Anda di halaman 1dari 18

PERSYARATAN DAN PEMERIKSAAN AIR MINUM

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah


Pengelolaan Sumber Daya Air

DISUSUN OLEH

Aris Alfianto (2009710047)

Ahmad Fayumi (2009710042)

Afrilia Rahmah Fitri (2009710055)

Prana Wildan Cahyadi (2009710053)

Rahmawati (2009710036)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN PROGRAM


STUDI KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA

2011
EXECUTIVE SUMMARY

Di beberapa negara terutama negara berkembang, krisis air minum dapat terjadi
karena jumlah penduduk yang terlalu banyak, penyediiaan air minum yang tidak
memadai, dan pencemaran sumber air. Populasi negara berkembang biasanya
menduduki peringkat bawah dalam indeks kesehatan termasuk penyediaan air minum
dibandingkan dengan negara maju. Kurang lebih setengah penduduk di negara
berkembang menderita satu atau lebih dari enam penyakit utama yang berkaitan
dengan kualitas air minum atau sanitasi, yaitu diare yang disebabkan berbagai mikroba
atau virus patogen dalam makanan dan minuman.

Selain itu, dilaporkan sekitar 400 anak di bawah 5 tahun meninggal setiap jam di
negara berkembang akibat penyakit diare yang ditularkan melalui air ( waterborne
diarrheal disease). Untuk mencegah terjadinya diare, air minum yang dikonsumsi harus
bebas dari mikroba. Oleh karena itu, kemampuan menyediakan air minum yang aman
untuk kebutuhan hidup manusia merupakan syarat yang mendasar.

Umumnya didalam air terdapat berbagai unsur kimia. Unsur kimia yang biasa
terkandung didalam air adalah mineral anorganik; seperti zat besi, seng, flouride dan
aluminium. Mineral tersebut dalam jumlah tertentu dibutuhkan oleh tubuh manusia
sebagai sumber mineral untuk membantu memelihara kesehatan, namun dapat
menyebabkan gangguan kesehatan jika jumlahnya berlebihan melampaui jumlah yang
dibutuhkan.

Berbagai unsur kimia dapat ditemukan dalam air minum, baik unsur yang
bermanfaat, merugikan kesehatan, atau menyebabkan keluhan apabila dikonsumsi
dalam jumlah tertentu. Unsur kimia tersebut dapat berupa bahan organik ataupun
anorganik. Bahan yang merugikan kesehatan tersebut dapat berasal dari berbagai
sumber seperti dari pestisida, bahan dari industri, antiseptik dan lain-lain.
Berbagai unsur radioaktif juga dapat mencemari air minum. Indikator untuk
menentukan ada tidaknya kontaminasi oleh zat radioaktif adalah aktifitas sinar alpa dan
beta serta unsur radon.

Di berbagai negara, pemerintah menentukan persyaratan air minum. Agar air


dapat diminum, harus memenuhi persyaratan kualitas air minum (kriteria mutu air
minum). Berbagai negara telah menentukan persyaratan air minum di negara masing-
masing.

Persyaratan air minum ini dapat berbeda antarnegara karena tergantung pada
kemampuan masing-masing negara untuk menyediakan air minum yang aman.
Beberapa contoh negara yang sudah menetapkan ketentuan tentang air minum antara
lain Amerika Serikat dengan ketentuan United States Environmental Protection Agency
(USEPA), Australia dengan menetapkan Australian Drinking Water Guidelines (ADGW),
Selandia Baru dengan Drinking-water Standards for New Zealand 2005 (DWSNZ),
Perancis dengan ketentuan Water Quality Control The French Ministry of Health. World
Health Organization (WHO) tidak menetapkan standar kualitas air minum, tetapi hanya
merekomendasikan panduan (guidelines) mutu air minum.

