Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN NEONATUS

DENGAN DIAGNOSA BBLR (BAYI BERAT LAHIR RENDAH)


TANGGAL 5 JULI – 7 JULI 2021
DI RUANG MAWAR RSU X

Oleh :

Nama : A A Istri Revaliana Pradnyandari


NIM : 193213006
Kelas : A-13 Keperawatan

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

DENPASAR

2021
Laporan Pendahuluan
Bayi Berat Lahir Rendah

I. Konsep Dasar Penyakit


A. Defenisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500
gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam
1 (satu) jam setelah lahir.

B. Klasifikasi

Bayi BBLR dapat di bagi menjadi 2 golongan, yaitu :


a. Prematuritas murni.
Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat
badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang
Bulan – Sesuai Masa Kehamilan ( NKB- SMK). Makin rendah masa gestasi dan makin
kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi morbiditas dan mortalitasnya. Melalui
pengelolaan yang optimal dan dengan cara yang kompleks serta menggunakan alat-alat
yang canggih, beberapa sangguan yang berhubungan dengan prematuritas dan dapat
diobati, sehingga ejala sisa yang mungkin diderita dikemudian hari dapat dicegah atau
dikurangi. Bayi prematuritas murni digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Bayi yang sangat prematur (extremely premature): 24-30 minggu. Bayi dengan
masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang
belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30 minggu masih
mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif.
2. Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31-36 minggu.
Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari pada golongan
pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan, asal
saja pengelolaan terhadap bayi ini benar-benar intensif.
3. Borderline premature: masa gestasi 37-38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat
prematur dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti
bayi matur, akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi
prematur, misalnya sindrom gangguan pernapasan, hiperbilirunemia, daya hisap
yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi harus diawasi dengan seksama.
b. Dismaturitas.
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa
kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini
dapat juga: Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK)
Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NCB-KMK), Neonatus Lebih Bulan-
Kecil Masa Kehamilan (NLB- KMK).

C. Etiologi
a. Faktor Ibu.
1. Penyakit :
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya :perdarahan
antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM,toksemia gravidarum, dan nefritis akut.
2. Usia ibu :
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia < 20 tahun, dan multi gravida
yang jarak kelahiran terlalu dekat.Kejadian terendah ialah pada usia antara 26 – 35
tahun.
3. Keadaan sosial ekonomi :
Keadaan ini sangat berperanan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi
terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi
yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. Demikian pula kejadian
prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah.ternyata lebih tinggi
bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah.
4. Sebab lain : ibu perokok, ibu peminum alkohol dan pecandu obat narkotik.
b. faktor janin yang meliputi: kelainan kromosom, infeksi janin kronik, gawat janin, dan
kehamilan kembar.
c. faktor plasenta: hidramnion, plasenta previa, solution plasenta, sindrom tranfusi bayi
kembar, ketuban pecah dini.
d. faktor lingkungan: tempat tinggal, terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.

D. Patofisiologi

Menurut Maryanti, et al (2012:169) faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR


terdiri dari faktor ibu yang meliputi penyakit ibu, usia ibu, keadaan sosial ekonomi dan sebab
lain berupa kebiasaan ibu, faktor janin, dan faktor lingkungan. BBLR dengan faktor risiko
paritas terjadi karena sistem reproduksi ibu sudah mengalami penipisan akibat sering
melahirkan Hal ini disebabkan oleh semakin tinggi paritas ibu, kualitas endometrium akan
semakin menurun. Kehamilan yang berulang-ulang akan mempengaruhi sirkulasi nutrisi
ke janin dimana jumlah nutrisi akan berkurang dibandingkan dengan kehamilan
sebelumnya (Mahayana et al.,2015 : 669).

Menurut Samuel S Gidding dalam Amirudin & Hasmi (2014:85-86) mekanisme pajanan
asap rokok terhadap kejadian BBLR dan berat plasenta dengan beberapa mekanisme yaitu
kandungan tembakau seperti nikotin, CO dan polysiklik hydrokarbon, diketahui dapat
menembus plasenta. Carbonmonoksida mempunyai afinitas berikatan dengan hemoglobin
membentuk karboksihemoglobin, yang menurunkan kapasitas darah mengangkut oksigen
ke janin. Sedangkan nikotin menyebabkan vasokontriksi arteri umbilikal dan menekan
aliran darah plasenta. Perubahan ini mempengaruhi aliran darah di plasenta. Kombinasi
hypoxia intrauterine dan plasenta yang tidak sempurna mengalirkan darah diyakini menjadi
penghambat pertumbuhan janin.

