Anda di halaman 1dari 7

Jurnal ILMU DASAR, Vol. 22 No.

2, Juli 2021 : 161-167 161

Respon Perkecambahan Biji Kluwek (Pangium edule Reinw.) terhadap Lama


Perendaman dan Konsentrasi Giberelin (GA3)
Kluwek Seed (Pangium edule Reinw) Germination Response to Soaking Time and
Concentration of Gibberellin Acid (GA3)
Tri Ratnasari1), Daniar Alviana2), Hari Sulistiyowati2), Dwi Setyati2)*)
1)
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember
2)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember
*
E-mail: setyatidwi@yahoo.com
ABSTRACT
Kluwek seeds (Pangium edule Reinw.) have a low germination percentage caused by dormancy due
to hard seed coat. Kluwek seed germination takes about 1 month. The purpose of this study was to
obtain a combination of treatments that were effective in increasing the percentage of kluwek seed
germination and reducing the intensity of kluwek seed dormancy. This study used a Completely
Randomized Design (CRD) factorial design. The first factor was immersion time (H) consisting of
five levels, namely H0: Control (0 hour), H1: 6 hours, H2: 12 hours, H3: 18 hours, and H4: 24 hours
and the second factor was giberellin concentration (G) with five levels namely G0: 0 ppm, G1: 25
ppm, G2: 50 ppm, G3: 75 ppm and G4: 100 ppm. Data analysis used Analysis of Variance (Anava)
and further tested with Duncans' Multiple Range test (DMRT) at a significant level of 5%. The
results obtained showed that the percentage of seed germination without immersion is 6.67%.
Soaking using aquades produces an average germination percentage of 28.33%. The most effective
treatment was GA3 75 ppm for 24 hours with seed germination of 60%, while the value of dormant
intensity is 40%.
Keywords: dormancy, germination, gibberellin, kluwek.
PENDAHULUAN pasaran. Selain itu juga menyebabkan
kerusakan biji sebelum proses perkecambahan
Kluwek (Pangium edule Reinw.) merupakan
(Wulandari, 2011). Perkecambahan merupakan
salah satu tumbuhan yang berasal dari Indonesia
suatu proses metabolisme biji yang ditandai
yang bijinya memiliki bentuk, warna, dan rasa
dengan munculnya plumula dan radikula
yang khas. Pohon kluwek di Indonesia antara
(Gardner & Pearce, 1991). Penyebab lamanya
lain dapat dijumpai di Taman Nasional Meru
waktu yang diperlukan biji kluwek untuk
Betiri (TNMB). TNMB merupakan salah satu -
berkecambah yaitu struktur biji yang keras dan
dari empat Taman Nasional yang berada di
memiliki permukaan yang kasar (Heyne, 1997).
Provinsi Jawa Timur yang memiliki luas 58.000
Kulit biji yang keras merupakan salah satu
ha. Biji kluwek pada umumnya hanya
faktor penyebab terjadinya dormansi.
dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Selain
Dormansi biji merupakan waktu yang
itu, biji kluwek mempunyai nilai ekonomi yang
dibutuhkan biji untuk berhenti melakukan
lain seperti diolah menjadi minyak, pengawet
aktivitas tumbuh dalam kondisi yang kurang
alami ikan, dan pestisida nabati. Ekstrak biji dan
mendukung untuk berkecambah. Dormansi biji
batang kluwek dapat digunakan sebagai
dapat disebabkan oleh beberapa faktor di
pestisida nabati karena adanya senyawa sianida
antaranya adalah struktur kulit biji yang keras
yang berperan dalam mengurangi hama ulat
(Isnaeni & Habibah, 2014). Kerasnya struktur
grayak dan keong mas (Wulandari, 2011).
kulit biji ini akan mempersulit proses imbibisi
Banyaknya manfaat tersebut menyebabkan
air kedalam biji sehingga proses perkecambahan
kluwek sangat perlu untuk dikembangkan dan
terhambat. Dormansi biji dapat dipatahkan
dibudidayakan.
dengan beberapa perlakuan yang ditujukan pada
Tumbuhan kluwek pada umumnya
kulit biji, embrio dan endosperm biji untuk
diperbanyak secara generatif yaitu
mengaktifkan kembali sel-sel biji yang dorman
menggunakan biji. Perkecambahan biji kluwek
(Gardner & Pearce, 1991).
secara alami memerlukan waktu 1 bulan.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk
Lamanya waktu yang diperlukan biji kluwek
mematahkan dormansi biji antara lain yaitu
untuk berkecambah berdampak pada
dengan menggunakan zat pengatur tumbuh
terbatasnya ketersediaan bibit kluwek di
(ZPT). Hormon tumbuhan yang umum

