Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

“Moral Akhir Hidup”

Disusun Oleh :
Kelompok 5
1. Gregorian Antonius Manek (2120 31357)
2. Agnes Sri Wahyuni (2120 31336)
3. Jennie Bernadeth (2120 31359)
4. Maximiliano Adriman (1120 31337)
5. Claudius Ferrel (2120 31362)
6. Caroline Nugroho ()

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


YAYASAN KELUARGA PAHLAWAN NEGARA
2020 / 2021

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmatnya kami boleh diberikan kesempatan untuk menyelesaikan
tugas makalah kami dengan tema yang secara khusus membahas tentang manusia
dan akhir hidup.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada ibu winda selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan segala bentuk arahan, masukan, dan nasihat
yang berkaitan dengan pembuatan makalah, sehingga pekerjaan kami boleh
terselesaikan dengan baik.
Kami tahu bahwa pekerjaan kami ini jauh dari kata sempurna, oleh karena
itu kami sangat mengharapkan masukan-masukan yang membangun.

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................1
KATA PENGANTAR...............................................................................................2
DAFTAR ISI.............................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................5
1.3 Manfaat Penulisan...............................................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Hukuman Mati.....................................................................................................6
2.1.1 Pengertian................................................................................................... 6
2.1.2 Jenis Atau Metode Hukuman Mati...............................................................6
2.1.3 Pandangan Gereja Mengenai Hukuman Mati............................................. 6
2.2 Bunuh Diri..........................................................................................................8
2.2.1 Pengertian.....................................................................................................8
2.2.2 Ciri-Ciri Orang Ingin Melakukan Bunuh Diri............................................ 8
2.2.3 Cara Mengatasi Keinginan Orang Yang Mau Bunuh Diri.........................10
2.2.4 Pandangan Gereja Terhadap Tindakan Bunuh Diri....................................11
2.3 Euthanasia..........................................................................................................13
2.3.1 Pengertian...................................................................................................13
2.3.2 Jenis-Jenis Euthanasia................................................................................13
2.3.3 Alasan Orang Melakukan Euthanasia........................................................14
2.3.4 Pandangan Gereja Tentang Euthanasia......................................................15
BAB III REFLEKSI MATERI
3.1 Refleksi..............................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................18

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dan kematian adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kita
manusia tidak bisa mengharapkan untuk hidup selamanya, sebab pada saat tertentu
siap atau tidak kematian pasti datang kepada kita. Kematian merupakan bagian
yang tidak terlepas dari kehidupan manusia.Kematian merupakan fakta hidup,
setiap manusia di dunia pasti akan mati. Kematian tidak hanya dialami oleh kaum
lanjut usia, tapi juga oleh orang- orang yang masih muda, anak- anak bahkan bayi.
Seseorang dapat meninggal karena sakit, usia lanjut, kecelakaan dan sebagainya.
Jika seseorang meninggal dunia, peristiwa kematian tersebut tidak hanya
melibatkan dirinya sendiri namun juga melibatkan orang lain, yaitu orang – orang
yang ditinggalkannya, kematian dapat menimbulkan penderitaan bagi orang- orang
yang mencintai orang tersebut.
Kematian merupakan hal yang biologis, tetapi hal ini juga memiliki aspek
sosial-budaya, agama, hukum, psikologis, perkembangan, medis dan etika.
(Papalia, 2009: 452). Dari sebab inilah oleh setiap orang kematian dipandang
dengan cara yang berbeda-beda. Definisi kematian menurut beberapa budaya
berbeda-beda; misalnya yang terjadi di Jepang, ritual keagamaan mendorong
mereka untuk mempertahankan hubungan dengan yang sudah meninggal.
Sementara kaum Hopi (penduduk asli Amerika) yang takut akan kehadiran roh
orang yang sudah meninggal memilih untuk melupakan orang yang meninggal
cepat-cepat (Papalia, 2009: 253). Begitu pula dengan agama, dalam agama
seseorang bukan hanya belajar tentang nilai-nilai namun juga konsep hidup dan
kematian.
Agama Katolik juga memiliki pandangan tersendiri tentang kematian.
Agama Katolik memandang kematian sebagai akhir dari perziarahan menusia di
dunia (KGK 1013). Menurut Listiati (2009) jiwa orang yang meninggal akan
masuk surga (jika ia sempurna), masuk neraka (jika ia meninggal dalam keadaan
berdosa berat), atau masuk Api Penyucian (jika ia meninggal dalam keadaan
berdamai dengan Allah, namun masih harus dimurnikan terlebih dahulu). Jiwa-
jiwa di Api Pencucian akan menunggu saat Tuhan Yesus datang kedua kalinya,
yaitu pada saat akhir zaman (lih. Luk 8:17; Mat 25:32-33).
Kematian yang akan kita hadapi dapat disebabkan oleh banyak hal, baik
pengaruh dari luar diri atau pun karena keinginan sendiri. Ada tiga hal yang

