Anda di halaman 1dari 6

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN ANALISIS JURNAL

FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL AGUSTUS 2021


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITASHALUOLEO

FORENSIC ASPECTS ABOUT FATAL MORPHINE


INTOXICATION OF AN UNUSUAL BODY
PACKER: CASE REPORT AND LITERATURE REVIEW

OLEH :

Grivonne Yerlistyan Adi, S.Ked


K1A1 15 068

PEMBIMBING:
dr. Raja AlFath Widya Iswara, MH, Sp.FM

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN KEDOKTERAN


FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2021
PENDAHULUAN

Sementara sifat dan penyebab nyeri sedang dinilai, terapi harus dimulai dengan
obat analgesik yang sesuai. Obat yang sesuai harus dipilih dan pengobatan dimulai
sekaligus. Tiga analgesik utama adan aspirin, kodein dan morfin. Morfin melalui
mulut diberikan dalam bentuk yang dapat diterima, karen menghindari dari
ketidaknyamanan suntikan, juga untuk mempertahankan kemandirian pasien, karena
tidak mengandalkan orang lain untuk dosis berikutnya.1
ANALISIS KASUS

JURNAL TEORI
Morfin telah digunakan sebagai Tiga analgesik utama adalah aspirin, kodein
analgesik untuk klinis seperti dan morfin.1
pengobatan nyeri sedang sampai
berat.

Analgesik opioid kuat seperti morfin


merupakan andalan untuk terapi nyeri kanker
sedang dan berat. Dosis efektif morfin sangat
bervariasi dan berkisar dari 5 mg sampai 30
mg setiap 4 jam. Namun, dosisnya sangat
bervariasi untuk pasien yang berbeda karena
variasi induvidu dalam bioavaialabilitas obat.
Penggunaan morfin ditentukan oleh intensitas
nyeri dan bukan leh singkatnya prognosis.1
Multiple Reaction Monitoring Multiple reaction monitoring (MRM) adalah
(MRM) digunakan untuk teknik spectrum massa berdasarkan seleksi
kuantifikasi obat ion peptide dan satu atau lebih karakteritik ion
fragmen. Metode MRM sebelumnya telah
terbukti spesifik, akurat dan dapat
direproduksi antar laboratorium. Melalui
penggunaan retensi waktu, MRM berdasarkan
kuantitasi juga dapat digandakan untuk
menganalisis dan menghitung ratusan protein,
sehinggan meningkatkan keluaran dari jenis
pengujian ini dan membuatnya cukup cepat
untuk aplikasi klinis. Meskipun kuantisasi
berbasis MRM biasanya digunakan untuk
validasi klinis biomarker.2
Eksperimen MRM menggunakan instrumen
triple quadrupole, dirancang untuk
mendapatkan sensitivitas maksimum untuk
mendeteksi senyawa target. Tipe spektrometri
massa banyak digunakan dalam mendeteksi
dan mengukur obat dan metabolit obat dalam
industri farmasi. Mengetahui massa dan
struktur molekul obat, adalah mungkin untuk
memprediksi prekursor m/z dan fragmen m/z
(transisi MRM) untuk banyak metabolit
molekul obat.3
Overdosis morfin dapat Opioid menekan sistem pernapasan dan
bermanifestasi sebagai koma, overdosis ditandai dengan apnea, miosis dan
pupil pinpoint, dan depresi stupor. Penurunan laju pernapasan yang berat
pernapasan berat menyebabkan hipoksemia, hipoksia serebral
dan gangguan kesadaran. Henti jantung
merupakan komplikasi lanjut dari overdosis
opioid serta henti napas dan hipoventilasi.
Hipoksia serebral yang berkepanjangan adalah
mekanisme cedera otak dan kematian pada
overdosis opioid, akibat dari apnea atau
disritmia jantung dan henti jantung.4

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Cancer Pain Relief. 1986. Geneva.


2. Freue, G., Borchers, C. Multiple Reaction Monitoring (MRM) Principles and
Application to Coronary Artery Disease. Circ Cardiovasc Genet. 2012; 5: o10-
o16.
3. Cox, D., Zbong, F., Du, M., Ducboslav, E., Sakuma, T., Mcdermott, J.
Multiple Reaction Monitoring as a Method for Identifying Protein
Posttranslational Modifications. Journal of Biomolecular Techniques. 2005;
16(2).
4. World Health Organization. Community Management of Opioid Overdose.
2014. Switzerland.