Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH TENTANG PHILOSOPHY OR THEORY OF SCIENCE

A. PENDAHULUAN

Pada perkembangan zaman abad ke 17 dimana pemahaman dan memahami menjadi


dasar konsep-konsep pemikiran filsuf. Seiring dengan kemunculan berbagai aliran baik
aliran Rasionalisme, Empirisme, Positivistik dan beberapa aliran lainnya. Hingga
melahirkan filsuf-filsuf dengan pembaharuan pemikiran filsafat dengan prinsip-prinsip
yang dipegang teguh masing-masing. Kehadiran sains sangat diterima dengan baik waktu
itu.

Filsafat lama-kelamaan menghilang pada zaman itu dikarenakan adanya kesepakatan


oleh kelompok filsuf bahwa spekulasi di atas alam semesta telah digantikan oleh sains.
Sehingga filsafat tidak memiliki tempat penting di dalam filsafat. Kemudian kembalinya
penemuan Immanuel Kant pada abad 19 dengan membawa terobosan baru ke dunia
filsafat.1 Dimana pandangan sempit mengenai filsafat pun menjadi terbuka dan filsafat
kembali diterima ke dalam tempatnya sendiri. Hans Georg Gadamer merupakan salah
satu filsuf yang terkenal dengan teori hermeneutikanya dan mengkritik pemikiran filsuf
terdahulu. Gadamer mencoba mencari tahu keterkaitan antara filsafat dan sains dengan
prinsip hermeneutika yang dipegangnya..

Bagaimana dan sejauh mana pemikiran Gadamer mengenai hubungan antara filsafat
dan sain yang didapatkan. Penulis akan mencoba mentelaah dan mengkaji “Philosophy or
Theory of Science” secara singkat dalam pemikiran Hans Georg Gadamer dalam buku
Reason in the Age of Science.

B. PEMBAHASAN
1. Biografi Hans Georg Gadamer
Hans-Georg Gadamer lahir pada tanggal 11 Februari 1900 dan dibesarkan di
Marburg, kota di bagian selatan Jerman. Dia seorang filsuf kebangsaan Jerman yang
terkenal dengan karya Truth and Method. Gadamer berasal dari keluarga dengan latar
belakang protestan tetapi agama tidak memiliki peran penting dalam imannya. Setelah
Gadamer menamatkan pendidikan dasar dan menengahnya di Hily Gost School dari
tahun 1907 sampai dengan 1918. Ayahnya mengenalkan ilmu-ilmu lebih baik
daripada humanoria dan menginginkan Gadamer mengikuti jejaknya sebagai ilmuwan

Hans-Georg Gadamer, “Philoshophy or Theory of Science?”, dalam Reason in the Age of Science,
1

translated by Frederick G. Lawrence, (Cambridge : MIT Press, 1998) hlm. 151


eksak. Namun Gadamer memiliki minat yang berbeda dengan ayahnya dan tertarik
mempelajari ilmu-ilmu humaniora khususnya sastra dan filologi. Gadamer memulai
studinya di perguruan tinggi pada tahun 1918 di Universitas Breslau.2
Khawatir dengan masa depan anaknya, Johannes, ayah Gadamer, menulis surat
kepada Martin Heidegger yang pernah menjadi guru Gadamer. Heidegger menjamin
bahwa Gadamer adalah filosof yang hebat dan akan menemukan posisi yang penting.
Selanjutnya, hubungan antara Gadamer dengan Heidegger berkembang menjadi relasi
yang kompleks. Pernah menjadi mahasiswanya sekaligus menjadi pembimbing bagi
Gadamer dalam penulisan habilitation (karya ilmiah setelah disertasi) untuk
mendapatkan posisi di universitas. Karya yang ditulis dengan bimbingan Heidegger
kemudian diterbitkan, setelah mengalami perbaikan, dengan judul Plato’s Dialectical
Ethics: Phenomenological Interpretations Relating to the Philebus. Dengan karya
tersebut Gadamer menjadi dosen privat yang berhak mengajar di universitas.
Gadamer wafat pada tanggal 13 Maret 2002 di Rumah Sakit Universitas Heidelberg.3

