Anda di halaman 1dari 9

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif

observasional, yang bertujuan untuk mengidentifikasi spesies-spesies kapang

kontaminan, dan spesies-spesies kapang kontaminan yang paling dominan dalam

sampel biji kacang hijau. Data diperoleh melalui teknik observasi, deskripsi, dan

identifikasi semua spesies kapang kontaminan yang ditemukan.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan bulan April tahun

2011 di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri

Malang.

C. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini ialah Biji-biji kacang hijau yang dijual dipasar

besar Kota Batu. Sampel penelitian ini ialah Biji kacang hijau yang diperoleh dari

5 pedagang yang berbeda di pasar besar Kota Batu.

28
29

D. Teknik Pengambilan Sampel

Langkah-langkah yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah

sebagai berikut:

1. Ditentukan 5 pedagang yang berbeda di pasar besar Kota Batu

2. Diambil sampel biji kacang hijau secara acak sebanyak 100 g untuk tiap

pedagang di pasar besar Kota Batu.

3. Sampel biji kacang hijau yang telah diperoleh dimasukan dalam plastik yang

steril kemudian diletakkan didalam termos berisi es agar suhu tidak lebih dari

250C, kemudian dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas

Negeri Malang untuk diteliti.

E. Alat-alat dan Bahan-bahan

Alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah

sebagai berikut:

1. Alat

a) Alat-alat yang digunakan untuk sterilisasi medium dan alat adalah oven

kering dan autoklaf.

b) Alat yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah termos es.

c) Alat yang digunakan untuk menghaluskan sampel adalah mortar dan pistil

d) Alat-alat yang digunakan untuk pembuatan medium adalah timbangan,

beaker glass, pengaduk kaca, cawan petri, tabung reaksi, kompor,

makropipet 5ml dan 10 ml, dan labu Erlenmeyer.


30

e) Alat-alat yang digunakan untuk pengenceran dan inokulasi sampel adalah

laminar air flow, rak tabung reaksi, makropipet 1ml dan 0,1 mL, jarum

inokulasi, shaker, Erlenmeyer, tabung reaksi dan lampu spiritus.

f) Alat-alat untuk pengamatan, perhitungan koloni, inkubasi, serta identifikasi

adalah inkubator 250C, Colony Counter, spidol transparasi, scapel steril,

kaca benda, kaca penutup, pinset, pipa U, mikroskop, mikrometer obyektif

dan mikrometer okuler.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah: biji kacang hijau

rusak, alumunium foil, kapas, kertas tissue, kertas hisap, benang wool, karet

gelang, selotip, kertas label, larutan lactophenol cotton blue, larutan lactophenol,

aquades, alkohol 70 %, air pepton 0,1 %, agar powder, NaNO3, K2HPO4, MgSO47

H2O, KCL, MgSO47H2O, FeSO47H2O dan sukrosa.

F. Prosedur Penelitian

Prosedur kerja yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini ialah sebagai

berikut:

1. Sterilisasi Alat dan Bahan

Alat-alat yang akan disterilkan dicuci terlebih dahulu dengan sabun

kemudian dibilas dengan air kran sampai bersih dan dibiarkan kering di atas rak

lalu disterilisasi dalam oven kering pada suhu 150 0C selama 2 jam. Kaca benda

dan kaca penutup serta jarum inokulasi disterilisasi dengan menggunakan api

spiritus. Sterilisasi medium miring, lempeng dan air pepton dilakukan dengan
31

menggunakan autoklaf selama 15 menit dengan suhu 1210C atau pada tekanan

25 psi (pound per square inchi).

2. Pembuatan Medium

Jenis medium yang digunakan dalam penelitian ini adalah medium Czapek

Agar (CA) (Komposisi medium CA dapat dilihat pada Lampiran1). Larutan pe-

ngencer yang digunakan ialah larutan air pepton 0,1 %. Adapun cara pem-

buatannya dapat dijelaskan sebagai berikut: bahan-bahan yang diperlukan untuk

pembuatan medium CA dimasukkan dalam beaker glass dan dilarutkan dengan

aquades, kemudian dipanaskan sambil diaduk sampai homogen, selanjutnya

medium tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri sebanyak 10 mL dan tabung

reaksi sebanyak 5 mL untuk medium miring. Larutan pengencer yaitu larutan

peptone 0,1 % sebanyak 90 mL dalam labu Erlenmeyer, dimasukkan ke dalam

masing-masing tabung reaksi sebanyak 9 mL, lalu disterilkan pada suhu 1210C

(autoklaf). Medium miring setelah disterilisasikan diletakkan pada papan miring

dalam keadaan masih panas sehingga diperoleh medium miring setelah dingin.

