Anda di halaman 1dari 91

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

PENGGAJIAN KARYAWAN PADA


BMT AL IKHLAS YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Kepada
Jurusan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Islam

Oleh :
IKA HARIPRATIWI
NIM. 30.02.2.5.003

Program Studi
AKUNTANSI SYARI'AH

JURUSAN EKONOMI ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SURAKARTA
2006

1
2

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN


PENGGAJIAN KARYAWAN PADA
BMT AL IKHLAS YOGYAKARTA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Islam

Disusun oleh :

IKA HARIPRATIWI
NIM. 30.02.2.5.003

Surakarta, 08 Agustus 2006

Disetujui dam Disahkan

Oleh :

Dosen Pembimbing Skripsi

Marita Kusuma Wardani, SE.


NIP. 150314657
3

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN


PENGGAJIAN KARYAWAN PADA
BMT AL IKHLAS YOGYAKARTA

Disusun Oleh :

IKA HARIPRATIWI
NIM.30.02.2.5.003

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Skripsi Jurusan Ekonomi


Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta,
Pada hari Sabtu, tanggal 12 Agustus 2006
Dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi Islam

Surakarta, 12 Agustus 2006

Mengetahui

Ketua Sidang Sekretaris Sidang

H. Sholahuddin Sirizar, M.A Fauzi Muharom, M.Ag.


NIP.150327129 NIP.150365024

Penguji I Penguji II

Drs. M. Rahmawan A., M.Si. Fitri Wulandari, SE, M.Si.


NIP.150318645 NIP.150291030

PJS Ketua Jurusan Ekonomi Islam


STAIN Surakarta

Dra. Hj. Tasnim Muhammad, M.Ag.


NIP.150201335
4

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya sederhanaku ini untuk :


Ayahanda dan Ibunda tercinta
“terima kasih atas doa, kasih sayang, semangat,
yang senantiasa tercurah untuk Ananda,
harapanmu adalah pendorong langkahku“.
Dan kubingkiskan untuk :
• Adik-adikku tersayang Lina dan Nanda
atas cinta, kebersamaannya ( keep loving me, sisters ! )
• My secret admirers…
5

MOTTO

“ Keinginan untuk menang, nafsu untuk sukses,

Desakan untuk mencapai


mencapai potensi puncak,

Semua itu adalah kunci pembuka

Pintu kesempurnaan pribadi.”

“ To be yourself is all that you can do.”

(Audioslave)

“Jangan melihat masa lampau dengan PENYESALAN,

Jangan pula melihat masa depan dengan KETAKUTAN,

Tapi lihatlah sekitarmu dengan PENUH KESADARAN.”


6

ABSTRACT

The objectives of this research are to analyze the employees


remuneration procedure and to know about the implementation of internal control
system in the employees remuneration in BMT Al Ikhlas Yogyakarta .
This is a field study research, because of this research only collect data,
search the fact, afterward analyze the data and interpret it based on the theories.
The data collecting methods are interview, documentation, review of related
theories and questionare. The data analyzing technique is qualitative descriptive
which done by logical calculation to draw a conclusion and to describe the results
based on the theories. Evaluation of employees remuneration procedure by direct
interview method with the respondent that is remuneration division staff.
Meanwhile, the questionare is used to know the implementation of internal control
system. From the questionare results, it can be drawn a score, which is divided
into categories good or poor.
The result of this research shows that this organization has separated
between duty and functional responsibility in each parts, which related to
remuneration procedure. The procedure is very simple. The functions that hook
on remuneration activity are : presention registration function, personalia
administration function, remuneration function, and teller function. The network of
employees remuneration procedure consist of : presention registration procedure,
personalia administration procedure, remuneration procedure, and salary
payment procedure. The implementation of internal control system in BMT Al
Ikhlas Yogyakarta is included good, with score 80 %. It shows that there is a
good separation between duty and functional responsibility in the organizational
structure, authorization system, and recording procedure. It also shows that each
part of BMT AL Ikhlas Yogyakarta does their job well.

Keyword : Remuneration Procedure, Internal Control System.


7

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas
limpahan rahmat, taufik, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Analisis Sistem Pengendalian
Intern Penggajian Karyawan Pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta”. Penyusunan
skripsi ini dimaksudkan untuk menyelesaikan Studi Jenjang Strata 1 ( S1 )
Program Studi Akuntansi Syariah di Jurusan Ekonomi Islam STAIN Surakarta.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak
terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, baik sumbangan pikiran,
waktu, tenaga yang tercurah. Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini,
perkenankanlah penulis untuk menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan yang tulus kepada :
1. Bapak Prof. DR. H. Nashruddin Baidan, selaku Ketua STAIN Surakarta.
2. Ibu Dra. Hj. Tasnim Muhammad M. Ag, selaku Pejabat Sementara Ketua
Jurusan Ekonomi Islam.
3. Bapak H. Sholahuddin Sirizar, MA., selaku Wali Studi Akuntansi Syariah.
4. Ibu Marita Kusuma Wardani, SE, yang telah memberikan pengarahan,
bimbingan, dan petunjuk dalam penulisan skripsi ini.
5. Bapak Edi Susilo, SE, selaku nara sumber dari BMT Al Ikhlas Yogyakarta,
terima kasih telah meluangkan waktunya untuk keterangan yang berharga
bagi peneliti.
6. Mbak Rianti, terima kasih telah memberikan keterangan-keterangan
tambahan yang sangat membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.
7. Pimpinan dan seluruh karyawan BMT Al Ikhlas Yogyakarta, terima kasih
telah memberikan kesempatan dan ijin penelitian.
8. Bapak/ Ibu Suharja Siswanto, terima kasih atas segala dukungan dan
sumbangan yang tak ternilai.
9. Fadlurrahman, M. Nurhadi, Arif Hikmawan, Rofikoh, terima kasih atas
segala bantuannya.
10. Teman-teman Akuntansi “02, Ismi, Arsi, warga kos “Aulia”, Yayah, Tristya,
Bety, Ade’, Umi, terima kasih atas doa, semangat, kebersamaan dan
dukungan kalian.
8

11. Teman-teman “West-Proqh Community” Untari”Oent”, “Punky” Nugraha,


Ndro, Baru, Heru, Erna, “Bean”Eko, terima kasih menjadi teman hang-out,
atas bantuan, kebersamaan dan persahabatan yang indah.
12. Semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak
langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berjasa
dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga bantuan dan kebaikan dari Bapak, Ibu, serta semua pihak yang
telah penulis sebutkan, mendapat balasan yang semestinya dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangannya, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat diharapkan demi perbaikan lebih lanjut. Akhir kata, harapan
penulis adalah semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi teman-teman sesama
mahasiswa maupun bagi para pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Surakarta, 07 Agustus 2006


Penulis
9

DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI .................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN MUNAQASYAH ....................................................... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN .............................................................................. iv
HALAMAN MOTTO ............................................................................................ v
ABSTRAKSI ....................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ........................................................................................... vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ...................................................................... 3
C. Batasan Masalah .......................................................................... 4
D. Rumusan Masalah ........................................................................ 5
E. Tujuan Penelitian .......................................................................... 5
F. Manfaat Penelitian ....................................................................... 5
G. Sistematika Penulisan Penelitian ................................................. 6

BAB II LANDASAN TEORI


A. Kajian Teori ................................................................................. 8
1. Pengertian Sistem Pengendalian Intern ................................. 8
2. Tujuan Sistem Pengendalian Intern ....................................... 9
3. Unsur-unsur Sistem Pengendalian Intern ............................... 11
4. Prinsip-prinsip Sistem Pengendalian Intern ............................ 11
5. Sistem Akuntansi Penggajian ................................................ 12
6. Prosedur Penggajian ............................................................. 15
7. Sistem Pengendalian Intern dalam Sistem Penggajian .......... 27
8. Konsep Islam tentang Pembayaran Upah, Gaji ...................... 28
B. Hasil Penelitian Yang Relevan ..................................................... 32
10

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Wilayah Penelitian ..................................................... 35
B. Metode Penelitian ........................................................................ 35
C. Data dan Sumber Data ................................................................ 35
D. Teknik Analisis Data .................................................................... 37

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN


A. Profil Obyek Penelitian ................................................................ 39
1. Sejarah dan Perkembangan BMT Al Ikhlas Yogyakarta ......... 39
2. Susunan Kepengurusan BMT Al Ikhlas Yogyakarta ............... 44
3. Visi dan Misi BMT Al Ikhlas Yogyakarta ................................. 45
4. Sumber Daya Insani .............................................................. 47
5. Produk BMT Al Ikhlas Yogyakarta .......................................... 47
6. Pembayaran Gaji Pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta ................ 50
B. Pengujian dan Hasil Analisis Data ............................................... 51
1. Prosedur Sistem Penggajian Karyawan di
BMT Al Ikhlas Yogyakarta ...................................................... 53
2. Sistem Pengendalian Intern dalam Sistem Penggajian
Karyawan ............................................................................... 58
C. Pembahasan Hasil Analisis
1. Penilaian terhadap Fungsi-fungsi yang Terkait dalam
Sistem Penggajian Karyawan BMT Al Ikhlas Yogyakarta ....... 60
2. Penilaian terhadap Jaringan Prosedur Sistem Penggajian
Karyawan BMT Al Ikhlas Yogyakarta ..................................... 62
3. Penilaian terhadap Sistem Pengendalian Intern dalam Sistem
Penggajian Karyawan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta ............... 64
D. Jawaban Atas Pertanyaan dalam Perumusan Masalah ............... 66

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................. 76
B. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 77
C. Saran-saran ................................................................................. 77

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
11

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Flowchart Prosedur Pencatatan Waktu Hadir............................. 22


Gambar 2 : Flowchart Prosedur Pembuatan Daftar Gaji ............................... 23
Gambar 3 : Flowchart Prosedur Pembuatan Bukti Kas Keluar .................... 24
Gambar 4 : Flowchart Prosedur Pembayaran Gaji ....................................... 25
Gambar 5 : Flowchart Prosedur Distribusi Biaya Gaji ................................... 26
Gambar 6 : Grafik Perkembangan Usaha BMT Al Ikhlas Yogyakarta ........... 42
Gambar 7 : Grafik Perkembangan Laba BMT Al Ikhlas Yogyakarta ............. 43
Gambar 8 : Prosedur Penggajian Karyawan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta ... 57
Gambar 9 : Prosedur Pencatatan Presensi BMT Al Ikhlas Yogyakarta ........ 67
Gambar 10 : Prosedur Administrasi Personalia BMT Al Ikhlas Yogyakarta .... 68
Gambar 11 : Prosedur Penggajian BMT Al Ikhlas Yogyakarta ....................... 69
Gambar 12 : Prosedur Pembayaran Gaji BMT Al Ikhlas Yogyakarta .............. 70
12

A. DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Pedoman Wawancara


Lampiran 2 : Kuisioner Sistem Pengendalian Intern
Lampiran 3 : Struktur Organisasi BMT Al Ikhlas Yogyakarta
Lampiran 4 : Ketentuan Penggajian Karyawan BMT Al Ikhlas Yogyakarta
Lampiran 5 : Struktur Gaji Karyawan ISES
Lampiran 6 : Struktur Gaji Karyawan BMT Masa Training
Lampiran 7 : Struktur Gaji Karyawan BMT Masa Training
Lampiran 8 : Surat Pernyataan Kesediaan ( Aqad )
Lampiran 9 : Contoh Rekap Presensi Karyawan
Lampiran 10: Surat Ijin Penelitian
Lampiran 11: Surat Keterangan Penelitian
13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sumber daya manusia sebagai sarana untuk mencapai tujuan

perusahaan, merupakan salah satu faktor penentu yang mempunyai andil

besar dalam kinerja ke depan suatu perusahaan. Sumber daya manusia

tersebut diartikan sebagai karyawan pengelola dan pelaksana suatu

perusahaan yang dipercaya oleh perusahan dalam melaksanakan tugas

kegiatan. Perusahaan mempunyai kesempatan yang baik untuk bertahan

dan maju jika mempunyai karyawan yang tepat, sehingga membutuhkan

usaha yang terus-menerus untuk mencari, memilih, dan melatih calon atau

karyawan. Sebaliknya, karyawan membutuhkan perusahaan sebagai tempat

untuk mencari nafkah. Karyawan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya. Oleh karenanya karyawan berhak untuk mendapatkan gaji yang

sesuai dengan kualitasnya. Gaji yang diterima oleh karyawan seharusnya

berupa gaji yang wajar.

Masalah gaji mungkin merupakan masalah manajemen kepegawaian

yang paling kompleks dan merupakan salah satu aspek yang paling berarti,

baik bagi karyawan maupun bagi perusahaan. Gaji merupakan kontra

prestasi yang diberikan pemberi kerja pada karyawan berkenaan dengan

penggunaan tenaga manusia pada kegiatan perusahaan. Gaji adalah bentuk

kompensasi atas prestasi karyawan yang bersifat finansial yang

menimbulkan kepuasan kerja. Menurut T. Hani Handoko kompensasi

merupakan pemberian pembayaran kepada karyawan sebagai balas jasa


14

untuk pekerjaan yang dilaksanakan dan sebagai motivator pelaksanaan

kegiatan di waktu yang akan datang.1 Karyawan akan merasa puas apabila

besarnya gaji yang diterimanya sesuai dengan keahlian dan jabatannya.

Sehingga karyawan akan terdorong untuk semaksimal mungkin bekerja

sesuai dengan kemampuannya.

Gaji mempunyai arti penting bagi karyawan sebagai individu karena

besarnya gaji mencerminkan ukuran nilai karya mereka diantara para

karyawan itu sendiri, keluarga dan masyarakat. Tingkat pendapatan absolut

karyawan akan menentukan skala kehidupannya, dan pendapatan relatif

mereka menunjukkan status, martabat dan harganya.2 Akibatnya, apabila

karyawan memandang gaji yang mereka terima tidak memadai, maka

prestasi kerja, semangat, dan motivasi mereka bisa turun.

Umumnya departemen kepegawaian (personalia) merancang dan

mengadministrasikan gaji karyawan, sehingga perusahaan seharusnya

mempunyai suatu sistem penggajian yang baik. Pengembangan sistem

penggajian merupakan salah satu cara yang ditempuh dalam pengelolaan

sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan. Penggajian

seharusnya dikelola secara profesional untuk menghindari terjadinya

manipulasi gaji oleh pihak-pihak tertentu. Pengelolaan gaji yang tidak sesuai

dengan prosedur yang telah ditetapkan akan mengakibatkan kekecewaan

pada karyawan, hal ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas

karyawan. Fakta yang kita temui atau yang sering kita lihat adalah

demonstrasi para karyawan yang menuntut kenaikan gaji serta perbaikan

kesejahteraan karyawan.

