Anda di halaman 1dari 10

Hubungan Gaya Hidup Masyarakat Dengan Kejadian Diabetes Melitus

ABSTRAK

Latar Belakang: Konsumsi makanan yan g mengandung kadar lemak dan kalori sedangkan
aktifitas fisik yang dilakukan kuramg, menyebabkan terjadinay penimbunan bahan makanan
dan energi dalam tubuh secaa berlebihan sehingga menyebakan terjadinya diabetes. Peilaku
olahraga adan aktivitas fisik yang kurang mempunyai resiko 4,5 kali untuk terkena DM
dibandingakn mereka yang melakukan aktivitas fisik atau olahraga teratur. Tujuan: untuk
mengetahui hubungan gaya hidup masyarkat dengan kejadian diabetes melitus di Puskesmas
Tangeung tahun 2020. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian analitik
dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien dengan tanda-
tanda diabetes mellitus di puskesmas Tanggeung bulan Desember 2020 sebanyak 46 orang.
Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling sehingga total sampel yang akan di
teliti adalah 46 responden. Hasil Penelitian: Gaya hidup masyarakat di Puskesmas
Tanggeung tahun 2020, kategori baik 41,3% atau 19 esponden dan kategori Tidak baik yaitu
sebanyak 58,7% atau 27 responden. Kejadian diabetes melitus di puskesmas Tanggeung
tahun 2020 adalah kejadian diabetes sebanyak 63,1% atau 29 responden dan tidak diabetes
36,9% atau 17 responden. Terdapat Hubungan gaya hidup masyarakat dengan kejadian
diabetes melitus di Puskesmas Tanggeung tahun 2020 dengan nilai P value = 0,000.
Kesimpulan: Terdapat hubungan gaya hidup masyarkat dengan kejadian diabetes melitus di
Puskesmas Tangeung tahun 2020. Saran: Memberikan penyuluhan tentang penyakit
Diabetes Millitus, factor resiko yang bias menyebabkan terjadinya Diabetes, membina kerja
sama lintas sektoral dengan masyarakat dan kader kesehatan dalam kegiatan penyuluhan
faktor resiko diabetes militus di wilayah kerja Puskesmas Tanggeung Bagi Instansi
Kesehatan.

