Anda di halaman 1dari 11

Gambaran Pengetahuan Pasien Tentang Pencegahan Penularan Tb

ABSTRAK

Latar Belakang: Jika seseorang mengerti dalam melakukan cara pencegahan TB, maka akan
mengurangi tingkat kejadian Tuberkulosis paru. Pengetahuan masyarakat khususnya kepala
keluarga terhadap penyakit Tuberkulosis terbukti bertambahnya penderita Tuberkulosis
dikarenakan pengetahuan yang kurang dan diharapkan pengetahuan terhadap Tuberkulosis
bertambah dan melakukan upaya pencegahan. Resiko terbesar penerima penularan
Tuberkulosis paru yaitu keluarga, jadi kepala keluarga adalah ujung tombak dalam penurunan
jumlah angka penderita Tuberkulosis paru. Tujuan: untuk mengetahui gambaran
pengetahuan pasien tentang pencegahan penularan TB di Puskesmas Tangeung Tahun 2020.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan Metode deskriptif. Populasi dalam
penelitian ini seluruh pasien TB usia dewasa pada bulan September 2020 sebanyak 52
responden. Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling sehingga total sampel
yang akan di teliti adalah 52 responden. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden berjenis
kelamin laki-laki yaitu sebanyak 49 responden (94,2%). Sebagian besar responden
berpendidikan rendah yaitu sebanyak 34 responden (65,4%). Sebagian besar responden
berusia dewasa tua yaitu sebanyak 31 responden (59,6%). Sebagian besar responden lama
menderita yaitu sebanyak 48 responden (75%).Sebagian besar pengetahuan responden
tentang pencegahan penularan TB masuk kategori kurang yaitu sebanyak 21 responden
(40,4%). Kesimpulan: Gambaran pengetahuan pasien tentang pencegahan penularan TB di P
uskesmas Tangeung Tahun 2020 sebagian besar masuk kategori kurang.. Saran: Disarankan
agar lebih meningkatkan pemberian informasi tentang penyakit TB atau penyuluhan
kesehatan kepada keluarga atau masyarakat tentang penyakit TB, sehingga dengan
pengetahuan yang didapat oleh keluarga nantinya mampu menjadi acuan dan panduan bagi
bagi keluarga apabila ada keluarga yang terkena TB sehingga dapat melakukan pengontrolan
terhadap penyakit tersebut.