Di Indonesia, KMD (Kadar Maksimum yang Diperbolehkan)untuk persyaratan air


minum ditetapkan berdasarkan Permenkes Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010. Pada
standar tersebut ditentukan KMD determinan/unsur, yang terdiri dari KMD fisik, kimia,
mikrobiologi, dan radioaktif dalam air minum. Air minum yang aman untuk dikonsumsi
harus meliputi semua persyaratan kualitas air minum, yang meliputi persyaratan fisik,
mikrobiologi, kimiawi, dan radioaktif. (lihat lampiran 1)

Dalam Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan pada pasal 22


ayat 23 mengatakan bahwa Penyehatan Air meliputi pengamanan dan penetapan
kualitas air untuk berbagai kebutuhan hidup manusia. Upaya penyehatan air bertujuan
untuk menjamin tersedianya air minum ataupun air bersih yang memenuhi persyaratan
kesehatan bagi seluruh masyarakat baik perkotaan maupun pedesaan. Untuk menjamin
tersedianya kualitas air yang memenuhi persyaratan tersebut, berbagai upaya telah
dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat, seperti pembangunan dan
perbaikan sarana air bersih/air minum, upaya pengawasan kualitas air dan
penyuluhan–penyuluhan mengenai hubungan kesehatan dengan tersedianya air yang
memenuhi persyaratan kesehatan.

Salah satu aspek yang sangat esensial untuk terjaminnya kualitas air yang
memenuhi persyaratan tersebut adalah tersedianya suatu perangkat yang dapat
mengatur dan mengawasi pihak yang memproduksi air dan pihak konsumen, yang
meliputi hak, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing demi terjaminnya kuantitas
dan kualitas air. Sejauh ini, beberapa Dati II di Indonesia telah mengembangkan dan
membuat peraturan Daerah tentang pengawasan kualitas air di Dati II masing-masing,
sebagian telah berjalan dengan cukup baik sisanya masih berupa SK kepala Daerah,
sedangkan daerah lainnya masih belum mempunyai peraturan dimaksud. Melihat
kondisi yang demikian, Departemen Kesehatan RI dalam hal ini Direktorat Jenderal
PPM & PLP penyusun suatu pedoman teknis yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah
daerah sebagai acuan untuk menyusun Peraturan Daerah tentang pengawasan kualitas
air di Dati II masing-masing.
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air minum merupakan kebutuhan manusia paling penting. Seperti diketahui,


kadar air tubuh manusia mencapai 68 persen dan untuk tetap hidup air dalam tubuh
tersebut harus dipertahankan. Kebutuhan air minum setiap orang bervariasi dari 2,1
liter hingga 2,8 liter per hari, tergantung pada berat badan dan aktivitasnya. Namun,
agar tetap sehat, air minum harus memenuhi persyaratan fisik, kimia, maupun
bakteriologis (Suriawiria, 1996).

Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia. Menurut
Departemen Kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau,
tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber
alam dapat diminum oleh manusia, terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh
bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat
dibunuh dengan memasak air hingga 100o C, banyak zat berbahaya, terutama
logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini (Suprihatin, 2006).

Untuk pertama kalinya Indonesia memproduksi air minum dalam kemasan


dengan merk “AQUA” pada tahun 1972. Lambat laun perkembangan air minum
dalam kemasan berkembang pesat. Tetapi, makin lama harga air minum dalam
kemasan terasa mahal dan hanya dapat dijangkau oleh golongan ekonomi
menengah ke atas. Celah ini menjadikan bisnis air minum isi ulang memiliki
mangsa pasar sendiri. Maraknya bisnis baru ini tidak terlepas dari semakin
mahalnya harga air minum kemasan terutama yang bermerek. Harga yang
ditawarkan air minum isi ulang dapat lebih murah lantaran tidak memerlukan biaya
pengiriman dan pengemasan (Widiarto dan Toto, 2003).
Masyarakat atau pasar masih memiliki persepsi bahwa depot air minum isi
ulang ini air bakunya adalah berasal dari sumber mata air pegunungan yang
memenuhi syarat-syarat kesehatan. Dalam kenyataannya tidak demikian, air baku
dapat diambil dari berbagai sumber. Higienitas depot air minum isi ulang memang
tidak dapat ditentukan. Selain kualitas peralatannya, tergantung pula kemampuan
dan ketaatan tenaga yang mengoperasikan peralatan tersebut termasuk sikap dan
perilaku bersih dan sehatnya. Tenaga yang mengoperasikan dan menangani hasil
olahan yang tidak berperilaku bersih dan sehat dapat mencemari hasil olahan
(Siswanto, 2004).