Faktor yang juga mempengaruhi terjadinya BBLR adalah penyakit pada ibu hamil.
Anemia pada ibu hamil dapat mengakibatkan penurunan suplai oksigen ke jaringan, selain
itu juga dapat merubah struktur vaskularisasi plasenta, hal ini akan mengganggu
pertumbuhan janin sehingga akan memperkuat risiko terjadinya persalinan prematur dan
kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah terutama untuk kadar hemoglobin yang
rendah mulai dari trimester awal kehamilan (Cunningham, et al., 2010). Selain anemia,
implantasi plasenta abnormal seperti plasenta previa berakibat terbatasnya ruang plasenta
untuk tumbuh, sehingga akan mempengaruhi luas permukaannya. Pada keadaan ini
lepasnya tepi plasenta disertai perdarahan dan terbentuknya jaringan parut sering terjadi,
sehingga meningkatkan risiko untuk terjadi perdarahan antepartum (Prawirohardjo, 2008).
Apabila perdarahan banyak dan kehamilan tidak dapat dipertahankan, maka terminasi
kehamilan harus dilakukan pada usia gestasi berapapun. Hal ini menyebabkan tingginya
kejadian prematuritas yang memiliki berat badan lahir rendah disertai mortalitas dan
morbiditas yang tinggi.

Keadaan sosial ekonomi secara tidak langsung mempengaruhi kejadian BBLR,


karena pada umumnya ibu dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah akan mempunyai
intake makan yang lebih rendah baik secara kualitas maupun secra kuantitas, yang berakibat
kepada rendahnya status gizi pada ibu hamil (Amalia, 2011 : 258). Selain itu, gangguan
psikologis selama kehamilan berhubungan dengan terjadinya peningkatan indeks resistensi
arteri uterina. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan konsentrasi noradrenalin dalam
plasma, sehingga aliran darah ke uterus menurun dan uterus sangat sensitif terhadap
noradrenalin sehingga menimbulkan efek vasokonstriksi. Mekanisme inilah yang
mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin
sehingga terjadi BBLR (Hapisah, et al., 2010 : 86-87).

Menurut Maryanti et al. (2012:169) penyebab BBLR dapat dipengaruhi dari faktor janin
berupa hidramnion atau polihidramnion, kehamilan ganda, dan kelainan koromosom.
Hidramnion merupakan kehamilan dengan jumlah air ketuban lebih dari 2 liter.
Produksi air ketuban berlebih dapat merangsang persalinan sebelum kehamilan 28
minggu, sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur dan dapat meningkatkan kejadian
BBLR. Pada kehamilan ganda berat badan kedua janin pada kehamilan tidak sama,
dapat berbeda 50-1000 gram, hal ini terjadi karena pembagian darah pada plasenta untuk
kedua janin tidak sama. Pada kehamilan kembar distensi (peregangan) uterus berlebihan,
sehingga melewati batas toleransi dan sering terjadi persalinan prematur (Amirudin &
Hasmi, 2014 : 110-111). Menurut Saifuddin dalam Amirudin & Hasmi (2013 : 111-112)
kelainan kongenital atau cacat bawaan merupakan kelaianan dalam pertumbuhan struktur
bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi yang lahir dengan kelainan
kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai BBLR atau bayi kecil.
Pada BBLR ditemukan tanda dan gejala berupa disproporsi berat badan
dibandingkan dengan panjang dan lingkar kepala, kulit kering pecah- pecah dan terkelupas
serta tidak adanya jaringan subkutan (Mitayani, 2013 :176). Karena suplai lemak subkutan
terbatas dan area permukaan kulit yang besar dengan berat badan menyebabkan bayi
mudah menghantarkan panas pada lingkungan (Sondakh, 2013 : 152). Sehingga bayi dengan
BBLR dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia (Maryanti, 2012 :
171). Selain itu tipisnya lemak subkutan menyebabkan struktur kulit belum matang dan
rapuh. Sensitivitas kulit yang akan memudahkan terjadinya kerusakan integritas kulit,
terutama pada daerah yang sering tertekan dalam waktu yang lama (Pantiawati, 2010 : 28).

