Anda di halaman 1dari 16

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN TUGAS TAMBAHAN

FORENSIKDAN MEDIKOLEGAL SEPTEMBER 2021

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

OSCA

OLEH:

NURUL AULIA HUMAIRAH HALIM

K1A1 14 087

PEMBIMBING:

dr. RAJA AL FATH WIDYA ISWARA, MH, Sp.FM

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN

KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI

2021

1
1. Seorang perempuan usia 34 tahun ditemukan menibggal di dalam kamarnya,
kemudian dibawa ke RS UHO untuk dilakukan otopsi.
Didapatkan:
- Lebam mayat: di punggung, warna kemerahan, hilang dengan penekanan
- Kaku mayat: Seluruh tubuh dapat dilawan
- Pembusukan : belum ada
- Luka terbuka (bacok) pada leher dan dada tepat dibawah klavikula
- Wajah : sembab
- Bibir : kebiruan
- Pemeriksaan dalam : tampak pembuluh darah kosong
Tugas: Analisis kesimpulan sebab kematian, mekanisme kematian dan post mortem
interval
Jawab:
Kesimpulan: berdasarkan temuan-temuan yang didapatkan dari pemeriksaan atas jenazah
tersebut maka saya simpulkan bahwa jenazah adalah seorang perempuan, umur kurang
lebih tiga puluh tahun, kesan gizi cukup, ras mongoloid. Didapatkan luka akibat kekerasan
tajam berupa luka bacok pada leher dan dada. Didapatkan tanda-tanda mati lemas dan
perdarahan hebat. Sebab kematian adalah luka bacok pada leher yang menyebabkan
perdarahan. Waktu kematian diperkirakan antara delapan hingga dua belas jam sebelum
pemeriksaan dilakukan.
a. Sebab kematian: Luka bacok pada leher dan dada

Kasus Teori
Sebab kematian: luka bacok pada leher  Luka bacok disebabkan karena senjata
-Pemeriksaan luar: tajam yang ukurannya relative besar
Didapatkan luka terbuka pada leher dan dan diayunkan dengan tenaga yang
dada tepat dibawah klavikula kuat sehingga mata tajam dari senjata
-Pemeriksaan dalam: tersebut mengenai suatu bagian dari
Pembuluh darah tampak kosong tubuh. (Abraham, S., Rahman, A.,
dkk. 2010. Trauma tajam dalam
Tanya Jawab Ilmu Kedokteran
Forensik. Badan penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang).
 Ciri-ciri luka bacok yaitu:
1. Bentuk menganga
2. Ukuran panjang = lebar = dalam
3. Kedua sudut luka lancip
4. Ekor luka bisa ditemukan bisa juga
tidak
5. Bisa terdapat memar disekitar luka

2
bisa juga tidak ditemukan memar
disekitar luka. (Biswas, G. 2012.
Review of forensic Medicine and
Toxicology: Including Clinical and
Pathological Aspects. Jaypee
Brothers Medical Publishing).

b. Mekanisme kematian : mati lemas dan perdarahan hebat

Kasus Teori
Lebam mayat warna kemerahan, wajah  Asfiksia adalah suatu kondisi yang
sembab, bibir kebiruan, pada pemeriksaan disebabkan oleh berkurangnya oksigen
dalam, didaptkan pembuluh darah dan berlebihnya karbon dioksida dalam
kososng darah. Hal ini terjadi karena adanya
gangguan pertukaran antara oksigen
dalam alveoli paru-paru dengan karbon
dioksida dalam darah kapiler paru-paru.
Secara umum asfiksia oleh karena
penyumbatan saluran pernapasan, trauma
dan keracunan bahan kimiawi (Nerchan
dkk, 2015).
 Dalam mengklasifikasikan kematian
akibat asfiksia, pendekatan yang lebih
akurat adalah dimana mekanisme lokasi
yang menyebabkan asfiksia. Kematian
yang termasuk dalam kategori “asfiksia”
secara garis besar yaitu sufokasi, asfiksia
mekanik, asfiksia kimia (Siegel JA dan
Saukko PJ, 2013).
 Ciri-ciri klasik asfiksia ditemukan
dimana saluran udara terhalang oleh
tekanan yang diberikan pada leher atau
dada dan terjadi kesulitan bernapas. Ciri-
ciri klasik asfiksia adalah kongesti
wajah, edema wajah, sianosis (kebiruan)
pada kulit wajah, perdarahan petekie di
kulit wajah dan mata (Simpson K. 2003).
 Kongesti adalah munculnya warna
merah pada kulit wajah dan kepala. Hal
ini karena pengisian sistem vena ketika
kompresi leher atau beberapa obstruksi
lain mencegah aliran balik vena ke
jantung (Simpson K. 2003).
 Edema adalah pembengkakan jaringan
akibat transudasi cairan dari vena yang
disebabkan oleh peningkatan tekanan
vena sebagai akibat obstruksi aliran balik
vena ke jantung (Simpson K. 2003).
 Bibir sianotik (warna biru keunguan)