DAMIU yang terdaftar dalam pengawasan Dinas Kesehatan Kota Surakarta


terdapat 66 DAMIU. Setiap 1 bulan sekali diadakan pemeriksaan mikrobiologis
untuk air minum isi ulang oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta, agar tidak
menyimpang dari kualitas baku mutu air minum yang sehat.

Mengingat bahwa air minum yang dijual pada depot air minum rawan
pencemaran karena faktor lokasi, penyajian dan pewadahan yang dilakukan secara
terbuka dengan menggunakan wadah botol air minum kemasan isi ulang sehingga
konsumen perlu mewaspadai hal tersebut. Bakteri coliform dicurigai berasal dari
tinja. Oleh karena itu, kehadiran bakteri ini di dalam berbagai tempat mulai dari air
minum, bahan makanan ataupun bahan-bahan lain untuk keperluan manusia, tidak
diharapkan dan bahkan sangat dihindari. Karena adanya hubungan antara tinja dan
bakteri coliform, jadilah kemudian bakteri ini sebagai indikator alami kehadiran
materi fekal. Artinya, jika pada suatu subtrat atau benda misalnya air minum
didapatkan bakteri ini, langsung ataupun tidak langsung air minum tersebut
dicemari materi fekal (Suriawiria, 1996).

Semakin tinggi tingkat kontaminasi bakteri coliform, semakin tinggi pula risiko
kehadiran bakteri-bakteri patogen lain yang biasa hidup dalam kotoran manusia dan
hewan. Salah satu contoh bakteri patogen yang kemungkinan terdapat dalam air
terkontaminasi kotoran manusia atau hewan berdarah panas adalah Shigella, yaitu
mikroba penyebab gejala diare, demam, kram perut, dan muntah-muntah
(Suprihatin, 2004).

Hasil penelitian Danandoyo (2005) menunjukkan bahwa empat dari 12 depot


air minum isi ulang di Kota Surakarta terdapat coliform, yaitu depot AR terdapat
coliform 7,56 per 100 ml, depot AA terdapat coliform 4,26 per 100 ml, depot GS
terdapat coliform 7,56 per 100 ml ketiganya berada Di Kecamatan Jebres, dan
depot RD terdapat coliform 2,06 per 100 ml yang ada di Kecamatan Pasar Kliwon .
Beranjak dari hasil penelitian tersebut, maka dilakukan penelitian “Pemeriksaan
Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta”.

B. Permasalahan

Dari latar belakang yang ada, kami dari kelompok 9 merumuskan beberapa
permasalahan, yaitu :

1. Air jernih yang kita lihat sehari-hari, yang biasa kita minum, apakah sudah
bener-benar sehat dan juga layak untuk kita konsumsi?
2. Syarat-syarat apa saja yang perlu diketahui mengenai kualitas air tersebut
baik secara fisik, kimia dan juga mikrobiologi?
3. Apakah persyaratan air minum di Indonesia sudah sesuai dengan standar
mutu air?
4. Bagaimana persyaratan kualitas air minum yang aman untuk dikonsumsi
menurut Peraturan Menteri No. 492/Men.Kes/Per/IV/2010?
5. Bagaimana cara pemeriksaan air yang benar?

C. Tujuan

Melihat permasalahan yang ada, ada beberapa hal yang akan di bahas yaitu
untuk mengetahui air jernih yang kita lihat sehari-hari, yang biasa kita minum,
apakah sudah bener-benar sehat dan juga layak untuk kita konsumsi. Mengetahui
syarat-syarat apa saja yang perlu diketahui mengenai kualitas air baik secara fisik,
kimia dan juga mikrobiologi. Mengetahui persyaratan air minum sesuai dengan
standar mutu air. Mengetahui persyaratan kualitas air minum yang aman untuk
dikonsumsi menurut Peraturan Menteri No. 492/Men.Kes/Per/IV/2010. Serta
mengetahui cara pemeriksaan air yang benar.