Kata Kunci : Pengetahuan, Pencegahan Penularan, TB

PENDAHULUAN
Diabetes melitus adalah penyakit metabolic yang bersifat kronik ditandai dengan
meningkatnya kadar glukosa darah sebagai akibat dari adanya gangguan penggunaan insulin,
sekresi insulin, atau keduanya. Penyakit (DM) merupakan ancaman serius bagi pembangunan
kesehatan dan petumbuhan ekonomi social, kaena itu pengendaliannya perlu dilakukan
dengan sungguh-sungguh secara komprehensif dan terintegrasi dengan memberikan perhatian
melalui pengendalian penyakit tidak menular seperti tidak merokok, diet sehat dan aktivitas
sehat yang dimulai sejak janin sampai dewasa tua (Smeltzer, 2010)
Diabetes termasuk salah satu keadaan darurat kesehatan global terbesar abad 21. Setiap
tahun semakin banyak orang yang hidup dengan kondisi ini yang dapat mengakibatkan
komplikasi yang mengubah hidup. Selain 415 juta orang dewasa yang diperkirakan saat ini
memiliki diabetes, ada 318 juta orang dewasa dengan gangguan toleransi glukosa, yang
menempatkan mereka pada resiko tinggi dalam pengembangan penyakit dimasa depan. (IDF,
2015)
Menurut survey yang dilakukan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) menunjukan
bahwa prevalensi DM paling besar ditemukan pada populasi urban dinegara-negara
berkembang, dimana perkiraan jumlahnya akan terus meningkat sebesar 100% pada tahun
2030. Peubahan demografik yang paling erperan dalam meningkatkan prevalensi DM adalah
peningkatan proporsi penduduk berusia 65 tahun atau lebih. Di Cina merupakan negara
dengan prevalensi diabetes tertinggi di dunia dengan jumlah penderita mencapai 92,3 juta
jiwa, diikuti dengan India sebanyak 63 juta jiwa dan Amerika seikat 24,1 juta jiwa. (Aditama,
2013)
Diabetes merupakan salah satu penyakit tidak menular yang jadi perhatian dunia, pada
tahun 2015 saja presentasi orang dewasa dengan diabetes 8,5% dari populasi dunia. Atau satu
diantara 11 orang dewasa menyadang diabetes. Jika dibiarkan akan ada 1 dari 10 orang
diabetes pada tahun 2040 (IDF, 2015). Di wilayah Asia Tenggara, 24,5% dari semua hidup
kelahiran dipengaruhi oleh glukosa darah tinggi selama kehamilan. Di wilayah Timur Tengah
dan Afrika Utara, dua dari lima orang dewasa dengan diabetes yang tidak terdiagnosis.
Sedangkan di wilayah Amerika Selatan dan Tengah, jumlah penderita diabetes akan
meningkat 65% pada tahun 2014. (IDF, 2015). Global status report on NCD World Health
Organization (WHO) tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian umur di dunia
adalah karena Penyakit Tidak Menular (PTM). Diabetes menduduki peringkat ke-6 sebagai
penyebab kematian. Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes dan 4% meninggal
sebelum usia 70 tahun. Pada tahun 2030 diperkirakan Diabetes menempati urutan ke-7
penyebab kematian di dunia. Sedangkan untuk di Indonesia diperkirakan pada tahun 2030
akan memiliki penyandang Diabetes sebanyak 21,3 juta jiwa. (www.depkes.go.id).
Dalam rentang waktu 2013-2018, Indonesia menduduki peringkat ke-7 Diabetes
mellitus di seluruh dunia. Berdasarkan data World Diabetes Foundation 2017 hingga 2018,
disebutkan bahwa sebanyak 382 juta jiwa di Indonesia merupakan penyandang diabetes
mellitus. Jumlah penderita diabetes ini diperkirakan masih akan meningkat menjadi 592 juta
jiwa pada tahun 2035. Atau dengan kata lain 1 dari 10 orang adalah penderita diabetes
mellitus. yang mempunyai angka DM tinggi Daerah Khusus Ibu kota (DKI) sebanyak 3,4%.
Prevalensi daerah perkotaan lebih banyak sekitar 1,9 % dibanding pedesaraan sekitar (1%).
Prevalensi Diabetes melitus menurut penduduk umur > 15 tahun mengalami kenaikan dari
tahun 2018 (6,9%) meningkat tahun 2018 (8,5%). (Riskesdas, 2018)
Meningkatnya Pravalensi Diabetes di Indonesia yang semakin meningkat berdampak
pada penurunan kualitas sumber daya manusia yang dapat memengaruhi perkembangan
kemajuan bangsa Indonesia. Kemajuan suatu Negara ditentukan oleh kualitas sumber daya
manusia yang baik, sehat dan unggul. Beberapa upaya pencegahan dapat dilakukan agar
terhindar dari penyakit Diabetes, baik secara primer maupun sekunder. Pencegahan primer
yaitu berupa pencegahan melalui modifikasi gaya hidup seperti pola makan yang sesuai,
aktifitas fisik yang memadai atau olahraga. Adapun pencegahan sekunder dapat dilakukan
dengan pengecekan atau kontrol fisik, pengecekan urine, penghentian merokok bagi penderita
yang merokok. (Smeltzer, 2010)
Diabetes melitus terkait dengan beberapa faktor resiko diantaranya riwayat keluaega
dengan diabtes diduga ad aperan genetik yang menyebabkan penyakit DM, riwayat diabetes
gestasional, hipertensi yang merupakan resiko dimana 30-50% penderita hipertensi
berhubungan dengan terjadinya diabetes melitus tipe 2, obesitas, tidak olahraga ( IDF, 2013).
Konsumsi makanan yang mengandung kadar lemak dan kalori sedangkan aktifitas fisik yang
dilakukan kuramg, menyebabkan terjadinay penimbunan bahan makanan dan energi dalam
tubuh secaa berlebihan sehubgga menyebakan terjadinya diabetes. ( Dwijayanti, 2011)
peilaku olahraga adan aktivitas fisik yang kurang mempunyai resiko 4,5 kali untuk terkena
DM dibandingakn mereka yang melakukan aktivitas fisik atau olahraga teratur (Handayani,
2013)
Berdasarkan hasil penelitian dari Hamdan, dkk (2013) tentang hubungan gaya hidup
dengan kejadian diabetes melitus dengan menggunakan dsaian penelitian observasional
analitik dengan jumlah populasi sebanyak 60 menggunakan tehnik purposive sampling, uji
staitistik menggunakan c squae didapatkan hasil ada hubunagn bermakna anatara gaya hidup
denagn kejadian DM dengan p value 0,02. Salah satu cara yang digunakan penderita DM
untuk menurunkan berat badan dan mengendalikan kadar gula darah adalah dengan cara
olahraga. Manfaat besar dai olahraga pada DM anatara lain menurunkan kadar glukosa
darah, mencegah kegemukan ( Ilyas, 2014)
Bedasarkan data yang didapat di Puskesmas Tanggeung didapatkan jumlah pasien DM
meningkat tiap tahunnya tahun 2018 sebanyak 135 orang tahun 2019 terdapat 142 orang dan
bulan januari sampai bulan september 2020 sebanyak 149 orang. Berdarkan studi
pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 6 oktober pada 6 pasien DM , 4 orang
mengatakan sudah lama menderita DM dan kadar gula sering naik terus disebakan karena
mereka melakukan olahraga nya tidak teratur kadang olahraga dan kadang juga tidak
melakukan olahraga dan tidak ada pantangan dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari ada
yang selalu makan gorengan, jeroan dan makanan yang banyak mengandung lemaknya dan 2
orang mengatakan tidak pernah melakukan olahraga dan makan yang dikonsumsi juga tidak
teratur kadang atuh dan kadang tidak. Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan di atas
peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul “ Hubungan gaya hidup
masyarakat dengan kejadian diabetes melitus di puskesmas Tanggeung tahun 2020”.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan kuantitatif. Populasi
penelitian ini adalah seluruh pasien dengan tanda- tanda diabetes mellitus di puskesmas
Tanggeung bulan Desember 2020 sebanyak 46 orang. Sampel pada penelitian ini
menggunakan total sampling sehingga total sampel yang akan di teliti adalah 46 responden.

