kita
berhasil menemukan mereka, aku berharap agar kau jangan
bertindak keterlaluan terhadap dirinya !"
Dalam hati Si Soat Ang benar2 merasa amat gusar sekali
sewaktu mendengar perkataan tersebut, tetapi rasa
marahnya ini tidak sampai diperlihatkan diluaran
"Paman Jie Siok" katanya. "Kau orang bukan nya
membantu aku untuk mendapatkan kembali mereka
berdua, kini malah bantu mereka untuk ucapkan beberapa
patah kata ! hmmm !"
Kan Tek Lin tertawa, ia lantas putar kepalanya
kebelakang.
"Toako, perempuan yang ada didalam halaman
tersebut..." serunya.
"Heei., aku bisa menghadapi mereka dengan sangat ber-
hati2. Jie-te, kaupun harus ber-hati2 mengawasi Soat Ang !"
"Toako boleh berlega hati aku akan menganggap Soat
seperti putri kesayanganku sendiri" kata Kan Tek Lin
sambil tertawa.
Waktu itu terdengarlah suara gonggongan anjing
bergema memecahkan kesunyian disusul suara seseorang
yang berteriak sambil berlari mendekat.
"Kereta salju sudah dipersiapkan !"
Kan Tek Lin serta Si Soat Ang segera melangkah keluar
dari pintu benteng, tampaklah enam belas ekor anjing
dengan menarik sebuah kereta salju sudah menanti didepan
pintu.
Mereka berdua dengan cepat menaiki kereta kereta salju
itu. diantara ayunan cambuk dari Si Soat Ang yang amat
keras, keenam belas ekor anjing itu dengan menarik sang
kereta segera berlari sangat cepat menuju kearah depan.
Cuaca makin lama semakin terang benderang, pagi pun
sudah menjelang datang.
Sang surya per-Iahan2 muncul diufuk timur dan
menyinari empat penjuru diatas permukaan salju yang amat
luas tampaklah dua sosok bayangan hitam dengan sangat
perlahan bergerak maju kedepan.
Kedua orang itu bukan lain adalah sepasang muda mudi
yang masih muda.
Yang lelaki memakai sebuah mantel tebal yang terbuat
dari kulit kambing tetapi pada saat ini mantelnya sudah
tersayat robek bahkan diatasnya masih kelihatan bekas
darah yang sudah membeku.
Sedang yang perempuan mempunyai rambut yang amat
panjang terurai sepanjang pundak, disebabkan tubuh lelaki
tersebut hampir2 rubuh keatas badannya maka dengan amat
ngotot dan susah payah sambil membimbing tubuh sang
lelaki tersebut ia melanjutkan perjalanannya.
Kepalanya tertunduk rendah2, sedang rambutnya yang
panjang terurai menutupi seluruh wajahnya dengan
demikian tak dapat terlihat bagaimanakah sebenarnya
wajah dari perempuan tersebut.
Kedua orang itu dengan susah payah per-Iahan2
melanjutkan perjalanan diatas permukaan salju.
Akhirnya kakinya terasa lemas. sepasang muda mudi itu
tak kuasa untuk melanjutkan kembali perjalanannya dan
jatuh terduduk diatas permukaan salju.
Perempuan itu buru2 berdiri kembali dan menarik tubuh
lelaki tersebut.
Orang lelaki itu ternyata masih amat muda, usianya
kurang lebih dua puluh tiga, dua puluh empat tahunan,
tetapi badannya amat kurus paras mukanya pucat pasi
bagaikan mayat.
Ditinjau dari bibirnya yang terkancing rapat, jelas dia
sedang menahan suatu penderitaan sakit yang luar biasa.
Ternyata dia adalah seorang lelaki yang benar2 bersifat
jantan, sekalipun rasa sakit dibadan terasa amat menyiksa
dirinya tetapi sedikit pun tidak kedengaran ia merintih.
Sang gadis yang berulang kali tidak berhasil menarik
lelaki itu untuk bangun, akhirnya saking cemas tak tertahan
lagi menangis tersedu2.
Aaaakh . . . ! kiranya perempuan itu adalah seorang
gadis yang sangat cantik sekali, sekali pun sedang menangis
sama sekali tidak menutupi kemolekan paras mukanya itu.
Dia bukan ia ia adalah Giok Jien, budak dari Si Soat
Ang itu putri kesayangan dari Thian It Poocu, dan tidak
usah diterangkan lagi orang lelaki yang rubuh diatas
permukaan salju sudah tentu tidak bukan adalah Liem
Hauw Seng, keponakan dari Poocu Benteng Thian It Poo.
Mereka berdua sedang bersembunyi didalam jalan
rahasia dibawah tanah dari sitelapak berdarah.
Sewaktu menunggu lama sekali tidak juga melihat Tong
Hauw balik kesana, maka dalam hati sepasang muda mudi
ini merasa inilah suatu kesempatan yang paling baik bagi
mereka untuk melarikan diri.
Demikianlah, dibawah bimbingan Giok Jien, mereka
berdua mulai melarikan diri dari sana, tetapi berhubung
Liem Hauw Seng terluka parah maka perjalanan dilakukan
dengan sangat lambat sekali.
Kepandaian silat yang dimiliki Giok Jien kebanyakan
berhasil dipelajari dari Liem Hauw Seng bila ada waktu
senggang, sudah tentu apa yang berhasil dimilikipun tidak
seberapa.
Kedua orang itu tahu, mereka berdua tak dapat berdiam
terlalu lama disana, kendari Si Soat Ang tidak datang
mencari mereka lagi, mereka pun harus mati karena
kedinginan serta kelaparan, oleh sebab itu tempat tersebut
buru2 ditinggalkan.
Tampak Lim Hauw Seng yang rubuh keatas tanah per-
Iahan2 membuka matanya.
"Giok Jien. . . kau jangan menangis lagi !" serunya
dengan suara yang keren dan berat "Bukankah kau suka
mendengarkan semua perkataanku ? ayoh. . . jangan
menangis lagi."
"Engkoh Hauw Seng, kita. . . kita bagaimana? apa yang
harus kita lakukan ?" tanya Giok Jien tetap menahan rasa
isak tangisnya.
Dengan sekuat tenaga Liem Hauw Seng
mempertahankan diri sehingga suara pembicaraannya tidak
sampai terputus2, katanya lagi: "Giok Jien ! kau jangan
menangis... asal kau suka mendengarkan perkataanku aku
tentu . . aku tentu punya akal !"
Per-lahan2 Giok Jien, si gadis itu berhenti menangis.
"Engkoh Hauw Seng, coba kau pikir kapan aku pernah
tidak mendengar perkataanmu lagi?" katanya.
"Kalau begitu, perkataanmu kali ini tentunya kaupun
suka menurut bukan ?" seru pemuda itu sambil mencekal
erat2 tangan Giok Jien sang gadis cantik yang putih halus
itu.
Giok Jien merasakan bila perkataan dari pemuda
tersebut sangat aneh sekali, menyuruh dia mendengar
perkataannya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, kenapa
ia menanyakan terus berulang kali ? karena itu kepalanya
lantas dianggukkan dengan perlahan.
000Ode-wiO000

Jilid 4
”KAU suruh aku berbuat apa? katakanlah !"
"Bila kau suka mendengarkan perkataanku... itu baa...
bagus," Seru Liem Hauw Seng ter-engah2, "Giok Jien ! kau
pergilah seorang diri !"
Sebenarnya walaupun Giok Jien sudah berhenti
menangis, tapi ia masih terisak tiada hentinya, kini habis
mendengar ucapan dari Liem Hauw Seng, seluruh
tubuhnya terasa tertegun.
Lama... lama sekali baru terdengar Giok Jien berseru
dengan nada gemetar:
"Kau... apa kau kata ? Engkoh Hauw Seng apa kau kata
?"
Per-lahan2 Liem Hauw Seng menghela napas panjang, ia
melepaskan diri dari cekalan gadis tersebut.
"Tadi kau sudah pernah berkata suka mendengarkan
perkataanku, sekarang cepatlah kau pergi dari sini,
berangkatlah menuju ke selatan dan setelah tiba didaratan
Tionggoan jangan kembali lagi kesini, dengan begitu kau
bakal lolos dari cengkeraman mereka, tapi bila kau ingin
menyeret diriku pula maka... tindakanmu ini hanya akan
mencelakai dirimu sendiri."
Dalam keadaan seperti ini Giok Jien tidak menangis lagi,
bukan saja tidak menangis bahkan gerak geriknya jauh lebih
tenang. sembari membereskan rambutnya kebelakang
tangannya mengusap kering air mata yang jatuh menetes.
"Engkoh Hauw Seng, maksudmu kita berdua pasti tak
akan berhasil lolos dari tangan mereka bukan begitu ?"
"Aku tidak pernah berkata demikian" Seru Lim Hauw
Seng amat cemas, "Maksudku, jika kau suka berangkat
dulu, maka aku bisa berusaha untuk mengikuti dari
belakang."
Tiba2 Giok Jien tertawa sedih.
"Engkoh Hauw Seng, kau sedang membohongi diriku,
kau pernah berkata tak akan membohongi diriku lagi,
kenapa sekarang kau menipu aku ?"
Lim Hauw Seng meronta berusaha bangun berdiri, tapi
baru saja tubuhnya menegang kembali ia roboh terjengkang
kearah permukaan salju.
Lama sekali Giok Jien memandang pemuda itu tajam2,
akhirnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia berbaring
di sisinya.
"Giok Jien, kau sedang berbuat apa?" Teriak Lim Hauw
Seng dengan suara yang serak sewaktu melihat perbuatan
kekasihnya.
"Jika kita bisa melarikan diri, mari berangkat lah ber-
sama2. bila tak bisa lolos bukankah lebih baik kita ber-
sama2 ?"
"Aaaai...! soal ini...buat apa kau cari siksa sendiri ?"
"Engkoh Hauw Seng ! kau tidak tahu, sejak aku mengerti
urusan belum pernah ada orang yang bersikap demikian
baiknya kepadaku, setiap orang tentu bicara dengan nada
kasar membentak, memaki dan mencemooh diriku, setiap
pekerjaan yang kotor tentu diberikan kepadaku, setiap
orang boleh turun tangan memukuli aku, memaki aku.
Tentunya kau tidak pernah menyangka bukan sewaktu aku
berusia sepuluh tahun pernah satu ingatan ingin mati
memenuhi benakku ?"
Lim Hauw Seng tidak bicara, hanya kulit wajahnya
berkerut sehingga kelihatan amat menyeramkan.
"Malam itu, aku berdiri lama sekali disisi sumur"
sambung Giok Jien lebih lanjut. "Aku berpikir, jika
kuloncat masuk kedalam sumur itu apa jadinya ? sudah
tentu aku bisa mati, tapi setelah mati apa yang bisa
kulakukan ? akupun pernah menjumpai orang mati, setelah
orang mati maka ia tak akan dimaki orang, tak pernah
dipukul orang, ia hanya berbaring...berbaring terus hingga
akhir masa, aku berpikir keras, apa jeleknya jadi seorang
yang telah mati ?"
"Kau...kau jangan bicara lagi, Giok Jien kau ...kau
jangan bicara lagi" potong Lim Hauw Seng terputus2.
"Tidak, aku harus bicara." Seru Giok Jien sembari
menggeleng, "Karena kau ingin mengusir aku pergi, setelah
aku katakan kesemuanya ini, kau tak akan mengusir aku
lagi, kau bakal paham aku adalah seorang perempuan yang
tidak takut mati."
"Krooook . . krooook . . !" dari tenggorokan Liem Hauw
Seng mendadak memperdengarkan suara yang sangat aneh,
mulutnya terpentang lebar-lebar tapi tak sepatah katapun
berhasil meluncur keluar, darah segar mengikuti pentangan
bibirnya, mengucur keluar membasahi seluruh tubuh,
permukaan salju dan akhirnya membeku.
Buru2 Giok Jien bangun berdiri dengan menggunakan
ujung bajunya ia membersihkan noda darah disekeliling
bibir Liem Hauw Seng, mukanya pucat pasi bagaikan
mayat, tapi sikapnya luar biasa tenangnya.
"Engkoh Hauw Seng." bisiknya lirih, "Sewaktu aku
berada seorang diri, keinginanku untuk mati sangat besar,
dan sekarang setelah bersama sama dirimu, apa yang harus
kuinginkan lagi ?"
Dengan sekuat tenaga Liem Hauw Seng berusaha
meronta bangun, akhirnya ia berhasil juga mengutarakan
beberapa patah kata.
"Tapi . . . tapi usiamu masih sangat muda."
"Kau sendiri apa sudah jadi kakek2 tua ?" seru Giok Jien
sembari tertawa sedih. "Engkoh Hauw Seng, sejak kau tiba
disana sekalipun hidupku makin tersiksa, hatiku tetap
terhibur, setiap kali kuingat dirimu dalam hati merasa
nikmat dan hangat, kau sungguh bersikap terlalu baik
terhadap diriku."
Wajahnya berubah merah padam bagaikan kepiting
rebus, kepalanya per-lahan2 dijatuhkan kedalam pangkuan
kekasihnya Liem Hauw Seng dan pejamkan matanya
menikmati suasana di sekelilingnya.
Sewaktu berada dalam benteng Thian It Poo,
menggunakan kesempatan sewaktu orang tidak menduga
seringkali merekapun berbuat demikian.
Tapi waktu itu, ketika kepalanya disandarkan diatas
dada Liem Hauw Seag dan menempelkan telinganya
kedada pemuda itu. ia dapat menangkap suara detakan
jantung kekasihnya.
Tapi kini, walaupun ia sudah tempelkan telinganya
kedada pemuda tersebut, hampir boleh dikata detakan
jantungnya tak terdengar lagi.
Air mata mengucur keluar setetes demi setetes, dengan
payah Liem Hauw Seng keluarkan tangannya untuk
membelai pipi gadis tersebut.
Saat itulah, tiba2 suara gonggongan anjing
berkumandang datang dari tempat kejauhan...
Begitu gonggongan anjing tadi memancar datang tubuh
kedua orang muda mudi ini kelihatan tergetar sangat keras.
Tetapi mereka hanya sedikit tergetar belaka, setelah itu
membungkam dan tak berkutik lagi.
Gonggongan anjing makin jelas, dengan cepatnya suara
itu sudah berada sangat dekat. Makin lama Giok Jien mulai
dapat menangkap sebuah titik hitam bergerak mendekat
dengan cepatnya, Dalam sekejap mata titik hitam itu makin
lama makin besar dan akhirnya kecuali suara gonggongan
anjing kedengaran pula ayunan cambuk membelah bumi.
Sebuah kereta salju makin jelas tertera didepan mata,
Giok Jien pun dapat menangkap diatas kereta tadi berdiri
dua orang, salah satu diantaranya adalah Si Soat Ang nona
majikannya.
Menanti ia jelas melihat orang itu benar Si Soat Ang,
matanya dipejamkan kembali badanpun tak berani berkutik.
Salju beterbangan memenuhi angkasa terhempas oleh
hancuran kereta, bunga2 salju mulai melayang turun dan
menutupi kepala maupun wajah Giok Jien serta Liem
Hauw Seng, tapi mereka berdua tetap tak berkutik.
Tiga, empat tombak jauhnya kereta salju melewati kedua
orang itu, mendadak Si Soat Ang membentak keras seraya
menarik tali les, kereta segera berhenti berlari.
"Soat Ang ! kedua orang itu sudah mati" ujar Kan Tek
Lin seraya berpaling.
"He he he permainan setan kedua orang ini terlalu
banyak, bila cuma begini saja lantas suruh aku
mempercayai bahwa mereka sudah mati Hmm . . . sungguh
menggelikan sekali !"
Saat ini, setelah ia berhasil menemukan orang yang
sedang dicari, suatu senyuman yang menyeramkan,
menggidikkan hati menghiasi seluruh wajahnya.
Perubahan tersebut bukan saja membuat orang lain
merinding, kendari Kan Tek Lin yang berada disisinyapun
ikut terperanjat, ia tidak menyangkapun tidak paham
seorang gadis yang belum pernah berkelana dalam dunia
kangouw bisa tertanam rasa dendam, sakit hati yang
demikian mendalamnya.
Ia tidak tahu, Si Soat Ang yang sudah kebiasaan
memelihara rasa tinggi hati dan selalu dihormati oleh setiap
orang, setelah rasa harga dirinya tersinggung timbullah rasa
dendam, sakit hati yang susah dilukiskan lagi.
Setelah rasa terkejut lenyap dari hatinya, timbullah rasa
simpatik dan iba buat kedua orang yang berbaring diatas
permukaan salju itu.
Kedatangannya kebenteng Thian It Poo tidak lebih
hanya sebagai tamu, walaupun Liem Hauw Seng adalah
kemenakan dari Poocu tapi antara dia dengan pemuda
tersebut sama sekali tiada terikat sangkut paut apapun,
perjumpaannya dengan pemuda she-Liem inipun sangat
jarang sekali.
Sedang mengenai Giok Jien, dalam benteng Thian It Poo
dayang maupun pelayan banyak bagaikan mega diawan,
boleh dikata dayang yang bernama Giok Jien mempunyai
raut muka yang bagaimanapun ia sendiri tidak paham.
Dan kini rasa simpatik yang muncul pada dasar hatinya
terhadap Liem Hauw Seng serta Giok Jien bukan
disebabkan perubahan air muka Si Soat Ang sangat
menakutkan, dalam hati ia tahu dalam keadaan seperti ini
kedua orang muda-mudi itu jauh lebih baik mati dari pada
hidup.
Karena bila ditinjau keadaan. jikalau kedua orang itu
belum mati maka Si Soat Ang pasti akan menggunakan cara
apapun untuk menganiaya, menyiksa mereka berdua.
"Sobat Ang ! "ujarnya kemudian, "Berjalan di atas
permukaan salju susah sekali, biarlah aku yang pergi periksa
mereka sudah mati atau belum !"
Tapi ucapan dari Kan Tek Lin ini segera ditolak mentah2
oleh si gadis she-Si."
"Tidak !" seru Si Soat Ang dengan nada berat. "Paman
Kan Jie-siok, setelah menemukan kedua bangsat ini disini,
apa yang harus kulakukan hanya untuk berjalan diatas
permukaan salju saja?" Sembari berkata ia meloncat turun
dari atas kereta.
Semalam salju turun dengan hebatnya, tumpukan bunga
salju diatas permukaan tanah saat ini mungkin mencapai
satu depa lebih.
Ketika Si Soat Ang meloncat turun, badannya segera
sempoyongan hampir saja jatuh, tapi dengan cepat ia
meloncat bangun dan melayang kesisi Liem Hauw Seng
serta Giok Jien berdua.
Melihat hal tersebut diam2 Kan Tek Lin menghela napas
panjang.
Waktu itu baik Liem Hauw Seng maupun Gok Jien
sama2 pejamkan matanya, Giok Jien sigadis cilik itu masih
bersandar diatas dada sang pemuda kekasihnya.
Napas mereka ter-engah2, oleh karenanya sewaktu Si
Soat Ang tiba di hadapan mereka, gadis tadi segera
mengetahui bila mereka berdua belum mati.
Si Soat Ang benar2 kegirangan setengah mati, sebetulnya
Liem Hauw Seng serta Giok Jien adalah manusia yang
paling ia benci dalam hatinya, tapi berhubung melihat
orang yang paling dibenci masih belum mati dan kini
berada di-hadapannya siap disiksa olehnya, sang hati jadi
kegirangan setengah mati sehingga susah dilukiskan lagi.
Mendadak gadis itu mendongak lalu perdengarkan suara
gelak tertawanya yang aneh dan menyeramkan.
Gelak tertawanya bergema melengking tinggi menjulang
ke angkasa, dalam suasana yang dingin sunyi ditengah
pegunungan yang sepi, suara gelak tertawanya ini benar2
mengerikan sekali.
Kan Tek Lin merasa amat terperanjat, buru2 tegurnya:
"Soat Ang, kenapa kau ?"
"Ha ha ha mereka belum mati" sahut Si Soat Ang
sembari masih tertawa tiada hentinya.
Sekali enjot badan Kan Tek Lin melayang ke sisi gadis
itu, serunya: "Oooow... mereka belum mati ? kalau begitu
mari kita bawa kembali kedalam Benteng, agar ayahmu bisa
jatuhi hukuman kepada mereka."
"Tidak !" tolak Si Soat Ang tegas, giginya di gertakkan
kencang2. "Biar aku yang jatuhi hukuman kepada mereka !"
Sembari berkata cambuk ditangannya sekali getar
membentur gerakan satu lingkaran ditengah udara,
kemudian diiringi desiran tajam yang menggidikkan
menjilat leher Giok Jien.
Merasa akan datangnya desiran tajam Giok Jien
membuka matanya, tapi sinar mata si gadis ini sama sekali
tidak memperlihatkan cahaya ketakutan ataupun gugup, ia
hanya membentangkan tangannya melindungi wajahnya.
Siapa nyana baru saja tangannya diangkat ujung cambuk
Si Soat Ang dengan tajam telah berhasil menjirat
pergelangan tangannya, sekali disentak seluruh tubuhnya
terangkat ketengah udara dan terlempar dua-tiga tombak
jauhnya dari tempat semula.
Walaupun Giok Jien pandai bersilat, tapi ilmu silatnya
tidak lebih adalah ajaran Liem Hauw Seng sewaktu masih
berada didalam benteng Thiat It Poo apabila pemuda ini
ada waktu lowong, mana mungkin ilmu silatnya bisa
menandingi kepandaian silat Si Soat Ang ?
Apalagi pada saat ini keadaannya boleh diumpamakan
"Ada kemauan tak ada tenaga", tenaga perlawanan dalam
tubuhnya sama sekali sudah punah.
Ketika ia terbanting sejauh dua, tiga tombak diatas
permukaan salju, dengan sekuat tenaga gadis itu meronta
lalu merangkak bangun.
"Nona...kau...kau jangan menyiksa engkoh Hauw Seng
lagi..." serunya terputus2. "Kau... kau bermurahlah hati
kepadanya, ia...ia...luka yang ia derita sudah terlalu
parah..."
Cambuk Si Soat Ang sudah diangkat siap mengirim
hajarannya yang kedua.
Sudah tentu hajarannya kali ini siap ditujukan kearah
Liem Hauw Seng pemuda tampan itu.
Tapi ketika mendengar ucapan Giok Jien tersebut,
tangan yang telah diayun mendadak menjadi lemas
kembali, dalam sekejap mata sikapnya yang galak dan buas
telah berubah jadi bimbang.
Tapi semuanya ini hanya berlangsung dalam sekejap
mata saja, senyum sinis kembali menghiasi wajahnya,
seraya berpaling ke arah Giok Jien serunya:
"Ooooouw... begitu ? kau berkata luka yang ia derita
sangat parah dan sebentar lagi bakal mati ?"
"Benar, kau jangan pukul dia lagi pukul... pukullah
diriku." teriak Giok Jien berusaha merontak bangun.
"Heeeee... heee... cinta kasih kalian boleh dihitung sudah
mendalam bagaikan samudra luas!"
Giok Jien menunduk, air mukanya berubah pucat pasi
bagaikan mayat.
Sekali lagi Si Soat Ang menunduk, tiba2 bentak nya
kearah Liem Hauw Seng yang menggeletak diatas tanah
"Kau masih ingin menggeletak di atas tanah pura2 mati ?
kenapa tidak bangun berdiri saja ?"
Liem Hauw Seng gertak gigi sehingga menimbulkan
suara gemerutukan tubuhnya mulai coba meronta. Tapi
perduli secara bagaimana dia meronta akhirnya tiada
berdaya juga untuk bangkit berdiri, seluruh tubuhnya
hampir boleh dikata terpendam didalam salju, tapi diatas
jidat nya mengucur keluar keringat sebesar kacang.
Seraya memandang pemuda she-Liem ini Si Soat Ang
tertawa dingin tiada hentinya. Sedang Giok Jien dengan
napas ter-engah2 lari mendekati kemudian bimbing Liem
Hauw Seng untuk bangun. "Nona aku sudah ada beberapa
tahun melayani dirimu, kau kasihanilah diriku...lukanya
teramat parah, cepatlah kau hantar ia kembali ke
Benteng...un...untuk mengobati lukanya, kau suka aku
berbuat bagaimana. aku pasti akan mengabulkan... aku
mohon... aku mohon nona suka mengabulkan !"
Kata2 terakhir penuh bernadakan gemetar, sepasang
lutut menjadi lemah dan akhirnya jatuh berlutut diatas
tanah.
Perasaan Si Soat Ang pada saat ini benar2 amat puas,
tapi kesemuanya ini masih belum dapat melenyapkan rasa
benci yang telah merasup kedalam tulang sumsumnya.
Dengan dingin ia mendengus.
"Kau bimbing dulu bangsat itu keatas kereta salju !"
perintahnya keren.
Dengan susah payah Giok Jien merangkak bangun dari
atas tanah kemudian membimbing tubuh Liem Hauw Seng
dan bergerak kedepan.
Tapi baru saja berjalan dua langkah, mereka ber-sama2
menggelinding dan roboh keatas tanah.
Melihat kejadian itu Ken Tek Lin kerutkan alisnya,
sekali sambar ia telah menarik Liem Hauw Seng bangun
dari tanah.
Siapa nyana justru tindakannya inilah membuat Si Soat
Ang, sang gadis tersebut menjadi kurang puas.
"Paman Kan Jie-siok. apa yang kau lakukan ?"
"Apa yang aku lakukan ?" Balik seru Kan Tek Lin
dengan nada melengak.
Air muka Si Soat Ang berubah jadi sangat jelek sehingga
susah dipandang, sembari menuding Liem Hauw Seng
serunya:
"Mengapa kau bimbing ia bangun ?"
Kontan seketika itu juga dari dasar hati Kan Tek Lin
timbul rasa gusar yang susah dikendalikan, jikalau Si Soat
Ang yang ada dihadapannya saat ini bukan putri
kesayangan dari saudara angkatnya mungkin sejak semula
ia sudah umbar bawa amarah.
Air mukanya langsung berubah menghebat.
"Aku hendak bimbing ia naik keatas kereta salju agar
cepat2 bisa tiba dibenteng Thian It Poo."
"Apa perlunya kembali kebenteng Thian It Poo ?".
"Luka yang ia berita amat parah, jika tidak kembali ke
benteng Thian It Poo, bagaimana mungkin lukanya bisa
disembuhkan ?"
"Sungguh sayang aku tidak ingin kembali ke Benteng
Thian It Poo."
Giok Jien yang ada disamping setelah melihat keadaan
tersebut, paling sedikit ia tahu Kan Tek Lin menaruh
simpatik kepada mereka berdua, oleh karena itu
menggunakan kesempatan yang sangat baik ini mohonnya:
"Kan Jien-ya ! Engkoh Hauw Seng terluka parah sehingga
sedikitpun tak dapat bergerak, bila tidak cepat2 dibawa
pulang ke Benteng Thian It Poo maka ia bakal mati
kedinginan. Kan Jie-ya, aku mohon sukalah kau beri belas
kasihan kepada kami, aku akan berlutut dan mengangguk-
anggukkan kepalaku di-hadapanmu !"
Seraya berkata Giok Jien siap jatuhkan diri dan berlutut.
Tapi tindakannya ini keburu dicegah oleh Kan Tek Lin.
"Tidak perlu tidak perlu, aku sudah punya rencana sendiri !"
"Paman Jie-siok, kau... kau sungguh ingin mencari gara2
dengan diriku ?" teriak Si Soat Ang dengan air muka
berubah hijau membesi.
"Hauw Seng adalah kakak misanmu, coba kau pikir
apakah ayahmu mengijinkan kau berbuat ngaco belo
macam begini ?"
"Aku tahu ia tak bakal mati, sudah tentu aku punya obat
pemunah yang mujarab untuk menyembuhkan lukanya,
tapi aku tidak ingin kembali ke benteng Thian It Poo"
Ucapan dari Si Soat Ang ini sangat tegas dan kuat,
bahkan sama sekali tidak sopan, agaknya ia ada maksud
mencari gara2 dengan Kan Tek Lin.
Rasa gusar yang muncul dihati Kan Tek Lin makin lama
makin memuncak, makin lama makin mendalam.
"Tidak bisa!" bentaknya keras2. "Maksudmu keluar dari
Benteng adalah mencari kedua orang ini sudah kita
temukan, sudah seharusnya kita bawa pulang kebenteng
untuk menantikan hukuman yang bakal dijatuhkan oleh
ayahmu sendiri !"
Sepasang kepalan Si Soat Ang dirapatkan kencang2
dengan suara yang tinggi melengking memecahkan
kesunyian yang mencekam teriaknya:
"Kau jangan mencari gara2 dengan diriku, terus terang
kuperingatkan janganlah kau orang mencari gara2 dengan
diriku !"
Sejak semula Kan Tek lin sudah dapat tahu Si Soat Ang
gadis cantik ini sudah terbiasa dimanja oleh ayahnya tetapi
ia tidak menyangka urusan bisa berlangsung jadi begini,
hatinya disamping kheki juga geli.
"Mengapa aku harus mencari gara2 dengan dirimu ?"
tanyanya cepat.
"Kalau begitu kau harus membiarkan aku berlalu dengan
membawa serta kedua orang ini, bahkan peristiwa apa yang
bakal terjadi dikemudian hari tak boleh kau ungkap
dihadapan ayahku." seru Si Soat Ang sembari melangkah
maju.
Mendengar ucapan Si Soat Ang makin lama semakin
keterlaluan Kan Tek Lin tak dapat menahan rasa gusarnya
lagi. segera bentaknya: "Tidak dapat !"
"Sungguh tidak dapat ?" tanya gadis she Si itu setelah
lama sekali membungkam.
Mendadak telapak tangan Si Soat Ang diayunkan
kedepan, dimana tangannya bergerak serentetan cahaya
keemasan dengan membelah angkasa meluncur keluar
Saking cepatnya benda tersebut menyambar lewat, tak
seorangpun yang melihat sebenarnya benda apakah itu.
Bersamaan itu pula tiba2 pandangan mata jadi silau oleh
sorotan cahaya ke-emas2an, be-ratus2 batang jarum tajam
sepanjang lima Coen dengan memancarkan cahaya tajam
ber-sama2 mengurung seluruh tubuh Kan Tek Lin.
Bagi Kan Tek Lin sendiripun, mimpipun ia tidak pernah
menyangka Si Soat Ang keponakan angkatnya bisa turun
tangan keji terhadapnya.
Karena tidak lama setelah ia tiba di benteng Thian It
Poo, atas permintaan Si Liong mereka berdua telah saling
angkat saudara.
Menanti jarum2 tajam tadi telah menyambar dekat, Kan
Tek Lin baru tahu benda apakah yang tergenggam ditangan
Si Soat Ang, karena tempo dulu Si Liong pernah
memperlihatkan benda tersebut kepadanya.
Si Liong pernah bercerita benda itu adalah sebuah
tabung baja bercampur emas yang dibuat oleh seorang jago
lihay dari Se-ih, sekali pencet tombol rahasianya maka ada
sembilan puluh sembilan batang jarum tajam ber-sama2
menyebar keempat penjuru.
Bagi seorang jagoan lihay yang memiliki kepandaian silat
amat tinggipun susah untuk menghindarkan diri dari
serangan ini, apalagi Kan Tek Lin.
Kiranya Si Liong yang amat sayang terhadap putrinya
karena takut ia jatuh kecundang ditangan orang lain, maka
sengaja ia persenjatai dirinya dengan sebuah senjata aneh
yang bernama "Si Seng Ciam" atau alat pembidik jarum
bintang.
Dibawah penjelasan Si Liong tempo hari Kan Tek Lin
pun pernah mengagumi kelihayan alat tersebut, ia tidak
pernah menyangka pada suatu hari Si Soat Ang, putri
saudara angkatnya bisa menggunakan alat dahsyat tersebut
untuk menghadapi dirinya.
Diiringi bentakan murka sepasang bajunya di-kebut
kedepan kencang2, sedang badannya ikut bergerak
menubruk kearah gadis tersebut.
Reaksi yang dilakukan boleh dikata amat cepat, tapi
berhubung jaraknya dengan Si Soat Ang tidak terlalu dekat,
Kedua daya tembak alat rahasia Si Seng Ciam sangat kuat
dan sekali tembak sembilan puluh sembilan batang jarum
berbisa meluncur ber sama2 kendari gerakan menghindar
nya cukup cepat, tapi sewaktu badannya berada ditengah
udara bagian bawahnya sama sekali tak terjaga sepasang
kakinya tidak ampun lagi termakan hajaran senjata rahasia
tersebut, diikuti rasa sakit yang luar biasa menyerang
seluruh badan, paling sedikit ada tiga empat puluh batang
jarum telah bersarang ditubuhnya.
Hanya saja kepandaian silat yang dimiliki Kan Tek Lin
sangat lihay, sekalipun tubuhnya kena terhajar begitu
banyak jarum rahasia, tubuhnya sempat bersalto pula
ditengah udara dan melayang turun dua tiga tombak lebih
kedepan.
Setelah bangkit berdiri dari atas tanah, dengan penuh
kemurkaan bentaknya keras:
"Soat Ang, kau..."
Hanya ucapan itu yang dapat meluncur keluar karena
pada saat yang bersamaan sepasang kaki nya yang terhajar
oleh jarum mulai terasa gatal2 kaku dan linunya bukan
kepalang.
Rasa terkejut yang dialami Kan Tek Lin kali ini susah
dibayangkan lagi. ber-turut2 ia cabut beberapa batang jarum
rahasia yang bersarang ditubuhnya kemudian diperiksa
dengan cermat.
Begitu dipandang, sukma terasa melayang tinggi di-
awang2.
Pada-ujung jarum yang panjangnya hanya dua coen
kelihatan memancarkan cahaya ke-hijau2an yang berkilap,
sekali lihat setiap jago tentu mengerti kalau jarum2 itu
sudah dipolesi racun ganas.
Tanpa disadari lagi seluruh tubuh Kan Tek Lin gemetar
keras, suara pembicaraanpun dalam sekejap mata berubah
amat serak.
"Serahkan obat pemunahnya !"
Tapi dengan air muka hijau membesi Si Soat Ang tetap
berdiri tak berkutik hanya sahutnya dengan suara dingin:
"Aku suruh kau jangan mencari gara2 dengan diriku, kau
tidak suka menggubris ! sudah berapa kali kuperingatkan,
janganlah coba2 memusuhi diriku !"
"Serahkan obat pemunahnya !" sekali lagi Kan Tek Lin
berteriak seraya kertak gigi kencang2.
Sembari berteriak tubuhnya bergerak meloncat kemuka
dan siap menubruk gadis tersebut.
Sungguh sayang, akibat dari loncatannya ini bukan saja
tidak berhasil menubruk sasaran yang dituju, badannya
malah jatuh terpelanting diatas permukaan salju.
Jelas terbukti hanya dalam sekejap itulah sepasang
kakinya sudah menjadi kaku tak berasa sedikitpun juga
bahkan untuk disaluri tenaga murnipun tak sanggup lagi,
tidak aneh kalau badannya jatuh terpelanting dan roboh
diatas permukaan salju.
Begitu Kan Tek Lin roboh, mendadak tangannya
menekan permukaan salju dan berusaha sekuat tenaga
menggunakan tenaga tekanan ini meloncat bangun
sedangkan tangannya yang lain pada saat yang bersamaan
merogoh ke dalam saku mengambil keluar seruling besi
yang telah mengangkat namanya dalam Bu-lim.
Bila ia tidak bergerak mungkin masih tidak mengapa,
begitu badannya kerahkan tenaga kelewat batas darah
bergolak sangat kerasnya didalam rongga dada, daya
bekerja racun itupun makin cepat, rasa kaku kini sudah
merembet hingga kepinggang.
Sekalipun Kan Tek Lin sudah ada puluhan tahun
lamanya berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ia
temukan ataupun berjumpa dengan daya bekerja racun
ganas sedemikian dahsyat, sedemikian cepatnya.
Loncatannya barusan sekali lagi membanting badannya
roboh keatas permukaan salju.
Saat itulah tampak seseorang berlari kesisinya dan
berjongkok disamping tubuhnya seraya berseru penuh
kecemasan : "Kan Jie-ya, kenapa kau? kenapa kau ?"
"Kau kah yang bernama Giok Jien ?" seru Kan Tek Lin
dengan napas ter-engah2, "Kau harus ingat, asalkan kau
masih bisa bernapas berusahalah keras untuk
menyampaikan berita buruk ini kee... kee... kepada Poocu,
kaa . . katakan kepadanya a .. aku mati ditangan siapa."
"Kan Jie ya ! kau tak akan mati" Teriak Giok Jien
dengan hati yang pedih. "Nona hanya bergurau saja dengan
dirimu, kadangkala nona pun pernah berkata hendak
membunuh diriku, tapi ia tak pernah turun tangan
sungguh2 biarlah kumohon obat pemunah buat dirimu."
Bicara sampai disitu mendadak Giok Jien membungkam.
Karena walaupun napas Kan Tek Lin masih ter-engah2,
tapi dari sepasang kelopak matanya, dari hidung dan telinga
maupun dari mulut mulai mengucurkan darah beracun
yang hitam matang...
Giok Jien jadi terperanjat bercampur ketakutan, buru2 ia
merangkak mundur satu langkah kebelakang.
Waktu itu Kan Tek Lin masih coba meronta sekuat
tenaga."
"Perrr... perkataanku yang kusampaikan tadi sudah kau i
. . . ingat baik ?"
Kecuali mengangguk tiada hentinya Giok Jien tak
sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Mendadak Kan Tek Lin memperdengarkan jeritan
lengkingnya yang menyeramkan dan membuat bulu roma
pada bangun berdiri.
Mengikuti jeritan lengking yang menyayatkan hati, darah
segar bagaikan sumber mata air muncrat keluar dari
mulutnya.
Semburan darah segarnya ini sama sekali tiada sangkut
paut dengan keracunan jarum rahasia tersebut, hanya saja
karena ia teringat dengan kegagahan serta kekosenan
dirinya tempo dulu dan kini ternyata harus berakhir disuatu
tempat yang sepi tanpa ada yang tahu, hatinya jadi pedih,
sedih dan kecewa, saking tak tertahan jantungnya jadi
pecah berantakan.
Darah segar muncrat membasahi permukaan salju nan
putih, tubuhnya tergetar sangat keras, mendadak ia
meloncat lagi kedepan tapi baru saja melayang sejauh dua
depa badannya terbanting keatas tanah dan tak berkutik
lagi.
Dengan mata terbelalak besar Giok Jien melototi tubuh
Kan Tek Lin yang mati dalam keadaan sangat mengerikan,
mulutnya terbuka lebar sedang badan gemetar keras, tak
sepatah kata pun bisa diutarakan keluar.
Lama.. lama sekali, akhirnya per-lahan2 ia mendongak
dan memperhatikan wajah Si Soat Ang.
Waktu itu adalah wajah Si Soat Ang berubah hijau
menyeramkan, iapun sedang melototi mayat Kan Tek Lin
yang mati dengan mengerikan tanpa berkutik sedikitpun
juga.
"Nona...nona.. kau...kau sudah membinasakan Kan Jie-
ya !" akhirnya Giok Jien berseru dengan napas ter-engah2.
Seluruh tubuh Si Soat Ang gemetar keras, ia mundur dua
langkah kebelakang dengan sempoyongan.
Tadi, karena gusar tanpa memikirkan apa akibatnya, ia
sudah menghadiahkan lelaki itu dengan beberapa batang
jarum beracun dari alat "Si Seng Ciam" nya, tapi menanti
Kan Tek Lin benar2 menggeletak mati diatas permukaan
salju dalam keadaan mengerikan, hatinya baru merasa
terperanjat.
Apa lagi Giok Jien menegur dengan dingin, hatinya
semakin terpukul lagi sehingga tak kuasa badannya mundur
sempoyongan.
Ketika badannya mundur sempoyongan kebelakang,
sepasang tangannya menutupi mulut sendiri. "la... ia mati ?"
teriaknya tersentak kaget.
"Benar, Kan Jie-ya sudah mati, ia mati ditanganmu..."
Seru Giok Jien sedih.
Tapi belum habis sidayang cantik ini menyelesaikan
kata2nya mendadak Si Soat Ang berteriak melengking.
"Tidak... tidak peristiwa ini tiada sangkut pautnya
dengan diriku, aku tak ada hubungannya... sejak tadi sudah
kularang dia orang mencari gara2, ia tak mau tahu . . ia
sen... ia sendiri yang cari gara2."
"Tapi sekarang, ia mati ditanganmu. kau telah
membinasakan dirinya." sambung Giok Jien tegas, nada
ucapannya telah berubah tenang tapi keren dan penuh
wibawa.
Tiba2 Si Soat Ang meng-gerak2kan tangannya ke kanan
kekiri seperti orang gila, entah apa yang sedang dipikirkan
olehnya pada saat ini, juga tak tahu apa yang diucapkan
waktu itu.
Yang jelas, Si Soat Ang gadis cantik dan Benteng Thian
It Poo ini penuh diliputi rasa ketakutan.
Ia tahu dirinya sudah membinasakan Kan Tek Lin, bila
peristiwa ini sampai tersiar ditempat luaran maka ayahnya
tak akan berdiam diri. Orang yang paling menyayangi
dirinya bakal ikut tahu kejadian ini.
Sejak kecil hingga menginjak dewasa, entah sudah
beberapa kali Si Soat Ang buat keonaran dan menciptakan
bencana buat bentengnya, sekalipun begitu belum pernah ia
merasa takut.
Namun ini kali, kini ia betul2 ketakutan setengah mati.
Menggunakan saat meng-gerak2kan tangannya ke kanan
kekiri seperti orang gila ini ia bermaksud mencari alasan
yang kuat untuk melindungi diri dari segala tuduhan. tapi
akhirnya ia tak berhasil dengan usahanya, karena Kan Tek
Lin benar2 dan terbukti mati di tangannya.
Lama... lama sekali mendadak ia berhenti bergerak,
serasa memandang Giok Jien tanyanya dengan napas
terengah.
"Dia... dia mati ditanganku ?"
"Benar !" Dengan sangat berani Giok Jien bangun berdiri
lalu menjawab penuh ketegasan.
Tiba2 Si Soat Ang mendongak dan tertawa seram.
"Dia memang aku yang bunuh, tapi siapa yang tahu?
Siapa yang tahu?"
"Aku tahu! engkoh Hauw Seng juga tahu, hati kecilmu
sendiri juga tahu" kembali Giok Jien menjawab penuh
ketegasan.
Gelak tertawa Si Soat Ang makin lama kedengaran
makin lengking dan menyeramkan, sembari tertawa ia
menjengek dingin.
"Kau? dia? kalian anggap kamu berdua bisa hidup lebih
lama lagi? aku? Mungkinkah aku ceritakan peristiwa ini
kepada orang lain? hee hee hee dikolong langit tak akan ada
yang tahu, tak seorang manusiapun yang tahu dia mati di
tanganku, tak seorangpun yang tahu akulah
pembunuhnya!"
Sembari berteriak2 badannya menerjang terus kedepan
hingga tiba disisi mayat Kan Tek Lin, lalu berjongkok dan
mulai mencabut jarum yang bersarang dikaki mayat itu satu
demi satu.
Dengan ter-mangu2 Giok Jien berdiri mematung,
matanya memandang gadis itu dengan melongo.
Sudah tentu Giok Jien pun tahu apa yang hendak
dilakukan Si Soat Ang, tapi ia tak bertenaga untuk
menghalangi maksudnya, ia hanya bisa berdiri mematung
disana seraya memandang gadis tadi bekerja.
Pada saat itulah mendadak Giok Jien merasakan ada
seorang menggelinding kesisi kakinya.
Giok Jien yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya
untuk memperhatikan gerak gerik Si Soat Ang, tiba2 merasa
ada seseorang menggelinding ke sisinya, ia jadi terperanjat.
Buru2 ia menunduk, dilihatnya orang itu bukan lain
adalah Liem Hauw Seng.
Sepasang gigi pemuda she-Liem ini bergemerutukan
keras, jelas dengan menahan rasa sakit yang luar biasa ia
berusaha mendekati gadis Giok Jien ini.
Pemuda itu mendongak, tangannya gemetar keras tapi ia
sempat melakukan gerakan2 tangan seraya menuding kereta
salju yang tidak jauh terletak disisi tubuhnya.
Giok Jien mendongak, ia segera mengerti apa
maksudnya
Maksud Liem Hauw Seng, menggunakan kesempatan
sewaktu Si Soat Ang pusatkan perhatiannya untuk
menghilangkan jejak mayat Kan Tek Liu. mereka meloncat
naik dan melarikan diri.
Tindakan ini memang merupakan satu2nya jalan hidup
bagi mereka.
Asalkan mereka berhasil meloncat naik keatas kereta
salju itu, maka kendari ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki Si Soat Ang lebih lihaypun jangan harap bisa
menyandak mereka.
Setelah Giok Jien dibuat paham dengan maksud
kekasihnya Liem Hauw Seng, jantung terasa berdebar
sangat keras.
Buru2 ia membongkok untuk bimbing Liem Hauw Seng
bangun, setelah itu per-lahan2 mundur kebelakang.
Ketika itu Si Soat Ang sama sekali tidak merasa
peristiwa apa yang telah terjadi dibelakang tubuhnya, ia
hanya pusatkan perhatiannya untuk mencabuti jarum
beracun yang bersarang ditubuh Kan Tek Lin sebatang
demi sebatang.
Giok Jien sembari memayang tubuh Liem Hauw Seng
selangkah demi selangkah mundur kebelakang, beberapa
kali mereka terjatuh ke permukaan salju tapi setelah
memperoleh harapan untuk hidup semangat yang berkobar
dalam rongga dada mereka berduapun semakin menyala.
Akhirnya setelah bersusah payah, sampai juga sepasang
muda mudi ini diisi kereta salju.
Dengan sekuat tenaga Giok Jien mendorong tubuh Liem
Hauw Seng naik keatas kereta salju sedang ia sendiri
berdiri.
Diiringi bentakan keras, tali les digentakkan kencang,
kesepuluh ekor anjing serigala itu menggonggong ramai
kemudian lari kencang kedepan.
Suara gonggongan anjing mengejutkan Si Soat Ang dari
perhatiannya, bagaikan tersambar ombak ia meloncat
bangun dan berpaling.
Tapi gerakannya ini sudah terlambat.
Sepuluh ekor anjing sembari menggonggong tiada
hentinya telah berlari kencang kemuka, kereta bersalju
dengan meninggalkan muncratan bunga2 salju memancar
delapan tombak jauhnya ke kedua belah samping.
Melihat kereta saljunya dibawa lari, Si Soat Ang
perdengarkan suatu jeritan aneh yang sangat tidak enak
didengar tubuhnya menerjang maju ke-muka.
Sayang, ketika badannya mencapai beberapa tombak
jauhnya, kereta salju itu sudah jauh mencapai dua puluh
tombak lebih meninggalkan gadis itu jauh dibelakang.
Si Soat Ang menjerit melengking tiada hentinya, suara
jeritan tersebut tinggi, dan tajam dan mendebarkan hati.
Walaupun Giok Jien yang berada diatas kereta salju telah
jauh meninggalkan dirinya tapi ia masih dapat menangkap
jeritan lengkingannya yang sangat mengejutkan hati itu.
Hampir2 saja jantung Giok Jien meloncat keluar dari
rongga dadanya, tiada henti ia getarkan tali les agar kereta
saljunya bisa berlari makin cepat.
Sekalipun kereta salju sudah berlari bagaikan terbang, ia
masih juga berseru-seru.
"Cepat dikit, cepat dikit ! kita hampir lolos dari
cengkeramannya, cepat dikit, . . ayoh cepat lagi sedikit !"
Bunga2 salju beterbangan menyambar diatas bibir,
hidung dan matanya, tulang terasa linu tersampuk angin
dingin bagaikan pisau tajam yang menyayat tubuhnya, tapi
ia tidak perduli semuanya demi kereta salju dilarikan
bagaikan terbang.
Kurang lebih setengah jam kemudian, daya lari ke
sepuluh ekor anjing-anjing penghela kereta makin lama
makin lambat dan akhirnya sangat perlahan. Dan Giok Jien
berpaling, dilihatnya seluruh penjuru hanya tampak
permukaan salju nan putih, tak terlihat sesosok bayangan
manusiapun yang melakukan pengejaran.
Ia menghembuskan napas panjang, membentak keras
dan menghentikan larinya sang kereta.
Dalam sekejap mata hampir2 ia tidak mempercayai lagi
akan keuntungannya, air mata tak tertahan meleleh keluar
membasahi seluruh wajah, air mata ini adalah air mata
kegirangan
Ia berpaling, dan berseru:
"Engkoh Hauw Seng, kita..."
Belum habis ucapan tersebut diutarakan keluar,
mulutnya terasa terkunci bungkam dalam seribu bahasa.
Di atas kereta salju tak ada manusia lain kecuali dia
seorang.
Tidak, seharusnya diatas kereta salju ini kecuali masih
ada orang lain.
Dia adalah engkoh Liem Hauw Seng nya !.
Seluruh tubuhnya terasa jadi kaku, ia berdiri tertegun,
pukulan yang menghajar dadanya kali ini bukan saja
datangnya sangat mendadak bahkan peristiwa ini sungguh
telengas sekali, kejadian ini telah menghancurkan semua
pengharapan nya untuk hidup lebih lanjut
Ia berdiri mematung ditempat semula, setelah berapa
lamanya ia berteriak keras:
"Engkoh Hauw Seng !"
Tapi, sekarang ia jadi terkejut setelah mendengar
teriakannya ini. Suara tersebut amat kering, tidak enak
didengar dan kosong... kosong tak berisi, apakah ini suara
yang keluar dari kerongkongannya ? tapi itu bukan
suaranya, lalu suara siapa ? siapakah yang masih ingin
memanggil nama engkoh Hauw Seng dalam keadaan
seperti ini ? ? ?
Mulut Giok Jien terpentang lebar2, ia ingin berteriak dan
menangis tersedu2 tapi sedikit suara tak sanggup
diperdengarkan, ia hanya merasa badan sendiri sedang
melayang, melayang di angkasa sedang hatinya tertekan
terasa berat, berat bagaikan batu ribuan kati.
Ia melihat pemandangan salju di hadapannya seperti
telah berubah warna, cahaya ke-perak2an yang memantul
dari permukaan tanah makin lama berubah makin gelap
dan akhirnya gelap gulita.
Ketika itulah Giok Jien berteriak keras: "Engkoh Hauw
Seng !"
Sebenarnya, matanya sudah ber-kunang2 kepala terasa
pening, badannya hampir rubuh tidak sadarkan diri, tapi
teriakan terakhirnya berhasil menolong gadis ini.
Karena berteriak peredaran darahnya menjadi lancar
kembali, badannya hanya sedikit tergetar dan tetap berdiri
tegak, dan kerobohannya diatas tanah berhasil
dihindarkannya.
Giok Jien menarik napas panjang2, kemanakah perginya
Liem Hauw Seng ?
Sewaktu ia temukan diatas kereta salju tak kedapatan
Liem Hauw Seng ada disana, hatinya sangat kacau, ia tak
bisa berpikir lagi kemanakah perginya pemuda tersebut.
Tapi kini, ia sudah tahu kemanakah perginya Liem
Hauw Seng kekasih pujaan hatinya.
Tentu kereta salju berlari terlalu cepat sehingga tubuh
pemuda she Liem ini terpental dan jatuh menggelinding
diatas permukaan salju.
Sedangkan ketika mereka melarikan diri menggunakan
kereta salju, Si Soat Ang mengejar dari belakang, maka
jikalau Liem Hauw Seng terjatuh ditengah jalan, ada
kemungkinan besar ia sudah terjatuh ditangan gadis she Si
dari benteng Thian It Poo ini.
Teringat akan hal ini, Giok Jien merasakan seluruh
peredaran darah dalam tubuhnya seperti hampir membeku,
ia merasa seluruh badannya jadi kaku, sepasang kaki lemas
tak sanggup bangun berdiri lagi, ia roboh terjengkang diatas
permukaan salju.
Wajahnya dalam terkubur dibalik tumpukan salju, bunga
salju mencair menjadi air dingin membuat wajah yang
terpendam jadi peri, linu, seperti tertusuk beratus2 batang
jarum.
Ia menghembuskan napas berat didalam tumpuk kan
salju, setiap kali ia menghembuskan segumpal salju ikut
tertelan kedalam perutnya.
Entah lewat beberapa saat lamanya.. ia mulai berpikir
kembali, berpikir tentang nasib Liem Hauw Seng.
Ia menduga sekalipun pemuda kekasihnya ini telah jatuh
terpelanting diatas salju, tapi belum tentu berhasil
ditemukan oleh Si Soat Ang.
Jika ia tidak sampai diketahui oleh Si Soat Ang dan ia
sendiri berdiri tertegun disitu bukankah sama artinya ia
sudah memberikan kesempatan bagi malaikat elmaut untuk
mencabut nyawa kekasih nya ?
Teringat akan hal itu, semangat Giok Jien segera
berkobar kembali. ia meloncat bangun dari permukaan salju
dan menggelinding naik keatas keretanya lalu diiringi
bentakan keras serta gonggongan anjing, kereta kembali
bergerak dengan cepatnya.
Ketika itu salju sudah berhenti, Giok Jien yang
melarikan kereta saljunya dengan mengikuti bekas yang
ditinggalkan tadi. tidak sulitlah baginya untuk kembali
ketempat semula.
Selama kereta bergerak cepat, hati gadis ini bagaikan ter-
katung2 ditengah angkasa, dengan cermat diperhatikannya
terus suasana disekelilingnya.
Ia tahu asalkan Liem Hauw Seng terpental jatuh dari
kereta dengan membawa luka yang parah tak akan jauh ia
merangkak pergi.
Kurang lebih seperminum teh kemudian sedikitpun tidak
salah dari tempat kejauhan ia melihat ada seseorang
menggeletak diatas permukaan salju.
Saking girangnya Giok Jien jerit melengking, tidak
menunggu kereta tersebut berhenti lagi, ia meloncat turun
dan ber-lari2an menghampiri manusia yang dilihatnya
menggeletak diatas tanah.
Beberapa kali ia harus jatuh bangun sebelum sampai
dihadapan orang tadi, setelah susah payah sampai juga dia
disana.
Tubuh orang itu melingkar jadi satu, tapi Giok Jien
dapat melihat jelas dia bukan lain adalah-engkoh Hauw
Seng nya.
Napasnya memburu, sembari tertawa air mata tiada
hentinya jatuh berlinang.
"Coba kau lihat aku benar2 sangat tolol" teriaknya seraya
lari menghampiri. "Kau terjatuh dari atas kereta tapi aku
masih belum merasa, tapi sekarang baikan sudah, akhirnya
berhasil juga kutemukan dirimu."
Setelah gadis ini menemukan kembali Liem Hauw Seng
masih ada disana, hatinya jadi lega, perkataanpun tak
sanggup diutarakan lagi.
Sekalipun begitu bukan saja Liem Hauw Seng tidak
memberi jawaban kepadanya, bahkan badan pun tak
berkutik.
Kontan Giok Jien membungkam dalam seribu bahasa,
jantungnya terasa berdebar sangat keras, sekuat tenaga ia
membalikkan badan kekasihnya.
"Engkoh Hauw Seng !" teriaknya keras.
Pada saat itulah Liem Hauw Seng baru bersuara,
terdengar ia menghela napas panjang.
"Aaai...! aaa...apa maksudmu datang mencari diriku lagi
?"
Giok Jien tertegun.
"Engkoh Hauw Seng, kenapa aku tak boleh datang
mencari dirimu ? sekarang aku berhasil temukan dirimu, ini
sangat bagus sekali. mari kita cepat pergi, sebelum nona
sempat menemukan kita. kita harus cepat2 pergi !"
Liem Hauw Seng pejamkan matanya rapat2, sekali lagi
ia perdengarkan suara helaan napas panjang.
Sekuat tenaga Giok lien memayang bangun tubuh
pemuda tersebut tapi sebelum mereka sempat berangkat
mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang
datang suara teguran yang sangat dingin.
"Sungguh sayang waktu tak mengijinkan lagi, aku telah
menemukan kalian kembali."
Suara itu muncul diri bibir Si Soat Ang.
Waktu itu Giok Jien sudah siap melangkah pergi, tapi
begitu ucapan Si Soat Ang meluncur keluar memecahkan
kesunyian, ia jadi tertegun dan akhirnya berdiri kaku,
bahkan untuk berpaling sekejappun tidak sanggup.
Suara tertawa dingin dari Si Soat Ang berkumandang
tiada hentinya dari belakang tubuhnya, tertawa dingin itu
memberikan perasaan bagi Giok Jien bagaikan selangkah
demi selangkah mendekati liang kubur.
Beberapa saat kemudian, dengan suara yang serak lagi
kering ia berseru lirih:
"Nona kau berhasil menyandak kami ?"
Tubuhnya tetap tak bergerak, tapi ia merasa Si Soat Ang
makin lama semakin mendekati tubuhnya.
Akhirnya tangan Si Soat Ang berhasil menekan
pundaknya, suara gelak tertawa yang diperdengarkanpun
makin menggidikkan hati.
Kelima jarinya semakin mengencang dan terakhir
hampir2 telah menembusi pundak Giok Jien sehingga
menimbulkan rasa sakit yang bukan kepalang.
Seluruh tubuh gadis itu gemetar keras, air mata meleleh
keluar membasahi seluruh wajahnya, menanti seluruh
tubuhnya kena diangkat ke tengah udara oleh Si Soat Ang,
ia baru menjerit kaget.
Tapi dengan cepat putri kesayangan dari Poocu Benteng
Thian It Poo ini telah memerseni sebuah tempelengan keras
keatas wajahnya.
Tamparan yang menggunakan tenaga sangat besar ini
membuat tubuh Giok Jien mundur sempoyongan, tapi Si
Soat Ang tidak membiarkan badannya jatuh, sekali
cengkeram ia menyambar lagi dada gadis tersebut.
"Nona..." seru Giok Jien dengan nada gemetar. "Kau...
kau bunuhlah aku seorang tapi aku mohon janganlah kau
mencelakai engkoh Hauw Seng."
Dalam pada itu Si Soat Ang telah mencengkeram Liem
Hauw Seng dikiri dan Giok Jien dikanan, rasa benci yang
terkumpul dalam dadanya selama ini sekarang disalurkan
semua, ia telah berubah hampir mendekati sinting, jeritan
lengkingnya bercampur baur dengan tertawa yang
meringkik.
"Hiiii... hiiii... membunuh dirimu? kau boleh berlega
hati, aku tak akan membinasakan dirimu, tak akan
kulakukan hal sebodoh itu."
Sejak semula Giok Jien tidak memikirkan mati hidupnya
lagi, oleh karena itu mendengar ucapan Si Soat Ang
tersebut ia merasa terlalu gembira.
"Lalu bagaimana dengan engkoh Hauw Seng." buru2
tanyanya cepat.
"Kau boleh berlega hati ," teriak Si Soat Ang dengan
nada meIengking. "ia pun tak akan mati, aku masih ingin ia
hidup agar bisa melihat banyak persoalan."
Tak kuasa lagi Giok Jien jatuhkan diri dan berlutut.
"Nona asalkan kau suka menolong engkoh Hauw Seng,
suruh aku berbuat apapun aku sanggup."
Mendadak gadis she Si mendongak dan tertawa ter
bahak2.
"Oooouw benar begitu ? baik, kau boleh payang dia naik
keatas kereta bersalju dan kita segera berangkat !"
Walaupun dalam hati Giok Jien tahu urusan tak akan
beres segampang ini, ia merasa paling sedikit urusan yang
ada didepan mata dibereskan dulu, asalkan Liem Hauw
Seng bisa tertolong semua hal mudah diselesaikan, oleh
karena itu buru2 ia payang pemuda itu naik keatas kereta
salju.
Sembari memayang badannya, tiada hentinya ia
menghibur pemuda kekasihnya:
"Engkoh Hauw Seng, nona sudah setuju untuk menolong
dirimu, kau tidak usah gelisah, hatimu makin gelisah
lukamu makin sukar untuk sembuh."
Beberapa kali Liem Hauw Seng membuka mulutnya
mau mengucapkan sesuatu, akhirnya tak sepatah katapun
yang diutarakan keluar.
Tidak selang beberapa saat, ketiga orang itu sudah naik
keatas kereta salju, dimana cambuk berayun kereta bergerak
dengan cepatnya kemuka.
Kurang lebih setengah jam kemudian mereka telah tiba
diatas sebuah bukit dengan tujuh, delapan buah bangunan
rumah tembok, Ketujuh delapan buah bangunan rumah
tembok itu melingkari sebuah halaman, ditengah halaman
berdiri sebuah loteng peronda yang tingginya tiga tombak.
Kiranya tempat itu bukan lain adalah sebuah pos
penjagaan dari benteng Thian It Poo.
Ketika kereta salju bergerak mendekat, tampaklah
beberapa orang munculkan diri menyambut kedatangan
mereka.
Si Soat Ang melarikan keretanya kehadapan beberapa
orang itu tampak lelaki2 kekar tersebut dengan wajah
kegirangan berteriak keras.
"Aaaah...! nona sungguh2 datang, peristiwa ini tidak
kami sangka sebelumnya."
Si Soat Ang tidak menggubris ocehan2 itu, ia langsung
bertanya dengan nada yang ketus.
"Dimana Oen Su-ko? adakah ia disini?"
Pertanyaan itu baru saja diutarakan, seorang lelaki kurus
tinggi dengan memakai topi terbuat dari kulit binatang
berlari datang seraya menyahut tiada hentinya:
"Ada! ada!"
Lelaki yang bernama "Oen Su Ko" ini punya sedikit
nama besar disekitar daerah Utara, senjata andalannya
sangat luar biasa yaitu sebuah roda bulat yang panjangnya
beberapa depa dengan ujungnya bertaburkan duri2 tajam,
bila digetarkan maka akan menimbulkan suara dengungan
yang sangat aneh.
Ia she Oen dengan gelar Toh Ming Hwi Loen, atau
siroda terbang pencabut nyawa.
Pada saat itu dengan wajah penuh senyuman ia
menyambut kedatangan Si Soat Ang..
"Nona, secara bagaimana kau bisa sampai disini? apakah
Poocu tahu akan kedatanganmu disini?" sapanya ramah.
"Apakah kedatanganku harus diketahui Poocu dulu ?"
hardik Si Soat Ang kurang senang.
"Ooouw . . . tidak, tidak, sudah tentu tidak dengan
kepandaian silat yang nona miliki saat-ini jangan dikata
hanya berkeliling disekitar benteng Thian It Poo, sekalipun
berkelana di daerah Utara maupun selatan juga sudah
cukup."
Si Soat Ang tertawa senang.
"Oen Su-ko selembar mulutmu betul2 sangat lihay, mari !
bantu aku sebentar disini ada seorang sedang menderita
luka, cepat payang dia masuk kedalam."
Setelah mendengar perintah dari gadis she Si ini Oen Su
ko baru perhatikan bila diatas kereta salju masih ada
seorang yang sedang menderita luka sangat parah, ia jadi
tertegun dan buru2 maju menghampiri untuk payang orang
itu.
Setelah dekat, ia makin terperanjat lagi karena dalam
sekali pandangan manusia she Oen ini lantas mengenali
kembali bila orang itu adalah Liem Hauw Seng keponakan
Poocu mereka juga merupakan kakak misan dari Si Soat
Ang.
Luka yang diderita Liem Hauw Seng sangat parah, tapi
sikap Si Soat Ang amat hambar bahkan masih bisa bergurau
dan tertawa, Kendari Oen Su ko sudah ada setengah umur
berkelana dalam dunia persilatan juga susah untuk menebak
kejanggalan tersebut.
Setelah memayang tubuh Liem Hauw Seng, ia pelototi
terus wajah Si Soat Ang dengan ragu2 dan kebingungan.
"Cepat kami kirim dua orang kembali ke benteng untuk
mintakan obat luka pada ayahku, cepat pergi dan cepat
kembali." perintah Si Soat Ang lebih lanjut "Beritahu juga
pada ayahku, katakan untuk sementara waktu aku tak akan
kembali ke benteng dan akan tetap berada disini untuk
merawat luka Piauw-ko."
Mendengar perintah tersebut Oen Su segera menyahut.
"Orang yang pergi mengambil obat harus cepat kembali,
dilarang banyak bicara, jikalau sampai merusak urusanku,
aku akan suruh kalian rasakan bahwa aku adalah manusia
yang tidak gampang diganggu." teriak gadis she Si ini lebih
lanjut dengan wajah membesi.
Sekali lagi Oen Su menyahut, buru2 ia perintahkan dua
orang dengan menunggang kereta berlalu dari sana, sedang
sisanya segera masuk kedalam ruangan.
Setelah masuk kedalam ruangan hawa hangat
menyelimuti badan, Oen Su membaringkan Liem Hauw
Seng keatas pembaringan sedang Si Soat Ang mengeluarkan
sebutir pil, dengan bantuan arak ia paksa obat itu masuk
kedalam perut pemuda she-Liem.
Selama ini Giok Jien selalu berada disisi Liem Hauw
Seng, melihat Si Soat Ang agaknya sungguh2 hendak
menyembuhkan luka kekasihnya, rasa girang dalam hatinya
susah dilukiskan lagi.
Tidak selang beberapa saat kemudian Si Soat Ang
berkata kembali:
"Oen Su-ko, dalam pos perjagaan ini semuanya ada
berapa orang ?"
"Seluruhnya ada delapan belas orang"
"Kecuali dua orang yang pergi minta obat, sisanya
keenam belas orang segera suruh berkumpul aku mau
periksa satu persatu."
Oen Su tidak mengerti apa maksud Si Soat Ang dengan
berbuat demikian, iapun tidak berani banyak bertanya,
terpaksa sahutnya:
"Terima perintah." Ia singkap gorden dan berjalan
keluar.
Tidak selang beberapa waktu suara langkah kaki
bergema didepan pintu.
"Cukup... cukup... tak usah suruh mereka masuk, biar
aku yang keluar sendiri" buru2 gadis she Si membentak.
Sembari berkata mendadak ia tarik tangan Giok Jien dan
diajak keluar dari ruangan menuju ketempat luaran,
Tampak di tengah halaman berdiri puluhan lelaki kekar
tinggi pendek tak menentu, sebagian besar berwajah jelek2
dan buas.
Diantaranya ada seorang lelaki yang pendek gemuk,
wajahnya sangat jelek sekali, kepalanya besar bulat seperti
babi, badannya penuh berbulu hitam dan guyur2 lemas.
Giok Jien yang kena ditarik keluar oleh Si Soat Ang, ia
lantas merasakan kejadian tidak menguntungkan bagi
dirinya, tak kuasa lagi jantung terasa berdebar sangat keras.
Waktu itu Si Soat Ang menarik dia menuju kehadapan
lelaki jelek itu, Giok Jien makin curiga dan takut sehingga
badannya gemetar keras.
Dengan pandangan mata yang tajam putri kesayangan
dari Poocu benteng Thian It Poo ini perhatikan lelaki jelek
itu beberapa kejap. lalu tertawa.
"Wajahmu terasa amat asing, siapakah namamu?"
Agaknya lelaki jelek itu dibikin kaget setengah mati
sehingga untuk beberapa waktu hanya berdiri me-Iongo2
dengan mata terbelalak, tak sepatah katapun bisa
diutarakan keluar.
Oen Su yang ada disisinya segera mewakili untuk
memberi jawaban:
"Nona, dia adalah "Ci Bian Koei" atau setan berwajah
merah Ciauw Loo-chiet, kepandaian silatnya tidak jelek .
"Ooouw...kiranya Ciauw Cung-su !"
Sisetan berwajah merah Ciauw Chiet sebenarnya tidak
lebih hanya manusia rendah, sedang Si Soat Ang adalah
putri kesayangan poocu benteng Thian It Po, baginya cukup
memandang gadis ini dari tempat jauh saja jantungnya
sudah berdebar keras, apalagi saat ini gadis tersebut bukan
saja berdiri di hadapannya bahkan nadanya halus dan
begitu berbicara lantas memanggil dirinya dengan sebutan
"Ciauw Cung-su", Ciauw Loo-chiet ini makin gelagapan
lagi.
Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya,
ia tidak tahu harus mengucapkan perkataan apa baiknya.
Kawan yang berdiri disisinya segera menjawil dia dan
memberi tanda agar ia jangan membisu terus.
Ciauw Loo chiet pentangkan mulutnya lebar2, lama
sekali ia baru menyahut: "Benar... hemm... aku adalah
pendekar Ciauw !"
Ucapannya ini langsung mendatangkan rasa geli dihati
semua orang, tidak terkecuali juga Si Soat Ang, ia tertawa
ter-kekeh2.
Hanya Giok Jien seorang yang tundukkan kepala,
badannya gemetar sangat keras.
Lama sekali gelak tertawa baru sirap, mewakili Ciauw
Loo chiet yang jadi jengah sehingga wajah nya berubah
merah padam seperti babi hangus ujar Si Soat Ang:
"Ciauw Cuang-su benar2 seorang lelaki sejati, kalian
jangan mentertawakan dirinya, pendekar Ciauw, aku ingin
menanyakan satu persoalan kepadamu."
"Uuu . . uru. . . urusan apa ? ? ?"
Si Soat Ang melirik sekejap kearah Giok Jien, lalu
senyuman sinis yang menyeramkan berkelebat diatas
wajahnya.
"Pendekar Ciauw, kau sudah menikah belum?"
Ciauw Loo-chiet berdiri melengak, jelas ia tidak pernah
menyangka Si Soat Ang bisa mengajukan pertanyaan
macam itu kepadanya.
Sisanyapun ikut berdiri tertegun, untuk sesaat suara
manusia, gelak tertawa jadi serap.
Karena pertanyaan yang diajukan gadis she Si ini sangat
luar biasa dan tak seorang pun diantara mereka yang
mengerti maksudnya.
Ketika semua orang berdiri melengak, Ciauw Loo chiet
berdiri me longo2, mendadak Giok Jien menjerit
melengking. "Nona kau berbuatlah kebaikan." sembari
berteriak ia jatuhkan diri berlutut dihadapan Si Soat Ang.
Bagaimanapun Giok Jien bukan hanya sehari dua hari
bergaul dengan majikannya ini, sudah tentu ia tahu
persoalan apakah yang sedang di pikirkan dalam hati Si
Soat Ang.
Semua orang melihat Giok Jien jatuhkan diri berlutut
makin melengak lagi dibuatnya, tapi Si Soat Ang sama
sekali tidak menggubris bekas budaknya ini, kembali ia
mengulangi pertanyaannya.
Dengan tangan digoyangkan berulang kali, Ciauw Loo
chiet menjawab juga akhirnya: "Belum... belum kawin."
"Kalau begitu bagus sekali." Si Soat Ang tertawa seram.
"Pendekar Ciauw, coba kau lihat bagaimana wajah
dayangku ini ?"
Ciauw Loo-chiet tertegun, buru2 ia alihkan sinar
matanya kearah Giok Jien yang masih berlutut diatas tanah.
Pada dasarnya Giok Jien memang seorang gadis cantik,
kini wajahnya pucat pasi badannya gemetar keras, semakin
membuat orang merasa kasihan.
Melihat wajahnya yang cantik sepasang mata Ciauw Loo
chiet kontan melotot bulat2, ia seperti berada dalam impian
dan hanya bisa tertawa bodoh belaka.
"Jika kau suka, biar aku yang jadi mak comblangnya,
malam ini juga kalian kawin !"
Ucapan ini menimbulkan kegemparan dikalangan para
jago yang hadir disana, ada beberapa orang lelaki segera
mengempit tangan dan kaki Ciauw Loo chiet lantas
diangkat dan di-lempar2 kan ke tengah udara.
Tubuh Ciauw Loo chiet gemuk besar, ia tidak mengerti
apa yang dinamakan ilmu meringankan tubuh, kena
dilemparkan ketengah udara langsung saja menjerit seperti
babi disembelih tangannya bergerak keras dan
menimbulkan suatu sikap yang sangat jelek.
"Sudah jangan ribut" seru Si Soat Ang kemudian sambil
tertawa. "Jangan sampai membuat sipengantin jadi
ketakutan, nanti sipengantin perempuan tak akan
mengampuni kalian."
Beberapa orang itu segera turunkan kembali Ciauw Loo
chiet keatas tanah, Oen Su yang ada disisinya dengan cepat
dorong ia kedepan.
"Manusia yang tidak tahu diri" tegurnya keras. "Masih
tidak kau ucapkan terima kasih atas budi nona kepadamu ?"
Tidak usah disuruh kedua kali Ciauw Loo-chiet jatuhkan
diri berlutut dan meng-angguk2 kan kepalanya berulang kali
di hadapin Si Soat Ang.
Waktu itu Giok Jien masih berlutut diatas tanah, sedang
Si Soat Ang tertawa dingin tiada hentinya:
"Eeeii kenapa kalian begitu gelisah, mau memberi
hormat seharusnya menunggu lilin kawin dinyalakan lebih
dulu!"
Ucapan ini kembali mendatangkan gelak tertawa
dikalangan para jago yang ada disana.
Tubuh Giok Jien gemetar semakin keras, ia merangkak
maju beberapa langkah hingga tiba dihadapan Si Soat Ang
lalu seraya memeluk ke dua kaki bekas majikannya
teriaknya ber-kali2:
"Nona... nona..!"
Ditengah suara gelak tertawa yang keras, suara
jeritannya terdengar sangat lemah dan hampir sirap, tapi Si
Soat Ang masih bisa menangkap suaranya, per-lahan2 ia
ayunkan tangan keatas sehingga suasana jadi tenang
kembali.
Lalu dengan pandangan dingin Si Soat Ang mengalihkan
sinar matanya kebawah.
Waktu itu Giok Jien sedang mendongak dan merengek
memohon belas kasihannya, melihat wajah musuh cintanya
ini sangat mengenaskan dan sebentar lagi kesuciannya akan
musnah ditangan orang lain, dalam hati ia merasa sangat
girang dan sangat senang.
"Apa yang ingin kau katakan ?" serunya sepatah kata
demi sepatah kata.
Air mata Giok Jien mengucur keluar semakin deras.
"Nona, kau... kau boleh hajar diriku..! kau boleh bunuh
diriku, aku tak akan murung atau merasa kesal, tapi
sebelum menjatuhi hukuman macam ini kepadaku haruslah
kau ikut memikirkan buat diri engkoh Hauw Seng !"
"Iiih sungguh aneh sekali, aku rada sedikit tidak
mengerti, kau adalah dayangku aku mau kau kawin dengan
siapa, apa sangkut pautnya dengan Hauw Seng Piauw ko ?"
seru Si Soat Ang dengan alis melentik, Giok Jien masih
terus menerus memohon.
"Nona, aku mohon kepadamu jangan..! janganlah
bersikap demikian kepadaku, janganlah bersikap demikian
kepadaku."
Makin gadis itu merengek dan memohon di-hadapannya
Si Soat Ang merasa makin kegirangan, sengaja dengan
perlambat ucapannya ia berseru:
"Oouw ! kalau begitu kau tidak ingin kawin dengan
Ciauw Ciang su ini ?"
"Nona, aku..." Giok Jien mulai terisak nangis.
"Baiklah, sekarang coba bicara sendiri sebenarnya kau
ingin kawin dengan siapa ?"
Sebenarnya seluruh tubuh Giok Jien sedang gemetar
sangat keras, tapi menanti ucapan terakhir dari Si Soat Ang
meluncur keluar tiba2 badannya tidak gemetar lagi,
bersamaan itu pula ia berhenti menangis.
Bukan begitu saja, setelah suara tangisannya berhenti
per-lahan2 ia merangkak dan bangkit berdiri
Dalam sekejap mata ia sudah mulai paham, sekalipun ia
merengek terus dihadapan Si Soat Ang, jangan dikata
hanya melelehkan air mata, kendari menangis sampai
kucurkan darah segar pun juga percuma.
Keadaan Si Soat Ang saat ini mirip seekor kucing yang
berhasil menangkap seekor tikus, ia permainkan dulu tikus
itu sehingga akhirnya sedikit demi sedikit menjadi mati.
Setelah Giok Jien bangun berdiri, ia menghela napas
panjang.
"Nona apabila kau ingin paksa aku mati, biarlah aku
mati sekarang juga !"
"He he he siapa yang ingin paksa kau mati ?" jengek Si
Soat Ang sembari tertawa dingin. "apalagi kau tak boleh
mati, jika kau mati maka rasa gemas, benci yang
terkandung dalam hatiku hendak ku lampiaskan kepada
siapa ?"
Sebetulnya dalam anggapan Giok Jien, asalkan ia adu
jiwa sampai mati, maka semua urusan akan selesai dendam,
benci yang tertanam dalam hati gadis she Si ini pun akan
musnah dengan sendirinya.
Tapi kini ia mulai mengerti urusan tak akan segampang
itu.
Bila ia menyetujui kawin dengan Ciauw loo chiet.
Kejadian ini sukar dibayangkan bagaimana akhirnya, maka
ia bakal menerima suatu penghinaan yang amat besar.
kehidupan selanjutnya tak tahu bagaimana jadinya, tapi ada
kemungkinan besar Si Soat Ang tak akan membenci tak
akan menyakiti Liem Hauw Seng lagi.
Bila ia memilih jalan mengadu jiwa, dalam keadaan
gusar Si Soat Ang bisa saja menggunakan cara yang paling
keji untuk menyiksa Liem Hauw Seng.
Berpikir akan akibat2 yang bisa terjadi Giok Jien
merasakan badannya merinding, bulu kuduk pada bangun
berdiri.
Ia tak mungkin bisa mati, ia tak boleh mati, jika ia mati
maka Liem Hauw Seng akan tinggal seorang diri dikolong
langit, pemuda itu akan tersiksa hatinnya selama hidup.
Tapi bila ia tak mati, bagaimana jadinya ? harus kawin
dengan seorang lelaki macam babi ?
Giok Jien tidak sanggup untuk berpikir lebih lanjut, ia
merasa badannya jadi kaku, bukan saja seluruh tubuhnya
bahkan hatipun ikut jadi kaku, ia berubah jadi goblok,
berubah jadi manusia tolol. apapun tak bisa dipikir lagi.
Giok Jien berdiri tertegun, sedangkan Si Soat Ang tiada
hentinya memperdengarkan gelak tertawanya yang aneh
dan menyeramkan.
Sembari tertawa. desaknya lebih lanjut: "Kau sudah
setuju bukan ? asalkan kau mengangguk maka malam ini
adalah malam pengantinmu, jika kau tidak setuju, Heeee...
heee... aku masih punya cara yang lain."
Dengan pandangan sayu Giok Jien mendongak, sudah
tentu Si Soat Ang punya cara yang lain, dengan sangat
mudah sekali gadis she Si dapat menotok jalan darahnya
kemudian memberikan badannya yang tak bisa berkutik
untuk dikerjai oleh Ciauw Loo-chiet.
Tapi justru Si Soat Ang paksa dia untuk mengangguk!
paksa ia menyetujui sendiri. Sudah tentu Giok Jien tahu
maksud tujuan dari Si Soat Ang, gadis dari benteng Thian It
Poo ini sengaja berbuat demikian agar Liem Hauw Seng
yang ada didalam ruangan rumah bisa ikut mendengar
suara sahutan dari kekasihnya ini, agar Liem Hauw Seng
tahu bila Giok Jien adalah rela sendiri kawin dengan Ciauw
Loo-chiet.
Bila demikian adanya. maka Liem Hauw Seng akan
memandang rendah dirinya, melupakan dia dan tidak
merindukan dia lagi, ia akan menganggap dirinya sebagai
seorang perempuan rendah yang tidak tahu malu.
"Tidak boleh kusanggupi !" Teriak Giok Jien didalam
hatinya, "Bagaimanapun nasib menekan diriku, lebih baik
aku pasrah saja. aku tak boleh mengangguk, tak boleh
mengikuti paksaannya !"
Dengan kaku ia berdiri, disana, seluruh badannya seperti
membeku. sedikitpun tak berkutik lagi.
Si Soat Ang mengulangi kembali pertanyaan itu sampai
beberapa kali. -Tapi Giok Jien tetap tak bergerak.
Lama kelamaan suaranya makin meninggi,
kegusarannyapun makin membakar hatinya.
Oen Su yang berdiri disamping, karena takut Si Soat Ang
sulit turun panggung, dengan maksud mencari muka
ujarnya:
"Nona, ini hari malam semakin kelam, lebih baik kita
bicarakan besok saja."
"Apa yang kau ketahui ? tidak usah banyak bicara !"
teriak Si Soat Ang penuh kegusaran.
Oen Su sama sekali tidak menduga ia bakal ketanggor
batunya, saking takutnya buru2 ia bongkokkan badannya
berulang kali.
"Baik ! Baik ! Baik !"
Badannya segera mengundurkan diri dari sana.
Melihat Si Soat Ang jadi naik pitam semua orang yang
hadir disana tak berani menghembuskan napas berat2 lagi,
masing2 orang mulai merasa heran dan bingung, mereka
tidak tahu kenapa Si Soat Ang paksa dayangnya yang
cantik untuk kawin dengan Ciauw Loo-chiet yang jelek
bagaikan babi.
Pada saat itulah mendadak dari belakang tubuh Si Soat
Ang berkumandang datang suara teriakan lirih dan lemah.
"Piauw moay, piauw moay !"
Mendengar panggilan itu, tubuh Si Soat Ang tergetar
keras, per-lahan2 ia berpaling.
Entah sejak kapan Liem Hauw Seng telah merangkak
turun dari atas pembaringan dan kini berdiri didepan pintu
dengan tangan mencekal tiang.
Walaupun sekuat tenaga ia berusaha berdiri tegak, tapi
kelihatan sekali setiap saat dapat roboh ketanah, wajahnya
pucat pasi bagaikan mayat.