4
dibahas berkaitan dengan kematian yaitu bunuh diri, Euthanasia, dan hukuman
mati. Ketiganya memiliki kesamaan yakni orang tersebut sudah tahu kapan dia
akan mati dan bagaimana dia akan mati. Atau dengan kata lain manusia sendiri
yang merencanakan kematian mereka sendiri. Dan pastinya hal tersebut akan
menimbulkan kontroversi dalam masyarakat. Ada banyak contoh kasus yang
berkaitan salah satunya kasus Amrozi bin Nurhasyim (biasa dipanggil Amrozi;
lahir di Lamongan, 5 Juli 1962–meninggal di Nusa Kambangan, 9 November 2008
pada umur 46 tahun) adalah seorang terpidana yang dihukum mati karena menjadi
penggerak utama dalam Peristiwa Bom Bali 2002.

2.1 Rumusan Masalah


Berdasarkan urain di atas, maka perlu dibuat suatu rumusan masalah.
Diharapkan dari rumusan masalah dapat menjadi wadah kerangka yang jelas
sehingga tidak melenceng dari tujuan awal. Adapun rumusan masalah yang ingin
kami cari yaitu :
 Hal dasar yang menyebabkan seseorang mau mengakhiri hidupnya sendiri
dan juga orang disekitarnya.

3.1 Manfaat Penulisan


Diharapkan setelah membaca makalah ini, khalayak umum dapat:
 Menyadari bahwa kehidupan dan kematian hanya Allah sendiri yang dapat
merencanakannya.
 Memahami bawasanya kehidupan adalah anugerah terindah dari Allah.

5
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 HUKUMAN MATI
2.1.1 Pengertian Hukuman Mati.
2.1.1.1Secara umum:
Hukuman mati adalah suatu hukuman atau vonis yang dijatuhkan
pengadilan (atau tanpa pengadilan) sebagai bentuk hukuman terberat
yang dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatannya. 
2.1.1.2 Menurut ajaran gereja:
Gereja mengajarkan bahwa hukuman mati diperbolehkan hanya
apabila"identitas dan tanggung-jawab pihak yang bersalah telah
dipastikan sepenuhnya" dan apabila hukuman mati tersebut adalah satu-
satunya jalan untuk melindungi pihak-pihak lain dari kejahatan pihak
yang bersalah ini.
2.1.2 Jenis Atau Metode Hukuman Mati
a. Hukuman Pancung merupakan hukuman dengan cara potong kepala.
b. Hukuman Rajam merupakan hukuman dengan cara dilempari batu hingga
mati.
c. Hukuman sengatan Listrik merupakan hukuman dengan cara duduk di
kursi yang kemudian dialiri listrik bertegangan tinggi.
d. Hukuman gantung merupakan hukuman dengan cara digantung di tiang
gantungan.
e. Hukuman suntik mati merupakan hukuman dengan cara disuntik obat
yang dapat membunuh.
f. Hukuman Tembak merupakan hukuman dengan cara menembak jantung
seseorang, biasanya pada hukuman ini terpidana harus menutup mata
untuk tidak melihat.
2.1.3 Pandangan Gereja Mengenai Hukuman Mati
2.1.3.1 Kutipan dari jaman lampau ketika Gereja Katolik menerima hukuman
mati.
a. Surat Paus Innocensius III kpeada Uskup Agung Tarragonta, mengenai
rumus pengakuan iman yang diwajibkan bagi para pengikut P. Waldo.
Pada tahun 1210 dikatakan, “Kuasa sipil dapat, tanpa dosa berat,