Tabel 1: Definisi Operasional


Sub Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Variable Ukur
Gaya hidup Kebiasaan sehari-hari seseorang Kuesioner 1. Baik Ordinal
yang meliputi aspek aktifitas 2. Tidak baik
fisik, pola makan, istirahat dan
riwayat merokok.
Kejadian Pasien yang terdiagnosa secara Diagnosa dokter 1. DM Nominal
diabetes klinis mengalami Diabetes 2. Tidak DM
melitus Mellitus

HASIL PENELITIAN
Gaya hidup masyarakat di puskesmas Tanggeung tahun 2020
Tabel 2. Distribusi Frekuensi gaya hidup masyarakat di puskesmas Tanggeung tahun
2020
Gaya Hidup Jumlah Presentasi (%)
Baik 19 41.3
Tidak Baik 27 58.7
Total 46 100

Hasil tabel 2 menujukan bahwa sebagian besar gaya hidup masyaakat di wilayah
puskesmas Tanggeung dalam kategori Tidak baik yaitu sebanyak 58,7% atau 27 responden.
Kejadian diabetes melitus di puskesmas Tanggeung tahun 2020
Tabel 3. Distribusi Frekuensi kejadian diabetes melitus di puskesmas Tangeung
tahun 2020

Kejadian diabetes Jumlah Presentasi (%)


Tidak 17 36,9
Ya 29 63,1
Total 46 100

Hasil tabel 3 menujukan bahwa sebagian besar masyarakat adalah kejadian diabetes
sebanyak 63,1% atau 29 responden.