Waktu itu, ditengah lapangan kosong telah di buat
seonggokan api unggun, cahaya api yang berwarna kuning
ke emas2an berkobar menjulang tinggi keangkasa, dibawah
sorotan cahaya api wajah Liem Hauw Seng yang pucat pasi
kelihatan sangat aneh sekali.
Setelah Liem Hauw Seng berteriak dua kali, ia tidak
bicara lagi.
Sedangkan Si Soat Ang sejak putar badan iapun
membungkam dalam seribu bahasa, beberapa saat
kemudian baru terdengar ia bertanya: "Kau sedang
memanggil diriku ?"
Diatas selembar wajah Liem Hauw Seng yang pucat
tersungging satu senyuman pahit.
"Benar aku sedang memanggil dirimu. Piauw moay aku
lihat kau sudah cukup mengacau hubungan kami"
"Hmm, yang ingin kau sampaikan kepadaku hanya ini
saja ?"
Tubuh Liem Hauw Seng menerjang maju lagi beberapa
langkah, bila bukan mencekal pinggiran dinding hampir2
saja badannya roboh terjengkang diatas tanah.
Seluruh tubuhnya mengeluarkan suara gemerutukan
yang keras, sahutnya tegas: "Benar, bila dalam hatimu
masih ada hal2 yang terasa kurang puas, kau boleh
laksanakan siksaan mu itu dibadanku, kau jangan
menyusahkan Giok Jien lagi."
Setelah menyiksa Giok Jien tadi, rasa mangkel dan rasa
gusar yang berkobar dalam dada Si Soat Ang telah banyak
berkurang.
Melihat parahnya luka yang diderita Liem Hauw Seng,
hatinya mulai iba. Bagaimanapun juga ia pernah jatuh cinta
dengan pemuda ini karena pun dalam hatinya ingin cepat2
sembuhkan luka yang diderita pemuda tersebut.
Tapi, setelah mendengar ucapan yang terakhir dari lelaki
she Liem ini, rasa gusarnya kembali berkobar.
"Oooouw, , . cinta kalian berdua benar2 sangat
mendalam sekali," sindirnya diiringi tertawa dingin yang
menyeramkan.
Liem Hauw Seng menghela napas panjang.
"Aaaai . . . kau jangan anggap Giok Jien adalah seorang
anak yatim piatu, aku lihat hatinya suci dan polos ia tentu
mempunyai asal-usul yang besar, aku lihat lebih baik kau
jangan keterlaluan, dan lepaskan dirinya !"
"Ha ha ha Liem Hauw Seng, kau anggap ucapanmu itu
bisa menakuti diriku ?" tiba2 Si Soat Ang mendongak dan
tertawa terbahak2 "Setelah kau keluar urusan jauh lebih
bagus lagi.”
"Oen Su ! tangkap mereka berdua !" perintah yang
diturunkan dengan wajah hijau membesi siapa yang berani
membangkang ? walaupun Oen Su tahu kedudukan dari
Liem Hauw Seng tapi bagaimanapun juga kedudukannya
tak akan setinggi kedudukan Poocu serta Si Soat Ang.
Oleh karena itu setelah ragu2 sejenak mereka maju juga
untuk memayang Liem Hauw Seng dan diseret pergi.
Air muka Si Soat Ang pucat kehijau2an, dengan
tersungging suatu senyuman yang menyeramkan kembali
perintahnya:
"Ambil segentong air panas, jangan terlalu panas, hati2
jangan menyelomoti badan Liem sauw-ya!"
Dua orang berjalan keluar meninggalkan barisan, tidak
lama kemudian mereka kembali dengan membawa
segentong air panas yang masih mengepulkan asap.
Hingga detik ini tak seorang manusiapun paham apa
yang hendak dilakukan oleh Si Soat Ang setelah kedua
orang itu meletakkan gentong berisikan air panas itu keatas
tanah, gadis she-Si ini baru berkata kembali.
"Oen Su, masukkan dia kedalam gentong air panas itu!"
"Nona..." teriak Oen Su melengak.
Tapi tidak menanti ia menyelesaikan ucapannya, Si Soat
Ang sudah berseru kembali.
"Sudah dengar belum?"
Oen Su tidak berani banyak bicara lagu terpaksa ia
angkat badan Liem Hauw Seng dan dijebloskan kedalam
gentong air panas.
Air dengan cepatnya membasahi seluruh lutut Liem
Hauw Seng dan merendamnya hangat2.
Tapi cuaca ditempat luaran sangat dingin, sekalipun air
yang diangkut keluar masih panas dalam sekejap mata
panasnya telah berkurang.
Dengan perasaan bangga Si Soat Ang tertawa seram.
"Manusia rendah, sudah kelihatan belum ?" jengeknya
sinis, "Aku lihat paling banter satu jam lagi segentong air
panas ini akan berubah jadi segentong air dingin, waktu itu
sepasang kaki engkoh Hauw Seng mu yang ada dalam
tumpukan salju akan terasa hangat sedap sekali... haa...
haaaa... tentu kau bisa bayangkan bukan, bagaimana
rasanya waktu itu !"
Giok Jien jadi ketakutan.
"Nona, jangan... janganlah berbuat demikian!" teriaknya
gemetar.
"Haaaa... haaa sekalipun kau minta kepadaku juga
percuma saja." Teriak Si Soat Ang agak histeris. "Kapan
saja kau menyanggupi untuk kawin dengan Ciauw Loo-
chiet, saat itu juga Oen Su akan mengangkat dia lepas dari
gentong air ?"
Ia lantas berpaling dan tambahnya: "Liem Hauw Seng,
bila kau tidak ingin sepasang kakimu jadi cacad akibat
kedinginan maka mohon lah bantuan kekasihmu asal suka
menolong jiwamu."
Kembali ia tertawa dingin, kepada Oen Su serunya pula:
"Oen Su, sudah kau dengar belum ?"
Sebetulnya Oen Su pun seorang lelaki buas yang kasar
dan berhati telengas, tapi menyiksa orang dengan
menggunakan cara demikian kejinya baru untuk pertama
kali ini ia jumpai, suaranya berubah jadi serak tidak enak
didengar.
"Aaaa.. aku sudah dengar !".
Si Soat Ang tertawa dingin, dengan membawa
kemangkelan ia melangkah masuk kedalam ruangan.
Oen Su yang memayang tubuh Liem Hauw seng tidak
berani berkutik. sedang Liem Hauw Seng sendiri
memejamkan matanya rapat2, nadanya mulai kedengaran
sangat lemah.
Menanti Si Soat Ang sudah berlalu Giok Jien segera
menubruk kesisi gentong air itu, teriaknya setengah
memohon:
"Toa-ya sekalian, kalian sudilah kiranya berbuat
kebaikan, dia adalah seorang yang sedang menderita luka
parah. dia... dia sudah tidak sanggup untuk menerima
siksaan lagi, kalian sudilah berbuat baik, Oen Su-ya ! kalian
sukalah berbuat kebaikan !"
Suaranya begitu mengenaskan, ditengah malam buta
yang dingin mendatangkan perasaan ngeri bagi yang
mendengar.
Lelaki liar yang hadir disana, bukannya tidak
berperikemanusiaan semua, namun Si Soat Ang berada
dalam ruangan, siapa yang berani banyak bertingkah ?
Terdengar Oen Su menghela napas dan coba menghibur:
"Nona. aku lihat Ciauw Loo-chiet pun lumayan juga.."
Tetapi ucapannya sudah terputus oleh isak tangis Giok
Jien, sembari bersedu sedan gadis memasukkan tangannya
kedalam gentong air, mendadak ia menjerit kaget dan
berteriak:
"Aaah...! airnya mulai mendingin, airnya mulai
mendingin !"
Barang siapapun dapat melihat kalau air dalam gentong
sudah mendingin, sebab sejak tadi sudah tak mengepulkan
asap lagi.
Sembari berteriak, gadis itu meloncat kesana kemari
dengan sekuat tenaga mendorong Oen Su.
Dari Liem Hauw Seng, seringkali ia memperoleh
petunjuk ilmu silat, lagi pula Oen Su tidak menyangka gadis
itu bermaksud mendorong dirinya, ditambah pula pada saat
ini ia sedang diliputi ketegangan, tenaga dorongan semakin
kuat diluar dugaan.
Dorongannya barusan kontan membuat tubuh Oen Su
terpental selangkah lebar kedepan.
Dalam pada itu Oen Su sedang berdiri sambil memayang
tubuh Liem Hauw Seng, secara tiba2 Oen Su terpental ke
depan membuat tubuh Liem Hauw Seng pun roboh
terjengkang keatas tanah.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 5
BAGAIKAN kalap Giok Jien menerjang ke depan,
memeluk tubuh kekasihnya dan ambil peluang tersebut
menggotong pemuda itu meninggalkan gentong air.
"Engkoh Hauw Seng... engkoh Hauw Seng..." Teriaknya
dengan suara amat memilukan.
Karena kaget dan cemas ketika itu Liem Hauw Seng
sudah jatuh tidak sadarkan diri, ia sama sekali tidak
mendengar lagi jeritan Giok Jien.
Ber-kali2 Giok Jien menjerit namun tidak mendengar
jawaban dari kekasihnya, ia lantas menganggap pemuda itu
sudah putus nyawanya, setelah tertegun beberapa saat ia
menjerit... jeritannya mengerikan dan sangat menyayatkan
hati.
Sembari memeluk tubuh Hauw Seng erat, ia putar
badan.
Sementara itu kebetulan Sie Soat Ang sedang melangkah
keluar dari dalam rumah, Giok Jien segera berteriak
lengking:
"Kau sudah... kau sudah membinasakan Kan Djie-ya,
sekarang kembali kau binasakan engkoh Hauw Seng! kau
pembunuh terkutuk!"
Mendengar Giok Jien mengungkap kembali peristiwa
kematian Kan Tek Lin, air muka Sie Soat Ang berubah
hebat, dengan cepat badannya meluncur kedepan menotok
jalan darah "Tjian-cing-hiat" pada bahu gadis hu..
Tubuh Giok Jien tergetar keras, kemudian ber sama2
Liem Hauw Seng roboh menggeletak ke-atas tanah.
Ketika itu Oen Su dengan penuh ketakutan masih berdiri
disisi kalangan, Sie Soat Ang segera membentak dingin:
"Disini sudah tak ada urusan kalian lagi, pada bubar
semua!"
Dalam sekejap mata para jago sudah bubarkan diri,
kecuali Tjiauw Loo tjhiet yang berjalan menghampiri
tuannya sembari berseru:
"Siotjia, aku , , soal perkawinan kami..."
Sie Soat Ang sedang mendongkol, mendengar ucapan itu
kontan ia naik pitam, sebuah tendangan kilat bersarang
ditubuh Tjiauw Loo tjhiet membuat lelaki ini mencelat ke
belakang dan jatuh bergelindingan, buru2 orang she Tjiauw
tadi merangkak bangun dan melarikan diri.
Perlahan2 Si Soat Ang putar badan dan menendang
tubuh Giok Jien dengan mata melotot, pelbagai cara keji
untuk menyiksa gadis ini bermunculan didalam hatinya,
tanpa sadar air muka nya berubah menyengir kejam.
Mendadak dari ujung tembok berkumandang datang
suara tertawa dingin yang sinis, dan mengerikan.
Tertawa dingin itu begitu menyeramkan membuat bulu
kuduk diseluruh tubuh Sie Soat Ang bangun berdiri, buru2
ia putar badan dan memandang dengan tajam
Secara lapat2 ia menemukan sesosok bayangan manusia
berdiri diujung tembok dengan sikap yang mengerikan.
Walaupun Sie Soat Ang sadar, tempat ini adalah salah
satu pos penjagaan bentengnya, asalkan ia berteriak maka
puluhan orang akan bermunculan untuk membantu dirinya,
namun entah apa sebabnya ia tidak berani berbuat
demikian, hatinya serasa tercekat.
Lama sekali ia tarik napas panjang2, lalu tegurnya
dengan suara gemetar: "Siii... siapa... siapa kau ?"
Orang itu tidak menjawab, ia masih saja
memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat
menyeramkan.
"Siapa ? siapa yang bersembunyi diujung tembok sana ?"
Kembali ia membentak keras.
Bentakan tersebut memancing kehadiran Oen Su disana,
tampak orang itu berjalan mendekat sembari bertanya:
"Siocia, apa yang telah terjadi?"
"Coba kemari, coba kau cepat kemari !"
Oen Su mengiakan, ia segera berjalan mendekati
tuannya.
Setelah ada orang lain yang berada disisinya, nyali Sie
Soat Ang makin besar, ia segera menuding kedepan dan
berkata:
"Coba kau pergi keujung tembok sana dan periksalah
teliti barusan aku lihat seperti ada orang tertawa dingin
ditempat itu."
Ucapan gadis itu mendatangkan rasa ngeri dalam hati
Oen Su, bulu kuduknya pada bangun berdiri, buru2 selanya.
"Mungkin siocia sudah salah mendengar, bukankah
barusan siocia suruh kami masuk kedalam ruangan, siapa
berani tinggal ditempat luaran?"
"Oen Su!" Bentak Sie Soat Ang penuh kegusaran, "Aku
perintahkan kau segera melakukan pemeriksaan kesana,
kau berani membangkang atas perintahku?"
Walaupun dalam hati Oen Su merasa sangat ketakutan,
namun ia tak berani membangkang perintah siocia nya yang
sudah tersohor akan kekejiannya.
"Baik, baik - -" jawabnya kemudian. "Aku kau tidak
berkata tak mau kesana, aku hanya bilang tak mungkin ada
orang didepan sana." sembari berkata, selangkah demi
selangkah ia berjalan kedepan.
Tertawa dingin yang muncul dari balik tembok tadi
dapat didengar oleh Sie Soat Ang dengan sangat jelas, ia
mengerti dibalik tembok tentu ada sesuatu yang tidak beres,
oleh karena itu ketika Oen Su berjalan kedepan, ia pusatkan
seluruh perhatiannya untuk mengawasi.
Tidak selang beberapa saat kemudian, Oen Su telah tiba
diujung tembok kemudian selangkah lagi tubuh lelaki tadi
sudah lenyap dibalik kegelapan sekalipun begitu secara
lapar2 masih kelihatan ia berdiri disitu.
"Ada orangkah disana ? Ada orangkah disana ?"
terdengar ia berseru keras.
Ia mengulangi kembali seruan itu sampai beberapa kali,
namun tak kedengaran suara jawaban, akhirnya ia
bergumam:
"Aaakh ! kiranya tak ada orang, tak ada."
Belum sampai ucapan itu diutarakan mendadak tampak
tubuhnya mundur selangkah kebelakang, kemudian
mundur lagi selangkah dengan langkah berat, seakan2 ia
sedang merasa amat gusar.
Menjumpai keadaan tersebut Sie Soat Ang jadi marah
bercampur mendongkol sebelum ia bertindak sesuatu tubuh
Oen Su sudah mundur kehadapannya, ia segera
menghardik:
"Hay Oen Su, apa yang sedang kau lakukan ?"
Kena dibentak badan Oen Su berhenti kemudian
memperdengarkan jeritan yang aneh sekali.
Jeritan itu mirip sedang menangis tapi bukan suara
tangisan. mirip tertawa namun bukan gelak tertawa, atau
boleh dikata mirip jeritan kuntilanak ditengah malam buta.
Sementara Sie Soat Ang masih tertegun, tubuh Oen Su
mendadak jatuh terjengkang keatas tanah.
Walaupun Si Soat Ang dibikin terperanjat oleh jeritan
aneh Oen Su, ia tidak menyangka telah terjadi sesuatu.
Ketika melihat tubuh Oen Su jatuh terjengkang kearahnya,
ia menganggap lelaki itu mengandung maksud tidak
senonoh, ditengah bentakan keras jari tangannya laksana
kilat mencengkeram leher orang itu.
Setelah mencengkeram leher orang itu, lengannya
bergerak cepat membalikkan tubuh Oen Su sementara
tangan kirinya diayun kedepan mengirim sebuah gaplokan.
Tetapi sewaktu tangannya siap mengayun kedepan,
mendadak ia menjerit ngeri, cengkeramannya pada leher
Oen Su terlepas dan ia mundur empat lima langkah
kebelakang.
Ternyata ia sudah menemukan sesuatu yang
menyeramkan diatas wajah Oen Su sewaktu tangannya
hendak menggaplok pipi orang itu.
Wajah Oen Su sudah hancur berantakan, darah segar
mengucur keluar membasahi seluruh badannya, ketika itu
panca indranya sudah tak dapat dibedakan lagi, seakan2
dalam waktu sesingkat itu diatas wajahnya sudah ditancapi
dengan beratus2 batang paku.
Keadaan tersebut benar2 mengerikan sekali, tidak aneh
kalau Sie Soat Ang menjerit keras saking kagetnya.
Ketika ia mengendorkan cengkeramannya tadi, tubuh
Oen Su menggeletak keatas tanah dan tak berkutik lagi,
jelas sewaktu ia menjerit aneh tadi nyawanya sudah
melayang, Sie Soat Ang benar-benar ketakutan setengah
mati, ia tak berani berpaling lagi kearah ujung tembok
tersebut.
Makin ia tak ingin menengok kesana, sinar matanya
selalu beralih ketempat itu, dibalik kegelapan, seakan2
muncul seseorang ditempat itu, namun se-olah2 juga disitu
tak ada orang.
Makin dipikir gadis ini makin ketakutan, sehingga tak
tahan lagi ia menjerit-jerit.
"Hey kalian semua ada dimana ? Ayoh keluar semua,
ayoh keluar semua !"
Tiada hentinya ia berteriak walaupun hati terasa takut
tetapi teringat sebentar lagi bakal ada orang yang
bermunculan rasa takutnya sedikit banyak masih bisa
diatasi.
Siapa nyana kendari ia sudah berteriak berulang kali
namun tak kedengaran juga suara sahutan, kali ini rasa
takutnya memuncak.
Lambat2 ia mundur kebelakang, terus mundur sampai
kedepan pintu dan menghembuskan napas lega setelah jari
tangannya menempel diatas horden depan pintu,
"Hey, kalian semua sudah tuli? tidak mendengar
panggilanku?" makinya dengan penuh kegusaran.
Sembari berteriak ia membuka kain horden dan
berkelebat masuk kedalam ruangan, namun sekali lagi ia
menjerit lengking.
Dalam ruangan itu terdapat tiga orang. lampu masih
memancarkan cahayanya dengan terang benderang, justru
karena terangnya suasana maka hancurnya wajah ketiga
orang itu dapat terlihat amat jelas.
Kiranya ketiga orang itu sudah lama mati bahkan
keadaannya tiada berbeda dengan kematian Oen Su.
Sembari menjerit2 Sie Soat Ang mundur kebelakang,
ditengah ketakutan ia cabut keluar pedang pendeknya dan
membabat hancur kain horden kemudian menerjang keluar
dari ruangan tersebut memasuki ruangan lain.
Ruangan kedua ini berisi tujuh orang lelaki kekar.
Namun semakin banyak penghuninya keadaan mati
mereka semakin mengerikan membuat bulu kuduk pada
bangun berdiri
Berturut2 Sie Soat Ang memasuki empat bilik, enam
belas orang tak segelintir manusiapun hidup, semuanya
mati dalam keadaan yang tak berbeda.
Sie Soat Ang tidak berani berdiam diri dalam bilik terlalu
lama lagi, buru2 ia mengundurkan diri kedalam halaman,
Suasana disekeliling tempat itu amat sunyi, sehingga saking
sepinya gadis itu dapat menangkap hembusan napasnya
yang sangat menusuk telinga,
-ooo0dw0ooo-

BAB 4
HATINYA benar2 ketakutan, seluruh tubuh gemetar
keras, walaupun ia tahu ilmu silat kedelapan belas orang itu
hanya biasa2 saja, namun dalam sekejap mata, tanpa
menimbulkan sedikit suarapun mati berbareng, kejadian ini
betul2 sangat mengerikan sehingga susah dilukiskan dengan
kata2.
Sie Soat Ang maju beberapa langkah kedepan, pedang
pendek ditangannya diobat-abitkan kesana kemari kendari
disisinya sama sekali tak ada seorang manusiapun.
Akhirnya ia tiba disisi Liem Hauw Seng beserta Giok
Jien, sampai kakinya menyangkut di tubuh gadis tadi, ia
baru teringat. Paling sedikit masih ada seorang masih hidup
dikolong langit, dia adalah Giok Jien sekalipun orang ini
paling dibenci olehnya.
Buru2 ia tundukkan kepalanya, tampak Giok Jien
dengan sepasang mata melotot bulat2 sedang memandang
kearahnya, sinar mata gadis itu penuh mengandung rasa
benci dan mendendam!
Sekalipun sinar matanya mengerikan Soat Ang merasa
jauh lebih nyaman dari pada se orang diri menghadapi
kesunyian yang diliputi kengerian, delapan belas jiwa
lenyap dalam sekejap tanpa menimbulkan sedikit suarapun.
Karena itu ia membebaskan jalan darah dayangnya yang
tertotok dan menyapa dengan suara halus:
"Giok Jien..."
Sekali loncat, dayang itu sudah bangun berdiri, ia berdiri
tegak di hadapannya dengan wajah penuh rasa dendam.
Sie Soat Ang tertawa getir, segera tegurnya:
"Giok Jien, apakah kau... kau melihat sesuatu?"
Maksud Sie Soat Ang, adakah ia melihat sesuatu
makhluk aneh yang bisa membinasakan seluruh penjaga
pos tersebut dalam sekejap mata, tanpa meninggalkan
sedikit suarapun
Lambat2 Giok Jien angkat kepala dan menyahut. "Aku...
semua yang terjadi dapat kulihat dengan sangat jelas."
Nada suaranya datar dan berat, namun membawa
keseraman yang menimbulkan rasa bergidik dihati orang.
Mendengar ucapan itu, Sie Soat Ang makin terperanjat.
"Apa yang kau temukan ? manusiakah dia ? siapakah
orang itu ?" serangkaian pertanyaan meluncur keluar secara
bertubi-tubi.
Karena tak dapat menahan rasa ngeri yang mencekam
hatinya, tanpa disadari ia sudah mendekati tubuh Giok
Jien, maksudnya dengan ambil kesempatan tersebut bisa
mengurangi rasa takut dalam hatinya.
Siapa sangka, ketika badannya berada didepan Giok
Jien, mendadak gadis itu melancarkan sebuah serangan
mencengkeram bahunya.
"Kau... kau... !" terdengar Giok Jien berteriak sambil
kertak giginya kencang-kencang.
"Kau sudah gila !" Bentak Se Soat Ang dengan rasa kejut
bercampur gusar, "Cepat lepaskan diriku, aku sedang
bertanya kepadamu, apakah kau menjumpai pembunuh
sadis tersebut !"
Sembari berkata ia meronta sekuat tenaga, namun
cengkeraman Giok Jien amat kencang, untuk sesaat sulit
baginya untuk melepaskan diri.
Sie Soat Ang semakin gelisah, tangannya laksana kilat
berkelebat mengirim beberapa kali gaplokan keatas pipinya.
Seluruh wajah Giok Jien sembab bengkak oleh tamparan
tersebut, namun ia masih dapat bicara serunya keras2:
"Kaulah orangnya, pembunuh sadis itu adalah kau
sendiri, kau membunuh Kan Jie-ya lebih dahulu kemudian
membunuh pula engkoh Hauw Seng !".
Sie Soat Ang dibikin kehabisan akal, sepasang
telapaknya segera didorong ke depan menghantam dada
Giok Jien, Tenaga dorongan tersebut amat besar, seketika
membuat badan gadis tersebut mencelat beberapa tombak
kebelakang dan jatuh terjengkang.
Bantingan tersebut amat berat sekali, terbukti beberapa
kali Giok Jien gagal meronta bangun.
Sie Soat Ang menghembuskan napas panjang, makin
dipikir ia merasa makin ngeri. pikirnya:
"Aku tak boleh berdiam terlalu lama disini, lebih baik
cepat2 tinggalkan tempat ini, Giok Jien tak dapat kubawa
serta, lebih baik sekali hantam cabut selembar jiwanya.
Kemudian akan kulaporkan bahwa kematiannya, kematian
Kan Tek Lin serta kematian orang2 ini disebabkan seorang
manusia misterius Bukan saja aku bisa cuci tangan bersih2,
bahkan tak usah memikul resiko pula."
Karena berpikir demikian, tubuhnya segera berkelebat
kedepan, sewaktu lewat disisi Liem Hauw Seng melirik
sekejappun ia tidak. sebab ia mengira pemuda tersebut pasti
sudah menemui ajalnya.
Ia tiba di depan Giok Jien dan tertawa dingin tiada
hentinya.
"Giok Jien !" jengeknya sinis, "Aku tak dapat
membiarkan kau tetap hidup dikolong langit, setelah sukma
mu berada diakhirat jangan salahkan diriku."
Baru saja ia bicara sampai disitu mendadak pundaknya
terasa sangat berat seakan2 ada segulung tenaga yang
menekan tubuhnya, kemudian diiringi gelak tertawa seram
muncul dibelakang.
Suara tertawa dingin itu sangat mengerikan, jaraknya
begitu dekat sehingga seakan2 terasa hembusan napasnya.
"Sungguh aneh sekali" terdengar suara yang amat dingin
menggema datang dari arah belakang. "Setelah ia mati dan
tiba diakhirat, kalau bukan salahkan dirimu harus salahkan
siapa ?"
Orang itu pasti berada dibelakangnya, sebab Sie Soat
Ang dapat merasakan hembusan napasnya yang dingin
sewaktu orang itu berbicara, ia ingin sekali berpaling namun
tak ada tenaga barang sedikitpun untuk berbuat demikian,
jantung nya berdetak keras.
Entah lewat beberapa saat lamanya, ia baru bertanya
dengan suara gemetar.
"Si... sii... siapa kau ?"
Orang itu hanya tertawa dingin tiada hentinya, tak
terdengar suara jawaban.
Tubuh Sie Soat Ang gemetar keras, walaupun ia melihat
Giok Jien masih menggeletak diatas tanah, namun ketika
itu ia sedang angkat kepala dan memandang kearahnya,
sementara orang itu pun berada dibelakangnya, itu berarti ia
dapat melihat manusia misterius itu dengan sangat jelas.
"Giok Jien !" serunya dengan napas terengah-engah.
"Siii... siapa... yang berada dibelakangku ?"
"Dia... dia buu... bukan manusia !" jawab Giok Jien
sepatah demi sepatah.
Ucapan itu seakan2 segentong air dingin yang
membasahi seluruh tubuh Sie Soat Ang, giginya saling
beradu sehingga menimbulkan suara gemeretukan yang
nyaring.
"Dia... kaaa... kalau bukan manusia...... laaa... luu... lalu
siapa ?" serunya lirih.
Pucat pias seluruh wajah Giok Jien, namun raut
mukanya sama sekali tidak kelihatan rasa takut, sebab dia
berada dalam keadaan seperti ini, tak berharga baginya
untuk merasa takut.
"Akupun tak tahu macam apakah dia ?" jawabnya dingin
"Aku hanya tahu dia bukan manusia, mungkin hari naasmu
sudah tiba, Siocia. takutkah kau..."
Mendengar ucapan itu hati Sie Soat Ang merasa terkejut
bercampur gusar, rasa takutnya bisa teratasi beberapa
bagian, ia malah sedikit lebih tenang, ia tarik napas dalam-
dalam, pikirnya:
"Yang berada dibelakangku tentu manusia, kalau bukan
manusia mana bisa berbicara ? Giok Jien berkata demikian
tentu sedang me-nakut2i diriku, Budak hina itu sungguh
menggemaskan !"
Jantungnya masih berdetak keras, namun suara
pembicaraannya tidak lagi terputus2 seperti semula.
"Kawan ! aku adalah putrinya Sie Poocu dari Benteng
Thian It Poo, siapa anda ?" dia bertanya.
Setelah mengucapkan kata2 hatinya semakin mantap
sebab dalam anggapannya tidak banyak manusia yang
berani melakukan kesalahan terhadap orang2 Thian It Poo
apalagi putri kesayangannya.
Manusia yang berada dibelakang tubuhnya segera
tertawa seram.
"Heee... heee... aku sudah tahu, kalau kau bukan putri
kesayangan dari Sie Loo-toa, mana bisa membinasakan
Kan Loo jie? heee... heee..."
Seluruh tubuh Sie Soat Ang kembali gemetar keras
setelah mendengar ucapan itu.
"Bukankah saat ini kau ingin cepat2 kembali kebenteng
Thian It Poo?" Terdengar orang itu kembali berkata sembari
tertawa dingin, "Baiklah kau boleh berangkat selangkah
lebih dahulu aku segera akan menyusul datang."
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, segulung
tenaga yang amat besar meluncur keluar menghantam
tubuhnya, hal ini membuat Sie Soat Ang tak tahan lagi
maju tujuh-delapan langkah kedepan dengan sempoyongan.
Setelah berdiri tegak, ia putar badan dan memandang
tajam kearah orang itu. seandainya tidak melihat masih tak
mengapa, begitu menengok hampir2 saja ia jatuh tak
sadarkan diri.
Yang berdiri diatas salju benar2 bukan manusia tetapi
makhluk aneh yang berwarna putih dan penuh dengan
bulu.
Jikalau dikatakan orang itu mengenakan mantel bulu,
tidak mungkin kalau keadaannya begitu menakutkan.
Dengan hati kebat kebit selangkah demi selangkah Sie
Soat Ang mundur ke belakang, setelah bersusah payah ia
tiba juga diujung tembok, sembari menjerit tajam ia lari
kedepan.
Gadis ini tidak berani menunggang kuda lagi, dengan ter-
birit2 ia lari tiada tujuan.
Dalam sekejap mata enam, tujuh li sudah dilewati tanpa
terasa.
Selama ini ia sendiri tak tahu apa yang telah dilakukan,
menanti terdengar gonggongan anjing dari tempat
kejauhan, kesadaran Sie Soat Ang baru pulih kembali
seperti sedia kala, ia pun memperlambat larinya.
Dari arah depan muncul sebuah kereta salju., orang yang
ada diatas kereta salju bukan lain adalah lelaki yang dikirim
kembali ke benteng Thian It Poo untuk meminta obat.
Melihat ditempat itu muncul seseorang, Sie Soat Ang jadi
kegirangan, ia segera lari menyambut kedatangan kereta
tersebut.
Dalam sekejap mata kereta sudah berhenti dan dua orang
manusia meloncat turun dari atas kereta. mereka
menghampiri gadis tersebut. sembari memayang tanyanya
berulang kali:
"Apa yang telah terjadi? apa yang telah terjadi?"
Perlahan-lahan Sie Soat Ang dapat tenangkan kembali
pikirannya, ia mengenali kedua orang itu bukan lain adalah
Sia To Hwie Hauw. dua bersaudara she Tang.
Sin To Hwi Hauw atau Golok Sakti Harimau terbang
merupakan jago lihay dalam benteng Thian it Poo,
menjumpai mereka berdua bagi Sie Soat Ang sama halnya
telah minum obat penenang, buru2 serunya:
"Sungguh bagus sekali kedatangan kalian, Aaah...
sungguh mengerikan... sungguh mengerikan..."
Melihat wajah Sie Soat Ang begitu gugup, ketakutan dan
pucat, Sigolok sakti harimau terbang berduapun diam2
tercekat segera ujarnya berbareng: "Pocu merasa tidak lega
hati, biarkan kau keluar benteng seorang diri, beliau sengaja
kirim kami datang menjemput dirimu, apa sebenarnya yang
telah terjadi?"
"Sungguh mengerikan, sungguh mengejutkan!" Kata
gadis itu sambil menghembuskan napas berulang kali.
"Bayangan manusiapun tidak kelihatan, Oen Su sekalian
dua puluh orang yang berada dibenteng sebelah depan mati
terbunuh."
Sewaktu melihat wajah Sie Soat Ang pucat, Sigolok sakti
Harimau terbang sudah tahu peristiwa yang menyeramkan.
"Aaaah ! sudah terjadi peristiwa semacam ini?"
Biji mata Sie Soat Ang berputar, ia mengerti inilah
kesempatan paling bagus baginya untuk melepaskan diri
dari pertanggungan jawab atas kematian Kan Tek Lin, oleh
karena itu segera ujarnya kembali: "Buat apa aku
membohongi kalian, bahkan paman Kan Jie siok pun
menemui ajalnya ditangan manusia misterius tersebut !"
Ketika Sie Soat Ang melaporkan Oen Su dua puluh
orang menemui ajalnya ditangan orang lain, walaupun si
Golok sakti Harimau Terbang merasa terkesiap namun
masih tidak seberapa.
Lain halnya setelah mendengar kabar bahwasanya Kan
Tek Lin pun ikut menemui ajalnya, Mereka berdua sadar
ilmu silat yang dimiliki masih kalah jauh dari Kan Tek Lin,
manusia selihay itupun menemui ajalnya, apa lagi mereka
berdua ?
Kontan dua bersaudara she Tang ini bungkam dalam
seribu bahasa.
Tentu saja Sie Soat Ang tahu apa sebabnya kedua orang
jago lihay ini ketakutan, sembari depakkan kaki keatas
tanah ia memaki dengan hati mendelu: "Konyol, berengsek,
nyali kalian sungguh kecil ! masa dengan akupun tidak
memadahi... berengsek !"
Sepasang mata Golok sakti Harimau Terbang berputar
kesana kemari memeriksa keadaan disekelilingnya, setelah
yakin disekitar sana tak ada orang mereka baru
menghembuskan napas lega.
"Siocia!" ujarnya berbareng, "Bahkan Kan Jie-ya pun
sudah kehilangan nyawanya, sekalipun kami kesanapun
percuma saja, kau anggap jiwa kami boleh dibuat
geguyonan?"
"Aaah benar, maka dari itu aku ketakutan sekali, untung
sekali telah berjumpa dengan kalian, aku... perlukah kita
menuju kesana untuk melihat apakah orang itu sudah pergi
atau belum?"
"Tidak perlu, tidak perlu." buru2 Golok sakti harimau
terbang goyangkan tangannya berulang kali, "Dari luar
sudah kedatangan musuh tangguh, kita harus cepat2
kembali kebenteng dan laporkan peristiwa ini kepada Poocu
kita."
Sie Soat Ang dapat melihat kalau mereka ber duapun
sudah dibikin ketakutan setengah mati, segera ujarnya
kembali: "Aaaai..! hanya sekali saja aku melihat manusia,
hampir2 saja jatuh tidak sadarkan diri, dia... boleh dikata
tidak mirip manusia, seluruh tubuhnya putih berbulu,
jenasah paman Kan Jiesiok masih berada disana, walaupun
kematiannya sangat mengerikan. seharusnya kita bawa
pulang jenasahnya dan di kubur dalam benteng Thia It-poo
secara kebesaran."
Pada saat ini, seumpama golok Sakti Hari mau Terbang
suruh Sie Soat Ang kembali kesana sekali lagi, sekalipun
penggal leher gadis itu tak bakal sudi menuruti kemauan
mereka.
Namun gadis yang cantik dan licik ini sudah dapat
menembusi dahulu rahasia kedua orang itu, karenanya ia
berbicara lebih dahulu, Dengan demikian seumpama lain
hari jenasah Kan Tek Lin tidak dijumpai berada disana,
iapun bisa cuci tangan dari segala tanggung jawab.
Sedikitpun tidak salah, Golok Sakti Harimau Terbang
gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak usah kesana. tidak usah kesana, lebih baik kita
kembali dulu kebenteng untuk melaporkan kejadian ini
kepada pocu."
Tanpa banyak bicara lagi, kedua orang itu memayang Sie
Soat Ang keatas kereta dan menjalankan kereta tersebut
kembali kebenteng.
Semakin lama mereka meninggalkan tempat itu. hati Sie
Soat Ang semakin mantap akhirnya dari tempat kejauhan
dapat terlihat cahaya lampu yang memancar keluar dari
dalam benteng Thian It Poo, kemudian beberapa saat lagi
kereta mereka sudah berada didepan pintu.
"Siocia telah kembali cepat buka pintu." Teriak GoIok
Sakti sepasang Harimau dengan suara keras.
Pintu benteng terbuka, kereta salju segera menerjang
masuk kedalam benteng dan langsung menuju keruang
tengah, Seakan2 baru saja selamat dari lubang jarum, Siu
To Siang Hauw berteriak-teriak keras: "Aduuuh poocu,
celaka, celaka, sudah terjadi peristiwa, sudah terjadi
peristiwa !"
Teriakan mereka berdua segera memancing perhatian
puluhan orang banyaknya, mereka pada berkumpul dan
bertanya apa yang sudah terjadi, suasana jadi sangat gaduh.
Tetap Sio To Siang Hiuw sendiripun tidak tahu peristiwa
apa yang sebenarnya telah terjadi, karena itu mereka hanya
berkata: "Kan Jie-ya mati terbunuh, Oen Su sekalian dua
puluh orang pun mati dibunuh orang !"
Suasana kontan jadi gempar, para jago terkesiap dan
suara gaduh memenuhi angkasa, mengikuti dibelakang Sin
To Siang Hauw serta Sie Soat Ang tiga orang, mereka ber-
sama2 menuju ketempat kediaman Poocu.
Selama ini Sie Soat Ang berjalan ke dalam ruangan
dengan wajah hijau membesi, sepatah katapun tak
diutarakan menanti ayahnya Sie Liong munculkan diri ia
baru berseru dan menangis tersedu: "Tia !" Kontan ia
menubruk kedalam pelukan ayahnya.
Sebelum Sie Liong munculkan diri tadi, ia sudah
mendengar suara gaduh yang mengatakan Kan Jie-ya telah
menemui ajalnya, ia tahu Kan Tek Lin pergi ber sama2
putrinya, kini Kan Tek Lin menemui ajalnya, dan berarti
putrinya pun terancam mara bahaya.
Oleh sebab itulah sewaktu ia berjalan keluar, hatinya se
akan2 tergantung diatas awang2.
Menanti ia munculkan diri dan menjumpai putri nya Sie
Soat Ang berada dalam keadaan sehat walafiat ia baru
menghembuskan napas lega dan buru2 memayang putrinya
sembari bertanya: "Sebenarnya apa yang telah terjadi ? siapa
yang berani cari gara2 dengan benteng Thian It Poo kita ?"
"Aku sendiripun tidak tahu" jawab Soat Ang sambil
menangis tersedu2. "Aku serta paman Kan Jie-siok berhasil
menemukan kembali engkoh Hauw Seng terluka parah
karena teringat Oen Su ada disekitar sana maka aku
membawa dirinya kesana dan segera kirim orang untuk
mengambil obat."
"Benar, soal ini aku sudah tahu." Sie Liong mengangguk.
"Karena tidak berlega hati maka aku kirim dua bersaudara
she Thang untuk membawa obat tersebut.”
Sie Soat Ang menangis semakin menjadi, ujarnya-
kembali:
"Siapa sangka engkoh Hauw Seng telah bersekongkol
dengan seorang tokoh lihay dari aliran sesat, dalam sekejap
mata semua orang sudah terbunuh tinggal aku seorang diri."
Walau pun Sie Long terkejut, namun bagaimanapun juga
dia adalah seorang tokoh kenamaan dalam dunia persilatan,
hatinya segera tertegun dibuatnya, "sebenarnya apa yang
telah terjadi? secara bagaimana semua orang bisa mati
dalam sekejap mata?" ia bertanya.
Sejak semula Sie Soat Ang sudah mempersiapkan
jawabannya, ia segera berkata "Ketika itu aku menemani
engkoh Hauw Seng berada dalam ruangan mendadak
terdengar paman Kan Jie-siok berteriak aneh diluar bilik,
aku tertegun kemudian buru2 lari keluar, tampak paman
Kan Jie-siok telah menggeletak mati ditanah sangat
mengerikan sekali."
Sekalipun Sie Soat Ang sedang berbohong, namun ada
separuh bagian merupakan kisah nyata ketika mendengar
Sie Liong bertanya mengenai kematian orang itu, gadis she
Sie ini segera teringat kembali peristiwa yang baru saja
terjadi di depan mata.
Setelah bersin beberapa kali ia menjawab:
"Mereka mati dalam keadaan sadis... wajah mereka
hancur berantakan dan penuh berlepotan darah !"
Begitu ia menjelaskan bagaimanakah ngerinya kematian
orang2 itu, para jago yang hadir di-sana pada bergidik.
Air muka Sie poocu berubah hebat, rasa kagetnya bukan
alang kepalang, dengan cepat ia angkat kepala dan berseru:
"Yu heng !"
Dari antara para jago muncul seorang kakek yang kurus
kering, namun dengan cepat ia mundur kebelakang
berulang kali seraya menjura.
"Poocu, terima kasih atas perhatian serta pelayananmu
selama beberapa hari ini, aku orang she Yu ingin mohon
diri !"
Sudah banyak tahun kakek kurus kering ini berada dalam
benteng Thian It Poo, semua orang kenal dengan dirinya,
Berhubung Sie Poo cu sangat menghormati dirinya maka
semua orangpun amat sungkan terhadapnya.
Sebaliknya kakek kurus ini pada hari2 biasa tak suka
menyapa orang karena itu semua orang hanya tahu dia she
Yu dan seorang manusia aneh.
Tetapi pada saat ini, semua orang melihat Poo cu mereka
tidak menyapa orang lain justru hanya memanggil dia
seorang dan melihat ia segera mohon diri, semua orang jadi
tertegun dan tidak tahu apa sebabnya.
Mendengar kakek kurus kering itu hendak mohon diri,
Sie Poocu amat gelisah, sekali loncat ia hadang jalan
perginya.
"Yu-heng, kau pernah berkata, seandainya aku
menjumpai mara bahaya maka kau akan membantu diriku
dengan segenap tenaga, mengapa sekarang malah hendak
pergi?" serunya.
Dengan cepat sikakek kurus kering itu gelengkan
kepalanya berulang kali.
"Sie Poocu, aku memang pernah berkata demikian,
namun dalam menghadapi masalah ini aku tidak sanggup
mengatasinya, kalau tidak pergi apa yang hendak
kunantikan lagi ?"
"Yu heng. apakah kau benar2..."
"Banyak bicarapun tak berguna" Dengan cepat kakek
kurus itu menukas kata2nya "Lebih baik kau tak usah
mengungkap soal ini lagi !"
Selesai bicara ia putar badan dan berlalu dengan langkah
lebar.
Melihat kakek itu mau berlalu, seorang lelaki kasar yang
tinggi besar bagaikan pagoda munculkan diri menghadang
jalan perginya, sambil menuding wajah kakek tersebut
tegurnya:
"Hey sudah banyak tahun kau tinggal dalam benteng,
kini dalam benteng Thian It Poo terjadi peristiwa, bukannya
membantu kau malah melarikan diri, akan kuhajar kau
anjing busuk !"
Sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dikeluarkan
menghantam tubuh kakek itu.
"Sun Cuang-su, jangan !" buru2 Sie Liong berteriak
mencegah.
Namun serangan lelaki itu terlalu cepat, telapaknya
sudah diayunkan kedepan, pada saat itu pula mendadak
sikakek kurus mengeluarkan kelima jari tangannya yang
kurus mencengkeram lengan lelaki tersebut.
Kelihatan sekali.. kendati cengkeramannya mengenai
sasaran asalkan lelaki itu getarkan tangannya niscaya
cekalan tersebut akan terlepas.
Sementara itu para jago jadi puas dan kegirangan dengan
tindakan itu.
Siapa sangka lima jari kurus dari kakek itu benar2 luar
biasa melebihi jepitan besi, urat nadinya begitu terpegang,
lelaki itu mendadak menjerit aneh diikuti lengan kakek tadi
bergerak cepat "Kraak!"
Sebuah lengan lelaki itu putus jadi dua.
Perubahan tersebut boleh dikata terjadi sangat
mendadak, semua orang hanya bisa saling bertukar
pandangan dengan mulut melongo.
"Yu-heng, harap menaruh belas kasihan kepadanya !"
buru2 Sie Poocu berteriak.
Setelah Sie Poocu mohonkan ampun, kakek kurus itu
mengendorkan cekalannya dan memaki sambil menuding
lelaki kekar tersebut: "Seandai nya Poocu kalian tidak
mohonkan ampun, akan kutarik lenganmu sampai hancur
!"
"Cepat mundur kebelakang." kembali Sie Poocu
membentak. "Siapa yang berani kurang ajar lagi terhadap
Yu-heng? bagi sahabat keluarga Sie kami boleh pergi atau
datang semaunya, siapapun dilarang menghalangi niat
tamu2 kami."
Dalam pada itu setelah memaki lelaki tadi dengan
beberapa patah kata kakek Kurus itu putar badan kembali
dan buru2 berlalu.
Dengan cepat Sie Poocu maju mengejar sembari berseru:
"Yu-heng, harap tunggu sebentar."
Kakek kurus itu tak menggubris, badannya berkelebat
cepat keluar, sembari melayang pergi teriaknya: "Bukankah
kau sudah berkata sendiri, bagi sahabat2 keluarga Sie boleh
pergi datang sesuka hati ?"
Dalam sekejap mata bayangan orang itu sudah lenyap
tak berbekas.
"Yu-heng !" teriak Sie Liong cemas. "Mau pergi silahkan
pergi, tetapi sepantasnya kalau kau memberi petunjuk dulu
kepadaku !"
Begitu ucapan ini diutarakan keluar, semua orang makin
tertegun dibuatnya. Dalam pandangan mereka poocu
benteng Thian It Poo adalah seorang jago lihay kelas satu
dalam Bu-lim seorang tokoh silat tanpa tandingan dikolong
langit dewasa ini.
Tetapi sekarang, setelah kakek kurus itu lenyap tak
berbekas, wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat,
dengan sikap gugup mohon bantuan orang lain, kemana
perginya kegagahan, keangkeran serta kewibawaan seorang
ketua Benteng?..
Beberapa jago tak dapat menahan diri. mereka segera
berseru: "Poocu, tentara datang kita hadapi dengan
panglima, air bah datang kita tahan dengan tanah kita..."
Belum selesai jago2 itu berbicara terdengar suara dari
kakek kurus itu berkumandang, datang dari tempat
kejauhan, begitu suara itu bergema Sie Liong segera
ulapkan tangannya sembari membentak:
"Tutup mulut, dengarkan apa yang diucapkan"
Bersamaan itu pula muncul harapan dalam wajah Sie
Liong, jelas ia ingin memperoleh petunjuk dari kakek kurus
itu. Terdengar suara dari kakek kurus tadi berkumandang
datang dari tempat kejauhan:
"Sie Poocu, setelah menerima pelayananmu selama
banyak tahun, aku tak bisa tidak harus memberi petunjuk
kepadamu, setelah kau mengajukan keinginan tersebut. Aku
nasehati dirimu lebih baik cepat2 benahi barang yang
penting kemudian bawa sanak keluargamu melarikan diri
dari sini, makin jauh kau pergi makin baik."
Suara yang berkumandang datang itu makin lama
semasa lirih dan semakin rendah, jelas sembari mengirim
suara kakek itu meneruskan larinya kedepan, sehingga
ketika mengucapkan kata2 penghabisan suaranya amat lirih
sekali.
Air muka Sie Poocu yang pada mulanya penuh dengan
harapan kini berubah jadi sangat kecewa, badannya tanpa
terasa mundur beberapa langkah kebelakang sehingga
menempel diatas dinding, lama sekali ia baru angkat kepala
dan memandang sekejap kearah beberapa orang itu.
Para jago yang berada disekeliling Sie Poocu tak
mengeluarkan sedikit suarapun, menanti ia sudah angkat
kepala suasana baru gaduh.
Terdengar Sie Soat Ang mendengus dingin dan berkata.
"Siapa sih kakek tua yang barusan melarikan diri itu ? ia
hanya biasanya makan minum gratis ditempat kita, buat
apa kita dengarkan omongannya ? dalam benteng Thian It
Poo kita masih terdapat banyak jago. Seandainya melarikan
diri, Hmm ! bisa2 ditertawakan orang !"
Walaupun Sie Soat Ang dibikin ketakutan setengah mati
sewaktu menghadapi peristiwa tersebut, namun setelah ia
berada dalam Benteng Thian It Poo, nyalinya jadi makin
besar.
"Poocu !" ada orang berteriak, "Perduli siapa pun yang
sudah datang, masa dengan jumlah kita orang yang begitu
banyak tak sanggup menghadapinya.."
"Poocu !" ada pula yang berseru, "Kakek tua itu sengaja
memperkecil semangat kita, mungkin dia adalah mata2
yang sengaja dikirim kedalam benteng kita sebagai mata2 !"
"Stttt... jangan bicara sembarangan." Tukas Sie Liong
dengan badan lemas. "Dia..."
"Aku lihat dia bukan seorang manusia baik !" Sambung
Sie Soat Ang dengan hati cemas.
"Aaaai... sewaktu ia datang kemari, sama sekali tidak
memperkenalkan diri, ia hanya mengaku she Yu, akupun
tidak tahu apa maksudnya mendatangi benteng Thian It
Poo kita, namun di tinjau dari keadaannya tidak mungkin
membawa maksud jahat oleh karena itu selama ini akupun
tidak pernah mengungkapkan soal asal usulnya."
Berbicara sampai disini Sie Liong merandek sejenak dan
menyapu sekejap kearah para jago, kemudian lambat2
ujarnya lebih jauh:
"Namun. tidak lama setelah ia tiba aku sudah tahu kalau
dia bukan lain adalah salah seorang dari Tionggoan Su
Koay yang tersohor itu."
Baru saja Sie Liong mengucapkan kata2 itu air muka
beberapa orang jago yang hadir disana sudah berubah
hebat, tanpa sadar mereka sama2 berseru.
"Si Koay Chiu atau Manusia Bertangan aneh Yu Put
Ming!"
Air muka Se Liong makin memberat, ia mengangguk
tiada hentinya.
"Benarlah, dia oranglah sebenarnya."
Seketika timbul kegaduhan diantara para jago yang hadir
disana, tidak lama kemudian muncul empat lima orang
berkata sambil tertawa.
"Sie Poocu, Terima kasih atas sanjungan Poo-cu selama
ini sehingga kami memperoleh makan dan tempat tidur
dalam benteng Thian It Poo ini, namun... kini... kini,
sampai si manusia bertangan aneh Yu Put Ming yang
demikian lihaynya pun tidak Heee... heee... kami... kami..."
Kembali Sie Liong menghela napas panjang.
"Aaaai, kalian tak usah berbicara lebih lanjut aku sudah
tahu! barang siapa diantara kalian tidak ingin tinggal
didalam benteng Thian It Poo lagi, silahkan segera
meninggalkan tempat ini, aku tidak akan menghalangi niat
kalian?"
Bagaikan mendapat pertolongan saja, sinar kegirangan
terpancar keluar dari wajah mereka.
Pada mulanya ada beratus2, orang jago yang
berkerubung disekitar Sie Liong, sikap mereka se-olah2
begitu jantan dan tidak takut menghadapi musuh sebagai
tangguhpun.
Tetapi kini, setelah semua orang tahu sikakek kurus
kering yang baru saja melarikan diri bukan lain adalah
simanusia bertangan aneh Yu Pit Ming salah seorang dari
Tionggoan Su Koay yang amat tersohor itu, air muka
mereka baru berobah hebat.
Nama besar Yu Pit Ming sudah tersohor dimana2,
wataknya kukoay dan ilmu silatnya sangat lihay, bahkan
boleh dikata sulit menemui tandingan dikolong langit
dewasa ini. Namun kini setelah mendengar dalam benteng
Thian It Poo terjadi peristiwa, untuk melarikan diripun
orang she-Yu itu takut tidak dapat, hal ini bisa dibayangkan
betapa luar biasanya musuh tangguh yang menyerang.
Semua orang sadar, bahwa ilmu silat mereka tak dapat
menandingi ilmu silat Yu Pit Ming, apalagi orang she-Yu
itupun sudah jauh sebelumnya melarikan diri ter birit2.
Hanya saja untuk sementara waktu mereka tidak enak
untuk mohon diri, kendari pikiran untuk melarikan diri
sudah memenuhi benak mereka.
Lain halnya setelah Sie Liong mengucapkan kata2 itu,
suasana jadi gempar, kontan para jago membubarkan diri
dan melarikan diri ter-birit2, ada diantara berwajah baik,
masih mengucapkan terima kasih, tetapi sebagian besar
membungkam, seakan2 mengucapkan sepatah dua patah
kata hanya akan menghalangi jalan pergi mereka saja.
Melihat para jago membubarkan diri, Sie Soat Ang jadi
sangat mendongkol sampai badannya gemetar keras, sesaat
suasana dalam seluruh benteng Thian It Poo jadi gempar,
ringkik kuda gonggongan anjing bergema gegap gempita.
Namun suasana kacau seperti itu tidak berlangsung
lama, sebentar kemudian semuanya sudah berubah tenang
kembali.
Setelah semuanya berubah hening, Benteng Thian It Poo
jadi kelihatan lebih mengerikan, tak kedengaran sedikit
suarapun menggema kecuali hembusan angin yang
menambahkan keseraman suasana disekitar sana.
Sebenarnya Sie Soat Ang sedang gusar sampai badannya
gemetar, namun sekarang badannya masih gemetar hanya
badannya saat ini rasa takut jauh lebih banyak dari rasa
gusar.
Lambat2 Sie Soat Ang putar badan memandang kearah
ayahnya, tampak orang tua itu masih berdiri disana tak
berkutik, segera tegurnya sambil mendepakkan kakinya
keatas tanah.
"Ayah ...!" seluruh tubuh Sie Liong gemetar keras,
dengan cepat ia berpaling.
"Soat Ang, mengapa kau masih juga berdiri disana?
mengapa kau tidak ikut berlalu?"
Belum pernah gadis she Sie ini melihat ayahnya
kebingungan seperti ini, haru hampir2 saja ia menangis
tersedu, namun dasar wataknya yang keras hati ia berusaha
menahan diri.
"Tia, bagaimana dengan kau? apakah kau tidak ikut
pergi?" balik tegurnya pula.
"Aaaah benar, akupun harus pergi." Seru Sie Liong
dengan napas ter-engah2, bagaikan baru saja sadar dari
impian. "Kita... berangkat bersama, Soat Ang, Apakah
mereka... mereka semua sudah pergi?"
Hampir saja tangisannya meledak tetapi gadis ini masih
mempertahankan diri.
"Benar!" jawabnya lirih. "Mereka semua telah..."
Sebelum kata "Pergi" diutarakan, ia berdiri tertegun.
Sebab dugaannya meleset, tidak benar kalau dikatakan
semua orang telah melarikan diri.
Sebab diujung tembok masih tertinggal satu orang, dia
berjongkok ditanah dan kebetulan berada ditempat
kegelapan sehingga kalau tidak di perhatikan sukar untuk
menemukan orang itu.
"Tia, masih ada yang belum pergi, disini masih ada satu
orang yang tidak ikut melarikan diri."
Sie Liong tertegun, jelas peristiwa ini berada diluar
dugaannya, dengan cepat ia berpaling ke arah mana yang
dituding oleh Sie Soat Ang.
Dalam pada itu orang yang berjongkok ditanah lambat2
bangun berdiri.
Gerakannya amat lambat dan kelihatan aneh sekali,
mendatangkan sesuatu perasaan ngeri buat yang melihat.
"Siapa ?" Tegur Sie Liong setelah menarik napas
panjang.
Orang itu mempunyai perawakan tinggi lagi kurus,
namun bayangannya serasa dikenal, bukan seorang asing,
melihat hal tersebut sedikit banyak Sie Poocu rada berlega
hati juga.
"Sie Poocu, aku !" jawab orang itu lirih.
Suara orang itu lemah tak bertenaga, namun terasa
sangat dikenal, hanya saja Sie Liong belum teringat kembali
siapakah dia.
Dalam pada itu Sie Poocu sudah putus asa, seandainya
orang yang masih tertinggal disana adalah seorang jago
lihay sebangsa si manusia bertangan aneh Yu Put Ming,
semangatnya tentu akan bangkit kembali, ia pasti akan
bulatkan tekad untuk mempertahankan benteng Thian It
Poo mati2an.
Lain halnya setelah ia mendengar suara, itu lemah tak
bertenaga, jelas seorang prajurit tanpa nama yang-tidak
berguna.
Ia lantas tertawa getir dan menghela napas panjang,
katanya:
"Sobat, bencana besar akan menimpa benteng Thian It
Poo, semua orang akan melarikan diri..."
Teringat jerih payahnya selama ini hancur berantakan,
rasa pedih memenuhi benak pocu dari benteng Thian It Poo
ini, setelah merandek sesaat ia baru bicara lebih jauh:
"Sahabat kau tidak pergi, apa yang kau nantikan lagi?"
Dengan tidak bertenaga orang itu tertawa, sambil tertawa
selangkah demi selangkah maju mendekat, menanti ia
sudah keluar dari tempat kegelapan wajahnyapun dapat
kelihatan amat jelas.
Orang itu berusia tiga puluh tahunan, wajahnya pucat
pias dan kurus, pakaiannya warna abu2 sudah tua sehingga
kelihatan begitu rudin beda dengan kementerengan para
jago lainnya.
Orang itu berhenti kurang lebih enam tujuh depa di
hadapan Sie Liong, karena tidak kenal dengan orang itu Sie
Liong lantas menjura.
"Harap saudara suka memberi maaf kalau cayhe tidak
kenal siapakah anda..."
"Nama kecilku tiada berharga diutarakan." jawab orang
itu hambar.
Karena pikiran Sie Liong saat ini lagi kacau, mendengar
orang itu tak mau mengutarakan nama nya. ia pun tidak
mendesak lebih jauh, hanya ujarnya:
"Tiada berguna anda masih tetap tinggal dibenteng Thian
It Poo, semua orang telah pergi !"
Kembali orang itu tertawa hambar.
"Sie Poocu, orang lain pergi itu urusan orang lain. Poocu
telah melepaskan budi kepadaku, sekarang benteng Thian It
Poo sedang menghadapi mara bahaya, tidak sanggup
bagiku untuk melarikan diri dalam keadaan seperti ini."
Walaupun suaranya lemah tak bersemangat namun apa
yang diucapkan sangat gagah, membuat Sie Soat Ang tak
kuasa berseru memuji:
"Kau benar2 seorang lelaki jantan !"
Agaknya orang itu sangat gembira, ia berpaling kearah
Sie Soat Ang dan mengangguk,
"Terima kasih atas pujian siocia, sepanjang hidup tak
akan kulupakan kata2 pujian itu !"
Ketika Sie Soat Ang berpaling tadi, kebetulan orang
itupun sedang berpaling pula kearah-nya, empat mata
bertemu jadi satu menimbulkan debaran keras dalam hati
gadis tersebut. Dalam pada itu Sie Liong dibikin
kebingungan setengah mati oleh ucapan orang itu, sambil
mengetuk kening sendiri ia bertanya.
"Saudara, apa yang kau ucapkan kenapa tak kuingat
kembali akan persoalan ini."
"Sie Pocu, masih ingatkah pada setengah tahun berselang
ada serombongan pedagang kulit yang lewat disini dan
menitipkan seorang manusia yang hampir sekarat kepada
diri Pocu?"
"Aaah...!" Sie Pocu berseru tertahan, sekarang ia sudah
teringat kembali. Sedikitpun tidak salah, setengah tahun
berselang memang benar ada serombongan pedagang kulit
yang mampir dalam benteng mereka sewaktu hendak
masuk ke Tionggoan.
Bagi benteng Thian It Poo kejadian itu merupakan suatu
kejadian lumrah, sebab Sie Poocu mempunyai hubungan
yang erat dengan para pedagang itu.
Tetapi, suatu kali pedagang itu bukan saja memberi
beberapa hadiah kepadanya bahkan masih menitipkan pula
seorang lelaki yang hampir sekarat.
Menurut pedagang2 itu, mereka temukan orang ini
menggeletak ditengah jalan dengan badan berlepotan darah,
napasnya tinggal satu dan hanya tunggu ajalnya.
Mereka tahu kalau orang ini tiada harapan, namun
teringat bahwasanya menolong selembar jiwa menangkan
berbuat kebajikan apapun, lagi pula tidak jauh dari benteng
Thian It Poo maka mereka bawa serta orang itu kedalam
benteng.
Ketika itu Sie Poocu hanya memandang sekejap
kearahnya, melihat air muka sudah berubah pucat pasi
bagaikan mayat, napas sudah tinggal satu2nya, ia lantas
suruh seorang Tabib dalam benteng untuk mengurusinya,
bagian manakah yang menderita luka tak pernah diperiksa
sendiri.
Kemudian dalam anggapan Sie Liong orang itu sudah
mati, Tak disangka bukan manusia ia masih hidup bahkan
dia pula satu2nya manusia yang masih tetap tinggal dalam
Benteng disaat Thian It Poo menjumpai bencana.
Timbul perasaan terharu dan rasa terima kasih dalam
hati Sie Poocu, serunya: "Oooow..! kiranya anda bukan lain
adalah orang yang terluka pada setengah tahun berselang,
yang menyelamatkan anda bukan aku tapi rombongan
pedagang itu, seharusnya kau ucapkan terima kasih kepada
mereka."
"Memang benar, kalau bukan ditolong rombongan
pedagang itu cayhe sudah menemui ajal-nya," jawab orang
itu lambat2 "Namun setelah tiba dibenteng, kalau Poocu tak
sudi menerima diriku, bukankah selembar jiwaku tetap
akan melayang?"
"Hal ini tidak terhitung seberapa, sekarang tahukah anda
bahwa benteng Thian It Poo kita sudah kedatangan seorang
musuh tangguh?"
"Poocu, sekalipun terhitung aku benar2 tidak tahu,
melihat bagaimana Yu Thayhiap melarikan diri dengan
terbirit aku bisa menduganya separuh. Apalagi aku sudah
lama tahu hal ini."
"Lalu, mengapa kau tidak pergi." Tanya Sie Liong sambil
tertawa getir.
"Tentu saja aku tidak pergi apakah Yu Pit Ming sudah
pergi lantas akupun harus ikut pergi."
Walaupun Sie Liong amat berterima kasih atas kesediaan
pemuda itu berkorban namun iapun merasa tidak sabaran,
sembari hela napas panjang katanya: "Aku orang she Sie
mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan anda
berkorban namun Thian It Poo.. Aai! aku sudah ambil
keputusan untuk menuruti nasehat dari Yu Put Ming dan
terbang jauh keangkasa, apa gunanya anda tetap tinggal
disini?"
Mendengar ayahnya mau melarikan diri. Sie Soat Ang
jadi kaget dan segera berteriak:
"Tia, benarkah kita hendak melarikan diri ?"
Lambat2 Sie Liong berpaling memandang benteng Thian
It Poo yang megah dan mentereng, kesemuanya ini
dibangun dengan jerih payahnya selama puluhan tahun,
kini kebanggaan tersebut harus dilepaskan begitu saja,
hatinya terasa amat pedih...
"Kita masih ada cara apa lagi ?" Tanyanya dengan suara
pedih.
"Tia, sebenarnya siapakah pembunuh sadis itu ?" tanya
Sie Soat Ang dengan nada tidak puas.
Air muka Sie Liong pucat pasi bagaikan mayat,
mulutnya tetap bungkam dalam seribu bahasa.
"Sie Poocu" ujar pemuda itu kembali, "Kau ingin
melarikan, tapi pernahkah kau berpikir, bisa berhasilkah
kau melarikan diri dari sini ? sekalipun kau bisa lari, tentu
tak punya muka untuk menghadapi orang lagi, kau harus
menghabiskan sisa hidupmu ditengah pegunungan yang
sunyi, walaupun nyawamu masih hidup namun
penderitaanmu lebih hebat daripada mati."
Ucapan sang pemuda itu membuat tubuh Sie Liong
gemetar keras.
"Lalu bagaimana menurut pendapat anda ?" tanyanya.
Bukan saja pemuda itu berbadan kurus, bicara tak
bertenaga, bahkan ia datang kebenteng Thian It Poo dalam
keadaan setengah hidup setengah mati, selamanya Sie
Liong tak pernah memandang sebelah matapun terhadap
dirinya.
Tetapi sekarang, setelah pikirannya kabur, tanpa terasa ia
sudah mohon petunjuk dan pemuda tersebut.
"Tidak pergi, kita hadapi serangan musuh disini !" jawab
pemuda itu sepatah demi sepatah.
Sie Liong tertawa getir, ia tidak berbicara.
"Seandainya kita menang dalam pertarungan ini, maka
nama besar Thian It Poo akan tersohor di empat samudra"
ujar pemuda itu lebih jauh.
"Nama Thian It Poo sudah tersohor diempat penjuru !"
buru2 Sie Soat Ang menimbrung.
"Nona Sie !" pemuda itu segera tertawa dingin . "Ucapan
tersebut hanya bisa diucapkan dalam benteng Thian It Poo
sendiri, seumpama kau menganggap nama besar Thian It
Poo sudah tersohor diempat penjuru, nanti setelah kau
berada dalam Bu-lim akan kau rasakan betapa sulitnya
berkelana di dunia yang luas !"
Sama halnya Sie Liong, gadis She Sie inipun tidak
pandang sebelah matapun terhadap pemuda tersebut,
mendengar pemuda itu menasehati dirinya dengan kata2
itu, ia jadi naik pitam.
"Kau berani pandang rendah benteng Thian It Poo kami
?" teriaknya.
"Sekalipun aku ingin pandang tinggi Thian It Poo juga
tak bisa jadi" jawab sang pemuda sambil angkat bahu.
"Coba kau lihat begitu ada musuh tangguh hendak
menyerang datang, sebelum bayangan musuh muncul para
jago dalam benteng sudah pada melarikan diri, pada
dasarnya orang2 itu memang kejadian kecil yang tidak
becus, kita tak usah bicarakan soal mereka lagi tapi bahkan
Sie Poocu sendiripun hendak melarikan diri, coba suruh
aku secara bagaimana sudi memandang tinggi Benteng
Thian It Poo kalian."
Ucapan ini membuat hawa amarah dalam hati Sie Soat
Ang makin berkobar, tetapi berhubung apa yang diucapkan
ini, suatu kenyataan, maka ia tak dapat membantah.
"Maksud anda sudah kupahami" Terdengar Sie Liong
angkat bicara, "Namun aku sadar bahwa aku bukan
tandingan orang itu !"
"Benar. tentu saja kau bukan tandingan dari orang !"
pemuda tersebut manggut2 membenarkan.
"Hemm ! apakah kau adalah tandingannya ?" jengek Sie
Soat Ang sambil mendengus. "Hmm ! sungguh tak tahu
malu, pintarnya cuma bicara kosong, siapa yang kesudian
ngomong dengan kau?"
Dengan sepasang mata yang tajam pemuda itu melototi
diri Sie Soat Ang, sementara gadis itu pun balas meloloti
sang pemuda dengan sinar mata ber-api2.
Lama sekali, pemuda itu baru berkata : "Aku ? tentu saja
akupun bukan tandingan orang itu, bahkan sekalipun aku
turun tangan ber sama2 Sie Poocu pun masih bukan
tandingannya namun jika kita bertiga turun tangan
berbareng mungkin masih bisa mengatasi masalah
tersebut!"
Mendengar ucapan itu Sie Soat Ang jadi kegirangan
karena dengan ucapan tadi bisa ditarik kesimpulan kalau
pemuda itu sangat memandang tinggi dirinya.
Siapa sangka, sewaktu ia masih tersenyum dengan penuh
kebanggaan pemuda tadi sudah berkata kembali:
"Nona Sie, aku lihat kau tentu sudah menaruh salah
paham, kau anggap yang dimaksudkan kami bertiga
termasuk juga dirimu ?"
"Tentu saja demikian" sahut Sie Soat Ang melengak.
"He he he tentu saja tidak, macam ilmu silat yang
dimiliki nona, walau ada delapan sampai sepuluh orangpun
percuma saja, bukan bisa membantu malah merepotkan
saja."
Kontan-air muka Sie Soat Ang berubah hebat, segera
bentaknya dengan penuh kegusaran: "Tutup mulut. besar
benar nyalimu !"
Badannya dengan cepat bergerak maju untuk memerseni
beberapa tempelengan keatas wajah pemuda tersebut.
Sie Liongpun ikut kheki, ia tahu pemuda tersebut tentu
akan menderita kerugian besar.
Namun berada dalam keadaan seperti ini, ia tidak ingin
beribut dengan orang lain, karena itu buru2 tegurnya. "Soat
Ang, kita..."
Belum habis ia berbicara telapak tangan gadis itu sudah
diayun kedepan menyapu pipi pemuda tersebut.
Mungkin disebabkan ia sedang mendongkol maka tenaga
yang digunakan sangat keras sehingga angin pukulan men-
deru2, asalkan terkena pukulan ini, pemuda tersebut
niscaya akan roboh menggeletak.
Diam2 Sie Liong menghela napas panjang, ia ada
maksud mencegah maksud putrinya, namun waktu sudah
terlambat.
Ketika telapak Sie Soat An hampir mengenai pipi kiri
pemuda itu, mendadak tampak pemuda tadi angkat tangan
kirinya, jari tangan dengan cepat mencapit pergelangan
lawannya.
"Kraaak...!" hanya tiga empat tjoen diatas pipi lelaki tadi,
serangan gadis tersebut tak dapat dilanjutkan kembali,
bukan berkutik sedikit pun tak sanggup.
"Nona Sie." terdengar pemuda itu berkata sambil tertawa
hambar: "Kau sudah terbiasa di manja, hati2 lho kalau
tanganmu terluka."
Sie Soat Ang kaget sebab tangannya tak bisa ditarik lagi,
seluruh badan jadi lemas dan hawa murni susah disalurkan
kembali, ingin sekali ia tarik kembali tangannya, namun tak
sanggup sebab dari telapak pemuda tadi seakan muncul
suatu tenaga hisapan yang kuat dan dahsyat.
Rasa kejut yang dialami Sie Soat Ang kali ini bukan
alang kepalang, teriaknya sembari meronta:
"Cepat lepas tangan, cepat lepas tangan?"
Tetapi pemuda itu menggeleng.
"Nona Sie, aku tidak mencengkeram tanganmu, coba
kau lihat." dan Sie Soat Ang sangat cemas bercampur kaget,
pihak lawan cuma menggunakan satu jari tangan untuk
menempeli urat nadinya, tetapi ia tak sanggup melepaskan
diri, napasnya mulai ter-sengal2.
Sie Liong yang menjumpai peristiwa itu jadi tertegun,
disamping merasa kuatir bagi keselamatan putrinya, iapun
sangat gembira, sebab manusia macam inilah yang sangat
dibutuhkan olehnya pada saat ini untuk mempertahankan
keutuhan Thian It Poo.
Sebab dari cara pemuda itu mencekal urat nadi orang
lain hanya dengan satu jari sudah menunjukkan betapa
dahsyatnya ilmu silat yang ia miliki, sebab menurut apa
yang diketahui olehnya bisa menguasai urat nadi orang
dengan dua jari saja, sudah tanpa tandingan apa lagi hanya
satu jari.
Karena itu buru2 ia maju kedepan dan menjura kearah
pemuda tersebut, ujarnya: "Manusia sejati jarang mau
unjukkan diri, detik inilah cayhe baru tahu kalau anda
adalah seorang manusia lihay !"
Buru-buru pemuda itu memberi hormat.
"Sie Poocu, kau tak usah sungkan2, aku tidak kuat
menerimanya."
Ketika pemuda itu sedang balas memberi hormat, Sie
Soat Ang merasakan segulung tenaga yang amat besar telah
mendorong badannya sementara itu ia menarik kembali jari
tangannya tak kuasa sang badan mundur beberapa langkah
kebelakang.
Dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga berdiri
tegak, rasa malu, kaget dan gusar bercampur aduk dalam
benaknya.
"Tia..." ia menjerit melengking.
"Soat Ang." bukan dibela ayahnya malah menegur,
"Cepat kemari dan memberi hormat kepada tokoh lihay
itu."
Sie Soat Ang tertegun, ia berdiri menjublek. "Soat Ang,
mengapa kau masih belum juga datang kemari?" bentak Sie
Liong sambil mendepakkan kakinya keatas tanah.
"Dapatkah benteng Thian It Poo dipertahankan, kita masih
butuhkan bantuan tokoh lihay ini, ayoh cepat ke mari."
Pada saat ini Sie Soat Ang terkejut bercampur gusar, ia
lebih rela benteng Thian It Poo hancur lebur dari pada
harus tunduk dihadapan pemuda itu, karena itu bukan saja
ia tidak menghampiri ayahnya, malahan tertawa dingin.
"Soat Ang... kau?"
"Sie Poocu, kau tak usah menyebut aku sebagai tokoh
lihay" tukas pemuda itu dengan cepat, "Seumpama Poocu
tidak sudi menerima diriku, mungkin aku sudah lama
menemui ajalnya. Sekarang benteng Thian It Poo
menjumpai peristiwa, untuk membalas budi sudah
seharusnya aku memberi bantuan, harap Poocu suka
berlega hati !"
Setelah mendapat kesanggupan dari tokoh lihay ini, Sie
Liong bisa berlega hati, kembali ia ber tanya: "Siauw-hiap
kau mirip siapa ? ilmu silat mu begitu lihay, mengapa
tempo dulu bisa menderita luka separah itu ?"
Wajah yang sudah tak sedap dipandang, pada saat ini
berubah makin hebat.
"Sie Poocu, lebih baik tak usah kau tanyakan lagi
persoalan tersebut, mau bukan ?"
"Baik, baik !"
Sie Soat Ang makin mendongkol lagi melihat ayahnya
begitu menaruh hormat atas pemuda tadi, ia segera tertawa
dingin tiada hentinya. "Cis, apanya yang luar biasa,
seandainya kau tidak ditolong oleh pedagang2 itu kemudian
ayah ku tidak menerima dirimu merawat luka dalam
benteng, niscaya sejak semula nyawamu sudah melayang,
mayatmu sudah mengering !"
"Ucapan nona Sie sedikitpun tidak salah." Melihat
pemuda itu tidak dibikin gusar oleh ucapannya, Sie Soat
Ang jadi tertegun.
"Memang tidak salah! Hmmm.!"
Tiba2 pemuda itu tertawa manis terhadap diri Sie Soat
Ang kemudian berpaling kearah Sie Liong dan berkata:
"Sie Poocu, putrimu boleh dikata..."
Mendadak ia tutup mulut dan tidak meneruskan kembali
kata2nya.
"Apa yang hendak kau ucapkan?" tegur Sie Soat Ang
sambil mendekati pemuda itu. "Mengapa hanya bicara
sampai separuh jalan dan tidak kau lanjutkan kembali."
Dengan ter-mangu2 pemuda itu melototi Sie Soat Ang
yang segera membuat jantung gadis itu berdebar keras,
Lama sekali pemuda itu membungkam dan akhirnya ia
menghela napas panjang, helaan napas itu penuh dengan
kemurungan kekesalan dan kepedihan.
Mengikuti helaan napas tadi, pemuda itu putar badan
dan berkata:
"Sie Poocu, tadi aku pernah berkata, seumpama kita
bertiga bisa turun tangan berbareng maka musuh tangguh
itu bisa kita atasi."
"Benar, benar. hanya belum kuketahui siapakah orang
ketiga yang siauw-hiap maksudkan ?"
"Dalam benteng Thian It Poo selamanya tersembunyi
seorang tokoh maha sakti. mengapa poocu sudah tahu
sekarang pura2 bertanya lagi ?"
"Apa ? maksudmu...dia...dia?" teriak Sie Liong sangat
terperanjat, ia ragu2 dan tak sanggup menyelesaikan kata2.
"Sedikitpun tidak salah" tukas sang pemuda tegas2. "Dia
bukan lain adalah perempuan yang selama ini kau sebut
sebagai Ciang Oh !"
Mendengar nama itu seluruh tubuh Sie Liong gemetar
sangat keras.
"Soal im...soal ini...aaa...aku lihat...tiii...tidak mungkin,
Ciang Oh...dia...dia...mana sudi membantu kita ?"
"Sie Poocu, apakah kau pernah mencelakai dirinya ?"
tegur pemuda itu sambil melototi Sie Liong tajam2.
Tanpa terasa Sie Liong mundur selangkah ke belakang,
kemudian mundur lagi kebelakang, keadaannya mirip sekali
seorang tukang copet yang ketangkap basah.
"Benar...aku...membawanya pulang dari daerah Biauw
Ciang..." jawabnya sambit tertawa getir. "Ketika itu aku
dengar didaerah Biauw Ciang ter.. terdengar sebuah kitab
ilmu silat yang maha sakti, karena itu aku berangkat kesana,
siapa sangka setibanya didaerah Biauw Ciang aku telah
berjumpa dengan dirinya, tanpa kusadari aku telah
membawanya pulang."
"Heeeee... heeee... heee... ucapanmu sukar dipercayai."
jengek sang pemuda sambil tertawa dingin "ilmu silatnya
sangat lihay bahkan ber-puluh2 kali lipat dari
kepandaianmu, secara bagaimana kau bisa membawanya
pulang kemari ?"
"Ketika itu ia tidak mengerti akan ilmu silat, dan benar2
tak bisa main silat barang sedikitpun juga, jauh2 menempuh
ribuan lie aku membawa nya pulang kedalam benteng
Thian It Poo, sebenarnya aku ingin mengawininya jadi
istriku ke-dua. namun ditengah jalan ia sudah jadi gila !"
Sie Liong menceritakan kisahnya dengan napas ter-
engah2, sementara putrinya Sie Soat Ang dengan sepasang
mata terbelalak memandangi ayah nya tak berkedip, ia
merasa seakan dirinya masih berada dalam impian.
Karena apa yang diceritakan oleh ayahnya tak pernah
diduga barang sedikitpun juga.
Sie Liong tertawa getir, kembali ujarnya:
"Setelah membawanya kembali ke dalam benteng Thian
It Poo, maka aku mengurung perempuan itu didalam
ruangan rahasia, entah bagaimana tiba2 ia mengerti ilmu
silat, bahkan tenaga dalam yang dimilikinya makin hari
makin lihay !"
Mendengar ucapan itu pemuda tersebut tertegun
beberapa saat lamanya, sesaat kemudian ia baru berkata:
"perduli bagaimanapun kau harus berusaha untuk
memohon bantuannya, kalau tidak dengan kekuatan kita
berdua jangan harap bisa menahan serangan orang itu !"
"la sudah gila, lagi pula sangat membenci diriku..." Kata
Sie Liong sambil tertawa getir.
Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya:
"la baru akan sadar kembali jikalau aku mengucapkan
suatu peristiwa kepadanya !"
"Peristiwa apakah itu ?"
Sie Liong tertawa getir, setelah ragu2 sejenak ia berkata:
"Kalau kita membicarakan soal putrinya, maka ia akan
sadar kembali."
"Putrinya ?" Seru sang pemuda setelah tertegun sejenak,
"Dia punya seorang putri ?"
Agaknya Sie Liong sangat tidak ingin membicarakan lagi
peristiwa tersebut, namun dikarenakan ia sendiri yang
mulai membicarakan hal itu maka tak mungkin berhenti
diseparuh jalan. Dalam pada itu Sie Soat Ang sudah
bertanya sampai ketiga kakinya:
"Tia, sebenarnya apa yang sedang kau ucapkan?
benarkah perempuan gila itu mempunyai seorang putri?"
"Benar, dia mempunyai seorang putri" dalam keadaan
terpaksa Sie Liong mengaku. "Sewaktu aku membawanya
pulang dari daerah Biauw Tjiang, ia sudah mengandung,
suaminya adalah sitelapak berdarah Tang Hauw yang
tersohor dalam kalangan kaum sesat tempo dulu."
Agaknya Sie Soat Ang pun baru pertama kali ini
mendengar rahasia tersebut, ia berseru tertahan.
"Aaaah, tidak aneh kalau perempuan gila itu selalu
menyebut-nyebut nama sitelapak berdarah Tang Hauw."
"Kiranya begitu" pemuda itupun menimbrung. "Tidak
aneh sitelapak berdarah Tang Hauw sudi menyaru sebagai
seorang kakek tua dan berdiam disekitar benteng Thian It
Poo sampai banyak tahun."
"Apa? kau sudah tahu akan peristiwa ini jauh
sebelumnya?" seru Sie Liong sangat terperanjat.
"Benar, ketika aku melewati benteng Thian It Poo
setahun berselang aku sudah tahu akan persoalan ini, dan
tahu pula kalau ia membawa maksud2 tertentu, sewaktu
aku merawat luka dalam benteng Thian It Poo tempo dulu,
sudah beberapa kali aku ingin menjelaskan persoalan ini
kepada Pocu, namun poocu sangat repot dan aku hanya
seorang prajurit tanpa nama maka sulit bagiku untuk
menjumpai anda."
Diam-diam Sie Liong amat kecewa: "Sudah hampir dua
puluh tahun lamanya si telapak berparah Tang Hauw
tinggal disekitar benteng Thian It Poo, aku sama sekali
tidak tahu, sebaliknya pemuda ini malah mengetahui lebih
dahulu, dapat kutinjau kalau dia pastilah seorang manusia
luar biasa!"
Karena berpikir demikian, buru2 ujarnya: "Ketika itu aku
kurang hormat padamu, harap anda jangan menaruh
dendam kepada kami."
"Soal yang sudah lalu tak usah kita bicarakan lagi, coba
kau teruskan kisahmu."
"Tidak lama setelah tiba dibenteng Thian It Poo, ia
melahirkan seorang anak putri, namun ketika itu
perempuan tadi sudah gila sekali, sudah tentu saja aku tidak
menyentuh dirinya lagi tetapi mengurungnya diatas pagoda.
Setelah melahirkan seorang putri ia sadar selama beberapa
hari dan ribut ingin berjumpa dengan diriku, aku pergi
menjumpai dirinya, dan waktu itu ia berkata asalkan aku
suka merawat putrinya maka ia tak akan mengungkap
kembali soal perbuatanku yang telah menceraikan
hubungan suami istri mereka berdua serta memaksa ia jadi
gila."