3
yang disebabkan oleh tubuh mayat lebih
membutuhkan HbCO2 daripada HbO2
(Susanti R. 2012).
 Pada pemeriksaan didapatkan pembuluh
darah yang tampak kosong yang
menunjukkan telah terjadi pengeluaran
darah yang banyak dalam waktu yang
singkat. Proses tersebut dinamakan
perdarahan massif yang kemudian dapat
menyebabkan gangguan perfusi dan
oksigenasi ke otak. Hal tersebut memicu
terjadinya kegagalan sistem respirasi dan
kardiovaskular sebagai pilar kehidupan.
Pada dasarnya, sebab-sebab kematian
pada trauma tajam umumna terbagi dua
yaitu penyebab langsung dan tidak
langsung. Penyebab langsung dapat
berupa perdarahan, kerusakan alat tubuh
yang penting, atau emboli udara yang
memicu gangguan sistem yang lebih
besar lagi. Penyebab tidak langsung
biasanya karena sepsis atau infeksi.
Bukti yang ditemukan pada korban
adalah adanya trauma tajam pada bagian
leher dan dada. (Ridwan, I, dkk. 2017).

c. Perkiraan waktu kematian: 8-12 jam sebelum pemeriksaan dilakukan

Kasus Teori
Lebam mayat: di punggung, warna Lebam mayat (livor mortis) terjadi
kemerahan, hilang dengan penekanan. setelah kematian klinis. Eritrosit akan
menempati tempat terbawah akibat gaya
tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan
venula, membentuk bercak warna merah
ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh
kecuali pada bagian tubuh yang tertekan.
(Umboh RB, Mallo NTS, Kristanto EG.
2016)
Lebam mayat akan mulai tampak sekitar
30 menit setelah kematian klinis dan
intensitas maksimal akan dicapai dalam
waktu 8-12 jam postmortem. Dengan
demikian penekanan pada daerah lebam
mayat atau perubahan posis mayat yang
dilakukan 8-12 jam tersebut lebam mayat
tidak akan menghilang. Tidak
menghilangnya lebam mayat pada saat itu
dikarenakan telah terjadi perembasan
darah akibat rusaknya pembuluh darah ke

4
dalam jaringan sekitar pembuluh darah
(Umboh RB, Mallo NTS, Kristanto EG.
2016).
Kegunaan untuk melihat lebam mayat
yaitu lebam mayat merupakan tanda pasti
kematian oleh karena hanya dapat terjadi
setelah mati somatis/klinis;
memperkirakan posisi/sikap mayat
sebelum dilakukan perubahan, bila lebam
mayat telah terbentuk pada saat perubahan
posisi dilakukan tetapi bila perubahan
sebelum lebam mayat terbentuk,
posisi/sikap mayat awal tidak dapat
ditentukan, memperkirakan waktu
kematian, memperkirakan sebab kematian
dari warna lebamnya. Pada umumnya
lebam mayat berwarna merah-ungu
(livide) akan tetapi pada beberapa keadaan
tertentu menjadi lain. Terdapat lima warna
lebam yang dapat memperkirakan
penyebab kematian yaitu: warna merah
kebiruan/merah keunguan merupakan
warna normal lebam, warna merah terang
menandakan keracunan CO, keracunan
CN,atau suhu dingin, warna merah gelap
menunjukkan asfiksia, warna biru
menunjukkan keracunan nitrit, warna
coklat menunjukkan keracunan aniline.
(Umboh RB, Mallo NTS, Kristanto EG.
2016)
Pada tahap awal pembentukannya lebam
mayat (livor mortis) memiliki warna
kemerahan yang dihasilkan dari jumlah
eritrosit yang membawa hemoglobin yang
teroksidasi. Meningkatnya interval
postmortem akan mengakibatkan
perubahan warna menjadi lebih gelap.
Warna normal livide berubah menjadi
lebih ungu akibat hasil pemisahan oksigen
dari hemoglobin eritrosit post mortem dan
konsumsi oksigen terus-menerus oleh sel-
sel yang awalnya mempertahankan fungsi
kardiovaskular sehingga akan
menghasilkan produk deoksihemoglobin
yang akan mengubah warna livide menjadi
warna ungu. (Umboh RB, Mallo NTS,
Kristanto EG. 2016)
Kaku mayat: Seluruh tubuh dapat dilawan Kaku mayat (rigor mortis) disebabkan oleh
kontraksi otot. Kehilangan total ATP
menyebabkan kontraksi. ATP diperlukan

