Anda di halaman 1dari 9

PROSPEK INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA

Oleh : Ermina Miranti 1

Konsumsi batubara dalam beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan yang sangat
pesat. Bila pada 1990 total konsumsi batubara dunia baru mencapai 3.461 juta ton, pada
2007 meningkat menjadi 5.522 juta ton atau meningkat sebesar 59,5%, atau rata-rata 3,5%
per tahun. International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi batubara dunia akan
tumbuh rata-rata 2,6% per tahun antara periode 2005-2015 dan kemudian melambat
menjadi rata-rata 1,7% per tahun sepanjang 2015-2030. Meningkatnya konsumsi batubara
dunia tidak terlepas dari meningkat pesatnya permintaan energi dunia dimana batubara
merupakan pemasok energi kedua terbesar setelah minyak dengan kontribusi 26%. Peran
ini diperkirakan akan meningkat menjadi 29% pada 2030. Sedangkan kontribusinya sebagai
pembangkit listrik diperkirakan juga akan meningkat dari 41% pada 2006 menjadi 46% pada
2030. Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa-masa mendatang
membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali
di Indonesia.

Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup


spektakuler dalam sepuluh tahun terakhir, yakni dari 13,2 juta ton pada 1997 menjadi 45,3
juta ton pada 2007, atau meningkat lebih dari 3 kali lipat (243%). Peningkatan jumlah
konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara
sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik, baik di dalam negeri maupun di
negara-negara importir. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan
pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun
terakhir. Sampai dengan 2003 misalnya tercatat 251 perusahaan penambangan batubara di
Indonesia.

Dalam percaturan perdagangan batubara dunia, Indonesia memiliki peran yang


semakin penting dari tahun ke tahun baik sebagai produsen maupun sebagai eksportir. Pada
2007 Indonesia berada di posisi ketujuh terbesar produsen batubara dunia dengan
kontribusi 4,2% dan di posisi kedua terbesar sebagai eksportir batubara dengan total
volume ekspor 202 juta ton.

1
Analis Riset Bisnis dan Ekonomi pada Bank BUMN

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 1


Situasi Industri Batubara Dunia

World Energy Council memperkirakan cadangan batubara dunia terbukti mencapai


847.488 juta ton pada akhir 2007 yang tersebar di lebih dari 50 negara. Berdasarkan
kandungan kalorinya, sebesar 50,8% berupa anthracite (kalori sangat tinggi) dan
bituminous (kalori tinggi), dan 48,2% berupa sub bituminous (kalori sedang) and lignite
(kalori rendah). IEA memperkirakan, dengan tingkat produksi saat ini batubara dunia dapat
dieksploitasi setidaknya hingga 133 tahun ke depan, lebih lama dibanding cadangan minyak
terbukti dan gas yang diperkirakan hanya dapat dieksploitasi sekitar 42 dan 60 tahun
kedepan

Meskipun tersebar di lebih dari 50 negara, sekitar 76,3% cadangan batubara


terbukti terkonsentrasi di 5 negara yakni Amerika Serikat (28,6%), Rusia (18,5%), China
(13,5%), Australia (9%) dan India (6,7%). Pada 2007 kelima negara ini memberikan
kontribusi sebesar 82% terhadap total produksi batubara dunia yang sebesar 5.543 juta ton.

Cadangan
Coal ProvedTerbukti
ReservesBatubara,
at End 2007 5 Besar Cadangan
5 Besar Terbukti
Coal Proved Batubara,
Reserves at End
Akhir(million
2007 tonnes)
(juta ton) Akhir
20072007 (juta
(million ton)
tonnes)
272,246
250,510 257,465
242,721

157,010

114,500
50,991
16,276 76,600
56,498

South & Middle East North Asia Pacific Europe &


Central & Africa America Eurasia
America US Rusia China Australia India

Sumber : BP Statistical Review of World Energy, June 2008

Pada periode yang sama, menurut data World Energy Council, Indonesia memiliki
cadangan batubara terbukti sebesar 4,3 miliar ton atau 0,5% dari total cadangan batubara
terbukti dunia. Sekitar 83% terdapat di Kalimantan, 13% di Sumatera, dan sisanya di pulau
lainnya. Cadangan batubara Indonesia didominasi oleh jenis lignite (kandungan kalori
rendah) sebesar 59% dan sub-bituminous (kandungan kalori sedang) sebesar 27%.
Sementara jenis bituminous mencapai 14% dan anthracite 0,5%.