Journal homepage: https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID


162 Respon Perkecambahan Biji Kluwek … (Ratnasari, dkk)

digunakan untuk pematahan dormansi adalah Koleksi biji kluwek


giberelin (GA3) (Elfianis et al.,2019). Biji kluwek diperoleh dari pohon yang tersebar di
Penggunaan GA3 mampu mempercepat kawasan Sanenrejo. Biji kluwek yang digunakan
perkecambahan biji, pertumbuhan tunas, sebagai sampel adalah biji yang diperoleh dari buah
kluwek yang sudah masak dipohon. Biji kluwek yang
pemanjangan batang, pertumbuhan daun, dan dikoleksi dari lokasi penelitian selanjutnya diseleksi
mobilisasi karbohidrat selama masa untuk mendapatkan biji yang berkualitas. Seleksi biji
perkecambahan berlangsung (Yasmin et al., dilakukan dengan cara mengamati kondisi kulit biji.
2014). Lama perendaman dan konsentrasi GA3 Kualitas biji kluwek yang baik ditandai dengan kulit
merupakan faktor penentu pada pematahan biji yang masih utuh (tidak mengalami peretakan).
dormansi. Penelitian terdahulu pada Biji kemudian dicuci dan disikat untuk
perkecambahan biji sirsak (Anonna muricata menghilangkan sisa daging buah yang masih
L.) menunjukkan bahwa pada konsentrasi GA3 menempel pada biji. Biji yang sudah bersih dijemur
15 ppm dengan lama perendaman 12 jam selama 3 hari untuk menghindari tumbuhnya jamur
selama proses perkecambahan. Biji yang sudah
menghasilkan persentase perkecambahan kering digunakan untuk perlakuan selanjutnya.
100%, sedangkan kontrol (tanpa pemberian
Persiapan media perkecambahan
GA3) persentase perkecambahannya 46,67% Media perkecambahan biji kluwek merupakan
(Silvia, 2014). Berdasarkan tersebut, penelitian campuran antara tanah dan pasir dengan
mengenai perkecambahan biji kluwek dengan perbandingan 1:1. Tanah dan pasir sebelum
perlakuan lama perendaman dan konsentrasi digunakan dijemur terlebih dahulu. Campuran tanah
perlu dilakukan. Perlakuan GA3 tersebut dan pasir dimasukkan ke dalam bak perkecambahan
diharapkan mampu mempercepat yang telah dilubangi. Bak perkecambahan diisi media
perkecambahan biji kluwek dan meningkatkan tanam setinggi 7 cm dari dasar bak.
persentase perkecambahannya. Perlakuan hormon GA3 dan perkecambahan biji
Biji kluwek hasil seleksi selanjutnya direndam dalam
METODE hormon GA3 dengan konsentrasi dan lama
Waktu dan tempat Penelitian perendaman sesuai perlakuan. Biji selanjutnya
Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat yaitu dikecambahkan dalam bak yang telah berisi media