5
dalam proses pemisahan jembatan silang
filament aktin. Otot akan tetap kaku
sampai protein otot hancur yang
disebabkan autolisis oleh enzim yang
dilepaskan oleh lisosom. Kaku mayat
terjadi 2-3 jam setelah kematian dan
berlanjut sampai 8-12 jam. Kaku mayat
hilang dalam 24-36 jam. (Suryadi T,
Priyanto MH. 2019)
Pada kondisi beriklim sedang, rigor
mortis umumnya dapat terdeteksi di wajah
antara 1-4 jam dan pada tungkai antara 3-6
jam setelah kematian, dengan rigor mortis
meningkat maksimal sekitar 16-18 jam.
Rigor mortis lengkap membutuhkan waktu
sekitar 10-12 jam. Setelah 50 jam
kematian akan menghilang karena terjadi
autolisis dan dekomposisi sel otot. (James
JP, Jones R, Karch SB, Manlove J. 2011)
Pembusukan : tidak ada Dekomposisi adalah proses campuran
mulai dari autolisis sel individu oleh
kerusakan kimia internal hingga autolisis
jaringan dari enzim yang dibebaskan dan
proses eksternal oleh bakteri dan jamur
dari usus dan lingkungan luar. Hewan
pemangsa, mulai dari belatung hingga
mamalia. Penguraian mungkin berbeda
dari tubuh ke tubuh, dari lingkungan ke
lingkungan dan bahkan dari satu bagian
mayat yang sama ke yang lain. kadang-
kadnag satu bagian dari mayat mungkin
menunjukkan pengawetan mumi yang
kasar sementara sisanya dalam keadaan
pembusukan yang mencair (Saukko P,
Knight B. 2016).
Pembusukan jenazah terjadi akibat
proses degradasi jaringan karena autolisis
dan kerja bakteri. Mulai muncul 24 jam
postmortem, berupa warna kehijauan
dimulai dari daerah sekum menyebar ke
seluruh dinding perut dan berbabu busuk
karena terbentuk gas seperti HCN, H2S
dan lain-lain. Gas yang terkadi
menyebabkan pembengkakan. Akibat
proses pembusukan rambuh mudah
dicabut, wajah membenkak, bola mata
melotot, kelopak mata membengkak dan
lidah terjulur. Pembusukan lebih mudah
terjadi pada udara terbuka suhu
lingkungan yang hangat/panas dan

6
kelembaban tinggi (Nurwidayati A. 2009).