Selama 17 tahun terakhir (1990-2007) produksi batubara dunia telah meningkat


sebesar 58,8% dari 3.489 juta ton menjadi 5.543 juta ton, atau meningkat rata-rata 3,8%
per tahun. Peningkatan produksi yang pesat terjadi dalam sepuluh tahun terakhir yang
didorong oleh meningkat tajamnya permintaan di negara-negara Asia, terutama China dan
India.

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 2


Produsen batubara terbesar dunia tercatat China, AS, India, Australia, Afrika Selatan
dan Indonesia. Pada 2007, ketujuh negara produsen ini menghasilkan sekitar 90,6% dari
total produksi batubara dunia. China merupakan produsen terbesar yang menyumbang
hampir separuh produksi dunia yakni 46% pada 2007, diikuti oleh AS 17,7%, dan India 8,2%.
Meskipun sebagai produsen batubara terbesar, China sekaligus tercatat sebagai
pengkonsumsi batubara terbesar dunia yang mencapai 46% dari total konsumsi dunia. Itu
sebabnya dalam jajaran negara-negara pengimpor batubara, China termasuk dalam
pengimpor keenam terbesar dunia dengan total impor 48 juta ton pada 2007.

7 Besar Produsen Batu Bara Dunia


2,549.0 (Dalam Juta Ton)

981.0

452.0
323.0 244.0 241.0 231.0

China US India Australia Afrika Rusia Indonesia


Selatan
Sumber: World Coal Institute
Sumber : World Coal Institute

Konsumsi Batubara Dunia

Batubara memainkan peran yang semakin baik sebagai sumber energi primer maupun
pembangkit tenaga listrik. Pada 2006, batubara memberikan kontribusi sebesar 26%
sebagai pemasok energi primer, kedua terbesar setelah minyak yang sebesar 34,4%.
Sedangkan sebagai pembangkit listrik batubara memberikan kontribusi paling besar (41%)
diantara sumber energi lainnya seperti gas (20,1%), hydro (16%), nuklir (14,8%), dan minyak
(5,8%). Di sejumlah negara peran batubara sebagai pembangkit listrik bahkan sangat
dominan seperti di Polandia (93%), Afrika Selatan (93%), Australia (80%), China (78%),
India (69%), Maroko (69%), Khazastan (70%), dan Indonesia (71%). Disamping pembangkit
listrik, batubara juga banyak digunakan pada industri baja. Sekitar 13% dari produksi
batubara ketel uap (hard coal) dialokasikan untuk industri ini dan hampir 70% dari produksi
baja global tergantung kepada batubara.

Pasar batubara terbesar adalah Asia yang mengkonsumsi sekitar 54% dari konsumsi
batubara dunia. Tingginya konsumsi batubara negara-negara Asia menyebabkan impor
batubara terbesar berasal dari negara-negara Asia, seperti Jepang, Korea, China Taipei, India
dan China. Jepang adalah negara pengimpor batubara terbesar di dunia dengan volume
impor 182 juta ton pada 2007, diikuti Korea 88 juta ton dan China Taipei 69 juta ton.

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 3


IEA memproyeksikan permintaan energi dunia akan meningkat sebesar 45% selama
periode 2006-2030. Batubara akan menduduki posisi kedua terpenting sebagai pemasok
sumber energi setelah minyak dan mengalami peningkatan permintaan hingga tiga kali lipat
pada 2030. Sebesar 97% pemakaian batubara akan berasal dari negara negara non OECD
(Organization For Economic Cooperation and Development) dimana dua pertiganya
dikonsumsi oleh China. Meningkatnya peran batubara sebagai sumber energi sejalan dengan
meningkatnya permintaan pembangunan pembangkit listrik di sejumlah kawasan yang
didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan pendapatan

Importir Batu Bara Terbesar Dunia, 2007 Eksportir Batu Bara Terbesar Dunia, 2007
182 (Dalam Juta Ton) 244 (Dalam Juta Ton)

202

88
69 100
54 50 46 67
48 67 53
54

Jepang Korea China India UK RR Jerman Australia Indonesia Rusia Colombia Afrika China USA
Taipei China Selatan

Sumber : International Energy Agency

Peran China sebagai negara pengekspor batubara mengalami penurunan yang cukup
signifikan yakni dari 94 juta ton pada 2003 menjadi hanya 54 juta ton pada 2007 yang
disebabkan meningkat tajamnya kebutuhan batubara domestik China.

