Anda di halaman 1dari 13

KONSEP, PRINSIP DAN LINGKUP PROMOSI KESEHATAN

A. PENGERTIAN PROMOSI KESEHATAN


1. WHO (1984) merevitalisasi pendidikan kesehatan dengan istilah promosi
kesehatan, kalau pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya perubahan
perilaku maka promosi kesehatan tidak hanya untuk perubahan perilaku tetapi
juga perubahan lingkungan yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.
Disamping itu promosi kesehatan lebih menekankan kepada peningkatan
kemampuan hidup sehat, bukan sekedar berperilaku sehat.
2. Lawrence Green (1984), merumuskan definisi sebagai berikut : Promosi
kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan
intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi, yang
dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang
kondusif bagi kesehatan.
3. Piagam Ottawa (Ottawa Charter, 1986), sebagai hasil rumusan Konferensi
Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa, Canada menyatakan bahwa
“Health Promotion is the process of enabling people to control over and
improve their health”. To reach a state of complete physical, mental and social
well-being, an individual or group must be able to identify and realize
aspiration, to satisfy needs, and to cange or cope with the environment. Hal
tersebut jelas dinyatakan bahwa promosi kesehatan adalah suatu proses untuk
memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Dengan kata lain promosi kesehatan adalah upaya yang
dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Batasan promosi
kesehatan ini mencakup 2 dimensi yaitu kemauan dan kemampuan.
4. Yayasan Kesehatan Victoria (Victorian Health Fundation – Australia 1997),
sebagai berikut Health Promotion is a program are design to bring about
‘change’ within people, organization, communities and their environment.
Batasan ini menekankan bahwa promosi kesehatan adalah suatu program
perubahan perilaku masyarakat yang menyeluruh, dalam konteks

1
masyarakatnya. Bukan hanya perubahan perilaku (within people), tetapi juga
perubahan lingkungannya. Perubahan perilaku tanpa diikuti perubahan
lingkungan tidak akan efektif, perilaku tersebut tidak akan bertahan lama.
Contoh orang indonesia yang pernah tinggal diluar negeri. Sewaktu dinegara
itu ia telah berperilaku teratur, mengikuti budaya antri dalam memperoleh
pelayanan apa saja, seperti naik kereta, bus dll. Tetapi setelah kembali ke
indonesia, dimana budaya antri belum ada, maka ia akan ikut berebut naik
kereta dan bus. Oleh karena itu promosi kesehatan bukan hanya sekedar
merubah perilaku tetapi juga mengupayakan perubahan lingkungan, sistem
dan sebagainya.
5. Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui proses pembelajaran dari-oleh-untuk dan bersama
masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan
kondisi social budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan.

B. TUJUAN PROMOSI KESEHATAN


1) Memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
mereka.
2) Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif
bagi kesehatan.
Green,1991 dalam Maulana,2009,tujuan promosi kesehatan terdiri dari tiga
tingkatan yaitu:
a. Tujuan Program
Refleksi dari fase social dan epidemiologi berupa pernyataan tentang apa
yang akan dicapai dalam periode tertentu yang berhubungan dengan status
kesehatan. Tujuan program ini juga disebut tujuan jangka panjang,
contohnya mortalitas akibat kecelakaan kerja pada pekerja menurun 50 %
setelah promosi kesehatan berjalan lima tahun.
b. Tujuan Pendidikan

2
Pembelajaran yang harus dicapai agar tercapai perilaku yang diinginkan.
Tujuan ini merupakan tujuan jangka menengah, contohnya : cakupan angka
kunjungan ke klinik perusahaan meningkat 75% setelah promosi kesehatan
berjalan tiga tahun.
c. Tujuan Perilaku
Gambaran perilaku yang akan dicapai dalam mengatasi masalah kesehatan.
Tujuan ini bersifat jangka pendek, berhubungan dengan pengetahuan, sikap,
tindakan, contohnya: pengetahuan pekerja tentang tanda-tanda bahaya di
tempat kerja meningkat 60% setelah promosi kesehatan berjalan 6 bulan