2. Seorang pria 35 tahun datang ke IGD Rumah Sakit setelah dianiaya oleh temannya.
Sebelumnya korban dan pelaku mengalami cekcok:
- Hasil pemeriksaan : BB : 58 kg ; TB : 168 cm
- Luka memar pada dahi, perdarahan selaput biji mata, tampak hifema pada
mata kanan.
- Pemeriksaan visus : VOD: 1/300, VOS: 0,3, dengan pin hole 0,7
- CT-Scan : tidak ada kelainan
- Tugas: analisis klinis dan medikolegal kasus diatas
Jawab:
a. Analisis klinis
Cedera yang disebabkan trauma mekanik dapat dibagi menjadi dua kelompok
utama yaitu trauma tumpul dan trauma tajam. Ada sejumlah jenis cedera lain yang
disebabkan oleh kekuatan non-fisik yaitu trauma termal, kimia, listrik atau
elektromagnetik (James JP, Jones R, Karch SB, Manlove J. 2011)
Trauma tumpul ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada permukaan
tubuh oleh benda-benda tumpul. Pada trauma tumpul dapat menyebabkan tiga macam
mekanisme kerusakan yaitu luka memar (contusio), luka lecet (abrasio), luka robek
(vulnus laceratum) dimana memar (contusio) terjadi ketika pembuluh darah dibawah
kulit atau organ (Suryadi T, Priyanto MH. 2019).
Luka lecet adalah suatu keadaan berupa hilang atau rusaknya epitel sel
pembungkus kulit (epidermis) atau membrana mukosa diakibatkan tekanan benda
keras, tumpul atau kasar. Kerusakan tubuh hanya terbatas pada lapisan kulit
terluar/kulit ari (Parinduri AG. 2017).
Luka lecet adalah suatu keadaan berupa hilang atau rusaknya epitel sel
pembungkus kulit (epidermis) atau membrana mukosa diakibatkan tekanan benda
keras, tumpul atau kasar. Kerusakan tubuh hanya terbatas pada lapisan kulit
terluar/kulit ari (Parinduri AG. 2017). Berdasarkan mekanisme terjadinya luka lecet
yaitu:
- Luka lecet geser, terjadi apabila objek tumpul yang lebar dan kasar permukaannya
bergeser dengan permukaan tubuh.
- Luka lecet gores, abrasi yang terjadi akibat geseran benda runcing seperti duri,
kuku dan benda sejenisnya.

7
- Luka lecet serut, variasi dari luka lecet gores daerah yang bergesekkan dengan
permukaan kulit lebih lebar.
- Luka lecet tekan, abrasi akibat hentakan benda tumpul ke tubuh korban (atau
sebaliknya) dengan sudut tegak lurus yang akan menghasilkan corak/bentuk objek
yang mengenainya. (Parinduri AG. 2017)

Luka memar merupakan suatu keadaan dimana terjadinya penggumpalan darah


dalam jaringan sewaktu orang masih hidup, oleh karena pecahnya pembuluh darah
kapiler akibat kekerasan atau ruda paksa (Parinduri AG. 2017). Luka memar memiliki
ciri-ciri berbentuk tidak teratur, batas tidak tegas, perubahan warna memar pada saat
terjadi memar berwarna kemerahan atau merah kebiruan. Setelah 4-5 hari akan
berwarna kehijauan. 7-10 hari berwarna kekuningan dan akhirnya menghilang dalam
14-15 hari (Yudianto, A. 2020; Abraham, S., dkk).
Luka robek merupakan keadaan dimana permukaan tubuh terkena benda, sehingga
menimbulkan reaksi tertarik dan tegang permukaan tubuh sampai melampaui batas
elastisitasnya dan tekanan benda itu akan merobeknya bagian yang terpenting
(Parinduri AG. 2017).Luka robek memiliki ciri-ciri luka berbentuk garis batas luka
tidak teratur, tepi luka tidak rata, bila ditautkan tidak dapat rapat sempurna, tebing luka
tidak rata, terdapat jembatan jaringan, dan disekitar luka dapat ditemukan memar
(Yudianto, A. 2020; Abraham, S., dkk).
Hifema adalah kondisi menggumpalnya darah di bilik mata depan, tepatnya
diantara kornea (selaput bening mata) dan iris (selaput pelangi mata). Darah dapat
menutupi sebagian atau seluruh iris dan pupil. Hifema biasanya terjadi karena cedera
atau trauma yang menyebabkan iris atau pupil mata robek. Hifema dapat menutupi
separuh atau seluruh penglihatan. Berdasarkan banyaknya darah yang memenuhi bilik
mata, hifema dibagi menjadi 4 tingkatan, yaitu (Soeroso, A. 1980) :
 Tingkat 1: darah memenuhi kurang dari sepertiga bilik mata depan
 Tingkat 2: darah memenuhi sepertiga hingga setengah bilik mata depan
 Tingkat 3: darah memenuhi lebih dari separuh bilik mata depan
 Tingkat 4: darah memenuhi seluruh bilik mata depan

Perdarahan bilik depan bola mata terutama berasal dari pembuluh darah corpus ciliare
dan sebagian kecil dari pembuluh darah iris, yang sebagian besar akan diserap melalui

8
trbekular meshwork dan selanjutnya ke kanal schlemm, sisanya akan diabsorbsi melalui
permukaan iris.