Kata Kunci : Pengetahuan, Pencegahan Penularan, TB

PENDAHULUAN
Berdasarkan laporan World Health Organitation (WHO) jumlah penderita TB Indonesia
menempati peringkat ketiga terbanyak didunia setelah India dan China. WHO menyatakan 22
negara dengan beban TB tertinggi di dunia 50% nya berasal dari negara-negara afrika dan
asia serta amerika(brasil). Hampir semua negara ASEAN masuk dalam kategori 22 negara
tersebut kecuali singapura dan Malaysia.dari seluruh kasus di dunia india menyumbang 30 %,
china 15%, dan Indonesia 10% (Widoyono,2016).
Berdasarkan data dari WHO menunjukan saat ini ditemukan 8 sampai 10 juta kasus
baru diseluruh dunia dan dari jumlah kasus tersebut 3 juta mengalami kematian pertahunnya.
Menurut WHO 2015 ada sekitar 8,6 juta orang jatuh sakit karena TB Paru dan 1.3 meninggal
akibat TB paru. Indonesia menempati rangking kedua dengan jumlah kasus TuberKulosis
terbanyak didunia. TB menjadi penyebab kematian nomor 4 setelah kardiovaskular hasil
survei memperkirakan setiap tahun terdapat 1 juta kasus baru TB di indonesia. Ironisnya
masyarakat masih banyak yang tidak sadar/tidak tahu tentang TB dan bagaimana mengakses
cara pengobatannya (Kemenkes ,2018)
Berdasarkan WHO Indonesia menempati urutan kelima terbesar didunia sebagai
penyumbang penderita TB setelah negara India, Cina, Nigeria dan Pakistan. Tingkat resiko
tekena penyakit TB di Indonesia berkisar antara 1,7% hingga 4,4%. Secara nasional, TB
dapat membunuh sekitar 67.000 orang setiap tahun, setiap hari 183 orang meninggal akibat
penyakit TB di Indonesia ( Kemenkes, 2018)
Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional pada tahun 2018 menunjukan pravelensi
Tuberkolosis paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan pravelensi tertinggi
pada usia sekitar 45 tahun. Pravelensi Tuberkolosis paru 20% lebih tinggi pada laki-laki
dibandingkan perempuan,tiga kali lebih tinggi dipedesaan dibandingkan perkotaan dan empat
kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. (kemenkes,
2018).Presentasi jumlah kasus TB diindonesia pun menjadi 10% terhadap seluruh kasus
didunia.Angka ini menempatkan Indonesia sebagai Negara dengan kasus terbanyak kedua
.Sedangkan India menempati urutan pertama dengan presentasi kasus Tb 23 % terhadap yang
ada diseluruh dunia (Who Global TB Report 2016)
Jumlah kasus TB di indonesia diperkirakan ada 1.020.000 kasus TB baru pertahun (399
per 100.000 kematian pertahun (41per100.000 penduduk). Diperkirakan 78.000 kasus TB
dengan HIV positif (10 per 100.000 penduduk), mortalitas26.000). jumlah seluruh kasus
324.539 kasus, diantaranya 314.965 adalah kasus baru. Secara nasional perkiraan pravelensi
HIV diantara pasien TB diperkirakan sebesar 6,2%. Jumlah kasus TB-R0 Diperkirkan
sebanyak 10.000 kasus yang berasal dari1,9% kasus TB-RO dari kasus baru TB dan ada12%
kasus TB-RO dari TB dengan pengobatan ulang. (WHO tahun 2017)
Hasil Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas,2018) pevalensi penduduk Indonesia yang
terdiagnosis TB. TB dari tahun 2013 sampai 2018 mengalami peningkatan. Indikator yang
digunakan adalah prevelensi TB Paru target prevalensi TB paru tahun 2019 dalam RPJMN
sebesar 245 per 100.000 penduduk dengan capaian sebesar 321 per 100.000 penduduk pada
tahun 2018 .meningkat bila dibandingkan semua kasus TB yang ditemukan pada tahun 2013
sebanyak 321.000 kasus.
Dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia, Jawa Barat menduduki rangking
Ketiga jumlah terbesar penderita TB setelah papua dan banten. Untuk itu, Pemerintah
Provinsi Jawa Barat, tahun 2019 menargetkan dapat menanggulangi penyakit TB dan
menempatkan penyakit tersebut sebagai program unggulan Dinas Kesehatan Jawa Barat.
Data di Dinas Kesehatan Jawa Barat, tahun 2018 tercatat 30.000 orang penderita TB, yang
sudah datang berobat ke Rumah Sakit dan Puskesmas. Hingga tahun 2018 terus meningkat
yakni mencapai 35.000 orang. Sementara target sasaran yang ingin dicapai oleh Dinkes Jabar
sekitar 43.735 orang (Depkes RI,2018).Laporan data dari dinas kesehatan kabupaten Cianjur
dari 47 kecamatan, disetiap desa terdapat warga yang mengidap TB total dari semua
penderita TB di kabupaten Cianjur pada tahun 2019 sebanyak 657 orang. Dan yang paling
banyak menderita TB adalah di wilayah kerja Puskesmas Tanggeung sebanyak 60 orang
( Dinas Kesehatan Cianjur, 2019)
Penelitian yang serupa dilakukan oleh Leo,dkk tahun 2016 mengatakan Pengetahuan
kepala keluarga dalam melaksanakan pengobatan merupakan salah satu faktor yang
menentukan dalam keberhasilan Terapi, namun kadang pengetahuan keluarga sering kali
rendah/kurang faham termasuk dalam pengobatan Tuberkulosis.Pengambilan data melalui
wawancara langsung menggunakan kuesioner dengan metode consecutive sampling, Sampel
ini adalah Kepala keluarga penderita TB dengan jumlah 36 responden .Menunjukkkan 37 %
Keluarga pasien mengerti tentang upaya pencegahan dan 63 keluarga pasien tidak mengerti
dengan upaya pencegahan penyakit TB Paru, Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaktauan
salah satunya faktor Pendidikan,ekonomi
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh ayu dan Mayusef tentang gambaran
pengetahuan keluarga tentang pencegahan penularan penyakit TB paru di puskesmas
Temindung Samarinda. Metode yang digunakan adalah deskriptip kuantitatif. Sampel
penelitian sebanyak 30 responden denggunakan tehnik accidental sampling didapatkan hasil
pengetahuan keluarga tentang penularan pencegahan penularan penyakit TB paru yaitu
sebanyak 46,6% responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang etika batuk, 56,6%
memiliki pengetahuan yang cukup tentang modifikasi lingkungan bagi pasien TB paru,
kesimpulan pengetahuan keluarga tentang pencegahan penularan penyakit TB paru kategori
cukup memahami bahkan kurang jika dilihat dari tiga sub variable.
Pengetahuan merupakan suatu usaha yang mendasari seseorang berpikir secara ilmiah
pengetahuan atau dasar (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab
pertanyaan yang terjadi setelah orang melakukan pengideraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan sangat berpengaruh,karena pengetahuan adalah dasar untuk berfikir secara
ilmiah dan kritis (Notoatmodjo,2010) dimana jika seseorang dalam melakukan cara
pencegahannya, sehingga diharapkan pengetahuan tentang upaya pencegahan ,sehingga
terjadi penurunan jumlah angka penderita TB Paru
Berdasarkan Hasil studi pendahuluan yang di lakukan secara wawancara oleh peneliti
pada 8 keluarga yang menderita TB aktif di Puskesmas Sukabumi, 3 keluarga mereka
melakukan upaya pencegahan dan 4 kepala keluarga tidak melakukan upaya pencegahan di
mulai dari pencahayaan yang kurang, kurangnya ventilasi, membuang dahak dan ludah di
sembarang tempat, kebiasaan merokok, udara dingin karena mereka tidak mengetahui tentang
pengetahuan Tuberkulosis paru, tanda gejala, faktor resiko ini penularan, pencegahan harus
seperti apa saja.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian
yang berjudul “Gambaran pengetahuan pasien tentang pencegahan penularan TB di
puskesmas Tangeung Tahun 2020”