C. SASARAN PROMOSI KESEHATAN


Promosi kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat ,
maka sasaran langsung promosi kesehatan adalah masyarakat. Namun demikian ,
dikarenakan keterbatasan sumber daya yang ada , akan tidak efektif apabila upaya
promosi kesehatan langsung ditujukan ke masyarakat . Oleh sebab itu , perlu
dilakukan penahapan sasaran promosi kesehatan . sasaran promosi kesehatan
dibagi dalam tiga kelompok sasaran yaitu sebagai berikut :
a. Sasaran Primer (Primary Target)
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung segala upaya
pendidikan atau promosi kesehatan. Sesuai dengan permasalahan kesehatan,
maka sasaran ini dapat dikelompokkan menjadi, kepala keluarga untuk
masalah kesehatan umum, ibu hamil dan menyusui untuk masalah KIA
(kesehatan ibu dan anak), anak sekolah untuk kesehatan remaja, dan
sebagainya. Upaya promosi yang dilakukan terhadap sasaran primer ini
sejalan dengan strategi pemberdayaan masyarakat .
b. Sasaran Sekunder (Secondary Target)
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya. Disebut
sasaran sekunder, karena dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada
kelompok ini diharapkan untuk selanjutnya kelompok ini akan memberikan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat di sekitamya. Di samping itu
dengan perilaku sehat para tokoh masyarakat sebagai hasil pendidikan

3
kesehatan yang diterima, maka para tokoh masyarakat ini akan memberikan
contoh atau acuan perilaku sehat bagi masyarakat sekitarnya. Upaya promosi
kesehatan yang ditujukan kepada sasaran sekunder ini adalah sejaian dengan
strategi dukungan sosial (social support).
c. Sasaran Tersier (Tertiary Target)
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingkat pusat,
maupun daerah adalah sasaran tertier pendidikan kesehatan Dengan
kebijakan-kebijakan atau keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok ini
akan mempunyai dampak terhadap perilaku para tokoh masyarakat (sasaran
sekunder), dan juga kepada masyarakat umum (sasaran primer). Upaya
promosi kesehatan yang ditujukan kepada sasaran tersier ini sejalan dengan
strategi advokasi (advocacy) kesehatan, maka sasaran ini dapat
dikelompokkan menjadi, kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum,
ibu hamil dan menyusui untuk masalah KIA (kesehatan ibu dan anak), anak
sekolah untuk kesehatan remaja, dan sebagainya. Upaya promosi yang
dilakukan terhadap sasaran primer ini sejalan dengan strategi pemberdayaan
masyarakat.

Ada sasaran promosi kesehatan secara spesifik yaitu:


1. Perorangan/ Keluarga
a) Memperoleh informasi kesehatan melalui berbagai saluran (baik langsung
maupun melalui media massa).
b) Mempunyai pengetahuan dan kemauan untuk memlihara, meningkatkan
dan melindungi kesehatannya.
c) Mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat.
d) Berperan serta dalam kegiatan sosial khususnya yang berkaitan dengan
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kesehatan.
2. Masyarakat/ Lsm
a) Menggalang potensi untuk mengembangkan gerakan /upaya kesehatan.
b) Bergotong royong untuk mewujudkan lingkungan sehat.
3. Lembaga Pemerintah/ Lintas Sektor/ Politisi/ Swasta

4
a) Peduli dan mendukung upaya kesehatan, minimal dalam mengembangkan
perilaku dan lingkungan sehat.
b) Membuat kebijakan sosial yang memperhatikan dampak di bidang
kesehatan.
4. Petugas Program/ Institusi
a) Memasukkan komponen promosi kesehatan dalam setiap program
b) Membuat kebijakan sosial yang memperhatikan dampak di bidang
kesehatan.

D. PRINSIP-PRINSIP PROMOSI KESEHATAN


Dalam strategi global promosi kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO,1984) dirumuskan bahwa promosi kesehatan sekurang-kurangnya
mengandung prinsip , yaitu sebagai berikut :
1. Empowerment ( pemberdayaan) yaitu cara kerja untuk memungkinkan
seseorang untuk mendapatkan kontrol lebih besar atas keputusan dan
tindakkan yang mempengaruhi kesehatan mereka.
2. Partisipative ( partisipasi) yaitu dimana seseorang mengambil bagian aktif
dalam pengambilan keputusan.
3. Holistic ( menyeluruh ) yaitu memperhitungkan hal-hal yang mempengaruhi
kesehatan dan interaksi dari dimensi-dimensi tersebut.
4. Equitable ( kesetaraan) yaitu memastikan kesamaan atau kesetaraan hasil yang
di dapat oleh klien.
5. Intersectoral ( antar sektor ) yaitu bekerja dalam kemitraan dengan instasi
terkait lainnya atau organisasi.
6. Sustainable ( berkelanjutan) yaitu memastikan bahwa hasil dari kegiatan
promosi kesehatan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
7. Multi Strategy yaitu bekerja pada sejumlah strategi daerah seperti program
kebijakkan.

Sedangkan menurut Michael,dkk,2009 Prinsip-prinsip promosi kesehatan


antara lain sebagai berikut:

5
1. Manajemen puncak harus mendukung secara nyata serta antusias program
intervensi dan turut terlibat dalam program tersebut.
2. Pihak pekerja pada semua tingkat ini pengorganisasian harus terlibat dalam
perencanaan dan implementasi intervensi.
3. Fokus intervensi harus berdasarkan pada factor risiko yang dapat didefinisikan
serta dimodifikasi dan merupakan prioritas bagi pekerja.
4. Intervensi harus disusun sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pekerja.
5. Sumber daya setempat harus dimanfaatkan dalam mengorganisasikan dan
mengimplementasikan intervensi.
6. Evaluasi harus dilakukan juga.
7. Organisasi harus menggunakan inisiatif kebijakan berbasis populasi maupun
intervensi promosi kesehatan yang intensif dengan berorientasi pada
perorangan dan kelompok.
8. Intervensi harus bersifat kontinue serta didasarkan pada prinsip-
prinsippemberdayaan dan atau model yang berorientasi pada masyarakat
dengan menggunakan lebih dari satu metode.

E. MEDIA PROMOSI KESEHATAN


Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk
menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator,
baik itu melalui media cetak, elektronik (TV, radio, komputer, dll) dan media luar
ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya
diharapkan dapat berubah perilakunya kearah positif terhadap kesehatannya
Adapun tujuan media promosi kesehatan diantaranya (Notoatmodjo, 2005):
a. Media dapat mempermudah penyampaian informasi.
b. Media dapat menghindari kesalahan persepsi.
c. Dapat memperjelas informasi
d. Media dapat mempermudah pengertian.
e. Mengurangi komunikasi yang verbalistik
f. Dapat menampilkan obyek yang tidak bisa ditangkap dengan mata.
g. Memperlancar komunikasi.

6
Jenis Media Promosi Kesehatan
a. Berdasarkan bentuk umum penggunaan (Notoatmodjo, 2005)
 Bahan bacaan: Modul, buku rujukan/bacaan, folder, leaflet, majalah,
buletin, dan sebagainya.
 Bahan peragaan: Poster tunggal, poster seri, plipchart, tranparan, slide,
film, dan seterusnya.
b. Berdasarkan cara produksinya, media promosi kesehatan dikelompokkan
menjadi:
 Media cetak, yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan
visual. Media cetak pada umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata,
gambar atau foto dalam tata warna. Fungsi utama media cetak ini adalah
memberi informasi dan menghibur. Adapun macam-macamnya adalah
poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar balik, sticker, dan
pamflet. Kelebihan media cetak diantaranya: Tahan lama, Mencakup
banyak orang, Biaya tidak tinggi, Tidak perlu listrik, Dapat dibawa ke
mana-mana, Dapat mengungkit rasa keindahan, Meningkatkan gairah
belajar, Kelemahan media cetak yaitu: Media ini tidak dapat menstimulir
efek suara dan efek gerak, dan Mudah terlipat (Notoatmodjo, 2005)
 Media elektronika yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat
dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu
elektronika. Adapun macam-macam media tersebut adalah TV, radio, film,
video film, cassete, CD, VCD. Kelebihan media elektronika diantaranya:
Sudah dikenal masyarakat, Mengikutsertakan semua panca indra, Lebih
mudah dipahami, Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak,
Bertatap muka, Penyajian dapat dikendalikan, Jangkauan relatif lebih
besar, Sebagai alat diskusi dan dapat diulang-ulang. Kelemahan media
elektronika diantaranya: Biaya lebih tinggi, Sedikit rumit, Perlu listrik,
Perlu alat canggih untuk produksinya, Perlu persiapan matang, Peralatan
selalu berkembang dan berubah. Perlu keterampilan penyimpanan, Perlu
terampil dalam pengoperasian (Notoatmodjo, 2005).