kawasan Sanenrejo untuk koleksi biji Kluwek tanam. Biji yang sudah diberi perlakuan diletakkan
sedangkan perlakuan biji kluwek dalam larutan GA secara horizontal dalam bak perkecambahan. Pada
dan pengamatan perkecambahan dilakukan di tiap bak ditanam 10 biji. Pemeliharaan biji dilakukan
Laboratorium Botani, Jurusan Biologi FMIPA dengan cara menyiram media tanam menggunakan
Universitas Jember.Penelitian ini dilakukan pada air sebanyak 2 kali sehari dengan volume masing-
bulan Juli 2017-Juni 2018. masing 100 ml pada masing-masing perlakuan agar
tanah tetap dalam kondisi yang lembab.
Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Parameter penelitian
gelas ukur Pyrex 10 dan 100 ml, gelas beker Pyrex 1 Parameter yang diamati yaitu jumlah biji yang
L, alumunium foil, botol scott Duran 1L, bak berkecambah dan jumlah biji yang gagal
perkecambahan ukuran 37 x 29 x 7 cm, solder listrik, berkecambah. Pengamatan tersebut dilakukan sampai
ayakan kawat rim ukuran 0,5 x 0,5 cm, dan neraca hari ke-30. Jumlah biji kluwek yang berkecambah
digital Acculab. selanjutnya digunakan untuk menentukan persentase
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah perkecambahan, sedangkan biji yang gagal
biji kluwek, GA3 dengan konsentrasi: 25 ppm, 50 berkecambah digunakan untuk menentukan intensitas
ppm, 75 ppm, dan 100 ppm, tanah kebun dan pasir dormansi biji kluwek.
sebagai media tanam, polibag, label, akuades, dan Analisis Data
alkohol 90%. Data yang didapatkan dari parameter pengamatan
Prosedur penelitian digunakan untuk menghitung persentase
Rancangan penelitian perkecambahan dan intensitas dormansi. Adapun
Rancangan penelitian yang digunakan dalam rumus perhitungan dari parameter penelitian yang
penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap diamati sebagai berikut:
(RAL) pola faktorial dengan 2 faktor yaitu lama 1. Persentase Perkecambahan (PP)
perendaman (H) dan konsentrasi GA3 (G) masing- ∑ benih yang berkecambah
masing perlakuan terdiri atas 5 aras dengan 3 ulangan. PP= X 100%
∑ benih yang dikecambahkan
Faktor I: lama perendaman dalam GA3 (H) terdiri (Sutopo, 2002).
lima aras yaitu: H0: 0 jam, H1: 6 jam, H2: 12 jam,
H3 : 18 jam, H4 : 24 jam. Faktor II: konsentrasi GA3, 2. Intensitas Dormansi (ID)
terdiri dari lima aras yaitu: G0: 0 ppm, G1 : 25 ppm, ∑ benih yang tidak tumbuh
G2 : 50 ppm, G3 : 75 ppm, G4 : 100 ppm. ID= X 100%
∑ benih yang dikecambahkan
(Sutopo, 2002).
Jurnal ILMU DASAR, Vol. 22 No. 2, Juli 2021 : 161-167 163

