Anda di halaman 1dari 17

Bab II Tinjauan Pustaka

II.1 Artritis Gout


II.1.1 Definisi
Artritis gout adalah suatu penyakit dan potensi ketidakmampuan akibat radang
sendi yang sudah dikenal sejak lama, gejalanya biasanya terdiri dari episodik berat
dari nyeri inflamasi satu sendi. Gout arthritis adalah bentuk inflamasi artritis
kronis, bengkak dan nyeri yang paling sering di sendi besar jempol kaki. Namun,
artritis gout tidak terbatas pada jempol kaki, dapat juga mempengaruhi sendi lain
termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan, siku dan
kadang di jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya mempengaruhi satu sendi
pada satu waktu, tapi bisa menjadi semakin parah dan dari waktu ke waktu dapat
mempengaruhi beberapa sendi. Artritis gout merupakan istilah yang dipakai untuk
sekelompok gangguan metabolik yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi
asam urat (hiperurisemia). Penyakit artritis gout merupakan penyakit akibat
penimbunan kristal monosodium urat di dalam tubuh sehingga menyebabkan
nyeri sendi (American College of Rheumatology, 2012).

II.1.2 Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, penyakit asam urat digolongkan menjadi 2, yaitu:
(Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2018).
a. Gout primer
Penyebab kebanyakan belum diketahui (idiopatik). Hal ini diduga berkaitan
dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal yang menyebabkan
gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi
asam urat. Hiperurisemia atau berkurangnya pengeluaran asam urat dari
tubuh dikatakan dapat menyebabkan terjadinya gout primer. Hiperurisemia
primer adalah kelainan molekular yang masih belum jelas diketahui.
Berdasarkan data ditemukan bahwa 99% kasus adalah gout dan hiperurisemia
primer. Artritis gout primer yang merupakan akibat dari hiperurisemia
primer, terdiri dari hiperurisemia karena penurunan ekskresi (80-90%) dan
karena produksi yang berlebih (10-20%).

1
b. Gout sekunder
Gout sekunder dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu kelainan yang
menyebabkan peningkatan biosintesis de novo, kelainan yang menyebabkan
peningkatan degradasi ATP atau pemecahan asam nukleat dan kelainan yang
menyebabkan sekresi menurun. Hiperurisemia sekunder karena peningkatan
biosintesis de novo terdiri dari kelainan karena kekurangan menyeluruh enzim
HPRT pada syndome Lesh-Nyhan, kekurangan enzim glukosa-6 phosphate
pada glycogen storage disease dan kelainan karena kekurangan enzim
fructose-1 phosphate aldolase melalui glikolisis anaerob. Hiperurisemia
sekunder karena produksi berlebih dapat disebabkan karena keadaan yang
menyebabkan peningkatan pemecahan ATP atau pemecahan asam nukleat
dari dari intisel. Peningkatan pemecahan ATP akan membentuk AMP dan
berlanjut membentuk IMP atau purine nucleotide dalam metabolisme purin,
sedangkan hiperurisemia akibat penurunan ekskresi dikelompokkan dalam
beberapa kelompok yaitu karena penurunan masa ginjal, penurunan filtrasi
glomerulus, penurunan fractional uric acid clearence dan pemakaian obat-
obatan.

II.1.3 Faktor Resiko


Berikut ini yang merupakan faktor resiko dari artritis gout :
a. Suku bangsa /ras
Suku bangsa yang paling tinggi prevalensinya pada suku maori di Australia.
Prevalensi suku Maori terserang penyakit asam urat tinggi sekali sedangkan
Indonesia prevalensi yang paling tinggi pada penduduk pantai dan yang
paling tinggi di daerah Papua.
b. Konsumsi ikan laut
Ikan laut merupakan makanan yang memiliki kadar purin yang tinggi.Konsumsi
ikan laut yang tinggi mengakibatkan asam urat.
c. Penyakit
Penyakit-penyakit yang sering berhubungan dengan hiperurisemia. Misalnya
Obesitas, diabetes melitus, penyakit ginjal, hipertensi, dislipidemia. Adipositas