Berbicara sampai disitu Sie Liong merandek.
Air muka pemuda itu pucat pasi bagaikan mayat, jelas ia
menganggap persoalan ini sebagai suatu masalah serius.
Sebaliknya Sie Soat Ang membelalakkan sepasang
matanya bulat2, ia merasa gembira karena bisa mengetahui
banyak perbuatan jahat yang pernah dilakukan ayahnya
pada masa lampau, ia merasa gembira sebab ayahnya
pernah berbuat jahat, apa bila ia pun melakukan perbuatan
jahat, ayah nya tak akan menegur dirinya.
Semula Sie Soat Ang masih merasa sangat kuatir apabila
ayahnya tahu akan perbuatannya membinasakan Kan Tek
Lin, memaksa Liem Hauw Seng serta Giok Jien sekalian.
tapi sekaranglah boleh berlega hati.
Sie Liong yang melihat wajah pemuda itu sangat serius,
ia jadi rada gugup, setelah tertegun beberapa saat lamanya
ia baru berkata kembali:
"Ketika itu ia sangat sadar. sedikitpun tidak gila seperti
keadaan seperti ini.”
"Kalau begitu anak perempuannya masih berada dalam
Benteng Thian It Poo ini?" tanya sang pemuda.
"Benar."
"Tia, siapakah orang itu?" sela Sie Soat Ang.
"Aaaaai... dia, dia adalah Giok Jien."
"Oooouw kiranya orang itu" Seru Sie Soat Ang dengan
badan tergetar keras, "Hmm! sejak semula sudah kuketahui
kalau ia tidak mempunyai asal usul yang lurus, perempuan
rendah semacam itu sudah seharusnya dibuang kegunung
sejak dulu2 biar disantap srigala."
"Tutup mulutmu!" belum selesai ia berkata pemuda itu
sudah membentak keras:
Sie Soat Ang rada tertegun, diikuti iapun membentak
keras:
"Aku suka bicara akan bicara, tidak suka bicara akan
membungkam siapa yang berani mengurusi persoalanku."
Sambil bertolak pinggang ia pelototi pemuda itu tak
berkedip. Wajahnya galak dan buas sedikitpun tak ada
tanda jeri.
Melihat putrinya cekcok dengan pemuda tersebut Sie
Liong merasa amat cemas, ia hentakkan kakinya berulang
kali ke atas tanah, sudah terlalu biasa ia memanjakan
putrinya, sekarang sekalipun mau diurus juga tak bisa.
Pada saat ia masih merasa gelisah pemuda tadi tanpa
putar badan secara tiba2 ayunkan telapak tangannya
menggaplok pipi Sie Soat Ang, tamparan ini datangnya
sangat cepat...
"Plok" Tahu2 gaplokan tersebut sudah bersarang dengan
telak.
Sie Soat Ang menjerit tertahan saking kerasnya gaplokan
itu, ia mundur sempoyongan dan jatuh terjengkang keatas
permukaan salju,
Sejak dilahirkan dari kandungan ibunya belum pernah
gadis ini dihina semacam ini, hari saking gusarnya hampir2
saja ia jadi gila, Sambil meloncat bangun dengan pipi yang
sembab bengkak jeritnya lengking.
"Keparat busuk, kau berani menghantam diriku?"
"Sreet..." tangannya dengan cepat digetarkan ke depan,
cambuk lemas yang semula terlibat dipinggangnya telah
diayun kedepan membabat tubuh pemuda tersebut.
Siapa sangka gerakan pemuda itu jauh lebih cepat,
sebelum ia sempat menghajar musuhnya, cambuk lemas
tadi sudah dicekal erat2 oleh pemuda itu. Dengan sekuat
tenaga Sie Soat Ang meronta, namun sama sekali tak
gemilang, bahkan sebaiknya ia malah kena ditarik sehingga
maju beberapa langkah kedepan dengan sempoyongan.
Bersamaan dengan badannya maju ke depan, kembali
pemuda itu melancarkan sebuah gaplokan menampar
pipinya yang kiri.
Gaplokan ini jauh lebih keras dari semula, kepalanya
kontan pusing tujuh keliling dan ber kunang2 dibuatnya,
tanpa terasa ia mengendor kan cekalan pada senjatanya dan
jatuh terguling diatas permukaan salju.
"Hmmm! suruh kau bungkam ikuti saja bungkam" tegur
pemuda itu dengan suara dingin, "Kalau kau tetap
membangkang, akan kutampar terus sampai kau tidak
bersuara lagi, dengar tidak?"
Sie Liong tahu bagaimana ketusnya watak putrinya, ia
tahu gadis tersebut tak akan sudi mendengarkan ucapan
dari pemuda itu. Dan tahu pula bahwasanya dia bukan
tandingannya, terpaksa dengan nada memohon ia berkata:
"Tjuang su harap sabar, tjuang-su harap sabar !".
"Sie Poocu, putrimu terlalu tidak kenal adat, kini aku
beri pelajaran kepadanya justru karena memikirkan
nasibmu dimasa yang mendatang." jawab pemuda itu
dengan nada mengejek.
Sie Soat Ang yang menggeletak diatas tanah, walaupun
dalam hati amat membenci pemuda tersebut dan ingin
menggigit dagingnya, namun ia tak ingin menerima
kerugian yang ada didepan mata, sedikitpun tidak salah, ia
seketika bungkam dalam seribu bahasa:
Melihat Sie Soat Ang membungkam, Sie Liong rada
tertegun dan merasa urusan ada diluar dugaannya, ia segera
maju menghampiri dengan maksud membangunkan
putrinya, namun baru saja ia maju selangkah pemuda itu
telah menegur: "Jangan gubris dirinya lagi, kita masih ada
banyak urusan penting yang harus diselesaikan Sie Poo cu,
cepat undang datang Giok Jien siocia cepat!"
"Soal ini... soal ini... aku rasa sulit untuk dilaksanakan"
jawab Sie Liong setelah tertegun sejenak.
"Mengapa ?"
"Selama ini Giok Jien selalu melayani siauw li, namun
pada dua hari berselang ia sudah melarikan diri ber sama2
keponakanku Liem Hauw Seng."
Mendengar perkataan itu. dengan sinar mata yang
menggidikkan pemuda itu melirik sekejap ke arah Sie Soat
Ang membuat hati sang gadis tercekat.
"Apakah Poocu tidak kirim orang untuk mengejarnya
kembali ?" ia bertanya.
"Sudah kukirim orang untuk kejar kembali tetapi
sewaktu siauw-li menjumpai mereka..."
"Apa yang telah terjadi ?" Sie Liong hanya tahu putrinya
pergi mengejar Liem Hauw Seng serta Giok Jien, apa yang
telah ia lakukan terhadap kedua orang itu dia tidak
mengerti, karena itu lama sekali tak dapat menjawab.
Kena didesak oleh pemuda tersebut, terpaksa Sie Liong
tertawa getir, dan menjawab: "Soal ini kau harus bertanya
kepada... kepada siauwli !"
Pemuda itu segera berpaling dan membentak : "Ayoh
bicara, dimana Giok Jien siocia saat ini?"
Saking khekinya Sie Soat Ang gigit bibirnya keras2,
kemudian dengan suara tegas serunya:
"Siapa tahu dia berada dimana ? aku sendiripun ketika
itu sedang melarikan diri, siapa yang tahu dia berada
dimana ? buat apa kau bertanya kepadaku ?"
"Kau hanya tahu melarikan diri sendiri ? kau anggap bisa
lolos dari kematian ? kalau tak ada dia, maka selembar
jiwamu pun akan melayang ditempat itu."
Sie Soat Ang benar2 amat gusar, saking tak kuat
menahan diri ia segera jerit melengking:
"Gelinding pergi, ayoh cepat gelinding, pergi dari sini
aku bisa lolos atau tidak itu urusanku pribadi. Ayoh kau
cepat gelinding pergi dari sini..."
Seandainya ia tidak merasakan kesakitan pada beberapa
saat berselang, pada saat ini ia tentu sudah menubruk
kedepan dengan ganas.
Tetapi pada saat ini ia tak berani turun tangan, sepasang
kepalannya hanya diremas sekencang-kencangnya sehingga
tulang berbunyi gemerutukan.
Dengan perasaan apa boleh buat pemuda itu angkat
bahu.
"Baiklah, kalau kau suruh aku pergi malah kebetulan
sekali bagiku" sahutnya dingin, "Kau jangan salahkan aku
lupa budi dan meninggalkan kalian disaat kalian menemui
bahaya, jikalau benar pihak benteng Thian It Poo kalian
tidak sudi menerima budiku. aku tak ada perkataan lain lagi
!"
Sembari bicara, ia putar badan, dengan bergendong
tangan lambat2 berlalu kedepan.
Melihat pemuda ini berlalu Sie Liong amat sedih, namun
ia tak berani menahan pemuda itu lebih jauh, sebab ia sadar
putrinya sangat benci terhadap orang itu.
Sementara Sie Liong sedang merasa serba susah,
mendadak dari tempat kegelapan muncul suara yang amat
aneh, suara itu mula2 muncul di tempat kejauhan dan lama
kelamaan makin mendekat:
Suara itu sangat kukoay, seakan2 seperti seseorang lagi
tertawa, namun didengar lebih teliti lagi mirip orang sedang
menangis, suaranya begitu sedih dan mengerikan, susah
dilukiskan dengan kata-kata.
Sie Liong maupun Sie Soat Ang yang mendengar suara
itu jadi tertegun, lama sekali tak sanggup mengucapkan
sepatah katapun sedangkan sang pemuda yang sedang
bergerak kedepan, pada saat itupun secara mendadak
berhenti tak berkutik.
Suara itu amat aneh dan dengan cepatnya menggema
makin mendekat, pemuda tadi tiba2 mendongak kemudian
tertawa terbahak2.
"Haaa... haaa... haaa... orang itu sudah datang !"
serunya.
"Kawan, kau cepatlah carikan sebuah akal buat kami..."
ujar Sie Liong dengan hati yang gelisah.
"Bukankah sejak tadi sudah kukatakan, dengan tenaga
gabungan kita bertiga mungkin dengan susah payah masih
bisa melayani kepandaiannya, namun kau tak mau mohon
bantuan perempuan gila itu, apa yang harus kita bicara kan
lagi pada saat ini."
"Kau... tunggulah sebentar" suara Sie Liong semakin
gemetar "Akan kupergi coba2, mungkin masih ada
harapan."
"Kalau begitu cepatlah pergi!"
Pada saat ini Sie Liong sudah kehilangan kewibawaan
seorang Poocu, kena dibentak oleh pemuda itu buru2 ia
manggut.
"Baik! baik."
Dalam sekejap mata, bayangan tubuhnya sudah lenyap
dibalik kegelapan dan tidak kelihatan lagi.
Sepeninggalnya Sie Liong, tempat itu tinggal Sie Soat
Ang serta pemuda itu berdua belaka, dengan pandangan
dingin pemuda itu lantas melirik sekejap kearah sang gadis
dan berkata:
"Didalam benteng Thian It Poo apakah ada tempat
persembunyian yang baik? cepat kau pergi kesana dan
bersembunyilah untuk sementara waktu."
"Urusanku, lebih baik kau tak usah ikut campur." teriak
gadis she Sie itu dengan suara kegusaran.
"Heee... heee... kalau kau benar2 punya nyali, tidak
seharusnya melarikan diri dengan terbirit2, seharusnya kau
hadapi sendiri manusia tersebut."
Sie Soat Ang kena ditegur pedas, karena apa boleh buat
terpaksa serunya dengan nada mendongkol.
"Aku suka melarikan diri akan melarikan diri, mau
bersembunyi bisa bersembunyi sendiri, kalau kau ingin
mengurusi diriku, lebih baik bercerminlah lebih dulu."
Pemuda itu tertawa dingin, suaranya memecahkan
kesunyian yang mencekam seluruh benteng Thian It Poo.
sebab ketika itu suara aneh tadi sudah sirap, Sementara
masing2 pihak sedang dipenuhi dengan pikiran masing2,
mendadak dari tembok sebelah depan meluncur datang
segulung bayangan hitam.
Bayangan ini munculnya sangat mendadak, dalam
pandangan Sie Soat Ang boleh dikata jauh berada diluar
dugaannya, ia jadi amat tertegun.
Buru2 ia berpaling kearah pemuda tadi namun orang itu
tetap berdiri tenang2 saja ditempat semula. Dengan cepat
Sie Soat Ang alihkan kembali sinar matanya kearah benda
yang menggeletak diatas tanah, seketika tubuhnya jadi
gemetar keras, se akan2 baru saja dibangunkan dari air es.
Kiranya benda yang menggeletak diatas tanah pada Saat
ini bukan lain adalah sesosok mayat manusia.
Kebetulan sekali mayat itu menggeletak dengan kepala
menghadap keatas langit, walaupun ditengah kegelapan
masih dapat dilihat dengan jelas sekali.
Wajah orang itu sudah hancur berantakan, cara matinya
tak berbeda sama sekali dengan kematian yang dialami para
penjaga dibenteng ronda.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 6
YANG paling membuat Sie Soat Ang terperanjat adalah
orang itu sendiri, walaupun wajahnya sudah hancur
sehingga sukar dibedakan siapakah dia namun dari
dandanan serta bajunya Sie Soat Ang dapat dikenali sebagai
salah seorang dari sepasang harimau Sio To Siang Hauw.
Sio To Siang Hauw tadi melarikan diri ber-sama2 orang
lain, namun akhirnya ia tak berhasil melarikan diri. Ia mati
juga, bahkan mati dalam keadaan mengerikan.
Dalam hati kecil gadis she Sie ini benar2 tidak ingin
memandang orang itu lebih lanjut lagi, namun sinar
matanya tak mau juga beralih dari sosok mayat yang sudah
hancur itu.
Ketika itu kembali sesosok bayangan hitam terbanting
masuk kedalam halaman, mayat tadi tepat berbaring disisi
mayat pertama. dan mereka bukan lain adalah Sio To Siang
Hauw.
Melihat sepasang harimau sudah mati, bahkan
kematiannya sama dengan kematian dari orang2 lain, Sie
Soat Ang merasa amat terperanjat, tanpa terasa lagi ia
bergerak mendekati pemuda tadi.
Walaupun ia sangat membenci terhadap pemuda
tersebut, namun berada dalam keadaan seperti ini pemuda
itu adalah satu2nya orang yang bisa dimintai
perlindungannya.
Setelah ia bergeser dua langkah mendekati pemuda itu,
ia ingin sekali berteriak memanggil ayahnya, namun
berhubung ia sangat tegang maka kendari sudah pentang
mulutnya lebar2 ia masih juga belum bersuara.
"Hee hee...hee.. takut ?" jengek pemuda itu sambil
tertawa dingin.
"Kau tidak takut ?"
"Tentu saja aku tidak takut, sebab belum pernah aku
melakukan perbuatan terkutuk !"
Ucapan ini membual jantung Sie Soat Ang berdebar
sangat keras, perkataan dari pemuda itu se-olah2 jarum
yang menusuk ke dalam hatinya.
"Haa . haaa . . . bukankah kau merasa takut ?"
Sie Soat Ang merasa terkejut bercampur gusar, ia ingin
mengumbar hawa amarahnya namun melihat jenazah
sepasang harimau yang menggeletak diatas tanah dengan
berlumuran darah, ia jadi batalkan niatnya. Sebab hanya
pemuda tersebut satu2nya orang yang bisa dimintai
perlindungannya.
Terpaksa dia tertawa getir katanya: "Aku... hitung2 aku
benar2 takut, apakah kau merasa girang ?"
Ucapan ini diutarakan tanpa disadari, setelah berkata
demikian ia jadi melongo dengan sendirinya, hampir2 saja
ia tak percaya kalau barusan saja ia telah berkata demikian,
boleh dikata sepanjang hidupnya baru kali ini ia tunduk dan
menyerah kalah dihadapan seseorang.
"Nona Sie" Pemuda itu tertawa ringan. "Sudah cukup
asalkan kau suka mengaku salah kau sedang takut."
"Apa sebabnya kau ingin tahu ?"
"Hal ini bisa memberi gambaran kepadamu kalau dalam
kenyataan sebenarnya kau bukan apa2, bahkan kau pun tak
punya sesuatu apapun yang bisa kau banggakan, kau hanya
seorang bocah cilik yang memiliki ilmu silat kucing kaki
tiga belaka."
Perkataan dari pemuda itu boleh dikata sudah benar2
menyinggung perasaan serta kehormatan Sie Soat Ang hal
ini membuat ia amat gusar, napasnya mulai ter-sengkal2...
Namun sebelum ia berbuat sesuatu, dari luar tembok
kembali melayang datang dua sosok mayat.
Kedua sosok mayat itu menggeletak disisi jenasah
sepasang harimau, wajah merekapun hancur dan rusak
penuh berpelepotan darah.
Sie Soat Ang merasa hatinya tercekat, sekalipun ia
sangat membenci terhadap pemuda itu, bukannya menjauh
ia malah bertambah mendekati pemuda itu lebih dekat lagi.
"Aaaai... !" Seru pemuda itu sambil menghela napas.
"Agaknya manusia2 yang lari dari benteng Thian It Poo tak
seorangpun berhasil meloloskan diri kecuali Yu Put Ming
seorang."
Baru saja ucapan tadi diutarakan, mendadak terdengar
jeritan aneh yang sangat mengerikan berkumandang dari
tempat kejauhan, mengikuti jeritan tadi muncul sesosok
bayangan manusia yang kecil mungil berkelebat mendekat.
Sie Soat Ang menjerit, saking takutnya menjatuhkan diri
kedalam pelukan pemuda tersebut.
"Jangan kaget... jangan kaget" hibur pemuda tersebut,
sementara tangannya memeluk pinggang gadis tadi semakin
erat. "Coba lihat siapa yang datang.”
Rasa kejut dalam hati Sie Soat Ang perlahan-lahan bisa
teratasi ketika ia menengok ke arah orang itu, maka
terteralah bahwa orang tadi bukan lain adalah Yu Put
Ming, salah seorang dari Tionggoan Su Koay.
Ketika itu air muka Yu Put Ming pucat bagai mayat.
tubuhnya gemetar keras sambil menuding kearah Sie Soat
Ang seakan-akan ia hendak mengucapkan sesuatu, namun
tak sepatah katapun bisa diutarakan keluar.
Yu Pit Ming ini adalah salah seorang dari anggota
Empat Manusia aneh dari Tionggoan yang sudah tersohor
akan ilmu silatnya namun pada saat ini keadaan manusia
she Yu itu mengenaskan sekali, ia tidak mencerminkan
barang sedikitpun sikap seorang jagoan lihay.
"Yu sianseng, bukankah kau sudah melarikan diri?
mengapa balik kembali?" tegur pemuda itu memecahkan
kesunyian.
"Tak bisa lari, tak mungkin lari." jerit Yu Put Ming
dengan suara melengking "Anggota Thian It poo tak
seorangpun bisa melarikan diri dari sini."
Mendadak dari arah sebelah Timur laut berkumandang
kembali jeritan ngeri yang menyayatkan hati.
Jeritan itu ada yang tinggi melengking, ada pula yang
rendah dan berat, namun kendari suaranya berbeda namun
nadanya sama yaitu mencerminkan keputus-asaan serta
ketakutan membuat bulu roma setiap orang yang
mendengar ikut bangun berdiri.
Jeritan ngeri itu saling susul menyusul tiada hentinya, Yu
Put Ming menjerit keras sambil berseru:
"Seorangpun tak akan berhasil lolos, seorang
manusiapun tak bakal lolos, semua anggota benteng Thian
It Poo bakal musnah !"
Sie Soat Ang sangat terperanjat, ingin sekali ia
membentak Yu Put Ming agar jangan buka suara, namun
tak sedikit suarapun bisa diutarakan keluar.
"Yu sianseng..." mendadak pemuda itu berseru.
Baru saja ia menyapa, mendadak dari sisi sebelah
samping berkumandang datang gelak tertawa aneh, suara
itu muncul dengan kecepatan laksana kilat dan jelas suara
seorang wanita.
"Siapa yang melarang aku meninggal benteng Thian It
Poo ?" seru orang itu.
Dalam sekejap mata sesosok bayangan manusia telah
muncul di depan mata, perempuan itu berwajah pucat,
rambutnya tidak keruan dan biji matanya melotot sayu.
Begitu tiba di tengah kalangan ia segera menuding
kearah Sie Soat Ang serta pemuda itu sambil berseru : "Kau
yang melarang aku pergi dari sini ?"
Mengikuti tudingan tadi, Sie Soat Ang merasakan
adanya segulungan angin serangan mendesir datang,
napasnya kontan jadi sesak.
"Bukan... bukan kami !" jawab pemuda itu cepat.
Perempuan gila itu segera berputar memandang kearah
Yu Pit Ming, kembali serunya sambil menuding kedepan:
"Tentu kau !"
Yu Put Ming tertegun lalu geleng kepala, dalam waktu
singkat tersebut wajahnya kelihatan begitu bodoh se akan2
baru saja bangun dari tidur. setelah menoleh keempat
penjuru ia perlihatkan wajah ketakutan kemudian putar
badan dan berlalu.
Gerakannya sangat cepat, begitu berkata hendak pergi
segera berlalu Namun walaupun gerakannya cepat
perempuan gila itu jauh lebih cepat.
Sementara ia sedang bergerak kedepan, perempuan gila
tadi sudah berkelebat dan menghadang dihadapannya.
"Mengapa kau melarang aku tinggalkan benteng Thian It
Poo ?"
Sewaktu berlari masuk tadi Yu Put Ming bingung dan se-
olah2 jadi gila karena mempunyai suatu peristiwa yang
sangat memukul perasaannya tetapi sekarang ia jauh lebih
sadar, terdengar jawabnya: "Sekarang, kau anggap aku
meninggalkan benteng Thian It Poo, bagaimana malah
menuduh aku yang melarang kau meninggalkan benteng
Thian It Poo ?"
Perempuan gila itu tertegun, sebelum ia sempat
berbicara, pemuda itu sudah mendahului: "Yu sianseng,
kalau kau sudah tahu tak bakal lolos dari sini, mengapa kita
tidak menggabungkan diri untuk ber-sama2 melawan
kedatangan musuh tangguh tersebut ?"
"Bekerja sama menghadapi musuh tangguh?" seakan2
mendengar cerita paling konyol dikolong langit, Yu Put
Ming mendongak tertawa terbahak2
"Haaa... haa... dikolong langit dewasa ini siapa yang
punya keberanian sebesar itu ? haaa... haaa... kerja sama
menghadapi musuh ?"
Dengan tangan kiri tetap memeluk pinggang Sie Soat
Ang, mendadak pemuda itu enjotkan badannya meloncat
kedepan. Telapak tangannya laksana kilat ditabokkan
keatas leher bagian belakang Yu Put Ming dengan suara
gerakan cepat.
Merasa dirinya diserang. Yu Put Ming tidak putar badan,
ia balas melancarkan cengkeraman menghajar dada
pemuda itu.
Walaupun serangan ini datangnya secara serampangan
namun kecepatannya tidak meleset tahu2 "Plaakk"
cengkeraman itu dengan telak telah bersarang didada
pemuda tadi.
Sie Soat Ang yang berada disisi pemuda itu jadi kaget tak
kuasa ia berseru tertahan.
Sementara gadis she-Sie ini berseru tertahan, Yu Put
Ming pun menjerit keras, buru2 ia lepas tangan dan putar
badan dengan kecepatan laksana kilat, dengan sepasang
mata melotot ia perhatikan pemuda itu tajam2, "Kau... kau
adalah Si Thay Sianseng?"
"Yu sianseng, ternyata kaupun bukan manusia
sembarangan" tukas Sang pemuda sambil tersenyum.
Yu Put Ming segera tertawa getir dan bungkam dalam
seribu bahasa. Sebaliknya Sie Soat Ang tertegun, tentu saja
ia tahu bahwasanya ilmu silat yang dimiliki pemuda itu
sangat lihay namun ia menyangka sang pemuda yang masih
begitu muda belia telah disapa orang lain sebagai Si Thay
sianseng.
Agaknya pemuda itu dapat menebak apa yang dipikirkan
sang gadis, sambil berpaling kearah-nya dan tersenyum ia
berkata:
"Si Thay sianseng adalah guruku, anda bisa menebak
asal usul perguruanku hanya dalam sekali coba saja, boleh
dikata kau sangat luar biasa sungguh kagum, sungguh
kagum!"
Per-lahan2 Yu Put Ming menghembuskan napas
panjang.
"Apakah gurumu Si Thay sianseng pun berada disekitar
sini?" ia bertanya.
"Suhuku bagaikan burung bangau yang terbang
dimanapun, berada dimanakah beliau pada saat ini, aku
sendiri pun tidak tahu."
"Sejak kapan anda berada dibenteng Thian It Poo? dan
apa yang kau lakukan didalam benteng ini?"
"Apa yang kulakukan didalam benteng Thian It Poo ini
asalkan bertanya pada dirimu sendiri sudah cukup, apa pula
yang kau lakukan selama berada didalam benteng ini ?"
Dengan ter-sipu2 Yu Put Ming tertawa, terhadap
pertanyaan pemuda tersebut ia tidak menjawab.
"Siapa nama anda?" tanyanya kemudian setelah lewat
beberapa lamanya.
"Seorang prajurit tak bernama, namaku buat apa
dibicarakan ? lebih baik tak usah diucapkan."
"Diantara anak murid Si Thay sianseng, tak ada manusia
tanpa nama, tetapi kami hanya kenal dengan murid tertua
dari Si Thay sianseng. sigolok baja Lok Thay yang tempo
dulu pernah melakukan pertarungan sengit melawan tujuh
puluh dua orang malaikat dipinggiran propinsi Su Tzuan
dengan propinsi In Lam, ketika membinasakan orang yang
keenam puluh sembilan ia kehabisan tenaga dan binasa.
sejak kematiannya aku belum pernah dengar Si Thay
sianseng terima murid lagi."
"Yu sianseng." dengan nada tidak senang pemuda itu
berseru, "Aku adalah anak murid siapa bukan kuakuinya
sendiri, melainkan kau sendiri yang menyerukan,
bagaimana pun perkataan itu bukan sengaja kuutarakan
untuk mengibuli orang lain bukan ?"
Merah padam selembar wajah Yu Pit Ming buru2
katanya:
"Berhubung anda tidak mau beritahu siapakah nama
anda, maka timbullah perasaan curiga dalam hatiku: harap
anda jangan salah sangka."
Sebelum pemuda itu berkata kembali, terdengar Ciang
Oh telah berteriak aneh:
"Siapa yang tidak memperkenankan aku meninggalkan
benteng Thian It Poo ? siapa ?"
"Nona Sie..." sembari melepaskan pelukannya pemuda
itu berseru. "Ia sudah datang, mengapa ayahmu belum
datang juga, coba kau pergi ke sana dan periksalah sejenak
!"
Sie Soat Ang mundur selangkah kebelakang berpaling
kesamping, melihat tempat itu begitu gelap gulita se akan2
ditempat mana tersembunyi roh2 yang gentayangan, air
mukanya kontan berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat,
buru2 ia gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku... aku... seorang diri aku tak berani pergi kesana."
"Hmm, bukankah kau tidak takut langit tidak takut bumi
? mengapa tidak berani pergi kesana ?"
Sekali demi sekali pemuda itu sudah menyinggung
kehormatan Sie Soat Ang, membuat gadis ini amat
membenci dirinya, namun pada saat ini ia tahu bahwa
orang tersebut adalah anak murid Si Thay Sianseng yang
merupakan jago tersohor dikolong langit dewasa ini, apalagi
situasi sangat tidak menguntungkan baginya, ia masih
membutuhkan tenaga orang ini untuk mengatasi persoalan.
Karena itu kendari hawa amarah sudah memuncak,
namun ia masih tetap bersabar diri.
"Aku sangat takut, aku tidak berani pergi ke sana seorang
diri."
Seakan akan pemuda itu sangat gembira sebab
maksudnya menggoda Sie Soat Ang tercapai, ia tertawa
terbahak-bahak.
"Ha... ha... kalau begitu kami harus merepotkan Yu
sianseng suka pergi kesana sebentar untuk memeriksa
apakah Sie Poocu sudah mati ataukah masih hidup!"
Ucapan ini seolah-olah menandakan bahwa Sie Liong
sebagian besar sudah menjumpai peristiwa diluar dugaan,
seketika membuat tubuh Sie Soat Ang gemetar sangat keras.
"Soal ini... soal ini... lebih baik aku berdiam disini saja"
buru2 Yu Put Ming menolak seraya goyangkan tangannya
berulang kali.
Sepasang alis pemuda itu berkerut kencang, karena apa
boleh buat terpaksa ia berpaling ke arah Ciang Oh dan
bertanya.
"Bukankah kau dipanggil datang oleh Sie Pocu?
mengapa sampai sekarang orang itu belum juga munculkan
diri?"
Ciang Oh mendongak tertawa ter kekeh2, suaranya
sangat aneh, rambutnya yang panjang dan kacau bergoyang
tiada hentinya mengikuti gelak tertawa tersebut, sehingga
keadaannya mirip iblis ganas yang baru muncul dari neraka,
sungguh menyeramkan sekali.
"Kau bertanya tentang bangsat keparat Sie Liong ?"
teriaknya sambil tertawa tergelak "Dia ha ha haaa ia sudah
merampas diriku dari daerah Biauw... dia... ha ha...!"
sementara masih tertawa tergelak, mendadak ia
membungkam kemudian memperdengarkan jeritan
lengking yang sangat menusuk telinga:
"Telapak berdarah Tong Houw !"
Suaranya begitu sadis, ngeri dan sukar dilukiskan dengan
kata2, membuat setiap orang yang mendengar ikut bergidik
dan tanpa terasa bulu kuduk pada bangun berdiri.
Ditengah jeritan lengking itu, mendadak dari balik ujung
tembok sebelah depan berkumandang datang pula bentakan
dingin yang tidak kalah ngerinya:
"Loei San keparat cilik, cepat keluar jangan menyeret
orang lain dalam masalah ini !"
Jeritan Ciang Ooh tinggi melengking membuat jantung
tiap orang berdetak keras, tubuh gemetar namun masih bisa
ditahan.
Sebaliknya suara yang muncul dari tempat kegelapan
dibalik tembok, walaupun tidak begitu keras namun dingin,
kaku dan menyeramkan membuat semua orang serasa
seluruh tubuhnya masuk kedalam gentong berisi air dingin,
sang hati jadi tercekam
Suara itu bukan saja membuat orang lain jadi terperanjat
bahkan Ciang Ooh yang sudah berubah ingatanpun segera
menghentikan jeritan ngerinya.
Dalam pada itu suara tadi masih tetap berseru:
"Loei Sam keparat cilik, kau sudah menyeret banyak
jiwa, apa saat ini masih juga ingin menyeret orang lagi ?"
Yu put Ming serta Sie Soat Ang saling berputar
pandangan sekejap, mereka pada heran siapakah
sebenarnya manusia yang bernama "Loei Sam keparat cilik"
itu.
Walaupun tak ada orang beritahu kepadanya, namun
meninjau dari sikap yang sangat aneh itu, Mereka berdua
segera paham "Loei Sam keparat cilik" itu pasti dia.
Dalam sekejap mata, rasa benci yang timbul dihati Sie
Soat Ang mencapai titik puncak dan sukar dilukiskan
dengan kata2
Suara seram ini sudah pernah berkumandang berulang
kali mengikuti melayang datangnya mayat2 jago benteng
Thian It Poo, jelas dia adalah tokoh tangguh yang datang
mencari gara2 itu. Selama ini baik Sie Soat Ang maupun
Sie Poo-cu berpendapat orang ini datang kebenteng Thian It
Poo, sengaja hendak cari gara2 dengan mereka.
Maka dari itu kendari gadis itu sangat membenci pemuda
itu, ia masih menaruh rasa terima kasih kepadanya,
berterima kasih karena ia mau tetap tinggal disana
membantu mereka.
Tapi sekarang, setelah mendengar dari ucapan orang itu,
ia baru tahu bencana yang menimpa benteng Thian It Poo
bukan lain karena gara2 keparat tersebut.
Teringat sampai soal ini. Sie Soat Ang tak kuasa
menahan diri lagi ia tertawa ter-kekeh, sambil menuding
kearah pemuda itu jengeknya:
"Ada orang sedang memanggil dirimu, apakah kau tidak
mendengar? mengapa tidak kau hampiri orang itu?"
Air muka pemuda tersebut seketika berubah hebat.
Hal ini membuktikan kalau dugaan Sie Soat Ang tidak
salah, kembali ia membentak:
"Kau takut? kau pun pernah mengenal rasa takut?"
Ia sama sekali tak tahu siapakah yang telah datang, dan
tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak munculkan diri
namun memerintahkan Loei Sam pergi kesana, yang dipikir
pada saat ini adalah balas mengejek orang itu, menuntut
balas atas penghinaan yang pernah diterima barusan.
"Tutup mulutmu!" akhirnya pemuda itu tak tahan dan
menghardik.
"Haa...haa...haa..,kenapa aku harus tutup mulut ?
bukankah kau merasa ketakutan ? kalau kau tidak takut
mengapa ada orang panggil kau kesana, kau tidak berani
kesana ?"
"Plook...!" sebuah tamparan keras dengan cepat
bersarang diatas pipi Sie Soat Ang, membuat gadis ini
mundur kebelakang dengan sempoyongan.
Ia tahu keadaan sangat genting, seandainya ia buka suara
lagi tidak bisa diramalkan tindakan apa yang bakal
dilakukan pemuda tersebut terhadap dirinya lagi.
Sebagai seorang perempuan cerdik ia tidak ingin
menerima kerugian yang ada diambang pintu, karena itu ia
segera mundur selangkah kebelakang dan membungkam.
"Loei Sam keparat cilik, kau masih mau unjuk kan
keganasannya ?" suara dingin menyeramkan yang muncul
dari tempat kegelapan kembali berkumandang keluar,
"Ayoh cepat kemari, apa yang kau takuti lagi ?"
Pemuda itu tidak menggubris terhadap ucapan yang
muncul dari tempat kegelapan itu, sebaliknya mendekati
Ciang Ooh dan secara mendadak mencengkeram
pergelangannya.
Ditinjau sepintas lalu, Ciang Ooh berdiri kaku bagaikan
patung. namun setiap kali mendapat serangan ia segera
menunjukkan reaksinya.
Baru saja jari tangan pemuda itu bergerak ke depan,
Ciang Oh sudah menunjukkan pula reaksinya, pergelangan
tangannya mendadak menekan kebawah, kemudian jari
tengahnya menyentil ke depan balas menghantam urat nadi
pemuda itu.
Merasakan datangnya serangan balasan, pemuda itu
sangat terperanjat, buru2 ia tarik kembali tangannya sambil
mundur kebelakang.
Melihat pemuda itu mundur, Ciang Oh pun melototkan
sepasang matanya bulat2 memperhatikan pemuda tersebut
tajam2 namun iapun tidak menyerang lebih jauh.
Per-lahan2 pemuda itu tarik napas panjang2, kemudian
ujarnya lirih: "Ciang Oh, dimana putri mu ?" Ciang Oh
tertegun, biji matanya seketika jadi berputar kembali.
"Aku. . . putriku ?" ia balik bertanya.
"Benar, setelah kau dirampas bangsat Sie Liong dan
dibawa kedalam benteng Thian It Poo, tidak lama
kemudian telah melahirkan seorang putri, dimana putrimu ?
Sekarang berada dimana ?"
Sepasang alis Ciang Oh berkerut kencang wajah yang
sudah menyeramkan ini kelihatan lebih seram.
"Putriku? ? ? putriku? ?" terdengar ia bergumam seorang-
diri.
"Benar, putrimu !" sambung pemuda itu dengan cepat.
Mendadak Ciang Oh angkat kepalanya dan berkata dengan
suara parau:
"Putriku, putriku berada dimana ? ia berada dimana ?"
"Aku tahu putrimu saat ini berada dimana !"
Si Soat Ang yang berada disamping dalam anggapannya
pemuda itu benar2 hendak beritahu kepadanya dimanakah
Giok Jien pada saat ini berada, hatinya tercekat dan tanpa
terasa mundur kebelakang. Ketika ia mundur sampai empat
lima langkah jauhnya. mendadak terlihat olehnya Ciang Oh
telah mendekati pemuda tersebut, sembari menghardik:
"Dimanakah putriku ?"
Ditengah bentakan, jari tangannya bagaikan cakar
burung elang menghajar sepasang bahu pemuda tersebut.
Dengan sebat pemuda itu berkelit kesamping. kemudian
buru2 menuding ke arah mana berasalnya suara dingin tadi.
"Ha... ha... disana." serunya sambil terbahak2 "Sejak
lahir putrimu disembunyikan oleh manusia yang
bersembunyi dibalik kegelapan itu, sekarang ia ingin
mencelakai putrimu kembali, apakah kau tidak ingin cari
dia untuk menuntut balas ?"
Belum selesai pemuda itu berkata, terdengar Ciang Ooh
menjerit ngeri dan menubruk kearah tempat kegelapan yang
ditunjukkan kepadanya.
Gerakan Ciang Ooh sangat cepat, menanti badannya
sudah lenyap dibalik kegelapan mendadak terdengar suara
bentrokan keras berkumandang datang, batu pasir
beterbangan jelas dalam gerakannya barusan tembok
dinding sudah jebol diterjang olehnya.
Pada saat inilah Se Soat Ang baru tahu maksud pemuda
tersebut ternyata bukan lain ingin menggunakan tenaga
Ciang Ooh untuk menghadapi musuh tangguh dibalik
kegelapan itu, untuk sementara persoalan ini tiada sangkut
pautnya dengan dia pribadi.
Teringat akan soal ini, ia menghembuskan napas lega.
Mendadak pada saat itulah pundaknya serasa ditekan oleh
sebuah tangan yang dingin kaku itu. la ingin menjerit,
namun mulutnya hanya bisa di pentangkan lebar2 tanpa
sedikit suarapun berhasil dipancarkan keluar, bulu kuduk
bangun berdiri dan ia dibikin berdiri mematung.
Makin lama Sie Soat Ang semakin ketakutan sehingga
akhirnya sepasang giginya mulai beradu dengan amat
kerasnya, saking takutnya maka ketika itu baik Loei Sam
maupun Yu Put Ming tak seorangpun yang memperhatikan
dirinya, semua perhatian telah dicurahkan ke mana Ciang
Oh melenyapkan diri.
"Braaak...!" kembali suara bentrokan keras
berkumandang memenuhi angkasa, batu pasir beterbangan,
laksana kilat Ciang Oh telah muncul kembali dengan
sepasang mata melotot besar.
"Kau berani membohongi aku, disana sama sekali tak
ada seorang manusiapun."
"Aku tak akan membohongi dirimu" Buru2 Loei Sam
berseru "Kuberitahukan kepadamu, manusia yang
merampas putrimu ada tiga bagian mirip manusia tujuh
bagian mirip kera, badannya pendek kecil, kepalanya kurus
dan panjang, asal kau berjumpa tentu segera dapat
mengenalinya."
"Sekarang ia berada dimana ?"
Dengan cepat Loei Sam putar badan, mendadak ia
berhenti, diatas wajahnya memperlihatkan rasa kaget yang
bukan alang kepalang, arah yang dilihatnya bukan lain
adalah arah dimana Sie Soat Ang berdiri.
Gadis ini sadar, yang dilihat pemuda tersebut bukan
dirinya melainkan manusia yang berada dibelakangnya.
Ia mengempos napas ingin berteriak, namun disebabkan
badannya makin lama semakin dingin suaranya tak
sanggup diutarakan keluar, terpaksa sepasang tangannya
bergerak cepat, apa yang telah digerakan bahkan ia
sendiripun tidak paham.
Dalam pada itu kesadaran Ciang Oh agaknya sudah jauh
lebih sadar, bahkan reaksinya amat cepat:
Ketika Loei Sam alihkan sinar matanya ia pun mengikuti
gerak Loei Sam memandang pula kearah depan
"Aaah... dia !" mendadak ia menjerit dan meloncat
kedepan.
Diam2 Sie Soat Ang mengeluh, ia tahu manusia yang
berada dibelakangnya tentu manusia monyet yang barusan
dimaksudkan, bahkan orang itu bukan lain adalah
pembunuh sadis yang membasmi seluruh isi benteng, pada
saat ini tangannya telah menekan diatas pundaknya.
Seluruh tubuh gadis itu gemetar keras, sebelum ia sempat
melakukan sesuatu terdengar Loei Sam telah jerit
melengking:
"Tidak salah, dialah manusianya, Yu sianseng dengan
kekuatan kita bertiga pasti kita berhasil menghadapi
dirinya."
Siapa sangka Yu Put Ming dengan cepat telah
goyangkan tangannya berulang kali.
"Apa maksudmu berkata demikian, ia datang hendak
mencari dirimu, kau pernah melakukan kesalahan terhadap
dirinya, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan diriku?"
Loei Sam amat gusar, seraya tertawa dingin kembali
jengeknya.
"Yu sianseng, coba kau pikir kau berani cari gara2
dengan diriku? berani cari gara2 dengan guruku?
seandainya aku bergebrak melawan dirinya dan aku
mendapat cidera, apakah ia mau membocorkan berita ini
keluar ? agar suhupun tahu?"
Yu Put Ming tertegun, akhirnya sambil tertawa paksa
katanya:
"Aku pasti akan menjaga rahasia ini baik2. Sin Koen
pasti akan percaya kepadaku bahwa aku tak akan bicara
sembarangan!"
"Haaaa . . . haa . .. lebih baik sekarang ia sudah
mempercayai dirimu, agar setelah kejadian ini kau lebih
banyak menerima pahit getir, kalau kau tidak ingin turun
tangan yaa sudahlah, kau anggap aku sangat membutuhkan
tenagamu?"
Air muka Yu Put Ming berobah sangat hebat, terpaksa ia
mundur beberapa langkah kebelakang, ia tidak pergi
sebaliknya berdiri tegak disisi kalangan, sementara itu
selangkah demi selangkah Ciang Oh berjalan mendekati
manusia tersebut.
Sie Soat Ang yang masih ditekan pundaknya oleh
sepasang tangan manusia itu jadi umat gelisah, ia tahu
seandainya terjadi pertarungan sengit antara kedua orang
ini maka yang konyol lebih dahulu adalah dia sebab ia
berada ditengah.
Setelah berjalan beberapa langkah kedepan mendadak
Ciang Ooh mengeluarkan tangannya sembari berseru:
"Dimana putriku ? dia berada dimana ?"
"Putrimu ? haa..haa.. secara bagaimana kau tahu kalau
kau punya seorang putri ?" jengek orang itu dengan suara
yang dingin menyeramkan. "Bagaimana kau tahu kalau dia
masih sudi mengakui dirimu sebagai ibunya ?"
Ciang Oh menjerit keras badannya meloncat kedepan
melancarkan sebuah tubrukan maut.
Pada saat2 kritis. nendadak orang itu mengirim segulung
tenaga yang amat besar melemparkan badan Sie Soat Ang
kesamping, sehingga membuat gadis itu terpental dan jatuh
terjengkang keatas tanah.
Namun ketika itulah, ia dapat melihat jelas wajah
manusia aneh yang selama ini berdiri di belakang tubuhnya.
Wajah dan raut muka dari orang itu sungguh persis
seperti apa yang digambarkan Loei Sam barusan.
Tubuhnya pendek kecil dengan sepasang lengan yang
luar biasa panjangnya, yang paling aneh batok kepalanya
lancip lagi gepeng seakan2 waktu dilahirkan ke kolong
langit, batok kepalanya pernah terjepit diantara dua lembar
papan.
Walaupun pada saat itu cuaca telah gelap, namun Sie
Soat Ang dapat melihat jelas potong an orang itu dengan
sangat jelas.
Diatas wajah maupun tangannya memakai selapis bulu
berwarna coklat yang pendek, dengan raut mukanya
keadaan orang ini persis seperti yang dilukiskan Loei Sam
"Tiga bagian mirip manusia, tujuh bagian mirip monyet."
Dalam pada itu, setelah orang itu mendorong Sie Soat
Ang kesamping, bagaikan kalap Ciang Oh telah menubruk
datang, kelima jari tangan nya bagaikan pancingan
mencengkeram batok kepala orang itu.
Merasakan datangnya serangan manusia monyet tersebut
sama sekali tidak menghindar, sebaliknya malah
memperhatikan jari tangan Ciang Oh dengan sikap
mengejek.
Gerakan Ciang Ooh teramat cepat.. "Sreet ! sreet !"
ditengah desiran tajam kelima jarinya sudah mencengkeram
dengan telak batok kepala orang itu.
Sebenarnya, bagi seseorang yang ingin mencengkeram
batok kepala orang lain merupakan suatu perbuatan yang
paling sulit. Namun disebabkan bentuk dari batok kepala itu
lancip lagipula gepeng, maka bagi Ciang Ooh dengan
sangat mudahnya berhasil menangkap dengan telak.
Kelima jari segera memperketat cengkeramannya,
"Pleetak... pleetak ..." persendian jari tangan Ciang Ooh
bergemerutukan, jelas membuktikan kalau ia sudah
mengerahkan seluruh tenaganya.
Wajah orang itu sangat aneh, sepasang alisnya berkerut,
giginya berdetak keras, seakan2 ia sedang mencoba
kekerasan batok kepalanya.
Kurang lebih seperminum teh kemudian, barulah orang
itu memaki dengan suaranya yang aneh: "Neneknya
sungguh lihay !"
Mendadak sepasang telapaknya bergerak cepat
melancarkan sebuah serangan kilat kearah depan.
Keanehan serta kedahsyatan dari serangan ini boleh
dikatakan suatu serangan yang sulit dicarikan tandingannya
dikolong langit.
Ketika itu Ciang Oh sedang mencengkeram batok
kepalanya, jarak antara masing2 pihak tentu saja amat
dekat, bagi orang itu seharusnya serangan yang dilakukan
dengan mudah bisa bersarang di tubuh Ciang Oh dengan
telak. Namun tangannya amat panjang, bahkan sendirian
terlalu kaku, mendadak sepasang lengannya menyambar
lewat dari sisi tubuh Ciang Oh dan menghantam punggung
perempuan gila itu.
Merasakan desiran tajam mengancam punggungnya
Ciang Oh ayunkan tangannya kebelakang menyambut
datangnya serangan tersebut.
Namun gerakannya terlambat setindak . . .
"Plaakk, plaakkk." dua serangan tadi dengan telak
bersarang dipunggungnya.
Sie Soat Ang yang ada disisi kalangan tak dapat
membayangkan seberapa besar tenaga pukulan tersebut,
tampak olehnya tubuh Ciang Oh mendadak maju selangkah
kedepan dan saling berbenturan dengan orang itu.
Jeritan aneh berkumandang memenuhi angkasa, kelima
jari tangan yang mencengkeram batok kepala orang itu
mendadak mengendor. Dalam sekejap mata telapak tangan
berayun memenuhi angkasa, ia balas melancarkan tujuh-
delapan belas buah serangan kearah orang itu.
Ketujuh delapan belas serangan tadi merupakan jurus2
serangan jarak dekat, kecepatannya melebihi kilat dan sukar
dibayangkan dengan kata-kata.
"Plaak, plook... plaaak... ploook" Tujuh-delapan buah
serangan ada separuhnya bersarang ditubuh orang itu.
"Aduuh... suatu ilmu pukulan Thay Yau Ciang yang
amat cepat !" teriak orang itu dengan suara lengking.
Sembari berteriak badannya bergerak ke depan mengitari
Ciang Oh dan berputar kencang.
Sementara itu Ciang Oh masih tetap melancarkan
serangan maut, serangannya makin lama semakin cepat
semakin lama semakin ganas.
Sie Soat Ang yang berdiri satu tombak dari kalangan pun
merasakan desiran angin pukulan menderu-deru, jurus
serangan apa saja yang telah digunakan Ciang Oh ia tak
dapat melihat jelas.
Mengikuti gerakan tubuh Ciang Oh yang makin
menyerang semakin cepat, tubuh orang itu-pun berputar
kencang, Tampak dua sosok bayangan satu tinggi satu
pendek sebentar kesana sebentar kesini bagaikan bayangan
setan belaka, bagi para jago yang hadir dikalangan hanya
melihat bayangan belaka yang bergerak kencang.
Sementara Sie Soat Ang masih ber-debar2 hatinya
melihat pertarungan itu, mendadak dari sisi nya terdengar
suara bisikan seseorang:
"Apanya yang bagus dilihat? ayoh cepat melarikan diri
ambil kesempatan baik ini!"
Buru2 Sie Soat Ang berpaling padahal sekali pun tak
usah berpalingpun ia tahu orang yang dibelakangnya bukan
lain adalah Loei Sam.
Saat ini gadis she Sie sudah amat jelas sekali kedatangan
orang itu mengacau benteng Thian It Poo adalah
disebabkan Loei San, dan sama sekali tak ada sangkut
pautnya dengan benteng Thian It Poo.
Nyalinya makin besar, mendengar bisikan dari Loei Sam
ini, ia segera mendengus dingin.
"Hmm! apa yang perlu aku takuti lagi ? kalau kau takut
boleh sana sipat kuping melarikan diri ambil kesempatan
ini."
Loei Sam kerutkan alisnya, mendadak ia cengkeram
lengan Sie Soat Ang.
Gadis itu sangat gusar, ia balik tangan menempeleng pipi
Loei Sam namun dengan mudah sekali pemuda itu berhasil
mencengkeram urat nadinya dan dengan paksa menyeret
gadis itu berlalu dari sana.
Walaupun ia harus membawa seorang, namun badannya
masih juga mencelat setinggi dua, tiga tombak dan
melewati tembok pekarangan.
Ketika badannya melayang keluar dari halaman
terdengar orang itu berteriak kembali dengan jeritan
lengking.
"Loei Sam keparat cilik, sekalipun kau melarikan diri
kelangit aku kejar kelangit, kau menerobos kedalam tanah
aku kejar kau ketanah, dan kulihat lebih baik kau jangan
melarikan diri lagi."
Tetapi Loei Sam pura2 tidak mendengar, ia enjot badan
dan didalam sekejap mata telah keluar dari benteng Thian It
Poo.
Sudah jauh ia keluar dari benteng Thian It Poo namun
suara jeritan itu masih juga berkumandang masuk kedalam
telinganya, bahkan amat nyaring, jelas orang itu sudah
terkurung oleh serangan Ciang Oh sehingga ia tak sanggup
mengejar diri Loei Sam.
Pemuda itu lari terus kearah utara, setelah lewati
puluhan li suara yang dingin menyeramkan itu tidak
kedengaran lagi, pada saat itulah baru berhenti berlari.
Ketika urat nadinya dicengkeram tadi, Sie Soat Ang
merasakan sekujur badannya kaku, bahkan tenaga untuk
berteriakpun tak ada. Menanti Loei Sam berhenti berlari
dan mendorong badannya kedepan, ia baru terguling keluar
seperti layang2 yang putus benang.
"Brukk...!" untung permukaan tanah sudah dilapisi oleh
salju yang saat tebal, sehingga badannya walaupun
terbanting keatas tanah sama sekali tidak menderita luka.
Dengan tangan menekan diatas tanah, ia merangkak
bangun namun ketika itulah Loei Sam sudah berada
dihadapannya.
Pada saat ini rasa bencinya sukar dibendung lagi,
mendadak ia cengkeram baju Loei Sam dengan tangan
kanan, kemudian kepalan kirinya meninju badan pemuda
itu keras2.
Kena digebuk, Loei Sam bukannya meringis kesakitan
bahkan malah mendongak tertawa ter bahak2
Lima, enam puluh tinjuan sudah bersarang di tubuh Loei
Sam, tetapi pemuda itu masih tenang saja, bahkan napas
gadis itu yang ter-engah2.
"Sungguh lihay." seru sang pemuda berulang kali. "Coba
kau lihat, aku sudah kau pukuli sampai seperti ini, mana
ada istri yang berani pukuli suami sendiri... wah, memang
perempuan yang galak sekali!"
Ucapan tersebut membuat Sie Soat Ang amat
terperanjat, buru2 ia mundur selangkah kebelakang.
Sewaktu berada didalam Benteng Thian It Poo, Loei
Sam pernah memandang kearahnya dengan sinar mata
aneh, ketika itu ia masih belum merasa, namun sekarang
ucapan dari Loei Sam begitu blak2an, bulu kuduknya
segera pada bangun berdiri.
Ketika ia mundur selangkah kebelakang. Loei Sam
memandang kearahnya lebih berani lagi, bahkan tatapnya
lebih ganas.
"Kau., apa yang hendak kau lakukan ?" Seru Sie Soat
Ang dengan jantung berdebar keras.
"Nona Sie." kata Loei Sam. sambil memperhatikan gadis
itu dengan sinar mata kurang ajar. "Gadis manis diluar
perbatasan amat banyak, namun hitung2 kaulah gadis yang
paling menarik hati !"
Kalau pada hari2 biasa ucapan tersebut tentu akan
membuat setiap gadis2 merasa girang hati, tetapi pada saat
ini bukan saja ucapan tersebut tidak mendatangkan rasa
senang dalam hatinya, bahkan malah membuat sang hati
jadi tercekat.
Buru2 ia mundur kembali selangkah kebelakang.
"Benarkah begitu ?" tanyanya sambil tertawa paksa.
Baru saja ia mundur selangkah kebelakang, dengan
sangat berani Loei Sam telah mendesak ke depan.
Sie Soat Ang makin terperanjat, buru2 ia mundur
kebelakang berulang kali.
"Mengapa kau mundur terus ? apakah takut melihat
aku?" seru Loei Sam sambil tertawa cabul.
"Apa yang perlu kutakuti ?" jawab Sie Soat Ang dengan
keraskan kepala.
"Benar. kenapa mesti takut padaku ? bukankah kau jadi
marah dan penasaran karena memikirkan orang lelaki ? aku
lihat engkohmu jauh lebih lemah kalau dibandingkan
dengan permainanku, coba kau lihat aku kan lebih bagus
daripadanya?"
Mendengar ucapan itu hampir2 saja Sie Soat Ang jatuh
tidak sadarkan diri, sepasang matanya jadi gelap.
"Engkoh misanku...dia...dia tak ada sangkut paut apapun
dengan diriku" jawabnya gugup.
Loei Sam tertawa seram.
"Kau anggap mataku picik ? setiap orang dalam benteng
Thian It Poo siapa yang tidak tahu kalau disebabkan Liem
Hauw Seng dicintai Giok Jien, membuat siocia kesayangan
dari benteng Thian It Poo jadi marah2 ? haa...haa...sungguh
tak disangka Giok Jien adalah putri kesayangan Ciang Oh,
permainan dibalik semuanya ini sungguh tidak sedikit,
sekarang kau sudah apakan mereka berdua? bagaimana
kalau kau ceritakan kembali?"
Sembari berkata, selangkah demi selangkah Loei Sam
berjalan kedepan, Setiap kali ia melangkah setindak
kedepan, Sie Soat Ang mundur pula selangkah kebelakang
sehingga akhirnya ia terdesak kebelakang sebuah pohon
Kok yang tua lagi kering.
Menanti punggung Sie Soat Ang sudah menempel diatas
pohon dan tidak dapat mundur lagi kebelakang, mendadak
sepasang lengan Loei Sam disodokan kedepan menekan
kearah batang pohon itu sementara tangannya dengan cepat
memeluk tubuh gadis itu.
"Haaa... haaa... nona Sie, kau tak bakal bisa melarikan
diri lagi bukan? coba kau melarikan diri lagi."
Air muka Sie Soat Ang berubah pucat pasi bagaikan
mayat. dengan wajah penuh kecabulan Loei Sam makin
merapatkan mukanya keatas wajah gadis tersebut.
Sebenarnya Sie Soat Ang adalah seorang gadis yang
amat lincah dan tidak takut langit dan bumi, pekerjaan jelek
apapun pernah ia lakukan, tentu saja ia tahu apa yang
hendak dilakukan Loei Sam terhadap dirinya.
Ia gigit bibirnya kencang2 badannya yang montok. Sie
Soat Ang baru tertawa paksa dia menegur: "Kau... kau
anggap cantikkah wajah ku ?"
"Benar, sudah lama aku tak pernah berjumpa dengan
nona secantik kau, wajahmu benar2 cantik jelita."
"Sekalipun terhitung kau suka padaku, seharusnya kau
ajukan pinangan dihadapan ayahku" buru2 Sie Soat Ang
menambahi. "Kau adalah murid dari Si Thay sianseng,
ayahku sangat menghargai dirimu, ia pasti akan
mengabulkan permintaanmu itu ?"
Loei Sam segera tertawa gelak.
"Sayangku... siapa yang bilang aku ada niat meminang
dirimu dihadapan Sie Liong ?"
Sie Soat Ang makin terperanjat lagi.
"Kau... bu... bu... bukankah kau berkata suu... suka
kepadaku? mengatakan aku cantik?"
"Benar, memang kau cantik, namun dapatkah sepanjang
hidup kau cantik terus seperti ini?" seru Loei Sam sambil
tertawa, "Sekarang aku memang suka kepadamu, namun
beberapa hari lagi siapa yang tahu kalau aku masih suka
kepada mu atau tidak? kau ingin jadi suami istri sepanjang
hidup dengan diriku? siociaku yang terhormat, kau sedang
bermimpi disiang hari bolong."
OOOoodwooOOO

BAB 5
HAMPIR2 saja Sie Soat Ang jatuh tidak sadarkan diri,
dengan sekuat tenaga ia menahan dada Loei Sam mencegah
pemuda itu lebih mendekati tubuhnya lagi.
Tapi tenaga Loei Sam amat besar dengan kekuatannya
mana ia sanggup mempertahankan diri? dalam sekejap
mata ia merasakan sepasang lengannya bagaikan ditekan
dengan tenaga beribu-ribu kati beratnya, kalau lengannya
tidak ditarik kembali niscaya akan putus jadi dua.
Mau tak mau terpaksa Sie Soat Ang tarik kembali
tangannya, badan Loei Sam mendekat makin kedepan, ia
tangkap pakaian Sie Soat Ang, menariknya kedepan dan
menciumi wajahnya. Gadis dari benteng Thian It Poo ini
hanya merasakan badannya jadi lemas tak bertenaga,
sepasang lututnya membengkok dan tanpa sadar badannya
meluncur kabawah, namun dengan cepat Loei Sam
memeluk kembali badannya.
"Ehmm, sungguh wangi sekali" seru Loei Sam sambil
menciumi seluruh lekukan tubuh gadis tersebut.
Sie Soat Ang merasa badannya makin lemas, namun
otaknya masih sadar, mimpipun ia tidak menyangka
akhirnya ia akan menjumpai peristiwa terkutuk semacam
ini.
Ia coba meronta dan pelukan Loei Sam makin kencang,
sementara badannya dibopong siap hendak dibawa lari
kedepan mendadak...
"Loei Sam, letakkan perempuan itu dan berpalinglah !"
suara bentakan dari dua manusia asing berkumandang dari
arah belakang.
Suara orang itu berkata dan membuat hati setiap orang
tergetar keras, buru2 Loei Sam berpaling namun ia tidak
melepaskan Sie Soat Ang sebaliknya menggunakan tubuh
gadis itu sebagai perisai.
Setelah itu badannya mundur selangkah kebelakang dan
punggungnya menempel diatas dahan pohon.
Dalam perkiraan Sie Soat Ang, ia tak akan lolos dari
perbuatan terkutuk tersebut. siapa sangka kembali peristiwa
berubah diluar dugaan, hal ini membuat ia tercengang.
Setelah tarik napas panjang2, sinar matanya segera
dialihkan kearah dua orang itu.
Kedua orang yang munculkan diri secara tiba2 ini
berusia tiga puluh tahunan dengan alis mata tebal, wajah
mereka berdua hampir mirip dan didalam sekilas pandang
dapat diketahui kalau mereka berdua adalah saudara
sekandung.
Dalam pada itu dengan sinar mata penuh kegusaran
mereka berdiri melototi Loei Sam tak berkedip.
Sie Soat Ang yang digunakan sebagai perisai oleh Loei
Sam tentu saja tak dapat melihat bagaimanakah perubahan
wajahnya, namun ia merasa badan Loei Sam gemetar keras
jelas pemuda itupun sedang ketakutan dibuatnya.
"Saudara berdua, cepat tolong aku !" karena muncul
harapan, gadis she Sie ini berteriak keras.
Begitu ia berseru, tubuh kedua orang itu kembali
bergerak, lima enam depa lebih kedepan.
Pada waktu itulah Sie Soat Ang merasakan sebuah
telapak tangan dari Loei Sam telah ditempelkan keatas
batok kepalanya.
"Kalau kalian berani maju selangkah lagi ke-depan, akan
kubunuh budak keparat ini !" Loei Sam-pun membentak
keras.
Kena diancam kedua orang itu segera berhenti dan
berkata hampir berbareng: "Loei Sam, cepat lepaskan gadis
itu, menyerahlah dan mandah kami belenggu, ikut kami
pulang gunung dan terima hukuman !"
"Heeee... heeee... heeee... suheng berdua kalau aku ikut
kalian pulang kegunung maka yang bakal kuterima hanya
suatu kematian belaka" seru Loei Sam sambil tertawa
dingin, "Bukankah kau tahu seekor semutpun masih
menyayangi jiwanya, apa lagi manusia ? kau anggap aku
suka menyerah dan mengorbankan jiwaku dengan percuma
? lebih baik kalian berdua tak usah banyak bicara !"
Mendengar ucapan itu kedua tertawa dingin.
"Loei Sam, kau anggap dirimu masih bisa melarikan diri
dari sini? sudah hampir dua tahun lamanya kami mengikuti
jejakmu, dengan susah payah akhirnya kujumpai juga
dirimu, kau hendak membangkang perintah kami dan tak
mau ikut kembali kegunung?"
"Hal ini masih tergantung bagaimanakah kepandaian
serta kelihaian kalian berdua."
"Loei Sam." kembali kedua orang itu berkata. "Kau
sudah melanggar pantangan terbesar dari perguruan,
dengan membawa dosa kau melarikan diri dari gunung,
bukannya menyesali perbuatan yang pernah kau lakukan
sebaliknya malah mencatut nama suhu melakukan
perbuatan jahat di mana2, bahkan pada sepuluh bulan
berselang kau telah memperkosa dan membinasakan putri
kesayangan Hiat Goan Sin Koen, benarkah telah terjadi hal
ini?"
"Haaa.. haa... yang memperkosa sih benar aku, tapi yang
membunuh bukan aku sendiri." jawab Loei Sam begitu tak
tahu malu, sebaliknya malah tertawa terbahak2.
"Karena nona cilik itu tak bisa memecahkan persoalan
yang ia hadapi sendiri akhirnya bunuh diri apa sangkut
pautnya soal ini dengan diriku?"
Sie Soat Ang yang mendengar ucapan itu, hatinya
kontan terjelos, seluruh tubuh gemetar.
Yang membuat ia terperanjat. pertama, seandainya
kedua orang itu tidak datang tepat pada waktunya, mungkin
akibat yang ia terima sama halnya dengan kejadian yang
menimpa putri kesayangan Hiat Goan Sin Koen
Kedua, setelah mendengar nama "Hiat Goan Koen"
Atau Malaikat sakti Monyet berdarah, pikirannya seketika
jadi terang kembali ia ingat manusia aneh yang muncul di
benteng Thian It Poo dan melakukan pertarungan sengit
melawan Tjiang Oh itu bukan lain adalah Hiat Goan Sin
Koen, manusia paling lihay dikolong langit dewasa ini.
Terhadap putri kesayangan Hiat Goan Sin koen pun
Loei Sam berani turun tangan, apalagi terhadap dirinya?
Tentu saja ia tak akan sungkan2 untuk mengerjakannya.
Bahkan jika ditinjau dari nada ucapan kedua orang itu,
Loei Sam melarikan diri dari perguruan, berhubung telah
melakukan suatu perbuatan terkutuk, itu berarti dia adalah
seorang manusia yang paling jahat paling terkutuk dan
paling keji.
Dalam pada itu terdengar Loei Sam sudah berkata:
"Suheng berdua, kalau kalian bisa melepaskan diriku kali
ini, selama hidup aku Loei Sam tak akan melupakan budi
kalian berdua, Gunung nan hijau kesempatan berjumpa
dikemudian hari masih panjang, mengapa suheng berdua
harus mendesak diriku terus menerus?"
Air muka kedua orang itu makin lama berubah semakin
gusar. salah satu diantaranya tak dapat menahan diri lagi
dan menghardik:
"Loei Sam kau masih juga tidak sadarkan diri ? apakah
kau tidak sadar seandainya kau ikut kami pulang kegunung
Go bie kemungkinan hidup bagimu masih ada, sebaliknya
kalau kau tidak pulang maka tidak bakal bisa menandingi
kepandaian Hiat Goan Sin Khoen!"
"Haaa... haaa... terima kasih atas perhatian yang telah
suheng berdua limpahkan kepada diriku, seandainya aku
pulang ke gunung Go-bie sekalipun masih memperoleh
kesempatan untuk hidup tetapi sepanjang masa harus
menyalahi sumoay seorang. Waa... sungguh membosankan
sangat menjemukan, jauh lebih baik berada ditempat luaran
sambil mencicipi disini merasakan disana."
Air muka kedua orang itu seketika berubah hebat,
mereka berbareng mendengus keras:
"Kau...Kau benar2 sudah rusak dan tak bisa ketolongan
lagi ! kalau demikian adanya kamipun tak usah memikirkan
ikatan perguruan lagi !"
Sie Soat Ang yang ada disamping merasakan hatinya
makin terperanjat, sebab ia dapat merasakan apabila Loei
Sam telah melanggar pantangan memperkosa bahkan yang
jadi korban adalah sumoaynya sendiri.
Dan didengar nada ucapan kedua orang suhengnya
barusan, seakan2 kalau pemuda itu mau menikah dengan
sumoaynya maka hukuman mati bisa dihindari tetapi ia tak
mau, jelas Loei Sam adalah seorang manusia terkutuk yang
sudah tak ketolongan lagi.
Kembali Loei Sam tertawa.
"Terima kasih atas perhatian kalian berdua, hingga detik
ini juga kalian berdua masih mau memandang diriku
sesama saudara seperguruan tapi jikalau kalian berdua
masih juga hendak mendesak diriku semacam ini, bukankah
sama artinya kalian sudah memandang aku sebagai orang
luar ?"
"Loei Sute !" seru kedua orang itu setelah tertegun
sejenak. "Sewaktu kami turun gunung, suhu serta subo telah
memberi pesan wanti2 kepada kami berdua..."
"Apa yang suhu katakan?"
"Bagaimanakah tabiat suhu aku rasa tentu sudah kau
ketahui bukan? karena tempo dulu ia pernah angkat
sumpah maka dia orang tua tak bisa turun dari gunung Go
bie lagi, mereka telah berpesan kepada kami asalkan
bertemu dengan dirimu segera suruh turun tangan
membinasakan dirimu!"
Agaknya Loei Sam sama sekali tak gentar dengan
ancaman tadi, sambil angkat bahu katanya.
"Kesemuanya itu sudah berada didalam dugaanku, lalu
apa yang dikatakan Subo?"
Kedua orang itu merandek sejenak kemudian
meneruskan kembali kata2nya:
"Subo berkata, sumoay sudah menjadi milik-mu, ia
berharap setelah kami berjumpa dengan dirimu, maka kami
harus berusaha keras menasehati dirimu agar pulang
kegunung, ia pasti akan mohonkan ampun dihadapan suhu
dan tidak menjatuhkan hukuman mati."
Diam2 Sie Soat Ang menghela napas panjang, Saat ini ia
baru tahu sumoay yang telah diperkosa Loei Sam bukan
lain adalah putri kesayangan dari Si Thay sianseng sendiri.
"Ehmm..! lalu bagaimana dengan pendapat kalian
berdua?" akhirnya Loei Sam bertanya.
"Seandainya kau tidak mau ikuti kami pulang kegunung,
maka terpaksa kami berdua harus melaksanakan tugas
sesuai dengan perintah suhu kami!"
Mendengar ucapan itu Loei Sam tertawa terbahak 2
"Haa... haa... suheng berdua benar2 seorang lelaki sejati,
aku tidak ingin mencelakai kalian berdua!"
"Apa maksudmu mengucapkan perkataan tersebut."
tanya kedua orang itu rada melengak.
"Perjalanan dari sini hingga ke gunung Gobie ada
laksaan lie jauhnya, perjalananpun mungkin harus
ditempuh selama beberapa bulan, seandainya aku sanggupi
permintaan kalian dan ikut kalian pulang ke gunung,
maka... heee... heee kau harus tahu macam manusia apakah
diriku ini, pekerjaan keji macam apakah bisa aku lakukan,
apakah kalian tak bisa bayangkan sewaktu berada ditengah
jalan aku memperlihatkan sedikit permainan setan,
mencelakai jiwa kalian... apakah jadinya nanti."
Air muka kedua orang itu berubah hebat, sang badanpun
tanpa terasa tergetar sangat keras.
"Maka dari itu..." sambung Loei Sam lebih jauh. "Aku
tidak suka berangkat ber-sama2 kalian, sebab aku masih
ingat bahwa kita adalah saudara seperguruan, aku merasa
tidak enak hati kalau sampai terpaksa harus mencelakai
jiwa kalian berdua."
Kedua orang itu saling bertukar pandangan, sepatah
katapun tak dapat diutarakan keluar.
Mereka sadar, apa yang diucapkan Loei Sam sedikitpun
tidak salah, dalam melakukan perjalanan sejauh laksaan li
dan berjalan bersama2 dirinya, pelbagai mara bahaya
kemungkinan besar bisa terjadi, kendari mereka berjaga2
dengan penuh waspada, pada suatu saat bisa teledor juga,
dalam keadaan seperti itu kemungkinan besar jiwa mereka
berdua bisa dicelakai.
Melihat kedua orang suhengnya tidak bicara, dengan
sangat bangga Loei Sam berkata kembali: "Suheng berdua,
lebih baik diantara kita tak usah saling ikut campur dalam
urusan masing2, kalian pulanglah kegunung Gobie dan
laporkan saja tidak pernah berjumpa dengan diriku,
bukankah dengan berbuat demikian kalian bisa cuci tangan
disamping tak akan terancam jiwanya. Sumoay mempunyai
wajah yang cukup cantik. sedang kalian berdua pun cukup
tampan, diantara kalian berdua boleh saja salah satu
diantaranya meminang dia sebagai istri, bukankah urusan
segera bisa dibereskan?"
Semakin berbicara ia semakin bangga, pemuda itu tidak
memperhatikan orang yang ada di sebelah kiri air mukanya
makin lama berubah semakin menghebat, menanti ia
menyelesaikan ucapannya orang itu sudah membentak
keras:
"Tutup mulut, kau berani bicara ngaco belo?" Air muka
orang itu sudah berubah hijau membesi, sepasang matanya
memancarkan cahaya berapi wajahnya kelihatan begitu
mengerikan.
Se-akan2 menyadari akan sesuatu, Loei Sam berseru
tertahan.
"Aaaah! Siok Toako aku tahu mengapa kau begitu gusar
terhadap diriku?" katanya perlahan "Selama ini kau selalu
menghormati serta menyayangi Sumoay, tidak disangka
sumoay telah kena dipatil, kau jadi begitu gusar bukankah
begitu?"
Tubuh orang itu gemetar semakin keras, namun wajah
yang semula penuh diliputi kegusaran pada saat ini berubah
jadi amat sedih sekali.
"Kau... kau tak usah bicara lagi. lebih baik kau jangan
membicarakan soal ini lagi ."
"Siok Suheng !" ujar Loei Sam sambil tertawa "Watak
sumoay amat tinggi dan sombong, terhadap suheng2nya tak
seorangpun dipandang sebelah mata olehnya, kau tentu
tahu bukan akan hal ini ? justru karena aku mendongkol
maka kulakukan perbuatan tersebut, sekarang kau boleh
segera kembali kegunung dan pinanglah sumoay di
hadapan suhu, Sumoay dia orang pasti akan menerima
pinanganmu itu, bukankah dengan berbuat demikian aku
sudah menyempurnakan harapanmu ? seharusnya kau
berterima kasih kepada aku yang sudah menjadi mak
comblang mu !"
Orang yang berwajah sedih tadi membungkam dalam
seribu bahasa, sebaliknya yang berseru sepatah demi
sepatah kata:
"Loei Sam, kau masih mempunyai perasaan malu tidak
?"
Wajah Loei Sam benar2 sangat tebal, sambil tertawa ia
menjawab: "Terhadap manusia macam aku, tentu saja tidak
kenal apa itu yang di sebut perasaan malu."
"Siok sute ! tak berguna banyak bicara dengan dirinya
mari kita bekerja sesuai dengan perintah suhu !" seru orang
itu dengan suara berat.
"Baik !"
Bersamaan dengan ucapan tadi, kedua orang itu ber-
sama2 maju dua langkah kedepan.
"Tahan ! jangan turun tangan lebih dahulu !" Bentak
Loei Sam keras2, senyuman yang semula menghiasi
bibirnya saat ini telah lenyap tak berbekas.
Ketika itu sepasang telapak dari kedua orang itu sudah
diayun ketengah udara, mendengar beritakan dari Loei Sam
ini mereka segera menunda gerakannya dan berhenti
bergerak.
"Terus terang saja kuberitahukan kepada kalian berdua,
sebab setengah tahun berselang sesaat putri kesayangan dari
Hiat Goan Sin Koen menemui ajalnya, ia pernah adu jiwa
dengan diriku sehingga aku menderita luka parah dan
hampir2 saja menemui ajalnya hingga pada lukaku belum
sembuh, aku bukan tandingan kalian berdua lagi."
"Kalau begitu, hari naasmu sudah tiba dan masamu
berbuat jahatpun telah berakhir !"
"Tidak salah. Namun sebelum aku menemui ajalnya
akan kuseret seseorang untuk menemani keberangkatanku
ini jikalau kalian berani ingin turun tangan terhadap diriku
maka nona Sie akan kubinasakan terlebih dahulu, dia
adalah putri kesayangan Sie Poocu dari benteng Thian It
Poo."
"Kau... kau... apakah kau ada urusan sakit hati atau
dendam dengan dirinya ?" tanya kedua orang itu rada
tertegun.
"Sama sekali tak ada dendam maupun sakit hati, jikalau
aku binasakan dirinya maka sama arti dia sudah mati
ditangan kalian berdua !"
Kedua orang ini sekalipun merupakan saudara
seperguruan dengan Loei Sam keji, licik, banyak akal,
perbuatan apapun bisa ia lakukan, sebaliknya kedua orang
itu jujur dia berwelas asih.
Mendengar ucapan dari Loei Sam, mereka berdua
seketika tertegun dan berdiri menjublak.
Mereka berbareng mengalihkan sinar matanya kearah Sie
Soat Ang, tampak olehnya air muka gadis itu pucat pasi
bagaikan mayat, titik air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya, pakaian yang dikenakan sudah robek separuh
sehingga kelihatan kulitnya yang putih bersih, keadaannya
amat mengenaskan sekali.
Mereka berdua tidak tahu kalau Sie Soat Ang pun bukan
seorang manusia baik2, melihat jiwanya terancam timbul
rasa kasihan kedua orang itu.
"Loei Sam! cepat lepaskan!" serunya hampir berbareng.
"Haaa... haaa... suheng anggap aku adalah seorang
bocah gampang dibohongi?" Loei Sam sambil bergelak
"Seandainya aku melepaskan kemudian kalian menyerang
diriku, aku bisa mati konyol? kalian sedang menjalankan
perintah suhu untuk mencabut jiwaku, hal ini sudah
sepantasnya kalau kalian laksanakan, tapi kalau dilakukan
pada saat ini, maka jiwa nona Sie pun akan ikut musnah!"
Mendengar jiwanya akan digunakan sebagai jaminan,
Sie Soat Ang jadi kaget bercampur gelisah, namun dalam
keadaan seperti ini ia tak dapat berbuat apa2, sebab tak
mungkin baginya untuk memohon kedua orang itu turun
tangan terhadap Loei Sam tanpa hiraukan jiwanya sendiri.
Ia tahu Loei Sam adalah seorang manusia berkeras
kepala, apa yang telah diucapkan dapat saja dilakukan..
Seandainya kedua orang suheng benar-benar turun tangan
terhadap dirinya, maka yang akan mati lebih dahulu adalah
ia.
Pertama2 yang akan mati lebih dahulu adalah ia sendiri.
Kedua orang itu saling bertukar pandangan dengan wajah
serba salah, lama sekali mereka tak memperlihatkan reaksi
apapun.
Air muka Loei Sam berubah memerah, kembali ia
membentak:
"Pada waktu2 yang lampau kalian tak mau turun tangan
terhadap diriku, buat apa kalian begitu bersikeras hendak
turun tangan pada saat ini sehingga harus mengorbankan
pula selembar jiwa nona Sie yang sama sekali tiada ikatan
dendam dengan diri kalian berdua?"
Walaupun terang2an kedua orang itu tahu ucapan
tersebut hanya gertak sambal belaka, namun justru yang
dikatakan adalah kematian Sie Soat Ang disebabkan
mereka berdua hal ini membikin kedua orang ini semakin
ragu2 lagi.
"Suheng berdua!" mendadak Loei Sam berteriak keras,
"Hiat Goan Sin Koen berada dibenteng Thian It Poo,
kemungkinan besar setiap waktu bisa tiba disini, aku tidak
akan banyak berbicara dengan dirimu lagi, akan kuhitung
sampai tiga, kalau kalian belum juga mau meninggalkan
tempat ini, maka nona Sie akan segera kubunuh, dan
kematiannya ini sama halnya disebabkan oleh kalian
berdua."
Selesai bicara ia merandek sejenak kemudian mulai
menghitung.
"Satu!"
Sembari berseru telapak tangannya mulai disaluri tenaga
murni dan ditempelkan keatas batok kepala Sie Soat Ang.
Gadis itu kontan merasakan adanya segulung tenaga
murni yang maha dahsyat menerjang masuk melalui jalan
darah Pek-hwee hiatnya langsung menyebar keseluruh
tubuh mendatangkan rasa sakit yang luar biasa. tak tahan ia
mulai merintih kesakitan.
Rintihan tersebut membuat dua orang itu menghela
napas panjang dan bersama sama mundur kebelakang.
Loei Sam tertawa terbahak bahak. "Haaa... haa... kalian
harus mundur dua puluh tombak lagi!" perintahnya.
Kedua orang itu dibikin apa boleh buat, terpaksa mundur
kembali dua puluh tombak kebelakang.
"Didalam satu jam kalian dilarang berkutik." Teriak Loei
Sam keras2 "Relakan aku pergi bersama2 nona Sie. Sudah
dengar belum?"
Kedua orang itu membungkam. kecuali menghela napas
panjang dengan perasaan apa boleh buat, Loei Sam tertawa
aneh, ia menyeret Sie Soat Ang dan berkelebat kedepan,
dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak
berbekas. Lama sekali kedua orang itu berdiri tertegun,
kemudian salah satu diantaranya baru berkata memecahkan
kesunyian.
"Su site, bagaimana dengan kita?"
"Jie suko, aku lihat... aku lihat... terpaksa satu jam lagi
kita baru mengejar keparat tersebut."
"Sekalipun kita berhasil menyandak dirinya." kata lelaki
yang disebut Adik seperguruan keempat sambil tertawa
getir, "la akan menggunakan sanderanya nona Sie untuk
menggertak kita. sama pula kita tak bisa turun tangan...
ba... bagaimana kita bisa memberi laporan kepada suhu?"
Orang itu menghela napas, mendadak selintas rasa
girang berkelebat lewat.
"Aaah, tidak menjadi soal, dia., dia tidak akan bertahan
lama terhadap seorang gadis, beberapa hari lagi ia pasti
akan meninggalkan nona Sie".
"Sekalipun ia tinggalkan nona Sie, apakah tak bisa
mencari perempuan lain ? persoalan ini.. persoalan ini.."
Kedua orang itu sangat murung dan hati terasa sedih,
pada saat itulah mendadak terdengar jerit lengking seorang
gadis berkumandang datang dari tempat kejauhan.
"Jie suko !..su suko.."
Mendengar panggilan itu kedua orang lelaki tersebut
amat terperanjat.
"Aah, siauw sumoay !" serunya hampir berbareng.
Tapi dengan cepat pula mereka membantah sendiri:
"Aah tidak mungkin, mana mungkin siauw sumoay bisa
sampai disini ? suhu serta sunio mana mengijinkan dia pergi
?"
Dari balik hutan tampak sesosok bayangan merah
berkelebat mendekat, gerakannya cepat laksana kilat, dalam
sekejap mata bayangan tadi sudah tiba dihadapan mereka
berdua. dia bukan lain adalah seorang gadis bermantel
merah dengan potongan wajah yang cantik jelita.
Umurnya baru tujuh, delapan belas tahun, wajahnya
potongan kwaci dengan sepasang mata yang jeli dan
bening, mantelnya terbuat diri bulu rase hanya sayang gadis
ini kelihatan begitu murung dan kucel.
"Chen Sumoay ! "seru kedua orang pemuda itu dengan
gelagapan sewaktu dilihatnya gadis itu menghampiri
mereka. "Kaupun datang kemari ? apakah suhu tahu akan
kedatanganmu..."
Gadis ini bukan lain adalah adik seperguruan dari kedua
orang pemuda itu, atau merupakan putri tunggal dan Si
Thay sianseng manusia aneh dalam dunia persilatan
dewasa ini nama lengkapnya Si Chen. sementara ia
gelengkan kepalanya.
"Tia tidak tahu akan kepergianku!" jawabnya.