6
melaksanakan pengadilan asalkan mengadili dengan adil, tidak karena
benci, dengan arif, tidak tergesa-gesa”.
b. Katekismus Romawi yang diterbitkan berdasarkan dekret Konsili
Trente (1566) : Bentuk lain kematian sah merupakan wewenang
otoritas sipil yang diserahi kuasa atas hidup dan mati; dengan
pelaksanaan legal dan yudisial mereka menghukum orang bersalah dan
melindungi orang tak bersalah.
2.1.3.2 Kutipan dari ajaran Gereja yang paling baru mengenai hukuman mati :
mulai dengan menerima dengan syarat sampai menolak.
Katekismus Gereja Katolik (11 Agustus 1992) menyatakan : Untuk
menjaga kepentingan umum masyarakat diperlukanupaya untuk
membuat penyerang tak mampu merugikan.Karena itu ajaran tradisional
Gereja mengakui dan mendasari hak dan kewajiban otoritas publik yang
legitim untuk menghukum penjahat dengan hukuman yang setimpal
dengan beratnya kejahatan,tak terkecuali dalam kasus yang amat
berat,hukuman mati. 
2.1.3.3 Dasar biblis kitab suci tentang Hukuman Mati.
Allah adalah yang menetapkan hukuman mati: “Siapa yang
menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia,
sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri”
(Kejadian 9:6). Yesus akan bersetuju hukuman mati dalam perkara-
perkara lain.
2.1.3.4 Ensiklik Paus Yohanes Paulus II “Evangelium Vitae” No 55-57
(25 Maret 1995)
Dalam ensiklik Evangelium Vitae yang diterbitkan tahun 1995, Paus
Yohanes Paulus II menghapuskan status persyaratan untuk keamanan
publik dari hukuman mati ini dan menyatakan bahwa, dalam masyarakat
modern saat ini, hukuman mati tidak dapat didukung keberadaannya.
Berikut kutipannya: “Jelaslah bahwa untuk pencapaian tujuan ini
(=melindungi masyarakat), hakikat dan lingkup hukuman harus dinilai
dan diputuskan dengan seksama, dan tak perlu terlalu jauh sampai
melaksanakan eksekusi mati bagi pelanggar kecuali dalam kasus-kasus
yang mutlak perlu; dengan kata lain, bila mustahil dengan cara lain
melindungi masyrakat. Namun dewasa ini sebagai hasil perbaikan terus-
menerus dalam penataan sistem pidana, kasus demikian amat jarang,

7
kalau tidak praktis tidak ada” (No 56). Dengan demikian Gereja Katolik
tidak mendukung hukuman mati.

2.2 BUNUH DIRI


2.2.1 Pengertian
Bunuh diri (bahasa Inggris: suicide, berasal dari kata Latin suicidium,
dari sui caedere, "membunuh diri sendiri") adalah sebuah tindakan sengaja
yang menyebabkan kematian diri sendiri.