Pada bayi prematuritas juga mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang
masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi belum sempurna
(Maryanti, 2012 : 172).

Kesukaran pada pernafasan bayi prematur dapat disebabakan belum sempurnanya


pembentukan membran hialin surfaktan paru yang merupakan suatu zat yang dapat
menurunkan tegangan dinding alveoli paru. Defisiensi surfaktan menyebabkan gangguan
kemampuan paru untuk mempertahankan stabilitasnya, alveolus akan kembali kolaps setiap
akhir ekspirasi sehingga untuk pernafasan berikutnya dibutuhkan tekanan negative
intratoraks yang lebih besar yang disertai usaha inspirasi yang kuat. Hal tersebut
menyebakan ketidakefektifan pola nafas (Pantiawati,2010 : 24-25).

Alat pencernaan bayi BBLR masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan
belum matang (Maryanti et al., 2012 : 171). Selain itu jaringan lemak subkutan yang
tipis menyebabkan cadangan energi berkurang yang menyebabkan malnutrisi dan
hipoglikemi. Akibat fungsi organ-organ belum baik terutama pada otak dapat menyebabkan
imaturitas pada sentrum-sentrum vital yang menyebabkan reflek menelan belum sempurna
dan reflek menghisap lemah. Hal ini menyebabkan diskontinuitas pemberian ASI (Nurarif &
Kusuma, 2015 54-55).
E. Pathway

FAKTOR IBU FAKTOR JANIN FAKTOR PLACENTA

- Penyakit genetik - Kehamilan ganda - Plasenta previa

- Usia - Hidramnion - Sindrom

- Ekonomi -Kelainan Kormosom

- Trauma fisik

Pre Matur Dismaturitas


BBLR

Alat tubuh
belum
berfungsi

Vaskuler BBL < Imatur fungsi Reflek isap


paru imatur 2500 gr termogulasi,lemak dan menelan
subkutan tipis lemah

Pernafasan imatur Imatur imununitas Suhu tubuh Asupan asi


dibawah menurun
Bayi belum bisa normal
membentuk imun
Membran Hialin Defisit nutrisi
yang belum Hipotermi
sempurna Kurangnya daya
tahan tubuh
Peningkatan
Frekuensi
Pernafasan, Resiko infeksi
Retaksi
dinding dada

Pola napas tidak


efektif
F. MANIFESTASI KLINIK
Menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaannya lemah :
a. Fisik
1. Bayi kecil
2. Pergrakan kurang dan masih lemah
3. Kepala lebih besar dari pada badan
4. Berat badan < 2500 gram
b. Kulit dan kelamin
1. Kulit tipis dan transparan
2. Lanugo banyak
3. Rambut halus dan tipis
4. Genitalia belum sempurna
c. Sistem syaraf
1. Refleks moro
2. Refleks menghisap, menelan, batuk belum sempurna
d. Sistem muskuloskeletal
1. Axifikasi tengkorak sedikit
2. Ubun-ubun dan satura lebar
3. Tulang rawan elastis kurang
4. Otot-otot masih hipotonik
5. Tungkai abduksi
6. Sendi lutut dan kaki fleksi
7. Kepala menghadap satu jurusan
e. Sistem pernafasan
1. Pernafasan belum teratur sering apnoe
2. Frekuensi nafas bervariasi
G. KOMPLIKASI
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain :
a. Hipotermia
b. Gangguan cairan dan elektrolit
c. Hiperbilirubbinemia
d. Sindroma gawat nafas
e. Paten duktus anteriocus
f. Infeksi
g. Perdarahan intraventrikuler
h. Apnea of prematurity
i. Anemia
Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi – bayi dengan berat lahir rendah
(BBLR) antara lain :
a. Gangguan perkembangan
b. Gangguan pertumbuhan
c. Gangguan penglihatan (retinopati)
d. Gangguan pendengaran
e. Penyakit paru kronis
f. Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
g. Kenaikan frekuensi kelainan bawaan

