Anda di halaman 1dari 32

• Home

• Arsip
• Download
• Matematika
• About

MasBied.com
Muhammad Zainal Abidin Personal Site
• Home
• Artikel Islami
• Blog
• Design Graphic
• Ensiklopedi
• Free e-Book
• Kata Mutiara
• Makalah
• Pend. Matematika
• Skripsi
• Tips SEO

Tinjuan Tentang Ekosistem Mangrove


Abied 14 January 2010

Latar Belakang

Sekitar 75% dari luas wilayah Indonesia adalah berupa lautan. Salah satu bagian
terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah
wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah
pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah
interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat
dan ciri yang unik.

Mangrove (Bakau) adalah jenis pohon yang tumbuh di daerah perairan dangkal
dan daerah intertidal yaitu daerah batas antara darat dan laut dimana pengaruh
pasang surut masih terjadi. Hutan mangrove atau disebut juga hutan bakau adalah
hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai
dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di
tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di
teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara
sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari
hulu.

Ekosistem wilayah pantai berkarakter unik dan khas karena ekosistemnya


perpaduan antara kehidupan darat dan air. Ekosistem wilayah itu memiliki arti
strategis karena memiliki potensi kekayaan hayati baik dari segi biologi, ekonomi,
bahkan pariwisata. Hal itu mengakibatkan berbagai pihak ingin memanfaatkan
secara maksimal potensi itu. Ekosistem hutan mangrove bersifat khas, baik karena
adanya pelumpuran tadi yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas
tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air
laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini,
dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati
proses adaptasi dan evolusi.

Akar tanaman mangrove berfungsi menstabilkan lumpur dan pasir. Di kawasan


yang hutan manggrovenya telah dihancurkan untuk keperluan pembangunan, laju
erosinya akan sangat tinggi. Hutan mangrove juga menjadi tempat hidup bagi
habitat liar dan memberikan perlindungan alami terhadap angin yang kuat,
gelombang yang dibangkitkan oleh angin (siklon atau badai), dan juga gelombang
tsunami.

Hutan-hutan mangrove menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia,


terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika
dan berfungsi sebagai pelindung pantai dari terjangan gelombang secara langsung.
Oleh karena itu daerah hutan mangrove dicirikan oleh adanya lapisan lumpur dan
sedimen halus.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terbesar
dan memiliki kekayaan hayati yang paling banyak. Luas hutan mangrove di
Indonesia mencapai 3,2 juta hektare, walaupun belakangan ini dilaporkan lebih
dari 50 persen jumlah hutan itu sudah rusak. (keluargasehat.com)

Luas hutan mangrove di Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan
mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta
ha) dan Australia (0,97 ha) (Wikipedia).

Sedangkan menurut Republika Online, bahwa Indonesia memiliki hutan bakau


tropis terluas di dunia sekitar 3,8 juta hektar atau 40 persen dari total hutan bakau
dunia. [jumlah hutan mangrove dunia di estimate sekitar 16 juta Ha]

Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan


Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar.
Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di
pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan
penduduknya terhadap lahan.
Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang
masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni.
Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan
bakau Indonesia (Wikipedia).

Di beberapa daearah wilayah pesisir di Indonesia sudah terlihat adanya degradasi


dari hutan mangrove akibat penebangan hutan mangrove yang melampaui batas
kelestariannya. Hutan mangrove telah berubah menjadi berbagai kegiatan
pembangunan seperti pertanian, pertambakan, pembangunan dermaga dan lain
sebagainya. Hal seperti ini terutama terdapat di Aceh, Sumatera, Riau, pantai
utara Jawa, Sulawesi Selatan, Bali dan Kalimantan Timur.

. Selanjutnya hutan mangrove di Indonesia, menurut data yang ada telah banyak
berkurang sejak digulirkannya program ekstensifikasi tambak dari 8,6 juta hektar
hutan mangrove yang ada (terluas di dunia), sekitar 5,8 juta hektar (68%) telah
mengalami kerusakan yang serius, dimana salah satu penyebab utamanya adalah
akibat ekstensifikasi tambak udang. Hal ini dilakukan karena kenaikan permintaan
udang dari negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia.
(oseanografi.blogspot.com)

Dalam 24 tahun terakhir, keberadaan hutan mangrove (bakau) di Indonesia


semakin parah. Pada tahun 1993 luas hutan mangrove di Indonesia 3,7 juta
hektar. Namun pada tahun 2005, hutan mangrove tersebut tinggal sekitar 1,5 juta
hektar. Sebagai penyangga kehidupan, hutan mangrove (bakau) tidak dapat
dipungkiri memiliki peran dan fungsi ekologis yang sangat penting. Penurunan
luas hutan mangrove per provinsi yang tertinggi terdapat di Nusa Tenggara
Barat (100 persen), kemudian menyusul Bali (95 persen), Jambi (79 persen),
Jawa Barat (71 persen), Irian Jaya (54 persen), Riau (19 persen) dan Jawa
Timur (2 persen). Sementara itu makin rusaknya kawasan hutan mangrove
di sepanjang pantai timur Sumatera jelas sangat ironis. Pasalnya, kawasan ini
diketahui sebagai habitat mangrove terbaik di Indonesia, setelah Irian Jaya.
Data dari Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Lampung menyebutkan, bahwa
pada tahun 2002 luas hutan mangrove 20.000 hektar, hanya tersisa 2.000 hektar
akibat pembukaan hutan. Tak heran bila pakar kehutanan Dr. lr. Hadi S.
Alikodra, menyebut kondisi hutan mangrove di Indonesia sudah sampai pada
tingkat memprihatinkan (beritabumi.or.id)

# PERMASALAHAN

Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka timbul permasalahan yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan Ekosistem Mangrove?


2. Seberapa besar Peranan, Fungsi dan Manfaat hutan mangrove bagi
kehidupan manusia?
3. Apa penyebab rusaknya Ekosistem Mangrove?
4. Bagaimana merehabilitasi dan upaya pelestarian Ekosistem Mangrove?
PEMBAHASAN

TINJAUAN MENGENAI EKOSISTEM MANGGROVE

DEFINISI MANGROVE

Kata mangrove adalah kombinasi antara bahasa Portugis, Mangue dan bahasa
Inggris, Grove. Adapun dalam bahasa Inggris kata Mangrove digunakan untuk
menunjuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut
maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas
tersebut. Sedangkan dalam bahasa Portugis kata Mangrove digunakan untuk
menyatakan individu spesies tumbuhan tersebut.

Beberapa ahli mengemukakan definisi Hutan Mangrove, seperti Soerianegara dan


Indarwan (1982) menyatakan bahwa Hutan Mangrove adalah hutan yang tumbuh
di daerah pantai, biasanya terdapat di daerah teluk dan di muara sungai yang
dicirikan oleh: (1) tidak terpengaruh iklim, (2) dipengaruhi pasang surut, (3) tanah
tergenang air laut, (4) tanah rendah pantai, (5) hutan tidak mempunyai struktur
tajuk, (6) jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri atas Api-api (Avicenia Sp), Pedada
(Sonneralia), Bakau (Rhizopora Sp), Lacang (Bruguiera Sp), Nyirih (Xylocarpus
Sp), Nipah (Nypa Sp) dan lain-lain.