II. KEPUSTAKAAN YANG MENUNJANG

A. Dalam Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan pada pasal 22


ayat 23
B. World Health Organization (WHO) tidak menetapkan standar kualitas air minum,
tetapi hanya merekomendasikan panduan (guidelines) mutu air minum.
C. Permenkes Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010
D. Beberapa Hasil Penelitian

II.1 Pengertian

1.1.a. Air

Air adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Dengan terpenuhinya
kebutuhan ini, maka seluruh proses metabolisme dalam tubuh manusia bisa
berlangsung dengan lancar.
Sebaliknya, jika kekurangan air, maka proses metabolisme terganggu. Akibatnya
bisa terjadi dehidrasi, yang pada tahapan lebih lanjut bisa menimbulkan kematian.
Menurut ahli gizi dan makanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Nuri Andarwulan
PhD, komposisi tubuh manusia sebagian besar adalah air (cairan), yaitu sekitar 60
hingga 70 persen. Karena itu, air memegang peranan yang sangat penting dan tidak
tergantikan.

Ia melanjutkan, air adalah esensial dan tidak bisa disintesakan. Ini berbeda
dengan senyawa lain, seperti karbohidrat, lemak, dan protein. ''Lemak bisa disintesakan
dari karbohidrat. Protein dan karbohidrat juga sama. Tapi, air tidak bisa disintesakan. Ia
harus diperoleh dari luar tubuh,'' ungkapnya.

Begitu pentingnya kebutuhan air, kata Nuri, tubuh harus memperoleh dosis yang
cukup setiap hari. Jumlah ideal yang harus dikonsumsi adalah dua liter per hari yang
merupakan jumlah total cairan yang masuk ke dalam tubuh.
''Orang sering salah mempersepsikan hal ini. Yang disebut dua liter kadang disamakan
dengan delapan gelas air minum. Padahal itu adalah total cairan yang harus masuk ke
dalam tubuh. Dan itu tidak harus dari air minum. Makan buah semangka juga bisa
mencukupi kebutuhan karena mengandung banyak air,'' kata Nuri.

1.1.b. Air Minum

Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia. Menurut
departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau,
tidak berwarna, tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan tidak
mengandung logam berat. Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan
ataupun tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat
langsung di minum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002)

Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko
bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat
berbahaya.
Bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C, namun banyak
zat berbahaya, terutama logam, yang tidak dapat dihilangkan dengan cara ini. Saat
ini terdapat krisis air minum di berbagai negara berkembang di dunia akibat jumlah
penduduk yang terlalu banyak dan pencemaran air.

II.2 Persyaratan Air

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


907/Menkes/Sk/Vii/2002 Tentang Syarat-Syarat Dan Pengawasan Kualitas Air
Minum Menteri Kesehatan Republik Indonesia,Bab II Ruang Lingkup Dan
Persyaratan

Pasal 2
Kesehatan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi persyaratan
bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI Nomor :
907/MENKES/SK/VII/2002 Tanggal : 29 Juli 2002

Untuk kepentingan masyarakat sehari-hari, persediaan air harus memenuhi


standar serta tidak membahayakan kesehatan manusia. Dasar hukum
penyehatan air ini mengacu pada :

1. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang


Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 Tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.

Jika menyangkut persyaratan kualitas air baku air minum, maka dasar hukum
yang dipergunakan adalah Permenkes tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan
Kualitas Air. Di dalam peraturan tersebut dimuat persyaratan air Bersih dapat
ditinjau dari beberapa parameter, yaitu:
Parameter fisika : Parameter fisika meliputi bau, kekeruhan, rasa, suhu, warna dan
jumlah zat padat terlarut.