1
T. Hani Handoko, Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi 1, BPFE Yogyakarta, 1999, hal: 218
2
T. Hani Handoko, Manajemen, Edisi 2, BPFE Yogyakarta, 1999, hal: 245
15

Sistem pengendalian intern sangat diperlukan untuk melakukan

pengecekan terhadap sistem akuntansi penggajian. BMT Al Ikhlas

merupakan lembaga keuangan syariah yang memberikan layanan simpanan

maupun produk pembiayaan. Perkembangan BMT Al Ikhlas yang cukup

pesat dengan memiliki beberapa kantor cabang sangat memerlukan suatu

pengawasan yang baik. BMT Al Ikhlas seharusnya memiliki sistem

pengendalian intern yang baik dalam sistem penggajian yang dimiliki agar

tujuan perusahaan dapat tercapai. Keharusan perusahaan untuk

menerapkan sistem pengendalian intern untuk mencegah terjadinya

penyelewengan dan tindak kecurangan-kecurangan yang merugikan, serta

penerapan sistem pengendalian intern secara baik diharapkan dapat

meningkatkan kinerja karyawan.

Atas dasar pemikiran tersebut dan pentingnya sistem pengendalian

intern dalam setiap kegiatan perusahaan, mendorong penulis untuk

melakukan penelitian tentang sistem akuntansi penggajian dengan

mengambil judul “Analisis Sistem Pengendalian Intern Penggajian

Karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta”.

B. Identifikasi Masalah

Pimpinan perusahaan sangat berkepentingan dengan informasi yang

dihasilkan dari sistem penggajian tersebut, misalnya informasi tentang jumlah

biaya gaji yang menjadi tanggungan perusahaan. Penerapan sistem

pengendalian intern penggajian yang memadai akan berguna bagi pimpinan

sebagai dasar untuk mengambil kebijakan-kebijakan dalam penggajian


16

karyawan, pengelolaan gaji yang sesuai dengan prosedur yang telah

ditetapkan untuk menghindari timbulnya kecurangan-kecurangan.

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan

masalah-masalah yang berkaitan dengan sistem pengendalian intern

penggajian karyawan sebagai berikut:

1. Adanya gaji yang diterima tidak memadai menyebabkan menurunnya

prestasi kerja, semangat, motivasi dan mempengaruhi kepuasan

karyawan.

2. Ketidaksesuaian pelaksanaan prosedur penggajian dengan prosedur

yang telah ditetapkan dapat menyebabkan terjadinya manipulasi gaji

dan kekecewaan pada karyawan.

3. Penerapan sistem pengendalian intern yang tidak memadai

menyebabkan timbulnya penyelewengan dan tindak kecurangan-

kecurangan dalam pengelolaan gaji karyawan.

C. Batasan Masalah

Terkait dengan luasnya lingkup, permasalahan dan waktu serta

keterbatasan dalam penelitian yang dilakukan berkaitan dengan sistem

penggajian, maka penelitian dibatasi pada pelaksanaan prosedur penggajian

dan penerapan sistem pengendalian intern dalam penggajian karyawan pada

BMT Al Ikhlas Yogyakarta.


17

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang

diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah prosedur penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas

Yogyakarta ?

2. Bagaimanakah penerapan sistem pengendalian intern dalam penggajian

karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta ?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis prosedur penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas

Yogyakarta sudah dilaksanakan dengan baik atau belum.

2. Untuk menganalisis penerapan sistem pengendalian intern dalam

penggajian di BMT Al Ikhlas Yogyakarta.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:

1. Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu

pengetahuan khususnya wacana tentang sistem pengendalian intern

dalam penggajian karyawan.

2. Praktisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

manajemen BMT Al Ikhlas Yogyakarta dalam perbaikan sistem

pengendalian intern penggajian karyawan.


18

G. Sistematika Penulisan Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan mengenai latar belakang masalah, batasan

dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini mengemukakan tentang teori-teori yang mendukung

penelitian yaitu menerangkan tentang : pengertian sistem

pengendalian intern, tujuan, unsur-unsur, dan prinsip-prinsip

sistem pengendalian intern. Kemudian sistem akuntansi

penggajian yang mengulas tentang pengertian, perbedaan sistem

dan prosedur, pengertian gaji. Penjelasan prosedur penggajian,

meliputi fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi penggajian,

catatan akuntansi dan bukti transaksi yang digunakan, gaji

menurut pandangan Islam. Selanjutnya sistem pengendalian

intern dalam sistem akuntansi penggajian yang menjelaskan

mengenai organisasi, sistem otorisasi, prosedur pencatatan dan

praktik yang sehat.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang waktu dan lokasi penelitian, metode

penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi, yang

memuat tentang : jenis penelitian, sumber data, teknik

pengumpulan data, serta teknik analisis data.


19

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini menguraikan tentang sejarah dan perkembangan,

struktur organisasi, personalia, sistem dan prosedur penggajian di

BMT Al Ikhlas Yogyakarta. Analisis data mencakup tentang :

analisis terhadap prosedur penggajian karyawan, analisis

penerapan sistem pengendalian intern dalam penggajian yang

meliputi organisasi, sistem otorisasi, prosedur pencatatan dan

praktik yang sehat dalam pembayaran gaji.

BAB V PENUTUP

Bab ini memuat tentang kesimpulan dan saran maupun

rekomendasi atas penelitian yang telah dilakukan.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Pengertian Sistem Pengendalian Intern

Pengendalian intern ialah suatu proses yang dipengaruhi oleh

dewan komisaris, manajemen, dan personil satuan usaha lainnya, yang

dirancang untuk mendapat keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan

dalam hal-hal berikut: keandalan pelaporan keuangan, kesesuaian dengan

undang-undang, dan peraturan yang berlaku, efektifitas dan efisiensi

operasi.3

Sedangkan Mulyadi menyebutkan bahwa sistem pengendalian

intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang

dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian

dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong

dipatuhinya kebijaksanaan manajemen.4

Pengertian sistem pengendalian intern menurut AICPA ( American

Institute of Certified Public Accountants ) yang dikutip oleh Bambang

Hartadi menyebutkan, sistem pengendalian intern meliputi struktur

organisasi, semua metode dan ketentuan-ketentuan yang terkoordinasi

yang dianut dalam perusahaan untuk melindungi harta kekayaan,

memeriksa ketelitian, dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya

3
Al Haryono Jusup, Auditing (Pengauditan), Buku 1, Yogyakarta, BP STIE YKPN, 2001, hal: 252
4
Mulyadi, Sistem Akuntansi, Edisi 3, Yogyakarta, BP STIE YKPN, 1997, hal: 165

20
21

meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijakan

perusahaan yang telah diterapkan.5

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas, dapat

dipahami bahwa pengendalian intern adalah suatu sistem yang terdiri dari

berbagai unsur dan tidak terbatas pada metode pengendalian yang dianut

oleh bagian akuntansi dan keuangan, tetapi meliputi pengendalian

anggaran, biaya standar, program pelatihan pegawai dan staf pemeriksa

intern.

2. Tujuan Sistem Pengendalian Intern

Alasan perusahaan untuk menerapkan sistem pengendalian intern

adalah untuk membantu pimpinan agar perusahaan dapat mencapai

tujuan dengan efisien. Tujuan pengendalian intern adalah untuk

memberikan keyakinan memadai dalam pencapaian tiga golongan tujuan:

keandalan informasi keuangan, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan

yang berlaku, efektifitas dan efisiensi operasi.6

Menurut Mulyadi tujuan pengendalian intern akuntansi adalah

sebagai berikut:7

a. Menjaga kekayaan perusahaan:

1) Penggunaan kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otorisasi

yang telah diterapkan

2) Pertanggungjawaban kekayaan perusahaan yang dicatat

dibandingkan dengan kekayaan yang sesungguhnya ada

5
Bambang Hartadi, Auditing : Suatu Pedoman Pemeriksaan Akuntansi Tahap Pendahuluan, Edisi 1, BPFE
Yogyakarta, 1987, hal: 121
6
Mulyadi dan Kanaka Puradiredja, Auditing, Edisi 5, Buku 1, Jakarta, Salemba Empat, 1998, hal:172
7
Mulyadi, op.cit, hal: 180
22

b. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi:

1) Pelaksanaan transaksi melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan

2) Pencatatan transaksi yang telah terjadi dalam catatan akuntansi

Tujuan tersebut dirinci lebih lanjut sebagai berikut:

a. Penggunaan kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otorisasi yang

telah ditetapkan:

1) Pembatasan akses langsung terhadap karyawan

2) Pembatasan akses tidak langsung terhadap karyawan

b. Pertanggungjawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan

dengan kekayaan yang sesungguhnya ada:

1) Pembandingan secara periodik antara catatan akuntansi dengan

kekayaan yang sesungguhnya ada

2) Rekonsiliasi antara catatan akuntansi yang diselenggarakan

c. Pelaksanaan transaksi melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan:

1) Pemberian otorisasi oleh pejabat yang berwenang

2) Pelaksanaan transaksi sesuai dengan otorisasi yang diberikan oleh

pejabat yang berwenang

d. Pencatatan transaksi yang terjadi dalam catatan akuntansi:

1) Pencatatan semua transaksi yang terjadi

2) Transaksi yang dicatat adalah benar-benar terjadi

3) Transaksi dicatat dalam jumlah yang benar

4) Transaksi dicatat dalam periode akuntansi yang seharusnya

5) Transaksi dicatat dengan penggolongan yang seharusnya

6) Transaksi dicatat dan diringkas dengan teliti


23

3. Unsur-unsur Sistem Pengendalian Intern

Menurut Mulyadi untuk menciptakan sistem pengendalian intern

yang baik dalam perusahaan maka ada empat unsur pokok yang harus

dipenuhi antara lain: 8

a. Struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional

secara tegas

b. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan

perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan

dan biaya

c. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap

unit organisasi

d. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya

Sistem pengendalian intern yang memadai bagi perusahaan

mempunyai persyaratan yang berbeda-beda, tergantung dari sifat serta

keadaan masing-masing perusahaan. Dalam artian tidak ada sistem

pengendalian intern yang bersifat universal yang dapat dipakai oleh

seluruh perusahaan.

4. Prinsip-prinsip Sistem Pengendalian Intern

Untuk dapat mencapai tujuan pengendalian akuntansi, suatu

sistem harus memenuhi enam prinsip dasar pengendalian intern yang

meliputi:9

a. Pemisahan fungsi

Tujuan utama pemisahan fungsi untuk menghindari dan

pengawasan segera atas kesalahan atau ketidakberesan. Adanya

8
Mulyadi, op.cit, hal: 166
9
Bambang Hartadi, op.cit, hal: 130
24

pemisahan fungsi untuk dapat mencapai suatu efisiensi

pelaksanaan tugas.

b. Prosedur pemberian wewenang

Tujuan prinsip ini adalah untuk menjamin bahwa transaksi telah

diotorisir oleh orang yang berwenang.

c. Prosedur dokumentasi

Dokumentasi yang layak penting untuk menciptakan sistem

pengendalian akuntansi yang efektif. Dokumentasi memberi dasar

penetapan tanggungjawab untuk pelaksanaan dan pencatatan

akuntansi.

d. Prosedur dan catatan akuntansi

Tujuan pengendalian ini adalah agar dapat disiapkannya catatan-

catatan akuntansi yang yang teliti secara cepat dan data akuntansi

dapat dilaporkan kepada pihak yang menggunakan secara tepat

waktu.

e. Pengawasan fisik

Berhubungan dengan penggunaan alat-alat mekanis dan

elektronis dalam pelaksanaan dan pencatatan transaksi.

f. Pemeriksaan intern secara bebas

Menyangkut pembandingan antara catatan asset dengan asset

yang betul-betul ada, menyelenggarakan rekening-rekening

kontrol dan mengadakan perhitungan kembali gaji karyawan. Ini

bertujuan untuk mengadakan pengawasan kebenaran data.

5. Sistem Akuntansi Penggajian

a. Pengertian Sistem, Prosedur, dan Sistem Akuntansi


25

Definisi sistem dan prosedur menurut W. Gerald Cole seperti

yang dikutip oleh Zaki Baridwan yaitu sistem adalah suatu kerangka

dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan yang disusun sesuai

dengan suatu skema yang menyeluruh, untuk melaksanakan suatu

kegiatan atau fungsi utama dari perusahaan.10 Prosedur adalah suatu

urut-urutan pekerjaan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang

dalam satu bagian atau lebih, disusun untuk menjamin adanya

perlakuan yang seragam terhadap transaksi-transaksi perusahaan

yang sering terjadi.11

Sedangkan Steven A. Moscove seperti yang dikutip Zaki

Baridwan mendefinisikan sistem adalah suatu kesatuan (entity) yang

terdiri dari bagian-bagian (disebut subsistem) yang saling berkaitan

dengan tujuan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.12 Selanjutnya

Zaki Baridwan yang mengutip definisi Howard F. Stettler memberikan

pengertian sistem akuntansi adalah formulir-formulir, catatan-catatan,

prosedur-prosedur, dan alat-alat yang digunakan untuk mengolah data

mengenai usaha suatu kesatuan ekonomis dengan tujuan untuk

menghasilkan umpan balik dalam bentuk laporan-laporan yang

diperlukan oleh manajemen untuk mengawasi usahanya, dan bagi

pihak-pihak lain yang berkepentingan seperti pemegang saham,

kreditur, dan lembaga-lembaga pemerintah untuk menilai hasil

operasi.13

b. Dokumen dan Catatan yang Digunakan

10
Zaki Baridwan, Sistem Akuntansi: Penyusunan Prosedur dan Metode, Edisi 5, BPFE Yogyakarta, 2002, hal: 3
11
Ibid
12
Ibid, hal: 4
13
Ibid
26

Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi penggajian

adalah:14

a. Dokumen pendukung perubahan gaji dan upah

b. Kartu jam hadir

c. Kartu jam kerja

d. Daftar gaji dan daftar upah

e. Rekap daftar gaji dan rekap daftar upah

f. Surat pernyataan gaji dan surat pernyataan upah

g. Amplop gaji dan upah

h. Bukti kas keluar

Catatan akuntansi yang digunakan dalam pencatatan gaji antara lain:15

a. Jurnal umum

Dalam pencatatan gaji, jurnal umum digunakan untuk mencatat

distribusi biaya tenaga kerja ke dalam tiap departemen dalam

perusahaan.

b. Kartu harga pokok produk

Digunakan untuk mencatat upah tenaga kerja langsung yang

digunakan untuk pesanan tertentu.

c. Kartu biaya

Digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja tidak langsung dan

biaya tenaga kerja non produksi tiap departemen dalam

perusahaan.

d. Kartu penghasilan karyawan

14
Mulyadi, op.cit. hal: 378
15
Mulyadi, op.cit. hal: 386
27

Digunakan untuk mencatat penghasilan dan berbagai

potongannya yang diterima oleh setiap karyawan.

c. Pengertian Gaji

Gaji merupakan pembayaran atas penyerahan jasa oleh

karyawan yang mempunyai jenjang jabatan manajer dan dibayarkan

tetap setiap bulan, sedangkan upah merupakan pembayaran atas

penyerahan jasa oleh karyawan pelaksana (buruh) yang dibayarkan

berdasarkan hari kerja, jam kerja, atau jumlah satuan produk yang

dihasilkan oleh karyawan.16 Jadi dapat disimpulkan bahwa gaji pada

dasarnya diterima oleh karyawan selain buruh (pelaksana) dan

dibayarkan setiap bulan. Para manajer, pegawai administrasi dan

pegawai penjualan biasanya mendapat gaji dari perusahaan yang

jumlahnya tetap.17

6. Prosedur Penggajian

a. Fungsi Yang Terkait Dalam Sistem Akuntansi Penggajian

1) Fungsi Kepegawaian

Bertanggungjawab untuk mencari karyawan baru, menyeleksi calon

karyawan, memutuskan penempatan karyawan baru, membuat

surat keputusan tarif gaji karyawan, kenaikan pangkat dan

golongan gaji, mutasi karyawan, dan pemberhentian karyawan.