2
tinggi dan berat badan merupakan faktor resiko yang kuat untuk gout pada laki-
laki,
d. Obat-obatan
Beberapa obat-obat yang turut mempengaruhi terjadinya hiperurisemia. Misalnya
Diuretik, antihipertensi, aspirin. Obat-obatan juga mungkin untuk memperparah
keadaan. Diuretik sering digunakan untuk menurunkan tekanan darah,
meningkatkan produksi urin, tetapi hal tersebut juga dapat menurunkan
kemampuan ginjal untuk membuang asam urat. Hal ini pada gilirannya, dapat
meningkatkan kadar asam urat dalam darah dan menyebabkan serangan gout.
Gout yang disebabkan oleh pemakaian diuretik dapat "disembuhkan" dengan
menyesuaikan dosis. Serangan gout juga bisa dipicu oleh kondisi seperti cedera
dan infeksi.hal tersebut dapat menjadi potensi memicu asam urat. Hipertensi dan
penggunaan diuretik juga merupakan faktor risiko penting independen untuk gout.
Aspirin memiliki 2 mekanisme kerja pada asam urat, yaitu: dosis rendah
menghambat ekskresi asam urat dan meningkatkan kadar asam urat, sedangkan
dosis tinggi (> 3000 mg / hari) adalah uricosurik.
e. Jenis Kelamin
Pria memiliki resiko lebih besar terkena nyeri sendi dibandingkan perempuan
pada semua kelompok umur, meskipun rasio jenis kelamin laki-laki dan
perempuan sama pada usia lanjut. Dalam Kesehatan dan Gizi Ujian Nasional
Survey III, perbandingan laki-laki dengan perempuan secara keseluruhan berkisar
antara 7:1 dan 9:1. Dalam populasi managed care di Amerika Serikat, rasio jenis
kelamin pasien laki-laki dan perempuan dengan gout adalah 4:1 pada mereka yang
lebih muda dari 65 tahun, dan 3:1 pada mereka lima puluh enam persen lebih dari
65 tahun. Pada pasien perempuan yang lebih tua dari 60 tahun dengan keluhan
sendi datang ke dokter didiagnosa sebagai gout, dan proporsi dapat melebihi 50%
pada mereka yang lebih tua dari 80 tahun.
f. Diet tinggi purin
Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa HDL yang merupakan bagian dari
kolesterol, trigliserida dan LDL disebabkan oleh asupan makanan dengan purin
tinggi.

3
II.1.4 Patofisiologi
Dalam keadaan normal, kadar asam urat di dalam darah pada pria dewasa kurang
dari 7 mg/dl, dan pada wanita kurang dari 6 mg/dl. Apabila konsentrasi asam urat
dalam serum lebih besar dari 7 mg/dl dapat menyebabkan penumpukan kristal
monosodium urat. Serangan gout tampaknya berhubungan dengan peningkatan
atau penurunan secara mendadak kadar asam urat dalam serum. Jika kristal asam
urat mengendap dalam sendi, akan terjadi respon inflamasi dan diteruskan dengan
terjadinya serangan gout. Dengan adanya serangan yang berulang – ulang,
penumpukan kristal monosodium urat yang dinamakan thopi akan mengendap
dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan dan telinga. Akibat
penumpukan Nefrolitiasis urat (batu ginjal) dengan disertai penyakit ginjal kronis
(Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2018).

Penurunan urat serum dapat mencetuskan pelepasan kristal monosodium urat dari
depositnya dalam tofi (crystals shedding). Pada beberapa pasien gout atau dengan
hiperurisemia asimptomatik kristal urat ditemukan pada sendi metatarsofalangeal
dan patella yang sebelumnya tidak pernah mendapat serangan akut. Dengan
demikian, gout dapat timbul pada keadaan asimptomatik. Terdapat peranan
temperatur, pH, dan kelarutan urat untuk timbul serangan gout. Menurunnya
kelarutan sodium urat pada temperatur lebih rendah pada sendi perifer seperti kaki
dan tangan, dapat menjelaskan mengapa kristal monosodium urat diendapkan
pada kedua tempat tersebut. Predileksi untuk pengendapan kristalmonosodium
urat pada metatarsofalangeal-1 (MTP-1) berhubungan juga dengan trauma ringan
yang berulang-ulang pada daerah tersebut (Perhimpunan Reumatologi Indonesia,
2018).