7
 Media luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar ruang
secara umum melalui media cetak dan elektronika secara statis, misalnya:
Papan reklame yaitu poster dalam ukuran besar yang dapat dilihat secara
umum di perjalanan, spanduk yaitu suatu pesan dalam bentuk tulisan dan
disertai gambar yang dibuat di atas secarik kain dengan ukuran tergantung
kebutuhan dan dipasang di suatu tempat yang strategi agar dapat dilihat
oleh semua orang, pameran, banner dan TV layar lebar (DEPKES RI,
2006).
Kelebihan media luar ruang diantaranya: Sebagai informasi umum dan
hiburan, Mengikutsertakan semua panca indra, Lebih mudah dipahami, Lebih
menarik karena ada suara dan gambar bergerak, Bertatap muka, Penyajian dapat
dikendalikan, Jangkauan relatif lebih besar, Dapat menjadi tempat bertanya lebih
detail, Dapat menggunakan semua panca indra secara langsung, dan lain-lain.
Kelemahan media luar ruang diantaranya: Biaya lebih tinggi, Sedikit
rumit, Ada yang memerlukan listrik, Ada yang memerlukan alat canggih untuk
produksinya, Perlu persiapan matang, Peralatan selalu berkembang dan berubah,
Perlu keterampilan penyimpanan, Perlu keterampil dalam pengoperasian
(DEPKES RI, 2006).

F. SEJARAH PROMOSI KESEHATAN


Promosi kesehatan sama halnya dengan Pendidikan Kesehatan lain yang
memiliki perjalanan panjang sehinga dapat muncul sebagai salah satu bentuk
intervensi yang berperan dalam peningkatan derajat kesehatan. Berikut merupakan
sejarah singkat dari promosi kesehatan.
1. Era propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai
1960an)
Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene.
Kegiatan pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten.
Bentuk usahanya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban
sederhana dan mempergunakannya. Lambat laun pemberantasan cacing
tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan “Medisch Hygienische

8
Propaganda”. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit perut lainnya,
bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan
pengobatan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbullah gerakan, untuk
mendirikan “brigade sekolah” dimana-mana.
Perintisan Pendidikan Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar
a. Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980)
 Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU
Kesehatan 1960
 Ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November 1964)
b. Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan melalui Media
Elektronik (1975-1995)
 Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata, 1978)
 Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa)
 Munculnya Posyandu
 Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif,
sinetron dll)
2. Era Promosi dan Paradigma Kesehatan (1995-2005)
b. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Kanada,
munculnya istilah promosi kesehatan (Ottawa Charter, 1986) memuat 5
strategi pokok Promosi Kesehatan, yaitu :
 Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy
public policy);
 Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment);
 Memperkuat gerakan masyarakat (community action); (4)
Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills) ; dan
 Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services).
c. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan II di Adelaide, Australia
(1988)
 Konferensi ini menekankan 4 bidang prioritas, yaitu:
 Mendukung kesehatan wanita;
 Makanan dan gizi;

9
 Rokok dan alkohol; dan
 Menciptakan lingkungan sehat.
d. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan III di Sundval, Swedia
(1991). Konferensi ini mengemukakan 4 strategi kunci, yakni:
 Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat;
 Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga
kesehatan dan lingkungannya melalui pendidikan dan pemberdayaan;
 Membangun aliansi; dan
 Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah
masyarakat.
e. Promosi Kesehatan abad 21 adalah : Meningkatkan tanggungjawab sosial
dalam kesehatan, Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan,
Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan, Meningkatkan kemampuan
perorangan dan memberdayakan masyarakat, Mengembangkan infra
struktur promosi kesehatan.