2.2.2 Ciri-Ciri Seseorang Ingin Melakukan Bunuh Diri


1. Membicarakan keinginan bunuh diri

Perhatikan, jika seseorang berbicara mengenai:

 Keinginan untuk bunuh diri atau mengakhiri hidup


 Membicarakan kematian; ingin pergi jauh/selama-lamanya
 Merasa tidak ada harapan; putus asa
 Tidak ada alasan untuk hidup
 Merasa menjadi beban bagi orang lain
 Merasa terjebak
 Merasa tidak kuat menahan sakit

2. Membenci dan menghujat diri sendiri

Perhatikan jika seseorang terus-menerus mengeluarkan perasaan


negatif terhadap diri sendiri, seperti:

 Malu
 Merasa bersalah
 Hancur, rusak, atau ternoda
 Tidak berguna
 Kesepian atau sendirian
 Menjadi beban bagi orang lain

8
3. Mencari cara untuk bunuh diri

Perhatikan jika seseorang tampak merencanakan untuk bunuh diri atau


mencari cara untuk bunuh diri, seperti:

 Mencari akses terhadap senjata tajam, senjata api, atau racun


mematikan.
 Mencari tempat tinggi yang dapat digunakan untuk percobaan bunuh
diri.
 Mencari cara bunuh diri yang paling cepat atau tidak menyakitkan,
terutama di internet

4. Mengatur segala hal untuk ditinggalkan

Perhatikan jika seseorang melakukan hal-hal seperti ini:

 Menulis surat pribadi yang mengandung pesan tersirat, atau langsung


menulis surat bunuh diri atau surat wasiat.
 Menjual atau memberikan benda-benda kesayangan, koleksian, atau
yang berharga kepada orang lain.
 Mengatur sendiri proses kematiannya, seperti memesan lahan makam
atau membeli peti mati, dengan atau tanpa sepengetahuan orang-orang
di sekitarnya.

5. Mengucapkan perpisahan

Perhatikan jika seseorang meninggalkan pesan perpisahan kepada


orang-orang yang disayanginya, dengan memberikan kesan seolah-olah ia
tidak akan bertemu lagi,seperti:

 Mengatur untuk bertamu atau mengadakan pertemuan secara mendadak


untuk mengucapkan perpisahan.
 Menelepon pesan-pesan perpisahan kepada orang yang dianggap
berharga.
 Mengucapkan perpisahan di akun media sosial
 Menghapus profil atau akun media sosial secara tiba-tiba
 Menulis surat bunuh diri

9
6. Menarik diri dari orang lain

Hal-hal yang berkaitan ketika seseorang:

 Menarik diri dari orang lain (perlahan-lahan atau tiba-tiba)


 Tidak aktif secara mendadak dalam lingkaran pertemanan, organisasi,
atau komunitas
 Meningkatnya keinginan untuk menyendiri
 Menolak atau menghindar untuk dihubungi
 Berhenti atau kehilangan semangat dari hobinya

7. Perilaku merusak diri sendiri

Perhatikan jika seseorang:

 Menggunakan narkoba atau menyalahgunakan zat adiktif lainnya


 Menjadi peminum alkohol secara berlebihan atau pemabuk
 Melukai diri sendiri (self-harm)
 Sengaja melakukan tindakan berbahaya atau sembrono

8. Perubahan fisik dan mood yang drastis

Perhatikan jika seseorang memiliki gejala seperti:

 Menjadi agresif; mudah marah


 Merasa lelah atau letih terus-menerus
 Menangis tiba-tiba
 Depresi
 Mudah cemas
 Kehilangan semangat hidup
 Mudah terluka perasaannya
 Perasaan yang berubah drastis dalam waktu cepat (mood swing)
 Perubahan penampilan yang mendadak/drastis

2.2.3 Cara Mengatasi Keinginan Orang Yang Mau Bunuh Diri

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi Perawatan


orang yang memiliki keinginan bunuh diri. Biasanya tergantung pada
penyebab yang mendasari pemikiran mengakhiri hidup. Namun dalam
banyak kasus, pemikiran bunuh diri biasanya diatasi dengan cara berikut.