"Lalu sunio tahu bukan? seharusnya dia orang tua
diberitahu !" seru kedua orang itu dengan hati gelisah.
Kembali Si Chen menggelengkan kepala, butir air mata
jatuh berlinang membasahi wajahnya, namun ia tidak ingin
kedua orang kakak seperguruannya tahu, ia mendongak dan
menjawab:
"Ibupun tidak tahu !"
"Sumoay, hal ini mana boleh jadi ? kau berkelana
seorang diri dalam dunia persilatan.. Aaai dari gunung Go
bie sampai disini ada selaksa lie, kau berjalan seorang diri
mana boleh?"
"Suko berdua, apa yang harus kutakuti lagi ? coba kalian
jawab, apa yang harus kutakuti lagi?" air mata jatuh
berlinang makin deras.
"Chen sumoay !" Kedua orang pemuda itupun tak dapat
menahan diri dan ikut mencucurkan air mata.
Suasana jadi hening, tak kedengaran sedikit suarapun,
akhirnya Si Chen-lah buka suara lebih dulu, ujarnya: "Aku
lepaskan pakaianku ditepi dinding jurang, pura2 bunuh diri
dengan terjunkan diri kedalam jurang, kemudian secara
diam2 turun gunung."
"Sumoay, kau berbuat demikiam apakah tidak takut suhu
serta sunio amat bersedih hati ?"
"Tentu saja aku berpikir sampai disitu" sahut Si Chen
sambil tertawa sedih. "Tapi aku pikir merekapun sudah
terlalu sedih, seandainya tahu aku telah mati, rasa sedih
mereka tidak akan lebih jauh, terutama sekali Tia, nama
besarnya sudah tersohor di mana2, setiap orang Bu lim
tentu menaruh rasa jeri kepadanya "
Mendadak ia membungkam dan tidak teruskan lagi
kata2nya. Kembali suasana jadi hening, kecuali hembusan
angin yang menderu.
Akhirnya Si Chen tertawa getir serunya:
"Sepanjang jalan aku mengejar kemari, suatu saat aku
berhasil temukan kabar beritanya, aku tahu ia berada
dibenteng Thian It Poo dan segera kukejar."
Kedua orang pemuda itu tertegun mereka cuma bisa
mengangguk. "Akupun tahu si Hiat Goan Sinkoen sedang
mencari dia, bukankah begitu?"
Sekali lagi kedua orang pemuda tersebut mengangguk.
"Tetapi ketika aku tiba dibenteng Thian It Poo" lanjut Si
Chen "Benteng tersebut sudah kacau balau, Hiat Goan
Sinkoen-sedang bertarung mati2an melawan seorang
perempuan gila, Yu loo-koay lah yang beritahu kepadaku
bahwa dia berangkat keutara. Jie suko, Su Suko, apakah
kau berhasil menyusulnya?"
Kedua orang ini tukar pandangan dan membungkam,
merasa sulit untuk buka suaranya.
Melihat kejadian itu timbul rasa curiga dalam hati Si
Chen.
"Suko berdua, apakah kalian ada urusan yang sedang
mengelabui diriku?" tanyanya.
"Tidak ada... tidak ada?" buru2 kedua orang itu
goyangkan tangannya berulangkali, Si Chen menghela
napas-panjang.
"Aku tahu kalian tak akan berbuat demikian, bencana
yang kualami sudah cukup mengenaskan kalian... kalau
kalian masih mengelabuhi diriku tentang satu persoalan
maka . . . aai . . . kalian sedikit keterlaluan."
Ucapan ini betul2 tajam, kedua orang itu semakin
kelabakan dibuatnya.
"Loei Sam dia . . . dia . . . barusan saja kami berjumpa
dengan dirinya" ujar kedua orang itu dengan gelagapan.
Seluruh tubuh Si Chen tergetar keras. "Lalu, mengapa
kalian tidak hadang jalan perginya ?" ia berseru.
"Tentu saja kami sudah menghalangi jalan perginya"
jawab salah seorang pemuda itu sambil tertawa getir,
"bahkan siap sedia menangkapnya pulang kegunung, cuma
dia menangkap nona Sie sebagai sanderanya, kalau kami
akan turun tangan menangkap dirinya, ia akan
membinasakan nona Sie lebih dahulu, oleh karena itu kami
. . . kami . . ."
"Karena itu kalian lepaskan dia pergi, bukan begitu ?"
sambung Si Chen sambil menghela napas panjang.
Dengan rasa jengah kedua orang itu mengangguk.
"Kalian terlalu berbelas kasihan, sedang dia terlalu jahat"
Kata gadis itu sambil tertawa getir. "Nona Sie itu..."
"Dia adalah putri kesayangan dari Thian It Poocu !"
"Mengapa kalian tidak kejar dirinya ? baik, aku akan
pergi mengejarnya, sekalipun tak bisa mengapa-apakan
dirinya, paling sedikit harus menolong nona Sie itu !"
Ucapan ini seketika menyadarkan kedua orang itu,
mereka terkesiap dan berseru berbareng: "Ucapan sumoay
sedikitpun tidak salah, mari kita kejar dirinya !"
Demikianlah ketiga orang itu segera mengejar kearah
mana Loei Sam melarikan diri tadi.
Menanti ketiga bayangan tubuh itu sudah lenyap dari
pandangan, mendadak terdengar gelak tertawa Loei Sam
berkumandang memecahkan kesunyian dari atas sebuah
pohon muncullah pemuda itu sambil membopong Sie Soat
Ang.
Setelah melayang keatas tanah, ia tertawa bergelak dan
berkata: "Nona Si, coba kau lihat bagaimanakah tipu
muslihat ku ? kau bisa berkenalan dengan manusia
sepertiku, hitung2 tidak rugi jadi manusia !"
Kiranya pemuda itu tidak berlalu, sebaliknya cuma
bersembunyi diatas sebuah pohon.
Karena jalan darahnya tadi tertotok, Si Soat Ang tak
dapat berteriak sekarang ia bebas dari pengaruh totokan
menjeritlah gadis ini se-jadi2nya.
Namun Loei Sam tertawa tergelak sambil menjengek.
"Nona manis, sekalipun kau berteriak sampai serakpun
percuma saja tak mungkin ada orang yang mendengarkan
jeritanmu itu!"
Sie Soat Ang berhenti berteriak, serunya:
"Kau... bukankah gadis tadi adalah sumoay mu? dia
begitu cantik, kalau kau bisa jadi suami istri dengan dirinya,
bukankah bagus sekali?"
"Hiii... hihi . . . cantik sih cantik, cuma kalau
dibandingkan dengan engkau, maka ia ketinggalan jauh
sekali"
Diam2 Sie Soat Ang mengeluh, ia tidak menyangka
perubahan yang terjadi semalaman bisa demikian besar.
Ingin sekali ia meronta namun tenaganya musnah sama
sekali, bahkan ketika itu bibir sang pemuda dengan paksa
mencium bibirnya.
Sekali lagi Sie Soat Ang menjerit kali ini ia menjerit
sekeras kerasnya namun baru dua kali ia berteriak bibirnya
sudah tersumbat kembali oleh bibir Loei Sam napasnya
mulai ter-sengkal2 dan keadaan amat kritis.
"Aduuh, sungguh romantis." tiba2 terdengar orang
berseru.
Loei Sam terkesiap, dengan cepat ia berpaling.
Tampak olehnya, tidak jauh dibelakang tubuhnya diatas
permukaan salju yang tebal berdiri seseorang.
Orang itu berusia tiga puluh tahunan, berdandan siucay,
wajahnya kurus panjang dengan sebuah codet dikening
kirinya, hal ini membuat potongan mukanya kelihatan jauh
lebih panjang.
Melihat munculnya seseorang. Si Soat Ang segera
berteriak minta tolong.
"Ooouw enghiong tolonglah diriku!" sastrawan itu tetap
berdiri dibawah pohon, bajunya berwarna putih bagaikan
salju, keadaannya amat aneh sekali.
Mendengar Si Soat Ang berteriak, Loei Sam segera
menghardik.
"Kalau kau menjerit lagi akan kutotok jalan darah
gatalmu!"
Tentu saja Sie Soat Ang tahu, bila seseorang tertotok
jalan darah gatalnya maka seluruh tubuh akan terasa kaku
dan gatal, lebih sengsara dari pada mati, karena takut pada
ancamannya ia segera membungkam.
Ketika itulah sisastrawan berbaju putih itu berkata:
"Memandang keadaan anda mentereng dan terpelajar tak
disangka perbuatanmu ternyata begitu rendah dan terkutuk
!"
"Hmmm, apa sangkut pautnya dengan urusan mu ?"
jengek Loei Sam sambil tertawa dingin.
"Eeeei ? bukankah anda adalah seorang ahli silat ?"
"Omong kosong, apakah aku tak dapat melihat sendiri ?"
"Nah, melihat ketidak adilan maka sebagai seorang
pendekar haruslah turun tangan menyelesaikan persoalan
itu secara bijaksana, kalau anda seorang ahli silat, kenapa
bertanya kepadaku apa sangkut pautnya dengan urusan
tersebut ?"
"Oooouw. . . kiranya kaupun seorang ahli silat, Hmm,
ingin sekali kulihat sampai dimana kehebatanmu itu !"
Sebelum ia bertindak sesuatu mendadak serasa segulung
angin berhembus lewat, bayangan tubuh sastrawan tadi
laksana kilat telah meluncur datang.
Loei Sam terkesiap. ia merasa kejadian ada di luar
dugaan, untung sebelumnya sudah bikin persiapan. telapak
kiri dibalik kemudian melancarkan sebuah hantaman
kedepan.
Angin pukulan men deru2, belum sampai sasarannya
terkena, bayangan tubuh orang itu kembali lenyap tak
berbekas diikuti pergelangan tangan nya tiba2 jadi kaku.
Ternyata tubuh sisastrawan yang menerjang ke depan
walaupun cepat laksana kilat namun secara tiba2 ia sudah
berputar ke sebelah kanan Loei Sam dan menyentuh urat
nadinya.
Serangan ini terkena telak, Loei Sam kontan merasakan
urat nadinya kaku dan tak kuasa lagi kelima jari tangannya
mengendor.
Perubahan jurus dari sastrawan itu amat cepat sekali,
baru saja Loei Sam kendorkan tangannya sisastrawan itu
sudah menyambar tangan Sie Soat Ang dan didorongnya ke
depan, dengan ringan dan mantap tubuh gadis itu meluncur
beberapa tombak jauhnya dan kalangan.
Melihat korbannya dirampas, Loei Sam amat gusar
sambil kesempatan waktu sisastrawan mendorong tubuh Si
Soat Ang keluar kalangan, jari tangannya bergerak cepat
menotok jalan darah "Hoa Kay Hiat" ditubuh lawan.
Jalan darah Hoa-kay hiat merupakan satu jalan darah
penting ditubuh manusia, tindakan dari Loei Sam ini
menunjukkan kalau ia ada maksud membinasakan lawan
dalam satu jurus serangan belaka.
Dengan cepat sastrawan itu menyusup tubuhnya
kebelakang, sepasang alis berkerut dan tegurnya:
"Kau adalah anak murid dari Si Thay sianseng ?"
Loei Sam melakukan pengacauan digunung Go-bie, ini
sama hal sudah diusir dari perguruan, namun nama Si Thay
sianseng sangat berpengaruh di dunia persilatan, oleh sebab
itu setiap orang yang mengatakan dia adalah muridnya Si
Thay sianseng, selamanya pemuda ini tak pernah menolak,
ia segera tertawa.
"Kalau sudah tahu asal usulku, kenapa kau tidak sipat
ekormu dan melarikan diri dari sini?"
"Benarkah kau anak murid dari Si Thay sianseng ?"
kembali sastrawan itu bertanya, sementara sepasang
matanya melototi pemuda itu tajam2. "Ditinjau dari jurus
serangan tersebut kau memang ahli waris dan Si Thay
Sianseng, tapi memandang dari tindak laku dirimu yang
rendah serta memalukan. tidak mungkin seorang pendekar
sejati punya murid macam kau."
Terhadap makian ini Loei Sam tidak marah, yang
membuat ia naik pitam adalah tindakan Sie Soat Ang yang
melarikan diri ter-birit2 setelah di tolong oleh sastrawan
tadi, ia segera menghardik:
"Ayoh cepat minggir !"
"Criing..." dari balik ujung bajunya mendadak meluncur
keluar sebatang pedang pendek, senjata nya langsung
mengarah tenggorokan lawan.
"Aaai . . . ilmu silatmu tidak terhitung jelek" seru
sastrawan tersebut sambil menghela napas panjang, ia
mundur kebelakang meloloskan diri dari ancaman.
Melihat serangannya gagal Loei Sam makin gusar, sebab
waktu itu Si Soat Ang sudah jauh melarikan diri sehingga
sebuah titik hitam belaka.
"Tingkah lakumu amat mencurigakan sekali" Seru
sastrawan tadi setelah berhasil meloloskan diri dari
ancaman maut, "Aku lihat kebanyakan kau berhasil
mencuri dapat satu dua jurus ilmu silat dari Si Thay
sianseng, kemudian sengaja melakukan keonaran dalam Bu-
lim dengan maksud merusak nama baik Si Thay sianseng,
akan ku tangkap dirimu untuk kemudian diserahkan ke
pada Si thay sianseng."
Mendengar ucapan itu Loei Sam teramat gusar
bercampur kaget, namun ia sadar ilmu silat lawan amat
lihay sekali, segera ujarnya dengan nada dingin:
"Bagus sekali, kulihat sampai dimanakah ilmu silatmu
sehingga bisa membawa aku pergi."
Tubuh sisastrawan yang sudah mundur berulang kali
mendadak menerjang kembali kedepan dengan kecepatan
laksana sambaran kilat, kali ini Loei Sam pun sudah bersiap
sedia menghadapi segala kemungkinan.
Melihat terjangan sastrawan itu amat cepat, diam2 Loei
Sam kegirangan. pikirnya:
"Bagus...bagus...makin cepat kau datang semakin
bagus..." tubuhnya mendadak merandek, kemudian
pedangnya diayun kedepan mengirim sebuah tusukan
ganas.
Siapa nyana mendadak pandangan matanya jadi kabur,
bayangan lawan sudah lenyap tak berbekas diikuti segulung
angin tekanan yang amat keras menekan tubuhnya.
Loei Sam terperanjat jangan dikata setengah tahun
berselang ia pernah terluka parah, kendari ilmu silatnya
sudah pulih semuapun tak akan ia sanggup menghadapi
keadaan semacam ini.
Dalam keadaan gugup dan terdesak, ia tak sempat
berkelit lagi. terpaksa pedangnya berputar kencang
melancarkan sebuah tusukan kembali.
Tusukan ini amat cepat, serangannya dahsyat, namun
bagaimanapun juga terlambat satu langkah, mendadak
pergelangannya jadi kaku dan urat nadinya sudah dicekal
lawannya erat-erat.
"Trang. . !" pedang pendeknya terlepas dari cekalan
diikuti suara ejekan dari sastrawan berbaju putih itu
bergema datang: "Hemm ! kiranya pedangmu sudah
direndam racun keji, dari aliran lurus tak ada manusia
macam kau!"
Diatas pedang pendek milik Loei Sam memang sudah
dipolesi racun keji, bahkan suatu racun yang ganas dan
segera mencabut nyawa seseorang apabila berjumpa dengan
darah, tetapi tanda2 tersebut amat samar sekali, tak
mungkin bisa ketahuan oleh orang biasa.
Kini orang bisa menunjukkan bahwa pedang nya
beracun, hal ini bisa ditarik kesimpulan be tapa tajamnya
sepasang mata orang ini, kejadian tersebut membuat Loei
Sam semakin terperanjat.
Tapi urat nadinya sudah dicekal orang, tak sedikit
tenagapun masih tersisa, dalam keadaan keritis ia tidak jadi
bingung, sambil tertawa2 jengeknya: "Oooouw...
kepandaian anda tidak jelek juga. entah kau berasal dari
perguruan mana."
"Guruku adalah sahabat dari Si Thay sian-seng, padahal
dari gerakanku barusan sudah sepantasnya kau tahu siapa
diriku !"
Pikiran Loei Sam jadi terang, ia semakin terperanjat
sebab teringat olehnya ia pernah mendengar dari suhunya
yang menyatakan diantara sahabat2 lamanya terdapat
seorang manusia jelek yang suka memakai baju warna
putih, sifatnya berangasan dan bongkok, orang2 Bu lim
menyebutnya sebagai Lieh Hwie Sin Tho atau si Bongkok
Sakti berangasan.
Sekalipun wajahnya jelek, ia punya seorang istri yang
kecantikan wajahnya sulit dicarikan tandingannya, karena
perbedaan yang menyolok inilah ia sering diejek orang.
Diantara tiga macam ilmu sakti yang dimiliki Si
Bongkok Sakti Berangasan ini terhadap suatu ilmu langkah
yang lihay disebut "Mie Tjong Sin Poh" atau ilmu langkah
sakti penghilang jejak, gerakan yang dipergunakan
sastrawan tersebut.
Teringat akan kepandaian itu Loei Sam kaget sampai air
mukanya berubah hebat, walaupun ia berusaha untuk
menenteramkan hatinya.
"Ooouw... sekarang aku paham sudah, bukankah Heng
thay adalah anak murid dari si Bongkok Sakti Berangasan?"
tegurnya sambil tertawa.
"Hmmm siapa yang kesudian menyebut saudara dengan
dirimu." hardik sisastrawan.
"Hiii... hihi soal ini tak bisa salahkan diriku, anda punya
hubungan sama si Bongkok.berangasan, tentu saja kita
harus saling menyebut saudara, siapa suruh antara Si Thay
sianseng dengan si Bongkok Sakti Berangasan mengikat tali
persaudaraan ?"
Sastrawan berbaju putih ini bukan lain adalah putra
kesayangan si Bongkok Sakti Berangasan mendengar
ucapan itu dia lantas mendengus.
"Hmm ! tingkah lakumu hanya merusak dan menodai
nama baik gurumu saja !" serunya.
"Haa...haa...haa...kelihatannya nama besar si Bongkok
Sakti Berangasan bukan nama kosong belaka, aku lihat
Heng-thay pun sudah ketularan beberapa bagian watak
berangasannya. coba lihat. bekerja tanpa membedakan
mana putih mana merah !"
"Eeei., apa maksudmu berkata begini, bagian manakah
yang kau rasa tidak benar ?"
"Tahukah kau siapakah gadis yang barusan kau tolong
itu ?"
Pertanyaan ini membuat si sastrawan berbaju putih
seketika tertegun, waktu itu ia cuma melihat Loei Sam
menangkap Si Soat Ang dan gadis itu hendak diperkosa,
sedangkan siapakah Sie Soat Ang ia tidak tahu.
Karena itu mendapat pertanyaan tersebut ia jadi
tertegun, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tidak tahu siapakah dia, tapi tidak pantas kau
bersikap macam itu terhadap seorang nona?"
"Haaa... haaa... haaa..." Loei Sam segera mendongak
tertawa terbahak2 dengan kerasnya, "Apa itu nona atau
bukan nona, diakan istriku!"
"Apa kau katakan ?" sastrawan itu amat terperanjat.
"Dia adalah istriku, dia adalah nyonya ku !"
"Kaaa, , . kalau dia adalah hujienmu, lalu mengapa ia
menjerit ?" sastrawan tersebut dibikin gelagapan.
"Aku rasa Heng thay tentu belum menikah, bukankah
begitu ?"
"Benar, aku belum menikah."
"Nah itulah dia, justru karena Heng thay belum menikah
maka tak akan tahu perbuatan apa saja yang sering
dilakukan antara suami dan istri, ia minta aku untuk
kerjakan suatu persoalan aku tidak setuju, karena itu
hatinya jadi dongkol dan tak mau bermesraan dengan diriku
kalau bukan perbuatanmu yang gegabah niscaya persoalan
sudah selesai !"
"Tidak benar, sewaktu aku berjumpa dengan kalian.
akupun mendengar dia. . . dia berkata agar kau mengawini
sumoaymu saja."
"Benar, ia memang seorang yang cemburuan, rasa
dengkinya terlalu besar."
"Tapi aku mendengar ia minta tolong apakah aku sudah
salah mendengar?".
"Tentu saja kau tidak salah mendengar, wataknya
memang begitu suka mendatangkan kerepotan buat diriku
karena ia dongkol maka dipanggilnya dirimu untuk diadu
dengan aku."
"Kalau Heng thay tidak percaya mari kita kejar dirinya.
Setelah kau bertanya sendiri urusan akan jadi jelas,
bagaimana ?"
Perkataan Loei Sam yang lihay ini membuat pikiran
sisastrawan goncang, setelah termenung sejenak ia
mengangguk.
"Baiklah !"
Sembari berkata ia kendorkan tangannya. Tujuan Loei
Sam banyak berbicarapun bukan lain agar sisastrawan suka
lepaskan tangannya.
-oo0dw0ooo-

Jilid 7
SEJAK semula Loei Sam sudah bikin persiapan ketika
sastrawan itu kendorkan tangannya, ia segera putar
badannya cepat2.
Dengan perputaran ini hampir2 saja ia saling
bertempelan muka dengan pihak lawan, ilmu silat
sastrawan itu tidak lemah, melihat gerakan tersebut ia
segera sadar bahaya, badannya buru2 mundur kebelakang.
Ketika itulah diiringi segulung angin pukulan Loei Sam
menghantam dada sastrawan tersebut, namun berhubungan
lawannya sudah keburu mundur maka kendari serangan
tadi bersarang telak namun tenaganya sudah jauh
berkurang, bokongan ini tidak sampai membuat lawannya
cedera.
Namun Loei Sam betul berhati keji, ia sudah menduga
serangannya pasti mengenai sasaran kosong, karena itu
dalam genggamannya sudah tersedia sebatang senjata
rahasia sewaktu serangannya gagal, senjata rahasia yang
tipis bagaikan kertas dan panjangnya beberapa coen itu
dengan disertai desiran tajam menyambar keiga sastrawan
tersebut.
Serangan tersebut bersarang telak, hanya dikarenakan
lempengan baja itu amat tipis maka dari mulut luka tidak
mengucurkan darah, Sastrawan itu hanya merasakan
iganya jadi dingin tersambar sesuatu.
Melihat serangan bersarang telak, Loei Sam bersuit
panjang, badannya berkelebat lari kedepan ia tahu
sastrawan itu pasti mengejar, tapi justru tujuannya adalah
memancing sastrawan itu agar mengejar.
Karena setelah terhajar senjata rahasia seperti itu, asal ia
tidak bergerak mulut lukanya akan rapat seperti sedia kala,
lain halnya kalau ia mengejar, darah akan bergerak cepat
membuat lempengan baja tadi bergeser sehingga
mengakibatkan mulut luka semakin besar.
Karena itu sambil melarikan diri, Loei Sam tertawa
mengejek tiada hentinya memancing pengejaran dari
sastrawan tersebut.
Melihat dirinya terbokong, sastrawan itu mendendam, ia
pun segera sadar apa yang diucapkan Loei Sam tadi hanya
kata2 bohong belaka, tentu saja ia mengejar kedepan.
Demikianlah, dua sosok bayangan manusia laksana
sambaran kilat meluncur kedepan dengan kecepatan
laksana kilat, dalam sekejap mata lima tujuh li sudah
dilewati sementara jarak antara mereka berduapun semakin
dekat.
Tiba2 sastrawan itu mengepos napas, badannya mencelat
kedepan mendekati Loei Sam hanya berapa depa
dibelakangnya.
Sayang seribu kali sayang, pada saat itulah iganya terasa
amat sakit, selembar lempengan besi menyembur keluar
menyambar lewat dari balok kepala Loei Sam.
Bersamaan dengan menyembur keluar lempengan besi
tadi, darah segarpun muncrat keluar dari mulut luka
bagaikan sumber mata air, sastrawan itu seketika
merasakan hawa murninya menyusut berbareng dengan
semburan darah dari tubuhnya.
Rasa kejut yang dirasakan sastrawan tersebut bukan
alang kepalang, buru2 ia berhenti mengejar. sepasang kaki
terasa jadi lemas dan akhirnya jatuh mendeprok diatas
tanah, hawa murninya sudah menyusut enam, tujuh bagian.
Menanti ia sudah menotok jalan darahnya untuk
menyetop penyemburan darah secara sia2, bayangan tubuh
Loei Sam telah lenyap tak berbekas, bahkan gelak
tertawanya pun sudah tak kedengaran lagi.
Sastrawan itu mulai merasakan kepalanya pusing tujuh
keliling, ia roboh keatas tanah sementara permukaan salju
yang putih telah berubah merah oleh ceceran darahnya, ia
menghembuskan napas panjang dengan sekuat tenaga
dicobanya angkat kepala.
Lama sekali ia berusaha, ketika itulah ia temukan dari
balik pohon siong dipinggir jalan muncul seorang gadis
wajahnya pucat pasi dan penuh rasa terperanjat dengan
sepasang mata terbelalak lebar2 sedang memandang
kearahnya, orang itu bukan lain Sie Soat Ang.
Si Soat Ang kelihatan ragu2 beberapa saat lamanya,
setelah yakin disekitar sana tak ada orang lain, ia baru
berjalan keluar dan menghampiri sastrawan tersebut,
serunya sambil memayang bangun orang itu.
"Kau . . . bagaimana kau bila menderita separah ini ?"
Sastrawan itu tertawa getir.
"Aku . . . karena kurang hati2, aku kena di bokong
olehnya !"
Sebetulnya watak Si Soat Ang tidak lebih baik daripada
perbuatan Loei Sam, hanya disebabkan berulang kali ia
mendapat bencana, bagaimanapun juga saat ini muncullah
serangkaian kata2 yang keluar dari liang-simnya:
"Kau . . kau . . kalau bukan demi menolong diriku,
kaupun tidak akan dicelakai olehnya !"
"Kau . . . bimbinglah aku bangun !"
Sekuat tenaga Si Soat Ang memayang bangun sastrawan
tersebut, namun karena goncangan tersebut darah segar
kembali menyembur keluar dengan derasnya dari mulut
luka membuat seluruh badan Si Soat Ang berlepotan darah.
Si Soat Ang terperanjat, ia menjerit keras dan buru2 lepas
tangan mengundurkan diri ke belakang.
Sekali lagi badan sastrawan tadi roboh keatas tanah,
darah segar mengucur keluar semakin deras lagi.
Ia tak tahu siapakah sastrawan berbaju putih ini, rasa
terima kasihnya orang ini pun tidak seberapa, apa yang
dipikirkan saat ini adalah cepat-cepat tinggalkan tempat itu.
Sebelum ia bertindak, tiba2 muncul sesosok bayangan
manusia dari tempat kejauhan, gerakan orang itu cepat
bagaikan sambaran kilat, dalam sekejap mata sudah hampir
dekat dengan tempat tersebut sementara sastrawan baju
putih itu jatuh tidak sadarkan diri.
Menanti Sie Soat Ang dapat melihat siapakah orang itu,
sepasang kakinya jadi lemas, tenaga untuk melarikan diri
seketika lenyap tak berbekas.
Orang yang munculkan diri saat ini bukan lain adalah
Hoat Goan Sinkoen yang punya wajah lima bagian mirip
manusia tujuh bagian mirip setan itu.
Hoat Goan Sinkoen menyapu sekejap wajah sastrawan
itu, mendadak ia melangkah setindak kedepan, sepasang
tangannya bergerak cepat menotok tujuh delapan tempat
jalan darah ditubuh sastrawan tersebut.
Setelah itu dengan sepasang mata yang tajam ia melototi
wajah Si Soat Ang, mulutnya menyeringai seram membuat
gadis itu ketakutan sampai jantungnya berdetik semakin
keras.
"Hmm! kembali kau yang turun tangan terhadap
dirinya!" hardik Hiat Goan Sinkoen.
"Bukan, bukan . . . perbuatanku! Loei Sam yang turun
tangan kepadanya peristiwa ini tak ada sangkut paut dengan
diriku," buru2 goyangkan tangannya berulang kali.
Mendengar disebutnya nama Loei Sam, air muka Hiat
Goan Sinkoen berubah hebat, "Dimana sekarang ia
berada?" tegurnya.
"Ia melarikan diri kearah depan sana."
Hiat Goan Sinkoen bersuit nyaring, tubuhnya laksana
sambaran kilat meluncur kearah mana yang ditunjuk oleh
Sie Soat Ang.
Baru saja gadis itu bisa berlega hati mendadak Hiat Goan
Sinkoen yang sudah berlalu balik lagi kehadapannya.
Begitu tiba disana, sepasang tangan Hiat Goan Sinkoen
bergerak cepat mencengkeram bahu Si Soat Ang membuat
gadis ini merasakan seluruh tubuhnya sakit bukan main.
"la betul2 lari ke sana . . . Loei Sam . . . Loei Sam
memang lari kearah situ!" serunya dengan gemetar.
"Kau tak usah urusi kemana Loei Sam pergi, orang ini
terluka parah, kau harus mengantar pulang kerumah
gurunya, aku hendak mengejar Loei Sam dan tak bisa urusi
dirinya, kau bisa lakukan pekerjaan ini ?"
"Aku tahu, kau bisa lakukan pekerjaan ini" buru2 gadis
itu menyahut, sementara hatipun biia lega.
"Hmm ! kau jangan anggap pekerjaan gampang, pertama
lukanya sangat parah setiap saat bisa mati, sepanjang jalan
kau harus hati2 merawat dirinya."
Yang dipikirkan Si Soat Ang hanyalah bagai mana
meloloskan diri, oleh sebab itu buru2 ia menyahut : "Aku
tahu, aku bisa baik2 merawat dirinya."
Mendadak Tiat Goan Siakoen menyeringai keji
ancamnya :
"Kalau kau bisa lakukan pekerjaan ini baik2 aku tidak
akan banyak bicara, kalau tidak . . . Hmm ! akan kubongkar
dan kusiarkan peristiwa pembunuhanmu atas diri Kan Loo
jie."
Si Soat Ang tertegun dan jatuh mendeprok ke atas tanah
dengan badan lemas, sementara Hiat Goan Sinkoen tertawa
dingin, ia berputar kehadapan sastrawan berbaju putih itu
dan menjejalkan sesuatu kedalam mulutnya, setelah itu
laksana kilat badannya meluncur kembali kedepan, dalam
sekejap mata saja sudah lenyap tak berbekas.
Si Soat Ang yang mendeprok diatas tanah segera
meronta bangun setelah dirasakan Hiat Goan Sinkoen telah
pergi jauh, ia menghembuskan napas panjang, putar badan
dan angkat kaki melarikan diri dari sana.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya
membuat ia kaget dan berhenti, pikirnya.
"Aduh celaka, ilmu silat Hiat Goan Sinkoen sangat lihay
wataknya pun sangat kukuh bahkan tahu pula rahasiaku, ia
memerintahkan aku kirim orang ketempat gurunya kalau
aku membangkang sampai konangan, bukankah aku yang
bakal berabe."
Tetapi pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya "Aku
tidak tahu dimanakah rumah guru nya, sedangkan Hiat
Goan Sinkoen pun tidak beri tahu kepadaku. aku harus
menghantarnya ke mana? Nah inilah kesempatan bagiku
untuk melarikan diri, sedangkan tanggung jawab lelaki ini
pun tidak akan terjatuh kepundakku."
Ia segera putar badan dan enjotkan badan untuk angkat
kaki.
"Nona. jangan pergi dulu" tiba2 sastrawan berbaju putih
itu merintih dan berseru.
Si Soat Ang tertegun kemudian berhenti, terlihat olehnya
ketika itu si sastrawan sedang meronta bangun, ingin duduk
namun setiap kali gagal untuk memenuhi keinginannya.
Lama sekali gadis itu tertegun, akhirnya karena takut
Hiat Goan Sinkoen muncul kembali disana, ia maju dan
memayang pemuda itu duduk.
"Nona, terima kasih atas kesudianmu untuk menghantar
aku pulang kerumah guruku, budi ini tak akan kulupakan
sepanjang hidup" kata sastrawan berbaju putih itu dengan
napas ter-engah2.
Si Soat Ang kembali terkesiap, ia tidak menyangka apa
yang diucapkan dengan Hiat Goan Siokoen dapat didengar
semua olehnya.
Hatinya sangat mendongkol, namun tak berani diumbar
terpaksa ia tertawa.
"Aaah, kenapa kau bisa bicara begini." serunya. "Demi
menolong aku, kau telah terluka parah apakah tidak pantas
kalau aku menghantar diri mu pulang ?"
"Aah, kalau begitu terima kasih atas kesediaan nona"
kata sastrawan itu penuh rasa terima kasih.
"Guruku adalah si Bongkok Sakti berangasan berdiam
dibukit sebelah timur gunung Lok Ban San, perjalanan dari
tempat ini sangat jauh sekali."
Si Soat Ang adalah putri Thiat It Poocu-yang amat
tersohor diluar perbatasan, orang Bu-lim yang singgah
ditempat mereka amat banyak, tidak aneh kalau
pengetahuan gadis ini amat luas sekali.
Ketika mendengar disebutnya nama "Sibongkok
berangasan" air mukanya berubah hebat, ia merasa untung
tadi tidak ditinggal pergi, kalau tidak sekalipun Hiat Goan
sinkoen bisa dihindari, bilamana si Bongkok Sakti
Berangasanpun tahu persoalan ini, maka jalan kematian
yang bakal ia terima.
Setelah merandek sejenak, ia baru berkata : "Aaah,
kiranya Cuang su adalah keturunan Si bongkok Sakti
Berangasan, aku she Si bernama Soat Ang, ayahku bernama
Si Liong."
"Jadi kau adalah putri kesayangan dari Si Poocu? kenapa
keparat tadi bilang. . ."
"Dia bilang apa ?"
"Dia bilang nona Si adalah istrinya !"
"Cis ! mukanya begitu tebal, berani mengaku seenak hati
sendiri Hmm, siapa yang sudi jadi istrinya !"
Sementara Si Soat Ang amat gusar, sastrawan berbaju
putih itu menghembuskan napas panjang seakan2 telah
melepaskan suatu tanggungan berat belaka.
Si Soat Ang tidak memperhatikan sampai disitu, ia
bertanya kembali:
"Cuang-su, kau bisa berjalan ?"
"Nona Si jangan panggil aku Cuang-su. aku she Tong
Poei bernama Pek."
Si Soat Ang mengiakan. sedang otaknya berputar
kencang, ia merasa tugas menghantar sampai kegunung Lak
Ban San agaknya tak terhindar lagi, sekalipun begitu ia
harus pulang ke benteng Thian It Poo dahulu untuk
menjumpai ayahnya.
Dengan paksakan diri Tong Poei Pek merangkak
bangun, badannya serasa sangat berat sekali, baru saja ia
bangun berdiri badannya jadi lemas dan tak kuasa roboh
kearah mana gadis itu berdiri.
Buru2 Si Soat Ang memayangnya.
"Aah. tak kusangka aku bisa kena dikecudangi orang
sampai terluka demikian parah !" desis Tong Poei Pek
sambil tertawa getir.
"Kau...apakah kau kena dikecudangi oleh Loei Sam
sampai terluka macam begini ?"
"Apa? Loei Sam ? orang tadi bernama Loei Sam ?" seru
Tong Poei Pek dengan tubuh tergetar keras.
"Benar dia adalah anak murid Si Thay sian-seng, tetapi. .
."
Bagaimanapun juga Si Soat Ang adalah seorang gadis, ia
merasa kurang enak untuk bercerita bagaimana Loei Sam
telah menodai sumoay nya, karena itu sembari
membungkam wajahnya berubah merah jengah.
"Aku sudah tahu." Tong Poei Pek segera menyambung,
"Si Thay sianseng telah mengabarkan kepada semua orang
Bu-lim agar menangkapnya kembali kegunung Go bie,
Aaai! agaknya pembalasan dendam atas bokongannya ini
tak bisa kutuntut dengan tangan sendiri !"
Maksud ucapan tersebut amat jelas sekali pada akhirnya
Loei Sam tidak bakal lolos dari tangan Si Thay sianseng.
Si Soat Ang yang mendengar ucapan itupun merasa
berlega hati, sebab sepanjang hidupnya ia tak pernah takut
kepada orang lain kecuali seorang yaitu Loei Sam. .
Sambil gertak gigi serunya:
"Manusia macam ini sudah seharusnya mendapat
pembalasan yang setimpal. . ."
Tiba2 seluruh tubuhnya gemetar keras teringat akan
kata2 "Pembalasan yang setimpal" iapun teringat kembali
perbuatan terkutuk yang pernah ia lakukan, segera ujarnya:
"Lukamu sangat parah, bagaimana kalau kita beristirahat
dahulu didalam benteng Thian It Poo?"
"Nona Si, aku . . . aku ingin cepat2 kembali ketempat
kediaman guruku, kalau tidak aku pasti takkan kuat
menahan diri!" buru2 Tong Poei Pek berseru sambil tertawa
sedih.
"Tentu saja kita tak boleh lama2 dibenteng Thian It Poo,
bagaimana juga berangkat keselatan kita harus melalui
benteng Thian It Poo, disana kita persiapkan kereta serta
kuda bukankah perjalanan malah semakin cepat lagi?"
Karena ucapan ini sangat cengli, Tong Poei Pek pun
tidak membantah lagi, ia mengangguk.
"Terima kasih atas perhatian nona Si yang mau pikirkan
cara tersebut!"
Demikianlah dengan dipayang Si Soat Ang dan dibantu
oleh sebatang ranting kayu sebagai tongkat, selangkah demi
selangkah Tong Poei Pek bergerak ke depan, berhubung
lukanya amat parah mereka sangat lambat sekali untuk tiba
dibenteng Thian It Poo mereka membutuhkan beberapa jam
lamanya.
Benteng Thian It Poo yang pada hari2 biasa selalu ramai
dikunjungi orang, saat ini sunyi senyap tak kelihatan
sesosok manusiapun, pintu tebal yang besar kini tinggal
sebelah, sepi. . . hening kelihatan amat menyeramkan.
Melihat kesemuanya itu Si Soat Ang tertawa getir,
serunya keras2: "Tia ! Ayah ! kau ada di mana ?"
Suaranya menggema di seluruh benteng yang kosong,
namun tak ada jawaban, suasana tetap sepi, sunyi bagaikan
di kuburan.
Melihat tiada jawaban yang muncul, firasat jelek segera
berkecamuk dalam benak Sie Soat Ang, seluruh badannya
jadi merinding.
Dengan memayang Tong Poei Pek mereka masuk
kedalam benteng, beberapa saat kemudian tibalah didepan
ruang tengah, tangga batu sudah banyak yang hancur akibat
pertarungan sengit antara Ciang Oh melawan Hiat Goan
Sinkoen tadi.
Dalam ruangan semakin tidak keruan, semua barang
hancur berantakan dan tinggal puing2 yang berserakan.
Melihat kesemuanya ini, Tong Poei Pek terkesiap,
serunya tak tertahan:
"Nona Si, sebenarnya apa yang telah terjadi ?"
"Aai...kisahnya amat panjang, kau beristirahatlah
dahulu. aku hendak pergi mencari ayahku"
Dengan terpaksa Tong Poei Pek mengangguk, namun
ditambahi pula dengan beberapa patah kata:
"Nona Si. aku lihat ayahmu sudah tidak berada disini
lagi, lebih baik kita cepat2 tinggalkan tempat ini !"
Kontan Si Soat Ang naik pitam setelah mendengar
perkataan itu, pikirnya:
"Bangsat ! yang kau pikirkan cuma cepat2 sampai
digunung Lak Ban San dan menyelamatkan selembar jiwa
anjingmu, kau anggap jiwa ayahku bukan jiwa manusia ?"
Walaupun ia tak berani mengumbar hawa amarahnya,
namun ia depakkan kakinya juga keatas tanah sambil
berseru ketus:
"Tidak bisa jadi, sehari aku tidak temukan ayahku, satu
hari pula tak akan kutinggalkan benteng Thian It Poo ini !"
Melihat kekerasan hati gadis itu, Tong Poei Pek cuma
bisa menghela napas panjang. sementara Si Soat Ang telah
berkelebat keluar.
Gadis ini masih ingat, ayahnya tertarik oleh ucapan Loei
Sam dan pergi mencari Ciang Oh untuk selanjutnya tidak
pernah muncul kembali. Kemungkinan besar ia masih
berada disana.
Karena itu segera berkelebat kearah tembok pekarangan
yang tinggi itu, dari sana ia berteriak memanggil ayahnya.
Tapi ia tidak memperoleh jawaban, gadis itu mulai
mendengar se olah2 ada seorang sedang menghembuskan
napas, ia segera mundur dua langkah kebelakang kemudian
enjotkan badannya melayang kedalam.
Keadaan halaman dibalik tembok tinggi itu luar biasa,
seluruh permukaan salju telan berubah merah oleh darah,
dua orang manusia penuh berlepotan darah berguling2
diatas tanah.
Dalam sekilas pandang, siapapun akan tahu kalau
mereka berdua sudah kehabisan tenaga, karena itu gerak
gerik mereka sangat lambat, sambil berguling masing2
pihak berusaha untuk merobohkan lawannya, tetapi
serangan mereka sama sekali tak bertenaga, walaupun
bersarang telak di tubuh lawan, namun tidak mendatangkan
reaksi apa2 kecuali dengusan napas mereka makin keras.
Melihat peristiwa tersebut Sie Soat Ang terkesiap sebab
dalam sekilas pandang ia kenali salah satu diantara mereka
berdua bukan lain adalah ayahnya Thiat Poocu.
Si Soat Ang berteriak keras, ia meloncat turun dan
menginjak punggung orang itu keras2 kemudian sekali
sambar ia angkat badan orang tadi dan dilemparkan jauh2
dari kalangan.
Ternyata orang itu bukan lain adalah sitelapak berdarah
Tong Hauw adanya.
Segera tubuh ayahnya dipayang, namun badan Si Liong
sudah lemas tak bertenaga, seluruh wajahnya penuh dengan
darah beku.
Melihat keadaan dari ayahnya, Si Soat Ang tercelos
hatinya, ia merasa seluruh badannya gemetar keras,
mulutnya terbentang lebar namun tak sepatah katapun
dapat diutarakan.
"Soat Ang . . ." Akhirnya Si Lionglah yang buka suara
lebih dahulu, "Aku . . aku tak bisa . . tak bisa mengurusi
dirimu lagi, sungguh menggemaskan . . Liem Hauw Seng . .
keee . . . keparat licik itu . . ."
Berada dalam keadaan seperti ini ternyata ayahnya
masih mengingat Liem Hauw Seng, hal ini membuat Si
Soat Ang amat sedih, ia gertak giginya kencang2.
"Tia. kau tak bakal mati!" serunya.
Si Liong tertawa sedih.
"Aku sudah hampir mati, Ang-jie, ada suatu persoalan
ini tak pernah kuceritakan kepadamu kau . . . kau . . ."
Napasnya terengah-engah, sulit baginya untuk
meneruskan kembali kata2nya.
"Tia. bicaralah per-lahan2?" ujarnya kemudian setelah
tertegun beberapa saat.
"Tidak bisa, aku harus berbicara dulu lalu baru. . . baru
mati, Ang-jie, sewaktu tempo dulu aku . . aku pergi
kedaerah Biauw tujuan terutama bukan lain untuk mencari
kitab pusaka Sam Poo Cinkeng yang diberitakan orang
lenyap di daerah tersebut, banyak orang Bu lim berangkat
kedaerah Biauw untuk mengadu untung termasuk aku
sendiri, setibanya disana, aku gagal menemukan kitab
pusaka Sam Poo Cin-keng tetapi membawa pulang seorang
perempuan, dia adalah Ciang Ooh . . ."
"Tentang kisah itu aku sudah tahu." tukas Sie Soat Ang
sambil memayang ayahnya kepinggir tembok, "Tia, kau tak
usah bercerita aku sudah mengerti."
Si Liong mencekal sepasang tangan putrinya erat2 lalu
ujarnya.
"Tidak, ada satu persoalan yang belum aku ketahui
selama banyak tahun ini ilmu silat dari Ciang Ooh sehari
lebih lihay dari hari2 berikutnya tetapi ia jadi makin gila,
aku curiga . . . . curiga..."
"Tia, apakah kati curiga kitab pusaka Sam Poo Cin keng
tersebut sudah terjatuh ketangan Ciang Oh ?" seru Si Soat
Ang tersebut.
"Bukannya curiga, tapi suatu kenyataan" jawab Si Liong
sambil mengangguk. "Soat Ang, Ciang Oh adalah seorang
nenek gila, ia tidak tahu kehebatan dari kitab pusaka Sam
Poo Cin-keng tersebut, hanya menirukan lukisan yang
adapun sudah berhasil melatih dirinya selihai itu, apa lagi
mempelajarinya secara sungguh2 . . . Soat Ang, kau harus
berusaha untuk mendapatkan kitab pusaka Sam Poo Cin
keng tersebut. . ."
"Tia, saat ini Ciang Oh berada dimana ?" buru buru Si
Soat Ang bertanya dengan jantung dag dig dug.
Namun Si Liong tidak menggubris pertanyaan putrinya
ini, ia meneruskan kata2nya:
"Kitab pusaka Sim Poo Cin-keng tersebut memuat
rahasia ilmu hawa murni tingkat tinggi, seandainya kau bisa
mendapatkannya kemudian membuang waktu beberapa
tahun untuk mempelajarinya, niscaya kau jadi manusia
tanpa undangan dikolong langit, kaupun tak . . tak usah
dibawah orang. ."
Bicara sampai disitu mendadak seluruh tubuhnya
menjadi kejang. sepasang jari tangannya yang mencekal
diatas lengan kiri Si Soat Ang makin keras sehingga terasa
amat keras sehingga terasa amat sakit diikuti ia
menghembuskan napas panjang, sepuluh jarinya
mengendor badannya roboh keatas tanah dan tak berkutik
lagi.
Buru2 gadis itu memeriksa pernapasannya ternyata
orang tua she-Si itu sudah menghembuskan napas yang
terakhir.
Lambat2 Si Soat Ang bangun berdiri, dalam sedetik
waktu tersebut ia tak tahu harus menangiskan atau tidak...
Dua hari berselang dia masih seorang nona besar yang
dimanja dan dihormati setiap orang, dua hari kemudian
perubahan yang terjadi amat besar seakan2 dikolong langit
yang demikian luas nya ini hanya tertinggal dia seorang.
Lama sekali ia berdiri mematung sambil menangis hatin
entah berapa waktu sudah lewat ia sendiripun tak tahu
mendadak terdengar gelak tertawa aneh dari Ciang Ooh.
Pada mulanya gelak tertawa Ciang Ooh yang
menyeramkan itu membuat seluruh badannya gemetar
keras, diikuti teringat kembali olehnya akan pesan terakhir
Si Liong sesaat putus nyawa.
Ia tarik napas panjang, saat ini gadis tersebut sadar
persoalan paling penting yang harus segera ia kerjakan
adalah mendapatkan kitab pusaka "Sam Poo Cin-keng"
tersebut.
Setelah memandang sejenak jenasah ayahnya ia enjot
badan kemudian meluncur kearah mana berasalnya suara
tertawa itu.
Dalam benteng Thian li Poo banyak terdapat ruangan,
namun Sie Soat Ang sudah sangat hapal, dalam beberapa
belokkan saja suara gelak tertawa dari Ciang Oh sudah
kedengaran semakin nyata.
Menanti ia keluar dari balik tembok tinggi, tampaklah
Ciang Oh sedang berdiri ditengah halaman sambil tertawa
ter-gelak2.
Ia merandek sejenak, kemudian selangkah demi
selangkah mendekati perempuan itu sampai akhir ya
berhenti empat, lima depa dibelakangnya.
Tiba2 Ciang Oh putar badan, dengan sepasang mata
melotot ia awasi Sie Soat Ang, hingga membuat gadis itu
mengkirik rasanya. tetapi sewaktu teringat kembali akan
kitab pusaka "Sam Poo Cin-keng" rasa takutnya kontan
lenyap tak berbekas, sambil keraskan kepala ia tertawa dan
berkata.
"Kau . . . apakah kau ingin bertemu dengan putrimu?"
Ia tahu Ciang Ooh sangat kuatir terhadap keselamatan
putri kandungnya, karena itu dengan ucapan tersebut ia
coba memancing perempuan itu buka suara.
Sedikitpun tidak salah, Ciang Ooh segera tertawa
menyeringai sehingga kelihatan sebaris giginya yang putih.
"Dia berada dimana?" tanyanya.
"Aku dapat membawa kau untuk pergi menjumpai
dirinya, tetapi aku tak mau membantu dirimu dengan sia2
belaka." buru2 Si Soat Ang menyahut.
Agaknya Ciang Ooh tidak tahu apa maksud gadis itu
berkata demikian lewat lama sekali ia berkata: "Kau . . ."
Si Soat Ang tertawa paksa.
Mendadak dari belakang tubuh Ciang Ooh
berkumandang datang gelak tertawa yang amat nyaring,
gelak tertawa tersebut membuat selembar nyawa Si Soat
Ang seraya melayang dari rongga badannya dan tak kuasa
ia mundur selangkah ke belakang, hampir2 saja gadis ini tak
sanggup angkat kepalanya.
Sebab dari suara tersebut, ia dapat tahu kalau Loei Sam
telah tiba disana, lama sekali ia baru berani angkat kepala.
Tampak Loei Sam sedang duduk diatas tiang penglari
sambil memandang kearahnya, wajah maupun sikapnya
tenang sekali.
Mungkin sejak semula Loei Sam sudah berada disana,
hanya saja berhubung perhatiannya ditujukan kepada Ciang
Ooh seorang, maka ia tidak menaruh perhatian.
Hatinya tercelos, sebab ia tahu saat ini Tong Poei Pik
terluka parah, tak mungkin ada orang yang bisa menolong
dirinya kecuali Ciang Ooh siperempuan gila tersebut
seorang.
Setelah berusaha untuk menenteramkan hati nya ia
berkata:
"Ciang Oooh, dengarkan perkataanku bukankah kau
hendak menjumpai putrimu ? nah! hajar dahulu orang yang
duduk diatas tiang penglari tersebut"
Perlahan-lahan Ciang Ooh berpaling, dan memandang
sekejap kearah Loei Sam, sementara pemuda itu sambil
tertawa hahahihi memandang kearah perempuan tersebut
tanpa menunjukkan sikap apapun.
Tiba2 Ciang Oh berpaling, dengan wajah penuh
kegusaran ia menghardik "Omong kosong!"
Mendengar secara tiba-2 Ciang Ooh menegur dirinya, Si
Soat Ang amat terperanjat buru2 serunya.
"Kau. . bukankah kau ingin menjumpai putrimu ?"
"Omong kosong !"
Si Soat Ang jadi amat cemas, pada saat itulah terdengar
Loei Sam tertawa ter bahak2. ia melayang turun dari atas
tiang penglari dan berseru:
"Nona Si, sungguh amat sayang rencana kejimu untuk
pinjam golok membunuh orang menemui kegagalan total!"
Melihat Loei Sim meloncat turun dan Ciang Ooh tak
mau mendengarkan perkataannya. Si Soat Ang semakin
terperanjat sehingga sukar di lukiskan dengan kata2, buru2
ia mundur ke belakang.
"Tangkap gadis itu !" mendadak Loei Sam berseru.
Terhadap ucapan Si Soat Ang, perempuan gila itu sama
sekali tidak menggubris sebaliknya begitu Loei Sam berkata.
Ciang Ooh segera bergerak kedepan dibarengi kelima jari
tangannya laksana cakar elang mencengkeram pundak
gadis itu.
Serangan ini bukan saja cepat laksana kilat bahkan
diiringi segulung angin serangan yang amat tajam membuat
Si Soat Ang tak dapat bernapas, sedikit ia merandak
pundaknya terasa sakit dan ia sudah kena dicengkeram oleh
Ciang 0h.
Cengkeraman tersebut makin lama semakin kencang, Si
Soat Ang merasakan tulang bahunya hampiri saja retak,
saking tak tahannya ia menjerit keras2.
Di tengah jeritan itulah selangkah demi selangkah Loei
Sam berjalan menghampiri ia tertawa menyeringai.
setibanya di hadapan gadis itu dengan tangan ia meraba
pipinya kemudian mengecup bibirnya yang kecil.
"Nona Si !" katanya, "Aku sudah tahu bahwa suatu
ketika kau pasti akan kembali kebenteng Thian It Poo, eeei.
ternyata dugaanku sedikitpun tidak meleset !"
Bahu Si Soat Ang kena dicengkeram tak sanggup ia
meronta, terpaksa buru2 gadis ini melengos.
Tetapi dengan paksa Loei Sam putar kembali kepala
gadis itu sehingga berhadap2an kembali dengan dirinya.
"Nona Si !" ia berkata "Rencanamu sungguh bagus
sekali, hendak meminjam tenaga untuk menghadapi diriku,
hanya sayang tindakanmu itu sungguh sangat terlambat
selangkah, ia sudah percaya hanya aku seorang yang bisa
temukan putrinya, bukan begitu ?"
Perempuan gila itu mengangguk tiada henti nya. "Tentu
saja cuma kau seorang !"
Sie Soat Ang serunya, ia tahu kali ini benar2 ia
mengantar diri kemulut macam.
Dengan bangga Loei Sam tertawa tergelak, tiba-tiba ia
mencengkeram pergelangan tangan Sie Soat Ang dan
serunya terhadap Ciang Oh:
"Lepas tangan !"
Ciang Oh sangat penurut, ia segera melepaskan jari
tangannya dan mengundurkan diri dari kalangan.
"Nona Si !" Seru Loei Sam kemudian sambil tertawa
cabul. "Kamar tidurmu berada dimana ? bawalah aku
kesana, bagaimana kalau kita guna kan kamar tidurmu
sebagai kamar pengantin kita?"
Mendengar ucapan itu Sie Soat Ang merasakan
pandangan matanya jadi gelap, hampir2 saja ia jatuh tidak
sadarkan diri.
"Heeeee... heee... nona Si, apakah kau merasa malu?
heee... semakin malu. kau kelihatan semakin cantik."
Sambil berkata, ia cekal dahi gadis itu dan siap
diciumnya kembali
Mendadak...
"Loei... Sam.... !" seruan seseorang muncul memecahkan
kesunyian.
Suara itu lemah sama sekali tak bertenaga, walaupun
cuma dua patah kata namun diantara nya orang itu harus
merandek sejenak guna tukar napas.
Loei Sam berpaling tampak olehnya orang itu bukan lain
adalah Tong Poei Pek, air mukanya pucat pasi bagaikan
mayat, pakaiannya yang berwarna putih separuh bagian
sudah dilepoti darah. Waktu itu ia berdiri dengan bantuan
tongkat, seluruh badannya gemetar dan sempoyongan boleh
dikata setiap saat kemungkinan bisa roboh kembali keatas
tanah.
Melihat keadaan tersebut Loei Sam tertawa ter bahak2.
Sie Soat Ang pun tahu Tong Poet Pek sudah terluka parah
tak mungkin pemuda itu menolong dirinya namun ia masih
mempunyai harapan dengan napas ter-engah2 serunya:
"Loei Sam ! dia adalah putra si Bongkok Sakti
Berangasan, kau telah melukai dirinya dengan senjata
rahasia masih juga kau berani berada disini ? ayoh cepat
melarikan diri."
Mendengar disebutnya nama "si Bongkok Sakti
Berangasan", air muka Loei Sam berubah hebat.
Melihat hal tersebut, timbul harapan didalam hati Sie
Soat Ang.
Namun kejadian itu hanya berlangsung sekejap mata.
kembali Loei Sam mendongak sambil tertawa ter bahak2.
"Haaa... haaa... haaa... terima kasih atas peringatanmu,
dengan adanya ucapan tersebut maka akupun harus
membasmi rumput ke akar2 nya. kalau tidak besok
dikemudian hari hanya mendatangkan banyak kerepotan
saja buatku."
"Loei Sam !" Seru Tong poei Pek dengan napas ter-
engah2, "Hiat Goan Sinkoen sudah berada disekitar sini ."
"Aku tahu, Hiat Goan Sinkoen sudah datang, namun ia
bisa dihadapi oleh Ciang Oh, apa yang perlu ditakuti?"
"Loei Sam lepaskanlah Sie Soat Ang, aku tidak akan
pikirkan soal luka ini didalam hati, dan... akupun tidak
akan mengungkapnya kepada orang lain."
Loei Sam mendongak tertawa ter bahak2.
"Haa...haa...haa...suruh aku melepaskan dirinya? hal ini
tak bisa kulakukan, aku lebih suka kau pikirkan soal
terlukamu itu didalam hati."
Selesai bicara ia ayun telapak tangannya melancarkan
sebuah babatan kedepan
Angin pukulan men-deru2 dan meluncur kearah mana
Tong Poei Pek sedang berdiri . walaupun pemuda itu masih
ada kesempatan untuk meloloskan diri namun berhubung
lukanya sangat parah tak sanggup ia berkelit
Tidak ampun lagi badannya tersapu oleh serangan
tersebut dan mencelat beberapa tombak jauhnya. kemudian
menggeletak tak berkutik lagi.
Sehabis menghajar Tong Poei Pek, Loei Sam berpaling
kembali sambil tertawa tengik godanya:
"Nona Si. sekalipun kau tak mau beritahu kepadaku
dimanakah letak kamar tidurmu, akupun bisa
menemukannya sendiri"
Sambil menyeret Si Soat Ang ia berjalan kedepan. belum
beberapa langkah ia berpaling kembali dan pesannya
kepada Ciang Ooh:
"Kau tunggu saja aku disini, jangan pergi !"
Ciang Oh mengangguk. Demikianlah Loei Sam segera
menyeret Si Soat Ang berjalan masuk ke dalam ruangan,
setiap menjumpai kamar ia memeriksanya dengan teliti
sampai terakhir sampailah mereka di sebuah kamar yang
indah dan menyiarkan bau parfum perempuan, sekilas
pandang siapapun tahu kamar ini adalah kamar tidur
seorang gadis.
"Ha ha ha ha bukankah berada disini ?" ujar Loei Sam
sambil tertawa terbahak2.
Si Soat Ang menjerit keras, ia berusaha untuk meronta,
namun usahanya gagal sebab seluruh tenaganya serasa
lenyap tak berbekas.
"Kalau kau tidak mau turuti kemauanku, aku bisa
menotok jalan darahmu. bahkan akupun masih punya cara
lain untuk membuat malu diri mu, ayoh kau berani menjerit
lagi tidak ?" ancamnya.
Seluruh tubuh gadis she Si itu gemetar keras,
"Kau. . . lepaskanlah diriku !"
"Tidak dapat, aku tidak akan melepaskan setiap gadis
yang sudah aku pilih, kau tak usah berpikir yang bukan2
lagi !"
"Kau... kau..."
Ia cuma bisa berkata "Kau" belaka. atau secara tiba2
Loei Sam mencengkeram badannya kemudian membanting
tubuhnya keatas pembaringan.
Ambil kesempatan itu ingin sekali Si Soat Ang meloncat
bangun, namun gerakan Loei Sam jauh lebih cepat
sepasang tangannya telah bergerak menekan bahunya
sambil menunjukan senyuman menyeringai.
Berada dalam keadaan seperti itu hampir2 saja Si Soat
Ang jatuh semaput, dengan sekuat tenaga ia coba meronta
namun gagal, teriaknya:
"Cepat lepaskan diriku, aku . . . aku akan beritahu
kepadamu berita tentang kitab pusaka Sam Poo Cin-keng!"
Perkataan ini sungguh manjur sekali, tiba2 Loci Sam
lepas tangan dan mengundurkan diri. Buru2 Si Soat Ang
bangun berdiri sambil membereskan rambutnya ia ter
engah2.
"Ooouw... kiranya kitab pusaka Sam Poo Cinkeng
berada dibenteng Thian It Poo..." Kata Loei Sam sambil
tertawa seram, "Bagus sekali, asalkan kau serahkan kitab
pusaka Sam Poo Cin keng tersebut kepadaku, kau akan
kulepaskan."
Soat Ang bangun berdiri dan melangkah keluar, ujarnya:
"Kan lebih baik perkataanmu bisa dipercaya."
"Haa.haa...haa...padahal kaupun seorang gadis perawan
yang suci dan patut disayang, berapa kali kau serahkan diri
buat Liem Hauw Seng dan minta pemuda itu menjamah
badanmu, namun Liem Hauw Seng tidak mau. kau kira aku
tidak tahu tentang persoalan ini ?"
Ucapan ini sangat menghina dan menusuk perasaan Sie
Soat Ang, sebab justru perkataan inilah tak ingin ia dengar
orang lain mengungkapnya.
Namun berada di bawah ancaman Loei Sam. sekalipun
hawa amarah sudah serasa mau meledak, gadis itu tidak
berani banyak berkutik ia bungkam dalam seribu bahasa.
"Baiklah" ujar Loei Sam kembali sambil tertawa.
"beritahu kepadaku dimana kitab pusaka itu berada, asalkan
Sam Poo Cin-keng berhasil kudapat, tak akan kuganggu
dirimu barang seujung rambutpun"
Si Soat Ang pun tabu siapa yang mendapatkan kitab
pusaka Sam Po Cin-keng tersebut, berarti dialah yang bisa
malang melintang dikolong langit tanpa tandingan,
seandainya Loei Sam berhasil mendapatkan kitab tersebut,
maka ia tak jeri terhadap Hiat Goan Sinkoen maupun Si
Thay sian seng, tetapi dalam keadaan seperti ini ia merasa
menolong diri sendiri jauh lebih penting, karena itu ujarnya
dengan cepat:
"Kau... kau harus mengangkat sumpah keji lebih dahulu,
kemudian akan kuberitahukan soal ini kepadamu!"
"Bocah bagus, kau janganlah tidak tahu diri kalau
membuat aku jadi mendongkol akan kunodai dahulu
badanmu, setelah kau jadi milikku, akupun tidak akan takut
kau tak suka beritahu kepadaku dimana kitab pusaka Sam
Poo Cin-keng tersebut disimpan."
Mendengar ancaman itu Si Soat Ang sangat terperanjat
buru2 ia goyangkan tangannya berulang kali.
"Jaa... jangan... jangan... aku akan berbicara kitab
pusaka Sam Poo Cing keng tersebut berada didalam kamar
rahasia dipuncak pagoda yang biasanya digunakan untuk
mengurung Ciang Ooh, ayahkulah yang meletakkannya
disitu."
Apa yang diucapkan Si Soat Ang bukan kata2
sejujurnya, namun berada dalam keadaan seperti ini,
terpaksa dengan keraskan kepala ia menambahkan:
"Aku tak akan membohongi dirimu".
"Haah... haa... haaa... aku percaya kau tidak akan berani
berbohong, tetapi kau harus tahu watakku sangat kukoay
sekali. kalau suruh aku mempercayai perkataanku begitu
saja sih tidak begini mudah kau katakan kitab pusaka Sam
Poo Cin-keng berada dipuncak pagoda kalau begitu mari
kita bersama2 setelah kitab tersebut kudapatkan tentu saja
aku tidak akan menyusahkan dirimu."
Mendengar perkataan itu Sie Soat Ang mengeluh, ia
hanya bermaksud membohongi Loei Sam agar ada
kesempatan baginya untuk melarikan diri, siapa sangka
pemuda itu minta ia pergi berbareng.
Namun gadis inipun cukup cerdik, ia bersikap masa
bodoh dan seakan2 tidak pernah terjadi sesuatu
peristiwapun.
"Baik, mari kita pergi ber -sama2 !" jawabnya.
Loei Sim adalah seorang manusia licik, sewaktu
mengutarakan beberapa patah kata tersebut dengan telitinya
ia memperhatikan perubahan wajah Sie Soat Ang, ia
temukan gadis tersebut sama sekali tidak kelihatan gugup,
se olah2 apa yang diucapkan adalah kenyataan, hatinya jadi
sangat kegirangan.
Sebab apabila kitab pusaka Sam Poo Cin-keng berhasil
didapatkan, maka ia ingin berbuat apa semuanya akan
berhasil
"Bocah-manis mari kita pergi cari bersama" serunya
sambil tertawa dan menarik tangan gadis tersebut. Berada
dalam keadaan seperti ini Sie Soat Ang pun tidak
membantah. ia segera berjalan keluar lebih dahulu.
Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka
dibawah pagoda, pintu pagoda tertutup rapat, namun
dengan sekali tendangan pintu tadi terbuka lebar. Suasana
dalam pagoda gelap gulita, bau apek segera tersiar keluar
begitu terbuka lebar.
"Mengapa kuncinya sudah putus ?" tanya Loei Sam
dengan nada curiga.
Si Soat Ang tertawa getir, ia tahu mulai sekarang ia
harus bertindak lebih hati2 lagi, sedikit saja ia bertindak
salah berarti mendatangkan bencana buat diri sendiri.
"Ruang rahasia ini sebenarnya merupakan tempat tinggal
Ciang Ooh." ia menjawab perlahan "Se... sekarang ia sudah
pergi. tentu saja kuncinyapun putus !"
Loei Sam tidak banyak bicara lagi, ia menarik tangan Si
Soat Ang dibawanya masuk ke dalam pagoda.
Suasana dalam pagoda tersebut bukan saja berbau apek
dan lembab bahkan gelap gulita sehingga hampir tak
kelihatan apapun. Sie Soat Ang dan Loei Sam berdiri
dengan menempel di dinding, setelah lewat seperminum teh
kemudian mereka mulai dapat melihat secara lapar2,
ruangan tersebut dihubungkan dengan sebuah tangga yang
menghubungkan ketempat tadi dengan tingkat lebih atas.
Dari tingkat pertama menuju ketingkat kedua tingginya
ada tujuh, delapan tombak. dengan cermat Loei Sam
memeriksa keadaan disekitar sana, kemudian tanyanya.
"Apakah benda itu ada ditingkat paling atas?" sampai
saat inilah Si Soat Ang belum berhasil menemukan cara
untuk meloloskan diri.
Perasaannya sangat kalut, terpaksa ia mengangguk.
"Benar!"
"Baik, kalau begitu mari kita naik keatas " ujar Loei Sam
sambil tertawa "Seandainya dalam ruang rahasia itu tidak
ada. Hmm... hmm apa yang bakal terjadi dalam ruangan
tersebut tentu kau paham bukan?"
Sembari berkata Loei Sam mencengkeram pergelangan
tangan Si Soat Ang erat2 kemudian menyentaknya sekuat
tenaga, seketika itu juga gadis tersebut merasakan seluruh
tubuhnya jadi kaku.
"Aku tahu aku tahu!" serunya berulang kali, ia ingin
sekali menangis tersedu-sedu, namun sekuat tenaga
ditahannya maksud tersebut.
Sambil menarik gadis Soat Ang, Loei sam berkelebat
naik keloteng dalam sekejap mata mereka sudah berada
diseparuh pagoda sementara Si Soat Ang belum berhasil
juga mendapat kesempatan untuk meloloskan diri hatinya
mulai kebat kebit.
Sebentar kemudian mereka sudah tiba dipuncak paling
atas, sambil berhenti didepan pintu tanya Loei Sam:
"Apakah ditempat ini?"
Dengan hati kebat kebit terpaksa Si Soat Ang
mengangguk.
"Benar, memang ada disitu namun kau tak boleh masuk
kedalam begitu saja, disana banyak dipasang alat rahasia."
Mendengar perkataan itu Loei sam tertegun, namun
sebentar kemudian ia sudah tertawa.
"Nona Si. buat apa kau membobongi diriku? seandainya
dalam ruang rahasia ini, ada alat rahasianya pantai kalau
kau suruh aku masuk kedalam, mengapa kau malah suruh
aku berhati-hati?"
"Kalau kau tidak percaya ya sudahlah, silahkan dorong
pintu dan masuk sendiri kedalam."
Ucapan ini diutarakan dalam keadaan apa boleh buat,
namun bagi Loei Sam perkataan itu malah menggerakkan
hatinya, mungkinkah dalam ruangan benar2 ada alat
rahasianya ?
Ia segera tertawa dingin.
"Bagus sekali, kalau begitu, kau masuklah lebih dahulu !"
Ia ayun tangannya mendorong tubuh Si Soat Ang
kedepan ruangan, gadis itu tidak menyangka sang pemuda
tersebut bisa melakukan hal ini, tak tahan lagi dengan
sempoyongan ia terjatuh kedalam ruang rahasia itu.
Si Soat Ang adalah seorang gadis cerdik, begitu terjatuh
kedalam pintu ia segera sadar inilah kesempatan baik
baginya untuk meloloskan diri.
Begitu badannya terjatuh kedalam ruangan, kaki kiri dan
kaki kanannya berputar cepat menutup pintu itu kemudian
sang badan berputar kencang menyantek pintu tersebut
rapat2.
Loei Sam yang ada diluar sadar dirinya tertipu sambil
meraung keras ia melancarkan sebuah pukulan dahsyat
keatas pintu, Betapa dahsyatnya tenaga pukulan itu, sampai
Si Soat Ang yang ada di balik pintupun terpental mundur
tiga, lima langkah dan jatuh terlentang diatas sebuah
pembaringan.
Berhubung besarnya tenaga pantulan itu, maka sewaktu
badannya terjatuh diatas pembaringan dengan
menimbulkan suara keras pembaringan tersebut patah jadi
dua, barang2 yang ada disekitarnya menindih badannya
semua.
Buru2 ia mengesampingkan barang2 yang menindihi
badannya kemudian meloncat bangun.
Ketika ia meloncat bangun, mendadak gadis ini
menemukan selembar kain sutera menggeletak diatas tanah,
diatas kain mantera tadi terlukislah pelbagai macam bentuk
manusia yang aneh, sekalipun lukisan itu amat sederhana
namun dapat dilihat semuanya berdandankan toosu!
Kain sutera adalah benda tipis seandainya di cekal
mungkin cuma segenggam. namun kalau dibentangkan
tentu panjang sekali, Hati Si Soat Ang rada bergerak, segera
ia ambil benda tadi lebih dekat, tampak beratus ratus tulisan
kecil tertera disana.
Jantung Si Soat Ang berdebar keras, tidak sempat dibaca
lebih jauh ia segera masukkan benda tadi kedalam saku dan
angkat kepala mencari jalan keluar.
Sementara itu Loei Sam sedang mengetuk pintu dengan
sekuat tenaga, dengan menimbulkan getaran keras
menggoncangkan pintu tiada henti.
Setiap saat ada kemungkinan terpukul jebol, Si Soat Ang
yang belum berhasil menemukan jalan keluar diam2
mengeluh.
Dalam ruang rahasia itu kecuali sebuah pintu hanya
terdapat sebuah jendela kecil. sedang diatas jendela
terpancang besi yang kuat dan kasar..
"Braak..." tiba2 pintu ruangan terpukul jebol sebuah
lubang, namun Loei Sam tidak langsung masuk kedalam,
sambil mengintip kedalam ia tertawa haha hihi.
"Hai nona Si. apakah kau baik2 saja ?"
Si Soat Ang tersudut, tak mungkin baginya untuk
meloloskan diri dari ruangan itu, segera di sambarnya
sebuah rak lilin kemudian sekuat tenaga disambit kedepan.
Loei Sam menyengir, tangannya bergerak cepat
menangkap rak lilin tadi kemudian berseru kembali:
"Nona Si, mengapa kau buang rak lilin ini ? nanti lilin
pengantin kita akan dipasang dimana?"
Si Soat Ang makin ketakutan, tiba2 teriaknya: "Kalau
kau berani masuk, aku...aku akan bunuh diri !"
"Haa...haa...haa...baik, baik kalau begitu aku tidak akan
masuk kedalam"
Sembari berkata pemuda itu benar2 menarik kembali
badannya.
Si Soat Ang tertawa getir, mungkinkah nasibnya begitu
baik ? sementara ia masih berpikir mendadak . . , Plak !
jalan darah lemas dipinggangnya jadi kaku, diikuti seluruh
badannya tak dapat berkutik
Kiranya sembari mengundurkan diri kebelakang tadi
Loei Sam telah mengambil sekeping kayu dan disambit
kedepan, seketika itu jalan darah Si Soat Ang tertotok dan
badannya tetap tersandar diujung tembok.
Melihat mangsanya tak berkutik lagi. Loei Sam kerahkan
tenaganya mendorong pintu ruangan itu dan menerobos
masuk kedalam.
Dengan langkah lebar ia berjalan mendekati Si Soat Ang.
tangan kirinya bekerja keras memeluk pinggang gadis itu
sementara tangan kanannya dengan berani menerobos
bajunya dan siap menggerayangi alat vital gadis iiu,
Sejak dipeluk oleh Loei Sam, Si Soat Ang merasa
kepalanya pusing tujuh keliling, hampir2 ia jatuh tidak
sadarkan diri, saat ini kena digerayangi alat vitalnya ia
semakin lemas.
Bagaimanapun dia masih seorang gadis perawan, selama
hidup belum pernah ada laki-laki yang pernah menjamah
badannya namun apa gunanya cemas atau gelisah dalam
keadaan seperti ini ? jalan darahnya telah tertotok.
Tangan Loei Sam yang telah berada didalam dada Sie
Soat Ang mendadak tersentuh dengan kain sutra tersebut,
pada mulanya pemuda itu tidak menaruh perhatian, sambil
tertawa gelak ujarnya: "Ooouw, banyak benar benda yang
ada didalam sakumu."
Ia ambil keluar kain sutra tadi kemudian di buang,
namun pada saat itulah ia telah menemukan gambar
manusia diatas kain tersebut
Ia agak tertegun, buru2 Sie Soat Ang dilepaskan dan
memungut kembali kain sutra tadi, dengan cepat ia
membentang kain tadi, berhasil menemukan empat tulisan
kuno yang bertuliskan Sam Poo Cin Keng.
Loei Sam kegirangan setengah mati saking girangnya
sampai sukar dilukiskan dengan kata2.
Lama sekali ia tertegun, kurang lebih seperminuman teh
kemudian ia baru bisa tenangkan hati dan angkat kepala.
Tiba2 ia tersentak kaget, sebab entah sejak kapan
didepan pintu telah berdiri Ciang Oh dengan seramnya:
Terpaksa Loei Sam menunjukkan senyuman paksa,
namun sepasang mata Ciang Oh dengan tajam
memperhatikan terus diatas kain sutera itu.
"Lepaskan" serunya dengan suara dingin. "Barang itu
milikku !"
"Eeeei . . . apakah kau tidak ingin aku carikan kembali
putrimu ?"
Ciang Oh tertegun, tetapi dengan cepat kembali
membentak:
"Lepaskan, aku suruh kau letakkan kembali barang itu.
jangan kau ambil barang milikku itu !"
Pada saat ini Loei Sam betul serba salah, sekarang ia
telah mendapatkan kitab pusaka "Sam Poo Cin-keng" asal
dilatih beberapa tahun lagi kepandaian silatnya tentu
memperoleh kemajuan pesat. suruh ia lepas tangan tentu
saja tidak sanggup.
Otaknya berputar keras, mendadak ujarnya sambil
tertawa:
"Baiklah, letakkan kembali ya letakkan kembali, barang
ini memangnya bukan barang berharga."
Sembari berkata ia letakkan kembali kitab pusaka Sam
Poo Cin-keng itu keatas meja, ia ada maksud sewaktu
Ciang Ooh tidak perhatikan nanti, kitab tersebut akan dicuri
kembali.
Siapa sangka baru saja ia letakkan kain tadi keatas meja,
laksana kilat Ciang Ooh telah merampasnya kembali.
"Kaupun bukan manusia baik" teriaknya dengan mata
melotot, "Terang2an benda ini adalah barang mustika,
kenapa kau katakan tidak berguna."
Diam2 Loei Sam terperanjat, namun wajahnya tetap
tenang2 saja.
"Apa anehnya dengan barang semacam ini, apakah kau
suka karena sulamannya indah ? sulaman itu kalah jauh
dengan permadani."
"Kau tahu barang apakah ini ?"
Loei Sam menduga Ciang Ooh hanya seorang gadis suku
Biauw yang tak tahu kalau benda itu adalah kitab Sam Poo
Cin-keng suatu mustika dalam belajar silat, karena itu ia
tertawa.
"Barang apakah itu? kan tidak lebih cuma kain siluman
belaka!" sahutnya.
"Haa , , haa , . kain siluman? terus terang kuberitahu
kepada-mu, benda ini adalah Sam Poo Cin-keng kalau kita
lakukan seperti gambar yang tertera diatas kain ini maka
bertemu dengan siapapun tidak akan takut."
Loei Sam makin terperanjat ia tahu kesempatan untuk
mendapatkan kitab Sam Poo Cin-keng itu semakin tipis,
keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh
tubuhnya.
Namun ia masih tertawa paksa.
"Aaah, kau sedang bergurau. siapa yang bilang?" ia
berseru.
"Loo Liong-tauw yang bilang."
"Siapakah Loo Liong tauw itu?"
"Loo Liong-tauw adalah seorang manusia aneh di karang
bunga bwee, katanya ia telah berusia seratus dua puluh
tahun, dia paling suka diriku karena itu benda ini
dihadiahkan kepadaku sedangkan dia dapatkan barang itu
dari seorang toosu tua yang hampir mati, waktu itu aku
baru berusia sepuluh tahun, ia pesan kepadaku agar jangan
bercerita kepada siapapun."
"Lalu apa sebabnya sekarang kau berbicara padaku,"
Balik tanya Loei Sam sambil tertawa. Pada dasarnya Ciang
Ooh memang gila, kena ditanya Loei Sam ia tak dapat
menjawab akhirnya ia berkata:
"Tadi kau bilang hendak membawa aku mencari putriku,
sekarang putriku ada dimana cepat katakan?"
Suatu ingatan berkelebat dalam benak Loei Sam,
mendadak ia menuding keluar pintu.
"Coba kau lihat, bukankah dia adalah putri
kesayanganmu!"
"Dimana!"
Sambil berseru ia berpaling, pada saat itulah secepat kilat
Loei Sam mencabut keluar pisau belatinya kemudian
menubruk kedepan melancarkan sebuah tusukan.
Serangan bokongan ini datangnya laksana kilat. lagi pula
Ciang Ooh tidak bersiap sedia, tusukan pisau belati itu
dengan telak bersarang di punggungnya sementara pukulan
telapak kirinya pun mengenai sasarannya.
Tubuh Ciang Ooh terpental kedepan diikuti tubuh Loei
Sam berkelebat keluar terdengar, suara hiruk pikuk dianak
tangga, lama sekali suara itu baru sirap.
Walaupun Si Soat Ang tertotok jalan darahnya namun
semua peristiwa dapat dilihat dengan jelas, ia melihat pisau
belati itu bersarang di-punggung Ciang Ooh hingga
terbenam seluruh-nya. bahkan sebuah hantaman Loei Sam
bersarang pula ditubuhnya.
Ia menduga Ciang Ooh tak bakal bisa hidup, kitab Sam
Poo Cin keng pasti terjatuh ke tangan Loei Sam,
mungkinkah pemuda itu suka lepaskan dirinya setelah
mendapatkan kitab mustika?
Inilah kesempatan baik bagi dia untuk melarikan diri,
namun justru pada saat ini sedikit tenagapun tak sanggup
dikerahkan, hatinya jadi sangat gelisah.
Mungkinkah Loei Sam naik keloteng lagi ? maukah
pemuda itu melepaskan dirinya ? dua pertanyaan ini
berbolak balik tiada hentinya didalam hati.
Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun , ,
. begitu sepi se akan2 dunia sudah kiamat.
Dengan hati berdebat Sie Soat Ang salurkan hawa
murninya mengelilingi seluruh badan, beberapa saat
kemudian jalan darahnya telah bebas, ia segera meloncat
bangun dan melongok kebawah loteng.
Suasana tenang sunyi, tak kelihatan sesosok bayangan
manusiapun.
Sie Soat Ang berkelebat turun kebawah, sampai tingkat
terakhir, namun bukan saja Loei Sam tidak kelihatan,
jenasah Ciang Oh pun lenyap tak berbekas.
Suatu misteri menyelimuti benaknya, namun dalam
keadaan seperti ini tak ada waktu baginya untuk berpikir,
kembali ia berlari ke depan.
"Kemana aku harus pergi ?" ingatan tersebut berkelebat
dalam benaknya.
Benteng Thian It Poo sudah buyar, ayahnya sudah mati
dan tak mungkin ia berdiam disitu lagi, kemana ia harus
pergi ?
Tiba2 bayangan Tong Poei Pek berkelebat dalam
benaknya, suhu pemuda ini adalah si Bongkok Sakti
seorang jago yang tersohor dikolong langit, seumpama ia
dapat mengantar si pemuda itu sampai gunung Lak Ban
San, bukan dengan demikian si Bongkok sakti akan
berhutang budi kepadanya ?
Teringat akan hal ini dengan cepat ia lari kedepan
tembok dimana Tong Poei Pek menggeletak, ternyata
pemuda itu masih belum putus nyawanya, dengan cepat
gadis itu memayangnya bangun.
"Tong Poei Toako !" ia berseru keras.
Sie Soat Ang tidak sempat berpikir panjang lagi, buru2 ia
lari kedalam kamarnya untuk membereskan sedikit
buntalan obat2an, kemudian mencari sebuah kereta,
melayang Tong Poei Pek kedalam kereta, menjejalkan
obat2an kedalam mulut pemuda itu dan melarikan
keretanya meninggalkan benteng Thian It Poo.
Kereta dilarikan kearah selatan, sehari semalam berjalan
terus tiada hentinya sampai senja hari kedua sampailah
mereka disebuah kota kecil.
Sie Soat Ang langsung menjalankan keretanya kedepan
sebuah rumah penginapan, menanti ia loncat turun dari
kereta dan memeriksa keadaan Tong Poei Pek, pemuda itu
dalam keadaan keritis, napasnya sudah tinggal sedikit,
bahkan sebentar lagi nyawanya bakal melayang.