Data yang diperoleh kemudian dianalisis Peningkatan persentase perkecambahan biji


menggunakan program SPSS (Statistical Product and kluwek dengan perlakuan hormon GA3 diduga
Service Solutions) 16. Apabila uji ANAVA dapat meningkatkan kandungan giberelin dalam
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan biji. Hal inilah yang menyebabkan terjadi
maka dilanjutkan uji DMRT (Duncan’s Multiple
Range Test) pada taraf 5% untuk membandingkan
peningkatan persentase perkecambahan biji
perbedaan antar perlakuan (Gomez & Gomez, 1995). kluwek dengan perlakuan hormon GA3.
Penambahan hormon GA3 dalam proses
HASIL DAN PEMBAHASAN perkecambahan biji diawali oleh proses difusi
Persentase perkecambahan biji kluwek GA3 pada lapisan aleuron yang kemudian
Persentase perkecambahan adalah jumlah biji mampu menstimulus atau merangsang sintesis
yang mampu berkecambah pada kondisi enzim perkecambahan. Enzim perkecambahan
lingkungan tertentu dalam jangka waktu yang yakni amilase selanjutnya merombak protein
telah ditetapkan (Sutopo, 2002). Hasil analisis dan pati menjadi asam amino dan senyawa gula
sidik ragam (Anava) menunjukkan kenaikan (glukosa dan maltosa). Senyawa gula dan asam
konsentrasi GA3, lama perendaman dalam GA3, amino yang dihasilkan akan ditransfer ke dalam
dan interaksi antara keduanya berbeda nyata embrio yang digunakan untuk perkembangan
yang ditunjukkan melalui nilai Fhitung masing- embrio sehingga muncul kecambah (Heddy,
masing parameter yang diamati lebih besar 1996). Perlakuan biji kluwek dengan GA3
daripada Ftabel. Hal ini menunjukkan konsentrasi 75 ppm dengan perlakuan lama
konsentrasi, lama perendaman dalam hormon perendaman 24 jam menunjukkan rata-rata
GA3, dan kombinasi perlakuan dari keduanya persentase perkecambahan paling tinggi yaitu
dapat memberikan pengaruh yang nyata 60% dibandingkan dengan perlakuan
terhadap persentase perkecambahan biji perendaman 24 jam dengan GA3 0 ppm, 25 ppm,
kluwek. 50 ppm, dan 100 ppm (Tabel 1). Lama
Biji kluwek pada kontrol yaitu tanpa perendaman berpengaruh terhadap pelunakan
perlakuan perendaman menunjukkan nilai rata- biji sehingga air bisa melakukan imbibisi ke
rata persentase perkecambahan 6,67%. Rata- dalam biji, perendalam yang lebih lama yakni
rata persentase perkecambahan tersebut lebih 24 jam mampu meningkatkan persentasi
rendah dibandingkan dengan biji kluwek yang perkecambahan. Perlakuan GA3 pada
diberi perlakuan perendaman (GA3 0 ppm) yaitu konsentrasi 75 ppm memiliki tingkat
28,33% (Tabel 1). Tanpa perendaman, biji perkecambahan paling optimal, hal ini
terhambat proses imbibisinya karena menunjukkan bahwa dengan konsentrasi 75ppm
keterbatasan air yang menyebabkan hormon GA3 mampu menstimulis enzim amilase dan
pertumbuhan dalam keadaan tidak aktif. Biji saat konsentrasi dinaikkan menjadi 100ppm
membutuhkan air untuk melunakkan kulit biji terjadi penurunan persentase perkecambahan
dan menyebabkan pengembangan embrio dan dimungkinkan terjadinya inhibisi balik.
endosperm. Embrio dan endosperm akan Interaksi antara kedua perlakuan tersebut
membengkak sehingga mendesak kulit biji yang merupakan interaksi yang sesuai untuk
sudah lunak sampai pecah (Puspaningrum et al., meningkatkan persentase perkecambahan biji
2012). kluwek. Kombinasi perlakuan tersebut
Perlakuan biji kluwek kontrol (0 ppm) menghasilkan persentase perkecambahan
dengan perlakuan lama perendaman yang tertinggi. Adnan (2017) menyampaikan, pada
berbeda menunjukkan rata-rata persentase biji kakao perlakuan giberelin konsentrasi 75
perkecambahan 28,33%. Nilai tersebut lebih ppm lama perendaman 24 jam menyebabkan
rendah dibandingkan dengan biji kluwek yang proses imbibisi berjalan optimal, sehingga air
diberi perlakuan hormon GA3. Konsentrasi 0 dan zat yang terdapat di dalam giberellin dapat
ppm pada perendaman biji kluwek merangsang perkembangan sel pada biji,
menggunakan aquades. Proses perkecambahan sehingga biji lebih cepat berkecambah.
biji selain membutuhkan air juga membutuhkan Peningkatan perkecambahan akan berjalan
hormon yaitu giberelin (Srivastava, 2002). Biji seimbang dengan peningkatan potensi tumbuh
yang masak juga mengandung giberelin tetapi biji kakao.
dalam konsentrasi yang rendah. Oleh karena itu Rata-rata persentase perkecambahan biji
pada perlakuan 0 ppm hasil persentase kluwek, tanpa memperhitungkan lama
perkecambahan lebih rendah daripada perendaman menunjukkan bahwa pada
perlakuan GA3. perlakuan GA3 (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, dan