Kusmana (2002) mengemukakan bahwa mangrove adalah suatu komunitas


tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas
tersebut di daerah pasang surut. Ekosistem Mangrove adalah suatu sistem yang
terdiri atas lingkungan biotik dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu
habitat mangrove.

Menurut Steenis (1978), yang dimaksud dengan “Mangrove” adalah vegetasi


hutan yang tumbuh di antara garis pasang surut. Nybeikhen (1988) menyatakan
Hutan Mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan
suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang
khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan tumbuh dalam perairan
asin.

Menurut Snedaker (1978) dalam mangrovecentre.or.id, diakses tgl 15 Nop.2007 ,


Hutan Mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang
garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu
lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan
reaksi tanah an-aerob.

Sedangkan menurut Aksornkoe (1993), Hutan Mangrove adalah


tumbuhan halofit (tumbuhan yang hidup pada tempat-
tempat dengan kadar garam tinggi atau bersifat alkalin) yang hidup disepanjang
areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati
ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis. Secara
ringkas Hutan Mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang
tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, Laguna,
muara sungai) yang tergenang pada waktu pasang dan bebas dari genangan pada
saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam.

Hutan Mangrove yang tumbuh karena dipengaruhi pasang air laut ini, sering juga
kita menyebutnya dengan Hutan Bakau yang sebenarnya kurang tepat, karena
Bakau, dari keluarga Rhizophora itu sendiri adalah hanya salah satu dari sekian
jenis yang tumbuh di ekosistem hutan Mangrove ini. Hutan Manggrove adalah
tipe hutan yang berkarakteristik unik, mengingat didaerah payau ini berpadu 4
( empat ) unsur biologis penting yang fundamental, yaitu Daratan, Air,
Pepohonan, dan Fauna.

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut
atau tepi laut. Tumbuhan manggrove bersifat unik karena merupakan gabungan
dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove
mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas
(pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap
keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.

Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang
diantaranya terancam punah, seperti harimau Sumatera (Panthera Tigris
Sumateranensis), Bekantan (Nasalis Larvatus), Wilwo (Mycteria Cinerea), Bubut
Hitam (Centropus Nigrorufus) dan Bangau Tongtong (Leptopilus Javanicus) serta
tempat persinggahan bagi burung-burung.

Hutan Mangrove disebut juga ”Coastal Woodland” (hutan pantai) atau ”Tidal
Forest” (hutan surut)/hutan bakau, yang merupakan tumbuhan litoral yang
karakteristiknya terdapat di wilayah tropika (Saenger,1983).

Beberapa jenis Mangrove yang terkenal: (www.lablink.or.id)

• · Bakau (Rhizopora spp)


• · Api-api (Avicennia spp)
• · Pedada (Sonneratia spp)
• · Tanjang (Bruguiera spp)

Jenis-jenis tumbuhan hutan mangrove bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi


lingkungan fisik , sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu.

Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah:

# Jenis tanah

Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang


paling umum adalah hutan mangrove tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur
dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini
sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan mangrove yang tumbuh di
atas tanah bergambut.

Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau
bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan
terumbu karang.

# Terpaan ombak

Bagian luar atau bagian depan hutan mangrove yang berhadapan dengan laut
terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang
kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.

Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan
aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di
bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari
muara. Hutan mangrove juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan
laju ombak besar.

Penggenangan oleh air pasang

Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan
bagian yang lainnya; bahkan terkadang terus menerus terendam. Pada pihak lain,
bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala
terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.Menghadapi variasi-variasi
kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove;
yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang
laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering.

Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap
digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas
tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan Perepat (Sonneratia alba) tumbuh
di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup Api-api putih
(Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. Dibagian lebih ke dalam,
yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata
dengan jenis-jenis Kendeka (Bruguiera spp.), Kaboa (Aegiceras corniculata) dan
lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui
Nipah (Nypa fruticans), Pidada (Sonneratia caseolaris) dan Bintaro (Cerbera
spp.).Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan Nirih
(Xylocarpus spp.), Teruntum (Lumnitzera racemosa), Dungun (Heritiera littoralis)
dan Kayu Buta-buta (Excoecaria agallocha).

Bentuk-bentuk adaptasi tumbuhan mangrove


Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan mangrove, tetumbuhan beradaptasi
dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan
organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di
daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar,


mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya
gelombang. Jenis Api-api (Avicennia spp.) dan Pidada (Sonneratia spp.)
menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur
untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon Kendeka (Bruguiera spp.)
mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon Nirih (Xylocarpus
spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang
tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi
pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove
memiliki Lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, Api-api mengeluarkan kelebihan garam


melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora
mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam.
Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan
garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat
terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang
bersama gugurnya daun. Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh
air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di
dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong
tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan mangrove mampu mengatur
bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik,
sehingga mengurangi evaporasi dari daun.

Perkembangbiakan hutan mangrove

Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembangbiakan jenis.


Lingkungan yang keras di hutan mangrove hampir tidak memungkinkan jenis biji-
bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya
yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji
sukar mempertahankan daya hidupnya.

Hampir semua jenis flora hutan mangrove memiliki biji atau buah yang dapat
mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak
dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah
berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.

Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah Bakau


(Rhizophora), Tengar (Ceriops) atau Kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini
telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala
masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat
langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang,
tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa
arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. Sedangkan Buah Nipah (Nypa
fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya.
Sementara buah Api-api, Kaboa (Aegiceras), Jeruju (Acanthus) dan beberapa
lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak nampak dari sebelah luarnya.
Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup
dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan
istilah propagul.

Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga
berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat
bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant)
berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok.
Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah
perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai
tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk
tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Suksesi hutan mangrove

Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan
(forest succession atau sere). Hutan mangrove merupakan suatu contoh suksesi
hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, perlu
diketahui bahwa zonasi hutan mangrove pada uraian di atas tidaklah kekal,
melainkan secara perlahan-lahan bergeser.

Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat
berfungsi sebagai substrat hutan mangrove. Hingga pada suatu saat substrat baru
ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk
vegetasi pionir hutan bakau.

Tumbuhnya hutan mangrove di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Tanah


halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam
sampah dan hancuran vegetasi, akan diendapkan di antara perakaran vegetasi
mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin
banyak dan semakin cepat. Hutan mangrove pun semakin meluas.

Pada saatnya bagian dalam hutan mangrove akan mulai mengering dan menjadi
tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan
Rhizophora mucronata. Pada bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera
spp. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang.

Demikian perubahan terus terjadi, yang memakan waktu berpuluh hingga beratus
tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan mangrove, zona-
zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering.
Uraian di atas adalah penyederhanaan, dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh
lebih rumit. Karena tidak selalu hutan mangrove terus bertambah luas, bahkan
mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula
munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan.

Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas


mencapai ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya kurang dari itu.

Kekayaan Flora

Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan mangrove. Akan tetapi hanya sekitar
54 spesies dari 20 genera, anggota dari sekitar 16 suku, yang dianggap sebagai
jenis-jenis mangrove sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di
lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya.