2. Karya-karya Gadamer
Beberapa karya-karya Gadamer yang ditulis dalam bahasa Inggris antara lain:4
1) Truth and Method (1960)
2) Hegel’s Dialectic : Five Hermeneutic Studies (1976)
3) Philosophical Hermeneutics (1976)
4) Dialogue and Dialectic : Eight Hermeneutical Studies on Plato (1980)
5) Reason in the Age of Science (1982)
6) The Idea of the Good in Platonic-Aristotelian Philosophy (1986)
7) The Relevance of the Beautiful and Other Essays (1986)
8) Hans-Georg Gadamer on Education, poetry and History : Applied Hermeneutic
(1992)
9) Literature and Philosophy in Dialogue : Essays in German Literary Theory
(1992)
10) Heidegger’s Ways (1994)

2
Inyiak Ridwan Muzir, “Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer”, (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media), cet. 4, 2014, hlm. 37-40

3
Ibid., hlm. 42-46

4
M. Alfatih Suryadilaga, Hermeneutik Filosofis Gadamer Dalam Studi Agama, Jurnal Religi Vol. 1,
No. 2, Juli 2002

2
11) The Enigma of Health : The Art of Healing in a Scientific Age (1996)

Di antara beberapa karya, buku Truth and Method (Kebenaran dan Metode)
paling terkenal dan merupakan karya besar Gadamer yang mengantarkannya menjadi
filsuf ternama. Buku ini menguraikan pokok-pokok pikirannya tentang hermeneutika
filosofis yang tidak hanya berkaitan dengan teks, melainkan obyek ilmu dalam
lingkup yang disebut oleh Gadamer sebagai Geisteswissenschaften sebagaimana yang
berkembang dalam tradisi intelektual Jerman.5 Selain itu, Gadamer dan Jurgen
Habermas terlibat dalam perdebatannya yang terkenal mengenai kemungkinan dalam
mentransendensikan sejarah dan kebudayaan guna menemukan posisi yang benar-
benar obyektif yang daripadanya orang dapat mengkritik masyarakat. Perdebatan ini
tidak menemukan kesimpulannya, tetapi merupakan awal dari hubungan yang hangat
antara kedua orang ini di dalam karya tersebut.6

3. Pengertian Hermeneutika
Secara etimologis, kata ‘hermeneutik’ atau ‘hermeneutika’ berasal dari bahasa
Inggris hermeneutics. Kata hermeneutics sendiri berasal dari bahasa Yunani
hermeneuo yang berarti ‘mengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata’
atau hermeneuein yang berarti ‘menafsirkan’ dan hermeneia yang berarti ‘penafsiran’.
Kata hermeneuo juga bermakna ‘menerjemahkan’ atau ‘bertindak sebagai penafsir’.7
Hermeneutik merupakan disiplin pemikiran yang membidik kehidupan sehingga
tidak terkatakan dari diskursus-diskursus kita ini. Sebagian besar dari apa yang tidak
terkatakan itu bersifat remeh. Sampai pada titik tertentu, hermeneutik adalah disiplin
yang bersangkut paut dengan motif-motif dan maksud-maksud yang dengan mudah
bisa diketahui melalui kata-kata yang ada secara eksplisit.8
Hermeneutika adalah berfikir filosofis yang mencoba untuk menjelaskan
concept of verstehan dalam bahasa. Proses pemahaman ini biasa disebut dengan
interpretation apakah dalam bntuk penjelasan atau penerjemahan. Pada dasarnya

5
Inyiak Ridwan Muzir, Hermeneutika Filosofis Hans-georg Gadamer, (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media,
2014), hlm. 40

6
Salahudin, Anatomi Teori Filsafat Hermeneutika Hans Georg Gadamer “Dialog Historikalitas Dalam
Memahami Teks”. (Universitas Muhammadiyah Malang, 2011)

7
F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode
Ilmiah dan Problem Modernitas (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 37.