2) Fungsi Pencatat Waktu

Bertanggungjawab untuk menyelenggarakan catatan waktu hadir

bagi semua karyawan perusahaan.

3) Fungsi Pembuat Daftar Gaji

16
Mulyadi, op.cit. hal: 378
17
Al Haryono Jusup, Dasar-dasar Akuntansi, Edisi 5, Jilid 2, Yogyakarta, BP STIE YKPN, 1999, hal: 239
28

Bertanggungjawab untuk membuat daftar gaji yang berisi

penghasilan bruto yang menjadi hak dan berbagai potongan yang

menjadi beban setiap karyawan selama jangka waktu pembayaran

gaji.

4) Fungsi Akuntansi

Bertanggungjawab untuk mencatat kewajiban yang timbul dalam

hubungannya dengan pembayaran gaji karyawan ( misalnya utang

gaji dan upah karyawan, utang pajak, utang dana pensiun).

5) Fungsi Keuangan

Bertanggungjawab untuk mengisi cek guna pembayaran gaji dan

menguangkan cek tersebut ke bank. Uang tunai tersebut kemudian

dimasukkan ke dalam amplop gaji setiap karyawan, selanjutnya

dibagikan kepada karyawan yang berhak.

b. Jaringan Prosedur Sistem Akuntansi Penggajian

1) Prosedur pencatatan waktu hadir

Uraian kegiatan yang dilakukan oleh bagian pencatat waktu adalah

sebagai berikut:

a) Bagian pencatat waktu mengawasi setiap karyawan yang

memasukkan kartu jam hadir ke dalam mesin pencatat waktu

pada waktu masuk dan pulang

b) Membuat daftar hadir karyawan berdasarkan kartu jam hadir

c) Menyerahkan daftar hadir karyawan dan kartu hadir karyawan

ke bagian gaji dan upah


29

2) Prosedur pembuatan daftar gaji

Uraian kegiatan yang dilakukan oleh bagian gaji dan upah adalah

sebagai berikut:

a) Bagian gaji dan upah menerima daftar hadir dan kartu jam hadir

kemudian diarsipkan berdasarkan tanggal

b) Membuat daftar gaji (DG) rangkap 2 berdasarkan dokumen

daftar gaji dan kartu jam hadir

c)Membuat rekap daftar gaji rangkap 2 dan surat pernyataan gaji

d) Mencatat penghasilan karyawan pada kartu penghasilan

karyawan berdasarkan daftar gaji rangkap 2, rekap daftar gaji

rangkap 2, dan surat pernyataan gaji

e) Menyerahkan daftar gaji rangkap 2, rekap gaji rangkap 2, surat

pernyataan gaji, dan kartu penghasilan karyawan ke bagian

utang

f) Bagian gaji dan upah menerima bukti kas keluar (BKK) lembar ke-

3, daftar gaji (DG) lembar ke-2, dan kartu penghasilan

karyawan dari bagian kasa

g) Mengarsipkan BKK lembar ke-3 dan DG lembar ke-2

berdasarkan tanggal serta kartu penghasilan karyawan

berdasarkan abjad

3) Prosedur pembuatan bukti kas keluar

Prosedur ini dilakukan oleh bagian utang dengan uraian kegiatan

sebagai berikut:

a) Bagian utang menerima daftar gaji rangkap 2, rekap daftar gaji

rangkap 2 , SPG dan KPK dari bagian gaji dan upah


30

b) Membuat bukti kas keluar rangkap 3

c)Mencatat kewajiban gaji ke dalam register bukti kas keluar (BKK)

lembar ke-1

d) Menyerahkan bukti kas keluar (BKK) lembar ke-2 dan rekap

daftar gaji (RDG) lembar ke-1 ke bagian jurnal

e) Menyerahkan BKK lembar ke-2 dan rekap daftar gaji lembar ke-

1 ke bagian jurnal

f) Bagian utang menerima BKK lembar ke-1, DG lembar ke-1, dan

RDG lembar ke-2 dari bagian kasa. Mencatat nomor cek pada

register bukti kas keluar

g) Menyerahkan bukti kas keluar lembar ke-1, daftar gaji lembar

ke-1, dan rekap daftar gaji lembar ke-2 ke bagian jurnal

4) Prosedur pembayaran gaji

Prosedur ini dilakukan oleh bagian kasa dengan uraian kegiatan

sebagai berikut:

a) Bagian kasa menerima bukti kas keluar lembar ke-1 dan ke-3,

daftar gaji rangkap 2, rekap daftar gaji lembar ke-2, surat

pernyataan gaji dan kartu penghasilan karyawan dari bagian

utang

b) Mengisi cek dan memintakan tanda tangan atas kepada kepala

bagian keuangan

c)Menguangkan cek ke bank dan memasukkan uang ke amplop gaji

d) Membayarkan gaji kepada karyawan dan meminta tanda

tangan atas kartu penghasilan karyawan


31

e) Membubuhkan cap lunas pada bukti dan dokumen

pendukungnya

f) Menyerahkan dokumen bukti kas keluar lembar ke-1, daftar gaji

lembar ke-1, dan rekap daftar gaji lembar ke-2 ke bagian utang

g) Menyerahkan dokumen bukti kas keluar lembar ke-3, daftar gaji

lembar ke-2, dan kartu penghasilan karyawan ke bagian gaji

dan upah

h) Surat pernyataan gaji dimasukkan ke dalam amplop gaji

bersama dengan pemasukan uang gaji

5) Prosedur distribusi biaya gaji

Prosedur ini dilakukan oleh bagian jurnal dan bagian kartu biaya

dengan uraian kegiatan sebagai berikut:

a) Bagian jurnal menerima dokumen bukti kas keluar lembar ke-2

dan rekap daftar gaji lembar ke-1 dari bagian utang

b) Bagian jurnal membuat bukti memorial

c)Bagian jurnal membuat jurnal umum berdasarkan dokumen bukti

memorial, rekap daftar gaji lembar ke-1, dan bukti kas keluar

lembar ke-2

Jurnal untuk mencatat biaya gaji dibuat dalam tiga tahap yaitu:

Tahap pertama. Berdasarkan dokumen bukti kas keluar lembar

ke-2, dicatat oleh bagian utang pada kewajiban gaji ke dalam

bukti kas keluar sebagai berikut:

Gaji dan upah Rp xxx

Bukti Kas Keluar yang Akan Dibayar Rp xxx


32

Tahap kedua. Berdasarkan bukti memorial, bagian jurnal

mencatat distribusi biaya gaji ke dalam jurnal umum sebagai

berikut:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xxx

Biaya Administrasi dan Umum Rp xxx

Biaya Pemasaran Rp xxx

Gaji dan Upah Rp xxx

Tahap ketiga. Berdasarkan dokumen bukti kas keluar yang

telah dicap “lunas” oleh fungsi keuangan, bagian jurnal

mencatat pembayaran gaji ke dalam register cek sebagai

berikut:

Bukti Kas Keluar yang Akan Dibayar Rp xxx

Kas Rp xxx

d) Bagian kartu biaya menerima dokumen bukti memorial, rekap

daftar gaji lembar ke-1, dan bukti kas keluar lembar ke-2 dari

bagian jurnal

e) Bagian kartu biaya mencatat distribusi biaya tenaga kerja ke

dalam kartu biaya berdasarkan dokumen bukti memorial yang

dilampiri rekap daftar gaji lembar ke-1

f) Bagian kartu biaya mengarsipkan dokumen dari bagian jurnal

berdasarkan nomor urut

g) Bagian jurnal menerima bukti kas keluar lembar ke-1, daftar gaji

lembar ke-1, dan rekap daftar gaji lembar ke-2


33

h) Mencatat pembayaran gaji ke dalam register cek berdasarkan

bukti kas keluar lembar ke-1 yang telah dicap lunas oleh bagian

kasa

i) Mengarsipkan bukti kas keluar lembar ke-1, daftar gaji lembar

ke-1, dan rekap daftar gaji lembar ke-2 menurut nomor urut.

Selesai.
34

Gambar 1
Prosedur Pencatatan Waktu Hadir

Bagian Pencatat Waktu

Mulai

Mencatat jam
hadir karyawan

Kartu jam

hadir

Membuat

daftar hadir

KJH
Daftar hadir

karyawan

Sumber : Mulyadi, Sistem Akuntansi, 1997, hal. 397


35

Gambar 2
Prosedur Pembuatan Daftar Gaji

Bagian Gaji dan Upah

1 8

KPK
KJH Daftar Gaji 2

Daftar hadir Bukti Kas 3


Keluar

T
Membuat
daftar gaji A
T

Membuat
rekap daftar
gaji dan SPG

SPG
2
RDG 1
2
Daftar Gaji 1

Kartu
Penghasilan
Karyawan 2

KJH = Kartu Jam Hadir


KPK = Kartu Penghasilan Karyawan
RDG = Rekap Daftar Gaji
SPG = Surat Pernyataan Gaji
T = Diarsipkan Menurut Tanggal
A = Diarsipkan Menurut Abjad

Sumber : Mulyadi, Sistem Akuntansi, 1997, hal. 39


36

Gambar 3
Prosedur Pembuatan Bukti Kas Keluar

Bagian Utang

2 7

KPK

SPG
RDG 2
2
DG 1
RDG 1
Bukti Kas 1
2 Keluar
Daftar Gaji 1

Membuat 9
Bukti Kas KPK
Keluar
SPG

RDG 1
2
Mencatat nomor
DG 1 Cek pada register
Bukti kas keluar
3

Bukti Kas 1
Keluar

3 4

Register
Bukti Kas
Keluar

DG = Daftar Gaji

Sumber : Mulyadi, Sistem Akuntansi, 1997, hal. 398


37

Gambar 4
Prosedur Pembayaran Gaji

Bagian Kasa

4 6

KPK KPK

SPG SPG
RDG 2 RDG 2

2 2

DG 1 DG 1 Dimasukkan ke
dalam amplop
3 3 gaji bersama
dengan
Bukti Kas 1 Bukti 1 pemasukan uang
Keluar Kas Keluar gaji

Mengisi cek &


memintakan ttd.
atas cek

7 8
Menguangkan
cek ke bank &
memasukkan
uang ke
amplop gaji

Membayarkan gaji
kpd karyawan &
meminta ttd. atas
kartu penghasilan
karyawan

Membubuhkan
cap lunas pada
bukti &
dokumen
pendukungnya

Sumber: Mulyadi, Sistem Akuntansi, 1997, hal. 399


38

Gambar 5
Prosedur Distribusi Biaya Gaji

Bagian Jurnal Bagian Kartu Biaya

3 9 5

RDG 1 RDG 2 BKK 2

BKK 2 Daftar 1 RDG 1


Gaji
Bukti
Bukti Kas 1 Memorial
Keluar
Membuat
bukti
memorial

Register
cek N Kartu Biaya N
BKK 2

RDG 1
Bukti Selesai
Memorial

Jurnal 5
Umum

BKK = Bukti Kas Keluar


N = Diarsipkan Menurut Nomor Urut

Sumber: Mulyadi, Sistem Akuntansi, 1997, hal.400


39

7. Sistem Pengendalian Intern dalam Sistem Penggajian 18

a. Aspek Organisasi

1) Fungsi pembuatan daftar gaji dan upah harus terpisah dari fungsi

pengeluaran kas

2) Fungsi pencatatan waktu hadir harus terpisah dari fungsi operasi

b. Aspek Sistem Otorisasi

1) Setiap orang yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah

harus memiliki surat keputusan pengangkatan sebagai karyawan

perusahaan yang ditandatangani oleh direksi

2) Setiap perubahan gaji dan upah karyawan karena perubahan

pangkat, perubahan tarif gaji dan upah, tambahan keluarga harus

didasarkan pada surat keputusan direksi

3) Setiap potongan atas gaji dan upah karyawan selain dari pajak

penghasilan karyawan harus didasarkan surat potongan gaji dan

upah yang diotorisasi oleh kepala fungsi kepegawaian

4) Kartu jam hadir harus diotorisasi oleh fungsi pencatat waktu

5) Perintah lembur harus diotorisasi oleh kepala departemen

karyawan yang bersangkutan

6) Daftar gaji dan upah harus diotorisasi oleh kepala fungsi

kepegawaian

7) Bukti kas keluar untuk pembayaran gaji dan upah harus

diotorisasi oleh kepala fungsi akuntansi

c. Aspek Prosedur Pencatatan

1) Perubahan dalam kartu penghasilan karyawan direkonsiliasi

dengan daftar gaji dan upah karyawan

18
Mulyadi, Pemeriksaan Akuntan, Edisi 3, Yogyakarta, BP STIE YKPN, 1990, hal: 295
40

2) Tarif upah yang dicantumkan dalam kartu kerja diverifikasi

ketelitiannyan oleh fungsi akuntansi

d. Aspek Praktik Yang Sehat

1) Kartu jam hadir harus dibandingkan dengan kartu jam kerja

sebelum kartu yang terakhir ini dipakai sebagai dasar distribusi

biaya tenaga kerja langsung

2) Pemasukan kartu jam hadir ke dalam mesin pencatat waktu

harus diawasi oleh fungsi pencatat waktu

3) Pembuatan daftar gaji dan upah harus diverifikasi kebenaran dan

ketelitian perhitungannya oleh fungsi pembuat bukti kas keluar

sebelum dilakukan pembayaran

4) Penghitungan pajak penghasilan karyawan direkonsiliasi dengan

kartu penghasilan karyawan

5) Kartu penghasilan karyawan disimpan oleh fungsi pembuat daftar

gaji dan upah

8. Konsep Islam tentang Pembayaran Upah, Gaji

Upah menurut Islam adalah imbalan yang diterima seseorang atas

pekerjaannya dalam bentuk imbalan materi di dunia ( adil dan layak ) dan

dalam bentuk imbalan pahala di akhirat ( imbalan yang lebih baik ).19 Dari

pengertian tersebut dapat diuraikan bahwa:

1) Islam melihat upah sangat besar kaitannya dengan konsep moral

2) Upah dalam konsep Islam tidak hanya sebatas materi ( kebendaan

atau keduniaan ) tetapi menembus batas kehidupan, yakni berdimensi

akhirat yang disebut dengan pahala

19
Hendri Tanjung, Konsep Manajemen Syariah Dalam Pengupahan Karyawan Perusahaan, www.uika-
bogor.ac.id/jur03.htm, 2006
41

3) Upah diberikan berdasarkan prinsip keadilan ( justice ) dan prinsip

kelayakan ( kecukupan )

Seseorang yang bekerja pada suatu badan usaha ( perusahaan )

dapat dikategorikan sebagai amal saleh, dengan syarat perusahaannya

tidak memproduksi/ menjual atau mengusahakan barang-barang yang

haram. Dengan demikian, maka seorang karyawan yang bekerja dengan

benar akan menerima dua imbalan yaitu imbalan di dunia dan imbalan di

akhirat. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

‫ﻼ‬
‫ﻤ ﹰ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﻦ‬ ‫ﺴ‬
 ‫ﺣ‬ ‫ﻦ ﹶﺃ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﺟ‬ ‫ﻊ ﹶﺃ‬ ‫ﻧﻀِﻴ‬ ‫ﺎ ﹶﻻ‬‫ﺕ ِﺇﻧ‬
ِ ‫ﺎ‬‫ﺎِﻟﺤ‬‫ﻋ ِﻤﻠﹸﻮﺍ ﺍﻟﺼ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﻮﺍ‬‫ﻣﻨ‬ ‫ﻦ ﺁ‬ ‫ِﺇ ﱠﻥ ﺍﱠﻟﺬِﻳ‬
Artinya:
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh tentulah Kami
tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan
amalan(nya) dengan baik”. ( QS. Al Kahfi: 30)20

Organisasi yang menerapkan prinsip keadilan dalam pengupahan

mencerminkan organisasi yang dipimpin oleh orang-orang bertaqwa.