Hubungan Gaya Hidup Pada Masyarakat Dengan Kejadian Diabetes Melitus


Tabel 4. Hubungan Gaya hidup pada masyaakat dengan kejadian diabetesmelitus di
puskesmas Tanggeung tahun 2020
Diabetes
No Gaya hidup Jumlah % Pvalue
Tidak Ya
1 Baik 15 4 19 41,3%
2 Tidak Baik 2 25 27 58,7 % 0,000
Jumlah 17 29 90 100%

Berdasarkan tabel 4 menunjukan bahwa responden yang memiliki gaya hidup baik
yakni sebanyak 19 responden (41,3%), dimana yang diabetes ada 4 responden, dan yang tidak
diabetes ada 15 orang. Adapun yang gaya hidup tidak baik sebanyak 27 responden (58,7%),
dimana 2 reponden tidak diabetes, 25 responden diabetes
Hasil uji statistik analisa bivariat diperoleh nilai P value = 0,001 berarti P value < 0,05
maka H0 ditolak dan hipotesis diterima, hal ini menunjukan bahwa ada hubungan Gaya hidup
masyarakat dengan kejadian diabetes di puskesmas Tanggeung tahun 2020

PEMBAHASAN
Gaya hidup masyarakat di Puskesmas Tanggeung tahun 2020
Berdasarkan tabel 4.1 menujukan bahwa sebagian besar gaya hidup masyaakat di
wilayah puskesmas Tanggeung dalam kategori Tidak baik yaitu sebanyak 58,7% atau 27
responden.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Winda, dkk (2020) tentang hubungan gaya
hidup dengan penyakit diabetesmelitus diwilayah kerja puskesmas Sungai Mesa kota
Banjarmasin dari 84 responden, 56,5% responden dengan gaya hidup yang kurang. Hal ini
berarti, masih kurangnya kelola gaya hidup responden yang meliputi kurangnya jam untuk
tidur, aktivitas fisik kurang dan dilakukan secara tidak rutin, dan sebagian responden dengan
kebiasaan responden merokok (perokok aktif). Oleh karena itu, penerapan gaya hidup yang
sehat dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting dan harus dijadikan kebiasaan oleh
setiap individu. Parameter untuk mengukur gaya hidup dalam penelitian ini terdapat 3 yaitu
aktivitas fisik, pola tidur dan kebiasaan merokok responden.
Hairunnisa (2015) menjelaskan bahwa Gaya hidup secara luas didefinisikan sebagai
cara hidup yang diidentifikasi oleh bagaimana orang lain menghabiskan waktu mereka
(aktivitas) dilihat dari pekerjaan, hobi, belanja, olahraga, dan kegiatan sosial serta interest
(minat) terdiri dari makanan, mode, keluarga, rekreasi dan juga opinion (pendapat) terdiri
dari mengenai diri mereka sendiri, masalah-masalah sosial, bisnis, dan produk. Gaya hidup
mencakup sesuatu yang lebih dari sekedar kelas sosial ataupun kepribadian seseorang
Perubahan gaya hidup masyarakat berpengaruh terhadap pola makan masyarakat
sehingga tidak adanya keseimbangan antara unsur-unsur makanan yang dikonsumsi. Pola
makan yang salah (tak seimbang) merupakan faktor risiko DM yang dapat dikendalikan.
Gaya hidup sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri,
penjagaan kebugaran melalui olahraga dan makanan bergizi. Perilaku sehat diperlihatkan
oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-
betul sehat. Sesuai dengan persepsi tentang sakit dan penyakit maka perilaku sehat subjektif
sifatnya (Sarwono, 2012).
Selain itu Notoatmojo (2012) juga menyebutkan beberapa aspek dari perilaku sehat
(healthy behavior) antara lain: a. Makan dengan menu seimbang (appropriate diet), mencakup
pola makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan nutrisi yang memenuhi kebutuhan tubuh
baik menurut jumlahnya (kuantitas) maupun jenisnya (kualitas). b. Olah raga teratur,
mencakup kualitas (gerakan) dan kuantitas dalam arti frekuensi dan waktu yang digunakan
untuk olah raga. Kedua aspek ini tergantung dari usia dan status kesehatan yang
bersangkutan. c. Tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol serta tidak menggunakan
narkoba. d. Istirahat yang cukup, berguna untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Istirahat
yang cukup adalah kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan kesehatannya. e.
Pengendalian atau manajemen stres, stres tidak dapat dihindari oleh siapapun namun hanya
dapat dilakukan adalah mengatasi, mengendalikan atau mengelola stres tersebut agar tidak
mengakibatkan gangguan kesehatan baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental (rokhani).
f. Perilaku atau gaya hidup lain yang positif untuk kesehatan, mencakup keseluruhan tindakan
atau perilaku seseorang agar dapat terhindar dari berbagai macam penyakit dan masalah
kesehatan termasuk perilaku untuk meningkatkan kesehatan misalnya tidak berganti-ganti
pasangan dalam hubungan seks serta penyesuaian diri dengan lingkungan yang baik
Dari hasil penelitian didapatkan aktivitas fisik, pola makan, kebiasaan istirahat ada
hubungannya dengan kejadian diabetes melitus Untuk aktifitas fisik didapatkan beberapa
masyarakat tidak melakukan olahraga. Menurut Anggara & Prayitno (2013), Kurangnya
aktifitas fisik dapat meningkatkan risiko menderita diabetes melitus karena meningkatkan
risiko kelebihan berat badan.