G. METODE PROMOSI KESEHATAN


Promosi kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu
sehingga memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik diharapkan dapat
membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran. Metode adalah taktik
untuk melakukan perubahan pada kelompok sasaran.
a. Metode Promosi Individual (Perorangan)
Dalam promosi kesehatan, metode yang bersifat individual ini
digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina seseorang yang
telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya,
seorang ibu yang baru saja menjadi akseptor atau seorang ibu hamil yang
sedang tertarik terhadap imunisasi tetanus toxoid (TT) karena baru saja
memperoleh/ mendengarkan penyuluhan kesehatan. Pendekatan yang
digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor lestari atau ibu hamil segera
minta imunisasi, ia harus didekati secara per¬orangan. Perorangan di sini

10
tidak hanya berarti harus hanya kepada ibu-ibu yang bersangkutan, tetapi
mungkin juga kepada suami atau keluarga dari ibu tersebut.
Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena setiap orang
mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan
penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui
dengan tepat serta membantunya maka perlu menggunakan metode (cara)
ini.
Bentuk pendekatan ini, antara lain:
1. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling)
Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif.
Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu
penyelesaiannya. Akhirnya klien akan dengan sukarela, berdasarkan
kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut
(mengubah perilaku).
2. Interview (wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan.
Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali
informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, ia tertarik
atau belum menerima perubahan, untuk mempengaruhi apakah perilaku
yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian
dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang
lebih mendalam lagi.

b. Metoda Promosi Kelompok


Dalam memilih metode promosi kelompok, harus mengingat
besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran.
Untuk kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil.
Efektivitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran
pendidikan.
1. Kelompok Besar

11
Yang dimaksud kelompok besar di sini adalah apabila peserta penyuluhan
itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara
lain ceramah dan seminar.
a) Ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang paling tertua dalam
pendidikan kesehatan tetapi merupakan keterampilan yang paling sulit
dikuasai. Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi
maupun rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan
metode ceramah:
b) Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan
pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian
(presentasi) dari seorang ahli atau beberapa orang ahli tentang suatu
topik yang dianggap penting dan dianggap hangat di masyarakat.

2. Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut
kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara
lain:
a) Diskusi Kelompok.
Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok dapat bebas
berpartisapasi dalam diskusi, maka formasi duduk para peserta diatur
sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-hadapan atau saling
memandang satu sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi
empat. Pimpinan diskusi juga duduk di antara peserta sehingga tidak
menimbuIkan kesan ada yang lebih tinggi. Dengan kata lain mereka
harus merasa dalam taraf yang sama sehingga tiap anggota kelompok
mem¬punyai kebebasan dan keterbukaan untuk mengeluarkan pendapat.
Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus mem¬berikan
pancingan-pancingan yang dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau
kasus sehubungan dengan topik yang dibahas. Agar terjadi diskusi yang

12
hidup maka pemimpin kelompok harus mengarahkan dan mengatur
sedemikian rupa sehingga semua orang dapat kesempatan berbicara,
sehingga tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang peserta.
b) Curah Pendapat (Brain Strorming)
Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya
sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaan
pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan kemudian tiap
peserta memberikan jawaban atau tanggapan (curah pendapat).
Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam
plipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta meneurahkan
pendapatnya, tidak boleh dikomentari oleh siapa pun. Baru setelah semua
anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari,
dan akhirnya terjadi diskusi.

13