Konsep adil ini merupakan ciri-ciri organisasi yang bertaqwa.

Dimensi upah di dunia dicirikan oleh dua hal, yaitu adil dan layak.

Adil bermakna bahwa upah yang diberikan harus jelas, transparan, dan

proporsional. Layak bermakna bahwa upah yang diberikan harus

mencukupi kebutuhan pangan, sandang, dan papan serta tidak jauh

berada di bawah pasaran. Untuk menerapkan upah dalam dua dimensi

dunia, maka konsep moral merupakan hal yang sangat penting agar

pahala dapat diperoleh sebagai dimensi akhirat dari upah tersebut. Jika

moral diabaikan maka dimensi akhirat tidak akan tercapai. Konsep moral

20
Nazri Adlany, Hanafie Tamam, Faruq Nasution, Al Qur’an Terjemah Indonesia, Jakarta, PT.Sari Agung, hal:
557
42

diperlukan untuk menerapkan upah dimensi dunia agar upah dimensi

akhirat dapat tercapai.

Prinsip utama keadilan terletak pada kejelasan aqad ( transaksi )

dan komitmen melakukannya. Aqad dalam perburuhan merupakan aqad

yang terjadi antara pekerja dengan pengusaha. Sebelum pekerja

dipekerjakan, harus jelas dulu bagaimana upah yang akan diterima oleh

pekerja. Upah tersebut meliputi besarnya upah dan tata cara pembayaran

upah. Dalam hal cara pembayaran upah Rasulullah bersabda:

‫ﺒ ﹶﻞ‬‫ﻩ ﹶﻗ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﺟ‬ ‫ﺮ ﹶﺍ‬ ‫ﻴ‬‫ﺍ ﺍ ﱠﻻ ِﺟ‬‫ﻋ ﹸﻄﻮ‬ ‫ﻢ ﹸﺍ‬ ‫ﺳﱠﻠ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﻴ ِﻪ‬‫ﻋﹶﻠ‬ ‫ﷲ‬
ُ ‫ﺻﻠﹶﻰ ﺍ‬
 ‫ﷲ‬
ِ ‫ﻮ ﹸﻝ ﺍ‬ ‫ﺳ‬ ‫ﺭ‬ ‫ ﻗﹶﺎ ﹶﻝ‬: ‫ﺮ ﻗﹶﺎ ﹶﻝ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﺑ ِﻦ‬ ‫ﷲ‬
ِ ‫ﺒ ِﺪ ﺍ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﻦ‬ ‫ﻋ‬

‫ﻪ‬ ‫ﺮﹸﻗ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﻒ‬


 ‫ﺠ‬
ِ ‫ﻳ‬ ‫ﹶﺃ ﹾﻥ‬
Artinya:
“Dari Abdillah bin Umar, Rasulullah saw. Bersabda: Berikanlah upah
orang upahan sebelum kering keringatnya”. ( HR.Ibnu Majah dan Imam
Thabrani )21

Nabi juga bersabda:

‫ﻤِﻠ ِﻪ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﻲ‬ ‫ﻮ ِﻓ‬ ‫ﻫ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﻩ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﺟ‬ ‫ﻩ ﹶﺃ‬ ‫ﻮ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﻋﹶﻠ‬ ‫ﺍ‬‫ ﻭ‬,‫ﻪ‬ ‫ﺮﹸﻗ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﻒ‬
 ‫ﺠ‬
ِ ‫ﻳ‬ ‫ﺒ ﹶﻞ ﹶﺃ ﹾﻥ‬‫ﻩ ﹶﻗ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﺟ‬ ‫ﺮ ﹶﺍ‬ ‫ﻴ‬‫ﺍ ﺍ ﱠﻻ ِﺟ‬‫ﻋﻄﹸﻮ‬ ‫ﹸﺍ‬
Artinya:
“Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan
beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan”. ( HR.
Baihaqi )22

Sebelum seseorang bekerja, hendaknya terlebih dahulu

mengadakan perjanjian kerja, agar ada kejelasan pekerjaan yang akan

dilaksanakan. Adapun syarat sahnya perjanjian kerja antara lain:23

21
Shaleh, Mausu ah al-Hadists asy-Syarif Kutubus Sittah Ibnu Majah Kitab ar-Ruhun, Bab 4, hal: 2623
22
As-Sayyid Ahmad Al-Hasyimiy, Tarjamah Mukhtarul Ahaadits, Bandung, PT. Maarif, 1996, hal: 552
23
Chairuman Pasaribu, Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, Jakarta, Sinar Grafika, 2004, hal:
155
43

1) Pekerjaan yang diperjanjikan termasuk jenis pekerjaan yang mubah

atau halal menurut ketentuan syara’, berguna bagi perorangan atau

masyarakat

2) Manfaat kerja yang diperjanjikan dapat diketahui dengan jelas,

dengan adanya pembatasan waktu atau jenis pekerjaan yang harus

dilakukan.

3) Upah sebagai imbalan pekerjaan harus diketahui dengan jelas,

termasuk jumlahnya, ujudnya, dan juga waktu pembayarannya

Sesungguhnya seorang pekerja hanya berhak atas upahnya

hanya jika ia telah menunaikan pekerjaannya dengan semestinya dan

sesuai dengan kesepakatan, karena umat Islam terikat dengan syarat-

syarat antar mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau

menghalalkan yang haram. Namun, jika ia membolos bekerja tanpa

alasan yang benar atau sengaja menunaikannya dengan tidak

semestinya, maka sepatutnya hal itu diperhitungkan atasnya ( dipotong

upahnya ) karena setiap hak dibarengi dengan kewajiban. Selama ia

mendapatkan upah secara penuh, maka kewajibannya juga harus

dipenuhi.

Gaji atau upah merupakan hak karyawan selama karyawan

tersebut bekerja dengan baik. Jika pekerja tersebut tidak benar dalam

bekerja, maka gajinya dapat dipotong atau disesuaikan. Hal ini

menjelaskan bahwa, selain hak karyawan memperoleh upah atau gaji

atas apa yang diusahakannya, juga merupakan hak perusahaan untuk

memperoleh hasil kerja dari karyawan dengan baik. Tentang waktu

pembayaran upah, hendaknya memperhatikan hadits-hadits yang telah


44

disebutkan sebelumnya. Keterlambatan pembayaran upah dikategorikan

sebagai perbuatan zalim dan orang yang tidak membayar upah para

pekerjanya termasuk orang yang dimusuhi Nabi saw. pada hari kiamat.

Dalam hal ini Islam sangat menghargai waktu dan sangat menghargai

tenaga seorang karyawan.

Faktor layak, dalam konsep Islam menjadi pertimbangan dalam

menentukan berapa upah yang akan diberikan. Kelayakan upah yang

diterima oleh pekerja dilihat dari tiga aspek yaitu: pangan ( makanan ),

sandang ( pakaian ), dan papan ( tempat tinggal ). Islam tidak

membenarkan seseorang merugikan orang lain, dengan cara mengurangi

hak-hak yang seharusnya diperolehnya. Secara tegas Allah berfirman:

‫ﻦ‬ ‫ﺴﺪِﻳ‬
ِ ‫ﻣ ﹾﻔ‬ ‫ﺽ‬
ِ ‫ﺭ‬ ‫ﺍ ﻓِﻲ ﹾﺍ ﹶﻻ‬‫ﻌﹶﺜﻮ‬ ‫ﺗ‬ ‫ﻭ ﹶﻻ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻫ‬ ‫ﺂ َﺀ‬‫ﺷﻴ‬ ‫ﺱ ﹶﺃ‬
 ‫ﺎ‬‫ﻮﺍ ﺍﻟﻨ‬‫ﺨﺴ‬
 ‫ﺒ‬‫ﺗ‬ ‫ﻭ ﹶﻻ‬
Artinya:
“Dan janganlah kamu merugikan manusia akan hak-haknya dan janganlah
kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan”. (QS.Asy-Syu’ara:
183)24

B. Hasil Penelitian yang Relevan


Hasil penelitian terdahulu dari beberapa karya tulis yang memuat

tentang berbagai analisis sistem pengendalian intern terhadap sistem

penggajian diantaranya adalah :

1. Berdasarkan penelitian Mujiatun (2000) yang mengambil judul tentang

“Sistem Penggajian Karyawan pada PT. Djitoe ITC” menyatakan

bahwasannya sistem penggajian di perusahaan tersebut sudah dapat

dikatakan baik ditinjau dari prosedur dan pengendalian internnya.

Namun terdapat kelemahan pada penggunaan dokumen pendukung

24
Nazri Adlany, op.cit. hal: 726
45

perubahan gaji. Dokumen pendukung perubahan gaji yang digunakan

oleh PT. Djitoe ITC antara lain, surat penempatan karyawan, surat

ketetapan tarif, surat pengembalian karyawan, memo penempatan

tugas, dan surat ketetapan tarif. Pada waktu ada kenaikan jabatan

untuk karyawan tertentu bagian personalia hanya memberikan paraf

pada daftar gaji karyawan yang bersangkutan. Hali ini kurang kuat

sebagai dasar pengeluaran biaya tenaga kerja yang disebabkan

karena adanya kenaikan jabatan.

2. Penelitian dari Rani Pramawanti (2003) yang berjudul “Analisis Sistem

Akuntansi Penggajian dan Pengupahan Karyawan pada PT.

Supersonic Chemical Industry Gunungkidul” dapat disimpulkan bahwa

pengendalian intern dalam sistem akuntansi penggajian dan

pengupahan karyawan sudah berjalan dengan baik, sistem akuntansi

penggajian dan pengupahan karyawan pada PT. Supersonic Chemical

Industry juga menunjukkan bahwa perusahaan telah memisahkan

setiap fungsi yang berhubungan dengan penggajian dan pengupahan

karyawan, jaringan prosedur yang digunakan oleh PT. Supersonic

Chemical Industry dalam sistem akuntansi penggajian dan

pengupahan karyawan yang ada sudah sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

3) Sedangkan menurut Agus Setyadi (2005) dalam skripsinya yang

berjudul “Analisis Penerapan Sistem Pengendalian Intern Terhadap

Prosedur Penggajian Studi Kasus Pada PT. KAI Daop VI Yogyakarta”

yang menganalisis tentang kebijakan penerapan sistem pengendalian

intern dan prosedur penggajian pada PT. KAI Daop VI Yogyakarta,


46

dari hasil penelitiannya tersebut menjelaskan bahwa sistem

pengendalian terhadap prosedur penggajian di PT. KAI Daop VI

Yogyakarta telah diterapkan dengan baik ditunjukkan dengan adanya

lingkungan pengendalian yang diciptakan seperti sistem akuntansi

sebagai sarana infomasi dalam mengambil keputusan dan penerapan

praktik yang sehat di dalam melaksanakan tugas pada setiap fungsi

organisasi, yang terlihat dari adanya perlakuan bentuk tanggungjawab

di setiap departemen atau fungsi yang terkait pada pelaksanaan

prosedur penggajian.

Bahwasannya penelitian yang mengambil judul “Analisis Sistem

Pengendalian Intern Penggajian Karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta”

ini berbeda dari penelitian-penelitian terdahulu. Perbedaannya terletak pada

lokasi penelitian yang mengambil tempat di BMT, yaitu lembaga keuangan

syariah yang kegiatan operasionalnya berdasarkan pada prinsip-prinsip

syariah. Sedangkan penelitian terdahulu kebanyakan mengambil lokasi di

Perseroan Terbatas (PT) yang tidak berdasar prinsip syariah. Berdasarkan

hasil penelitian ini ditemukan bahwa jaringan prosedur sistem penggajian

karyawan yang ada si BMT Al Ikhlas ternyata sangat sederhana dan simpel,

dan penerapan sistem pengendalian intern ditunjukkan dengan prosentase

80 % yang berarti pengendalian internnya baik, hal ini juga membedakan

dengan penelitian terdahulu.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Wilayah Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta Yang

beralamatkan di Jalan Prof. Herman Yohanes 103 E Sagan Yogyakarta,

sedangkan waktu penelitiannya pada bulan Juli sampai dengan Agustus

2006.

B. Metode Penelitian

Berdasarkan sifatnya penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian

studi lapangan karena penelitian ini hanya mengumpulkan data, mencari

fakta, kemudian menjelaskan dan menganalisis data yaitu dengan cara

pengumpulan dan penyusunan data, selanjutnya dianalisis dan

diinterpretasikan berdasarkan landasan teori yang ada.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pelaksanaan

sistem pengendalian intern penggajian karyawan pada BMT Al Ikhlas

Yogyakarta yang berkaitan dengan sistem, prosedur, serta pengendalian

internnya. Dari penelitian ini dapat diketahui apakah sistem penggajian

karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta sudah sesuai dengan prosedur

yang berlaku atau belum.