Journal homepage: https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID


164 Respon Perkecambahan Biji Kluwek … (Ratnasari, dkk)

100 ppm) lebih tinggi daripada 0 ppm tetapi Tabel 1. Pengaruh Konsentrasi dan lama
rata-rata persentase perkecambahan tertinggi perendaman GA3 terhadap rata-rata
dijumpai pada konsentrasi 75 ppm yaitu 48,33% persentase perkecambahan biji
(Tabel 1). Semakin tinggi ketersediaan giberelin kluwek
dalam biji maka akan semakin tinggi pula
Konsentrasi Lama Persentase
kemampuan biji untuk berkecambah. Hal
Hormon perendaman Perkecambahan
tersebut berarti biji tersebut memiliki
(ppm) (jam) (%)
kemampuan perkecambahan tinggi yang
selanjutnya akan mendorong terbentuknya ( ̅ ± SD)
bagian-bagian penting untuk pertumbuhan Kontrol (tanpa
6,67±5,77ab
tanaman seperti batang, daun, dan akar (Sari et perendaman)
al., 2014). 6 16,67±5,77ab
Rata-rata persentase perkecambahan biji 12 26,67±5,77abc
kluwek mengalami penurunan pada konsentrasi 0 18 33,33±11,55bcd
GA3 100 ppm yaitu 35%. Nilai tersebut lebih 24 36,67±5,77bcde
tinggi dibandingkan kontrol. Kekurangan dan Rata-rata 28,33±7,21
kelebihan kandungan giberelin dalam biji akan 6 30,00±10,00abc
mengakibatkan terhambatnya sintesis enzim 12 43,33±15,27cde
perkecambahan yang akhirnya akan 25 18 50,00±10,00cde
mempengaruhi kecepatan berkecambah 24 56,67±11,55de
(Mustopa, 2015). Rata-rata 45,00±11,70
Lama perendaman biji kluwek dalam 6 36,67±5,77bcde
hormon GA3 yang semakin meningkat yaitu 0 12 36,67±5,77bcde
jam, 6 jam, 12 jam, 18 jam, dan 24 jam mampu 50 18 40,00±20,00bcde
meningkatkan persentase perkecambahan. Rata- 24 43,33±5,77cde
rata hasil tertinggi jika dibandingkan kontrol (0 Rata-rata 39,17±9,33
ppm) terdapat pada lama perendaman 24 jam. 6 36,67±11,55bcde
Semakin lama perendaman pada hormon GA3 12 46,67±11,55cde
dapat meningkatkan persentase perkecambahan 75 18 50,00±30,00cde
biji kluwek. Lama perendaman yang efektif 24 60,00±17,32e
dalam merangsang perkecambahan biji Rata-rata 48,33±17,60
Calopogonium caeruleum yaitu 24 jam (Asra, 6 30,00±17,32abc
2014). Semakin lama biji direndam maka proses 12 36,67±11,55bcde
imbibisi biji akan semakin lama, sehingga 100 18 43,33±5,77cde
semakin banyak air dan giberelin yang masuk ke
24 50,00±20,00cde
dalam biji. Peranan giberelin untuk merangsang
Rata-rata 35,00±13,66
perkecambahan dan juga untuk mamacu Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama
pertumbuhan vegetative (Asra, 2014). menunjukkan tidak berbeda nyata pada
Tingginya konsentrasi yang diberikan dan uji Duncan dengan taraf 5%.
lamanya waktu perendaman yang diaplikasikan
Intensitas dormansi biji kluwek
akan meningkatkan penyerapan air dan
Intensitas dormansi merupakan persentase biji
pengaktifan enzim-enzim hidrolitik yang akan
yang tidak tumbuh atau tidak berkecambah
merombak zat cadangan makanan yang akan
sampai akhir pengamatan. Nilai intensitas
merangsang aktivitas pembelahan dan
dormansi berbanding terbalik dengan nilai
pembesaran sel yang dapat mempercepat
persentase perkecambahan. Apabila nilai
pertumbuhan biji (Suhendra et al., 2016).
persentase perkecambahan tinggi maka nilai
Jurnal ILMU DASAR, Vol. 22 No. 2, Juli 2021 : 161-167 165