Dari jenis-jenis itu, sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia;


menjadikan hutan mangrove Indonesia sebagai yang paling kaya jenisnya di
lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik. Total jenis keseluruhan yang telah
diketahui, termasuk jenis-jenis mangrove ikutan, adalah 202 spesies (Wikipedia)

Jenis hutan dapat dibagi atas :

1. Hutan Bakau
2. Hutan Nyireh Bunga
3. Hutan Linggadai
4. Hutan Nipah
5. Hutan Nipah Dungun
6. Hutan Pedada
7. Hutan Nibong

Hutan Bakau

Hutan bakau ini hampir keseluruhannya dipenuhi oleh satu jenis spesis saja yaitu
bakau minyak (Rhizophora apiculata). Hampir 50% dari jumlah hutan bakau
terdapat di Daerah Temburong. Spesis kedua,adalah bakau kurap (Rhizophora
macronata) tetapi populasinya sedikit saja, terutama terdapat di sepanjang pinggir
muara sungai.

Hutan Nyireh Bunga

Nyireh bunga (Xylocarpus granatum) dapat hidup bersama-sama dengan bakau


minyak, atau di dalam hutan-hutan yang sama terutama sekali di atas tanah yang
jarang ditenggelami air. Timbunan-timbunan tanah yang ditutupi oleh pohon
paku-pakis (Acrostichum aureum) terdapat banyak sekali udang galah besar.

Hutan Linggadai
Linggadai (Bruguiera gymnorrhiza) ialah satu-satunya spesis dari genus yang
terpenting di dalam hutan-hutan bakau dan tidak bercampur diantara tiga spesis
lain (B. caryophylloides, B. parviflora dan B. sexangula)

Hutan Nipah

Tumbuhan in adalah tumbuhan asli palma yang berada di tebing-tebing sungai


dan daerah di kawasan-kawasan pantai. Juga dapat ditemui di sepanjang tanah-
tanah rendah di sungai-sungai dan di tebing-tebing..

Hutan Nipah-Dungun

Hutan Nipah bersama Dungun (Heritiera globosa) dapat ditemui secara


bertingkat-tingkat, dan mencapai ukuran yang luas dan besar. Tumbuhan in dapat
hidup pada ketinggian tertinggi yang dapat dicapai oleh perubahan salinitas air,
khususnya di sepanjang sungai-sungai. Di tempat-tempat yang lebih rendah di
sungai dapat tumbuh jenis Buta buta (Excoecaria agallocha), Linggadai dan
beberapa bakau lainnya.

Hutan Pedada

Tumbuh-tumbuhan Pedada (Sonneratia caseolaris) dengan rumpun yang kecil


terdapat pada tanah yang baru terbentuk di sepanjang pinggir sungai-sungai.

Hutan Nibong

Palma Nibong (Oncosperma tigillarium) yang panjang lagi berduri ialah spesis
bakau yang tumbuh di pertengahan. Biasanya terdapat dalam kawasan setempat
yang kecil dengan ukuran yang sederhana berkelompok-kelompok di bahagian
perbatasan antara darat dan hutan bakau terutama sekali di sungai yang lebih
tinggi.

# Peranan, Fungsi Dan Manfaat Hutan Mangrove

Hutan Mangrove penting sekali untuk perikanan apalagi perikanan estuary atau
perikanan pantai. Hutan Mangrove juga berguna untuk pelindungan alam dari
daerah-daerah di belakangnya terhadap kekuatan alam. Nilai ekonomis
(Economical value) dari kayu-kayunya sebagai bahan pembangunan sangat kecil
dan tidak sebanding dengan nilai proteksinya (protective valuenya). Jumlah
kubikasi kayunya dari 1 Ha tidak feasible untuk di exploitasi, disamping itu
kayunya sudah mengandung garam jadi tidak cocok untuk industri.

Kontribusi hutan mangrove tergambar dari fungsinya itu sendiri, seperti


penghalang terhadap erosi pantai dan gempuran ombak, pengolahan limbah
organik, tempat mencari makan, memijah dan bertelurnya berbagai biota laut
seperi ikan dan udang. Selain itu sebagai habitat berbagai jenis margasatwa,
penghasil kayu dan nonkayu serta potensi ecotourism. Secara ekologis hutan
bakau telah dikenal mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan manusia, baik
secara langsung maupun tidak langsung.

Ekosistem bakau bagi sumber daya ikan dan udang berfungsi sebagai tempat

mencari makan, memijah dan berkembang biak. Dari sudut ekologi, hutan bakau
berfungsi sebagai penghasil sejumlah detritus dan perangkap sedimen. Hutan
manggrove merupakan habitat berbagai jenis satwa, baik sebagai habitat pokok
maupun sebagai habitat sementara.

Sebagai fungsi ekonomis hutan bakau bermanfaat sebagai sumber penghasil kayu
bangunan, bahan baku pulp dan kertas, kayu bakar, bahan arang, alat tangkap ikan
dan sumber bahan lain seperti tannin dan pewarna. Hutan manggrove juga
mempunyai peran penting sebagai pelindung pantai dari hempasan gelombang air
laut.

Menurut Davis dkk(1995), Hutan Mangrove memiliki fungsi dan manfaat


sebagai berikut :

Habitat satwa langka

Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung
hidup disini, dan daratan umpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau
merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai ringan migran, termasuk
jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus)

Pelindung terhadap bencana alam

Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau


vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam
melalui proses filtrasi.

Pengendapan lumpur

Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur.
Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur
hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur.
Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.

Penambah unsur hara

Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi
pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang
berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.
Penambat racun

Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada
permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air.
Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses
penambatan racun secara aktif

Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)

Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral
yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber
alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan
terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh
masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain
atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan
pasir dan lumpur.

Transportasi

Pada beberapa h utan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang
paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan.

Sumber plasma nutfah

Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan
jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu
sendiri.

Rekreasi dan pariwisata

Hutan mangrove memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari
kehidupan yang ada di dalamnya.

Sarana pendidikan dan penelitian

Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan eknologi membutuhkan


laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.

Memelihara proses-proses dan sistem alami

Hutan mangrove sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya


proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.

Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik
dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini
membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan
tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang
tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap
karbon dibandingkan dengan sumber karbon.

Memelihara iklim mikro

Evapotranspirasi hutan mangrove mampu menjaga kelembaban dan curah hujan


kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.

Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam

Keberadaan hutan mangrove dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan


menghalangi berkembangnya kondisi alam. (Source : K’ Masni, Mahasiswa Pasca
Sarjana PKLH UNM Makassar | Guru Biologi SMAN 1 Bone-Bone Kab. Luwu
Utara, Sulsel)

Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia.