C. Data dan Sumber Data

1. Sumber Data

a. Data Primer

47
48

Merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari

sumber asli ( tidak melalui media perantara ), dapat berupa opini subyek

( orang ) secara individual atau kelompok, hasil observasi, dalam hal ini

keterangan-keterangan dari pihak pelaksana penggajian BMT Al Ikhlas

mengenai prosedur penggajian karyawan, dan sistem pengendalian

intern penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas.

b. Data Sekunder

Merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak

langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak

lain). Data sekunder dapat berupa bukti, dokumen, catatan atau laporan

historis baik yang dipublikasikan atau yang tidak dipublikasikan, buku-

buku teks literatur mengenai sistem pengendalian intern dalam sistem

akuntansi penggajian karyawan.

2. Teknik Pengumpulan Data

a. Teknik wawancara

Yaitu mengadakan tanya jawab langsung kepada responden atau pihak

yang terkait dalam perusahaan. Metode ini digunakan untuk

memperoleh data tentang gambaran umum perusahaan, sistem dan

prosedur penggajian karyawan, serta unit-unit organisasi yang terkait

dengan sistem penggajian.

b. Teknik dokumentasi

Yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari catatan-catatan yang

dimiliki perusahaan. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data

tentang dokumen, catatan, prosedur, dan pengendalian intern dalam

sistem akuntansi penggajian karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta.


49

c. Teknik kepustakaan

Pengumpulan data dengan membaca buku, mencari literatur dan

laporan-laporan yang berhubungan dengan penelitian.

d. Teknik Kuisioner

Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan memberi seperangkat

pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden dalam hal ini

pelaksana penggajian supaya responden menjawab tentang

pelaksanaan sistem penggajian, apakah sudah memadai atau belum.

D. Teknik Analisis Data

Pengolahan data hasil penelitian ini menggunakan alat analisis

deskriptif kualitatif, yaitu analisis yang dilakukan melalui perhitungan dengan

menggunakan logika untuk menarik kesimpulan yang logis mengenai data-

data yang dianalisis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa analisis

deskriptif ini dimaksudkan untuk menguraikan atau memaparkan hasil

penelitian untuk kemudian diadakan interpretasi berdasarkan landasan teori

yang telah disusun. Hal ini digunakan untuk mengetahui penerapan prosedur

sistem akuntansi penggajian dan sistem pengendalian intern yang dilakukan,

sehingga dapat diketahui apakah masih perlu atau tidak diadakan perbaikan-

perbaikan dalam meningkatkan sistem pengendalian intern penggajian

karyawan.

Penilaian prosedur penggajian karyawan dilakukan dengan metode

wawancara langsung dengan responden yaitu pihak pelaksana penggajian

sehingga diperoleh jawaban berkaitan dengan pokok penelitian. Disamping

itu proses dan analisa data menggunakan langkah editing, yang merupakan

langkah meneliti ulang kelengkapan dan kebenaran jawaban yang diperoleh


50

dari responden melalui wawancara sehingga data yang diperoleh akan sesuai

dengan pokok penelitian.

Penilaian terhadap kondisi sistem pengendalian intern dalam sistem

penggajian dilakukan dengan metode kuisioner. Metode ini dilakukan dengan

membuat pertanyaan dengan menambah kata tanya “apakah” pada tiap

elemen sistem pengendalian intern dalam sistem penggajian. Sehingga

kemungkinan jawaban yang diperoleh adalah “Ya” dan “Tidak”. Jawaban

“Ya” berarti sistem pengendalian intern adalah baik, jawaban “Tidak” berarti

sebaliknya.

Berdasarkan pertanyaan yang mendapat jawaban “Ya” selanjutnya

dicari skornya dengan perhitungan sebagai berikut:

Nilai Relatif =
∑ butir yang mendapat jawaban " ya" x 100 %
∑ butir yang diterapkan

=?%

Selanjutnya, nilai relatif hasil dari perhitungan yang diperoleh melalui

skoring, dideskripsikan dengan berdasarkan kriteria penilaian sebagai

berikut:25

Skor 0% - 39,99 % dikategorikan tidak memadai

40,00 % - 59,99% dikategorikan kurang memadai

60,00 % - 79,99% dikategorikan cukup memadai

80,00 % - 89,99% dikategorikan memadai

90,00 % - 100% dikategorikan sangat memadai

25
Jaka Mujihana, Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Dalam Penjualan Kredit Barang jadi, Skripsi,
Yogyakarta, FPIPS UNY, 1998, hal. 39.
51

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Profil Obyek Penelitian

1. Sejarah dan Perkembangan BMT Al Ikhlas Yogyakarta

Baitul Mal wat Tamwil (BMT) lahir sebagai salah satu solusi

alternatif di kalangan masyarakat muslim karena adanya pertentangan

mengenai bunga atau riba. Kehadiran BMT diharapkan mampu membantu

masyarakat muslim terbebas dari praktik bunga atau riba yang dilakukan

oleh bank-bank konvensional. Dalam operasinya BMT tidak menggunakan

sistem bunga atau riba dalam pembagian keuntungannya tetapi

menggunakan sistem bagi hasil yang berdasarkan keadilan.

BMT Al Ikhlas adalah suatu lembaga keuangan syariah yang sistem

operasionalnya berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah Islam. Ide untuk

mendirikan BMT ini muncul setelah adanya pendidikan dan pelatihan

(diklat) Manajemen Zakat dan Ekonomi Syariah (MZES) angkatan ke tiga

yang diadakan oleh Dompet Dhuafa pada awal November 1994. Waktu itu

diklat tersebut dihadiri oleh Bapak Sumiyanto. Kepahaman akan sistem

syariah dan tuntutan keadaan pada waktu itu membuat beliau mulai

berfikir untuk merealisasikan semua ide yang baru sampai pada tahap

pemikiran saja. Dengan dukungan beberapa orang teman yang punya

ketertarikan yang sama, akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan BMT

dengan persiapan yang sangat sederhana dan modal awal yang bisa

dikatakan jauh dari cukup dan BMT tersebut mereka beri nama BMT Al

Ikhlas.

39
52

BMT Al Ikhlas didirikan pada tanggal 1 Februari 1995 oleh tim

Yayasan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Umat (YP2SU)

yang terdiri dari empat orang. Tim inilah yang menjadi pendiri dan

pengurus BMT Al Ikhlas. Tim tersebut tediri dari:

1. Bapak Arief Budiman.

2. Bapak Eko Novianto.

3. Bapak Sumiyanto.

4. Bapak Abdul Aziz.

Menurut peraturan yang ada untuk mendirikan sebuah BMT yang

ideal harus dimulai dengan modal awal sebanyak Rp 5.000.000.

Sementara BMT Al Ikhlas memulai usahanya dengan dukungan modal ala

kadarnya dan semangat yang tinggi. Pada awalnya BMT Al Ikhlas hanya

mempunyai modal mandiri sebanyak Rp 500.000 ditambah dana dari

Dompet Dhuafa Republika sebesar Rp 1.000.000 serta seperangkat alat

komputer. Waktu itu BMT Al Ikhlas beralamatkan di Pogung Baru Blok A-

17 Yogyakarta. Alasan pemilihan lokasi ini karena ingin memberikan

pelayanan yang lebih baik bagi nasabah potensial mereka yaitu para

mahasiswa terutama untuk nasabah tabungannya, karena memang

daerah ini dan sekitarnya mayoritas dihuni oleh para mahasiswa., tetapi

bukan berarti BMT Al Ikhlas nasabahnya hanya para mahasiswa tapi

masyarakat umum juga ada.

Pada bulan April 1995 BMT Al Ikhlas mulai menginduk pada

Dompet Dhuafa Republika lewat Forum Ekonomi Syariah Yogyakarta

(FESY). Kemudian pada tanggal 21 April 1995 beserta 19 BMT lainnya

BMT Al Ikhlas diresmikan secara kolektif oleh Prof. DR. Ing. B.J. Habibie
53

yang disponsori oleh Asosiasi BPR Syariah Indonesia, Dompet Dhuafa

Republika, dan Forum Ekonomi Syariah Yogyakarta.

Tujuh bulan setelah beroperasi, pada bulan September 1995

setelah mengadakan studi kelayakan akhirnya BMT Al Ikhlas pindah ke

Sagan tepatnya di Jl. Prof. Ir. Herman Yohanes No. 103 E Yogyakarta.

Berbeda dengan lokasi lama kawasan ini terhitung di tengah kota dengan

fasillitas yang cukup layak. Sebagai suatu bentuk peningkatan pelayanan

BMT Al Ikhlas menyediakan fasilitas Direct BMT Al Ikhlas bagi nasabah

penabung, dimana nasabah kalau ingin menyimpan uang tidak perlu jauh-

jauh datang ke BMT tetapi cukup dengan menelpon maka petugas akan

datang untuk mengambil tabungan nasabah. Sedangkan bagi nasabah

pembiayaan (kredit) disediakan pelayanan Jemput Bola atau door to door,

dimana apabila nasabah ingin membayar angsuran pinjamannya dan

mereka tidak punya waktu atau berhalangan maka petugas BMT akan

datang ke rumah mereka untuk mengambil uang angsurannya.

Seiring dengan kemajuan BMT dan perkembangan masyarakat di

sekitarnya, maka pihak BMT Al Ikhlas perlu dan sudah saatnya untuk

melebarkan usahanya. Akhirnya pada bulan Juni 1996 dibukalah kantor

cabang BMT Al Ikhlas di Jl. Godean KM 4,5 Kajor Sleman Yogyakarta.

Dalam perjalanannya BMT Al Ikhlas mulai membentuk sektor riil Grosir

Kaset bernuansa Islam yang diberi nama “NADA NURANI” dengan modal

awal kurang lebih dari Rp 7.000.000, tepat pada bulan Juni 1996 yang

bermula dari seorang nasabah pembiayaan yang bernama Toni Suhartono

yang mengalihkan bisnisnya ke rental komputer, maka bisnis sebelumnya


54

berupa distributor kaset dilimpahkan ke BMT Al Ikhlas untuk

dikembangkan.

Tahun demi tahun terus berjalan dan BMT Al Ikhlas telah

mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sampai sekarang BMT Al

Ikhlas masih terus beroperasi melayani para nasabahnya dan telah

mengalami peningkatan aset yang cukup menggembirakan.

Gambar 6
Perkembangan Usaha BMT Al Ikhlas

Perkembangan ASSET, DP3,Outstanding


BMT AL IKHLAS YOGYAKARTA
9.000.000.000

8.000.000.000

7.000.000.000

6.000.000.000
R u p ia h

5.000.000.000

4.000.000.000

3.000.000.000

2.000.000.000

1.000.000.000

-
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Jun-06
Tahun

Asset Dana Pihak Ke-3 Outstanding

Sumber : BMT Al Ikhlas Yogyakarta


55

Gambar 7
Perkembangan Laba BMT Al Ikhlas

Perkembangan Keuntungan Bersih


BMT AL IKHLAS YOGYAKARTA
140.000.000

120.000.000

100.000.000

80.000.000

60.000.000
R u p ia h

40.000.000

20.000.000

-
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Jun-06
(20.000.000)

(40.000.000)

(60.000.000)

(80.000.000)
Tahun

Keuntungan bersih

Sumber : BMT Al Ikhlas Yogyakarta

Saat ini BMT Al Ikhlas memiliki beberapa kantor cabang diantaranya :

a. Kantor Prambanan :

Jl. Yogya – Solo km-17 Kios Sidodadi No. 32 Tlogo, Prambanan

Telp. 0274- 748-4347

b. Kantor Bantul :

Jl. Parangtritis km. 3,5 Kompleks Ruko Griya Perwita Regency B/4

Sewon Bantul Telp. 0274- 411-830

c. Kantor Sleman :

Jl. Raya Magelang km-5 no. 119, Sleman Telp. 0274- 625-945
56

d. Kantor Godean

Jl. Godean Km 7 Sidokarto Godean , Sleman Telp. 0274- 797-139

2. Susunan Kepengurusan BMT Al Ikhlas Yogyakarta

a. Dewan Pendiri

Saat didirikan, BMT Al Ikhlas terdiri dari 4 orang pengurus yaitu;

1) Bapak Arief Budiman.

2) Bapak Eko Novianto.

3) Bapak Ahmad Sumiyanto.

4) Bapak Abdul Aziz.

b. Susunan Kepengurusan

BMT Al Ikhlas berdasar hukum koperasi, jadi seluruh operasionalnya

merujuk kepada undang-undang koperasi. Berdasarkan hasil Rapat

Anggota Tahunan Koperasi BMT AL Ikhlas pada tanggal Januari 2006,

ditetapkan Pengurus Koperasi BMT Al Ikhlas masa kerja 2006 – 2011

adalah sebagai berikut:

Dewan Pengawas

1) Dr. Yunahar Ilyas. Lc. MA

2) Dr. Muhammad. M. Ag

3) Ir. Arief Budiono

Pengurus

1) Ketua : Ahmad Sumiyanto, SE, MSI

2) Sekretaris : Edi Susilo, SE

3) Bendahara : Muh. Nurudin Susanto, SE


57

3. Visi dan Misi BMT Al lkhlas Yogyakarta

a. Visi

Memberikan layanan keuangan dengan pola syariah, serta

pelayanan pengelolaan ziswaf kepada masyarakat, sehingga berperan

dalam peningkatan kualitas usaha kecil dan menengah dengan

profesional, berdasarkan prinsip keadilan dan saling menguntungkan.

Beroperasi dengan badan hukum koperasi, yang menjunjung

tinggi citra BMT sebagai sebuah lembaga kepercayaan masyarakat,

yang beroperasi di DIY dan sekitarnya.

Kami bertekad untuk mengembangkan diri agar dapat menjadi

BMT unggulan dan menjadi uswah bagi lembaga keuangan syariah lain.

b. Misi

1) Mensosialisasikan sistem lembaga keuangan syariah secara

komprehensif, dengan menawarkan produk-produk yang disesuaikan

dengan kebutuhan masyarakat.

2) Secara sistematis dan berkesinambungan melakukan

penyempurnaan dalam pengelolaan produk untuk pencapaian

pelayanan yang berkualitas dan bernilai syariah.

3) Mengembangkan sumber daya insani yang berkualitas dengan etos

kerja dan integritas tinggi, disiplin, dinamis, didukung penguasaan

teknologi informasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4) Melaksanakan bisnis dengan pendampingan dan pemberdayaan

usaha kecil dan menengah yang berbasis komunitas untuk

meningkatkan kualitas dan kuantitas usaha.