10
1. Terapi bicara
Terapi bicara atau psikoterapi dalah salah satu metode pengobatan
yang memungkinkan untuk menurunkan risiko pasien mencoba bunuh
diri. Terapi yang diberikan biasanya berupa Cognitive behavioral therapy
(CBT), yang bertujuan untuk mengajari pasien cara mengatasi berbagai
peristiwa dan emosi yang berkontribusi pada pikiran dan perilaku bunuh
diri. Terapi ini juga membantu pasien untuk mengganti pemikiran negatif
dengan positif sehingga kembali bisa merasakan kepuasan dalam hidup.
2. Pemberian obat
Jika terapi bicara tidak cukup untuk mengatasi keinginan bunuh diri,
profesional kesehatan mental bisa memberikan obat untuk meredakan
gejala seperti depresi dan kecemasan. Mengobati gejala-gejala ini dapat
membantu mengurangi atau menghilangkan pikiran untuk bunuh diri.
Berikut obat-obatan yang bisa diberikan untuk mengatasi keinginn bunuh
diri: antidepresan obat anti-psikotik obat anti-kecemasan.
3. Perubahan gaya hidup

Selain terapi bicara dan pengobatan, risiko bunuh diri kadang-kadang


dapat dikurangi hanya dengan mengadopsi kebiasaan sehat, seperti:
menghindari alkohol dan narkoba olahraga teratur tidur yang cukup.

2.2.4 Pandangan Gereja Terhadap Tindakan Bunuh Diri

2.2.4.1 Dasar Alkitab

Bunuh adalah suatu hal yang bertentangan dengan hukum taurat/10


perintah Allah, khususnya hukum yang kelima. Di dalam hukum yang
kelima berbunyi “Jangan Membunuh” dalam hukum ini mengandung
arti tidak hanya membunuh sesama manusia tetapi juga tidak
membunuh diri sendiri yang dalam hal ini adalah bunuh diri.
Dalam perjanjian baru, bunuh diri juga bertentangan dengan hukum
kasih yang diajarkan Yesus Kristus sendiri yaitu Kasih kepada Allah
dan Kasih kepada sesama manusia seperti diri sendiri. Kata “seperti diri
sendiri” mengandung arti untuk juga menjaga diri kita sendiri, hukum
kasih yang diajarkan Yesus tidak hanya berarti untuk orang lain tetapi
juga diri kita sendiri. Jika melakukan bunuh diri maka orang tersebut

11
melanggar hukum kasih dimana kita juga harus mencintai diri kita
sendiri.
Alkitab memandang kasus bunuh diri sama bobotnya dengan
pembunuhan, karena itulah kenyataannya,-Pembunuhan diri.Allah
hanyalah satu-satunya yang boleh memutuskan waktu dan dengan cara
apa seseorang akan meninggal. Seperti yang tertulis dalam Mazmur
31:15, “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu.”
Allah adalah pemberi kehidupan. Ia memberi, dan Ia mengambilnya
kembali (Ayub 1:21). Bunuh diri adalah bentuk pembunuhan kepada
diri sendiri, menjadi tindakan durhaka, karena hal itu menjadi bentuk
penolakan manusia atas karunia kehidupan dari Allah. Tidak satupun,
pria ataupun wanita, diperbolehkan mengambil alih otoritas Allah dan
Mengakhiri kehidupan pribadi mereka. Jadi, menurut Alkitab, bunuh
diri adalah dosa. Bunuh diri tentunya berdampak buruk bagi mereka
yang ditinggalkan. Bekas luka batin yang disebabkan seseorang yang
bunuh diri bisa pulih dengan waktu yang lama.

2.2.4.2 Ensiklik Paus

a. Pacem In Terris (1963)


Hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki oleh manusia, dan hak ini
bukan diberikan kepada orang lain tetapi hak asasi ini diterima dari
sang pencipta. Karena itu manusia dituntut untuk menghormatinya
secara wajar. Bunuh diri merupakan tindakan yang tidak menghormati
kehidupan dan merupakan salah satu dosa karena merebut hak Allah
atas kehidupan dan kematian.

b. Donum Vitae (1987)


Dalam dokumen gereja Donum Vitae menjelaskan bahwa hidup
manusia adalah suci sebab sejak permulaan sudah menyangkkut karya
penciptaan Allah dan akan tetap demikian selamanya dalam hubungan
yang khusus dengan Sang Pencipta yang adalah tujuan satu-satunya
hidup manusia.