Industri Batubara Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, batubara telah memainkan peran yang cukup
penting bagi perekonomian Indonesia. Sektor ini memberikan sumbangan yang cukup besar
terhadap penerimaan negara yang jumlahnya meningkat setiap tahun. Pada 2004 misalnya,
penerimaan negara dari sektor batubara ini mencapai Rp 2,57 triliun, pada 2007 telah
meningkat menjadi Rp 8,7 triliun, dan diperkirakan mencapai Rp 10,2 triliun pada 2008 dan
lebih dari Rp 20 triliun pada 2009. Sementara itu, perannya sebagai sumber energi
pembangkit juga semakin besar. Saat ini sekitar 71,1% dari konsumsi batubara domestik
diserap oleh pembangkit listrik, 17% untuk industri semen dan 10,1% untuk industri tekstil
dan kertas.

Produksi batubara Indonesia mencapai 215 juta ton pada 2008, meningkat 90,3%
dibanding 2003. Peningkatan produksi 2008 didorong oleh meningkatnya impor batubara
oleh China menjadi 3 kali lipat atau 14,5 juta ton pasca pemangkasan impor batubara dari
Australia sebanyak 34% karena aturan pengiriman barang dengan kapal angkut yang lebih

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 4


ketat. Sebagian besar produksi batubara Indonesia diekspor ke luar negeri. Pada 2007, dari
total produksi 215 juta ton, hanya 45,3 juta ton (21%) yang dikonsumsi di dalam negeri,
sedangkan 171 juta ton (79%) diekspor ke berbagai negara terutama Jepang, Taiwan dan
China.

Indonesia memiliki peran yang penting sebagai pemasok batubara dunia. Menurut
World Coal Institute, sejak 2004 Indonesia telah menjadi eksportir batubara kedua terbesar
setelah Australia dengan kontribusi 26% terhadap total ekspor pada 2007, dan merupakan
eksportir batubara thermal (ketel uap) terbesar dunia dengan total ekspor 171 juta ton pada
2007. Ekspor batubara Indonesia ditujukan ke berbagai negara khususnya negara-negara di
Asia seperti Jepang, China, Taiwan, India, Korea Selatan, Hongkong, Malaysia, Thailand dan
Filipina. Negara tujuan ekspor lainnya adalah Eropa seperti Belanda, Jerman dan Inggris, serta
negara-negara di Amerika. Importir terbesar batubara Indonesia adalah Jepang (22,8%), dan
Taiwan (13,7%). Berikutnya adalah India dan Korea Selatan yang diperkirakan mencapai 28%.

Indonesia memiliki perjanjian kerjasama Economic Partnership Agreement (EPA)


Indonesia-Jepang yang memuat kerjasama untuk meningkatkan permintaan batubara dari
Indonesia ke Jepang. Ini disebabkan China sebagai pemasok Jepang yang utama telah
membatasi ekspor batubaranya menyusul pembatasan ekspor batubara China untuk
melakukan pembangunan infrastruktur di dalam negeri.

Negara Tujuan Ekspor Batubara Indonesia,


Ekspor Batu Bara Indonesia,
Tahun 2006 (dl Juta Ton)
Tahun 2006

Pasifik Lainnya
5,690 6.9% Jepang
2.8%
Eropa 22.8%
14.9%
3,278

1,954 2,141

988
400

Jepang Taiwan Asia Lain Eropa Pasifik Lainnya Taiwan


Asia Lain 13.7%
38.9%

Sumber: Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM)

Menurut catatan Direktorat Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Indonesia,


hingga 2003 tercatat 251 perusahaan yang melaksanakan penambangan batubara di
Indonesia, dimana 71,7% (216 perusahaan) diantaranya merupakan perusahaan swasta
nasional dan sisanya perusahaan asing. Meskipun demikian sekitar 85% dari produksi
batubara dihasilkan oleh 9 perusahaan besar di antaranya Bumi Resources, Adaro, Kideco
Jaya Agung, Berau Coal, Indominco Mandiri, dan PT Bukit Asam. Berdasarkan data tahun

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 5


2004, cadangan batubara terbesar dimiliki oleh Kaltim Prima Coal - Bumi Resources Grup
(3.472 juta ton), Berau Coal (2.746 juta ton), Arutmin Indonesia – Bumi Resouces Gruop
(2.514 juta ton), dan Adaro Indonesia (1.967 juta ton).

Saat ini produsen batubara terbesar Indonesia adalah PT. Bumi Resources yang
menguasai 2 perusahaan besar batubara yakni PT. Kaltim Prima Coal dan PT. Arutmin
dengan total pangsa pasar 30,3% pada 2007, diikuti PT. Adaro Indonesia (20,2%), Kideco
Agung (10,6%), Berau Coal (6,6%), Indominco Mandiri (5,8%), dan PT Bukit Asam (4,8%).

Produsen Batubara Indonesia, 2007


Top Produsen Batu Bara Indonesia,
Lainnya
Tahun 2007 (dl Juta Ton) Bumi
Gunung 19.3%
54.2
30.3%
Bayan
2.4%
36.1 PTBA
4.8%

18.9
Indominco
11.8
10.5 8.6 Mandiri
5.8%
Berau Coal
Bumi Adaro Kideco Berau Coal Indominco PTBA 6.6% Adaro
Resources Indonesia Jaya Mandiri Kideco Jaya Indonesia
Agung Agung 20.2%
10.6%

Sumber : Departemen ESDM

Prospek Batubara dan Peluang Indonesia

Dalam beberapa tahun kedepan prospek industri batubara diperkirakan masih cukup
baik di pasar dalam negeri maupun di pasar global. Ini disebabkan, pertama, semakin
besarnya peran batubara sebagai pembangkit listrik baik di Indonesia maupun di berbagai
belahan dunia. Diperkirakan di masa-masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang
sebagai sumber energi dan sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar.
Kebutuhan batubara di dalam negeri diperkirakan akan terus meningkat. Pada 2010 ketika
semua proyek PLTU telah beroperasi diperkirakan konsumsi batubara Indonesia akan
mencapai 90 juta ton atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2006. Sampai
saat ini setidaknya terdapat lebih dari 10 proyek PLTU di Indonesia yang menggunakan
batubara sebagai sumber energi yang direncakan akan beroperasi mulai 2009 hingga 2012.

Kedua, pasar batubara dunia akan semakin ketat setidaknya hingga 2020 sebagai
akibat meningkatnya permintaan dari dua negara raksasa dunia China dan India untuk
pembangkit listrik. Apalagi adanya pembatasan ekspor batubara China oleh pemerintah
sejak tahun 2008 melalui pemberlakuan pajak ekspor batubara sebesar 10% untuk
mengantisipasi meningkatnya permintaan batubara dalam negeri China yang akan semakin
menurunkan ekspor batubara China. Sebaliknya, pada waktu yang sama, pertumbuhan

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 6


pasokan dari Australia dan Afrika Selatan akan semakin berkurang yang akan mendorong
meningkatnya harga batubara antara 2009-2010. Menurut proyeksi International Energy
Outlook 2007, 72% konsumsi batubara dunia hingga 2030 akan didominasi oleh China dan
India. Barlow Jonker memperkirakan impor batubara India akan mencapai lebih dari 50 juta
ton pada 2020 dan impor batubara China mencapai 150 hingga 230 juta ton pada tahun
yang sama. Saat ini pasar ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang, Korea Selatan dan
Taiwan, disamping China dan India yang merupakan buyer baru bagi Indonesia.
Meningkatnya permintaan China dan India dimasa datang meningkatkan peluang Indonesia
untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor melalui kedua negara tersebut.

Ketiga, penggunaan batubara sebagai energi alternatif relatif lebih murah dibanding
minyak dan LNG. Karena itu, harga diatas US$ 80 batubara masih disukai sebagai sumber
energi dibanding sumber energi lainnya. Untuk menghasilkan 1 MGW/h listrik dari batubara
dibutuhkan biaya sebesar US$ 12.98 (asumsi harga batubara US$ 90 per ton), lebih besar
dibandinngkan minyak yang sebesar $ 30 (asumsi harga minyak US$ 54 per barrel), dan LNG
yang sebesar US$ 20.47 (asumsi harga LNG $ 6/Mmbtu) (Bagus P. Perdana, Coal Outlook,
2008).

Keempat, meskipun saat ini harga komoditas batubara turun cukup dalam karena
rendahnya permintaan menyusul krisis global, harga komoditas batubara masih akan positif
hingga beberapa tahun kedepan yang didorong oleh relatif tingginya permintaan dibanding
pasokan. Disamping itu sifat komoditas yang unrenewable yaitu cenderung semakin
menipis sementara permintaannya akan cenderung meningkat.