58

5) Melaksanakan sosialisasi akan pentingnya zakat, infak, shodaqoh

dan wakaf, sekaligus menjadi pengelolanya.

c. Budaya Kerja yang Dikembangkan

1) Di dalam kantor

Hal-hal yang harus mendapat perhatian meliputi:

a) Tampilan bangunan kantor dari luar sampai dengan keleluasaan

dan keamanan tempat parkir kendaraan.

b) Kebersihan, kerapihan dan tata ruang kantor khususnya ruang

pelayanan nasabah. Mulai dari ruang tunggu, counter teller, meja

customer service hingga meja-meja lainnya yang terjangkau oleh

pandangan nasabah.

c) Sikap para karyawan front liner, sapaan (bahasa, intonasi suara

dan cara berpakaian) sampai dengan pemberian penjelasan atas

produk dan masalah yang dihadapi nasabah, disampaikan dengan

ringkas, jelas dan padat hingga memberikan rasa puas nasabah.

d) Kecepatan dan ketepatan pelayanan.

e) Kualitas dan tampilan voucer, tiket dan dokumen transaksi lainnya

serta kelengkapan informasi dari seluruh produk yang ditawarkan.

2) Di luar kantor

Hal-hal yang diperhatikan meliputi:

a) Sikap para karyawan lapangan, sapaan (bahasa, intonasi suara

dan cara berpakaian) sampai dengan pemberian penjelasan atas

produk dan masalah yang dihadapi nasabah, disampaikan dengan

ringkas, jelas dan padat hingga memberikan rasa puas nasabah.

b) Kecepatan dan ketepatan pelayanan.


59

c) Slogan 5 keunggulan produk simpanan BMT Al Ikhlas terus

menjadi pendorong semangat saat mencari nasabah: Aman,

Bebas Riba, Bagi Hasil Kompetitif, Ramah Bersahabat Cepat,

Fasilitas Antar Jemput.

d) Menyusun, mempelajari dan menindaklanjuti SWOT

e) Kreatif, inovatif dan visiner

4. Sumber Daya Insani

a. Jumlah Karyawan BMT AI Ikhlas saat ini terdiri dari :

1) Unit finance : 41 orang

2) Unit-unit afiliasi : 26 orang

b. Pendidikan Unit Finance

1) S 1 : 72 %

2) Diploma : 20 %

c. Jam kerja karyawan BMT Al Ikhlas adalah dari hari Senin sampai

dengan Jum’at, dan setiap hari mempunyai jam kerja mulai jam 07.30

sampai dengan jam 15.00

5. Produk BMT Al Ikhlas

a. Simpanan Berjangka “Deposito Muamalah Mizan”

Adalah simpanan yang penyetorannya dilakukan sekali dan

penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut

perjanjian antara penyimpan dengan BMT Al Ikhlas. Ketentuannya :

1) Simpanan Berjangka “Deposito Muamalah Mizan” memiliki jangka

waktu 1, 3, 6 dan 12 bulan

2) Setoran minimal Rp. 500.000,00


60

3) Nisbah bagi hasil 30 % (1 bulan), 45% (3 bulan), 50% (6 bulan),

atau 55% (12 bulan) dari pendapatan BMT

b. Simpanan Siswa Benpinter

Adalah simpanan bagi siswa untuk menyiapkan dan merencanakan

pendidikan sejak dini. Untuk playgroup, TPA, TKIT/ TK, SDIT/SD, MI/

MTs/ SMP. Simpanan ini tidak diambil, kecuali untuk kepentingan

pendidikan siswa selama berada dibangku sekolah. Transaksi kerja

samanya adalah pihak sekolah yang menghimpun dana dari siswa ,

kemudian diserahkan sepenuhnya ke BMT Al Ikhlas sebagai Mudharib

(pengelola) untuk diinvestasikan kepada hal-hal yang produktif dan

tidak melanggar ketentuan syariah. Nisbah bagi hasil yang diberikan

sebesar 18% dari pendapatan rata-rata BMT.

c. Simpanan Haji Al Mabrur

Simpanan Haji adalah simpanan bagi umat Islam yang berencana

menunaikan ibadah haji atau umroh, yang dikelola berdasarkan prinsip

mudharabah mutlaqah. Fasilitas yang diperoleh yaitu setoran

ringan.Setoran awal minimal Rp. 300.000,- dan setoran selanjutnya

minimal Rp. 100.000,- Bebas biaya administrasi, terdaftar di

Departemen Agama, penabung akan terdaftar pada SISKOHAT

sebagai kepastian memperoleh kursi, dan on-line antar cabang yaitu

setoran tunai dapat dilakukan di semua cabang.

d. Manajemen Renumerasi Karyawan Berbasis BMT

Manajemen Renumerasi Karyawan adalah salah satu bentuk kerja

antar lembaga (sekolah dan BMT) dalam hal pengelolaan keuangan

lembaga mitra oleh BMT khususnya yang berkaitan dengan sistem dan
61

prosedur penggajian karyawan. Bentuk kerjasamanya adalah pihak

lembaga mitra menghimpun dana kemudian menyerahkan sepenuhnya

dana tersebut kepada BMT Al Ikhlas melalui satu rekening untuk

diinvestasikan kepada usaha produktif yang tidak melanggar ketentuan

syariah, semua karyawan terdaftar dalam keanggotaan yang

selanjutnya mendapatkan nomor keanggotaan dan buku simpanan

sebagai sarana transaksi, nisbah bagi hasil yang diberikan sebesar

18% dari pendapatan rata-rata BMT.

e. Simpanan Mudharabah

Simpanan yang dikelola dengan prinsip syari’ah mudharabah al-

muthlaqah, dimana dana yang disimpan oleh anggota akan digunakan

BMT secara mutlak sepenuhnya untuk diinvestasikan pada usaha

produktif dan halal. Keunggulannya antara lain : dana yang disimpan

dijamin keamanannya, penarikan dana dapat dilakukan setiap saat dan

sewaktu-waktu serta di setiap kantor pelayanan BMT Al Ikhlas terdekat,

fasilitas antar jemput baik saat penyimpanan maupun penarikan, bagi

hasil kompetitif, bebas biaya administrasi bulanan, penyaluran dana

untuk pengembangan usaha kecil dan menengah.

f. Produk-produk Pada Sektor Riil

Dalam menyebarkan produk-produknya, BMT juga

melengkapinya dengan pengadaan usaha mandiri yang lebih sering

disebut sektor riil. Adapun sektor riil BMT adalah :


62

1) Distributor kaset dan VCD Islami.

Berdiri sejak tahun 1997, dengan nama NADA NURANI. Kemudian

sejak tahun 2001 NADA NURANI mulai masuk pada penjualan dan

persewaan VCD Islami.

2) Debeta (Percetakan dan Sablon)

Dinamika kota Yogyakarta yang sedemikian komplek serta suasana

dan nuansa pendidikan dan bisnis yang relatif dinamis

menghajatkan BMT Al Ikhlas untuk mempunyai percetakan sendiri

yang memiliki peluang bisnis prospektif. Mulai akhir Desenber 2003,

berdirilah sebuah percetakan dengan Debeta yang berlokasi di Jl.

Magelang No. 119 Yogyakarta.

6. Pembayaran Gaji Pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta

Upaya BMT Al Ikhlas Yogyakarta sebagai lembaga keuangan

syariah untuk menegakkan prinsip-prinsip syariah ditunjukkan dengan :

a) Adanya aqad perjanjian kerja atau surat pernyataan kesediaan,

sebelum karyawan mulai bekerja mereka harus menandatangani aqad

perjanjian kerja yang berkaitan dengan kejelasan pekerjaannya. Mulai

dari karyawan training, sampai perekrutan ini ada SK yang di dalamnya

memuat hak-hak apa saja dan kewajiban apa saja bagi karyawan,

kemudian memuat pula lampiran gaji yang akan diterima oleh

karyawan.

b) Apabila jumlah gaji yang diberikan kepada karyawan ini telah mencapai

batas nishab maka akan dikenakan zakat. Batas nishab yang

ditentukan kurang lebih Rp. 1100000,- sedangkan untuk gaji yang


63

belum mencapai batas nishab akan diberikan kelonggaran untuk

berinfak saja, tidak ada ketentuan batas infak yang diberlakukan.

c) BMT Al Ikhlas juga mempunyai kebijakan lain apabila ternyata didapati

karyawan yang membolos kerja maka konsekuensinya adalah

dilakukan pemotongan gaji.

d) Mengenai standar gaji, BMT Al Ikhlas Yogyakarta menjadikan Upah

Minimum Regional ( UMR ) sebagai standar gaji pokok. Artinya gaji

yang diberikan tidak berada jauh di bawah pasaran. Kemudian dari gaji

pokok tersebut ditambahkan dengan berbagai tunjangan yang

penentuan besarnya tunjangan itu didasarkan atas masa kerja dan

level jabatan karyawan.

e) Pembayaran gaji karyawan dilakukan secara tepat waktu, yaitu

ditentukan setiap tanggal 1 karyawan memperoleh hak gaji mereka.

Apabila ternyata pada tanggal 1 tersebut merupakan hari libur, maka

BMT Al Ikhlas mengambil kebijakan pembayaran gaji diundur atau

diajukan.

B. Pengujian dan Hasil Analisis Data.

Penggajian bagi para karyawan di BMT Al Ikhlas didasarkan pada

Upah Minimum Regional ( UMR ) sebagai standar gaji pokoknya, kemudian

tunjangan tetap dan tunjangan variabel, selanjutnya dikurangi dengan

potongan-potongan gaji. Ketentuan besarnya tunjangan yang diberikan

kepada karyawan ini diperhitungkan berdasar masa kerja karyawan serta level

jabatan karyawan yang bersangkutan. Sedangkan dalam hal fasilitas bagi

karyawan seperti misalnya sepeda motor ini dasarnya adalah waktu dan
64

jabatan. BMT Al Ikhlas memberikan tunjangan atau jaminan sosial kepada

karyawannya dalam rangka usaha pemeliharaan tenaga kerja. Adapun

tunjangan yang diberikan adalah sebagai berikut:

Tunjangan tetap yang terdiri dari :

a. Tunjangan jabatan

b. Tunjangan masa kerja

c. Tunjangan pengurus

d. Tunjangan istri

e. Tunjangan anak

f. THR

Tunjangan variabel yang terdiri dari :

a. Tunjangan makan

b. Tunjangan kehadiran

c. Tunjangan transport

d. Tunjangan pulsa

e. Sewa dan pemeliharaan kendaraan

f. Tunjangan dana teknis

Potongan yang dibebankan atas gaji karyawan antara lain :

a. Dana taawun

b. Asuransi kesehatan

c. Asuransi hari tua

d. Pajak penghasilan

e. Potongan hutang gaji

f. Angsuran pembiayaan

g. Zakat
65

Dokumen dan catatan akuntansi yang digunakan dalam prosedur

penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas terdiri dari : SK ( Surat Keputusan )

pengangkatan karyawan ( training, kontrak, tetap ), masa kerja karyawan,

jabatan karyawan dan level, presensi karyawan, struktur gaji karyawan.

1. Prosedur Sistem Penggajian Karyawan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta

a. Fungsi yang terkait dalam sistem penggajian

1) Fungsi pencatatan presensi

Fungsi ini bertanggungjawab atas penyelenggaraan catatan

waktu hadir bagi semua karyawan BMT Al Ikhlas, baik di kantor

cabang maupun kantor pusat. Pencatatan waktu hadir

diselenggarakan dengan menggunakan sistem software yang

ditangani oleh bagian akunting, berisi catatan hari, tanggal, waktu

kedatangan, waktu kepulangan, dan menit kerja. Penyelenggaraan

pencatatan waktu hadir ini untuk menentukan gaji karyawan, apakah

karyawan berhak mendapatkan gaji penuh atau harus dipotong

akibat ketidakhadiran mereka.

2) Fungsi administrasi personalia

Fungsi ini bertanggungjawab membuat rekap catatan presensi

karyawan dari masing-masing kantor cabang, sehubungan dengan

catatan karyawan masuk, karyawan ijin, cuti dan sebagainya. Fungsi

administrasi personalia ini berada di kantor pusat dan fungsi ini

dihandle langsung oleh manajemen pusat.


66

3) Fungsi penggajian ( manajer SDM )

Fungsi ini bertanggungjawab untuk membuat daftar gaji yang

berisi gaji kotor yang menjadi hak masing-masing karyawan serta

potongan yang dibebankan pada setiap karyawan selama jangka

waktu pembayaran gaji, berdasarkan laporan presensi dari manajer

masing-masing kantor cabang. Data yang dipakai sebagai dasar

untuk pembuatan daftar gaji karyawan adalah Surat Keputusan

mengenai pengangkatan karyawan, daftar presensi karyawan, masa

kerja karyawan, jabatan karyawan, level karyawan. Selanjutnya hasil

rekap struktur gaji karyawan diteruskan ke kantor cabang, oleh

manajer cabang didistribusikan ke bagian keuangan dan teller.

4) Fungsi teller

Fungsi ini bertanggungjawab untuk mengisi cek guna

pembayaran gaji. Teller melakukan entry gaji ke rekening tabungan

masing-masing karyawan.

b. Jaringan prosedur sistem akuntansi penggajian karyawan BMT Al Ikhlas

Yogyakarta

1) Prosedur pencatatan presensi

Prosedur ini dilakukan dengan sistem software yang dipegang oleh

bagian akunting dengan uraian kegiatannya sebagai berikut :

a) Bagian pencatatan waktu mengawasi setiap karyawan yang

mengisi presensi yang dicatat menggunakan sistem software

pada waktu datang dan pulang

b) Membuat presensi karyawan berdasarkan catatan yang ada

dalam software
67

c) Menyerahkan daftar presensi karyawan cabang ke bagian

administrasi personalia kantor pusat

2) Prosedur administrasi personalia

Prosedur ini dilakukan oleh bagian personalia kantor pusat dengan

uraian kegiatannya sebagai berikut :

a) Bagian administrasi personalia kantor pusat menerima daftar

presensi karyawan dari kantor cabang

b) Membuat rekap daftar presensi berdasarkan catatan presensi

karyawan dari masing-masing kantor cabang dan diarsipkan

c) Menyerahkan rekap daftar presensi ke bagian penggajian

( manajer SDM )

3) Prosedur penggajian ( manajer SDM )

Prosedur ini dilakukan oleh manajer SDM pusat dengan uraian

kegiatannya sebagai berikut :

a) Manajer SDM menerima rekap daftar presensi karyawan dari

bagian administrasi personalia

b) Membuat daftar gaji berdasarkan dokumen SK pengangkatan

karyawan, masa kerja karyawan, jabatan karyawan, level

karyawan

c) Membuat rekap daftar gaji untuk masing-masing kantor cabang

dan kantor pusat

d) Mencatat penghasilan karyawan ke dalam struktur gaji karyawan

e) Bagian akunting mencatat biaya gaji

f) Membuat bukti kas keluar


68

g) Menyerahkan hasil rekap struktur gaji karyawan ke masing-

masing manajer kantor cabang

4) Prosedur pembayaran gaji

Prosedur ini dilakukan oleh bagian keuangan dan teller dengan uraian

kegiatannya sebagai berikut :

a) Menerima hasil rekap struktur gaji karyawan dari manajer

b) Bagian keuangan mengeluarkan gaji karyawan

c) Entry gaji ke rekening masing-masing karyawan

d) Strook gaji diserahkan ke karyawan sebagai bukti bahwa gaji telah

masuk ke rekening tabungan masing-masing karyawan


69

Gambar 8
Prosedur Penggajian Karyawan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta

PRESENSI KANTOR
CABANG DAN PUSAT

ADMINISTRASI PERSONALIA
KANTOR PUSAT

BAGIAN PENGGAJIAN
( MANAJER SDM ) KANTOR PUSAT

TELLER KANTOR
CABANG

KARYAWAN

Sumber : BMT Al Ikhlas Yogyakarta


70

2. Sistem Pengendalian Intern dalam Sistem Penggajian Karyawan

Unsur-unsur pengendalian intern penggajian karyawan BMT Al

Ikhlas Yogyakarta meliputi :

a. Aspek organisasi

Struktur organisasi yang memisahkan tugas dan tanggungjawab

fungsional secara tegas merupakan bagian penting perusahaan untuk

melakukan kegiatan pokok perusahaan. Pemisahan fungsi yang jelas

pada masing-masing bagian bertujuan untuk mengetahui secara jelas

dan pasti sesuai dengan kedudukannya di dalam struktur organisasi.