4
Gambar II.1 Pathway artritis gout

II.1.5 Manifestasi Klinis


Artritis gout terjadi dalam empat tahap. Tidak semua kasus berkembang menjadi
tahap akhir. Perjalanan penyakit asam urat mempunyai 4 tahapan, yaitu:
(Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2018).
a. Tahap 1 (Tahap Artritis Gout akut)
Serangan pertama biasanya terjadi antara umur 40-60 tahun pada laki- laki,
dan setelah 60 tahun pada perempuan. Onset sebelum 25 tahun merupakan
bentuk tidak lazim artritis gout, yang mungkin merupakan manifestasi adanya
gangguan enzimatik spesifik, penyakit ginjal atau penggunaan siklosporin.
Pada 85-90% kasus, serangan berupa arthritis monoartikuler dengan
predileksi MTP-1 yang biasa disebut podagra. Gejala yang muncul sangat
khas, yaitu radang sendi yang sangat akut dan timbul sangat cepat dalam
waktu singkat. Pasien tidur tanpa ada gejala apapun, kemudian bangun tidur
terasa sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan. Keluhan monoartikuler

5
berupa nyeri, bengkak, merah dan hangat, disertai keluhan sistemik berupa
demam, menggigil dan merasa lelah, disertai leukositosis dan peningkatan
endap darah. Sedangkan gambaran radiologis hanya didapatkan
pembengkakan pada jaringan lunak periartikuler. Keluhan cepat membaik
setelah beberapa jam bahkan tanpa terapi sekalipun. Pada perjalanan penyakit
selanjutnya, terutama jika tanpa terapi yang adekuat, serangan dapat
mengenai sendi-sendi yang lain seperti pergelangan tangan/kaki, jari
tangan/kaki, lutut dan siku, atau bahkan beberapa sendi sekaligus. Serangan
menjadi lebih lama durasinya, dengan interval serangan yang lebih singkat,
dan masa penyembuhan yang lama
b. Tahap 2 (Tahap Gout interkritikal)
Pada tahap ini penderita dalam keadaan sehat selama rentang waktu tertentu.
Rentang waktu setiap penderita berbeda-beda. Dari rentang waktu 1- 10
tahun. Namun rata-rata rentang waktunya antara 1-2 tahun. Panjangnya
rentang waktu pada tahap ini menyebabkan seseorang lupa bahwa dirinya
pernah menderita serangan artritis gout akut. Atau menyangka serangan
pertama kali yang dialami tidak ada hubungannya dengan penyakit artritis
gout.
c. Tahap 3 (Tahap Artritis Gout Akut Intermitten)
Setelah melewati masa Gout Interkritikal selama bertahun-tahun tanpa gejala,
maka penderita akan memasuki tahap ini yang ditandai dengan serangan
artritis yang khas seperti diatas. Selanjutnya penderita akan sering mendapat
serangan (kambuh) yang jarak antara serangan yang satu dengan serangan
berikutnya makin lama makin rapat dan lama serangan makin lama makin
panjang, dan jumlah sendi yang terserang makin banyak. Misalnya seseorang
yang semula hanya kambuh setiap setahun sekali, namun bila tidak berobat
dengan benar dan teratur, maka serangan akan makin sering terjadi biasanya
tiap 6 bulan, tiap 3 bulan dan seterusnya, hingga pada suatu saat akan
semakin banyak sendi yang terserang.
d. Tahap 4 (tahap Artritis Gout Kronik Tofaceous)
Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau
lebih. Pada tahap ini akan terbentuk benjolan-benjolan disekitar sendi yang

6
sering meradang yang disebut sebagai Thopi. Thopi ini berupa benjolan keras
yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal
monosodium urat. Thopi ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan
tulang disekitarnya. Bila ukuran thopi semakin besar dan banyak akan
mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi.
II.1.6 Penatalaksanaan
Secara umum, penanganan artritis gout adalah memberikan edukasi, pengaturan
diet, istirahat sendi dan pengobatan. Pengobatan dilakukan secara dini agar tidak
terjadi kerusakan sendi ataupun komplikasi lain. Pengobatan artritis gout akut
bertujuan menghilangkan keluhan nyeri sendi dan peradangan dengan obat-obat,
antara lain: kolkisin, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), kortikosteroid atau
hormon ACTH. Obat penurun artritis gout seperti alupurinol atau obat urikosurik
tidak dapat diberikan pada stadium akut. Namun, pada pasien yang secara rutin
telah mengkonsumsi obat penurun artritis gout, sebaiknya tetap diberikan. Pada
stadium interkritik dan menahun, tujuan pengobatan adalah menurunkan kadar
asam urat, sampai kadar normal, guna mencegah kekambuhan. Penurunan kadar
asam urat dilakukan dengan pemberian diet rendah purin dan pemakaian obat
alupurinol bersama obat urikosurik yang lain (Perhimpunan Reumatologi
Indonesia, 2018).