Salam …

http://www.masbied.com/2010/01/14/tinjuan-tentang-ekosistem-mangrove/

karmelreinnamah
Rabu, 28 April 2010
KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN
MANGROVE Oleh Yohanes Reinnamah

KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN


MANGROVE

Oleh Yohanes Reinnamah

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan vegetasi hutan yang hanya dapat tumbuh dan
berkembang baik di daerah tropis. Sebagai sebuah komunitas yang membentuk
ekosistem perairan, tentunya keberadaan mangrove tidak dapat dimarjinalkan,
dikarenakan hutan ini memiliki multi fungsi yang keberadaannya tidak dapat
digantikan dengan ekosistem lain.
Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia
dan tersebar dibeberapa pulau seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
Papua, dan Kepulauan Maluku. “Luas hutan mangrove di Indonesia antara tahun
1982-1987 adalah sekitar 5,21 Ha” (Widogdo; 2000 dalam Rohana (2006).
Sehubungan dengan itu, DepHut; 1996 dalam Dahuri (2003) menyatakan bahwa
”Luas total hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1996 adalah 3.5 juta Ha”.
Hal ini menunjukan bahwa luas hutan mangrove di Indonesia semakin lama
semakin berkurang atau semakin sempit, hal ini disebabkan oleh adanya kegiatan
manusia yang berpengaruh terhadap ekosistem hutan mangrove.
Ekosistem mangrove di Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman jenis
yang tertinggi di dunia. Vegetasi hutan mangrove di Indonesia tercatat sebanyak
202 jenis yang terdiri atas 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis
epifit dan 1 jenis sikas. Namun demikian hanya terdapat kurang lebih 47 jenis
tumbuhan yang spesifik hutan mangrove, dan umumnya pada vegetasi ini terdapat
salah satu jenis tumbuhan sejati atau dominan yang termasuk dalam empat famili
yaitu Rhizophoraceae (Rhizophora, Bruguiera dan Ceriop), Sonneratiaceae
(Sonneratia), Avicenniaceae (Avicennia) dan Meliaceae (Xylocarpus). (Dahuri:
2003).
Hutan mangrove di Indonesia memiliki kisaran variasi sifat fisik dan kimia
yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain disamping itu pula dapat
disebabkan oleh adanya pengaruh dari faktor lingkungan yang berbeda di setiap
daerah serta diketahui bahwa setiap jenis mangrove menduduki zona yang cocok
untuk pertumbuhannya. Adanya hal tersebut dapat diduga bahwa setiap daerah
memiliki pola zonasi yang berbeda. Untuk itu informasi menyangkut pola zonasi
ini sangat diperlukan.
Provinsi Gorontalo memiliki total luas hutan mangrove ± sekitar 12.074,74 Ha,
salah satunya terdapat di wilayah pesisir Kecamatan Kwandang Kabupaten
Gorontalo Utara yang memiliki luas 2.646,65 Ha. Pantai Utara yang terdapat di
Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara, daerah ini
memiliki hutan mangrove dengan luas 400 Ha pada Tahun 1980 dan mengalami
penurunan pada tahun 2005 sehingga yang tersisa tinggal 200 Ha (Anonim, 2005).
Terjadinya penurunan luas hutan mangrove ini disebabkan kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan
sehingga terjadi pengalihan fungsi (refungsi) hutan mangrove oleh masyarakat
setempat baik disengaja atau tidak disengaja untuk dijadikan sebagai lahan
pembuatan tambak ikan, penebangan pohon untuk dijadikan kayunya sebagai
bahan bakar, perabot rumah serta sebagai tiang perahu.
Hal ini dikarenakan hutan mangrove memiliki fungsi yang sangat besar
bagi manusia baik dari segi ekonomi maupun ekologi. Secara ekologis hutan
mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan (Spawning grounds) dan daerah
pembesaran (nursery grounds) berbagai jenis ikan, udang, kerang-kerangan dan
berbagai spesies lainnya. Selain itu, serasah mangrove berupa daun, ranting, dan
biomassa lainnya yang jatuh di perairan merupakan sumber pakan bagi biota
perairan dan unsur hara yang sangat menentukan produktivitas perikanan perairan
laut di depannya. Selain itu, hutan mangrove juga merupakan habitat (rumah) bagi
berbagai jenis burung, reptil, mamalia, dan jenis-jenis kehidupan lainnya,
sehingga hutan mangrove menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity) dan
plasma nutfah (genetic pool) yang tinggi. Disamping itu, dengan sistem perakaran
dan canopy yang rapat serta kokoh, hutan mangrove juga berfungsi sebagai
pelindung daratan dari gempuran gelombang tsunami, angin topan dan
perembesan air laut. Fungsi secara kimia yakni sebagai penetralisir limbah kimia
beracun berbahaya. Secara ekonomi, hutan mangrove dapat dimanfaatkan
kayunya sebagai bahan bangunan, bahan arang, bahan baku kertas. Hutan
mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu penunjang ekowisata.
Jenis-jenis tumbuhan mangrove ini bereaksi berbeda terhadap variasi-
variasi lingkungan fisik, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu dan
zonasi dari setiap daerah memiliki pola yang berbeda-beda tergantung dari
keadaan fisiografi daerah pesisir dan dinamika pasang surutnya. Beberapa faktor
lingkungan fisik tersebut adalah: Jenis tanah, terpaan ombak, salinitas dan
penggenangan oleh air pasang. Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan
seperti ini, secara alami akan terbentuk zonasi vegetasi mangrove. Berikut ini
adalah sebaran jenis mangrove berdasarkan zonasi:
Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering
ditumbuhi oleh Avicenia sp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia sp
yang dominan tumbuh pada lumpur kaya bahan organik.
Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya di dominasi oleh Rhizophora sp.
Di zona ini juga dijumpai Bruguiera sp dan Xylocarpus sp.
Zonasi berikutnya, didominasi oleh Bruguiera sp.
Zonasi transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasanya
ditumbuhi oleh Nypa proficans dan beberapa palem lainnya (Bengen, 2004).
Pola Zonasi yang Terbentuk Secara Umum diketahui bahwa zonasi yang
terbentuk memiliki beberapa model yang berbeda pada setiap lokasi di setiap
daerah. Sebagaimana Nyabakken: 1992 menyatakan bahwa “Tidak ada model
yang berlaku secara universal”. Skema umum zonasi mangrove untuk penggunaan
secara luas pada daerah Indo-Pasifik dapat digunakan, namun skema yang berlaku
di suatu tempat dapat berbeda dengan tempat yang lainnya. Pembentukan zonasi
hutan mangrove yang dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan kemudian
akan membentuk penyebaran jenis mangrove yang secara dominan menguasai
masing-masing habitat zonasinya.
“Vegeteasi hutan mangrove di hampir setiap daerah mengalami penurunan
kualitas maupun kuantitas disebabkan adanya eksploitasi oleh masyarakat yang
apabila tidak terkendali maka hutan mangrove di daerah tersebut akan mengalami
kerusakan” (Jamili, 1998). Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan
(komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-
tumbuhan (Anonim, 2006). Pentingnya analisis vegetasi dalam suatu habitat
dilakukan yaitu untuk dapat mengetahui struktur, kemelimpahan jenis, distribusi
vegetasi dalam suatu ekosistem, serta hubungan keberadaan tumbuhan dengan
faktor lingkungannya.
Pengetahuan masyarakat tentang peranan hutan mangrove baik secara
ekologi maupun ekonomi masih sangat terbatas, hal ini ditunjukkan dengan
semakin menurunnya luas dan komunitas hutan mangrove yang disebabkan
aktifitas masyarakat dengan mengeksploitasi hutan untuk dijadikan lahan
pertambakan serta pemanfaatan pohon dari jenis mangrove sebagai bahan bakar
atau perabot rumah tangga, sehingga menyebabkan semakin menurunnya fungsi
hutan mangrove. Oleh karena itu, diharapkan instansi atau lembaga terkait
khususnya Dinas Kehutanan Kabupaten Gorontalo Utara dapat melakukan
sosialisasi tentang kompoisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove khususnya
di Kawasan Hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang
Kabupaten Gorontalo Utara. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian ini yang mengakaji ”Komposisi Vegetasi dan Pola Zonasi Hutan
Mangrove di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara”,
sebagai langkah dalam konservasi.
Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini yaitu:
Bagaimana komposisi vegetasi mangrove yang terdapat di Wilayah Pantai Utara
Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara?
Bagaimanakah pola Zonasi Hutan Mangrove yang terdapat di Wilayah Pantai
Utara Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara?
Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
Mengetahui komposisi vegetasi mangrove yang terdapat di Wilayah Pantai Utara
Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara.
Mengetahui pola Zonasi Hutan Mangrove yang terdapat di Wilayah Pantai Utara
Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara
1.4 Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
Sebagai bahan masukan pada mata kuliah Botani Tumbuhan Tinggi dan Ekologi
Tumbuhan serta sebagai sumber informasi lanjutan bagi mahasiswa Jurusan
Biologi.
Adanya data ilmiah tentang komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove
yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo
Utara.
Sebagai sumber informasi tentang dominasi jenis mangrove dari setiap zonasi
pesisir pantai.
Sebagai bahan informasi bagi Instansi atau Dinas yang terkait khususnya Dinas
Kehutanan dengan melakukan sosialisasi akan pentingnya hutan mangrove
sebagai salah satu potensi wilayah pesisir pantai.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Hutan Mangrove
Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair
payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.
Mohamad Basyuni (2002) menyatakan bahwa “Hutan mangrove tumbuh di zona
pantai (berlumpur) yang secara teratur tergenang air laut dan dipengaruhi oleh
pasang surut air laut tetapi tidak dipengaruhi iklim”. Tumbuhan mangrove bersifat
unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan
di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang
disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara
adaptasi terhadap keadaan tanah yang memiliki kadar oksigen rendah atau bahkan
anaerob (Anonim, 2001).
Hutan mangrove sering kali disebut hutan bakau. Bakau sebenarnya hanya salah
satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove, yaitu jenis Rhizophora spp
yang merupakan jenis yang mendominasi hutan mangrove. Meskipun demikian
penggunaan istilah hutan bakau untuk menggambarkan hutan mangrove kurang
tepat.
Hutan mangrove merupakan vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh
beberapa jenis mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah
pasang surut pantai berlumpur, berlempung atau berpasir. Menurut Irwanto,
(2006) bahwa ”Mangrove adalah tumbuhan khas daerah tropis yang hidupnya
hanya berkembang baik pada temperatur dari 19° C sampai 40° C dengan
toleransi fluktuasi tidak lebih dari 10oC”.
Vegetasi hutan mangrove dianggap unik, karena merupakan ekosistem peralihan
antara darat dan laut yang mempunyai banyak manfaat. Manfaat utama hutan
mangrove yang paling menonjol dan tidak tergantikan oleh ekosistem lainnya
adalah kedudukannya sebagai mata rantai yang menghubungkan ekosistem laut
dan darat.
Bengen, (2000) bahwa: “Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi tropis,
yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan
berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur; komunitas vegetasi ini
umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat
aliran air dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat.
Karena itu hutan mangrove banyak ditemukan di pantai teluk yang dangkal,
estuaria, delta dan daerah pantai yang terlindung”.
Selain itu Erna Rochana (2006) menyatakan ”Hutan mangrove merupakan
salah satu ekosistem alamiah yang mempunyai manfaat ekologi dan ekonomis
yang tinggi. Secara ekologis hutan mangrove berperan sebagai penyedia nutrien,
sebagai tempat pemijahan (spawning grounds), tempat pengasuhan (nursery
grounds) dan tempat mencari makan (feeding grounds) bagi biota laut tertentu,
serta mampu berperan sebagai penahan abrasi bagi wilayah darat. Hal lain yang
sangat penting adalah manfaat hutan mangrove secara ekonomis, dimana vegetasi
ini mampu menghasilkan bahan dasar untuk keperluan rumah tangga dan industri,
seperti kayu bakar, arang, kertas, rayon dan lain sebagainya, serta sebagai salah
satu pendukung pengembangan ekowisata bahari”.