Organisasi yang telah memisahkan tanggungjawab serta

memberikan kewenangan terhadap masing-masing bagian terkait

dengan proses pelaksanaan prosedur penggajian pada BMT Al Ikhlas

Yogyakarta ditunjukkan dengan adanya :

1) Pemisahan fungsi pembuat daftar gaji dari fungsi keuangan,

2) Pemisahan fungsi pencatatan waktu hadir dari fungsi pembuat daftar

gaji.

Fungsi pembuat daftar gaji dipegang oleh bagian penggajian

yaitu manajer SDM pusat, fungsi keuangan dipegang oleh bagian

keuangan, fungsi pencatatan waktu hadir yang menggunakan sistem

software dipegang oleh bagian akunting.

b. Aspek sistem otorisasi

Sistem otorisasi yang berlaku pada BMT Al lkhlas Yogyakarta adalah :

1) Presensi sebagai pedoman pembuatan daftar gaji diotorisasi oleh

fungsi pencatat waktu yang dipegang oleh bagian akunting


71

2) Dalam daftar gaji karyawan harus memiliki SK pengangkatan

sebagai karyawan BMT Al Ikhlas, ditandatangani oleh pejabat yang

berwenang dalam hal ini ketua pengurus BMT Al Ikhlas Yogyakarta

3) Setiap perubahan gaji karyawan atau perubahan unsur yang dipakai

sebagai dasar untuk menghitung penghasilan karyawan diotorisasi

oleh yang berwenang dalam hal ini manajer SDM pusat

4) Setiap potongan gaji selain dari pajak penghasilan karyawan

didasarkan atas surat potongan gaji dan diotorisasi oleh fungsi

keuangan

5) Daftar gaji tidak diotorisasi oleh fungsi personalia

6) Bukti kas keluar untuk pembayaran gaji diotorisasi oleh fungsi

akuntansi

c. Aspek prosedur pencatatan

Prosedur pencatatan yang berlaku pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta

adalah :

1) Adanya perubahan data yang tercantum dalam catatan penghasilan

karyawan direkonsiliasi dengan daftar gaji karyawan

2) Tarif gaji yang tercantum dalam kartu penghasilan diverifikasi

ketelitiannya oleh fungsi akuntansi

d. Aspek praktik yang sehat

Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit

organisasi pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta ditunjukkan dengan :

1) Fungsi pencatatan waktu yang dipegang oleh bagian akunting

mengawasi sistem software pencatatan presensi karyawan


72

2) Pembuatan daftar gaji diverifikasi kebenaran dan ketelitian

perhitungannya oleh fungsi akuntansi sebelum dilakukan

pembayaran

3) Catatan penghasilan karyawan disimpan oleh fungsi pembuat daftar

gaji yang dipegang oleh manajer SDM pusat

C. Pembahasan Hasil Analisis

1. Penilaian terhadap Fungsi-fungsi yang Terkait dalam Sistem

Penggajian Karyawan BMT Al Ikhlas Yogyakarta

Fungsi-fungsi yang terkait dengan sistem penggajian karyawan di

BMT Al Ikhlas antara lain fungsi pencatatan presensi, fungsi administrasi

personalia, fungsi penggajian, dan fungsi teller. Hasil analisis yang

didapat menunjukkan bahwa BMT Al Ikhlas telah memisahkan tugas dan

tanggungjawab fungsional pada masing-masing bagian. Secara sistem

pengembangan, fungsi personalia dihandle langsung oleh manajemen

pusat. Fungsi penggajian dipegang langsung oleh manajer SDM

mengingat bentuk struktur organisasi BMT yang simpel. Hal tersebut

memudahkan manajer untuk melakukan kontrol terhadap masing-masing

fungsi yang berkaitan dengan penggajian.

a. Fungsi pencatatan presensi

Pencatatan atas kehadiran semua karyawan di BMT Al Ikhlas

Yogyakarta dilakukan dengan menggunakan sistem software.

Pencatatan ini meliputi hari, tanggal, waktu kedatangan, waktu

kepulangan, menit kerja. Fungsi pencatatan presensi ini terpisah dari

fungsi pembuat daftar gaji. Fungsi pencatatan presensi yang ada di


73

BMT Al Ikhlas Yogyakarta dinilai baik dan telah sesuai dengan

prosedur. Sistem software yang digunakan dalam pencatatan presensi

mempermudah bagian penggajian untuk melakukan pemantauan

kehadiran yang akan mempermudah dalam menentukan perhitungan

gaji karyawan yang akan diberikan. Sistem software yang ada diawasi

oleh bagian akunting. Fungsi pencatatan presensi merupakan kunci

dari fungsi-fungsi selanjutnya karena dari fungsi ini akan menentukan

berapa gaji yang seharusnya diperoleh karyawan , dan dari pencatatan

presensi ini akan diketahui catatan atas karyawan yang tidak hadir

yang nantinya akan mempengaruhi potongan gaji karyawan.

b. Fungsi administrasi personalia

Fungsi administrasi personalia BMT Al Ikhlas Yogyakarta dihandle

langsung oleh manajemen pusat. Setelah presensi karyawan yang

tercatat dalam sistem software diketahui, tugas fungsi administrasi

personalia adalah membuat rekap daftar presensi seluruh karyawan

dari masing-masing kantor cabang. Melakukan pencatatan yang antara

lain berkaitan dengan catatan karyawan masuk, adanya karyawan

yang ijin, karyawan yang cuti dan sebagainya yang dicatat untuk tiap-

tiap karyawan kantor cabang dan pusat. Secara prosedur, fungsi ini

sudah baik, artinya fungsi administrasi personalia ini terpisah dari

fungsi-fungsi pencatatan presensi dan fungsi penggajian yang ada.

c. Fungsi penggajian

Daftar gaji dibuat oleh bagian penggajian yang ditangani oleh manajer

SDM kantor pusat dan pelaksana penggajian atas dasar surat

keputusan pengangkatan karyawan, maupun peraturan-peraturan


74

penggajian, catatan masa kerja karyawan, jabatan dan level karyawan,

daftar presensi karyawan berdasarkan laporan dari manajer masing-

masing kantor cabang yang digunakan sebagai acuan untuk

penyusunan daftar gaji. Penghasilan karyawan ini dihitung dalam satu

periode pembayaran gaji, dengan daftar gaji yang berisi jumlah

penghasilan gaji kotor hak setiap karyawan dan perhitungan potongan

atas gaji yang dibebankan ada masing-masing karyawan selama

jangka waktu pembayaran gaji. Fungsi penggajian ini mempunyai hak

untuk mengeluarkan gaji kemudian dibantu akunting untuk melakukan

pencatatan kewajiban yang timbul dalam hubungannya dengan

pembayaran gaji. Selanjutnya bagian penggajian mencatat struktur gaji

karyawan, dan menyerahkan hasil rekap struktur gaji karyawan ke

manajer kantor cabang.

d. Fungsi teller

Berdasarkan rekap struktur gaji karyawan dari manajer masing-masing

kantor cabang, bagian keuangan mengeluarkan gaji karyawan, mengisi

cek guna pembayaran gaji, dan teller melakukan entry gaji ke rekening

tabungan masing-masing karyawan.

2. Penilaian terhadap Jaringan Prosedur Sistem Penggajian Karyawan

BMT Al Ikhlas Yogyakarta

BMT Al Ikhlas Yogyakarta hanya menggunakan jaringan prosedur

yang membentuk sistem penggajian. Jaringan prosedur penggajiannya

terdiri dari prosedur pencatatan presensi karyawan, prosedur administrasi

personalia, prosedur penggajian oleh manajer SDM, prosedur pembayaran

gaji. Hasil analisis jaringan prosedur penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas


75

Yogyakarta menunjukkan bahwa prosedur penggajian yang ada sangat

sederhana.

a. Prosedur pencatatan presensi

Pencatatan daftar hadir karyawan menggunakan sistem software sangat

menunjang proses pencatatan waktu hadir karyawan. Bagian akunting

tinggal mengawasi setiap karyawan yang memasukkan passwordnya

ke dalam komputer sebagai tanda presensi, sehingga daftar hadir

manual tidak diperlukan lagi . Prosedur ini terpisah dari prosedur

penggajian dan prosedur administrasi personalia, dan prosedur

pencatatan presensi di BMT Al Ikhlas sudah sesuai dengan sistem

akuntansi yang baik karena mudah dipahami dan mempercepat proses

presensi.

b. Prosedur administrasi personalia

Prosedur administrasi yang ditangani langsung oleh Support System

Officer kantor pusat ini melakukan kegiatan pencatatan dan pengarsipan

daftar presensi karyawan yang digunakan sebagai dasar untuk

pembuatan daftar gaji oleh manajer SDM. Prosedur administrasi

personalia BMT Al Ikhlas Yogyakarta sudah sesuai dengan sistem

akuntansi yang baik, sesuai dengan urutan kegiatan proses penggajian.

c. Prosedur penggajian

Prosedur penggajian yang dipegang langsung oleh manajer SDM pusat

ini bertugas untuk membuat daftar gaji karyawan berdasar dokumen SK

karyawan, masa kerja, jabatan, level karyawan, mencatat penghasilan

karyawan ke dalam struktur gaji karyawan. Secara manual manajer

yang menyusun pembuatan daftar gaji dan membuat bukti kas keluar,
76

kemudian secara teknis dibantu oleh akunting dilakukan posting dan

pencatatan biaya gaji. Prosedurnya juga dinilai sesuai dengan sistem

akuntansi yang baik.

d. Prosedur pembayaran gaji

Berdasar laporan dan rekap struktur gaji karyawan dari manajer, bagian

keuangan mengeluarkan gaji karyawan. Selanjutnya teller melakukan

entry gaji. Prosedur pembayaran gaji ini tidak melalui proses yang

panjang, dan prosedur yang ada sesuai dengan sistem yang baik,

mudah dipahami.

Prosedur penggajian yang ada dinilai sesuai dengan sistem

akuntansi yang baik. Prosedur penggajian di BMT Al Ikhlas juga sudah

ditunjang dengan sistem informasi akuntansi yang memadai.

Pembayaran gaji kepada karyawannya juga sudah melewati rekening bank,

sehingga gaji yang diterima karyawan setiap bulannya tidak berupa uang

kas tetapi dalam bentuk rekening.

3. Penilaian terhadap Sistem Pengendalian Intern dalam Sistem

Penggajian Karyawan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta

Penilaian untuk mengetahui memadai atau tidaknya sistem

pengendalian intern dalam sistem penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas

Yogyakarta, dilakukan dengan membandingkan antara kenyataan yang

ada dengan teori. Metode yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan kuisioner dengan mengajukan daftar pertanyaan mengenai

elemen-elemen unsur sistem pengendalian intern penggajian kepada

pihak pelaksana penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta

dengan format seperti dalam lampiran.


77

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan disusun sedemikian rupa

sehingga kemungkinan jawaban yang diperoleh hanya terdiri dari “Ya” dan

“ Tidak” dengan butir-butir pertanyaan sebanyak 15 butir. Baik tidaknya

pengendalian intern penggajian karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta

dapat dilihat dalam jawaban kuisioner. Jawaban “ Ya” menunjukkan sistem

pengendalian intern adalah baik, sedangkan jawaban “ Tidak” berarti

sebaliknya. Berdasarkan pertanyaan yang diajukan terdapat 12 jawaban

“Ya” dan untuk jawaban “Tidak” terdapat 3 buah jawaban. Pertanyaan

yang mendapat jawaban “ Ya” selanjutnya dicari skornya dengan

perhitungan :

Nilai Relatif =
∑ butir yang mendapat jawaban " ya" x 100 %
∑ butir yang diterapkan

12
= x 100 %
15

= 80 %

Hasil perhitungan melalui skoring menunjukkan bahwa nilai relatif

penerapan sistem pengendalian intern penggajian karyawan di BMT Al

Ikhlas Yogyakarta sebesar 80 %. Selanjutnya nilai relatif tersebut

didiskripsikan berdasar kriteria penilaian :

Skor 0% - 39,99 % dikategorikan tidak memadai

40,00 % - 59,99% dikategorikan kurang memadai

60,00 % - 79,99% dikategorikan cukup memadai

80,00 % - 89,99% dikategorikan memadai

90,00 % - 100% dikategorikan sangat memadai


78

Berdasar jawaban yang diperoleh atas pertanyaan yang diajukan

kepada BMT Al Ikhlas Yogyakarta dalam hal penerapan sistem

pengendalian intern penggajian termasuk dalam kategori memadai.

Keadaan ini mencerminkan sistem pengendalian intern penggajian BMT Al

Ikhlas sudah berjalan dengan baik. Artinya sudah ada pemisahan tugas

dan tanggungjawab dalam struktur organisasinya, sistem otorisasi dan

prosedur pencatatan yang baik, dan praktik yang sehat dalam

melaksanakan fungsi tiap unit organisasi. BMT Al Ikhlas juga sudah

memanfaatkan Koperasi Jasa Audit sebagai eksternal auditor untuk

memeriksa data keuangan yang ada.

D. Jawaban Atas Pertanyaan dalam Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah prosedur penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas

Yogyakarta ?