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan diagnostik
a. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-24.000/mm3,
hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ).
b. Hematokrit ( Ht ) : 43%- 61 % ( peningkatan sampai 65 % atau lebih menandakan
polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal/perinatal ).
c. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau
hemolisis berlebihan ).
d. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12 mg/dl
pada 3-5 hari.
e. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-
50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.
f. Pemantauan elektrolit ( Na, K, Cl ) : biasanya dalam batas normal pada awalnya.
g. Pemeriksaan Analisa gas darah.

I. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan prematuritas murni
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan
perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu
diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu oksigen,
mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi
1. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas/ BBLR
Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi
hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik,
metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi
prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya
mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam inkubator maka suhu bayi
dengan berat badan , 2 kg adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat
badan 2-2,5 kg adalah 33-34 derajat celcius. Bila inkubator tidak ada bayi dapat
dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas,
sehingga panan badannya dapat dipertahankan.
2. Makanan bayi prematur
Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil, enzim
pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori
110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat.
Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan
menghisap cairan lambung. Refleks menghisap masih lemah,sehingga pemberian
minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekwensi yang lebih sering. ASI
merupakan makanan yang paling utama,sehingga ASI lah yang paling dahulu
diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan
diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju
lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/ hari dan terus
dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/ hari.
3. Menghindari infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang
masih lemah,kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan anti bodi
belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif sudah dilakukan sejak
pengawasan antenatal sehinggatidak terjadi persalinan prematuritas ( BBLR).
Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan
terisolasi dengan baik.
b. Penatalaksanaan dismaturitas (KMK)
1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterina serta
menemukan gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan ultra
sonografi.
2. Memeriksa kadar gula darah ( true glukose ) dengan dextrostix atau laboratorium
kalau hipoglikemia perlu diatasi.
3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.
5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi
mekonium.
6. Sebaiknya setiap jam dihitung frekwensi pernafasan danbila frekwensi lebih dari
60 x/ menit dibuat foto thorax.

II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Pasien Thypoid


A. Pengkajian
1. Identitas klien : nama, no MR. umur, alamat, penaggungjawab, tanggal masuk
rumah sakit.
2. Riwayat kesehatan:
 Riwayat kesehatan sekarang : berat badan bayi kurang dan 2500 gram,
rambut tipis clan hams, penampilan rapuh, kulit merah sampai merah muda
dengan vena dapat dilihat, rambut tipis dan halus, lanugo pada punggung
dan wajah, sedikit atau tidak ada bukti lemak subkutan, kepala lebih besar
dan tubuh, kartilago telingan berkembang buruk, sedikit keriput hams pada
telapak tangan dan kaki. Pada wanita klitoris menonjol, pada laki-laki
skrotum belum berkembang, tidak menggantung, dan testis tidak menurun.
 Riwayat kesehatan dahulu : pada ibu didapat kekurangan nutrisi, kebiasaan
merokok, mengkonsumsi alcohol atau narkoba, karena adanya penyakit
kronis atau akut, dan atau gangguan proses persalinan.
 Riwayat kesehatan keluarga : kemungkinan tidak banyak ditemukan
penyakit keturunan dan keluarga yang membahayakan.
3. Pemeriksaan fisik bayi:
 Pengukuran umum:
Lingkar kepala < persentil ke-1 0 atau > persentil ke-90,
Berat badan lahir < persentil ke-lO atau > persentil ke-90,
 Tanda-tanda vital:
Suhu: Flipotermia, Hipertermia
Frekuensi : bradikardia-frekuensi istirahat dibawah 80 sampai 100
denyutlmenit, takikardi-frekuensi kira-kira 160 sampai 180 denyut/ menit,
irama tidak teratur.
Pernafasan : takipnea-frekuensi dibawah 60 kali.menit, apnea >15-20 detik
TD : tekanan sistolik pada manset 6 sampai 9 mmHg kurang dan tekanan
diektremitas atas
 Kulit:
Ikterik berlanjut khususnya pada 24 jam pertama, kulit memucat, sianosis
umum, pucat, keabu-abuan, turgor kulit buruk, ruam, pustule/lepuli, bereak
coklat terang.
 Kepala:
Sutura menyatu, pelebaran sutura dan fontanel,.
 Mata:
Warna merah muda dan iris, rabas purulen, tidak ada reflek merah, pupil
dilatasi atau kontniksi, tidak ada reflek pupil atau komea, ketidakmampuan
mengikuti objek atau cahaya terang kegaris tengali, sciera biru dan kuning,
katarak congenital.