2.2 Jenis-Jenis Mangrove


Banyak jenis mangrove yang sudah dikenal dunia, tercatat jumlah
mangrove yang telah dikenali sebanyak sampai dengan 24 famili dan antara 54
sampai dengan 75 spesies (Thomlinson dan Field, 1986 dalam Irwanto, 2006).
Irwanto (2006), menyatakan bahwa ”Asia merupakan daerah yang paling
tinggi keanekaragaman dan jenis mangrovenya. Di Thailand terdapat sebanyak 27
jenis mangrove, di Ceylon ada 32 jenis, dan terdapat sebanyak 41 jenis di Filipina.
Di benua Amerika hanya memiliki sekitar 12 spesies mangrove, sedangkan
Indonesia disebutkan memiliki sebanyak tidak kurang dari 89 jenis pohon
mangrove, atau paling tidak menurut FAO terdapat sebanyak 37 jenis”.
Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang
banyak ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicennia sp.), bakau
(Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia
sp.), merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai. Jenis-jenis
mangrove tersebut adalah kelompok mangrove yang berfungsi menangkap,
menahan endapan dan menstabilkan tanah habitatnya. “Jenis api-api atau di dunia
dikenal sebagai black mangrove mungkin merupakan jenis terbaik dalam proses
menstabilkan tanah habitatnya karena penyebaran benihnya mudah, toleransi
terhadap temperartur tinggi, cepat menumbuhkan akar pernafasan (akar pasak)
dan sistem perakaran di bawahnya mampu menahan endapan dengan baik.
Mangrove besar, mangrove merah atau Red mangrove (Rhizophora spp.)
merupakan jenis kedua terbaik. Jenis-jenis tersebut dapat mengurangi dampak
kerusakan terhadap arus, gelombang besar dan angin” (Irwanto, 2006).

2.3 Zonasi Penyebaran Mangrove


Menurut Bengen (2001) bahwa penyebaran dan zonasi hutan mangrove
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Zonasi mangrove juga dapat terbentuk oleh
adanya kisaran ekologi yang tersendiri dan niche (relung) yang khusus dari
masing-masing jenis.
Pembagian zonasi hutan mangrove dapat disebabkan oleh adanya hasil kompetisi
diantara spesies mangrove, dimana semakin banyak jumlah spesies mangrove
maka semakin rumit pula bentuk kompetisinya, yang selanjutnya dipengaruhi oleh
faktor lokasi. Perkembangan mangrove dalam komunitas zonasi, seringkali
diinterpretasikan sebagai tingkat perbedaan dalam suksesi (perubahan secara
progresif dalam komposisi jenis selama perkembangan vegetasi). Tumbuhan yang
tumbuh mulai dari garis pantai menuju daratan membentuk perbedaan yang
gradual.
Kondisi lingkungan dalam suatu komunitas sangat penting karena dapat
mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di dalamnya. Faktor lingkungan
tersebut dapat berupa ketersediaan hara, intensitas cahaya dan kandungan air.
Adanya faktor-faktor lingkungan tersebut, menyebabkan organisme dalam suatu
komunitas dapat saling berinteraksi. Faktor-faktor lingkungan pada hutan
mangrove cukup kompleks, beberapa diantaranya antara lain; temperatur,
kelembaban udara, salinitas, pasang surut (tidal), kandungan hara tanah atau
substrat, dan oksigen tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembagian zonasi
terkait dengan respons jenis tanaman terhadap keadaan tanah, terpaan ombak,
pasang-surut dan salinitas. “Kondisi tanah mempunyai konstribusi besar dalam
membentuk zonasi penyebaran tanaman dan hewan seperti perbedaan spesies
kepiting pada kondisi tanah yang berbeda” (Irwanto, 2006).
Pembentukan zonasi dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik, faktor-
faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Terpaan ombak
Terpaan ombak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi zonasi
ini. Irwanto (2006) menyatakan bahwa ”Bagian luar atau bagian depan hutan
bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering mengalami terpaan ombak
yang keras dan aliran air yang kuat”. Tidak seperti bagian dalam dan bagian hutan
yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai yang terletak di tepi sungai.
2. Faktor genangan air pasang.
”Bagian luar mengalami genangan air pasang yang paling lama
dibandingkan bagian yang lainnya; bahkan terkadang terus menerus terendam.
Sementara pada bagian-bagian di pedalaman hutan tidak selalu terendam air,
hanya terendam manakala terjadi pasang tertinggi sebanyak satu atau dua kali
dalam sebulan” (Irwanto, 2006).