8
Jean Grondrin, Sejarah Hermeneutik; Dari Plato sampai Gadamer, (Yogyakarta: Ar-ruz Media,
2007), hlm. 10.

3
hermeneutika berhubungan dengan bahasa. Menjadikan bahasa adalah manifestasi
dari realita untuk mengapresiasi bentuk-bentuk dalam kehidupan. Penuangan ide serta
konsep-konsep sebagai jalan agar mempunyai eksistensi yang dibenturkan dengan
ekplorasi dalam bahasa.
Dalam bidang filsafat, pentingnya hermeneutik tidak dapat ditentukan secara
berlebihan, sebab pada kenyataannya, keseluruhan filsafat adalah interpretasi dan
pembahasan seluruh isi alam semesta ke dalam bahasa kebijaksanaan manusia.9
Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat “triadic” yaitu mempunyai tiga segi
yang saling berhubungan. Konsep triadic berarti kegiatan interpretasi mempunyai tiga
segi yang saling berhubungan antara teks (text), penafsir (reader), dan juga pengarang
(author). Konsep tersebut bisa dikatakan sama dengan apa yang ada dalam lingkaran
hermeneutik (circle of hermeneutic).10

4. Pemikiran Hans Georg Gadamer Mengenai Filsafat dan Ilmu Sains


Dalam membahas hermeneutika, yang menjadi masalah adalah terkait proses
menafsirkan teks yang timbul ketika seseorang sedang berusaha memahami antara
teks dan maknanya. Menurut Gadamer, tugas hermenutika tidak selalu harus
menemukan arti sebuah teks. Interpretasi bagi Gadamer tidak sama dengan
mengambil suatu teks atau paragraf kemudian mencari makna sebagaimana. Arti teks
tidak terbatas pada pengarang tetapi juga ada kemungkinan penafsiran terbentuk
sesuai dengan daya kreativitas dimiliki penulis. Sehingga intrepretasi tidak terbatas
merekonstruksi makna tetapi juga memproduksi makna.11
Untuk mengetahui dan memasuki isu-isu antara filsafat dengan sains (ilmu
pengetahuan), yang dilakukan oleh Gadamer adalah melakukan penafsiran dengan
menggunakan filosofi hermeneutikanya. Dalam konteks hermeneutika, Gadamer
berusaha masuk ke dalam isu-isu sains dan filsafat dengan membawakan satu
pertanyaan ini. Sebuah pertanyaan retoris yang selalu dipikirkan Gadamer yaitu
bagaimana hubungan antara filsafat dan sains (ilmu pengetahuan). Gadamer berusaha
melacak tentang hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan dalam konteks yang

9
Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 29

10
Ibid., hlm. 31

11
Hans Georg Gadamer, Truth and Method, pdf (London: Sheed and Ward, 1975), hlm. 264.

4
paling umum yaitu pada masa Aristoteles, di mana masa paling kuno, menyatakan
bahwa dulu filsafat dan sains tidak dapat dipisahkan.
Jika kita melihat buku-buku karya Aristoteles sebelumnya, Aristoteles
memandang filsafat dan sains sebagai sebagai satu komponen yang utuh dan tidak
dapat dipisahkan. Hal ini dikarenakan filsafat memberikan dasar-dasar sistem kerja
yang dilakukan sains. Sehingga di dalam filsafat banyak dibahaskan masalah-masalah
di bidang fisika, etika, politik dan lain-lain dalam suatu level yang universal.
Penekanan terhadap filsafat klasik sains tidak dapat melepaskan diri dari filsafat
karena filsafatlah yang memberikan teks dan pesan universal serta pesan-pesan
epistimologisnya sehingga membuat sains dapat bekerja pada perkembangan zaman
itu. Ini yang menjadi tradisi pemikiran-pemikiran filsafat klasik. Sehingga beberapa
decade kemudian, muncullah aliran posivistik dimana ilmuwan dengan aliran
posivistik mengatakan bahwa filsafat tidak dibutuhkan dalam sains. Sains dibutuhkan
untuk memberikan dasar kerangka kerja. Namun setelah zaman Hegel, pada waktu itu
filsafat tidak lagi menjadi suatu komponen utuh akhirnya menjadi parsial, filsafat
menjadi terkotak-kotakan.
Pada saat itu Gadamer sedang menyusun filsafatnya dan filsafat Gadamer lebih
banyak dipengaruhi oleh filsafat Heidegger dan Edmund Husserl terutama tentang
fenomenologi. Edmund Husserl adalah pencetus teori fenomenologi dalam ilmu
filsafat tentang manusia. Sedangakn Heidegger adalah tokoh kedua menganut aliran
fenomenologi setelah Husserl. Tetapi Gadamer tidak memilih jalur pemikiran yang
sama dirintis oleh Heidegger dan Husserl. Gadamer memiliki pemikiran tersendiri
dengan menemukan horizon (cakrawala) yang baru sehingga muncul pembaruan
horizon antara makna yang lebih luas dan tidak terfokus pada satu sisi saja dengan
mengikuti konteks sesuai perkembangan tradisi masing-masing. Penafsiran yang
dilakukan Gadamer disebut the fusion of horizons (fusi cakrawala).
Teori Fenomenologi hadir sebagai usaha untuk mengatasi dualisme pemikiran
manusia bahwa tidak ada apriori atas postriori. Teori Fenomenologi diketahui
Gadamer adalah esensi kesadaran manusia atas realitas atau eksistensinya. Sebagai
contohnya dalam kehidupan manusia selalu mencari tahu dan ke mana arah tujuan
yang mereka ambil. Untuk dapat memahami arah yang tepat, manusia harus memiliki
pengertian yang tepat mengenai dirinya sendiri. Dengan demikian, manusia dapat
memahami diri secara tepat dan menyadari akan eksistensi sendiri.