1. Tidak Berbau : Air yang berbau dapat disebabkan proses penguraian bahan
organik yang terdapat di dalam air.
2. Jernih : Air keruh adalah air mengandung partikel padat tersuspensi yang
dapat berupa zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Disamping itu air yang
keruh sulit didesinfeksi, karena mikroba patogen dapat terlindung oleh
partikel tersebut (Slamet, 2007).
3. Tidak Berasa : Air yang tidak tawar mengindikasikan adanya zat-zat tertentu
di dalam air tersebut.
4. Suhu : Air yang baik tidak boleh memiliki perbedaan suhu yang mencolok
dengan udara sekitar (udara ambien). Di Indonesia, suhu air minum idealnya
± 3 ºC dari suhu udara di atas atau di bawah suhu udara berarti mengandung
zat-zat tertentu (misalnya fenol yang terlarut) atau sedang terjadi proses
biokimia yang mengeluarkan atau menyerap energi air (Kusnaedi, 2002).
5. TDS : Total Dissolved Solid/TDS, adalah bahan-bahan terlarut (diameter <
-6 -3
10 -10 mm) yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain
(Effendi, 2002). Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik. Kesadahan
mengakibatkan terjadinya endapan/kerak pada sistem perpipaan.

Parameter Kimia : Parameter kimiawi dikelompokkan menjadi kimia organik dan kimia
anorganik.

1. Zat kimia anorganik dapat berupa logam, zat reaktif, zat-zat berbahaya dan
beracun serta derajat keasaman (pH).
2. Zat kimia organik dapat berupa insektisida dan herbisida, volatile organis
chemicals (zat kimia organik mudah menguap) zat-zat berbahaya dan
beracun maupun zat pengikat Oksigen.

Sumber logam pada air dapat berasal dari Kegiatan Industri, pertambangan
ataupun proses pelapukan secara alamiah, atau karena korosi dari pipa penyalur
air. Bahan kimia organik dalam air minum dapat dibedakan menjadi 3 kategori.
Kategori 1 adalah bahan kimia yang mungkin bersifat carcinogen bagi manusia.
Kategori 2 bahan kimia yang tidak bersifat carcinogen bagi manusia. Kategori 3
adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit kronis tanpa ada fakta
carcinogen.

Parameter Mikrobiologi : Indikator organisme yang dipakai sebagai


parameter mikrobiologi digunakan bakteri koliform (indicator organism). Secara
loboratoris total coliform digunakan sebagai indikator adanya pencemaran air bersih
oleh tinja, tanah atau sumber alamiah lainnya. Sedangkan fecal coliform (koliform
tinja) digunakan sebagai indikator adanya pencemaran air bersih oleh tinja manusia
atau hewan. Parameter mikrobiologi tersebut dipakai sebagai parameter untuk
mencegah mikroba patogen dalam air minum.

II.3 Pemeriksaan Air

Didalam pemeriksaan air dikenal dua cara yaitu (Depkes RI, 1991) :

a. pemeriksaan air di lapangan

b. pemeriksaan air di laboratorium

Pemeriksaan air dilapangan dimaksudkan untuk mengadakan pemeriksaan air di


lokasi dimana contoh air itu diambil. Biasanya pemeriksaan air dilapangan dilakukan
untuk parameter suhu, bau, rasa, warna, sedangkan yang lainnya dilaksanakan di
laboratorium.

Pengamatan lapangan atau inspeksi sanitasi bermaksud memberi gambaran


tentang serangkaian informasi dan tempat-tempat yang berpontensi mempunyai
masalah. Data yang diperoleh bisa menjabarkan kekurangan, ketidakteraturan,
kesalahan penanganan dan data penyimpangan yang mungkin mempengaruhi produksi
dan distribusi.

Inspeksi sanitasi dilaksanakan secara teratur waktunya ( rutin ) dan tepat guna.

Langkah-langkah inspeksi sanitasi dilakukan pada :

(a) Sistem perpipaan ( PDAM / BPAM / PAM Swata )

Pengamatan lapangan pada seluruh unit pengolahan air minum mulai dari sumber
air baku, instalasi pengolahan, jaringan distribusi sampai dengan sambungan
pelayanan rumah. Pengamatan lapangan dengan pengisian formulir Inspeksi Sanitasi
Hasil setiap pengamatan harus segera diolah dan dianalisis supaya dapat segera
ditindak lanjuti/perbaikan kualitas.

(b) Sarana air bersih (sumur gali, sumur pompa tangan, PAH, PMA.)

Inventarisasi seluruh sarana. Pemetaan. Pengamatan lapangan/sarana (sesuai


dengan formulir inspeksi sanitasi menurut jenis sarana air bersih).