3. Salinitas
Salinitas merupakan faktor terakhir yang mempengaruhi zonasi. Irwanto
(2006) menyatakan ”Pada bagian dalam terutama di bagian-bagian yang agak jauh
dari muara sungai memiliki salinitas yang tidak begitu tinggi dibandingkan
dengan bagian luar hutan mangrove yang berhadapan dengan laut terbuka”.
Pembentukan zonasi, selain dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik, juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni keadaan morfologi tanaman, daya apung
dan cara penyebaran bibitnya serta persaingan antar spesies. Formasi hutan
mangrove yang terbentuk di kawasan mangrove biasanya didahului oleh jenis
pohon pedada dan api-api sebagai pionir yang memagari daratan dari kondisi laut
dan angin. Jenis-jenis ini mampu hidup di tempat yang biasa terendam air waktu
pasang karena mempunyai akar pasak. Pada daerah berikutnya yang lebih
mengarah ke daratan banyak ditumbuhi jenis bakau (Rhizophora spp.). Pohon
tancang tumbuh di daerah berikutnya makin menjauhi laut, ke arah daratan.
Daerah ini tanahnya agak keras karena hanya sesekali terendam air yaitu pada saat
pasang yang besar dan permukaan laut lebih tinggi dari biasanya (Irwanto, 2006).
2.4 Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan
Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap
lingkungan sehinga dapat bertahan hidup dan berkembang.
Bengen (2001), menguraikan bahwa ”Daya adaptasi tumbuhan mangrove
terhadap lingkungan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Adaptasi terhadap kadar oksigen
Adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove
memiliki bentuk perakaran yang khas: (1) bertipe cakar ayam yang mempunyai
pneumatofora (misalnya : Avecennia spp., Xylocarpus., dan Sonneratia spp.)
untuk mengambil oksigen dari udara; dan (2) bertipe penyangga/tongkat yang
mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.).
2. Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi :
Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam.
Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur
keseimbangan garam.
Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.
3. Adaptasi terhadap tanah yang kurang stabil dan adanya pasang surut, dengan
cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk
jaringan horisontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar
tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen”.
2.5 Penyebaran Hutan Mangrove
Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan mangrove yang terluas
di dunia dan tersebar di beberapa pulau seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan,
Sulawesi, Papua, dan Kepulauan Maluku. Hampir semua pantai di Indonesia
dapat ditumbuhi mangrove, hal ini disebabkan mangrove sangat cocok dan
merupakan komunitas utama yang menempati sebagian besar pesisir di daerah
tropik. “Penyebaran hutan mangrove di Indonesia umumnya terdapat di Pantai
Timur Sumatra, muara sungai di Kalimantan, pantai selatan dan Tenggara
Sulawesi, pulau-pulau di Maluku serta pantai utara dan selatan Papua (Dahuri,
2003).
Tahun 1982 Indonesia memiliki hutan mangrove seluas 4,25 juta hektar,
sedangkan pada tahun 1993 menjadi 3.7 juta Ha (Kesmana; 1995 dalam Basyuni:
2002), sedangkan DepHut; 1996 dalam Dahuri (2003) menyatakan bahwa ”Luas
total hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1996 adalah 3,5 juta Ha”.
Kenyataan ini menunjukan bahwa luas hutan mangrove di Indonesia ini semakin
lama semakin berkurang atau semakin sempit, hal ini disebabkan oleh adanya
kegiatan manusia yang berpengaruh terhadap ekosistem hutan mangrove. Menurut
Rochana (2006) bahwa “Dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem hutan
mangrove diantaranya adalah tebang habis (penebangan hutan mangrove),
konversi menjadi lahan pertanian dan perikanan, serta pembuangan sampah cair
dan padat”.
2.6. Indeks Nilai Penting (Important Value lndex) = INP
Indeks Nilai Penting( lNP) atau Impontant Value Index merupakan indeks
kepentingan yang menggambarkan pentingnya peranan suatu jenis vegetasi dalam
ekosistemnya. Apabila INP suatu jenis vegetasi bernilai tinggi, maka jenis itu
sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem tersebut (Fachrul, 2007).
Indeks nilai penting biasa digunakan untuk menentukan dominansi jenis
tumbuhan terhadap jenis tumbuhan lainnya, karena dalam suatu komunitas yang
bersifat heteterogen, data parameter vegetasi dari nilai frekuensi, kerapatan dan
dominansinya tidak dapat menggambarkan komunitas tumbuhan secara
menyeluruh, maka untuk menentukan nilai pentingnya yang mempunyai kaitan
dengan struktur komunitasnya dapat diketahui dari indeks nilai pentingnya, yaitu
suatu indeks yang dihitung berdasarkan jumlah seluruh nilai frekuensi relatif
(FR), kerapatan relatif (KR) dan dominansi relatif (DR). Nilai penting juga
digunakan dalam menginterpretasi komposisi dari suatu komunitas tumbuhan.
Nilai Penting = FR + KR+ DR
Untuk mengetahui komposisi vegetasi suatu komunitas mangrove
dilakukan dengan cara menentukan nilai pentingnya sedangkan untuk menentukan
pola zonasi hutan mangrove dilakukan dengan cara menentukan indeks similaritas
(indeks kesamaan) dan indeks disimilaritas (indeks ketidaksamaan) dari suatu
jenis vegetasi tumbuhan, dengan maksud membandingkan pola komunitas dari
beberapa stasiun yang diamati untuk mengetahui perbedaan komunitas diantara
stasiun yang diamati. “Makin besar indeks kesamaan jenis makin seragam
komposisi vegetasi dari kedua tipe vegetasi yang dibandingkan” (Irwanto, 2007).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kawasan pesisir pantai
Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi
Gorontalo. Lokasi penelitian terdiri atas 2 stasiun pengamatan. Waktu Penelitian
selama 3 bulan yaitu pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober 2008.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang
terdapat di Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang
Kabupaten Gorontalo Utara.
3.2.2 Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis mangrove yang terdapat
pada 2 stasiun pengamatan.
3.3 Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan
menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. Karena
wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo
Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha, maka untuk pengambilan
sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masing-masing stasiun terdiri dari 2
transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. Line transect
tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line
transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot masing-
masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon, 5 x 5 meter untuk golongan anak
pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul, 2007).