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan Metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini seluruh
pasien TB usia dewasa pada bulan September 2020 sebanyak 52 responden. Sampel pada
penelitian ini menggunakan total sampling sehingga total sampel yang akan di teliti adalah 52
responden.
Tabel 1: Definisi Operasional
Sub Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Variable Ukur
Jenis kelami Perbedaan seseorang secara Kuesioner 1. Laki-laki Nominal
n biologis sejak lahir 2. perempuan
pendidikan Jenjang pendidikan formal Kuesioner 1. Rendah (tidak sekola Ordinal
yang diseklesaikan oleh res h, SD, SMP)
ponden 2. Tinggi (SMA, PT)
usia Waktu lama hidup sampai p Kuesioner 1. Dewasa (18-40 tahu Nominal
enelitian n)
2. Dewasa tua (41-60 t
ahun)
Lama nya me Lama nya menderita Kuesioner 1. Ya ( < 6 bulan) Rasio
nderita TB 2. Tidak (> 6 bulan)
Pengetahuan Segala sesuatu yang di Kuesioner 1. Baik 76-100% Ordinal
tentang penc ketahui tentang pengertian, 2. Cukup 56-75%
egahan TB tanda dan pencegahan TB 3. Kurang ≤ 56%
Paru (Nursalam, 2015

HASIL PENELITIAN
Gambaran karakteristik Jenis Kelamin
Tabel 2. Distribusi frekuensi gambaran karakteristik jenis kelamin pada pasien TB
di wilayah kerja puskesmas Tanggeung Kabupaten Cianjur Tahun 2020
Tingkat jenis kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki - laki 49 94,2
Perempuan 3 5,8
Total 52 100
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan jenis kelamin
laki -laki sebanyak 49 responden (94,2%)

Gambaran karakteristik Pendidikan


Tabel 3. Distribusi frekuensi gambaran karakteristik pendidikan pada pasien TB di
wilayah kerja puskesmas Tangeung Kabupaten Cianjur Tahun 2020

Tingkat pendidikan Frekuensi Persentase (%)


Rendah 34 65,4
Tinggi 18 34,6
Total 52 100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan pendidikan
rendah sebanyak 34 responden (65,4%)

Gambaran karakteristik usia


Tabel 4. Distribusi frekuensi gambaran karakteristik Usia pada pasien TB di wilayah
kerja puskesmas Tangeung Kabupaten Cianjur Tahun 2020

Usia Frekuensi Persentase (%)


Dewasa muda 21 40,4
Dewasa tua 31 59,6
Total 52 100
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan usia dewasa tua
sebanyak 31 responden (59,6%)

Gambaran berdasarkan lamanya menderita


Tabel 5. Distribusi frekuensi gambaran karakteristik lamanya menderita pada pasien
TB di wilayah kerja puskesmas Tanggeung Kabupaten Cianjur Tahun 2020

Lama menderita Frekuensi Persentase (%)


Ya 39 75
Tidak 13 25
Total 52 100
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tangeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan lama menderita
sebanyak 48 responden (75%)

Distribusi frekuensi gambaran pengetahuan


Tabel 6. Distribusi frekuensi gambaran pengetahuan pada pasien TB di wilayah
kerja puskesmas Tanggeung Kabupaten Cianjur Tahun 2020
Tingkat Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)
Baik 14 26,9
Cukup 17 32,7
Kurang 21 40,4
Total 52 100

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung


Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan pengetahuan
kurang sebanyak 21 responden (40,4%)

PEMBAHASAN
Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan jenis kelamin
laki -laki sebanyak 49 responden (94,2%)
Angka kejadian menyatakan bahwa laki laki lebih berisiko di banding perempuan. Hal
ini disebabkan karena laki-laki memiliki mobilitas yang lebih tinggi di banding perempuan
dan juga kebiasaan buruk lainnya seperti merokok dan mengonsumsi alkohol yang dapat
menyebabkan sistem imunitas menurun sehingga dapat memudahkan laki-laki terinfeksi TB
paru. Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk
mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis kronik dan kanker
kandung kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak
2,2 kali (Achmadi, 2015). Penelitian di India juga menyatakan perokok mempunyai risiko
lebih tinggi untuk terinfeksi TB paru dibandingkan dengan bukan perokok (Nurjana, 2015).
Pendidikan
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan pendidikan
rendah sebanyak 34 responden (65,4%) Berdasarkan hasil crosstabs bahwa responden dengan
pendidikan SMA praktiknya lebih baik. Pendidikan menunjukkan kualitas sumber daya
manusia yang akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas manusia itu sendiri. Dalam
pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk
menumbuhkan dan mengembangkan potensi – potensi pembawaan baik jasmani maupun
rohani sesuai dengan nilai – nilai yang ada di masyarakat (Supradi, 2015).
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan seseorang diantaranya tentang
hal – hal yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya tentang penyakit tuberkulosis,
sehingga dengan pengetahuan yang baik maka seseorang akan berperilaku hidup yang sehat.
Penelitian terkait dengan pendidikan dilakukan oleh Prihadi (2009) di Temanggung dengan
hasil tingkat pendidikan memiliki hubungan bermakna terhadap perilaku pencegahan TB
paru. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Zuliana (2009), bahwa
tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya
mengenai kesehatan, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan
berupaya memiliki perilaku hidup yang sehat.

Usia
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan usia dewasa tua
sebanyak 31 responden (59,6%). Bertambahnya umur seseorang akan menyebabkan
terjadinya perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Ada empat perubahan fisik
yang terjadi, yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan
timbulnya ciri-ciri baru (Supradi, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan rata – rata usia responden adalah 35 tahun.
Dalam tahap perkembangan, usia 35 tahun adalah dalam tahap dewasa dengan tingkat
kematangan fisik, mental dan intelektualnya, sehingga lebih mudah dalam menerima
informasi. Sesuai dengan kategori umur, yang praktiknya baik adalah pada kelompok dewasa
dengan usia diatas 40 tahun. Notoadmodjo (2012) mengatakan, usia mempengaruhi daya
tangkap dan pola pikir seseorang, semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.
Pada usia dewasa beberapa kemampuan intelektual mengalami kemunduran sementara
beberapa lainnya meningkat. Kecerdasan kristal adalah kumpulan informasi dan juga
kemampuan verbal seseorang meningkat pada usia dewasa, sebaliknya kecerdasan cair yaitu
kemampuan seseorang untuk bernalar secara abstrak mulai mengalami penurunan. Usia
dewasa adalah waktu pada saat seseorang mencapai puncak dari kemampuan intelektualnya
(King, 2010).

Lamanya menderita
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tangeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan lama menderita
sebanyak 48 responden (75%)
Tuberkulosis paru memiliki gejala seperti demam tingkat rendah, keletihan, anoreksia,
penurunan berat badan, berkeringat malam, nyeri dada, dan batuk menetap. Batuk pada
awalnya mungkin non produktif, tetapi dapat berkembang ke arah pembentukan sputum
mukopurulen dengan hemoptisis (kemenkes, 2014).
Gejala utama pasien Tuberkulosis adalah batuk berdahak selama 2 sampai 3 minggu
atau lebih, batuk dapat di ikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk
darah, sesak nafas, badan lesu, lemas, nafsu makan menurun (anoreksia), berat badan
menurun, malaise, berkeringat di malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari
1 bulan (Kemenkes 2013).

Pengetahuan
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tangeung
Kabupaten Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan pengetahuan
kurang sebanyak 21 responden (40,4%). Dari hasil penelitian yang didapat banyak responden
yang kurang mengetahui tentang gejala yang dirasakan penderita TB paru adalah batuk lebih
dari 3 minggu, demam dan disertai dengan influensa.
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap
objek melalui indera yang dimilikinya.Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai
menghasilkan pengetahuan sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap
objek.Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang
berbeda-beda.(Notoatmojo, 2012)
Pengetahuan dipengaruhi oleh factor internal terdiri dari pendidikan, pekerjaan, umur
sedangkan factor ekternal dipengaruhi oleh factor lingkungan dan sosial budaya. Penigkatan
umur mempengaruhi daya tangkap dan pola piker seseorang sehingga pengetahuan yang
diperoleh akan semakin baik.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktavienty, 2019 tentang tingkat
pengetahuan tentang pasien TB di UPT Puskesmas Simalingkar didapatkan pengetahuan baik
32 responden dan kurang 10 responden
Indikator untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau tingkat kesadaran terhadap
kesehatan diperlukan seseorang untuk mengadopsi perilaku yang bermanfaat untuk dirinya
dan keluarganya, salah satu pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan hidup
sehat, pengetahuan tentang sakit dan penyakit, dan pengetahuan tentang kesehatan
lingkungan.
Setiap pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa, bagaimana, dan
untuk apa pengetahuan disusun. Pengetahuan merupakan fungsi dari sikap, menurut fungsi
ini manusia mempunyai dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk mencapai penalaran dan
untuk mengorganisasikan pengalaman, Haryono, 2013).

