Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Prolaps tali pusat merupakan kejadian kegawatdaruratan obstetri yang
jarang terjadi tetapi berpotensi signifikan pada hasil neonatal yang buruk.
Kejadian keseluruhan dilaporkan 0,1% – 0,6% dengan insiden yang lebih
tinggi dalam presentasi bebas-sepalika, kehamilan kembar, dan trimester awal
kehamilan. Namun, baru-baru ini dilaporkan insiden yang lebih rendah
(0.018%) dan ada kecenderungan insiden mengalami penurunan sepanjang
tahun: 0,6% di 1932, 0,2% di 1990, dan 0.018% di 2016 (International
Journal of Women’s Health, 2018)
Prolapse tali pusat dapat menyebabkan kematian karena tali pusat yang
mengalami tekanan, bisa mengubah tekanan darah janin bahkan detak
jantungnya. Tali pusat yang mengalami sumbatan terlalu lama bias
mengurangi suplai oksigen ke otak bayi dan beresiko menyebabkan
kerusakan pada otak janin. (Sarwono,2010)
Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernapasan
secara spontan dan teratur pada saat bayi baru lahir atau beberapa saat
sesudah lahir. Bayi mungkin lahir dalam kondisi asfiksia (asfiksia primer)
atau mungkin dapat bernafas tetapi kemudian mengalami asfiksia atau biasa
di sebut asfiksia sekunder. (Sofian, 2011).
Menurut WHO,bahwa kasus kematian ibu terjadi antara 33-50% yang
berhubungan erat dengan rendahnya tingkat pelayanan kesehatan yang
diperoleh selama hamil sedangkan kontribusi terbesar penyebab kematian ibu
tersebut berturut-turut adalah pre eklamsi , eklamsi, dan pendarahan
antepartum.
Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki
angka kematian ibu dan anak cukup tinggi dibandingkan dengan negara
lainnya di Kawasan tersebut (UNICEFF, INDONESIA 2012). Berdasarkan
profil kesehatan Indonesia tahun 2017 AKI di Indonesia mengalami

1
2

penurunan yaitu dari 359/100.000 KH pada tahun 2012 menjadi 305/100.000


KH di tahun 2015 berdasarkan hasil SUPAS tahun 2015.
Menurut kementrian kesehatan tahun 2015, tiga factor utama
penyebabkematian ibu melahirkan adalah perdarahan (28%), eclampsia
(24%), dan infeksi (11%). Audit Maternal Perinatal (AMP) menyimpulkan
bahwa penyebab kematiaanibu pada tahun 2015 adalah pendarahan sebesar
36%. Perdarahan ini dapat disebabkan oleh atonia uteri 50-60%, retensio
plasenta 23-29%, serta robekan jalan lahir 4-5%. Selain itu dapat disebabkan
oleh berbagai factor risiko lainnya.
Di Indonesia jumlah kasus Angka Kematian Bayi (AKB) turun dari
33.278 ditahun 2015 menjadi 32.007 pada tahun 2016, dan di tahun 2017 di
semester I sebanyak 10.294 kasus. Demikian pula dengan Angka Kematian
Ibu (AKI) turun dari 4.999 tahun 2015 menjadi 4912 ditahun 2016 dan di
tahun 2017 (Semester II) sebanyak 1712 ( Profil Kesehatan Kemenkes RI
tahun 2015-2017).
Laporan dari Provinsi Jawa Barat pada tahun 2016, terdapat 3702 bayi
meninggal, menurun 343 orang di banding tahun 2015 yang tercatat 4045
kematian bayi. Angka kematian ibu berdasarkan laporan rutin propil
kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2016 tercatat jumlah kematian ibu maternal
yang di laporkan sebanyak 799 orang per 100.000 KH dengan proporsi
kematian pada ibu hamil 227 orang per 100.000 KH pada ibu bersalin 202
orang (21,43 per 100.000 KH), Dan pada ibu nifas 380 orang per 100.000
KH. (Dinkes Jabar 2017).
Di Kota Sukabumi dari data yang ada angka kematian ibu sepanjang
tahun 2019 sebanyak 12 kasus, namun berdasarkan data angka kematian ibu
cenderung meningkat pada tahun 2018 lalu. Kasus kematian ibu pada 2019
sebanyak 12 kasus, dan pada 2018 mencapai 7 kasus. Sementara angka
kematian anak meningkat penerunan. Pada 2017 sebanyak 45, 2018 sebanyak
34 kasus dan 2019 hingga Oktober 33 kasus.
Berdasarkan data yang didapatkan di RSUD AL-MULK Kota
Sukabumi tahun 2019 ditemukan jumlah kematian bayi sebanyak 2 kasus dari
3