3.4 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Role Meter, digunakan untuk membuat plot (kuadrant)
Salino meter, digunakan untuk mengukur salinitas/kadar garam air laut.
GPS (Global Position System), digunakan untuk menetukan titik koordinat
wilayah pengambilan sampel di peta.
Soil tester, digunakan untuk menetukan pH tanah dari wilayah pengambilan
sampel
Kunci Determinasi/identifikasi, digunakan untuk mengidentifikasi tanaman
mangrove.
Kamera, alat untuk dokumentasi.
Peta Wilayah, digunakan untuk mengetahui wilayah tempat pengambilan sampel.
3.5 Prosedur Pengumpulan Data
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data pada penelitian ini
antara lain sebagai berikut:
Menentukan titik masing-masing wilayah yang menjadi wilayah sampel penelitian
dan menentukan titik koordinatnya pada peta dengan menggunakan GPS
(Global Position System).
Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan
ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter, 5 x 5 meter dan 2 x 2
meter.
Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada hutan
mangrove.
Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan menggunakan kunci
determinasi/kunci identifikasi.
Mengukur pH tanah dari wilayah sampel yang menjadi lokasi penelitian dengan
menggunakan Soil Tester.
Mengukur salinitas air pada setiap zonasi hutan mangrove dengan menggunakan
Salinometer.
Berikut ini adalah Lay Out yang digunakan dalam pengambilan sampel
dilapangan.
3.6 Prosedur Analisis Data
Data mengrove dianalisis dengan cara menghitung besarnya Indeks
Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas, menghitung basal area, menghitung
dalam parameter vegetasi dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh
Cox; 1976 dalam Hardjosuwarno; 1994 yaitu dengan menghitung dominansi,
dominansi relatif, densitas (kerapatan), densitas relatif, frekuensi, frekuensi relatif
dan besarnya Indeks Nilai Penting. Indeks Nilai Penting ini digunakan untuk
interpretasi komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove.
Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa
langkah yaitu antara lain sebagai berikut:
Mengambil bagian-bagian morfologi (batang, akar dan daun) dari masing-masing
tumbuhan yang menjadi sampel.
Membuat herbarium dari masing-masing jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh
untuk diidentifikasi di Laboratorium Biologi UNG.
Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian batang tumbuhan mangrove.
Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian akar tumbuhan mangrove.
Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian daun tumbuhan mangrove.
Mencocokkan data hasil pengamatan (ciri-ciri morfologi dari batang, akar, dan
daun dari tumbuhan mangrove) yang diperoleh dengan ciri-ciri dari masing-
masing jenis mangrove yang terdapat pada buku determinasi/identifikasi
(buku panduan lapangan).
Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove
berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan).
Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang
dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994), sebagai berikut:
a. Penentuan Basal Area
BA =
Dimana;
d = diameter batang setinggi dada

b. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus:


Dominasi =
Dominasi Relatif =
Densitas =
Densitas Relatif =
Frekuensi =
Frekuensi relalif =

c. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif


d. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam
menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. Adapun rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:

ID = 100 – IS
Dimana:
W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot
yang diperbandingkan
A = Total Nilai Penting pada plot A
B = Total Nilai Penting pada plot B

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2001. Hutan Mangrove. http://www.lablink.or.id/Eko/Wetland/lhbs-


mangrove.htm (6 Februari 2008)

Anonim, 2005. Dinas Kehutanan Provinsi Gorontalo: Gorontalo

Anonim, 2006. Buku Ajar Ekologi Tumbuhan. file:///D|/E-


Learning/EKOLOGI %20%20TUMBUHAN/Textbook/BAHAN%20AJAR
html (62 of 105) 5/11/2008 2:50:34 PM. Diakses tanggal 18 Desember 2008.

Basyuni, Mohamad. 2002. Panduan Restorasi Hutan Mangrove Yang Rusak


(Degrated). http://library.usu.ac.id/modules.php?
op=modload&name=Downloads&file=index&req=getit&lid=24 (6 Februari
2008)

Bengen, D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem


Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan-Institut Pertanian
Bogor. Bogor, Indonesia.

Dahuri, Rohmin. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta.

Fachrul, Melati Ferianita. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara.


Jakarta.

Hardjosuwarno, S. 1994. Metode Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi


Universitas Gajah Mada. Yogyakarta

Irwanto, 2006. Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove.


www.irwantoshut.com (6 Februari 2008).

Irwanto, 2007. Analisis Vegetasi Untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung


Pulau Marsegu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi maluku. Tesis.
Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada; Yogyakarta.

Jamili. 1998. Distribusi Frekuensi Diameter Batang Dan Zonasi Mangrove


Hubungannya Dengan Faktor Lingkungan di Pantai Napabalano Sulawesi
Tenggara. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada; Yogyakarta.

Nyabakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia.


Jakarta.
Rochana, Erna. 2006. Ekosistem Mangrove dan Pengelolaannya di Indonesia.
www.irwantoshut.com. (20 Februari 2008).
Diposkan oleh karmelreinnamah di 02:04

• Kontak
•Alumni
• Kemahasiswaan
• Akademik

• Prodi

• Home FPPB

• Homepage UBB
Unit Kegiatan FPPB UBB

• Reklamasi dan Revitalisasi Lahan Bekas Tambang

• Terumbu Karang (Coral Reef)

• Pinguin Diving Club

• CARSIS

• Jurnal
• Kumpulan Abstrak Skripsi

• Fokus
• Agenda

• Tentang Fakultas
• Info FPPB UBB
• Leaflet / Brosur
• Download
• Buku Tamu
• Gallery

• Artikel
Artikel Lain :

• Reklamasi Lahan Bekas Tambang di Pulau Bangka


• REVITALISASI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH
• Makanan Khas Bangka : Cara Memasak Lempah Kuning
• Sintesis Kebijakan Agribisnis Lada
• Kontribusi Besar Komoditas Lada
• Khasiat Mahkota Dewa
• KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA)

Artikel Tentang Lingkungan

Fungsi dan Peranan Hutan Bakau (Mangrove) dalam Ekosistem,


Jaga Kelestarian Ekosistem Hutan Bakau Bangka Belitung

Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang


didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan
berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000).
Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan
berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang
tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh
proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut,
sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh
proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke
laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di
daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.

Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling
berkolerasi secara timbal balik (Siregar dan Purwaka, 2002). Masing-masing
elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung.
Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan)
secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan.
Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam
menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Mangrove mempunyai peranan ekologis, ekonomis, dan sosial yang sangat
penting dalam mendukung pembangunan wilayah pesisir. Kegiatan rehabilitasi
menjadi sangat prioritas sebelum dampak negatif dari hilangnya mangrove ini
meluas dan tidak dapat diatasi (tsunami, abrasi, intrusi, pencemaran, dan
penyebaran penyakit). Kota-kota yang memiliki areal mangrove seluas 43,80 ha
dalam kawasan hutan berpotensi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata
(ekoturisme).

Dalam merehabilitasi mangrove yang diperlukan adalah master plan yang disusun
berdasarkan data obyektif kondisi biofisik dan sosial. Untuk keperluan ini, Pusat
Litbang Hutan dan Konservasi Alam dapat memberikan kontribusi dalam
penyusunan master plan dan studi kelayakannya. Dalam hal rehabilitasi
mangrove, ketentuan green belt perlu dipenuhi agar ekosistem mangrove yang
terbangun dapat memberikan fungsinya secara optimal (mengantisipasi bencana
tsunami, peningkatan produktivitas ikan tangkapan serta penyerapan polutan
perairan).