Gambaran klinik pada kasus hifema traumatik adalah : (Soeroso, A. 1980)

 Pada anamnesa didapatkan riwayat trauma terutama mengenai matanya


 Ditemukan perdarahan pada bilik depan bola mata
 Kadang ditemukan gangguan tajam penglihatan
 Ditemukan adanya tanda iritasi dari konjungtiva dan perikorneal
 Nyeri pada mata, fotofobia, sering disertai blefarospasme

Pada kasus ini terdapat gangguan tajam penglihatan, dimana pada pemeriksaan tajam
penglihatan didapatkan hasil VOD 1/300, yang dimana korban hanya dapat melihat
lambaian tangan dengan jarak 1 meter, VOS 0,3 dengan pin hole 0,7 yang dimana
korban hanya dapat melihat tulisan dengan jelas pada jarak 6 meter dimana orang
normal dapat membaca dengan jarak 20 meter, setelah menggunakan pin hole
didapatkan penglihatan mata kiri 0,7 atau 6/10 dimana korban dapat melihat tulisan
dengan jelas pada jarak 6 meter yang orang normal dapat melihat tulisan yang sama
dengan jelas di jarak 10 meter.

Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatic hifema adalah adanya
perdarahan sekunder, glaukoma sekunder, dan hemosiderosis, komplikasi akibat
traumanya dapat berupa dislokasi lensa, ablation retina, katarak dan iridodialisis.
(Soeroso, A. 1980. Perdarahan Bilik Depan Bola Mata akibat Rudapaksa (Traumatic
Hyphaema). Cermin Dunia Kedokteran No 19

b. Analisis medikolegal

Pengertian tentang trauma (injury) dari aspek medikolegal sedikit berbeda dengan
pengertian medis. Dimana pengertian medis menyatakan bahwa trauma atau perlukaan
adalah hilangnya kontinuitas dari jaringan sedangkan secara medikolegal trauma adalah
pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan
seseorang. Artinya orang sehat yang tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan akibat
efek dari alat atau benda yang menimbulkan kecederaan (Ferdinan J, Ritonga M. 2012).
Hukum pidana Indonesia mengenal delik penganiayaan yang terdiri dari tiga
tingkatan dengan hukuman yang berbeda yaitu penganiayaan ringan (pidana maksimum

9
3 bulan penjara), penganiyaan (pidana maksimum 2 tahun 8 bulan), dan penganiyaan
yang menimbulkan luka berat (pidana maksimum 5 tahun). Ketiga tingkatan
penganiyaan tersebut diatur dalam pasal 352 (1) KUHP untuk penganiayaan ringan,
pasal 351 (1) KUHP untuk penganiyaan dan pasal 352 (2) KUHP untuk penganiayaan
yang menimbulkan luka berat (Afandi D. 2010).
Rumusan hukum tentang penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam pasal
352 (1) KUHP menyatakan bahwa “penganiyaan yang tidak menimbulkan penyakit
atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam sebagai
penganiyaan ringan”. Selanjutnya rumusan hukum tentang penganiyaan (sedang)
sebagaimana diatur dalam pasal 351 (1) KUHP tidak menyatakan apapun tentang
penyakit. Sehingga bila memeriksa seorang korban dan didapati “penyakit” akibat
kekerasan tersebut, maka korban dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Rumusan
hukum tentang penganiayaan yang menimbulkan luka berat diatur dalam pasal 351 (2)
KUHP yang menyatakan bahwa Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang
bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Luka berat itu sendiri
telah diatur dalam pasal 90 KUHP secara limitatif. Luka berat menurut pasal 90 KUHP
adalah (Afandi D. 2010):
1. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama
sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut;
2. Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencarian;
3. Kehilangan salahsatu panca indera;
4. Mendapat cacat berat;
5. Menderita sakit lumpuh;
6. Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
7. Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan
Kualifikasi luka pada kasus masuk dalam luka berat dimana akibat hal tersebut
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencarian untuk sementara waktu. Ketentuan pidana untuk delik penganiyaan dimuat
dalam kitab undang-undang Hukum Pidana pasal 351 ayat 2 yang menyebutkan tindak
penganiayaan yang bersalah diancam pidana dihukum dengan ditahan penjara paling
lama lima tahun (Kusuma NA, Dewi AAS, Widyantara MM. 2021).