7
Gambar II.2 Algoritme Rekomendasi Pengelolaan Gout Akut
II.1.7 Komplikasi
komplikasi dari artritis gout meliputi severe degenerative arthritis, infeksi
sekunder, batu ginjal dan fraktur pada sendi. Sitokin, kemokin, protease, dan
oksidan yang berperan dalam proses inflamasi akut juga berperan pada proses
inflamasi kronis sehingga menyebabkan sinovitis kronis, dekstruksi kartilago, dan
erosi tulang. Kristal monosodium urat dapat mengaktifkan kondrosit untuk
mengeluarkan Interleukin-1, merangsang sintesis nitric oxide dan matriks
metaloproteinase yang nantinya menyebabkan dekstruksi kartilago. Kristal
monosodium urat mengaktivasi osteoblas sehingga mengeluarkan sitokin dan
menurunkan fungsi anabolik yang nantinya berkontribusi terhadap kerusakan
juxta artikular tulang (Rotschild, 2013).

Artritis gout telah lama diasosiasikan dengan peningkatan resiko terjadinya batu
ginjal. Penderita dengan artritis gout membentuk batu ginjal karena urin memilki
pH rendah yang mendukung terjadinya asam urat yang tidak terlarut (Liebman et

8
al, 2007).

II.2 Natrium Diklofenak


Natrium diklofenak adalah derivat asam fenilasetat yang dikembangkan secara
spesifik sebagai agen antiinflamasi. Natrium diklofenak merupakan anggota
grup arilalkanoid dari NSAID. Nama “natrium diklofenak” berasal dari nama
kimiawinya: (2,6-dichloranilino) phenylacetic acid. Natrium diklofenak
awalnya dikembangkan oleh Ciba-Geigy (sekarang Novartis) pada tahun 1973.
Obat ini pertama kali diperkenalkan di UK pada tahun 1979 (Katzung et al.,
2012).

Gambar II.3 Struktur kimiawi natrium diklofenak

Natrium diklofenak merupakan inhibitor COX yang poten dan memiliki efek
analgesik, antiinflamasi, dan antipiretik. Obat ini memiliki efek samping yang
sama dengan obat-obatan NSAID lainnya. Indikasi untuk obat ini termasuk artritis
rematoid, osteoartritis, dan inflamasi oftalmik (digunakan preparat oftalmik)
(Katzung et al., 2012).

II.2.1 Sifat Farmakodinamik


Efek terapi natrium diklofenak terutama berasal dari kemampuannya untuk
menghambat produksi prostaglandin. Enzim pertama dalam jalur sintetis
prostaglandin adalah siklooksigenase (COX). Enzim ini mengubah asam
arakidonat menjadi berbagai jenis prostaglandin, tromboksan A2 (TXA2) dan
prostasiklin (PGI2) (Katzung et al., 2012).

9
Gambar II.4 Mediator prostanoid turunan asam arakidonat dan lokasi aksi obat-
obatan (Katzung et al., 2012).

Prostaglandin mensensitisasi ujung saraf terhadap bradikinin, histamin, dan


mediator inflamasi lainnya. PGE2 dan PGI2 menurunkan ambang dari nosiseptor
sehingga mensensitisasi ujung saraf perifer terhadap stimulus rasa sakit. Secara
sentral, PGE2 dapat meningkatkan eksitabilitas dalam transmisi nyeri pada
medulla spinalis. Oleh karena itu, pelepasan prostaglandin saat proses inflamasi
akan memperbesar mekanisme timbulnya rasa nyeri. Baik PGE2 dan PGI2 juga
berperan dalam pembentukan edema dan infiltrasi leukosit dengan meningkatkan
aliran darah pada daerah inflamasi. Dengan demikian, dengan mengurangi sintesis
prostaglandin, sensasi nyeri bisa berkurang (Katzung et al., 2012).