bulan januari- Desember yang disebabkan oleh asfiksia. Sedangkan angka


kejadian prolapse tali pusat 1 pasien
Berdasarkan Uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan
asuhan kebidanan komprehensif dengan judul “Asuhan Kebidanan
Komprehensif Pada Ny W G1P0A0 parturient aterm dengan Prolaps
Tali Pusat Dan Asfiksia neonatorum Di RSUD AL-MULK Kota
Sukabumi ”

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan umum
Mampu menerapkan Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ny.W
G1P0A0 dengan Prolaps Tali Pusat dan Asfiksia secara komprehensif
yaitu ANC, INC, PNC, BBL dan KB di RSUD AL-MULK dengan
menggunakan manajemen asuhan kebidanan Varney dan SOAP
Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian data subjektif pada asuhan
kebidanan Pada Ny.W G1P0A0 dengan Prolaps Tali Pusat dan
Asfiksia dengan ANC, INC, PNC, BBL dan KB normal di RSUD
AL-MULK Kota Sukabumi.
b. Mampu melakukan pengakajian objektif pada asuhan kebidanan
pada Ny.W G1P0A0 dengan Prolaps Tali Pusat dan Asfiksia dengan
ANC, INC, PNC, BBL dan KB normal di RSUD AL-MULK Kota
Sukabumi.
c. Mampu menganalisa atau mendiagnosa kasus pada Pada Ny.W
G1P0A0 dengan Prolaps Tali Pusat dan Asfiksia dengan ANC, INC,
PNC, BBL dan KB normal di RSUD AL-MULK Kota Sukabumi.
d. Mampu melakukan penatalaksaan asuhan kebidanan Pada Ny.W
G1P0A0 dengan Prolaps Tali Pusat dan Asfiksia dengan ANC, INC,
PNC, BBL dan KB normal di RSUD AL-MULK Kota Sukabumi.
e. Mampu melakukan pendokumentasian secara SOAP pada hasil
asuhan yang telah diberikan pada Pada Ny.W G 1P0A0 dengan
4

Prolaps Tali Pusat dan Asfiksia ANC, INC, PNC, BBL dan KB di
RSUD AL-MULK Kota Sukabumi.

1.3 Manfaat
1.3.1 Teoritis
Sebagai sumber ilmu tambahan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan kebidanan dan khususnya dalam penanganan kasus Prolaps
Tali Pusat dan Asfiksia.
1.3.2 Praktis
Untuk meningkatkan pelayanan yang berkualitas dan berkompeten
khususnya pada kasus persalinan dengan Prolaps Tali Pusat dan
Asfiksia.

1.4 Ruang Lingkup


Ruang lingkup adanya praktek klinik kebidanan II ini adalah mahasiswa
dapat mengaplikasikan secara langsung teori yang telah didapatkan
diperkuliahan. menjadi lebih mengetahui mengenai gambaran umum
kesehatan ibu baik fisik dan psikologis saat kehamilan, persalinan, nifas, dan
perawatan BBL.

1.5 Lokasi dan Waktu


1.5.1 Lokasi
Lokasi yang digunakan penulis dalam pengambilan studi kasus ini
di RSUD Al-Mulk.
1.5.2 Waktu
Waktu yang digunakan dalam pengambilan studi kasus ini
dimulai dari tanggal 6-21 Desember 2019.