3. Penelitian Pendahuluan

Penelitian pendahuluan dilakukan untuk memperoleh data awal untuk

memperoleh kepastian adanya kapang kontaminan dalam sampel biji kacang

hijau.

a. Langkah-langkah penelitian

1) Campuran biji kacang hijau dari 5 pedagang ditimbang sebanyak 10 gram

kemudian dihaluskan dengan mortar dan pistil. Biji kacang hijau yang telah

dihaluskan dimasukkan dalam labu Erlenmeyer yang berisi 90 mL air peptone

0,1 % sehingga diperoleh tingkat pengenceran 10-1.


32

2) Dilakukan pengenceran secara bertahap terhadap suspensi tersebut dengan

menggunakan air peptone 0,1 % sebanyak 9 mL pada tabung reaksi sampai

dengan tingkat pengenceran 10-6.

b. Inokulasi dan inkubasi

Suspensi bahan dari masing-masing pengenceran diinokulasikan sebanyak

0,1 mL pada medium lempeng Czapek Agar (CA) kemudian diinkubasi pada

suhu 250C selama 3 × 24 jam. Apabila belum ada pertumbuhan kapang,

dilanjutkan inkubasi selama 5 × 24 jam sampai dengan 7 × 24 jam.

c. Isolasi

Kapang yang ditemukan diisolasi pada medium miring lalu diinkubasi

selama 5 × 24 jam sampai dengan 7 × 24 jam.

Hasil penelitian pendahuluan menunjukan bahwa dalam sampel biji

kacang hijau yang diteliti ditemukan beberapa genus kapang kontaminan seperti

Aspergillus, Penicillium, Cladosporium dan Curvularia. Selanjutnya dilakukan

penelitian dengan langkah-langkah seperti pada uji pendahuluan.

4. Perhitungan Koloni

Penghitungan jumlah koloni tiap macam kapang dan pengamatan morfologi

koloni kapang dilakukan setelah biakan berumur 7 × 24 jam. Pengamatan dan

deskripsi morfologi koloni meliputi warna koloni, sifat koloni, diameter koloni

dan warna khas bagian dasar koloni. Tiap macam koloni yang berbeda diberi kode

selanjutnya dilakukan isolasi terhadap tiap macam koloni kapang kontaminan

pada medium miring sampai diperoleh biakan murni.


33

5. Pembuatan Preparat dengan Metode slide culture

Pembuatan slide culture ini dilakukan untuk memudahkan pengamatan

mikroskopis tiap macam kapang dan lebih mudah dalam pengambilan gambar

mikroskopis. Langkah-langkah pembuatan preparat dengan metode slide culture

dijelaskan sebagai berikut:

a) Persiapan alat-alat

Selembar kertas tissue dilipat dan ditempatkan pada cawan petri, diatasnya

diletakan pipa U sebagai penyangga kaca benda. Setelah itu disterilkan dengan

oven kering pada suhu 150 0C.

b) Medium lempeng CA (Czapek Agar) dipotong dengan ukuran 1× 1 cm2 dengan

scapel steril, lalu diletakan di atas kaca benda yang ada dalam cawan petri

steril.

c) Biakan murni kapang diisolasikan pada potongan medium dengan

menggunakan jarum inokulasi, kemudian ditutup dengan kaca penutup.

d) Kertas tissue dibasahi dengan aquades steril. Kegiatan ini dilakukan secara

aseptik dalam entkas atau dalam Laminar Air Flow

e) Cawan petri yang berisi sediaan diinkubasi dalam inkubator pada suhu 250 C

selama 3 × 24 jam.

f) Apabila nampak ada pertumbuhan miselium, hifa, konidiofor, dan spora

konidia yang tumbuh pada tepi kaca penutup, maka kaca penutup dibuka.

g) Sediaan ditetesi dengan alkohol 96% tepat pada bagian yang ditumbuhi oleh

kapang, sedang potongan medium dibuang.

h) Kaca penutup direkatkan di atas kaca benda yang bersih dan telah ditetesi

dengan larutan lactophenol atau larutan lactophenol cotton blue.