Enzim COX terdapat dalam 2 isoform disebut COX-1 dan COX-2. Kedua isoform
tersebut dikode oleh gen yang berbeda dan kerjanya bersifat unik. Inhibisi
terhadap COX-2 diperkirakan merupakan mekanisme utama dari efek antipiretik,
analgesik, dan antiinflamasi dari NSAID, sedangkan inhibisi terhadap COX-1

10
berperan besar dalam efek samping NSAID terhadap saluran gastrointestinal.
Namun, COX-1 juga berperan dalam inflamasi. Diperkirakan bahwa COX-1
berperan dalam mekanisme inflamasi akut dan COX-2 dalam mempertahankan
produksi eikosanoid setelah stimulus inflamasi (Katzung et al., 2012).

Secara garis besar COX-1 penting dalam pemeliharaan berbagai fungsi di


berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna dan trombosit. Di mukosa
lambung, aktivasi COX-1 menghasilkan prostasiklin yang bersifat sitoprotektif.
COX-1 ini diinduksi berbagai stimulus inflamasi. Tromboksan A2, yang disintesis
trombosit oleh COX-1, menyebabkan agregasi trombosit, vasokonstriksi dan
proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin (PGI2) yang disintesis oleh COX-2
melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit,
vasodilatasi dan efek anti-proliferatif (Katzung et al., 2012).

Walaupun termasuk NSAID nonselektif atau konvensional, natrium diklofenak


menunjukkan selektivitas terhadap COX-2 yang hampir sama dengan celecoxib
secara in vitro. Potensinya terhadap COX-2 lebih besar dari indometasin,
naproxen, atau beberapa NSAIDs non-selektif lainnya. Namun, kejadian efek
samping gastrointestinalnya tidak berbeda dengan celecoxib (Katzung et al.,
2012).

Dalam mengatasi rasa nyeri, natrium diklofenak, sebagai sebuah NSAID, sangat
efektif bila peradangan telah menyebabkan sensitisasi reseptor terhadap
rangsangan mekanik atau kimiawi. Dalam reaksi peradangan, sensasi nyeri
disebabkan oleh stimulasi lokal dan meningkatnya sensitivitas serabut saraf
(hiperalgesia). Nyeri kronis pascaoperasi atau nyeri akibat peradangan
dikendalikan dengan baik oleh NSAID, sedangkan rasa sakit yang timbul dari
30
organ berongga (hollow viscus) biasanya tidak diredakan. Sebagai antipiretik,
obat ini menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Namun obat ini
tidak dibenarkan digunakan sebagai antipiretik atas alasan bersifat toksik bila
digunakan secara rutin atau terlalu lama (Katzung et al., 2012).

11
II.2.2 Farmakokinetik
Natrium diklofenak diabsorpsi dengan cepat, berikatan dengan dengan protein
secara ekstensif, dan memiliki waktu paruh yang singkat. Absorpsi obat ini
melalui saluran cerna berlangsung cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99% pada
protein plasma dan mengalami efek metabolisme lintas pertama (first-pass)
sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh singkat yakni 1-3 jam, natrium
diklofenak diakumulasi di cairan sinovial sehingga efek terapi di sendi jauh lebih
panjang dari waktu paruh obat tersebut. Natrium diklofenak dimetabolisme di
hepar oleh enzim CYP2C menjadi 4-hidroksinatrium diklofenak dan berbagai
bentuk hidroksilasi lainnya, setelah proses glukoronidasi dan sulfasi metabolit-
metabolit tersebut diekskresikan di urin (65%) dan empedu (35%) (Katzung et al.,
2012).

II.2.3 Kegunaan Terapeutik


Aplikasi klinis utama natrium diklofenak adalah sebagai agen antiinflamasi dalam
pengobatan jangka panjang gangguan muskuloskeletal, seperti artritis rematoid,
osteoartritis, dan spondilitis ankilosa. Secara umum, natrium diklofenak hanya
meredakan inflamasi dan nyeri secara simtomatik, namun tidak menghentikan
perjalanan patologis dari kerusakan jaringan dan tidak tidak bersifat memodifikasi
perjalanan dari penyakit. Dosis harian yang biasa bagi indikasi tersebut adalah
100 sampai 200 mg, diberikan dalam beberapa dosis terbagi. Natrium diklofenak
juga berguna untuk pengobatan jangka pendek nyeri muskuloskeletal akut, nyeri
pascaoperasi, dan dismenore. Selain itu, larutan tetes mata natrium diklofenak
yang tersedia untuk pengobatan peradangan pascaoperasi setelah ekstraksi katarak
(Katzung et al., 2012).

II.2.4 Efek Samping


Natrium diklofenak menimbulkan efek samping (terutama gastrointestinal) pada
kira-kira 20% pasien, dan sekitar 2% dari pasien berhenti menggunakan natrium
diklofenak akibat efek sampingnya. Ulserasi gastrointestinal dapat terjadi lebih
jarang dibandingkan dengan beberapa NSAID lainnya. Natrium diklofenak juga
tersedia dalam kombinasi dengan misoprostol atau omeprazol, analog PGE1.

12
Kombinasi ini, mengurangi frekuensi ulserasi gastrointestinal dengan tetap
mempertahankan khasiat natrium diklofenak dengan biaya yang lebih murah.
Kenaikan ringan dan reversibel dari kadar transaminase hepar terjadi pada 5-10%
pasien. Efek yang tidak diinginkan lainnya terhadap natrium diklofenak termasuk
efek pada susunan saraf pusat, ruam, reaksi alergi, retensi cairan, dan edema, dan
terkadang gangguan terhadap fungsi ginjal. Natrium diklofenak, 150 mg/hari,
tampaknya mengganggu aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus.
Peningkatan aminotransferase serum terjadi lebih sering dengan obat ini
dibandingkan dengan NSAID lainnya. 28 Berkaitan selektivitasnya terhadap COX-
2, natrium diklofenak tidak mempengaruhi antiplatelet sehingga natrium
diklofenak bukanlah alternatif yang baik pada pasien yang memiliki risiko
penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular. Obat ini tidak direkomendasikan
untuk anak-anak, ibu menyusui, atau wanita hamil (Katzung et al., 2012).

II.3 Prednison
Prednison merupakan salah satu obat golongan kortikosteroid atau
adrenokortikoid yang merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal
bagian korteks yang secara struktural mengandung inti steroid. Kortikosteroid
tidak hanya diproduksi secara normal oleh tubuh namun juga dibentuk produk
sintetiknya untuk perawatan kesehatan. Kortiksteroid digunakan pada berbagai
terapi peradangan dan imunologik (Katzung et al., 2012).

Gambar II.5 Struktur kimiawi prednison

13
II.3.1 Sifat Farmakodinamik

Prednison pada prinsipnya merupakan agen imunosupresan dan antiinflamasi.


Prednison merupakan golongan glukokortikoid, namun memiliki sebagian
aktivitas mineralokortikoid sebagaimana hidrokortison dan kortison. Prednison
dalam bentuk inaktif hingga diubah menjadi prednisolon. Efek antiinflamasi
didapatkan dengan penurunan inflamasi melalui mekanisme penstabilan
membran leukosit lisosom, mencegah pelepasan asam hidrolase yang bersifat
destruktif oleh leukosit, atau mengurangi adesi leukosit dari kapiler endotelium.
Selain itu, mekanisme antiinflamasi prednisolon lainnya yakni dapat menghalangi
akumulasi makrofag pada area terinflamasi kemudian menurunkan permeabilitas
dinding kapiler dan pembentukan udem. Kemudian ia dapat menurunkan
proliferasi fibroblas, deposisi kolagen, dan akibat dari pembentukan luka pada

jaringan.