III. KESIMPULAN

Sebagai mana pembahasan di atas, dapat kita ketahui bahwa Air jernih yang
kita lihat sehari-hari, yang biasa kita minum, apakah sudah bener-benar sehat dan
juga layak untuk kita konsumsi. Dari mana kita tahu air tersebut memang bersih.
Mengutip Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan
kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan dapat diminum apabila dimasak.

Air bersih disini kita kategorikan hanya untuk yang layak dikonsumsi,
bukan layak untuk digunakan sebagai penunjang aktifitas seperti untuk MCK.
Karena standar air yang digunakan untuk konsumsi jelas lebih tinggi dari pada
untuk keperluan selain dikonsumsi. Ada beberapa persyaratan yang perlu diketahui
mengenai kualitas air tersebut baik secara fisik, kimia dan juga mikrobiologi.

1. Syarat fisik, antara lain:


a. Air harus bersih dan tidak keruh
b. Tidak berwarna apapun
c. Tidak berasa apapun
d. Tidak berbau apapun
e. Suhu antara 10-250 C (sejuk)
f. Tidak meninggalkan endapan

2. Syarat kimiawi, antara lain:


a. Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun
b. Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan
c. Cukup yodium
d. pH air antara 6,5 – 9,2

3. Syarat mikrobiologi, antara lain:


Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan
bakteri patogen penyebab penyakit.

Seperti kita ketahui jika standar mutu air sudah diatas standar atau sesuai
dengan standar tersebut maka yang terjadi adalah akan menentukan besar kecilnya
investasi dalam pengadaan air bersih tersebut, baik instalasi penjernihan air dan
biaya operasi serta pemeliharaannya. Sehingga semakin jelek kualitas air semakin
berat beban masyarakat untuk membayar harga jual air bersih. Dalam penyediaan
air bersih yang layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat banyak mengutip
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/VII/1977,
penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan kualitas, yaitu:

- Aman dan higienis.


- Baik dan layak minum.

- Tersedia dalam jumlah yang cukup.

- Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat

Parameter yang ada digunakan untuk metode dalam proses perlakuan,


operasi dan biaya. Parameter air yang penting ialah parameter fisik, kimia, biologis
dan radiologis yaitu sebagai berikut:

Parameter Air Bersih secara Fisika


1. Kekeruhan
2. Warna
3. Rasa & bau
4. Endapan
5. Temperatur

Parameter Air Bersih secara Kimia


1. Organik, antara lain: karbohidrat, minyak/ lemak/gemuk, pestisida, fenol, protein,
deterjen, dll.
2. Anorganik, antara lain: kesadahan, klorida, logam berat, nitrogen, pH,
fosfor,belerang, bahan-bahan beracun.
3. Gas-gas, antara lain: hidrogen sulfida, metan, oksigen.

Parameter Air Bersih secara Biologi


1. Bakteri
2. Binatang
3. Tumbuh-tumbuhan
4. Protista
5. Virus

Parameter Air Bersih secara Radiologi


1. Konduktivitas atau daya hantar
2. Pesistivitas
3. PTT atau TDS (Kemampuan air bersih untuk menghantarkan arus listrik)

Dengan standar tersebut maka air konsumsi yang kita gunakan akan aman
bagi kesehatan kita, karena itu jadilah manusia yang selektif demi kesehatan dan
juga keberlangsungan kita.
DAFTAR PUSTAKA

Zuhri, Sofyan. 2009. PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGIS AIR MINUM ISI ULANG DI


KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Surakarta

DIREKTORAT JENDERAL PPM & PLP DEPARTEMEN KESEHATAN. 1977.


PENGAWASAN KUALITAS AIR. JAKARTA

Santoso, Budi Iman, dkk. 2011. AIR BAGI KESEHATAN. Sentra Communication :
Jakarta

http://www.presidenri.go.id (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun


2005 Tentang Pengembangan sistem penyediaan Air minum)

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/tugas-kuliah-lainnya/air-bersih

http://persembahanku.files.wordpress.com/2007/03/kepmenkes_no_907_2002__kualita
s_air_minum_.pdf