34

i) Preparat kapang diamati dibawah mikroskop dan apabila preparat cukup baik

maka dapat dibuat preparat permanen dengan entelan, kemudian diberi label

nama kapang yang sesuai.

6. Pengamatan Mikroskopis

a) Pengamatan mikroskopis dilakukan dari preparat slide culture. Pengamatan ini

dilakuan terhadap ciri-ciri mikroskopis kapang, meliputi: hifa, konidiofor atau

sporangiofor,vesikula, metula, fialida, konidia, dan tipe pertumbuhan konidia.

b) Selain itu dilakukan juga pengukuran bagian-bagian tubuh kapang dengan

menggunakan mikrometer okuler.

7. Identifikasi kapang

Setelah diperoleh deskripsi mikroskopis dari tiap macam kapang kemudian

dilakukan pengidentifikasian. Identifikasi dilakukan secara deskriptif dengan

mendeskripsikan ciri-ciri morfologi dan mikroskopis tiap isolat kapang. Data dari

hasil pengamatan ciri-ciri morfologi dan mikroskopis ini ditulis dalam tabel,

selanjutnya pengamatan hasil deskripsi tersebut dirujuk pada buku identifikasi

“Introduction to Food Born Fungi” (Samson, 1981), “Illustrated Genera of

Imperfect Fungi” (Barnet dan Hunter, 1972), “Fungi and Spoilage”(Pitt dan

Hocking, 1985).

G. Tabulasi Data

Data yang diperoleh terdiri atas:

1. Jumlah Koloni Tiap Spesies Kapang

Jumlah koloni tiap spesies kapang pada tiap tingkat pengenceran dihitung

dan ditabulasikan dalam tabel.


35

2. Hasil Deskripsi Morfologi Koloni dan Hasil Pengamatan Mikroskopis

Hasil deskripsi morfologi koloni dan hasil pengamatan mikroskopis

dimasukan dalam lembar pengamatan Morfologi Koloni dan Pengamatan

Mikroskopis.

H. Analisis Data

1. Perhitungan Jumlah Koloni Tiap Spesies Kapang

a. Perhitungan koloni per gram sampel:

a. Mencari jumlah koloni kapang per gram sampel:

Jumlah koloni dihitung dengan rumus:

1
jumlah koloni kapang = jumlah koloni × × 10
pengenceran
a.1. Rumus diatas digunakan untuk setiap pengenceran dari 10-1 sampai 10-6

a.2. Hasil dari perhitungan dijumlahkan kemudian dihitung reratanya pada

setiap ulangan

a.3. Rerata dari tiap ulangan dijumlahkan kemudian direrata untuk

mendapatkan jumlah koloni kapang kontaminan.

b. Mencari jumlah spesies kapang kontaminan dominan

1
jumlah koloni tiap spesies kapang = jumlah spesies × × 10
pengenceran
b.1. Rumus diatas digunakan untuk menghitung setiap spesies kapang

kontaminan yang ditemukan.

b.2. Hasil dari perhitungan dijumlahkan kemudian dihitung rerata pada tiap

ulangan.
36

b.3. Rerata dari tiap ulangan dijumlahkan kemudian direrata untuk

mendapatkan jumlah koloni kapang kontaminan setiap spesies.

b.4. Rerata jumlah koloni kapang tersebut diurutkan dari nilai terbesar

sampai terkecil untuk mengetahui jumlah koloni kapang kontaminan

dominan pada biji kacang hijau yang dijual di pasar besar Kota Batu.

2. Penentuan Spesies Kapang yang Dominan pada Biji Kacang Hijau

Jenis kapang ditentukan dari hasil perhitungan jumlah koloni kapang yang

paling banyak ditemukan dalam sampel selama penelitian berlangsung. Data dari

hasil perhitungan jumlah koloni kapang menurut spesiesnya ditabulasikan dan

diurutkan dari jumlah terbesar hingga jumlah terkecil, sehingga dapat diketahui

spesies kapang kontaminan yang paling dominan dalam sampel biji kacang hijau

yang diperiksa.

Anda mungkin juga menyukai