Ia segera berpaling kearah pemilik rumah penginapan itu
dan berkata:
"Temanku sedang sakit parah, apakah disini ada tabib
kenamaan ?"
"Ada, ada, silahkan beristirahat dahulu kedalam"
Dengan dipayang sang gadis, Tong Poei Pek dibawa masuk
kedalam rumah penginapan, walaupun kedai itu kecil
namun bersih dan nyaman,
Ketika itulah mendadak pemuda she-Tong Poei merintih
lirih.
Mendengar suara itu, Si Soat Ang kegirangan, buru2
teriaknya:
"Tong-poei Toako !"
Ia berteriak beberapa kali, namun tak kedengaran
jawaban. sepasang mata pemuda itu per-lahan2
membentang, wajahnya pucat pias dan kelihatan kurus
sekali, matanya cekung, sinar matanya pudar, lama sekali ia
memandang Si Soat Ang dengan terpesona namun
mulutnya tetap membungkam.
Beberapa saat kemudian ia pejamkan matanya kembali
dan mendesis lirih:
"Aku.. aku ada dimana ?"
"Kau berada dirumah penginapan aku sedang
menghantar kau pulang kegunung Lak Ban-san."
Namun sayang apa yang dikatakan gadis itu tidak
terdengar. pemuda itu kembali bergumam seorang diri:
"Aku... aku ingin bertemu dengan seseorang aku...
sebelum mati aku ingin berjumpa sekali lagi dengan dia..."
Si Soat Ang tertegun, ia tak tahu apa yang dimaksudkan
dengan Tong-poei Pek... Terdengar pemuda itu
menghembuskan napas berulang kali, lalu ujarnya kembali.
"Suhu, aku... aku ingin bertemu dengan nona Si... Si
Soat Ang... nona Si!"
Merah padam selembar wajah dan itu dalam keadaan
seperti ini timbul suatu perasaan aneh pula dihati Si Soat
Ang buru2 dicekalnya tangan Tong-poei Pek yang dingin
bagaikan es itu.
"Tong poei toako, aku ada disini, aku berada disisimu."
Perlahan-lahan Tong poei Pek buka matanya, biji
matanya berputar kesana kemari dengan payah, seakan-
akan sedang mencari sesuatu namun ia tidak melihat bahwa
gadis yang dicari sebenarnya ada didepan mata.
Melihat kejadian itu Si Soat Ang amat bersedih hati.
"Tong poei toako, aku sudah berpesan kepada pemilik
rumah penginapan untuk mengundang tabib, baik2lah kau
beristirahat."
Tong poei Pek menghembuskan napas panjang matanya
dipejamkan kembali sementara mulutnya tetap bergumam
memanggil nama Si Soat Ang.
Walaupun Soat Ang seorang gadis keji, namun ia tetap
seorang dara muda, sejak kehilangan Liem Houw Seng ia
selalu merana, merana seorang diri, sekarang tiba2 dalam
hatinya yang kosong terisi oleh pemuda lain, timbul suatu
perasaan aneh dalam benaknya perasaan itu makin lama
semakin menebal, tiap kali Tongpoei Pek menyebut
namanya, rasa aneh itu semakin menebal.
Kurang lebih setengah jam kemudian terdengar suara
langkah manusia berkumandang datang diikuti seorang
sang pemilik rumah penginapan:
"Nyonya cilik, tabib sudah datang."
Sekali lagi merah padam selembar wajah Si Soat Ang,
hatinya mangkel dan ingin marah namun teringat bahwa
dia benda sekamar dengan Tong-poei Pek, tak bisa
disalahkan kalau pemilik rumah penginapan itu menyebut
demikian kepadanya.
Dalam pada itu si pemilik rumah penginapan dengan
membawa seorang kakek tua kurus berusia enam puluh
tahunan berjalan masuk kedalam kamar.
Kakek tua itu melirik sekejap ke arah Tong Poei Pek,
gelengkan kepalanya berulang kali.
"Orang ini sudah tak berguna lagi buat apa panggil aku?"
"Barusan saja dia masih bicara dengan diriku siapa yang
bilang sudah tak berguna ?" Kontan Si Soat Ang sangat
gusar.
Melihat dandanan Soat Ang mengerikan dimana bajunya
singsat dengan sebilah pedang menggembol
dipunggungnya, buru2 tabib itu mencekal urat nadi Tong
Poei Pek dan memeriksa denyutan jantungnya, namun
kembali ia menggeleng.
"Thayhu, bagaimana?" gadis itu bertanya.
"Sudah tidak ketolong lagi, paling banter tinggal satu
jam."
"Thay hu coba carikan akal agar ia bisa hidup beberapa
hari lagi asalkan bisa hidup tujuh delapan hari lagi, aku bisa
menghantar dia kesuatu tempat yang pasti dapat
menyelamatkan jiwanya."
Sekali lagi tabib itu menggeleng, "Raja akhirat sudah
tentukan mati pada kentongan ketiga, siapa yang dapat
menahan sampai kentongan kelima ? namun... namun...
seandainya kau bisa mendapatkan jinsom berusia seratus
tahun dan setiap hari menolongnya dengan cairan jin som
kental maka usianya mungkin bisa diperpanjang tujuh
delapan hari lagi."
"Kalau begitu bagus sekali, apakah jinsom semacam itu
bisa dibeli dikedat obat ?"
"Nyonya cilik jinsom semacam itu adalah benda mustika
mana mungkin bisa dibeli pada kedai obat biasa?" tabib itu
tertawa, "Beruntung daerah ini adalah penghasil jinsom
yang paliag banyak, kalau kau ingin mencari mungkin
masih didapat..."
Bicara sampai disitu mendadak tabib itu membungkam.
Melihat tabib itu ragu, Si Soat Ang tidak sabaran segera
serunya:
"Hey, katakan saja jinsom itu terdapat dimana, kenapa
bicara tidak keruan begitu?"
Melihat alis gadis itu berkerut walaupun kelihatan cantik
namun galak. tabib itu ketakutan, buru2 sambungnya:
"Nyonya cilik, dengarkan dulu perkataanku sampai
selesai."
"Baik, cepat katakan!" Seru Si Soat Ang mendongkol.
"Diujung jalan kota sebelah barat terdapat satu keluarga
she Ciang yang kaya raya dan khusus berdagang jinsom
kemungkinan besar dirumah mereka tersimpan jinsom
berusia seratus tahun, asalkan nyonya cilik punya uang
emas, tidak sulit untuk mendapatkan delapan, sembilan
batang . . . ."
Belum habis ia bicara Si Soat Ang sudah cabut keluar
pedangnya, kepada pemilik rumah penginapan itu pesannya
"Baik2 merawat dirinya aku sebentar lagi akan kembali!"
Laksana kilat ia meluncur keluar dari ruangan kemudian
dalam sekejap mata lenyap tak berbekas.
Sementara itu setelah ada diluar rumah penginapan,
dengan mengikuti jalan raya gadis itu lari terus ke sebelah
Barat, akhirnya sampailah didepan sebuah bangunan yang
megah dan kukuh, sepintas lalu kelihatan begitu
mengerikan.
Ketika dia tiba didepan pintu masuk, empat orang
pelayan segera maju menyambut kedatangannya sambil
mengamati gadis itu dari atas sampai kebawah.
Melihat sikap serta lagak yang tengik dari pelayan2 itu,
dalam hati Si Soat Ang sangat mendongkol namun teringat
kehadirannya untuk mohon bantuan, maka ia tahan rasa
dongkol tersebut.
"Apakah majikan kalian ada dirumah ?" ia bertanya.
"Hi...hii... hii... nona mencari majikanku ada urusan apa
?" Goda seorang pelayan sambil tertawa menyengir.
"Asalkan kau membawa aku berjumpa dengan
majikanmu sudah cukup !"
"Majikan kami sangat peramah, sedang nona berwajah
cantik..."
Ucapan tengik selanjutnya belum sempat diutarakan Si
Soat Ang sudah tak tahan lagi, tangannya membalik
langsung memerseni sebuah tempelengan keatas wajah
pelayan tadi.
"Plook!" pelayan itu menjerit kesakitan dan jatuh
terjengkang kebelakang, darah segar tetes demi tetes
mengucur keluar dari ujung bibirnya, tamparan tersebut
amat berat sekali.
Tiga orang pelayan lainnya melihat kejadian itu
bersama2 meraung dan menunjuk ke depan, Si Soat Ang
tidak kasih hati, pedangnya diloloskan dari sarung
bersamaan itu pula tangan kiri nya meraba cambuk
dipinggang, asalkan mereka bertiga meluruk berbareng, dia
akan menghajar orang itu habis2an.
Disaat tegang itulah mendadak dari dalam ruangan
muncul seseorang yang langsung menjura kearah Si Soat
Ang.
"Nona tunggu sebentar, ada perkataan kita rundingkan
per-lahan2"
Si Soat Ang melirik sekejap kearah orang itu dia adalah
seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, wajahnya
putih dan halus, sepintas lalu seakan2 seorang pelajar,
namun sepasang matanya bersinar tajam, siapapun akan
tahu kalau ia memiliki ilmu silat sangat lihay.
Gadis itu terkesiap, sewaktu datang pertama kali tadi,
dalam hatinya menganggap rumah itu adalah milik
pedagang biasa, siapa nyana pedagang tersebut bukan
pedagang biasa.
Dalam pada itu lelaki setengah baya itu sudah menjura
dan bertanya:
"Nona datang kemari entah ada maksud apa ?"
"Aku ingin berjumpa dengan majikan rumah ini, ada
sedikit permintaan yang ingin kuajukan" Sahut gadis itu
sambil balas menjura.
"Aaah, benar. Eeei pelayan, siapkan dua puluh tail perak
dan berikan kepada nona ini sebagai ongkos jalan."
Merah padam selembar wajah Si Soat Ang, dengan agak
jengkel segera teriaknya:
"Hey. siapa yang bilang aku datang kemari untuk minta
ongkos jalan ? apa maksudmu yang sebenarnya ?"
Lelaki setengah baya itu tertegun, sebelum sempat
menjawab, terdengar dari dalam ruangan berkumandang
datang suara yang tidak sedap di dengar.
"Ciang Loo sam, kau sungguh keterlaluan sekali,
terhadap nona Si dari Benteng Thian It Poo masa kau cuma
kasih dua puluh tahil perak, bukankah hal ini keterlaluan
pandang enteng dirinya."
Kata2 itu sangat menusuk perasaan namun terasa
dikenal, gadis itu berpaling, terlihatlah olehnya didepan
pintu telah muncul seorang manusia kate berbadan gemuk
dan berwajah buas, orang itu bukan lain adalah si Malaikat
Kelabang Emas Li Siauw.
Sementara Sie Soat Ang masih tertegun, lelaki setengah
baya itu sudah mendongak tertawa ter bahak-bahak.
"Haaa.. haaa... haaa... aku betul2 punya mata tak kenal
gunung Thay san, kiranya anda adalah Sie Soat Ang, nona
Si, kalau bukan ditegur Li Sin koen, mungkin aku
sendiripun tidak mengenali diri nona."
Sie Soat Ang belum tahu pihak lawan berasal dari aliran
mana, namun ditinjau dari kehadiran si Malaikat Kelabang
Emas disana, ia tahu pihak lawan bukan manusia baik.
"Andakah tuan rumah bangunan ini ?" gadis itu bertanya
dengan nada berat.
"Ooouw bukan... bukan kalau masalah besar biasanya
diputuskan oleh toako, namun kalau cuma masalah tetek
bengek biasa. cayhe bisa memutuskan sendiri."
"Baik, kalau begitu aku bicara terus terang saja, aku
dengar orang bilang kalian berdagang jinsom. Seorang
sahabatku terluka parah, atas petunjuk tabib ia
membutuhkan tujuh delapan batang jin som seratus tahun.
karena itu sengaja aku datang kemari untuk mohon dari
kalian."
Air muka Ciang Loo sam berobah hebat haruslah
diketahui sejak kecil Si Soat Ang dibesarkan dalam
lingkungan kemewahan ia tidak tahu bagaimana susahnya
seseorang mendaki gunung untuk memetik jinsom, bahkan
kadang kala harus mengorbankan jiwa, sebatang jinsom
kalau dijual kedalam perbatasan mungkin harganya
mencapai selaksa tahil perak, tentu saja mereka jadi kaget
setelah gadis itu buka suara minta tujuh-delapan batang
sekaligus.
"Tentang soal ini., tentang soal ini...hee...hee... entah
sahabat anda telah menderita luka apa?" kata Ciang Loo-
sam tergagap, "Kemungkinan sekali kami mempunyai obat
lain yang bisa menyembuhkan lukanya. Jinsom seratus
tahun hanya bisa perpanjang usia, tak mungkin bisa
digunakan menyembuhkan luka."
"Soal itu tidak mengapa. asalkan sahabatku bisa hidup
sepuluh hari saja sudah cukup, aku hendak menghantar
kerumah suhunya digunung Lak Ban-san. gurunya tentu
bisa turun tangan menyembuhkan lukanya."
Kata2 "Lak Boan San" seketika membuat air maka Ciang
Loo-sam berubah hebat, namun Si Soat Ang sebagai
seorang jago yang tidak berpengalaman sama sekali tidak
memperhatikan hal tersebut.
"Apakah sahabatmu itu tinggal digunung Lak Boan san?
entah siapakah namanya?" tanya Ciang Loo sam setelah
menanti gadis itu selesai berbicara
"Dia adalah Tonghong Pek murid dari Si Bongkok Sakti
berangasan."
"Apa dia?" Teriak Ciang Loo sam sambil mundur
selangkah kebelakang- "Sekarang dia ada dimana?"
Walaupun merasa urusan sedikit aneh, Si Soat Ang tidak
ambil perhatian.
"Dia berada dirumah penginapan Thay lay . ." sahutnya.
Baru saja perkataan itu diutarakan, dari balik pintu
muncul dua puluh orang bersenjata lengkap, diikuti Ciang
Loo sam berteriak keras:
"Tong poei Pek ada dirumah penginapan Thay lay, ia
terluka pula, namun kalian harus bekerja hati-2"
Seorang lelaki berbaju hitam dengan sebuah sulaman
tengkorak di depan dadanya munculkan diri pula dari balik
pintu, gerakannya cepat lagi gesit bagaikan bayangan setan,
tahu2 ia sudah berada disisi gadis itu.
"Loosam !" serunya, "Apakah Tong-poei Pek
menghantarkan diri ? dia ada dimana . . ."
"Jie-ko, dia berada dirumah penginapan Thay lay, kali
ini kita tak boleh dia loloskan diri dalam keadaan selamat."
Lelaki itu menjerit aneh kemudian berkelebat lenyap.
Sewaktu menjumpai lelaki itu munculkan diri, hati Si
Soat Ang sudah kebat kebit, saat ini ia tak tahan diri lagi
serunya.
"Dia. . . dia bukan . . . bukan dia adalah Soat San Hwie
Mo ? si Tengkorak emas Ciang Ling im."
"Ketajaman mata nona Si luar biasa, dia memang Jie-ko
ku," sahut lelaki setengah baya di hadapannya.
Hati gadis itu tercekam.
"Lalu anda adalah, . . kau adalah ."
"Cayhe Ciang Huan, orang2 menyebut diriku Tengkorak
kumala."
Si Soat Ang kaget, tak kuasa ia mundur dua langkah
kebelakang, namun bagaikan bayangan setan si Tengkorak
kumala telah mengikuti maju kedepan.
Ia tidak menyangka orang2 yang semula diduga
pedagang jinsom biasa ternyata adalah sarang iblis keji
bahkan orang yang dijumpai pertama kali bukan lain adalah
si tengkorak kumala yang paling memusingkan kepala.
Si Soat Ang sangat cemas, tiba2 teriaknya keras-keras:
"Li Sin koen!"
Si Malaikat kelabang emas pura2 berlagak pilon, ia
melengos dan tidak menggubris, hal ini membuat Si Soat
Ang makin cemas, keringat dingin mulai mengucur keluar
membasahi seluruh tubuhnya.

-ooo0dw0oo-

Jilid 8
SI TENGKORAK kumala Ciang Huan mendengus
dingin ujarnya :
"Nona Si. kau tak usah kaget. walaupun kami bertiga
sangat mengerikan, namun selalu bekerja pakai cengli. yang
kami cari cuma Tong-poei Pek seorang, kenapa nona harus
begitu cemas dan gelisah ?"
Mendengar ucapan itu, Si Soat Ang rada berlega hati,
namun ia berkata pula:
"Lalu...kalian...kalian hendak apakan Tong poei Pek ?"
"Heee. . . heee . . . mungkin kubeset kulitnya mungkin
dijebol oleh tarikan lima ekor kuda, mungkin pula "kubedah
isi perutnya pokoknya kami suka berbuat bagaimana akan
kami lakukan. nona Si. aku lihat kau adalah seorang gadis
cerdik lebih baik jangan campurkan diri dalam persoalan ini
sehingga mendatangkan kesialan buat dirimu."
"Tetapi . . . tetapi ia menderita luka parah aku hendak
menghantar dirinya kegunung Lak Boan sao, rumah
kediaman si Bongkok sakti Berangasan gurunya."
"Kalau begitu katakan kepada si Bongkok sak ti
berangasan katakan muridnya telah ditahan oleh kami tiga
bersaudara." tukas Ciang Huan dengan nada keras.
Sembari berkata, ujung bajunya dikebas kedepan,
segulung tenaga dahsyat menggulung tubuh gadis itu
membuat Si Soat Ang tak tahan mundur tujuh, delapan
langkah kebelakang dengan sempoyongan.
"Cepat pergi," kembali si tengkorak kumala menghardik.
Bentakan itu bagaikan guntur membelah bumi. Si Soat Ang
tercekat tanpa banyak bicara lagi ia putar badan dan
melarikan diri ter-birit2 dari situ.
Menanti ia sudah tiba diluar kota dan tidak melihat ada
yang mengejar barulah gadis itu berhenti berlari, ia tahu
Tong-poei Pek yang ada di rumah penginapan tentu
ditawan atau dibunuh oleh Soat-san Sam Mo. apa yang
harus ia lakukan sekarang ? memberi kabar kepada si
Bongkok sakti Berangasan digunung Lak boan-san ?
Lama sekali ia berdiri ragu2, akhirnya gadis itu menghela
napas panjang dan ambil keputusan untuk berangkat
kegunung Lak-boan-san.
Setelah ambil keputusan, malam itu juga ia kembali
kerumah penginapan, melepaskan kuda tunggangan sendiri
dan kaburkan binatang tunggangan itu cepat2.
Empat hari kemudian ia sudah keluar dari perbatasan,
sepanjang jalan gadis ini menjumpai banyak hal yang baru
dan belum pernah dilihat sepanjang hidupnya.
Hari itu, tepat satu bulan ia tinggalkan Tong-poei Pek.
sampailah ia digunung Lak Boan san, ia tahu sibongkok
sakti berangasan tinggal dibukit sebelah selatan, namun
tempatnya dimana ia kurang tahu.
Per-lahan2 Si Soat Ang maju kedepan, sampai tengah
malam tibanya ditepi telaga yang jernih, air telaga tidak
begitu dalam dan bening, sambil memandang riak
dipermukaan ia menghela napas panjang.
Pelbagai persoalan berkecamuk dalam benaknya, ia
teringat bagaimana hidup di benteng Thian It Poo dengan
riang gembira bagaimana Liem Hauw Seng melarikan diri
bersama Giok Djien, kemudian teringat Loei Sam dan
akhirnya Tong poei Pek.
Terbayang Tong-poei Pek, ia jadi memikirkan diri
sendiri, sejak melewati perbatasan boleh di kata dia tak
bersanak dan berkeluarga, apakah dikemudian hari ia harus
melewati sisa hidupnya sebatang kara ?
Teringat sampai disitu tak kuasa ia menghela napas
panjang, tiba 2 suara bentakan keras berkumandang dalang
dari tempat kejauhan, bentakan itu keras seperti guntur
yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat ia
begitu terkejut sampai lama sekali berdiri mendelong.
Menanti ia berhasil tenangkan hati, terdengar suara yang
keras tapi kembali berkumandang datang.
"Perempuan sialan mana yang datang mengacau kesini ?
hela napas panjang pendek disitu, hanya mengacau
ketenangan orang saja !"
Si Soat Ang kembali kaget, ia merasa telinganya
berdengung keras sehingga hampir2 saja ia tak sanggup
angkat kepala.
Dibawah sebatang pohon siong, tampaklah dua orang
sedang duduk saling berhadapan, diantara kedua orang itu
terletak sebuah papan persegi seperti papan catur, salah
seorang diantaranya sedang pusatkan perhatiannya keatas
catur sementara yang lain melotot bulat2 kearah Si Soat
Ang.
Jarak diantara kedua orang itu dengan sang gadis terpaut
empat lima tombak jauhnya, lagi pula waktu itu malam hari
telah tiba, suasana sangat gelap, wajah kedua orang itu tak
terlihat jelas, namun sepasang matanya kelihatan begitu
tajam bagaikan dua buah lampu lentera, hal ini
menunjukkan betapa sempurnanya tenaga lwekang yang ia
miIiki.
Si Soat Ang paksa diri untuk tenang, lalu ujar nya
tergagap:
"Aku sedang memikirkan banyak urusan, hatiku kesal,
dan tak tahu disini ada orang, seandainya mengganggu
harap kalian suka memberi maaf."
"Hmmm. kalau kau berani berbicara sekali lagi coba lihat
saja bagaimana kurobek bibirmu itu."
Dalam pada itu orang yang berada dihadapannya sambil
tertawa telah berkata:
"Eei bongkok, kau terlalu kasar dan cari menang sendiri.
kau anggap gunung Lak-Boan san milikmu seorang, orang
lain sedang menghela napas, apa salahnya terhadap dirimu
? kau kalah sepuluh kali atas diriku. kalau mau marah,
marah lah kepadaku, kenapa harus dilimpahkan kepada
orang lain ? perbuatan ini bukan perbuatan seorang laki2
sejati !"
"Emangnya aku bukan lelaki sejati, kau bicara demikian
kepadaku bukankah sama saja seperti lagi kentut ?" teriak
orang itu marah2.
Mendengar orang itu dipanggil "Si bongkok" hati Si Soat
Ang rada bergerak, buru2 serunya:
"Apakah anda adalah Si Bongkok Sakti Berangasan ?"
"Kalau sudah tahu diriku, lebih baik cepat enyah dari
sini, dari pada mendapat perlakuan kasar dariku." teriak
orang itu dengan suara kasar.
Si Soat Ang terkejut bercampur girang, baru2 teriaknya:
"Si bongkok cianpwe aku memang datang ke mari untuk
mencari dirimu, aku datang dari luar perbatasan, dengan
ribuan li datang kemari..."
Belum habis ia bicara, terdengar si bongkok sakti
berangasan telah berteriak keras:
"Sudah..sudah, tidak main lagi, tidak main lagi. aku ada
urusan. anggap saja permainan catur kali ini aku yang kalah
!"
Diikuti bagaikan segulung angin puyuh ia meluncur
turun kebawah.
Gerakan tubuhnya amat cepat bagaikan sambaran kilat.
sebelum Si Soat Ang sadar apa yang telah terjadi,
dihadapannya telah bertambah dengan seorang lelaki
bercambang, berambut awut2an dan berwajah bengis,
sepasang matanya tajam bagaikan kilat, pokoknya
mengerikan sekali.
Si Soat Ang tarik napas panjang2, ia mundur selangkah
kebelakang, sebelum sempat mengucapkan sesuatu, si
Bongkok Sakti berangasan itu sudah membentak keras:
"Aku sama sekali tidak kenal dengan dirimu. apa
maksudmu datang mencari aku ?"
Si Soat Ang mengeluh, pikirnya:
"Kalau tahu sibongkok sakti begitu mengerikan, aku
tidak akan datang.."
Namun urusan sudah ada didepan mata, terpaksa
ujarnya dengan cepat:
"Aku adalah sahabat Tong-poei Pek, kami berkenalan
diluar perbatasan."
Mendengar disebutnya nama Tong-poei Pek. sikap
sibongkok sakti rada lunak sedikit namun ia bertanya
kembali dengan nadi menekan.
"Kiranya kau adalah sahabat keparat cilik itu kalau dia
masih ingat diriku, masih berapa lama ia baru pulang?"
"Dia . . . dia . . ."
"Ayoh cepat jawab!" hardik si bongkok sakti berangasan
tidak sabaran lagi, "Kalau bicara dihadapanku lebih baik
berterus terang dan lancar, kalau mandek2 lagi, jangan
salahkan aku kalau kutampar pipimu!"
"Baik, baik," jawab Si Soat Ang ketakutan. wajahnya
pucat menghijau, "Maksudku . . . Tong poei Pek tidak bakal
pulang lagi."
"Hmm! tidak akan pulang lagi? kenapa? apakah dia
sudah angkat guru lain?"
"Bukan, dia sudah mati." jawab sang gadis dengan hati
sedih.
"Apa?" teriak sibongkok sakti, badannya mencelat dua
tombak ketengah udara, kemudian se cepat kilat kelima
jarinya mencengkeram bahu gadis itu erat2.
Si Soat Ang merasakan kelima jari tangan si bongkok
sakti itu kuat bagaikan jepitan besi, saking sakitnya seluruh
badan gemetar keras, tak kuasa lagi ia menjerit keras.
Namun jeritannya sirap oleh teriakan aneh dari si
bongkok sakti yang keras bagaikan geledek itu.
"Apa yang kau katakan?" teriak si bongkok sakti, "Tong
poei Pek telah mati? bagaimana dia bisa mati?"
Sementara itu dari atas pohon siong kembali melayang
turun seseorang, sambil mencelat datang iapun berseru.
"Tongpoei Pek bagaimana bisa mati? eeeeeii bongkok,
lepaskan nona itu, biarlah dia berbicara per-lahan2.
Waktu itu saking sakitnya hampir2 Si Soat Ang jatuh
tidak sadarkan diri, untung orang itu datang tepat pada
waktunya.
Mendengar teguran tersebut, si bongkok sakti segera
lepaskan tangannya, dengan sempoyongan ia mundur
beberapa langkah kebelakang.
Ketika itulah ia dapat melihat orang yang berada disisi si
bongkok sakti adalah seorang kakek berusia lima puluh
tahunan yang punya perawakan tinggi kurus, bajunya
sederhana namun kelihatan sangat berwibawa.
"Nona, siapakah namamu ?" tanya orang itu halus.
"Aku bernama Si Soat Ang."
"Ooouw . , . . nona Si, kau datang dari luar perbatasan
entah apa sangkut pautnya dengan Si Liong dari benteng
Thian It Poo ?"
Mengungkap soal ayahnya, gadis itu teramat sedih.
"Dia adalah ayahku almarhum !"
"Aaaah, kiranya Si Poocu sudah meninggal, kapan
terjadinya peristiwa itu ?"
Si Soat Ang amat sedih, isak tangisnya menjadi keras,
belum sempat ia menjawab, si bongkok sakti sudah tidak
sabaran lagi ia naik pitam, sambil menarik tubuh kakek tua
itu teriaknya:
"Eeeei Cioe Lo-jie, dari mana datangnya begitu banyak
omongan tak berguna ?"
Dasarnya Si Soat Ang cerdik, mendengar sebutan "Cioe
Loo-jie" itu, ia teringat akan seseorang buru2 serunya:
"Cianpwee, bukankah anda adalah Im Tiong Hok atau
burung Bangau ditengah Mega Tjioe Jie-hiap diantara
Tiong Tiauw Sam Yu ?"
"Benar, aku pernah berjumpa muka dengan ayahmu
beberapa tahun berselang ?"
Kini Si Soat Ang jadi gembira, sebab ia tahu ilmu silat
Tiong Tiauw Sam Yu amat lihay, lagi pula si elang ditengah
megah Tjioe Piao Thian adalah sahabat ayahnya,
kemungkinan besar ia dapat belajar silat darinya.
Karena ada rencana ini. buru2 ia jatuhkan diri berlutut.
"Menjumpai paman Tjioe Jie Siok."
Sibongkok sakti makin tidak sabaran lagi, ia mencak2
kegusaran, teriaknya kalang kabut.
"Maknya, , . neneknya, . . kenapa sih kalian bicara
melulu, bagaimana dengan nasib Teng-poei Pek, kenapa
tidak disebutkan terus?"
"Hey bongkok, kenapa kau mencak2 terus ." tiba2 Tjioe
Pian Thian berpaling dan menegur gusar, "Tong-poei Pek
sudah mati, buat apa kau begitu gelisah ? dianggapnya
setelah berbuat begitu lantas dia bisa hidup lagi ?"
Si bongkok sakti amat mendongkol, ia gertak giginya
keras 2.
"Tong poei Pek bergebrak dulu melawan Loei Sam" tiba2
Si Soat Ang menimbrung,
"Neneknya, siapakah Loei Sam itu ?"
"Dia adalah murid dari Si Thay sianseng."
"Apa . . . " Si bongkok Sakti menjerit keras badannya
mencelat lima, enam tombak ketengah udara, telapak
tangan bergerak berbareng , . . , Kraaak sebuah batang
pohon yang amat besar tak ampun lagi kena terbabat putus
jadi dua bagian.
"Si Thay , , , Si Thay , , , kurang ajar. lihat saja nanti.
aku akan adu jiwa dengan dirimu" teriaknya keras 2.
Sementara itu Coe Pian Thian cuma menggeleng
berulang kali,
"Hian tit-li. Si Thay sianseng adalah tokoh sakti dari
aliran lurus" katanya "Mana mungkin muridnya bila
bergebrak melawan Tong-poei Pek ? mungkin kau salah
mendengar."
"Tadi aku belum habis bicara." Si Soat Ang tertawa getir,
"Loei sam memang anak murid Si Thay sianseng, namun ia
sudah memperkosa putri kesayangan Si Thay sianseng dan
kemudian melarikan diri, Si Thay sianseng sendiripun
sudah mengutus anak muridnya untuk menangkap ia
kembali."
Setelah menghantam patah batang pohon tadi, tubuh si
bongkok sakti langsung meluncur keluar, ditinjau dari
sikapnya jelas ia hendak berangkat kegunung Go bie untuk
bikin perhitungan dengan Si Thay sianseng.
Namun, beberapa patah kata terakhir dari sang gadis
menahan badannya bergerak lebih jauh, sambil berpaling
teriaknya:
"Seberapa lihay ilmu silat yang dimiliki keparat cilik itu ?
kok begitu hebat bisa merobohkan Tong-poei Pek ?"
"Dia bukan tandingan Tong-pei Pek, toako terbokong
olehnya sehingga terluka parah. Si Hiat goan-sin koen lah
yang memerintahkan aku mengirim dia balik kegunung Lak
Boan san"
"Ehmm , . , si monyet tua ini rada baikan hati." Si
bongkok sakti mengangguk. ”Akhirnya bagaimana ia bisa
mati ?"
"Setibanya di kaki gunung Soat San, napas Tong-poei
Pek tinggal senin kemis, aku dengar orang bilang hanya
dengan jinsom seratus tahun saja dapat menahan jiwanya
sampai sepuluh hari, aku lantas pergi cari jinsom, siapa
sangka salah memasuki sarang Soat-san Sam Mo, sedang
Tong poei Pek pun ada ikatan dendam dengan mereka..."
"Kalau begitu Tong poei Pek mati ditangan orang itu"
kembali si Bongkok sakti berteriak.
"Aku tidak tahu, aku hanya melihat si tengkorak emas
Ciang Ling membawa anak buahnya berangkat kerumah
penginapan untuk menangkap Tong poei Pek aku duga
Toog-poei Pek pasti sudah terjatuh ke tangan mereka aku...
aku tidak tahu bagaimana keadaannya yang pasti..."
"Setelah jatuh ke tangan mereka bertiga tentu saja mati,"
gembor sibongkok sakti marah2, "Neneknya. apa yang kau
lakukan? mengapa tidak kau selamatkan jiwanya? bukankah
kau mengatakan dirimu adalah sahabatnya?"
Si Soat Ang tidak menyangka Si bongkok sakti dapat
menegur dirinya, pucat pias selembar wajahnya, ia tunduk
rendah rendah.
"ilmu silatku rendah, aku sadar bukan tandingan mereka,
adu jiwapun percuma saja !"
"Sudahlah..." buru 2 Tjioe Pian Thian me nimbrung
"Kalau diapun ikut adu jiwa, siapa yang datang
mengabarkan kematian Tong poei Pek kepadamu, kalau
sampai diapun mati, kan Soat-san Sam Mo yang enakan?"
"Baik, kalau begitu aku akan berangkat kesana, akan
kubeset kulit kepala Soat-san Sam Mo."
Sambil berteriak ia melotot kearah Tjioe Pian Tbian,
seakan-akan sedang berkata:
"Kali ini kau hendak mengucapkan apa lagi untuk
mencegah kepergianku."
Tjioe Pian Thian tertawa.
"Eeeeei bongkok, bukan saja Soat san Sam Mo berani
mengganggu anak muridmu, berani pula melepaskan gadis
ini untuk memberi kabar kepadamu, aku lihat mereka tentu
mempunyai tulang punggung dibelakangnya."
"Aaaah benar," Si Soat Ang segera menambahi, "Aku
lihat si Malaikat kelabang emas Li-Siauw pun berada
disana."
"Hmm. manusia macam apakah malaikat itu? mau apa
kalau kubeset sekalian kulit kepalanya"
"Bukannya aku tak suruh kau kesana, seandainya mau
berangkat sudah sepantasnya kalau beri kabar dulu pada
hujien sana." ujar Tjioe Pian Thian, "Lagi pula persoalan ini
menyangkut murid murtad dari Si Thay sianseng, sudah
sepantasnya kalau kaupun kasi kabar pula kepada Si Thay
sianseng."
Begitu Tjioe Pian Tbian mengungkap soal istrinya, sikap
sibongkok sakti ini seketika jadi luluh, bahkan nada
perkataanpun jauh lebih halus.
"Aaah benar ucapanmu sedikitpun tidak salah " ia
membenarkan, "Namun apa yang harus kukatakan ? kalau
mengatakan Tong-poei Pek bocah keparat ini terjadi
peristiwa diluar dugaan ia tentu bersedih hati."
"Ajukan saja alasan yang rasa2nya rada sesuai."
"Baiklah, tentang Si Thay sianseng sana, terpaksa harus
merepotkan dirimu untuk memberi kabar." kata si Bongkok
sakti sambil mengangguk. "Nona cilik, kemarilah kau
sangat berguna untukku."
Si Soat Ang tidak mengerti apa maksud ucapan dari si
bongkok sakti, belum sempat ia bertanya tangannya sudah
ditarik untuk diajak pergi, gerakannya cepat seakan2 diajak
terbang di angkasa saja.
Angin men deru2. entah berapa jauh telah mereka lewati,
tahu2 si bongkok sakti itu berhenti disuatu lembah gunung
yang indah.
Sekeliling lembah tertutup oleh bukit yang menjulang
tinggi keangkasa, ia tak tahu si bongkok sakti itu masuk dari
mana ditengah lembah terdapat dua sumber air yang
menciptakan sebuah sungai kecil langsung menuju sebuah
telaga yang indah dan berair jernih, pohon siong merata di
seluruh bukit, puluhan ekor burung bangau ber-main2 ditepi
telaga, suatu pemandangan yang menawan hati.
Sebelah timur telaga terbentang sebuah tanah lapang
yang penuh dengan bunga aneka warna, maju tidak
seberapa jauh merupakan sebuah hutan bambu, ditengah
hutan bambu berdiri beberapa petak rumah bambu.
Sejak kecil Si Soat Ang dibesarkan diluar perbatasan
yang dingin dan gersang, walaupun sejak memasuki
perbatasan banyak pemandangan indah yang telah ia lihat,
namun pemandangan seindah dan sehebat ini belum pernah
dijumpai.
Yang membuat ia tercengang adalah bangunan rumah
sibongkok sakti itu, ditinjau dari wataknya yang begitu
berangasan dan kasar, tak nyana bisa memiliki tempat
kediaman begitu tenang, indah dan menawan hati.
Setelah berhenti berlari. si bongkok sakti berpesan:
"Heei, dengarkan baik2. berada dihadapan istri ku jangan
sekali2 kau sebut tentang kematian Tong poei Pek, kalau
tidak akan kukubur dirimu hidup2, bisa diingat ?"
Wajah sibongkok sakti yang sadis dan seram ditambah
ancaman yang begitu mengerikan, membuat seluruh tubuh
sang gadis gemetar keras.
"Aku tahu, aku tahu" buru2 sahutnya.
Demikianlah Si Bongkok Sakti lantas menarik tangan Si
Soat Ang untuk diajak memasuki hutan bambu.
"Toako. apakah kau sudah pulang ?" tiba2 terdengar
suara seorang nyonya yang lembut, halus dan merdu
berkumandang datang.
"Benar, Cioe Loo jie bukan tandinganku hanya dalam
sekejap mata aku berhasil menangkan tiga set permainan
akhirnya ia berlalu dengan kepala terlunglai"
Suatu hal membuat Si Soat Ang kaget bercampur
tercengang. sewaktu mengucapkan kata2nya barusan si
bongkok sakti menunjukkan sikap halus, ramah dan begitu
menarik. Jauh berbeda dengan sikapnya yang bengis sadis
dan kasar semacam tadi.
"Nah . . . nah . . . toako, kembali kau membohongi diriku
agar hatiku gembira." terdengar perempuan itu tertawa
merdu "Aku tahu, dalam permainan catur melawan Tjioe
jie-ko yang kalah tentu kau, tidak mungkin kau bisa
menang."
Merah padam selembar wajah si bongkok sakti, ia jadi
begitu jengah, se akan2 bocah cilik yang ketangkap basah
sedang melakukan perbuatan salah, keadaannya sangat
menggelikan sekali.
Setelah berdiri dengan beberapa saat lamanya si bongkok
sakti maju mendekat dan berkata:
"Adikku sayang, ada satu persoalan ingin kuberi tahukan
kepadamu ".
"Kau ada urusan apa ? katakan saja kepadaku didengar
dari suaramu, kembali kau hendak membohongi diriku,
toako, benar bukan ?"
Makin merah selembar wajah si bongkok sakti sehingga
hampir2 seperti babi panggang, buru2 ia goyangkan
tangannya berulang kali.
"Bukan, . . bukan ?"
Si Soat Ang yang selama ini berdiri disamping, hatinya
dibikin keheranan setengah mati, pikirnya:
"Persoalan aneh yang ada dikolong langit sungguh
banyak sekali macam si bongkok sakti yang tak takut langit,
tak takut bumi, ilmu silatnya begitu lihay dan sifatnya
begitu kasar dan berangasan, ternyata begitu penurut, halus
dan dibikin gelagapan didepan istrinya, Sungguh aneh."
Dalam pada itu terdengar suara langkah kaki dari balik
hutan bambu, diikuti munculnya seorang perempuan
berbaju putih dengan membawa sebuah bambu, langkahnya
amal lambat sekali.
la memakai baju warna putih mulus dan tipis,
langkahnya lambat. ditengah hembusan angin gunung yang
sepoi2 keadaannya mirip bidadari turun dari kahyangan.
Perempuan itu berusia empat puluh tahunan, kulitnya
putih mulus, wajahnya cantik, sepasang matanya
memandang kedepan dengan mendelong, sedangkan biji
matanya sama sekali tidak bergerak, siapapun akan tahu dia
adalah seorang buta.
Ketika melihat istrinya munculkan diri, sibongkok sakti
makin gelisah dibuatnya, ia garuk sana garuk kemari
dengan hati tak tenteram.
Perempuan itu terus berjalan kedepan dan berhenti lima,
enam depa dihadapan sibongkok sakti, wajahnya halus,
tenang dan penuh senyuman, sama sekali berbeda dengan
keadaan suaminya.
Setelah berdiri tegak ia berkata:
"Baiklah, toako. kau hendak mengucapkan persoalan apa
? sekarang katakanlah kepadaku."
Sibongkok sakti makin jengah buru2 sahutnya: "Adikku
sayang aku bukan sedang berbohong, kau tahu bukan kalau
disampingku ada orang lain ?"
"Aku tahu" perempuan itu mengangguk, "Didengar dari
hembusan napasnya, dia tentu seorang nona yang amat
cantik, lincah dan cerdik !"
Begitu ucapan tadi diutarakan, Si Soat Ang tersentak
kaget, buru2 ia maju kedepan sambil menjura:
"Menjumpai Loo-cianpwee !"
Sembari berkata dalam hati ia tercengang, terang2an ia
tahu perempuan itu adalah seorang buta, sedang ia berdiri
disana bukan saja tidak buka suara bahkan maju
selangkahpun tidak. bagaimana dia bisa tahu kalau dia
adalah seorang perempuan ? suatu kejadian yang
mencengangkan hati.
"Nona, aku rasa kaupun pernah belajar silat, bukankah
begitu ? tak usah banyak adat ," ujar perempuan itu sambil
lantas menjura.
"Benar, aku pernah ikut ayah belajar ilmu silat."
"Adikku sayang." ujar si bongkok sakti sambil
kesempatan itu, "Ayahnya dibunuh mati oleh musuh
besarnya, ia datang mohon diri ku untuk balaskan dendam
tersebut mau tak mau aku harus pergi, karena itu paling
sedikit aku harus tinggalkan dirimu selama setengah bulan."
Dengan tenang perempuan itu mendengar perkataannya
sampai selesai, setelah itu baru tersenyum.
"Toako, cerita bohongmu ini disusun kurang sempurna,
tak dapat membohongi diriku."
"Bagaimana kurang sempurna susunannya ?" tanya si
bongkok sakti cemas.
Begitu ucapan ini diutarakan, bahkan Si Soat Ang pun
hampir2 tertawa dibuatnya, terang2an ia sudah mengaku
telah berbohong dalam ucapan barusan, sementara ia
sendiri masih belum merasa.
Tentu saja Si Soat Ang tak berani tertawa, dengan sekuat
tenaga ia menahan rasa geli itu dalam hatinya.
"Toako, kau jangan marah." ujar perempuan itu sambil
tertawa "Coba kau pikir, seandainya ayah nona ini tidak
kau kenal, mana kau suka membalaskan dendamnya sedang
kalau kau kenal mengapa aku tidak tahu?"
Si bongkok sakti tersudut oleh ucapan itu, seketika itu
juga ia membungkam dalam seribu bahasa Kembali
perempuan itu tertawa.
"Toako sebenarnya apa sebabnya kau hendak
meninggalkan tempat ini? cepat katakan padaku."
Si bongkok sakti amat malu, mendadak dari rasa malu ia
jadi gusar teriaknya keras2:
"Neneknya... mak nya... lebih baik kau jangan bertanya."
"Aaaai..." perempuan itu menghela napas panjang.
"Toako, kau adalah suamiku, sedang aku adalah istrimu,
kau hendak meninggalkan diriku seumpama aku tidak
bertanya hal ini mana boleh jadi."
Hati si bongkok sakti melunak kembali.
"Benar . , benar harus bertanya . . harus ditanya . .
memang patut ditanya . . patut ditanya . . ."
"Nah kalau begitu katakanlah sekarang."
"Tentang soal ini. . . aaai adikku Tong-poei Pek telah
mengalami celaka diluar perbatasan!"
Sewaktu mengajak Si Soat Ang memasuki hutan bambu
tadi. ia berpesan wanti2 kepada gadis itu untuk jangan
mengungkap persoalan tentang Tong poei Pek, bahkan
mengancam hendak menguburnya hidup2.
Namun sekarang, setelah ia berbohong rahasia itu malah
ia sendiri yang mengaku terus terang dihadapan perempuan
itu.
Mendengar Tong poei Pek mengalami celaka. seluruh
tubuh perempuan itu gemetar keras, air mukanya berubah
pucat pias bagaikan mayat.
"Apa ? Pek Jie mengalami celaka ? dia. . . kenapa dengan
dia ? Aaai. . . peristiwa apa yang menimpa dirinya ?"
"Nona ini yang datang memberi kabar."
Tiba2 perempuan itu maju kedepan dan menangkap
tangan Si Soat Ang, gerakannya lambat sekali namun
sangat tepat dan telak.
"Nona" ujarnya dengan suara gemetar. "Apa-apa . .
kejadian apa yang telah menimpa dirinya? cepat beritahu
kepadaku?"
Dalam keadaan seperti ini Si Soat Ang dibikin serba
salah, seumpama ia mengaku secara terus terang, si
bongkok sakti tentu naik pitam namun kalau tidak
diutarakan ia merasa salah, tak kuasa ia melirik sekejap
kearab sibongkok sakti berangasan.
Pada saat itu si bongkok sakti pun sedang mengerling
kearahnya memberi tanda.
Bagainanapun dasarnya Si Soat Ang adalah seorang
manusia cerdik, ia segera dapat menangkap makna lirikan
itu, tanpa ragu2 lagi sahutnya:
”Tong poei toako terluka !"
"Aaah. dia terluka? apakah sangat parah?"
"Tidak, tidak terlalu parah?"
"Lalu apa sebabnya tidak kau hantar pulang kerumah?
mengapa kau berangkat seorang diri"
"Walaupun lukanya tidak begitu parah, namun tak
sanggup melakukan perjalanan jauh sebab hal ini bisa
mendatangkan celaka baginya."
"Dia. . . sekarang dia berada dimana ?" Kembali Si Soat
Ang melirik sekejap kearah si Bongkok Sakti Berangasan.
sementara dalam hati mengeluh.
"Dia . . . dia ada dikaki gunung Soat san" sahutnya
kemudian "Sekarang sedang merawat lukanya dirumah
seorang teman."
Setelah mengetahui pemuda itu selamat perempuan itu
melepaskan sang gadis dan putar badan kepada si bongkok
sakti serunya:
"Toako, nah berangkatlah cepat ?. bawa dia pulang, lebih
baik merawat lukanya dirumah saja, toako, aku mohon
kepadamu !"
"Adikku, apa maksud ucapanmu ? tentu saja aku segera
berangkat, dan kemudian cepat2 kembali."
Si Soat Ang kembali dibuat tercengang, ia tahu Tongpoei
Pek adalah murid Si bongkok Sakti Berangasan, dengan
demikian istri sibongkok sakti adalah Su-nio dari Tong poei
Pek.
Tapi apa sebabnya perempuan itu malah mohon bantuan
sibongkok sakti untuk menolong Tong poei Pek ?
mungkinkah diantara mereka bertiga pernah terdapat suatu
hubungan yang aneh sekali ?
Meskipun dalam hati menaruh curiga, gadis itu tak
berani banyak bertanya.
"Adikku, aku hendak berangkat !" kembali si bongkok
sakti berseru.
"Kau... kau sendiripun harus ber-hati2, seandainya aku
memiliki ilmu silat tentu akan kusertai kepergianmu ini."
”Lebih baik kau menantikan kabar baikku disini saja,
aku akan tinggalkan nona Soat Ang untuk menemani
dirimu, asalkan Tiong-tiauw Sam Yu ada waktu, tentu
mereka datang menjenguk diri mu, Nah, aku pergi dahulu
!"
Sembari berkata dengan berat hati ia mundur selangkah
demi selangkah kebelakang, kemudian putar badan dan
laksana kilat berlalu dari sana, dalam sekejap mata lenyap
tak berbekas.
Setelah sibongkok sakti berlalu, dalam hutan bambu itu
tinggal Si Soat Ang serta perempuan itu dua orang.
Sambil mencekal tangan sang gadis, ujar perempuan itu:
"Kemarilah, ceritakan kisah tentang Tong poci Pek
kepadaku?"
Si Soat Ang amat bersedih hati, namun ia menjawab
juga:
"Baik cianpwee !"
"Ah tak usah menyebut diriku sebagai cianpwee
bagaimanapun aku tak kenal ilmu silat, sedang si
berangasan she Aow... nona Sie, coba ceritakan bagaimana
kau bisa kenal dengan Tong-poei Pek?"
"Bibi Hu. berhubung Tong-poei toako harus menolong
aku, maka ia mengikat dendam dengan seorang yang
bernama Loei Sam !"
"Aaaai...manusia yang bernama Loei Sam itu apakah
berkepandaian sangat lihay ?"
"Kepandaiannya sih tak bisa menandingi Tong poei
toako, namun siasat serta akal liciknya banyak sekali. Tong-
poei toako kena dibokong olehnya, karena itu ia terluka
parah."
Sembari berkata kedua orang itu berbareng menerobosi
hutan bambu, beberapa kali Soat Ang ingin membimbing
perempuan itu namun setiap kali ditolaknya dengan halus.
Begitulah mereka berdua memasuki hutan bambu dan
tiba didepan beberapa pucuk rumah bambu yang sunyi dan
bersih itu.
Perempuan itu berhenti didepan rumahnya, kemudian
berkata:
"Nona Si beritahu kepadaku, sebenarnya bagaimana
keadaan Tong poei Pek?"
Mendapat pertanyaan seperti ini secara mendadak,
jantung Si Soat Ang berdebar keras ia jadi kelabakan
dibuatnya.
"Kan tadi sudah kukatakan dia... dadanya terluka
parah!"
"Nona Si apakah hubungan kalian berdua sangat erat?"
tanya perempuan itu lagi sambil mencekal tangan Si Soat
Ang.
"Be. . . benar!"
"Aaaai . . . engkoh berangasan memang sangat baik
terhadap diriku, namun... namun seandainya Tong poei Pek
tertimpa nasib malang maka aku , , . aku...."
Bicara sampai disitu ia menangis terisak, walaupun
ucapannya tidak diteruskan, namun Si Soat Ang pun
mengerti apa yang hendak di ucapkan lebih jauh.
Rasa curiga yang menyelimuti benak Si Soat Ang makin
tebal sejak semula ia dapat menemukan kalau adanya
hubungan istimewa antara perempuan ini dengan Tong
poei Pek, kini setelah melihat dia menangis, curiganya
makin menghebat.
Pastilah hubungan kedua orang itu bukan terbatas
sampai hubungan murid dengan ibu gurunya belaka.
Walaupun dalam hati keheranan, Si Soat Ang tidak enak
banyak bertanya, ia tetap membungkam dalam seribu
bahasa.
Setelah menangis beberapa saat lamanya, perempuan itu
baru melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruangan dan
duduk diatas sebuah kursi bambu.
Si Soat Ang rada kelabakan dibuatnya, terpaksa ia hanya
berdiri tegak dihadapannya dengan wajah mendelong.
Lewat beberapa saat kemudian terdengar perempuan itu
berkata kembali, "Nona Si, mungkin kau tidak tahu, Tong
Poei Pek adalah putraku!"
Si Soat Ang sangat terperanjat, untuk sesaat ia tak tahu
apa yang harus dilakukan, beberapa waktu kemudian ia
baru berkata.
"Kau, . . tadi bukankah kau beritahu kepada ku, kalau
Lie Hwiee cianpwee she Auw ?"
"Benar, namun Tong-poei Pek kulahirkan sebelum
menikah dengan toako bongkok !"
Si Soat Ang merasa amat jengah, bagaimana pun dia
masih gadis perawan bahkan barusan saja berkenalan
dengan perempuan ini namun perempuan itu sudah
mengajak dia untuk membicarakan banyak persoalan yang
seharusnya tidak pantas diceritakan kepada orang lain.
Si Soat Ang tak bila mengatakan ia ia kecuali berseru.
"Ooooow . . kiranya demikian."
Kembali perempuan itu menghela napas panjang.
"Nona Si, perkataan semacam ini sebetulnya tidak pantas
bagiku untuk menceritakan kepada orang lain, namun
berhubung kau sangat baik terhadap Tong poei Pek maka
kuutarakan kepadamu."
"Bibi, kau terlalu merasa kuatir, aku pikir. . setelah
cianpwee berangasan tiba diluar perbatasan, ia tentu bisa
membawanya pulang."
"Nona Si seandainya kau berjumpa lagi dengan dirinya,
jangan sekali2 menceritakan apa yang kuutarakan
kepadamu barusan kepadanya, selama ini ia tak tahu kalau
aku adalah ibu kandungnya."
"Bibi, mengapa kau mengelabuhi dirinya ?" tanya gadis
itu dengan nada tercengang.
Perempuan itu menghela napas panjang, ia
membungkam dalam seribu bahasa.
Mengetahui perempuan itu tentu mempunyai rahasia
yang tidak enak diceritakan kepada orang lain, Si Soat Ang
pun tidak bertanya lebih jauh.
Kedua orang itu duduk saling berhadapan dengan mulut
membungkam, suasana hening, sunyi . . . sepi...
Beberapa saat kemudian perempuan itu baru berkata
lagi:
"Berada bersama diriku, tak usah kau repot melayani
segala keperluanku, walaupun sepasang mataku buta.
namun sudah lama tinggal disini, ketajaman perasaanku
tidak kalah dengan pandangan mata orang lain, hanya
sayang aku tak bisa melihat dirimu."
Bicara sampai disitu mendadak ia membungkam dan
pusatkan perhatiannya untuk mendengar.
"Eeei... sungguh aneh sekali, kenapa ada orang datang ?"
Pada saat ini Si Soat Ang tidak mendengar apapun juga,
ia jadi tertegun dibuatnya.
"Apa yang telah berhasil kau dengar ? apakah ada
sesuatu ?"
"Benar, ada dua orang datang mendekati rumah kita."
"Mungkin Tiong tiauw Sam Yu datang menjenguk
dirimu ?"
"Tidak, tidak mungkin" buru2 perempuan itu
menggeleng. "seandainya orang yang sudah kenal, maka
sejak semula mereka sudah buka suara.
Si Soat Ang jadi sangat terperanjat.
"Apakah ditempat ini seringkali kedatangan orang yang
tidak dikenal ?" tanyanya.
"Tidak, selama sepuluh tahun aku berdiam di sini baru
untuk pertama kali ini tempat kediamanku kedatangan
orang luar. ditinjau dari langkah kakinya yang ringan dan
cepat, jelas orang itu adalah tokoh dunia persilatan, kau tak
usah gelisah biarlah aku yang menghadapi kedatangan
mereka."
"Kau... bagaimana kau bisa tahu kalau hatiku sedang
gugup dan gelisah ?" tanya gadis itu sambil tertawa getir.
"Dari napasmu yang memburu, walaupun aku tak dapat
melihat bagaimanakah perubahan air mukamu pada saat
ini, namun aku dapat mendengar semua gerak gerikmu
dengan jelas, coba kau dengar, bukankah langkah kaki
kedua orang itu sudah semakin mendekati kediaman kita ?"
Dengan pusatkan perhatiannya Si Soat Ang
mendengarkan namun kecuali angin sepoi2 yang
berhembus lewat menimbulkan suara berisik dari bambu
yang bergoyang tiada suara lain bergema memecahkan
kesunyian.
Lama sekali ia memperhatikan namun tidak menangkap
sesuatupun.
"Tidak ada aku . . tidak ada..."
Belum selesai ia berbicara, mendadak ia mendengar
adanya suara langkah kaki manusia berkumandang datang,
langkah kaki itu datangnya sangat cepat dan gesit, dalam
sekejap mata mereka sudah makin dekat, diikuti dari luar
hutan bambu berkelebat lewat bayangan manusia.
"Mereka sudah datang !" bisik Si Soat Ang lirih.
"Apakah kau sudah menemukan mereka ?" tanya
perempuan itu dengan suara lirih pula.
"Tidak begitu jelas, sebab hutan bambu terlalu rapat,
namun aku sudah dapat melihat warna pakaian yang
mereka kenakan agaknya mereka memakai baju warna biru.
Aaaah, , . salah satu diantaranya mencekal sebilah golok
yang memancarkan cahaya tajam."
Perempuan itu segera tertawa getir.
"Barusan saja engkoh bongkok berangkat, sudah ada
orang asing mendatangi tempat ini, sungguh aneh sekali !"
"Apakah perlu aku kejar kembali si cianpwee berangasan
yang barusan Berangkat ?"
"Tidak usah, kau takkan berhasil menyandak dirinya,
kita lihat saja apa yang hendak dilakukan kedua orang ini"
Kembali Si Soat Ang- menoleh kearah kedua orang itu,
tampak mereka berdua sedang menyingkap daun bambu
dan berjalan makin mendekat.
Tingkah laku mereka berdua sangat hati2 selangkah demi
selangkah mereka maju mendekat, sementara senjata tajam
disiapkan dalam cekalan.
Tidak selang beberapa saat kemudian sampai lah mereka
didepan rumah, sementara Si Soat Ang dapat melihat jelas
raut wajah mereka berdua, ke dua orang itu adalah lelaki
setengah baya.
Perawakan kedua orang itu tidak begitu tinggi namun
kekar penuh berotot, mereka berhenti dua tombak didepan
rumah.
Setelah saling bertukar pandangan sekejap, salah satu
diantaranya berteriak lantang...
"Apakah sibongkok sakti berangasan ada dirumah ??".
"Tentu saja tak ada dirumah" jawab nyonya sibongkok
dengan suara halus dan tenang. "Seandainya dia ada
dirumah, kalian berdua tak mungkin bisa mendekat tempat
ini bukankah begitu ??",
Si Soat Ang yang bersembunyi disamping jendela dapat
melihat keadaan diluar dengan amat jelas, tampak air muka
kedua orang itu berubah hebat, salah satu diantaranya
kembali bertanya:
"Kalau begitu anda tentunya nyonya sibongkok sakti
bukan ?".
"Sedikitpun tidak salah, entah siapakah kalian berdua ?"
Kedua orang itu sama2 tertawa kering, selangkah demi
selangkah kembali mendekati gubuk itu sampai lima enam
langkah.
"Hujien tak usah bertanya siapakah kami, ada seseorang
mengundang hujien untuk pergi menjumpainya." kata
mereka berbareng.
"Sepasang mataku sudah buta, siapapun tak dapat
kulihat lagi, lebih baik kalian pergi saja dari sini."
"Tidak bisa jadi, orang itu sudah berpesan kepada kami
seandainya hujien tak mau pergi maka terpaksa kami harus
mengundang dengan kekerasan, harap hujien jangan
menyalahkan kami."
"Heee, heee, , . hee, walaupun Tuow cu toako tak ada
dirumah, namun ia bakal pulang juga, diantara kalian
berdua apakah merasa sanggup untuk menandingi dirinya
?" seru nyonya si bongkok sakti sambil tertawa dingin, "Aku
lihat lebih baik kalian berdua cepat2 berlalu, setelah ia
kembali aku akan menganggap tak pernah terjadi suatu
persoalan apapun, saat itu kalian berdua masih bisa
melewati hidup dengan aman tenteram ."
Air muka kedua orang itu berubah tiada hentinya, lewat
beberapa saat kemudian mereka baru menghela napas
panjang.
"Kamipun dipaksa orang untuk berbuat demikian."
katanya.
"Keadaan kami serba salah entah bagaimana baiknya,
kami harap hujien suka pergi sejenak saja. kami tanggung
takkan terjadi peristiwa apapun."
Sementara itu Si Soat Ang telah mempersiapkan cambuk
lemasnya ditangan, tempat mereka berdiri tepat dibelakang
pintu seandainya kedua orang itu bertindak nekat dan
menerjang masuk kedalam ia siap melancarkan serangan
bokongan. Oleh karena itu ia tahan napas agar jangan
kedengaran sedikit suarapun.
"Sudah kukatakan aku tidak ingin berjumpa dengan
siapapun, mengapa kalian banyak bicara ?" seru nyonya
sibongkok. Kedua orang itu saling tukar pandangan
kemudian berjalan kedepan.
"Seandainya hujien benar2 tak mau pergi, terpaksa kami
berdua harus membuat salah kepada sibongkok sakti dan
paksa hujien untuk pergi kesana."
Mendengar ancaman itu nyonya sibongkok tertawa geli,
terhadap ketenangan yang diperlihatkan perempuan itu,
diam2 Si Soat Ang yang ada di samping merasa sangat
kagum.
Karena ia tahu kedatangan kedua orang itu membawa
maksud tidak baik, jelas suatu bencana kemungkinan besar
akan menimpa dirinya, namun nyonya sibongkok sakti ini
masih tertawa se akan2 tak pernah terjadi suatu apapun,
suatu ketenangan yang patut dipuji.
"Bagus sekali !" terdengar perempuan itu berseru,
"Tolong tanya siapakah nama besar kalian berdua ? Berani
benar menyalahi sibongkok sakti, aku pikir kalian tentu
manusia luar biasa !".
Kedua orang itu tertawa sahutnya:
"Kami hanya prajurit2 tak bernama, lebih baik tak usah
kami sebutkan siapakah nama kami".
Bicara sampai disitu salah seorang diantaranya telah
mendorong pintu ruangan tersebut setelah membuka pintu
ia tidak langsung masuk badannya berhenti diluar
sedangkan pedangnya segera didorong kedalam, ujung
pedang mengancam depan dada nyonya sibongkok sakti itu.
Pada waktu itu Si Soat Ang sedang berdiri di belakang
pintu, jaraknya dengan pedang tersebut cuma terpaut dua
depa belaka.
Ia bisa melihat pihak lawan, sebaiknya orang itu tak
dapat melihat dia yang bersembunyi di situ.
Setelah orang itu menempelkan ujung pedang nya
didepan dada perempuan tadi, kembali serunya:
"Nyonya sibongkok, terpaksa kami harus melakukan
kesalahan terhadap dirimu."
Belum habis ia berbicara, mendadak Si Soat Ang putar
pergelangannya, cambuk lemas yang berada ditangannya
dengan disertai hembusan angin tajam menyambar kearah
lengan orang itu.
Kepandaian Si Soat Ang dalam permainan cambuk tidak
lemah. sewaktu berada dibenteng Thian It Poo seringkali ia
berlatih ilmu cambuk tersebut melawan puluhan ekor anjing
srigala, dengan telak serangan cambuk tadi bersarang diatas
pergelangan tangan orang itu.
"Trang . ." cekalannya jadi kendor, dan pedang itu jadi
terjatuh keatas tanah, sementara diatas pergelangannya
tertera bekas cambuk yang merah sebab membengkak
sakitnya luar biasa.
Saking tak tahannya orang itu menjerit keras dan
meloncat mundur kebelakang dengan sempoyongan.
"Cepat lari... cepat lari..." teriaknya keras-2. "Si bongkok
sakti ada didalam rumah !"
Namun rekannya masih tetap tenang terdengar ia
berseru:
"Eeeei... kenapa kau ? bukankah sibongkok sakti telah
berlalu, bukankah kita berdua melihatnya dengan mata
kepala sendiri ?".
Tangan orang itu gemetar keras badannya sempoyongan
keringat dingin setetes demi setetes mengucur keluar
membasahi seluruh tubuhnya.
"Coba kau lihat" ia berseru, "Pergelangan tanganku jadi
begini, kemungkinan besar si bongkok sakti telah kembali
dengan melalui bukit sebelas belakang".
"Jangan bicara sembarangan." hardik rekannya
"Seumpamanya sibongkok sakti berada disini, niscaya ia
sudah tunjukkan diri dan me-robek2 kita jadi dua bagian,
apakah kau lupa akan gelarnya, dia disebut orang si
Bongkok sakti yang berangasan ? aku lihat mungkin ada
orang lain sedang main gertak terhadap kita."
Bicara sampai disitu ia lantas pertinggi suaranya dan
berteriak:
"Sahabat dari aliran manakah yang berada didalam
ruangan ? persoalan ini tidak ada sangkut pautnya dengan
dirimu, aku harap kalian jangan campur tangan, kalau tidak
niscaya kami tak akan sungkan2 lagi terhadap dirimu !".
Ingin sekali Si Soat Ang buka suara menjawab
pertanyaan itu, namun dengan cepat si-nyonya bongkok
sudah memberi tanda kepadanya agar jangan bersuara,
diikuti perempuan itu berkata:
"Kalian berdua sudah tahu lihay dia adalah seorang
sahabat karib dari toako bongkok, selama hidup orang ini
paling pantang berjumpa dengan manusia2 asing macam
kalian berdua oleh karena itu barusan memberi sedikit
peringatan kepada kalian, kalau kamu berdua masih nekad
juga... yaa apa boleh buat lagi."
Diam2 Si Soat Ang kagum akan ucapan nyonya bongkok
ini, maka ia membungkam, keadaannya semakin misterius,
pihak lawanpun semakin was-was terhadap dirinya.
Terdengar kedua orang itu dengan wajah merengek
berseru:
"Nyonya bongkok kau pasti tahu bukan bagaimanakah
tabiat orang itu, seandainya kami gagal mengundang
kehadiranmu... mungkin baru saja tinggalkan tempat ini,
jiwa kami berdua sudah melayang."
Air muka perempuan itu dalam sekejap mata berubah
pucat pias bagaikan mayat, tubuhnya gemetar keras sedang
keringat mulai mengucur keluar.
Melihat hal tersebut Si Soat Ang keheranan, ia tahu jelas
perempuan itu sama sekali tidak takut, namun apa sebabnya
secara tiba2 berubah jadi begini ? tentu dibalik ucapan
orang2 itu terselip suatu masalah yang tak ingin dia ketahui.
Namun apa yang diucapkan kedua orang itu ? mengapa
ia gagal untuk menemukan keistimewaan tersebut ?
Terdengar lelaki yang terluka pergelangan tangannya itu
berkata:
"Nyonya bongkok, hitung2 kau telah mengorbani jiwa
kami, bagaimanapun juga kau kan kenal dengan dirinya,
sedang sibongkok sakti pun tak ada dirumah, pergilah
jumpai sekejap dirinya...”
Belum habis ia berkata, nyonya bongkok yang duduk
diatas kursi mendadak jatuh tertelungkup keatas tanah,
ternyata ia jatuh tak sadarkan diri.
Si Soat Ang terkesiap, buru2 ia maju dan memayang
nyonya itu.
Namun, baru saja ia memayang bangun perempuan itu,
mendadak dari belakang punggung terasa angin tajam
menyambar datang, jelas ada orang sedang melancarkan
bokongan.
Si Soat Ang terkesiap cambuknya kontan dibalik balas
menyerang kebelakang diikuti badannya berputar kencang.
Tampak kedua orang lelaki itu sudah berada didalam
ruangan ketika menjumpai diri Si Soat Ang, tak kuasa
mereka berseru berbareng:
"Siapakah nona ?"
Si Soat Ang tidak ingin banyak bicara dengan orang2 itu,
pergelangannya berputar cepat. Sreet ! Sreet ! Sreet ! secara
beruntun ia mengirim tiga buah serangan berantai.
Angin serangan men-deru2 cahaya kilat menyambar kian
kemari, bayangan cambuk memenuhi angkasa, kedua orang
itu terdesak hebat, dan mundur ke belakang dengan
sempoyongan,
Pepatah kuno mengatakan: Sekali bergebrak akan
diketahui berisi atau tidak, tiga buah serangan berantai dari
Si Soat Ang walaupun gencar dan dahsyat, permainan
cambuknya boleh dikata sempurna, namun bukan termasuk
ilmu silat kelas satu.
Dalam sekilas pandang, kedua orang itu berhasil
menemukan banyak titik kelemahan diantara permainan
cambuknya.
Kedua orang itu saling bertukar pandangan, kemudian
salah satu diantaranya berkata:
"Nona, kami tiada bermaksud jahat terhadap diri nyonya
bongkok, harap kau berlega hati."
"Kalian tak usah banyak bicara." Teriak Si Soat Ang
dengan gusar. "Tadi nyonya bongkok sudah berkata tidak
akan berlalu mengikuti kalian, buat apa kalian ngaco belo
terus disini?"
Melihat gadis itu tak bisa ditundukkan dengan kata2,
orang itu segera mencabut keluar pedangnya dan maju
mendekat dengan langkah lebar.
Si Soat Ang semakin gusar, tiba2 teriaknya sambil
memainkan cambuk.
Cambuknya kembali menyapu ke depan disertai angin
tajam, namun gerakan tubuh musuhnya cukup lincah
berkelit ke samping diikuti pedangnya menusuk secara
beruntun mengirim dua tusukan ke arah belakang.
Mengambil kesempatan bagus itulah, orang tadi bergerak
kedepan, sekali sambar ia telah memayang tubuh nyonya
bongkok kemudian dibawa keluar dari dalam ruangan.
Gerakan orang itu cepat bagaikan kilat, menanti gadis itu
berhasil menegakkan tubuhnya, orang itu dengan
memayang nyonya si bongkok telah mengundurkan diri
keluar ruangan.
Si Soat Ang tidak menyangka ilmu silat kedua orang itu
sangat lihay, hatinya terperanjat dan buru2 mengejar keluar.
Baru saja badannya bergerak, lelaki yang berdiri didepan
pintu itu segera memapaki kedatangannya, Sreeet Sreeett
Beruntun tiga tusukan kilat dilancarkan kedepan, hawa
pedang memenuhi ruangan, jalan maju Si Soat Ang
seketika terbendung rapat.
Si Soat Ang makin terperanjat, saat itulah ia baru sadar
dia bukan tandingan dari kedua orang itu, namun nyonya si
bongkok kena ditangkap oleh mereka, bagaimana
pertanggungan jawabnya jika si bongkok sakti kembali ? dia
pasti akan celaka.
Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia teringat
untuk pergi dari sana.
Mendadak suara gelak tertawa berkumandang dari
tempat kejauhan, suara itu makin lama makin mendekat
dan cepatnya sukar dibayangkan dengan kata2, gelak
tertawa tersebut amat nyaring dan lantang membuat
siapapun merasa hatinya ber-debar2.
Buru2 Si Soat Ang mendongak ke-luar, tampak seorang
sastrawan berusia setengah baya tahu2 sudah muncul
didalam hutan bambu itu.
Walaupun usia si sastrawan setengah baya itu sudah
hampir mendekati lima puluh tahunan, namun wajahnya
masih kelihatan ganteng, gagah dan romantis, gerak
geriknya menimbulkan simpatik bagi siapapun.
Begitu tiba disana, sastrawan berusia setengah baya itu
tertawa tergelak, kemudian tegurnya.
"Gwat Hun, kau masih saja seperti dahulu, gemar akan
tanaman bambu!"
Mendadak ia berseru tertahan, kepalanya berpaling
memandang kearah kedua orang lelaki itu lalu tegurnya:
"Aku kan suruh kalian berdua mengundang perempuan
ini secara hormat dan ramah? siapa suruh kalian main seret
seperti itu?"
Sambil bicara tangannya menuding kearah lelaki
tersebut, seketika itu juga air muka mereka berubah jadi
pucat ke-abu2an, sepasang lutut jadi lemas hingga tak kuasa
lagi mereka jatuh berlutut diatas tanah:
"Dia... dia jatuh... jatuh pingsan, oleh karena itu aku...
aku memayangnya keluar”
Sepasang alis lelaki setengah baya itu berkerut selintas
hawa membunuh yang menggidikkan hati terlintas
terbayang diatas wajahnya.
Sekalipun hanya sekilas mata namun cukup membuat
siapapun bergidik dan ter kencing2.
Lelaki yang berlutut diatas tanah itu gemetar semakin
keras, dengan gigi saling beradu ia anggukkan kepalanya
berulang kali, serunya: "Ampun... ampun. . ampun..."
Jelas saking takutnya sampai tak sanggup mengucapkan
sepatah katapun, Waktu itu Si Soat Ang telah berada
didalam ruangan, namun ia tertegun setelah menjumpai
kejadian itu, ia tidak tahu siapakah kedua orang lelaki yang
datang mengundang nyonya si bongkok sakti itu, namun ia
mengerti ia sadar ilmu silat kedua orang ini sangat lihay dan
jauh berada diatasnya, atau paling sedikit ilmu silatnya
sejajar dengan kepandaian silat ayahnya almarhum, atau
dengan perkataan lain mereka adalah jago kelas wahid
dalam dunia persilatan.
Tapi apa sebabnya mereka begitu ketakutan sampai
menunjukkan keadaan macam begini ?
Berada dalam keadaan seperti ini, Si Soat Ang
sendiripun bingung, haruskah ia munculkan diri atau
bersembunyi terus ? jantung berdebar keras menahan
ketegangan yang mencekam.
Selintas hawa membunuh telah lenyap dari wajah
sastrawan setengah baya itu, dengan sepasang alis berkerut
ia berkata:
"Kaupun terhitung jago kelas wahid didalam dunia
persilatan kenapa begitu jeri macam gentong nasi ? baik...
baiklah mengingat kalian bersikap hormat kepadaku selama
ini akan ku beri jenasah yang utuh buat kalian !"
Ketika itu sambil anggukkan kepala, orang itu me
rengek2 minta ampun. namun setelah ucapan ini diutarakan
badannya jadi kaku, mata terbelalak mulut melongo
sementara keringat dingin mengucur makin deras.
Begitu selesai bicara, sastrawan setengah baya itu segera
mengebaskan ujung bajunya kedepan.
Kebutan ini tidak begitu kuat terdengar... "Sreeet !" angin
dingin menyambar lewat, ujung baju lelaki setengah baya
tadi tahu2 sudah berkelebat lewat melalui batok kepala
orang itu.
"Kraaak !" kebutan yang lemah lembut dan disangka
suatu gurauan oleh Si Soat Ang tadi bersarang diatas batok
kepala orang itu dengan telak sekali, tanpa banyak suara
lagi orang itu roboh keatas tanah, diatas batok kepalanya
muncul sebuah bekas luka yang dalamnya ada setengah
coen. seperti batok kepala itu terjepit oleh papan besi
belaka.
Demikianlah, tanpa mengeluarkan suara dan didalam
waktu singkat, selembar jiwa telah melayang.
Begitu rekannya mati, lelaki kedua jadi ketakutan
setengah mati, air mukanya berubah semakin hebat,
terdengar orang itu dengan suara serak merengek lirih:
"Kami tidak melakukan kesalahan, kau... mengapa kau
turun tangan begitu keji ?"
"Oouw... jadi kau tidak puas ?" jengek sisastrawan
setengah baya itu dengan suara dingin, lambat2 ia angkat
kepala.
Orang itu menjerit aneh, mendadak sepasang tangannya
bergerak berbareng, tujuh, delapan macam senjata rahasia
berkilauan memenuhi angkasa dengan dahsyat mengurung
tubuh orang itu, sementara pedangnyapun bergerak cepat
menusuk ke ulu hati sastrawan tadi.
Melihat datangnya serangan sastrawan setengah baya itu
tertawa dingin, ujung bajunya bergerak cepat.
Braak...braak...braak.. diiringi tujuh delapan kebasan,
ketujuh delapan macam senjata rahasia itu berbareng
menancap diatas ujung bajunya namun dengan cepat
memental dan rontok semua keatas tanah.
Se-akan2 senjata rahasia tadi telah menumbuk dinding
baja, tak sebatangpun berhasil menembusi tubuh lelaki
sastrawan itu.
Ketika itulah serangan pedang lelaki itu sudah meluncur
datang.
Ditinjau dari sikap serta air muka orang itu, tusukan
pedangnya ini jelas sudah menggunakan segenap tenaga
yang dimilikinya, "Breeet!" ujung baju sastrawan itu kena
tersambar dan robek jadi dua bagian! Tidak sampai disitu
saja, ujung pedang lelaki itu dengan penuh meneruskan
sasarannya menutuk kedada lelaki sastrawan itu.
Tiba2 sastrawan setengah baya itu menghela napas
panjang tangannya bergerak kedepan, dengan jari tengah
serta ibu jarinya ia menjepit ujung pedang orang itu.
Teriakan kesakitan bergema memecahkan kesunyian,
mendadak ia lepaskan pedangnya sambil meloncat mundur
kebelakang dari kelima jarinya darah segar mengucur keluar
dengan sangat deras sementara ia mundur kebelakang
sastrawan setengah baya itu menyentil pedang rampasan itu
kedepan.
"Criiit!" tidak ampun bagaikan anak panah terlepas dari
busurnya pedang tersebut membalik langsung meluncur
kearah orang itu menembusi dadanya dan terbenam hingga
tinggal gagangnya belaka.
Seluruh tubuh orang itu gemetar keras darah segar
muncrat keempat penjuru sambil mencekal pedang untuk
dicabut keluar dari dadanya.
Matanya melotot giginya saling gemerutukan, namun ia
gagal mencabut keluar pedang itu, akhirnya sambil menjerit
ngeri badannya mundur ke belakang dengan sempoyongan
kemudian roboh terjengkang keatas tanah.
Demikianlah. jiwanyapun berakhir di ujung pedang
sendiri.
Dalam sekejap mata sastrawan berusia pertengahan itu
membinasakan dua orang, air mukanya sama sekali tak
berubah dengan wajah penuh senyuman ia melanjutkan
langkahnya mendekati perempuan istri sibongkok sakti itu.
Sejak orang yang memayang perempuan itu berlutut,
nyonya sibongkok sakti ini menggeletak di atas tanah,
namun tidak selang beberapa saat kemudian ia sudah
siuman dan bangun berdiri sampai sekarang.
Sastrawan setengah baya itu dengan wajah penuh
senyuman berjalan kedepan nyonya sibongkok sakti,
kemudian dengan suara halus sapanya:
"Gwat Hun, Gwat Hun. apakah kau sudah lupa dengan
diriku ?"
Suara sastrawan itu lembut dan menarik hati, begitu
mempersonakan hingga sukar dilukiskan dengan kata2,
membuat siapapun yang ikut mendengar akan merasa
nyaman dan terpikat.
Si Soat Ang yang ada didalam rumah tentu saja tahu
sastrawan setengah baya itu sedang ber bicara dengan
nyonya sibongkok sakti, namun tanpa sebab jantungnya
ikut berdebar setelah mendengar ucapan itu.
Terdengar sisastrawan setengah baya itu berkata
kembali:
"Aku suruh kedua orang itu datang untuk mengundang
dirimu, tak nyana mereka begitu berani menyalahi dirimu
coba kau lihat, aku telah membinasakan mereka berdua."
Perempuan itu berdiri kaku, ia tak berkutik sama sekali,
air mukanya pucat pias. titik2 air mata jatuh berlinang
membasahi pipinya.
"Gwat Hun kau menangis? kau tidak ingin menangis
bukan ?" rayu sastrawan itu kembali dengan suara halus,
"Ataukah mungkin karena bisa berjumpa kembali dengan
aku, hatimu kegirangan sehingga mengucurkan air mata ?"
Bibir nyonya sibongkok itu bergetar, pada mukanya tak
kedengaran sedikit suarapun, namun akhirnya meletup juga
suara yang begitu tenang, halus dan sama sekali berada
diluar dugaan.
"Aku sama sekali tidak dapat melihat dirimu" ia berkata.
"Gwat Hun, apa maksud perkataanmu ?" Seru
sisastrawan itu setelah melengak sejenak.
"Apakah kau tak mau memaafkan diriku ? Aaai , .
ataukah kau tak ingin berjumpa lagi dengan aku?"
Suara nyonya sibongkok semakin tenang, bahkan ia
tertawa dingin.
"Aku sama sekali tak dapat melihat dirimu, sepasang
mataku sudah menjadi buta."
"Apa? sepasang matamu..." teriak sastrawan itu amat
terperanjat.
Sambil berseru ia maju kedepan, kemudian sambungnya
dengan nada cemas.
"Apakah bongkok sibangsat itu bersikap kurang ajar
kepadamu mencelakai dirimu jadi be-gini? bongkok bangsat
.."
Belum selesai ia bicara, mendadak nyonya itu ayunkan
tangannya kedepan Ploook! sebuah tempelengan keras
dengan telak bersarang diatas pipi sastrawan setengah baya
itu.
Walaupun nyonya ini tak paham ilmu silat, namun
gaplokan ini cukup berat, ketika itu juga muncul lima buah
bekas telapak yang merah dan sembab bengkak diatas pipi
lelaki itu.
Walaupun hanya merah membengkak, cukup
membuktikan betapa kerasnya tempelengan nyonya itu
barusan.
Dengan mata kepala sendiri Si Soat Ang melihat betapa
sastrawan berusia pertengahan ini membunuh dua orang
jago lihay Bu-lim sekaligus, kini melihat ia digaplok keras
oleh nyonya si bongkok, diam2 ia ikut kuatirkan buat
keselamatan perempuan itu.
Terdengar nyonya itu dengan wajah pucat pias berseru
sepatah demi sepatah kata.
"Aku melarang kau maki toako bongkok dihadapanku,
siapapun kularang memaki dirinya di-hadapanku, dia hanya
seorang yang benar2 bersikap baik kepadaku."
Sastrawan setengah baya itu tidak gusar, suaranya masih
tetap lemah lembut, halus, merdu dan memikat hati.
"Bagaimana dengan aku Gwat Hun ?" ia bertanya,
"Apakah aku kurang baik terhadap diri mu ?"
"Dimana pedangmu ?" seru nyonya si bongkok dengan
suara gemetar.
"Ada di punggungku !"
"Berikan kepadaku !"
"Baik !" buru2 ia singkap bajunya dan sreeet! Sebilah
pedang segera diloloskan dari sarungnya.
Begitu pedang tersebut dicabut keluar, jantung Soat Ang
berdetak makin keras ia lihat pedang itu luar biasa dan jauh
berbeda dengan pedang biasa, panjangnya hanya dua depa
namun memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan
mata, tajamnya pasti bukan main, jelas merupakan sebilah
pedang kelas satu.
Dengan amat tenang sastrawan setengah baya itu
membalik pedang itu, kemudian gagang pedang tadi
diserahkan ketangan nyonya sibongkok.
Setelah mencekal pedang ditangan, seluruh tubuh
nyonya sibongkok gemetar keras, ia cekal pedang itu erat2
kemudian menempelkan ujung pedang tadi keatas ulu hati
sisastrawan tadi.
Ia tarik napas panjang2, tangannya yang mencekal
pedang lambat2 didorong kedepan ujung pedang makin
lama semakin mendekati ulu hati sastrawan itu, dilihat
keadaannya seakan2 ia hendak membinasakan orang itu
dalam sekali tusukan.
Si Soat Ang yang melihat kejadian ini jadi melengak, tak
kuasa ia berdiri menjublak.
Orang Bu lim, siapapun tahu kalau nyonya si bongkok
sakti tak pandai bersilat, sedangkan ilmu silat sastrawan
berusia pertengahan itu sangat lihay dan dibuktikan sendiri
oleh Si Soat Ang dengan mata kepala sendiri.
Sewaktu ditampar tadi ia sudah tidak marah bahkan
menyerahkan pula pedangnya agar ditusuk oleh perempuan
itu. Apa sebabnya yang terjadi? mengapa sastrawan itu rela
dirinya ditusuk? sebenarnya apa hubungan nyonya dengan
sisastrawan?
Sementara Si Soat Ang disibukkan oleh pelbagai
pertanyaan yang mencurigakan, terdengar nyonya
sibongkok berkata dengan suara lamban.
"Sejak dahulu aku sudah ambil keputusan untuk
membinasakan dirimu, sekarang aku benar2 hendak
membunuh dirimu."
"Kalau benar kau hendak binasakan diriku, mengapa aku
harus melarikan diri." sastrawan itu tertawa hambar,
"Asalkan kau senang, sekalipun aku harus mati
ditanganmu, kenapa aku harus takut? Nah, silahkan turun
tangan."
Tubuh nyonya itu gemetar semakin keras.
"Kau jangan anggap aku tak berani turun tangan."
serunya. "Aku hendak membinasakan dirimu, dengan
tanganku sendiri!"
Ujung pedang yang dicekal ditangan makin mendekati
ulu hati si sastrawan itu
Namun sastrawan itu tetap tak berkelit, ia hanya
menyapa: "Aaai. . . Gwat Hun !"
Mendadak nyonya sibongkok itu mengerahkan tenaga
dan mendorong pedangnya menusuk ke-depan, disaat
pedang itu berkelebat datang, sastrawan setengah baya itu
miringkan badannya kesamping.
"Criiit !" tusukan ini kendali tidak mengenai dada
sastrawan itu namun menembusi iganya dengan telak.
Ujung pedang mencabut iganya sedalam tiga coen, darah
segar segera mengucur keluar membasahi tubuhnya.
Si Soat Ang yang melihat kejadian itu jadi terkesiap.
Ilmu silat yang dimiliki sastrawan setengah baya ini
sangat lihay, namun apa sebabnya ia tak berkelit sama
sekali ketika ujung pedang nyonya si bongkok sakti itu
menusuk datang ?
Seluruh tubuh nyonya si bongkok itu gemetar keras
badannya mundur selangkah kebelakang, kelima jarinya
mengendor dan tidak ampun pedang tadi terjatuh keatas
tanah.
". . . kau tertusuk ?" ia bertanya dengan nada gemetar.
"Benar, tusukanmu telah menembusi igaku... seumpama
kau ingin menusuk diriku sampai mati, nah pungut kembali
pedang mustika itu, tambahi satu kali tusukan."
Tubuh nyonya itu gemetar semakin keras, terdengar
suaranya berubah makin melengking tajam dan tak sedap
didengar.
"Mengapa kau tidak menghindar?" teriaknya "Mengapa
kau tidak merampas pedang itu? mengapa kau tidak . . . "
"Kau ingin menusuk aku sampai mati?" tukas sastrawan
setengah baya itu dengan tenang "Aai . . . mati ditanganmu
memang bukan suatu pekerjaan yang enak, namun bisa
dirindukan dan diingat selalu olehmu jauh lebih baik
daripada aku tetap hidup namun kau selalu . . . selalu
membenci diriku."
Belum habis sastrawan setengah baya itu bicara, dari
sepasang mata nyonya itu mengucurkan air mata dengan
derasnya tak tertahan ia maju kedepan sambil bertanya:
"Kau... kau berada dimana ?"
Sastrawan setengah baya itu merentangkan sepasang
tangannya selintas senyuman licik dan keji berkelebat diatas
wajahnya.
"Aku berada disini?" sahutnya.
Nyonya sibongkok menjerit keras, ia segera menubruk ke
dalam pelukannya dan menangis tersedu2, sedang
sastrawan setengah baya itu dengan wajah dihiasi
senyuman licik merentangkan tangannya memeluk nyonya
itu erat2.
Ketika itulah Si Soat Ang dapat melihat bahwa darah
sudah berhenti mengalir dari iga sastrawan setengah baya
itu, pakaian dibagian iganya robek, namun justru karena
berlubang gadis itu dapat melihat bahwa diantara iganya
tergantung sebuah kantongan kulit, dari kantongan itulah
darah mengalir keluar.
Dia sendiri, sebenarnya sama sekali tidak terluka, tidak
aneh kalau senyuman licik menghiasi wajahnya ternyata ia
berhasil menipu nyonya sibongkok itu untuk terpikat
kedalam pelukannya.
Sebelum terjadinya peristiwa, ia telah menggantungkan
kantongan kulit itu lebih dahulu.
Hal ini menunjukkan kalau ia sudah tahu bahwa nyonya
sibongkok telah buta, dan sengaja ia datang kemari untuk
menipu nyonya itu.
Tetapi, kalau ia sudah tahu bahwa perempuan itu telah
buta mengapa sewaktu nyonya itu mengatakan bahwa
matanya buta, sastrawan setengah baya ini masih
memperlihatkan sikap tercengang ? apa sebabnya ?
Jelas terbukti sekarang, dia memang ada maksud
membohongi nyonya sibongkok ! menipu dia agar terjebak
kedalam perangkapnya.
Berpikir sampai disitu, tak tahan Si Soat Ang merasakan
jantungnya dag dig dug, belum pernah ia menjumpai orang
yang menipu seseorang dengan cara licik, menipu seseorang
sampai dia begitu percaya.
Si Soat Ang tak tahu apa sebabnya sastrawan setengah
baya itu membohongi si nyonya bongkok, namun ia tahu
saat ini nyonya itu sudah tidak membenci diri sastrawan itu
lagi sedikitnya tidak salah, terdengar nyonya itu sambil
terisak nangis sedang berkata:
"Bagaimana lukamu? apa . . apakah serius?"
"Aaaah tidak mengapa, walaupun sedikit sakit, namun
siapa suruh tempo dulu aku terpikat perempuan siluman
itu, sekalipun lebih sakit juga sudah mestinya."
"Dimana perempuan siluman, Kiem Lan Ho!"
"Setelah mereka ibu dan anak berlalu, aku baru sadar,
aku telah berbuat suatu kesalahan besar, segera kucari
kalian berdua diujung langit dasar lautan, sampai waktu
dekat inilah aku mendapat sedikit kabar tentang dirimu, aku
lantas berangkat kemari.
Gwat Hui, tak usah kita ungkap kembali kejadian masa
silam, sekarang sibongkok ada dimana? aku hendak
menjumpai dirinya, hendak kuberitahu kepadanya kalau
dirimu akan kubawa kembali, kalau ia tidak setuju maki
akan kuajak dia untuk berduel sampai salah satu diantara
kita mati."
"Tempo dulu, kau mengusir kami ibu dan anak, hatiku
amat sedih, sambil gendong bocah aku siap terjunkan diri
kedalam sungai untuk bunuh diri namun ditolong oleh
toako bongkok." seru nyonya sibongkok itu dengan
menahan isak tangis, "Selama banyak tahun, kami berdua
saling menyebut sebagai suami istri namun tak pernah
hidup sebagai suami istri sebenarnya, seumpama kau
hendak membawa aku pergi, dia tak akan menghalangi, ia
akan gembira sekali, hanya sayang saat ini dia tak berada
disini."
"Aaaai... Gwat Hun, lalu dimanakah anak kita itu?"
Sembari berkata ia angkat kepala dan menengok keempat
penjuru, ia berpaling, Si Soat Ang menduga seandainya ia
ketahuan keadaan nya bakal runyam. Namun saat ini
hatinya sedang kaget bercampur takut untuk beberapa saat
tak sanggup gadis ini menguasai diri, sebelum ia sempat
bergerak jejaknya sudah ketahuan.
Pada mulanya sastrawan setengah baya itu berdiri,
kemudian sepasang matanya laksana pisau belati yang amat
tajam memperhatikan Si Soat Ang tak berkedip.
Hati Si Soat Ang tercekat, jantungnya dag dig dug,
badannya jadi kaku dan tak sanggup menguasai diri
keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh
tubuhnya.
Lama sekali suasana hening, kemudian barulah
terdengar sastrawan setengah baya itu berkata: "Gwat Hui,
sebenarnya apa yang telah terjadi ? bukankah anak kita
adalah seorang bocah pria?"
"Benar memang bocah pria, tentu saja seorang bocah
lelaki, tahun ini ia telah berusia dua puluh empat tahun."
"Lalu siapakah bocah perempuan itu ?"
"Ooouw! Hampir saja lupa kuberitahukan kepadamu dia
adalah nona Si, sahabat karib Pek jie, berhubung Pekjie
terluka parah diluar perbatasan maka ia berangkat datang
kemari untuk memberi kabar, sekarang si bongkok toako
telah berangkat untuk menolong jiwanya."
Sastrawan setengah baya itu mengangguk ia payang
tubuh nyonya sibongkok dan lambat-2 berjalan masuk
kedalam rumah.
Sambil berjalan ia bertanya:
"Gwat Hun. mengapa kau hanya memberi Pek saja
kepada bocah kita ?"
"Benar, aku memberi nama Tong-poei Pek kepadanya,
dengan harapan suatu hari kau bisa kembali, waktu itu
hatiku sudah berubah hebat maka aku berharap hari cepat
jadi terang, karenanya kuberi nama Pek kepadanya, kau
tabu akupun beri she Tong Poei juga kepadanya.
"Bagus, bagus sekali !"
Walaupun ia sedang berbicara dengan nyonya
sibongkok, namun sepasang matanya melototi diri Si Soat
Ang tak berkedip, hal ini membuat seluruh bulu kuduk
gadis itu pada bangun berdiri.
Ingin sekali dara itu mundur beberapa langkah
kebelakang, namun sepasang kakinya seakan2 terpantek
diatas lantai, sedikitpun tak dapat berkutik, suatu siksaan
hatin yang hebat sekali.
"Gwat Hun, coba kau lihat apakah masih ada barang
yang perlu dibereskan ?" akhirnya sastrawan setengah baya
itu berkata.
Berulang kali ia menyebut perempuan itu dengan
sebutan "Gwat Hun... mungkin itulah nama sebenarnya
dari nyonya sibongkok.
"Sekarang aku sudah mendapat kembali dirimu, barang
apa lagi yang perlu dibereskan!" terdengar ia menyahut.
"Hanya saja Pek jie dia... dia masih berada diluar
perbatasan."
"Soal itu gampang sekali bagaimana kalau sekarang juga
kita berangkat keluar perbatasan untuk menyusul dirinya?"
Air mata nyonya bongkok bagaikan hujan gerimis
mengucur keluar tiada hentinya, namun kali ini ia
mengucurkan air mata bukan karena sedih melainkan
karena gembira kegirangan.
"Nona Si." ujarnya sambil membesut air mata. "Aku
tahu kaupun ingin cepat2 bertemu dengan Tong-poei Pek,
namun aku ada satu persoalan ingin mohon kepadamu."
Si Soat Ang ingin menjawab tetapi lidahnya terasa
seperti kaku tak sepatah katapun bisa di utarakan,
Lewat beberapa saat kemudian ia baru bertanya:
"U . . . uuuu . . , urusan apa."
"Saat ini juga kami akan menyusul keluar perbatasan,
namun belum tentu bisa berjumpa dengan bongkok toako,
aku mohon agar kau suka menunggu disini seandainya
sibongkok toako kembali, katakan seluruh yang kau jumpai
kepada dirinya."
"Semua... semua yang kulihat ?" tanya Si Soat Ang lagi
dengan nada gemetar.
Apa yang dilihat olehnya termasuk juga siasat licik
sastrawan setengah baya itu menipu dan menjebak nyonya
sibongkok, namun ia tahu yang dimaksudkan perempuan
itu bukan seperti apa yang dipikir karena itu tak tertahan ia
balik bertanya.
Nyonya bongkok itu sendiri tak mengerti apa yang
dimaksudkan, ia hanya berkata kembali: "persoalan masa
silam sudah diketahui semua oleh si toako bongkok, cukup
kau ceritakan apa yang kau lihat barusan, ia bakal menjadi
paham sendiri !"
Si Soat Ang menunduk, namun ia merasa sepasang mata
sang sastrawan yang tajam bagaikan pisau itu masih
menempel dibadannya tak berkedip dalam keadaan seperti
ini tak ada perkataan lain kecuali mengangguk.
"Baa . . . baik."
"Nona Si, jangan lupa dengan ucapanku ini, sekalipun
toako bongkok tidak kembali, setelah Pek-jie berhasil kita
temukan, kami pasti akan kembali kesini. Nah selamat
tinggal."
"Selamat tinggal." pikiran Si Soat Ang sedang kalut, ia
hanya bisa mengucapkan kata2 itu belaka.
"Gwat Hun, mari aku bimbing kau keluar dari sini."
sastrawan setengah baya itu segera berseru dengan nada
lembut. "Dahulu bukankah kau paling senang kalau aku
membawa kau melakukan perjalanan dengan mengerahkan
ilmu meringankan tubuh ? seringkali kau berkata, berlari
dengan ilmu meringankan tubuh se akan2 terbang ditengah
awan, bukankah begitu ?"
Sambil berkata ia bimbing tubuh nyonya itu dan berjalan
keluar langkah kakinya makin lama makin cepat, dalam
sekejap mata ia sudah menerobosi hutan bambu dan lenyap
tak berbekas.
-ooo0dw0ooo-

Jilid 9
MENANTI sastrawan setengah baya dan nyonya
sibongkok itu sudah lenyap dari pandangan Si Soat Ang
menghembuskan napas panjang. otot2 diseluruh badannya
serasa jadi mengendor.
Secara tiba2 ia merasa tidak kerasan untuk tetap tinggal
disana, menanti kemblainya sibongkok sakti dari luar
perbatasan namun apa yang harus ia lakukan ?
Sekarang ia sudah tahu kiranya sastrawan setengah baya
itu adalah bekas suami nyonya sibongkok, bukan saja bekas
suami istri bahkan mereka telah berputra, Tong-poei Pek
adalah putra mereka.
Entah kemudian sastrawan itu terpikat oleh seorang
perempuan yang bernama Kiem Lian Hoa, ia lantas
mengusir Gwat Hun ibu dan anak, dalam keadaan putus
asa Gwat Hun hendak bunuh diri dengan terjunkan diri
kedalam sungai, kebetulan ia ditolong oleh sibongkok sakti.
sejak itulah mereka lantas mengikat diri jadi suami istri.
Kesemuanya ini dapat didengar oleh Si Soat Ang dari
pembicaraan sisastrawan setengah baya dengan nyonya itu.
Sekarang ia baru tahu apa sebabnya nyonya itu jauh
lebih gelisah dari pada sibongkok sakti setelah mengetahui
Tong poei Pek terluka parah, kiranya pemuda itu adalah
putra kandungnya.
Begitu tega sastrawan setengah baya itu mengusir Gwat
Hun ibu dan anak dari rumah, dari sini dapat ditarik
kesimpulan orang itu tentu kejam dan tidak berperasaan,
sekarangpun ia berhasil menipu nyonya itu, bahkan dengan
cara yang licik dan memalukan, apa sebenarnya maksud
tujuan yang terkandung dihati pria itu ?
Yang paling membuat Si Soat Ang bingung adalah
kelihayan ilmu silat yang dimiliki sastrawan setengah baya
itu, entah siapakah orang itu ? menurut kata2 perempuan
tadi, seharusnya sastrawan itu she Tong-poei...
Mendadak perasaan bergidik menyelimuti seluruh tubuh
gadis itu, bulu kuduk pada bangun berdiri, ia merasa ngeri
seram dan ketakutan, gigi mulai beradu dan seluruh badan
menjadi lemas.
Sekarang ia tahu sudah siapakah sebenarnya sisastrawan
setengah baya itu.
Walaupun selama ini ia berdiam terus didalam benteng
Thian It Poo yang jauh diluar perbatasan, namun
pengetahuannya sangat luas, setelah mengetahui kalau
orang itu she "Tong poei." teringatlah olehnya akan seorang
gembong iblis yang paling ditakuti jago2 kangouw, orang
itu paling keji, paling ganas orang itu she Tong poei
bernama Pa-cu, dialah pemimpin dari perguruan Thian Bun
Kalau dari aliran lurus, jago paling lihay adalah Si Thay
sianseng, maka dari golongan sesat Tong-poei Pa-culah
yang paling jagoan, ia tak terkalahkan dan belum pernah
menjumpai tandingan.
Rasa takut makin menyelimuti seluruh benaknya, tiba2
gadis itu menjerit keras.
"Kenapa kau masih berada disini ? kalau tidak lari,
apakah aku harus menantikan kematian mu disini ?" Sambil
menjerit ia putar badan dan melarikan diri ter birit2 keluar
rumah.
Hatinya kacau, lelah dan ketakutan, sekuat tenaga ia lari
terus kedepan...saking cepatnya ia berlari akhirnya tak bisa
ditahan badannya terpeleset dan jatuh terguling keatas
tanah.
Buru2 ia merangkak bangun, coba berdiri untuk
melanjutkan larinya., mendadak sesosok bayangan manusia
berkelebat datang, tahu2 dihadapan matanya telah berdiri
seseorang.
Si Soat Ang merasa jantungnya se akan2 berhenti
berdetak, seluruh tubuhnya jadi kaku, sukma nya terasa
terbang dari raganya, ia benar2 ketakutan...ngeri dan
akhirnya terkencing2.
Pandangan matanya mulai kabur, kepala pusing tujuh
keliling, ingin sekali ia buka suara untuk mohon ampun,
namun tak sepatah katapun bisa diucapkan, ia jadi kaku,
seakan2 sebuah patung batu.
Pada saat itulah, orang yang berdiri dihadapannya buka
suara menegur:
"Eeei...bukankah kau adalah nona Si ? Nona Si !
sebenarnya apa yang telah terjadi ?"
Begitu orang itu buka suara, Si Soat Ang tak kuasa
menahan diri lagi, ia menjerit se-jadi2nya.
Semula ia mengira Tong-poei Pa-cu sigembong iblis
nomor wahid dikolong langit itu muncul disana dan siap
membasmi dirinya, tapi sekarang ia boleh berlega hati,
sebab orang itu bukan gembong iblis yang disangka, dia
adalah Tjioe Pian Thian, Tjioe Jie hiap.
Dengan susah payah ia merangkak dan coba berdiri,
namun badannya masih lemas, baru saja kakinya akan
berdiri, sekali lagi ia terbanting keatas tanah.
"Nona Si, apa yang telah terjadi? mengapa kau begitu
ketakutan?" tanya Tjioe Pian Thian dengan nada
tercengang.
Tadi Si Soat Ang sudah bersiap sedia untuk melarikan
diri lagi sekuat tenaga, namun sekarang Tjioe Pian Thiao
telah tiba, ia bisa menghembuskan napas lega, setelah
istirahat ia merangkak bangun dan duduk mendeprok diatas
tanah.
"Tjioe Jie-hiap, aduuh celaka... celaka tiga belas! telah
terjadi peristiwa diluar dugaan!"
Suaranya masih gemetar dan penuh diliputi ketakutan,
keseraman dan kengerian.
"Apa yang telah terjadi.." seru Tjioe Pian Thiao
terperanjat.
Namun belum sempat Si Soat Ang menjawab sinar
matanya telah terbentur dengan dua sosok mayat yang
menggeletak diatas tanah dengan cepat ia meloncat kedepan
mendekati mayat itu.
Tapi air mukanya segera berubah hebat. "Aaah,
bukankah mereka adalah sepasang Manusia gagah dari Yu
Tiong? bagaimana bisa mati disini?"
Mendadak suatu ingatan berkelebat dalam benaknya
kembali ia berseru: "Enso apakah kau merasa terkejut?"
"Nyonya sibongkok telah diculik orang." ujar Soat Ang
lambat2 sambil bangun berdiri.
Tjioe Pian Thian semakin terperanjat sejak menemukan
mayat dari sepasang manusia gagah dari Yu tiong, ia sudah
merasa telah terjadi suatu peristiwa diluar dugaan, kematian
mereka berdua pasti menyangkut suatu masalah yang amat
besar.
Sekarang, setelah mengetahui nyonya si bongkok sakti
diculik orang lain, ia sadar suatu badai angin puyuh mulai
melanda mereka.
"Siapa?" Buru2 serunya dengan cepat, "Siapa yang
menculik nyonya sibongkok? apakah kau melihat dengan
mata kepala sendiri?"
"Dia... dia adalah see... seorang sastrawan setengah
baya, aku duga dia tentu adalah Tong poei Pa-cu."
Begitu kata2 "Tong poei Pacu" meluncur keluar dari bibir
gadis tersebut, air muka Tjioe Pian Thiao berubah pucat
pias, sekalipun dia termasuk salah satu onggota dari Tiong
tiauw Sam Yu yang menjagoi Bu-lim, namun iapun sadar
ilmu silatnya masih bukan tandingan dari Tong poei pacu,
gembong iblis nomor wahid dari kolong langit itu.
"Dimanakah orang itu ?" ia bertanya dengan wajah pucat
bagaikan mayat, sepasang matanya melirik kesana kemari.
"Ia sudah pergi jauh, namun aku tahu dia pasti akan
datang lagi, sebab ia tidak ingin aku tetap hidup, ia tidak
ingin rahasianya yang tak boleh diketahui orang lain terlihat
olehku, ia pasti datang lagi kemari untuk mencabut
nyawaku!"
Membicarakan soal "Mencabut nyawa" seluruh tubuh
gadis itu gemetar keras.
"Kalau begitu kau cepat lari, . . cepat lari !" seru Tjoei
Pian Thiao, ia tarik tangan Si Soat Ang dan berkelebat ke-
depan, dalam sekejap mata kedua orang itu sudah
menerobosi hutan bambu.
Ilmu silat Tjoei Pian Thiao tidak lemah, bagaikan anak
panah yang terlepas dari busurnya, tujuh li telah dilewati
dengan cepat,
Baru saja mereka berdua menghembuskan napas lega
dan berhenti berlari, mendadak.
"Aduuuh... aduuuh... Tjoei jiehiap, sungguh hebat ilmu
meringankan tubuhmu, aku benar benar kagum " dari
belakang tubuh mereka berkumandang datang suara
teguran.
Sementara itu tubuh Tjoei piau Thian masih berada
ditengah udara, mendengar teguran itu badannya dengan
cepat ber-salto beberapa kali, tangannya menyentak dan ia
lempar badan Si Soat Ang kearah luar kalangan.
Tenaga sentakan itu amat besar, tidak tahan badan Si
Soat Ang terpental dan melayang jauh kedepan.
Sekalipun gerakan Tjoei Piao Thian dalam usahanya
menyelamatkan jiwa sigadis itu dilakukan sangat cepat
namun sayang seribu kali sayang ketika tubuh gadis itu
melayang ditengah udara, sebuah batu kecil dengan disertai
desiran tajam telah meluncur datang.
Plaaak ! tidak ampun jalan darah lemasnya terhajar
telak, tubuh Si Soat Ang segera terpental dan jatuh kebawah
tepat terjepit diantara dahan2 pohon dibawahnya. Semua
kejadian ini dapat diikuti Tjoai Piao Thian dengan jelas,
namun pada saat ini dia tak bisa menggubris gadis itu lagi
sebab waktu ia putar badan kebelakang, sinar matanya telah
bertemu dengan tubuh Tong Poei Pacu yang berdiri
dihadapannya sambil menyeringai seram.
Kalau Si Soat Ang ia masih menduga kemungkinan
besar sastrawan setengah baya itu adalah gembong iblis
nomor wahid Tong poei Pacu, tetapi bagi Tjioe Pian Thian,
sekilas pandang dia segera mengenalinya.
Dengan hati tercekat Tjioe Pian Thian mundur
selangkah kebelakang, tangannya bergerak cepat
melemparkan sebuah bom keangkasa.
ooOdwOoo

BAB 7
"TJIOE JIE HIAP!" jengek Tong poei Pacu sambil
tersenyum. "Setelah kau lepaskan tanda bom udara itu
harus membutuhkan berapa waktu saudara2mu Seng It hiap
serta Huang Sam hiap baru bisa tiba disini!"
Jantung Tjioe Pian Thian berdebar keras namun
bagaimanapun juga dia adalah jago kangouw kelas satu, air
mukanya masih tetap tenang seperti tak pernah terjadi
sesuatu apapun.
"Soal itu sih belum tentu" jawabnya berat. "Seandainya
mereka berada disekitar sini, tentu saja lebih cepat tiba
disini, seandainya tanda bom udara itu tidak mereka lihat,
maka mereka tak akan bisa kemari."
"Ha..haa.. haa.,.aku jadi orang memang aneh sekali,
makin orang takut kepadaku aku masih tidak mengapa
sebenarnya bisa saja aku tunggu kehadiran saudara2mu itu
kemudian baru kulayani kalian bertiga, namun sayang
seribu kali sayang waktuku tidak banyak, masih ada orang
lain menunggu kedatanganku sedangkan kau harus mati ini
hari juga, maka dengan berat hati terpaksa aku harus turun
tangan sekarang juga !"
Air muka Cioe Pian Thian berubah hebat namun ia tetap
mempertahankan ketenangannya.
"Baiklah kalau begitu silahkan kau mulai turun tangan !"
ia menjawab.
Tong-poei Pa cu tidak sungkan lagi, ia segera menjura
kemudian ujung bajunya dikebas kedepan dengan gerakan
melintang, segulung angin tajam langsung menggulung
tubuh Cioe Pian Thian.
Manusia she Cioe inipun bukan manusia lemah, ia
jejakkan kakinya keatas tanah dan meloncat ke tengah
udara.
Gerakannya sangat indah dan cukup gesit, namun Tong-
poei Pa-cu tidak kasih hati.
Kebutan pertama gagal, ujung bajunya kembali menyapu
kebawah kemudian meloncat pula ketengah udara
memukul lawannya.
Melihat Tong poei Pacu menyusul ketengah udara, Tjioe
Pian Thian terperanjat, dalam keadaan gugup telapak
kirinya segera dibabat ke luar sementara tangan kanannya
siap meloloskan senjata tajam.
Tong poei Pacu sama sekali tidak berkelit melihat
datangnya serangan telapak itu, ia malah memapaki
datangnya serangan tadi.
"Ploook . , " dengan telak serangan tersebut bersarang
diarah dada Toog poei Pacu.
Namun suatu kejadian aneh telah berlangsung bukan
Tong poei pacu yang menjerit kesakitan adalah Tjioe Pian
Thian sendiri yang menjerit ngeri, keringat sebesar kacang
kedelai mengucur keluar membasahi tubuhnya, telapak
tangan yang digunakan untuk menghantam dada lawannya
itu terasa sakit, se akan2 seluruh tulangnya telah hancur
berantakan.
Sebaliknya Tong poei Pacu tenang2 saja seperti tak
pernah terjadi apa2, dengan cepat ujung baju kanannya
ditebas kedepan menghantam batok kepala Tjioe Pian
Thian.
Tubuh orang she Tjioe masih ada ditengah udara, dalam
keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk berkelit lagi.
Pandangan matanya jadi gelap, tahu2 seluruh batok
kepalanya telah terbungkus kedalam ujung baju Tong poei
Pacu.
Selama berlangsungnya pertarungan seru antara Tong
poei Pacu melawan Tjioe Piau Thian, Si Soat Ang yang
badannya tersangkut diatas dahan pohon dapat mengikuti
dengan sangat jelas, setelah ia melihat batok kepala Tjioe
Pian Thian terbungkus ke dalam ujung baju Tong poei
Pacu, ia dengar orang she Tjioe itu mendengus berat, kaki
dan badannya jadi lemas dan harapannya jadi tipis sekali.
Ia melihat tubuh Tong poei Pacu melayang turun keatas
tanah bersama badan Tjioe Pian Thian, diikuti orang she
Tong poei itu kebaskan ujung bajunya, tubuh Tjioe Pian
Thian terpental dan jatuh direrumputan. Tjioe Pian Thian
jagoan kelas satu dalam Bu-lim, namun kalau dibandingkan
dengan Tong-poei Pacu ia masih terpaut jauh.
Karena itu selama bertarung melawan gembong iblis itu,
semua serangannya berhasil dipatahkan dengan gampang,
bahkan tidak sampai dua tiga jurus jiwanya telah melayang
ditangan iblis ini.
Sungguh kasihan Tjioe Pian Thian, tidak sempat
menjerit kesakitan jiwanya telah melayang dari raganya...
Setelah melemparkan tubuh Tjoei Pian Thian tadi, per-
lahan2 Tong-poei Pacu angkat kepala, Dalam pada itu jalan
darah Si Soat Ang tertotok, badannya tak dapat bergerak
sedikitpun, tentu saja tiada harapan baginya untuk
melarikan diri.
Ingin sekali gadis itu mengutarakan pelbagai alasan agar
jiwanya diampuni, namun justru tak sepatah katapun bisa
diucapkan.
Sambil tertawa ter bahak2 Tong-poei Pacu meloncat
kebawah pohon, telapak tangganya bergerak cepat
membabat dahan pohon yang menjepit tubuh gadis itu.
"Kraaak !" Dahan pohon terbabat patah, tubuh Si Soat
Ang pun terbanting jatuh keatas tanah. Walaupun
bantingan ini sangat berat namun jalan darahnya yang
tertotok tiba2 jadi bebas.
Dengan cepat ia merangkak bangun, serunya dengan hati
gelisah: "Kau . . kau jangan. . . jangan bunuh diriku..."
Waktu itu Tong-poei Pacu sudah mempersiapkan ujung
bajunya untuk di kebas kebawah, mendengar jeritan ini ia
tarik kembali serangannya.
"Mengapa ?"
Jantung Si Soat Ang berdetak makin keras, se akan2
hendak terlepas dari tubuhnya, dengan napas ter-sengkal2 ia
berseru:
"Kalau kau binasakan diriku, seumpama nyonya si
bongkok menanyakan diriku, apa yang hendak kau katakan
?"
"Mengapa ia tanyakan dirimu ?" tanya Tong-poei Pacu
rada tertegun.
Saking takutnya hampir2 Si Soat Ang menangis se-jadi2
nya, namun ia sadar dalam keadaan seperti ini ia tak boleh
menangis.
"Ia bisa tanyakan diriku...ia bisa tanyakan diriku !"
teriaknya dengan suara serak.
Tong poei Pa cu tidak menjawab, sepasang matanya
dengan sinar yang menggidikkan melototi terus wajahnya
tanpa berkedip.
Si Soat Ang meronta bangun, kembali teriaknya:
"Aku bersumpah tidak akan bicara soal apapun, aku
tidak akan bercerita kepada siapapun tentang kejadian yang
telah berlangsung. tidak ! aku tidak akan bicara !"
Tong poei Pacu hanya mendengus, senyuman
menyeringai menghiasi bibirnya.
Melihat orang itu membungkam, timbul harapan hidup
dalam hati gadis itu, kembali ia berseru.
"Aku pasti tak akan bicara, kau boleh berlega hati, aku
tidak akan bicara kepadanya pun kepada siapapun"
"Haa...haa...sungguh mengherankan apa yang tidak akan
kau ucapkan kepada orang lain ? coba katakan aku punya
rahasia apa yang tak boleh di ketahui orang lalu ?"
Mendapat pertanyaan itu Si Soat Ang tertegun: "Rahasia
apa ?" serunya gemetar.
"Bagus, terus terang kuberitahukan kepadamu, selama
hidup aku tak pernah percaya kepada siapapun, aku tidak
ingin diriku kalah, coba kau pikir bisakah aku mempercayai
dirimu ?"
Sepasang lutut Si Soat Ang jadi lemas, tidak kuasa lagi
badannya terjatuh keatas tanah, badannya serasa tak
bertenaga, untuk bangkitpun tak sanggup lagi, namun
hatinya berteriak:
"Ayoh cepat bangun, ayoh cepat melarikan diri, aduh
mak, kenapa dengan kakiku ? ayoh bangun, melarikan diri
."
Tetapi badannya tetap mendeprok diatas tanah dengan
lemas, bahkan mulai gemetar sepatah katapun tak bisa
diucapkan, bergerak sedikitpun tak sanggup.
Menanti Tong Poei Pacu untuk kedua kakinya angkat
ujung bajunya ketengah udara, Si Soat Ang baru menjerit
keras, entah dari mana datangnya tenaga mendadak ia
menggelinding di-atas tanah, menggelinding sekuat tenaga
menerobosi semak belukar.
Tentu saja sekalipun ia menggelinding sampai didalam
semak sekalipun tak akan bisa meloloskan dari kejaran
Tong Poei Pacu, akhirnya ia bakal kecandak dan mati di
tangan si iblis.
Namun pada saat itulah mendadak terdengar gelak
tertawa yang sangat aneh berkumandang datang dari
tempat kejauhan, gelak tertawa itu bergerak cepat sekali,
dalam sekejap telah berada didekat mereka.
Diikuti sesosok bayangan manusia meloncat datang
dengan sebatnya.
Si Soat Ang yang berhasil menggelinding ke dalam
semak segera tentramkan hatinya dan menengok ke depan,
ia dapat melihat jelas orang yang barusan munculkan
dirinya bukan lain adalah musuh bebuyutan yang paling ia
benci, dia lah simanusia yang punya wajah mirip monyet
Hiat Goan Sin-koen adanya.
Kemunculan Hiat Goan Sin-koen sungguh berada diluar
dugaan Soat Ang, seandainya manusia monyet ini tidak
mengejar Loei Sam, dan kebetulan Loei Sam berada
dibenteng Thian It Poo, benteng miliknya akan tetap ramai
dan jaya, tentu saja jiwanya tidak akan terancam seperti ini
hari.
Hiat Goan Sin-koen berdiri membelakangi Soat Ang,
tampak ia mundur dua langkah kebelakang setelah tiba
disana, mungkin pada waktu itu simanusia monyet tersebut
sudah melihat jelas siapakah yang berada dihadapannya.
Haruslah diketahui walaupun Hiat Goan Sin-koen
termasuk sebagai jago yang amat lihay, namun
kedudukannya masih terpaut jauh kalau dibandingkan
dengan Tong poei Pa-cu.
Tidak aneh kalau manusia monyet itu sangat terperanjat
setelah diketahui olehnya gembong iblis nomor wahid yang
ditakuti semua jago sedang berdiri dihadapannya, setelah
mundur dua langkah kebelakang ia tertawa serak tegurnya:
"Eeeei... sungguh aneh sekali, ini hari tanggal berapa sih
? masa begitu banyak jago lihay yang berkumpul disini ?
mungkinkah ditempat ini akan diselenggarakan suatu
pertemuan puncak para jago Bu lim ?"
"Apa maksud Sin-koen berkata begini ?" jengek Tong
poei pacu sambil mengangkat bahu, "Apakah kaupun
merasa dirimu terhitung seorang jago lihay ?"
Seandainya perkataan ini diucapkan orang lain mungkin
simanusia monyet ini sudah mencak2 kegusaran, namun
lain halnya kalau perkataan ini meluncur keluar dari bibir
Tong poei Pacu walaupun dalam hati sangat mendongkol,
ia tak berani banyak berkutik.
"Haa... haa... haaa... tentu saja aku bukan jago lihay"
sahutnya diiringi tertawa paksa "Maksudku disini masih
ada jago2 lihay lain nya.”
"Haaa . . . haaa kecuali aku seorang, benarkah dikolong
langit masih ada jago yang lebih lihay dari pada diriku."
Sungguh sombong orang ini, namun tak bisa disalahkan
kalau kita tinjau dari kedahsyatan ilmu silat yang
dimilikinya.
Hiat Goan Sin-koen tarik napas panjang, dengan sangat
hati2 ia menjawab.
"Mungkin, sebab aku lihat Si Thay sianseng dari gunung
Go bie pun berada disekitar sini!"
Mendengar nama orang itu, air muka Tong poei Pacu
berubah hebat.
Namun perubahan itu hanya berlangsung dalam sekejap
mata, diikuti air mukanya kembali seperti sedia kala.
"Ooouw , . jadi Si Thay sianseng pun berada disekitar
ini?" jengeknya dengan alis berkerut.
Ucapan ini diutarakan disertai tenaga lwee-kang yang
dahsyat suaranya nyaring dan lantang sukar dilukiskan
dengan kata2, entah sampai berapa jauh suara itu
berkumandang namun jelas dan diketahui oleh siapapun,
perkataan itu jelas sengaja ditujukan kepada Si Thay
sianseng. Seandainya Si Thay sianseng ada disekitar sana ia
tentu akan mendengar suaranya.
Sedikitpun tidak salah, belum lama suaranya sirap dari
tempat kejauhan berkumandang datang suara yang tidak
kalah lantangnya:
"Tong poei sianseng, bagaimana keadaanmu sejak
perpisahan ?"
Suara itu nyaring namun amat rendah, sewaktu
menembusi lubang telinga terasa nyaman dan enak.
Pada mulanya suara itu bergema dari tempat yang sangat
jauh, tapi dalam sekejap mata suara berada dekat sekali
diikuti terdengar ujung baju tersampuk angin, dari balik
hutan muncul sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.
Perawakan orang itu boleh dikata seimbang dengan
Tongpoei Pa-cu, sama2 tinggi besar dan penuh berotot,
hanya usianya telah mencapai enam puluh tahunan, ia
memakai baju warna abu2 dengan ditangannya mencekal
sebuah tongkat terbuat dari pualam putih.
Diatas wajahnya sudah penuh berkeriput namun masih
memancarkan cahaya yang tajam, setibanya dikalangan ia
segera menjura kearah Tongpoei Pacu.
"Si Thay sianseng, apakah bocah itu masih berada di
tangan mu ?" tegur Tong poei Pacu segera setelah balas
memberi hormat.
Si Thay sianseng tidak menjawab, ia menghela napas
panjang dan berpaling kearah Hiat Goan sin-koen.
Walaupun Hiat Goan Sinkoenpun mendengar dari
pembicaraan kedua orang tokoh Bu-lim itu seakan2
terselimut tabir rahasia, namun ia tak tahu apa maksudnya,
menanti Si Thay sianseng berpaling kearahnya, manusia
monyet ini baru sadar tentunya kedua orang tokoh silat ini
tidak ingin dia ikut serta mendengarkan pembicaraan itu.
Karenanya buru 2 ia berseru.
"Aku datang kemari untuk mencari si bongkok sakti yang
berangasan maaf tak bisa menemani lebih jauh selamat
tinggal."
Sembari berkata selangkah demi selangkah dan mundur
kebelakang, baru mundur beberapa langkah ia sudah berada
ditengah semak dimana Si Soat Ang menyembunyikan diri.
Melihat manusia monyet itu mundur kearah nya, buru2
gadis itu merangkak kesamping dengan maksud
menghindar.
Namun sayang tindakannya terlambat satu langkah, Hiat
Goan Sin-koen telah menemukan adanya manusia ditengah
semak, dengan cepat ia berpaling sewaktu dilihatnya orang
itu adalah Si Soat Ang, ia rada tertegun kemudian tertawa
aneh.
"Aaah, kiranya kau!" Sambil berkata tangannya bergerak
cepat mencengkeram bahu gadis itu dan diangkatnya dari
dalam semak.
Air muka Si Soat Ang pucat pasi bagaikan mayat,
giginya saling beradu dengan kerasnya, ia sangat ketakutan:
"Aaah, sungguh sempit jalan didalam dunia ini,
dimanapun kita selalu berjumpa" jengek Manusia Monyet
itu sambil mendengus sinis, "Ada seorang sahabat karibmu
ingin berjumpa denganmu."
"Siapakah . . kedua orang itu?"
Belum sempat Kiat Goan Sin-koen menjawab mendadak
si Thay sianseng menegur: "Hiat Goan heng, harap suka
melepaskan nona cilik itu."
Simanusia monyet tertegun, kemudian dengan cepat
serunya:
"Tapi Si Thay sianseng, kau tidak tahu perempuan ini,
dia . ."
"Hiat Goan heng!" kembali Si Thay sianseng menukas
dengan sepasang alis berkerut. "Kau adalah seorang tokoh
Bu lim yang sudah kenamaan, mengapa sikapmu begitu
kasar terhadap seorang nona cilik? ayoh cepat lepaskan."
Air muka Hiat Goan Sin koeo berubah beberapa kali,
akhirnya lepas tangan juga meskipun demikian dengan
gemas ia melotot sekejap ke arah Si Soat Ang.
"Ayoh jalan, kan harus ikuti diriku pergi dari sini"
teriaknya.
"Aku, kenapa harus pergi mengikuti dirimu" tanya gadis
itu dengan napas ter engah2
Setelah dibebaskan oleh Si Thay sianseng dari kesulitan,
nyali perempuan ini semakin berani, bahkan terhadap
simanusia monyet pun ia berani membangkang.
Kontan saja simanusia monyet Hiat Goan Sin koen
mencak2 kegusaran sambil tertawa dingin teriaknya:
"Engkoh misan mu Liem Hauw Seng berada tidak jauh
dari sini, apakah kau tak ingin ber jumpa dengan dirinya?
bukankah kau ingin bertemu dengan bekas kekasih mu itu?"
Nyali Si Soat Ang besar, ia ingin membantah namun
mendengar nama "Liem Hauw Seng" seluruh tubuhnya
gemetar.
Sejak ia melewati perbatasan tak diingat lagi sama Giok
Jien maupun Liem Hauw Seng, sebab menurut dugaannya
kedua orang itu mati ditengah badai salju. Namun sekarang
secara mendadak ia dapat kabar, bukan saja Liem Hauw
Seng belum mati bahkan berada disekitar sana, hatinya jadi
kaget. air mukanya berubah hebat dan tak sepatah katapun
bisa diucapkan.
Kembali terdengar Hiat Goan Sin-koen tertawa dingin.
"Kau tentu menganggap mereka berdoa sudah mati
bukan ? kau anggap nona Giok Jienpun sudah mati bukan ?
namun kenapa kau tak pernah berpikir, perduli kau sudah
menyiksa, menganiaya dan mencelakai mereka dengan cara
apapun, asalkan mereka berhasil menjumpai diri ku, maka
jiwanya bisa diselamatkan ?"
Si Soat Ang tertawa getir, pikirnya:
"Aaaah... sungguh sialan, kenapa aku tidak berpikir
sampai disitu."
Karena tak bisa bicara, ia terpaksa membungkam.
"Hiat Goan, sungguh besar omongmu !" tiba2 Tong Poei
pacu mengejek dari samping. Air muka Hiat Goan Sin koeo
berubah hebat, ia sangat jengah, segera manusia monyet ini
mendengus dingin.
"Tong-poei sianseng" Si Thay sianseng-pun buka suara.
"Aku dengar orang bilang, kau munculkan diri disekitar sini
maka sengaja aku datang kemari untuk mencari dirimu,
bagaimana kalau kita menyingkir untuk membicarakan
sesuatu ?"
Sepasang alis Tong poei Pacu seketika berkerut.
"Kiranya Si Thay sianseng datang kemari untuk mencari
aku, apakah dikarenakan bocah itu..."
Belum habis ia berbicara, Si Thay sianseng telah ber
batuk2, tentu saja maksudnya jelas sekali ia minta agar
manusia she Tong-poei itu tidak meneruskan kata2nya.
"Benar, memang sudah terjadi satu peristiwa" sahut Si
Thay sianseng kemudian.
Tong poei Pacu mendengus dingin, ia berpaling dan
melotot sekejap kearah Si Soat Ang kemudian tertawa
dingin. setelah itu sastrawan itu baru putar badan dan
mengikuti Si Thay sianseng berlalu dari sana.
Ilmu meringankan tubuh kedua orang tokoh silat ini
amat lihay sekali, dalam sekejap mata mereka sudah lenyap
dari pandangan.
Menanti kedua orang tokoh itu sudah berlalu Hiat Goan
Sin-koen bisa bekerja lebih leluasa, sekali cengkeram
kembali ia tangkap bahu Si Soat Ang kemudian diangkat
keatas.
Sesaat Tong poei Pacu meninggalkan tempat itu, ia
melototi sekejap kearahnya, Si Soat Ang segera mengerti
iblis itu sudah memberi peringatan kepadanya agar jangan
bicara, kalau tidak niscaya jiwanya akan dicabut.
Namun, kendati Tong poei Pacu telah berlalu, kembali ia
ditangkap oleh Hiat Goan Sin-koen, posisinya sangat tidak
menguntungkan sekali.
Dengan sekuat tenaga ia meronta, namun jari2 tangan si
manusia monyet yang kurus dan panjang itu masih
mencekal diatas bahunya kencang-kencang, hal ini
membuat tulangnya serasa mau patah! keringat sebesar
kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.
"Kau suka ikut aku tidak ?" hardiknya keras.
Si Soat Ang terperanjat, sebelum ia sempat menjawab,
mendadak terdengar desiran angin tajam berkumandang
datang, didalam hutan itu kembali muncul dua sosok
bayangan manusia.
Ditengah rasa terkejut Si Soat Ang berpaling sekejap
kearah mereka berdua, ia temukan salah satu diantaranya
adalah seorang kakek kurus kering sedang yang lain adalah
lelaki tinggi kekar.
"Jie-ko !" tiba2 terdengar lelaki kekar itu meraung keras.
Sambil berteriak lelaki itu memandang kearah jenazah Tjoei
Pian Thian dengan mata mendelong, setelah itu ia meloncat
kedepan langsung menubruk kearah Hiat Goan Sio koen si
manusia monyet.
Tubrukan ini sangat dahsyat, angin serangan men deru2,
seakan2 ia ada maksud membinasakan musuhnya dalam
satu kali serangan.
Serangan itu langsung mengancam dada Hiat Goan Sin-
koen, melihat datangnya hantaman ini. ia segera berteriak:
"Hey Huang Loo Sam apa2an kau ini ?"
Tak usah Hiat Goan Sinkoen membentak. Si Soat Ang
pun sudah tahu kedua orang itu pastilah kedua anggota dari
Tiong tiauw Sam Yu si kakek pengail Seng Lok serta
sikepalan baja Huang Seng.
Dalam pada itu sambil membentak keras Hiat Goan Sin
koen tiba2 menyingkir kesamping.
Gerakan ini berhasil menyelamatkan dirinya dari jotosan
Huang Seng, namun jurus serangan orang itu aneh sekali,
tangan kanan tidak mengenai sasaran, kepalan kiri segera
berputar kencang dan meluncur kembali kedepan, dari arah
kiri menuju kekanan mengancam tubuh Hiat Goan Sin-
koen dari arah samping.
Hiat Goan Sia koen menjerit aneh, kelima jari-2 nya
mengendor, ia lepaskan dulu cengkeramannya pada Si Soat
Ang kemudian baru membalik telapaknya balas menabok
dada Huang Seng, gerakan ini memaksa si kepalan baja ini
terpaksa tarik serangan sambil meloncat mundur.
"Toako, kenapa kau belum jaga turun tangan" Teriaknya
keras2.
Sambil berkata kepalannya kembali melancarkan empat
buah serangan berantai.
"Sam-te, kita harus bertanya dulu sampai jelas kemudian
baru turun tangan !" sahut sikakek pengail Seng Lok.
"Apanya yang perlu ditanya lagi ?"
Sang badan menubruk kedepan "Bruuk...!" dengan telak
serangannya bersarang dibahu Hiat Goan Sin koen, jelas
simanusia monyet ini ada maksud membiarkan dirinya
terhantam.
Sebab Hiat Goan Sin koen sendiripun tahu Tiong Tiauw
Sam yu adalah manusia luar biasa sekalipun ia tidak takut
seumpama rekening atas matinya Tjioe Pian Thian tercatat
atas namanya. kerepotan dikemudian hari akan banyak
sekali.
Oleh sebab itu ia berharap bisa menguasai Huang Seng,
kemudian menjelaskan duduknya persoalan, siapa sangka
Huang Seng sudah kalap dalam keadaan seperti ini terpaksa
simanusia monyet itu harus menerima kerugian dan biarkan
bahunya dihantam sekali.
oooOdwOooo

BAB 8
MAKSUDNYA setelah kepalan Huang Seng bersarang
ditubuhnya ia pasti agak merandek, dengan ambil
kesempatan itu simanusia monyet ini akan memberi
penjelasan.
Siapa sangka Huang Seng bergelar si "Kepalan baja".
didalam permainan kepalannya ia sangat hebat bahkan
memiliki kekuatan yang luar biasa.
Serangan yang bersarang dibahu Hiat Goan Sin koen itu,
meski tidak sampai mengakibatkan luka, cukup membuat ia
mundur beberapa langkah kebelakang dengan
sempoyongan.
Begitu ia mundur, Huang Seng kembali menjerit keras,
kepalannya yang gede dijotos kedepan dengan dahsyatnya,
angin pukulan kembali men-deru2. Bersamaan itu pula dari
tengah udara menyambar lewat serentetan suara yang aneh,
dalam keadaan repot Hiat Goan Sin-koen mendongak.
Tampakah seutas benang2 yang tipis bagaikan rambut
dengan membawa sebuah mata kail yang bersinar
keperak2an telah menyambar datang mengancam
wajahnya.
Hiat Goan Sin koen bukan manusia sembarangan,
sekilas pandang ia segera tahu itulah senjata paling aneh,
senjata kail emas yang digunakan sikakek pengail Seng Lok.
Ditinjau dari sikap mereka jelas kedua orang itu sudah
menganggap dirinya pembunuh dari elang ditengah mega
Tjioe Pian Thian.
Berada dalam keadaan seperti ini, sulit buat manusia
monyet ini, untuk membantah dengan cepat ia
memperendah badannya, lengan yang luar biasa panjang
segera menekan keatas permukaan tanah.
Dengan memperendah badannya, dua kepalan Huang
Seng berhasil dihindari diikuti tangannya menekan tanah.
Weees kaki kirinya mengirim sebuah tendangan memaksa
orang she Huang itu mundur selangkah kebelakang.
Ambil kesempatan itu, badannya segera mental ketengah
udara, dan bersalto beberapa kali.
Gerakan ini sangat indah dan cepat, "Sreeeeet"
pancingan emas dari Seng Lok tahu2 menyambar lewat
hanya beberapa depa didepannya.
Berada ditengah udara, Hiat Goan Sin-koen kembali
berteriak keras.
"Neneknya... maknya... Hey, kalian sudah salah
menuduh?"
Namun jenasah Tjioe Pian Thian jelas masih
menggeletak disana, berada dalam keadaan seperti ini sulit
buat Hiat Goan Sin koen untuk membantah, belum selesai
ia bicara terangan dari Seng Lok serta Huang Seng kembali
meluncur datang.
Si Soat Ang berdiri disisi kalangan, menonton jalannya
pertempuran dengan hati berdebar ia berdiri mematung
disana,
Menanti ketiga orang itu sudah bertarung beberapa saat,
ia baru teringat akan sesuatu, kalau tidak lari sekarang, mau
tunggu sampai kapan lagi ?
Buru2 ia putar badan dan menerobos kedalam semak,
tidak perduli bajunya terkait duri... ia menerobos dan
menerobos terus sehingga jauh dari kalangan pertarungan,
keadaannya saat itu mengenaskan sekali.
Ia tidak berhenti, lari beberapa li dengan cepat dilalui
sampai akhirnya ia kehabisan napas dan berhenti sendiri.
Sungai nan tenang terbentang didepan mata, ia tak kuat
menahan diri, segera gadis itu menerobos kedepan siap
terjunkan diri kedalam air.
Tiba2 . . , ia temukan disamping sungai duduk dua
orang.
Melihat ada manusia disana, Si Soat Ang segera
berhenti. buru2 ia bersembunyi dibelakang batu dan
mengintip kedepan.
Kedua orang itu duduk membelakangi dirinya mereka
duduk diatas sebuah batu besar ditepi sungai satu laki dan
satu perempuan yang gadis waktu itu sedang merebahkan
diri dalam pangkuan sang pemuda, sikapnya amat intim
sekali dan mesra, sekilas pandang Si Soat Ang merasakan
bayangan punggung muda mudi ini sangat dikenal olehnya,
sebelum ia ingat kembali siapa kah mereka terdengar gadis
itu telah buka suara dan berkata:
"Engkoh Hauw Seng, kau lihat si bongkok Pak li mau
menerima kita tidak?"
"Engkoh Hauw Seng " tiga patah kata ini seketika
membuat Si Soat Ang tertegun kepalanya kontan terasa
pusing tujuh keliling dikala mendengar percakapan mereka.
Tidak aneh kalau ia merasa bayangan punggung kedua
orang ini sangat dikenal, ternyata sang pemuda adalah
engkoh misannya Liem Hauw Seng.
Dalam detik itu juga, Si Soat Ang kaget, benci, iri dan
gusar sepasang kepelannya diremas2 pikirannya amat
kacau, terdengar Liem Hauw Seng berkata:
"Giok Jien, aku lihat ia pasti mengabulkan permintaan
kita, menurut Hiat Goan Sin koen, dia sangat cocok dengan
sibongkok itu, aku rasa harapan kita tentu bisa terpenuhi
kau boleh berlega hati."
"Aaaa... aku sungguh tidak paham mengapa ia sendiri
tak mau terima kita sebagai murid?"
"Aku rasa dia berbuat demikian dengan maksud baik ia
tahu pamornya kurang baik dalam dunia persilatan dia
termasuk tokoh lihay dari aliran sesat. ia takut kita salah
ambil jalan, maka dari itu tak mau menerima kita sebagai
murid."
"Dia adalah jago dari kalangan sesat, namun justru
dialah yang menolong kita, dia bukan seperti orang jahat!"
Agaknya Liem Hauw Seng dibuat bungkam oleh
perkataan itu, setelah lama sekali termangu-mangu ia baru
berkata kembali.
"Mungkin juga ia berbuat demikian karena dahulu
pernah mengikat tali persahabatan dengan ayahku,
berhubung dia adalah sahabat ayahku maka setelah
mengetahui siapakah aku, dia lantas turun tangan
membantu kalau tidak, mungkin ia hanya berpeluk tangan
belaka. Lagipula dia datang kebenteng Thian It Poo karena
mencari orang, sedangkan yang mencelakai kita adalah
putri kesayangan dari Thian It Poocu maka dari itu ia suka
menolong kita."
Si Soat Ang bersembunyi dibelakang batu hanya
beberapa tombak dari mereka berdua, apa yang dibicarakan
Liem Hauw Seng dengan Giok Jien dapat didengar jelas
sekali oleh Si Soat Ang walaupun suara mereka tidak keras.
Sewaktu ia mendengar Liem Hauw Seng menyebut
dirinya sebagai putri Thian It Poocu, hatinya amat sakit
seakan2 ditusuk oleh seribu batang anak panah. Dia
memang tak salah putri kesayangan dari Thian It Poocu
namun Liem Hauw Seng adalah engkoh misannya, tidak
pantas kalau orang sendiripun menyebut demikian
kepadanya.
Atau dengan perkataan lain, ucapan itu membuktikan
kalau dalam hati pemuda itu sudah tidak menganggap dia
sebagai saudaranya lagi.
Sejak mengetahui sepasang muda mudi yang bermesraan
adalah Liem Hauw Seng dengan Giok Jien, gadis she Si
telah cemburu dan benci saat ini napsu benci dan irinya
semakin berkobar
Per-lahan2 ia tarik napas panjang, timbul niat untuk
unjukkan diri dan kasi pelajaran kepada kedua orang itu.
Sebelum maksudnya tercapai kembali terdengar Giok
Jien berkata: "Ayahmu bersahabat erat dengan Hiat Goan
Sio-koen, kalau begitu ayahmu juga termasuk tokoh silat
dari aliran sesat ?"
"Tentu saja bukan, seandainya ayahku adalah tokoh silat
dari aliran sesat, Hiat Goan Sin koen sudah menerima kita
sebagai muridnya sejak semula, justru ia tak mau menerima
kita berhubung separuhnya untuk menyelamatkan pamor
ayahku."
Se akan2 tidak mengerti yang dimaksudkan, Giok Jien
bertanya: "Bukankah ayahmu sudah meninggal, buat apa
masih membicarakan soal pamor lagi ?"
"Aaaai ! menurut cengli perkataanmu memang tidak
salah namun orang-orang Bu lim tak seorangpun paham
akan persoalan ini, demi mendapat sedikit nama kosong,
bahkan tidak sayang mengorbankan jiwa sendiri Aai.."
Giok Jien tidak buka suara lagi, ia menyandarkan
tubuhnya makin rapat diatas badan Liem Hauw Seng,
sementara pemuda itu rentangkan tangannya dari belakang
punggung gadis itu dan memeluknya erat2.
Si Soat Ang menanti sejenak. tidak terdengar kedua
orang itu bicara lagi ia segera bangun berdiri dan tertawa
dingin.
Gelak tertawa dingin ini seketika menggetarkan tubuh
Liem Hauw Seng serta Giok Jien berdua mereka segera
berpaling.
Menanti kedua orang itu tahu kalau orang yang berdiri
dibelakang mereka adalah Si Soat Ang, rasa tercengang tak
kuasa menahan diri, pertama-tama Giok Jien mendengus
lebih dahulu diikuti Liem Hauw Seng berseru tawar:
"0ouw.. kiranya kau !"
Si Soat Ang amat benci. namun ia cukup licik, rasa
bencinya tidak sampai diunjukkan pada wajahnya, sambit
tertawa segera tegurnya.
"Hey engkoh Hauw Seng, sungguh tak disangka kembali
kita bertemu disini !"
Jilid 9 Halaman 39/40 Hilang
Si Soat Ang segera menunjukkan wajah penuh senyum
manis.
"Aaaah... aku hanya ingin berbicara sebentar dengan
Giok Jien." katanya halus "Aku ingin beritahu asal usulnya
kepada Giok Jien, kenapa sih kau ngambek macam itu ?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan kontan jantung Giok
Jien dag dig dug.
"Siotjia, asal usulku, kau , , apakah kau tahu?" serunya.
"Giok Jien, jangan dengarkan omongannya." buru2
Liem Hauw Seng berseru.
Si Soat Ang segera tertawa dingin, mendadak ia angkat
jarinya menuding kelangit dan angkat sumpah: "Seandainya
aku Si Soat Ang tidak tahu asal usul Giok Jien yang
sebenarnya, atau saat ini aku sedang bicara ngaco belo,
Thian akan mengutuk aku dan membinasakan diriku
dengan sambaran geledek !"
Secara tiba2 Si Soat Ang angkat sumpah yang begitu
berat, kontan Liem Hauw serta Giok Jien berdiri tertegun.
Menuding kelangit angkat sumpah, hal ini bukan suatu
permainan biasa, sekalipun Liem Hauw Seng sadar dibalik
ucapan liu pasti tersembunyi siasat lain, kali ini dibikin
kebingungan juga.
Giok Jien semakin percaya lagi dibuatnya, namun gadis
ini tidak berani maju kedepan, sambil memandang kearah
Liem Hauw Seng serunya:
"Engkoh Hauw Seng..."
Dengan cepat Liem Hauw Seng rentangkan tangannya
menghalangi gadis itu maju kedepan, serunya:
"Kalau kau tahu asal usul dari Giok Jien. Nah cepat
katakan !"
"Tahu atau tidak itu urusanku, dan mau bicara atau tidak
terserah kepadaku, kalau kau tidak biarkan Giok Jen datang
kemari. akupun tidak akan bicara" kata Si Soat Ang sambil
tertawa.
"Kurang ajar, jangan harap kau bisa mencelakai Giok
Jien" teriak Liem Hauw Seng gusar.
Si Soat Ang tidak menggubris, per-lahan2 ia putar badan
dan berkata:
"Giok Jien lebih baik kau ambil keputusan sendiri asal
usulmu sangat luar biasa dan tak mungkin bisa kau
dapatkan dengan akal sehatmu. Seandainya sekarang tak
mau tahu, ya sudahlah, selama hidup jangan harap aku
suka beritahu kepadamu."
"Siocia tunggu sebentar, aku.,.aku datang !"
"Kau..."
Namun pemuda she Liem ini tak sanggup meneruskan
kata2nya, sebab pada waktu itu Giok Jien sedang
memandang kearahnya penuh permohonan, titik2 air mata
membasahi wajahnya tambah mengenaskan hatinya yang
halus.
Liem Hauw Seng mencekal tangan gadis itu erat2,
ujarnya kembali:
"Giok Jien kau tak boleh kesana, sekalipun kau ingin
mengetahui asal usulmu, kenapa harus gelisah? akhirnya
kau bakal tahu sendiri".
Giok Jien benar2 seorang gadis yang penurut mendengar
ucapan ini ia menghela napas.
"Aai... baiklah aku menuruti perkataanmu," Melihat
siasatnya gagal Si Soat Ang teramat gusar, kontan ia
tertawa dingin.
"Giok Jien kau anggap aku masih ada maksud untuk
mencelakai dirimu, kalau kau memang sudah begitu baik
terhadap Hauw Seng baiklah selalu kepadanya, Hmm!
kiranya kau sudah anggap aku seperti barang sampah?"
"Hmm! perduli apapun yang hendak kau ucapkan, aku
tidak akan perkenankan Giok Jien mendekati dirimu."
"Baik, bagus, kiranya kaupun sudah anggap aku seperti
kalajengking, seperti ular berbisa."
Teriak Si Soat Ang marah2, air mukanya berubah hijau
membesi, "Haa . . haa . . sungguh sayang Giok Jien tak
tahu siapa ayah dan ibunya, kalian harus tahu, kedua orang
tuanya sangat membantu dirinya."
"Aku tak percaya kau punya liang sim yang begitu baik !"
Setelah mendengar perkataan itu, sadarlah Si Soat Ang,
kendati ia banyak bicara pun percuma, sebab Liem Hauw
Sang sudah amat jelas memahami watak maupun akal licik
nya, ia lantas putar otak cari akal lain. tiba2 ia mendengus.
"Hmmm! baiklah, kalau kalian tak mau percaya,
sudahlah selamat tinggal" Tanpa banyak bicara lagi ia putar
badan dari kedua orang itu.
"Siocia, tunggu!" melihat Si Soat Ang berlalu, dengan
hati cemas Giok Jen berseru.
Si Soat Ang terus berkelebat ke depan, kurang lebih
sudah lewat beberapa tombak jauhnya ia baru berhenti dari
berpaling.
"Apa gunanya aku menanti lebih lama ? apakah tak takut
dicelakai olehku?"
"Siocia berbuatlah kebajikan dan beritahu kepadaku,
siapakah orang tuaku yang sebenarnya?" rengek Giok Jien.
"Lebih baik kau tanya sendiri pada Liem Hauw Seng"
sahut Si Soat Ang sambil menggeleng. "Bagaimanapun
kalian sudah anggap aku orang jahat selama hidup banyak
melakukan kejahatan, dan tak pernah berbuat baik, apa
gunanya kau merengek dan mohon kepadaku ?"
Muncul selintas perasaan sangat menderita di atas wajah
Giok Jien, perubahan ini membuat Liem Hauw Seng pun
ikut bersedih hati, Buru2 ia cekal tangan gadis itu sambil
menghibur:
"Giok Jien kau tak usah berduka, seandainya orang
tuamu adalah tokoh silat kenamaan maka cepat atau lambat
asal usulmu bakal kau ketahui juga"
"Aaai...semoga saja begitu !" Melihat Giok Jien begitu
menuruti perkataan Liem Hauw Seng, bahkan sampai2
gadis itu rela melepaskan niatnya untuk mengetahui asal-
usul sendiri Si Soat Ang jadi jengkel, kembali rencananya
gagal total.
Sambil tertawa dingin dan menahan hawa gusar yang
ber-kobar2, ia enjot badannya dan berkelebat pergi.
Meskipun dalam keadaan seperti ini, ia lebih
mementingkan melarikan diri daripada ketangkap Tong-
poei Pacu atau Hiat Goan Sin koen.
Namun rasanya benci dalam hatinya melupakan
kesemua itu, ia lebih suka menemui bahaya dan pada
melepaskan Liem Hauw Seng Giok Jien ber-mesra2an
dengan damai.
Oleh karena itulah tidak jauh ia berlalu dengan cepat
badannya berkelebat menerobosi semak belukar dan
bersembunyi disitu setelah di tunggu sebentar dan tidak
kedengaran ada suara yang mencurigakan, dengan
mengendap2 dan gerakan sangat hati2 ia merangkak maju
mengitari hutan dan balik lagi ketepi sungai, kemudian
bersembunyi di belakang sebuah batu besar.
Liem Hauw Seng serta Giok Jien menganggap Si Soat
Ang telah pergi, mereka tetap duduk di tepi sungai dengan
hati lega, mereka tidak menyangka kalau Si Soat Ang justru
telah muncul dan bersembunyi dibelakang mereka.
Walaupun Si Soat Ang ada dibelakang mereka, namun ia
tahu pada saat ini Giok Jien tentu amat bersedih hati, gadis
tundukkan kepalanya dengan mulut membungkam
sementara Liem Hauw Seng menghibur dengan kata2 lirih.
Si Soat Ang sangat mendongkol per lahan2 ia merogoh
kedalam sakunya melepaskan sebilah pisau belati, setelah
dicekal erat2 sambil2 ia merangkak kedepan, dan melihat
berapa jaraknya saat ini tinggal beberapa tombak
dibelakang mereka berdua, asalkan pisau belati itu dilempar
kedepan dengan segenap tenaga niscaya salah satu diantara
mereka berdua akan mati terbunuh.
Tentu saja kalau dia ingin serangannya mengenai
sasaran, ia harus mengincar Giok Jien, sang gadis yang
ilmu silatnya rada rendah. Ke dua, saat inipun gadis itu lagi
melamun, dalam keadaan tidak bersiap siaga lebih mudah
dibokong.
Setelah mengambil keputusan Si Soat Ang gigit bibir, ia
cekal pisau belati itu kencang2 kemudian ayun tangannya
keatas.
Ia hendak menggunakan segenap tenaga yang
dimilikinya untuk melemparkan pisau belati ini, maka ia
ayun tangannya sampai dibelakang punggung.
Tetapi... baru saja tangannya siap diayun kedepan tiba2
pergelangan tangannya serasa jadi kencang sekali, seakan2
dijepit oleh jepitan besi dari arah belakang, tangannya yang
siap melemparkan pisau belati itu tak dapat berkutik. Si
Soat Ang amat terperanjat, tak tertahan lagi ia menjerit
keras.
Teriakan ini mengagetkan Liem Hauw Seng serta Giok
Jien yang sedang dibuat oleh lamunan, mereka segera
berpaling.
Dalam pada itu bukan saja pergelangan tangan Si Soat
Ang kena ditangkap orang, bahkan saat ini seluruh
badannya diangkat ketengah udara.
Kelima jari tangannya tak kuat mencekal pisau belati itu
lagi. "Traang ." tak kuasa senjata tajam itu terjatuh keatas
tanah.
Ingin sekali Si Soat Ang berpaling untuk melihat
siapakah yang mencekal dirinya, namun lehernya telah
ditangkap pula, dalam keadaan seperti ini tak sanggup bagi
gadis itu untuk putar kepala.
Namun, sekalipun tak usah berpaling iapun tahu
siapakah manusia yang menangkap dirinya saat ini, sebab
Lien Hauw Seng serta Giok Jien yang berpaling sedang
berseru hampir berbareng:
"Aaaah . . . Hiat Goan Cianpwee !"
Seluruh tubuh Soat Ang bergidik, untuk sesaat ia tak
tahu apa yang harus diucapkan ia mengerti nasibnya bakal
jelek, sebab untuk kesekian kakinya perbuatan kejinya
terbongkar oleh simanusia monyet itu.
Mendadak... dari tempat kejauhan berkumandang
datang suara aneh.
Suara aneh itu se akan2 muncul dari dalam sungai, suara
itu begitu aneh seakan2 teriakan manusia, namun mirip
pula suara binatang buas, mirip pula seperti jeritan ngeri
atau nyanyian merdu, pokoknya sangat aneh sehingga
mendatangkan rasa seram ngeri dihati semua orang.
Dengan cepat suara aneh itu bergema makin dekat,
diikuti permukaan air sungai bergolak keras, semprotan air
setinggi beberapa tombak menciptakan suatu pandangan
yang aneh.
Dalam sekejap mata muncullah seseorang dari dalam
sungai itu, gerakannya amat cepat sambil berlari orang itu
memperdengarkan jeritan aneh, sepasang tangannya
menghantam permukaan sungai keras2, untuk sesaat sulit
baginya setiap orang untuk mengenali siapakah sebenarnya
manusia yang ada didalam sungai itu.
Terhadap munculnya manusia aneh ini semua orang
berdiri tertegun, tak seorangpun buka suara, semuanya
memandang kearah sungai dengan mata terbelalak serta
mulut melongo, semua orang dibikin berdiri menjublek.
Akhirnya Hiat Goan Siu koen tak dapat menahan diri
lagi ia segera menghardik keras:
"Heh, siapa kau?"
Bentakan ini segera mendatangkan reaksi, orang itu
berhenti bergerak dan airpun tidak kelihatan lagi mencelat
keempat penjuru, diikuti muncullah seorang perempuan
dengan rambut awut2an, seluruh badan basah kuyup
wajahnya kurus bagaikan mayat, bermata melotot dan
mulut menyeringai sehingga kelihatan sebaris giginya yang
putih.
Dia bukan lain adalah Ciang oh simanusia tengkorak?
Hiat Goan Siu koen pernah bertarung melawan Ciang
Ooh sewaktu ada dibenteng Thian It Poo tempo dulu, maka
sewaktu bertemu dengan si manusia tengkorak ini, hatinya
langsung mencelos.
Dalam pada itu Ciang Oh telah bangun berdiri dengan
pandangan bodoh ia menatap berapa orang dihadapannya,
kemudian sambil bermain air ia mulai menyanyi.
Ciang Ooh adalah gadis Biauw, apa yang di nyanyikan
tak seorangpun yang paham tapi bisa diduga tentulah lagu
yang dinyanyikan gadis2 suku Biauw sewaktu bermain air.
Kalau lagu ini dibawakan oleh seorang gadis cantik
dengan suara merdu, pemandangan waktu itu pasti amat
mempesonakan tapi saat ini bukan saja wajah Ciang Ooh
amat seram bahkan suaranya serak lagi parau, membuat
orang jadi bergidik dan bulu roma pada bangun.
Tiba2 Ciang Ooh berhenti menyanyi.
Liem Hauw Seng segera berseru:
"Hiat Goan cianpwee, perempuan sinting ini patut
dikasihani jangan kita susahkan dirinya."
"Kau anggap aku bisa menyusahkan dirinya ?" Seru Hiat
Goan Sin Koen sambil tertawa getir. "ilmu silatnya sangat
lihay, boleh terhitung luar biasa sukar dijajaki? jangan
dikata aku tak dapat menyusahkan dirinya, meski Si Thay
sianseng atau Toenghong Pocu pun belum tentu bisa
mengapa-apakan dirinya !"
Ucapan ini segera menggerakkan hati Si Soat Ang. buru2
serunya .
"Ciang Ooh !"
Teriakan ini memancing Ciang Ooh berpaling
kearahnya.
"Ciang Ooh, cepat tolong diriku !" Kembali Si Soat Ang
berseru.
Teriakan ini membuat Hiat Goan Sin Koen melengak,
sebelum ia sempat bertindak sesuatu, dengan gerakan yang
amat cepat Ciang Ooh telah mencelat keluar dari dalam air.
Sungguh dahsyat gerakan tubuhnya, bukan saja
membawa desiran angin tajam bahkan butiran air yang
terbawa oleh badannya segera menyebar keempat penjuru
dengan disertai desiran dahsyat.
Setelah tubuhnya hampir melayang turun di hadapan
Hiat Goan Sin Koen, simanusia monyet ini baru berteriak
keras, telapaknya langsung menghantam tubuh lawan
keras2.
Ilmu telapak Hiat Goan Ciang dari Sin koen boleh
terhitung ilmu telapak tingkat paling atas dalam aliran
hitam, namun Ciang Ooh tetap bersikap tenang bahkan
tidak menggubris dan tidak melirik sekejappun kearah
serangan tersebut.
"Ploook !" dengan telak serangan tersebut bersarang
diatas bahu Ciang Ooh.
Siapa sangka, ketika telapaknya bersarang di atas bahu
itulah tiba2 muncul segulung daya pental yang luar biasa
kuatnya, daya pental ini langsung menumbuk telapak Hiat
Goan Sin koen membuat manusia monyet ini merasa
telapaknya linu dan sakitnya luar biasa, tak kuasa ia tarik
kembali tangannya kebelakang.
Tapi semakin ia tarik tangannya, semakin kuat daya
tekanan tersebut menindih badannya, bahkan cepat tenaga
tekanan tadi mengalir kebahu nya memaksa sang tubuh
tiba2 miring kesamping.
Hiat Goan Sin-koen amat terperanjat, buru2 ia
kendorkan cekalannya pada diri Si Soat Ang dan mundur
selangkah kebelakang.
Dalam perkiraannya dengan mundur selangkah
kebelakang maka tenaga tekanan tersebut akan lenyap tak
berbekas.
Tapi, sungguh luar biasa sekali, tenaga tekanan masih
belum lenyap, daya dorong tersebut tetap mendesak
badannya membuat badan kembali berpusing tiga lingkaran
dengan cepatnya.
Menanti ia dapat berdiri tepak, manusia monyet ini baru
lolos dari pengaruh kekuatan lawan, ia kaget, bingung dan
tercekat, kembali tubuhnya mundur tiga langkah
kebelakang.
Sementara itu Si Soat Ang telah berdiri disamping Ciang
Ooh, kepada perempuan itu ujarnya:
"Ciang Ooh, cepat bawa aku tinggalkan tempat ini !"
"Siapa kau ?" tanya Ciang Ooh seraya berpaling. "Kau
bisa kenali diriku kenapa aku tidak kenal dirimu ?"
"Aku adalah..."
Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa dirinya adalah
Putri dari benteng Thian It Poo, namun sebagai seorang
gadis cerdik ia sadar, berada dalam keadaan seperti ini
Ciang Ooh tentu akan gusar apabila mendengar "Thian It
Poo" bahkan ada kemungkinan ia bisa mati ditangannya.
Maka ia membungkam, otaknya berputar dan akhirnya
berbisik disisi telinganya dengan suara lirih: "Aku. . . aku
adalah putrimu."
Ucapan ini sangat lirih, kecuali mereka berdua tak
seorangpun yang ikut mendengar.
Seluruh tubuh Ciang Ooh tergetar keras, ia menjerit
tertahan lalu mencengkeram sepasang lengan Si Soat Ang
erat2:
Gadis she Si tak menyangka Ciang Ooh bisa mencekal
lengannya begitu keras, jari tangan yang kuat bagaikan baja
dengan kekuatan yang dahsyat hampir2 membuat lengan
gadis itu ter-cekal putus, saking sakitnya ia menjerit keras,
hampiri saja Soat Ang jatuh tidak sadarkan diri.
"Benarkah?" teriak Ciang Ooh dengan sinar mata
bercahaya meski bicara lengannya masih mencengkeram
lengan gadis itu erat2
"Be... benar... cepat kau lepas tangan." teriak Si Soat Ang
dengan napas ter engah2.
Ciang Ooh lepas tangan, tapi sebelum gadis itu mundur
lengannya kembali bergerak memeluk tubuh gadis itu erat2,
dari mulutnya bergumam suara yang aneh, entah apa yang
diucapkan.
Si Soat Ang yang dirangkul, hampir2 susah bernapas, ia
mencium bau busuk dari tubuh perempuan itu, begitu
busuk, begitu memualkan sampai2 gadis itu kelenger dan
hampir jatuh semaput.
Untung pada saat itu Ciang Ooh lepas tangan sambil
bertanya tiada hentinya:
"Sungguhkah ? benarkah ?.,.aah ! sungguhkah? benarkah
?"
Masih banyak yang ia ucapkan, hanya Si Soat Ang ti tak
paham sebab ia berbicara dengan menggunakan bahasa
suku Biauw.
"Tentu saja sungguh!" jawab Si Soat Ang tegas. "Coba
kau pikir yang lain boleh bohong, masa soal inipun aku
ingin membohongi dirimu ?"
Ciang Ooh menjerit histeris, sepasang tangannya
mencekal bahu Si Soat Ang dan mengguncangkan badan
gadis itu keras2, setelah itu menjerit kembali dan akhirnya
memeluk putri Thian It Poocu ini kedalam rangkulannya.
Si Soat Ang benar2 kepingin muntah, tapi ia berusaha
keras untuk mempertahankan diri sebab ia tahu
kesemuanya ini mempengaruhi atas keselamatan jiwanya.
Lama kelamaan Ciang Ooh berhasil tenangkan diri, ia
mendongak dan menatap Hiat Goan Sin koen dengan sinar
mata permusuhan.
Hiat Goan sin koen tak tahu apa yang diucapkan oleh Si
Soat Ang kepada Ciang Ooh.
Tapi menyaksikan sinar mata yang penuh mengandung
permusuhan itu, ia sadar keadaan tidak menguntungkan
dirinya, ia mundur selangkah kebelakang dan siap
menghadapi segala kemungkinan.
Lama sekali Ciang Ooh melototi wajah Hiat Goan Sin
koen, mendadak ia mendengus dan serunya sambil menarik
tangan Soat Ang:
"Mari kita pergi dari sini !"
Tidak menanti jawaban dari gadis itu, ia tarik Soat Ang
berlalu dari sana, gerakan mereka berdua sangat cepat,
dalam sekejap mata bayangan mereka itu sudah lenyap dari
pandangan.
Menyaksikan Ciang Ooh berlalu dengan membawa Soat
Ang, simanusia monyet ini teramat gusar, tapi ia tahu
keadaan seperti ini jauh lebih baik daripada harus bergebrak
melawan perempuan tengkorak itu, lama sekali ia tertegun
untuk kemudian lambat2 putar badan.
"Sin koen, apakah kau telah berjumpa dengan sibongkok
sakti ?" buru2 Liem Hauw Seng bertanya.
"Sampai kini belum kutemukan." jawab Hiat Goan Siu
koen dengan alis berkerut." Lebih baik untuk sementara
waktu kita menyingkir dulu."
"Kenapa ?" Liem Hauw Seng bertanya dengan nada
mengelak, Hiat Goan Sin-koen adalah seorang manusia
angkuh, boleh dikata ia tidak takut langit tak takut bumi
kecuali Tong-bong pacu seorang, dan kebetulan manusia
Tong hong berada disekitar sana, maka terpaksa ia harus
menyingkir.
Meski demikian ia tak mau mengaku, maka mendapat
pertanyaan ini sepasang matanya langsung melotot besar.
"Buat apa kau banyak bertanya ?"
Liem Hauw Seng kembali melengak, ia tak tahu apa
sebabnya simanusia monyet ini marah2 terus, tapi ia
bungkam dan menurut:
"Ayoh cepat kita berlalu..." Kembali Hiat Goan Sin koen
berseru.
"Haa . . haa, . . Sin koen, kau hendak pergi kemana ?"
tiba2 dari balik sebuah batu cadas berkumandang gelak
tertawa seseorang.
Hiat Goen Sin koen terkejut dan segera mendongak,
dengan cepat hatinya mencelos, sebab orang itu bukan lain
adalah Tong hong Pacu, manusia yang paling disegani.
Setelah munculkan diri, sinar mata Tong hong Pacu
menyapu sekejap keempat penjuru, tiba2 ia berseru
tertahan: "Eeei. . . agaknya kurang seorang !"
"Hiat Goan Sin koen tahu, yang dimaksudkan tentu Si
Soat Ang, setelah tarik napas segera tanyanya:
"Apakah anda menanyakan nona Si ?"
Tong-hong Pacu tersenyum, kembali ia menatap wajah
Liem Hauw Seng serta Giok Jien, terasa sepasang muda
mudi ini berbakat bagus dan amat mempersonakan,
sebaliknya kedua orang itu merasa ada serentetan listrik
bertegangan tinggi menyambar lewat diatas wajah mereka,
baik Liem Hauw Seng maupun Giok Jien sama2 dibikin
terperanjat.
"Siapakah orang ini ?" pikir mereka tanpa terasa.
Dalam pada itu Tong hong Pacu telah mengangguk.
"Tidak salah, dialah yang kumaksudkan"
"Aaah. sayang kedatangan anda terlambat setindak, ia
sudah dibawa pergi oleh seseorang"
"Haa...haa...haa...Sin-koen. kalau mau berbohong
janganlah dihadapanku, siapa yang berani serobot orang
dari tanganmu ?"
Hiat Goan Sin koen tertawa getir, ia tak tahu apa
hubungan gadis she Si itu dengan Tong hong Pacu, tapi ia
sadar kalau tidak memberi keterangan jelas, maka ia bakal
dibikin repot.
Buru-buru sahutnya:
"Nona Si dibawa lari oleh seorang perempuan sinting
dari benteng Thian It Poo yang pada hari2 biasa dipanggil
Ciang Ooh, ilmu silat yang dimiliki perempuan sinting ini
sangat lihay, kalau anda tak percaya silahkan ditanyakan
pada mereka berdua.
Tong hong Pacu berpaling untuk kedua kakinya ia
menatap Hauw Seng serta Giok Jien tajam2 membuat
sepasang muda mudi ini jadi bergidik.
"Ooouw . . , kiranya dalam dunia kangouw sudah
muncul seorang tokoh lihay lagi " seru Tong-hong Pacu
sambil tersenyum "Waaah kalau begitu pengalamanku
sungguh cetek sekali. Eeeeei , , . Sin koen aku dengar putri
kesayanganmu telah ternoda, benarkah kabar berita ini? dan
nona ini. ."
Mengungkap tentang putri kesayangannya yang ternoda,
seluruh tubuh Hiat Goan Sin-koen gemetar keras, giginya
saling beradu dengan kerasnya, umpama Loei Sam ketika
itu hadir disana, kemungkinan ia akan menubruk kearah
pemuda itu, Tong hong pacu tertawa.