5
Maka dari itu, kemunculan Gadamer dengan argumennya untuk membuktikan
bahwa dalam perkembangan sains, tradisi filsafat belum dikatakan mati. Gadamer
berusaha berusaha mengembangkan teori Husserl dan Heidegger dengan
memfokuskan pada aspek kebahasaan. Menurut Gadamer aktualisasi manusia untuk
mengada dan kesadaran yang sensitif terhadap realitas menjadi eksistensialis. Dimana
kita tidak harus bertanya dari mana esensi kesadaran berasal, melainkan bergantung
pada bagaimana manusia menyadari akan eksistensinya di dalam dirinya sendiri.
Dengan demikian, Gadamer membuktikan bahwa selama ini filsafat tidak benar-benar
mati atau tiada dalam perkembangan saintifik. Selama ini pertanyaan Gadamer belum
mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai hubungan antara sains dan filafat.
Akan tetapi yang diketahui Gadamer bahwa sains dan filsafat selalu berdampingan
seperti kedua sisi mata uang. Yang berarti sains dan filsafat tidak dapat dipisahkan.

C. PENUTUP
Hans Georg Gadamer adalah seorang filsuf berkebangsaan Jerman yang terkenal
dengan pemikiran hermeneutika pada abad 20 dan salah satu mahakarya adalah Truth and
Method (Kebenaran dan Metode). Hermeneutika menurut Gadamer berkaitan dengan
bahasa dan memiliki tugas reproduksi. Memreproduksi pemahaman melalui menafsirkan
teks-teks maupun ungkapan-ungkapan dalam kehidupan. Gadamer menyatakan
kemustahilan reproduksi makna karena manusia sebagai penafsir tidak berdiri di luar
sejarah, melainkan bergerak dalam sejarah dengan horizon pemahaman tertentu yang
berbeda dari horizon pemahaman dalam teks atau ungkapan yang hendak dipahami.
Pada perdebatan isu antara filsafat dan sains, Gadamer mencoba memasuki ke
perdebatan tersebut melalui hermeneutikanya. Untuk membuktikan argumennya, bahwa
dalam perkembangan sains, tradisi filsafat belum dikatakan benar-benar mati. Gadamer
berusaha berusaha mengembangkan teori Husserl dan Heidegger dengan memfokuskan
pada aspek kebahasaan. Sehingga kesimpulan yang didapatkan Gadamer bahwa
aktualisasi manusia untuk mengada dan kesadaran yang sensitif terhadap realitas menjadi
eksistensialis. Dengan demikian, Gadamer membuktikan bahwa selama ini filsafat tidak
benar-benar mati atau tiada dalam perkembangan saintifik.