Perkembangan Harga Batubara Dunia 1995- Harga per Agustus


2008, tertinggi
2007 dan proyeksi 2008-2009 (US$/ton) selama 2008
(US$160/ ton)

160

110
73 75
80
40 40 42 60 60
39 62
40 45
40
22

1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009e


Sumber : dari berbagai sumber

Massey Energy Report memproyeksikan harga batubara akan berkisar pada US$ 78
hingga US$ 82 per ton pada 2009, dan US$ 90 hingga US$ 130 per ton pada 2010 (pada
Desember 2008 harga batubara di Newcastle mencapai US$ 78,3 per ton setelah mencapai
harga tertinggi pada Agustus 2008 sebesar US$ 160 per ton. Sementara Citigroup

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 7


memperkirakan harga kontrak batubara untuk batubara thermal akan mencapai US$ 100 per
metric ton sepanjang 2008-2009 dan batubara cooking akan mencapai US$ 200 per ton.

Kelima, keuntungan perusahaan tambang Indonesia relatif lebih besar dibandingkan


rata-rata perusahaan tambang dunia.

Keuntungan Rata-rata Perusahaan Keuntungan Rata-rata Perusahaan


Tambang Indonesia vs Dunia Tambang Indonesia vs Australia

Top 40 companies Global* Indonesia Indikator Negara 2003 2004 Avg 10 yrs
Key Ratio
2003 2004 2003 2004
Indonesia 38.2 38.9 38.1
Effective Tax Rate 27.9 24.7 38.2 37 EBITDA (%)
Australia 28 33.7 na
Net Debt to Equity Ratio 39.6 25.4 65.1 42.9 Net Profit Margin Indonesia 14.9 19.3 14.5
EBITDA Margin 26.3 29.7 38.2 38.9 (%) Australia 6.9 12.8 6.9
Net Profit Margin 10.4 15.2 14.9 19.3 Indonesia 9.1 13.3 7.7
ROCE (%)
Return on Capital Employed 7.6 13.7 9.1 13.3 Australia 2.7 5.2 3.6
Indonesia 18.6 27.3 14.9
Return on Equity 10.5 18.9 18.6 27.3 ROE (%)
Australia 7.4 14 7.2
Sumber : PricewaterhouseCoopers, 2006 Sumber : PricewaterhouseCoopers, 2006
ROCE = Return on Capital Employment
*) Aggregated results of 40 of the largest mining co.

Dalam sepuluh tahun terakhir, keuntungan rata-rata perusahaan tambang Indonesia


mencapai dua kali perusahaan tambang di Australia.

Lalu, bagaimanakah peluang Indonesia di pasar batubara dunia? Peluang Indonesia


untuk meningkatkan perannya sebagai eksportir batubara sangat terbuka. Ini mengingat
hal-hal sebagai berikut. Pertama, masih relatif besarnya potensi cadangan batubara di
Indonesia, semantara tingkat eksploitasi masih relatif rendah. Direktorat Energi dan
Sumberdaya Mineral memperkirakan potensi batubara Indonesia mencapai 90 miliar ton
lebih. Sedangkan cadangan terbukti mencapai 5,3 miliar ton 2 . Sementara tingkat produksi
batubara Indonesia baru mencapai rata-rata sekitar 200 juta ton per tahun

Kedua, Indonesia merupakan eksportir batubara thermal (ketel uap) 3 terbesar dunia
dengan total ekspor 171 juta ton pada 2007. Dengan demikian Indonesia telah memiliki
pangsa pasar yang cukup luas di pasar global khususnya untuk batubara thermal. Saat ini
pasar utama batubara Indonesia adalah Jepang dengan total ekspor 3,3 juta ton pada 2006.
Adanya kerjasama Economic Partnership Agreement dengan Jepang akan semakin
memperkokoh posisi Indonesia sebagai pemasok batubara Jepang. Semakin menurunnya
peran China, Australia dan Afrika Selatan sebagai pemasok batubara akan semakin
memperbesar peluang Indonesia untuk meningkatkan penetrasi pasarnya di pasar
internasional.

2
World Coal Institute mencatat cadangan terbukti batubara Indonesia sedikit lebih rendah yakni 4,3 miliar ton pada 2007
3
Thermal coal atau steam coal banyak digunakan untuk bahan baker pembangkit listrik, pembakaran umum seperti pada
industri bata atau genteng dan industri semen

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 8


Ketiga, meningkatnya permintaan China dan India dalam beberapa tahun kedepan
memberi peluang yang lebih besar bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di
kedua negara tersebut yang saat ini merupakan buyer baru bagi Indonesia. Apalagi dengan
bergesernya posisi China sebagai net importir batubara dengan volume permintaan (impor)
yang cenderung meningkat akan memberi peluang semakin besar bagi Indonesia untuk
mengambil alih pangsa pasar ekspor China sekaligus meningkatkan pangsa pasar Indonesia
ke China.

Economic Review ● No. 214 ● Desember 2008 9