"Padahal, putrimu pun terhitung salah, pikirnya terlalu
cepat." ujarnya.
"Sudahlah, jangan kita bicarakan persoalan ini aku ada
urusan hendak mencari sibongkok, hei tahukah kau si
bongkok telah pergi kemana?"
"Akupun sedang mencari dirinya " sahut Hiat Goan Sin-
koen, per-lahan2 ia mulai tenang kembali "Aku ada maksud
membawa kedua orang masuk kedalam perguruannya tapi
sampai kini aku masih belum tahu ia sudah pergi kemana?"
"Menurut apa yang kuketahui mungkin ia sudah keluar
perbatasan untuk mencari Soat-san Sam-mo, aku ingin
sedikit merepotkan dirimu pergi untuk mencari dirinya,
katakan aku menanti kedatangannya digubuk tempat
kediaman nya, ada urusan penting hendak kubicarakan
dengan dirinya, kalau kau sudah bertemu dengan dirinya
maka datanglah bersama dia."
"Tentang soal ini . . . tentang soal ini . . "
"Kenapa ?" tegur Tonghong Pacu dengan air muka
berubah:
"Sebenarnya persoalan anda sudah sepantasnya
kukerjakan tapi pada saat ini kedua orang muda ini masih
membutuhkan perawatanku."
"Aaaah ini bukan persoalan berat setelah aku berangkat
serahkan saja mereka berdua padaku"
Hiat Goan Sin-koen tertawa getir, ia segera berpaling
kearah Liem Hauw Seng serta Giok Jien dan ujarnya:
"Saudara ini adalah Tonghong Pacu, kalian cepat datang
menghunjuk hormat kepadanya."
Giok Jien si gadis muda tidak begitu kenal dengan situasi
Bu-lim, nama Tong hong Pacu tidak begitu mempengaruhi
dirinya, berbeda dengan Liem Hauw-seng, seluruh
tubuhnya kontan gemetar keras.
Ia bukan seorang penakut. tapi saat ini air mukanya
berubah pucat pias bagaikan mayat. tak sepatah katapun
sanggup diutarakan.
Sementara itu Tong hong Pacu telah membentak
kembali:
"Hey Sin-koen. kau masih belum berangkat ?. kalau
sampai urusanku kacau, awas ! akan kusuruh kau
pertanggung jawabkan persoalan ini."
Setelah diancam, tentu saja Hia Goan Sin-koen tak
berani berayal lagi, buru2 serunya:
"Kalian berdua dengarkanlah perkataan Tong hong
sianseng, setelah bertemu dengan sibongkok sakti aku pasti
kembali"
Sembari bicara ia putar badan dan melesat pergi dari situ.
Menanti simanusia monyet sudah berlalu, Tong hong
Pacu baru berjalan menghampiri Liem Hauw Seng berdua
ujarnya sambil geleng kepala:
"Kalian anak murid siapa ? dengan kepandaian silat
seperti itu, buat apa berkeliaran dalam dunia persilatan ?
apakah kalian ingin antar nyawa dengan percuma ?"
"Ayahku adalah "Thian Tie It Kiai" dari gunung Tiang
Pek-san yang bernama Liem Teng." ujar Liem Hauw Seng
setelah berhasil tenangkan hatinya, "Nona ini adalah nona
Giok Jien, belum pernah belajar ilmu silat."
Ayah Liem Hauw Seng bukan manusia sembarangan
dalam dunia persilatan meski sudah mati dipaksa
musuhnya terjun kejurang, tapi Tonghong Pacu tak
mungkin tak pernah mendengar nama ini. Namun orang
she Tonghong cuma mengiakan hambar, lalu menatap Giok
Jien dan berseru:
"Oooouw . ia belum pernah belajar ilmu silat ? aku rasa
belajar mulai sekarangpun masih belum ketinggalan, belum
pernah kutemui manusia dengan bakat demikian bagusnya
!"
Sambil berkata sepasang matanya dengan tajam menatap
gadis itu tak berkedip, Giok Jien jadi jengah, jantungnya
terasa berdebar keras dan akhirnya tunduk kepala rendah2,
sepatah katapun tak bicara.
"Siapa namamu ?" kembali Tong-hong Pacu bertanya
"Giok Jien !"
"Apa she mu ?"
Giok Jien tertawa getir, "Aku adalah seorang anak yatim
piatu, sejak kecil dibesarkan dalam benteng Thian It Poo.
kecuali Si siocia siapapun tak tahu asalku, tapi ia tak mau
beritahu kepadaku."
"Tentang soal ini kau boleh berlega hati, aku pasti dapat
membantu dirimu untuk mengetahui asal usul sebenarnya."
Ucapan ini sangat mengharukan hati Giok Jien, buru2 ia
menjura.
"Aaaah... kuucapkan terima kasih dahulu atas bantuan
cianpwee"
Tong-hong pacu tertawa ter bahak2. "Kau tak usah
berterima kasih kepadaku, aku bernama Tong-hong Pacu,
ilmu silatku termasuk lumayan juga, dengan bakatmu yang
bagus bagaimana kalau kuangkat dirimu sebagai murid ku
?"
Sejak semula Liem Hauw Seng sudah merasa maksud
yang terkandung dalam hati manusia kosen ini, maka ia
tidak kaget, lain halnya dengan Giok Jien, gadis ini kontan
melengak dan berdiri melongo dengan mata terbelalak,
untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun dapat
diucapkan.
Lewat lama sekali ia baru berkata:
"Hiat Goan Sin koen telah berjanji akan membawa aku
serta engkoh Hauw Seng pergi bertemu dengan si bongkok
sakti berangasan dan mengangkat beliau sebagai guru."
"Ha ha haaa . . . dengan bakatmu yang demikian bagus,
tidak pantas mengangkat sibongkok? Hmm! dengan
kepandaian secetek itu berani terima kau sebagai murid!"
"Kalau begitu kepandaian silatmu jauh lebih hebat dari
pada si bongkok sakti berangasan?" seru Giok Jien
terperanjat.
Tong-hong pacu mendongak tertawa terbahak-bahak, ia
menuding kearah Hauw Seng dan berkata:
"Tak berguna kau tanyakan padaku, coba kau bertanya
pada dirinya."
Buru2 Giok Jieo berpaling kearah Lim Hauw Seng.
Pemuda itu segera mengangguk.
"Giok Jien, boleh dibilang dia adalah tokoh silat nomor
wahid dikolong langit dewasa ini."
Giok Jien tahu pemuda itu tidak bakal membohongi
dirinya, mendengar perkataan itu meledaklah
kegembiraannya.
"Engkoh Hauw Seng," buru2 ia berseru: "Dia adalah
tokoh silat nomor wahid dikolong langit, sekarang sang
tokoh sakti mau terima diriku sebagai murid aku . . engkoh
Hauw Seng, bukankah hal ini bagus sekali ?"
Liem Hauw Seng bungkam dalam seribu bahasa, sulit
baginya untuk memberi komentar. Menyaksikan engkoh
Hauw Seng-nya bungkam, Giok Jien mengira pemuda itu
tidak senang hati, segera ujarnya kembali: "Engkoh Hauw
Seng, kau mohonlah kepadanya, kalau ia mau terima diri
mu sebagai murid bukankah sangat bagus sekali?"
"Aku tidak..."
Belum habis ia berkata, Tong hong Pacu sudah menukas.
"Giok Jien, kau anggap aku sudi menerima murid
seenaknya ? kedua putra kandungku pun tidak kuwarisi
ilmu silatku, hal ini disebabkan mereka tidak berbakat
untuk menerima ilmu silatku ."
Mendengar ucapan ini Giok Jien makin terkejut
bercampur girang, saking senangnya ia sampai melongo.
"Kalau begitu, kau suka angkat diriku sebagai guru
bukan ?" kembali Tong hong Pacu bertanya.
"Tentu saja aku suka ?" jawab gadis itu tanpa berpikir
panjang lagi.
"Bagus sekali, tapi ada beberapa soal hendak
kuterangkan dahulu, setelah kau angkat diriku sebagai guru
maka dalam tiga tahun akan ku didik dirimu jadi lihay,
karena itu selama tiga tahun ini kecuali diriku kau tak boleh
bertemu dengan siapapun !"
"Lalu... bagaimana dengan engkoh Hauw Seng ?" tanya
Giok Jien tertegun.
"Apakah kalian sudah jadi suami istri ?"
Merah padam selembar wajah Giok Jien.
"Belum !" ia menggeleng.
"Lalu apa salahnya berpisah selama tiga tahun apa yang
kau pusingkan lagi ?"
Kembali Giok Jien berpaling kearah Liem Hauw Seng
mohon pertimbangannya, pemuda itu segera maju kedepan
dan cekal tangannya erat2.
"Giok Jien, setelah Tong hong sianseng menerima
dirimu sebagai murid, dalam tiga tahun mendatang ilmu
silatmu akan memperoleh ke majuan pesat, hanya saja...
hanya saja..."
Sebenarnya pemuda ini akan menerangkan bahwa Tong-
hong Pacu adalah tokoh sakti dan aliran sesat, menjadi
muridnya meski lihay tapi tingkah lakunya akan ikut2an
sesat, dan ia akan menyatakan ketidak setujuannya.
Tapi berada didepan Tong hong Pacu beranikah ia
ucapkan kata2 itu? Belum sampai ia bicara Giok Jien telah
meneruskan: "Hanya saja kita harus berpisah selama tiga
tahun, engkoh Hauw Seng, aku tak tahu bagaimana aku
harus hidup tanpa dirimu?"
Tiba2 Tong hong Pacu menghardik keras:
"Untuk belajar silat, pikiran harus dipusatkan jadi satu
tanpa terganggu oleh masalah lain, waktu tiga tahun akan
berlalu dalam sekejap, tiga tahun kemudian kau boleh
menunggu kedatangannya disebelah barat kota Siang yang."
Bersamaan dengan ucapan itu, Tong hong Pacu
menyambar tangan gadis itu dan mencelat pergi dari sana.
"Giok Jien!" teriak Liem Hauw Seng dengan hati gelisah.
Tapi . . dalam sekejap mata bayangan Tong-hong Pacu serta
Giok Jien telah lenyap tak berbekas.
Kedatangan mereka berdua ke daratan Tiong-goan
adalah bertujuan angkat sibongkok sakti sebagai guru,
sungguh tak nyana dalam sekejap mata telah terjadi
perubahan besar, Giok Jien telah diterima sebagai murid
oleh Tong hong Pacu. sijago kosen aliran hitam.
Perpisahan mendatangkan kesedihan, lama sekali
pemuda Hauw Seng berdiri ter mangu2, ia tak tahu apa
yang harus dilakukan pada saat ini, akhirnya dalam
keadaan apa boleh buat ia berjalan kearah mana Hiat Goan
Sin-koen berlalu tadi.
Setengah jam lamanya ia berjalan diatas gunung,
keadaan medan makin lama semakin curam dan berbahaya,
tebing tinggi menjulang ke angkasa jurang yang dalam
memisahkan puncak yang satu dengan puncak yang lain,
makin berjalan pemuda itu makin tersesat hingga akhirnya
dari tempat kejauhan adanya gemuruh air sungai.
Mendengar ada suara air, semangat Hauw Seng berkobar
kembali, segera ia berlari menghampiri sungai itu dengan
maksud beristirahat, tapi ia tertegun. Apa yang terjadi?
ternyata sungai itu bukan lain adalah sungai dimana tadi ia
duduk bersandingan dengan Giok Jien, kiranya setengah
harian ia mendaki gunung akhirnya kembali lagi ketempat
semula.
Pemuda itu tertawa getir ia berjalan mendekati batu
besar dimana tadi ia duduk berduaan, atau mendadak
dijumpainya seseorang berdiri disamping batu tersebut.
Orang itu berdiri tak bergerak disana, bajunya abu2 dan
berusia enam puluh tahunan, perawakannya tinggi dengan
wajah agung, Namun ketika itu sepasang alisnya berkerut
kencang, se akan2 ada satu masalah besar sedang
memusingkan benaknya.
Lama sekali orang itu memandang aliran air dalam
sungai, akhirnya ia menghela napas panjang dan berpaling
kearah Liem Hauw Seng. "Kemarilah kau bocah !" ia
berkata. Nadanya sangat datar, membuat orang sulit untuk
menebak perasaannya ketika itu.
"Cianpwee kau ada urusan apa ?" pemuda itu segera
maju menjura.
Memandang aliran air dalam sungai lama sekali kakek
itu membungkam. lalu menghela napas panjang dan
bertanya:
"Dapatkah kau melakukan suatu pekerjaan buat diriku ?"
Dalam keadaan kesal, sebetulnya Liem Hauw Seng tidak
ingin mencari kerepotan tapi setelah dilihatnya kakek tua
itu makin dipandang makin berwibawa ia lantas menduga
orang ini tentu seorang tokoh silat lihay.
"Baiklah" sahutnya setelah tertegun sejenak, "Entah
cianpwee ada perintah apa ?"
"Dapatkah kau bantu aku pergi satu kali kelembah Coei-
Hong-Kok digunung Go-bie."
Jantung Hauw Seng berdebar keras. siapa yang tak kenal
dengan lembah Coei Hong-Kok digunung Go bie ? asalkan
seorang akhli silat pasti akan kenal dengan lembah tersebut.
Lembah Coei Hong Kok adalah tempat tinggal Si Thay
sianseng, tokoh silat paling lihay dikolong langit dewasa ini
atau dengan perkataan lain sikakek tua yang berada
dihadapannya bukan lain adalah Si Thay sianseng sendiri.
"Aaaah. . . kiranya cianpwee adalah Si Thay sianseng !"
saking girangnya tak kuasa ia berteriak.
Si Thay sianseng tertawa kering.
"Kau berangkatlah kelembah Coei Hong Kok dan
beritahu seisi lembah, sebelum kutemukan murid durhaka
tersebut tak akan kembali kerumah, dan sebelum aku
kembali apa bila Tong hong Pacu datang, suruh mereka
layani se baik2 nya, jangan sampai bergebrak, suruh mereka
ingat, ingat selalu !"
"Pesan cianpwee pasti akan aku sampaikan tapi
boanpwee belum pernah datang kegunung Go bie, aku
takut orang disana tidak percaya kepadaku."
"Tiiing !" dari balik sakunya Si Thay Sian-seng ambil
keluar sebuah cincin emas kecil, sambil menyerahkan benda
itu ia berkata: "Dengan membawa cincin ini mereka pasti
akan menerima dirimu dia mempercayai ucapanmu, kau
harus berhati2, gelang emas itu jangan sampai hilang !"
Dengan sangat hormat Liem Hauw Seng menerima
gelang emas itu lalu mundur selangkah kebelakang dan siap
berlalu.
Tiba2 ia teringat akan sesuatu segera ujarnya kembali:
"Si cianpwee, ada sebuah urusan ingin kumohon
petunjukmu ?"
"Katakanlah terus terang !"
"Aku... aku punya seorang sahabat sehidup semati
kurang lebih setengah jam berselang telah di bawa pergi
oleh Tong-hong Pacu, ia bilang bakatnya sangat bagus
maka hendak menerima dirinya sebagai murid."
Air muka Si Thay sianseng berubah hebat setelah
mendengar ucapan itu.
"Ada kejadian semacam ini ?" serunya.
"Benar ! kejadian ini benar2 telah terjadi, dia... padahal
ia tak pernah belajar silat, dia adalah seorang gadis yatim
piatu yang sudah angkat sumpah setia dengan diriku, tapi
Tong hong Pacu bilang tiga tahun kemudian kami berdua
baru boleh berjumpa lagi, bisa dipercayakah ucapannya ini
?"
Dengan wajah serius Si Thay sianseng mendengarkan
semua penuturan pemuda itu, dari sikap tersebut Liem
Hauw Seng dapat menarik kesimpulan bahwa urusan amat
berbahaya dan serius.
Menanti pemuda itu menyelesaikan kata2nya, Si Thay
Sianseng baru berkata:
"Sepanjang hidup Tong-hong Pacu selain pegang teguh
ucapannya, ia bilang satu tetap satu berkata dua tetap dua,
setelah ia berjanji untuk pertemukan kembali kalian berdua
tiga tahun kemudian, aku rasa ia tak akan membohongi
dirimu, tapi . . . aku takut sampai waktunya."
Berbicara sampai disitu, mendadak ia berhenti bicara.
"Sampai waktunya kenapa ?" tanya Liem Hauw Seng
penuh kecemasan.
Si Thay sianseng tidak menjawab pertanyaan itu, ia
cuma menghela napas panjang.
"Bagaimana keadaannya setelah tiga tahun kemudian,
bagaimana aku bisa menerkanya? aku kan bukan seorang
malaikat ! setelah berada di gunung Go bie. apabila kau
berniat tinggal di lembah Coei Hok Kok beberapa waktu,
silahkan !"
"Nah, sekarang kau boleh berangkat."
-oo0dw0oo-

Jilid 10
UJUNG bajunya segera dikibaskan kedepan, segulung
angin desiran yang lunak dan empuk seketika menggulung
tubuh Liem Hauw Seng sehingga mundur tiga lima tombak
jauhnya kebelakang.
Menanti pemuda itu berdiri tegak, maka bayangan Si
Thay sianseng pun sudah lenyap tak berbekas dari depan
matanya.
Beberapa patah kata dari tokoh sakti dunia persilatan ini
semakin membuat pikiran Liem Hauw Seng bertambah
kalut, dengan hati yang kacau ia lanjutkan perjalanannya
kedepan, menanti cuaca mulai gelap ia sudah keluar dari
daerah pegunungan Lak Ban San.
Ditengah hutan disebuah lapangan yang kecil ia
membuat api unggun dan duduk ter mangu2 di sana, lama
sekali pemuda itu ambil keluar gelang emas tadi dan
dipandangnya dengan sinar mata mendelong.
Gelang emas itu merupakan benda kepercayaan Si Thay
Sianseng, bentuknya tidak terlalu besar tapi indah dan
menawan hati.
Beberapa waktu kemudian Liem Hauw Seng menyimpan
kembali gelang emas tadi kedalam saku, mendadak
terdengar seseorang berseru tertahan.
"Eeei bukankah benda itu adalah gelang emas benda
kepercayaan Si Thay sianseng ? darimana anda dapatkan
benda tersebut ?"
Ucapan ini membuat Liem Hauw Seng sangat
terperanjat tapi dengan cepat hatinya jadi lega kembali,
sebab setelah orang itu mengenali gelang emas tersebut
berarti ia tahu akan asal usul benda itu, siapa yang berani
mencari gara2 dengan Si Thay sianseng ?
Setelah menyimpan gelang emas tadi, lambat2 Liem
Hauw Seng angkat kepala, kurang lebih dua tombak
dihadapannya, disisi sebuah pohon besar berdirilah
seseorang.
Usia orang itu masih sangat muda, kurang lebih dua
puluh lima, enam tahunan, badannya kurus kering,
wajahnya pucat pasi bagaikan mayat namun sepasang
matanya memancarkan cahaya berkilat, siapapun akan
segera ketahui kalau orang ini amat cerdik.
Sementara itu Liem Hauw Seng merasa wajah pemuda
itu sangat dikenali olehnya, hanya ia lupa siapakah orang
itu.
Pambaca budiman, dapatkah anda sekalian menerka
siapakah sianak muda itu ? dia bukan lain adalah Loei Sam.
Bagaimana Loei Sam bisa berada disitu? Kiranya pada
waktu itu setelah ia menggelinding jatuh dari atas pagoda
dibenteng Thian it Poo bersama Ciang Ooh, dengan hati
gembira Loei Sam mengira kitab pusaka "Sam Poo Cin
Keng" tersebut pasti akan terjatuh ketangannya.
Dalam perkiraan Loei Sam. setelah ia membokong Ciang
Ooh kemudian perempuan itu menggelinding jatuh dari
atas pagoda, ia pasti jatuh tidak sadarkan diri, dan kitab
pusaka Sam Poo Cin Keng tadi dengan mudah akan
terjatuh ketangannya.
Siapa sangka peristiwa berlangsung diluar dugaan, ketika
tubuh Ciang Ooh menggelinding hingga sepuluh tingkat,
tiba2 perempuan itu melejit dan meloncat ketengah udara.
Perobahan ini membuat Loei Sam kaget, dengan
melejitnya Ciang Ooh maka Loei Sam merasakan ada
segulung tenaga besar mementalkan tubuhnya
meninggalkan anak tangga dan meluncur kebawah dengan
kecepatan penuh.
Loei Sam terkesiap, tubuhnya bagaikan anak panah
terlepas dari busur meluncur kebawah dengan cepatnya,
untung reaksinya cukup cepat, buru2 ia salurkan hawa
murninya mengelilingi seluruh badan, ketika sang tubuh
berada enam tujuh tombak dari permukaan sepasang
telapak nya berbareng didorong kebawah.
Pukulan ini mendatangkan tenaga pantulan yang kuat,
hal ini membuat gerakan daya luncur tubuhnya semakin
lambat dan berhasil hinggap diatas permukaan dengan
empuk.
Menanti ia bisa berdiri tegak, Ciang Ooh yang
menggelinding kebawah pun sudah keluar dari pagoda.
badannya menggelinding terus sejauh beberapa tombak
untuk kemudian sang tubuh melingkar jadi satu dan tak
berkutik lagi.
Menyaksikan kejadian itu, Loei Sam kegirangan
setengah mati, buru2 ia melangkah dua langkah kedepan,
sebagai lelaki cerdas yang banyak akal ia bertindak sangat
hati2 untuk menghindari dari sergapan sang perempuan
tengkorak yang mungkin berpura2 mati ketika berada lima,
enam depa didepan Ciang Ooh ia berhenti.
Kemudian memungut sepotong batu bata dan di sertai
tenaga lwekang ia sambit batu tadi keatas punggung Ciang
Ooh keras2
Maksud Loei Sam dengan timpukannya ini adalah untuk
menghindari sergapan perempuan itu seandainya ia pura2
jatuh pingsan, tapi ia lupa Ciang Ooh adalah seorang
perempuan gila tidak mungkin manusia yang otaknya
kurang waras bisa mengatur jebakan tersebut.
Kadangkala, orang cerdik pun berbuat bodoh setelah
jatuh dari atas tangga pada waktu itu Ciang Ooh benar2
jatuh tidak sadarkan diri, bilamana Loei Sam menggunakan
keadaannya ini maka tidak seharusnya ia timpuk punggung
perempuan tengkorak itu dengan batu bata.
Dalam pada itu, batu bata tadi dengan disertai desiran
tajam bersarang telak diatas punggung Ciang Ooh dimana
terletak jalan darah "Sin ciang-hiat."
Dengan terbenturnya jalan darah tersebut, Ciang Ooh
yang pingsan seketika dibikin sadar kembali.
Perempuan itu buka matanya lebar2. lalu dengan cepat
meloncat bangun dari atas tanah dan lari meninggalkan
tempat itu.
Loei Sam tidak ingin kitab pusaka "Koei Thiao Pit Lip"
lenyap dari tangannya, melihat Ciang Ooh melarikan diri
dari sana ia mengejar dari belakangnya, tapi makin lari
perempuan itu bergerak semakin cepat sehingga akhirnya
pemuda itu tak dapat menahan diri dan membentak keras:
"Ciang Ooh, berhenti ! aku ada urusan hendak
dibicarakan dengan dirimu !" Bentakan ini mendatangkan
reaksi yang cepat, Ciang Ooh segera berhenti dan putar
badan, sepasang matanya yang hijau menyeramkan dengan
tajam menatap wajah pemuda itu tajam2.
"Siapa kau ? ada urusan apa kau memanggil-diriku ?"
tanya Ciang Ooh dengan nada dingin.
"Benarkah kau tidak tahu siapa aku ?" tegur Loei Sam
dengan nada menyelidiki sementara dalam hati ia berpikir:
"Bagus sekali, barusan saja aku bergebrak mati2an
melawan dirimu, sekarang kau sudah lupa siapa aku ?"
Ciang Ooh menggeleng, "Aku benar2 tidak tahu !"
jawabnya.
"Ada seseorang suruh aku datang kemari untuk meminta
sesuatu benda dari tanganmu ." kata pemuda itu lebih jauh.
Sembari berkata ia buat persiapan lalu selangkah demi
selangkah maju mendekati perempuan itu.
"Siapa yang suruh kau datang kemari ?" tanya Ciang
Ooh, sementara wajah tengkoraknya berkerut, "Benda apa
yang ia minta ?"
"Orang yang suruh aku datang kemari adalah sitelapak
berdarah Tong Hauw !" sambil menjawab pemuda itu
perhatikan perubahan sikap Ciang Ooh dengan seksama,
sebab reaksi dari perempuan itu mempunyai hubungan
yang erat dengan didapatkan atau tidaknya kitab pusaka
"Kioe Thian Pit Kip" tersebut.
"Sitelapak berdarah Tong Hauw" empat patah kata
membuat seluruh tubuh Ciang Oh tergetar keras, tulang
belulang yang kurus bergemerutukan keras, mulutnya
menganga lebar2.
"Si tee . . . telapak . . . berdarah . . . Tong . . . Hauw !"
"Kenalkah kau dengan orang ini ?" dengan cepat Loei
Sam menyambung, "Dialah yang suruh aku datang
kemari."
"Kenalkah aku dengan orang ini ?" suara Ciang Ooh
amat lemah, seakan2 ucapan ini di utarakan dan tempat
yang sangat jauh "Aku kenal suara ini, tentu saja aku kenal
dengan orang ini !"
Ambil kesempatan itu Loei Sam melangkah beberapa
langkah lebih dekat dari hadapan perempuan tersebut.
"Kalau kau kenal dengan orang itu, bagus sekali, dialah
yang menitahkan aku untuk datang kemari minta semacam
benda darimu."
"Lalu sekarang ia berada dimana?"
"Asalkan kau berikan benda miliknya kepada nya, maka
ia akan segera datang kemari untuk berjumpa denganmu,
paham?"
Dengan sangat berat Ciang Ooh mengangguk tanda
mengerti.
"Apa yang ia minta?" tanyanya kemudian.
Loei Sam merasakan jantungnya berdebar sangat keras,
ia berusaha menahan diri dan buru2 menyahut.
"la minta kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip." Sekali lagi
seluruh tubuh Ciang Ooh gemetar keras, agaknya ia amat
bersedih hati.
"Kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip ? benda apakah itu!
aku tidak memiliki benda semacam itu, benarkah kalau aku
tak punya barang itu lantas tak dapat berjumpa lagi dengan
dirinya"
"Tidak. . . kau salib besar, benda itu kau punya, yang
kumaksudkan Kioe Thian Pit Lip adalah selembar
gulungan kain sutra yang penuh dengan lukisan bentuk
manusia, asalkan kau berikan benda itu kepadaku maka
Tong Hauw segera akan datang kemari menjumpai dirimu
!"
"Benda inikah yang kau maksudkan ?" Dari
tenggorokkan Ciang Ooh mulai terdengar suara
gemerutukan keras, ia perlihatkan gulungan kain sutra
diatas tangannya itu.
"Benda ini bukan Kioe Thian Pit Lip, banyak tahun
berselang seorang bangsa Han yang mati ditanah Biauw
kami serahkan benda tersebut kepada ku, menurut pesannya
benda ini tak boleh diperlihatkan ktpada orang lain."
Menjumpai kitab pusaka "Kioe Thian Pit Lip" tersebut,
jantung Loei Sam berdebar semakin keras. Ketika itu ia
hanya berdiri empat lima depa dihadapan Ciang Ooh cukup
tangannya diulurkan kedepan benda tersebut akan segera
berada ditangannya.
Ia tarik napas panjang2 dan berkata: "Coba kau
dengarkan dahulu perkataanku."
Tiba2 pergelangan tangan kirinya membalik, "Sreeet !"
dengan kecepatan bagaikan kilat ia melancarkan sebuah
serangan kedepan.
Merasakan datangnya serangan, Ciang Ooh miringkan
badannya kesamping, dengan gerakan ini serangan Loei
Sam yang semula mengancam dada segera bersarang
dengan telaknya diatas bahu, Loei Sam yang ada niat
merampas Kioe Thian Pit Lip tersebut sejak semula sudah
memperhitungkan segala gerak-geriknya, perduli serangan
pemuda itu bersarang dimanapun ia sudah persiapkan
gerakan selanjutnya.
Meminjam tenaga pantulan dari serangannya yang
bersarang dibahu Ciang Ooh, sang tubuh mencelat ketengah
udara kemudian berkelebat lewat dari atas kepala
perempuan itu.
Dikala sang badan menyambar lewat dari atas kepala
indah. telapak kiri dengan cepat menotok jalan darah " Pik
Hwie Hiat" diatas batok kepala Ciang Ooh.
Meskipun perempuan tengkorak Ciang Ooh adalah
seorang manusia berotak sinting, namun reaksinya cukup
sebat terhadap datangnya setiap serangan, merasakan
adanya bokongan dari atas kepala ia segera miring
kesamping.
Loei Sam menduga perempuan itu pasti akan balas
menyerang dirinya dengan Kioe Thian Pit Lip sebagai
senjata, tapi Ciang Ooh tidak berbuat demikian ia tidak
melancarkan serangan balasan.
Sepasang kaki Loei Sam segera melancarkan tendangan
berantai menghajar dada Ciang Ooh, sementara tangan
kirinya menyambar Kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip
tersebut dan ditarik keluar.
Sejak Loei Sam bertindak, melancarkan serangan,
meloncat keatas, menotok, menendang dan merampas kitab
pusaka tersebut, semuanya dilakukan dalam sekejap mata,
tidak malu ia disebut anak murid Si Thay sianseng.
Setelah berhasil mencekal Kioe Thian Pit Lip tersebut,
Loei Sam kegirangan setengah mati, dalam perhitungannya
benda itu pasti akan menjadi miliknya sementara sepasang
kaki yang menempel diatas dada Ciang Ooh bisa digunakan
sebagai batu jejakan dalam usahanya melarikan diri.
Siapa sangka, meskipun perhitungannya sangat bagus,
tetapi Kioe Thian Pit Lip yang dirampas nya dari tangan
Ciang Ooh belum juga berhasil direbut lepas.
Dalam pada itu, sepasang kaki yang melancarkan
tendangan berantai telah bersarang telak di atas dadanya.
"Braak ! Braak l" bagaikan menghantam kayu saja Ciang
Ooh sama sekali tak merasakan adanya tendangan tersebut.
Loei Sam amat kaget, ia sadar apabila kitab pusaka itu
tidak dilepaskan maka dirinyalah yang bakal menerima rugi
besar.
Segera ia lepas tangan, berjumpalitan setengah lingkaran
ditengah udara dan meloncat mundur ke belakang.
Ketika itulah telapak kiri Ciang Ooh sudah di dorong
kedepan melancarkan sebuah serangan balasan.
Serangan itu datangnya tanpa menimbulkan suara, tapi
angin pukulan yang berhembus lewat teramat dahsyat,
laksana gulungan angin puyuh yang melanda jagad serta
amukan gulungan ombak di tengah samudra melanda
datang tiada hentinya.
Untung Loei Sam cukup sebat, meski begitu badannya
tak urung terdorong juga sampai terjungkal.
Berada ditengah udara ia berjumpalitan tujuh delapan
kali, seumpama badannya tidak melewati tembok dan ambil
kesempatan itu tangannya menutul permukaan tembok,
niscaya ia sudah terlempar jauh sekali dari kalangan.
Dalam pada itu Ciang Ooh telah berputar badan dan
berkelebat pergi dari tempat itu.
Loei Sam tak mau berdiam sampai disitu saja ia segera
enjot badan mengejar kembali dari belakang, makin lari
semakin cepat dalam sekejap mata mereka sudah tinggalkan
benteng Thian It Poo jauh2.
Kejar mengejar berlangsung dengan serunya, makin lari
Ciang Ooh semakin cepat sampai akhirnya ketika fajar
menyingsing Loei Sam telah kehilangan jejak perempuan
itu.
Bagaimanapun Loei Sam baru sembuh dari luka
parahnya setelah berlarian selama semalaman jantungnya
berdetak semakin keras. ia merasakan dadanya sakit
tenggorokan terasa amis dan hampir2 saja muntah darah
segar.
Buru2 ia berhenti untuk beristirahat dan memeriksa
keadaan sekeliling tempat itu, dari tengah hutan yang lebar
dibawah sorotan cahaya fajar tampak asap putih
membumbung tinggi ke angkasa, jelas didalam hutan ada
perkampungan.
Kemana Ciang Ooh telah pergi? mungkinkah ia berada
dikampung sebelah depan? Loei Sam tak tahu, tapi ia
mengerti setiap umat Bu-lim pada kesemsem dan ingin
mendapatkan kitab pusaka Kioe Thian Pu Lip tersebut,
hanya saja orang lain cuma tahu kitab itu berada didaerah
Biauw, sedang ia mengetahui jelas benda itu berada disaku
Ciang Ooh.
Dengan adanya rahasia ini, walaupun untuk sementara
kitab pusaka Kioe Thian Pit Lip gagal dirampas,
dikemudian hari masih ada kesempatan mencari Ciang
Ooh.
Demikianlah ia duduk beristirahat disisi sebuah batu
besar sambil melemaskan otot2, kemudian mengatur
pernapasan menanti terang tanah.
Kurang lebih satu jam kemudian pemuda itu selesai
bersemedi, ia segera bangun berdiri dan melanjutkan
perjalanan kedepan.
Tidak selang beberapa saat lamanya ia sudah menerobosi
hutan dan dapat melihat perkampungan tersebut. Kampung
ini berdiri diatas sebuah tanah lapang yang luas
bangunannya angker dan kokoh.
Empat lima puluh ekor kuda berlari silih berganti diatas
tanah lapang tersebut, gerak-gerik penunggangnya gesit dan
sebat, sekali pandang dapat diduga mereka adalah orang Bu
lim.
Sewaktu Loei Sam berjalan lewat disisi mereka, tak
seorangpun yang menaruh perhatian kepadanya, pemuda
itu langsung berjalan kedepan dan akhirnya berhenti disisi
kalangan dibawah sebuah pohon besar.
Kegagalannya merampas kitab pusaka Kioe Thian Pit
Lip membuat hatinya murung dan kesal, dalam keadaan
mendongkol ini ingin sekali ia mencari gara2 dengan orang
itu, segera ia salurkan hawa murninya siap menghardik
orang itu.
Mendadak ia menemukan ada beberapa ekor kuda
kembali bergerak keluar meninggalkan pintu
perkampungan.
Beberapa ekor kuda itu menarik dua kereta salju,
gerakannya sangat cepat dalam sekejap sudah menyebrangi
tanah lapang tersebut.
Terdengar sikakek tua yang ada diatas kereta salju
berkata.
"Harap kalian bertiga suka menyampaikan salamku buat
Si Thay sianseng !"
Gerakan kereta salju itu amat cepat, semula Loei Sim
tidak begitu memperhatikan siapa 2 kah yang berada diatas
kereta tapi ucapan "Si Thay sianseng" empat patah kata ini
membuat ia jadi melengak.
Dengan cepat tubuhnya berkelebat kebelakang pohon
dan bersembunyi sementara kereta salju bergerak lebih
lambat diikuti siorang tua itu meloncat turun dari atas
kereta.
"Maaf Loohu tidak menghantar lebih jauh!" katanya.
Dan pada saat inilah Loei Sam dapat melihat siapakah
orang2 yang berada diatas kereta salju.
Kiranya diatas kereta pertama berdiri siauw sumoaynya,
sedang pada kereta berikutnya berdiri kedua orang
suhengnya.
Menjumpai ketiga orang itu, Loei Sam amat terperanjat,
jantungnya berdebar2 keras, tubuhnya ditempelkan pada
pohon semakin rapat dan tak berani berkutik lagi, ia tahu
seandainya jejaknya diketahui kedua orang suhengnya
maka sulitlah baginya untuk melarikan diri.
Lagi pula sepasang mata sikakek tua itu bercahaya tajam,
jelas dia adalah seorang tokoh lihay dari dunia persilatan,
apabila dirinya di kerubuti niscaya bakal konyol.
Sementara itu sikakek tua tadi telah menjura kearah
ketiga orang itu sambil berkata:
"Berada diluar perbatasan, kalian mengungkap nama
loohu, pasti ada orang yang melayani kebutuhan kalian !"
"Terima kasih atas bantuan Ong Cungcu, kami hendak
mohon diri !" jawab dua orang suheng dan Loei Sam.
Pemuda Loei Sam yang bersembunyi dibelakang pohon,
setelah mendengar tanya jawab itu segera berseru tertahan
pikirnya:
"Oouw kiranya sikakek tua ini adalah tokoh sakti
kenamaan dari luar perbatasan sitelapak pembelah batu
nisan Ong Mie, dengan hadirnya jago selihay ini aku tak
boleh munculkan diri secara gegabah !"
Berada dalam keadaan seperti ini, ia tak ada permintaan
lain kecuali mengharapkan kedua suhengnya bisa cepat2
membawa siauw sumoaynya berlalu dari sana, dengan
demikian iapun punya kesempatan untuk melarikan diri.
Siapa sangka Ong Mie, sebagai seorang yang lanjut usia
masih saja memberikan pesan ini tiada hentinya, hal ini
membuat Loei Sam makin gelisah.
Mendadak, ia mendengar suara langkah kaki yang ringan
muncul dibelakang tubuhnya.
Waktu itu Loei Sam sedang pusatkan seluruh
perhatiannya kedepan, maka ketika ia menangkap suara
langkah manusia, orang itu sudah berada sangat dekat
dengan dirinya, ia jadi terperanjat dan buru2 berpaling.
Kurang lebih enam tujuh depa dihadapannya berdirilah
seorang kakek kurus kering berbaju abu2 dengan wajah
sadis, dia bukan lain adalah si Manusia bertangan aneh Yu
Put Ming.
Loei Sam terjelos, untuk sesaat ia jadi ragu2 untuk turun
tangan atau tidak ia takut kalau turun tangan maka kedua
orang suhengnya akan mengetahui kalau ia bersembunyi
disitu.
Dalam pada itu Yu Put Ming menatap wajahnya dengan
sinar mata permusuhan, pemuda itu jadi bergidik ia makin
gelisah.
Ditatapnya wajah orang itu, Yu Put Ming balas menatap
dirinya tajam2 sehingga akhirnya terdengar simanusia
bertangan aneh menegur dengan suara yang berat:
"Bagus sekali tindakanmu! memang paling tepat bagimu
untuk bersembunyi dalam benteng Thian It Poo."
Semula Loei Sam masih mengharapkan suatu keajaiban
yaitu Yu Put Ming tidak kenal dirinya, tapi sekarang orang
itu sudah menegur begitu, hal ini membuktikan kalau ia
sudah mengetahui asal-usulnya.
Loei Sam sadar setelah Yu Put Ming mengetahui asal
usulnya maka ia tak akan melepaskan dirinya begitu saja, ia
pasti akan berusaha menangkap dirinya, membawa dirinya
kegunung Go bie dan mencari pahala dihadapan Si Thay
sianseng.
Ia tidak ingin digusur kedepan suhunya, maka dari itu
belum selesai Yu Put Ming bicara, Loei Sam telah
membentak dan melancarkan serangan dahsyat ke depan.
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan tadi
badannya melejit ketengah udara, kemudian melesat keluar
kalangan dan melarikan diri cepat2 dari tempat itu.
Kedua buah serangan itu dilancarkan dengan segenap
tenaga Iweekang yang dimiliki, dahsyat nya luar biasa
sampai2 Yu Pui Ming sang tokoh silat kenamaan dalam
dunia persilatanpun terdesak mundur dua langkah
kebelakang.
Suara hiruk pikuk ini memancing kedua orang suheng
dari Loei Sam, mereka berseru tertahan, dan berpaling,
pada waktu itulah Loei Sam sedang meloncat keluar dari
tempat persembunyiannya, dengan jelas wajah pemuda itu
tertangkap oleh mereka berdua.
"Aaah, Loei Sam !" teriak kedua orang itu hampir
berbareng
Loei Sam tidak menggubris, ia meloncat kembali
ketengah udara meminjam batang ranting dari pohon
diatasnya ia menekan kemudian mencelat kemuka dan
tepat melayang turun diatas kereta salju.
Tangannya bergerak cepat, urat nadi siauw sumoaynya
segera dicekal erat2 kemudian menyentak tali les dan
melarikan kereta salju itu kedepan.
Semua peristiwa berlangsung dalam sekejap mata saja
walaupun banyak tokoh sakti hadir dalam kalangan untuk
sesaat mereka dibikin kelabakan juga oleh perbuatan Loei
Sam ini.
Menanti semua orang menjerit kaget, Loei Sam dengan
membawa siauw sumoaynya telah berada puluhan tombak
jauhnya dari situ.
oooOdwOooo

BAB 9
ONG MIE sama sekali tak tahu siapakah orang itu, ia
membentak keras:
"Keparat cilik, ayoh berhenti dan kembali !"
Loei Sam tidak menggubris, ketika itu ia sudah berada
puluhan tombak jauhnya dari beberapa orang itu,
Yu Put Ming simanusia bertangan aneh menjerit keras,
sepasang telapaknya didorong kuat2 kemuka menghajar
gumpalan salju dihadapannya.
Sungguh dahsyat serangan ini, gulungan angin pukulan
yang keras menghancurkan gundukan salju tersebut,
pecahan salju disertai desiran tajam segera meluncur
kedepan dengan hebatnya.
"Yu cianpwee jangan sampul melukai siauw su moay
kami." buru2 kedua orang murid Si Thay sianseng berseru.
Meski tindakan Yu Pu. Ming sangat cepat, ratusan pecahan
salju beterbangan keempat penjuru sayang gagal melukai
Loei Sam apa lagi Siauw sumoaynya.
Segera agak merandek, kereta salju itu meluncur puluhan
tombak lebih jauh lagi, berada dalam keadaan seperti ini
serangan tersebut semakin tak dapat mengenai sasarannya.
Dalam sekejap mata Loei Sam sudah berlalu semakin
jauh, menanti semua orang meloncat naik keatas kereta
salju dan melakukan pengejaran kereta salju yang
ditumpangi Loei Sam sudah tinggal sebuah titik kecil diatas
permukaan salju, diikuti kemudian lenyap tak berbekas.
Kehilangan jejak pemuda itu, semua orang cuma bisa
saling berpandangan dengan wajah kecut.
Sementara waktu kita tinggalkan beberapa orang itu dan
kembali pada Loei Sam yang melarikan diri sambil
mencengkeram urat nadi siauw sumoaynya.
Kereta salju bergerak dengan cepatnya kedepan,
sementara Si Chen sang gadis tersebut tiada hentinya
meronta, Loei Sam segera menotok jalan darahnya dan
kembali lakukan perjalanan sejauh tiga, lima puluh li,
menanti dilihatnya tak ada orang yang mengejar lagi baru
tertawa terbahak2 dan membebaskan kembali siauw
sumoay nya dari pengaruh totokan.
"Sumoay." ia berseru, "aku sungguh amat rindu
kepadamu tak kusangka kau melakukan perjalanan laksaan
li untuk menemukan kembali sang suami, perbuatanmu ini
membuat hatiku terharu."
Si Chen putri tunggal Si Thay sianseng adalah seorang
gadis berhati kuat, tapi pada saat ini air mukanya pucat pasi
bagaikan mayat, sepasang matanya merah berapi api, ketika
mendengar ucapan dari Loei Sam ini ia gigit bibirnya keras2
sehingga darah mengucur keluar tiada hentinya.
Tiba2 ia menjerit keras, cahaya tajam berkilat langsung
menubruk kearah Loei Sam.
Dalam sekejap mata pergelangannya berputar dan dalam
genggamannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati
yang sangat tajam, ia menubruk pemuda itu dengan
gerakan ganas.
Tapi Loei Sam bukan manusia lemah, hanya sekali
bergerak ia berhasil mencengkeram pergelangan kanan
gadis itu, dimana ujung pisaunya tinggal beberapa coen
didepan tubuh pemuda itu.
Kembali gadis itu menjerit keras. tangan kanannya
berputar menghantam dada Loei Sam.
Tapi kembali pemuda itu mencengkeram
pergelangannya, lalu sambil tertawa cengar-cengir godanya:
"Siauw sumoay, pepatah kuno mengatakan: "jadi suami
istri semalaman kalahkan hubungan mesra ratusan hari,
benarkah kau tega membinasakan diriku?"
"Cepat lepaskan aku !" teriak Si Chen dengan napas
terengah2. "Aku hendak membinasakan dirimu, cepat
lepaskan aku, akan kubunuh dirimu !"
Tiba2 Loei Sam menghela napas panjang.
"Siauw sumoay!" ia berkata "Coba pikirlah dengan akal
yang sehat, kita sama2 jatuh cinta kemudian kita lakukan
perbuatan itu dengan sama2 suka.
Kemudian suhu akan membunuh aku, dalam keadaan
seperti ini terpaksa aku harus melarikan diri !"
"Cepat lepaskan diriku !" jerit Si Coen.
"Baik, baiklah, aku lepas tangan, kalau kau ingin
membunuh aku, silahkan turun tangan !"
Ia benar2 lepas tangan, Si Chen segera mundur
selangkah kebelakang, napasnya ter-engah2, dadanya naik
turun menahan emosi, sedang pisau belatinya dicekal
kembali erat2 lalu selangkah demi selangkah berjalan
mendekati Loei Sam.
Sianak muda ini tidak menghindar ataupun berkelit
dengan sinar mata patut dikasihani ia tatap wajah Si Chen
tajam2.
Ujung pisau makin lama semakin mendekati dada Loei
Sam. tapi ketika ujung pisau itu be rada tiga empat coen
diatas dada lawan tiba2 ia berhenti, tubuhnya mulai
gemetar dengan kerasnya.
Menyaksikan keadaan itu Loei Sam geleng kepala
berulang kali
"Siauw sumoay !" katanya, "Kalau kau benar membenci
diriku cepatlah turun tangan!"
Tubuh Si Chen gemetar semakin keras, tiba2 kelima
jarinya mengendor, pisau belati itu tahu2 sudah terlepas
dari tangannya dan jatuh keatas tanah.
Ia menubruk kedalam pangkuan Loei Sam,
merangkulnya erat2 dan mulai menangis tersedu2.
"Sudahlah, jangan menangis" hibur Loei Sam sambil
merangkul gadis tersebut "Sumoay jangan menangis,
bukankah sekarang kita berkumpul kembali."
"Kau . . kau menganiaya diriku. . . kemudian
meninggalkan gunung Go-bie. . . kau. . . dalam hati kecilmu
sama sekali tak ada diriku, kau adalah. . ."
Si Chen menangis makin menjadi, tapi ia tetap bersandar
diatas dada Loei Sam.
"Aaaai sumoay, sudah kukatakan aku benar2 cinta
padamu, aku ingin mengawini dirimu sebagai istri, tapi
siapa yang mau mempercayai perkataanku ?"
Si Chen tarik napas panjang2, ia mundur selangkah
kebelakang kemudian menatap wajah si anak muda itu
dengan matanya yang merah membengkak.
"Aku manusia pertama yang tidak percaya !" serunya.
"Benar, dikolong langit memang tak seorang pun yang
suka mempercayai diriku, sewaktu kuajukan persoalan ini
dihadapan suhu, dia orang tua langsung memerseni sebuah
tamparan kepada ku, aku. . . kenapa aku tidak pantas
mengawini dirimu ? ? mengapa ? ? . . . siauw sumoay.
dapatkah kau memberikan jawabannya ? ? ?".
"Sebab kau. . . kau. . . kau adalah iblis pemain cinta . .
kau adalah pemerkosa anak gadis orang. . . manusia
terkutuk. ."
Makian ini dijawab Loei Sam dengan gelak tertawanya
yang parau dan berat.
"Semua perbuatan itu kulakukan setelah meninggalkan
gunung Go-bie" katanya sungguh2. "Setelah aku ditampar
suhu, aku sadar apabila kejadian ini diketahui suhu maka
jiwaku bakal terancam, maka malam itu juga aku melarikan
diri gunung Gobie"
"Kau . . . setelah meninggalkan gunung Go-bie, kau
kembali melakukan kejahatan ?"
"Kenapa aku tak boleh melakukan perbuatan jahat ?"
seru Loei Sam sambil tertawa seram, "Sumoay, mungkin
kau tidak tahu, mungkin juga kaupun tahu. Tahukah kau
apabila seseorang bisa melakukan perbuatan jahat, maka
timbullah kegembiraan yang bukan kepalang ?"
"Kau . . . kau . . ." tubuh Si Chen gemetar semakin keras.
"Sumoay, kau suka berhubungan gelap dengan diriku,
main cinta dengan diriku, apakah itu bukan perbuatan jahat
? kenapa kau suka melakukannya dengan diriku ?"
Si Chen mundur dengan sempoyongan, hampir-hampir
saja ia jatuh tak sadarkan diri.
Kembali Loei Sam tertawa getir, ujarnya:
"Tidak lama setelah aku turun gunung, suhu telah
menyiarkan kabar kepada seluruh umat Bu lim untuk
menangkap aku dan gusur aku pulang gunung, berada
dalam keadaan seperti ini boleh dikata aku adalah seorang
manusia yang setiap saat bisa mati. Sumoay! coba kau
bayangkan betapa pahit dan tersiksanya hidup dalam
keadaan seperti ini mungkin kau tak pernah berpikir sampai
disitu!"
Si Chen tidak menjawab, ia tetap membungkam dan
berdiri diatas permukaan salju dengan mata mendelong
Makin bicara Loei Sam semakin emosi ujarnya kembali
dengan suara keras.
"Tiada hentinya aku melarikan diri. setiap kali tidur aku
tak beristirahat dengan nyenyak, setiap kali mendengar
suara aku pasti bangun dengan hati kaget, memang aku
telah melakukan banyak kejahatan! sampai dalam impian
aku merasa ditangkap orang dan digusur kehadapan suhu,
aku merasa seakan2 telapak suhu menghajar batok
kepalaku, aku merasa diriku sudah mati, jiwaku melayang."
Napasnya ter-sengkal2, setelah merandek sejenak
terusnya:
"Kenapa aku tak boleh melakukan kejahatan ? aku
adalah seorang manusia yang setiap saat bisa mati, apa
yang kutakuti lagi ? aku sendiri tak tahu sampai kapan aku
bisa hidup, mungkin besok aku akan mati, mungkin lusa
baru aku mati, aku ingin menggunakan setiap kesempatan
sebelum mati untuk ber-senang2 dan melewati hidup yang
gembira !"
Tiba2 Si Chen mendongak dan menatap wajah Loei Sam
tajam2. lama sekali ia baru berkata:
"Kau . . . apakah kau tak tahu apa yang di ucapkan ibu ?"
"Apa yang dikatakan Su-nio ? tanya Loei Sam tertegun.
"Ibu pernah berkata, asalkan kau bisa dicari kembali
maka ia akan muncul sebagai penengah dan
menyelenggarakan perkawinan kita."
Sekali lagi Loei Sam tertegun, lalu secara tiba2
mendongak dan tertawa terbahak2.
"Sumoay, coba kau pikir, seandainya suhu akan
membunuh diriku, dapatkah aku meloloskan diri, dapatkah
Sunio menolong diriku?"
Si Chen membungkam, kepalanya tertunduk rendah2.
Kembali Loei Sam tertawa getir, terusnya:
"Sudah banyak perbuatan jahat yang telah kulakukan,
tapi sungguh aneh sekali, makin banyak perbuatan jahat
yang kulakukan semakin banyak orang yang takut
kepadaku sampai akhirnya. . aku . . . aku menculik putrinya
Hiat Goan Sin Koen, aku baru terluka parah dan hampir2
mati diatas permukaan salju, aku kira saat ajalku telah tiba
tapi aku tidak takut, sebab pada suatu hari manusia tentu
akan mati, tapi . . . justru pada saat itulah ada serombongan
saudagar datang menyelamatkan jiwaku."
"Haaa . . . ! hanya benteng Thian It Poo lah yang
ketimpa sial, seluruh isi benteng diobrak abrik Hiat Goan
Sin Koen, tak seorang manusiapun lolos dari kematian dan
semuanya musnah, punah dan hancur berantakan."
"Siauw sumoay, aku tidak pernah menyangka kau bisa
berangkat keluar perbatasan untuk mencari aku, menurut
kau apa yang harus kulakukan ?"
Si Chen tertegun dan membungkam apa yang harus
dilakukan Loei Sam ? membawanya kembali kegunung Go
bie dan mohon ibunya meminta kan ampun kepada ayah ?
tapi hal ini tak mungkin terjadi, ia sudah banyak melakukan
kejahatan, tak mungkin ayahnya suka mengampuni jiwa
nya begitu saja.
Lalu, apa yang harus dilakukan ?
Lama sekali Si Chen tertegun, kemudian ia baru berkata.
"Menurut perkataanmu kau bermain cinta dengan banyak
perempuan. hal ini di sebabkan setiap saat kau akan mati
maka kau berbuat demikian, dan sama sekali berbeda
sewaktu dengan diriku ?"
Loei Sam cekal tangan gadis itu erat2 dan mengangguk
tiada hentinya.
"Kalau kau bisa memahami hal ini, itulah bagus sekali."
Si Chen merasa hatinya kecut, titik2 air mata jatuh
berlinang membasahi pipinya.
"Aku tidak tahu" serunya sambil menggeleng, "Mungkin
aku sudah paham, mungkin juga belum paham, tapi aku
tidak percaya kepadamu."
"Siauw sumoay, kalau tidak percaya bersamalah selalu
dengan diriku, buktikan sendiri apakah aku masih
melakukan kejahatan atau tidak."
"Kita ber sama2 ?" gumam Si Chen seperti mengigau.
"Benar, kita akan selalu bersama bagaikan sewaktu
berada digunung tempo dulu dimana kita hanya berdua, tak
ada orang lain."
Si Chen tundukkan kepalanya rendah2, begitu rendah ia
menunduk untuk menutupi rasa jengahnya, Loei Sam
tertawa lirih, dengan ujung bajunya ia menyeka air mata
yang membasahi pipinya.
"Sumoay" ia berkata, "Kita tak usah masuk ke daratan
Tionggoan, luar perbatasan masih cukup luas buat kita
untuk berdiam, aku dengar diatas gunung Tiang Pek san
terdapat sebuah telaga yang amat besar. tempat itu sangat
indah se akan2 sorga. kita bersembunyi saja ditempat itu,
jangan biarkan orang lain berhasil menemui kita."
"Tidak mungkin, pasti ada orang berhasil menemukan
kita berdua." seru gadis itu dengan kepala menggeleng.
"Kalau sampai terjadi begitu kita melarikan diri lagi, kita
lari terus sampai tak ada orang yang menemukan kita. atau
biarkanlah aku melarikan diri. kau,.kau tak usah ikut, kau
tak usah melarikan diri ber-sama2 aku."
"Kau...aku larang kau berkata demikian" jerit Si Chen.
Loei Sam menghela napas panjang, ia tak berbicara lagi.
Kedua orang itu saling berpandangan beberapa saat
lamanya. terakhir Si Chen buka suara lebih dahulu:
"Baiklah ! kalau begitu kita berangkat dulu ke tanah
sorga yang kau maksudkan itu, mari cepat kita berangkat,
jangan sampai mereka berhasil menyusul kita !"
Sekali lagi Loei Sam menghela napas panjang.
"Siauw sumoay, sejak semula tahu kau bersikap begini
baik kepadaku, aku takkan banyak melakukan perbuatan
jahat, sehingga membuat keadaanku pada saat ini...jadi
begini dan runyam"
"Akupun tak tahu dalam penjelmaan sebelumnya telah
melakukan dosa apa, sehingga pada penjelmaanku kali ini
bisa mencintai diri-mu." seru Si Chen tertawa getir.
Loei Sam tertegun, lama sekali baru menghela napas
panjang.
"Sekarang . . sekarang . ."
Kata-kata selanjutnya tak sanggup ia teruskan, Loei Sam
bukan seorang lelaki jujur, wataknya terlalu halus, apa yang
dipikirkan tanpa pertimbangan yang masak akan dilakukan
bagaimana akibatnya dia tak ingin dipikirkan mulai
sekarang.
Demikianlah, sambil bercekalan tangan Loei Sam serta
Si Chen melanjutkan perjalanannya ke depan.
Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun,
permukaan salju nan luas tak nampak batasnya dalam
keadaan seperti ini Si Chen mendongak dan mengawasi
wajah Loei Sam, air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya, sambil meraba wajah pemuda itu bisiknya:
"Kau . kau bertambah kurus."
Loei Sam tertawa getir.
"Putri Hiat Goan Sin-koen...!"
Belum sempat ia meneruskan kata2nya, Si Chen telah
menutupi mulutnya sambil geleng kepala berulang kali.
"Aku larang kau membicarakan peristiwa yang terjadi
tempo dulu, selama aku berada disisimu, kau dilarang
melakukan perbuatan2 terkutuk itu lagi !"
"Tentu saja aku takkan melakukan perbuatan itu lagi,
tapi ...sumoay, sekarang aku sudah jadi buronan orang2 Bu-
lim, setiap orang menganggap aku sebagai iblis keji yang
patut dibunuh, ada kala demi melindungi keselamatan
sendiri terpaksa aku harus menggunakan pelbagai siasat
untuk meloloskan diri."
"Kita bisa jauh2 menyingkir, jauh2 menghindari semua
orang !"
Diam2 Loei Sam menghela napas panjang, ia tahu
ucapan dari Si Chen itu terlalu polos, terlalu bersikap ke
kanak2an. untuk menghindarkan diri dari semua orang
bukan suatu pekerjaan yang dapat dilakukan, tapi pada saat
ini ia tidak ingin membantah.
Setelah tertegun sejenak ia mengangguk.
"Benar lebih baik kita berbuat demikian saja"
"Aaaaa . - - apakah lukamu telah sembuh."
"Sudah sembuh enam tujuh bagian, kau tak usah kuatir
sewaktu aku hampir menemui ajalnya diatas permukaan
salju tiba2 muncul orang yang menyelamatkan jiwaku,
setelah kupikir aku rasa meski ada mara bahaya tak
mungkin segawat tempo dulu waktu itu aku harus berbaring
setengah bulan lamanya, dalam benteng Thian It Poo,
selama itu badanku kaku tak berkutik."
Memandang wajah Loei Sam, putri dari Si Thay
sianseng ini bergumam.
"Sudahlah sekarang semuanya telah berlalu di manakah
letak . . . telaga Thian Tie digunung Tiang Pek San yang
kau maksudkan! marilah kita berdiam ditempat itu."
Begitulah mereka berdua melanjutkan perjalanan, entah
berapa saat kemudian sampailah mereka disebuah kota
kecil.
Tingkah laku Loei Sam sangat ber-hati2, agar jangan
sampai dikenali anak buah Ong Mie yang dikirim kesana,
mereka berusaha keras menghindari bentrokan pandangan
dengan setiap orang.
Hari kedua pagi2 kedua orang ini segera menggabungkan
diri dengan orang2 yang hendak berangkat kegunung Tiang
Pek san untuk mengumpulkan jinsom, sepanjang jalan
mereka berbuat se-olah2 sepasang suami istri yang tak
mengenal ilmu silat.
Beberapa hari mereka berkumpul penuh kemesrahan,
walaupun sepanjang perjalanan sering kali mereka bertemu
dengan orang2 dunia persilatan, namun tak seorangpun
diantara jago2 Bu-lim itu ada yang menyangka bahwa Loei
Sam telah bergabung dengan rombongan pencari jinsom.
Suatu senja mereka memasuki sebuah kota yang amat
besar, setelah masuk kedalam kota, pemimpin rombongan
itu berkata kepala Loei Sam:
"Engkoh cilik aku lihat usiamu masih muda dan tidak
mirip kuli2 pencari jinsom, aku rasa sudah sepantasnya kita
berpisah. sebab malam ini kita harus menyambangi Ciang
ya lebih dahulu kemudian akan masuk gunung."
"Benar, memang kita harus berpisah" Loei Sam
mengangguk. "Terima kasih kuucapkan atas perhatian yang
dalam beberapa hari ini."
"Engkoh cilik, tak terhitung seberapa yang bisa kuberikan
kepada kalian." pemimpin rombongan itu tertawa lantang.
"Melihat hubungan yang begitu mesrah antara kalian
berdua. hampir2 membuat kami tidak kerasan dan ingin
cepat2 pulang kerumah dan memeluk bini sendiri erat2 !"
Loei Sim tertawa jengah, sedang Si Chen tunduk dengan
wajah merah jengah. karena takut gadis itu merasa amat
malu, buru2 sianak muda itu mengalihkan pokok
pembicaraan kesoal lain.
"Siapa sih Ciang ya yang hendak kalian sambangi ?"
"Oouw Ciang ya ? dia adalah seorang lelaki jantan
nomor wahid didaerah sekitar gunung Tiang Pek san"
jawab pemimpin itu sambil tunjukkan jempolnya.
Loei Sam adalah pemuda cerdik, tak usah bertanya lebih
jauh ia sudah tahu yang dimaksudkan "Ciang ya" tentulah
Tiang Pek sam Mo, sebab hanya mereka tiga bersaudara
memakai she Ciang dan menjagoi sekitar gunung Tiang Pek
san.
"Oow!" Loei Sim mengiakan hambar dan tidak bertanya
lebih jauh, sementara pemimpin tadi berkata lebih jauh:
"Engkoh cilik, kalau kau ingin tancap kaki ditempat ini
dan berjaga2 atas segala sesuatu yang tak diinginkan, tiada
halangan ikut serta diri kami untuk menyambangi Ciang-
ya."
"Tidak, aku tidak ingin pergi aku . . aku tak pernah
bergaul, takut bertemu dengan orang kenamaan."
Ucapan dari pemuda ini seketika menimbulkan gelak
tertawa semua orang.
"Engkoh cilik, memang lebih baik kau jangan pergi,
sebab binimu terlalu cantik dan Ciang-ya paling gemar pipi
licin, kalau bertemu dengan diri nya aku takut..."
Bicara sampai disitu mendadak pemimpin rombongan
itu membungkam.
Rombongan ini terdiri dari dua puluh orang yang sama2
menunggang sebuah kereta besar, waktu itu kereta sudah
memasuki jalan raya, kebungkaman sang pemimpin
rombongan yang dilanjutkan dengan berubahnya air muka
segera diikuti orang lain.
Ditengah bentakan keras, kereta mereka mendadak
berhenti.
Loei Sam menyadari terjadinya sesuatu yang tak
diinginkan, ia segera berpaling dan tampak lah
serombongan kecil jago2 berbaju ringkas dengan mengiringi
seseorang berjalan mendekat.
Orang itu berjalan dipaling depan! pakaiannya perlente
dengan sikap yang angkuh, sepasang mata memandang
keatas dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun
terhadap semua orang.
Dalam pada itu ada dua orang lelaki telah berebut maju,
sambil menuding orang2 yang ada diatas kereta hardiknya:
"Mata kalian semua sudah buta ? sudah tahu Ciang sam ya
hendak lewati tempat ini, kenapa kereta kalian masih juga
menerjang kemari ? Eei, tarik dia turun dan hukum dengan
lima puluh cambukan !"
Sang kusir ketakutan setengah mati, hampir2 air
mukanya berubah pucat pasi, tubuhnya gemetar keras.
"Yaya sekalian berbuatlah mulia." ia merengek "Memang
mata hamba sudah buta. tak tahu kalau Ciang Sam ya
sedang lewat, maaf yaya sekalian, berbuatlah mulia dan
ampunilah diriku "
"Ciang Sam ya, berbuatlah mulia." sang pemimpin
rombonganpun mohonkan ampun, "Kami sedang berangkat
untuk menyambangi dirimu."
Loei Sam serta Si Chen yang ikut dalam rombongan
bungkam dalam seribu bahasa, mereka berdua sama sekali
tak berkutik, sementara itu dalam hati kecilnya sianak muda
itu berpikir:
"Orang ini disebut Ciang Sam ya, mukanya pucat seperti
mayat, dia tentulah si Tengkorak kumala Ciang Huan dari
Tiang Pek Sam-mo!" Terdengar Ciang Huan mendengus
tertawa dingin, sepasang matanya yang sipit menyapu
sekejap wajah orang2 itu, tiba2 ia tertegun, sinar matanya
menatap wajah Si Chen tak berkedip.
"Liuw Loo toa!" ia segera menegur, "Kenapa kalian
masuk gunung menempuh bahaya dengan membawa
seorang nyonya manis?"
"Bukan . . bukan rombongan kami." buru2 pemimpin
rombongan itu menerangkan "Sepasang suami istri ini
berangkat bersama2 kami, tapi sebentar lagi akan berpisah."
"Kalau begitu bagus sekali, Liuw loo toa, tinggalkanlah
kedua orang itu disini, dan kalian segeralah berangkat untuk
mulai bekerja."
Pemimpin rombongan itu adalah orang baik, ia tahu
apabila sepasang suami istri itu ditinggalkan disini maka
nona cilik itu akan dilalap oleh Ciang Huan, ia jadi serba
salah. "Tentang soal ini . . ."
Belum sempat ia menyelesaikan kata2nya. air muka
Ciang Huan telah berubah hebat, begitu menyeramkan
sampai membuat bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Pemimpin rombongan itu tak berani berkutik lagi,
dengan sinar mata apa boleh buat ia pandang wajah Loei
Sam, air mukanya menunjukkan rasa kasihan namun ia tak
dapat berbuat apa2.
Menyaksikan hal itu Loei Sam merasa geli bercampur
mendongkol, pikirnya:
"Maknya, aku adalah kakek moyangnya orang jahat, tak
disangka ditempat ini harus bertemu dengan cucu buyutnya
orang jahat,..kurang ajar ! kurang ajar !"
Dengan suara hambar ia lantas berkata:
"Liuw Loo toa. mungkin Ciang-ya ini hendak merawat
kami berdua, kau tak usah cemas, biarkanlah kami berdua
ikuti orang ini !"
Liuw Loo-toa menghela napas panjang, ingin sekali ia
memberi peringatan kepada sianak muda tapi berada dalam
keadaan seperti ini mana berani ia buka suara ?
Demikianlah, dengan dibimbing oleh Loei Sam putri dari
Si Thay sianseng segera meloncat turun dari atas kereta,
Dalam pada itu sepasang mata Ciang Huan yang sipit
tiada hentinya mengawasi seluruh tubuh Si Chen dari atas
sampai bawah, baru saja gadis itu turun dari kereta sambil
tertawa seram ia maju menghampiri dan menowel pipinya.
Dalam hati Si Chen amat gusar, ia berkelit ke samping
dan menghindarkan diri dari towelan tersebut.
Ciang Huan bukan manusia sembarangan, dari gerakan
ini ia dapat menerka gadis itu memiliki ilmu silat yang amat
lihay. ia tertegun, belum sempat melakukan sesuatu Loei
Sam telah turun tangan.
Ciang Huan hanya merasakan ada sesosok bayangan
manusia menghampiri dirinya, baru saja ia putar badan
tahu2 pinggangnya sudah jadi kaku.
Ketika itulah tubuhnya terasa amat lemas tak bertenaga,
tidak mungkin dalam keadaan seperti itu ia dapat
melancarkan serangan.
Setelah merobohkan lawannya, Loei Sam tidak berhenti
sampai disitu saja, ia segera cengkeram urat nadinya erat2,
setelah itu sambil tertawa terbahak2 ujarnya:
"Ciang sam-ya, kami suami istri berdua sedang lewat
kota ini, dan untuk sementara waktu ingin menginap
dirumah kalian, aku rasa kau tak akan menampik bukan !"
Waktu itu semua orang yang ada dalam kereta dengan
mata terbelalak sedang mengawasi Loei Sam. dalam
sangkaan mereka pemuda ini pasti akan mati dihajar oleh
Ciang Huan, siapa sangka orang itu malahan kena
dicengkeram.
Merasa dirinya dikecundangi, Ciang Huan merasa kaget
bercampur gusar, ia tahu siapakah orang itu tapi berada
dalam keadaan seperti ini terpaksa ia mengangguk.
"Baik . . baik . , tentu saja akan kami sambut dengan
senang hati!"
Ciang Huan mempunyai perhitungan sendiri, sekarang ia
menderita rugi tapi ia mengharapkan bantuan dari kedua
orang saudaranya setelah berada dirumah, maka iapun
mengharapkan Loei Sam bisa mampir dirumahnya.
Mendengar orang itu sudah setuju, Loei Sam lantas
berpaling kearah Si Chen dan sambil tersenyum ujarnya:
"Mari kita segera berangkat."
Demikianlah dengan tangan sebelah ia cekal urat nadi
Ciang Huan dengan tangan lain menggandeng Si Chen,
mereka bertiga bersama2 maju kedepan, tentu saja kejadian
ini membuat anak buah sitengkorak kumala jadi ter mangu2
dan mengikuti dari belakang dengan pikiran bingung.
Tidak lama kemudian sampailah Loei Sam sekalian
didepan sebuah bangunan yang megah dan kokoh, mereka
langsung masuk kedalam ruangan itu dan berhenti disebuah
ruang tamu yang indah mewah dan megah.
Setelah berada ditempat itu, Loei Sam pun tidak
menutupi apabila ia mengerti ilmu silat, pemuda ini segera
tertawa dingin.
"Sudah lama kudengar ilmu silat Tiang pek Sam-mo
terutama Loo toa serta Loo Jie sangat dahsyat, kenapa tidak
suruh mereka berdua munculkan diri. ."
Sitengkorak kumala Ciang Huan mendengus, segera
teriaknya: "Jie-ko . . !"
Teriakkan ini amat lantang dan jauh menggema kedalam
ruangan, sebentar kemudian terdengarlah suara sahutan
dari dalam.
"Ada urusan apa?"
Bersamaan dengan ucapan itu dari balik ruangan muncul
seorang laki2 kurus berbaju hitam dengan sulaman
tengkorak emas didadanya, menyaksikan keadaan
saudaranya jadi tertegun.
"Samte siapakah orang ini?"
"Aku... akupun tidak tahu." jawab Ciang Huan dengan
air muka sebentar pucat sebentar menghijau.
Sambil berkata matanya berkedip2 sedang mulutnya
mencibir kearah Si Chen maksudnya jelas sekali, ia minta
sitengkorak emas turun tangan diluar dugaan dan
mencengkeram Si Chen kemudian memaksa Loei Sam
lepas tangan.
Sudah lama Tiang Pek Sam-mo bekerja sama dan
melakukan kejahatan, kerdipan mata ini segera diketahui
oleh sitengkorak-emas, tubuhnya segera bergerak menubruk
kearah gadis tersebut.
Loei Sam bukan manusia bodoh begitu tengkorak emas
bergerak, sambil menarik tangan Ciang Huan iapun
bergeser kesamping, kaki kanan berputar menyerang tubuh
bagian bawah tengkorak emas itu dan memaksanya
mundur.
Sitengkorak emas merandek, jari tangannya meluncur
keluar bagaikan kilat menotok jalan darah Hoa Kay hiat
diatas dada Loei Sam, pemuda itu miring badan segera
berkelit kesamping.
Totokan dari si Tengkorak emas ini dilancarkan dengan
gerakan sangat cepat, kelihatan Loei Sam yang dilakukan
secara mendadak ini membuat serangan orang itu tak bisa
tertahan lagi, jari tangannya segera menerobosi ketiak
sianak muda itu dan meluncur kedepan.
Loei Sam segera menekan dan mengepit lengan kirinya,
pergelangan tangan si Tengkorak Emas segera terjepit
kencang2.
Ilmu silat si Tengkorak Emas buat daerah sekitar gunung
Tiang Pek san memang terhitung hebat, tapi kalau
dibandingkan dengan anak murid dari Si Thay sianseng ini
masih ketinggalan jauh.
Dibawah jepitan Loei Sam, tulang pergelangan
sitengkorak emas dengan disertai suara keras telah ditekuk
patah jadi dua bagian.
Loei Sam tetap tak lepas tangan, tulang pergelangan
yang sudah patah kembali disentak dan ditarik olehnya
dengan disertai tenaga Iweekang benturan yang keras
menimbulkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari
sitengkorak emas ini, keringat mengucur keluar bagaikan
hujan gerimis.
"Hoohan, ampun . . . jangan cabut jiwaku?"
Loei Sam mendongak tertawa terbahak2 ia angkat
lengannya memaksa sitengkorak emas Ciang Loo mundur
tiga langkah kebelakang tangan kiri mencekal pergelangan
kanan dan mulutnya berkaok2 terus menahan rasa sakit.
Sejak permulaan hingga akhir, Loei Sam bertindak tanpa
melepaskan cengkeramannya pada urat nadi Ciang Huan,
ketika itulah horden kembali tersingkap dan diikuti
kemunculan seseorang, Orang ini aneh wajahnya kukoay
dengan batok kepala gepeng seakan-akan balok yang
dibelah menjadi dua potong.
Panca indranya datar dan luar biasa, ketika ia berdiri
ditengah ruangan keadaannya mirip dengan manusia kayu.
Loei Sam maupun Si Chen yang menyaksikan orang itu
sama2 berdiri tertegun, mereka dibuat melongo oleh
keadaan yang aneh dari manusia tersebut.
Beberapa saat kemudian, sianak muda itu sudah dapat
menduga orang ini pastilah sang Loo toa dari Tiang Pek
sam Mo, sitengkorak sayu Ciang Yu adanya.
Belum sempat ia buka suara, sitengkorak kayu telah
berkata: "Sungguh hebat ilmu yang anda miliki, benarkah
kedatangan anda sengaja hendak mencari gara2 dengan
kami bertiga ?"
Loei Sam segera tertawa dingin. "Soal ini tak usah
ditanyakan padaku, tanyakan saja secara langsung dengan
saudaramu yang sampai sekarang masih kucengkeram ini,
dengan cepat kau akan tahu apa yang telah terjadi."
"Toako !" teriak si Tengkorak kumala, "Keparat cilik ini.
. dia. . ."
"Tutup mulut !" bentak Si Tengkorak kayu sebelum
saudaranya selesai berbicara, "Kembali kau bikin onar
ditempat luar, bukankah sejak semula sudah kukatakan
diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada
manusia, meski kita bertiga turun tangan berbarengpun
jangan dikata saudara ini, cukup nona itupun tak akan
sanggup kita menangkan, ayoh cepat berlutut dan mohon
ampun kepada sahabat ini !"
Terhadap ucapan yang diutarakan saudaranya ini, si
Tengkorak kumala sangat menurut, segera ia jatuhkan diri
berlutut keatas tanah, namun gerakan ini tak dapat
dilanjutkan sebab Loei Sam masih mencengkeram
pergelangannya.
Pemuda itu tertawa dingin, ia segera lepas tangan.
Sebagai lelaki yang bernyali besar dan berilmu tinggi, ia
tidak takut si Tengkorak Kumala main setan dengan
dirinya.
Setelah urat nadinya terlepas, si Tengkorak kumala jatuh
berturut diatas tanah, waktu itulah kembali si Tengkorak
kayu menghardik:
"Ayoh cepat anggukkan kepalamu dan jalankan
penghormatan besar?"
Merah padam selembar wajah Ciang Huan, ia benar2
menurut dan tok, tok, tok, menganggukkan kepala tiga kali.
Menyaksikan kejadian ini Loei Sam amat kegirangan, ia
tertawa terbahak2.
"Sudah, sudahlah, cayhe akan segera mohon diri."
Maksud dari perkataan ini jelas sekali, ia tidak akan
merecoki urusan dengan Tiang Pek Sam mo lagi, tapi
sewaktu ia putar badan Ciang Yu kembali berseru:
"Harap saudara sudah berdiam sejenak lagi, berilah
kesempatan bagi kami bertiga untuk menjamu anda dengan
tiga cawan arak sebagai tanda minta maaf dari kami
bertiga2.
"Soal ini sih tak perlu, kami ada urusan penting yang
harus segera diselesaikan, biarlah kami mengganggu
dikemudian hari."
"Lalu dapatkah anda beritahu kepada kami, siapakah
nama besar anda?"
Mendengar pertanyaan itu buru2 Si Chen mengedipkan
matanya berulang kali kearah pemuda itu dan melarang ia
bicara, tapi Loei Sam adalah manusia yang suka cari
menang sendiri, sikap hormat dari orang lain membuat ia
kepala besar.
Saat ini ia ingin menggunakan kesempatan ini
mempopulerkan diri, maka dari itu segera jawabnya:
"Cayhe she Loei bernama Sam."
Ucapan ini diiringi helaan napas panjang dari Si Chen, ia
merasa kecewa sebab pemuda itu tak mau menuruti
perkataannya.
Sebaliknya Tiang Pek Sam Mo bertiga jadi tertegun dan
berdiri melongo-longo setelah mendengar nama itu.
Haruslah diketahui dewasa itu nama Loei Sam sudah
amat tersohor dalam dunia persilatan setiap tokoh silat Bu
lim pada kenal nama ini, hal ini dikarenakan Si Thay
sianseng telah memerintahkan seluruh umat Bu lim untuk
menangkap dirinya.
Tiang Pek Sam mo memang manusia jahat, tapi kalau
dibandingkan dengan perbuatan2 Loei Sam, mereka masih
ketinggalan jauh.
Air muka ketiga orang itu segera berubah hebat, setelah
tertegun beberapa saat lamanya Ciang Yu baru berseru:
"Aaah,..kiranya...kiranya anda adalah Loei sauw hiap,
ini hari bisa berkenalan dengan sauw-hiap
sungguh...sungguh membuat kami merasa amat bangga."
Loei Sam amat cerdik, dari perubahan air muka ketiga
orang itu setelah mendengar namanya ia bisa membade isi
hati mereka, dengan cepat ia tertawa dingin.
"Hmm ! benarkah kalian merasa bangga ? apakah kalian
tidak takut Si Thay sianseng serta Hiat Goan Sin koen cari
gara2 dengan kalian ?"
"Tentang soal ini tentu saja kami takut" sahut Ciang Yu
sambil tertawa getir. "Walaupun harus berkorban demi
menemani seorang Koencu kamipun anggap,
bagaimanapun juga ini hari kami bertiga ingin mengikat tali
persahabatan dengan anda"
"Ha ha ha kalian boleh berlega hati, aku tak akan
menyeret kalian, hanya saja aku berharap kalian jangan
mengungkap tentang dirinya kepada siapapun !"
"Tentu saja ! tentu saja !"
Sementara itu, tampak seorang lelaki kekar berjalan
masuk dengan ter buru2, setibanya di hadapan Ciang Yu
segera lapornya:
"Toa-ya orang itu sudah tidak tertolong lagi."
"Jangan banyak ribut, ayoh cepat pergi !" hardik Ciang
Yu.
Lelaki kekar itu mundur selangkah kebelakang dan
berkata kembali:
"Lukanya terlalu parah, hamba betul2 tak sanggup
menyelamatkan jiwanya. untuk memperpanjang usianya
tiga, empat hari lagi pun amat susah. Jie-ya, Sam ya. kalau
kalian mau membalas dendam cepatlah turun tangan, kalau
tidak ia akan kedahuluan mati."
Melihat tegurannya tidak digubris Ciang Yu semakin
gusar.
"Disini ada tamu terhormat, kenapa kau ribut terus2an?
ayoh cepat enyah dari sini, kau sudah bosan hidup?"
Orang itu amat terperanjat, ia tak berani banyak bicara
lagi dengan mulut terbungkam segera mengundurkan diri
"Eeee, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Loei
Sam keheranan.
"Ooouw... seorang keparat cilik pernah mengikat tali
permusuhan dengan kami, beberapa hari berselang kami
berhasil temukan dirinya disebuah rumah penginapan,
kebetulan orang itu sedang menderita luka parah, maka
kami tawan dirinya, berada dalam keadaan tidak sadar
terlalu enak kalau kami bunuh begitu saja maka kami ada
maksud merawat lukanya sampai sembuh dahulu, setelah
itu baru kita siksa perlahan-lahan, siapa sangka rejekinya
agak bagus, ternyata jiwanya tak tertolong lagi!"
"Ooouw, kiranya begitu, kalau memang dia adalah
musuh besarmu, berikanlah suatu kematian buatnya, buat
apa kalian berbuat keterlaluan?"
"Ucapan Loei Siauw hiap tepat sekali."
Ia segera berpaling dan berseru: "Gusur pergi Tong hong
Pek dan buang tubuhnya ditengah kuburan liar dekat bukit
sana."
Nama "Tong hong Pek" membuat Loei Sam tertegun
buru2 serunya:
"Apa, orang itu Tong hong Pek ? maksudmu orang itu
bernama Tong hong Pek ?"
Tiang pek Sam mo pun tertegun, untuk sesaat air
mukanya berubah hebat! tentu saja mereka pun mengerti
Loei Sam pasti kenal dengan Tong hong Pek hanya tak tahu
apa hubungan antara mereka berdua.
Seandainya Loei Sam adalah sahabat karibnya Tong
hong Pek, bukankah mereka bertiga bakal konyol ?"
Sambil tertawa getir Ciang Yu mengangguk.
"Benar, . LoeiSiauw hiap . . apakah kau kenal dengan
Tong hong Pek ?"
"Bukan kenal saja, bukankah bagian dada Tong hong
Pek terluka ?"
"Tidak salah, darimana Loei siauhiap bisa tahu ?"
Loei Sam tak dapat menahan diri lagi, ia mendongak dan
tertawa terbahak.2.
"Kalau dibicarakan sungguh kebetulan sekali, justru ia
terluka ditanganku."
Ucapan ini segera membuat Ciang Yu berlega hati, sebab
bilamana Tong-hong Pek memang terluka ditangan Loei
Sam apalagi terluka begitu parah, jelas mereka adalah
musuh.
Ambil kesempatan inilah, ia ingin cari muka ujarnya:
"Aaah kiranya bangsat itu ada ikatan permusuhan
dengan Loei sauw hiap, apakah Loei sauw hiap..."
"Hal ini sungguh aneh sekali" tukas Loei Sam sambil
ulapkan tangannya, "Bangsat itu terluka sangat parah,
secara bagaimana ia bisa hidup sampai ini hari ?"
Ciang Yu menyeringai seram.
"Terus terang saja, kami ingin menghidupkan dahulu
orang itu kemudian per-lahan2 menyiksanya, maka dari itu
setiap hari kami beri dirinya semangkok cairan jinsom
terbaik agar jiwanya selalu utuh sebab kami tidak ingin dia
mati begitu saja"
"Aah kiranya begitu !"
Kembali alisnya berkerut setelah mengucapkan kata2 itu.
agaknya ia sedang memikirkan sesuatu.
Tiang Pek Sam-mo tidak tahu apa yang sedang
dipikirkan Loei Sam pada saat ini. merekapun tak berani
bicara dan menanti dengan mulut membungkam.
"Suko siapakah Tong hong Pek itu ?" tiba2 Si Chen
bertanya dengan suara lirih.
"Dia... menurut pengakuannya dia adalah anak murid
dari si Bongkok sakti Lieh Hwiee Sin-Tuo"
Si Chen adalah putri tunggal Si Thay sianseng tentu saja
ia tahu manusia macam apakah sibongkok sakti tersebut,
tidak heran kalau ia kaget setengah mati setelah mendengar
ucapan itu.
"Kau . . kembali kau lukai anak murid si-bongkok sakti,
hal ini . , hal ini , , " serunya gelagapan.
Buru2 Loei Sam cekal tangan Si Chen erat2.
"Sumoay. kejadian ini berlangsung beberapa waktu
berselang ketika itu aku belum berjumpa dengan dirimu."
"Sekarang kau harus berusaha untuk menyelamatkan
jiwanya, kalau ia mati aaai . . . kalau kalau sampai ia mati .
. ."
Menurut jalan pikiran Si Chen, apabila Tong hong Pek
binasa, dengan sipat si bongkok yang berangasan, tokoh
sakti itu pasti takkan melepaskan Loei Sam, ini berani
ruang gerak sianak muda itu akan semakin sempit. Makin
cemas gadis itu, sepasang alis Loei Sam berkerut semakin
kencang, katanya.
"Akupun punya pikiran demikian, hal ini bukan
disebabkan aku takut dengan sibongkok sakti tersebut, aku
hanya berpikir apa yang pernah kulakukan pada masa lalu,
yang masih bisa di tolong akan kutolong sekuat tenaga, dan
yang tak bisa ditolong lagi, yaa apa boleh buat."
"Suko, ucapanmu tepat sekali !" dengan terharu Si Chen
membenarkan.
Selama ini Tiang Pek Sam mo mendengarkan tanya
jawab itu disisi kalangan, saat ini mereka dibuat tertegun
dan jengah sekali sehingga tukar dilukiskan dengan kata2.
"Tong hong Pek masih bisa ditolong ?" terdengar Loei
Sam bertanya kembali.
"Aku lihat... ia sudah tak tertolong lagi"
"Bagus, kalau begitu cepat bawa aku menengok
keadaannya !"
"Silahkan, silahkan !" buru-2 Tiang Pek Sam-mo
membawa jalan, mengiringi Loei Sam serta Si Chen
melewati serambi dan memasuki sebuah kamar yang gelap.
Kamar itu mirip gudang penyimpan kayu, bukan saja
lembab, lagi gelap dan kotornya luar biasa, ruangan tersebut
hanya diterangi sebuah pelita yang amat kecil.
Air muka Tiang Pek Sam mo kelihatan semakin jengah,
terdengar Ciang Yu bergumam memberi penjelasan."
"Kami. . kami tidak tahu kalau Loei Sam ingin
menyelamatkan jiwanya, maka selama ini ia . . . ia disekap
ditempat ini."
Loei Sam mendengus dingin, ia ambil pelita tadi dan
didekatkan pada altar batu dimana berbaring seseorang, air
muka orang itu pucat pasi melebihi mayat, tubuhnya tak
berkutik atau dengan perkataan lain lebih mirip sesosok
mayat yang sudah lama mati.
Menyaksikan keadaan orang itu, Si Chen segera menjerit
tertahan.
"Aaaah dia sudah mati."
"Belum... ia belum mati hanya. . . jaraknya dengan
kematian memang sudah tak jauh lagi" kata Loei Sam
setelah memeriksa napasnya.
Ia segera berpaling dan berseru lebih jauh.
"Disini kalian punya obat bagus apa saja, cepat
keluarkan semua hitung2 aku hutang dengan kalian."
"Aaaah, kenapa Loei tayhiap bicara begitu sungkan"
buru2 Tiang Pek Sam Mo berseru.
"Hanya permintaan itu saja terlalu sederhana, apakah
perlu memulihkan Tong hong . . Tong hong sauw hiap
ketempat lain?"
"Jangan dikata pindah tempat asalkan kalian
goncangkan sedikit saja tubuhnya mungkin napasnya segera
akan putus. Sumoay, coba kau tekan jalan darah Pek Hwie
Hiatnya lalu per lahan2 salurkan hawa murni kedalam
tubuhnya!"
Si Chen menurut ia segera duduk disisi Tong hong Pek
dan tekan telapaknya diatas batok kepala pemuda itu.
Tampak Loei Sam tertawa getir.
"Sungguh tak nyana beberapa hari berselang aku melukai
dirinya, sekarang aku harus menolong dirinya kembali.
Siauw sumoay, tahukah kau apa sebabnya aku berbuat
demikian?"
Merah padam selembar wajah Si Chen, hal ini
disebabkan ia merasa sangat girang dan gembira.
"Aku tahu, kau berbuat demikian karena diri ku, karena
kau dapat bersama-sama diriku kembali."
Loei Sam cekal tangan Si Chen erat2. kedua orang itu
saling berpandangan dengan penuh kemesraan.
Tidak selang beberapa saat kemudian, Tiang Pek Sam
mo telah muncul kembali dengan membawa macam2 jenis
obat, Loei Sam memilih beberapa diantaranya lalu
ditumbuk jadi halus seperti bubuk dan dicampur dengan
jinsom diaduk sebagai kuah, kemudian mementangkan
mulut Tong hong Pek dan mencekoki cairan tersebut
kedalam perutnya.
Dalam pada itu tiada hentinya Si Chen salurkan hawa
murninya kedalam tubuh Tong hong Pek, beberapa saat
kemudian per-lahan2 pemuda itu telah membuka matanya
dan sadar.
Berbicara dari pihak Tong hong Pek, sejak terluka dan
jatuh tak sadarkan diri, baru kali ini ia sadar kembali.
Ketika sadar, pertama2 yang dirasakan olehnya adalah
segulung tenaga lunak yang meluncur masuk kedalam
tubuh tiada hentinya dari ubun2, aliran panas dan lunak ini
mendatangkan rasa yang nyaman buat seluruh tubuhnya.
Saat ini dia tidak merasa tersiksa lagi, bahkan merasa
dirinya seakan2 berbaring diatas awang2 dimana badannya
sama sekali tak bertenaga, lunak, lemas dan ringan.
Dengan membuang banyak tenaga ia membuka kelopak
matanya diikuti otakpun jadi jernih kembali, ia mulai bisa
berpikir, dimanah aku? sudahkah berada dirumah?
Saat ini sepasang matanya tak dapat di pentangkan
lebar2. pemuda itu cuma menangkap suara gadis yang
terasa amat asing baginya.
"Suko, coba kau lihat ia sudah sadar kembali.”
Tong hong Pek tertegun, orang yang barusan bicara tentu
saja Si Chen, tapi pemuda itu tidak kenal dengan dara
tersebut, setelah mendengar ucapan itu ia lantas berpikir
lebih jauh.
"Kalau begitu aku belum berada dirumah? tapi... kenapa
suara gadis yang masih asing baginya ?. Mungkinkah Si
Soat Ang sudah ke timpa kemalangan?"
Makin dipikir hatinya semakin cemas, kelopak matapun
terbentang semakin lebar.
Tapi tak sebuah bayanganpun berhasil ditangkap jelas,
semuanya kabur, buram dan tidak jelas, ingin sekali ia buka
suara namun tak sepotong suarapun berhasil dipancarkan
dari mulutnya.
"Baru saja kau sadar, jangan terlalu gelisah,
beristirahatlah sebentar baru bicara" ujar gadis asing itu
kembali.
Tong hong Pek mengedipkan matanya berulang kali,
akhirnya ia dapat melihat jelas gadis dihadapannya, ia
memiliki selembar wajah yang amat mempersonakan,
hidungnya mancung, bibirnya kecil dan sepasang mata yang
sayu.
"Aku...aku...aku berada...berada dimana ?" rintih Tong-
hong Pek lirih.
"Tak usah keburu bicara, hitung2 baru saja kau jalan2
diakhirat dan sekarang sudah kembali kedunia ?"
"Siapa kau ? dimana nona...nona Si ?"
"Siapa itu nona Si?" Si Chen rada melengak.
"Nona Si . . nona Si dari benteng Thian It Poo . . selama
ini . . selama ini kami selalu . . selalu bersama . . ."
Meski Tonghong Pek sudah sadar, tapi kesehatan
badannya masih terlalu lemah, rasa cemas yang mencekam
membuat pandangannya jadi gelap, hampir2 saja pemuda
itu jatuh tidak sadarkan kembali.
Menyaksikan keadaannya tidak menguntungkan, Si
Chen segera menjerit:
"Suko!"
Waktu itu Loei Sam sedang berdiri didepan pintu,
mendengar panggilan itu ia goyangkan tangannya berulang
kali se akan2 sedang beritahu kepadanya bahwa ia tidak
ingin diketahui oleh Tong hong Pek.
Si Chen mengerti maksudnya, ia menunduk dan berkata:
"Nona Si yang kau maksudkan, dia . . dia . ." Si Chen
sama sekali tidak kenal manusia macam apakah nona Si itu,
ia tak biasa berbohong, maka setelah bicara setengah jalan
ia berhenti dan tak sanggup meneruskan lebih jauh.
"Bagaimana . . . bagaimana keadaannya?" tanya Tong
hong Pek dengan napas tersengkal.
"Mungkin ia berada dalam keadaan baik saja, sewaktu
kami berjumpa dengan dirimu kau hanya seorang diri.
Entah nona itu berada dimana? ketika kami temukan
dirimu, keadaanmu lebih mirip dengan sesosok mayat.
Tong hong Pek menghela napas panjang, ia sadar dirinya
tentulah sudah tidak sadarkan diri beberapa waktu
lamanya.
Perlahan2 ia pejamkan matanya atur pernapasan setelah
itu membuka matanya kembali sambil berkata.
"Lalu sekarang . . aku . . aku berada dimana! siapakah
nama . . .nama besar nona."
"Sekarang kau ada dirumahnya Tiang Pek Sam-mo aku
bernama Si Chen"
"Nona siapa . . apa hubunganmu dengan Si Thay
sianseng?"
"Beliau adalah ayahku, ayahku adalah sahabat karib
gurumu sibongkok sakti Lieh Hwee Sin Tuo, sewaktu kami
tiba disini kebetulan Tiang-pek Sam Mo hendak membuang
dirimu ketanah kuburan liar dibelakang bukit sana, melihat
kejadian ini sukoku lantas turun tangan dan
menyelamatkan jiwamu."
Ketika Si Chen bicara sampai disitu, Loei Sam telah
goyangkan tangannya berulangkali, tapi Si Chen tidak
menggubris ia meneruskan kata2nya sampai selesai.
"Aaaah! kiranya begitu" Tong-hong Pek berseru tertahan,
"Dimana suhengmu ? sudah sepantasnya kuucapkan terima
kasih atas budi pertolongannya !"
"Suko kau kemarilah !" seru Si Cheo kemudian
Tentu saja Loei Sam mengerti maksud yang terkandung
dalam hati kecil gadis tersebut, ia minta dirinya jangan ber-
sembunyi2 dan menjumpai diri Tong-hong Pek, hal ini
ingin membuktikan bahwa dia, Loei Sam tidak selalu
melakukan perbuatan jahat.
Loei Sam tertawa getir, sebab dalam kolong langit hanya
Si Chen seorang yang dapat memahami isi hatinya.
Kecuali gadis itu siapa yang mau percaya padanya ?
Ia sadar meski dirinya maju juga percuma Tong-hong
Pek tak akan mempercayai dirinya, karena itu ia tetap
berdiri tertegun ditempat semula.
"Suko, cepatlah kemari !" kembali Si Cheo berseru.
Melihat gadis itu mendesak terus, Loe Sam jadi serba
salah, tak kuasa lagi ia menghela napas panjang.
Suara itu sangat dikenal oleh Tong-hong Pek, seketika
pemuda ini dibuat tertegun, apa lagi sewaktu Loei Sam
muncul dihadapannya, ia semakin melengak dan hampiri
saja tak mau mempercayai mata sendiri.
Ditatapnya wajah Loei Sam tajam-2 lalu pejam mata,
dalam sekejap pikirannya terasa kacau, benarkah Loei Sam
telah menyelamatkan jiwanya? tapi hal ini tak mungkin
terjadi !
Pikiran Tong hong Pek semakin kalut, diam2 ia berkata:
"Aaah. tak mungkin, yang kulihat pastilah suatu lamunan
belaka mungkin lukaku yang terlalu parah menimbulkan
pelbagai lamunan yang tak masuk diakal, hal ini tak
mungkin terjadi..." ia menghela napas panjang dan tak mau
buka matanya lagi.
Dalam pada itu dari sisi telinganya kembali terdengar Si
Chen berkata:
"Sudah kau lihat? dia adalah Loei suko ku. meski kau
terluka ditangannya, tapi dia pula yang menyelamatkan
jiwamu, kau panas bukan? setelah ia berada bersama diriku,
Loei suko takkan melakukan perbuatan jahat lagi."
-oodeoowioo-

Jilid 11
TONG HONG PEK tetap bungkam dalam seribu
bahasa, tanpa terasa kepalanya menggeleng berulang kali.
"Sumoay. sudahlah tak usah banyak bicara." seru Loei
Sim tidak sabaran lagi. "la tak bakal bisa paham. semua
manusia dikolong langit. tak akan bisa memahami diriku."
"Tidak, aku akan paksa dia untuk memahami, bahwa
kau..."
"Sumoay, sudahlah, meski semua orang di kolong langit
memahami, tapi apa gunanya?" tukas Loei Sam dengan
nada lembut. "Untung sekali ia tidak sampai mati dan
berhasil diselamatkan jiwanya, tapi sudah banyak orang
yang mati ditanganku, mungkinkah mereka hidup kembali ?
aku sudah terlalu banyak melakukan perbuatan jahat, orang
lain tak bisa mempercayai diriku, hal . . . hal ini sudah
jamak, tak bisa kau salahkan orang2 itu."
Si Chen merasa sangat berduka, ia menghela napas
panjang-2
"Suko, ucapanmu memang tidak salah." katanya.
"Sekarang ia sudah sadar kembali, mari kira tunggu
beberapa hari lagi, setelah air mukanya rada segar kita
segera tinggalkan tempat ini dan jauh berkelana keujung
langit."
"Ehmm ! kita bicarakan dikemudian hari saja"
Semua tanya jawab antara Loei Sam dengan Si Chen
dapat ditangkap Tonghong Pek dengan jelas sekali, tapi ia
selalu berpikir:
"HaI ini tak mungkin terjadi, tentulah pikiran ku sedang
kacau dan terlalu melamunkan hal-2 yang bukan2..."
Ia pejam matanya rapat2 dan tak mau dibuka lagi.
Si Chen menghela napas panjang, ia tempelkan
telapaknya diatas batok kepala Tong hong Pek dan salurkan
hawa murninya kedalam tubuh pe muda itu, Tiang pek
Sam-mopun beberapa kali datang berkunjung untuk
menyerahkan obat2an paling mujarab.
Demikianlah, tujuh delapan hari kemudian Tong hong
Pek pun sudah dapat bangun berdiri.
Setelah dapat berjalan, Tong-hong Pek mulai duduk
bersila dan salurkan hawa murninya untuk menyembuhkan
luka sendiri, tiga lima hari kemudian kesehatan badannya
sudah jauh lebih sehat.
Berada dalam keadaan sadar, pemuda she Tong hong
pun tak bisa mengatakan apa yang dilihat hanya lamunan
belaka, meski begitu ia tak pernah mengajak Loei Sam
berbicara kecuali terhadap Si Chen putri tunggal dari Si
Thay sianseng ini.
Ketika itu Tiang Pek Sam-mo pun sudah menyediakan
kamar yang lebih baik untuk ia tinggali.
Suatu malam, ketika ia sedang duduk bersila mengatur
pernapasan, tampaklah Si Chen berjalan masuk kedalam
kamar.
"Kami segera akan berangkat!" ujar gadis itu
"Kau dengan Loei sam . . ."
"Persoalan diantara kami tak akan dipahami oleh
siapapun termasuk orang tuaku sendiri, hanya aku dengan
dia yang tahu, kaupun tak usah mengungkap lagi, aku
hanya ingin memohon sesuatu kepadamu."
"Silahkan nona Si utarakan."
Si Chen menghela napas panjang
"Kami hendak... hendak menghindari setiap orang yang
mengejar kami, tapi... aku takut kami gagal untuk
meloloskan diri, meski demikian kami tetap akan berusaha
sekuat tenaga, aku harap kau jangan mengungkap kepada
siapapun bahwa kau pernah berjumpa dengan diriku,"
Tong hong Pek adalah seorang Koen coe, sebelum ambil
keputusan ia tak mau menyanggupi secara sembarangan
segera ia termenung beberapa saat lamanya kemudian
ujarnya:
"Tentang soal ini. . ."
"Aku tahu setelah kau terluka ditangannya dalam hati
kecilmu tentu mendendam kepadanya, walaupun kemudian
berhasil menyelamatkan jiwamu, tapi kesalahan tetap
berada dipihak nya tapi dikemudian hari kami masih ada
kesempatan untuk membalas budi kepadamu, sepanjang
masa kami tak akan melupakan kejadian ini."
"Nona Si, bukan aku menaruh dendam kepadanya." kata
Tong-hong Pek sambil menghela napas panjang, "dan
akupun tidak mengharapkan balas jasa dari dirinya.
"Lalu apa sebabnya kau tak mau mengabul kan
permintaanku?"
"Seandainya aku . . . aku berjumpa dengan ayahmu, dan
ayahmu berkata kepadaku, apakah aku harus mengatakan
"Tidak tahu" Loei Sam sudah jadi buronan yang ditangkap
oleh setiap umat Bulim atas perintah ayahmu, aku hanya
gemas kenapa lukamu belum sembuh . . ."
Air muka Si Chen kontan berubah hebat, serunya cepat2.
"Kau . . . kau . harap kau jangan teruskan ucapanmu
itu."
Per lahan2 Tong-hong Pek geleng kepala "Nona Si, kau
tak usah takut Loei Sam mendengar ucapan ini." katanya
"Loei Sam adalah seorang manusia cerdik, iapun bisa
menduga setelah lukaku sembuh, aku pasti tak akan
melepaskan dirinya."
Beberapa saat Si Chen tertegun, mendadak ia menangis
tersedu-sedu.
"Kenapa kau tak suka melepaskan dirinya ? kenapa
kalian tak mau melepaskan dirinya ? kenapa ? kenapa
semua orang dikolong langit tak mau lepaskan dirinya ?!"
"Nona Si, kau harus tahu, selama dua tahun ini berapa
banyak perbuatan jahat yang telah ia lakukan dalam dunia
persilatan ? terhadap manusia semacam ini, siapapun
berhak untuk membasminya dari muka bumi, setiap orang
Bu lim yang mengutamakan keadilan serta keamanan tentu
tak akan melepaskan dirinya begitu saja!"
"Tentu, memang aku tahu semua orang pasti akan
berbuat demikian." teriak Si Chen dengan napas ter engah2.
"sebab siapa yang berhasil membinasakan dirinya, maka
nama benarnya akan tersohor diseluruh jagat, dia akan
mendapat pahala dari Si Thay sianseng dan memperoleh
keuntungan yang sangat besar, siapa yang kesudian berbuat
tolol dengan membantu dirinya ?"
Air muka Tong hong Pek berubah hebat, serunya segera:
"Nona Si, kaupun termasuk salah satu korban yang
dicelakai olehnya, kenapa kau masih bisa mengutarakan
kata2 semacam ini !"
Titik2 air mata jatuh berlinang tiada hentinya
membasahi pipi Si Chen, tapi iapun mendongak tertawa
terbahak2.
"Aku dicelakai ? kau salah besar, dialah yang kena
dicelakai, dialah yang patut dikasihani."
"Siapa yang bilang ?" jerit Tong-hong Pek.
Pada saat itulah, tiba2... "Braak...!" pintu kamar
terpentang lebar.
Dengan cepat Tong-hong Pek angkat kepala, tampaklah
Loei Sam dengan air muka hijau membesi telah berdiri
didepan pintu dengan sikap gusar.
Si Chen segera berpaling, ketika menjumpai Loei Sam
ada disana ia segera menuding kearah pemuda itu sambil
berseru:
"Dia...dialah yang dicelakai, kalau bukan ayahku begitu
keras kepala... maka dia..."
"Sumoay !" sebelum Si Chen menyelesaikan kata2nya,
Loei Sam telah membentak.
"Kau jangan mencegah diriku untuk berbicara, akan
kuutarakan semuanya, akan kuberitahukan semua keadaan
yang telah terjadi kepadanya, aku akan menyatakan kepada
siapapun, agar semua orang yang ada dikolong langit tahu
aku bukan orang jahat. kau hanya..."
Tiba2 Loei Sam maju kedepan dengan sebelah tangan
mencekal tangan gadis itu tangan lain menutupi mulutnya.
"Sumoay sudahlah, jangan kau teruskan." ujarnya
dengan nada lembut, begitu lembut se akan2 kasih sayang
seorang ibu kepada anaknya, "Orang lain tak akan
memaafkan diriku, dan akupun tidak membutuhkan maaf
dari orang lain, asalkan kau bisa memahami keadaanku, hal
ini sudah lebih dari cukup!"
Si Chen berhenti bicara, Walaupun begitu air mukanya
masih tampak jelas terpengaruh oleh emosi"
Loei Sam cekal tangan gadis itu erat-erat, lalu ajaknya
dengan nada lirih:
"Mari kita segera berangkat!"
Si Chen tidak banyak bicara lagi, mengikuti dibelakang
Loei Sam segera melangkah keluar dari kamar dan
melayang melewati tembok pekarangan.
Tapi... ketika itulah dari arah pintu depan berkumandang
datang suara bentakan keras yang gegap gempita, sebagian
atap serta seluruh bangunan tergetar keras.
Bentakan itu begitu dahsyat sehingga mengejutkan Tong
hong Pek yang baru sembuh dari lukanya sampai2 dibuat
jatuh terduduk kembali keatas pembaringan, pandangan
matanya jadi gelap hampir2 saja ia muntahkan darah segar.
Loei Sam serta Si Chen yang sedang melesat melewati
tembok pekaranganpun segera berhenti dan mengundurkan
diri kembali.
Mereka berdua langsung menyusup kedalam kamar
Tong-hong Pek, sementara air muka Loei Sam berubah
hijau membesi.
Si Chen memandang sekejap kearah Tong hong Pek. se
akan2 ia hendak mengungkapkan sesuatu kepada pemuda
tersebut tapi kena ditarik oleh Loei Sam, tanpa banyak
bicara kedua orang itu segera menyembunyikan diri
kebelakang kelambu dalam kamar itu.
Kembali suara hiruk pikuk berkumandang memekakkan
telinga, seakan2 be-ribu2 butir batu seberat ribuan kati
bergelindingan didalam bangunan rumah itu.
Terdengarlah suara dari Tiang Pek Sam Mo
berkumandang datang dari ruangan tengah, suara mereka
begitu mengenaskan seakan2 sedang berhadapan dengan
raja akhirat.
"Sin Tuo ampun . . Sin Tuo ampun!"
Kata2" si bongkok sakti" menggetarkan tubuh Tonghong
Pek hampir2 ia tak percaya dengan telinga sendiri.
Sibongkok sakti adalah gurunya secara bagaimana ia bisa
tiba disini"
"Suhu." buru2 teriaknya.
Dengan badan yang lemah, sampai seberapa besar
jeritannya itu, apalagi suara hiruk pikuk ditempat luaran
amat memekikkan telinga, suara tersebut tak mungkin bisa
terdengar oleh si bongkok sakti.
Pada waktu itulah, tiba2 terdengar Loei Sam
berkumandang datang dari arah belakang.
"Tidak salah gurumu sibongkok sakti berangasan telah
tiba, tapi kau harus ingat, aku berada dibelakangmu kalau
kau katakan bahwa aku berada disini maka yang mati
duluan adalah kau sekalipun akhirnya aku berhasil ditawan
oleh sibongkok sakti setiap saat aku masih punya
kesempatan untuk menarik diri!"
Tong-hong Pek tarik napas dingin, ketika ia berpaling
tampaklah kelambu sudah diturunkan, hal ini membuktikan
kalau Loei Sam telah bersembunyi dibelakang tubuhnya,
jantung Tong hong Pek terasa berdebar semakin keras.
Dalam pada itu suasana ditempat luaran masih gaduh,
terdengar suara raungan gusar dari sibongkok sakti
berantakan berkumandang tiada hentinya diangkat.
"Kalian ingin aku ampuni jiwa kalian ?" teriaknya
lantang. "Muridku sudah mati ditanganmu, siapa yang
kesudian mengampuni jiwa kalian ?"
Mungkin pada waktu itu sibongkok sakti berhasil
menangkap dua orang diantara Tiang Pek Sam mo,
terdengar jeritan ngeri dari dua orang bergema terus
menerus.
Kemudian diikuti suara dari si Tengkorak Kayu berseru:
"Bongkok Sakti, harap kau suka lepas tangan, muridmu
tidak mati,.harap bongkok sakti jangan mempercayai berita
bohong orang lain !"
"Apa ? Tong hong Pek tidak mati ?" Dengusan napas si
Tengkorak Kayu yang ter-engah2 kedengaran nyata sekali.
"Benar, ia tidak mati, ia benar-2 tidak mati, kami
merawatnya dengan segala kemewahan."
"Neneknya kalian masih ingin membohongi diriku ?"
bentak sibongkok sakti amat gusar.
"Sin Tuo, sebentar lagi kau dapat berjumpa dengan
dirinya, kami tidak akan berani membohongi dirimu."
"Bagus, ayoh cepat antar aku pergi menjumpai dirinya !"
"Baik ! baik !"
Dalam sekejap terdengar hembusan angin tajam
menyambar lewat diikuti robohnya pintu kamar, si
Tengkorak kayu segera menerobos masuk diikuti si
Bongkok Sakti dibelakangnya.
Ditangan kanannya Si Bongkok Sakti menenteng si
Tengkorak kumala, disebelah tangan kirinya ia mencekal si
Tengkorak Emas, dimana air muka kedua orang itu pucat
pasi bagaikan mayat keringat mengucur keluar bagaikan
hujan gerimis.
Setelah berada didalam kamar, Sibongkok Sakti berdiri
tertegun, ia temukan seorang pemuda kurus layu dan pucat
berbaring diatas ranjang, untuk sesaat ia tidak kenali orang
itu sebagai murid nya.
"Kau adalah Tong-hong Pek?" tanyanya dengan mata
melotot.
"Suhu benar aku adanya. Suhu, apakah kau sudah tidak
kenal diriku ? Aaai . . lukaku terlalu parah . . ."
Sebelum Tong hong Pek menyelesaikan kata2 nya, si
Bongkok Sakti sudah berteriak aneh, ia banting si
Tengkorak Emas dan Tengkorak Kumala keatas tanah lalu
berseru:
"Aaaah, benar2 dirimu ! secara bagaimana kau tidak
mati ? nona Si mengatakan kau terluka ditangan Loei Sam
bajingan busuk murid durhaka dari Si Thay sianseng itu,
kemudian ditawan Tiang Pek Sam mo, secara bagaimana
kau bisa lolos dari kematian ?"
Semula Tong hong Pek tidak mengerti secara bagaimana
gurunya si Bongkok Sakti mengetahui kalau ia berada
disini, setelah mendengar disebutkannya nama "nona Si" ia
baru mengerti kiranya Si Soat Anglah yang kirim kabar
kepada gurunya.
"Suhu, di manakah nona Si?" buru2 ia ber-tanya.
"Berada sama2 suniomu, Aah! Lukamu sangat parah,
biarlah kuperiksa..."
Sambil berkata ia cekal urat nadi pemuda Tong hong ini.
Tapi dengan cepat ia geleng kepala berulang kali, sambil
gertak gigi serunya.
"Biarlah nanti setelah kutangkap Loei Sam bajingan
busuk ini, tanpa menunggu sampai kuserahkan kepada Si
Thay sianseng akan kurobek dulu badannya!"
Tong hong Pek tarik napas panjang.
"Suhu, kalau kau berbuat demikian maka diri mu akan
melakukan suatu kesalahan besar, Loei Sam adalah anak
murid Si Thay sianseng, dan Si Thay sianseng telah minta
bantuan umat Bu-lim untuk bantu menangkapnya, kalau
kau membinasakan dirinya, lalu secara bagaimana hendak
kau pertanggung jawabkan persoalan ini dihadapan Si
Thay?"
"Sudah, sudahlah." seru Si bongkok Sakti sambil ulapkan
tangannya. Justeru kau punya banyak permainan setan
sampai napasku jadi mengendor, bagaimanapun aku tak
akan berhasil menemukan dirinya, ayoh berangkat, kita
kembali kegunung Lak Ban san."
Si Bongkok Sakti segera memayang bangun Tong hong
Pek sementara hati pemuda itu terasa sangat tegang.
Ia duduk didepan pembaringan, dan mendapat ancaman
dari Loei Sam yang bersembunyi dibelakang kelambu, tapi
asalkan setengah langkah ia tinggalkan tempat itu, dengan
perlindungan si bongkok sakti disisinya maka ia tak perlu
takut lagi terhadap ancaman Loei Sam.
Maka setelah ia dibimbing bangun segera ujarnya:
"Suhu dibelakangku . . ."
"Dibelakangmu ada apanya?" tanya si bongkok sakti
seraya berpaling,
Dengan paksakan diri Tong hong Pek tarik napas
panjang2, tiba2 ia melangkah setengah tindak kedepan,
dengan badan sempoyongan sahutnya:
"Suhu dia berada dibelakang pembaringan."
"Siapa yang ada dibelakang pembaringan?" tanya
Sibongkok sakti tertegun ia masih belum dapat mengartikan
maksud ucapan itu.
"Loei Sa.,"
Sibongkok sakti membentak keras Sreeet! ia melancarkan
sebuah cengkeraman merobek kelambu dibelakang
pembaringan Tapi disana tak ada sesosok bayangan
manusia kecuali sebuah lubang yang amat besar, ternyata
Loei Sam telah melarikan diri.
"Nona Si! Nona Si!" Tong-hong pek segera berteriak
berulang kali.
Tapi ia tak mendapat jawaban dari Si Chen, jelas
bersama Loei Sam gadis itu telah melarikan diri. kapan
perginya Tong-hong Pek sendiri tak tahu, tapi ia sadar
belum jauh mereka berlalu.
"Suhu!" segera teriaknya, "Barusan saja Loei Sam masih
berada disini, ia pasti belum pergi jauh, jangan
memperdulikan diriku cepatlah kejar dirinya dan tangkap
orang itu kemudian serahkan saja kepada Si Thay Sianseng.
Jangan beri kesempatan lagi kepadanya melakukan
kejahatan dalam dunia persilatan !"
"Ucapanmu tepat sekali" teriak si Bongkok sakti, ia
segera berpaling dan teriaknya kepada Tiang Pek Sam mo
yang selama ini berdiri tertegun disamping.
"Sudah kalian dengar ? ayoh cepat kejar Loei Sam, bawa
serta panglima udang tentara kepitingmu, seret bajingan
cilik itu ! kalau tak berhasil kalian temukan awas, kubeset
kulit wajahmu !"
Berhadapan dengan sibongkok sakti manusia paling
berangasan, Tiang Pek Sam Mo tak berani mengatakan
"Tidak", mereka segera berlarian kedepan, dalam sekejap
mata terdengar suara ber-sahut2an, diikuti derap kaki kuda
yang amat ramai.
Si Bongkok Sakti pun tidak buang waktu, ia segera
berangkat melakukan pengejaran.
Tidak selang beberapa saat kemudian, suasana dalam
bangunan itu pulih kembali didalam kesunyian.
Tiba2 . . . suara tertawa dingin berkumandang datang
dari arah tiang penglari.
Suara itu amat menyeramkan seakan2 jeritan kuntilanak
ditengah kuburan, begitu ngeri sampai2 mendirikan bulu
roma.
Hati Tong-hong Pek langsung tercelos, buru2 ia
mendongak, tampaklah sesosok bayangan manusia
melayang turun dari atas tiang penglari diikuti jeritan
tertahan dari Si Chen:
"Suko !"
Tak usah diduga lagi, bayangan manusia yang melayang
turun dan atas tiang penglari bukan lain adalah Loei Sam.
Dengan air muka adem selangkah demi selangkah Loei
Sam maju mendekat, telapak tangannya diangkat keatas
siap melancarkan serangan.
Sewaktu mendengar Si Chen menjerit, ia lantas
menghentikan tangannya ditengah udara.
"Sumoay !" serunya dengan nada menyeramkan, "Kalau
bukan aku pandai melihat gelagat, niscaya saat ini kita
berdua sudah mati ditangan sibongkok sakti tersebut, buat
apa kita tinggalkan manusia semacam ini tetap hidup
dikolong langit?"
Sambil berkata, sekali lagi ia ayun tangannya ke tengah
udara.
Si Chen segera meloncat turun dari atas tiang penglari,
sambil menarik tangan Loei Sam seru nya cemas:
"Suko, bukankah kau indah mengabulkan permintaanku
dan tidak akan membunuh orang lagi."
"Sumoay, kau belum tahu betapa kejam dan bahayanya
dunia persilatan, kalau tidak kau bunuh orang ini, maka
kau akan mati ditangannya!"
"Tapi ia lemah dan sama sekali tak bertenaga, buat apa
kita binasakan dirinya ?"
"Sumoay, apakah kau lupa barusan saja ia bocorkan jejak
kita kepada gurunya si Bongkok Sakti, ini menandakan
kalau ia ada maksud hendak mencelakai kita berdua !"
Si Chen tertawa getir.
"Suko, tempo dulu sudah banyak orang yang kau celakai
tiada aneh setiap manusia yang ada dikolong langit
menaruh dendam kepadamu, Suko kau pernah
mengabulkan permintaanku, setelah bertemu kembali
dengan diriku, bersama2 diri ku kembali maka kau tak akan
mencelakai orang lagi, apakah kau sudah lupa dengan
janjimu itu ?"
Loei Sam tertegun beberapa saat lamanya kemudian
menghela napas panjang, telapak yang sudah diayun
ketengah udarapun per lahan2 diturunkan kembali.
Dalam dugaan Tong-hong Pek, detik ini juga ia bakal
mati ditangan Loei Sam, meskipun berulang kali Si Chen
menasehati pemuda itu agar urungkan niatnya, pemuda
Tonghong tidak percaya manusia bejat macam Loei Sam
bisa menuruti permintaannya.
Siapa sangka Loei Sam menurut nasehat Si Chen dan
urungkan niat jahatnya, hal ini membuat Tonghong Pek
tercengang dan tidak habis berpikir.
Ketika ia buka matanya kembali, tampak Loei Sam
masih berdiri dihadapannya, sepasang mata melotot lebar2
dan menatap wajahnya tak berkedip.
"Sudah kau dengar apa yang dikatakan sumoayku
barusan?" serunya dingin bagaikan es, "Aku telah berjanji
kepadanya tidak akan melakukan segala perbuatan yang
jahat lagi, apa yang telah kukatakan akan kupegang teguh
tapi kalau kau masih juga berkeras kepala . . yaah, apa
boleh buat, aku tak dapat berbuat lain!"
Tong hong Pek bukan manusia tak kenal budi, ia hanya
bisa tertawa getir sambil berseru. "Kau. . . kau . . ."
Yang keluar cuma itu2 melulu, ia tak tahu apa yang
harus diucapkan kepada Loei Sam, akhirnya ia
menambahkan.
"Kau . , kau bermaksud hendak pergi kemana?"
"Setelah jejak kami kau bocorkan dapat menyelamatkan
jiwa kami merupakan suatu keuntungan yang luar biasa,
siapa tahu aku hendak pergi kemana?" kata Loei Sam
sambil tertawa dingin.
"Sahabat Loei, dengan namamu yang tersohor diseluruh
dunia persilatan, seandainya kedudukanmu ditukar dengan
diriku apakah kau suka melepaskan diriku?"
"Dan sekarang bagaimana dengan kau? kenapa sekarang
kau bertanya kepadaku hendak kemanakah diriku ?"
Tong hong Pek merasa amat bimbang, per-lahan2 ia
menggeleng lalu menghela napas panjang.
"Sekarang, paling sedikit aku sudah percaya bahwa kau
tidak akan melakukan kejahatan lagi, dan dapat kubuktikan
kalau watakmu sebenarnya tidak sekeji apa yang disiarkan
dalam dunia persilatan !"
Mendengar ucapan itu Loei Sam mendongak tertawa
terbahak2.
"Haa...haa..haa...terima kasih atas pujianmu, aku bukan
manusia baik, setelah kukatakan tak akan kubunuh dirimu.
aku tidak akan mengganggu dirimu barang seujung
rambutpun tak usah kau bermaksud membaiki diriku"
Merah padam selembar wajah Tong-hong Pek yang
pucat,
"Sahabat Loei, salah besar kau berkata demikian, apakah
kau anggap aku berubah sikap karena keadaanku yang
gawat ? dan membaiki dirimu dengan maksud agar kau
suka mengampuni diriku ?"
Loei Sam tertawa dingin tiada hentinya.
Buru2 Si Chen menimbrung.
"Suko mari kita cepat pergi!"
Loei Sam segera menarik tangan Si Chen berlalu dari
tempat itu tapi sebelum tiba didepan pintu terdengar derap
langkah manusia bergerak semakin dekat diiringi teriakan2
dari si bongkok sakti.
Air muka Loei Sam berubah hebat, ia segera mundur
kembali kedalam kamar.
Menanti ia tiba dihadapan Tonghong Pek teriakan
sibongkok sakti sudah berada didepan pintu.
Buru2 Loei Sam menuding keatas, Si Chen mengerti dan
mereka berdua sama2 enjotkan badannya melayang keatas
tiang penglari.
Sebelum meloncat Si Chen masih sempat berseru:
"Tonghong. ."
Tapi ucapan itu mendadak terhenti ditengah jalan,
menanti Tonghong Pek mendongak terlihatlah Loei Sam
telah menutupi mulut Si Chen dengan tangannya, jelas
gadis itu hendak berpesan agar Tong hong Pek suka pegang
rahasia dan jangan beritahu kepada gurunya kalau mereka
bersembunyi disitu.
Tapi dengan watak Loei Sam yang keras, ia tidak ingin
Si Chen mohon belas kasihan orang lain, sebelum gadis itu
menyelesaikan kata2 nya, ia sudah menutupi mulutnya
dengan tangan.
Menanti kedua orang itu sudah bersembunyi, Tonghong
Pek baru menunduk kembali sementara suara dari
sibongkok sakti terdengar berkumandang dari luar pintu:
"Aku beri batas waktu tiga hari buat kalian tiga manusia
tolol, kalau sampai waktunya kalian belum berhasil
menemukan kembali Loei Sam, hati2 kuseset kulit wajah
kalian."
"Sin Tuo, kau harus tahu Loei Sam amat licin dan
banyak akalnya." seru si Tengkorak Kayu gelagapan "Si
Thay sianseng yang telah minta bantuan seluruh umat Bu
lim pun gagal menangkap dirinya apalagi cuma kami
bertiga, tidak mungkin dalam tiga hari kami berhasil
menemukan dirinya, harap Sin Tuo. ."
Belum habis ia bicara, tendangan Si Bongkok Sakti
sudah bersarang diperutnya.
Sambil mendengus, Si bongkok sakti melangkah masuk
kedalam kamar, kepada Tiang Pek Sam mo yang berdiri
ketakutan diluar pintu ujarnya.
"Aku perintahkan kalian dalam tiga hari harus sudah
menemukan Loei Sam, kalau tidak sampai ketemu,
pergunakanlah waktu selama tiga hari itu untuk bereskan
bekal dan larilah jauh2 dari hadapanku."
Walaupun watak si bongkok sakti sangat berangasan, dia
adalah manusia yang punya cengli sekalipun begitu ia tak
ingin menarik kembali apa yang sudah diucapkan, maka
diberilah satu jalan hidup buat ketiga orang itu.
Tiang-pek Sam mo merasa sedih bercampur girang,
girang karena jiwa mereka selamat dan sedih karena harus
tinggalkan hasil jerih payah mereka selama banyak tahun di
sekitar gunung Tiang Pek sau ini.
Mereka bertiga tak berani membantah, buru2 Tiang Pek
Sam mo mengiakan berulang kali.
Si bongkok sakti mendengus dingin setelah memandang
sekejap kearah Tong hong Pek, ujarnya.
"Siapkan empat ekor kuda jempolan serta sebuah kereta.
ayoh cepatan sedikit."
Kembali Tiang Pek Sam mo mengiakan berulang kali
dan segera mengundurkan diri.
Mendekati anak muridnya, sibongkok sakti berkata:
"Ayoh kita segera pulang, Su nio sedang menantikan
dirimu."
Pada saat ini ingin sekali Tong hong Pek mendongak
keatas tiang penglari, tapi ia tahu kalau sampai berbuat
demikian berarti sama saja beri tahu kepada suhunya kalau
diatas tiang penglari ada orang Loei Sam pasti tak akan
lolos dari cengkeraman gurunya.
Haruskah ia lepaskan Loei Sam atau tidak? persoalan ini
membuat Tong hong Pek amat gelisah.
Makin dipikir semakin kalut, sampai apa yang dikatakan
sibongkok sakti tak terdengar olehnya, ia putar otak dan
berpikir terus kemudian menghela napas panjang.
"Eeeei... kenapa kau menghela napas?" tegur sibongkok
sakti agak melengak.
"Tii... tidak apa2."
"Aku sudah perintahkan ketiga bangsat itu untuk
menyediakan kereta mari kita berangkat."
Kembali Tong hong Pek menghela napas panjang, ia
tidak berbicara lagi, melihat sibongkok sakti sudah berlalu
iapun mengikuti jalan keluar, setibanya dipintu ia berpaling
dan melirik sekejap keatas tiang penglari.
Loei San serta Si Chen masih bersembunyi diatas tiang
penglari walaupun mereka bersembunyi cukup mendongak
sedikit saja segera akan terlihat jejak mereka.
Tong-hong Pek menjumpai air muka Loei Sam pucat
menyeramkan, sedangkan Si Chen meskipun pucat tapi
wajahnya penuh rasa terima kasih, Tonghong Pek hanya
melirik sekejap kemudian meneruskan langkahnya keluar
dari ruangan tersebut.
Setibanya dipintu depan, tampaklah sebuah kereta kuda
yang mewah dan indah dengan di tarik empat ekor kuda
jempolan sudah siap di sana, menyaksikan sibongkok sakti
munculkan diri, Tiang Pek Sam-mo segera anggukkan
kepala seraya berkata:
"Perlukah kami bertiga bertindak sebagai kusirnya Sin
Tuo?"
"Cis ! memandang wajah kalian bertigapun sudah muak
sampai2 mau muntah, siapa yang kesudian kalian hantar ?"
la payang Tonghong Pek masuk kedalam kereta, ayun
cambuk dan segera larikan kereta itu kedepan.
Menanti bayangan Si bongkok sakti sudah lenyap tak
berbekas Tiang Pek Sam-mo baru menghembuskan napas
lega dan membereskan buntalan untuk melarikan diri dari
situ.
Dalam pada itu si bongkok sakti melarikan keretanya
cepat2. menanti hari sudah gelap mereka sudah jauh
ditengah jalan.
Ketika keesokan harinya fajar baru menyingsing
mendadak dari tempat kejauhan muncul seekor kuda yang
mana dalam sekejap mata sudah saling berpapasan dengan
kereta tersebut.
Semula sibongkok sakti tidak begitu memperhatikan,
tetapi ketika kuda itu berada dua tiga tombak jauhnya, tiba2
penunggang kuda itu menarik tali lesnya sambil berteriak:
"Eeeei . . . bongkok, benarkah kau?" Buru2 sibongkok
sakti tarik les sambil berpaling, iapun segera berteriak aneh:
"Hey, monyet, kiranya kau !"
Ternyata orang yang ada diatas punggung kuda itu
bukan lain adalah Hiat Goan Sin-koen simanusia monyet.
Tampak manusia monyet itu bersuit panjang, tubuhnya
mencelat dari atas pelana, bersalto beberapa kali ditengah
udara dan melayang turun tepat dihadapan Si Bongkok
Sakti.
"Hey Monyet, buat apa kau main setan dihadapanku ?"
tegur si Bongkok sakti sambil mendengus.
Hiat Goan Sin-koen tertawa getir.
"Heei bongkok, berada dalam keadaan seperti kau masih
ada kegembiraan untuk bergurau ? tahukah kau siapa yang
paksa aku datang keluar perbatasan untuk mencari dirimu
?"
Mendengar perkataan ini sibongkok sakti tertegun,
bukan dia saja Tong-hong Pek yang berada didalam
keretapun ikut melengak.
Pemuda itu tahu ilmu silat yang dimiliki Hiat Goan Sin
koen sangat lihay, aneh sekali kalau ada orang bisa
memaksa ia keluar perbatasan untuk mencari orang:
"Siapa orang itu?" tanya sibongkok sakti segera setelah
tertegun beberapa saat "Cepat katakan, kau tak usah jual
mahal lagi?"
"Aaaai . . . kecuali dia masih ada siapa lagi." Mendengar
ucapan itu air muka sibongkok sakti langsung berubah
hebat.
"Apakah ... apakah Tong hong Pacu"
"Benar, dia menanti kehadiranmu dihutan bambu
digunung Lak Ban san, katanya kau harus segera pulang
sebab ada urusan penting hendak di bicarakan denganmu."
"Dia cari aku?" teriak sibongkok sakti tubuhnya mulai
gemetar. "Dia . . dia cari aku? tidak mungkin bagaimana tak
mungkin tidak mungkin."
Agaknya ia sudah tahu apa yang hendak dikatakan
Tonghong Pacu kepadanya, maka berulang kali ia berseru
"Tidak mungkin."
"Eeeeeeh bongkok, sebenarnya karena persoalan apa sih
sampai gembong iblis itu mencari dirimu?"
"Apa sangkut pautnya antara urusan ini denganmu?"
tiba2 sibongkok sakti berteriak gusar.
Melihat orang itu gusar, Hiat Goan Sin koen jadi amat
terperanjat, tapi ia sudah kenal watak sibongkok sakti ini
maka ia tidak sampai gusar dibuatnya hanya dengan dingin
ia berseru:
"Eeeei bongkok, kau . . ."
"Monyet! bukankah kau adalah sahabat karibku?" tukas
si bongkok sakti menjerit aneh, ucapan ini sama sekali
diluar dugaan siapapun.
Walaupun sibongkok sakti dengan Hiat Goan Sin koen
satu lurus yang lain sesat. tapi persahabatan mereka sangat
akrab.
Pertanyaan ini segera memancing hawa gusar simanusia
monyet, kontan ia maki kalang kabut:
"Neneknya, kita sudah bersahabat selama puluhan tahun
lamanya, kenapa kau ajukan pertanyaan seperti ini pada
saat ini ?"
"Kalau memang benar, bagus sekali." seru si bongkok
sakti sambil menghembuskan napas panjang, "Monyet,
sekarang urusan amat gawat dan luar biasa sekali aku harus
buru2 pulang, sedang Tonghong Pek menderita luka parah,
ia sekarang berada dalam kereta, tolong merepotkan kau
jagalah kesehatannya, setelah lewat perbatasan kalian tak
boleh kembali kegunung Lak Ban-san lagi, kalau tidak jadi
setanpun aku tak akan mengampuni dirimu !"
Beberapa patah kata ini segera membuat Hiat Goan Sin-
koen melongo dan berdiri terbelalak, ia tak tahu apa yang
harus diucapkan.
Dalam pada itu selesai berbicara, sibongkok sakti segera
enjotkan badannya ketengah udara.
Setelah bersalto beberapa kali, ia melayang ke atas
pelana kuda tunggangan Hiat Goan Sin-koen dan kaburkan
binatang tersebut cepat2, tidak selang beberapa saat
bayangannya sudah lenyap tak berbekas.
Perubahan ini terjadi sangat mendadak, meski pun Hiat
Goan Sin-koen adalah seorang jago lihay tak urung dibikin
kelabakan juga.
"Eei bongkok, kau sudah edan ?" teriaknya.
Ucapan ini tak mungkin dijawab lagi, sebab waktu itu
sibongkok sakti sudah pergi jauh sekali.
Tonghong Pek yang ada dalam keretapun segera
menongolkan kepalanya sambil berteriak:
"Suhu ! suhu !"
"Suhumu sudah pergi jauh !"
"Kalau begitu cepat kita kejar !"
"Kejar ?" Hiat Goan Sin koen tertawa getir. "Apakah kau
tak mendengar apa yang ia katakan? aku tidak ingin ia jadi
setanpun tidak mau lepaskan diriku!"
"Tidak boleh jadi, aku harus kembali ke gunung Lak-Ban
san."
Kendari Hiat Goan Sin koen merasa keheranan setelah
mendengar sibongkok sakti melarang ia membawa Tong
hong Pek pulang kegunung Lak Ban san, tapi sebagai
seorang jago kawakan yang banyak pengalaman ia merasa
dibalik persoalan ini masih terselip latar belakang yang
serius, bagaimanapun juga ia harus turuti omongannya.
Maka dari itu air mukanya segera berubah membesi,
dengan nada tegas ia menggeleng.
"Tidak bisa, persoalan ini tak dapat kau putuskan
sendiri!"
Tong hong Pek semakin cemas lagi, dari pembicaraan
yang dilakukan antara Hiat Goan Sin koen dengan
gurunya, ia bisa menarik kesimpulan bahwa diatas gunung
Lak Ban san telah terjadi peristiwa yang gawat sekali.
Sebagai seorang lelaki sejati tentu saja ia tak ingin berpeluk
tangan belaka.
Mendengar permintaannya ditolak Tong hong Pek segera
melangkah keluar dari kereta, tapi lukanya terlalu parah,
baru saja melangkah setindak ia tak kuasa berdiri dan segera
roboh keatas tanah.
"Hey, apa yang kau lakukan?" tegur Hiat Goan Sio-koen
kaget.
"Kau . . kau tak mau membawa aku pulang ke gunung
Lak Ban san . . aku . . aku bisa pulang sendiri!" teriak Tong
hong Pek sambil berusaha merangkak bangun.
Dengan sempoyongan dan jatuh bangun ia tinggalkan
kereta menuju kedepan, napasnya terengah-engah bagaikan
kerbau, ingin sekali ia merangkak naik kekursi kusir tapi
terasa sukar bagaikan mendaki kelangit.
Menyaksikan perbuatan sianak muda itu Hiat Goan Sin
koen mendengus.
"Tong hong Pek, jangan dikata kau masih menderita
luka parah, sekalipun ilmu silatmu masih utuhpun, jangan
harap bisa kau robohkan diriku."
"Memang aku tak bisa robohkan dirimu, tapi kalau kau
tak mau membawa aku pulang kegunung Lak Ban san, aku
bisa putuskan urat2 nadi ku dan bunuh diri."
Mendengar ancaman ini Hiat Goan Sin-koen amat
terperanjat ia mencak2 sambil berteriak:
"Jangan, jangan, mari kita rundingkan dulu persoalan
ini."
"Bagus, kalau begitu segera antarkan aku pulang
kegunung Lak Ban san!" teriak Tong hong Pek dengan
napas terengah engah,
"Aaai . . . ! apakah kau tidak mendengar apa yang
dikatakan si bongkok sebelum berangkat tadi?"
"Tentu saja aku mendengar Sin koen, kau harus tahu
suhu hanya takut aku pergi menempuh bahaya, tapi
bagaimanapun aku harus pergi ke sana!"
Ucapan dari sianak muda ini memang masuk diakal, tapi
Hiat Goan Sin koen tahu bukan alasan itu yang ditakuti
sibongkok sakti, tapi ia tak ingin mempertemukan Tong
hong Pek dengan Tong hong Pacu.
Sebab Tong hong pacu bukan lain adalah ayah kandung
Tong hong Pek.
Hiat Goan Sin koen segera tertawa getir.
"Kalau memang kau kukuh terus tak mau mendengarkan
nasehatku, akupun tak bisa berbuat apa2 lagi. ." sembari
bicara tangannya seraya diulapkan se akan2 kehabisan
daya.
Tapi pada waktu itulah, mendadak jari tengahnya
disodok kedepan melancarkan sebuah totokan udara
kosong.
"Sreeet..." diiringi desiran tajam serangan tadi segera
menyambar keluar, jangan dikata pada saat ini ilmu silat
Tong hong Pek sudah punah, sekalipun tidak, berada dalam
keadaan tidak menduga sulit baginya untuk menghindarkan
diri.
Dalam sekejap saja darah Cian cing-hiat pada bahunya
sudah tertotok oleh serangan menotok diudara kosong dari
Hiat Goan Sin koen setelah berhasil simanusia monyet itu
segera meloncat kedepan, jari tengahnya bekerja berulang
kali menotok enam, tujuh tempat disekeliling tubuh Tong-
hong Pek, dengan kejadian ini tidaklah mungkin bagi si
anak muda itu untuk bunuh diri.
Setelah urusan selesai ia baru menghembuskan napas
lega, sambil berkata:
"Sekarang beres sudah, akan ku bopong kau naik
kekereta dan menghantarkan dirimu ketempat yang
sepantasnya kau pergi."
Tong hong Pek merasa amat gusar, tapi setelah tujuh,
delapan buah jalan daratnya tertotok, ia tak dapat bicara
lain kecuali mengawasi si manusia monyet dengan
pandangan gusar.
"Eeeei... kau tak usah melototi diriku dengan mata
malingmu." seru Hiat Goan Sin koen sambil membopong
pemuda kedalam kereta "Aku tak dapat membawa dirimu
ke gunung Lak Ban san, hal ini disebabkan aku harus
mendengarkan pesan gurumu sibongkok sakti kalau kau
mau salahkan nah, pergilah silahkan suhumu sendiri"
Saat ini Tong hong Pek merasa gusar bercampur
mendongkol, diam2 ia menghela napas panjang, pejam
mata dan membiarkan dirinya dibopong Hiat Goan Sin-
koen masuk dalam kereta.
Demikianlah selama puluhan hari ia berbaring terus
didalam ruangan kereta, kemanakah ia dibawa oleh
manusia monyet tersebut ia sendiri pun tak tahu.
Kendari begitu, selama ini ia tak pernah tersiksa, Hiat
Goan Sin-koen melayani dirinya dengan seksama, setiap
kali menghidangkan makanan, jalan darahnya ditotok bebas
tetapi urat nadinya dicekal terus.
Suatu hari ketika senja telah tiba, Tonghong Pek merasa
kereta yang dikusiri Hiat Goan Sin koen tiba2 berhenti.
Diikuti terdengar derap kuda berkumandang datang dan
tempat kejauhan, menanti derap kuda tadi berhenti
terdengar seseorang menegur.
"Siapa anda?"
Orang itu merandek lalu berseru lirih:
"Bukankah anda. . anda adalah Hiat Goan Sin koen?"
Wajah Hiat Goan Sio koen sudah terkenal di seluruh
kolong langit maka dan itu tidak sulit bagi siapapun untuk
mengenalinya.
"Sedikitpun tidak salah." terdengar Hiat Goan sin koen
menjawab dengan suara berat.
Selama puluhan hari ini sudah banyak yang didengar
Tong hong Pek lewat jendela kereta, dia tahu selama ini
Hiat Goan Sin koen selalu berusaha mencari obat mujarab
guna menyembuhkan lukanya dari tiap orang Bu lim yang
ditemuinya baik permintaan itu dilakukan secara kasar
maupun halus, maka ia tidak heran dan bisa menduga kalau
kali inipun simanusia monyet melakukan hal yang sama.
Sementara Tonghong Pek masih berpikir terdengar orang
itu kembali bertanya:
"Entah apa maksud kedatangan Sin koen?"
"Aku ingin berjumpa dengan Ciang cungcu kalian."
Tong hong Pek diam2 terperanjat, ia dapat menduga
yang disebut Ciang cungcu ini pastilah ketua perkampungan
Han Gwat Cung yang amat tersohor dalam dunia
persilatan, cungcu mereka bernama si raja akhirat berwajah
dingin Ciang Gwat Hao.
Bukan itu saja, pemuda itupun merasa hatinya tergetar
sebab perkampungan Han Gwat Cung ini justru terletak
disebelah utara pegunungan Lak Ban San, atau dengan
perkataan lain berada sangat dekat dengan tempat
kediaman gurunya.
Keinginan untuk melarikan diri segera muncul dalam
benaknya, ia akan menggunakan kesempatan dimana jarak
dengan rumah sudah dekat, akan pulang dan membantu
gurunya.
Dalam pada itu Hiat Goan Sin koen yang ada diluar
kereta mulai tidak sabar menanti lebih jauh, tapi ia tetap
berusaha menahan emosi, terdengar ia berkata:
"Anak murid seorang sahabatku terluka parah, aku
mohon lagi sebutir teratai raksasa berusia seratus tahun dari
Cung cu. agar kesehatannya dapat segera sembuh kembali."
"Sin koen, setiap orang Bu lim tahu teratai itu masak tiap
seratus tahun, selama dua puluh tahun Ciang cungcu cuma
mendapat tujuh butir, permintaan anda ini bukankah rada
keterlaluan dan hanya mencari gara2 dengan kami ?"
"Kau bukan Ciang Cungcu, kenapa begitu bawel dan
tahu kalau ia tak mau memberi ? aku ingin berjumpa
dengan cungcu, kau suka memberi laporan tidak ?" teriak
Hiat Goan Sin-koen gusar.
Orang itupun tidak paham.
"Kalau tidak kulaporkan, kau mau apa ?" jawabnya.
"Plook-..!" diiringi suara cambuk, orang itu menjerit
kesakitan. jelas Hiat Goan Sinkoen telah turun tangan
memerseni orang itu dengan sebuah cambukan.
Kereta kembali bergerak menerjang kedalam, diikuti
suara makian, serta bentakan gusar berkumandang dari
empat penjuru.
Hiat Goan Sin-koen benar2 nekat, ia terjang terus orang2
itu dan melarikan keretanya kedalam, sampai kemudian ia
membentak dan menghentikan keretanya secara tiba2.
Dari tempat kejauhan terdengar suara tertawa dingin
berkumandang datang tiada hentinya.
Tertawa orang itu amat sinis dan adem bagaikan dalam
gudang es, begitu menyeramkan sampai bulu kuduk padi
bangun berdiri
OodwoO

Bab 10
Sebentar kemudian terdengar suara langkah kaki yang
berat selangkah demi selangkah bergerak mendekat, Tong-
hong Pek merasa kereta bergetar keras kudapun mulai
meringkik ketakutan.
Pada waktu itulah Hiat Goan Sin koen baru buka suara
berkata:
"Ciang cung cu, beginikah cara perkampungan Han
Gwat Cung menerima kedatangan seorang tamu ?"
Suara tertawa dingin kembali berkumandang, hanya kali
ini suara tersebut muncul kurang lebih beberapa tombak
dan kereta.
"Hiat Goan Sin koen !" orang itu menjawab dengan
suara mengerikan "Kalau kau datang ke perkampungan
Han Gwat Cung untuk bikin onar, maka kedatanganmu
telah keliru tempat."
"Ciang Cung Cu !" Hiat Goan Sin koen pun tak mau
unjuk kelemahan, ia tertawa dingin pula.
"Aku datang dengan membawa seorang pasien, aku
mohon kau suka memberi sebutir teratai raksasa
kepadanya, mau beri atau tidak terserah padamu, tidak
sepantasnya kau menegur dengan suara kasar !"
Gelak tertawa seram kembali menggema ditengah
kesunyian.
"Sungguh bagus sekali caramu berpikir, kau anggap ada
berapa banyak teratai raksasa yang masak tiap seratus tahun
itu ? kalau setiap orang Bulim berbuat seperti kau, dan
membawa orang yang terluka datang keperkampungan Hao
Gwat Cung kami, meski tiap tahun aku mendapat hasilpun
takkan cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian !"
Sekarang, Hiat Goan Sin-koen tak berani mengumbar
napsu lagi, terpaksa ia tertawa serak.
"Hee..hee...hee... Ciang cungcu, kau harus tahu
keadaannya pada saat ini rada berbeda, sang pasien yang
kubawa datang mempunyai asal usul yang besar !"
Tonghong Pek yang mendengar perkataan ini diam2
tertawa getir.
"Seandainya ucapan itu ditujukan kepada jago kelas dua
atau kelas tiga, sebagai murid si bongkok sakti mungkin
akan dihormati." pikirnya. "Tapi Cungcu dari
perkampungan Han Gwat Cung bukan manusia
sembarangan, mungkinkah ia mau kasih muka?"
Ia tertawa getir dan mulai merangkak bangun membuka
jendela kecil didepan kereta dan melongok keluar, ia
hendak menggunakan kesempatan sewaktu Hiat Goan Sin-
koen bertempur melawan Ciang Cung-cu ia akan melarikan
diri.
Sementara itu simanusia monyet sudah meloncat turun
dari atas kereta, sedangkan Ciang Gwat Ang tetap berdiri
tak berkutik ditempat semula, bukan saja ia membungkam
dalam seribu bahasa, bahkan wajahnya berubah semakin
dingin dan kaku sehingga membuat orang bergidik
ketakutan.
Wajahnya kurus kering tinggal pembungkus tulang
kulitnya berwarna abu2, bibirnya ungu dan pucat, boleh
dikata ia lebih mirip sesosok mayat hidup.
Sebenarnya ia berdiri didepan kereta, menjumpai Hiat
Goan Sin-koen meloncat turun, bagaikan sebatang pit
tubuhnya melayang mundur empat, lima depa kebelakang.
Setelah berdiri tegak, Hiat Goan Sin koen segera berkata:
"Kau jangan pergi, akan kuceritakan asal usul dari pasien
yang kubawa datang ini."
"Cepat katakan."
"Tidak bisa jadi" tapi dengan cepat simanusia monyet
menggelengkan kepala, "Orang lain tak boleh ikut
mendengar rahasia ini, sebab rahasia ini terlalu besar."
"Hiat Goan Sin-koen, kau anggap aku adalah seorang
bocah cilik berusia tiga tahun ?" jengek Cang Gwat Han
sambil tertawa seram, "Menempelkan telinga didekat
bibirmu dan mendengarkan obrolanmu. lalu kau turun
tangan membokong diriku ? Hmm ! enak benar ucapan itu."
"Ciang cungcu, kau salah besar, kalau tidak dapat
dipercaya terhitung jagoan apakah diri kita ini ?" seru Hiat
Goan Sin koen sambil menggeleng, "Kalau kau takut aku
membokong dirimu. Nah, silahkan kau cekal dahulu urat
nadiku."
Sambil berkata simanusia monyet maju menghampiri
orang itu, gerakan Ciang Gwat Han sungguh amat cepat
sekali, baru saja orang itu maju ia sudah kebaskan ujung
bajunya menggulung pergelangan Hiat Goan sin koen dan
mencengkeram urat nadinya.
Menyaksikan kejadian itu Tong-hong Pek amat
terperanjat tapi ia tak dapat berbuat apa2 kecuali
memandangi simanusia monyet itu dengan hati kebat kebit.
"Sekarang kau sudah lega hati bukan ?" terdengar Hiat
Goan Sin koen bertanya dengan wajah tenang.
"Bagus sekali. Nah, cepat katakan !"
Hiat Goan Sin koen menghampiri orang itu semakin
dekat, lalu berbisik lirih disisi telinga Ciang Gwat Han.
Beberapa patah kata ini diutarakan amat lirih, kecuali
ketua kampung tersebut, boleh dikata orang lain tak
mendengarnya sama sekali.
Beberapa saat kemudian tampak air muka Ciang Gwat
Han berubah hebat.
"Benarkah ?" ia berseru.
"Kalau aku berbohong biarlah Thian mengutuk diriku !"
Ciang Gwat Han tertegun beberapa saat lamanya,
kemudian baru berkata kembali:
"Kalau begitu silahkan masuk kedalam perkampungan,
teratai raksasa pasti akan kupersembahkan untukmu."
Hiat Goan Sin koen tertawa, "Ciang cung-cu, kau
sungguh dermawan, aku rasa budi pertolongan ini tentu
akan diingat selalu oleh orang2 itu." katanya.
"Aaah. . hanya satu pemberian kecil, aku tidak
mengharapkan balasan apapun. ." sahut Ciang Gwat Han
buru2 sambil tertawa getir.
Ia lepaskan cekalannya pada tangan Hiat Goan Sin koen
lalu meloncat naik keatas kereta ber-sama2 manusia monyet
itu, sebentar kemudian kereta melaju kembali kedepan.
Menyaksikan Ciang Gwat Han yang hebat ternyata
begitu menurut dan suka menyerahkan teratai berusia
seratus tahun kepadanya, Tong hong Pek keheranan, ia tak
tahu apa yang telah di ucapkan Hiat Goan Sin koen kepada
orang itu.
Roda bergelinding dengan ramainya sebentar kemudian
mereka sudah tiba disebuah tanah lapang luas depan pintu
perkampungan Han Gwat Cung, dan kereta tersebut
berhenti didepan sebuah bangunan megah.
Ketika Tong hong Pek dipayang turun dari atas kereta,
pemuda ini merasakan suatu perasaan yang sangat aneh,
hal ini disebabkan sekeliling perkampungan tak nampak
adanya pepohonan ataupun rumput, empat penjuru penuh
batu2 an berbentuk aneh dan mengerikan.
Batu2 itu ada yang berwarna hitam pekat, ada pula yang
berwarna merah, bentuknya kukoay. runcing
menyeramkan, kecuali itu terdapat pula kayu2 kering ada
yang mirip burung ada pula yang mirip binatang, aneh dan
mengerikan
Ketika Tong hong Pek turun dari kereta, Ciang Gwat
Han dengan sepasang matanya yang hijau menyeramkan
mengawasi dirinya dari balik atas hingga kebawah begitu
tajam sinar matanya sampai pemuda itu merasa bergidik.
Tapi Ciang Gwat Haa tidak mengucapkan sesuatu,
dengan berjalan didepan ia membawa ke dua orang itu
masuk kedalam sebuah ruangan.
"Sin koen!" kata Ciang Gwat Han kemudian "Untuk
menelan teratai seratus tahun, masih harus dibutuhkan
darah segar dari beberapa ekor binatang, sebab dengan
demikian kasiatnya baru kelihatan untuk mengumpulkan
binatang2 tersebut paling cepat kita harus membutuhkan
waktu selama tujuh hari lamanya.
"Soal itu sih tak penting aku rasa, Ciang cungcu tentu
tidak menampik bukan kalau kita harus mengganggu
selama beberapa hari dalam perkampungan anda ?"
"Aaaah, tentu tidak, tentu tidak. . . " jawab Ciang Gwat
Han tertawa paksa," hanya saja cayhe punya satu
permintaan yang kurang sesuai."
"Ooow, tidak mengapa. silahkan cungcu utarakan"
"Dalam perkampungan kami masih ada sedikit urusan
yang tak ingin diketahui orang asing, lebih baik kalian
berdua jangan pergi kemana2 dan yang penting ajak anak
buahku bercakap2."
"Soal ini Ciang Cungcu boleh berlega hati, asalkan kau
suka mengesampingkan sebuah halaman untuk kami diami,
bukankah itu lebih bagus?"
"Benar, memang begini paling bagus! memang begini
paling bagus!"
Ia bertepuk tangan beberapa kali segera muncul dua
orang lelaki kekar jalan menghampiri.
Ciang Gwat Han segera berpesan.
"Bawalah kedua orang tamu terhormat ini ke pagoda
Siauw Coei Khek, jangan berayal dan baik2lah melayani
segala keperluannya!"
Dengan sangat hormat kedua orang itu mengiakan,
begitulah Hiat Goan Sin koen serta Tong hong Pek segera
diantar melewati beberapa ruangan dan tiba ditepi telaga,
luas telaga itu kurang lebih dua hektar, air telaga berwarna
hijau semu merah, kelihatan sangat aneh sekali.
Ditengah telaga berdiri sebuah pagoda yang dibangun
sangat indah dan megah, kedua orang lelaki itu segera
meloncat keatas sampan melepaskan tali pengikat dan
berseru:
"Silahkan kalian berdua naik keatas perahu?"
"Waaah. . waaaah. . bagusnya sih bagus tempat ini
bukankah kalian hendak mengurung kami secara halus.
Kedua orang itu tidak menggubris, seakan2 mereka tak
pernah mendengar ucapan dari Hiat Goan Sin koen
simanusia monyet itu tak bisa berbuat lain, kecuali
memayang tubuh Tonghong Pek naik keatas perahu.
Kedua orang lelaki tadi segera mendayung perahunya
bergerak ketengah telaga menuju kepagoda tersebut.
Tangan kedua orang itu besar sangat kuat, perahu
bagaikan terbang melaju kedepan, tidak selang beberapa
saat kemudian mereka berempat sudah tiba dalam pagoda
tersebut dimana mereka disambut oleh empat orang lelaki
berdandan sebagai pelayan, Kepada keempat orang pelayan
itu kedua orang lelaki tersebut menyampaikan pesan2 dari
Ciang Gwat Han, kemudian meloncat kembali kedalam
perahu dan berlalu.
Dalam pada itu Hiat Goan Sin koen memeriksa keadaan
pagoda itu dengan seksama, bangunan tersebut terdiri dari
dua tingkat bukan saja di bangun amat megah, bahkan
perabotnya mewah dan mempesonakan, hanya saja kalau
tak ada perahu mereka susah untuk meninggalkan tempat
itu barang setengah langkahpun.
Menyaksikan keadaan ini Hiat Gwat Sin koen meraba
amat mendongkol, ia tidak menyangka Ciang Gwat Han
bisa menahan mereka berdua dengan cara halus.
Meski demikian, karena ada permintaan kepada orang
lain, terpaksa si manusia monyet ini menahan sabar sambil
diam2 mengeluh.
Tonghong Pekpun diam2 menghela napas panjang,
semula ia mengira masih ada kesempatan untuk melarikan
diri tapi sekarang setelah tahu dirinya terkurung ditengah
telaga ia jadi mengeluh, sebab bukan dengan demikian
usahanya untuk melarikan diri jadi gagal ? ? ?
Pelayanan keempat orang pelayan itu amat seksama,
tidak selang beberapa saat kemudian sayur dan arak telah
dihidangkan
Setelah bersantap merekapun membawa kedua orang itu
menuju kekamar tidur, Tonghong Pek kebetulan mendapat
kamar yang saling berhadapan dengan kamar Hiat Goan
Sin koen.
Setibanya dalam kamar pemuda itu jatuhkan diri
berbaring diatas ranjang, pikirannya amat kalut,
membayangkan keadaan suhunya yang pergi menjumpai
musuh tangguh, tak kuasa ia menghela napas panjang.
"Tong hong Kongcu, kenapa kau menghela napas
panjang." tiba2 dari belakang tubuhnya terdengar suara
teguran.
Ucapan ini muncul sangat mendadak, Tonghong Pek
yang tidak menyangka ada orang menegur dirinya pada
waktu itu jadi sangat terperanjat hampir2 saja badannya
terbanting jatuh keatas tanah, buru2 ia cekal pinggiran
jendela dan berpaling.
"Aaah, Tonghong Kongcu, maaf sekali, kehadiranku
yang tak disangka telah mengejutkan dirimu!" kembali
orang itu berseru.
Kiranya orang yang muncul dalam kamarnya bukan lain
adalah ketua perkampungan Han Gwat Cung Ciang Gwat
Han adanya.
"Aaaah . . ternyata Ciang cungcu!" buru-buru Tong hong
Pek berseru dengan wajah jengah. "Entah apa maksud
kedatangan cungcu kemari."
Air muka Ciang Gwat Han berubah memberat, tapi
kelihatan jelas kalau ia berusaha keras untuk membaiki
Tong-hong Pek.
"Binatang2 yang dibutuhkan untuk menelan teratai
seratus tahun sudah kuperintahkan orang untuk
mempersiapkannya." ujar orang itu "Cayhe sedikit mengerti
tentang ilmu pertabiban maka dari itu sengaja kudatang
kemari untuk periksakan dahulu denyutan jantung kongcu."
"Aaaah , . harus merepotkan diri Ciang cungcu, cayhe
mana berani."
Ciang Gwat Han mengucapkan beberapa patah kata
kesopanan, lalu mencekal tangan Tong-hong Pek dan
menempelkan ketiga jari tangannya keatas nadi pemuda itu,
beberapa saat kemudian ujarnya:
"Luka yang kongcu derita sangat parah, tapi kau tak usah
kuatir setelah menelan teratai seratus tahun tersebut dalam
tiga hari lukamu akan sembuh kembali seperti sedia kala.
Sejak dibokong oleh Loei Sam, keadaan Tong hong Pek
boleh dikatakan mirip seorang cacad, kini mendengar
dalam sepuluh hari ia bakal sembuh kembali seperti sedia
kala, hatinya sangat gembira.
"Terima kasih Cungcu" buru2 serunya.
Ciang Gwat Han bangun berdiri bergendong tangan dan
berjalan mondar-mandir dalam ruang, dipandang gerak
geriknya se akan2 ia hendak mengutarakan sesuatu, hanya
tak berani mengucapkannya keluar:
Menyaksikan keadaan orang itu, Tong hong Pek segera
berkata.
"Ciang cungcu, Teratai raksasa sulit sekali untuk
didapatkan berkat hadiahmu kepadaku, seumpama dalam
hati kau mempunyai kesulitan, katakanlah keluar."
"Tong hong Kongcu, aku memang ada satu persoalan
ingin mohon pertolongan ayahmu?" sahut Ciang Gwat
Han, air muka yang semula murung kini berganti dengan
sebuah senyuman Tong hong Pek tertegun apa maksud
ucapannya? minta bantuan ayahku?
Aku adalah seorang anak yatim piatu, siapakah ayahku
pun aku tak tahu, apa yang harus dijawab?
"Aaa, kesemuanya ini tentu hasil ngaco belo dari Hiat
Goan Sin koen, sehingga Ciang Gwat Han yang jeri pada
orang itu, suka menyerahkan teratai raksasa kepadanya."
pikir sianak muda itu.
Tonghong Pek adalah seorang jujur, ia serba salah
menghadapi persoalan ini.
"Kir. . . kiranya begitu . . tapi ayahku. ."
Ia tidak bisa bicara bohong, karena gelisah merah padam
selembar wajahnya.
Ciang Gwat Han sama sekali tidak memperhatikan
kejengahan sianak muda ini, malahan sambil tertawa paksa
ujarnya kembali:
"Benar, benar ucapanmu memang tidak salah, tentu saja
ayah mu bukan manusia sembarangan, akupun tidak berani
mohon sesuatu kepadanya, aku hanya berharap sewaktu
ada dihadapan beliau Tonghong Kongcu suka
mengungkapnya sambil lalu."
"Hal itu boleh saja, apakah Ciang cungcu ada urusan
apa?"
Ciang Gwat Han tertawa getir.
"Bicara terus terang, tenaga dalam yang kulatih adalah
semacam Iweekang berhawa lunak, setengah tahun
berselang ketika aku sedang berlatih, mendadak kujumpai
hawa murniku menembusi jalan yang sesat..."
"Aaah ! kalau begitu kau...bukankah jalan api menuju
neraka ? kau.-." Seru Tonghong Pek terkesiap.
Kembali Ciang Gwat Han tertawa getir.
"Setelah kurasakan keadaan tidak beres, segera
disalurkan hawa murniku dan paksa hawa murni yang jalan
sesat itu berkumpul di urat Sauw-yi ada ditangani dimana
terletak jalan darah "Gan-ching" serta "Thian ching" dengan
demikian hitung2 aku berhasil lolos dari bahaya jalan api
menuju neraka."
"Oouw, kiranya begitu. kalau bukan tenaga dalam Cung
cu telah mencapai kesempurnaan, sulit untuk berbuat
demikian."
"Tonghong Kongcu, harap kau jangan memuji diriku,
sejak peristiwa itu hingga kini sudah ada setahun lebih,
selama setahun ini aku berusaha untuk paksa keluar hawa
murni yang sesat tadi tapi selalu gagal, pernah aku minta
petunjuk beberapa orang sakti dunia persilatan mereka
bilang satu2nya cara adalah minta bantuan seseorang
menyalurkan tenaga lweekangnya kedalam badan ku dan
paksa hawa sesat tadi keluar dari tubuh."
"Cara ini memang bagus sekali, tapi mengapa beberapa
orang tokoh sakti dunia persilatan itu tak mau membantu ?"
"Bukannya mereka tak mau membantu, melainkan
tenaga lweekang mereka belum mencapai ke tingkat
tersebut, di-hitung2 dikolong langit dewasa ini cuma ada
dua orang yang memiliki kepandaian tersebut."
Tonghong Pek terperanjat, ingin sekali ia menanyakan
siapakah kedua orang itu. sebelum ia buka suara Ciang
Gwat Han telah melanjutkan:
"Kedua orang itu. yang satu adalah Si Thay sianseng dari
gunung Go bie dan orang kedua ada lah ayahmu.
"Oooouw, kiranya begitu tahu aku..."
Ucapan ini meluncur tanpa sadar, sebab sianak muda itu
sedang memikirkan persoalan lain.
Menanti ia sadar kembali, rasa terperanjat sukar
dilukiskan dengan kata2, serunya kembali:
"Apa yang kau katakan? dikolong langit dewasa ini cuma
Si Thay sianseng serta ayahku yang memiliki tenaga
lweekang sedahsyat itu?"
"Benar!"
Tong hong Pek benar2 amat terperanjat, ia tahu yang
dimaksudkan sebagai ayahnya tentulah Tong hong Pacu,
sijago lihay dari aliran sesat itu, sebab hanya dialah yang
patut disejajarkan dengan Si Thay sianseng dari aliran lurus,
jadi kalau begitu Hiat Goan Sin koen telah membohongi
orang ini dengan mengaku dia sebagai putra Tonghong
Pacu? suatu gurauan yang sangat berbahaya..."
Tonghong Pek kaget, tapi ia tak mau membongkar
rahasia ini, buru2, tanyanya:
"Ciang cungcu, menurut pikiranmu siapakah ayahku?"
Suatu pertanyaan yang aneh membuat Ciang Gwat Han
tertegun dan tak tahu apa yang harus dikatakan.
Beberapa saat kemudian ia baru berkata. "Tong hong
Kongcu maksudmu..."
"Aku sedang bertanya kau kira siapakah ayahku, Ciang
cungcu, harap kau suka menjawab dengan sejujurnya."
Si Raja Akhirat berwajah dingin Ciang Gwat Han adalah
seorang jago kawakan, pengalaman nya sangat luas, setelah
mendengar ucapan itu, ia sadar tentu ada sesuatu yang tak
beres, buru2 jawabnya.
"Bukankah kau adalah putra dari Tong hong Pacu tokoh
sakti nomor wahid dikolong langit dewasa ini?"
Mendengar ucapan itu Tong hong Pek merasa
mendongkol bercampur geli, ia merasa dirinya untung
mengajukan pertanyaan tersebut sehingga kesalah pahaman
ini bisa diatasi mulai sekarang.
"Ciang Cungcu kau telah salah menduga " buru2
serunya. "Kau telah keliru menganggap aku dengan Tong-
hong pacu sama sekali tiada hubungan."
Air muka Ciang Gwat Han kontan berubah hebat ia
mundur selangkah kebelakang dan berseru:
"Tapi Hiat Goan Sin koen berkata demikian."
"Kau keliru, selama ini kau dibohongi Hiat Goan Sin
koen." tukas Tonghong Pek cepat.
"Tapi . . . tapi andapun she Tonghong, hal ini , . . hal ini
- ."
"Ha ha ha Ciang Cungcu, orang yang menggunakan she
Tonghong dikolong langit bukan satu dua orang belaka,
apakah mereka yang pakai she Tonghong Pek disebabnya
sewaktu suhu dan sunioku menemukan diriku, kebetulan
sinar sang surya baru muncul di ufuk Timur, sedang aku
adalah seorang anak yatim piatu, maka Tonghong atau
Ufuk Timur dianggap sebagai she ku !"
Setelah Tonghong Pek berkata demikian, mau tak mau
Ciang Gwat Han harus mempercayainya, ia tarik napas
panjang.
"Kalau begitu gurumu adalah . . ."
"Nama guruku tentu Sin Tuo? ia pun tinggal digunung
Lak-ban san ini, hanya satu diutara yang lain diselatan dia
adalah Si bongkok sakti Lieh Hwee Sin Tuo.
Wajah siraja akhirat berwajah dingin yang dasarnya
jelek, kini semakin jelek lagi.
Ia menggendong tangan dan berjalan mondar-mandir
dalam ruangan, serunya berulang kali.
"Kurang ajar, kurang ajar . ."
"Ciang cungcu, aku tidak tahu apa yang disampaikan
Hiat Goan Sin koen kepadamu " kata Tong-hong Pek
dengan nada kesal "Kalau aku tahu, seketika itu juga pasti
akan kubantah, harap Cungcu suka memaafkan
kelancangannya."
Ciang Gw