c. Evangelium Vitae (1995)


Dalam ensiklik ini menjelaskan inti ajaran Katolik mengenai martabat
hidup pribadi manusia yaitu “Manusia diberi martabat yang sangat
luhur, berdasarkan ikatan mesra yang mempersatukannya dengan Sang
Pencipta: dalam diri manusia terpancar gambar Allah sendiri dan hidup
itu selalu merupakan sebuah harta yang tak ternilai.
12
d. Dignitas Personae (2008)
Dokumen ini hadir untuk menegaskan kembali Donum Vitae dan
Evangelium Vitae. Manusia harus dihormati dan diperlakukan sebagai
pribadi sejak saat pertumbuhan, dan karena itu dari saat yang sama hak-
haknya sebagai seseorang harus diakui, di antaranya di tempat pertama
adalah hak tak tergoyahkan dari setiap makhluk tak berdosa yang
hidup. Martabat seseorang harus diakui di setiap manusia dari konsepsi
hingga kematian alami.

2.3 EUTHANASIA

2.3.1 Pengertian
a. Secara umum
Eutanasia (dari bahasa Yunani: ευθανασία -ευ, eu yang artinya "baik",
dan θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah praktik pencabutan
kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak
menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal,
biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.
b. Menurut para ahli
I. Philo Euthanasia berarti mati dengan tenang dan baik.
II. Djoko Prakoso dan Djaman Adhi Nirwanto. Euthanasia adalah suatu
kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan
pertolongan dokter.
III. Suetonis Penulis romawi dalam bukunya yang berjudul “Vita
Ceasarum” mengatakan bahwa Euthanasia berarti mati cepat tanpa
derita.

2.3.2 Jenis-Jenis Euthanasia


Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam beberapa kelompok
antara lain:
a. Euthanasia aktif
Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh
dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara
medis. Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja
cepat dan mematikan.Euthanasia aktif terbagi menjadi dua golongan:

13
I. Euthanasia aktif langsung, yaitu cara pengakhiran kehidupan melalui
tindakan medis yang diperhitungkan akan langsung mengakhiri hidup
pasien. Misalnya dengan memberi tablet sianida atau suntikan zat yang
segera mematikan.
II. Euthanasia aktif tidak langsung, yang menunjukkan bahwa tindakan
medis yang dilakukan tidak akan langsung mengakhiri hidup pasien,
tetapi diketahui bahwa risiko tindakan tersebut dapat mengakhiri hidup
pasien. Misalnya, mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya.

b. Euthanasia pasif
Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala
tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup
manusia, sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan
pertolongan dihentikan.

c. Euthanasia volunter
Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau
mempercepat kematian atas permintaan sendiri.

d. Euthanasia involunter
Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada
pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk
menyampaikan keinginannya.Dalam hal ini dianggap famili pasien yang
bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. Perbuatan ini
sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal.

2.3.3 Alasan Orang Melakukan Euthanasia


a. Keputusan atau persetujuan itu dilakukan dengan tujuan untuk
mengakhiri rasa sakit secara fisik dan psikologis yang tak tertahankan
pada pasien dengan penyakit tak tersembuhkan.
b. Bahwa manusia tidak boleh dan tidak seharusnya dipaksa untuk tetap
hidup.
c. bahwa euthanasia dapat menjadi jalan keluar yang dikarenakan
ketidakmampuan untuk membayar biaya kesehatan.
d. “Mati adalah hak” itulah yang sering diteriakkan oleh orang-orang pro
euthanasia.

14
2.3.4 Pandangan Gereja Tentang Euthanasia
Sejak awal Gereja sangat menghargai martabat manusia. Gereja hidup
berdasar pada Sabda Tuhan.Tuhan bersabda “janganlah membunuh” (Kel
21:13). Dibalik perintah ini terkandung cinta Tuhan yang mendalam pada
manusia dan penghormatan yang tinggi terhadap hidup manusia.  Yesus
sendiri menegaskan supaya hidup saling mengasihi. “ Inilah perintahKu,
yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”
(Yoh 15:12). Apabila seseorang mengalami cinta Tuhan maka dia akan
mampu hidup dalam cinta dan mengasihi sesamanya.