Berdasarkan pelaksanaan prosedur penggajian karyawan di BMT Al

Ikhlas Yogyakarta dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan pembayaran

gaji ini dikatakan sesuai dengan prosedur dan sistem yang ada, fungsi-

fungsi yang berkaitan dengan prosedur penggajian telah memisahkan

tanggungjawab dan tugas masing-masing. Prosedur penggajian yang ada

di BMT Al Ikhlas ini sederhana, fungsi-fungsi personalia yang ada dihandle

langsung oleh manajemen dan BMT Al Ikhlas sehingga struktur organisasi

yang ada juga simpel. Pembayaran gaji karyawan di BMT Al Ikhlas tidak

dilakukan dalam bentuk uang kas yang diberikan langsung kepada

karyawan, melainkan gaji dibayarkan oleh bagian keuangan dan teller

dengan entry gaji ke rekening masing-masing karyawan. Tahapan


79

prosedur penggajian karyawan di BMT Al Ikhlas Yogyakarta dapat

dijelaskan dengan bagan alir sistem (flowchart) sebagai berikut :

Gambar 9
Prosedur Pencatatan Presensi

Bagian Pencatatan Presensi

Mulai

Mengawasi
presensi

Presensi dengan
Sistem software

Membut daftar
presensi

Daftar presensi
karyawan

Sumber : BMT Al Ikhlas Yogyakarta


80

Gambar 10
Prosedur Administrasi Personalia

Bagian Administrasi Personalia

Daftar presensi
karuyawan

Membuat
rekap
Daftar
pesensi

Rekap daftar
presensi

Sumber : BMT Al Ikhlas Yogyakarta


81

Gambar 11
Prosedur Penggajian

Bagian Penggajian ( Manajer SDM )

2 6

rekap daftar
presensi Mencatat
karyawan Biaya
gaji

Membuat
daftar
gaji

Membuat
rekap daftar
gaji untuk
kantor cabang

RDG
Daftar gaji

Mencatat
penghasilan
karyawan

Strook gaji
karyawan

Membuat
bukti kas
keluar

BKK 7

Sumber : BMT Al Ikhlas Yogayarta


82

Gambar 12
Prosedur Pembayaran Gaji

Bagian Keuangan dan Teller

Rekap struktur gaji

Mengeluark
an gaji
karyawan

Entry gaji ke
rekening
karyawan

Strook gaji
diserahkan ke
karyawan

selesai

Sumber : BMT Al Ikhlas Yogyakarta


83

a) Prosedur pencatatan presensi

Prosedur ini dilakukan dengan sistem software yang dipegang oleh

bagian akunting dengan uraian kegiatannya sebagai berikut :

1) Bagian pencatatan waktu mengawasi setiap karyawan yang

mengisi presensi yang dicatat menggunakan sistem software

pada waktu datang dan pulang

2) Membuat presensi karyawan berdasarkan catatan yang ada dalam

software

3) Menyerahkan daftar presensi karyawan cabang ke bagian

administrasi personalia kantor pusat

b) Prosedur administrasi personalia

Prosedur ini dilakukan oleh bagian personalia kantor pusat dengan

uraian kegiatannya sebagai berikut :

1) Bagian administrasi personalia kantor pusat menerima daftar

presensi karyawan dari kantor cabang

2) Membuat rekap daftar presensi berdasarkan catatan presensi

karyawan dari masing-masing kantor cabang dan diarsipkan

3) Menyerahkan rekap daftar presensi ke bagian penggajian (

manajer SDM )

c) Prosedur penggajian ( manajer SDM )

Prosedur ini dilakukan oleh manajer SDM pusat dengan uraian

kegiatannya sebagai berikut :

1) Manajer SDM menerima rekap daftar presensi karyawan dari

bagian administrasi personalia


84

2) Membuat daftar gaji berdasarkan dokumen SK pengangkatan

karyawan, masa kerja karyawan, jabatan karyawan, level

karyawan

3) Membuat rekap daftar gaji untuk masing-masing kantor cabang

dan kantor pusat

4) Mencatat penghasilan karyawan ke dalam struktur gaji karyawan

5) Bagian akunting mencatat biaya gaji hasil rancangan manajer

SDM

6) Manajer membuat bukti kas keluar, tiap kantor cabang 1 lembar

7) Menyerahkan hasil rekap struktur gaji karyawan ke masing-masing

manajer kantor cabang

d) Prosedur pembayaran gaji

Prosedur ini dilakukan oleh bagian keuangan dan teller dengan uraian

kegiatannya sebagai berikut :

1) Menerima hasil rekap struktur gaji karyawan dari manajer

2) Bagian keuangan mengeluarkan gaji karyawan

3) Entry gaji ke rekening masing-masing karyawan

4 )Strook gaji diserahkan ke karyawan sebagai bukti bahwa gaji telah

masuk ke rekening tabungan masing-masing karyawan

2. Bagaimanakah penerapan sistem pengendalian intern dalam penggajian

karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta ?

a. Aspek struktur organisasi

Sudah ada pembagian tugas dan wewenang dari masing-masing

unit organisasi sehingga penentuan proses tanggungjawab menjadi

jelas. BMT Al Ikhlas Yogyakarta mempunyai struktur organisasi yang


85

tidak terlalu rumit karena tidak melibatkan banyak bagian di dalamnya.

Organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional pada BMT Al

Ikhlas Yogyakarta yaitu dengan adanya pemisahan fungsi :

1) Fungsi pencatatan presensi dipegang oleh bagian akunting

2) Fungsi administrasi personalia dihandle langsung oleh manajemen

di kantor pusat

3) Fungsi penggajian dipegang oleh manajer SDM

4) Fungsi teller dipegang oleh bagian keuangan dan teller

b. Aspek sistem otorisasi

Sistem wewenang dalam suatu organisasi merupakan alat bagi

manajemen untuk mengadakan pengawasan terhadap kegiatan yang

terjadi dan untuk menghindari tindak kecurangan yang mungkin bisa

terjadi. BMT Al Ikhlas telah menyelenggarakan sistem otorisasi yang

cukup baik.

Presensi sebagai dasar bagi manajemen untuk meneNtukan

besarnya gaji karyawan diotorisasi oleh fungsi pencatat waktu dalam

hal ini di bawah pengawasan bagian akunting. Dengan adanya otorisasi

tersebut dapat menghindarkan manipulasi presensi karyawan. Setiap

karyawan harus memiliki SK pengangkatan apakah dia training, kontak,

tetap yang diotorisasi oleh Ketua Pengurus BMT Al Ikhlas setelah

melalui proses musyawarah antara manajemen dan koordinator

cabang. Peraturan gaji yang dimuat dalam peraturan kepegawaian

sebagai dasar perhitungan atas perubahan gaji karyawan diotorisasi

oleh manajer SDM. Bukti kas keluar atas pembayaran gaji diotorisasi

fungsi akuntansi dengan persetujuan manajer SDM. Sistem otorisasi ini


86

dikatakan memadai dan sesuai dengan prinsip-prinsip pengendalian

intern yang baik yang dapat memberikan perlindungan terhadap

kekayaan BMT. Hanya saja kekurangan yang ada yaitu daftar gaji tidak

diotorisasi oleh fungsi personalia.

c. Aspek prosedur pencatatan

Prosedur pencatatan dilakukan oleh bagian-bagian yang

berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab tiap bagian. Bagian

akunting bertanggungjawab melakukan pengawasan pencatatan atas

presensi karyawan dan mencatat adanya biaya gaji karyawan serta

pembuatan bukti kas keluar. Bagian administrasi personalia

menyelenggarakan rekap daftar presensi karyawan yang selanjutnya

dilaporkan kepada manajer SDM. Bagian keuangan dan teller

mengeluarkan gaji karyawan. Catatan yang digunakan dalam

penggajian karyawan adalah daftar presensi karyawan, SK

pengangkatan karyawan, struktur gaji karyawan.

Setiap perubahan data dalam catatan penghasilan karyawan

direkonsiliasi dengan daftar gaji karyawan. Secara teknis, pencatatan-

pencatatan terkait pembayaran gaji dilakukan oleh akunting. Prosedur

pencatatan di BMT Al Ikhlas sudah memadai artinya catatan-catatan

akuntansi dapat disiapkan dan setiap saat dapat dilaporkan kepada

pihak yang menggunakan.

d. Aspek praktik yang sehat

Praktik yang sehat dalam pelaksanaan tugas dan fungsi tiap unit

organisasi bertujuan agar pelaksanaan tugasnya sesuai dengan

prosedur yang telah ditetapkan seperti, pembuatan daftar gaji harus


87

diverifikasi kebenaran dan ketelitian perhitungannya oleh fungsi

akuntansi keuangan sebelum dilakukan pembayaran. Dengan demikian

unsur sistem pengendalian intern ini menjamin bukti kas keluar dibuat

atas dasar dokumen pendukung yang andal. Kemudian catatan

penghasilan karyawan disimpan oleh fungsi pembuat daftar gaji, hal ini

berfungsi sebagai tanda telah diterimanya gaji oleh karyawan yang

berhak. Praktik yang sehat dalam penggajian di BMT Al Ikhlas

ditunjukkan dengan fungsi pencatatan waktu dipegang oleh bagian

akunting, pembuatan daftar gaji diverifikasi perhitungannya oleh fungsi

akuntansi sebelum dilakukan pembayaran gaji, menciptakan sistem

seada mungkin, catatan penghasilan karyawan disimpan fungsi

penggajian yang dipegang oleh manajer SDM.


88

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap sistem

pengendalian intern penggajian karyawan pada BMT Al Ikhlas Yogyakarta

dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. BMT Al Ikhlas Yogyakarta telah memisahkan tugas dan tanggungjawab

fungsional pada masing-masing bagian yang berhubungan dengan

penggajian karyawan. Jaringan prosedur sistem penggajian karyawan

BMT Al Ikhlas Yogyakarta terdiri dari prosedur pencatatan presensi,

prosedur administrasi personalia, prosedur penggajian dan prosedur

pembayaran gaji. Manajemen pusat BMT Al Ikhlas menghandle langsung

fungsi-fungsi personalia. Prosedur sistem penggajian yang ada di BMT Al

Ikhlas Yogyakarta sederhana. Meski jaringan prosedurnya sederhana

prosedur tersebut dikatakan baik karena mudah dipahami dan dapat

memperlancar proses penggajian karyawan.

2. Hasil analisis terhadap jawaban kuisioner pengendalian intern untuk

menilai penerapan sistem pengendalian intern penggajian karyawan pada

BMT Al Ikhlas Yogyakarta menunjukkan bahwa pengendalian internnya

baik dan dikategorikan memadai. Sudah ada pemisahan tugas dan

tanggungjawab dalam struktur organisasinya, sistem otorisasi dan

prosedur pencatatan yang baik, serta praktik yang sehat dalam

melaksanakan fungsi tiap unit organisasi.

76
89

B. Keterbatasan Penelitian

1. Perolehan data yang diinginkan peneliti belum maksimal, hal tersebut

berkaitan dengan kebijakan perusahaan, pertimbangan rahasia

perusahaan. Contoh data yang belum diperoleh adalah data gaji

karyawan.

2. Dalam penelitian ini penulis tidak diijinkan untuk melihat secara langsung

dokumen-dokumen gaji, bukti transaksi gaji, dan laporan keuangannya

karena bersifat rahasia. Oleh karena itu dalam melakukan analisis

terhadap sistem penggajian hanya berdasarkan teori dan hasil jawaban

kuesioner elemen pengendalian intern sistem penggajian.

C. Saran-saran

1. Penggunaan sistem software dalam pencatatan presensi karyawan di

BMT Al Ikhlas Yogyakarta sudah baik, untuk kinerja ke depannya

diharapkan dapat meminimalkan pencatatan dokumen secara manual

agar kinerja menjadi lebih cepat.

2. Penelitian selanjutnya diharapkan agar menambah deskripsi teorinya,

memilih bahasan dan cakupan penggajian karyawan yang lebih luas

sehingga benar-benar memahami sistem pengendalian intern penggajian

dan agar tidak memakai kuisioner pengendalian intern saja, namun lebih

baik menggunakan metode attribute sampling untuk menilai pengendalian

intern perusahaan agar objektivitas hasil evaluasi terhadap objek yang

diperiksa lebih terjamin, dan mendapatkan hasil yang lebih valid.


90

DAFTAR PUSTAKA

Adlany, Nazri &Tamam, Hanafie & Nasution, Faruq, Al Qur’an Terjemah


Indonesia, PT. Sari Agung, Jakarta.

Ahmad, As-Sayyid Al-Hasyimiy, Tarjamah Mukhtarul Ahaadits, 1996, PT. Maarif,


Bandung.

Baridwan, Zaki, Sistem Akuntansi: Penyusunan Prosedur dan Metode, Edisi 5.


2002, BPFE Yogyakarta.

Handoko,T. Hani, Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi 1, 1999,


BPFE Yogyakarta.

________, Manajemen, Edisi 2,1999, BPFE Yogyakarta.

Hartadi, Bambang, Auditing: Suatu Pedoman Pemeriksaan Akuntansi Tahap


Pendahuluan, Edisi 1, 1987, BPFE Yogyakarta.

Indriantoro, Nur dan Supomo, Bambang, Metodologi Penelitian Bisnis Untuk


Akuntansi dan Manajemen, Edisi 1, 1999, BPFE Yogyakarta.

Jusup, Al Haryono, Auditing ( Pengauditan ), Buku 1, 2001, Penerbitan STIE


YKPN Yogyakarta.

________, Dasar-dasar Akuntansi, Edisi 5, Jilid 2, 1999, BP STIE YKPN


Yogyakarta.

________,& Ashari, Sidiq & Krismiaji, Praktik Auditing, 1998, Penerbitan AA


YKPN Yogyakarta.

Mujiatun, “Sistem Penggajian Karyawan Pada PT. Djitoe ITC”, Tugas Akhir,
2000, UNS Solo.

Mujihana, Jaka, “ Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Dalam Penjualan Kredit


Barang Jadi”, Skripsi, 1998, FPIPS UNY Yogyakarta.

Mulyadi, Pemeriksaan Akuntan, Edisi 3, 1990, BP STIE YKPN Yogyakarta.

________, Sistem Akuntansi, Edisi 3, 1997, BP STIE YKPN Yogyakarta.

________, & Puradiredja, Kanaka, Auditing, Edisi 5, Buku 1, 1998, Salemba


Empat, Jakarta.

Pasaribu, Chairuman & K. Lubis, Suhrawardi, Hukum Perjanjian Dalam Islam.


2004, Sinar Grafika Jakarta.
91

Pramawanti, Rani, “Analisis Sistem Akuntansi Penggajian dan Pengupahan


Karyawan pada PT. Supersonic Chemical Industry Gunungkidul”.
Skripsi, 2003, UNY Yogyakarta.

Rahman, Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam ( Terjemahan ), Jilid 1, 1995, PT. Dana
Bhakti Wakaf Yogyakarta.

Setyadi, Agus, “Analisis Penerapan Sistem Pengendalian Intern Terhadap


Prosedur Penggajian Studi Kasus Pada PT. KAI Daop VI Yogyakarta”.
Skripsi, 2005, JEI STAIN- SEM Institute Yogyakarta.

Tanjung, Hendri, Konsep Manajemen Syariah Dalam Pengupahan Karyawan


Perusahaan, www.uika-bogor.ac.id/jur03.htm, 17 Juni 2006.