intensitas dormansinya rendah (Kartika & ppm dengan lama perendaman 24 jam yaitu
Susanti, 2015). Berdasarkan Tabel 2 biji kluwek 40%. Hal ini menunjukkan konsentrasi 75 ppm
kontrol tanpa perlakuan perendaman intensitas dengan lama perendaman 24 jam adalah
dormansinya lebih tinggi yaitu 93,33% perlakuan yang sesuai dalam mematahkan
dibandingkan dengan perlakuan perendaman dormansi biji Kluwek. Perlakuan tersebut
dalam aquades (0 ppm). Tingginya intensitas merupakan perlakuan yang dibutuhkan oleh biji
dormansi biji kluwek pada perlakuan tanpa Kluwek untuk menurunkan hormon ABA dalam
perendaman dikarenakan kandungan air dalam biji. Perlakuan GA3 konsentrasi 75 ppm lama
biji yang sedikit menyebabkan terhambatnya perendaman 24 jam adalah perlakuan yang
proses imbibisi. Terbatasnya kandungan air dan sesuai untuk mematahkan dormansi yang
biji juga menghambat kemunculan embrio yang menghasilkan persentase kecambah biji Kluwek
menyebabkan kemunculan radikula juga terbaik yaitu 60% dengan nilai intensitas
terhambat (Salisbury & Ross, 1995). Selain itu, dormansi 40%.
tingginya kandungan hormon ABA pada
Tabel 2. Pengaruh konsentrasi dan lama
kotiledon dan kulit biji juga menjadi penyebab
perendaman dalam GA3 terhadap
intensitas dormansi biji kluwek tinggi. ABA
rata-rata intensitas dormansi biji
merupakan hormon tumbuhan yang berfungsi
untuk melindungi tumbuhan dari cekaman Konsentrasi Lama Intensitas
kekeringan dengan cara menstimulus penutupan Hormon perendaman Dormansi (%)
stomata. Keberadaan ABA meningkat saat (ppm) (jam) ( ̅ ± SD)
kondisi lingkungan kekuarangan air dan akan Kontrol (tanpa
menurun saat terjadi imbibisi air pada 93,33±5,77e
perendaman)
tumbuhan. Hormon ABA dapat menghambat 6 83,33±5,77de
sintesis protein dan asam nukleat, juga 12 73,33±5,77cde
menghambat proses pembentukan α-amilase 0 18 66,67±11,55bcd
(Salisbury & Ross, 1995). 24 63,33±5,77abcd
Proses sintesis protein dan α-amilase yang Rata-rata 71,67±7,21
terhambat menyebabkan terhambatnya reaksi- 6 70,00±10,00cde
reaksi enzimatis dalam biji, terutama reaksi 12 56,67±15,27abc
pemecahan karbohidrat menjadi gula reduksi. 25 18 50,00±10,00abc
Terhambatnya reaksi tersebut menyebabkan biji 24 43,33±11,55ab
gagal untuk berkecambah (dorman)
Rata-rata 55,00±11,70
(Purwaningsih, 2001).
6 63,33±5,77abcd
Intensitas dormansi pada kontrol
12 66,67±15,27 bcd
(perendaman dalam akuades) yaitu 71,67%
50 18 60,00±20,00abcd
menunjukkan hasil yang lebih rendah
dibandingkan dengan biji tanpa perendaman. 24 56,67±5,77abc
Semakin lama perendaman (6 jam, 12 jam, 18 Rata-rata 61,67±11,68
jam, dan 24 jam) pada semua perlakuan semakin 6 63,33±5,77 abcd
menurunkan intensitas dormansi. Hal ini 12 53,33±11,55abc
dikarenakan semakin lama waktu perendaman 75 18 50,00±30,00abc
maka jumlah air yang masuk dalam biji semakin 24 40,00±17,32a
bertambah. Air yang berimbibisi ke dalam biji Rata-rata 51,67±16,16
akan segera mengaktifkan giberelin dan 6 70,00±17,32cde
mengkatalis cadangan makanan yang 12 63,33±11,55 abcd
mendukung embrio selama proses 100 18 56,67±5,77abc
perkecambahan (Pranoto, 1990). 24 50,00±20,00abc
Hasil analisis rata-rata intensitas dormansi Rata-rata 60,00±13,66
biji Kluwek pada Tabel 2 menunjukkan bahwa Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang
peningkatan konsentrasi hormon GA3 sama menunjukkan tidak berbeda nyata
menurunkan intensitas dormansi biji Kluwek pada uji Duncan dengan taraf 5%.
dibandingkan dengan kontrol (tanpa Biji yang direndam dalam GA3 75 ppm
perendaman) dan kontrol (perendaman dalam dengan lama perendaman 24 jam akan
akuades). Intensitas dormansi terendah terdapat meningkatkan kadar giberelin dalam bentuk
pada perlakuan konsentrasi hormon GA3 75 bebas. Semakin lama perendaman semakin