 Telinga:
Penempatan telinga terlalu rndah, tidak adanya reflek kejut (moro) sebagai
respon terhadap bunyi keras, abnormalitas pinna minor dapat menjadi tanda
dan berbagal sindrom.
 Hidung:
Kanal tidak paten, rabas nasal kental dan berdarah, pelebaran cuping
hidung, sekresi nasal berlebihan atan tersumbat, tidak ada septum, batang
hidung datar.
 Mulut dan tenggorokan:
Bibir sumbing, palatutum terbelah, lidah besar;menjulur;atau kesalahan
posisi posterior dan lidah, saliva berlebihan atau meneteskan air hun,
ketidakmamupan untuk menelan selang nasogastnik, dagu kecil dan tertarik
kebelakang.
 Leher:
Lipatan kulit yang berlebihan atau berselaput, tahanan terhadap fleksi, tidak
adanya leher tonik.
 Dada
Depresi sternum, retraksi dada dan ruang interkontal selama pernafasan,
kemerahan dank eras dsekitar putting, putting berjarakjauh.
 Paru-paru:
Dada naik sementara abdomen turun, menetap mengi, penurunan bunyi
nafas, takipnea.
 Jantung:
Mumur, sianosis menetap.
 Abdomen:
Distensi abdomen, penonjolan setempat, distensi vena, bising usus tidak
ada, abdomen cekung, tali umbilicus hijau.
 Genitalia:
Wanita: pembesaran klitoris dengan meatus uretra pada bagian ujung, labia
menyatu, tidak berkemih dalam 24 jam, massa pada labia.
Pria : hipospadia, epispadia, testis tidak dapat diraba dalam skrotum, tidak
ada urinasi dalam 24 jam, massa dalam skrotum.
4. Pengkajian Bayi
 Aktivitas/ istirahat
Bayi sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama tidur sehari rata-rata 20
jam.
 Pernafasan
Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelali kelahiran cesaria atau
persentasi bokong. Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan
sinkron dan dada dan abdomen, perhatikan adanya sekret yang mengganggu
pernafasan, mengorok, pernafasan cuping hidung.
 Makanan cairan
Berat badan rata-rata 2500-4000 gram: kurang dan 2500 gr menunjukkan
kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan
dehidrasi harus diberi infus, Beri minum dengan tetes ASI/ sonde karena
refleks menelan BBLR belum sempurna, kebutuhan cairan untuk bayi baru
lahir 120 - 150m1/kg BB/hari.
 Berat badan Kurang dati 2500 gram
 Suhu
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus
dipertahankan
 Integumen
Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat dan
kering
B. Diagnosa Keperawatan
1. Pola napas tidak efektif b.d imaturitas neurologis d.d pola napas
abnormal,dyspnea,penggunaan otot bantu pernapasan.
2. hipotermia b.d kekurangan lemak subkutan d.d kulit teraba dingin, kutis
memorata, suhu tubuh dibawah nilai normal.
3. Defisit Nutrisi b.d ketidakmampuan menelan makanan d.d otot menelan lemah,
membrane mukosa pucat, berat badan menurun
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kapiler
rapuh dekat permukaan kulit.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan respon imun imatur.
C. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Manajemen Jalan Napas
- Depresi pusat ………..pasien menunjukkan keefektifan pola Observasi :
pernafasan nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil: - Monitor Pola Nafas(Frekuensi,kedalaman
- Hambatan Upaya 1. Dispnea Menurun usaha nafas)
Nafas 2. Tidak menggunakan otot bantu nafas - Monitor bunyi nafas
- Deformitas dinding 3. Frekuensi nafas membaik (mis.gurgling,mengi,wheezing,ronkhi
dada 4. Kedalaman Nafas Membaik kering)
- Deformitas tulang - Monitor sputum (jumlah,warna ,aroma)
dada Terapeutik:
- Gangguan - Pertahankan Kepatenan Jalan Nafas
Neuromuskulae - Posisikan semi fowler atau fowler
- Imaturitas Neurologis - Berikan minum hangat
- Penurunan Energi - Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
- Obesitas - Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15
- Posisi Tubuh yang detik
menghambat - Lakukan hiperoksigenasi sebelum
Ekspansi paru pengisapan endrotrakeal
- Kecemasan - Keluarkan sumbatan benda padat dengan
- Obesitas forsep McGill
DS: Edukasi
- Dyspnea - Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari,jika
- Nafas pendek tidak ada kontraindikasi
DO: - Ajarkan teknik batuk efektif
- Penurunan tekanan Kolaborasi
inspirasi/ekspirasi - Kolaborasi pemberian bronkodilator,
- Penurunan pertukaran ekspektoran,mukolitik jika perlu
udara per menit
- Menggunakan otot
pernafasan tambahan
- Orthopnea
- Pernafasan pursed-lip
- Tahap ekspirasi
berlangsung sangat lama
- Penurunan kapasitas vital
- Respirasi: < 11 – 24 x /mnt

Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/ Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Masalah Kolaborasi
Hipotermia Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Hipotermia
Berhubungan dengan : selama………..pasien menunjukkan : Observasi
- Berat badan ekstream Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria - Monitor suhu tubuh
- Kekurangan lemak hasil: - Identifikasi penyebab hipotermi
subkutan 1. Suhu 36 – 37C (mis.terpapar suhu lingkungan
- Pemakaian pakaian 2.Nadi dan RR dalam rentang normal rendah,pakaian tipis,kekurangan lemak
tipis 3.Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada subkutan)
- Penurunan laju pusing, merasa nyaman - Monitor tanda dan gejala akibat hipotermi.
metabolisme Terapeutik
- Transfer panas - Sediakan lingkungan yang hangat(mis.atur
- Trauma suhu ruangan,inkubator)
DO/DS: - Ganti pakaian dan/atau linen yang basah
- Kulit teraba dingin - Lakukan penghangatan pasif (mis.selimut
- Menggigil menutup kepala,pakaian tebal)
- Suhu tubuh di bawah - Lakukan penghangatan aktif
nilai normal eksternal(mis.kompres air hangat,botol
- Dasar kuku sianotik hangat,selimut hangat,perawatan metode
- Kutis momorata kangguru)
- Lakukan penghangatan aktif internal(mis
infus hangat,oksigen hangat,lavaase
peritoneal dengan cairan hangat)
-
Edukasi
- Anjurkan makan /minuman hangat
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Defisit Nutrisi berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan
dengan selama….nutrisi kurang teratasi dengan kriteria Observasi
- penurunan simpanan hasil : - Kaji adanya alergi makanan
nutrisi 1.Pertumbuhan dan peningkatan berat badan - Identifikasi status nutrisi px
- imaturitas produksi dalam kurva normal - Identifikasi makanan yang disukai
enzim 2. pertambahan berat badan tetap - Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis
- refleks menelan nutrient
lemah,otot - Monitor asupan makanan
abdominal lemah. - Monitor berat badan
- Monitor hasil pemeriksaan
DS: laboratorium
- Nyeri abdomen Teraupeutik
- Muntah - Atur posisi semi fowler atau fowler
- Kejang perut tinggi selama makan
- Rasa penuh tiba-tiba - Sajikan makanan secara menarik dan
setelah makan suhu yang sesuai
DO: - Berikan makanan tinggi serat untuk
- Diare mencegah konstipasi
- Rontok rambut yang - Berikan makanan tinggi protein dan
berlebih tinggi kalori
- Kurang nafsu makan - Berikan suplemen makanan, jika perlu
- Bising usus berlebih - Hentikan pemberian makanan melalui
- Konjungtiva pucat selang nasogatric jika asupan oral
- Denyut nadi lemah dapat ditoleransi
Edukasi
- Informasikan pada klien dan keluarga
tentang manfaat nutrisi
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan dokter tentang
kebutuhan suplemen makanan seperti
NGT/ TPN sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Risiko gangguan integritas Setelah dilakukan tindakan keperawatan Perawatan Integritas Kulit
kulit selama…. Gangguan integritas kulit tidak terjadi Observasi
dengan kriteria hasil: - Identifikasi penyebab gangguan integritas
- Faktor-faktor risiko: 1. Elastisitas,Hidrasi,Perfusi jaringan kulit
- Perubahan Sirkulasi meningkat Teraupeutik
- Perubahan 2. Kerusakan jaringan menurun - Hindari kerutan padaa tempat tidur
- Status 3. Kerusakan lapisan kulit menurun - Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan
Nutrisi(kelebihan 4. Suhu kulit,sensasi kulit dan kering