10
3. Seorang dokter yang baru saja disumpah dokter, saat berjaga di suatu klinik swasta, ada
pasien yang diinjeksi antibiotik, kemudian pasien itu mengalami syok anafilaktik dan
meninggal dunia, keluarga pasien tidak terima dan akan menuntut dokter tersebut.
a. Analisis etik medikolegal
Jawab:
Prinsip dasar etika kedokteran antara lain (Konsil Kedokteran Indonesia. 2012):
1. Non maleficence
Prinsip tidak merugikan, merupakan prinsip dasar menurut tradisi Hipocrates,
primum non nocere. Jika tidak bisa berbuat baik kepada seseorang, paling tidak kita
tidak merugikan orang tersebut (Konsil Kedokteran Indonesia. 2012).
Pada kasus ini dokter tersebut melanggar prinsip non-maleficence karena
merugikan pasien dan juga keluarga pasien, karena akibat perbuatannya pasien
mengalami syok anafilaktik dan meninggal dunia oleh karena antibiotik yang diberikan.
2. Beneficence
Prinsip berbuat baik, merupakan segi positif dari non-maleficence. Tetapi
kewajiban berbuat baik ini bukan tanpa batas. Ada 4 (empat) langkah sebagai proses
untuk menilai risiko, sehingga dapat memperkirakan sejauh mana suatu kewajiban
bersifat mengikat: pertama apakah orang yang perlu bantuan itu mengalami suatu
bahaya besar atau risiko kehilangan sesuatu yang penting, kedua apakah penolong
sanggup melakukan sesutau untuk mencegah terjadinya bahaya atau kehilangan itu,
ketiga apakah tindakan penolong dapat mencegah terjadinya kerugian itu dan keempat
apakah manfaat yang diterima orang itu melebihi kerugian bagi penolong dan
membawa risiko minimal (Konsil Kedokteran Indonesia. 2012).
Dokter tersebut memberikan perawatan terbaik untuk kelangsungan hidup korban
dengan memberikan injeksi antibiotik guna mengurangi sakit atau gejala yang dialami
pasien, namun hal tersebut mendatangkan lebih banyak kerugian dibanding dengan
manfaat yang diberikan.
3. Autonomi
Prinsip menghormati otonomi pasien, merupakan suatu kebebasan bertindak
dimana seseorang mempunyai hak mengambil keputusan sesuai dengan yang diyakini
dan diinginkannya. Dalam hal ini terdapat 2 unsur penting yaitu kemampuan untuk
mengambil keputusan terhadap suatu rencana tertentu dan kemampuan untuk
mewujudkan rencananya menjadi kenyataan (Konsil Kedokteran Indonesia. 2012).

11
Dokter tersebut diatas melakukan pelanggaran autonomi pasien karena dokter
tidak meminta informed consent kepada pasien, . Jika pasien dalam keadaan tidak sadar
maka autonmi pasien tersebut berpindah kepada walinya, dalam hal ini jika dia telah
menikah maka istrinya dan jika belum menikah maka orang tuanya, dan pada kasus ini
dokter tidak meminta inform consent kepada pasien maupun wali pasien tentang
tindakan yang akan dilakukan yaitu pemberian antibiotik.
4. Justice
Prinsip keadilan, berupa peralukan yang sama untuk orang-orang dalam situasi
yang sama, artinya menenkankan persamaan dan kebutuhan. Dalam memberikan
pelayanan medik, profesi kedokteran harus memberikan pelayanan yang sama terhadap
semua orang, tanpa pertimbangan perbedaan suku, agama, ras, kekayaan dan
kedudukan sosial (Konsil Kedokteran Indonesia. 2012).
Dokter bersikap sama terhadap seluruh pasien yang memiliki angka harapan
hidup kecil dan angka harapan hidup yang besar.Dokter bersikap adil terhadap korban
dan pasien yang membutuhkan ventilator dengan tidak serta merta mengambil
keputusan untuk mencabut ventilator dan meminta inform consent terlebih dahulu
kepada keluarga pasien, sehingga ventilator dapat diberikan kepada pasien yang lebih
membutuhkan dan bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

Aspek Medikolegal
1. Visum et repertum
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan
tertulis penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup
maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia,berupa temuan dan interpretasinya,
di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan.Dasar hukum pembuatan VeR
dalam pasal 133 KUHAP untuk membantu proses penyidikan (Utama WT, 2014).
Sebagai suatu hasil pemeriksaan dokter terhadap barang bukti yang diperuntukkan
untuk kepentingan peradilan VeR digolongkan menurut obyek yang diperiksa sebagai
berikut (Utama WT, 2014).
a) Visum hidup
Jenis ini dibedakan lagi dalam:
 Visum et Repertum biasa

12
Visum ini diberikan kepada pihak peminta (penyidik) untuk korban yang
tidak memerlukan perawatan lebih lanjut.
 Visum et Repertum sementara
Visum ini sementara diberikan apabila korban memerlukan perawatan lebih
lanjut karena belum dapat membuat diagnosis dan derajat lukanya. Apabila
sembuh dibuat VeR lanjutan.
 Visum et Repertum lanjutan
Dalam hal ini korban tidak memerlukan perawatan lebih lanjut karena sudah
sembuh, pindah dirawat dokter lain, atau meninggal dunia.
b) Visum mati
Pada pembuatan VeR ini, dalam hal korban mati maka penyidik mengajukan
permintaan tertulis kepada pihak Kedokteran Forensik untuk dilakukan bedah
mayat (autopsi). Sehingga visum pada korban tersebut dokter bisa melakukan
visum berupa visum et repertum sementara dan apabila dalam hal ini korban
tidak memerlukan perawatan lebih lanjut karena sudah sembuh, pindah dirawat
dokter lain, atau meninggal dunia maka dapat dilakukan visum lanjutan (Utama
WT, 2014).

2. Etika Kedokteran
Kodeki pasal 2 “seorang dokter wajib selalu melakukan pengambilan
keputusan professional secara independen, dan mempertahankan perilaku professional
dalam ukuran yang tertinggi” (Konsil Kedokteran Indonesia. 2012). Dokter pada
kasus ini melakukan pengambilan keputusan yang professional, namun tidak
berperilaku professional karena baru saja disumpah dan belum memiliki surat tanda
registrasi sebagai dokter umum yang bisa berpraktek mandiri.
Kodeki pasal 5 “tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin melemahkan
daya tahan psikis maupun fisik, wajib memperoleh persetujuan pasien/keluarganya
dan hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien tersebut” (Konsil
Kedokteran Indonesia. 2012). Pada kasus ini, dokter tersebut melanggar kodeki pasal
5 karena sebelum melakukan tindakan pemberian obat, dokter tersebut tidak
melakukan pemberian inform consent pada pasien maupun walinya, sehingga saat
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, keluarga pasien keberatan dan menuntut dokter
tersebut karena meninggalnya pasien setelah diinjeksi antibiotik.

13
Kodeki pasal 17 “setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai
suatu wujud tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan
mampu memberikannya” (Konsil Kedokteran Indonesia. 2012). Dokter pada kasus ini
melanggar kodeki pasal 17 karena dokter tersebut belum memiliki surat tanda
registrasi dan surat izin praktik sebab baru saja disumpah sehingga untuk melakukan
praktik mandiri di rumah sakit atau puskesmas maupun pusat kesehatan lainnya,
dokter ini belum legal.