Pastor Hermas (sekitar abad I) melawan tindakan bunuh diri karena


melawan kehidupan yang diberikan oleh Allah sendiri. Pandangan ini juga
berkembang dalam pemikiran Santo Yustinus Martir (sekitar abad II) yang
mendasarkan pemikirannya pada Kitab Suci bahwa manusia adalah milik
Allah seutuhnya.  Selain itu, St. Agustinus (abad IV) menolak secara tegas
tindakan bunuh diri yang melawan cinta Allah dalam hidup  manusia (Kej
1). Hidup manusia adalah pemberian Allah. Allah menciptakan manusia
secitra dengan-Nya. Oleh karena itu, hidup perlu dijunjung tinggi. St.
Thomas Aquinas (abad XII), juga melihat tindakan bunuh diri adalah
kekerasan terhadap cinta Allah. Manusia menjauhi kasih Allah dalam
hidupnya.

Paus Pius XII memberikan tanggapan atas tindakan eutanasia yang


dilakukan secara sistematis pada masa kekuasaan Nazi dalam
ensiklik Mystici Corporis pada 20 Juli 1943.  Selanjutnya Paus menanggapi
“eugenic euthanasia”, mengatakan bahwa eutanasia merupakan tindakan
kekerasan melawan Allah. Peristiwa ini sungguh  mengerikan pada Perang
Dunia II dan pembantaian hebat yang dilakukan oleh Hitler terhadap orang-
orang Yahudi. Paus melontarkan pemikirannya dengan mengutip Kitab Suci
mengenai Kain yang membunuh Habel, adiknya (Kej 4:10).  Paus
mengedepankan keluhuran tubuh manusia yang harus dihormati.  

Konsili Vatikan II (1965) prihatin akan adanya bahaya yang


mengancam kehidupan manusia yang akan datang dengan perkembangan
metode eutanasia (GS art. 27). Keprihatinan Gereja semakin mendalam
ketika melihat adanya gerakkan yang kuat untuk terus melegalkan eutanasia.
Sebagai reaksi atas situasi ini, Kongregasi untuk Ajaran Iman mengeluarkan

15
deklarasi tentang eutanasia pada 5 Mei 1980. Kongrasi mengajak umat untuk
memperhatikan hidup manusia. Hidup manusia itu sangat bernilai.
Paus Paulus VI, memberi Amanat kepada Sidang Umum PBB, 4
Oktober 1965, “kemajuan teknik dan dan ilmu manusia yang canggih tetap
memperhatikan pengabdian pada manusia. Maka intervensi untuk
memperjuangkan nilai-nilai dan hak-hak pribadi manusia harus dijaga.
Orientasi dan pemikiran yang jernih untuk menolong kehidupan manusia
pertama-tama mengalir dari semua kaum beriman kristiani dan juga kepada
mereka yang mengakui perutusan Gereja, yang ahli dalam kemanusiaan,
dalam pengabdian cintakasih dan kehidupan” (Lihat, Kotbah Misa
Penutupan tahun Suci, 25 Desember 1975).  

Paus Yohanes Paulus II menerbitkan ensiklik Evangelium Vitae(EV) 25


Maret  1995. Dalam EV. art. 15 Paus menyatakan bahwa eutanasia dapat
menjadi ancaman hidup yang serius bagi manusia. Paus tidak setuju dengan
eutanasia bahkan karena alasan belaskasihan bagi pasien yang mengalami
penderitaan atau cacat atau mengalami sakratulmaut. Selanjutnya Paus
menandaskan bahwa “eutanasia merupakan pelanggaran berat terhadap
hukum ilahi, apabila tindakan itu berupa pembunuhan sengaja terhadap
seorang manusia” (EV. art.65). Beberapa pendapat yang dilontarkan
menunjukkan bahwa Gereja prihatin dan mendorong umat manusia untuk
sungguh-sungguh menghargai kehidupan manusia, terutama mereka yang
tidak berdaya lagi karena penderitaan mereka. Perhatian tersebut diwujudkan
melalui seruan untuk menghentikan praktek eutanasia dan juga
mengupayakan pelayanan yang memberi kenyamanan bagi para penderita.