Journal homepage: https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID


166 Respon Perkecambahan Biji Kluwek … (Ratnasari, dkk)

meningkat kadar giberelin bebas. Selanjutnya Tanaman Budidaya. Jakarta: UI-Press.


giberelin yang akan mengaktifkan enzim-enzim Gomez KA & Gomez AA.1995. Prosedur
hidrolitik yang berperan dalam menghidrolisis Statistik untuk PenelitianPertanian. Edisi
zat cadangan makanan sebagai energi bagi biji Kedua. Jakarta : UI–Press, hal :13–16.
untuk tumbuh secara homogen (Diah & Alfandi, Heddy S. 1996. Hormon Tumbuhan. Jakarta:
2013). Raja Grafindo Persada.
GA3 100 ppm dengan lama perendaman 24 Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia
jam dapat meningkatkan intensitas dormansi IV. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
menjadi 50% dibandingkan konsentrasi 75 ppm Isnaeni E & Habibah NA. 2014. Efektivitas
dan lama perendaman 24 jam yaitu 40%. Skarifikasi dan Suhu Perendaman terhadap
Konsentrasi yang tinggi justru menghambat Perkecambahan Biji Kepel [Stelechocarpus
bagi biji sehingga persentase perkecambahan burahol (blume) Hook. F & Thompson]
menurun atau intenitas dormansi meningkat secara in vitro dan ex vitro. Jurnal MIPA.
dibanding konsentrasi yang lebih rendah yaitu 37(2):105-114.
75 ppm. Perlakuan pematahan dormansi yang Kartika SM & Susanti M. 2015. Pematahan
tepat dapat mempercepatbiji dorman untuk Dormansi Benih Kelapa Sawit (Elaeis
berkecambah dan menghasilkan bibit yang guineensis Jacq.) menggunakan KNO3 dan
seragam (Dien, 1986). Skarifikasi. Jurnal Pertanian dan
Lingkungan Hidup. 3(3): 48-5.
KESIMPULAN
Mustopa SA. 2015. Pengaruh Konsentrasi Asam
Pemberian hormon GA3 dan perendaman dapat Giberelat (GA3) dan Lama Perendaman
meningkatkan persentase perkecambahan dan Terhadap Viabilitas, Vigor dan Pertumbuhan
menurunkan intensitas dormansi biji Kluwek. Benih Jarak (Jatropha curcas L.) Klon Ip-1p
Konsentrasi hormon GA3 75 ppm dengan lama di Pembenihan. Jurnal Paspalum. 3(2):22-27
perendaman 24 jam adalah kombinasi perlakuan Pranoto, H.1990. Biologi Benih. Bogor: IPB
yang efektif dalam meningkatkan persentase Press.
perkecambahan biji Kluwek sebesar 60% serta Purwaningsih O. 2001. Kajian Fisiologis dan
intensitas dormansi menjadi 40%. Biokimiawi Benih Rambutan (Nephelium
lappaceum L.) selama Penyimpanan dengan
DAFTAR PUSTAKA
Perlakuan ABA dan GA3. Jurnal Ilmu
Adnan. 2017. Pengaruh Konsentrasi Dan Pertanian. 8(2): 66-75.