SIMPULAN
1. Jenis kelamin menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung Kabupaten
Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan jenis kelamin laki -laki
sebanyak 49 responden (94,2%)
2. Pendidikan menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung Kabupaten
Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan pendidikan rendah
sebanyak 34 responden (65,4%)
3. Usia menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tanggeung Kabupaten Cianjur
Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan usia dewasa tua sebanyak 31
responden (59,6%).
4. Lama menderita menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tangeung Kabupaten
Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan lama menderita
sebanyak 48 responden (75%)
5. pengetahuan menunjukan bahwa dari 52 reponden di puskesmas Tangeung Kabupaten
Cianjur Tahun 2020 didapatkan sebagian besar responden dengan pengetahuan kurang
sebanyak 21 responden (40,4%)
SARAN
Bagi pihak Puskesmas ataupun petugas kesehatan lainnya, agar lebih meningkatkan
pemberian informasi tentang penyakit TB atau penyuluhan kesehatan kepada keluarga atau
masyarakat tentang penyakit TB, sehingga dengan pengetahuan yang didapat oleh keluarga
nantinya mampu menjadi acuan dan panduan bagi bagi keluarga apabila ada keluarga yang
terkena TB sehingga dapat melakukan pengontrolan terhadap penyakit tersebut. Diharapkan
tenaga kesehatan yang mengelola program pengobatan dan penanggulangan Tuberkulosis
(TBC) memberikan dukungan kepada keluarga pasien Tuberkulosis agar senantiasa
mengontrol kepatuhan minum obat anggota keluarganya supaya tidak terjadi putus obat dan
resistensi.
Sebaiknya keluarga dan pasien diberikan penyuluhan kesehatan yang berkaitan
dengan informasi mengenai penyakit Tuberkulosis dan informasi mengenai kepatuhan
minum obat Tuberkulosis terutama tentang cara batuk efektif, tempat makan yang tidak boleh
bergantian serta lainnya yang bisa menularkan penyakit tuberkulosis
Untuk peneliti selanjutnya hendaknya menggali lebih dalam lagi tentang faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kepatuhan pasien TB. dan dapat dilakukan penelitian lanjut
dengan metode yang berbeda atau dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
A.Wawan dan Dewi M, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Black, Joyce M & Hawks, Jane Hokamson.2014. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 20012. Pusat Promosi Kesehatan
____________. 2012. Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta; Depkes RI
Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun. 2016.

Dinas Kesehatan kabupaten Cianjur. 2017. Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis. Cianjur: Diperbanyak oleh Sub.Din. P2M-PL Dinas Kesehatan
kabupaten Cianjur.
Friedman, M.2009. Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori dan Praktek. Edisi ke
-5. Jakarta: EGC
Haryati, A. 2011. Kepatuhan berobat penderita tuberculosis patu di puskesmas kecamatan
Pancoran Depok. FKUI. Depok
Mansjoer, Arief, dkk. 2012. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III Jilid 1, Media
Aesculapius, FKUI, Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
, 2012. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2015). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.
(P.P.Lestari, Ed.) (4th ed.). Jakarta: Salemba Medika.

Riyanto, Agus.2011. Aplikasi Metodelogi Peneletian Kesehatan. Bandung. Nuha Medika.


Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian RI tahun 2018. Syaifuddin. 2006. Anatomi dan Fisiologi
untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3 - Jakarta : EGC.

Santa Manurung,Suratun,NS.Paula Krisanty,2012.Gangguan Sistem Pernafasan, Penerbit


Gosyen Publishing, Jakarta

Widoyono. Penyakit tropis. Jakarta : Erlangga, 2016

Zulkifli Amin, 2006.Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV Jilid III .Jakarta : Pusat penerbitan
departemen ilmu penyakit dalam fakultas edokteran Universitas Indonesia.