16
BAB 3
REFLEKSI MATERI

3.1 Refleksi
Kematian memang bagi banyak orang adalah hal yang menakutkan dan
mungkin hal yang paling tidak diharapkan. Perkataan kematian dapat
membawa pikiran kita kepada liang kubur, atau tubuh kita akan membusuk dan
berubah menjadi abu ataupun debu tanah.Dalam kehidupan ini kita bertumbuh,
berjuang dalam suka dan duka. Namun semua ada waktunya, semua ada
akhirnya.  Nafas akan berhenti, umur kita tergenapi. Segalanya akan habis,
barang apapun yang kita punyai di dunia ini tak ada sedikitpun yang dapat kita
bawa. Semuanya berakhir, hanya jiwa kita saja yang masih hidup, dan
menghadap kepada Tuhan, dengan membawa iman, pengharapan dan kasih. 
Perihal kecemasan itu perlu kita ketahui sebagai para pengikut Tuhan
bahwa kematian adalah sesuatu yang alami dan kita manusia tidak tahu kapan
itu akan datang kepada kita, sebab kehidupan dan kematian kita sudah
direncanakan oleh Allah sendiri bahkan sebelum kita manusia dijadikan. Allah
yang memberikan segala hal kepada kita dan hanya Allah saja yang bisa
mengambilnya dari kita. Oleh karena itu, tugas kita adalah  melihat, mana yang
penting bagi kehidupan kita selanjutnya di surga, dan melakukannya. Kita
harus semakin bijaksana menggunakan waktu yang ada, untuk semakin
mengenal, mengasihi dan memuliakan Tuhan. Sebab Dia-lah yang akan kita
jumpai setelah kehidupan ini. Dia-lah yang merupakan segala-galanya bagi
kita, dan yang menjadi sumber dan puncak  kebahagiaan kita yang sejati dan
kekal selamanya.
Melihat hal-hal yang kami sampaikan berkaitan dengan Euthanasia,
Bunuh Diri, Hukuman Mati, diatas dengan melihat juga dari sisi Gereja,sangat
tidak mulialah bawasannya kematian yang seharusnya adalah hak Allah
diambil oleh manusia. Kita manusia hanya ditugaskan oleh Allah untuk
merawat kehidupan dan alam sekitar kita. Sebab kehidupan adalah anugerah
terindah yang diberikan oleh Allah dan sudah sepantasnya kita menjaganya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Artikel,(2020). Memahami Orang yang Ingin Bunuh Diri: Tanda dan cara
mengatasinya.diunduh tanggal 15 Desember 2020 dari :
https://health.kompas.com/read/2020/08/01/120400768/memahami-orang-
yang-ingin-bunuh-diri--tanda-dan-cara-mengatasinya?page=all.

Artikel,(2018).diunduh tanggal 28 November 2020 dari :


https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/tanda-peringatan-bunuh-diri/

Margareth,Ronauli.(2019).Blog. diunduh tanggal 05 Desember 2020 dari :

https://www.tagar.id/tujuh-jenis-hukuman-mati-masih-berlaku-saat-ini
Artikel,(2013). Macam-macam Euthanasia. diunduh tanggal 10 Desember 2020
dari :
https://satriabajahikam.blogspot.com/2013/04/macam-macam-
euthanasia.html
Artikel,diunduh tanggal 10 Desember 2020 dari :
https://www.carmelia.net/index.php/artikel/tanya-jawab-iman/2738-
eutanasia-dalam-pandangan-gereja-katolik

18