Lamanya Perendaman Dalam Larutan Puspaningrum C, Abdurrani M, & Reine SW.
Giberellin Terhadap Perkecambahan Benih 2012. Pengaruh Kombinasi Larutan
Kakao. Jurnal Penelitian Agrosamudra. Perendaman dan Lama Penyimpanan
4(2): 30-40. terhadap Viabilitas, Vigor dan Dormansi
Asra R. 2014. Pengaruh Hormon Giberelin Benih Padi Hibrida Kultivar SL-8. Jurnal
(GA3) terhadap Daya Kecambah dan Agrorektan. 2(2):125.
Vigoritas Calopogonium caeruleum. Jurnal Salisbury FB & Ross CW. 1995. Fisiologi
Biospecis.7(1): 29-33. Tumbuhan. Jilid I. Penerjemah: Lukman,
Diah HE. & Alfandi. 2013. Pengaruh D.R. dan Sumaryono. Bandung: Penerbit
Konsentrasi GA3 dan Lama Perendaman ITB.
Benih terhadap Mutu Benih Kedelai (Glycine Sari HP, Hanum C & Charloq. 2014. Daya
max L. Merrill) Kultivar Burangrang. Kecambah dan Pertumbuhan Mucuna
Agroswagati, 1(1), 31-42. bracteata Melalui Pematahan Dormansi dan
Dien HKP. 1986. Pengaruh Beberapa Cara Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Giberelin
Ekstraksi dan Perlakuan Pendahuluan (GA3). Jurnal Agroekoteknologi. 2(2):630-
terhadap Daya Berkecambah Benih Rotan 644.
Manau (Calamus manna MIQ). Bogor: Balai Silvia P. 2014. Pengaruh Konsentrasi Giberelin
Teknologi Perbenihan. dan Lama Perendaman terhadap
Elfianis R, Hartina S, Permanasari I, & Perkecambahan Biji Sirsak (Anonna
Handoko J. 2019. Pengaruh Skarifikasi dan muricata L.). Jurnal Biopendix. 1(1):73-79.
Hormon Giberelin (GA3) terhadap Daya Srivastava LM. 2002. Plant Growth and
Kecambah dan Pertumbuhan Bibit Palem Development Hormones and Environment.
Putri (Veitchia merillii). 10(1): 41-48. Amsterdam; Sydney: Academic Press.
Gardner FB & Pearce RB. 1991. Fisiologi Suhendra D, Nisa TC & Hanafiah DS. 2016.
Jurnal ILMU DASAR, Vol. 22 No. 2, Juli 2021 : 161-167 167

Efek konsentrasi hormon giberelin (GA3) dan Informasi Singkat Biji No.124. Makassar:
lama perendaman pada berbagai pembelahan BPTH Sulawesi.
terhadap perkecambahan benih manggis Yasmin ST, Wardiyati & Koesriharti. 2014.
(Garcinia mangostana L). Jurnal Pertanian Pengaruh Perbedaan Waktu Aplikasi dan
Tropik. 3(3): 238-248. Konsentrasi GA3 terhadap Pertumbuhan
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Jakarta: PT. dan Hasil Tanaman Cabai Besar (Capsicum
Raja Grafindo Persada. annuum L.). Jurnal Produksi Tanaman.
Wulandari D. 2011. Pangiumedule Reinw. 2(5): 395.

Journal homepage: https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID