Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

PENCELUPAN 1

PROSES PENCELUPAN KAPAS DENGAN ZAT WARNA DIREK

Nama Anggota : Amelia Puspitasari (13020075)

Ririn Rizki Nuraeni (13020080)

Thari Agustini (13020085)

Amelia Puspita Sari (13020087)

Group : 2K4

Kelompok :1

Dosen / Asisten Dosen : M. Ichwan, AT,MS.Eng.

Ir. Elly K., Bk. Teks.

Priatna

Tanggal Praktikum : 30 Maret 2015

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL

BANDUNG

2015
PROSES PENCELUPAN KAPAS DENGAN ZAT WARNA DIREK
I. Maksud :
Agar praktikan mengetahui dan memahami proses pencelupan kapas dengan zat
warna direk menggunakan metoda exhaust.
Tujuan :
 Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pencelupan kapas
dengan zat warna direk, diantaranya :
- zat pembantu
- proses pencucian
- proses iring
- konsentrasi yang digunakan
- kondisi proses (suhu, waktu)
 Mengevaluasi hasil proses pencelupan kapas menggunakan zat warna direk
setelah melalui proses pencucian dan proses iring.
II. Teori Dasar
II.1 Serat Kapas

Kapas adalah salah satu jenis serat tumbuh-tumbuhan yang banyak


dipergunakan dalam industri tekstil, baik sebagai 100 % serat kapas maupun
sebagai campuran serat lainnya.

Sebagai bahan campuran serat kapas dapat memperbaiki kekurangan dari


serat lainnya seperti daya tahan panas dan daya serat air, karena kedua sifat
tersebut sangat baik pada serat kapas. Serat kapas terutama terutama tersusun
dari zat selulosa, oleh karena itu sifat kimia dan fisika serat kapas tergantung pada
sifat kimia dan fisika selulosa.

Zat-zat selain selulosa yang terdapat dalam serat kapas harus dihilangkan.
Cara menghilangkannya itu adalah dengan cara pemasakan dalam larutan NaOH.
Semua zat kecuali pigmen dan selulosa akan hilang. Pigmen dihilangkan dengan
proses pengelantangan yang menggunakan zat oksidator seperti NaOCl, CaOCl2
dan sebagainya.

1. Struktur serat kapas


a. Morfologi
 Penampang Melintang
Bentuk penampang serat kapas sangat bervariasi dari pipih sampai
bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal.

Serat kapas dewasa, penampang lintangnya terdiri dari 6 bagian.

- Kutikula

Merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin dan protein.


Adanya lilin menyebabkan lapisan ini halus, sukar tembus air dan zat
pewarna. Berfungsi melindungi bagian dalam serat.

- Dinding primer

Merupakan dinding tipis sel yang asli, terutama terdiri dari selulose tetapi
juga mengandung pektin, protein, dan zat-zat yang mengandung lilin.
Selulose dalam dinding primer berbentuk benang yang sangat halus yang
tidak tersusun sejajar sepanjang serat tetapi membentuk spiral mengelilingi
sumbu serat.
- Lapisan antara

Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit


berbeda dengan dinding primer.

- Dinding sekunder

Merupakan lapisan-lapisan selulose, yang merupakan bagian utama serat


kapas. Dinding ini juga merupakan lapisan benang yang halus yang
membentuk spiral mengelilingi sumbu serat. Arah putarannya berubah-
ubah.

- Dinding lumen

Dinding lumen lebih tahan terhadap zat kimia tertentu dibanding dinding
sekunder.

- Lumen

Merupakan ruang kosong di dalam serat. Bentuk dan ukurannya bervariasi


dari serat ke serat lain maupun sepanjang satu serat.

Gambar 1.2 berikut adalah penampang serat kapas.

Melintang Membujur

b. Komposisi kimia
1. Selulosa
Analisa serat kapas menunjukkan bahwa serat kapas terutama
tersusun dari zat selulosa. Derajat polimerisasi selulosa serat kapas
kira-kira 10.000 dan berat molekulnya kira-kira 1.580.000.

2. Pektat
Pektat adalah suatu karbihidrat dengan berat molekul yang tinggi.
Struktur molekulnya seperti struktur molekul selulosa. Pektat terutama
tersusun oleh susunan linier sisa-sisa asam galakturonat dalam garam-
garam kalsium dan besi yang tidak larut.

3. Lilin
Karena adanya lilin, maka akan mengurangi gaya gesekan
sehingga kekuatan benang akan lebih rendah.

4. Zat-zat yang mengandung Protein


Zat-zat protein yang dalam kapas diduga berasal dari sisa-sisa
protoplasma kering yang tinggal dalam lumen setelah selnya mati.

5. Abu
Zat abu terutama terdiri dari garam-garam magnesium, kalsium
atau kalium pospat, sulfat atau khlorida. Garam-garam karbonat
merupakan bagian yang paling besar.

6. Pigmen dan zat lainnya.


Komposisi kimia serat kapas mentah tercantum dalam tabel
dibawah ini.

Komposisi Kimia Serat Kapas Mentah.

Macam Zat % terhadap berat


kering

Selulosa 94

Protein 1,3

Pektat 1,2

Lilin 0,6

Abu 1,2

Pigmen dan zat lainnya 1,7

Kandungan air 8

2. Selulosa
Selulosa merupakan bagian pokok serat kapas, oleh karena itu untuk
mengetahui mekanisme pencelupan serat kapas dengan zat warna direk
diperlukan keterangan mengenai selulosa. Zat-zat selain selulosa yang
terdapat dalam serat kapas merupakan kotoran dan harus dihilangkan karena
akan mengganggu proses pencelupan.

Kotoran tersebut dapat dihilangkan dengan proses pemasakan dalam


larutan NaOH, semua kotoran kecuali pigmen dan selulosa akan hilang
sehingga persentase kotoran dalam serat kapas menjadi sangat kecil. Pigmen
dapat dihilangkan dengan proses pengelantangan yang menggunakan
oksidator seperti NaOCl, CaOCl2 dan sebagainya.

a. Struktur molekul selulosa


Selulosa adalah sebuah polimer karbohidrat yang mempunyai berat
molekul yang tinggi, selulosa tersusun dari monomer d-glukosa yang
dihubungkan satu sama lain oleh suatu ikatan β – 1 – 4 glikosida, sehingga
membentuk suatu rantai yang sangat panjang. Derajat polimerisasi
selulosa serat kapas kira-kira 10.000 sedangkan berat molekulnya kira-kira
1.580.000.

Rumus empiris selulosa yang asli adalah ( C6H12O6 ) n – ( n – 1 )


H2O. tetapi oleh karena n merupakan bilangan yang sangat besar maka
satu dapat diabaikan terhadap n, sehingga rumus empiris selulosa dapat
ditulis menjadi ( C6H10O6 )n.

b. Struktur fisika selulosa


Polimer selulosa tersebut kemudian bergabung satu sama lain oleh
suatu ikatan hidrogen diantara gugus-gugus hidroksil, sehingga
membentuk zat yang besar yang menyebabkan serat selulosa dapat
terlihat oleh mata. Berdasarkan penyelidikan dengan menggunakan sinar X
oleh Meyer penggabungan rantai-rantai molekul selulosa tersebut terdiri
dari dua bentuk yaitu :

1. Bagian yang berbentuk Kristalin


Bagian ini terdiri dari gabungan rantai-rantai molekul yang
tersusun secara teratur, yaitu rantai-rantai molekul tersebut sejajar satu
sama lain.
2. Bagian yang berbentuk Amorf.
Terdiri dari gabungan rantai-rantai molekul selulosa yang
susunannya tidak beraturan. Bagian yang kristalin tidak dapat dimasuki
air atau pereaksi-pereaksikimia lainnya,sedangkan bagian amorf dapat
dimasukinya. Oleh karena itu kecepatan pencelupan selulosa
tergantung dari banyak sedu\ikitnya selulosa tersebut, mengandung
bagian yang amorf.

Selulosa serat kapas mengandung 70 – 80 % bagian yang


kristalin dan sisanya yaitu 20 – 30 % merupakan bagian amorf.

3. Sifat-sifat serat kapas


a. Sifat Fisika
 Warna
Serat kapas berwarna putih kekuning-kuningan

 Kekuatan
Kekuatan serat kapas cukup tinggi, kekuatan dalam keadaan basah
lebih tinggi daripada kekuatan dalam keadaan kering, sehingga sangat
menguntungkan untuk proses pencelupan, karena pada proses
pencelupan akan ada tarikan-tarikan pada kain kapas tersebut

 Mulur
Mulur serat kapas 4 – 13 %

 Kandungan Air
Dalam keadaan standart, serat kapas mengandung 7 – 8,5 % air
terhadap berat kering.

 Berat Jenis
Berat jenis serat kapas 1,5 – 1,56

 Indeks Bias
Indeks bias sejajar sumbu serat 1,58.

Indeks bias melintang sumbu serat 1,53.

b. Sifat Kimia
 Oksidasi
Serat kapas dapat teroksidasi membentuk oksiselulosa sehingga
kekuatan serat akan turun.

 Asam
Serat kaps akan terhidrolisa oleh asam membentuk hidroselulosa.
Degradasi serat kapas akan lebih cepat didalam asam kuat dan pekat.

 Alkali
Serat kapas tahan akan alkali, alkali kuat dengan konsentrasi yang
tinggi hanya akan menggelembungkan serat. Oleh karena itu, alkali
dipergunakan untuk proses merserisasi.

 Jamur dan Bakteri


Dalam kondisi yang lembab dan temperatur yang hangat, jamur dan
bakteri akan menyerang serat kapas.

2.2 Zat Warna Direk

Zat warna direk adalah zat warna yang dapat mencelup selulosa secara
langsung tanpa bantuan suatu mordan. Disebut juga zat warna substantif karena
dapat terserap baik oleh selulosa atau zat warna garam karena dalam
pencelupannya selalu harus ditmbah garam untuk memperbesar penyerapan.
Beberapa zat warna direk dapat mencelup serat protein. Zat warna direk yang
pertama dikenal adalah congo red, ditemukan oleh Bottiger tahun 1884.

Struktur Molekul Zat Warna Direk


Struktur molekul zat warna direk tersusun oleh tiga unsur pokok yaitu :

a. Gugus pembawa warna.


Gugus pembawa warna mempunyai sistim ikatan rangkap dan tunggal
berselang seling secara bergantian. Kebanyakan dalam zat warna direk berbentuk
Azo seperti mono azo,diazo, triazo dan tetra azo.

b. Gugus yang mengadakan ikatan hidrogen dengan serat


Menurut F.L.Rose gugus ini terbagi dalam dua bagian yaitu:

1. Gugus yang mempunyai elektron “Lonepair” dan berbentuk pemberi elektron.


contoh : -N=N- , H-O- , NH2 , NHR.
1. Gugus yang mengandung hidrogen dan dapat mengadakan ikatan hidrogen
dengan serat. Gugus ini bertindak sebagai pemberi hidrogen.
c. Gugus Pelarut
Ialah yang menyebabkan zat warna larut dalam suatu zat pelarut tertentu,
misalnya dalam air. contoh : SO3Na , COONa

Disamping memiliki gugus-gugus tersebut diatas, zat warna direk harus


mempunyai persyaratan-persyaratan lainnya agar substantif terhadap serat. Syarat-
syarat yang dimaksudkan itu ialah :

1. Inti-inti aromatiknya harus terletak dalam satu bidang.


2. Molekul-molekul harus berbentuk linier.
3. Ada sistim konyugasi ganda yang dengan resonansi akan mempermudah
terbentuknya susunan “coplanar”, sehingga akibatnya mempermudah
terjadinya ikatan hidrogen pada ujung sistim konyugasi.

Penggolongan Zat Warna Direk

Menurut Society of Dryer and Colourist zat warna direk dapat digolongkan
dalam tiga golongan yaitu :

a. Golongan A
Yakni zat warna yang tanpa penambahan garam mempunyai daya serap yang
baik dan daya perataan yang tinggi. Pada permulaan pencelupan mungkin diperoleh
hasil yang tidak rata, tetapi hal ini dpat diperbaiki dengan pendidihan.

Contoh dalam tabel berikut adalah zat wrna direk golongan A yang dipakai mencelup
rayon 30 menit, suhu 90 C dan perbandingan larutan 1:10.

Zat Warna Persentase Penyerapan dengan variasi garam

0% 0,1% 0,5% 1% 5%

Beranil F. 75 81 89 93 100
Bordeau
X4BL

Cholorarol 54 66 77 82 95
F.Black BKS

Diazo Brill 70 74 82 86 94
Orange G.R

Peramine E 66 68 68 93 100
Red F
Sumber : Whittaker & Wilcock, Dyeing with coaltar Dyestuff. Halaman 239

b. Golongan B
Yakni zat warna tanpa garam mempunyai daya serap dan dya perata yang
rendah. Penambahan garam dalam pencelupan dengan zat wrn ini harus dilakukan
berhati-hati, sebab penambhan gram yang terlalu cepat akan menghasilkan celupan
yang tidak rata.

Bila pada permulan pencelupan diperoleh warna yang tidak rata, akan sukar
untuk diperbaiki.

Tabel berikut menunjukkan contoh zat warna direk golongan B yang dipakai
dalam pencelupan rayon seperti contoh golongan A.

Contoh zat warna direk golongan B :

Zat Warna Persentase Penyerapan dengan variasi garam

0% 0,1% 0,5% 1% 5%

Benzanil F.Brown 3RL 12 29 43 57 85

Cholorarol Blue B 525 0 5 42 68 94

Diphenil Blue M2B 300 30 45 66 84 94

Sumber : Whittaker & Wilcock, Dyeing with coaltar Dyestuff. Halaman 240

c. Golongan C
Yakni zat warna yang tanpa garam memounyai daya serap yang baik tapi
daya peratanya rendah. Pencelupan dengan zat warna golongan ini harus dilakukan
dengan pengontrolan temperatur. Tabel berikut ini menunjukkan contoh zat warna
direk golongan C yang dipakai dalam pencelupan rayon seperti golongan A dan B.

Contoh zat warna direk golongan C :

Zat Warna Persentase Penyerapan dengan variasi garam


0% 0,1% 0,5% 1% 5%

Benzo purpurin 4 B 180 82 94 100 100 100

Diphenil Brill Blue FF 56 72 89 93 100


165

Paramine Black BH 46 52 73 82 93
240

Sumber : Whittaker & Wilcock, Dyeing with coaltar Dyestuff. Halaman 241

Pencelupan Kapas dengan Zat Warna Direk


Pencelupan adalah proses pemberian warna yang merata pada suatu bahan dan
keadaannya kurang lebih permanen, dan sebagai bahan pewarna digunakan zat
warna.

Mekanisme Pencelupan

Menurut teori pencelupan, perpindahan zat warna dari larutan ke dalam serat terjadi
secara bertahap :

1. Difusi zat warna dalam larutan


Didalam larutan zat warna direk berbentuk molekul tunggal dan
beragregat. Molekul-molekul ini dalam keadaan gerak dan tidak mempunyai arah
tertentu. Gerakan secara terarah akan terjadi jika ada gaya penggeraknya. Gaya
penggerak ini dapat disebabkan karena adanya gradien konsentrasi dalam larutan
atau perbedaan pontensial elektro statik dibagian-bagian tertentu di dalam larutan.
Gerakan yang ditimbulkan oleh adanya perbedaan konsentrasi tersebut disebut
difusi.

Difusi merupakan proses pemindahan dengan adanya proses difusi maka


akan terjadi proses pemindahan zat warna dari bagian larutan yang berkonsentrasi
tinggi kebagian yang berkonsentrasi rendah.

2. Adsorpsi zat warna ke permukaan serat


serat dalam larutan cenderung bermuatan negatif, demikian pula zat warna
direk dalam larutan juga bermuatan negatif. Dengan demikian akan terjadi gaya
tlak menolak antara zat warna dengan serat.
Agar zat warna dapat menempel pada permukaan serat, maka zat warna
harus dapat melampaui beberapa rintangan, yaitu :

a. Rintangan muatan adalah rintangan yang dialami oleh butir zat warna direk
untuk melekat pada permukaan serat karena adanya gaya tolak menolak antara
butir zat warna dengan serat.
b. Rintangan entropi adalah rintangan yang dialami oleh butir zat warna direk
untuk melekat pada permukaan serat karena pengarahan molekul zat warna
kurang. Posisi butir zat warna direk dipermukaan serat harus sejajar dengan
sumbu serat.
3. Difusi zat warna ke dalam serat
Adsorpsi zat warna pada permukaan serat menyebabkan konsentrasi
dipermukaan serat menjadi tinggi, sedangkan di dalam serat konsentrasi mula-
mula adalah nol. Apabila butir-butir zat warna tersebut mempunyai energi untuk
masuk ke dalam serat maka akan terjadi proses pemindahan zat warna dari
permukaan serat ke dalam serat.

Mula-mula butir zat warna dalam bentuk molekul tunggal atau agregat kecil
masuk ke dalam serat melalui daerah amorf. Dengan bantuan panas serta
mengembangnya kapas, maka butir-butir zat warna akan masuk lebih cepat dan
bermigrasi ke bagian kristalin lewat antar molekul selulosa.

4. Ikatan zat warna dengan serat


Setelah berada dalam serat, kemudian zat warna tersebut mengadakan
ikatan hidrogen dengan serat. Ikatan hidrogen terjadi antara gugus-gugus yang
bertindak sebagai pembri elektron atau gugus-gugus yang mengandung hidrogen
dan dapat mengadakan ikatan hidrogen dalam zat warna dengan gugus-gugus
hidroksil didalam serat.

Ikatan hidrogen antara serat dengan zat warna terjadi dalam dua bentuk, yaitu :

a. Bentuk ikatan anatara gugus hidroksil serat dengan gugus pemberi elektron
dalam zat warna. Dalam hal ini gugus hidroksil serat akan bertindak sebagai
pemberi hidrogen.
b. Bentuk ikatan antara gugus hidroksil serat dengan gugus yang mengandung
hidrogen dan dapat mengadakan ikatan hidrogen yang terdapat pada warna.
Dalam hal ini unsur oksigen dari gugus hidroksil serat akan bertindak sebagai
pemberi elektron dan gugus zat warna sebagai pemberi hidrogen.

R N H O Sel R N HO sel
H H N R

Disamping ikatan hidrogen, dapat pula terjadi ikatan ” Van der Waals ”. Ikatan
”Van der Waals” antara selulosa dengan zat warna telah diteliti oleh deal, yaitu
karena adanya ikatan rangkap yang berkonyugasi dimana ujung dari ikatan
rangkap yang berkonyugasi saling tarik menarik dengan gugus hidroksil selulosa.
III. Percobaan

III.1 Resep
Resep Pencelupan

METODA EXHAUST
Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep 4
Zat Warna Direk (% owf) 1 1 1 1
Zat pembasah (mL/L) - 1 1 1
Na2CO3 (g/L) - 0,5 0,5 0,5
NaCl (g/L) - - 30 30
Suhu (ºC) 90 90 90 90
Waktu (menit) 30 30 30 30
Vlot (1:x) 1 : 30 1 : 30 1 : 30 1 : 20

Resep Pencucian

Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep 4


Sabun (g/L) 1 1 1 1
Na2CO3 (g/L) 1 1 1 1
Suhu (ºC) 60 60 60 60
Waktu (menit) 10 10 10 10
Vlot (1:x) 1 : 20 1 : 20 1 : 20 1 : 20

Resep Proses Iring

Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep 4


Zat Pemiksasi Kationik (g/L) 2 2 2 2
CH3COOH 30% (ml/L) 1 1 1 1
Suhu (ºC) 70 70 70 70
Waktu (menit) 15 15 15 15
Vlot (1:x) 1 : 20 1 : 20 1 : 20 1 : 20
III.2 Diagram Alir

Persiapan Bahan Persiapan Larutan Celup Persiapan Mesin Celup

Proses Pencelupan

Proses Iring

Proses Pencucian

Dry

Evaluasi

III.3 Skema Proses


Zat Warna

900 C

Pembasah NaCl

300 C 300C

10 40 70 90 menit

III.4 Fungsi Zat


NaCl : mendorong penyerapan zat warna

: memperbaiki kelarutan zat warna

ZW Direk : Untuk meratakan hasil celup dan memiliki ketahanan luntur


Pembasah : Memudahkan kain terbasahi dan air masuk bepenetrasi ke dalam
celah antar benang
III.5 Alat dan Bahan

No Alat Bahan
1. Piala Porselen Kain kapas
2. Gelas Piala ZW Direk
3. Gelas Ukur Pembasah
4. Pipet Na2CO3
5. Pengaduk NaCl
6. Gunting Sabun
7. Bunsen Zat Pemiksasi Kationik
8. Sabun

3.6 Prosedur

1. Memilih satu zat warna direk untuk pencelupan serat kapas yang warna dan
tahan lunturnya sesuai target.
2. Membuat rencana proses pencelupannya meliputi, penyusunan diagram alir
proses, pembuatan skema proses, pemilihan zat pembantu dan penyusunan
resep pencelupan.
3. Menghitung kebutuhan bahan, zat warna, air, zat pembantu pencelupan
sesuai dengan resep yang dibuat.
4. Melakukan proses pencelupan sesuai skema proses.
5. Mengevaluasi dan menganalisa hasil pencelupan.
3.7 Perhitungan

Resep Pencelupan
Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep 4

1% x 4,77 = 0,0477
1% x 4,02 = 0,040 1% x 4,60 = 0,046 1% x 4,70 = 0,047
Zat Warna
Direk (% 0,0477 x =
0,040 x = 4,0 0,046 x = 4,6 0,047 x = 4,7
owf)
4,77

Zat
x 95,4 = 0,0954
pembasah - x 138 = 0,138 x 141 = 0,141
(mL/L)
Na2CO3
- x 138 = 0,069 x 141 = 0,0705 x 95,4 = 0,0477
(g/L)

NaCl (g/L) - - x 141 = 4,23 x 95,4 = 2,862

Suhu (ºC) 90 90 90 90

Waktu
30 30 30 30
(menit)

Vlot (1:x) 4,02 x 30 = 120,6 4,60 x 30 = 138 4,70 x 30 = 141 4,77 x 20 = 95,4

Resep Pencucian
Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep 4

Sabun (g/L) x 40,2 = 0,040 x 46 = 0,046 x 47 = 0,047 x 47,7 =0,0477

Na2CO3 (g/L) x 40,2 = 0,040 x 46 = 0,046 x 47 = 0,047 x 47,7 =0,0477

Suhu (ºC) 60 60 60 60
Waktu (menit) 10 10 10 10
Vlot (1:x) 2,01 x 20 = 40,2 2,3 x 20 = 46 2,35 x 20 = 47 1 : 20
Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep

Zat Pemiksasi x 47
x 40,2 = 0,080 x 46 = 0,092 x 47 = 0,094
Kationik (g/L)
0,0954

CH3COOH 30% x 47
x 40,2 = 0,040 x 46 = 0,046 x 47 = 0,047
(ml/L)
=0,047
Suhu (ºC) 70 70 70 70
Waktu (menit) 15 15 15 15
Vlot (1:x) 2,01 x 20 = 40,2 2,3 x 20 = 46 2,35 x 20 = 47 1 : 20
3.8 Data Hasil dan Evaluasi

Resep 1 Resep 2 Resep 3 Resep 4

Contoh Uji
(Iring)

Contoh Uji
(Tanpa Iring)
IV. Diskusi
Dalam proses pencelupan kapas dengan zat warna direk banyak faktor
yang harus diperhatikan seperti ketepatan pemilihan dan konsentrasi zat
pembantu, suhu dan waktu, serta proses pencucian dan proses iring. Dalam
percobaan kali ini kami membandingkan hasil percobaan antara kain yang telah
dicelup zat warna direk yang selanjutnya dilakukan proses pencucian dan yang
dilakukan proses iring yang dilanjutkan dengan pencucian. Dan dengan
menggunakan berbagai macam variasi resep yang digunakan, maka hasil yang
kami dapatkan adalah sebagai berikut :
 Perbandingan antara resep 1 dan 2 terletak pada penggunaan zat
pembantu

Resep 1 Resep 2
Zat Warna Direk (%
1 1
owf)
Zat pembasah (mL/L) - 1
Na2CO3 (g/L) - 0,5
NaCl (g/L) - -
Suhu (ºC) 90 90
Waktu (menit) 30 30
Vlot (1:x) 1 : 30 1 : 30
Jika dilihat dari ketuaan warna, kain dengan resep 1 memiliki perbedaan warna
antara kain yang dilakukan proses pencucian maupun yang dilakukan proses
iring walaupun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Warna tua yang dihasilkan
terdapat pada kain yang hanya dilakukan proses pencucian. Berbeda dengan
kain dengan resep 2, perbedaan ketuaan warna cukup signifikan. Kain yang
dilakukan proses iring memiliki warana yang lebih pudar dibandingkan dengan
yang hanya dilakukan proses pencucian. Hal tersebut dikarenakan kain pada
resep 1 dan 2 tidak menggunakan NaCl yang berfungsi mendorong penyerapan
zat warna, sehingga warna yang dihasilkan kurang baik. Dengan penggunaan
NaCl akan terjadi persaingan antara elektrolit dengan zat warna, karena
molekul elektrolit lebih kecil maka akan mempermudah elektrolit larut, sehingga
zat warna berikatan dengan kain (adsorpsi).
Jika dilihat dari kerataan warna resep 2 lebih baik dibandingkan resep 1 karena
pada kain dengan resep 2 menggunakan Na2CO3 yang berfungsi memperbaiki
kelarutan warna. Sehingga larutan yang digunakan lebih homogen dan dapat
mengurangi keektronegatifan permukaan kain (difusi).
 Perbandingan antara resep 2 dan 3 terletak pada penggunaan NaCl

Resep 2 Resep 3
Zat Warna Direk (%
1 1
owf)
Zat pembasah (mL/L) 1 1
Na2CO3 (g/L) 0,5 0,5
NaCl (g/L) - 30
Suhu (ºC) 90 90
Waktu (menit) 30 30
Vlot (1:x) 1 : 30 1 : 30
Jika dilihat dari ketuaan warna, kain dengan resep 2 yang dilakukan proses
iring memiliki warna yang lebih pudar dibandingkan dengan yang hanya
dilakukan proses pencucian. Hal tersebut dikarenakan kain tidak menggunakan
NaCl yang berfungsi mendorong penyerapan zat warna, sehingga warna yang
dihasilkan kurang baik. Dengan penggunaan NaCl akan terjadi persaingan
antara elektrolit dengan zat warna, karena molekul elektrolit lebih kecil maka
akan mempermudah elektrolit larut, sehingga zat warna berikatan dengan kain
(adsorpsi). Sehingga menyebabkan tahan lunturnya kurang baik. Berbeda
dengan kain dengan resep 3 memiliki ketuaan warna pada kain yang telah
dilakukan proses iring karena menggunakan NaCl pada proses pencelupannya.
Jika dilihat dari kerataan warna, resep 3 lebih baik karena menggunakan
Na2CO3 yang berfungsi memperbaiki kelarutan warna. Sehingga larutan yang
digunakan lebih homogen dan dapat mengurangi keektronegatifan permukaan
kain (difusi).

 Perbandingan antara resep 3 dan 4 terletak pada vlot

Resep 3 Resep 4
Zat Warna Direk (% 1
1
owf)
Zat pembasah (mL/L) 1 1
Na2CO3 (g/L) 0,5 0,5
NaCl (g/L) 30 30
Suhu (ºC) 90 90
Waktu (menit) 30 30
Vlot (1:x) 1 : 30 1 : 20
Jika dilihat dari ketuaan warna, kain dengan resep 3 yang dilakukan proses
iring memiliki warna yang lebih tua dibandingkan dengan yang hanya
dilakukan proses pencucian. Hal tersebut dikarenakan kain yang dilakukan
proses iring lebih tua warnanya dikarenakan penambahan zat pemiksasi
kation yang berfungsi memperbaiki ketahanan luntur hasil celup zat warna
direk, juga penambahan asam asetat untuk memperbaiki kelarutan zat
pemiksasi kation agar proses iring merata, sehingga menyebabkan tahan
lunturnya baik. Sedangkan kain yang telah dicelup kemudian dilakukan
proses pencucian sehingga zat warna yang hanya menempel dipermukaan
kain terbawa oleh larutan pencucian. Sama halnya dengan kain resep 3
kain resep 4 memiliki ketuaan warna pada kain yang telah dilakukan
proses iring. Tetapi kain resep 4 lebih tua dari kain resep 3, hal tersebut
dikarenakan penggunaan vlot yang berbeda. Pada resep 3 vlot yang
digunakan 1:30 sehingga memperkecil penyerapan zat warna tetapi
cenderung lebih rata karena zat warna labih stabil didalam air, sedangkan
pada resep 4 vlot yang digunakan 1:20, dengan menurunkan vlot maka
memperbesar penyerapan zat warna sehingga kain yang dihasilkan resep
4 lebih tua dari pada resep 3.

V. Kesimpulan

Dari percobaan yang dilakukan proses pencelupan pada kain kapas


dengan zat warna reaktif didapatkan bahwa faktor yang berpengaruh dalam
proses ini adalah NaCl, vlot, suhu, waktu proses, dan suasana alkali. Maka dari
keempat resep tersebut yang memiliki kerataan yang bagus adalah resep 3
sedangkan warna tua adalah resep 4.
VI. Daftar Pustaka

http://www.mediafire.com/download/8xg8oq7v8c07goy/01+TIN11-TPencelupanPengecapan-
Sunarto.pdf

http://bukusekolahelektroniksmk.blogspot.com/2013/10/buku-bse-smk-kelas-11-teknologi-
pencelupan-pengecapan-2-smk-sunarto.html

https://evgust.wordpress.com/2011/07/12/pencelupan-dengan-zat-warna-direk/

https://superakhwat08.wordpress.com/2014/11/16/serat-kapas/

https://www.google.co.id/search?
q=struktur+molekul+kapas&biw=1280&bih=677&source=lnms&sa=X&ei=zAEcVYOuK8r98QW2m4
GIBQ&ved=0CAUQ_AUoAA&dpr=1

https://evgust.wordpress.com/2011/07/12/pencelupan-dengan-zat-warna-direk/