Kejadian diabetes melitus di puskesmas tangeung tahun 2020


Berdasarkan tabel 4.2 menujukan bahwa sebagian besar masyarakat adalah kejadian
diabetes sebanyak 63,1% atau 29 responden. Angka diabetes masih tinggi di puskesmas
Tanggeung disebabkan karena gaya hidup yang kurang baik
Diabetes Mellitus atau sering disebut dengan kencing manis adalah suatu penyakit
kronik yang terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat
menggunakan insulin (resistensi insulin), dan di diagnosa melalui pengamatan kadar glukosa
di dalam darah. Insulin merupakan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang
berperan dalam memasukan glukosa dari aliran darah ke sel-sel tubuh untuk digunakan
sebagai sumber energi (IDF, 2015). Diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan
terjadinya hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang
dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi
insulin. Gejala yang dikeluhkan pada pasien diabetes melitus yaitu polidipsia, poliuria,
polifagia, penurunan berat badan, kesemutan (Restyana, 2015).
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hamdan (2019) tentang hubungan gaya
hidup dengan kejadian diabetes melitus di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dengan jumlah
sampel sebanyak 60 responden didapatkan hasil kejadian diabetes sebanyak 30 responden
( 50%) dan yang tidak diabetes sebanyak 30 responden (30%). Masih tinggi akan diabetes
melitus karena dari gaya hidup yang kurang didapatkan hasil p value kurang dari 0,05

Hubungan Gaya Hidup masyarakat dengan kejadian diabetes melitus di puskesmas


Tanggeung tahun 2020
Hasil analisis penelitian pada hubungan Gaya Hidup masyarakat dengan kejadian
diabetes melitus di puskesmas Tanggeung Hasil uji statistik analisa bivariat diperoleh nilai P
value = 0,000 berarti P value< 0,05 maka H0 ditolak dan hipotesis diterima, hal ini
menunjukan bahwa ada hubungan Gaya Hidup masyarakat dengan kejadian diabetes melitus
di puskesmas Tanggeung tahun 2020. Hal ini menjelaskan bahwa semakin baik gaya hidup
yang dilakukan maka kejadian diabetes melitus akan semakin berkurang.
Perubahan gaya hidup masyarakat berpengaruh terhadap pola makan masyarakat
sehingga tidak adanya keseimbangan antara unsur-unsur makanan yang dikonsumsi. Pola
makan yang salah (tak seimbang) merupakan faktor risiko DM yang dapat
dikendalikan.Secara sederhana pola makan yang benar dapat diterjemahkan sebagai upaya
untuk mengatur agar tubuh kita terdiri dari sepertiga padatan (berupa makanan), sepertiga
cairan, dan sepertiga sisanya adalah ruang kosong untuk udara. Makan secara berlebihan dan
melebihi kadar kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dapat memicu timbulnya diabetes melitus
(DM). Hal ini disebababkan oleh jumlah/kadar insulin oleh sel β pangkreas mempunyai
kapasitas maksimum untuk disekresikan. Oleh karena itu, menkonsumsi makanan secara
berlebihan dan tidak diimbangi sekresi insulin dalam jumlah yang memadai dapat
menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan menyebabkan diabetes (Hembing,
2008).
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayu indriani (2016) tentang hubungan
gaya hidup dengan kejadian diabetes melitus, gaya hidup sangat berpengaruh dengan
kejadian diabetes melitus pada lansia. Dimana dengan gaya hidup yang tidak sehat maka akan
cenderung terkena dabetes melitus.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan gaya hidup dengan kejadian
diabetes melitus di puskesmas Tanggeung. Jadi semakin baik gaya hidup masyarakat maka
diabetes melitus pada masyarakat lebih sedikit. Begitupun sebaliknya kalau gaya hidup
masyaakat kurang baik maka diabetes melitus pada masyarakat pun akan meningkat

SIMPULAN
1. Gaya hidup masyarakat di Puskesmas Tanggeung tahun 2020, kategori baik 41,3% atau
19 esponden dan kategori Tidak baik yaitu sebanyak 58,7% atau 27 responden.
2. Kejadian diabetes melitus di puskesmas Tanggeung tahun 2020 adalah kejadian diabetes
sebanyak 63,1% atau 29 responden dan tidak diabetes 36,9% atau 17 responden
3. Terdapat Hubungan gaya hidup masyarakat dengan kejadian diabetes melitus di
Puskesmas Tanggeung tahun 2020 dengan nilai P value = 0,000.

SARAN
Karena penelitian ini jauh dari kesempurnaan, maka diharapkan bagi peneliti
selanjutnya untuk lebih meningkatkan jenis penelitiannya mengenai faktor yang berhubungan
dengan kejadian diabetes melitus pada masyarakat. Sehingga diharapkan hasil dari penelitian
tersebut akan lebih baik.
Disarankan Di sarankan kepada masyarakat untuk selalu mengikuti anjuran gaya
hidup yang benar, mengurangi gula pada makanan, mengurangi makanan tinggi lemak,
olahrahga secara teratur.
Bagi Puskesmas
Memberikan penyuluhan tentang penyakit Diabetes Millitus, factor resiko yang bias
menyebabkan terjadinya Diabetes, membina kerja sama lintas sektoral dengan masyarakat
dan kader kesehatan dalam kegiatan penyuluhan faktor resiko diabetes militus di wilayah
kerja Puskesmas Tanggeung Bagi Instansi Kesehatan

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

A.Wawan dan Dewi M, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.

Arjatmo, Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta : FKUI; 2009

Badawi, H. Melawan dan Mencegah Diabetes: Panduan Hidup Sehat Tanpa Diabetes.
Yogyakarta: Araska; 2009

Black, Joyce M & Hawks, Jane Hokamson.2014. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8

Brunner & Suddart. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12:. Jakarta: EGC; 2013

Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 2. Jakarta
EGC; 2013

Dewi, R. K. Diabetes Bukan untuk Ditakuti. Jakarta : Fmedia; 2014

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 20012. Pusat Promosi Kesehatan

________. 2012. Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta; Depkes RI

Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun. 2016.

Dinas Kesehatan kabupaten Cianjur. 2017. Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis. Cianjur: Diperbanyak oleh Sub.Din. P2M-PL Dinas Kesehatan
kabupaten Cianjur.

Federation ID. IDF Diabetes Atlas. Seventh Edition ed. Belgium: International Diabetes
Federation;2015
Friedman. Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset, Teori, & Praktik : ECG;2014

Greenstein, B., Wood, D. F. At a Glance Sistem Endokrin Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2010 pp: 80-7.

Mansjoer, Arief, dkk. 2012. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III Jilid 1, Media
Aesculapius, FKUI, Jakarta.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

___________, 2012. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. (2015). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis. (P. P.


Lestari, Ed.) (4th ed.). Jakarta: Salemba Medika.

Riyanto, Agus.2011. Aplikasi Metodelogi Peneletian Kesehatan. Bandung. Nuha Medika.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan


Kesehatan Kementerian RI tahun 2018. Syaifuddin. 2006. Anatomi dan
Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3 - Jakarta : EGC.