3. Malpraktik
Malpraktik adalah setiap sikap tindak yang salah, kekurangan keterampilan dalam
ukuran tingkat yang tidak wajar. Istilah ini umumnya dipergunakan terhadap sikap
tindak dari para dokter, pengacara dan akuntan. Kegagalan untuk memberikan
pelayanan professional dan melakukan pada ukuran tingkat keterampilan dan
kepandaian yang wajar di dalam masyarakatnya oleh teman sejawat rata-rata dari
profesi itu sehingga mengakibatkan luka, kehilangan atau kerugian pada penerima
pelayanan tersebut yang cenderung menaruh kepercayaan terhadap mereka. Termasuk
didalamnya setiap sikap tindak professional yang salah, kekurangan keterampilan
yang tidak wajar atau kurang kehati-hatian atau kewajiban hukum, praktek buruk atau
illegal atau sikap immoral (Guwandi, J, 2009.). Dokter pada kasus ini memiliki tindak
professional yang salah dimana kurangnya keterampilan dalam melakukan inform
consent dan kurangnya kehati-hatian dokter tersebut dalam melakukan tindakan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Abraham, S., Rahman, A., dkk. 2010. Trauma tajam dalam Tanya Jawab Ilmu Kedokteran
Forensik. Badan penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Afandi D. 2010. Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan Penentuan Derajat
Luka. Maj Kedokt Indon 60(4): 188-195.
Biswas, G. 2012. Review of forensic Medicine and Toxicology: Including Clinical and
Pathological Aspects. Jaypee Brothers Medical Publishing.
Ferdinan J, Ritonga M. 2012. Penilaian Alur Luka untuk Menentukan Penyebab Kematian.
Majalah Kedokteran Nusantara 45(3): 182-184.
Guwandi, J. 2009. Pengantar Ilmu Hukum Medik & Bio-etika. Balai penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
James JP, Jones R, Karch SB, Manlove J. 2011. Simpson’s Forensic Medicine. 13 th Edition.
London. Hodder & Stoughton Ltd.
Konsil Kedokteran Indonesia. 2012. Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia. Jakarta.
Konsil Kedokteran Indonesia.
Kusuma NA, Dewi AAS, Widyantara MM. 2021. Sanksi Pidana terhadap Tindak Pidana
Penganiyaan yang Mengakibatkan Luka Berat. Jurnal Analogi Hukum 3(1): 11-16.
Nerchan E, Mallo JF, Mallo NTS. 2015. Pola Luka pada Kematian Akibat Kekerasan Tajam
di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado Periode 2013. Jurnal e-Clinic (eCl) 3(2): 640-645.
Nurwidayati A. 2009. Penerapan Entomologi dalam Bidang Kedokteran Forensik. Jurnal
Vektor Penyakit 3(2): 55-65.
Parinduri AG. 2017. Trauma Tumpul (blunt trauma). Ibnu Sina Biomedika 1(2): 29-36
Ridwan I., Tambunan, J.F.P. 2017. Perdarahan Masif sebagai Sebab Kematian pada Autopsi
Kasus Perlukaan. Majority. Volume 6 Nomor 3.
Siegel JA, Saukko PJ. 2013. Encylopedia of Forensic Sciences. London. Elsevier.

Simpson K. 2003. Simpson’s Forensic Medicine. 12th edition. London. Arnold.

Susanti R. 2012. Laporan Kasus: Kematian Tahanan di Ruang Sel Polisi Kontroversi
Pembunuhan atau Bunuh Diri Dilihat dari Sudut Pandang Ilmu Kedokteran
Forensik. Majalah Kedokteran Andalas 1(36): 113-120.

15
Umboh RB, Mallo NTS, Kristanto EG. 2016. Pengaruh Kadar Hemoglobin terhadap Lebam
Mayat (Livor Mortis). Jurnal e-Clinic 4(1): 380-384.
Utama, Winda Trijayanthi . 2014. Visum Et Repertum: A Medicolegal Report As A
Combination Of Medical Knowledge And Skill With Legal Jurisdiction.
Departement of Forensic Medicine and Medicolegal, Faculty of Medicine,
Universitas Lampung.
Saukko P, Knight B. 2016. Knight’s Forensic Patology. 4 th Edition. London. Taylor &
Francis Group.
Suryadi T, Priyanto MH. 2019. Peran Kedokteran Forensik dalam Pengungkapan Kasus
Pembunuhan Satu Keluarga di Banda Aceh. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala 19(1):
45-50.
Soeroso, A. 1980. Perdarahan Bilik Depan Bola Mata akibat Rudapaksa (Traumatic
Hyphaema). Cermin Dunia Kedokteran No 1

Yudianto, A. 2020. Ilmu Kedokteran Forensik Media Pustaka Scopindo. Surabaya

16