Gambar II.6 Model interaksi pada suatu kortiskosteroid (S) kortisol dan reseseptor
(R), serta kejadian berikutnya pada suatu sel target (Katzung, 2012).
II.3.2 Sifat Farmakokinetik

Absopsi prednison adalah 50-90% dan dapat berubah pada keadaan


hipertiroidisme. Persentase prednison yang terikat protein sekitar 65-91%
tergantung pada konsentrasinya. Durasi absorbsi untuk aktivitas antiinflamasi
prednison diperkirakan 1,25-1,5 hari pada penggunaan 50 mg dosis oral tunggal
(setara dengan aksis HPA). Absorpsi sitemik membutuhkan waktu yang lama
(lambat) bila melalui rute intraartikular, intrabursal, intrasinovial, intradermal,

14
atau injeksi jaringan lunak. Absorbsi pada tempat injeksi intraartikular biasanya
sangat lama dan berlangsung selama kurang lebih 7 hari. Mula kerja pada
pemberian IM (80-120 mg) pada pasien dengan keracunan hebat tumbuhan
menjalar, perbaikan munul stelah 8-12 jam. Prednison di metabolisme di hepar,
dimana dikonversi dari prednison (tidak aktif) menjadi prednisolon (aktif). Proses
metabolism ini dapat terganggu jika terjadi disfungsi hati. Waktu paruh eliminasi
pada fungsi ginjal normal ialah sekitar 3,5 jam. Prednison di ekskresikan melalui
urin dalam porsi yang kecil (Lacy, 2009).

II.3.3 Kegunaan Terapeutik


Prednison merupakan kortikosteroid sintetik yang umumnya dikonsumsi oral dan
dapat pula melalui injeksi intra muskular, intra rektal dan juga topikal. Prednison
akan diubah menjadi prednisolon di hati. Prednison efektif digunakan sebagai
imunosupresan dan dapat mempengaruhi sistem imun tubuh. Prednison dapat
diberikan pada pasien penyakit autoimun, penyakit inflamasi (asma, alergi berat,
lupus eritematosus sistemik, artritis reumatoid, dan sebagainya) uveitis, serta
untuk mencegah reaksi penolakan pada transplantasi jantung (Katzung et al.,
2012).

II.3.4 Efek Samping


Efek samping sebetulnya dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif
paling rendah untuk periode sesingkat mungkin, efek saluran pencernaan
termasuk dyspepsia, tukak lambung (dengan perforasi), abdominal distention,
pankreatitis akut, ulserasi esophageal dan kandidiasis, efek musculoskeletal
termasuk miopati proksimal, osteoporosis, patah tulang dan tulang
belang, avascular osteonecrosis, tendon rupture, efek endokrin termasuk supresi
adrenal, haid tidak teratur dan amenore, Cushing's syndrome (pada dosis tinggi,
biasanya kembali bila dihentikan), hirsutism, berat badan bertambah,
keseimbangan nitrogen dan kalsium negatif, peningkatan nafsu makan,
memperberat infeksi, efek neuropsikiatrik termasuk euporia, psychological
dependence, depresi insomnia, meningkatkan tekanan intracranial dengan

15
papilodema pada anak (biasanya setelah dihentikan), psikosis dan aggravation of
schizophrenia, aggravation of epilepsy; efek optalmik termasuk glaukoma,
papilloedema, katarak subkapsular posterior, corneal atau scleral thinning dan
eksaserbasi virus mata atau penyakit jamur; efek samping lain termasuk gagal
penyembuhan, atropi kulit, menimbulkan luka memar, striae, telangiectais,
jerawat, rupture jantung diikuti infark jantung, gangguan cairan dan elektrolit,
leukositosis, reaksi hipersensitif (termasuk pencegahan), tromboembilisme, mual,
muntah, cegukan (PIONAS, 2021).

DAFTAR PUSTAKA

Aberg, J.A., Lacy, C., Amstrong, L., Goldman, M. and Lance, L.L.,. ( 2009).
Drug Information Handbook 17th Edition. American Pharmacist
Association.

16
American College Of Rheumatology. (2012). Arthritis & Rheumatism.L. Volume
64, Number 10 (Supplement). https://www.rheumatology.org.

Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2018). Pedoman Diagnosis


dan Pengelolaan Gout,. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.

Katzung, B. G. (2012). Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Jakarta: Glance
Farmakologi Medis. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Pusat Informasi Obat Nasional (PIONAS). (2021). Obat Sistem Endokrin Bab 6,
Glkukokortikoid, Prednison. Informatorium Obat nasional (IONI), BPOM
Republik Indonesia

17

Anda mungkin juga menyukai