Menurut Davis, Claridge dan Natarina (1995), hutan mangrove memiliki fungsi
dan manfaat sebagai berikut :

1. Habitat satwa langka


Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis
burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan
hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan
migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus
semipalmatus)
2. Pelindung terhadap bencana alam
Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau
vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan
garam melalui proses filtrasi.
3. Pengendapan lumpur
Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan
lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan
racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat
pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari
endapan lumpur erosi.
4. Penambah unsur hara
Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi
pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara
yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal
pertanian.
5. Penambat racun
Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat
pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel
tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu
proses penambatan racun secara aktif
6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ)
Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau
mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan.
Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan
mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian
digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan
bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas
pantai karena pemindahan pasir dan lumpur.
7. Transportasi
Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara
yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan.
8. Sumber plasma nutfah
Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi
perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi
kehidupan liar itu sendiri.
9. Rekreasi dan pariwisata
Hutan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari
kehidupan yang ada di dalamnya. Hutan mangrove yang telah
dikembangkan menjadi obyek wisata alam antara lain di Sinjai (Sulawesi
Selatan), Muara Angke (DKI), Suwung, Denpasar (Bali), Blanakan dan
Cikeong (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Hutan mangrove
memberikan obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam
lainnya. Karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan
laut memiliki keunikan dalam beberapa hal. Para wisatawan juga
memperoleh pelajaran tentang lingkungan langsung dari alam. Pantai
Padang, Sumatera Barat yang memiliki areal mangrove seluas 43,80 ha
dalam kawasan hutan, memiliki peluang untuk dijadikan areal wisata
mangrove.

Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi


pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu
menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan
menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka
warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata.
10. Sarana pendidikan dan penelitian
Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan
laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
11. Memelihara proses-proses dan sistem alami
Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya
proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.
12. Penyerapan karbon
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon
organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem,
bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai
(C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan
organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi
sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.
13. Memelihara iklim mikro
Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah
hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.
14. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam
Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan
menghalangi berkembangnya kondisi alam.

Hutan Mangrove dan Perikanan

Dalam tinjauan siklus biomassa, hutan mangrove memberikan masukan unsur


hara terhadap ekosistem air, menyediakan tempat berlindung dan tempat asuhan
bagi anak-anak ikan, tempat kawin/pemijahan, dan lain-lain. Sumber makanan
utama bagi organisme air di daerah mangrove adalah dalam bentuk partikel bahan
organik (detritus) yang dihasilkan dari dekomposisi serasah mangrove (seperti
daun, ranting dan bunga). Selama proses dekomposisi, serasah mangrove
berangsur-angsur meningkat kadar proteinnya dan berfungsi sebagai sumber
makanan bagi berbagai organisme pemakan deposit seperti moluska, kepiting
dang cacing polychaeta. Konsumen primer ini menjadi makanan bagi konsumen
tingkat dua, biasanya didominasi oleh ikan-ikan buas berukuran kecil selanjutnya
dimakan oleh juvenil ikan predator besar yang membentuk konsumen tingkat tiga
Singkatnya, hutan mangrove berperan penting dalam menyediakan habitat bagi
aneka ragamjenis-jenis komoditi penting perikanan baik dalam keseluruhan
maupun sebagian dari siklus hidupnya.

Foto Hutan Mangrove ( Hutan Bakau ) di Indonesia

Nilai Ekonomis Hutan Bakau

Berdasarkan kajian ekonomi terhadap hasil analisa biaya dan manfaat ekosistem
hutan mangrove (bakau) ternyata sangat mengejutkan, di beberapa daerah seperti
Madura dan Irian Jaya dapat mencapai triliunan rupiah, kata Asisten Deputi
Urusan Eksosistem Pesisir dan Laut Kementerian Lingkungan Hidup, Dr LH
Sudharyono.

Pada Workshop Perencanaan Strategis Pengendalian Kerusakan Hutan Mangrove


se-Sumatera di Bandar Lampung terungkap bahwa hasil penelitian Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB-Bogor dengan Kantor Menteri Negara LH
(1995) tentang hasil analisa biaya dan manfaat ekosistem hutan mangrove
Hasilnya ternyata sangat mencengangkan, di Pulau Madura, diperoleh Total
Economic Value (TEV) sebesar Rp 49 trilyun, untuk Irian Jaya Rp. 329 trilyun,
Kalimantan Timur sebesar Rp. 178 trilyun dan Jabar Rp. 1,357 trilyun. Total
TEV untuk seluruh Indonesia mencapai Rp. 820 trilyun.

Berdasarkan hasil analisa biaya dan manfaat terhadap skenario pengelolaan


ekosistem mangrove disarankan skenarionya : 100 persen hutan mangrove tetap
dipertahankan seperti kondisi saat ini, sebagai pilihan pengelolaan yang paling
optimal, kenyataannya, telah terjadi pengurangan hutan mangrove, di Pulau Jawa,
pada tahun 1997 saja luasnya sudah tinggal 19.077 ha (data tahun 1985 seluas
170.500 ha) atau hanya tersisa sekitar 11,19 persen saja.

Penyusutan terbesar terjadi di Jawa Timur, dari luasan 57.500 ha menjadi hanya
500 ha (8 persen), kemudian di Jabar, dari 66.500 ha tinggal kurang dari 5.000 ha.
Sedangkan di Jateng, tinggal 13.577 ha dari 46.500 ha (tinggal 29 persen).
Sementara luas tambak di Pulau Jawa adalah 128.740 ha yang tersebar di Jabar
(50.330 ha), Jateng (30.497 ha), dan di Jatim (47.913 ha).

Dikhawatirkan apabila di waktu mendatang dilakukan ekstensifikasi tambak


dengan mengubah hutan mangrove atau terjadi pengrusakan dan penyerobotan
lahan hutan mangrove, maka kemungkinan besar akan sangat sulit untuk
mendapatkan hutan mangrove di Jawa, bahkan didaerah manapun di Indonesia ini.

Mengingat betapa pentingnya arti kelestarian hutan bakau ini bagi kelangsungan
hidup ekosistem kelautan maka sudah selayaknya dan sewajarnya lah apabila
pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini sangat
memperhatikan keselamatan Hutan-hutan Bakau yang ada diwilayah provinsi
Bangka Belitung. Tak terbayangkan apa yang akan dirasakan oleh seluruh
masyarakat kepulauan Bangka Belitung ini bila suatu saat kelak ekosistem Hutan
Mangrove (hutan Bakau) yang ada di provinsi kepulauan Bangka Belitung ini
hancur atau bahkan musnah, seberapa besar nilai kerugian yang akan didapat,
dan seimbangkah dengan pendapatan dan penghasilan dari kegiatan
perekonomian yang hanya akan berdampak sesaat saja? Tanpa memperhatikan
dampak negatif jangka panjang bagi provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.
Kerugian Materiil yang sangat besar nilainya jika di rupiahkan dan kerugian
sprituil yang tak ternilai harganya ...

Sumber :

• http://my-curio.us/?p=1050
• http://www.gatra.com
• Foto di http://www.e-dukasi.net