atau kekurangan tekstur kulit membaik - Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
- Suhu lingkungan setiap dua jam sekali
yang ekstrem - Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada
- Terapi radiasi derah yang tertekan
- Kelembaban - Memandikan pasien dengan sabun dan air
- Neuropati perifer hangat
- Gunakan pengkajian risiko untuk
memonitor faktor risiko pasien (Braden
Scale, Skala Norton)
- Inspeksi kulit terutama pada tulang-tulang
yang menonjol dan titik-titik tekanan
ketika merubah posisi pasien.
- Jaga kebersihan alat tenun
Edukasi
- Anjurkan pasien untuk menggunakan
pakaian yang longgar
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
pemberian tinggi protein, mineral dan
vitamin
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama…… pasien tidak mengalami infeksi Observasi
Faktor-faktor risiko : dengan kriteria hasil: - Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan
- Prosedur Infasif 1. Klien bebas dari tanda dan gejala sistemik
- Kerusakan jaringan dan infeksi Terapeutik
peningkatan paparan 2. Menunjukkan kemampuan untuk - Batasi jumlah pengunjung
lingkungan mencegah timbulnya infeksi - Berikan perawatan kulit pada area edema
- Malnutrisi 3. Jumlah leukosit dalam batas - Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
- Peningkatan paparan normal dengan pasien dan lingkungan pasien
lingkungan patogen 4. Menunjukkan perilaku hidup sehat - Pertahankan teknik aseptik pada pasien
- Imonusupresi 5. Status imun, gastrointestinal, beresiko tinggi
- Tidak adekuat pertahanan genitourinaria dalam batas normal Edukasi
sekunder (penurunan Hb, - Jelaskan tanda dan gejala infeksi
Leukopenia, penekanan - Ajarkan cara mencuci tangan yang benar
respon inflamasi) Kolaborasi
- Penyakit kronik - Kolaborasi pemberian imunisasi,jika
- Imunosupresi perlu .
- Malnutrisi
- Pertahan primer tidak
adekuat (kerusakan kulit,
trauma jaringan,
gangguan peristaltik)
D. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan meliputi pengumpulan data berkelanjutan,
mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data
yang (Rohmah & Walid, 2012).

E. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien


dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Rohmah & Walid,
2012).Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencana kesehatan pasien dengan tujuan yang telah
ditetapkan dilakukan dengan cara melibatkan pasien.

S: subjektif

O: objektif

A: assessment

P: planning
Daftar Pustaka
Doengoes, Marylinn. E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/ Bay., Jakarta: EGC.
Muchtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. (2007). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Bina Pustaka.
Proverawati, A.,Ismawati, C. (2010). Berat Badan Lahir Rendah. Yogyakarta: Nuha Medika.
Pudjiadi Antonius, H., Hegar Badriul, dkk. (2010). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter
Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1990. Ilmu Kesehatan Anak. III. Jakarta: FKUI.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan IndonesiaDefinisi dan
Indikator Diagnostik. Edisi 1. Cetakan 1. Jakarta Selatan:DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan IndonesiaDefinisi dan
Tindakan Keperawatan. Edisi 1. Jakarta Selatan: DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan. Edisi 1. Cetakan II. Jakarta Selatan: DPP PPNI
Wong, Dona. L. 2003. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai